-->

Pendekar Sakti Welas Asih Jilid 5

Jilid 5

sahut lelaki itu, lalu ia dan seorang lelaki lain berlari-lari keluar, saat peti datang, A-meng dan Wan-sinse pun tiba, Han-jin meletakkan mayat kakak iparnya didalam peti, dan bebrapa tetanggapun masuk untuk menyalakan dupa di atas altar Kwaa-han-jin dan A-meng membawa Wan-sinse kekamar, Hoa- mei baru saja selesaia dengan siulian nya dan berbaring,

“wan-sinse, terimaksih telah datang

“ahh..kwee-hujin, itu sudah tugasku, mana aku periksa dulu,” sahut Wan-sinse sambil mendekati ranjang, Wan-sinse terperangah ketika melihat dua jarum yang tertancap dip aha dan betis hoa-mei.

“bagaimana keadaanku wan-sinse ?” tanya Hoa-mei “tubuhmu sepertinya sudah tida berhawa racun lagi, namun luka akibat jarum ini akan membusuk dalam tiga hari dan akan mengerogoti tubuhmu kwee-hujin.” jawab wan-sinse

“apakah ada obatnya wan-sinse ? tanya Hoa-mei

“itulah yang membuatku cemas hujin, obatnya hanya darah katak putih, sementara katak itu tidak saya miliki.” sahut Wan- sinse

“dimanakah kita mendapatkan katak putih sinse ?” sela Han-jin,

Hoa-mei dan Wan-sinse menatap Han-jin

“anak muda, katak putih ada di “kongciak-kok” (lembah merak) sebelah barat kota Kangshi, perjalanan kesana memakan waktu paling cepat dua puluh hari bolak balik.” ujar Wan-sinse. “jika terjadi pembusukan apakah katak itu masih berhasiat ?” tanya Han-jin

“masih berhasiat anak muda, tapi dua puluh hari itu sama artinya tubuh hujin sudah membusuk setengah.” jawab Wan- sinse

“lalu seberapa besar pengaruh katak putih saat sudah membusuk setengah

“hasiatnya cukup ampuh, hanya jika darah kataknya dapat banyak, tapi apakah hujin bertahan sampai saat itu aku tidak tahu” sahut Wan-sinse

“berapa katak yang diperlukan jika untuk tubuh yang busuk setengah ?”

“tiga puluh ekor lebih dari cukup, terlebih kalau dapat bunga teratai putih.” sahut Wan-sinse

“dimana dapat bunga teratai putih, wan-sinse ?”

“dua puluh li dari gerbang kota utara ada lembah berawa, disana ada teratai putih.” sahut Wan-sinse

“baik, aku akan berangkat ke kangsi dan tolong wan-sinse jaga encikku.” sahut Han-jin dan menghilang dari kamar itu, hanya Hoa-mei yang menangkap gerakan Han-jin, hatinya berdegup, dia tidak mengenal pemuda belia ber she-kwaa itu, namun ia dipanggil dengan encik, dia yakin mereka punya pertalian setidaknya hal ilmu, Hoa-mei mencoba mengingat semua anak- anak saudaranya, dan tidak ada yang bernama Han-jin, perkiraan yang ada hanya sekitar saudaranya, karena pat- hong-heng-te tidak akan menguasai “goat-koan-sim-hang” (menunggang sukma menutup rembulan).

Kwaa-han-jin menuju gerbang selatan, dan siutannya terdengar bergema, tidak lama pek-thouw memekik diudara, Han-jin langsung melenting keudara saat pek-thouw terbang mendekatinya.

“kita kearah sana pek-thouw !” ujar Han-jin menunjuk kedepan, pek-thouw memekik serombongan piauwkiok yang menruni bukit terkejut, namun burung rajawali melintas dengan cepat dan membumbung tinggi, besok paginya Han-jin sudah sampai dikangshi, untungnya dari atas ia melihat seekor meraj di dahan katu disebuah lembah, Han-jin turun kelembah itu.

“kita mengitari lembah ini pek-thouw, pek-thouw pun terbang rendah, Han-jin mengawasi dengan tajam kebawah, dan disebuah rawa dia lihat banyak katak putih melompat.

“kita kesana pek-thouw..” ujar Han-jin, lalu rajawali itu berputar, dan Han-jin melompat dan mendarat di tepi rawa, sesaat ia memperhatikan katak-katak putih yang berenang di permukaan air.

Kwaa-han-jin melompat dan menyambar dua katak putih yang berkejaran, lalu dia masukan kedalam keranjang yan ia sediakan, lalu han-jin duduk lagi dan mengawasi rawa, empat ekot katak muncul dan berenang beriring, Han-jin melompat dan menyambar dengan cepat, empat katak dapat ditangkapnya, lalu ia mengintai lagi, tiga puluh katak ia dapatkan sebelum siang hari.

Kwaa-han-jin bersuit memanggil rajawali yang mengitari lembah itu, pek-thouw mendekat,

“kita kembali pek-thouw !” ujar Han-jin, rajawali itu memekik nyaring dan membumbung tinggi dan kemudian meluncur melintasi awan, esok paginya Han-jin sudah sampai di kota Wuhan,

kita kesana dulu pek-thouw.” ujar Han-jin menunjuk kesebelah utara kota wuhan, dan dari ketinggian ia melihar rawa yang dimaksud Wan-sinse, dan ketika rajawali terbang rendah, Han- jin melihat teratai dengan bunga putih sedang mekar, Han-jin turun dan memetik lima bunga teratai putih, lalu ia kembali kepunggung rajawali dan berpatah bali kekota wuhan, sesampai dihutan dimana enciknya bertempur Han-jin turun

“Pek-thouw. istirahatlah !” ujar Han-jin, rajawali memekik dan membumbung tinggi, Han-jin bergerak cepat, saat matahari naik sepenggalah dari ufuk timur, Han-jin sudah tiba di rumah kakaknya, para tetangga masih banyak yang melayat

A-meng menyambutnya di halaman rumah “bagaimana taihap ?” tanya A-meng

“aku sudah dapatkan, apa Wan-sinse ada dirumah.” “beliau sudah kerumahnya taihap ?”

“kalau begitu pergilah panggil lagi.” perintah Han-jin

“baik taihap aku akan segera kesana.” sahut A-meng dan langsung berlari.

Han-jin memasuki kamar Hoa-mei, Hoa mei menatap Han-jin, paha dan betisnya sudah berair dan membusuk

“mei-cici, aku sudah kembali dengan membawa obatmu.” ujar Han-jin

“hiks..hiks…uuuu..uuuu…siapakah kamu taihap ?

“aku adikmu cici, ayah kita Kwaa-han-bu dan ibuku kwee-kim-in “ayah…ibu….ibu…ibu….” jerit memanggil ibunya,

“jin-te ceritakanlah padaku dengan baik dan jelas !” ujar Hoa- mei “cici, aku adikmu yang dilahirkan ibu kwee-kim-in dalam usia tua, ibu meninggal saat melahirkan ku, dan ayah kita juga sudah meninggal setahun lebih yang llalu, dari tiga keponakan kita kwaa-hong, gan-bao dan yang-bun aku mengetahui keberadaan kalian, aku sudah menemui eng-cici, hong-cici dan liong-ko, dan dari lokyang aku datang untuk menemuimu cici.” ujar Han-jin

“jin-te…hiks..mendekatlah adikku.” ujar Hoa-mei, Han-jin mendekat, Hoa-mei memeluk adiknya dan menciuminya, saat aku kau gendong adikku, aku merasakan detakan luar biasa, tidak kusangka detakan itu hentakan darah yang bertemu, auramu demikian dekat rasanya, ternyata engakau adalah adikku sendiri.” ujar Hoa-mei masih mengecup pipi dan kening adiknya.

“bagaimana keadaan diluar adikku ?” tanya Hoa-mei

“kwee-twako masih disemayamkan, apakah cici hendak melihat twako ?”

“aku sudah berada diruang altar semalam, sebaiknya aku disini, karena kaki ku sudah basah dan membusuk.” ujar Hoa-mei “jangan cemas cici, A-meng tadi sudah saya suruh menemui Wan-sinse dan obat cici sudah didapatkan.” ujar Han-jin, Hoa- memoleh dan melihat keranjang kantong dan bunga teratai putih

“bagaimana secepat itu adikku, hanya dua hari kamu bolak balik dari sini ke khangsi ?” tanya Hoa-mei takjub pada adiknya “aku berangkat bersama pek-thouw cici.”

“pek-thouw ? siapa pek-thouw ?” tanya Hoa-mei “pek-thouw rajawali peliharaan ayah cici.” jawab Han-jin “oh..apakah ia ada disekitar kota ini ?”

“benar cici, dia saya suruh istirahat disebelah utara kota.” “ibu…ibu…apa yang terjadi ibu…uuu..uuu…” tiba-tiba teriakan histeris datang dari luar, Kwee-lin datang mendapatkan ibunya.

Kwee-lin memeluk ibunya dengan uraian air mata, saat ia mendengar musibah semalam, langsung tengah malam itu ia dan suaminya berangkat ke wuhan, hanya dia yang dekat dengan ibunya, hanya perjalanan setengah hari dari kota wuhan

“lin-ji jangan histeris begitu, tidak baik.” tegur ibunya, Kwee-lin sesugukan dan kemudian menghapus air matanya, Han-jin menatap keponakannya yang juga menatapnya

“lin-ji beri hormat pada pamanmu Kwaa-han-jin !” perintah Hoa- mei

“paman ? “ serunya meragu menatap ibunya

“benar, segeralah memberi hormat !” perintah Hoa-mei

“aku kwee-lin memberi hormat pada siok-siok.” ujar Kwee-lin sambil berlutut, saat itu Zhang-feng dan Wan-sinse masuk kekamar, Kwee-lin melampabai suaminya dan mengajaknya berlutut

“ini suami saya siok-siok.” ujar Kwee-lin

“saya zhang-feng memberi hormat pada siok-siok.” sela Zhang- feng bersujud tiga kali

“bangkitlah feng-ji, dan lin-ji, paman senang kalian telah datang.” ujar Han-jin, keduanya pun bangkit “taihap bagaimana bisa secepat itu ?” tanya Wan-sinse heran dan tidak percaya

“nanti saya ceritakan Wan-sinse, sekarang ini lah obat encikku.” sahut Han-jin sambil memberikan kantong keranjang dan bunga teratai putih, Wan-sinse melihat katak putih yang banyak, kepalanya menggeleng-geleng tidak percaya, lalu dia pun mulai menggodok darah katak putih, dalam wajan obatnya, dia hanya memerlukan tiga ekor katak putih untuk mengobati luka Hoa-mei, darah yang sudah diramu dengan obat bubuknya dan bunga teratai putih disiramkan keluka Hoa-mei, suara bersesis terdengar, darah itu menggelembung seperti air yang baru mendididih.

“besok pagi darah ini disiramkan lagi sebagian, dan besoknya lagi sebagian, setelah itu kaki kwee-hujin akan sembuh total, seharusnya seminggu baru luka ini mongering, namun karena darah ini telah dicampur bunga teratai putih, saya yakin tiga hari sembuh.” ujar Wan-sinse

“terimakasih Wan-sinse.” sahut Hoa-mei

“baik , lalu bagaimana dengan suamimu hujin ?” tanya Wan- sinse

“karena lin-ji sudah datang, maka suamiku akan dikebumikan menjelang sore.” ujar Hoa-mei

“dan katak ini masih tersisa banyak wan-sinse tentu sinse memerlukannya.” sela Han-jin sambil memberikan kantong keranjang dan dua siung bunga teratai.

“hehehe…benar sekali taihap, terimakasih atas pemberian luar biasa ini.” sahut Wan-sinse. Jasad Jun-bao pun dikebumikan pada waktu sore, setelah itu Hoa-mei yang digendong adiknya Han-jin meninggalkan pemakaman dan kembali kerumah, para tetanggapun kembali kerumah masing-masing, dan memang benar perkiraan Wan- sinse, pada hari keempat luka itu sudah hilang tidak berbekas, Zhang-feng dank wee-lin kembali kerumahnya didesa Yulan, dan hoa-mei ditemani adiknya Han-jin.

Enam orang hek-to melarikan diri, mereka tidak berani kembali kedalam kota, dan lansung saja meninggalkan kota Wuhan “apa menurutmu she-taihap akan tewas

“dia akan tewas dengan tubuh membusuk, kalau tidak diobati.” sahut Tok-lian

“aku heran bagaimana ia bisa demikian kuat menahan pukulan- pukulan kita.” sela ang-mou-kuibo.

“satu dari kita tewas dan belum tentu she-taihap tewas.” sesal kui-peng

“mau bagaimana lagi, jin-sin-taihap tiba-tiba datang, kalau tidak kita sudah dapat membunuhnya.” sela kwi-tiuaw-eng.

Lima hari kemudian mereka melihat seorang pemuda beristirahat disebuah hutan

“itu nampaknya she-taihap.” bisik tok-lian

“benar dia salah seorang yang melawan dua cianpwe.” sela Kwi-tiuaw-eng, lalu mereka mendekati pemuda yanag ternyata Kwaa-yang-bun yang hendak menuju Wuhan

“she-taihap bersiaplah untuk mampus !” teriak lam-kek, lalu enam orang itu menyerang Kwaa-yang-bun “kalian siapa ? kenapa tiba-tiba menyeraang ?” tanya Kwaa- yang-bun sambil bergerak gesit

“kami adalah musuhmu dan akan membunuhmu.” teriak kui- peng, serangan meraka datang bertubi-tubi, Kwaa-Yang-bun harus mengerahkan kegesitannya, im-yang-sian-sin-lie di mainkan dengan gesit dan kuat.

Enam hek-to itu memulai lagi trik serangan sebagaimana pada Hoa-mei, kali ini yang menintai adalah tok-lian dengan Ang- mou-kuibo, sementara giam-ci, lam-kek, kwi-tiuaw-eng dan kui- peng menghadapi jurus kwaa-yang-bun, tekanan enam hek-to luar biasa, dan Kwaa-yang-bun pada jurus keseratus lima puluh sudah menerima pukulan yang dikirim Ang-mou-kuibo, Kwaa- yang-bun, sama hal dengan bibinya Hoa-mei, pendekar ini dengan tenang dan telaten menghadapi enam pengeroyoknya, jurus Im-yang-bun-sin-im-hoat dikeluarkan dengan gesit, enam lawannya mendapat perlawanan berat.

Pertempuran berlansung ketat dan kuat, berkurangnya satu dari rekan mereka merupakan hal yang merugikan untuk menghadapi she-taihap, perlawanan ini berlaku a lot, terlebih dari siang sampai hampir pagi pertempuran itu masing berlansung dengan seru, Yang-bun dengan siu-to-po-in dan tin- liong-siulian bergerak dengan luwes walaupun serangan enam lawannya menderu-deru, namun untuk membuat lawan muda ini keok sangat sulit, demikian juga sebaliknya Yang-bun harus membagi kekuatanya untuk dua ilmu pertahanannya sambil menyerang dengan sebagian sin-kang. Siang pun sudah datang, pertempuran sudah sehari semalam, nafas enam hek-to sudah empis-empisan, dan Yang-bun juga tidak demikian kuat untuk merobohkan lawan-lawannya, Yang- bun melihat kesempatan setelah menjelang sore, dengan pukulan im-yang-pat-sin-im-hoat tingkat delapan, dua pukulan luar biasa itu bersarang di tubuh kui-peng dan giam-ci, namun dua jarum dari Tok-lian tidak bisa dihindarkan, dan menancap di bahu dan dadanya, untungnya siu-to-po-in masih punya daya tahan, lain hal dengan kui-peng dan giam-ci, mereka tewas seketika, tubuh kui-peng membiru dingin, sementara giam-ci tubuhnya gosong terbakar.

Ang-mou-kwi dan Tok-lian segera lari setelah melihat kedua rekannya mati, Lam-kek dan kwi-tiauw-eng masih berusah melepaskan diri dari desakan jurus Yang-bun yang luar biasa, dan sunggu mereka tidak dapat melepaskan diri dari kurungan luar biasa jurus Im-yang-pat-sin-im-hoat “buk…buk…dess..desss..” Yang-bun menghadiahkan masing- masing lawannya satu pukulan dan satu tendangan, akibattnya kwi-tiauw eng muntah darah dan mati seketika karena tubuh atasnya gosong dan tubuh bawahnya menghijau dingin, sebaliknya lam-kek tubuh atasnya membiru dingin sementara bagian bawahnya gosong terbakar.

Yang-bun duduk memenangkan diri, hal itu diperlukannya sehingga pagi hari, dengan luka jarum di pundaknya ia berjalan meninggal;kan hutan, namun baru setengah hari bahunya terasa berdenyut “kreekkkk…..” terdengar pekikan dari atas, Yang-bun mendongak, lalu melambai-lambai

“pek-thouw….pek-thouww..” teriak Yang-bun, pek-thouw kenal dengan Yang-bun karena yang paling lama di goat-kok adalah Yang-bun, dan bebrapa kali ia menunggangi rajawali sebelum ia meninggalkan lembah itu,

“pek-thouw apakah jin-siok disekitar sini ?”

“kerekk..krekkkk” pekik pek-thouw, yang-bun makin merasa nyeri, dan mukanya meringis, pek-thouw mendekat seakan mengajak yang-bun naik, yang-bun mengerti lalu ia melompat ketasa rajawali, pek-thouw terbang menuju kota wuhan, rajawali itu mengirai kota sambil memekik kuat, Han-jin dan hoa-mei mendengar pekikan yang merobek angkasa kota wuhan, Han- jin keluar dan mendongak ke atas lalu ia bersuit, rajawali meliuk setelah melihat Han-jin.

Rajawali terbang begitu rendah membuat warga terpana dan terkejut sehingga mereka keluar dari rumah, rajawali menjatuhkan tubuh Yang-bun yang lemah, Han-jin yang melihat tubuh manusia jatuh dari punggung rajawalinya, segera menyambut dengan lompatan luar biasa, dan menagkap tubuh itu

“jin-siok..” seru Yang-bun pingsan, Han-jin turun dan segera masuk kedalam

“itu siapa Jin-te ?” tanya Hoa-mei

“ini keponakan kita Yang-bun anak peng-ko.” sahut Han-jin “ah..dia terkena jarum wanita itu.” ujar Hoa-mei “kita harus membawanya ketempat Wan-sinse cici.” ujar Han- jin,

“cepat ikuti saya, kita akan kesana.:” sahut Hoa-mei, dua she- taihap bergerak cepat menuju tempat wan-sinse

“taihap…kwee-hujin ada apakah !?” tanya wan-sinse yang kebetulan menjemur ramuan obat di halaman rumahnya “wan-sinse tolong keponakanku dia terkena jarum yang sama denganku.” ujar Hoa-mei

“oh..cepat bawa kedalam, biar aku godok obatnya .” sahut Wan-sinse, Han-jin merobek baju Yang bun, Wan-sinse mambawa obat darah katak putih yang dengan cekatan ia godok dengan teratai putih, jarum sudah dikeluarkan Han-jin, luka itupun diolesakan keluka, suara mendesis terdengar, namun hanya sebentar, setelah itu Yang-bun sadar

“jin-siok..! panggilnya lemah

“aku disini bun-ji bagimana ? apa yang kamu rasakan ?” “dia tidak apa-apa lagi taihap, untungnya kalian she-taihap memiliki hal-hal yang menakjubkan.” sela Wan-sinse.

“tapi kenapa keponakanku pingsan Wan-sinse ?” tanya Hoa- mei

“karena luka ini dekat sekali dengan jantung, dan nyeri akibat mau pembusukan membuat degup jantung itu kencang dan membuat darah cepat mengalir menembus syaraf di otak, kalian tenang saja, bawalah ia kembali dia sudah tidak apa- apa.” sahut Wan-sinse

“terimakasih wan-sinse.” ujar Hoa-mei, lalu Yang-bun pun dibawa pulang, menjelang malam mereka sampai dirumah Hoa- mei, Yang-bun dibaringkan diranjang.

“jin-siok kita dimanakah ?” tanya Yang-bun “kita di tempat bibimu Hoa-mei.” Jawab Jin-sin

“bibi mei, syukurlah aku bertemu juga dengan bibi.” ujar Yang- bun menjura pada bibinya

“bibi juga merasa senang dengan kedatanganmu bun-ji.” sahut Hoa-mei

“bagaimana keadaan ayah dan ibumu ?”

“ayah dan ibu baik-baik bibi, dimanakah paman dan saudara- saudara misanku ?”

“saudara-saudara misanmu sudah berumah tangga semua bun-ji, dan tentang pamanmu, kita baru-baru ini mengalami musibah, pamanmu sudah meninggal.” sahut Hoa-mei

“oh, bagaimana paman meninggal bibi ?”

“nantilah kita bercerita, mari kita makan dulu.” sahut Hoa-mei, lalu merekapun menuju ruang makan.

Ah-ceng menghidangkan makanan, lalu ketiganya makan “bagaimana engkau bertemu dengan perempuan itu bun-ji ?” tanya Hoa-mei

“perempuan ? perempuan yang mana maksud bibi ?” “perempuan yang mencelakaimu dengan jarum.” Jelas Hoa-mei “ooh, saya sedang istirahat di sebuah hutan, lalu enam orang yang mengaku hek-to datang dan tiba-tiba menyerang saya.” “apa alasan mereka menyerangmu ?” sela Han-jin “tidak jelas juga, hanya dari seorang dari mereka berkata karena saya she-taihap.”

“bibimu juga baru beberapa hari yang lalu bertemu dengan mereka di hutan sebelah utara, mereka telah membunuh pamanmu dan melukai bibimu.” Ujar Han-jin

“terus bagaimana luka bibi ?” tanya Yang-bun

“luka bibi sudah sembuh dua hari yang lalu, untung pamanmu Han-jin datang, kalau tidak, mungkin bibi akan mengalami hal yang sama dengan pamanmu.” jawab Hoa-mei

“jadi paman dibunuh oleh mereka ?” tanya Yang-bun “benar bun-ji, awalnya pamanmu diajak untuk mengobati

pasien oleh wanita bejarum teratai itu, tapi rupanya itu hanya tipu daya, karena sampai malam pamanmu tidak datang maka saya cari keutara kota, dan mendapatkan pamanmu sudah

tewas dan digantung disebuah pohon.”

“mereka itu siapakah sebenarnya bibi ?” tanya Yang-bun

“bibi juga tidak tahu, namun seperti katamu mereka dari aliran hek-to dan akan membunuhi she-taihap, awalnya mereka bertujuh, dan sebelum bibi kepayahan, bibi berhasil membunuh seorang dari mereka, namun saat paman mu Han-jin datang mereka langsung melarikan diri.” sahut Hoa-mei.

“apakah jin-siok pernah bertemu mereka ?” tanya Yang-bun pada Han-jin

“paman rasa tidak pernah bertemu mereka.” jawab Han-jin “hmh…kalau mereka tidak pernah bertemu paman, berarti mereka pernah melihat paman.” gumam Yang-bun “tentunya demikianlah bun-ji, paman yakin mereka melihat paman di hutan kongciak saat pertemuan disana.”

“benar saya yakin juga mereka melihat paman disana, dan dari mereka bertujuh, sekarang mereka tinggal berdua.” ujar Yang- bun

“apakah kamu berhasil mengalahkan mereka ?” sela Hoa-mei “benar bibi, empat dari mereka berhasil saya bunuh dan dua perempuan dari rekanan mereka melarikan diri.” jawab Yang- bun

“bagaimana cara mereka menghadapimu bun-ji ?” tanya Hoa- mei

“formasi mereka mengeroyok sangat bagus, empat orang mengeroyokku, dan dua yang lain mengintai menyerang dari sela-sela empat rekannya.”

“hal yang sama juga mereka melakukan saat menghadapi bibi.” gumam Hoa-mei

“kalau ditelusuri dari cara kerja mereka, mereka ini telah merencanakan dengan baik, dan kalau tujuan mereka she- taihap bisa jadi tujuh orang itu satu kelompok dari banyak kelompok yang dibentuk.” ujar Han-jin

“benar jin-te, saya juga berpikiran demikian, dan juga mereka telah membaca kekeuatan dari seorang she-taihap, sehingga mereka membunuh tawakomu dulu baru menghadapi saya.” sela Hoa-mei.

“apakah menurut jin-siok ini hubungannya dengan pertemuan di hutan kongciak ?” sela Yang-bun

“apa yang terjadi di hutan kongciak bun-ji ?” tanya Hoa-mei “saya dan dua misan saya menghadapi enam orang luar biasa yang mengaku hek-to dan sangat memusuhi kita, pada saat itu memang kami terdesak hebat oleh serangan enam orang itu, dan untungnya jin-siok datang, sehingga kami pun selamat.” “hmh..jadi mereka mengetahui kekuatan seorang she-taihap pada saat itu, dan mereka semua hadir dan menyaksikan, sehingga mereka membuat formasi seperti itu.” gumam Hoa- mei

“siapa-siapakah enam orang itu bun-ji ?” tanya Hoa-mei “yang paling hebat diantara enam orang itu ada dua orang cianpwe, dan julukannya kalau tidak salah adalah kwi-ban- ciang dan kwi-sian-hengcia.”

“lalu yang empat orang lagi ?” sela Han-jin

“yang empat orang lagi adalah lam-liong-sian, pak-giamli-sianli, kui-thian dan kui-tee.”

“apakah salah satu dari mereka berenam ada diantara tujuh orang yang datang kesini ?” tanya Hoa-mei

“tidak ada bibi.” Jawab Yang-bun

“kalau begitu tujuh orang ini benar satu kelompok yang sasarannya adalah saya, dan kelompok yang lain bergerak ketempat keluarga kita yang lain.”

“perkiraan bibi mungkin benar sekali.” sahut Yang-bun

“dan melihat bahwa mereka melarikan diri ketika jin-te datang, namun menyerang tiba-tiba kepadamu bun-ji, berarti kelompok yang lain akan ke lokyang dan shanghai.” ujar Hoa-mei. “kenapa hanya lokyang dan shanghai bibi ?” sela Yang-bun “karena hanya she-taihap yang lok-yang dan shanghai yang mampu mereka perkirakan bisa dikalahkan, sebagaimana yang saya alami.” sahut Hoa-mei

“di lokyang ada ada liong-pek, Tan-bouw dan Gan-bao, di shanghai ada ayah dan bi-moi.”

“benar, tapi mereka akan mudah melakukan hal yang sama, yaiitu memancing she-taihap untuk keluar dan dikeroyok bersama-sama.” ujar Hoa-mei.

“kalau bagitu bagaimana menurut bibi ?” tanya Yang-bun “sebaiknya besok kamu berangkat persama pamnmu Han-jin ke shanghai, semoga saja kalian belum terlambat, dan ayahmu belum didatangi kelompok dari mereka.”

“bagaimana menurut jin-siok ?” tanya Yang-oun menoleh pada Han-jin

“jika perkiraan cici benar sebaiknya memang begitu, namun lebih baik jika cici juga ikut dengan kami ke shanghai” ujar Han- jin.

“benar bibi, ikutlah ke shanghai, karena memang itulah yang terbaik melihat situasi kita yang genting.” sela Yang-bun “baiklah kalau begitu, besok kita akan berangkat.” sahut Hoa- mei.

Keesokan harinya Hoa-mei memerintahkan A-meng tetap membuka toko, selama ia tidak ada

“jika siocia atau kongcu datang saya harus jawab apa hujin ?” “katakan pada mereka, saya sedang ke shanghai dan mungkin akan lama berada di pulau kura-kura.” sahut Hoa-mei “baiklah saya akan ingat pesan hujin.” ujar A-meng, lelu ketiga she-taihap meninggalkan kota Wuhan, sesampai di gerbang selatan, Han-jin bersuit, dan tidak lama pekkan rajawali merobek angkasa, rajawali terbang rendah, lalu Han-jin menngandeng cic dan keponakannya melenting keudara dan mendarat di punggung rajawali

“perjalanan kita akan lebih cepat dengan ini cici.” ujar Han-jin “inikah peliharaan ayah jin-te ?” sela Hoa-mei haru

“benar cici, bun-ji sudah menungganginya.” sahut Han-jin “benar bibi, bahkan selama sebulan aku bersamanya di qingdao.” sela Yang-bun, pemandangan bumi dari atas sungguh menakjubkan hati Hoa-mei.

Mari kita melihat keadaan di kota shanghai, kota shanghai adalah kota yang besar dan dihuni banyak penduduk dari berbagai etnis dan bangsa, hal ini karena kota shanghai adalah kota pesisir pantai, kota Shanghai juga banyak disinggahi kapal-kapal besar, sehingga kota itu memiliki pelabuhan yang

besar dan megah, dipadati banyak kuli dan pekerja, kapal-kapal itu kebanyakan adalah kapal milik orang asing yang juga berdiam di kota shanghai, seperti orang jepang, turki ataupun orang eropa, suasana ramai dan hiruk pikuk sangat terasa dikota itu.

Siang itu enam orang kalangan rimba hijau memasuki kota Shanghai, mereka itu adalah kelompok kedua dalam misi pelenyapan she-taihap yang dipimpin oleh Lam-liong-sian, Lam-liong-sian membawa lima rekannya untuk memasuki likoan,

“selamat datang di shanghai tuan, silahkan duduk dan mencicipi menu yang kami sediakan.” Sambut seorang pelayan “pelayan hidangkanlah makanan dan menu terlezat kalian, dan juga siapkan tiga kamar besar untuk kami.” Ujar Lam-liong-sian “baik kongcu, menu terlezat akan segera kami hidangkan, dan pesanan kamar juga akan kami persiapkan.” sahut pelayan dan segera meninggalkan mereka.

Tidak lama kemudian hidangan pun datang, bermacam jenis ikan dengan beraneka macam masakan dihidangkan, setelah semuanya dihidangkan, enam orang pesilat tangguh itu makan dengan lahap, setelah selesai makan, kemudian mereka masuk kekamar masing-masing, Lam-liong-sian sekamar dengan tung- mo-san, dua she-gui satu kamar, see-bi-kui dengan pak-giamlo- sianli satu kamar, mereka melewatkan siang hari itu dengan istirahat dan tidur untuk mengilangkan kepenatan dari perjalanan jauh.

See-bi-kui setelah makan tidak bisa tidur, lalu ia keluar untuk menikmati keramaian kota, beberapa pekerja kasar bersuit menggodanya, see-bi-kui yang bagor senyum nakal, sehingga membuat para kuli makin blingsatan,

“eh..eh..kerja..kerja..!” teriak sang mandor namun matanya juga tidak lekang dari wajah cantik see-bi-kui yang mempesona, si mandor yang berusia tiga puluh lima tahun itu mendekat “hehehe..maaf siocia, mereka itu pantang melihat wanita

cantik.” ujar si mandor senyum cengengesan, see-bi-kui menunduk

“kalau tuan bagaimana ? apa pantang juga melihat wanita cantik ?” tanya see-bi-kui sambil melirik nakal.

“hehehe…” simandor nyengir kuda sambil garuk kepala yang tidak gatal

“hi..hi…tuan tentu capek kerja seharian yah ?”

“yah namanya juga kerja tentu capek siocia.” sahut simandor “apakah siocia orang baru dikota ini sehingga tertarik datang kepelantaran pelabuhan ini ?”

“benar tuan, aku baru saja datang, dan sangat suka melihat pemandangan laut

“kenapa sendirian siocia, apa tidak dengan teman ?” “temanku kecapean dan tidur dipenginapan, jadi aku hanya sendirian, apa tuan mau menemani saya ?” sahut see-bi-kui sengan kerlingan dan senyum yang menggoda, simandor makin deg-deg kan

“tentu aku mau menemani siocia, terlebih siocia sungguh cantik dan menawan.” sahut si mandor merayu

“hihi..hi… tuan bisa saja, apakah tidak mengganggu pekerjaan tuan ?”

“hehehe..hehehe… tentu tidak siocia, aku yang mengepalai pekerja itu, jadi aku ini sangat santai.” sahut si mandor membusungkan dada sambil senyum

“ooh, pantas kalau begitu, tuan disamping tampan juga berposisi tinggi.” ujar See-bi-kui, mendengar pujian wanita cantik itu si mandor senyum dan hidungnya kembang kempis “siocia marilah kita masuk kedalam kapal, dari sana pemandangan lautnya lebih dekat dan juga kita bisa berteduh.” ujar simandor dengan senyum, see-bi-kui mengangguk lembut, si mandor dengan senang mengajak see-bi-kui masuk kedalam kapal besar

“aku Gao-sang siocia, dan siapalah nama siocia ?”

“aku Ma-bi-eng twako, hmhh….disini memang teduh dan melihat ombak dengan dekat sangat menyenangkan, hi..hi…” sahut see-bi-kui terlihat senang

“eng-moi apakah kamu hanya berkunjung kekota ini atau akan menetap ?”

“aku hanya berkunjung sang-ko, emangnya kenapa ?” “ah..tidakapa eng-moi, kamu memang luar biasa cantik.”

“hi..hi…kamu juga sang-ko, wajahmu tampan dan tubuhmu kekar.”

“benarkah eng-moi ?” sela Gao-sang dengan senyum memikat, bi-eng mengangguk manja

“sang-ko apakah ada orang mengintai kita ?” tanya bi-eng sambil mengedipkan sebelah matanya, gao-san clingak clinguk “tentu tidak, tidak ada yang berani masuk kesini tanpa seizinku.” Jawab Gao-sang, sambil meremas jemari bi-eng

Bi-eng merebahkan badannya sambil senyum menatap redup pada Gao-sang, gao-sang makin sesak

“lakukan dengan pelan sang-ko.” bisik bi-eng, saat wajah Ga- sang mendekati wajahnya, perkataan itu menyalakan langsung birahi Ga-sang, dengan lembut ia mengecup dan melumat bibir bi-eng, bi-eng mendesah dan membalas dengan hangat, Gaosang makin menuntut lebih, pakaian bi-eng dibuka seiring nafasnya yang menggebu, Bi-eng mengerang manja, selama dua jam mereka berada didalam kamar kapal bergulung-gulung menikmati amukan birahi yang panas.

“sang-ko kamu mau kan membantu saya ?”

“tentu eng-moi sayang, aku akan siap membantumu.” “sang-ko kalau kamu orang lama disini, kamu kenal tidak dengan seorang bernama Kwaa-yun-peng ?”

“tentu saja kenal, dia itu orang sakti yang terkenal di daerah ini, kenapa dengan she-kwaa itu eng-moi ?”

“ceritakanlah padaku tentang she-kwa itu.”

“hmh…dia adalah kauwsu pek-lek-twi, dan muridnya sangat banyak”

“bagaimana dengan kelurganya ?”

“saya dengar kauwsu itu hanya punya dua anak, boleh aku tahu kenapa eng-moi menayakan perihal pendekar itu ?” “dia ada hutang nyawa dengan saya, sang-ko.” sahut Bi-eng sambil mengelus-elus dada Gao-sang yang telanjang

“apakah kamu berniat membalas dendam padanya ?” tanya Gao-sang, Bi-eng mengangguk tegas

“menurutmu sang-ko bagaimanakah cara membalas sakit hatiku supaya berhasil ?” ujar Bi-eng sambil mengecup dada Gao-sang

“she-kwaa itu memang orang sakti, tapi saya yakin dia tidak akan melawan senjata api atau mesiu peledak.” sahut Gao- sang

“tapi dimana saya dapat senjata api atau mesiu peledak ?” “hehehe..hahaha…aku ka nada sayang, aku bisa memberimu mesiu peledak, majikanku orang eropa akan kukibuli untuk mendapatkan mesiu peledak itu untukmu.” ujar Gao-sang dengan tawa renyah

“oh..benarkah sayang, cup..cup..” sela Bi-eng sambil mengecup pipi dan bibir Gao-sang, sesaat mereka saling pagut

“kapankah sang-ko dapat memberikan mesiu peledak itu padaku ?”

“besok aku bisa dapatkan untukmu sayang.” sahut Gao-sang “mesiu peledak itu bagaimana cara kerjanya ?”

“mesiu peledak itu hanya sebesar buah melon, dan jika pin nya ditarik dan dilemparkan, maka dimana ia jatuh tempat itu akan meledak penuh jilatan api yang menyambar, ledakannya akan merubuhkan bangunan.”

“oh, sedemikian kuatkan peledak itu, san-ko sayang.”

“benar sayang, datanglah lagi besok, aku akan berikan padamu satu peti yang isinya seratus peledak.”

“terimaksih sayang, aku besok akan datang lagi, ahh..aku senang sekali akan dapat membalaskan sakit hatiku selama ini.” ujar Bi-eng, lalu merekapun kembali diamuk nafsu sehingga kembali keduanya mendaki berpacu hentakan birahi.

Menjelang sore Bi-eng kembali kepenginapan, ia mandi dan berganti pakaian, dan saat malam mereka berenam berkumpul dikamar Lam-liong-sian “hal yang pertama kita lakukan adalah mengetahui kediaman she-taihap dan sekaligus menyelidiki keadaannya.” ujar Lam- liong-sian

“aku sudah mengetahui keadaan she-taihap.” sela Bi-eng “eh sudah ? kalau begitu katakanlah see-bi-kui, sehingga kita dapat menyusun rencana selanjutnya.” ujar Lam-liong-sian

“she-taihap tinggal di sebelah barat kota, dia seorang kauwsu dari perguruan pek-lek-twi dengan murid yang sangat banyak.‟ “berapa she-taihap yang ada di dalam rumah itu ?” sela Pak- giamlo-sianli

“ada tiga she-taihap.” jawab see-bi-kui

“hmh..kalau begitu kita harus memancing satu-satu supaya kita dapat menghadapinya.” ujar tung-mo-san

“saya puny aide yang lebih baik.” sela see-bi-kui “apa idemu itu ?” tanya thian-kui

“bagaimana kalau kita menggunakan peledak untuk membunuh she-taihap

“peledak ? dimana kita dapatkan peledak ?” sela tee-kui “saya punya teman yang bisa memberikan peledak itu pada saya besok.”

“peledak ini bagaimana kerjanya ?” tanya lam-liong-sian “katanya sangat mudah, karena peledak ini besarnya haya sebesar buah melon, dan kita hanya melemparkannya setelah kawat pinnya dilepas.”

“lalu kekauatannya bagaimana ?” sela Pak-giamlo-sianli “kekuatannya sangat besar, karena bisa merubuhkan bangunan.” sahut See-bi-kui “berapa banyak yang akan kamu dapatkan dari temanmu itu ?‟ “aku akan dapatkan satu peti berisi seratus peledak.” sahut see-bi-kui

“dengan bahan peledak itu bagaimana strategi kita untuk membunuh she-taihap ?”

“saya kira walaupun kita bahan peledak, kita harus melihat peluang dimana she-taihap tidak siap.” ujar tung-mo-san “benar dan itu hanya saat mereka tidur.” sela see-bi-kui “baiklah kalau begitu, besok bawalah peledak itu see-bi-kui, sehingga kita dapat beraksi pada malamnya.” ujar Lam-liong- sian, see-bi-kui mengangguk, lalu merekapun bubar dan kembali kekamar masing-masing

“siapa temanmu itu see-bi-kui ?” tanya pak-giamlo-sianli sambil membuka bajunya dan memakai gaun tidur yang tipis

“dia seorang mandor dipelabuhan dan bekerja dengan orang berambut perak.” Sahut See-bi-kui sambil memakai gaunnya, lalu keduanya baring diranjang

“kamu nampaknya baru dapat itu yah ?” goda suma-hoa “hi…hi…mandor itu luar biasa,” sahut bi-eng

“apakah mandor itu tampan ?” tanya suma-hoa penasaran “lumayan tampan, ototnya kuat walaupun sudah berumur “hi..hi..justru yang sudah berumur itu yang bikin blingsatan.” sela suma-hoa

“apakah kamu mau ikut besok ?”

“hihihi….hihihihi..kalau bisa kenapa tidak.” sahut suma-hoa cekikikan, lalu merekapun tidur sambil membicarakan hal-hal yang mengundang birahi.

Keesokan harinya Ma-bi-eng dan suma-hoa pergi kepelabuhan, para pekerja makin riuh rendah menggoda kedua wanita cantik itu, saat Ga-sang datang semuanya diam, namun seorang dari mereka nyelutuk

“Gao-kongcu membuat iri saja, kemarin satu, hari ini dua, cantik-cantik pula itu.”

“hehehe..hehehe..kalian ini rebut saja, ayok kembali bekerja “eh..gao-kongcu mau kemana, ? hahaha..hahaha…” tanya seorang pekerja dan disambut tawa yang lain “hehehe…aku lagi ada pekerjaan, kalian kerja dan jangan

malas-malas.” ujar Ga-sang sambil melangkah mendekati Bi- eng dan suma-hoa

“sang-ko, ini suma-hoa temanku, aku datang untuk barang yang koko janjikan.” ujar Bi-eng dengan senyum manja

“mari kita kedalam kapal, disana kita bicara dengan enak.” ujar Gao-sang, lalu ketiganya masuk kedalam kapal

“kamu baik sekali pada bi-eng sang-ko.” puji suma-hoa “hehehe…aku senang bisa membantu wanita-wanita cantik seperti kalian.”

“hi..hi..apakah aku juga cantik Sang-ko.” tannya suma-hoa mengerling manja dan senyum menggoda,

“hehehe..kalian memang cantik dan seksi.”

“kami ingin mengucapkan terimakasih atas kebaikan hati sang- ko.” ujar Bi-eng dengan manja sambil mengecup bibir Ga-sang. Gao-sang bergetar, terlebih tangannya diraih suma-hoa dan meletakkan didadanya yang lembut, kontan jemari Gao-sang meremas bendak lunak milik Suma-hoa, Gao-sang terangsang tanpa kendali, kedua wanita itu juga sangat menginginkannya, kekuatan Gao-sang diuji, kedua wanita itu siap digilir oleh gao- sang, gao-sang merasa tertantang, dengan hentakan laksana gelombang badai menunggangi kedua gadis seksi dan cantik itu, erangan keduanya membuat birahi Gao-sang meledak- ledak tanpa henti.

Setelah pesta mesum itu mereda, ketiganya terkapar dilantai kapal, Gao-sang merasakan lelah yang melelapkan, setelah nafasnya tenang.

“sang-ko apakah peledak itu bisa kami ambil ?”

“bisa eng-moi, itu peti dibawa kursi itu bahan peledaknya.” sahut Gao-sang

“ah..sang-ko kamu memang baik dan sangat menyenangkan.” sela Suma-hoa sambil mengelus-elus Gao-sang, elusan dan rabaan itu memancing kembali rangsangan birahi Gao-sang, Suma-hoa dengan pandainya mengambil posisi diatas dan membuat Gao-san merem melek kenikmatan, dua wanita sakti tanpa harga diri itu sangat berpengalaman dalam hal-hal mesum seperti itu, sehingga ketika mereka keluar dari kapal, Gao-sang tidak ikut keluar bersama mereka, suma-hoa dan Ma- bi-eng dengan gerakan kilat meninggalkan pelabuhan, sementara Gao-sang yang masih terduduk telanjang tidak bisa berdiri sangking capeknya. Kwaa-yun-peng sebagaimana biasa mengawasai murid- muridnya yang sedang berlatih, tiba-tiba putrinya kwaa-han-bi muncul

“ayah, hari ini kita jadi kerumah hui-siok,?” “jadi, apa ibumu sudah siap ?”

“sudah ayah, dan tinggal menunggu ayah saja.”

“baiklah kalau begitu, ayah akan bersiap-siap.” ujar Kwaa-yun- peng dan masuk kedalam rumah, hari itu Bao-hui, kakak dari Bao-ci-lan istrinya sedang mengadakan ulang tahun ke lima puluh lima, dan mereka diundang untuk merayakannya.

Tamu-tamu di rumah Bao-hui sudah banyak yang berdatangan, Bao-hui dan istri menyambut tamu dengan senyuman dan limpahan ucapan terimaksih, kedatangan adik iparnya Kwaa- yun-peng disambut dengan pelukan

“kalian sudah datang kwaa-te, bagaimana dengan bun-ji ? apakah ia belum kembali ?”

“belum hui-ko.”

“eh..padahal sudah tiga tahun Kwaa-te.”

“benar hui-ko, mungkin masih kerasan berkelana dan singgah dirumah saudara-saudaraku.

“hehehe..marilah kwaa-te, silahkan duduk.” ujar Bao-hui membawa adik iparnya ketempat duduk yang telah disediakan, lalu seorang tamu lagi datang, ia adalah kam-sin-bu, wakil kungcu kota shanghai, ia datang bersama anak dan istrinya, Bao-hui dengan ramah menyambutnya dan mempersilahkan duduk berdekatan dengan meja Kwaa-yun-peng “hehe..she-taihap ternyata sudah datang.” sapanya dengan ramah

“benar kam-sicu, dan kami juga baru tiba.” sahut Kwaa-yun- peng

“ini putra sulungku Kam-kui, ayok kui-ji, beri hormat pada kwee- taihap.”

“saya Kam-kui memberi hormat pada paman-kwaa.” “hehehe.. duduklah anak baik, kui-ji sudah berapa usiamu ?” tanya Kwaa-yun-peng

“tahun ini aku genap dua puluh dua tahun paman.” sahut Kam- kui

“dan dia sudah lulus ujian negara dan tinggal menunggu penempatan.” sela Kam-sin-bu

“ohh, syukurlah kalau begitu, apa keahlianmu Kui-ji ?”

“aku belajar hukum dan tata negara paman.” jawab Kam-kui

Tiba-tiba Kwaa-hang-bi datang mendekati ayahnya “eh…paman kam, terimalah hormat dari saya, paman.” Ujar Kwaa-hang-bi sambil menjura

“hehehe..anak baik, baru setahun tidak lihat, ternyata kamu sudah besar bi-ji, kamu darimana tadi ?”

“hihi..aku tadi menemui kakak misan dibelakang paman.‟ “oh..begitu, oh-ya ini Kam-kui anak paman.” ujar Kam-sin-bu “selamat bertemu kuo-twako, aku kwaa-hang-bi.”

“selamat bertemu bi-moi.” sahut kam-kui balas menjura, lalu terdengar suara Bao-hui berbicara, Hang-bi segera duduk dekat ibunya. “terimakasih kepada para sicu dan kaum kerabat yang telah sudi memenuhi undangan pesta ulang tahun saya yang kelima puluh lima.‟

Kionghi..kionghi..” sahut para undangan serempak “terimakasih, dan untuk memeriahkan acara ini kami akan mengadakan pementasan drama.” ujar Bao-hui, lalu layar pun dibuka, disambut tepuk tangan para undangan, pimpinan drama muncul dari balik layar

“sicu yang terhormat dan para undangan sekalian, pertama saya ucapkan selamat kepada Bao-wangwe yang sedang berulang tahun yang kelima puluh lima puluh lima, semoga panjang umur dan diberi rezeki yang melimpah.” ujar pimpinan drama, dan Bao-hui mengangguk dengan senyum

“sicu sekalian, untuk memeriahkan suasana pesta, kali ini kami akan mementaskan drama yang berjudul perjalanan kebarat, dan selamat menikmati.” ujar pimpinan drama dan disambut tepuk riuh rendah dari para undangan, pimpinan kembali kebalik layar, dan tidak berapa lama layar pun dibuka, seorang pemain berlakon sebagai biksu tang sedang duduk berliankem, lalu muncul seorang dewi dari atas, dan mengamanatkan sesuatu pada biksu-tang, alur cerita yang demikian apik ditampilakan para pemain, para undangan sangat antusias menikmati alur cerita dalam drama sambil makan dan minum.

Tiga jam kemudian pementasanpun selesai, dan acara musik dan nyanyianpun berkumandang, pesta Bao-hui sangat semarak hingga akhir acara, tengah malam acara itu selesai, lalu para undangan pun berpamitan pada Bao-hui dan istri untuk pulang kembali

“ayah…aku besok pagi saja pulang, hui-cici memintaku tadi untuk menginap disini.” ujar Hang-bi

“baiklah kalau begitu, ayah dan ibu duluan pulangnya.” sahut Kwaa-yun-peng, hang-bi mengangguk dan berlari kebelakang bersama kakak misannya Bao-bi-hui, sementara Kwaa-yun- peng dan istrinya naik kedalam kereta kuda dilepas oleh Bao- hui.

Sesampai dirumah, suami istri itupun istirahat, mereka tertidur pulas, tidak lama enam orang mendekati rumah Bao-yun-peng dengan mengendap-endap, lalu melemparkan bahan peledak ke arah rumah bao-yun-peng

“tak” suara benda keras jatauh menimpa atap, Kwaa-yun-peng terduduk

“dhuar…dhuar…dhuar…dhuar..dhuar…dhuar…” ledakan pertama menghancurkan atap kamar kwaa-yun-peng, refelek gerakan she-taihap melompat dari atas ranjang kearah pintu kamar, hatinya terkejut ketika melihat istrinya sontak bangun dan tiba-tiba lima ledakan susul menyusul membuat kamar itu luluh lantak, tubuh Bao-ci-lan hancur, karena dua buah peledak jatuh diranjangnya dan meledak, Bao-yun-peng pada ledakan berikutnya menjebol daun pintu kamarnya, namun lima ledakan itu melemparkan tubuhnya keluar dan tubuhnya dijilat api.

Bao-yun-peng berlari keluar dan melompat kekolam, sementara rumahnya terus meledak puluhan kali, bahkan tiga rumah disamping rumahnya terdengar juga ledakan, api kian menyala dan melalap rumah disekitarnya, jerit histeris terdengar dirumah yang tidak dilalap api, sebagian besar tubuh Bao-yun-peng terbakar, bahkan matanya sebelah kena serpihan sehingga mata itu keluar dari rongganya, Bao-yun-peng masih hidup walaupun dia mengambang di permukaan kolam, tidak ada orang yang berani memasuki areal bangunan yang sudah luluh lantak dan menyisakan api yang masih berkobar.

Seratus peledak telah dihabiskan oleh enam hek-to, dan dengan gesit mereka meninggalkan keterkejutan dan kepanikan warga, sampai pagi hari orang-orang masih berkerumun dari kejauhan, polisi datang untuk mengamankan area, saat matahari terbit Bao-hui dan Hang-bi datang, Hang-bi dengan gerakan luar biasa melintasi diatas kepala kerumunan orang, Coa-ciangbu tidak bisa menahan tindakan Hang-bi, Hang-bi memanggil-manggil ayah dan ibunya, namun hanya kresek bangunan yang dimakan api yang menjawabnya, ketika dia berdiri dipagar rumah tetangganya yang sudah runtuh, ia melihat jasad mengambang dikolam, dengan sigap laksana wallet ia berpoksai dan mendarat ditepi kolam.

Hang-bi menjerit histeris melihat ternyata jasad itu jasad ayahnya yang sudah hitam gosong, Hang-bi mengangkat tubuh ayahnya dari kolam, lalu memegang nadi ayahnya, dan dia merasakan masih berdenyut, lalu Hang-bi segera menggendong ayahnya dan keluar dari tumpukan bangunan, Coa-ciangbu berlari menyambut Hang-bi “aduhhh..she-taihap..” keluhnya

“apakah ayahmu masih hidup bi-ji ?” sela Bao-hui “masih paman.” jawab Hang-bi

“kalau begitu cepat kerumah Lou-sinse.” sela Bao-hui sambil berlari, Hang-bi segera mengikuti pamannya, menuju tempat Lou-sinse, Hang-bi jauh lebih dulu sampai dari pamannya.

Lou-sinse langsung memeriksa denyut nadi Kwaa-yun-peng, lalu memberinya pel dan memaksa masuk ketenggorokan Kwaa-yun-peng, kemudian Lou-sinse menarik pecahan kayu pada mata kanan Kwaa-yun-peng, setelah itu ia mengambil lipatan penyimpanan jarumnya, dan menusuk beberapa bagian dikepala Kwaa-yun-peng, Kwaa-yun-peng tidak lama siuman, sebelah matanya terbuka, namun semuanya kabur dan tidak jelas

“diamanakah aku ?”

“ayah..ayah..uuu…uuuu…” seru hang-bi sambil menangis “oh…bi-ji, kita dimana ini ?”

“dirumah Lou-sinse ayah.”

“oh…lou-sinse..terimakasih.” ujar Kwaa-yun-peng

“syukurlah she-taihap kamu masih bisa bertahan, sekarang jangan banyak pikiran, aku akan mengobati luka tubuhmu yang terbakar.” sahut Lou-sinse

“baiklah sinse, bi-ji kamu keluarlah dan jangan larut dalam kesedihan.” ujar Kwaa-yun-peng, Hang-bi keluar dan duduk dikursi

“bagaimana bi-ji ?” sela suara dari luar, ternyata Bao-hui sudah sampai “ayah sedang diobati lou-sinse paman.” “apakah ayahmu sudah siuman ?”

“sudah paman dan ayah sudah bicara denganku, dan sepertinya mata ayah yang sebelah tidak berfungsi.” “ah…apa sebenarnya yang terjadi, apa ayahmu ada masalah dengan orang-orang asing?”

“setahuku tidak ada paman.”

“baiklah bi-ji kamu tunggulah ayahmu, paman akan bicarakan ini kepada pejabat kam.” ujar Bao-hui, Hang-bi mengangguk, lalu Bao-hui meninggalkan rumah Lou-sinse.

Kasus peledakan kediaman Kwaa-yu-peng marak dibicarakan, para pejabat turun untuk menyaksikan tempat kejadian, dua hari kemudian Kwaa-yang-bun memasuki gerbang kota shanghai bersama paman dan bibinya, mereka terkejut melihat arela perumahan mereka hanya tinggal tumpukan hitam

“apa yang terjadi ?” gumam Hoa-mei, Yang-bun menanyakan oarng-orang yang masih banyak menyaksikan reruntuhan bangunan, seorang tetangga mereka mendekat

“kamu sudah datang bun-ji.”

“paman kao apa yang terjadi dan bagaimana dengan keluargaku ?”

“ayahmu saya dengar selamat, sekarang ia berada di rumah pamanmu Bao-hui.”

“oh..baik dan terimakasih paman kao, kami akan segera kerumah paman.” sahut Yang-bun. Yang-bun mengajak Han-jin dan Hoa-mei ketempat Bao-hui Kwaa-hang-bi yang melihat kakaknya datang lansung berlari sambil menangis dan memeluk kakaknya

“ada apa bi-moi, apa yang terjadi ?”

“rumah kita diledakkan orang, ibu tidak selamat dan enam puluh murid ayah tewas, dan dua puluh orang luka terbakar.” “bun-ji kamu sudah datang !?”

“benar paman, bagaimana dengan ayah ?”

“masuk dan temuilah ayahmu.” sahut Bao-hui, lalu merekapun masuk dan menuju kamar dimana Kwaa-yun-peng terbaring, badan dan mukanya dilamuri dengan obat berwarna putih. sebelah matanya masih rabun dan bergerak ketika merasakan kehadiran orang

“ayah…” seru Yang-bun mendekat “kamu sudah datang bun-ji.”

“benar ayah, aku bersama bibi hoa dan paman Han-jin.” sahut Yang-bun, sebelah mata Kwaa-yun-peng tiba-tiba mengambang air mata

“cici..! aku tidak menyambutmu dengan layak.”

“tidak mengapa adikku, musibah yang menimpamu sungguh luar biasa adikku, bisakah kamu ceritakan bagaimana kejadiannya ?”

“cici malam itu sepulang dari sini, saat kami tertidur ada orang yang melemparkan bahan peledak kedalam rumah, kejadiannya sangat cepat, aku berlari dan pingsan di dalam kolam, hanya itu yang saya tahu cici”

“baiklah, lalu matamu itu apakah dapat melihat feng-te ?” “semuanya masih rabun cici, wajahmu masih bayang-bayang, tapi siapakah bayangan yang satu lagi ?”

“dia datang khusus untuk mengunjungi kita adikku.” “siapakah dia cici ?”

“kamu tentu terkejut, karena dia adalah adik bungsu kita yang dilahirkan ibu kwee-kim-in

“aoh..adikku…!” seru Yun-peng

“benar peng-ko, aku Kwaa-han-jin datang menemui Peng-ko.” sela Kwaa-han-jin

“jin-te bagaimana dengan ayah dan ibu ?”

“ayah sudah meninggal demikian juga dengan ibu, peng-ko.”

“jin-te, aku tidak menyambutmu dengan hangat, rasanya aku ingin memelukmu.”

“tidak mengapa Peng-ko, kita sudah bertemu tentunya hati kita sudah bertaut dengan erat, peng-ko.”

“benar adikku, bagaimanakah wajah adik kita ini cici ?”

“ingat saja wajah ibu kwee-kim-in, hidung dan matanya sama, tapi dagunya seperti ayah,” sahut Hoa-mei

“kamu istirahatlah peng-te, kami akan keluar dan beramah tamah dengan keluarga abang iparmu.” ujar Hoa-mei

“baiklah cici.” sahut Kwaa-yun-peng, lalu merekapun keluar.

“bagaimana hasil penyelidikan selama dua hari ini, sudah adakah petunjuk tenyang pelakunya ?” tanya Hoa-mei “belum ada she-taihap, polisi baru semalam memulai pengusutan.”

“jin-te kita akan coba bantu penyelidikan pelaku peledakan ini.” “tentu cici, apakah cici punya ide kita mulai dari mana ? “dikota ini banyak orang asing, dan yang getol dengan senjata api dan bahan peledak adalah orang asing berambut perak, apakah bao-sicu tahu ada berapa orang berambut perak yang terkenal dikota ini dan punya hubungan baik dengan pejabat pemerintah.”

“setahu saya ada tiga orang she-taihap.” “siapakah mereka dan dimana kediamannya ?”

“tuan Edmundo, tuan Fendrix dan tuan Alfonso, ketiganya berada di timur kota dekat pelabuhan”

“pergilah jin-te kesana dan selidiki ihwal mereka sampai pada anak buahnya

“baik cici, saya akan segera menemui mereka.” “sebaiknya saya ikut she-taihap.” sela Bao-hui

“demikian lebih baik bao-sicu.” sela Hoa-mei, lalu Han-jin dan Bao-hui berangkat menuju timur kota.

Bao-hui menuju rumah Alfonso seorang pedagang asing, dua orang pribumi yang menjaga rumahnya mendekat

“ada kepeluan apa kalian datang kemari ?” tanya seorang diantaranya

“apakah tuan alfonso ada dirumah ?”

“beliau sedang istirahat dan tidak boleh diganggu.” “kapan dia boleh ditemui ?” sela Han-jin

“nanti sore mungkin bisa, ada urusan apa ?”

“masalah peledakan perguruan pek-lek-twi, tentu anda sudah dengarkan ?” sahut Bao-hui

“apakah kalian mencurigai tuan kami pelakunya ?”

“benar, kami mencurigai tuanmu pelakunya.” sahut Bao-hui “jangan sembarangan menuduh !”

“oleh karena itu maka kami perlu bertemu tuanmu, tapi nanti sore saja kami datang lagi, dan kami permisi” sela Han-jin, lalu Bao-hui menuju rumah Edmundo.

“kalian ini siapa ?” tanya penjaga rumah tuan Edmundo “kami keluarga korban peledakan dua hari yang lalu.” “kenapa kalian datang kemari ?”

“untuk bertemu dengan tuan Edmundo, apakah ia ada ?” “tuan Edmundo sudah sebulan tidak disini.”

“tuanmu pergi kemana ?” sela Han-jin

“tuan sedang berlayar ke Taiwan.” Jawab penjaga itu

“baik, kami permisi dan terimakasih atas waktunya.” sela Han- jin, kemudian mereka melanjutkan kerumah tuan Fendrix

“bao-twako, orang ketiga ini pekerjaannya apa ?”

“tuan fendrix seorang pedagang, sama dengan tuan Alfonso.” “lalu kalau tuan Edmundo ?”

“tuan Edmundo seorang pelayar penangkap ikan, memang kenapa she-taihap ?”

“melihat dari pekerjaan yang mereka lakukan disini, sebaiknya kita kita fokus pada tuan Edmundo.”

“kenapa demikian she-taihap ?”

“karena menurut saya, orang yang cendrung memiliki bahan peledak dalam jumlah yang banyak adalah tuan Edmundo.” “jadi kalau begitu bagaimana menurut she-taihap ?”

“kita kembali ke tempat tuan Edmundo.” sahut Han-jin “baiklah kalau begitu, marilah !” ujar Bao-hui, lalu keduanya kembali kerumah tuan Edmundo

“eh..kalian, ada apa lagi ?” tanya penjaga

“jika tuan Edmundo tidak berada ditempat, siapakah yang berwenang ?” tanya Han-jin

“putranya, tuan Richard de mundo.” “dapatkah kami bertemu dengannya ?” “tidak bisa, karena tuan sedang istirahat.”

“lalu kapan kami bisa bertemu ?” tanya Bao-hui

“kalian harus buat janji dulu dengannya, baru bisa bertemu.” “kalau begitu laporkanlah kepadanya bahwa nanti sore kami akan kesini menemuinya.”

“tidak bisa, karena nanti sore, tuan ada acara, lalu malamnya juga ada acara.”

“baiklah kalau begitu, kami permisi dulu, ayok Bao-twako” ujar Han-jin, lalu keduanya pergi

“kenapa she-taihap mengajak saya pergi, padahal kita belum tahu jelas kapan bisa bertemu.”

“adat orang berambut perak ini luar biasa, jadi menurut saya Bao-twako kembali saja kerumah, biar saya urus hal ini, semoga nanti sore saya sudah dapat petunjuk.” ujar Han-jin “begitukah menurutmu she-taihap ?”

“benar twako, tentu twako tidak keberatan kan ?” “baiklah kalau begitu, kami akan menunggu she-taihap

dirumah.” sahut Bao-Hui, lalu merekapun berpisah, saat Bao- hui menoleh kebelakang Kwaa-han-jin sudah raib entah kemana.

Kwaa-han-jin dengan ilmu “goat-koan-sim-hang” memasuki rumah tuan Edmundo, didalam rumah putra Edmundo sedang mengatur anak buahnya mengangkati peti kedalam sebuah lorong, Richard de mundo seorang lelaki tampan berumur dua puluh tiga tahun

”Gao-sang cepat kalian masukkan semua keruang bawah tanah.”

“tenang tuan Richard, kita pasti aman dari penyelidikan polisi.” sela Gao-sang

“yang didalam kapal juga sudah diamankan Gao-sang ?” “sudah tuan Richard, hehehe..hehehe..”

“baagus kalau begitu, setelah ini kalian boleh libur selama tiga hari, sehingga ketika polis datang, saya bisa mengajukan bahwa kalian libur, jangan ada yang berada di sekitar pelabuhan.” ujar Richard

“sebelum libur saya ingin menemui semua anak buah tuan Richard.” sela suara, dan tiba-tiba Han-jin sudah berdiri disamping Richard

“eh..si..siapa kamu ?” seru Richard terkejut dan muka pucat “saya Kwaa-han-jin, keluarga korban peledakan dua hari yang lalu.”

“ke..kenapa kamu bi..bisa masuk kesini !?”

“tidak perlu tuan Richard ketahui bagaiaman saya bisa ada disamping tuan, sekarang perintahkan semua anak buahmu berkumpul.” sahut Han-jin

“a..apa yang mau kamu lakukan ?”

“menanyakan kepada mereka sehubungan dengan peledakan itu.”

“kami tidak hubungan dengan itu.” bantah Richard

“kalau tidak ada hubungan, kenapa peti-peti itu disembunyikan

? apakah isi peti itu ?”

“apa isinya tidak perlu kamu tahu !”

“tuan Richard harus bantu saya, saudaraku dan dua puluh muridnya terbaring dengan tubuh terbakar, kakak iparku tewas bersama enam puluh muridnya, apakah tuan Richard tidak perduli dengan korban-korban itu ?”

“saya tidak bisa bantu, itu urusan polisi untuk mengusutnya.” “benar tuan Richard, tapi anda berusaha untuk menipu polisi dengan menyembunyikan peti-peti ini, kenapa kamu lakukan hal itu tuan ?” tanya Han-jin,

“ayo..kalian semua kumpul dan berbaris !” perintahnya, sambil mengatur empat puluh orang yang berada di ruangan itu, Gao- san menyelinap melarikan diri, ketika dia sampai dihalaman,

Han-jin sudah berdiri didepannya “hah…kamu manusia apa setan ?”

“hehehe..hehehe….aku bukan setan sicu, eh…kenapa kamu lari ?”

“ti..ti..tidak apa-apa , a..a..aku hanya mau buang air besar.” Jawab Gao-sang terbata-bata, dan tiba-tiba orang dari dalam berserabutan keluar, namun mereka berhenti saat melihat Han- jin berhadapan dengan Gao-sang, mereka terkejut melihat Han- jin menghilang, lalu semua bubar dari barisan dan berlari keluar, tidak terkecuali Richard pun lari menuju keluar.

“kalian mau kemana ?” tanya Han-jin

“eh..kapan kamu masuk ?” tanya panjaga itu heran dan wajah pucat

“nanti saya ceritakan, sekarang kamu bariskan semuanya termasuk tuan Richard.” sahut Han-jin, penjaga itu

membariskan semua, Han-jin juga menyuruh Gao-sang masuk barisan

“tuan Richard, saya menghormati anda sebagai tamu dirumah kami, namun apa yang kamu bawa kerumah kami ini membuat kerusakan yang luar biasa ditempat kami, jadi sekali lagi saya minta supaya anda sedikit peduli dengan yang terjadi akibat apa yang kamu miliki.”

“sa..saya tidak tahu menahu dengan peristiwa peledakan.” sahut Richard

“lalu siapa yang tahu ?”

“Gao-sang yang tahu dengan semua itu.” jawab Richard, Gao- sang terkesiap dan tubuhnya menggigil, ketika Han-jin mendekatinya

“pantas kamu lari Gao-sicu, sekarang ceritakanlah tentang peledakan itu !?”

“bu..bukan saya yang meledakkan rumah she-taihap.” “lalu siapakah yang melakukannya ?”

“ada dua orang wanita yang bertemu dengan saya, mereka merasa sakit hati dengan she-taihap.” “siapa nama dua perempuan itu ?”

“namanya Ma-bi-eng dan Suma-hoa.” Jawab Gao-sang “kamu tahu mereka akan mencelakakan orang, lalu kenapa kamu berikan bahan peledak kepada mereka ? apakah kamu juga sakit hati dengan saudaraku ?”

“ti..tidak taihap, a..a..aku hanya suka pada mereka.”

“enam puluh orang tewas karena rasa sukamu pada mereka, sepadankah Gao-sicu ?”

“a..a..aku sangat menyesal taihap.”

“baguslah kalau begitu, tapi hukum tetap akan ditegakkan, jadi saya minta tuan Richard dan Gao-sicu ikut saya menemui pejabat yang berwenang.”

“taihap urusan ini jangan sampai pada polisi, dan kami akan menggati rugi rumah taihap dan biaya pengobatan yang

terluka” sela Richard

“kenapa demikian tuan Richard, anda ini tamu dirumah kami, lalu kenapa anda takut untuk menemui kepala rumah tangga rumah kami, tamu macam apakah anda ini ?”

“masalahnya taihap, ayah saya tidak ada disini.” ujar Richard “tuan berani memutuskan mengganti rugi tanpa keberadaan ayah tuan disini, lalu kenapa tuan mengharapkan ayah anda untuk urusan menghadap pada yang berwenang?”

“urusan ganti rugi saya bisa mempertanggung jawabkannya pada ayah saya, tapi urusan hukum saya tidak bisa.” “apakah tuan Richard sudah tahu, apa hukum yang akan menimpa tuan jika menemui yang berwenang ?”

“saya tidak tahu.” “kalau begitu kenapa takut, mari tuan Richard !” ujar Han-jin, namun Richard tetap berdiri ditempatnya dan mencabut senjata api dibalik bajunya

“dor…augh..dor…heghh…” Richard menembak kearah Han-jin, Han-jin yang waspada telah melihat gerakan tangan Richard yang masuk kedalam baju, dan ketika senjata itu keluar dan diarahkan, ia cepat bergerak mengjilang, malang Gao-san kena sasaran, sehingga ia ambruk dan tewas seketika, karena bahu dan kepalanya kena tembus peluru panas.

“augh…” jerit Richard karena tiba-tiba tangannya terkulai lemas, dan senjata apinya lepas dan jatuh, tiba-tiba dia melayang, karena tubuhnya di panggul Han-jin dan berlari dengan gesit, semua mata melonggo

“habislah kita, berani main-main dengan she-taihap.” Keluh seorang

“ini semua gara-gara pecundang satu ini.” sela yang lain sambil menunjuk mayat Gao-sang.

“saya yakin kita juga akan mendapat imbas dari kepemilikan bahan peledak ini.”

“saya harap tidak, karena saya lihat pendekar itu sangat cakap hal keadilan, jiwa keadilannya yang penuh rasa kasih, lebih besar dari emosi dan dendam, walaupun yang jadi korban itu keluarganya sendiri.‟

“eh..apakah itu Jin-sin-taihap yang kita dengar di Hopei.” “oh..iya benar sekali, itu pasti Jin-sin-taihap.” sela yang lain. Kwaa-han-jin sampai dirumah Bao-hui, kedatangannya disambut Bao-hui dan Hoa-mei

“bagaimana she-taihap ?” tanya Bao-hui

“saya sudah dapatkan siapa pelakunya twako, dan ini tuan Richard harus segera dihadapkan pada yang berwenang, tuntutuannya adalah membunuh orang dan menyembunyikan bahan peledak yang sangat banyak diruang bawah tanah didalam rumahnya.”

“baik akan segera saya bawa dia ke pejabat yang berwenang.” “oh ya twako, akibat hokum yang mungkin diterima tuan Richard ini akan menelantarkan empat puluh buruh kasarnya, semoga pejabat yang memutuskan dapat berlaku adil pada mereka.”

“hmh..saya akan sampaikan rekomendasi jin-te pada beliau.” sahut Bao-hui, lalu Bao-hui menggiring Richard kepolisi.

“bagaimana hasil penyelidikanmu Jin-te ?”