-->

Persekutuan Pedang Sakti Jilid 08

Jilid 08

DEKAT DINDING terdapat sebuah pembaringan kayu dengan seprei dan kelambu yang bersih dan indah, disisi kiri dekat meja terdapat sebuah meja baca, selain alat tulis disitu terdapat pula beberapa jilid kitab dan sepoci air teh.

Sebuah tempat lilin terbuat dari perak dengan sebatang lilin merah, memancarkan sinarnya menerangi seluruh ruangan

Ketika Wi Tiong hong merasa waktu masih pagi, diapun duduk di depan meja sambil menghirup teh, sementara pikirannya melayang membayangkan kembali kejadian demi kejadian yang dialaminya selama ini. Akhirnya dia menyimpulkan bahwa masalah dalam dunia persilatan memang amat kalut, bila seseorang sudah terjun ke dalam dunia persilatan, maka selamanya dia tak akan bisa hidup tenang.

Setelah duduk berapa saat, ia merasa pikiran dan perasaannya makin bertambah kalut, maka pelan-pelan dia pun bangkit berdiri dan naik ke atas pembaringan untuk merebahkan diri.

Entah berapa lama sudah lewat, tiba-tiba didepan pintu muncul sesosok bayangan hitam disusul seseorang mendeham.

Wi Tiong hong segera merasakan akan hal tersebut, baru saja ia hendak menegur. Mendadak terdengar orang itu berbisik lirih.

"Wi tayhiap, apakah kau sudah tertidur?"

Wi Tiong hong dapat mengenali suara itu sebagai suara dari Tan See hoa dengan cepat ia melompat bangun kemudian serunya.

"Saudara Tam kah diluar? Silahkan masuk..."

Tapi Tam See hoa tetap berdiri didepan. pintu sambil berkata dengan suara rendah:

"Tempat ini bukan tempat yang sesuai untuk berbicara, harap Wi tayhiap sudi mengikuti diriku."

Wi Tiong hong semakin bertambah curiga setelah menyaksikan gerak-geriknya yang begitu berhati-hati serta main sembunyi, tanpa terasa ia bertanya.

"Saudara Tam hendak mengajak aku pergi kemana?"

"Ditempat ini banyak terdapat mata-mata, aku ingin mengajak Wi tayhiap berbincang bincang diluar saja."

Wi Tiong hong segera berpikir:

"Biarpun aku baru berbicara empat mata dengannya dua kali dengan pertemuan kali ini, namun rasanya dia tidak mirip orang licik yang berbahaya, namun anehnya mengapa hari ini dia justru memperlihatkan gerak-gerik semacam ini?

Jangan-jangan dia memang benar-benar mempunyai urusan penting?” Berpikir sampai disitu, dia pun lantas mengangguk.

"Baiklah, harap saudara Tam sudi membawa jalan."

Tam See hoa tidak banyak berbicara lagi, dia segera membalikkan badan dan menuju keluar.

Wi Tiong hong mengikuti dibelakangnya setelah melalui dua lapis gedung, sampailah mereka dibawah sebuah dinding pekarangan tersebut...

Wi Tiong hong segera mengikuti dibelakangnya dan ikut melompat keluar dari dinding pekarangan.

Tanah perbukitan terbentang diluar pagar pekarangan tersebut ternyata mereka sudah tiba di kaki bukit.

Tam See hoa segera mengajak Wi Tiong hong meneluri sebuah jalan setapak yang membentang didepan situ.

Ketika Wi Tiong hong menyaksikan gerak-gerik Tam See hoa semakin mencurigakan, tanpa terasa ia meraba pedangnya lebih dulu, kemudian baru menyusul dibelakangnya.

Selayang mata memandang, batuan karang tersebar dimana-mana, sepanjang jalan setapak itu tumbuhan bambu tumbuh penuh dengan rimbunnya

Kali ini Tam See hoa bergerak maju terus kedepan, tak selang berapa saat kemudian, sampailah mereka diatas sebuah tebing batu yang menonjol keluar.

Tam See hoa berhenti bergerak dan membalikkan badan sambil menjura kepada pemuda itu. katanya:

"Nah, kita sudah sampai ditempat tujuan silahkan Wi Tayhiap duduk dibatu." "Saudara Tam, bila kau ada persoalan katakan saja."

Tam See hoa tertawa.

"Apakah Wi Tayhiap merasa gerakku ini sangat aneh dan mencurigakan?" "Benar. aku memang merasa demikian."

Tam See hoa segera menghela napas panjang.

"Aaaai persoalan ini menyangkut masalah hidup matinya perkumpulan Thi pit-pang, karena itu mau tidak mau aku harus bertindak sangat berhati-hati, dengan berada ditempat yang tinggi maka kita tidak usah kuatir ada orang akan menyadap pembicaraan kita, dengan begitu akupun bisa berbicara secara blak-blakan."

Wi Tiong hong merasa semakin keheranan lagi setelah melihat ia berbicara dengan serius, tak tahan lagi segera katanya:

"Saudara Tam, kau berbicara dengan begitu serius, sesungguhnya apa yang telah terjadi ?"

"Aku tahu, Wi tayhiap pasti mempunyai banyak kecurigaan tentang diriku, mungkin saja kau menganggap gerak-gerikku banyak yang melampaui kebiasaan, aaai...

selama sepuluh harian ini. saban hari aku selalu berharap kehadiran Wi tayhiap, boleh dibilang waktu-waktu yang kulewati selama ini selalu kulewati dalam kegugupan dan kepanikan."

"Sungguh beruntung akhirnya Wi tayhiap datang tepat pada waktunya, mungkin hal ini disebabkan perkumpulan Thi pit pang selalu menolong kaum fakir miskin dihari-hari biasa hingga tidak sampai mengalami kehancuran..."

Semakin mendengar, Wi Tiong hong merasa semakin bertambah curiga, ia pun merasa semakin keheranan, akhirnya dengan kening berkerut katanya: "Saudara Tam, sebenarnya apa yang telah terjadi, harap saudara Tam sudi menerangkan"

"Sesudah pembicaraan yang begitu lama dengan pangcu hari ini, apakah Wi tayhiap tidak menjumpai sesuatu yang aneh atas dirinya?"

"Apa maksud saudara Tam berkata demikian ? " tanya Wi Tiong hong dengan perasaan bergetar keras.

"Maksudku, harap Wi tayhiap suka berpikir dengan seksama, apakah didalam pembicaraan panrgcu hari ini, terdapat bagian-bagian yang rasanya kurang berterus terang."

"Soal ini siaute sama sekali tidak merasakan."

"Misalkan saja seperti kisah pangcu sewaktu meloloskan diri, apakah kau tidak merasakan ada bagian-bagian yang patut dicurigakan ?"

"Apakah saudara Tam maksudkan, penjelasan dari Ting toako kurang terperinci ?" Tam See hoa manggut-manggut.

"Pangcu sudah tiga bulan lamanya lenyap dari dunia persilatan, tapi dia pun hanya menerangkan sampai lukanya sembuh, ia baru pulang untuk menutupi kejadian ini, kepada Wi tayhiap menerangkan begitu, kepadaku pun berkata demikian"

Wi Tiong hong lantas teringat kembali dengan perbuatan Chin Tay seng tempo hari, dimana ia telah memerintahkan wakil congkoannya Pak Bun siu untuk menyamar sebagai Ting Ci kong.

Tiba-tiba saja hatinya terkejut, tanyanya tanpa terasa:

"Apakah saudara Tam menaruh curiga bahwa orang yang kita jumpai tadi bukan Ting toako ?"

Tam See hoa segera menggelengkan kepalanya berulang kali. "Dia adalah pangcu yang asli tak bakal salah lagi."

"Kalau memang benar Ting toako, lantas apa lagi yang patut saudara Tam curigai?" tanya Wi Tiong hong lagi sambil menggaruk-garuk kepalanya.

Tam See hoa menghela napas sedih.

"Aaaai. justru disinilah letak kesukaran tersebut, sejak kecil Ting pangcu sudah di asuh dan dididik oleh lo pangcu kami, dia jadi orang berjiwa terbuka dan amat setia kawan, sikapnya terhadap saudara-saudara seperkumpulan pun akrab seperti saudara sendiri, justru karena sikap inilah dia selalu disanjung dan dihormati oleh segenap anggota perkumpulannya."

Berbicara sampai disitu, lanbat laun ia semakin dipengaruhi emosi, katanya lagi setelah berhenti sejenak:

"Tapi sejak kembali dari pengasingan kali ini, sifat pangcu justru berubah sama sekali, setiap perbuatannya bahkan bersimpangan ataupun bertolak belakang dengan wataknya dimasa lampau, dia selalu berusaha untuk melenyapkan anggota-anggota perkumpulan secara halus..." Wi Tiong hong kontan mengerutkan dahinya rapat-rapat, katanya kemudian: "Dapatkah saudara Tam memberi penjelasan lebih terperinci lagi..?"

Tam See hoa menghela napas panjang.

"Aaaai, panjang sekali untuk menceritakan kejadian ini.

sejak pulang pangcu sudah berada disini selama tiga belas hari, tapi peristiwa itu berlangsung juga sebelum pangcu kembali.

Suatu ketika, mendadak beberapa orang anggota perkumpulan kami terserang penyakit menular, mereka tumpah-tumpah dan berak-berak tidak sampai berapa jam kemudian, berapa orang saudara kami itu tewas dalam keadaan yang mengenaskan.

Sampai keesokan harinya, orang yang kejangkitan penyakit menular itu semakin bertambah banyak, belasan anggota kami tewas secara beruntun, hingga hari ke tiga, keadaan semakin bertambah payah, seratus orang lebih yang berada dalam markas besar hampir semuanya kejangkitan penyakit tersebut..."

"Jangan-jangan ada orang menyebarkan racun jahat ?" tanya Wi Tiong hong mendadak dengan kening berkerut. Tam See hoa segera menepuk pahanya seraya berseru.

"Perkataan Wi tayhiap sangat tepat, pada waktu itu akupun berpendapat demikian, air untuk makan minum kami datangnya dari sumber air diatas gunung, seandainya ada orang menyebarkan racun dalam sumber air tersebut, niscaya segenap anggota kami akan keracunan..."

Bercerita sampai disini, ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan lebih jauh.

"Untung saja tengah hari ke tiga pangcu pulang secara tiba-tiba, bersama pangcu mengikuti pula tuan penolong yang telah menyelamatkan pangcu, yakni seorang kakek berjubah tosu beserta dua orang tosu kecil..."

"Pangcu menjadi sangat gelisah setelah mengetahui segenap anggota perkumpulan menderita penyakit menular, tapi kakek itu segera tersenyum, ia bilang penyakit menular semacam itu bukan masalah yang gawat dan tak usah dikuatirkan.

"Saat itu juga dia memerintahkan bocah tosu yang mendampinginya untuk mengeluarkan sebotol obat dan membagikan sebutir pil setiap korban yang menderita sakit.

Ternyata obat itu memang mujarab sekali, hanya dalam waktu singkat setelah menelan pil tadi, semua sakit menjadi hilang dan para penderita menjadi sembuh kembali"

"Apakah saudara Tam ikut menelan obat tersebut?" tanya Wi Tiong hong kemudian.

“Dua hari sebelumnya kebetulan sekali aku sedang ada urusan keluar markas, baru pagi hari ketiga aku pulang, hari itu aku hanya minum secawan teh sehingga muntah berak tiada hentinya meski sakitnya tidak terlampau parah, tapi akupun ikut menelan pil pemberiannya..."

"Apakah saudara Tam merasakan sesuatu yang aneh"

Tam See hoa mendehem pelan: "Waktu itu aku sendiri tidak terlalu menaruh curiga, tapi setelah kejadian, makin kupikirkan hatiku merasa semakin bertambah curiga, beberapa kali aku telah mencoba mengatur napas untuk memeriksa keadaan tubuhku, namun tak pernah menjumpai sesuatu yang aneh, kejadian ini benar-benar membuat aku merasa tak percaya."

"Kalau toh saudara Tam tidak menemukan sesuatu yang aneh, apalagi yang membuatmu tak percaya?"

Sekali lagi Tam See hoa menghela napas panjang.

"Aaaai, mungkin juga aku yang banyak curiga, tapi aku sudah dua puluhan tahun berkelana dalam dunia persilatan, atas dasar pengalaman yang kurang baik."

"Apa yang saudara Tam maksudkan?"

“Setelah pangcu lolos dari bahaya dan pulang dalam keadaan selamat, kemudian atas pertolongannya semua

penyakit menular dapat diberantas, hal mana membuat segenap anggota perkumpulan menjadi gembira dan sama-sama menganggap dia sebagai dewa penolong."

"Selang sehari kemudian, tiba-tiba orang itu memberitahukan kepada pangcu bahwa tak lama lagi kemudian daerah, sekitar Ci say akan terjangkit penyakit menular pula dia menganjurkan kepada pangcu agar sedia payung sebelum hujan."

Wabah penyakit menular adalah bencana alam yang tak bisa diperhitungkan sebelumnya mana mungkin bisa sedia payung sebelum hujan ?

Dia menganjurkan kepada pangcu agar memberi perintah kepada segenap anggota perkumpulan dikantor-kantor cabang agar pada saatnya datang untuk menerima pil pencegah racun buatannya, setiap orang sebutir sehingga wabah penyakit itu bisa dihindari.

Wi Tionghong yang mendengar perkataan tersebut, segera berpikir dalam hatinya:

"Tidak heran kalau orang-orang dari cabang Phu kang tempo hari pada berkumpul dirumah makan, rupanya mereka sedang berunding untuk bersama-sama datang mengambil obat.”

Sementara itu terdengar Tam See hoa berkata lebih lanjut:

"Pada saat itu juga aku sudah merasa kalau kejadian ini mengandung hal yang kurang beres, cuma aku merasa sungkan untuk menjelaskan secara langsung kepada pangcu terpaksa perintah itu kuturunkan ke semua kantor cabang agar melaksanakan sesuai dengan apa yang diperintahkan.."

"Selama belasan hari terakhir ini, hampir delapan sembilan puluh persen dari anggota kantor-kantor cabang

telah berdatangan kemari serta menelan obat penolak wabahnya, bahkan dia selalu memerintahkan kedua orang kacung tosunya untuk melaksanakan hal ini langsung kepada yang berkepentingan, siapa pun dilarang untuk diwakili."

"Tatkala Wi tayhiap datang hari ini, bukankah kau melihat ada saudara-saudara perkumpulan kami yang berbondong bondong masuk melalui pintu gerbang? mereka tak lain adalah saudara-saudara kami yang datang untuk mendapat pil penawar racun.”

Berbicara sampai disitu, ia mendongakkan kepalanya sambil menghembuskan napas panjang, kemudian terusnya:

"Walaupun kejadian ini sudah mendekati akhir, namun kecurigaan dalam hatiku masih belum juga bisa teratasi, beberapa kali aku pernah mencoba untuk menyelidiki asal-usul orang itu dari pangcu.

Tapi saban kali, pangcu selalu mengatakan bahwa kakek ini tak ingin namanya diketahui orang, karena itu dia tak ingin mengutarakannya kepada siapa pun, malah dia sengaja menghindar bila ditanyakan soal pengalamannya selama terluka serta dimanakah ia merawat lukanya dalam tiga bulan terakhir ini."

“Meskipun persoalan ini memang tamat mencurigakan"

kata Wi Tiorng-hong kemudian. "tapi aku tahu, Ting toako adalah seorang yang sangat memegang janji, siapa tahu dia sudah menyanggupi permintaan kakek tersebut untuk tidak membocorkan asal-usulnya kepada orang lain, sehingga dia merasa kurang leluasa untuk memberi tahukan kepada saudara Tam. "

"Aku pun berpendapat demikian, cuma menurut pengamatanku agaknya kakek tersebut tidak mirip seorang tokoh sakti yang sudah lama mengasingkan diri dari dunia

persilatan, sebaliknya dia justru datang dengan suatu rencana tertentu, bisa jadi masa ambruknya perkumpulan kami sudah berada di depan mata."

Wi Tiong hong menjadi tertegun, "Kalau toh saudara Tam merasa persoalan ini bisa berkembang menjadi begitu serius pernahkah kau bicarakan hal, tersebut dengan Ting toako?"

Sambil tertawa getir Tam See hoa menggelengkan kepalanya berulang kali:

"Aku lihat bisa jadi kejernihan otak pangcu sudah dipengaruhi oleh semacam obat, sehingga akibatnya dia menjadi tak sanggup untuk mengendalikan diri!"

Wi Tiong hong semakin tertegun lagi, selang berapa saat kemudian ia baru berkata. "Mengapa aku sendiri tak bisa melihat akan hal tersebut?"

"Aku sepuluh tahun lebih tua daripada usia pangcu, boleh dibilang aku melihat ia tumbuh menjadi dewasa, segala gerak gerik pangcu boleh dibilang tak bisa mengelabuhi diriku, sekalipun aku bisa melihat perubahan dari dirinya, belum tentu Wi tayhiap bisa menemukan hal yang sama."

Wi Tiong hong dapat melihat bahwa Tam See hoa berbicara dengan wajah murung dan sedih, setiap patah katanya diutarakan dengan tegas dan tidak mirip kata-kata khayalan belaka, makin lama ia merasa persoalan ini semakin mencurigakan, akhir nya ia bertanya lagi.

"Darimana pula saudara Tam bisa tahu kalau pihak lawan datang dengan membawa suatu maksud tertentu?" "Hal ini antara lain disebabkan aku selalu merasa bahwa gerak gerik kakek tersebut amat rahasia dan misterius, dalam curiganya aku pun segera mengutus beberapa orang kepercayaanku untuk melakukan pengintaian secara diam-diam, ternyata tindakanku ini segera memberikan banyak data yang menguntungkan."

"Apa yang berhasil saudara Tam temukan?"

"Berhubung kakek itu suka ketenangan dan tak ingin ketenangannya diganggu orang, maka pangcu sengaja menyerahkan gedung Ling long san koan sebagai tempat tinggal mereka guru dan murid tiga orang."

"Ling long san koan terletak dipunggung bukit Ling long san, dulu tempat tersebut merupakan tempat pertapaan Lo pangcu, kemudian setelah lo pangcu wafat, tempat tersebut pun dirubah menjadi gedung penerima tamu agung.

Pada hari pertama guru dan murid tiga orang itu berdiam disitu, pangcu telah mengirim beberapa orang centeng dan pelayan untuk membersihkan gedung serta melayani keperluan mereka siapa tahu hari kedua mereka telah dikirim kembali oleh si kakek itu, katanya mereka tidak membutuhkan pembantu.”

"Kemudian dengan alasan di wilayah Ci say bakal terjangkit penyakit menular, dan demi menolong umat manusia dari mara bahaya mereka butuh membuat obat penawar racun, maka daerah tersebut semakin dilarang untuk dikunjungi siapa pun, akhirnya Ling long san koan pun berubah menjadi suatu wilayah daerah terlarang."

Wi Tiong hong segera berpikir.

"Kalau orang begitu sih masih belum bisa dibilang ada sesuatu yang tak beres." ooo)0d0w0(ooo

SEMENTARA dia masih termenung, terdengar Tam See hoa berkata lagi:

"Seandainya kakek itu hanya bertapa di situ, sehingga tak ingin diganggu orang, keadaan mana sih tidak mengapa, tapi menurut hasil pengamatan-saudara saudara yang kuutus untuk memata-matai tempat itu konon setiap lewat kentongan kedua. Ling long san koan pasti dikunjungi orang.

"Bahkan yang masuk bukan hanya satu dua orang saja, bahkan mereka rata-rata adalah jagoan yang berilmu tinggi, saudara-saudara yang kuutus kesana hanya sempat melihat beberapa sosok bayangan manusia yang berkelebat lewat saja."

"Waah kalau begitu memang ada sesuatu yang tak beres ditempat tersebut" seru Wi Tiong hong kemudian dengan wajah berubah.

Tam See hoa kembali menghela napas panjang:

"Ada satu hal yang lebih lebih sukar di percaya lagi, yakni setiap malam selewatnya kentongan pertama, pangcu harus pergi pula ke Ling long san, paling tidak sekali setiap kali."

"Aaah, masa iya?" Wi Tiong hong semakin tertegun.

Setelah menerima laporan itu, pada mulanya akupun tidak percaya sampai malam empat hari berselang, aku benar-benar menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana pangcu masuk kewilayah Ling long san selewatnya kentongan pertama dan selewatnya kentongan kedua baru pulang ke rumah.

"Tak lama sepeninggalan pangcu, secara beruntun berdatangan pula empat lima sosok bayangan manusia, hingga fajar menyingsing keesokan harinya ternyata mereka belum juga pergi, menurut penilaianku, kelihayan kungfu yang dimiliki beberapa orang itu jauh diatas kemampuanku, dengan sendirinya ilmu silat dari kakek tersebut lebih hebat lagi."

Selama ini Wi Tiong hong selalu beranggapan bahwa Ting toa ko nya adalah seorang enghiong yang mengutamakan kesetiaan kawan, mustahil dia akan bersekongkol dengan orang luar untuk menyabot perkumpulan Thi pit pang.

"Apalagi dia seorang pangcu, setiap patah kata yang diucap itu perintah, siapa membangkang akan perintah itu?

Jadi apa guna dia berbuat begitu terhadap perkumpulan Thi pit pang?"

Masalah tersebut benar-benar membingungkan

pikirannya, untuk sesaat dia menjadi kalut pikirannya dan tak tahu apa yang mesti dilakukan...

Dalam pada itu, Tarn See hoa telah ber kata lagi:

"Selama berapa hari ini, aku benar-benar merasa gugup dan tidak tahu apa yang mesti di perbuat, aku hanya berharap Wi tayhiap mendengar kabar tentang kembalinya pang cu dan secepatnya menyusul kemari..."

"Menurut pendapat saudara Tam, apa maksud dan tujuan dari kakek tersebut?" tanya Wi Tiong-hong setelah termenung sebentar.

"Hal ini sulit untuk dibicarakan, mungkin saja dia menganggap perkumpulan Thi pit pang masih mempunyai sedikit kekuatan di wilayah Kanglam, maka dia berniat untuk mengkup perkumpulan ini, Bisa juga dia mempunyai

maksud dan tujuan Iain, dia hendak memanfaatkan kemampuan dan pengaruh dari perkumpulan kami menjadi dasar dari tujuan ekspansi mereka ke luar. Tapi bisa juga mereka mempunyai musuh tangguh yang berkemampuan hebat, sehingga maksudnya hendak memperalat kemampuan kami untuk menjual nyawa bagi dirinya"

Diam-diam Wi Tiong hong merasa kagum sekali, andaikata manusia misterius itu benar- benar mempunyai suatu maksud tujuan tertentu, maka ke tiga hal yang disebut Tam See hoa telah mencakup keseluruhannya.

Berpikir sampai disitu, tanpa terasa dia manggut-manggut.

"Semua perkataan saudara Tam memang masuk diakal, seandainya Ting toako benar-benar sudah diracuni oleh kakek tersebut, sudah pasti aku tak akan berpeluk tangan belaka.."

Baru berbicara sampai disitu, tiba-tiba ia mendongakkan kepalanya dan bertanya. "Saudara Tam, dimana sih letak Ling long san koan tersebut ?"

"Apakah Wi tayhiap berniat untuk melihat-lihat keadaan?" "Benar" Wi Tlorg hong mengangguk, "aku berniat untuk melihat-lihat keadaan, sebenarnya manusia macam apakah dia itu ?"

Tam See hoa termenung sejenak, kemudian baru katanya.

"Menurut pendapatku, lebih baik Wi tayhiap berdiam beberapa hari lagi disini, siapa tahu pangcu dengan sendirinya akan mengajak kau untuk berjumpa dengannya?"

Wi Tiong bong berpikir sebentar, lalu sahutnya.

"Sayang sekali aku masih mempunyai tujuan lain sehingga tak dapat berdiam terlalu lama disini, seandainya Ting toako yang memperkenalkan kami, hal ini malah mempersulit usahaku untuk menyelidiki intrik busuk di balik kesemuanya itu."

"Namun bila dilihat dari adanya orang yang hilir mudik setiap malam, sudah jelas mereka mempunyai suatu rencana besar maka dari itu aku bertekad untuk melakukan penyelidikan sendiri"

"Sungguh tak nyana Wi tayhiap begitu bersetia kawan"

seru Tam See hoa kemudian dengan terharu, "baik, biar aku yang menjadi petunjuk jalanmu."

Setelah mendongakkan kepalanya dan memandang cuaca, dia berkata kembali. "Sekarang kentongan ke dua belum tiba, mungkin pangcu masih berada disana."

Berangkatlah ke dua orang itu menuruni bukit dengan cepat, dengan Tam Se hoa sebagai penunjuk jalan berangkatlah mereka menuju ke arah selatan dengan kecepatan tinggi.

Sepuluh li sudah lewat dengan cepat.

"Belum sampai ?" tanya Wi Tiong hong kemudian keheranan. Sambil menuding ke depan, sahut Tam See hoa.

"Bukit yang memencil didepan sana adalah Ling long san, pesanggrahan Ling long san koan terletak dibagian selatan, bila kita mendaki lewat bagian utara maka jejak kita akan sulit ketahuan."

Sementara pembicaraan berlangsung, kedua orang itu mempercepat langkahnya berlarian mendaki bukit, tak selang berapa saat kemudian sampailah mereka dibukit sebelah utara.

Sambil menghimpun tenaga dalamnya, Tam See hoa bergerak menelusuri sebuah jalan setapak yang terbentang disitu, dalam beberapa kali lompatan yang ringan. Wi Tiong hong membuntuti dibelakangnya.

Tak sampai seperminum teh kemudian, Tam See hoa sudah tiba lebih dulu dipuncak bukit itu, baru saja ia menginjak tanah, mendadak terdengar desisan tajam menyambar lewat, sesosok bayangan manusia sudah melayang turun dihadapannya.

Tam See hoa mengira Wi Tiong hong yang mendahului mencapai atas puncak, tanpa terasa ia berseru sambil tertawa. "Wah, ilmu meringankan tubuh yang dimiliki Wi tayhiap jauh mengungguli.."

Belum selesai perkataan itu diutarakan, dibawah sinar rembulan ia dapat melihat dengan jelas bahwa bayangan manusia yang berdiri dihadapannya bukan Wi Tiong hong seperti apa yang diduganya semula, ternyata orang itu adalah seorang lelaki berkerudung.

Dengan sorot mata yang tajau bagaikan sembilu, lelaki berkerudung itu mengawasi dirinya lekat-lekat, kemudian menegur dengan suara sedingin es.

"Sobat, siapakah kau??"

Dengan perasaan terkejut Tam See hoa menggerakkan tangannya siap mencabut ke luar senjatanya.

Lelaki berkerudung itu segera mengancam lagi sambil mendengus dingin: "Sobat. lebih baik kau jangan menggerakkan senjata"

Tahu-tahu sebilah pedang sudah ditempelkan diatas ulu hatinya.

Tapi pada saat itulah terdengar suara Wi Tiong hong berkumandang pula darl belakang tubuh lelaki berkerudung itu sambil tertawa.

"Sahabat. lebih baik kau jangan main senjata, perlu kau ketahui, apabila tenaga dalam yang kumiliki ini kulontarkan keluar, niscaya isi perutmu akan hancur berantakan, dan tentunya kau pun tahu bukan bahwa hal tersebut merupakan suatu pekerjaan yang teramat mudah bagiku, ."

Pada hakekatnya Tam See hoa tak sempat melihat dengan cara apakah Wi Tiong hong bergerak naik keatas, tahu-tahu si pemuda tersebut sudah menyelinap kebelakang punggung manusia berkerudung tersebut...

Ketika mendengar seruan tadi, dengan perasaan amat gembira ia lantas berseru.

"Wi tayhiap cepat nian gerakan tubuhmu..." Tubuhnya segera bergerak kesamping untuk menghindarkan diri dari ancaman.

Oleh karena ulu hatinya sudah ditempeli telapak tangan lawan, manusia berkerudung itu benar-benar tak berani bergerak lagi, hanya ujarnya dengan suara dingin.

"Sobat, mau apa kau?"

Dengan suatu gerakan yang cepat Wi Tiong hong menotok kedua buah jalan darah penting di tubuh manusia berkerudung itu. kemudian setelah merampas pedang dari tangannya, ia berkata sambil tertawa.

"Tak usah kuatir, aku tidak bakal merenggut nyawamu, aku cuma ingin mengajakmu berbincang-bincang"

"Jangan harap kau bisa memperoleh keterangan apa pun dari mulutku" seru lelaki berkerudung itu ketus.

"Kau tak ingin bicara? Aku lihat sulit sekali.." Manusia berkerudung itu memandang sekejap kearah Wi Tiong hong, kemudian membungkam diri dalam seribu bahasa.

"Apakah sobat murid orang tua itu?" tanya Tan See hoa kemudian.

Lelaki berkerudung itu tertawa dingin, mulutnya tetap membungkam dalam seribu bahasa.

"Sobat, bila kau enggan menjawab pertanyaanku, berarti kau sedang mencari penyakit buat diri sendiri" ancam Tam See hoa kemudian.

Manusia berkerudung itu segera tertawa dingin:

"Heeh... heaeh..heeh.. kematian sudah berada didepan mata, kau masih..." Sorot matanya seperti sengaja memandang sekejap ke bawah bukit.

Wi Tiong hong tak menunggu sampai ia menyelesaikan kata-katanya, mendadak ia menotok jalan darah bisunya, lalu membentak dengan suara lirih.

"Saudara Tam, ada orang datang, cepat kau tukar pakaiannya"

Tam See hoa terkejut, ia menurut dan segera melepaskan jubah panjang lelaki berkerudung itu dan mengenakan ditubuhnya, laIu mengerudungi pula kepalanya dengan kain kerudong yang ada.

Sementara lelaki tadi dicengkeram dan disembunyikan secara terburu-buru dibalik sebuah batu cadas.

Sementara itu terdengar Wi Tiong hong telah berkata lagi dengan ilmu menyampaikan suara.

"Saudara Tam, cepat kemari, berdirilah di hadapanku..."

Tam See hoa melompat ke hadapan Wi Tiong hong, dan pemuda itu mengerling sekejap ke arahnya sambil berkata.

"Sobat, semalam kau bertanya siapakah aku, lebih baik terangkan dahulu siapakah dirimu itu ?"

Tam See hoa sudah lama berkelana di dalam dunia persilatan, dengan cepat dia mengerti apa yang diharapkan pemuda itu dari nya

Maka sambil menirukan logat pembicaraan dari manusia berkerudung yang pertama, sambil mendengus dingin katanya.

"Sobat, ditengah malam buta begini kau datang ke Ling long san, tentunya ada suatu tujuan tertentu bukan?"

"Sreeet !" Mendadak sesosok bayangan manusia berkelebat lewat, kembali ada seorang manusia berkerudung melayang turun disisi Wi Tiong hong.

Begitu tiba, manusia berkerudung itu segera menegur.

"Lo ngo, buat apa kan mesti banyak ngebacot dengan orang itu. pokoknya barang siapa berani mendatangi bukit ini, kita bekuk batang lehernya dan diserahkan kepada kaucu.”

Rupanya manusia berkerudung yang pertama tadi bernama Lo ngo. "Justru karena orang ini mengatakan hendak berjumpa dengan kaucu, maka aku perlu menanyainya sampai jelas."

sahut Tam See hoa dengan segera.

Manusia berkerudung itu berpaling dan memperhatikan Wi Tiong hong sekejap, kemudian tanyanya lagi.

"Siapakah kau ? Ada urusan apa mencari kaucu ?" Tanpa terasa Wi Tiong hong berpikir kembali.

"Entah siapakah kaucu mereka dan bagaimanakah macamnya ? Lebih baik Iagi jika aku berhasil mendapatkan sedikit informasi dari mulutnya..."

Berpikir demikian, dengan angkuh dia mendongakkan kepalanya lalu menjawab.

"Kau siapa ? Aku hendak menjumpai kaucu, tentu saja ada urusan yang hendak dibicarakan!"

Dari keangkuhan si anak muda itu, manusia

berkerudung tersebut malah dibikin tertegun, akhirnya dia menjura sembari ujarnya.

"Aku nomor tiga dari huruf Hian, harap sobat menyebutkan namamu sehingga aku bisa segera kembali keistana untuk memberikan laporan.."

"Aku adalah Wi Tong hong"

"Kau adalah Wi Tiong hong?" Hian nomor tiga terkejut, kemudian sambil berpaling ia berkata lagi. "Lo ngo, harap kau tetap berada disini menemani sahabat Wi. segera akan kulaporkan kunjungannya kepada kaucu."

"Tunggu dulu" Wi Tiong hong segera mencegah sambil tersenyum, "bila kau hendak melaporkan kepada Kaucu, paling baik sekali kau membawa serta kan sesuatu"

Sambil berkata ia benar-benar mengambil secarik kertas dari sakunya dan dilontarkan kedepan.

Hian nomor tiga nampak semakin tertegun, sudah jarang sekali jago persilatan yang membawa kartu nama.

Tapi berhubung nama "Wi Tiong hong" boleh dibilang sedang top-topnya dalam dunia persilatan saat ini, bahkan Ban kiam hweecu yang begitu tersohor pun kalah diujung pedangnya, maka seorang kenamaan yang membawa kartu nama memang merupakan suatu kejadian yang amat lumrah.

Apalagi beberapa kali diapun mendengar kaucunya menyinggung tentang nama Wi Tiong hong, itu berarti orang ini ingin sekali dijumpainya dengan segera.

Karenanya untuk sesaat dta tak berani berayal, tanpi curiga barang sedikitpun jua dia mengulurkan tanrgannya siap menterima kartu namqa tersebut.

Padra saat itulah secepat sambaran kilat Wi Tiong hong mencengkeram urat nadi pada pergelengan tangannya, kemudian sambil tertawa ringan katanya. "Ternyata kemampuan yang sobat miliki masih kurang matang!"

Tak terlukiskan rasa kaget Hian nomor tiga menjumpai kejadian tersebut, cepat-cepat dla mengerahkan tenaganya siap untuk meronta.

Tapi Tam See hoa sudah menotok jalan darah Kiong hiat nya dengan cepat, bahkan serunya pula.

"Lo sam, jangan berisik!"

Hian nomor tiga semakin terperanjat lagi, "Kau bukan lo ngo?" "Lo ngo berada disana, dan aku adalah bapakmu!"

Tiba tiba Hian nomor tiga menarik napas panjang sambil mendongakkan kepalanya.

Sambil mendengus dingin Wi Tiong hong segera mengancam

"Kau ingin berpekik untuk memberitahukan konco-konco mu? Hmm Pingin mampus nampaknya."

Dengan kecepatan bagaikan kilat dia segera menotok jalan darah Thian to hiatnya, kemudian sambil tertawa katanya.

"Aku ingin menengok kaucumu dan ini memang benar-benar hendak kulakukan, cuma aku ingin meminjam pakaianmu itu, tentunya sobat tak akan keberatan bukan?"

Sembari berkata, ia segera turun tangan melepaskan pakaian yang dikenakan Hian nomor tiga dan dikenakan ditubuh sendiri, lalu melepaskan juga kain kerudung hitamnya serta dikenakan diwajah sendiri.

Begitu turun tangan, dia segera menemukan kalau disakunya tergantung pula sebuah lencana tembaga yang diatasnya terukir kata-kata yang berbunyi "Hian sam"

Wi Tiong hong segera menyembunyikan pedang Jit siu-kiamnya baik-baiknya, menggantungkan pedang milik orang itu diluar kemudian setelah menggantungkan pula lencana tembaganya, sambil mendongakkan kepala ia berkata.

"Saudara Tam, cepat yang tertera pada lencana tembaga disakumu !"

Tam See hoa mengeluarkan lencana tembaga itu dan diperiksa tulisannya, lalu sahutnya: "Gi ngo, mungkin huruf Gi nomor lima"

"Apakah saudara Tam telah berhasil mengetahui asal-usul mereka... ?" Tam See hoa menggeleng.

"Biarpun di dalam dunia persilatan terdapat banyak perkumpulan rahasia, namun belum pernah kudengar ada perkumpulan dengan kode rahasia semacam ini."

Sementara pembicaraan berlangsung. Wi Tiong-hong telah menyeret Hian nomor tiga ke belakang batu besar, katanya sambil tertawa: "Harap kalian berdua beristirahat dulu semalaman disini, maaf bila menyiksa kalian kelewatan.."

Kemudian dengan langkah lebar dia berjalan keluar dari balik batu, katanya pula kepada Tam See hoa sambil tertawa:

"Saudara Tam, sekarang kita sudah boleh turun."

"Bila kita turun cara begini, meski bisa menyelundup masuk kedalam, tetapi mana mungkin bisa mengelabui kaucu mereka?"

Wi Tiong hong tertawa. "Kalau tidak masuk ke sarang harimau,., bagaimana-mungkin bisa mendapatkan anak harimau? Asal kita bisa mengikuti keadaan dengan sebaik-baiknya dan cukup mengetahui maksud dan tujuan mereka, aku rasa hal ini masih bisa teratasi dengan mudah."

"Baik, bila Wi tayhiap hendak berbuat demikian, tentu saja aku akan mengiringi kemauanmu"

"Bilamana keadaan tidak terlalu mendesak, janganlah turun tangan secara sembarangan, lagipula sebelum fajar menyingsing kita harus harus sudah meninggalkan Ling long san koan tersebut dan membawa pulang kedua orang ini kedalam markas kita secara rahasia..."

"Soal ini aku mengerti," kata Tam See hoa berangkatlah mereka menelusuri jalan setapak menuju ke kaki bukit, tak selang berapa saat kemudian mereka sudah turun dari punggung bukit tersebut.

Ketika Wi Tiong hong mencoba untuk memandang kedepan, tampak diantara pepohohan siong yang lebat berdiri sebuah gedung yang amat kokoh dan megah.

Waktu itu sudah mendekati tengah malam cahaya bintang sangat redup, malam pun kelam, angin gunung berhembus kencang menggoyangkan pepohonan serta daunan.

Bukit Ling long san yang gelap gulita terasa penuh diliputi suasana misterius yang gelap mengerikan.

Sebelum kedua orang itu berjalan mendekat, mendadak dari depan bukit situ tampak sesosok bayangan manusia bergerak mendekat, gerakan tubuhnya enteng lagi cepat, dalam sekejap mata ia sudah berhenti di muka pesanggrahan Ling long san koan lalu melompat masuk dengan melompati pagar pekarangan.

Dalam sekejap mata itulah Wi Tiong hong sudah melihat dengan jelas potongan baju serta dandanan orang itu, ternyata tak jauh berbeda seperti mereka berdua, wajahnya pun diliputi kain kerudung hitam.

Tanpa terasa dia menjadi tertegun, segera pikirnya: Orang ini cuma berhenti sejenak di muka pesanggrahan dan segera melompat masuk ke dalam, apakah kami berdua pun harus menggunakan cara yang sama?

Tiba-tiba terdengar Tam See hoa berbisik:

"Bila ditinjau dari arah yang dituju orang itu, semestinya dia pergi ke Cing sim sian dibagian timur gedung, jangan-jangan kaucu mereka berada di ruang Cing sim sian." Wi Tiong hong segera menyurut ke belakang, kemudian berbisik dengan suara lirih.

"Ada orang yang datang lagi, coba kita lihat apakah dia pun masuk menuju ke arah yang sama ?"

Belum selesai dia berkata, kembali tampak sesosok bayangan manusia meluncur datang seperti juga orang yang pertama tadi, setelah mendekati pesanggrahan, ia berhenti sejenak kemudian melompat masuk melewati pagar pekarangan.

"Yaa benar." seru Tam See hoa kemudian. "mereka semua menuju ke arah ruangan Cing sim- sian, harap Wi tayhiap mengikuti dibelakangku. mari kita pun masuk ke dalam !"

Dengan cepat dia melompat ke depan dan meluncur ke arah pesanggrahan Ling long san koan.

Wi Tiong hong tak berani berayal, dengan cepat dia mengikuti dibelakangnya, hanya didalam beberapa kali lompatan saja, mereka sudah mendekati pesanggrahan tersebut.

Tam See hoa menarik napas panjang dan menghentikan langkahnya kemudian melambung ke udara dan masuk dengan melalui pagar pekarangan.

Wi Tiong hong hanya selisih setengah langkah dibelakangnya, mereka berdua serentak melayang turun kedalam halaman hampir bersamaan waktunya.

Sudah barang tentu Tam See hoa sangat hapal dengan daerah didalam pesanggerahan Ling long san koan, dia

segera mengajak Wi Tiong hong menuju keruang Cing sim sian.

Sepanjang perjalanan, sorot mata mereka yang tajam tiada hentinya memperhatikan keadaan disekitar situ, meskipun langkahnya tak melamban namun kewaspadaan ditingkatkan, mereka sama tak berani bertindak secara gegabah.

Tak lama kemudian mereka berdua sudah tiba di ruang Cing sim sian, tampak dua orang manusia berkerudung yang dahulu tadi, kini sedang berdiri didepan pesanggrahan dengan tangan lurus kebawah, sikap mereka sangat menaruh hormat.

Ruang pesanggrahan tertutup oleh sebuah tirai, sehingga tak bisa dilihat keadaan dalam ruangan tersebut.

Sebagai seorang yang berpengalaman luas Tam See hoa yang melihat dua lelaki terdahulu masih berdiri hormat di luar ruangan, dia segera menyimpulkan bahwa sebelum mendapat panggilan, siapa pun tak boleh masuk secara sembarangan.

ooo)0dw0(ooo

BERPENDAPAT demikian, dia pun segera

memperingat langkah kakinya dan berdiri dibelakang ke dua orang itu.

Wi Tiong hong menyusul berdiri dibelakang Tam See-hoa sambil memasang telinga mengamati keadaan disekitar sana.

Terdengar dari dalam ruangan sana seseorang dengan suara yang tua berkata. "bagus sekali kau boleh pergi" "Baik." seseorang mengiakan, menyusul suara langkah kaki yang ringan berkumandang.

Setitik cahaya lentera mencorong keluar bersamaan dengan disingkapnya tirai, seorang manusia berbaju hijau muncul dari balik ruangan tersebut.

Sesudah melangkah turun dari undak-undak batu, orang itu segera melejit ketengah udara.

Tampak sesosok bayangan hitam meluncur keluar dari halaman tersebut dengan kecepatan bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya..

Memandang gerakan tubuh orang itu, boleh dibilang ia termasuk salah seorang jago kelas satu didalam durnia persilatan.

Sementara dia masih termenung, terdengar dari dalam ruangan berkumandang seruan nyaring:

"Kaucu memerintahkan Thian nomor satu masuk."

Manusia berkerudung yang berdiri dibarisan paling muka segera mengiakan dan melangkah masuk kedalam.

Berhubung wi Tiong hong merasa dia sendiripun bakal masuk kedalam, maka dengan kewaspadaan yang tinggi dia mendengarkan pembicaraan tersebut.

Terdengar Thian nomor satu berkata dengan hormat. "Tecu menjumpai kaucu"

Begitu orang itu buka suara Wi Tiong hong segera merasakan hatinya segera merasakan hatinya bergetar keras dan pikirnya:

“Heran, mengapa suara Thian nomor satu ini seperti sangat kukenal? Siapakah dia?” Terdengar suara yang tua nyaring itu bertanya.

"Bagaimana dengan pekerjaanmu?"

"Tecu telah mendapat persetujuan dari ayahku."

"Bagus sekali, bagaimana dengan tugas ke dua? Pil emas penolak racun penting sekali artinya bagi perkumpulan kita, apakah kau tidak mempunyai kesempatan untuk turun tangan terhadap bocah perempuan itu.. ?"

"Pil emas penolak racun ?" satu ingatan segera melintas di dalam benak Wi Tiong hong.

Tiba-tiba saja dia teringat bagaimana dirinya terkena jarum beracun keluarga Lan yang ditimpukkan Lan Kun pit ke arah nya, untung sekali So Siau hui menghadiahkan sebutir pil emas penolak racun kepadanya sehingga selamatlah selembar jiwanya.

"Ya, suara dari Thian nomor satu ini mirip sekali dengan suara Lan Kun pit, jangan- jangan memang dia."

Terdengar Thian nomor satu berkata lebih jauh: "Dalam kunjungan piau moay ke daratan Tionggoan kali ini, dia selalu didampingi oleh malaikat berlengan emas Ou Sian, hal ini membuat tecu tak bisa turun tangan untuk sementara waktu, karenanya harap kaucu sudi memberi waktu lebih lama."

Wi Tiong hong terkejut sekali, rupanya Lan Kun pit memang bermaksud untuk mencelakai adik misannya, padahal dia berhutang budi kepada nona So, jadi setelah rahasia tersebut diketahui olehnya ia tak bisa berpeluk tangan belaka.

Terdengar suara tua nyaring tadi bergema lagi:

"So loji hanya mempunyai seorang putri yang dipandang sebagai mutiara kesayangan, bila kita tak berhasil

menyandera putrinya, tak mungkin ia bersedia mempersembahkan pil emas penolak racun kepada kita."

"baiklah sekali lagi kuberi waktu selama satu bulan, nah kau boleh pergi !" "Tecu masih ada satu masalah lagi yang hendak dilaporkan kepada kaucu." "Soal apa ?"

"Lou bun si telah diperoleh seorang murid tercatat dari Bu Tong pay yang bernama Wi Tiong hong."

Sebelum ucapan tersebut selesai diutarakan, orang itu sudah menukas sambil tertawa:

"Soal ini sudah kuketahui, malah tengah hari tadi Wi Tiong hong sudah sampai di sini dan sekarang berada dalam markas besar Thi pit pang, aku sudah

memerintahkan kepada Ting Ci kang agar mengajaknya menghadapku besok, bila tiada urusan lain, kau boleh pulang."

Diam-diam Wi Tiong-hong berpikir lagi "Kalau didengar dari nada pembicaraan nya, Ting toako seperti tak ada yang menyaru, hmmm; besok dia suruh Ting toako mengajakku kemari, sudah jelas dia mengandung maksud tak baik, aaai...sebenarnya Ting toako adalah seorang manusia yang cekatan, mengapa dia begitu percaya dengan

omongannya?"

Thian nomor satu melangkah keluar dari ruangan dan segera melesat keluar lewat pagar pekarangan.

Dari dalam segera berkumandang lagi suara panggilan yang amat nyaring. "Kaucu memerintahkan Ui nomor empat masuk ke dalam"

Manusia berkerudung yang berdiri didepan Tam See hoa segera mengiakan dan masuk ke dalam sambil berkata.

"Tecu menjumpai kaucu."

"Bangun, bagaimana dengan tugasmu ?" "Tecu mendapat kabar, berapa hari berselang orang-orang dari Tok seh sia kena di kurung oleh Ban kiam hweecu dalam sebuah barisan aneh, kemudian alasan dari kedua belah pihak menarik diri adalah karena Ban kiam hwecu meski berhasil mengurung begitu banyak jago- jago Tok seh sia, namun Ban kiam hweecu pribadi justru kena dikurung oleh Liong Cay thian diatas puncak."

"Dengan cara apa Liong Cay thian berhasil mengurung Ban kiam hwee cu...?" "Khabar yang tecu peroleh mengatakan bahwa Liong Cay thian membawa anak buah yang

dilengkapi dengan empat butir peluru sakti api beracun serta delapan buah gendewa racun

cairan emas"

Suara tua itu termenung berapa saat, katanya, kemudian baru bertanya lagi. "Dari-mana ia dapatkan barang-barang tersebut ?"

"Konon Liong Cay thian berhasil membelinya dengan harga tinggi diwilayah Im kui"

Mendadak suara tua tadi mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak, suara tertawanya amat keras dan amat menusuk pendengaran. bahkan kedengaran pula begitu mengerikan hati.

Setelah berhenti tertawa, ia baru berkata lagi.

"Bagus sekali, berita ini sangat penting artinya bagiku, coba kau menyingkir dulu ke samping"

Dan dari dalam ruanganpun berkumandang lagi teriakan nyaring. "Hian nomor tiga masuk"

Kali ini undangan disebutkan tanpa mengikuti urutan yang berbaris, ini menunjukkan kalau tugas yang dibebankan pada Hian nomor tiga jauh lebih penting daripada Gi nomor lima.

Biarpun Wi Tiong hong memiliki nyali yang besar dan kepandaian silat yang tinggi pun, tak urung hatinya bergetar juga setelah mendengar dirinya dipanggil.

Buru-buru dia membungkukkan badannya sambil mengiakan, kemudian dengan langkah lebar masuk ke dalam ruangan.

Siapa tahu setelah melangkah masuk ke dalam ruangan apa yang terlihat membuat hatinya bergetar keras.

Tempat itu merupakan sebuah ruangan dalam yang lebar, empat penjuru ditutup dengan kain hitam sedang sebuah lentera dengan cahaya yang lembut mencorong ditengah ruangan, cukup membuat suasana disitu terasa redup dan menyeramkan.

Pada kursi utama duduk seorang kakek berjubah lebar warna hitam dan memelihara jenggot sepanjang dada, disamping bangku terletak pula sebuah tongkat bambu.

Di depan kakek itu terdapat sebuah meja kecil, diatas meja terletak hiolo yang mengepulkan asap dupa wangi.

Wi Tiong hong boleh dibilang sangat mengenal face’s itu. dia bukan lain adalah Tok seh siacu

Dibelakang kakek tersebut berdiri dua orang gadis berambut panjang, sementara di sisi kiri sebelah bawah berdiri seorang manusia berkerudung yang berdiri dengan

sikap menghormat, agaknya orang itu adalah Ui nomor empat.

Bertemu dengan Toh seh siacu, Wi Tiong hong malah merasa hatinya jauh lebih lega, diam- diam ia mendengus sambil berpikir.

"Rupanya siluman yang membuat ulah dalam perkumpulan Thi pit pang adalah kau!" Berpikir sampai disitu, dia maju memberi hormat seraya katanya.

"Tecu menjumpai kaucu.!”

"Bagaimana dengan tugas yang diserahkan padamu?"

tanya si kakek berambut putih itu sambil menatap wajah pemuda itu lekat-lekat.

Semenjak tadi Wi Tiong hong sudah mempersiapkan jawaban dengan dengan sebaik-baiknya dengan kepala tertunduk dan membungkukkan badan memberi hormat jawabnya.

"Tecu mohon diampuni.."

Dia sengaja menghentikan kata-katanya sampai ditengah jalan. Kakek berambut putih itu segera manggut-manggut.

"Apakah kau telah menjumpai kesulitan sehingga tugas tersebut tak bisa dilaksanakan dengan sempurna?"

"Benar!" buru-buru Wi Tiong hong menyahut.

Dua orang gadis yang berdiri dibelakang kakek itu segera menunjukkan perasaan kaget bercampur keheranan, serentak mereka berpaling kearah Wi Tiong hong.

"Bagus sekali" kata kakek berjtenggot putih itqu kemudian sambil mengulapkan tangannya. "harap kau berdiri dulu disitu"

Diam-diam Wi Tiong hong menghembuskan napas panjang, akhirnya keadaan yang paling gawat ini berhasil diatasi olehnya, maka dia menurut dan segera menyingkir ke samping.

Kakek berjenggot putih itu kembali mengangkat tangannya, seorang gadis yang berdiri dibelakangnya segera berseru dengan merdu.

"Gi nomor lima masuk!"

Tam See hoa melangkah masuk kedalam ruangan, sambil memberi hormat katanya. "Tecu menjumpai kaucu,"

Kakek berjenggot putih itu memandang sekejap kearahnya, lalu sambil manggut-manggut katanya.

"Kau juga ikut datang? Betul sekali, harap berdiri dulu disana." Ternyata ia sama sekali tidak bertanya tugas apa pun kepada Gi nomor lima tersebut.

Kendatipun Tam See hoa merasa hal ini sama sekali diluar dugaan, toh ia memberi hormat juga sambil berdiri disamping Wi Tiong hong.

Kakek berjenggot putih itu segera berpaling kearah Ui nomor empat sambil mengelus jenggotnya, bibirnya bergetar lirih, agaknya ia sedang berpesan sesuatu.

Tak selang berapa saat kemudian. Ui nomor empat membungkukkan badannya sambil menyahut. "Tecu terima perintah"

Sambil membalikkan badan ia pun beranjak pergi dari situ.

Wi Tiong hong yang menyaksikan hal ini menjadi curiga, secara tiba-tiba si kakek itu menyampaikan pesannya kepada Ui nomor empat dengan ilmu

menyampaikan suara, berarti pasti ada sebab musababnya.

Sementara dia masih termenung, si kakek berjenggot putih itu dengan sorot mata yang tajam bagaikan sembilu telah menatap wajah Wi Tiong hong serta Tam See hoa, kemudian pelan-pelan katanya.

"Besar amat nyali kalian berdua."

Biarpun ia beinicara dengan suara yang mendatar, namun kedua orang tersebut menjadi amat terperanjat, sudah jelas rahasia penyaruan mereka telah ketahuan.

Sambil tersenyum kembali si kakek berjenggot putih itu berkata.

"Bukankah kalian mempunyai keberanian untuk menyelundup masuk ketempat kediaman ku? Mengapa sekarang menjadi ketakutan sehingga berbicarapun tak mampu ?"

Melihat jejak penyaruannya sudah berhasil dibongkar lawan. Wi Tiong hong pun mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak:

"Hahaha...hahaah... ternyata ketajaman matamu memang cukup mengagumkan !"

Dengan satu gerakan yang cepat ia melepaskan jubah panjangnya dan meraba gagang pedang Jit-siu kiam.

Sementara itu Tam See hoa telah melepaskan jubahnya sambil mempersiapkan senjatanya. Dua orang gadis yang berdiri dibelakang kakek berjenggot putih itu kontan saja

dibuat kaget sampai paras maka mereka turut berubah hebat.

Kakek berjenggot putih itu segera menggoyangkan tangannya berulang kali sambil berkata lagi:

"Aku sama sekali tidak berniat untuk turun tangan melawan kalian berdua, jadi kalian tak perlu merasa takut."

"Aku sama sekali tak takut." dengan sorot mata yang tajam Wi Tiong hong tertawa tergelak. Sikap kakek berjenggot putih itu masih tetap sangat tenang, kembali ia berkata.

"Setelah kalian berdua datang kemari, mengapa tidak sekalian melepaskan kain kerudung muka itu?"

"Boleh saja kulepaskan kain kerudung muka ini, cuma semestinya kau pun harus melepaskan topeng yang menutupi wajahmu itu"

Kakek berjenggot putih itu nampak agak tertegun, kemudian sambil mengelus jenggotnya yang putih, pelan-pelan dia berkata lagi:

"Sejak kapan sih aku mengenakan topeng?"

"Haaahh,.haaaah.a. hhaaahh..bila kuhitung dengan jari, maka engkau adalah orang ke tiga yang kujumpai dengan dandanan seperti ini"

Berkilat sepasang mata kakek berjenggot putih itu, tiba-tiba ia menegur. "Sebenarnya siapa sih sobat ?"

"Aku ingin mengetahui lebih dulu siapakah kau ?"

Kakek berjenggot putih itu termenung sebentar, kemudian jawabnya:

"Aku adalah Kiu tok kaucu."

"Ternyata dia bukan Tok seh siacu!” Wi Tiong hang segera berpikir dihati kecilnya. Dengan cepat dia merobek lain kerudung mukanya, kemudian berseru dengan lantang: "Aku adalah Wi Tiong-hong ."

Tam See hoa juga segera merobek kain kerudung hitam yang menutupi wajahnya.

Kakek berjenggot putih itu kelihatan bergetar keras karena terperanjat kemudian serunya sambil menjura.

"Oooh rupanya Wi tayhiap, sudah lama aku mendengar akan namaku..hahaheh.rupanya Tam huhoat juga datang tapi mengapa dengan menyaru?"

"Bila aku tidak datang dengan cara menyamar, bagaimana mungkin bisa mendapat tahu asal usul kaucu?"

jawab Tam See hoa sambil tenaga seram.

“Kiu tok, darimana kau bisa tahu kalau kami berdua datang dengan cara menyamar?" tanya Wi Tiong hong kemudian.

Kiu tok kaucu tertawa hambar. "Aku dengar belum lama Wi tayhiap munculkan diri dalam dunia persilatan, tapi berhasil mengalahkan Ban kiam hweecu diujung pedangmu serta menahan Tok seh siaucu dengan telapak tangan, belum pernah dunia persilatan digemparkan oleh pemuda muda usia semacam kau, boleh dibilang kemampuanmu memang sangat luar biasa, belum pernah ada keduanya sedari dulu..”

Nada ucapannya sangat datar dan tenang, ternyata ia berusia untuk memuji kelihayan ilmu silat wi Tiong hoag. Tam See hoa segera berkata: "Tahukah kaucu bahwa Wi tayhiap adalah saudara angkat dari Ting pangcu perkumpulan kami? Disaat Ting pangcu masih disekap oleh penjahat, Wi tayhiaplah wakil pangcu dari perkumpulan kami ?"

Perkataan ini sama artinya sedang memberi peringatan kepada Kiu tok kaucu, bahwa perkumpulan Thi pit pang bukan sekelompok manusia yang bisa di permainkan dengan semaunya.

Melirik sekejap kearah Tam See hoa pun tidak dilakukan oleh Kiu tok kaucu, terdengar ia berbicara lebih jauh.

"Biarpun Wi tayhiap memiliki ilmu silat yang teramat tangguh, tapi sesudah memasuki pesanggerahan Cing sim sien ku ini, pada hakekatnya seperti menghantar diri ke mulut harimau."

Sikapnya masih tetap tenang dan lembut, namun ucapannya penuh kepercayaan diri, jadi tampaknya perkataan yang diutarakan dengan maksud memuji-muji kehebatan ilmu silat Wi Tiong hong tersebut tak lebih hanya untuk menekankan kata-kata akhirnya ini.

Atau dengan perkataan lain, dia hendak mengartikan demikian.

"Biarpun kau dapat mengalahkan Ban kiam hweecu diujung pedangmu, dapat membekuk Tok seh siacu dengan tangan kosong, namun setelah berjumpa dengan Kiu tok kaucu, segala kemampuan yang kau miliki itu tak lebih hanya cukup untuk melindungi keselamatanmu sendiri."

Wi Tiong hong yang mendengar perkataan tersebut segera menyela. "Mengapa tidak kulihat kelihayan dari pesanggrahan Cing sim sian ini ?"

Kiu tok kaucu tertawa hambar.

"Berhubung Wi tayhiap dan Tam huhoat telah datang menghantarkan diri, sekalipun aku punya rahasia juga tak boleh sampai bocor keluar, oleh karenanya apa pun yang ditanyakan Wi tayhiap tentu akan kuberi tahu."

"Wi tayhiap datang dengan menyamar sebagai Hian nomor tiga, padahal Hian nomor tiga cuma mendapat perintahku untuk menyebarkan bubuk obat pembangkit wabah disungai yang mengalir disekeliling kota Hang ciu.

"Tugas semacam ini boleh dibilang teramat mudah untuk dilaksanakan, tetapi didalam kenyataan kau datang minta maaf karena tugasnya tak bisa diselesaikan, cukup berdasarkan hal ini sudah bisa dibuktikan kalau kau bukan Hian nomor tiga yang asli, itu berarti kau cuma orang gadungan."

"Sedangkan mengenai Gi nomor lima, dia adalah orang yang bertugas meronda pada malam ini, sebelum fajar menyingsing semestinya dia tak akan balik kemari, tentu saja dia pun manusia gadungan yang datang mencatut namanya..."

"Oooh.." Wi Tirong hong baru tahu sekarang, apa sebabnya penyaruan mereka begitu mudah diketahui lawan.

Tapi sewaktu mendengar kalau Hian nomor tiga mendapat tugas untuk menyebar obat pembangkit wabah disekitar sungai kota Hang cio. ia menjadi amat terkesiap, tanpa terasa bentaknya penuh amarah:

"Jadi kau telah mengutus anak buahmu untuk menyebar obat racun disungai yang mengalir dalam kota Hang ciu?"

"Omong kosong" seru Kiu tok kaucu marah.

"Justru lantaran kulihat di daerah sekitar Ci say sudah kejangkitan wabah menular, maka kuutus Hian nomor tiga untuk menebarkan bubuk obat penawar wabah ditempat tersebut, biarpun tak sampai melenyapkan semua wabah yang sedang terjangkit, paling tidak dapat menyembuhkan sebagian orang yang menderita..."

Wi Tiong hong jadi setengah percaya setengah tidak oleh perkataan itu, untuk sesaat dia terbungkam.

Mendadak terdengar Tam See hoa menjengek sambil tertawa dingin.

“Seandainya diwilayah Ci say benar-benar kejangkitan wabah menular, maka wabah tersebut sudah pasti merupakan hasil karya dari kaucu..."

"Darimana kau bisa tahu kalau wabah menular itu merupakan hasil karyaku?"

"Terjadinya peristiwa keracunan atas tubuh segenap anggota Thi pit pang sudah jelas merupakan hasil perbuatanmu yang telah meracuni mereka semua secara diam-diam."

"Tam huhoat, kau terlalu banyak curiga, andaikata akulah yang telah meracuni mereka, lantas mengapa pula kuobati mereka semua? Bila aku hendak turun tangan terhadap perkumpulan Thi pit pang, mengapa pula kubiarkan Ting Ci kang pulang?"

"Kau telah menggunakan sesuatu obat untuk mempengaruhi jalan pemikiran Ting pangcu, aku ingin tahu, sebetulnya apa maksud dan tujuanmu?" bentak Tam See hoa keras-keras.

Kiu tok kaucu melirik sekejap kearah Wi Tiong hong, kemudian tersenyum.

"Wi tayhiap, apakah kau dapat merasakan bahwa jalan pemikiran Ting pangcu telah terpengaruh sehingga tidak waras?"

-ooo0dw0ooo-