-->

Pendekar Lengan Buntung Jilid 09

Jilid 09

“Aku tak puas!” Soan Li membentak, “Kau tahu....... aku adalah murid Sian-li-pay....... murid kedua terkasih dari Bu-tek Sianli. Aku ditugaskan untuk menangkapmu dan kawan-kawanmu, dan si buntung yang menjadi biang keladi keributan ini. Sekarang kebetulan kita saling bertemu di sini, hanya berdua saja! Hayo kau layani aku, kalau tidak terpaksa aku akan menyeretmu untuk dibawa ke Sian-li-pay. Mau kau kuseret seperti anjing?”

Aneh sekali. Timbul keraguan dan kesangsian di hati Kong Hwat. Padahal sebelumnya ia seringkali mendengar sepak terjang murid-murid Sian-li-pay yang dikabarkan orang ganas dan berbahaya, dan ia ingin sekali menghancurkan Sian-li-pay itu!

Eh, siapa sangka, bertemu dengan gadis galak ini, yang bernama Soan Li, terpesona dan tidak tega untuk mengangkat senjata menghadapi nona jelita ini. Apalagi setelah ia mendapat perawatan luka-luka bekas sambaran jarum gadis itu dan merawat lukanya....... ah, makin tidak tegalah ia menghadapi gadis ini.

“Hayo....... keluarkan tongkatmu........ mau tunggu apa lagi? Aku segan menghadapi lawan tanpa senjata.......” Soan Li mengejek dan gadis ini sudah berdiri tegak dengan sabuk sutera merah di tangan, sikapnya gagah menantang, juga amat cantik.

“Nona Soan Li…... aku tak ingin bertempur denganmu. Mengapa kau ini haus untuk mengalahkanku? Kalau memang kau hendak main-main dan memamerkan kepandaian denganku sebaiknya tak usah pakai senjata, biar kita bertempur dengan tangan kosong, bagaimana?”

“Kunyuk! Siapa yang hendak main-main. Memang aku anak kecil....... Aku sungguh-sungguh hendak bertempur denganmu….. bukan main-main!” Kali ini saking jengkelnya Soan Li, gadis ini membanting-bantingkan kakinya dan setitik air mata melintas di pipi itu.

Melihat tingkah laku gadis yang aneh ini. Kong Hwat menjadi terharu sekali. Ingin sekali pada saat itu ia memeluk gadis yang telah menjatuhkan hatinya ini dan mencumbunya dan....... dan....... akan tetapi tidak untuk bertanding.

“Nona Soan Li……, dengarlah omonganku dulu….... Sungguh mati, aku memang tidak ingin bertanding denganmu....... malah aku ingin sekali mengikat persahabatan denganmu….. bukan untuk bertanding....... Nona pada mula pertama aku melihat engkau....... aku sudah tertarik sekali kepadamu, aku kasihan kepadamu.......”

“Kunyuk kau! Siapa minta kasihan darimu? Eh, Kong Hwat mengapa mendadak sontak kau begitu tertarik kepadaku........ hem, dasar mata lelaki, begitu melihat perempuan ciami atau cantik lantas saja mulutmu lemas seperti perempuan…... dasar kau mata keranjang!”

Wajah Kong Hwat menjadi merah. Gadis jelita ini selain gagah dan liar, juga lidahnya amat tajam!

“Nona….. aku bukan mata keranjang, memang sesungguhnya begitu, begitu melihat engkau…... aku sudah merasa kagum dan sayang…... ahh salahkah aku kalau aku mencintaimu nona? Apakah seorang laki-laki jatuh cinta terhadap seorang wanita dikatakan mata keranjang…...?”

“Wah, wah....... begitu muda amat kau jatuh cinta kepadaku, begitu melihat sudah cinta…... hemm, apalagi itu kalau bukan cinta palsu yang gampang luntur? Orang muda jangan kau berlagak di depanku mengobral cinta. Aku tak sudi cinta yang semurah itu!”

Wajah pemuda itu sebentar pucat sebentar merah. Perlahan-lahan ia menggerakkan tangannya ke balik jubah dan mengeluarkan tongkat kecil. “Nona, mulutmu tajam dan berbisa……, kau menuduhku yang bukan-bukan. Menyesal…... aku sudah mengutarakan isi hatiku kepadamu, hemm, benar aku lemah nona, cintaku begini murah, tak patut dan tiada senilai hatimu.

“Memang aku terlalu mengalah kepadamu, akan tetapi kau sombong, angkuh dan tinggi hati, namun aku seorang laki-laki sejati, dan tak ingin dihina dan diinjak-injak oleh seorang wanita seperti ini. Kalau kau memang penasaran untuk mengalahkanku, silahkan maju!”

Soan Li tersenyum, “Nah ini baru namanya jantan! Kong Hwat, aku bukan menuduh cintamu begitu murah, akan tetapi aku juga tak mau laki-laki gampang jatuh di kakiku....... biasanya yang gampang jatuh cinta, adalah laki-laki buaya. Kong Hwat aku ingin mengalahkanmu, dan membawamu ke Sian-li-pay. Nah bersiaplah kau!”

Tangan kirinya bergerak mendorong diikuti dengan gerak sabuk sutera merah di tangan kanan ketika gadis yang bernama Han Soan Li itu menyerang dengan hebat.

Terkejut hati Kong Hwat. Tak disangkanya gadis ini demikian ganas dan lihay, serangannya begitu dahsyat. Cepat ia memutar tongkat menangkis sambil meloncat ke samping menghindarkan diri dari pada samberan sabuk sutera yang mendatangkan angin pukulan hebat itu.

Tangan kirinya memapaki pukulan tangan kiri si gadis yang mendorong ke depan. Dua tenaga bertemu di udara. Ke dua-duanya terhuyung mundur. Akan tetapi tiba-tiba Soan Li terguling hampir jatuh? Diam-diam ia kaget dan juga kagum.

Dilain pihak, Kong Hwat juga terkejut dan heran. Ia tadi merasa betapa tongkatnya terbentur membalik oleh sabuk di tangan gadis itu dan biarpun ia sudah menghindar, hampir saja ujung sabuk sutera merah itu menyentuh lambungnya. Akan tetapi, entah mengapa. tiba-tiba sabuk itu berkibar pergi dan ia merasa ada sambaran hawa lewat di samping tubuhnya dan melihat gadis itu hampir jatuh. Ia maklum bahwa gadis ini sangat lihai dan tak boleh dibuat gegabah!

Dengan hati penasaran Soan Li menerjang maju lagi, kini lebih hebat. Sabuknya tiba-tiba mengejang keras dan diputar di atas kepala lalu melayang turun ke arah lawan, sedangkan tangannya meluncur maju menotok ulu hati yang akan mendatangkan maut apabila mengenai sasaran dengan tepat. Kembali Kong Hwat menggerakkan pedangnya menangkis sabuk merah sedangkan tangan kirinya dikebutkan untuk menampar jari totokan yang lihai itu.

“Wuuuttt....... kembali keduanya terhuyung dan alangkah kaget hati Soan Li ketika ia merasa tadi betapa sabuknya tiba-tiba hilang kekuatannya dan bahkan membalik dan menyerang dirinya sendiri. Ia membanting tubuh ke belakang dan bergulingan, wajahnya pucat. Hebat pemuda ini!

Diam-diam Soan Li bertambah kagum dan juga penasaran. Sabuk sutera merahnya dimainkan lebih cepat lagi. Kong Hwat terkejut sekali melihat kenekadan gadis ini. Celaka, benar-benar susah gadis ini, gemas dan liar!

Akan tetapi juga....... hemm, entah perasaan apa yang membuat Kong Hwat tidak tenang memainkan tongkatnya. Ia menjadi kuatir dan gelisah melihat kenekatan gadis ini.

“Nona Soan Li….. aku sungguh-sungguh tidak ingin bertempur mati-matian denganmu....... sudahlah… hentikan serangan……!”

“Terima ini!” Soan Li membentak dan sudah melompat maju, sabuknya menyambar merupakan kilatan merah memanjang, diikuti gerakan tangan kiri yang memukul ke dada Kong Hwat.

Uap hitam menyambar dan agaknya pemuda itu akan celaka kalau pada saat itu tidak nampak sinar menyilaukan berkelebat dan tahu-tahu Soan Li memekik kesakitan dan pundaknya terpukul tongkat di tangan Kong Hwat. Ia roboh dan mengerang kesakitan.

Melihat ini kagetlah Kong Hwat. Kini ia merasa yakin bahwa diam-diam ada orang yang membantunya. Tadi tongkatnya meleset dan terus menusuk ke arah leher Soan Li, sedangkan sinar yang berkelebat menghantam sabuk. Baiknya ia masih keburu menarik tongkatnya sehingga tidak menembus lehernya yang indah melainkan menyeleweng dan menusuk pundak.

Mungkin saking kaget, penasaran dan sakit, Soan Li roboh dan pingsan! Ketika ia membuka mata, Kong Hwat sedang mengobati pundaknya.

Bukan main heran dan kagetnya hati Soan Li, akan tetapi ia pura-pura masih pingsan. Dari balik bulu matanya yang lentik ia memandang wajah tampan itu dengan penuh perhatian memeriksa lukanya dan kemudian mengobatinya dengan obat bubuk yang terasa dingin sekali.

Melihat gadis itu menggerakkan bulu mata, Kong Hwat cepat menyelesaikan pengobatan itu dan berkata perlahan: “Maaf…... maaf, aku menyesal sekali……. bukan maksudku untuk……”

Soan Li sudah meIompat bangun. Mukanya merah dan ia memungut sabuk sutera merahnya yang menggeletak di atas tanah.

“Maaf....... Soan Li…. Aku… aku tak sengaja.”

Soan Li berpaling dan mukanya berobah ketika memandang Kong Hwat. Pandangan matanya masih penuh kekaguman, penuh keheranan dan penasaran.

“Kau hebat sekali. Gerakanmu begitu cepat sehingga aku tidak tahu bagaimana caranya kau mengalahkanku, aku masih penasaran, Kong Hwat, mari kita lanjutkan. Kalau kau dapat mengalahkan aku….. aku berjanji untuk.... tidak ingin menangkapmu lagi untuk diserahkan kepada Pay-cu Sian-li-pay malahan, aku bersedia melindungimu dari kemarahan Sianli...”

Ia bersenyum dan diam-diam Kong Hwat morat marit hatinya. Senyum dengan lesung pipit itu bukan main manisnya. Akan tetapi lagi-lagi gadis ini mengajaknya bertempur lagi. Benar-benar gila! Rupanya entah mengapa, sesungguhnya ia tidak ingin sekali bertempur dengan gadis ini.

“Nona Soan Li....... sudahlah, aku tidak ingin hertempur denganmu. Aku malah minta maaf kepadamu... dan marilah kita habisi di sini rasa penasaran itu!”

“Kalahkan dulu sabukku, perlihatkan ilmu silatmu, o ya.... aku tak ingin kau menggunakan ilmu sihir itu!” Sambil membentak demikian, Soan Li memutar sabuknya.

Akan tetapi baru saja ia hendak menerjang, tiba-tiba berkelebat sebuah bayangan dan berdiri di depan Soan Li dan menegur: “Soan Li sumoay, kau terlalu, pemuda ini sudah begitu mengalah terhadapmu, kau masih saja hendak mendesaknya….., hayo kau ikut aku!”

“Suci…...!” Soan Li terheran melihat gadis yang baru datang itu.

“Sumoay Soan Li marilah ikut aku....... aku memerlukan bantuanmu, marilah sumoay,” Bwe Lan menarik tangan sumoaynya. Soan Li menoleh kepada Kong Hwat.

“Suciku ini jadi biang kerok! Eh, Kong Hwat, lain kali kita lanjutkan!”

Tangan Soan Li ditarik oleh Bwe Lan. Keduanya berlari-lari meninggalkan pemuda itu.

Kong Hwat berdiri bengong, ia menarik napas panjang, bingung memikirkan keadaan hatinya sendiri. Mengapa setelah gadis itu pergi dirasakannya dunia ini menjadi sepi dan hilang semangat.

Ah, bayang-bayang barusan tadi itu masih melekat di kisi-kisi hatinya. Senyum manis berlesung pipit gadis itu, mata berbulu lentik itu, ahh, mulut yang bagus, bibir yang galak dan cerewet. Semuanya itu menyelimuti kulit hati Kong Hwat.

Ia benar-benar sudah jatuh hati kepada murid Bu-tek Sianli itu. Aneh memang cinta tidak mengenal siapa dia. Cinta akan tumbuh bagi siapa saja, dimana saja dan kapan saja! Ah, Kong Hwat! Benar-benar kau sudah jatuh hati kepada gadis itu.

Mengapa kau sekarang melamun, memang di dalam sentuhan-sentuhan cinta itu manusia akan banyak tenggelam ke alam khayalan. Kong Hwat sekarang tengah berkhayal, mengkhayali tentang gadis yang bernama Han Soan Li itu!

Apa kata gadis tadi?

“Kalau kau dapat mengalahkan aku, aku berjanji untuk tidak menangkapmu lagi dan menyerahkan kepada Sian-li-pay, malahan aku bersedia melindungimu dari kemarahan Sianli.......” Ucapan Soan Li masih berdengung-dengung dalam telinga Kong Hwat ketika ia berjalan perlahan di dalam hutan itu. Kini Kong Hwat telah menjadi seorang pemuda yang linglung dalam terombang-ambing asmara.

Cinta, betapa berkuasanya engkau merubah watak seseorang!

Ketika Kong Hwat yang melanjutkan perjalanannya memasuki sebuah rimba belantara, ia berjalan perlahan sambil termenung. Bayangan Soan Li yang selama ini tidak pernah meninggalkan bayangan matanya, kini sangat mempengaruhi otaknya, setelah ia merasa kesunyian seorang diri di dalam hutan yang luas itu.

Bahkan perasaannya seolah-olah ia melihat wajah Soan Li yang sebenarnya muncul di mana-mana, di tempat-tempat mana yang dilaluinya. Tiba-tiba saja wajah yang jelita dan galak itu terbayang disela-sela daun hijau dan di antara kembang-kembang indah.

“Ah, aku sudah menjadi gila!” Kong Hwat mengoceh pada dirinya sendiri, lalu ia menjatuhkan dirinya di bawah sebatang pohon untuk beristirahat.

Akan tetapi makin celaka, setelah ia berhenti dan duduk, bayangan Soan Li makin jelas kelihatan dan makin bertambah hebat mengoda pikirannya! Ia lalu melompat bangun dari duduknya, dan melanjutkan perjalanannya.

Baru saja beberapa tindak ia melangkah, tiba-tiba telinganya mendengar suara orang memanggilnya di belakang: “Saudara Kong Hwat!”

Kong Hwat menoleh ke belakang dan tersenyum lebar.

“Aii, Siang-twako, bikin aku kaget saja!”

“Makanya kau melamun saja sih? Hemm, aku tahu kau melamunin nona dari Sian-li-pay yang galak itu, ya?”

“Ahhh kau bisa saja twako, memang sebenarnya aku kaget kau memanggilku secara mendadak begitu. Eh, kau hendak ke manakah twako.....? Mana kawan-kawan yang lain?” tanya Kong Hwat melihat Ho Siang datang sendirian saja.

“Mereka mengambil jalan masing-masing Kong Hwat-te, baru saja kemaren aku menolong nona Nyuk In yang dikeroyok oleh Bu-tek Sianli dan orang orang Hek-lian-pay, untung aku keburu menolongnya dan membawanya pergi!”

“Ooooo, ke mana sekarang nona Nyuk In yang kau tolong itu, kok nggak bersamamu?”

“Dia pagi tadi sudah berangkat ke kota raja, katanya hendak mencari suhengnya yang bernama si Cambuk Sakti Oey Goan….. Eh Kong Hwat, kulihat kau lesu benar, apa sih yang terjadi sebenarnya denganmu? Dan mengapa kau berada di dalam hutan lebat ini? Tadi belum lama ini aku melihat kau bertempur kalang kabut dengan nona Soan Li dan ia terluka olehmu dan kau menolongnya. Heran!

“Tadinya kau yang terluka dan ditolong oleh nona Soan Li mengeluarkan jarum sianli-tok-ciamnya yang menancap di pundakmu. Eh, mendadak setelah kau siuman gadis aneh itu menyerangmu lagi, mati-matian! Heran Bagaimana ini?”

Sejenak Kong Hwat melongo, kemudian tersenyum maklum dan meloncat ke samping dan memegang tangan Ho Siang, “Wah kiranya kau yang telah membantuku, Siang-twako? Ah, pantas saja begitu mudah aku mendapat kemenangan. Mengapa kau lakukan ini, Siang twako?”

“Hwat lote, ada sebabnya mengapa aku membantumu, seperti juga engkau aku memang sayang kepada Soan Li dan tidak ingin melihat dia tersesat. Dia sebetulnya seorang gadis baik meskipun mempunyai guru atau Pay-cu Sian-li-pay yang amat jahat. Akan tetapi, ternyata gadis gadis Sian-li-pay tidaklah sekejam Pay-cunya.

Waktu muncul Thay-lek-hui-mo dan beberapa orang Hek-lian-pay di hutan itu. Soan Li lah yang membawamu ke tempat ini melarikan diri dari Thay-lek-hui-mo dan di sini ini, kulihat ia menyembuhkan luka jarum di pundakmu. Apa ini dikata jahat? Hemm, menurut tafsiranku....... gadis itu....... merasa suka padamu! Seperti....... maksudku kau juga cinta sama Soan Li, bukan?”

Ditanya begini langsung Kong Hwat merasa seakan-akan diserang tusukan pedang yang langsung menembus jantungnya. Wajahnya menjadi merah sampai ke telinganya dan dengan gagap ia menjawab:

“Aku....... aku tertarik kepadanya.”

“Kau cinta padanya, Hwat-lote?”

“Aku….. aku…. suka.”

“Dan....... cinta padanya?”

Akhirnya Kong Hwat mengangguk. Mukanya merah.

“Nah, karena itu kau harus menangkan dia, lote. Soan Li seorang gadis yang cukup pantas dilindungi. Ia memang berwatak aneh dan akan tunduk jika dapat memenangkannya, karena itu kau harus menang!”

“Dia lihai twako, belum tentu aku dapat menangkannya!”

“Mengapa tidak……. asalkan kau bersungguh-sungguh untuk mengalahkannya, tadi itu kulihat kau banyak mengalah terhadap Soan Li, sedangkan dia mati-matian untuk mengalahkanmu….. Kong Hwat, kau hadapi dia dengan serius….. kau pasti menang!”

“Baiklah…… akan ku usahakan....... mudah-mudahan jika ia tertemu denganku lagi tidak terjadi pertempuran…..” Kong Hwat menarik napas panjang.

Sesungguhnya ia tak ingin bertempur dengan gadis perkasa yang meruntuhkan pertahanan hatinya itu. Kong Hwat tersenyum mengenang Soan Li.

“Hwat-lote....... sekarang hendak kemanakah tujuanmu?”

“Entahlah twako, sebetulnya…… aku tidak mempunyai tujuan….... eh, barangkali aku hendak ke Wu-nian. Aku mempunyai urusan sedikit di sana.......” sahut Kong Hwat pelan.

“Ke Wu-nian? Kabarnya di sana itu tengah terserang bahaya kelaparan dan wabah penyakit di sepanjang sungai Sin-kiang.”

“Justru itu aku hendak ke sana, twako…… Limaribu tail emas yang disumbangkan oleh kaisar sudah kukirim ke Wu-nian dan aku hendak melihat perkembangannya……..”

“Ahhh!” Ho Siang berseru kagum: “Kiranya kau yang telah berhasil menyelamatkan sumbangan kaisar yang kabarnya dirampok orang di kaki gunung Fu-niu tempo hari. Hebat…….! Sumbangan itu kau serahkan kepada siapakah lote?”

“Tentu saja dengan panitia yang mengurus korban kelaparan dan wabah penyakit.”

“Hemm, apakah boleh dipercaya panitia itu? Lote, dalam jaman sekarang ini hati-hatilah mempercayai orang. Kebanyakan manusia hatinya nggak jujur setelah melihat uang, apa lagi limaribu tail emas…... aiiii, bukan sedikit itu!”

Kong Hwat menoleh. Kagetlah hatinya. Ia seakan-akan diingatkan sesuatu dengan bergetar ia berkata: “Celaka twako....... jangan-jangan ahh….., hayo cepat kita berangkat ke Wu-nian, kita selidiki ke sana.”

Ho Siang mengangguk.

Maka berangkatlah kedua orang muda itu menuju Wu-nian. Mereka berlari dengan amat cepat sekali keluar dari hutan lebat ini dan terutama Kong Hwat ia ingin cepat-cepat segera sampai untuk melihat perkembangan panitia korban bencana alam yang dititipkan uang limaribu tail emas itu. Hatinya kuatir kalau-kalau uang yang disumbangkan dari kaisar itu akan habis digerogoti oleh tikus-tikus yang bisa melakukan penyelewengan dan korupsi dan yang mementingkan dirinya sendiri saja!

◄Y►

Kita tinggalkan dulu Ho Siang dan Kong Hwat yang tengah berangkat menuju ke Wu-nian, dan marilah untuk sejenak kita mengikuti pengalaman-pengalaman Nyuk In di Kotaraja yang hendak menemui suhengnya yang bernama Oey Goan itu.

Telah lama ia mendengar akan tindak tanduk suhengnya yang menjadi kepala pengawal perajurit di Kotaraja, dan disamping itu banyak sudah ia mendengar akan perbuatan-perbuatan suhengnya yang berlaku sewenang-wenang dalam memimpin barisannya. Oleh karena selentingan-selentingan itulah ia hendak menyelidiki keadaan suhengnya di Kotaraja.

Sudah barang tentu, nama si Cambuk Sakti Oey Goan sangat dikenal di Kotaraja. Begitu gadis itu bertanya kepada salah seorang penduduk, semua orang dapat mengenalnya.

Hanya yang sangat disayangkan adalah Oey Goan ini jarang sekali bertugas di Kotaraja. Ia sering keluar kota, mengadakan perjalanan keliling meninjau rakyat dan menjaga keamanan!

Siang hari itu, karena udara demikian panas terik, Nyuk In memasuki sebuah rumah makan. Rumah makan Hai-lam cukup besar dan terkenaI di kotaraja. Karena itulah ia memasuki rumah makan. Begitu ia masuk, dengan ramah tamah seorang pelayan menghampiri sambil memberi hormat membungkukkan badannya.

“Silahkan masuk siocia…... silahkan duduk! Hendak memesan masakan apakah? Daging babi sekba, Ayam panggang, Kodok Oh, Baso sapi istimewa, cah ayam.......”

“Baso sapi dan bakmi pangsit saja....!” Nyuk In memesan.

Mengambil tempat duduk di sebelah kiri ruangan. Dilihatnya ruangan itu ada tiga orang lelaki memandangnya. Nyuk In mengalihkan pandangan pura-pura tidak melihat.

Di pojok sebelah sana, tiga meja jauhnya nampak seorang pemuda cakap dengan pedang di punggung, bercakap-cakap dengan seorang wanita muda cantik. Mereka bercakap-cakap amat perlahan sekali.

Akan tetapi tentu saja pendengaran Nyuk In yang tajam dan terlatih ia dapat juga mendengar pembicaraan dua orang muda itu. Nyuk In pura-pura tidak melihat, akan tetapi ia memasang telinga!

“Biauw Eng, kau hendak pergi ke Wu-nian, apakah tidak dicari oleh ayahmu?” tanya pemuda di depan wanita yang dipanggil Biauw Eng itu. Dan matanya tajam.

“Hok Sun, aku harus ikut kau. Biar aku tinggali surat saja kepada ayah!”

“Nanti ayahmu marah Biauw Eng, lebih baik kau tak usah ikut, ketahuilah, tugasku amat berat. Aku hendak meninjau Wu-nian dari dekat dan sekalian hendak membawa barang kiriman dari ayah, kalau kau ikut, mana ayahmu mengijinkan?”

Pemuda yang bernama Hok Sun mengangkat sumpitnya. Makan bakmi dengan tenang dan gadis yang Biauw Eng nampak merasa penasasaran dan kurang senang.

“Hok Sun! Pokoknya aku ikut kau.”

“Kau memang keras kepala Biauw Eng, terserah padamulah pokoknya kalau ayahmu marah, aku tidak tanggung jawab, bukan aku yang mengajakmu, tapi engkau yang memaksa untuk ikut!”

“Aku yang bertanggung jawab. Hendak kulihat Wu-nian yang dikabarkan orang amat menyedihkan itu…. Hok Sun, aku mendengar kabar, katanya sungai Sin-kiang kuning airnya........ ikan-ikan pada mati, akan tetapi jauh di sebelah selatan katanya dusun-dusun menjadi telaga karena digenangi air dan hujan turun terus menerus.......

“Hemm, alangkah menyedihkan sekali Tiongkok masa kini....... Sayang Hong-siang (Kaisar) tidak mau meninjau hanya mengirim sumbangan-sumbangan saja. Akan tetapi anehnya wabah penyakit dan kelaparan masih terus merajalela tak ada habis-habisnya!

“Sstt....... Eng-moay, bicara jangan sembarang. Tidak boleh kita menyinggung-nyinggung Hong-siang, kalau ada orang jail mendengar dan melapor bisa celaka kita!” Hok Sun memasang telunjuk di bibir.

Sementara tiga orang laki -laki yang duduk di meja sebelah depan, salah seorang di antaranya menggebrak meja: “Lalat-lalat hijau membisingkan telinga saja. Diam! Jangan mengoceh melulu! Disini rumah makan, untuk makan bukannya untuk mengobrol!”

Nyuk In menoleh ke belakang. Dilihatnya, yang membentak tadi adalah seorang laki-laki muka hijau, rambutnya diikat, golok di atas meja melintang. Matanya melotot lebar memandang kedua orang muda yang duduk di meja ketiga.

Keruan saja Biauw Eng dan Hok Sun menoleh.

“Hem, kiranya tiga orang kasar dari Huang-ho nyasar ke sini, mau apa dia?” Biauw Eng berkata kepada Hok Sun. Akan tetapi Hok Sun tidak mau mencari ribut cuma memberi isyarat saja dengan kedipan mata.

Si muka hijau menjadi panas. Dengan kasar sekali ia menarik bangku sehingga nenimbulkan suara berderit keras dan tiba-tiba tangannya terangkat. Bangku itu meluncur cepat menyambar Hok Sun yang membelakanginya. Pelayan-pelayan dan tamu-tamu hadir di situ terkejut dan berteriak ngeri.

Nyuk In melirik. Dan alangkah terkejut dan herannya semua orang melihat betapa bangku yang tadi meluncur keras menimpa belakang pemuda itu, kini bagaikan ada daya sedot yang luar biasa, bangku bunder itu menancap di punggung Hong Sun. Pemuda ini menoleh dan berkata kepada tiga orang di belakangnya.

“Sobat, baik sekali hatimu memberikan satu bangku untuk duduk. Akan tetapi sayang matamu, barangkali sudah buta, tidak melihat bahwa aku sudah mendapatkan tempat duduk mengapa harus memakai bangku dua, biar kukembalikan kepadamu!”

Dengan menggerakkan tubuh sedikit, bangku yang tadi menempel di punggungnya terlepas dan bagaikan peluru kendali meluncur menyambar si muka hijau. Amat cepat sekali luncuran bangku itu sehingga tak keburu si muka hijau menangkis, mulutnya tersambar kaki bangku dan keruan saja mengeluarkan kecap.

Sambil mengusap mulut yang berdarah si Muka Hijau membentak marah, “Setan! Berani kau menghadapi Sam-hauw-huang-ho? Aku Ong Lun, si Harimau muka Hijau yang telah malang melintang di sepanjang sungai Huang-ho, kini menghadapi lalat-lalat hijau seperti kau ini, hem, biarlah kepalanku yang memberi hajaran kepadamu!”

Si Harimau Muka Hijau Ong Lun melangkahkan kakinya dan kepalan tangannya yang berat penuh bulu itu menyambar ke arah si pemuda, akan tetapi entah bagaimana caranya, tahu-tahu terdengar suara “Ngek!” dan tubuh Ong Lun yang tinggi besar terlempar dan memegangi perut yang terasa melilit kepingin berak.

Ong Lun jadi meringis. Matanya jelalatan dan tiba-tiba dengan berlari cepat ia memasuki rumah makan. Keruan saja para pelayan menjadi panik hatinya. Akan tetapi begitu si Harimau Muka Hijau Ong Lun menerjang pintu kakus yang tertutup dan mendengar suara keras yang memberobot, keruan saja pelayan-pelayan di situ jadi tertawa sambil memegangi hidungnya!

Dua orang teman si Muka Hijau berdiri saking marahnya. Si gemuk pendek yang bertubuh seperti buntalan bak-pao, mengangkat goloknya dan maju menghampiri Hok Sun.

“Tidak kenal dengan kami?” Si gemuk pendek menepuk dadanya. Melotot memandang Hok Sun. Akan tetapi Biauw Eng telah menggebrak meja sambil membentak, “Kalian ini gendut pendek hendak berlagak di sini, hendak mencari mampus, hayo pergi!”

Begitu tangan gadis itu menepuk pinggiran meja, lima pasang sumpit kayu meluncur cepat menyambar si gendut pendek yang menjadi gelagapan memutar goloknya menangkis serangan-serangan sumpit terbang yang lihai itu. Hebat sekali gerakan golok si gendut pendek ini, begitu golok diputar terdengar suara mengaung dan sumpit-sumpit terpotong dua tersambar golok yang amat tajam itu.

Akan tetapi saking kerasnya tangkisan golok si gendut itu, beberapa potong sumpit yang terbelah dua mental dan meluncur cepat ke arah temannya, satu batang mengemplang si teman itu dan satunya lagi dengan kerasnya memukul batang hidung yang bengkok itu. Amat kerasnya sambaran potongan sumpit itu menyambar hidung bengkok, sehingga dari dalam hidung itu keluar kecap melele mengalir ke sela-sela kumis yang jarang dan kaku, kaya kawat berduri itu.

Tentu saja si Hidung Bengkok menjadi marah bukan main. Sekali tangannya bergerak, tiga buah piauw (pisau terbang) menyambar si gadis. Akan tetapi Biauw Eng dengan kecepatan luar biasa telah mengangkat tangan kirinya dan menjepit tiga buah pisau terbang yang meluncur ke arahnya.

“Ah, pisau pemotong lalat saja diunjuk-unjuki kepadaku, terimalah!” terdengar suara mendesing. Tiga buah pisau terbang menyambar ke arah si hidung bengkok. Si Hidung bengkok terkejut sekali, cepat ia membuang diri ke belakang dan bergulingan.

Tiga buah piauw meluncur di atas kepalanya dan menancap dalam pada tiang penglari. Pisau itu bergoyang-goyang saking kuatnya!

Akan tetapi secara kebetulan sekali si Hidung Bengkok bergulingan dekat meja Nyuk In. Dengan cepat sekali kaki gadis itu menendang mencongkel, dan tubuh si hidung bengkok melayang keluar dan kepalanya beradu dengan patung singa-singaan yang memang sengaja dipasang sebagai hiasan di muka pintu masuk rumah makan itu. Keruan saja kepala yang membentur patung batu itu mengeluarkan jendol sebesar telur bebek.

Dengan menggereng seperti harimau terluka, si Hidung Bengkok berdiri dan mengangkat patung batu singa-singaan itu sampai di atas kepalanya. Dan melempar ke arah gadis yang membelakangi itu!

Melihat ini Hok Sun dan Biauw Eng hampir saja mencelat hendak menyambar batu yang menimpah kepala gadis itu. Akan tetapi, ke dua orang muda itu tertegun melongo melihat batu singa-singaan yang besar dan berat itu kini berdiri tertahan di bawah sebatang sumpit di tangan si gadis.

Dengan tersenyum mengejek Nyuk In menoleh keluar dan berkata, “Hidung bengkok, kurang ajar sekali kau mengganggu aku yang sedang makan. Minggatlah kau dari sini!”

Batu singa-singaan itu berputar-putar di atas sebatang sumpit dan dengan cepat sekali meluncur ke arah si Hidung Bengkok yang sudah siap siaga memasang kuda-kuda menyambut datangnya luncuran batu itu.

Begitu batu itu ditangkapnya, ia terjengkang ke belakang, dadanya tertindih batu dan untuk beberapa lama muntahkan darah segar. Melihat kawannya yang hampir semaput ini, si gendut pendek cepat meloncat keluar dan mengangkat batu singa-singaan yang menindih temannya.

Sementara itu dengan wajah pucat, si muka Hijau keluar dari dalam rumah makan sambil memegangi perut dan berkata, “Kalian orang-orang muda yang hebat, kami Sam-hauw Huang-ho mengaku kalah, akan tetapi kami mengundang kedatangan kalian di Kotaraja di kelenteng Sung-thian-hok nanti sore!”

Habis berkata kemudian, bagaikan ular kena penggebuk, ketiga orang yang dijuluki Tiga Harimau Sungai Huang-ho mengangkat pantatnya dan pergi meninggalkan rumah makan itu!

Hok Sun dan Biauw Eng kagum sekali melihat demontrasi lwekang yang tadi dipertunjukkan oleh gadis yang di meja sebelah sana itu. Cepat Hok Sun dan Biauw Eng menjura sambil berkata, “Lihiap (pendekar wanita) yang gagah, terimakasih atas bantuanmu mengusir si Hidung bengkok barusan!”

Nyuk In tersenyum dan membalas mengangkat ke dua tangannya. “Sama-sama....... kalian juga hebat dan luar biasa… entah siapa jiwie enghiong (tuan muda yang gagah) ini!”

“Namaku Hok Sun she Lim, dan ini temanku Sie Biauw Eng, puteri tayjin Sie Teng.......” memperkenalkan Hok Sun.

“Oo, kiranya aku berhadapan dengan saudara Hok Sun dan nona Biauw Eng yang gagah, perkenalkanlah namaku Cung Nyuk In. Hemm, kalian tadi ditantang oleh tiga lalat hijau itu untuk ke kelenteng Sung-thian-hok nanti sore bukan?”

“Ahh, tiga orang tadi memang tidak tahu diri, nona Nyuk In, mungkin mereka hendak memanggil teman-temannya untuk membalas kekalahannya ini,” sahut Hok Sun.

“Tiga orang tadi sungguh menyebalkan. Nggak tahu diri!” Biauw Eng memaki. Merengut!

“Biar nanti sore aku juga hendak melihat-lihat di kelenteng Sung-thian-hok, sekarang aku permisi,” Nyuk In menjura. Meletakkan beberapa potong perak di meja. Bangkit berdiri.

“Sampai kita berjumpa,” kata Nyuk In.

Akan tetapi Biauw Eng menghampiri berkata, “Nyuk In cici, hendak ke manakah kau….. mampirlah ke rumahku dulu.......!”

“Terima kasih Biauw Eng, aku sudah pesan tempat di sebuah penginapan di kota ini. Biarlah lain kali aku singgah dirumahmu.”

“Ahh, nona pakai sungkan-sungkan. Bermalamlah di rumah Biauw Eng kawanku ini rumahnya besar dan banyak kamar, mengapa sewa kamar penginapan?” Hok Sun berkata.

“Terimakasih, nanti sore kita bertemu lagi!” sehabis berkata demikian, Nyuk In berkelebat dan tahu-tahu telah lenyap di tempat itu.

Hok Sun jadi bengong dan heran, tanpa disadarinya mulutnya berkata: “Hebat, gadis itu…… entah murid siapakah dia……” Akan tetapi ia menghentikan kata-katanya begitu menoleh, dilihatnya wajah Biauw Eng sebentar pucat sebentar merah, merengut!

“Maafkan aku Eng-moay……!” Hok Sun menyatakan penyesalannya.

“Memang kau mata keranjang. Bertemu wanita cantik memuji, merayu dan……. ahh, menyebalkan!”

“Em, e, e, kok marah…… jangan cemburu dong.”

“Siapa yang cemburu, memang kau mata hidung belang!”

“Maafkan aku Eng-moay…….!”

“Sudahlah, aku mau pulang dulu,” nada suara Biauw Eng nampak kesal dan gemetar.

Mereka berdua meninggalkan rumah makan itu

Hok Sun berjalan di samping Biauw Eng tak henti-hentinya membujuk supaya itu tidak marah-marah lagi. Akan tetapi Biauw Eng masih marah-marah ia ketika ia memasuki rumahnya dan membantingkan diri di kamar, membenamkan dirinya dalam tangis yang tak bersuara.

<>

Siapakah Hok Sun dan Biauw Eng?

Para pembaca pernah sekali saja diperkenalkan dengan gadis yang bernama Biauw Eng ini. Waktu itu Biauw Eng dan ayahnya yang bernama Sie Tek Peng masih tinggal di sebuah dusun Ting-ling-bun yang minus dan tengah terancam bahaya kelaparan.

Orang tua she Sie ini, sejak kedatangan mendiang Swie It Tianglo yang menegur karena pemerasan terhadap orang-orang dusun yang miskin, sejak itu ia mengundurkan diri dan pindah ke kotaraja. Karena orang she Sie ini banyak uang, sebentar saja ia sudah berpengaruh di Kotaraja dan dengan jalan menyogok seorang pembesar atasan ia berhasil mendapat sebuah kedudukan dan bekerja di sebuah perpustakaan di Istana Kaisar.

Tentu saja sebagai seorang kutu buku, orang she Sie ini gemar sekali membaca cerita-cerita sejarah Tiongkok kuno. Pada suatu hari ia membawa sebuah buku kuno, akan tetapi karena ia tidak mengerti ilmu silat maka buku kuno itu disimpannya di rumahnya. Kebetulan diketemui oleh Biauw Eng, anaknya dan dibacanya.

Ternyata buku kuno itu adalah kitab pelajaran silat.

Maka dengan diam-diam Biauw Eng mempelajari isi kitab itu di dalam kamarnya. Ia melatih diri dengan cara bersiulan dan melatih pernapasan. Baru setelah tiga bulan kemudian ia sampai pada pergerakan tangan dan kaki bersilat tangan kosong.

Alangkah sukarnya bersilat tanpa bimbingan seorang guru. Beberapa kali ia melakukan gerakan yang salah dan berlainan. Kesal sekali hati gadis ini. Akan tetapi tekadnya yang besar untuk bisa bersilat, ia terus melatih diri di dalam kamarnya.

Dan berkat kesabaran dan ketekunan yang luar biasa inilah akhirnya Siauw Eng berhasil menguasai kitab pelajaran dari ilmu silat yang terdapat dalam kitab kuno itu.

Pada suatu malam yang dingin, tatkala semua orang sudah masuk ke dalam kamarnya dan bersembunyi di balik selimut tebal dan melelapkan diri dalam tidur yang nyenyak, Biauw Eng masih berada dikamarnya sedang bersiulan. Meskipun ia nampak seperti orang tertidur akan tetapi perasaan dan pendengarannya yang tajam dapat menangkap gerakan-gerakan kaki di atas genteng rumahnya.

Dengan cepat ia meniup lampu dan dari jendela ia melompat ke atas genteng. Sesosok bayangan berkelebatan dari genteng ke genteng lainnya dan berhenti di genting rumah yang paling tinggi. Orang itu celingukan sebentar tiba-tiba ia melayang turun. Memasuki sebuah kamar dari jendela yang didongkel.

Biauw Eng menanti orang yang berkerudung hitam mukanya itu. Ia mendekam di balik wuwungan rumahnya. Pada saat itu sebuah gerakan yang amat gesit berkelebat pula bagaikan seekor walet, bersembunyi. Biauw Eng terkejut sekali melihat bayangan putih itu. Akan tetapi ia menahan diri!

Tidak lama kemndian sesosok bayangan hitam melayang ke atas genting dengan gerakan yang luar biasa gesitnya. Bayangan itu bertubuh langsing dan agak tinggi kurus, pakaiannya tertutup jubah hitam dan pada mukanya terdapat kerudung hitam yang terbuat dari pada sutera hitam yang menutup bagian muka sampai di bawah mata.

Matanya yang tidak tertutup berkilat-kilat tajam melirik ke sana ke mari. Di punggungnya nampak gagang sebuah pedang. Dan pada saat itu ia menggendong dua buah kantong kain kuning yang besar dan berat.

Sebuah bayangan putih yang tadi bersembunyi di balik wuwungan berkelebat menyambar buntalan kuning sambil membentak. “Maling hina, serahkan barang curian itu!”

Dari balik kerudung itu terdengar suara dengusan halus, matanya tajam menyambar bayangan yang berkelebat menyambar buntalan pada punggungnya. Dengan sedikit mengegoskan diri ke samping pemuda baju putih itu menyambar cengkraman angin.

“Tangkap! Tangkap maling…..” dari arah bawah terdengar teriakan beberapa orang penjaga gedung Lim-wangwe yang memiliki kepandaian silat tinggi mengejar ke atas genteng dengan pedang dan golok di tangan.

Akan tetapi, bayangan hitam di atas genteng itu amat lihay dan luar biasa. Begitu penjaga-penjaga meloncat ke atas genteng, tiba-tiba tangan bayangan hitam itu bergerak dan angin besar berdesir menyambar dan keruan saja tiga orang penjaga terpelanting saking kuatnya angin pukulan itu.

Biauw Eng melompat dan membentak, “Maling hina, lihat pedang!”

Bayangan hitam itu menoleh sejenak dan tertawa lirih. Terkejut sekali Biauw Eng mendengar suara tawa dari balik kerudung hitam Itu. Suara tawa seorang wanita yang nyaring dan bersih.

“Ahh, kiranya kau maling perempuan! Hayo menyerah dan berlutut di depanku!” Sinar pedang berkeredepan menyambar bayangan hitam, akan tetapi dengan sekali menggeserkan kakinya, bayangan hitam itu sudah terluput dari serangan pedang Biauw Eng.

Baru saja ia hendak mencelat pergi, sesosok bayangan putih sudah menerjangnya dengan pukulan dahsyat dari tangan kiri sedangkan pedang di tangan kanan menyambar luar biasa cepat dan kuatnya. Terkejutlah bayangan hitam itu. Dengan gerakan cepat tangannya telah mencabut pedang dan memekik keras menerjang kedua orang muda yang lihai ini.

Sementara itu penjaga-penjaga di bawah telah memasang obor.

Sinar terang menerangi ke atas. Biauw Eng dapat melihat sinar mata yang tajam dan tubuh yang langsing dari maling wanita ini. Ia mainkan pedangnya demikian dahsyat, sedangkan tangan kirinya menggunakan pukulan ilmu silat kong-ciak-sin-na yang ia dapat pelajari dari kitab kuno ini.

Ketiga orang yang bertempur di atas itu hebat dan seru, nampaknya berimbang. Apalagi kini setelah ruangan di atas genting itu sudah menjadi terang benderang oleh para penjaga yang memasang obor.

Lim Wan-gwe dan keluarganya menjadi kaget dan heran bukan main melihat wanita muda yang luar biasa yang bermain pedangnya itu. Ia mengenal betul puteri Sie Tek Peng ini, tidak disangkanya puteri Sie-tayjin yang lemah lembut dapat memainkan ilmu pedang demikian lihai.

Seorang pemuda baju putih juga lihai ilmu pedangnya. Ia mendesak hebat kepada maling perempuan yang hebat luar biasa ini. Pada saat maling wanita mengeluarkan jeritan aneh dan menggeletar-geletar, lemaslah tubuh Biauw Eng dan pemuda baju putih itu.

Inilah pengerahan sin-kang tingkat tinggi yang luar biasa dan dua sosok bayangan berkelebat menyerbu Biauw Eng dan pemuda baju putih, salah satu bayangan hitam yang juga berkerudung, itu berseru nyaring, suara wanita merdu, “Suci…… lekas lari!”

Mendengar suara ini, maling wanita yang membawa buntalan kuning di punggungnya meloncat cepat dan dua orang penjaga, cepat mengeluarkan piauwnya, lalu menggerakkan tangan mereka. Empat batang piauw ke arah punggung maling wanita yang melarikan diri itu.

Akan tetapi sungguh mengagumkan. Tanpa menoleh lagi bagaikan punggungnya bermata yang melihat datangnya senjata-senjata rahasia itu, bayangan hitam itu mengelak ke samping dan ketika sebatang piauw menyambar dekat, ia gerakkan tangan kanannya menangkap piauw itu tanpa melihat. Betapa tinggi ilmu silatnya dan ketajaman pendengarannya!

Dua bayangan hitam yang lainnya, juga terdiri dari wanita-wanita yang memiliki tubuh langsing dan kecil, menggerakkan pedangnya dan sekali ia melompat jauh dan menghilang di dalam gelap! Para penjaga masih mencoba dan mencari-cari, akan tetapi ketiga bayangan hitam itu sudah lenyap dari pandangan mata.

Biauw Eng hendak meloncat pergi, tetapi pemuda baju putih sudah menghadangnya, menjura, “Terima kasih atas bantuanmu nona!”

Biauw Eng hanya mengerling sebentar dan mencelat pergi.

Demikianlah sejak malam itu, Sie-tayjin telah mengetahui bahwa anaknya pandai bermain silat. Dan seluruh pembesar-pembesar istana mengetahui bahwa Biauw Eng mempunyai ilmu pedang yang hebat dan luar biasa.

Dan pemuda baju putih itu, adalah Lim Hok Sun, putera Lim Wangwe. Ia adalah murid seorang tokoh sakti Bu-thong-pay perantauan. Dan karena gin-kangnya tinggi ini, dan kepandaian yang luar biasa maka orang muda ini dijuluki Hui-eng (si Garuda Terbang) Lim Hok Sun.”

Demikianlah, sejak pertemuan malam itu, Biauw Eng dan Hok Sun menjadi kawan yang akrab dan secara diam-diam, gadis puteri Sie Tek Peng ini menaruh hati kepada Hok Sun, si Garuda Terbang.

Pada sore hari itu Hok Sun menyamperin Biauw Eng untuk menepati janji atas undangan tiga orang Sam-hauw-huang-ho di kelenteng Sung-thian-hok.

Sore hari itu agak sedikit mendung, udara sejuk dan agak basah. Biauw Eng dan Hok Sun melarikan kudanya keluar Kotaraja dengan cepat dan membedal kudanya. Sebetulnya tadi itu diam-diam Hok Sun mencari nona Nyuk In yang katanya tinggal di hotel. Akan tetapi ternyata gadis yang dicarinya itu sudah berangkat!

Memang Nyuk In sudah berangkat. Ia cepat-cepat mencari keterangan letak kuil kelenteng Sung-thian-hok. Kelenteng tua yang letaknya seratus lie dari pintu gerbang Kotaraja. Dalam waktu setengah jam saja ia berlari cepat menggunakan gin-kangnya, ia telah sampai di halaman depan kelenteng yang nampaknya tidak terurus. Sangat sepi sekali suasana di tempat ini. Nyuk In berhati-hati dan waspada!

Akan tetapi, baru saja ia menginjak pintu depan kelenteng itu, tiba-tiba menyambar berpuluh-puluh anak panah mengeluarkan suara mendesing keras. Nyuk In menggerakkan pit dan kipas tahu-tahu duapuluh batang anak panah telah runtuh di tanah!

Tiba-tiba berkelebat bayangan dan tahu-tahu di depan kelenteng tua itu sudah berdiri tiga orang Sam-hauw-huang-ho yang tadi dikenalnya di sebuah rumah makan di Kotaraja. Dan di belakang mereka nampak berdiri banyak orang yang dilihat dari cara pakaiannya seperti bajak laut. Tahulah gadis itu bahwa lawan-lawannya ini tentu golongan bajak dan perampok-perampok jahat.

“Ha ha ha, selamat datang nona cantik, ternyata kamu menepati janji yang bagus! Akan tetapi kenapa kau datang sendiri mana dua orang lalat hijau itu?” Salah seorang dari Sam-hauw-huang-ho, yang bertubuh gendut pendek bertanya sambil tertawa mengejek.

Nyuk In maju selangkah, kipas hitamnya bergerak terbuka.

“Tidak perlu dengan dua orang muda yang gagah perkasa itu, cukup nonamu ini yang akan mengobrak-abrik kumpulan kalian yang jahat dan mengganggu rakyat saja, eh, Sam-hauw-huang-ho, apakah kalian ini pemimpin bajak laut?” Nyuk In bertanya. Pit dan kipas di tangan kanan dan kiri melintang.

Terdengar suara nyaring dan keren dari dalam kelenteng. “Ha ha ha! Gagah juga kau….. sombong dan tak tahu diri tidak melihat tingginya gunung dan dalamnya laut. Hayo berlutut kau!” bentakannya nyaring itu diiringi berkelebat sesosok tubuh dan tahu-tahu telah berdiri di depan Nyuk In, dan tersentak kaget melihat kipas dan pit di tangan gadis itu.

“Ahhh....... apakah kau…… gadis yang pernah berkunjung ke Sian-li-pay belum lama ini?” gadis berkerudung hitam itu bertanya keren. Nyuk In dapat melihat tatapan pandangan mata yang tajam dan berwibawa dari gadis yang berkerudung hitam itu.

“Betul. Aku Cung Nyuk In, pernah mendapat kehormatan datang ke pulau Bidadari akan tetapi siapa sangka gadis cantik di sana tidak bisa menghormati tamu, sehingga banyak tamu yang datang tidak betah tinggal di sana karena nenek galak itu!”

“Keparat kau menghina Pay-cu, mampuslah kau!” Suara pedang ditarik terdengar berdesing.

Tiga orang Sam-hauw Huang-ho berkata hormat sambil menjura. “Harap Sianli bersabar, biar kami yang memberi hajaran kepada gadis lancang mulut ini!”

Gadis kerudung itu mendengus. Membiarkan tiga orang harimau Huang-ho ini maju. Ia sendiri menonton. Ia melihat tiga orang harimau Huang-ho telah maju menerjang Nyuk In dengan golok dan pedang. Akan tetapi dengan enaknya saja Nyuk In mengelak ke kiri dan menggerakkan pitnya memutar menangkis golok. Terdengar suara keras dan bunga api memercik kecil-kecil dan si gendut pendek yang memegang golok terkejut hatinya merasa telapak tangannya perih dan hampir saja goloknya terlepas dari pegangan tangannya.

Ia menggereng marah. Si Hidung Bengkok menggerakkan tangannya dan tiga buah pisau terbang menyambar amat cepat mengarah dada si gadis.

Melihat kekejaman Si Hidung Bengkok ini, Nyuk In menjadi marah. Kipasnya bergerak mengebut dan tiga buah pisau terbang yang menyambarnya mental kembali dan meluncur ke arah si penyambit.

Terdengar suara jeritan ngeri waktu pisau itu tepat menyambar leher si Hidung Bengkok. Untuk sesaat orang itu berkelojotan dan napasnya telah putus.

Gadis kerudung hitam terkejut sekali melihat kelihaian gadis berkipas hitam ini. Dengan cepat dilepaskan burung pos yang membawa tulisan tangannya. Burung itu terbang tinggi dan sebentar itu pula lenyap dalam pandangan mata. Memang gadis-gadis Sian-li-pay ini memakai burung pos sebagai penghubung memanggil bala bantuan.

Melihat si Hidung bengkok sudah mati. Dua orang Sam-hauw-huang-ho menjadi marah. Mereka menerjang maju, diikuti dengan kawanan bajak yang berjumlah sekitar duapuluh orang itu. Dan sebentar saja Nyuk In sudah dikeroyok oleh puluhan bajak laut yang berkepandaian cukup tinggi itu.

Tentu saja merasa dirinya dikeroyok oleh puluhan bajak ini ia menjadi marah dan sambil mengeluarkan lengkingan tinggi gadis itu mainkan kipas hitamnya dan pit di tangan kanan dengan amat hebat luar biasa. Tiap kali kipas itu dikebut, nampak angin besar menyambar kuat sekali membuat beberapa orang bajak yang di dekatnya terpental jatuh dan disusul oleh gerakan pit menotok orang itu.

Amat cepat sekali gerakan gadis ini, sehingga bagi pandangan mata biasa sukarlah mengikuti pergerakan kipas dan pit di tangan kanan dan kiri gadis itu. Begitu pit bergerak, terlihat beberapa orang bajak roboh dan dalam keadaan tertotok. Sebentar saja di tempat itu ada sekitar sepuluh orang bajak yang berkepandaian tak begitu tinggi telah menggeletak tersambar kipas dan totokan pit!

Biarpun Nyuk In lihay dan luar biasa sekali gerakan-gerakan kipas pit di tangan kanan dan kiri itu, akan tetapi dikeroyok oleh limabelas orang-orang bajak yang berkepandaian tinggi ini, ia menjadi repot juga. Sedikit saja ia lambat atau lengah, niscaya tubuhnya akan hancur tersayat pedang dan golok yang berkelebat saling berganti dan bertubi-tubi itu!

Sementara di atas awan hitam memberat hendak hujan. Angin bertiup dengan amat kerasnya menggoyangkan pepohonan dan merontokkan daun-daun yang bertebaran jatuh di tanah dan melayang lagi tertiup angin.

Nyuk In mainkan pit dan kipasnya dengan cepat dan tubuhnya berkelebatan ke sana ke mari dengan amat cepat. Pada saat itu, terdengar suara bentakan nyaring dengan diiringi melayang sesosok tubuh yang telah terjun ke dalam pertempuran itu dan menggerakkan pedangnya.

Tiga orang bajak laut yang tidak menduga-duga akan serangan dari orang yang di belakang ini, menjadi terkejut bukan main. Cepat mereka membuang diri ke samping menghindarkan samberan pedang yang dapat ditangkap oleh pendengaran telinganya itu.

Akan tetapi betapa kaget hati mereka ketika sebuah angin pukulan menyambarnya dengan cepat. Tak keburu mereka mengelak, terpaksa mereka mengangkat tangan menangkis.

“Dess!” Tubuh tiga orang itu terlempar jauh dan mati pada saat itu juga. Biauw Eng menggerakkan pedangnya lagi, dan matilah salah seorang yang tak keburu menghadapi sambaran pedang yang aneh dan amat cepatnya itu.

Hok Sun yang telah sampai di situ menjadi kaget setengah mati melihatkan keganasan Biauw Eng ini. Iapun maju menerjang mendekati gadis itu sambil berkata: “Eng-moay, jangan sembarangan membunuh!”

“Tidak perduli,” sahut gadis itu dengan suara masih agak ketus dan marah.

Memang entah mengapa gadis ini masih kesal hatinya kepada pemuda ini. Hatinya merasa panas seperti dibakar ketika tadi melihat Nyuk In telah berada di kelenteng ini, malah iapun segera menghadapi musuh-musuhnya dengan gagah perkasa.

Ia menjadi panas, seakan-akan gadis itu hendak memamerkan kepandaian di depanku, pikirnya. Oleh sebab itulah begitu ia muncul, dalam segebrakan itu ia telah membunuh tiga orang bajak yang tak keburu menangkis pukulannya.

Kedatangan dua orang ini, membuat dua orang Sam-hauw-huang-ho menjadi keder hatinya. Apalagi menghadapi gadis yang baru datang ini ilmu pedangnya aneh dan kuat, lama kelamaan si gendut yang pendek sangat terdesak, dan dengan permainan goloknya menjadi kacau. Bentakan-bentakan Biauw Eng ini membuat permainan goloknya menjadi lemah.

Pada saat itu ia menerjang membacok, Biauw Eng mencelat ke atas dan sekali menggerakkan kakinya menendang, golok di tangan si gendut pendek terlepas dari pegangannya. Dan menyusul tendangan kedua dari gadis itu dengan sengitnya membuat si gemuk pendek terjengkang, pedang Biauw Eng berkelebat menyambar.

“Ceepp!” Darah merah muncrat dari dada si gemuk pendek itu, mulutnya menggereng seperti babi disembelih, kemudian ia terkulai lemah dan matilah ia dengan mata melotot menakutkan.

Hok Sun kaget sekali melihat keganasan gadis ini, berkali-kali ia mencegah Biauw Eng, semakin dicegah semakin bernapsu gadis ini untuk membunuh lawannya!

Nyuk In juga melihat keganasan gadis yang baru datang itu. Akan tetapi ia tidak bilang apa-apa. Memang sudah sepatutnya bajak-bajak laut ini mampus! Pikirnya. Kipasnya menyambar menampar dan orang ketiga dari Sam-hauw-huang-ho yang bernama Ong Lun itu terjengkang dan menyusul pit panjang menotok robohkan orang bajak itu.

Sebentar saja habislah duapuluh tiga bajak-bajak laut itu berikut tiga orang yang berjuluk Sam-hauw-huang-ho. Ong Lun yang tertotok tak dapat bangun itu memandang gadis berkipas dan memaki kalang kabut. “Kalian….. bertiga sudah membasmi bajak-bajak laut, awaslah kau….. Hay-ong-pang tidak akan membiarkan penghinaan ini, sebentar lagi Hay-ong-pangcu akan membunuh kalian…. Ahhgg.”

Pedang Biauw Eng menyambar leher orang yang tengah memaki itu. Keruan saja Ong Lun tak dapat meneruskan kata-katanya dan lehernya putus tersambar pedang.

Hok Sun kaget sekali melihat keganasan Biauw Eng. Ia menoleh, pandangannya menegur gadis yang menatapnya, pula menantang.

“Kenapa kau tidak senang ia kubunuh-bunuhi mereka semua!” Biauw Eng menyatakan kemengkalan hatinya.

Hok Sun menarik napas panjang. “Bukan aku tidak senang Eng-moay….., akan tetapi tidak seharusnya kau menjatuhi tangan maut kepada mereka.”

“Ooo….. jadi kau tidak senang? Apakah perbuatanku membunuhi mereka ini kau anggap salah? Mereka bajak laut, mereka jahat…… sudah seharusnya kubunuh! Kau mau apa?”

Akhirnya Hok Sun bo-hwat atau kehabisan akal, menghadapi gadis ini, dia tahu kalau Biauw Eng sedang marah seperti itu, tak boleh diganggunya. Akan tetapi yang membuat ia heran, mengapa gadis ini masih marah terhadapnya?

Padahal ia telah minta maaf tadi siang, hemm, begitu besarkah cemburu Biauw Eng terhadapnya….. berdebar dada Hok Sun. Akan tetapi ia tidak meladeni gadis ini.

Waktu ia menoleh dilihatnya Nyuk In sudah berhadapan saling pandang dengan gadis kerudung hitam seakan-akan dengan pandangan masing-masing mereka mengukur tingkat kepandaiannya. Tiba-tiba terdengar suara mendesing keras. Pedang di tangan gadis kerudung hitam ke luar dari sarung dan tanpa berbicara apa-apa lagi ia menerjang gadis di depannya yang telah siap dengan kipas dan pit di tangan!

“Bagus!” kata Nyuk In yang segera meloncat ke belakang menghindarkan sambaran pedang gadis kerudung hitam yang mengeluarkan suara mendesing saking kuatnya, segera ia ayunkan tangan kirinya membalas. Sebuah angin pukulan yang keluar dari kipas hitam bergelombang menyambar dada si gadis kerudung hitam yang dapat berkelit dengan baik pula!

“Rasakan ini!” bentak gadis kerudung hitam itu dan ketika tangan kirinya terayun puluhan jarum halus menyambar mengeluarkan angin lembut.

Menghadapi serangan senjata rahasia yang berbahaya ini, Nyuk In memperlihatkan kepandaiannya. Ia tahu bahwa ia tak dapat berkelit, maka ia menggunakan kipasnya mengebut hingga beberapa jarum yang menyambar tuhuhnya dapat dipukul runtuh.

“Lihai!” Gadis kerudung hitam itu memuji dari balik kerudung yang menutupi mukanya tapi kini ia berada dekat dan menyerang dengan pedangnya.

Nyuk In menangkis dengan pit di tangan kanan dan balas menyerang. Hebat sekali kepandaian gadis kerudung dari Sian-li-pay ini dengan mengandalkan gin-kangnya yang tinggi dan ilmu pedangnya yang luar biasa itu, ia dapat menghadapi serangan Nyuk In yang bersenjata kipas hitam dan pit ini. Hanya kadang-kadang ia terhuyung-huyung apabila kipas hitam di tangan gadis yang lihai itu membentur pedangnya.

Memang dalam hal tenaga lwekang rupanya gadis kerudung hitam ini kalah setingkat dengan Nyuk In! Hanya mengandalkan kelincahan tubuhnya inilah gadis kerudung hitam ini berhasil menghindarkan serangan pit yang lihai dan pukulan yang mengeluarkan tenaga dahsyat itu.

Gadis kerudung itu berkelebat ke sana ke mari di atas serangan ujung pit yang menyambar-nyambar dahsyat, hingga merupakan seekor kupu-kupu terbang bermain di atas bunga-bunga yang tengah mekar! Diserang dan kadang-kadang terbungkus oleh gerakan-gerakan kipas dan pit yang mengeluarkan sinar hitam bagaikan kilat menyambar!

Limapuluh jurus lewat, sebetulnya Hok Sun ingin membantu gadis itu, akan tetapi melihat wajah Biauw Eng yang masih merengut tak senang, ia urungkan maksudnya dan menonton dengan dada berdebar tegang. Kagum dan terkejut ia melihat dua orang gadis yang bertempur dengan amat serunya ini, mereka itu sama-sama lihay, sama-sama mempunyai kepandaian silat tinggi! Hemm, melihat ilmu silat gadis kerudung hitam itu, belum tentu ia dapat menandingi, pikirnya.

Tiba-tiba ia mendengar suara gadis kerudung hitam membentak. “Robohlah!” dan tangan gadis kerudung hitam itu melepaskan bola hitam merupakan pelor yang menyambar ke arah pundak Nyuk In.

Ketika Nyuk In mengebut dengan kipasnya, pelor hitam itu mental ke samping akan tetapi begitu pitnya menyambar membentur pelor itu, tiba-tiba benda bulat hitam itu meledak dan dari dalamnya menyambar berpuluh-puluh jarum beracun ke arah Nyuk In. Tentu saja gadis ini menjadi terkejut sekali dan dengan gugup tubuhnya mencelat ke udara.

Tapi karena serangan jarum-jarum beracun itu amat banyak dan cepat seperti seekor panah yang melesat dari busurnya, tak urung sebuah di antara jarum beracun itu menancap di kaki Nyuk In. Gadis itu merasa kakinya panas sekali dan kepalanya pening maka dari atas gadis itu meluncur jatuh dengan kepala lebih dulu!

Biauw Eng dan Hok Sun kaget bukan main, mereka hendak memburu bergerak menolong, akan tetapi gadis kerudung hitam yang telah mencelat di depan mereka dan membentak, “Jangan bergerak!” Terpaksa mereka urungkan maksudnya dan memandang ke arah gadis itu.

Ternyata Nyuk In biarpun sudah terluka dan keracunan jarum pada kakinya, ia masih dapat mengumpulkan tenaganya. Ketika tubuhnya melayang jatuh, ia mengerahkan pit dan kipas memukul tanah dan tubuhnya membal lagi ke atas dan berpok-say (membuat salto) tiga kali, ia turun dengan terhuyung-huyung dan pingsan!

Biauw Eng cepat memeriksa. “Celaka! Ia terkena jarum beracun, tapi jangan kuatir....... aku kebetulan membawa pil penolak racun,” berkata demikian Biauw Eng memasukkan pil ke dalam mulut Nyuk In.

“Awas!” Tiba-tiba Hok Sun berseru dan cepat ia mendorong tubuh Biauw Eng dan ia sendiri bergulingan.

Suara halus terdengar ketika puluhan jarum lewat di atas kepalanya. Melihat kecurangan gadis kerudung hitam ini, Biauw Eng membentak marah dan mengirim tusukan pedang.

“Gadis sialan, jangan berlaku curang!” Suara pedang berdesing waktu Biauw Eng menyerbu maju menyerang gadis kerudung hitam yang terdengar tertawa mengejek dan mengelak dari sambaran pedang.

Pada saat itu, berkelebat beberapa sosok bayangan. Dan tahu-tahu di sekitar kelenteng tua ini bermunculan orang-orang tua yang berpakaian seperti pengemis, penuh tambalan dan warna pakaiannya berkembang-kembang. Orang yang di depan itu adalah seorang kakek pengemis, sudah tua sekali, tubuhnya bongkok dan memegang tongkat butut, bergoyang-goyang tubuhnya waktu menuding ke arah Biauw Eng yang sudah meloncat mundur.

“Kalian ini dua ekor tikus, berani kurang ajar terhadap Sian-li-pay dan tidak memandang mata kepada Hwa-ie-kay-pang (Perkumpulan pengemis baju kembang:). Hayo berlutut!”

Aneh sekali, begitu tongkat butut itu ditudingkan, baik Hok Sun maupun Biauw Eng tergetar kakinya dan terus melosoh lumpuh. Inilah totokan yang dikirimkan melalui suara tadi. Suara yang hanya dapat digunakan bagi orang yang sudah mempunyai kepandaian lwekang tingkat tinggi.

Hok Sun dan Biauw Eng terkejut bukan main. Biauw Eng hendak memaki, akan tetapi urat lehernya sakit dan ia tak dapat berbicara, karena urat gagunya telah ditotok.

Inilah hebat.

Kakek pengemis bongkok baju kembang-kembang itu menjura hormat kepada gadis kerudung hitam. “Sianli, mereka inikah yang telah membuat onar di Sian-li-pay?”

Gadis kerudung hitam itu menggelengkan kepala,

“Bukan mereka,” katanya menunjuk kepada Biauw Eng dan Hok Sun, “akan tetapi gadis inilah…… ia sudah terluka kena jarumku!”

“Oh….. ya, gadis yang bersenjata kipas dan pit itu?”

Gadis kerudung hitam mengangguk dengan angkuh ia mengedikkan kepalanya dan memerintah,

“Pangcu Hwa-ie-kay-pang, kutitipkan mereka bertiga ini kepadamu, untuk seterusnya yang bersenjatakan kipas dan pit harus diserahkan kepada Sian-li-pay! Selamat tinggal!” Sekali menggerakkan tubuhnya, gadis perkasa Sian-li-pay itu sudah mencelat pergi.

Kakek pengemis bongkok yang memegang tongkat butut itu berjalan perlahan menghampiri Nyuk In yang masih pingsan.

“Ho ho ha ha! Rupanya gadis ini yang dikabarkan membuat heboh di Sian-li-pay, sungguh berani mati!” suara yang serak dari kakek pengemis itu terdengar mengakak, menggeletar-geletar!

Sekali tongkat butut di tangan kakek bongkok pengemis itu bergerak, tubuh Nyuk In yang masih pingsan itu terlempar sejauh lima meter dan jatuh di dekat kaki seorang pengemis baju kembang-kembang.

“Tawan gadis itu, jangan sampai lolos dan kabarkan kepada Pay-cu Sian-li-pay bahwa gadis itu berada di Hwa-ie-kay-pang. Dan dua orang muda itu,” kakek pengemis bongkok itu menunjuk ke arah Hok Sun dan Biauw Eng, “Bawa ia ke markas, laporkan kepada Sianli Ku-koay……!”

“Baik pangcu!” sahut kakek pengemis baju kembang yang bertubuh tinggi sambil memondong tubuh Nyuk In dan memerintahkan kepada pengemis baju kembang lain untuk membawa tubuh Hok Sun dan Biauw Eng yang tak berdaya pingsan.

Maka hari itu, biarpun bulan muncul sedikit akan tetapi sinarnya masih cukup terang untuk mengusir kekelaman malam. Bagaikan setan-setan bergentayangan, berkelebat bayangan hitam yang berlari mereka yang lincah dan riang mudah diduga bahwa pengemis Hwa-ie-kay-pang ini berkepandaian cukup tinggi.

Biauw Eng dan Hok Sun tak berdaya dalam pondongan pengemis yang lihai ini sementara ia melirik ke arah tubuh Nyuk In legakan hati mereka melihat gadis itu sudah sadar dari pingsannya dan perlahan-lahan menggerakkan kepala. Akan tetapi tentu saja gadis itupun tidak berdaya dalam pondongan kakek pengemis yang berlari dengan amat cepatnya.

Angin malam menerpa tubuh mereka yang dipondong dibawa lari cepat. Ada kira-kira sepuluh orang kakek pengemis yang berlari-lari cepat mengikuti di belakang, sedangkan kakek pengemis bongkok sudah tidak kelihatan lagi, entah kemana!

Di dalam keremangan malam itu, samar-samar terlihat sebuah gedung besar dan mentereng berdiri dengan megahnya. Mereka memasuki gedung itu dan langsung masuk ke ruang dalam. Ruangan dalam amat terang oleh sinar lilin besar yang menyala di pojok ruangan.

Beberapa pengemis tua, berpakaian seragam baju kembang berdiri tegak seperti penjaga. Mengangguk hormat waktu rombongan pengemis yang memondong tubuh Nyuk In berlalu di depannya beberapa pengemis lain berpencar.

Dua orang pengemis yang memondong tubuh Hok Sun dan Biauw Eng dibawa masuk ke ruangan lain, membelok ke kiri dan apabila di depan pintu yang tertutup rapat, seorang pengemis mengetuk pintu itu. Tiga kali ia mengetuk.

“Siapa?” terdengar suara nyaring dan merdu dari ruangan dalam. Dan begitu pintu itu terbuka, seorang gadis berkerudung hitam pada mukanya muncul dan langsung bertanya: “O, It Lokay dan Jie Lokay yang datang, ada apakah?”

“Sianli, mohon bertemu dengan Niocu, kami membawa dua orang tawanan. Pangcu menyuruh kami menyerahkan kepada Niocu!”

Gadis kerudung hitam yang dipanggil Sianli oleh pengemis baju kembang menoleh, mengawasi kedua orang tawanan dalam pondongan kedua orang pengemis itu.

“Hemm, seorang wanita cantik dan pemuda tampan....... silahkan masuk Jie-wie lokay. Niocu berada di ruang dalam…….”

Kedua orang pengemis itu masuk ke dalam, ternyata ruangan dalam di sini begitu luas dan angker nampaknya. Seorang wanita tua berusia sekitar limapuluhan, duduk di bangku yang terbuat dari kulit harimau, sedangkan di kanan kiri nenek itu berdiri dua orang wanita muda, cantik dan gagah, berpakaian indah mentereng dan kedua pipi yang halus putih itu diulas tipis-tipis gincu yang berwarna merah muda. Nampak cantik sekali ke dua wanita muda yang berdiri di kanan kiri si nenek.

Akan tetapi sepasang mata itu menyambar berkilat-kilat waktu melihat kakek pengemis baju kembang memondong seorang pemuda. Pemuda tampan dan gagah akan tetapi tak berdaya dalam totokan. Tubuhnya lemas dan lunglai waktu diturunkan oleh kakek pengemis baju kembang. Begitu juga dengan Biauw Eng.

Ke dua orang pengemis itu berlutut.

“Niocu, dua orang muda ini telah membunuh Sam-hauw-huang-ho dan anak buah bajak laut. Pangcu menyerahkan kedua orang muda iai untuk mendapat pertimbangan dari Niocu yang mulia….. salah seorang dari kedua kakek pengemis itu membuka suara sambil berlutut.

Sepasang mata nenek itu menyambar tubuh Hok Sun dan Biauw Eng. Memandang tajam ke arah dua orang muda ini. Suaranya terdengar nyaring dan berwibawa: “Kalian siapa? Mengapa kalian membunuh Sam-hauw-huang-ho?”

Akan tetapi, tentu saja kedua orang muda ini tidak dapat berkata, karena urat gagu mereka telah tertotok.

Mengetahui ini, si nenek memerintahkan kepada ke dua orang pengemis yang masih berlutut dengan sikap hormat dan takut. “Bebaskanlah mereka agar mereka dapat menjawab pertanyaanku!”

Dua orang kakek pengemis itu menurut perintah. Dua kali tangan mereka bergerak ke arah leher Hok Sun dan Biauw Eng, ke dua orang muda itu telah terbebas dari totokan.

Biauw Eng mencelat berdiri. Diikuti oleh Hok Sun. Berdiri dengan gagahnya menghadap si Nenek.

“Gagah dan tampan,” bisik si Nenek. Sepasang matanya memandang tubuh Hok Sun yang tinggi tegap dan menyelusuri wajah yang tampan itu.

Melihat dua orang muda ini berdiri tegak, tidak berlutut seperti ke dua orang kakek pengemis baju kembang, seorang gadis kerudung hitam yang tadi membukakan pintu, maju dan membentak. “Berlutut kau!”

Biauw Eng menoleh. Memandang gadis yang berkerudung pada mukanya, mendengus perlahan: “Hemm, kau menyuruh aku berlutut kepada siapakah?”

“Gadis dusun, kau berhadapan dengan Sianli Ku-koay…… Nio-cu kami, hayo berlutut!” bentak gadis kerudung itu.

“Ooo, jadi nenek di situ itu Sianli Ku-koay, hemm, apa perlunya kami berlutut, dia bukan dewi, bukan dewa, mengapa harus dipuja?”

Baru saja si gadis kerudung hendak membuka mulut memaki, tiba-tiba terdengar suara si Nenek: “A Lan, gadis di depanmu itu cukup gagah, coba kau layani dia!”

Gadis kerudung hitam yang dipanggil A Lan oleh si Nenek Sianli Ku-koay menjura mengangkat sepasang tangannya: “Baik Nio-cu, biar teecu memberi hajaran kepada gadis dusun yang tak tahu sopan ini!”

Berkata demikian, A Lan mencabut pedangnya.

Melihat ini, Hok Sun cepat-cepat menghadang Biauw Eng dan berkata: “Eng-moay, jangan mencari keributan disini.......”

Biauw Eng menoleh kepada Hok Sun. “Aku disuruh berlutut, siapa sudi?”

“Sudahlah....... jangan ribut........ mari kita bicara baik-baik dengan nenek itu....” Hok Sun memegang lengan Biauw Eng, akan tetapi gadis itu mengibaskan lengannya.

“Tak sudi aku! Biar kuhadapi gadis sombong itu,” sambil berkata demikian Biauw Eng telah mencabut pedangnya.

Melihat gadis ini menarik pedang, tahulah nenek itu bahwa A Lan belum tentu dapat menghadapi gadis ini, akan tetapi ia membiarkan ketika A Lan mulai menyerang Biauw Eng, suara pedang terdengar beradu.

Dalam segebrakan itu kedua duanya mencelat mundur. Berdiri berhadapan, saling memandang, seakan-akan tengah mengukur kepandaian lawannya masing-masing melalui pandangan mata.

Hok Sun berdiri memandang gadis temannya itu. Ia tahu bahwa Biauw Eng mempunyai watak yang keras dan tak mungkin dapat disabarkan lagi. Dengan tegang ia berdiri memandang kedua orang gadis yang sudah saling gempur dengan amat serunya.

Biauw Eng memainkan ilmu pedangnya dari kitab kuno yang pernah ia pelajari. Karena waktu ia baca kitab itu, banyak huruf-huruf yang sudah tidak dapat dibaca dan agak kabur, maka ia tidak mengenal jurus-jurus yang ia mainkan. Ia hanya menurut gerak ilmu silat pedang yang ia pelajari dari gambar-gambar yang tertera pada kitab kuno, maka sudah barang tentu setiap jurus ia namai sendiri menurut kehendak hatinya.

Sebetulnya gadis ini juga tidak mengenal siapa pencipta kitab kuno itu, maka boleh dibilang ia sama sekali tidak mengerti dari golongan mana ilmu pedang ini. Akan tetapi sesungguhnya luar biasa sekali ilmu pedang yang ia mainkan ini, sinar pedangnya berkeredep cepat dan kadang-kadang nampak percikan bunga api di udara waktu kedua pedang itu beradu.

Ke dua-duanya tergetar hebat. Nampak ke dua-duanya terhuyung ke belakang. Melihat ini tahulah Hok Sun bahwa kepandaian Biauw Eng setingkat dengan gadis kerudung hitam itu.

Selama Biauw Eng mempelajari ilmu pedang dari kitab kuno yang dia pelajari, baru kali ini ia menghadapi lawan yang cukup tangguh. Biauw Eng yang berwatak keras menjadi penasaran dan marah.

Ia mainkan pedangnya lebih cepat lagi sementara mulutnya melengking tinggi membuat gerakan pada pukulan-pukulan tangan kiri dan sesudah ada kurang lebih limapuluh jurus mereka bertempur, nampak tubuh keduanya terbungkus oleh sinar pedang yang berkelebat ganas. Gadis kerudung hitam juga nampak menjadi sengit, mainkan ilmu silatnya lebih hebat lagi!

Pandangan mata Sianli Ku-koay berkilat-kilat memandang pertempuran yang tengah berlangsung dengan serunya. Ia tahu, bahwa A Lan tak dapat menandingi gadis itu. Tiba-tiba terlintas sebuah pikiran yang membuat bibir nenek itu tersenyum girang.

Gadis ini, demikian lihay, belum lagi pemuda tampan yang berdiri itu, belum ia tahu sampai di mana tingkat kepandaian pemuda itu, kalau ia dapat menaklukkan orang-orang muda yang lihay ini dan menjadi pembantunya, hemm, merupakan tenaga muda yang boleh diandalkan, demikian Sianli Ku-koay berpikir.

Tiba-tiba Nenek ini berteriak kaget. Hampir saja ia mencelat menyambar tubuh A Lan yang dengan entah dengan cara bagaimana tahu-tahu A Lan terpental ke atas dan meluncur turun dengan kepala di bawah pada saat itulah dengan gerakan kilat dan aneh, pedang Biauw Eng menyambar membabat.

Hok Sun kaget sekali melihat gerakan ini, ia sudah bersiap-siap hendak melerai kalau seandainya Biauw Eng menjatuhkan tangan maut kepada gadis kerudung hitam. Akan tetapi, ia menarik napas lega dan berganti dengan rasa kagum yang hebat, karena begitu tubuh A Lan, meluncur dengan kepala ke bawah dan kaki di atas, pada saat ia mendengar suara pedang berdesing menyambar lehernya, dengan bentakan keras ke dua tangannya memukul lawan Biauw Eng menyambut pukulan tangan lawannya itu dengan dorongan tangan kiri.

Pada saat itulah, dalam detik yang amat cepat A Lan meminjam tenaga dorongan lawan untuk mencelat lagi ke atas, tubuhnya membal ke udara, sementara pedang Biauw Eng luput dari sasaran. Gemas sekali Biauw Eng, ia memburu, mengelebatkan pedangnya waktu tubuh lawannya masih melayang di udara.

“Singg!!” suara pedang menyambar angin. Tubuh A Lan berpok-sai tiga kali di udara dan hinggap di atas tiang penglari yang amat tinggi itu!

Biauw Eng memandang ke atas. Membentak keras: “Turun kau!”

“Ha ha ha, Sianli-Ku-koay tertawa nyaring, “A Lan kau turunlah, kau telah kalah……..!”

“Teecu belum kalah Nio-cu, biar teecu layani sekali lagi gadis dusun ini!” A Lan mengelebatkan pedangnya.

“A Lan, turun kau!” nenek Sianli Ku-koay memerintah.

“Niocu....... kau mundur....... biar Jie-wi Lokay menghadapi pemuda tampan, Eh, A Hok dan A Pin kau hadapilah pemuda itu!”

Kedua pengenais baju kembang yang disebut Ji-wie Lokay, bangkit dan menjura kepada Sianli Ku-koay. A Hok berkata dengan suara sember: “Kami bersiap sedia melayani pemuda ini……”

“Majulah!” Si nenek Sianli Ku-koay memerintah.

Hok Sun tak mengerti. “Apa-apaan ini, mengapa aku dan Biauw Eng diuji seperti ayam jagoan? Apa maksud si nenek ini?” pikir Hok Sun heran memandang nenek di depannya!”

“Ha ha ha, orang muda. Kau berkenan mengunjungi Hwa-ie-kay-pang, memang penyambutan kami begitu. Setiap orang luar yang datang ia harus diuji, barang siapa yang kalah oleh orang-orangku yang kutunjuk sebagai penguji, ia itu harus mati! Akan tetapi jika kalian menangkan orang-orangku, kami akan menyambutmu sebagai tamu kehormatan. Kulihat kau bukan pemuda lemah…… cobalah hadapi ke dua orang-orangku ini!”

Hok Sun maju selangkah menjura dengan sikap hormat.

“Niocu…….” Hok Sun ikut-ikutan memanggil nenek ini dengan sebutan Nio-cu seperti yang ia dengar tadi: “Apa maksudmu? Mengapa kau mengadu kami seperti jangkerik aduan? Kami tidak ingin berkelahi Nio-cu.”

“Akan tetapi kau harus menghadapi kedua lo-kay itu? Orang muda apakah kau takut menghadapi kedua orang pengemis itu?” tanya Sianli Ku-koay, menatap tajam.

Merah wajah Hok Sun dikata takut. Ia paling pantang untuk disebut penakut. Seorang gagah, tidak mengenal kamus penakut di dalam hatinya.

Maka dengan gagah dan dengan dada sedikit agak membusung, Hok Sun berkata: “Aku tidak takut dengan dua lokay itu, atau dengan siapapun....... akan tetapi aku tidak sudi dijadikan binatang aduan seperti jangkrik. Niocu....... sebaiknya kau biarkan kami pergi!”

“Ha ha ha, orang muda! Gagah juga perkataanmu. Akan tetapi tidak segagah perbuatanmu. Engkau kutantang menghadapi kedua orangku apakah kau tidak mau melayaninya? Apakah kau....... hemm, kau bilang kau bukan pemuda penakut....... nah hadapilah!”

Biauw Eng membanting kakinya, membentak marah: “Nenek peot, nggak tahu diri....... berani kau menantang Hok Sun biarlah aku menghadapi dua jembel busuk ini!”

“Singg!” suara pedang itu terdengar ditarik oleh Biauw Eng.

“Eng-moay, jangan lancang!” Hok Sun mencegah.

Biauw Eng mendengus marah: “Sun-ko, mereka menantangmu, mengapa kita harus mengalah?”

“Diamlah, Eng-moay....... biar aku yang menghadapi,” Hok Sun menyuruh gadis itu menyarungkan pedangnya. Biauw Eng mengesut mundur ke belakang akan tetapi matanya berapi-api memandang Sianli Ku-koay.

Dua orang kakek pengemis baju kembang yang dipanggil A Hok dan A Pin telah mencabut pedangnya masing-masing. A Hok kakek pengemis kurus tinggi, berjenggot putih menghampiri Hok Sun dan menegur dengan nada mengejek, “Orang muda, mengapa kau belum mencabut pedangmu, mau tunggu apalagi?

“Lokay, aku tidak ingin berkelahi....... akan tetapi engkau telah menawanku dan membawa kami ke tempat ini, apakah aku hendak dijadikan jangkerik aduan?” Hok Sun menggelengkan kepala, tersenyum sinis. “Aku bukan jangkerik, juga bukan binatang aduan. Kalau memang nenek itu hendak merasai tajamnya pedangku, biar ia sendiri maju……”

Merah wajah nenek Sianli Ku-koay, ia memandang marah kepada Hok Sun dan membentak kepada dua pembantunya: “Jie lokay. jangan banyak ngobrol....... serang pemuda itu!”

“Nenek peot kau cerewet amat sih, kalau kau bernyali, sini turun, biar aku yang membeset mulutmu yang jelek itu!” Biauw Eng membentak marah.

“Gadis binal, berani kau menghina Niocu? Makan ini!” A Lan yang masih panas hatinya membentak dan mengirim serangan tusukan pedang yang dahsyat.

Biauw Eng menangkis, menggerakkan tangannya mendorong ke muka sambil membentak: “Perempuan gila, mukamu ditutup-tutup apakah wajahmu penuh keriput seperti si nenek itu, buka!”

Angin pukulan menyambar ke muka A Lan, akan tetapi dengan cepat A Lan mengegoskan lehernya ke samping dan membalas memukul, tak lama kemudian kedua gadis itu sudah bertempur lagi dengan amat serunya. Kali ini ke duanya bertempur dengan amat hebat dan masing-masing saling berlumba untuk cepat-cepat menjatuhkan lawannya. Ke dua-duanya sudah sama-sama panas hati dan penasaran!”

Sementara itu, Hok Sun juga terpaksa sudah mencabut pedangnya didesak oleh Jie-wie-lokay (dua pengemis), terkejut bukan main ia melihat betapa kedua orang kakek pengemis ini demikian lihai permainan pedangnya. Diam-diam Hok Sun mengeluh,

“Celaka, ia telah memasuki sarang naga dan harimau, siapa tahu, ia dibawa kesini menghadapi lawan-lawan yang tangguh. Baru saja menghadapi dua pengemis baju kembang ini, ia sudah merasa terdesak apalagi kalau sampai si Nenek itu turun tangan. Wah, serba berabe. O ya, belum lagi dua orang gadis cantik yang berdiri di kanan kiri si nenek, entah sampai dimana lagi kelihayannya!”

Akan tetapi ia mainkan pedangnya lebih hebat lagi.

Hok Sun tidak berani semberono, dan ia lalu mengeluarkan ilmu pedang Hwie-hay-liong-kiam-sut bagian mempertahankan diri yakni gerakan naga laut mandi di air. Gerakan ini amat kuat dan merupakan benteng pertahanan yang sukar ditembusi oleh pedang lawan, pedangnya berputar merupakan segumpalan sinar perak yang melindungi dirinya.

Akan tetapi biar bagaimana lihay, menghadapi kedua pedang di tangan dua pengemis baju kembang ini, ia harus berlaku hati-hati dan waspada. Ia sengaja belum mau membalas, memang ia sengaja hendak mengukur sampai di mana tingkat lawan.

Bukan main kagum hati Sianli Ku-koay melihat kepandaian ilmu pedang yang kuat dan mantap di tangan pemuda tampan itu, melihat sepintas dia, tahu dia bahwa dua orang pengemis ini setingkat kepandaiannya dengan pemuda itu! Akan tetapi diam-diam ia merasa sayang kepada pemuda tampan ini.

Memang inilah watak Sianli Ku-koay, meskipun wajahnya sudah keriput dan usianya sudah mencapai limapuluh lebih, akan tetapi melihat pemuda tampan ia masih tertarik dan bergairah, apalagi melihat potongan pemuda itu, tubuh yang bidang kuat dan wajah yang tampan....... diam-diam Nenek ini menelan air liurnya.

Semangat mudanya bergelora-gelora, berdebar-debar darahnya, matanya berkilat penuh cinta dan napsu! Memang Sianli Ku-koay ini, sejak gadisnya pun telah menjadi gadis berandal.

Entah berapa banyak lelaki yang telah menjadi korbannya. Dan sampai menjadi nenek-nenek sekalipun, ia masih doyan bermain cinta dan nafsu berahi!