-->

Raja Gunung Jilid 2

Jilid 02

Menunggu lagi beberapa waktu, Hong-lay Sian-ong menganggukkan kepala ke arah protokol itu. Inilah tanda untuk mulai persidangan.

Protokol pengacara segera menerima dakwaan Hoa-san- pay, dibacakan didepan umum: "Pertanyaan Hoa-san-pay, atas Duta Istimewa berbaju kuning nomor tiga belas Ie Lip Tiong."

Membalik lembaran pertama, pengacara itu meneruskan pernyataan Hoa-san-pay.

"Ie Lip Tiong telah membunuh ketua partay kami. sesudah terjadi pertempuran yang terus menerus, sehingga dua hari, Ie Lip Tiong tertangkap. Kami hendak membunuh Ie Lip Tiong. Tapi menurut Duta nomor sebelas Tok-gan Sin-kay, dengan menyamar menjadi ketua Su-hay-tong sim- beng, Tok-gan Sin-kay berhasil menolong Ie Lip Tiong. Ternyata penyamaran itu adalah penyelewengan- penyelewengan, dengan ini, Hoa-san-pay menuntut, agar Su-hay-tong sim-beng bisa mengambil tindakan tegas, menghukum kepada kedua duta Istimewa yang menyeleweng dari tugas masing masing.

Sekian.”

Sesudah membacakan surat tuduhan Hoa-san-pay, Pengacara itu meletakkannya. Mengambil lain tuduhan, dan mulai membaca: Inilah tuduhan dari Bu-tong-pay.

Isi dari tuduhan Bu-tong-pay ditujukan kepada Su-hay- tong sim-beng, tidak jauh berbeda dengan tuduhan Hoa- san-pay. Isinya menuntut agar Su-hay-tong sim-beng memecat menghukum kepada dua petugas istimewanya yang dikatakan menyimpang dari panji panji keadilan dan kebenaran, Ie Lip Tiong dan Tok-gan Sin-kay dianggap sudah menyeleweng dari azas azasnya Su-hay-tong sim- beng, perbuatan itu. Apa lagi pemalsuannya tentang Tok- gan Sin-kay atas yang diketuai Su-hay-tong sim-beng, bisa diterima. Perbuatan Ie Lip Tiong yang telah membunuh mati ketua partaynya juga tak bisa diterima. Menurut, agar kedua terdakwa mendapat ganjaran yang setimpal, menghukum mati Ie Lip Tiong, hukuman harus dijalankan segera!

Diceritakan juga secara terperinci, bagaimana cara cara Tok-gan Sin-kay menolong Ie Lip Tiong, membebaskan dari tawanan bersama Hoa-san-pay. Bagaimana meninggalkannya Han-kong-san-chung.

Laporan Bu-tong-pay itu lebih kuat dari laporannya Hoa- san-pay, semua orang yang mendengar kisahnya rata-rata mengeluarkan pujian atas kecerdikan Ie Lip Tiong dan merealisir keberanian Tok-gan Sin-kay.

Hong-lay, Siang-ong tidak terkecuali, hatinya lebih percaya kepada Ie Lip Tiong, daripada percaya akan carikan-carikan kertas tuduhan Hoa-san-pay dan Bu-tong- pay ia yakin dan yakin seratus persen, bahwa Ie Lip Tiong membunuh ketua partay Hoa-san-pay dan ketua partay Bu- tong-pay bukanlah Ie Lip Tiong yang asli tentu Ie Lip Tiong imitasi.

Hong-lay Sin-pang tidak bersedia melayani tuntutan itu. Hong-lay Sian-ong juga memuji keberanian Tok-gan Sin-

kay, mengirim salut kepada kecepatan Tok-gan Sin-kay,

sehingga berhasil menolong Ie Lip Tiong dari kematian. Hong-lay Sian-ong bisa memaafkan kesalahan Tok-gan Sin- Kay-yang menyamar menjadi dirinya, didalam keadaan seperti itu, tanpa langkah yang berani, tidak mungkin bisa menolong Ie Lip Tiong.

Sesudah si pengacara membacakan kedua tuntutan tuduhan Hoa-san-pay dan Bu-tong-pay, muncul wakil dari perkumpulan Kay-pang, mengangkat tangan, ia minta bicara.

Hong-lay Sian-ong menganggukkan kepala, menyilahkan wakil pengemis itu mengeluarkan pendapatnya. Wakil pengemis yang hendak bicara adalah si pengemis Hujan, ia mulai angkat bicara:

"Golongan Kay-pang menolak acara tuduHan-yang dijatuhkan kepada Ie Lip Tiong tatsu dan Tok-gan Sin-kay tatsu."

Tantangan si Pengemis Hujan telah membuat wakil- wakil dari Hoa-san-pay dan Bu-tong-pay gebrak meja, rata- rata menjadi merah. Wajah mereka berubah.

Si Pengemis Hujan masih meneruskan keterangannya tanpa gentar, ia meneruskan pembicaraan itu.

"Alasan untuk menolak tuntutan Hoa-san-pay dan Bu- tong-pay tidak peduli terlepas dari betul atau tidaknya Ie Lip Tiong Tatsu membunuh ketua partay Hoa-san-pay dan Bu-tong-pay. Kedua partay yang bersangkutan, telah melakukan sesuatu kesalahan terbesar, karena mereka berani menghukum seorang Duta istimewa berbaju kuning, tanpa sepengetahuan Su-hay-tong sim-beng. Tapi laporan itu hadiah laporan yang tidak mungkin disepadankan, laporan datang sesudah delapan hari putusan diambil, tak mungkin Su-hay-tong sim-beng mengirim utusan untuk mencegah terjadinya pembunuhan yang akan dilakukan oleh Hoa-san-pay beserta Bu-tong-pay atas Duta Istimewa berbaju kuning nomor tiga belas Ie Lip Tiong. Para wakil dari golongan lain dipersilahkan menimbang-nimbang, berapa harikah waktu yang dibutuhkan untuk melakukan perjalanan dari Lu-san ke kampung Han-kong-san-chung? Hoa-san-pay dan Bu-tong-pay telah memperhitungkan jarak waktu ini, mereka memang telah sengaja menghukum Ie Lip Tiong dalam jangka waktu sempit. Sehingga tidak memungkinkan orang memberi pertolongan. Hanya seorang dewa yang bisa melakukan perjalanan dari gunung Lu-san ke Han-kong-san-chung di dalam waktu waktu yang dibatasi oleh mereka. Inilah suatu bukti, bahwa Hoa-san- pay dan Bu-tong-pay tidak memandang kepada adanya Su- hay-tong sin beng. Mereka telah mengambil putusan nekad, hendak menghukum Duta Istimewa berbaju kuning nomor tiga belas. Rencana mereka buyar dan gagal! Sekarang, atas keberanian duta istimewa nomor sebelas Tok-gan Sin-kay, duta nomor tiga belas berhasil ditolong, baru Bu-tong-pay dan Hoa-san-pay meminta keadilan dan kebenaran, baru Hoa-san-pay dan Bu-tong-pay menuduh dan meminta hukuman atas duta duta yang bersangkutan. Inilah tekanan, bukan penghormatan atas adanya Su-hay-tong sim-beng. Atas nama seluruh golongan Kay-pang, kami menolak acara ini dicantumkan dalam musyawarah."

Keterangan si pengemis hujan sangat masuk diakal, sangat logis, karena itu mendapat tepuk sorak dari pada para hadirin.

Suasana ditempat musyawarah Su-hay-tong sim-beng menjadi panas.

Sebagian dari golongan-golongan yang sepihak dengan Hoa-san-pay dan Bu-tong-pay, rata rata tidak setuju kepada kata-kata keterangan si pengemis hujan. Tapi sebagian besar dari golongan yang pro Ie Lip Tiong, mereka bertepuk tangan kepada keberanian si pengemis hujan. Keberanian untuk menolak tuntutan Hoa-san-pay dan Bu-tong-pay.

Diantara pro dan kontra Ie Lip Tiong terjadi sedikit perselisihan.

Tok... tok... tok...

Hong-lay Sian-ong mengetok palu keadilan. Ia berhasil menguasai suasana hiruk pikuk itu. Sesudah berhasil menguasai suasana, ia mulai angkat bicara.

"Tenang! Kami harap ketenangan! Usul wakil dari Kay- pang yang hendak menolak tuntutan Hoa-san-pay dan Bu- tong-pay bukanlah usul sepihak. Kami harus mempertimbangkannya masak masak. Sebelum itu, motto dan semboyan dari Su-hay-tong sim-beng adalah membela keadilan dan kebenaran, menyatukan partay partay dan golongan golongan yang ada. Bukan memecah belah golongan beserta partay bukan membuat kekacauan dan kericuhan didalam rimba persilatan. Karena itulah, Su-hay- tong sim-beng tidak menarik panjang urusan suatu penghinaan, kami hanya bisa melepas kebebasan. Tapi kami juga tidak melarang adanya tuntutan tuntutan, kami bersedia memasukkan acara tuntutan Hoa-san-pay dan Bu- tong-pay, bilamana disertay dengan bukti bukti yang nyata. Bagaimana atas usul wakil wakil dari golongan dan partay partay?"

Kata kata dan keterangan Hong-lay Sian-ong lebih bisa menyelami dari para wakil wakil yang hadir, mereka lebih memuji kepada keputusan Hong-lay Sian-ong, karena itulah, tidak ada orang yang berdebat lagi.

Walau demikian, Hoa-san-pay dan Bu-tong-pay merasa malu kepada diri sendiri, mereka meminta keadilan dan kebenaran, sesudah tidak berhasil membunuh Ie Lip Tiong, sesudah terjadi kekalahan.

Hong-lay Sian-ong menunggu, mengetahui tidak ada usul lain, segera ia berkata:

"Sebelum kita menerima tuntutan bersama Hoa-san-pay dan Bu-tong-pay, ada baiknya juga kita uraikan sedikit tuntutan yang sama dengan itu. Tuntutan ini datangnya dari wakil Tiang-pek-pay, wakil Tiang-pek-pay juga meminta keadilan dan kebenaran, pada sepuluh hari yang lalu. Demikianlah ceritanya:

"Kira-kira dua hari sebelum terbunuh matinya ketua partay Bu-tong-pay Ko-goat totiang, dua jago kembar dari Tiang-pek-pay, Ca Cu Eng dan Ca Cu Beng melewati daerah Siang yang, ditengah jalan, mereka bertemu dengan Duta Istimewa berbaju kuning nomor tiga belas Ie Lip Tiong, katakan, dalam pertemuan itu, Ie Lip Tiong mencegat Ca Cu Eng dan Ca Cu Beng Ie Lip Tiong mengatakan, bahwa ia baru membeli sebuah pedang, ingin bertanding dan mencoba coba ilmu kepandaian si Sepasang jago kembar Tiang-pek-pay, kedua saudara tersebut menolak tuntutan Ie Lip Tiong, tapi Ie Lip Tiong menjadi marah, mengganggu dan mengoceh tidak karuan, menghina, dan menantang lagi. Ca Cu Beng dan Ca Cu Eng tidak bisa menahan sabar, terjadi pertempuran. Sayang! Ca Cu Beng bertemu dengan hari naas, ia mati dibawah tangan Ie Lip Tiong. Ca Cu Eng menjadi nekad mengadu jiwa dengan Ie Lip Tiong, tapi Ie Lip Tiong tidak mau membunuhnya, sesudah menjatuhkan Ca Cu Eng, ia lompat ke kuda tunggangan, berlari pergi. Membiarkan Ca Cu Eng terkapar ditanah. Karena itulah, Tiang-pek-pay kehilangan seorang jago silat. Partay Tiang-pek-pay juga menjadi goncang, golongan mereka pecah menjadi dua aliran yang tidak sama, satu pro kepada Ie Lip Tiong, satu kontra Ie Lip Tiong. Pro Ie Lip Tiong mengatakan bahwa kejadian itu masih sangat misterius. Mungkin Ie Lip Tiong sedang mengalami goncangan otak, atau gangguan lainnya. Yang kontra Ie Lip Tiong mengatakan bahwa Duta nomor tiga belas itu sengaja mencari setori, menuntut kematiannya Wakil tetap partay Tiang-pek-pay untuk Su-hay-tong sim- beng Lie Tay Tiauw telah memutuskan mengharapkan urusan ini ditunda, sehingga kembalinya Ie Lip Tiong, dan hendak bertanya langsung secara pribadi kepada sang Duta nomor tigabelas, acara ini agak mirip dengan acara yang dicantumkan oleh Hoa-san-pay dan Bu-tong-pay, cara- caranya Ie Lip Tiong ini adalah sejajar dan sejalan. Permintaanku adalah, bisakah Hoa-san-pay dan Bu-tong- pay menangguhkan acara, menunggu sehingga Ie Lip Tiong kembali Maka Hoa-san-pay dan Bu-tong-pay bisa bergabung dengan Tiang-pek-pay, menuntut dan meminta keadilan serta kebenaran Ie Lip Tiong. Meminta tanggung jawab Ie Lip Tiong Bagaimana pendapat wakil Hoa-san-pay dan Bu-tong-pay?"

Tentu saja, upacara tidak bisa diteruskan, karena tertuduh tidak hadir ditempat itu. Usul Hong-lay Sian-ong sangat masuk diakal. Bukan berarti Su-hay-tong sim-beng hendak membela Duta Istimewanya, tapi itulah kenyataan. Menunggu sesudah Ie Lip Tiong kembali Su-hay-tong sim- beng akan minta pertanggung jawab Ie Lip Tiong.

Tapi pejabat ketua partay Bu-tong-pay Ku-hong totiang tidak puas atas jawaban itu, sangkanya Hong-lay Sian-ong sengaja mengulur waktu, hendak membela kepentingan diri sendiri, hendak menutup kesalahan Ie Lip Tiong, karena itu ia angkat bicara:

"Omintohud. Apa yang bengcu katakan memang masuk diakal. Sipembunuh belum kembali. Maka urusan tak bisa diberi putusan, tapi permintaan Bu-tong-pay adalah acara penangkapan ada baiknya Su-hay-tong sim-beng mengirim firman, melepas orang untuk segera menangkap kedua manusia yang tertuduh ialah Ie Lip Tiong dan Tok-gan Sin- kay, agar kedua orang itu tidak melarikan diri."

Hong-lay Sian-ong tidak bisa menerima saran Ku-hong totiang, ia berkata:

"Sebelum tuduhan itu menjadi bukti dan nyata, Su-hay- tong sim-beng tidak bisa melepas langkah gegabah, surat perintah tangkap hanya bisa dilepaskan kalau kedua orang itu betul betul bersalah. Sebelum kesalahan itu terbukti Su- hay-tong sim-beng tidak bisa melepaskan surat tangkap."

Ku-hong totiang berkata: "Orang yang menyaksikan Ie Lip Tiong membikin pembunuhan, bukan aku seorang. Tidak sedikit mata yang menyaksikan bahwa Ie Lip Tiong itu betul-betul sudah melakukan pembunuhan. Mengapa mengatakan belum terbukti?"

"Su-hay-tong sim-beng tidak menghukum seseorang secara serampangan," berkata Hong-lay Sian-ong, "Kita harus memberi kesempatan waktu kepada tertuduh membikin pembelaan pembelaannya. Sebelum Ie Lip Tiong bisa membuat pembelaan atas dirinya, surat penangkapan tidak bisa dikeluarkan. Tuduhan Bu-tong-pay hanya biasa dianggap sebagai tuduhan sepihak."

Dengan tidak puas Ku-hong totiang berkata:

"Su-hay-tong sim-beng harus berlaku adil, kami kira tidak mau membela barisan Duta Istimewa berbaju kuning yang bersalah, bukan?"

"Tentu saja." berkata Hong-lay Sian-ong.

"Su-hay-tong sim-beng tidak adakan membela Duta Istimewa berbaju kuning yang bersalah, Tapi Su-hay-tong sim-beng juga tidak akan menghukum Duta berbaju kuning yang tidak bersalah."

"Siapa yang mengatakan Ie Lip Tiong tak bersalah ?"

"Belum waktunya kita berdebat" berkata Hong-lay Sian- ong. "Tunggulah sesudah Ie Lip Tiong kembali."

"Ie Lip Tiong tidak mungkin kembali tanpa ada surat penangkapan." Ku-hong totiang mulai sedikit memaksa.

"Su-hay-tong sim-beng tidak mengharap suatu paksaan atau tekanan" suara Hong-lay Sian-ong juga berubah, berarti ia tidak puas. "Ini bukan paksaan," berkata Ku-hong totiang. "Juga bukan tekanan. Tidak mungkin Ie Lip Tiong kembali, tanpa adanya surat perintah penangkapan."

"Kujamin Ie Lip Tiong kembali," berkata Hong-lay Sian- ong.

"Percuma saja Ie Lip Tiong kembali, sesudah ia mengumpat dirimba persilatan sampai dua-puluh atau tiga- puluh tahun" berkata Ku-hong totiang.

"Tidak mungkin! Ie Lip Tiong pasti segera kembali." "Bengcu berani menjamin?" berkata Ku-hong totiang.

"Su-hay-tong sim-beng akan menjamin, kembalinya Ie Lip Tiong."

"Berapa waktu yang dibutuhkan?" bertanya Ku-hong totiang.

"Soal waktu..." Hong-lay Sian-ong juga ragu ragu. Bagaimana ia bisa menetapkan waktu, sedangkan Ie Lip Tiong itu mendapat tugas penting untuk menyelidiki markas partay Raja Gunung? Kalau ia berhasil, tentu sudah kembali. Bilamana sampai terjadi Ie Lip Tiong tertawan oleh musuh, bagaimana Ie Lip Tiong bisa kembali ke gunung Lu-san?"

Disaat Hong-lay Sian-ong masih ragu-ragu, tiba tiba terjadi lain kegaduhan. Beberapa wakil dari golongan dan partay partay itu terpisah, membuka satu jalan. Dari sana tampil seorang dengan langkah yang tegap dan gesit memasuki gelanggang.

Terdengar suara teriakan teriakan. "Ie Lip Tiong!"

"Ie Lip Tiong telah kembali!" "Lihat, Ie Lip Tiong datang!"

"Ie Lip Tiong akan membebaskan diri!"

Kembalinya Ie Lip Tiong membuat sedikit kegaduhan. Tetapi kembalinya Ie Lip Tiong tepat diwaktu yang sangat dibutuhkan.

Hong-lay Sian-ong mengambil palu kebenarannya, diketokkan di meja.

"Tok... tok... tok..."

Hong-lay Sian-ong harus menenangkan suasana seperti itu.

Para wakil dari golongan-golongan dan partay-partay menghentikan pekikan-pekikan mereka. Sebagian juga menghentikan caci maki yang dijatuhkan kepada Ie Lip Tiong.

Suasana sunyi kembali.

Hong-lay Sian-ong memandang kearah Ie Lip Tiong dan berkata:

"Segera persilahkan Ie Lip Tiong tatsu maju kemimbar." Ie   Lip   Tiong   mengangkat   langkahnya   lebar   lebar,

langsung    naik   keatas    panggung   mimbar.   Segera   ia

menghadap ke Hong-lay Sian-ong, memberi hormat.

Hong-lay Sian-ong memperhatikan duta istimewa yang baru diangkat itu, segera ia berkata.

"Hari ini adalah hari terakhir dari tiga bulan yang ditentukan. Bagaimana dengan hasil penyelidikan itu?"

"Hasil penyelidikan telah dijalankan dengan baik" jawab Ie Lip Tiong.

"Sudah berhasil?" bertanya Hong-lay Sian-ong. "Belum." jawab Ie Lip Tiong "Belum bisa ditemukan jejak pasti, karena ini, aku bersedia dihukum."

Hong-lay Sian-ong tertawa ia berkata.

"Su-hay-tong sim-beng tidak menyantumkan hukum atas petugas petugasnya, manakala tidak berhasil dengan tugas itu, tapi kehadiranmu diwaktu ini sangat tepat sekali Partay Tiang-pek-pay Bu-tong-pay, dan Hoa-san-pay telah menyatakan, menuduh bahwa kau telah membunuh orang orang golongan mereka. Karena itu, kau menjadi seorang terdakwa, kau wajib menerima tuntutan tuntutan."

Ie Lip Tiong pernah mendengar bahwa ketua Bu-tong- pay telah dibunuh mati oleh Ie Lip Tiong palsu, juga mengetahui ketua Hoa-san-pay juga dibunuh mati oleh Ie Lip Tiong palsu itu. Tapi ia belum mendengar cerita tentang keadaan Tiang-pek-pay, dengan wajah tertegun bertanya.

"Ketua Tiang-pek-pay juga dibunuh orang?"

"Bukan ketua Tiang-pek-pay," Hong-lay Sian-ong beri penjelasan. "Tapi salah satu dari sepasang jago lihay Tiang- pek-pay Ca Cu Beng telah mati olehmu."

Ie Lip Tiong menengok ke arah wakil wakil Tiang-pek- pay, ia menganggukkan kepala meminta maaf atas terjadinya drama-drama yang seperti itu, perlahan lahan ia menuju ke arah mimbar, berdiri di tempat orang-orang pesakitan

Hong-lay Sian-ong memandang kearah protokol yang merangkap jadi pengacara itu, ia berkata:

"Sim Siang Seng, tolong bacakan kembali ketiga tuduhan-tuduhan."

Maka orang yang dipanggil Sim Siang Seng itu mengambil lembaran-lembaran tuduhan, dari tuduhan Tiang-pek-pay, Bu-tong-pay dan Hoa-san-pay. Satu persatu dibacakan ulang.

Tuduhan-tuduhan itu cukup panjang lebar, tercatat secara terperinci. bagaimana Ie Lip Tiong membunuh mati ketua partay Hoa-san-pay dan bagaimana Ie Lip Tiong membunuh mati ketua Bu-tong-pay.

Di saat Sim Siang Seng membacakan tuduhan tuduhan tersebut yang panjang lebar, Hong-lay Sian-ong menggapaikan tangan kearah Duta Istimewa berbaju kuning nomor sepuluh Lam-hay Sanjin, membisiki sesuatu dan membiarkan Lam-hay Sanjin itu pergi.

Berulang kali Lam-hay Sanjin menganggukkan kepala, dia meninggalkan ruangan sidang.

Di saat ini, pembacaan-pembacaan dari Tiang-pek-pay, Bu-tong-pay dan Hoa-san-pay dan Hoa-san-pay telah selesai.

Sebagai hakim tertinggi, Hong-lay Sian-ong menekuk muka, memandang kearah Ie Lip Tiong dan membentak:

"Ie Lip Tiong, sebagai Duta Istimewa berbaju kuning nomor tiga belas dari Su-hay-tong sim-beng, seharusnya kau menegakkan keadilan dan kebenaran. Mengapa membunuh orang tanpa alasan?"

Ie Lip Tiong membikin pembelaan. Kata

"Hamba tidak pernah membunuh orang-orang yang sudah dicantumkan itu."

"Tidak mungkin!" berkata Hong-lay Sian-ong. "Mereka telah melihat dengan kepala mata sendiri, bahwa kau, Ie Lip Tiong yang telah melakukan pembunuhan- pembunuhan." "Itulah hasil perbuatan sipemuda misterius berkerudung hitam Su-khong Eng, Su-khong Eng telah menggunakan wajah make up yang luar biasa, memalsukan diri hamba dengan demikian, ia telah membunuh orang dengan maksud menyempitkan kehidupan hamba.”

Hong-lay Sian-ong berkata:

"Beri keterangan yang lebih jelas. Dan bikin pembelaan atas apa yang ada."

Inilah kesempatan, kesempatan Ie Lip Tiong menceritakan apa yang terjadi, ia telah mendapat tugas istimewa dari Su-hay-tong sim-beng untuk menyelidiki jejak markas besar partay Raja Gunung, ia meninggalkan gunung Lu-san, melakukan perjalanan kearah kota Han-yang. Mulai bertemu dengan Raja Silat bajingan To Khu Liong, bagaimana ia menyamar menjadi seorang piauwsu bagaimana ia berhasil merampas harta kekayaan rumah makan Hian kiok kauw yang hendak diransum kepada partay Raja Gunung, bagaimana ia berhasil menemukan dua dewa silat golongan ksatria, bagaimana dikejar, bagaimana membuntuti Ai-pek-cun, bagaimana ditawan ditelaga darah, bagaimana ia ditawan di dalam pesanggrahan musuh, bagaimana Su-khong Eng meniru- nirukan logat pembicaraan dan gerak geriknya, dan bagaimana Su-khong membunuh mati orang-orang dari ketiga partay yang bersangkutan, tentu saja dengan wajah dirinya, semua diceritakan dengan jelas dan teliti. Terakhir diceritakan juga bagaimana ia tertawan oleh Hoa-san-pay dan berhasil ditolong oleh Tok-gan Sin-kay.

Ie Lip Tiong hanya bercerita sampai di sini, ia tidak meneruskan ceritanya, bagaimana berhasil menemukan jejak markas besar partay Raja Gunung. Cerita yang terakhir adalah bahan pribadi. Ie Lip Tiong maklum, dengan cara-cara pembesetan kulit manusia dari partay Raja Gunung, bukan mustahil, bahwa diantara wakil wakil partay dan golongan itu terdapat juga manusia imitasi, mereka adalah mata-mata partay Raja Gunung. Maka ia tidak bisa menceritakan sesuatu yang penting dihadapan umum.

Sesudah membiarkan Ie Lip Tiong membikin pembelaannya yang panjang lebar, Hong-lay Sian-ong menoleh kearah Ku-hong totiang dan bertanya:

"Bagaimana reaksi Bu-tong-pay atas pembelaan terdakwa?"

Ku-hong totiang tertawa dingin, ia berkata:

Ceritanya ini telah kudengar sehingga lebih dari dua kali. Tapi aku lebih percaya kepada mata sendiri, ia telah membunuh orang, apa yang dikatakannya tentunya adalah kebohongan. Kebohongan terbesar! Dipersilahkan bengcu memberi pertimbangan yang adil. Itu adalah hanya pembelaan terdakwa seorang. Pembelaan sepihak."

Hong-lay Sian-ong merasa tidak puas, ia berkata:

"Su-hay-tong sim-beng bisa mengeluarkan bukti, bahwa keterangan Ie Lip Tiong itu adalah keterangan yang asli. Bukan bohong."

"Bu-tong-pay bersedia melihat bukti-bukti itu." berkata Ku-hong totiang.

"Tapi," berkata Hong-lay Sian-ong lambat lambat. "Sesudah bukti itu muncul didepan mata, kuharap saja Bu- tong-pay tidak kabur dari ruangan sidang."

"Bu-tong-pay tidak akan kabur dari ruangan sidang," berkata Ku-hong totiang tegas. "Tapi sebaliknya, bilamana bukti itu tidak bisa dikeluarkan, Bu-tong-pay meminta pada Su-hay-tong sim-beng, agar segera menghukum Ie Lip Tiong."

"Baik," berkata Hong-lay Sian-ong. "Ingat betul betul janji ini. Kuharap saja Bu-tong-pay tidak akan kabur dari ruangan sidang"

"Bu-tong-pay tidak akan kabur dari ruang sidang," berkata Ku-hong totiang keras.

Tiba-tiba saja, Hong-lay Sian-ong meninggikan suaranya, dengan suara yang sangat keras ia berteriak:

"Baik! Dipersilahkan ketua partay Bu-tong-pay Ko-goat totiang tampil ke depan."

Suara itu bagaikan halilintar disiang hari, karena suara bengcu yang mengguntur itu, mereka terkejut adalah dari arti makna panggilan tersebut.

Seperti apa yang mereka ketahui, ketua partay Bu-tong- pay Ko-goat totiang sudah tiada. Diceritakan orang, mati ditangan Ie Lip Tiong! Karena itulah Ku-hong totiang menduduki pejabat ketua partay Bu-tong-pay.

Kini, dengan mendadak, Hong-lay Sian-ong mempersilahkan ketua partay Bu-tong-pay lama, Ko-goat totiang almarhum tampil ke depan. Tentu saja mengejutkan semua orang.

Mempersilahkan Ko-goat totiang tampil kedepan?

Mungkinkah bisa terjadi? Mempersilahkan seorang yang sudah almarhum, tampil di depan ruang persidangan?

Semua mata jelalatan, mencari, dari mana munculnya arwah setan gentayangan itu?

"Srek..." Dari tirai di belakang Hong-lay Sian-ong tersingkap, muncul seseorang, itulah seorang tosu dengan sikap agung, berjalan dengan perlahan lahan.

Orang itu adalah Ko-goat totiang almarhum!

Ku-hong totiang terkejut. Kepalanya seperti disambar geledek. Hampir ia jatuh pingsan bingung dan tak mengerti. Tertegun sebentar, memandang kearah Hong-lay Sian-ong dan sang suheng, silih berganti, akhirnya ia bertemu dengan kenyataan, tubuhnya gemetar, ia girang dan gembira sekali, tiba-tiba ia berteriak, melompat kedepan, menjatuhkan diri dan memberi hormat kepada sang ketua partay lama. Itulah suhengnya sendiri.

Ku-hong totiang menjatuhkan diri dibawah kaki Ko-goat totiang, ia mencium kaki sang suheng, dengan mengucurkan air mata kegirangan, ia berteriak:

"Suheng... ternyata kau tidak mati!"

Rasa Ku-hong totiang begitu girang sekali ternyata sang suheng tidak mati!

Ko-goat totiang tersenyum, menggunakan tangannya, ia mengusap wajah, dalam sekejap mata, terjadi perobahan.

Wajah Ko-goat totiang itu lenyap. Disana berdiri Duta Istimewa Berbaju Kuning nomor sepuluh Lam-hay Sanjin.

Perobahan itu telah disaksikan oleh banyak orang, kecuali Ku-hong totiang yang masih menyembah suhengnya.

Perlahan-lahan, dengan sepatah demi sepatah, Lam-hay Sanjin berkata:

"Ciangbunjin, dongakkanlah kepalamu!"

Ku-hong totiang terkejut, betul-betul ia mendongakkan kepala, terjadinya perobahan yang sangat mendadak itu membuat ia hampir kelenger, wajahnya berubah, ia cepat bangkit berdiri, mundur lagi kebelakang, menudingkan jarinya kearah Lam-hay Sianjin, berkata:

"Haaa... kau..."

Lam-hay Sanjin merangkapkan kedua tangan, ia memberi hormat seraya berkata:

"Ya. Kau telah salah mata. Seperti apa yang kau tahu, matamu itu tidak bisa dibuat menjadi saksi. Sudah jelas dan gamblang, dengan mata kepala sendiri, kalian menyaksikan bagaimana Ko-goat totiang almarhum telah tiada. Tapi kau masih tidak yakin, kau masih menyembah kepadaku. Suatu bukti bahwa Ie Lip Tiong yang kau lihat dahulu itu, Ie Lip Tiong imitasi. Matamu tidak bisa dijadikan bukti."

Mulut Ku-hong totiang terlongok-longok. "Ha ha ha..." terdengar seorang tertawa.

Atas permainan   sandiwara itu, maka para hadirin

bertepuk sorak, mereka merasa lucu atas terjadinya perobahan-perobahan yang begitu cepat.

Wajah Ku-hong totiang berubah Sebentar menjadi merah, sebentar menjadi biru, akhirnya menjadi pucat pasi.

Wajah menjadi   merah,   karena   ia   sangat   marah.

Dipermainkan orang didepan umum.

Wajahnya menjadi biru, karena ia malu kepada diri sendiri. Malu karena ia telah menyembah seseorang yang menjadi rekan dari Ie Lip Tiong.

Ku-hong totiang menoleh kearah Hong-lay Sian-ong, dengan suara geram ia membentak:

"Bengcu, mana boleh kau mempermainkan seorang ketua partay seperti ini?" Tidak henti hentinya Hong-lay Sian-ong memberi hormat, ia berkata:

"Maap... maap... untuk membuktikan bahwa ciangbunjin itu pernah salah mata. Apa boleh buat, didalam keadaan terpaksa, aku harus memainkan sandiwara tadi.”

Dada Ku-hong totiang dirasakan mau meledak, dimisalkan tokoh yang berada didepannya itu bukanlah Hong-lay Sian-ong, bukan seorang raja silat dari golongan kesatria yang ditakuti orang, ingin sekali ia bisa menamparnya.

Kemarahan Ku-hong totiang tidak mendapat wadah yang cukup, ia mengibaskan lengan baju, membalikkan badan, meninggalkan ruang persidangan.

Hong-lay Sian-ong berkata panjang:

"Eh, mengapa meninggalkan persidangan ditengah jalan, bukan?"

Apa boleh buat, Ku-hong totiang menghentikan langkah kaki, ia menghela napas panjang, baru berkata:

"Celaka dua belas? Baiklah! Bu-tong-pay bersedia menarik kembali semua tuntutan. Urusan ini kuserahkan kepada Su-hay-tong sim-beng."

"Bagus!" berteriak Hong-lay Sian-ong girang. "Pada suatu hari, aku akan membawa si pembunuh kehadapan Bu-tong-pay, menyerahkan pada Bu-tong-pay."

Ku-hong totiang tidak duduk ditempat kursinya, membawa rasa malu yang tak terhingga, berjalan keluar, agaknya ia segera kembali ke gunung Bu-tong.

Para wakil tetap Bu-tong-pay yang duduk didalam Su- hay-tong sim-beng juga mengikuti sang pejabat ketua, mengantar kepergian Ku-hong totiang. Hong-lay Sian-ong membawakan peraturan yang ada, ia turut mengantar keberangkatan pejabat ketua Bu-tong-pay itu.

Sesudah selesai urusan dengan Bu-tong-pay, Ku-hong totiang balik kembali, menyilahkan duduk ditempat barusan Duta Istimewa berbaju kuning, baru memandang kearah wakil tetap Tiang-pek-pay yang duduk didalam Su-hay-tong sim-beng.

"Bagaimana Tiang-pek-pay atas tuduhan semula?" Bit Ciu In segera bangkit berdiri, berkata:

"Tiang-pek-pay bersedia menarik kembali pernyataan itu, harapan kami adalah Su-hay-tong sim-beng bisa segera menangkap Su-khong Eng, untuk segera disidangkan."

Hong-lay Sian-ong menundukkan kepala tertawa. Menoleh kearah wakil-wakil dari Hoa-san-pay dan bertanya:

"Bagaimana pandangan Hoa-san-pay?" "Hoa-san-pay juga menarik pernyataanku."

"Bagus" berkata Hong-lay Sian-ong. "Bagaimana cara untuk menangkap Su-khong Eng? Urusan ini akan kita rundingkan?.

Perdebatan terhenti.

Pengacara sidang segera membikin pernyataan, menutup musyawarah itu.

Sidang musyawarah Su-hay-tong sim-beng ditutup.

Hong-lay Sian-ong mengajak Ie Lip Tiong memasuki ruangan dalam, disini berkumpul Duta duta berbaju kuning. Su-hay-tong sim-beng diperkuat oleh tiga belas Duta Istimewa berbaju kuning demikian urutan ketiga belas Duta Istimewa itu :

1. Duta Pertama Pendekar gembira Oe-tie Pie seng.

2. Duta nomor dua, Bocah Tua Koo San Koo.

3. Duta nomor tiga, Windu Kencana Toan In Peng.

4. Duta nomor empat, Si Hakim Hitam Can Ceng Lun.

5. Duta nomor lima, Raja Selatan Tong Yang cinjin.

6. Duta nomor enam, Pendekar Dewa Pedang Kun Su Yang.

7. Duta nomor tujuh. Pendekar Pedang Duta Siang koan Wie.

8. Duta nomor delapan, Pendekar Pengembara Lu Ie Lam.

9. Duta nomor sembilan, Pendekar Lampu Besi Thiat ceng hweeshio.

10. Duta nomor sepuluh, Pendekar Laut Selatan Lam- hay sanjin.

11. Duta nomor sebelas, Pengemis mata  satu Tok-gan Sin-kay.

12. Duta nomor dua belas, Neng Manis Cu In Gie.

13. Duta nomor tiga belas, Ie Lip Tiong.

Dari ketiga belas Duta Istimewa berbaju kuning Su-hay- tong sim-beng yang kita sudah sebutkan diatas, satu diantaranya telah keluar, Duta nomor empat, si hakim hitam Can Ceng Lun, telah mengundurkan diri.

Ia menghilang dari rimba persilatan. Disana tidak kumpul semua, karena dua lainnya telah mati menjadi korban pembesetan kulit manusia. Duta-duta yang menjadi korban pembesetan kulit manusia partay Raja Gunung, adalah Duta nomor enam, Si Duta Pedang Kayu Koan Su Yang dan Duta nomor sembilan, Pendekar lampu besi Thiat ceng hweesio.

Hong-lay Sian-ong mengajak duta duta yang ada untuk membikin musyawarah kekeluargaan Su-hay-tong sim- beng. Ie Lip Tiong memandang Hong-lay Sian-ong dan bertanya:

"Bengcu, dimana sucow..."

"Masih di Su-hay-tong sim-beng," berkata Hong-lay Sian- ong.

"Sungguh?" berteriak Ie Lip Tiong girang.

Ie Lip Tiong mendapat tugas menyelidiki jejak partay Raja Gunung atas instruksi sucownya karena itu, ia sangat terkenang kembali kepada sang sucow. Sesudah kepergian gurunya yang meninggalkan gunung Lu-san, Ie Lip Tiong tidak bisa bertemu lagi dengan Duta nomor empat Can Ceng Lun, mengandalkan kepada kebijaksanaan sang sucow Hong Hian Leng juga termasuk salah satu Raja Silat golongan tua, langsung mendidik Ie Lip Tiong, karena itu ia mempunyai kedudukan rangkap, kedudukan sebagai sucow dan juga sebagai guru.

Keinginan Ie Lip Tiong untuk bertemu dengan Hong Hian Leng besar sekali.

Hong-lay Sian-ong mengetahui sifat sang Duta Nomor tigabelas, ia memandang ke arah rombongan duta duta itu berkata:

"Siapa yang hendak mengundang mereka datang?" Duta nomor dua Koo Sam Ko segera melompat bangun, ia menyanggupi tugas ini.

"Serahkan padaku!"

Berlari-lari Koo Sam Ko meninggalkan ruang dalam.

Dengan tugas untuk mengundang Hong Hian Leng cs.

Tidak beberapa lama kemudian, Koo Sam Ko sudah balik kembali, tapi ia tidak segera memasuki ruang dalam, orang yang datang Hong Hian Leng, disusul oleh Hong poh Kie Kam Lu Bin, dan dua orang kakek berbaju biru, dengan tertawa tawa mereka memasuki ruangan sidang.

Dari duabelas duta istimewa berbaju kuning, sebagian menjadi murid-murid raja raja silat, munculnya kelima orang kakek tua itu telah membangkitkan semua Duta Istimewa berbaju kuning, mereka memberi hormat.

Demikianpun Ie Lip Tiong, ia memberi hormat kepada kelima orang itu.

Kelima orang adalah Raja raja Silat ternama, Ie Lip Tiong hanya mengenal tiga diantaranya, itulah sucow Hong Hian Leng, Hong poh Kie dan Kam Lu Bin.

Dua Raja Silat lainnya adalah Lee Tiong Hu dan Wan Tin, juga termasuk raja-raja silat golongan kesatria.

Lee Tiong Hu adalah guru dari Duta Istimewa keenam si pendekar pedang kayu Koan Su Yang, Wan Tin adalah guru Duta nomor sembilan si Pendekar Lampu Besi Thiat ceng hweesio.

Kedatangan Lee Tiong Hu dan Wan Tin mempunyai hubungan erat dengan terbunuh matinya kedua muridnya, mereka wajib membuat tuntutan balas.

Ie Lip Tiong juga memberi hormat kepada Lee Tiong Hu, kemudian kearah Wan Tin. Wan Tin sangat tertarik pada Ie Lip Tiong ia menoleh ke arah Hong Hian Leng, menghela napas panjang dan berkata:

"Nasibmu baik sekali, bisa menerima cucu murid yang begini bagus. Nasibku sangat buruk hanya seorang murid hweeshio saja dibunuh orang."

Dengan tertawa Hong Hian Leng berkata: "Bila kau suka anak ini, ambillah"

"Huh!" Wan Tin bergoyang kepala. "Mana boleh sembarang mengambil kesayangan orang."

"Siapa yang sayang padanya." berkata Raja Silat Hong Hian Leng "Kau menganggap dia luar biasa. Sebetulnya dia seorang manusia biasa."

Raja Silat Wan Tin berkata:

"Mengapa biasa saja? Dengan umurnya begitu muda, ia telah mendapat nama yang bisa menggegerkan rimba persilatan. Bayangkan, manakala kita mempunyai umur sebaya dengannya, prestasi apa yang sudah kita capai? Itu waktu kita hanya bocah-bocah yang tak ada nama."

"Ie Lip Tiong, semua orang mengangkat jempol memuji dirimu, tapi, tugas yang kuberikan padamu itu belum selesai. Hukuman apa yang harus kau terima?"

Raja Silat Hong-lay Sian-ong mengetahui jelas sifat-sifat Ie Lip Tiong, mendapat teguran raja silat Hong Hian Leng, ia mewakili Ie Lip Tiong bicara:

"He, hendak menghukum dirinya? Dengan alasan apa mau beri hukuman pada Ie Lip Tiong heh? aku sebagai ketua Su-hay-tong sim-beng juga tidak berhak menghukumnya." "Eh, mau menyombongkan diri?" berkata Raja Silat Hong Hian Leng. "Mentang-mentang sudah menjadi bengcu Su-hay-tong Sim-beng, mau melupakan kawan kawan sejawatan lama?"

"Apa alasanmu mau menghukum Duta Istimewa nomor tiga belas dari barisanku?" bertanya Hong-lay Sian-ong.

"Ia tidak berhasil menemukan jejak partay Raja Gunung," berkata Hong Hian Leng. "Aku sebagai kakek gurunya wajib beri hukuman."

"Siapa yang bilang tidak berhasil," berkata Hong-lay Sian-ong.

Hong Hian Leng tertegun, menoleh kearah Ie Lip Tiong, ia bertanya:

"Kau sudah berhasil menyelidiki jejak partay Raja Gunung? Berhasil menemukan Markas Besar mereka?"

Dengan hormat Ie Lip Tiong menganggukkan kepala berkata perlahan:

"Beruntung teecu bisa menemukan jejak partay Raja Gunung."

"Mengapa kau tidak ucapkan sedari tadi. Di ruang sidang, kau diam diam saja." berkata Raja Silat Hong Hian Leng.

Ie Lip Tiong memberi keterangan.

"Di ruang sidang besar terlalu banyak kuping panjang, teecu takut bahwa rahasia ini terdengar oleh mereka. Maka tidak dapat menceritakan disana."

Hong Hian Leng berlompat girang, karena ia berhak mendapat pujian lagi Hong-lay Sian-ong lebih bisa menyelami hati Ie Lip Tiong. Ie Lip Tiong belum memberi tahu bahwa ia telah berhasil menemukan markas besar partay Raja Gunung. Tapi dari wajah dan tingkah laku yang diperlihatkan oleh sang Duta Istimewa, ia bisa maklum. tentunya Ie Lip Tiong telah berhasil menemukan jejak markas besar partay Raja Gunung. Dan benar saja! Dugaannya tak meleset!

Pada sidang terbuka, Ie Lip Tiong telah menceritakan perjalanan, tapi perjalanan itu ditutup sehingga ia ditawan oleh Hoa-san-pay dan Bu-tong-pay, hingga ia melarikan diri dari kampung Han kong san cung.

Ia tidak bercerita, bagaimana kisah selanjutnya.

Kini, didalam orang-orang sendiri, ia meneruskan ceritanya, sesudah Tok-gan Sin-kay membantu membebaskan diri dari tawanan Han-kong-san-chung, Ie Lip Tiong mulai bercerita, perjalanan selama empat belas hari, cara-cara ia menggunakan penyelidikan didalam keadaan gelap menggunakan perasaannya mengulang perjalanan balik, dan akhirnya berhasil tiba di Telaga Darah, Markas besar Partay Raja Gunung.

Diceritakan juga, disekitar telaga darah, masih dipancok sebuah pion mata mata, itulah Duta nomor sebelas, si pengemis sakti Tok-gan Sin-kay.

Hong-lay Sian-ong sangat gembira, ia bertanya: "Ternyata Raja Gunung mengambil markas besar

ditelaga darah?"

Ie Lip Tiong menganggukkan kepala: "Ya." "Kau telah bertemu dengan pemimpin partay Raja Gunung yang bernama Lo-san-cu itu." berkata lagi Hong- lay Sian-ong. "Bisakah kau mengkisahkan wajahnya?"

"Ia menggunakan tutup kerudung muka," berkata Ie Lip Tiong "Tidak bisa diduga, bagaimana raut wajahnya, badan perawakannya agak tinggi, suaranya lemah, tidak bertenaga dalam kuat."

Hong-lay Sian-ong mengkerutkan alis, ia berkata:

"Mengapa ia bisa mengepalai dua belas Raja Silat dari golongan sesat?"

Mendengar penuturan Ie Lip Tiong Hong-lay Sian-ong memandang kearah Hong Hian Leng, Hong poh Kie, Kam Lu Bin, Lee Tiong Hu dan Wan Tin. Kepada kelima Raja Silat lainnya itu, ia bertanya:

"Siapakah dugaan kalian, orang yang menjadi pemimpin partay Raja Gunung ini?"

Keenam Raja Silat dari golongan kesatria itu tidak tahu, siapa tokoh silat yang mengenakan tutup kerudung muka, siapa Lo-sancu.

Adanya Lo-san-cu bisa memimpin sebelas raja silat golongan sesat, tentu memiliki kepandaian yang luar biasa, baru mereka bisa menundukkan dan menguasai Raja raja silat itu.

Diantara raja-raja silat golongan sesat, satu sama lainpun tidak tunduk. Kecuali kepada The king of king Ngo kiat Sin mo Auw yang Hui, sedangkan Ngo kiat Sin mo Auw yang Hui itu sudah berada dialam baka. Siapa lagi yang bisa menggantikan kedudukan Ngo kiat Sin mo Auw yang Hui? Bukan Hong-lay Sian-ong saja tidak bisa menduga, kelima Raja Silat lainnyapun tidak bisa menduga, siapa adanya Lo-san-cu.

Akhirnya Hong-lay Sian-ong menghela napas, ia berkata:

"Sengaja ia menutup kerudung mukanya, agar kau tidak bisa melihat, siapa Lo-san-cu. Tapi, aku yakin dan percaya, bahwa Lo-san-cu ini bukanlah tokoh silat biasa."

Ie Lip Tiong menganggukkan kepala, ia berkata lagi: "Kecuali Raja-raja Silat dari golongan sesat, Lo-san-cu mempunyai empat orang murid yang hebat hebat empat saudara ai-lam-cun Ai-tong-cun, Ai See Cun dan Ai-pek- cun, mereka adalah tokoh tokoh silat kelas satu. Ilmu kepandaiannya setarap dengan kepandaian Duta Istimewa kita."

"Masih ada orang lain yang kau kenal?" berkata Hong- lay Sian-ong.

"Sepasang iblis Gendut dan kurus Keng Lie dan Eng Hian, juga memiliki ilmu kepandaian yang luar biasa, hal itu tidak bisa kita sangkal bukan?"

Hong-lay Sian-ong setuju, ia menganggukan kepala berkata:

"Betul. Bila dibandingkan dengan Raja-raja Silat Keng Lie dan Eng Hian bukan apa-apa tapi bila disepadankan dengan kalian, tiga belas duta istimewa berbaju kuning Su- hay-tong sim-beng, kukira tidak mudah memenangkan kedua iblis itu."

"Suatu bukti kedudukan sepasang iblis gendut dan kurus bukan kedudukan biasa," berkata Ie Lip Tiong. "Tapi walau demikian Lo-san-cu tidak mementingkan tenaga kedua iblis itu. Kedua iblis tersebut mengalami sedikit kesalahan. Lo- san-cu telah menghukum mereka." "Inilah suatu bukti bahwa Lo-san-cu itu memiliki tokoh- tokoh tenaga silat yang cukup banyak, maka membunuh dua diantaranya tidak menjadi soal."

Hong-lay Sian-ong memandang kepada Ie Lip Tiong, ia bertanya:

"Menurut hematmu, dengan kekuatan kita sekarang, bisakah memenangkan partay Raja Gunung?"

Ie Lip Tiong ragu-ragu, ia mengilmiah tenaga-tenaga kekuatan apa yang dimiliki oleh golongannya, dan membandingkan dengan kekuatan partay Raja Gunung.

"Dimisalkan, Bu Hu Hing, Bu Hauw, Bu Suy, Bu Cun, Bu Su dan Bu San keenam cianpwee itu bisa diundang, aku percaya..."

"Tidak mungkin," Hong-lay Sian-ong memutuskan pembicaraan itu. "Keenam kakek tua itu sudah bosan dengan pertempuran-pertempuran, mereka mengasingkan diri, entah menyembunyikan diri dimana? Sudah kuusahakan untuk mencari jejaknya, tidak berhasil. Kukira, mereka lebih rela mati dipegunungan sepi, daripada berkecimpung diantara darah"

"Tanpa ada bantuannya keenam cianpwe ini. Su-hay- tong sim-beng sulit mengalahkan partay Raja Gunung," berkata Ie Lip Tiong memberi putusan.

Kecuali enam Raja Silat yang Ie Lip Tiong sebut, disitu masih ada Hong-lay Sian-ong Hong Hian Leng, Kam Lu Bin, Hong poh Kie, Lee Tiong Hu dan Wan Tin. Keenam raja silat ini tidak menyangkal keterangan Ie Lip tiong. Mereka pernah bertempur dengan dua belas raja silat golongan sesat, selisih perbedaan ilmu kepandaian itu tidak terlalu jauh, kekuatan enam orang ditambah Duta Istimewa berbaju kuning, mungkin hanya bisa memadai kekuatan sebelas jago silat golongan sesat dan Ai Tok Cun berempat. Disamping itu, partay Raja Gunung memiliki jago jago silat lainnya, siapakah yang bisa menandingi mereka? Siapa yang harus menandingi Lo-san-cu?

Hong-lay Sian-ong juga menganggukkan kepala ia berkata :

"Kita orang keenam kakek tua, paling paling hanya bisa menandingi seorang Lo-san-cu dan lima raja silat lainnya, bagaimana kalian bisa menantang keenam raja silat Golongan Sesat sisa itu? Siapa yang harus menandingi empat keluarga ai? Dan siapa yang harus menandingi anak buah partay Raja Gunung itu?"

Raja silat Lee Tiong Hu membuka suara, katanya : "Hm... hm... maksudku kita hendak diadu dengan raja

silat dari golongan sesat itu?"

"Tentu," berkata Hong-lay Sian-ong, "Sudah pasti! Kita akan menandingi mereka. Tapi bukan sekarang! Menunggu waktunya."

Raja silat Lee Tiong Hu berkata :

"Su-hay-tong sim-beng telah menjatuhkan golongan golongan dan partay partay yang ada, mengapa tidak mengikut sertakan kekuatan mereka?"

Kata kata ini mengejutkan Hong-lay Sian-ong, semangatnya bangkit kembali, dengan girang dia berkata :

"Betul! Hampir aku melupakan kekuatan masa." Raja Silat Hong Hian Leng berkata:

"Dahulu, Ngo kiat Sin mo Auw Hui merajalela, akhirnya terbasmi oleh Siauw-lim Bu-tong, Hoa-san, Kong-tong, dan Oey-san-pay, Ngo kiat Sin mo Auw yang Hui tertangkap oleh ketua enam besar itu. Satu bukti bahwa kekuatan masa tidak bisa diabaikan."

"Sayang sekali," Hong-lay Sian-ong berkata. "Ie Im Yang sudah tiada. Ia adalah kekuatan inti."

Disebutnya nama sang ayah, Ie Lip Tiong menundukkan kepala ke bawah. Teringat kejayaan Hoa-san-pay, akhirnya hampir golongan itu musnah, karena matinya sang ayah, kini biar bagaimana, ia harus bisa membangkitkan Hoa-san- pay kembali.

Ie Lip Tiong berjanji kepada diri sendiri, biar bagaimana, Hoa-san-pay akan tetap jaya, ada atau tidak adanya Ie Im Yang, apapun yang terjadi Hoa-san-pay tidak boleh rontok rimba persilatan.

Demikian putusan Hong-lay Sian-ong demikian putusan raja-raja silat yang hadir ditempat itu. Mereka menarik kesimpulan, mengikut sertakan tenaga kekuatan masa kedalam inti kekuatan, mereka akan menempur partay Raja Gunung. Ada atau tidak ada bantuan orang lain.

Musyawarah sidang paripurna itupun selesailah.

Pendekar Pengembara Lu Ie Lam menduduki dulu nomor delapan, ia menarik tangan Ie Lip Tiong dan berkata pada sang rekan:

"Hei, maukah kau menerima undangan kami?"

Duta nomor tujuh Siang koan Wie juga menarik tangan Ie Lip Tiong, katanya:

"Hei, kau harus menerima undanganku. Kita makan bersama sama."

Ie Lip Tiong memandang pada kedua orang itu, ia tertawa, katanya:

"Tentu saja mau." Dari Duta Istimewa berbaju kuning Su-hay-tong sim- beng, orang pertama yang mengenal Ie Lip Tiong adalah si Pendekar Pengembara Lu Ie Lam.

Hubungan Siang koan Wie dengan Ie Lip Tiong juga bukan hubungan biasa, Siang koan Wie pernah menjadi tawanan partay Raja Gunung, hampir ia mengalami pembesetan kulit manusia, beruntung Ie Lip Tiong membantu usahanya, menangkap Ai See Cun, dan dengan terjadinya tukar menukar tawanan perang itu, jiwa Siang koan Wie bebas dari cengkraman maut.

Sudah menjadi kewajiban yang layak, bila sahabat sahabat yang dekat itu hendak menjamu tawanannya.

Ie Lip Tiong mengikuti kehendak Siang koan Wie dan Lu Ie Lam, untuk menenggak arak perjamuan kedua jago itu.

Lu Ie Lam dan Siang koan Wie tinggal di puncak ketiga.

Tidak jauh dari markas besar Su-hay-tong sim-beng.

Yang disebut menjadi gunung Lu-san adalah kesatuan dari puncak puncak gunung kecil, markas besar Su-hay-tong sim-beng dibangun pada puncak kedua dan tempat tinggal mereka adalah dipuncak ketiga.

Dipuncak ketiga ini terdapat tiga bangunan bambu, sangat bersih, dan menyendiri.

Memandang kearah itu, Ie Lip Tiong berkata: "Kalian menempati tempat tempat itu?" "Ya," berkata Lu Ie Lam.

Ie Lip Tiong mengikuti mereka, memasuki ruangan bangunan bambu. Lu Ie Lam dan Siang koan Wie, masing masing satu tangan, mendudukkan Ie Lip Tiong di kursi kebesaran. Mereka tertawa girang, dan berkata kepada Ie Lip Tiong.

"Hari ini, giliranmu yang menduduki kursi kebesaran."

Ie Lip Tiong menjadi sibuk, ia hendak berontak, tapi tidak berdaya.

"Eh, permainan apa yang hendak kalian lakukan?" "Permainan apa?" berkata Lu Ie Lam. "Sebentar lagi kau

tahu."

Siang koan Wie berteriak kedalam. "Hayo, kalian sudah boleh keluar." Trek...

Kain penutup pintu terbuka, disana nampak dua wanita cantik, mereka dengan pemalu menyambut kedatangan Ie Lip Tiong.

Mata Ie Lip Tiong terbelalak, dengan girang ia berkata: "Aaa, kalian juga sudah berada disini?"

Lu Ie Lam cekakakan, katanya:

"Permainan apa yang kau lakukan, kau sudah menyeret orang ke dalam lumpur asmara. Kau pergi begitu saja. Lupa pada orang orang yang sudah kau amprokan, heeheheheee!"

Ya... Selama tiga bulan terakhir ini perubahan- perubahan rimba persilatan sangat mengejutkan, drama drama yang menimpa Ie Lip Tiong tidak sedikit, ia telah melupakan soal asmara.

Ie Lip Tiong kenal kepada sembilan keluarga ang, khususnya ang Yan Bwee, Ang Siok Lan dan Ang Siao Peng, mengetahui dara-dara manis dari kesembilan keluarga ang itu belum mendapat jodoh mereka, Ie Lip Tiong meninggalkan sedikit tipu muslihat dengan maksud menjodohkan Ang Siok Lan, Ang Yan Bwee kepada Duta nomor delapan dan Duta nomor tujuh.

Apa yang direncanakannya itu sudah berhasil. Adanya ang Yan Bwee dan Ang Siok Lan di tempat ini tentu sudah menjadi isteri isteri Lu Ie Lam dan Siang koan Wie.

Lu Ie Lam dan Siang koan Wie merendengi isteri masing masing, memberi hormat kepada si comblang, mereka menjatuhkan diri di depan Ie Lip Tiong.

Cepat cepat Ie Lip Tiong membalas hormat itu, ucapnya: "Hayo bangun. Hampir aku melupakan kepada kalian!" Keempat orang menjamu Ie Lip Tiong.

Sambil meminum jamuan arak, Ie Lip Tiong bertanya: "Bagaimana terjadinya samprok jodoh kalian?"

Siang koan Wie memberi keterangan, katanya tertawa: "Satu bulan yang lalu, ada tiga gadis mengunjungi Su-

hay-tong sim-beng, mereka menunjukkan duta nomor tujuh

Siang koan Wie. Dikatakan mereka kenal kepadaku. aku keluar menjumpai mereka, satupun tak dikenal. Satu diantaranya yang mempunyai gerakan lincah, gadis yang bernama ang Siao Peng itu paling berangasan, ia berteriak, mengatakan aku mengapa hendak menyangkal janji. Keributan itu sudah menghebohkan Su-hay-tong sim-beng, bengcu tampil kedepan. Si gadis lincah Ang Siao Peng mengeluarkan sobekan baju Duta berbaju kuning."

"Bengcu memang senang pada mereka, dan menegur, siapa yang merasa kehilangan sobekan baju kuningnya. Tentu tak seorangpun yang merasa kehilangan sobekan baju..." Siang koan Wie menoleh ke arah Ie Lip Tiong.

Tentu saja! Tidak seorangpun dari para duta istimewa berbaju kuning Su-hay-tong sim-beng yang itu waktu digunung Lu-san merasakan kehilangan sobekan baju. Karena kain sobekan itu hadiah perbuatan Ie Lip Tiong, Ie Lip Tiong yang mengaku menjadi Siang koan Wie, memberi janji-janji muluk untuk mengawini dua saudara dari keluarga ang.

Siang koan Wie menyambung ceritanya:

"Si gadis lincah Ang Siao Peng segera menangis, dikatakan, bahwa kita mempermainkan mereka. Itu waktu Hong-lay Sian-ong mengambil putusan, meminta pendapat kami, dan memutuskan untuk melangsungkan pernikahan. Tentu saja, kita tidak menolak tawaran itu, isteri-isteri kami begitu cantik, siapa yang mau melepaskan lagi?"

Suasana perjamuan itu semakin meriah.

"Itu waktu," berkata Ie Lip Tiong "Aku sedang berada didalam kereta sekapan Ai-lam-cun dan Ai-pek-cun, didalam keadaan sepasang mata tertutup. Tentu saja melupakan hari raya kalian."

Mereka bercakap cakap, dan menghabisi hidangan yang tersedia. Tapi tidak turut serta ang Siao Peng ditempat itu.

Beberapa kali Ie Lip Tiong hendak menanyakan kemana larinya ang Siao Peng!

Tapi ia tidak mempunyai itu keberanian, apalagi didalam keadaan seperti itu ia membiarkan terjadi.

Sesudah kenyang makan berulang kali Ie Lip Tiong menguap ia sangat letih dan lelah. Rasa ngantuknya sudah tidak tertahan lagi.

Duta Nomor delapan Lu Ie Lam berkata: "Kau sudah hendak tidur?"

"Betul," berkata Ie Lip Tiong. "Aku sudah letih sekali." "Sayang!" berkata Siang koan Wie, "kita belum

menyediakan kamar untukmu." Dengan tertawa Lu Ie Lam berkata:

"Disamping rumah ada sebuah pohon besar namanya pohon impian, siapa yang bisa tidur dibawah pohon, pasti dapat impian bagus. Dibawah pohon impian itu terdapat sebuah batu besar, bilamana Ie Lip Tiong tidak keberatan, kita jadikan tempat itu menjadi tempat istirahatnya?"

Ie Lip Tiong lompat, dengan girang ia berteriak:

"Bagus! Tidur dibawah pohonpun merupakan suatu kenikmatan. Lebih enak dari tidur di tempat tidur. Biar aku tidur disana sajalah."

Lu Ie Lam bangkit berdiri, mengajak Ie Lip Tiong dan berkata:

"Biar kuantar."

"Tidak usah." berkata Ie Lip Tiong "Aku bisa pergi sendiri."

Didalam keadaan yang sudah setengah mabuk, Ie Lip Tiong meninggalkan mereka. Menuju kesamping rumah, betul-betul disana terdapat pohon pohon beringin, mencari batu panjang yang terpapas rapi, ia merebahkan diri ditempat itu.

Batu itu khusus disediakan untuk tempat istirahat, lebar dan panjang, dilindungi oleh pohon beringin yang rimbun, memang suatu tempat untuk berkasih kasihan.

Ie Lip Tiong menyenderkan diri dibawah pohon itu, tanpa berasa ia bergumam: "Pohon ini yang dinamakan pohon impian. aku tidur disini, impian apa yang bisa kudapatkan?"

Ie Lip Tiong tidur dibawah pohon impian, impian apa yang bisa didapatkan? Inilah yang sedang dipikir-pikir.

Betulkah Ie Lip Tiong tidak bisa mendapat impian? Terbayang wajah wajah Siang koan Wie dan Lu Ie Lam.

Kedua   duta   berbaju   kuning   itu   belum   lama   kawin,

dahulunya, merekapun membujang. Berkat amprokan Ie Lip Tiong, dua dara sembilan gadis keluarga ang telah kawin dengan mereka.

Terkenang kepada dirinya, Ie Lip Tiong lebih romantis. Banyak gadis yang menghendaki berkahnya, tapi Ie Lip Tiong jauh dengan hal yang seperti itu. Pilihannya jatuh kepada Ai Ceng.

Ai Ceng adalah putri Ai-pek-cun. Putra dari salah satu anggota partay Raja Gunung.

Kedudukan inilah yang menyulitkan Ie Lip Tiong. Haluan mereka sangat bertentangan mungkinkah bisa menjadi satu?

Terbayang bayang wajah Ai Ceng yang cantik molek, gerakan-gerakannya yang cekatan tiba-tiba bayangan itu menjadi pudar, mendapat serangan bayangan lain.

Inilah bayangan Su-khong Eng!

Manusia terkutuk Su-khong Eng telah menciptakan manusia misterius berbaju hitam, dengan menyarukan dirinya menjadi Ie Lip Tiong, Su-khong Eng banyak membikin pembunuhan. Pembunuhan yang terakhir, betul betul Su-khong Eng sudah menciptakan Ie Lip Tiong duplikat, Ai Ceng tidak tahu kalau Ie Lip Tiong yang dijumpainya itu adalah Ie Lip Tiong yang palsu. Oh...

Pasti Ai Ceng sudah dicemarkan oleh Su-khong Eng.

Mungkinkah si gadis tidak bisa membongkar penyamaran Su-khong Eng? Bagaimana mereka bisa hidup bersama lagi? Haruskah dia menerima Ai Ceng? Bisakah Ai Ceng melupakan noda noda itu?

Pikiran-pikiran ini berkecamuk mengarungi benak pikiran Ie Lip Tiong.

Akhirnya Ie Lip Tiong juga tertidur di bawah pohon beringin itu.

Samar samar, seperti terasa ada seekor lalat yang menclok dihidung, Ie Lip Tiong menggoyangkan tangan, menggebah laler itu.

Laler tersebut terbang pergi.

Tapi tidak lama menclok kembali, lagi-lagi menclok dihidungnya.

Demikian terjadi sehingga berulang kali, Ie Lip Tiong naik darah, ia segera membentak:

"Bah! Baru saja aku hendak tidur. Berani kau mengganggu? Dengan sekali tepuk, mati kau!"

Disaat ini terdengar suara gadis yang tertawa cekikikan. "Hi hi hi hi..."

Ie Lip Tiong terkejut, membuka kedua matanya, disana

berdiri seorang gadis yang baru mekar, itulah gadis bontot dari sembilan dara keluarga ang, Ang Siao Peng!

Ang Siao Peng tertawa nakal, begitu meriah, tangannya masih menggoyang-goyangkan cabik kain berwarna kuning, itulah baju duta istimewa Ie Lip Tiong yang pernah diserahkan sebagai bukti. Benda yang selalu menclok dihidung bukanlah seekor lalat, itulah cabikan kain berbaju kuning yang dielus elusnya oleh Ang Siao Peng.

"Kau?" Ie Lip Tiong terkejut. Hal itu berada diluar dugaan.

Dahulu sebelum Lu Ie Lam dan Siang koan Wie mengawini kedua kakak Ang Siao Peng, Ie Lip Tiong telah berkenalan dengan mereka, disobeknya baju duta istimewa berbaju kuning sebagai tanda, dengan harapan, salah satu dari dara-dara berbaju merah itu bisa kawin dengan para duta istimewa berbaju kuning. Rencananya berhasil, dua diantaranya telah berumah tangga.

dwkz