-->

Persekutuan Pedang Sakti Jilid 18

Jilid 18

WI TIONG HONG segera manggut-manggut.

"Padahal semenjak tadi sudah kuketahui bahwa sikap kebodoh-bodohan yang diperlihatkan orang ini cuma pura-pura dan dibuat-buat saja" kata Liu Leng Poo lebih jauh,

“hanya saja aku belum yakin apakah ia adalah ayahmu atau bukan itulah sebabnya kuminta kau saja yang mengajukan pertanyaan. Siapa tahu ternyata dia benar-bebar orang yang menyamar sebagai ayahmu” Berbicara sampai disini, dia lantas menepuk bebas jalan darah didepan dada manusia berbaju putih itu lalu bentaknya: ““sobat berlakulah lebih wajar dan terbuka bila kau enggan berlaku jujur lagi jangan salahkan kalau aku akan bertindak keji dan buas kepadamu”

Manusia berbaju putih itu menengok sekejap kearahnya, kemudian menggeleng. “Ploookkk”

Tahu-tahu Liu Leng Poo sudah menempeleng wajah orang berbaju putih itu keras-keras, ujarnya dengan ketus:

"Apakah kau masih ingin berlagak edan dan sinting dihadapan kami...?” Tempelengan itu dilepaskan cukup keras dan kuat sehingga membuat manusia berbaju putih itu terhuyung ke samping, cucuran darah segar segera menyembur keluar dari mulutnya.

Dengan mata bersinar merah dan wajah meringis menahan sakit, mendadak ia membentak keras: “Setelah Pui Thian Jin terjatuh ke tangan kalian, mau dibunuh mau dicingcang silahkan kalian lakukan. Jangan harap membuat she Pui mengerutkan dahi!”

Mendengar orang tersebut mengakui sebagai Pui Thian Jin kembali Wi Tiong Hong merasakan hatinya bergetar sangat keras.

Sekali lagi Liu Leng Poo mengayunkan tangannya menghadiahkan sebuah tempelengan lagi kewajah orang itu, jengeknya dingin: "Kau masih berani mergakui dirimu sebagai pendekar berbaju putih? Hmm. sekali lagi kau berani mengaku-aku akan kusuruh kau rasakan bagaimana tersiksanya orang yang hidup tak bisa matipun tak dapat”

“Apapun yang hendak kau perbuat terhadap aku she Pui, silahkan dilakukan, tetapi jangan harap membuatku merintih minta ampun". teriak manusia berbaju putih itu dengan penuh amarah yang membara.

Sekali lagi dia membahasai diri sebagai orang she Pui.

hal mana segera membuat Tiong Hong merasakan hatinya berdebar dengan perasaan tegang. Di awasinya itu dengan pandangan setengah percaya setengah tidak.

Terdengar Liu Leng Poo berkata lagi: "Kami hanya berharap kau suka menjawab beberapa buah pertanyaan kami secara jujur. Asal kau bersedia menjawab, kamipun bersedia mengampuni selembar jiwamu”

“Apa yang kaiian ingin tanyakan?” tanya manusia berbaju putih itu.

“Sebenarnya kau adalah Pendekar baju putih Pui Thian Jin atau bukan?” sela Wi Tiong Hong mendadak.

Manusia berbaju putih itu segera tertawa nyaring.

“Setiap orang yang mengenakan baju putih dan melakukan beberapa macam perbuatan mulia dan sosial didalam dunia persilatan, dia pasti akan peroleh julukan sebagai pendekar baju putih secara mudah tapi nama Pui Thian Jin memangnya dapat dipalsukan orang lain?”

Wi Tiong Hong merasa bahwa orang in memang tidak mirip gadungan, sehingga tanpa terasa dia berbalik kearah Liu Leng Poo.

Dengan kenlng berkerut Liu leng Poo segera berkata:

“Lebih baik aku saja yang mengajukan pertanyaan kepadanya”

Ketika kepalanya didongakkan kembali, tampak dari balik matanya tiba-tiba mencorong keluar sepasang sinar mata yang tajam dan menggidikkan hati. ujarnya kemudian dengan suara yang menyeramkan: “sekali lagi nona perlu memberitahukan kepadamu. Asalkan kau sanggup menahan ilmu potongan nadi Ngo Im Cay Meh Jiu Hoat-ku ini, silahkan saja kau berperan lebih jauh”

Sambil menggertakkan gigi menahan diri. manusia berbaju putih itu segera berkata: "Aku orang she Pui tak pernah berganti marga tak pernah berubah nama, kepandaian macam apapun yang kau miliki silahkan saja kau pergunakan kepadaku, tauya-mu tak bakal berkerut kening”

Tiba tiba Liu Leng Poo berkata sambil tertawa merdu:

“kalau didengar dari nada pembicaraanmu itu, sudah jelas kau bukan Pendekar berbaju putih. Nona lihat kau memang seorang manusia yang tak akan mencucurkan air mata sebelum melihat peti mati”.

Tiba-tiba saja jari tangan dan telapak tangannya digunakan bersama-sama dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat, berikut menghantam juga menotok. Ia totok delapan belas buah jalan darah penting didada, lambung, kaki dan tangan manusia berbaju putih itu

Gerak serangan yang di lancarkan olehnya benar-benar dilakukan dengan kecepatan luar biasa, sampai Wi Tiong Hong yang berdiri disisinyapun tak sempat melihat dengan jelas. Tidak urung hatinya dibuat terkejut juga, diam-diam ia berpikir: "Kepandaian apakah yang dia pergunakan itu?”

Ketika selesai melepaskan totokannya tadi, Liu Leng Poo mengawasi manusia berbaju putih itu dan berkata sambil tertawa dingin, “Selama sobat menempuh perjalanan di dalam dunia persilatan, tentunya kau pernah mendengar tentang ilmu pemotongan nadi Ngo im cay meh jiu hoat bukan? Nah apakah kau bersedia mengaku secara terus terang atau tidak, terserah kepada keputusanmu sendiri!”

ooOdwOoo

Dalam sekejap mata itulah sekujur badan manusia berbaju putih itu gemetar keras. Paras mukanya berubah hebat dan peluh sebesar kacang kedelai jatuh bercucuran

membasahi seluruh jidatnya. Sepasang matanya merah membara seperti mau keluar darah. Sambil mengawasi Liu Leng Poo, dia berseru dengan gemetar: "Aku bernama Pui Thian Jin, sekalipun kau lebih keji pun...”

Belum habis perkataan itu diutarakan, mendadak saja sekujur badannya mengejang keras lalu sambil berteriak keras ia terguling dari kursinya dan roboh tak sadarkan diri.

Ketika Wi Tiong Hong meiihat orang itu selalu mengaku dirinya bernama Pui Thian Jin, timbul juga perasaan dihati kecilnya bahwa orang itu bukan gadungan.

Cepat cepat dia berpaling kearah Liu Leng Poo dan katanya:......

Cepat cepat Liu Leng Poo menggoyangkan tangannya berulangkali mencegah dia berkata lebih jauh kemudian katanya sambil tertawa: "Saudara Wi, pengalamanmu di dalam dunia persilatan masih belum cukup sehingga mudah ditipu orang seperti misalnya kejadian ini dengan kelicikan dan kebebatan orang tersebut, bila kita tidak memberi sedikit siksaan kepadanya, tak nanti dia akan berterus terang. Lebih baik kau jangan banyak berbicara biar aku saja yang menghadapinya”

Sementara pembicaraan masih berlangsung, manusia berbaju putih itu sudah mulai merintih

Ketika ia mendusin kembali dari pingsannya terasa seluruh otot badannya mengejang keras. Keempat anggota badannya berkerut menjadi satu dan matanya melotot sementara terggorokannya memperdengarkan suara gemeretuk keras, keadaannya benar-benar mengerikan hati....

“Nah, tentunya sudah kau rasakan bagaimana enaknya bukan? Ayo sekarang mau berbicara tidak?” kata Liu Leng-Poo dingin.

Manusia berbaju putih itu menggigit bibirnya kencang kencang. Sepasang matanya memancarkan sinar kebencian yang luar biasa, namun mulutnya tetap membungkam dalam seribu bahasa.

Menyaksikan sikap yang ditunjukkan orang itu, tak urung Liu Leng Poo berkerut kening juga dibuatnya, sambil tertawa dingin dia lantas berseru: “Nonamu hanya menotok tiga buah nadi im meh-mu, itu berarti masih menaruh rasa belas kasihan kepadamu. Apakah kau anggap aku tak berani menyiksamu lebih jauh?"

Dengan kecepatan bagaikan kilat ke dua jari tangannya segera disodokkan ke muka. Kali ini, manusia berbaju putih itu benar-benar tak sanggup menahan diri lagi.

Dalam waktu singkat dia merasa seperti ada orang memotong-motong seluruh otot dalam tubuh dan tulangnya dengan ujung pisau yang tajam setiap inci setiap bagian diiris dengan pelannya, akhirnya lama-kelamaan dia tidak mampu menahan diri lagi dan mulai mengerang kesakitan.

Erangannya terdengar amat menyedihkan bagaikan lolongan srigala diwaktu malam ataupun jeritan babi yang mau disembelih. Pada hakekatnya suara tersebut tidak mirip suara jeritan manusia, membuat siapa saja yang mendengarkan segera akan merasakan hatinya bergetar dan ngerinya luar biasa.

Selama hidup belum pernah Wi Tiong Hong

menyaksikan siksaan sedemikian kejamnya. Dia merasa agak tak tega tapi berhubung Liu Leng Poo telah berpesan tadi agar dia tutup mulut, maka dengan perasaan tak tenang pikirnya dihati. “caranya menyiksa orang begitu kejam dan

tidak berperasaan, andaikata orang ini benar benar adalah ayahku. apa yang harus kuperbuat sekarang?”

Dalam pada itu Liu Leng Poo telah membentak lagi sambil bertolak pinggang. “Sebenarnya kau bersedia menjawab atau tidak?”

Suara rintihan dan erangan kesakitan dari manusia berbaju putih itu kian lama kian bertambah lemah. Dengan sepasang mata yg memancarkan sinar minta belas kasihan ditatapnya wajah Liu Leng Poo, lalu dengan suara yang terputus putus dia berkata: “Baik, aku berbicara... aku berbicara”

"Memang seharusuya kau berbicara semenjak tadi!” jengek Liu Leng Poo sambil tertawa dingin. Sepasang telapak tangannya diayunkan berulang kali menepuk jalan darah Hian ki hiat Leng tay hiat dan Im ciau hiat sekaligus lima buah jalan darah penting. Sekali lagi manusia berbaju putih itu merintih. Keempat anggota badannya yang semula mengejang kini sudah berhenti bergerak. Seorang diri ia duduk ditanah dengan nafas tersengal-sengal.

Liu Leng Poo menunggu sampai napasnya yang

tersengal itu agak mereda, kemudian ia baru mengeluarkan sebuah botol kecil dari sakunya dan diserahkan kepada Tiong Hong sambil berkata “Isi botol ini adalah cairan pencuci obat penyaru muka. Coba kau bersihkan dulu wajahnya dari obat penyaru muka sebelum bertanya lebih jauh."

Sebetulnya dalam saku Wi Tiong Hong pun terdapat pil untuk menyaru muka, namun dia tahu ilmu menyaru muka berbeda-beda dan lain pula cara serta bahan obat yang digunakan digosokkan kewajah manusia berbaju putih itu.

Begitu digosok maka keadaan yang sebenarnyapun tertera dengan jelas.

Dari atas wajah manusia berbaju putih yang kurus kering itu segera terhapus selapis bubuk berwarna putih sehingga muncullah wajah aslinya yang berwarna kuning itu.

Diam-kiam Wi Tiong Hong menghembuskan napas panjang, lalu bentaknya dengan gusar: "Ternyata bajingan ini benar benar manusia yang menyaru sebagai ayahku!"

Lin Leng Poo menggigit bibirnya sambil termenung sejenak, kemudian ia baru berkata: “Aku rasa perbuatan orang ini dengan menyaru sebagai ayahmu bukan perbuatan biasa.

Dibalik kesemuanya ini tentu ada hal2 yang luar biasa."

"Liong Cay Thian menyuruh dia menyamar sebagai ayahku, sudah jelas tujuannya ialah untuk memancing aku masuk perangkap”

“Aku kira bukan begitu persolannya!” sahut Liu Leng Poo sambil menggeleng “Lantas bagaimanakah pendapat nona Liu?” tanya Wi Tiong Hong agak tertegun.

Sambil menunjuk bangku yang di duduki manusia berbaju putih itu, kata Liu Leng “Coba kau lihat bangku yang ditempatnya. Bangku itu sudah ditempati sampai berkilap dan licin, sedangkan pakaian yang dikenakan pun turut robek pada bagian pantatnya, hal ini membuktikan kalau dia sudah menyaru sebagai ayahmu selama dua tiga tahun lamanya."

Diam-diam Wi Tiong Hong harus mengagumi juga atas kejelian mata gadis itu, katanya kemudian: “Tapi mengapa begitu?"

“Aku rasa Liong Cay Thian sendiripun turut dikelabui olehnya kalau tak percaya tanyakan sendiri kepadanya."

Sementara itu keadaan dari manusia berbaju putih itu berangsur menjadi pulih kembali, nafasnya yang tersengkal telah mereda, paras mukanyapun sudab pulih kembali. Dia sedang dilantai sambil mengawasi dua orang yang berada dihadapannya

Wi Tiong Hong segera bertanya: "Sobat, mengapa kau harus menyaru sebagai pendekar berbaju putih?”

"Aku hanya melaksanakan tugas menurut perintah” "Perintah dari siapa?”

"Tentu saja perintah dari siacu."

“Apa sebabnya siacu kalian menyuruh kau menyaru sebagai pendekar berbaju putih?” "Kalau soal itu aku mah kurang tahu”

“Sudah berapa tahun kau menyaru sebagai pendekar berbaju putih?”

“Kurang lebih sudah dua tahun lebih" sahut manusia berbaju putih itu sambil memutar biji matanya Liu Leng Poo segera mendengus dingin, “Hmmmm.

hanya omongan kosong karangan sendiri. Jika kau enggan menjawab secara baik baik, jangan salahkan kalau kuberi siksaan yang lebih hebat lagi untukmu”

"Aku telah mengaku dengan berterus terang" seru manusia berbaju putih itu panik.

“Hmmmm, kalau begitu coba kau jawab pendekar baju putih yang sesungguhnya telah kalian culik ke mana?” seru Liu Leng Poo lebih jauh dengan suara dingin "Apa tujuan mu dengan menyaru sebagai pendekar berbaju putih dan

menyeludup kemari boleh saja tak kami tanyakan, tapi kau harus menerangkan jejak berbaju putih yang asli...”

Berubah hebat paras muka manusia berbaju putih itu, cepat-cepat dia berseru: "Tidak... tidak, tak pernah ada kejadian seperti ini!”

Sekali lagi Liu Leng Poo mendengus dingin: “Berada dihadapanku lebih baik tak usah berbohong. Kuanjurkan kepadamu untuk menjawab saja secara jujur, siapa yang telah memberi perintah kepadamu dan sejak kapan menukar pendekar berbaju putih yg asli dengan dirimu?”

Wi Tiong Hong menjadi amat cemas setelah mendengar Liu Leng Poo mengatakan bahwa orang ini menyaru sebagai ayahnya setelah menukar ayahnya dari situ Serta merta dia mengangkat bahu manusia berbaju putih itu lalu digoncang-goncangkan keras sambil membentak 

”Ayo, mengapa tidak segera menjawab?”

Untung saja Liu Long poo segera menggoyangkan tangannya sambil mencegah. “Harap Wi sauhiap jangan terlalu terburu napsu. Kita tak usah kuatir dia tidak mengaku terus terang pada malam ini”

Sementara itu paras muka manusia berbaju putih itu telah berubah dari pucat menjadi hijau, kemudian dari hijau berubah menjadi abu-abu serunya agak tergagap: “Soal ini...

Soal ini...”

"Tak usah ini itu lagi” bentak Liu Leng Poo makin gusar

"ayoh cepat menjawab. Aku tak akan mempunyai kesabaran sedemikian baiknya!" Sembari berkata jari tangannya yang lentik mulai digerak-gerakkan dihadapan mukanya berbuat seolah-olah hendak turun tangan hehdak melancarkan serangan.

Mendadak manusia berbaju putih itu berseru sambil menggertak gigi kencang kencang, "Baik. aku bersedia menjawab!” Ia lantas bangkit dan duduk dilantai, agaknya dia telah mengambil suatu keputusan yang sangat besar didalam hatinya, katanya kemudian “Aku hanya tahu mendapat perintah untuk menyamar sebagai pendekar berbaju putih, namun aku benar-benar tidak tahu siapakah majikanku itu“

"Kalau toh majikan saja tidak kau ketahui, bagaimana mungkin kau bisa menuruti perintahnya?”.

"Diantara orang-orang kami semuanya mempunyai tanda pengenal yang khusus" “benda pengenal apakah itu?

Manusia berbaju puiib itu merogoh ke dalam sakunya dan mengeluarkan sebuah bungkusan kecil berwarna hitam.

Sambil membuka bungkusan itu dia mengangkat kepalanya sambil menyahut: "Benda inilah tanda pengenal itu!”.

Mendadak dia melompat bangun sambil melepaskan sebuah pukulan dengan sekuat tenaga kearah dada Wi Tiong Hong sementara itu tangan kirinya dengan cepat mengambil sebutir pil dari dalam bungkusan kertas tadi dan dijejalkan kedalam mulut.

Kali ini dia telah mempertaruhkan selembar jiwanya untuk melancarkan serangan dengan sepenuh tenaga.

Wi Tiong Hong sama sekali tidak menduga sampai kesitu. Melihat datangnya pukulan yang sangat kuat itu, serta merta ia menangkis dengan kekerasan sambil membentak: "Cari mampus rupanya kau!”

Begitu kepalan dan telapak tangan itu saling bertemu, manusia berbaju putih itu segera terpental sejauh empat

lima langkah dari posisi semula, punggungnya tak ampun menumbuk diatas dinding ruangan keras-keras.

“Blaaaammmni. !”

Diiringi suara benturan yang amat nyaring, pelan-pelan tubuhnya terperosok ke bawah dan terduduk dilantai. Liu Leng Poo tidak berayal lagi secepat itu dia mendesak maju kemuka, menghampiri manusia berbaju putih itu dan memeriksa keadaannya. Tapi sejenak kemudian dia sudah bangkit berdiri sambil berkata pelan: "Dia sudah mampus!”

"Aneh betul" seru Wi Tiong Hong terkejut “mengapa secepat ini dia sudah mampus? Padahal seranganku tadi tidak terlalu kuat. ”

“Dia mampus karena menelan obat racun untuk bunuh diri" Liu Leng Poo menerangkan.

"Oooh, jadi benda yang dikeluarkan tadi adalah obat beracun?" kata Wi Tiong Hong agak tercengang.

"Aaaai, semuanya ini kesalahanku yang bertindak kelewat ceroboh. Sejak dia menolak untuk membocorkan rahasia tadi, seharusnya aku sudah sadar kalau dia mempunyai tekad untuk mati. Andaikata dia tidak sengaja mengatakan punya tanda pengenal khusus, pada hakekatnya dia tak akan mempunyai kesempatan untuk mengeluarkan obat racun itu dari dalam sakunya"

"Entah siapakah majikan yang dia maksudkan tadi? Dia bilang tidak kenal siapakah majikannya itu”.

“Hemm, apa yang di katakan sejak tadi cuma omongan setan belaka, tak sepotong katapun yang sungguh2 dan boleh dipercaya” seru Liu Leng Poo penuh geram.

"Sekalipun kita gagal mendapatkan keterangan apa-apa dari mulutnya, namun perjalanan kita kali inipun tidak sia

sia belaka. Paling tidak kita berhasil membuktikan bahwa orang yang dikurung dalam selat Tat Seh Sia ini hanyalah seseorang yang menyamar sebagai ayahku...!"

Liu Leng Poo tertawa. “Sekalipun demikian, namun kita masih terhitung kena di pecundangi orang juga, bahkan tanpa hasil yang mantap kita telah mengorbankan dua lembar jiwa manusia dengan percuma."

Berbicara sampai disini dia berhenti sejenak kemudian lanjutnya lebih jauh: "Sekarang waktu sudah tidak pagi lagi.

Mari kita segera pergi dari sini!”

Dengan tergesa-gesa kedua orang itu mengundurkan diri dari situ. Sepanjang jalan semuanya lancar dan tanpa menimbulkan kecurigaan apa-apa. Mereka telah kembali ketempat masing-masing. Sesudah berpisah dengan Liu Leng Poo, Wi Tiong Hong masuk kedalam ruangannya menutup kembaii pintu kamar dan duduk di atas jendela dengan kemalas malasan.

Saat ini dia sama sekali tidak ada niat untuk tidur, pikirannya di penuhi pelbagai persoalan, terutama tindakan orang tersebut dengan memindahkan ayahnya dari situ dan dia sendiri menyaru sebagai ayahnya kemanakah dia telah membawa pergi ayah nya?

Tapi ditinjau dari hal ini, terbukti sudah bahwa ayahnya memang sudah kehilangan kesadarannya dan tidak mampu bergerak akibat racun ular yang merasuk ke tulang.

Kini terbukti sudah kalau manusia berbaju putih yang berada dalam selat Tok Seh Sia adalah gadungan. Tapi bagaimanapula dengan manusia berbaju putih yang berada di Tay eng bun san tempat kediaman Kou hujin itu?

Untuk sesaat pikiran dan perasaannya di sangat kalut.

Sebagai seorang anak, ternyata untuk membedakan mana

ayahnya yang aslipun tak sanggup. Kejadian seperti ini sungguh memalukan disamping menggenaskan sekali.

Lambat laun sepasang matanya menjadi berkaca kaca dan dipenuhi air mata yang meleleh keluar.

Pada saat itulah mendadak terdengar ada orang mengetuk pintu ruaugannya dengan pelan. Walaupun suara itu sangat pelan, namun dengan ketajaman pendengaran yang dimiliki Wi Tiong Hong, ia sudah mendengar kalau ada orang sedang menyusup kesana. Diam diam ia tertawa dingin dan tetap duduk tak berkutik ditempat semula.

Dalam waktu singkat dia sudah mendengar suara langkah kaki manusia yang sangat pelan berjalan mendekati kamar tidumya dari luar ruangan.

Wi Tiong Hong yang mampu melihat dalam kegelapan segera mendongakkan kepalanya dan memperhatikan keadaan muka.

Seorang kakek kurus berjubah panjang warna biru langit dengan jenggot putih menghiasi dagunya telah berdiri dimuka pintu ruangan. Dalam kegelapan malam sorot matanya kelihatan bersinar. Melihat kemunculan orang itu ia menjadi sangat girang. Cepat-cepat ia bangkit berdiri dan menyambut kedatangannya sambil menegur lirih :

“Kedatangan saudara Kam sangat kebetulan!”

Ternyata orang itu adalah Kam Liu Cu yang menyaru sebagai Lam Sim bu dan kini menjadi tamu agung dari selat Tok Seh Sia.

Dengan sorot mata yang tajam Kam Liu Cu mengawasinya sekejap lalu berseru. "Apa maksudmu?“

"Barusan siaute bersama nona Liu telah mengunjungi tempat tahanan dari selat ini. Ternyata bangsat itu cuma orang yang menyaru sebagai ayahku”

Perasaan keheranan dan tercengang segera menghiasi seluruh wajah Kam Liu Cu. Ditatapnya wajah Wi Tiong Hong dengan pandangan tajam, lalu tegurnya dengan suara dalam: “siapa yang berani menyaru diriku?"

Wi Tiong Hong gantian tertegun. Dia segera menatap lawannya lekat lekat lalu berseru “Jadi kau bukan saudara Kam?"

“Tentu saja aku bukan manusia dari marga Kam!”

Diam diam Wi Tiong Hong merasa terkejut, segera tegurnya lagi: "Lantas siapakah kau?" “Masa ayahmu sendiri pun tidak kau kenal?” Kam Liu Cu balik bertanya agak tertegun.

Dengan cepat Wi Tiong Hong menjadi paham. Orang yang berada dihadapannya bukan Kam Liu Cu, melainkan Lam Sim Hu asli yang telah menyusul kesitu.

Maka sambil menjura katanya: "Aku bernama Wi Tiong Hong, bukan Lan Kun Pit!” "Aku sudah mendengar kesemuanya ini dari gurumu.

Kau sedang menyaru sebagai Wi Tiong Hong bukan?” “Tidak, aku adalah Wi Tiong Hong yang asli"

Melihat kesemuanya ini Lam Sim Hu segera menghela napas panjang, katanya kemudian: "Nak, rupanya kau sudah dicekoki obat pembingung sukma oleh Liong Cay Thian sehingga ingatan yang sebenarnya telah kau lupakan semua"

"Aku sama sekaii tidak menelan obat pembingung sukma macam apapun juga" "Tanpa kau sadari kau telah menelan obat pembingung sukmanya, sudah barang tentu kau tak akan tahu"

"Tapi aku sama sekali tidak kehilangan pikiran dan kesadaranku”

“Bila kau tidak kehilangan pikiran dan kesadaranmu mengapa kau tidak kenali ayahmu sendiri?”

Benar runyam keadaannya. Ternyata Lam Sim Hu telah menganggap Wi Tiong Hong sebagai Lan Kun Pit, bahkan merasa yakin kalau putranya telah dicekoki obat pembingung sukma sehingga terhadap ayahnya sendiripun tidak kenal.

Atas kejadian ini biarpun Wi Tiong Hong menyangkal dengan alasan apapun, sudah tentu Lan Sim Bu tak akan percaya.

Melihat orang itu bersikeras mengatakan kalau dia adalah putranya, Wi Tiong Hong benar- benar merasa mendongkol disamping geli. Cepat dia menggoyangkan tangannya berulang kali sambil berseru: “Lotiang salah paham, aku adalah Wi Tiong Hong yang sebenarnya...”

Tentu saja Lan Sim Bu tak akan mempercayai dengan begitu saja. Ditatapnya Wi Tiong Hong dengan pandangan tajam lalu katanya lagi: "Suhumu juga telah datang, sekarang waktu kita tak banyak lagi, ayoh cepat ikut aku keluar dari sini...”

“Berulang kali sudah kukatakan kepadamu aku bukan Lan Kun Pit, mengapa sih kau tak bisa percaya juga?”

Perasaan sedih dan murung segera menyelimuti wajah Lan Sim Bu. Setelah menghela napas katanya: "betul betul keji dan lihay racun obat itu. Tak nyana seorang bocah yang sehat bisa dirubah menjadi begini pikunnya hingga ayah sendiri pun tidak dikenali. Tiong Cay Thian, bila aku tak

bisa mencincang tubuhmu hingga hancur berkeping-keping, aku sumpah tak akan hidup sebagai manusia”

Kemudian setelah berhenti sejenak, dia berpaling dan katanya lebih jauh: “Nak aku datang untuk menyelamatkan dirimu dan kaupun tak usah banyak berbicara lagi. Ayoh cepat turut ayah keluar dari sini. Suhumu pandai sekali dalam ilmu racun dan jauh mengungguli kemampuan Liong Cay Thian sudah pasti ia dapat memusnahkan racun yang membuat kau kehilangan kesadaran“

Seraya berkata dia menggerakan pergelangan tangan kanannya dan menyambar pergelangan tangan Wi Tiong Hong.

Dengan cepat Wi Tiong Hong mundur selangkah, kemudian dengan kening berkerut bentaknya: “Siapa sih yang bernama Lan Kan Pit? Mengapa lotiang begitu semberono dan tak tahu diri?“

Setelah Lan Sim Bu menganggap Wi Tiong Hong sebagai putranya yang kehilangan ingatan, tentu saja tak mau percaya dengan begitu saja semua perkataan dan alasan yang dikemukakan Wi Tiong Hong.

Melihat cengkeramannya mengenai sasaran kosong dia segera mendesak maju kemuka sambil melepaskan serangan berikut. “KAU anggap ayahmu telah salah melihat?" serunya dengan penuh amarah. “kau tahu, pikiranmu jadi nyeleweng gara-gara diracuni Tiong Cay Thian?”

Tangan kanannya menyambar ke muka dengan

kecepatan yang jauh lebih hebat. Sedangkan ilmu yang dipergunakan adalah ilmu Tay ki na jiu hoat yang hebat.

Langsung mengancam bahu Wi Tiong Hong.

Melihat pihak lawan berulang kali mendesaknya sebelum duduknya persoalan dibikin jelas lebih dulu, lama-kelamaan berkobar juga hawa amarah Wi Tiong Hong, ia segera membentak keras. “Lotiang, mengapa sih kau bekerja secara begitu sembrono? Bikin jelas dulu duduk persoalan”

Dengan cekatan dia miringkan badannya kesamping untuk menghindari serangan tersebut.

Lambat laun paras muka Lan Sim Bu dicekam amarah juga dengan suara dalam lalu ia membentak: “sekarang ikuti dulu ayahmu keluar dari sini. Setelah berjumpa dengan gurumu nanti segala sesuatunya akan menjadi jelas”.

Gagal dengan cengkeraman yang pertama dia segera melepaskan cengkeraman berikutnya. Kali ini dia mengancam urat nadi pada pergelangan tangan Wi Tiong Hong. Lagi-lagi ilmu yang digunakan adalah Ki na ji hoat yang dilepaskan secepat kilat.

Dengan penuh amarah, Wi Tiong Hong segera

membentak, “Apabila lotiang mendesak terus menerus, jangan salahkan kalau aku akan melancarkan serangan balasan”

"Binatang!“ hardik Lam Sim Bu, "Apakah kau anggap bapakmu bakal menipu kau?”

Tiba tiba saja dia mendesak kemuka, tangan kanannya diayunkan dan segera tercipta selapis bayangan jari tangan yang segera terpisah mengancam beberapa buah jalan darah penting ditubuh Wi Tiong Hong.

"Hee... hee... hee.. tampaknya lotiang memang memaksa aku untuk turun tangan” seru Wi Tiong Hong sambil tertawa dingin.

Tangan kirinya mengeluarkan jurus Jiu hui ngo-hian (lima senar dipetik bersama) untuk mengunci datangnya ancaman, lalu berbalik menyapu pergelangan tangan Lan Sim Bu.

Melihat serangan balasan yang dilancarkan Wi Tiong Hong bukan saja amat cepat bagaikan kilat, lagi pula semua ancaman yang tertuju merupakan nadi-nadi penting yang harus dilindungi, Lan Sim Bu nampak tertegun. Tiba tiba saja tangan kanannya ditarik kebelakang dan menarik kembali serangan tangan kanannya secara terpaksa.

Sekalipun serangannya sangat cepat, ternyata gerakannya sewaktu menarik kembali ancaman jauh lebih cepat lagi.

Tatkala sapuan dari Wi Tiong Hong untuk membendung serangan tersebut dilancarkan, ternyata ia tak berhasil menyentuh ujung baju lawannya.

Begitu tangan kanannya ditarik kembali tangan kiri Lan Sim Bu secepat petir sudah menggerakkan kelima jari tangannya yang sudah dipentangkan lebar-lebar seperti kaitan langsung mengancam bagian yang mematikan didada Wi Tiong Hong.

Menghadapi ancaman tersebut, sepasang kaki Wi Tiong Hong tetap memantek di atas tanah sementara tubuh bagian atasnya menjatuhkan diri kebelakang. Tangan kiri disilangkan dimuka dada sementara tangan kanannya dipersiapkan membabat tangan Lin Sim Bu yang mengancam tiba.

Begitu serangan dilepaskan, terasa segulung angin pukulan yang amat kuat menembusi teiapak tangan tersebut dan langsung menerjang keluar.

Merasakan betapa kuatnya tenaga serangan yang dilepaskan Wi Tiong Hong, Lan Sim Bu segera meningkatkan kewaspadaannya. Dari cengkeraman dia

rubah menjadi pukulan telapak dan menyambut datangnya serangan dari Wi Tiong Hong itu dengan keras lawan keras.

"Blaaam!”

Begitu sepasang teiapak tangan itu saling beradu, segera bergemalah suara benturan yang sangat kuat. Akibatnya tubuh kedua orarg itu sama sama bergetar keras dan mundur selangkah kebelakang

Pertarungan yang berlangsung antara kedua orang ini di langsungkan dalam jarak dekat sehingga kendatipun tak nampak adanya daya pengaruh yang mengerikan hati, namun kedua belah pihak sama-sama menyerang dengan kecepatan tinggi dan perubahan jurus yang luar biasa.

Sedikit terlambat saja bisa berakibat fatal untuk salah satu pihak.

Bentrokan yang berlangsung dua jurus banyaknya ini berlangsung dalam sekejap mata saja.

Sebagai bapaknya, sudah barang tentu Lin Sim Bu mengetahui aliran ilmu silat yang dipelajari Lan Kun Pit maka dalam sekilas pandangan saja ia sudah tahu kalau aliran ilmu silat yang digunakan Wi Tiong Hong berbeda sekali dengan aliran ilmu silat dari putranya. Bahkan pemuda yang berada dihadapannya sekarang justru memiliki ilmu silat tingkat atas.

Dengan perasaan terkejut bercampur terkesiap dia mundur dua langkah kebelakang lalu menatap wajah Wi Tiong Hong dengan sorot mata tajam bagaikan kilat, katanya kemudian dingin: “Kau benar benar bukan anak Pit!”

"Semenjak tadi sudah kukatakan kalau aku bukan putramu!”

“Lalu apa sebabnya kau mencatut nama putraku?”

dengan wajah berubah hebat Lan Sim Bu mendengus marah.

“Perkataan lotiang sungguh menggelikan" kata Wi Tiong Hong sambil tertawa, “kapan sih aku mencatut nama putramu... semestinya putramu itulah yang telah menyaru sebagai aku dan mencatut namaku”.

Sekali lagi Lan Sim Bu memperhatikan pemuda itu sekejap lalu mendengus dingin “Jadi kau adalah Wi Tiong Hong yang baru-baru ini dikabarkan dalam dunia persilatan sebagai orang yang mampu mematahkan ilmu Hui hong to dari Thian Cay Thian serta mengalahkan pedang Emas Ban Kiam hweecu?”

“Tidak berani, keberhasilanku yang lalu hanya suatu keberuntungan saja. Aku memang Wi Tiong Hong”

"Bagus sekali” Lan Sim Bu manggut-manggut “kalau begitu ikutlah aku pergi dari sini”

“Lotiang datang untuk menyelamatkam putramu kini sudah kau ketahui bahwa aku bukan putramu, jadi tak usah Lotiang repot-repot menolongku. Tentu saja aku pun tak akan mengikuti lotiang untuk pergi dari sini”

“Aku paling benci banyak berbicara. Pokoknya kau harus ikuti aku pergi dari sini" balas Lan Sim Bu tak sabar

“Silahkan lotiang pergi sendiri. Saat ini aku belum bermaksud untuk meninggalkan Tok Seh Sia”

“Anak muda aku suruh kau ikuti aku pergi dari sini, berarti kau harus ikuti diriku mengerti?” bentak Lan Sim Bu lagi.

Berubah paras muka Wi Tiong Hong setelah mendengar ucapan ini, dengan marab dia berkata: "Mengingat kau

adalah seorang tua, maka aku selalu mengalah kepadamu.

Tapi jika kau mendesak terus menerus jangan salahkan bila aku memberikan perlawanan kau tak usah salah mengira aku takut kepadamu”

“Waktu sudah tak banyak lagi, bila kau enggan pergi dari sini, terpaksa akupun akan menangkapmu dengan kekerasan"

“Jadi lotiang hendak menyerangku?" "Kau berhati hatilah!"

Mendadak dia maju kedepan sambil menyerobot, telapak tangannya langsung disodok ke muka.

Wi Tiong Hong mengetahui kalau ilmu silat yang dimiliki lawannya amat lihay. Sedari tadi dia sudah menghimpun hawa murninya sambil bersiap sedia menghadapi setiap ancaman yang tak diduga. Begitu melihat serangan tiba dia segera merasakan deruan angin serangan yang amat kuat datang.

Ia segera sadar, kalau tadi lawan masih menganggap dia sebagai putranya maka serangan yang digunakan hanya terbatas ilmu mencengkeram saja, tapi sekarang mengetahui kalau dia bukan putranya, sekarang otomatis serangan yang digunakan pun jauh lebih hebat dan dahsyat....

Tentu saja ia tak berani bertindak gegabah. Cepat-cepat telapak tangan kirinya menghadapi ancaman, sementara tangan kanannya memusnahkan tenaga serangan musuh dengan jurus Thian gwan lay im (mega datang dari luar langit). Disamping memunahkan serangan juga melancarkan serangan balasan

Lan Sim Bu mendengus dingin, telapak tangan kanannya yang melancarkan serangan tiba- tiba berubah jurus ditengah jalan dan berganti menjadi bacokan yang menyapu keluar dengan jurus “Mendorong ombak membantu gelombang”

Seguung tenaga serangan yang sangat besar menggulung datang dan mencegat jalan mundur Wi Tiong Hong lebih dulu. Kemudian tangan kirinya diputar dan menggunakan jari telunjuk dan jari tengah secepat kilat dia sodok jalan darah Hiat ki hiat dan Ciang tay hiat ditubuh lawan.

Dalam sebuah serangan, dua jurus dipergunakan bersama hingga terwujud dua aliran serangan yang tergabung menjadi satu.

Terutama sekali jurus "mendorong ombak membantu gelombang” dari tangan kanannya itu telah menyumbat jalan mundur Wi Tiong Hong kearah kiri dan belakang, sedang angin serangan jari menjojoh datang dan arah kanan. Pada hakekatnya selain menyambut ancaman dengan kekerasan, tiada jalan lain lagi baginya untuk menghindar.

Wi Tiong Hong segera menjejak sepasang kakinya keatas tanah dan melejit empat depa keangkasa untuk menghindari sapuan angin pukulan dari Lan Sim Bu. Belum lagi badannya turun kebawah, sepasang kakinya sudah melancarkan serangkaian tendangan berantai...

Pada tendangan yanq pertama dia langsung mengarah ulu hati lawan. Bersamaan waktunva dia menarik napas panjang dan menpergunakan kesempatan itu tububnya melayang kembali ka udara. Tendangan kedua pun secepat kilat dilepaskan kembali mengarah wajah lawan.

Serangkaian tendangan berantai dari anak muda itu sama sekali berada diluar dugaan Lan Sim Bu. Hal mana memaksa dia mau tak mau harus mundur dua langkah.

Mendadak ia membentak keras. Sepasang telapak tangannya diayunkan bersama-sama menyerang kemuka secara mendatar untuk menyongsong datangnya tubuh Wi

Tiong Hong yang masih berada di udara. Belum lagi serangannya tiba, angin pukulan yang kuat sudah menyesakkan napas. Gerak serangan yang digunakan Wi Tiong Hong tadi pada hakekatnya merupakan tindakan menyerempet bahaya. Selagi masih berada ditengah udara tentu saja ia tak berani menyambut ancaman musuh dengan kekerasan. Sepasang kakinya yg menendang keluar segera diputar dan berjumpalitan berapa kali diangkasa, lalu meluncur turun sejauh beberapa depa dari posisi semula.

Lan Sim Bu membentak gusar, diantara jubah birunya yang berkibar dia menyusup ke depan, sepasang lengannya dipentangkan sambil menyerang secara beruntun dia lepaskan beberapa buah serangan berantai.

Semenjak masih kecil dulu, Wi Tiong Hong hanya belajar Ji-gi Kiam Hoat dari Bu Tong Pay serta Tay Kek Kun belaka.

Inilah hasil dari tindakan pamannya Pit It Beng untuk merahasiakan identitasnya, sehingga selain sim hoat tenaga dalam sama sekali tidak mengajarkan ilmu silat lain kepadanya.

Tapi dibalik ilmu pedang Ji-gi Kiam Hoat tersebut justru terselip ketiga jurus ampuh suacunya yakni Kam Sam Ceng, sebaliknya dibalik ilmu Tay Kek Kun terselip pula ilmu Siu Lo To yang maha dahsyat.

Dengan mengandalkan kedua macam ilmu silat inilah Wi Tiong Hong berkelana dan mendapat nama, sehingga kalau dibicarakan sebetulnya hal itu diperoleh karena nasibnya yang mujur saja. Ketika melihat datangnya serangan berantai dari sepasang telapak tangan Lan Sim Bu sekarang, serta merta dia memutar sepasang tangannya dan menghadapl

ancaman lawan dengan ilmu pukulan Tay Kek Kun yang dimilikinya.

Tapi Lan Sim Bu merupakan seorang pemimpin untuk wilayah In lam, sudah barang tentu kepandaian silat yang dimilikinya bukan kemampuan sembarangan orang.

Betapa pun Wi Tiong Hong memutar tangan kiri dan kanannya untuk melindungi diri secara ketat, namun dia selalu terbentur dengan jurus jurus serangan Lan Sim Bu yang datang menggencet dari dua aliran yang terbeda.

Dalam keadaan demikian, jangan lagi melancarkan serangan balasan, bahkan untuk mempertahankan diri saja ia sudah merasa kerepotan dan terdesak hebat.

Dalam waktu singkat, kedua orang itu sudah saling bertarung sebanyak dua puluh gebrakan lebih.

Lan Sim Bu mengejek dingin, hawa nafsu

membunuhnya muncul secara tiba-tiba. Tampak gerak serangan dan jurus-jurus pukulannya berubah seratus delapan puluh derajat. Kini setiap jurus ssrangan yang dipergunakan merupakan jurus-jurus serangan yang aneh dan semuanya beraliran sesat. Diantara serangan kedua belah tangannya, yang satu menyerang muka yang lain menyerang belakang. Yang digunakan pun merupakan dua jurus yang berbeda sekalipun bareng waktunya.

Pada dasarnya Wi Tiong Hong sudah berada dalam posisi yang amat terdesak, apalagi sesudah lawaannya berganti serangan dan mendesaknya semakin gencar, sehingga didalam gelisahnya cepat-cepat dia memutar tangan kanannya untuk melindungi diri.

Ada kalanya tangan kirinya itu tak berhasil membendung jurus serangan lawan. Dalam gugup dan terdesaknya dia segera menggunakan kedua jari tangannya yg ditegakkan

bagaikan tombak untuk menangkis ancaman yang tiba dengan menggunakan jurus ilmu pedang.

Dalam bidang ilmu pedang, bukan saja ia telah berhasil menguasai ilmu Siu Lo Cap Sah secara matang. kinipun ia sudah berhasil mempelajari ilmu pedang Ban kiam kui tiong kam hoat yang dipinjamkan Ban Kiam Hweecu kepadanya.

Betul jurus-jurus serangan itu belum terlatih secara matang, namun tidak sedikit jurus serangan yang berhasil diingat olehnya. Oleh sebab itulah dalam keadaan terdesak, tanpa disadari tangan kirinya secara otomatis telah menggunakan jurus pedang tersebut untuk memunahkan ancaman lawan.

Bagi Wi Tiong Hong, mula mula gerakan tersebut digunakan secara kebetulan saja tanpa sengaja, namun setelah gerakan gerakan mana berhasil memunahkan atau mematahkan serangan musuh dia baru teringat kalau jurus serangan yang dipakai adalah jurus jurus ilmu pedang.

Padahal ketika itu dia sudah terdesak hebat dan kerepotan menghadapi serangan musuhnya dengan ilmu Tay Kek Kun.

Penemuan secara tak terduga ini sangat menggirangkan hatinya, maka tangan kanannya pun segera mengeluarkan jurus-jurus pedang dan menyerang secara hebat. Ternyata apa yang dipergunakan mendatangkan hasil yang luar biasa. Seketika itu juga semua serangan yang dilancarkan Lan Sim Bu berhasil dipunahkan semuanya.

Sesudah terbukti kalau jurus pedang pun dapat digunakan untuk menghadapi lawan, Wi Tiong Hong merasa amat gembira. Semangatnya segera bangkit kembali. Dengan tangan kiri melakukan pancingan, tangan kanannya melepaskan serangan secara bertubi-tubi.

Pada mulanya serangan pedang yang mempergunakan jari tangan ini digunakan tidak selancar menggunakan pedang sungguhan, sebab disamping harus menghadapi musuh, dia pun harus putar otak untuk memecahkan dulu perubahan setiap jurus yang dihadapinya.

Tapi setelah bertarung sekian lama, lambat laun gerak serangannya makin matang dan lancar, malahan diantara jurus jurus ilmu pedang Ji-gi Kiam Hoat dan Siu Lo Cap Sah yang dipergunakan, terselip pula jurus-jurus dari Ban Kiam Kui Tiong Kiam Hoat dari Ban Kim Hweecu.

Atas kejadian tersebut, ternyata serangan-serangan dari Lan Sim Bu ysng semula amat gencar dan dahsyat itu berhasil diatasi dengan cepat.

Bukan cuma begitu, malahan Lan Sim Bu berubah menjadi lawan latihan dalam memainkan jurus jurus serangan pedangnya. Pertarungan kembali berlangsung berapa saat lamanya, semakin bertarung Lan Sim Bu merasa semakin keheranan. Pada mulanya ia sudah melihat musuhnya sempoyongan keteter hebat, bahkan tampaknya segera akan menderita kekalahan total, tapi begitu dia mempergencar serangannya, ternyata pihak lawan malah kian lama kian bertambah mantap kedudukannya, apa yang sebetulnya telah terjadi?

Perasaan heran yang timbul dalam hatinya membuat tokoh tua ini menaruh perhatian lebih khusus. Dalam waktu singkat dia telah melihat bahwa jurus serangan dari Wi Tiong Hong itu mirip pukulan telapak tangan tapi bukan pukulan telapak tangan. Mirip ilmu jari tapi bukan ilmu jari. Deruan angin serta serangannya memekakkan telinga dan jurus- jurusnya sangat aneh.

Biarpun dia berpengalaman luas dan berpengetahuan dalam, toh tak urung dibuat kebingungan juga setelah

melihat jurus serangan pemuda tersebut. Dia tak tahu ilmu silat apakah yang digunakan lawan.

Bagi seorang jago yang sedang bertarung pikiran bercabang merupakan pantangan paling besar. Baru saja pikirannya nyeleweng, tiba tiba saja terasa segulung desingan angin jari yang amat tajam menyambar tiba.

Dalam terperanjatnya, cepat-cepat dia menggerakkan telapak tangannya untuk membendung ancaaman tersebut.

“Plaaak!”

Serangan jari tangan Wi Tiong Hong yang sedang melancarkan bacokan tahu-tahu sudah saling beradu dengan pergelangan tangan lawan yang dipakai untuk menangkis sehingga menimbulkan suara benturan amat keras.

Akibatnya secara lamat-lamat Lan Sim Bu merasakan pergelangan tangan kanannya menjadi kaku dan kesemutan. Dalam terperanjatnya, dia segera melompat kesamping untuk menghindarkan diri.

Begitu dia menghindar, Wi Tiong Hong segera memanfaatkan kesempatan yang sangat baik itu dengan sebaik-baiknya. Dia mendesak maju lebih kedepan dan secara beruntun melepaskan tiga buah bacokan kilat...

Perlu diketahui kedua belah pihak telah terlibat dalam suatu pertarungan jarak dekat yang amat mengerikan sekarang. Dibawah serangan kilat yang gencar dan dahsyat siapapun enggan memberi peluang kepada lawannya untuk memanfaatkan kesempatan. Sebab salah satu pihak kurang konsentrasi saja dapat mengakibatkan posisinya terdesak dan berada dibawah angin.

Demikian pula dengan keadaan Lan Sim Bu sekarang, karena gerakan mundurnya tadi hampir saja ia menderita kekalahan total di tangan Wi Tiong Hong.

Masih untung dia memiliki pengalaman yang sangat luas dalam menghadapi lawan. Meski menghadapi ancaman bahaya, namun tidak kalut pikirannya.

Diiringi bentakan nyaring, sepasang tangannya didorong sejajar dada ke depan dengan jurus “Kilatan Bianglala Berubah-ubah” segenap kekuatan yang dimilikinya telah dihimpun kedalam pukulan tersebut....

Serangan kali ini dilancarkan dalam keadaan marah, lagi pula disertai dengan seluruh tenaga yang dimilikinya, dalam waktu singkat angin serangan selebar empat lima depa telah menyelimuti angkasa dan menggulung ke depan Wi Tiong Hong,

Wi Tiong Hong sadar kalau tenaga dalam yang dimilikinya masih bukan tandingan lawan, tentu saja ia tak berani menyambut ancaman mana dengan keras lawan keras. Secepat kilat tubuhnya berkelit ke samping dan menghindari ancaman yang datang dari muka.

Namun tenaga serangan kedua belah pihak sama-sama dilancarkan dengan kecepatan bagaikan kilat. Biarpun Wi Tiong Hong berhasil menghindari serangan yang datang dari depan, toh tak sempat menarik kembaii jurus serangannya.

Lengannya yang masih melakukan serangan itu dengan cepat menyentuh sisi pukulan dari Lan Sim Bu yang sedang menggulung datang itu.

Terasa segulung tenaga serangan yang sangat kuat melintas lewat dari sisi tubuhnya. Akibatnya tubuh Wi

Tiong Hong kena tergetar sampai berputar mundur dua langkah dengan sempoyongan.

Pada saat inilah Lan Sim Bu telah menggerakkam tubuhnya dan mendesak berhadapan Wi Tiong bong, dimana ia berdiri tegak tak berkutik.

Menanti Wi Tiong Hong bermaksud mundur lagi, keadaan sudah terlambat, terpaksa dia pun ikut berdiri tak bergerak dan mengawasi lawannya sambil bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi.

Kedua belah pihak berdiri saling bardekatan dengan sepasang mata saling menatap, siapapun tak ada yang bersuara.

Lewat berapa saat kemudian, Lan Sim Bu baru manggut-manggut segera barkata: "Kepandaian silat yang kau miliki memang sangat hebat, tak heran kalau kau bersikap begitu jumawa” “Kapan sih aku menunjukkan sikap jumawa?” tanya Wi Tiong Hong dengan cepat.

“Kau mampu bertarung sampai lima puluh gebrakan lewat melawan aku, ini berarti kedudukanmu dalam dunia persilatan boleh dibilang menempati posisi jago kelas satu, tapi entah bagaimanakah kemampuanmu dalam soal ilmu beracun?”

Wi Tiong Hong merasa terkesiap, dia tahu Lan Sim Bu memang termashur di wilayah In Lam karena kelihayannya dalam soal racun. Nyatanya setelah gagal meraih keuntungan lewat ilmu silat, orang itu hendak mencari kemenangan dengan mengandalkan ilmu beracunnya.

Maka sambil mendongakkan kepalanya dia segera bertanya: “Kau hendak mempergunakan racun?"

“Betul" sahut Lan Sim Bu sambil mengelus jengeotnya dan menyahut angkuh, “keluarga Lan dari In Lam memang termashur karena racunnya. Aku yakin berita ini pernah kau dengar bukan?"

“Bila kau mengandalkan ilmu silat untuk meraih kemenangan, maka kendatipun aku harus kalah, aku akan kalah dengan perasaan puas dan takluk, tapi bila mengandaikan racun...”

Tidak sampai pemuda itu menyelesaikan perkataannya Lan Sim Bu telah menukas dengan ketus: "Selama seratus tahun belakangan ini keluarga Lan dari In Lam menjadi termashur karena racunnya. Sekalipun aku akan pergunakan racun untuk menghadapimu, orang persilatan tak akan menyalahkan tindakanku ini. Cuma saja aku memang aku tak pernah menyerang orang dengan racun secara diam-diam dan membokong”

"Lantas kau hendak menggunakan dengan cara begaimana?”

“Dalam sekali ayunan tanganku nanti, andaikata kau sanggup menghindarkan diri dan tidak sampai terpengaruh oleh hawa racun maka setelah kegagalan tersebut aku pasti akan angkat kaki dari sini"

Mendengar perkataan itu, Wi Tiong Hong segera berpikir: "Kalau toh kau sudah menerangkan terlebih dahulu, berarti cukup waktu bagiku untuk melakukan persiapan untuk menghindari serangan racunmu itu rasanya bukan suatu pekerjaan yang menyulitkan"

Berpikir demikian dia pun manggut-manggut: "Baik, aku bersedia untuk mencoba" "Bagus sekali. kau mesti berhati-hati!” jengek Lan Sim Bu sambil tertawa seram.

Begitu selesai berkata ujung bajunya segera dikebaskan kedepan dan menyerang wajah Wi Tiong Hong.

Berhubung pihak lawan sudah memberitahu lebih dulu kalau dia akan menggunakan racun, maka semenjak tadi Wi Tiong Hong telah menutup pernapasannya. Tatkala Lan Sim Bu mengebaskan ujung bajunya tadi, dengan cepat dia menggerakkan pula tubuhnya serta menyelinap kesamping untuk menghindarkan diri. Gerakan yang dilakukan dengan persiapan yang amat matang ini boleh dibilang dilakukan dengan kecepatan luar biasa. Dalam sekali lompatan saja ia sudah berada satu kaki lebih dari posisi semula. Siapa tahu ketika sepasang kakinya mencapai tanah, tiba-tiba saja kepalanya terasa pusing dan pandangan matanya menjadi gelap, tubuhnya menjadi gontai sehingga nyaris roboh. Dalam keadaan begini, cepat cepat dia menghimpun tenaga dalamnya dan mencoba untuk bergeser berapa langkah lagi kedepan. Namun dia toh tak sanggup juga untuk menahan diri sehingga badannya menjadi terhuyung-huyung.

Baru sekarang dia sadar, rupanya disaat pihak lawan mengajaknya berbicara tadi, sebetulnya ia sudah turun tangan. Adapun apa yang dikatakan tak pernah menyerang secara gelap tak lebih untuk untuk menyenangkan hatinya saja sambil menunggu bekerjanya racun tersebut Kontan saja amarahnya berkobar didalam dada. Sambil msndongakkan kepalanya dia membentak: "Tua bangka celaka..."

Dalam pada itu Lan Sim Bu telah menyusul

kehadapannya dan melancarkan totokan. Desingan angin tajam membuat dua buah jalan darah penting ditubuh Wi Tiong Hong tertotok.

“Bagaimana?" jengeknya kemudian sambil tertawa seram, "kau tak mampu untuk menghindarinya kan?"

Selesai berkata dia lantas mengempit tubuh Wi Tiong Hong dan beranjak pergi dari situ dengan cepat?

oooOdwOooo

SEMENTARA ITU cahaya lentera masih menerangi ruang tengah istana racun. Waktu itu ada lima orang sedang duduk-duduk sambil minum arak.

Mereka adalah Kim Liu Cu yang menyaru sebagai Lan Sim Bu, ketua pelindung hukum Selat Pasir Beracun Tiong Cay Thian, wakil ketua pelindung hukum Siang Bu Ciu, serigala kuning cakar beracun Sia It Hong serta seorang pendeta asing berjubah merah yang bernama Ci kong siancu.

Tengah hari tadi, Tok seh siansu sendiri telah menyelenggarakan perjamuan di ruang tengah istana racun untuk menyambut kedatangan Lan Sim Bu serta menyambut kesediaannya untuk bekerja sama dengan Selat Tok Sia, tentu saja upacara dilakukan secara ramai.

Seusai penjamuan, Kam Liu Cu telah turun tangan menulis surat sendiri untuk ketua Lam hay bun So Siu Jin.

Isi surat tersebut menjelaskan kalau dia telah bergabung dengan pihak Tok Seh Sia serta menyampaikan harapan dari Tok Seh Siancu untuk menerima pennggabungan dari pihak Lam hay bun.

Selain daripada itu diterangkan juga keponakannya So Siou Hui klni berada di Tok Seh Sia dengan memperoleh pelayanan yang baik dari Siancu. Melalui surat itu ditulis dengan kata kata yang luwes dan sangat menarik.

Sudah tentu Liong Cay Thian percaya seratus persen.

Selesai membaca surat tersebut dia menjadi kegirangan setengah mati. Segera diutusnya seorang anggotanya yaig dipercaya untuk membawa surat itu berangkat ke Lam hay Kam Liu Cu yang menyaksikan semuanya itu diam-diam merasa geli, pikirnya: "Hemm. sebelum

surat itu tiba di Lam hay, aku sudah angkat kaki dari tempat ini. Perduli amat bagaimana akhirnya persoalan tersebut"

Perjamuan yang diselenggarakan malam ini merupakan perjamuan yang diselenggarakan Liong Cay Thian untuk menghormatinya. Berhubung Tok Seh Siancu tidak hadir disitu, maka perjamuannya bisa dilangsungkan lebih santai dan terbuka.

Semua yang hadir dalam perjamuan saat ini merupakan orang orang dengan takaran minum arak yang besar ditambah pula Kam Liu Cu bermaksud untuk menahan mereka di situ agar Wi Tiong Hong punya kesempatan untuk melacak jejak ayahnya. Karena itu setiap kali ada kesempatan dia selalu mengangkat cawannya mengajaknya mereka untuk minum.

Perjamuan tersebut berlangsung sampai waktu kentongan kedua, namun masih berjalan amat ramai.

Pada saat itulah, tiba tiba dari depan ruangan muncul seorang gadis bertubuh ramping yg mengenakan baju berwarna merah keperak-perakan. Begitu munculkan diri ia segera berseru: ”Ayah. ”

Liong Cay Thian meletakkan kembali cawan araknya, lalu menegur dengan kening berkerut: "Anak Hiang, mengapa kau belum tidur juga sampai semalam ini? Ada urusan apa kau datang kemari?"

Liong Hiang Kun memandang sekejap sekeliling tempat itu, lalu dengan wajah memerah ujarnya: "Siauli sedang mencari Wi sauhiap. Apakah dia berada disini?"

"Bisa celaka..." pikir Kam Liu Cu diam-diam dengan perasaan terkejut.

Cepat cepat dia memperhatikaa Liong Hiang Kun sekejap, kemudian sambil tertawa tergelak tegurnya:

“Saudara Liong apakah dia adalah putrimu?”

Suatu pertanyaan yang tepat sekali, karena menghadapi pertanyaan itu terpaksa Liong Cay Thian mengurungkan niatnya untuk menanyakan masalah Wi Tiong Hong.

Sambil tertawa sahutnya kemudian: “Ya benar dia adalah putriku”

Lalu kepada Liong Hiang Kun katanya pula: "Anak Hiang, dia adalah Lan pekhu mu yang termashur namanya diwilayah In Lam, ayoh cepat memberi hormat!"

Sementara itu Kam Liu Cu tertawa dingin dalam hati kecilnya. pikirnya kemudian: “Huuuh... tengah hari tadi kau berlagak menyebut saudara denganku, malamnya kau suruh memanggil empek kepadaku!”

Sementara dia masih berpikir, Liong Hiang Kun telah memberi hormat sambil berkata: “Empek Lan, keponakan perempuan memberi hormat untukmu”

Cepat-cepat Kam Liu Cu menghalanginya dan tertawa terbahak bahak: “Haa... haa... haa...

keponakan perempuan tak usah banyak adat. Saudara Liong, kau memang hoki sekali mempunyai seorang anak perempuan yang begitu cantik dan menarik”

“Saudara Lan terlalu memuji” Liong Cay Thian segera berseru, "justru putramu yang ganteng dan gagah luar biasa. Hoki saudara Lan berapa kali lipat lebih bagus dariku!”

Apa yang diucapkan olehnya memang merupakan ucapan sebetulnya, sebab dia memang berniat menjodohkan putrinya kepada Lan Kun Pit bahkan persoalan itupun telah disinggung secara sekilas pandang pada tengah hari tadi.

Sudah barang tentu Siang Bu Ciu rnemahami maksud hati lotoanya itu. Sambil teetawa terbahak-bahak katanya pula. "Putra putri saudara Lan dan saudara Liong benar-benar merupakan sepasang sejoli yang serasi. Bagi kami orang-orang yang tanpa keluarga, kejadian semacam inilah sangat kami kagumi"

Ci kong siancu mengangkat cawannya dan meneguk habis isinya, lalu berkata pula: “Bila suatu ketika kalian berdua akan besanan, jangan lupa untuk menghadiahi arak kegirangan untukku”

Merah jengah selembar wajah Liong Hiang Kun setelah mendengar perkataan ini, sambsi mendepak depakkan kakinya berulang kali ke atas tanah, serunya dengan gelisah:

“Ayah...”

Liong Cay Thian memandang putrinya sekejab, lalu katanya sambil tertawa. “Waktu sudah malam, masuklah dan tidur"

“Ayah, barusan siauli pergi mencari Wi Siauhiap, tadi dia... dia tidak ada diruangan...”

Sore tadi, Kam Liu Cu telah melakukan pembicaraan empat mata yang cukup lama dengan Liong Cay Thian. Dia sudah mengetahui soal penyamaran Lan Kan Pit sebagai Wi Tiong Hong. Diapun tahu kalau orang orang Tok Seh Sia selain Siang Bu Ciu dan Siu It Liong berdua, termasuk

putrinyapun tidak mengetahui duduk persoalan yang sebenarnya. Oleh sebab itu dalam anggapan Liong Hiang, Lan Kun pit tak lain adalah Wi Tiong Hong. Tentu saja siapapun tak mengira kalau Lan Kun pit telah ditukar pula sehingga Wi Tiong Hong yang sekarang adalah Wi Tiong Hong yang asli.

Oleh sebab itulah Kam Liu Cu tahu kalau ketidak hadiran Wi Tiong Hong didalam ruangan tentu sedang pergi menyelidiki jejak ayahnya. Bisa dibayangkan betapa gelisahnya dia waktu itu.

Sebaliknya Liong Cay Thian berpendapat kalau Lam Kun Pit tak bakal melarikan diri sebab telab dicekoki obat pembingung pikiran. Maka dia segera tertawa hambar setelah mendengar perkataan itu, katanya. “Mungkin Wi sauhiap menganggap cuaca pada malam ini amat cerah sehingga ia berjalan-jalan diluar. Tak bakal ada kejadian apapun. ”

"Tidak mungkin. Siauli telah melakukan pemeriksaan dengan seksama disekeliling tempat itu setelah tidak menemukan dia berada dalam ruangan, alhasil. ?“

-ooo0dw0ooo-