-->

Sastrawan Cantik Lembah Merak Jilid 3

Jilid 3

Lima puluh jurus kemudian sui-lohap dan hong-lohap terkejut memapaki dua senjata yang pehuh dengan daya sin-kang, dan memang pada serangan ini Han-sian-hui meningkatkan eposan sin-kang sehinga tiga perempat bagian, dan hasilnya ayunan kipas yang mengeluarkan sin-kang dahsyat itu membuat mata kedua lawannya terasa perih, sehingga membuat pertahanan sepersekian detik buyar, dan totolan moupit berkiblat menyerang keduanya tanpa ampun

“tuk…agh…tuk….ugh...” bahu hong-lohap kena totol hingga sendinya tergeser, dan lutut sui-lohap mengalami hal yang sama, dan pada saat yang sama ho-lohap menyerang dan sebuah pukulan jarak jauh menghantam punggung sian-hui, Han-sian-hui berjungkir balik dan mendarat ringan ditanah, wajahnya berubah pucat akibat serangan curang tersebut.

Han-sian-hui menatap ho-lohap dengan tajam, lalu kemudian Han-sian-hui menyerang ho-lohap dengan rangakain dua jurus gabungannya, dan akibatnya ho-lohap tungang langang mempertahankan diri, dia masih bisa bertahan selama dua puluh jurus, dan saat sapuan kipas mengarah mukanya, ia mengelak dengan berjumpalitan namun totolan mouwpit menghantam punggungnya, hong-lohap jatuh bergedebuk ketanah dengan nafas sesak luar biasa, mukanya merah menahan sakit, untungnya kedua rekannya merangsak maju lagi , sehingga

Han-sian-hui kembali sibuk menghadapi dua lawannya, kemudian hong-lohap kembali membalas serangan setelah menguasai dirinya, tiga orang itu dengan gencar menyerang Han-sian-hui.

Pertempuran sengit itu sudah berlalu setengah hari lebih, Han- sian-hui bertahan dari serangan tiga lawan yang kuat menekannya, tiga kakek makin geram dan gemas akan pertempuran yang alot itu, kenapa tidak mereka adalah orang- orang golongan tua kelas atas, sementara lawan mereka seorang gadis muda, terlebih mereka sudah turun bersama, hal ini membuat mereka merasa malu pada orang sekitar sekaligus jerih pada Han-sian-hui.

Senja pun mulai tiba, Han-sian-hui merubah gerakan dua senjatanya dalam rangkaian ilmu “liang-hok-bun-hoat” (jurus sastra penakluk sukma), kali ini tiga lawannya menjadi kebingungan karena jurus itu didasari dengan sin-kang dan gin- kang penuh, sehingga membuat tubuh Han-sian-hui berpindah- pindah dan mengejutkan dengan serangan tidak terduga, sui- lohap yang tidak bisa mengelak ketika serangan tidak terduga muncul dihadapannya

“cras,,,,,auh…eh,,,tuk….hegh…” daun kipas merobek lambung sui-lohap, dan totolan kilat menghantam ulu ati ho-lohap, dua serangan kilat dan tiba-tiba memaksa dua kakek itu keluar dari pertempuran

Ho-lohap ambruk pingsan, sementara sui-lohap limbung dan berusaha duduk di emperan toko sambil memegang luka robek dilambungnya, nafasnya sesak dan mukanya berkerenyit menahan perih, hong-lohap berdiri tertengun melihat dua rekannya, warga yang banyak menonton pertarungan luar biasa itu menatap kagum pada gadis yang berdiri tegap dengan sikap siaga, kipas mengembang didepan dada dan moupit bermain disela-sela lima jarinya, dengan wajah merah hong-lohap menyerang, tapi kali ini sebelum serangan hong-lohap mendekati sian-hui, sian-hui mengambil inisiatif bergerak menyambut, dua senjatanya berkiblat luar biasa, dan tidak pelak dalam tujuh gebrakan, hong-lohap terlempar dua tombak menggerus tanah, mulutnya dua kali memuntahkan darah, luka dalamnya sangat fatal, karena ronnga dalam dada dan perutnya berguncang hebat akibat dua totolan beruntun dari gagang kipas dan mouwpit.

Hong-lohap terduduk mematung, sementara darah terus meleleh dari kedua sudut bibirnya, nafasnya satu-satu, melihat keadaan hong-lohap, sui-lohap memaksakan diri untun mendekat, sebuah pel warna hitam dicekokinya kedalam mulut hong-lohap yang merah karena muntahan darah, setelah menelan pel itu hong- lohap memejamkan mata, dan sui-lohap dengan rasa nyeri merebahkan badan disamping hong-lohap, Han-sian-hui menatap ketiga lawannya

“bagaimana keadaanmu cianpwe ?” tanya Han-sian-hui pada sui-lohap

“hari ini kami kalah, dan satu saat kami akan membalas kekalahan ini kongciak-bi-siucai !” sahut sui-lohap dengan wajah pucat

“cianpwe, ingatlah bahwa kalian sudah tua, seharusnya cianpwe bukan memupuk sakit hati, tapi berusaha memperbaiki diri.” “kongciak-bi-siucai…!” jika kamu demikian pengecut menunggu pembalasan kami, sebaiknya bunuh saja kami..! tidak ada gunanya kamu berkhotbah didepan kami !”

“cianpwe, hati anda demikian sempit, menjebak diri pada hal yang rumit, kepuasan apakah yang didapat dari sebuah dendam, selain dari merebaknya kegelisahan yang tak kunjung padam, kasihanilah diri kalian cianpwe, selamat tinggal !” ujar sian-hui dan meninggalkan tempat itu.

Lima orang pengawal Yo-taijin membawa tiga kakek itu kembali, warga bubar sambil membicarakan peristiwa hebat yang terjadi, orang-orang makin kagum, dan gadis penghuni lembah merak menjadi bahan cerita yang tidak jemu untuk diperbincangkan, julukan yang awalnya beredar dikalangan warga kota tianjin, kini menyebar santer ke seluruh wilayah utara, lembah merak jadi perhatian para kalangan kangowu, penghuninya yang cantik rupawan menarik perhatian, disamping kegagahan dan kesaktian yang menarik kekaguman.

Serombongan piauwkiok berkuda berbaris rapi dan gagah, diatas kereta kuda berkibar dua bendera berwarna putih dan hijau, pada bendera warna putih terpampang tulisan han- piuwkiok dari benang kuning keemasan, dan bendera hijau terlukis pedang tegak dan batang pedang dilingkari lukisan seekor naga dengan sulaman benang emas, didepan Han-bu- seng dan wakilnya membedal kuda mempercepat lari kuda, pintu gerbang kota tianjin sudah nampak dari kejauhan.

Tidak lama kemudian rombongan han-piuawkiok sudah memasuki kota, rombongan itu langsung menuju kantor cabang han-piuawkiok di tengah-tengah kota

“selamat siang pangcu !” sapa pimpinan cabang han-piuwkiok sambil menjura dalam dihadapan Han-bu-seng

“selamat siang Li-te.” sahut Han-bu-seng sambil turun dari kudanya, dan seorang piauwsu membawa kuda Han-bu-seng ke kandang kuda

“kalian antar empat macam barang ke alamat ini !” perintah Han- bu-seng sambil memberikan supucuk gulungan surat, pimpinan cabang segera menerima gulungan itu dan menyerahkan pada wakilnya, lalu ia mengajak han-bu-seng kedalam kantor. “kenapa pangcu yang turun tangan memimpin rombongan ? kemanakah Liu-twako ?”

“barang kawalan kita sangat berharga milik sahabatku Yo-taijin, jadi saya tidak mau ada kekacauan dengan pengirimannya.” jawab Han-bu-seng sambil duduk

“o.. begitu, lalu berapa hari rencana pangcu berada disini ?” “hanya tiga hari, dan nanti malam aku hendak bertemu dengan Yo-taijin.”

“memang pangcu bagus untuk menyambangi Yo-taijin.” sahut Li- wan, Han-bu-seng menatap Li-wan heran

“eh..kenapa kamu berkata demikian, Li-te ? ”

“masalahnya Yo-taijin baru saja sembuh setelah sebulan lebih terbaring.” jawab Li-wan

“apa yang terjadi ? Yo-taijin bukan orang sembarangan Li-te.” sela bu-seng heran

“memang benar pangcu ! Yo-taijin orang sakti disamping orang terpandang, namun hampir dua bulan yang lalu ia dilukai kongciak-bi-siucai.”

“hmh…julukan ini santer saya dengar sampai kekota shijajuang, benarkah orangnya cantik Li-te ?”

“memang benar pangcu, dan juga sangat sakti, bahkan luar biasanya tiga suhu Yo-taijin juga dikalahkannya didepan warga kota.”

“amat memalukan kalau begitu.” ujar Han-bu-seng dengan nada lirih, kemudian ia berdiri dan berkata

“baiklah, saya hendak istirahat, dan bangunkan saya jika sudah sore !” Li-wan mengantar Han-bu-seng sampai kedepan kamar yang memang disediakan khusus bagi Han-bu-seng. Malam harinya Han-bu-seng bersama Li-wan pergi kerumah Yo- taijin, mereka disambut Yo-taijin ramah dan bahkan keduanya berangkulan

“kedatangan Han-taihap sangat membuat hati senang, silahkan duduk han-taihap !”

“terimakasih Yo-taijin, apakah barang titipan sudah sampai ?” “ho…sudah han-taihap dan terimaksih atas kesudian Han-taihap memimpin langsung.”

“memang selain mengawal barang taijin, saya juga hendak menemui taijin.”

“oh ya, ada apa han-taihap, sepertinya penting betul.” tanya Yo- taijin, dan pada saat itu dua orang pelayan datang menghidangkan arak manis dan beberapa macam makanan ringan, setelah kedua pelayan mengundurkan diri, Han-bu-seng menjawab

“boleh dikatakan demikianlah Yo-taijin, hal ini sehubungan dengan apa yang menimpa keluarga saya setahun yang lalu.”

“hmh..berita yang menimpa han-loya di Bicu memang membuat penasaran, lalu apa yang dapat saya Bantu han-taihap ?” “begini Yo-taijin, keluarga saya di bicu tewas semua, dan ayah saya hilang dibawa pelakunya, jadi saya minta sekiranya Yo- taijin dan samwi-cianpwe ikut menyelidiki pelaku pembunuhan keluarga saya tersebut, saya tahu bahwa Yo-taijin memiliki orang-orang cekatan dalam menyelidiki perkara sulit dan misteri seperti ini, dan samwi-cianpwe luas pengetahuan tentang orang- orang kangowu.”

“hal itu bisa saja saya lakukan Han-taihap, tapi saya memiliki rasa penasaran yang mungkin Han-taihap dapat mengatasinya.” ujar Yo-taijin dengan nada harap

“apa yang membuat penasaran itu Yo-taijin ?” tanya Han-bu- seng, Yo-taijin sesaat terdiam dan kemudian berkata

“beberapa bulan yang lalu, saya dipermalukan seorang gadis, dan saya sangat penasaran dengan gadis itu”

“apa kongciak-bi-siucai gadis yang dimaksud Yo-taijin .” sela han-bu-seng

“hmh…Han-taihap ternyata sudah tahu, memang benar dialah yang saya maksud.”

“bagaimana saya mengatasi rasa penasaran Yo-taijin ?” tanya Han-bu-seng

“ilmu keluarga Han-taihap tidak diragukan lagi kehebatannya, dan saya yakin hanya Han-taihap yang dapat mengatasi gadis itu.” jawab Yo-taijin

“saya dengar disamping gadis itu sakti, juga sangat cantik, benarkah Yo-taijin ?”

“memang demikianlah Han-taihap, bermula dari kecantikannya yang luar biasa itu membuat aku berurusan dengannya.” jawab Yo-taijin, Han-bu-seng tersenyum dan berseloroh “hehehe…Yo-taijin memang punya hobi luar biasa.” “hehehe….apa boleh buat Han-taihap, jadi tolong ringkus dan bawalah dia kesini, maka akan aku kerahkan tilik sandi untuk menyelidiki pembunuhan keluarga taihap.”

“hmh…..baik, besok aku akan ke lembah merak untuk membawanya kesini.” ujar Han-bu-seng dengan penuh yakin.

Setelah bercakap-cakap sampai jauh malam, Han-bu-seng dan Li-wan pamit dan kembali kekomplek Han-piuawkiok, ditengah jalan Li-wan yang hanya diam saja sejak bertamu kerumah Yo- taijin tiba-tiba nyelutuk

“semoga saja pangcu akan dapat mengatasi kongciak-bi-siucai

?” Han-bu-seng menghentikan langkah dan menatap Li-wan penasaran

“menurutmu apa aku tidak sanggup Li-te ?”

“aku hanya meragu pangcu, karena ketiga suhu Yo-taijin juga kalah menghadapi kongciak-kok-bi-siucai.”

“hmh..jika tiga cianpwe kalah, wanita ini bukan lawan yang ringan, tapi apakah ilmu keluargaku akan juga mental ? untuk mengetahuinya maka patut untuk dicoba, dan aku juga ingin melihat wajah cantik gadis itu.”

“hehehe…dari tadi penasaran pangcu adalah wajah cantik kongciak-bi-siucai, apa pangcu ingin mendapatkannya ?”

“hahaha…kamu ini bagaimana Li-te, apakah kamu tidak dengar keinginan Yo-taijin, dia masih mengharapkan kongciak-kok-bi- siucai jadi selirnya walaupun sudah dikalahkan.”

“hehehe..saya kira pangcu ketularan Yo-taijin yang tergila-gila pada kecantikan.”

“ah..sudahlah mari kita bergegas..!” ujar Han-bu-seng sambil mempercepat langkahnya, dan tidak berapa lama keduanyapun sampai ke komplek Han-piuwkiok, Han-bu-seng langsung masuk kekamar dan istirahat.

Keesokan harinya Han-bu-seng pergi ke lembah merak, dan sebelum siang hari, Han-bu-seng sampai di depan bangunan besar ditengah lembah, bangunan itu sunyi dan sepi, Han-bu- seng melompati pagar dan melangkah menyusuri halaman yang luas dan penuh tanaman bunga yang ditata rapi dikanan kiri, “sicu siapa dan apa maksud datang kemari ?” sapa sebuah suara lembut, Han-bu-seng terkejut melihat seorang gadis cantik sudah berdiri didepannya, matanya takjub, tatapannya melekat pada wajah anggun didepannya.

“apakah kamu kongciak-kok-bi-siucai ?” tanya Han-bu-seng dengan tatapan takjub, melihat wajah gagah yang masih lekat menatapnya, Han-sian-hui tersenyum dan menjawab

“benar sekali sicu, dan ada urusan apa hingga sicu datang kesini

?”

“aku adalah Han-bu-seng hendak bertemu dengan nona untuk sebuah urusan penting” jawab Han-bu-seng, mendengar nama itu, wajah Han-sian-hui makin cerah dan senyumnya kian lebar, karena orang didepanya ini ternyata adalah saudara seayahnya,

Han-sian-hui bertanya dengan senyum sumigrah

“ada urusan apa twako hendak menemui saya ?” Han-bu-seng yang sombong tidak sedikitpun merasa bahwa gadis didepannya ini adalah adiknya yang lahir di rumah mereka di kota Bicu, dan dengan nada tajam ia berkata

“saya dengar kamu telah mengalahkan dan mempermalukan Yo- taijin.” mendengar urusan yang dibawa kakakknya adalah urusan Yo-taijin, maka dengan heran ia bertanya

“eh… apa hubungannya dengan twako ?”

“Yo-taijin adalah temanku, dan aku diminta tolong olehnya untuk menawarkan hatimu yang telah menolaknya.” jawab Han-bu- seng

“artinya twako akan memaksa saya supaya tunduk pada Yo- taijin, begitukah ?” tanya Han-sian-hui penasaran “benar dan sebaiknya kamu menurut saja, tidak ada kurangnya Yo-taijin karena ia gagah dan terpandang.” Melihat wajah kakaknya yang kaku dan nampak sangat serius, Han-sian-hui tidak dapat menahan ketawanya

“hihihi…seng-ko ini ada-ada saja, memaksa adik sendiri untuk tunduk pada temannya yang hidung belang.”

“heh..! apa maksudmu memanggilku dengan seng-ko ?” tanya Han-bu-seng heran

“hihihi…aku tahu denganmu seng-ko, karena aku adalah Han- sian-hui.”

“hah…Han-sian-hui adik fei-lun !?” teriak Han-bu-seng kaget “benar…! aku adalah adik kandung Lun-ko dan adik seayah Seng-ko.”

“sial…! ternyata kamu Sian-hui, kenapa kamu disini dan tidak di kaifeng ?”

“aku sedang mencari ayah yang diculik orang, dan menurut Lun- ko, aku harus mulai dari sini.” jawab Han-sian-hui

“aneh benar, ayah diculik di kota bicu, malah kamu disuruh kesini, Fei-lun memang gila!” ujar Han-bu-seng mencibir “cukuplah umpatanmu Seng-ko, keketusanmu pada kakak kandungku tidak beralasan, hanya timbul dari iri hati yang menyesatkan.” bantah Han-sian-hui, dengan mata mendelik Han-bu-seng membentak

“tutup mulutmu Sian-hui, kamu tidak berhak menilaiku !” “pergilah dari sini Seng-ko, aku tidak mau berdebat denganmu.” balas Sian-hui sambil mebalik badan, Han-bu-seng makin meradang melihat sikap Han-sian-hui

“heh..tunggu dulu Sian-hui, urusan kita belum selesai !” “Seng-ko, aku tidak punya urusan denganmu, pergilah !” sahut Han-sian-hui dengan nada datar

“enak saja, Yo-taijin sudah engkau celakain dan mempermalukannya !”

“hmh…..apa yang hendak Seng-ko lakukan !?” tanya Han-sian- hui

“memaksamu jika kamu masih bersikeras menolak !” sahut Han- bu-seng tegas

“dengan cara apa Seng-ko hendak memaksaku ? apa Seng-ko hendak bertempur denganku !?”

“benar, jika memang harus demikian.”

“boleh aku tahu kenapa Seng-ko demikian ngotot memaksaku, tentunya ini bukan sekedar teman bukan ?” tanya Han-sian-hui dengan nada menuntut

“ketahuilah Sian-hui, Yo-taijin memeiliki tilik sandi yang handal, jika mereka dapat diajak kerjasama akan sangat membantu mengetahui keberadaan pelaku penculikan ayah.”

“oo, ternyata kalian sudah memiliki kesepakatan, baiklah kalau begitu, lakukanlah niatmu Seng-ko !” sahut Sian-hui dengan sikap tenang dan siaga, Han-bu-seng melakukan serangan pembukaan dengan pedang ditangan, Han-bu-seng tahu bahwa adiknya ini hanya bisa dihadapi dengan ilmu bun-liong-kiam, ilmu yang tidak dimiliki Sian-hui maupun Fei-lun, Sian-hui berkelit cepat, dan serangan mata pedang makin gencar menekan mencari sasaran dan mendobrak pertahanan Sian-hui, walaupun sian-hui diserang dengan ilmu pedang yang belum ada tandingan itu, ia tidak gugup, sin-kang dan gin-kangnya masih jauh diatas Han-bu-seng. Han-sian-hui menghadapi pedang Bu-seng dengan “bun-lie- hoat” (jurus tarian sastra) kibasan dan gerak langkah mementalkan daya serang pedang yang datangnya bertubi-tubi, seratus jurus sudah berlangsung, Han-bu-seng belum mampu mendesak sian-hui, apalagilah untuk melukai, gerakannya mati langkah dan selalu terlambat, dan kadang ia harus merasakan getaran pada dadanya saat pedangnya mental berbalik padanya, untungnya sian-hui tidak berniat mencelakakan saudaranya yang sombong ini, sehingga pertarungan itu berlangsung lama, kalau sian-hui mau, lima puluh jurus pedang ditangan han-bu-seng akan dapat dirampas dan menghajar Han- bu-seng.

Han-sian-hui lebih banyak mengelak dan berkelit, Han-bu-seng yang sombong tidak merasa bahwa adiknya sudah banyak mengalah, dia terus merangsak maju, hingga dua ratus jurus, Han-bu-seng sudah ngos-ngosan karena kelelahan, keringatnya bercucuran karena tenaganya terkuras akibat serangan yang luput atau benturan yang membalikkan tenaganya.

“sebaiknya seng-ko pulang, biar aku lanjutkan pencarian ayah !” “hmh….kamu terlalu menghinaku sian-hui !” bentak Han-bu-seng “susah memang berurusan dengan orang sombong, bawaannya salah mulu, dikasih hati ngelunjak, tak dikasih hati mencak- mencak.” sahut Han-sian-hui

“bangsat…! kamu memang tidak diajari adat oleh kakakmu !” “kakakku demikian telaten mengajariku, dan jangan bicara ngawur tentang kakakku ! kalau mau dihormat tau diri dulu, supaya pertimbangan tidak timpang.”

“sial…! kamu jangan belagu mau mengajari saya, ya!” ancam Han-bu-seng

“saya tidak hendak mengajarimu Seng-ko, untuk apa mengajari orang berlagak pintar.”

“grrrh kuhancurkan mulutmu..!” teriak bu-seng dengan amarah

meletup, ia lalu mempergencar serangannya, Han-sian-hui juga tidak mau memberi hati lagi

“ih…tuk….agh…trang….” pedang ditangan bu-seng sudah berpindah, dan sekali jepit pedang itu terpotong dua dan jatuh ketanah, pergelangan tangan Bu-seng terasa ngilu.

“pulanglah seng-ko !” ujar Sian-hui sambil berbalik dan masuk kedalam rumah, ia lalu menutup pintu, Bu-seng dengan hati mengkal meninggalkan lembah merak, hari itu juga ia meninggalkan kota tianjin bersama rombongan, melihat gelagat kedatangan ketuanya, Li-wan tahu bahwa pangcunya telah kalah, namun dia heran kenapa pangcunya tidak sedikitpun luka, namun ia takut untuk bertanya, saat rombongan Han-bu-seng berkemas, Li-wan juga ikut membantu dan ia melepas rombongan sampai keluar pintu gerbang, Han-bu-seng dan Li- wan tidak tahu bahwa Han-sian-hui mengintai keberangkatan rombongan Han-bu-seng dari jauh.

Pada malam harinya Han-sian-hui memasuki Han-piuawkiok, seorang piuawsu yang berjaga heran, karena gadis muda ini tidak asing baginya, dan hampir seluruh warga kota tahu benar dengan ciri kongciak-kok-bi-siucai

“selamat malam lihap, ada apakah sehinga lihap datang kemari.?” tanya piauwsu itu

“katakan pada Li-pangcu, saya datang hendak bertemu dengannya.” jawab Han-sian-hui “baik..! dan tunggulah sebentar, saya akan laporkan pada Li- twako.” sahut piuawsu, dan segera masuk kedalam, dan tidak lama ia keluar bersama Li-wan.

Li-wan dengan wajah heran bertanya pada tamunya

“ada apakah kongciak-bi-kok-siucai malam-malam datang kesini dan hendak bertemu denganku?”

“Li-twako ! kamu mungkin tidak kenal siapa saya sebenarnya, dan saya juga baru tahu bahwa kalian adalah piauwsu dari Han- piuawkiok setelah bertemu dengan saudara seayah saya.” jawab Han-sian-hui

“apa maksud lihap dengan saudara seayah adalah pangcu Han- bu-seng !?” tanya Li-wan dengan nada meragu

“benar ! saya adalah Han-sian-hui adik kandung dari “siauw- taihap” jawab Han-sian-hui, mendengar jawaban itu, Li-wan langsung merangkap tangan dan membungkuk

“maafkan saya Han-lihap, dan sungguh tidak saya sangkat bahwa adik bengcu yang menjadi kongciak-bi-siucai.” “sudahlah twako, tidak perlu sungkan dan janganlah meminta maaf !” sahut Han-sian-hui

“baiklah Han-lihap, marilah kita masuk dan bicara didalam !” ajak Li-wan, lalu keduanya masuk kedalam rumah, setelah keduanya duduk dan seorang pelayan telah menyuguhkan minuman, Li- wan mempersilahkan Han-sian-hui untuk minum

“apa yang bisa saya bantu Han-lihap ?” tanya Li-wan “apakah Li-twako tahu dengan yo-taijin ?” Han-sian-hui balik bertanya

“tahu persis mungkin tidak Han-lihap” sahut Li-wan “Li-twako ! saat Seng-ko datang ke lembah merak, ia mengatakan bahwa Yo-taijin memiliki tilik sandi yang handal dalam penyelidikan perkara, benarkah itu ?” tanya Han-sian-hui, Li-wan tidak langsung menjawab tapi dia menyeruput tehnya terlebih dahulu

“memang demikianlah katanya Han-lihap, lalu apakah keberadaan lihap disini sehubungan dengan menghilangnya Han-loya dari kota bicu ?”

“benar Li-twako, dan mungkin twako sendiri tahu, bahwa dulu penghuni lembah merak adalah Ang-gan-kwi bersama tiga saudara saya, tapi nyatanya mereka sudah meninggalkan lembah merak.”

“lalu apa hubungan dengan Yo-taijin ?”

“saya ingin tahu kemana perginya tiga saudara saya itu, dan tentunya tilik sandi Yo-taijin bisa memberikan informasi.” jawab Han-sian-hui, Li-wan mengangguk mengerti, lalu berkata

“hal itu mungkin saja han-lihap, dan saya tidak tahu bagaimana sistim kerja dari tilik sandi Yo-taijin tersebut, lalu bagaimana saya bisa membantu ?”

“bagaimana kalau Li-twako menanyakan Yo-taijin tentang kepergian tiga saudara saya itu ?”

“itu tidak mungkin lihap,” sahut Li-wan tegas, mendengar itu Han-sian-hui sedikit kaget dan bertanya penasaran “kenapa tidak mungkin Li-twako ?”

“karena apa yang diminta Yo-taijin pada pangcu tidak berhasil, maka sulit jugalah untuk meminta bantuan Yo-taijin.” Jawab Li- wan

“hmh…apakah Li-twako ikut mendengar kesepakatan Seng-ko dengan Yo-taijin ?”

“benar Han-lihap, kerena semalam saya menemani pangcu membicarakan hal itu dengan Yo-taijin, kami tidak menyangka bahwa kongciak-kok-bi-siucai masih saudara pangcu.”

”Li-twako sendiri apa tidak pernah mendengar desas desus kemana perginya penghuni lembah merak sebelum saya ?” “tidak Han-lihap, bahkan saya tidak tahu bahwa penghuni lembah merak adalah tiga bersaudara Han, yang saya tahu penghuni lembah merak dihuni oleh thian-tin dan terakhir oleh siang-mou-bi-kwi.” jawab Li-wan

“apakah Li-twako mempunyai ide untuk membantu saya, supaya saya mendapatkan informasi tentang penghuni lembah merak sebelumya ?”

“hmh….saya mengenal seorang pengawal dalam Yo-taijin, namanya Cia-jun, dia mungkin mengetahui apa dan bagaimana sepak terjang tilik sandi dari Yo-taijin.”

“bagus kalau begitu Li-twako, dan bisakah twako mempertemukan saya dengan she-Cia itu ?” tanya Han-sian-hui dengan nada gembira

“bisa Han-lihap, marilah kita keluar, rumahnya ada tiga blok dari kediaman Yo-taijin.” jawab Li-wan, lalu keduanya keluar dan menemui Cia-jun, sesampai dirumah Cia-jun, Cia-jun terkejut melihat kedatangan Li-wan dan gadis cantik yang sangat ia kenal, karena gadis ini pernah menumbangkannya saat membela majikannya.

“ada apakah ini Li-twako !?” tanya cia-jun dengan tatapan selidik “Cia-ciangbun tentu tahu dengan kongciak-kok-bi-siucai, bukan

?” “benar dan ini sangat mengagetkan dan mengherankan bagi saya Li-twako.”

“maaf Cia-ciangbun, jika kedatangan saya membuat ciangbun tidak nyaman.” sela Han-sian-hui sambil membungkuk dan merangkap kedua tangan, Cia-jun menatap kongciak-kok-bi- siucai, lalu kemudian bertanya pada Li-wan

“hmh…katakanlah Li-twako, ada urusan apa sehinga kalian datang kemari ?”

“begini Cia-ciangbun, Han-lihap ini ingin minta bantuan tilik sandi Yo-taijin tentang keberadaan penghuni lembah merak sebelum ditempati han-lihap”

“benar ciangbun, dan saya mengharap bantuan ciangbun.” sela Han-sian-hui menambahkan

“tilik sandi itu bekerja penuh rahasia, karena mereka pandai menyamar dan jarang berada dikota ini.” sahut Cia-hun dengan nada datar

“kalau boleh tahu untuk apa tilik sandi ini dibentuk Yo-taijin ?” tanya Han-sian-hui

“sebenarnya tilik sandi itu adalah perintah dari hosiang dikota raja, karena kota tianjin kota besar pertama dibibir pantai yang berbatasan dengan orang korea, jadi mereka dibentuk untuk mengawal kemanan dari penyusup luar.” Jawab Cia-jun

“jadi artinya sulit untuk bisa bertemu dengan mereka, begitukah ciang-bun ?”

“benar lihap, apalagi keberadaan mereka tidak ada yang tahu, kecuali Yo-taijin sendiri, jadi maaf lihap, saya tidak bisa membantu” jawab Cia-jung, Han-sian-hui terdiam dan berpikir langkah yang hendak diambil “bagaimana Han-lihap ? tanya Li-wan memecah kediaman yang terjadi

“yah, mau bagaimana lagi, jalan satu-satunya hanya bertanya pada Yo-taijin.” jawab Han-sian-hui pasrah

“baiklah ciangbun, kami permisi dulu !” ujar Han-sian-hui hendak berdiri

“tungu dulu Kongciak-kok-bi-siucai ! kalau boleh tahu, kenapa begitu penting untuk mengetahui keberadaan penghuni lembah merak ?”

“begini ciangbun ! penghuni lembah merak sebelumnya adalah tiga saudara saya, jadi keberadaan mereka perlu untuk kuketahui sehubungan dengan hilangnya ayah kami dari kota Bicu.” jawab Han-sian-hui terus terang.

“jika ada ide ciangbun, tolonglah Han-lihap, Han-piuawkiok selama ini sangat kehilangan Han-loya yang entah bagaimana nasibnya, saya sendiri tidak mengerti bagaimana Han-lihap seakan mencurigai ketiga saudaranya dengan hilangnya Han- loya, walhal sudah jelas yang bertanggung jawab adalah “toat- beng-kiam-ong” (raja pedang pencabut nyawa.” sela Li-wan penuh harap.

“Han-lihap ! saya sendiri tidak tahu apakah informasi saya ini membantu.”

“apakah itu ciangbun ?” tanya Han-sian-hui dengan wajah cerah “saya pernah melihat Yo-taijin menuju bukit batu, saya tidak tahu urusannya untuk apa kesana, tapi yang jelas setiap Yo-taijin ke bukit batu, dia tidak pernah membawa pengawal.”

“dimanakah bukit batu itu ciangbun ?” tanya Han-sian-hui “bukit batu berada di bagian timur kota.” jawab Cia-jung “terimaksih ciangbun, informasi itu amat membatu bagi saya.” “sama-sama lihap, hanya karena percaya pada Li-twako, saya berani menceritakan hal itu, terlebih urusannya jelas urusan peribadi dan bukan urusan yang menyangkut hal Negara.” “memang demikian ciangbun, saya hanya ingin mengetahui penculikan ayah saya, yang oleh saudara saya menyarankan saya mulai dari lembah merak.”

“benar ciangbun, dan saudara yang dimaksud kongciak-kok-bi- siucai adalah “siauw-taihap”

“oh…begitu, jadi Han-lihap ini adik dari bengcu ?” sela Cia- ciangbun termanggu.

“benar ciangbun, jadi kami pamit dulu dan terimakasih atas informasinya.” ujar Han-sian-hui, lalu keduanya meninggalkan kediaman Cia-ciangbun.

Keesokan harinya Han-sian-hui pergi kebukit batu disebelah timur kota, dan bukit batu itu berada dipinggir laut, menjelang siang hari Han-sian-hui sampai area bukit tandus penuh jurang dan tebing curam, dengan gerakan gesit han-sian-hui mendaki bukit yang tandus dan melintasi tebing batu yang curam dan licin, setelah sekian lama menyelidiki keadaan bukit, Han-sian- hui tiba disebuah jurang yang menganga, dan anehnya ada seutas tali yang membentang dari tempat Han-sian-hui berdiri dengan tepi tebing diseberang sana, kalau orang yang melewati jembatan tali itu tidak memiliki gin-kang yang tinggi maka jelas tidak mampu menyeberanginya.

Han-sian-hui melompat dan dengan ringan menjejakkan kaki di atas tali, dan luar biasanya Han-sian-hui berlari di atas tali dan sekejap saja ia telah sampai di seberang dan memasuki hutan lebat, tapi baru saja ia masuk hutan empat bayangan datang menyerang dan mengurungnya, Han-sian-hui tidak gugup dan berkelit menghindari semua serangan sambil berkata “maaf….saya kesini bukan cari permusuhan.” “kelancanganmu memasuki tempat ini telah membuat permusuhan dengan kami.” sahut seorang dari mereka sambil terus mempergencar serangan.

Namun serangan itu masih kalah cepat dibanding dengan kecepatan Sian-hui, Sian-hui harus membalas kalau tidak mau diserang terus, maka dengan jurus bun-lie-hoat ia bertahan dan menyerang dengan dahsyat, empat orang itu takjub mendapat perlawanan hebat dari Sian-hui, formasi keroyokan mereka jadi sembraut dan tidak terkordinasi, lawan mereka sangat cekatan dan kuat, serangan balasan yang mereka terima juga sangat berbahaya sehingga membuat mereka sibuk, delapan puluh jurus berlalu, dan seorang dari mereka mulai terdesak hebat, tiga serangan datang beruntun untuk mengurangi desakan pada rekan mereka, dan kali itu berhasil, karena Han-sian-hui mengalihkan serangan pada ketiga lawan yang mengurungnya, namun sepuluh gebrakan kemudian, salah seorang yang lain terdesak, dan kembali Sian-hui gagal karena tiga serangan harus ia sambut, dan orang yang kelimpungan itu selamat.

Dan pada kali ketiga, Han-sian-hui kembali mendesak seorang lawannya, tiga serangan datang, dan kali ini Sian-hui bersalto dan menukik laksana burung walet, kedudukan orang yang didesak belum sempurna

“buk..” sebuah tendangan menghantam lambungya sehingga ia terlempar melabrak pohon, tiga rekannya tidak menyangka serangan itu dikelit dan melanjutkan serangan susulan pada rekan mereka yang kelimpungan, ketekejutan itu dengan cepat dimamfaatkan sian-hui menyerang, lawan yang diserang mundur kelabakan, tapi terpojok ke sebuah pohon, dua rekannya hendak membantu, tapi sian-hui melesat kebalik pohon.

“buk…auhg…” sebuah pukulan telak menghantam wajah lawan yang hendak lari menjauhi pohon, mulut orang itu berdarah, dan dia duduk lemas karena kepalanya terasa pening

“maaf cuwi, aku bukan hendak membuat onar disini !” ujar sian- hui keluar dari balik pohon, dua lawannya terkesima melihat gadis muda yang luar biasa ini.

“lalu untuk apa kamu datang kesini !?” tanya seorang yang berkumis tebal

“aku kesini ingin bertemu petugas tilik sandi Negara.” jawab Han-sian-hui

“heh….kongciak-kok-bi-siucai, tahu apa kamu dengan negara, keluarga kalian saja centang perenang.” Bentak lelaki berkumis itu, sesaat Han-sian-hui terdiam karena terkejut mendengar celaan lelaki berkumis yang sepertinya sudah mengenalinya, dan bahkan mencela keluarganya, hal ini membuat hati Sian-hui kagum akan kehandalan para tilik sandi ini, lalu dengan senyum lembut ia berkata

“hihihi…tidak kupungkiri bahwa aku memang tidak tahu dengan urusan negara, dan keluargaku memang memalukan saling siku- sikutan, dan karena itulah aku ingin menjumpai tilik sandi yang amat luas pengetahuannya, bahkan membuat aku terkagum” “untuk apa meladeninya bicara “tung-siok” (sisir selatan)“ sela yang terluka lambungnya dengan ketus

“maafkanlah saya cuwi-hohan, dan tolong berikanlah saya kesempatan untuk bicara, supaya kita tidak berlarut pada kesalah pahaman.” sela Han-sian-hui lembut

“ini adalah tempat rahasia, dan masuknya kamu kesini tidak bisa ditolerir kongciak-kok-bi-siucai !” sela pak-siok (sisir utara) lelaki yang tegak disamping lelaki berkumis yang dipabggil dengan tung-siok

“sicu, sebenarnya aku tidak ingin memaksakan kehendak, walaupun aku mampu melakukannya, tapi tolonglah saya untuk secuil informasi dari sicu semua,”

“hmh…..setelah engkau melukai saya, apakah menurutmu aku akan berbaik hati padamu !?” sela orang yang terluka mulutnya dengan pandangan tajam

“bukan niat saya untuk melukai, sicu sendiri tahu bahwa saya diserang tanpa tedeng aling-aling, dan jika karena itu harapan saya pupus untuk berbicara dengan para sicu, saya dapat maklum, dan saya akan pergi.” sahut sian-hui sambil melangkah keluar dari hutan menuju tebing

“tunggu dulu kongciak-kok-bi-siucai, saya bisa membantu anda, jika kamu juga membantu kami.” ujar pak-siok

“pak-siok ! kamu ini bagaimana sih !?” sela tung-siok heran, demikian juga dua rekannya yang terluka

“tenanglah kalian sobat-sobat, aku ada ide bagus dengan pertukaran ini jika kongciak-kok-bi-siucai setuju.” mendengar jawaban pak-siok, tiga rekannya diam dan mengangguk mengerti

“katakanlah sicu, jika kira-kira sanggup aku akan membantu.” sahut Han-sian-hui

“di pulau ikan ada dua orang penyusup yang membentuk kekuatan untuk merebut kota dalian.”

“lalu apa yang bisa saya bantu sicu ?” tanya Han-sian-hui “ilmu Han-lihap jelas lebih hebat dari kami, jadi bantulah kami menyingkirkan kedua penyusup itu.” jawab pak-siok

“baik saya akan membantu sekuat tenaga jika para sicu juga memberikan informasi yang saya butuhkan”

“bagus kalau begitu, marilah kita kepondok kami untuk membicarakan rencana lebih lanjut.” ujar pak-siok dengan hati gembira, lalu mereka masuk lebih jauh kedalam hutan, ditengah hutan itu ada empat gubuk yang ditempati masing-masing siok, Han-sian-hui di ajak duduk dibalai-balai, dengan nada semangat pak-siok berkata

“sebelum kita membicarakan rencana, ada baiknya kita makan dulu, bukankah kamu sudah lapar kongciak-kok-bi-siucai ?” “benar sicu, dan terimakasih atas penawarannya.” sahut Sian- hui, lalu empat siok itu masuk kepondok masing-masing, dan tidak lama kemudian, mereka keluar sambil membawa makanan, tung-siok menghidangkan makanan berupa nasi dan tumis sayur, serta lauk ikan goreng, juga tidak ketinggalan sepoci teh dan seguci arak manis, mereka makan dibalai-balai ditengah halaman yang dikelilingi empat pondok 

“bagaimana denganmu see-siok (sisir barat) dapatkah engkau makan !?” tanya tung-siok sambil mengisi mangkok nasinya “bagaimana aku bisa mengunyah tung-siok, mulutku terasa nyeri

.” sahut see-siok dengan muka berkerenyit menahan nyeri “kalau begitu kamu makan bubur encer saja, tadi pagi aku memasak bubur nasi, ambillah kedalam gubukku !” sela pak-siok “lalu kamu bagaimana dengan lam-siok (sisisr selatan) ?” “aku tidak apa-apa tung-siok, lambungku sudah tidak nyeri.” jawab lam-siok sambil menyumpit nasinya.

Setelah mereka selesai makan, balai-balai dibersihkan, dan lam- siok mengambil arak dan menuangkan kedalam cangkir, dan saat hendak menuangkan arak ke cangkir Han-sian-hui, Han- sian-hui menolak lembut

“maaf sicu, aku tidak bisa minum arak, jadi aku minum teh saja.” lalu Sian-hui menuangkan teh kedalam cangkirnya.

“baik, sekarang kita bicarakan rencana kita, dan sebelumnya kongciak-kok-bi-siucai, saya akan memperkenalkan diri kami, saya sendiri dipanggil pak-siok, dan ini tung-siok, lalu lam-siok dan see-siok.” ujar pak-siok, Han-sian-hui menjura dan merangkap tangan sambil tersenyum lembut, lalu pak-siok melanjutkan

“perlu Han-lihap ketahui, bahwa rencana ini adalah dadakan, ide ini muncul dibenak saya, setelah mengetahui betapa tingginya ilmu Han-lihap.”

“rekan pak-siok terlalu merendah dan berlebihan memuji saya, dan saya mengucapkan terimakasih pada cuwi semua yang demikian ramah kepada saya, dan ide pertukaran ini sangat menguntungkan bagi kita semua, lalu bagaimana pak-twako, saya siap mendengarkan.” ujar Han-sian-hui, pak-siok meneguk araknya dan berkata

“pulau ikan ini han-lihap tidaklah seberapa besar, tapi penghuni pulau terdiri dari bajak-bajak laut yang sebagian besar adalah orang-orang korea, dan sebagian kecil adalah para bajak dari bangsa kita, para bajak ini awalnya bergerak sendiri-sendiri, namun dua tahun yang lalu dua orang jawara dari korea mengumpulkan mereka di pulau ikan, dua orang itu bernama Kim-seung dan Pak-meong.” Han-sian-hui mendengarkan penuh perhatian, karena pak-siok diam, Han-sian-hui lalu bertanya

“berapa jumlah mereka pak-twako ?”

“sekarang jumlah mereka tidak kurang dari empat ratus orang, dan seminggu yang lalu, kami mengetahui bahwa penghuni pulau ikan akan menyerang kota dalian, lalu rencananya hari ini kami hendak menyampaikan pada Yo-taijin, tapi karena kita bertemu, maka ide meminta bantuanmu jadi alternatif antisipasi gerakan penghuni pulau ikan.” jawab pak-siok

“bukankah sebaiknya tetap disampaikan pada Yo-taijin ?” tanya tung-siok, pak-siok meraih cangkirnya dan meneguk kembali araknya, lalu kemudian ia menjawab

“menurut saya tidak perlu lagi, karena menurut hitung-hitungan, bahwa kekuatan pasukan di tianjin tidak kalah dengan kekuatan seorang seperti kongciak-kok-bi-siucai, bagimana menurut kalian

?” tiga rekannya saling pandang, lalu tung-siok berkata “pemikiran pak-siok ada juga benarnya, dan saya setuju melanjutkan rencana dadakan ini.” see-siok dan lam-siok mengangguk, Han-sian-hui tersenyum sumigrah dan berkata “cuwi-twako terlalu memandang tinggi kepada saya, janganlah demikian twako.”

“hehehe..tapi itu baru salah satu alasan han-lihap.” sela pak- siok, Han-sian-hui menatap pak-siok dengan heran dan senyum yang kian melebar

“memangnya ada alasan lain lagi sehingga pak-twako merasa tidak perlu melapor pada Yo-taijin ?” “benar Han-lihap, dan alasan yang kedua adalah menghemat waktu dan juga menghemat biaya negara.” jawab pak-siok, Han- sian-hui melihat kebanaran alasan itu dan ia pun mengangguk mengerti

“hmh….lalu bagaimana strategi kita menghadapi bajak yang berjumlah empat ratus orang itu ?”

“caranya kita menyusup kepulau ikan.” jawab pak-siok “lalu apakah kemunculan saya tidak akan mengacaukan

penyusupan itu pak-twako ? saya inikan perempuan, dan para bajak semuanya adalah laki-laki kasar yang membawa maunya sendiri.”

“justru karena itu Han-lihap akan mudah masuk ke sana, dan akan memperlancar rencana ini”

“maksudnya bagaimana pak-twako ?” tanya Han-sian-hui heran, pak-siok melihat keheranan Sian-hui, sambil meraih cangkirnya ia menjawab

“para bajak di pulau ikan butuh gadis penghibur, jadi setiap dua minggu semua wanita penghibur di rumah bordil yang berada dipantai dalian menyeberang kepulau ikan, dan sudah kesepakatan antara dua pimpinan pulau nelayan dengan germo rumah bordil itu.”

“lalu bagaimana pak-twako menyusupkan saya kerombongan wanita penghibur itu ?”

“itu bisa diatur, saya mengenal seorang petugas keamanan rumah bordil itu.”

“lalu bagaimana dengan cuwi-twako, apakah ikut masuk ataukah saya sendirian saja ?”

“kami juga akan ikut masuk kedalam pulau.” “hmh….baik, lalu setelah kita sampai di pulau ikan, apa selanjutnya Pak-twako ?”

“sesampai disana tentunya para bajak akan berpesta, dan kecantikan Han-liihap pasti akan menarik perhatian dua pimpinan itu.”

“dan selanjutnya bagaiman pak-twako ?”

“saat keduanya membawa Han-lihap kekamar, tentu Han-lihap tahu apa tindakan selanjutnya.” jawab pak-siok, Han-sian-hui terdiam dan berpikir sejenak

“ada tiga kemungkinan dari misi ini pak-twako, yang pertama berhasil dan penghibur pulang tanpa kekacauan, yang kedua misi berhasil tapi bisa jadi terjadi kekacauan, dan yang ketiga misi gagal dan terjadi kekacauan.”

“tiga kemungkinan itu bisa jadi, jika kemungkinan kedua dan ketiga yang terjadi, kita bisa menghindari kekacauan melarikan diri ke pantai sebelah selatan pulau ikan, disana ada perahu untuk menyeberangkan kita kembali ke kota dalian.”

“baiklah, sepertinya pak-twako sudah cermat dalam rencana dadakan ini, dan kapan kita akan bergerak ?”

“hari ini juga kita akan berangkat kekota dalian.” jawab pak-siok “bagaimana dengan see-twako ?” tanya Han-sian-hui sambil memandang pada see-siok

“saya tidak apa-apa han-lihap, besok memar ini akan berangsur sembuh.” sahut see-siok.

“jika sudah sepakat mari kita berangkat..!” sela tung-siok, lalu merekapun berkelabat dari tempat itu menuju pantai, dengan dua buah perahu mereka menyusuri garis pantai menuju kota dalian. Keesokan harinya mereka sampai dikota Dalian, pak-siok menuju rumah kenalannya, sementara tung-siok dan yang lainnya menuju penginapan, dan menjelang siang pak-siok tiba dipenginapan

“bagaimana pak-siok ?” tanya lam-siok

“saya sudah bertemu dengan petugas itu, dan katanya dua hari lagi para penghibur akan berangkat ke pulau ikan, dan dia juga sudah menyanggupi menyusupkan kita berlima dalam rombongan, tapi kita harus menyamar”

“memang kenapa pak-siok ?” tanya tung-siok

“kalau kita tidak menyamar jadi perempuan, kita tidak bisa masuk kekapal, karena kapal yang hendak menyeberangkan para penghibur adalah kapal bajak laut, jadi untuk mengatasinya kita akan menyamar jadi perempuan.” jawab pak-siok, dan tiga rekannya mengangguk, dalam hati Han-sian-hui tertawa membayangkan empat orang siok ini berdandan perempuan.

Dua hari kemudian empat siok keluar dari kamar mereka, dan demikian juga dengan Han-sian-hui, ketika melihat empat siok han-sian-hui tidak dapat menahan tawanya

“hihihi….empat twako memang luar biasa.” puji sian-hui melihat empat siok sudah cantik dengan dadanan yang apik “bagaimana menurutmu han-lihap ?” tanya tung-siok sambil berjalan dan memutar lemah gemulai , Han-sian-hui tersenyum dan juga takjub, bukan hanya dandanan yang berubah, tapi suara itu juga berubah, sian-hui geleng-geleng kepala sambil tersenyum

“hihihi…aku benar-benar pangling, siapakah twako ini ?” “hihihih…aku tung-siok.” sahut tungsiok, tiga rekannya tertawa mengikik, lalu merekapun keluar dari penginapan menuju rumah bordil.

Kapal bajak sudah bersandar, dan beberapa wanita sudah ada yang naik ke atas kapal

“bagaimana jiauw-te..?” bisik pak-siok pada seorang lelaki tinggi besar dan mukanya bercodet, lelaki itu berpaling dan menatap lekat pak-sok yang tersenyum

“apakah Ma-twako ?” tanya petugas itu meragu

“benar, dan ini empat rekanku yang kuceritakan padamu.” Jawab pak-siok, petugas itu melihat empat teman pak-siok, dan matanya berbinar takjub saat melihat wajah Han-sian-hui yang anggun

“mari ikuti saya Ma-twako dan juga yang lain-lain.” ujar jiauw, lima gadis cantik itu mengikuti jiauw, jiuaw membawa mereka kesebuah ruangan yang penuh dengan para wanita penghibur “bergabunglah dengan mereka Ma-twako, sebentar lagi wanita yang berada di ruangan ini akan dipanggil, dan saat kalian ditanya dari ruangan apa, sebut ruangan ang-hoa.” ujar jiauw, pak-siok mengangguk, kemudian jiuaw meninggalkan mereka.

Tidak lama kemudian seorang lelaki tua berbadan kurus masuk ruangan, matanya yang cekung jelalatan melihat wanita-wanita didepannya dan hidungnya kembang kempis menghidu aroma wangi yang menyeruak dari tubuh wanita-waniat penghibur “semuanya baris dan berjalan kesini !” teriaknya, lalu semua wanita berbaris, dan kemudian berjalan beriring mendekati lelaki kurus itu

“kamu dari ruang mana ?” tanyanya sambil senyum pringas pringis seperti monyet mencium terasi “saya dari ruang jeng-hoa…” jawab wanita itu dengan suara manja, lalu ia melihat pada daftar ditanganya dan membuat tanda.

“sudah kamu keluar dan naik kekapal !” perintahnya, dan wanita itu pun keluar

“selanjutnya !” teriak lelaki itu, lalu gadis dibelakang gadis tadi mendekat

“ruang mana !?” tanya lelaki itu singkat

“ruang jeng-hoa.” jawab gadis itu dengan senyum genit “lanjut…!” teriak lelaki itu setelah menyuruh wanita itu keluar, hampir setengah jam juga pemanggilan itu berlangsung hingga semuanya naik ketas kapal.

Menjelang siang kapal pun berangkat menuju pulau ikan, perjalanan itu hanya setengah hari, dan pada saat sore kapalpun sampai di pulau ikan, semunya turun disambut sorak sorai para bajak yang blingsatan, para wanita itu di giring kesebuah bangunan besar, hanya setengah jam mereka istirahat, karena pesta pun digelar, seratus wanita di bariskan didepan, dua orang lelaki paruh baya duduk keren di tingkat atas, mata mereka menatap barisan wanita itu sambil senyam senyum “seong…wanita itu luar biasa cantik !” ujar pak-meong sambil menunjuk pada Han-sian-hui

“benar….meong, sepertinya itu barang baru.” sahut Kim-seong, lalu ia berbisik pada seorang bajak yang berdiri dibelakang mereka, lelaki itu mengangguk dan kemudian turun dan mendekati Han-sian-hui

“kamu ikut saya !” perintahnya, Sian-hui keluar dari barisan dan mengikuti lelaki itu “kamu juga ikut saya !” ujar lelaki itu pada seorang wanita cantik berpakaian hijau, wanita itu mengangguk dan mengikuti lelaki itu bersama sian-hui, keduanya dibawa ke atas, setelah sampai diatas, pak-meong meraih tangan dan memeluk bahu Han-sian- hui sambil tertawa nakal, Han-sian-hui mandah saja, kemudian Kim-seong berteriak sambil memeluk wanita cantik berbaju hijau “mari kita berpesta…! kita berpesta sampai pagi !” teriakan Kim- seong disambut sorak sorai para bajak, lalu kedua pimpinan itu berlalu, Han-sian-hui digandeng Pak-meong dan wanita satu lagi digandeng Kim-seong, mereka memasuki kekamar yang sama.

“heheh…kalian buka pakaian dan menarilah !” perintah Kim- seong sambil duduk dikursi, Pak-meong pun duduk disampingnya dengan senyum dan nafas yang agak memburu, wanita berpakaian hijau sudah membuka kancing bajunya, Han- sian-hui hanya diam menatap kedua pimpinan itu dengan tajam “kamu kenapa masih diam !?” bentak pak-seong dengan wajah tidak senang

“aku mau kamu yang membuka pakaianku !” sahut sian-hui, mendengar itu wajah yang tadi merah berubah menjadi cerah “hehehe….kamu makin membuat aku bergairah cantik.” ujar pak-meong sambil berdiri dan melangkah mendekati Sian-hui, tangannya yang besar terulur untuk meremas buah dada Sian- hui, namun sebelum niat itu kesampaian, Sian-hui menagkap tangan itu dan

“krak…auh…bugh…hegh…” pergelangan tangan pak-meong patah dan dadanya dihantam telak pukulan sian-hui, tubuhnya terlempar dan ambruk sambil memuntahkan darah, Kim-seong terkejut, dan langsung menyerang sian-hui dengan marah, namun sian-hui tidak mau menunda, tangan Kim-seong yang hendak mencengkram itu ditangkap dan dipatahkan tulang sendinya oleh Han-sian-hui, dan ditambah sebuah pukulan telak menghantam dada Kim-seong, tampa bersambat Kim-seong ambruk pingsan menghantam kursi.

Wanita berpakain hijau terbeliak pucat dan meringkuk di sudut ranjang, Han-sian-hui sambil senyum lembut menatap wanita itu dan berkata

“cici,,,tidak usah takut, anggap saja tidak ada yang terjadi, silahkan cici rebahan diranjang, saya hendak melanjutkan pekerjaan saya.” wanita itu segera bergeser dan berbaring, namun wanita itu duduk kembali melihat apa yang akan dilakukan oleh gadis yang mengejutkan itu.

Han-sian-hui menotok dua pimpinan dan kemudian ia naik ke atas ranjang, wanita itu dengan cepat rebahan karena melihat Han-sian-hui naik ke atas ranjang, keduanya berbaring, hati wanita berpakaian hijau itu berdebar dan takut pada Han-sian- hui, Han-sian-hui tersenyum sambil berkata lembut

“cici ! aku tidak akan mencelakakanmu, jadi jangan takut.” Melihat senyum itu, wanita itu sedikit lega dan bertanya “kamu siapa sebenarnya, kenapa kamu merobohkan dua pimpinan pulau ikan ini ?”

“aku Han-sian-hui, dan aku sedang melaksanakan tugas negara, dua orang korea ini hendak merebut kota dalian, jadi niat mereka itu harus dihentikan.” Jawab Han-sian-hui

“setelah mereka roboh, apa yang kita lakukan disini ?”

“kita menunggu sampai larut malam, jadi cici tidurlah, bukankah kita masih merasa capek.” sahut Han-sian-hui, lalu keduanya diam membisu “aku tidak bisa tidur sian-moi.” ujar wanita itu sambil membalik badan sehingga keduanya berhadapan, Han-sian-hui membuka matanya dan dengan senyum lembut ia berkata

“hmh…baik, siapakah namamu cici dan bagaimana cici bekerja seperti ini ?”

“namaku Kao-lian, dan sudah nasibku sehingga aku melakukan pekerjaan ini.”

“nasib ? nasib apa yang dialami Lian-cici ?”

“sejak umur delapan belas tahun aku diculik dari kampungku.” “siapa yang menculikmu cici ?”

“aku diculik perampok yang membumi hanguskan kampung kami, lalu setelah aku dipermainkan, aku dijual pada germo pemilik bordil pantai dalian.” Jawab Kao-lian dengan nada sedih mengenang keadaannya

“sudah berapa lama cici berada di rumah bordil ?” tanya Han- sian-hui

“sudah empat tahun lebih.” jawab Kao-lian singkat

“hmh….bagaimana kehidupan germo yang memelihara kalian ?” tanya Han-sian-hui, pertanyaan itu membuat Kao-lian heran dan menatap lekat wajah Han-sian-hui, tapi melihat mata Han-sian- hui nampak serius dan menuntut jawaban, maka Kao-lian menjawab

“germo kami sangat kaya, dia banyak kenal orang-orang kaya dan pejabat pemerintah.”

“lalau bagaimana kerja sama dengan dua orang korea ini ?” “setiap kami pulang, germo mendapat satu kantong barang kemas berupa emas dan mutiara.” jawab Kao-lian, lalu keduanya terdiam, Han-sian-hui berpikir sejenak lalu kemudian bertanya “apakah cici tahu darimana para bajak ini memiliki harta sebanyak itu ?”

“tentulah hasil dari merampok kapal-kapal pesiar orang kaya, dan pernah ketika saya melayani Kim-seong, ia yang dalam keadaan mabuk menyebutkan penyimpanan harta mereka.” “dimanakah tempat itu cici ?” tanya Han-sian makin bersemangat

“apa yang hendak kamu lakukan hui-moi ?” tanya Kao-lian heran “mungkin dengan harta itu kalian semua dapat diselamatkan dari pekerjaan yang tidak layak ini.” jawab Han-sian-hui, Kao-lian menatap Han-sian-hui dengan hati ragu

“jangan takut dan ragu Kao-cici, jika kita dapatkan harta itu, akan menjadi kesempatan bagi kalian untuk merubah keadaan.” kata Han-sian-hui meyakinkan

“tapi bagaimana dengan para bajak dan kedua orang ini ?”

“tentang mereka ini serahkan saja padaku, jadi katakanlah cici !” jawab Han-sian-hui sambil tersenyum, sejenak Kao-lian terdiam, lalu kemudian berkata

“katanya harta mereka ada di pemakaman selatan pulau, harta itu dipendam dalam sebuah makam bernisan dengan lukisan matahari.”

“baik kalau begitu, cici tenang saja dikamar ini, dua orang itu tidak akan siuman sampai pagi, saya akan kepemakaman itu.” ujar Han-sian-hui, dan dengan ringan ia keluar dari jendela dan melenting ke atas atap, suasana diluar hening, dengan gesit Han-sian-hui berlari menuju selatan pulau, dan dia mencari-cari areal pemakaman, dan tidak lama kemudian ia mendapatkan areal pemakaman tersebut, lalu ia menjelajah areal pemakaman mencari makam bernisan dengan lukisan matahari, dan tidak lama makam itupun ditemui dibagian pinggir pemakaman. Han-sian-hui segera membongkar makam itu, dan ternyata didalam adalah ruang bawah tanah, Han-sian-hui masuk kedalam dengan menuruni sebuah tangga kayu, dibawah tangga ada sebuah lorong sepenjang sepuluh meter, Han-sian-hui menyalakan obor yang tergantung dididnding lorong, dan kemudian berjalan memasuki lorong, lorong itu berakhir pada sebuah ruangan berisi lima belas peti kayu berukuran sedang, lalu Han-sian-hui membuka sebuah peti, matanya takjub melihat kilauan emas dan mutiara, kemudian ia membuka semua peti dan semuanya berisi emas dan mutiara, lalu dengan cepat dia menutup kembali semua peti.

Setelah Han-sian-hui menutup kembali lima belas peti itu, lalu ia bekerja cepat mengeluarkan semua peti dari ruang bawah tanah, hanya dalam waktu satu jam semua peti telah berhasil dikeluarkan, lalu empat peti diangkat dengan mudah, masing- masing dua tumpuk ditangan kanan dan kiri, Han-sian-hui berlari menuju pantai, sesampai di pantai, Han-sian-hui mencari goa dimana perahu pak-siok yang disembunyikan, setelah goa itu ditemukan ia meletakkan empat peti, lalu ia kembali lagi kepemakaman dan mengangkat enam peti dan membawanya kedalam goa, dan yang terakhir lima peti, dan dalam waktu tiga jam, lima belas peti sudah berada didalam goa.

Han-sian-hui kembali keperkampungan dan masuk kembali kedalam kamar, Kao-lian terkejut ketika sian-hui muncul membuka jendela, ia lalu duduk dan bertanya

“ba..bagaimana Hui-moi, apakah kamu menemukan harta itu ?” “aku berhasil Lian-cici, dan tetaplah disini !” jawab sian-hui, lalu ia menyobek tirai jendela, lalu mengambil moupitnya, kemudian ia menulis kalimat diatas perca kain bekas tirai itu, setelah itu ia mengangkat kedua pimpinan yang masih pingsan, dua tubuhnya melesat lewat jendela, Han-sian-hui membawa kedua pimpinan itu kedalam ruang bawah tanah tempat penyimpanan harta, keduanya dibaringkan dan perca kain itu diletakkan didada pak- meong, kemudian ia keluar dan kembali keperkampungan.

Saat terang tanah, Han-sian-hui sampai keperkampungan, keadaan masih sepi karena semua orang masih lelap dalam ruangan yang centang perenang oleh pesta mesum dan mabuk- mabukan semalam suntuk, Han-sian-hui memasuki dapur dan menyulut api membakar ruangan tersebut, setelah api agak besar

“api…!” teriaknya, dan kontan orang-orang yang terlelap didalam ruangan terkejut bangun, asap tebal yang masuk keruangan membuat semua panik, mereka berserambutan keluar sambil berteriak

“semua wanita penghibur segera menuju pelantaran !” terdengar teriak Han-sian-hui dari gerbang pagar bangunan, para wanita segera berlarian menuju pelantaran, diantara para wanita itu empat siok juga mengikuti iringan wanita yang berlarian menuju pelantaran, mereka mendekati Han-sian-hui

“apa yang kamu lakukan Han-lihap !?” tanya tung-siok heran “nanti akan kujelaskan, sekarang kita harus menguasai kapal untuk mengangkut semua wanita twako !” jawab Sian-hui, para bajak yang berada dipantai segera menyambut dan berteriak “Apa yang terjadi !?” tanya seorang bajak dengan heran melihat orang berlarian ke arah kapal

“ada kebakaran ..! jawab seorang wanita paling depan “kalian tidak boleh kemana-mana !” teriaknya tegas sambil mencabut goloknya, dua puluh bajak yang menjaga pantai berdiri mencegat dengan muka sangar.

Tiba-tiba empat siok dan sian-hui bergerak maju kedepan, serangan mereka demikian cepat, dua puluh bajak yang tidak mengira akan ada lima wanita menyerang menjadi terkesiap, mereka menyambut lima wanita itu dengan pedang dan golok, tapi lima orang itu bukan tandingan mereka, dan dalam lima gebrakan dua puluh orang itu terjungkal dan terlempar kelaut “kalian semua naik keatas kapal !” perintah Sian-hui, para wanita itupun berlarian naik keatas kapal

“Lian cici ! tolong diteliti apakah semuanya sudah menaiki kapal

!” ujar Sian-hui pada Kao-lian, Kao-lian mengangguk lalu ia pun menghitung teman-temanya, sementara Kao-lian menghitung, para bajak di tengah pulau sibuk memadamkan api yang telah melahap hampir setengan bangunan besar itu.

Setelah menghitung semua, Kao-lian mendekati Han-sian-hui untuk melaporkan

“bagaimana Lian-cici ?” tanya Sian-hui

“semuanya sudah naik keatas kapal Hui-moi.” jawab Kao-lian “bagus kalau begitu.” ujar Han-sian hui, lalu ia berpaling pada pak-siok dan berkata “pak-twako ! mari kita berangkat dan pertama sekali kita menuju arah selatan pulau dulu, tempat pak- twako menyembunyikan perahu” pak-siok dan lam-siok saling berpandangan, lalu mereka segera menarik jangkar dan melepas ikatan kapal dari pelantaran, see-siok mengemudikan kapal menyisir pantai menuju selatan pulau. “sekarang ceritakan apa yang telah terjadi, apakah misi kita berhasil, kongciak-kok-bi-siucai ?” tanya tung-siok

“misi kita berhasil tung-twako.” jawab Han-sian-hui dengan senyum

“lalu kenapa ada kekacauan seperti ini ?” sela pak-siok

“karena saya ingin menyelamatkan mereka ini.” jawab Han-sian- hui sambil menunjuk kerumunan gadis penghibur, dan kemudian melanjutkan perkataannya “menyelamatkan mereka tidak hanya dari pulau ini, tapi juga dari cengkraman germo mereka.”

“maksudmu bagaimana Han-lihap ?” tanya tung-siok tidak mengerti

“mari kita bicara dengan mereka tung-twako !” ujar Sian-hui, lalu mereka mendekati para wanita penghibur, lalu Han-sin-hui berkata

“teman-teman sekalian ! cara kita keluar dari pulau ini tentu mengejutkan kalian, dan aku minta maaf atas ketidak nymanan ini, aku berbuat demikian karena aku melihat peluang bagi kalian untuk hidup layak dan terhormat.”

“maksudnya bagaiamana…” tanya para wanita susul menyusul sehingga suasana sedikit ribut, Han-sian-hui melambaikan tangan untuk meminta mereka tenang, dan lalu berkata

“dari cerita Lian cici ini ! aku tahu bahwa kalian tidak ingin hidup seperti ini bukan ? jadi semalam aku mendapatkan harta milik para bajak, dan harta itu lebih dari cukup jika kalian ingin merubah nasib, maukah kalian !?”

“mau..mau….mau…” sahut mereka susul menyusul, lalu Han- sian-hui kembali mengangkat tangan untuk mengembalikan suasana “baik, sebentar lagi harta itu akan kita ambil, jadi bersabarlah !” ujar Sian-hui, semuanya menatap kagum pada sian-hui dan mereka saling berbisik diantara mereka

“lalu apakah para bajak tidak akan memburu kita ?” tanya seorang wanita dengan nada cemas

“tidak cici,, para bajak tidak akan mengejar kita.” jawab Han- sian-hui tegas

“bagaimana kamu demikian yakin Han-lihap ?” sela lam-siok “karena dua pimpinan mereka akan putus asa dengan hilangnya harta tersebut, dan juga aku telah mewanti-wanti keduanya.” jawab Han-sian-hui

“kita sudah sampai Han-lihap !” seru see-siok dari jendela ruang kemudi

“benar ! mari kita angkat harta itu pak-twako !” ujar Sian-hui sambil melompat dari atas kapal, dan para wanita terkejut dan meleletkan lidah karena mereka melihat Sian-hui berlari diatas permukaan air menuju pantai, empat siok juga melonggo melihat atraksi gin-kang yang luar biasa itu, lalu tiga siok menurunkan tiga sekoci, lalu turun dan mendayung cepat menuju pantai, ditepi pantai Han-sian-hui dan tiga siok menaikkan peti kedalam sekoci, tiga sekoci mengangkut lima belas peti dan menyeberangkannya keatas kapal.

Setelah semuanya naik ke atas kapal, maka kapal kembali bergerak menjauhi pantai, mereka semua berkumpul mengelilingi tumpukan peti harta, dan Han-sian-hui berkata “nah….inilah hartanya, dan saya akan membaginya kepada kalian semua, sehingga kalian bebas dari cengkraman germo selama ini, dan kalian juga bisa menjalani hidup layak. “bagaimana caramu membaginya Han-lihap ?” sela pak-siok “menurut pak-twako bagaimana bagusnya, sekarang aku serahkan pada pak-twako.”

“ah,.. tidak Han-lihap, karena kamu yang mendapatkan harta itu, kamu sajalah yang membaginya?”

“baik kalau begitu pak-twako.!” sahut Han-sian-hui, lalu beralih kepada para wanita yang menatapnya dengan pandangan kagum dan wajah gembira

“Lian-cici, berapa jumlah kalian semua ?” tanya Han-sian-hui “seratus dua puluh orang Hui-moi.” Jawab Kalo-lian

“baik, masing-masing akan diberikan tiga ratus keping uang emas dan lima puluh mutiara.” ujar Sian-hui, para wanita berteriak-teriak kegirangan dan bahkan ada yang saling berpelukan, lalu Han-sian-hui dibantu tiga siok membagi harta tersebut, pembagian itu pun selesai, dan harta masih tersisa tujuh peti lagi

“lalu berapa orangkah tenaga pengawal yang bekerja di tempat bordil ?” tanya Sian-hui, para wanita saling pandang dan berisik “jumlahnya ada empat puluh orang.” jawab seorang wanita berumur tiga puluh delapan tahun, dan diantara mereka, wanita itulah yang tertua, Han-sian-hui berkata pada pak-siok

“pak-twako ! karena pak-twako mengenal seorang dari mereka, maka saya harap pak-twako sudi memberikan bagian itu kepada mereka.”

“baik han-lihap, berapakah bagian mereka ?”

“masing-masing akan diberi dua ratus keping uang emas dan dua puluh lima mutiara.” jawab Sian-hui, lalu merekapun mengambil bagian para pekerja sehingga tersisa lima peti. “lalu bagaimana dengan yang lima petinya lagi Han-lihap ?” tanya lam-siok

“empat peti saya serahkan pada empat twako, mau diapakan terserah pada empat twako.” jawab Han-sian-hui

“lalu yang satu peti lagi ?” tanya tung-siok

“yang satu peti akan saya serahkan pada germo sebagai tebusan dari semua teman-teman ini.” jawab Han-sian-hui, mendengar jawaban itu empat siok terkejut

“menurut saya tidak demikian Han-lihap.” sela pak-siok tegas,

Han-sian-hui menatap lekat pak-siok, lalu ia bertanya “jadi bagaimana menurut pak-twako ?”

“serahkanlah satu peti untuk si germo sebagai tebusan, dan ambil dua peti untukmu, dan dua peti untuk kami.” jawab pak- siok

“benar Han-lihap, aku setuju dengan pemikiran pak-siok, sebagai penghuni lembah merak, bangunan sebesar itu perlu tenaga perawatan.” sela tung-siok menambahkan

“baiklah pak-twako, tung-twako, pemikiran tung-twako ada benarnya juga.” sahut Han-sian-hui.

Menjelang sore kapal itu merapat kedermaga, dan semua penumpang kapal turun, sementara di dalam makam dua pimpinan tersadar dari pingsannya, pak-meong bangkit dan heran karena sadar-sadar telah berada di tempat penyimpanan harta yang sudah kosong, tidak lama kemudian kim-seong mengeluh dan membuka matanya

“eh kenapa kita ada disini meong !?” tanya kim-seong heran “entahlah, aku juga bingung, tapi yang jelas wanita itu telah mempermainkan kita.” Jawab pak-seong sambil berdiri, dan kain perca didadanya jatuh “eh..itu apa meong ?” tanya kim-seong melihat perca kain yang jatuh di atas tanah, pak-meong mengambil perca kain itu dan membaca kalimat yang tertulis diatasnya

Pak-meong dan Kim-seong !

rencana kalian untuk merebut kota dalian sudah buntu, kalian tidak lagi punya modal untuk itu, jadi saran saya pulanglah kembali dan jangan mengganggu, jika kalian tidak menuruti kata- kataku, maka kalian akan berurusan denganku.

kongciak-kok-bi-siucai

“sialan kamu kongciak-kok-bi-siucai… !” teriak Kim-seong dengan hati geram dan marah

“hmh…ternyata wanita itu adalah kongciak-kok-bi-siucai, kita harus membalas perbuatannya dan mengambil kembali harta kita.” ujar Pak-seong dengan nada bergetar menahan marah, sesaat mereka diam dan memikirkan kejadian yang menimpa mereka

“tapi apakah kita akan sanggup mengalahkannya Kim-seong ?” tanya pak-seong meragu, Kim-seong terdiam dan hatinya juga kecut jika membayangkan bagaimana mereka pingsan hanya dalam satu gebrakan, karena Kim-seong terdiam dan tidak menjawab, Pak-seong bertanya lagi

“apa yang akan kita lakukan seong ?” Kim-seong mendesah panjang sambil berkata

“pupuslah sudah rencana kita, harta sudah habis dan mungkin pasukan kita sudah porak-poranda.”

“sebaiknya kita keluar dan melihat keadaan pulau.” ujar Pak- meong, lalu keduanya hendak berdiri, namun keduanya mengeluh merasakan dada mereka sakit sekali

“ahg..dadaku saklit sekali, pergelangan tanganku nyeri sekali, bagaimana denganmu Seong ?” rintih Pak-meong

“aku juga mengalami hal yang sama, dadaku sakit dan pergelangan tanganku patah.”

sahut Kim-seong.

Keduanya tertatih-tatih keluar dari dalam makam, dan saat keluar, mereka mendapatkan hari sudah sore

“kita benar-benar telah dipecundangi kongciak-kok-bi-siucai.” keluh Kim-seong sendu, lalu keduanya dengan tersaruk-saruk meninggalkan pemakaman menuju tengah pulau, dan saat larut malam, merekapun sampai ditengah pulau, para bajak heran melihat kedua pimpinan mereka yang datang tertatih-tatih “pangcu-ji ! ada apa dan darimana dua pangcu, bangunan kediaman pangcu telah terbakar habis.” tanya seorang bajak berbadan kekar

“sial…! kita benar-benar telah dihabisi !” umpat Pak-meong geram, Kim-seong lalu berkata pada bajak berbadan kekar itu “ceritakan apa yang terjadi sehingga kediaman kami terbakar !” “kami juga tidak tahu, saat terang tanah kami bangun api sudah melahap bangunan bagian dapur, hingga semua panik, para wanita berlarian menuju pelantaran.”

“kalian tidak melihat wanita yang membuat kacau pulau ini ?” tanya Pak-seong

“kami tidak tahu pangcu, apakah wanita yang telah mengacau tempat kita ?”

“benar, wanita itu adalah kongciak-kok-bi-siucai.” jawab Pak- seong geram “julukan itu sangat santer dibicarakan pangcu, lalu apa yang akan kita lakukan ?”

“hmh….bagaimana Seong ?” tanya Pak-meong

“kami tidak tahu lagi, modal untuk membiayai rencana kita juga telah diambil olehnya.” sahut kim-seong, para bajak terdiam dan tercenung, mereka tidak menyangka bahwa dua ketua mereka yang sakti dengan mudah dipermainkan kongciak-kok-bi-siucai, makin kecut hati mereka dengan julukan yang memang akhir- akhir ini hangat dibicarakan orang-orang.

Sementara itu di kediaman germo Lai-bo, Han-sian-hui muncul tiba-tiba, sehingga membuat Lai-bo kaget dan pucat

“si..siapa kamu !” tanya Lai-bo terkejut melihat wanita cantik membawa sebuah peti besar, Han-sian-hui menatap germo itu dengan tajam

“aku adalah kongciak-kok-bi-siucai, dan aku hendak bicara denganmu Lai-bo !” jawab Han-sian-hui, mendengar bahwa wanita didepannya adalah pendekar yang namanya santer dibicarakan, hati Lai-bo bergetar ketakutan

“ada apa, apa yang kamu bicarakan !?” tanya Lai-bo makin gelisah dan takut

“aku minta kepada Lai-bo untuk melepaskan semua wanita dan menutup bordil ini.” jawab Han-sian-hui

“ti..tidak a..aku akan mengalami kerugian.” bantah Lai-bo dengan wajah pucat dan memelas

“kamu tidak akan rugi Lai-bo ! kamu lihat peti ini ?” ujar Han- sian-hui, Lai-bo dengan wajah pucat melihat kea rah peti, lalu menatap Han-sian-hui dan bertanya

“a..apa maksudmu lihap ? dan ada apa dalam peti itu ?” “dalam peti ini ada emas dan mutiara sebagai tebusan semua wanita yang bekerja padamu.” sahut Han-sian-hui sambil menunjuk peti yang diletakkan disampingnya.

“be..benarkah peti itu berisi harta ?” tanya Lai-bo meragu “benar, dan sebagian akan kuberikan padamu.” sahut Sian-hui sambil membuka peti, Lai-bo terkejut melihat kilauan uang emas dan mutiara, dia mendekat dengan wajah takjub

“kamu mau kan menerima tebusan dan menutup usahanu yang kotor ini !?” tanya Han-sian-hui dengan nada tajam

“ba…baik aku mau.” jawab Lai-bo dengan hati gembira dan matanya tidak lepas dari memandang tumpukan emas mutiara dalam peti

“baik, ambillah setengah dari harta ini !” perintah Sian-hui, lalu ia mengeluarkan setengah harta dan menumpuknya diatas ranjang, Lai-bo mengambil buntalan besar dan memasukkan tumpukan uang emas dan mutiara dengan senyum dan mata berbinar.

“nah….urusan kita telah selesai ! dan untuk memulai hidupmu yang baru, mulailah dengan menyumbangkan sisanya kepada penduduk miskin, apakah itu dapat anda lakukan ?” tanya Han- sian-hui, Lai-bo menatap wajah anggun didepannya dengan perasaan takjub.

“bagaimana Lai-bo ? dapatkah anda lakukan yang saya katakan tadi ?”

“oh….ten..tentu, ah…sungguh lihap amat baik dan budiman.” puji Lai-bo

“sekarang kuserahkan harta ini padamu, dan aku percaya padamu Lai-bo ! aku akan berada dilembah merak untuk mendengar kebaikanmu ini, semoga jadi awal yang baik untuk menata kebaikan-kebaikan kamu selanjutnya.” ujar Han-sian-hui dan tubuhnya sudah berkelabat dari kamar Lai-bo.

Kota dalian gempar dengan kejadian beruntun dan mengejutkan, pertama-tama dengan kejadian dimana para pengawal bordir pantai dalian mendapat harta yang dibagikan oleh pak-siok dan tiga rekannya, kemudian para wanita penghibur mulai menyebar dengan harta melimpah, lalu yang terakhir bordir pantai dalian tutup dan Lai-bo tiba-tiba bermurah hati dengan menyebar sedekah pada penduduk miskin, hal-hal mengejutkan itu jadi buah pembicaraan seluruh warga, dan nama kongciak-kok-bi- siucai makin ramai dibicarakan.

Sementara di bukit batu Han-sian-hui dan empat siok duduk dibalai-balai sambil minum

“dapatkah sekarang saya mendengar informasi yang saya butuhkan pak-twako ?” tanya Han-sian-hui, sebelum menjawab pak-siok meneguk araknya dan sesaat memejamkan mata menikmati arak yang masuk kemulutnya, lalu dia tersenyum dan berkata

“baik, apa yang klta lakukan dua minggu ini, sungguh luar biasa, dan kami salut dengan apa yang Han-lihap lakukan untuk kami dan para warga kota dalian, sekarang dengarlah Han-lihap, bahwa penguhuni lembah merak sebelumnya ada lima orang, yakni tiga saudaramu Han-kwi-ong, Han-ok-liang dan Han-bun- liong, lalu suami istri siang-mou-bi-kwi dan ang-gan-kwi, Ang- gan-kwi tewas ditangan bengcu, dan setahun yang lalu empat penghuninya meninggalkan lembah merak setelah tiga tahun tewasnya Ang-gan-kwi.”

“kemanakah mereka pergi pak-twako ?” tanya Han-sian-hui “sepertinya mereka berpencar Han-lihap, yang terakhir meninggalkan lembah merak adalah kwi-ong sepuluh bulan yang lalu, selain dari ok-liang, kami tidak tahu kemana mereka pergi. ” “kemanakah Liang-ko pergi pak-twako ?”

“Ok-liang kembali pada keluarganya yang berada di kota shinyang.”

“dan yang saya dengar bahwa Kwi-ong menuju wilayah selatan, dan siang-mou-bi-kwi kewilayah utara.” sela lam-siok.

“baik dan terimakasih pada empat twako yang telah memberikan informasi yang saya butuhkan”

“sama-sama Han-lihap, lalu apa selanjutnya yang hendak Han- lihap lakukan. ?”

“mungkin saya akan mengunjungi Liang-ko di shinyang.” jawab Han-sian-hui, lalu setelah lewat siang hari, Han-sian-hui meninggalkan bukit batu untuk kembali ketempatnya di lembah merak.

Dua minggu kemudian bangunan dilembah merak tidak sepi lagi, Han-sian-hui telah memiliki teman lima keluarga yang dipekerjakannya untuk merawat rumah, para istri merawat bagian dalam bangunan, sementara para suami merawat bagian luar bangunan, dan juga empat anak kecil, yakni anak-anak dari dua keluarga yang menjadi pembantu ditempat itu, lima keluarga itu bersama han-sian-hui tinggal dilembah merak.

Pada suatu pagi Han-sian-hui memanggil lima keluarga itu, dan mereka berbicara di ruang tengah

“hari ini saya hendak berangkat menuju kota shinyang, dan para twako baik-baiklah menjaga rumah !” ujar Han-sian-hui “baik, siocia, dan berapa lamakah siocia akan pergi ?” tanya lelaki yang bernama Khu-siang, Khu-siang merupakan yang paling tua diantara kelima kepala keluarga itu

“berapa lamanya aku tidak bisa tentukan khu-twako, tapi akan saya usahakan akan kembali kesini dalam jangka satu tahun.” jawab Han-sian-hui

“baiklah siocia, kami akan menjaga tempat ini dengan sebaik- baiknya.” ujar mereka serempak, Han-sian-hui mengangguk dengan senyum lembut, dan ia pun berdiri diiringi para pembantunya.