-->

Persekutuan Pedang Sakti Jilid 21

Jilid 21

Sementara itu fajar mulai menyingsing, selapis kabut pagi yang tipis menyelimuti pegunungan yang membentang di depan sana.

Rombongan pun meneruskan perjalanannya dibawah pancaran sinar fajar yang masih redup.

Lebih kurang sepertanak nasi kemudian jarak sejauh dua puluhan li jalanan bukit telah dilampaui, kini mereka telah tiba di atas sebuah puncak bukit.

Tapi berhubung semua orang tidak mengetahui jalanan diatas bukit Kou lou san tersebut, sehingga mereka pun tak tahu sudah tiba di Thian long peng atau belum?

Kakek Ou dan Kam Liu cu berjalan dipaling muka, baru saja mereka hendak menghentikan langkahnya untuk memperhatikan keadaan disekitar tempat itu...

Mendadak dari balik pepohonan siong di depan sana meluncur datang dua sosok bayangan manusia yang menghadang kepergian mereka sambil membentak :

"Siapa yang datang?"

Kakek Ou berpaling kearah Kam Liu cu dan katanya sambil tertawa : "Mungkin mereka adalah orang orang yang sedang menanti kedatangan kita".

Dalam sekilas pandangan saja Kam Liu cu sudah melihat dengan jelas bahwa dua orang yang berada dihadapannya adalah dua lelaki berbaju ringkas warna hijau dengan pedang tersoren di punggung, pada gagang pedang terikat pula pita berwarna hijau. Maka segera ujarnya :

"Mereka adalah orang orang dari perkumpulan Ban kiam bwee."

Sementara pembicaraan berlangsung, kedua jago pedang pita hijau itu sudah melihat pula Wi Tiong hong, buru-buru mereka maju kedepan dan menyapa seraya menjura,

"Ooh rupanya Wi siauhiap telah lolos dari ancaman bahaya maut." Wi Tiong hong segera balas memberi hormat, ujarnya:

"Kalian berdua hadir di sini, aku rasa Buyung congkoan tentu sudah berada disini bukan?"

o^DewiKZ^Aditya^aaa^o

"BUYUNG congkoan datang kemari bersama-sama Kiamcu" sahut salah seorang dari jago pedang berpita hijau itu.

Mengetahui kalau Ban kiam Hwee cu pun ikut datang, Wi Tiong hong menjadi sangat gembira, cepat cepat ia bertanya lagi

"Kiamcu dan Buyung congkoan berada dimana sekarang?"

"Sejak kemarin malam Kiamcu dan Buyung congkoan telah masuk kedalam selat Tok seh sia, hingga kini mereka belum juga kembali."

Masuk ke selat Tok seh sia bukan terletak ditempat ini.

Tiba-tiba saja Kam Liu cu teringat kembali dengan perkataan dari Cay thian semalam, dia bilang akan membicarakan Lan Kun pit meneruskan sandiwaranya berperan sebagai Wi Tiong hong, hal ini dimaksudkan

untuk memancing Wi Tiong hong beserta orang-orang yang ada hubungan dengannya agar masuk perangkap.

Waktu itu diapun berkata : "Selat Tok seh sia letaknya sangat terpencil dan rahasia, kecuali Kiy tok kaucu, tak mungkin orang-orang yang lain bisa menemukannya secara gampang."

Dikatakan pula:

"Dalam urusan ini, sudah diatur persiapan lain!"

Padahal orang-orang yang yang mendapat kabar tidak berhasil menemukan selat Tok seh sia, itu berarti yang dimaksudkan Liong Cay thian sebagai sudah diatur persiapan lain adalah rencana untuk memancing para pendatang kesebuah lembah bukit yang lain, dan lembah tersebut tentulah perangkap yang telah dia persiapkan itu.

Berpikir sampai disini diam-diam ia menjadi cemas dan gelisah, ditinjau dari belum kembalinya Ban kiam bweecu hingga kini bisa di simpulkan bahwa mereka bisa jadi sudah termakan jebakan musuh.

Dalam pada itu, si jago pedang berpita hijau tersebut nampak kaget bercampur tercengang setelah mendengar dari Wi Tiong-hong bahwa selat Tok seh sia bukan terletak disitu.

Dia menengok sekejap kearah rekannya, lalu berseru :

"Sungguh mengherankan sebelum masuk kedalam selat Kiamcu telah melakukan pemeriksaan dengan seksama terbukti kalau Toh seh sia memang terletak disini."

"Selain Hwecu dan Buyung congkoan yg telah masuk kedalam selat, apakah dari pihak perkumpulan kalian masih ada congkoan lain yang tinggal disini?"

"Congkoan pedang berpita hitam Ma koan totiang serta kedua orang wakil congkoan berada disini semua."

"Dapatkah kalian berdua melaporkan kalau kami ada urusan hendak bertemu dengan Ma koan toheng?"

"Kam tayhiap terlalu merendah, kalian adalah sahabat lama kiamcu, tak usah dilaporkan lagi, mari, silahkan saudara sekalian mengikuti diriku!"

Seusai berkata, dia segera membalikkan badan dan berjalan menelusuri jalan bukit.

Sedangkan jago pedang berpita hijau yg lain segera mengundurkan kembali kedalam hutan setelah memberi hormat kepada semua orang.

Dengan mengikuti dibelakang jago pedang pita hijau itu, berangkatlah semua orang menaiki bukit itu.

Sepanjang jalan Wi liong hong memperhatikan secara diam-diam, ternyata dikedua sisi jalan bukit sering ditemukan bayangan manusia yang berkelebat lewat dengan ketajaman matanya, meski cuma dalam sekilas pandangan saja namun ia dapat melihat dengan jelas bahwa bayangan manusia itu semuanya terdiri dari kawanan jago pedang berpita hijau dari perkumpulan Ban kiam hwee.

Sudah dapat dipastikan ke tiga puluh enam orang anak buah Buyung Siu telah di ajak serta semua.

Tak selang berapa saat kemudian mereka telah sampai didepan sebuah gua batu dipunggung bukit.

Jago pedang berpita hijau itu segera berhenti dan memberi hormat kearah gua batu itu seraya berseru, "Lapor congkoan, Wi siauhiap beserta Kam tayhiap dari Thian sat bun serta nona So dari Lam hay bun telah datang!"

Agaknya dia hanya kenal dengan Wi Tiong hong, Kam Liu cu serta So Siau hui bertiga.

Baru selesai laporan diberikan tampak Ma koan tojin bersama Thio lohan, Khong Beng dan naga tua berekor botak To Sam sin telah melangkah keluar dari gua batu itu dengan langkah tergesa-gesa.

Ma koan tojin segera melayangkan pandangannya sekejap, lalu sambil memberi hormat serunya sambil tertawa:

"Syukurlah bila Wi siauhiap telah lolos dari bahaya maut, tentunya siauhiap telah bersua dengan Kiamcu kami bukan?"

"Tidak, aku belum bertemu dengan Kiamcu" sahut Wi Tiong hong sambil balas memberi hormat.

"Kalau begitu siauhiap sudah tahu kalau kiamcu serta Buyung congkoan telah berangkat memasuki selat Tok seh sia?" ucap Naga tua berekor botak To Sam sin.

"Mari kita berbincang-bincang didalam saja!!" ajak Kam Liu cu tiba-tiba.

Ma koan tojin merupakan seorang jago kawakan dari dunia persilatan yang berpengalaman sangat luas, dari nada pembicaraan Kam Liu cu dia segera sadar kalau ada sesuatu yang tak beres, cepat-cepat dia mengangguk,

"Betul juga perkataan dari Kam tayhiap silahkan saudara sekalian masuk kedalam." Sambil berkata dia lantas mempersilahkan semua orang masuk kedalam gua batu.

Ternyata ruang dalam dari gua batu itu sangat lebar dan luas, selain terdapat tumpukan ransum kering disudut sebelah kanan, bagian yang lain kosong tak terdapat sesuatu

bendapun, sudah jelas tempat itu disediakan untuk melepaskan lelah. Dengan nada minta maaf Ma koan tojin berkata lagi:

"Gua ini kami temukan secara tak sengaja, selain luas, dikelilingi pula oleh pepohonan yang sangat rindang sehingga tidak mudah ditemukan lawan, maaf Wi siauhiap sekalian, terpaksa kalian dipersilahkan duduk dilantai."

"Totiang tidak usah sungkan-sungkan, mari kuperkenalkan dulu dengan semua orang." Setelah berhenti sejenak, terusnya,

"Saudara Kam dan nona So tentunya sudah pernah kalian bertiga jumpai, sedangkan saudara yg ini adalah panglima sakti berlengan emas Ou lotiang yg dikenal sebagai penjaga pintu langit lautan selatan, sedangkan yang ini adalah adik seperguruan dari saudara Kam, nona Liu rasanya totiang sekalian pernah mendengar nama besar mereka bukan...?"

"Padahal totiang pernah bertemu muka dengannya, sebab dia tak lain adalah nona berkerudung hitam yang menggunakan senjata Hwee hong to sewaktu bertarung di perusahaan An wan piaukiok di kota Sang siau tempo hari.

Sedangkan yang terakhir ini adalah pelindung hukum dari Thi pit pang, orang menyebutnya si pena baja Tam See boa, saudara Tam."

Diam-diam Ma koan tojin, Thi lohan Khong Beng serta naga tua berekor botak To Sam sin merasa terkejut sekejut sekali setelah mendengar perkenalan dari Wi Tiong hong ini.

Mimpi pun mereka tidak menyangka kalau kakek tua bangka yg sama sekali tidak menarik dihadapan mereka sekarang tak lain adalah panglima sakti berlengan emas Ou

Swan yang sudah termashur dalam dunia persilatan semenjak tiga puluh tahun berselang.

Mereka lebih lebih tidak menyangka kalau nona yang berwajah cantik jelita ini tak lain adalah perempuan berbaju hitam yang pernah menggetarkan hati setiap orang dengan pisau terbangnya sewaktu berada di perusahaan An wan piaukiok tempo hari.

Ketiga orang itu saling berpandangan sekejap lalu cepat-cepat mengucapkan kata-kata merendah, setelah itu masing masing baru mengambil tempat duduk dilantai.

Secara ringkas dan garis besarnya kakek Ou dan Kam Liu cu pun mengisahkan kembali pengalaman mereka semenjak keluar dari kuil Cun tian hingga tiba disitu.

Sudah barang tentu Kam Liu cu tak sempat

menceritakan apa yang telah di bicarakan dengan Liong Cay thian ketika itu serta rencana Liong Cay thian hendak membiarkan Lan Kun pit tetap berperan sebagai Wi tiong hong untuk memancing para jago lainnya masuk perangkap.

Tapi setelah ditemukan bahwa Ban kiam hweecu telah memasuki selat Tok seh sia dan hingga kini belum kembali, Kam Liu cu baru terperanjat dan sadar kalau Liong Cay thian telah mempersiapkan sebuah selat Tok seh sia palsu ditempat lain jauh sebenarnya.

Tentu saja selat Tok seh sia yang dipersiapkan dibukit Kou lou san ini merupakan sebuah perangkap untuk menjebak para jago.

Begitu semua orang sudah mengambil tempat duduk, Kam Liu cu segera bertanya kepada Ma koan tojin,

"Apakah toheng bertiga datang bersama-sama dengan hwecu perkumpulan kalian?".

"Tatkala kiamcu mendapat kabar yang mengatakan bahwa Wi siauhiap telah diculik oleh pihak Toh seh sia, dia segera berangkat dengan tergesa, waktu itu beliau hanya memimpin Buyung congkoan beserta segenap jago pedang pita hijau ditambah pinto sekalian bertiga."

Tak terlukiskan rasa haru dan terima kasih Wi Tiong hong terhadap Ban kiam hweecu setelah mengetahui bahwa kehadirannya di kou lou san khusus untuk menolong jiwanya. Apalagi teringat dengan seutas rambut yang diberikan kepadanya ketika berpisah tempo hari, tanpa terasa pipinya menjadi panas.

Terdengar Kam Liu cu bertanya lagi : "Tahukah toheng dari mana hwecu mendapat kabar kalau saudara Wi Tiong hong telah diculik orang-orang Tok seh sia?" "Ban Kiam hweeeu mempunyai mata-mata yang tersebar luas diseantero dunia persilatan, tentu saja ia peroleh berita itu dari berita yang tersiar ditempat luaran."

"Tidak mungkin" seru Kam Liu cu segera sambil menggelengkan kepalanya berulang kali. "kami baru memperoleh berita tersebut setelah berjumpa dengan dua bersaudara Bwee hoa kiam, padahal Ban kiam Hweecu telah kembali ke Kam bun waktu itu, tak mungkin kabar tersebut tersiar sedemikian cepatnya lagi pula kabar berita yang tersiar dalam dunia persilatan belum tentu akan dipercayai oleh Ban kiam Hwee cu dengan begitu saja."

Ma koan tojin segera manggut-manggut: "Yaa, perkataan dari Kam tayhiap memang tepat sekali".

Kemudian setelah mengalihkan sorot matanya

memeriksa sekejap sekeliling tempat itu, dia melanjutkan dengan suara lirih :

"Berhubung saudara sekalian bukan orang luar, tak ada salahnya kalau akupun berterus terang, sesungguhnya berita ini dibocorkan oleh Sah toheng kepada pinto, kemudian pinto kabarkan berita tersebut kepada Kiam cu lewat burung merpati."

Tidak sampai perkataan itu selesai diucapkan, Kam Liu cu telah bertepuk tangan sambil menukas:

"Itulah dia aaai..kalau begitu Hwee cu telah termakan oleh tipu muslihatnya!" "Apa maksud Kam tayhiap berkata demikian?"

"Dengan belum kembalinya hweecu kalian sampai saat ini terbukti sudah kalau ia telah terjebak oleh perangkap Liong Cay thian! Rencana tersebut benar-benar merupakan intrik busuk yang sangat berbahaya!"

"Kam tayhiap, agaknya kau sudah memperoleh suatu data yang lengkap tentang peristiwa ini, dapatkah kau jelaskan kepada pinto?" kata Ma koan tojin terkejut.

"Hweecu kalian masuk dari mana? " tanya Kam Liu Cu lebih jauh.

"Selat Tok seh sia mempunyai medan yg sulit serta letak yang sangat rahasia. Bagi umat persilatan pada umumnya mereka hanya mendengar nama Tok seh sia tanpa di ketahui kalau selat tersebut sesungguhnya berada dibukit Kou lou san. Sudah barang tentu tiada orang yang tahu letak selat tersebut secara tepat dan sebenarnya, Kiamcu masuk kedalam selat tersebut sesuai dengan pentunjuk dari Seh toheng."

"Mengapa hweecu kalian dapat mempercayai perkataan dari Seh Thian yu dengan begitu saja?"

Wi Tiong hong cukup mengetahui kisah Ban kiam bweecu yang berhasil menaklukkan Seh Thian yu maka cepat-cepat dia menukas,

"Ban kiam hweecu pernah melepaskan budi kepada Seh Thian yu, aku pikir dia tak mungkin akan mencelakai kiamcu."

"Tahukah toheng letak selat Tok seh sia, menurut keterangan dari Seh Thian yu?" tanya Kam Liu cu lebih jauh. "Menurut petunjuk dari Seh Thian yu, selat Tok seh sia terletak dibelakang bukit ini."

"Mana mungkin? Tempat ini bernama Thian long peng, selat Tok seh sia tidak berada disini."

"Aaaai... Semenjak dulu pinceng toh sudah bilang perkataan dari Seh Thian yu tidak bisa dipercaya!" kata Thi lohan Khong Beng kemudian,.

Dari pembicaraan yang berlangsung barusan Liu Leng poo segera mengambil kesimpulan kalau antara Seh Thian yu dengan pihak Ban kiam hwee tampaknya sudah saling bersekongkol. Satu ingatan segera melintas didalam benaknya, ia jadi teringat kembali dengan surat yang dikirim lewat burung merpati dan secara kebetulan ditangkap kakek Ou pada malam itu.

Tak tahan lagi dia berseru :

"Menurut dugaanku, bisa jadi Seh Thian yu telah tertimpah suatu musibah!"

"Yaa...aku pikir memang begitu" Kam Liu cu membenarkan, "Andaikata Seh Thian yu tidak bermaksud memancing Ban kiam hweecu masuk perangkap, itu berarti dipihak Seh Thian yu sendiri telah terjadi persoalan, kalau

tidak, tak mungkin ada orang yang mencatut nama Seh thian yu untuk memancing hweecu masuk ke dalam selat Tok seh sia palsu."

"Padahal bukan hanya Ban kiam hweecu seorang yang menjadi sasaran, Liong Cay thian telah berencana untuk menjebak kita semua kedalam perangkapnya itu."

"Toa suheng aku lihat kau seperti sudah tahu kalau peristiwa ini merupakan suatu intrik busuk mereka?" tanya Liu Leng poo sambil menengok ke arah Kam Liu cu dengan pandangan keheranan.

"Kesemuanya ini kuperoleh langsung dari Liong Cay thian, hanya sepanjang perjalanan tadi aku belum sempat menceritakan kesemuanya itu kepadamu."

Secara ringkas diapun membeberkan apa yang telah dibicarakan Liong Cay thian kepadanya malam itu.

Mengetahui kalau Ban kiam hweecu sudah terperangkap di dalam selat Tok seh sia palsu, keningnya segera berkerut, lalu sambil mengangkat kepalanya dia berkata :

"Kalau begitu didalam selat Tok seh sia palsu tentu sudah dipersiapkan pelbagai jebakan dan alat perangkap yang sangat hebat!"

Liu Leng poo tertawa.

"Liong Cay thian telah memasukkan nama Ban Kam hweecu serta toa suheng di dalam daftar hitamnya, tanpa jebakan dan alat perangkap yang sangat hebat tidak mungkin bisa membelenggu mereka berdua..."

"Jika didengar dari nada pembicaraan Kam tayhiap, tampaknya kalian seperti baru saja datang dari selat Tok seh sia?" tiba-tiba Ma koan tojin bertanya.

"Yaa betul, kami semua memang baru saja keluar dari selat Tok seh sia.." sahut Kam Liu cu seraya tertawa tergelak.

"Benar" ucap kakek Ou pula, "Kami memang baru datang dari Tok seh sia yang asli, dan sekarang akan menerobosi selat Tok seh sia gadungan. Waaah...kejadan ini pasti akan merupakan suatu peristiwa yang sangat menarik hati. Aku tidak percaya kalau perangkap dan alat jebakan yang di persiapkan Liong Cay thian ditempat tersebut begitu hebat dan luar biasanya,.."

Wi Tiong hong segera berseru pula sambil melompat bangun :

"Kalau hendak berangkat mari kita segera berangkat, biar aku menjadi pelopor pembuka jalan untuk kalian semua."

Liu Leng Poo melirik sekejap kearahnya lalu katanya sambil tertawa :

"Tunggu sebentar Wi siauhiap, dalam masalah ini kita tak boleh bertindak ceroboh. Kalau ditinjau dari tekad Liong Cay thian yang berusaha keras untuk memancing musuh-musuhnya, sudah jelas telah persiapkan suatu jebakan yang sangat lihay dan aku rasa hal ini tak akan diragukan lagi."

"Coba kau bayangkan kepandaian silat yg dimiliki Ban kiam hweecu serta Buyung congkoan, keduanya sama-sama tangguh dan lihay, andaikata mereka berdua terjebak pula didalam selat Tok seh sia palsu maka hal ini bisa diartikan bahwa mengandalkan ilmu silat saja adalah suatu hal yang tak berguna."

"Itulah sebabnya kita harus mempunyai suatu gambaran yang jelas lebih dulu tentang masalah ini kemudian baru bertindak. Kalau tidak, sudah pasti kita bisa masuk susah

untuk keluarnya, bisa kita semua sampai terperangkap di dalam, bukankah urusan bakal bertambah runyam?"

Sambil tertawa kakek Ou berseru : "Keberhasilan kita masuk dan keluar dari selat Tok seh sia kemarin adalah berkat siasat nona yang hebat, kali ini, kami semua akan menuruti semua perintah dari nona!"

"Persoalan ini berbeda jauh dengan persoalan di Tok seh sia kemarin. Dalam hal ini aku sama sekali tak punya pegangan apa apa..."

"Aku rasa kepandaian yang diandalkan pihak Tok seh sia paling banter hanya racun yang jahat!" kata So Siau hui.

"Aaai sayang sekali pil penolak racun yang kami bawa sudah habis terpakai, kalau tidak, kita tentu tak usah kuatir dengan racun jahat lagi."

Ketika berbicara sampai disini mendadak ia seperti teringat akan sesuatu, sambil berseru tertahan katanya,

"Bukankah Wi siauhiap mempunyai pena ajaib Lou bin si ? Aku dengar Lou bun si dapat memunahkan berbagai racun keji yang ada didunia ini, bahkan kasiatnya jauh lebih hebat daripada pil anti racun..."

"Pena ajaib Lou bun si merupakan benda wasiat milik Thi pit pang, aku telah mengembalikannya kepada Ting toako." sahut Wi Tiong hong.

"Dan aku rasa benda tersebut sudah terjatuh ke tangan Kiu tok kaucu saat ini!" sambung Tam See hoa.

Sambil menggigit bibir So Siau hui berpikir sejenak, lalu katanya lagi : "Waaaah bagaimana kalau begini? Untuk bisa masuk keluar dari selat Tok seh sia dengan selamat, kita harus

mempunyai pil penawar racun....ehmm...bagaimana kalau kita membuat obat disini?" "Tapi dari mana kita bisa peroleh bahan obat-obatan yang diperlukan...?" "Nona..." Kakek Ou berseru,

Tidak membiarkan pembantunya berkata lebih lanjut, sambil tertawa hambar So Siau hui berkata lagi:

"Obat adalah benda yang dibutuhkan untuk menolong umat manusia aku tidak sependapat kalau resep tersebut harus dirahasiakan, apalagi musuh yang sedang kita hadapi sekarang adalah selat Tok seh sia yg tersohor karena kelihayan racunnya, kecuali kalau kita tak usah mencari gara-gara dengan mereka."

"Yaa benar juga perkataan nona..." kakek Ou mengangguk.

Satu ingatan segera melintas didalam benak Liu Leng poo, segera tanya:

"Adik dari keluarga So, apakah kau mengetahui resep pembuatan obat penolak racun itu?" So siau hui manggut manggut, sahutnya sambil tertawa;

"Sejak kecil siaumoay suka melihat ayah ku membuat obat, semua bahannya telah ku ingat diluar kepala."

"Waah kalau begitu bagus sekali" seru Liu Leng poo gembira. "Sebelum memasuki selat Tok seh sia palsu, kita harus mengadakan persiapan dulu selengkapnya adikku, cepat kau tulis bahan obat obatan yang di butuhkan, kita segera akan mengutus orang untuk mencarinya dikota terdekat, hanya tidak di ketahui apakah bahan obat tersebut tersedia lengkap disitu?"

“Bahan obat-obatan yang diperlukan apakah tersedia lengkap disitu ?”

"Bahan obat-obatan yang diperlukan adalah bahan obat yang umum, dimanapun bisa kita peroleh secara mudah."

So Siau hui menegaskan.

"Kalau begitu silahkan nona menulisnya, pinto segera akan mengutus orang untuk mencarinya." seru Ma koan tojin pula,

So Siau hui tidak banyak berbicara lagi, dia mengambil sebatang pit dari sakunya, lalu mengambil selembar sapu tangan sebagai pengganti kertas dan menulis berapa puluh macam bahan obat-obatan yang diperlukan, kemudian di serahkan kepada Ma koan tojin.

Sambil menerima resep obat itu kembali Ma koan tojin bertanya. "Apakah nona hendak berpesan lain?"

"To tiang terlalu serius, pesan saja kepada kedai obat tersebut agar semua bahan obat ditumbuk menjadi bubuk.."

Ma koan tojin turun tangan sendiri keluar dari gua, lalu mengutus seorang jago pedang pita hijau untuk membeli bahan obat-obatan diluar gunung.

Menanti Ma koan tojin telah balik kembali kedalam gua, Liu Leng poo baru bertanya, "Apakah totiang tahu untuk menuju ke selat Tok seh sia palsu kita harus melalui mana?".

"Waah kalau soal itu sih pinto kurang jelas, sebab surat rahasia yang dikirim Seh toheng waktu itu kuserahkan kepada kiamcu tanpa pinto sempat membaca isinya."

"Bukankah totiang datang bersama kiam cu? Masa kau tidak tahu darimana mereka masuk?"

"Waktu itu kiam cu amat terburu buru ingin menolong Wi siauhiap yang terjatuh ketangan musuh sehingga dia tak sempat banyak bicara dengan kami, sebelum berangkat dia hanya memerintahkan kepada pinto sekalian bertiga agar berjaga disini, kalau didengar dari pembicaraan kiamcu tampaknya selat Tok seh sia terletak dibelakang puncak bukit itu, sedangkan jalanan yang dilalui kiamcu adalah sebuah lorong rahasia."

Sekali lagi Wi Tiong hong merasa terharu dan berterima kasih sekali terhadap Ban kiam hweecu, demi keselamatan jiwanya ternyata ia tak segan-segan menyerempet bahaya untuk berusaha menolongnya.

Kenyataan tersebut kontan saja membuat anak muda ini menjadi amat gelisah dan tak tenang duduk.

Dengan kening berkerut Liu Leng poo termenung berapa saat lamanya, kemudian berkata:

"Waah, kalau begitu rada sulit, Liong Cay thian berniat memancing musuhnya masuk perangkap, sudah pasti jalan rahasia yang dilalui Ban Kiam hweecu sekalian untuk masuk kedalam selat itu sudah ditutup mati olehnya."

Kam Liu cu tertawa.

"Ji sumoay kali ini perhitunganmu keliru besar, Liong Cay thian bermaksud hendak memancing musuh-musuhnya masuk perangkap, lagipula orang yang diincar bukan cuma Ban kiam hweecu seorang, sebelum apa yang diharapkan tercapai, tak mungkin jalan rahasia tersebut disumbat mati olehnya."

"Jikalau dia memang berupaya untuk memancing lawan-lawannya masuk perangkap sudah pasti jalan rahasia yang dipersiapkan bukan hanya sebuah saja...." kata Liu-Leng poo kemudian,

"Itu sih gampang untuk diselesaikan " sela kakek Ou tiba tiba, "Bila aku berhasil membekuk seorang anggota Tok seh sia, bukankah segala sesuatunya akan terbuka dengan sendirinya?"

Liu Leng poo segera menggeleng ;

"Liong Cay thian adalah seorang yang licik dan mempunyai pikiran yang panjang, dia tak nanti akan membocorkan rahasia tingkat tingginya ini kepada anggota lain kecuali dia seorang." "Nona Liu.." ujar Wi Tiong hong kemudian. "Aku rasa kalau toh selat Tok seh sia palsu berada dibelakang puncak bukit itu, apa salahnya jika kita mendaki ke puncak bukit itu serta memeriksanya sendiri.?"

"Percuma, Liong Gay thian berniat memancing musuh-musuhnya masuk perangkap sudah pasti letak dari lembah buntu yang dipilihnya itu sudah memenuhi pelbagai syarat yang dia tentukan, itu berarti kecuali jalan rahasia yang te!ah tersedia tidak mungkin ada jalan tembus lainnya, sekali pun kita bisa saja mendaki ke puncak bukit serta menengok keadaan dari lembah tersebut paling banter yang kita hadap adalah tebing curam sedalam ratusan kaki yang tak mungkin bisa turuni."

"Lantas apa yang harus kita lakukan ?"

"Tentu saja kita harus naik ke atas untuk melihat keadaan lebih dahulu. "

Setelah berhenti sejenak dan menengok keluar gua dia berkata lebih jauh : "Cuma, pergi pada saat inipun percuma. "

"Lantas kapan kita baru boleh pergi ke sana?" "Tunggu sampai tengah hari nanti "

"Mengapa kita baru boleh kesitu setelah tengah hari?"

So Siau hui segera menutupi bibirnya sambil tertawa cekikikan, katanya menggoda,

"Masa teori semacam ini pun tidak kau pahami? Bila tengah hari sudah tiba, matahari baru akan menyinari sampai di dasar lembah tersebut. "

"Ooooh, rupanya begitu!" seru Wi Tiong hong pula sambil tertawa geli. Thi lo han Khong Beng menepuk kepala sendiri dan tertawa tergelak pula:

"Haaahh...haah.., bila tidak nona ungkapkan, pinceng pun tidak akan menduga apa apa sebabnya kita menunggu sampai tengah hari nanti."

Mendekati tengah hari, Ban kiam hweecu dan Pau kiam suheng buyung Siu belum juga kembali, oleh karena ini semua orang pun semakin percaya kalau kalau Ban kiam hweecu benar-benar sudah terperangkap di dalam selat Tok seh sia palsu,

Liu Leng poo memperhatikan sekejap keadaan cuaca kemudian katanya sambil bangkit beriiri,

"Sekarang kita boleh naik keatas."

Tanpa terasa Liu Leng poo telah menjadi pemimpin dari rombongan tersebut, ketika semua orang mendengar perkataan itu, serentak mereka bangkit berdiri, Ma koan tojin segera berpaling kearah Naga tua berekor botak To Sam sin dan pesannya :

"Lebih baik saudara To tetap tinggal disini sehingga ada yang berjaga-jaga di tempat ini, entah bagaimana menurut pendapat saudara To. "

"Aku akan menaati perintah congkoan" Maka berangkatlah rombongan tersebut meninggalkan gua batu ditemani congkoan pasukan pedang berpita hitam, Ma Koan tojin serta wakil congkoan Thi lohan Khong Beng hweeshio, mereka langsung menuju kepuncak bukit.

Puncak bukit tersebut amat terjal dan berbahaya, sejak punggung bukit boleh dibilang sudah tidak terlihat jalanan yang dapat dilalui dimana merupakan batu karang yang tajam, licin dan terjal, sungguh merupakan suatu medan yang berbahaya.

Untung saja mereka semua memiliki ilmu silat yang sangat hebat, gerakan tubuh mereka pun lincah bagaikan monyet, dalam sepertanak nasi kemudian, rombongan sudah berhasil mencapai puncak bukit.

Ternyata puncak bukit itu berupa sebuah tanah datar seluas beberapa hektar, ditengahnya terpancang sebuah batu raksasa setinggi manusia, diatasnya terukir tiga huruf besar:

"THIAN LONG PENG"

Membaca tulisan itu, kakek Ou tertawa terbahak-bahak,

"Haah..haah., haah., ternyata Thian long peng terletak ditempat ini!"

"Aku pikir Tong hujin tentu sudah tahu kalau Ban kiam hweecu dan rombongannya telah sampai disini, itulah sebabnya dia menyuruh kita semua menyusul kemari." kata Kam Liu cu.

Membaca tulisan "Thian long peng" itu, tiba-tiba Liu Leng poo teringat pula akan sesuatu. Dia masih ingat dengan perkataan dari nikoh setengah umur dikuil Can ti an tadi. Katanya jika mereka menghadapi kesulitan di Thian

long peng, susioknya telah mengutus orang untuk membantu mereka.

Ditinjau dari sini dapat disimpulkan kalau Tong hujin telah tahu bahwa Liong Cay thian telah mempersiapkan selat Tok seh sia palsu ditempat itu.

Lantas siapakah Tong hujin itu? Dia seperti mengetahui semua gerak gerik dari Tok seh sia dengan amat jelas, tiada persoalan yang dapat mengelabuhinya.

Disebelah utara Thian long peng terdapat sebuah lembah selat yang amat kelam, biar pun di tengah hari yang terik, ternyata lembah itu tertutup oleh lapisan kabut yang amat tebal sehingga tak nampak dasarnya.

Terutama sekali dinding tebing dibagian utara, tempat itu merupakan sebuah tebing terjal ysng berdiri hampir tegak lurus, selain licin juga tajam, jangan lagi menuruninya, walaupun hanya menengok sekejap kebawahpuun sudah cukup membuat hati berdebar, mata berkunang dan kaki menjadi lemas.

Semua orang berusaha berjongkok dan melongok ke dasar lembah itu, namun biarpun sudah mengerahkan seluruh daya kemampuan mereka dan memperhatikan setengah harian lamanya, namun mereka tetap gagal untuk melihat dengan jelas keadaan sebenarnya dari dasar selat tersebut.

Tentu saja betapapun tingginya ilmu silat yang dimiliki seseorang, tak mungkin pandangan matanya dapat menembusi lapisan kabut yang tebal, apalagi menengok dari puncak yang begitu tinggi, jaraknya memang terlalu jauh.

Biarpun tak ada lapisan kabut yang menghalangi pandangan matapun, belum tentu mereka dapat melihat keadaan didasar lembah itu dengan jelas. Kakek Ou segera menengok kearah Kam Liu cu dan ujarnya sambil tertawa.

"Kam lote, tampaknya andaikata kita gagal menemukan jalan masuk menuju kelembah tersebut, biarpun punya sayap juga belum tentu dapat mencapai tempat tersebut."

"Walaupun Liong Cay thian mempersiapkan jebakan yang hebat disana, tak bisa dihindari kalau ada orang-orangnya yang keluar masuk lembah itu, dan bila ada orang yang masuk keluar maka tak sulit bagi kita untuk menemukannya. Seperti misalnya jalan rahasia lewat sumur kering yang kita lalui tempo hari, bukankah letaknya amat rahasia? Tapi akhirnya toh berhasil kita temukan?"

Kakek Ou tertawa terbahak-bahak.

"Hah...hah...hahhh...benar juga perkataan lote, Tok seh sia merupakan pusat dari kekuatan mereka yang sebenarnya, tapi buktinya kita toh bisa keluar semuanya sendiri, aku tidak percaya kalau selat Tok seh sia palsu ini bisa sedemikian lihaynya."

Berbicara sampai disitu, mendadak ia jumpai Liu leng poo masih saja mengawasi dasar lembah itu sambil termenung dan membungkam dalam seribu bahasa, tanpa terasa tanyanya,

"Nona Liu, apakah kau telah berhasil menemukan suatu jalan yang bagus?" Liu leng poo menggeleng, setelah termenung sejenak, ujarnya,

"Bila dugaanku tak salah, mungkin tempat inilah merupakan selat Tok Seh sia yang sebenarnya."

Perkataan tersebut benar-benar jauh diluar dugaan siapapun yang hadir disitu.

Dengan perasaan terkejut kakek Ou segera berkata,

"Tempat ini adalah selat Tok seh sia yang asli? Apakah tempat yang kita kunjungi kemarin bukan selat Tok seh sia?"

"Tentu saja tempat itu pun merupakan selat Tok seh sia, hanya tempat itu bukan tempat yaog penting bagi mereka."

Kakek Ou segera menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, katanya kemudian,

"Waah, aku jadi kebingungan dibuatnya! Dapatkah nona Liu menjelaskan dengan lebih terperinci?"

So Siau hui yang berdiri disamping Wi Tiong hong segera berkata pula sambil tertawa rendah.

"Wi siauhiap, apakah kau memahani apa yang dimaksudkan enci Liu.?" Wi Tiong hong menggeleng.

"Aku pun tidak mengerti."

Liu Leng poo menengok sekejap ke dua orang itu, kemudian baru ujarnya: "Tempat yang Lita kunjungi kemarin boleh dibilang merupakan selat Tok seh sia yang merupakan selat Tok seh sia yang barusan di bangun oleh Liong Cay thian."

"Seperti diketahui, Liong Cay thian adalah seorang manusia licik yang banyak akal muslihatnya, diapun seorang yang berpikiran panjang. Apalagi mempunyai ambisi untuk menguasahi seluruh dunia persilatan, tentu saja ia mesti bersiap sedia menghadapi orang orang berniat membunuh atau menyingkirkan dia dari percaturan dunia persilatan, seperti misalnya Ban kiam hweecu, toa suheng, Kiu tok kaucu dan lain lain, dia menganggap ke semuanya ini merupakan musuh yang paling tangguh."

KakeK Ou manggut manggut.

Kam Liu cu pun mengangguk tanpa terasa.

Liu Leng poo segera berkata lebih jauh "Oleh karena itu aku rasa perbuatannya menyuruh Lan Kun pit menyaru sebagai Wi siauhiap guna memancing semua orang masuk perangkap hanyalah suatu peristiwa yang kebetulan saja, padahal semenjak dulu dia memang sudah punya rencana untuk memancing para jago masuk kedalam perangkapnya"

"Bukankah nona Liu mengatakan bahwa tempat ini letaknya jauh lebih rahasia dari pada selat Tok Seh sia?"

Tanya Wi Tiong Hong. "Benar!"

"Kalau toh tempat ini jauh lebih rahasia letaknya ketimban Tok seh sia, apa sebabnya dia tidak membawa nona So dan Lan Kun pit masuk ketempat itu?"

"Pertanyaanmu memang beralasan. Menurut pendapatku hal ini sengaja dilakukan karena waktu dia membangun selat rahasia ini, lorong rahasia untuk masuk keluar yang dipersiapkan paling tidak terdapat tiga buah ke atas, lagi pula setiap saat bisa ditutup mati, sedangkan jebakan yang berada didalam lembah itupun jauh lebih lihay daripada selat Tok seh sia, maka dia punya rencana untuk memancing orang-orang yang menyusul kebukit Kou Lou san itu memasuki selat ini."

"Orang-orang Tok seh sia hanya pandai menggunakan racun, aku tak percaya kalau Liong Cay thian masih mempunyai permainan busuk lainnya.." seru kakek Ou.

"Lantas apakah sumoay sudah mempunyai rencana yang matang terhadap tindakan kita selanjutnya?" tanya Kam Liu cu pula.

"Bila kita hendak melakukan suatu tindakan, lebih baik dilakukan pada malam hari saja. Aku ingin menggunakan kesempatan setengah hari yang tersisa ini untuk memperhatikan dulu keadaan dan situasi disekeliling lembah ini"

"Apakah sumoay hendak pergi seorang diri? "

"Aku pikir ingin mengajak toa suheng untuk menemaniku" sahut Liu Leng poo tertawa. "Bagaimana dengan kami yang lain?" seru kakek Ou,

"Apakah nona Liu mempunyai perintah lain?" "Lotiang mempunyai sebuah tugas pula, namun harus menggunakan gerakan yang paling cepat untuk menyembunyikan diri di antara pepohonan didepan sana, jangan sekali-kali gerak- gerikmu itu ketahuan orang, apakah lotiang dapat melaksanakannya?"

Kakek Ou agak tertegun setelah mendengar perkataan itu, ujarnya kemudian : "Siang hari berbeda sekali dengan malam hari, dibawah sinar matahari biarpun kau

bergerak dengan kecepatan yang paling tinggipun sudah pasti akan tetap meninggalkan

setitik bayangan, bila nona menginginkan aku bergerak secepat-cepatnya tanpa ketahuan jejaknya oleh musuh, jelas tugas ini merupakan pekerjaan yang susah, tapi bila perjalanan itu pendek dan lagipula tertutup oleh rimbunnya perpohonan, mungkin saja aku dapat melakukannya."

"Baiklah, perjalanan ini perjalanan yang pendek-pendek.. aku ingin kau melindungi mereka secara diam-diam."

"Nona menyuruh aku lindungi siapa?"

Liu Leng poo segera menuding kearah Wi Tiong hong dan So siau hui sambil katanya,

"Kedua orang ini yang kumaksud."

"Nona, apakah kau hendak memberi suatu tugas?" Wi Tiong hong segera bertanya.

"Tidak berani" Liu Leng poo tertawa, "Aku hanya minta kau bersama nona So menuju ke timur bukit, setelah turun gunung nanti, coba periksa apakah didalam lembah tersebut terdapat pintu masuknya?"

Mendengar kalau dia akan pergi bersama Wi Tiong hong, So Siau hui menjadi gembira sekali, dengan wajah berseri tanyanya,

"Enci Liu, bagaimana dengan kalian? Apakah akan menuju kearah barat?" Liu Leng poo manggut-manggut.

"Benar, kita akan melakukan pencarian secara terpisah."

So Siau hui berfikir sejenak, lalu serunya

"Ya betul, jadi maksud enci Liu, kau hendak memakai kami berdua sebagai umpan untuk memancing musuh?"

"Menurut pendapatku, tujuan mereka mempersiapkan lembah ini adalah utnuk memancing musuh masuk perangkap, bisa jadi mereka telah persiapkan banyak lorong rahasia disepanjang lembah tersebut”.

"Walaupun toa suheng merupakan orang yang diincar Liong Cay thian, tapi Wi siauhiap dan kau berdua justru merupakan tujuan terutama bagi Liong Cay thian. Bila dugaanku tidak salah perjalanan kalian kali ini pasti akan memberikan hasil."

"Andaikata bertemu dengan musuh, apa yang harus kami lakukan?" tanya Wi Tiong hong.

"Hal ini harus ditentukan menurut situasi dan kondisi waktu itu, Sejak Ban Kiam hweecu masuk perangkap, pihak lawan tentu akan melakukan persiapan yang lebih ketat dan kuat dipelbagai lorong rahasianya, oleh sebab itu, pencarian kita secara terpisah ini sudah pasti akan menimbulkan pula perhatian terhadap kita, siapa tahu kalau mereka akan memperlihatkan titik kelemahan yang sengaja mereka perlihatkan agar kita masuk perangkap."

"Lalu apa yang mesti kita perbuat?" tanya Wi Tiong hong lagi.

"Hal ini harus dibedakan dalam dua macam keadaan, pertama orang-orang mereka pura-pura kalah dan berniat memancing kalian masuk perangkap, dalam keadaan demikian kalian tidak usah melakukan pengejaran, cukup diingat saja letak jalan masuk tersebut.

Kedua, dipimpin oleh jagoan lihay mereka lakukan pengeroyokan terhadap diri kalian dengan maksud membekuk kalian dalam keadaan hidup, dalam keadaan begini, kakek Ou harus tampilkan diri untuk memberi bantuan. Tapi ingat, menang atau kalah kalian tidak boleh masuk kedalam lorong rahasia mereka secara

sembarangan."

Berbicara sampai disitu, dia segera berpaling kearah Ma koan tojin dan katanya pula.

"Toheng tetap bertahan didalam gua batu, sedang Khong beng taysu serta To lojin berdua paling baik membawa sepuluh orang jago pedang berpita hijau untuk melakukan pemeriksaan pula disekeliling lembah. Sasarannya tidak terbatas, tapi sebelum matahari terbenam nanti semua orang harus sudah kembali ke gua batu untuk dirundingkan lebih lanjut."

Menyaksikan si panglima sakti berlengan emas, Ou swan pun bersedia menuruti perintahnya, cepat-cepat Ma koan tojin memberi hormat.

"Pinto terima perintah!"

Saat itulah Liu Leng poo baru memandang sekejap kearah para jago dan berkata lagi. "Mari kita berangkat sekarang."

Sepeninggal dari tebing Thian Long peng, rombongan kembali ke gua batu.

Waktu itu si naga tua berekor botak, To sam sia telah memerintahkan anak buahnya untuk mempersiapkan ransum kering, semua orang pun bersantap dengan tergesa-gesa.

oo~^DewiKZ^Aditya^aaa^~oo

DALAM pada itu, Tam See hoa duduk sambil

menundukkan kepalanya dengan wajah malu dan sedih, sebab ia saksikan semua oarng sudah memperoleh tugas tinggal dia seorang yang tidak peroleh bagian apa-apa.

Dia tahu hal ini disebabkan ilmu silatnya benar-benar cetek, Hal tersebut kontan saja membuat dia malu dan kehilangan muka.

Sebagai seorang perempuan yang pintar, tentu saja Liu Leng poo dapat melihat gejala itu, tiba-tiba dia mengangkat kepalanya sambil berseru,

"Saudara Tam!"

"Ada urusan apa nona?" cepat-cepat Tam see Hoa menyahut. "Aku ingin memohon saudara Tam untuk melaksanakn sebuah pekerjaan, apakah kiranya kau bersedia?"

"Silahkan nona memberikan perintah, biarpun harus terjun kelautan api atau naik ke bukit golok, aku tidak akan menolak."

Liu Leng poo tersenyum.

"Bila saudara Tam berkata demikian, aku jadi malu menerimanya. Tadi aku sudah memikirkan persoalan ini dengan matang, dan aku berkesimpulan bahwa terjebaknya Wi siauhiap didalam selat Tok seh sia agaknya sengaja dihembuskan pihak Tok seh sia kedalam dunia persilatan.

Sudah jelas ini sengaja mereka lakukan dengan tujuan untuk memancing para jago masuk perangkap.

Sekarang Ban kiam Hweecu telah menyusul kemari, padahal Bu tong pay yang mempunyai hubungan akrab dengan Wi siauhiap pasti akan menyusul pula kebukit Kou lou san.

Karena itu aku hendak minta kepada Ma Koan totiang agar mengutus dua orang jago pedang berpita hijau, agar bersama-sama saudara Tam bisa berjaga-jaga dibawah bukit, bila ada orang orang Bu tong pay atau jago persilatan lainnya menyusul kemari, harap saudara Tam mengajak mereka datang kemari bertemu dengan kami, jangan biarkan mereka masuk perangkap secara gegabah!"

Tam see hoa bukan orang bodoh, tentu saja dia tahu kalau tugas tersebut adalah tugas yang ringan dan tak banyak pekerjaan, sudah jelas Liu Leng poo sengaja memberi tugas ini kepadanya karena kuatir menyusahkan hatinya.

Dengan penuh rasa gembira, dia menyahut:

"Aku terima perintah!"

Waktu itu tengah hari sudah lewat dan sore menjelang tiba.

Toa lohan Khong beng hweesio dan naga tua berekor botak To sam sin dengan membawa sepuluh orang jago pedang berpita hijau berangkat lebih dulu.

Tam see Hoa dengan membawa dua orang jago pedang berpita hijau pun menyusul berangkat turun gunung.

Tak lama kemudian Wi Tiong hong serta So Siau hui juga meninggalkan gua.bSesuai dengan petunjuk Liu Leng poo, mereka berangkat ke kaki bukit sebelah timur dengan kakek Ou yang melindungi perjalanan mereka secara diam-diam.

Menyaksikan semua orang sudah berangkat, Liu Leng poo baru bangkit berdiri seraya berseru;

"Toa suheng, mari kita pun berangkat!"

Setelah berpisah dengan Ma koan tojin, ke dua orang itu berangkat menuju ke barat. Setelah menembus perjalanan sekian lama, Kim Liu cu mulai mengomel dengan suara pelan. "Ji sumoay, aku rasa tindakanmu memecah belah kekuatan kita pada hari adalah tindakan yang keliru"

"Dimana letak kekeliruanku?" tanya Liu Leng poo sambil mengangkat kepalanya.

"Bukankah di hari-hari biasa aku selalu bertekad akan membantu sam sumoay agar berhasil mendapatkan jodohnya, mengapa hari ini kau justru menciptakan kesempatan yang baik bagi nona So serta saudara Wi?"

"Aku sih membagi tugas sesuai dengan kebutuhan yang sedang kita hadapi sekarang, terus terang saja kukatakan, dalam operasi kita kali ini kuncinya justru terletak ditangan Wi siauhiap serta adik dari keluarga So, mengapa aku mesti memberatkan soal pribadi dengan mengorbankan kepentingan umum?"

Kam Liu cu segera manggut manggut.

"Ehmmm, perkataanmu memang betul juga, hanya aku jadi kuatir dengan nasib sam sumoay kita, aai..selain nona So, sekarang masih ditambah pula dengan seorang Ban kiam Hweecu.."

Liu Leng poo tertegun, matanya terbelalak lebar dan serunya keheranan, "Toa suheng, apa kau bilang? Ban kiam hweecu?"

“Konon Ban Kiam hweecu juga seorang perempuan”.

"Darimana toa suheng dengar tentang berita tadi?" tanya Liu Leng poo lagi agak tertegun.

"Aku rasa berita ini tak bakal salah lagi, aku mendengarnya dari Liong Cay thian" Tiba-tiba Liu Leng poo berseru tertahan.

"Aihh, itulah dia, tak heran kalau semenjak bertemu dengan Ban kiam hweecu untuk pertama kalinya dulu, aku selalu merasa tindak tanduk dan gerak geriknya amat lembut dan halus, bahkan nada suaranya sewaktu berbicara pun tidak berat dan lantang seperti layaknya seorang lelaki sejati. Ehmm, kalau begitu tak salah lagi jika dia menaruh perhatian yang begitu besar terhadap nasib Wi siauhiap!"

Setelah tertawa getir Kam Liu cu berseru.

"Itulah sebabnya aku lihat nasib Sam sumoay lebih banyak gelapnya dari pada suasana yang cerah"

Liu Leng poo segera berpaling dan katanya.

"Aku rasa bila urusan disini telah selesai, lebih baik toa suheng mencari suatu kesempatan dan bicarakan persoalan ini dengan Wi siauhiap"

Baru selesai ia berkata, mendadak Kam Liu cu menarik lengan Liu Leng poo dan segera melompat kebelakang.

Tertarik oleh betotan yang muncul secara tiba-tiba ini, seluruh badan Liu Leng poo segera terjatuh kedalam pelukan Kam Liu cu.

Dengan wajah bersemu merah karena jengah, gadis itu segera berseru tertahan, "Toa suheng, mengapa kau?"

Sambil membimbing tubuh Liu Leng poo, Kam Liu cu berjalan masuk kedalam hutan dan bersembunyi di balik, sebatang pohon besar yang berada disisi kanan, ujarnya kemudian.

"Ji sumoay, coba kau lihat, benda apakah itu?"

Liu Leng poo segera mengalihkan sorot matanya kearah mana yang ditunjuk, ternyata diatas batang pohon tersebut telah tertancap puluhan batang jarum beracun yang lembut seperti rambut dan panjangnya lebih kurang dua inci.

Kejadian ini segera mengejutkan hatinya, ia segera berpikir,

"Heran, darimana datangnya segenggam jarum terbang beracun itu? Mengapa aku tidak merasakan apa pun? Di tinjau dari serangan yang dilancarkan tanpa menimbulkan suara, bisa diketahui bahwa ilmu silat yang dimiliki orang itu pasti lihay sekali!"

Sementara itu Kam Liu cu telah memperhatikan hutan lebat disisi kirinya, lalu setelah tertawa nyaring, ia membentak keras.

"Serangan jarum terbang yang sobat lancarkan benar-benar sangat hebat, tapi membokong orang secara pengecut bukan terhitung perbuatan seorang pahlawan.."

Jarak antara tempat dimana mereka berada dengan hutan disebelah kiri kurang lebih mencapai tiga empat kaki, waktu itupun sore sudah menjelang, matahari masih bersinar terang menyinari seluruh jagad, namun hutan tersebut amat gelap sehingga tidak gampang untuk melihat keadaan disitu dengan jelas.

Sambil tertawa Kam Liu cu berseru:

"Bila sobat tak mau memberi muka pada aku orang she Kam, jangan salahkan bila aku akan bertindak kasar!"

Bersamaan dengan selesainya ucapan tersebut, tubuhnya segera melejit ke muka bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya, dengan suatu gerakan cepat dia meluncur ke dalam hutan tersebut.

Liu Leng poo tak mau ketinggalan, dia segera menggerakkan pula tubuhnya menerobos masuk kedalam hutan tersebut melalui arah yang lain.

Kakak beradik satu perguruan ini memang berilmu tinggi dan bernyali besar, setelah menyerbu kedalam hutan, mereka segera melakukan pemeriksaan dengan seksama, namun tak sesosok manusiapun yang dapat ditemukan.

Agaknya disaat mereka berdua sedang memeriksa jarum beracun tadi, orang tersebut telah manfaatkan peluang yang ada untuk melarikan diri.

Setelah keluar dari hutan, kembali Kam Liu cu memperhatikan sekejap keadaan di seputar sana, namun dengan cepat dia berseru tertahan lalu sambil tertawa tergelak serunya, "Haah.haah., haah, sialan, rupanya dia telah tertarik dengan kita!"

Ke arah mana yang di perhatikan kakak seperguruannya, Liu Leng poo menyaksikan pada batang pohon dimana tertancap jarum beracun tadi, kini telah tergantung pula sebuah papan, diatas papan itu tertera tulisan yang berbunyi demikian.

"Sudah lama mendengar nama besar Kam Liu cu dari Thian sat bun, kutunggu kehadiran anda didalam lembah didepan sana"

Selesai membaca tulisan tersebut, Liu Leng poo berkata sambil tersenyum, "Toa suheng, agaknya kita sudah tertipu oleh muslihat lawan"

"Kebetulan kita sedang mencari mereka, dan sekarang dia meninggalkan alamat untuk kita berdua, bukankah hal ini malah kebetulan buat kita?"

"Tidak, aku maksudkan orang yang melepaskan jarum terbang serta menggantungkan papan tersebut sesungguhnya terdiri dari dua orang"

"Dari mara kau bisa tahu?"

"Berbicara tentang kepandaian silat yang dimiliki toa suheng dan aku bagaimana mungkin ia mempunyai waktu yang cukup untuk keluar lagi dari hutan tanpa kita ketahui, kecuali jika mereka telah bersembunyi di belakang pohon semenjak semula.

"Sudah jelas, seorang melepaskan jarum terbangnya kemudian melarikan diri, menunggu kita mengejarnya kedalam hutan sebelah kiri, maka orang kedua munculkan diri dari hutan menggantungkan papan itu disini"

"Ehhmm, betul juga, tapi ditinjau dari kemampuan mereka berdua yarg berhasil meloloskan diri dari hadapan kita berdua, bisa terbukti juga kalau kepandaian silat yang mereka miliki cukup tangguh pula.."

Berbicara sampai disini, ia lalu berbisik "Ji sumoay. Ayoh kita cepat pergi!"

Dengan agak ragu Liu Leng poo menyahut

"Seandainya dia berniat menjumpai dirimu, tidak mungkin ia akan melarikan diri terbirit-birit setelah melepaskan jarum terbang tadi..."

"Tapi sekarang dia sudah menantang kita, sudah sepantasnya bila kita pergi untuk menjumpainya"

"Aku rasa biarpun kita sudah sampai di lembah sebelah depan pun tetap tak akan menjumpai seorang manusia pun."

Liu Leng poo tertawa dingin.

Sambil berbincang-bincang kembali kedua orang itu melanjutkan perjalanannya. Setelah melalui sebuah bukit, didepan sana mereka temukan juga sebuah jalan masuk menuju ke lembah.

Ditinjau dari keadaan luar, jalan kecil itu seperti menuju kesebuah lembah buntu, batu karang berserakan dimana-mana, keadaan amat gersang dan tak nampak tumbuhan barang sedikitpun jua, selain itu keadaan medan pun amat berbahaya, sehingga mendatangkan perasaan bergidik bagi siapapun yang melihatnya. Tiba didepan mulut jalan, kembali mereka berdua tertegun dibuatnya, ternyata pada dinding sebelah kiri mereka, tampaklah sebuah papan yang bertuliskan

"Menyambut dengan gembira kedatangan orang-orang dari Thian Set bun."

Kim Liu cu menengok sekejap kearah Liu Leng poo, lalu ujarnya sambil tertawa, "Mungkin disinilah letak lembah tersebut?"

Sambil tertawa Liu Leng poo manggut-manggut, dia segera meneruskan langkahnya menuju ketengah lembah.

Setelah melalui mulut jalan, jalanan tersebut berbelok kekiri lalu disisi kanannya terdapat sebuah jeram yang dalam.

Dengan menelusuri jeram tersebut mereka berdua berjalan melintasi tebing dengan batuan cadas yang besar dan tidak merata, lumut yang tebal melapisi hampir semua permukaan batu, sementara dari kejauhan sana berkumandang suara kicauan burung yang sangat aneh, suaranya melengking seperti jeritan setan

Dengan kepandaian silat yang tinggi dan nyali yang besar kedua orang itu tidak ambil perduli terhadap suasana tersebut, setelah berjalan setengah li kemudian, jalanan yang terbentang nampak membelok lalu keadaan medan pun melebar, disitu ditemukan lagi sebuah lembah kecil.

Luas lembah ini mencapai berapa hektar, pepohonan yang tumbuh disitu hampir semuanya mengering dan berwarna putih keabu-abuan, dahan yang gundul dan mengering memberi kesan seram bagi yg memandang, seolah olah tiada suasana kehidupan ditempat tersebut.Kam Liu cu mencoba untuk memperhatikan sekejap sekeliling

tempat itu, namun tak sesosok bayangan manusia pun yang terlihat. Sambil tersenyum Liu Leng poo segera berkata:

"Coba kau lihat toa suheng, walaupun kita sudah sampai ditengah lembah toh belum nampak juga sesosok bayangan manusia pun?"

"Dia sengaja memancing kita berdua datang kemari, masa dengan lembah sekecil ini mereka sanggup mengurung kita berdua?"

"Tujuan mereka yang sebenarnya bukan ingin mengurung kita ditempat ini!" "Lantas apa maksudnya?"

"Tentu saja dia berharap bisa memancingmu masuk lebih kedalam" sabut si nona sambil tertawa.

"Bukankah tempat ini merupakan dasar lembah? Mereka hendak memancing kita masuk kemana lagi?"

"Siapa tahu kalau dia masih mempunyai permainan busuk lainnya..?"

Belum habis perkataan tersebut diucapkan, mendadak dari balik hutan yang kering itu berkumandang suara menggerutuk yang aneh sekali.

Serta merta Kam Liu cu mengalihkan sorot matanya kearah hutan kering dimana berasalnya suara aneh tersebut.

Ternyata ditengah hutan terletak dua buah peti mati yang amat besar, penutup peti mati itu terbuka lebar dan dari balik peti tersebut pelan-pelan muncul dua sosok mayat hidup yang berwajah pucat pias seperti mayat.

Di tengah hari bolong ternyata muncul mayat hidup yang bisa duduk dari balik peti mati. Sudah jelas kalau hal ini merupakan permainan dari manusia hidup.

Biarpun Liu Leng poo bernyali besar dan berilmu tinggi, bagaimanapun juga dia adalah seorang wanita yang penakut, tanpa terasa nona itu mundur dua langkah kebelakang, setelah bersandar disisi Kam Liu cu, serunya sambil tertawa dingin,

"Heh..heeeh..,heeh...tak nyana kalau Liong Cay Thian akan menggunakan permainan rendah semacam ini untuk menghadapi kami!"

Dimulut dia mengatakan tidak takut, tapi bulu kuduknya pada bangun berdiri semua. Kam Liu cu segera tertawa tergelak dan serunya.

"Aku she Kam sudah terlalu banyak mengalami pelbagai pertarungan di dalam dunia persilatan, lebih baik sobat tak usah berlagak menjadi setan untuk menakuti-nakuti orang lagi"

Kedua sosok mayat hidup itu masih tetap duduk kaku didalam peti mati, mereka tidak pula melakukan sesuatu gerakan apapun.

Karena tegurannya berulang kali tidak peroleh tanggapan, lama kelamaan Kam Liu cu menjadi gusar sendiri, segera teriaknya kembali keras keras.

"Sobat, sudah kau dengar perkataanku ini? Kalau masih saja berlagak pilon, jangan salahkan aku she Kam akan bertindak kurang ajar kepadamu.."

Kedua sosok mayat itu masih tetap tidak berbicara maupun bergerak, bahkan menggubrispun tidak, dan

lembar wajahnya yang dingin dan pucat itu tidak menampilkan perubahan mimik apapun,

Dari sakunya Liu Leng poo segera mempersiapkan dua bilah pisau terbangnya, kemudian berseru:

-oo0dw0oo-