-->

Pendekar Lengan Buntung Jilid 11

Jilid 11

Bagaimanakah dengan Nyuk In, Kong Hwat, Sin Thong dan Siauw Yang yang dikeroyok di atas genteng oleh orang-orang Hwa-ie-kay-pang yang cukup berkepandaian tinggi itu?

Untuk mengikuti pengalaman ke empat orang muda ini, baik kita mundur kembali ke belakang sebentar, seperti yang telah diceritakan pada bagian depan, Nyuk In yang berusaha untuk menolong Biauw Eng dan Hok Sun ternyata setelah sampai di atas genteng itu dihadang oleh banyak orang pengemis-pengemis Hwa-ie-kay-pang dan beberapa tokoh Hek-lian-pay dan gadis-gadis Sian-li-pay yang berkepandaian tinggi!

Pada Nyuk In tengah terdesak itu, muncul Sin-thong, beserta Siauw Yang dan tak lama kemudian disusul oleh berkelebatnya bayangan Kong Hwat yang memainkan jurus-jurus Fu-niu-san-tung-hoat (ilmu tongkat gunung Fu-niu) yang lihai itu. Ke tiga orang muda ini mengamuk, merangsek memecahkan pengeroyokan terhadap seorang gadis.

Pedang Samurai Sin Thong berkelebat-kelebat dengan amat kuatnya, dengan diiringi bentakan-bentakan jurus-jurus karate dimainkan dengan tangan kirinya, sedangkan Siauw Yang tak kalah hebatnya pula, ia mainkan ilmu pedangnya dengan merangsek tiga orang gadis Sian-li-pay mendesaknya.

Melihat bahwa tiga orang muda ini datang membantunya, Nyuk In girang sekali hatinya. Apalagi melihat Sin Thong dan Siauw In yang pernah ia kenal sewaktu mengunjungi pesta ulang tahun Lo Ban Theng dengan mainkan jurus kipas hitamnya menerjang lima orang Hwa-ie-kay-pang dengan hebat lagi.

Akan tetapi diam-diam gadis ini mengeluh, karena semakin lama semakin penuh tempat itu dikurung oleh orang-orang Hwa-ie-kay-pang. Apalagi setelah di situ muncul pemuda pemudi yang kelihatannya berotak miring yang sambil tertawa seperti orang gila mulai maju mengeroyok.

Terkejut bukan main gadis perkasa ini, apalagi ditambah dengan munculnya sepasang kakek nenek yang dikenal dengan julukan Jing-tok-siang-lomo (Iblis Tua Racun Hijau), maka lama kelamaan Nyuk In menjadi kewalahan juga dan terdesak oleh sambaran-sambaran pukulan yang ganas dari Jing-tok-siang-lomo, A Mey dan A Thiong.

Di lain pihak, Kong Hwat juga mulai terdesak oleh munculnya nenek Sianli Ku-koay yang telah mencelat ke atas dan diikuti oleh seorang perwira bercambuk hitam Oey Goan dan beberapa perajurit pilihan yang mengepungnya. Ia benar-benar menjadi terdesak hebat, berkali-kali tongkatnya beradu dengan tongkat Sianli Ku-koay, ia terhuyung-huyung dan kuda-kudanya tergempur.

Tiba-tiba telinganya mendengar pekik kesakitan dan begitu ia menoleh alangkah kagetnya hati pemuda itu melihat gadis cantik yang datang membantunya telah terpental ke belakang oleh pukulan tongkat kakek pengemis baju kembang yang menggerakan tongkatnya menotok dada kiri si gadis. Siauw Yang terhuyung ke belakang dan dari bibirnya mengeluarkan darah.

Kong Hwat menggerakan tongkatnya hendak menolong gadis itu, akan tetapi sebuah sinar perak panjang berkeredep dan tahu-tahu Sin Thong sudah menyambar tubuh Siauw Yang dan menggerakan pedang samurainya mengirim sabetan ke arah tongkat lawan dan mencelat ke belakang.

“Siauw Yang....... tidak apa-apa kau?” Sin Thong bertanya dengan nada kuatir menyusut darah yang mengalir dari cela-cela mulut gadis itu. Wajah Siauw Yang menjadi pucat.

Lima orang perajurit kerajaan menerjang maju, dipimpin oleh Oey Goan sambil membentak keras mengirim serangan cambuk. Sin Thong menjadi marah sekali, waktu cambuk itu meluncur ia mengangkat pedangnya membabat, pedang itu terbelit cambuk akan tetapi dengan gerakan amat cepat dan diiringi bentakan keras tangan kiri pemuda cebol itu melakukan pukulan karate dengan telapak tangan kiri dimiringkan, dibarengi dengan tendangan-tendangan yang meluncur dengan dahsyat mendupak dada Oey Goan.

“Dess! Siiiing!” tubuh kepala perwira itu terpental ke belakang, pedang samurai pemuda cebol itu terlempar oleh tarikan cambuk yang amat kuat, cepat tubuh Sin Thong berkelebat dan menyambar pedang samurai yang masih melayang di udara, kemudian dengan gerakan yang luar biasa cepatnya dari udara, tubuhnya meluncur ke bawah dengan pedang menusuk ke dada Oey Goan yang terjengkang tadi.

Amat cepatnya gerakan ini, perwira itu tak dapat lagi berkelit, pedang samurai Sin Thong menamblas dada Oey Goan, terdengar teriakan ngeri. Darah merah muncrat ke atas bagaikan air pancuran. Dua orang perwira berseru marah:

“Pemuda cebol, berani kau membunuh pemimpin kami, mampuslah!” Golok dan pedang menyambar berkeredep dengan cepatnya. Akan tetapi, sungguh luar biasa pemuda ini, begitu ia menjongkokan tubuhnya pedang samurai berkelebat ke belakang.

Terdengar jeritan ngeri. Dua perwira sudah kehilangan lengannya, terbabat putus oleh ketajaman pedang samurai Sin Thong yang menggunakan jurus aneh tadi!

Sin Thong memandang kepada Siauw Yang dengan girang dan wajahnya berseri. Ia mainkan pedangnya lagi, mendekati Siauw Yang untuk melindungi gadis pujaan hatinya yang telah terluka di dada sebelah dalam.

Akan tetapi pada saat itu, dari bawah datang pula rombongan kakek-kakek pengemis Hwa-ie-kay-pang dan di depan sekali nampak seorang pendeta Lhama yang berkepala gundul lari mencelat bagaikan terbang cepatnya. Pendeta Lhama ini, langsung saja menyerang Sin Thong dan sebagian pengemis Hwa-ie-kay-pang mengurung tempat dengan ketat…...

Ketika pendeta Lhama berada di depan Sin Thong, pemuda cebol ini melihat bahwa Lhama ini bertubuh tinggi sekali dan bermata biru, sedangkan jubahnya yang lebar itu berwarna kuning. Pendeta Lhama ini memegang sebuah tongkat panjang yang ujungnya dipasangi kaitan besi yang berkilau karena tajamnya. Lhama ini berdiri sambil bertolak pinggang:

“Berani benar kau mengacau Hwa-ie-kay-pang? Apakah kalian ini sudah bosan hidup, sehingga ingin mencari mati memasuki sarang harimau dan lubang naga?”

Sin Thong menjura:

“Tidak tahu siapakah Losuhu yang mulia ini?”

“Tentu saja kalian yang masih hijau mana mengenal aku, hayo kalian menyerah! Kalau tidak kematian akan menjemput kalian. Pek Pek Hoatsu akan mencabut nyawa kalian....... ha ha ha!”

“Setan, tidak tahunya kau adalah Pek Pek Hoatsu, pendeta gadungan bangsat, biarlah aku, Go Sin Thong mengadu nyawa denganmu.” Bentakan Sin Thong ini disertai sabetan pedang samurai dengan amat kuatnya.

Akan tetapi alangkah heran dan terkejutnya ketika begitu pedangnya membabat pinggang lawan, tahu-tahu tongkat panjang pendeta Lhama itu sudah menempel di pedang itu dan tak dapat ditarik kembali. Begitu pendeta Lhama itu menggerakan ujung jubahnya, tahu-tahu tubuh Sin Thong telah terpental oleh pukulan jubah kuning yang lihay pada pundak Sin Thong.

“Haa…. haa, anak muda pada nggak tahu diri….. Masih begini muda sudah berani memasuki sarang naga dan harimau hee… hee. Eh! Hay Tok, coba kau lawan pemuda cebol itu!!” Pendeta Lhama itu berkata kepada seorang muridnya yang bernama Hay Tok.

Anak muda ini dari Tibet bertubuh tinggi besar, kekar dan kedua tangannya berbulu, kepalanya besar dan matanya lebar berwarna biru. Dengan sikap sombong pemuda Hay Tok ini mengeluarkan cambuk hitamnya.

“Biar teecu memberi hukuman seratus cambuk kepadanya haa…. haa!” Terdengar suara cambuk melecut di udara.

Pada saat itu, entah dari mana datangnya tahu-tahu disitu telah berdiri seorang kakek yang kedua kakinya buntung sebatas dengkul, dan entah dengan cara bagaimana tahu-tahu cambuk Hay Tok sudah terlepas sebelum mengenai tubuh pemuda cebol itu.

“Kosongkanlah perahumu, duhai Bikhsu, bila telah dikosongkan ia akan laju dengan pesatnya. Setelah memutuskan nafsu dan kebencian barulah akan mencapai kebebasan…… Pek Pek Hoatsu, kembalilah ke puncak….. Ikutilah delapan jalan utama.”

Melihat kakek buntung tahu-tahu telah berdiri di atas wuwungan menggunakan dengkulnya sebagai telapak kaki, sehingga tubuhnya kelihatan pendek seperti anak kecil dan entah dengan cara bagaimana tahu-tahu telah merampas cambuk Hay Tok, Pek Pek Hoatsu yang tidak mengenal kakek buntung menjadi marah dan membentak keras:

“Orang tua, siapa kau?”

“Biarlah orang menghindari marah, biarlah ia melepaskan kesombongan. Biarlah ia memutuskan segala ikatan-ikatan duniawi: Tiada penderitaan yang menimpah orang yang terikat oleh NAMA dan RUPA, yang tak mengakui sesuatu benda sebagai miliknya…….!”

“Ha ha ha, orang tua gila…... engkau berkata apa pula itu. Engkau ini pendeta bukan, hwesio bukan........ seenaknya saja menguraikan ayat-ayat dari kitab Dharmapada. Untuk ini saja aku harus memberi hukuman kepada manusia yang begitu serampangan berbicara tentang ayat-ayat suci. Hemm, orang tua buntung, sesungguhnya siapakah kau?”

“Aku, ya aku, siapapun aku tiada seorang manusia yang mengenali diriku, jangan kau orang lain, sedangkan aku sendiri, tak mengenal siapakah sesungguhnya aku!”

“Ayaa, kau ini benar-benar sudah sinting! Dirimu sendiri saja sudah tidak kau kenali, apalagi kalau bukan kau telah menjadi gila, ha ha ha, orang tua! Hanya orang gilalah yang sudah tidak dapat mengenal dirinya sendiri.”

“Suhu, mengapa meladeni si Buntung ini, sikat saja muak teecu mendengarkan omongannya yang tidak keruan itu!” Hay Tok menjadi marah melihat suhunya mau meladeni orang kakek buntung ini. Kalau saja ia tidak ingat bahwa kakek ini demikian sakti tentu ia akan menggebrak kakek ini dan memukul sekali mati!

Kakek kaki buntung itu menoleh kepada Sin Thong dan Siauw Yang dan berkata, “Kalian pergilah, teman-temanmu sudah menanti kalian di pinggir kota!”

Bagaikan orang yang baru sadar, Sin Thong dan Siauw Yang memandang ke sekeliling dan apa yang mereka lihat, semua para pengemis Hwa-ie-kay-pang dan gadis-gadis Sian-li-pay menggeletak di atas genteng dalam keadaan seperti orang tidur nyenyak.

Juga nampak di tempat itu, Sianli Ku-koay dan Hek-sin-tung pangcu dalam keadaan seperti orang tertotok, tak dapat menggerakan tubuhnya. Berdiri dalam posisi seperti orang hendak menyerang, sedangkan anak buah Hek-sin-tung pangcu menggeletak di genteng malang melintang.

Sesungguhnya apakah yang terjadi?

Waktu Nyuk In, Kong Hwat dikeroyok oleh banyak orang-orang Hwa-ie-kay-pang dan telah terdesak hebat, tiba-tiba entah bagaimana caranya tahu-tahu para penyerang yang terdiri dari orang-orang Hwa-ie-kay-pang, Hek-lian-pay dan Sian-li-pay menjadi seperti orang kehilangan semangat dan satu persatu melepaskan senjatanya dan terhuyung-huyung ke belakang roboh dalam keadaan pingsan.

Tentu saja menjadi kejadian yang aneh ini, Sianli Ku-koay menjadi marah bukan main dan ia terus merangsek Nyuk In, mengirimkan serangan-serangan dahsyat yang mematikan. Akan tetapi belum lagi lawannya itu menangkis tongkatnya, tahu-tahu serangkum angin lembut menyambar di belakangnya.

Keruan saja Nenek ini menjadi marah, mengira ada orang yang membokongnya dan sekali tangannya bergerak mendorong, terdengar suara keras. Atap genting wuwungan menjadi hancur berantakan dan bersama dengan gerakannya itu, tahu-tahu sebuah benda kecil menyambar dan tepat menyentuh pundaknya, tak sempat lagi Nenek itu berkelit tahu-tahu tubuhnya menjadi lemas dan roboh!

Nyuk In menjadi keheranan melihat kejadian ini.

Terdengar suara lembut, seakan-akan berbisik di dekat telinganya, amat pelan suara itu, akan tetapi jelas terdengar olehnya.

“Nona, cepat lari....... Bawa kedua temanmu yang telah terbius oleh racun ketua Hwa-ie-kay-pang dan yang telah kehilangan ingatannya, jangan perdulikan lagi mereka yang masih bertempur, cepatlah..... Lari ke pinggir kota, di sana ada kelenteng tua, biar aku menolong pemuda murid Nakayarvia, jangan terlambat, selagi masih ada kesempatan….. cepat!”

Tahulah Nyuk In bahwa diam-diam ada orang yang telah menolongnya maka dengan gerakan yang gesit ia menyambar tubuh Hok Sun dan Biauw Eng dan berlari meninggalkan gedung Hwa-ie-kay-pang itu.

Demikianlah, tak lama bayangan Nyuk In berkelebat lenyap, sesosok tubuh telah mencelat ke arah pertempuran di sebelah kanan dan seperti yang telah dituturkan pada bagian depan kakek buntung ini berhasil menolong Kong Hwat dari tangan Pek Pek Hoatsu dan muridnya!

Melihat bahwa kakek buntung ini tentu seorang sakti, tanpa membuang waktu lagi Sin Thong menarik tangan Siauw Yang,

“Mari kita pergi!”

Sin Thong dan Siauw Yang berkelebat. Terdengar suara Pek Pek Hoatsu mengguntur dahsyat: “Anak muda, jangan lari!”

Tubuh pendeta Lhama itu mencelat mengejar kedua orang muda yang berkelebat hilang ditelan gelap, akan tetapi begitu tangan kiri kakek buntung terangkat, bagaikan ada tenaga yang amat dahsyat yang telah menahan Pek Pek Hoatsu, membuat pendeta Lhama ini menahan tubuhnya dan menoleh, “Orang tua gila, apakah kau bosan hidup?”

“Pek Pek Hoatsu, kau ini seorang pendeta. Masakan tidak mengerti akan mati dan hidup? Siapakah orangnya yang dapat menentukan hidup matinya seseorang? Ibarat kematian itu seperti seorang pencuri yang datang dengan tiba-tiba, entah siang, entah malam, entah besok, entah lusa, he! Mengapa kau bisa menentukan aku sudah bosan hidup? Seandainya aku bosan hidup, tapi kalau nyawa ini masih beta tinggal di tubuhku yang tua ini, siapapun tiada yang dapat menentukan kematianku!”

“Keparat, aku yang akan menentukan kematianmu. Hari ini kau harus mampus!” Sambil membentak keras Pek Pek Hoatsu menggerakan tongkat panjang, menyabet kepala si kakek buntung itu.

“Wuuut,” tongkat itu melesat di atas kepala si kakek buntung. Begitu tangan kiri kakek itu bergerak mendorong, tahu-tahu tubuh Pek Pek Hoat-su yang tinggi besar itu sudah terpental dalam keadaan tertotok oleh angin pukulan yang dahsyat yang menyambar dari tangan kiri.

Keruan saja pendeta Lhama itu bergulingan, tubuhnya bergedebuk jatuh di tanah. Sementara itu Hay Tok menjadi marah bukan main, dengan sekali berkelebat tubuhnya melayang mengirim pukulan maut ke arah dada si kakek kaki buntung. Nampak kakek itu hanya meramkan mata dan membiarkan dadanya terhantam pukulan si kakek.

“Desss, weeert!” Hebat sekali pukulan yang berat dari tangan kanan Hay Tok yang penuh bulu itu. Akan tetapi, bukan si kakek kaki buntung itu yang terpental, melainkan tubuh Hay Tok itulah yang roboh di depan si kakek, seperti orang berlutut tak bergerak lagi dalam keadaan tertotok.

Hening sekali suasana di atas genteng itu.

Tubuh si kakek kaki buntung berkelebat dan langsung memasuki sebuah gedung besar bercat merah dan secara kebetulan sekali kedatangannya ini menolong Ho Siang yang tengah terancam di tangan Bu-tek Sianli dan tokoh-tokoh kaum hitam yang lihai itu!

Dan Ho Siang berhasil keluar dari gedung sambil memondong tubuh si kakek kaki buntung dan berkelebat lenyap dari balik gedung tinggi yang gelap oleh sinar bulan yang tersembunyi di balik segumpalan awan hitam!

Angin dingin menerjang.

Malam semakin panjang!

◄Y►

14

Sin Thong menarik tangan Siauw Yang dan berlari cepat keluar dari gedung Hwa-ie-kay-pang dan terus ia berkelebat ke arah pintu gerbang kota dan tiba di sebuah kelenteng tua. Nampak sebuah lilin menyala menerangi ruang dalam dengan samar-samar. Cepat mereka itu masuk ke dalam.

Betullah seperti apa yang dikatakan oleh kakek kaki buntung bahwa di dalam kelenteng itu telah menanti Nyuk In, yang tengah mencoba mengobati Biauw Eng dan Hok Sun yang telah hilang ingatannya dan kelihatan seperti orang bodoh itu.

Melihat kedua orang muda yang masuk, Nyuk In mengenal dua orang yang menolongnya tadi, segera ia mengangkat tangannya dan menjura: “Terima kasih atas pertolongan kalian, mari silahkan masuk!”

“Jangan kau berterima kasih kepada kami Nona, yang menolong kita adalah kakek kaki buntung yang aneh itu…….”

“Ooo, dia!” Nyuk In yang sesungguhnya tidak melihat penolongnya tadi hanya mengangguk-angguk saja. Teringat ia akan suara yang pernah didengarnya. Mungkin suara yang lembut yang didengarnya itu adalah suara kakek kaki buntung?

“Mana kakek kaki buntung yang menolong kita tadi?”

“Dia masih di sana, kami hanya disuruh cepat-cepat pergi dan berkumpul di sini,” sahut Siauw Yang.

Begitu melihat wajah gadis itu nampak pucat dan nampak noda darah pada bajunya, segera Nyuk In berkata kaget, “Kau terluka......... mari kuperiksa lukamu, Nona!”

“Tidak seberapa, luka ringan saja. Aku sudah telan obat dan tidak berbahaya, terima kasih!” Siauw Yang menjura.

Tentu saja Nyuk In tidak tahu bahwa Siauw Yang adalah puteri Yok-ong Lo Ban Theng, si raja obat. Sudah barang tentu sedikit-sedikitnya puterinya ini dapat mengerti hal pengobatan.

Begitu Nyuk In teringat.

“Nona, temanku ini bernama Lo Siauw Yang, puteri Yok-ong Lo Ban Theng dan…... aku, Go Sin Thong murid sin-she Kwa…. dan.......”

Nyuk In tersenyum. Teringat ia sekarang kepada dua orang muda ini. Pernah belum lama ini ia mengunjungi pesta ulang tahun Yok-ong Lo Ban Theng. Tentu saja ia jadi mengenal Siauw Yang dan Sin Thong.

“Oo, kalian adalah Siauw Yang siocia dan Sin Thong tayhiap, maafkan aku agak lupa. Oya, namaku Cung Nyuk In, dan mereka itu adalah Sie Biauw Eng dan Lim Hok Sun, dari Kotaraja.......” kata Nyuk In sambil menunjuk ke arah Biauw Eng dan Hok Sun yang memandang mereka dengan pandangan bodoh seperti orang kehilangan semangat.

Sekali lihat saja, tahulah Siauw Yang, bahwa kedua orang muda ini mendapat serangan pada syarafnya. Dengan terheran ia memandang kepada Nyuk In,

“Mereka ini tertawan oleh Hwa-ie-kay-pang. Tadinya aku juga tertawan oleh mereka, akan tetapi untung aku belum sempat diracuni oleh orang-orang Hwa-ie-kay-pang yang kejam itu, sayang....... Siang koko belum datang, kalau ada tentu Biauw Eng dan Hok Sun dapat disembuhkan…..!”

“Siang-koko....... siapa?” Sin Thong bertanya.

“Dia temanku. Namanya Ho Siang, murid Nakayarvia…….”

“Oo, pemuda tinggi kurus yang bersenjata suling hitam itu?” hampir berbareng Sin Thong dan Siauw Yang bertanya.

“Ya betul, dia itulah!”

“Nyuk In cici........ dimana Ho Siang, apakah ia hendak kemari?” tanya Sin Thong.

“Entahlah, Saudara Sin Thong, waktu aku keluar dari gedung Hwa-ie-kay-pang itu Siang-koko masih bertempur dikeroyok oleh Bu-tek Sianli dan orang-orangnya, entah bagaimana nasib Siang-koko…...?” Nyuk In berkata perlahan.

Nada suaranya penuh cemas dan kuatir. Kalau saja tidak bermaksud menolong kedua temannya, Biauw Eng dan Hok Sun yang kelihatannya amat menguatirkan ini, tentu Nyuk In akan membantu Ho Siang mengamuk melawan orang-orang Hwa-ie-kay-pang!

“Mudah-mudahan pemuda itu dapat meloloskan diri……!”

“Tentu, ia akan dapat....... eh… siapa itu?”

Siauw Yang menunjuk ke pintu. Sesosok tubuh berkelebat masuk dan kalau saja di situ tidak ada Sin Thong dan Siauw Yang, ingin sekali Nyuk In memeluk orang yang datang itu. Akan tetapi dengan girang ia berseru: “Siang koko!”

Ternyata yang datang adalah Ho Siang dan si kakek kaki buntung yang menolongnya. Ho Siang meletakkan tubuh kakek di atas sebuah bangku dan ia berlutut.

“Terima kasih atas pertolongan locianpwe pada kami!”

“Bangunlah orang muda....... tak perlu kau berlutut seperti itu kepadaku, aku bukan dewa yang harus disembah, aku hanya seorang tua tuna tetra....... eh, dua orang muda itu....... hem.......” si kakek kaki buntung menoleh kepada Biauw Eng dan Hok Sun yang memandangnya seperti orang bodoh.

“Ke marilah kalian!” suara kakek itu berwibawa, bergetar aneh. Dan bagaikan sebuah robot yang dikendalikan oleh tenaga lain dua orang itu, Hok Sun dan Biauw Eng maju melangkah menghampiri si kakek.

Sinar mata si kakek kaki buntung menatap tajam kepada Hok Sun dan Biauw Eng dan akhirnya orang tua itu berkata perlahan, “Sungguh keji dan ganas!”

“Locianpwe....... kedua saudara itu…. tentu keracunan dan sikapnya tidak wajar.......” Nyuk In berkata sambil mengawasi Biauw Eng dan Hok Sun.

“Mereka terserang racun ular hijau, hemm, berbahaya sekali kalau dibiarkan, akan menjalar mengganggu otak dan tentu akan gila akibatnya!” Kakek kaki buntung menoleh kepada Ho Siang: “Orang muda, kau murid Nakayarvia dapatkah kau menolong dua orang muda yang terkena racun ular hijau?”

Bertanya begini, si kakek kaki buntung teringat kepada Nakayarvia, pendeta India mahir dalam pengobatan penyakit-penyakit yang terserang oleh segala macam racun ular! Waktu ia melawat ke India, pernah sekali kakek buntung yang pada puluhan tahun yang lalu berjuluk Sin-kun-bu-tek ini, dan pernah ditolong oleh Nakayarvia, waktu ia terkena gigitan ular cobra yang berbisa. Dan, tentu saja kalau gurunya mahir dalam segala macam racun, masakan muridnya tidak? pikir kakek buntung ini.

Ho Siang memandang mata Biauw Eng. Sekilas saja dapat mengetahui bahwa dua orang muda ini telah keracunan bisa ular hijau yang luar biasa itu, maka dengan sikap hormat ia berkata kepada si kakek buntung:

“Teecu yang bodoh, akan mencobanya……!”

“Nah, lakukanlah itu….. eh, siapa namamu?”

“Teecu bernama Ho Siang, she Khu!” sahut Ho Siang.

Si kakek buntung mengangguk-anggukan kepalanya.

Ia lantas meramkan mata dan tak lama kemudian telah tenggelam dalam siulannya. Ho Siang tak mau mengganggu, ia lantas menghampiri Biauw Eng dan Hok Sun. Sekali tangannya bergerak tahu-tahu tubuh Hok Sun dan Biauw Eng telah tertotok dan roboh.

“In-moay, bawa pemuda itu ke ruang dalam dan baringkan di situ,” berkata Ho Siang, Siauw Yang dan Sin Thong mengikuti ke ruang dalam.

“Yang-moay, kau bantulah Siang-toako, sedikitnya kau mengerti pengobatan. Biar aku tunggu di sini!”

Siauw Yang tak berkata apa-apa, ia mengikuti Nyuk In ke dalam. Tak lama kemudian, baru saja ke tiga orang muda itu masuk ke ruang dalam, Kong Hwat mendatangi,

“Maaf saudara, apakah saudara Ho Siang sudah sampai ke tempat ini?” datang-datang Kong Hwat bertanya kepada pemuda cebol. Sin Thong membalas menjura dengan sikap hormat.

“Siang-twako sedang mengobati dua orang teman di ruang dalam, sahabat ini siapakah?”

“Saja Kong Hwat, syukur kalian telah dapat lolos dari gedung neraka Hwa-ie-kay-pang itu…….” Begitu Kong Hwat menoleh kepada kakek kaki buntung yang sedang bersiulan, ingin ia berbicara akan tetapi Sin Thong mencegahnya.

“Sttt, jangan ganggu dia!!”

Melihat kedua kaki kakek ini sudah buntung sebatas dengkul dan nampak pada wajah yang tua itu penuh dengan keriput dan menampakkan garis-garis penderitaan bathin yang amat hebat, rambutnya sudah putih semua, kakek itu tengah tenggelam dalam siulannya. Tubuhnya tak bergerak seperti patung, hanya pernapasannya itulah yang kelihatan naik turun amat lambat. Melihat kakek ini, sangat iba hati Kong Hwat!

Ia tak mengganggu kakek kaki buntung itu dan sampai hampir menjelang pagi, ia mengobrol dengan Sin Thong. Ternyata pemuda cebol ini doyan sekali bercerita. Sehingga tanpa mereka sadari, hari hampir menyelang pagi. Kokok ayam hutan terdengar bersahutan menyambut datangnya pagi hari. Sinar matahari angkat sayapnya memancar hangat mengusir kegelapan malam dan memberi isyarat kepada manusia di bumi bahwa tugas di depan sedang menanti!!!

Bersamaan dengan keluarnya Ho Siang, Nyuk In, Siauw Yang, Biauw Eng dan Hok Sun yang sudah mulai sadar, kakek kaki buntung itupun membuka matanya dan pandangannya menyapu tubuh ke tujuh orang muda yang sedang berlutut.

Apabila pandangannya itu menatap Biauw Eng dan Hok Sun, ia menarik napas lega, suaranya perlahan sekali, “Syukurlah kalian selamat!”

“Locianpwee........ Terima kasih atas pertolonganmu itu.”

“Syukur kau sudah sembuh, hemm! Nona apakah kau ini puteri Sie Tayjin dari Kotaraja??” tanya kakek itu memandang ke arah Sie Biauw Eng.

“Betul locianpwee, saja adalah puteri Sie Tayjin!”

“Bagus!!” kata si kakek kaki buntung memejamkan matanya. “Kalian adalah orang muda yang telah bersatu dan berkenalan satu sama lain….. dan tanpa kalian sadari, kalian telah saling tolong menolong....... Itulah baik sekali, karena barang siapa yang tidak ada perhatian kepada sesamanya tidak hanya mengalami banyak kesukaran-kesukaran dalam kehidupannya sendiri, akan tetapi juga akan mendatangkan kesukaran-kesukaran dalam kehidupannya sendiri dan lingkungannya. Benarlah seperti orang-orang tua mengatakan,

“Bersikaplah ramah tamah, lupakan diri sendiri, ingatlah kepada orang lain…… dan perhatikan orang lain....... berbahagialah barang siapa yang mengikuti hukum ini!”

Ho Siang menjura dan berkata: “Maaf….. Locianpwee….. kalau tidak salah, ucapan locianpwee tadi adalah ujar-ujar dari Nabi Kong Cu....... akan tetapi, apa maksudnya LUPAKAN DIRI SENDIRI, karena menurut pendapat saya yang bodoh, malah sebaliknya. Karena kita dikurniai oleh Thian tubuh yang sehat, sempurna dan sebagaimana adanya, maka kita berhak untuk memperhatikan keadaan diri sendiri, menjaganya, melindungi, memberi makan, agar tubuh ini merupakan sebuah pesawat untuk kelangsungan hidup kita, dan memberikan hal-hal yang berguna untuk kita dan sesama manusia.

“Coba bayangkan, kalau kita tidak memperhatikan diri kita, membiarkan tubuh ini kotor dan rusak, akhirnya bersarang berbagai macam penyakit, dan mana dapat diharapkan untuk menjadi sebuah pesawat yang berguna?”

“Betul katamu anak muda, memang harus memperhatikan diri kita, secara jasmani....... akan tetapi berapa banyak kah manusia yang memperhatikan dirinya secara rohani? Dus, karena terlalu cenderungnya manusia kita ini memperhatikan diri hanya dari segi jasmani, sehingga si kita.

“Aku ini menonjol. Aku inilah yang menguasai jasmani, menyelimuti hati, dan tanpa kita sadari, si aku ini menjadi raja kesombongan, mengingini kemuliaan tertinggi, tamak dan ingin diperhatikan orang lain dan selalu berkata: LIHATLAH AKU INI! padahal ia itu tidak tahu, hai manusia siapakah engkau ini? Dalam keadaan apakah engkau kini? Dan dalam berapa lamakah engkau bertahan hidup menumpang di dunia ini….. Ooo, apabila hari Tuhan itu datang, kuasakah engkau menepuk dada sendiri berkata: “LIHATLAH AKU!”

Ho Siang, Nyuk In, Siauw Yang, Sin Thong dan yang lainnya, tidak berani menentang pandangan si kakek buntung dan mereka tertunduk, tenggelam dalam alunan filsafat yang dikeluarkan oleh kakek ini. Sebetulnya ingin sekali Ho Siang membuka mulut, akan tetapi didengarnya si kakek sudah mulai berkata lagi,

“Benarlah ucapan Sang Budha yang mengatakan demikian. Duhai Brahmana, putuskanlah aliran itu (kecendrungan melihat diri sendiri, kerahkanlah tenagamu, enyahkanlah nafsu-nafsu, setelah mengetahui ketidak kekalan semua unsur-unsur yang berbentuk (unsur-unsur) kehidupan, engkau akan mengenal yang tak diciptakan, Duhai Brahmana!”

Suasana di dalam kalenteng tua itu hening sekali, suara kokok ayam hutan yang bersahut-sahutan menyambut datangnya pagi amat keras sekali terdengar. Sementara matahari merangkak ke atas menyebarkan cahayanya yang berkilat kemilau laksana tebaran emas mutiara.

“Mohon petunjukmu....... bagi kami yang dangkal pengetahuan ini….. locianpwee,” terdengar suara Ho Siang. Pemuda ini kagum sekali akan kakek kaki buntung yang luas pandangannya.

“Tiada seorang yang tidak berpengetahuan, Thian memberikan kita otak untuk berpikir, dan segala keadaan adalah hasil dari pada yang kita telah pikirkan. Berdasarkan atas pikiran kita dan dibentuk oleh pikiran kita, kalian tentu sudah mendengar bukan?

“Rakyat kecil di sepanjang sungai Sin-kiang menjerit-jerit menahan lapar. Bencana banjir di Tiongkok selatan belum lagi dapat ditanggulangi oleh Pemerintah Pusat.

“Kini muncul lagi bahaya kelaparan di dusun-dusun sepanjang sungai Sin-kiang. Ratusan ribu manusia sudah mati kelaparan, jutaan manusia yang telah kehilangan tempat berteduh dan kehilangan harta miliknya akibat banjir besar di Tiongkok Selatan yang menghanyutkan banyak rumah penduduk dan menenggelamkan ribuan manusia yang tak keburu menyelamatkan diri!

“Bisul penyakit di negara kita yang telah kalut, ditambah lagi kini dengan bermunculannya manusia berhati iblis yang secara diam-diam telah mengerahkan kekuatannya untuk menggempur pemerintah. “Gerakan ini sangat mengancam daratan Tiongkok, karena pengkhianat-pengkhianat bermunculan di sana sini. Pasukan Mongol yang dipimpin oleh Khu Bilay Khan sedang memasang mata untuk melihat keruntuhan ini dan siap menduduki pemerintahan……”

“Jadi, apakah yang harus kami lakukan locianpwe…... siapakah pengkhianat bangsa itu, biar teecu yang menghancurkan kepalanya….!” kata Kong Hwat yang tergerak sekali mendengar cerita si kakek kaki buntung yang biarpun kelihatannya seperti orang tanpadaksa, akan tetapi bagaikan mempunyai seribu mata dan seribu telinga.

“Aku tahu mereka, akan tetapi tak boleh aku membuka rahasia ini di depan kalian. Aku tak ingin berkhianat, dan tak ingin pula mencampuri diri melibatkan dengan urusan politik, akan tetapi....... kalian patut mengetahui ini, karena kepada kalianlah tergantung harapan untuk masa datang bagi kalangan pemerintahan Tiongkok....... O ya, orang muda murid Nakayarvia, aku lupa namamu, siapa?”

“Saja Ho Siang, she Khu!”

“Ho Siang, karena aku mengenal baik dengan gurumu si Nakayarvia itu, maka biarlah aku mewakili gurumu mengutus engkau untuk menyelidiki keadaan yang genting ini di Kotaraja. Kau carilah seorang pembesar yang bernama Tan Su Ko, atau lebih dikenal dengan sebutan Tan-tayjin. Nah, kau hubungilah orang itu! Engkau akan mendapat berita banyak dari padanya.

“Setelah itu…… oh ya, tentu tayjin akan mengatur semua ini kepadamu, dan kalian orang muda yang lain, hati-hatihlah terhadap pergerakan Kay-pang dan awasilah Pay-cu Sian-li-pay........ Nah, sampai di sini pesanku! Jadilah kalian orang-orang muda yang berjiwa patriot dan mengabdi kepada kepentingan sesama manusia dan bangsa selamat tinggal!”

Sesudah berkata demikian, amat cepat sekali gerakan kakek itu sehingga tanpa dapat dilihat lagi, tahu-tahu kakek kaki buntung itu sudah tidak berada di tempat lagi.

Sementara matahari sudah naik tinggi, menerangi ruangan di dalam kelenteng tua yang penuh dengan kabang-kabang dan tak terurus lagi!

◄Y►

15

Sudah terlalu lama kita meninggalkan Song Cie Lay yang berada di puncak gunung Hong-san di bawah gemblengan tosu sakti Seng Thian Taysu. Sebagaimana telah diceritakan di bagian depan, Song Cie Lay inilah murid Swie It Tianglo, satu-satunya murid mendiang Swie It Tianglo yang masih belum meninggalkan puncak Tiang-pek-san dan bertemu dengan supeknya Seng Thian Taysu, diterima sebagai murid selama hampir empat tahun!

Selama hampir empat tahun lamanya itu, Cie Lay digembleng oleh tosu sakti Seng Thian Taysu dengan ilmu silat ciptaannya yang bernama Hong-san-cap-jie-liong-sin-kun-hoat (Duabelas pukulan naga sakti dari gunung Hong-san).

Berkat ketekunan dan bakat yang luar biasa, selama hampir empat tahun itu, Cie Lay sudah dapat menguasai ilmu silat yang diturunkan suhunya dengan baik, malah lebih kuat dan cepat dari yang dimainkan oleh gurunya ini. Girang bukan main Seng Thian Taysu melihat bakat yang luar biasa yang tertanam dalam diri muridnya ini, sehingga dengan penuh ketekunan dan kasih sayang yang besar, tosu ini melatih muridnya dengan luar biasa, sehingga empat tahun lewat dengan cepatnya. Cie Lay telah menjadi seorang pemuda berusia duapuluh dua tahun, tubuhnya jangkung dan wajahnya tampan.

Dalam waktu empat tahun ini, kepandaian Cie Lay sudah meningkat tinggi. Bakatnya yang luar biasa ini, membuat dalam waktu yang singkat kepandaian suhunya habis sudah dikuras dan dipindahkan ke dalam tubuh pemuda tampan ini.

Cie Lay benar-benar telah menjadi seorang pemuda yang matang, matang lahir dan bathin, karena disamping suhunya ini menurunkan ilmu silat tinggi, tak lupa pula tosu Hong-san ini menggembleng Cie Lay dengan ilmu kebathinan untuk sebagai pegangan dalam diri pemuda itu!

Pada suatu pagi, matahari baru saja mengintip dari balik punggung bukit. Dan menyebar sinarnya yang merah keemasan dan bersinar cerah.

Seng Thian Taysu, yang nampak sudah kelihatan tua sekali duduk di depan muridnya, di halaman pondok sederhana yang banyak ditumbuhi oleh tetanaman yang masih basah diselimuti embun pagi.

“Cie Lay.......” demikian Seng Thian Taysu berkata kepada muridnya. Suara amat pelan dan tergetar. Mendengar suara ini, pemuda itu sampai mengangkat kepalanya dan memandang suhunya yang menatapnya dengan lembut.

“Sudah empat tahun kau berada di Hong-san, selama itu tidak sia-sia usahaku menggembleng engkau guna menjadi seorang perkasa. Kepandaianmu kini sudah cukup tinggi, tinggal saja mencari pengalaman di dunia kang-ouw, ketahuilah bahwa pada jaman ini banyak sekali tokoh-tokoh sakti yang bermunculan.

Akan tetapi sayangnya, kemunculan tokoh-tokoh ini membawa kesengsaraan bagi rakyat belaka, merusak aparat negara dan sengaja dengan diam-diam menjadi musuh dalam selimut untuk menggulingkan pemerintahan. Tokoh-tokoh sakti itu adalah Bu-tek Sianli, Pay-cu Sian-li-pay, Thay-lek-hui-mo, Hok Losu, hwesio Siauw-lim yang tersesat dan yang berkepandaian tinggi dan banyak lagi tokoh-tokoh yang sudah menggabungkan diri dengan Sian-li-pay yang terkenal itu, oleh karena itu, Cie Lay hari ini kuperkenankan kau untuk turun gunung, mencari pengalaman dan….. ahh mudah-mudahan engkau tidak menemui jalan sesat.......”

“Suhu, mohon petunjukmu. Setelah teecu turun gunung, apakah yang teecu harus perbuat?”

“Engkau masih mempunyai empat saudara seperguruan dari mendiang Swie It Tianglo, oleh karena itu, carilah mereka, gabungkan diri dengan mereka....... dan….. soal pembalasan dendam kepada tiga orang pembunuh gurumu mendiang Swie It Tianglo, terserah kepadamu saja, akan tetapi ingatlah Cie Lay, jikalau pembunuhan itu dapat dihindari, janganlah membunuh. Ingat soal kematian bukanlah urusan kita! Tak boleh kita menghakimi seseorang dengan mengambil nyawa, tak baik muridku!”

“Terimakasih atas petunjuk suhu…… bilakah teecu turun gunung?” suara Cie Lay terdengar bergetar.

Memang sudah lama sekali ia merindukan untuk turun dari Hong-san ini dan mencari saudara-saudara seperguruannya yang tercerai berai. Hari ini ia akan turun gunung.

“Sekarang juga Cie Lay!”

“Suhu…….!”

“Pergilah Cie Lay, ini Hong-san-kiam kuberikan kepadamu…... Selamat jalan Cie Lay!”

“Suhu!” Cie Lay menjatuhkan diri berlutut. Untuk beberapa lama ia berdiam diri di bawah lutut suhunya, sementara kepalanya diusap halus oleh kakek itu.

Demikianlah, bagaikan burung yang lepas dari sangkarnya, Song Cie Lay menuruni lereng gunung Hong-san yang terkenal tinggi dan berbahaya. Pemuda itu mulai perjalanannya yang amat sukar dan amat berbahaya.

Makin jauh Cie Lay menuruni lereng gunung itu, semakin tebal embun yang menyelimutinya dan hawa dingin menyerang dengan hebat sehingga ia menggigil kedinginan. Terpaksa Cie Lay menunda perjalanannya, kedua kakinya menginjak ujung karang, melepaskan pandangannya jauh ke bawah.

Disini ia mengerahkan sin-kangnya sehingga tubuhnya tiba-tiba menjadi hangat sekali seakan-akan ia bukan sedang berdiri di dalam selimutan embun, melainkan diselimuti oleh cahaya terik panas matahari. Memang lwekang pemuda ini sudah hebat sekali. Tak lama kemudian dari atas kepalanya mengepul uap putih dan tubuhnya menjadi berpeluh.

Setelah mengusir hawa dingin yang membuat tulang-tulangnya menjadi kaku kedinginan, ia lalu melanjutkan perjalanannya. Perjalanan ini memerlukan tenaga gin-kang untuk menjaga jangan sampai jatuh dari jurang yang penuh dengan batu-batu runcing laksana mata pedang yang menonjol.

Akhirnya setelah mengalami daerah dingin di sebelah utara pegunungan Hong-san yang terkenal dengan puncaknya yang berselimut salju itu, dan sesudah ia berhenti sampai tiga kali mengerahkan hawa sin-kang di tubuhnya untuk mengusir rasa dingin, seperti es, ia telah keluar dari daerah puncak dan berada di tempat yang terang.

Pemandangan dari situ amat indah, juga menakutkan sekali. Kalau tadi ia melihat ke bawah, ia hanya melihat halimun yang gelap putih, sekarang, apabila ia menundukkan kepala memandang ke bawah ia melihat alam yang amat luas di bawah kakinya.

Lereng gunung itu masih amat curam, jauh di sebelah selatan kelihatan berpetak-petak rumah pondok penduduk, dan sawah ladang yang terbentang luas. Di depannya nampak pohon-pohon yang kelihatan dari situ amat pendek dan kecil, akan tetapi indah sekali.

Apabila ia menengadah ke atas, nampak warna warni indah dari pelangi dibentuk oleh kemilau sinar matahari yang menembus embun mendatangkan warna yang indah dan menakjubkan!

Setelah sampai di daerah ini, Cie Lay berlari dengan gesit dan cepat, mempergunakan gin-kangnya mencelat dari atas batu karang ke atas batu karang yang lain, laksana walet hitam yang beterbangan mengelilingi bunga. Hawa dingin tidak terasa lagi seperti di atas itu, cahaya matahari mulai menghangati tubuhnya.

Akhirnya, setelah dua jam ia menuruni puncak Hong-san yang penuh dengan jurang-jurang terjal itu, sampailah ia di sebuah tanah datar dan ketika ia mendongak ke atas, terlihatlah olehnya bahwa yang dituruninya tadi adalah dinding jurang gunung yang tinggi menjulang ke atas dan puncaknya, di mana suhunya, Seng Thian Taysu berada, lenyap ditelan awan putih.

Akan tetapi daerah yang didatangi ini aneh dan asing baginya. Di depannya terdapat gunung kecil dan di ujung sekali menjulang tinggi sebuah gunung yang seakan-akan hendak menyaingi Hong-san yang besar.

Cie Lay tidak tahu bahwa itulah puncak gunung Tai-hang-san yang masih termasuk daerah pegunungan Lu-liang-san. Karena hendak menjumpai manusia agar ia tahu sampai dimana ia kini berada, Cie Lay tidak membuang waktu lagi dan cepat melanjutkan perjalanan.

Sebetulnya, pemuda ini tersesat jalan. Seharusnya ia mengambil jurusan selatan melintasi sebuah anak sungai Ce-kiang yang terkenal di lereng gunung Hong-san dan menuju ke arah tenggara kota Peng An, akan tetapi sebaliknya malah, karena Cie Lay tidak mengenal jalan ia mengambil jurusan ke arah utara, jurusan yang nampak liar dan tak pernah didatangi manusia.

Jalan satu-satunya adalah jalan menurun, dimana di bawahnya itu terdapat sebuah jurang yang amat dalam dan sayup-sayup oleh pandangan mata yang terlatih, ia melihat sebuah tanah datar dan pondok sederhana. Karena hanya dengan cara demikian baru ia dapat keluar dari daerah liar ini, maka Cie Lay menuruni jurang yang tertutup kabut itu dengan menggunakan ilmu cecak merayap di atas dinding dan perlahan-lahan tubuhnya yang melengket pada dinding jurang itu, turun sambil mengerahkan gin-kang dan lweekang!

Untung sekali matahari sudah naik agak tinggi, sehingga kabut di dasar jurang itu membuyar tersentuh sinarnya.

Ketika Cie Lay sampai di bawah tanah yang amat lembut dan berpasir itu, ia berhasil lari cepat dan mencari dengan pandangan matanya kalau-kalau di dekat situ nampak perkampungan. Tiba-tiba ia melihat dua sosok manusia sedang bertempur dengan amat serunya, amat cepat sehingga bagi mata yang tak terlatih, akan sukarlah baginya untuk mengikuti jalannya pertempuran. Hanya nampak bayangan merah dan putih berkelebat-kelebat dengan amat cepatnya, sebentar-sebentar terdengar saara senjata beradu memercikan kembang api di udara.

Cie Lay terkejut bukan main, ia dapat melihat jelas jalannya pertempuran itu. Dapat melihat siapa yang tengah bertempur dengan amat serunya itu.

Seorang wanita muda, cantik, berpakaian kembang-kembang merah, rambutnya yang panjang terurai sebatas pundak, nampak demikian gesit sekali menerjang seorang pemuda baju putih, kedua-duanya bersenjata sebuah pedang pendek yang melengkung, berkilau-kilau cahaya kebiruan dan untuk sejenak Cie Lay hanya bengong memandang kedua orang muda yang bertempur mati-matian itu.

Dua orang muda itu, amat dikenalnya, Liok Kong In dan Lie Bwe Hwa.

Seperti yang telah dituturkan di bagian depan, Kong In dan Bwe Hwa, masing-masing telah mempelajari sebuah kitab peninggalan dari ke dua orang kakek sakti yang bernama Hek-pek-hwa-moko yang telah meninggal dunia. Bwe Hwa mempelajari kitab peninggalan Pek-moko, dan mempelajari ilmu silat yang bernama Pek-hwa-kiam-sut (ilmu pedang bunga putih) yang ditulis oleh Pek-moko.

Dan Kong In, diajak pula oleh Hek-moko ke puncak sebuah gunung dan diberi sebuah kitab pedang yang bernama Hek-hwa-kiam-sut, kitab pedang yang sesungguhnya bersumber menjadi satu dengan Pek-hwa-kiam-sut, karena dua orang Iblis Hitam dan Putih ini adalah saudara seperguruan dan bersumber dari satu ilmu pedang Hek-pek-hwa-kiam-sut! Akan tetapi semenjak mereka masing-masing mempunyai sepasang pedang Iblis, maka terjadilah pertempuran-pertempuran dan akhirnya ke dua itu mati di tangan saudara sendiri!

Tiga tahun sudah Bwe Hwa dan Kong In mempelajari ilmu kitah pedang yang dahsyat itu. Seperti janji mereka pada mendiang suhunya masing-masing, yaitu untuk mengadu kepandaian pedang, maka pada waktu yang tepat, Kong In menuruni puncak gunung dan langsung ke lembah Tai-hang-san bertemu dengan sumoaynya, Bwe Hwa!

“Bagus, suheng! Rupanya kau menepati janji suhumu si Hitam itu, hemm, mari kita coba....... siapa di antara kita yang paling unggul sebagai murid Hek-pek-hwa-moko!” datang-datang Bwe Hwa menyambut dengan tarikan pedang Iblis Putih dan serangkum cahaya berkilau-kilauan oleh sinar perak kebiruan yang memancar dari logam pedang pendek itu!

Kong In terkejut sekali. Sesungguhnya ia tidak bermaksud untuk bertempur dengan menggunakan pedang, oleh karena itu dengan melangkahkan kakinya maju selangkah, ia berkata, “Hwa-moay, mendiang suhu memesan untuk menguji saja, siapa di antara kita yang terlihai dan tak perlu menggunakan pedang!”

Bwe Hwa tersenyum. Amat manis sekali senyum gadis itu. Untuk sejenak Kong In menjadi terpesona oleh senyum Bwe Hwa. Kenangan di puncak Tiang-pek-san membayang di ruang matanya.

Betapapun sesungguhnya ia mencintai gadis ini, senyum gadis itu, masih seperti dulu masih mampu untuk mengoyak-ngoyak ruang hatinya, masih membuat darah di dada pemuda itu berdebar-debar. Bagaikan orang yang terkena hikmat pemuda itu memandang sayu ke arah si gadis. Hatinya menjerit-jerit waktu Bwe Hwa menggerak-gerakan pedang Iblis hitamnya!

“Suheng Kong In, mengapa kau melongo saja? Cabut pedangmu dan mari kita bertempur!”

“Sumoay, bukan bagini caranya kita mengadu kepandaian, tak baik menggunakan pedang! Mari kita bertempur dengan tangan kosong saja. bagaimana?”

Aneh mendengar suara perkataan Kong In seperti itu, Bwe Hwa menjadi marah dan merasa tak puas. Apalagi waktu dilihatnya pedang di tangannya memancar cahaya aneh, serasa dadanya mendenyar penuh dengan hawa membunuh. Tangannya bergetar kuat oleh hawa mujijat yang mengalir ke segenap pembuluh darahnya!

“Kong In Suheng, tak perlu banyak membuang waktu. Sambut seranganku!” Bwe Hwa melompat maju menerjang Kong In dengan pedang pendek yang mengeluarkan cahaya aneh itu. Terkejut sekali hati pemuda itu merasa tenaga yang mujijat mendorong tubuhnya dan hampir saja iganya tersambar pedang sumoaynya kalau tidak cepat-cepat ia melompat ke samping dan mencabut pedangnya pula.

Sinar hitam memanjang berkilat merupakan bayangan maut di tangan Kong In. Rasa gentar yang tadi menyelusuri hatinya lenyap sudah setelah ia memegang pedang Hek-hwa-kiam (pedang bunga hitam).

“Bagus, mari kita mengukur kepandaian…… lihat pedang!” bentakan nyaring Bwe Hwa merupakan kilat putih menyambar kepala Kong In. Dengan gerak kilat Kong In menangkis pedang lawan dan mengirim pukulan ke depan.

“Dess, tranggg!” bunga api hitam dan putih memercik di udara. Keduanya terhuyung ke belakang Masing-masing melihat ke arah pedangnya, lega hati mereka melihat pedangnya tidak cacad, malah sinar hitam dan putih itu memancar menyerupai hawa panas membara. Di dalam dada Kong In dan Bwe Hwa tersembunyi rasa tak puas.

Mereka saling menerjang lagi.

“Suheng, tak dapat kau menangkan kepandaianku, menyerahlah kau dan berlutut di depan suhu, menyatakan kau sudah kalah olehku!” Dari balik gumpalan sinar pedang terdengar suara nyaring Bwe Hwa mengejek.

Kong In menjadi panas hati, “Sumoay, jangan tekebur, engkaulah yang harus kukalahkan dan menyatakan kekalahanmu di depan suhu Hek-moko, dan berlutut di depanku!”

“Ha ha ha suheng, tak mungkin kau kalahkan aku, tak mungkin....... suhu Pek-moko lebih lihai dari Hek-moko!”

“Sumoay, jangan tekebur, pedangku ini akan memenggal lehermu…….!”

“Pedangku ini akan menghirup darahmu……. hik hik hik!”

“Ganas kau!” Kong In membentak marah karena serangan gadis sumoaynya ini benar-benar dahsyat dan cepat. Kalau tadi pedang putih itu sampai menemui sasaran, tentu lehernya akan putus terpenggal pedang di tangan sumoaynya.

Bertambah penasaran Kong In dan ia menggerakan pedang hitamnya dengan gerakan istimewa dari ilmu pedang Hek-hwa-kiam-sut ciptaan Hek-moko. Terdengar bunyi keras dan pedangnya berhasil menempel pedang putih Bwe Hwa, akan tetapi sebelum ia membetot, secara aneh sekali pedang itu telah terlepas kembali dan ternyata Bwe Hwa telah dapat membebaskan pedangnya dengan amat mudah dari tenaga tempelan yang luar biasa itu.

Di lain saat pedang itu telah menjadi sinar putih memanjang dan menyerang ke arah pundak untuk membikin putus tulang pundak! Melihat keganasan sumoaynya itu, Kong In menjadi marah dan penasaran, hawa membunuh sudah membayang dalam diri masing-masing.

Kong In menggerakan pedangnya memutar dengan jurus yang luar biasa, suara berciutan menyambar di atas kepala si gadis, akan tetapi dengan memiringkan kepalanya, pedang hitam itu lewat di samping Bwe Hwa, kemudian Bwe Hwa melakukan serangan balasan yang tidak kalah hebatnya.

Tiba-tiba terdengar bentakan keras.

“It-suheng, Hwa sumoay! Kalian sudah gila, berhenti!” yang membentak adalah Cie Lay dan sekali kakinya menotol tanah, tubuhnya melayang dan menerjang Kong In dan Bwe Hwa dengan pedang Hong-san-kiam yang diputar di atas kepala.

Tiga buah sinar pedang berkeredep dan bunga api memercik di udara. Ke tiga orang muda itu terpental ke belakang oleh dorongan tangan kiri Cie Lay dan pedangnya membentur dua pedang yang luar biasa lihainya itu.

Cie Lay terhuyung-huyung ke belakang. Begitu pedangnya menjadi somplak oleh benturan kedua pedang hitam dan putih tadi, Cie Lay menjadi terkejut dan memandang kepada dua orang muda di depannya itu bergantian. Tak mengerti!

“Cie Lay....... kau?” Kong In menegur.

“Jie-suheng……!”

“It-suheng dan Bwe Hwa sumoay, kalian ini....... mengapa bertempur?” Cie Lay bertanya sambil menyarungkan pedangnya menghampiri suheng dan sumoaynya.

Pada saat itu, dari kejauhan mendatangi seorang pemuda dan seorang gadis jelita. Orang muda itu nampak kelihatan girang sekali, berseru. “Kong In suheng, Cie Lay…… Bwe Hwa sumoay!”

Ketika orang muda itu menoleh dan alangkah terkejut dan herannya mereka melihat Tiang Le berjalan bersama seorang wanita muda jelita, kelihatannya lembut dan manis! Apabila Bwe Hwa memandang ke arah lengan pemuda yang buntung sebelah kanannya itu berubah wajah Bwe Hwa dan entah mengapa hatinya terasa tidak enak benar. Hati itu merasa bersalah!

Dan hati itu, hmm, panas bukan main melihat Tiang Le didampingi oleh wanita cantik jelita. Seperti telah kita kenal, wanita muda ini adalah Cia Pei Pei!

Tiga tahun sudah Tiang Le mempelajari ilmu kitab yang didapat dari Pei Pei dan alangkah girang hatinya merasa bahwa jurus-jurus dalam kitab itu amat sejalan dengan kemampuannya. Seakan-akan dengan kebuntungan lengan kanannya itulah justru merupakan syarat utama untuk bisa melatih ilmu silat yang tertera dari kitab kuno yang bernama ilmu silat tangan buntung, gerak tangan kilat dan duapuluh satu langkah-langkah sakti!

Demikianlah tiga tahun sudah Tiang Le melatih diri dan pada suatu hari, pemuda itu mengajak Pei Pei untuk mengembara mencari tiga orang musuh-musuhnya, mencari saudara-saudara seperguruan yang telah lenyap! Dan secara kebetulan sekali mereka bertemu dengan tiga orang muda ini.

Tiang Le girang sekali hatinya. Ia menjurah dan memperkenalkan Pei Pei kepada saudara seperguruannya ini.

“Senang sekali saya bertemu dengan sam-wi kalian bertiga yang gagah dan saudara seperguruan dari Tiang Le koko.......!” Pei Pei menjura dengan hormat. Senyum manis itu menyorotinya segar di wajah si gadis.

Ke tiga orang muda itu membalas hormat.

Kong In dan Cie Lay menganggukkan kepala.

Akan tetapi, tiba-tiba Bwe Hwa menarik keluar pedang Pek-hwa-kiam dan langsung membentak kepada Kong In: “Suheng….. mari kita lanjutkan pertempuran tadi, seorang di antara kita belum ada yang kalah, kita harus membuat penentuan!”

Kata-kata ini ditutup olah gerakan sinar pedang putih di tangan Bwe Hwa. Amat cepat sekali gerakan menusuk yang bertubi-tubi itu sehingga mau tidak mau Kong In telah mencelat dan mencabut pedangnya dan membentak keras: “Sumoay, kau keras kepala! Hari ini kau harus tunduk kepadaku!”

Pedang hitam itu menyambar. Tiang Le cepat mencelat ke tengah-tengah arena pertempuran dan mengangkat tangannya mencegah: “Suheng, sumoay....... jangan bertempur, berhenti!”

Akan tetapi mana kedua orang muda ini mau berhenti malahan bertambah dahsyat lagi mereka bertempur. Tiang Le menjadi terkejut sekali melihat kedua pedang yang mengeluarkan cahaya menyeramkan itu.

Cahaya aneh yang membuat si pemain pedang berhasrat untuk saling membinasakan lawan. Inilah kehebatan Sepasang Pedang Iblis Hek-pek-kiam di tangan ke dua orang muda itu!

Tiang Le memandang ke arah Cie Lay.

“Entahlah, kutemui mereka tadi juga sedang bertempur!”

“Biar kuhadapi mereka,” berkata demikian Tiang Le telah mengeluarkan pedang pusaka buntung.

“Sute, hati-hatilah….. sepasang pedang itu amat luar biasa, Cie Lay memperingati dan ia sendiri bersiap sedia untuk memisahkan pula.”

“It-suheng dan Bwe Hwa, harap berhenti!” Tiang Le memperingati kedua orang yang sedang bertempur dengan amat seru dan hebat luar biasa.

Kilatan pedang hitam dan putih berkeredep menyambar lawan masing-masing, di antara gundukan dua buah pedang yang amat cepat itu,terdengar hampir berbareng Kong In dan Bwe Hwa!

“Tiang Le, jangan turut campur kau! Biar kami menyelesaikan urusan masing-masing!”

“Kalau kalian tidak berhenti, aku turun tangan suheng!” Tiang Le berseru lagi.

“Ha! Tiang Le, sudah buntung lenganmu, jangan menyia-nyiakan nyawamu....... lebih baik kau pergilah cari Sian Hwa-moay, dia amat mencintaimu….. akan tetapi……” Kong In tak melanjutkan kata-katanya karena pedang putih di tangan Bwe Hwa menyambar dengan ganas sekali. Terpaksa ia menangkis.

Dua sinar pedang saling bertemu dan bunga api berpijar. Ke dua melompat mundur untuk melihat pedang masing-masing. Mereka merasa lega melihat pedang masing-masing tidak menjadi rusak oleh benturan yang keras tadi, tanda bahwa pedang mereka sama-sama hebat!

Dalam detik-detik selanjutnya dua orang kakak adik seperguruan itu sudah saling serang lagi dengan sengit dan ganas. Sepasang Pedang Iblis Hek-pek-hwa-kiam bergulung-gulung merupakan sinar berwarna hitam dan putih, amat indah dipandang dan mendebarkan hati karena tegangnya.

Cie Lay dan Tiang Le tahu bahwa permainan kedua orang saudara seperguruannya ini, meskipun dilihat indah, akan tetapi bersembunyi tangan-tangan maut yang setiap waktu dapat mencabut nyawa seorang di antara ke dua pemainnya.

Tahu bahwa mereka tidak dapat lagi dipisahkan hanya dengan kata-kata, Tiang Le berseru keras dan tahu-tahu tubuhnya sudah menerjang ke tengah-tengah dua orang saudara seperguruan yang tengah bertempur. Tanpa memberi kesempatan lagi, ia lalu menyerang membabat dari kanan dan kiri!

Sinar pedang berkilat menyambar, amat cepat sekali gerakan Tiang Le ini, dan begitu pedangnya beradu dengan kedua pedang lawan dengan gerak kilat, tahu-tahu pedang buntungnya sudah masuk ke dalam sarung di pinggang dan bagaikan ada sebuah guntur menyambar dengan amat dahsyatnya, tahu-tahu, begitu tangan kiri Tiang Le mendorong ke kanan dan kiri, baik Bwe Hwa mau pun Kong In sudah terpental ke belakang!

Tentu saja Kong In dan Bwe Hwa menjadi terkejut sekali. Dan mereka tak mengerti bagaimana mereka masing-masing sampai bisa terpental ke belakang, tadi begitu ia merasa ada angin lembut menyambarnya, Bwe Hwa dan Kong In membabat dengan pedangnya masing-masing dan mendorong ke arah lawan, akan tetapi sangat tidak diduga karena begitu pukulan mereka saling bertumbuk, tahu-tahu sebuah gelombang dahsyat telah menggempur kuda-kuda mereka!

“It-suheng, Bwe Hwa sumoay, apakah kalian ini sudah gila? Mengapa bertempur seperti itu? Kalau kalian haus akan pertempuran tingkat tinggi, mengapa tidak mencari musuh-musuh mendiang suhu dan membalas sakit hati ini? Suheng dan sumoay, sadarlah, hentikan kegilaan kalian, mari kita mencari musuh-musuh suhu! Kita berlumba, siapa paling dulu yang dapat membalas sakit hati suhu!”

“Tiang Le, sombong kau! Aku bukan anak kecil lagi seperti dulu! Aku kini adalah murid mendiang Hek-moko. Berani kau menghadapi pedang iblisku?” Kong In menantang.

Panas sekali hatinya kepada pemuda lengan buntung ini. Memang sejak ia tahu Bwe Hwa mencintai Tiang Le, entah mengapa hati pemuda ini tidak senang terhadap Tiang Le. Apalagi kini, sekali bergebrak saja ia sudah tergempur kuda-kudanya. Tak boleh jadi. Masa Tiang Le dapat mengalahkanku?

Di lain pihak, Bwe Hwa juga merasa tak puas dan penasaran kepada Tiang Le. Ia betul-betul menjadi panas hati dan tak senang, begitu melihat Tiang Le berjalan dengan gadis lemah itu.

Seandainya, gadis itu Sian Hwa, mungkin ia takkan semarah ini. Akan tetapi gadis lemah lembut itu bukan Sian Hwa, hemm, apakah pemuda suhengnya ini bermain gila lagi dengan perempuan lain dan tidak menghiraukan Sian Hwa sumoay?!

Saking panasnya hatinya yang mendidih itu. Tanpa berkata apa-apa lagi, gadis itu sudah menerjang Tiang Le dengan pedangnya, dibarengi dengan gerakan Kong In yang telah menggempur dengan dahsyat sekali.

Cepat Tiang Le mencelat ke atas menghindarkan datangnya sepasang pedang yang mengeluarkan hawa yang aneh itu dan telah menarik pedang buntungnya dan membalas menangkis pedang Kong In dan Bwe Hwa. Bunga api memercik di udara, akan tetapi pedang mereka masing-masing tidak rusak karenanya, tanda bahwa pedang mereka berimbang dalam kekuatannya!

Pedang di tangan kiri Tiang Le adalah sebatang pedang pusaka buntung yang pada puluhan tahun telah menggemparkan dunia persilatan, biarpun pedang ini agak pendek dari ukuran pedang yang lain, namun terbuat dari pada baja putih yang kuat sekali. Besi biasa dapat putus dengan mudah oleh sabetan pedang Tiang Le, di lain pihak pedang di tangan Kong In dan Bwe Hwa adalah sepasang pedang iblis yang luar biasa!

Hebat sekali desakan pedang iblis dari tangan Kong In dan Bwe Hwa. Bagaikan kilat putih yang menyambar-nyambar pedang di tangan Bwe Hwa membuat gerakan yang menusuk, sedangkan pedang hitam di tangan Kong In berkelebat cepat menyambar leher Tiang Le.

Amat cepat sekali gerakan dua pedang yang luar biasa ini. Akan tetapi, Tiang Le bukanlah pemuda yang tiga tahun yang lalu, kini pemuda lengan buntung ini telah mewarisi ilmu silat luar biasa yang sukar untuk dicari keduanya.

Menghadapi keganasan silat dari kedua orang saudara seperguruannya ini, Tiang Le terkejut dan membentak keras. Ia mengumpulkan tenaganya pada tangan kiri, menanti datangnya pedang lawan sampai dekat, kemudian sekali gus ia mencelat ke atas dengan dua macam gerakan.

Pedang buntungnya, dengan gerakan yang cepat sukar diikuti oleh pandangan mata telah terselip di pinggangnya dan bagaikan kilat menyambar tangan kirinya mendorong ke arah depan dan belakang dengan pukulan gerak tangan kilat yang luas.

“Dess!” dua pukulan yang luar biasa itu membuat tubuh Kong In dan Bwe Hwa terhuyung-huyung ke belakang. Akan tetapi sungguh di luar dugaan dari Tiang Le, karena dengan kecepatan yang luar biasa bagaikan komando, serentak Kong In dan Bwe Hwa sudah menerjang kembali dengan kilatan pedang yang sukar diikuti oleh pandangan mata.

Cie Lay yang menyaksikan pertempuran ini, berkelebat ke tengah-tengah pertempuran dan cepat menangkis pedang Bwe Hwa yang menyambar bagian pundak Tiang Le. Akan tetapi begitu tangan kiri Bwe Hwa dan Kong In bergerak memutar, tahu-tahu tubuh Cie Lay terlempar jauh dan Tiang Le sendiri terhuyung dan cepat melompat ke belakang lalu berdiri dengan muka pucat. Darah mengucur keluar dari ke dua pundak Tiang Le yang terserempet pedang hitam Kong In!

“Koko.......” Pei Pei berlari menghampiri Tiang Le.

“Aku tak apa-apa Pei-moay. Sungguh lihay suheng dan sumoay, ganas, ahh....... dan luar biasa pedang setan itu!” Tiang Le menekan pundaknya yang bercucuran darah. Pei Pei cepat merobek kain bajunya dan membalut pundak Tiang Le.

Tentu saja tadi karena Tiang Le tidak menduga-duga akan serangan mendadak dari kedua orang seperguruannya ini, saking cepatnya gerakan pedang lawan dengan jurus yang amat aneh dan dahsyat, tak keburu Tiang Le menghindarkan sabetan pedang Kong In. Hampir saja ia berteriak waktu pedang hitam itu benar-benar hendak memenggal lehernya. Hebat! Entah apakah Kong In dan Bwe Hwa ini sudah gila hendak membunuhnya?

Di lain pihak, dengan napas yang agak memburu, Bwe Hwa berdiri tegak dengan pedang dilintangkan di depan dada. Gadis berusia duapuluh tahun ini kelihatan gagah sekali, matanya memandang Tiang Le dengan berapi, dadanya memburu melihat sikap Pei Pei yang demikian mesra membalut luka di pundak Tiang Le.

Ingin sekali saat itu ia menerjang gadis itu dan menusukkan pedangnya ini di dada gadis yang membuat dadanya menjadi panas bagai kawah api yang hendak meletus, wajahnya sebentar merah, sebentar putih, pucat bagaikan kertas. Dadanya berombak turun naik. apabila, pandangannya itu terbentur ke arah lengan kanan Tiang Le yang sudah buntung sebatas pundak, terasa matanya menjadi panas pandangannya menjadi nanar oleh genangan air mata yang hendak pecah!

Tiang Le memandang Bwe Hwa, dua pasang mata yang saling membentur itu meledakkan bendungan air mata si gadis yang tadi ditahan-tahan hendak meluas. Bwe Hwa menubruk Tiang Le dan menangis, membenamkan kepalanya di dada pemuda itu.

“Tiang Le koko........ kau... ampunkan..... aku... tanganmu....... aduh....... koko....... kau....... buntungilah tanganku ini......... aku... aku....... telah membuatmu menderita....... aku jahat......... aku berdosa...... koko, biarlah aku membalas penderitaanmu ini...... aku berdosa...... malah tadi hampir saja aku membunuhmu...... ya, Tuhan....... biarlah aku menerima hukuman....... Tiang Le koko jangan kau marah kepadaku........ biar aku membuntungi tangan ini.......” dengan gerakan yang amat cepat Bwe Hwa menggerakan tangan kanannya dan...... “Srattt!” darah merah menyembur dari tangan kiri gadis itu membasahi dada Tiang Le.

Bagaikan disentak ular berbisa, Tiang Le mendorong tubuh Bwe Hwa.

“Bwe Hwa...... kau...... kenapa kau lakukan itu......?”

Sambil menahan nyeri pada lengan kirinya, Bwe Hwa memandang Tiang Le dengan tatapan sayu. Beberapa butir air mata meloncat jatuh di atas sepasang pipi yang memucat.

“Tiang Le koko....... kini legalah hatiku, aku........ aku...... aku.... ahhh,” Bwe Hwa menggigit bibirnya. Butir-butir air mata membasahi pipinya. Pandangan Bwe Hwa semakin redup, seperti lampu yang kehabisan minyak. Ia memegangi lengannya yang penuh darah.

Tiang Le menghampiri Bwe Hwa menotok jalan darah yang mengucur deras itu.

“Sumoay Bwe Hwa...... kenapa kau jadi begini sumoay...... kenapa kau lakukan...... itu....... ahh, sumoay....... aku tidak menaruh dendam sedikitpun kepadamu aku tidak memarahimu sumoay......”

“Tiang Le koko......!”

“Sumoay.......”

Baru saja Tiang Le hendak merangkul gadis itu. Tiba-tiba serangkum hawa dingin menyambar di belakangnya. Cepat Tiang Le menggeser kakinya dan menoleh ke belakang,

“It-suheng Kong In........”

“Bagus Tiang Le. Sesudah kau menghancurkan hati Sian Hwa yang mencintaimu mati-matian, kini kau bermain gila dengan perempuan lain dan melupakan sumoay Sian Hwa. Sekarang, karena kau, Bwe Hwa kehilangan lengannya, keparat! Aku harus mengadu nyawa denganmu!”

“Singg!” pedang Hek-hwa-kiam tercabut di tangan Kong In dan tanpa mengatakan apa-apa lagi dengan nada penuh amarah ia menerjang Tiang Le dengan gerakan Hek-hwa-kiam-sut yang aneh dan kuat. Terkejut sekali Tiang Le, dengan cepat pula mencabut pedang buntungnya dan mencelat ke samping menangkis pedang lawan.

“It-suheng........ hentikan!”

“Tidak! Kau harus mampus di tanganku! Kau binatang, laki-laki jay-hoa-cat........ jahanam!” Suara Kong In menggeledek dibarengi dengan kilatan pedang hitam menyambar Tiang Le. Akan tetapi belum lagi Tiang Le menggerakan tubuhnya menghindari serangan Kong In, sebuah sinar putih berkeredep memanjang dan tahu-tahu pedang Kong In sudah tertangkis oleh pedang putih Bwe Hwa.

“It-suheng, tak boleh kau menyerang Tiang Le!”

“Sumoay....... kau....... kau masih mencintai Tiang Le, si buntung ini?” Kong In bertanya, sementara hatinya serasa diiris. Tangannya yang memegang pedang agak tergetar.

“Suheng....... kau tahu yang membuntungi lengan Tiang Le adalah aku......., karena aku tak puas Tiang Le lebih tinggi kepandaian silatnya dari padaku....... karena....... aku........ aku mencintainya....... dan....... membencinya. Sepatutnya lenganku ini buntung untuk Tiang Le........ dan kau, suheng....... kau tidak berhak mencampuri urusanku. Andaikata sekarang inipun aku masih mencintai Tiang Le, kau mau apa?”

Pucat wajah Kong In, serentetan kata-kata Bwe Hwa membuat kedua kakinya menggigil. Dari dulupun ia sudah dapat menduga bahwa sumoaynya ini telah menaruh hati kepada Tiang Le, akan tetapi....... setelah Tiang Le kehilangan lengan, dan dicintai pula oleh Sian Hwa, masih jugakah gadis itu mencintai Tiang Le?

Untuk beberapa lama Kong In tak dapat berkata apa-apa. Dilihatnya Bwe Hwa terhuyung-huyung. Dilihatnya Tiang Le menyanggah tubuh Bwe Hwa, dilihatnya si gadis pingsan dalam dekapan Tiang Le. Setan! Aku harus mengadu nyawa dengan pemuda jay-hwa-cat ini, pikir Kong In dengan dada yang serasa hendak meledak. Pedangnya ditarik ke atas.

Melihat suhengnya hendak bertempur lagi dengan cepat Cie I.ay memegang lengan Kong In dan berkata perlahan: “It-suheng....... sudahlah, jangan menuruti nafsu hati....... ingatlah kita masih bersaudara, tak baik saling tempur dengan sesama saudara seperguruan. Urusan kita masih banyak suheng, kita belum memenuhi kewajiban untuk membalas sakit hati mendiang suhu!”

Kong In menoleh ke arah Cie Lay dan berkata: “Sute, aku harus musnahkan dulu si buntung ini. Kau tahu, gara-gara Tiang Le semuanya jadi berantakan!”

“Lupakan itu suheng.......!!”

“Apa?? Cie Lay, apakah kau telah melupakan Sian Hwa?? Bukankah engkau mencintai Sian Hwa??”

Cie Lay tertunduk.

“Sayang gara-gara Tiang Le semuanya jadi kacau. Dia merayu Sian Hwa, sehingga engkau bertepuk sebelah tangan, kini dia hendak bermain gila dengan Bwe Hwa, keparat! Aku harus membuat perhitungan dengan si buntung itu, sute lepas!!” Tangan Kong In mengibas. 

“It-suheng.......!”

Akan tetapi dengan gerakan yang cepat dan kuat Kong In telah mendorong Cie Lay dan telah menotoknya. Dengan menggeram keras ia membentak:

“Tiang Le, kau harus mampus di tangan ku!” Dengan bernafsunya Kong In menerjang dengan pedang terhunus.

Cepat Tiang Le meloncat ke kanan menghindarkan suara samberan pedang yang amat cepatnya mengarah iganya. Melihat kelakuan It-suhengnya yang bernafsu hendak membunuhnya ini, Tiang Le tersenyum sinis dan mengejek: “It-suheng, dari dulu kau belum juga berubah, watakmu berangasan dan sombong, hemm, apa kau kira aku takut kepadamu?”

“Tiang Le, sekarang kau sudah kehilangan lengan. Apakah kau masih mampu berbuat sombong seperti di puncak dulu?”

Tiang Le menggelengkan kepala.

“Kong In, hanya orang yang bodohlah yang suka menyombongkan dirinya. Soal kepandaian, tak ada yang dapat membuat diriku sombong, apalagi setelah lenganku ini buntung........ akan tetapi Thian sungguh adil dengan tanganku ini, yang hanya satu-satunya apa kau kira aku takut menghadapimu?”

“Bagus, kalau begitu. Terima ini!” Pedang hitam berkelebat waktu tubuh Kong In mencelat tinggi dan turun sambil menyerang dari atas ke arah kepala Tiang Le.

Kagum sekali Tiang Le menyaksikan gin-kang yang tinggi dari Kong In, dengan gerakan yang cukup gesit pula, ia mencelat tinggi dan menangkis pedang lawan. Benturan ke dua pedang di udara membuat ke duanya melayang-layang mundur. Dan bunga api memercik di udara.

Setelah menginjak tanah Kong In merasa penasaran dan marah, dengan bentakan yang keras dia menerjang lagi. Tiang Le menangkis dan membalas menyerang. Sebentar saja keduanya sudah bertempur dengan amat serunya.

Pei Pei memandang ke arah pertempuran yang sedang berlangsung dengan dada berdebar tegang. Ia tidak dapat melihat jelas yang mana tubuh Tiang Le dan yang mana tubuh Kong In karena mereka bertempur dangan amat serunya, hanya nampak segumpalan bayangan pedang yang berkelebatan saling menyambar. Kedua-duanya sama mempunyai ilmu silat tingkat tinggi.

Tentu saja kalau Tiang Le menghendaki dari tadi pun ia sudah dapat merobohkan it-suheng nya ini. Akan tetapi dasar Tiang Le mempunyai watak yang selalu mengalah, sehingga tak mau ia dengan cepat mengalahkan suhengnya. Meskipun di dalam hati ia merasa amat kagum dan terkejut melihat ilmu silat yang demikian kuat dan ganas, yang dimainkan dengan sebuah pedang hitam yang mengeluarkan cahaya aneh!

Untung saja ia mempunyai pedang pusaka buntung, pedang yang ratusan tahun yang lalu, dikenal sebagai pedang pusaka ampuh yang bernama Liong-cu-kiam (Pedang Naga Mustika) yang telah buntung. Dengan pedang inilah Tiang Le mainkan jurus ilmu silat Tok-pik-kiam-hoat yang lihai!

Bagaikan orang yang baru tenggelam dari mimpi yang amat buruk, Bwe Hwa sadar dari pingsannya. Begitu ia membuka mata, dilihatnya Tiang Le dan Kong In tengah bertempur dengan mati-matian.

Nampak Tiang Le agak terdesak dan mundur-mundur menghindarkan serangan pedang maut dari Kong In. Tentu saja karena Tiang Le banyak mengalah, akhirnya lama kelamaan ia terdesak oleh rangsekan jurus-jurus aneh dari Kong In yang sangat bernafsu untuk membunuhnya!

Sambil menahan rasa nyeri yang amat hebat pada luka di tangan kirinya, Bwe Hwa merangkak hendak bangun. Terasa sebuah tangan yang amat lembut menyentuh pundaknya.

“Cici, kau jangan banyak bergerak, darahmu masih keluar terus.......!”

Bwe Hwa menoleh, dilibatnya Pei Pei sedang merangkul pundaknya menahan ia berdiri. Luka di lengan kirinya sudah dibalut oleh robekan baju Pei Pei.

“Kau.......?” Bwe Hwa memandang gadis yang lemah lembut itu,

“Cici…….”

“Kau yang membalut lukaku ini?' tanya Bwe Hwa melirik ke arah lengan kirinya.

Pei Pei mengangguk. Tiba-tiba matanya menggenang embun yang berkilat di kelopak mata si gadis. Setitik air mata turun melintasi pipi.

“Siapa namamu?”

“Cia Pei Pei……” sahut Pei Pei.

“Kau mencintai Tiang Le?”

Gugur bendungan air mata si gadis. Pei Pei menggigit bibirnya, sementara lintasan air bening terasa di bibir. Hidungnya yang mancung berkembang kempis. Matanya semakin basah.

“Pei Pei…… jawablah pertanyaanku, benarkah kau mencintai suhengku Tiang Le?” Bwe Hwa bertanya lagi. Matanya memandang serangan wajah Pei Pei yang telah basah oleh air mata yang membanjir.

“Cici……! Aku……” Pei Pei tak kuasa untuk menjawab, dia tahu bahwa wanita yang telah buntung lengannya ini telah menyatakan cintanya kepada Tiang Le. Malah nampaknya begitu setia dan bertekat untuk memiliki Tiang Le, sedangkan dia, tak patut ia mendampingi Tiang Le.

Tak boleh ia merebut kekasih orang. Ia harus mengalah dan…… teramat sukar sekali gadis itu untuk menjawab pertanyaan Bwe Hwa.

“Pei Pei…… aku tahu kau cinta pada Tiang Le bukan? Katakanlah….. aku tidak marah kepadamu, memang engkau berhak memiliki Tiang Le, dia lebih sesuai denganmu sedangkan aku....... ahhh,” sambil mengeluh dengan suara isak yang tertahan, Bwe Hwa menekankan tangan kanannya dan sekali ia menggerak tahu-tahu pedang putihnya sudah menyambar ke arah Tiang Le dan Kong In.

Amat cepat sekali gerakan gadis ini, sehingga baik Tiang Le maupun Kong In mencelat mundur, akan tetapi begitu melihat yang membantu adalah Bwe Hwa, bertambah kalap lagi Kong In menyerang Tiang Le.

Pedang pendek Bwe Hwa berkelebat lagi menangkis pedang Kong In.

“Suheng…… jangan kau menyerang Tiang Le!”

“Apa? Kau hendak membela si buntung ini?”