-->

Warisan Berdarah Jilid 3

Jilid 3

“lalu berapa orang yang tanahnya disita oleh kwi-ong?” tanya han-fei-lun, lalu tio-kam berbalik pada semua petani

“coba tunjuk tangan siapa yang tanahnya telah disita!” teriak Tio-kam, lalu dia menghitung semua yang tunjuk tangan.

“ada seratus satu orang yang tunjuk tangan taijin.”

“baik, dengar kalian yang tanah disita, sejak hari ini kalian kembali memiliki tanah kalian kembali, begitu juga orang-orang yang dari lima desa lainnya.”

“hore….hore….” teriak para petani, lalu Han-fei-lun melambaikan tangan untuk menyuruh tenang, suasana kembali hening

“Tio-twako, suruh sepuluh orang untuk mengeluarkan tumpukan hasil pertanian dibelakang, jumlahnya ada dua ratus goni beras dan seratus goni jagung, dan masing-masing desa mendapat delapan goni beras dan empat goni jagung.”

“baik taijin.” sahut Tio-kam, lalu mengajak sepuluh orang untuk mengeluarkan tumpukan hasil tani, dan dibantu oleh beberapa orang lainnya, dan tiga jam kemudian tumpukan itu sudah berpindah ketengah halaman, dan di tumpuk menjadi dua puluh lima, dan saat itu petani dari lima desa pun datang, hingga tempat itu semakin ramai.

“hasil tani ini saya serahkan kembali, dan saya minta yang dituakan dimasing-masing desa untuk membaginya dengan baik.”

“baik taijin, kami akan lakukan sesuai pesan taijin.” sahut Tio-kam, kemudian Han-fei-lun menyuruh dua pelayan mengangkat sebuah peti dan meletakkannya disamping Han-fei-lun, dan juga menyuruh tio-kam menghitung kepala rumah tangga para petani

“baik, karena sicu semua terdiri dari lima ratus kepala rumah tangga, maka masing-masing kepala mendapat lima keeping wang emas, coba para sicu membentuk lima barisan, dan lima lopek ini akan membagikannya!” ujar Han-fei-lun, lalu merekapun segera berbaris, dan lima pelayan laki-laki pun membagikan harta tersebut.

Semua petani merasa gembira menerima pembagian besar itu, terlebih tiga ratus orang yang tanahnya kembali, pembagian itu selesai sampai larut malam, dan malam itu juga para petani kembali kedesa masing-masing dengan hati gembira, Han-fei-lun masuk kedalam kamarnya untuk istirahat.

Keesokan harinya berita itu tersebar diseluruh penjuru kota, dan menjelang siang ada enam puluh orang yang menghadap Han-fei-lun, dan mereka itu pemilik toko, dan oleh Han-fei-lun mengembalikan kembali toko mereka dan menyerahkan lima keping wang emas, dan juga beberapa harta perhiasan milik mereka yang mereka akui milik mereka, keesokan harinya datang sepuluh orang dengan keperluan yang sama dengan para pedagang, mereka itu pemilik lima likoan, dan tiga hari kemudian, lima puluh orang pemilik toko yang sudah mengungsi keluar kota menghadap han-hung-fei, dan merekapun mengambil harta mereka masing-masing dan juga pembagian lima wang emas, dan pada hari keenam datang lagi beberapa orang, dan setelah mendapatkan apa yang mereka harapkan, mereka pulang, lalu siangnya dua puluh selir mengeluhkan posisi mereka, dan ingin lepas dari kwi-ong, lalu kwing, memberikan masing-masing dua puluh keping wang emas dan seperangkat perhiasan.

Hari ketujuh yang tinggal hanya dua ratus keping wang emas, dan sekantong perhiasan, dan menjelang siang Han-kwi-ong tiba dirumahnya, hatinya heran dengan kesunyian yang terjadi dirumahnya, Han-fei-lun menatap saudara se ayahnya yang berjalan dengan dituntun sebuah tongkat besi sebesar ibu jari orang dewasa, kwi-ong merasakan seseorang didepannya, persis didepan pintu rumahnya.

“kamu siapa, kenapa kamu menatap saya dan tidak bicara!?” “han-kwi-ong, saya adalah Han-fei-lun sedang menyambutmu.” “heh…kenapa kamu kesini, dan apa yang kamu lakukan dirumahku!?”

“aku kesini untuk menghentikan kesewenang-wenanganmu, dan semua harta telah aku kembalikan, dan semua tukang pukulmu telah aku pecat, lalu dua puluh selirmu juga telah pergi.”

“sial….kamu …kamu! apa hakmu melakukan itu!?” teriak kwi-ong gemas dan marah

“saya tidak merampas hakmu tentang harta itu, karena harta itu juga tida ada hakmu disana, dan saya peringatkan padamu kwi-ong, jangan sekali-kali kamu menindas warga lagi! sebab kalau tetap kamu lakukan, saya akan menghajarmu!”

“kau terlalu memandang remeh padaku fei-lun!”

“lalu maumu bagaimana kwi-ong, katakan dengan jelas!” tantang han-fei-lun

“hmh….baiklah saat ini aku memang tidak berdaya, tapi tunggulah saatnya akan tiba, aku akan membalas perlakuanmu ini sekaligus dengan bunga-bunganya!” teriak kwi-ong dan tubuhnya berkelabat pergi

Ketujuh istri kwi-ong melonggo dan cemas melihat kepergian suami mereka “bagaimana dengan kita, apa yang kita lakukan?” saling bertanya

“para soso masih memiliki harta yang lumayan untuk menopang hidup.” ujar Han-fei-lun sambil masuk kedalam rumah

“tapi twako! kami tidak punya sumber penghasilan.”

“benar, tapi dengan harta itu kalian bisa membuka usaha, karena saya yakin, kota ini akan ramai kembali.” ujar Han-fei-lun.

“hmh…lalu selanjutnya apa yang twako lakukan!?”

“nanti sore saya akan kembali kekaifeng, dan sekarang marilah kita makan siang!” jawab Han-fei-lun, lalu merekapun masuk keruang makan.

Sore harinya Han-fei-lun meninggalkan kota huangsan, dan benar apa yang dikatakan Han-fei-lun, hanya dalam jangka sebulan, kota Huangsan hidup kembali, toko-toko sudah mulai buka, likoan sudah mulai beroperasi, pasar sudah dipenuhi banyak pedagang, dan warga yang dulunya mengungsi, sebagian besar datang kembali untuk menata hidup di kota Huangsan, dan ketujuh istri kwi-ong memilih untuk menempuh jalan masing-masing, dan harta pun mereka bagi tujuh, dan rumah dimiliki oleh siangkoan-hoa, istri kwi- ong yang tertua dengan dua orang putranya.

Waktu berjalan tiada henti tanpa terasa, sehingga tidak terasa sepuluh tahun pun berlalu, sejak Kwi-ong meninggalkan rumahnya, dan hari itu kota Tianjin yang ramai sibuk dan ramai seperti biasanya, pedagang jalanan berteriak menjajajakan dagangannya, suasa hari itu sangat panas dan gerah, lalu saat hari sudah siang, tiba-tiba mendung pekat datang, dan tidak berapa lama hujan lebat pun turun, sosok tubuh bergerak gesit memasuki pintu kota sebelah selatan, setalah memasuki kota, dengan tongkatnya ia berjalan melewati jalanan yang becek dan tergenang, lalu didepan sebuah likoan ia berhenti, berkat pendengarannya yang luar biasa, ia bisa mengetahui keadaan disekitarnya, dan tanpa sedikitpun kikuk ia melangkah memasuki likoan.

Lelaki itu adalah Han-kwi-ong yang sudah berumur hampir empat puluh tahun, selama sepuluh tahun ini ia hanya menyendiri disebuah hutan dan giat melatih ilmu-ilmunya yang beraneka macam, dan dari usaha selama itu, ia menciptakan sebuah ilmu pamungkas yang luar biasa yang ia beri nama “liong-sian-sin-hoat” (silat sakti dewa naga), dan tiga bulan yang lalu ia meninggalkan hutan dan terjun kedunia ramai, dan saat dia meninggalkan kota yang disingahinya selalu ada kehebohan yang ia buat, sehingga setitik kabar burung mulai menyebar dengan kemunculannya yang mengiriskan, dengan kemunculannya, muncul pula sebuah julukan yang dialamatkan kepadanya yakni iblis buta.

“pengawal…, usir pengemis itu!” teriak pemilik likoan, dua orang pengawal mendekati kwi-ong “adouh..ahk….” setelah jeritan, dua pengawal itu ambruk tidak bernyawa dengan wajah robek dalam, semua orang yang berjubel di dalam likoan terkejut dengan hati ngeri menyaksian kejadian tersebut

“cepat hidangkan makanan untukku!” bentak kwi-ong pada seorang pelayan yang sedang tercenung ngeri disebuah meja dua orang tamu

“b..ba..baik tuan..! sahut pelayan segera berbalik, dan sebagian besar para tamu menyingkir menembus hujan lebat untuk menyelamatkan diri.

Han-kwi-ong makan dengan lahap, dan disekitarnya hanya ada empat tamu yang kesemuanya adalah orang-orang lioklim.

“kalian bertujuh kenapa masih disini, apa mau saya hajar!?” bentak kwi-ong

“apakah saya sedang berhadapan dengan iblis buta?” tanya seorang lelaki se umuran dengan kwi-ong, mukanya kuning dan hidungnya pesek

“hmh…kamu siapa, apa perlunya bagimu mengenal aku?”

“hehehe…..kenalkan aku adalah “ui-bin-mo” (setan muka kuning), dan saya amat kagum dengan apa yang iblis buta lakukan.”

“apa maumu memuji-muji saya!”

“sepertinya kita satu aliran, dan saya takjub dengan yang iblis buta lakukan.” Sela seorang lelaki bermata sipit, dan mukanya lonjong seperti kuda, kwi-ong menoleh kea rah pembicara

“dan kamu , apa juga takjub pada perbuatanku!?” tanya kwi-ong tiba-tiba menoleh pada seorang lelaki gemuk pendek dan berjenggot tebal

“kurang lebih seperti itulah, dan kenalkan saya, saya adalah “kwi-sim-lo-tong” (bocah tua berhati iblis) “lalu kamu siapa?” tanya kwi-ong menoleh ke arah lelaki kurus tinggi dan berkepala botak

“saya adalah “huangho-koai” (siluman sungai huangho)

“lalu kamu ini siapa?” tanya kwi-ong kembali pada lelaki bermuka lonjong “hehehe..aku adalah “ma-bin-kwi” (iblis muka kuda).”

“hmh……julukan kalian menunjukkan jati diri kalian, lalu apa mau kalian!”

“karena kita satu aliran, alangkah bagusnya kita menggalang kekuatan untuk menantang bengcu.” sahut “ma-bin-kwi”

“hmh….pemikiran yang bagus.” sela “ui-bin-mo”

“saya juga menyambut baik ide itu.” sela “kwi-sim-lo-tong”, bagaimana menurutmu iblis buta?”

“hmnh….menantang bengcu, bukan pekerjaan mudah, harus dimulai dengan perhitungan yang matang.” jawab Kwi-ong

“bukankah sebaiknya jika kita yang mensponsori gerakan itu?” sela “huangho-koai” “benar itu huangho-koai.” timpal “ma-bin-kwi”

“baik..kesinilah kalian dan mari bicarakan langkah-langkah yang akan dilakukan.” Ujar kwi-ong, lalu empat orang itu mendekat dan duduk meneglilingi meja.

“katakanlah ma-bin-kwi, apa kamu punya langkah strategi sehingga memulai usul tadi?” “pikiran saya singkat saja, kita bergabung menghadapi bengcu, tentunya jika berhasil maka kita bisa menguasai dunia persilatan.”

“apakah kamu pernah melawan bengcu, sehingga dapat mengukur kekuatannya?” “saya pernah berhadapan langsung dengan seorang muridnya di luar kota kaifeng.” “hasilnya bagaimana?” sela “ui-bin-mo”

“saya imbang dengan muridnya itu, dan perkiraan saya setidaknya murid itu empat tingkat dibawah gurunya.”

“tunggu dulu, apakah murid ini sudah tamat belajar di “sin-siucai-bukouan”?” tanya ui-bin-mo “melihat umurnya yang masih muda, sepertinya belum.”

“memang berapa umur murid yang kamu lawan itu?” sela “kwi-sim-lo-tong” “yah…sekitar enam belas tahun.”

“jika demikian kamu salah jika beranggapan bahwa murid itu empat tingkat dibawah gurunya, karena murid itu belum selesai menurut saya.” ujar “ui-bin-mo”

“lalu bagaimana kita bisa mengukur kehebatan bengcu?”

“menurut saya, menghadapi bengcu langsung, adalah prioritas kedua, dan yang pertama adalah mengumpulkan ahli-ahli setingkat dengan kita.” ujar “huangho-koai”

“hmh….betul apa yang dikatakan “huangho-koai, bagimana menurutmu iblis buta?” sela “ui-bin-mo”

“prioritas pertama dengan mengumpulkan ahli silat kelas tinggi, menurut saya sangat tepat, dan hanya bagaimana cara kita mengumpulkannya?” sahut kwi-ong, sesaat mereka terdiam

“dan menurut hemat saya, cara kita mengumpulkan ahli adalah dengan membuat pibu antara ahli dalam golongan kita ” ujar “ui-bin-mo”

“jika begitu, kita harus mebentuk wadah sebagai sponsor dari pibu itu.” sela kwi-ong

“benar sekali, dan dalam benak saya tergambar kesolidan wadah tersebut, yang dipenuhi para ahli-ahli tinggi.”

“baik, jika kita sudah memiliki wadah yang isinya ahli silat kelas atas semuanya, bagaimana untuk perioritas kedua?” tanya “kwi-sim-lo-tong”

“untuk prioritas ke dua, kita akan menantang bengcu melakukan pibu.” “kalau begitu, bisa-bisa kita akan ambruk satu persatu.”

“kita bukan melawan bengcu satu lawan satu lo-tong, tapi kita keroyok lima dengan empat gelombang.” “gambarannya bagaimana, aku kurang mengerti.” sela ma-bin-kwi

“gambarannya begini ma-bin, dua puluh orang setidaknya menuju kediaman bengcu, setelah itu, surat tantangan dilayangkan kepada bengcu, dan saat berhadapan, bengcu dikeroyok lima sekaligus, sementara yang lain bersembunyi, setelah tiga jam pengeroyokan pertama, apapun kondisinya, gelombang kedua masuk mengeroyok hingga tiga jam, dan begitulah sampai empat kali setidaknya, dan saya cendrung pada gelombang keempat kita akan dapat meraih kemenangan.”

“ide yang luar biasa jitu, dan sangat cemerlang.” sela huang-koai

“saya juga setuju dengan rencana yang digambarkan oleh “ui-bin-kwi” sela kwi-ong “baiklah, jika sepakat, kita akan tinggal di kota ini, dan nama wadah yang hendak kita bentuk adalah “thian- tin” (barisan langit).”

“lalu berapa lama target waktu untuk perioritas pertama ini?” tanya “ma-bin-kwi”

“dua tahun kedepan, kita harus melaksanakan perioritas kedua, dan kalau tidak tiga tahun kedepan” jawab “ui-bin-mo”

“baik, mari kita ambil satu tempat untuk kita jadikan sebagai markas “tee-tin” ujar lo-tong

“dan tempat yang bagus adalah pavilion yang ada di tikur kota, tepatnya di “kongciak-kok” (lembah merak) sela “ui-bin-mo”, lalu lima orang itu menuju lembah merak di timur kota.

Satu jam kemudian, mereka sampai di depan sebuah bangunan mewah dan indah, empat orang penjaga menghadang mereka, dan tanpa basa-basi “ma-bin-kwi” bergerak menyerang empat panjaga, dan dalam sekejap empat penjaga itu tewas dengan kepala pecah, pavilion itu milik Pow-taijin pimpinan kota Tianjin, dan hanya dijaga oleh empat petugas itu, dihalaman belakang sangat luas, dan terdapat juga bangunan berupa balai pertemuan, dan pada bagian samping kiri kanan juga masih luas.

“tempat yang amat cocok dengan rencana kita.” ujar “hungho-koai”

“mari kita duduk untuk membicarakan langkah berikutnya!” sela kwi-ong, lalu kelimanya duduk disofa yang indah dan empuk yang ada di tuang tengah.

“hal yang pertama kita lakukan adalah menyebar undangan kekantong-kantong aliran kita diseluruh wilayah.” ujar “ui-bin-mo”

“dan juga, gerakan kita ini tidak boleh tersebar diluar aliran kita, sehingga pekto dan bengcu tidak tahu dengan gerakan kita.” sela kwi-ong

“begitu pun bagus iblis buta.” sahut “iu-bin-mo”

“lalu bagaimana pembagian tugas?” tanya “ma-bin-kwi”

“kita berempat akan berpencar untuk menyebar undangan, dan iblis buta biar disini untuk menyambut para undangan kita.” jawab “ui-bin-mo”

“baik, saya akan ke wilayah utara.” sela kwi-sim-lo-tong “dan saya wilayah selatan.” sela “huangho-koai”

“baik, saya akan kebarat dan “ma-bin-kwi” ke timur.” ujar “ui-bin-mo”

“baik kalau sudah sepakat, dan isinya pesannya adalah undangan hitam dari “thian-tin” pada panji hek-to diseluruh wilayah, pada hari kesatu dibulan keenam mengadakan pibu di lembah merak bagi pemilik sin- kang dan gin-kang dalam tiga tarikan nafas, serta ilmu silat sematang biji lada.”

“baik, dan mulai besok, kita akan berpencar untuk melaksanakan tugas kita amsing-masing.”

“dan sekarang untuk kejayaan kita, kita akan minum arak, hahaha..hahaha…” ujar kwi-sim-lo-tong sambil berkelabat ke dapur, dan mengambil sebuah guci arak yang banyak tersimpan di gudang perbekalan, lalu lima orang itupun minum sampai jauh malam, keesokan harinya merekapun berpencar, dan tinggallah kwi- ong sendirian di pavilion besar itu.

Kota sinyang sore itu mendung sejak tadi siang, sebuah piauwkiok besar dengan papan nama bertulisan “Hek-liong-piuawkiok” (ekpdisi naga hitam) tulisannya sangat indah dan gagah, para piauwsunya sedang sibuk membongkar dan memuat barang, mereka bekerja cepat, karena takut turun hujan, dan yang di khawatirkan mereka tidak lama turun, hujan deras mengguyur kota sinyang, dan untungnya barang yang belum dimuat hanya dua peti tertutup, dan itupun segera dinaikkan kedalam kereta, dan terpal ditutup kereta kuda diikat rapat. “A-liok! apa sudah barang sudah naik semua!?”

“sudah twako, dan untunya dua peti terakhir tidak seberapa basah.” sahut A-liok sambil mengeringkan muka dan rambutnya yang basah

“baik kalau begitu, satu jam lagi kita berangkat, menunggu surat jalan dari Khu-twako.” “apakah Khu-twako masih dirumah pangcu!?”

“benar liok-te, dan saya dengar pangcu menunjuk Khu-twako untuk menggantikannya mengurus piuawkiok.

“memang kapan pangcu berangkat, Cu-twako!?”

“saya dengar siang ini.” lalu sebuah kereta masuk kehalaman kantor, dan Khu-bhong turun dengan menggunakan paying

“sudah semua Cu-te!?”

“sudah khu-twako, apa suratnya sudah disetujui oleh pangcu!?”

“sudah, ini ….dan segeralah kalian berangkat!” ujar Khu-bhong sambil menyerahkan segulung kertas, lalu dua puluh piauwsu segera memakai mantel, kemudian mereka bergerak menembus lebatnya hujan.

Sementara itu pangcu mereka Han-ok-liang memacu kudanya dengan cepat keluar dari gerbang kota, langkah kuda hitam yang kekar dan tinggi bergemuruh bercampur dengan derunya hujan, ringkikannya yang keras seakan menantang berpacu dengan hempasan angin yang menerbangkan butiran hujan.

Setelah meninggalkan pesan pada wakilnya Khu-bhong, Han-ok-liang segera berangkat, sudah lima belas tahun ia memulai hidup di shinyang, piuawkiok yang dibinanya merupakan piuawkiok terbesar dan disegani orang, karena semua perjalanan barang yang memakai jasa mereka hampir dipastikan aman dan lancar, tidak ada perampok yang hendak mencoba mengacau perjalanan piuawkiok binaan Han-ok-liang yang sakti, julukannya “pak-sin-liong” (naga sakti dari utara) sudah membuat perampok keteteran, dan juga saingannya tidak ada yang berani macam-macam.

Han-ok-liang tidak segan-segan membunuh orang yang mencoba curang padanya, tangannya sangat telengas, namun dia sangat bertanggung jawab dalam bisnisnya, sejak dia merintis piuawkioknya hingga sekarang, ia sudah memiliki cabang hampir diberbagai kota di wilayah utara, dan ditengah curahan hujan itu, ia hendak menuju selatan untuk urusan penting, niatnya untuk merebut kembali kitab warisan ayah mereka dari saudaranya Han-kwi-ong masih bersemi.

Sebulan kemudian, Han-ok-liang sampai dikota kaifeng, yang saat itu sedang merayakan pesta tahunan, perayaan mengarak baronsai menambah semarak jalanan pasar yang sudah ramai itu, Ok-lian memasuki sebuah likoan untuk makan, dia berencana hanya sekedar makan, karena setelah itu ia akan melanjutkan perjalanan menuju hopei dan terus ke huangsan.

Setelah selesai makan, ia membayar makanan kemeja kasir, dan saat ia keluar, seorang kongcu muda menabraknya, sehingga kongcu terjungkal kebelakang

“bangsat…kurangajar kamu yah!” bentaknya sambil menuding wajah Ok-liang

“kamu jalan apa tidak pake ma…plak,,,augh…” si kongcu belum selesai kalimatnya sudah terlempar ke tengah jalan raya dan tidak akan bangkit lagi karena nyawanya sudah melayang, ok-liang tanpa sedikitpun melihat pergi meninggalkan tempat itu.

Di sebuah jalan, kudanya dicegat pasukan dan menyuruhnya berhenti, namun ok-liang tidak mau berbasa- basi dan langsung membagi-bagi pukulan maut pada sepuluh polisi itu, hanya dalam lima gebrakan, sepuluh polisi tergeletak tidak bernyawa, ok-liang menghentak kudanya dan meninggalkan tempat itu, setelah keluar gerbang ia memacu lari kudanya, dan saat melewati tikungan, kudanya yang besar dan tinggi meringkik, karena hendak menabrak kereta kuda rombongan Han-piuwkiok. Kuda kereta Han-piuwkiok ketakutan sehingga panik dan membuat gerobak oleng kepinggir jalan, semua barang didalam gerobak jatuh ke tanah

“heh… Berhenti!” bentak kepala rombongan yang hendak melihat penunggang hendak pergi, ok-liang menatap kepala rombongan dengan tajam

“saudara telah membuat barang kami jatuh, dan anda hendak pergi tanpa sedikitpun merasa bersalah.” protes kepala rombongan, ingin rasanya ok-liang menghantam mulut yang memarahinya, tapi ketika melihat bendera Han-piuawkiok, dia meredam amarahnya, karena tahu piuawkiok ini adalah piuawkiok ayahnya.

“bukan salahku, kalau kuda kalian yang panik.” bantah ok-liang

“sebab paniknya kuda kam, karena engkau membalapkan kudamu di jalan sempit, terlebih jalan tikungan seperti ini.”

“hmh…aku tidak mau berdebat, lalu kalian mau apa?” “sialan…di ajak ngomong baik-baik tapi malah menan…”

“hait..wut..plak..auh…” ok-liang bergerak menampar kepala rombongan, dan dielakkan namun serangan kedua tidak bisa dihindarkan, dan pipinya kena tamper sehingga membuat mulutnya berdarah.

Para piuawsu segera menyerang ok-liang, tapi gerakan kilat ok-liang membuat serangan luput semua, dan lima jurus kemudian, ok-liang membalas dengan menampar dan menendang para piauwsu, jerit kesakitan terdengar susul menyusul, untungnya ok-liang tidak menurunkan tangan maut, sehingga anak buah ayahnya tidak ada yang tewas, setelah dua puluh piauwsu meringis dan tidak bisa bangkit, ok-liang menghentak kudanya meninggalkan rombongan han-piauwkiok.

Dua hari kemudian saat ok-liang hendak melanjutkan perjalanan setelah selesai istirahat dan makan ayam buruan ditengah hutan sebuah benda melesat ke arahnya, dengan gesit ok-liang mengelak sehingga benda itu menghantam pohon dibelakangnya, dan jatuh ketanah, ok-liang memungut benda itu, ternyata hanya sebuah batu yang dibungkus perca kain yang bertulisan, ok-liang membaca tulisan undangan hitam dari “thian-tin” pada panji hek-to diseluruh wilayah, pada hari kesatu dibulan keenam mengadakan pibu di lembah merak bagi pemilik sin-kang dan gin-kang dalam tiga tarikan nafas, serta ilmu silat sematang biji lada.

“hmh…berarti untuk ini orang tersebut membuntuti aku sejak semalam.” gumam hati ok-liang, kemudian ia mengantongi surat tersebut, dan segera memacu kudanya dengan cepat meninggalkan hutan, dan seminggu kemudian ok-liang sampai kekota hopei, dengan berjalan congklang kudanya menapak jalan ditengah kota.

Han-ok-liang berhenti didepan sebuah likoan, ia turun dari kudanya, dan seorang pengurus kuda mendekatinya

“kamu kasih makan kudaku dan sekalian tukar tapal sepatu kudaku!”

“baik tuan, dan siilahkan istirahat dan makan!” sahut tukang kuda, lalu membawa kuda ok-liang kebelakang, Ok-liang masuk dan memesan kamar pada kasir, lalu ia pun diantar ke kamar oleh seorang pelayan.

Setelah mandi dan berganti pakaian, ok-liang turun untuk makan, beberapa tamu yang menginap juga turun untuk makan, ok-liang menduduki meja di sudut ruangan, lalu memesan makanan, ketika sedang bersantap, seorang wanita cantik paruh baya memasuki likoan, dan duduk dua meja diseberang ok-liang, mata mereka beradu pandang, lalu wanita itu tersenyum dan dibalas senyum oleh ok-liang, keduanya sama-sama tertarik

“apakah kamu sendirian tuan!?” tanya wanita itu lembut dan tanpa sungkan, mendengar pertanyaan terbuka itu, ok-liang merasa bahwa wanita ini adalah wanita dari golongannya

“benar toanio, apakah kamu ingin menemani saya!?” “hihihihi….kalau tidak keberatan.”

“aku tidak keberatan, bahkan aku akan senang sekali.” sahut ok-liang, dan wanita itu pun berdiri dan melangkah kemeja ok-liang, sambil memanggil pada pelayan, wanita itu duduk

“pelayan aku memesan yang sama dengan tuan ini!” ujar wanita itu

“baik, toanio, akan segera saya ambilkan.” sahut pelayan itu dan segera berbalik, dan tidak berapa lama pelayan datang menghidangkan makanan.

“siapakah namamu toanio?”

“aku coa-kim, dan dijuluki “in-sin-ciang” (telapak sakti halimun), dan kamu siapakah tuan?” “aku Han-ok-liang, berjukukan “pak-sin-liong” (naga sakti dari utara)

“berarti tuan dari wilayah utara, begitukah?” “benar, aku datang dari wilayah utara.”

“jauh-jauh dari utara ke selatan ini, apakah hanya untuk berkelana, atau ada urusan penting?” “hmh…boleh dikatakan dua-duanya, dan kamu sendiri darimana dan hendak kemanakah?” “saya dari xining dan saya tidak punya tujuan, kemana langkah kaki saja membawa.” “hehee… pengelana sejati kalau begitu.”

“ok-liang, boleh tahu urusanmu ke wilayah ini?”

“aku hanya mau menemui saudaraku di huangsan, maklum kami sudah lima belas tahun berpisah” “oh…begitu rupanya, apakah kamu akan menginap di sini?”

“hehehe…benar, dan besok aku akan ke huangsan?”

“lah, kenapa kamu ketawa?” tanya coa-kim dengan senyum “kemungkinan kamu juga akan mau menemaniku, bukan?”

“hish… kamu bangor juga, ternyata.” cela coa-kim dengan senyum nakal

“kamu mau kan menemaniku malam ini?” tanya ok-liang sambil senyum dan mengedipkan mata. “hihihi…di rumah bordil banyak wanita untuk kamu ajak menemanimu.”

“aku mau ditemani wanita kangowu, dan wanita kangowu tidak ada di rumah bordil, tapi ada didepanku ini, kamu cantik menggairahkan kim-moi.”

“hihihi…memang ada bedanya ya, liang-ko sayang?” “tentu ada dong, sayang.”

“hihihi…boleh tahu apa bedanya?”

“wanita kangowu lebih agresif itu sudah pasti, dan juga lebih lepas menunjukkan gairahnya.” “hihihi…..kamu makin membuat aku gemas koko.”

“hehehe….kok gemas saja, diterkam saja sekalian, aku sudah tak tahan ingin menggigit dan melumatmu.” “hmh…ayoklah koko, kita kekamarmu!” bisik coa-kim dengan dada naik karena desakan nafannya yang memburu.

Keduanya segera naik ketingkat atas, dan masuk kedalam kamar han-ok-liang, dengan rasa tidak sabar mereka berpelukan dan saling pilin, mulut keduanya bertaut dalam ciuman panas dibalik desakan birahi yang semakin menggelora, pakaian mereka sudah lepas dari badan dan entah kemana terbangnya, yang ada hanya ketelanjangan yang bergetar dan menggelepar seiring rintihan dan erangan yang semakin memicu kegemasan birahi, dan tidak terasa malam sudah larut, kedua tubuh telanjang itu terhempas lemas di atas ranjang yang sudah aut-autan.

Setelah matahari naik tinggi, keduanya bangun, tapi hati malas untuk bangun “apakah koko akan berangkat hari ini?” tanya coa-kim sambil membelai dada ok-liang

“hmh..benar, apakah kamu mau ikut denganku kim-moi?” sahut ok-liang sambil membelai punggung coa- kim

“aku senang sekali jika kamu ajak bersama koko.”

“kalau begitu, marilah kita berkemas, dan setelah makan kita berangkat.” ujar ok-liang, lalu keduanya segera mandi dan berganti pakaian, setelah itu mereka dengan senyum bahagia turun untuk makan.

Setelah selesai makan, keduanya berangkat ke kota huangsan, perjalanan dilakukan dengan santai, perjalanan itu tak obahnya suami istri yang sedang menikmati bulan madu, dimana tempat-tempat yang indah, tidak dilewatkan untuk bersantai atau bercinta, kuda han-ok-liang memang kuda pilihan, tenaganya kuat untuk ditunggangi dua sejoli yang kasmaran itu, perjalanan syahdu itu semakin mengikat dua hati yang sama-sama tertarik.

Coa-kim adalah putri tunggal Coa-ban-kui yang bergelar “hek-i-kwi” (iblis baju hitam) ia seorang tokoh yang ditakuti di kota xining dan kota-kota disekitarnya, rumahnya yang terletak dibelahan utara kota, sangat mentereng, karena disamping jago silat, she-coa ini juga orang kaya, hartanya banyak, tanahnya luas, putri yang satu-satunya sangat dimanja, coa-kim belajar ilmu pada ayahnya mulai umur sepuluh tahun, setelah berumur dua puluh tiga tahun, coa-kim menikah dengan seorang tihu di kota xining, tapi rumah tangga itu hanya bertahan lima tahun, karena suaminya tidak tahan dengan perselingkuhan Coa- kim dengan adiknya sendiri, dan saat coa-kim berumur tigapuluh tahun, ia berpisah dengan suaminya tanpa seorang anak.

Dan sejak itu, coa-kim berkelana, selama lima tahun malang melintang di wilayah selatan, ia menjadi momok bagi istri-istri yang suaminya tampan, coa-kim tidak mau ditolak dan ditantang, sehingga kadang dengan hati gemas ia tidak segan membunuh suami istri yang diincarnya, korbannya selalu tewas dengan tubuh lebam membiru, dan juga meninggalkan bekas telapak tangan berwarna putih pada tubuh korbannya, hingga ia dijuluki “in-sin-ciang” (telapak sakti halimun), dan saat ia memasuki likoan, lalu bertemu dengan laki-laki pamogaran seperti ok-liang, seperti kita ketahui diawal keduanya seperti gayung bersambut.

Dua minggu kemudian Han-ok-liang sampai kekota huangsan, kota yang dulunya mati kini telah semarak kembali, kehidupan yang dulunya penuh keresahan, kini sudah nyaman dan aman, Ok-liang mengajak coa-kim menuju rumah saudaranya Han-kwi-ong, namun hatinya heran melihat keadaan rumah yang sunyi dan sepi, tidak ada seorang penjagapun diluar, ok-lian mengetuk pintu rumah yang tertutup, dan tidak berapa lama daun pintu dibuka seorang anak laki-laki berumur dua belas tahun.

“paman siapa?” tanya anak remaja itu “bukankah ini rumah Han-kwi-ong?” “benar , tapi ayah tidak ada disini.”

“ban-ji…siapa yang datang..!?” seru suara dari dalam, dan siangkoan hoa muncul dan menatap heran tamunya

“tuan ini siapa yah?” “aku han-ok-liang, kemanakah kakakku toanio?”

“oh….marilah masuk dulu.” ujar wanita itu setelah mendengar bahwa tamunya adalah adik dari suaminya. “ong-ko sudah sepuluh tahun pergi dari rumah.” ujar siongkoan-hoa

“apa yang terjadi soso?” tanya Han-ok-liang heran

“awalnya seorang tua yang mengaku susiok on-ko datang bersama wanita, yang menyebabkan ong-ko buta.”

“buta!?” apakah ong-ko dan orang tua itu terlibat pertempuran?”

“tidak, mereka sedang bicara, dan janggalnya orang tua itu masuk dengan memejamkan mata, namun setelah beradu pandang dengan orang tua itu, ong-ko menjerit karena kedua bola matanya sudah pecah.”

“hmh…lalu apa yang terjadi selanjutnya?” tanya Ok-liang makin penasaran

“lalu ok-ko membawa orangtua itu kedalam ruang perpustakaan, dan setelah itu pada keesokan harinya keduanya pergi.”

“terus, kenapa ong-ko meninggalkan rumah?”

“seminggu setelah ong-ko berada di pavilion, seorang tamu yang mengaku saudara tua kalian datang.” “saudara tua kami?”

“benar liang-te, apakah kalian punya saudara tua?” “hmh..apakah lelaki itu seperti sastrawan?”

“benar, orangnya tampan, bersih dan rapi.”

“dia adalah, Han-fei-lun, lalu apa yang dilakukannya disini?”

“tujuannya kesini hanya untuk menghentikan sepak terjang ong-ko yang bertindak sewenang-wenang, dan mebuat kota ini menjadi kota mati.”

“apakah ong-ko betempur dengan fei-lun?”

“tidak, dan selama ong-ko tidak dirumah, ia telah membubarkan anak buah ong-ko, mengembalikan harta dan tanah warga, sehingga tidak ada yang tersisa.”

“lalu selanjutnya bagaimana?”

“saat ong-ko datang, ia marah pada twako itu, namun sepertinya ia tidak berdaya dan malah pergi meninggalkan kami hingga sampai sekarang belum kembali.” Ujar siangkoan-hoa, Han-ok-liang terdiam dan tercenung mendengar cerita yang dialami kwi-ong.

“lalu kakek yang mengaku susiok kami itu dimanakah tinggalnya?”

“kalau tidak salah dengar, orang tua itu berkata lembah kembang di kota chang-an”

“hmh…kalau begitu kami pamit dulu soso, aku akan menemui orang yang mengaku susiok kami itu di lembah merak.”

“baik…liang-te, dan hati-hatilah dengan orang tua itu.” sahut siangkoan-hoa, lalu keduanya keluar dari rumah kwi-ong dan mencari penginapan.

Sepanjang perjalanan ke penginapan, Coa-kim menatap lekat pada ok-liang “kenapa kamu menatapku demikian, kim-moi?”

“liang-ko, apakah kamu ada hubungan dengan bengcu “siauw-taihap”?”

“benar, dialah saudara kami yang telah membuat kwi-ong bangkrut, sebagaimana kamu dengar tadi” “aku tidak mengira liang-ko ternyata kerabat dari “siuaw-taihap” yang menjadi pimpinan pekto.” “hmh…kami saudara, tapi haluan kami berbeda, kim-moi.”

“kalian tentu merasa sulit bergerak dengan hubungan tersebut.” “benar, entah sampai kapan, saudara tua itu dapat kami tundukkan.” “apakah kalian berdua pernah mengeroyoknya?”

“jangankan berdua, kami bertiga ditambah ibu-ibu kami tidak sanggup mengalahkannya.” “bertiga? apa liang-ko masih ada saudara lain selain dari kwi-ong?”

“benar, saya masih punya saudara lagi, tapi entah dimana dia sekarang.” “sebenarnya kalian saudara yang bagaimana?”

“kami semua adalah saudara se ayah,” “berapa orang semua itu?”

“yang saya tahu, kami bertiga, “siaiuw-taihap” dan dua anak bun-liong-taihap di kota Bicu” “jadi kalian ini anak-anak dari “bun-liong-taihap?”

“benar, dan entah masih ada lagi, saya tidak tahu, sudahlah, itu ada penginapan, kita makan dan istirahat ” keduanya pun memasuki likoan, Han-ok-liang dan Coa-kim menginap di huangsan selama dua malam, setelah itu mereka berangkat menuju chang-an.

Seorang anak laki-laki berumur tiga belas tahun, sedang berlatih silat dihalaman belakang bangunan megah yang perada di tengah lembah yang dikenal dengan “hoa-kok” (lembah kembang), anak lelaki itu bersilat didepan seorang kakek tua, mata kakek itu berwarna merah menatap lekat pada setiap gerakan yang dilakukan anak tersebut, kadang kepalanya manggut-manggut dengan seulas senyum senang dan bangga melihat gerakan anak lelaki yang semakin cepat dan gesit itu.

Kakek itu adalah Tan-kui “ang-gan-kwi” (iblis mata merah), dan anak itu adalah muridnya yang bernama Han-bun-liong, putra dari istrinya Li-cing yang berjulukan “siang-mou-bi-kwi”, mereka sudah sepuluh tahun menempati lembah itu, setelah tigam jam lebih berlatih, bun-liong menutup gerakannya dengan salto tiga kali diudara.

“bagaimana suhu, apakah ada yang kurang dalam gerakan saya?”

“imkan-kan-kwi -kun-hoat” (jurus pukulan iblis akhirat) sudah banyak kemajuan, dan kamu sangat membanggakan liong-ji.” ujar Tan-kui menatap wajah muridnya sambil senyum, bun-liong dengan mata berbinar menjura pada suhunya.

Tiga tahun yang lalu, baik ia dan ibunya tidak sanggup menatap bola mata tan-kui, tapi setelah tan-kui memberikan pelajaran sin-kang pada keduanya selama lima tahun, akhirnya mata mereka mampu menerima pandangan Tan-kui yang luar biasa kuat, Tan-kui nyaris tidak pernah berhadapan dengan para pelayan rumah, jadi semua urusan ditangani langsung oleh Li-cing.

“hari sudah hampir siang, pergilah bersihkan diri Liong-ji!” perintah ibunya yang muncul diselaras halaman belakang, mendengar perintah itu bun-liong segera turun ke lembah menuju sebuah sungai, larinya sangat cepat dan gesit. Li-cing mendekati suaminya dengan senyum lembut “bagaimana kemajuan pelajaran liong-ji, kui-ko?”

“bagus dan sangat menggembirakan, dan tidak lama lagi ilmu “im-kan-toa-tung” (tongkat badai akhirat) akan saya ajarkan padanya.” Jawab Tan-kui sambil meraih lengan istrinya dan menariknya kedalam pelukan, sesaat mereka terlelap dalam cumbuan

“hihihi..sudah, marilah kita kedalam, sebentar lagi liong-ji akan selesai mandinya.” ujar Li-cing manja, lalu keduanya masuk kedalam rumah.

Seorang pelayan dengan menunduk melangkah mendekati mereka “ada apa ah-bwee!?” tanya li-cing

“kata yang-twako, ada dua tamu di luar hendak bertemu dengan hujin.” “baik…katakan pada a-yang supaya kedua tamu itu menunggu.”

“baik hujin.” sahut Ah-bwee dan segera berbalik kembali ke ruang tengah, Tan-kui dan Li-cing masuk kedalam kamar

“koko sayang, sebentar yah, aku lihat dulu siapa kedua orang itu,” ujar Li-cing, Tan-kui mengangguk sambil duduk di kursi goyangnya didalam kamar, Li-cing keluar dari kamar menuju ruang tengah.

“hihihih…ternyata ji-cu yang datang, bagaimana kabar ji-cu selama ini?”

“oh…kamu rupanya “bi-kwi” kabarku baik-baik saja, bagaimana kamu tinggal disini dan bersama siapa?”

“tunggulah sebentar, aku akan membawa suamiku menemui kalian.” ujar Li-cing segera berbalik untuk memanggil Tan-kui, tidak lama Li-cing datang bersama Tan-kui dengan mata terpejam

“kamu sudah datang liang-ji!” sapa tan-kui, ok-liang memperhatikan lelaki tua berumur tujuh puluh tahun yang menyapanya, dan bahkan mengetahui namanya.

“maaf cianpwe, jika aku tidak mengenal cianpwe.”

“tidak mengapa, karena memang kita belum pernah bertemu.”

“ji-cu! suamiku ini adalah Tan-kui, sute dari cianpwe “Lam-sin-pek” sela Li-cing

“oh, begitu rupanya, salam hormat dari saya Han-ok-liang pada susiok.” ujar Ok-liang sambil menjura. “hehehe..sudah segala peradatan itu Ling-ji, lalu siapakah wanita ini?”

“ini adalah Coa-kim, teman seperjalanan saya susiok.” “memang ji-cu dimana saja selama ini?” sela Li-cing “aku tinggal di utara tepatnya di kota shinyang.”

“hmh…tempat yang jauh, dan tentunya menempuh perjalanan panjang kesini ada maksud yang ingin di sampaikan bukan?”

“apakah susiok sudah menduga kedatanganku?”

“sudah liang-ji, aku yakin bahwa kamu sudah bertemu dengan saudaramu kwi-ong di huangsan, bukan?”

“hmh…..dugaan susiok benar bahwa saya kesini setelah ke huangsan, namun aku tidak bertemu dengan ong-ko.” “lalu dari siapakah kamu tahu kami berada disini liang-ji?” “dari soso yang telah ditinggal sendiri oleh kwi-ong.”

“it-cu kemana perginya ji-cu?”

“saya tidak tahu, namun dua minggu setelah susiok meninggalkan huangsan, ia meninggalkan Huangsan.” “kamu tahu kenapa kwi-ong meninggalkan huangsan?”

“menurut soso, saudara tua kami telah mencampuri urusan kwi-ong.” “apakah maksud ji-cu, it-cu didatangi oleh “siuaw-taihap”?”

“benar “bi-kwi, semua hasil kerja kwi-ong, dikuras dan dikembalikan pada warga.” “lalu apa yang hendak kau sampaikan pada kami liang-ji?”

“dari cerita soso di huangsan, aku yakin kitab bun-liong-hoat sekarang berada ditangan susiok.” “hehehe….benar sekali liang-j, jadi kamu datang untuk mengambil kitab itu, bukan?”

“benar sekali susiok, tapi sebelumnya aku penasaran kenapa kitab itu diambil dari kwi-ong, untuk apa kitab itu bagi susiok?”

“bukan untukku liang-ji, tapi untuk adikmu juga yang mempunyai hak yang sama denganmu.”

“adik, siapakah adikku itu?” tanya ok-liang penasaran, sambil menatap Coa-kim, dan pada saat yang sama Han-bun-liong keluar keruang tengah setelah berganti pakaian,

“ji-cu, ini adalah anakku, yang juga saudara bagimu, liong-ji, beri hormat pada liang-ko!” ujar Li-cing. “salam hormat pada liang-ko, dari saya Han-bun-liong.” ujar bun-liong sambil menjura

“baik…liong-te, bangkitlah!” sahut Ok-liang dengan rasa tawar, karena maklum akan kejadian mengejutkan itu.

“kemudian satu hal lagi yang membuat penasaran, susiok.” “apakah itu liong-ji?”

“tentang kebutaan kwi-ong, bagaimana susiok tega berbuat demikian?”

“hehehe…bukan kemauanku hal itu berlaku, kalua kwi-ong tidak bersikeras dan berbohong padaku.” “berbohong bagaimana maksud susiok?”

“saat kami tanya tentang kitab itu, dia mengatakan bahwa kitab itu ada ditangan Han-sai-ku.”

“benar ji-cu, dan aku tidak percaya, sehingga terjadi ketegangan, dan suamiku marah dan membuka matanya, dan terjadilah apa yang dialami oleh it-cu.” sela li-cing

“hmh…..tapi tetap masih bisa diperebutkan bukan?”

“hehehhe..hahaha…sudah pasti bisa liang-ji, bukankah kalian juga sebelumnya saling berebutan?” “bagaimana susiok menduga begitu?”

“hehehe…liang-ji, dari cerita yang saya dengar, bahwa kalian digelar dengan “cu-sam” (tiga majikan), lalu kalian berpisah, itu merupakan hal yang janggal, dan tentunya kalian berpisah karena ada sebab, dan sebabnya pasti kitab bun-liong-hoat, dan kitab itu ada ditangan kwi-ong, itu artinya perebutan itu dimenangkan oleh kwi-ong, sangat jelas bagi adat kita bahwa kepemilikan sesuatu harus di perebutkan dengan kekuatan dan kepandaian.”

“pandangan susiok memang tepat, dan tentang niat saya kesini, akan tetap saya lakukan, yakni ingin merebut kitab itu.”

“bagus liang-ji, saya akan melayani tantanganmu itu.” ujar Tan-kui lalu berdiri dan melangkah keluar, Han- ok-liang beserta yang lain ikut keluar.

“mulailah liang-ji…!” tantang Tan-kui dengan mata terpejam

“ciaaat….” Ok-liang melompat dan menyerang tan-kui, pertempuran segit pun berlangsung, kesiuran tenaga sin-kang bergaung diantara dua sosok tubuh yang bertempur, karena saking cepatnya, keduanya hanya berupa bayangan saja

.

Pertempuran tingkat tinggi yang amat luar biasa, tiga jam sudah berlalu, dua tubuh masih berkutat saling mendesak, karena tidak mampu mendesak lawannya, ok-liang mengeluarkan pedangnya, jurus “bun-liong- kiam” dikerahkan, dan lima puluh jurus tan-kui kelabakan dibuatnya, untungnya baik sin-kan dan gin- kangnya masih di atas ok-liang, sehingg serangan itu mental dan luput, tubuh ok-liang sudah terasa ngilu, akibat getaran dari banyaknya benturan sin-kang yang terjadi, dan pada jurus keseratus, tan-kui sudah menguasai keadaan, dan desakannya semakin gencar

“plak…dess….” tubuh ok-liang terlempar kena tamparan dan tendangan, darah mengalir dari sudut bibirnyam dan lambungnya serasa mau pecah akibat tendangan yang telak, nafasnya sesak.

Dengan sisa kekuatan yang ada, ok-liang kembali merangsak maju menyerang laksana gelombang badai, ilmunya pedangnya yang luar biasa mencoba mencari celah dan kesempatan, namun hanya empat puluh jurus, ia kembali mencium tanah, kali ini hidungnya berdarah dan bahunya patah, dan pedangnya sudah berpindah tangan, dengan rasa sakit yang ditahan ok-liang bangkit dan menatap wajah keriput di depannya

“baik aku kali ini mengaku kalah, susiok.”

“hmh….lain kali berusahalah lebih keras liang-ji.” sahut Tan-kui, kemudian mereka kembali kedalam rumah, coa-kim memapah ok-liang masuk kedalam rumah.

Han-ok-liang terpaksa tinggal di rumah tan-kui selama tiga hari untuk menyembuhkan luka yang ia derita, dan pada hari keempat lukanya sudah sembuh, dan berencana hendak meninggalkan lembah merak

“susiok sangat luar biasa, dan tentunya dapat membungkam “siauw-taihap” kenapa susiok tidak lakukan?” “hmh….saudara tuamu itu bukan orang sembarangan liang-ji, aku tidak dapat menjajakinya.”

“dengan mata terpejam, susiok dapat mengalahkan aku, tentunya akan lebih luar biasa, jika susiok melawannya dengan mata terbuka.”

“memang benar ji-cu, tapi nyatanya sin-kang suamiku dan siauw-taihap berimbang, dan hanya dialah yang sanggup beradu pandang dengan suamiku.”

“nah…lalu bagaimana dengan ilmu silat, bukankah susiok juga sangat luar biasa?”

“aku tidak berani memastikan jika ilmu yang ia keluarkan akan sama dengan yang  kamu gunakan melawanku tadi.”

“dia tidak memiliki ilmu pedang, karena ia tidak mendapatkan apa-apa dari ayah kami.”

“tapi dari mana “siauw-taihap” bisa melakukan jurus menulis, waktu lao dan cu mengeroyoknya?” sela li- cing, ok-liang tercenung mengingat kemasa lalu, dimana ia dan tiga suhunya beserta tiga ibu mereka mengeroyok Han-fei-lun.

“hmh..aku juga heran, padahal ia tidak pernah belajar pada ayah.” “apakah ayahmu dan dia pernah bertempur?” sela tan-kui “hal itu aku tidak tahu persis, susiok.”

“aku yakin pernah, ji-cu.” sela li-cing “bagaimana kamu yakin, bi-kwi?”

“karena lao-si, ibunya sam-cu ditugaskan untuk menggunakan “bun-liong-taihap” untuk menghabisi “siauw- taihap”

“kapan itu “bi-kwi, kenapa kami tidak tahu?”

“saat itu “cu-sam” masih dalam tahap mempelajari kitab “bun-liong-taihap”

“tapi susiok, kalau susiok juga jerih dengan siauw-taihap, bagaimana kita menegakkan wibawa hek-to yang sudah redup selama ini?”

“aku bukannya jerih liang-ji, tapi saya yakin, jika adikmu Han-bun-liong sudah menguasai ilmu ayah kalian dan ditambah lagi dengan ilmu-ilmuku, maka siauw-taihap akan bisa kita tundukkan.” sahut Tan-kui, ok- liang mengangguk, dan melihat kebenaran perkataan susioknya.

“baiklah susiok, dan “bi-kwi” kami permisi dulu.” “apakah kamu akan langsung balik ke shinyang?”

“tidak susiok, aku hendak ke “kongciak-kok” di kota Tianjin “ada apa disana ji-cu?” sela Li-cing

“sepertinya akan ada usaha untuk menggalang kekuatan hek-to.”

“baguslah kalau ada usaha itu, dan jangan lupa, jika pembentukan itu dimasa depan berakhir pada penetapan bengcu pada aliran kita , ingatlah bahwa adikmu Han-bun-liong sangat tepat memegang itu.” ujar tan-kui

“baik, pesan susiok akan ku ingat.” sahut Han-ok-liang, lalu keduanya pun berangkat.

Areal luas dibelakang bangunan di lembah merak itu berdiri sebuah panggung besar, di sekelilingnya didirikan tenda serta dibawahnya ada kursi yang tertata rapi, pekerjan membuat panggung dan tenda- tenda itu sudah berjalan selama sebulan, pengerjaan itu atas arahan ibli buta han-kwi-ong, dan hari itu merupakan tahap terakhir berupa penataan dekorrasi panggung dengan hiasan bunga kertas, karena dua hari lagi tempat itu akan digunakan tujuan yang telang dirancang enam bulan yang lalu.

Dua bayangan gesit bergerak menuju bagunan megah itu, keduanya adalah, “ma-bin-kwi” dan huangho- koai, kwi-ong yang berada di ruang tengah menyambut mereka

“kalian sudah datang ma-bin-kwi, “huangho-koai?” sapa kwi-ong, keduanya takjub sekali bahwa kwi-ong yang buta mengenal tepat siapa yang dating

“hehehe..kamu memang luar biasa iblis buta, entah bagaimana kamu dapat mengetahui siapa yang datang.”

“sudahlah puji-pujian itu huangho-koai, bagaimana dengan tugas kalian!?”

“tugas saya sudah selesai, dan mengundang dua belas ahli silat di wilayah selatan.” “dan saya mengundang delapan ahli silat di wilayah timur.” sela ma-bin-kwi,

“baguslah kalau begitu, dan disini juga sudah hampir rampung.” ujar han-kwi-ong, lalu mereka keluar kehalama belakang dan melihat keadaan panggung dan tenda=tenda yang didirikan. Pada malam harinya “Ui-bin-mo” muncul dan ia mengundang lima belas ahli silat tinggi dari wilayah barat, lalu pada esok harinya, kwi-sim-lo-tong tiba, dan menyampaikan bahwa ia mengundang sepuluh ahli silat tinggi di wilayah utara.

“jadi seluruh undangan kita berjumlah empat puluh lima orang.” ujar Kwi-ong “benar sekali, lalu bagiamana susunan acara kegiatan besok?”

“pertama, pembawa acara kita tetapkan saja “ui-bin-mo” kemudian tentunya kita menyampaikan langkah dan rencana dari “tee-tin” kedepan, dan ini siapa dari kita yang akan menyampaikan?” ujar kwi-ong

“sebaiknya kamu saja iblis buta.” sela kwi-sim-lo-tong.” “betul, saya setuju.” Timpal yang lain serempak

“baik, jika demikian yang kita sepakati.”

“lalu bagaimana model pibu yang hendak kita selenggarakan?” tanya “huangho-koai

“sebelum pibu, kita adakan seleksi sin-kang dan gin-kang, baru setelah itu pibu kita gelar.” ujar kwi-ong, empat rekannya mengangguk, lalu pembicaran terus berlanjut sampai pada hal perlengkapan dan konsumsi, setelah agak larut malam, merekapun masuk kekamar masing-masing.

Pagi-pagi sekali, sudah ada tiga orang undangan yang datang, dan seiring waktu yang berjalan, dan saat menjelang siang empat puluh orang undangan sudah hadir, dan satu jam berikutnya, dalam waktu yang tidak berjauhan lima undangan itu datang, dan dua diantaranya adalah Han-ok-liang dan coa-kim, ok-liang yang mengenal kwi-ong jadi terkejut

“ternyata kamu yan mengundang ong-ko!” “eh….kamukah itu liang-te!?” tanya kwi-ong memastikan,

“hehehe….benar ong-ko, aku sudah ke huangsan dan bertemu dengan soso.” “oh..begitu, sudah marilah kita duduk! dan nanti saja kita lanjutkan pembicaraan kita”

“baik..marilah ong-ko.” sahut ok-liang, lalu ok-liang dan coa-kim mengambil tempat duduk.

Dari empat puluh lima undangan itu, terdiri dari sepuluh wanita dan tiga puluh lima laki-laki, “ui-bin-mo” maju ketengah panggung

“pertama sekali kami ucapkan selamat datang kepada para sicu, dan terimakasih atas kehadirannya pada pertemuan hari ini, apa dan bagaimana perihal pertemuan kita kali ini? maka untuk jelasnya marilah kita sambut rekan kita iblis buta untuk menyampaikannya pada kita.” ujar “ui-bin-mo” kemudian dia duduk kembali, lalu iblis buta berdiri dan maju ketengah panggung.

“terimakasih rekan-rekan sehaluan yang telah hadir memperkenankan undangan kami.” ujar kwi-ong sambil menjura.

“baik, saya akan menguraikan apa dan bagaimana pertemuan ini diadakan, para sicu sekalian, sejak lima belas tahun yang lalu panji hek-to mengalami kepudaran wibawa, hal ini di tenggarai dengan keberadaan “siauw-taihap” yang jadi pimpinan aliran pek-to, nah, untuk membangkitkan kembali masa kejayaan kita sebagaimana zaman enam datuk, maka kami mengajak para sicu bertemu pada hari ini untuk mengadakan pibu, kenapa harus pibu? karena tahap awal dari kebangkitan ini adalah membentuk satu wadah yang isinya adalah para pentolan hek-to, dan kita beri nama dengan “thian-tin” (barisan langit), kemudian tahap yang kedua “thian-tin” ini akan segera langsung berhadapan dengan “siauw-taihap” yang menjadi target pertama.”

“selanjutnya, disamping dua tahapan ini “thian-tin” akan menjadi pengawal untuk berdirinya panji hek-to dimasa depan, nah demikian uraian dari saya, dan dipersilahkan kepada rekan semua memberikan tanggapan tentang pertemuan yang kita adakan ini!” “iblis buta, saya adalah “beng-tong-kwi” (iblis penggetar sukma), prakarsa dari kalian merupakan hal yang tepat, dan saya menyambut baik dengan usaha luar biasa ini, tapi hal yang ingin saya tanyakan adalah masalah pibunya, tentunya ada yang mencapai kategori yang ditentukan, dan ada juga yang tidak, nah bagaimana dengan yang tidak berhasil ini? apakah tidak sekalian masuk saja dengan membuat satu bagian lagi dalam “thian-tin”?”

“terimakasih atas tanggapan dari “beng-tong-kwi” dan sehubungan dengan yang tidak berhasil, dan menurut beng-tong-kwi sebaiknya masuk satu bagian dari “thian-tin” kami akan berikan jawaban, pertama perlu di ingat bahwa “thian-tin” adalah pengawal berdirinya panji hek-to, buka hek-to itu sendiri, jika seandainya hek-to berdiri, maka “thian-tin” menjadi bagan tersendiri, ibaratnya hek-to adalah rumah sementara “thian-tin” merupakan pagar dari rumah, jadi biarkanlah pengisi dari thian-tin orang yang handal dan kompeten tanpa struktur.”

“baiklah iblis buta, jawaban anda sangat memauaskan, dan jadilah seperti apa yang sicu uraikan.” Ujar “beng-tong-kwi”

“baik, apakah masih ada lagi tanggapan?” tanya kwi-ong sambil menyapu pandangan kepada undangan, semua hening dan tidak ada komentar

“baik, jika sudah dipahami arti dari pertemuan ini, maka kembali saya serahkan kembali pada “Ui-bin-mo” han-kwi-ong duduk kembali, dan “Ui-bin-mo” berdiri dan maju ketengah panggung

“baik, selanjutnya, kita akan masuki inti dari pertemuan ini, dan sebelumnya, perlu saya sampaikan, bahwa sebelum pibu ini dilakukan, kita akan mengadakan seleksi peserta yang berhak melakukan pibu, adapun seleksinya adalah seleksi sin-kang dan gin-kang, baik untuk seleksi sin-kang adalah, siapa yang bisa membuat patung singa seberat lima puluh kati disamping saya ini bergetar dari tempat duduknya, maka ia lulus seleksi sin-kang, dan siapa yang dapat menagkap anak panah yang di rotar dan tepat mengembalikan ke kantong yang disediakan di tiang sana, sebelum ia menginjak panggung, maka ia lulus seleksi gin-kang, jika dua seleksi lulus, maka ia berhak ikut pibu.” ujar “ui-bin-mo”, dan semua peserta mengangguk mengerti.

Seleksi pun dimulai, dan empat puluh lima peserta bergiliran mengerahkan sin-kang untuk menggerakkan patung singa seberat lima puluh kati itu, lalu setelah itu dilanjutkan pengujian gin-kang, empat puluh lima peserta bergilitan berjumpalitan diudara melakukan seleksi gin-kang tersebut, akhirnya dari empat puluh lima peserta, yang berhak mengikuti pibu ada tiga puluh orang.

Lalu kemudian pibu pun digelar, hingga larut malam baru tiga pertempuran yang selesai, mereka istirahat untuk dilanjutkan esok harinya, pada keesokan harinya tujuh pertempuran dapat dilaksanakan, kemudian pada keesokan harinya, saat siang berganti malam, pibu itu pun selesai, akhirnya lima belas orang dinyatakan sebagai anggota “tee-tin”, tiga hari kemudian para peserta yang tidak berhasil meninggalkan lembah merak.

Malamnya, dua puluh orang anggota “thian-tin” mengadakan pertemuan pada bangunan disamping rumah induk, anggota yang terdiri dari empat wanita dan enam belas laki-laki itu mengelilingi meja berbentuk bundar, rata-rata umur mereka paruh baya dari umur tiga puluh lima sampai lima puluh tahun, adapun anggota perempuan adalah “in-sin-ciang” (telapak sakti halimun), “lam-giam-li” (dewi maut dari selatan), “hwa-i-kwi-bo” (iblis wanita baju kembang) dan “kwi-sim-toanio” (nyonya berhati iblis), sementara anggota laki-laki, selain dari enam yang kita kenal, adalah “hengsan-hek-peng” (garuda hitam dari hengsan), “pek- lui-ciang-kwi” (iblis tangan geledek), “houw-hiat-mo” (setan dari gua harimau), “kwi-lim-koai” (siluman hutan iblis), “toh-mia-lan-mo” (iblis jantan pencabut nyawa), “lui-kong-twi” (si tendangan kilat), “kang-jiu” (si lengan baja), “sin-jiu-mo” (setan berlengan sakti), “ban-pi-kwi” (iblis lengan seribu) dan “ang-mou-kwi” (iblis rambut merah).

“baiklah rekan-rekan semua, malam ini setelah beramah tama selama dua hari, kita mengadakan pertemuan pertama dalam satu kesatuan yang kita beri nama “thian-tin”, pertemuan ini akan membicarakan langkah-langkah yang akan diambil untuk menyelesaikan target awal kita, yakni menewaskan “siauw-taihap” selaku bengcu pek-to.” ujar iblis buta membuka pertemuan.

“pertama-tama saya atau rekan yang lain ingin mengetahui gambaran dari iblis buta untuk menyelesaikan target awal ini, karena saya yakin, sebelum “thian-tin” ini terbentuk, iblis buta dan empat rekan lainnya sudah mempunyai gambaran.” sela “ban-pi-kwi” “memang benar apa yang dikatakan “ban-pi-kwi” bahwa kami memiliki gambaran tentang cara menyelesaikan “siauw-taihap”, nah, rekan-rekan semua, gambaran kami adalah melakukan pengeroyokan dengan empat gelombang, dimana tiap-tiap gelombang terdiri dari lima orang.”

“hmh…itu pemikiran yang tepat melihat betapa saktinya “siauw-taihap”, dan ada sedikit tambahan dari saya, disamping startegi pengeroyokan itu, kita juga harus mengatur format pengeroyokan supaya lebih maksimal.”

“betul dan saya sangat sependapat dengan “ban-pi-kwi” sela ‘Ui-bin-mo”, dan yang lainnyanya pun mengangguk setuju

“format pengeroyokan seperti apakah yang ada dalam pikiran “ban-pi-kwi”?” sela “in-sin-ciang”

“jika kita terdiri dari lima dalam satu kelompok, maka format tiga berbayang dua, artinya tiga penyerang utama dan dua penyerang cadangan.”

“format yang baik, tapi menurut saya format bersegi akan sulit jika “siauw-taihap” mengeluarkan ilmu moupitnya yang luar biasa.”

“betul apa yang disampaikan “sin-jiu-mo” sela iblis buta dan “pak-sin-liong” bersamaan “bagaimana kalian berdua yakin , iblis buta dan juga kamu “pak-sin-liong”?” tanya “kang-jiu” “kamu aja yang menjelaskan liang-te!” sahut iblis buta

“begini rekan-rekan semua, salah satu dasar ilmu moupit “siauw-taihap” adalah jurus kedelapan dari “bun- liong-hoat” yang mana ilmu ini sangat fleksibel menghadapi situasi apapun, terlebih jika format keroyokan bersegi, sangat mudah dimentahkan oleh ilmu moupit ini.”

“jika kalian adik beradik tahu, tentu tahu kelemahannya bukan?” sela “lam-giam-li”

“walaupun dasar ilmu itu kami miliki, namun “siauw-taihap” lebih kaya bahasa dari kami, sehingga sulit melihat titik kelemahannya, karena perubahannya akan tidak terduga.”

“lalu formasi apa menurutmu yang tepat?” sela “pek-lui-chiang-kwi” “formasi rantai lebih memungkinkan untuk mengalahkan “siauw-taihap”

“bagaimana gambaran formasi rantai ini, “pak-sin-liong”?” tanya “hengsan-hek-peng”

“kedudukan posisi kita tidak boleh bertarik lurus dengan teman atau dengan lawan sendiri, maksud bertarik lurus dari lawan, bahwa kita tidak akan menempati posisi utara-timur-barat-selatan musuh, tapi titik posisi kita tenggara-barat daya-timur laut-barat laut.”

“lalu bagaimana dengan tidak bertarik lurus dengan teman?” tanya “hwa-i-kwi-bo”

“jika teman disamping lima depa dari lawan, maka kita tujuh depa atau tiga depa dari lawan.” “hmh…sepertinya kita harus melatih formasi tersebut terlebih dahulu.” sela “huangho-koai.”

“benar sekali kata “huangho-koai” timpal “kwi-sim-lo-tong”, semuanya mengangguk membenarkan.

“baik, kalau begitu kita sepakat untuk melatih formasi keroyokan terlebih dahulu, lalu adakah hal lain mungkin?” sela iblis buta.

“jika sekiranya kita berhasil menewaskan “siauw-taihap” hal apakah selanjutnya gebrakan dari “tee-tin” ini?” tanya “kwi-lim-koai”

“setelah target pertama selesai, maka jelas membuat pertemuan untuk menunjuk bengcu aliran kita.” sela “ma-bin-kwi” “benar, tapi rampunglah terlebih dahulu target pertama ini.” sela “ui-bin-mo” dan sebagaian besar dari mereka mengangguk setuju, lalu pertemuan itu dilanjutkan dengan makan dan minum hingga larut malam.

“Ci-lan-Likoan” (penginapan bunga cilan) dipadati para tamu yang terdiri dari kebanyakan para pedagang yang berasal dari luar kota, siang itu para tamu sedang turun untuk makan siang, ditambah lagi oleh pedagang warga kota dan beberapa orang kalangan kangowu, sepeluh pelayan hilir mudik melayani para tamu, lelaki paruh baya yang menjadi kasir, juga sibuk melayani peengunjung yang hendak membayar makanan.

Empat pengawal duduk di gardu menyapa dan menyambut ramah para pengunjung yang keluar masuk, setelah lewat siang, sebuah kereta kuda yang sangat bagus dan gagah menandakan pemiliknya adalah orang berada, ukiran yang menghias disekeliling kereta sangat indah dipandang mata, tirainya yang berwarna warna hijau terbuat dari bahan kain yang mahal, kereta itu berhenti di depan likoan, melihat kereta kuda itu empat panjaga segera mendekat dan berbaris, tubuh mereka sedikit membungkuk menghadap pintu kereta.

Seorang lelaki berwajah tampan turun dari kereta kuda dengan senyum yang lembut dan ramah “selamat siang wangwe!” sapa empat penjaga

“selamat siang, bagaimana keadaan hari ini?”

“semua baik-baik dan berjalan aman terkendali, wangwe.”

“bagus kalau begitu.” sahut lelaki tampan itu masih dengan senyumnya yang ramah, ia melangkah dan memasuki likoan, lelaki yang menjadi kasir segera menyambut dan membungkuk menjura

“selamat siang wangwe!”

“ya, selamat siang guan-te, bagaimana keadaan tamu-tamu kita?” “semuanya baik dan merasa nyaman wangwe.”

“bagus, jika tidak ada keluhan, karena kenyamanan para tamu merupakan prioritas kita.” ujarnya sambil duduk diruang santai, sebuah ruangan yang dekat dengan ruangan makan, kasir yang bernama Yo-guan itu menemani lelaki tampan dan ramah itu, yang tida lain adalah Han-sai-ku, tiada berapa lama minuman dan seporsi makanan kecil dihidangkan.

Han-sai-ku adalah hartawan terkenal di kota kun-ming, likoan yang dirintisnya sangat berhasil dan sukses, setelah berjalan hampir dua puluh tahun, likoan bunga cilan ini yang awalnya hanya satu, kini sudah menjadi lima buah likoan di kota kun-ming, bahkan masih ada lagi lima likoan yang dimilikinya di lima kota terdekat, sejak tadi pagi ia sudah mengunjungi empat likoanya yang lain, dan lewat siang itu ia tiba dilikoannya yang pertama ini.

“Guan-te, sambil melihat keadaan likoan hari ini, saya juga ingin menyampaikan bahwa besok saya dan keluarga hendak keluar kota dan akan memakan waktu yang lama.”

“hendak kemanakah wangwe pergi?”

“saya dan keluarga hendak kekota bicu di wilayah selatan.”

“oh…alangkah jauhnya tempat itu wangwe, kalau boleh tahu hendak mengunjungi siapakah wangwe dan keluarga di sana?”

“saya dan keluarga hendak mengunjungi ayah saya yang tinggal disana.”

“ooo, demikian rupanya, saya doakan semoga perjalanan wangwe dan keluarga selamat, dan tidak ada aral melintang.”

“terimakasih Guan-te, dan selama saya tidak ada, baik-baiklah menjaga likoan, dan jangan lupa berkordinasi dengan pimpinan likoan kita yang lain.” “tentu tuan, kami akan berusaha sebaik mungkin.”

“baik…kembalilah kerja, dan saya juga akan kembali kerumah untuk mempersiapkan segala hal untuk keberangkatan besok.” ujar Han-sai-ku sambil berdiri

“baik tuan..!” sahut Yo-guan dan ikut berdiri, lalu keduanya keluar dari ruangan, Yo-guan mengantar Han- sai-ku hingga naik kedalam kereta kuda, sais yang tadi enak-enak ngobrol dengan empat penjaga, segera bersiap untuk menjalankan kereta kuda.

Menjelang sore, Han-sai-ku sampai dirumahnya dibelahan selatan kota, didalam rumah ia disambut istri dan dua orang anaknya, putri sulungnya Han-ci-lan sudah berumur enam belas tahun, dan putra bungsunya Han-liu-tan berumur dua belas tahun.

“bagaimana dengan persiapan besok siang-moi?” tanya Han-sai-ku dengan lembut “semuanya sudah di kemas, dan sudah dinaikkan pelayan kedalam kereta.”

“baiklah kalau begitu, jadi kita besok tinggal berangkat.” ujar Han-sai-ku sambil duduk melepas lelah. “koko, sudah sampaikan pada ayah tentang keberangkatan kita?”

“sudah siang-moi, aku hampir satu jam di rumah gak-hu, dan gak-hu maupun gak-bo merestui perjalanan kita.” jawab Sai-ku.

“baiklah, sekarang koko mandilah, dan setelah itu kita makan.” “baik, aku akan mandi.” sahut Sai-ku dan bangkit dari duduknya.

Keesokan harinya keluarga Han berangkat, Han-sai-ku duduk didepan bersama putranya, sementara istri dan putrinya duduk enak didalam kereta, kereta kuda berjalan dengan santai meninggalkan rumah, beberapa tetangga menyapa ramah hartawan yang dermawan lagi baik hati itu, satu jam kemudian, kereta kuda keluar dari gerbang selatan, dan Han-sai-ku mempercepat lari keretanya yang ditarik empat kuda yang sehat lagi kuat.

“ayah, diselatan siapa lagi selain kongkong yang akan saya temui?”

“selain kongkong, kamu akan bertemu dengan pek-pek Han-kwi-ong, lalu pek-pek Han-fei-lun.” “apakah semuanya berada dikota Bicu?”

“tidak Tan-ji, dalam perjalanan ini kita pertema sekali akan bertemu dengan pek-pek kwi-ong yang berada di Huangsan, lalu setelah itu kita akan bertemu kongkong di kota Bicu, dan terakhir kita akan bertemu dengan pek-pek Fei-lun di kota Kaifeng.”

“hahaha..hahaha..aku merasa senang ayah, kita akan pergi kebanyak kota, dan tentunya banyak hal yang akan dilihat.”

“betul Tan-ji, bahkan kita akan kekota chang-an untuk menjiarahi kong-bo.” ujar Sai-ku sambil senyum melihat kegembiraan putranya.

Dua minggu kemudian rombongan keluarga Han sampai di kota Guiyang, mereka menuju “bwee-hoa- likoan” sebuah likoan milik Han-sai-ku, kedatangan mereka disambut Tan-bouw selaku pimpinan

“selamat datang tuan, dan keluarga di kota Guiyang.”

“selamat berjumpa bouw-twako.” sahut Han-sai-ku sambil melangkah memasuki likoan, lalu keluarga itu dibawa kedalam ruangan khusus yang memang disediakan untuknya jika ia datang kekota ini.

“hendak kemanakah Han-wangwe bersama keluarga?” “kami hendak keselatan bouw-twako.” “wah…perjalanan yang amat jauh, apakah ada hal yang mendesak dan penting disana?”

“hmh…hal yang mendesak tidak adalah bouw-twako, tapi hal penting iya, karena saya hendak mengunjungi ayah dan saudara-saudara saya disana, maklumlah, istri dan anak saya belum pernah bertemu dengan mereka.”

“oo, begitu, heheh..hehe…mudah-mudahan perjalanan tuan dan keluarga selamat dan baik-baik saja.”

“terimakasih bouw-twako.” sahut Han-sai-ku, lalu makan siang pun dihidangkan, Han-sai-ku dan keluarganya pun makan.

Han-sai-ku hanya satu malam menginap di likoan, dan keesokan harinya mereka melanjutkan perjalanan, empat kudanya terlihat segar, setelah istirahat semalaman, bahkan empat kuda itu di servis dengan baik oleh tukang kuda, sepatunya ditukar dan bulunya disikat dan dibersihkan, Han-sai-ku memacu kudanya dengan cepat, kereta kuda itu melintasi jalan berbukit dan kadang menuruni lembah, melintasi areal persawahan penduduk dan hutan belantara.

Pada suatu sore keluarga Han melewati hutan diluar kota khangsi, kota pertama wilayah selatan, sebuah kayu besar melintang di tengah jalan, Han-sai-ku menghentikan keretanya, dan dua puluh perampok berdiri di depannya dengan wajah sangar

“tinggalkan barang bawaan, jika ingin selamat!” ancam pimpinan rampok

“kalian harus enyah dari hadapanku sebelum aku berubah pikiran!” balas Han-sai-ku menantang

“sialan…..diancam malah balik mengancam, apa kamu tidak tahu berhadapan dengan siapa!?” bentak pimpinan rampok

“aku tidak tahu siapa kalian, tapi kuperingatkan sekali lagi enyah kalian dari hadapanku!” “bangsat! seranaang..!” teriak pimpinan rampok, dua puluh anak buahnya segera menerkam

“buk..buk…desss….buk..bukk..plak…” enam perampok terjungkal mencium tanah dengan luka yang cukup parah, mereka meringis kesakitan, anggota yang lain dan pimpinan rampok terkesima menatap Sai-ku, mereka tidak mengira hanya dalam satu gebrakan enam rekan mereka telah tergeletak tidak berdaya

Nyali mereka ciut, hati mereka menjadi gentar, pimpinan rampok kembali sadar dari rasa terkejutnya

“ayokk..serang lagi!” teriaknya, empat orang segera bergerak, namun mereka bergerak untuk terlempar dan terjungkal di pukul dan ditendang Han-sai-ku, makin gentar dan pucat anggota perampok, dan mereka terkejut, ketika Han-sai-ku menyerang pimpinan mereka yang kelimpungan mengelak serangan han-sai- ku, hanya tiga gebrakan, pimpinan rampok sudah ambruk dengan mulut berdarah dan tulang paha patah.

“ampun…ampunkan saya taihap!” pimpinan rampok memelas seiring rasa sakit yang ia derita, anggota rampok segera berlutut dengan wajah pucat pias

“sudah..kalian enyah dari sini, dan jangan lagi coba-coba merampok orang lewat hutan ini!”

“ba..baik…taihap, kami jera.” sahut pimpinan perampok, lalu mereka dengan tertatih-tatih meninggalkan Han-sai-ku, Han-sai-ku mendekati pohon yang tumbang, dan sekali tendang pohon itu melayang masuk kedalam hutan, para perampok yang melihat atraksi luar biasa itu makin keder, dan mempercepat langkah mereka.

Han-sai-ku kembali naik kekeretanya, Han-liu-tan dengan mata bersinar dan rasa bangga menyambut ayahnya

“bagaimana keadaanmu koko?” tanya istrinya lembut

“aku baik-baik saja siang-moi.” sahut Sai-ku sambil menghela kudanya, kudanya berlari congklang dan lama kelamaan lari kuda itu makin cepat, hingga saat senja mereka memasuki kota Khangsi. Han-sai-ku dan keluarga memasuki penginapan untuk melewatkan malam, beberapa tamu yang sedang makan menatap lekat pada rombongan itu, seorang pelayan datang mendekat

“sicu! apa masih ada kamar!?”

“masih ada tuan, tapi hanya tinggal satu kamar kecil untuk satu orang.” “tidak apa, kamar itu pun cukuplah.” sahut Han-sai-ku

“kalau begitu, marilah tuan!” ajak pelayan, Han-sai-ku dan keluarganya mengikuti pelayan naik ketingkat atas.

“ini kamarnya tuan, hanya satu ranjang saja.”

“tidak apa dan terimakasih.” sahut Han-sai-ku, lalu merekapun masuk. “malam ini kita tidur dilantai lan-ji, Tan-ji.”

“baik ayah, biar ibu saja tidur di ranjang.” sahut Liu-tan

“sudah, mumpung baru saja malam, pergilah kalian membersihkan diri!” “baik..ibu.” sahut kedua anaknya, lalu merekapun keluar kamar untuk pergi mandi.

Sepasang mata tajam mengintai adik beradik yang berjalan dilorong ruangan, mata itu milik seorang lelaki paruh baya yang gagah dan tampan, ia keluar dari kamarnya dan mengikuti adik beradik tersebut

“lopek..dimanakah tempat mandi? kami hendak mandi.” tanya Ci-lan pada seorang pelayan yang kebetulan berpapasan dengan mereka

“oh, kamar mandi ada dibawah, sebelah kiri dari tangga.” jawab pelayan “terimakasih lo-pek.” ujar Liu-tan dan merekapun segera turun