-->

Raja Gunung Jilid 1

Jilid 01

Ketoprak.... ketoprak....

Sebuah kereta meluncur dijaman raja, gerakannya tidak terlalu cepat, itulah kereta yang hendak kembali kekandang.

Tiba tiba.....

Di tengah jalan muncul dua orang, mereka menghadang larinya kereta itu, yang dikanan adalah seorang pemuda berwajah tampan, inilah Ie Lip Tiong: tokoh silat yang pernah menggempar rimba persilatan dengan nama julukannya It-kiam-tin-bu-lim Wie Tauw. Kini menjabat Duta Istimewa nomor Tiga belas dari gerakan Su-hay-tong sim-beng.

Yang disebelah kiri adalah seorang pengemis bermata satu. Inilah duta istimewa berbaju kuning nomor sebelas namanya Tok-gan Sin-kay.

Ie Lip tiong dan Tok-gan Sin-kay menghadang larinya kereta.

"Halo," Ie Lip Tiong menyapa. "Mau kemana?"

Si kusir kereta adalah seorang laki laki setengah umur, ia menghentikannya kereta, memperhatikan kedua orang itu dan bertanya:

"JiWie berdua hendak menumpang kereta?"

"Kira kira begitu." berkata Ie Lip Tiong. "Keretamu kosong bukan?"

"Pagi ini,baru saja mengantar delapan koli barang barang kekota Pe-peng-kouw," berkata si kusir kereta. "Baru saja selesai, kini hendak balik kembali kearah kota Tiang-an." "Sangat kebetulan," berkata Ie Lip Tiong. "Kami berdua hendak pergi kearah kelenteng cin goan koan diluar kota Tiang-an. Bisakah menumpang kereta?"

"Boleh saja," berkata si kusir. "Asal jiWie berdua tidak menganggap kereta ini terlalu kotor."

Apa yang dikatakan oleh sikusir memang sangat beralasan keretanya adalah kereta pembawa barang, bukan kereta penumpang. Apalagi baru saja membawa antaran, tentu saja sangat kotor. Tidak terawat bersih. Tidak ada tempat duduk yang sangat layak.

Ie Lip Tiong dan Tok-gan Sin-kay membuka pintu kereta, lompat masuk kedalam. Mereka bukanlah orang orang yang mementingkan bagus jeleknya kereta, mereka mempunyai tugas penting, kereta itu tidak menawar lagi.

Tar.........

Kusir kereta mengayun cambuk, memecut kuda menjalankan keretanya.

Ketoprak.... ketoprak... ketoprak....

Kereta itu maju lagi menuju kearah kota Tiang-an.

"Pak kusir," bertanya Ie Lip Tiong, "kau juga orang dari Tiang-an?"

"ya," jawab sikusir kereta.

"Dimana tinggalnya? Didalam kota atau diluar kota?" "Didalam kota Tiang-an. Tidak jauh dari lorong Giok

kiat, tinggal didaerah Kian-an-ie."

"Oh....... aku seperti ingat, didaerah Kian-an-lie ada tinggal seorang hartawan, namanya....." Ie Lip Tiong tidak meneruskan pembicaraan itu. "Namanya Tong Kim Seng," sambung si kusir kereta. "Tong Kim Seng adalah hartawan terpelit diseluruh kota Tiang-an. Sudah sangat terkenal. Tahun yang lalu, anaknya diculik orang, ia dipaksa mengeluarkan lima puluh ribu tayl perak untuk membikin tebusan. Tentu saja kelojotan, hampir gantung diri. Kemudian beruntung ada sebuah perusahaan Boan chio Piauw Kiok, pemimpin perusahaan adalah tokoh silat terkenal It-kiam-tin-bu-lim Wie Tauw, It- kiam-tin-bu-lim Wie tauw berhasil menemukan putra Tong Kim seng. Si hartawan sangat tenang. Menurut cerita orang, It-kiam-tin-bu-lim Wie Tauw itu meminta lima ribu tayl perak sebagai upah jasa. Masih Tong Kim Seng keberatan, seolah olah telah terkuras bersih harta kekayaannya, kepada setiap orang dikatakan bahwa It- kiam-tin-bu-lim Wie Tauw itu adalah seorang yang keliwatan, seorang pemeras, uangnya digegares."

"Aha...." Ie Lip tiong tertawa. "Pernahkah kau bertemu dengan It-kiam-tin-bu-lim Wie Tauw?"

"Belum." jawab sikusir kereta. Ia masih duduk ditempatnya. "Sebagai seorang tukang kereta, kami mana mempunyai itu kehormatan untuk bisa bertemu dengan It- kiam-tin-bu-lim Wie Tauw yang ternama."

"Mengapa? Kau takut?"

"Kami orang kecil. Dia seorang yang besar dan agung.

Perbedaan kasta itu terlalu jauh."

"Salah!" berkata Ie Lip Tiong. "Tidak ada perbedaan kasta. Yang ada hanya perbedaan pandangan. Seseorang yang angkuh tentu tidak mau kenal kepada orang, seseorang yang mengetahui bagaimana harus hidup didalam dunia, ia tidak akan mempunyai pandangan seperti itu."

"Maksudmu? " "It-kiam-tin-bu-lim Wie Tauw juga sangat senang bilamana ia bisa bertemu denganmu."

"Tidak mungkin" jawab sikusir kereta. "Mungkin!" berkata Ie Lip Tiong.

Si kusir menoleh kedalam, ia juga sangat heran.

"Terus terang ku katakan," berkata Ie Lip Tiong. "Aku adalah It-kiam-tin-bu-lim Wie Tauw dari perusahaan Boan cio Piauw Kiok itu."

"Aaaaah....." sikusir kereta terkejut. Hampir saja ia menarik les kuda, kuda kuda kereta hampir berhenti.

Sesudah berhenti menguasai rasa kagetnya si kusir kereta bertanya:

"Tuan..... tuan sendiri yang bernama It-kiam-tin-bu-lim Wie Tauw?"

"Betul."

"Maafkan" sikusir kereta memberi hormat. "Maafkan aku yang kurang hormat."

"Jangan anggap diri sendiri terlalu rendah. Tak perlu menjunjung tinggi orang lain."

"Eh tuan Wie Tauw" berkata sikusir kereta. "Tuan juga asal kota Tiang-an. Mengapa lupa kepada sihartawan pelit Tong Kim Seng?"

"Bukan lupa" Ie Lip Tiong memberi keterangan. "Aku hendak menguji kebenarannya dari keterangan yang kau berikan. Bilamana kau tetap tinggal dikota Tiang-an, betul betul menetap didaerah Kian an lie, tentu kau bisa menyebut nama sihartawan pelit Tong Kim Seng. Bila keteranganmu tidak benar, tentu tidak bisa menyebut nama si hartawan pelit Tong Kim Seng. Dari sini aku bisa mendapat suatu bukti bahwa betul betul kau adalah kusir kereta yang asli."

"Ouw....." berkata sikusir kereta. "Boleh tuan tanya disekitar Kian an lie, semua orang sampai keanak kecilpun bisa menyebut siapa yang tak kenal kepada si kusir kereta Lie Ta Ma Cu?"

"Saudara Lie Ta Ma Cu adalah kusir yang betul betul menjalankan tugasnya." berkata Ie Lip Tiong.

"Tuan terlalu memuji. Bilamana membutuhkan tenagaku, sebutkan saja Lie Ta Ma Cu tidak akan membantah. Sewa keretaku juga lebih murah dari sewa kereta orang lain, maka langganan tidak pernah kosong."

"Saudara Lie Ta Ma Cu," berkata Ie Lip Tiong, "Berapa penghasilanmu didalam setiap harinya?"

"Tidak tentu. Bilamana ramai, bisa juga mencapai satu tayl perak."

"Karena ini milik sendiri?"

"Ya. Kalau sewa kepada orang lain, tentu lebih berat lagi penghasilan kita."

"Aku hendak   memborong   selama   setengah   bulan.

Selama itu akan ku beri dua puluh tayl perak, setuju?"

"Tidak keberatan," berkata Lie Ta Ma Cu. "Barang apakah yang tuan Wie Tauw hendak angkut?"

"Bukan barang. Tapi orang. Hanya dua orang." "Dimanakah orang yang harus dijemput?"

"Tidak perlu dijemput lagi. Hanya dua orang, itulah kita sendiri."

"Kemana tuan Wie Tauw hendak pergi?" "Daerah Wan Tiong."

"Perjalanan yang sangat jauh!" berteriak si kusir kereta Lie Ta Ma Cu.

"Bilamana saudara Lie Ta Ma Cu menganggap jumlah uang tidak cukup kami masih bersedia. "

"Bukan tidak cukup" berkata Lie Ta Ma Cu. "Apalagi kepada tuan Wie Tauw, aku sangat senang sekali bisa berkenalan. Cuma saja perjalanan terlalu jauh. Belum pernah aku menarik yang begitu lama. Keluarga dirumah bisa mengharap harap. Bolehkah pulang dahulu memberitahu kepada mereka yang dirumah. Sesudah itu, aku bersedia mengajak tuan kedaerah Wan-tiong."

"Sudah tentu" berkata Ie Lip Tiong. "Sudah tentu saja. Sudah selayaknya kau memberitahu kepada keluarga dirumah. Cuma saja, kuharap jangan kau beritahu kemana kau hendak pergi. Juga jangan beritahu kepada orang siapa penumpang yang hendak kau tarik."

"Tentu. Bilakah tuan Wie Tauw hendak berangkat?" "Sekarang, antar dahulu kami kekelenteng Cin goan

koan. Disana, kau boleh kembali kerumahmu. beritahu kepada keluarga, akan kepergianmu selama setengah bulan. Juga bawa perbekalan yang cukup. Lebih cepat lebih baik. Kami akan menunggu dikeleteng Cin goan koan."

"Baik" Lie Ta Ma Cu memecut kudanya. "Hus!.. hus...

hus. "

Ketoprak... ketoprak....

Roda kereta bergelinding,   membawa alunan suara menuju kearah kota Tiang-an.

Kereta sampai diklenteng Cin goan koan menjelang hari mau malam. Ie Lip Tiong menyerahkan lima belas tayl perak kepada Lie Ta Ma Cu, uang itu sebagai persekot sewa kereta setengah bulan. Dipesannya wanti wanti, agar Lie Ta Ma Cu segera balik kembali, sesudah memberitahukan kepada keluarganya akan mendapat langganan borongan selama setengah bulan.

Lie Ta Ma cu memberikan janjinya. Tar......

Pecut diayun, menjalankan kereta meninggalkan Cian goan koan, menuju kota Tiang-an.

Ie Lip Tiong dan Tok-gan Sin-kay mengantar lenyapnya bayangan kereta Lie Ta Ma Cu, bersama sama memasuki kelenteng Cin goan koan.

Kelenteng Cin goan koan adalah kelenteng yang mengandung sejarah. Ie Lip Tiong menjadi kambing hitam didalam kelenteng ini, Ie lip tiong mendapat fitnah hebat, hampir saja ia korban fitnah jahat itu.

Ie Lip Tiong dan Tok-gan Sin-kay memasuki ruangan tengah kelenteng. Dilantay kelenteng masih terdapat darah yang sudah kering. Menunjukkan darah itu, Ie Lip tiong berkata:

"Itulah darahku, Ai-lam-cun dan Ai-pek-cun menggabrukkan ditempat ini, melukaiku."

Ie Lip Tiong memberikan keterangan, agar Tok-gan Sin- kay bisa percaya, bahwa keterangan keterangan yang diberikannya itu adalah keterangan yang sebenar benarnya.

Tok-gan Sin-kay adalah cendikiawan yang terlantar, ia menjadi pengemis, bukan pengemis biasa, ia menduduki jabatan Duta istimewa dari gerakan Su-hay-tong sim-beng.

Karena itu, ia lebih percaya kepada keterangan Ie Lip Tiong, daripada keterangan Bu-tong-pay dan Hoa-san-pay. Ie Lip Tiong menuju kearah dinding, disana ia memeramkan mata, mulai mengenai kembali, bagaimana jalanan jalanan yang ditempuh oleh Ai-lam-cun dan Ai-pek- cun.

Seperti apa yang kita ketahui didalam cerita bagian pertama, Ie Lip Tiong tertawan oleh partay Raja Gunung. Lo-san-cu sebagai pucuk tertinggi dari pimpinan Raja Gunung, mengutus cucu muridnya, yaitu sipemuda misterius berbaju hitam Su-khong Eng, memalsukan Ie Lip tiong. Membuat keonaran didalam rimba persilatan, membunuh beberapa orang tokoh tokoh silat, mengkambing-hitamkan Ie Lip Tiong, membikin fitnah baru.

Hampir Ie Lip Tiong celaka, manakala tidak ada bantuan Tok-gan Sin-kay, jiwa Ie Lip Tiong sudah menghadap malaikat elmaut. Mata menjadi korban kecerobohan Hoa- san-pay dan Bu-tong-pay.

Kini Ie Lip Tiong sedang mengenang kejadian kejadian lama.

Pikiran Tok-gan Sin-kay adalah pikiran yang bercabang, ia memiliki kecerdikan, menyaksikan cara cara Ie Lip Tiong mengulang kembali kejadian lama, ia bisa menduga bantuan apa yang dibutuhkan oleh sang rekan, membuka mulut, mengajukan pertanyaan:

"Ie Lip Tiong tatsu, kau butuh pertolonganku?"

Ie Lip Tiong mengambil sapu tangan, menutup kedua matanya, baru menjawab pertanyaan sang rekan:

"Baik. Tolong Tok-gan Sin-kay tatsu menolong diriku, dengan kecepatan tiga-puluh kilometer per jam, kau berjalan keluar kelenteng." Mengikuti apa yang diminta, Tok-gan Sin-kay menggendong Ie Lip Tiong, berlari kearah luar kelenteng.

"Cukup!" tiba tiba Ie Lip Tiong berkata. "Ganti arah!

Kini menuju kearah kanan, berlari perlahan!"

Tok-gan Sin-kay menikung, mengikuti petunjuk yang diberikan, ia mengurangi kecepatannya.

"sekarang lompat kedepan, satu lompatan yang panjang." berkata Ie Lip Tiong didalam gendongan Tok-gan Sin-kay. "Apa yang berada dibawah kita?"

Tok-gan Sin-kay tertawa berkata:

"Sebuah sungai kecil! Ha ha... Ie Lip Tiong tatsu, kau mempunyai daya ingat yang luar biasa!"

Ie Lip Tiong menggunakan otaknya menghitung jarak dan menghitung waktu, memperhitungkan, bagaimana ia digendong keluar kereta, dan membiarkan Tok-gan Sin-kay berjalan terus.

"Cukup" ia berkata "berhenti disini".

Tok-gan Sin-kay menghentikan langkahnya perlahan lahan menurunkan Ie Lip TIong dari gendongan. Ia tertawa berkata:

"Ha ha    tidak salah lagi!"

Ie Lip Tiong mencopot sapu tangan yang menutup kedua mata, kini ia bisa melihat pemandangan disekitarnya. Mereka telah berada dibawah sebuah barisan pohon pohon yang besar. Dengan berlompat girang Ie Lip Tiong berteriak:

"Betul! Inilah tempat kita mulai berangkat. Kita akan mulai dari tempat ini" Tok-gan Sin-kay harus memuji kecerdikan Ie Lip Tiong, Ie Lip Tiong mulai prestasi prestasinya dari tokoh misterius dari kota Tiang-an, It-kiam-tin-bu-lim Wie Tauw.

Sekarang nama It-kiam-tin-bu-lim Wie Tauw sejajar dengan nama The King of King Ngo kiat Sin mo Auw yang Hui.

Bilamana Ie Lip Tiong terkenal didalam membela keadilan dan kebenaran mendapat prestasi prestasi yang dibuat olehnya. Mendapat nama karena ia terfitnah digunung Lu-san, akhirnya nyaris dari bahaya kematian. The King of king Ngo kiat sin mo Auw yang hui mendapat nama dibidang lain.

The King of king Ng kiat sin mo Auw yang hui adalah pemimpin dari dua belas raja silat golongan sesat, ia mendapat nama The king of king Ngo kiat sin mo Auw yang hui karena memiliki lima macam keahlian tanpa tandingan.

Kepintaran pertama atas prestasi Ngo kiat sin mo Auw yang hui adalah ilmu silatnya yang sangat tinggi.

Prestasi kedua yang dicapai oleh Ngo kiat sin mo Auw yang hui adalah ilmu sastranya yang tiada tara.

Prestasi ketiga dari Ngo Kiat sin mo Auw yang hui adalah permainan caturnya yang tanpa tandingan.

Prestasi keempat adalah seni musiknya yang hebat.

Dan prestasi kelima adalah permainan porno yang luar biasa.

Sayang sekali Ngo kiat sin mo Auw yang hui diberitakan sudah mati. Mati dibawah tangan ayah Ie Lip Tiong.

Maka cerita yang didengung dengungkan adalah cerita Ie Lip Tiong, tokoh luar biasa dari kota Tiang-an, sipedang yang menggetarkan rimba persilatan It-kiam-tin-bu-lim Wie Tauw.

Ie Lip Tiong mendapat tugas dari Su-hay-tong sim-beng untuk menyelidiki dimana markas besar partay Raja Gunung.

Seharusnya Ie Lip Tiong sudah berhasil menemukan jejak partay Raja Gunung. Apabila ia tidak tertawan oleh golongan tersebut.

Kini ia berhasil membebaskan diri, mulai meneruskan usahanya untuk membongkar rahasia kemisteriusan partay Raja Gunung.

Ie Lip Tiong berhasil mulai start dari kelenteng Cin goan koan, dimana ia mulai mendapat fitnah kedua.

Ditempat itulah Ie Lip Tiong dan Tok-gan Sin-kay menunggu kembalinya kereta Lie Ta Ma Cu.

Satu saat, Tok-gan Sin-kay memajukan pertanyaan:

"Ie Lip Tiong tatsu, kau hendak terus melakukan perjalanan kereta selama empat belas hari?"

Ie Lip Tiong menganggukkan kepala, membenarkan dugaan Tok-gan Sin-kay, ia berkata:

"Ya. hanya dengan cara yang seperti ini, kita bisa menjelajahi dan mengulang kejadian kejadian lama, hanya dengan cara ini, cara yang memungkinkan kita kembali kesarang markas besar partay Raja Gunung."

Tok-gan Sin-kay mengenangkan kejadian kejadian apa yang telah menimpa Ie Lip Tiong. Perjalanan empat belas hari dari kota Tiang-an menuju kedaerah wan tiong, bukanlah perjalanan singkat. Waktu perjalanan akan memakan waktu empat belas hari. Sambil menunggu kembali Lie Ta Ma Cu, Tok-gan Sin- kay bertanya:

"Kita berangkat dari sini, dengan tujuan daerah wan tiong. Melakukan perjalanan dengan kereta, kukira sampai memakan waktu empat belas hari. Tentunya harus berganti kuda bukan?"

"Tidak salah" membenarkan Ie Lip Tiong. "Dahulu mereka mengganti kuda dilima tempat, inilah suatu bukti, perjalanan yang terus menerus tidak bisa ditempuh tanpa adanya penggantian kuda kuda baru."

"Didaerah dan tempat tempat manakah penggantian kuda itu?" bertanya Tok-gan Sin-kay.

"Yang kulihat pasti hanya dua kali. Seperti berada dipinggiran kota," jawab Ie Lip Tiong. "Kota apa itu, aku tidak bisa menyebut namanya."

"Mudah dibereskan," berkata Tok-gan Sin-kay. "Karena kau kenal dengan daerah itu suatu saat, bilamana waktunya bertukar kuda, kitapun tukar kuda."

Tidak lama kemudian, dari jauh terdengar suara kereta datang, itulah kereta Lie Ta Ma Cu.

Lie Ta Ma Cu lompat turun dari keretanya, berkata: "JiWie berdua sudah menunggu lama?"

"Tidak lama." berkata Ie Lip Tiong. "Kami sudah tahu,

kau bisa datang."

Didalam tangan Lie Ta Ma Cu membawa dua bungkusan, diserahkan kepada Ie Lip Tiong dan berkata:

"Tentunya jiWie berdua belum makan, sengaja kubawakan bakpao dari kota Tiang-an. Makanlah. Masih panas." Ie Lip Tiong mengucapkan terima kasih menyambuti pemberian itu, bersama sama dengan Tok-gan Sin-kay, mereka masuk kedalam kereta.

Kereta sudah disapu bersih, disana terkapar selembar tikar, hal ini sangat menggirangkan Ie Lip Tiong, ia menongolkan kepala keluar dan berkata: "Saudara Lie Ta Ma Cu, terima kasih atas perhatianmu yang begitu baik. Tapi, sebelumnya hendak kuberitahu, perjalanan ini dilakukan terus menerus tanpa istirahat, tentu sangat memberatkan kondisi badan."

"Tidak apa," berkata Lie Ta Ma Cu. "Bisa mengabdikan diri kepada It-kiam-tin-bu-lim yang ternama, adalah satu kehormatan. aku selalu siap. Betapapun berat pekerjaan itu akan kupikul."

"Selama perjalanan harus berganti kuda sampai lima kali" berkata Ie Lip Tiong.

Lie Ta Ma Cu sudah naik keatas keretanya, ia menepuk dada dan berkata:

"Didaerah selatan dan utara, kita ada satu persewaan kuda yang tak kukenal, urusan ini boleh serahkan kepadaku."

Ie Lip Tiong masih meragukan, dimana harus bertukar kuda? Mendapat jaminan Lie Ta Ma Cu yang kenal kepada semua persewaan kuda, girangnya luar biasa, ia berkata lagi:

"Masih ada satu yang harus kau perhatikan kecepatan kereta harus diatur olehku. Bilamana membutuhkan kecepatan waktu, kau harus cepat. Waktunya berhenti, harus berhenti. Harus meminta komando dariku."

"Tentu" berkata Lie Ta Ma cu. "Boleh berangkat?" "Ya. Mulailah."

"Mengambil arah ketempat mana?" "Arah tenggara" berkata Ie Lip Tiong. Tar.......

Pecut diayun, menyambuki kuda, menjalankan kereta. Kretek..... Kretek.....

Roda kereta bergelinding jalan.

Kereta Lie Ta Ma Cu meninggalkan kelenteng Cin goan koan. Mulai dengan ekspedisinya yang menuju kearah tenggara, menuju kedaerah Wan tiong untuk menyelidiki dimana yang menjadi markas besar partay Raja Gunung.

Ie Lip Tiong membuka bungkusan dari Lie Ta Ma Cu, terisi bakpao yang masih panas, membagi Tok-gan Sin-kay, duduk ditikar yang tersedia, bersama sama makan.

Dengan daya ingatannya, Ie Lip Tiong mengomandokan jalan kereta. Selama diperjalanan tidak ada gangguan.

Pada pagi berikutnya, Ie Lip Tiong merasakan tempat penggantian kuda, segera ia berteriak:

"Saudara Lie Ta Ma Cu, hentikan kereta." Cit..... Cit.... Cit.... Cit....

Kereta dihentikan.

Dari dalam kereta, Ie Lip Tiong mengajukan pertanyaan: "Saudara Lie Ta Ma cu, tempat apakah tempat ini?" Terdengar suara jawaban Lie Ta Ma Cu.

"Perbatasan kota Lan kiauw tin." "Bagus" berkata Ie Lip Tiong. "Disini kita harus bertukar kuda."

Lie Ta Ma cu berkata:

"Didalam kota Lan kiauw tin, ada sebuah perusahaan persewaan kuda dan kereta yang bernama persewaan kuda dan kereta Cian lie sun. Disana terdapat banyak kawan kawan. Kuda ini bisa dibawa untuk ditukar dengan kuda baru, tanpa menaruh uang jaminan."

Lie Ta Ma Cu sudah lompat turun, meninggalkan kedudukan kusir kereta, menghampiri pintu dan menyingkap, tiba tiba dia terbelalak, dia kaget dia bisa menyaksikan Ie Lip Tiong duduk dalam kereta dengan kedua mata tertutup. Dengan heran dia bertanya:

"Eh, tuan Wie Tauw menutup kedua matamu?"

Ia tidak mengenal Ie Lip Tiong. Yang dia kenal adalah tokoh luar biasa dari kota Tiang-an, pemimpin perusahaan dari Boan chio piauw kiok It-kiam-tin-bu-lim Wie Tauw. Maka menyebut dengan panggilan tuan Wie Tauw.

Ie Lip Tiong bangkit duduk, tersenyum dan menjawab pertanyaan itu:

"Aku telah menutup kedua mataku selama satu malam suntuk."

"Hebat kau! Dapat mengomandokan kereta dengan mata ditutup."

Ie Lip Tiong tertawa, berkata pada Lie Ta Ma Cu:

"Demikianlah permulaan pekerjaan. aku tidak menjerumuskan keretamu kedalam jurang, bukan?"

Lie Ta Ma cu gelengkan kepala, gumamnya: "Heran.... heran.... dia tidak melihat, tapi bisa memberi komando, ilmu apakah yang digunakan olehnya?"

"Lekas kau ganti kuda," berkata Ie Lip Tiong. "Sesudah kau kembali, akan kuberi tahu!"

Melepas tali tali kuda. Lie Ta Ma Cu harus menukar kudanya yang lama, kuda itu sudah lelah karena melakukan perjalanan semalam suntuk, diganti dengan kuda yang baru.

Tidak lupa, Ie Lip Tiong berkata:

"Hei, jangan kau beritahu, akan adanya dua penumpang yang didalam kereta. Harus dirahasiakan."

Lie Ta Ma Cu bisa menduga duga, It-kiam-tin-bu-lim Wie Tauw, Wie Tauw tentu sedang mengurus suatu perkara penting, tidak berani ia bermain main, cepat menyelesaikan tugasnya, harus menukar dan mengganti kuda baru.

Tok-gan Sin-kay memandang punggung bayangan Lie Ta Ma cu. Si kusir menggandeng kuda menuju kearah kota. Tok-gan Sin-kay berkata kepada Ie Lip Tiong.

"Ie Lip Tiong tatsu, caramu menggunakan taktik merayap didalam gelap ini memang sangat hebat."

Dengan tertawa Ie Lip Tiong berkata:

"Sucouw memberi perintah, diwaktu tiga bulan, aku harus menyelidiki markas besar partay Raja Gunung. Kini waktu yang ditetapkan itu hanya tinggal dua puluh tiga hari. Bilamana tidak berhasil menyelidiki jejak partay Raja Gunung. Sucouw akan mentertawakan aku."

Sucouw Ie Lip Tiong adalah seorang raja silat, nama Hong Hian Leng. Mempunyai kedudukan yang sama dengan kedudukan bengcu Su-hay-tong sim-beng hong-lay siang-ong. Tok-gan Sin-kay berkata:

"Bilamana tidak melakukan perjalanan salah, tiga belas hari kemudian, kita bisa balik kembali kemarkas besar partay gunung. Itu waktu, masih ada waktu sembilan hari, waktu yang cukup lama untuk kembali kegunung Lusan."

"Kuharap saja tidak tersesat ditengah jalan." berkata Ie Lip Tiong. "Aku sangat mengharapkan bantuanmu."

"Tentu saja. Kita adalah rekan dari barisan Duta Istimewa berbaju kuning dari Su-hay-tong sim-beng. tentu saja wajib saling bantu"

"Apa yang ku minta bantuan ini, mungkin bisa menurunkan derajat Tok-gan Sin-kay tatsu."

"Aku tahu" berkata Tok-gan Sin-kay. "tentunya kau hendak minta bantuanku, untuk mewakili Lie Ta Ma Cu, mengendarai dan menjadi kusir kereta. Bukan?"

"Itulah, mungkin bisa menurunkan derajat Tok-gan Sin- kay tatsu. Masakan seorang duta istimewa berbaju kuning mau disuruh suruh menjadi kusir kereta?"

"Serahkan kepadaku," berkata Tok-gan Sin-kay. "Mulai dari saat ini disiang hari, aku yang mengendarai kereta. Malam hari giliran Lie Ta Ma Cu. Kita bisa bergilir."

"Inilah yang kuharapkan. Lie Ta Ma Cu bukan seorang manusia besi, betapa kuatpun kondisi badannya, tidak mungkin terus menerus mengendarai kereta, tanpa beristirahat, tidak mungkin bisa bertahan sampai empat belas hari. Sudah kewajiban memberi istirahat kepadanya."

Demi kesuksesan Su-hay-tong sim-beng, Tok-gan Sin-kay menjadi kusir kereta. Memang Tok-gan Sin-kay bukan seorang yang sangat menjunjung tinggi kedudukan, sebagai kaum pengemis, apapun mau dilakukan olehnya apalagi untuk perdamaian dan kesejahteraan rimba persilatan.

Disaat itu, terdengar suara ketoprakan kaki kuda, Lie Ta Ma Cu telah balik dengan kuda baru.

Secepat itu pula, Lie Ta Ma Cu telah menyarungkan kuda didepan kereta, membikin perjalanan.

Ie Lip Tiong memberitahu putusannya. Lie Ta Ma Cu tidak menolak saran itu. Ia naik kereta dan mengambil waktu istirahat. Ketika dikendarai Tok-gan Sin-kay. Ie Lip Tiong terbaring didalam, memberi komando dan menentukan arah.

Setengah hari kereta dijalankan, Ie Lip Tiong menongolkan kepala dan meneriaki Tok-gan Sin-kay:

"Tok-gan Sin-kay tatsu, tolong hentikan kereta!"

Lie Ta Ma Cu sudah istirahat, memanggilkan kusir itu, Ie Lip Tiong berkata:

"Saudara Lie Ta Ma Cu, bisakah tolong mencarikan bakpao kambing disekitar daerah ini?"

Lie Ta Ma Cu menganggukkan kepala, ia berkata:

"Baik. Tempat ini tidak jauh dari kota San-liong. Ku kira masih bisa membeli bakpao kambing."

Ia membuka pintu kereta, lompat turun, dan Lie Ta Ma Cu menjalankan kereta.

Ditempat kedudukan kusir kereta, Tok-gan Sin-kay tertawa. Memandang kepada Ie Lip Tiong dan bertanya:

"Ie Lip   Tiong tatsu,   kau suka   memakan bakpao kambing?"

"Bukan" menjawab Ie Lip Tiong. "Itu hari, Ai-lam-cun menyerahkan bakpao kambing. Untuk membuktikan letak tempat, dimisalkan daerah sekitar ini terdapat bakpao kambing, maka terbuktilah bahwa perjalanan tidak sesat."

Tidak lama kemudian, Lie Ta Ma Cu telah kembali, ia membawa bungkusan yang berisi bakpao kambing.

Ie Lip Tiong menerima bakpao itu, dimakannya bersama sama. Ia meresapi rasa bakpao kambing tersebut, berlompat girang, teriaknya:

"Tidak salah lagi! Inilah rasa bakpao kambing yang kumakan dahulu itu!"

Bakpao terisi daging kambing khusus diproduksi untuk daerah kota Tiang-an dan kota San-liong.

Bakpao kambing kota Tiang-an berisi pilihan, garing dan nyaman.

Kereta dijalankan kembali. Bakpao kambing kota San- liong bersifat bersih.

Ie Lip Tiong pernah merasakannya, kini ia mengulang kembali. Ia berhasil membuktikan bahwa bakpao yang dahulu itu adalah bakpao dari tempat yang sama.

Demikianlah seterusnya, bilamana Lie Ta Ma Cu menjalankan kereta pada malam hari, Tok-gan Sin-kay menjadi kusir disiang hari. Mereka mengendarai kereta tersebut, menerima komando komando Ie Lip Tiong.

Ie Lip Tiong duduk dan tertidur didalam kereta, ia istirahat sebentar sebentar, sambil mengenangkan kejadian kejadian lama. Ia harus bisa memberi komando yang tepat agar tidak sesat.

Perjalanan telah berlarut sehingga hari kesebelas. Mereka sudah menukar kuda sehingga tiga kali, disini Ie Lip Tiong meminta Lie ta Ma cu mengganti kuda lagi, sekalian meminta dibelikan daging pangsit basah. Betul saja, disini Lie ta ma cu bisa membelikan daging pangsit basah.

Membawa barang pesanan itu, Lie Ta Ma Cu tidak tahan untuk tidak mengutarakan rasa herannya kepada Ie Lip Tiong. Ia berkata:

"Tuan Wie Tauw, kau betul betul hebat! Bagaimana tahu, bahwa ditempat ini ada jual daging pangsit basah?"

Ie Lip Tiong tidak menjawab pertanyaan itu, ia balik bertanya:

"Apa tempat nama kota ini? Kota Bu-sian atau kota Kay- yang?"

"Kota kay-yang" jawab Lie Ta Ma Cu. "Daging kering dikota Kay-yang, sangat terkenal sekali."

Betul! Kota Kay-yang!

Lagi lagi dugaan yang tepat. Tidak sesat jalan.

Sesudah mengunyah beberapa kali, Ie Lip Tiong bisa membedakan makanan itu mempunyai rasa yang sama dengan makanan yang dahulu, makanan yang diberikan oleh Ai-lam-cun dan Ai-pek-cun. dengan rasa girang ia berkata:

"Tak salah jalan! Empat hari lagi, hanya empat hari lagi kita bisa berada ditujuan!"

Tok-gan Sin-kay bertanya:

"Bagaimana bentuknya markas besar partay Raja Gunung itu. Bisakah Ie Lip Tiong tatsu memberi gambaran sedikit?"

Ie Lip Tiong menjawab:

"Kira kira begini: Letaknya diantara suatu telaga, harus naik kereta, harus naik perahu." "Telaga disekitar daerah Wan-tiong berjumlah besar. Seperti telaga telaga ang-tek-ouw, Tan-yang-ouw, Lam-in- ouw, Pek-to-ouw, Tong-siok-ouw, See-ouw, To-ouw atau telaga darah dan lainnya. Telaga yang manakah mempunyai kemungkinan terbesar?"

"Itu waktu, aku mengikuti Ai-pek-cun sehingga di telaga dara. Tampak olehku, Ai-pek-cun menumpang perahu dan berjalan pergi. Kukira markas besar partay Raja Gunung berada disekitar telaga darah. Tapi disana aku masuk perangkap Ai-pek-cun. Mereka menutup kedua mataku, dinaikinya kedalam kereta, melakukan perjalanan satu hari satu malam, sesudah itu, berganti perahu, kira kira beberapa jam kemudian, baru sampai dimarkas besar mereka. Kukira telaga itu tak jauh dari telaga darah, mungkin telaga Pek-to- ouw atau telaga Tan-yang-ouw."

Dengan pikirannya, Tok-gan Sin-kay mengilmiahkan, beberapa waktu kemudian ia berkata:

"Dipusat telaga Tan liang ouw terdapat sebuah gunung, mungkin gunung itu gunung yang dijadikan markas besar mereka. Tapi jarak dari telaga darah ketelaga di Tan liang ouw tidak cocok dengan perkiraan. Dari sini menuju ketelaga Tan liang ouw tidak bisa dicapai dalam waktu empat hari."

"Itulah" berkata Ie Lip Tiong. "Mungkin juga Pek-to- ouw, tapi ditelaga Pek-to-ouw tidak ada gunung."

"Yang mana besar, telaga Pek-to-ouw atau telaga Tan- liang-ouw?"

"Kita berangkat sajalah!"

"Betul. Gunakanlah panca indra ketiga, kita boleh membuat persiapan." "Saudara Lie Ta Ma Cu." berkata Ie Lip Tiong. "Berangkat!"

Lie Ta Ma Cu duduk dikursi kereta, melanjutkan perjalanan.

Satu malam lagi dilewatkan oleh mereka.

Pada hari perjalanan yang kedua belas, Ie Lip Tiong bisa merasakan, sudah waktunya berhenti. Segera ia memberikan komando kepada Lie Ta Ma Cu, membuka tutup kain yang menutup kedua matanya, memandang Tok- gan Sin-kay dan berkata:

"Aku ingin turun kereta. Dari bukti bukti dari sini aku bisa membedakan bahwa perjalanan tidak salah."

Betul betul Ie Lip Tiong lompat keluar dari kereta membikin penyelidikan, tempat kereta itu berhenti adalah ditepi rimba, Ie Lip Tiong mencari cari jejaknya, mengendus endus seolah olah seekor anjing serigala yang mengikuti jejak maling yang dicari.

Rimba itu sangat luas, lama sekali Ie Lip Tiong membikin penyelidikan. Lie Ta Ma Cu dan Tok-gan Sin- kay menunggu didalam kereta.

Beberapa saat lagi dilewatkan. Ie Lip Tiong berlari lari datang, ia berteriak girang:

"Tidak salah! Kita mengambil jalan yang tepat. Jalan yang kita tempuh adalah jalan yang benar! aku berhasil menemukan takta itu."

"Bukti apakah yang dicari olehmu?" bertanya Tok-gan Sin-kay.

"Sangat tidak pantas disebutkan" berkata Ie Lip Tiong tertawa. "bukti itu hanya gundukan kotoran."

"Aaaa.   " Tok-gan Sin-kay tertawa. "Ie Lip Tiong tatsu berak ditempat ini?"

"Ya" berkata Ie Lip Tiong. "Jikalau aku membuang air besar, Ai-lam-cun dan Ai-pek-cun mendampingi dikiri dan kanan. Seolah olah menjadi tamu agung."

Tok-gan Sin-kay tertawa.

"Ha ha       permainan Ie Lip Tiong tatsu terlalu banyak,

Ai-lam-cun dan Ai-pek-cun adalah jago jago ternama, mereka harus mendampingimu tentunya tidak sedap."

Diantara suara tertawa itu, mereka berangkat kedepan. Hari berganti hari, matahari timbul dan tenggelam,

kereta berjalan lurus kedepan akhirnya, berbalik kembali dari cara merayap didalam keadaan gelap telah berlangsung empat belas hari, Ie Lip Tiong selesai mengfinishkan perjalanan, untuk menyelidiki balik ketempat markas besar partay Raja Gunung.

Hari ini adalah jam tiga pagi, bertepatan diwaktu Ie Lip Tiong terbawa naik kemarkas besar partay Raja Gunung. Hati Ie Lip Tiong menjadi begitu tegang, ia membuka tali pengikat kedua matanya, kini giliran Tok-gan Sin-Kay-yang menjadi kusir kereta, ia berkata perlahan:

"Tok-gan Sin-kay tatsu, sudah tiba. Berhenti ditempat ini!"

Tok-gan Sin-kay menghentikan keretanya, memandang kearah Ie Lip Tiong dengan penuh tanda tanya ia berkata

"sudah sampai? Tempat inikah yang Ie Lip Tiong tatsu maksudkan?"

Dengan pendirian tetap, Ie Lip Tiong berkata perlahan: "Betul, Inilah tempat permulaan." Tok-gan Sin-kay memperlihatkan wajahnya yang masih belum mengerti. "Heran?" ia bergumam. "Mengapa bisa tiba disini?"

"Daerah apa ini?" bertanya Ie Lip Tiong.

"Telaga darah" berkata Tok-gan Sin-kay. "Telaga darah! Tempat yang mengandung sejarah, karena ditempat inilah kau tertawan musuh"

"Aaaa....." Ie Lip Tiong berteriak perlahan. "telaga darah?"

Ya! Mereka telah tiba didaerah telaga darah.

Masih teringat kembali kejadian lama, sesudah Ie Lip Tiong tertangkap ditelaga darah. Ia dibawa oleh kereta. Melakukan perjalanan satu hari satu malam, baru sampai ditempat tujuan, itulah markas besar partay Raja Gunung.

Seharusnya, markas partay Raja Gunung mempunyai jarak perjalanan satu hari satu malam dari telaga darah.

Mengapa ia tiba ditelaga darah kembali? Mungkin perjalanan kurang satu hari satu malam.

Ie Lip Tiong adalah seorang cerdik disaat itu, ia menggunakan pikirannya, berpikir beberapa waktu. Tanpa disadari, Ie Lip Tiong tertawa, sadarlah ia mengapa bisa terjadi kejadian yang seperti ini?

"Eh?" berkata Tok-gan Sin-kay. "Mengapa tertawa?" Dengan suara perlahan, Ie Lip Tiong berkata:

"Teruskan perjalanan. Tapi jangan dekati tepian telaga darah. Perlahan lahan, berganti arah menuju kearah selatan."

Ketoprak.... ketoprak... ketoprak.... Kereta berjalan kembali.

Perlahan lahan berganti arah, menuju kearah selatan, meninggalkan daerah telaga darah.

Sesudah melakukan perjalanan empat lie, tanpa terjadi sesuatu. Tok-gan Sin-kay memperhatikan situasi tempat itu, bertanya kedalam kereta.

"Ie Lip Tiong tatsu, ada penemuan baru?"

"Kita telah berhasil menemukan jejak tempat partay Raja Gunung," berkata Ie Lip Tiong.

"Markas besar partay Raja Gunung didirikan ditelaga darah" bertanya Tok-gan Sin-kay heran.

"Ya" berkata Ie Lip Tiong. "Partay Raja Gunung mendirikan markas besarnya digunung Lo-san ditelaga darah."

Tok-gan Sin-kay masih belum mengerti, ia bertanya lagi "Pernah kau katakan, kau tertawan ditelaga darah,

sesudah itu, diangkut oleh kereta ditempat lain, melakukan perjalanan satu hari satu malam. Sesudah itu, menyeberangi air lagi, baru sampai dimarkas besar mereka. Mengapa bisa balik ketelaga darah lagi?"

"Tok-gan Sin-kay tatsu masih belum mengerti?" Kecerdikan Tok-gan Sin-kay juga tidak berada dibawah

Ie Lip Tiong, maka ia bisa mengilmiah segala sesuatu

secara tepat. Maka ia bisa menolong Ie Lip Tiong dari bahaya yang tidak mungkin bisa dielakkan. Berpikir beberapa saat, akhirnya ia menepuk paha.

"Ahaaa    " ia bersorak senang. "Aku mengerti" Bukan Ie Lip Tiong saja yang mengerti, Tok-gan Sin-kay juga sudah mengerti, mengapa markas besar partay Raja Gunung bisa didirikan didaerah telaga darah.

Ie Lip tiong juga memuji kecepatan daya pikir Tok-gan Sin-kay, ia berkata:

"Ya, mereka telah menawan diriku. Menutup kedua mataku, kemudian menggunakan kereta mengangkut pergi. Mereka hanya berputar putar disekitar daerah ini akhirnya tetap disini. Sungguh lihay, cara mereka memutar mutarkan orang itu memang lihay! Sayang! Mereka lupa kepada sesuatu, mereka lupa bahwa aku bisa mengulang perjalanan dengan mata tertutup, menggunakan cara merayap didalam gelap, akhirnya balik kembali. Ha Ha Ha.."

Suara tertawa Ie Lip tiong mengejutkan Lie Ta Ma Cu yang sedang tertidur. Ia merayap bangun, mengucek ucek kedua matanya dan bertanya:

"Ada apa? Ada apa?"

Menepuk nepuk pundak  kusir kereta itu, Ie Lip tiong berkata:

"Tidak   apa   apa,   tidur   sajalah.   Kita sudah selesai menamatkan tour ini."

"Sudah sampai ditempat tujuan?" bertanya Lie Ta Ma Cu.

"Ya" berkata Ie Lip Tiong "dikota Seng Kee tauw kita sudah tiba."

Sesudah itu, Ie Lip Tiong mengambil dua puluh tayl perak, diserahkan kepada Lie Ta Ma Cu dan berkata:

"Nah! Kuberi tambahan lima tayl perak. Ambillah semua." Lie Ta Ma Cu mengucapkan rasa terima kasih, dan bertanya:

"Tuan Wie Tauw, bila tuan hendak balik kembali ke kota Tiang-an?"

"Belum tahu" jawab Ie Lip Tiong. "Ku kira tidak kembali kekota Tiang-an. Dalam waktu waktu terdekat."

Mereka sudah tiba dikota Seng kee tiauw.

Kusir kereta Tok-gan Sin-kay menoleh dan bertanya

"Ie Lip Tiong tatsu, kita berhenti didalam kota atau diluar kota?"

Daerah ini tidak terlalu jauh dengan daerah telaga darah. Mungkin didalam kota terdapat mata mata partay Raja Gunung. Lebih baik berhenti diluar kota saja."

Kereta dilarikan menuju arah luar kota, daerah ini agak sepi, berhenti dipinggiran pohon besar. Tok-gan Sin-kay lompat turun dari kereta, menyerahkan kedudukan kusir kepada Lie Ta Ma Cu dan ucapnya:

"Menuju kearah barat terdapat kota In Gu tin. Pergilah kau ketempat itu untuk bermalam."

Lie Ta Ma Cu menerima kembali kedudukannya, mengucapkan selamat berpisah kepada Ie Lip Tiong dan Tok-gan Sin-kay, memecut kuda, meninggalkan mereka.

Kereta lenyap pada waktu dini hari.

Ie Lip Tiong dan Tok-gan Sin-kay melanjutkan perjalanan, mereka memasuki sebuah rimba, disana mereka melemaskan badan, mengambil waktu istirahat.

"Bagaimana kita memasuki markas besar partay Raja Gunung?" bertanya Tok-gan Sin-kay. "Tidak!" berkata Ie Lip Tiong. "Kita tidak bisa masuk kedalam markas besar partay Raja Gunung. Kita juga tidak bisa mendekati telaga darah lagi."

"Mengapa?" bertanya Tok-gan Sin-kay.

"Setiap penangkap ikan ditelaga Tay-ouw adalah orang orang partay Raja Gunung. Begitu kita memasuki daerah mereka, pasti diketahui. Kita tidak bisa menyerang mereka tanpa bantuan kekuatan yang lebih hebat."

"Aku percaya dan yakin, ilmu kepandaian didalam airku bisa melebihi orang." berkata Tok-gan Sin-kay. "Kita tidak perlu menyewa perahu secara menyelam, kita bisa mengarungi telaga darah, memasuki daerah gunung Lo- san."

"Tapi, sesudah tiba dimarkas besar partay Raja Gunung, jangan harap bisa balik kembali." sambung Ie Lip Tiong.

"Mengapa? Musuh sangat lihay?"

"Ya." Ie Lip Tiong menganggukkan kepala. "Ai-pek-cun, Ai-lam-cun, Ai-tong-cun dan Ai-cu-cue berempat itu bukan manusia biasa. Kita berdua belum tentu bisa menandinginya. Apalagi ditambah raja raja silat golongan sesat, tampil dua orang saja sudah menyulitkan kita. Bagaimana bisa melawan mereka?"

"aaa...." Tok-gan Sin-kay berteriak "Dua belas raja silat golongan sesat semua berada disana?"

"Ya. Kecuali Ngo kiat Sin mo Auw yang Hui yang sudah mati. Sebagian besar dari sebelas Raja Silat sesat lainnya berada didalam partay Raja Gunung."

Tok-gan Sin-kay mengeluarkan keringat dingin, kini ia mengerti kedudukan partay Raja Gunung itu sangat kokoh dan diperbantukan oleh raja raja silat dari golongan sesat, bagaimana mereka bisa menandinginya?

Tok-gan Sin-kay bisa menerima kenyataan. Ia tidak kukuh pendapat, tidak memaksakan Ie Lip Tiong untuk menerjang partay Raja Gunung.

Pemimpin partay Raja Gunung menggunakan nama Lo- san-cu, siapakah tokoh tokoh silat luar biasa ini? Bagaimana ia bisa mengepalai sebelas raja silat dari golongan sesat?

Yang diartikan dengan raja raja silat adalah dedengkot rimba persilatan yang sudah memiliki ilmu kepandaian tinggi, rata rata sangat sombong dan angkuh, tidak mudah tunduk pada siapapun juga.

Tapi Lo-san-cu bisa menyatukan mereka, suatu bukti bahwa Lo-san-cu ini mempunyai ilmu kepandaian yang melebihi orang.

Siapakah Lo-san-cu? Ie Lip Tiong berkata:

"Itu hari, sucouwku memberi perintah, aku wajib menemukan jejak partay Raja Gunung, lebih kurang dalam waktu tiga bulan. Kini waktu yang ditetapkan hanya tinggal delapan hari. aku ingin balik ke gunung Lo-san, memberi laporan. Dan yang lain lebih penting, bilamana dugaanku tidak salah, Hoa-san-pay dan Bu-tong-pay sedang mengadu biru di Su-hay-tong sim-beng."

"Baiklah" berkata Tok-gan Sin-kay. "Kini segera kau balik ke Su-hay-tong sim-beng memberi laporan. Urusan disini boleh serahkan kepada ku. Biar aku yang mengawasi gerak gerik partay Raja Gunung."

Itulah maksud yang dikandung oleh Ie Lip Tiong, tapi ia tidak meneruskannya secara terus terang, mereka bersama sama menjadi barisan istimewa baju kuning dari Su-hay- tong sim-beng, tapi kedudukannya sebagai duta nomor tiga belas adalah baru. Tok-gan Sin-kay menduduki urutan nomor sebelas, maka ia kurang pantas menyuruh tokoh silat itu. Mendapat pernyataan Tok-gan Sin-kay, rasa girangnya tidak kepalang.

"Bila Tok-gan Sin-kay tatsu mempunyai niatan untuk mengawasi gerak gerik partay Raja Gunung, inilah yang paling baik. Tapi....." Ie Lip Tiong menyedot napas sebentar, baru berkata lagi. "Kuharap saja tidak terjadi bentrokan bentrokan tokoh tokoh kuat mereka terlalu banyak."

"Aku tahu" berkata Tok-gan Sin-kay. "Aku tidak akan merusak rencana Su-hay-tong sim-beng."

"Yang penting harus menjaga mereka, agar tidak bisa pindah tempat mendadak." berkata Ie Lip tiong.

"Diwaktu kita lewat di kota Seng kee tiauw kulihat ada sebuah kelenteng. aku akan memberi tahu segala sesuatu didalam kelenteng itu. Atau meletakkan laporan dibawah meja sembahyang. Bilamana kalian datang kembali, periksalah kelenteng tersebut."

"Baik" berkata Ie Lip tiong. "Aku segera berangkat" Tok-gan Sin-kay dan Ie Lip tiong berpisah.

Tok-gan Sin-kay menjaga disekitar daerah telaga darah, mengawas-awasi gerakan gerakan partay Raja Gunung. Sedang Ie Lip tiong menuju kearah Su-hay-tong sim-beng digunung Lu-san bersiap siap untuk memberi laporan.

Seperti apa yang Ie Lip tiong sudah duga, di dalam rapat harian Su-hay-tong sim-beng, Hoa-san-pay dan Bu-tong-pay akan mengadukan dirinya. Melewati waktu, kita melayang kearah gunung Lu-san.

Gunung Lu-san adalah gunung yang sangat indah markas besar Su-hay-tong sim-beng dibangun ditempat ini.

Disebuah ruang yang agak besar, ruangan sidang dari Su- hay-tong sim-beng berkumpul banyak orang.

Tok.... Tok..... tok.    ketua Su-hay tong sim-beng Hong-

lay sian-ong membuka sidang.

Maka suara hiruk pikuk dan suara keramaian itupun tersirap.

Seorang protokol tampil kemimbar, ia mulai angkat bicara:

"Pesta dimulai! Para wakil dari golongan golongan dan partay dipersilahkan memberi laporan."

Semua mata diarahkan kearah tempat duduk Hoa-san- pay dan Bu-tong-pay.

Ditempat duduk wakil wakil dari Bu-tong-pay tampak seorang kakek tua, inilah ketua partay Bu-tong-pay yang baru, Ku-hong Totiang.

Sesudah ketua partay lama Ko-goat totiang almarhum meninggalkan Bu-tong-pay, Ku-hong totiang naik tahta menduduki menjabat ketua partay.

Berita kematian Ko-goat totiang telah tersiar luas, menurut cerita orang, Ko-goat totiang mati dibawah tangan Ie Lip tiong. Tapi banyak diantaranya masih menyangsikan adanya berita itu.

Kehadiran Ku-hong totiang ditempat duduk wakil wakil Bu-tong-pay membuat duga-dugaan tentu telah terjadi sesuatu, semua mata diarahkan ketempat Ku-hong totiang, hendak melihat, bagaimana sang pejabat ketua partay mengajukan dakwaannya kepada Ie Lip tiong.  Seperti apa yang semua orang tahu, Ie Lip tiong sedang mencapai prestasi prestasi tertinggi. Ie Lip tiong telah menduduki Duta nomor tiga belas dari Su-hay-tong sim- beng. Kini Bu-tong-pay hendak menuntut hukuman mati kepada Duta nomor tiga belas itu, bagaimana reaksi Hong- lay sian-ong.

Dari wakil wakil Bu-tong-pay dan Hoa-san-pay, masing masing tampil seorang, mereka membawa surat dakwaan, diserahkan kepada pengacara rapat yang duduk disebelah Hong-lay sian-ong.

Hanya wakil Bu-tong-pay dan Hoa-san-pay yang memberi laporan. Tidak ada acara berita ketiga kecuali dua partay tersebut diatas.

Protokol pengacara berteriak lagi.

"Masih ada wakil lainnya yang hendak melaporkan kejadian sesuatu?"

Suasana sunyi dan tidak ada laporan lainnya. Kecuali laporan yang datang dari Hoa-san-pay dan Bu-tong-pay.

dewi