-->

Persekutuan Pedang Sakti Jilid 10

Jilid 10

PADA WAKTU ITU ADA BEBERAPA orang jago

lihay dari golongan putih yang berhasil mencapai bukit Kou Lou san, tapi konon mereka tak berhasil menemukan Kou Lou tok kun, entah lewat berapa saat kemudian, beberapa orang itu ditemukan tewas akibat keracunan.

"Tentu saja mereka tewas karena racun keji yang rupanya secara diam diam disebarkan ketubuh mereka oleh Kou lou tok kun, akibatnya semenjak saat itu tiada orang lagi yang berani pergi ke Kou lou san untuk mencari gara gara.

"Kalau begitu Kiu tek kaucu bisa jadi merupakan anak murid Kou lou tok kun dimasa lampau, perubahan watak yang ditunjukkan Ting toako pun bisa jadi ada hubungannya dengan orang itu"

Tam See hoa mengangguk "Yaa, aku curiga kesemuanya ini merupakan hasil permainan busuknya,"

Wi Tiong hong termenung sejenak. lalu ujarnya lagi:

"Entah Lou bun si tersebut dapat dipakai untuk memunahkan racun didalam tubuh Ting toako atau tidak."

"Jika dugaanku tak keliru, mungkin Lou bun si tersebut sudah terjatuh ketangan Kiu tok kaucu sekarang!"

Mendadak Wi Tiorg hong teringat kembali dengan perintah Kiu tok kaucu kepada Lan Pit kun untuk turun tangan terhadap So Siau hui dan mencoba untuk mendapatkan pil Pit tok kim wan diam dian pikirnya kemudian:

"Jangan jangan pil Pit tok kim wan merupakan satu satunya obat penawar yang dapat memunahkan racun jahat ramuannya. Aku masih berhutang budi pada So Siau hui, aku tak bisa berpeluk tangan belaka membiarkan ia terjatuh ketangan orang jahat."

"Aku harus berusaha keras untuk menemukan so Siau hui agar dia tahu keadaan yang sebenarnya, disamping itu akupun bisa minta sebutir pil Pit tok kim wan kepadanya untuk menawarkan racun yang mengeram ditubuh Ting toako. bukankah tindakan ini berarti sekali tepuk mendapat dua lalat."

Berpikir sampai disitu, tanpa terasa berkilat sepasang matanya, buru buru katanya kemudian:

"Saudara Tam, satu satunya jalan yang bisa kita tempuh sekarang adalah menemukan nona So dari Lam hay bun, bisa jadi adalah satu satunya orang yang dapat menawarkan racun dalam tubuh Ting toako"

"Tapi dimanakah nona So saat ini?"

"Entahlah. tapi bisa jadi dia masih berada diseputar wilayah Kanglam"

"Asal nona So masih tetap diwilayah Kanglam kita pasti akan berhasil untuk menemukannya"

Wi Tiong hong masih ingat, sewaktu berpisah dengan So Siau hui waktu itu, perpisahan diseputar kota Hu yang, padahal wilayah Kang say dengan Kwi tang sangat berdekatan. bila ia belum pulang ke Selatan maka bila ingin menemukannya, mereka harus bergerak menuju kewilayah Kang say, siapa tahu bisa bertemu dengannya ditengah jalan.

Maka setelah dia menyampaikan jalan pemikirannya itu kepada Tam See boa berangkatlah kedua orang itu menelusuri bukit Hway giok san memasuki propinsi Cisay dan menuju ke Kang say dari situ mereka bergerak terus menuju ke selatan,

Pada sore hari ke tiga.

Sementara kedua orang itu masih menempuh perjalanan, tiba tiba Wi Tiong hong berseru tertahan:

"Aaah, ada yang tak beres!"

Tam See boa segera menghentikan langkahnya setelah mendengar perkataan tersebut, tanyanya:

"Wi tayhiap, apakah kau telah menemukan sesuatu ?"

"Saudara Tam, mari kita mencari suatu tempat untuk beristirahat sebentar"

Tam see hoa tahu kalau Wi Tiong hong memiliki kepandaian silat yang jauh diatas kemampuannya, bila secara tiba tiba ia mengusulkan untuk beritirahat, berarti ada sesuatu alasan tertentu, karenanya diapun mengangkat kepala untuk memperhatikan sekejap sekeliling tempat ini.

Tak jauh didepan sana merupakan sebuah hutan yang bersambungan dengan kaki bukit, ia pun berpaling seraya berseru:

"Mari kita beristirahat didalam hutan sebelah depan sana."

Belum selesai dia berkata, pada saat sedang berpaling itulah mendadak dilibatnya bibir Wi Tiong hong telah menghitam, tubuhnya gontai dan kehilangan keseimbangan tubuhnya, kejadian ini membuatnya amat terkejut, serunya tak terasa : "Wi tayhiap kenapa kau?"

Dengan gugup dia mencoba untuk memegang

pergelangan Wi Tiong hong, terasa olehnya tubuh anak muda tersebut gemetar keras, tangannya turut menjadi dingin, hal ini membuat hatinya merasa semakin terkesiap.

Dengan gigi saling beradu karena kedinginan Wi Tiong hong seperti lagi berusaha mempertahankan diri, katanya tiba tiba agak tergagap.

"Saudara Tam... oooh, di. dingin sekali."

Tam See hoa tahu, bagi seorang dengan tenaga dalam yang amat sempurna dihari hari biasa tidak pernah akan merasakan kedinginan, tapi keadaan Wi Tiong hong yang kedinginan sekarang menunjukkan ada sesuatu yang tidak beres.

Cepat-cepat dia melepaskan pakaiannya dan

diselimutkan ke atas tubuh Wi Tiong hong, kemudian ujarnya:

"Saudara Wi, biar kubimbing kau menuju kebawah hutan sana, disitu duduklah bersemedhi sebentar, mungkin Wi tayhiap sudah masuk angin karena menempuh

perjalanan jauh, siapa tahu dengan mengatur napas maka kau akan sembuh kembali?"

Wi Tiong hong merasakan hawa dingin Vang menyerang tubuhnya saat itu sudah mencapai tingkatan yang tak tertahankan lagi ia merasa darah yang mengalir didalam tubuhnya seolaa olah hampir saja membeku. keadaan seperti ini hakekatnya tidak berubah seperti keadaan tiga hari berselang disaat ia terkena racun hawa dingin yang dipancarkan dari senjata penggaris kemala Kiu tok kaucu.

Dengan cepat ia sadar kembali, rupanya Hwee tok kim wan yang dipaksakan kepada Kiu tok kaucu untuk menyerahkan kepadanya itu memiliki kadar obat yang tidak cukup, meski saat itu sudah sembuh kembali, padahal racun hawa dinginnya masih tersisa didalam tubuh, dengan demikian setiap saat racun itu dapat kambuh kembali.

Teringat sampai disini, dia ingin mengutarakan jalan pemikiran tersebut kepada. Tam See hoa tapi hawa dingin sudah menyusup keluar dari seluruh tulang telulangnya sihingga lidahpun turut menjadi kaku dan membeku, biarpun dia sudah membuka mulut, akan tetapi tak sepatah katapun yang dapat diutarakan

Tam See boa sendiripun dapat merasakan bahwa dalam waktu yang amat singkat itu tubuh Wi Tiong hong makin lama semakin dingin sampai berbicarapun tak mampu lagi kejadian tersebut membuatnya terkesiap bercampur gelisah Dengan membopong tubih anak muda itu dia lari menuju kedalam hutan, ketika sudab dibaringkan dan diperiksa keadaannya. ternyata selain dadanya masih terasa hangat, hampir seluruh tubuhnya sudah menjadi kaku dan dingin.

Tak ampun lagi Tam See boa, sijago kawakan yang sudah berpengalaman luas ini dibikin kelabakan dan kalang kabut sendiri.

Untuk sesaat keningnya berkerut kencang, sambil termangu mangu gumamnya seorang diri: "heran sebenarnya penyakit apa yang menimpa dirinya. Kenapa bisa demikian hebatnya?" 000OdwO000

MALAM sudah kelam, rembulan masih bersinar terang ditengah angkasa,

Dalam kesunyian yang mencekam sebuah hutan, tampak sesosok bayangan tubuh yang ramping sedang berjalan menelusuri remang remangnya cuaca,

Dia adalah seorang gadis baju hijau yang berambut sepanjang bahu, gadis itu berjalan dengan kepala tertunduk berjalan sangat lamban, kemudian ia membenahi rambutnya yang kusut terhembus angin dan mengangkat kepalanya sambil menghela napas

Helaan napas itu penuh dengan kemurungan ssrta kemasgulan seolah olah dalam hati kecilnya tersembunyi suatu peristiwa yang tidak menggembirakan hatinya Mengiringi suara helaan napasnya yang sedih, gadis itupun bergumam lirih

Meski suaranya lirih laguannya mengenaskan hati, tiba tiba dua baris air mata jatuh bercucuran membasahi pipinya Pada saat itulah entah sedari kapan, di belakang gadis berbaju hijau itu telah bertambah dengan seorang kakek berbaju coklat, dengan suaranya yang lirih ia berbisik.

"Nona, rnengapa kau mesti begitu7"

Mendadak nona berbaju hijau itu merasa terkejut dan buru-buru menyeka air mata yang membasahi pipinya kemudian sambil membalikan badan. katanya sambil tertawa:

"Empek Oh hampir saja kau membuat aku terperanjat!"

Biarpun sekulum senyuman menghiasi ujung bibirnya, namun senyuman itu kelihatan dipaksakan.

Kakek berbaju coklat itu menghela napas panjang, katanya lagi: "Nona, waktu sudah siang, kau sudah seharusnya pergi beristirahat."

"Tidak, aku tak bisa tidur" sahut nona berbaju hijau itu sambil menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Kesehatan badanmu semakin lemah, lagi pula kabut malam sudah turun, lebih baik pulanglah untuk tidur Nona berbaju hijau itu tertawa sedih lalu menggelergkan kepalanya lagi.

"Aku ingin berdiri berapa saat lagi di sini empek Oh. kau pergilah tidur dulu. Nona ketika kau hendak berpesiar ke Kanglam, justru lantaran merasa kuatir maka majikan tua menitahkan kepada hamba untuk turut serta, jika nona sampai masuk angin sekarang, bagaimanakah

pertanggungan jawabku terhadap majikan tua nanti?" Tiba tiba nona berbaju hijau itu mendengus dingin.

"Hmm, kapan sih ayah menyayangiku? Seandainya dia sayang kepadaku, tak mungkin, tak mungkin ia akan memaksaku.. " Kakek itu segera tertawa paksa.

"Bukan budak banyak bicara, padahal Kongcu dari keluarga Lan itu memang cukup baik, ilmu silat maupun wajahnya bagus, aku rasa memang cocok."

"Sudah, tak usah dibicarakan lagi" tukss nona berbaju hijau itu sambil menarik muka, kemudian sambil membalikan badan dia melanjutKan dengan dingin, "Hmm, aku tak mau mendengarkan perkataanmu lagi, ayah sudah mendesakku, sekarang kaupun hendak mendesakku pula"

Ucapan mana membuat sikakek menjadi tertegun

"Budak tak berani banyak bicara, cuma nona pun tak boleh banyak melamun" Lalu sambil garuk garuk kepala terusnya.

"Pandangan nona memang tak salah cuma orang she Wi itu"

Tidak sampai perkataan itu selesai diucapkan mendadak nona berbaju hijau itu membalikan badan dan berseru dengan gelisah:

"Empek Oh, kau tak usah berbicara lagi"

"Baiklah, aku tidak akan berbicara lagi" kata sikakek kemudian sambil menengok kearahnya

"aaai ...budak selalu merasa bahwa nona terlalu romantis"

Mendadak paras muka sinona baju hijau yang cantik nampak amat murung, samentara dua baris airmata jatuh bercucuran dari matanya.

Dalam keadaan begini tiba tiba berkilat sepasang maia kakek berbaju coklat itu. kemudian sambil berpaling kearah hutan, bentaknya keras keras:

"Siapa disitu?"

Tapi dalam hutan tidak nampak seorang manusia pun. bahkan sedikit suarapun tidak kedengaran.

Nona berbaju hijau itu membelalakan matanya lebar lebar, kemudian tanyanya: "Empek Oh, apakafa kau mendengar didalam hutan ada orang"

Kakek berbaju coklat itu mendengus dingin sepasang bahunya sedikit bergerak, sesosok bayangan manusia dengan kecepatan melebihi samburan petir telah menubruk kedalam hutan itu,

Pelan pelan nona berbaju hijau itu mendongakkan kepalanya, kemudian sambil mengawasi bayangan punggung sikakek yang menjauh, diam diam pikirnya dihati-

"Sampai kapan aku baru dapat memiliki kepandaian seperti yang dimiliki empek Oh Sekarang ?"

Sementara dia masih termenung, mendadak ia mendengar empek Oh nya sedang berseru tertahan lalu berteriak dengan kaget: "Mungkinkah wi siangkong?"

Tatkala kata wi siangkong menyusup kedalam

pendengaran nona berbaju hijau itu ia merasa nama tersebut kedengaran jauh lebih jelas daripada suara apapun.

Bergetar keras perasaan harinya, tak kuasa lagi ia lantas bertanya dengan gelisah "Empek Oh, siapa yang kau maksudkan?"

Angin lembut berhembus lewat, tahu-tahu kakek berbaju coklat itu sudah melayang datang sambil membopong seseorang begitu melayang turun kehadapan nona tersebut segera serunya

:

"Wi siangkong telah dicelakai orang. mari kita pulang dulu sebelum membicarakan soal lain."

Gadis berbaju hijau itu amat emosi, sekujur badannya sampai gemetar keras, serunya lagi terkejut:

"Mungkinkah dia?"

Kakek berbaju coklat itu manggut manggut kemudian sambil membopong orang tadi ia berjalan menelusuri hutan.

"Parahkah luka yang dideritanya?" kembali nona berbaju hijau itu bertanya.

"Tampaknya dia seperti keracunan" sahut si kakek sambil meneruskan langkahnya kedepan.

"Keracunan? kalau begitu pasti perbuatan dari orang orang Tok seh Sia hmmm! Manusia manusia itu memang pantas dibunuh."

Akhirnya tiba juga mereka ditempat tujuan. tempat tersebut adalah sebuah bangunan kuil yang amat besar, dengan membopong orang tadi, kakek berbaju coklat tersebut segera melompati pagar pekarangan dan menuju ke gedung sebelah barat.

Si nona berbaju hijau itu mengikuti pula dibelakangnya agaknya mereka memang berdiam di dalam kuil tersebut.

Gedung sebelah barat merupakan sebuah bangunan gedung yang berdiri sendiri, semua perabot disitu amat mewah, agaknya ruangan ini memang khusus disediakan bagi para tamu agung yang sedang bersembahyang disana.

Saat itu, suasana didalam kamar terang benderang bermandikan cahaya lentera.

Diatas pembaringan dekat dinding, berbaring tenang seorang pemuda tampan berbaju hijau, orang ini berwajah

cakap hanya sayang paras mukanya telah berubah menjadi hijau sehingga tak nampak setitik cahaya darah pun. Di depan pembaringan berdiri dua orang seorang kakek berbaju coklat dan seorang lagi nona berbaju hijau Sepasang tangan kakek berbaju coklat itu sedang menguruti seluruh badan sang pemuda dengan pelan tapi penuh tenaga.

Sebaliknya si nona berbaju hijau itu mengawasi wajah sang pemuda yang tampan dengan sinar mata penuh rasa kuatir

Selang beberapa saat kemudian, tak tahan lagi nona berbaju hijau itu bertanya

"Empek Oh, dia kan sudah kita beri pil pit tok kim wan kita seharusnya racun yang lebih hebat pun sudah terpunahkan. kenapa dia masih belum juga sadar?"

Sambil menghentikan gerakan tangannya, kakek berbaju coklat itu menjawab:

"Aku telah menguruti semua jalan darahnya, dan kurasakan bahwa isi perutnya sama sekali tidak memperlihatkan gejala terluka mungkin saja dikarenakan keracunan sudah kelewat lama..."

"Empek Oh, masa kau lupa Pit tok kim wan kita merupakan obat yang amat manjur, asal masih bernapas.

begitu obatnya masuk ke perut, semua racun pun akan punah jika hanya keracunan saja tanpa berluka, mana mungkin. "

Belum lagi ucapan tersebut selesai di utarakan. tiba tiba pemuda berbaju hijau yang sedang berbaring diatas pembaringan itu sudah mulai menggerakkan badannya sambil menghembuskan napas panjang.

Bersemu merah selembar wajah gadis berbaju hijau itu, sekulum senyuman segera menghiasi wajahnya, serunya pelan:

"Wi sauhiap." Agaknya pemuda berbaju hijau itu mendengar suara panggilan tersebut, sepasang biji matanya segera bergerak dan pelan pelan membuka matanya kembali namun setelah melihat si nona baju hijau yang berdiri didepan pembaringannya. ia jadi tertegun 

"Kau." serunya tertahan Tidak sampai pemuda itu menyelesaikan perkataannya nona berbaju hijau itu telah menukas sambil tersenyum

"Kau telah sadar ?"

"Kau adalah nona So?" seru pemuda berbaju hijau itu lagi sambil menatap si nona lekat lekat.

Di tatap sedemikian rupa, merah jengah selembar wajah nona berbaju hijau itu, ia menyahut

"Ehmm... memang aku, kenapa ? Sudah tidak mengenal diriku lagi. ?"

Pemuda itu segera mengalihkan sorot matanya dan mempeihatikan sekejap sekeliling tempat itu, lalu baru bertanya :

“Dimanakah aku sekarang? Kenapa bisa sampai disini?

Nona berbaju hijau itu segera tersenyum sehingga kelihatan dua baris giginya yang putih bersih, sahutnya: "Kau jangan bertanya dulu, aku hendak bertanya kepadamu, siapa sih yang telah mencelakaimu?"

"Dicelakai orang?"

Pemuda berbaju hijau itu segera melompat bangun, kemudian dengan mata terbelalak serunya :

"Aaaah, tidak Aku sudah dicelakai siapa?"

"Coba lihat, sudah diracuni orang masih tidak tahu, mendingan kalau tidak tahu racun apa yang mengeram dalam tubuhmu masa siapa yang meracuni pun tidak diketahui" seru si nona berbaju hijau itu sambil tertawa.

"Jika aku memang sudah keracunan sudah pasti nonalah yang telah menolongku"

Nona berbaju hijau itu melirik sekejap kearah sikakek berbaju coklat yang berdiri disampingnya, lalu sahutnya sambil tersenyum manis:

"Oooh bukan aku, empek Oh, yang menemukan dirimu"

Sebenarnya pemuda berbaju hijau itu sama sekali tidak memandang sekejap pun kearah sikakek berbaju coklat itu, setelah mendengar perkataan tadi dia baru berpaling dan menjura:

"Terima kasih banyak atas bantuan kau orang tua aku..."

"Wi siangkon tidak usah sungkan sungkan" tukas kakek berbaju coklat itu sebelum ucapan pemuda tadi diselesaikan,

"racun keji yang mengeram didalam tubuhmu baru saja dipunahkan. tidak baik dipaksa untuk banyak berbicara.

lebih baik beristirahat sejenak"

Pemuda berbaju hijau itu segera menggeleng gelengkan anggota badannya, kemudian berseru:

"Sekarang, aku sudah merasa sembuh kembali"

"Yaa benar! Lebih baik kau segera berbaring dulu barusan andaikata empek Oh tidak meuggunakan tenaga dalamnya untuk membantumu tak nanti kau akan sembuh secepat ini"

Tiba tiba sikakek berbaju coklat itu berpaling kearah nona berbaju hijau itu, kemudian serunya:

"Aku pikir Wi sauhiap tentu sudah merasa lapar, biar budak siapkan bubur untuknya" "Tak usah merepotkan kau orang tua aku tidak lapar kok" sahut sang pemuda cepat.

000OdwO000 KEMBALI kakek berbaju coklat itu tertawa

"Orang yang baru sembuh dari luka beracun, seringkali perutnya mudah lapar, bubur paling baik untuk mengisi perut, aku yakin kau pasti ingin makan"

Selesai berkata, dia iantas membalikkan badan dan beranjak pergi dari situ

si nona berbaju hijau itu mengerti apa yang menjadi tujuan utama pembantu tuanya itu, sudah jelas empek Oh hanya beralasan demikian agar dia mempunyai kesempatan yang lebih banyak untuk berbincang bincang dengan si anak muda tersebut,

Tak terasa pipinya berubah menjadi merah, denyut jantungnya semakin cepat di samping girang dia pun merasa malu.

Tak usah diterangkan pun rasanya para pembaca dapat emnduga sendiri nona berbaju hijau itu adalah So Siau hui dari Lam hay bun, sedangkan pemuda berbaju hijau itu adalah Wi Tiong hong, pemuda yang diidam idamkan olehnya.

Sepeninggal empek Oh, So Siau hui dengan wajah memerah membungkam diri dalam seribu bahasa.

Sedangkan Wi Tiong hong nampak menundukkan kepalanya, kemudian secara tiba tiba menjerit kaget. "Eeh, kenapa kau?" So Siau hui segera menegur.

Bira buru Wi Tiong hong merogoh kedalam sakunya. kamudian dengan wajah cemas bercampur gusar serunya:

"Bajingan keparat..."

Kaiau dilihat dari sikapnya ini. agaknya anak muda tersebut sepsrti telah kehilangan sesuatu benda-

"Apakah sewakiu kau jatub pingsan tadi, ada orang telah mcncuri barangmu?" tanya So Siau hui kemudian.

Berkilat sinar bengis dari balik mata Wi Tiong hong, serunya dengan penuh perasaan dendam.

"Manusia laknat itu benar benar keterlaluan dia bukan saja mencuri Lou bun si bahkan mutiara penolak pedang pun telah dibawa kabur."

(Padahal sewaktu berada diperkumpulan pena baja tempo hari, Wi Tiong hong telah mengembalikan sendiri Lou bun si tersebut kepada Ting Ci kang, tapi sekarang ia berkata begitu kepfda So Siau hui, atau mungkin pemuda ini ada suatu maksud tertentu? Untuk itu harap para Pembaca menduga sendiri.

Orang tua itu berani meracuni secara diam-diam, sudah tentu dia memang bermaksud untuk mengincar kedua mestika terserut" kata So Siau hui,

"ayo... coba kau periksa seksli lagi, coba diperiksa apakah masih ada benda lain yang hilang?"

"Benda yang berada didalam sakuku ini selain Lou bun si, hanya terdapat berapa puluh tahil perak, sedangkan mutiara penolak pedang kukenakan dijari tengah tangan yang kiri" Tampaknya pemuda ini enggan mengungkapkan soal kitab pusaka yang dipinjamkan Ban kiam hweecu kepadanya itu terhadap So siau hui, tapi apakah kitab pusaka itupun turut lenyap?

"Bagaimana dengan pedangmu? Apakah turut hilang ?" tanya So Siau hui lagi,

Wi Tiong bong mengangguk.

"Ya, betul, pedangku juga hilang dicuri"

Tampaknya dia tidak menaruh perhatian yang terlampau serius terbadap hilangnya pedang itu.

So Siau hui segera berkata.

"Bukankah pedangmu itu termasuk juga benda mestika?

Tempo hari aku mendengar dari Buyung Siu yang mengatakan bahwa pedangmu itu bernama Jit siu kiam, benda tadi termasuk salah satu diantara tiga benda mestika perguraan Siu lo ban"

"Yaa namanya memang Jit siu kiam" Wi Tiong hong membenarkan,

"biarpun bentuk luarnya berkarat, sesunggubnya senjata itu termasuk satu diantara tiga benda mestika Siu lo bun"

Dengan sorot mata yang murung dan sedih So Siau hui melirik sekejap ke arahnya. kemudian tanyanya lagi.

"Tempo hari kau bilang hendak terburu buru menemui pamanmu, sudah kau temukan?" "Ooh, aaah.”

Wi Tiong hong kelihatan agak gelagapan tapi berkilat kemudian sorot matanya, dengan cepat dia menggelengkan kepalanya berulang kali, sahutnya.

"Oooh .. be... belum kutemukan"

"Lantas selama berapa hari ini kemana saja kau pergi?" So Siau bui semakin bertanya penuh perhsdan.

"Aku dengar Ting Ci kanp. Ting toako telah pulang ke perkumpulannya, maka aku datang ke Thian bok san dan menginap berapa hari disitu"

"Dan sekarang kau bendak pergi kemana ?"

Selama ini sepasang mata Wi Tiong hong hanya mengawasi terus wajah So Siau hui tanpa herkedip, seakan akan ia berat hati untuk meninggalkan paras mukanya itu.

Ketika mendengar pcrtanyaan tadi, sambil tertawa Sahutnya. “Aku hendak mencari pamanku" So Siau hui yang ditatap seperti itu, lama kelamaan menjadi rikuh sendiri pelan pelan dia membalikan sorot matanya kearah lain lalu ujarnya sedih.

"Kau tidak menyangla kita akan bertemu disini bukan?"

Wi Tiong Hong tidak mampu menahan diri lagi. dia menggenggam tangannya dengan lembut, bisiknya lirih:

"Yaa. aku memang tidak menyangka akan berjumpa dengan kau disini, tahukah kau betapa rinduku padamu."

Ia menarik tangannya,menarik dengan tenaga, lalu menyeretnya sehingga mendekati tubuhnya.

So Siau bui segera merasakan hatinya berdebar keras pipinya berubah semakin merah tapi ia bagaikan seekor domba yang penurut, tanpa meronta bareng sedikitpun juga tubuhnya segera menjatuhkan diri kedalam pelukannya.

Sedang dari mulutnya dia hanya mengiakan lirih, begitu lirih suara tersebut seolab olah tiada suara sama sekali.

Selembar wajah Wi Tiong hong makin lama berubah semakin merah, ia menunjukkan, perasaan bangga, sedang daM balik matanya memancarkan pula sinar terang, sinar mata itu penuh dengan perasaan dengki, cemburu, kesemsem dan napsu birahi yang jahat.

"Siau hui, kau amat cantik.." gumamnya dsngan lirih.

Sambil berbisik, kepalanya makin lama semakin menunduk, lalu dia mulai mencium rambutnya, pipinya dan hidungnya dan.

Sekujur badan So Siau hui gemetar keras, dia tak tahu mesti malu atau gembira. jantungnya seakan akan hendak melompat keluar dari rongga dadanya, pelan pelan sepasang matanya dipejamkan rapat rapat.

Selembar bibir yang panas membara dan penuh bertenaga itu pelan pelan semakin bergeser, dan kini mulai mendskati selembar bibirnya yang merah membara itu.

Mendadak...

Dari luar pintu kedengaran suara langkah laki manusia yang bergerak mendekat. Bagaikan baru sadar dari impiannya, cepat cepat So Siau hui meronta bangun dari rangkulannya. merah padam selembar wajahnya, cepat cepat dia membereskan rambutnya yang kusut.

Sedangkan Wi Tiong hong segera menyumpah dihati

"Sialan kau keparat tua, cuma membikin rusak rencanaku saja."

Bsarpun begitu, diluarnya ia tetap menunjukkan sekulum senyuman yang ramah, sementara sikapnya juga dengan cepat pulih kembali seperti sedia kala.

Orang yang baru datang tak lain adalah si kakek berbaju coklat, panglima sakti berlengan emas Ou San. Dia muncul dsngan membawa semangkuk bubun panas dengan beberapa macam sayur.

Begitu muncul. katanya sambil tertawa: "Nona, apakah kau masih mengajak Wi siangkong berbincang bincang?

Luka beracun Wi siangkong baru sembuh, kau tidak seharusnya banyak berbicara dulu dengannya"

Ia memang berbicara yang sebenarnya, So Siau hui juga cukup mengerti tentang hal tersebut, Dengan wajah memerah ia hanya membungkam diri dalam seribu bahasa.

"Waah, rupanva cuma merepotkan kau orang tua saja" kata Wi Tiong hong seraya menjura.

Kakek Ou meletakkan hidangan itu keatas meja, kemudian katanya lagi sambil tertawa:

"Wi siangkong tak perlu sungkan sungkan lagi, mumpung masih panas. ayolah cepat bersantap Wi Tiong hong memang merasa perutnya lapar, maka tanpa sungkan sungkan lagi dia menghabiskan bubur tersebut.

So Siau hui yang melihat waktu sudah malam, segera katanya.

"Sekarang sudah larut malam Wi sauhiap sudah seharusny beristirahat dulu" Wi Tiong hong kembali memutar sepasang bola matanys, tiba tiba ia mengaduh. "Aduh... benar, aku jadi teringat sekarang bukankah tempat ini adalah.."

"Betul, disini memang kamar tidurku" sahut So Siau hui sambil mengangguk Wi Tiong hong menjadi gelisah serunya lagi:

"Waah, hal ini mana boleh."

"Tidak mengapa. didepan sana masih ada sebuah kamar lagi. tempat ini memangnya kamar tamu dart kuil Cing kang si, jadi pembarincan selalu tersedia, biar aku tidur di kamar depan saja"

Selesai berkata dia melemparkan sekulum senyuman kearahnya lalu bsrsama sama kakek Ou mengundurkan diri dari kamar itu dan merapatkan kembali pintunya.

Menyaksikan sampai kedua orang itu lenyap dan pandangan sakulum senyun licik mengerikan segera tersungging wajah Wi Tiong hong, ia mengawasi pintu kamar itu sambil tersenyum, kemudian sambil tetap berbaring diatas pembaringan dia - mulai memikirkan rencananya yang kedua.

Keesokan harinya, Wi Tiong hong berbaring seharian penah didalam kamar, dia bukan sedang merawat lukanya, karena luka tersebut sudah sembuh semenjak semula.

Dengan ditemani So Siau hui disisinya, dia tak pernah merasa kesepian.

Dari cerita So Siau hui, dia pun mendapat tahu kalau disini banya terdapat So Siau serta Panglima sakti berlengan emas dua orang, sedangkan para jago lihay Lam bay bun lainnya telah pulang ke markas mereka

Kenyataan tersebut membuat hatinya semakin lega. Malampun kembali menjelang tiba.

Ketika mendekati kentongan kedua, gedung barat kuil Ciug keng san telah dilipun keheningan yang luar biasa.

lampu lentera juga telah dipadamkan semua.

Tiba tiba tampak sesosok bayangan hitam muncul didepan jsndela Wi Tiong bong.

Dengan penuh kewaspadaan orang itu memasang telinga untuk memperhatikan suasana digedung bagian belakang dimana Panglima sakti berlengan emas berdiam serta gedung Sebelah kanan, dimana So Siau hui berdiam, kemudian secera tiba tiba dia mengayunkan tangan kanannya melepaskan tiga titik cahaya biru yang langsung menyambar kedalam ruangan.

Bersamaan dengan dilepaskan senjata rahasia tersebut, tubuhnya, juga turut berkelebat lewat dan lenyap dibalik kegelsm

"Tuuuk, tuuuk. tuuuk. . *

Tiga kali benturan keras bergema dalam kamar. agaknya senjata rahasia itu sudah menghajar semua diatas pembaringan.

Biarpun suaranya tidak terlalu nyaring, namun dalam keheningan malam yang mencekam, suara tersebut tidak terhitung pelan lagi.

Menyusul kemudian terdengar Wi Tiong bong

membentak keras sambil menjebol jendela, kemudian tubuhnya melompat keluar dari kamar, dan melejit keatas atap rumah dengan gerakan burung belibis membalirkan badan.

Sesaat kemndiin dari ruang sebelah kiri telah melompat keluar sesosok bayangan manusia yang ramping langsung melompat naik keatap rumah, lalu bertanya lirih:

"Apakab kau menjumpai jejak musuh?"

"Kedatanganmu, sangat kebetulan" ucap Wi Tiong hong dengan nada gelisah,

"Sewaktu naik tadi, kulihat ada dua sosok bayangan manusia yang melarikan diri secara lerpencar..."

"Kemana mereka pergi ?"

"Kau mengejar ke selatan. biar aku ke timur" sshut Wi Tiong bong sambil menuding ke depan.

So Siau bui mengangguk, dia segera melompat kedepan dan mengejar keluar kuil,

Wi Tiong bong melompat pula ke depan, dalam dua kali lompatan saja tubuhnya sudah meluncur sejauh lima enam kaki dan lenyap dibalik kegelapan sana

Pada saat itulah dari atas ruangan sebelah barat muncul pula sesosok bayangan bitam, baru tiba diatas atap. Wi Tiong hong telah berada tujuh delapan kaki jauhnya. Maka diapun memutar badan sambil menarik napas panjang dibawah sinar rembulan tampak ia meluncur kearah utara dengan kecepatan bagaikan segulung asap ringan.

Orang yang terakhir melompat naik keatas atap rumah ini adalah Panglima Sakti berlengan emas kakek Ou.

Dangan sorot mstanya yang tajan ia masih sempat mellhat setitik bayangan tubuh yang kecil mungil sedang bergerak keluar kuil.

Dia mengira So Siau hui yang melakukan pengejaran dengan memgabil arah yang sama denjan Wi Tiong hong karena itu ketika dilihataya ada sesosok bayangan hitam muncul lagi dari arah utara dan sedang melarikan diri ke belakang gunung. kakek itu menjengek dingin Sepasang lengannya segera didayung bersama. tubuhnya lantas melejit ke udara dan melakukan pengejaran kedepan,

"Sobat, lebih baik berhenti saja kau" bentaknya keras keras.

Tenaga dalam yang dimilikinya amat sempurna. apalagi malam sudah kelam. dia kuatir perbuatannya ini akan mengganggu para hwesio yang berada didalam kuil, maka disaat menerjang ke depan itulah bentakan dilontarkan.

Biarpun begitu, bentakan mana dipancarkan dengan mempergunakan tenaga dalam, maka suaranya yang memancar keluar cuma dapat didengar oleh orang yang berada di depan sana.

Tepi bayangan hitam yang berada didepan itu seolah olah tidak mendengar bentakan tersebut, seperti anak panah yang terlepas dari busurnya, dia kabur terus menuju ke utara bukit.

Bsrada dalam perguruan Lam hay bun, si panglima sakti berlengan emas termssuk jago lihay kelas satu. melihat musuhnya masih tetap kabur terus kedepan, ia menjadi naik darah, tanpa terasa bentaknya dengan marah.

"Bocah keparat, Kau anggap bisa lolos dari cengkeraman aku Ou lotoa?"

"Bila kau sampai terlepas dari cengkeramanku, percuma saja aku menjadi palima penjaga pintu langit selatan.

Dengan melesat ditengah udara bagaikan bintang di angkasa dia melucur kemuka jauh lebih Cepat lagi.

Agaknya bayangan manusia yang berada di depan sana kuatir jejak dan idetitasnya ketahuan si panglima sakti berlengan emas, ia kabur terus semakin cepat.

Bila berbicara soal ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya, dia masih kalah jauh bila dibandingkan si kakek Ou maka dengan cepat orang tadi menerobos ke dalam hutan.

Bayangan manusia itu memang cukup licik dengan suatu gerakan yang lincah dia menyusup ke balik pepohonan dan berusaha untuk menghilangkan jejak.

Terdengar hembusan angin keras melintas lewat, si kakek Ou bagaikan seekor burung elang menerjang ke depan.

Dia tak ambil peduli pantangan umat persilatan yang melarang orang mengejar kedalam, dengan sorot mata yang tajam dia menyusup pula kedalam hutan tersebut: Tapi selisih sslangkah inilah telah dimamfaatkan bayangan manusia yang berada didepan itu dengan sebaik baiknya. tahu tahu saja bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan.

Tidak. mendadadak saja dari sisi kiri lebih kurang tujuh delapan kaki dari arahnya, terdengar suara daun yang rontok.

Panglima sakti berlengan emas Ou Sian segera membentak keras: "Maknya, bocah Keparat. kau hendak kabur kemana?"

Sepasang tangannya direntangkan kedua belah sisi pohon yang besarnya semangkuk nasi ini segera terbabat sehingga patah menjadi dua bagian:

Barsamaan dengan patahnya batang pohon itu, secepat sambaran petir kakek Ou menyusup kedalam.

Tapi baru saja ia menerjang kemuka, lagi-lagi terdengar suara daun kering yang diusik orang berkamandang dari arah depan sana

Meledak hawa amarah kakek Ou dipermainkan orang seperti itu, dia mendengus marah lengan kanannya segera diayunkan ke depan dan melepaskan sebuah pukulan dahsyat kearah tiga kaki didepan sana

Serangan yang dilancarkan dalam keadaan gusar ini benar benar memiliki kekuatan yang mengerikan hati...

"Weesss!"

Segulung aagin pukulan yang sangat kuat secepat sambaran kilat segera meluncur kedepan.

Beberapa batang pohon yang tumbuh beberapa kaki didepan situ segera patah dan tertumopas keatas tanah, sementara tubuhnya meluncur kemuka semakin cepat lagi Tapi dengan roboh dan tumbangnya batang batang pepohonan tersebut, tanpa sadar justru telah membantu pihak lawan untuk menghilangkan jejaknya, memanfaatkan kesempatan tersebut orang itu segera menghilangkan jejak sendiri.

Begitulah, kedua orang itupun saling berkejaran didalam hutan seperti lagi bermain petak yang satu berusaha manyembunyikan diri sedangkan yang lain berusaha untuk mengejarnya, makin lama mereka semakin mendekati puncak bukit itu.

Suatu ketika. mendadak kakek Ou merasa bahwa didalam hutan itu seperti terdapat dua orang. karena lamat lamat ia mandengar seperti ada orang sedang membentak.

Kemudian dari suatu tempat lebih kurang berapa kaki didepan sana kedsngaran suara benturan keras dan sesaorang mendengus tertahan.

Kakek Ou yang berpendengaran tajam dapat menangkap kalau suara dengusan tertahan itu berasa! dari atas puncak bukit, maka dia juga menarik napas panjang dan melejit ke udara, laiu menembusi butan menuju keatas puncak bukit.

"BetuI juga, ketika ia mengintip dari atas ranting pohon, tampak sesosok bayangan manusia sedang menyelinap kebalik sebuab baiu besar diatas puncak bukit itu.

Menemukan kejadian ini, diam diam kakek Ou mendesis sinis, ujung kakinya segera menjejak tanah kuat kuat, tubuhnya sebal lagi melejit setinggi tiga kaki, kejadian sepasang lengannya mendayung, lengan suatu gerakan yang ringan dia menerjang ke belakang batu cadas tadi.

"Bocah keparat...." bentaknya keras. Telapak tangannya yang besar diiringi deruan angin pukulan yang amat kencang. bagaikan gulungan guntur langsung membacok ke bawah.

Ternyata orang yang berada dibelakang batu itu amat cekatan dan licik, sebelum angin pukulan dari si Panglima sakti belengan emas di lontarkan ke bawah, tubuhnya telah berguling ke arah samping, dan sekali mengguling ternyata sudah mencapai sejauh dua kaki lebih. "

"Blaaammm !"

Ditengah ledakan yang amat keras, batu beterbangan di angkasa, sebuah batu cadas tahu tahu sudah terhajar sampai hancur berantakan.......

Ketika orang itu sudah berhasil mengguling sejauh dua kaki lebih dan terhindar dari serangan kakek Ou yang maha dahsyat tersebut, tiba tiba tubuhnya melompat bangun, tidak sampai kakek Ou sempat berdiri tegak, dia telah membentak lagi

Mendadak ia mendesak kemuka, secepat kilat sebuah pukulan dilontarkan ke pinggang kakek Ou.

Tck terlukiskan amarah kakek Ou pada waktu Itu, tapi ilmu silatnya memang sangat lihay tubuhnya yang selain menerjang ke bawah itu ketika melihat serangannya

mencapai sasaran yang kosong, ia cepat bertindak untuk menghadapi segala kemungkinan yang tak diinginkan.

Benar juga, ternyata musuhnya tidak melarikan diri sebaliknya malah balas melarcarkan serangan, kejadian tersebut kontan saja mengobarkan amarahnya makin memuncak.

Belum lagi tubuhnya mencapai permukaan tanah, telapak tangan kirinya telah diputar dan didorong kedepan, segulung angin pukulan segera berbembus kemuka menyongsong datangnya serangan tersebut.

Tubuhnya dengan cepst meluncur ke bawah, setelah sepasang kakinya menginjak tanah lagi, segera bentaknya

"Bocah keparat, bagus sekali seranganmu itu. "

Orang itu sudah menerjang datang pula sambil melancarkan serangan dengan sekuat tenaga, tapi ketika berada tiga depa dari kakek Ou. tiba tiba ia menjerit kaget.

“Kakek Ou, rupanya kau"

Ternyata orang yang melancarkan serangan itu adalah Wi Tiong hong: . . Kakek Ou menjadi sangat terkesiap.

Biarpun ilmu silat yang dimtlikinya si panglima sakti berlengan emas sudah mencapai puncak kesempurnaan: dimana ilmu pukulan yang bisa dilontarkan atau ditarik kembali sekehendak hati sendiri, namun berhubung jarak diantara kedua belah pihak terlampau dekat, maka sulitlah baginya untuk menarik kembali serangan tersebut dengan begitu saja.

Tapi, apabila serangan tersebut tidak ditarik dengan segera, niscaya Wi Tiong hoog tak akan sanggup untuk menahan diri.

Pada hakekatnya semua peristiwa itu berlangsung dalam sekejap mata saja.

Kakek Ou segere menarik napas panjang, sembil bertekuk pinggang dia membalikkan tubuhnya, serangan tangan kirinya ditarik secara paksa, tapi berhubung pukulan itu sudah tak mampu dibendung lagi terpaksa dari pukulan ia rubah menjadi sapuan yaag membuat tubuh bagian kiri belakang lawan.

Kekuatan serangan yang terkandung dalam pukulan ini betul betul luar biasa. terdengar angin pukulan menderu deru. ketika menyapu diatas batu cadas itu kaki didepan sana. bagaikan dilanda sapu baja saja, segulung debu dan pasir segera beterbangan diangkasa.

Bagi kakek Ou yang bertenaga sempurna pun merasa sukar untuk menarik kembali serangannya, apalagi bagi Wi Tiong hong yang tenaga dalamnya jelas masih sangat jauh darinya, bagaimana mungkin bisa untuk menahan diri?

"Blaaamm." Tak ampun lagi serangan tersebut bersarang telak diaias bahu kanan kakek Ou

Padahal kakek Ou yang berusaha memunahkan serangan Itu, ketika mengenainya sasaran yang kosong, hal tersebut membuat tubuhnya tanpa terasa gontai kearah sebelah kiri.

Kini setelah termakan oleh pukulan Wi Tiong hong yang menghantam bahu kanannya, betul ia sudah mengerahkan hawa murninya untuk menahan serangan tersebut, toh tak kakinya mundur juga berapa langkah ke kiri dengan sempoyongan.

Pukulan yang dilontarkan oleh Wi Tiong hong tadi sudah menggunakan tenaga yang cukup kuat, tapi kakinya toh belum juga dapat menahan diri, sehingga badannya kembali menubruk kedepan.

Ditambah pula tangan kirinya melepaskan sebuah pukulan, alhasil serangan itu segera menghantam badan belakang kalek Ou lagi.

Disinilah letak keanehan, kalau hanya telapak tangan tanan yang tidak dapat ditebas serargannya, itu masih bisa diterima, tapi kalau sampai telapak tangan kiri pun tak bisa ditahan. ini baru lucu namanya.

Bstapa pun hebatnya ilmu silat yang di-miliki kakek Ou setelah tubuhnya berulang kali menerima pukulan dari Wi Tiong hong, apaiagi dalam keadaan sama sekali tak siap diterjang pula oleh Wi Tiong hong dengan pukulan tangan kiri yang kuat ia menjadi keok juga dibuatnya.

"Blaaamm !"

Panglima sakti berlengan sakti berlengan emas yang tinggi besar itu tergetar sampai mencelat ke belakang, kemudian setelah berjumpalitan heberapa kali, tubuhnya terjatuh ke dalam jurang disisi kiri puncak bukit itu.

Tampaknya Wi Tiong hong seperti tidak sengaja dengan perbuatannya itu, melihat kakek Ou terjatuh kedalam jurang, ia segera menjerit kaget"

"Kakek Ou.. kakek Ou.. Seluruh bukit segera dipenuhi dengan gema suara teriakannya yang amat keras itu: "Kakek Ou. kakek Ou.."

Tapi Kakek Ou yang terjatuh kedalam jurang

mengetahuinya dengan jelas apa yang telah terjadi. diam diam pekiknya,

"Bjcah keparat. jelas kau telah menyerangku dengan jarum dibalik telapak tangan. oooodwoooo

Tam See hoa yang menyaksikan seluruh tubuh Wi Tiong hong menjadi dingin dan kaku menjadi terkejut bercampur gelisah.

Biarpan dia mengerti sedikit tentang cara

menyembuhkan Iuka luka kecil namun menghadapi penyakit parah yang menyerang tubuh Wi Tiong hong, untuk sejenak ia menjadi bingung dan kelabakan dibuatnya.

Mendadak dari kejauhan situ ia menyaksikan adanya sosok bayangan manusia sedang bergerak mendekat Sebagai jago kawakan dari dunia persilatan. Tam See boa mempunyai pengalaman yang cukup luas, dalam sekilas pandangan saja ia sudah melihat kalau pendatang memiliki kepandaian silat yang cukup tangguh.

Sebelum keadaan pendatang itu diketahui jelas sebagai kawan atau lawan. tentu saja dia tak ingin meninggalkan sedikit jejak pun ditempat tersebut.

Dengan cepat dibopongnya tubuh Wi Tiong hong, kemudian sambil menghimpun tenaga dalamnya dia melompat naik keatas pohon dan menyembunyikan diri dibalik rindangnya dedaunan.

Semua kejadian ini berlangsung didalam waktu singkat, baru saja ia selesai menyembunyikan diri, kedua sosok bayangan manusia itu sudah tiba didalam hutan.

Terdengar orang yang berada djdepan itu berkata.

"Sudah terang mereka kabur menuju kearah sibi. kenapa tidak ditemukan jejaknya?"

Begitu orang tersebut membuka suara. Tam See hoa jadi terperanjat. rupanya orang itu adalah Hian nomor tiga amal buah kiu tok kaucu.

Sementara hatinya baru tergerak. terdengar orang yang berada dibelakangnya telah menyahut:

"Malam sudah tiba, tentu saja mereka akan pergi mencan tsmpat pemondokan. masa mereka akan mcngendon ditempat seperti ini?"

Suara tersabut berasal dari Ui nomor empat, ini berarti kedua orang itu memang, berasal dari anak buah Kiu tok kaucu.

Tergerak hati Tam See hoa setelah menyaksikan kejadian itu. diam diam pikirnya:

"Jika didengar dari pembicaraan mereka, tampaknya kedua orang itu memang dltugaskan untuk menguntit kami berdua!" Sementara itu terdengar Hian nomor tiga berkata lagi:

"Kaucu telah memperhitungkan dengan tepat bahwa racun hawa dingin yang mengeram ditubuh keparat she Wi itu pasti akan kambuh lagi tiga hari mendatang menjelang magrib kapankah perkataan yang tersebut diucapkan kaucu tidak tepat?"

0000OdwO0000

KETIKA TAM SEE HOA mendengar racun yane

mengeram ditubuh Wi Tiong hong ternyata adalah racun hawa dingin dari Kiu tok kaucu. hatinya menjadi sangat gusar. Tapi berhubung Wi Tiong hong sudab tak sadarkan diri dengan tnbuh dingin kaku sekarang. maka diapun tak berani terlampau menuruti napsu.

Terdengar Ui nomor empat berkata lagi: "Biarpun apa yang kau ucapkan benar, tapi bocah keparat she Wi pun

bukan manusia sembarangan, bayangkan saja betapa hebatnya dupa pemabuk dari kaucu.

"Bila seseorang tidak menghisap obat penawarnya lebih dulu, betapapun hebatnya kepandaian silat yang dimiliki, asal terendus sedikit saja niscaya dia akan tertidur pulas.

"Tapi dalam kenyataan, biarpun sudah memasuki pesanggrahan Cing sim siam ternyata keadaannya tetap sehat tanpa kekurangan sesuatu apapun.

"Bukan cuma begitu, malah dia masih mempunyai kemampuan untuk memaksa kaucu mengeluarkan obat penawar racunnya dan menyadarkan orang she Tam menurut perasaan siaute, mungkin saja racun hawa dingin itu belum tentu bisa mengapa apakan dia."

Biarpun dupa pemabuk sangat hebat, bagaimana mungkin bisa dibandingkan dengan penggaris kemala dingin? Bukankah kau perneh bilang, biarpun ada malaikat yang turunpun asal terkena penggaris kemala dingin itu, maka dia pasti akan terjatuh kembili dari atas kahyangan, apalagi bocah keparat she Wi itu bukan malaikat"

"Tapi kaucu toh tidak memukul bocab keparat she Wi itu secara langsung, ayo, aku dengar penggaris kemala dingin milik kaucu telah ditembusi beberapa lubang oleh keparat itu?"

Hian nomor tiga segera tertawa dingin,

"Kau dengar dari Huang nomor delapan?" serunya, tampaknya persoalan apapun dia beritahukan si budak cilik itu kepadamu. suatu kali dia nanti akan melanggar pantangan kawcu"

*Bu. bukan dia yang bilang" seru Huang nomor empat amat terperanjat.

"Kalau bukan dia lantas siapa lagi? tob tahu apa yang menyebarkan kematian dari Tee nomor dua?"

Berdiri semua bulu kuduk Ui nomor empat dia menjadi gelagapan saking kagetnya, kemudian setengah merengek katanya: "Sam suheng, kumohon ingatlah hubungan persaudaraan kita dan jangan kau katakan dihadapan kaucu nanti"

Hian nomor tiga mendengus dingin

"Asal kalian tak akan menuruti lagi perkataan Thian nomor satu dikemudian baru tentu saja tak akan kusampaikan kepadanya"

"Baik. baik" sahut Ui nonor empat berulang kali, "selanjutnya siaute pasti akan menuruti perintah sam suheng" Hian nomor tiga kembali tertawa seram.

"Padahal antara aku dengan thian nomor satu sama sekali tidak terikat hubungan dendam atau permusuhan apa pun, aku hanya merasa dia kelewat sombong, dihari hari biasa. kecuali terhadap kaucu pada hakekatnya tak seorangpun yang dipandang sebelah mata olehnya.

"Hm. hm. Ang nomor tujuh si budak ingusan itu terayu oleh kata katanya yang manis dan mengira sebagai sungguhan, dia selalu berkeinginan untuk menjadi menantunya keluarga Lan di im lam. padahal mana mungkin bocah keparat itu bersungguh hati? Konon dia sudah bertunangan dengan adik misannya dari Lam hay bun"

"Kenapa ucapan semacam ini belum pernah kudengar dari Huan nomor delapan?" tanya Ui nomor empat.

"Sekembalinya dari sini nanti, tak ada salahnya bila kau sampaikan kata kataku ini kepada kekasih hatimu.

kemudian suruh dia menyampaikan hal tersebut kepada Ang nomor tujuh, cuma sudah barang tentu jangan kau katakan kalau mendengar dari mulutku"

Ui nomor empat segera mengiakan berulang kali"

"Siaute mengerti, akan siaute katakan bahwa berita tersebut siaute dengar dari berita yang tersiar didalam dunia persilatan"

"Bagus sekali, nah jangan samjai lupa" kata Hian nomor tiga seraya tertawa. ditepuk tepuknya bahu orang itu.

"Kalau cuma urusau sekecil ini, sudah pasti akan siaute kerjakan dengan sebaik baiknya" "Kalau begitu mari kita segera berangkat, jangan sampai melupakan tugas utama kita" Seusai berkata, kedua sosok bayaqgan manusia itu tergerak lagi meluncur kedepan.

Sepeninggal kedaa orang itu, Tam See hoa baru dapat menghembuskan napas lega pikirnya.

"Sebenarnya aku berniat membawa Wi tayhiap masuk kota dan mencari seorang tabib, tapi sekarang Hian nomor tiga dan Ui nomor empat telah menyusul kemari. bila tidak menemukan kami berdua niscaya dia akan melakukan pencarian didalam kota ditengah jalan sampai ketemu, waah... bisa berabe bilamana kalau mereka menemukanku aku tidak akan bisa menandingi serangan..."

Berpikir sampai disitu, dia lantas melepaskan ikat pinggannya dan meletakkan tubuh Wi Tiong hong diantara ranting ranting dengan dedaunan yang lebat. kemudian mengikat tubuh pemuda tersebut dengan ikat pinggangnya sehingga tak mungkin jatuh ke bawah.

Selesai bekerja, ia baru melompaf turun dari pohon dan berangkat menuju ke kota.

Waktu itu kentongan pertama pun baru sampai, tiba disebuab kota. ia segera mencari berita dari orang. baru diketahui dalam kota tersebut berdiam seorang tabib kenamaaa yang bernama Thio Ki ban, ilmu pertabibsnnya sangat hebat.

Karena itu diapun mencari tahu alamat si tabib dan mendatangi rumah kediamannya. Thio Ki ban adalah seorang kakek yang berusia enam pulub tahunan, ketika melihat sikap Tam See hoa yang begitu gelisah, dia pun segera menegur.

"Apakah tuan hendak memeriksakan badan?"

"Apakab sianseng adalah Thio Ki ban ?" Tam See hoa balik bertanya. Thio Ki ban segera menganguk.

"Ya. akulab orangnya"

Buru buru Tam See hoa menjura, ujarnya "Seorang sahabatku menderifa penyakit aneh karena itu, sengaja aku kemari untuk mohon pengobatanmu"

"Temanmu berada dimana sekarang?" tanya Thio Ki ban sambil menyambar peti obatnya. "Didepan dusun situ, harap sianseng mengikutiku kesana

"Sudah tuan sispkan tandu untukku?"

Tam See hoa jadi tertegun, tapi cepat cepat dia mengangguk:

"Yaa, tandunya ada diluar"

"Baik" ujar Thio Ki ban kemudian sambil mengangguk, "kalau begitu mari kita segera berangkat"

Tam See hoa berjalan dimuka, dengan cepat ia sudah tiba diluar pintu, menunggu Thio Ki ban telah melangkah keluar dan pintu rumahnya Tam See hoa segera menotoK

jalan dan bisiknya, Kemudian berbisik:

"Maaf sianseng, aku terpaksa mambuatmu menderita sebentar!"

Dengan mangempit tubuh Thio Ki ban, ia segera berlarian keluar dusun dengan menggunakan ilmu meringankan tubuhnya yang sempurna.

Tak selang berapa saat kemudian, mereka sudah sampai ditempat semula, cepat cepat orang tua itu diturunkan dan ditepuk bebas jalan darahnya yang tertoiok.

Thio Ki ban ini menghembuskan napas panjang, ia makin terkejut setelah mengetahui dirinya dilarikan keluar kota, serunya kemudian agak cemas" "Hohan. apa yang hendak kau lakukan terhadap diriku?"

"Tak usah kuatir tuan, seorang sahabatku sangat membutuhkan pengobataa tuan" kata Tam See hoa.

Selesai berkata dia segera melompat naik keatas pohon.

Pohon itu tingginya dua kaki lebih. melihat tamunya bisa melompat sedemikian tingginya,

Thio Ki ban semakin terkejut lagi tanpa terasa ia berpikir

"Wah, tampak tampaknya aku telah bertemu dengan begal ulung pada malam ini!"

Tapi kalau didengar dari nada pembicaraan Tam See hoa, agaknya dia hanya bermaksud uotuk minta pertolongan guna menjobati rekannya tanpa disertai

maksud jahat, hal tersebut membuat perasaannya sedikit agak tenteram,

Dalam kegelapan malsm, ia saksikan di belakang pohon berbaring sesosok tubuh manusia.

Tho Ki ban segera mengira orang itulah yang hendak diperiksa, maka sebelum menanti permintaan dari Tam See hoa. dia sudah menuju kebelakang pohon, berjongkok dan memeriksa denyutan nadi orang itu...

Selang beberapa saat kemudian ia sudah menggeleng kepalanya berulang kali, ujarnya sambil mengangkat kepala.

"Sahabatmu sudah terkena racun jahat yang mulai bekerja. aku tak mampu untuk memunahkan racun sejahat itu."

Dalam pada itu, Tam See boa telah melepaskan ikatan tali pinggangnya dan melompat turun dari atas pohon sambil membopong tubuh Wi Tiong hong. ketika mendengar perkataan mana, ia pun bertanya dengan keheranan.

"Tuan kau toh belum memeriksa denyut nadinya, darimana bisa kau ketahui kalau tak tertolong lagi?"

"Sudah kuperiksa denyut nadinya"

"Eeh. lucu amat perkataanmu itu, orangnya saja masih kubopong, sejak kapan tuan memeriksa denyut nadinya?"

Thio Ki ban juga keheranan dibuatnya?"

"Lhoo. lantas bukan orang itu yang kau maksudkan?" dia balik bertanya.

Mtngikuti arah yang ditunjuk Tam See boa berpaling, benar juga, ia jumpai sesosok tubuh manusia sedang

berbaring dibelakang pohon, penemuan tersebut membuatnya sesaat keheranan. "Aneh, siapa gerangan orang itu?* demikian ia berpikir.

Tapi ia ssgera membaringkan tubuh Wi Tiong hong keatas tanah lalu ujarnya: "Tuan, cepat kau periksa denyut nadinya"

Thio Ki ban segera duduk barsila dan memegang pergelangan tangan Wi Tiong hong, namun kakek ini segera mcnjerit kaget:

"Ooooh.. dingin amat tangannya!"

"Sobatku ini terkena racun hawa dingin. coba tuan periksa dengan seksama apakah dia masih dapat ditolong?"

Thio Ki ban menempelkan ke tiga jari tangannya keatas nadi Wi Tiong hong, setelah diperiksa sesaat.katanya kemudian keheranan: "Sungguh aneh, nadinya masih berdenyut." Tam See hoa yang menjumpai si tabib itu sedang memejamkan mata sambil memeriksa denyut nadi Wi Tiong hong, ia tak berani mengusiknya. diam diam ia pun berjalan menuju kebelakang pohon dan msmeriksa bayangan manusia tadi.

Ternyeta orang yang-tergeletak disitu adalah seorang kakek beramtut putih, waktu itu matanya terpejam rapat, agaknya ia sudah jatuh tak sadarkan diri

Dari seluruh tubuh kakek berambut putih itu. ia tak berhasil menemukan sesuatu lukapun tapi keadaannya memang mirip sekali dengan orang yang sedang keracunan, tanpa terasa dia membalikkan tubuh sikakek Itu.

Setelah tubuhnya dibalik, baru terl bat ada nya setitik cahaya biru diatas babu kanan si kakek, sinar biru tersebut tampak jelas di bawah sinar rembulan.

Penemuan ini membuat perasaan Tam See hoa tergerak cepat cepat dia memeriksa lebih jauh.

Benar juga, dibalik bahu kakek itu dijumpai lagi tiga batang jarum lembut berwarna biru, sudah jelas jarum itu adalah jarum jarum terbang yang telah diolesi racun jahat.

Serta merta dia merobek secarik kain dan mencabut keluar ke tiga batang jarum tadi,

setiap jarum panjangnya cuma satu inci. semua seluruh badan jaram justru berwarna biru tua.

"Sekali lagi ia pun berpikir didalam hati,

"Benar beoar senjata rahasia yang amat beracun, cuma tidak banyak orang persilatan yang menggunakan jarum beracun..."

Baru saja dia hendak bangkit berdtri. mendadak ia jumpai kepalan tangan kanan kakek berambut putib itu seakas akan sedang menggenggam suatu benda. terdorong rasa ingin tahunya tanpa terasa ia mendekati lagi kakek itu serta dibuka genggamannya.

-oo0dw0oo-