-->

Pendekar Sakti Welas Asih Jilid 7

Jilid 7

Menjelang pagi Lu-mo membuang mayat Can-hui kedalam jurang, dan menunggu wajannya yang berisi paku mengering kehitaman, lalu paku-paku itu dimasukkan kedalam kantongnya, menjelang siang saat ia sedang bersantai di beranda pondoknya, rombongan sim-kuang tiba

“eh…shantung-tok-piauw, hehehe..hahaha…angin apa yang membawamu ketempatku yang bobrok ini ?” sapa Lu-mo “hehehe..hahaha…. aku ada perlu denganmu lotong.” sahut Sim-kuang

“kamu membawa banyak teman, siapakah mereka ?” tanya Lu- mo

“hehehe…lo-tong, kedua orang ini adalah cinpawe aliran kita, Kwi-san-hengcia dan kwi-ban-ciang.”

“hehehe…selamat berjumpa lo-heng.” sapa Lu-mo pada kedua cianpwe.”

“selamat bertemu lotong.” sahut kedua cianpwe datar

“dan ini adalah Tok-lian, ang-mou-kuibo dan koai-ma.” ujar Sim- kuang

“hehehe…hahaha….tok-piauw ada apa hal sehingga kalian datang kesini ?”

“lotong, kami sedang menjalankan misi untuk membunuh she- taihap, jadi kami minta supaya kamu bergabung dalam misi ini.” sela Kwi-ban-ciang

“membunuh she-taihap ? hehehe..hahaha…apakah kalian sedang melantur mencoba membangunkan naga ?” sahut Lotong

“kami tidak melantur lotong, dan kami sudah berhasil membunuh dua she-taihap di lokyang.” sela Tok-lian “heh….bagimana kalian bisa membunuhnya ?” tanya Lu-mo heran

“dua cianpwe dihadapanmu ini hampir menyamai kemampuan seorang she-taihap, dan dengan kerjasama beliau-beliau ini berhasil membunuh dua she-taihap.” sela Koai-ma.

“lalu kenapa datang menemuiku, apa yang bisa saya lakukan untuk misi ini ?” tanya Lu-mo

“dengarlah lotong, dengan kerjasama yang baik, kita akan dapat membunuhi she-taihap, kamu direkomendasikan Tok-lian dalam hal ini, karena kami butuh orang yang memiliki keahlian senjata rahasia.” sela Kwi-san-hengcia

“ooh, begitu, kalau kita dapat membunuhi she-taihap itu hal yang amat menyenangkan.” ujar Lu-mo

“baguslah kalau begitu, rencana kita akan dapat kita jalankan.” sela kwi-ban-ciang

“bagaimana rencananya kwi-ban-ciang ?” tanya Lu-mo “dengarlah kalian, setelah menganalisa misi yang kamu lakukan sebelumnya, maka kita akan membentuk formasi untuk melawan she-taihap, mereka jelas orang-orang sakti, namun formasi dan kekuatan kita akan menundukkan mereka satu persatu.” sela Kwi-ban-ciang

“jelaskanlah loheng supaya saya lebih yakin dan mengerti !” ujar Lu-mo

“seorang she-taihap pasti dapat kita kalahkan dengan formasi empat dan tiga, maksudnya empat orang berhadapan lansung dengan she-taihap, dan tiga orang mengintai dengan senjata rahasia, dan kita bertujuh sudah memenuhi formasi itu.” sahut kwi-ban-ciang

“bagiamana loheng yakin ?” tanya Lu-mou

“karena dua she-taihap dapat kami bunuh hanya dengan keroyokan empat orang.” sela kwi-san-hengcia.

“luar biasa kalau begitu, sekarang kita akan mengeroyok seorang she-taihap dengan formasi tadi, sungguh itu pemikiran yang tepat dan jitu, hehehe..hahaha..”

“jadi lotong sebaiknya hari kita akan berangkat.” sela tok-lian “kemana kita akan berangkat ?” tanya Lu-mo

“kita akan ke shanghai, menuntaskan misi pertama yang gagal.” “baiklah kita berangkat dan ditengah jalan ceritakan kenapa misi pertama gagal.” sahut Lu-mo, lalu ia masuk kedalam dan mengemas buntalan pakaiannya.

Tujuh orang itu meninggalkan kediaman Lu-mo

“misi pertama ke shanghai di lakukan oleh enam orang, mereka adalah lam-liong-sian.”

“lam-liong-sian ? anak muda itu luar biasa dan sangat sakti.” sela Lu-mo “benar, namun kenyataannya mereka tidak kembali, jadi kita harus selidiki apa yang terjadi dishanghai.” sahut koai-ma “loheng..! kita ini hampir seumur, tapi nama kalian baru saya dengar,” ujar Lu-mo pada kwi-ban-ciang

“kami berdua menenggelamkan diri dalam peningkatan kesaktian.” sahut Kwi-ban-ciang

“kalian berdua ? apakah kalian satu perguruan ?” tanya Lu-mo “awalnya kami satu perguruan, kami adalah murid Ma-tin-bouw orang tertua dari kwi-sian-pat.” sahut Kwi-ban-ciang

“ooh begitu, jadi kalian ini cucu murid dari pah-sim-sai-jin.” “benar sekali lotong.” sahut kwi-ban-ciang

“hehehe..hahaha ternyata kita sangat dekat loheng.” “maksudmu dekat bagaimana lotong ?” tanya kwi-ban-ciang “hehehe…hahaha…kalian adalah cucu murid dari ayahku pah- sim-sai-jin.” sahut Lu-mo

“ah…begitukah ?” tanya keduanya sambil berhenti “apakah kalian tahu siapa nama asli dari pah-sim-sai-jin ?”

“hal itu kami tidak tahu, dan bahkan suhu kami juga tidak tahu, karena sebutan pah-sim-sai-jin lebih dikenal dunia.”

“benar, saya juga yakin bahwa Ma-tin-bouw dan tujuh saudaranya dalam kwi-sian-pat tidak mengetahui nama pah- sim-sai-jin, pah-sim-sai-jin hanya memberikan namanya pada wanita-wanita yang disukainya, dan dalam hal ini termasuk ibuku, ibuku adalah salah satu selirnya di kota Lijiang saat ia memulai misinya setelah turun dari kwi-ban-san.” ujar Lu-mo “lalu siapakah nama asli dari sukong pah-sim-sai-jin ?” “namanya adalah Lu-koai, dan namaku adalah Lu-mo.” “heheh..hahah…ternyata susiok sendiri yang dihadapan kita hengcia.” sela Kwi-ban-sian, lalu kedua cianpwe itu menjura hormat

“sudahlah basa-basi itu, walaupun aku susiok kalian, aku tidak mewaris apa yang dimiliki oleh ayahku, jadi tidak bisa disamakan dengan kalian.” ujar Lu-mo

“heheh..hahaha..tidak masalah susiok, yang penting kita sama- sama berusaha mewujudkan prinsip-prinsip hidup dari sukong pah-sim-sai-jin.” sela kwi-san-hengcia, kenyataan itu membuat tiga kakek itu makin akrab dan selama dua hari mereka mengadakan pesta di kota Jiangsu.

Kwaa-yun-peng sudah pulih dari luka bakar yang ia alami, dia sekarang hanya dapat melihat dengan sebelah mata, sementara mata yang sebelah hanya rongga hitam, ia dan kedua anaknya sudah tiga bulan menempati rumah yang sudah dibangun kembali, Kwaa-yang-bun dan Kwaa-hang-bi melayani ayah mereka, perguruan pek-lek-twi sudah kembali beroperasi selama dua minggu, Yang-bun mengambil alih dalam mengajari dan mengawasi latihan murid-murid yang tinggal empat puluh orang.

Sore itu Kam-sin-bu, istrinya dan anaknya Kam-kui datang berkunjung keruma she-taihap, mereka disambut oleh Kwaa- hang-bi

“silahkan masuk paman dan bibi.” sambut Kwaa-hang-bi dan membawa tamunya masuk keruang tengah, Kwaa-yun-peng yang sedang duduk sambil minum diruang tengah segera berdiri

“ah..ternyata kam-sicu yang datang berkunjung, mari silhkan duduk !” sambut Kwaa-yun-peng

“hahaha..hehhe..terimakasih kwaa-sicu, kami jadi merepotkan.” sahut Kam-sin-bu

“ah..tidak merpotkan kam-sicu, malah kami senang dengan kunjungan ini.” ujar Kwaa-yun-peng, lalu keluarga kam duduk “bagaimana keadaanmu kwaa-sicu ?”

“aku semakin baik kam-sicu, dan terimakasih kami dapat perhatian dari pemerintah dan kam-sicu sendiri.” sahut Kwaa- yun-peng

“hal itu sudah kepatutan kwaa-sicu, jadi jangan terlalu sungkan.” ujar Kam-sin-bu

“hehehe..oh ya bagaiman kui-ji, apakah penempatanmu sudah terealisasi ?”

“bulan depan saya akan mulai bekerja di Guangdong paman- kwaa.” sahut Kam-kui

“oooh..baguslah kalau begitu.” ujar Kwaa-yun-peng, lalu minuman dan sekedar makanan kecil di hidangkan Kwaa-hang- bi

“silahkan paman diminum dan maaf hanya ini yang bisa kami hidangkan.” ujar Kwaa-hang-bi.”

“ah..ini sudah lebih dari cukup bi-ji, dan tehnya sungguh nikmat.” sahut kam-sin-bu sambil meletakkan cangkir minumnya, Kwaa-hang-bi senyum menunduk dan duduk disamping ayahnya.

“kwaa-sicu, sebenarnya disamping mengunjungimu, saya dan keluarga ada hajat yang amat penting ingin kami sampaikan pada kwaa-sicu.” ujar Kam-sin-bu

“oh..begitukah kam-sicu, hal apakah yang penting itu, dan semoga saja kami dapat Bantu dan penuhi.”

“hehehe..hal ini merupakan harapan besar dari keluarga kami, semoga minat ini bersambut gayung.” ujar kam-sin-bu, mendengar itu Kwaa-yun-peng senyum

“bi-ji ajaklah kui-ji ketaman yang baru dibuat, dan temani ia melihat-lihat rumah kita.” ujar Yun-peng pada putrinya, Kwaa- hang-bi merasa perintah itu aneh, namun ketika melihat Kam- kui, hatinya berdesir

“baiklah ayah, mari kui-ko..!” sahut Hang-bi, lalu muda mudi itu keluar dan pergi ketaman belakang.

Keduanya duduk di paviliun sambil senyum-senyum “kenapa kui-ko senyum-senyum ?”

“karena bi-moi juga senyum-senyum.” sahut Kam-kui

“ih kalo begitu kita ini dua orang gila karena senyum karena orang senyum

“hehehe..hahaha…tidak apa, asal gilanya bersamammu bi- moi.” sela Kam-kui mulai masuk pada niat hatinya

“eh..hi..hi…. apa maksudnya Kui-ko, aku tidak mau gila ah..” “aku juga bi-moi, tidak mau gila, namun melihatmu dipesta paman Bao, aku jadi gila memikirkanmu.” “kui-ko…ka..kamu memikirkanku ?” tanya Hang-bi dengan hati yang berdegup kencang

“benar bi-moi, selama dua bulan ini aku selalu memikirkanmu, kamu membuat aku rindu entah kenapa, hatiku bergetar hangat membayangkan dirimu bi-moi.” Sahut Kam-kui dengan rona pucat pada wajahnya, Hang-bi yang hatinya berdegup kencang semakin membuat telapak tangannya dingin.

“lalu kedatangan paman bersamamu ?”

“kedatanganku bersama ayah erat kaitannya dengan hatiku yang menggila ini bi-moi, a..aku…a..aku tidak bisa lagi menahannya bi-moi, a..aku mau bilang aku sangat cinta padamu bi-moi, a..aku ingin hidup bersamamu bi-moi.” sahut Kam-kui dengan wajah semakin pucat

“oh…kui-ko, a..aku…ti..tidak tahu harus menjawab apa.” “a..aku mengerti bi-moi, ini sangat mendadak dan

mengejutkanmu, ta..tapi…apa yang kamu rasakan saat ini bi- moi ?”

“a..aku gemetar kui-ko, tapi hatiku hangat mendengar perkataanmu.” sahut hang-bi sambil menunduk dan meremas jemarinya yang berkeringat.

“bi-moi, apakah saat kita berdekatan seperti ini, kamu merasakan sesuatu ?”

“tadinya aku tidak merasa apa-apa, namun setelah kui-ko mengungkapkan perasaan kui-ko a..aku jadi gemetar begini.” “hmh….mungkin kamu tidak menyukaiko bi-moi

“ti..tidak…kui-ko, a.aku senang dan suka padamu.” sela Hang- bi cepat, Kam-kui menatap mata Hang-bi dalam-dalam, ia tersenyum hangat dan bahagia

“bi-moi…be..benarkah engkau suka padaku ?” tanya Kam-kui sambil meraih jemari hang-bi, terasa dingin dan bahkan basah.

“be..benar kui-ko, aku suka dan hatiku yang bergetar ini terasa nikmat ta..tapi aku takut

“tanganmu dingin bi-moi, aku mungkin telah menyusahkanmu bi-moi.”

“ah..maafkan aku kui-ko, a..aku tidak tahu kenapa aku kedinginan, tapi kui-ko aku hatiku semakin lama semakin hangat dan nyaman.”

“Bi-moi a..apakah kamu mau ikut denganku, hidup bersama denganku ?”

“kui-ko kedengarannya sangat menyenangkan, hidup,

ah…hatiku makin nyaman kui-ko, a..aku juga menginginkanmu kui-ko.” sahut Hang-bi sambil memejamkan mata.

“aku juga sangat mendambakanmu bi-moi, aku mau kau menikah dengaku, maukah kamu bi-moi ?”

“menikah..oh…kui-ko, ki..kita akan mebina keluarga kui-ko ?” desah Hang-bi dan matanya berkaca-kaca dan air matanya pun turun membasahi pipinya

“benar sayang..kita akan membina keluarga.” sahut Kam-kui semakin terenyuh melihat air mata yang bercucuran dipipi hang-bi.

“dimanakah kita akan membina keluarga kui-ko ?”

“bulan depan jika dapat restu dari orang tua, kita akan ke Guangdong, aku akan bekerja disana dan sekaligus aku akan menjagamu disana sepenuh hatiku.”

“kui-ko, ajakanmu mmebuat aku berdebar, namun aku harus memikirkan, berilah aku waktu tiga hari.” ujar Hang-bi, “baiklah bi-moi, semoga dalam tiga hari ini saya mendapat jawaban.” sahut Kam-kui

“marilah kita kembali kedalam kui-ko.!” ujar Hang-bi, lalu keduanya meninggalkan taman dan masuk kembali kedalam rumah

“hehehe..apakah kalian sudah selesai bicara ?” tanya Kam-sin- bu

“sudah ayah.” Jawab Kam-kui, Hang-bi hanya tertunduk dengan wajah bersemu malu

“baiklah kwaa-sicu, kami akan menunggu kabar dari Kwaa- sicu.” ujar Kam-sin-bu

“baik, saya akan segera sampaikan apapun kabarnya.” sahut Kwaa-yun-peng, keluarga Kam pun meninggalkan rumah she- taihap

“bi-moi..! duduklah disini nak.!” seru ayahnya, seruan itu membuat hati Hang-bi takut dan cemas

“a..ada apa ayah ?”

“hehehe..keluarga Kam menyampaikan sesuatu pada ayah.” ujar Kwaa-yun-peng, hati Hang-bi yang tadi cemas berubah menjadi malu, dia menunduk dalam disamping ayahnya

“bi-ji umurmu sudah sembilan belas tahun, jadi kau ingin dijadikan menantu oleh pamanmu, untuk anaknya Kui-ji, jadi bagaimana menurutmu ?” tanya ayahnya, mendengar itu Hang- bi spontan menunduk

“ayah, aku akan memikirkannya selama tiga hari ini.” ujar Hang- bi

“baiklah bi-ji, pikirkanlah dengan tenang dan jernih.” sahut ayahnya, Han-bi mengangguk dan meninggalkan ayahnya dan masuk kedalam kamar.

Dikamar Hang-bi mencoba tidur, namun bayangan wajah dan tatapan mata Kam-kui mewarnai pikirannya, Hang-bi mengerahkan tin-liong-siulian untuk melenyapkan bayangan Kam-kui, dan diapun tertidur dengan nyaman, saat malam tiba, Hang-bi bangun, dan kembali muncul kembali membayang wajah Kam-kui, Hang-bi senyum sendiri, hatinya bergetar, lalu ia bangkit dan pergi mandi. setelah mandi dan berganti baju, ia menemui ayah dan kakaknya untuk makan malam.

“kamu tidur seharian Bi-moi, ada apa ?” tanya Yang-bun “jangan ganggu adikmu Bun-ji.”

“hehehe..ayah ada apa ini ?” sahut Yang-bun heran melihat ayahnya yang baru kali ini merasa ditegur.

“tadi keluarga kam dan putranya datang menemui ayah.” sahut Yun-peng, mendengar itu mengertilah Yang-bun

“ooh, begitu, hehe..jangan lupa makan yah adikku sayang.”

“ih bun-ko, jangan becanda ah.” sahut Hang-bi dengan senyum tertunduk dan menyumpit makanannya. Hari kedua Hang-bi merasa rindu sekali dengan Kam-kui, hatinya semakin hangat jika membayangkan wajah tampan dan tatapan tajam mata Kam-kui, memang mata Kam-kui sangat tajam, alisnya yang hitam melengkung memberikan wibawa pada wajahnya yang tampan, sebagai ahli hokum, perawakan wajah Kam-kui sangat memberikan kesan tegas dan cerdik, sehingga membuat orang menatapnya menjadi segan. Tidak terkecuali she-taihap yang cantik ini.

Hari ketiga ajakan Kam-kui pada saat itu membuat hati Hang-bi yakin, bahwa ia benar suka dan cinta pada Kam-kui, kerinduannya yang mencuat, kehangatan hatinya yang merasuk dikalbunya membuat ia bahagia membayangkan ia mendampingi Kam-kui sebagai suaminya, lalu Hang-bi menemui ayahnya

“ayah, anak ingin menyampaikan perihal tiga hari yang lalu.” “baiklah bi-ji, katakanlah nak, ayah akan mendengarkan.” sahut Kwaa-yun-peng

“ayah, setelah menyelami apa yang kurasakan selama tiga hari ini, maka dapat kuputuskan bahwa hatiku tepaut dengan kui-ko, dan ajakan untuk menikah satu dambaan yang membuat hatiku bahagia.” ujar Hang-bi dengan wajah tunduk dan bersemu merah

“bi-ji pandanglah ayah anakku !” seru Kwaa-yun-peng, Hang-bi mengangkat kepalanya dan menatap wajah ayahnya yang mana sebelah matanya hanya rongga hitam

“sudahkah bulat tekad akan mendapingi kam-kui anakku ?” “sudah ayah, kui-ko menempati segala bayangan tentang rumah tangga dalam benakku ayah.”

“hmh..jika demikian anakku, ayah akan dukung dan restui, dan ayah akan menyampaikan pesan pada she-kam tentang keputusan kita ini.” ujar Kwaa-yun-peng, Hang-bi mengangguk. Sore harinya Kam-sin-bu beserta istrinya datang lagi kerumah she-taihap

“kam-sicu, hasrat baik dan niat yang terucap, telah menjadi buah pikiran kami selama beberapa hari ini, putriku juga telah memikirkan dan menimbangnya, aku dan putriku melihat banyak kebaikan dari niat suci itu, maka Kam-sicu, kami menerima lamaran yang diajukan.”

“hehehe..sungguh luarbiasa senang dan bahagianya hati kami sekeluarga kwaa-sicu mendengar jawaban yang memang sangat kami harapkan, kami tidak mampu mengungkapkan betapa rasa syukur yang terbetik dalam hati kami akan anugrah Thian dalam hubungan ini.” sahut Kam-sin-bu

“demikian juga kami skeluarga Kam-sicu, lalu hal selanjutnya marilah kita bicarakan Kam-sicu.” ujar Kwaa-yun-peng, Kam- sin-bu merasa bahagia mendengar perkataan she-taihap, hatinya mendadak lapang dan nyaman, karena keluarga luar biasa ini sangat terbuka dan tegas

Lalu dua orang tua itupun membicarakan hal pernikahan, karena penempatan Kam-kui ke Guangdong kurang dari sebulan lagi, maka pernikahanpun akan dilangsungkan tiga minggu didepan, sebelum keberangkatan Kam-kui ke Guangdong. Hari pernikahnpun tiba, arak-arakan dari rumah Kam-sin-bu sangat meriah, para undangan banyak yang menghadiri pernikahan putra wakil kungcu itu, bahkan kungcu sendiri ikut hadir, para pembesar pun ikut datang beramai-ramai, kedua mempelai disandingkan, pasangan yang serasi, celutuk beberapa undangan ketika melihat wajah kedua mempelai, biksu menjalankan upacara pernikahan dengan hikmat, hiburan dan nyanyianpun di gelar, Bao-hui sang paman luar biasa gembira, saat Kam-kui hendak memboyong istrinya kerumahnya, Hang-bi menangis memeluk ayah dan kakaknya “bi-ji…semoga rumah tangga yang kamu bina ini nak, dapat langgeng dan mengecap kebahagiaan, ayah akan selalu mendoakanmu.”

“ayah…aku belum cukup bakti padamu, bagaimana ayah nantinya, uuuu..uuu ?”

“hehehe,,anakku yang baik, baktimu padaku akan terpenuhi jika kamu dapat menunaikan bakti pada suami dan mertuamu, tapi jika kamu anakku tidak mampu memenuhi bakti pada suami dan mertuamu, maka kamu juga mengalpakan baktimu padaku, janganlah hal ini terjadi anakku, sebab ayah akan merasa sakit hati, berjanjilah anakku !”

“baik ayah aku akan tunaikan amanah ayah, aku akan berbakti pada suamiku dan ayah mertuaku, supaya ayah jangan sakit hati padaku.”

“demikianlah harusnya anakku, aku dan ayah mertuamu sama, suamimu sekarang lebih utama dari ayah, maka dulukanlah ia, karena ayah sudah metlak menyerahkan kamu padanya.” ujar Kwaa-yun-peng, Hang-bi mengangguk sambil meghapus air matanya.

Lalu Hang-bi dibawa Kam-kui ketandu pengantin, iring- iringanpun berangkat dikala senja itu, Hang-bi akan menjalani kehidupannya, dia akan menjadi bagian keluarga kam, dia akan mengharungi kehidupan bersama suaminya tercinta, selama tiga hari mereka mereguk nikmatnya malam pengantin, setelah itu suami istri yang baru membina rumah tangga itu berangkat kekota Guangdong, Kwaa-yun-peng melepas putrinya dengan berkah restu yang penuh.

Seminggu kemudian rekanan kwi-ban-ciang memasuki kota shanghai, disebuah likoan dibelahan timur kota mereka menginap, sutau malam tok-lian dan ang-mou-kuibo berjalan- jalan sambil menikmati indah kota shanghai pada malam hari, keduanya lewat sebuah pokoan besar dikota itu, beberapa lelaki yang baru keluar dari pokoan sedang mabuk, melihat dua wanita cantik separuh baya sedang duduk di jembatan depan pokoan, mereka langsung menghampiri

“hehehe…keluar malam-malam begini sedang apa nona ?” “hi..hi…sedang cari angin dong tuan.” sahut Tok-lian “nggak takut masuk angin nona ?”

“hi..hi…angin apa yang masuk tuan ?” sela ang-mou-kuibo “hehehe..hahaha…malam begini angin siluman bisa saja masuk , hahaha..hahha..”

“angin siluman rasanya dingin tidak, tuan ?” “angin siluman rasanya tidak dingin tapi panas.” “hi..hi…kalau panas, aku ingin jika ada angin siluman yang

datang, karena tubuhku lagi kedinginan.” sahut Tok-lian sambil senyum penuh menggoda.

“tuan ! kalian ini apakah orang kota ini ?” sela ang-mo-kuibo “hehehe.. benar nona, kalian tentu orang luar kota.”

“benar tuan, kami baru datang malam ini, dan kami tidak tahu mau kemana, apakah tuan punya tempat untuk melewatkan malam ini ?”

“hehehe..hahaha..tentu nona, jangankan semalam, beberapa malam boleh juga.”

“ih..tuan bisa saja, hi..hi….” sela Tok-lian

“baik marilah kita ke villa ayah saya, kita boleh bermalam disana.”

“ihh..apakah tuan juga mau menemani kami ?” sela ang-mou- kuibo manja

“tentu menemani wanita cantikcantik seperti kalian, siapa tidak mau, hehehe…”

“apa istrimu tidak akan marah tuan ?”

“hehehe..jangan khawatir, marilah, rasanya aku sudah tak tahan lagi.”

“tuan tahan kenapa ?” tanya Tok-lian dengan senyum nakal

“tidak tahan ingin memeluk dan menciummu, hehehe..:” “ih, tuan-tuan ini genit, mikirnya yang macam-macam

“hehehe..habis kalian menggemaskan.” sahut lelaki itu sambil memukul buah pinggul ang-muo-kuibo “hi..hi…tuan ini nakallah ?” jerit ang-mou-kuibo, empat orang itu menuju sebuah vila diluar gerbang sebelah timur.

Pesta mesum pun berlangsung semalam suntuk, diselingi derai tawa nakal dan gurauan kotor,

“liu-kongcu, kenal she-taihap tidak ?” tanya tok-lian

“semua orang dikota ini kenal she-taihap, terlebih setelah apa yang she-taihap alami beberapa bulan yang lalu.”

“eh..memangnya apa yang terjadi liu-kongcu ?”

“beberapa bulan yang lalu rumahnya di ledakkan orang, hingga istri dan enam puluh muridnya tewas.”

“ih negeri benar, lalu bagaimana dengan she-taihap sendiri ?” “she-taihap luka terbakar yang amat parah, namun untunglah ia selamat dan sudah sekarang sudah pulih, hanya sekarang matanya tinggal sebelah”

“wah…lalu pelakunya sudah ditangkap ?”

“pelakunya sampai sekarang tidak tahu, haya tuan edmundo yang menyediakan bahan peledak itu di hukum mati bersama putranya.”

“jadi sekarang siapa saja dalam rumah she-taihap kalau ia sudah menduda ?”

“sekarang hanya ada anaknya yang sulung kwaa-yang-bun, karena lebih seminggu yang lalu putrinya sudah menikah dengan Kam-kongcu yang menjadi tihu di Guangdong.” “hmh…apakah kamu sudah mengantuk liu-kongcu ?” “benar, marilah kita tidur.” sahut liu-kongcu sambil memeluk tubuh telanjang Tok-lian, Tok-lian juga makin menyusupkan tubuhnya kedalam pelukan Liu-kongcu.

Keesokan harinya, Tok-lian dan ang-mo-kuibo kembali ke penginapan, lima rekan mereka sedangh sarapan di lantai bawah

“darimana saja kalian tok-lian ?” tanya Sim-kuang

“heiihi..hi.., cari hiburan sambil mencari informasi.” sahut Tok- lian

“informasi apa yang kalian dapatkan ?” sela koai-ma “informasi terkait dengan she-taihap.”

“oh-ya apa yang kalian ketahui sehubungan dengan she-taihap

?” sela Kwi-ban-ciang

“she-taihap beberapa bulan yang lalu rumahnya diledakkan orang, yang saya yakin pelakunya adalah enam rekan kita.” “eh..lalu bagaimana ? apa yang terjadi ?” sela kwu-san-hengcia “istri she-taihap beserta enam puluh muridnya tewas, rumahnya luluh lantak, hancur rata dengan tanah.

“taihap sendri bagaimana ?” sela shantung-tok-piauw

“she-taihap selamatm tapi sekarang matanya sebelah sudah buta, dan hal yang penting untuk kita ketahui bahwa sekerang she-taihap hanya bersama putra sulungnya.”

“hmh….baiklah kita selesaikan makan, dan lalu kita kembali kekamar untuk membicarakan strategi selanjutnya.” ujar kwi- ban-ciang, lalu merekapun makan dengan buru-buru.

Tujuh rekanan itu berkumpul dikamar Kwi-ban-ciang

“jika sekarang she-taihap bersama putranya, maka rencana kita adalah mengundang seorang dari mereka untuk dibunuh duluan, apa ada ide yang jitu untuk mewujudkan strstegi ini ?” “dengan surat tantangan tidak mungkin, karena tentunya mereka akan hati-hati setelah peristiwa yang mereka alami.” sela kwi-san-hengcia, tujuh rekanan itu terdiam sambil berpikir

“aku ada ide dalam strategi ini.” sela koai-ma “apa idemu itu kuibo ?” sela kwi-san-hengcia

“kita buat seperti yang dilokyang, cianpwe.” sahut koai-ma “hmh…demikian juga bagus, jadi kalau begitu kita hari mendapatkan korban untuk dijadikan pemancing keluarnya salah satu dari she-taihap.” sela kwi-ban-ciang

“benar kwi-ban-ciang, jadi sebaiknya kita ambil rumah yang dekat dengan gerbang kota, sehingga kita bisa memancing yang kedua keluar dari kota.” Sela kwi-san-hengcia.

Kwi-ban-ciang dan tujuh rekannya malam itu mengincar sebuah rumah yang berdekatan dengan gerbang kota sebelah timur, rumah itu milik seorang kapten kapal bernama Ma-bin, Ma-bin baru berlabuh tiga malam yang lalu, dan sekarang sedang istirahat di rumahnya, besok lusa ia akan kembali lagi berlayar, rumahnya ini dihuni oleh istri tuanya yang berumur empat puluh tahun dan tiga orang pembantu wanita serta dua orang pembantu laki-laki.

Kehidupan Ma-bin sebagai seorang pelaut yang lebih lama hidup ditengah laut, sangat glamour, ia mempunyai beberapa rumah persinggahan di beberapa kota, dan di beberapa kota itu, ia memiliki istri yang menemaninya selama ia berada dikota itu, malam itu Ma-bin sedang bersantai diberanda atas rumahnya sambil menikmati taburan bintang di langit, istrinya menemaninya dengan mesra, karena suaminya ini hanya seminggu paling lama dirumah, dan mungkin akan bertemu lagi setidaknya tahun depan.

“jika berlayar ke macau bin-koko jangan lupa belikan kalung untukku jika kembali kesini.” ujar ma-hujin ,manja sambil memijit paha suaminya yang bertelekan di kursi panjang “hehee..jangan khawatir ang-moi.” sahut Ma-bin sambil menikmati pijatan istrinya, tujuh orang bayangan gesit mengintai kemesraan suami sitri itu, ketika keduanya berpelukan mesra, ketujuh orang itu muncul secara tiba-tiba, ma-bin dan istrinya terkejut

“hehehe…hahaha….malam ini memang suasananya indah dan romantis.” ujar kwi-ban-ciang

”heh ! siapa kalian..!” bentak Ma-bin sambil berdiri menatap ketujuh orang itu

“tidak perlu kamu tahu siapa kami.” sela koai-ma sambil bergerak cepat menyerang Ma-bin, Ma-bin dengan cepat berkelit dan hendak memukul lambung Koa-ma “buk…aughhh….plak…buk…hegk..” Lambung koai-ma dihantam pukulan kuat dari Ma-bin, tapi yang menjerit kesakitan malah Ma-bin sendiri, lambung itu kerasnya laksana baja ketika Ma-bin pukul, ketika ia menjerit sebuah tamparan menghantam pipinya hingga giginya ambrul dan disusul sebuah tendangan yang menghantam dadanya, hingga ia terlempar kedalam rumah.

Ma-bin menggeloso sambil meringis, istrinya yang ketakutan meringkuk dibawa kursi panjang, shantung-tok-piuaw menarik Ma-hujin masuk kedalam rumah, Ma-bin dan istrinya diseret kelantai bawah, tiga pelayan yang sedang menyiapkan makan malam terkejut dan menjerit, namun dengan sigap tok-lian membungkam mulut ketiganya, Koai-ma keluar untuk membekuk dua penjaga yang ada di pos gerbang rumah, kedua penjaga itu tanpa perlawanan lemas ditotok Koai-ma dan diseret kedalam rumah, tujuh orang penghuni rumah di tumpuk, sementara tujuh rekanan menikmati makanan diatas meja.

Setelah makanan diatas meja mereka lahap, lo-tong menyeret Ma-hujin kekamar,

“mau kemana kamu Lu-siok ?” tanya Kwi-ban-ciang “hehe…kemana lagi kalau tidak bersenang-senang dikamar.” sahut Lu-mo, satu kebiasaan bagi lotong yang kate, setiap wanita yang terintimidasi membuat gairahnya muncul dan dia akan melakukan kemesuman, korbanya kali ini wanita empat puluh tahunan,

“hmh..sebelum kita membicarakan rencana tidak salah kita berpesta.” ujar Kwi-ban-ciang, koai-ma dan shantung-tok-piauw membawa dua pelayan kekamar lain, sementara ang-mou-kwi dan tok-lian kembali ke lantai atas menunggu pesta itu selesai sambil menikmati bulan sepotong, seorang pelayan yang tinggal digilir kebejatan dua cianpwe. Ma-bin dan dua penjaganya tergeletak lemas dengan wajah pucat, beberapa jam kemudian pesta mesum itu pun selesai, semua korban kembali dikumpulkan, tiga pelayan sesugukan menangis pilu, Ma-hujin hanya meringis kesakitan serta bingung dengan kemalangan yang menimpa mereka

“hehehe..hehehe…kalian semua akan mati, jika tidak menuruti perintah kami, bagaimana ? apa kalian mau mati ?”

“ti..tidak tuan, kami akan menuruti apa saja yang tuan katakan.” sahut Ma-bin dengan wajah memelas

“bagus kalau begitu, besok kalian dua penjaga pergilah kerumah she-taihap, usahakan seorang dari mereka mengikuti kalian hingga kesini.” ujar Kwi-ban-ciang

“ba..,baik tuan, ka..kami akan lakukan perintah tuan ?” “hmh…apa yang akan kalian katakan padanya ?” sela Kwi-san- hengcia, kedua penjaga itu saling pandang, seorang dari mereka berkata

“ka..kami akan katakan bahwa rumah majikan kami didatangi perampok dan menawan majikan kami.”

“bagus tapi ingat hanya seorang she-taihap yang boleh kalian bawa kesini, jika kalian melanggar, kalian semua akan mati, dan kelian berdua akan diawasi salah satu dari kami.” ujar Kwi- ban-ciang

“baik tuan, kami tidak akan melanggar perintah tuan.” sahut dua penjaga serempak.

Keesokan harinya dua penjaga berangkat diikuti oleh koai-ma dan shantung-tok-piauw, keduanya berhenti disebuah likoan, sementara dua penjaga memasuki perguruan pek-lek-twi, empat puluh murid sedang berlatih di lianbhutia diawasi oleh Kwaa-yang-bun, seorang tukang kebun mendekati dua penjaga Ma-bin

“ada perlu apa jiwi-sicu ?”

“kami hendak bertemu dengan she-taihap muda, apa beliau ada ?”

“ada, she-taihap sedang melatih murid-murid, marilah !” sahut situkang kebun, keduanya memasuki lianbhutia, si tukang kebun mendekati Kwaa-yang-bun dan berbisik, Kwaa-yang-bun menatap kedua tamunya, lalu melangkah mendekati kedua penjaga Ma-bin.

“ada apakah Jiwi-sicu, apa yang bisa saya bantu ?” tanya Kwaa-yang-bun ramah

“she-taihap, saya adalah A-ling dan ini A-kuan, kami bekerja dirumah Ma-taijin seorang pelaut.” ujar A-ling

“A-ling-sicu ada apakah ?”

“she-taihap tolonglah majikan kami.” pinta A-ling “kenapa dengan majikan jiwi-sicu ?”

“rumah majikan kami di datangi perampok dan majikan kami sekarang ditawan dirumahnya.”

“hmh….perampok menawan yang dirampok, sungguh aneh jiwi- sicu, bukankah perampok akan melarikan diri setelah menjarah milik korban ?”

“mungkin mereka bukan perampok A-ling ?” sela a-kuan “mungkin juga mereka bandit pemerkosa.” sahut A-ling “apakah kalian melihat orang-orang macam apakah yang mendatangi rumah majikan kalian ?”

“ka..kami tidak tahu jelas, karena jumlah mereka lebih dari dua orang, mereka masuk dan mengacau rumah, kami yang menjaga dipintu gerbang langsung masuk kedalam rumah, dan didalam rumah majikan kami sudah berdarah dan tergeletak pingsan, lalu kami segera melarikan diri untuk minta bantuan, dan semalam kami teringat pada she-taihap maka kami datang kesini taihap.” ujar A-lin.

“baiklah jiwi-sicu, saya akan menyuruh tiga orang murid untuk melihat situasi dirumah majikan kalian.

“apakah tidak sebaiknya she-taihap sendiri menyertai kami ?” sela A-kuan

“tidak usah, kalian dengan tiga murid kesana hanya untuk membaca keadaan, A-san, A-tung dan A-liang kesinilah !” sahut Kwaa-yang-bun sambil memanggil tiga murid utama, tiga murid itu mendekat

“ada apa siauw-suhu ?” tanya A-liang

“kalian bertiga pergi bersama jiwi-sicu ini kerumah Ma-taijin, kalian lihat apa yang terjadi disana, jika memungkinkan kalian dapat menyelesaikannya, maka kalian selesaikan, tap jika tidak dan kalian jangan bertindak semberono.” ujar Kwaa-yang-bun “baik siauw-suhu.” Jawab ketiganya serempak.

Lalu ketiganya keluar dari pek-lek-twi-bukoan, A-lin dan dan A- kuan bingung, keduanya saling pandang, ketika melewati bukoan keduanya melihat Koai-ma dan shantung-tok-piauw, bergerak keluar dari likoan dan mengikuti mereka secara dekat, dua penjaga Ma-bin takut dan pucat, karena tugas mereka gagal membawa seorang she-taihap.

“kamu duluan menemui cianpwe dan sampaikan apa yang dibawa dua penjaga ini.” bisik Koai-ma, shantung-tok-piauw mengangguk dan segera mengambil jalan lain dan bergerak berlari cepat menuju rumah Ma-bin.

“bagaimana shantung-tok-piuaw ?” tanya Tok-lian

“kedua penjaga itu gagal membawa she-taihap, she-taihap malah mengiringi keduanya dengan tiga murid-muridnya.” “biarkan mereka datang, dan setelah sampai kesini kalian bunuh semuanya.” sela kwi-ban-ciang, tidak berapa lama dua penjaga bersama tiga murid she-taihap mengintai rumah dari halaman rumah, namun mereka terkejut lima orang muncul dan menyerang mereka, tiga murid she-taihap memberikan perlawanan segit.

Bagi empat pengeroyok ternyata tiga murid she-taihap ini merupakan lawan yang tangguh, terbukti hampir seratus jurus, mereka belum dapat merubuhkan seorangpun dari tiga murid she-taihap, bahkan pada dua puluh jurus berikutnya A-liang dapat menendang shantung-tok-piauw hingga terlempar muntah darah, melihat keadaan itu dua cianpwe bergerak memasuki pertempuran, dua serangan cianpwe yang kosen membuat tiga murid she-taihap kewalahan, namun ketiganya dengan gigih bertahan dari tekanan dahsyat dua cianpwe, dan akhirnya dua pukulan cianpwe menegani sasaran.

“buk..buk..” A-liang dan A-tung terlempar karena dada mereka melesak remuk, mereka ambruk dan tewas seketika, A-san hanya sekejap terkejut, dua buah pukulan dari Kwi-san-hengcia menghantam perut dan dadanya, A-san ambruk tewas.

Kedua penjaga Ma-bin berlutut dengan wajah pucat, Kwisan- hengcia dengan dua kali tamparan menghancurkan kepala A-lin dan A-kuan, keduanyapun tewas

“buang mayat mereka kejurang duluar gerbang !” perintah kwi- san-hengcia, selain dari shantung-tok-piuaw mengangkat empat lima mayat itu dan dari belakang rumah Ma-bin, mereka menyusup keluar gerbang kota, kemudian melemparkan kelima mayat itu kedalam jurang, lalu segera kembali ke rumah Ma-bin

“bagaiamana selanjutnya cianpwe ?” tanya ang-mou-kuibo “kita tunggu she-taihap muncul, kita harus punya rencana cadangan jika dua she-taihap yang muncul.” sahut kwi-ban- ciang sedikit kecewa

“jika dua she-taihap yang muncul. maka sebaiknya kita menyingkir dulu dan menata ulang pancingan kita.” sela koai- ma

“benar dan kita tidak boleh buru-buru.” sela Tok-lian “bagaimana menurutmu hengcia ?” tanya kwi-ban-ciang

“apa yang dikatakan koai-ma itu lebih baik daripada kita gagal dan binasa.”

“baik kalau begitu mari kita menyingkir dari sini dan mengintai kemungkinan yang akan datang.” ujar kwi-ban-ciang. tujuh rekanan itu meninggalkan rumah Ma-bin setelah membunuh Ma-bin, Ma-hujin dan tiga pelayan, mereka berpencar diasekitar rumah penduduk untuk mengintai, hanya dua cianpwe yang kembali kepenginapan untuk menunggu, keduanya tidak ikut mengintai, karena takut dikenal oleh she- taihap, di kediaman she-taihap, Kwaa-yang-bun duduk termenung di lianbhutia, hatinya heran karena hari sudah lewat siang, ketiga murid belum kembali, lalu kwaa-yang-bun masuk kedalam rumah, Kwaa-yun-peng yang duduk diruang tengah menyapa anaknya

“bun-ji, kamu kenapa ? kelihatannya kamu sedang gelisah.” “aku tadi menyuruh tiga murid untuk melihat situasi di kediaman Ma sipelaut.”

“kenapa dengan Ma-sipelaut, Bun-ji ?”

“dua pembantunya mengatakan bahwa keluarga Ma sipelaut didatangi penjahat, dan sampai lewat siang begini ketiganya belum kembali.”

“hmh…sebaiknya kamu susul kesana Bun-ji !” sela Kwaa-yun- peng

“aku juga berniat menyusul kesana ayah.” sahut Kwaa-yang- bun, lalu ia pergi kekamarnya, dia mengambil sabuk dan menyampirkannya dibahu, lalu dua mouwpit diselipkan kepinggang, lalu ia keluar dari kamar

“ayah jika dalam satu jam saya tidak kembali, saya harap ayah menyusul.”

“hmh…kenapa bun-ji, apa ada yang kamu cemaskan ?” tanya Kwaa-yun-peng “aku teringat apa yang dialami oleh bibi-mei di wuhan, kejadiannya persis seperti ini, dimana musuh kita memancing bibi mei keluar, untuk mereka keroyok”

“baiklah bun-ji, jika dalam satu jam kamu tidak kembali, ayah akan menyusulmu.” ujar Kwaa-yun-peng.

“baik ayah, saya akan berangkat.” sahut Kwaa-yang-bun, tidak lama kemudian, Kwaa-yang-bun sampai di depan rumah Ma- bin, keadaan yang sunyi membuat hati Kwaa-yang-bun curiga, dengan gerakan gesit ia masuk kedalam rumah, hatinya terkejut melihat lima jasad yang tergeletak tidak bernyawa.

Tidak lama kemudian Kwaa-yang-bun mendengar gerakan halus mengintainya

“keluarlah kalian !” teriak Kwaa-yang-bun, empat orang muncul, dan langsung menyerang, mereka adalah kwi-ban-ciang, kwi- san-hengcia, koai-ma dan ang-mou-kuibo.

“dugaan saya tidak salah ternyata ini ulah kalian.” ujar Kwaa- yang-bun setelah melihat dua cianpwe dan ang-mou-kuibo yang dikenalnya, gerakan im-yang-sian-sin-lie dikerahkan, dan Kwaa-yang-bun tahu bahwa masih ada tiga orang lagi yang sembunyi, namun dengan tenang she-taihap menghadapi empat lawannya, dia selalu waspada dengan serangan gelap.

Dua cianpwe dengan gerakan cepat menekan she-taihap dengan kekuatan gerakan yang penuh sin-kang, seratus jurus sudah berlalu, dan pada saat dua cianpwe mengadu sin-kang dengan kwaa-yang-bun, empat buah pisau dan sepuluh jarum melesat, she-taihap melenting keudara sambil mengebutkan sabuknya

“wut ctar…hegk..” empat pisau dan sepuluh jarum runtuh ketanah, namun Kwaa-yang-bun tidak menduga ada dua buah paku hitam menancap dipundak dan lengannya, paku itu serangan dari lu-mo, paku itu bergerak dengan kekuatan magis, untungnya ilmu siu-to-po-in melindungi tubuh Kwaa- yang-bun, empat lawannya terus bergerak cepat melihat she- taihap sudah termakan senjata rahasia lo-tong, tapi mereka harus bersabar dulu karena Kwaa-yang-bun masih dalam kondisi yang prima, jurus im-yang-bun-sin-im-hoat bergerak menyerang koai-ma, namun dua cianpwe, tidak mau memberikan kesempatan pada she-taihap merubuhkan salah satu dari mereka, serangan keduanya yang luar biasa terpaksa membuat kwaa-yang-bun gagal merubuhkan koai-ma.

Kali kedua adu sin-kang kembali beradu, rumah itu bergetar, bahkan tangga keatas roboh, kembali tiga serangan gelap datang, kali ini Kwaa-yang-bun posisinya sangat terjepit, cep..hegk..” sebuah pisau dari empat pisau yang meluncur menancap di paha she-taihap, sementara sepuluh jarum tok- lian dapat di runtuhkan, namun sebuah paku dari lotong

menancap dilambung, Lotong setiap lemparan, ada tujuh paku yang melesat, suaranya desirannya nayaris tidak terdengar, dan paku itu walaupun lebih besar dari jarum tok-lian, namun sulit ditangkap oleh mata seawas she-taihap, pantaslah jika dia dijuluki “kui-ting” (paku siluman). She-taihap masih mampu bertahan, dengan im-yang-pat-sin- im-hoat dia menghadapi empat pengeroyok, dua cianpwe semakin bersemangat menekan she-taihap, yang mereka yakin semakin lemah, mereka mengetahui keadaan she-taihap dari adu sin-kang, untuk hal gin-kang she-taihap masih seirama dengan mereka.

“siap..sekali lagi hengcia !” teriak kwi-ban-ciang “dhuar…dhuar…hegh…brak…” ledakan sin-kang menggelegar, dua cianpwe terlempar, tiga penyerang gelap tidak jadi melempar senjata rahasia, karena terkejut melihat bayangan gesit tiba-tiba muncul, dua cianpwe terlempar bagai layang- layang melabrak dinding hingga jebol, ang-mou-kui-bo terhempas jatuh, tok-lian dan koai-ma menyingkir melarikan diri, demikian juga dua cianpwe sudah menghilang dalam sekejap.

Lo-tong dan shantung segera menyingkir, lotong berhasil melarikan diri, sementara shantung-tok-piauw sudah terlambat, karena sebuah sentilan telah membuat dia lemas dan roboh, pada adu sin-kang yang luar biasa dahsyat itu, ternyata diiringin oleh kekuatan sin-kang kwaa-yun-peng yang tiba-tiba muncul, dua iblis yang tidak menyangka dan hanya sekilas menangkap bayangan, sudah memastikan kehadiran she-taihap yang lain, tanpa pikir panjang setelah terlempar dan melabrak didnding, tanpa menggubris sesak dalam dada, dengan wajah pucat keduanya melarikan diri, demikian halnya dengan koai-ma dan tok-lian, hanya ang-mou-kui-bo yang dekat dengan kemunculan Kwaa-yun-peng mendapat imbas kilatan sin-kang yang mengantam tubuhnya hingga ia tewas seketika. “ayah…” seru Kwaa-yang-bun lemah dan ia langsung duduk bersiulian, Kwaa-yun-peng duduk di belakang anaknya dan membantu Kwaa-yang-bun untuk mengeluarkan hawa beracun dari senjata rahasia, menjelang malam Kwaa-yang-bun sudah pulih kembali

“aku tidak tahu ayah apa efek luka dari tiga paku dan pisau ini.” ujar Kwaa-yang-bun

“coba kita tanya orang itu.” sahut Kwaa-yun-peng sambil berdiri dan melangkah mendekati sim-kuang

“kamu ini siapa ?” tanya Kwaa-yun-peng

“sa..saya shantung-tok-piauw.” Jawabnya dengan mua pucat “selain dari kwi-ban-ciang, kwi-san-hengcia siapa lagi temanmu yang lolos itu ?” sela Kwaa-yang-bun

“kui-ting-lotong, tok-lian, dan koai-ma.”

“pisaumu telah menancap dipahaku, apa efek luka dari pisau ini

?” tanya Kwaa-yang-bun

“efek lukanya hanya bengkak dan pembusukan jika tidak diberi obat luka.”

“hmh…lalu efek luka dari paku temanmu ini ? tanya kwaa-yang- bun sambil menunjukan paku dilengannya.”

“jika paku dicabut mengeluarkan darah, maka ia hanya luka biasa, namun jika pakut dicabut tidak mengeluarkan darah, itu artinya pembuluh darah telah terjadi pembekuan, dan itu akan membuat pembusukan urat nadi, jika ia sampai pada usus besar, maka tiga hari setelah itu sikorban akan mati.” sahut sim- kuang, Yang-bun mencabut dua paku di lengan dan dilambung, keduanya berdarahdan, tapi ketika mencabut paku di pundak tidak berdarah.

“bagaimana menurut ayah ?” tanya Yang-bun

“apakah kamu tahu penawar luka ini ?” tanya Yun-peng pada Sim-kuang

“aku tidak tahu she-taihap, hanya lotong yang tahu, ampunkanlah aku taihap.”

“hmh..ceritakan apa sebenarnya rencana kalian !?” perintah yun-peng

“saya hanya diajak untuk melanjutkan misi yang katanya gagal disini.”

“misi pelenyapan she-taihap ?” sela Yang-bun “benar taihap.”

“hmh…berarti pelaku peledakan beberapa bulan yang lalu merupakan bagian misi kalian?”

“mungkin taihap, persisnya aku juga tidak tahu.” “kenapa kamu katakana mungkin ?” sela yun-peng

“karena aku hanya mendengar dari tok-lian meyakini bahwa pelaku peledakan itu enam dari rekan mereka yang tidak kunjung kembali.”

“apakah ada misi mereka yang berhasil ?” sela Yang-bun “kata kwi-ban-ciang misi mereka berhasil di lokyang, dua she- taihap dapat mereka tewaskan.”

“liong-pek ayah..” seru Yang-bun dengan dada sesak dan matanya berkaca-kaca.

“baiklah shantung-tok-piauw, kuburkanlah temanmu itu, kamu kami maafkan, entah kalau kali kedua kita bertemu pada situasi yang sama.‟ ujar Yun-peng, lalu kedua she-taihap itu meninggalkan rumah Ma-bin

“kita kerumah wan-sinse dulu Bun-ji, mungkin dia tahu obat luka paku di bahumu.” ujar Yun-peng, keduanya malam itu bertamu kerumah Wan-sinse

“hehe..she-taihap bagaimana keadaanmu ?” “aku baik-baik saja Wan-sinse.”

“lalu apa yang bisa saya bantu, sehingga malam-malam begini kalian anak beranak datang mengunjungiku ?”

“kami ingin minta bantuan shinse untuk memeriksa luka bun-ji.” “oh..sini bun-ji coba saya lihat.” ujar Wan-sinse, Yang-bun mererebahkan diri didipan, Wan-sinse memperhatikan empat luka ditubuh Yang-bun.

Wan-sinse membaluri luka pisau dengan obat bubuk dan lalu, begitu juga dengan luka dilambung dan lengan, namun ketika melihat luka lobang menghijau dipundak, keningnya berkerut. “apakah ini luka yang sama dengan lengan dan lambung taihap

?” tanya Wan-sinse

“benar wan-sinse, hanya menurut teman orang yang melukai bun-ji, luka di bahu itu telah terjadi pembekuan urat nadi, dan akan terjadi pembusukan hingga mencapai usus besar, dan katanya tiga hari setelah pembusukan usus besar, korban akan mati.”

“waduh sadis dan mengerikan pemilik senjata paku ini.” “apakah sinse dapat memberikan pendapat tentang luka ini ?” tanya Yun-peng

“jika ada luka simisterius ini, siempunya paku meramu pakunya dengan hal-hal yang menjijikan dan berbau syetan.” “kenapa wan-sinse berkata demikian ?”

“karena tiga paku ini sama model dan ramuannya, dan seharusnya efeknya sama, sama racunnya dan sama lukanya, namun tiga paku yang sama, ada satu yang berbeda efek yang ditimbulkannya.” jelas Wan-sinse

“lalu bagaimana menurut pendapat sinse ?”

“luka dengan efek yang taihap ceritakan tadi, jelas membuat aku juga bingun cara mengobatinya, namun aku memiliki seorang teman yang ada di “bian-san” (bukit kipas) sebelah timur kota An-hui, namanya Lauw-jin, bawalah kesana bun-ji, semoga dia dapat membentu she-taihap.”

“baiklah wan-sinse, dan terimakasih atas pengobatan dan saran pendapatnya.”

“sama-sama taihap.” sahut Wan-sinse, lalu dua she-taihap pulang kembali kerumah.

Keesokan harinya dua she-taihap untuk sementara menutup perguruan, karena akan pergi dalam jangka waktu yang lama, sementara Kwi-ban-ciang dan Kwi-san-hengcia sedang tergeletak ngosngosan disebuah lembah ditimur kota shanghai, tidak berepa lama tok-lian dan koai-ma muncul.

“bagaimana keadaan jiwi cianpwe ?” tanya tok-lian “dadaku sesak, namun hanya luka ringan, kalian sendiri bagaimana ?” sahut Kwi-san-hengcia

“kami baik-baik saja cianpwe, hanya mungkin tiga yang lain tewas.” ujar tok-lian “yang jelas ang-mou-kuibo tewas, dan kalua lotong dan shantung-tok-piauw belum tentu.” sela Koai-ma

“hmh..sial kita hampir berhasil membunuhnya.” keluh kwi- hengcia gemas

“sudahlah, kalian cari makanan untuk pengganjal perut !” perintah kwi-ban-ciang, lalu tok-lian menyalakan api sementara koai-ma mencari binatang buruan, seekor ular besar menjadi santapan mereka, setelah malam tiba, tiba-tiba lotong muncul “Lu-siok ternyata kamu selamat.” sela kwi-sian-hengcia

“iyah..untung aku agak jauh dari she-taihap dan cepat menyingkir.”

“lalu bagaimana dengan sim-kuang ?” sela Tok-lian

“aku tidak tahu, tapi kemungkinan besar tertangkap she-taihap, karena sampai kesini aku tidak melihat bayangannya dibelakngku.”

“hmh..lalu bagaimana cianpwe rencana kita selanjutnya ?” tanya koai-ma

“untuk sementara kita bersembunyi disatu tempat, karena jika kemungkinan sim-kuang tertangkap she-taihap akan mencari kita ditemnpat asal kita.” sahut Kwi-ban-ciang

“sebaiknya kita tetap dekat dengan kota ini, karena saya yakin seorang she-taihap dalam dua minggu ini akan tewas.” sela lotong

“bagaimana kamu yakin begitu Lu-siok ?” tanya kwi-san- hengcia

“hehehe..hahaha..karena aku telah menancapkan tiga paku dalam tubuhnya, walaupun hawa racun ketiga pakuku dapat dipunahkan oleh she-taihap, namun salah satu luka dari tiga pakuku akan menghantarkan nyawa she-taihap kealam kubur.” “memangnya efek luka paku Lu-siok berbeda ?” sela kwi-ban- ciang

“benar, karena setiap paku ganjil akan membawa magis siluman yang akan menggerogoti urat nadi korban, dan untung saya tidak jadi melempar tujuh paku, sebab kalau sempat satu mengenai tubuhnya, maka akan genap, dia akan selamat dari magis siluman.” sahut lu-mo.

“hmh…jika perkiraan lu-siok benar, patut kita untuk bersembunyi disini setidaknya sampai dua minggu, kemudian kita membantai seorang she-taihap lagi.” ujar kwi-ban-ciang, semuanya mengangguk setuju, lalu kelimanya merambah lembah dan masuk kedalam hutan belukar, keesokan harinya mereka menemukan sebuah gua didalam hutan, kelimanya masuk dan menelusuri goa.

“tempat ini cocok untuk kita singgahi selama dua minggu.” ujar kwi-ban-ciang, lalu merekapun duduk dan istirahat setelah berjalan semalaman merambah hutan.

Kwaa-Yun-peng dan anaknya mengadakan perjalanan dengan memburu waktu, lari mereka luar biasa cepat, tiga hari kemudian mereka sampai disebuah lembah disebelah barat kota suzhou

“ayah aku merasakan nyeri pada bagian dadaku.” ujar Yang- bun sambil menghentikan larinya, “coba ayah lihat dadamu bun-ji !” ujar Yun-peng, Yang-bun membuka kancing bajunya, otot dada Yang-bun pada bagian luka membengkak, dan urat sarafnya menonjol.

“sebentar lagi kita akan sampai kekota suzhuo, jadi biar ayah gendong kamu.” Ujar Yun-peng sambil meraih pinggang Yang- bun dan berlari cepat melintasi lembah, mauk hutan dan menurunu bukit, hingga sampai pada jalan raya menuju gerbang kota Suzhou.

Kwaa-yun-peng menyewa sebuah kamar untuk melewatkan malam, keesokan harinya ketika ia bangun aroma busuk yang sengit tercium

“ayah luka ini mengeluarkan bau busuk, ketika Yun-peng melihat sebuah urat syaraf yang menojol semalam pecah dan mengeluarkan nanah bercampur darah kehitaman, para tamu diluar kamar ribut karena mencium aroma busuk yang menyengat hidung, bahkan suara muntah sebagian tamu terdengar

“sebaiknya kita cepat meninggalkan kota ini Bun-ji, tunggulah sebentar.” ujar Yun-peng, lalu ia keluar

“sicu…sepertinya bau tidak sedap ini dari dalam kamarmu !” sela seorang tamu ketika melihat Yun-peng keluar

“benar sicu, dan maaf telah membuat para sicu sekalian, kami akan segera meninggalkan likoan.” sahut Yun-peng.

Kwaa-yun-peng menemui pemilik likoan, dia memesan dua bungkus makanan dan membayar sewa kamar, setelah itu Yun- peng kembali kekamar dan menggendong anaknya yang makin lemah, Yun-peng dengan cepat melompat dari ruang atas ke atap genteng bangunan disebelah dan dalam sekejap ia sudah jauh meninggalkan likoan dan keluar dari gerbang kota, setelah siang Yun-peng berhenti disebuah hutan, lalu anak beranak itu makan makanan yang tadi dipesan Yun-peng.

Kwaa-yang-bun tidak mampu untuk makan, karena perutnya terasa mual akibat aroma busuk, bahkan makanan itu memicu Yang-bun muntah, Kwaa-yun-peng dengan pengerahan tin- liong-siulian tidak merasa terganggu dengan bau busuk luka anaknya, setelah makan Yun-peng kembali menggendong Yang-bun dan berlari luar biasa cepat melintasi hutan dan lembah, dua hari kemudian Yun-peng sampai disebuah bukit sebelah selatan kota Nanjing, Yun-peng merebahkan yang-bun diatas rumput

“ayah akan memburu binatang untuk makanan kita.” Ujar Yun- peng, Yang-bun menganggukkan kepala, luka didadanya makin melebar, dan urat-urat syaraf yang menonjol itu hampir mencapai puting susunya, dan tiga buah urat syaraf sudah pecah mengeluarkan banyak cairan nanah bercampur darah hitam.

Kwaa-yun-peng dalam waktu tidak lama mendapatkan seekor ayam hutan, ketika Yang-bun melihat ayam yang dikuliti ayahnya, perutnya yang sudah tiga hari kosong muntah lagi untuk kesekian kalinya, hanya cairan kuning yang dimuntahkan dari perutnya yang kosong 

“ayah aku tidak tahan lagi, aku lemas benar.” keluh Yang-bun, wajahnya sudah pucat pias

“bersabar dan bertahanlah Bun-ji, kita sedang berusaha anakku untuk penyembuhanmu” hibur Yun-peng

“ayah perutku tidak tahan melihat ayah makan.” ujar Yang-bun “hmh…kalau begitu ayah akan makan dengan sembunyi dan agak jauh.” ujar Yun-peng, lelu menghilang dari tempat itu, Yang-bun dengan tubuh lemas menatap langit dari celah rerimbunan hutan, perutnya terasa sangat nyeri akibat rasa lapar, namun malangnya tenggerokannya tidak lalu menelan makanan, perutnya enggan menerima makanan, tidak lama bau aroma harum ayam bakar tercium

“hoak…hoak…” Yang-bun muntah karena merasa mual, Yun- peng dengan cepat melahap makanannya, dia sudah memutuskan bahwa ia tidak akan lagi makan setelah ini, karena anaknya tidak tahan melihat makanan, dan bahkan aroma daging bakar membuat anaknya muntah yang ia dengar dari kejauahan.

Kwaa-yun-peng kembali ketempat dimana Yang-bun direbahkannya, ia lalu mencuci mulut anaknya yang berlepotan cairan muntahan, Yang-bun minum sampai puas, karena hanya air ini yang menopang kehidupannya sekarang, saat Kwaa-yun- peng hendak menggendong putranya

“kweekkk..kwekkkk…:” terdengar pekikan dari angkasa

“jin-siok ayah..” seru Yang-bun, dan memang benar tiba-tiba Han-jin meluncur dari atas

“peng-ko !?” seru Han-jin “syukurlah Jin-te, kita harus ke bian-san disebelah timur kota An-hui.”

“baik peng-ko.” sahut Han-jin meraih tubuh Yang-bun dari pelukan kakaknya, kemudian Han-jin bersuit, pek-thouw pun melintas, Han-jin meraih tangan Yun-peng dan membawanya melayang keatas dan mendarat dipunggung pek-thouw.

Han-jin sudah berbulan-bulan mencari rekanan kwi-ban-ciang lewat udara dan darat, namun ia tidak menemukan jejak rekanan tersebut, terakhir perjalanan darat yang singgahi adalah kota Yinchang, namun jejak rekanan Kwi-ban-ciang tidak ada disana, akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke pulau- kura-kura, dan saat melintasi angkasa Nanjing, Han-jin melihat gerakan dibawah yang ternyata adalah kakak dan keponakannya.

Pek-thouw sampai di bian-san pada waktu sore,

“itu nampaknya ada sebuah pondok, mungkin itu shinse yang harus kita temui Jin-te.” ujar Kwaa-yun-peng

“kamu melintas di atas pondok itu pek-thouw !” perintah Han-jin sambil menunjuk kebawah kearah pondok, pek-thouw memekik dan melintas diatas pondok, Han-jin dan Yun-peng melompat kebawah dan mendarat mulus menjejak halaman pondok.

Seorang lelaki tua berumur enam puluh tahun keluar bersama seorang gadis cantik berumur dua puluh tahun, keduanya sedang meramu obat didalam pondok, lalu pekikan pek-thouw mengejutkan keduanya, dan segera keluar dan melihat keatas, rasa takjub luar biasa menyaksikan rajawali raksasa yang terbang melintas rendah, dan hati keduanya terkejut, ketika melihat ada orang melompat dari punggung rajawali dan turun di halaman pondok mereka. Keduanya takjub dan terkesima melihat dua orang asing yang luar biasa itu.

“maaf , jika kami telah mengejutkan Lo-sicu dan nona.” ujar Yun-peng

“hehehe…memang kalian luar biasa mengejutkan sicu, siapakah kalian dan hendak kemana ?” tanya orang tua itu “kami ini she-kwaa, saya adalah Kwaa-yun-peng, ini adik saya Kwaa-han-jin, dan ini anak saya Kwaa-yang-bun.” sahut Yun- peng.

“she-kwaa…hmh..apakah yang berdiri didepan saya ini she- taihap ?” sela orang tua itu

“benar dugaan lo-sicu, kami hendak bertemu dengan Lauw-jin shinse, diamanakah kami bisa bertemu ?” sajut Yun-peng “hehehe..aku sendirilah she-taiahap, mari silahkan masuk, keliahatnnya anakmu sedang sakit parah luar biasa.” ujar Lauw-sinse

“terimakasih lauw-sicu, dan memang benar, anak saya sedang sakit, dan atas saran Wan-sinse di shanghai kami kesini.”

“ooh, begitu, mari…mari…dan baringkanlah ia didipan, dan aku akan coba lihat, hua-ji sediakan minum bagi she-taihap !” sahut Lauw-sinse dan memerintahkan cucunya Lauw-li-hua untuk menyediakan air minum, Li-hua mengangguk dan segera kedapur, Kwaa-han-jin merebahkan Yang-bun di atas dipan, Lauw-sinse memeriksa luka dibahu Yang-bun, kepalanya geleng-geleng sambil meraba bagian urat syaraf yang tidak pecah, tidak lama Lauw-li-hua datang menyuguhkan minuman.

“silahkan diminum she-taihap !” sela Li-hua itu sambil senyum ramah mempersilahkan tamunya minum

“terimakasih siocia.” sahut Yun-peng, sambil membalas senyum, namun kemudian ia kembali memperhatikan Lauw- sinse yang lama terdiam, dan kemudian Lauw-sinse berdiri mengambil sebuah botol di dalam lacinya, lalu ia menuangkan cairan merah dalam mangkok, aroma harum semerbak menyeruak, lalu sejumput obat bubuk ia masukkan kedalam mangkok, lalu campuran itu diaduk, setelah itu Lauw-sinse melumuri luka itu dengan obatnya, kontan aroma busuk dari luka itu hilang dan aroma semerbak itu juga hilang, kemudian ia berbalik dan mennatap she-taihap

“apa yang terjadi peng-ko ?” tanya Han-jin

“rekanan kwi-ban-ciang mengicar kami, untungnya Bun-ji waspada dengan keadaan.” sahut Yun-peng, lalu ia pun menceritakan trik rekanan kwi-ban-ciang untuk mengeroyok Yang-bun.

“luar biasa dendam kesumat rekanan itu kepada kita peng-ko “benar, dan nampaknya usaha mereka sangat gigih untuk melenyapkan kita, bahkan saya dengar dari seorang rekan mereka bahwa liong-ko tewas.” sahut Yun-peng

“benar Peng-ko, liong-ko dan keponakan kita Kwaa-tan-bouw tewas ditangan mereka.” ujar Kwaa-han-jin. “Lauw-sinse berbalik dan menatap dua she-taihap

“bagaimana Lauw-sinse ?” tanya Yun-peng dengan nada sabar “hmh….luka bun-ji sangat parah sekali, dua hari lagi pembusukan ini akan sampai ke usus besar.”

“itu artinya kita masih punya waktu lima hari lagi.” sela Yun- peng

“benar she-taihap, bagaimana she-taihap tahu ?”

“teman pemilik senjata yang melukai bun-ji mengatakan jika pembusukan sudah sampai ke usus besar maka menurutnya dalam tiga hari akan mengakibatkan kematian.” sahut Yun- peng

“apakah ada obat yang bisa kita usakan Luaw-shinse ?” sela Han-jin

“obatnya ada, kita butuh tiga macam ramuan obat dalam usaha penyembuhan ini.‟

“apakah itu lauw-sinse ?” tanya Yun-peng

“dua ramuan mudah didapatkan, namun ada satu ramuan yang sulit.”

“apakah dua ramuan yang mudah itu lauw-sinse ?” sela Han-jin “kapur barus dan bunga mayat, kapur barus saya punya persediaan, dan bunga mayat banyak kita jumpaii di pemakaman.” sahut Lauw-sinse

“lalu yang ketiga, yang kata shinse sulit, apa ?” tanya Yun-peng

:ramuan ini sebenarnya memalukan she-taihap.” sahut Lauw- sinse

“memalukan ?” sela kedua shep-taihap dan saling pandang.” “benar she-taihap, karena ramuan yang ketiga ini adalah darah perawan.” Sahut Lauw-sinse, kedua she-taihap melengak terperangah.

“memang racun senjata ini mengandung kekuatan mistik, ramuan senjata ini digodok bersama cairan mayat yang sedang hamil.” ujar Lauw-sinse menjelaskan

“bagaimana pendapatmu Jin-te ?” tanya Yun-peng pada adiknya

“Peng-ko, saya akan mengambil bunga mayat itu dulu, semoga lima hari ini thian memberikan jalan pada kita, sebelum kepasrahan kita hamparkan dahadapan ketetapan Thian.” sahut Han-jin, lalu keluar dan menuju perkampungan dibawah bukit.

Kwaa-yun-peng tertunduk merenung, sementara li-hua yang sedang berada dikamar mendengar semua percakapan itu, terbetik rasa kasihan mengingat keadaan Kwaa-yang-bun yang diujung tanduk.

“bagaimanakah she-taihap yang terkenal ini akan mendapatkan darah perawan ? akankah keluarga lua biasa ini akan mengambil jalan pintas untuk mendapatkan darah perawan demi kesembuhan seorang dari keluarga mereka?” pikir li-hua, namun saat ia mendengar jawaban Han-jin pada Yun-peng, hatinya takjub, jawaban itu sebuah ketegasan akan kokohnya kelaurga ini memegang prinsip kebenaran

“mari kita keluar she-taihap, diluar kita akan merasa segar dan nyaman.” ujar Lauw-sinse. Kwaa-yun-peng dan Lauw-sinse keluar dan duduk diberanda rumah, Li-hua keluar dari kamarnya, dan mendekati Yang-bun yang tergeletak lemah, Yang-bun sadar dan mendengar percakapan itu, hatinya sudah pasrah jika memang ajalnya akan tiba dalam waktu dekat ini 

“siocia aku lapar sekali.” ujar Yang-bun lemah

“sebentar akau akan suapkan bubur.” sahut Li-hua segera bangkit dan pergi kedapur, tidak lama Li-hua muncul lagi dan duduk disamping Yang-bun, Li-hua menyuapi Yang-bun, Yang- bun makan bubur dengan lahap, karena aroma busuk sudah hilang, perutnya tidak mual lagi, bahkan saking lahapnya dua mangkok bubur tandas keperut Yang-bun.

“terimakasih siocia, perutku sudah kenyang.” ujar Yang-bun “aku cucunya, namaku Lauw-li-hua.” sahut Li-hua “terimakasih lauw-siocia.” ujarkYang-bun mengulang ucapan terimakasih

“tidak perlu taihap, bukankah ini sudah tugas kami, sebagai tabib ?”

“benar Lauw-siocia, namun supaya hatiku tentram aku harus ucapkan.” sahut Yang-bun senyum, hati Lauw-li-hua tergetar melihat senyuman manis dan mengandung rasa nyaman dan ketenangan yang dalam, Li-hua tertunduk menenangkan degupan hatinya.

Saat Lauw-li-hua tertunduk rambutnya yang digulung lepas dan gumpalan rambut yang panjang itu jatuh ke atas lengan Yang- bun, rasa hangat menyelinap dalam dada Yang-bun, indahnya rambut Li-hua membuat Yang-bun terpana, dan lekat memandang wajah cantik didepannya

“kenapa kamu melihatku seperti itu ?” sela Li-hua nyaris berbisik sambil menunduk wajahnya yang bersemu merah, sembari menarik ujung rambutnya keatas pankuannya. “oh..maafkan aku Li-siocia, ka..kamu membuatku terpana.”

jawab Yang-bun dengan hentakan gelora hatinya, sehingga membuat ia sedikit gugup, Li-hua tersenyum makin menunduk malu.

“be..benarkah taihap ?‟ bisik Li-hua agak gugup karena muka terasa makin panas

“namaku yang-bun li-siocia, dan aku tidak berani membohongimu, sungguh hatiku terpana melihatmu.” sahut Yang-bun, dan anehnya matanya berkaca-kaca, bahkan menetes dari sudut matanya, hati Li-hua berteriak senang mendengar penegasan ucapan Yang-bun, dan ketika ia melirik wajah Yang-bun hatinya heran dan terenyuh melihat mata Yang-bun yang berair.

“kenapa kamu menangis bun-ko ?” bisik Li-hua

“aku bahagia dapat merasakan sebuah gejolak yang nyamannya bertubi-tubi meresap dalam relung batinku, ternyata Thian masih memberikan kesempatan padaku merasakan kehangatan dan kenyamanan yang luar biasa ini, walaupun dipenghujung ajal yang sebentar lagi akan tiba, aku sangat bersyukur sekali hua-moi.” sahut Yang-bun dan dua tetes air mata kembali mengalir dari sudut mata Yang-bun. “oh-bun-ko, ketulusan kata-katamu membuat aku merinding saking bahagianya, aku bahagia dapat memberikan kenyamanan luar biasa yang kamu rasakan saat ini.” bisik Li- hua

“Peng-ko aku sudah dapatkan bunga mayat.” sela suara Han- jin dari luar, Li-hua segera bangkit,

“bun-ko aku kekamar dulu aku akan menyiapkan makan malam.” ujar Li-hua dengan senyum terkulum sambil menunduk dan berbalik menuju dapur, Yang-bun merasa senang dan tenang, kegembiraannya melebihi nyeri yang alami, tidak lama kemudian lauw-sinse masuk sambil membawa bungan mayat ditangannya.

“bun-ji apakah kamu tidak lapar ?” tanya Lauw-sinse

“aku sudah makan bubur dan dibantu cucu kakek.” jawab Yang- bun

“ooh, begitu, sekarang bagaimana perasaanmu ?” “setelah makan bubur aku tidak lemas lagi kakek.” “hmh….istirahalah yang cukup, ayah dan pamanmu akan

memikirkan jalan untuk penyembuhanmu.” ujar Lauw-sinse, Yang-bun mengangguk dan memjamkan matanya, wajah Li- hua terlukis nyata di pelupuk matanya, dengan seulas senyum Yang-bun menikmati bunga-bunga cinta yang tumbuh dan mekar dalam hatinya.

Sementara didapur Li-hua hatinya yang juga berselimut mesra, senyumannya tidak lekang, hatinya berbunga-bunga, wajah Yang-bun demikian melekat dalam benaknya, ketika malam tiba Li-hua menghidangkan makan malam, setelah menghidang makanan, sementara kakeknya dan dua she-taihap bersantap malam, Li-hua pergi kedapur, lalu dengan semangkok bubur Li- hua masuk kekamar pengobatan, sinar mata bahagia dan senyum manis Yang-bun menyambutnya, dengan rasa hangat Li-hua duduk kembali disamping Yang-bun, dan dengan hati mesra ia menyuapi pemuda yang telah mengaduk-aduk perasaannya ini.

Kwaa-yang-bun sangat menikmati bubur yang memasuki mulutnya, nikmatnya luar biasa ia rasakan, maklum hatinya juga sedang merasa senang dan bahagia, oleh karena rasa bahagia yang berpadu dengan rasa cinta yang mesra membuat rasa bubur nasi itu belipat kelezatannya, kedua sejoli itu saling bertatapan, tatapan itu mewakili hati mereka, disetiap suapan ada isyarat, disetiap kedipan mata ada isyarat, disetiap tundukan ada isyarat, disetiap helaan nafas ada iyarat, yang semua isyarat itu mengandung aroma cinta yang semerbak, ungkapan hati yang bergejolak.

Setelah Kwaa-han-jin selesai makan, ia berdiri “kamu mau kemana Jin-te ?:” tanya Yun-peng

“aku akan melihat Bun-ji dan menyuapinya makan.” jawab Han- jin, lalu Han-jin melangkah menuju kamar, namun dia berhenti ketika melihat Li-hua menyuapi Yang-bun, Han-jin kembali keruang makan.

“bagaimana dengan bun-ji jin-te ?” tanya Yun-peng

“bun-ji sudah dikasih makan oleh lauw-siocia.” jawab Han-jin “biarlah hua-ji yang mengurusnya, dia lebih telaten mengurus hal-hal seperti itu, lagian pengetahuannya dalam bidang pengobatan hampir menyamaiku.” sela Lauw-sinse senyum.

Keesokan harinya, sebagaimana biasa setelah makan pagi Lauw-sinse meramu obat, Li-hua tidak menyertai kakeknya karena ia terlebih dahulu memberi makan untuk Yang-bun, kali ini li-hua memberikan makanan biasa pada Yang-bun, karena perutnya sudah kuat untuk mencerna.

“hua-moi, penyakitku ini hanya menghitung hari, namun kamu demikian telaten merawat saya, sungguh hatimu mulia sekali.” “bun-ko tetaplah berusaha untuk mendapatkan ramuan obatmu, tidak ada yang sulit jika thian memberikan jalan.” sahut li-hua, Yang-bun menatap wajah yang tertunduk itu, hatinya bergetar, isyarat itu sangat ia mengerti.

Kwaa-yang-bun meremas paha li-hua dengan lembut

“hua-moi aku cinta padamu.” bisiknya nyaris seperti desahan, li- hua memejamkan mata, karena sengatan hangat dan getaran yang menyergap hatinya oleh remasan dan sentuhan Yang-bun pada pahanya, ia hanya mengenguk sambil menelan liur untuk membasahi kerongkongannya yang tiba-tiba terasa kering, setelah makanan Yang-bun habis, ia segera meninggalkan Yang-bun dan kembali dapur, setelah mencuci piring dan mangkok, li-hua keluar dan membantu kakeknya meramu obat.

Kwaa-han-jin yang melihat li-hua sudah keluar, segera memasuki pondok dan menemui Yang-bun “bagaimana keadaanmu bun-ji ?” tanya Han-jin

“keadaanku sudah pulih Jin-siok, dan rasanya aku sudah bisa duduk.” sahut Yang-bun

“bagaimana dengan ayah dan paman ?”

“kami baik dan dalam keadaan tenang, harapan selalu terpanjat, semoga Thian memberi jalan pada kita untuk kesembuhanmu Bun-ji.” sahut Han-jin, Yang-bun menunduk.

“Bun-ji, sebaiknya kamu berganti baju, dan paman akan mengambil air untuk melap tubuhmu.” ujar Han-jin, lalu han-jin kedapur dan membawa sebaskom air, kemudian Han-jin melap tubuh keponakannya dengan rasa sayang, lalu setelah itu, Han- jin membantu Yang-bun mengganti baju, pecahan urat syaraf semakin banyak, namun cairannya tidak merembes karena obat ramuan yang berikan lauw-sinse, luka itu hanya basah, dan urat syaraf yang menonjol sudah sampai dibawa puting susu Yang-bun.

Kwaa-yang-bun merasa nyaman setelah berganti baju yang bersih

“jin-siok !?” serunya sambil bersandar kedinding kamar

“ada apa bun-ji ?” tanya Han-jin sambil menggulung baju kotor Yang-bun

“jin-siok, sesungguhnya Thian telah memberikan jalan bagi kita.”

:maksudmu bagaimana bun-ji ?”

“jin-siok, aku dan hua-moi memiliki perasaan yang sama, aku sangat mencintainya, dan dipaun begitu sangat mencintaiku, aku berani mengatakan ini pada paman, karena tadi hua-moi telah memberikan isyarat padaku, jadi paman ajukanlah lamaran pada lauw-cianpwe, untuk menikahkanku dengan hua- moi.”

“hmh…syukur pada Thian kita panjatkan bun-ji, jalan keluar yang di berikan Thian ini anugrah yang amat indah dan luar biasa, segera akan paman bicarakan dengan ayahmu.” sahut Han-jin, lalu ia meninggalkan Yang-bun yang penuh dengan gelora cinta yang semakin menghangat dalam hatinya, Kwaa- han-jin mendekati kakaknya yang sedang duduk disebuah balai-balai sambil bersiulian, sementara Lauw-sinse dan cucunya berada di halaman belakang menjemur ramuan- ramuan obat.

“peng-ko !” seru Han-jin lembut, Yun-peng membuka sebelah matanya dan menatap adiknya

“ada apa jin-te ?” tanya Yun-peng

“Peng-ko, mari kita penuhi keinginan bun-ji, dan keinginannya adalah jalan yang dibukakan Thian untuk kita.” sahut Han-jin

“apa maksudmu jin-te ? apakah keinginan Bun-ji ?”

“bun-ji ingin menikahi Lauw-siocia, dan satu hal telah terjadi diantara mereka, ternyata keduanya sama-sama mencinta dalam pertemuan ringkas ini.”

“oh…demikiankah Jin-te ?” sela Yun-peng penuh haru “benar peng-ko, jadi marilah kita mengajak Lauw-sinse

membicarakan hal ini.” sahut Han-jin, lalu Yun-peng turun dari balai-balai, kedua adik beradik itu pergi kehalaman belakang “Lauw-sinse ! dapatkah kita bicara sejenak ?” sapa Yun-peng “oh..tentu taihap, tunggu aku akan cuci tangan dulu,” sahut Lauw-sinse, kemudian mereka bertiga duduk dibalai-balai dihalaman depan rumah.

“Lauw-sicu, maafkan kami jika penyampaian kami ini nantinya menyinggung hati lauw-sicu dan Lauw-siocia.”

“hal apakah itu she-taihap sehingga demikian sungkan kepada kami ?”