-->

Sastrawan Cantik Lembah Merak Jilid 6

Jilid 6

“selamat sore! siapakah tamu kami kali nona?” hati Han-liu-ing merasa takluk akan keramahan yang ditunjukkan nyonya pemilik rumah

“maaf jika kedatanganku ini menggangu nyonya.” ujar Han-liu- ing dengan rasa sungkan

“hmh….apa tidak salah nona? Kedatangan tamu merupakan satu berkah, lalu bagaimana pula dikatakan mengganggu.” ujar Han-hujin senyum, Han-liu-ing larut senyum dengan wajah ramah Han-hujin “saya datang dari utara nyonya! dan nama saya Han-liu-ing.” “oh keluarga dekat ternyata, aduh marilah kita masuk Ing-ji!” ujar Han-hujin seraya mengajak masuk tamunya.

Han-hujin mengajak Han-liu-ing duduk diruang tengah, dan tidak lama seorang pelayan datang menyuguhkan air minum dan sepiring roti

“silahkan diminum dan rotinya dimakan Ing-ji! ujar Han-hujin dengan senyumnya yang selalu menghias wajahnya yang amat ramah, Han-liu-ing meminum air teh hangat yang dihidangkan dan makan sepotong roti.

“ceritakanlah tentang keluargamu Ing-ji! dan bagaimana hingga kamu datang kemari!”

“saya tidak tahu apakah pek-bo kenal ayahku, tapi nama ayahku adalah Han-ok-liang, dan kami tinggal di kota shinyang.”

“oh..anak Liang-te ternyata, hmh…pantas wajahmu hampir mirip dengan adik Hui.”

“apa maksud pek-bo! bibi Han-sian-hui?” tanya Han-liu-ing memastikan

“benar! Apakah kamu sudah bertemu dengan bibimu itu?” tanya Han-hujin, mendengar pertanyaan itu, tiba-tiba Han-liu-ing terenyuh dan tidak bisa menahan tangis, Han-hujin terkejut dan bertanya lembut

“Ing-ji tenanglah! katakan pada pek-bo kenapa kamu menangis?”

“pek-bo! a…hiks…a…hiks…aku sudah bertemu dengan bibi-hui, tapi malang nian nasib bibi-hui, uuuu…uuu…..” jawab Han-liu- ing terbata-bata, Han-hujin diam sejenak, mencoba menentramkan hatinya yang tiba-tiba berdebar, ia tarik nafas dalam-dalam untuk kuat menerima berita yang mungkin sangat buruk.

Pada saat itu Han-fei-lun masuk kedalam ruangan dan mendapatkan istrinya bersama seorang tamu yang sedang sesugukan

“oh ada tamu rupanya, siapakah tamu kita ini istriku!? tanya Han-fei-lun

“ini Ing-ji putri dari Liang-te, suamiku!” jawab Han-hujin, Han-liu- ing segera berdiri dan membungkuk hormat

“salam uwak! Saya Han-liu-ing putri dari Han-ok-liang.” “salam Ing-ji, duduklah! uwak merasa senang dengan kedatanganmu ini!” sahut Han-fei-lun, setelah mereka kembali duduk, Han-hujin berkata

“Ing-ji disamping mengunjungi kita, ada hal duka yang hendak ia sampaikan.” Sesaat Han-fei-lun termanggu, lalu ia menatap Han-liu-ing, dengan lembut ia berkata

“apakah karena hal duka itu, hingga kamu uwak dapatkan sedang menangis?” Han-liu-ing mengangguk

“hmh apakah kamu sudah dapat menceritakan dengan tenang

pada kami?” tanya Han-fei-lun, Han-liu-ing mengangguk lagi “kalau begitu ceritakanlah nak! Kami akan mendengarkan!” perintah Han-fei-lun, Han-liu-ing memandang pasangan tua yang gagah bersahaja didepannya, setelah menarik nafas ia pun berkata

“Pek-pek dan pek-bo! Dua bulan yang lalu saya berada di Hehat tepatnya di kui-san, disana saya menjumpai ayah, kakek. para paman dan bibi.” “apakah alasan kalian berada disana, sehubungan dengan diculiknya kakekmu?” tanya Han-fei-lun

“benar pek-pek! saat saya tiba disana, saya menjumpai kakek, paman Han-bu-seng dan bibi-goat, setelah itu saya bertemu dengan ayah, Ong-pek dan paman Han-bun-liong, dan tujuan sebenarnya saya kesana adalah untuk mengajak ayah pulang dan menghentikan pertentangan keluarga yang selama ini menghantui ayah.”

“lalu bagaimana tanggapan ayahmu, nak?” tanya Han-fei-lun “ayah tidak terima dan marah padaku, sehingga aku dan ayah terlibat pertempuran, namun apalah dayaku, aku dipukuli ayah, dan untung pada saat itu bibi-hui muncul dan menolong saya.” “terus apa yang terjadi?” tanya Han-hujin

“sepertinya kedatangan bibi lah yang ditunggu-tunggu oleh Ong- pek, ayah dan paman liong, karena setelah mengetahui bahwa bibi-hui adalah adik dari Lun-pek, ong-pek langsung menyerang bibi-hui, sehingga mereka terlibat pertempuran hebat.”

“terus bagaimana selanjutnya!?” tanya Han-fei-lun

“Ong-pek dapat di kalahkan oleh bibi-hui, tapi ayah menyerang dan melanjutkan pertempuran, dan sepertinya ayah juga dapat dikalahkan bibi-hui, dan entah bagaimana akhir pertempuran itu, paman Han-bun-liong pingsan dan bibi Hui hilang, tapi kata ayah bibi-hui sudah tewas terlempar kejurang.” ujar Han-liu-ing, dan wajahnya kembali sendu hendak menangis

“ing-ji! tidak usah larut dalam kesedihan! Keadaan bibimu belum tentu sebagaimana yang diduga ayahmu, urusan hidup matinya seseorang mutlak di tangan Thian, camkanlah hal itu!” ujar Han- fei-lun tegas, Han-liu-ing mengangguk sambil mengusap air matanya, Han-fei-lun sambil tersenyum melihat Han-liu-ing yang mengusap air matanya yang terus mengalir, dan dengan lembut ia bertanya

“bagaimana kamu tahu dengan kami, Ing-ji? apakah ayahmu yang menceritakannya?”

“tidak pek-pek, sejak usia sembilan tahun ayah sudah meninggalkan kami, dan ayah baru saja kembali kerumah, namun tiba-tiba ayah mendadak meninggalkan kami lagi, jadi aku penasaran, dan ingin tahun apa saja sebenarnya yang dilakukan ayah, sehingga aku menyusulnya ke kui-san.”

“lalu darimana kamu tahu kenal dengan kami, bahkan sepertinya kamu juga tahun dengan semua paman dan bibimu!.” sela Han- hujin

“beberapa bulan yang lalu aku bertemu dengan kakak misan Han-liang-jin.”

“dimana engakau bertemu kakak misanmu, Ing-ji?” tanya Han- fei-lun

“aku bertemu dengan Liang-ko dikota shijajuang, saat ia datang memenuhi undangan pernikahan putra Lee-ciangbujin dari Hoasan-pai.”

“dan bagaimana kamu bisa tahu bahwa Jin-ji adalah saudara misanmu?”

“kami bertemu disebuah penginapan, dan orang hampir semua mengenal jin-ko, dan sebutan Han-taihap yang membuat saya tertarik dan penasaran, karena satu marga dengan saya.”

“lalu bagaimana dan apa saja yang kalian bicarakan?” tanya Han-hujin

“setelah saya memperkenalkan saya sebagai marga Han, dan menyebut nama ayah saya, dan kenyataannya Jin-ko tahu dengan ayah saya walaupun belum pernah bertemu, Jin-ko lalu menceritakan semua tentang keluarga kita, dan juga mengenalkan kakek dan nama-nama keturunannya.”

“hmh…..jin-ko sepulang dari shijajuang tidak menceritakan pertemuannya dengan Ing-ji, ya Lun-ko?” sela Han-hujin, Han- fei-lun mengangguk sambil meminum air tehnya

“dan Jin-ko juga menceritakan dengan jelas bagaimana keluarga ini tidak akur sehingga terpecah menjadi tiga pihak, lalu Jin-ko juga menceritakan tenyang tragedi keluarga di kota Bicu hingga diculiknya kakek.” tutur Han-liu-ing

“hari sudah malam sebaiknya kamu mandi, ing-ji, setelah itu kita makan bersama.” ujar Han-hujin

“baik-pek-bo!” sahut Han-liu-ing, lalu ia diajak Han-hujin kekamarnya dan menunjukkan kamar mandi, Han-liu-ing segera mandi dan membersihkan diri, setelah berganti pakaian tubuhnya terasa segar, dan seorang pelayan menjemputnya untuk makan malam, Han-liu-ing mengikuti pelayan ke ruang makan, uwaknya dengan senyum lembut menyambutnya, lalu kemudian mereka makan.

Setelah makan malam, Han-liu-ing diajak kembali keruang tengah dan mereka melanjutkan percakapan. “bagaimanakah dengan bibi-hui, pek-pek?” tanya Han-liu-ing

karena hatinya masih miris dengan nasib yang menimpa bibinya “kita doakan saja, semoga bibimu selamat dan dapat menjumpai kita kembali.” jawab Han-fei-lun arif

“terus bagaimana dengan ayah, ong-pek dan paman liong?” tanya Han-liu-ing penasaran, mendengar pertanyaan dengan nada sedikit menuntut itu, Han-fei-lun tersenyum dan balik bertanya

“memang kenapa dengan ayahmu, nak? Kenapa kamu bertanya demikian?”

“pek-pek! ayah, ong-pek dan paman liong telah mencelakakan bibi-hui, bukankah perbuatan itu harus dipertanggung jawabkan?” jawab Han-liu-ing dengan hati heran

“benar! dan menurutmu Ing-ji, kepada siapakah mereka mempertanggung jawabkan perbuatan itu?

“tentunya kepada pek-pek sebagai keluarga terdekat dari bibi- hui.”

“menuriutmu Ing-ji! pertanggung jawaban bagaimana yang hendak ku ajukan pada mereka?”

“menghukum mereka yang sudah berlaku curang pada bibi Hui.” Jawab Han-liu-ing tegas, Han-fei-lun tersenyum dan berkata

“ketahuilah Ing-ji, jika pek-pek berbuat seperti yang kamu inginkan, maka akan memperuncing keadaan.”

“saya tidak mengerti pek-pek?” tanya Han-liu-ing

“apakah kamu tahu tujuan ayahmu, ong-pek mu dan pamanmu liong menculik kakekmu?

“menurut pemahaman saya, ayah menculik kakek untuk memancing kedatangan Lun-pek.”

“nah! ternyata kamu tahu nak, lalu menurutmu apakah pek-pek harus terpancing?” ujar Han-fei-lun

“tapi pek-pek! membiarkan ayah, ong-pek dan paman liong berbuat semaunya juga tidak tepat.”

“benar sekali Ing-ji, tapi kita tidak harus membabi buta,bukan?” “apakah menurut pek-pek mendatangi ayah adalah tindakan membabi buta?” tanya Han-liu-ing heran, Han-fei-lun mengangguk arif “dimana letak membabi butanya, pek-pek?” tanya Han-liu-ing makin penasaran

“coba renungkan dan analisa perjelasan pek-pek ini Ing-ji! pertama tiga saudaraku itu telah membunuh ibu dan Jit-te di kota Bicu, bahkan menculik ayah kami, dan hal itu telah di usut sehingga goat-moi dan seng-te telah bertemu di kui-san dengan tiga saudaraku itu, dan hasilnya kedua belah pihak sama-sama mengerti, hal itu jelas karena keberadaan ayah disana, jika keluargaku yang saat itu disana telah sepakat, apakah baik jika pek-pek mencak-mencak dan memburu tiga saudaraku itu? jelas tidak baik, bukan?” ujar Han-fei-lun, Han-liu-ing terdiam dan termanggu mendengar penjelasan uwaknya, lalu Han-fei-lun melanjutkan penjelasannya

“kemudian tentang bibimu yang katanya tewas di dasar jurang, itu baru sekedar dugaan, dan ketahuilah nak! menurutkan tindakan berdasarkan dugaan, tidaklah tepat Ing-ji! mengertikah kamu?” Han-liu-ing tertunduk dan mencoba mencerna penjelasan pek-peknya, akhirnya rasa penasarannya tawar berganti dengan rasa kagum dan takluk pada sikap dan cara berpikir uwaknya yang bersahaja ini, tapi ia mengajukan pertanyaan pamungkas dari rasa penasarannya

“bagaimana jika benar bibi tewas di dasar jurang? dengan bukti bahwa bibi tidak pernah kembali lagi” Han-fei-lun dengan senyum lembut menjawab

“nak! bukti yang kamu katakan itu waktulah yang akan menyatakannya, jadi bukankah sudah tepat kita menunggu?”

Han-liu-ing mengangguk membenarkan

“dan kedatanganmu kesini sangat berarti bagi kami Ing-ji, disamping rasa haru karena terikatnya kembali rasa kekeluargaan, berita yang kamu bawa juga amat tidak kalah pentingnya, karena dengan berita itu, pek-pek mengetahui situasi keadaan keluarga kita, semoga saja bibimu selalu dalam lindungan Thian.” ujar Han-fei-lun, Han-liu-ing mengangguk dan hatinya memanjatkan doa pada keselamatan bibinya, dan tidak lama kemudian, Han-liu-ing disuruh untuk istirahat, Han-liu-ing meninggalkan uwaknya dan masuk kedalam kamar dan tubunya yang lelah dibaringkan di atas tilam yang empuk, sebentar saja ia pun lelap tertidur.

Bagaimanakah keadaan Han-sian-hui didasar jurang, benarkah dugaan Han-ok-liang bahwa Han-sian-hui tewas? untuk mengetahuinya! sejenak mari kita undur kebelakang, sebagaimana kita ketahui bahwa tubuh Han-sian-hui terhempas berbantalkan tubuh ayahnya Han-hung-fei, Han-sian-hui masih tidak sadarkan diri tergeletak diata badan ayahnya yang sudah remuk redam dengan kepala hancur.

Keesokan harinya saat terik matahari menimpa tubuh Han-sian- hui, ia terbatuk dan membuka matanya, hal yang pertama dirasakan adalah nyeri pada dadanya pada saat batuk, pandangannya nanar dan silau oleh cahaya matahari, ia mencoba mengatur nafas dan mengingat kejadian yang ia alami, dan terakhir ia mengingat bahwa tubuhnya melayang setelah mengadu sin-kang dengan saudaranya Han-bun-liong, tapi dimanakah aku ini? gumam Han-sian-hui, pada saat hatinya bertanya-tanya, tangannya meraba sebuah lengan yang melingkar diperutnya, dengan hati berdebar ia menggulinkan tubuhnya kesamping untuk melihat siapa yang tergeletak dibawahnya.

Hati Han-sian-hui tersedak setelah melihat bahwa jasad dibawahnya adalah jasad ayahnya yang remuk dan kepala hancur, hatinya perih dan sedih, lalu ia pun menangis pilu sambil memeluk tubuh ayahnya, setengah harian juga Han-sian-hui menangisi ayahnya yang tewas mengenaskan, karena tubuhnya yang masih sakit dan ditambah lagi rasa sedihan yang mengguncang hatinya, Han-liu-ing pingsan untuk kedua kalinya.

Han-sian-hui siuman pada tengah malam, ia tidak bisa melihat apa-apa, dasar jurang itu sangat gelap gulita, jemari tangannya meraih jemari tangan ayahnya, setelah mendapatkan jemari ayahnya, dengan menabahkan hati Han-sian-hui memejamkan mata untuk tidur, dan ia pun tertidur pulas hingga malam berganti pagi.

Han-sian-hui membuka matanya dan mencoba untuk duduk, setelah duduknya sempurna, Han-sian-hui mengerahkan sin- kang untuk menormalkan kembali peredaran darahnya yangt kacau, dan tiga jam kemudian, Han-sian-hui sudah berhasil memulihkan diri, dia memperhatikan sekitarnya, dasar jurang itu berupa tumpukan batu-batu padas, namun disebelah belakangnya ada rumpun semak belukar setinggi pinggang seluas empat tombak ketepi dinding jurang lain, lalu ia melihat dinding jurang didepannya dan mendongak ke atas, dia tidak melihat puncak jurang saking tingginya, lalu ia melihat dinding jurang dibagian yang ditumbuhi semak, dan puncaknya sekitar lima belas tombak. Han-sian-hui mencabut semak belukar dan menggali tanah dengan menggunakan moupitnya, setelah selesai menggali, dengan hati nelangsa ia meletakkan jasad ayahnya didalam lobang, lama ia duduk dalam lobang galian, air matanya terus mengalir diantara sesugukannya, kemudian ia keluar dari lobang dan menguruk tanah galian, setelah pekerjaan menguburkan jasad ayahnya selesai, Han-sian-hui merambah semak belukar untuk mencari apa yang bisa dimakan sebagai pengganjal perut, dan ternyata dibawah semak kira-kira satu tombak dari dinding tebing adalah rawa yang dalamnya setinggi leher orang dewasa, Han-sian-hui banyak mendapatkan siput dan keong dipinggir rawa.

Han-sian-hui kembali dan duduk didekat makam ayahnya, lalu dengan sin-kangnya ia membuat api dan membuat sate siput, setelah daging siput matang, ia makan dengan lahap, dan tidak terasa malam pun tiba, Han-sian-hui tidur disamping makam ayahnya, keesokan harinya, Han-sian-hui bangun pagi-pagi, dan ia bekerja mencabut semak hingga ketepi rawa, setelah seharian kerja, jelaslah bahwa areal dasar jurang itu hanya seluas tiga ratus meter.

Setelah seminggu berada didasar jurang, Han-sian-hui mulai mencari-cari dan memikirkan jalan keluar, namun hingga sebulan sudah berlalu, Han-sian-hui tidak memukan jalan keluar, akhirnya ia mengehentikan usahanya, dan fokus untuk mempertahankan hidupnya, dia harus hemat dengan makanan yang ada, dia hanya makan lima siput dalam sehari semalam, karena keong dan siput yang hidup didalam rawa itu cukup banyak, masih dapat mendukung kehidupan Han-sian-hui selama enam bulan, demikianlah Han-sian-hui menjalani hari- harinya dengan makan lima siput dan berlatih untuk kesehatan tubuhnya, sementara jika malam ia melakukan siulian untuk menyehatkan jiwanya dan membersihkan paru-parunya.

Tujuh bulan pun berlalu, dan persedian makanan pun hampir habis, hanya tinggal makanan untuk dua hari lagi, setelah makan lima siput, Han-sian-hui berlatih kungfu untuk menyegarkan sendi-sendinya, dan tiba-tiba langit gelap oleh mendung, dan tidak lama hujan turun dengan lebat, Han-sian-hui menghentikan latihannya dan berlindung dibawah celah dinding tebing dimana selama ini ia tidur dan berlindung dari sengatan matahari, air dari dinding tebing dipinggir rawa mengalir deras laksana banjir, dan sebentar saja rawa itu meluap hingga menggenangi kuburan ayahnya, bahkan air naik dan menggenangi tumpukan batu, dan tidak lama mencapai celah batu dimana Han-sian-hui duduk.

Han-sian-hui tetap duduk dan tidak beranjak dari tempatnya, walaupun air sudah mencapai pinggangnya, Han-sian-hui tabah dan pasrah menerima apapun yang dihadapinya, tiba-tiba suara bergemuruh terdengar, dinding tebing sebelah pinggir rawa longsor, ratusan kubik tanah menghantam genangan air, sehingga air berguncang berombak menghantam kesisi tebing dimana Han-sian-hui duduk, Han-sian-hui bergerak melompat keatas, lalu turun dengan ringan mendarat dipermukaan air, berkat gin-kangnya yang luar biasa, Han-sian-hui laksana sehelai bulu berdiri diombang-ambing air yang sedang berguncang, Han-sian-hui melihat keadaan tanah longsor yang membentuk bukit bukit buatan yamg dipenuhi pepohonan yang aral melintang terbawa longsor, Han-sian-hui melompat ke sebuah gelondongan kayu yang terombang-ambing didekatnya, dengan sekali enjot tubuhnya melenting kearah bukit tanah, lalu mendarat pada sebuah gelondongan kayu dan kembali ia menggenjot tubuhnya menuju ke atas, dan dengan empat kali lompatan, Han-sian-hui berada dipuncak bukit tanah bekas longsor, hanya lima tombak lagi jarak antara puncak tebing dengan tempat Han-sian-hui berdiri, tapi hal itu tidak lagi menjadi masalah, karena bekas gerusan tanah longsor itu kasar karena banyaknya bebatuan yang tersembul, dan bahkan salah satunya tersembul sebuah batu sebesar anak kerbau, Han-sian-hui melompat ke atas batu, dari atas batu, Han-sian-hui naik menggunakan moupitnya, dan tangan yang lain berpegang pada bebatuan yang menonjol.

Satu jam kemudian, Han-sian-hui sudah sampai dipuncak tebing, didepannya terbentang lembah yang akan mengembalikannya dengan dunia luar, hatinya sangat suka cita hingga ia sujud bersyukur pada Thian, Han-sian-hui bangkit dari sujudnya, ia bersandar di sebuah pohon dan membiarkan dirinya diguyur hujan yang masih turun dengan lebat, menjelang sore hujan pun berhenti, Han-sian-hui bangkit dan segera menuruni lembah, hatinya makin gembira setelah mendapatkan persawahan, yang artinya ia sudah dekat dengan perumahan warga, dengan berlari cepat Han-sian-hui melintasi pematang sawah dan mengikuti jalan setapak, dan saat malam tiba, Han- sian-hui keluar dari hutan dan mendapatkan jalan besar, dia berhenti sejenak untuk memilih arah langkahnya. Han-sian-hui memutuskan kearah kanan, lalu ia pun melanjutkan perjalanan, dan satu jam kemudian ia memasuki sebuah desa, Han-sian-hui berhenti disebuah rumah yang paling besar diantara rumah-rumah yang dilewatinya, tiba-tiba tubuhnya berkelabat kebalik semak-semak dipinggir jalan, dan tidak lama dari sebuah gang tiga orang lelaki dengan membawa obor muncul, ketiganya sedang meronda, ketika ketiganya lewat didepan Han-sian-hui yang sedang sembunyi, Han-sian-hui menyeru

“cuwi-sicu!” ketiga orang lelaki itu terkejut dan memandang ke arah semak

“siapa disitu!?” tegur salah seorang dari mereka sambil mengangkat tinggi-tinggi obor ditangannya, Han-sian-hui yang berpakaian compang-camping dan nyaris menunjukkan hampir sebagian besar tubuhnya, dengan meringkuk dibalik semak ia berkata

“selamat malam cuwi-sicu! nama saya Han-sian-hui, dan saya tersesat hingga sampai kedesa ini, dan sudilah kiranya cuwi-sicu menolong saya.”

“kenapa kamu bersembunyi!?” tanya yang lain

“saya seorang wanita dan pakaian saya compang-comping, twako!” jawab Han-sian-hui

“bagaimana Lu-twako!?” tanya lelaki itu pada orang yang pertama menegur Han-sian-hui

“kita harus tolong nona itu! dan karena rumahmu yang terdekat, Yan-te! maka pergilah kerumahmu dan minta sehelai pakaian istrimu!” jawab lelaki bermarga Lu, lelaki bermarga Yan itu langsung berlari pulang, dan tidak lama ia sudah datang dengan sehelai pakaian. “ini pakaian istriku, nona, dan pakailah dulu!” ujar lelaki bermarga Yan sambil melempar pakaian ke arah semak “terimakasih Yan-twako!” sahut Han-sian-hui sambil menangkap baju yang dilempar, lalu ia berkelabat kebalik pohon dan mengenakan pakaian yang diberikan, setelah itu keluar dari rerimbunan dan berhadapan dengan tiga orang peronda dan mengucapkan terimakasih untuk kedua kalinya sambil merangkap kedua tangan

“kami akan membawamu menemui kepala desa!” ujar lelaki bermarga Lu

“terimakasih paman! bawalah saya menemui beliau!” sahut Han- sian-hui, lalu Han-sian-hui mengikuti tiga lelaki itu kerumah kepala desa.

Bao-cungcu dan Bao-hujin menerima ketiga warganya yang membawa Han-sian-hui, dengan heran Bao-cungcu bertanya “darimana asalmu nona!? dan bagaimana kamu bisa tersesat?” “saya Han-sian-hui dari Tianjin, loya! saya terjatuh kedalam jurang dan baru selamat tadi sore, baru desa ini yang saya masuki” jawab Han-sian-hui,

“oh..kasihan sekali kamu nak! tentu kamu sekarang sangat lapar, jadi sebaiknya kamu makanlah dulu!” sela Bao-hujin “benar! Kamu makanlah dulu Hui-ji!” ujar Bao-cungcu, lalu Bao- hujin membawa Han-sian-hui kedapur dan mengambilkan makanan, sementara itu tiga warga berpamitan untuk melakukan tugas mereka.

Han-sian-hui melewatkan malam itu dirumah Bao-cungcu, pagi- pagi sekali keluarga itu sudah bangun, dan Han-sian-hui juga sudah bangun dan langsung pergi mandi “ini pakaian putriku! gantilah pakaianmu itu dengan ini!” ujar Bao- hujin

“terimakasih hujin, dan ini juga bukan pakaian saya, tapi pakaian istri Yan-twako!” ujar Han-sian-hui

“oh begitu, nanti pakaian istri Yan-ji kita kembalikan, dan pakaian ini tidak dipakai lagi, karena putriku sudah menikah dan pindah kekota Baotou.”

“terimakasih nyonya!” sahut Han-sian-hui, lalu ia memakai pakaian yang diberikan, dan pakaian itu ternyata sangat pas dengan Han-sian-hui.

“pakaian itu ternyata pas denganmu.” ujar Bao-hujin senyum, Han-sian-hui mengangguk seraya membalas tersenyum “sekarang marilah kita sarapan!” ajak Bao-hujin, lalu merekapun keluar dari kamar dan menuju ruang makan, di ruang makan Bao-cungcu sudah menunggu, lalu merekapun sarapan

“bagaimana rencanamu selanjutnya hui-ji?” tanya Bao-cungcu “nanti siang aku akan melanjutkan perjalanan, paman!” jawab Han-sian-hui

“kenapa buru-buru nak! tinggallah dua atau tiga hari lagi.” sela Bao-hujin

“aku sangat senang dan ingin sekali bibi, tapi apakah tidak merepotkan?”

“tentu tidak Hui-ji, tinggallah disini setidaknya tiga hari!” sahut Bao-hujin

“baiklah kalau begitu bibi! dan saya ucapkan terimakasih atas segala sambutan dan penerimaan yang ramah ini.” ujar Han- sian-hui, dengan senyum suami istri itu mengangguk, dan kemudian mereka melanjutkan sarapan. Pada Hari ketiga Han-sian-hui dan Bao-hujin pergi ke ladang untuk memanen ubi dan kentang, panen hari itu cukup vabyak hingga tujuh karung kentang dan tiga karung ubi, setelah agak lewat siang pekerjaan itu selesai, lalu Bao-hujin mengajak Han- sian-hui mekan, sungguh terasa nikmat makan ditengah ladang yang sejuk oleh hembusan angin sepoi-sepoi

“bagaimana membawa ubi dan kentang ini kerumah kita, bibi?” “kita bawa satu-satu hingga ketepi jalan raya, dan dari sana nanti akan diangkut dengan kereta kuda.”

“kapan kereta kudanya akan tiba?” tanya Han-sian-hui “sebentar lagi kereta itu akan tiba, kita harus buru-buru Ing-ji!” jawab Bao-hujin

“bibi yang tenang saja makannya! biar saya yang mengangkat karung-karung itu.” ujar Han-sian-hui seraya berdiri dan melangkah mendekati tumpukan karung berisi kentang

“yang kecil saja kamu bawa Hui-ji! supaya jalanmu cepat sampai ditepi jalan.” Perintah Bao-hujin, Han-sian-hui tersenyum, lau ia menumpuk lima karung dibagian kanan, dan lima karung dibagian kiri, kemudian ia mengerahkan sin-kang sehingga dua tingkatan karung itu terangkat tinggi, dan dalam sekali genjot, han-sian-hui sudah melesat tiga tombak, dan sebentar saja sudah lenyap dari pandangan Bao-hujin yang terbeliak menatap kejadian didepan matanya.

Bao-hujin kembali menikmati makannya dengan hati heran dan takjub, dan belum lagi ia menyelesaikan makannya, Han-sian- hui sudah muncul kembali didepannya, dengan pandangan heran ia bertanya

“apa yang telah kamu lakukan Hui-ji!?” Han-sian-hui tersenyum dan menjawab “mengangkat beban itu merupakan hal biasa dalam latihanku bibi, jadi bibi tidak usahlah heran.”

“tapi alangkah besarnya tenagamu hui-ji! sepuluh karung sekali angkat bagaimana bisa?” sela Bao-huji

“bagi kalangan liok-lim, itu bukan hal yang sulit, bibi.” ujar Han- sian-hui, Bao-hujin manggut-manggut

“baiklah! mari kita pulang! Hihihihi….pulang panen begini santai tidak ada beban, enak sekali yah? Hehehe…” ujar Bao-hujin gembira.

Tidak lama kemudian mereka sampai ditepi jalan, dan seorang lelaki tua sedang memuat sepuluh karung milik keluarga Bao “panennya lumayan banyak ya hujin?” ujar lelaki itu

“benar Yap-te, apakah bisa sekali angkut?” tanya Bao-hujin “bisa hujin, tapi tidak ada lagi tempat duduk.” Jawab lelaki itu “ah..tidak apa-apa Yap-te, angkut saja karung-karungnya, kami jalan saja!” ujar Bao-hujin, lalu mereka pun terus berlalu meninggalkan lellaki itu memuat barang.

“apakah besok kamu akan meninggalkan kami Hui-ji?”

“benar bibi, saya masih ada urusan yang mesti diselesaikan, dan aku juga tidak mau membuat kakak saya cemas karena kehilangan saya.” Jawab Han-sian-hui, Bao-hujin mengangguk mengerti.

Pada saat senja, mereka sampai kedalam kampung, Han-sian- hui segera membersihkan diri dikamar mandi, setelah mandi dan berganti pakaian malampun tiba, dan Bao-cungcu baru saja pulang dari sawah, dia segera kebelakang untuk membersikan mandi dan membersihkan diri

“bagaimana panen kentang dan ubi kita kali ini cing-moi?” tanya Bao-cungcu pada saat mereka duduk santai diruang tengah “panen kita kali ini lumayan banyak lung-ko, kentang yang biasanya hanya empat karung, kali ini kita penen sampai tujuh karung, dan ubi kita kali bahkan kita daopatkan tiga karung.”

Jawab bao-hujin

“wah…syukurlah jika memang demikian, tapi kenapa Yap-te belum sampai ?” tanya Bao-cunghcu heran

“iya, tidak biasanya ia selambat ini.” sahut Bao-hujin, Han-sian- hui segera tanggap dan berkata

“biar aku lihat kesana paman, bibi!” lalu ia berdiri dan segera keluar rumah, dan sebentar saja ia sudah lenyap, Bao-cungcu yang hendak mencegah, di cegah istrinya dengan berkata “biarkan saja Lung-ko! Hui-ji itu adalah orang kangowu, dan dia sangat sakti dan ahli.”

“darimana kamu tahu cing-moi?”

“aku sudah menyaksikan dengan mata kepalaku, pokoknya kita tunggu saja!” jawab Bao-hujin menyakinkan suaminya.

Han-sian-hui tiba disebuah tikungan dan melihat orang she-yap itu pingsan dan kereta kudanya hilang, Han-sian-hui menekan syaraf dibagian belakang kepala, dan kontan she-yap itu sadar dan mengeluh

“paman Yap! Apa yang telah terjadi?” tanya Han-sian-hui “aduh celaka nona! panen bao-cungcu dirampok dua orang bersenjata!” jawab she-yap

“kapan dan kemana perginya mereka paman!?”

“baru satu jam yang lalu dan mereka melarikan kuda ke arah sana.” jawab she-yap sambil menunjuk ke arah larinya perampok

“baik! paman bisa berjalan kan?” tanya Han-sian-hui, she-yap itu mengangguk

“paman pulang saja ke dalam kampung, dan dua orang perampok itu biar saya yang urus.” ujar Han-sian-hui sambil membantu she-yap berdiri.

Han-sian-hui berkelabat dari tempat itu, saat she-yap sudah agak jauh berjalan, Han-sian-hui dengan kecekatan dan ketajaman pendengarannya, ia segera dapat menyusul kedua perampok yang sedang memacu kereta menaiki jalan mendaki, dan dalam gerak cepat, Han-sian-hui telah melumpuhkan keduanya dengan sebuah totokan, mereka menyadari kebaradaan Han-sian-hui setelah ambruk dan lemas

“kalian telah merampok hasil panen kepala desa, kalian harus dihukum!” ancam Han-sian-hui

“si..siapa kamu!? tanya seorang dengan nada bergetar ketakutan

“aku orang yang membenci apa yang kalian lekukan ini!” “ampunkan saya lihap, aku tidak berbuat lagi.” Pintanya dengan wajah pucat

“ampunkan kami! Kami hanya terpaksa.” Sela yan yang lain dengan nada memelas

“terpaksa!? apa maksudmu dengan terpaksa!” tanya Han-sian- hui heran

“desa kami dikuasai tengkulak dari kota Baotou.” Jawab perampok itu dengan wajah kesal dan kecewa

“hmh…..dimana desa kalian!?” tanya Han-sian-hui sambil melepaskan totokan mereka

“desa kami kira-kira tiga mil dari bukit ini, namanya desa Mingci” jawabnya “baik besok aku akan singgah disana, siapakah nama kalian!?” “saya Liu-gan dan ini sepupu saya Cia-tan.” Jawab lelaki itu “baik! sekarang pulanglah kalian! dan tunggu saya menjelang siang ” perintah Han-sian-hui, lalu ia memutar arah kereta dan kembali menuju desa Bao-cungcu.

Han-sian-hui memasuki kampung pada saat tengah malam, ia disambut Bao-kungcu dan Yap-ceng yang masih terjaga sambil menunggunya

“oh..syukurlah! panen kita dapat kamu selamatkan Hui-ji.” ujar Bao-cungcu

“benar paman! dan mungkin pagi-pagi sekali saya akan berangkat.”

“loh kenapa begitu Hui-ji!?” tanya Bao-cungcu heran

“saya ada urusan dengan desa dua orang yang mengambil panen paman.”

“oh jadi perampoknya dua warga desa Mingci! ada apa dengan desa mereka Hui-ji?” tanya Bao-cungcu

“warga desa itu sedang dalam cengkraman tengkulak, sehingga kedua bersaudara itu nekat mencuri kesini.” jawab Han-sian-hui “hmh...mereka harus dibantu kalau begitu, Hui-ji.” gumam Bao- cungcu

“benar paman! dan saya sudah berjanji akan menemui keduanya disana.”

“baiklah kalau begutu, kamu istirahatlah! Sebentar lagi pagi akan tiba.” ujar Bao-cungcu, lalu Han-sian-hui masuk kedalam kamarnya dan istirahat.

Keesokan harinya han-sian-hui meninggalkan desa dilepas oleh bao-cungcu dan istri, Han-sian-hui dibekali dengan sedikit uang dan tiga stel pakaian bekas putri kepala desa, Han-sian-hui dengan cepat berlari menuju desa Mingci, dan belum tengah hari, Han-sian-hui sudah memasuki desa, kedua bersaudara itu ternyata menunggu kedatangannya di jalan masuk

“lihap sudah datang! marilah kita kerumah saya, dan kita bicara disana!” ujar Liu-gan, Han-sian-hui mengangguk dan mengikuti kedua bersaudara itu, sesampai dirumah Liu-gan, Han-sian-hui berkata

“sekarang! ceritakan dengan jelas apa yang terjadi dengan warga desa ini!” Han-liu-gan dan sepupunya sesaat saling pandang, lalu Han-liu-gan bercerita

“tiga yang lalu, seorang pembesar kota Baotou bernama Ma-sin berkunjung kedesa ini, melalui Kam-kungcu dia meminta menjual hasil panen kami berupa kentang dan padi kepadanya, berapapun ia akan tampung dengan harga sepertiga dari penjualanya, dan bagi kami harga itu masing menguntungkan, maka wargapun setuju menjual hasil panen kepadanya, pada panen pertama, semua warga menjual hasil panennya kepada Ma-wangwe, dan jual beli berjalan lancar, tiga bulan berikutnya anak buah datang kedesa ini dan mengangkut semua hasil panen, dengan bayaran setengah harga penjualannya, Kam- cungcu dan sebagian besar warga protes, pimpinan anak buah Ma-wangwe bersikeras mengatakan, bahwa harga yang mereka pasang masih sepertiga dibawah penjualan, lalu dari hasil pembicaraan warga dengan Kam-cungcu, maka kami rela menerima harga tersebut dengan syarat, bahwa jika panen berikutnya tidak sesuai harga pertama disepakati, maka kami akan menjual pada yang lain.” “hmh…terus selanjutnya bagaimana?” tanya Han-sian-hui “pada panen berikutnya, desa kami di satroni perampok yang menamakan dirinya “hiat-to” (golok darah), semua panen kami dijarah, dan tiga hari sesudahnya, anak buah Ma-wangwe datang untuk mengangkut panen, karena kami sudah tidak punya apa-apa, maka mereka pulang dengan tangan kosong.”

“terus bagaimana kelanjutannya?” tanya Han-sian-hui penasaran “pada panen berikutnya, perampok “hiat-to” datang lagi menjarah semua panen kami, dan seminggu kemudian Ma- wangwe bersama anak buahnya datang, namun tidak ada hasil panen yang ia dapatkan, dan karena dua kali panen kami tidak mendapatkan apa-apa, maka Kam-cungcu dan warga minta pada Ma-wangwe meminjamkan uang untuk membeli bibit, Ma- wangwe mau membantu asal hasil panen itu bagiannya dua pertiga, oleh karena situasi warga yang sudah terpuruk, maka kesepakatan itupun disetujui.”

“lalu apa yang terjadi panen berikutnya, Liu-twako!?” “panen berikutnya gerombolan “hiat-ko” muncul dengan

keberingasan mereka, tanpa belas kasihan mereka mengambil semua hasil panen, dan kemunculan Ma-wangwe membuat kami habis dan tidak berdaya, ia merasa dirugikan dan menuntut hasil dua pertiga panen tersebut, dan dengan paksa Ma-wangwe menyita beberapa petak tanah kami, demikianlah lihap! Oleh karena perampok itu kami terlibat utang yang besar pada Ma- wangwe, dan hingga hari ini, semua tanah warga desa sudah menjadi milik Ma-wangwe.” ujar Liu-gan menutup ceritanya.

“hmh…kasus ini harus diusut dengan rinci, jadi akan kita mulai dari sarang “hiat-to”! apakah jiwi-twako mengetahui dimana sarang perampok ini?” “kami tidak tahu lihap.” jawab Cia-tan, sejenak Han-sian-hui terdiam dan berpikir, lalu ia berkata

“apakah tidak ada dari warga yang tahu sarang perampok ini?” “saya tidak tahu lihap! tapi coba kita tanya Kam-cungcu.” jawab Liu-gan,

“baik! mari kita ketempat Kam-cungcu!” sahut Han-sian-hui, lalu kedua bersaudara itu membawa Han-sian-hui menemui Kam- cungcu, Kam-cungcu yang berumur hampir enam puluh tahun itu dengan lesu menerima tiga tamunya

“apa maksud kalian datang menemui saya? dan siapa nona ini gan-ji!?”

“kami datang terkait malapetaka yang menimpa desa kita ini paman! dan lihap ini mungkin dapat menolong kita.” jawab Liu- gan

“hmh desa ini sudah diambang kehancuran, apa yang bisa

kita perbuat?” ujar Kam-cungcu putus asa

“paman Kam! Janganlah berputus asa! selagi hidup kita masih punya kesempatan untuk memperbaiki keadaan, sekarang satu hal yang saya ingin tahu, yakni sarang dari “hiat-ko”! apakah ada yang mengetahui sarang mereka?”

Kam-cungcu menatap gadis muda didepannya dengan hati meragu, Han-sian-hui menangkap keraguan dimata kepala desa itu, lalu ia berkata

“percayalah padaku paman! aku akan mengusut malapetakan desa ini dengan tuntas.

“hmh menurut pembantu saya Yo-lai almarhum, katanya

sarang perampok itu ada di lembah katak.”

“dimanakah lembah katak itu paman?” tanya Han-sian-hui “lihap pergilah kekota Baotou, dan terus kehutan sebelah timur, disana ada sebuah lembah yang bernama lembah katak.” jawab Kam-cungcu.

“baik, hari juga saya akan berangkat kelembah katak, doakan saya paman semoga berhasil.” ujar Han-sian-hui, lalu dia lenyap dari pandangan ketiga orang itu. Kam-cungcu dan kedua bersaudara itu mengucek mata berkali-kali

“apakah gadis itu bukan manusia tapi hantu?” gumam Kam- cungcu

“tidak mungkin paman! kami bertemu dengannya saat menyelamatkan panen kepala desa Yunmeng, mudah-mudahan lihap itu dapat menolong dan mengembalikan keadaan kita.” sahut Liu-gan.

Han-sian-hui laksana terbang meninggalkan desa Mingci, dan esok paginya ia memasuki kota Baotou, dan ia singgah sebentar didalam kota untuk sarapan, setelah sarapan Han-sian-hui menuju hutan sebelah timur, dan pada saat tengah hari, Han- sian-hui mendapatkan sebuah lembah yang dipenuhi rumput gajah yang menghampar luas, Han-sian-hui turun kelembah dan mencari sarang “hiat-to”

Setelah dua jam mencari-cari, Han-sian-hui menemukan gerombolan itu, pimpinan rampok bernama Tan-kai berumur lima puluh tahun, dan ia dikenal dengan sebutan “hiat-to-mo” (setan golok darah), menjelang sore itu Tan-kai sedang berbincang- bincang dengan seorang empat orang bawahannya, sementara diluar pondok enam puluh angota sedang berlatih dibawah pimpinan seorang kakek tua berambut panjang yang sudah putih semua oleh uban, kakek itu terkejut melihat kemunculan Han- sian-hui yang tiba-tiba, dengan jengkel ia membentak “siapa kamu dan apa maksudmu datang kemari!?” “apakah kalian bangsa perampok yang bernama “hiat-to”?”

“sialan! ditanya malah balik bertanya, kamu sudah bosan hidup ya!?” bentak si kakek

“serahkan gadis itu pada kami suhu, aduh cantiknya!” sela para murid dengan hati blingsatan dan mata jelalatan melihat gadis cantik dihadapan mereka.

“sekali lagi aku bertanya, apakah kalian rampok “hiat-to”?” “hehehe…jika benar! kamu mau apa gadis manis?” sela Tan-kai yang sudah keluar bersama empat orang bawahannya, Han- sian-hui menatap lelaki yang baru saja keluar

“kalau benar! artinya aku tidak akan salah tangan, karena aku akan memberi hajaran pada kalian!” tantang Han-sian-hui “bangsat! ringkus gadis ini!” teriak Tan-kai, lima orang anak buahnya langsung melompat dan dengan hati geregetan mereka mengulurkan tangan hendak menangkap Han-sian-hui, namun apes bagi kelima orang itu, entah bagaimana kelimanya sudah ambruk pingsan setelah Han-sian-hui mengkemplang kepala mereka, melihat gerakan yang tidak dapat diikuti itu, sikakek berambut putih segera menyerang

“plak…” tangannya ditangkap Han-sian-hui dan alangkah ngeri hatinya, karena tenaga sin-kangnya melorot tersedot, Han-sian- hui juga merasa terkejut karena merasa sin-kang lawan merembes masuk kedalam dirinya, dengan spontan ia melepaskan tangan si kakek, namun tangan sikakek tidak mau lepas karena melekat pada telapak tangan Han-sian-hui, Han- sian-hui tidak panik, lalu ia menarik nafas dan menghentikan gerak sin-kang dalam tubunya, dan hasilnya tangan sikakek terlepas dari telapak tangannya Namun bagi si kakek berambut putih sudah terlambat, ia sudah lemas dan terduduk karena tiga perempat sin-kangnya sudah lenyap, Tan-kai yang melihat gurunya lemas segera menyerang dibantu empat wakilnya, Han-sian-hui yang menerima asupan sin-kang dari luar segera mengeluarkan tenaga tambahan itu untuk memapaki serangan kelima orang itu, dan akibatnya dua orang wakil Tan-kai terlempar dan pingsan seketika, lalu tanpa menggunakan sin-kang, Han-sian-hui mengandalkan kerumitan dan trik jurusnya dengan tenaga kasar, hal ini dikarenakan ia tidak mau mengambil resiko sebagaimana yang dialami si kakek.

Dengan kecekatan yang luar biasa, hanya dalam sepuluh gebrakan tan-kai dan dua wakilnya dihajar babak bundas oleh Han-sian-hui, ketiganya menggeloso ditanah sambil merintih- rintih kesakitan, muka mereka bengkak matang dan biru, melihat ketua mereka bahkan suhu mereka tidak berdaya, hati anak buah perampok itu kecut dan ketakutan, wajah mereka pucat pias.

“kalian semua segera berlutut!” teriak Han-sian-hui, anak buah perampok langsung berlutut dengan wajah pucat ketakutan, lalu Han-sian-hui mendekati Tan-kai

“tentu kamu yang menjadi kepala rampok, bukan!? Nah sekarang dengarkan saya!

“a…ampunkan saya lihap.” pinta Tan-kai sambil meringis kesakitan

“itu tergantung bagimana kerelaan anda nantinya untuk memperbaiki keadaan” ujar Han-sian-hui, Tan-kai memandang heran seraya mendesis kesakitan “kalian telah merampok hasil panen warga desa mingci, keadaan meraka sekarang sangat memprihatinkan, dan untuk itu kalian harus mempertanggungjawabannya!”

“kami tidak mengambil hasil panen meraka lihap! tapi kami serahkan pada orang yang menyewa kami.” ujar Tan-kai “hmh…apa maksudmu orang yang menyewa kalian adalah Ma- wangwe!?”

“be..benar lihap!” jawab Tan-kai dengan menahan rasa nyeri pada hidungnya yang patah

“kalau begitu! sekarang juga kita pergi menemui Ma-wangwe!” ujar Han-sian-hui sambil menarik baju Tan-kai, Tan-kai melenguh dan meringis karena lututnya ngilu dan perih, hatinya makin gelisah dan takut, saat tubuhnya melayang dibawa Han- sian-hui, tubuhnya dibawa Han-sian-hui seperti membawa kucing.

Pada saat tengah malam keduanya sampai dirumah Ma- wangwe, empat orang petugas jaga terkejut dan segera mengurung Han-sian-hui, dengan hati berdebar “eh…bukankah dia itu “hiat-to-mo”!?” teriak salah satu dari

penjaga, mereka sama-sama melihat wajah orang yang dijinjing Han-sian-hui

“sebelum kepala kalian berempat kuhajar, sebaiknya cepat Ma- wangwe suruh keluar!” ancam Han-sian-hui, sambil melemparkan tubuh Tan-kai hingga jatuh didepan kaki mereka, hati empat orang itu makin menciut dan ketakutan

“cepat kataku!” bentak Han-sian, empat orang itu langsung lari kedalam rumah, Ma-wangwe yang sedang bermanja ria dengan empat selirnya didalam kamar mencak-mencak dan membuka pintu “kurangajar kalian! kenapa mengganguku!?” bentak Ma-wangwe “gawat taijin! diluar ada orang yang hendak bertemu.” ujar penjaga dengan wajah pucat

“sialan! suruh dia pergi! dan kalian enyah dari hadapanku!” bentak Ma-wangwe

“Ma-wangwe! cepat keluar sebelum aku mencabut kepalamu!” teriak Han-sian-hui dari luar, mendengar teriakan itu, Ma- wangwe geram dan keluar dengan marah

Setelah ia keluar dan melihat Han-sian-hui, Ma-wangwe yang merupakan bandot tua pringas-pringis tidak jadi marah, dan malah merayu nakal

“ternyata tamuku seorang gadis, wah cantik nian wajahmu nona.”

“tutup mulutmu Ma-wangwe! lihat orang yang aku bawa ini! tentu kamu kenal bukan?” bentak Han-sian-hui, Ma-wangwe melihat Tan-kai, hatinya langsung kecut dan wajahnya pucat

“apa yang terjadi, dan kenapa kamu bawa ia kesini!?” tanya Ma- wangwe dengan suara bergetar

“kamu telah menipu warga desa mingci, dan juga telah berbuat aniaya kepada mereka dengan menggunakan gerompolan “hiat- to” untuk merampok hasil panen warga! sekarang aku minta pertanggung jawabanmu, Ma-wangwe! ” ujar Han-sian-hui, Ma- wangwe tercenung dengan hati ketakutan, lalu tiba-tiba ia berlari kehadapan Han-sian-hui dan bersujud minta ampun

“ampunkan saya lihap, saya kapok dan tidak akan mengulanginya lagi.”

“bagus kalua kamu mengakui dan menyesal, namun warga desa mingci sudah menderita karena ulahmu! ujar Han-sian-hui “ampunkan saya lihap! saya akan mengembalikan semua tanah warga desa, betul! Saya akan kembalikan!” ujar Ma-wangwe “berangkatlah besok ke desa mingci dan kembalikan tanah mereka, dan juga bawa setengah hartamu kesana, lalu bagikan kepada mereka!”

“hah…! kenapa harus demikian lihap!?” keluh Ma-wangwe dengan hati gelisah

“karena kamu telah mengambil penghasilan mereka, jika kamu tidak rela, biar kepalamu yang akan kubawa kesana!” ancam Han-sian-hui, dingin rasa tengkuk Ma-wangwe mendengar ancaman itu

“ba..baik lihap, aku akan membawa setengah hartaku dan kubagikan pada seluruh warga.” ujar Ma-wangwe seraya menyembah-nyembah

“baik! sekarang lanjutkanlah istirahatmu, dan besok kita bertemu di desa mingci!” ujar Han-sian-hui, lalu ia lenyap beserta tu Tan- kai, diluar kota disebuah bangunan tidak terpakai, Han-sian-hui meletakkan tubuh Tan-kai

“dan kamu, eh siapa namamu!?” tanya Han-sian-hui “nama saya Tan-kai, lihap.” jawabnya dengan lemas “ya..kamu Tan-kai! bisa saya beri kesempatan untuk

meninggalkan pekerjaan buruk yang selama ini kamu lakukan, tapi harta yang kamu kumpulkan harus kamu bagi-bagikan pada warga miskin, dan tinggalkan sepertiganya untuk kalian memulai menata kehidupan kalian! apakah hal itu bisa kamu lakukan, Tan-kai!?” Tan-kai menunduk dan terdiam, lalu kemudian menjawab

“baiklah lihap, dan terimakasih atas kesempatan yang telah diberikan.” “dan gunakanlah kesempatan itu sebaik-baiknya, karena jika kesempatan itu terbuang percuma, maka kamu tidak akan memperolehnya lagi.” ujar Han-sian-hui seraya berkelabat dari tempat itu, Tan-kai melonggo dan hati termanggu mereka ulang apa yang dialaminya, lalu ia berdiri dan meninggalkan bangunan tua itu menuju lembah katak.

Han-sian-hui kembali kedesa mingci, lalu dengan bantuan Liu- gan dan Kam-cungcu, semua warga desa dikumpulkan di balai desa, dan menjelang sore Ma-wangwe tiba dengan setengah hartanya.

“bicaralah Ma-wangwe!” perintah Han-sian-hui, Ma-wang sambil menunduk berjalan dua langkah, lalu mukanya diangkat dengan hati gelisah ketakutan

“para warga mingci! saya ini telah bersalah pada kalian! saya telah memamfaatkan keluguan kalian, dan hari saya sangat menyesali apa yang telah kuperbuat kepada kalian selama tiga tahun ini, jadi dari rasa penyesalan yang dalam, sekarang saya kembalikan semua tanah kalian yang saya sita, dan disamping itu, saya membawa setengah harta saya untuk kalian bagi bersama, seiring permintaan maaf dari saya” ujar Ma-wangwe,

Kam-cungcu maju kedepan dan berkata

“penyesalan Ma-wangwe telah kami saksikan, dan permintaan maaf juga telah sepakat kami terima, dan saya atas nama warga mengucapkan terimakasih kami kepada Han-lihap yang telah membantu kami dan menyadarkan Ma-wangwe dari kesalahannya.” lalu Kam-wangwe kembali mundur, lalu Ma- wangwe menyerahkan surat-surat tanah, dan menyerahkan setengah hartanya untuk dibagi oleh Kam-cungcu, kemudian Han-sian-hui berkata

“terimaksih pada Ma-wangwe yang telah rela memperbaiki keadaan warga kampung, dengan mengembalikan tanah milik warga, dan juga ungkapan penyesalan dengan membagikan setengah dari hartanya.” setelah itu Ma-wangwe bersama pengawalnya kembali ke kota Baotou. 

Kam-cungcu dan sesepuh desa menghadap Han-sian-hui dengan wajah cerah hati gembira

“Han-lihap! apa yang telah engkau lakukan terhadap kampung ini, kami sangat berterimakasih, dan sungguh kami tidak dapat membalasnya.” ujar Kam-cungcu

“paman Kam! saya terima ungkapan rasa terimakasih paman dan para warga, dan sudah merupakan satu kepatutan bahwa sesama manusia tolong menolong.”

“benar lihap! dan kami juga merasa tidak tepat, jika kami berdiam diri dan menerimanya tanpa berbuat sesuatu kepada lihap.”

“maksudnya bagaimana paman kam!?”

“begini lihap, kami tahu bahwa lihap adalah pengelana, dan sebagai bekal jalan tolonglah diterima ungkapan terimakasih akan apa yang telah kami dapatkan berkat usaha dari lihap.” jawab Kam-cungcu sambil menyerahkan sekantung uang, Han- sian-hui dengan arif berkata

“untuk melegakan hati paman dan para warga, saya akan terima pemberian yang diniatkan sebagai bekal perjalanan ini, dan atas perhatian dan kepedulian para warga, saya ucapkan

terimakasih.” Kam-cungcu dan para sesepuh merasa lega dan Kam-cungcu meminta supaya Han-sian-hui melewatkan malam dirumahnya, Han-sian-hui tidak menolak, dan ia pun menginap dirumah Kam-cungcu.

Keesokan harinya Han-sian-hui meninggalkan desa Mingci, dan pada tengah hari ia memasuki kota Baotou, Han-sian-hui menginap dikota Baotou selama seminggu, karena Han-sian-hui harus menempa beberapa stel pakaian dan tiga helai sal baru, setelah kebutuhannya selesai, Han-sian-hui meninggalkan koat Baotou menuju kui-san dikota Hehat, dua minggu kemudian Han-sian-hui sampai di Kuisan, di Kui-san ia hanya bertemu dengan Lee-cing yang sedang menata bunga dengan dua orang pelayannya, Lee-cing merasa terkejut dengan kemunculan Han- sian-hui, ia berdiri dan berkata dengan nada tawar

“dugaan kami salah! ternyata kamu masih hidup Han-sian-hui!” “benar bibi, manusia hanya bisa menduga, urusan mati dan hidup bukan manusia yang menentukan.” ujar Han-sian-hui arif dan lembut, Lee-cing tersenyum lega, karena perkataan itu tidak mengandung amarah atau sakit hati.

“apakah kedatanganmu kali ini akan membuat perhitungan dengan kami?” tanya Lee-cing mencoba menyelami apa yang terkandung dibenak gadis cantik didepannya ini

“tidak! aku hanya ingin melihat keponakanku Han-liu-ing, dimanakah dia?”

“sungguh membuat penasaran sikap kamu ini Han-sian-hui, kalau benar apa yang dikatakan Ok-liang, bahwa kamu jatuh kedalam jurang dibelakang, lalu muncul kembali kesini, bukannya untuk melakukan perhitungan, tapi malah menanyakan keadaan keponakanmu.”

“bibi! ada tiga macam sikap orang dalam memahami masalah, pertama dengan pikiran yang kedua dengan perasaan, dan yang ketiga menggunakan keduanya”

“apakah perbedaan ketiganya, Han-sian-hui?”

“perbedaannya! jika masalah dihadapkan pada pemikiran akan berkutat pada untung dan rugi, jika masalah dihadapkan pada perasaan saja, maka ujungnya hanya sakit atau senang, dan dua hal ini pondasinya adalah ego dan rasa keakuan, sementara sikap yang ketiga akan melahirkan timbang rasa dalam menghadapi segala masalah, benar bahwa saudaraku dikota Bicu dibunuh, ayahku diculik bahkan sudah tewas pula didasar jurang, menurut pikiran aku rugi, menurut rasa aku tersakiti, tapi jika ditimbang rasa, siapakah yang rugi dan tersakiti? jawabannya seluruh anggota keluarga ini rugi dan tersakiti, lalu untuk apa ngotot mencari siapa yang salah dalam ketidak harmonisan keluarga ini? bibi merasa heran dengan tujuanku datang kembali kesini, hal itu dapat kumaklumi, karena orientasi sikap bibi adalah ego dan keakuan tadi”

“lalu apa hubungan penjelasnmu dengan mempertanyakan keponakanmu?” tanya Lee-cing dengan nada sinis

“urusan keponakanku yang kuketahui berada dihadapan ayahnya yang mabuk sakit hati, lebih utama ketimbang mengurus perhitungan yang bibi maksud.”

“kenapa urusan keponakanmu lebih utama?”

“keponakanku itu berada dalam tekanan ayahnya, dan jika tidak kuperhatikan, bisa jadi keponakanku itu akan ikut dan bersikap seperti ayahnya atau mungkin Liang-ko dengan tega menghabisinya, jadi mengetahui keadaannya penting bagiku! karena menyelamatkannya lebih berguna dan bermamfaat daripada ikut larut dengan urusan sakit hati Liang-ko.” “jadi bisa dikatakan bahwa dari sudut timbang rasa, kami benar menculik ayahmu dan membunuh saudaramu di kota Bicu, bukan?”

“bibi salah salah lagi jika mengatakan demikian, jika timbang rasa yang bibi pakai dan ketiga saudaraku, tidak akan ada urusan sakit hati ini sejak dulu, tapi kenyataannya bibi dan tiga saudaraku berlaku aniaya di kota Bicu, lalu bagiamana timbang rasa dapat membenarkan apa yang kalian lakukan dikota Bicu?” “buktinya anda tidak mengambil tindakan pada kami, dikarenakan timbang rasa tadi, bukan?”

“bernar! tapi tidak lalu membenarkan perbuatan yang nyata salah.”

“lah..kalau memang salah! bukankah seharusnya dituntut dan dihukum?”

“benar! lalu pertanyaannya apakah memburu dan membunuh kalian baru dikatakan menghukum? tentunya tidak bukan? karena hukuman pasti didapatkan oleh yang bersalah, hukuman yang bagaimana? Itu tergantung Thian yang menetapkan.”

Lee-cing diam termanggu setelah sekian lama berdebat dengan Han-sian-hui, Han-sian-hui kembali berkata

“katakanlah padaku bibi! apa yang di alami oleh keponakanku Han-liu-ing?”

“Han-liu-ing meninggalkan tempat ini setelah menangismu dari atas jurang.” jwab Lee-cing

“lalu bagaimana dengan ketiga saudara saya, kenapa saya tidak melihat mereka bersama bibi disini!?”

“mereka sebulan yang lalu meninggalkan tempat ini, dan apa urusannya, tentunya kamu dapat menduganya, bukan?”

“aku tidak ingin menduga-duganya bibi, dan aku permisi hendak melanjutkan perjalanan!” ujar Han-sian-hui, lalu ia berkelabat dengan cepat dari tempat itu, Lee-cing hanya termanggu melihat kepergian Han-sian-hui.

Penghuni kui-san selalu siaga menanti kedatangan Han-fei-lun, namun sampai setengah tahun tidak adapun tanda-tanda kemunculan Han-fei-lun

“bagaimana ong-ko!? sudah enam bulan kita menunggu, tapi Fei-lun belum juga muncul.” ujar Han-ok-liang kesal “sebaiknya kita merubah rencana, ong-ko!” sela Han-bun-liong “apa rencanamu itu liong-te!?” tanya Han-kwi-ong

“menantang Fei-lun secara terbuka, sepertinya kita tidak akan digubrisnya, jadi saya berpendapat, jika kematian saudaranya saja tidak membuat ia bergeming, mungkin dengan menebar kekacauan akan membuat dia keluar dari Kaifeng.” “maksudmu kita membentuk aliansi hek-to, begitukah?” tanya Han-ok-liang

“benar Liang-ko, selaku seorang bengcu tentunya ia tidak akan tinggal diam, bukan?”

“pendapatmu itu memang benar liong-te! sepertinya hanya dengan cara itu, kita bisa memancingnya keluar.”

“hmh artinya kita akan kembali pada siasat kita dimasa lalu.”

gumam Han-ok-liang

“benar, namun kali ini kita berpencar, sehingga kekacauannya merebak luas.” ujar Han-kwi-ong

“Jika kita harus berpencar, sebaiknya kita mencoba dulu kekuatan Fei-lun, walaupun kita telah mendapatkan gambaran dengan melawan Sian-hui.” ujar Han-ok-liang

“aku tidak setuju Ok-liang!” sela Lee-cing, Han-ok-liang menatap Lee-cing heran dan bertanya

“kenapa kamu tidak setuju “siang-mou-bi-kwi”?”

“jika dengan Sian-hui saja kalian harus berturut-turut melawannya, baru ia kalah, bagiamana kalian akan lepas dari tangan Han-fei-lun yang daya tempur dan pengalamannya lebih kaya dari Han-sian-hui.”

“apa menurutmu jika kami bertiga maju, kami tetap akan kalah?” tanya Han-ok-liang penasaran

“tidak dipungkiri lagi, demikianlah kenyataannya! dan jika jasad Han-fei-lun tidak bisa kalian kalahkan, setidaknya kalian kalahkan ia dengan melukai hatinya dengan beban dipundaknya.” jawab Lee-cing tegas, kemudian ia menambahkan

“ingat tujuan misi ini adalah melukai hatinya, jadi se alot mungkin, hindari pertemuan dengannya

“maksudmu, kami harus lari ketika ia datang!?” tanya Han-ok- liang penasaran

“benar, lain hal kalau kamu memang ingin tumbang dalam permainan ini, prinsipnya adalah berusaha selama mungkin, karena semakin lama ia tidak bisa menyelesaikan kondisi kangaowu, maka akan semakin menderitalah hatinya. ” jawab Lee-cing

“hmh…apa yang disampaikan siang-mou-bi-kwi, ada juga benarnya, karena yang terpenting membuat Fei-lun menderita, dan saya dapat menyetujui cara itu.” sela Han-kwi-ong

“saya juga, sependapat dengan ibu.” ujar Han-bun-liong “baiklah, jika demikian yang kita sepakati, aku juga setuju.” ujar Han-ok-liang “kalau kalian sudah setuju, sebaiknya kalian bagi wilayah!” ujar Lee-cing

“aku akan kembali ke shinyang, dan aku akan menangani wilayah utara.” ujar Han-ok-liang

“dan aku beserta Bian-ji akan menangani wilayah barat.” sela Han-kwi-ong

“berarti bagianku wilayah timur.” ujar Han-bun-liong

“dan untuk membantumu, sebaiknya kamu ikut sertakan Coa- kim.” sela Han-kwi-ong

“baik, nanti akan kubicarakan dengannya.” sahut Han-bun-liong.

Keesokan harinya, Han-ok-liang, Han-kwi-ong beserta putranya meninggalkan kui-san, dan tiga hari kemudian Han-bun-liong bersama Coa-kim meninggalkan kui-san, hal ini karena Lee-cing masih menahan anaknya yang untuk pertama kalinya akan berpisah dengannya untuk waktu yang cukup lama, Han-bun- liong dan Coa-kim akan menuju wilayah timur. Coa-kim mandah saja ikut dengan siapa, baginya ketiga bersaudara itu pimpinan sekaligus kekasih yang menyenangkan hatinya.

Pasangan itu melakukan perjalanan santai, hampir disetiap tempat-tempat yang indah, keduanya istirahat sehari dua sambil bercumbu, sehingga empat bulan kemudian Han-bun-liong dan Coa-kim sampai diwilayah timur, kota pertama yang mereka masuki adalah kota Qufu, keduanya memasuki likoan untuk makan

“kita sudah sampai di wilayah timur, dimanakah kita akan membangun pusat kekuatan kita?” tanya Coa-kim

“kamu yang lebih senior dan banyak pengalaman, menurutmu dimana tempat yang bagus dan tepat untuk tempat tinggal kita?” sahut Han-bun-liong balik bertanya, Coa-kim mencubit paha Han-bun-liong dengan senyum dan hati gemas, wajah Han-bun- liong meringis sedap, sambil meremas paha Coa-kim ia berbisik

“kenapa kamu mencubit aku, sayang?” dengan wajah bersemu Coa-kim menangkap tangan Han-bun-liong yang meremas pahanya, dengan meringis sayang ia berkata manja “kemudaanmu membuat aku gemas sayang, dan pertanyaanmu dimanakah kita tinggal, rasanya seakan kita baru pengantinan dan itu membuat aku bergairah, sayang.” Han-bun-liong tersenyum sambil mengulurkan tangannya makin kedalam, sehingga membuat Coa-kim blingsatan sambil menjerit manja, beberapa tamu yang heran menoleh kepada mereka, namun saat melihat tatapan mata Han-bun-liong mereka langsung menunduk atau mengalihkan pandangan dengan hati mengkirit, tatapan itu sangat tajam hingga terasa menusuk jantung dan membuat hati berdebar, Han-liong kembali dengan kenakalannya seiring cekikikan manja Coa-kim.

Karena gairah keduanya makin memuncak, mereka segera menyelesaikan makannya, dan dengan buru-buru mereka masuk kedalam kamar, Coa-kim yang sudah basah dengan agresif memeluk Han-bun-liong dan mencecarnya dengan ciuman-ciuman panas, desahan nafas keduanya makin memburu, Coa-kim melenguh manja, pendakian birahi yang semakin menghentak membuat ranjang pertarungan itu bergetar dan berderit, hingga akhirnya diam dan tinggal suara getaran nafas yang menderu kenikmatan. Setelah matahari naik tinggi pada keesokan harinya, keduanya mandi dan berganti pakaian, lalu kemudian turun kebawah untuk makan, seorang pelayan segera menyiapkan makanan untuk keduanya, dan ketika keduanya baru saja menyantap makanan, seorang tosu tua berpakaian kumal masuk kedalam likoan dan mengambil tempat duduk dua meja didepan mereka, dia memesan seguci arak dan seporsi makanan, setelah pesanannya terhidang ia makan dengan lahap, sepertinya ia kelaparan dan kelelahan, kemudian tidak berapa lama dua orang lelaki paruh baya masuk, dipunggung mereka tersampir pedang dengan gagang beronce merah dan kuning, seorang pelayan melayani mereka dengan ramah dan cekatan.

Beberapa saat kemudian seorang perempuan tua masuk, tubuhnya kurus kering tinggal kulit pembalut tulang, sebuah tongkat kayu menjadi penyanggah tubuhnya yang kelihatan lemah, kilat matanya yang tajam memperhatikan semua tamu, dan saat matanya beradu pandang dengan tosu tua itu, ia mendehem, dan berkata

“tosu bau! ternyata kamu juga meninggalkan pertapaanmu!” “hehehe….kamu sendiri kenapa keluar nenek peot!?” balas tosu itu, perempuan itu melangkah dan mengambil tempat duduk dekat disamping tosu tua, sementara Coa-kim sedari tadi memperhatikan kedua tokoh tua itu, dan setelah perempuan tua itu duduk, Coa-kim teringat akan dua tokoh tua ini, ia tertawa sehingga kedua orang didepan mejanya serentak menatap dan melototkan mata.

“hihihi….sungguh tadi aku tidak mengenal bahwa dihadapan kita ternyata ”ban-pi-sin-lo” (tua sakti lengan seribu) Bun-liong, dan nenek tua ini adalah “ban-eng-li-mo” (setan betina bayangan seribu), kedua orang tua saling pandang

“kamu siapa wanita genit!?” tanya wanita tua itu dengan tatapan tajam

“kuberitahukan kamu mungkin tidak ingat lagi, tapi kamu pernah datang ke kota xining bertemu dengan ayahku.” ujar Coa-kim “hmh..apakah kamu putri “Hek-I-kwi” (iblis baju hitam)?” tebak “ban-eng-li-mo”

“hihihi. luar biasa, ternyata cianpwe masih ingat, benar bahwa

aku adalah putrinya.” ujar Coa-kim

“hehehe…ternyata anak she-coa, dan pemuda ini siapakah? anakmu   atau   kekasihmu?”   sela   si   tosu   nyengir “hihihi… terserah kamulah orangtua! mau menganggap apa.”

“aku “toat-beng-kiam-ong” teman “in-sin-ciang” sela Han-bun- liong dingin

“hihihi…sudah kamu dengar orangtua? nah sekarang aku mau tanya! kenapa kalian keluar dari pertapaan? ” tanya Coa-kim senyum

“aku merasa jenuh dan ingin jalan-jalan.” jawab “ban-pi-sin-lo” “aku juga, pingin cari angin, melihat-lihat dunia luar.” sela ban- eng-li-mo

“memang kalian sudah berapa lama menyembunyikan diri?” tanya Han-bun-liong

“hampir lima belas tahun yah, tosu bau.” jawab ban-eng-li-mo “perkiraanmu salah nenek peot, yang betul sudah tujuh belas tahun, hehehe..saya yakin kamu tidak ingat lagi berapa umurmu” bantah “ban-pi-sin-lo”

“sialan! tahun depan aku genap tujuh puluh tahun tosu bau!” umpat ban-eng-li-mo mencak-mencak “hehehe…ternyata masih ingat, kirain tadi sudah lupa.” ujar ban- pi-sin-lo sambil nyengir

“eh in-sin-ciang! kamu yang malang melintang di luaran ini, berceritalah pada kami!” ujar ban-eng-li-mo mengalihkan topik, karena kalau diikutkan saling sindir, tosu temannya ini paling doyan.

“tidak ada yang berubah cianpwe! golongan kita sampai hari ini tetap terpuruk, liok-lim masih dikuasai siauw-taihap, cucu murid enam datuk tidak juga mampu menegakkan kejayaan kita.” jawab Coa-kim

“hmh...apakah cu-sam masih hidup!?” tanya ban-pi-sin-lo “masih cianpwe! tapi sekarang mereka tinggal berdua saja.” jawab Coa-kim sambil melirik Han-bun-liong

“kenapa bisa demikian, apakah salah satu dari mereka tewas?” tanya ban-eng-li-mo

“karena satu dari mereka berubah haluan memihak siauw- taihap.”

“siapa yang berubah haluan?” tanya ban-eng-li-mo penasaran “yang berubah adalah sam-cu Han-sai-ku.” jawab Coa-kim “hmh…entah sampai kapan muncul dari golongan kita yang mampu merajai liok-lim.” gumam ban-pi-sin-lo

“cianpwe berdua perlu lebih kenal pada temanku ini!” ujar Coa- kim

“bukankah dia telah mengatakan bahwa ia adalah toat-beng- kiam-ong!?” sahut ban-pi-sin-lo

“hihihi. julukannya memang itu, tapi lebih dari itu, yakni tentang

keluarganya.”

“siapa sebenarnya temanmu ini she-coa!? Jangan berteka-teki pada kami!” tanya ban-eng-li-mo

“bagaimana sayang!? aku atau engkau yang mengatakannya?” tanya Coa-kim senyum

“kamu saja sayang! karena engkau lebih tahu masa lalu liok-lim ini, dan jiwi-cianpwe baru keluar dari pertapaan, dan mereka

tepat menanyakannya padamu” jawab Han-bun-liong

“baik kalau begitu sayang! dengarlah jiwi cianpwe, dia ini juga bermarga Han, namanya Han-bun-liong anak dari bun-liong-

taihap!” ujar Coa-kim, kedua orangtua itu menatap lekat pada Han-bun-liong, dan terkadang mereka saling pandang dengan hati heran, melihat keheranan dua orang tua itu, coa-kim melanjutkan

“lebih dari itu, jiwi-cianpwe sangat kenal dengan ibunya!” ban- eng-li-mo menatap Coa-kim dan bertanya “siapa ibunya! Coa- kim?” Cao-kim dengan senyum menjawab

“ibunya adalah siang-mou-bi-kwi!” kedua orang itu tersentak dan terkejut

“wah…hahaha..hahaha…si Lee-cing ternyata dapat juga getahnya si yaoyan-taihap.” seru ban-pi-sin-lo

“sekarang dimana ibumu, liong-ji?” tanya ban-eng-li-mo dengan pandangan takjub

“ibuku sekarang berada di kui-san, cianpwe, apakah cianpwe kenal dengan ibuku?”

“hihihi…tentu saja nak! karena aku dan ibumu saudara angkat, aku adalah enci angkatnya!” jawab ban-eng-li-mo, mendengar hal itu, Han-bun-liong segera merangkap tangan dan menjura dengan hormat

“maaf! saya tidak tahu bahwa saya berhadapan dengan pek-bo sendiri!” “hehehe..hahaha…..benar-benar aku tidak menyangka, bahwa lee-cing punya anak juga akhirnya” sela ban-pi-sin-lo

“kamu kenapa sih!? seperti monyet kebakaran jenggot! apa adikku memang tidak boleh punya anak!?” tanya ban-eng-li-mo geram

“hehehe….sudahlah! lalu apakah kamu mewarisi juga ilmu si yaoyan taihap, ayahmu!?”

“diantara keturunan bun-liong-taihap! hanya dia ini yang sepenuhnya mewarisi milik bun-liong-taihap, baik ilmu dan pedangnya!” jawab Coa-kim, ban-pi-sin-lo termanggu

“apakah itu pedang bun-liong-kiam?” tanya ban-eng-li-mo, Han- bun-liong mengangguk

“kalau begitu! kamu bisa mengalahkan siauw-taihap, bukan?” tanya ban-pi-sin-lo penuh harap

“hal itulah yang membuat kami penasaran, cianpwe.” sela Coa- kim

“eh…penasaran bagaimana maksudmu, Coa-kim!?”

“sejak runtuhnya kejayaan enam datuk kita mengakui bahwa ilmu keluarga Han menjadi nomor wahid, seantoro liok-lim takluk dengan kehebatan mereka, kekuatan mereka terbagi dua haluan, namun sampai sekarang kekuatan Han yang ada pada kita, belum mampu menumbangkan kekuatan Han diseberang kita.”

“hmh…artinya liong-ji masih belum mampu menghadapi siauw- taihap, begitukah?” sela ban-eng-li-mo, Coa-kim mengangguk “kalau mereka bersatu tentunya siauw-taihap dapat ditewaskan, bukan? tanya ban-pi-sin-lo

“selama ini dia dan cu-ji sudah bersama-sama cianpwe, namun saat menghadapi Han-sian-hui adik kandung dari siuaw-taihap di kui-san, menurut hitung-hitungan Lee-cianpwe jika sekiranya ketiganya maju, masih sulit untuk mengalahkan siauw-taihap.” jawab coa-kim, dua orang tua itu diam terkesima

“lalu apa rencana kalian liong-ji?” tanya ban-eng-li-mo

“menurut ibu, jika tidak bisa mengalahkan fei-lun, setidaknya kita mengalahkan ia dengan melukai hatinya dengan mmebuat kekacauan dimana-mana.”

“hal itu sudah pernah diperbuat oleh enam datuk.” gumam ban- pi-sin-lo

“benar cianpwe! namun beda siasat.” sela coa-kim “maksudnya bagaimana coa-kim?” tanya ban-eng-li-mo “misi kekacauan yang dibuat oleh enam datuk untuk menumbangkan siauw-taihap, tapi misi kali ini bukan untuk

menewaskannya, tapi terfokus hanya untuk membuat han-fei-lun terbebani dengan kelacauan yang terjadi.” jawab Coa-kim

“lalu sekarang kalian ini mau kemana!?” tanya ban-pi-sin-lo “kami kesini untuk menguasai wilayah timur ini, sementara han- kwi-ong diwilayah barat, dan Han-ok-liang di utara.”

“dan mumpung kami bertemu dengan jiwi-cianpwe, tentunya jiwi- cianpwe akan ikut dalam misi ini bukan?” sela Han-bun-liong “membuat kacau wilayah ini sangat mudah liong-ji.” ujar ban-pi- sin-lo

“katakanlah cianpwe, bagimana caranya mengacau wilayah ini dengan cepat?”

“kalian ikutlah kami kekota Nanjing!” jawab ban-pi-sin-lo

“tepat! saya juga berpikir demikian, tosu-bau! peluangnya sangat tepat!” tambah ban-eng-li-mo

“ada apa dikota nanjing cianpwe!?” tanya Coa-kim seraya tersenyum mendengar adat kedua orang tua itu

“ah..kamu ini ikut-ikutan aku terus nenek peot!” balas ban-pi-sin- lo

“siapa yang ikut-ikutan!? kebetulan saja pikiran kita sama melihat peluang liong-ji untuk memulai misinya, kalau tidak! jangan harap yah!”

“cianpwe! ada apa dikota Nanjing?” tanya Han-bun-liong “tuh! Jawablah keponaknmu itu nenek peot!”

“cih..! dengar akan kujawab tosu-bau! Liong-ji misimu bisa dimulai dari kota Nanjing, karena dikota Nanjing hari ke lima belas bulan ini akan ada pertemuan para pendekar yang berada diwilayah timur.”

“bagaimana cianpwe tahu, dan merasa tertarik untuk pergi kesana?” tanya coa-kim

“kamu ini bagaimana in-sin-ciang! aku kan keluar hendak cari hiburan, nah! perihal pertemuan itu saya dapat ketika melewati kota kaifeng.”

“artinya boleh jadi mereka mengundang siauw-taihap.” ujar Coa- kim meragu

“siauw-taihap tidak akan datang, karena sepertinya ia akan diwakili muridnya.”

“apakah cianpwe yakin?” tanya Coa-kim, ban-eng-li-mo mengangguk

“untuk apa memperkirakan hal yang tidak pasti, yang jelas kita kesana dan tengok situasi.” sela ban-pi-sin-lo

“betul! apa yang dikatakan tosu bau ini!” sela ban-eng-li-mo “hehehe..nenek peot ikut terus!” balas ban-pi-sin-lo “jadi liong-ji, jika keadaan memungkinkan kamu habisi para pendekar itu, pasti berita itu akan mengguncang bui-lim.” ujar ban-eng-li-mo, han-bun-liong mengangguk mengerti

“setelah itu kamu kuasai kota Nanjing, sebar ketakutan pada warga, pasti siauw-taihap akan merasa gelisah.” ujar ban-pi-sin- lo menambahkan

“sungguh kebetulan kalau begitu.” sela Coa-kim, setelah itu mereka menyelesaikan makan, dua orangtua itu melanjutkan perjalanan, semetara Han-bun-liong dan Coa-kim masih menginap satu malam lagi dikota Qufu.

Hutan sebelah barat kota Nanjing sejak semalam didatangi oleh banyak orang, lapangan luas ditengah hutan itu banyak didapati tenda-tenda darurat, mereka ini adalah para pendekar dari berbagai kota diwilayah timur, pertemuan itu merupakan pertemuan tiga tahunan untuk menentukan pimpinan bui-lim wilayah timur yang dipanggil dengan hiang-cu (ketua cabang).

Hiang-cu adalah perpanjangan tangan bengcu di Kaifeng dalam mengayomi para pendekar, kauwsu, pangcu dan rakyat biasa di disatu wilayah, Hiangcu ini dibentuk oleh bengcu sejak dua belas tahun yang lalu, dan pertemuan ini merupakan pertemuan keempat kalinya.

Pada pertemuan tiga tahun yang lalu yang menjadi hiangcu diwilayah timur adalah Yap-hai-bun yang berjulukan “im-kan-sin- twi” (tendangan sakti arhat) berkedudukan di Nanjing, di wilayah barat adalah Bu-jin-hui yang berjulukan “kang-ciang” (si tangan baja), berkedudukan di xining, di wiilayah utara adalah Lee-huai yang bergelar “huai-kok-sin-peng” (garuda sakti lembah huai), berkedudukan di Lanzhou, sementara untuk wilayah selatan di tangani langsung oleh bengcu sendiri dikota Kaifeng.