-->

Warisan Berdarah Jilid 4

Jilid 4

“cici duluan ya, Tan-te!” ujar Ci-lan, dan adiknya mengangguk, Ci-lan masuk duluan dan mandi, dan setelah Ci-lan selesai, Liu-tan masuk kedalam kamar mandi, dan Ci-lan duduk dibalai-balai menunggu adiknya, dan baru saja ia duduk, ia segera mengibaskan tangannya, dan sebatang jarum sudah ia jepit di antara jarinya

“siapa pembokong yang tidak tahu malau!” bentaknya sambil melempar kembali jarum itu kea rah datangnya, sebuah bayangan melompat dari balik pohon

“hehehe..luar biasa, gadis nancantik yang sedang mekar, ternyata ada isi.” “kamu lelaki ceriwis, apa yang kamu lakukan disitu!?”

“hehehe….mulutmu sangat indah dan menawan, kamu saying jika dilewatkan.” ujar lelaki berumur itu, ia bergerak cepat hendak menangkap Ci-lan, namun Ci-lan mengelak dan melancarkan serangan balasan, lelaki itu terkejut dan coba menangkap tangan Ci-lan

“plak..ugh..” tangan Ci-lan laksana kilat mengelak dan tau-tau sudah menampar pundak lelaki itu, lelaki itu mengeluh terkejut, ia tidak menyangka akan segesit itu gadis yang hendak berumur dewasa dihadapannya ini.

Lelaki itu tidak lagi memandang remeh, dan ia pun bergerak cepat untuk menundukkan mangsanya, Ci-lan dengan lincah mengelak dan membalas serangan lelaki itu dengan tidak kalah dahsyatnya, lelaki itu makin penasaran karena hingga dua puluh jurus ia tidak mampu menyentuh gadis muda ini, sementara Liu-tan keluar dari kamar mandi, dan segera mendekat untuk melihat pertempuran yang melibatkan kakaknya di halaman belakang itu.

Lelaki itu terpaksa berkelabat pergi, karena ia jadi gentar setelah melihat kemunculan Liu-tan, gadis ini saja sudah bisa mengimbanginya, bagaimana kalau adiknya ikut menyerang, atau bagaimana jika ayah kedua anak ini datang, tentunya ia akan jadi pecundang yang mencari penyakit, pikirnya sambil meninggalkan tempat itu

“siapa dia itu cici?” tanya liu-tan

“entahlah, ia tiba-tiba membokong dengan jarum.” Jawabnya sambil mengusap keringatnya “apakah cici baik-baik saja?”

“aku..ah…kepalaku pusing.” keluhnya dan tubuhnya limbung, liu-tan hendak menangkap tubuh kakaknya, namun ayahnya sudah melompat dan menagkap tubuh Ci-lan

“kenapa dengan cicimu tan-ji?”

“cici tadi berkelahi dengan seseorang.”

“sudah…mari kita cici mu kekamar.” ujar Han-sai-ku, lalu memondong putrinya dan masuk kedalam likoan. “putriku kenapa ku-ko?” tanya Bu-siang cemas melihat putrinya di bopong suaminya

“lan-ji bertempur dengan seseorang.” sahut sai-ku sambil membaringkan putrinya, dan memeriksanya dengan teliti

“hmh….dia tidak apa-apa dan hanya pingsan, siang-moi.” “dengan siapa cicimu bertarung Tan-ji?”

“seorang lelaki seumuran dengan ayah, tapi dia melarikan diri ayah, dan kata cici sebelum pingsan, lelaki itu membokongnya dengan jarum”

“mungkin dia jai-hoa-cat, koko, apakah tidak ada bekas luka koko?”

“bisa jadi, terlebih dia menggunakan pembius.” sahut Sai-ku dan kembali memeriksa putrinya, dan tidak ada sedikitpun bekas luka, lalu Sai-ku mengerahkan sedikit sin-kangnya untuk mengusir hawa beracun dari tubuh putrinya.

“hmh…ah..” desah Ci-lan sambil membuka mata “ayah….tiba-tiba kepalaku merasa pusing.”

“ya…ayah tahu, dan sekarang bagaimana perasaanmu?” “sudah tidak pusing lagi, ayah.”

“bagaimana laki-laki itu tiba-tiba menyerangmu Tan-ji?”

“lelaki hendak bermaksud kotor padaku ibu, kata-katanya sangat ceriwis, tapi untungnya ia dapat aku atasi hingga ia melarikan diri.”

“lalu jarum yang digunakannya, apa tidak mengenaimu?”

“tidak ibu, aku berhasil menangkapnya dan melemparkan kembali kepadanya.” “bagaimana orangnya lan-ji?” tanya Han-sai-ku

“orangnya sepantaran dengan ayah, ia menyandang pedang beronce merah digagangnya, sin-kangnya kuat dan sepertinya tidak dibawahku ayah.”

“hmh….baiklah, sekarang kalian disini saja, ayah dan ibu hendak mandi sebentar.” ujar Sai-ku, lalu suami istri itu keluar untuk membersihkan diri. Han-sai-ku mencoba menyelidiki para tamu, namun sampai larut malam, ia tidak menjumpai laki-laki seperti yang digambarkan putrinya, hal itu jelas karena lelaki itu setelah meninggalkan pertarungan langsung masuk kedalam kamarnya dan mengemasi barangnya dan meninggalkan kota khangsi dari pintu sebelah timur, akhirnya Han-sai-ku masuk kembali kedalam kamarnya.

Keesokan harinya, keluarga Han melanjutkan perjalanan, Han-sai-ku membawa keluarganya keluar dari gerbang timur, menjelang siang han-sai-ku dan keluarga sampai di pinggir sebuah hutan, han-sai-ku berhenti

“kenapa kita berhenti, koko?” tanya istrinya

“pamanku wan-peng tinggal dalam hutan ini, aku tidak tahu apakah ia masih tinggal disini”

“sebaiknya kita lihat saja koko.” ujar Bu-siang sambil turun dari dalam kereta, ci-lan dan liu-tan juga turun “kalian tunggulah sebentar disini, aku akan coba lihat kedalam hutan.” ujar Sai-ku

Han-sai-ku masuk kedalam hutan, gerakannya cepat dan gesit masuk lebih jauh kedalam hutan, tidak berapa lama, ia melihat pondok yang bersih dan dihalamnnya banyak ditumbuhi bunga botan, melihat halaman yang tertata rapi, menandakan pondok itu berpenghuni

“paman!” panggil Sai-ku, dan tidak lama daun pintu terbuka, seorang lelaki tua berumur enam puluh lebih keluar, Han-sai-ku langsung berlutut setelah melihat pamannya yang keluar

“apakah itu kamu ku-ji?” ujar Wan-peng sambil menuruni anak tangga “benar peng-siok, anak datang untuk berkunjung.”

“hehehe..hahaha..oh anakku, setelah hampir dua puluh tahun, kamu datang lagi.” ujar Wan-peng mendekati keponakannya dan ia menarik bahu Sai-ku dan memeluknya dengan hati rindu, dan tidak terasa air matanya berderai.

“bagaimana keadaan siok selama ini?”

“aku baik dan sehat ku-ji, lalu bagaimana dengan kamu, nak?”

“anak juga sehat siok, dan di luar hutan ini, anak membawa anak dan istri siok.

“oh…begitukah, mari..mari kita kesana.” ujar Wan-peng dengan nada sesak, ia melompat dan berlari cepat menuju keluar hutan, dan di ikuti Sai-ku

Bu-siang dan kedua anaknya menunggu di atas kereta, dua bayangan muncul dari dalam hutan, “itu ayah ibu!” teriak Liu-tan

“siang-moi, ini adalah peng-siok, dan siok, ini adalah istriku Bu-siang, dan kedua anakku.”

“hahaha..sungguh aku merasa bahagia bertemu kalian anak mantu dan kalian dua cucuku.” ujar Wan-peng dengan rasa haru bahagia yang tidak terlukiskan.

Wan-peng dan keluarga keponakannya kembali kepondok, pertemuan itu demikian hangat dan menggembirakan

“siok-kong! kenapa tinggal didalam hutan, kenapa tidak dikota khangsi?” tanya Liu-tan “hehehe..siok-kong sudah merasa betah disini, tan-ji”

“siok-kong sudah berapa lama tinggal didalam hutan ini?” sela Ci-lan “hmh..siok-kong sudah dua puluh lima tahun tinggal disini.

“betul lan-ji, dan ayah juga pernah tinggal disini menemani siok-kong.” “hehehe…hmh…kemanakah kamu setelah meninggalkan paman ku-ji?”

“saya terus berkelana paman, hingga sampai kekota Kun-ming, dan bertemu dengan siang-moi dan menikah dengannya.”

“jadi kalian tinggal di kun-ming ku-ji?”

“benar siok, dan aku bekerja membuka likoan di sana.” “hmh…..bagus sekali kehidupanmu ku-ji.”

“berkat doa dan pengajaran siok, aku berusaha untuk tidak menyimpang.”

“hehehe…syukurlah ku-ji, paman lega dan bangga dengan keadaanmu sekarang, dan kedua cucuku ini memiliki orang tua yang bisa jadi anutan”

“ku-ji, perjalanan yang jauh ini, tentunya tidak hanya untuk mengunjungiku bukan?”

“benar siok, tujuan perjalanan ini untuk mengunjungi kerabatku dan memperkenalkan keluargaku, dan aku sangat gembira ternyata masih dipertemukan dengan siok.”

“selain kesini, kemana lagi engkau akan pergi?”

“kami hendak ke huangsan untuk bertemu dengan ong-ko, lalu ke kota Bicu untuk bertemu dengan ayah, setelah itu kekota kaifeng untuk bertemu dengan “siauw-taihap” lun-ko ”

“perjalanan yang sangat mulia anakku, niatmu untuk penyambungan kembali ikatan dengan ayahmu “bun- liong-taihap” sangat-sangat tepat, dan tujuanmu ke kaifeng juga untuk menemui saudaramu, membuat paman merasa bangga anakku, tapi benarkah siauw-taihap ada hubungan dengan kita?”

“benar paman, bahkan Lun-ko adalah anak tertua dari ayah.”

“hmh…tidak kusangaka ”siauw-taihap” jadi kerabat kita, dia adalah manusia luar biasa, bengcu liok-lim yang sakti dan bersahaja.”

“siok-kong, kenapa tidak tahu dengan Lun-pek?” tanya Ci-lan sedikit heran mendengar pembicraan ayahnya dengan sok-kongnya.”

“hehehe..karena siok-kong menyepi disini, dan lun-pek mu itu adalah saudara seyahnya ayah kalian”

“benar lan-ji, dan kalian ketahuilah, bahwa baik lun-ko maupun ong-ko adalah saudara se ayah, ayah tidak punya saudara kandung, tapi hanya memiliki saudara se ayah.

“selain lun-ko dan ong-ko, apa masih ada lagi saudara yang lain?” sela Bu-siang

“benar siang-moi, selain dari lun-ko dan ong-ko, saudaraku yang lain adalah adik-adik yang berada di Bicu, kemudian liang-ko yang bernama Han-ok-liang.”

“benar mantu, dan supaya jelas bagimu dan anak-anakmu, ketahuilah, bahwa suamimu dan paman dulunya orang yang menyimpang, tapi bersyukurlah kalian bahwa thian merobah hati hambanya, hingga engkau dapat suami yang sudah berubah, dan untuk itu tetaplah engkau kuat mengawal suamimu, jangan jera untuk mengingatkannya.”

“sekarang jelaslah bagiku gak-hu, dan aku bangga dengan suamiku.” “siok-kong, apakah lun-pek lebih sakti dari ayah?” sela Liu-tan

“hehehe..hahaha……kalau itu coba kita tanya apada ayahmu, dan kita dengar apa jawabannya.”

“tan-ji, pertanyaanmu ada-ada saja, jelaslah lun-pek mu lebih sakti dari ayah, ilmu lun-pek mu tidak dapat di ukur.” “oh…kalau begitu, ayah izinkanlah aku belajar pada lun-pek.”

“ih..kamu inikan manja, apa sanggup berpisah dengan ibu, hah.” sela Ci-lan, liu-tan melengak melihat ibunya yang tersenyum.

Han-sai-ku sekeluarga tinggal bersama pamannya selama dua hari, mereka berangkat dilepas Wan-peng di luar hutan, kereta kuda berjalan perlahan melintasi jalan menanjak, Han-sai-ku duduk didepan bersama istrinya

“ku-ko, bagaimana sih sebenarnya keluarga yang akan kita kunjungi ini, bagaimana saudara se ayah ini bisa banyak, dan masa kelam koko benarkah itu?”

“hmh…memang demikianlah siang-moi, dan dengarlah, ayah kami memiliki banyak hubungan dengan perempuan, selain dari istri ayah yang sekarang, yaitu ibuku, ibu kwi-ong, ibu ok-liang, bahkan jauh sebelum itu dengan ibunya Han-fei-lun.”

“maksudnya, selain dari istri gak-hu yang sekarang, orang-orang tua itu tidak menikah dengan gak-hu?” sela Bu-siang, Han-sai-ku mengangguk.

“dan ibu-ibu kami bertiga sangat memusuhi ayah, dan mendidik kami untuk mencelakakan ayah, kami hdup didunia hitam dan berbuat semaunya, tapi panji hek-to yang kami bina itu ambruk dengan kemunculan lun-ko Han-fei-lun, setelah tiga suhu, ketga ibu kami, dan kami sendiri dikalahkan lun-ko, bahkan tiga suhu tewas, kami tidak berkutik, dan yang menyedihkan ibu-ibu kami tewas ditangan ayah, sejak itu kami berpisah, tapi syukur aku bertemu dengan paman wan-peng yang satu-satunya adik ibuku, ia memberikan penerangan padaku.”

“apakah menurut ku-ko, ong-ko dan liang-ko sudah berubah?”

“hal itu aku tidak tahu, siang-moi, tapi bagaimanapun, keduanya adalah saudaraku, jadi apapun karakternya, kita akan tetap menjalin hubungan baik dengan mereka.”

“lalu bagaimana dengan Lun-ko, apakah dia orang baik?”

“benar, lun-ko adalah orang baik yang bersahaja, dia adalah bengcu pek-to, dia sastrawan yang banyak hikmat.” jawab Han-sai-ku mengenang wajah Han-fei-lun saat bertemu di kota chang-an.

Sebulan kemudian, Han-sai-ku dan keluarga memasuki kota huangsan, Han-sai-ku berhenti di depan sebuah rumah yang tergolong besar, seorang perempuan sedang duduk santai menikmati semilir hembusan angin di kesenjaan itu, ia berdiri saat melihat kereta kuda berhenti didepan rumahnya, Han-sai- ku turun bersama anak dan istrinya

“maaf, apakah Han-kwi-ong masih menempati rumah ini?” “maaf, saudara ini siapa?” tanya Siangkoan-hoa

“aku adalah Han-sai-ku, adik dari Han-kwi-ong, dan ini adalah anak dan istriku” “oh, begitukah, mar…mari masuk ku-te, saya adalah istri dari ong-ko.”

“terimakasih soso.” sahut Han-sai-ku, lalu mereka masuk dan duduk diruang tengah “bagaimanakah keadaan keluarga disini, dan kemanakah ong-ko, soso?” “hmh….sebenarnya ong-ko sudah lama pergi, sejak tiga belas tahun yang lalu.” “heh…bagaimana bisa, kenapa ia meninggalkan soso dan keluarga?”

“ong-ko awalnya hidup dengan mewah, kota huangsan diperas dan menjadi kota mati, dan itu menyebabkan lun-ko datang kemari untuk memperingatkannya, semua harta dikembalikan pada warga, dan ong-ko tidak terima, dan dengan marah meninggalkan kota.” “apakah ong-ko tidak pernah balik kesini?”

“sampai hari ini, dia belum pernah kembali, tapi perlu kamu ketahui ku-te, ong-ko buta saat pergi.” “bagaimana ong-ko bisa buta?”

“seminggu sebelum kedatangan lun-ko, kami didatangi oleh seorang kakek yang mengaku susiok kalian, dan mereka membicarakan sebuah kitab, dan mungkin terjadi ketegangan antar keduanya, akhirnya ong- ko mengalami kebutaan.

“apakah ong-ko berkelahi dengan kakek itu?”

“tidak, tapi kakek itu luar biasa, matanya berwarna merah, dan hanya beradu pandang dengan ong-ko, telah mengakibatkan ong-ko buta.”

“lalu apa yang terjadi, soso?”

“kakek itu berada disini satu mala, dan mengobati mata ong-ko, seminggu setelah ia pergi, lun-ko datang, dan ia marah lalu pergi dan tidak pernah kembali, bahkan tiga tahun yang lalu liang-te datang untuk mengunjunginya.”

“liang-ko kesini, apakah soso tahu dimana ia tinggal?”

“katanya ia tinggal di kota shinyang, tapi ia segera pergi ke chang-an dimana kakek itu tinggal.” “Di chang-an, dimana tepatnya soso?”

“di “hoa-kok” itu yang saya dengar dari pembicaraan ong-ko dengan kakek itu.”

Han-sai-ku merasa penasaran dengan sosok yang menjadi susiok mereka itu, kemudian sai-ku mengalihkan pembicaraan mengenai keadaan ong-hujin selam ini, Han-sai-ku tinggal selama tiga hari dirumah kwi-ong, setelah itu mereka melanjutkan perjalanan kekota Bicu, tempat dimana ayahnya tinggal.

Laki-laki berumur hampir tiga puluh tahun itu sedang sibuk memberangkatkan rombongan han-piauwkiok, dia adalah Han-bu-jit, anak kedua dari Han-hung-fei, han-bi-goat putri sulungnya sudah menikah dengan seorang pendekar dari gobi-pai, dan tinggal mereka tinggal dikota hopei, sementara anak bungsunya Han- bu-seng memimpin han-piuawkiok di kota jhangzhou.

“kalian berangkatlah, dan hati-hati diperjalanan!” perintah Han-bu-jit, rombongan pun berangkat, rombongan itu rombongan yang keempat yang diberangkatkan hari itu.

“a-tang, kalian antar semua barang dalam kereta kalian ketempatnya masing-masing, dan ini kwitansi pembayaran!”

“baik kongcu.” sahut piuawsu yang di panggil A-tang, merekapn berangkat untuk mengantarkan barang pada pemilik.

Saat Han-bu-jit hendak masuk kembali kedalam kantor, sebuah kereta kuda berhenti, seorang piuawsu datang mendekat, Han-sai-ku turun dari kereta kuda

“apakah tuan hendak memakai jasa piuwkiok?

“bukan, saya hendak bertemu dengan pimpinan Han-piuawkiok.”

“saya pimpinan Han-piuawkiok, anda ini siapakah?” sela Han-bu-jit masih berdiri di depan kantor “saya Han-sai-ku, hedak bertemu dengan Han-loya.”

“apa hubungan anda dengan ayahku?”

“maaf, bolehkah aku menjumpai ayah saudara?” “katakan dulu apa hubunganmu dengan ayahku.” ujar Han-bu-jit dengan nada tegas “aku anaknya, dan aku membawa keluargaku hendak bertemu beliau.”

“hmh….aku tidak punya saudara selain dari cici dan adikku.”

“kamu tidak bisa memungkiri keberadaanku sebagaimana kamu juga tidak bisa memungkiri Han-fei-lun.” “tai kucing dengan yang namanya Han-fei-lun, sebaiknya anda pergi dan bawa keluargamu dari sini!” “kamu terlalu menghina aku Han-bu-jit!” ujar Han-sai-ku agak marah

“apa kamu bilang!? kamu tiada lain anak haram, tahu!?” cela Han-bu-jit, Han-sai-ku bergerak hendak menampar mulut orang yang menjadi adiknya ini.

Han-bu-jit bukanlah orang lemah, dengan sigap ia memapaki serangan Han-sai-ku, halaman itu menjadi ajang pertempuran dahsyat, sepuluh piuawsu segera datang menonton pertarungan hebat dan tingkat tinggi itu. benturan dua sin-kang membuat tempat itu bergetar hebat, lima puluh jurus berlalu, Han-sai-ku belum mampu mendesak Han-bu-jit, apalagi menyampaikan niatnya yang hendak menampar mulut Han- bujit.

Dua bayangan kilat itu berkutat saling menyerang, dan akhirnya setelah dua ratus jurus, Han-bu-jit mulai kewalahan, ilmu yang mereka keluarkan memang sama, namun gerakan Han-sai-ku lebih kaya, karena perbendaharaan ilmunya sangat banyak, dan dalam sekejap ia merubah gerakannya dan berhasil menampar mulut Han-bu-jit dan menhadiahkan sebuah tendangan telak keperut Han-bu-jit, ilmu bun-liong- hoat hanya pancingan, sehinga Han-bu-jit salah kaprah untuk menghindar.

Han-bu-jit dengan mata bernyala merah menyerang kembali, namun baru dua puluh   jurus “hentikan perkelahian ini!?” teriak Han-hung-fei yang tiba-tiba muncul, namun Han-bu-jit tidak menggubris perintah ayahnya, Han-sai-ku yang melihat ayahnya, segera menjauh, tapi terus dikejar oleh Han-bu-jit, sehingga tak dapat tidak Han-sai-ku mengadakan perlawanan, kembali pertempuran itu berlangsung sengit, walhal malam sudah tiba, Han-sai-ku makin gemas dan marah pada Han-bu-jit, dia pun dengan sepenuh hati ingin memberi hajaran keras pada adiknya yang sombong dan tidak tahu adapt ini, seranganya menggulung laksana angina badai, ilmu bun-liong-hoat dikerahkan, Han-bu-jit sudah waspada dengan gerakan pancingan ini, tapi dia hanya mampu waspada setelah empat puluh jurus. 

“plak…buk…dugh…” kepalanya pening mendapat tamparan dikepalanya, dadanya telak menerima pukulan Han-sai-ku, dan ditambah lagi sebuah tendangan bersarang di lambungnya, Han-bu-jit ambruk sambil memuntahkan darah segar, dia memaksakan diri untuk berdiri, namun tubuhnya limbung, untungnya ayahnya segera menagkapnya, dan menyuruh dua pelayan untuk mengangkat putranya kedalam.

Han-sai-ku menjura didepan Han-hung-fei yang buta

“maaf ayah, anak datang telah membuat kacau dirumah ayah.” “si..siapakah kamu?”

“saya adalah Han-sai-ku, ayah.”

“oh…sai-ku, anak lin-moi, kamu datang dengan siapa?” “aku datang bersama anak dan istriku, ayah.” “oh..marilah masuk ku-ji, maafkan kelakuan adikmu.”

“tidak mengapa ayah.” sahut Sai-ku, dan ia pun berasama anak istrinya mengikuti langkah Han-hung-fei. “kenapa dengan anakku fei-ko?” tanya Lian-kim tiba-tiba

“oh, dia kurangajar kepada kakaknya, tida mengapa ia terluka sedikit.” “siapa kakaknya yang telah menghajarnya!?” “aku, bibi, namaku Han-sai-ku.”

“hmh……kurangajar sekali engkau, beraninya menghajar anakku!” teriak Lian-kim dengan mata menyala. “sudahlah kim-moi, jit-ji, tidak apa-apa, hanya luka sedikit.”

“sedikit kau bilang, anakku muntah darah, kamu membela anak haram yang baru datang ini!” teriak Lian- kim marah sambil menuding suaminya.

“bibi, aku minta maaf, jika telah menyinggung.” sela Han-sai-ku berusaha menyabarkan nenek yang sudah uzur itu

“cih….minta maaf, bukan sekarang saja engkau menyakitiku, bahkan ibumu yang sundal itu telah menyakitiku!” cela Lian-kim

“bicara apa kamu kim-moi , malu kita, mantu dan cucu kita ada disini!?” sela hung-fei

“tai kucing dengan orang-orang haram ini, suruh mereka pergi dari sini!” teriak lian-kim, sambil meninggalkan mereka, umpatannya masih terdengar saat memasuki ruangan dalam.

“ayah, sebaiknya kami pergi saja, sepertinya kami tidak diterima disini.” “hmh…..maafkanlah aku anakku, inilah kehidupan ayahmu yang pengecut ini.” “sudahlah ayah, tak ada gunanya disesali, tapi bagaimana ayah menjadi buta?”

“hmh…ayah mengalami hal ini dua belas tahun yang lalu, aku berhadapan dengan seorang yang sakti, berjulukan “ang-gan-kwi” (iblis mata merah), matanya membuat aku buta.”

“ayah dan kwi-ong mengalami nasib yang sama, oleh orang yang sama.” “apakah kwi-ong juga buta nak?”

“benar ayah, dan yang membutakan mata ayah itu katanya adalah susiok bagi kami.” “adik dari suhumu yang mana orang tersebut Ku-ji?”

“saya juga tidak tahu ayah, karena aku hanya mendengar cerita soso di huangsan.” “hmh…sudahlah, dan kamu tinggal dimana sekarang, ku-ji?”

“aku dan keluarga tingga di kun-ming.”

“oh, perjalanan yang jauh, itu nak, kenapa kamu kesini?” “aku hendak menemui ayah dan keluarga yang lain.”

“sikapmu ini bagus nak, dan tidak kusangka, kamu akan dapat berubah seperti ini.” “ini berkat pengajaran peng-siok, ayah.”

“wan-peng, oh..apakah ia masih hidup?”

“masih ayah, aku juga baru mengunjunginya di hutan sebelah timur kota khangsi.” “luar biasa, diakah yang mengajari, sehingga kamu mendapat jalan terang?”

“demikianlah ayah, paman juga telah berubah setelah mendengar syair seorang pemuda sastrawan kala itu, sejak itu paman menyendiri dan tidak mau terlibat urusan hek-to.” “beruntunglah kalian nak, dapat mengecap yang namanya bahagia.”

“baiklah, ayah, mungkin kami sebaiknya melanjutkan perjalanan.”

“hmh….malam begini kamu akan membawa cucu dan mantu, ah…nasibku yang buruk tidak dapat menahanmu anakku.”

“tidak mengapa ayah, anak maklum dengan keadaan ayah.” “hendak kemanakah lagi tujuanmu nak!?”

“kami hendak ke kaifeng, untuk menemui Lun-ko, setelah itu ke chang-an untuk menziarahi makam ibu.” “sampaikan salam ayah pada kakamu, dan adikmu Han-sian-hui.”

“baiklah ayah, kami berangkat ayah.”

“baik…maafkan aku mantu dan kalian dua cucuku.” sahut Han-hung-fei dengan mata berkaca-kaca.” “tidak mengapa Gak-hu, tabahkanlah hati gak-hu.”

“terimakasih mantu, hati-hatilah kalian di jalan.” ujar Han-hung-fei sambil mengantar anak dan mantunya keluar.

Naas memang hidup yang di alami Han-hung-fei, sejak kebutaannya, ia menjadi kehilangan wibawa didepan anak istrinya, sikapnya yang tidak tegas pada istrinya, yang ditenggarai perilaku pengecutnya menjadi boomerang yang menghantam dirinya sendiri, dia terpaksa tunduk pada istrinya yang gemas cemburu yang berkarat pada dirinya, kelakuannya yang tidak bisa ditegakkan didepan istrinya membuat ia merasa rendah diri.

“ku-ko, apakah kita malam ini meninggalkan kota Bicu?”

“tentu tidak siang-moi, kita akan mencari penginapan untuk melewatkan malam ini.” jawab Sai-ku, malam itu mereka tidur di sebuah penginapan kecil, dan keesokan harinya, mereka melanjutkan perjalanan menuju kota Kaifeng, hampir tiga hari perjalanan itu larut dengan kesunyian, kelaurga itu lebih banyak berdiam, Han-sai-ku larut dengan lamunan tentang keadaan ayahnya, sementara anak dan istrinya tidak tahu harus berbuat apa.

Pada hari keempat, perjalanan kembali normal, pemandangan disepanjang perjalanan membuat suasana berubah, panorama alam yang menawarkan keindahan, membuat hati terpana dan berdecak kagum, dan Han-sai-ku pun sudah melupakan permaianan pikirannya selama tiga hari ini, mereka istirahat di pantai sebuah telaga, setengah hari mereka menikmati kenyamanan ditempat itu, Han-liu-tan sangat gembira saat berenang di air yang sejuk dan jernih.

Di dalam hutan sebelah timur kota Kaifeng. Seorang gadis kecil berumur tiga belas tahun dengan gerakan luar biasa gesit bersilat didepan lelaki paruh baya berpakaian sastrawan, jurus-jurus yang dikeluarkan luar biasa indah dan kuat, suara yang jernih terdengar lantang saat ia mengepos sin-kang, hawa pukulan dari tangan yang kecil dan lentik itu berkesiuran membuat pakaian lelaki sastrawan itu berkibar, hampir dua jam gadis kecil bergerak lincah, dan akhirnya gadis kecil itu mendarat ringan di atas tanah setelah bersalto tiga kali diudara.

“bagaimana lun-ko, apakah gerakanku dalam jurus “liang-hok-bun-hoat” (jurus sastra penakluk sukma) masih ada yang salah?”

“tidak lagi hui-te, semua langkah dan gerak sudah tepat, dan nanti setelah “bun-sian-sin-kang” (tenaga sakti dewa sastra) serta “bun-ing-hong” (angin mega sastra) mencapai sempurna, maka dua ilmu tangan kosong “bun-lie-hoat” (jurus tarian sastra) dan “liang-hok-bun-hoat” (jurus sastra penakluk sukma) yang telah kamu latih akan menimbulkan efek yang luar biasa.” “jadi lun-ko, apakah aku akan mempelajari “bun-in-kiam-hoat” (jurus pedang mega sastra)?” tanya gadis kecil itu dengan sinar mata berbinar.

“belum lagi hui-te, karena ada satu lagi ilmu jurus tangan kosong yang akan koko ajarkan padamu.” “apakah nama jurus itu lun-ko?”

“nama jurusnya adalah “bun-sian-minling-ci” (jari titah dewa sastra)” “kapan aku akan mempelajari jurus tersebut, lun-ko?”

“dua minggu lagi, setelah semua ilmu yang kamu pelajari delapan tahun ini kamu lakukan dalam satu hari.”

“maksud lun-ko, setiap hari selama dua minggu ini aku harus melatih “tee-tong-pak-sian” (dewa utara menggetar bumi), “lam-liong-sin-ciang” (telapak sakti naga selatan), “in-hua-bun-pit” (pena sastra melukis mega), “kwi-hut-san-sian” (dewa kipas penakluk iblis), “bun-lie-hoat” (jurus tarian sastra), dan “liang-hok- bun-hoat” (jurus sastra penakluk sukma)”

“benar hui-te, karena jurus “bun-sian-minling-ci” merupakan serapan dari semua ilmu tadi.” “baiklah lun-ko, selama dua minggu ini, aku akan melatih seluruh ilmu yang telah kupelajari.”

“baiklah adiku, hari sudah jauh sore, sekarang marilah kita pulang.” lalu adik beradik yang berjauhan umur ini keluar dari hutan, umur “siauw-taihap” sudah empat puluh lima tahun, sementara adiknya itu masih tiga belas tahun.

Saat malam tiba, keduanya sampai di rumah, mereka disambut Han-hujin dan dua anaknya, Han-liang-jin dan Han-bwee-hoa, setelah keduanya mandi dan berganti pakaian, lalu merakapun makan, sementara di ruang pustaka puluhan murid sudah hadir untuk mengikuti pelajaran sastra, tidak lama mereka menunggu, Han-liang-jin masuk keruangan dan memberikan pelajaran kepada murid-murid, Han-liang-jin sudah satu tahun menggantikan ayahnya memberi pelajaran kepada murid-murid, baik pelajaran silat maupun sastra.

Dan dilain ruangan dua belas murid wanita termasuk Han-bwee-hoa dan Han-sian-hui diajari oleh Han-fei- lun, mereka mengikuti pelajaran dengan tekun, komplek besar itu hening, hanya suara han-fei-lun dan han-liang-ji yang terdengar saat menguraikan pelajaran, setelah dua jam pebuh kelas itu pun bubar, para murid kembali ke kamar masing-masing

“apakah bibi hui langsung istitahat!?” tanya Bwee-hoa

“benar hoa-ji, bibi hari ini sangat lelah, jadi bibi akan cepat istirahat.”

“baiklah bibi-hui, aku mungkin agak lama, karena aku mau membantu lin-sumoi mengerjakan beberapa tugas yang diberikan ayah.”

“ya, tidak apa hoa-ji.” ujar Sian-hui sambil meletakkan peralatannya di atas rak, dan duduk di atas ranjangnya.

Keesokan harinya komplek bukoan “sin-siucai” kembali aktif sebagaimana biasa, dari sejak matahari terbit para murid baik yang laki-laki maupun perempuan sudah duduk berbaris melakukan siulian di lianbhutia, setelah matahari naik tinggi, Han-liang-jin berdiri dan memimpin latihan, sementara di taman belakang Han-fei-lun dan adik kecilnya juga sudah memulai dengan latihan, mereka bergerak bersama dan seirama, semua ilmu yang dipelajari Han-sian-hui di peragakan.

Han-sian-hui dengan tekun dan telaten melatih semua ilmu yang dipelajarinya, kadang latihan itu dilakukan ditaman belakang, dan kadang di hutan sebelah timur, Han-fei-lun sangat perhatian kepada adiknya ini. seluruh kasih sayang ia tumpahkan, adiknya ini adalah amanah dipenghujung ajal ibunya tercinta, Han- sian-hui juga sangat saying dan hormat pada kakaknya yang demikian telaten membina dan menyayanginya, sejak umur tujuh tahun, ia sudah tahu benar siapa dia dalam keluarga, siapa ayahnya dan bagaimana ia dibawa kakaknya dari rumah ayah mereka.

Baginya kasih sayang kakak dan sosonya serta dua keponakannya berlimpah ruah kepadanya, kakaknya adalah ayah sekaligus ibu baginya, kebijakan kakaknya merupakan pijakan kokoh dalam jiwanya, karakter kakaknya merupakan anutan agung baginya, gerak dan tingkah kakaknya banyak mempengaruhi pembawaannya, dari cara langkah, nada bicara menyerupai kakaknya, hingga umur dua belas tahun pancaran wibawa bersahaja dalam dirinya menonjol dikalangan penghuni komplek bukoan.

Pagi itu kembali Han-sian-hui bersama kakaknya berlatih di dalam hutan, didepan kakaknya ia peragakan semua ilmu yang sudah ia pelajari dengan tangkas dan kuat, tanpa lelah ia tumpahkan segala ilmu yang ia serap selama ini, hingga akhirnya selesai pada saat senja temaram tiba, setelah mengaso sebentar, Han- fei-lun turun dari atas batu

“hui-te! sekarang perhatikan gerakan koko!” seru Fei-lun, lalu ia pun memperagakan jurus “bun-sian- minling-ci” (jari titah dewa sastra), gerakan itu dimulai dengan bhesi sam-kwa, kedua tangan dengan posisi jari telunjuk dan tengah berdiri, sementara tiga jari ditekuk saling mengikat, sejajar dengan didepan wajah, lalu diawali dengan sebuah salto diudara, dan saat menjejak tanah kuda-kuda berubah menjadi pat-kwa sementara tangan dengan posisi jari tetap mulai melukis diawan dalam rangkuman sastra yang penuh dengan kata dan makna, tangan dan jari kaya dengan gerakan kata, sementara kedudukan kaki kaya dengan gerak perpaduan bhesi pat-kwa, sam-kwa, dan hun-kwa.

Sebanyak dua kali Han-fei-lun memperagakannya dengan lambat, dan pada kali ketiga ilmu itu ia peragakan dengan cepat, sian-hui tanpa berkedip memperhatikan setiap langkah dan gerak kakaknya, ilmu yang terdiri dari delapan jurus itu cepat ditangkap dan difahami oleh sian-hui, setelah kakaknya selesai, maka ia pun menirunya dengan cermat hingga selesai, Han-fei-lun tersenyum melihat kecermatan adiknya.

“besok latihlah delapan jurus itu adikku, dan marilah kita bergegas karena hari sudah malam.” ujar Fei-lun dan keduanya segera berkelabat dari dalam hutan, dan sebentar saja keduanya sudah memasuki gerbang kota, bersamaan dengan masuknya sebuah kereta kuda

“maaf sicu! aku hendak bertanya!” seru lelaki yang berada di kursi sais, dia tiada lain adalah Han-sai-ku,

Han-fei-lun menoleh

“ada apakah sicu, apa yang dapat saya bantu?”

“tolong saya sicu, saya hendak kerumah saudara saya yang bernama Han-fei-lun, dimanakah rumahnya?” Han-fei-lun menatap lekat lelaki yang menanyakan dirinya, dan mengaku saudaranya, dan tiba-tiba Han- liu-tan keluar dalam kereta dan duduk disamping ayahnya.

“ayah apakah ini kota kaifeng?”

“benar tan-ji, sebentar lagi kita akan sampai dirumah lun-pek mu.”

“maaf sicu, kalau boleh tahu siapakah namamu, dan darimanakah kalian?” “aku bernama Han-sai-ku, sicu, dan kami dari kota kun-ming di wilayah barat”

“ku-te, apakah ini keluargamu?” tanya fei-lun dengan haru, sai-ku terkejut dengan panggilan dan nada suara yang berubah itu, ia menatap lekat pada lelaki didepannya

“lun-ko, apakah kamu lun-ko?” serunya serak

“benar..benar adikku, oh..apakah kamu yang datang dari jauh hendak mengunjungiku?”

“benar lun-ko, aku datang hendak menemuimu.” sahut Sai-ku segera turun dan menjura hormat pada saudara tuanya, dan diikuti oleh Han-liu-tan

“terimalah hormat adikmu lun-ko, ini adalah anak saya, ini istri saya serta putrid saya.” ujar Sai-ku, dan memperkenalkan keluarganya.

“adikku Sai-ku, naiklah kembali dan marilah kita kerumah.” ujar Fei-lun, lalu mereka naik kembali ke dalam kereta, fei-lun duduk disamping Sai-ku, sementara Han-sian-hui duduk didalam kereta bersama keluarga yang mengaku saudara kakaknya. Tidak lama kemudian mereka sampai di rumah Han-fei-lun, Yang-sian yang menunggu di balai-balai depan rumah segera berdiri menyambut suaminya yang datang-datang naik kereta kuda

“kita kedatangan tamukah lun-ko!?”

“benar sian-moi, tamu kita kali ini amat istimewa, ayo itu moisoso (adik ipar) dan dua keponakan sambutlah!” jawab Fei-lun dengan hati gembira, Yang-sian membawa Bu-sian masuk kedalam rumah.

“adikku, marilah kita makan dulu!”

“baik lun-ko, marilah!” sahut Sai-ku dengan haru dan bahagia dengan penyambutan kakaknya yang hangat luar biasa itu, dua pelayan segera menyiapkan kembali hidangan, lapat-lapat putra dan putri Han-fei-lun terdengar sedang mengajar para murid, makanan itu luar biasa nikmat dirasakan Han-sai-ku dan istrinya, tentu demikianlah, karena disamping rasa leper ditambah lagi dengan hangatnya penyambutan yang mereka terima.

Setelah selesai makan, Fei-lun mengajak adiknya untuk mandi, sementara Yang-sian mengantar Bu-siang kekamar mandi lainnya, sementara itu dua pelayan sibuk mempersiapkan kamar tamu, Han-sai-ku dan istrinya berganti pakaian, kamar mereka terlah disiapkan dan dirapikan, begitu juga kamar untuk dua anaknya

“alangkah luar biasa sambutan ci-hu pada kita ku-ko.”

“benar sekali sing-moi, aku tidak mengira akan seperti ini hangatnya sambutan beliau, marilah kita menemuinya.” sahut Sai-ku, suami isteri itu keluar dari kamar dengan perasaan ringan dan segar.

Ku-ji dan moi-soso dudulah, sungguh aku tak dapat melukiskan rasa bahagia dihatiku dengan kedatangan kalian ini.”

“demikian juga aku lun-ko, hangatnya sambutan lun-ko, dalam sekejap telah menghilangkan kepenatan kami”

“hahaha….syukurlah jika demikian adikku, dan ceritakanlah bagaimana perjalanan yang luar biasa jauh ini.”

“perjalanan sampai sejauh ini, tiada kendala lun-ko, niat kami untuk mengeunjungi keluarga telah terpenuhi.”

“adikku, keadaanmu ini sangat membuat hati tunduk dengan garis kehidupan, dan aku sangat bangga dengan itu, ceritakanlah ku-ji! bagaimana semua ini bisa terjadi?”

“awal dari semua keadaanku ini karena bertemu dengan pamanku Wan-peng di kota khagshi kira-kira dua puluh tahun yang lalu, dial ah yang menularkan perubahan dirinya kepadaku, dan tentunya lun-ko tahu bagaimana kami sebelumnya, paman menjadi lao dan aku bagian dari sam-cu.”

“oo, jadi paman itu adalah lao.?”

“benar lun-ko, paman di panggil dengan lao-pat, dia adalah adik kandung dari ibuku ” “bagaimana peng-siok itu berubah, ku-te?”

“apa yang merubah beliau amatlah sederhana, lun-ko.” “sederhana bagaimana maksudnya ku-te?”

“hanya karena berada dipuncak kemarahan dan kekecewaan, dan merasa terhina dikalahkan ayah, ia mendengar seorang sastrawan melantunkan sebuah syair yang membuat dia tergugah, dan sejak itu ia tidak lagi mau terlibat dengan urusan hek-to, ia berusaha untuk memperbaiki dirinnya, membersihkan batinnya.”

“ooo, jadi itukah siok-peng itu.” gumam Fei-lun, dan membuat Sai-ku heran “apakah lun-ko pernah bertemu dengan pek-siok?”

“bertatap muka tidak, tapi saat kondisi seperti yang kamu ceritakan itulah, aku melihatnya.” “eh…kalau begitu, sastrawan yang melantunkan syair itu adalah lun-ko sendiri.”

“benar ku-te, dan syukurlah jika demikian halnya, lalu setelah bertemu dengan peng-siok, selanjutnya bagaimana ku-te?”

“aku selama enam bulan hidup bersama peng-siok, dan belajar padanya, dan setelah itu aku berkelanan terus kebarat, dan akhirnya aku bertemu istriku di Kun-ming, dan kami menikah dan menetap disana.”

“sungguh aku tidak mengetahui latar belakang ku-ko, ci-hu, kalau tidak bertemu dengan siok-peng.” sela Bu-siang

“bersyukurlah kita moi-soso, bahwa suamimu memang kuat dan teguh untuk berubah, keluar dari kegelapan dan berusaha untuk tidak kembali, membutuhkan tekad yang luar biasa.”

“ini semua berkat syair lun-ko yang menyuruh untuk menilik kedalam batin sendiri.” “apakah bunyi syair itu ci-hu?” sela Bu-siang penasaran

“hehehe,,,apakah aku atau kamu yang melantunkannya ku-te.”

“lun-ko sendirilah yang melantunkannya, aku juga ingin mendengar sebagaimana peng-siok mendengar.” “hmh…bunyi syairnya adalah.” Han-fei-lun melantunkan syair

“kenapa menyalahkan warna kain, jika kulit sendiri tidak ada pilihan kenapa menyalahkan orang lain, jika diri juga penuh kesalahan renungkan sendiri kedalam batin, pasti ketemu sebab dari keadaan keadaan tanpa sebab tidaklah mungkin, demikianlah liku kehidupan…”

“luar biasa lun-ko, pantaslah siok-peng terpana dan tergugah, disamping kata prakata yang mengandung ajakan, nadanya juga demikian lembut menggugah.”

“tapi yang luar biasa ku-te, adalah peng-siok yang mampu membuka hatinya, dan mencerna apa yang didengar telinganya, dan yang membuat salut adalah kemampuannya untuk menata ulang kebobrokan batin yang ia rasakan dengan apik dan kokoh, dan kamu juga adikku tidaklah kurang luar biasanya, dengan hati manut, kamu dapat membuka hatimu, walhal disaat itu kamu dalam puncak kebanggaan dengan jati dirimu yang gelap gulita saat itu.”

Han-liang-jin muncul hampir bersamaan dengan adiknya Han-bwee-hoa

“jin-ji dan hoa-ji, beri salam pada pamanmu Han-sai-ku!” perintah Fei-lun pada kedua anaknya, Liang-ji dan Bwee-hoa segera menjura pada Sai-ku

“terimalah salam hormat kami siok.” ujar Liang-jin

“bangkitlah jiwi-ji, paman senang dan bangga dengan kalian.” sahut Sai-ku, lalu Liang-jin dan bwee-hoa duduk.

“lun-ko, aku dan keluarga sudah memngunjungi ayah, dan dia mengirimkan salam pada lun-ko dan hui- moi.”

“oh..apakah keadaan ayah baik-baik saja Ku-te?”

“sepertinya tidak lun-ko, ayah sudah lama mengalami kebutaan, apakah lun-ko tidak tahu?” “buta, saya tidak tahu ku-te, bagaimana ayah jadi buta?” “kata ayah, ia didatangi seorang yang berjulukan “ang-gan-kwi” (iblis mata merah), ayah beradu pandang dengan dia, dan ayah kalah hingga matanya pecah.”

“hmh..orang tua itu memang luar biasa, saya pernah bertemu dengan dia, ternyata dia pergi juga mencari ayah.”

“dan tidak hanya itu, kwi-ong juga mengalami hal yang sama, seminggu sebelum kedatangan lun-ko kesana.”

“ya…kebutaan kwi-ong saya tahu, jadi kamu juga sudah pergi ke huangsan, ku-te.”

“benar lun-ko, dan sepertinya “ang-gan-kwi” ini masih susiok kami, dan kedatangannya ke huangsan adalah untuk mengambil pusaka ayah yang ada ditangan ong-ko.”

“tentu ada maksud ia mengambil kitab itu, namun sampai sekarang, saya tidak pernah mendengar ada orang muncul dengan julukan “ang-gan-kwi”

“tapi dari cerita soso di huangsan, orang tua itu tinggal di lembah kembang di utara kota chang-an, dan saya yakin ok-liang pergi kesana, tiga tahun yang lalu”

“oo… begitu, hmh….misteri “ang-gan-kwi” ini perlu diselidiki.”

“benar lun-ko, kiranya jangan sempat ilmu –ilmu itu disalah gunakan.”

Pembicaraan adik beradi se ayah itu terus berlangsung hingga larut malam, bahkan sampai anak dan istri mereka berangkat tidur, masih banyak yang meraka bincangkan, hingga Sai-ku tahu tentang keberadaan Han-sian-hui, dan Fei-lun juga tahu tentang gambaran keadaan ayahnya di bicu dan sikap adik-adiknya yang kurang pantas.

Han-sai-ku dan keluarganya lebih sebulan tinggal di kaifeng, keberangkatan Han-sai-ku dan keluarganya dilepas oleh keluarga Han-fei-lun, dari kaifeng mereka akan menuju kota chang-an untuk menjiarahi makam ibu kandungnya Wan-lin, puas sudah hatinya setelah bertemu dengan saudaranya Han-fei-lun, demikian juga dengan keluarganya yang begitu baik diterima dengan harmonis.

Di bangunan ditengah “kongciak-kok” dua puluh orang sedang mengadakan pertemuan penting “sebaiknya kita laksanakan target pertama kita.” ujar “ui-bin-mo”

“benar, dan selama tiga tahun kita sudah merapungkan “liong-pian-tin” (barisan rantai naga)” timpal “kwi- sim-lo-tong”

“jika memang kita sepakat besok pagi kita akan berangkat, namun sebelumnya kita harus rencanakan tempat dan waktu bertemu dengan “siauw-taihap” sela “pak-sin-liong”

“menurut saya, kita langsung saja datangi rumahnya dan babat habis.” sahut “Huangho-koai”

“tidak bisa begitu, karena jika kita langsung kerumahnya kita tidak akan bisa mengeroyoknya sesuai rencana.”

“kalau begitu kita membuat surat tantangan kepadanya.” sela “ma-bin-kwi” “ya, demikian lebih tepat.” sahut iblis buta

“baik jika demikian, malam ini kita akan berkemas untuk perjalanan besok.” ujar “in-sin-ciang” sambil berdiri, dan sebagian mereka bubar, yang tinggal hanya iblis buta dan saudaranya “pak-sin-liong”

“apakah kamu sudah siap liang-te!?”

“aku selalu siap , ong-ko, tapi aku tidak tahu bagaimana denganmu.”

“aku lebih dari siap liang-te, aku sangat dendam kepadanya, yang telah mempereteli harta kekayaanku.” sahut Han-kwi-ong dengan mata berkilat, dan tidak lama kemudian kedua saudara itu meninggalkan ruangan untuk istirahat.

Keesokan harinya anggota barisan langit meninggalkan lembah merak, dan sebulan kemudian mereka sampai di “pek-wan-san” (hutan lutung putih) hutan sebelah utara kota kaifeng,

“baik, sesuai dengan rencana yang kita sepakati, bahwa kita akan menantang “siauw taihap”, maka kehutan inilah sebaiknya kita suruh dia.” ujar “ui-bin-mo”

“benar, dan tulislah surat tantangannya “hengsan-hek-peng” biar saya yang akan menyampaikannya kedalam kota.” sela “toh-mia-lan-mo”, lalu “hengsan-hek-peng” mengeluarkan sehelai kain putih dan menulis surat tantangan.

Tidak lama kemudian, toh-mia-laan-mo berkelabat dari tempat itu menuju kota Kaifeng, menjelang sore, ia memasuki kota, tidak sulit untuk menemukan kediaman “siauw-taihap” dan saat malam tiba, “toh-mia-lan- mo” sudah berada didepan komplek “sin-siucai”, keadaannya sepi dan hening, semua murid dan keluarga han sedang makan malam, dengan mengerahkan sin-kang “toh-mia-lan-mo” berseru dengan lantang

“siauw-taihap..keluarlah jika kamu punya nyali!” dan berkebetulan dua orang murid lewat hendak masuk keruang perpustakaan

“cianpwe, suhu dan keluarga sedang makan malam, apakah hal yang penting sehingga cianpwe datang kesini?” sela seorang murid

“huh….” dengus “toh-mia-lan-mo” sambil mengibaskan tangannya, dan sebuah benda wana putih melesat ke arah murid yang berbicara, dengan sigap ia memiringkan tubuhnya, sehingga benda itu hanya lewat di sampingnya dan menancap di tiang selaras rumah, “toh-mia-lan-mo” tanpa cakap sudah berkelabat pergi

“apa maksudnya dengan menyerang kita, dan lalu pergi suheng?”

“mungkin ia hendak memberikan tantangan pada suhu, lihatlah benda yang dilemparnya adalah sehelai kain.” lalu keduanya mendekati tiang, dimana kain putih berlipat melekat tertahan sebuah senjata rahasia berupa paku kecil, lalu kemudian mereka terus masuk kedalam perpustakaan tanpa mengusik benda tersebut.

Murid-murid yang lain pun pada datang dan mengambil tempat duduk, dan tidak berapa lama “han-liang- jin” masuk dan memulai pelajaran, setelah dua jam berlangsung pelajaran selesai, dan dua murid yang tadi dijumpai “toh-mia-lan-mo” mendekati Han-liang-jin” 

“suheng, tadi ada seorang meneriaki suhu, dan menancapkan sebuah surat tantangan di tiaang selaras rumah.”

“jadi, orang yang tadi berteriak datang hanya untuk memberikan surat tantangan?” “sepertinya demikianlah suheng.”

“baik kalau begitu, dan kalian kembalilah jiwi-sute!” kedua murid itu segera menjura dan berbalik keluar dari ruangan.

Han-liang-jin keluar dan melangkah kearah tiang selaras rumah, lalu mengambil surat yang dilemparkan dan membawa kedalam rumah, ia duduk di ruang tengah menunggu ayahnya yang belum keluar dari kelas belajar murid perempuan, tak lama ia menungu sepuluh murid sudah keluar dan Han-fei-lun keluar bersama putri dan adiknya, lalu masuk keruang tengah, setelah ayahnya duduk

“ayah, orang yang berteriak tadi melemparkan surat tantangan!” ujar liang-jin sambil meletakkan kain putih diatas meja, Fei-lun mengambil surat itu dan membacanya.

“Thian-tin” mengajukan tantangan pada “siauw taihap” , besok pagi di pek-wan-san “tee-tin” menunggu! jika memang punya nyali dan kehormatan penuhi tantangan “apakah ayah akan memenuhi tantangan itu?” “sudah merupakan satu keharusan untuk memenuhi undangan orang, dan karena ini tantangan dari yang menamakan dirinya barisan langit, maka ini artinya lebih dari seorang, jadi pesan ayah padamu jin-ji, jika ayah tidak kembali saat makan siang maka susul lah ayah.” Jawab Han-fei-lun, dan liang-jin mengangguk mengerti.

“ayah, apakah ayah kenal barisan langit ini?” sela bwee-hoa

“ayah baru dengar nama ini, yang pasti mereka ini adalah hek-to yang sudah mempersiapkan diri.”

“jika demikian, lun-ko hati-hatilah, sangat bisa jadi mereka akan curang dalam tantangan ini.” sela Han- hujin dengan hati cemas

“doakan saja lian-moi, semoga koko dapat mengatasinya.” sahut Fei-lun menetapkan hati istrinya.

Keesokan harinya, Fei-lun menuju pek-wan-san, dan saat matahari naik sepenggalah, ia sudah memasuki hutan lutung putih, dan tidak berapa lama Fei-lun melihat lima orang berumur sepantaran dengan dirinya berdiri keren menatapnya dengan tajam, mereka itu adalah “ui-bin-mo” , “toh-mia-lan-mo” , “ma-bin-kwi, “huangho-koai” dan “in-sin-ciang”

“bagus kamu sudah datang “siauw-taihap”!” ujar “ui-bin-mo” dengan nada sinis

“cuwi mengundang, jadi saya haruslah datang.” sahut Han-fei-lun tenang, melihat ketenangan itu, hati lima orang itu bergetar

“kalian berlimakah yang menamakan diri dengan “thian-tin”?”

“kita tidak perlu berbasa-basi, jadi bersiaplah “siauw-taihap”!” sahut “ui-bin-mo” dan perkataan itu seperti komando bagi empat rekannya langsung menyerang, dan Han-fei-lun yang sedari tadi siap dan waspada melompat keatas dan serangan lima orang itu luput, dan saat Han-fei-lun menjejak tanah, kelimanya sudah mengambil posisi masing-masing, Han—fei-lun hanya sesaat tegak, karena “ui-bin-mo” sudah memulai serangan dari arah kanan, dan disusul “in-sin-ciang” dari arah kiri, jarak serangan hanya beberapa detik, dan Han-fei-lun dengan gesit memakai semua serangan yang laksana gelombang yang beruntun.

Pertempuran itu berlangsung cepat dan seru, lima orang itu dengan gerakan yang kuat dan teratur berusaha menekan kedudukan “siauw-taihap” namun hingga tiga puluh jurus mereka belum berhasil mendesak bengcu yang kosen ini, selama tiga puluh jurus itu belum memberikan serangan berarti, karena bengcu yang bijaksana ini terlebih dahulu membaca keadaan lima lawannya dalam formasi serangan yang luar biasa dahsyat itu, setelah jurus keempat puluh, “siauw-taihap mengeluarkan kipas terselip dipingganganya, dengan jurus “tee-tong-pak-sian” (dewa utara menggetar bumi) membangun serangan yang kuat dan cepat, lima lawannya mulai merasakan kekosenan sang bengcu, setiap serangan mereka terbentur dengan kuatnya sin-kang disetiap kibasan kipas “saiauw-taihap” kipas yang digerakkan dengan begitu luar biasa membuat serangan lima lawannya bergetar dan terpental.

Pertarungan dengan jumlah tidak seimbang itu berlangsung sengit, satu jam sudah berlangsung, puluhan jurus sudah belalu, formasi serangan lima lawan memang harus diakui sangat a lot dan ulet, karena walaupun setiap serangan terpental, siauw-taihap tidak dapat melanjukan serangan karena hanya dalam hitungan detik empat serangan sudah harus di elak dan ditangkis, namun dengan tabah “siauw-taihap” untuk mencari titik kelemahan dari barisan yang harus diakui sangat kuat dan cepat itu.

Dan akhirnya setelah pertarungan berlansung selama dua jam, “siauw-taihap” mengkombinasikan dua ilmunya “tee-tong-pak-sian” dengan “lam-liong-sin-ciang”, sehingga sepuluh jurus kemudian, saat serangan “ma-bin-kwi” terpental dengan gerakan kipasnya, lansung disusul dengan sebuah pukulan jarak jauh dalam rangkaian jurus “lam-liong-sin-chiang” dan tak pelak “ma-bin-kwi” tidak kuasa menghindar dan tubuhnya telak meneriima serangkum pukulan dahsyat sehingga ia terlempar dan menabrak pohon hingga tumbang, dan disaat yang bersamaan Han-fei-lun sudah memamapaki empat serangan lawan yang lain.

Fatal bagi “Toh-mia-lan-mo” yang terkejut melihat seorang rekannya ambruk, sehingga serangannya yang terbentur membuat ia tidak cepat untuk menghindar sebagimana sifat formasi yang mereka ciptakan, dan tak pelak sebuah serangan kilat dimana daun kipas menyobek urat nadi lehernya, darah muncrat, dan untungnya tiga serangan sudah menyibukan “siauw-taihap, namun tiga serangan itu segera dengan mudah dipatahkan, dan serangan balasan dari bengcu tidak dapat lagi dibendung dan dalam sepuluh gebrakan, susul menyusul tiga lawannya terjungkal ambruk tak berdaya.

Di akhir gebrakan “siauw-taihap” dua lawannya tewas seketika, yakni “ui-bin-mo” dan “huangho-koai” tengkorak kepala mereka pecah akibat ketukan gagang kipas “siauw-taihap” darah keluar dari mata dan telinga, sementara “in-sin-ciang” muntah darah menerima pukulan sakti dari bengcu, dan tak lama “toh- mia-lan-mo” yang menggelepar seperti ayam disembelih akhirnya terdiam karena nyawanya sudah terbang, ia tewas bermandikan darahnya sendiri.

Han-fei-lun menatap dua lawannya yang terduduk dengan muka pucat dan nafas tersegal-segal, tapi hal itu tidak berlangsung lama, lima banyangan tiba-tiba datang menyerbunya, dengan sigap “siauw-taihap” berkelit, lima orang ini adalah “lam-giam-li”, “kwi-sim-toanio”, “hengsan-hek-peng”, “pek-lek-ciang-kwi” dan “houw-hiat-mo”

Serangan mereka datang bertubi-tubi, namun dengan gin-kangnya yang tinggi membuat bengcu sangat sulit untuk didesak, terlebih “sin-kang “siauw-taihap” memang jauh diatas semua lawannya, kembali apa yang di alami lima pengeroyok pertama, semua serangan terbentur dan kali ini lebih cepat karena kombinasi serangan bengcu memporak-porandakan barisan mereka, hanya satu jam berkutatnya pertarungan, lima lawannya sudah terdesak hebat, hancurnya formasi dimulai dengan tumbangnya “pek- lek-ciang-kwi dengan sebuah pukulan “lam-liong-sin-ciang, lalu disusul dengan ambruknya lam-giam-li dengan nyawa putus, karena dadanya remuk kena jotosan gagang kipas, dan kemudian disusul tewasnya “hengsan-hek-peng” karena tidak kuasa menahan hebatnya tendangan yang menghantam dadanya hingga rongga itu remuk, lalu disat hampir bersamaan “kwi-sim-toanio” dan “houw-hiat-mo” tewas terjungkal, tengkorak kepala “houw-hiat-mo” pecah, sama hal dengan dua rekannya pada rombongan pertama, sementara “kwi-sim-toanio” mengalami nasib yang sama dengan “lam-giam-li”, rombongan ini empat tewas dan “pek-lek-ciang-kwi” megap-megap terluka parah.

Tiga orang yang terluka parah itu menatap tajam pada Han-fei-lun

“sebutkan, siapa kalian sebenarnya!?” namun tidak ada jawaban dari tiga orang yang terluka parah itu, dan tidak lama kemudian lima bayangan muncul lagi dan langsung menyerang, sesaat “siauw-taihap” terkejut karena tidak menyangka akan ada lagi lima orang yang menyerangnya, beberapa jurus “siauw-taihap” kelabakan, dan untungnya ia cepat menguasai keadaan dan membangun pertahanan, gelombang serangan dari lima lawan baru ini luar biasa, mereka adalah “kwi-lim-koai”, “lui-kong-twi”, “hwa-I-kwi-bo”, “kang-jiu” dan “sin-jiu-mo”.

Hari sudah lewat siang, desakan lima lawannya makin gencar dan demikian rapat menekannya, kali ini “siauw-taihap” hanya dapat bertahan, karena tidak punya peluang untuk membangun serangan, karena tekanan yang demikian kuat dan rapat, dan sedikit lelah setelah bertempur setengah hari penuh, sebuah sabetan pedang dari “hwa-i-kwi-bo” melukai bahunya, melihat hasil yang mulai tampak, membuat lima lawannya makin bertubi-tubi menekan pertahanan “siauw-taihap” dan saat itu putra bengcu sudah tiba dan menonton pertandingan luar biasa itu.

Melihat kemunculan Han-liang-jin, lima lawannya terkejut, dan kelengahan itu sudah cukup membuat “siauw-taihap” untuk bangkit, segera Fei-lun mengeluarkan moupitnya dan serangan kombinasai “in-hua- bun-pit” (pena sastra melukis mega) dan “kwi-hut-san-sian” dibangun dengan gerakan cepat, tak ayal lima lawannya kelimpungan dan berusaha menghindar dari kejaran dua ilmu luar biasa ini, sekarang keadaan berbalik, “siauw-taihap yang tadi bertahan, sekarang sudah pada posisi menyerang, lima lawannya kalah tenaga dan kecepatan, dan hanya tiga puluh puluh jurus mereka sanggup membendung keunikan dua serangan luar biasa dari “siauw-taihap”.

Korban pertama dimulai dengan ketukan gagang pada kepala “kwi-lim-koai” ia ambruk dan sesaat menggelepar lalu tewas, lalu disusul “sin-jiu-mo” tewas seketika karena jantungnya pecah di hantam tusukan moupit yang penuh tenaga sin-kang, lalu sebuah tendangan menghantam perut “hwa-i-kwi-bo” ia tersedak dan nyawa putus mengalami guncangan hebat pada perutnya, “kang-jiu” mengalami hal yang sama dengan “toh-mia-lan-mo, dimana urat lehernya dikoyak daun kipas “siauw-taihap” dia ambruk bermandikan darah, “lui-kong-twi” ambruk dengan tulang punggung patah di totol moupit “siauw-taihap” dia menjerit histeris sangkit nyeri dan ngilunya, terlebih ia terjerembab mengeggerus tanah sepanjang dua tombak.

Dengan nafas agak sesak “siauw-taihap” memandang empat lawannya yang masih hidup, lalu menatap putranya “jin-ji, segera kuburkan mayat-mayat ini!” mendengar perintah itu liang-jin, segera mencari tempat lunak dan menggali lobang besar, dan saat senja tiba, sebuah lobang besar sudah selesai, lalu Liang-jian mengangkat mayat itu satu persatu dan menjejerkannya dengan rapi, setelah sebelas mayat dimasukkan Han-lian-jin menguruk tanah kedalam lobang, dan kuburan besar itu pun selesai.

“disebalah selatan kota ada seorang tabib, jadi kalian segeralah kesana, untuk mengobati luka kalian.” ujar Han-fei-lun lembut, lalu ia berkelabat dari tempat itu, dan diikuti Liang-jin, mereka berlari cepat menuju kota, dan saat malam tiba, ayah dan anak itu sampai dirumah, Han-hujin meresa lega, setelah melihat suaminya pulang dengan selamat, luka di pundak suaminya segera ia periksa dan bersihkan, dan dengan telaten dan penuh perhatian ia merawat luka suaminya, yang sempat dua hari demam.

Setelah “siauw-taihap” dan putranya meninggalkan hutan, saat malam tiba rombongan terakhir tiba, namun lawan sudah pergi.

“bagaimana ini, rencana kita mentah dan kita dipecundangi oleh “siauw-taihap” ujar “ang-mo-kwi” dengan nada geram.

“bagaimana keadan kalian?” sela iblis “pak-sin-liomg”

“segeralah kami diobati dulu, dan kata “siauw-taihap” ada seorang tabib diselatan kota.” sahut “in-sin- ciang”

“sudah kalau begitu, kita kesana saja, dan setelah itu baru kita bicarakan rencana selanjutnya.” sahut iblis buta, lalu empat rekannya membopong empat rekannya yang terluka, dan kembali hutan itu sunyi dan mencekam, dan sebuah kuburan besar teronggok diantara pepeohonan.

Sembilan orang itu sampai kekediaman Tan-sinse yang berumur enam puluh tahun di belahan selatan kota, segera ia memeriksa empat orang yang terluka hebat, tangannya yang cekatan menggodok obat, kemudian ia memberi minum keempat orang pasiennya

“untung luka kalian tidak ada yang mengandung racun, tapi walaupun demikian, setidaknya kalian selama dua minggu, jangan memaksakan diri bekerja berat atau mengeluarkan banyak tenaga.”

Sementara iblis buta dan empat rekannya menunggu di luar, mereka tenggelam dengan pikiran masing- masing

“tidak disangka usaha kita selama tiga tahun tidak ada gunanya.” gumam “kwi-sim-lo-tong”

“memang sangat membuat penasaran, kita tak obahnya anak-anak didepan “siauw-taihap” sela “ban-pi- kwi”

“bagaimana menurutmu iblis buta, apa yang harus kita lakukan?” tanya “ang-mou-kwi” “aku juga bingung, usaha yang bagaimana lagi untuk menundukkannya.”

“ong-ko, sebaiknya hal ini kita bicarakan dengan susiok kita itu.”

“apakah ia akan mau membantu kita, kamu tahukan bahwa kitab pusaka kita telah diambilnya.”

“saya yakin ia akan membantu kita, karena dia juga mempunya rencana pada adik kita anak dari bi-kwi.” “apa rencananya itu?”

“ia dan bi-kwi mengharapkan kelak bun-liong akan menjadi bengcu Hek-to.”

“jika memang demikian, sudah sepatutnya kita mendukung harapannya itu.” sela “ang-mou-kwi”

“benar, terlebih ia adalah susiok kalian, dan tentunya ilmunya hebat dan luar biasa.” tambah “ban-pi-kwi” “baiklah, jika kita sepakat, kita akan kesana setelah empat rekan kita sembuh.” sahut iblis buta. Dipinggir kota chang-an tepatnya areal pekuburan warga, keluarga Han-sai-ku sedang duduk bersimpuh di depan tiga makam, aroma dupabinting yang dibakar merebak disekitar pekuburan itu, setelah satu jam Han-sai-ku dan keluarganya kembali ke penginapan.

“tinggallah kalian disini siang-moi, akan aku usahakan saat malam tiba aku sudah kembali dari “hoa-kok”

“baiklah koko, dan hati-hatilah di sana.” sahut Han-hujin, lalu Han-sai-ku meninggalkan kamar dan keluar penginapan.

Menjelang sore, sampailah Sai-ku didepan sebuah bangunan megah ditengah lembah kembang, seorang pemuda berumur tujuh belas tahun sedang duduk istirahat sambil mengeringkan keringatnya, sepertinya ia baru selesai latihan, matanya yang tajam memandang kearah Han-sai-ku yang memasuki halaman

“anda siapa dan kenapa datang kemari!?”

“saya Han-sai-ku dan hendak bertemu dengan seorang susiok yang katanya tinggal disini.”

“liong-ji…! segeralah mandi dan sebentar lagi kita akan makan.” teriak Li-cing yang tiba-tiba keluar “eh…..sam-cu ternyata, mari..mari masuk sam-cu!” ujar Li-cing dengan senyum ramah

“siang-mou-bi-kwi, kamukah yang menempati rumah ini?” “benar sam-cu, marilah masuk kedalam!”

Han-sai-ku masuk kedalam rumah dan tidak lama setelah ia duduk pelayan telah datang menyediakan minuman

“bi-kwi, aku datang hendak bertemu susiok yang katanya tinggal disini.”

“oh..sebentar sam-cu, aku kedalam dulu untuk menyampaikan padanya.” sahut Li-cing, lalu ia masuk kedalam, dan tidak berapa lama ia keluar bersama suaminya Tan-kui dengan mata terpejam

“hehehe…..kamukah yang bernama Han-sai-ku!?” “benar, dan inikah yang menjadi susiok kami?”

“hehehehe…..benar aku adalah Tan-kui sute dari suhu kalian “lam-sin-pek” “dimanakah sam-cu selama ini?” sela Li-cing

“aku sekarang tinggal di kun-ming wilayah barat.”

“hehehe…jauh-jauh dari wilayah barat datang kesini, tentu urusan kitab bukan?”

“bisa dikatakan demikianlah susiok, aku juga sudah dari rumah ong-ko di huangsan, dan dari cerita soso yang kudengar membuat hati pernasaran.”

“apa yang membuatmu penasaran ku-ji?”

“selaku susiok, bagaimana tega membuat ong-ko menjadi buta.” “hahahhaa…lucu jika hal seperti itu keluar dari mulutmu ku-ji.” “apa maksud susiok dengan mengatakan lucu?”

“hehee..ku-ji, kita ini adalah hek-to, dan tidak pernah berkutat pada pertanyaan kenapa, dan tentang kebutaan han-kwi-ong, salah dia sendiri menipu dengan kemampuan yang masih jauh dibawahku.”

“dan kalau boleh tahu kenapa susiok yang sudah demikian hebat masih menginginkan kitab tersebut?” “Hehehe….kalian merasa berhak dengan kitab ayah kalian, tapi muridku juga punya hak yang sama dengan kalian, dan ketahuilah karena mengingat kalian adalah sutit bagiku, maka aku masih berlaku lembut dengan kalian dengan mengedepankan hak diantara kalian, sebab tanpa itu pun, tidak ada yang janggal dalam kamu kita sebagai hek-to untuk mendapatkan apa yang kita mau.”

“sam-cu, ketahuilah bahwa liong-ji yang tadi sam-cu jumpai di luar adalah anakku, dan dia adalah adik se ayah bagi sam-cu.” sela Li-cing

“hujin.. beberapa tamu datang dan sedang menunggu di luar.” sela seorang pelayan

“baik aku akan coba lihat, siapa yang datang.” sahut Li-cing, dan ia pun keluar, setelah sampai di luar dengan senyum ia menyambut kedatangan tamunya yang ternayat kwi-ong, ok-liang dan tujuh orang “thian-tin” lainnya.

“bi-kwi! apakah susiok ada?” tanya Ok-liang

“ada ji-cu, marilah masuk, dan kebetulan sekali sam-cu ada disini.” “eh….ku-te ada disini!?” seru kwi-ong dan ok-liang bersamaan

“benar, marilah..!” sahut Li-cing, lalu merekapun masuk kedalam rumah

“hahaha….ong-ji, liang-ji bagus kalian datang.” sapa Tan-kui, sai-ku yang melihat kedua kakaknya segera berdiri dan menjura

“kebetulan sekali kita bertemu disini ong-ko dan liang-ko.” “hehehe….sai-ku, cukuplah basa-basi itu.” sela Ok-liang

“sebaiknya kia makan dulu, dan setelah itu baru kalian lanjutkan pembicaraan.” ujar Li-cing

“benar, marilah ong-ji, dan kalian semua juga! sela Tan-kui, lalu merekapun menuju ruang makan, dan bersamaa Han-bun-liong juga sudah keluar dari kamarnya memasuki ruagan makan, merekapun makan dengan suasana akrab, setelah selesai makan Tan-kui mengajak semua tamunya ke ruangan dekat lianbhutia, begitu pula dengan Li-cing dan putranya

“ong-ji, apa hal yang demikian penting, hinga kamu dan tujuh temanmu ini datang kemari?”

“begini susiok, kami telah membentuk satu barisan yang kami namakan “thian-tin” yang target pertamanya adalah menewaskan “siauw-taihap”

“eh…apa yang kamu katakan ini ong-ko, siuaw-taihap adalah saudara seayah bagi kita, bagaimana kamu berniat demikian.” sela Sai-ku denga nada penasaran

“kamu kenapa ku-te, tidak patut kamu mempertanyakan motif kita sebagai hekto.” tegur Ok-liang “benar ku-ji, jangan kamu merusak suasana pertemuan ini!” sela Tan-kui tegas, Han-sai-ku terdiam. “Lanjutkan ong-ji!”

“dari hasil pertemuan yang kami lakukan di lembah merak di kota Tianjin, maka “thian-tin” berjumlah dua puluh orang, kemudian sebelum kami menemui target pertama, selam tiga tahun kami menciptakan formasi pengeroyokan dengan harapan dapat melumpuhkan “siauw-taihap”

“lalu bagaimana, apakah kalian berhasil?”

“kami gagal susiok, dan sebelas dari kami menemui ajal ditangan “siauw-taihap” “hmh…lalu kalian datang kesini untuk apa?”

“kami kesini, supaya susiok turun tangan sendiri menewaskan “siauw-taihap” “hehehe….bagimana kalian yakin aku mau mengabulkan permintaan kalian?”

“susiok adalah senior hek-to saat ini, jika bukan susiok yang turun tangan, lalu siapa lagi, dan terlebih susiok punya cita-cita sendiri kepada adik kami Han-bun-liong.” Jawab Ok-liang

“hehehe..bagaimana pendapatmu ku-ji?”

“aku tidak ada komentar tentang niat dan rencana ini susiok, dan sebaiknya aku permisi.”

“ku-te, kami harap kamu ikut andil dalam rencana ini, kita adalah cu-sam pewaris dari enam datuk hek-to, apa kamu hendak mengingkari itu?”

“warisan tidak aku ingkari, tapi sudah lama aku tidak ingin terlibat dengan urusan hek-to.” “bodoh, arwah ibumu akan merasa kecewa dengan sikapmu ini!”

“bagaimana liang-ko tahu ibuku kecewa.”

“heh….sejak awal kita telah diamanatkan ibu-ibu kita untuk mempertahankan hek-to, jika kamu tidak melaksanakannya, bukankah kamu telah mengecewakan ibumu?”

“liang-ko tahu apa dengan amanat dan tanggung jawab, dan saya tidak mau memperpanjang, permisi!” sahut Sai-ku sambil berdiri dari tempat duduknya, dan segera melangkah keluar

“tunggu dulu sai-ku! bentak tan-kui

“apa lagi susiok? aku tidak ingin berbantah dengan kalian”

“yang mau berbantah siapa sai-ku, aku hanya mau bertaruh denganmu” “apa maksud susiok?”

“kamu boleh meninggalkan lembah ini, asal kamu mampu mengalahkan adikmu bun-liong.” “apakah itu perlu susiok?”

“sangat perlu, karena kekurangajaranmu yang menghianati hek-to.”

“sebaiknya kamu pikirkan sekali lagi ku-te, sebelum semuanya terlanjur.” sela kwi-ong

“tidak ada yang perlu kupikirkan perihal menjauhi prinsip hek-to, keluarlah kamu bun-liong!” sahut Sai-ku sambil melangkah keluar ruangan dan masuk le lianbutia, mereka semua keluar dan menuju lianbutia, Han-sai-ku dan Han-bun-liong turun kelapangan.

“liong-ji! kamu beri penghajaran padanya.” teriak Tan-kui, mendengar perintah suhunya, bun-liong langsung melompat menyerang Sai-ku, Han-sai-ku yang sudah siap siaga, berkelit dan membalas dengan serangan tidak kalah dahsyatnya, pertempuran pun berlangsung dengan ketat, suatu ketika sebuah serangan penuh hawa sin-kang dalam gerak “paid-hud-bun-sian” (dewa sastra menyembah budha) di sambut dengan ilmu yang sama oleh bun-liong, kedua tubuh mereka berputar laksana dua angin puting beliaung yang bertabrakan

“dhuar…” dan tak ayal tubuh Han-sai-ku terlempar dan melabrak dinding, tubuhnya ambruk kelantai dua kali ia memuntahkan darah segar, dan nafasnya sesak, sementara Bun-liong berdiri tak bergeming.

Hanya dalam dua tiga puluh jurus, Han-sai-ku yang kalah gin-kang dan sin-kang menatap sayu pada lawan yang menjadi adiknya ini

“kamu kalah sai-ku, dan itu artinya kamu tidak boleh keluar dari lembah ini.” “untuk apa kalian sekap aku disini?” tanyanya lemah “hehehe…..daripada kamu mencela hek-to dengan sikapmu, sekalian saja kamu tidak berguna.”

“liong-ji, patahkan dua tangan dan kakinya!” teriak Tan-kui, Han-bun-liong segera melangkah dan mendekati tubuh sai-ku yang sudah tidak berdaya, dan dalam dua gerakan kilat terdengar tulang patah, dua tangan Han-sai-ku patah dua, dari bahu kesiku, dan dari siku kelengan, begitu juga kedua kakinya patah dua, dari pinggul ke lutut, dan dari lutut ke tungkai.

benar-benar kekejaman luar biasa yang dilakukan Han-bun-liong pada saudara seayahnya ini, Han-sai-ku tergeletak pingsan, semua yang menonton peristiwa itu hening, hanya ketawa Tan-kui yang terdengar.

“cing-moi, suruh pelayan membawa sai-ku kedalam gudang dibelakang!” teriak Tan-kui, dan ia pun berdiri dan meninggalkan lianbutia, semuanya mengukutinya masuk kembali keruang pertemuan tadi, seakan- akan tidak ada yang terjadi mereka melanjutkan pembicaraan.