-->

Persekutuan Pedang Sakti Jilid 20

Jilid 20

LAN SIM-HU sendiripun merasakan betapa kuatnya tenaga dalam yang dimiliki nikou setengah umur itu, ternyata tubuhnya digetarkan pula sehingga mundur sejauh satu langkah.

Tiba-tiba hatinya bergetar keras, menyusul kemudian kepalanya menjadi pening sekali, tahu-tahu badannya roboh keatas tanah.

Dalam hati kecilnya ia mengetahui dengan jelas apa yang terjadi, cepat-cepat ia merogoh kedalam sakunya dan mengeluarkan sebutir pil yang segera dijejalkan ke mulut, kemudian sambil pejamkan mata dia duduk tak bergerak di tanah dan mulai mengatur pernapasan.

Kiu tok kaucu yang menyaksikan kejadian tersebut menjadi sangat terperanjat, ia tahu dengan jelas sampai dimanakah kemampuan yang dimiliki Lan Sim-hu, mustahil kalau ia tak mampu menerima sebuah pukulanpun dari si nikou setengah umur itu.

"Soh gwat hadiahkan juga sebuah pukulan kepadanya," perintah Tong hujin dengan suara dingin.

"Tecu terima perintah?"

Tiba-tiba ia mendesak maju ke depan dan melepas sebuah pukulan langsung ke dada Kiu tok kaucu dengan jurus ‘menyembah langsung pintu langit.’

“Sekarang tiba giliranmu!” hardiknya.

Semenjak melihat Lan Sim-hu roboh terduduk akibat serangan lawannya, Kiu tok kaucu sudah mulai was-was dan menaruh curiga kalau dibalik serangan nikou tersebut terselip hal-hal yang tidak beres sudah barang tentu ia segan menyambut serangan mana dengan kekerasan.

Cepat badannya melompat kesamping lalu tangan kanannya di gerakan dan menyapu pinggang nikou setengah umur itu dengan jurus 'merintangi jalan seribu li'.

Nikou setengah umur itu tertawa dingin mendadak ia berubah jurus ditengah jalan, sebuah pukulan yang disertai tenaga penuh dan menggunakan jurus ‘Tiang emas melintang diatas' membacok tongkat bambu lawan. Seandainya seseorang tidak yakin bisa mengungguli tenaga dalam yang dimiliki nikou setengah umur itu masih setingkat lebih rendah daripada Kiu tok kaucu, tidak heran kalau Kiu tok kaucu sendiri pun dibuat tertegun setelah menyaksikan perbuatan lawannya.

Kedua belah pihak sama-sama turun tangan dengan gerakan yang sangat cepat, apa yang terjadipun berlangsung dalam sekejap mata ketika telapak tangan kanan nikou setengah umur itu hampir menyentuh tongkat bambu itu, tiba-tiba tubuh bagian atasnya berputar kekanan sementara telapak tangan kirinya secepat kilat melepaskan pukulan.

Begitu sepasang telapak tangan saling beradu, terjadinya suara benturan yang sangat keras. "Blaaammm!”

Tahu-tahu ujung tongkat itu sudah tercekal kencang bahkan dengan suatu gerakan yang amat cepat mendorongnya pula kedepan berbalik menghamtam dada Kiu tok kaucu.

Gerakan semacam ini pada hakekatnya tidak mirip sebagai suatu jurus serangan, kalau dipaksakan hendak dikatan sebagai gerak serangan, maka serangan itu merupakan serangan mengawur.

Sejak melepaskan serangan, berganti jurus, mengadu tangan sampai menggunakan tongkat dari Kiu tok kaucu untuk menyerang dada serta lambung lawan, semuanya dilakukan nikou setengah umur itu dengan kecepatan luar biasa.

Agaknya Kiu tok kaucu tidak menyangka kalau pihak lawannya sebagai seorang nikou setengah umur ternyata memiliki ilmu silat yang begitu luar biasa, tanpa terasa menjadi terkesiap dan bergidik sendiri

Ketika menjumpai tongkat bambunya dicengkeram sepasang tangan lawannya, dia pun tak berani untuk berayal lagi, serta merta tenaga dalamnya disalurkan ke dalam pergelangan tangan kanannya lalu digetarkan dengan sepenuh tenaga sambil bentaknya keras-keras : "Enyah kau dari sini!"

Di dalam anggapannya, dengan getaran yang begitu keras dari pancaran tenaga dalamnya yang sempurna, paling tidak ia berhasil melemparkan tubuh nikou setengah umur itu ke belakang sehingga berjumpalitan.

Siapa tahu begitu bentakan dipancarkan, tiba-tiba saja ia merasa munculnya segulung kekuatan yang balik menembusi tongkat bambunya langsung menerjang ke arah badan.

Tak sempat lagi memutar otaknya cepat-cepat Kiu tok kaucu menarik napas panjang dan menghimpun segenap tenaga dalam yang dimilikinya untuk melawan.

“Weeesss ... !”

Jubah hitam yang dikenakannya segera menggelembung besar sekali.

Begitu tenaga serangan lawan saling menumbuk dengan kekuatan yang terpancar keluar dari tubuhnya, orang luar tidak mendengar suara apapun.

Cepat-cepat nikou setengah umur itu mengendorkan sepasang tangannya dan melepaskan tongkat bambu itu lalu melayang mundur ke belakang, namun toh tubuhnya sempat termakan juga oleh tenaga getaran lawan sehingga mundur selangkah.

Siapa tahu justeru karena terhimpun segenap tenaga dalam yang dimilikinya untuk melangsungkan pertarungan kekerasan itulah tiba-tiba Kiu tok kaucu merasakan kepalanya menjadi berat kakinya ringan, kepalanya pusing, matanya kerkunang-kunang dan badannya tak sanggup lagi berdiri tegak.

Kakinya menjadi lemas sekali, tak ampun lagi seperti juga keadaan Lan Sim-hu tadi ia jatuh terduduk pula ke atas tanah.

Tiba-tiba saja ia menjadi paham akan duduk

persoalannya yang sebenarnya dengan tenaga dalam Lan Sim-hu yang tidak berada dibawah kemampuannya ternyata ia seperti juga dirinya, jatuh terduduk dengan tubuh lemas, hal ini bukan disebabkan kepandaian mereka kalah dari musuhnya melainkan tanpa sadar mereka telah dipecundangi orang, sehingga racun itu mulai bekerja disaat mereka mulai mengerahkan tenaga dalamnya tadi.

Tak disangsikan lagi, orang yang melepaskan racun itu sudah pasti Tong hujin sendiri.

Padahal dia adalah Kiu tok kaucu ahli waris dari Kiu tok sinkun yang termashur pula dalam dunia persilatan karena kepandaian ilmu beracunnya.

Namun dalam kenyataannya mereka tok masih bisa dipencundangi orang, apa lagi yang dapat dikatakan sekarang ?

Sambil duduk diatas lantas Kiu tok kaucu menghela napas panjang dan pelan-pelan menutup matanya kembali.

Peristiwa ini segera menimbulkan perasaan kaget dan ngeri bagi kedua perempuan dan empat lelaki anak buah Kiu tok kau tersebut, sekarang kaucu mereka beserta Lan Sim-hu telah di tangkap musuh, meski mereka berenam masih tetap bebas tetapi apa yang dapat mereka perbuat ...

Tong hujin tertawa dingin tiba-tiba dia mengambil dua bungkusan kertas dari sakunya dan dilemparkan kehadapan

Kiu toi kaucu serta Lan Sim-hu sambil katanya: “Isi bungkusan itu adalah obat penawar racun ... !”

“Sebenarnya apa maksud tujuanmu?” seru Kiu tok kaucu sambil membuka matanya kembali. “Aku tak bermaksud apa-apa aku hanya tak ingin membunuh kalian berdua.”

Dengan gemas dan penuh kebencian Kiu tok kaucu memandang sekejap kearah Tong hujin lalu dengan mulut membungkam mengambil bungkusan kertas itu dan menuang bubuk obat kedalam mulutnya.

Lan Sim-hu sendiri sudah menelan bubuk penawar racun buatan sendiri dan saat itu sedang mengerahkan tenaga untuk mendesak keluar sari racun dari dalam tubuhnya.

Sudah barang tentu ia mengetahui bahwa dalam ilmu beracun masing-masing aliran mempunyai cara yang berbeda dalam membuat obat penawar racunnya, itu berarti bubuk penawar racun yang ditelannya tadi belum tentu dapat memunahkan racun jahat lawan.

Dalam keadaan begini akhirnya dia batalkan niatnya untuk bersemedi, diambilnya bungkusan obat dari Tong hujin tadi dan ditelan, isinya ...

Tak selang berapa saat kemudian, kedua orang itu sudah merasa bebas dari semua pengaruh racun dari dalam tubuhnya, serentak mereka melompat bangun.

“Sekarang kalian sudah boleh pergi dari sini, cuma kedua orang itu harus tetap tinggal disini." kata Tong hujin dengan suara dingin.

Sambil berkata ia menunjuk ke arah Wi Tiong hong serta Liu Leng poo berdua.

"Sebenarnya karena apa hujin menginginkan putraku ?” tanya Lan sim-hu segera.

Tong hujin mendengus dingin. "Hm, dia bukan putramu, dia adalah Wi Tiong hong.” “Sebenarnya siapakah kau ?” seru Kiu tok kaucu penasaran.

"Aku adalah Tong hujin."

Kiu tok kaucu segera berpaling sambil katanya : "Sampai jumpa dilain waktu, saudara Lan ayoh kita pergi dari sini.”

Menanti Kiu tok kaucu dan Lan Sim-hu sekalian sudah pergi jauh dari situ, Tong hujin segera membawa pula Wi Tiong hong dan Liu Leng poo meninggalkan tempat itu.

***

Kakek Ou dan Kam Liu cu berdua, seorang menyaru sebagai Tok seh siacu dan yang lain menyaru sebagai Lan Sim-hu ternyata berhasil membohongi Serigala kuning cakar beracun Siu It hong yang bertugas menjaga pintu keluar Pek seh sia dan meninggalkan bukit itu dengan langkah lebar.

Sepanjang jalan tanpa menjumpai rintangan apa pun mereka berhasil ke luar dari sumur kering itu, sampai disini kakek Ou tak dapat menahan diri lagi dan segera tertawa terbahak-bahak.

“Lotiang, mari kita segera melakukan pengejaran.” seru Kam Liu cu kemudian.

"Tak usah terburu napsu," sahut Kakek Ou sambil menggeleng, “biarpun Kiu tok kaucu dan Lan Sim-hu berhasil menculik orang kita, toh Lan Kun pit berdua ditangan kita yang mesti dikuatirkan? Persoalan yang penting saat ini adalah situasi yang kita hadapi sekarang,

setelah terjadi kekalutan dalam selat Tok seh sia, apalagi kita berhasil lolos dari sumur kering itu, sudah pasti Liong Cay thian akan melakukan pencarian secara besar- besaran ditempat ini.”

"Padahal didalam gua batu diseberang sana hanya Tam lote seorang yang melakukan penjagaan sedangksn nona dan Lan Kus pit belum sadar dari pengerah obat penawar racun, dengan jarak gua yang begini dekat dengan sumur kering, siapa tahu jejak mereka akan segera ketahuan?

Maka aku pikir lebih baik kita angkat pergi nona dan Lan Kun pit lebih dahulu.” “Betul juga perkataan lotiang,” Kam Liu Cu manggut-manggut, "kalau begitu kita harus bertindak sesepatnya."

Bagaikan sambaran kilat cepatnya kedua sosok bayangan manusia itu berkelebat menuju ke gua batu dipunggung bukit, kakek Ou berjalan didepan sedangkan Kam Liu cu menyusul dibelakangnya.

Tapi begitu melangkah masuk kedalam gua batu itu, mereka berdua segera merasakan hatinya bergetar keras ternyata sudah terjadi sesuatu peristiwa disana.

Bukan begitu, si pena baja Tam See hoa terlihat menggeletak di atas tanah dan tertidur amat nyenyak, sedangkan nona So dan Lan Kun pit yang masih terpengaruh obat pembingung pikiran sudah tak nampak lagi batang hidungnya.

Dengan perasaan gelisah kakek Ou segera memburu kedepan dan menghampiri Tam See hoa yang tertidur pulas, lalu membuka kain yang menutupi mukanya.

Tampak Tam See hoa tergeletak dengan mulut

terpentang lebar dan air liur meleleh diujung mulutnya ia nampak tertidur amat nyenyak sekali.

Dari gejala tersebut, kakek Ou segera menduga kalau jalan darah tertidur Tam See hoa telah ditotok orang, dengan gerakan cepat ia segera menepuk punggungnya untuk membebaskan pengaruh totokan tersebut. Tam See hoa segera melompat bangun sambil membelalakkan matanya lebar-lebar apa lagi ketika melihat ada dua orang berdiri dihadapannya ia membuka mulut hendak mengucapkan sesuatu.

Tapi kakek Ou segera bertanya dengan gelisah: “Tam lote, siapa yang telah menotok jalan darahmu ?”

“Tidak ada," sahut Tam See hoa agak melongo, "tak seorangpun yang masuk kemari, aku cuma tertidur saja."

"Coba berpikirlah sekali lagi, mana nona dan Lan Kun pit? Siapa yang telah menculik mereka?”

Pena baja Tam See hoa menjadi amat terperanjat setelah mendengar perkataan itu, serta merta dia melayangkan pandangan matanya kesekeliling tempat itu.

Benar juga, So Siau hui dan Lan Kun pit sudah tak nampak lagi batang hidungnya, kontan saja merah padam selembar wajahnya karena gelisah cepat-cepat ia berseru.

“Aku sendiripun tidak tahu apa sebabnya sampai tertidur begini nyenyak macam orang mati tapi aku masih ingat nona So dan Lan Kun pit masih berbaring didalam gua tadi lantas siapa yang telah menculik mereka?”

Ketika dia melompat bengun tadi, dari tubuhnya mendadak terjatuh secarik kain kecil.

Kam Liu cu menjadi sangat keheranan melihat hal ini dan segera memungutnya lalu ketika menjumpai kain itu seperti basah tanpa terasa ia mendekatkan ke hidung serta mengendusnya beberapa kali.

Begitu diendus, tiba-tiba kepalanya terasa amat pening dan matanya menjadi berkunang- kunang, gejala ini sangat mengejutkan hatinya.

Sebagai seorang jago kawakan yang sangat

berpengalaman dalam dunia persilatan, banyak sudah dia lihat maupun dengar selama ini, jelas sudah kalau kain kecil itu sudah dibubuhi obat pemabok.

Maka setelah menghembuskan napas panjang katanya:

“Lotiang tak usah bertanya lagi, saudara Tam telah dipecundangi orang tanpa di sadari.” “Apakah Kam lote berhasil menemukan sesuatu?" tanya kakek Ou.

Sambil memperlihatkan kain kecil tadi, kata Kam Liu cu

: "Silahkan lotiang periksa, kain ini telah dibubuhi obat pemabuk yang sering digunakan dalam dunia persilatan, tetapi sungguh aneh, tampaknya cara yang digunakan orang ini untuk memabukkan orang tidak terlampau hebat."

Ketika menjumpai kain kecil yang berada ditangan Kam Liu cu itu. Tam See hoa menjadi malu bercampur marah, segera serunya dengan geram bercampur mendongkol :

“Perkataan Kam tayhiap memang betul obat pemabuk semacam ini memang cuma digunakan kaum kurcaci dan manusia pengecut didalam dunia persilatan."

“Coba sekali lagi saudara Tam bayangkan kejadian itu, setelah aku pergi tadi bukankah kau masih bersemedhi?

Semenjak kapan kau tertidur? Apakah saat itu kau sudah merasakan ada sesuatu yang tak beres?”

Tam See hoa berpikir sebentar, lalu sahutnya : “Sewaktu lotiang pergi tadi aku sedang duduk bersemedhi tak lama setelah kepergianmu, tiba-tiba dalam gua muncul beberapa

ekor tikus yang saling berkejaran, bahkan malah ada berapa ekor yang sempat menaiki bahuku.”

“Bila kuhalau mereka kabur tapi sebentar kemudian muncul kembali, lama kelamaan aku jadi mendongkol dan jemu sendiri maka kuambil sebuah baju dan ditutupkan ke wajahku, siapa tahu justeru karena berbuat demikian aku malah tertidur.”

Ketika mendengar soal tikus yang berkejar-kejaran tadi, tanpa terasa Kam Liu cu merasakan hatinya bergetar satu ingatan segera melintas dalam benaknya.

Tiba-tiba saja ia teringat kembali dengan kejadian sewaktu kakek Ou baru kembali dari selat Tok seh sia tempo hari.

Sewaktu mereka sedang berbincang, dengan jelas terasa olehnya kalau ada orang sedang menyadap pembicaraan mereka secara diam-diam bahkan dengan jelas pula ia mendengar suara dengusan napas manusia, kakek Ou yang bergerak lebih cepat darinya waktu itu segera melakukan pengejaran ke dalam gua.

Tapi akhirnya ujung kakinya hanya menyentuh seekor tikus, waktu itu merekapun menganggap suara curiga yang timbul hanya merupakan ulah si tikus sehingga tidak dilakukan pencarian lagi.

Berpikir sampai disitu, tanpa terasa dia mengangkat kepala seraya bertanya : “Lotiang, jangan-jangan ada seseorang telah memperalat tikus untuk mencapai tujuannya ?” Agaknya kakek Ou pun teringat juga dengan peristiwa pada malam tersebut, dengan kening berkerut sahutnya:

“Tikus ... ehm ... rasanya dalam peristiwa ini memang terdapat hal-hal yang tak heres."

Kam Liu cu tidak berbicara lagi, pelan-pelan ia berjalan menuju ke belakang gua dan menggunakan ketajaman matanya untuk memeriksa keadaaa di sekeliling tempat itu dengan seksama.

Sebagai telah diuraikan sebelumnya, bukit Kou lou san termashur karena bukit karangnya yang berliku-liku dengan gua yang tak terhitung jumlahnya saling berhubungan satu sama lainnya.

Adapun tempat dimana mereka berada sekarang adalah sebuah gua batu yang dengan sendirinya mempunyai hubungan pula dengan gua-gua lain hanya saja bentuk gua tersebut lebar pada bagian luarnya dan semakin ke dalam semakin bertambah sempit.

Berhubung pada malam kejadian tempo hari, Kam Liu cu mengetahui bahwa kakek Qu menemukan si tikus justru sewaktu melakukan pengejaran kebelakang gua, sedang menurut pengamatannya suara orang yang menyadap pembicaraan mereka pun berasal dari belakang goa itu.

Maka dia menaruh curiga bahwa belakang gua besar kemungkinannya tembus dengan bagian gua yang lain atau dengan perkataan lain orang yang telah menculik So Siau hui serta Lan Kun pit itu telah melarikan diri melalui belakang gua.

Dengan pemeriksaan yang seksama, makin ke dalam Kam liu cu semakin menelusuri gua yang sempit, tapi dengan mengerahkan tenaga dalamnya untuk melindungi badan, dia menerobos terus jauh ke dalam gua itu.

Kakek Ou yang menyaksikan perbuatan Kam Liu cu tersebut menjadi keheranan segera tanyanya. "Kam lote, apa yang telah kau temukan ?”

“Masih sulit untuk dibicarakan." sahut Kam Liu cu sambil mengerahkan ilmu menyampaikan suaranya.

Kakek Ou segera berpaling ke arah Tam See hoa dan katanya pula sambil tertawa : “'Sekalipun masih sukar untuk dibicarakan paling tidak toh masih ada bayangannya ayoh berangkat, kita masuk ke dalam bersama-sama."

Tam See hoa tak berani berayal lagi, dia segera mengikuti dibelakang kakek Ou berjalan masuk kedalam gua itu.

Keadaan gua mana kedalam kian menurun kebawah, tentu saja gelapnya luar biasa sehingga kelima jari tangan sendiripun susah terlihat namun kecuali gua yang sempit, ternyata tidak ditemukan sesuatu pertanda yang mencurigakan.

Gua mana penuh dengan tikung-tikungan yang tajam, lagi pula amat landai dan terus menurun kebawah.

Untung saja Kam Liu cu dan kakek Ou memiliki kepandaian silat yang telah mencapai pada puncaknya, sehingga kendatipun berada dalam kegelapan namun suasana di sekitar sana masih dapat diawasi dengan jelas dan terang. Hanya si pena baja Tam See hoa seorang yang masih selisih jauh kepandaian silatnya dari kedua orang itu tak sempat melihat sesuatu apapun, dalam keadaan demikian ia cuma bisa mengikuti dibelakang kakek Ou dengan berhati-hati sekali serta kewaspadaan yang ditingkatkan.

Tak selang berapa saat kemudian mereka sudah menelusuri gua tersebut sejauh puluhan kaki, pada saat itulah mendadak mereka mendengar suara mencicit yang ramai sekali. suara tersebut jelas berasal dari suara tikus yang jumlahnya mencapai dua puluhan ekor.

Ternyata ruangan gua disebelah depan sana bertambah luas dan lebar tempat itu pun merupakan sebuah gua batu yang luasnya mencapai berapa kaki.

Kam Liu cu berjalan dipaling muka dengan langkah yang ringan dan sama sekali tidak menimbulkan suara apapun, ketika ia muncul secara tiba-tiba kawanan tikus itu menjadi terkejut karena menjumpai manusia asing hingga ketakutan lari kemana-mana.

Kam Liu cu segera menghentikan langkahnya dan secepat kilat mengawasi sekejap sekeliling tempat itu, ternyata kawanan tikus yang amat banyak itu telah berlarian menjauhi tempat tersebut dan berebutan masuk ke dalam sebuah gua yang lebarnya hanya berapa depa saja.

Menyaksikan kejadian ini segera berpikir di dalam hati :

"Liang gua itu tidak begitu lebar, apalagi dibagi luar liang pun berdiam begitu banyak tikus, jelas tak mungkin ada manusia yang berdiam di tempat ini.

Baru saja ingatan tersebut melintas, mendadak tampak sesosok bayangan manusia berkelebat lewat dari sisi tubuhnya dan mendahului kawanan tikus tersebut menerobos masuk ke dalam liang gua tadi.

Menyusul kemudian terdengar pula suara kakek Ou yang sedang berseru keras : “Harap lote berdua berjaga-jaga disitu, biar aku yang masuk ke dalam gua ini untuk melakukan pemeriksaan ?”

Ternyata kakek Ou yang menguatirkan keselamatan So Siau hui telah menyerempet bahaya untuk memasuki gua tersebut lebih dahulu.

Kam Liu cu yang menyaksikan hal ini, diam-diam menghela napas panjang, berbicara dari kecepatan gerakan

tubuhnya, dia sadar bahwa kepandaian yang dimilikinya masih belum mampu untuk melebihi kakek itu.

Semua kejadian itu berlangsung dalam sekejap mata, terdengar kakek Ou yang berada dalam liang gua sedang membentak sambil tertawa tergelak : “Haaah haaah haaah sungguh tak kusangka kalau didalam liang gua ini benar-benar terdapat manusia."

Kam Liu cu agak tertegun, lalu cepat-cepat berseru :

“Saudara Tam, mari kita segera masuk.”

Dengan suatu gerakan cepat dia segera menyelinap pula masuk ke dalam gua itu. Walaupun mulut gua itu tidak terlampa lebar, ternyata ruangan bagian dalamnya luas sekali persis seperti sebuah ruangan batu, hanya saja ruangan itu kosong melompong tak terlihat suatu apa pun.

Peda ketiga bagian dinding batunya terdapat liang-liang kecil dan besar yang banyak sekali jumlahnya yang besar seluas berapa depa sedangkan yang kecil sekepalan tangan, kawanan tikus yang melerikan diri tadi telah menyebarkan diri dan bersembunyi dibalik liang-liang gua itu.

Kakek Ou sedang berdiri didekat dinding sebelah kanan ketika itu, dihadapannya berdiri kakek ceking yang berwajah sangat aneh.

Kakek itu berkepala botak, berdagu runcing mata besar, kumis model tikus dan mengenakan jubah warna abu-abu yang panjang tidak pendek pun tidak, ikat pinggangnya terbuat dari tali rumput dan waktu itu rupanya sudah ditotok jalan darahnya oleh kakek Ou, dia berdiri kaku disitu sementara sepasang matanya berputar kian kemari.

Kam Liu cu yang menyaksikan bentuk wajah orang itu segera teringat kembali akan seseorang, dia segera

mengangkat kepala dan menegur: "Lotiang, apakah orang ini si tikus berjalan dibawah tanah Thio Khing?”

"Jadi Kam lote kenal dengannya?” tanya si kakek Ou. "Tidak, aku hanya mendengar orang bercerita.”

Sementara itu Tam See hoa telah menyabut sebuah obor dan menerangi wajah kakek ceking itu, lama setelah mengamatinya ia berkata pula. “Ya, benar orang ini memang si tikus bejalan dibawah tanah Thio King, dulu ia termashur karena sangat pandai menelusuri gua- gua dan liang-liang kecil tapi sudah puluhan tahun lamanya menghilang dari keramaian dunia persilatan, sungguh tak nyana kalau dia malah bersembunyi dibukit Kou lou san."

"Tidak perduli dia adalah tikus busuk atau tikus langit, mari kita periksa dia” seru kakek Ou.

Selesai berkata, ia lantas menepuk dan membebaskan jalan darahnya dari pengaruh totokan.

Begitu bebas dari totokan, tikus berjalan di bawah tanah segera menggerakan badannya dan siap melompat bangun dari atas tanah.

Kam Liu cu yang berdiri didekatnya segera turun tangan menekan bahunya, lalu serunya sambil tertawa dingin,

"Apabila sobat tahu diri lebih baik duduk saja disini dengan baik …!”

Seketika itu juga si tikus berjalan dibawah tanah merasa bahunya bagaikan ditekan dengan segulung kekuatan yang maha dahsyat sehingga tanpa bisa dicegah lagi ia tertunduk kembali diatas tanah dengan gemas dan penuh kebencian serunya kemudian, "Siapakah kalian? Apa ... apa artinya kesemuanya ini?"

”Sobat sendiripun mengerti, dalam mata yang sehat tak akan kemasukan pasir kau sembunyikan kemana kedua orang kami?” "Dua orang? Dua orang yang mana ?” teriak tikus berjalan dibawah tanah dengan mata mendelik.

Kakek Ou menjadi naik darah, segera bentaknya : “Nona serta Lan Kun pit bukankah kau yang telah menculik mereka ?”

“'Kapan sih aku telah menculik nona kalian ? Aku memang berdiam ditempat ini coba kalian lihat, selain liang-liang untuk tikus diatas dinding apakah kau bisa menyembunyikan seseorang disini ?”

Apa yang dikatakan memang benar, ruangan gua itu kosong melompong tak ada isinya, semuanya terlihat secara jelas dan gamblang meskipun diatas dinding terdapat banyak liang gua, yang terbesarpun hanya satu depa sehingga kecuali tikus memang mustahil bisa digunakan untuk menyembunyikan manusia.

“Sungguhkah apa yang sobat katakan itu?” desak kakek Ou dengan perasaan cemas. "Aku benar benar tidak tahu.”

Kakek Ou segera mengawasi sekejap sekeliling tempat itu, lalu sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal, katanya: “Kelihatannya memang bukan dia yang melarikan nona kita dan Lan kun pit."

"Lotiang, mengapa kau harus percaya dengan begitu saja pengakuannya?" seru Kam Liu cu tiba-tiba, “kalau bukan dia, lantas siapa lagi?”

"Semua pengakuanku adalah pengakuan yang sejujurnya mau percaya atau tidak terserah pada kalian." seru si tikus berjalan di bawah tanah cepat.

Tam See hoa naik pitam, teriaknya : “Dimasa lalu kau tersohor karena perbuatan busukmu memabukkan orang, barusan kaupun telah mengirim tikus-tikusmu yang terlatih untuk memabukkan pula aku disaat aku tak bersiap sedia, kalau bukan kau lantas perbuatan siapa lagi?"

Berkilat sepasang mata si tikus berjalan bawah tanah, ia menggelengkan kepalanya lagi :

"Aah, apa yang kalian bicarakan kian lama kian bertambah aneh, bagaimana mungkin bisa melatih tikus-tikus itu dan bagi mana pula caraku memabukan dirimu?

Aku rasa loko telah salah melihat orang.”

“Apakah kau bukan si tikus berjalan di bawah tanah Thio Khing?” hardik Tam See hoa. “Bukan."

Setelah berkata, mendadak tubuhnya menggelinding ke atas tanah lalu bertekuk badan dan menyusup ke dalam salah satu liang gua yang berada di atas dinding gua itu.

Gerakan tubuhnya amat cepat, hanya kali ia bertekuk badan tahu-tahu badannya sudah menyusut amat kecil, lalu bagaikan seekor tikus sungguhan dia menerobos masuk ke dalam liang gua tadi.

Terbukti sudah bahwa ilmu menyusutkan tulang yang dimiliki orang ini benar-benar sangat lihay.

Kakek Ou tidak tinggal diam, serta merta dia melancarkan sebuah cengkeraman secepat kilat untuk menangkap kaki kanannya yang masih tertinggal diluar gua, setelah itu serunya sambil tertawa tergelak, “Haa ...

aaah ... haaaah ... sobat, tidak mudah bagimu untuk melarikan diri dari hadapan aku she Ou lotoa."

Padahal sebagian besar tubuh si tikus berjalan dibawah tanah sudah menyusup masuk ke dalam liang gua tersebut, namun berhubung kaki kanannya sudah ditangkap orang, ia jadi tak berkutik, kendatipun telah berusaha meronta dengan sepenuh tenaga, namun usahanya itu toh sia-sia belaka.

Akhirnya dia merasa amat kesakitan, tulang betisnya seakan-akan mau hancur karena retak, tak kuasa lagi dia mulai berteriak keras2 : “Cepat lepaskan tanganmu!"

“Seandainya aku melepaskan tanganku ini, mungkinkah kau akan melarikan diri dari cengkeramanku?" jengek kakek Ou sambil tertawa.

“Tidak, tidak, aku tak akan melarikan diri, aku tak akan melarikan diri," teriak si tikus berjalan dibawah tanah sambil menjerit-jerit bagaikan babi yang hendak disembelih.

“Kalau begitu ayoh merangkak keluar dari situ,” perintah kakek Ou segera.

Dengan perasaan apa boleh buat si tikus berjalan dibawah tanah segera merangkak keluar dari liang gua tersebut.

Setelah keluar dari gua tadi, kakek Ou baru melapaskan cengkeramannya tapi secepat kilat pula ia totok jalan darah diatas kakinya sambil berkata sambil senyum dikulum.

“Kau benar-benar tak tahu diri, di jamu arak kehormatan menolak sebaliknya justru memilih arak hukuman, nah sekarang kau harus berbicara dengan sejujurnya."

Sambil duduk diatas tanah si tikus berjalan dibawah tanah berteriak keras: "Biarpun kau akan membunuhku,

aku tetap menjawab yang sama, aku berani bersumpah, aku tak pernah menculik orang." “Lantas apa sebabnya kau berusaha melarikan diri?”

tanya Tam See hoa segera.

"Kalian selalu mendesakku, sudah barang tentu aku pun harus berusaha untuk melarikan diri.”

"Hmm, aku tak percaya dengan pengakuan itu,” bentak Kam Liu cu tiba-tiba, “pokoknya kami tak percaya dengan perkataanmu itu dan sekarang kau harus menjawab dengan sejujurnya.”

Berbicara sampai disitu, dengan sorot mata memancarkan cahaya yang tajam ia melanjutkan. “Bila kau enggan menjawab, kamipun tak akan memaksa, cuma kau harus tahan dipukul dan disiksa.”

Tangan kanannya segera diayunkan dengan jari tangan yang kaku bagaikan tombak ia mengancam akan menotok dada si tikus berjalan dibawah tanah.

Berubah hebat paras muka si tikus berjalan dibawah tanah, teriaknya dengan perasaan seram.

“Hey, apa yang hendak kau lakukan?”

“Sebagai seorang anggota persilatan yang sering berkelana di dalam dunia persilatan, tentunya kau pernah mendengar bukan tentang ilmu ngo im cau meh jiu hoat (ilmu memotong nadi)? Nah, sekarang akupun akan menotok berapa buah jalan darahmu agar ilmu silatmu punah lebih dulu.”

Pucat pias selembar wajah si tikus berjalan dibawan tanah setelah mendengar ancaman tersebut, dengan bibir gemetar karena ketakutan ia berkata: “Baik, baiklah, aku akan berbicara denga sejujurnya."

Kam Liu cu mendengus dingin : "Ayoh cepat berbicara, kemana kau sembunyikan kedua orang kami itu?”

Si tikus berjalan dibawah tanah memutar biji matanya dan memandang sekejap sekeliling tempat itu, lalu sahutnya tergopoh. “Aku hanya melaksanakan tugas karena perintah seseorang."

Kakek Ou segera mencengkeram tubuhnya bagaikan seekor burung elang yang mencengkeram anak ayam sambil mengangkat tubuhnya ke atas ia membentak dengan gusar.

“Jadi nona kami benar-benar diculik olehmu?”

"Lee ... lepaskan dulu cengkeramanmu itu, bukan aku yang menculik mereka."

"Bukankah barusan kau mengaku melakukan tugas atas perintah seseorang mengapa sekarang mengatakan bukan kau ?” seru kakek Ou dengan gusarnya.

Ia melepaskan cengkeramannya dan ...

“Bluuuukk!" si tikus berjalan dibawah tanah segera terbanting jatuh ke atas tanah.

"Aku tak pernah bohong,” ujar si tikus berjalan dibawah tanah dengan cemas, "aku hanya menggunakan obat pemabuk untuk memabukan rekanmu itu, bukan aku yang melakukan penculikan.”

“Kau melaksanakan tugas ini atas perintah siapa ?" “Tong hujin."

"Tong hujin?” kakek Ou membelalakkan matanya lebar-lebar, "berada di manakah dia sekarang?”

“Kuil Cun ti an.”

"Apakah orang yang diculikpun berada di dalam kuil Cun ti an?” desak kakek Ou lebih jauh. "Soal itu mah tidak kuketahui."

Kakek Ou segera berpaling dan berkata. "Kam lote, mari kita segera menyusul kesana.” "Bagaimana dengan orang ini?” tanya Kam Liu cu.

“Asalkan apa yang dia katakan adalah sejujurnya, tentu saja dia harus dibebaskan." “Aku berdiam didalam gua ini, aku tak akan

berbohong,” seru si tikus berjalan di bawah tanah cepat-cepat.

Kakek Ou tidak sempat lagi banyak berbicara dengannya, cepat-cepat ia keluar dari gua batu itu dan bergerak menuju ke kuil Cua ti an.

Tiba dikuil Cun ti an, si kakek Ou yang berilmu tinggi dan bernyali besar itu secara langsung menerobos masuk ke dalam dengan tanpa berpikir panjang atau memerhatikan keadaan disekeliling tempat itu, ia menarik nafas panjang dan bagaikan anak panah yang melesat diudara melayang masuk ke dalam halaman.

Setelah melalui dinding pekarangan, tempat itu merupakan sebuah pelataran yang luas, ditempat itulah nampak seorang nikou setengah umur sedang berdiri menanti, agaknya seperti menunggu kedatangan seseorang.

Ketika melihat kakek Ou melayang turun di pekarangan, ia segera memberi hormat sambil berkata : "Pinni diperintahkan oleh suhu untuk menantikan kedatangan saudara bertiga, harap sicu bertiga masuk ke dalam ruangan untuk minum teh.”

***

Sementara pembicaraan berlangsung, Kam Liu cu dan Tam See hoa telah beruntun masuk pula ke dalam halaman kuil.

Kakek Ou segera menegur: "Apakah suhumu adalah Tong hujin?'

“Suhu kami bernama Hui im, Tong hujin adalah paman guru pinni,” jawab nikou setengah umur itu sambil memberi hormat.

Kakek Ou sama sekali tak ambil perduli siapakah Hui im suthay dan siapa pula Tong hujin itu, dengan suara dalam ia berkata lagi : "Apakah nona kami dan Lan Kun pit telah kalian culik!"

"Asalkan lo sicu sudah masuk ke dalam, dengan sendirinya akan mengetahui sendiri.”

“Jangankan cuma sebuah kuil nikou yang begitu kecil, biarpun sarang naga gua harimau pun tak akan kupandang sebelah mata pun juga, Kam lote, Tam lote, mari kita masuk ke selat."

Sehabis berkata dia melangkah masuk lebih dulu ke dalam halaman.

Pagar pekarangan yang mengelilingi kuil itu paling tidak mencapai delapan depa lebih, sedangkan si nikou setengah umur itu berdiri didepan undak-undakan bangunan, mesti jarak pelataran tidak terlalu lebar, namun jarak kedua belah pinak mencapai lima enam kaki lebih.

Tapi si kakek Ou cukup dalam satu langkah saja telah berhasil mencapai di hadapan nikou setengah umur itu, terdengar ia berkata. “Silahkan siau suhu berjalan dimuka."

Diam-diam nikou setengah umur itu merasa terperanjat juga melihat kemampuan kakek Ou untuk melangkah ke

hadapanya dalam satu tindakan saja, namun perasaan kaget itu tak sempat diperlihatkan diwajahnya.

Sambil tertawa hambar ujarnya: “Lo sicu salah paham sudah lama suhu tak pernah mencampuri urusan ke duniawian, sedangkan paman guru pinni pun tidak mempunyai maksud dan tujuan yang jahat."

Kakek Ou tertawa terbahak-bahak : “Ha ha ha ha ...

selama hidup Ou lotoa belum pernah ambil perduli terhadap maksud atau jahat apapun."

Nikou setengah umur itu tidak berbicara lagi, dia segera mengajak ketiga orang itu melewati ruang tengah dan menuju ke bangunan bagian belakang.

Ditempai itupun terdapat sebuah pelataran kecil, disisi kiri dan kanan pelataran terdapat dua deret bangunan rumah.

Nikou itu berjalan menuju ke serambi bagian kiri lantas berhenti, lalu sambil membalikkan badan ia berkata sembari menjura. “Silahkan sicu bertiga masuk ke dalam ruangan."

Dengan langkah lebar Kakek Ou melangkah masuk kedalam ruangan tersebut diikuti Kam Liu cu, Tam See hoa dan terakhir nikou setengah umur itu.

Begitu masuk kedalam ruangan dan menyaksikan apa yang terdapat didalam tersebut, kakek Ou segera berseru tertahan.

Ternyata didalam ruang tamu yang kecil itu terdapat empat orang yang duduk berjejer. Keempat orang itu tak lain adalah dua orang Wi Tiong hong dan dua orang So Siau hui.

Diantara mereka, seorang Wi Tiong hong dan seorang So Siau aui bangkit berdiri setelah melihat kehadiran ketiga orang itu.

Terdengar Wi Tiong hong berseru nyaring. “Ou lotiang, Kam toako, saudara Tam, ternyata kalian telah datang semua!”

“Toa suheng," seru So Siau hui pula, "bagaimana cara kalian menemukan kami berada disini?”

Tak disangsikan lagi, kedua orang ini adalah Wi Tiong hong asli serta Liu Leng poo yang menyaru sebagai So Siau hui. Sambil tertawa Kam Liu cu segera berseru pula :

“Bagaimana pula cara kalian bisa berada di sini?” "Siaute dan nona Liu telah diculik oleh Kiu tok kaucu serta Lan Sim-hu yang menyusup ke dalam selat Tok-seh sia, kisah Wi Tiong hong, untung ditengah jalan kami bertemu dengan Tong hujin yang membebaskan kami dari cengkeraman lawan, akhirnya kami berduapun dikirim ketempat ini.”

Diam-diam kakek Ou menghembuskan napas lega setelah mengetahui Wi Tiong hong dan Liu Leng poo telah lolos dari mara bahaya, kemudian sewaktu menjumpai So Siau hui dan Lan Kun pit masih duduk tak berkutik dikursi masing-masing, dia lantas menduga bahwa jalan darah mereka tertotok, dengan langkah lebar dia pun berjalan menuju kehadapan So Siau hui.

Mandadak nikou setengah umur itu berseru, "Tunggu dulu lo sicu." "Masih ada urusan apa lagi siau suhu ?"

“Barusan susiok kami telah berpesan, nona So serta Lan sicu telah terkena obat pembingung pikiran buatan khas dari Liong Cay thian."

"Soal ini telah lohu ketahui," sahut kakek Ou.

"Obat pemabuk semacam ini hanya obat penawar khusus buatan Liong Cay thian sendiri yang bisa

membebaskannya, sayang susiok kami pun tidak berdaya untuk membebaskan mereka. Untung saja Kam tayhiap telah berhasil memperoleh dua butir pil pemunah tersebut, karena itu susiok berpesan, sebelum pengaruh obat pemunah itu lenyap, jangan sekali-kali membebaskan jalan darah mereka yang tertotok.”

Diam-diam Kam Liu cu merasa terkejut juga setelah mendengar perkataan itu, pikirnya: "Heran, darimana Tong hujin bisa tahu kalau Liong Cay thian telah menghadiahkan dua butir pil pemunah racun untukku?”

Dari sakunya dia segera mengeluarkan kedua butir pil pemunah itu dan dicekokan ke mulut kedua orang itu.

Dalam pada itu kakek Ou telah menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sembari berkata: "Ada satu persoalan yang tidak kupahami, apakah siau suhu bersedia memberi penjelasan?”

“Silahkan losicu utarakan."

“'Setelah susiokmu membawa mereka datang kemari, tentunya ada sesuatu persoalan yang akan disampaikan kepada kami bukan?”

“Susiok kami telah mendapat kabar kalau Liong Cay thian sedang melakukan pencarian secara besar-besaran disekitar bukit, padahal tempat di mana kalian berteduh berjarak amat dekat dengan sumur kering itu, apalagi kalian hanya meninggalkan satu orang untuk menjaga disitu, andaikata jejak mereka sampai ketahuan, bukankah kedua orang ini baka! dikirim kembali kedalam selat Tok seh sia?”

"Kalau begitu lohu telah menyalahkan niat dan tujuan susiokmu yang sebenarnya."

Baru selesai dia berkata, mendadak dari luar kuil kedengaran seseorang berseru dengan suara nyaring : "Liong Cay thian ada urusan hendak menyambangi Hui im lo suthay!”

Jelas suara itu adalah suaranya Liong Cay thian, ini berarti orang-orang Tok seh sia telah melakukan pencarian sampai disini.

Kakek Ou segera berkata; "Kebetulan sekali kedatangan dari orang2 she Liong itu, Kam lote, mari kita keluar dan bersama-sama mengusir mereka dari sini."

Tapi nikou setengah umur itu buru-buru mencegah :

“Liong Cay thian datang untuk mencari suhuku, tak perlu menyusahkan lo sicu lagi, biar pinni yang keluar untuk mengusir mereka pergi dari sini."

Perkataan tersebut benar-benar bernada amat besar, seakan-akan si raja langit bertangan racun bisa diusirnya secara mudah dan gampang.

Sementara itu nikou setengah umur itu sudah membalikkan badan sambil berpesan lagi : “Silahkan saudara sekalian duduk disini, biar pinni keluar sebentar.”

Selesai berkata dia segera melangkah ke luar dari ruangan.

Menanti nikou itu sudah berlalu, kakek Ou baru berkata dengan suara lirih: “Kam lote, ayoh kita tengok keluar, pihak Tok seh sia pasti telah datang dengan membawa jago-jago dalam jumlah yang banyak, sudah jelas siau suhu itu bukan tandingan Liong Cay thian, seandainya terjadi pertarungan nanti, kitapun bisa membantunya secara diam-diam."

Kam Liu cu mengangguk. "Benar juga perkataan lotiang, setelah kita berada disini, dengan sendirinya tak boleh membiarkan orang-orang Tok seh sia mengusik seujung rumput pun yang tumbuh dikuil Cun ti an ini."

“Aku ikut," seru Liu Leng poo.

"Jangan,” cegah Kam Liu cu, “hingga sekarang noua So dan Lan Kun pit belum sadar kembali, lebih baik sammoay bersama saudara Wi serta saudara Tam bertiga tetap tinggal ditempat ini.”

Seusai berkata, ia bersama kakek Ou mengikuti dibelakang nikou setengah umur itu berjalan keluar.

Sebagaimana diketahui, ilmu silat yang dimiliki kakek Ou serta Kam Liu cu telah mencapai tingkatan yang luar biasa, dengan kemampuan yang mereka miliki sudah barang tentu nikou setengah umur itu tak akan merasa kalau secara diam-diam jejaknya di ketahui dari belakang.

Ia sama sekali tidak berpaling setelah berjalan keluar dari ruangan tengah, melewati pelataran langsung membuka pintu gerbang lalu berjalan keluar.

Dalam pada itu, kakek Ou serta Kam Liu cu telah melompat naik keatas wuwungan rumah dan

menyembunyikan diri dibalik kegelapan, mereka saksikan di luar pintu kuil telah berdiri dua puluhan orang lelaki berbaju hitam yang bersenjata lengkap.

Sebagai pimpinanya ada tiga orang, yang berada ditengah adalah Raja langit bertangan racun Liong Cay thian. Disisi kirinya adalah wakil ketua pelindung hukum Siang Bu ciu sedangkan disebelah kanannya adalah seorang pendeta asing Ci kong siansu.

Dibelakang ketiga orang itu berdiri empat orang kakek berjenggot putih berjubah hijau serta delapan orang kakek

berbaju abu-abu, mereka tak lain adalah Su leng pat kong yang dilengkapi dengan ilmu pukulan beracun, anak buah Liong Cay thian.

Sambil tertawa kakek Ou segera berbisik setelah menyaksikan orang-orang itu: “Rupanya Liong Cay thian telah mengerahkan segenap kekuatan inti yang dimilikinya."

"Yang jelas kekuatan tersebut bukan disiapkan untuk menghadapi kita," kata Kam Liu cu sambil tertawa pula,

"sebab dia dan Kiu tok kaucu telah bermusuh bebuyutan dan bersumpah tak akan hidup berdampingan secara damai, tak heran bila mereka bernafsu untuk melanyapkan dari muka bumi."

Semenara mereka berdua masih berbincang-bincang, nikou setengah umur itu sudah melayangkan pandangan matanya sekejap sebelum berhenti diwajah Liang Cay thian, lalu setelah memberi hormat katanya dengan suara dingin:

"Liong lo sicu, ada urusan apakah kau malam2 datang berkunjung kemari ?”

Biarpun raja langit bertangan racun Liong Cay thian merupakan seorang pemimpin Tok seh sia yang dikenal banyak orang dan dikenal setiap umat persilatan, namun ia tak berani bersikap angkuh dihadapan nikou setengah umur itu.

Sambil menjura buru-buru sahutnya sambil tertawa :

"Seandainya tiada urusan yang gawat tentu saja lohu tak akan berani mengganggu ketenangan kuil anda, cuma saja pada malam ini dalam selat kami telah ditemukan jejak musuh.”

Tidak sampai perkataan itu selesai diutarakan, nikou setengah umur itu segera menukas dengan suara dingin.

"Apa hubungan antara ditemukannya jejak musuh didalam selat kalian dengan kuil kami?"

Liong Cay thian yang ketanggor batunya cepat-cepat menyahut sambil tertawa paksa. “Orang yang menyusup kedalam selat kami itu sempat menculik dua orang, padahal anak buah lohu telah melakukan penggeledahan yang seksama pada wilayah puluhan li disekitar bukit tanpa berhasil menemukan jejak mereka, bisa jadi pihak lawan belum pergi terlampau jauh ... "

"Ooh, jadi lo sicu menaruh curiga kalau kuil kami ini telah dijadikan sarang untuk menyembunyikan orang ?"

seru nikou setengah umur itu sambil tertawa dingin.

Nada suaranya dingin lagipula amat memojokan orang membuat Kam Liu cu yang turut mendengarkan menjadi amat keheranan.

Sebenarnya apa yang diandalkan nikou tersebut, sehingga dia begitu berani bersikap kurane ajar terhadap Rija langit bertangan racun?

Liong Cay thian segera tertawa licik. “Siau suhu telah salah paham, aku tidak bermaksud demikian."

Nikou setengah umur itu sama sekali tidak bermaksud mengalah, sambil mendengus dingin kembali katanya.

"Seandainya Liong lo sicu tidak bermaksud demikian, mengapa kau bawa begini banyak orang mendatangi kuil kami ditengah malam buta begini? Hmm, agaknya Liong lo sicu memang berhasrat untuk menggeledah kuil kami?”

Sebelum Liong Cay thian sempat menjawab. Ci kong siansu sudah habis kesabarannya setelah mendengar perkataan mana, dengan suara lantang ia segera membentak. “Nikou kecil, tentu saja kami akan melakukan penggeledehan, ayo cepat panggil keluar suhumu."

Berubah hebat paras muka nikou setengah umur itu, sebelum ia sempat mengucapkan sesuatu mendadak dari balik kuil terdengar seseorang menegur dengan suara yang rendah dan berat. "Soh gwat ada urusan apa?"

Buru-buru Nikou setengah umur itu menjura kearah dalam ruangan sambil menjawab : "Suhu, Liong lo sicu dari Tok seh sia menyatakan kalau mereka telah kehilangan dua orang dari dalam selatnya, sekarang mereka berniat melakukan penggeledahan didalam kuil kami ... “

“Jika mereka ingin menggeledah, suruh saja mereka melakukan penggeledahan,” kata suara berat dan rendah itu lagi.

Tiba-tiba Liong Cay thian menjura kearah ruangan kuil seraya berseru : “Perkataan lo suthay terlalu serius, biarpun Liong Cay thian bernyali lebih besar pun tak akan berani bersikap kurang ajar di hadapan lo suthay, aku cuma kuatir kehadiran orang-orang itu akan mengagetkan lo suthay sehingga datang untuk menengok, kalau begitu biar aku memohon diri lebih dulu."

Selesai berkata dia segera mengulapkan tangannya dan mengajak semua orang untuk mengundurkan diri dari situ.

Kejadian yang berlangsung didepan mata ini seketika itu juga membuat kaket Ou dan Kam Liu cu yang bersembunyi dibalik kegelapan menjadi terkejut bercampur keheranan mereka tidak tahu siapakah suhu dari nikou setengah umur itu dan darimana asal usulnya?

Nyatanya perkataan dari dalam ruangan kuil itu sudah cukup membuat si Raja langit bertangan racun Liong Cay thian mengundurkan diri dengan ketakutan.

Setelah melihat tak ada urusan lagi, kedua orang itupun secara diam-diam balik kembali keruangan tamu.

Liu Leng poo segera menyongsong kedatangan mereka sambil bertanya. "Toa suheng, apakah Liong Cay thian telah pergi? Apakah sudah terjadi pertarungan?”

Kam Liu cu manggut-manggut, sebelum sempat

menjawab, terdengar suara langkah kaki manusia berkumandang datang, nikou setengah umur itupun telah muncul kembali didalam ruangan.

Cepat-cepat Kam liu cu mengerdipkan matanya memberi tanda kepada Liu Leng poo agar jangan bertanya. Setibanya didalam ruangan nikou setengah umur itu segera melayangkan pandangan matanya memandang sekejap sekeliling tempat itu, akhirnya pandangan itu berhenti diwajah So Siau hui dan Lan Kun pit, katanya kemudian : "Sicu berdua itu sudah sepertanak nasi lamanya menelan obat penawar racun, racun yang mengeram ditubuh merekapun telah punah, sekarang jalan darah mereka yang tertotok boleh dibebaskan."

Seusai berkata ia segera mendekati kedua orang itu dan melepaskan sebuah pukulan.

Sekujur badan So Siau bui dan Lan Kun pit sama-sama bergetar keras, lalu membuka mata masing-masing.

Dalam sekilas pandangan saja So Siau hui telah menjumpai Wi Tiong hong, juga melihat kakek Ou, dia segera mendesis lirih sambil serunya keheranan. “Empek Ou, dimanakah aku sekarang?"

Kakek Ou segera memburu ke sisi tubuhnya dan menyahut : “Aaah, nona telah mendusin kembali, kau tidak apa-apa bukan ?”

“Aku tidak apa-apa.” So Siau hui mengucak matanya beberapa kali, “aku … aku seperti telah melakukan suatu impian yang buruk."

Sementara itu Lan Kun pit telah membuka pula matanya, sudah barang tentu dapat melihat pula orang-orang yang berada di situ dengan jelas.

Biarpun ia baru saja sadar dari pengaruh obat pembingung pikiran, namun setelah menyaksikan kehadiran beberapa orang yang berada dihadapannya sekarang dengan cepat dia pun memahami apa yang telah terjadi.

Dengan cepat dia melonpat bangun, kemudian tanpa mengucapkan sepatah katapun juga beranjak pergi dari ruangan itu.

Liu Leng Po segera menggerakkan tubuhnya siap mengejar dari belakangnya. Tapi Kam Liu cu segera mencegahnya setengah berbisik.

"Sumoay, biarkan saja dia pergi!"

“Tadi susiok kami telah berpesan pula,” kata nikou setengah umur itu tiba-tiba, "bila nona ini telah sadar kembali maka saudara sekalian harus meninggalkan kuil kami."

Kakek Ou segera menjura dan berkata: “Untung sekali susiokmu banyak membantu didalam usaha kami ini, sudah sepantasnya bila kuucapkan terima kasih kepadanya.”

"Berhubung masih ada urusan lain, susiok kami telah pergi semenjak tadi,” sahut sang nikou.

“Bagaimana dengan suhumu? Bolehkah lohu sekalian

...”

Tidak sampai kakek Ou menyelesaikan perkataannya, nikou setengah umur itu telah menjura seraya menjawab.

“Harap lo sicu sudi memaafkan, sudah banyak tahun suhu kami tak pernah menerima tamu asing.” “Kalau memang begitu, kami pun tak akan mengganggu lagi." “Harap tunggu sebentar ... " seru nikou setengah umur itu. "Siau suhu masih ada petunjuk apa lagi?”

“Sebelum pergi tadi susiok telah berpesan kepada pinni untuk menyampaikan kepada sicu sekalian bahwa sepeninggalan dari kuil nanti, harap kalian pergi ke tebing Thian long peng, disitu ada seseorang sedang menunggu kedatangan kalian, bila menjumpai kesulitan, susiok kami pasti akan mengirim orang untuk membantu."

Kam Liu cu yang mendengar perkataan itu segera berpikir didalam hati : “Seandainya rombongan kami benar-benar menjumpai kesulitan mungkin susiok mu pun belum tentu bisa memberi bantuan."

Sementara itu Liu Leng poo telah bertanya, “Dimana sih letak tebing serigala langit itu?"

"Barangkali dari sini menuju ke barat kurang lebih dua puluh dua tiga li dari sini. Kalau toh susiok mu berkata demikian, sudah tentu ada sebab-sebabnya, kalau begitu kita harus berangkat kesana," kata kakek Ou kemudian.

Maka berangkatlah semua orang meninggalkan pintu kuil.

Setibanya diluar, nikou setengah umur itu segera memberi hormat sambil berseru. "Maaf kalau pinni tak akan menghantar lebih lagi."

Habis berkata dia menutup kembali pintu kuilnya.

Waktu itu fajar sudah hampir menyingsing, rombongan dengan dipimpin oleh kakek Ou segera berangkat meninggalkan kuil Cun ti an menuju kearah barat.

Dalam perjalanan, Liu Leng poo sudah tidak tahan lagi untuk bertanya, “Toa suheng. bagaimana ceritanya tadi sehingga Liong Cay thian angkat kaki dari depan kuil?”

Secara ringkas Kam Liu cu segera menceritakan kembali apa yang telah dilihatnya.

Selesai mendengarkan kisah itu, Liu Leng poo pun bertanya: "Toa suheng, menurut pendapatmu siapakah suhunya itu?''

Dengan cepat Kam Liu cu menggelengkan kepalanya berulang kali, sahutnya. “Rasanya memang sulit untuk menemukan orang yang bisa membuat si raja langit tangan racun Liong Cay thian menjadi begitu ketakutan ... “

“Empek Ou, bagaimana dengan kau? Apakah kau tahu?" tanya So Siau hui sambil berpaling.

"Haah ... haah ... haah ... jika Kam lote saja tidak tahu, kami sebagai orang yang jarang melakukan perjalanan didaratan Tionggoan tentu lebih-lebih tak bisa menebak lagi."

So Siau hui segera membantah: “Tapi tempat ini kan bukan termasuk wilayah Tionggoan, oya empek Ou aku teringat akan seseorang, entah benar atau tidak?”

"Nona teringat akan siapa?" tanya kakek Ou.

"Aku pernah mendengar ayah berkata bahwa di bukit Bu liang san yang termasuk dalam wilayah Yunan terdapat seorang nikou tua yang amat hebat."

“Aah, apakah nona maksudkan Bu beng sinni?” seru Kam Liu cu sambil bertepuk tangan secara tiba-tiba.

“Ooh, rupanya Kam toako juga tahu," So Siau hui tertawa.

Seperti pula Wi Tiong hong, dia pun menyambut Kam Liu cu sebagai Kam toako.

"Bu beng sinni adalah seorang tokoh sakti dari luar perbatasan yang diakui secara umum oleh setiap umat persilatan, sudah tentu aku pun pernah mendengarnya,”

kata Kam Liu cu.

Kakek Ou segera berkata pula: "Konon semenjak sinni mengukir tiga ratus buah patung Ji lay hud di atas dinding batu bukit Bu liang san dengan tenaga sakti Bu siang sin kang nya tempo hari, dia belum pernah turun lagi dari tebing Leng san gay barang selangkah pun."

"Betul," ujar Liu Leng poo, "nikou tua dan Tong hujin yang berdiam dalam kuil Ti can an tersebut merupakan kakak beradik seperguruan, bisa jadi kedua orang itu adalah ahli waris dari Bu beng sinni."

“Yaa ... betul, apa yang diucapkan enci Liu memang persis sekali dengan apa yang kupikirkan didalam hati,"

seru So Siau hui dengan perasaan girang.

Liu Leng poo … … … sama-sama Wi Tiong hong tiba2

mempercepat langkahnya seraya berseru : “Empek Ou, aku teringat sekarang, bukankah aku telah diculik oleh seorang jahat yang menyaru sebagai Wi sauhiap? Bagaimana keadaan selanjutnya?”

"Panjang sekali untuk menceritakan kembali peristiwa tersebut, itu lihat, tebing Thi an jong peng sudah hampir tiba, mari kita berbincang-bincang lagi setelah tiba di sana nanti."

-oo0dw0oo-