-->

Pendekar Lengan Buntung Jilid 06

Jilid 06

Panas sekali hati orang-orang gagah di bawah panggung. Dengan serentak bagaikan sudah diberi komando, Yok-ong Lo Ban Theng, Hak-san Tay-hiap Ong Kwie, Cui-sian Kong Sin Khek dan Go Sin Thong sudah mencelat dan tanpa banyak bicara lagi mereka menerjang maju.

Hebat sekali terjangan berbagai macam senjata ini, Cui-sian Kong Sin Kek menyerang dengan menyemburkan arak dari mulutnya, Hak-san tay-hiap Ong Kwie membentak keras membabat pedangnya berkilat, sedangkan Yok-ong dan Go Sin Thong memukul dari jarak jauh. Memang hebat sekali serangan ini, akan tetapi sungguh luar biasa, si Iblis Tua Langit Bumi ini dengan menjerit……. “eiitttt,” tahu-tahu tubuhnya lenyap dan hanya nampak kilatan pedang dan semburan arak dari mulut si dewa arak Kong Sin Kek.

Akan tetapi beberapa detik saja bagaikan ada gempa bumi yang dahsyat luar biasa Yok-ong Lo Ban Theng terhuyung dan tak dapat bangun lagi. Kong Sin Kek si dewa arak nampak memegangi mukanya yang terasa nyeri dan sakit, entah bagaimana tahu-tahu semburan araknya tadi membalik dan saking cepatnya butir-butir arak yang membalik barusan membuat ia tak dapat lagi menghindarkan butir-butir arak yang menyerang mukanya, dengan cepat sekali ia mengerahkan sin-kang dan di muka dan tetap saja rasa nyeri menusuk-nusuk mukanya.

Di lain pihak, Hak-san tay-hiap Ong Kwie juga berteriak kaget begitu ada angin sambaran yang hebat luar biasa, tak tahan ia dan dengan cepat ia bergulingan menjatuhkan diri ke belakang akan tetapi tetap saja pundaknya terserempet pukulan itu dan tulang pundaknya menjadi patah di saat itu juga.

Hanya Go Sin Thong jang tidak roboh, sebab begitu ia di pukulan jarak jauhnya membalik dengan gerakan karate ia melompat ke samping dan untung ia memasang kuda-kuda karate seteguh-teguhnya sehingga dengan gerakan itu ia dapat mematahkan serangan angin pukulan lawan. Ia bergidik melihat kehebatan Iblis tua ini!

Pada saat itu baru saja tokoh-tokoh kang-ouw yang lain hendak mencelat ke atas panggung, sesosok tubuh berkelebat dan tahu-tahu telah berdiri di depan Te-thian Lomo!

“Omitohud, Te-thian Lomo, di mana-mana kau membuat kacau dan menyebar maut…. tidak baik… tidak baik….. seorang pertapa begini ganas melebihi iblis. Banyak jalan menuju kehidupan mengapa memilih yang sesat? Selagi masih ada kesempatan mengapa kepandaian tidak digunakan untuk kepentingan sesama manusia dan bangsa! Sayang….. sayang…..!”

Ucapan yang dikeluarkan dengan suara halus dan penuh teguran itu mengejutkan semua orang-orang terutama sekali Te-thian Lomo. Ia cepat mengalihkan pandangan matanya ketika bertemu pandang dengan mata orang yang baru datang itu.

Tak tahan ia melihat sinar mata yang tajam dari orang di depannya ini. Kiranya di depannya itu telah berdiri seorang hwesio tua jang tinggi kurus, usianya sudah sangat tua, kepalanya gundul kelimis, alis jenggot dan kumisnya yang jarang sudah putih semua jubahnya kuning bersih dan tangannya memegang tongkat hwesio.

Melihat hwesio ini, Yok-ong Lo Ban Theng dan Hak-san Tay-hiap Ong Kwie terkejut. Juga semua tokoh-tokoh kang-ouw jang masih di bawah panggung terbelalak matanya. Tentu saja mereka kenal hwesio tua ini. Siapa lagi, kalau bukan Thian Thian Losu, ketua Siauw-lim-pay!

“Ah. kiranya Ciangbunjin, ketua, Siauw-lim-pay yang datang seperti ini. Entah mempunyai maksud apa?”

“Pinceng memang dari Siauw-lim-pay. Te-thian Lomo, harap kau sudahi pertempuran-pertempuran dan permusuhan yang merugikan dirimu ini dan kembalilah ke Anapura!”

“Losuhu, engkau sebagai ketua, mengapa kau begitu usil tangan mencampuri urusanku ini?” Te-thian Lomo mendengus marah. Meskipun ada rasa gentar dihatinya, akan tetapi ia tak mau dinasehati seperti anak kecil!

“Te-thian Lomo, insyaf dan sadarlah. Orang-orang seperti engkau sebagai pertapa dan pinceng sebagai hwesio Siauw-lim, seharusnya bertekun mengalahkan rasa diri, dan mencari penerangan dengan kitab-kitab suci! Bukan menjadi momok yang menakutkan bagi masyarakat……,” Thian Thian Losu menggelengkan kepala.

“Losuhu, sekali lagi, jangan ikut! Aku tak ada sangkut paut apa-apa denganmu atau dengan muridmu! Harap tidak berlancang mencampuri urusanku sendiri!”

“Omitohud! Pinceng lihat Yok-ong Lo Ban Theng yang terhormat sudah terluka, tiga Sam-hauw-swat-cu-eng juga sudah mati olehmu, pendekar dari Hak-san Ong Kwie sicu, juga sudah terluka, dan itu…... hem, rasanya pinceng sudah pernah kenal, kalau tidak salah dia adalah murid Nakaryavia, dan ia juga telah terluka pundaknya……. dan pemuda ini, eh nona ini…… Te-thian Lomo, pulanglah kau kembali ke Barat! Jangan meneruskan kekejian ini apalagi hari ini, bukankah hari se-jid Yok-ong Lo Ban Theng? Mengapa kau mencari keributan di rumah tangga orang?”

“Setan! Hwesio sialan! Itu semua bukan urusanmu. Pergi!” bentak Te-thian Lomo.

Thian Thian Losu menggelengkan kepala.

“Pinceng akan pergi setelah engkau meninggalkan tempat ini pula! Marilah kita pergi sama-sama. Sama-sama mencari jalan kehidupan.”

“Losuhu, sekali lagi! Minggirlah!” Te-thian Lomo membentak marah.

“Tidak! Te-thian Lomo..….. pinceng tak membiarkan engkau berbuat keji di sini..…..! Bertobatlah semasa masih ada kesempatan.”

“Kalau begitu baik! Terpaksa aku menentang Ciangbunjin dari Siauw-lim-pay!”

“Omitohud……. semoga kau menemui jalan terang.”

Te-thian Lomo mengeluarkan suara menggereng seperti harimau mengamuk, cambuknya segera menyambar seperti ular hidup membelit leher hwesio ketua Siauw-lim. “Sratt!” dengan amat kuatnya cambuk itu melilit di leher tua Thian Thian Losu.

Dengan muka tenang dan tidak membayangkan hawa marah di wajahnya, malah hwesio itu masih dapat tersenyum sabar kepada lawannya dan sekali ia mengibaskan lehernya tahu-tahu cambuk yang melilit di leher itu mengejang keras, Te-thian Lomo mengerahkan hawa sakti dan membetot keras, “tess,” bukan leher si hwesio itu yang putus oleh jiratan cambuk, malah cambuk itu sendiri yang putus di tengah-tengah.

Te-thian Lomo melepaskan cambuk itu. Melompat menerjang maju, kepalanya mengeluarkan uap kehitaman dan bagaikan sebuah peluru kendali, kepala itu menubruk maju ke arah perut Thian Thian Losu jang kurus Ketua Siauw-lim-pay berdiri diam, tidak mengelak, juga tidak menangkis.

“Dess!” Kepala itu beradu dengan perut, dan tubuh Thian Thian Losu terpental ke belakang sampai tiga meter jauhnya akan tetapi dalam masih keadaan berdiri, lemah. Tubuhnya bergoyang-goyang seperti orang menggigil kedinginan. Senyumnya semakin melebar, sedangkan Te-thian Lomo terhuyung-huyung, matanya membelalak memandang hwesio yang masih berdiri tiga meter jauhnya dan tengah meramkan mata seperti bersamadhi atau berdoa.

Gadis baju biru yang tadi disangka pemuda tampan baju biru melompat maju dan menerjang dengan kipas terbuka: “Iblis jahat……. berani kau mencelakakan Ciangbunjin Siauw-lim-pay!” Gadis baju biru itu hendak menerjang Te-thian Lomo dengan penuh amarah, akan tetapi terdengar Hosiang berkata,

“Nona….. tahan!”

“Nona, jangan kau turut campur, sebentar lagi Te-thian Lomo akan pergi dari tempat ini,” terdengar Thian Thian Losu berkata masih dalam keadaan meramkan matanya.

Gadis baju biru menahan kipasnya. Dan begitu ia menoleh ke arah Te-thian Lomo betapa terkejut dan herannya ketika melihat tubuh Te-thian Lomo menggigil keras, lalu roboh miring. Thian Thian Losu menghampiri dan suara lembut mengiringi gerakan jubah menotok di kepala Te-thian Lomo.

“Te-thian Lomo, lekaslah pergi! Kalau tidak kau akan mati di sini…..!” Heran sekali mendengar perkataan hwesio tua ini tanpa banyak berkata apa-apa Te-thian Lomo berjalan meninggalkan tempat itu dengan tubuh terhuyung-huyung. Tahulah orang-orang kang-ouw bahwa iblis tua yang lihay dan ganas itu sudah terluka hebat.

Melihat bahwa Te-thian Lomo sudah pergi, ketua Siauw-lim-pay berkata kepada Yok-ong Lo Ban Theng: “Lo sicu menyesal pinceng tak dapat lama-lama di sini! Selamat tinggal!”

Belum lagi hilang suaranya itu tahu-tahu bagaikan segumpal kapas tubuh ketua Siauw-lim-pay melayang dengan amat ringannya dan berjalan pergi meninggalkan tempat itu. Tokoh-tokoh kang-ouw segera menghampiri Yok-ong Lo Ban Theng dan Hak-san Tayhiap Ong Kwie dan si dewa arak Cui Sian Kong Sin Kek yang terluka.

Dengan wajah sedih Yok-ong Lo Ban Theng berkata: “Cuwi sekalian harap maafkan kami yang telah menyusahkan dan mengejut hati cuwi……!”

“Tidak apa….. tidak apa. Lo-enghiong di antara orang sendiri untuk apa bersungkan-sungkan segala? Malah seharusnya kami inilah jang merasa malu tidak dapat membantumu mengusir Iblis tua itu,” menyahut Cui-sian Kong Sin Kek mengedik-ngedikkan kepalanya sambil memegangi muka yang masih terasa sakit tersambar serangan arak yang membalik tadi.

Tentu saja bagi Yok-ong Lo Ban Theng jang terkenal raja obat dengan sendirinya ia memeriksa luka teman-temannya. Sehabis memeriksa luka di pundak Hak-san Tayhiap Ong Kwie segera ia hendak memeriksa luka pemuda tinggi kurus Ho Siang, akan tetapi Ho Siang hanya terluka ringan saja dan tak berkata: “Terima kasih locianpwe, saja hanya terluka ringan saja dan tak berarti, harap locianpwe segera mengobati dirimu sendiri saja, lihat tadi locianpwe muntahkan darah!”

Yok-ong Lo Ban Theng terkejut dan kagum. Hm, pemuda kurus ini ternyata tidak buta dalam hal pengobatan. Ia mengangguk-anggukan kepalanya. Pantas tidak tahunya dia murid Nakayarvia dari India hem, dibandingkan denganku aku bukan berarti apa-apa, pikirnya.

Gadis baju biru menghampiri tuan rumah dan menjura, “Harap locianpwe tidak mengalami luka-luka berat dan maafkan saya yang tidak dapat membantu banyak.”

Yo-ong Lo Ban Theng mengangkat muka memandang.

“Terima kasih nona, o ya, kalau aku boleh tahu, kau ini murid siapa dan siapa namamu?!”

“Ah, saja bukan murid siapa-siapa locianpwe, guru saya adalah kakek jang tak mempunyai nama di puncak Thang-la dan nama saja Nyuk In, she Cung…..”

“Oooo! tidak tahunya nona adalah murid Bu-beng Sianjin dari Thang-la, pantas kepandaianmu demikian lihay tapi kenapa kau bermain kipas dan pit, padahal setahuku Bu-beng Siangjin terkenal dengan ilmu pedangnya, aneh! Apakah selama ini orang tua itu sudah menciptakan ilmu kipas dan bermain pit?”

“Maaf, locianpwe. Memang pelajaran kipas dan pit bukan saya dapatkan dari Bu-beng Sianjin, akan tetapi satu-dua jurus pernah saya terima dari sucouw Sui Kek Siansu.”

“Sui Kek Siansu? Manusia setengah dewa itu masih hidup?” Ong Kwie bertanya heran. Sepanjang ingatannya kakek jang disebut Manusia setengah dewa itu sudah meninggal ratusan tahun yang lalu, mengapa gadis ini bilang pernah mendapat petunjuk dari kitab peninggalan sucouw (kakek guru).

“Locianpwe permisi…… saya hendak berangkat!!”

“Nona Nyuk In mengapa tergesa-gesa pergi?”

“Maaf saja ada urusan di Kotaraja.”

“Baiklah kalau begitu, o ya, jikalau kau kembali ke Thang-la sampaikanlah salam hormatku kepada gurumu, sudah lama aku nggak pernah berjumpa dengan orang tua itu!”

“Akan saja sampaikan salam hormat locianpwe untuk suhu, terima kasih,” berkata demikian gadis badiu biru itu menjura kepada si Raja obat Lo Ban Theng, dan ia berjalan perlahan meninggalkan gedung itu.

Akan tetapi baru saja ia berjalan belum jauh meninggalkan tempat itu tiba-tiba namanya dipanggil oleh seseorang: “Nyuk In Siocia!”

Gadis baju biru yang bernama Cung Nyuk In menoleh dan dilihatnya Ho Siang mendatangi, langkahnya panjang-panjang menghampiri. Si gadis tersenyum: “O, saudara Ho Siang!!”

Ho Siang berhenti di depan Nyuk In. Kedua tangannya terangkat menjura: “Aku lupa mengucapkan terima kasih kepadamu nona.”

Nyuk In mengerutkan keningnya mengingat sesuatu: “Hmm, terima kasih apaan? Rasanya..... tidak pernah aku berbuat sesuatu kepadamu, mengapa kau berterima kasih kepadaku?”

“Nona Nyuk In bukankah kau yang pernah menolongku waktu aku bertempur dengan si iblis tua Langit Bumi barusan? Aku tidak pernah melupakan budi seseorang, makanya aku datang ke sini mengucapkan terima kasih kepadamu........”

“Ah, cuma itu saja, mengapa merepotkan dirimu? Sudahlah saudara Ho Siang, tak perlu kau berterima kasih kepadaku….. Sudah seharusnya aku menolongmu, bukankah membasmi yang jahat dan membela yang benar adalah tugas dari orang gagah di dunia kang-ouw? Eh, kau sekarang hendak kemanakah?”

Ho Siang berjalan di samping gadis baju biru sambil berkata: “Aku hendak ke Kotaraja, o ya, bukankah engkau juga hendak ke sana? Alangkah baiknya kalau kita berjalan bersama? Iya toh?”

Waktu Ho Siang menoleh, dilihatnya pipi si gadis jadi merah dan tertunduk, hanya dari bulu mata yang lentik itu si gadis melirik dan menyahut, “Kalau kau suka berjalan denganku, mengapa tidak?”

“O, tentu saja aku suka berjalan bersamamu, Nyuk In!”

“Ho Siang.”

Ho Siang berhenti, Nyuk In juga menghentikan langkahnya, ke dua-duanya saling berpandangan. Entah mengapa debaran jantung Ho Siang makin keras berdetak-detak, seluruh pembulu darahnya berdentum-dentum, lebih cepat lagi.

Melihat si gadis tertunduk kemaluan, bagaikan sebuah magnit yang saling membetot, tangan Ho Siang meraih tangan Nyuk In, dan sebentar itu pula keduanya sudah saling bergandeng tangan. Cuma sebentar itu terjadi, karena tiba-tiba Nyuk In menyentakkan tangannya dari renggutan Ho Siang, akan tetapi bibirnya mengungkit sebuah senyum yang menyegarkan,

“Ho Siang, kau lucu!”

“Hmm lucu….. lucu apanya?”

“Tadi kukira kau pemuda tolol? tidak berkepandaian. Maka itu tadi waktu kau naik ke panggung memegang-megang suling di tangan, aku jadi mentertawakanmu. Kau maafkan aku, ya Ho Siang, kau tidak marah kan? Tidak kusangka kau jang kulihat ketolol-tololan itu ternyata adalah murid Nakayarvia pertapa jang terkenal itu. Ho Siang, kepandaianmu..... hebat bukan main!”

“Kau juga hebat Nyuk In dan lebih hebat lagi kukira kau seorang pemuda tampan mata keranjang. Tadi aku sampai gemas bukan main waktu kau mentertawaiku di panggung itu! Kalau di situ tidak banyak orang, ingin sekali aku mencubit bibirmu!”

Nyuk In melirik. Sebuah kilat dari mata jeli itu menyambar berkeredepan membuat lagi-lagi hati Ho Siang berdegup-degup nggak keruan rasa. Rasanya di dada itu ada kebahagian sejuta perasaan yang aneh-aneh, mengaduk perasaan hatinya!

Lirikan mata si gadis jang bernama Cung Nyuk In itu demikian tajam, tajam mata jeli itu menghujam dalam-dalam di hati Ho Siang! Sebuah senyuman lagi, aduh! Membuat hati Ho Siang kalang kabut di saat itu. Untuk menekan perasaan yang aneh ini, ia berkata, “Nyuk In, kau.. kau..... baik sekali!”

Kini si gadis baju biru menoleh, seperti tadi ia memandang mengawasi wajah si pemuda. Menyapu wajah itu, lalu tertunduk kemalu-maluan: “Kau bilang aku baik? Bohong, biasa mulut lelaki memang begitu, ketemu wanita lantas merayu, menganggapnya baik dan eh padahal kita baru berkenalan saja….. bagaimana kau bisa bilang aku ini baik?”

“Mati kau!” Ho Siang bersambat. Ini mulut memang….. memang lancang. Sekarang apa yang hendak kau katakan,” pikir Ho Siang bingung akan tetapi dengan menekan perasaan Ho Siang berkata: “Kau memang baik In-moay (adik In). Eh, boleh ya kupanggil kau In-moay begitu?”

“Boleh saja dan aku memanggilmu Siang koko, ya Siang koko betapa enaknya aku mengucapkan begitu. Siang koko, aku…... aku…… aduh…...!” tiba-tiba Nyuk In membungkuk dan memegangi perutnya.

Ho Siang terkejut dan buru-buru memegangi tangan gadis itu.

“Eh, kenapa kau? Kenapa perutmu, sakit?”

Nyuk In mengangguk, mengerutkan wajahnya: “Ya, sakit…... aduh…. duh, aduh!”

“Mari kuperiksa.”

“Apa, kurang ajar!” si gadis tiba-tiba membentak.

Keruan saja Ho Siang jadi melongo. Bengong memandang si gadis yang marah.

“In-moay, mengapa kau bilang aku kurang ajar. Perutmu sakit sebaiknya.”

“Kau mau periksa perutku?”

“Habis kau bilang sakit, sakit perut…... eh, ya mungkin mau……!”

“Mau apa?”

“Mau e, e!”

“Eh, kunyuk bukan itu! Perutku sakit melilit!”

“Sakit melilit. Oya..... ya tentu kolap!”.

“Apa itu kolap?”

“Kolap ya lapar, eh In-moay, benar kau lapar? Tunggu ya sebentar, sebentar saja!” berkata demikian Ho Siang mencelat jauh dan masuk ke dalam hutan.

Memang saking tak terasanya mereka itu mengobrol tahu-tahu mereka sudah mulai memasuki sebuah hutan. Hutan bambu yang indah sekali pemandangannya. Akan tetapi bukan itu yang membuat hati Nyuk In serasa indah. Keindahan itu datangnya dari pemuda jang bernama Ho Siang itu!

Entah mengapa pada mula ia melihat pemuda itu memasuki rumah Yok-ong Lo Ban Theng, dan melihat keberanian pemuda itu menghadapi Te-thian Lomo ia sudah tertarik, apa lagi setelah mengetahui bahwa Ho siang adalah murid Nakayarvia yang lihay itu, membuat hatinya tunduk benar-benar! Diam-diam hati itu menjadi bahagia di dekat Ho Siang.

Selagi ia termenung dalam lamunannya itu, tiba-tiba ia mengeplak kepalanya. Tolol kau, makinya dalam hati, melamunin dia belum tentu dia mau sama engkau. Engkau memang mudah jatuh, mengapa kau cepat jatuh hati kepada pemuda jang bernama Ho Siang itu? Nggak tahu kau dia sudah umur berapa sekarang, dan engkau baru juga berapa?

Engkau baru mengenal dia cuma di luarnya saja, belum mengenal ke dalam. Pemuda itu berusia tidak lebih dari duapuluh lima tahun, apakah dalam usia demikian ia belum mempunyai pacar. Jangan-jangan dia sudah berkeluarga, sudah kawin, mana kau tahu? Untuk kedua kali Nyuk In mengeplak kepalanya.

“Eh kenapa kau gebukin kepala?” Ho Siang bertanya sambil memegang ke dua telinga kelinci. Seekor kelinci gemuk sekali meronta-ronta dalam pegangannya: “Kenapa sih kau ngeplak-ngeplak kepala, wah….. berabe nih, perutmu sakit, sekarang kepalamu sakit… tapi jangan dikeplak-keplak dong, bisa geger otak kau, baru tahu rasa!”

Melihat pemuda itu sudah mendatangi, wajah Nyuk In berseri dan sejenak ia tertunduk sambil menyahut: “Aku nggak sakit kepala kok!”

“Tapi kenapa tadi kau keplakin kepalamu?” tanya Ho Siang.

“Siapa yang keplakin kepala. Emang aku sinting, eh, kau dapat kelinci dari mana, wah kau nangkap ya, hayo…... potong kelincinya biar aku membuat api,” dengan tertawa-tawa cerah ia membuat api dan matanya melirik ke arah pemuda itu yang dengan cekatan sekali menyembelih kelinci dengan pedangnya, lalu menguliti dengan cepat.

Sambil bekerja, Nyuk In bersiul perlahan dan Ho Siang beberapa kali melirik ke arah gadis jang benar-benar amat jelita dan manis bagi penglihatannya. Memang kalau hati itu sudah dimabok asmara, segalanyapun dilihat serba indah dan menyenangkan!

“Lihat nih, dagingnya….. hem, makin lapar perutku,” kata Nyuk In sambil mengangkat daging kelinci tinggi-tinggi!

“Lekas panggang….. tak kuat lagi aku……” Ho Siang berkata, menelan air liur beberapa kali, saking hebatnya selera itu menyerang hati!

Seperti seorang anak yang kesenangan dengan barang mainannya, sambil tertawa-tawa gembira Nyuk In membuat sate kelinci dan kemudian memanggangnya. Bau jang sedap gurih memenuhi udara, menambah rasa lapar di perut yang sudah berkeroncongan.

Selama memanggang daging sate kelinci itu Nyuk In tidak banyak berbicara, hanya beberapa kali ia melirik ke arah Ho Siang, akan tetapi kalau pemuda itu membalas pandangannya, ia mengasih kerlingan sambil tersenyum. Biar pun mulutnya tidak berkata sesuatu, namun dalam hatinya Nyuk In tiada henti-hentinya berkata-kata.

Pemuda ini baik pikirnya. Tidak kurang ajar seperti lelaki lain, biarpun ia kelihatan kadang-kadang seperti orang tolol, akan tetapi ia tahu bahwa pemuda ini amat lihay, buktinya ia sudah berani melawan Te-thian Lomo yang terkenal lihay dan kejam. Bersama-sama berjalan dengan pemuda ini tentu amat menyenangkan sekali, bukan saja hatinya memang sudah terpaut dengan kesederhanaan pemuda ini, disamping itu dengan adanya Ho Siang, bukankah lebih mudah baginya untuk mencari musuh besarnya.

Dengan pemuda ini di sampingnya, menghadapi Pay-cu Sian-li-pay yang bernama Bu-tek Sianli itu, apa jang mesti ia takuti? Kalau memang buat menghadapi suheng saja, si Cambuk sakti Oey Goan, ia masih dapat menandingi. Akan tetapi mencari si nenek sakti yang bernama Bu-tek Sianli, bukankah lawan jang ringan!

<>

Siapakah gadis yang bernama Cung Nyuk In ini?

Memang benar seperti pengakuannya ia adalah murid dari Bu-beng Sianjin. Orang tuanya terbunuh di tangan Bu-tek Sianli dan dia sendiri, pada usia delapan tahun diculik oleh Pay-cu Sian-li-pay itu untuk dijadikan murid Bu-tek Sianli. Untunglah pada saat penculikan itu terjadi, muncul Bu-beng Sianjin, dan berhasil merampas Nyuk In dari culikan Bu-tek Sianli.

Sejak itu karena Nyuk In tidak punya orang tua lagi maka selama hampir delapan tahun ia digembleng oleh Bu-beng Sianjin di puncak Thang-la, disamping itu Bu-beng Sianjin, juga mempunyai murid Oey Goan. Akan tetapi sayang sekali Oey Goan berwatak keras dan penuh keinginan-keinginan kedudukan tinggi, maka murid pertamanya ini tersesat dan menjadi hamba-hamba nafsunya. Oleh karena itulah selesai digembleng oleh kakek Bu-beng Sianjin, ia dipesan untuk mencari suhengnya Oey Goan memperingati supaja suhengnya itu mau kembali ke puncak menghadap suhunya.

Pada waktu ulang tahun Yok-ong Lo Ban Theng itulah Bu-beng Sianjin menyuruh muridnya untuk turun gunung dan mencari suhengnya dan mencari pembunuh orang tuanya Bu-tek Sianli! Tentu saja setelah bertemu dengan pemuda Ho Siang yang berkepandaian tinggi, dan yang juga sudah menarik hatinya, membuat ia tenggelam dalam lamunan mengkhayalkan sesuatu jang indah!

Waktu Nyuk In melirik lagi dilihatnya Ho Siang tengah termenung sambil menghendus asap sate kelinci yang nikmat dan lezat. Nyuk In mengambil batu kecil di bawah kakinya dan melempar ke kaki Ho Siang sambil katanya tersenyum: “Eh, ngelamun…..?”

Ho Siang membalas tersenyum, melihat batu kecil yang dilempar si gadis yang menyentuh mata kakinya, meskipun tidak sakit ia berteriak: “Aduuh!!!”

“Hi hi hi, sakit ya?”

“Nggak… nggak sakit,” sahut Ho Siang.

“Nggak sakit kok menjerit? Aii, orang muda suka ngelamun, entar cepat tua tu! Nglamun apa sih……. ngelamunin pacar ya?” Nyuk In bertanya menggoda sambil mengangkat tinggi-tinggi sate kelinci yang hampir matang dan mengeluarkan bau jang lezat merangsang selera.

Menghendus asap ini keruan saja kalamenjing Ho Siang turun naik dan menelan berkali-kali air liurnya. Melihat ini Nyuk In tertawa mengikik sehingga terpaksa menutupi mulutnya dengan tangan kiri. Sebetulnya jarang ia tertawa segeli ini, akan tetapi sekarang melihat tingkah lakunya pemuda itu, ia jadi kepingin tertawa.

Memang aneh sekali kalau hati itu tengah dirangsang oleh asmara! Asmara membuat orang yang tidak bisa tertawa akan menjadi tertawa riang, asmara pula membuat hati yang susah nelangsa menjadi riang penuh gelora cinta. Asmara betapa kuasa engkau mempermainkan manusia!

Melihat gadis itu tertawa sambil menutupi mulut, keruan saja Ho Siang jadi bertanya heran,“Hmm, mengapa engkau tertawa?”

“Tidak apa-apa, tak bolehkah orang tertawa?” Nyuk In menjawab sambil melirik nakal tangannya memutar daging kelinci di atas api.

Ho Siang bangkit dari duduknya dan mendekati si gadis jang tengah memanggang, “Aduh..... lama benar nih satenya, apakah belum mateng juga In-moay?”

“Nah, nah…... nggak sabaran ya? Bentar lagi juga mateng, sabar dong ya say…..!”

Ho Siang tersenyum. Disebut ‘sabar ya say...’ aiiih, alangkah mesranya sebutan gadis itu terhadapnya. Begitu indah dan menyenangkan. Ingin sekali gadis itu berkata sekali lagi ‘Sabar ya say…’ Ya, tentu saja aku bersabar sayang…... Sudah mateng belum dagingnya, akan tetapi ia tidak berkata apa-apa.

Setengah berjongkok ia mendekati Nyuk In melongok sate kelinci yang terpanggang di atas api. Si gadis membolak-balikkan sate daging kelinci itu di atas api.

Tahu bahwa pemuda itu di belakangnya sedang melongok daging panggangnya, Nyuk In berkata: “Kau sudah lapar, ya?”

“Tentu saja lapar, eh, kudengar perutmu juga berkeruyuk minta diisi. sudah...... sudah angkat, sudah mateng?”

“Sekarang memang sudah mateng.” Nyuk In mengangkat daging kelinci dan menaruhnya di atas daun-daun yang sudah disediakan di situ, di depan Ho Siang.

“Wah… gurih nih……” Ho Siang memuji.

“Hayo kau ambil dulu!”

“Kau ambillah.”

“Kau kan yang tangkap, kau mesti ambil duluan!”

“Ya, tapi bukankah kau jang memanggangnya….. hayolah, ambillah…..!” didesak terus, akhirnya Nyuk In mengambil setusuk. Diikuti oleh pemuda di belakangnya.

Ho Siang tidak berlaku sungkan lagi. Dengan penuh gairah ia mengambil tusukan daging yang banyak lemaknya, lalu dengan menggerogotinya dengan lahap: “Wah, hebat…….! Lezat bukan main….” Katanya sambil mengunyah. Memang gemuk kelinci itu, itu bukan saja dagingnya yang tebal dan empuk juga lemaknya banyak sehingga begitu menggigit daging, lemak yang mencair oleh api itu menitik dari kanan kiri bibir Ho Siang!

“Sayang eggak ada arak! Hey, hendak ke mana kau? In-moay?”

“Kau bilang nggak ada arak. Memang makan sate tanpa arak kurang sedap, kau tunggu ya, aku ambil air minum!” Cepat Nyuk In berlari meninggalkan Ho Siang.

Pemuda itu mengawasi kepergian Nyuk In sambil mengunyah lambat-lambat dan pikirannya makin penuh oleh keadaan Nyuk In. Hebat memang gadis itu, wataknya aneh, sangat menyenangkan hati!

Tidak lama kemudian Nyuk In kembali dengan membawa dua buah cawan arak. Datang-datang ia meletakkan cawan arak itu di dekat Ho Siang sambil katanya: “Ini araknya sedaapp!”

“He, kau dapat arak begini harum dari mana?”

“Tentu saja boleh beli. Kebetulan sekali di luar hutan tidak jauh dari sini ada kedai arak, aku beli dua tail. Arak Hang-ciu keras dan harum,” berkata demikian iapun mulai makan daging itu.

Keduanya makan dengan sedap, tanpa bicara hanya kadang-kadang pandang mata mereka bertemu sebentar. Ho Siang duduk di atas batu, Nyuk In duduk bersila di bawah, di tanah yang penuh rumput hijau. Api bekas pemanggang daging masih menyala sedikit!”

Tak sampai sepuluh menit habislah daging kelinci itu. Setelah minum arak dan mencuci mulut dengan air arak, ke duanya makan buah yang tadi juga dibeli oleh Nyuk In di luar hutan. Sambil menggigit buah itu, Ho Siang berkata: “In-moay, terima kasih ya untuk arak dan sate kelinci yang gurih dan mengenyangkan perut.”

“Alaaa, terima kasih segala untuk apa? Bukankah yang kelaparan tadi adalah aku sendiri sampai sakit perut rasanya. Seharusnya aku yang berterima kasih kepadamu. Kau kau yang mencari kelinci dan menangkapnya!”

“Tapi kau yang memanggangnya!”

“Ya, sudah artinya sama-sama kerja sama. Jadi tidak perlu kau berterima kasih kepadaku dan aku juga tidak perlu berterima kasih kepadamu. Hutang kita sama-sama impas!”

Ho Siang tersenyum.

Nyuk In juga tersenyum. Ke dua pandangan itu saling merenggut, senyum Nyuk In semakin melebar cerah. Si Pemuda menatapnya bagaikan orang terpesona. Mata gadis itu alangkah indahnya, alangkah cerah dan menyegarkan, dan bibir gadis yang tersenyum terbuka itu, oiy alangkah manisnya membetot-betot hatinya, pikirnya.

“Kita sudah makan, perut kita sudah kenyang, mengapa kita bermalas seperti ini? Hayo, kita berangkat!”

Akan tetapi baru saja Nyuk In berkata demikian, tiba-tiba ia menggerakkan tubuhnya dan telah mencelat ke atas sebatang pohon jang tinggi dengan diikuti oleh gerakan Ho Siang yang mendengar pula suara derap kaki kuda di belakangnya. Benar saja belum lama mereka melihat penunggang kuda.

Ho Siang dan Nyuk In dapat mengenali ke tiga penunggang kuda itu. Mereka itu adalah Bong-goanswe dan kedua kawannya, seorang hwesio tua Hok Losu dan Leng Ek Cu tokoh Kong-thong-pay.

Akan tetapi yang mengherankan Nyuk In dan Ho Siang adalah seorang gadis muka kerudung hitam yang terbelenggu ke dua tangan dan kakinya pada punggung seekor kuda lainnya yang ditarik oleh Leng Ek Cu. Mereka membedal kudanya tidak terlalu cepat oleh karena itu dua orang muda di atas pohon dapat mendengar pembicaraan Leng Ek Cu: “Hok Losuhu, apakah kita harus ke kotaraja dulu, ataukah langsung ke Pulau Bidadari?”

“Mengapa kita harus ke kotaraja? Biar Oey Goan yang melapor ke sana, kita langsung saja menemui Bu-tek Sianli. Gadis ini kita tawan dan kita hadapkan kepada Pay-cu Sian-li-pay, suatu kesempatan yang baik bukan untuk kita bersekutu dengan nenek Sakti Kepalan Dewa tanpa tandingan itu!”

Leng Ek Cu tidak menyahut.

Bong-goanswe tertawa mengakak: “Ha ha, sayang sekali gadis itu teramat cantik, kalau tidak aku tak rela menyerahkan kepada Bu-tek Sianli!”

“Aha Bong-sicu ini masih kurang puas dengan gadis-gadis cantik di Kotaraja, sehingga merindukan bunga mawar liar dan berduri hehehe,” Hok Losu menoleh kepada Jenderal Bong yang menyambut dengan tertawa-tawa pula.

Akan tetapi tertawanya terhenti dan begitu hwesio Hok Losu itu menggerakkan tangan…… tahu-tahu terdengar suara pohon di atas roboh menimbulkan suara bergedubrak keras sekali. Dua sosok tubuh mencelat turun.

Ho Siang kaget setengah mati. Untung ia berlaku gesit sehingga dapat mengelakkan pukulan Hok Losu yang dihantam dari bawah. Kalau tidak gesit sedikit saja, bukan pohon itu yang roboh melainkan kepalanya yang remuk!

Melihat bahwa yang mengintai di atas pohon itu adalah dua orang muda. Hok Losu tertawa mengejek: “Ha ha ha baru bunga mawar berduri patut dipetik ketika sedang mekar-mekarnya……. aduh cantik sekali!”

Bong-goanswe yang juga menoleh ke belakang menjadi terheran melihat Nyuk In dan seorang pemuda tinggi kurus berdiri dengan mata membelalak: “Nyuk In, berani kau kurang ajar dengan Hok Losuhu?”

“Susiok…..” Nyuk In memanggil.

“Hem, pergilah kau anak kecil, jangan turut campur urusan orang tua,” Bong-goanswe menudingkan telunjuknya.

“Susiok, suhu memanggil kau pulang, ke puncak,” sahut Nyuk In.

“Ah, nggak ada urusan denganku. Hayo kau minggat!”

“He he he, Bong sicu... siapakah gadis liar ini?” Hok Losu menghampiri Bong-goanswe atau Bong Bong Sianjin sambil pandangan matanya tidak lepas memandangi Nyuk In.

Melihat tingkah laku hwesio tua ini, panas hati Ho Siang! Hweshio gila, pikirnya, melihat cewek cantik matamu liar seperti kucing melihat ikan basah, sialan! Akan tetapi tentu saja ia menekan perasaan hatinya.

Terdengar orang tua jang berpakaian jenderal itu menyahut: “Dia ini murid suheng Bu-beng Sianjin, Hok Losuhu!”

“O, cantik ya?”

“Susiok, kau harus menghadap suhu sekarang juga!” Nyuk In berkata ketus, kipas dan pit di tangannya sudah terbuka.

“Hi ha ha, gagah sekali! Eh, Bong sicu biar aku mencobanya,” sambil berkata demikian tangan hwesio itu bergerak. Angin besar bergelombang menyambar tubuh Nyuk In, tentu saja gadis ini mengibaskan kipasnya membalas dorongan angin bergelombang itu.

Akan tetapi ia menjerit lirih ketika tahu-tahu tubuhnya sudah terlempar ke belakang menimpa pemuda tinggi kurus. Dengan cekatan sekali Ho Siang menggerakkan tangannya menyambar tubuh Nyuk In jang melayang menimpanya.

Begitu tubuh dapat disambar, segera ia meletakkan tubuh itu di tanah. Ternyata Nyuk In dalam segebrakan saja ia sudah tertotok oleh hwesio tua ini. Kaget sekali Ho Siang dengan geram ia meloncat maju suling hitam di tangan: “Hwesio jahat kau harus mampus!”

Kilatan sinar hitam menyambar ke udara bergerak cepat merupakan sebuah tulisan kilat bagaikan ada guntur yang menyambar dari atas, tubuh hwesio tua itu doyong ke kiri merasa ada angin mujijat menyambar dari Suling hitam itu. Terkejut hati Hok Losu, sambil melompat mundur ia bertanya: “Bocah gila, kau siapa? Pernah apa kau dengan Nakayarvia dari India?”

“Hwesio tai, Nakayarvia adalah guruku yang terhormat, kau pendeta berhati kotor setan perempuan!”

“Hehehe bagus.....tidak bertemu dengan Nakayarvia tidak apa, biar engkau mewakili gurumu membuat perhitungan denganku dan hadapi beberapa jurus…..” Setelah berkata demikian, hwesio tua tinggi besar ini sudah menggerakkan ke dua lengan bajunya yang meniupkan angin pukulan seperti badai mengamuk!

Ho Siang terkejut tetapi ia tidak gentar. Cepat ia memasang beshi-beshi dengan kaki terpentang ke kanan ditekuk sulingnya menangkis dengan gerakan dari atas ke bawah:

“Dess!” tubuh Ho Siang terpental ke belakang. Tetapi ia tidak luka sedikitpun. Karena begitu tadi merasa pukulan-pukulan hwesio ini tidak dapat ditahan, segera ia mengerahkan sin-kang mematikan raga, maka bagaikan sehelai daun kering terhempas angin, tubuhnya melayang jatuh di samping Nyuk In yang masih tertotok rebah di tanah!

Di lain pihak, Hok Losu juga kaget setengah mati. Biarpun ia tidak terpental seperti pemuda kurus tinggi itu, akan tetapi ia merasa getaran jang amat hebat menyerang jantungnya. Cepat ia mengerah tenaga sin-kang menutupi jantung.

Matanya memandang kagum kepada pemuda ini, “Bagus? Kau patut menjadi murid si pertapa dari India itu. sekarang terimalah pukulanku sekali lagi!”

“Hok Losuhu..... tahan!” Bong-goanswe atau kita sebut saja Bong Bong Sianjin berseru menahan gerakan jubah hwesio tua itu. Ia menghampiri dan menjura: “Hok losuhu, sudahlah mengapa kita meladeni anak-anak ini. Kita mempunyai urusan jang lebih penting…... mari kita berangkat!”

Tentu saja jenderal Bong jang cerdik ini tidak mau melibatkan dirinya dengan permusuhan dengan Nakayarvia jang terkenal itu, apalagi dilihatnya Nyuk In sudah tertotok, tak enak hati ia meladeni murid suhengnya ini. Maka itu ia mencegah Hok Losu!

Anehnya hwesio sakti itu takluk akan orang tua berpakaian jenderal begitu mendengar Bong-goanswe melarangnya dengan melirikan matanya kepada pemuda tinggi kurus itu ia berkata, “Lain kali kita lanjutkan!” Habis berkata begitu ia mengikuti rombongan Bong-goanswe dan Leng Ek Cu jang sudah berjalan acuh tak acuh.

Melihat hwesio itu sudah pergi, Ho Siang bangkit berdiri dan tangannya bergerak membebaskan totokan si gadis. Nyuk In bersungut kesal: “Aku tak dapat menandingi susiok, urusan ini biar suhu jang turun tangan. Hemm, hwesio tua itu sakti benar, entah siapa dia?”

“Masa kau tidak tahu, ia itu adalah sute dari Ciangbunjin Siauw-lim-pay jang tersesat, namanya Hok Losu! Ia seorang tokoh yang amat dikenal dari perkumpulan Siauw-lim-sie. Akan tetapi berbeda dengan para hwesio Siauw- lim-pay yang terkenal sebagai pendeta suci dan beriman kepada kitab agama Budha, dan lagi mempunyai kepandaian silat tinggi untuk membela kebenaran dan keadilan. Hok Losu ini semenjak dahulu merupakan seorang murid yang murtad.

“Ilmu kepandaiannya memang tinggi dan lihay, boleh dikata jarang anak murid Siauw-lim-pay yang menandingi Hok Losu setelah hwesio itu dapat mencuri kitab pelajaran silat yang amat hebat itu, kepandaiannya jauh meningkat lebih hebat dari pada dulu. Rasanya hanya Thian Thian Ciangbunjin saja yang dapat menandingi hwesio sesat itu…..”

“Ooo, pantas kepandaiannya selangit.”

“Eh, dengan jenderal itu kau memanggil susiok, dia itu apamu?” tanya Ho Siang.

“Dia itu memang susiokku, adik seperguruan dari suhu Bu-beng Sianjin, sayang susiok juga tersesat dan haus akan harta kemuliaan, sehingga sering kali membuat kacau.

“Untung ada susiokmu yang mencegah hwesio tua yang kalap hendak menyerangku. Hok Losu memang hebat, aku belum tentu dapat menandinginya!”

Nyuk In bangkit pula berdiri, berjalan perlahan-lahan di samping pemuda tinggi kurus yang bernama Ho Siang.

“Kita tak jadi ke kotaraja,” katanya.

“Mengapa begitu?”

“Aku hendak membuntuti Susiok dan hwesio tua itu, entah apa yang mereka hendak perbuat dengan Pay-cu Bu-tek Sianli dan hendak mengajak dia mengadu kepandaian, hendak kupenggal kepala nenek itu….” Kemudian sambil berjalan itu Nyuk In bercerita. Ia menceritakan tentang ke dua orang tuanya yang mati di tangan Bu-tek Sianli. Ia sendiri hampir diculik untung muncul Bu-beng Sianjin yang telah menolongnya.

“Jangan takut In-moay, meskipun nenek tua Sian-li Paycu itu sakti, aku akan selalu menghadapinya dan membantumu sekuat tenaga,” berkata Ho Siang dengan semangat.

Tentu saja Nyuk In menjadi girang sekali mendapat kawan seperti Ho Siang ini banyak memberi keuntungan. Ia tahu bahwa kepandaian Ho Siang jauh lebih tinggi daripadanya! Dengan ia bersama pemuda ini masakan ia tidak dapat menghadapi Bu-tek Sianli!

Maka berjalanlah ke dua orang muda itu mencari pulau Bidadari. Di sepanjang perjalanan mereka merupakan sepasang merpati yang baru lepas dari sarangnya. Hati mereka saling mengajuk, saling mengisi, o alangkah indahnya memang hati yang tersentuh panah asmara!

Namun di samping itu Ho Siang dan Nyuk In selalu turun tangan apabila ada orang-orang jahat, mengganggu penduduk. Selama perjalanannya menuju ke laut Po-hay entah berapa banyak mereka bertemu dengan para perampok, tukang-tukang pukul yang disewa oleh para hartawan untuk menjadi anjing penjaga, akan tetapi menghadapi sepasang merpati ini mereka itu merupakan sebuah laron yang bertemu dengan api lilin.

Perjalanan mereka menuju pulau Bidadari ke pesisir lautan Po-hay sangat membawa kesan masing-masing. Tanpa mereka sadari hati itu sudah bertaut menjadi satu, menjadi demikian akrabnya hubungan sehingga banyak orang-orang yang berjumpa dengan sepasang merpati ini menjadi merasa iri dan kagum!!

Dalam perantauannya itu Nyuk In tidak berpakaian seperti pria. Ia kini memakai pakaian-pakaian wanita yang sangat serasi dengan kulit dan tubuhnya yang langsing sehingga membuat Ho Siang jadi bertambah jatuh hatinya terhadap gadis murid Bu-beng Sianjin ini!!

Jauh di dasar jurang, di antara kabut-kabut putih masih mengambang di udara, dua orang laki-laki sedang bertempur dengan hebat dan aneh. Seorang diantaranya, adalah seorang laki tinggi kurus dan kulitnya hitam, rambutnya yang keriting itu terbungkus kopyah yang terbuat dari kain kuning, tangannya memakai gelang-gelang besar ditutupi oleh lengan baju yang besar dan lebar, seperti jubah seorang hwesio yang terbuat dari kain kuning kasar.

Usianya tidak lebih dari limapuluh tahun. Tangannya memegang sebuah pedang pendek yang berbentuk melengkung seperti arit, berkilat-kilat pedang pendek itu.

Di depan orang yang memakai kopyjah kuning tampak seorang kakek yang tua sekali. Kakek yang bongkok yang terkadang terkekeh-kekeh dan kadang-kadang mengeluarkan suara melengking panjang seperti suara jeritan yang menggetarkan dasar jurang.

Kakek ini bergerak dan memegang senjata yang sama berupa pedang pendek yang melengkung dan tangan kiri bergerak-gerak merupakan tamparan, dan tangan kanan berkelebat-kelebat menggerakkan pedang pendek yang mengeluarkan cahaya aneh!

Gerakan mereka ini sangat cepat sekali dan sukar sekali diikuti oleh pandangan mata. Tiba-tiba nampak seperti sinar panjang yang saling menggulung, saling menyambar dan tampak dua orang tua itu rebah telentang terpisah antara sepuluh meter. Ke duanya nampak terengah-engah dan terdengar suara mereka merintih perlahan.

“Hek sute..... kau hebat!” kekek tua itu berseru lemah sambil merintih perlahan.

“Pek suheng kau juga hebat,” terdengar orang yang memakai kopyah kuning di kepalanya memuji pula. Ia juga nampak merintih perlahan, dengan lambat sekali seperti orang lumpuh, ia bersila mengerahkan sin-kang! Gerakannya itu diturut oleh kakek tua bongkok yang lantas bersila dan mengheningkan cipta bersamadhi.

Kedua orang itu tak dapat bangun kembali, masing-masing sudah terluka. Nampak kini ke duanya sedang tenggelam menggerahkan hawa sakti di dada jang terhantam pukulan lawan masing-masing. Sepasang pedang pendek, satu mengeluarkan cahaya hitam berkilat dan yang satunya lagi yang menancap di batu karang mengeluarkan sinar putih bercahaya.

Pada saat itu, selagi kedua orang tua itu tenggelam dalam samadhinya, pendengaran mereka jang tajam dapat menangkap sesuatu yang meluncur turun dengan amat cepatnya dari atas. Untuk sedetik kemudian si kakek bongkok mengangkat tangannya ke atas dan sesosok tubuh menimpah tangan yang terangkat itu.

Kakek bongkok itu terheran dan membuka matanya, kiranya scorang gadis cantik telah berada di tangannya yang tadi menyambar. Gadis itu dalam keadaan pingsan!

Begitu kakek bongkok itu melihat ke depan, alangkah herannya dia, begitu melihat tubuh seorang pemuda juga menancap di atas kepala si kakek berkopyah kuning dalam keadaan berdiri. Pemuda tinggi tegap itu juga pingsan sama seperti si gadis yang tadi disanggapnya!

“He he he sute, kau lihat, bukankah Thian menurunkan bocah ini untuk mewakili kita mengadu kekuatan?” berkata kakek bongkok sambil masih meramkan matanya.

“Betul suheng, pemuda ini adalah muridku! Dan aku akan melatih dia untuk menghadapi engkau, ingat di antara kita belum ada yang menang atau yang kalah, sayang….. kita tua-tua bangka ini sudah terluka dan tak mungkin baku hantam lagi, biar pemuda ini mewakili aku…. Suheng, tiga tahun lagi kita akan berjumpa di tempat ini, o ya, kalau aku masih hidup! Kalau sudah mampus, biarlah bocah ini yang akan mewakiliku untuk meneruskan pertempuran ini, ha ha ha!”

Sambil berkata demikian kakek berwajah kuning itu menyambar tubuh pemuda jang bukan lain adalah Liok Kong In, yang terjatuh dari atas jurang terhantam pukulan dari Bong Bong Sianjin. Untungnya ia tadi terjatuh tepat di atas kepala kakek sakti berkopyah kuning ini sehingga ia tidak mengalami luka-luka atau terbanting di tanah.

Begitu mengangkat pemuda yang masih pingsan itu, kakek berkopyah kuning mengambil pedang pendek hitam di tanah dan sekali berkelebat ia sudah lenyap dari hadapan kakek bongkok di depannya.

“Ayaaa, hukum karma! Nasib sute Hek-moko keras hati, tapi kepandaiannya luar biasa, ya, apa mau dikata kalau ia mau menurunkan ilmu silatnya kepada pemuda jang dibawanya untuk membikin mampus aku, terpaksa akupun menurunkan ilmu silat kepada gadis ini..... eh, sudah sadar ia!” sambil berkata demikian ia memandang gadis di depannya yang menggeliat-geliat seperti orang baru bangun tidur.

Bwe Hwa terkejut sekali melihat kakek bongkok di depannya. Mimpikah aku ini, pikirnya, di tempat apakah ini?

“Nona kau sudah sadar syukurlah.....” si kakek bongkok berkata perlahan. Akan tetapi wajahnya semakin pucat, dalam berkata tadi ia sudah mengerahkan tenaga yang cukup banyak sehingga dirasakan dadanya semakin sakit dan nyeri!

“Kakek…… kau siapa? Mengapa aku ada di sini? Apakah ini yang dinamakan neraka?” Bwe Hwa bertanya sambil bangun duduk di depan si kakek. Akan tetapi ia cepat menubruk kakek itu ketika orang di depannya ini muntahkan darah segar banyak sekali.

“Aii….. kau celaka kek!”

“Sute memang hebat, pukulannya sudah meremukkan tulang dadaku…. eh, nona kau siapa dan mengapa kau jatuh dari atas jurang di sana itu? Kau membikin kaget aku, orang tua yang mau mampus ini!”

Bwe Hwa mengingat. Ia dan Liok Kong In, it-suhengnya memang jatuh dari atas tebing sana, hemm, tentu si kakek ini yang menolongku, pikir Bwe Hwa, akan tetapi begitu ia melirik ke sekitarnya ia tidak melihat Liok Kong In.

“Nona kau tadi…… meluncur dari atas itu, untung kau jatuh menimpaku dan aku si tua ini keburu menyanggap kau, kalau tidak, tubuhmu niscaya akan hancur dihantam batu ini, o ya, pemuda tinggi tegap itu…… apamukah dia?” Si kakek bongkok bertanya setelah dirasakan dadanya tidak terasa sakit lagi.

“Kek, pemuda itu adalah suhengku, kemana dia? kau sembunyikan dimana?” Bwe Hwa bertanya gelisah. Takut kalau suhengnya tidak ketolongan!

“Dia selamat nona baru saja tadi dibawa oleh suteku ke tempat pertapaannya, suteku adalah Hek-moko, pertapa lihay, jangan kuatir nona, pemuda itu diambilnya untuk menjadi muridnya!”

Bwe Hwa menjadi melongo dan juga girang hatinya mendengar suhengnya selamat, malah diambil murid oleh sute orang tua bongkok ini.

“Betul kek?” tanya Bwe Hwa memastikan.

Si kakek tak menyahut, mengangguk dan bersemadhi lagi mengerahkan hawa sin-kang di tubuhnya. Sekali lihat saja tahulah kakek bongkok itu tengah terluka hebat. Oleh sebab itu Bwe Hwa diam saja, memandangi si kakek. bongkok.

Tidak lama kemudian nampak si kakek membuka matanya dan bertanya: “Lukaku parah, eh, nona siapa namamu? Mengapa kau terjatuh ke jurang ini, hayo kau ceritakan……!!”

“Saja adalah murid mendiang suhu Swie It Tianglo dan nama saya Lie Bwe Hwa. Pemuda itu adalah suheng saya Liok Kong In..... eh, kenapa kau kek?” Bwe Hwa bertanya melihat kakek memandangnya dengan mendelik, dikirain kakek itu marah terhadapnya, akan tetapi bukan demikian adanya. Saking menahan rasa perih dan sakit di dada dan terkejut mendengar Swie It Tianglo sudah meninggal, ia jadi membelalak. Ia terengah-engah!

“Bagus kau kiranya murid Swie It Tianglo Bwe Hwa….. aku.... aku tak kuat lagi….., bersumpahlah kau mau menjadi muridku!”

“Kek?”

“Bwe Hwa…., aku.... aku hampir tak kuat lagi. Luluskanlah permintaanku jang terakhir ini……” Suara si kakek semakin lemah, dengan merayap seperti orang mengesot ia menghampiri pedang pendek melengkung yang mengeluarkan cahaya putih, lalu tangan kirinya merogoh saku dan mengeluarkan sejilid buku kecil. Disodorkan kepada Bwe Hwa.

“Nona kau pelajari kitab pelajaran silat ini, berlatihlah dengan tekun. Sebelum tiga tahun kau melatih diri jangan kau keluar dari lembah ini….. Carilah Hek-moko…. suteku itu, dan kau tempurlah ia….. aku tak tahan lagi, Bwe Hwa……” Augh-uh tiga kali kakek bongkok itu muntahkan darah, dengan mata mendelik ia memandang Bwe Hwa.

Terkejut sekeli Bwe Hwa, ia merasa terharu melihat keadaan kakek itu dengan cepat ia berlutut dan berkata: “Kakek, suhu....., teecu Bwe Hwa mengucapkan terimakasih untuk kepercayaanmu menitipkan kitab ini. Teecu bersumpah akan mencari Hek-moko!”

Begitu selesai Bwe Hwa berkata, mata yang mendelik itu menutup kembali. Bibir si kakek bongkok mengeluarkan senyum dan raganya meninggal dan napasnya berhenti. Dan meninggallah kakek bongkok itu dengan tenang!

Dengan dada penuh rasa haru, Bwe Hwa menggali lubang dengan pedang pendek yang tadi diambil oleh si kakek bongkok. Alangkah terkejutnya ia begitu memegang pedang tangannya bergetar hebat. Ada rasa mujijat menyerangnya.

Dengan cepat Bwe Hwa melepaskan pedang itu, mulutnya menggerutu, “Pedang Iblis!” Akan tetapi rasa penasaran itu membuat tangannya meraih lagi menggenggam kuat. Kalau kakek bongkok yang menjadi suhuku bisa memegang masa aku tidak mampu memegang pedang ini? 

Berpikir demikian Bwe Hwa menggali lobang dan sebentar itu pula ia sudah memakamkan jenasah kakek bongkok yang kini menjadi suhunya!

Setelah memberi penghormatan terakhir, Bwe Hwa melangkah perlahan, tidak jauh dari tempat itu terdapat sebuah pondok yang di kelilingi oleh pepohonan-pepohonan yang banyak mengeluarkan buah dan sayur mayur. Hemm, tentu ini tempat tinggal suhu….. alangkah indahnya pemandangan di sini. Sambil berpikir demikian Bwe Hwa mengeluarkan kitab kecil dan membaca Pek-hwa-kiam-sut (Ilmu Pedang Bunga Putih) yang ditulis oleh Pek-moko, hemm, jadi suhu bernama Pek-moko?

Demikianlah sejak saat itu, Bwe Hwa melatih diri atas petunjuk kitab peninggalan Pek-moko yang bernama kitab pelajaran ilmu pedang bunga putih. Dan pedang yang disebutnya pedang iblis ini dipakainya untuk berlatih! Hebat bukan main pedang ini mempunyai mujijat yang luar biasa!

Dengan tekun dan bersemangat mulai hari itu Bwe Hwa menggembleng dirinya menurut petunjuk kitab kecil peninggalan kakek bongkok yang bernama Pek-moko! Apalagi melihat musuh-musuh besarnya seperti Bong Bong Sianjin, yang pernah ia rasai kelihayannya kemaren dulu itu, bertambah tekun Bwe Hwa berlatih! Ia berjanji setelah tiga tahun ia akan mencari musuh-musuh besarnya, Bong Bong Sianjin, Sianli Ku-koay, Te-thian Lomo dan mencari pula saudara-saudara seperguruannya yang bercerai berai!

<>

Sementara itu, Liok Kong In juga menerima gemblengan ilmu pedang Hek-hwa-kiam-sut dari Hek-moko. Kakek yang disebut Hek-moko ini keadaannya tidak lebih baik dari Pek-moko.

Begitu ia sampai di puncak pertapaannya di sebuah pegunungan yang tidak dikenal manusia, kakek ini muntah-muntahkan darah dan cuma seminggu kemudian kakek yang disebut Hek-moko ini meninggal dunia. Akan tetapi pada hari-hari sebelumnya, kakek ini pernah berpesan kepada muridnya Liok Kong In demikian:

“Kau pelajarilah kitab ini, muridku. Sebelum tiga tahun jangan kau meninggalkan puncak ini. Carilah Pek-moko, suhengku itulah yang membuat aku menjadi cacat seperti ini. Mungkin nyawaku tidak akan lama lagi bertahan. Kau carilah Pek-moko dan muridnya, kau tempur dia! Kalahkan dia..... sebelum ia mengaku kalah..... belum puas hatiku!”

Demikianlah Hek-moko bercerita kepada muridnya ini. Sebenarnya Hek-moko dan Pek-moko adalah saudara seperguruan, terkenal sebagai sepasang iblis hitam dan putih yang mempunyai kepandaian silat luar biasa.

Akan tetapi setelah mereka ini menciptakan sepasang pedang yang disebut Pedang Iblis, yang telah banyak mengorbankan nyawa manusia untuk pelaksanaan pembuatan pedang tersebut, yang direndam oleh darah dan dibakar oleh panasnya kawah api, maka setelah selesai sepasang pedang itu timbullah persaingan-persaingan, diantara sesama sendiri.

Hek-moko merasa tidak puas kalau belum mengalahkan Pek-moko sebaliknya Pek-moko juga demikian! Mereka selalu bertempur dengan menggunakan sepasang pedang iblis.

Pedang hitam ditangan Hek-moko pedang putih ditangan Pek-moko.

Pada suatu hari di lembah itu, mereka bertempur mati-matian. Seperti manusia yang haus darah mereka masing-masing saling terjang, saling menggunakan kepandaian untuk merobohkan lawannya. Akan tetapi kepandaian mareka tetap seimbang, semakin seru mereka bertempur semakin tidak puas di hati mereka.

Tiga hari tiga malam mereka bertempur, dan pada hari jang ketiga, sepasang pedang iblis itu saling mereguk darah. Pedang pendek Pek-moko juga berhasil melukai lambung Hek-moko.

Baru mereka sadar sesudah keduanya itu terluka hebat. Apa mau, bagaikan diturunkan dari langit datang Bwe Hwa dan Kong In……

Waktu tiga tahun tidak lama. Memang kalau dinanti-nanti sang waktu akan merangkak amat lambat sekali, seperti seekor siput berjalan. Terasa lama dan mengesalkan. Akan tetapi itu kalau kita perhatikan, coba kalau kita tidak perhatikan tahu-tahu, siput itu sudah pergi jauh meninggalkan kita hanya nampak bekas-bekas tapak sang waktu itu merangkak yang menimbulkan kenangan masa-masa lalu, yang tak mungkin akan kembali.

Oleh karena itu, kita tinggalkan dulu dua orang muda murid mendiang Swie It Tianglo jang telah melatih diri di tempat jang berlainan. Bwe Hwa berlatih atas petunjuk-petunjuk kitab kecil peninggalan Pek-moko dan Liok Kong In bertekun pula di sebuah puncak pegunungan melatih diri menurut petunjuk-petunjuk kitab pemberian Hek-moko!

Dan tiga tahun nanti mereka ini akan kita temui dalam tragedi-tragedi yang mendebarkan jantung dan mengoyak-ngoyak hati. Karena sepasang pedang iblis di tangan Bwe Hwa dan Kong In mengingatkan orang-orang gagah kepada sepasang iblis hitam dan putih yang pada puluhan tahun yang lalu pernah menggemparkan dunia persilatan!

Sekarang kita ikuti pengalaman-pengalaman Tiang Le yang tertawan oleh empat dara jelita dari Sian-li-pay. Sejak kehilangan lengan kanannya Tiang Le seperti orang tanpadaksa ia tak dapat memainkan ilmu pedangnya lagi. Oleh sebab itu ia tidak dapat melepaskan diri dari tawanan empat dara Sian-li-pay yang lihai dan cantik jelita, dan bersuara merdu!

Dan ke empat dara ini adalah tulang punggung dari pergerakan Sian-li-pay, mereka itu adalah Sianli-sie-ci-moay (empat kakak beradik seperguruan Bidadari), berwatak aneh dan galak! Cerewet seperti nenek-nenek.

Seperti diceritakan pada bagian depan, sebetulnya Tiang Le bermaksud hendak menyelamatkan limaribu tail emas hasil upeti Kaisar untuk disumbangkan ke Wu-nian bagi penderita korban kelaparan dan penyakit. Siapa sangka, bukan saja ia tidak dapat menyelamatkan limaribu tail emas itu, malah dirinya terjirat menjadi tawanan ke empat dara berkerudung hitam ini?

Ia menyesal sekali tak dapat merampas harta itu, dan yang lebih disesalkan lagi kebuntungan lengan kanannya ini membawa kemalangan baginya. Coba kalau ia mempunyai sepasang lengan. Hemm, tak semudah gadis-gadis itu menawanku, demikian pikir Tiang Le di dalam gerobak yang didorong oleh si gadis.

Hawa udara begitu panas dan terik, membuat Tiang Le melenggut dan mengantuk dalam benaman karung-karung yang berisi ikan-ikan asin dan terasi. Selama dua jam di dalam gerobak ini, ia menjadi biasa lagi dengan hawa busuk yang semula membuat ia hampir pingsan! Sekarang malah ia dengan enaknya melenggut berayun ketika gerobak didorong!

Melihat betapa pemuda buntung ini malah tidur keenakan di dalam gerobak, gadis yang mendorongnya mengomel, memaki:

“Sialan, aku yang mendorong setengah mampus, engkau keenakan tidur di situ. Bangun bantu aku mendorong gerobak ini!” bentak si gadis muka kerudung hitam. Tiang Le menggeliat bangun.

“Bukankah engkau yang melemparkan aku ke sini eh, hendak dibawa kemana aku ini!!”

“Cerewet! Pokoknya kau ikut dengan kami. Habis perkara! Hayo turun, bantu aku dorong gerobak!!”

Gadis muka kerudung yang mendorong gerobak barang lainnya menoleh kepada saudaranya dan berkata, “It-sianli suci mengapa pake ngomel-ngomel, lemparin saja si buntung habis perkara. Bikin capek hati saja……”

“Hemm, memang dia patut dilempar!”

“Lemparlah kalau kau mau,” Tiang Le menantang.

“Jangan banyak tingkah makan ini!” sekali Sepasang pedang berkelebat tahu-tahu Tiang Le sudah mencelat ke atas, keluar dari gerobak dan berdiri.

“Hayo bantu dorong, kalau tidak ingin ku penggal lehermu,” bentak gadis itu menyarungkan sepasang pedangnya. Melihat bahwa gadis itu tidak menyerang lagi, Tiang Le terpaksa berjalan dan mendorong pula gerobak di samping si gadis.

Gadis-gadis yang lain menoleh dan tertawa, “It-sianli suci, hati-hati nanti dia kabur!”

“Coba-coba saja berani kabur, pedangku akan memenggal kepalanya,” sahut It-sianli yang berjuluk Bu-beng-siang-sin-kiam-hoat!

“Aduh galaknya…..” Tiang Le menggoda sambil mendorong.

“Kau kira aku main-main. Kau kira aku tidak berani memenggal kepalamu?” It-sianli menoleh.

Melihat mata yang cerah dan bening itu, Tiang Le bukannya menjadi marah akan tetapi, entah mengapa rasanya ia senang menggoda gadis kerudung hitam di sebelahnya ini!

Demikianlah sepanjang perjalanan mendorong gerobak ini, Tiang Le dan It-sianli selalu terdengar bertengkar. Terkadang-kadang nampak sepasang pedang si gadis terkelebat hendak memenggal leher Tiang Le, terkadang ia mengomel panjang pendek adu debat dengan pemuda buntung ini!

Hmm, perjalanan yang menyenangkan bagi Tiang Le. Betapa tidak? Biarpun ia dijadikan tawanan, akan tetapi berdekatan dengan gadis ini tidak merasa ia sedang ditawan dan sebentar lagi akan dihadapkan di depan Pay-cu Sian-li-pay nenek sakti Bu-tek Sianli!

Memang lucu sekali hati lelaki. Setiap melihat perempuan cantik selalu jatuh hati! Anehnya bagi Tiang Le meskipun ia belum melihat wajah gadis yang selalu tertutup kerudung hitam ini, ia sudah tertarik dan berkhayal akan keindahan bibir yang mengoceh dibalik sutera hitam dan hidung mancung bagus! Hanya sepasang mata itu yang mengoyak-mengoyak hatinya memberikan kepastian bahwa gadis ini cantik!

Gila! Apabila teringat kepada Sian Hwa, Tiang Le memaki dirinya. Tak boleh aku menghianati Sian Hwa, aku sudah mencintainya dan iapun mencintaiku. Ah, Sian Hwa di manakah engkau? Teringat Sian Hwa, sumoaynya yang kedua itu ia menarik napas panjang.

“Eh, mengapa kau menarik napas? Apakah kesal?” kata It-sianli yang berjuluk Bu-beng siang-sin-kiam-hoat sambil menoleh dan mengawasi pemuda itu. Kali ini Tiang Le tak mau bertemu pandang dengan mata si gadis, ia menunduk sementara tangannya mendorong.

“Hendak kau bawa kemana aku ini nona?” tanya Tiang Le dengan mengangkat muka memandang ke depan.

“Tentu saja ke pulau, habis kemana?”

“Masih jauh?”

“Tentu, naah tu di depan itu, ada anak sungai….. sebentar lagi kita akan mengarungi laut Po-hay, ya di seberang laut Po-hay itu pulau kami, disebut pulau Bidadari!”

Tiang Le menoleh. Pulau Bidadari, aneh mana ada pulau namanya pulau Bidadari, ada-ada saja gadis-gadis ini. Benarlah seperti apa yang dikatakan si gadis tidak jauh di depan mengalir sebuah anak sungai. Sungai ini akan menembus ke laut Po-hay suasana di tepi sungai ini amat sepi sekali.

Ke empat orang gadis berkerudung hitam menghentikan gerobaknya. Tiang Le juga berhenti, ia menyeka keringat yang menitik-nitik di wajahnya..... Cape juga mendorong gerobak ini pikirnya! Waktu dilihatnya ke empat gadis berkerudung hitam itu, mereka nampaknya tengah kelelahan juga.

“It-sianli suci, tidak ada perahu.....”

“Nanti pasti ada yang lewat, sekarang mari kita mengaso! Eh buntung kau berdiri saja di situ, apakah kau mau jadi patung. Duduklah!” It-sianli berkata ketus kepada Tiang Le yang masih berdiri mengawasi air sungai yang mengalir.

Tiang Le menoleh. Melihat mata yang jelita itu ia berkata: “Duduk di mana?”

“Tolol!! Di sini inilah….. di atas rumput ini, habis di atas sungai?” It-sianli membentak.

Ke tiga gadis berkerudung lainnya tertawa cekikikan.

“It-sianli suci….. kau selalu cekcok saja sama si buntung ini!” Heran salah seorang dari ke tiga gadis itu berkata sambil menghempaskan dirinya di atas rumput. Sementara angin bersepoi melelah. Nikmat menghembus-hembus pipinya.

“Aku benci..... benci!” Gadis yang dipanggil It-sianli suci itu berkata ketus, memandang kepada Tiang Le yang sudah deprok pula di tanah berumput.

“Jangan begitu suci, benci lama-lama jadi cinta, suci….. wah, barabe!”

“Setan! Siapa yang mencintai dia?”

“Itu kan umpama, It-sianli suci, sebab benci dan cinta itu berdekatan. Biasanya antara benci dan cinta merupakan saudara kandung yang saling berdekatan, hati-hatilah, jangan-jangan bencimu itu menjadi cinta!!”

“Siiiing!!” Sepasang pedang keluar dari sarungnya.

“Sam-sianli sumoay, lancang mulutmu!!”

“Eh mengapa kau marah?? Memang mulutku ini lancang suci, naah maafkanlah aku!” kata gadis berkerudung hitam yang memegang tongkat dan disebut Sam-sianli, dan ia berjuluk Sianli-sin-tung-hoat atau bidadari tongkat sakti.

Jie-sianli membuka perbekalannya dan mengeluarkan beberapa potong roti, kemudian katanya: “Janganlah pada bertengkar, lebih baik serbu ini!!”

“Jie-sianli betul, kita sikat ini baru mengenyangkan perut, bertengkar melulu apa yang bikin kenyang perut. Eeh! It-sianli suci kau tawari si buntung itu, dia tentu lapar!”

“Kau saja yang tawari!!”

“Masa aku? Kaukan lebih rapat!!”

“Setan, rapat apanya?”

Mendengar bahwa gadis-gadis aneh itu memperbincangkan dirinya, Tiang Le menjadi malu dan tak enak hati. Apalagi kini gadis-gadis itu meributkan soal saling dorong untuk memberikan roti. Gila! Lebih baik aku pergi saja, pikirnya mengangkat kaki berlalu.

“Eh, eh….. dia kabur, It-sianli suci…... lihatlah si buntung pergi!” Gadis kerudung ketiga berkata menunjuk Tiang Le sedang berjalan menjauhi.

“Setan, mau kabur ke mana kau?” berkata demikian It-sianli menggerakkan tubuhnya, tahu-tahu beberapa kali loncatan ia sudah berdiri di depan Tiang Le.

“Buntung! Hendak kabur ke mana kau?”

Mengkal hati Tiang Le, dikit-dikit gadis ini memanggilnya buntung, amat menyakitkan sekali! Dengan senyum pahit Tiang Le menyahut: “Nona, kau memanggilku tidak ada sopannya, namaku Sung Tiang Le, harap kau menjadi tahu adanya dan jangan memanggilku buntung, buntung begitu. Tanganku buntung tidak ada sangkut pautnya denganmu. Harap sedikit kau sopan dan mempunyai bahasa kalau memanggil orang.”

“Oooo, jadi kau harus kupanggil koko, begitu?”

“Bukan begitu, nona, panggil saja namaku!”

“Setan! Siapa yang ingin tahu namamu, eh bun….. Tiang Le, ya namamu..... kenapa kau kabur?”

Diam-diam Tiang Le mendengar gadis ini tidak jadi menyebutnya buntung. Diam-diam ia tidak dapat membenci gadis aneh ini!

“Aku tidak kabur nona, cuma tak enak hatiku melihat kalian makan!”

“Justru itu, hayo kembali, biar aku berikan kau roti. Eh tentu kau lapar ya?”

Melihat tingkah laku gadis ini, mau tidak mau Tiang Le menjadi tersenyum, ia tidak berkata apa-apa kepada gadis ini akan tetapi melangkahkan kakinya kembali ke tempat gadis-gadis kerudung hitam yang tengah makan roti.

Melihat kedatangan pemuda lengan buntung ini, keruan saja para gadis yang lain tertawa cekikikan, malah ada yang nyeletuk: “It-sianli suci hebat, anjing buntung ini jadi jinak di tangannya.”

Tiang Le melirik, yang berkata tadi adalah gadis kedua yang bersenjata cambuk. Tiang Le hanya tersenyum pahit, melirik ke arah lengannya yang buntung. Memang aku buntung mengapa aku harus malu dan marah? Ah, Bwe Hwa…... engkau yang membuatku jadi begini! Jadi seorang pemuda tanpa daksa.

Sayang hanya lengan kananku yang kau penggal mengapa tidak sekalian kau penggal kepalaku saja. Mati lebih baik dari pada kau siksa, hidup tanpa guna begini dipermainkan oleh gadis kerudung hitam!

Teringat ini Tiang Le termenung sendiri. Ia menolak roti yang disodorkan oleh It-sianli. Tentu saja It-sianli tidak mau memaksanya karena pandangan mata sumoay-sumoaynya memandang aneh!

Pada saat itu sebuah perahu meluncur dengan amat cepatnya. Nampak dua orang yang tengah mendayung. Melihat perahu itu sudah hampir lewat, salah seorang dari ke empat gadis berkerudung itu memanggilnya, “Hey tukang perahu..... kesinilah…. kusewa perahu kalian!”

“Hayyaaa..... itu dia gadis-gadis cantik, eh Kong Hwat, anak gendeng..... Hayo kau putar perahu….. Lihat gadis cantik itu hendak menyewa perahu kita, jalan….. kita dapat duit lagi….. ha ha ha! Eh, nona kerudung hitam….. apakah kalian hendak menyeberang?”

Dari tengah-tengah sungai itu si kakek berteriak. Suaranya berat dan nyaring. Kakek ini sudah tua, usianya ada limapuluh tahun. Akan tetapi pakaiannya aneh, kembang-kembang campur baur dan penuh tambalan-tambalan, di telinganya sebelah kiri nampak anting-anting besar seperti orang India, kepalanya diikat sorban kuning. Jubahnya penuh kembang-kembang itu lebar berjubrai seperti pakaian orang Bombai.

Pemuda yang dipanggil Kong Hwat tadi, adalah seorang pemuda tampan, usianya ada sekitar duapuluh, mukanya agak kehitam-hitaman saking tiap hari ia berjemur diri di sungai menjadi nelayan.

“Suhu...... nona muka kerudung itu, tentu anggota-anggota Sian-li-pay perkumpulan jahat!” pemuda Kong Hwat meragu untuk menepikan perahunya ke pinggir.

Si kakek bagaikan acuh tak acuh bersenandung riang sambil mengeprak-ngeprakan dayung, bututnya memukul air yang memercik tinggi.”

“Cik-kicik kibung, bunyi gendang bertalu-talu
Pura-pura bingung jangan sampai orang yang tahu.
Tak tak dung, ketak kedung, orang muda tangannya buntung,
Biarkan uang emas terkatung-katung, he he he.

“Kakek gila, hayo bawa kami dan tiga gerobak itu menyeberangi laut Po-hay. Berapa biaya nanti kami bayar!” Jie-sianli membentak sambil meluncurkan cambuknya dan begitu cambuk itu melilit pada tiang perahu, ia membetot keras sehingga perahu itu meluncur laju ke tepi dan menubruk pinggiran sungai.

“Wa, wa……! gadis ini galak-galak, berabe Kong Hwat. Benar orang-orang Sian-li-pay nggak memandang mata, ai, ai kalau perahuku rusak, kau mesti ganti bocah gendeng!”

“Eh, buntung angkat ini……, ikan-ikan asin tak perlu dibawa, biarin tinggalin di sini, dan angkat karung yang di bawah itu……” Sam-sianli, orang ketiga dari gadis Sian-li-pay berkata memerintah.

Tiang Le, tak berkata apa-apa. Tiang Le mengangkat karung-karung berisi ikan asin dan melemparkan ke samping dan begitu ia menemukan karung-karung yang di bawah, betapa terkejutnya ia ketika mengetahui bahwa karung-karung di bawah ini adalah benar-benar berisi uang emas!

Dengan hati-hati, ia mengangkat karung itu ke perahu. Selesai tiga karung itu diangkut ke perahu, ke empat gadis itu meloncat ke perahu dan berkata kepada kakek tukang perahu: “Sudah, jalan!”

Maka meluncurlah perahu itu ke tengah mengikuti arus air sungai yang kelak menumpahkan airnya ke laut Po-hay. Si kakek tukang perahu bagaikan acuh tak acuh ia berdiri di ujung perahu sambil bernyanyi-nyanyi tak keruan juntrungannya. Sedangkan pemuda yang bernama Kong Hwat mendayung perahunya sambil berkali-kali matanya melirik ke arah buntalan karung di dalam perahu itu.

Melihat betapa yang mendayung adalah pemuda itu sendirian, tanpa berkata apa-apa Tiang Le mengambil dayung dan mendayung dengan tangan kirinya. Perahu meluncur lebih cepat. Air sungai yang berwarna kecoklatan mengeriak bergelombang kecil dibelah oleh lajunya perahu.

Tiang Le kagum sekali melihat cara pemuda itu mengayuh dayungnya, bukan saja cepat dan bertenaga akan tetapi juga hanya dengan mendayung perlahan saja, perahu sudah demikian cepatnya meluncur. Sekilas saja ia tahulah Tiang Le bahwa tukang perahu muda dan kakek itu bukan nelayan sembarangan.

Kembali dia menoleh ke arah empat orang gadis itu. Dilihatnya It-sianli tengah memandangnya. Entah mengapa begitu bertemu pandangan dengannya gadis itu tertunduk lagi pura-pura menjatuhkan pandangannya ke samping melihat air yang kecoklat-coklatan bergelombang.

“Saudara tukang perahu, di sini ini daerah apakah dan sungai apa ini?” Tiang Le bertanya untuk menghilangkan kesepian yang mencekam

Kong Hwat menoleh dan tersenyum, kemudian katanya: “Ini sungai kuning, sebentar lagi kita akan memasuki laut Po-hay. Eeeh saudara, kau siapa? mengapa kau ditahan oleh gadis-gadis Sian-li-pay?”

“Mereka itu lihay, aku tak dapat melepaskan diri dari mereka. Tadinya aku berusaha untuk menyelamatkan limaribu tail emas yang dipersembahkan oleh kaisar untuk sumbangan ke Wu-nian. Siapa tahu gadis-gadis itu demikian lihay, hingga aku tak dapat menyelamatkan itu uang, malahan aku sendiri tidak berdaya ditangannya!”

“Hmm, jadi mereka inikah yang belum lama ini merampok di lereng gunung itu?”

Tiang Le mengangguk.

Akan tetapi alangkah herannya dia tiba-tiba perahu yang ditumpangi itu terbalik dengan amat cepat sekali, dengan gerakan yang gesit Tiang Le mencelat ke atas membuat pok-say tiga kali dan begitu ia turun di atas perahu yang terbalik, ia tidak melihat lagi Kong Hwat dan kakek nelayan itu. Dan dari kejauhan ia mendengar suara orang berkata, “Orang muda buntung, selagi masih ada kesempatan mengapa tidak meloloskan diri dari tangan gadis-gadis Sian-li-pay?”

Itu suara pemuda tukang perahu, entah bagaimana caranya, tahu-tahu pemuda itu sudah lenyap. Dan ia bengong sendiri di atas perahu yang mengambang. Bagaimana ia dapat melarikan diri, perahu yang terbalik ini tidak lagi bisa melaju mengambang di tengah sungai. Sedangkan dilihatnya ke empat gadis berkerudung hitam itu tengah berenang menepi sambil menyumpah-nyumpah: “Sialan, pemuda tukang perahu keparat!”

Tentu saja Tiang Le tidak tahu betapa orang muda tukang perahu itu adalah Kong Hwat dan kakek itu adalah Koay Lojin. Ke dua orang ini tentu saja terkenal dengan sebutan setan air. Maka tadi begitu mendengar tentang emas yang hendak disumbangkan oleh kaisar direbut oleh gadis-gadis Sian-li-pay, dengan gerakan ajaib Kong Hwat membalikkan perahunya dan bagai kilat tangannya menyambar tiga buntalan limaribu tail emas dan menyelam ke dasar sungai di ikuti oleh Koay Lojin yang tertawa terkekeh-kekeh memanggul dua buah karung berisi uang mas!

Dan untuk seterusnya dua orang nelayan itu sambil menyelam berjalan di bawah air sampai jauh dan tahu-tahu dengan basah kuyup dan tertawa-tawa, dua orang itu menuju ke Wu-nian dengan amat cepatnya untuk menyerahkan sumbangan korban kelaparan dan bahaya penyakit.

Sementara itu Tiang Le yang memang tidak bisa berenang. Terapung-apung di tengah-tengah sungai menggapai-gapaikan tangannya ke arah gadis-gadis Sian-li-pay yang sudah mendarat dan tengah menguras pakaiannya yang basah.

“Hey……!”

Dari seberang sungai nampak It-sianli berkata kepada sumoaynya jie-sianli yang berjuluk Sianli-eng-cu: “Sam-sianli sumoay, kau tolonglah pemuda buntung itu!”

“Hemm, suci mulai tertarik kepadanya, ya?”

“Jie-sianli! Kau bicara sembarangan, hayo tolong dia.”

Ke tiga gadis itu mengakak geli mentertawakan It-sianli. Tak habis heran ke tiganya ini mengapa sucinya yang terkenal galak kepada setiap lelaki, eh hari ini demikian memperhatikan pemuda buntung itu. Sayang, kalau saja sucinya jatuh cinta kepada pemuda lengan buntung yang meskipun kelihatan tampan, akan tetapi tanpadaksa!!

Meskipun hatinya kurang senang, Jie-sianli yang berjuluk Sianli-eng-cu mengeluarkan cambuknya. Tiga kali cambuk yang panjang itu meluncur ke tengah sungai dan dengan sabetan luar biasa, cambuk di tangan Sianli-eng-cu sudah membelit tubuh Tiang Le dan dengan sekali sentak saja, tubuh Tiang Le melayang ke darat jatuh tepat di depan It-sianli.

“Nah, sudah kutunaikan tugasku, suci, sekarang hendak kau apakan pemuda buntung itu terserah!” begini kata Sianli-eng-cu menggulung cambuknya dan menyelipkan ke pinggangnya.

It-sianli menghampiri Tiang Le yang sudah berdiri dan katanya ketus: “Hayo ikut dengan kami ke pulau!”

“Nona, aku tidak bersalah apa-apa, mengapa kau memaksaku ke pulau??”

“Ahh cerewet, hayo jalan ikuti kami!” setelah berkata demikian ia mengikuti ketiga sumoaynya yang sudah jalan duluan. Terdengar Sianli-eng-cu menggerutu: “Celaka, limaribu tail emas itu tenggelam…... Sianli tentu akan marah, eeh bagaimana baiknya?”

“Buat apa musti bingung, bilang saja si Buntung itu yang bikin gara-gara sehingga kita kehilangan tiga kantong emas, laporkan saja kepada Sianli. Biar si buntung yang menanggung hukumannya,” sahut gadis keempat yang berjuluk Sianli-toat-hun-kiam (bidadari pengejar nyawa) yang biasa dipanggil Sie-sianli (bidadari keempat).

Tiang Le tersenyum kepada gadis yang berkata tadi. Celaka, rupanya aku ini yang hendak mereka jadikan kelinci percobaan. Sialan benar aku ini, bertemu dengan gadis-gadis cantik berwatak seperti setan!

Demikianlah, sekarang dengan berjalan kaki Tiang Le digiring oleh ke empat dara jelita dari Sian-li-pay ini, tanpa dapat meloloskan diri. Mengikuti saja ke mana gadis ini membawanya!

Setelah berhari-hari mereka menyusuri sungai, maka pada hari yang keempat berlayarlah mereka berlima menyeberangi laut Po-hay, perahu yang sengaja dibeli oleh gadis-gadis ini untuk perjalanannya dari seorang nelayan. Akhirnya setelah hampir senja barulah perahu mereka melewati laut Po-hay dan memasuki sebuah telaga dan mendarat di sebuah pulau yang mereka namakan pulau bidadari di tengah telaga.

Pulau ini tidak berapa besar akan tetapi nampak indah sekali pemandangannya. Di tengah-tengah pulau nampak sebuah taman, terdapat tiga buah pondok peristirahatan Bu-tek Sianli. Bangunan-bangunan yang besar-besar berdiri dengan megah dan mewahnya.

Nampak di pantai telaga perahu-perahu kecil sebagai penghubung untuk menyeberang melintasi laut Po-hay! Inilah pulau yang disebut pulau bidadari!

Tiang Le merasa heran dan kagum. Waktu mereka mendarat, dua sosok tubuh berlarian mendatangi dengan gesit sambil berkata: “Selamat datang Sian-li-sie-cie-moay……. Pay-cu, selalu menanti kalian!”

Tanpa berkata apa-apa lagi ke empat gadis itu berlari meninggalkan pantai. Tiang Le berlari pula mengikuti gadis-gadis aneh itu. Begitu mereka tiba di pintu gerbang, mereka disambut oleh sepasang bidadari cantik tanpa penutup muka lagi. Amat cantik-cantik sekali gadis-gadis ini, patut menjadi bidadari-bidadari di sini, pikir Tiang Le.

Seorang dari ke dua gadis itu berlari masuk ke dalam melaporkan kepada Sianli dan seorang lagi mengantarkan ke ruang dalam. Tiang Le digiring perlahan memasuki pulau dengan perlahan, diiringi sepasukan dara-dara cantik dan oleh empat orang dara yang masih menutup mukanya dengan kerudung.

Tak lama kemudian rombongan ini berhenti, dari depan nampak serombongan dara-dara berjalan dengan cepat. Tiang Le belalakan mata memandang penuh perhatian. Bukan main, entah dari mana Pay-cu Sian-li-pay ini mengumpulkan gadis-gadis cantik seperti bidadari-bidadari turun dari kayangan! Ia melihat barisan wanita-wanita muda cantik yang gagah sikapnya, memegang pedang telanjang di tangan berjalan dengan teratur di kanan kiri.

Di tengah-tengah nampak berjalan seorang wanita tua yang berkulit agak kehitaman dan pakaiannya biarpun terdiri dari sutera mahal, akan tetapi tidak serasi dengan kulit tubuhnya yang kehitaman. Pakaiannya berkembang amat menyolok dengan kulit hitam itu.

Akan tetapi meskipun nenek itu berpakaian yang aneh dan lucu, biarpun sudah kelihatan tua dan penuh kerisut, nampak wajah yang agung itu berseri-seri menyambut ke empat muridnya yang mendatangi. Tongkat yang berbentuk kepala bidadari terpegang dalam genggaman tangan kanannya.

Tempat itu kini penuh dengan anggota Sian-li-pay dan semua orang memandang Tiang Le dengan penuh perhatian. Mereka bersikap hormat ketika Bu-tek Sianli muncul, semua dara-dara jelita memberi hormat dengan berlutut, hanya ke empat dara yang disebut Sianli-sie-cie-moay ini saja yang hanya menganggukkan kepalanya sebagai ucapan menghormat.

Pandangan matanya Bu-tek Sianli untuk sejenak menjelajahi Tiang Le dari rambut sampai ke kaki dan apabila terbentur oleh lengan buntung itu, si nenek mengerutkan keningnya dan berkata, “Untuk apa pemuda buntung ini dibawa ke mari, mana….. uang limaribu tail emas!?”

“Maaf, Sian-li Pay-cu…... sengaja kami membawa si buntung ini kemari, karena gara-gara dia sehingga kami gagal dalam usaha merebut limaribu tail emas itu!”

“Hemm, jadi kalian tidak becus mengalahkan orang, Kim-coa-pay itu?” Bu-tek bertanya dengan nada dingin.

“Bukan begitu Sianli……. berkata Sianli-eng-cu, murid kedua: “Sebetulnya kami sudah berhasil merampas limaribu tail emas itu, eh datang si buntung ini membawa kawannya dan……..”

“Hemm, kalian tidak dapat mengatasi kawan-kawan si buntung ini?”

“Begitulah Sianli…….!”

Nenek pay-cu Sian-li-pay mendengus marah: “Hem, menghadapi bocah ini saja kalian tidak becus!”

“Dia membawa teman-teman Sianli,” Sian-li-eng-cu membohong lagi.

Pandangan Bu-tek Sianli menyambar lengan buntung Tiang Le kemudian berkata kepada muridnya yang lain: “Betulkah pemuda buntung ini membawa teman-teman sehingga kau gagal?”

Kini murid ke empat yang menyahut: “Oleh sebab itulah kami menghadapkan dia kepada Pay-cu Sianli, menanti keputusan Sianli tentang hukumannya dari Pay-cu!”

“Hemm, bocah buntung ini berani mengacau rencanaku, apalagi hukumannya selain mampus! Biar aku sendiri yang membunuhnya!” Tangan Nenek itu bergerak, terdengar angin berciutan ketika angin pukulan menyambar ke arah dada Tiang Le.

Pemuda ini kaget bukan main. Hebat pukulan ini, untung ia tidak dibelenggu atau ditotok sehingga dengan cepat ia menggerakkan kaki melompat cepat ke kiri.

“Srett!” Lengan bajunya yang buntung tersambar angin pukulan, pecah dan hancur berantakan. Wajah Tiang Le berubah. Ia maklum ketua Sian-li-pay ini merupakan lawan yang berat, seorang yang amat lihay ilmunya.