-->

Sastrawan Cantik Lembah Merak Jilid 8 (Tamat)

Jilid 8 (Tamat)

Han-fei-lun segera mengambil semangkok bubur dan duduk ditepi ranjang, kemudian ia menyuapi Han-kwi-ong, Han-kwi-ong yang memang merasa lapar sangat lahap mengunyah dan menelan bubur itu dan sesekali ia mengeluh dan mendesah, Han-fei-lun dengan telaten menyuapinya tanpa berkata sedikitpun, hal ini dikarenakan Han-fei-lun tahu bahwa Han-kwi- ong tidak ingat apa-apa, akibat totolan yang mengenai pelipis Han-kwi-ong, ingatan ini akan segera pulih setelah menjalani pengobatan.

Dua mangkok bubur sudah tandas, kemudian Han-fei-lun memberikan dua buah pel pada Han-kwi-ong, dan baru saja pel ditelan Han-kwi-ong dua keponakannya sudah muncul “bagaimana keadaan ayah pek-pek?” tanya Han-bouw-bian “ayahmu sudah siuman bian-ji dan sudah makan bubur, apa kalian tidak mandi?”

“ini mau hendak mandi pek-pek, tapi bian-ko hendak melihat keadaan Ong-pek

“sudah kalian pergilah mandi! kamu jangan terlalu mencemaskan ayahmu bian-ji!”

“baiklah pek-pek, mari tan-te!” sahut Han-bouw-bian, keduanyapun keluar dari kamar, dan tidak lama Han-fei-lun pun keluar untuk pergi mandi.

Siang harinya Han-liu-tan beserta kerabatnya berangkat dengan memakai kereta yang ditarik enam kuda, kereta ini sangat besar dan kuat, bahkan kereta itu sudah sampai keselatan ketika keluarga Han berkunjung keselatan sepuluh tahun silam, mereka berempat dengan nyaman duduk didalam kereta , sementara dua orang sais pegawai keluarga Han duduk didepan menyitir larinya kuda.

“seberapa besar harapan ingatan ayah akan pulih pek-pek?” tanya Han-bouw-bian

“percaya pada pek-pek, hilangnya ingatan ayahmu tidaklah permanen, setelah menjalani dua bulan pengobatan, ingatannya akan pulih kembali, yang penting kita tidak usah menarik perhatian dan mengingatkannya, mendiamkannya sekarang lebih baik, mengertikah kamu Bian-ji?” Han-bouw-bian mengangguk lega sambil melihat wajah ayahnya yang terbaring tenang, kereta kuda bergerak cepat melintasi lembah dan bukit, dan pada hari keempat saat hari mendapatkan malam mereka beristirahat dipinggir batang sungai disebuah lembah.

Dua pegawai keluarga Han mendirikan sebuah tenda besar, lalu setelah itu keduanya membuat tungku masak, sementara Han- liu-tan dan Han-bouw-bian mengumpulkan kayu bakar untuk membuat api unggun, setelah membersihkan bada dan bersantap malam , mereka duduk santai didepan tenda sambil menikmati cerahnya bulan purnama, Han-bouw-bian keluar dari dalam tenda setelah memberi makan ayahnya.

“pek-pek berkelana untuk meredam tirani yang melanda builim akhir-akhir ini, lalu apakah pek-pek akan ke utara juga. Karena disana saya dengar muncul seorang yang menamakan dirinya Pak-hek-liong” “demikianlah Tan-ji, terlebih pak-hek-liong itu adalah kerabat kita juga.”

“jadi pek-pek tahu bahwa pak-hek-liong adalah Liang-siok?” sela Han-bouw-bian, Han-fei-lun mengangguk

“lalu bagaimana dengan toat-beng-kiam-ong yang berada di wilayah timur? apakah pek-pek juga akan kesana?”

“sudah pasti Tan-ji, mudah-mudahan saja bibimu Sian-hui dapat menundukkan pamanmu Han-bun-liong.”

“a..apakah di..dia masih hidup?” sela Han-bouw-bian lirih, Han- liu-tan menoleh heran pada Han-bouw-bian

“siapakah dia yang kamu maksud Bian-ko?” Han-bouw-bian tersadar bahwa pikiran kagetnya terucap sehingga ia gagap menanggapi pertanyaan Han-liu-tan

“ah…ti…tidak ada Tan-te!” Han-fei-lun tersenyum dan menoleh kepada Han-bouw-bian

“pek-pek tahu bahwa kamu terkejut mendengar Han-sian-hui masih hidup walhal dia terjatuh kedalam jurang, bukan!?” Han- bouw-bian mengangkat kepala dan menatap pek-peknya

“be..benar aku kaget mendengar bahwa bibi ternyata masih hidup, pek-pek!”

“aih..sykurlah ternyata bibi Hui selamat! dan bibi tidak kurang satu apapun kan pek-pek!?” tanya Han-liu-tan berharap

“benar Tan-ji, bibimu selamat dan tidak kurang satu apapun, dan saat ini ia sedang berada di wilayah timur untuk mendatangi liong-siok kalian” jawab Han-fei-lun.

Dua hari kemudian rombongan keluarga Han sampai kekota Kunming, kedatangan mereka disambut hangat oleh Han-saiku, terlebih kedatangan saudara tuanya ini membuat emosi dan rindunya bergejolak, dan tidak terasa air mata bahagia keluar membuncah membasahi pipinya, hari itu Han-saiku menjamu tiga kerabatnya dengan perasaan bahagia.

“bagaimana kabar kakak ipar dan keluarga disana Lun-ko!?” “semuanya baik dan sehat Ku-te, dan syukr pada Thiian kamu dan adik ipar juga dalam keadaan baik-baik saja bukan!?” “ya..kami sehat dan baik-baik saja Lun-ko, dan bagaimana ceritanya Lun-ko bertemu dengan Tan-ji?”

“biarlah keponakan kita Bian-ji yang menceritakanya padamu

Ku-te!” sahut Han-fei-lun sembari menoleh pada Han-bouw-bian, Han-bouw-bian agak risih dan berat hati untuk angkat bicara pada pertemuan keluarga ini, namun sorot mata pek-peknya demikian kuat sehingga harus dipenuhi.

“Ku-siok! tentu tahu sendiri bagaimana cara pikir ayah dan Liang-siok selama ini, lalu karena cara pikir itu ayah dan saya melakukan hal tidak baik di wilayah ini, oleh karena itu pek-pek berkelana untuk mendatangi kami, sejak dati xining kami melarikan diri dari kejaran pek-pek, dan ketika kami sampai di kota Guiyang, saya dan Tan-te bertemu dan terjadi bentrok, dan syukurnya sebelum terjadi celaka yang tidak diinginkan pek-pek

muncul dan menundukkan saya dan ayah, lalu pek-pek dan Tan- te membawa kami ke penginapan bunga ci-lan dan pek-pek mengobati kami, dan setelah banyak berbincang dengan pek- pek mata saya terbuka bahwa sepak terjang kami ini salah, lalu setelah itu Tan-te menyarankan supaya ikut kesini untuk melanjutkan pengobatan ayah.”

“hmh syukurlah Bian-ji bahwa kamu dapat menyadarinya, dan

perkara ayahmu, percayalah siok akan mengusahakan pengobatannya, terlebih pek-pekmu tahu apa yang harus kita lakukan.” ujar Han-sai-ku, lalu Han-sai-ku menoleh pada saudara tuanya

„nah! Lun-ko sebenarnya bagaimana keadaan Ong-ko!?” “usaha yang kita bisa hanya mengembalikan igatannya, Ku-te, lebih dari itu Ong-te akan menjadi seorang yang lumpuh kedua tanganya, dan menjadi orang biasa tanpa tenaga sakti.”

“oh begitu, lalu apakah perlu saya memanggilkan tabib untuk penyembuhan Ong-ko!?

“itu sudah pasti Ku-te, nyeri pada tulang bahu dan punggungnya harus diobati dengan telaten, jadi besok kamu suruh panggillah tabib untuk mengobatinya!” Han-sai-ku mengangguk mengerti, lalu kemudian mereka melanjutkan obrolah hingga larut malam.

Keesokan harinya Han-Liu-tan datang bersama Bao-sinse, Bao- sinse memeriksa Han-kwi-ong yang mandah saja seperti anak bayi, ia memijit beberapa tempat dibagian tubuh Han-kwi-ong “wah…. maaf Han-loya saya hanya dapat menyembuhkan memar dan nyeri pada bahunya ini, tapi remuk tulang pada bahunya ini amat parah, dan rasanya kedua tangannya ini akan lumpuh tolal.”

“ya..ya…tidak apalah Bao-sinse, lalu bagaimana dengan syaraf dikepalanya?” tanya Han-fei-lun

“syaraf dikepalnya ini sepertinya ada harapan, karena hanya ada penyumbatan dan darah beku, namun membutuhkan waktu.” “baik! tapi shinse dapat menjalankan pengobatannya kan!?” tanya Han-sai-ku memastikan

“saya akan usahakan! dan saya akan memulai pengobatannya besok Han-loya!”” jawab Bao-sinse

“syukurlah kalau demikian dan terimakasih sinse!” Han-Sai-ku merasa lega, lalu mereka mengajak Bao-sinse keluar kamar, setelah Bao-sinse kembali, mereka duduk diruang tengah dimana Han-liu-tan dan Han-bouw-bian menunggu.

Keesokan harinya Bao-sinse datang dan memulai pengobatan Han-kwi-ong, dan menurut Bao-sinse, sebelum memulai pengobatan syaraf dikepala Han-kwi-ong, memar dibahu dan punggung harus disembuhkan dulu, pengobatan itu dijalankan selama satu minggu, dan hasilnya memang baik, Han-kwi-ong sudah tidak merasa nyeri lagi, sehingga kesan meringis yang selalu ditunjukkan air mukanya tidak muncul lagi. Dan dua hari berikutnya Bao-sinse datang pagi-pagi sekali, llalu Han-sai-ku yang sudah dicukur sehingga gundul dibawa kehalaman belakang dan didudukkan di atas balai-balai yang sudah dipersiapkan keluarga Han.

Bao-sinse menotok Han-kwi-ong sehingga tidak mampu bergerak, kemudian ia mengeluarkan kantong jarumnya, lalu dengan teliti dan hati-hati Bao-sinse menusukkan beberapa jarum di bagian pelipis dan dibagian belakang kepala, setelah itu mereka meninggalkan Han-kwi-ong duduk mematung di halaman belakang, embun pagi membasahi kepala Han-kwi-ong yang kelimis, dan keadaan itu berlangsung sampai matahari terbit, setelah matahari terbit, Bao-sinse kembali dan mencabut semua jarum, lalu membawa Han-kwi-ong kembali kedalam rumah, dan pengobatan dilanjutkan besok paginya.

Kita tinggalkan Han-kwi-ong yang sedang menjalani pengobatan dan mari kila lihat kewilayah utara tepatnya di kota Bianping sebelah selatan kota Hehat, menjelang sore itu langit diatas kota Bianping sangat mendung, beberapa toko sudah pada tutup dan jalanan kota sudah sepi, dan beberapa saat kemudian angin bertiup kencang seiring suara menderu menandakan turunnya hujan lebat, seorang lelaki paruh baya berperawakan tinggi melesat dari luar gerbang kota sebelah barat memasuki kota Bianping, dan ia langsung menuju emperan toko untuk berteduh, ia mengibas pakaiannya yang sedikit basah sambil memperhatikan deretan bangunan disekitarnya

“sialan! Tidak ada likoan disekitar sini!” umpatnya jengkel sambil berjalan mondar-mandir disepanjang emperan toko.

Lelaki yang sudah berumur itu memiliki wajah yang gagah dengan kumis dan jenggot yang terpelihara baik, wajah simpatik itu mengundang kekaguman, namun jangan salah dibalik itu wajah tampan ini harus diwaspadai, karena lelaki gagah ini sangat telengas, dia adalah orang yang telah merebak momok menakutkan sepanjang wilayah utara belakangan ini, dia adalah Han-ok-liang atau yang dikenal dengan julukan Pak-hek-liong, dia telah membuat sengsara dan menebar maut pada penduduk kota changcung, Shinyang dan Beijing, dan kali ini sedang memasuki kota Bianping, dan yang jelas kota ini diambang malapetaka dengan kemunculannya.

Berselang beberapa saat sebuah rombongan piauwsu memasuki kota, dan beberapa piauwsu menoleh padanya

“heh kalian berhenti! teriak Han-ok-liang, ketua rombongan tidak menggubris

“jalan terus! jangan pedulikan gelandangan itu!” Han-ok-liang mendelik marah

“bangsat monyet-monyet buduk! berhenti kataku!” bentaknya dengan marah, empat kuda tunggangan dan tiga kuda yang menarik kereta meringkik karena terkejut, kontan sepuluh piuawsu itu terperanjat dan mengehentikan langkah, karena telingan mereka sontak berdenging dan jantung mereka berguncang hebat, ketua rombongan itupun terkesiap karena kuda yang ditungganginya hampir melemparkan tubuhnya.

Wajah ketua rombongan itu pucat dan menoleh Han-ok-liang, hatinya kecut merasakan hebatnya bentakan yang mengandung sin-kang tersebut, ia melihat anak buahnya semuanya pucat dan bahkan empat orang duduk menggeloso ditanah dengan bibir bergetar, dan satu diantaranya muntah-muntah

“a..ada apa tuan menyuruh kami berhenti?” tanya ketua rombongan dengan nada bergetar

“huh! kamu tahu berhadapan dengan siapa!?”

“ti..tidak tuan, maafkan atas kelancangan saya, yang tidak mengenal orang sakti”

“cih! sekarang kamu baru tahu orang sakti, cepat bawakan payung!

“ba..baik tuan.” Ketua rombongan itu turun dari kudanya dan mengambil sebuah payung kedalam kereta, lalu dengan langkah bergetar ia mendekati Han-ok-liang, Han-ok-liang mengambil kasar payung itu dari tangannya yang gemetar.

Han-ok-liang berjalan menuju kereta kud, setelah ia duduk didalam dengan sinis ia berkata

“cepat jalankan kereta! dan biarkan empat orang yang tergeletak itu!

“ta..tapi tuan…” dari dalam kereta Han-ok-liang menyela “heh monyet apa kamu mau membawa mayat dan meletakkannya didalam kereta!?” ketua rombongan tercenung lalu melihat melihat kebelakang dimana empat orang anggotanya yang tergeletak, dan ternyata empat anggotanya itu sudah meregang nyawa dengan hidung dan telinga mengeluarkan darah, maka dengan terpaksa ia dan lima orang anak buahnya menjalankan kereta kuda meninggalkan tempat itu.

Setengah jam kemudian mereka sampai di kantor piauwkiok, pimpinan piauwkiok dan tiga orang piauwsu lain menyambut kedatangan mereka, namun mereka heran melihat wajah ketua piauwsu dan anggotanya pucat pias

“kalian kenapa? wajah kalian nampak pu…” ia tidak melanjutkan kata-katanya karena saat Han-ok-liang keluar dari dalam kereta “jangan banyak bertanya, cepat hidangkan makanan dan arak untukku!”

“heh.. kamu ini siapa!?” tanya pimpinan piauwkiok sedikit jengkel karena merasa diperintah orang

“hehehe….kamu mau tahu siapa saya!? kesini! ih…plak…plak…” Han-ok-liang tiba-tiba mengulurkan tangan dan pimpinan piauwkiok mencoba berkelit, namun dua tamparan entah bagaimana telah mendarat di kedua pipinya, pandangannya nanar dan kepalanya pusing, sementara dikedua sudut bibirnya pecah berdarah.

“heh! kalian cepat siapkan makanan dan arak sebelum aku menghajar kalian semua!” bentak Han-ok-liang pada ketiga piuawsu yang lain, tiga orang itu dengan hati kecut melaksanakan perintah Han-ok-liang, sementara ketua rombongan dan dua piauwsu mengangkat tubuh pimpinan mereka.

Han-ok-liang duduk dikursi makan dan menikmati hidangan yang disediakan, sementara pimpinan piauwkiok dan tiga pembantu utamanya berdiri dibelakang dengan rasa takut dan rasa penasaran akan siapa yang telah mempecundangi mereka, setelah Han-ok-liang selesai makan, ia berdiri dan membalik badan

“sekarang aku mau istirahat, karena hujan lebat dan angin kencang membuat hawa dingin, jadi carikan wanita cantik untuk menemaniku!” para piuawsu terkejut dan saling memandang. “cepat kalian pergi ke rumah plesiran dan panggil ang-giok kesini!” ujar pimpinan piuawkiok pada pembantunya, dua pembantunya segera keluar untuk melaksanakan perintah.

Ketika malam tiba dan hujan masih mengguyur kota Bianping, wanita bernama ang-giok pun datang, wanita muda berumur dua puluh satu tahun berparas cantik lagi bermata bintang, wanita itu dibawa kedalam kamar dimana Han-ok-liang sedang berbaring malas-malasan

“ini wanita yang dimaksud tuan!” Han-ok-liang menatap wanita berparas ayu tersebut, mulutnya tersenyum puas

“bagus! sekarang kalian boleh keluar!” perintah Han-ok-liang, dua piauwsu itu segera keluar dan menuju ruang tengah dimana pimpinan mereka bersama piuawsu lainnya menunggu.

Han-ok-liang malam itu bermanja sayang dalam dekapan wanita panggilan bernama ang-giok yang berpengalaman, sementara para piuawsu diruang tengah saling kasak-kusuk “siapakah dia liu-te! kalian bertemu dimana!?” tanya pimpinan piuawkiok pada ketua rombongan

“kami bertemu di gerbang barat dan siapa dia, aku juga tidak tahu Coa-pangcu.”

“hmh..apakah orang ini jangan-jangan adalah…..dia” sela seorang piauwsu

“siapa maksudmu Yap-te!?” tanya Coa-pangcu penasaran, dan rekannya yang lain juga menatap pada she-Yap

“apakah ia ini mungkin adalah pak-hek-liong?” mendengar itu mereka terkesiap dan makin takut

“kalau orang ini pak-hek-liong, habislah kita semua Coa-pangcu, apa yang harus kita lakukan?” ujar she-Liu dengan bibir bergetar, Coa-pangcu terdiam dan bingung akan berbuat apa.

“hmh….selagi kita menuruti kemauannya, nyawa kita kemungkinan selamat!” desah Coa-pangcu

“benar! sebaiknya kita tidak membuat hal yang membuat dia murka.” sela she-Yap dan yang lain mengangguk membenarkan, lalu merekapun bubar dan berusaha menenangkan diri, malam itu semua piuawsu tidak dapat tidur karena takut dan was-was.

Keesokan harinya Han-ok-liang bangun saat matahari sudah naik tinggi, ia membuka matanya dan menatap wajah ang-giok yang cantik sedang tersenyum memandang padanya padanya “tuan sudah bangun!” sapanya sambil menggelung rambutnya yang kusut terurai, Han-ok-liang bangkit

“kamu tetap disini melayaniku Ang-giok!” Ang-giok tersenyum manis dan dengan lembut ia berkata

“tuan! Aku mau dan senang melayanimu, tapi bagaimana dengan Cia-ma ditempatku bekerja!?” “itu biar aku yang urus, dan sekarang kamu temani aku mandi!” ujarnya sambil turun dari ranjang

“hihihi.....tuan mau dimandiin” hihihi...marilah sayang! kita mandi bersama.” Ang-giok tersenyum genit nakal menggairahkan, lalu keduanya keluar dari kamar.

Seorang pelayan berpapasan dengan mereka, pelayan itu terkejut hendak menghindar

“tunggu dulu! hayo tunjukkan pada kami tempat mandi!” “ba..baik tuan! mari sebelah sini!” sahut pelayan sambil

melangkah membawa orang yang membuat majikannya seperti mati kutu, hatinya juga ikut was-was dengan keberadaan orang yang katanya pak-hek-liong

“silahkan kedalam tuan!” ujar pelayan, Han-ok-liang dan ang- giok masuk kedalam, dan sebelum menutup pintu Han-ok-liang berkata sinis

“katakan pada majikanmu! untuk mempersiapkan makanan untuk kami!” pelayan mengangguk lalu membalik badan untuk menyampaikan hal itu kepada majikannya.

Coa-pangcu tanpa banyak komentar menyuruh para pelayan menyiapkan hidangan, sementara diluar tiga puluh anak buahnya duduk menganggur dengan hati bingung, kemunculan Han-ok-liang membuat mereka kecut dan ketakutan, dan mereka dari tadi pagi sudah dikumpulkan untuk bersiap-siap menghadap pak-hek-liong, ketika pinpinan mereka keluar dan menyampaikan bahwa pak-hek-liong sedang mandi dan sebentar lagi akan makan, dan setelah itu mereka akan menghadap, hal itu membuat jantung mereka makin berdebar. Waktu yang mereka tunggu pun tiba, Coa-pangcu mengajak mereka masuk kedalam dan menuju ruang tengah, diruang tengah Han-ok-liang duduk didampingi Ang-giok yang sedang bermanja, melihat kedatangan para piuawsu Ang-giok merasa heran dan hendak bangkit dari pangkuan Han-ok-liang, namun niatnya itu urung karena bahunya dipeluk Han-ok-liang sehingga ia mandah saja. tiga puluh piauwsu itu duduk dengan wajah ketakutan

“ada apa!? kenapa kalian kesini dan menggangguku!?”

“maaf tuan, ka..kalau boleh tahu de..dengan si..siapakah kami berhadapan?” tanya Coa-pangcu terbata-bata, Ang-giok makin heran akan sikap para piauwsu, ia tidak menyangka bahwa orang yang dilayaninya ini tidak dikenal oleh pemilik rumah, sontak darahnya berdesir dipangkuan Han-ok-liang “hehehe…heh pangcu! bukankah semalam kalian telah memperkirakan siapa aku ini!?

“ja..jadi be..benar tu..tuan adalah pak-hek-liong?” ujar Coa- pangcu dengan bibir gemetar.

“benar! aku adalah pak-hek-liong, dan nyawa kalian akan selamat , jika kalian menuruti segala perintahku, mengerti!?” “ba-baik tuan! ka..kami akan menuruti segala perintah tuan.” sahut Coa-pangcu, Han-ok-liang tersenyum sinis

“bagus kalau begitu! dan sekarang kalian bekerja sebagaimana biasa, untung bagi kalian hatiku sedang baik dan nyaman bersama Ang-giok.” ujar Han-ok-liang sambil menjawil dagu

Ang-giok, Ang-giok yang dari tadi terdiam dan tubuhnya bergetar ketakutan setelah mengetahui orang yang sedang didepannya ini. Ia memaksakan diri tersenyum manis

“dan kamu cantik! sangat menyenangkan hatiku, hehehe…hehehe…!” rayu Han-ok-liang sambil meremas paha Ang-giok, Ang-giok berusaha menenangkan hatinya supaya modnya semalam tidak hilang dan membuat Han-ok-liang tersinggung yang akan berakibat fatal baginya, Ang-giok menjerit genit sambil mencubit sayang pipi Han-ok-liang, Han-ok-liang tertawa lepas dan senang

“kalian keluarlah! perintah pak-hek-liong, para piauwsu serentak berdiri dan meninggalkan ruangan, sesampai diluar Coa-pangcu menyuruh anggota kembali bekerja, para piauwsu pun kembali bekerja, she-liu membawa beberapa piauwsu untuk mengantarkan barang yang dibawanya semalam ketempat tujuannya, sementara yang lain mengerjakan apa yang perlu dikerjakan, Coa-pangcu dan tiga pembantunya berada didalam kantor mengerjakan pembukuan dan hal lain.

Selepas siang seorang pelayan memasuki kantor dan menemui Coa-pangcu

“ada apa kamu kesini A-jin!?” tanya she-Yap, pelayan itu membungkuk dan berkata

“maaf pangcu! pak-hek-liong memerintahkan pada pangcu untuk menyampaikan pada Cia-ma bahwa Ang-giok tidak akan kembali.”

“hmh…apakah itu saja perintahnya!?” tanya Coa-pangcu memastikan

“benar pangcu dan sekarang saya permisi.” Jawab A-jin, “baik…sekarang pergilah kalian berdua dan katakan pada Cia- ma keinginan pak-hek-liong! ujar Coa-pangcu, she-Yap dan seorang rekannya segera keluar dan pergi kerumah plesiran dimana Ang-giok bekerja. Cia-ma seorang wanita paruh baya dengan postur tinggi dan kurus menyambut kedatangan she-Yap

“hihihi…Yap-pangcu kalian sudah datang, eh mana Ang-giok?” she-Yap dengan senyum masam melihat Cia-ma clingak-clinguk menatap keluar

“maaf Cia-ma! Ang-giok tidak bisa kembali.”

“aih…kenapa tidak bisa kembali, apa yang terjadi padanya, apakah kalian telah mencelakakannya!? aduh.. rugi aku kalau begini!” Cia-ma nyerocos dengan pertanyaan bertubi-tubi. “Cia-ma! Ang-giok tidak kenapa-napa, ini demi keselamatan kita!”

“heh! apa maksud Yap-piauwsu!?” sela seorang lelaki yang menjadi kepala pengawal Cia-ma, Yap-piauwsu menoleh pada pengawal berbadan tegap dan kekar itu

“ketahuilah sicu! kota kita telah dimasuki oleh pak-hek-liong, dan sekarang berada di tempat kami, jika anda tidak percaya! pergilah kesana dan minta Ang-giok dari dekapannya!” mendengar itu tiga pengawal Cia-ma terkesiap dan mereka terdiam, lalu pengawal tadi berkata

“Cia-ma! kita tidak mampu berurusan dengan pak-hek-liong, dan sebaiknya kita relakan saja Ang-giok bersamanya.”

“aduh….rugi dong kalau begini! kan kamu tahu bahwa pembesar Oey menginginkan dilayani Ang-giok nanti malam dan ia sudah memberi panjar.” keluh Cia-ma dengan wajah berkedut muram

“kami hanya ingin menyampaikan hal itu saja, dan sekarang kami hendak permisi.” ujar Yap-piauwsu

“heh! tunggu dulu Yap-piauwsu!” cegah kepala pengawal “ada apa lagi sicu!?” tanya Yap-piauwsu menoleh, kepala pengawal melangkah mendekati Yap-piauwsu “sebaiknya Yap-piauwsu ikut menguatkan cerita ini pada orang suruhan Oey-taijin.”

“saya kira tidak perlu sicu!”

“tapi Yap-piauwsu! kalau tidak ia akan meminta denda pada kami! tolong mengertilah kesulitan kami!” Yap-piauwsu memandang rekannya

“jika demikian Yap-twako! tidak mengapa jika kita memenuhi permintaan dari pihak Cia-ma!

“baiklah kalau begitu! kapan utusan Oey-taijin menjemput Ang- giok?” tanya Yap-piauwsu

“sebentar lagi, mari kita duduk!” pinta kepala pengawal, lalu merekapun duduk

“kalian urus baik-baik situasi ini Ma-kui!” perintah Cia-ma dengan nada kesal

“baik Cia-ma!” sahut kepala pengawal, Cia-ma berlalu dari hadapan para pengewalnya dengan langkah melengang-lenggok sambil menggerutu.

Satu jam kemudian sebuah kereta bagus berhenti didepan rumah bordil, empat orang pengawal berseragam dengan sigap memasuki bangunan, Ma-kiu dan dua wakilnya menyambut empat utusan tersebut

“mana Ang-giok! Kami hendak menjemputnya!” “maaf hiante, Ang-giok tidak bisa menemui taijin.”

“heh! kenapa bisa begitu!? Ang-giok sudah dipanjar oleh taijin, dan kalian tidak boleh mangkir!”

“maaf hiante, kami tidak bermaksud mangkir dari perjanjian, namun sekarang Ang-giok ada ditempat dua piauwsu ini.” “kami tidak mau tahu! sekarang cepat bawa Ang-giok kesini supaya kami antar kehadapan Oey-taijin!” ujar utusan itu tegas sambil melirik dua piauwsu

Yap-piauwsu dan rekannya berdiri dengan hati masam karena urusan yang berbuntut ini

“hiante! Ang-giok memang berada ditempat kami, dan para hiante jangan memaksa demi kebaikan kita bersama.” “heh.. Ma-kui! dua piauwsu ini adalah pelanggan kalian,

perjanjian kalian kami tidak mau tahu, jika kalian mangkir! kalian bayar denda tiga kali lipat pada Oey-taijin!” tuntuk utusan Oey- taijin

“kami tidak ingin mangkir hiante! kalau anda memaksa marilah kita ketempat piuawsu ini dan bawalah Ang-giok dari sana!” bantaj Ma-kui kesal, lalu ia keluar dengan langkah lebar

“heh... Ma-sicu! kamu mau buat celaka yah!?”

“utusan ini yang mau bikin celaka! hayo ikut aku ke sana dan hadapi sendiri pak-hek-liong!” teriak Ma-kui jengkel

“apa!? Pak-hek-liong!? apa dia ada dikota ini!?” teriak para utusan bersamaan

“benar, ia bersama Ang-giok, kalau para hiante dapat membawa Ang-giok dari tangan pak-hek-liong, kami akan bayar sepuluh kali lipat pada Oey-taijin!” ujar Ma-kui menantang para utusan, keadaan jadi hening, para utusan saling pandang.

“Oey-taijin pasti tidak akan senang, ini adalah resiko kalian! kenapa melemparkan urusan celaka ini pada kami!?” ujar utusan “baik! saya akan ke tempat piauwsun ini dan saya akan katakan pada pak-hek-liong bahwa Oey-tajin memaksa Ang-giok melayaninya, dan kalau tidak Oey-taijin akan menangkap Pak- hek-liong!” Ma-kui membalik badan dan berlari, kontan Yap- piauwsu dan yang lain-lain mengejar Ma-kui

“hei..tunggu dulu Ma-kui! teriak utusan Oey-taijin, Ma-kui memperlambat larinya dan mereka dapat menyusulnya

“jangan nekat mencelakai majikan kami Ma-kui! baik kami akan melaporkan pada Oey-taijin, bahwa Ang-giok tidak dapat dibawa karena Ang-giok ada ditangan pak-hek-liong.” ujar utusan. “demikian lebih baik, kalian tahu!? karena adanya Ang-giok kami masih selamat.” ujar Yap-piauwsu. Ma-kui menatap Yap- piauwsu

“pantas kalau begitu, sebab yang saya dengar dikota Beijing, saat kemunculan pak-hek-liong dibarengi banyak pembunuhan

terjadi, maka saya heran bagimana kalian masih hidup” ujar Ma- kui

“sudahlah Ma-kui, sekarang kami hendak kembali, takut pangcu kami kenapa-napa.” ujar Yap-piauwsu, lalu keduanya segera berlalu, Ma-kui dan empat utusan kembali ke rumah bordil.

Tiga bulan kota Bianping masih aman-aman saja, tidak ada makar yang ditimbulkan pak-hek-liong, hanya para warga sudah banyak yang tahu bahwa pak-hek-liong ada dikota mereka, hati mereka selalu was-was, Ang-giok memang telaten melayani

pak-hek-liong, dan malam itu seluruh piawsu terkejut mendengar jeritan Ang-giok, pasalnya malam itu Han-ok-liang meminta Ang- giok melayaninya, namun tiba-tiba Ang-giok muntah karena sudah tiga hari perutnya terasa mual, karena jijik dan marah pak- hek-liong menampari muka Ang-giok

“tidak…aouwh …jangan..aouwh…..tolooooong….” jerit Ang-giok kesakitan

“sialan kamu perempuan goblok! kamu muntah didepanku! plak..plak…”

“aouw….ti..tidak..jangan maafkan aku tuan…aku tidak bisa menahan, aku..aku sedang hamil.” Keluhnya sambil menangis “bangsat! kamu hamil!?” bentak Han-ok-liang, lalu ia kembali menampari muka Ang-giok, Ang-giok menjerit-jerit minta tolong, namun tidak ada yang datang, para piauwsu malah keluar dan melarikan diri, karena mereka yakin bahwa kemurkaan pak-hek- liong akan merembet pada mereka, lalu pak-hek-liong kembali mencengkeram rambut Ang-giok dan dengan kesal ia melempar tubuh Ang-giok kedinding.

“mampus kamu perempuan sundal!”

“aouw..toloooong…!” lolongan Ang-giok terdengar histeris merobek kesunyian malam saat tubuhnya melayang hendak menghantam dinding, namun sebelum kepalanya membentur dinding sebuah bayangan menangkap tubuhnya.

“cukup Ok-liang!” bentak bayangan itu sambil meletakkan Ang- giok yang pingsan, dengan sorot mata tajam Han-ok-liang menatap lelaki didepannya, hatinya sedikit kecut setelah memperhatikan bahwa yang berdiri didepannya adalah musuh besarnya Han-fei-lun., Han-fei-lun berketepatan malam itu memasuki kota Bianping, dia meninggalkan kota Kunming tiga bulan yang lalu saat hari pertama pengobatan syaraf Han-kwi- ong, ketika itu ia hendak mencari penginapan, namun ia dikejutkan suara minta tolong Ang-giok, dengan cepat ia melesat ke arah suara, dan ia heran melihat banyak para piauwsu yang berlarian tunggang langgang, dengan mudah ia masuk kedalam bangunan dan menuju suara umpatan yang terdengar dari dalam kamar, saat ia membuka pintu jeritan histeris Ang-giok terdengar, Han-fei-lun segera bertindak cepat menyelamatkan Ang-giok yang dilemparkan ke arah dinding

“mampuslah kamu Fei-lun!” bentak Han-ok-liang sambil menyerang hebat dengan pedangnya, Han-fei-lun berkelit dengan cekatan dan sesekali melancarkan serangan balasan, sabetan pedang Han-ok-liang dalam rangkaian bun-liong-kiam mengawung mengicar tubuh Han-fei-lun dengan gencar, namun yang diserang ini bukan orang sembarangan, dengan tenang sang bengcu melayani permainan pedang yang belum ada tandingan ini, kilatan pedang berkesiuran diantara bayangan Han-fei-lun yang cekatan memainkan kipasnya, dan sesekali terdengar suara dentingan ketika jemari Han-fei-lun menyentil batang pedang.

Han-ok-liang dengan gemas dan marah terus menyerang tapa henti, datangnya serangan laksana air bah menerpa tubuh Siauw-taihap, tapi Han-fei-lun tidak keteter walaupun diserang sedemikian rupa, setelah berlalu seratus jurus lebih, Han-fei-lun merubah pola perlawanan, dengan jurus “bun-sian-minling-ci” (jari titah dewa sastra), ilmu su-hoat ini adalah ciptaan Han-fei- lun dari resapan ilmu pedang yang dikeluarkan Han-ok-liang, dan tiga puluh jurus kemudian Han-ok-liang mulai terdesak, tekanan totolan dari gagang kipas mulai membuat Han-ok-liang kelabakan, serangan yang cepat dan tiba membuat Han-ok-liang tercekat dan kebingungan.

Dan pada jurus ke lima puluh diawali dengan totolan gagang kipas pada pergelangan tangan dan membuat Han-ok-liang terkejut dan berusaha menarik kembali serangannya, disusul dengan serangan jitu totolan dua buah jari yang datang dari bawah mengarah bawah dagu, Han-ok-liang terkesiap dan mencoba menebas lengan, namun entah bagaimana lengan itu raib dan malah jemari itu mematuk pergelangan tangannya “auh....! trang…tuk…..akh…tuk….tuk…” Han-ok-liang roboh pingsan, pelipis kanan dan punggungnya kena hantam sodokan

secara bersamaan dan disusul dua totolan pada kedua bahunya.

Han-fei-lun melangkah mendekati Ang-giok yang sudah siuman, wajahnya yang cantik babak bundas dan bengkak

“kamu ini siapakah nona?” tanya Han-fei-lun lembut “aku..aku Ang-giok, apakah dia itu mati?”

“tidak…dia hanya pingsan, apakah keluargamu pemilik piauwkiok ini?”

“tidak ingkong, eh…kemana para piauwsu?”

“sepertinya mereka telah melarikan diri, kalau kamu bukan keluarga piauwsu, lalu kamu siapa? Kemana saya harus mengantar nona?”

“saya penduduk kota ini, saya..saya...tiga bulan yang lalu bekerja dirumah bordil, tapi sejak pak-hek-liong disini, saya dibawa para piauwsu kesini.”

“hmh begitu! lalu apa rencana nona selanjutnya?”

“saya tidak tahu ingkong, saya bingung, apakah yang ingkong rencanakan setelah dia itu siuman?”

“saya Han-fei-lun! dan saya akan membawanya pulang.” “pulang!? pulang kemana? apakah dia ini keluarga ingkong?” “benar nona! jadi saya mohon maaf yang sebesar-besarnya atas perlakuannya pada nona.” “ingkong! saya ini perempuan lemah, dan saya akan katakan terus terang karena ingkong adalah keluarga pak-hek-liong, sebenarnya saya sekarang sedang mengandung anaknya, jadi saya benar-benar bingung harus bagaimana.” Han-fei-lun menarik nafas panjang dan sejenak berpikir

“baiklah jika demikian kenyataannya, pertama-tama memar di wajahmu disembuhkan dulu, dan setelah itu kita akan pikirkan bagaimana nantinya.” ujar Han-fei-lun lalu ia membalik badan dan melangkah mendekati Han-ok-liang dan mengangkatnya ke atas ranjang.

“dimanakah kita mendapatkan tabib dikota ini!?”

“dua blok dari sini ada toko penjual obat, pemiliknya adalah seorang sinse.”

“baguslah! dan sekarang nona boleh istirahat dan besok kita akan mengobati wajahmu.”

“baik ingkong, saya akan kekamar sebelah.” sahut Ang-giok, lalu ia keluar dari kamar dan masuk untuk tidur dikamar sebelah, ia membaringkan diri dan terkadang ia meringis karena nyeri diwajahnya berdenyut sakit, dan saat larut baru ia dapat tidur.

Dan ketika ia bangun, Lai-sinse sudah berada diruang tengah duduk bersama Han-fei-lun

“Lai-sinse sudah disini, kesinilah nona biar wajahmu diperiksa!” ujar Han-fei-lun, Ang-giok duduk didekat Lai-sinse, Lai-sinse dengan memeriksa keadaan Ang-giok, setelah itu Lai-sinse mengeluarkan obat yang dibawanya

“pel ini makanlah setiap dua kali sehari, dan salep ini oleskan tiap pagi, dalam tiga hari memar wajahmu akan sembuh!”

“terimakasih sinse!” Ang-giok menerima obat dan menghaturkan terimakasih, lalu Lai-sinse berpamitan dan diantar Han-fei-lun sampai keluar.

Tiga hari kemudian wajah Ang-giok sudah sembuh, dan pagi itu saat mereka baru saja selesai makan dan Ang-giok membersihkan meja makan, tiba-tiba Han-fei-lun mendengar pergerakan didepan rumah

“ada orang yang datang!” gumamnya sambil bangkit dari kursi dan keluar dari ruang makan, Ang-giok mengikutinya dari belakang, didepan rumah ternyata Coa-pangcu dan empat orang anak buahnya

“Coa-pangcu!” seru Ang-giok, Coa-pangcu menatap Han-fei-lun penuh selidik

“apakah kamu baik-baik saja nona!?”

“aku baik-baik saja pangcu!” jawan Ang-giol “lalu bagaimana dengan pak-hek-liong!?”

“apakah Coa-pangcu pemilik tempat ini?” sela Han-fei-lun “benar ingkong.” Jawab Ang-giok, Han-fei-lun merangkap kedua tangannya dan menjura

“maaf pangcu! saya Han-fei-lun dan telah berdiam dirumah pangcu ini.”

“Han-fei-lun! eh kalau begitu saya sedang berhadapan dengan bengcu!” teriaknya dengan hati gembira, lalu ia menjura dan diikuti empat anak buahnya.

“tidak mengapa bengcu! kami yang harusnya berterimakasih, karena dengan kedatangan bengcu, malapetaka yang mengancam kota ini akan berlalu.”

“pangcu jangan berlaku sungkan, marilah masuk dan kita bicara didalam!” lalu merekapun masuk kedalam “dimanakah pak-hek-liong, bengcu!?” tanya Coa-pangcu penasaran

“dia didalam kamar, kalian tidak usah mencemaskannya.” Jawab Han-fei-lun

“hehehe…kami tentu tidak cemas, bengcu kan ada disini.” ujar Coa-pangcu dan diiringi tawa renyah para piauwsu, Han-fei-lun menarik senyum sekilas

“baiklah pangcu! karena anda sudah kembali, saya minta izin untuk bicara berdua dengan Ang-giok!”

“oh..begitu, silahkan bengcu! sahut Coa-pangcu dengan senyum sumigrah, Han-fei-lun berdiri dan diikuti oleh Ang-giok, keduanya pergi kedalam kamar dimana Han-ok-liang tidur di atas ranjang, keadaanya tidak jauh dengan Han-kwi-ong, lumpuh kedua tangan dan hilang ingatan.

“ada apa ingkong!?” tanya Ang-giok heran

“nona Giok! Kedaanmu sudah pulih, dan empunya rumah sudah kembali kesini, jadi mengingat keadaanmu yang sedang hamil, sebaiknya kamu ikut saya kekota shinyang tempat tinggal kerabatku ini, setelah ia sembuh percaya pada saya! Ia tidak akan dapat berbuat jahat lagi padamu,bagaimana menurutmu!?” “tapi siapa sajakah yang ada di sana?” tanya Ang-giok meragu “disana ada istrinya dan mungkin juga putrinya.” Jawab Han-fei- lun, Ang-giok terdiam dan lama berpikir, kemudian ia berkata “jika memang demikian, sepertinya saya disini saja.” ujar Ang- giok

“apa kamu yakin dengan keputusanmu itu?”

“iya, sebab seandainya aku mengikutinya kesana aku tidak akan merasa nyaman.”

“hmh…baiklah kalau begitu, mari kita keluar!” ujar Han-fei-lun “sudah selesai pembicaraannya bengcu!” tanya Coa-pangcu “sudah pangcu! tapi saya minta tolong pada pangcu untuk mencarikan tempat tinggal bagi Ang-giok, bolehkah!?” Ang-giok merasa haru betapa ingkong yang ternyata kerabat pak-hek- liong ini demikian memikirkan keadaannya

“tentu..tentu bengcu, Ang-giok tempati saja rumah si A-keng dua blok dari belakang kantor ini!”

“si A-keng itu siapa pangcu!?” tanya Han-fei-lun

“dia adalah pegawai saya, namun dia telah tewas ketika bertemu dengan pak-hek-liong, jadi saya akan serahkan rumah itu pada nona giok.”

“oh pangcu baik sekali, saya haturkan banyak terimakasih pada pangcu, dan sekali lagi saya minta maaf atas perbuatan pak- hek-liong.

“ah..tidak apa-apa bengcu!” sahut Coa-pangcu sedikit heran kenapa bengcu minta maaf padanya atas kejahatan pak-hek- liong, tapi karena ia tahu bengcu ini sangat bijaksana, ia tidak terlalu jauh memikirkannya.

Lepas siang hari Han-fei-lun dan Coa-pangcu mengantarkan Ang-giok kerumah yang dimaksud, Coa-pangcu dan anak buahnya heran melihat pak-hek-liong berjalan dengan pandangan kosong dan penurut ketika pundaknya didodorong Han-fei-lun, sesampai dirumah bekas si A-keng, Han-fei-lun melihat-lihat kedaan rumah diikuti oleh Coa-pangcu

“sekali lagi saya ucapkan terimakasih pada Coa-pangcu yang telah berbaik hati pada Ang-giok.” ujar Han-fei-lun

“hehehe..bengcu jangan membuat saya malu, ini belum seberapa dibanding jasa bengcu yang telah menyelamatkan kota kami dari tangan jahat pak-hek-liong, kalau tidak ada lagi bengcu kami hendak pamit karena saya harus kembali mengumpulkan pegawai saya yang kemarin berlarian.” “bai...baik silahkan pangcu dan saya juga hendak melanjutkan perjalanan.” Coa-pangcu menjura dan dibalas Han-fei-lun, kemudian merekapun berlalu.

“terimakasih inkong yang telah demikian banyak memikirkan keadan saya serta membantu saya, uuu..uuu..hiks..hiks...” Ang- giok tidak kuasa menahan rasa harunya sehingga tangisnya tidak terbendung

“sudah nona giok! Hanya ini yang dapat saya lakukan akibat dari perlakuan adik saya yang telah menyengsarakan nona.” “ingkong! Jika anak saya lahir, bolehkah ia berkunjung ketempat inkong?”

“tentu Ang-giok! anakmu adalah kerabat kami, demikian juga kamu, dan satu lagi kalau kamu izinkan saya akan memberikan nama pada anakmu ini.”

“tentu jika anakku lahir akan kunamakan dia dengan nama

pemberianmu ingkong, siapakah namanya ingkong?”

“jika anakmu nantinya laki-laki beri nama ia dengan Han-liang- fei, tapi jika perempuan beri nama ia Han-bwee-lian.” ujar Han- fei-lun.

“baiklah ingkong dan banyak terimakasih atas semuanya!” Han- fei-lun mendehem lalu mendekati Han-ok-liang

“sekarang kami permisi dan jagalah dirimu baik-baik!” Ang-giok mengangguk, dan melangkah mengikuti Han-fei-lun sampai dipintu melepas kepergian Han-fei-lun dan Han-ok-liang.

Han-fei-lun melakukan perjalanan cepat, dan tiga minggu kemudian disaat senja mereka memasuki kota Beijing, Han-fei- lun membawa Han-ok-liang memasuki sebuah penginapan, beberapa pelanggan segera menyingkir ketika melihat Han-ok- liang, bahkan pemilik likoan dengan terbata-bata mendekati sambil menjura berulang-ulang

“ampunkanlah kami tuan..ka…kami ja..jangan dicelakai, apapun permintaan tu..tuan akan ka..kami penuhi.” Han-fei-lun mengerti akan hal yang janggal dari orang-orang disekitarnya ini, tentunya warga kota ini telah dizalimi oleh Han-bun-liong pikirnya

“loya! jangan khawatir, pak-hek-liong ini tidak akan berulah lagi di tempat ini, sekarang dia bersama saya, nama saya Han-fei- lun.” pemilik likoan terkesima mendengar nama pemilik suara bernada lembut itu, ia mendongak dan menatap wajah arif didepannya

“benarkah bengcu yang ada didepan saya!?” tanyanya memastikan dengan wajah sedikit cerah

“benar loya! saya dari kaifeng.” Jawab Han-fei-lun, pemilik likoan segera berdiri dengan wajah gembira lalu kemudian menjura “syukurlah jika bengcu telah menawan penjahat ini, eh silahkan duduk Han-taihap, bengcu mau pesan apakah?” Han-fei-lun tersenyum ramah

“loya! tolong disediakan makanan dua porsi untuk kami, dan minumannya teh saja.”

“baik bengcu, akan segera kami hidangkan!” sahut pemilik likoan seraya berbalik dengan hati ringan, dua pelayan segera diperintahkan untuk melayani Han-fei-lun, sementara para tamu yang tadi sempat menyingkir dan melihat kelakuan pemilik likoan, ketika melihat wajah pemilik likoan berubah cerah, hati mereka lega dan mereka memberanikan diri kembali kemejanya. “kembalilah tuan-tuan! jangan takut! dia ini bersama saya, dan maaf atas ketidak nyamanan ini!” teriak Han-fei-lun dengan seulas senyum ramah. para tamu yang masih mmeragu segera kembali memasuki likoan dan duduk kembali untuk melanjutkan makannya yang sempat terhenti.

Dua orang pelayan menghidangkan pesanan Han-fei-lun “silahkan bengcu! dan kalau masih ada hal lain, bengcu panggil kami saja” ujar pelayan dengan senyum ramah

“terimakasih siauw-sicu!” sahut Han-fei-lun tersenyum, dua pelayan itupun undur dan berdiri disisi kasir. Han-fei-lun dengan perlahan menyuapi Han-ok-liang yang kalem dan tidak banyak tingkah, ketika ia mengunyah makanan matanya ikut berkedip- kedip, hal itu tidak luput dari perhatian para pengunjung, dan mereka sangat heran karena mengingat setengah tahun yang lalu pak-hek-iong sangat sadis dan kejam menebar mau di kota ini.

Setelah Han-ok-liang kenyang, Han-fei-lun baru menyantap makanannya, dengan tenang ia mengunyah makanannya tanpa memperdulikan para tamu yang nyaris memperhatikan mereka, tidak lama kemudian Han-fei-lun selesai, lalu ia melambai pada dua pelayan yang siap menanti panggilannya

“iya bengcu! apa yang dapat kami bantu!?” tanya pelayan dengan ramah

“siauw-sicu! kami hendak menginap barang semalam , kamar masih adakan?”

“masih…kamar ada bengcu!” sahut pelayan sigap “baguslah kalau begitu.” ujar Han-fei-lun sembari berdiri “apakah sekarang bengcu!?” tanya pelayan itu, “benar siauw-sicu antarkanlah kami!”

“baik! Marilah bengcu!” sahut pelayan itu dan membawa Han-fei- lun kelantai atas, sementara rekannya membersihkan meja bekas makan keluarga Han.

Apa yang terjadi dilikoan itu menjadi berita hangat keesokan harinya, hati mereka lega bahwa bengcu telah turun tangan dan menundukkan pak-hek-liong,

“kira-kira kenapa yah bengcu demikian perhatian bahkan katanya bengcu menyuapinya makan.” ujar lelaki memulai pembicaraan dikedai kopi itu

“benar! Aku juga heran Can-twako! kenapa tidak sekalian di bunuh saja.” sahut rekannya

“ah..kalian kan tahu bagaimana sikap bengcu, bengcu itu orang arif budiman.” sela orang ketiga

“sikap bengcu memang kita faham, hanya yang buat penasaran adalah melelahkan diri mengurus orang jahat seperti pak-hek- liong!” sahut she-Can

“hehehe…itu artinya kamu tidak paham akan sikap bengcu! tentu ada sebab bengcu tidak tega menelantarkannya, dan saya dengar pak-hek-liong seperti orang bodoh atau mungkin hilang ingatan.” sahut orang ketiga.

“sudah ah….aku pulang dulu mau buka toko kelontong! entar berabe jika terlambat, bakal diomelin orang rumah!” ujar she- Can bergegas pergi, dua temannya senyam senyum melihat kepergian she-Can.

Kota Shinyang hari itu sangat sibuk sebagaimana biasanya, demikian pula di ditempat hek-liong-piauwkiok (ekpedisi naga hitam) para piauwsu sibuk membongkar muat barang, berselang beberapa jam kemudian dua rombongan piauwsu diberangkatkan, seorang perempuan cantik berumur dua puluh tigaan keluar dari kantor piauwkiok dan memberikan surat-surat pada dua ketua rombongan dan beberap wejangan.

Setelah rombongan itu berangkat, para piauwsu yang lain kembali merapikan gudang, sementara wanita cantik yang tiada lain adalah Han-liu-ing putri dari Han-ok-liang masuk kembali kedalam kantor diikuti dua pembantu utamanya

“bagaimana dengan barang Kao-tihu, apakah kita kesana yang menjemput atau mereka antar kesini! paman Wan!?”

“kita menjemput barang ketempat Kao-tihu, pangcu!” jawab Wan-bu

“baik kalau begitu, segeralah suruh A-cuen dan yang lain kesana!” perintah Han-liu-ing

“baik pangcu!” jawab Wan-bu dan segera keluar dari kantor, A- cuen dan empat rekannya membawa kereta kuda menuju rumah Kao-tihu.

Saat menjelang siang A-cuen sudah kembali ke kantor piauwkiok, lalu beberapa piauwkiok segera mengangkat beberapa karung beras kedalam kereta, Wan-bu dan Kao-ban memandori para piauwsu sekaligus mengkroscek barang bawaan dan menyesuaikan dengan surat jalannya, Han-liu-ing keluar dari dalamm kantor, ia baru saja selesai membuat kuitansi barang untuk diserahkan pada penerima barang ditempat tujuan, namun saat matanya melihat kearah jalan ia berteriak gembira “pek-pek…!” serunya sambil berlari mendapatkan Han-fei-lun,

Han-fei-lun tersenyum

“bagaimana kabarmu Ing-ji!?” sapanya dengan senyum mengembang

“aku baik-baik saja Lun-pek! eh bukankah ini ayah!?” serunya setelah matanya memperhatikan orang disamping pek-peknya. “benar! ia adalah ayahmu Ing-ji.” Han-liu-ing heran melihat tatapan ayahnya yang kosong

“mari kita kedalam pek-pek!” ujar Han-liu-ing, para piauwsu juga berhenti bekerja memperhatikan tamu yang datang, hati mereka juga penasaran melihat majikan tua mereka seperti mayat berjalan.

“apa yang terjadi dengan ayahku pek-pek!?”

“Ing-ji! sebelumnya pek-pek minta maaf padamu dan ibumu! karena kedua tangan ayahmu sudah lumpuh dan untuk sementara hilang ingatan, dan yang melakukan ini adalah pek- pek sendiri” Han-liu-ing termanggu.

“hmh….mungkin memang harus begini baru ayah dapat dikendalikan.”

“pek-pek juga berpikir demikian, bukankah sebaiknya kita membicarakan hal ini dirumah kalian!?”

“baiklah! tapi pek-pek tunggulah sebentar, saya selesaikan dulu urusan disini!” Han-fei-lun mengangguk, Han-liu-ing segera keluar dan berbicara dengan kedua pembantunya, setelah itu ia masuk kembali dan mengajak pek-peknya keluar, lalu mereka naik kereta kuda menuju selatan kota dimana ia tinggal bersama ibunya.

Sesampai dirumah, Han-hujin tidak menyangka bahwa anaknya datang bersama suaminya, hatinya sedih dan nelangsa melihat keadaan suaminya, namun setelah mendengar cerita tentang sepak terjang suaminya yang semakin menjadi-jadi, hatinya juga rela bahwa beginilah mungkin yang terbaik bagi suaminya. “kapan pengobatannya dilakukan kakak ipar!?” tanya Han-hujin “secepatnya lebih baik Lan-moi, ing-ji! pergilah panggil tabib kemari!”

“baik pek-pek!” sahut Han-liu-ing dan iapun segera pergi, tidak lama Han-liu-ing datang bersama Yang-sinse, setelah Yan-sinse memeriksa keadaan Han-ok-liang ia berkata

“Han-loya mengalami sumbatan pada syarafnya, saya tidak pernah menangani pasien seperti ini, jadi maaf tuan! saya tidak mampu.” Han-liu-ing dan Han-hujin menatap Han-fei-lun “apakah sinse tidak ada jalan atau mengetahui siapa yang dapat kami minta tolong!?”

“hmh….cobalah Han-loya menemui Tan-sinse didesa cinbun, mungkin dia dapat menolong!”

“baiklah Yang-sinse dan terimakasih, Ing-ji! antarkanlah sinse!” “baik pek-pek dan sekalian aku pergi kedesa cinbun menemui Tan-sinse.” sahut Han-liu-ing, lalu mengajak Yang-sinse keluar..

Menjelang malam Han-liu-ing tiba bersama Tan-sinse, Tan-sinse segera dibawa kekamar dan memeriksa Han-ok-liang, Tan-sinse termanggu meneliti bagian kepala Han-ok-liang

“Han-loya dapat pulih kembali, hanya saja ramuan obatnya tidak ada pada saya, kita harus ke changcun dulu untuk

mendapatkannya.” ujar Tan-sinse

“apakah ramuannya Tan-sinse!?” tanya Han-fei-lun “untuk meracik obatnya, saya butuh akar bunga bulan.” “bagaimanakah bentuk bunga bulan ini?”

“bunga bulan ini batangnya sebesar lengan dan paling tinggi hanya satu meter, daunnya seperti daun sirih hanya saja ada bercak bulat putih di bagian belakang daunnya.”

“apakah penduduk kota changcun kenal dengan bunga bulan ini?” tanya Han-fei-lun

“orang kebanyakan mungkin tidak, tapi kalau penjual obat pasti tahu.” jawab Tan-sinse

“baiklah sinse, saya akan kesana untuk mengambil bunga itu.” ujar Han-fei-lun

“baiklah kalau begitu Han-loya, dan setelah bunga itu didapatkan, sebaiknya diantar ketempatku, dan aku akan meraciknya dirumah.”

“baik sinse dan terimakasih.” sahut Han-fei-lun, lalu Tan-sinse dajak makan bersama, setelah itu Tan-sinse dibawa kekamar tamu untuk istirahat.

“sebaiknya saya saja yang pergi kekota changcun, pek-pek!” Han-fei-lun meraih cangkir teh diatas meja dan menyeruputnya perlahan, lalu kemudian meletakkannya kembali

“biar pek-pek saja, kamu tetaplah disini dan mengurus pekerjaanmu!” Han-liu-ing tidak membantah lagi, karena suara pek-peknya demikian kuat dan hatinya harus tunduk. “bagaimanakah kabar adik ipar sian-hui!?” sela Han-hujin mengalihkan pembicaraan

“semoga saja hui-moi baik-baik saja, karena ia sekarang berada diwilayah timur, Lan-moi”

“jika mendengar cerita pek-pek, apakah mungkin yang beraksi di wilayah timur adalah paman Bun-liong!?” sela Han-liu-ing

“besar kemungkinan Ing-ji, semoga bibimu dapat mengatasinya.” sahut Han Fei-lun.

“jika mengingat pertarungan paman dan bibi di “kui-san” aku jadi khawatir pek-pek.” ujar Han-liu-ing “kita doakan saja Ing-ji, semoga bibimu tidak mendapat celaka.” sahut Han-fei-lun

“lun-ko! sebaiknya istirahat saja, tentunya sudah lelah setelah melakukan perjalanan panjang.” sela Han-hujin

“benar Lan-moi, kamu juga istirahatlah Ing-ji!” sahut Han-fei-lun. Han-liu-ing mengangguk, Han-fei-lun masuk kekamar yang telah disediakan, sebentar saja ia sudah pulas tertidur.

Aktivitas penduduk Kota Nanjing nampak lesu, wajah para penduduk kusut dan muram, kondisi ini sudah berjalan lebih satu tahun, beberapa bangunan dalam satu gang nampak sepi karena tidak satupun toko yang buka karena memang tidak lagi berpenghuni, bahkan dibagian selatan kota banyak sudah bangunan yang rusak dan hancur, hal itu disebabkan kebakaran yang terjadi setahun yang lalu, kota ini terkesan penuh tekanan dan terlantar.

Ditengah-tengah kota ada sebuah bangunan yang sangat besar dan mewah, hal yang menyolok memang jika dibandingkan dengan bangunan-bangunan lain, bangunan mewah dan besar itu terdiri dari empat tingkat, memiliki halaman luas yang ditumbuhi aneka macam bunga, dan pintu gerbang besar berhiaskan gapura singa dari batu pualam, dibagian belakang bangunan masih terdapat tanah yang luas, dibagian dalam bangunan tiap tingkat memiliki ruang tengah dengan aneka barang antik, kemudian lebih kedalam terdapat beberapa kamar dan ruang makan yang luas.

Penghuni bangunan itu, disamping seratus pelayan ada empat orang, yakni seorang pemuda tampan berumur dua puluh lima tahun, dia adalah Han-bun-liong yang berjulukan “toat-beng- kiam-ong” dan setelah ia mencengkram kota Nanjing setahun yang lalu, warga kota memanggilnya dengan tuan timur, lalu yang kedua adalah wanita paruh baya berumur empat puluh tujuh tahun, namanya Coa-kim, dikalangan kangowu ia dikenal dengan julukan “in-sin-ciang”, kemudian orang ketiga adalah lelaki tua berumur tujuh puluh tahun dikenal dengan sebutan “ban-pi-sin-lo” lalu yang keempat adalah perempuan tua berumur enam puluh lima tahun berjulukan “ban-eng-li-mo”.

Siang itu tuju buah kereta besar dikawal dua puluh orang bertubuh kekar dan berwajah sangar memasuki halaman bangunan, kereta terus dibawa kebagian kanan bangunan, dimana terdapat sebuah bangunan tersendiri berupa gudang, dua puluh orang itu segera membongkar muat isi tujuh kereta yang terdiri dari berkarung-karung beras dan gandum, setelah semua muatan tujuh kereta masuk gudang, kepala pengawal menemui ban-eng-li-mo yang mengurus bagian pangan tersebut, kepala pengawal melaporkan hasil pekerjaan mereka.

Menjelang sore dua buah kereta dikawal sepuluh orang berperawakan kuat, mereka membawa aneka senjata seperti pedang, golok, joan-pian, tongkat, didepan pintu masuk sebelah kiri kereta berhenti, lalu bebrapa laki-laki yang membongkat karung beras tadi membongkar muatan kereta yang terdiri dari empat buah peti, isi peti berupa barang berharga berupa perhiasan, barang antik dan pundi uang, dua orang dari mereka sudah lebih dulu naik ketingkat dua untuk menemui “ban-pi-sin- lo” yang menangani urusan upeti dan pajak dari luar kota Nanjing. Dan pada malam harinya sebuah kereta masuk kehalaman bangunan dikawal empat orang, dan masuk melalui pintu sebelah kiri, kepala pengawal langsung menemui Coa-kim dilantai tiga melaporkan pungutan pajak warga kota Nanjing berupa pundi-pundi uang, aktiviatas mereka hari itu selesai, lalu Coa-kim naik ketingkat empat demkian juga Ban-pi-sin-lo dan ban-eng-li-mo, Han-bun-liong sudah menunggu mereka dimeja makan yang sudah dipenuhi aneka makanan lezat yang dimasak oleh juru nasak yang handal, sambil bercakap-cakap tentang aktivitas hari itu mereka bersantap malam, sementara seratus pelayan makan di tingkat pertama dan tujuh puluh pengawal makan ditingkat dua.

Melihat hirarki penghuni yang ada dalam bangunan itu, Han-bun- liong pantas dipanggil tuan timur yang laksana seorang raja kecil di kota Nanjing, setelah makan, mereka berbual sambil minum arak sampai larut malam, dan jika hendak istirahat, mereka kembali ketingkat masing-masing, Han-bun-liong atau kita panggil tuan timur masuk keperaduannya dan disana tujuh orang gadis cantik menyambutnya dengan senyum cerah dan menawan serta siap melayaninya.

Keesokan harinya aktivitas ditempat tuan timur mulai menggeliat, tujuh puluh tukang pukul berangkat menuju tempat operasi masing-masing, seratus pelayan demikian juga, ada yang bagian bersih-bersih ruangan, ada bagian membersihkan barang antik, ada yang bagian luar membersihkan taman dan bunga, sementara Tuan-timur dan tujuh selirnya masih enak- enakan bersenda gurau di atas ranjang, lain hal dengan Coa- kim, ban-pi-sin-lo dan ban-eng-li-mo ketiganya masih pulas tertidur.

Dari gerbang kota sebelah utara seorang gadis cantik berpakaian warna hijau berjalan memasuki kota nanjing, sebuah kipas terselip dipinggangnya yang ramping, dibahunya tersampir sal warna putih, panas hari itu menyengat sehingga membuat pipi ranum gadis yang berkulit putih itu sedikit memerah, lehernya yang jenjang basah oleh keringat, demikian dibagian pelipisnya basah sehingga sinom rambutkan melekat menambah keanggunannya yang menawan, debu yang melekat disepatunya menandakan ia dari perjalanan jauh, dan demikianlah memang, karena sebagaimana diketahui, bahwa ia diperintahkan saudaranya untuk mengusut tirani yang melanda wilayah timur.

Gadis menawan itu adalah Han-sian-hui yang berjulukan “kong- ciak-bi-siucai” (sastrawan cantik dari lembah merak) adik dari “siauw-taihap” bengcu dunia persilatan, setelah memasuki pusat kota, Han-sian-hui masuk ke dalam sebuah likoan, pengunjung likoan itu terbilang sedikit, karena hanya ada lima meja yang di isi oleh pengunjung diantara lima belas meja makan yang tersedia, seorang pelayan tua dengan senyum ramah menyambut dan mengajaknya duduk

“lopek! tolong makanan dan lauk ikan lele, serta air putih saja.” “hehehe..baik siocia! sabar akan kami persiapkan untuk siocia!” sahut pelayan itu, lalu membalik badan.

Tidak lama pesanan Han-sian-hui pun dihidangkan, dengan ramah pelayan tua itu mempersilahkan, Han-sian-hui tersenyum dan memulai makannya, dengan tenang ia mengunyah dan menikmati makannya, sementara dimeja lain pelayan sibuk membersihkan bekas makan pengunjung yangsudah selesai, lalu terdengar teriakan ramah pelayan tua menyambut kedatangan seorang tamu, tamu itu adalah lelaki yang sudah berumur,kira-kira tiga puluh tahunan, wajahnya biasa-biasa saja, pakaiannya warna hitam dan kelihatan kumal karena debu perjalanan, rambutnya yang ikal diikat kuncir kuda dengan pita warna putih, dari balik punggungnya tersembul gagang pedang beronce kuning, ia tersenyum memerima sambutan pelayan tua

“silahkan duduk kongcu!” ujar pelayan tua

“terimakasih lopek! tolong segera hidangkan makanan terbaik kalian, dan satu kati arak!”

“baik koncu! segera akan disiapkan!” sahut pelayan tua dan kemudian ia membalik badan, lelaki itu memperhatikan sekelilingnya, sorot matanya demikian bening dibawa alisnya yang hitam melengkung laksana golok kembar, dan saat ia melihat Han-sian-hui yang sedang makan, matanya terhenti karena terpana oleh kecantikan yang terpampang dihadapannya, Han-sian-hui tidak memperhatikannya, sehingga lelaki itu lebih leluasa mengagumi wajahnya, namun lelaki itu malu sendiri dan merasa tidak pantas, lalu ia mengalihkan pandangan keluar likoan dan didepan dua oarng tamu laki-laki dan perempuan paruh baya masuk kedalam likoan dan segera disambut seorang pelayan,

Pesanan lelaki itu tiba dan dihidangkan didepannya, lalu ia pun bersantap dengan lahap, kelihatan benar bahwa lelaki itu memang sangat lapar, Han-sian-hui telah menyelesaikan makannya, dan mejanya telah dibersihkan kembali oleh seorang pelayan, ketika Han-sian-hui berdiri dari kursinya, dua orang lelaki kekar memasuki likoan, pemilik likoan segera keluar dari balik mejanya untuk menyambut kedua tamu berwajah garang itu

“silahkan duduk dulu tuan, dan tuan-tuan hendak minum apa?” tanya pemilik likoan, karena pemilik likoan sedang menyambut tamu, Han-sian-hui yang tadi berdiri lalu duduk kembali dan memperhatikan kedua tamu itu.

“minum arak saja Cia-loya!” sahut salah seorang dari keduanya yakni lelaki kekar bercambang lebat, Cia-loya segera dengan kebelakang dan mengambil dua guci kecil arak, lalu ia menghidangkan sendiri di atas meja kedua orang tersebut. “siapakah kedua orang ini?” pertanyaan itu menggelayut dibenak Han-sian-hui melihat kejanggalan dan perlakuan istimewa dari pemilik likoan, Han-sian-hui mengetahui betul bahwa air muka pemilik likoan itu terkesan takut pada dua orang tamunya ini.

Hal-hal seperti ini menurut Han-sian-hui patut untuk diperhatikan sehubungan tugasnya menyelidiki tirani yang melanda wilayah timur. dan hal ini boleh jadi akan menghantarkannya pada keberadaan “toat-beng-kiam-ong”.

Setelah kedua orang itu menghabiskan araknya, Cia-loya segera kemeja kasir, dan mengambil dua pundi uang, dengan sikap patuh yang dibuat-buat dan senyum yang dipaksakan, Cia-loya memeberikan dua kantong pundi itu.

“bagus! kalau beginikan enak, kita tidak capek-capek!

Hahaha..hahaha…” ujar orang yang bercambang sambil tertawa. “sepertinya telah terjadi pemerasan didepan mataku, tidak bisa aku berpeluk tangan menyaksikan ketidak adilan ini!” ujar lelaki berambut kuncir kuda dengan seulas senyum lucu dan memandang kedua orang itu dengan sorot mata tajam.

“sialan! hendak berlagak didepan tuanmu yah!” bentak sicambang mambalas melototkan matanya

“sudahlah kongcu! kongcu jangan membuat kami makin merasa sulit!” pinta Cia-loya tidak pada lelaki pengelana itu “hehehe…loya! yang begini ini tidak boleh dibiarkan.” sahut pemuda itu masih sempat tertawa.

“baggsat! maksud bagaimana!?” bentak kawan sicambang, lelaki berjenggot kasar

“heh! maksudku jelas, akan menghajar orang-orang aniaya seperti kalian ini!” sahut lelaki kelana itu tenang, wajah dua orang merah karena marah, lalu sijenggot kasar melayangkan tanggan hendak memukul wajah lelaki kelana “buk…auh…brak…” sijenggot kasar menjerit dan tubuhnya terhuyung melabrak meja, si jenggot kasar bangkit dengan hati jengkel dan marah, ia tidak menyangka bahwa tidak hanya pukulannya yang luput malah wajahnya kena bogem dan tersungkur.

Sicambang dengan dengan marah menedang meja dihadapan lelaki kelana itu, namun ia kecelik ketika meja itu terangkat dan melayang menghantam dadanya

“iigh…brak…. “ sipemuda kelana tersenyum-senyum dan melangkah mendekati dua orang itu, dan dengan bersamaan kedua orang itu menyerang, namun dengan gerakan gesit silelaki kelana mamapaki dua serangan itu

“plak-buk…buk…des…” kedua orang itu mengaduh memagangi perut yang terasa mual karena jadi sasaran tendangan dari sipemuda kelana.

“cepat kembalikan uang yang kalian peras dari loya ini!” bentak lelaki kelana itu, kedua orang itu berusaha bangkit dan sicambang meletakkan dua kantong pundi uang di atas meja “tunggulah disini! urusan ini belum selesai! ancam sijenggot kasar, lalu keduanya pergi sambil menahan nyeri.

“celaka..celaka….celaka kalau sudah begini.” Keluh Cia-loya dengan wajah pucat

“loya tenang saja, aku akan bertanggung jawab akan akibat dari kejadian ini.” ujar lelaki kelana dengan tenang.

“kamu..kamu tidak tahu berhadapan dengan siapa kongcu! kalau hal ini sampai kepada tuan timur, binasalah saya, hancurlah semua uuuu…uuu…..uu…..” keluh Cia-loya lalu menagisi dirinya, melihat kelakuakn pemilik likoan si pemuda kelana jadi serba salah dan bingung.

“loya tidak usah cemas! kami “goat-kiam-siang” (sepasang pedang bulan) akan ikut membantu mengatasi keadaan ini.” sela lelaki paruh baya.

“benar loya!” tambah teman wanitanya, Cia-loya menatap pasangan pendekar itu, namun hatinya masih kecut dan tidak yakin, tapi ia menghentikan tangisnya dan berdiri, lalu pergi kebelakang

“terimakasih siang-taihap telah sudi bahu membahu melawan ketidak adilan.” Ujar silelaki kelana sambil merangkap tangan sambil menjura

“sama-sama taihap! dan kalau boleh tahu siapa dan darimanakah taihap?” tanya lelaki itu. “saya adalah kam-ci-kun dari qingdao.” jawab silelaki kelana “saya adalah Lu-seng dan ini istri saya bao-bian, kami dari lembah bulan didaerah kanglam.” sahut Lu-seng memperkenalkan diri dan istrinya

Han-sian-hui berdiri dan melangkah hendak kemeja kasir

“maaf nona!” seru Kam-ci-kun, mendengar seruan itu Han-sian- hui berbalik

“ada apakah taihap? kenapa minta maaf?” tanya Han-sian-hui “meminta maaf karena mungkin dirasa lancang menyeru nona! dan saya yakin nona adalah orang persilatan yang tidak sudi melihat kezaliman!?”

“lalu maksud taihap bagaimana, jika benar? lalu bagaimana jika tidak?” Han-sian-hui balik bertanya

“hehehe…nona membuat bingung saya saja, karena sayang jika nona tidak memiliki pendirian tentang zalim dan adil.”

“lalu bagaimanakah sikap taihap menghadapi orang seperti itu?” “saya hanya menyayangkan sikapnya!”

“sudahlah Kam-sicu, adat orang didunia persilatan memang aneh-aneh, jadi kenapa diperdebatkan?” sela Lu-seng, Han- sian-hui tersenyum

“terimakasih taihap atas kebijaksanaannya, dan saya juga ingin melihat bagaimana akhir dari tindakan taihap ini! ujar Han-sian- hui sambil menatap Kam-ci-kun dengan senyum tulus, Kam-ci- kun balas tersenyum, Han-sian-hui pergi kemeja kasir dan memesan kamar, sementara Kam-ci-kun kembali duduk dan melanjutkan pembicaraan dengan siang-taihap.

Menjelang sore harinya tujuh orang mendatangi likoan, diantaranya orang bercambang yang dipecundangi Kam-ci-kun “pemuda jelek itu twako yang meremehkan kita!” ujar sicambang “keluarlah kamu anak muda! sebelum saya seret dari sana!” bentak lelaki paruh baya yang memegang tongkat, Kam-ci-kun dengan langkah tenang keluar

“hehehe…aku sudah disini! apa yang hendak kalian lakukan!?” tantang Kam-ci-kun dengan tenang, melihat ketenangan pemuda itu membuat enam orang itu merasa diremehkan, dan dengan jengkel lelaki bertongkat itu menyerang dengan cepat, Kam-ci- kun dengan sigap dan gesit berkelit dan memberikan serangan balasan yang tidak kalah bahayanya

“pantas kamu berani unjuk gigi, ternyata ada isi rupanya!” ujar lelaki bertongkat, kali ini ia memutar tongkatnya dan dengan cepat telah melancarkan serangan yang bertubi-tubi ke tempat berbahaya pada bagian tubuh Kam-ci-kun.

Kam-ci-kun masih dengan tangan kosong meladeni lawannya, tidak sedikitpun ia terdesak walaupun pertarungan itu tidak seimbang, dan luar biasanya setelah berjalan tujuh puluh jurus, lelaki bertongkat mulai kelabakan, sodokan tongkatnya selalu mental lakibat kibasan sin-kang Kam-cikun, dan disusul serangan cepat dan membahayakan, sehingga suatu saat ketika ujung tongkatnya mental, dan sebuah tendangan keras menggempur kuda-kudanya dan sebuah sikutan penuh sin-kang telak menghantam dadanya

“heghk…” lelaki bertongkat terhuyung kebelakang dan ambruk, darah mengalir dari sudut bibirnya, melihat rekan mereka roboh, lima orang itu segera menyerang, namun mereka terkejut saat dua bayangan ikut terjun kedalam pertarungan, dan tidak ayal dalam sepuluh gebrakan lima orang itu terjungkal roboh, sicambang mengkirik ketakutan dan melarikan diri sambil berteriak

“kalian tunggulah!” kalian akan merasakan akibatnya!” Kam-ci- kun dan sepasang pendekar kembali kedalam likoan, kejadian itu menjadi perhatian orang-orang disekitar likoan, dan Han-sian- hui juga menyaksikan dari teras tingkat atas.

“apakah siang-taihap akan ikut menunggu?” tanya Kam-cikun “tentu dan kita akan menghadapinya bersama-sama.” tandas Lu- seng, Kam-ci-kun mengangguk sambil tersenyum penuh semangat, enam orang itu bangkit dan meninggalkan tempat dengan tertatih-tatih, ketika malam tiba seorang pelayan membawakan sepoci teh dan seguci arak

“Loya menyuruh kami menyediakan minuman ini taihap.” ujar pelayan

“sampaikan terimakasih kami pada loya!” sahut Kam-ci-kun, dan baru saja pelayan berlalu, ban-eng-li-mo muncul dan mengagetkan dua tamu yang menginap dan sedang makan. “hihihi….bocah jelek! apa kamu yang pamer kepandaian di kota ini!?”

“hehehe…tidak pamer nenek, hanya anak buahmu saja yang tidak tahu diri.” sahut Kam-ci-kun

“hihihi….boleh..bolehlah nyalimu bocah jelek, dan sekarang coba tunjukkan sama nenek kebolehanmu!” ujar ban-eng-li-mo, lalu ia menyerang dengan cengkraman cepat, Kam-ci-kun berkelit, namun serangan si nenek sudah datang lagi dengan kecepatan semakin tinggi.

Kam-cikun terus berkelit dan tidak sempat membalas, kali ini Kam-ci-kun dibuat sibuk, walaupun perlahan tapi pasti Kam- cikun sudah menguasai posisinya, dan ini membuat ban-eng-li- mo harus memuji kecepatan lawan mudanya ini, Kam-ci-kun sudah dapat menyusun serangan balasan, serangan Kam-ci-kun tidak kalah hebatnya dan membuat ban-li-mo tidak lagi menganggap remeh, pertarungan itu berpindah keluar likoan, dan tempo permainan pun semakin cepat, dan hawa sin-kang menyebar menggetarkan arena pertarungan, dan seratus jurus sudah berlalu namun pertarungan masih alot menegangkan.

Ban-eng-li-mo semakin kesal, maka ia menyerang diiringi pekikan sakti yang meraung merobek kesunyian malam, dan ini membuat para tamu terkejut dan menerima nasib naas, dua pelayan yang berada dibelakang dekat meja Han-sian-hui roboh tewas dengan gendang telinga pecah, konsentrasi Kam-ci-kun buyar dan pertahannanya lemah sehingga ia mulai terdesak hebat, lalu sebuah cakaran dahsyat merobek bahunya, nyerinya luar biasa, dan pada serangan berikutnya ayunan tongkat akan menghantam kepala Kam-ci-kun yang sudah sempoyongan, tapi saat jaraknya tinggal sejengkal dari kepala Kam-ci-kun “trang…buk…! tongkat itu melenceng dan menghantam bahu kam-ci-kun, kam-ci-kun langsung roboh pingsan, dengan gemas dan memekik kuat ban-eng-li-mo menyerang Lu-seng yang menggalkan serangannya, Lu-seng hanya sebentar mampu mempertahankan posisinya, setelah itu ia sudah terdesak hebat, namun istrinya langsung terjun datang membantu, serangan ban-eng-li-mo terpecah, dan kali ini keadaan terbalik ban-eng-li- mo keteteran menerima serangan dari sepasang pendekar itu.

Karena desakan yang diterimanya semakin gencar, pekikannyapun mulai melemah, terlebih tenaganya sudah mulai melemah, kilatan sabetan pedang sepasang pendekar mengincar nyawa tuanya, dan beberapa luka telah membuat ia semakin payah, namun untung bagi ban-eng-li-mo karena tiba- tiba ban-pi-sin-lo datang membantu, kontan keadaan terbalik, “kamu sudah datang peot! mari kita ganyang sepasang cecunguk ini!” teriak ban-eng-li-mo menjadi lebih semangat, dan bantuan ban-pi-sin-lo ini kontan membalik keadaan, sepasang pendekar terdesak hebat, kekuatan perpaduan pedang sepsang pendekar terpecah, Ban-pi-sin-lo sambil senyum manyun merangsak mendesak Lu-seng, dan akhirnya sebuh tendangan keras menghantam lambung Lu-seng ia terhuyung kebelakang dan sebuah pukulan mau akan memecahkan kepala Lu-seng, Bao-bian terkesiap melihat suaminya, tapi mau bagaimana ia juga tidak bisa keluar dari serangan ban-eng-li-mo.

“ih..ssshhh…” ban-pi-sin-lo menjerit lirih sambil terduduk, tangannya yang hendak mencengkram sontak ngilu dan lemas, singkangnya berbalik sehingga menyengat lengannya, Lu-seng selamat, Bao-bian mencelat mendapatkan suaminya, karena ban-eng-juga heran melihat rekannya yang meringis kesakitan “kamu kenapa peot!?” tanya ban-eng-li-mo heran

“aku tidak tahu apa yang menyerangku, hmh…mungkin disekitar sini ada orang sakti.” Keluh ban-pi-sin-lo.

“sudah! kita cukupkan saja, mari kita pulang!” ujar ban-eng-li-mo, lalu keduanya lesap dari tempat itu, keduanya tidak menyadari bahwa sebuah bayangan kilat sedang mengikuti mereka.

Puluhan pengawal sedang berkumpul dihalaman luas itu, ketika dua pimpinan mereka muncul mereka menyambut dengan hati penasaran, Ban-pi-sin-lo dan ban-eng-li-mo langsung masuk kedalam, dan diruang dalam Han-bun-liong dan Coa-kim sudah menunggu

“bagaimana li-mo!? apa kalian sudah mebereskannya!?” tanya Han-bun-liong

“sudah liong-ji, tiga orang itu sudah kami hajar, dan seorang dari mereka akan tewas, karena racun pembusuk tulang telah mengeram di tubuhnya.” jawab ban-eng-li-mo

“lalu kenapa demikian lama sehingga hampir pagi begini, apakah kalian terluka?” tanya Coa-kim

“kami hanya kecapean Coa-kim,.” sahut ban-eng-li-mo sembari menuang arak, Han-bun-liong berdiri

“kalian istirahatlah!” ujarnya sambil melangkah menuju tangga, namun matanya terkesima melihat kemunculan Han-sian-hui dari atas tangga

“rupanya kamu hudup makmur diatas derita warga kota ini bun- ko!” tiga orang pem,bantu Han-bun-liong terkejut dan segera berdiri, coa-kim terkejut melihat adik bengcu ini masih hidup “hmh….ternyata kamu masih hidup, dan apa maksudmu datang kemari!?”

“bun-liong! orang-orang di wilayah timur ini mengeluhkan tindakan jahatmu, dan kelakuanmu itu tidak dapat dibiarkan!” “cih…kamu dan kakmu selalu menunjuk lagak dan membuat ong-ko dan liang-ko ketakutan, dan aku tidak takut pada kalian!” ujar Han-bun-liong sinis

“dia ini siapa liong-ji!?” sela ban-eng-li-mo penasaran, dan memandang tajam pada Han-sian-hui

“dia bukan siapa-siapa, dan kalian usirlah dia dari sini!” peritah Han-bun-liong, dua tokoh tua itu segera menyerang Han-bun- liong, hanya Coa-kim terjun menyerang setengah hati, karena ia tahu betul bagaimana orang yang hendak dihadapi ini. Han-sian-hui menghalau tiga serangan itu dengan “bun-lie-hoat” (jurus tarian sastra) jurus lembut ini demikian lembut namun mengandung kibasan tenaga sin-kang yang kuat, serangan yang datang dari tiga penjuru itu semuanya mental dan membuat tiga lawannya terkejut, lalu ban-pi-sin-lo melepaskan sabuknya dan menyerang dengan hebat, sesaat Han-sian-hui dicecar tiga macam senjata dengan serangan dahsyat, Han-sian-hui merubah jurusnya “liang-hok-bun-hoat” (jurus sastra penakluk sukma)” hurus su-hoat ini membuat tiga lawannya bingung sehingga daya serang mereka mengendur, dan kelabakan ketika serangan jurus melukis ini menekan pertahanan mereka, dan baru dua puluh jurus Coa-kim sudah ambruk karena leher dan lambungnya kena totol, nafasnya sesak dan mukan pucat seputih kertas.

Dua tokoh tua itu terkejut sesaat, namun mereka harus kembali bertahan dari serangan ilmu su-hoat yang luar biasa itu, ban- eng-li-mo mulai mengeluarkan pekikakn mautnya dan membalas menyerang, namun harapannya untuk melemahkan mental lawannya ini sehingga ia dapat mengambil untung, namun buntung baginya, sebuah gerakan melukis yang aneh berkiblat cepat ke arahnya dan ia tercekat

“tuk..tuk...”dua totolan ampuh telah bersarang di kening dan dadanya yang kurus, tanpa bersambat ia tumbang dengan nafas senin kamis, wajahnya berkedut menahan sakit yang luar biasa.

Ban-pi-sin-lo kini tinggal sendiri, dan sekali gebrak dengan serangan cepat sebuah gerak su-hoat yang membingungkan membuat ban-pi-sin-lo terdesak hebat, dan pada jurus ke dua puluh, Ban-pi-sin-lo tidak dapat bertahan “tuk...tuk....tuk...” tiga totolan sakti menghantam lambung, punggung dan belakang kepala ban-pi-sin-lo, laksana nangka jatuh ban-pi-sin-lo ambruk bergedebuk tewas seketika.

Han-bun-liong dengan cepat menyerang dengan ilmu pedangnya yang luar biasa Han-sian-hui melompat dan dari atas ia merubah gerakannya dengan “bun-sian-minling-ci” (jari titah dewa sastra)” serangan bun-liong selalu patah dan terbentur, Han-bun-liong membarengi serangannya dengan pukulan sakti jarak jauh, lalu kemudian ia mengejar dengan kilatan bun-liong- sian-kiam, pertempuran berjalan seru dan menegangkan, gempuran pukulan sakti yang luput menjebol dinding ruangan sehingga hancur lluluh, sin-kang dan gin-kang yang hampir imbang itu berkutat saling menekan, pagi sudah berubah siang, pertempuran diruangan yang luas itu terpaksa pindah keluar, karena ruangan itu sudah bergetar dan kemungkinan akan roboh,karena banyak tiang penyanggah yang hancur dan jebol.

Dan ternyata benar, karena baru tiga puluh jurus berlalu, bangunan mewah itu runtuh menimbulkan suara gemuruh dan tempat itu bergetar kuat, naas bagi Coa-kim dan ban-eng-li-mo yang masih bertarung nyawa, tergencet material runtuhan, Han- bun-liong makin mendongkol sehingga ia mempergencar serangannya, Han-bun-liong dengan apik melayani serangan saudaranya ini, karena tenaga mereka seimbang pertarungan itu sangat seru dan menegangkan, berkali-kali benturan sin-kang berdentum memekakkan telinga dan arena pertarungan itu sudah porak poranda laksana dilanda topan. Han-sian-hui berpikir harus menyudahi pertempuran yang hampir seharian ini, sebentar lagi malam akan tiba, dengan sebuah salto yang indah ia menjauh dan mendarat dengan ringan, lalu dengan cepat ia merubah jurusnya, kali ini Han-sian- hui mengeluarkan jurus barunya yakni “beng-sin-ciang” (telapak sakti arwah) jurus yang dimotori thian-te-siulian ini bergerak kokoh dan memapaki serangan hebat dari Han-bun-liong

“bum...eit...” Han-bun-liong terkejut, tenaganya seperti amblas dan membrotot keluar tanpa dapat dicegah, ia hendak menarik tangannya yang menempel namun ia makin panik karena tangannya menempel kuat terhisap, dia meringis pucat dan tenaganya terus merembes dan membuat tubuhnya makin lemah, lalu Han-sian-hui dengan sebuah gerakan siulian menghentikan tenaga hisap tersebut, dan Han-bun-liong yang masih sadar segera bergerak mengayun pedangnya ke arah leher Han-sian-hui, Han-sian-hui mengelak dengan sikap kayang dan kakinya yang penuh sin-kang melesat menghantam bawah dagu Han-bun-liong t

“prak...” takpelak dagu itu hancur dan tulang lehernya patah dan ia ambruk tewas dengan kepala terkulai.

Han-sian-hui terkesima melihat kepala saudaranya yang terkulai lemah dan tidak terasa matanya berkaca-kaca, Han-sian-hui melihat sekelilingnya, ternyata para penduduk sedang berdiri menonton dari kejauhan, ia mengangkat tubuh saudaranya dan meninggalkan tempat itu, para penduduk segera menyerbu reruntuhan bangunan mereka berusaha mengambil harta benda yang tertimpa rentuhan, hati mereka bersorak kegirangan akan akhir dari tirani yang menghantui mereka, sementara diluar kota Nanjing Han-sian-hui menguburkan jasad Han-bun-liong, semalaman ia duduk di pinggir makam Han-bun-liong, dan Keesokan harinya Han-sian-hui meninggalkan makam Han-bun- liong, dan di punggung Han-sian-hui tersampir pedang naga sastra.

TAMAT.