-->

Pendekar Lengan Buntung Jilid 10

Jilid 10

Di lain pihak, kedua pengemis baju kembang itu menjadi kagum dan juga merasa penasaran menyaksikan kepandaian permainan pedang yang kuat dari pemuda lawannya ini, maka A Hok, si pengemis tua yang bertubuh kurus kering itu berseru keras dan tiba-tiba ia menambahi serangan-serangan pedangnya dengan pukulan kiri yang penuh hawa sin-kang.

Begitu kepalan tangan kirinya menyambar, Hok Sun merasakan angin pukulan yang bergelombang menyambarnya. Terkejut sekali ia merasakan hawa panas dari tangan kiri si kakek pengemis yang memukulnya itu.

Maka dengan mengandalkan gin-kangnya, ia mencelat ke sana ke mari menghindarkan diri dari pukulan tangan kiri A Hok yang bertubi-tubi, sedangkan si kakek pengemis baju kembang yang dipanggil A Pin, sudah mengeluarkan sebuah cambuk hitam. Dengan pedang dan cambuk di tangan A Pin, lama kelamaan pemuda itu terdesak hebat, gerakannya mulai kacau dan lemah.

“Lokay....... jangan kau membunuh!” Sianli Ku-koay yang tiba menjadi kuatir atas keselamatan pemuda itu berseru memperingati dua pengemis yang tengah menerjang lawannya dengan hebat.

Tentu saja bagi kedua pengemis baju kembang ini, mereka sudah dapat meraba kemana maksud tujuan Niocu nya yang memperingatinya mereka tadi. Diam-diam mereka merasa tak puas kepada wanita tua ini, yang mereka tahu nenek itu mata keranjang!

Akan tetapi tentu saja ketidak puasan hati mereka ini, tidak berani diutarakan secara terang-terangan. Hanya mereka bertambah ganas mainkan pedangnya, bertambah sengit karena hati yang mendongkol!

Sebetulnya, tak perlu lagi Hok Sun dikuatirkan, karena pemuda yang memang sangat berlaku hati-hati ini telah maklum pula akan kehebatan pedang lawan, maka tiba-tiba gerakan pedangnya berubah dan dengan amat cepat luar biasa ia telah mainkan ilmu pedang bagian menyerang yang disebut gerakan rajawali sakti menyambar api. Sinar pedang berkelebat dan angin pukulan yang datang dari tangan kiri pemuda itu bergerak-gerak menimbulkan hawa panas.

Angin pukulan yang panas ini, sekarang dapat menangkis dan menolak kembali serangan-serangan pukulan tangan kiri A Hok, sedangkan pedangnya yang bergerak cepat bagaikan rajawali sakti menyambar di udara mendesak permainan cambuk di tangan kiri pengemis baju kembang yang bernama A Pin itu, tentu saja mengalami perobahan yang tidak disangka-sangka dahsyatnya ini. A Pin berlaku waspada dan mainkan ilmu cambuknya lebih hebat lagi, sehingga di ruang itu terdengar suara lecutan cambuk dan pedang beradu, membuat api lilin bergoyang-goyang tersambar lecutan cambuk.

Tak terasa lagi si nenek Sianli Ku-koay berseru memuji:

“Bagus!”

Diam-diam nenek Sianli Ku-koay ini menjadi girang dan bangga ternyata kepandaian pemuda itu lebih setingkat dari kepandaian gabungan dua orang kakek pengemis baju kembang. Ia terus memperhatikan jalannya pertempuran dengan wajah berseri-seri, dilihatnya pedang Hok Sun bagaikan telah berubah menjadi seekor rajawali sakti yang menyambar-nyambar dan menyemburkan hawa panas dari mulutnya!

Namun, dua orang pengemis baju kembang inipun lihai sekali. Biarpun kini ia terdesak hebat, namun berkat pengalaman dan keuletan tenaga yang digabung menjadi satu, mereka ini merupakan sebuah batu karang yang sukar sekali dirobohkan oleh ombak dahsyat yang selalu datang menghempasnya bertubi-tubi! Sungguh lawannya ini amat ulet dan keras!

Hampir seratus jurus, Hok Sun mengeluarkan jurus-jurus Hwie-hay-liong-kiam-sut, akan tetapi belum juga ia dapat merobohkan dua orang pengemis ini. Peluh diwajahnya bercucuran....... akan tetapi ia terus mendesak dua pengemis baju kembang itu mengeluarkan jurus-jurus simpanan!

Sianli Ku-koay maklum bahwa kalau dilanjutkan juga akhirnya ke dua orang pengemis itu akan kalah, maka ia memikir lebih baik dipisahkan saja sebelum kedua kakek itu roboh di tangan orang muda yang gagah ini, maka bagaikan layang-layang putus talinya, Sianli Ku-koay telah melompat dan dengan sekali mengangkat tongkatnya........ tahu-tahu baik Hok Sun maupun ke dua orang pengemis baju kembang sudah terlempar ke belakang tiga langkah. Sambil bergebrak demikian si Nenek itu membentak,

“Cukup orang muda! Kepandaianmu cukup memenuhi syarat dan mendatangkan kegembiraan dihatiku. Marilah kita bicara sebagai seorang sahabat!”

Hok Sun yang tadi dibuat kaget oleh gebrakan si Nenek yang telah membuat pukulan tangan kirinya dan kuda-kudanya tergempur hebat memandang kagum kepada Nenek ini. Lalu pandangannya beralih ke arah Biauw Eng yang sedang seru-serunya melawan nona kerudung hitam.

Sianli Ku-koay juga menoleh. Begitu tangan kirinya mendorong ke depan. Tahu-tahu dua orang gadis yang tengah bertempur itu melayang jatuh terlempar tiga meter jauhnya dalam keadaan masih berdiri.

“A Lan, cukup! Mundurlah kau……” kemudian Nenek ini menoleh kepada Biauw Eng dan tersenyum manis: “Nona kepandaianmu hebat dan mengagumkan hatiku….. sudahlah....... perselisihan kita sampai di sini…….”

Biauw Eng tak berkata apa-apa. Ia menghampiri Hok Sun. Berdiri sambil memegang pedang telanjang di samping pemuda itu.

Hok Sun menoleh dan berbisik, “Eng-moay masukkanlah pedangmu!”

“Hem?” Biauw Eng mengerutkan alisnya tak senang, akan tetapi Hok Sun memberi isyarat dengan kedipan mata. Didengarnya si Nenek sakti itu bertepuk tangan tiga kali.

Beberapa orang gadis cantik menghampiri berlutut, “Hamba siap menanti perintah!”

“Keluarkan hidangan, atur meja makan di ruang ini dan panggil musik,” dan sesudah berkata demikian si nenek itu menoleh kepada Biauw Eng dan Hok Sun, “Jiwi-enghiong, silahkan duduk!”

Nenek itu berjalan menuju tempat duduknya dan tak lama kemudian, gadis-gadis cantik dengan amat cekatan dan teratur telah memasang meja bundar dan hidangan berupa makanan-makanan yang lezat dikeluarkan, arak wangi dan musik membaur di ruangan itu.

“Jiwi enghiong, kalian mengagumkan hatiku. Ketahuilah bahwa kami adalah persekutuan Hwa-ie-kay-pang, ketua kami sedang ada urusan dengan seorang sahabat di Sian-li-pay….... dan aku yang tua ini, disebut Sianli Ku-koay mewakili pangcu Hwa-ie-kay-pang……”

“Ooo, jadi Niocu ini adalah wakil ketua Hwa-ie-kay-pang yang lihai.......” Hok Sun mengangguk-angguk, menenggak arak wangi. “Akan tetapi bolehkan aku tahu, apakah itu Hwa-ie-kay-pang?”

“Ha ha ha, Cong-su ini mungkin baru terjun ke dunia kang-ouw sehingga belum mengenal akan pergerakan Hwa-ie-kay-pang?” si Gadis cantik yang duduk di sebelah kiri Sianli Ku-koay bertanya, suaranya lantang dan merdu.

Biauw Eng menjadi melotot memandang gadis cantik itu. Ingin sekali ia menggebrak meja dan memaki, akan tetapi Hok Sun, telah mendahuluinya membuka suara.

“Kami memang masih hijau nona, maafkanlah!”

Si gadis tersenyum manis.

“Kau belum mendengar Hwa-ie-kay-pang?”

“Baru kali ini aku mendengarnya dan bertemu dengan para locianpwee Hwa-ie-kay-pang yang gagah!”

“Hmm, tokoh-tokoh Hwa-ie-kay-pang di gedung sebelah kanan ini, Cong-su. Hwa-ie-kay-pang mempunyai dua sayap, sayap pertama adalah kami inilah Niocu, Jie-lokay dan beberapa bidadari dari Sian-li-pay sedangkan sayap kiri adalah....... orang-orang gila yang sudah miring otaknya dan tidak waras, akan tetapi mereka lihai, pimpinan sepasang iblis gila yang disebut Jing-tok-siang-lomo, sedangkan sayap tengah adalah Hwa-ie-kay-pang dipimpin oleh pangcu Hwa-ie-kay-pang sendiri....... O ya, kalian berdua siapa namamu?”

“Aku Lim Hok Sun, dan ini kawanku Sie Biauw Eng.......”

“Ooo, saudara Hok Sun dan Nona Biauw Eng,” si gadis yang di sebelah kiri tersenyum. “Namaku Hwa, dan dia itu yang di sebelah kanan Niocu bernama Nio Nio, akan tetapi kami berdua dijuluki Lam-hay-nio-nio… Hemm, ya, terus terang saja karena kami tertarik akan kepandaian kalian yang amat hebat, maka kami mengeluarkan tangan untuk mengikat persahabatan dengan kalian. Ketahuilah bahwa Hwa-ie-kay-pang ini, luas sekali pergerakannya, baik dalam gerakan politik dan sosial dan keamanan kami menyelenggarakan banyak kegiatan…...”

“O ya?”

“Seperti misalnya,” menyambung Nio Nio yang duduk di sebelah kanan si Nenek, pandangannya berkilat mengeluarkan kerling tajam ke arah Hok Sun: “Pernah kalian mendengar tentang bencana alam misalnya, wabah penyakit dan kelaparan di sepanjang sungai Sin-kiang dan banjir besar di Tiongkok selatan?”

Hok Sun tertarik sekali.

“Justru tadinya kami hendak ke Wu-nian dan melihat saudara-saudara yang kabarnya menderita kelaparan dan banyak yang terserang penyakit. Hemm, siapa sangka kami bertemu dengan tiga bajak laut yang menamakan dirinya Sam-hauw-huang-ho… dan....... eh, akhirnya kami sampai disini.”

“Kau berada di Wu-nian, Sun-tayhiap….. di gedung Hwa-ie-kay-pang ini…….” Sianli Ku-koay menyelak sambil meneguk arak wangi. Pandangan matanya menatap kagum ke arah pemuda di depannya itu.

Hok Sun dan Biauw Eng terkejut bukan main, hampir berbareng mereka berseru: “Apa.......?? Aku berada di Wu-nian……?”

“He he he, kalian mungkin tidak menyadari ini…… karena Jie-lokay membawamu pada malam hari.….. iya kan? Akh, mengapa kalian terkejut, bukankah kalian hendak ke sini....... melihat-lihat saudara yang terancam bahaya kelaparan dan penyakit.

“Besok kalau ji-wie enghiong ingin melihat-lihat, boleh…... Kebetulan sekali Hwa-ie-kay-pang mendirikan sebuah panitia khusus menanggulangi korban kelaparan dan bencana banjir. Oleh karena itu….. kalau kalian tergerak untuk membantu tugas mulia ini, kami sangat mengharapkan pertolongan ji-wie untuk membantu pergerakan kami, tentu ji-wie setuju bukan?”

“Tentu saja aku setuju!” berkata Hok Sun.

Biauw Eng menoleh: “Sun-ko, kita harus selidiki dulu……. mengapa kau mengambil keputusan secepat itu….. tidak! Aku tidak ingin bergabung dengan Hwa-ie-kay-pang…….!”

“Eng-moay, jangan berkata begitu. Ingat bukankah rencana kita juga hendak membantu pergerakan panitia penolong korban kelaparan dan bencana alam, mengapa kita menolak?”

“Aku masih sangsi Sun-koko!”

“Ha ha ha…... memang benar Nona Biauw Eng sebelum menyelidiki jangan dulu mengambil keputusan. Sun-tayhiap, sekarang kau mengasolah…... Besok pagi-pagi boleh kau ikut serta dengan panitia penanggulangan korban bahaya kelaparan yang akan bertugas akan membagi-bagikan sumbangan dan bahan makanan kepada penduduk di sepanjang sungai Sin-kiang. Begitukan seharusnya, Nona Biauw Eng?” Sianli Ku-koay tersenyum manis kepada Biauw Eng, akan tetapi pandangannya berkilat tajam dan pada akhirnya mengeluarkan senyum mengejek.

“Niocu....... kami bersedia membantu pergerakan Hwa-ie-kay-pang, apalagi dalam tugas mulia menolong sesama manusia, tentu saja kami setuju....... akan tetapi bagaimana dengan kawan kami yang satunya yang juga tertawan oleh seorang anggota Hwa-ie-kay-pang?”

“Tidak usah kuatir Sun-tayhiap….. tentu saja iapun akan diperlakukan secara baik-baik oleh orang-orang kami, besok pagi-pagi tentu kau akan bertemu dengan dia…..,” menyahut si gadis yang duduk di sebelah kiri Sianli Ku-koay. Tersenyum memikat kepada Hok Sun.

Diam-diam panas hati Biauw Eng. Gadis-gadis di sini sungguh berani dan genit, pikirnya memaki!

Akan tetapi ia diam saja. Menahan kemengkalan hatinya terhadap orang-orang yang memuakkan baginya ini, Biauw Eng tidak banyak bicara lagi. Ia mendengarkan saja si Nenek mengobrol ke barat dan ke timur menceritakan pergerakan Hwa-ie-kay-pang yang dipuji-pujikannya itu.

Sementara Hok Sun hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja mendengarkan cerita si nenek yang menurut anggapannya memang amat menarik dan hebat!

Betapa tidak? Kalau Hwa-ie-kay-pang adalah perkumpulan yang luas dan banyak hubungan dengan tokoh-tokoh di dunia kang-ouw dan merupakan perkumpulan sosial yang suka menolong rakyat dengan mendirikan panitia korban banjir dan panitia korban kelaparan yang mengancam penduduk di sepanjang sungai Sin-kiang dan Tiongkok selatan, tentu saja ia bersedia dengan senang hati membantu perkumpulan ini!

Apa lagi setelah didengarnya bahwa temannya yang tadi siang baru dikenalnya itu, katanya diperlakukan secara baik-baik oleh orang-orang Hwa-ie-kay-pang di gedung yang agak terpisah. Lega hati Hok Sun!

Lain lagi dengan Biauw Eng, gadis ini bertambah mendongkol akan kegenitan gadis-gadis di Hwa-ie-kay-pang sayap kanan. Apa lagi, setelah gadis-gadis kerudung hitam membuka kerudungnya. Alangkah cantik dan manis.

Entah mengapa hati Sie Biauw Eng menjadi panas dan tidak senang apalagi kepada si nenek waktu mempersilahkan mereka istirahat, pernah nenek itu berkata, “Sun-tayhiap, silahkan istirahat di kamar yang telah disediakan…….”

Begitu dara-dara cantik mengantarkan mereka ke kamar, Hok Sun berkata kepada gadis yang mengantar, “Nona, kami minta dua kamar saja, satu untukku dan yang lainnya untuk temanku ini…….!”

“Maaf tayhiap, Niocu hanya memberikan sebuah kamar untuk kalian berdua….. silahkan masuk…..”

“Tidak…… tak sudi aku, kalau si nenek nggak menyediakan tempat untukku, biarlah aku tidak sudi bermalam di tempat ini…. biar aku mencari rumah penginapan….” sahut Bianw Eng mendongkol.

Pandangan matanya melongok ke dalam kamar, sebuah tempat tidur yang sudah terhias rapih dan indah, bersepray putih bersih, dari dalam kamar terhendus olehnya hio wangi yang menebarkan harum semerbak, harum yang merangsang hidung. Hok Sun juga heran sekali melihat kamar yang begini indah dan wangi seperti kamar pengantin saja layaknya.

“Betul kata temanku ini, nona….. biarlah kalau kau tidak berkeberatan, kami minta kamar yang terpisah…..” berkata Hok Sun.

“Ooo, maksud kalian tidurnya dipisahkan, begitu?”

Hok Sun mengangguk.

Si gadis tertawa genit, mengerling memikat kepada Hok Sun: “Menyesal sekali tayhiap, Niocu hanya menyediakan kamar ini untuk kalian…... kami tak berani bertindak lancang!”

“Hemm, beginikah kalian menyambut seorang tamu? Kalau keberatan menyediakan kamar, mengapa mengundang kami. Sun-ko muak aku melihat tata cara di Hwa-ie-kay-pang yang gila ini, mari kita pergi…..!”

Biauw Eng yang berwatak keras hati itu membalikkan tubuhnya dan berjalan cepat. Akan tetapi sekali mengenjotkan tubuh, seorang gadis Hwa-ie-kay-pang sudah berdiri di depan Biauw Eng.

“Lihiap……. harap tidak pergi…..” katanya.

Biauw Eng mencabut pedangnya.

“Kau mau apa?”

Hok Sun cepat menghampiri gadis temannya yang sudah mencabut pedang ini dan berkata: “Eng-moay, tahan!”

Pada saat itu mendatangi Sianli Ku-koay.

“A Hwa, sudah kau sediakan tempat untuk tamu kita….. eh mengapa kalian?” si Nenek Sianli Ku-koay bertanya.

“Niocu, gadis binal ini nggak mau bermalam di kamar itu, minta dipisahkan kamarnya.......” A Hwa melapor.

Sianli Ku-koay menatap Biauw Eng tajam kemudian ia tersenyum.

“Nona Biauw Eng, maafkan kami….. kalau kau hendak tidur lain kamar biar kusuruh orangku untuk menyediakan kamar lain untukmu.”

Akan tetapi Biauw Eng tidak menyahut. Merengutkan mukanya sambil memasukkan pedangnya kembali ke sarung.

“Tayhiap, maafkan kekeliruanku....... kukira kalian ini sudah menjadi suami isteri, hemm, nggak tahunya masih pacaran saja ya? Maaf, maaf……..”

Merah muka Hok Sun dan Biauw Eng mendengar perkataan si nenek ini, apa lagi kerling itu menyambar genit memberi arti, bertambah panas hati Biauw Eng. Ingin sekali menurut hatinya gadis itu menerjang maju, mengamuki gadis-gadis genit di Hwa-ie-kay-pang ini, akan tetapi....... ia menahan kemarahan yang hendak meledak itu dan berjalan mengikuti si Nenek ke kamar lain yang khusus disediakan untuknya!

Akan tetapi, betapa terkejutnya Biauw Eng ketika begitu memasuki kamar yang terhendus hio wangi yang menyesakkan hidungnya, tiba-tiba dirasakannya kepalanya pening bukan main, dan ia menggeletak pingsan, di atas sprey putih bersih yang berkasur empuk itu. Bersamaan dengan itu terdengar suara tertawa genit dari gadis Sian-li-pay, menyingkap paha Biauw Eng dan menusukan jarum yang berwarna hitam pada paha itu……

Di kamar lain, terjadi kejadian yang sama. Begitu tidak lama Hok Sun memasuki kamar yang mengeluarkan bau harum dari hio wangi. Tiba-tiba dirasakannya kepalanya pening dan terasa amat ngantuk pada kelopak matanya, rasa ingin tidur yang hebat membuat pemuda itu merebahkan dirinya di pembaringan dan tidak tahu lagi apa yang terjadi pada dirinya!

<>

Bagaimana dengan Nyuk In? Benarkah ia diperlakukan baik-baik seperti kata Sianli Ku-koay kepada Hok Sun dan Biauw Eng.

Tentu saja kedua orang muda itu tidak mengetahui apa yang terjadi pada diri Nyuk In di gedung sebelah kiri, gedung ini agak jauh terpisah dari gedung-gedung yang lain. Dihuni oleh sepasang iblis gila yang terkenal dengan julukan Jing-tok-siang-lomo, A Thiong dan A Mey.

Kedua Iblis yang berkepandaian lihai ini ternyata dapat ditawan oleh pangcu Hwa-ie-kay-pang dan karena pengaruh racun hitam yang ditusukkan ke paha ke dua iblis ini melalui sebuah tusukan jarum, keruan saja sepasang Iblis jadi bertambah hilang ingatannya dan menjadi penurut yang taat atas perintah ketua Hwa-ie-kay-pang.

Orang-orang Hwa-ie-kay-pang membangun gedung di sebelah kiri dan menculik pemuda-pemuda laki-laki gagah untuk diracuni otaknya sehingga merusak ingatan mereka menjadi gila seperti sepasang Iblis Gila Jin-tok-siang-lomo ini!

Tak heran begitu Nyuk In, dibawa ke gedung yang semuanya terdiri dari orang-orang gila ini, ia menjadi barang permainan laki-laki kasar gila, anak buah Jin-tok-siang-lomo, akan tetapi gadis itu sudah sadar, meskipun sudah terluka dan tubuhnya masih terasa lemah, ia masih gesit dan dapat menghindarkan diri dari sergapan dan tangkapan-tangkapan kasar dari anak buah Sepasang Iblis gila Jin-tok-siang-lomo.

Untungnya, kakek pengemis Hwa-ie-kay-pang ini memesan kepada Nenek dan kakek gila untuk tidak mengganggunya, sehingga begitu si nenek A Mey dan si Kakek A Thiong muncul, tak berani lagi orang-orang gila itu mengganggu Nyuk In.......

Nyuk In dimasukkan ke dalam kerangkeng.

Sementara anak buah Jing-tok-siang-lomo menari-nari seperti monyet yang mengagumi barang permainan yang menarik dan aneh!

Melihat orang-orang ini bertingkah kegila-gilaan, diam-diam Nyuk In merasa kasihan sekali kepada orang-orang gila ini, anehnya meskipun mereka tertawa-tertawa girang, akan tetapi dari pelupuk matanya mengalir air mata yang menetes-netes dan sinar mata mereka nampaknya kuyu dan penuh penderitaan.

Sementara orang-orang gila itu menari-nari di luar kerangkeng, Nyuk In meramkan matanya. Bersemedi untuk menyembuhkan racun hijau yang menjalar pada kakinya. Mengerahkan tenaga sin-kang dan mencari kesempatan untuk keluar dari dunia orang gila ini!

◄Y►

14

Beberapa tahun yang lalu daerah Tiongkok selatan terserang bencana alam yang cukup hebat. Musim kemarau amat panjang, untuk berbulan-bulan tak setetespun air yang membasahi bumi, sehingga sungai-sungai besar mengalami kekeringan dan membawa bibit-bibit penyakit menular yang menjangkiti penduduk.

Sawah-sawah pada kering merekah dan retak-retak karena panas yang membakarnya dan semua sumur menjadi kering. Karena sungai-sungaipun menjadi kering dan ikan-ikan yang mati hingga penderitaan rakyat bukan main hebatnya. Semua tanaman mengering dan layu, sawah-sawah menjadi tandus dan merupakan lautan tanah gersang yang tak dapat ditumbuhi tetanaman lagi.

Rakyat kecil, terutama golongan kaum tani menjerit-jerit mengharapkan datangnya hujan. Akan tetapi sampai berbulan-bulan itu hujan belum juga turun. Udara bukan main panasnya.

Rakyat di daerah selatan menjerit-jerit karena persediaan bahan makanan semakin menipis, terutama sekali kesengsaraan ini terasa benar bagi rakyat kecil, rakyat yang tak mampu untuk menampung gandum, sedangkan hari demi hari terasa benar bahaya kelaparan mengancam penduduk. Terutama rakyat pinggiran, para petani dan orang-orang miskin yang tak mampu lagi untuk membeli beras yang bukan saja sukar didapat, melainkan seandainya ada, harganya pun mencekek leher. Tak terjangkau oleh rakyat kecil!

Bibir-bibir manusia mengering dan bibir merekah pecah-pecah. Mata menjadi merah karena terlalu banyak menangis dan karena hawa terlampau panas seperti dibakar. Hewan ternak banyak yang mati kepanasan dan kehausan. Tubuh-tubuh manusia dan hewan menjadi kurus kering kekurangan makan, hari demi hari berjatuhan korban-korban yang mati kelaparan!

Doa-doa dinaikkan dari bibir-bibir yang kering merekah, dari jiwa yang haus dan lapar. Penduduk dusun bersembahyang siang malam memohon datangnya hujan. Dan pada saat yang amat genting, hujanpun datanglah.

Jutaan manusia menyambut datangnya hujan pertama ini, mereka berlari lari ke halaman rumahnya menengadah kelangit mengucapkan syukur kepada Tuhan. Menadahi kedua tangan menghirup air hujan yang membawa harapan bagi jiwa-jiwa yang lapar dan berdahaga.

Para petani mulai berseri-seri wajahnya menampakkan harapan-harapan di dada sambil menyeret cangkul dan arit kembali ke sawah, menggiring kerbau-kerbau mereka yang nampak sudah kurus kering dan lemah, akan tetapi binatang-binatang inipun seakan-akan merasa suka cita yang besar untuk turut gembira berjalan sambil mengibas-ngibaskan ekornya dan menguak panjang! Menjejak-jejakkan kakinya pada tanah yang mulai berair dan berlumpur!

Akan tetapi. Ya, ampun…...!

Hujan tak juga mau berhenti. Berhari-hari hujan turun tak henti-hentinya, bertambah lebat. Mengamuk, dan menyeret apa saja yang tergenang dalam banjir. Rumah-rumah pondok para petani habis disapu angin hujan yang semakin menggila.

Air sungai Sin-kiang meluap, membanjir ke sawah-sawah, memasuki rumah-rumah pondok, menenggelamkan segala apa yang dapat diseret hanyut. Tak perduli ia itu manusia ataupun binatang, ataupun pondok-pondok, semuanya dihanyutkan!

Mayat manusia mengapung dimana-mana, tersangkut pada tempat-tempat yang amat tinggi, menggeletak di dalam gubuk-gubuk yang tidak terseret banjir…….

Amukan alam yang memperlihatkan kekuasaannya ini terasa sekali oleh penduduk sekitar kota Wu-nian, dusun-dusun di sekitar itu, terancam bahaya kelaparan yang mau tidak mau menarik perhatian pemerintah pusat. Mendengar laporan ini, Hong-siang (kaisar) mengirimkan sumbangan-sumbangan berupa uang dan bahan makanan. Para hartawan yang berhati dermawan mengirimkan sumbangan-sumbangan mereka melalui kota Wu-nian.

Akan tetapi, sayang seribu kali sayang, alamat yang kirim dari orang-orang dermawan di kotaraja tidak menuju sasaran yang tepat! Sumbangan itu nyasar ke alamat yang lain, masuk kantong panitia-panitia yang berkedok sebagai panitia korban banjir, semakin menipis, semakin tersangkut sumbangan itu dan baru sebagian kecil itu, sampai ke dusun-dusun, itupun tidak dapat berbuat banyak!

Apa lagi belum lama berselang ini, beberapa bulan yang lalu muncul perkumpulan pengemis baju kembang yang menamakan dirinya perkumpulan Hwa-ie-kay-pang. Mendirikan gedung yang besar dan megah.

Perkumpulan inilah yang menampung sumbangan-sumbangan yang datang dari kotaraja! Dan perkumpulan Hwa-ie-kay-pang inilah yang menjadi panitia Korban Banjir, mengerahkan para pengemis meminta sumbangan kepada penduduk kota.

Dan tak lama kemudian muncul lagi gadis-gadis kerudung hitam dari Sian-li-pay yang katanya mendukung Hwa-ie-kay-pang ini. Sudah barang tentu kota Wu-nian menjadi ramai dan pusat kegiatan budaya dan sosial!

Bantuan pemerintah berupa sumbangan-sumbangan korban banjir terus mengalir dan belum lama ini, dikabarkan Kaisar mengirim limaribu tail emas untuk korban banjir! Hem, suatu perbuatan yang mulia dan patut dipuji. Manusia-manusia di luar daerah korban banjir menarik napas lega, mengharapkan bahwa saudara-saudaranya di daerah bencana banjir itu dapat ditanggulangi!

Pada suatu hari, tatkala matahari sudah naik tinggi dan menyinarkan cahayanya di atas kepala, di luar pintu gerbang kota berjalan dua orang muda memasuki pintu gerbang Wu-nian, akan tetapi sampai di pintu gerbang itu, mereka dihadang oleh dua orang kakek pengemis yang berpakaian tambal-tambalan dan warna bajunya berkembang-kembang, sepasang kaki mereka telanjang dan tidak memakai sepatu. Dengan membongkokkan diri kedua pengemis itu mengangsurkan kaleng yang bertulisan:

“Sumbangan Untuk Korban Banjir!”

Keruan saja membaca tulisan ini, tergerak hati kedua orang muda itu dan mereka merogoh saku dan mengeluarkan dua tail perak, mencepluskan ke dalam kaleng yang diberi lubang kecil di atasnya.

Akan tetapi alangkah heran hati ke dua orang muda itu, ketika setelah seorang ngemis berkata dengan nada yang kasar dan tertawa mengejek: “Ha! Masa menyumbang hanya dua tail perak, apakah artinya?”

Kedua orang muda itu, yang tak lain adalah Kong Hwat dan Ho Siang berpandangan, tiba-tiba Ho Siang tersenyum dan merogoh lagi sakunya mengeluarkan setail perak, dimasukkan lagi ke dalam kaleng sumbangan.

“Orang muda, kau rupanya bukan penduduk kota Wu-nian ya? Hemm, kalau ingin masuk....... tambahlah kaleng sumbang ini dengan limapuluh tail emas lagi….. he he he!” berkata kakek pengemis baju kembang yang tinggi kurus, dan rambutnya yang masih hitam itu riap-riapan ke pundak tidak tersisir rapih, kedua kakinya juga telanjang hingga ia nampak seperti seorang pengemis jembel.

Sambil menimang-nimang uang satu tail itu si kakek mengekeh, mengepalkan tangannya yang memegang uang logam satu tail itu dan begitu tangan si kakek pengemis dibuka, nampak uang logam itu sudah hancur berkeping-keping menjadi lima potong.

“Ee he he he, tambahi lagilah lima tail lagi…….!!”

Melihat cara kakek ini meminta sumbangan dengan cara yang tidak sedap ini, Kong Hwat menjadi marah dan menyindir ketus: “Orang menyumbang harus berdasarkan hati rela dan suka, sama sekali tidak diharuskan menentukan besarnya sumbangan biar menyumbang sedikit asal memberinya dengan senang hati dan ikhlas, seharusnya diterima dengan baik! Mana ada aturan minta sumbangan dengan secara paksa?”

Si kakek pengemis yang bertubuh kurus itu menjadi marah dan balas membentak: “Orang muda, jangan kau berkata lancang ya! Apakah kau tidak mengenal Hwa-ie-kay-pang?”

Kong Hwat menggelengkan kepala. Tertawa lebar.

“Aku tidak mengenal dengan segala macam pengemis, yang kutahu seorang pengemis hanya meminta dan memohon dengan cara halus, sehingga menggerakan hati orang untuk menaruh belas kasihan kepadanya dan memberi sedikit uang. Kau ini pengemis macam apa, pakaianmu belentang belentong, lagakmu seperti perampok……. menyesal aku telah mengeluarkan uang dua tail itu.”

“Orang muda, karena kau orang baru bukan penduduk kota ini, aku mengampunimu asalkan kau berlutut dan menyembah padaku tiga kali, hayo berlutut!” Si kakek pengemis baju kembang yang bertubuh kurus itu menggerakan tangannya menekan pundak Kong Hwat.

Akan tetapi alangkah herannya dia ketika merasa tangannya membentur benda yang lunak seperti kapas, tiba-tiba entah bagaimana caranya tahu-tahu tubuhnya menjadi kaku seperti patung. Berdiam setengah membongkok dalam keadaan tangan kanan melonjor ke depan yang tadi menekan pundak Kong Hwat.

Melihat temannya sudah tertotok menjadi kaku seperti patung hidup, pengemis yang satunya, yang bertubuh pendek kate menjadi marah dan tahulah ia bahwa dua orang muda ini tentu mempunyai kepandaian silat, maka tanpa sungkan-sungkan lagi pengemis pendek itu sudah menerjang maju menggerakan tongkatnya yang tadi dipakainya untuk menunjang tubuhnya yang pendek itu.

Serangan kakek ini kuat dan lihay, akan tetapi begitu Kong Hwat bergerak yang kedua kali, seperti temannya tadi, pengemis pendek inipun telah tertotok dalam keadaan seperti orang menyerang, cepat pemuda itu membawa kedua orang itu ke depan pintu gerbang kota dan ditaruh di kanan kiri pintu gerbang seperti sebuah patung.

Keruan saja melihat kejadian ini, penduduk kota yang menonton menjadi heran dan terkejut. Akan tetapi diam-diam mereka senang juga melihat ke dua pengemis yang sombong dan suka memaksa orang meminta sumbangan itu kini dipermainkan oleh ke dua orang muda yang tak mereka kenal!

Setelah merobohkan kedua orang pengemis baju kembang itu dan meletakkan ke duanya di depan pintu gerbang kota, Ho Siang bertanya kepada seorang penduduk kota yang tengah memandangnya kagum.

“Lopek…. numpang tanya ya…… ke dua orang pengemis itu siapakah dan apakah mereka itu ditugaskan oleh panitia korban banjir untuk meminta sumbangan?”

“Tayhiap, kagum sekali hati kami melihat kalian berdua yang masih begini muda akan tetapi berkepandaian hebat. Ketahuilah bahwa kedua kakek pengemis itu adalah anggota Hwa-ie-kay-pang yang terkenal di kota ini. Semua sumbangan-sumbangan korban banjir ditampung oleh perkumpulan ini.

“Sekarang, hanya Hwa-ie-kay-pang yang berhak meminta sumbangan untuk korbar banjir....... akan tetapi.......” Kakek itu berhenti bercerita dan dengan pelan ia berbisik: “Orang-orang Hwa-ie-kay-pang tidak adil tayhiap, mereka sering meminta sumbangan dengan paksa dan menentukan jumlah sumbangan yang besar.”

“Ooo…..” Ho Siang dan Kong Hwat saling berpandangan.

“Terimakasih lopek,” Ho Siang dan Kong Hwat menjura kepada orang tua yang memberi keterangan, lantas keduanya dengan cepat memasuki kota Wu-nian dan tak lama kemudian tampak Ho Siang dan Kong Hwat sudah memasuki sebuah rumah makan yang cukup besar dan terkenal!

Akan tetapi, kembali kedua orang muda itu dibuat heran karena begitu mereka masuk, nampak dua orang gadis kerudung hitam menghampiri dan menyodorkan kaleng sumbangan untuk korban banjir.

“Kongcu, mohon sumbangan,” suara gadis dari balik kerudung sutera hitam itu terdengar merdu dan nyaring.

Kong Hwat menoleh, dan apabila pandangan mereka terbentur kepada muka yang tertutup sutera hitam, baik Ho Siang maupun Kong Hwat menjadi terheran. Teringat mereka akan gadis-gadis yang pernah ditemuinya di Pulau Bidadari, hemm, apakah gadis-gadis inipun dari Sian-li-pay?

“Kongcu….. sumbanglah sekedarnya,” gadis kerudung hitam itu berkata lagi. Kong Hwat mengeluarkan uang satu tail, diceploskan ke dalam kaleng sumbangan.

“Kongcu…... tambahilah, masa setail?”

“Loh, kau kan tadi minta sumbangan untuk sekedarnya, mengapa dikasih setail enggak mau. Orang menyumbang menurut keikhlasan hati dan kekuatan kantong. Kau kira aku hartawan yang banyak duit, sudah setail saja!”

“Kongcu, paling sedikit orang harus menyumbang limapuluh tail. Kalau nggak gablek duit mengapa kau sok cukong menyumbang-nyumbang segala, huu, lagaknya saja…… keren, kantongnya kempes!” Gadis kerudung itu menggerutu dan keluar lagi dari rumah makan.

Merah muka Kong Hwat dikatai sok cukong oleh si gadis, kalau saja tidak buru-buru Ho Siang mencegah, tentu ia akan mendamprat gadis itu lagi.

“Hwat lote, gadis tadi berkerudung hitam….. apakah ia juga anak buah Sian-li-pay?”

“Mungkin juga twako, menurut sepanjang pendengaranku gadis-gadis Sian-li-pay itu selalu tertutup mukanya....... ahh, mungkinkah Sian-li-pay beroperasi hingga sampai ke tempat ini?”

Ho Siang tak menyahut. Seorang pelayan mendatangi sambil memberikan daftar makanan yang tersedia. Diterima oleh Ho Siang dan memesan beberapa macam masakan.

“Hwat lote, kau bilang mengenai sumbangan Kaisar itu....... kau titipkan kepada panitia korban banjir manakah?”

“O ya, justru sekarang kepingin kuselidiki. Pernah beberapa hari yang lalu kuberitahu kepada salah seorang panitia, akan tetapi, bukan Hwa-ie-kay-pang itu…….”

“Panitia yang mana?”

“Panitia tempo hari itu dipimpin oleh Wu-nian-sam-eng (Tiga Pendekar Wu-nian) akan tetapi heran……! Mengapa sekarang Hwa-ie-kay-pang yang menguasainya? Twako, nanti kita ke jalan Naga, aku masih ingat rumah panitia itu.”

Seorang pelayan membawakan masakan yang tadi dipesan.

“Boleh, setelah kita makan. Kita jalan-jalan sebentar. Hwa-ie-kay-pang harus kita selidiki. O ya, Hwat-lote kau hendak menemui Wu-nian-sam-eng itu?”

“Ya, aku harus menanyakan tentang sumbangan Kaisar tempo hari kutitipkan padanya. Mari kita makan cepat-cepat, nanti kita ke jalan Naga…..,” sambil berkata demikian Kong Hwat makan tanpa berkata-kata lagi.

Ho Siang juga meraih mangkok dan mengisi sedikit nasi dan menyendok masakan Tung-wang yang terkenal itu. Asap seakan membaur sedap melaparkan isi perutnya yang sejak sedari pagi ini belum menerima makanan apa-apa.

Kong Hwat banyak sekali makan.

Memang pemuda itu paling banyak makan, apalagi menghadapi masakan yang lezat ini. Rasanya baru kali ini ia merasakannya masakan yang benar-benar lezat.

Tentu saja baginya selama mengikuti suhunya, Koay Lojin, ia hanya selalu tiap hari dihadapkan dengan masakan-masakan sederhana, dan ikan-ikan laut melulu hasil suhunya memancing. Jarang sekali suhunya membawa dia makan di rumah makan, biasanya ia makan hanya dengan ikan hasil tangkapan atau paling-paling dengan sayur-sayuran yang dimasak suhunya dengan amat sederhana sekali. Sebentar itu pula pemuda itu sudah menghabiskan tiga mangkok nasi putih dan sayur cap-cay yang amat lezat bagi lidahnya itu!

Melihat temannya makan dengan gembul dan bernafsu, Ho Siang tertawa lebar sambil manawari makanan, “Hwat Lote, biar kupesan masakan lagi!”

Kong Hwat menggeleng-gelengkan kepala dan menghabisi makanan di mangkuk yang dipegang seraya katanya, “Wa, wa, wa, cukup twako, jangan ditambah lagi, bisa meleduk perutku kekenyangan makan!”

“Tak apa lote, kalau kau masih lapar pesan saja?”

“Sudah, sudah kenyang perutku. Perutku sampai membuncit begini....... he he he he, memang enak sekali ya makan di restoran.” Kong Hwat menepuk perutnya yang buncit kekenyangan makan.

Ho Siang berdiri, berjalan menuju tempat pembayaran makanan dan mengeluarkan uang. Sekembalinya, Kong Hwat sudah menanti di depan sambil memegangi perutnya yang terasa mulas.

“Eh, kenapa kau pegangi perutmu?” datang-datang Ho Siang bertanya sambil tertawa menggoda: “Kekenyangan makan?”

“Wah, saking banyaknya aku gado ikan tung-kwang, sehingga perutku sakit dan…. ssstt, rasanya kepingin buang air besar.......” Kong Hwat meringis, menahan pada perutnya yang terasa mulas.

Kalau memang perlu dibuang, buanglah!”

“Akan tetapi dimana?”

Tentu saja di We Ce, hayo....... kau permisi kepada rumah makan itu…… jangan-jangan nanti kau berak di jalan….. berabe!”

“Kau tunggu, ya!”

Kong Hwat setengah berlari masuk ke dalam rumah makan.

Ho Siang menunggu di luar sambil melihat-lihat orang-orang berlalu di jalan. Amat ramai sekali siang hari itu, orang-orang yang lalu-lalang di depan rumah makan ini.

Tiba-tiba, serombongan orang-orang berkuda lewat di depan rumah makan dan Ho Siang melihat perajurit kerajaan berjalan berbaris dengan amat rapih, sedangkan barisan di depan. Orang-orang yang di pinggir jalan berhenti memandang barisan perajurit dari kotaraja. Nampak penunggang kuda yang di tengah adalah seorang jenderal setengah tua dengan diapit oleh dua orang wanita tua dan seorang hwesio tua muka hitam dengan jubah berwarna kuning.

Inilah rombongan Bong Bong Sianjin atau yang terkenal dengan sebutan Bong-goanswe dan Hok Losu, bersama Nenek Kepalan Dewa Tanpa Tandingan yang terkenal dari Sian-li-pay, sedangkan nenek yang satu lagi adalah Sianli Ku-koay yang menjemput datangnya tamu-tamu agung yang mereka hormati.

Nampak di antara rombongan itu seorang lelaki tua berusia empatpuluh tahun, akan tetapi nampak sudah amat tua lagi dengan tubuhnya yang kurus kering seperti tinggal tulang terbungkus kulit. Orang inilah Pay-cu Hek-lian-pay yang bernama Hek-sin-tung Pay-cu Teng Kiat.

Berjalan dengan pandangan menghina menyapu orang-orang yang terdiri di pinggir jalan memandang rombongan yang lewat ini. Dan di belakang barisan berkuda, nampak gerobak barang yang didorong oleh perajurit-perajurit kerajaan. Hadir juga disitu, Oey Goan si Cambuk sakti yang mengepalai barisannya!

Melihat rombongan yang terdiri dari tokoh-tokoh yang sebagian besar memang sudah dikenalnya, tertarik sekali hati Ho Siang dan diam-diam ia membututi rombongan itu. Sebelumnya ia meninggalkan sepucuk surat untuk Kong Hwat yang sedang buang air, dan dititipkan kepada pelayan rumah makan.

Akan tetapi betapa terkejut hati Ho Siang. Begitu rombongan dari Kotaraja itu masuk ke sebuah gedung yang dan bercat merah, nampak tiga komplek bangunan yang besar-besar itu. Tiba-tiba pintu gerbang yang bertulisan,

Hwa-ie-kay-pang

itu tertutup tidak diperbolehkan seorangpun yang diijinkan masuk. Dengan hati penuh bertambah curiga Ho Siang kembali ke rumah makan yang tadi dan bertanya kepada seorang pelayan yang dititipkan surat untuk Kong Hwat.

“Lopek, apakah temanku itu sudah pergi?”

“Sudah sejak tadi. Surat kongcu sudah saya berikan kepadanya. Katanya ia hendak ke jalan naga…….”

“Di mana letaknya jalan naga itu, lopek?”

“Itu…...!” si pelayan menunjuk ke samping kiri, “Tiga belokan dari sana itu, kongcu akan menemukan jalan Naga, wah……. jalan naga itu panjang sekali kongcu….. eh, hendak mencari siapakah kau di sana?”

“Temanku itu katanya hendak menemui Wu-nian-sam-eng, kenalkah kau kepada tiga orang pendekar dari Wu-nian itu?”

“Wu-nian-sam-eng, tentu saja semua orang kenal kepada mereka. Tiga orang gagah yang tadinya menjadi panitia Korban banjir....... akan tetapi....... kabarnya, tiga orang gagah itu juga dapat diperalat oleh Hwa-ie-kay-pang....... kongcu, sekarang yang berkuasa di sini adalah Hwa-ie-kay-pang……” kakek pelayan itu berkata setengah berbisik. Ia hendak berkata lagi, akan tetapi didengarnya pemilik rumah makan itu memanggilnya dengan panggilan keras dan nyaring:

“A Sammm…...! Banyak tamu, mengapa kau mengobrol? Hayo layani tamu, angkat mangkuk-mangkuk itu, bawa ke belakang, kembali membawa arak Hang-ciu dan daging dendeng sapi....... cepat!”

“Baik loya....... baik……!” si pelayan menyahut takut dan menoleh kepada Ho Siang, “Kongcu, maafkan....... saja banyak kerja!”

“Terimakasih lopek!”

Ho Siang keluar dari rumah makan itu.

Ia berjalan menuju ke jalan Naga. Akan tetapi tak didapati Kong Hwat di jalan itu. Sedangkan Wu-nian-sam-eng, tidak berada di tempat itu, mungkin di gedung Hwa-ie-kay-pang!

Ho Siang berdiri di depan pintu gerbang gedung Hwa-ie-kay-pang. Ingin sekali ia menerobos masuk, akan tetapi ia tahu bahwa kalau terlihat oleh anggota-anggota Hwa-ie-kay-pang akan tindakannya ini, tentu ia akan dicurigai.

Maka jalan satu-satunya, menanti datangnya malam. Pada waktu malam ia akan leluasa bergerak. Berpikir demikian, ia meninggalkan gedung Hwa-ie-kay-pang yang kelihatannya angker dan megah itu!

Ia berjalan-jalan di sepanjang jalan di Kota Wu-nian sambil bertanya-tanya kepada penduduk. Akan tetapi ia menjadi kecewa, karena tidak banyak penduduk yang mau bercerita banyak tentang Hwa-ie-kay-pang itu!

Hanya mereka mengatakan bahwa, sejak Hwa-ie-kay-pang berdiri di Wu-nian segala kekuasaan pemerintah pusat yang tadinya dikuasai oleh wali kota Wu-nian, kini beralih dipegang oleh Hwa-ie-kay-pang. Segala sumbangan untuk korban banjir harus melalui partai itu. Seorangpun tidak diperkenankan mendirikan panitia korban banjir!

Dan pada malam yang gelap dan dingin dengan gerakan cepat dan gesit, Ho Siang dapat meliwati penjagaan dan melompat ke atas tembok mempergunakan kegelapannya malam sehingga ia dapat masuk ke komplek gedung Hwa-ie-kay-pang tanpa terlihat oleh siapapun juga.

Ternyata di dalam tiga gedung komplek Hwa-ie-kay-pang dijaga dengan ketat oleh kakek pengemis baju kembang. Akan tetapi, dengan gerakan gesit pemuda itu berhasil meloncat ke sebuah gedung sebelah kiri yang terdekat dengan tembok komplek Hwa-ie-kay-pang.

Melihat suasana di dalam gedung itu agak gelap dan sepi, dan melihat komplek gedung yang di tengah amat terang dan terdengar suara orang bercakap-cakap segera dengan kepandaiannya yang tinggi, Ho Siang berhasil mengintai ke dalam. Di ruang tengah ia melihat Bong Bong Sianjin yang berpakaian jenderal sedang bercakap-cakap dengan dua orang nenek yang kelihatannya sangat angkuh dan agung sedang duduk di atas kursi kebesarannya.

Kedua orang nenek itu adalah Sianli Ku-koay, dan Bu-tek Sianli Pay-cu dari Sian-li-pay, dan di meja bunder itu duduk pula seorang hweshio tua bermuka hitam yang pernah ia kenal dan rasai kelihayannya waktu di hutan tempo hari bersama Nyuk In. Hweshio itu adalah Hok Losu, yang dulu pernah mengalahkannya. Dan beberapa tokoh-tokoh sakti lain yang belum dikenalnya.

Terkejut sekali Ho Siang melihat tokoh-tokoh yang nampaknya tengah mengadakan perundingan. Dan yang membuat dadanya berdebar tegang dan heran adalah seorang gadis, gadis yang amat dikenalnya.

Di tengah-tengah ruangan itu Nyuk In nampak tengah tertotok tak berdaya. Seluruh urat saraf pemuda itu, menegang dan ia mengintai dengan hati-hati dan waspada.

“Pay-cu....... si Nenek Sianli Ku-koay berkata, “Bocah inikah yang pernah datang ke pulau dan membuat kacau?”

Bu-tek Sianli menatap gadis yang tertunduk itu.

Ia menoleh kepada seorang dara Sian-li-pay yang duduk di sebelahnya. “Ang Hwa, benarkah gadis ini yang menolong pemuda lengan buntung?”

Gadis yang dipanggil Ang Hwa ini menatap tajam ke arah gadis yang tertunduk, tangannya menjambak rambut Nyuk In dan mengawasi wajah itu,

“Tak salah lagi, dia inilah Sianli Pay-cu……. teecu kenal betul dengan wanita ini yang telah menolong pemuda buntung....... akan tetapi…..,” Ang Hwa menoleh kepada Sianli Ku-koay dan berkata: “Pay-cu, apakah hanya orang ini yang dapat kalian tawan?”

“Ya, ia itulah…… Sebenarnya ada dua orang muda lagi, akan tetapi mereka itu adalah orang-orang dari Kotaraja. Bong-goanswe....... kau kenal dengan mereka?” Sianli Ku-koay menunjuk ke arah kedua orang muda yang berdiri mematung seperti orang yang hilang semangat. Melihat seorang gadis cantik yang dikenal sebagai puteri Sie-tayjin, tentu saja Bong Bong Sianjin dapat mengenalnya.

“Eh, bukankah gadis itu adalah puteri Sie Tek Peng tayjin?” Jenderal itu bertanya heran.

“Betul Bong-goanswe, akan tetapi gadis itu keras kepala dan terpaksa kutaklukan dia….. ia kini dalam perintahku seperti sepasang orang gila yang lihai itu!”

“Aii, kau memang hebat……. Sianli!”

“Pay-cu Bu-tek Sianli Yang Mulia, sekarang bocah binal yang pernah mengacau Sian-li-pay kami serahkan kepadamu, menanti keputusan Yang Mulia,” Sianli Ku-koay berkata hormat.

Bu-tek Sianli mengetuk tongkat bidadari tiga kali di tanah dan dengan suara yang berwibawa, ia berkata dengan lantang, “Hukuman apalagi kalau bukan hukuman mati, Ang Hwa....... bunuh gadis binal itu sekarang juga!”

Gadis Sian-li-pay yang bernama Ang Hwa maju ke depan dan berlutut di depan Bu-tek Sianli.

“Teecu melaksanakan perintah!”

“Nah, kau laksanakanlah hukuman itu…..” sambil berkata demikian si Nenek Bu-tek Sianli menggerakan tangan kirinya.

Sebuah benda berkeredep menyambar Ang Hwa, akan tetapi dengan cekatan gadis itu menggerakan tangannya dan beberapa detik kemudian sebuah pisau tajam telah berada di tangannya. Dengan gerakan yang lemah gemulai gadis Sian-li-pay itu maju ke depan mendekati Nyuk In.

“Berlutut kau!” bentak Ang Hwa nyaring.

Akan tetapi mana Nyuk In sudi berlutut. Ia malah melototkan matanya menatap tajam ke arah gadis yang memegang pisau yang berkilat-kilat saking tajamnya tersentuh cahaya lilin.

Diam-diam gadis Sian-li-pay ini terkejut melihat tatapan mata gadis yang mencorong tajam. Akan tetapi dengan senyum mengejek sambil menudingkan pisau belati, gadis Sian-li-pay yang bernama Ang Hwa itu berkata sombong,

“Bocah perempuan gila, ajalmu sudah di depan mata, hayo berlutut!” Pisau belati di tangan Ang Hwa berkelebat, hampir saja menggores muka Nyuk In.

“Tahan!” terdengar seruan dari Bong Bong Sianjin.

“Ada apa Bong-goanswe?” Bu-tek Sianli berkata heran. Menatap tajam jenderal yang telah berlutut di depannya.

“Pay-cu…… harap kau memberi pertimbangan kepada gadis itu. Dia adalah murid suhengku Bu-beng Sianjin, mohon kau memberi pengampunan kepadanya.......”

“Ha! Goanswe....... apakah karena kau takut kepada suhengmu si Bu-beng itu?” Bu-tek Sianli bertanya.

“Bukan hamba takut Pay-cu, hanya….. kalau bisa, kita jangan mencari permusuhan dengan suhengku itu……”

“Alaaa…… aku tidak perduli kepadanya, Bu-beng Sianjin juga harus mampus di tanganku. Goanswe jangan kuatir urusan si pertapa dari Thang-la, biar aku yang membereskan....... kau mundurlah!”

“Pay-cu…….!”

“Mundur!!”

Aneh sekali, mendengar suaranya Bu-tek Sianli yang berwibawa ini, Bong Bong Sianjin seperti anjing kena gebuk, dengan membungkuk-bungkuk hormat dia mundur dan kembali ke tempat duduknya.

Hok Losu menyambut dengan tertawa lebar, “Bong-goanswe tidak perlu kuatir, seandainya Bu-beng Sianjin tidak senang, biarlah tanganku yang mengetok kepalanya! Ha… ha…”

“Ang Hwa, lekas lakukan hukuman!!” Nenek Bu-tek Sianli membentak. Ia ingin segera melihat gadis itu mati dengan tusukan belati dan menerima jantung gadis itu.

Seperti biasanya, ia paling senang melihat para hukuman mati berkelojotan dengan jantung dan hati yang tercabut keluar dan kelak jantung dan hati itu disimpannya untuk obat kuat. Inilah kekejaman Nenek Bu-tek Sianli!

Ang Hwa maju ke depan, ia menyambar rambut gadis itu dan mengangkat kepala, memandang wajah Nyuk In. Sedikitpun gadis itu tidak berkedip melihat hukuman sudah di depan mata, malah dengan beraninya menatap tajam kepada Ang Hwa.

Kalau saja Nyuk In tidak dalam keadaan tertotok, tentu gadis perkasa ini akan ngamuk seperti banteng luka, akan tetapi sayang sekali ia tak berdaya, totokan Sianli Ku-koay membuat seluruh tubuhnya lemas tak bertenaga, hanya dengan ketabahan dan kepasrahan hati ia menyerahkan dirinya kepada orang-orang berhati iblis ini!

Ang Hwa menarik rambut gadis tawanan yang tak berdaya itu menatap ke arah leher yang jenjang dan tiba-tiba sambil menjerit keras pisau belatinya berkelebat. Amat cepat sekali gerakan Ang Hwa ini, para pengemis baju kembang yang menonton penyembelian yang hebat ini menarik napas, waktu sinar perak berkelebat dan mengharap jatuhnya sebuah kepala manusia yang sudah penggal.

Akan tetapi, jauh di luar dugaan mereka bahkan Pay-cu Sian-li-pay berdiri saking herannya melihat bahwa yang jatuh menggelinding bukannya kepala tawanan, melainkan kepala Ang Hwa itulah yang menggelundung jatuh tanpa dapat bersambat lagi, darah merah memercik membasahi lantai.

Pada saat yang tegang itu terdengar bentakan keras, dengan dibarengi melayang sesosok tubuh. “Bu-tek Sianli, Nenek gila….. sungguh perbuatan gila dan kejam, aku datang untuk mengambil kepalamu!”

Tahu-tahu tubuh Ho Siang sudah berdiri di samping Nyuk In dan sekali tangan pemuda itu bergerak, Nyuk In telah terbebas dari totokan dan mengerahkan hawa sin-kang. Tadi ketika melihat Ang Hwa yang dengan cara keji hendak memenggal leher gadis kekasihnya ini, dengan marah sekali Ho Siang menggerakan tangannya dan mengirim pukulan menampar ke arah belati yang menyambar leher Nyuk In.

Karena saking cepatnya gerakan belati dan hawa pukulan dari atas yang menyambar pisau belati di tangan Ang Hwa, entah bagaimana telah membalik dan menyambar lehernya sendiri! Dalam kekagetan itu Ang Hwa tak dapat menjerit lagi karena lehernya sendiri telah putus tersambar pisau di tangannya!

Bu-tek Sianli, Hok Losu dan Bong Bong Sianjin terkejut sekali melihat pemuda baju putih yang tahu-tahu telah berada di situ. Nenek Bu-tek Sianli ini cepat menggerakan tongkatnya dan mencelat turun dari kursi kehormatan diikuti oleh kedua orang pembantunya.

“Bagus, kau datang mencari mampus!?” serunya dan baru saja Ho Siang menginjak lantai, tongkat dan ujung jubah si hwesio muka hitam menyambar dari kanan kiri.

Akan tetapi Ho Siang sudah mencelat menjauhi Nyuk In, memberi kesempatan kepada gadis untuk memulihkan tenaganya. Tentu saja melihat kedatangan Ho Siang yang tiba-tiba ini, girang hati Nyuk In, bagaikan ada semangat yang mengalir ke segenap tubuhnya ia segera mengerahkan sin-kang dan sebentar saja tenaganya sudah pulih kembali dan ia melirik ke arah Hok Sun dan Biauw Eng yang seperti orang kehilangan ingatan ini.

Dengan gerakan cepat ia mencelat dan menyambar kedua orang muda itu dan menotoknya, mengepit Biauw Eng dan Hok Sun. Dan sekali menggerakan tubuhnya, gadis itu sudah melompati orang Hwa-ie-kay-pang yang memburu kepadanya.

“Siang-koko, aku harus cepat pergi dari tempat ini dan menyelamatkan kedua orang temanku ini, jaga dirimu koko!” Nyuk In berteriak nyaring kepada Ho Siang. Sambil menangkis jubah hwesio tua yang lihay ini pemuda itu sempat melirik,

“Jangan kuatir In-moay pergilah…… aku segera menyusul!”

Nyuk In menggerakan tubuhnya, mencelat ke atas wuwungan genteng yang tertinggi. Akan tetapi, baru saja kakinya menginjak genteng, terdengar hentakan keras: “Gadis liar, jangan lari kau!”

Ternyata di tempat itu telah dikurung oleh gadis-gadis Sian-li-pay dan para pengemis Hwa-ie-kay-pang. Terkejut sekali gadis ini, menghadapi lawan yang begini banyak telah mencelat ke atas mengurungnya, tidak gampang-gampang ia dapat meloloskan diri.

Berpikir demikian Nyuk In mengeluarkan kipas hitam dan pitnya. Menangkis serangan tongkat yang menyambar kepalanya. Dengan cepat ia meletakkan tubuh Hok Sun dan Biauw Eng di atas wuwungan. Dan menerjang lawan-lawannya dengan sengit. Sekali kipas dan pit bergerak, dua orang kakek pengemis baju kembang terpental ke belakang dan bergulingan jatuh dari atas genting.

“Bocah liar, kau tidak akan lolos dari Hwa-ie-kay-pang!” Dua orang gadis Sian-li-pay menerjang maju, menggerakan pedangnya, sinar pedang berkeredep di udara, sebentar itu pula, repotlah Nyuk In menghadapi lawan-lawan yang banyak ini dan begitu muncul Sianli Ku-koay, ia jadi terdesak hebat.

Akan tetapi dengan beraninya ia terus menerjang dan memainkan ilmu kipas dan pit dengan luar biasa! Pengemis-pengemis Hwa-ie-kay-pang ini menjadi terkejut dan kagum melihat permainan kipas si gadis yang mengeluarkan tenaga dahsyat laksana angin puyuh menyambarnya.

Pada saat itu berkelebat tiga sosok bayangan manusia dan seorang di antaranya membentak keras: “Orang-orang Hwa-ie-kay-pang terlalu dan tak dapat dipercaya, menindas rakyat dan merusak aparat negara. Hari ini kalian harus mampus!”

Bentakan itu disusul berkelebatnya sebuah tongkat kecil dan terdengar suara jeritan ngeri ketika tangan seorang gadis Sian-li-pay terserempet tongkat yang mengeluarkan cahaya kemerahan dan sekali tongkat itu menarik, terdengar lagi seruan kaget dari ketua Hek-lian-pay yang tergores pundaknya oleh sebuah benda tajam yang menyembul dari dalam tongkatnya.

Gerakan pemuda yang bukan lain adalah Kong Hwat, disusul oleh berkelebat sinar panjang melengkung dari seorang pemuda cebol dan pukulan tangan kiri dari seorang gadis jelita. Seperti kita ketahui, pemuda itu adalah Sin Thong dan Siauw Yang yang pernah kita kenal.

Ke dua anak muda ini, memang sengaja mendapat tugas oleh si Raja obat Yok-ong Lo Ban Theng untuk mengunjungi Wu-nian dan menyumbangkan bahan obat-obatan kepada panitia korban banjir di kota ini, akan tetapi siapa sangka, begitu Sin Thong dan Siauw Yan meninjau langsung daerah korban banjir, alangkah terkejutnya hati mereka melihat kehidupan rakyat di luar kota Wu-nian, terutama di dusun-dusun yang terserang banjir, demikian sengsara dan melarat.

Jerit tangis terdengar di mana-mana, dan keluh kesah menjulang setinggi langit, membawa rasa kecewa dan seakan-akan manusia yang tengah sekarat hendak mati kelaparan ini menuduh bahwa Tuhan tidak adil, Tuhan tidak mendengar jerit tangis mereka....... Tuhan begitu kejam membiarkan hujan turun terus tak henti-hentinya….. ah, entah berapa banyak mulut dan hati yang menuduh bahwa Tuhan telah menutup telinga dan tidak mendengar jerit tangis mereka!

Sin Thong dan Siauw Yang berjalan di dusun-dusun yang tengah meratap oleh tangis dan keluhan-keluhan, hati mereka bagai diiris-iris waktu melihat pemandangan-pemandangan yang sangat menyayat hati. Uang mereka bawa tidak berarti bagi kesengsaraan penduduk, lapar mereka tidak dapat dilenyapkan dengan uang. Mereka perlu gandum, mereka perlu air dan makan, bukan memerlukan uang!

Seandainya Sin Thong dan Siauw Yang memberikan uang, untuk apakah uang? Di dusun-dusun tidak ada orang yang menjual gandum dan bahan makanan, di dusun-dusun tidak memerlukan uang, akan tetapi gandum, ya gandum, bahan makanan buat pengisi perut yang lapar! 

Sin Thong dan Siauw Yang menyesal, mengapa mereka tidak datang ke sini dengan membawa gandum dan bahan makanan? Mengapa?

Alangkah marahnya kedua orang muda ini, ketika mendengar keterangan dari seorang penduduk bahwa sejak berdirinya partai Hwa-ie-kay-pang di Wu-nian, jarang sekali bala bantuan bahan makanan yang datang, malahan bantuan dari pemerintah pusat “nyangkut” ke gedung Hwa-ie-kay-pang itu dan tidak dapat berlangsung sampai ke dusun-dusun yang tengah terancam bahaya kelaparan itu!

Marah sekali hati Sin Thong dan Siauw Yang, demikianlah pada malam itu mereka menyerbu gedung Hwa-ie-kay-pang dan kebetulan sekali, begitu mereka mencelat ke atas genteng, dilihatnya seorang gadis cantik dikeroyok oleh pengemis-pengemis baju kembang dan gadis-gadis kerudung hitam langsung mereka menyerbu dan bertempur dengan amat serunya.

Kini empat orang muda yang gagah dan berkepandaian lihai diserbu oleh anggota-anggota Hwa-ie-kay-pang dan Hek-lian-pay dan Sian-li-pay, hebat sekali pertandingan yang berlangsung di atas genteng Hwa-ie-kay-pang ini!

Sementara itu di dalam gedung tengah, terjadi pertempuran yang tidak kalah seru oleh pertempuran di atas genteng. Ho Siang dikeroyok oleh banyak orang gagah Hek-lian-pay dan Hwa-ie-kay-pang, serta beberapa gadis Sian-li-pay. Dikeroyok oleh banyak orang yang berkepandaian cukup tinggi ini Ho Siang tidak mau membuang banyak waktu lagi, ia mainkan sulingnya di tangan kanan dan mengeluarkan suara mengaung yang bergetar oleh suara sabetan suling yang amat luar biasa ini.

Sebentar itu pula tiga orang kakek pengemis baju kembang dan dua orang kakek Hek-lian-pay sudah tertotok jatuh, tak kuasa untuk bangun lagi. Bu-tek Sianli, Hok Losu, Bong Bong Sianjin mendesak hebat pemuda itu dengan senjata tongkat dan pedang di tangan, akan tetapi Ho Siang kali ini benar-benar mencurahkan seluruh kepandaiannya yang pernah ia pelajari di Anapurna dari gurunya Nakayarvia.

Tingkat kepandaian pemuda ini telah menguasai pelajaran dari pertapa sakti Nakayarvia itu. Suling hitam di tangan pemuda itu merupakan senjata yang amat berbahaya bukan saja lihay dalam menotok lawan, akan tetapi mengeluarkan suara mengaung yang aneh dan seakan-akan menggetarkan jantung lawan yang tidak seberapa tinggi kepandaiannya.

Inilah pengerahan sin-kang yang luar biasa, ditambah lagi dengan gerakan-gerakan kilat yang pernah ia pelajari dari suhunya yaitu gerak tipu Sin-tiauw-siu-po (Rajawali sakti sambut mustika) yakni sebuah jurus dari ilmu silat ciptaan Nakayarvia sendiri Sin-tauw-sin-na (Ilmu Silat Rajawali Sakti).

Dengan mempergunakan jurus ini, ia merangsek si Nenek sakti Bu-tek Sianli yang amat ia benci melihat hampir saja kekasihnya, Nyuk In menjadi korban kekejian Nenek ini, maka dalam sekejap mata sebelum si Nenek Sian-li-pay tahu apa yang telah terjadi, tongkat bidadarinya telah kena dirampas oleh tangan kiri Ho Siang. Pemuda sakti ini tidak berhenti sampai disini, dan pada saat kedua kakinya sudah menginjak lantai, tangan kanannya bergerak melakukan pukulan Sin-tiauw-siu-po, menghantam ke arah tongkat yang memukul dari kanannya!

“Kraakk!!” Terdengar tongkat itu patah disusul oleh jeritan kaget dari pada Bu-tek Sianli sambil meloncat ke belakang. Mukanya merah dan berkerut dalam.

Ia memandang ke arah tongkat Bidadari kehormatannya yang sudah hancur. Merasa dirinya diinjak-injak oleh pemuda ini, dengan menggereng marah Pay-cu Sian-li-pay ini melancarkan serangan dahsyat.

Hok Losu, hwesio tua muka hitam itu mencelat ke dekat Bu-tek Sianli dan kemudian berkata: “Pay-cu, biar pinceng yang menangkap bocah berandalan ini!!”

Setelah berkata demikian, tangan hwesio tua itu mendorong ke muka. tubuhnya agak miring dan mulutnya membentak: “Orang muda, menyerahlah!”

Sambil menangkis datangnya serangan tongkat dari salah seorang pengemis baju kembang, Ho Siang berseru kepada hwesio tua ini, “Ha....... ha, hwesio tua bangka jangan banyak tingkah! Kalau kau gagah dan memang sanggup, tangkaplah aku! Jangan bermulut besar!”

“Bangsat!! Kalau begitu biarlah tangan pinceng memberi hukuman…..!” Bentakan ini disusul oleh sebuah tamparan ujung jubah ke arah dada Ho Siang, akan tetapi tamparan dilakukan sedemikian rupa, sehingga kalau pemuda ini menangkis, ia akan membabat suling sekuat tenaga. Inilah gerak tipu Tian-hud-kiat-ciang (Mengulur Jubah Memotong Tangan) sebuah tipu sabetan jubah dari partai Siauw-lim-pay yang lihay.

Namun siasat ini terhadap Ho Siang tidak mempan sama sekali karena pemuda ini sudah tahu akan maksud lawan, sungguhpun ia tidak mengerti akan kebutan jubah yang mendatangkan angin besar itu. Akan tetapi alangkah kagetnya hati Hok Losu ketika tiba-tiba pemuda itu miringkan tubuh, lalu menyusul dengan serangan balasan yang serupa yakni membalas tamparan ujung jubah dengan tangkisan suling hitamnya.

Ujung jubah Hok Losu, membentur suling hitam di tangan pemuda itu. Akan tetapi alangkah herannya hwesio itu merasa tamparan jubahnya itu seakan-akan amblas ke dalam air dan meleset menampar dada si pemuda, dalam kagetnya dan rasa penasaran itu, hwesio ini berteriak keras dan dua tangannya berputar di atas kepala. Inilah gerak pukulan Menyembah Budha Memangku Raga, angin dingin berpusing.

Sementara dari arah kiri menyambar pula hawa pukulan yang panas yang datangnya dari Bu-tek Sianli yang sudah menyerbu dengan pukulan Sin-kun-bu-tek yang terkenal kedahsyatannya itu, sedangkan tongkat hitam ketua Hek-lian-pay menyambar dahsyat ke arah kepala pemuda itu, dibarengi lagi serangan tusukan pedang yang mematikan dari Bong Bong Sianjin yang mengarah lambung lawan!

Ho Siang menjadi kaget setengah mati!

Serangan yang mendadak dari tokoh-tokoh sakti kaum sesat itu tak mungkin lagi untuk dihindarkan semuanya. Dengan pekikan dahsyat ia memutar sulingnya, menggerakan jurus Dewi Kwan-im Membuka Payung, sedangkan tangan kirinya menolak datangnya hawa pukulan dari Hok Losu dan Bu-tek Sianli. Sementara sulingnya berkelebat cepat memutar, melindungi tubuh dari serangan senjata-senjata lawan yang bergerak dengan serentak.

“Desss!” Tubuh Ho Siang terpental akibat pukulan yang luar biasa hebatnya dari Bu-tek Sianli dan Hok Losu, tulang pundaknya terhantam pukulan tongkat dari pengemis baju kembang yang tak keburu ia tangkis dengan sulingnya.

Amat kerasnya hawa pukulan dari dua orang sakti itu, membuat Ho Siang memuntahkan darah segar tiga kali. Wajahnya menjadi pucat seperti kertas. Dadanya terasa nyeri bukan main, cepat ia berdiri dan terhuyung-huyung,

“He he he, pemuda brandal......., sekarang kau harus mampus!” Sebuah pukulan lagi dari Bu-tek Sianli menerjang dahsyat. Saking kerasnya suara angin berciutan dan belum lagi tangan Bu-tek Sianli menyentuh tubuh pemuda itu, tubuh Ho Siang terlempar keras dan muntahkan darah lagi.

“Singg!” Suara pedang terdengar tertarik dari tangan Bu-tek Sianli. Inilah pedang simpanan yang jarang sekali ia pergunakan. Pedang Toat-beng-kiam!

“Mampuslah kau, binatang!” Saking marahnya Nenek dari Sian-li-pay ini menerjang dengan pedang terhunus dan tubuhnya melayang ke arah dada Ho Siang.

“Trangg!” bunga api berpijar terang oleh cahaya dua buah logam yang beradu dengan amat kerasnya. Bu-tek Sianli terhuyung-huyung mundur. Matanya membelalak memandang seorang kakek yang tahu-tahu bersila di depan Ho Siang.

Kakek ini sudah amat tua sekali, berusia hampir delapanpuluh tahun. Rambutnya sudah putih semua, berpakaian amat sederhana terbuat dari bahan kain yang kasar. Dan kedua kakinya buntung sebatas dengkul!

“Heng San........?” suara Bu-tek Sianli tergetar memandang kakek yang kedua, kakinya buntung. Ia memandang dengan tak berkedip, seakan-akan tidak percaya akan penglihatan matanya.

“Wi Nio.......Wiwi........ kau........!” orang tua kaki buntung itu berkata gagap, pandangan matanya menatap Bu-tek Sianli dengan tatapan sayu.

“Heng San....... mengapa kau mencampuri urusanku?”

“Wi....... wi......., kesadaran adalah jalan menuju kekalahan, tak sadar adalah jalan ke arah kematian. Mereka yang tak sadar tak akan mati........ Wiwi........ aku mengajak kembali ke gunung, mencari penerangan abadi dan hidup sebagaimana yang mesti kita wajib hidup, akan tetapi betapa sesatnya kalau kita hidup ini hanya untuk merusak........ Sadarlah Wiwi bahwa perbuatanmu untuk menguasai daratan Tiongkok hanyalah angan-angan belaka, biarlah kau menguasai dirimu sendiri.......barulah itu bijaksana.”

“Wah, filosof apa ini........ Pay-cu siapakah orang ini?” Hok Losu bertanya dengan pandangan heran dan terkejut. Ia sendiri tadi tak mengerti bagaimana caranya orang ini menolong pemuda itu dari terjangan pedang yang amat dahsyat dari Bu-tek Sianli?

“Heng San, pergilah....... antara aku dan kau tak ada hubungan apa-apa bukan? Mengapa kau datang ke tempat ini.......?” nada suara Bu-tek Sianli mulai tak senang. Akan tetapi ia merasa segan juga kepada kakek kaki buntung ini.

“Wiwi....... sadarlah bahwa engkau telah memilih jalan yang sesat, engkau menutup hati dan menulikan telinga bagi rakyat di luar kota Wu-nian yang tengah menjerit-jerit kelaparan dan ratap tangis sepanjang hari. Engkau....... ahhh, Wiwi....... kembalilah kepadaku....... ingin aku berbicara banyak kepadamu.......”

“Heng San! Kau berbicara macam apa? Sudah kukatakan bahwa aku dan engkau tidak ada hubungan apa-apa. Cihh! Masih saja seperti dulu, lemah dan....... ah sudahlah........ pergilah kau!”

“Aku akan pergi....... setelah bersamamu........” suara kakek buntung ini terdengar sayu.

Ho Siang yang terluka dalam di dadanya merasa heran mendengar adegan antara si Nenek dan si Kakek buntung. Siapakah kakek ini?

Kakek sakti yang telah menolongnya dengan cara yang luar biasa, dan ia merasa benar, setelah dadanya seperti ada yang menepuk tadi, terasa dadanya tidak sesak seperti tadi dan setelah mengerahkan hawa murni di dada, ia merasa segar kembali.

Diam-diam ia mendengar terus, pura-pura masih dalam keadaan terluka. Apabila melihat kedua kaki si kakek yang buntung sebatas pundak, hibalah rasa hatinya.

“Heng San....... apakah kau tidak tahu diri masih menaruh harapan kepadaku, sungguh lucu, setelah kita menjadi kakek-kakek dan nenek engkau masih saja bersikap romantis....... hik hik, Heng San apakah tahu....... bahwa sesungguhnya aku tidak menaruh cinta secuilpun terhadapmu?”

“Aku sudah melupakan itu, Wiwi……!”

“Nah, kalau kau sudah lupakan aku. Mengapa kau mencampuri urusanku. Heng San, perlukah kau....... sebelum kepalanku ini naik darah dan membunuhmu!”

“Mengapa ada gelak tawa?
mana dapat orang bergembira,
sedangkan dunia ini penuh siksa dan noda,
kenapa kau tak cari pelita,
wahai engkau yang terselubung kegelapan!”

“Bangsat pendeta gila, sinting gendeng, kata-kata apa pula yang kau keluarkan menghina Pay-cu? Lebih baik mampus!” Serangkum angin besar menyambar dari dua telapak tangan Hok Losu yang merasa terkena sindir oleh kata-kata yang diucapkan oleh kakek buntung ini.

Ingin sekali dengan sekali hantam kakek buntung ini mampus dan agar hatinya menjadi lega dan tidak merdengar lagi kata-kata yang sesungguhnya amat memuakkan bagi pandangannya.

Memang aneh benar, Hok Losu pada hal adalah seorang hwesio agama Budha, akan tetapi karena memang hwesio muka hitam ini adalah hwesio sesat, tentu saja, mendengar ayat-ayat suci dari Kitab Dharmapala yang sesungguhnya ia hapal di luar kepala yang botak itu, merupakan tamparan bagi mukanya. Maka tanpa menghiraukan Pay-cu Sian-li-pay ia sudah bergerak memukul kepala si kakek dengan pukulan yang amat dahsyat!

Akan tetapi aneh, seakan-akan tak dapat dipercaya oleh penglihatan mata. Karena gelombang angin pukulan Hok Losu menyambar dada si kakek kaki buntung, tahu-tahu tubuh Hok Losu tergetar hebat dan cepat-cepat ia bersemedi mengerahkan hawa sin-kang. Terasa dadanya bergetar hebat. Wajahnya yang hitam menjadi pucat membelalak memandang kakek buntung itu!

“Barang siapa yang ingin mengenakan jubah kuning tanpa lebih dulu membersihkan diri dari kotoran bathin, yang tak mengerti kenyataan dan tak mengendalikan dirinya, maka tak layaklah dia memakai jubah kuning itu, tetapi barang siapa yang membuang kekotoran bathin, menjalani segala kebajikan, disiplin terhadap diri sendiri serta berbuat kebenaran, maka sesungguhnyalah ia layak menggunakan jubah kuning!”

“Heng San, terlalu! Kalau kau tidak mau pergi, terpaksa kedua tanganku ini yang akan mencabut nyawamu.”

“Omitohud, mudah-mudahan Thian memberi jalan terang kepada Wiwi, biarlah aku akan pergi, dan membiarkan pemuda belakangku ini keluar bersamaku....... aku tak mampu berjalan lagi.”

“Mana bisa, Heng San! Pemuda itu adalah tawananku, dan tidak boleh kau membawa dia.......!” Bu-tek Sianli membantah.

“Aku bukan hendak membawanya, Wiwi, hanya aku hendak meminta tolong kepada orang muda ini untuk menggendongku, supaya aku bisa keluar dari tempatmu ini……” kakek Heng San menoleh kepada Ho Siang: “Orang muda, mau kau menggendongku, menolongku keluar dari neraka ini?”

Ho Siang menjura, “Tentu saja saya bersedia loocianpwe.”

“Nah, Wiwi....... biarkan aku pergi…..!” bagaikan kapas tubuh kakek buntung itu mencelat ke punggung Ho Siang dan memegangi leher pemuda itu: “Cepat, selagi masih ada kesempatan!”

Mendengar bisikan si kakek buntung ini, Ho Siang mencelat ke atas dan keluar menerobos dari balik daun jendela yang terbuka.

Bong Bong Siangjin dan Hok Losu dan ketua Hek-lian-pay hendak mengejar akan tetapi dengan penuh wibawa Bu-tek Sianli memerintah: “Jangan ganggu dia!”

“Pay-cu....... pemuda itu, ia harus ditahan!” Hok Losu membentak.

“Hwesio tolol, pemuda itu sudah berada dalam tangan Sin-kun-bu-tek Lim Heng San, apakah kalian mampu merampasnya?”

“Sin-kun-bu-tek??”

“Ya, dia itu Sin-kun-bu-tek. Hemm! Biar kedua kakinya sudah lumpuh, akan tetapi ia masih lihay. Sayang….. Kenapa waktu itu aku tidak membuntungi lengannya sekalian!” Bu-tek Sianli berkata seakan-akan pada dirinya sendiri. Walaupun demikian, ia masih merasa takut dan gentar terhadap kakek kaki buntung yang pernah menjadi kekasihnya.

Terkejut dan heran bukan main Ho Siang merasakan tubuh si kakek dalam gendongannya ini ringan sekali bagaikan kapas. Bertambah heran hatinya begitu sampai di atas genting, dilihatnya banyak anak buah Hek-lian-pay, Hwa-ie-kay-pang dan Sian-li-pay pada menggeletak dalam keadaan tertotok seperti orang pingsan.

Pandangan mata pemuda itu mencari-cari Nyuk In yang telah mendahuluinya keluar. Akan tetapi ia tidak melihat tubuh Nyuk In menggeletak di sana. Ia menarik napas lega waktu si kakek Heng San berkata: “Temanmu itu sudah lolos dan tengah menantimu di pinggir kota.......”