-->

Sastrawan Cantik Lembah Merak Jilid 4

Jilid 4

Han-sian-hui berangkat dilepas para pembantunya dengan lambaian tangan, Han-sian-hui berjalan tenang hingga sampai dilekukan bukit, dan setelah itu Han-sian-hui berkelabat berlari cepat menuju kota tian-jin, sesampai didalam kota ia langsung menuju kantor cabang Han-piuawkiok untuk menemui Li-pangcu,

Li-pangcu dengan ramah menyambut kedatangannya “ada apakah Han-lihap ?” tanya Li-pangcu

“Li-twako, aku hendak pergi kekota shinyang, dan jika sempat tolonglah lihat-lihat keadaan dilembah merak selama aku tidak ada.”

“oh… begitu, baiklah Han-lihap, dan terimakasih atas keramahan dan kepercayaannya pada kami.”

“disini hanya kalian yang dekat hubungan denganku, walaupun pangcu kalian, saudaraku Han-bu-seng tidak menyukaiku, tetaplah bahwa han-piuawkiok adalah keluarga bagiku.” “memang hal itu tidak dipungkiri Han-siocia, dan kami sangat maklum.”

“terimakasih, dan saya merasa lega, setelah mendengar kesanggupan Li-twako , dan saya mohon pamid dulu.” ujar Han- sian-hui.

Kota Shinyang merupakan kota besar dan padat, setelah lewat siang, dari pintu gerbang sebelah selatan terlihat sebuah rombongan piauwkiok memasuki kota, rombongan itu terus bergerak menuju pusat kota dan berhenti didepan bangunan besar berupa kantor piuawkiok, di atas kereta kuda tertulis bendera dengan tulisan Hek-liong (naga hitam), sama persis dengan tulisan plakat yang berada di atas gerbang gapura bangunan itu, para piauwsu yang terdiri dari dua puluh orang itu dipimpin oleh seorang wanita cantik berumur dua puluh satu tahun, wanita cantik itu adalah Han-liu-ing anak perempuan dari Han-ok-liang, sejak berumur tiga belas tahun ayahnya meninggalkan kota shinyang, dua tahun setelah Han-ok-liang meninggalkan piauwkiok, keadaan piuawkiok makin mundur dan terancam bangkrut.

Dan ketika umur Han-liu-ing menginjak tujuh belas tahun, ia mulai ikut andil menata kembali piuawkiok yang hampir gulung tikar, dan berkat kecantikannya yang tersebar di wilyah kota shinyang dan sekitarnya, sehingga menjadikan piuawkioknya banyak dilirik para kongcu kaya, niat para kongcu disamping menggunakan jasa piuawkiok hek-liong, mereka juga ingin lebih dekat dengan pimpinan piauwsu yang berwajah cantik ini.

Han-liu-ing sangat pandai meluluh lantakkan para peria pamogaran ini, dalam setiap transaksi jasa, han-liu-ing membuat hati para kongcu itu kebat-kebit, hal itu dikarenakan Han-liu-ing selalu mengadakan transaksi jasa di sebuah likoan mewah sambil berpesta dengan para kongcu, Han-liu-ing sangat pandai dan ramah melayani setiap ungkapan hasrat para kongcu yang kadang tidak dapat mengendalikan diri, para kongcu ini memang belum berhasil membawa pangcu cantik ini keatas ranjang, meraka hanya puas dengan sentuhan-sentuhan yang membakar birahi, dan selebihnya mereka hanya didera rasa penasaran yang bertalu-talu.

Para kongcu tidak dapat memaksa pangcu yang cantik ini, karena Han-liu-ing adalah pangcu cantik yang memiliki kesaktian tinggi, sejak umur enam tahun ia sudah menyerap ilmu ayahnya, dan bahkan teori ilmu silat yang belum dilatih bersama ayahnya sudah di hafalkannya sejak umur dua belas tahun, dan ia melatihnya dengan giat, sehingga ketika ia mulai menata ulang piawkiok ayahnya, tidak ada para piuawkiok lain yang berani macam-macam.

Tiga tahun setelah Han-liu-ing memegang tampuk pimpinan, hek-liong piuawkiok sudah kembali normal, pelanggan yang terdiri dari orang-orang kelas atas ini membuat piuawkiok hek- liong menjadi makmur dan kaya, banyak para piuawkiok yang iri, tapi mereka bisa berbuat apa dengan han-liu-ing yang dijuluki “pak-bi-liong” (naga cantik dari utara).

Pada suatu hari Han-liu-ing sedang bersantai bersama ibunya di selaras rumah, dan tiba-tiba Han-ok-liang muncul, Bao-lan berdiri terkesima melihat suaminya yang sudah lama tidak kembali

“Lan-moi…” sapa Ok-liang dengan seulas senyum dan tatapan rindu, Bao-lan dengan mata berkaca-kaca berlari mendapatkan suaminya yang hampir delapan tahun meninggalkan mereka, pertemuan itu sangat mengharukan, lalu mereka masuk kedalam rumah

“bagaimana keadaan kalian Lan-moi, dan kamu sudah besar Ing-ji !”

“kami baik dan sehat saja ayah, dan bagaimana dengan perjalanan ayah selama ini ?”

“ayah juga baik dan tidak kurang satu apapun, lalu bagaimana dengan piuawkiok kita selama ayah tinggalkan ?”

“piuawkiok kita saat ini baik-baik saja ayah.” jawab Liu-ing “dan yang memimpin piuawkiok saat ini adalah putrimu, Liang-

ko.” sela Han-hujin, Han-ok-liang menatap putrinya dan bertanya heran

“kenapa kamu harus turun tangan Ing-ji ?”

“harus memang saya tangani ayah, sebab jika tidak, kita akan bangkrut karena sepinya pelanggan sejak empat tahun yang lalu.” jawab Liu-ing, Han-ok-liang termanggu membayangkan bagaimana keluarganya menghadapi masa sulit itu, dengan menarik nafas panjang ia bertanya

“terus bagaimana dengan sekarang, Ing-ji ?”

“ayah tidak usah cemas, sekarang masa-masa sulit telah teratasi.” Jawab Han-liu-ing

“baguslah kalau begitu, dan ayah merasa lega” ujar Han-ok- liang, mereka terus bercakap-cakap tentang banyak hal terutama tentang perjalanan Han-ok-liang.

Keesokan harinya Han-ok-liang dan putrinya sama berangkat ke kantor piauwkiok, dan kehadiran Han-ok-liang membuat semua piauwsu merasa bersuka cita, dengan kembalinya Han-ok-liang pamor piuawkiok mereka akan meningkat, dan siang itu Han-liu- ing mengadakan pesta kecil penyambutan kembalinya ayahnya dikantor piuawkiok, dan dari pembicaraan dengan anggota senior, tahulah Ok-liang bagaimana putrinya dengan keberanian dan perhitungan yang matang mengambil alih tampuk pimpinan untuk menyelamatkan piuawkiok dari keterpurukan, dan setelah lewat malam pesta itu berakhir, Han-ok-liang dan putrinya kembali kerumah.

Besoknya Han-ok-liang tidak ikut kekantor, dia hanya bersantai dirumah bersama istrinya, Han-liu-ing sudah berangkat ke kantor piuawkiok, karena hari ini akan ada dua rombongan yang akan diberangkatkan, setelah sampai dikantor dua kepala rombongan sudah sibuk mengarahkan para piuawsu untuk menaikkan barang, dan setelah selesai keduanya masuk kedalam kantor untuk melapor dan siap untuk berangkat

“bagaimana Wan-bu dan Kao-ban ? apakah semuanya sudah siap dikemasi ?”

“sudah pangcu ! dan kami sudah siap berangkat !” jawab keduanya

“baik, dan ini surat-suratnya dan segeralah berangkat !” perintah Han-liu-ing, setelah menerima surat-surat kedua kepala rombongan itu keluar dan menaiki kuda masing-masing, lalu kedua rombongan itu berangkat dilepas tatapan Han-liu-ing.

Menjelang sore hari, Han-liu-ing kembali kerumah, dia disambut kedua orangtuanya dengaan senyum dan menanyakan tentang pekerjaannya hari itu, Han-liu-ing merasa bahagia dengan keberaan ayahnya, hari-hari berikutnya dijalani seperti biasa, dan terkadang Han-ok-liang datang kekantor sekedar untuk melihat-lihat dan bercengkrama dengan para piuwsu senior dalam piuawkioknya, dan tidak terasa hampir setahun sudah berlalu.

Komplek Hek-liong-piuawkiok siang itu kelihatan sepi, para piauwsu kebanyakan sedang duduk bersantai diselaras kantor sambil bercanda, Han-liu-eng sedang mengadakan transaksi dengan pelanggan disebuah likoan, sementara didalam kantor Han-ok-liang sedang menyibukkan diri dengan melihat-lihat berbagai catatan piuawkiok, dia bersama dua orang piuawsu senior yang akan menjelaskan hal-hal yang mungkin akan ditanyakannya, sementara ketiganya sibuk didalam, diluar muncul seorang wanita catik paruh baya memasuki halaman, dua orang piauwsu yang duduk digardu jaga segera berdiri dan menyapa dengan ramah.

“nyonnya ada keperluan apa, apa yang dapat kami bantu ?” “hihihihi….saya hendak bertemu dengan Han-ok-liang, apakah ketua kalian ada ?” ujar wanita itu, kedua piauwsu saling pandang

“siapakah nyonya supaya kami bisa melaporkan pada pangcu ?” “katakan padanya in-sin-ciang hendak bertemu.” jawab wanita yang ternyata adalah coa-kim atau in-sin-ciang.

Sebagaimana diketahui bahwa Coa-kim dan Han-bun-liong berpisah di kota taiyuan, coa-kim mengambil arah menuju kota tianjin untuk menemui kwi-ong, perjalalanannya dilakukan dengan cepat, sehingga dua minggu kemudian ia sudah memasuki kota shijajuang, dan ketika memasuki shijajuang berkebetulan Han-piuawkiok juga memasuki kota, jalannya yang santai dengan lenggang yang aduhai membuat dua pimpinan piuawkiok senyum-senyum masam melihat ayunan pinggul yang menarik perhatian itu, suara suitan para piauwsu terdengar disana-sini, mendengar itu coa-kim berhenti dan memutar badan dengan senyum mekar. 

“apakah yang kalian ributkan ?” tanya Coa-kim dengan kerling genit

“hehehe….jalanmu amat luar biasa lihap, kalau diikutkan dua hari lagi baru kami sampai kekantor didalam kota.” sahut song- piuawsu

“hihihi…jalan begini luas kenapa kalian tidak mendahuluiku saja.”

“bagaimana mau mendahuluimu nona cantik ! lenggangmu melambai minta diperhatikan, hahahaha…hahaha…” sahut song-piauwsu dan disambut tawa para piauwsu

“hihihi….sekarang kalian lewatlah !” ujar Coa-kim sambil berhenti dengan senyum dan kerling manja, Song-piauwsu makin blingsatan

“kepalang tanggung kita sudah ketemu, tentu kami boleh kenalan bukan ?”

“hihi…..temuilah dulu istrimu pangcu.” sahut Coa-kim sambil melangkah dan tidak memperdulikan lagi rombongan itu, dengan rasa penasaran Song-piauwsu menghentak kudanya menyusul Coa-kim.

“lihap dimanakah nanti akan menginap ?” tanya Song-piauwsu sambil senyum segagah mungkin

“hihihihi…memangnya pangcu mau datang mengunjungi saya ?” “pasti lihap, aku akan mengunjungi untuk lebih kenal, bagaimana ?”

“hihihi….seleraku tinggi pangcu, dan sepertinya kamu bukan

type saya.” sahut Coa-kim, mendengar itu Song-piauwsu yang berumur empat puluh tahun itu terperangah kikuk

“melihat cara jalanmu dan kerlingan genitmu, kamu tiadalah beda dengan wanita penghibur bukan ? untuk bercinta semalam berapakah bayaran yang kamu minta ?”

“hihihi….aku tidak butuh duitmu pangcu, maka enyahlah dari hadapanku !” sahut Coa-kim tajam

“sudahlah Song-twako, untuk apa melayani wanita jalanan.” sela wakilnya sambil memacu kudanya, dan kereta dibelakangnya menyusul dengan cepat dan rombongan itu melewati Song- pangcu dan Coa-kim yang terlibat debat tidak menentu.

Song-pangcu menghentak kudanya menyusul rombongannya tanpa melihat pada Coa-kim, dengan senyum sinis Coa-kim melanjutkan langkah dan memasuki sebuah likoan, coa-kim memesan sebuah kamar, dan setelah memasuki kamar, ia membersihkan diri dan berganti pakaian, dan tidak lama kemudian malam pun tiba, coa-kim turun untuk makan malam, seorang pelayan melayani dan menghidangkan makam malam untuknya, setelah selesai makan, coa-kim masih duduk untuk menikmati arak, sedang asiknya menikmati arak, sebuah kereta berhenti didepan likoan, enam orang turun dari dalam kereta, dan dua diantaranya adalah song-pangcu dan han-bu-seng.

melihat kedatangan song-pangcu coa-kim senyum sinis, namun hanya sesaat karena lelaki disebelahnya demikian gagah dan jantan, Song-pangcu tanpa menggubris mengikuti Han-bu-seng yang mendekati pemilik likoan “Bao-wangwe, kami membawa barang kiriman dari jinan untuk wangwe, dan sekalian akan memuat barang titipan yang dikatakan bao-wangwe tadi pagi.”

“oh….marilah kita kedalam Han-pangcu, dan kereta sebaiknya dibawa lewat belakang saja.” sahut Bao-wangwe.

“song-ciu bawalah kereta kebelakang !” perintah bu-seng, song- ciu mengangguk dan segera keluar, dan ketika melewati meja makan song-ciu melirik coa-kim yang sedang minum sambil melihat kearah kasir.

Han-bu-seng dan bao-wangwe masuk kedalam, coa-kim sedikit gelisah ditempat duduknya, terlebih ketika melihat kereta keluar dari belakang dan lewat depan, terus meninggalkan likoan, kadang ia menjenguk kearah dalam mengharap han-bu-seng keluar, namun yang diharapkannya tidak muncul, lebih satu jam han-bu-seng dan bao-wangwe berada didalam, dan hati coa-kim berbunga-bunga ketika melihat han-bu-seng dan bao-wangwe keluar dari dalam, ternyata ia belum pergi pikir coa-kim, bao- wangwe dengan ramah mengantar han-bu-seng keluar, dan ketika melewati ruang makan coa-kim berdiri dan ia menyenggol guci araknya sehingga jatuh berkecai dilantai, han-bu-seng dan bao-wangwe kontan melihat kepadanya.

“maaf wangwe, aku tidak sengaja.” keluh Coa-kim sambil mengerling pada han-bu-seng

“tidak apa nyonya, a-ping cepat bersihkan !” sahut bao-wangwe pada anak buahnya, pelayan bernama a-ping itu pun membersihkan lantai.

“kamu sepertinya sudah mabuk nyonya.” sela han-bu-seng, coa- kim tersenyum sambil melangkah mendekati han-bu-seng “aku tidak mabuk kongcu tampan, wangwe aku akan mengganti guci arakmu, dan sekarang aku hendak keluar melihat-lihat keramaian kota.”

“baik..baik nyonya, selamat menikmati keramaian kota .” sahut bao-wangwe, coa-kim keluar bersama han-bu-seng dari likoan.

Karena berjalan seiring, dan wanita paruh baya ini cantik memikat, han-bu-sengb tidak dapat menahan diri

“lihap…kamu dariumana dan hendak kemanakah ?” tanya han- bu-seng, coa-kim berhenti dan perpaling menatap lekat wajah gagah han-bu-seng, lalu bibirnya tersenyum, membuat han-bu- seng terpana

“kongcu tampan, siapakah namamu ?”

“aku han-bu-seng lihap, dan kamu sendiri siapakah ?” “namaku coa-kim, aku dari wilayah selatan hendak kekota shinyang.” jawab coa-kim sambil melangkah, dan han-bu-seng juga ikut melangkah, keduanya berjalan berdampingan menyusuri jalan menuju taman kota.

“Han-piuawkiok adalah ekpedisi terkenal, kalau tidak salah diselatan juga ada, apakah ada hubungan kongcu tampan ?” kata-kata tampan itu mengelus-elus hati han-bu-seng “memang han-piuawkiok berawal dari selatan, piuawkiok ini adalah usaha keluarga kami, cantik” sahut han-bu-seng “hihihihi….benarkah aku cantik kongcu tampan ?” ujar coa-kim sambil berhenti dan menatap wajah han-bu-seng

“kamu memang cantik kim-moi.” sahut han-bu-seng dengan hati berdegup

“aku seorang pengelana seng-ko, maukah kamu menemani saya duduk-duduk di tepi kolam itu ?” ujar coa-kim dengan nada manja, suara itu menggelitik hasrat bu-seng

“tentu Kim-moi, marilah kita duduk sambil menikmati gerakan ikan yang berenang didalamnya.” ujar bu-seng, lalu entah siapa yang mulai tangan mereka bertaut dan berpegangan menuju kolam ditengah taman kota itu

“Seng-ko ! bulan juga amat terang, malam ini sangat cerah bukan ?”

“benar Kim-moi malam ini sangat indah sekali, tapi kapankah engkau meninggalkan kota?”

“besok aku akan melanjutkan perjalanan Seng-ko, ada apakah sehingga Seng-ko bertanya ?”

“ah..tidak apa-apa, sekedar bertanya bolehkan ? hehehe..hehehe…”

“hihihihi…boleh saja seng-ko, dan terimakasih seng-ko telah menemani saya malam ini.”

“tidak apa kim-moi, saya juga senang menemani wanita secantik kamu.”

“benarkah seng-ko, kamu tidak mengolokku kan ?” tanya Coa- kim dengan nada bergetar dan tatapan sayu, melihat tatapan mengandung ajakan itu dan nada suara yang bergetar menggelitik kejantanannya, sehingga membuat Han-bu-seng makin terangsang

“aku tidak memperolokmu kim-moi.” bisik Han-bu-seng sambil menyentuh kedua bahu coa-kim, sentuhan itu membuat coa-kim terbakar, dan dia sepontan menarik kepala han-bu-seng sehingga mulut mereka bertemu, Coa-kim melumat seiring nafasnya yang menggebu, Han-bu-seng yang juga sudah birahi membalas dengan tidak kalah gemasnya, lumatan dan remasan itu dilakukan sambil duduk ditepi kolam

“hmh..hhh…Seng-ko ! bawalah aku dari sini.” rintih coa-kim dengan birahi yang bertalu-talu, Han-bu-seng menarik tangan coa-kim dan membawanya ke vaviliun miliknya di sebelah barat kota.

Didalam kamar keduanya dengan tidak sabar melepas pakaian dan berpelukan dengan berjuta birahi yang meletup-letup, dua orang yang sama-sama matang itu mereguk nikmatnya sanggama pada malam itu, berulang-ulang mereka melakukan pendakian birahi yang bernyala-nyala, sehinga percumbuan itu meredup saat malam hampir kepenghujung, keduanya menggeloso lemas dan tertidur lelap hingga matahari sudah agak tinggi.

“apakah kamu harus pergi sayang ?” tanya Han-bu-seng sambil mengelus bahu telanjang Coa-kim

“hihihi….seng-ko yang tampan, aku juga belum puas, bolehkah aku tinggal disini setidaknya tiga hari lagi.”

“hehehe….kamu memang sangat menggemaskan cantik,

tinggallah disini, nanti malam aku akan datang lagi !” sahut Han- bu-seng sambil turun dari ranjang dan memakai pakaiannya.

Keduanya keluar dari vaviliun dengan wajah senang, Han-bu- seng kembali ke rumahnya, dan Coa-kim kembali kelikoan, setelah sarapan ia mambayar sewa kamar dan meninggalkan likoan, ia langsung menuju vaviliun milik Han-bu-seng, dan malamnya Han-bu-seng datang menemuinya, dan percumbuan mesum itupun terulang, kali ini mereka lakukan dengan perlahan, setiap inci dan lekukan mereka resapi dengan nikmat, demikian juga pada malam berikutnya hingga tiga malam mereka berpesta cumbu rayu yang melelapkan.

Pada hari keempat Coa-kim pun meninggalkan kota shijajuang, dilepas kecupan mesra Han-bu-seng, coa-kim dengan senyum puas melanjutkan perjalanannya, hatinya geli jika mengenang Han-bu-seng, karena kalau dipikir-pikir tiga keluarga han menjadi teman bercumbunya sejak ia bertemu dengan Han-ok- liang, hatinya memuji akan ketampanan turunan dari bun-liong- sian-kiam, dia sudah bertemu dengan lima orang she-han itu, dan semuanya berwajah tampan menarik, tubuhnya kekar tegap menggemaskan, benak coa-kim mengenang wajah Ok-liang, Bun-liong dan Bu-seng, lalu wajah tampan bermata buta kwi-ong dan terakhir wajah simnpatik Han-sai-ku yang pernah dilihatnya di lembah bunga, hmh…bagaimana pula kah wajah Han-fei-lun sang bengcu turunan pertama dari bun-liong-sian-kiam ?, Coa kim senyum sendirian, lalu ia mempercepat larinya.

Bangunan besar dilembah merak yang indah itu kelihatan sepi, pagi yang cerah itu lengang, sosok tubuh ramping bergerak gesit memasuki lembah, sosok ramping itu adalah Coa-kim

“Han-kwi-ong…!” seru coa-kim sambil memasuki halaman bangunan, dan tanpa menunggu lama Han-kwi-ong muncul dan berdiri tegak didepan coa-kim

“kamu siapa nona !?” tanya kwi-ong dengan nada tajam penuh selidik

“hihihi…kwi-ong aku in-sin-ciang coa-kim datang mengunjungimu.”

“ooh kamu in-sin-ciang, masuklah !” ujar kwi-ong, lalu keduanya masuk kedalam “aku hanya sendirian disini, jadi ambillah arak dikamar belakang, Coa-kim !”

“hihihi…tidak apa kwi-ong.” sahut coa-kim, lalu ia pergi kebelakang dan mengambil seguci arak dan membawanya keruang tengah, keduanyapun duduk dan minum sepuas- puasnya

“kedatanganmu tentu bukan sekedar berkunjung bukan ?” “benar kwi-ong, aku kesini untuk menyampaikan pesan Han- bun-liong, bahwa kamu segeralah menyusul ke kui-san.”

“ooh, begitu, hmh…aku harus ke shinyang dulu untuk menemui Ok-liang dan kami berdua akan berangkat ke kui-san.”

“kenapa repot-repot kwi-ong, biar aku saja yang ke shinyang dan menyampaikan pesan han-bun-liong padanya.” “hehehe…baiklah kalau begitu, aku maklum tentunya kamu merindukannya bukan ?”

“hihihi…tidak kusangkal bahwa aku rindu padanya, lalu kapan kamu akang berangkat ke kui-san ?”

“hmh….mungkin besok coa-kim.”

“kenapa buru-buru, aku juga baru datang, masa harus pergi lagi

!”

“hmh..benar juga, kalau begitu besok lusa saja saya berangkat.” “begitu juga bagus kwi-ong, dan sekarang apa yang harus kita lakuan ?”

“maumu kita bisa lakukan apa coa-kim ?” “aku mau istirahat saja dulu kwi-ong.”

“hmh…baiklah, pilih saja kamar yang mana kamu suka.” “apakah kamu tidak ingin menemaniku, aku tidak menggigit loh kwi-ong.” goda Coa-kim bernada manja “hehehe..hahaha…..kamu memang nakal Coa-kim, sayang aku tidak bisa melihat wajahmu yang cantik.”

“hihihi,,,kok tahu aku cantik, tahu darimana kwi-ong.” “hehehe….adikku tidak akan mau kasak-kusuk denganmmu kalau kamu tidak cantik, iya kan ?”

“hihihi…..ayoklah kwi-ong, jangan cuma membayangin, raba dan rasakanlah ! itu lebih baik.”

“hehehe….hmh…” tawa kwi-ong dengan nafas tersegal karena hatinya berdegup kencang akan kata-kata binal Coa-kim.

Keduanya masuk kedalam kamar, Coa-kim menarik Han-kwi- ong ke atas ranjang, han-kwi-ong dengan gemas memagut dan menciumi wajah coa-kim, coa-kim mendesah dan membalas dengan tidak kalah gemasnya, ranjang jadi awut-awutan oleh hentakan birahi yang kesetanan, dengus nafas keduanya saling sahut menyahut dalam pilinan birahi yang semakin membakar, coa-kim walaupun sudah lama bertemu dengan kwi-ong, tapi baru kali ini mereka berhubungan, kwi-ong tidak pernah memikirkan akan mencumbu pacar adiknya ini, tapi dia juga bukan lelaki yang malu pada kemesuman, jika ia dituntun kenapa tidak, jadi keloplah pertemuan dua manusia tidak kenal aturan ini.

Selama seminggu mereka memadu gairah, bercinta dengan segala pose yang mereka inginkan, coa kim merasa ada seni tersendiri melakukan hubungan dengan pasangan yang buta ini, rabaan dan remasannya lebih memabukkan, dan kerenyit wajah han-kwi-ong yang merejang tubuhnya dalam pendakian hingga saat menggapai puncak kenikmatan, memiliki kenikmatan tersendiri bagi Coa-kim, dan itu membuat coa-kim gemas tidak tertahankan.

“hari ini kamu berangkatlah ke shinyang, dan aku akan kui-san.” ujar Han-kwi-ong

“baiklah kwi-ong dan hati-hatilah dalam perjalananmu !” sahut coa-kim, lalu dia pun berkelabat dari tempat itu, demikian juga dengan Han-kwi-ong, keduanya bergerak cepat meninggalkan lembah, sesampai dikota tianjin mereka berpisah menempuh jalan masing-masing, coa-kim tidak buru-buru dalam melakukan perjalanannya sebagaimana Han-kwi-ong,

Satu bulan setelah meninggalkan kota tianjin ia pun sampai kekota shinyang dan langsung kekomplek hek-liong-piuawkiok “loya, ada tamu hendak bertemu, namanya in-sin-ciang.” lapor seorang piauwsu

“in-sin-ciang !?” sela ok-liang kaget dan hatinya bergetar rindu “benar loya.” sahut piuawsu itu

“kalian keluarlah dan suruh ia masuk kesini !” perintah Ok-liang, para piauwsu keluar dan piuawsu yang melapor mengajak in-sin- ciang kedalam kantor, in-sin.ciang masuk dan senyumnya merekah setelah melihat Ok-liang.

“duduklah kim-moi, bagaimana keadaanmu selama ini ?” “keadaanku bai-baik saja dan aku rindu padamu Liang-ko.” “hmh…..aku juga Kim-moi, tapi ada apa engkau mengunjungiku kesini ?” tanya Ok-liang heran

“aku membawa pesan dari saudaramu Han-bun-liong, supaya kalian segera menyusul ke kui-san.”

“oh begitu, sebaiknya besok saya segera berangkat.” ujar Ok- liang

“demikianpun bagus, lalu sekarang bagaimana ?”

“sebaiknya malam ini kamu menginap dilikoan, dan nanti malam saya akan menemuimu.”

“baiklah kalau begitu Liang-ko, aku akan tunggu dipenginapan.” jawab Coa-kim dengan senyum nakal.

Setelah Coa-kim pergi, Ok-liang segera kembali kerumah, dan pada malamnya ia menemui Coa-kim di likoan, sampai larut malam Ok-liang dan coa-kim melepas rindu dalam pilinan birahi yang menggebu.

“bagaimana rencanamu selanjutnya, hendak kemakah kamu setelah dari sini Kim-moi ?”

“kemana lagi Liang-ko, jika kamu melakukan perjalanan aku akan ikut serta sebagaimana beberapa tahun yang silam .” jawab Coa-kim manja

“baguslah kalau begitu, besok ! setelah makan siang kita akan berangkat.”

“baiklah liang-ko.” sahut coa-kim manja dan memeluk Ok-liang, Ok-liang membalas dan mengecup bibir Coa-kim, lalu kemudian ia bangkit dari ranjang

“aku hendak kembali kerumah, tidurlah yang nyenyak sayang.” bisik Ok-liang sambil mengecup lembut bibir Coa-kim, sesaat mereka berpagutan saling melumat dan akhirnya terlepas seiring nafas yang sesak.

Han-ok-liang meninggalkan likoan dan kembali kerumah, para piauwsu tidak berani mengusik apa yang dilakukan majikan mereka yang tiba dirumah saat larut malam, ok-liang masuk kekamar dan merebahkan badan disamping isrinya yang lelap dalam tidur, keesokan harinya Ok-liang bangun setelah matahari sudah tinggi

“Liang-ko, mandilah ! apa kamu tidak ke kantor ?” gugah Bao- lan, Ok-liang menggeliat dan membuka matanya, lalu duduk “Lan-moi persiapkan dan kemasi pakaianku !” perintah Ok-liang sambil turun dari ranjang

“eh, kamu mau kemana Liang-ko ?” tanya Bao-lan heran “aku hendak pergi lagi, ada keperluan yang harus saya selesaikan.” jawab Ok-liang sambil keluar kamar untuk pergi mandi, Bao-lan ikut keluar mengikuti suaminya

“tapi koko kan baru setahun disini, lalu sekarang mau pergi lagi

?”

“Lan-moi lakukan saja apa yang kusuruh !” perintah Ok-liang bernada sedikit tinggi, Bao-lan terdiam dan segera masuk kembali kekamar untuk menyiapkan pakaian suaminya, setelah mandi dan berpakaian, Ok-liang pun makan ditemani istrinya “jika Ing-ji datang dan menanyakanmu, apa yang harus kujawab

?” tanya Bao-lan sedih

“katakan padanya aku ada urusan di kota hehat.” jawab Ok-liang “berapa lamakah koko akan pergi ?”

“kalau urusanku sudah selesai, aku akan secepatnya kembali.” “baiklah koko dan hati-hatilah.” ujar Han-hujin lembut, Ok-liang mengangguk sambil meminum arak dan berdiri.

Han-ok-liang berangkat dilepas tatapan istrinya, Han-ok-liang menuju likoan dimana coa-kim kekasihnya bermalam, Coa-kim menyambut ok-liang dengan senyum sumigrah dan tatapan berbinar

“berangkat sekarang Liang-ko ?” tanya coa-kim manja dan senyum merekah

“benar, apa kamu sudah membayar sewa kamar ?”

“belum Liang-ko, marilah kita turun.” jawab Coa-kim sambil menarik mesra lengan Ok-liang dan merekapun turun kebawah, Coa-kim membayar sewa kamar dan keduanya segera meninggalkan kota shinyang, mereka melakukan perjalanan dengan santai dan gembira, dimana tempat yang indah dan romantis tidak mereka lewatkan untuk menikmatinya sambil memadu asmara.

Menjelang sore hari, Han-liu-eng kembali kerumah, semalam ia menginap dilikoan untuk urusan transaksi, dan menjelang siang ia kembali ke kantor dan mengadakan pertemuan dengan para anggotanya, dan setelah itu ia pulang kerumah, dan hatinya sedikit kecewa mendengar cerita ibunya bahwa ayahnya sudah pergi lagi, dengan hati tawar gadis ini masuk kedalam kamarnya, hatinya tidak menentu memikirkan sikap ayahnya, ia kecewa dengan perlakuan ayahnya kepada mereka selama ini, namun saat kedatangan ayahnya setahun yang lalu perasaan kecewa itu di abaikannya, dan sekarang ayahnya pergi tanpa sempat bertemu denganya, kekecewaan yang tadinya di abaikan kini menyeruak lagi dan telah menerbitkan rasa marah dan benci pada ayahnya, ia kasihan melihat ibunya yang ditelantarkan, rasa kecewa ini membuat hatinya sulit mempercayai laki-laki.

Keesokan harinya, setelah sarapan Han-liu-ing pamit pada ibunya

“ibu ! dalam beberapa minggu ini ibu terpaksa aku tinggal sendirian.”

“apakah kamu akan memimpin barang kiriman Ing-ji ?” tanya ibunya lembut

“benar ibu, sekiranya aku tahu ayah akan pergi, tentu aku akan mewakilkan pengiriman.” ujar Han-liu-ing dengan nada kecewa “sudahlah nak ! kamu tidak usah cemaskan ibu, ibu akan baik- baik saja, bukankah sebelum ayahmu datang, ibu sudah sering kamu tinggalkan.” ujar Bao-lan menghibur anaknya, Han-liu-ing mengangguk membenarkan, karena apa yang dikatakan ibunya adalah benar adanya.

“kemanakah kali ini kamu akang pergi Ing-ji ?”

“saya dan rombongan akan pergi ke kota Liaoning.” jawab Han- liu-ing

“baik ! segeralah berangkat nak, ibu doakan semoga perjalananmu lancar dan tiba kembali kesini dengan selamat.” ujar ibunya, Han-liu-ing mengangguk dan meninggalkan ibunya. Sesampai di kantor tiga puluh piauwsu dan dua wakilnya sudah selesai memuat barang dan siap untuk berangkat

“apakah semua sudah selesai, Bu-wei ?” tanya Han-liu-ing “sudah pangcu ! dan juga semua surat-surat sudah disiapkan.” sahut wakil pertamanya yang bernama Bu-wei

“baik, mari kita berangkat !” perintah Han-liu-ing, dan rombonganpun bergerak menuju gerbang selatan.

Seminggu kemudian rombongan hek-liong-piuawkiok memasuki kota Beijing, dan didepan sebuah likoan

“Cu-lai kita istirahat disini…!” perintah Han-liu-ing pada wakil keduanya sambil turun didepan likoan, Cu-lai segera memerintahkan rombongan untuk berhenti, seorang tukang kuda membawa kuda yang ditunggangi Han-liu-ing kekandang belakang, Liu-ing dan rombongan memasuki likoan dan memesan makanan. Han-liu-ing duduk semeja dengan dua orang wakilnya Bu-wei dan Cu-lai, dan saat mereka makan, seorang lelaki tampan memasuki likoan. Ia duduk dimeja dekat meja Han-liu-ing sambil meletakkan capingnya diatas meja, seorang pelayan dengan ramah datang mendekati dan melayaninya, lelaki muda adalah Han-bouw-bian, sesaat dia terkesima melihat wajah Han-liu-ing, wajah itu rada mirip dengan wajah yang selama ini menghiasi relung sukmanya, wajah Han-sian-hui, hatinya bergetar dan menatap lekat pada wajah Han-liu-ing.

“ada apa kongcu !? kenapa kamu menatapku seperti melihat setan ?” tanya Han-liu-ing tiba-tiba, bouw-bian tersentak dan salah tingkah, sambil tersenyum ia berkata

“maaf nona, jika aku berlaku lancang.”

“benar.. dan kamu tidak hanya lancang tapi kurangajar.” sahut liu-ing ketus

“ah..janganlah begitu sisnis padaku siocia, kenalkan namaku adalah bouw-bian” ujar Han-bouw-bian, dengan mata mendelik Han-liu-ing berkata dengan nada mengancam

“aku tidak ingin kenal denganmu, dan hati-hati dengan matamu yang jelalatan.” senyum Han-bouw-bian makin mengembang “nona aku hanya terkesima, karena wajahmu seiras dengan seseorang yang aku kenal.”

“cih… itu hanya alasan yang dibuat-buat, aku tahulah bahwa kamu itu tidak obahnya adalah lelaki hidung belang.” sindir Han- liu-ing

“hehehe…nona terlalu berlebihan, kuakui bahwa wajahmu luar biasa cantik, dan sebenarnya aku tidak tertarik, hanya karena wajahmu itu rada mirip dengan seseorang sehingga membuat hatiku penasaran.” sahut Bouw-bian sedikit kesal karena dinilai hidung belang, mendengar itu Han-liu-ing menjadi tersinggung, mukanya terasa panas

“hati-hati kalau bicara ! cintamu yang tidak kesampaian itu, jangan cari pelampiasan untuk menghiba.” teriak Liu-ing marah, Han-bouw-bian tersedak karena sedikit banyaknya pernyataan itu ada benarnya, dia menatap tajam pada wajah marah didepannya.

“sudahlah nona, tidak perlu kita perpanjang.” ujar bouw-bian sambil meminum araknya lalu berdiri dan melangkah ke arah kasir, mata tajam Liu-ing tidak lepas menatap Bouw-bian “wangwe..! aku hendak menginap, masih adakah kamar ?” tanya Bouw-bian

“masih…kamar masih ada kongcu.” jawab pemilik likoan, lalu ia menyeru seorang pembantu “A-tung…! Antarkan tamu kita kekamarnya !” perintah pemilik likoan, pelayan yang di panggil A-tung itu membawa Bouw-bian kekamarnya.

Tidak lama kemudian Han-liu-ing meninggalkan likoan untuk melanjutkan perjalanan, wajahnya masih kesal dengan pertemuan dengan pemuda tampan itu, sehingga ia banyak diam, dua wakilnya juga tidak berani mengusik, mereka sibuk mengatur rombongan, setelah mereka keluar gerbang, Han-liu- ing memacu kudanya, dan rombongan itu bergerak cepat, dan saat malam tiba mereka berhenti disebuah hutan, para piuawsu mendirikan tiga buah tenda.

Han-liu-ing istirahat dalam sebuah tenda, hatinya makin tidak nyaman karena wajah tampan Bouw-bian mengusik pikirannya, saat dia berbolak balik dan berusaha tidur “anda ini siapa ?” terdengar suara Bu-wi bertanya, lalu terdengar jawaban lembut

“aku pengelana yang kemalaman sicu, saya kira kalian ini para pemburu yang sedang istirahat, jadi saya mendekat, tapi tahunya para piauwsu.” jawab wanita cantik bersal putih “hehehe….jika siocia hendak melewatkan malam dan ingin ditemani, kami akan senang hati menemani siocia.” ujar Cu-lai dengan muka pringas-pringis

“terimakasih sicu, aku hanya sekedar lewat saja, permisi !” sahut wanita cantik yang tidak lain adalah Han-sian-hui, Cu-lai hendak mencegah, namun matanya melonggo karena Han-sian-hui telah lenyap

“iiiihh….hantuuu…” teriak seorang piauwsu yang ikut menyaksikan lenyapnya wanita cantik yang digoda Cu-lai, Cu-lai jadi merinding mendengar teriakan anak buahnya

“ah….kamu jangan ngelantur A-pang !” bentak Bu-wei

“tapi twako ! wanita itu bisa menghilang.” ujar A-pang dengan tubuh menggigil

“wanita itu tidak mungkin hantu, apa kamu tidak melihat kakinya menjejak tanah !? hantu itu tidak menjejak tanah !” ujar Bu-wei, A-pang terdiam dan hatinya kembali merasa tenang, pada saat itu Han-liu-ing keluar dari tendanya

“ada apa Bu-wei ? apa yang kalian bicarakan ?” “ah..tidak apa-apa pangcu.” jawab Bu-wei

“tapi saya dengar ada suara seorang wanita, siapa wanita itu ?” tanya Han-liu-ing

“benar ! tadi ada seorang wanita yang sekedar lewat, dan saya juga tidak tahu siapa wanita itu pangcu” jawab Cu-lai

“sudah kalau begitu, kalian jaga yang benar !” ujar Han-liu-ing dan dia kembali masuk kedalam tendanya, tidak lama setelah Han-liu-ing masuk, Bu-wei dan Cu-lai masuk ketenda mereka, sementara empat piuawsu berjaga diluar.

Keesokan harinya rombongan melanjutkan perjalanan, sementara di lain bagian hutan itu Han-sian-hui sedang memanggang ayam hutan, sebagaimana kita ketahui Han-sian- hui meninggalkan lembah merak untuk menemui saudaranya Han-ok-liang di kota shinyang, dan berketepatan semalam ia melewati rombongan piauwsu yang sedang melewatkan malam dihutan tersebut, setelah panggang ayamnya matang, Han-sian- hui makan dengan lahap, dan dalam waktu yang tidak lama daging ayam bakar telah berpindah keperut, Han-sian-hui meminum air menutup makan paginya, setelah itu Han-sian-hui mandi di sebuah anak sungai, badannya terasa segar setelah mandi, lalu ia melanjutkan perjalanannya.

Han-sian-hui memasuki kota Beijing saat matahari sudah condong kebarat, dan ia memasuki sebuah likoan untuk menginap, setelah mencuci membersihkan diri dan berganti pakaian, Han-sian-hui duduk santai di teras penginapan, baru saja ia duduk, tiba-tiba sebuah suara menyapanya dari belakang

“hui-moi !” Han-sian-hui berpaling kebelakang dan melihat seorang pemuda tampan sedang tersenyum kepadanya “maaf kongcu ! apakah kita saling kenal ?” tanya Han-sian-hui heran

“apakah hui-moi lupa ? saya adalah Bouw-bian.” ujar pemuda itu mengingatkan, sejenak Han-sian-hui berpikir

“oh kamu ternyata kongcu !” ujar Han-sian-hui tersenyum ramah, Han-bouw-bian tertawa dan segera duduk dikursi berhadapan dengan Han-sian-hui

“hehehe…..aku sangat gembira dengan pertemuan ini hui-moi.” “kongcu ! saya merasa keramahanmu sangatlah berlebihan, apakah sudah demikian pembawaanmu?”

“maksudnya bagaimana Hui-moi ? tanya Bouw-bian heran, Han- sian-hui tersenyum dan berkata

“kita baru dua kali bertemu, tapi lagaknya kamu sudah sangat kenal padaku, bukankah itu berlebihan kongcu ?”

“mungkin saja Hui-moi, tapi yang jelas Hui-moi sudah mengetahui isi hatiku, bukan ? aku cinta padamu Hui-moi, dan pertemuan ini menerbitkan rasa mesra dalam hatiku.” “hihihi….bagaimana bisa engkau secepat itu mengatakan cinta padaku, kongcu ?”

“aku cinta padamu pada pandangan pertama, saat itu kita bertemu disebuah rumah makan dikota Anhui, aku terpikat dengan wajahmu yang anggun dan cantik rupawan, matamu yang indah, bibir yang ranum…hi..”

“sudah..sudah kongcu !” potong Han-sian-hui cepat-cepat, senyumya yang menghias bibirnya kini hilang, dan ia menatap serius pada wajah pemuda tampan didepannya

“dengarlah Bian-sicu ! sebenarnya aku kasihan sekali padamu.” “kenapa Hui-moi berkata demikian ?” tanya Bouw-bian heran “sejak pertemuan kita di Anhui, dan kemudian kita berpisah sekian lama, lalu pada hari ini kita bertemu, ketahuilah Bian-sicu

! aku tidak merasakan apa-apa padamu terkait soal cinta, mengertikah kamu Bian-sicu !?” ujar Han-sian-hui tandas, Han- bouw-bian terdiam dan tertunduk, agak lama suasana hening, lalu Han-bouw-bian menatap Han-sian-hui dan berkata lirih “apakah kamu sudah bertunangan atau sudah punya kekasih ?” “hal itu tidak perlu kongcu tanyakan ! yang penting kamu berusaha untuk mengerti akan kenyataan yang anda hadapi saat ini.”

“kalau tidak ada yang merintangi, kenapa engkau tidak bisa mencintaiku ? apa kurangnya diriku Hui-moi ?”

“cinta itu tidak bisa dipaksakan Bian-sicu, saya harap anda mengerti dan mampu menerima kenyataan.”

“saya benar-benar kecewa dan patah hati hui-moi, dan saya tidak tahu akan bagaimana saya menjalani hidup ini jika tidak mendapatkan cintamu.”

“kamu tidak akan apa-apa Bian-sicu ! saat ini kamu jelas gamang dan merasa lemah, pikiran kamu galau, tapi seiring waktu kamu akan mampu mengatasinya.”

“entahlah, sulit rasanya mengatasi kekecewaan ini.” ujar Han- bouw-bian sendu

“sebaiknya aku tinggalkan anda sendiri disini Bian-sicu, menimbang kenyataan ini bukan hanya dengan perasaan tapi juga dengan pikiran, permisi kongcu !” ujar Han-sian-hui, lalu ia meninggalkan Han-bouw-bian dan masuk kembali kedalam kamarnya.

Han-bouw-bian duduk merenungi diri, sikap dan perkataan Han- sian-hui terasa sakit meremas-remas hati, rasa kecewa yang mendera hatinya sehingga berujung pada rasa sakit hati pada Han-sian-hui, setelah lama merenung, muncul pemikiran dalam benaknya untuk memaksa Han-sian-hui, setelah malam agak larut, Han-bouw-bian masuk kedalam kamarnya. Keesokan harinya Han-bouw-bian bangun agak kesiangan, setelah mandi dan berganti baju, ia keluar untuk makan, dia berharap bertemu dengan Han-sian-hui, namun samapai sekian lama, ia tidak melihat Han-sian-hui turun untuk makan, lalu ia menanyakan pada pemilik likoan, dan ternyata Han-sian-hui telah pergi pada saat pagi-pagi sekali, Han-bouw-bian kesal meninggalkan pemilik likoan dan kembali kekamarnya.

Seminggu kemudian Han-sian-hui memasuki kota Shinyang, dan ketika ia melewati seorang pedagang buah yang sedang berteriak menjajakan dagangannya, Han-sian-hui mendekat “apakah nona mau membeli buah ?” tanya pedagang itu dengan ramah

“berapa harga buah leci ini paman ?” tanya Han-sian-hui “murah saja nona, hargannya hanya lima chi sekilo.” jawab pedagang

“kalau anggurnya berapa paman ? “anggur tujuh chi sekilo.” Jawab pedagang

“tolong buah leci dan anggurnya dibungkus sekilo-sekilo, paman

!”

“hehehe..baik nona.” sahut pedagang itu lalu menimbang buah leci dan anggur, sambil menimbang ia berkata pada Han-sian- hui

“sepertinya nona bukan orang sini, yah.”

“dugaan paman benar sekali, saya memang bukan orang sini, dan saya baru saja masuk kota ini

“apakah nona hanya sekedar lewat ? atau ada keperluan dikota ini.”

“saya hendak bertemu seseorang dikota ini, eh..paman ! apakah paman tahu tempat tinggal she-Han dikota ini ?” “she-han ? “ gumam pedagang itu sejenak, lalu berkata, “ada beberapa she-han yang saya tahu, tapi siapa namanya nona ?” “namanya Han-ok-liang.” Jawab Han-sian-hui, pedagang itu

terdiam dan kemudian menggelengkan kepala, “saya tidak tahu dengan nama Ok-liang nona.”

“hmh…..she-han yang paman tahu, apakah ada yang ahli silat ?” tanya Han-sian-hui

“o…kalau yang ahli silat ada nona, dia seorang perempuan dan namanya Han-liu-ing.” Jawab pedagang itu

“dimanakah she-han itu tinggal ?”

“tinggalnya disebelah timur kota, tapi she-han ini mempunyai sebuah piuawkiok yang bernama hek-liong-piauwkio, kantornya disana nona, tiga blok dari sini yang ada bendera putihnya.” jawab pedagang itu, Han-sian-hui menatap arah yang ditunjuk pedagang sambil tersenyum

“baiklah paman dan terimakasih, oh ya berapa semua ?” “dua belas chi nona.” jawab pedagang sambil memberikan bungkus berisi buah leci dan anggur, Han-sian-hui membayar

dan menerima bungkusan, kemudian ia pamit dan meninggalkan pedagang yang kembali berteriak menjajakan dagangannya,

Han-sian-hui berdiri didepan kantor hek-liong-piauwkiok, seorang piauwsu yang sedang berjaga di dalam gardu keluar dan mendekatinya

“selamat siang nona ! apa yang bisa kami bantu ?” tanya piauwsu, Han-sian-hui sedikit membungkuk memberi hormat lalu berkata

“maaf twako ! saya mencari seorang bermarga Han bernama Ok-liang, apakah twako kenal dengan orang yang saya cari ?” piauwsu itu menatap Han-sian-hui penuh selidik, hatinya heran melihat kemiripan wajah gadis ini dengan majikannya

“dapatkah nona memberitahu, ada hubungan apa nona dengan Han-ok-liang itu ?”

“saya adalah adik Han-ok-liang itu twako, nama saya Han-sian- hui, piauwsu itu terkejut

“kenapa twako ? kenapa twako terkejut ?” tanya Han-sian-hui “Han-ok-liang sudah berumur, dan nona masih sangat muda dan pantasnya kamu ini adalah anaknya.” jawab piauwsu itu, Han- sian-hui tersenyum

“sepertinya twako sangat kenal dengan saudara saya itu, tolonglah aku twako ! dimanakah tempat tinggal kakak saya itu

?”

“hek-liong-piauwkiok ini adalah milik beliau, tapi Han-loya sedang tidak berada disini.”

“apakah keluarga Liang-ko tinggal disini ?” tanya Han-sian-hui “tidak nona, tapi tinggal di sebelah timur kota, sebaiknya tunggulah sebentar, saya minta izin dulu, dan saya akan mengantar nona kerumah Han-loya.”

“sungguh aku sangat berterimaksih twako, baiklah aku akan menunggu.” ujar han-sian-hui, piauwsu itu segera masuk kedalam kantor, dan tidak berapa lama ia keluar dengan sebuah kereta

“mari dan naiklah Han-siocia !” ujar piauwsu itu, lalu Han-sian- hui segera naik kedalam kereta, dan keretapun melaju dengan kencang kearah timur kota

Sesampai dirumah Han-ok-liang, seorang tukang kebun paruh baya datang mendekat dengan tersenyum dan bertanya

“A-seng ! kamu bawa apakah ?” piauwsu yang dipanggil A-seng itu turun dari kereta seraya menjawab

“aku membawa seorang tamu yang hendak bertemu keluarga pangcu, paman bong ! apakah hujin ada ?” pada saat itu Han- sian-hui turun dan lelaki tukang kebun itu seperti kaget dan terpana melihat kemiripan wajah Han-sian-hui dengan nona majikannya

“paman bong ! apakah hujin ada ?” kembali A-seng bertanya, sehingga menggugah ltukang kebun dari keterpanaannya

“eh..iya..hujin ada, tunggulah sebentar aku akan melapor pada hujin !” jawab tukang kebun, lalu dengan langkah buru-buru ia masuk kedalam rumah, dan tidak berapa lama tukang kebun keluar bersama Bao-lan.

“siapakah dia ini A-seng ?” tanya Bao-lan terkesima menatap wajah gadis yang menjadi tamunya, A-seng sedikit membungkuk dan berkata

“maaf hujin ! tamu ini memperkenalkan diri sebagai adik dari loya, jadi saya mengantarkannya kemari.”

“benar soso ! saya adalah adik dari Han-ok-liang dan nama saya Han-sian-hui.” sela Han-sian-hui memperkenalkan diri

“tapi nona ! suami saya tidak ada.” ujar Bao-lan masih terkesima menatap wajah Han-sian-hui

“tidak mengapa soso, dan kalau boleh tahu kemanakah Liang-ko

?”

“dia keluar kota karena ada keperluan mendadak.” jawab Bao- lan

“sebagai saudara, bertemu soso selaku istri Liang-ko sudah menggembirakan hatiku.” ujar Han-sian-hui

“baik…. dan masuklah hui-moi ! kita bicara didalam !” ujar Bao- lan “dan saya permisi hujin hendak kembali ke kantor !” ujar A-seng “baiklah A-seng.” jawab Bao-lan “terimakasih seng-twako !” sela Han-sian-hui, A-seng mengangguk tersenyum dan meninggalkan rumah, setelah A-seng pergi, Bao-lan mengajak Han-sian-hui masuk.

“saya adalah Bao-lan Hui-moi ! dan terus terang saya kaget dan tidak percaya dengan kedatanganmu yang mengaku adik bagi suami saya, tapi melihat adanya kemiripan wajahmu dengan putriku Liu-ing, maka saya harus lebih mengenalmu, hui-moi” ujar Bao-lan dengan seulas senyum ramah

“saya maklum akan keheranan soso dengan kehadiran saya, tapi benarkah bahwa wajah saya ada kemiripan dengan putri Liang-ko ? dan dimanakah ia keponakanku itu sekarang ?” tanya Han-sian-hui penasaran

“benar Hui-moi, ia sedang memimpin rombongan piauwkiok kekota liaoning, dan oleh karena itu, ceritakanlah hubungan persaudaraan ini padaku, karena sejujurnya saya tidak satupun mengenal keluarga suami saya.” jawab Bao-lan, dan pada saat itu seorang pelayan datang membawa minuman dan senampan makanan kecil, setelah menghidangkan minuman diatas meja, pelayan itu mengundurkan diri, Bao-lan mempersilahkan tamunya minum

“mari kita minum Hui-moi !” Han-sian-hui mengangguk dan lalu meraih cangkir dan menyeruputnya hingga tiga kali, lalu Han- sian-hui meletakkan cangkir seraya berkata

“Lan-cici ! saya dan Liang-ko adalah saudara se ayah, hubungan kekeluargaan kami boleh dikatakan tidaklah harmonis.”

“kenapa bisa tidak harmonis, Hui-moi ?” tanya Bao-lan “ayah kami bernama Han-fei-lun dan tinggal di selatan tepatnya dikota Bicu, ayah kami ini memiliki sisi gelap pada masa mudanya, oleh karena itu ayah memiliki hubungan dengan beberapa wanita yang menjadi ibu-ibu kami.” Jawab Han-sian- hui, mendengar cerita Han-sian-hui, Bao-lan semakin tertarik akan latar belakang suaminya yang baginya gelap selama ini, setelah menyeruput minumannya, Bao-lan bertanya

“maaf Hui-moi ! memangnya berapa orang kalian yang menjadi anak-anak gak-hu ?”

“sepengetahuan saya, kami ada sembilan orang dengan enam ibu, soso !” jawab Han-sian-hui, Bao-lan tidak dapat menyembunyikan kekagetannya dan bertanya

“lalu siapakah nama ibu dari Liang-ko ? siapakah melahirkan siapa ?”

“ibu Liang-ko bernama Yang-lian, lalu ada Yan-hui melahirkan Han-kwi-ong, kemudian ada Wan-lin melahirkan Han-sai-ku, lalu ada Khu-lian-kim melahirkan tiga anak, Han-bi-goat, Han-bu-jit dan Han-bu-seng, kemudian ada Coa-bi yang melahirkan Han- bun-liong, lalu ada Liu-sian ibu saya dan saudara saya Han-fei- lun.” jawab Han-sian-hui, Bao-lan melonggo mendengar penuturan Han-sian-hui, Bao-lan tercenung mengenang betapa rumit asmara yang dijalani oleh gakhunya, sehingga ia terdiam beberapa lama, kemudian Bao-lan bertanya lagi

“apakah gak-hu memperistri mereka semua ?”

“ironisnya ayah tidak memperistri mereka semua soso, yang diperistri ayah hanya dua yakni ibu Khu-lian-kim dan Liu-sian ibu saya.” jawab Han-sian-hui

“lalu diantara kalian bersaudara, siapakah yang tertua dan yang terbungsu ?” “yang tertua adalah saudara kandung saya Han-fei-lun dan yang termuda adalah saya sendiri.”

“eh..bagaimana bisa !? umurmu masih sangat muda hui-moi, tentu saudaramu mungkin tiga empat tahun di atasmu.” tanya Bao-lan heran

“tidak demikian Lan-cici, umur kakak saya Han-fei-lun sudah lima puluh empat tahun, hal ini dikarenakan ibuku ketika melahirkan kakakku tidak dinikahi ayah, dan saat kakak berumur tiga puluh tahun lebih, baru ayah menikahi ibu dan melahirkan saya.” jawab Han-sian-hui, Bao-lan mengangguk mengerti, lalu kemudian ia berkata

“jika demikian halnya, pantaslah dikatakan tidak harmonis, dan kemungkinan besar antara kalian yang berlainan ibu akan bersikap tidak mau tahu, terlebih saudara-saudaramu yang tidak diperistri oleh ayahmu.”

“benar apa yang dikatakan soso, bahkan bisa dikatakan saling membenci, dan ironisnya beberapa saudara saya itu boleh dikatakan membenci ayah, alasan kenapa benci, karena tidak dipungkiri bahwa ayah boleh dikatakan tidak menghiraukan mereka, dan kenyataan inilah yang sekarang membawa aku sampai kesini.” ujar Han-sian-hui

“maksudnya bagaimana Hui-moi ?” tanya Bao-lan heran

“Lan-cici, ayah kami diculik dari kota Bicu, dan keluarga disana dibantai, jadi tujuanku kesini ingin bertemu dengan Liang-ko sehubungan dengan diculiknya ayah kami.”

“maksudmu ! kamu mencurigai suamiku yang menculik gakhu ? begitukah Hui-moi ?”

“mencurigai bahwa Liang-ko terlibat dengan diculiknya ayah, dan bahkan dengan kepergian Liang-ko yang mendadak bukan tidak ada alasan bukan ?” jawab Han-sian-hui, Bao-lan termanggu dan melihat setitik kebenaran alasan kecurigaan Han-sian-hui, lalu ia berkata

“hal itu boleh jadi Hui-moi, tapi apa alasan kuat sehingga kamu mencurigai Liang-ko ?”

“Lan-cici, saya yakin bahwa Liang-ko baru kembali kesini bukan

?”

“eh bagaimana kamu tahu Hui-moi ? dan memang benar bahwa Liang-ko baru kembali setahun yang lalu setelah delapan tahun meninggalkan kami.”

“aku tahu karena terakhir bertemu dengan Liang-ko, Ong-ko dan Liong-ko di lembah merak tiga tahun yang lalu, dan aku juga tahu mereka keluar dari sana lebih setahun yang lalu, sementara ayah diculik sudah lewat satu tahun, jadi kesamaan waktu itu salah satu alasan untuk mencurigai tiga saudaraku itu.” jawab Han-sian-hui

“kalau itu salah satu alasan, apakah ada alasan lain ?” tanya Bao-lan

“alasan lain, bahwa keluarga di Bicu bukan keluarga lemah, tipis kemungkinan bahwa orang lain yang menculik ayah dan membantai keluarga disana, yang mampu melakukannya kemungkinan besar adalah keluarga sendiri, dan melihat kenyataan pahit yang di alami tiga saudara saya yang bercokol di lembah merak, pantaslah jika ketiganya dicurigai. ” jawab

Han-sian-hui, Bao-lan tercenung mendengar alasan-alasan yang dikemukakan Han-sian-hui, dia melihat kuatnya alasan-alasan tersebut. “jika benar bahwa Liang-ko dan dua saudaramu yang lain melakukan hal itu, apa yang hendak kamu lakukan ?”

“aku akan melakukan apa yang seharusnya kulakukan, yakni meminta pertanggung jawaban mereka soso.” jawab Han-sian- hui, Bao-lan menatap lekat wajah Han-sian-hui, ia tidak melihat kemarahan dan kebencian disana, dan dia pun tidak tahu mau berkata apa.

“lalu bagaimana rencanamu selanjutnya Hui-moi ?” tanya Bao- lan

“kalau boleh, aku ingin tinggal beberapa hari lagi disini bersama soso.” jawab Han-sian-hui

“tentu bolehlah Hui-moi, bahkan aku merasa sangat senang.” ujar Bao-lan tulus, Han-sian hui senyum dan senang

“marilah hui-moi, aku antar kamu kekamar !” ujar Bao-lan, lalu Bao-lan mengajak Han-sian-hui dan membawanya kekamar tamu.

Sejak bertemu dan berbicara dengan Han-sian-hui, Bao-lan sudah kadong suka dan kagum, Bao-lan merasa amat senang dengan kedatangan Han-sian-hui, adik iparnya ini demikian bijak dan berwibawa, Han-sian-hui sangat enak diajak bicara, selama ini ia memang buta dengan masa lalu suaminya, tapi sekarang ia sudah mengenal benar latar belakang suaminya, sehingga tidak terasa seminggu sudaah Han-sian-hui menemaninya.

Keesokan harinya Han-sian-hui pamit untuk melanjutkan perjalanannya, Han-sian-hui sudah mengetahui bahwa saudaranya Han-ok-liang pergi ke kota Hehat, Bao-lan melepas keberangkatan Han-sian-hui dengan hati haru dan sayang. “kapan-kapan berkunjunglah kembali Hui-moi.” “tentu cici, jika masih sehat dan sempat aku akan mengunjungi kalian.” sahut Han-sian-hui dengan senyum tulus, dan ia pun meninggalkan kota shinyang.

Han-bouw-bian sedang menyantap daging ular ditengah hutan sebelah barat kota shijajuang, wajahnya yang tampan kelihatan kumal, hatinya yang sakit dan kecewa karena patah hati membuat ia kehilangan semangat hidup, setelah dua potong daging ular habis dimakan, Han-bouw-bian merebahkan badan di tanah berumput, dan tidak lama kemudian ia pun tertidur, dan setengah jam kemudian ia tersentak bangun karena sebuah teriakan minta tolong, dan tidak lama seorang gadis berlari ke arahnya, dan disaat yang sama seorang lelaki tua bermuka hitam tiba-tiba muncul dan menangkap gadis itu “tolooong…heghk” jeritnya sambil menatap Han-bouw-bian, namun suaranya langsung menghilang setelah sebuah totokan menghantam lehernya

“hehehe….kamu diam saja manis !” ujar kakek tua itu sambil terkekeh-kekeh

“apa yang hendak kamu lakukan kakek tua ?” tanya Han-bouw- bian, lelaki tua yang ternyata adalah Hek-kai membalik badan dan menatap Han-bouw-bian tajam

“mau tahu saja urusan orang, heh… pemuda bau pergi sana ! ” bentak Hek-kai

“sialan ! jangan asal bicara kakek jelek !” umpat Han-bouw-bian dengan tatapan tajam

“heh..! kamu mengataiku yah, apa kamu mau mampus bocah

tengik !” bentak hek-kai, lalu dia dengan rasa marah mengayun tongkatnya kea rah kepala Han-bouw-bian, serangan itu sangat cepat, namun tidak membuat Bouw-bian gugup, ia berkelit dan menarik pedang dari sarungnya

“sialan ! mau berlagak didepanku !? nih..! rasakan !” bentak Hek- kai dengan geram

“trang wuuut..sing….trang…” Han-bouw-bian membacok

tongkat, sehingga melenceng, lalu bagian kepala tongkat berkiblat mengayun dari atas kebawah hendak menghantam kepala Bouw-bian, tapi Bow-bian menghindar kesamping seraya hendak merobek perut Hek-kai, tapi ditangkis pedang langsung ditangkis tongkat Hek-kai.

“hmh….berisi juga kamu bocah tengik!” umpat Hek-kai dengan rasa malu dan geram, lalu dia menyerang lagi dengan mengerahkan ilmu tongkatnya yang luar biasa, suara mengawung mencecar pertahanan ilmu pedang Bouw-bian, dan Bouw-bian juga tidak mau jadi bulan-bulanan, ilmu pedang warisan keluarganya walaupun hanya seperempat bagian ia kuasai, ia kerahkan sepenuhnya.

Pertempuran seru berlangsung sengit, hingga tidak terasa hari sudah sore, Hek-kai ternyata masih menang dan menguasai keadaan, lambat tapi pasti ia sudah membuat Han-bouw-bian terdesak hebat, dan akhirnya

“duk….buk….” sebuah sodokan keras menghantam lambung Han-bouw-bian, lalu disusul pukulan menghantam punggungnya, Han-bouw-bian terjerembab mencium tanah, mulutnya memuntahkan darah segar

“hehehe…hehehe…rasakan ini bocah bau !” bentak Hek-kai sembari mengayun tongkatnya kea rah kepala Han-bouw-bian, namun sebelum niat kejam itu terlasana, sebuah bayangan kilat meraih tubuh Han-bouw-bian yang pingsan, sehingga tongkat Hek-kai menghantam tanah

“bangsat ! siapa berani ikut campur urusanku !” teriak Hek-kai dengan marah, namun saat melihat orang yang berdiri didepannya ia langsung termanggu, karena ia kenal dengan orang yang menyelamatkan pemuda itu, Hek-kai berkata datar “eh….ternyata kamu pendekar buta !”

“kamu siapa !? apakah aku kenal denganmu !?” tanya lelaki separuh baya yang ternyata adalah Han-kwi-ong

“hehehe..hehehe….. dasar kamu memang buta, dan terlebih kita memang tidak lama bergaul sehingga kamu pantas tidak mengenal aku.” ujar Hek-kai mencemooh, kening Han-kwi-ong berkerenyit, dengan hati yang mengkal ia berkata dengan nada mengancam

“hati-hati kalau bicara, sebutkan namamu supaya aku tidak salah tangan terlanjur membunuhmu !” mendengar ancaman itu Hek- kai terdiam dengan hati kecut, karena ia sadar bahwa pendekar buta ini jelas bukan tandingannya

“hehehe…hehehe… jangan terlalu dimasukkan kedalam hati pendekar buta, kita ini adalah orang sehaluan, berbuat semaunya adalah prinsip kita, ketahuilah Han-kwi-ong! Aku adalah Hek-kai.” ujar Hek-kai mencoba mendinginkan hati Han- kwi-ong, wajah Han-kwi-ong yang tadi memerah berubah normal kembali

“oh, ternyata kamu Hek-kai! Kenapa kamu berkelahi dengan pemuda ini !?” tanya Han-kwi-ong

“hehehe…pemuda itu sudah lancang mencampuri urusanku, Kwi-ong.” jawab Hek-kai “lalu sekarang apa maumu Hek-kai !?” tanya Han-kwi-ong tajam “hehehehe…tidak ada Han-kwi-ong, dan sebaiknya aku pergi saja, dan sampai bertemu lagi Han-kwi-ong !” jawab Hek-kai, lalu ia segera pergi sambil membawa gadis yang di totoknya seiring tawanya yang mengekeh.

Han-kwi-ong meletakkan pemuda yang ditolongnya, dan tangannya meraba tubuh pemuda itu untuk mengetahui keadaannya,

“hmh…..untung pemuda ini memeiliki sin-kang yang lumayan, sehingga dua hantaman ditubuhnya tidak merusak organ dalam.” gumam hati Han-kwi-ong, dan pada saat itu Han-Bouw-

bian siuman dari pingsannya, ia membuka matanya dan samara- samar melihat wajah penolongnya, lambungnya terasa dan nafasnya sesak karena rasa nyeri dipunggungnya

“terimakasih tu…eh ayah !” seru Han-bouw-bian terkejut, Han- kwi-ong terperangah mendengar seruan itu

“heh..apa itu kamu Bian-ji !? sahut Han-kwi-ong dengan wajah pucat

“be..be..hoakkk…” debaran jantung Han-bouw-bian bergerak cepat, oleh karena nafasnya yang sesak membuat dia mentah darah dan pingsan

“Bian-ji…Bian-ji..! teriak Han-kwi-ong gelisah, namun setelah merasakan denyut nadi anaknya, hati Han-kwi-ong lega

“sialan kamu Hek-kai !, awaslah! Jika kita bertemu lagi, akan kupecahkan kepalamu!” umpat hati Han-kwi-ong geram dan marah, kemudian Han-kwi-ong menelungkupkan anaknya, lalu ia menempelkan dua telapak tangannya untuk menyalurkan hawa sakti mengobati putranya, ketika malam tiba, Han-bouw-bian siuman dan melenguh, mendengar suara anaknya, Han-kwi-ong menyudahi penyaluran hawa sakti, dan dengan lembut ia bertanya

“bagaimana rasanya sekarang Bian-ji !?” Han-bouw-bian mengangkay kepala dan berusaha bangkit menatap lelaki yang duduk di sisinya

“ayah….keadaanku sudah membaik dan nafasku tidak lagi sesak, syukurlah ayah datang menolongku.” jawab Han-bouw- bian

„sialan benar si hek-kai yang telah mencelakaimu!” umpat Han- kwi-ong

“apakah ayah kenal kekek bermuka hitam itu ?” tanya Han- bouw-bian heran

“hmh….bisa dikatakan demikianlah nak, tapi walaupun begitu dia harus menerima balasan atas keteledorannya ini.”

“ayah ! kemana saja ayah selama ini, aku sudah lebih setahun meninggalkan ibu dan mencari-cari ayah.” tanya Han-bouw-bian dengan nada memelas dan menuntut

“sudah ! kamu jangan cengeng begitu ! dan ayah sudah ke Huangsan menemui ibumu, dan dari dia kuketahui bahwa kamu sedang mencari-cariku.”

“bagaimana keadaan ibu ayah ?”

“ibumu baik-baik saja, dan sekarang engkau ikut dengan ayah !” “kita hendak kemana ayah ?” tanya Han-bouw-bian sambil berdiri, Han-kwi-ong memegang pundak anaknya

“berjalanlah didepan ayah !” perintah Han-kwi-ong

“kita hendak kemana ayah ?” tanya Han-bouw-bian sambil melangkah menerobos kegelapan hutan

“tujuan kita ke “kui-san” di kota Hehat.” Jawab Han-kwi-ong. Seminggu kemudian ayah dan anak itu sedang istirahat di tepi sebuah sungai sambil makan ikan bakar, setelah merasa kenyang, Han-kwi-ong berkata

“Bian-ji ! sekarang coba kamu tunjukkan kemampuan kamu sekarang !”

“baik ayah.” sahut Han-bouw-bian, lalu kemudian ia bersilat didepan ayahnya, Han-kwi-ong dengan ketajaman pendengarannya menilai kepandaian bela diri anaknya, setelah satu jam Han-bouw-bian memperagakan apa yang di latih dan dipelajarinya, Han-kwi-ong berdiri

“sekarang perhatikan gerakan ayah !” ujar Han-kwi-ong, lalu dia pun bergerak lambat memperagakan ilmu “Bun-liong-sian-pat- hoat” (jurus delapan dewa sastra) secara sempurna, Han-bouw- bian memperhatikan dengan serius, lalu setelah ayahnya selesai, Han-bouw-bian memperagakan ulang, Han-kwi-ong mematung mengerahkan pendengarannya akan semua gerakan anaknya, dan sesekali ia menegur jika ia mendapatkan gerakan yang kuang sempurna, setelah lewat siang Han-kwi-ong menyudahi latihan

“terus kamu latih jurus “bun-liong-sian-pat-hoat” Bian-ji ! setelah itu nanti akan ayah sempurnakan jurus bun-liong-kiam yang belum sempurna kamu pelajari!”

“baik ayah, aku akan giat berlatih.” sahut Bouw-bian, lalu kemudian mereka meninggalkan tempat itu dengan berlari cepat, Han-kwi-ong mengajak anaknya berlomba, walaupun dengan susah payah Han-bouw-bian berusaha terus mengejar ayahnya yang selalu sepuluh tombak didepannya. Tiga minggu kemudiian mereka sampai disebuah lembah di luar kota Taiyuan, Han-bouw-bian kembali melatih jurun tangan kosong naga sastra, dan luar biasa hasil yang dicapai oleh Han- bouw-bian, gerak dan trik rahasia ilmu itu sudah dikuasainya dengan baik, tenaga sin-kangnya semakin meningkat, demikian pula dengan gin-kangnya makin sempurna, seandainya saat ini ia bertemu dengan Hek-kai, pastilah hek-kai akan terkejut setengah mampus merasakan kehebatan Han-bouw-bian, ilmunya yang hanya seperempat bagian itu dan dilatih tanpa bimbingan ayahnya, sudah bisa menghadapinya selama setengah hari, kononlah sekarang.

Ketika istirahat dilembah itu, Han-bouw-bian menerima penyempurnaan ilmu pedangnya, satu ilmu warisan yang telah mengangkat keluarganya menjadi tidak tertandingi, Han-bouw- bian dengan antusias memperhatikan gerakan-gerakan ayahnya yang pada peragaan pertama dilakukan dengan lambat, namun pada peragaan kedua dilakukan dengan luarbiasa cepat, sehingga hanya bayangan saja yang terlihat, rangkaian jurus “bun-liong-sian-kiam” (pedang dewan sastra) sangatlah luar biasa dengan cirri khas kaki depan sebagai tumpuan sementara punggung sejajar bertarik lurus dengan kaki belakang yang terangkat, dan kedua tangan memegang gagang pedang, dan bilah pedang menempati kemiringan empat puluh lima derajat.

Han-bouw-bian tidak bisa tidak berdecak kagum akan kehebatan ilmu yang diperagakan ayahnya, dan setelah Han-kwi-ong berhenti, dengan semangat menyala-nyala, Han-bouw-bian mengulangi gerakan ayahnya, Han-kwi-ong berdiri mematung mendengarkan selruh rangkaian gerakan anaknya, dengan tersenyum puas Han-kwi-ong mengangguk, dan kemudian daya pendengarannya ditingkatkan saat Han-bouw-bian mulai bergerak cepat, dan akhirnya malam pun tiba dan latihan itupun slesai, ayah dan anak itu melewatkan malam dilembah itu, malam itu langit sangat cerah dengan hiasan bulan, cahaya bulan membuat lembah yang luas terbentang menjadi terang.

“selama setahun mencari ayah, kemana saja kamu pergi Bian-ji

? hal apa saja yang kamu alami selain dari pertemuan dengan sikurangajar hek-kai ?” tanya Han-kwi-ong

“tidak banyak tempat yang kudatangi kecuali hanya kota-kota diselatan dan timur, dan hal yang kualami juga tidak seberapa ayah, tapi ada satu yang membuat aku mengalami keprihatinan, jujur aku merasa sedih dan kecewa.” jawab Bouw-bian mengenang pengalaman pahitnya dengan Han-sian-hui “hmh….hal apa yang membuatmu sedih dan kecewa Bian-ji ?”

“aku bertemu dengan seorang gadis, dia cantik sekali ayah.” jawab Han-bouw-bian dengan suara bergetar karena relung batinnya hangat dan rindu, Han-kwi-ong duduk dari sandaran dengan muka serius ia bertanya

“lalu apa yang terjadi, Bian-ji ?”

“dia terlalu sombongan sehingga menolak cintaku !” jawab Han- bouw-bian dengan nada kesal

“apakah sekarang, kamu masih menginginkannya ?” tanya Han- kwi-ong

“tentu ayah, jika seandainya ketika itu ilmuku sudah seperti ini, aku tidak akan menjadi pecundang.”

“heh…! Kenapa kamu berkata demikian !? apakah gadis itu dari kalangan kanguwu dan kamu tidak bisa mengalahkannya ?” tanya Han-kwi-ong heran mendengar kekesalan anaknya, dengan rasa sesal Han-bouw-bian berkata

“gadis itu sangat sakti ayah, gin-kang dan sin-kangnya luar biasa, mungkin saat itu gin-kangnya sepuluh kali lipat di atasku.” Han-kwi-ong kaget, dia tercenung lama sekali sehingga Bouw- bian menatap ayahnya heran dan bertanya

“kenapa ? Kenapa ayah diam ?” Han-kwi-ong menarik nafas panjang balik bertanya

“apakah ada orang dengan gin-kang seperti yang kamu gambarkan itu ? bagaimana kamu sehingga merasa seprti itu ? “masalahnya ayah, saat aku mengejarnya, aku tertinggal jauh sehingga mungkin sampai satu hari ayah.” Jawab Bouw-bian, Han-kwi-ong makin mengerinyitkan keningnya heran sekaligus takjub

“yang memiliki gin-kang seperti itu hanya satu orang Bian-ji.”

Han-bouw-bian menatap lekat wajah ayahnya “apakah mungkin mengenalnya ?”

“orang yang kumaksud bukan seorang gadis tapi laki-laki sudah berumur.”

“siapakah orang itu ayah ?” tanya Bouw-bian penasaran “dia masih ada hubungan dengan kita, maksud ayah adalah Han-fei-lun atau “siauw-taihap” jawab Han-kwi-ong

“mungkinkah gadis itu muridnya ayah ?”

“hmh…itu mungkin saja Bian-ji, lalu siapakah nama gadis itu ?” “namanya Sian-hui , ayah” jawab Han-bouw-bian

“lalu marganya apakah kamu tahu ?”

“marganya aku tidak tahu ayah, saya hanya kenal namanya saja.” “kenapa kamu bisa tidak tahu marganya ?” tanya ayahnya heran “pertemuanku dengan gadis itu hanya dua kali, dan itupun sangat singkat.” jawab Han-bouw-bian, keduanya sejenak terdiam, lalu Bouw-bian berkata

“ayah ! setelah aku menguasai ilmu-ilmu ayah, apakah mungkin aku dapat mengatasinya?”

“itu sudah pasti Bian-ji, berlatihlah yang tekun, bila tiba masanya, kamu akan mendapatkan walaupun dengan kekerasan.” jawab Han-kwi-ong, mendengar jawaban ayahnya, Han-bouw-bian tersenyum dan secercah harapan terbit dalam hatinya, mendengar jawaban pasti dari ayahnya, dan ia bertekad untuk menggali dan mempelajari ilmu-ilmu ayahnya dengan tekun.

Keesokan harinya ayah dan anak itu meninggalkan lembah dan memasuki kota taiyuan, mereka menginap dikota itu selama dua hari, dan saat mereka berjalan ditengah jalan yang dipadati orang-orang yang berlalu lalang, sebuah suara memanggil Han- kwi-ong

“Ong-ko…! Han-kwi-ong berhenti dan membalik badan dan menyahut dengan wajah cerah “kamukah itu Liang-te !?”

“benar Ong-ko, apakah Ong-ko hendak ke kui-san ?” sahut Han- ok-liang mendekati Han-kwi-ong bersama Coa-kim

“hmh…kamu bersama in-sin-ciang rupanya?”

“hihihi….benar Ong-ko! aku kira Ong-ko sudah berada di Kui- san.”

“setelah dari lembah merak aku kembali dulu ke Huangsan.” ujar Han-kwi-ong

“lalu siapakah anak muda ini Ong-ko ?” tanya Han-kwi-ong “hehehe…ini adalah putraku Han-bouw-bian Liang-te.” jawab Han-kwi-ong, lalu yang berkata pada anaknya “nak ! hormat dan sapalah pamanmu!”

“selamat bertemu, dan terimalah hormat dariku paman!” sapa Han-bouw-bian sambil membungkuk

“hahahaha…hahaha….paman merasa senang dapat bertemu denganmu nak!” sahut Han-ok-liang

“apakah kita akan terus berdiri disini Ong-ko ?” sela Coa-kim tersenyum

“dipojok itu ada kedai minum, kita duduk disana sambil minum.” ujar Han-ok-liang, lalu merekapun masuk kedalam kedai

“selamat pagi, silahkan duduk dan tuan-tuan hendak pesan apa

?” tanya pemilik kedai

“kami pesan dua guci arak dan makanan ringan !” ujar Han- bouw-bian

“dan dua mangkok mie ayam.” sela Coa-kim

“baik nyonya !” sahut pemilik kedai dan berbalik menuju ruang belakang, tidak lama kemudian pesanan merekapun datang, setelah pemilik likoan selesai menghidangkan pesanan, ia belalu dan undur diri.

“bagaimana kabar soso di huangsan, Ong-ko ?” tanya Han-ok- liang sambil menyumpit mie ayam dan measukkannya kedalam mulut

“keadaannya baikbaik saja, lalu bagaimana dengan keluargamu di shinyang ?”

“keadaan mereka juga baik-baik Ong-ko, hampir setahun aku berada disana, dan aku tidak perlu khawatir keadaan mereka karena putriku Han-liu-ing yang sekarang menangani hek-liong- piuawkiok .” jawab Han-ok-liang, mendengar nama piuawkiok yang disebut Han-ok-liang, hati Han-bouw-bian sedikit kaget, karena mengingat sebuah piuawkiok yang dijumpainya di kota Beijing, dengan meragu ia berkata

“jika hek-liong-piauwkiok milik paman, berarti saya pernah bertemu dengan putrid paman itu.”

“dimana kamu menemuinya Bian-ji ?” tanya Han-ok-liang “dikota Beijing paman, dan sayangnya kamu bertengkar mulut dengannya, hehehe,,hehehe…” jawab Han-bouw-bian

“loh bagaimana sampai bertengkar mulut. Bian-ji ?” tanya Han- kwi-ong