-->

Persekutuan Pedang Sakti Jilid 24

Jilid 24

"KALAU DI BILANG terluka oleh semacam ilmu silat, otomatis yang dimaksudkan adalah salah satu jalan darah mereka tertotok," kata Kam Liu cu, "Atau dengan kata lain begitu jalan darahnya dibebaskan otomatis kesadaran mereka akan pulih kembali sebab jalan darah yang tertotok pasti berhubungan langsung dengan kerjanya otak yang membuat kesadaran menjadi kaku dan ingatannya kabur.

Tapi...bila tidak memahami rahasianya, bagaimana mungkin kita dapat membebaskan mereka?"

"Itu sih mudah saja....." seru Kakek Ou, "Biar kuperiksa dulu, jalan darah manakah yang sudah tertotok, kemudian baru dirundingkan lebih jauh.."

"Bagaimana cara lotiang melakukan pemeriksaan?" tanya Thio Man kembali.

"Aku akan menggunakan tenaga dalamku untuk mengerakkan hawa darah mereka, dengan cara demikian segera akan kutemukan jalan darah yang tersumbat."

Sambari berkata dia segera mendekati Wi Tiong hong dan duduk bersila disisinya lalu dia tempelkan telapak tangannya diatas jalan darah pay sim hiat dan memejamkan matanya sambil menyalurkan hawa murni itu kedalam tubuh Wi Tiong hong.

Semua orang yang hadir bersama sama membelalakkan matanya sambil mengawasi kakek Ou siapapun tidak berbicara sehingga suasana didalam gua itu benar-benar hening sekali.

Tapi pada saat itulah tiba-tiba nampak bayangan manusia berkelebat dari pintu gua lalu kelihatan seorang jago pedang berpita hijau masuk dengan langkah tergesa-gesa.

Begitu memberi hormat, dia segera melaporkan.

"Dibawah bukit telah muncul jejak musuh, agaknya mereka sedang bergerak menuju kearah kita" "Ada berapa orang?" tanya Liu leng poo

"Masih kurang begitu jelas, tapi ada belasan lebih."

"Baik keluarlah dulu, tunggu mereka hingga tiba didepan gua sebelum dibicarakan lagi."

Jago pedang berpita hijau itu segera memberi hormat dan segera mengundurkan diri dari situ.

"Toa suheng." kata Liu leng poo kemudian "Kau bersama Ma koan toheng dan aku keluar menghadapi musuh sedangkan saudara Tam serta adik Thio berdua berjaga-jaga disini!"

Kam Liu cu mendongakkan kepalanya dan memperhatikan situasi sekejap, kemudian katanya;

"Kedatangan mereka terlalu cepat ji-sumoay, mari kita segera keluar untuk menyambut kedatangannya!"

Baru saja mereka bertiga keluar dari gua, tampaklah belasan sosok bayangan manusia secepat sambaran kilat telah meluncur datang dari bawah bukit sana.

Didalam waktu singkat mereka sudah makin mendekat, tapi apa yang terlihat kemudian kontan saja membuat Kam Liu cu, Liu leng poo, serta Ma koan tojin menjadi tertegun.

Ternyata orang yang berjalan dipaling depan adalah seseorang yang memakai jubah perlente berpedang dipinggang dan berwajah semu emas, dia tak lain adalah Ban Kiam hweecu.

Sementara dibelakangnya mengikuti tiga orang berbaju ringan yang menggembol pedang, semuanya mempunyai pita pedang berwarna kuning karena ketiga orang itu adalah tiga diantara empat dayang kepercayaan kiamcu.

Di bagian agak belakang mengikuti seorang sastrawan setengah umur yang mengenakan jubah berwarna hijau, dia menyoren pedang yang berpita hijau pula, orangnya nampak halus lembut dan gagah karena dia tak lain adalah congkoan pasukan pedang berpita hijau dari perkumpulan Ban kiam hwee si sastrawan pemeluk pedang Buyung Siu adanya.

Dibelakangnya mengikuti pula delapan orang jago pedang berpita hijau, ditengah kegelapan malam dan hembusan angin gunung, pita-pita pedang mereka kelihatan berkibar- kibar sehingga menambah kegagahan rombongan tersebut.

Kali ini rombongan tersebut muncul secara blak-blakan, tak seorangpun diantara yang mengenakan kain kerudung hitam.

Begitu melihat kemunculan Ban kiam hweecu, Ma koan tojin segera memberi hormat seraya berseru :

"Hamba menjumpai kiamcu!"

Sedangkan ke enam belas jago pedang berpita hijau lainnya serentak pula menurunkan pedang masing-masing dan mengikuti jejak Ma koan tojin, memberi hormat kepada ketuanya. Liu Leng poo yang menyaksikan kejadian tersebut kontan saja berpikir kaget "Aduuh celaka !"

Ban kiam hweecu muncul dengan langkah tegap dan lebar, dalam waktu singkat ia sudah muncul dihadapan mata, setelah mengangguk sekejap ke arah Ma koan tojin, dia segera merangkap tangannya memberi hormat dan berkata sambil tertawa,

"Kam tayhiap, nona Liu, rupanya kalian pun berada juga disini. "

Sewaktu berbicara, langkahnya sama sekali tidak berhenti, dengan tindakan lebar dia berjalan menuju ke depan ketiga orang itu.

Ketika Liu Leng poo mendengar dari nada

pembicaraannya seakan-akan tidak terpengaruh oleh ilmu pembingung sukma, kontan saja hatinya merasa keheranan maka sambil menyongsong kedatangannya diapun berkata :

"Apakah hweecu datang dari selat Tok seh sia?"

Ia masih melanjutkan langkahnya menuju kehadapan ketiga orang itu, agaknya tidak terlintas ingatan dalam benaknya untuk menghentikan perjalanannya itu.

Dengan cepat Liu Leng poo menghadang dihadapannya sambil membentak keras, "Hweecu harap berhenti!"

Mau tak mau terpaksa Ban kiam hweecu harus

menghentikan langkahnya, lalu sambil mengangkat kepala dia bertanya : "Ada urusan apa nona Liu ?"

Liu Leng poo segera tersenyum lembut, sembari meraba gagang pedangnya dia berkata :

"Hweecu, setelah kau berhasil lolos dari bahaya, ada baiknya bila kau tuturkan dulu pengalamanmu selama ini, agar semua orang ikut mendengar pula."

"Hey, tampaknya nona Liu seperti menaruh curiga terhadap siaute. ?"

"Yaa, apa boleh buat, keadaan yang memaksaku untuk berbuat demikan, Hweecu, setelah kau berhasil lolos dari bahaya, lebih baik bila kau tuturkan dulu kisah pengalamanmu hingga berhasil lolos dari bahaya kepada kami semua."

"Siaute pulang bersama-sama mereka, masa ada orang yang mencatut diriku?"

"Yaa, aku tahu, palsu sih tidak mungkin palsu, tapi aslipun belum tentu benar."

"Nona Liu, apa maksudmu berkata begitu?" Ban kiam hweecu segera menegur dengan wajah tak senang hati.

Liu Leng poo segera tertawa cekikikan: "Haaa haaa haaa.... mungkin hweecu tak tahu, malahan Buyung congkoan serta kedelapan jago pedang itu pun baru saja melarikan diri dari sini?" "Nona Liu memang pandai bergurau, kapan sih aku telah berkunjung kemari?" seru Buyung Siu cepat.

Ia berbicara dengan wajah bersungguh-sungguh, seakan-akan terhadap kejadian yg baru saja dialaminya itu sudah lupa sama sekali,

Melihat perkataan itu diucapkan dengan bersungguh hati, Liu Leng poo menjadi sangat keheranan, kembali dia bertanya:

"Buyung congkoan, baru setengah jam berselang kau bertarung melawan toa suhengku masa secepat ini kau telah melupakannya?."

Buyung Siu segera berkerut kening kemudisn tertawa nyaring, ucapnya :

"Nona Liu, ucapanmu makin lama semakin aneh dan mengherankan, kapan sih Bu yung Siu pernah bertarung melawan saudara Kam?"

Liu Leng poo segera berpaling dan memandang sekejap kearah Kam Liu cu, lalu katanya :

"Bila kau tak percaya silahkan bertanya sendiri kepada toa suhengku, malahan Ma koan toheng serta enam belas jago pedang berpita hijau anak buahmupun ikut menyaksikan dari tepi arena."

Agaknya Kam Liu cu juga telah melihat bahwa dibalik peristiwa itu ada sesuatu yg tak beres, dengan cepat sambungnya,

"Apa yang dikata Ji sumoayku memang benar. Tadi ada orang menyerbu kemari pada mulanya tiga orang, mereka terdiri dari Thian kicu, Keng hian dan Keng siu totiang dari bu tong pay, semuanya mengenakan kain kerudung hitam, akhirnya Keng hian dan Keng siu totiang berhasil kami

berdua bekuk hidup-hidup hanya Thian kicu seorang yang berhasil melarikan diri."

Dengan sorot mata tajam tanpa berkedip Ban kiam hweecu mengawasi wajah Kam Liu cu tanyanya :

"Bagaimana kemudian?"

"Kemudian di bawah pimpinan Buyung congkoan serta Khong beng taysu dan To loko bertiga, mereka datang pula kemari dengan membawa serta dua puluhan jago pedang berpita hijau, diantara yang turut datang terdapat pula saudara Wi serta anak buah dari hwecu, Hek bun kun nona Cho."

"Akhirnya hampir sebagian besar kawanan jago itu berhasil ditahan disini, sementara Buyung congkoan sendiri dengan membawa serta kedelapan orang jago pedangnya segera mengundurkan diri dari sini setelah mendengar bunyi sumpritan dikejauhan sana."

Ketika mendengar keterangan tersebut, tiba-tiba saja Ban kiam hweecu mendongakkan kepalanya lalu tertawa nyaring.

Cepat-cepat Ma koan tojin memberi hormat seraya berseru ; "Harap kiamcu maklum, apa yang dikatakan Kam tayhiap semuanya merupakan kenyataan."

Dengan sorot mata dingin Ban kiam hweecu segera berpaling, lalu tegurnya ketus, "Ma koan tojin besar amat nyalimu!"

Ma koan tojin menjadi terkesiap dan buru-buru membungkukkan badan memberi hormat, "Hamba tidak berani "

Kembali Ban kiam hweecu tertawa dingin

"Heeeh....heeeh...heeee....aku hendak bertanya kepadamu, semenjak kapan kau telah menjadi anggota perguruan Thian sat bun ?"

Ma koan tojin semakin terperanjat, setengah ketakutan cepat-cepat dia berseru,

"Atas kemurahan bati kiamcu hamba telah diberi jabatan sebagai congkoan pasukan pedang berpita hitam, bagaimana mungkin hamba berani berhati cabang?"

"Hmmm, kau telah bersekongkol dengan orang-orang Thian sat bun untuk menculik Wi Tiong hong, Kho Kiu moay, Khong beng taysu dan To Sam sin sekalian, apakah perbuatan ini tidak menunjukkan bahwa hatimu telah bercabang?"

Ma koan tojin ketakutan setengah mati, kembali dia berseru dengan suara gemetar,

"Harap kiamcu maklum, Wi sauhiap, nona Kho, Khong beng taysu serta Toako sekalian telah kehilangan pikiran dan kesadarannya karena ulah orang-orang Tok seh-sia."

"Hmm, yang benar Wi Tiong hong sekalian sudah terpengaruh oleh ilmu sesat dari Thian sat bun, kau anggap aku tidak tahu?" tukas Ban kiam hweecu dengan sikap lebih garang.

Sekalipun Ma koan tojin merupakan jago kawakan yang sudah berpengalaman luas di dalam dutia persilatan, kali ini tak urung dibuat kaget dan tercengang juga oleh kejadian tersebut, cepat cepat ia membungkukan badannya memberi hormat sembari berkata:

"Kiamcu, telah terjadi kesalah pahaman pada dirimu, Hamba benar-benar tidak berbobong, kalau tidak percaya, Panglima sakti berlengan emas Ou lotiang dari Lam hay

bun serta Lak jiu im eng nona Thio dari bu tong pay bisa diminta sebagai saksi." Agaknya Ban kiam hweecu sudah habis kesabarannya, tiba-tiba dia membentak:

"Kalau toh kau tidak menghianati diriku, mengapa tidak segera kau serahkan Wi Tiong hong sekalian sekarang juga?"

"Soal ini...." Ma koan tojin segera menunjukkan sikap serba salah.

Dengan wajah berubah menjadi amat serius, Liu leng poo segera berkata dengan suara rendah:

"Ma koan toheng tak perlu berbicara lagi, semenjak terjatuh ketangan orang-orang Tok seh sia, hweecu kalian sudah di pengaruhi jalan pikirannya oleh siluman tua Kiu siang lo yau masa hal ini pun tak dapat kau lihat?"

"Lantas apa yang mesti kuperbuat sekarang?" tanya Ma koan tojin dengan perasaan terkesiap.

Baru selesai dia berkata, kakek Ou sudah melangkah keluar dari gua dengan tindakan lebar, dia memandang sekejap ke arah Ban kiam hweecu sekalian, kemudian tanyanya, "Bagaimana? Apakah Ban kiam hweecu pun sudah terjadi suatu masalah ..?" "Kedatangan lotiang memang tepat sekali"

Kam Liu ci segera berseru. "Kemungkinan besar mereka sudah terpengaruh oleh ilmu sesat dari Kiu Siang poo".

Kakek Ou segera manggut-manggut,

"Yaa, kemangkinan memang begitu, apa yang kalian bicarakan telah kudengar seluruhnya."

"Apakah lotiang berhasil menemukan di manakah letak luka yang mereka derita?!!" tanya Liu Leng poo kemudian,

"Aku telah mencoba melakukan pemeriksaan dengan mengerahkan tenaga murniku, kutemukan jalan darah Nau juang hiat di batok kepala saudara cilik Wi seperti mendapat sumbatan sehingga tak dapat berjalan lancar, selain itu tidak kutemukan luka di bagian lain."

"Sewaktu kuperiksa mereka yang lain, ternyata keadaannya pun demikian juga, menurut dugaanku, bisa jadi hal ini merupakan sejenis ilmu totokan yang melukai jalan darah penting diotak besar sehingga membuat kesadaran dan pikiran orang itu terpengaruh...”

Liu Leng poo segera mencibirkan bibirnya sambil menengok kearah Ban kiam hweecu sekalian lalu katanya pula :

"Lantas bagaimana dengan mereka? Apakah merekapun dilukai oleh sejenis ilmu totokan yang istimewa?"

Kakek Ou segera menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal, katanya,

"Aku rasa mungkin masih ada sejenis ilmu totokan yang lain lagi, kalau saudara cilik Wi sekalian sama sekali tak tahu menahu terhadap manusia dan persoalan yang sedang dihadapi, maka mereka justru memiliki kesadaran yang baik serta pikiran yang sangat terang."

Dalam pada itu Ban kiam hweecu sudah habis kesabarannya tiba-tiba dia menegur, "Apakah kalian sudah selesai berunding?"

"Hweecu.." ucap Kam Liu cu kemudian dengan kening berkerut kencang "Apakah kau masih dapat mengingat

kembali semua kejadian yang kau alami sebelum terperangkap didalam selat Tok seh sia?"

"Heeehh, heeehh, tentu saja aku masih dapat mengingatnya semua." jawab Ban kiam hweecu sambil tertawa dingin.

Kam Liu Cu segera tertawa.

"Kalau begitu seharusnya hweecu juga masih tahu bukan, jauh-jauh datang kebukit Kou lou san ini sebenarnya dengan maksud dan tujuan apa? Tentunya kau bukan datang kesini hanya khusus untuk bermusuhan dengan pihak Thian sat bun kami bukan?" Dengan marah Ban kiam hweecu mendengus:

"Hmm, memang benar, kami datang kemari untuk menyelamatkan Wi Tiong hong dari ancaman bahaya, tapi kenyataannya sekarang, Wi Tiong hong telah terjatuh kembali ditangan kalian!"

"Sore tadi saudara Wi terjebak didalam selat Tok seh sia dan kini pikiran dan kesadarannya telah terpengaruh.." kata Kam Liu cu.

"Tapi yang jelas Wi Tiong hong sudah berada ditangan kalian, siapa yang sudi percaya dengan perkataanmu itu?"

Berbicara sampai disitu tiba-tiba ia berpaling kearah dua deret jago pedang berpita hijau yang berdiri didepan gua batu itu kemudian bentaknya dengan suara dalam:

"Ma koan tojin telah menghianati perkumpulan, apakah kalian sebagai jago-jago pedang berpita hijau pun bermaksud mengkhianati pula diriku untuk bergabung dengan pihak Thian sat bun?"

"Hamba tidak berani!" sahut keenam belas jago pedang berpita hijau serentak sambil memberi hormat.

"Bagus sekali!!" kata Ban kiam hweecu kemudian dengan wajah serius. "Kalau memang kalian tidak berniat menghianati perkumpulan, sekarang bekuk dulu Ma koan tojin!"

Liu Leng poo yang mendengar perkataan itu segera berteriak keras-keras :

"Kalian jangan lupa dengan pesanku tadi, Kiamcu kalian telah terpengaruh oleh ilmu sesat dari siang kiu poo sehingga kehilangan pikiran dan kesadarannya. Kalian jangan mau percaya dengan perkataannya dengan begitu saja."

Ke enam belas orang jago pedang berpita hijau itu menjadi saling berpandangan muka setelah mendengar ucapan mana, sesungguhnya mereka memang sudah menaruh kecurigaan yang mendalam sekali terhadap Ban kiam hweecu, hanya untuk sesaat mereka tak tahu apa yang mesti dilakukan..

Melihat ke enam belas jago pedang berpita hijau itu tidak turun tangan seperti apa yang diperintahkan, Ban kiam hweecu menjadi naik darah, segera bentaknya :

"Liu leng poo, orang lain mungkin takut dengan kalian orang-orang dari Thian sat bun, tapi Ban kiam hwee belum temu takut dengan kalian?!"

Ditengah bentakan itu dia mencabut pedangnya lalu sambil menuding kedepan serunya lantang;

"Kalian segera turun tangan dan bekuk orang ini lebih dulu."

Suara gemerincingan nyaring berkumandang dari belakang tubuhnya diiringi tiga kali dentingan suara pedang, Jin Kim moay, Kho Hui moay serta Lim Thian moay ketiga orang dayangnya serentak meloloskan pedang,

dan menerjang maju kedepan, mereka segera menyerang Liu leng poo dengan dahsyatnya. Tentu saja Liu leng poo tak akan berpeluk tangan belaka, pedangnya digetarkan menyongsong datangnya ancaman tersebut dalam waktu singkat terjadilah suatu pertarungan sengit disitu.

Dalam pada itu Ban kiam hweecu menuding kembali dengan pedangnya sambil membentak:

"Buyung congkoan, kau boleh pimpin mereka untuk menyerbu kedalam gua dan menolong orang, sedang tempat ini serahkan saja kepadaku untuk menghadapi."

Sastrawan pemeluk pedang Buyung Siu segera

meloloskan pedangnya dari sarung lalu sambil menggetarkan lengannya ia membentak : "Saudara sekalian, ayoh ikut aku.."

Dengan suatu gerakan cepat dia melejit ke tengah udara lalu menyerbu lebih dulu ke depan.

Ke delapan jago pedang berpita hijau itu serentak mengikut pula dibelakangnya.

Kam Liu cu yang melihat kejadian tersebut buru-buru berteriak pula dengan suara lantang

:

"Ma koan toheng, cepat kau suruh para jago pedang untuk menghalangi mereka!."

Sembari berseru dia lepaskan sebuah pukulan dahsyat untuk menghadang jalan pergi si sastrawan pemeluk pedang kemudian bentaknya lagi keras-keras,

"Saudara Buyung, kalau kau tetap nekad untuk maju kemuka jangan salahkan bila aku she Kam tidak akan sungkan-sungkan"

Cahaya gerak berkelebat lewat tahu-tahu dalam genggamannya telah bertambah dengan sebilah pedang.

Buyung siu segera tertawa terbahak-bahak

"Haaah..haaahh...saudara Kam kau sengaja menghalangi jalan pergiku, ini berarti kau sengaja hendak mencari gara-gara dengan pihak Ban kiam hweecu kami!"

"Sreeeet!"

Diiringi suara desingan tajam, ia sambut kedatangannya dengan sapuan tajam.

Kam liu cu segera mengangkat pedangnya untuk menangkis sementara tangan kirinya dengan sebuah sodokan jari langsung menotok tubuh si sastrawan pemeluk pedang..

Dengan berkobarnya pertarungan antara kedua orang itu, delapan orang jago pedang berpita hijau yang berada dibelakang sastrawan pemeluk pedang itu serentak menyebarkan diri dan melalui sisi kedua orang yang sedang bertarung itu, mereka menyerbu kedalam gua.

Menghadapi situasi seperti ini, terpaksa Ma koan tojin harus mengulapkan tangannya sembari berseru,

"Saudara sekalian, mari kita hadang jalan pergi mereka, tapi jangan sampai melukai mereka"

Berada dalam situasi yang amat rumit dan kacau ini terpaksa ke enam belas jago pedang berpita hijau itu harus turun tangan untuk menghadang jalan pergi rekan-rekannya lebih dulu.

Enam belas orang harus menghadapi delapan orang, ini berarti dua lawan satu untuk menghalangi jalan pergi mereka saja, tentu bukan suatu masalah yang sulit,

Dihari hari biasa, para jago pedang berpita hijau itu selalu berkumpul bersama sampai dimanakah taraf kepandaian silat yang mereka miliki boleh dibilang satu sama lainnya mengetahui dengan jelas.

Tapi keadaan saat ini jauh berbeda, berada dalam keadaan kesadaran dan pikiran yang terpengaruh ternyata kedelapan orang itu jauh lebih berani dan nekad, Otomatis ilmu silat yang dimiliki orang-orang itu pun menjadi berapa kali lipat lebih tangguh, biarpun ada dua orang menghadapi satu lawan hampir saja mereka tak mampu mengendalikan diri.

Dipahak lain, Liu Leng poo yang mesti mengbadapi tiga orang dayang kepercayaan dari Ban kiam hwee kelihatan payah sekali apa lagi dia sebagai Kunsu dalam pertempuran malam ini, di samping harus melayani pertarungan, iapun tak dapat mengesampingkan situasi dari pihak lain.

Maka sambil mengerahkan segenap kekuatannya untuk menghadapi lawan, diapun mesti mengalihkan sorot matanya untuk memperhatikan keadaan disekitar tempat itu.

Tiba-tiba serunya kepada kakek Ou dengan mengerahkan ilmu menyampaikan suara,

"Ou lotiang, untuk membekuk musuh tangkaplah pentolannya lebih dulu. Malam ini kau harus berusaha membekuk Ban kiam hweecu lebih dulu sebelum membereskan yang lain."

Dibawah serangan gencar dari ketiga orang musuhnya, hampir saja Liu leng poo menderita luka diujung senjata lawan setelah dua kali menjumpai mara bahaya disaat ia sedang mengungkapkan beberapa patah kata.

Dipihak lain, Ban kiam hweecu telah memanfaatkan kesempatan dikala masing masing pihak sedang bertarung sengit tiba-tiba dia menjejakkan kakinya keatas tanah, kemudian seperti seekor burung rajawali sedang menerkam kelinci, tubuhnya langsung menerjang masuk kedalam gua.

Baru saja dia menggerakkan tubuhnya, kakek Ou melejit pula ketengah udara dengan gerakan tubuh yang jauh lebih cepat, tangannya langsung menyambar kemuka dan secepat kilat mencengkeram lengan kanan Ban kiam hweecu.

Berada ditengah udara dia tertawa terbahak-bahak, begitu tiba dipermukaan tanah, sambil mengangkat tinggi tubuh Ban kiam hweecu, bentaknya lantang:

"Semua berhenti, kiamcu kalian sudah menjadi tawananku, apakah kalian tidak segera melepaskan senjata?"

Baru saja ia selesai membentak, terdengar Ban kiam hweecu telah berkata dengan suara rendah;

"Percuma, kesadaran serta pikiran mereka sudah terpengaruh, mereka tak akan menuruti perkataanmu." Kam Liu cu serta Liu Leng poo sama sekali tidak menyangka kalau kakek Ou bakal turun tangan sedemikian cepatnya, bahkan dalam waktu singkat telah berhasil membekuk Ban kiam hwecu, ketika mendengar suara bentakan itu otomatis mereka pun menghentikan serangannya dengan cepat,

Sementara itu congkoan pasukan pedang berpita hijau Buyung Siu beserta ketiga orang dayang Ban kiam hweecu sama sekali tidak menggubris terhadap bentakan dari kakek Ou itu, malahan terhadap peristiwa dibekuknya kiamcu merekapun seolah olah tidak melihat.

Menggunakan kesempatan disaat kedua orang lawannya menarik diri, tiba-tiba saja mereka melancarkan serangannya lebih hebat dan lebih gencar.

Tindakan tersebut tentu saja jauh diluar dugaan kedua orang itu, Kam Liu cu yang bertarung melawan Buyung Siu segera menggerakkan tubuhnya menghindarkan diri ke samping, sementara tangan kirinya di ayunkan ke depan melepaskan sebuah bacokan kilat

Liu Leng poo sendiri, meski ilmu silatnya terhitung cukup lihay namun lawannya justru merupakan tiga orang dayang kepercayaan dari Ban kiam hweecu, dari pita kuning yang menghiasi ujung pedang mereka bertiga, dapat diketahui bahwa ketiga orang itu memiliki ilmu pedang yang amat sempurna.

Sejak Liu Leng poo harus menghadapi tiga orang lawannya seorang diri, ia sudah merasa amat kepayahan di dalam anggapannya setelah kiamcu mereka tertawan, otomatis ke tiga orang dayang itupun akan bersama-sama menghentikan serangannya.

Siapa tahu walaupun dia sudah menarik diri, ke tiga orang dayang itu justru memanfaatkan kesempatan tersebut untuk melarncarkan serangannya dengan lebih sengit.

Kontan saja nona itu menjadi terperanjat dan tergopoh-gopoh mengayunkan pedangnya untuk melindungi badan, biar begitu tubuhnya toh terdesak mundur juga sejauh tiga langkah sebelum benar-benar berhasil lolos dari ancaman lawan.

Semua peristiwa ini boleh dibilang berlangsung dalam waktu yang amat singkat.

Tiba-tiba dari bawah bukit sana berkumandang datang suara sumpritan yang dibunyikan keras-keras.

Waktu itu, kebetulan sekali Kam Liu cu sedang menyelinap kesamping untuk menghindarkan diri, Buyung Siu sama sekali tak menyerang lebih lanjut, tiba-tiba saja dia membalikkan badan lalu kabur kebawah bukit.

Kebetulan sekali pada saat itupun, Liu Leng poo sedang terdesak mundur kebelakang, ketiga orang dayang itu serentak membalikkan pula tubuhnya dan lari menuruni bukit.

Delapan jago pedang berpita hijau pun tidak mau ketinggalan, masing-masing mencari jalan untuk kabur kebawah bukit dengan kecepatan bagaikan hembusan angin,

Biarpun hanya suara sempritan biasa, namun nyatanya dapat membuat mereka begitu menurut dan segera mengundurkan diri tanpa memperdulikan lagi nasib dari Ban kiam hweecu.

Padahal waktu itu tubuh Ban kiam hweecu yang diangkat tinggi-tinggi oleh kakek Ou belum lagi diturunkan, namun orang-orang tersebut sudah kabur semua.

Dalam waktu singkat Kam Liu cu, Liu Leng poo serta Ma koan tojin dibikin tertegun sampai termangu-mangu oleh perubahan situasi yang sama sekali tak terduga ini. Tiba-tiba Ban kiam hweecu menggoyang-goyangkan tubuhnya sambil berseru,

"Hei kakek, semua orang toh sudah pergi, mengapa kau belum juga menurunkan aku?"

Kakek Ou segera mnurunkan tubuhnya keatas tanah, namun masih tetap mencengkeram lengan kanannya, baru saja tangan kirinya hendak melakukan totokan, mendadak terdengar Ban kiam hweecu berseru lagi dengan cepat.

"Cepat lepaskan aku!"

"Hweecu, agaknya kesadaran serta pikiranmu sama sekali tak terpengaruh"

"Tentu saja pikiran dan kesadaranku sama sekali tidak terpengaruh." sahut Ban kiam hweecu cepat.

"Kalau toh pikiran dan kesadaran tidak terpengaruh, mengapa kau malahan memimpin para jago untuk melakukan penyergapan terhadap kami.?"

"Aku dipaksa orang untuk berbuat demikian"

"Siapa yang memaksamu berbuat demikian?" desak kakek Ou lebih lanjut,

Liu leng poo yang mengawasi Ban kiam hweecu sejak tadi baru saja akan berbicara ketika Ma koan tojin telah berseru dengan suara yang menyeramkan:

"Kau bukan Kiamcu!"

"Bukankah Ban kiam hweecu yang kalian jumpai adalah selembar topeng kulit manusia ini? Bila topengnya dilepas, siapakah yg dapat mengenali wajahnya?"

"Sebenarnya siapakah kau?" tanya kakek Ou segera Tiba-tiba Ban kiam hweecu merobek kulit topeng manusia yang menutupi wajahnya, lalu menjawab,

"Siapapun yang kalian inginkan anggap saja aku sebagai yang diinginkan "

Begitu topeng kulit manusia itu dirobek, yang muncul adalah selembar wajah seorang nona yang cantik namun sepasang matanya basah oleh air mata.

Kam Liu cu menjadi tertegun setelah menyaksikan wajah nona itu, serunya tanpa terasa,

"Masa kau?"

Ternyata selain Kam Liu cu, tak seorang pun diantara mereka yang hadir pernah bertemu dengan nona itu.

Cepat-cepat Liu Leng poo mengalihkan sorot matanya kewajah Kam Liu cu, kemudian tanyanya keheranan :

"Toa suheng, kau kenal dengannya?"

Rasanya tiada perempuan didunia ini yg tidak cemburuan, termasuk juga Liu Leng poo sekarang. Kam Liu cu segera tertawa terbahak-bahak : "Haaaa...haaa...haaa...dia adalah Tok she siacu!"

Begitu mendengar nama "Tok seh siacu" semua orang menjadi tertegun dan berdiri dengan wajah melongo.

Ternyata sewaktu Kam Liu cu sedang menyaru sebagai Lan Sim hu tempo hari, dia pernah bersua dengan Liong Hiang kun di dalam selat Tok seh sia, otomatis diapun dapat mengenali wajahnya.

Tiba-tiba sekilas senyuman berseri menghiasi wajah Liu Leng poo. Akhirnya jerih payah mereka semalaman membuahkan hasil yang tak terduga.

Bukankah demikian? Tok seh siacu sesungguhnya adalah orang yang diperankan oleh putri kesayangan Liong Cay thian. Setelah kini mereka dapat membekuknya, bukankah banyak persoalan yang akan menjadi beres dengan sendirinya?

Sementara itu Liong Hiang kun telah menundukkan kepalanya rendah-rendah, lalu sambil menggelengkan katanya : "Aku bukan Tok seh siacu!"

Kam Liu cu yang mendengar perkataan itu segera tertawa :

"Mungkin orang lain tidak tahu kalau nona adalah jelmaan dari Tok seh siacu, tapi kami sudah mengetahui hal ini secara pasti! Apa gunanya nona menyangkal?"

Liong Hiang kun segera mengangkat wajahnya dan berkata :

"Aku benar-benar bukan Tok she siacu seperti halnya Ban kiam hweecu. Siapa yang mengenakan dandanan tersebut maka dialah yang menjadi Tok seh siacu!"

Sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal, kakek Ou segera berkata : "Kalau kau bukan Tok seh siacu, lantas siapakah Tok seh siacu itu.. ?"

"Telah kukatakan sejak tadi, aku datang kemari karena dipaksa orang lain, tapi boleh juga dibilang atas kemauanku sendiri, hmm! Seandainya aku bukan merelakan diri dibekuk sejak tadi kau sudah keracunan."

Mendengar itu, kakek Ou tertawa terbahak-bahak ;

"Haa haa haa....nona Liong, aku tidak takut ataupun keder dengan racun yang kau gunakan, bukan hanya aku situa semua orang yang berada disinipun tidak takut terhadap serangan racun, kalau tak percaya silahkan untuk mencobanya!"

Sementara itu Liu leng poo telah berkata pula pelan-pelan;

"Sekalipun dalam hatimu masih tersimpan rahasia lain, apa gunanya kuberitahukan hal ini kepadamu?" sahut Liong Hiang kun dengan kepala tertunduk.

"Katakan saja, siapa tahu hal ini menguntungkan semua pihak?"

Liong Hiang kun menggelengkan kepalanya berulang kali, mendadak dia mendongakan kepalanya lalu dengan sorot mata yang penuh permohonan ia bertanya:

"Mana Wi Tiong hong? Apakah diapun kehilangan pikiran serta kesadarannya? Bukankah ia sudah kalian bekuk sejak tadi? Bolehkah kutengok sebentar dirinya? "

Satu ingatan segera melintas dalam besak Liu Leng poo, sahutnya segera :

"Saudara Wi berada disini, boleh saja bila kau ingin menjenguknya tapi ada syaratnya, yaitu kau harus menjawab tiga buah pertanyaan yang kuajukan."

"Baik bila ingin bertanya, ajukanlah pertanyaanmu itu." Liu Leng poo kembali tertawa.

"Lebih baik kau pergi menengoknya lebih dulu, kemudian baru menjawab pertanyaan yang kuajukan!"

Baik kakek Ou maupun Kam Liu cu, kedua orang itu tahu bahwa tindakan yang dilakukan Liu Leng poo ini pasti mengandung arti yang mendalam, karena itu tidak seorang pun diantara mereka yang berbicara,

Liu Leng poo segera mengajak Liong Hiang kun masuk kedalam gua, sementara yang lain mengikuti

dibelakangnya,

Ma koan tojin sendiri berpesan dulu kepada keenam belas orang jago pedang berpita hijau agar menjaga diluar gua, kemudian dia baru menyusul kedalam

Liong Hiang kun berjalan mengikuti di belakang Liu Leng poo, begitu masuk ke dalam gua dan menyaksikan Wi Tiong hong dengan mata terpejam rapat-rapat setengah merabah diatas dinding batu, mendadak ia menggerakkan tubuh dan menerjang maju ke hadapannya.

Dengan suatu gerakan cepat dia mengeluarkan sebutir pil berwarna putih dari sakunya dan langsung dijejalkan ke dalam mulutnya.

Semenjak tadi Lak jiu im eng Thio man telah berjaga-jaga disamping Wi Tiong hong dia melihat dengan jelas bagaimana Liong Hiang kun mengeluarkan pil berwarna putih itu dan siap dijejalkan kedalam mulutnya.

Tapi belum sempat menghadangi perbuatan nona itu, tampak bayangan manusia berkelebat lewat, tahu-tahu pil berwarna putih itu sudah berpindah ke tangan Liu Leng poo, malah ujarnya sambil tertawa ringan.

"Nona Liong, obat apa sih ini?"

Ketika pil berwarna putih itu kena dirampas oleh Liu Long poo, Liong Hiang kun segera merasakan pipinya menjadi semu merah karena jengah, cepat-cepat dia berseru.

"Pil itu merupakan obat penawar racun cepat berikan kepadanya...!"

"Siapa kau?" bentak Lak jiu im eng Thio Man sambil meraba gagang pedangnya, "Siapa yang percaya obat apa yang akan kau berikan kepada engkoh Wi ?"

Lagi lagi seorang pencemburu! Dasar perempuan, agaknya rasa cemburu memang tak bisa terlepas dari watak kaum wanita.

Liong Hiang kun menjadi sangat gelisah, kepada Liu Leng poo serunya ; "Tapi pil ini benar-benar adalah pil penawar racun, dengan..... dengan mempertaruhkan selembar jiwaku aku baru berhasil mendapatkan sebutir pil pemunah itu, kumohon kepadamu cepatlah berikan kepadanya."

"Tahukah kau apa sebabnya saudara Wi bisa kehilangan pikiran serta kesadarannya? " tanya Kam Liu cu.

"Yaa aku tahu. Dia terluka oleh semacam ilmu totokan yang khusus, dan cuma pil penawar racun ini yang bisa menyelamatkan dirinya.."

Kam Liu cu memandang sekejap kearah Liu Leng poo, kemudian katanya;

"Tampaknya apa yang dia katakan memang tidak bohong, ji sumoay, aku rasa lebih baik biar saudara Wi menelan pil penawar itu!"

Liu Leng poo termenung sambil berpikir sejenak, kemudian katanya sambil menggeleng: "Tidak bisa aku kuatir dibalik pil tersebut masih terselip rencana busuk lainnya"

"Aku berani bersumpah, pil ini merupakan pil penawar racun yang sebenarnya!!" seru Liong Hiang kun.

Liu Leng poo mengambil pil tersebut dari tangan Liong Hiang kun, kemudian sambil berpaling kearah Kam Liu co, katanya.

"Toa suheng, aku rasa lebih baik kita mencari orang lain sebagai bahan percobaan." Kam Liu cu segara manggut-manggut tanda setuju.

"Jangan!" Dengan perasaan gelisah Liong Hiang kun segera berteriak keras, "Aku hanya mempunyai sebutir pil penawar racuni tu dan aku datang khusus untuk menolong Wi siauhiap, kau tahu, termasuk ayahku sendiri juga sudah terkena serangan gelap mereka.."

Tiba-tiba ia menutup mulut dan tidak melanjutkan kembali perkataannya, tapi siapa pun dapat mendengar bahwa ayahnya justru sudah terkena serangan gelap itu, dan

kemungkinan besar membutuhkan pula pil penawar racun itu.

Andaikata perkataan ini sampai terdengar oleh Liong Cay thian, niscaya dia akan muntah darah segar saking mendongkolnya,

Tapi biarpun nona Liong gelisah juga tak ada gunanya, sebab Liu Leng poo telah menjejalkan pil pemunah racun itu kedalam mulut seorang jago pedang berpita hijau yang berada disamping Wi Tiong hong..

Sstelah melalui perdebatan yang sengit, kini suasana dalam gua menjadi tenang kembali, sorot mata semua orang bersama-sama dialihkan kewajah si jago pedang berpita hijau itu.

Dengan suatu gerakan cepat Kam Liu cu menepuk bebas jalan darah sijago pedang berpita hijau yang tertotok itu.

Tampak jago pedang itu gemetar keras sambil berkelojotan, tiba-tiba badannya roboh terjengkang keatas tanah sambil memuntah cairan kental berwarna hitam, lalu sejenak kemudian jiwanya sudah melayang meninggalkan raganya,

Perubahan yang dramatis ini seketika menggetarkan sekujur badan Liong Hiang kun, tiba- tiba saja ia menjerit lengking.

Lak jiu im eng Thio Man yang menyaksikan adegan tersebut segera berkerut kening pula. Tiba-tiba dia mengayunkan tangannya menampar wajah Liong Hiang kun sambil umpatnya:

"Budak busuk, rupanya kau berniat hendak meracuninya sampai mati..?"

Liong Hiang kun yang waktu itu masih di cekam perasaan kaget dan ngeri tentu saja tak dapat menghindarkan diri, "Plook" tamparan itu bersarang telak diatas wajahnya.

Tapi tamparan tersebut justru membuatnya mendusin dari impian, sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan, dia menangis tersedu sambil keluhnya,

"Demi menyelamatkan selembar jiwanya aku telah berusaha keras untuk mencuri sebutir pil penawar racun itu, aku bukan datang kemari dengan niat mencelakai jiwanya."

Terdorong rasa cemburu dan marah Lak jiu im seng Thio Man segera mencabut keluar pedangnya seraya membentak,

"Budak busuk, kau masih menyangkal kalau kedatanganmu bukan bermaksud mencelakainya? kau. "

Pada saat itulah mendadak dari luar gua berkumandang datang suara tertawa yang sangat menyeramkan. Suara itu seperti mengambang ditengah udara, bagaikan sambaran petir cepatnya melintas lewat diangkasa...

Dengan air muka berubah hebat, Kam Liu cu segera membentak keras-keras. "Siapa disitu?"

"Orang itu sudah melarikan diri.." kata kakek Ou dengan gusar, "Bajingan keparat, begitu berani dia menyembunyikan diri diluar gua sambil menyadap pembicaraan kita."

Dalam pada itu Liong Hiang kun telah menangis tersedu-sedu.dengan air mata bercucuran membasahi wajahnya dia berkata: "Tak kusangka selain usahaku menolong Wi sauhiap tidak berhasil, sebaliknya aku justru mencelakai pula ayahku sendiri."

Lak jiu im eng Thio Man tidak menjadi berubah sikap setelah menyaksikan kejadian itu, dengan pedang masih ditempelkan di atas dada Liong Hiang kun, bentaknya ketus.

"Sejak kapan sih kau berniat baik? Ayoh jawab, sesungguhnya dengan cara keji apakah kalian telah mencelakai begitu banyak orang. ?"

"Kalau ingin membunuh, bunuhlah aku segera!" seru Liong Hiang kun sambil manangis, "Dalam kenyataan aku telah mencuri obat penawar racun itu dengan menyerempet bahaya, kalau toh kalian tidak percaya yaa sudahlah, bagaimanapun juga aku memang sudah tak ingin hidup lagi!"

Begitu selesai berkata, ia segera membusungkan dadanya dan benar-benar menapaki ujung pedang dari Lak jiu im eng Thio Man itu dengan badan sendiri. Liu Leng poo agaknya berpendapat lain, dari pembicaraan gadis itu secara lamat lamat dia telah menduga bahwa dibalik peristiwa itu mungkin terdapat rahasia lain, karena itu cepat-cepat serunya kepada Thio Man.

"Adik dari keluarga Thio, tarik dulu pedangmu, aku percaya pada Liong memang mempunyai maksud tujuan yang baik!"

Kemudian sambil berpaling lagi ke arah Liong Hiang kun, kembali dia berkata: "Walaupun obat penawar racun yang nona bawa telah ditipu orang serta berubah menjadi

racun, namun aku dapat melihat bahwa nona benar-benar berniat menolong saudara Wi. Nah, sebagaimana perjanjian kita tadi, asal kau

bersedia menjawab tiga buah pertanyaanku. Aku tetap akan membebaskan kau pergi dari sini."

"Sekalipun kalian membebaskan aku, toh aku pun tak bisa pulang lagi, apa yang ingin kau tanyakan segeralah diajukan." seru Liong Hiang kun dengan air mata bercucuran.

“Nona adalah putri Liong Cay thian, juga merupakan Tok seh siacu, masa ada orang yang dapat menyusahkan dirimu?".

"Ayahku yang menyuruh aku berperan sebagai Tok seh siacu, dulu memang demikian tapi sekarang tidak lagi"

"Lantas siapa yang memegang peranan itu?" tanya Liu Leng poo lebih jauh.

Liong Hiang kun kelihatan agak ragu, dia menggigit bibirnya kencang-kencang, agaknya ada suatu hal yang sulit baginya untuk di utarakan keluar.

Tapi selang berapa saat kemudian agaknya nona itu telah mengambil keputusan, sambil mengangkat kepala katanya,

"Tempat ini merupakan selat Tok seh sia baru, dibangun ayah secara rahasia sejak sepuluh tahun berselang, selama ini aku hanya pernah mendengar ayah menyinggung soal itu, namun belum pernah datang mengunjunginya. Baru hari ini ayah mengajakku datang kemari, dan saat itu pula aku baru tahu kalau selat Tok seh sia baru ini di pimpin oleh nyonya siacu yang muda lagi cantik."

Semua orang sudah tahu kalau Tok seh siacu adalah Liong Hiang kun, sedangkan Liong Hiang kun adalah seorang gadis, sudah barang tentu tak mungkin mempunyai nyonya, tapi kini ternyata muncul seorang nyonya siacu.

Setelah mendengar perkataan dari Liong Hiang kun ini, semua orang baru tahu, ternyata Tok seh sia yang baru ini merupakan tempat Liong cay thian menyembunyikan istri barunya.

Tiba-tiba muncul perasaan benci dan gusar di wajah Liong Hiang kun. Katanya tiba-tiba dengan perasaan benci.

"Perempuan itu telah menggunakan kecantikan wajahnya untuk memikat ayahku." "Apakah dia adalah anggota perguruan dari Kiu siang loyau?" tanya Liu Leng poo. "Entahlah, ketika aku datang kesana dengan peranan sebagai Tok seh siacu hari ini, siluman perempuan itu telah memancingku memasuki sebuah ruangan rahaisa, dia memerintahkanku untuk melepaskan dandanan Tok seh siacu tersebut."

"Mula-mula aku tak mau, ketika kemudian dia memberitahukan kepadaku bahwa ayah sudah terkena racun kejinya, terpaksa aku pun menyerahkan dandanan Tok seh siacu tersebut kepadanya, karena dengan begitu nyawa kami ayah dan anak baru bisa diselamatkan, terdesak dalam keadaan tak berdaya, terpaksa akupun serahkan topeng serta pakaian tersebut kepadanya."

"Apakah waktu itu dia tidak menyusahkan dirimu?" tanya Liu Leng poo kemudian.

"Tidak, dia hanya mengurungku didalam sebuah ruangan batu serta melarangku keluar! Ia tidak mengijinkan aku berjumpa dengan ayah, hingga menjelang malam tadi dia mengundangku menghadap dan memerintahkan aku memakai topeng serta pakaian dari Ban kiam hweecu itu untuk berperan sebagai Ban kiam hweecu."

"Tahukah nona bagaimana keadaan Kiamcu?" tanya Ma koan tojin dengan perasaan cemas.

"Aku tidak waktu itu aku hanya mendengar dia berkata bahwa ada sekelompok manusia yang telah ditotok dibagian jalan darahnya oleh ilmu Ciang Liong ci sehingga pikiran dan kesadarannya terganggu, dia menitahkan kepadaku untuk memimpin mereka menghadapi orang- orang Thian sat bun, diapun memberitahukan kepadaku bahwa ada sekelompok orang, termasuk Wi siauhiap telah ditahan oleh pihak Thian sat bun."

"Lantas obat penawar racun itu kau peroleh dari mana?"

“Pada saat itulah tiba-tiba ada orang yang datang melaporkan tentang perkembangan situasi terakhir, ketika mendengar laporan tersebut tergesa-gesa dia pergi dari sana, aku pun lantas berpikir, ayah yang terkena racun kejinya harus ditolong, siapa tahu kalau didalam kamar itu terdapat obat penawar racunnya. Dalam pencarian yang dilakukan dengan tergesa-gesa ini aku berhasil menjumpai sebuah botol dengan label yang bertuliskan obat penawar racun dari Ciang liong ci. Teringat bahwa Wi siauhiap memang terluka oleh ilmu totokan Ciang liong ci, maka obat itupun kucuri."

Ketika berbicara sampai disini, sepasang pipinya berubah menjadi semu marah. Liu leng poo memandang sekejab kearah Kam liu cu, kemudian ujarnya,

"Kalau didengar dari keterangan nona ini, tampaknya dewasa ini seluruh selat Tok seh sia telah dikuasahi oleh Kiu siang popo si siluman tua itu."

Kakek Ou menggaruk-garuk kepalanya sambil berkata pula,

"Entah kepandaian silat macam apakah Ciang Liong ci itu? Aaaii... Seandainya majikan kami berada disini, kemungkinan besar dia dapat mencarikan cara pertolongan yang tepat.."

Belum habis perkataan itu diucapkan, tiba-tiba terdengar suara bentakan nyaring berkumandang datang dari luar gua, disusul kemudian terdengar suara sahutan seseorang yagn merdu bergema tiba. "Hey, aku yang datang! kalian cepat menyingkir!" Dengan perasaan terkejut kakek Ou segera berseru, "Aahh... nona kami datang.."

Tampak sesosok bayangan manusia yang kecil mungil menyelinap masuk dengan cepat. Orang itu bukan lain adalah So Siau hui, begitu masuk kedalam gua, sambil memegangi dadanya dia berdiri dengan napas tersengal.

Melihat keadaan dari So siau hui, dengan perasaan terkejut kakek Ou segera berseru, "Nona, mengapa kau?"

So Siau hui segera menenangkan hatinya sambil membereskan rambutnya yang kusut, kemudian katanya sambil tertawa.

"Aku tidak apa-apa, hanya kelelahan karena harus berlari kencang..."

Apabila dilihat dari caranya berbicara maupun tindak tanduknya, Liu leng poo merasa nona ini sehat dan segar bugar, namun berhubung nona tersebut baru datang dari selat tok seh sia, tak urung timbul juga perasaan was was didalam hatinya, pelan-pelan dia maju menghampirinya lalu berkata,

"Adik dari keluarga So, duduklah dulu untuk beristirahat."

"Tidak usah, aku sudah merasa agak baikan." sahut So Siau hui dengan cepat. Dengan mata terbelalak lebar-lebar cepat-cepat kakek Ou bertanya lagi. "Nona, bagaimana caramu melarikan diri dari pengawasan mereka?"

"Empek Ou, bukannya kau tidak tahu, ayahku sudah mengajarkan ilmu memindahkan jalan darah kepadaku?

Bagaimana mungkin mereka dapat menotok jalan daraku?

Sore tadi kami terjebak didalam perangkap mereka. Ketika kulihat Wi siauhiap tertawan maka akupun sengaja membiarkan diriku ikut tertawan juga."

"Mula-mula aku bermaksud menunggu kesempatan untuk membebaskan jalan darah Wi siauhiap yang tertotok, siapa tahu mereka telah menyekapku kedalam sebuah ruangan batu yang berbeda, maka secara diam-diam akupun melarikan diri dari sana."

Liu Leng poo merasa penuturan nona itu terlalu ringkas dan sederhana, maka tak tahan dia segera bertanya lagi,

"Apakah tidak ada yang mengejar dirimu?"

"Ruangan batu tersebut dilengkapi dengan alat rahasia, didalam anggapan mereka orang yang sudah dikurung dalam ruangan tersebut tak nanti bisa meloloskan diri, oleh sebab itu merekapun tidak menempatkan penjaga disekitarnya."

"Siapa tahu semua alat rahasia yang mereka gunakan merupakan alat rahasia yang berhasil dicurinya dari Lam hay kami, dengan sendirinya dengan mudah dan leluasa kau berhasil melarikan diri, hanya saja sepanjang jalan mesti lari terus, aku jadi kehabisan napas dan kelelahan."

"Jadi kau mengenali betul semua alat rahasia yang mereka gunakan?" tanya Liu leng poo.

“Sekalipun mereka lakukan juga pelbagai perubahan disana sini, tapi yang kuketahui mencapai enam tujuh puluh persen.”

"Itu sudah lebih dari cukup, sayang sekali begini banyak orang orang kita yang berada dalam keadaan tidak sadar.

Kalau tidak, kita bisa secara langsung menyerbu ke sarang mereka!"

"Aku rasa kita cukup meninggalkan sebagian kekuatan untuk berjaga-jaga ditempat ini, aku memang ingin sekali bertarung melawan Kiu siang poo tersebut!" seru kakek Ou

"Agaknya selat Tok seh sia baru ini dipimpin oleh anak buahnya, Kiu siang poo pribadi belum tentu berada disini."

ucap Kam Liu cu pula dengan cepat.

Sementara pembicaraan masih berlangsung, tiba-tiba dari mulut gua terdengar suara mencicit yang tinggi melengking dan pelan bergema tiba, menyusul kemudian tampak sesosok bayangan manusia menyelinap masuk dengan kecepatan bagaikan hembusan angin.

Orang itu muncul tanpa menimbulkan sedikit suarapun dan nyatanya berhasil mengelabuhi keenam belas orang jago pedang berpita hijau yang berjaga-jaga diluar gua.

Liu Leng poo segera merasakan sesuatu, tiba-tiba dia membalikkan badan seraya membentak;

"Hey, siapa yang berani menyelundup masuk sedalam gua?"

Sambil berkata dia mengayunkan telapak tangannya melepaskan sebuah bacokan kilat kearah orang itu.

Cepat-cepat Kam Liu cu berseru keras, "Ji sumoay, jangan bertindak gegabah!" "Blaaammmm.,!"

Benturan keras bergema memecahkan keheningan.

Angin pukulan yang bersarang di atas batuan cadas itu mengakibatkan hancuran batu beterbangan keempat penjuru.

Dengan suatu gerakan yang sangat ringan orang itu menyelinap kesamping lalu menggoyangkan tangannya berulang kali sambil berseru diiringi suara tertawa rendah:

"Liu lihiap, jangan menyerang dulu, aku adalah Thio Khing!"

Sekarang semua orang baru dapat melihat dengan jelas bahwa orang itu adalah seorang kakek berbaju abu-abu yang berkepala botak, dagu lancip, mata besar serta kumis tipis, mukanya kelihatan aneh sekali, dia tak lain adalah si tikus berjalan dibawah tanah Thio Khing. Liu Leng poo tidak kenal orang tersebut tapi mengingat orang itu bisa mengelabuhi keenam belas orang jago pedang berpita hijau yang berjaga diluar gua, ia sadar bahwa orang ini bukan manusia sembarasgan.

Maka dengan suara dingin segera bentaknya, "Siapakah anda?"

Kam Liu cu yang berada di sampingnya cepat cepat menjelaskan.

"Ji sumoay. Dia adalah si tikus berjalan dibawah tanah Thio Khing..".

Kemudian sambil menjura katanya pula:

"Ditengah malam buta begini saudara Thio datang berkunjung, sesungguhnya ada urusan apa?"

Si tikus berjalan dibawah tanah Thio King memutar sepasang biji matanya yang kecil lalu tertawa paksa berulang kali:

"Yaa, ya, aku mendapat perintah dari majikanku untuk datang mengirim obat kepada kalian"

Dengan perkataan tersebut berarti Tong hujin telah mendapat tahu bahwa orang-orang disini telah menderita luka sehingga kehilangan pikiran dan kesadarannya, karena itu dia pun memerintahkan orang untuk mengantar obat racun kemari.

Lantas siapakah Tong hujin yang sebenarnya?

Darimanakah asalnya? Tampaknya tiada persoalan apapun yang dapat mengelabuhinya.

Sementara itu si tikus berjalan dibawah tanah Thio Khing telah merogoh kedalam sakunya serta mengeluarkan sebuah botol kecil lalu katanya lagi sambil tertawa paksa:

"Berhubung disepanjang jalan harus menghadapi pelbagai rintangan, maka akibatnya aku telah datang terlambat"

Sambil berkata dia serahkan botol obat itu kehadapan Kam Liu cu.

Liong Hiang kun yang berdiri disamping, dalam sekilas pandangan saja telah melihat bentuk botol itu dengan jelas, tiba-tiba paras mukanya berubah hebat, serunya dengan gelisah:

"Kam tayhiap, isi botol itu bukan obat penawar racun, melainkan bubuk pembingung sukma milik ayahku".

Sementara Kam Liu cu masih tertegun setelah mendengar perkataan tersebut, si tikus berjalan dibawah tanah Thio Khing telah manggut-manggut seraya berkata:

"Benar... benar.. perkataan nona ini memang benar, isi botol tersebut memang bubuk pembingung sukma dari si Raja langit bertangan keji Liong Cay thian, ehhmmm, ehmmm....aku mendapat perintah dari majikan dan baru saja masuk kedalam untuk mengambilnya." Yang dimaksudkan sebagai "baru saja masuk kedalam untuk mengambilnya" jelas berarti obat tersebut baru saja berhasil dicurinya!

"Tapi apa gunanya kau mencuri bubuk pembingung sukma itu?" tanya Liong Hiang kun.

Sambil mengangkat bahunya si tikus berjalan dibawah tanah Thio Khing menyahut seraya tertawa:

"Besar sekali manfaatnya! Menurut majikanku, Wi siauhiap sekalian telah kehilangan pikiran serta kesadarannya karena jalan darah diotaknya tertotok oleh ilmu jari Ciang Liong ci sehingga siapa musuh siapa teman tidak diketahui, dia hanya menuruti perintahnya dari seseorang atau semacam tanda rahasia. Begitu jalan darahnya dibebaskan mereka akan melakukan perlawanan sengit. Selain cara pembebasan yang khas dari ilmu Ciang Liong ci sendiri, konon hanya It goan hu si wan dari Lam hay bun yang bisa menyadarkan kembali mereka semua."

"Pil It goan hu si wan?" seru So Siau hui terkejut, “tapi resep obat itu sudah lenyap, sedang persediaan obat dirumah kami pun sudah tidak ada lagi."

"Benar,benar, itulah sebabnya majikan kami baru menitahkan kepadaku untuk menyeludup masuk kedalam selat Tok seh sia serta mencuri bubuk pembingung sukma

dari saku si raja langit bertangan keji Liong Cay thian.

Bubuk pembingung sukma sama saja dapat menghilangkan pikiran dan kesadaran seseorang, tapi jikalau diberikan kepada seseorang yang sudah tertotok pikiran dan kesadarannya oleh Ciang liong ci, maka hal ini menyebabkan mereka tak akan menuruti perintah lawan lagi."

"Tapi akibatnya mereka kan semakin kehilangan pikiran serta kesadarannya?" seru Lak jiu im eng Thio Man segera.

Si tikus berjalan dibawah tanah Thio Khing segera tertawa;

"Justru dengan membuat mereka makin lama semakin bingung, maka setelah jalan darah mereka dibebaskan, orang-orang itu baru tak akan lari balik ke pihak musuh"

Lak jiu im eng Thio Man segera menengok sekejap kearah Liu Leng poo, kemudian katanya, "Enci Liu, hal ini masa boleh jadi?"

Liu Leng Poo tidak menjawab, dia hanya membungkam diri dalam seribu bahasa. Sambil tertawa si tikus berjalan dibawah tanah Thio Khing berkata lagi:

"Siapa bilang tak boleh jadi? Menurut majikan kami, hal ini cuma merupakan tindakan sementara waktu, apalagi bubuk pembingung sukma pun memiliki obat penawarnya yang tersedia setiap saat, apa yang mesti ditakuti? Berbeda sekali dengan ilmu Ciang liong ci itu."

"Konon orang yang terkena totokan ilmu jahat tersebut, bila dibiarkan menderita selama tiga puluh enam jam maka akibatnya dia akan menjadi lemah mental dan pikiran untuk selamanya, keadaan tersebut tak akan bisa disembuhkan lagi, oleh sebab itulah persoalan terpenting sekarang adalah membebaskan jalan darah mereka yang tersumbat oleh ilmu Ciang Liong ci."

Setelah mengetahui akan betapa lihaynya ilmu Ciang Liong ci tersebut, tanpa terasa semua orang saling berpandangan dengan wajah memucat.

Akhirnya sambil manggut-manggut Liu leng poo berkata:

"Setelah atasanmu menitahkan kau kemari, aku percaya dia pasti mempunyai tindakan yang bagus bukan?"

-oo0dw0oo-