-->

Pendekar Lengan Buntung Jilid 04

Jilid 04

Betapapun juga harus diakui bahwa Nguyen-loya yang sebenarnya bernama Nguyen Khan tidaklah seganas dan sekeji orang-orangnya. Karena orang tua she Nguyen sebenarnya jarang sekali meninjau proyek-proyek yang sedang jalan.

Semuanya itu dipercayakan kepada orang kaki tangannya yang menjadi tukang-tukang pukulnya. Mereka-mereka inilah yang mengatur, yang memutuskan dan mengambil tindakan. Sudah tentu kekuasaan yang diberikan oleh Nguyen-loya ini dselewengkan menjadi hak kuasa pribadinya. Berbuat semaunya sendiri, memeras tenaga orang, menyiksa, menganiaya, mencap sebagai pemberontak kepada orang tanpa bukti dan menghukumnya bukanlah hal yang aneh bagi orang-orang yang berkuasa!

Nguyen-loya yang cuma uncang-uncang kaki itu tak memperdulikan keadaan yang kurang adil itu, persetan dengan segala urusan tetek bengek di proyek, pokoknya ia mendapat keuntungan besar dan proyek itu berdiri. Habis! Entah berapa banyak manusia yang mampus karena berdirinya proyek itu tak mau tahu ia!

Nguyen Khan ini mempunyai dua orang putera. Puteranya yang pertama sudah dewasa. Sudah menjadi seorang pemuda yang cakap dan terpandang pula. Orang muda itu bernama Nguyen Cie Kiat. Seorang pemuda yang berusia sekitar duapuluhan, tampan, gagah dan pandai bun-bu-cwan-jay (ahli surat dan pandai bermain pedang). Akan tetapi sayang sekali sifat ayahnya yang tak baik menurun kepada pemuda!

Seperti pohon itu dapat dilihat dari buahnya, demikian pula dengan Nguyen Cie Kiat ini. Kalau dulu ayahnya menjadi oom senang yang doyan akan rumput-rumput segar dan muda, doyan berpesta pora dan doyan berbini, maka sifat-sifat itu menurun kepada anak muda ini. Pemuda inilah yang membuat keadaan penduduk semakin kacau dan berat.

Nguyen Cie Kiat merupakan seorang pemuda yang selalu mengumbar nafsu-nafsu buruknya. Tukang mempermainkan wanita, menjadi playboy bajingan di kota Siauw-ling. Entah berapa banyak gadis-gadis yang terjerembab jatuh di dalam rayuan mautnya dan entah berapa banyak kali kehamilan? Itu terjadi tanpa adanya perkawinan yang sah!

Nguyen Ci Kiat bukan saja ditakuti karena pengaruh dari ayahnya yang disebut Nguyen-loya itu, akan tetapi juga Nguyen Ci Kiat ini merupakan seorang pemuda yang pandai bermain silat. Ia pernah belajar silat dari seorang hwesio Siauw-lim perantau, dan karena anak muda ini lihay sekali bermain ilmu pedang dari cabang Siauw-lim-sie maka seluruh tukang-tukang pukulnya menjadi takluk kepadanya! Dan karenanya setelah pemuda ini benar-benar menjadi dewasa, maka seluruh kota Siauw-ling ini mengenal putera Nguyen-loya sebagai jay-hoa-cat yang paling ditakuti!

“O ya, saya lupa mengatakan bahwa Nguyen Ci Kiat ini mempunyai adik kecil yang masih berusia setahun lebih. Bayi ini bernama Nguyen Hoat. Bayi yang masih belum tahu apa-apa. Bayi yang baru saja bisa mengatakan: pap… pa! ma ma! Mamm…., nenen! dan sebagainya.

Waktu cerita ini terjadi, bayi yang bernama Nguyen Hoat itu baru bisa betitah-titah, setindak dua tindak, untuk berjalan bertatih-tatih! Kasihan bayi ini, belum tiga bulan ia lahir, ibunya yang disebut Nguyen Hujin (Nyonya Nguyen) meninggal dunia!

<>

Kita kembali kepada Bwe Hwa dan rombongannya yang sedang menuju ke gedung Nguyen ini. Dari luar nampak sepi-sepi saja, seakan-akan tiada pernah akan terjadi sesuatu. Bukan begitu sebetulnya, bukan keluarga Nguyen tidak tahu akan kejadian seorang dewi yang mengamuk di luar tembok kota.

Sejak sedari tadipun Nguyen Cie Kiat telah mendapat laporan dari anak buahnya bahwa seorang gadis telah mengacau dan membunuh seorang pengawas, dan kini gadis itu sedang menuju ke gedung ini. Tentu saja Nguyen Cie Kiat yang tertarik hatinya akan seorang gadis yang mengamuk menjadi ingin tahu sekali, dan ingin melihat gadis yang dikatakan dewi Kwan-im itu!

Kemarahan Nguyen Cie Kiat memuncak, akan ia basmi semua pengiring-pengiring gadis yang mengaku bernama Kwan-im Posat itu. Tidak seorangpun yang akan kuberi ampun karena hal ini perlu untuk menakuti hati orang-orang kerja paksa, dan untuk pengaruh pengawas-pengawas tukang-tukang pukulnya!

Pedangnya sudah siap dicabut dari sarungnya yang indah itu. Dengan pedang telanjang ia berlari-lari ke luar gedung dengan diiringi pembantu-pembantunya menyongsong sang dewi!

“Hm, inikah yang disebut Nguyen-loya?” tanya gadis itu ketika melihat seorang pemuda tampan mendatangi dengan pedang telanjang.

Seorang tua mendekati sang dewi dan berbisik, “Dia itu anaknya...... lebih ganas dari si tua!”

“Bangsat besar...... berani bermain gila di depan……” Nguyen Cie Kiat tidak meneruskan kata-katanya begitu dilihatnya bahwa wanita yang dikatakan sebagai penjelmaan Kwan-im Posat demikian cantik dan jelitanya. Dadanya berdebar keras. Matanya terbelalak memandang Bwe Hwa.

Ia melongo tak dapat mengeluarkan suara, memandang wajah Bwe Hwa bagaikan terpesona dan kehilangan semangat. Sungguh mati ia tidak mengira sama sekali bahwa wanita yang telah mengacau dan membuat ke enam tukang pukul tak berdaya itu adalah dara secantik bidadari. Pantas saja kuli di luar tembok kota itu menganggapnya sebagai Dewi Kwan-im!

Belum pernah selama hidupnya ia melihat dara secantik ini kecuali dalam alam mimpi dan dalam gambar. Lebih suka ia rasanya untuk maju berlutut dan menyatakan cinta kasihnya dari pada harus menghadapi dara ini sebagai lawan yang harus dibunuhnya!

Dibunuh! Ah sayang sekali dara yang begini cantik jelitanya kalau dibunuh lebih baik ditangkapnya…… atau dibujuknya untuk menjadi kawan-kawan baik yang saling mencintai. Hmm, alangkah senangnya kalau ia dapat berjodoh dengan gadis yang begini jelita, begini gagah perkasa!

“Nona…… eh, kau siapakah dan….. eh kudengar kau bertengkar dengan orang-orang kami? Kalau mereka berbuat salah terhadap nona, jangan kuatir, aku yang menegur dan menghukum mereka?”

Bwe Hwa melihat pemuda tampan itu tersenyum lebar sambil memasukan pedang yang tadinya sudah terhunus. Ia melihat pula betapa pemuda itu maju menghadapinyaa dengan sinar mata yang tak habis-habisnya menatapi sekujur tubuhnya. Sinar mata yang penuh gairah dan rasa kagum itu menjijikkan hati Bwe Hwa. “Hem ternyata inikah tampang laki-laki, putera Nguyen-loya ceriwis?!” pikirnya.

“Kaukah putera Nguyen-loya?”

Datang-datang ditanya begitu, Nguyen Ci Kiat bersambat dalam hatinya mendengar suara yang merdu itu. Bertanya dengan nada marah saja sudah begitu merdu, apalagi kalau suara itu dipergunakan untuk merayunya. Mati aku!

“Hayo jawab!” Bwe Hwa tak sabar dan membentak memandang pemuda itu dengan mata mendelik. Sinar mata si gadis berbinar-binar merenggut wajah yang tampan itu. Akan tetapi pandangan Nguyen Ci Kiat yang sudah digelapkan rasa kagum dan cinta menganggapnya si gadis yang tengah marah itu bertambah cantik saja, bertambah manis!

Nguyen Ci Kiat tersentak oleh bentakan Bwe Hwa tadi. Dengan senyum yang dibuat-buat, ia berkata kepada gadis jelita di depannya, “Betul nona, akulah putera Nguyen Khan yang terkenal di Siauw-ling ini! Senang sekali hatiku mendapat kehormatan kunjunganmu. Silakan masuk........”

“Hem, omonganmu begini manis seperti madu, akan tetapi pahit seperti empedu. Kau berbicara plintat plintut sopan-sopanan di depan seorang gadis. Tidak tahu rayuanmu beracun. Keparat kau seorang yang amat jahat, jay-hwa cacingan! Mengandalkan kedudukan orang tua, mengandalkan harta benda dan kekuasaan untuk melakukan perbuatan sewenang-wenang. Orang macam kau tak patut diberi hidup lama!”

Gadis itu yang mendengarkan keterangan-keterangan dari para pekerja paksa tentang kejahatan putera Nguyen-loya ini, semakin panas hatinya melihat sikap pemuda ini yang sombong, matanya yang berminyak itu memandangnya dengan lahap, kemarahannya memuncak.

“Nona, soal-soal kecil yang terjadi antara para kuli-kuli dengan anak buahku harap kau jangan ambil di hati. Sudahlah kesalah-pahaman ini kubereskan sampai di sini saja. Toh di antara kita tidak ada permusuhan. Marilah, silakan masuk ku anggap kau sebagai tamuku yang terhormat!”

“Manusia jay-hwa-cat, perusak wanita. Tak usah plintat-plintut omong kabaikan di depanku. Aku sudah mengetahui semua ular belangmu. Keparat, mulutmu penuh bisa.”

Nguyen Ci Kiat adalah seorang pemuda yang selalu dihormati dan disegani orang. Baru kali ini ia dimaki-maki dan dihina. Biarpun ia tergila-gila melihat kecantikan gadis itu, namun kehormatannya tersinggung dimaki habis-habisan oleh dara itu, mukanya menjadi merah seperti udang direbus. Apalagi telah disaksikan di halaman rumahnya penuh para pekerja paksa yang berdiri dengan teriakan-teriakan menantang. Panas hatinya, ia mendelik ke arah kuli-kuli dan melemparkan pandangannya keluar.

“Sialan, kiranya cacing-cacing pada mau mampus itu yang mengaco belo kepada gadis ini. Keparat kumampusin kau satu-satu!” teriak Nguyen Ci Kiat menghampiri para orang tua di luar. Akan tetapi sekali berkelebat Bwe Hwa sudah menghadangnya dan tersenyum mengejek:

“Nanti dulu….. ada aku di sini yang hendak menghukum engkau. Manusia she Nguyen bersiap-siaplah untuk piknik ke neraka!”

“Gadis sundel, kau benar-benar lancang mulut tidak bisa menerima penghormatan orang. Pantasnya bacotmu yang cerewet itu dibeset, biar tahu rasa, kepingin aku lihat setelah itu, apakah kau masih kelihatan cantik?” Nguyen Ci Kiat menerjang maju dengan pedangnya.

Dengan senyum mengejek Bwe Hwa berkelebat, menghindarkan serangan pedang dan balas menyerang. Ia mendapat kenyataan bahwa kepandaian pemuda ini, tidak seberapa dan masih mentah gerakan-gerakan pedangnya. Maka sengaja Bwe Hwa tidak mencabut pedangnya.

Menghadapi manusia kotor ini apa perlunya mengotori pedang, pikirnya dan ia mainkan ilmu silat tangan kosong dan mengerahkan hawa Pek-in-kang di ke dua tangannya. Akibatnya setiap kali pedang Nguyen Ci Kiat terbentur dengan itu, pedangnya terpental seakan-akan memukul bal karet saja kerasnya.

Pada saat itu terdengar suara berisik. Dan para tukang pukul berdatangan ke tempat itu membawa pedang dan golok di tangan. Tukang-tukang pukul Nguyen semuanya ada limabelas orang. Terdiri dari jagoan silat pasaran saja. Oleh karena itu begitu mereka ini serentak menyerbu.

Terdengar suara desingan senjata melayang dan jatuh ke lantai. Lima-enam orang menggeletak roboh tak dapat bangun lagi terhantam pukulan Pek-in-kang di tangan kanan dan kiri Bwe Hwa yang bergerak memutar merupakan sebuah kinciran yang mengeluarkan angin badai menderu, dan setiap kali tukang pukul itu terserempet angin pukulan dari ke dua tangan si gadis terdengar suara bergedebuk dengan melayang tubuh tukang-tukang pukul terlempar keluar laksana daun kering tertiup angin.

Menggeletak di luar halaman dan diserbu oleh para pekerja paksa yang menanti di situ. Terdengar suara bergedebak-gedebuk begitu senjata-senjata pacul, palu martil di tangan para pekerja itu menghantami tubuh-tubuh tukang pukul yang tak berdaya dan menguik-nguik terlolong dan menjerit-jerit minta ampun!

Tentu saja para pekerja-pekerja yang seringkali disakiti dan disiksa oleh tukang-tukang pukul ini, mana mau memberi ampun. Semakin banyak tubuh-tubuh tukang pukul yang terlempar, semakin sengit orang-orang dusun itu menyerbu dan menggebuki si tukang pukul sampai babak belur badan dan mukanya.

Malah di antara suasana yang kacau itu ada pula seorang pekerja yang merasa jengkel kepada gedung yang megah ini yang berdiri atas hasil cucuran keringat mereka. Maka diam-diam ia melempari api dan menyiram dengan minyak tanah. Sebentar itu pula nampak gedung itu mulai terbakar oleh api yang semakin mengganas.

Kaget bukan main Nguyen Ci Kiat, melihat api yang telah menjalar dengan ganas sekali. Bwe Hwa yang amat membenci pemuda ini tak memberi kesempatan lagi. Dan sekali pedangnya tertarik dalam segebrakan itu pula, terdengar jeritan Nguyen Ci Kiat bersambat panjang mengantarkan jiwanya yang melayang dan berkelonjotan tubuh itu dan diam. Mati.

Kepalanya putus disambar pedang Bwe Hwa yang tak memberi ampun. Ganas sekali tindakan gadis itu kali ini, hawa membunuh yang didorong oleh kebencian yang amat sangat mengingat ribuan orang-orang dusun yang disiksa oleh keluarga Nguyen ini membuat Bwe Hwa matanya mencari-cari.

Gedung itu sudah terbakar separuh. Hawa udara menjadi panas sekali. Sepanas hati gadis itu yang kala itu sudah menerjang ke dalam, dan melihat seorang tua berusia limapuluh tahun, berusaha untuk keluar dengan menggendong seorang anak kecil berusia sekitar satu tahun.

Tersentak kaget melihat gadis yang sudah berdiri di depannya. Wajahnya menjadi pucat seperti kertas. Semangat melayang. Tubuhnya menggigil menjatuhkan diri berlutut di kaki gadis ini.

Bwe Hwa menatap orang tua itu. Orang yang berpakaian seperti orang berpangkat. Hemm, apakah dia ini yang disebut Nguyen-loya?

“Orang tua, siapakah kau?”

“Lihiap..... ampunkan saya..... saya..... saya…” Nguyen-loya berkata gagap.

Orang tua ini sudah mendengar dari orang-orang bahwa gadis yang menyerang ini demikian sakti dan lihay. Tentu saja berhadapan dengan gadis yang tadi dilihatnya demikian ganas membunuh tukang pukulnya menjadi hilang semangatnya. Kepalanya mengangguk-angguk seperti ayam tengah mematuk gabah. Dan tubuhnya yang pendek gendut itu menggigil mengeluarkan keringat dingin.

Melihat sikap orang tua ini demikian pengecut dan takut mati, bertambah panas hati Bwe Hwa. Sekali kakinya bergerak mencongkel tubuh si gendut Nguyen-loya terguling sejauh lima meter.

Anak kacil yang tadi digendongnya terlempar pula. Bocah itu anaknya. Anak yang baru berusia setahun lebih bernama Nguyen Hoat. Anak itu menangis keras merangkak menghampiri ayahnya.

“Orang tua jahanam, engkaukah Nguyen Khan yang disebut Nguyen-loya oleh orang-orang di sekitar ini?” suara Bwe Hwa sengaja dikeraskan mengejutkan hati si orang tua.

“Hayo jawab!”

“Ampun lihiap, ampunkan saya, kasihani saya, ugh… uuugh…...” menangislah orang tua itu saking takutnya. Dari selangkangannya menetes keluar air. Muak Bwe Hwa melihat pemandangan ini. Orang tua sudah terkencing-kencing ini pantas dimampusin, pikirnya.

“Siiiing!!!”

“Ampun lihiap…. Am…. Ammmm…...”

“Ampun? Tidak ada ampun lagi. Manusia Nguyen, kau jahat dan keji. Kau membiarkan orang-orang dusun pada mampus dalam rencanamu yang gila membuat proyek-proyek bangunan, memeras tenaga orang-orang dusun yang bodoh, menganiaya, membiarkan mereka pada mampus disiksa oleh anjing-anjing peliharaanmu. Keparat!! Dosamu sudah bertumpuk-tumpuk. Kau bilang ampun??”

Kepala tua itu semakin terbenam mencium lantai, berciuman pula dengan air kencingnya yang di lantai. Kepalanya semakin keras mengangguk-angguk.

“Lihiap…… nyawaku cuma satu, kasihanilah aku….. akhh…..”

“Sreeet!!” Begitu pedang di tangan si gadis berkelebat, tubuh tua itu kelojotan kehilangan kepalanya. Darah merah muncrat memancar dari leher yang tak berkepala. Membanjiri lantai, bersatu dengan air kencing si tua.

“Pap..... pa… papaaa… anak kecil yang tadi digendongnya itu menjerit-jerit menangis. Bwe Hwa mengangkat pedangnya meluncur cepat menusuk dada anak kecil itu.

“Trang!” pedang itu melengos dan bergetar.

Bwe Hwa menoleh ke belakang.

Kiranya yang menyambitkan buah Ci membentur pedangnya tadi adalah seorang tua berusia sekitar empatpuluh tahun. Berpakaian seperti seorang pertapa berjubah putih, kepalanya botak di tengah dan hanya ada rambut tipis yang mengelilingi di samping kiri kanan kepala yang bundar itu.

Tatapannya tajam menusuk. Merupakan sebuah teguran yang tak terucapkan. Merasakan timpukan orang tua tadi yang dapat menggetarkan pedangnya, tahulah Bwe Hwa bahwa orang tua yang baru datang ini bukan orang sembarangan. Timpukan dengan buah Ci tadi itu membuktikan betapa kuatnya lwekang orang tua ini.

Melihat kedatangan orang tua ini Bwe Hwa seperti seekor harimau betina mencium darah. Dengan sikap beringas karena mengira bahwa yang baru datang itu adalah antek-antek keluarga Nguyen, ia menantang.

“Hayo, kalau masih ada binatang-binatang keji penindas orang miskin, majulah dan lawan aku. Aku Kwan-im Sianli akan membasminya sampai ke akar-akarnya!”

Orang tua itu tersenyum. Tak berkata apa-apa ia menghampiri anak kecil yang hampir saja tadi disate oleh pedang Bwe Hwa. Sekali jubahnya menyambar, anak kecil itu melayang ke dalam pangkuan orang tua yang berpakaian pendeta itu.

“Nona….., anak kecil ini belum tahu apa-apa tentang kepalsuan dunia, mengapa kau hendak menurunkan tangan maut kepadanya?”

“Orang tua, siapakah kau? Mengapa usil tangan mencampuri urusanku?”

“Pinceng (aku) Bu-beng Sianjin dari Thang-la. bukan apa-apanya keluarga Nguyen ini. Akan tetapi melihat kau hendak menjatuhkan tangan maut kepada bocah ini, tentu saja pinceng mencegahnya. Sudahlah! Karena anak ini sudah kehilangan keluarganya, biar pinceng bawa....... selamat tinggal nona!” dan sekali Bu-beng Sianjin menggerakkan tubuhnya tahu-tahu Bwe Hwa sudah kehilangan orang tua pertapa itu.

Diam-diam ia kagum dan terkejut begitu mendengar nama Bu-beng Sianjin. Tentu saja semasa ia di puncak Tiang-pek-san seringkali mendiang suhunya menceritakan tentang orang tua sakti dari Thang-la itu. Untung saja ia tadi tidak sembrono turun tangan. Kalau tidak. Apa artinya kepandaian silatnya kalau dibandingkan dengan orang tua sakti dari Thang-la itu?

Bwe Hwa tak banyak berpikir lagi. Baru sekarang ia tahu bahwa gedung Nguyen ini sedang mengalami kebakaran yang hebat. Hampir saja api itu menjalar ke ruang dalam. Hawa panas dan asap bergulung-gulung menyerbu membuat Bwe Hwa menjadi pengap dan sukar bernapas.

Dengan sekali menggerakkan gin-kangnya tubuh Bwe Hwa melayang lewat jendela bulat dan di luar itu ia melihat banyak orang-orang yang tengah sibuk untuk memadamkan api. Tak ada orang yang memperhatikan dia lagi, karena kesibukan memadamkan api yang semakin mengganas!

Para pekerja paksa yang terdiri dari orang-orang dusun yang miskin itu tadinya membiarkan gedung Nguyen-loya itu termakan oleh api, dan menonton dengan jantung berdebar, kini tidak berani lagi mencari sang dewi yang memasuki gedung yang telah mulai diganas api itu. Para pekerja paksa orang-orang dusun itu adalah korban-korban kekejaman dan seringkali mereka itu disiksa, dan sekarang menyaksikan peristiwa berdarah yang mengerikan ini membuat mereka menggigil ketakutan.

Mereka memang menaruh dendam dan ingin sekali menyaksikan penyiksa-penyiksa itu terbalas dan terhukum. Namun apa yang dilakukan oleh sang dewi ini benar-benar amat menyeramkan dan sadis.

Limabelas orang tukang-tukang pukul tak berdaya dan sekarat hampir mati di taman ini. Dan di dalam gedung yang mulai terbakar itu, mereka melihat tubuh Nguyen-kongcu yang bernama Nguyen Ci Kiat itu menggeletak tanpa kepala dan sebentar pula tubuh itu akan musnah dipanggang api yang sedang mengganas.

Pada saat itu terdengar suara derap kaki kuda dan datanglah serombongan orang berkuda. Melihat pakaian mereka, terang bahwa mereka adalah perajurit-perajurit dari Kotaraja, berjumlah duapuluh empat orang, dikepalai oleh seorang setengah tua berusia tigapuluh tahun lebih.

Orang ini berpakaian bukan sebagai pakaian perajurit melainkan dilihat dari cara ia berpakaian nampak seperti seorang ahli silat kelas tinggi. Tubuhnya yang besar dan berotot itu menandakan bahwa orang ini ahli tenaga gwakang, sebuah pecut kelihatan di pinggangnya terguling. Nampak kelihatan gagah sekali orang yang menjadi pemimpin rombongan ini.

“Minggir! Goan-enghiong (pendekar Goan) datang…….!” teriak orang-orang yang tadinya menonton kebakaran yang sedang berlangsung itu. Sebagian orang sedang sibuk untuk memadamkan api!

Orang setengah tua bercambuk hitam itu mengangkat tangan kanannya memberi tanda untuk menyuruh barisannya berhenti. Dia sendiri melompat turun dari atas kudanya dan bertanya kepada salah seorang yang menonton kebakaran gedung Nguyen.

“Eh, apa yang terjadi?”

Dalam hati orang yang ditanya itu menyumpahi, sialan mentang-mentang kepala pengawal dari kotaraja, memanggil orang tidak ada bahasanya sekali, ha he ha he, sombong betul sialan lu, mentang-mentang! Hu, kalau gua punya kepandaian silat, gua sikat luh, pikirnya.

Akan tetapi meskipun hatinya mendongkol ditanya begitu, tentu saja ia tidak mengutarakan kemendongkolannya ini. Ia tahu siapa yang barusan turun dari kuda itu. Makanya dengan muka ditekuk orang itu menyahut:

“Gedung Nguyen-loya dibakar, Nguyen-loya dan Nguyen-kongcu dibunuh, semua Ngo-hauw disikat habis!

“He, apa kau bilang Nguyen-loya, Nguyen Ci Kiat dibunuh?!”

Orang yang ditanya itu mengangguk. Pandangannya melempar ke arah seunggukan api yang masih menjilat-jilat di atas gedung Nguyen. Orang bercambuk itu maju dan memandang pula gedung yang tengah terbakar.

Melihat pemandangan ini alisnya berkerut, matanya yang sipit itu terbelalak lebar dan heran menyaksikan gedung yang megah sedang diamuk oleh si jago merah. Melihat pula para ngo-hauw (tukang pukul) menggeletak merintih berusaha untuk merangkak bangun. Tubuh mereka babak belur basah oleh keringat saking panasnya udara hawa di depan gedung yang terbakar.

“Siapa yang melakukan perbuatan biadab ini?” si cambuk hitam bertanya kepada orang sebelahnya. Akan tetapi karena ia bertanya tanpa menoleh, tentu saja orang yang di sebelahnya pun diam saja. Dikira bukan dia yang ditanya.

“Ha, budek! Apa kau tidak dengar pertanyaanku?” orang bercambuk itu menoleh dan mendelik menatap orang di sebelahnya.

Melihat betapa jagoan kotaraja ini mendelik-delik keruan saja hati orang menjadi dag dig dug jantungnya berloncat sewaktu sekali lagi orang bercambuk itu membentaknya,

“Hei tuli! Yang melakukan ini siapa…... siapa orangnya?”

“E, anu….. itu si……. no…..”

“Kunyuk bicara yang betul!”

“O ya, anu sang dewi.”

“Sang dewi?”

“Ya, ya Kwan-im Posat turun ke bumi menghukum orang-orang durhaka!”

“Plak! Dess!” Belum lagi orang itu habis bicara tahu-tahu pipinya terasa pedas dan tubuhnya melayang jauh bergedebuk di tanah, yang becek bekas air-air untuk memadamkan kebakaran. Sekali orang setengah tua yang bercambuk itu meloncat ia sudah mencengkeram tubuh yang penuh tanah becek itu.

“Hayo katakan yang benar, siapa yang membunuh Nguyen-loya dan membakar gedung ini kucabut nyawanya!”

“Goan-enghiong, aku bicara benar-benar, saya tidak bohong, dewi Kwan-im ngamuk dan membunuh-bunuhi orang-orang, anak buah dan Nguyen-loya…… benar Goan-enghiong biar jangan disambar geledek..... sungguh yang datang itu Kwan-im Posat. Saya lihat sang dewi……”

Keruan saja orang yang dipanggil Goan-enghiong itu jadi membelalakan matanya! Apa iya, Kwan-im Posat turun ke bumi? Apakah orang yang mengatakan ini sudah sinting. Masa Kwan-im datang ke sini? Tak masuk diakal!

“Lopek (paman tua) apa benar Kwan-im Posat datang?” tanyanya kepada orang tua yang berdiri tidak jauh di situ.

Orang tua itu mengangguk-anggukan kepalanya.

“Goan-enghiong, si A Miauw ini bicara tidak bohong. Semua penduduk kota Siauw-ling ini tahu, benarlah Posat mengirimkan utusannya berupa seorang gadis remaja cantik yang sakti........”

Mendengar perkataan ini tahulah orang yang dipanggil Goan-enghiong itu. Ia seorang pengawal Kotaraja. Murid seorang sakti Bu-beng Siangjin dari pegunungan Thang-la di bukit Harimau. Ia dijuluki si Cambuk Sakti Oey Goan.

Ia yang telah malang melintang di dunia kang-ouw dan banyak sudah mengenal tokoh-tokoh dunia persilatan. Baru pertama kali ia mendengar sang Kwan-im muncul di Sauw-ling membunuh Nguyen-loya dan Nguyen-kongcu dan kaki tangannya, siapa lagi kalau yang dimaksud itu seorang gadis kang-ouw yang tentu tidak senang kepada tindakan orang she Nguyen itu. Dan menghajarnya habis-habisan.

“Lopek, kau bilang seorang gadis cantik…… apa ia pandai ilmu silat?”

“Tentu Goan-enghiong, bakan saja pandai silat akan tetapi sakti dan bisa menghilang…….” si kakek menyahut.

“Di mana sekarang gadis itu?”

“Entahlah, orang bilang ada yang melihat sang dewi masuk ke dalam gedung yang tengah terbakar dan nggak muncul-muncul dan barusan ada lagi orang yang bercerita katanya sang dewi itu terbang memasuki hutan sebelah sana itu……..”

“Cukup! Terima kasih untuk keteranganmu,” berkata demikian si Cambuk Sakti Oey Goan melompat ke atas kudanya dan sekali mengeprakan tali kendali kuda itu mencelat ke arah selatan diikuti oleh anak buahnya. Tujuan Oey Goan adalah mengejar gadis yang dikatakan sang dewi yang terbang memasuki hutan di sebelah selatan kota.

Oey Goan membedal kudanya dengan amat cepat sekali dan sebentar saja rombongan berkuda itu telah memasuki hutan. Benar saja dari kejauhan di depan itu nampak seorang gadis berjalan perlahan-lahan. Girang sekali hati Oey Goan. Itulah dia gadis yang disebut dewi! Dengan berseru keras ia memberi aba-aba kepada anak buahnya untuk mengejar bayangan di depannya.

Memang gadis yang di depan itu adalah Bwe Hwa. Setelah ia memusnahkan manusia Nguyen dan antek-anteknya, sengaja ia tidak menampakkan diri lagi dan di dalam kesimpang siuran orang, yang berusaha hendak memadamkan api tadi, ia berlari cepat menuju ke selatan menggunakan gin-kangnya.

Akan tetapi baru saja ia berjalan lambat-lambat sambil menikmati pemandangan alam di hutan lebat itu, tiba-tiba telinganya yang sudah terlatih mendengar derap kaki kuda di belakangnya. Bwe Hwa berhenti dan membalikkan tubuhnya menanti rombongan orang berkuda itu.

Si Cambuk Sakti Oey Goan yang sampai lebih dahulu terpaku melihat dara remaja yang cantik ini. Inikah gadis yang telah membunuh Nguyen-loya dan antek-anteknya. Rasanya tak masuk di akal. Gadis yang kelihatannya begini lemah sungguhkah ia dapat mengalahkan Nguyen-kongcu yang setahunya mempunyai kepandaian silat lumayan. Inikah dia yang dikatakan sang dewi itu?

“Cuwi (tuan sekalian) ini siapa dan mengapa mengejar-ngejar saja?” Bwe Hwa bertanya seraya manyapu rombongan berkuda yang mendatangi. Hem, orang-orang dari kotaraja, apakah sangkut pautnya dengan Nguyen-loya?

“Kaukah yang dikabarkan orang telah membunuh Nguyen-loya dan anaknya dan barusan membakar gedungnya?” Oey Goan bertanya sambil memandang tajam penuh selidik.

Ditatap seperti itu Bwe Hwa tersenyum lebar. Tak salah lagi tentu orang ini kaki tangannya. Bagus, kalau memang benar, sekalian saja dibasmi! Membasmi yang jahat harus sampai keakar-akarnya, pikirnya.

“Kau ini tentu dari Kotaraja, antek-antek Nguyen Khan si keparat itu?”

“Nona mulutmu tajam, jangan sembarang bicara, tidak tahu kau berhadapan dengan siapa?” Oey Goan melangkahkan kakinya menghampiri si gadis. Kudanya dibiarkan di situ berteman dengan rumput-rumput hijau!

“Siapa yang tidak tahu, kalau kalian ini pengawal-pengawal dari Kotaraja! Iya kan?”

“Benar nona, aku Oey Goan Si Cambuk Sakti pemimpin dari barisan Kotaraja. Benarkah kata penduduk Siauw-ling bahwa engkau yang membunuh Nguyen-loya dan anaknya?”

“Kalau benar?”

“Maaf, kami harus menangkapmu untuk dibawa ke Kotaraja menanti keputusan hakim yang akan mengadilimu! Hukum pemerintahan berlaku bagi siapa saja yang telah mengacau dan terlebih lagi membunuh orang kepercayaan Gubernur Ie Yen. Kau tahu Nguyen Khan itu adalah orang kepercayaan Gubernur untuk pembangunan-pembangunan di Siauw Ling.”

“Tak perduli dia itu kepercayaan setan Neraka sekalipun. Kalau ia jahat dan memeras tenaga rakyat, tetap saja pedangku ini menghakiminya! Pedangku ini yang berbicara......!”

“Hemm, nona terlalu tekebur. Akan tetapi perbuatanmu itu sungguh bodoh dan semberono. Usil tangan mencampuri urusan orang, tidak tahu akibatnya!”

“Apa aku semberono, usil? Apakah perbuatanku itu tidak pantas menghajar manusia pemeras rakyat, siapapun orangnya jika ia berlaku sewenang-wenang dan membawa keinginan pribadinya sendiri mengandalkan kedudukan dan harta, merugikan banyak orang, membuat sengsara! Tentu aku tak berpeluk tangan.”

“Akan tetapi, apakah kau tidak tahu bahwa Nguyen Khan itu adalah orang kepercayaan Gubernur Ie Yen? Hm tindakanmu ini menghancurkan rencana proyek di Siauw-ling! Nona sebaiknya, marilah kau ikut dengan kami untuk mempertanggung jawabkan perbuatanmu. Menyerahlah nona! Agar supaya kami tidak menggunakan kekerasan kepadamu yang masih begini muda!”

Merah muka Bwe Hwa mendengar ucapan yang tidak memandang sebelah mata ini. Ia disuruh menyerah? Apa salahnya? Apa tindakan membunuh manusia Nguyen itu bersalah?

Menurut pertimbangannya memang ia patut membasmi manusia-manusia macam Nguyen yang selalu membawa kesengsaraan rakyat jelata. Menurut pendapatnya semua manusia jahat harus dibasmi dari muka bumi ini. Itu tugas seorang kesatria. Tugas seorang pendekar yang membela keadilan dan menentang kejahatan.

Sekarang seorang utusan dari kotaraja itu malah menyalahkan perbuatannya? Terlalu. Beribu-ribu orang berlutut di depannya memuliakan dirinya menganggap utusan Kwan-im Posat, eh sekarang si cambuk sakti ini menghinanya menyuruh berlutut. Setan!

“Aku berdiri di atas pendirianku sendiri! Siapapun tak bisa menggoyahkan pendapatku. Persetan dengan hukum-hukum negara yang berlaku. Pokoknya aku telah berbuat kebajikan dengan melenyapkan manusia Nguyen. Tok! Habis perkara. Tak perduli kau ini barisan dari kotaraja atau dari Setan Neraka sekalipun, tak sudi aku berlutut dan menyerah. Aku tak bersalah, mengapa aku mesti ditangkap seperti orang nyolong ayam?”

Berkata demikian Bwe Hwa meraba gagang pedangnya. Sedetik terdengar berdesing pedang tercabut. Melintang di depan dada, tahulah Oey Goan tak mungkin ia membujuk gadis ini dengan halus. Cara satu-satunya, menentukan di atas senjata pula.

Oey Goan melolos cambuk hitamnya. Geraknya itu dibarengi meloncat keduapuluh tiga anak buahnya dari atas punggung kuda. Pedang dan golok berkelebat ketika lepas dari sarungnya. Dan sebentar itu pula Bwe Hwa sudah dikurung dengan ketat.

“Kalau begitu terpaksa kami menggunakan kekerasan kepadamu! Harap kau tidak menganggap kami keterlaluan nona, tugas akan kami selesaikan dengan jalan apapun!!”

“Setan! Mau tangkap aku tangkaplah kalau bisa, mengapa cerewet betul kaya mulut orang perempuan?”

“Goan-enghiong, kita tawan saja gadis ini dan kita serahkan pada Gubernur Ie Yen, habis perkara!” berkata salah seorang perajurit sambil memegang goloknya.

“Betul, kita tawan dia. Tangkap hidup-hidup!!” si Kumis Melintang menyambung dan mengeluarkan ruyung bajanya.

Pada saat itu berkelebat tiga bayangan orang dan terdengar salah seorang berseru:

“Bong-goanswee datang!”

“Hee....... hee ada apakah kalian ribut-ribut di sini dan nona ini siapakah??” Datang-datang orang yang berpakaian seperti seorang jenderal bertanya dengan pandangan mata menyelidik ke arah Bwe Hwa.

Bersamaan munculnya orang tua yang berpakaian jenderal itu, di belakangnya mendatangi pula seorang pendeta, dan seorang hweesio tua yang berusia sedikitnya tujuhpuluhan tahun, bermuka hitam dan cacad bekas korban penyakit cacar. Biarpun mukanya bopeng dan buruk namun mata hwesio itu membayang budi dan kesabaran seorang pendeta yang sudah masak jiwanya. Hwesio itu membawa sebatang tongkat kuning, ia berdiri tegak di samping seorang tua yang dipanggil Bong-goanswe (jenderal Bong).

“Bong-goanswe, gadis inilah yang mengacau Siauw-ling dan membunuh Nguyen Khan dan keluarganya. Malah gedung besarnya Nguyen Khan dibakarnya pula. Kami hendak menangkap gadis itu dan menyerahkan kepada Gubernur Ie Yen. Harap goanswe menjadi tahu adanya…...!”

Orang setengah tua iang berjuluk si Cambuk Sakti itu melapor kepada atasannya dengan sikap menghormat sekali. Tentu saja semua perajurit, tahu siapa Bong-goanswe ini. Dia adalah bekas seorang pertapa. Sute dari Bu-beng Sianjin yang mempunyai kepandaian lihay dan luar biasa.

Lain dengan Bu-beng Sianjin yang itu. Kalau Bu-beng Sianjin ini selalu mengasingkan diri dan memperdalam ilmu kebathinan di puncak Thang-la, adalah Bong Bong Sianjin ini haus akan harta dan kemuliaan, dan karena kepandaiannya yang tinggi itu Bong Bong Sianjin berhasil mengalahkan pahlawan-pahlawan nomor satu di istana dan oleh kaisar diangkat menjadi Jenderal sebagai kepala pengawal Kaisar yang berkedudukan amat tinggi dan dikenal sebagai Bong-goanswe.

Dan hwesio yang bermuka buruk bopeng, yang kelihatannya seperti hwesio alim dan suci itu adalah Hok Losu, seorang tokoh tingkat tiga dari Siauw-lim-pay, berkepandaian amat tinggi dan lihay. Adapun orang yang berjalan di belakang dan sekarang telah berdiri pula di samping Hok Losu, bukan orang sembarangan pula melainkan tokoh dari Kong-thong-pay yang bernama Lek Ek Cu. Dua orang ini adalah kawan baik orang tua Hok Losu dan karena tertarik akan kedudukan tinggi, maka ke dua tokoh dari Siauw-lim-pay dan Kong-thong-pay ini dapat dibujuk oleh Hok Losu untuk tinggal di istana sebagai pembantu Kaisar, Pengawal kelas tinggi.

Tiga orang tua itu memandang ke arah Bwe Hwa dengan pandangan menyelidik. Sekali lihat saja tahulah Bong-goanswe bahwa kepandaian gadis ini tidak di bawah dari si Cambuk Sakti Oey Goan tingkat kepandaiannya. Oleh karena itulah ia berkata kepada Oey Goan,

“Seret dia dan bawalah ke Kotaraja. Biar Gubernur Ie Yen yang akan mengadilinya,” berkata begitu Bong-gwanswe minggir dan berkata kepada dua orang temannya, “Cuma gadis cilik saja yang mengacau tak perlu kita turun tangan!”

“Goanswe, kulihat gadis ini bukan gadis sembarangan, jangan dipandang enteng. Entah apakah Oey Goan dapat menandinginya?” nyeletuk hwesio Siauw-lim-pay yang bernama Hok losu itu sambil mengetuk tongkatnya di tanah. Seperti juga Bong-goanswe, ia juga duduk di atas batu yang menonjol di situ, diikuti oleh Leng Ek Cu tokoh Kong-tong-pay.

Sementara itu, Oey Goan panas perutnya disindir oleh hwesio muka hitam. Ia melirik kepada Lo-suhu itu dan kemudian menghampiri Bwe Hwa yang sudah siap dengan pedang di tangan.

“Nona, sekali lagi menyerahlah sebelum kami menggunakan kekerasan. Aku yang tua sebetulnya segan melayani gadis muda seperti engkau ini!”

Si Cambuk Sakti Oey Goan mengeluarkan cambuknya yang tadi melingkar di pinggang. Ia tahu bahwa gadis ini tidak boleh dibuat gegabah maka ia berlaku hati-hati dan tidak ingin memandang ringan lawannya. Sebentar itu pula terdengar cambuk hitam di tangannya melecut tiga kali.

“Menentang kelaliman adalah tugas setiap orang yang menjunjung kebenaran. Lagi pula, aku tidak merasa bersalah, untuk apa hendak menyerah? Majulah kalian. Hemm, apakah hendak main keroyokan?” tantang Bwe Hwa dengan suara ketus sambil melirik ke kanan dan ke kiri melemparkan pandang ke arah, duapuluh tiga orang perajurit-perajurit pilihan yang sudah bersiap-siap dengan senjata di tangan. Tinggal menanti komando saja.

Oey Goan tersinggung mendengar perkataan gadis muda ini. Tangannya bergerak memberi aba-aba untuk mundur kepada anak buahnya. Dan ia sendiri maju sambil membentak: “Bocah tak tahu diri, aku bukan pengecut yang beraninya main keroyokan. Jangan kuatir anak buahku hanya menonton dan akulah yang menanganimu…….”

“Begitu baru gagah Cambuk Sakti, nah majulah! Bukankah kalian hendak menangkapku. Majulah, keroyoklah aku, itu si tua-tua mengapa tidak maju sekalian? Hm, baru sekarang aku tahu seorang hwesio yang seharusnya tekun dengan kitab suci, kini berpaling menjadi lintah-lintah darat pemeras rakyat. Majulah. Hayo tangkaplah hidup-hidup. Ini aku murid Swie It Tianglo dari Tiang-pek-san. Demi keadilan dan kebenaran takkan mundur setapakpun.

“Tar tar tar!” cambuk di tangan Oey Goan melecut di udara: “Bocah sombong. Lancang mulut..... berani kau membuka mulut besar di depan Losuhu dari Siauw-lim. Apakah kau tidak kenal dengan Losuhu Hok Losu yang sakti? Keparat, mesti dihajar kau!”

“Tak perduli si tua Hok Losu atau Hok Setan kalau menyeleweng, pedangku ini yang akan mengadilinya!”

“Mulut lantang, mampuslah!” pecut baja di tangan Oey Goan meluncur menotok ke tiga bagian jalan darah di tubuh si gadis.

Terkejut juga Bwe Hwa melihat serangan cambuk yang tadinya lemas kini menjadi kaku seperti batang tongkat kecil meluncur menghantam iga dan bagian dadanya. Tahulah ia bahwa lawannya ini mempunyai tenaga lwekang yang tidak boleh dipandang ringan.

Dengan gerakan cepat ia miringkan kepala dan menyampok dengan pedangnya, “Tar tar tar”, tahu cambuk yang tadinya keras itu membalik menjadi lemas hendak membelit pedangnya. Tentu saja Bwe Hwa tak ingin pedangnya menjadi sasaran lilitan pedang. Maka dengin gerakan jurus Membabat Rumput Melempar Batu, pedangnya ditarik dan menyabet ujung pecut yang hendak melilit itu.

Dan kaget bukan main Bwe Hwa merasa pedangnya terlempar begitu bertemu dengan cambuk lawan. Kalau saja ia tidak kuat-kuat menggenggam pedangnya tentu senjatanya itu, akan terlepas dari genggamannya. Tahulah ia bahwa lawannya ini mempunyai tenaga lwekang yang cukup tinggi.

“Bagus!” tak terasa lagi Bwe Hwa berseru mengagumi gerakan-gerakan cambuk yang bergulung-gulung seperti awan hitam yang hendak menyelubungi dirinya. Tentu saja ia tidak tahu bahwa lawannya ini adalah murid seorang sakti pertapa Bu-beng Sianjin yang telah menurunkan ilmu bermain cambuk yang disebut Liong-kut-pian yang kadang-kadang bisa menjadi lemas dan kadang-kadang menjadi keras seperti tongkat.

Untuk berbuat itu saja orang yang memainkan harus mempunyai tenaga lweekang yang cukup tinggi. Kalau tidak mana mampu membuat cambuk yang demikian lemas itu menjadi keras seperti batang tongkat.

Memang Oey Goan ini sejak ia pernah dikalahkan oleh Swie It Tianglo empat tahun yang lalu, ia semakin tekun melatih diri dengan ilmu cambuk Liong-kut-pian di bukit Harimau atas petunjuk-petunjuk Bu-beng Siangjin. Tentu saja si Cambuk Sakti empat tahun yang lalu jauh berbeda dengan si Cambuk Sakti sekarang. Lingkaran-lingkaran cambuknya semakin kuat dan mantap merupakan segulungan awan hitam yang kokoh dan sulit ditembusi oleh pedang Bwe Hwa yang merasa kewalahan menghadapi orang yang tidak disangkanya mempunyai kepandaian demikian hebat.

Akan tetapi tentu saja Bwe Hwa tidak gampang-gampang harus menyerah. Percuma ia hampir empat tahun itu digembleng oleh mendiang suhunya di Tiang-pek-san kalau melayani Oey Goan saja ia harus gampang-gampang kalah. Ia sudah mewarisi ilmu pedang Tiang-pek-kiam-sut dari Tiang-pek-pay dan ilmu Pek-in-kang di tangan kiri.

Oleh karenanya, bagi Oey Goan juga sulit untuk mengalahkan gadis ini. Pukulan-pukulan tangan kiri Bwe Hwa menggetarkan cambuknya. Tentu saja bagi Bwe Hwa juga sulit memukul lawan dengan jarak jauh begini, sebab lawannya ini berdiri sejauh satu tombak sambil memainkan cambuknya. Hebat sekali pertempuran dua orang ini.

Pukulan Bwe Hwa dengan tangan kiri yang menggunakan hawa Pek-in-kang, tak berani Oey Goan menerimanya secara langsung. Ia dapat melihat betapa tangan gadis itu menjadi putih mengeluarkan uap, tanda bahwa pukulan itu mengandung hawa im-kang yang amat hebat sekali.

Beberapa kali cambuknya terbentur membalik ke belakang apabila kesentuh tangan kiri yang lihay dari gadis yang masih begitu muda. Ia merasa sangat penasaran sekali, masakah ia yang telah mendapat julukan si Cambuk Sakti, kini menghadapi gadis muda saja harus mengaku kalah? Rasa penasaran ini membuat ia mainkan cambuknya lebih sungguh-sungguh lagi.

Kalau tadi ia menganggap ringan terhadap gadis muda itu, namun sekarang tahulah ia bahwa kalau tidak menyerang sungguh-sungguh terhadap lawannya, tentu dalam waktu yang singkat, ia akan dikalahkan. Dan itu membuat malu di depan anak buahnya. Dan tentunya namanya akan jatuh merosot sebagai kepala barisan. Cepat laksana kilat Oey Goan memutar cambuknya, digetarkan hingga ujungnya berubah menjadi belasan batang, kesemuanya menyerang dengan totokan maut ke arah bagian tubuh yang berbahaya.

Melihat penyerangan yang luar biasa ini, Bwe Hwa mengeluarkan suara melengking tinggi dari kerongkongannya merupakan jeritan maut yang merampas semangat lawan. Inilah pengerahan sin-kang yang istimewa, sebuah ilmu kesaktian yang ia terima dari mendiang Swie It Tianglo, gurunya!

Sebuah ilmu jeritan yang dikerahkan oleh tenaga sin-kang sepenuhnya yang dapat menggetarkan jantung lawan. Kalau saja gurunya mengeluarkan jeritan ini, agaknya tak tahan kiranya si Cambuk Sakti menerimanya. Inilah jeritan maut.

Namun Oey Goan juga bukan orang bodoh yang baru pertama kali menghadapi pertempuran tingkat tinggi. Ia tahu betul bahwa itulah penyerangan suara yang dikirim melalui jeritan perampas semangat. Segera ia memusatkan hawa murni dan mengerahkan sin-kang di perut, menjerit pula seperti gadis itu.

Sambil melengking Bwe Hwa menggerakkan pedangnya yang menerobos masuk di antara putaran-putaran cambuk lawannya itu. Terdengar suara keras ketika pedang di tangan Bwe Hwa menjadi patah-patah terhantam pukulan sabetan cambuk yang terbuat dari baja dan dikerahkan oleh tenaga sin-kang yang tinggi.

Pedang Bwe Hwa patah-patah menjadi tiga potong akan tetapi dibarengi jeritan tertahan dari si Cambuk Sakti ketika merasa tubuhnya tahu-tahu terlempar jauh terhantam pukulan tangan kiri Bwe Hwa yang menggunakan hawa Pek-in-kang. Hebat sekali pukulan ini, tadi selagi si Cambuk Sakti Oey Goan kegirangan melihat pedang lawan terhantam cambuknya dan patah-patah dan dalam kelemahan inilah sebuah pukulan tangan kiri Bwe Hwa menerobos masuk menggunakan hawa Pek-in-kang.

Terkejut bukan main Oey Goan, cepat ia membanting diri ke belakang dan miringkan tubuh menghindari pukulan dahsyat itu. Akan tetapi tetap saja pundaknya terhantam hawa pukulan Bwe Hwa hingga tak ampun lagi bagaikan daun kering yang tertiup angin besar, tubuh Oey Goan melayang terlempar jauh. Pundak kirinya patah terhantam hawa pukulan yang dahsyat itu, Oey Goan meringis menahan nyeri di pundak. Cambuknya terlepas dari pegangan tangannya entah kemana.

“Omitohud, sungguh ganas dan lihay, entah murid siapa gadis ini,” suara yang halus terdengar dari belakang Bwe Hwa dengan diiringi angin lembut menyambar dari belakang. Terkejut bukan main dia, cepat ia membuang diri ke samping dan sebuah pohon di depan hancur berantakan terhantam pukulan yang kelihatan lembut itu.

Terdengar suara “Brak, brakkkk” robohlah pohon sebesar pelukan manusia itu. Bergidik Bwe Hwa. Begitu ia membalikkan diri dilihatnya Hok Losu yang sudah berdiri di belakangnya dengan tubuh doyong-doyong seperti hendak jatuh!

“Lo-suhu tahan!” Bong-goanswe atau yang mulanya kita kenal sebagai Bong Bong Sianjin berdiri dan menghampiri Bwe Hwa.

Melihat orang tua yang berpakaian seperti seorang jenderal ini menghampiri dirinya, Bwe Hwa memandang tajam dan bertanya: “Orang tua, siapakah engkau??”

Bong Bong Sianjin tertawa lebar:

“Nona, tadi kau bilang apa?? Kau murid Swie It Tianglo…..?”

“Orang tua, memang benar aku muridnya Swie It Tianglo, kau ini orang tua berpangkat jenderal, apa-apaan berkeliaran di hutan dengan membawa-bawa hwesio tua renta. Hm! pantas, rupanya kau orangnya pemerintah, yaa? Tukang peras rakyat, yaa? Bagus, coba kau lihat, jagoanmu si Cambuk Sakti sudah keok di tanganku. Apa kau orang tua, masih merasa penasaran?”

“Gadis binal bermulut lancang. Tidak tahukah engkau sedang berhadapan dengan siapa?” ujar Bong Bong Sianjin sambil melangkah setindak.

Bwe Hwa menatap orang tua berpakaian jenderal ini, terkejut ia melihat tatapan mata si jenderal yang begitu tajam menusuk. Tahulah ia lawannya kali ini adalah seorang ahli lweekeh. Aku harus berlaku waspada, demikian pikirnya.

“Jenderal tai !! Siapa yang tidak tahu kau seorang jenderal yang pintar menakut-nakuti rakyat jelata!!”

“Bocah tidak kenal tingginya gunung Thay-san dan dalamnya laut Po-hay. Gadis binal, bukalah lebar-lebar telingamu. Aku adalah Bong-gwanswe atau sebelumnya dikenal dengan sebutan Bong Bong Sianjin!”

“Apa?”

Bwe Hwa membelalak memandang orang tua yang berpakaian jenderal itu. Memandang dari bawah sampai ke atas. Memandang sepatu jenderal yang mengkilap dan ke atas baju jenderal yang keren dan angkuh, melihat pula topi kebesaran di atas kepala itu. Tanda pangkat bintang jasa di pundak itu. Inikah dia Bong Bong Sianjin yang dicari-cari?

Pedang di tangan Bwe Hwa menggigil. Terangkat naik menghunus jenderal Bong yang dikenalnya sebagai Bong Bong Sianjin, musuh besarnya. “Hemm. jadi engkau inikah manusianya yang telah membunuh suhu Swie It Tianglo?”

“Ha ha ha!” Bong Bong Siangjin tertawa. “Engkau nona, akulah Bong Bong yang telah menuntut balas kematian muridku di tangan gurumu. Kukira macam apa manusia Swie It Tianglo itu, kiranya cuma cacing tanah saja yang sekali injak sudah mampus!”

“Kepada kau pembunuh guruku. Musuh besarku. Jahanam! Makan pedang!” Sambil membentak Bwe Hwa maju menyerang, kali ini ia memperlihatkan gin-kangnya. Sekali ke dua kakinya menjejak tanah, tubuhnya melayang terbang ke arah Bong Bong Sianjin atau Bong-goanswe itu, pedangnya diputar-putar di depannya, berubah menjadi segulung sinar perak, yang diiringi dengan serangan bentakannya yang nyaring memaki lawannya kalang kabut.

Bong Bong Sianjin maklum akan kelihayan gadis murid mendiang Swie It Tianglo ini, tentu saja ia tidak takut kepada gadis yang dianggapnya masih hijau itu, boleh jadi Oey Goan kalah di tangan gadis liar itu, tetapi sekarang menghadapi Bong Bong Sianjin, Bwe Hwa seakan-akan bertemu dengan kakek gurunya. Semakin sengit ia memainkan jurus-jurus Tiang-pek-kiam-sut semakin cepat pula bayangan-bayangan Bong Bong Sianjin berkelebat menghindarkan serangan pedang.

Seakan-akan pedangnya menghadapi bayangan sendiri, dan sukar untuk ditembusi. Panas sekali hati gadis itu melihat kelihayan musuh besarnya itu yang belum membalas menyerang hanya mengelak saja. Masa ia diganda mengelak oleh Bong Bong Sianjin keparat! bentak gadis itu dalam hati.

“He he he, nona, kau menyerahlah dan berlutut tujuh kali di depan kakiku, baru aku memberi ampun kepadamu!” Bong Bong Sianjin mengejek sambil menghindarkan sabetan pedang si gadis, suara berdesing di dekat telinganya.

“Iblis dedemit, setan! Jenderal keparat, mampuslah kau!” bentak gadis itu mengirim ilmu pukulan Pek-in-kang di tangan kiri, Bong Bong Sianjin tertawa mengangkat tangannya menangkis pukulan tangan kiri lawan. Melihat bahwa orang tua ini menangkis tangan kirinya segera Bwe Hwa mengerahkan hawa Pek-ie-jiu dan Pek-in-kang di tangan kiri itu dan menekan tangan Bong Bong Sianjin yang menangkis.

“Minggatlah kau, jenderal taik!”

“Dess!” Bukan tubuh Bong Bong Sianjin yang terlempar oleh pukulan dahsyat Bwe Hwa, melainkan dia sendiri yang terlempar tinggi melayang di udara. Akan tetapi pada saat tubuh itu melayang-layang, berkelebat sesosok tubuh lain dengan gesitnya menyambar tubuh Bwe Hwa yang telah pingsan. Terdengar suara itu memanggil nama si gadis dengan panggilan mesra.

“Bwe Hwa moay-moay......” Amat cepat sekali gerakan orang yang baru datang itu dan tahu-tahu tubuh Bwe Hwa sudah berada dalam pelukannya. Ternyata yang menolong Bwe Hwa adalah seorang pemuda berpakaian putih sederhana berusia sekitar duapuluh tahun, wajahnya nampak agak pucat, akan tetapi sepasang mata itu memancarkan cahaya berapi-api penuh kemarahan kepada Bong Bong Sianjin.

“Siapa kau?” Bong Bong Sianjin bertanya sambil menatap tajam ke arah pemuda berpakaian putih sederhana, yang memandangnya dengan sepasang mata penuh kemarahan.

“Bagus! Dicari ke mana-mana tidak bertemu, kebetulan sekali Bong Bong Sianjin. Engkaulah yang telah membunuh suhu Swie It Tianglo di puncak Tiang-pek-san tempo hari?” Pemuda sederhana itu menghampiri maju dua langkah, sementara Bwe Hwa yang masih pingsan disenderkannya di batang pohon. Ia tidak kuatir akan keselamatan gadis itu, karena ia tahu kalau gadis itu hanya pingsan saja tidak terluka.

“Siapa kau dan apa hubunganmu dengan Swie It Tianglo yang sudah mampus itu?”

“Bong Bong Sianjin, manusia keparat! Buka telingamu lebar-lebar, dengar! Aku dan gadis tadi adalah murid-murid mendiang suhu Swie It Tianglo. Atau akan mewakili guruku memberi hukuman kepadamu, bersiaplah engkau untuk terima binasa!”

<>

Pemuda itu bukan lain adalah Liok Kong In, murid pertama dari Swie It Tianglo yang telah meninggal di tangan Bong Bong Sianjin itu. Seperti kita ketahui di bagian depan pada jilid pertama cerita ini, Liok Kong In yang sesungguhnya Bwe Hwa tidak sampai hati membiarkan gadis itu turun gunung setelah terjadi tragedi di tengah pematang sawah itu.

Maka melihat gadis itu berkelebat pergi, tak lama kemudian Kong In pun menyusul jejak gadis itu. Namun karena Bwe Hwa berlari dengan amat cepatnya dan lagi mengambil jalan gunung yang amat sukar, maka sampai berpekan-pekan, Kong In kehilangan jejak Bwe Hwa. Namun ia masih terus membuntuti gadis itu dan bertanya-tanya kepada penduduk dusun yang kebetulan ditemui.

Dalam pertarungannya mengikuti Bwe Hwa itu, dalam hati Kong In selalu bertanya-tanya dan heran mengapa Bwe Hwa sampai membuntungi lengan sam-suhengnya yang bernama Sung Tiang Le. Rasanya tak masuk diakal. Mana mungkin Tiang Le dapat dikalahkan oleh Bwe Hwa atau apakah Tiang Le sudah menjadi demikian sinting membiarkan lengannya buntung disambar pedang Bwe Hwa, atau apakah Tiang Le tidak melawan?

Pusing Kong In memikirkan kejadian ini. Ia tak mengerti apa gerangan yang telah terjadi antara Bwe Hwa dan Tiang Le, sayang ia datang terlambat ke tempat itu. Sehingga kejadian itu sudah lewat terjadi.

Dan ia tidak melihat lagi Tiang Le yang sudah buntung lengannya. Hanya ia merasa yakin bahwa tentu Tiang Le terluka hebat, ia melihat darah menggenang di air yang membanjir sampai ke kakinya itu. Akan tetapi Tiang Le tidak kelihatan entah kemana.

Oleh karena itulah sepanjang perjalanannya mengejar Bwe Hwa ia juga bertanya kalau-kalau ada pemuda yang buntung lengannya. Namun orang ditanya selalu tidak dapat memberi jawaban yang memastikan.

Pada suatu hari sampailah Kong In di Kota Siauw-ling. Dan alangkah herannya ia melihat sebuah gedung yang besar di dalam kota itu sudah habis terbakar. Tadinya ia tidak mengambil perduli tentang gedung yang terbakar itu, tidak heran memang di musim kemarau yang panjang ini sering sekali terjadi kebakaran-kebakaran. Akan tetapi yang menarik hatinya, adalah tentang pembakaran gedung itu.

Ia mendengar orang-orang berbicara bahwa gedung yang megah milik Nguyen-loya itu habis dibakar oleh dewi Kwan-im yang datang memberi hukuman kepada Nguyen-loya, semua penghuni gedung itu didapati telah mati, Nguyen-loya dan Nguyen-kongcu didapati sudah mati dengan kepala terpisah dari badannya. Semua para ngo-hauw (tukang pukul) pada terluka hebat dan malah ada yang mau di tempat itu juga.

Seorang setengah tua yang memang dolan sekali bercerita mengatakan bahwa sang dewi dilihatnya menghilang terbang ke hutan sebelah selatan kota. Tentu saja Kong In yang tidak percaya akan berita tentang sang dewi mengejarnya ke dalam hutan yang dikatakan orang tua itu.

Ia memang tidak percaya, masakah Kwan-im Posat demikian ganas membakar dan membunuh? Setahunya sang Kwan-im itu adalah seorang dewi welas asih yang pantang berbuat sekejam itu. Ia tidak percaya. Oleh sebab itulah dia mengejar terus. Dan justru karena kedatangannya itulah yang menolong Bwe Hwa dari cengkraman Bong Bong Sianjin.

Ia tak pernah menduga bahwa gadis itu adalah Bwe Hwa yang selama ini tengah dicari. Dan orang yang berpakaian seperti jenderal itu, Bong Bong Sianjin! Pembunuh gurunya! Ia harus membalas kematian suhunya!

Dengan geram ia maju. Sedikitpun ia tidak gentar kepada sang jenderal ini. Ia percaya akan kepandaiannya!

Sementara itu Bong Bong Sianjin yang tadinya terkejutnya kini tertawa mengejek, “Bagus! Kalau begitu aku tidak boleh bekerja kepalang tanggung. Membasmi pohon harus keakar-akarnya, ha ha ha! Eh, orang muda murid Swie It, engkau hendak membalas kematian gurumu, dengan cara apakah?”

“Dengan cara ini!”

“Singg!” Suara pedang berdesing dicabut Kong In. Pedang itu melintang di depan dada.

“Ho ho ha ha, bocah masih ingusan berani berlaku kurang ajar di depanku...... he he he. Untuk hukuman ini saja kau harus berlutut tujuhpuluh tujuh kali tujuh di depanku, baru aku mau ampunkan engkau! Masih muda tak baik kalau dilenyapkan..... kalau kau mau berlutut, aku akan mengampunimu dan gadis sumoaymu itu serahkan kepadaku untuk menjadi..... isteriku, ha ha ha!”

“Keparat bermulut cabul, mampuslah kau!” sambil berseru keras Liok Kong In sudah menerjang maju, tangannya menghantam dan sinar perak pedang berkelebat menyambar leher Bong Bong Sianjin dan tangan kirinya bergerak berbareng dengan mengerahkan Pek-lek-jiu yang mengeluarkan uap putih itu bergulung menyambar dada lawan di depannya.

Bong Bong Sianjin mendengus mengejek melihat serangan pedang dan pukulan orang muda ini. Pukulan ini pernah ia rasai kelihayannya waktu ia menanding mendiang Swie It Tianglo setahun yang lalu, dan pedang itu berkelebat melingkar adalah jurus-jurus dari Tiang-pek-kiam-sut.

Ia kenal sekali kelihayan pedang ini. Akan tetapi menghadapi pedang di tangan pemuda ini, mana ia memandang sebelah mata? Jangankan orang muda ini biarpun Swie It Tianglo yang menerjang maju, ia masih ganda tertawa!

Kong In terkejut dan girang melihat lawannya tidak menangkis tangan kirinya. Dengan mengerahkan hawa Pek-in-kang, ia menekan dan mendorong dada musuhnya dengan sekuat hawa saktinya, sedangkan pedangnya menusuk yang pertama itu merupakan pancingan dan telah ditarik kembali. Seluruh perhatiannya dicurahkan ke arah tangan kiri yang mendorong.

“Ha ha ha, orang muda. Kalau sekarang gurumu masih hidup, ingin aku mencobanya dengan ilmuku yang baru! Akan tetapi sayang sekali dia sekali injak sudah mampus dan belum sempat kukeluarkan jurusku ini. Dan sekarang kaulah gantinya. Ha ha ha, ingin sekali kulihat hasiInya. Kau terimalah!”

Tubuh yang miring itu, tiba-tiba bergerak dan tangannya yang panjang mengirimkan pukulan berputar dan akhirnya bertemu dengan telapak tangan kiri Kong In yang menyerang dengan jari terbuka pula. Hebat bukan main pukulan ini. Angin pukulan berdesir menimbulkan suara berciutan. Memang kali ini Bong Bong Sianjin mengerahkan tenaganya untuk pameran saja, juga dalam kegemasannya untuk melemparkan bocah murid Swie It Tianglo.

Melihat betapa hebatnya sambaran pukulan dengan tubuh setengah miring ini, Kong In tidak berani memandang ringan. Ia maklum betapa pukulan lawannya ini amat dahsyat sekali dan terasa hawa panas menyambar dengan amat kuatnya.

Akan tetapi tanpa menahan pukulan dengan tangkisan, ia juga tidak akan dapat mengukur sampai dimana kehebatan tenaga lawan. Dan lagi memang ia sudah bersiap menyerang dengan pukulan Pek-lek-jiu di tangan kiri dan membarengi dengan sabetan pedang menyambar pukulan tangan lawan yang berhawa panas itu.

“Desss, krakkk!” Dua telapak tangan bertemu dan tahu-tahu, seperti Bwe Hwa tadi tubuh Kong In terlempar keras membentur batu tangga mengeluarkan suara keras berdebuk.

Kong In kaget setengah mati. Pukulan apa ini? Tiba-tiba dirasakannya kepala pening berdenyut-denyut dan tulang belakangnya sakit dan nyeri. Tahulah ia bahwa tulang belakangnya patah terhantam batu yang selagi ia terlempar tadi.

Untung saja tadi ia mengerahkan sin-kang di dada waktu dirasakan segumpal hawa panas menyerang dadanya. Kalau tidak cepat-cepat ia mengerahkan hawa di perut dan terus disalurkan ke bagian dadanya, celaka, tentu dadanya sudah remuk-remuk terhantam pukulan dari Bong Bong Sianjin.

Kong In menahan rasa nyeri di tulang belakang. Wajahnya pucat seperti kertas. Ia memandang terbelalak kepada Bong Bong Sianjin yang tertawa mengejek. Begitu melirik, ternyata pedangnyapun telah patah menjadi tiga potong dan masih terpegang olehnya tinggal gagangnya saja.

“He he he, mana kau mampu menahan pukulanku, bocah? Itu baru sepersepuluh bagian saja........ ha ha ha!” Bong Bong Sianjin mengejek. Selangkah ia maju manghampiri Kong In yang masih menggeletak bergerak hendak bangun.

Pada saat itu terdengar suara nyaring: “It-suheng, bagus kau sudah datang, hayo kita mampusin jenderal keparat yang telah membunuh suhu!”

Serangkum hawa dingin menyambar belakang Bong Bong Sianjin. Orang tua berpakaian jenderal itu mengebutkan jubahnya sambil membentak, “Gadis binal tak tahu diri, minggat!”

Dan tahu-tahu bagaikan diangkat oleh tenaga yang amat luar biasa, tubuh Bwe Hwa terlempar ke samping dan jatuh di dekat Kong In. Ternyata tadi Bwe Hwa yang sudah siuman, melancarkan pukulan Pek-lek-jiu kepada musuhnya yang tengah membelakanginya ini, akan tetapi siapa sangka Bong Bong Sianjin dengan sekali mengebutkan ujung jubahnya tahu-tahu tubuhnya telah terlempar ke samping.

Kong In maklum bahwa musuh besar suhunya ini demikian lihay dan pantas saja suhunya tidak dapat menandinginya. Tidak tahunya, lawannya ini demikian sakti. Akan tetapi ia sudah bertekad akan menempur musuh suhunya sampai titik darah yang terakhir, mati pun tidak mengapa.

Kong In dengan susah payah merangkak bangun, terhuyung-huyung ia berdiri. Bwe Hwa juga berdiri di samping suhengnya dan mengepalkan ke dua tinjunya. Selangkah Kong In maju, gemetar kakinya karena menahan rasa sakitnya yang hebat di punggung.

“Bong Bong Sianjin, demi arwah suhu Swie It Tianglo, aku mengadu jiwa denganmu!”

“Benar suheng, akupun mempertaruhkan nyawaku untuk membalas rasa penasaran suhu. Demi langit dan bumi kita ganyang si tua jenderal keparat itu!”

“Bocah sombong! melawan cacing seperti engkau apa susahnya, akan tetapi..... he he he, yang betina ini cantik dan menarik, sayang untuk dibunuh! Biar yang jantan saja mampus!”

Sepasang lengan jenderal Bong Bong Siangjin itu bergerak dan dari kanan kiri menyambar angin pukulan dahsyat dari dua jurusan.

Kong In yang sudah marah menerjang maju. Dua telapak tangan terbuka mencengkeram Bong Bong Siangjin bersamaan dengan berkelebatnya pula tubuh Bwe Hwa mengirim pukulan-pukulan Pek-in-kang ke arah lawannya yang berputar-putar itu.

Kong In terkejut sekali ketika tiba-tiba diserang oleh angin pukulan dari dua jurusan, akan tetapi melihat betapa ke dua lengan Bong Bong Sianjin bergerak begitu lambat dan memberi kesempatan pukulannya bersarang di dada, dengan gemas ia mengerahkan lwekang sepenuhnya di ke dua jari tangannya dan bergerak mencengkeram.

Tentu saja perbuatan ini diikuti olen Bwe Hwa yang juga dapat melihat lowongan yang terbuka di bawah ketiak lawannya yang terangkat itu. Dengan bernapsu Bwe Hwa menerjang dengan kedua tangan memukul ketiak dan kedua kakinya mengirim tendangan beruntun.

Hebat sekali serangan-serangan dari dua orang muda ini. Pakaian kebesaran Bong Bong Sianjin nampak berkibar-kibar ketika dia mencelat menghindarkan tendangan Bwe Hwa, akan tetapi ujung jubahnya memapaki pukulan-pukulan ke dua orang muda itu.

“Bong-sicu tahan……!” seruan itu keluar dari mulut Hok Losu yang terkejut melihat pukulan kedua orang muda itu tertangkap oleh ujung jubah Bong Bong Sianjin dan sekali tangan itu bergerak melempar, bagaikan dua helai daun yang tertiup angin terbang dengan amat cepatnya.

Tak dapat dielakkan lagi, sebuah jurang yang menganga disampingnya menerima tubuh ke dua orang muda yang seketika itu pula sudah tidak sadarkan diri. Terkesiap hwesio tua dari Siauw-lim ini, tadinya ia hendak bergerak menolong tubuh yang meluncur musuk ke dalam jurang yang amat dalam itu, namun terlambat, kedua tubuh itu sudah terlempar dengan cepatnya.

“Mereka mencari penyakit sendiri!” gerutu Bong Bong Sianjin sambil mengebas-ngebaskan jubahnya. Sebetulnya tidak enak ia berbuat demikian, tidak disangkanya apabila pukulannya yang bernama Hui-thian-jip-te (melempar ke langit masuk kebumi) itu demikian dahsyat. Ia tidak menduganya!!

“Hebat pukulan apa itu Bong-sicu?” Leng Ek Cu tokoh Kong-thong-pay bertanya.

Bong Bong Sianjin tersenyum pahit. Meloncat ke atas kudanya dan berkatalah ia kepada Oey Goan yang sejak tadi menonton saja: “Sudah beres, tunggu apa lagi! Dua orang muda itu sudah mampus di tanganku. Katakan saja sama Gubernur Ih Yen, Bong-goanswe sudah memberi hukuman!”

“Baik Goan-swe!” Oey Goan menggeprakan kudanya dan diikuti oleh anak buahnya. Di hutan itu tinggal Bong Bong Sianjin dan Hok Losu dan Leng Ek Cu yang masih berjalan perlahan-lahan.

Pada saat itu berkelebat bayangan merah, disusul suara keras dan Bong Bong Sianjin mencelat ke samping sambil mengibaskan jubahnya: “Bret!” putuslah jubah itu terhantam sabetan pedang yang ampuh dan tajam di tangan seorang gadis berpakaian serba merah dan mukanya tertutup kerudung sampai dibatas hidung. Kerudung sutera yang menutupi muka itu berwarna hitam dan sepasang mata gadis dari balik kerudung itu menatapnya dengan sinar mata mengancam.

“Bong Bong Sianjin, bagus kiranya kau berada di sini dan berlaku keji terhadap dua orang muda tadi. Cobalah pedangku!” Gadis baju merah berkerudung sutera itu menerjang lagi, lebih ganas dan lebih kuat dari serangan barusan.

Kembali Bong Bong Sianjin yang masih terheran-heran akan kedatangan gadis kerudung hitam ini menangkisnya dari samping. Ia yang telah dibikin marah oleh serangan gadis tadi yang telah merobek jubahnya kini dengan gerakan amat cepat telah menarik pedangnya dan menangkis serangan pedang gadis kerudung hitam sambil menggerakkan tenaga.

“Tranggg!” bunga api berpijar merupakan kilat-kilat kecil menerangi cuaca yang sudah remang terang itu. Gadis kerudung hitam itu terkejut sekali melihat kehebatan tenaga lawan. Ia mundur setindak ke belakang, membetulkan letak kuda-kudanya yang tadi tergempur oleh tangkisan pedang lawan dan terasa nyeri nyelekit di telapak tangan kanannya yang memegang pedang. Tahulah ia bahwa lawannya ini tidak boleh dibuat main-main.

“Bagus! Terimalah ini!” Gadis itu membentak dan mengirim serangan lagi dengan gesit. Ujung pedangnya bergetar-getar saking kuatnya lwekang yang disalurkan ke arah lengannya yang memegang pedang itu. Ingin ia tahu apakah lawannya ini mau menangkis pedangnya seperti tadi. Akan tetapi, betapa tak akan terkejutnya ia melihat betul-betul Bong Bong Sianjin mengelak sambil membabat dari samping, menghantam pedang lawan Sedangkan tangan kirinya bergerak cepat mendorong ke depan.

“Tranggg, bukkk!” pedang di tangan si gadis muka kerudung patah menjadi tiga potong dan ia sendiri terlempar jauh.

Bong Bong Sianjin tertawa lebar.

“Nona, bukankah kau ini dari Sian-li-pay, mengapa datang-datang menyerangku. Hemm, seingatku…... Bu-tek Sianli denganku tidak ada permusuhan apa-apa. Malah aku kenal baik dengan Pay-cu Sian-li-pay, mengapa kau memusuhiku nona?” bertanya Bong Bong Sianjin menatap tajam ke arah gadis muka kerudung ini.

Tentu saja sebagai tokoh persilatan tingkat tinggi ia sudah mendengar akan berdirinya partai Sian-li-pay yang dipimpin oleh Bu-tek Sianli yang lihay. Malah lima tahun yang lalu pada peresmian berdirinya partai itu, ia turut hadir di pulau Bidadari dan dapat melihat gadis-gadis cantik anak buah Sian-li-pay yang tertutup mukanya dengan kerudung hitam. Entah apakah gadis yang datang-datang menyerangnya inipun adalah anak buah Bu-tek Sianli, si nenek sakti yang terkenal dengan Kepalan Tanpa Tandingan?

Akan tetapi gadis yang berkerudung hitam itu rupanya sudah panas hatinya, tak dapat dibuat sabar. Dengan suara lantang penuh kemarahan ia berkata,

“Bong Bong Sianjin, Sayang sekali, meskipun kau berkepandaian tinggi, namun kau buta tuli tidak dapat melihat dan mendengar. Mau tahu siapa aku? Aku adalah murid kelima dari suhu Swie It Tianglo yang telah binasa di tanganmu.

“Hari ini aku Lim Sian Hwa akan menuntut balas dan mencabut nyawamu Bong Bong Sianjin! Hari ini kalau bukan kau yang mampus di ujung pedangku tentu akulah yang menjadi mayat. Hayo majulah! Ini murid kelima mendiang Swie It Tianglo!”

Sian Hwa yang tak tahan mengendalikan hawa marahnya, ia menerjang maju dengan pedang pendek yang tadi terpotong menjadi tiga bagian. Ia nekad menyerang dengan potongan pedang yang tersisa beberapa senti dari gagangnya.

Adapun Bong Bong Sianjin menjadi marah sekali. Kalau tadi ia masih berlaku segan kepada gadis muka kerudung ini, yang disangkanya murid dari Sian-li-pay yang terkenal itu. Tetapi sekarang setelah mendengar bahwa gadis berkerudung hitam ini bukan anggota Sian-li-pay, malahan dia salah seorang murid dari mendiang Swie It Tianglo.

Setelah mengetahui hal ini hatinya menjadi marah. Ia sudah dibuat mengkal akan kemunculan dua orang muda tadi yang juga merupakan murid dari Swie It Tianglo, sekarang datang lagi setan betina, betul-betul sialan hari ini harus melayani bocah-bocah dari Tiang-pek-san.

Ia mendengus dan menangkis pedangnya gadis berkerudung hitam itu, ingin sekali ia melemparkan gadis ini seperti dua orang muda tadi ke jurang yang menganga disampingnya, akan tetapi terdengar Hok Losu memperingatinya,

“Bong-sicu, jangan kau binasakan gadis itu, tawan dan kita serahkan ke Sian-li-pay. Inilah suatu kesempatan untuk kita bersekutu dengan Bu-tek Sianli!!”

Mendengar peringatan ini, tak jadi Bong Bong Sianjin mempengunakan ilmu pukulan Hui-thian-jip-te yang telah disaksikan tadi kehebatannya, oleh sebab itu ia merubah gerakannya dan menyimpan pedangnya, kemudian bergerak mengelak dari tusukan pedang pendek yang dilancarkan oleh gadis berkerudung hitam, kemudian dengan gerakan yang aneh dia menggerak-gerakkan tangan kanannya seperti orang menulis. Tahu-tahu terdengar suara jeritan tertahan dari Sian Hwa ketika tanpa dapat dicegah lagi kedua buah kakinya menjadi lumpuh dan semangatnya hilang.

Tadi ia seakan-akan melihat Bong Bong Sianjin ini menjadi tiga bayangan yang menakutkan. Satu bayangan aslinya, dan satu lagi bayangan seorang makhluk yang menyeramkan berkepala tiga bertangan enam dengan rambut panjang terurai dan muka seperti manusia tengkorak hidup. Makhluk inilah yang melumpuhkan semangatnya tanpa terasa pedang pendeknya, terlepas pada saat itulah totokan lawannya terasa mengetuk pundaknya sehingga ia tak berdaya lagi.

Terasa bergidik seluruh bulu roma Sian Hwa. Ilmu sihir apakah itu? Selama ini baru kali ini ia melihat pemandangan yang menakutkan hatinya. Itulah sebenarnya ilmu Hek-in-hoat-sut dari Bong Bong Sianjin yang pernah diterimanya dari seorang sakti dari India. Sebuah ilmu perampas semangat yang dikerahkan dengan ilmu tenaga batin yang tinggi.

Melihat gadis itu menggeletak jatuh, cepat tokoh dari Kong-thong-pay mencelat ke dekat si gadis dan mengikatnya ke dua tangan dan kaki dan ditaruhnya di punggung kuda.

Ia tersenyum kepada Bong Bong Sianjin, katanya: “Kesempatan baik untuk kita bertemu dengan Bu-tek Sianli, Bong sicu, kita antarkan sekarang juga gadis kerudung hitam ini ke Sian-li-pay, okey?”

Bong Bong Sianjin tertawa lebar.

“Bagus, bagus sekali, bukankah dengan cara ini kita bisa berhubungan dengan si Nenek Kepalan Sakti Tanpa Tandingan! Eeemm, akan tetapi aku harus menyelidiki dulu bagaimana tampangnya murid Swie It Tianglo yang tersembunyi dibalik sutera hitam itu,” sambil berkata demikian Bong Bong Sianjin bergerak membuka selubung sutera hitam itu yang menutupi muka Sian Hwa.

Terdengar jeritan tertahan Bong Bong Sianjin mencelat ke belakang. Hok Losu dan Leng Ek Cu juga memandang kaget ke arah muka gadis itu. Muka yang tadinya disangka berkulit halus dan cantik, kiranya bukan demikian adanya, yang dilihatnya barusan adalah muka hitam berkisut-kisut seperti muka nenek-nenek yang sudah berusia delapanpuluh tahun, bagian-bagian pipi dan hidung demikian rusak penuh dengan totol-totol hitam dan berkerisut-kerisut. Hanya sepasang mata itu yang demikian indah memandang ke tiganya dengan tatapan berapi-api!

Kalau gadis itu dapat membuka suara dan tidak tertotok seperti itu, tentu ia akan memaki mengeluarkan sumpah yang bergetar-getar penuh kemarahan dahsyat laksana kawah gunung berapi yang hendak meletus. “Bong Bong, Sianjin dan kalian bertiga! Awaslah suatu ketika kelak matamu yang kurang ajar menatap wajahku dan yang telah berlancang membuka kerudung hitam ini, matamu itu ke dua-duanya akan kukorek, kukeluarkan dan hatimu dan jantungmu akan kucabut!”

“Awas kau, Bong Bong Sianjin!”

◄Y►

7

Apa yang dikuatirkan oleh Kwa-sinshe (ahli pengobatan she Kwa) terbukti bahwa seluruh muka gadis yang bernama Sian Hwa ini tidak dapat kembali seperti asal semula. Racun hijau yang menjalar di wajahnya itu tidak dapat ditolak oleh obat-obatan biasa saja.

Dan lagi karena racun-racun itu sudah semalam menjalar ke wajahnya, sulit bagi Kwa-sinshe untuk melenyapkan bekas-bekas hitam dan totol-totol pada wajah itu. Hanya ia dapat memberikan pencegahan agar racun hijau yang ganas itu tidak menjalar ke leher saja. Kalau kiranya racun hijau itu sampai menjalar ke leher dan ke urat besar, berbahaya keselamatan gadis ini!

Betapa sedih Sian Hwa mendengar bahwa lukanya tak dapat disembuhkan seperti sediakala. Ia menjerit kaget waktu bercermin sungai yang jernih airnya! Hampir ia tak mengenal akan wajahnya sendiri, wajah yang kelihatan dalam bayang-bayang air itu nampak hitam dan berkerisut-kerisut seperti pantat kuali, lagi pula terdapat totol-totol putih dan hitam pada ke dua pipi dan hidungnya. Habislah apa yang dibanggakan bagi seorang wanita cantik.

Kecantikannya yang sangat dibanggakan itu sekarang telah lenyap dirusak oleh racun hijau akibat pukulan si kakek gila yang menggunakan pukulan Jin-tok-ciang! Awaslah kakek dan nenek gila, awaslah kau Jin-tok-siang-moli, suatu ketika hendak kubalas sakit hatiku pikirnya sambil menangis di tepi sungai yang airnya jernih itu.

Ia melirik ke arah lengan kanannya, sama seperti mukanya lengan itu juga kehitaman penuh bintik-bintik putih. Tadinya memang dirasakan amat gatal sekali, akan tetapi setelah Kwa-sinshe memberikan pengobatan luka yang mengandung hawa racun hijau itu sembuh kembali, meskipun wajahnya tak dapat disembuhkan karena hangus dan gosong!

Sin Thong yang selama ini menemani Sian Hwa dan menjadi kawan baiknya, merasa terharu sekali melihat kejadian ini. Namun laki-laki cebol ini selalu menghibur Sian Hwa. Kalau tidak ada Sin Thong yang banyak memberikan nasehat tentu sejak kemarin-kemarin ini ia sudah kembali ke dalam hutan untuk menerjang Iblis gila yang telah membuat cacad wajahnya!

“Sian Hwa mengapa kau berbuat bodoh. Kau tahu kan? Kepandaian iblis Jin-tok-siang-lomo itu demikian hebat dan luar biasa. Mereka bukan tandingan kita. Kalau kau nekad menerjang dan membalas sakit hati ini, bodoh betul kau hendak mengantarkan nyawa saja. Suhu bilang kau bersabarlah, bukan lukamu itu tidak dapat disembuhkan, hanya saja obat yang mujarab itu tidak ada di daratan Tiongkok ini. Pernah suhu katakan hanya ada semacam jin-som yang bernama Pek-in-jin-som (akar obat awan putih), akan tetapi hanya tumbuh lima tahun sekali di puncak Anapura, pada pegunungan Himalaya. Kau sabarlah Sian Hwa, siapa tahu……”

Dengan pandangan mata basah Sian Hwa memandang lelaki cebol di depannya. “Sin Thong, itu hanya sebuah khayalan saja bukan? Mana bisa aku mencari buah Pek-in-jin-som sampai di puncak Anapura, apalagi pegunungan Himalaya....... ah, tidak gampang untuk ke sana…... Sin Thong, setelah wajahku begini……. aku malu sekali bertemu dengan orang……”

Go Sin Thong, biarpun nampaknya masih kanak-anak karena tubuhnya yang kecil dan pendek, namun ia adalah seorang pemuda dewasa. Dewasa dalam berpikir dan berperasaan. Ia dapat memaklumi perasaan teman gadisnya ini.

Tentu saja, gadis manakah yang tiada merasa rendah diri setelah tahu wajahnya ini tak sedap dipandang, begitu buruk dan menjijikan seperti wajah nenek! Kasihan sekali kau Sian Hwa, pikirnya. Akan tetapi mulutnya berkata menghibur,

“Sian Hwa, orang yang budiman dan yang mempunyai pribadi tinggi, tidak melihat dan menilai orang dengan kecantikan wajah dan pakaian. Cantik itu hanya bersifat sementara saja, sementara ia masih mengeluarkan kembang yang harum dan segar. Kelak jikalau ia sudah rontok dan layu, apakah ia dapat dikatakan cantik?

“Setelah wajahmu rusak oleh racun hijau mengapa kau merasa rendah diri dan malu bertemu dengan manusia? Terimalah keadaan itu sebagaimana adanya. Hilangkan rasa sifat rendah diri dan pertebal akan kepercayaan terhadap dirimu sendiri. Karena dengan jalan itu merupakan senjata ampuh untuk maju.

“Bukankah kau katakan masih banyak tugas-tugasmu dalam dunia ini? Membalas kematian gurumu, mencari saudara-saudaramu yang tak tahu kemana perginya. Jangan patah semangat Sian Hwa!”

“Memang banyak sekali tugasku. Kalau tidak….. hemm, sejak dari kemaren itupun aku sudah mengadu nyawa dengan Jin-tok-siang-lomo, si nenek dan si kakek gila itu. Akan tetapi Sin Thong, dengan wajahku seperti ini, ah...... akan menjadi bahan perhatian orang saja.”

Sian Hwa menarik napas panjang. Tak berani lagi ia bercermin di tepi sungai itu. Teriris-iris rasa hatinya melihat bayangan sebuah wajah yang muncul di air jernih itu!

Mata hari sore dan angin dari seberang sungai mengusap-usap badannya yang sedang duduk di atas sebuah batu menghadap ke depan sungai. Sin Thong berdiri didekatnya dengan kaki terangkat ke atas batu, sambil matanya memandang air sungai yang meriak mengalir tenang jernih. Sunyi sekali suasana di tepi sungai itu. Matahari senja bersinar lemah di punggung bukit.

“Sian Hwa…...”

Sian Hwa menoleh memandang lelaki pendek di sampingnya. Ia tadi tengah termenung. Sehingga teguran Sin Thong barusan sangat mengejutkan hatinya. Ia melihat lelaki cebol temannya ini memandang jauh ke seberang sungai dengan pandangan sayu.

“Kau hendak mengatakan apa Sin Thong?”

“Sian Hwa, besok aku pagi-pagi hendak mengunjungi kota Wie An. Suhu menyuruhku pergi ke sana mengunjungi kawan baiknya yang akan berulang tahun. Apakah kau hendak turut denganku?”

“Ah, mengunjungi orang berulang tahun saja pakai aku turut-turut segala. Ngak mau ah, kamu saja kan bisa Sin Thong. Kalau denganku! Merepotkanmu saja........” Di mulut Sian Hwa berkata demikian akan tetapi hatinya berkata. “Ah, betapa malunya aku..... dengan mukaku seperti setan ini, siapakah yang mau menerima kedatanganku, akan memalukan saja!”

Sin Thong memandang tajam. Kakinya yang terangkat naik di atas batu diturunkan. Ia menghampir Sian Hwa sambil berkata: “Kenapa merepotkanmu? Tidak Sian Hwa dengan kehadiranmu bersama-sama denganku justru itu yang menggirangkan hatiku. Kau tahu, teman suhu bukan saja hendak merayakan ulang tahun, kabarnya puterinya yang cantik jelita hendak memilih jodoh dan akan diadakan sayembara panggung terbuka bagi ahli-ahli silat untuk mencoba-coba kepandaian puteri Yok-ong Lo Ban Theng. Siapa tahu.......”

“Berjodoh dengan puterinya……?” Sian Hwa menyambung.

Sin Thong tertawa lebar, akan tetapi cuma sebentar kemudian wajahnya muram, tak tahu Sian Hwa hati tengah teriris-iris waktu berkata: “Sian Hwa, gadis manakah yang suka denganku dalam keadaan seperti ini, tubuhku pendek kecil, seperti.......”

“Sin Thong, tadi kau yang bilang. Orang yang berbudi tidak melihat dan menilai akan rupa dan wajah, akan tetapi kenapa sekarang kau begitu pesimis? Kau bilang padaku jangan rendah diri, malah pertebal kepercayaan pada diri sendiri, karena dengan jalan itu merupakan senjata ampuh untuk mencapai cita-cita! Kau ini bagaimana sih, pintar ngajarin orang, akan tetapi kau tidak dapat mengamalkan perkataanmu itu!”

Sian Hwa menyindir dan berkata sambil mengulangi kata-kata yang barusan pernah dikatakan oleh laki-laki cebol ini. Sengaja ia merubah sebagian perkataan Sin Thong untuk menyerangnya, ia tahu dan menyadari karena tubuhnya yang pendek dan kecil sudah pasti teman laki-lakinya ini merasa rendah diri.