-->

Persekutuan Pedang Sakti Jilid 27 (Tamat)

Jilid 27 (Tamat)

HEK SAT SENG KUN SEH THIAN Adalah jagoan

yang termasuk dalam urutan empat raja langit, sekalipun kesadaran otaknya sekarang telah lenyap (perlu diketahui, segenap jago dari Tok seh sia telah berada dalam keadaan kehilangan kesadaran pikirannya) namun ilmu silatnya masih tetap utuh.

Ketika secara tiba-tiba ia melihat datangnya sesosok bayangan tubuh yang meluncur ke arahnya, bahkan mengikuti terjangan itu terasa datangnya segulung angin pakulan maha dahsyat yang mengancam keselamatan jiwanya, cepat-cepat dia menjejakkan kakinya ke atas tanah dan segera menyingkir kesamping,

Dengan cepatnya pula kakek Ou melayang turun ke atas tanah, kepada Ma koan tojin segera ujarnya

"Ma koan toheng, si nenek ini telah menyatakan kesediaannya untuk bekerja sama dengan kita, untuk sementara waktu kuserahkan kepadamu"

Sebelum Ma koan tojin memahami maksud perkataan itu kakek Ou telah melepaskan Kiu sing ang po dan melejit kembali ke tengah udara dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat.

Dia langsung mengejar kebelakang tubuh Seh Thian yu lalu telapak tangannya diayunkan kemuka menghantam tubuh orang tersebut.

Seh Thian yu berusaha keras untuk menghindarkan diri, sayang keadaan sudah terlambat, tahu-tahu tubuhnya sudah dicengkeram dan diangkat ketengah udara oleh kakek Ou bagaikan elang yang menangkap anak ayam, menyusul kemudian tangan kirinya diayunkan ke atas tubuhnya untuk menotok jalan darah, serta merta Seh Thian yu tertotok telak dan terlempar ke atas tanah.

Kakek Ou tidak berdiam sampai disitu saja, tubuhnya segera berputar cepat dan melesat ke depan dengan menempel di atas tanah, dia langsung menyergap ke belakang tubuh si Serigala kuning bercakar racun Siu It hong kemudian jari tangannya disodokkan ke depan.

Sesungguhnya So Siu hui adalah putri kesayangan dari ketua Lam hay bun yang memiliki ilmu pedang sangat hebat, namun sayang sebagai anak perempuan tenaga dalamnya sangat terbatas. Walaupun pedang yang digunakan adalah pedang mestika yang tajam, namun dia tak mampu memapas putus cakar serigala beracun dari lawannya

Waktu itu paras mukanya telah berubah menjadi pucat pias sementara napasnya tersengkal sengkal

Ketika secara tiba-tiba menyaksikan kakek Ou meluncur datang dengan kecepatan luar biasa, hatinya menjadi kegirangan, cepat-cepat dia berseru :

"Ooooh, empek Ou..."

"Budak cilik, kau tak perlu berteriak lagi, percuma kau memanggil-manggil kakekmu..." jengek serigala kuning bercakar racun sambil tertawa seram.

Akan tetapi sebelum perkataan itu selesai diucapkan, ia sudah mengeluh kesakitan punggungnya terhajar oleh serangan totokan jari hingga tak ampun lagi tubuhnya roboh terjengkang ke atas tanah....

So siau hui mendengus dingin, memanfaatkan

kesempatan baik itu dia mengangkat pedangnya dan langsung ditusukkan keatas ulu hati lawan.

Cepat-cepat kakek Ou menangkis serangan dari nona itu, kemudian serunya :

"Jangan kau bunuh, mereka tak lebih hanyalah orang-orang yang telah kehilangan kesadaran pikirannya"

"Tapi aku merasa amat mendongkol terhadapnya. "

seru So Siau hui sambil cemberut. "Lebih baik nona istirahatlah sejenak."

"Tidak usah" tampik So Siau hui sambil menyeka keringat dari wajahnya, "aku tidak lelah, aku akan membantu Wi sauhiap."

"Untuk menghadapi congkoan dari pasukan pedang berpita hijau Buyung Siu, kita hanya boleh menangkapnya hidup-hidup dan tak boleh sampai salah tangan sehingga melukainya, silahkan nona beristirahat, serahkan saja orang-orang itu kepada budak tua untuk dibereskan.."

Menyusul perkataan itu, tubuhnya berputar kencang bagaikan sebuah gasingan, jari tangannya disentilkan berulang kali melancarkan serangkaian totokan udara kosong.

Dua buah serangan jari di antaranya secara terpisah menyergap tubuh Buyung Siu serta Siang Bu ciu berdua.

Lawan dari kedua orang ini adalah Wi-Tiong hong serta Cho Kiu moay, saat itu mereka sedang bertarung dengan kecepatan luar biasa, diantara kilauan cahaya pedang, suara benturan nyaring bergema tiada hentinya.

Ditengah pertarungan yang sedang berlangsung sengit itulah tahu-tahu bergema dua kali suara dengusan tertahan, si sastrawan pemeluk pedang Buyung Siau dan Raja langit kedua Siang Bu ciu segera roboh terjengkang ke atas tanah.

Sebagaimana diketahui, Wi Tiong hong serta Cho Kiu moay berdua telah kehilangan kesadaran pikirannya karena pengaruh obat. Saat itu mereka hanya tahu tunduk dan menuruti perkataan Liu Leng poo seorang....

Begitu kedua orang lawan sudah roboh, tanpa pikir panjang lagi mereka segera membalikkan badannya, kemudian ketika melihat Liu Leng poo sedang bertarung melawan seorang, serentak mereka berpekik penuh kegusaran kemudian serentak menerjang ke arah si pendeta asing Ci kong siansu.

Kakek Ou yang melihat kejadian ini, diam-diam menghela napas panjang, gugamnya,

"Aaaaa, sungguh tak kusangka bubuk pembingung sukma buatan si raja langit bertangan beracun Liong Cay thian memiliki daya kerja yang begitu hebat!"

Tanpa menghentikan gerakan tubuhnya lagi dia membentak keras-keras :

"Kam lote aku datang membantumu!"

Kam Lu cu yang harus bertarung melawan Tok kiu ji lo memang merasa kepayahan, mendengar seruan itu, cepat-cepat dia berseru keras :

"Kesadaran pikiran mereka sudah hilang semua" Kakek Ou tertawa.

"Jangan kuatir, aku telah melihatnya sendiri tadi"

Dengan suatu gerakan cepat dia menyelinap masuk ke dalam arena, kemudian telapak tangannya diayunkan ke depan dan menyambut bacokan yang sedang dilancarkan kakek bertubuh ceking itu.

Ketika si kakek ceking itu melihat datangnya musuh lain, tanpa berpikir panjang dia lanjutkan ancaman itu kearah lawan.

"Blaaammm. !"

Ketika dua gulung angin pukulan saling bertemu satu sama lainnya, segera terjadilah suara benturan keras yang memekikkan telinga, akibatnya timbul pusaran berpusing yang memancar keempat penjuru, keadaannya menjadi amat mengerikan.

Dengan sepasang mata merah membara, kakek ceking itu terdorong mundur sejauh delapan depa lebih, rambutnya yang berwarna keperak-perakan berdiri kaku semua bagaikan landak, tubuhnya bergetar keras, agaknya ia sedang menahan gelora amarah yang luar biasa.

Kakek Ou mendesis dingin, bukannya mundur dia malah mendesak maju lebih ke depan, mengikuti gerakan mana ia mendesak lebih kedepan langsung menuju kehadapan kakek ceking itu.

Sementara itu telapak tangan si kakek ceking itu sudah berubah menjadi merah membara seperti api, ketika melihat musuhnya mendesak lebih mendekat, serta merta dia mengayunkan tangannya menghajar bahu kakek Ou telah menyodokkan jari tangannya menghajar jalan darah Hian ki hiatnya.

Kakek ceking itu sama sekali tak ambil perduli, bukannya menghindarkan diri dari ancaman yang tiba, dia justru mengerahkan ilmu pakulan Kiu yang tok ciangnya untuk menghajar bahu kakek Ou.

"Blaaammm!"

Serangan itu bersarang telak dan menghantam tubuh kakek Ou sambil mencelat dan bergetar keras.

Akan tetapi totokan jari tangan kakek Ou atas jalan darah Hian ki hiat ditubuh kakek ceking itupun bersarang telak, tak ampun kakek itu segera roboh terduduk.

Dipihak lain, sipendeta asing Ci kong siansu yang harus menghadapi serangan gabungan dari Wi Tiong hong serta Cho Kiu moay telah berada dalam keteter hebat, menggunakan kesempatan itu Liu Leng poo segera turun tangan menotok jalan darahnya

Sedangkan kelima belas orang lelaki berbaju hitam itupun berhasil dikuasai semua oleh keempat perempuan berbaju hitam anak buah Kiu siang poo.

Dengan demikian, didalam ruangan depan tinggal Kam Lui cu dan seorang kakek cebol saja yang masih bertarung sengit

Si kakek cebol itu dengan mengandalkan sepasang telapak tangannya yang hitam pekat seperti tinta melepaskan serangkaian pukulan Kiu im tok ciang dengan

hebatnya angin serangan yang menderu-deru terasa amat memekikkan telinga.

Berulang kali Kam Liu cu merubah jurus serangannya, sepintas lalu kelihatan sangat ganas tapi dia justru tetap mengatur penjagaan penyerangan secara jitu dan tepat, Tapi berhubung ilmu silat yang dimiliki lawannya kelewat tangguh, maka walaupun dia telah berhasil merebut posisi di atas angin, tetap bukan pekerjaan yang mudah baginya untuk meringkus lawannya yang satu ini.

Pertarungan kembali berlangsung sampai berapa puluh gebrakan, namun posisinya tetap seimbang, keadaan tidak banyak mengalami perubahan seperti semula.

Kakek Ou yang kebetulan telah merobohkan si kakek ceking, tanpa berpaling lagi segera mengayunkan tangan kenannya dan mendekati kakek cebol itu dari belakaeg, serangkaian totokan udara kosong di lancarkan secara beruntun.

Kakek cebol itu membalikkan tubuhnya, ketika menyaksikan kakek Ou menerjang mendekat dia sangat terkesiap dan segera melompat mundur sejauh beberapa depa untuk menghindarkan diri dari datangnya ancaman tersebut.

Melihat hal ini, si kakek Ou segera tertawa keras : "Heeehhh..heeehh..heeehhh..kau anggap seranganku ini bisa kau hindari?"

Tangan kanannya segera menyambar ke depan dan mengancam bahu kakek cebol itu, sementara tangan kirinya secara tiba-tiba melepaskan sebuah pukulan.

Dengan kecepatan kakek cebol itu menghindar selangkah ke samping untuk meloloskan diri dari cengkeraman kakek

Ou kemudian sambil membalikkan badan, tangan kanannya balas melepaskan sebuah pukulan untuk menyongsong datangnya ancaman tangan kiri kakek Ou tersebut.

"Blaaaaamm,.!"

Sepasang telapak tangan itu saling berada satu sama lainnya dan menimbulkan suara benturan yang amat kerat.

Kakek Ou segera mendorong tangan kirinya ke depan seraya membentak keras : "Kam lote, sambutlah ini !"

Begitu dia melakukan dorongan, tubuh kakek cebol itu persis terdorong kehadapan Kam Liu cu.

Si kakek cebol itu tak sanggup untuk menahan diri lagi, dengan sempoyongan dia mundur sejauh enam tujuh langkah ke belakang dan menerjang kehadapan tubuh Kam Liu cu.

Tentu saja Kam Liu cu mengerti, kakek Ou memang sengaja berbuat demikian agar dia tidak kehilangan muka.

Karena itu tidak menunggu sampai si kakek cecol tersebut mendekati tubuhnya, jari tangannya telah diayunkan ke depan serta menotok jalan darah dibelakang tubuhnya.

Dengan ditaklukkannya segenap musuh yang menyerang datang, pertarungan sengit yang semula berlangsung di depan pelataran pun akhirnya terhenti juga.

Kiu siang poo yang tertotok jalan darahnya dan masih duduk bersila diatas tanah, segera manggut-manggut seraya memuji : "Ehmmmm, tampaknya nama besar si Panglima sakti berlengan emas yang menjaga pintu langit selatan memang bukan nama kosong belaka."

"Haaahhh! haaaaahhh..haaaahh...apakah kau berharap aku bersedia membebaskan dirimu?" seru kakek Ou sambil tertawa tergelak.

"Benar, apakah kau masih mempunyai syarat lainnya?"

Kakek Ou segera menuding ke arah orang-orang yang berada dibelakangnya, lalu berkata :

"Orang orang itu semua telah kehilangan kesadarannya karena terluka ditanganmu, bagaimana pun juga aku harus memberikan pertanggungan-jawabnya bukan?"

Mendorong sinar tajam dari balik mata Kiu siang poo setelah tertawa tajam dengan suaranya yang melengking, dia berkata,

"Andaikata mereka terpengaruh oleh ilmu pembetot sukmaku, sudah sejak tadi oraag orang tersebut menuruti perkataanku!"

Liu Leng poo segera tertawa dingin : "Terbukti kalau mereka kehilangan pikiran dan ingatannya karena jalan darah Nau juang hiat pada benak terluka oleh Ciang Liong ci, selain kau, siapa lagi manusia di dalam dunia persilatan saat ini yang memiliki ilmu sesat seperti itu?"

Kiu siang poo tetap menggelengkan, kepalanya,

"Ciang liong ci maksudmu?" dia berseru, "Aku sama sekali tidak mengerti apa yang disebut Ciang liong ci itu?"

Dengan kening berkerut Liong Hiang kun mendengus, serunya :

"Enci Liu kau jangan percaya dengan perkataannya itu!"

Tapi kakek Ou segera menyela :

"Tampaknya sih memang bukan perbuatannya!"

Liu Leng poo mengangkat kepalanya seraya berpaling, kemudian tanyanya :

"Maksud totiang, orang yang menggunakan ilmu jari Ciang liong ci tersebut adalah orang lain?"

Kakek Ou manggut manggut.

"Kiu siang poo mengaku kalau dia sendiripun berada dibawah pengaruh orang lain. Aku pikir perkataannya ini bisa jadi ada betulnya juga.."

"Tapi siapakah orang itu?"

"Aku sendiripun tidak tahu siapakah orang itu" ucap Kiu siang poo. "Dia mengaku sebagai Siau cu hujin, ahli dalam menggunakan racun, aku dan keempat orsng muridku sudah diracuni semua olehnya"

"Siau cu hujin?" seru Liu Leng poo terkejut, "dia.."

Belum habis perkataan itu diucapkan, tiba-tiba dari dalam ruangan sudah berkumandang datang suara gelak tertawa seseorang, menyusul kemudian terdengar suara seorang perempuan menjawab "Apakah kalian menganggap setelah berhasil membekuk Kiu siang poo, kemudian tak ada urusan lagi!"

Liong Hung kun merasakan sekujur tubuhnya bergetar keras, tiba-tiba saja ia menjerit lengking.

"Perempuan siluman itulah yang mengaku sebagai Siau cu hujin, perempuan siluman, itulah biang keladinya. "

Pelan pelan tirai mutiara disingkap orang kemudian muncul seorang perempuan berambut panjang, bergaun

panjang yang berdandan sebagai seorang perempuan keraton,

Didalam genggamannya dia memegang sebuah senjata Giok ji gi berwarna hitam, wajahnya cantik rupawan dan kelihatan anggun.

Didepan tubuhnya berjajar delapan orang kakek berbaju abu-abu yang semuanya berwajah dingin dan kaku, dalam genggaman mereka masing masing memegang sebuah gendawa kecil berwarna emas yang diatasnya telah dipersiapkan anak panah dan itu tujukan kesemua jago yang berada dalam ruang depan.

Kakek Ou memperhatikan sekejap perempuan itu lalu bertanya :

"Kaukah yang bernama Siau cu hujin?" Siau cu hujin tertawa dingin :

"Heeebhh.heeehhh...heeehhh...kalian semua telah berada di tengah perangkap, menurut pendapatku lebih baik kalian menyerah saja untuk dibelenggu."

"Haaaahhh.haaahhh..haaahhh.." kakek Ou tertawa tergelak, "kedatanganmu sangat kebetulan, kami memang sedang mencari dirimu".

"Hmmm, kalian tak usah tekebur dulu. Coba tengok dulu keadaan dibelakang kalian fikir dulu apakah masih ada jalan mundur yang lain. ?"

Tak kuasa lagi semua orang berpaling di luar pintu bentuk bulat itu terdapat pula sebuah ruangan yang sangat lebar.

Waktu itu empat orang kakek berjenggot putih berbaju hijau berdiri dimuka ruangan tersebut sementara dalam genggaman mereka masing masing memegang sebutir

benda berbentuk bulat yang besarnya seperti telur itik dan berwarna hitam berkilauan. Sambil tertawa terbahak-bahak kakek Ou segera berseru :

"Haaahhh.. haaahh.. haaahhh.. kalau cuma barisan semacam ini sih hanya bisa menakut- nakuti bocah yang berusia tiga tahun saja"

"Empek tua" seru Liong Hiong kun dengan wajah memucat, “mereka adalah Lu leng pat kong” “Lantas kenapa? Apakah mereka sangat lihay?” Dengan suara rendah Liong Hiang kun berkata :

"Benda yang berada dalam genggaman Pat kong adalah delapan lembar busur emas berpanah racun, benda itu merupakan senjata manunggal dari Lim ciangkun, seorang tokoh penting dari suku Biu dimasa lalu, apabila anak panah itu dibidikan ke tengah udara maka bubuk beracun yang tergesek oleh udara akan meletus dan segera menyebarkan bubuk tersebut keseluruh angkasa, setiap makhluk yang terkena sedikit saja bubuk beracun itu, maka kulit tubuhnya akan membusuk dan akhirnya leleh menjadi gumpalan air berwarna kuning."

"Sebaliknya benda yang berada di tangan Su leng adalah peluru sakti api beracun Kiu thian sip teeh, daya pengaruhnya amat dahsyat, cukup sebutir saja sudah dapat membakar hangus kita semua"

Siau cu Hujin yang mendengar perkataan itu segera tersenyum, segera ujarnya

"Adik kecil, perkataanmu memang benar. Nah tentunya kalian semua telah mendengar bukan, asal kuturunkan perintah, jangan harap kalian semua dapat meloloskan diri dalam keadaan selamat"

Liong Hiang kun mendengus dingin, tiba-tiba dia tampilkan diri kedepan lalu berseru dengan suara melengking;

"Su leng pat kong, kalian telah banyak tabun mengikuti ayahku, kini ayahku telah mati dicelakai oleh siluman perempuan itu mengapa kalian tidak membalaskan dendam bagi kematian ayahku, sebaliknya malah menuruti perintah dari siluman perempuan itu?”

Kedelapan orang kakek berbaju abu-abu itu tetap membungkam diri dalam seribu bahasa, bibirnya diturunkan kebawah, matanya memancarkan sinar yang dingin dan menyeramkan, wajahnya kaku tanpa emosi, terhadap ucapan dari Liong Hiang kun tadi sikapnya acuh tak acuh seperti sama sekali tidak mendengar perkataan itu.

Sambil tertawa Siau cu Hujin berkata lagi: "Adik cilik, kau jangan berbicara sembarangan, kalau ingin mengetahui siapakah pembunuh ayahmu maka adalah Tong hujin, mereka berempat saling beradu racun di ruang depan sehingga keracunan dan tewas, sampai sekarang pun jenasah mereka belum tergeser dari posisinya semula, bagaimana mungkin kau menuduh akulah pembunuhnya?"

"Sebenarnya siapakah kau?" tiba-tiba Liu Leng poo menegur, "sesungguhnya apa maksud dan tujuanmu dengan perbuatan semacam ini?"

Siau cu Hujin tertawa merdu:

"Akulah Siau cu hujin! Asal kubantai kalian semua hingga mati, maka tiada orang dalam dunia persilatan dewasa ini yang sanggup memusuhi kami lagi"

Kakek Ou memperhatikan sekejap busur kecil berwarna emas yang berada ditangan kedelapan orang kakek berbaju

abu-abu itu, bibirnya nampak berkemak kemik lirih, dengan ilmu menyampaikan suara bisiknya.

"Nona Liu, ajaklah dia berbincang-bincang aku akan memanfaatkan kesempatan yang ada untuk menyergap serta membekuknya" Tiba-tiba Siau cu hujin memutar matanya yang jeli, kemudian tertawa dingin :

"Hey tua bangka, kunasehati kepadamu lebih baik jangan mempunyai pikiran sinting, barang siapa berani bertindak gegabah maka dibawah serangan ke delapan busur emas bubuk beracun itu, tak seorangpun diantara kalian yang akan lolos dalam keadaan selamat..." 

Belum selesai perkataan itu diutarakan, mendadak dia mendongakan kepalanya sambil membentak :

"Siapa di situ. "

Tampak sesosok bayangan manusia berkelebat masuk dari ruang depan dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat, semua orang cuma merasakan berdesingnya angin tajam melewati atas kepala, namun tidak jelas wajah bayangan manusia itu.

Baru saja perkataan "Siapa disitu" meluncur dari bibir Siau cu Hujin, tubuhnya telah meluncur pula keluar ruangan bersamaan dengan kedatangan bayangan manusia tadi.

Tubuhnya yang melayang ditengah udara bergerak dengan gerakan yang sangat indah dan luwes, seolah-olah sedang menari saja disitu.

Ternyata Siau cu hujin adalah anggota dari partai laba-laba dalam sakunya selalu tersedia seutas benang tipis yang dapat membuatnya terhenti ditengah udara.

Tapi kalau diamati dengan lebih seksama lagi, terasa gerakan itu bukan seperti menari, namun lebih mirip dengan gerakan meronta.

Semua peristiwa ini berlangsung dalam waktu singkat, sementara orang yang menerobos masuk lewat pintu bulat itu sudah melayang turun keatas tanah, ternyata dia adalah seorang nona berbaju hijau.

Didalam genggamannya tampak membawa sebuah

tongkat bambu yang tipis lagi panjang, pada ujung tongkat bambu tadi terikat seutas benang tipis, bentuknya mirip sekali dengan alat pengail nelayan, dan saat itu gadis tersebut telah berhasil mengail tubuh Siau cu hujin sehingga tergantung ditengah udara.

Keadaan Siau cu hujin tak ubahnya seperti ikan yang kena terkail, dia masih mencoba untuk meronta di tengah udara, namun tak pernah berhasil melepaskan diri dari rontaan tersebut

Kejut dan gembira Liu leng poo segera berseru:

"San sumoay !"

Ternyata gadis berbaju hijau itu tak lain adalah Liok Khi yang telah pergi mengikuti si kakek pengail dari telaga sorga itu.

Bila ditinjau dari kemampuannya mengail Siau cu hujin sebelum semua orang sempat melihat wajahnya, dapatlah diketahui bahwa dalam berapa bulan yang begitu singkat, dia telah berhasil mewarisi semua kepandaian yang dimiliki si kakek pengail dari telaga sorga.

Sementara itu Liok Khi telah mengerakkan alat pengailnya seraya berseru. "Toa suheng, cepat disambut!" Keadaan Siau cu hujin waktu itu tak ubahnya seperti seekor ikan duyung, mengikuti seruan tadi, tubuhnya langsung meluncur kehadapan Kam Siu cu dan...

"Blaaammmm.,!"

Tubuhnya terbanting keras keras diatas tanah.

Kam Liu cu tak berani berayal lagi, dengan suatu langkah cepat dia maju kemuka dan segera menotok jalan darahnya.

Liong Hiang kun juga segera menggetarkan pedangnya sambil menyerang ke muka, serunya sambil menggertakan giginya kencang-kencang.

"Siluman perempuan, kau tentunya tak pernah menduga bukan bakal terjatuh ketanganku !"

Liu Leng poo segera menghalangi perbuatannya itu sambil berbisik dengan ilmu menyampaikan suara.

"Nona Liong, jangan berbuat begitu, banyak orang-orang kita yang telah terluka oleh ilmu totokan Ciang liong ci-nya, untuk melepaskan lonceng harus dicari yang mengikatnya.

Ilmu totokan jalan darah semacam ini hanya dia yang sanggup membebaskannya"

Dalam pada itu Siau cu hujin yang jalan darahnya tertotok telah berkata sambil tertawa terbahak-bahak:

"Dengan nyawa ku dapat ditukar dengan begitu banyak nyawa kalian, kalau di hitung hitung aku sama sekali tidak rugi!"

"Hujin!" Mendadak Kiu siang poo menjerit lengking,

"mungkin kau tidak pernah menyangka bukan bahwa aku pun berada di sini?" "Sekalian pun kau berada di sini, lantas apa bedanya?"

jengek Siau cu hujin dingin.

"Andaikata hujin terjatuh ke tangan mereka, mungkin tak akan menemukan cara yang terbaik untuk membuatmu mati tak bisa hidup pun tak dapat, tapi bagi aku si nenek beraneka ragam cara yang kupahami dan aku kuasahi"

"Nenek sialan, kau harus mengerti bahwa kaupun keracunan, dan racun tersebut aku lah yang mengendalikan, saat ini juga aku dapat membuat racun itu bekerja secara merenggut nyawamu."

Dengan cakar elangnya Kiu siangcu poo mengayunkan tangannya kedepan, manusia berkata lagi sambil tertawa seram.

"Sekalian racun itu mulai bekerja didalam tubuhku, dengan dasar tenaga dalam yang kumiliki aku percaya paling tidak masih sanggup bertahan selama satu dua jam lamanya, sebaliknya bila kuayunkan tanganku ini maka aku akan melepaskan ilmu Kiu thian lian hun sut atas tubuhmu yang membuat kau menderita dan tersiksa hebat selama empat puluh sembilan bari.." Tentu saja Siau cu Hujin cukup mengetahui tentang kemampuan dari Kiu siang poo, paras mukanya kontan saja berubah hebat setelah mendengar perkataan itu, segera bentaknya sambil menyeringai seram:

"Kalian jangan keburu merasa bingung dulu bila kuturunkan perintah maka aku masih bisa beradu jiwa dengan kalian semua"

"Heeehhh....heeeahh..heeehhh...perkataan mu itu tak bakal bisa menggertak aku si nenek" jengek Kiu siang poo sambil tertawa lengking, "Kini jalan darahmu telah tertotok, dengan menggunakan benda apakah kau akan memberi perintah kepada mereka?"

Kemudian sambil berpaling kearah Liu-Leng poo katanya lagi :

"Harap nona Liu menggeledah sakunya, dia mempunyai sebuah sumpritan yang terbuat dari batu kemala hitam, dengan benda itulah dia memberi perintah kepada orang-orang yang kehilangan pikiran serta kesadarannya itu."

Jalan darah Siau cu hujin sudah tertotok waktu itu hingga keempat anggota badannya tak mampu bergerak, maka diapun tak bisa berbuat apa-apa sewaktu Liu Leng poo menggeledah sakunya serta mengeluarkan sebuah sumpritan yang terbuat dari batu kemala hitam.

Dengan sepasang mata yang melotot besar penuh pancaran sinar marah dan benci, siau cu hujin mengawasi wajah Kiu siang poo lekat lekat, namun mulutnya terbungkam dalam seribu bahasa.

Sementara itu Kam Liu cu telah berkata, "Nona telah terjatuh ketangan kami, asalkan kau bersedia bertobat serta kembali kejalan yang benar, maka kamipun tidak akan mencelakai jiwamu."

"Dengan cara apa kalian minta aku bertobat?" tanya Siau cu hujin dengan suara dingin,

"Cukup bagi nona untuk membebaskan jalan darah semua jago yang tertotok oleh ilmu Ciang Liong ci yang mengakibatkan mereka kehilangan kesadarannya itu, kami pun akan segera membebaskan pula dirimu."

ooo~^DewiKZ^Aditya^aaa^~ooo

"Lebih baik kalian bunuh saja diriku!" kata Siau cu hujin. "Heeee....hee....heee , kau betul-betul tidak takut mati?" jengek Liu Leng-poo sambil tertawa dingin.

Siau cu hujin mengangkat kepalanya serta menengok sekejap kearah Liu Leng poo, kemudian berkata :

"Aku toh sudah menerangkan, aku haaya mampu menotok jalan darah seseorang dengan ilmu Ciang liong ci, namun tidak mengetahui bagaimana caranya untuk membebaskan, apa yang bisa kuperbuat bila kalian semua tak mau percaya?"

"Selain kau, siapa lagi yang mampu membebaskan pengaruh totokan tersebut?" tanya Kam Liu cu.

"Tentu saja ada orang yang mampu." "Siapakah dia?"

"Aku sendiripun tak mengetahui siapakah dia? Sebab dia hanya mengajarkan ilmu menotok dengan Ciang Liong ci."

"Kalau begitu, kaupun bukan otak yang menjadi pimpinan sesungguhnya ditempat ini?" desak Liu Leng poo dengan kening berkerut.

Siau cu hujin segera menundukkan kepalanya rendah-rendah :

"Bila aku harus bicara sejujurnya, bisa ku jelaskan bahwa akupun bukan pemimpin yang sesungguhnya dari lembah ini."

"Kau sebagai Siau cu hujin, paling tidak tentu mengetahui sedikit banyak tentang identitas orang tersebut?"

Siau cu hujin menggelengkan kepalanya berulang kali :

"Aku tidak tahu. Meskipun aku telah bertemu dengannya beberapa kali, namun sama sekali tak kuketahui siapakah namanya, dia muncul dengan dandanan sebagai seorang sastrawan yang berwajah tampan, tapi aku tahu wajah tersebut bukan wajah aslinya."

Perkembangan dari peristiwa tersebut makin lama berubah semakin aneh dan mencengangkan.

Tanpa terasa Kam Liu cu menggaruk garuk kepalanya yang tidak gatal sembari menyela......

"Dia selalu bertemu dengan nona dimana?”

“Orang ini bergerak seperti bayangan setan, kedatangan maupun kepergiannya selalu misterius, kebanyakan dia telah muncul dibelakang tubuhku secara tiba-tiba. menanti kudengar suara dehemannya serta berpaling, dia telah berdiri dihadapanku, ada kalanya secara tiba-tiba dia muncul pula didalam kamarku. "

"Kemanakah dia telah pergi?" tanya Kam Liu cu.

"Dia selalu memperingatkan kepadaku agar jangan mengintip atau mencoba menyelidiki gerak geriknya secara diam-diam, kalau tidak, maka hal ini akan mendatangkah bencana kematian bagi diriku. Selain itu diapun pergi dengan kecepatan luar biasa, dalam sekilas kelebatan saja bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan"

"Selain kau, masih ada siapa lagi yang pernah berjumpa dengannya..?" tanya Liu Leng poo kemudian.

"Aku rasa sudah tak ada lagi, dia selalu menampakkan diri dikala aku sedang seorang diri."

"Benarkah didunia ini terdapat manusia yang begini misterius seperti apa yang kau ceritakan itu?" sindir kakek Ou,

"Setiap patah kataku adalah kata kata yang sejujurnya !"

So Siau hiu yang selama ini hanya membungkam terus tiba-tiba bertanya. "Kebanyakan dia munculkan diri dimana?"

"Di pintu belakang"

"Dekat tempat kediamanmu ?" Siau cu hujin manggut manggut.

"Kalau begitu ajaklah kami untuk masuk ke dalam"

perintah So Siau hui sambil menepuk bebas jalan darah Siau cu hujin yang tertotok. Tampaknya Liu Leng poo didesak oleh keadaan, terpaksa dia harus memimpin didepan.

Liu Leng poo segera meniup sumpritan kemala itu seraya berseru kepada ke delapan orang kakek berbaju abu itu :

"Mulai sekarang kalian berada dibawah kekuasaanku jaga baik baik semua tawanan yang berhasil dibekuk disini, jangan biarkan seorang pun di antara mereka lolos dari sini"

Kalau dibilang memang sangat aneh ke delapan kakek berbaju abu-abu itu segera menerima perintah dan membungkukkan badannya dalam-dalam dengan sikap yong sangat hormat.

Selesai memberikan perintahnya, Liu leng poo segera mengajak So Siau hui serta Liok Khi untuk menyusul dibelakang Siau cu hujin.

Sementara itu para jago lainnya pun turut serta meninggalkan ruang tengah menuju kebelakang, Kiu siang poo yang cacad segera di bopong naik keatas sebuah kereta oleh anak muridnya dan mengikuti pula dari belakang Setelah melalui penyekat, ruang belakang merupakan sebuah halaman kecil yang sama sekali tertutup rapat, Setelah melewati pelataran, didepan situ merupakan sebuah ruang teagah yang indah dan megah, dikiri dan kanan masing masing terdapat dua buah pintu yang tertatup rapat

Liang Hiang kun segera berseru keras

"Enci Liu, Ban kiam hweecu disekap di ruang di sebelah kiri"

Liok Khi segera menggerakkan alat pancingannya untuk menyambar pintu yang berada diruang kiri..,

"Kraaaakkk!"

Pintu kayu itu sama sekali tidak bergerak barang sedikitpun. So siau hui yang menyaksikan hal ini segera berkata:

"Enci Liok, Pintu itu terbuat dari baja murni."

Sembari berkata dia mendekati pintu masuk kemudian menekan sebuah tombol, pintu besi itu pun pelan-pelan terbuka lebar.

Sekilas perasaan kaget cepat menghiasi wajah Siau cu hujin, serunya keheranan. "Ooooh, rupanya nona menguasai sekali tentang ilmu alat rahasia.." "Hmmm. Justru karena itulah aku tak akan menghadapi permainan setanmu!" jawab So Siau hui dingin.

Pintu besi terbuka lebar dan semua orang pun tertegun setelah melihat isi ruangan tersebut, sebab isi ruangan itu bukan Ban-kian hweecu melainkan seorang nona cantik yang berambut kusut.

"Mana Ban kian hweecunya ?" tanya So Siau hui sambari berpaling.

Dengan sepasang matanya yang jeli nona cantik itu memperhatikan sekejap sekeliling tempat tersebut, setelah melihat jelas pendatang itu, pipinya berubah menjadi semu

merah, cepat dia beranjak keluar dari ruangan dan menjura kepada semua orang sambil katanya:

"Nona So, Kam tayhiap selamat bersua. aku adalah Sie Hui jin!"

Dengan cepat Kam Lui cu memahami apa yang terjadi, buru buru serunya ; "Ooooh, rupanya nona Sie adalah Ban kiam hweecu!"

Setelah mendengar perkataan tersebut, semua orang baru tahu kalau Ban kiam hweecu adalah seorang perempuan.

Ketika Ma koan tojin mendengar kalau nona cantik ini tak lain adalah Kiamcu-nya, cepat- cepat dia memburu ke depan sambil memberi hormat, serunya

"Hamba tidak mengetahui kalau Kiamcu telah muncul, harap Kiamcu sudi memaafkan kebodohan hamba"

Sie Hui jin tersenyum.

"Toheng kelewat merendah, padahal Kiamcu adalah ayahku, sedangkan aku tak lebih cuma mewakili ayah selama berada diluaran"

Berbicara sampai disini, dia melirik sekejap kearah Wi Tiong hong kemudian bertanya lagi;

"Apakah Wi siauhiap telah terperangkap sehingga kehilangan kesadaran pikirannya?"

"Wi sauhiap telah terluka oleh ilmu jari Ciang liong ci mereka" jawab Makoan tojin cepat.

"Kalau tak salah, orang yang disekap di dalam ruang depan sana adalah paman Wi sauhiap"

"Benar," sambung Siau cu hujin segera, "Orang itu bernama Pit Ci beng, dia adalah seorang jagoan dari Siu lo bun."

Tidak menunggu Liu Leng poo buka suara, dia telah maju kedepan serta membuka pintu besi itu

Tampak seorang sastrawan berbaju hijau munculkan diri dengan langkah pelan, mula-mula dia nampak tertegun setelah menjumpai para jago yang berkumpul disitu, kemudian sambil menatap kearah Wi Tiong hong, serunya terkejut bercampur girang, "Nak. kalian telah berhasil membobolkan pertahanan Tok seh sia." Buru-buru Kam Lui cu menjura seraya berkata;

"Selamat berjumpa Pit tayhiap, saudara kecil Wi telah kehilangan kesadaran pikirannya karena terluka oleh ilmu Ciang Siang Ci hingga kini kesadarannya belum pulih kembali.."

Dengan sorot mata berkilat Pit Ci beng segera mengalihkan pandangan matanya ke arah wajah Kiu siang poo, kemudian bentaknya dengan penuh amarah:

"Nenek siluman, kau.."

"Pit tayhiap, kau jangan menyalahkan aku," jerit Kiu siang poo dengan suara melengking, "Sesungguhnya aku sendiri pun menjadi korban penindasan orang lain"

Kam Liu cu segera menambahkan pula.

"Pit tayhiap, apa yang terjadi hanya suatu kesalahan paham belaka. Dewasa ini terdapat banyak jago kita yang terluka oleh Ciang liong ci, dan sekarang kita semua sudah datang kemari untuk mencari orang tersebut."

"Siapakah orang itu?" tanya Pit Ci beng keheranan.

Secara ringkas Kam Liu cu membeberkan duduk persoalan yang sebenarnya terjadi.

Dalam pada itu, So Siau hui, Liu Leng po dan Liok Khi bertiga dengan dipimpin oleh Siau cu hujin telah berjalan masuk ke dalam. Setelah melalui sebuah serambi yang sangat panjang, semua orang merasakan pandangan matanya menjadi silau, ternyata mereka telah memasuki sebuah ruangan tidur yang indah dan mewah, disisi kiri pintu merupakan sebuah pembaringan dengan kelambu dan seprei yang halus dan indah, tampaknya merupakan kamar tidur Siau cu hujin.

Siau cu hujin menghentikan langkahnya dan

memandang sekejap searah semua orang, kemudian sambil menuding kearah sederet jendela panjang dia berkata.

"Dua kali orang itu munculkan diri dari balik jendela, semula kucurigai kalau menyelinap masuk lewat luar jendela, maka deretan jendela panjang ini tak pernah kubuka kembali".

So Siau hui berjalan mendekat, sementara dia masih meneliti dengan seksama, terdengar Siau cu hujin telah berkata lagi sambil menunjuk kearah sebuah rak bunga.

"Belakangan ini, dia selalu munculkan diri dari depan rak ini."

Rak tersebut terletak di sisi kiri kamar tidur, belum habis perkataan itu diucapkan, mendadak ia menyelinap masuk kebalik tirai dengan kecepatan luar biasa,

Liu Leng poo segera membentak dan melepaskan sebuah pukulan dahsyat kebelakang tubuhnya Kakek Ou tidak ketinggalan, sambi1 membentak dia barsiap siap untuk menerjang ke muka. Namun dengan cepat So Siau hui menggoyangkan tangannya berulang kali sambil katanya "Dia tak bakal boleh, biar aku saja yang menjadi petunjuk jalan buat kalian" Sehabis berkata, dia berjalan masuk ke dalam ruangan.

Perabot dalam ruang tidur itu sangat mewah, disamping cermin berlapis kemala, pembaringan pun amat indah, bahkan keindahannya tak kalah dengan keraton raja, tapi disitu sudah tak tampak lagi bayangan tubuh dari Siau su hujin.

"Aaah, dia benar benar berhasil meloloskan diri" seru Liok Khi sambil menghentak- hentakkan kakinya berulang kali.

So Siau hui berjalan masuk pula kedalam ruangan itu, mendadak dia mengamati cermin berlapis kemala itu dengan kening berkerut, kemudian gumamnya:

"Aaah, mengapa dia justru menjerumuskan diri kejalan kematian..?"

Liu Leng poo maupun Sie Hui jin sekalian menjadi amat tercengang setelah mendengar perkataan tersebut, belum sempat mereka mengajukan sesuatu pertanyaan, tampak So Siau hui mendorong cermin itu dengan pelan..

Segera terdengarlah suara gemerincingan nyaring bergema memecahkan keheningan, cermin tadi bergeser kesamping secara tiba-tiba hingga muncullah sebuah pintu rahasia yang sempit.

Pada saat saat inilah tiba-tiba tampak sesosok bayangan manusia berjalan sempoyongan keluar dari pintu sempit itu, lalu roboh terjengkang didepan pintu dan tidak bergerak lagi.

Orang itu bukan lain adalah Siau cu hujin yang berdandan menyolok itu. Wajahnya saat ini berwarna pucat

pias seperti kertas. Tubuhnya mengejang keras dan memperlihatkan rasa kesakitan yang luar biasa, dengan terbata-bata ia berpekik.

"Dia...diaaa. yang meng..mengajarkan kepadaku untuk melarikan diri disaa..saat berbahaya..tak tahunya aku..aku tertipu”.

Suara bisikannya makin lama semakin bertambah lemah, jelas tubuhnya telah terkena senjata beracun sehingga jiwanya tidak tertolong lagi.

Menyaksikan hal ini, Liu Leng poo pun berkata.

"Orang ini sengaja mengatur segala sesuatunya secara cermat, jelas dia kuatir kalau perempuan ini sampai membocorkan rahasianya. Oleh sebab itu sejak semula ia telah mempersiapkan jebakan untuk membungkam mulutnya"

"Apakah kita perlu masuk kedalam?" tanya Liok Khi. So Siau hui menggeleng,

"Tidak usah. Jalan ini merupakan jalan kematian" "Adikku dari keluarra So" ujar Liu Leng poo kemudian,

"aku yakin dalang dari semua peristiwa ini pasti menyembunyikan diri di sana, coba telitilah apakah dlsekitar tempat ini terdapat jalan tembus lainnya..?"

So Siau hui mengerutkan dahinya kencang-kencang, dia seperti akan mengucapkan sesuatu tapi kemudian niat tersebut diurungkan kembali.

Seluruh perhatian para jago bersama-sama dialihkan kearah So Siau hui serta memperhatikan gerak geriknya, sebab hanya dia seorang yang dapat menemukan alat rahasia yang terdapat ditempat itu.

Liu Leng poo yang mengikuti dibelakang nona tersebut, dengan cepat dapat menangkap suatu perubahan aneh atas diri So Siau hui sejak memasuki ruangan itu, perubahan tersebut sempat mencengangkan hatinya, namun dia segan untuk bertanya lebih jauh.

Setelah termenung beberapa saat, So Siau hui baru berkata:

"Sebenarnya siapakah orang itu? Aku bertekad akan mencarinya sampai ketemu"

Begitu selesai berkata, dia segera mendorong cermin itu hingga balik kembali pada posisinya semula, lalu pelan pelan duduk di depan cermin tadi serta membuka laci di sekitarnya dan melakukan pemeriksaan yang teliti atas sekeliling tempat itu.

Sudah jelas tombol rahasia yang mengendalikan pintu rahasia tersebut terletak di sekeliling cermin tembaga ini, karenanya perhatian semua orang bersama-sama ditujukan kearahnya dan tak seorangpun yang bersuara.

Selang berapa saat kemudian, tiba-tiba terdengar suara

"klik", rupanya tombol rahasia yang dicari telah berhasil ditemukan, dari sisi cermin itu muncullah sebuah lubang kecil yang berbentuk pintu rahasia,

Dengan wajah terkejut bercampar kaget So Siau hui merabai sekeliling dinding gua tadi, kemudian pelan-pelan berkata;

"Aku hanya berdasarkan daya ingatanku saja untuk mencari tombol rahasia guna membuka pintu rahasia ini, mungkin saja masih terdapat ancaman bahaya lain, lebih baik kalian semua mundur saja kebelakang..”

Sementara pembicaraan masih berlangsung, mendadak terdengar suara gemerincing nyaring berkumandang dari

dasar tanah, cermin kemala putih yang berada disisi dinding tersebut tiba-tiba tenggelam kebawah dan lenyap tak berbekas.

Dengan lenyapnya dinding tersebut maka muncullah sebuah pintu yang lebih lebar lagi. Atas peringatan dari So Siau hui tadi, serentak semua orang menyingkir ke samping.

So Siau hui sendiripun telah mengundurkan diri sejauh tujuh depa lebih, bersamaan waktunya dengan tenggelamnya cermin kemala putih itu.

Begitu pintu yang lebar itu muncul, serentetan cahaya berkilauan segera berhamburan keluar dari balik pintu tersebut. Ternyata sekumpulan jarum beracun.

Jarum beracun itu jumlahnya sangat banyak, lagipula menyembur keluar dalam bentuk kipas dan disertai kekuatan yang maha dahsyat serangan itu baru rontok dan kehilangan tenaganya, setelah menyembur sejauh delapan kaki lebih.

Memandang beribu-ribu batang jarum beracun yang berserakan diatas tanah, diam-diam Liu leng poo merasa amat terkesiap, pikirnya

"Heran, kenapa adik So menguasahi sekali terhadap segala peralatan rahasia yang berada ditempat ini?"

Dalam pada itu So Siau hui telah mendekati pintu rahasia serta melongok kedalam, disitu tertera sebuah undak-undakan batu yang menjorok jauh kebawah sana, maka sambil berpaling katanya.

"Sekarang kita sudah boleh turun kebawah."

Sembari berkata, dia turun ke bawah tanah lebih dahulu.

Liu Leng roo serta Sie Hui jin sekalian segera menyusul di belakang So Siau hui serta beruntun turun pula ke dalam

lubang tanah. Rombongan tersebut harus berjalan sejauh sepuluh kaki lebih sebelum mencapai ujung undak-undakan tersebut, So Siau hui segera menyulut obor dan melanjutkan kembali perjalanannya menelusuri lorong.

Kembali mereka berjalan belasan kaki, kalau sebelum keadaan medan mendadak bertambah lebar, sekeliling lorong punya luas hampir belasakan kaki, sementara didepan terdapat sebuah gua batu dengan dua belah pintu terbuat dari batu hijau.

Diatas pintu tergantung pula sebuah papan nama yang bertuliskan: "Istana pemersatu dunia persilatan"

Membaca tulisan itu, Sie Hui jin mendengus dingin, jengeknya, "Huuh besar amat lagak oraag ini".

Sebaliknya Kam Liu cu berkata sambil tertawa terbahak bahak. "Haah..haah.heeh...kali ini kita telah bertemu dengan si dalang yang sesungguhnya"

"Tapi sungguh aneh" kata Pit Ci beng setelah termenung sejenak, "Kalau toh orang ini berambisi hendak mempersatukan seluruh dunia persilatan, apa sebabnya ia justru menyembunyikan diri dibawah tanah.?"

"Mungkin dia menganggap waktunya belum matang" kata Liu Leng poo sambil berpaling.

"Kuharap kalian semua meningkatkan kewaspadaannya masing-masing." tiba-tiba So Siau hui memperingatkan

"Setelah kita memasuki gua ini, kemungkinan besar akan bertemu dengan alat perangkap yang maha dahsyat setiap

saat, mungkin juga setiap waktu kita akan menghadapi sergapan maut dari lawan". Sambil tertawa, kakek Ou berkata,

"Nona telah memperoleh seluruh ilmu rahasia majikan tentang alat perangkap dan ilmu jebakan, aku yakin kemampuan orang ini tak akan lebih hebat daripada majikan kita, tentang serangan musuh tangguh., ha haa haah...dengan andalkan kemampuan kita semua, biar pun harus bertemu dengan musuh yang bagaimanapun tangguhnya, aku rasa juga tak ada yang perlu ditakuti".

So Siau hui menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya,

"Sesudah kuperhatikan semua alat jebakan yang kita jumpai sepanjang jalan, dapat kurasakan bahwa kepandaian yang dimiliki orang ini rasanya tidak berada dibawah kemampuan ayah!"

Berbicara sampai disitu, dia segera meloloskan pedang pendeknya dan melanjutkan perjalanannya menelusuri lorong gua itu.

Kakek Ou takut terjadi sesuatu atas dirinya, dengan cepat ia menyusul dibelakang So siau hui.

Kiu Leng poo, Sie Hui jin dan Liok Khie sekalian serentak menyusul pada dibelakangnya.

Semua orang sadar, setelah memasuki gua itu berarti setiap saat ada kemungkinan bertemu dengan sergapan musuh tangguh, oleh karena itu gerak gerik mereka sangat berhati-hati, setiap orang menjaga suatu jarak yang tertentu dan berjalan dengan berhati-hati sekali.

Setelah memasuki gua itu sejauh beberapa kaki, didepan sana muncul sebuah penyekat yang terbuat dari batu yang

halus seperti cermin, diatas batu itu tertera beberapa huruf besar yang berbunyi: "Mati bagi siapa pun yang masuk kedalam".

Setelah melewati batu penyekat tersebut, disitu terbentang lagi sebuah lorong yang lebar, disisi dinding lorong tergantung lentera sutera kristal yang memancarkan sinarnya kemana-mana, terhubung dinding lorong sangat halus bagaikan kaca maka sinar memancar lebih jauh lagi.

Sudah sekian lama So Siau hui menelusuri lorong tersebut tanpa menjumpai sesuatu apapun, tanpa terasa ia berpaling sambil katanya,

"Enci Liu, tampaknya ada sesuatu yang tak beres!"

"Apakah kau menganggap di dalam istana pemersatu dunia persilatan ini seharusnya mempunyai penjagaan yang ketat?"

"Benar!" So Siau hui manggut-manggut. "Mengapa tak ditemukan sebuah penjagaan atau jebakan apapun disini?"

Sementara pembicaraan masih berlangsung, mereka telah tiba disebuab tikungan, mendadak terlihat bayangan manusia berkelebat lewat, kemudian tampak sekilas cahaya golok menyapu lewat membacok kepala So Siau hui.

Bacokan golok tersebut datangnya sangat mendadak dan sama sekali tidak terduga, dalam gugupnya So Siau hui segera menggerakkan pedangnya untuk menangkis.

"Criiing.." Begitu bentrokan terjadi, golok tersebut segera terpapas kutung menjadi dua bagian, ujung golok yang patah itu segera mencelat ketengah udara.

Namun orang itu tidak menghentikan serangannya karena patahnya golok tersebut, dengan bagian golok yang

masih ada, dia membacok kembali dengan kecepatan luar biasa.

Seandainya bacokan ini mengenai sasaran, niscaya tubuh So Siau hui akan terbacok kutung menjadi dua bagian.

Kekek Ou sangat terkejut setelah menyaksikan kejadian ini, sebuah pukulan dahsyat segera dilontarkan kedepan menghajar gagang golok tersebut hingga bengkok ke belakang.

Menggunakan peluang ini So Siau hui menggetarkan pedangnya sambil menusuk dada orang tersebut.

Siapa tahu pedangnya belum lagi dicabut keluar, orang itu sudah menggerakkan lagi gagang goloknya yang bengkok untuk melancarkan serangan lagi.

-oo0dw0oo-

Kakek Ou tidak membiarkan serangan lawan mengenai sasarannya, dengan cepat dia melontarkan kembali sebuah serangan dahsyat kedepan.

"Braakkk!"

Orang itu terhantam sampai remuk dan mengundurkan diri ke sudut dinding dengan gerakan cepat.

So Siau hui segera menjerit kaget.

"Aaah, ternyata sebuah orang-orangan dari kayu, aai...

dengan mundurnya dia ke tempat semula, maka tanda bahaya pasti sudah dibunyikan..."

"Sejak kita memasuki gua ini, aku yakin penghuni gua ini telah mengetahuinya." sahut Liu Leng poo.

"Tidak, asalkan kita berhasil membabat habis semua alat rahasia yang ada di sepanjang jalan ini, maka orang yaag

berada didalam gua itu tak akan mengetahui apa gerangan yang telah terjadi"

Selesai berkata, ia segera menggerakkan tubuhnya dan meluncur kedepan dengan kecepatan tinggi.

Sejak itu, tiap berjarak berapa kaki selalu ditemukan sebuah tikungan, dan disudut tikungan terdapat satu atau dua buah orang-orangan kayu, ada yang membawa senjata tajam, ada pula yang membawa alat pembidik otomatis. Jelas isinya adalah senjata rahasia yang amat keji dan beracun.

Tapi So Siau hui sebagai puteri kesayangan dari ketua Lam hay bun sudah mempelajari ilmu peralatan jebakan semenjak masih kecil dengan dipimpin olehnya dan mengandalkan sebilah pedang mestika yang amat tajam, ia berhasil membabat habis semua orang-orangan kayu itu sebelum alat-alat tersebut sempat melakukan sesuatu tindakan.

Tak selang berapa saat kemudian, hampir puluhan buah tikungan telah mereka lalui,

"Sungguh hebat" seru kakek Ou tertahan lagi "Ternyata dia telah mempersiapkan orang orangan kayu sebanyak ini disepanjang lorong tersebut".

So Siau hui tertawa.

"Empek Ou, jangan kau pandang enteng orang-orangan kayu itu, bila kau tak berhasil memutuskan alat pengontrol otomatisnya, sekali pun kau tusuk dengan berapa tusukan pedangpun tak nanti mereka akan mundur, ancaman dari benda benda tersebut jauh lebih hebat dari pada manusia sesungguhnya.”

“Andai kata adik tidak menguasahi peralatan rahasia ini, orang orangan kayu tersebut memang benar benar tidak mudah dihadapi," seru Liu Leng poo pula.

Kembali So Siau hui tertawa

"Sekarang sudah tak ada lagi ketujuh puluh dua buah tikungan telah berhasil kubocorkan semua, kecuali orang orangan kayu pertama yang kita hadapi telah dibuat mundur ketempat semula sehingga benda ini sempat menyiarkan tanda bahaya, selanjutnya semua alat rahasia lainnya belum sempat digerakan, mungkin orang yang berada dalam gua itu mengira kita semua telah masuk perangkap."

"Benar, bila kita dapat menyerbu kedalam markas mereka tanpa terduga sebelumnya, sudah pasti kita dapat bekuk benggelan tersebut secara mudah." sambung Liu Leng poo.

Sementara berbicara, dia segera memberi tanda pada orang orang yang berada di belakang semua orang mempercepat langkahnya,

Dalam pada itu, So Siau Hui, Kakek Ou, Liu Leng poo, Sie Hai jin dan Liok Khi sekalian yang berjalan dipaling depan telah tiba didepan pintu sebuah istana yang gemerlapan bermandikan cahaya emas.

Empat buah lentera keraton memancarkan sinar keemas emasan yang gemerlapan menyinari empat penjuru, membuat suasana di sekitar sana terasa lebih anggun dan megah.

Waktu itu tampak ada dua orang dayang berdandan baju keraton dengan membawa kebutan kemala sedang berjalan menelusuri serambi ruangan istana tersebut.

Kakek Ou segera melompat masuk ke dalam pintu istana sambil bentaknya keras, "Hey, cepat suruh majikan kalian ke luar"

Tampaknya kedua orang yang berdandan baju keraton itu tak pernah menyangka kalau ada orang bakal menyusup kesitu, mereka nampak tertegun kemudian cepat-cepat mengundurkan diri dari sana dan lenyap di balik ruangan. Tak lama kemudian berkumandanglah suara dentangan lonceng yang bertalu-talu, disusul kemudian tampak bayangan emas berkelebatan lewat diluar ruangan, tahu-tahu muncul sembilan orang gadis berbaju emas disana.

Ke sembilan perempuan itu semuanya memakai pakaian ringkas berwarna emas dengan rambut disanggul model keraton dan bertorehkan mutiara serta batu menikam, sepatunya berwarna emas, sementara pedang yang digunakan memancarkan pula sinar emas, mereka berdiri dalam kedudukan Kiu kiong.

Dalam pada itu orang-orang yang mengikuti dari belakang telah masuk semua kedalam ruang istana, sementara mereka semua masih tertegun, mendadak..

"Blaamm".

Pintu keraton tertutup rapat-rapat.

Dengan tubuh gemetar keras So Siau hui mundur dua langkah kebelakang, lalu jeritnya kaget:

"Barisan Kim kiu kiong tin."

Liu Leng poo tidak mengetahui sampai dimanakah kehebatan dari barisan Kim kiu tiong tin, melihat perubahan mimik muka si nona yang aneh, cepat-cepat ia bertanya:

"Hebatkah barisan Kim kiu kiong tin ini?"

So Siu hui tidak menjawab, tiba tiba saja dia membalikkan badannya dan menjatuhkan diri kedalam pelukan Wi Tiong hong sambil berseru lirih.

"Cepat peluk diriku erat-erat.."

Pada saat itulah dari balik ruangan keraton berkumandang datang suara bentakan yang amat nyaring.

"Ou Swan, besar amat nyalimu!"

Ketika semua orang berpaling, tampaklah seorang manusia berjubah emas telah berdiri ditengah ruangan dengan wajah penuh kegusaran, tapi tiada seorangpun diantara para jago yang mengenali siapakah orang tersebut.

Kakek Ou nampak agak tertegun, lalu secara tiba-tiba menjatuhkan diri berlutut serta menyembah berulang kali sambil katanya,

"Budak tua tidak menyangka kalau majikan yang berada disini, budak tua pantas mati."

Diluar dugaan semua yang hadir, ternyata manusia berjubah emas itu adalah ketua Lam hay bun, So Siu jin atau ayah kandung dari So Siu hui..

Terdengar manusia berjubah emas itu berseru lagi sambil mendengus dingin;

"Hmm, kau dan si budak cilik itulah yang telah menggagalkan semua rencana besarku" Sekarang Liu Leng poo baru mengerti, pikirnya kemudian:

"Tak heran kalau adik So menunjukkan sikap yang aneh semenjak membuka cermin kemala tadi, rupanya dia sudah merasakan bahwa semua pengaturan alat jebakan disini berasal dari ilmu rahasia Lam hay bun mereka.." Sementara dia masih berpikir, terdengar Manusia berjubah emas itu membentak lagi. "Anak Hui, kemari kau!"

So Siau hui sama sekali tidak menjawab atau menggubris, dia malah membenamkan kepalanya kedalam pelukan Wi Tiong hong.

"Budak kecil" dengus manusia berjubah emas itu penuh amarah, "Sekali pun aku harus menderita kehilangan anak kandung, akan kutumpas mereka semua sampai ludas."

Baru sekarang Liu Leng poo mengerti apa sebabnya secara tiba-tiba So Siau hui menjatuhkan diri kedalam pelukan Wi tiong hong, mendengar ucapan tersebut segera katanya dengan suara dingin

"Kau benar-benar seorang manusia yang berhati sekeras baja!" Pit Ci beng tertawa tergelak, serunya pula:

"Haah..haah..haah., dengan barisan yang dipersiapkan olehnya itu, belum tentu mereka sanggup melukai kita semua.."

Manusia berjubah emas itu tertawa dingin:

"Hmmnn, biarpun ilmu silat yang kalian miliki cukup hebat, namun tidak akan menyusahkan diriku."

Mendadak So Siau hui berseru dengan suara yang mengenaskan;

"Ohh ayah, yang kau pikirkan hanya ambisimu untuk menguasahi dunia persilatan, masa kau lupa dengan pesan ibu sebelum meninggal? Bukankah kau telah berjanji akan merawat putrimu secara baik baik?"

Berubah hebat paras muka Manusia berjubah emas itu setelah mendengar perkataan sinona, tiba tiba saja ia bersikap murung dan sedih.

Terdengar So Siau hui berseru lagi sambil menangis:

"Oh, ibu! Lebih baik aku mati saja. aku ingin menyusulmu, dari pada hidup di-sia sia ayah. Lebih baik aku kembali kepangkuanmu."

Keluhannya yang begitu memedihkan hati sekali lagi membuat paras muka manusia berjubah emas itu berubah, dipandangnya So Siau Hui sambil mendongakkan kepalanya dan menghela napas panjang ia berkata.

"Jerih payah ayah selama sepuluh tahun akhirnya harus punah ditanganmu semua!"

Berbicara sampai disitu diapun mengulapkan tangan kanannya, pintu keraton yang semula tertutup rapat mendadak terbuka kembali, sambil mengangkat kepalanya diapun berkata

"Kalian boleh pergi dari sini, hari ini juga aku akan mengajak putriku pulang ke Lam hay, hutang piutang diantara kita impas sampai disini saja"

Pit Ci beng segera tertawa nyaring. "Haahh...haah...haah..enak betul perkataanmu itu, begini banyak orang sudah kehilangan kesadaran pikirannya gara-gara ilmu totokan Ciang liong ci mu, apakah kau hendak angkat kaki dengan begitu saja?"

"Aku membiarkan kalian pergi meninggalkan tempat ini pun sudah untung, apa urusannya orang-orang yang kehilangan pikirannya itu dengan diriku?"

Sie Hui jin tertawa dingin, serunya: "Kau anggap kami betul-betul takut kepadamu?"

Liok Khi juga menggetarkan alat pengailnya sambil berseru.

"Enci Sie, kita tak usah banyak bicara lagi dengannya, biar kupancing dulu tubuhnya..." "Sim sumoay, jangan mencari gara-gara" bentak Kam Liu cu cepat.

Sedang So Siau hui berseru pula.

"Oooh ayah, bila kau orang tua masih menyayangi putrimu sembuhkanlah orang-orang yang kehilangan pikirannya ini"

Sementara tubuhnya bersandar dalam pelukan Wi Tiong hong, tangannya mencengkeram pergelangan tangan pemuda itu erat erat.

Dilain sinar mata berkilat manusia berjubah emas itu memperhatikan Wi Tiong hong sekejap, lalu tanyanya.

"Anak Hui, siapakah bocah muda itu?"

"Ia bernama Wi Tiong hong, beberapa kali telah menyelamatkan jiwaku..."

Manusia berjubah emas itu menggerakkan bibirnya hendak berkata, namun saat itu telah muncul serombongan manusia dari luar pintu istana, orang yang berjalan dipaling depan adalah seorang kakek kekar berjubah sutera yang menyoren sebilah pedang berpita emas.

Dibelakangnya mengikuti tiga orang, yang menyoren pedang berpita ungu adalah congkoan dari perkumpulan Ban kiam hwee, si Ji lay bertangan emas Huan Kong bu, yang menyoren pedang berpita merah adalah congkoan pasukan pedang berpita merah Kiong Thian ciu, sedangkan orang yang menyoren pedang berpita putih adalah

congkoan pasukan pedang berpita putih si Terbang dibalik awan Liok Im lin.

Ketika Sie Hui jin melihat kemunculan kakek berjubah perlente itu, ia segera memanggil ayah sambil buru-buru menyongsongi kedatangannya.

Sambil menggandeng tangan Sie Hui jin, kakek berjubah perlente itu segera berpaling kearah manusia berjubah emas dan berkata sambil tertawa terbahak-bahak.

"So loko, rupanya kau putar otak mempersiapksn segala sesuatunya ini tak lebih khusus untuk menghadapi kami ayah dan anak berdua?"

Orang ini tak lain adalah ayah kandung Sie Hui jin, yaitu Ban kiam hweecu yang belum pernah munculkan diri di dalam dunia persilatan cuman mempunyai nama besar yang sanggup menggetar seluruh dunia persilatan.. Manusia berjubah emas itu, So Siu jin segera tertawa terbahak-bahak.

"Haah.haah..haah..akhirnya saudara Sie datang juga, hanya sayang kedatanganmu terlambat selangkah, aku telah berjanji tak akan memusuhi semua jago persilatan dari daerah Tionggoan lagi."

Sementara itu congkoan pasukan pedang berpita merah Kiong Thian ciu telah memandang sekejap ke arah Pit Ci beng, tiba-tiba ia berseru tertahan:

"Pit Ji-te, rupanya kaupun berada disini? Mana anak Wi? Apakah sudah terperangkap disini?"

Bergetar keras sekujur badan Pit Ci beng, matanya terbelalak dan serunya agak tertegun. "Kau..kau adalah enso..."

Pelan-pelan Kiong Thian ciu melepaskan selembar topeng kulit manusia dari atas wajahnya, kemudian melepaskan pula ikat kepalanya, ternyata congkoan pasukan pedang berpita merah dari perkumpulan Ban Kiam hwee adalah seorang perempuan setengah umur yang berambut putih.

Sekalipun wajahnya sudah penuh dengan kerutan, namun mirip sekali dengan wajah Wi Tiong hong.

Sie Hui jin terbelalak pula matanya lebar-lebar, serunya kaget, "Ayah, jadi Kiong congkoan adalah ibu kandung Wi toako?" Sambil tersenyum Ban Kiam hweecu manggut-manggut, sahutnya, "Betul, Pui Toanio adalah ibu kandung Wi siauhiap."

Sementara itu Pit Ci beng telah menuding kearah Wi Tiong hong sambil berkata : "Enso anak Wi berada disini, cuma kesadaran pikirannya telah hilang. "

"Kalau begitu dia...dia telah terkena obat pembingung sukma dari orang she So itu?" tanya Hong toanio (congkoan pasukan pedang berpita merah Kiong Thian ciu) dengan air mata bercucuran.

Dipihak lain, kakek Ou telah membisikkan sesuatu kepada So Siu jin sambil menunjuk, ke arah Wi Tiong hong.

Kemudian tampak So Siu jin dengan sorot mata berkilat mengawasi Wi Tiong hong dari atas hingga ke bawah sambil manggut-manggut tiada hentinya.

Menanti Hong toako berseru, So Siu jin telah menjura dan berkata sambil tertawa tergelak.

"Tentunya kau adalah ibu kandung Wi siauhiap bukan?

Sesungguhnya Wi Siauhiap hanya menderita totokan sebuah jalan darahnya saja hingga kehilangan pikirannya, tapi kau tak usah kuatir, serahkan saja soal ini kepadaku. Hanya sebelumnya ada sebuah persoalan hendak kurundingkan dulu dengan enso" "Persoalan apakah itu?"

"Aku hanya mempunyai seorang putri dan kudengar hubungannya dengan putramu sangat akrab, maksudku hendak kujodohkan putriku kepada putramu itu entah bagaimanakah pendapat enso?"

Begitu perkataan tersebut diutarakan, Sie Hui jin, Liok Khi, Lak jiu Im eng, Thian Men serta Liong Hiang kun sama sama berubah hebat paras mukanya.

Terdengar Ban kiam hweecu berseru tiba-tiba sambil tertawa tergelak.

"Haah..haah..haah.kali ini saudara So terlambat satu langkah, sedari semula aku telah membicarakan persoalan ini dengan enso Hong, diapun sudah setuju kalau putriku Hui In menjadi istri Wi siauhiap"

"Bagus sekali, kalau begitu kawinkan saja putrimu dengan seorang bloon anak Hui, kita pergi.."

Tapi So Siu hui masih tetap memegangi badan Wi Tiong Hong erat-erat, serunya sambil menangis.

"Ayah."

"Anak Hui" seru So Siu jin marah "Apa kau takut sebagai putri So Siu jin tak laku kawin?"

Cepat-cepat Kam Liu cu menengahi persoalan tersebut sambil tertawa tergelak.

Hal 75-78 Hilang

lain adalah untuk membalaskan dendam gurunya serta merebut kembali markas gurunya. Sebaliknya Tong hujin adalah putri kandung si pedang beracun Kok Hui, dia khusus mencari si raja langit bertangan racun untuk membalaskan dendam sakit hati ayahnya. Tadi mereka telah saling menyebarkan bubuk beracun terdahsyat yang dimilikinya untuk merobohkan lawan, tapi akhirnya mati sendiri karena keracunan, atau dengan perkataan lain mereka telah saling bunuh membunuh satu dengan lainnya, berarti dendam kesumat diantara mereka pun impas, itulah sebabnya kuanjurkan kepada nona agar menyudahi persoalan tersebut sampai disini saja"

"Bagaimana dengan kau sendiri? Sudah jelas kaulah dalang dari semua kekacauan ini, apakah kau bermaksud cuci tangan?"

So Siu jin mengalihkan sorot matanya dan memandang sekejap kearah para jago, kemudian katanya sambil tertawa:

"Nona keliru, apa yang telah terjadi hanya suatu kesalahan paham, mungkin kalian belum jelas persoalan yang sebenarnya. Sepuluh tahun berselang, Raja langit bertangan keji Liong Cay thian ada maksud untuk mengembangkan sayapnya dengan mengundang

kedatangan Kiu siang poo untuk jadi tulang panggungnya, sebagai persiapan dari ambisinya dia telah membuat selat Tok seh sia baru yang letaknya disini. “Waktu itu kebetulan aku sedang datang ke Tionggoan dan bertemu Liong Cay thian, sebagai seorang yang ahli dalam ilmu jebakan maka akupun persiapkan segala sesuatunya didalam selat ini, disamping membangun pula sebuah istana bawah tanah.

“Setelah berjalan berapa waktu, aku berhasil mendapat tahu kalau Liong Cay thian khusus membangun selat ini karena dia sedang tergila-gila oleh seorang perempuan yang kemudian jadi Siau cu hujin.

“Aku yang kebetulan punya permusuhan dengan pihak Ban Kiam hwee, segera memanfaatkan pula keadaan selat ini untuk menghadapi mereka, maka kutaklukan perempuan itu, mengajari ilmu silat kepadanya dan menyuruhnya menaklukan Kiu siang po serta Liong Cay thian. Aaai.... kalau terbukti Thian tidak berkenan dengan ambisiku ini, yaa, apa boleh buat lagi?"

Sementara pembicaraan masih berlangsung, Wi Tiong hong dan Cho Kiu moay telah sadar kembali.

Hong toanio segera memeluk Wi Tiong hong sambil serunya diiringi irik tangis yang sedih.

"Nak, kau telah sadar? Oohh, sudah lima belas tahun aku tak pernah bersua denganmu" Sementara Wi Tiong hong masih tertegun, Pit Ci beng segera menjelaskan.

"Anak Wi, dia adalah ibu kandungmu!"

"Oohh ibu" Wi Tiong hong segera berseru. "Apakah kau orang tua sudah mengetahui berita ayah?"

"Menantuku, kau tak usah sedih" timbrung So Siu jin cepat, "Sebelum ajalnya Tong hujin telah meninggalkan pesan terakhirnya diatas meja yang berpesan kepadamu

agar pergi ketempat yang dulu untuk menjemput ayahmu, terimalah sebutir pil It goan hu si wan-ku yang mujarab ini.

Racun yang mengeram dalam tubuh ayahmu pasti akan punah semua" Sambil menerima pil itu, Wi Tiong hong segera berseru;

"Ibu, mari kita segera berangkat ke Tay Ong bun san untuk menyambut ayah!"

"Anak, apakah kau tidak menjumpai kedua orang ayah mertuamu dulu?" tanya Hong toanio sambil tertawa.

Dengan wajah bersemu merah Wi Tiong-hong segera memberi hormat kepada Ban Kiam hwee dan So Siu jin.

Mengawasi menantunya yang tampan dan gagah, dua orang jago itu segera tertawa terbahak- bahak dengan girangnya.

Sementara berbicara, kakek Ou, congkoan pasukan pedang berpita hijau Buyung Siu, Than Khi cu, Thio Kun kay, Seh Thian yu serta ketiga orang dayang dari Ban kiam hwee telah muncul secara beruntun. Ketika mereka dengar Wi Tiong hong telah mendapat jodoh berbondong-bondong mereka datang memberi selamat, kemudian mereka pun memutuskan untuk menyerahkan selat Tok seh sia kepada Liong Hiang kun.

Tapi Liong Hiang kun bersikeras menolak, dia ngotot hendak berkumpul terus dengan So Hui jin sekalian dan hidup sebagai kakak beradik, tentu saja nona itu mempunyai tujuan yang lain.

Sejak itu Wi Tiong hong-pun menggunakan nama yang sebenarnya yaitu Pui Wi. Dengan mendampingi ibunya langsung berangkat ke gunung Tay Eng bun san,

Pendekar berbaju putih Pui Thian jin yang menderita keracunan hebat segera sembuh kembali begitu dicekoki pil mustika dari Lam hay bun, dengan punahnya racun, kesadarannya pun menjadi segar kembali.

Dengan begitu mereka sekeluarga pun dapat berkumpul kembali sesudah banyak tahun hidup berpisah dipermainkan nasib.

Sekembalinya kerumah mereka dulu di Phu kang, pesta perkawinan pun diselenggarakan dengan meriah.

Selain Sie Hui jin, So Siau hui dan Liok Khi, Pui Wi sijago muda kita ternyata mempersunting pula Lak jiu in eng Thio Man dan Liong Hiang kun sebagai istrinya.

Bayangkan saja, seorang laki-laki didampingi lima orang istri yang cantik dan menawan hati, siapa yang tidak akan merasa bahagia dengan kehidupannya?

Dan sampai disini pula kisah cerita kita ini, sampai ketemu di lain cerita. 

TAMAT