-->

Pendekar Lengan Buntung Jilid 03

Jilid 03

“Kau tunggulah di sini, ya dik. Nci itu sedang ambilkan gandum untukmu,” kata Tiang Le sambil cepat-cepat meninggalkan tempat itu.

Bayangan-bayangan wajah gadis yang manis tadi melekat di pelupuk matanya. Wajah seorang dara remaja yang dia kenal benar, gadis tadi tentulah puterinya Sie Tek Peng, kalau tidak salah gadis itu bernama Sie Biauw Eng.

Terhuyung-huyung sekarang Tiang Le berjalan….. hampir tidak kuat rasanya kakinya melangkah saking lemasnya menahan lapar. Kepalanya terasa pening, berdenyut-denyut.

Tak terasa 1agi tubuhnya terguling dan ia roboh di pinggir jalan itu. Pingsan. Dan apabila ia sudah pingsan seperti itu tak ingat lagi ia akan perutnya yang melilit-lilit minta diisi. Tak ingat lagi akan kesengsaraan hidup ini.

Tak tahu apa-apa lagi.

Dan pada saat yang tepat itulah datang Swie It Tianglo yang menolong Tiang Le dari bahaya kelaparan yang mengancam jiwanya. Dan dibawanya ia ke puncak Tiang-pek-san.

Dan di sanalah Tiang Le bertemu dengan Sian Hwa, Bwe Hwa, Liok Kong In, Song Cie Lay dan orang-orang tua murid-murid Tiang-pek-pay. Dan di sana itu pulalah ia kehilangan lengan kanannya!

Kini ia menjadi seorang pemuda lengan buntung!

Pemuda yang tidak mempunyai daya!

◄Y►

5

Setelah Tiang Le berjiarah ke kuburan ibunya di dusun Tiang-lin-bun dan membersihkan kuburan itu dari rumput dan lalang-lalang yang liar karena tidak terurus! Maka ia pun mengembara meluaskan pengalaman.

Ia tidak mempunyai tujuan hendak pergi ke mana, karena iapun sudah tak mempunyai handai tolan dan tak sanak famili dan tak berkawan. Kembali ia ingat akan gadis yang bernama Cia Pei Pei yang baru saja ditinggalkan tadi pagi, ia menarik napas panjang. Kasihan gadis manis itu, hidup sendiri pula di dusun yang terpencil itu. Tiada lagi sanak familinya. Lupa ia untuk menanyakan riwayat gadis itu!

Gadis itu adalah penolongnya.

Cia Pei Pei.

Tiang Le menghela napas dan berlari cepat. Pikirannya penuh dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi beruntun sejak ia turun gunung Tiang-pek-san beberapa hari yang lalu. Cinta segi tiga di antara suheng dan sumoaynya, sehingga membuat lengan kanannya buntung sebatas pundak. Ia tidak marah pada sumoaynya yang pertama yang bernama Bwe Hwa itu. Ia tahu betul, perbuatannya bersama Sian Hwa di dalam pondok ketika hujan-hujan itu tentu saja membuat Bwe Hwa membenci dirinya setengah mati.

Sayangnya perbuatan sumoaynya itu melumpuhkan segala kepandaiannya bermain pedang. Tak bisa dia memainkan pedang dengan tangan kiri. Dan latihan-latihannya hampir empat tahun di puncak Tiang-pek-san itu ternyata sia-sia belaka.

Setelah lengan kanannya buntung mana bisa Tiang Le dapat menarik pedang lagi? Namun demikian semangatnya untuk mencari musuh-musuh besar itu tidak lumpuh. Ia bersedia untuk ini mempertaruhkan nyawanya. Matipun tidak mengapa, asalkan dendam yang membawa penasaran itu dapat dibalas. Asalkan Tiang-pek-pay berdiri kembali. Akan tetapi di hati kecilnya, apakah ia dapat mengalahkan Bong Bong Sianjin, Sianli Ku-koay dan Te-thian Lomo itu, apalagi sekarang setelah lengannya buntung, apalagi kebisaannya?

Setelah bertemu dengan musuhnya itu, barangkali ia akan mengantarkan nyawa dengan sia-sia saja! Meskipun demikian ia tidak berkecil hati. Hasratnya untuk mencari pembunuh-pembunuh guru-gurunya masih menyala-nyala di hatinya. Tiga nama itu, Bong Bong Sianjin, Sianli Ku-koay dan Te-thian Lomo selalu diingatnya dan mulailah di dalam perantauannya itu ia mulai bertanya-tanya tentang tiga orang ini.

Berhari-hari ia mengembara tak tentu arah tujuan. Kalau berhenti di sebuah kota yang dianggapnya indah, ia tinggal di sana beberapa hari sambil bertanya-tanya tentang tiga orang pembunuh gurunya, lalu melanjutkan pula perjalanannya.

Uangnya masih ada, karena waktu di puncak Tiang-pek-san itu suhunya sering memberikan ia uang dan ini dikumpulkannya sehingga cukup banyak sudah. Tapi soal uang ia tidak kuatir karena kalau sampai kehabisan ia dapat pinjam dari simpanan seorang hartawan.

Ini pernah juga dikatakan oleh suhunya Swie It Tianglo: “Muridku, kelak setelah kalian turun dari puncak ini amalkanlah pelajaran-pelajaran yang kuajarkan kepadamu untuk kebenaran dan keadilan. Setelah kalian tamat belajar, merantaulah kalian untuk mencari pengalaman dan memperluas pergaulan dengan orang-orang gagah di dunia kang-ouw ini. Dan di dalam perantauan itu jikalau engkau sudah terpaksa sekali kehabisan uang boleh kalian ambil secukupnya dari seorang hartawan. Tapi awas jangan mengorbankan jiwa orang pula, sebelumnya harus diselidiki dahulu keadaan hartawan orang itu. Kalau ia orang baik dan dermawan, jangan diganggu, muridku, ingat ini untuk menjaga nama gurumu dan nama kita.

Pada suatu hari sampailah Tiang Le di kota Tiang An.

Kota itu cukup besar dan rumah-rumah penginapan dan rumah makan banyak sekali terdapat di situ. Orang-orang yang berdagang di kaki lima hingar bingar dengan segala kesibukan orang-orang yang hilir mudik berbelanja. Teriakan orang-orang yang menjajahkan makan dan barang dagangannya terdengar membisingkan telinga dan hiruk pikuk keadaan di dalam kota Tiang An yang ramai ini.

Tiang Le berjalan sambil memandangi etalase-etalase toko yang penuh dengan hiasan barang dagangan yang mewah dan indah sekali. Tertarik sekali hatinya melihat barang-barang yang mewah itu. Memang keadaan di kota ini jauh sekali dengan di dusun dan di pegunungan.

Di dusun-dusun mana terdapat sutera halus dari Tibet dan hiasan-hiasan dinding yang terukir bagus dan halus itu. Tentu saja suasana di dusun jauh sekali berbeda dengan di kota. Sekecil-kecilnya sebuah kota masih lebih maju kebudayaan dan segalanya dari di dusun atau pegunungan.

Tiang Le berjalan amat perlahan. Lengan yang kanan sering kali merupakan pusat perhatian orang-orang yang secara kebetulan memandangnya. Ada yang menarik napas kasihan melihat seorang pemuda yang buntung lengannya itu, ada pula yang tertawa sinis atau senyum mengejek kepada orang muda yang dianggapnya seorang pengemis muda. Akan tetapi melihat kesinisan dari orang-orang kota ini, Tiang Le tidak ambil peduli. Ia tidak menjadi marah atau rendah diri.

Ia tetap berjalan tenang-tenang di jalan yang itu. Tiba-tiba telinganya yang sudah terlatih itu mendengar suara derap kaki kuda di belakangnya dengan amat cepat sekali. Bersamaan dengan itu terdengar jeritan-jeritan teriakan dari orang-orang yang berusaha memberi jalan kepada penunggang kuda yang membalapkan kudanya dengan amat cepat.

Tiba-tiba terdengar jeritan seorang wanita tua memburu anak kecil di tengah jalan itu.

“A Yin…! A Yin...!”

Suara kaki kuda berderap meageluarkan debu yang mengepul ke atas. Semakin dekat dengan anak kecil di tengah jalan itu, Tiang Le terkejut bukan main dan sekali mengenjotkan tubuhnya tahu-tahu ia sudah melayang dan menyambar anak kecil itu dan berkelebat lenyap. Bersamaan dengan gerakan Tiang Le itu, seekor kuda berlari dengan amat kencangnya. Kalau Tiang Le tidak cepat bertindak tentu anak itu akan hancur diinjak kuda yang tengah membalap itu.

Orang-orang yang melihat pemandangan yang menegangkan itu menarik napas lega setelah mengetahui anak kecil tadi sudah selamat ditolong oleh tangan orang muda yang berpakaian amat sederhana dan berlengan buntung.

Seorang ibu menghampiri anak kecil itu.

“Ibu, paman buntung ini hebat. Barusan A Yin dibawa terbang oleh paman buntung ini…..!” kata anak kecil itu.

Ibu anak itu menoleh ke arah Tiang Le dan menjatuhkan dirinya berlutut. Karuan saja Tiang Le menyambar membangunkan ibu itu.

“Kouw-nio.......jangan begitu….!”

Orang muda yang gagah, aku yang tua mengucapkan banyak terima kasih kepadamu. Untung saja ada engkau, kalau tidak entah bagaimana nasib anakku……!” sahut ibu itu sambil menjura kepada Tiang Le.

Tiang Le tersenyum dan dengan tangan kirinya dia sudah menggendong anak perempuan yang berusia tiga tahun itu, kemudian diserahkannya A Yin kepada ibunya.

“Kouw-nio, anakmu tidak apa-apa....... lain kali jangan membiarkan anak kecil bermain di tengah jalan!” kata Tiang Le.

“Terima kasih tayhiap…… terima kasih,” demikian kata ibu itu sambil menggendong A Yin.

“Ibu, paman ini sudah menolongku…… ibu undang paman ini untuk bermain-main ke rumah kita,” si kecil A Yin berkata kepada ibunya sambil matanya yang jeli itu memandang pemuda buntung yang telah menolongnya.

Ibu itu tertawa

“Betul juga kata anakku, tayhiap karena kau sudah menolong anakku…... marilah singgah sebentar di rumahku yang tidak jauh dari sini,” ibu itu mengundang Tiang Le.

Akan tetapi Tiang Le menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Tidak usah kouwnio, tak usah merepotkan!”

“Tidak merepotkan tayhiap, hanya sekedar rasa terima kasih kami.”

“Paman buntung sombong ya, masak enggak mau kerumah A Yin, paman hayo dong ke rumah.”

A Yin merosot dari gendongan ibunya. Dan menarik-narik tangan kiri Tiang Le sambil katanya lemas: “Paman buntung hebat ya, bisa terbang kaya burung walet. Paman mau ya ke rumah, nanti A Lin kenalin sama papa dan ngkong, ngkong A Yin juga bisa terbang seperti paman.”

Tiang Le tersenyum dan mengelusi kepala anak perempuan itu.

“A Yin lain kali jangan main di tengah jalan, ya, nanti ditubruk kuda. O ya, paman ada coklat. A Yin mau?” Tiang Le mengeluarkan sepotong coklat yang tadi dibelinya. Girang sekali A Yin menerima gula-gula coklat itu. Lupa ia untuk mengajak paman buntung ke rumahnya.

“Kouwnio……. aku permisi!”

“Eh..... tayhiap...... tidak mampir ke rumahku dulu?”

“Tak usah, lain kali saja aku banyak urusan!”

Sekilas Tiang Le melirik ke arah anak perempuan yang tengah asyik menggigit coklat yang barusan diberinya. Dan sekali ia menggerakkan tubuhnya, tahu-tahu ibu itu dan orang yang berkerumun di situ telah kehilangan pemuda buntung yang bisa menghilang dan terbang secara tiba-tiba.

Dan tahu-tahu Tiang Le telah berada jauh dengan tempat kejadian tadi. Ia sekarang memasuki rumah makan penginapan. Hotel Jin-pin yang terkenal itu memang paling terkenal dengan kebersihan dan pelayanannya yang memuaskan. Ke situlah Tiang Le bermalam.

Akan tetapi begitu Tiang Le memasuki ruangan tengah, ia melihat di dalam ruangan tengah itu duduk belasan orang mengelilingi sebuah meja yang cukup besar. Waktu melihat pemuda buntung itu lewat, mereka diam tak bersuara. Dan justru itulah ia yang menarik perhatian Tiang Le.

Hemmm, urusan tentu penting yang tengah dibicarakannya itu, pikir Tiang Le. Dan ia menjadi tertarik sekali. Pelan-pelan ia mengikuti seorang pelayan yang menghantarkan ke kamar. Dia kebetulan sekali kamarnya itu berhadapan dengan ruangan tengah.

“Inilah tempat untuk kongcu,” berkata si pelayan.

Tiang Le memperhatikan sejenak kamar itu. Sebuah pembaringan yang bertilam seprey, sebuah meja kecil, dan ruangan segi empat yang bersih dan teratur. Berlantai jubin yang berkilat dan bersih. Senang sekali hati Tiang Le. Ia merogo dua tail perak dan memberikan kepada pelayan itu sebagai uang tip. Si pelayan dengan girang sekali menerimanya.

“Terima kasih kongcu (tuan muda).”

Tiang Le mengangguk.

“Yang duduk di ruang tengah itu…... apakah tamu-tamu hotel di sini?” tanya Tiang Le perlahan.

Si pelayan menoleh ke arah ruang tengah!

“Betul kongcu, mereka itu adalah serombongan dari orang-orang Kim-coa-pay, mungkin tengah mengadakan rapat penting,” sahut si pelayan setengah berbisik.

“Kim-coa-pay, perkumpulan apakah itu?”

“Mereka-mereka itu adalah pengawal-pengawal dari rombongan piauw-kiok (pengantar barang) yang hendak mengadakan perjalanan ke Wu-nian.”

“Ooo,” Tiang Le mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kongcu....... kalau hendak memesan sesuatu, harap kau panggil saja pelayan di sini…… mereka itu akan melayanimu sebaik-baiknya…..,” sahut si pelayan.

“Baiklah kalau nanti aku ada perlu, akan kupanggil kau,” sahut Tiang Le.

“Baik kongcu…...” berkata demikian pelayan itu meninggalkan tamunya. Tiang Le meletakkan bungkusan pakaiannya yang dijadikan satu dengan akar-akar obat dari Cia Pei Pei. Akar obat itu masih ada padanya. meskipun luka di lengan kanannya telah sembuh. Akar-akar obat itu mengingatkan ia akan kebaikan gadis manis Cia Pei Pei.

Dari dalam kamarnya itu Tiang Le memperhatikan orang-orang yang mengelilingi meja di ruang tengah itu. Ada limabelas orang-orang yang mengelilingi meja itu. Nampaknya ke limabelas orang itu tengah mengadakan rapat, ini dapat dilihat dari gerak-gerik mereka dalam pembicaraan. Rupanya yang memimpin rapat itu adalah orang yang bermuka buruk. Terdengar ia berkali-kali mengeluarkan pendapat. Suaranya serak akan tetapi tegas dan jelas didengar.

“Pengawalan kita kali ini tidak ringan saudara-saudara. Karena yang hendak kita kirim adalah sejumlah uang hasil upeti dari kaisar untuk disumbangkan ke Wu-nian untuk para korban wabah kelaparan dan penyakit yang merajalela di sana. Limaribu tail emas itu akan ditukarkan di Wu-nian dengan bahan makanan dan obat-obatan dan kemudian akan diteruskan kepada para penderita korban bencana kelaparan dan penyakit yang berbahaya sekali di sepanjang sungai Sin-kiang dan beberapa daerah yang sudah terancam…...”

“Betul pangcu…… tugas kita adalah tugas mulia untuk perikemanusiaan. Oleh sebab itu pengawalan kita ini berbahaya sekali. Bukan saja kita membawa sejumlah uang yang banyak itu, akan tetapi, kabarnya di lereng gunung Fu-niu-san sering terjadi perampokan perampok yang berkepandaian tinggi!” sahut orang yang berpakaian sebagai piauwsu.

Kumisnya melintang menuruni bibirnya. Matanya sipit. Dia itulah si Golok Maut Jie Kong. Anggota kelima dari Kim-coa-pay. Melihat urat-urat tangannya melingkar-lingkar itu sudah diduga bahwa si Golok Maut itu ahli tenaga gwakang dan kepandaian bermain golok luar biasa.

Semua orang memandang kepada lelaki berpakaian piauwsu itu, dan beralih ke arah orang tua muka bopeng, ketua Kim-coa-pay. Orang tua berusia empatpuluhan tahun dan wajahnya belang-belang, kulitnya hitam dan bopeng bekas penyakit cacar. sedangkan hidungnya menjungat ke atas, sehingga ia kelihatan selalu mukanya mendongak ke atas.

Semua orang menanti reaksi dari ketua Kim-coa-pay ini, memang benar seperti kata si Golok Maut, Jie Kong barusan, mereka sering mendengar akan terjadinya perampokan, yang terjadi di sekitar kaki gunung Fu-niu-san. Karena itulah pergiriman barang-barang kali ini, apalagi yang berupa uang tunai seharga limaribu tail emas. Hm, sudah tentu amat berbahaya sekali.

“Kita tak perlu kuatir, Jie Kong!” berkata pangcu Kim-coa-pay yang bernama Pat-jiu-koay-hiap Sin Tok. “Seandainya betul-betul di lereng Fu-niu-san itu ada parampok yang berani mati main gila denganku, hmm, kepalanku yang akan meremukkan kepalanya!”

“Betul kata pangcu, kita tak perlu kuatir. Dengan limabelas orang gagah di sini apa yang mesti kita takuti?” Orang yang berwajah pucat itu mencela. Matanya melirik Jie Kong dan tersenyum,

Jie Kong, si Golok Maut itu mengangguk-angguk.

“Kita harus berhati-hati…...!” sahutnya.

“Besok, pagi sebelum matahari terbit, kerahkan para piauwsu pengantar barang itu untuk berangkat dan kita menyusul kemudian!” kata pangcu Kim-coa-pay.

Semua orang berdiri.

Tiang Le yang mendengarkan percakapan orang-orang itu. Segera menutup pintu. Hatinya tertarik mendengar percakapan tadi. Berbahaya sekali kalau memang benar di kaki gunung Fu-niu-san itu ada perampok yang berkepandaian tinggi.

Kalau orang-orang Kim-coa-pay ini tidak dapat menandingi perampok-perampok itu, hilanglah limaribu tail emas untuk sumbangan korban kelaparan! Dan ini tak boleh ia biarkan, pikirnya. Dan diam-diam Tiang Le mengambil keputusan untuk membuntuti dan jka perlu nanti ia akan membantu orang-orang Kim-coa-pay

Demikianlah, pada pagi-pagi Tiang Le mengambil keputusan untuk berangkat. Suara gerobak barang dari para piauwsu terdengar lewat di depan Hotel. Tiang Le keluar dari kamarnya dan menghampiri rombongan itu.

Seorang anggota Kim-coa-pay melihat pemuda buntung menghampiri rombongannya, menatap agak curiga dan bertanya, “Eh, hendak ke mana kau?”

Tiang Le membungkukkan badannya dan menjura hormat.

“Piauw-heng, aku hendak ke Wu-nian, dan berhubung ekspedisi inipun hendak menuju ke sana, maka alangkah baiknya kalau aku, juga turut dengan kalian........”

“Ke Wu-nian? Hendak menemui siapa kau di sana…..?”

“Saja hendak menjenguk seorang famili yang sedang menderita sakit. Eh, piauw-heng benarkah di sekitar dusun-dusun di sepanjang sungai Sin-kiang terserang wabah penyakit dan kelaparan?” Tiang Le berpura-pura tanya.

“Begitulah agaknya orang muda. Memang kamipun ke sana untuk sekedar memberi bantuan kepada orang-orang yang tengah terancam penyakit dan kelaparan....... Kau mau ikut? Boleh tapi selama dalam perjalanan dengan kami, kau harus tunduk kepada peraturan-peraturan ekspedisi, mengerti?!”

Tiang Le mengangguk,

'Terima kasih Piauw-heng,” sahutnya dan kemudian dia menghampiri orang-orang yang juga akan turut bersama ke Wu-nian.

Pat-jiu-koay-hiap Sin Tek mendatangi dengan menunggang kuda. Kemudian memberi aba-aba kepada rombongan yang di depan. Maka hingar bingarlah suasana di dalam kota itu pada waktu rombongan piauw-kiok itu berlalu, suara kaki kuda dan suara gerobak bergemuruh dikeheningan pagi. Orang-orang di dalam kota masih tenggelam dalam tidurnya, sementara rombongan piauw-kiok mulai bergerak maju meninggalkan kota Tiang An.

Tiang Le berjalan dengan orang-orang yang hendak pergi ke Wu-nian. Udara pagi-pagi buta amat sejuk dan dingin, matahari belum terbit dan kokok ayam jantan bersahut-sahutan, nyambut datangnya pagi hari.

Orang-orang yang berjalan kaki mengobrol untuk menghilangkan rasa sepi, ada yang ngobrolin dagang, ada yang mengobrol tentang urusan rumah tangga mereka, malah ada yang mengobrol tentang perampok. Dan banyak sekali yang mereka bicarakan.

Dan Tiang Le mendengarkan semuanya itu. Ia kadang-kadang tertawa melihat orang di sebelahnya tertawa menceritakan cerita-cerita yang dianggapnya lucu. Atau kalau tidak ia cuma tersenyum lebar kepada temannya di sebelah yang paling doyan sekali melucu. Sehingga tanpa terasa lagi mereka telah jauh meninggalkan kota Tiang An.

Pada tengah hari itu, mereka sampai di sebuah padang rumput yang amat luas sekali. Nun jauh di sebelah sana nampak gunung Fu-niu menjulang tinggi tak terlihat puncaknya tertutup oleh awan putih yang bergerak di atas langit biru. Udara di tengah hari sangat panas sekali membakar serombongan manusia yang tengah melintasi padang rumput. Tak ada lagi pohon-pohon yang tumbuh di sana. Matahari tersenyum-senyum di atas kepala, memandangi manusia-manusia yang tengah kelelahan sehabis jalan sepanjang duaratus lie jauhnya.

Pat-jiu-koay-hiap Sin Tek berjalan dengan menunggang kuda di depan rombongan. Di kirinya si Golok Maut Jie Kong nampak gagah sekali mendampingi pangcu Kim-coa-pay, wajahnya sudah berpeluh menjalankan kudanya lambat-lambat.

Dan di sebelah kanan nampak pula seorang laki-laki berpakaian pelajar. Laki-laki itu berusia sekitar tigapuluh. Wajahnya yang cakap itu berseri-seri memandang ke depan. Dia itulah Lim-siucay (pelajar Lim) yang tak boleh dibuat gegabah akan ilmu pedangnya. Biarpun orang tua ini nampak lemah dan seperti orang tidak mengerti akan ilmu silat, akan tetapi siapa kira bahwa dia inilah tangan kanan pangcu Kim-coa-pay yang berkepandaian sangat boleh diandalkan.

Begitu mereka memasuki lereng gunung Fu-niu, Jie Kong merapatkan jalan kudanya dan berbisik kepada pangcunya di sebelah, “Waspadalah pangcu. Disini inilah yang sering kejadian!”

Orang tua muka bopeng itu melirik tajam.

Mengangguk-angguk.

“Jie Kong…… beritahukanlah saudara-saudara yang di belakang bahwa kita sudah memasuki lereng Fu-niu-san,” bisik Pat-jiu-koay-hiap Sin Tek, pangcu muka hitam itu.

Jie Kong membalikkan kudanya. Berjalan ke belakang.

Dan suaranya yang serak itu menggema di lereng Fu-niu!

“Saudara-saudara sekalian….. cepat sedikit….. kita sudah memasuki gunung Fu-niu!”

Maka ramailah suara kaki kuda dan derik gerobak dorong yang melaju cepat. Orang-orang yang berjalan di belakang tak berlambat-lambat lagi. Setengah berlari mereka itu.

Tiang Le juga berlarian mengikuti orang yang tengah panik, ada yang mendekati para anggota Kim-coa-pay minta perlindungan kalau terjadi apa-apa. Tentu saja bagi Tiang Le tak perlu ia berlari ngas-nges-ngos seperti yang lainnya. Sedikit ia menggerakkan tubuhnya berlari di atas rumput, tubuhnya melesat ke arah dekat pengiriman barang-barang itu dan ia mengimbangi larinya gerobak barang dengan cepat!

Kini barisan piauw-kiok sudah memasuki daerah berbatu. Banyak terdapat batu-batu kecil, dan di antaranya terdapat sebuah bukit batu karang, tetapi anehnya di antara batu-batu karang yang besar itu tumbuh banyak pohon-pohon liar dan menyeramkan.

Tiang Le yang berjalan cepat di samping gerobak barang itu mengawasi ke kiri ke kanan. Nalurinya yang tajam dan terlatih itu membuat ia menjadi curiga. Ia berlaku waspada. Apapun yang akan terjadi ia tetap mempertahankan barang kiriman, walau dengan taruhan nyawa sekalipun.

Berhubung jalan-jalan penuh dengan batu-batu karang, sehingga berkali-kali roda dari gerobak itu slip dengan batu-batu, makanya terpaksa Tiang Le membantu para piauwsu mendorong gerobak. Tentu saja dengan bantuannya itu, dengan amat muda sekali roda gerobak itu tercabut dari jepitan-jepitan batu yang berserakan. Sebab dengan tangan kirinya itu, ia mengerahkan tenaga lwekang dan dengan ringan sekali gerobak itu melaju lagi.

Tiba-tiba terdengar dari atas batu karang suara anak panah berdesing. Sepuluh batang anak panah menyambar orang-orang yang mendorong gerobak. Tiang Le terkejut sekali. Dengan hanya mengebutkan ujung lengan bajunya ke sepuluh anak panah itu terpukul jatuh dan tentu saja kejadian ini mengejutkan hati piauwsu melihat anak-anak panah yang tertancap di gerobak.

Paniklah orang-orang di sekitar gerobak barang.

“Perampok……!”

Pat-jiu-koay-hiap Sin Tek menoleh dan menghampiri.

“Ada apa?”

“Itu....... pangcu….. seorang menuju ke arah anak panah yang menancap di gerobak.

Melihat ini pangcu Kim-coa-pay menoleh ke atas batu karang yang besar dan membentak: “Manusia mana yang berani mampus berlaku kurang ajar dengan Kim-coa-pay?”

Sebagai jawaban orang tua muka buruk itu, terdengar suara ketawa nyaring dengan dibarengi berkelebat empat sesok bayangan dengan gesit dan ringan.

“Hi hi hi! Siapa yang tidak mengenal Pat-jiu-koay-hiap Sin Tek, Tayhiap dari Kim-coa-pay?”

Tahu-tahu di depan pangcu Kim-coa-pay berdiri empat orang wanita dengan muka tertutup sapu tangan hitam. Hanya mata yang bening itu yang menatap tajam ke arah orang-orang Kim-coa-pay.

Melihat bahwa yang datang itu hanya empat orang wanita muda berkerudung hitam, legalah hati orang-orang Kim-coa-pay.

“Sie-wie siocia. Siapakah kalian ini dan mengapa engkau menghadang perjalanan kami?” tanya Pat-jiu-koay-hiap Sin Tek memajukan kudanya ke depan.

“Pangcu Kim-coa-pay, lekas kau serahkan limaribu tail emas itu!” Seorang di antara ke empat wanita berkerudung hitam itu berkata. Matanya tajam menantang pandangan laki-laki muka hitam. Sin Tek berubah air mukanya ketika gadis itu menyebut-nyebut tentang limaribu tail emas.

“Nona….., jangan membuat lelucon di sini…... sudahlah aku banyak urusan,” pangcu Kim-coa-pay menghentak kudanya maju ke depan, akan tetapi begitu ke empat gadis itu mencelat, tahu-tahu ke empatnya sudah menghadang Sin Tek dengan bertolak pinggang.

“Muka hitam, jangan berlagak pilon…….. Siapa yang tidak tahu bahwa kalian membawa hadiah upeti kaisar untuk korban kelaparan di Wu-nian.”

“Hemm,” Pat-jiu-koay-hiap Sin Tek mendengus. “Sudah tahu bahwa limaribu tail emas itu untuk korban bencana kelaparan, mengapa kau tanyakan itu?”

“Orang tua muka hitam jangan bersilat lidah, pokoknya kau mau atau tidak serahkan uang itu kepada kami?”

“Hemm, jadi kalian inikah yang digembar gemborkan para piauwsu sebagai perampok-perampok hina dina?”

“Keparat kami bukan perampok!”

“Siiiing!” Seorang gadis yang tertua menarik pedangnya. Menghampiri pangcu Kim-coa-pay!”

“Serahkan peti itu!”

“Sratt!” Pat-jiu-koay-hiap Sin Tek juga menarik pedangnya. Pedang merah itu melintang di depan dada dengan gagah.

“Limaribu tail uang emas itu boleh kalian ambil, sekiranya dapat melayani pedangku!”

“Sombong! Lihat pedang…..” gadis kerudung hitam yang tertua itu membentak sengit dan pedangnya melakukan gerakan menyilang dari kanan dan kiri, hendak menggunting kepala orang tua muka bopeng yang dibencinya itu.

Akan tetapi hanya dengan merendahkan tubuh sedikit saja. Pat-jiu-koay-hiap Sin Tek sudah dapat membebaskan diri dari ancaman sepasang pedang yang melayang melalui atas kepalanya.

Lim-siucay dan si Golok Maut Jie Kong, dua orang pembantu pangcu Kim-coa-pay itu dengan marah maju menyerang dengan golok besar Jie Kong dan sebuah kipas dan pit di tangan Lim-siucay. Golok di tangan Jie Kong menyambar menyilaukan mata ketika berkelebat menyerang nona muka kerudung itu.

“Mampuslah kalian!” bentak gadis muka kerudung hitam itu dan tahu-tahu ketika golok dan pit di tangan Lim-siucay menyambar dan sudah dekat dengan tubuhnya dari kanan kiri, ia melompat ke belakang dan sebelum dua orang pembantu pangcu Kim-coa-pay dapat menarik kembali golok dan pit mereka, dua kali berturut-turut, gadis muka kerudung hitam itu menotok dengan telunjuk tangan kirinya dan aneh sekali, Jie Kong dan Lim-siucay roboh dan terus bergulingan mengaduh-aduh, kemudian mereka tak bergerak lagi, roboh dengan tubuh lemas dan tak berdaya di dekat batu karang yang menonjol.

Tiang Le terkejut sekali melihat sepak terjang yang demikian lihay ilmu silatnya ini. Apakah gadis itu perampok yang semalam disebut oleh Jie Kong?

Heran dia, mana ada seorang perampok gadis begini muda? Tiang Le bengong memandang gadis berkerudung hitam ini.

Rupanya gadis muka kerudung hitam ini tidak mau membuang banyak waktu, begitu melihat Pat-jiu-koay-hiap yang terkesiap melihat kehebatan ilmu silat gadis kerudung hitam itu tak dapat berpikir lama ia karena gadis itu telah menggerakkan kakinya, melompat sambil menendang dua kali ke arah tangan pangcu Kim-coa-pay. Terdengar suara keras ketika pedang pangcu itu terlepas dari pegangannya dan terlempar jauh ke atas batu karang mengeluarkan suara nyaring.

Pat-jiu-koay-hiap Sin Tek masih mencoba untuk mengelak ketika tangan si gadis berkerudung hitam itu menyambar, namun terlambat, pundaknya kena serempet pedang di tangan kanan si gadis dan terasa pundak kirinya ada yang menepok dan keruan saja Pat-jiu-koay-hiap Sin Tek ini jatuh terlentang dan tubuhnya lemas, setengah tubuhnya sebelah kiri terasa lumpuh dan dari pundak kanan yang tadi terserempet pedang mengeluarkan darah merah.

Sapasang pedang gadis muka kerudung hitam menodong Pat-jiu-koay-hiap Sin Tek. Terdengar gadis itu mendengus: “Hem pangcu Kim-coa-pay hanya sebegini saja, sudah dipercayakan untuk membawa hadiah upeti kaisar. Hayo, muka hitam serahkan uang itu, biar kami yang akan teruskan ke Wu-nian.

“Perampok hina, aku sudah tak berdaya, kalau mau bunuh, bunuhlah akan tetapi jangan harap kau dapat menjamah uang derma dari kaisar itu!” Pat-jiu-koay-hiap Sin Tek memaki.

“Manusia bopeng! Kalau aku bunuh engkau, apakah arwahmu bisa menghalang-halangi aku untuk menjamah uang derma itu?”

“Suci, mengapa kau banyak ngobrol, sikat saja si muka bopeng itu, buat apa banyak cingcong!” gadis muka kerudung hitam yang ke dua maju mendekati sucinya.

Pada saat itu, angin pukulan menyambar dari belakang dan karuan saja pedang yang tengah menodong dada pangcu Kim-coa-pay itu berkelebat ke belakang, amat cepat gerakannya itu sehingga terdengar suara, “Breet!” dan putuslah lengan baju yang terjuntai di tangan kanan Tiang Le. Gadis berkerudung hitam itu terbelalak matanya melihat penyerangnya tadi adalah seorang pemuda yang lengannya buntung.

“Eh buntung, mau apa kau?” tanya si gadis.

“Nona, kau tidak boleh membunuh Pat-jiu-koay-hiap, pangcu Kim-coa-pay!” kata Tiang Le dengan tenang.

“Hmm, dia ini apamukah??”

Tiang Le menggelengkan kepalanya.

“Bukan apa-apa nona, hanya kau tidak boleh menjatuhkan tangan maut kepada seorang lawan yang sudah tidak berdaya,” sahut Tiang Le pula.

Gadis berkerudung hitam itu melirik ke arah lengan yang buntung itu. Sepasang pedang berkelebat dan terdengar desing suara pedang itu ketika memasuki sarungnya.

“Bocah buntung, berani kau menguliahiku. Apakah kemampuanmu?”

“Aku tak bisa apa-apa nona, kuharap engkau membiarkan kami meneruskan perjalanan ke Wu-nian. Perjalanan kami masih jauh.”

“Boleh saja, siapa yang menghalangi perjalanan kalian? Aku tidak menyuruh kalian berhenti. Aku hanya minta kepada si muka bopeng ini untuk menyerahkan uang derma dari kaisar untuk para korban....... Siapa kira si bopeng itu demikian pelit dan patut kuhajar…...!”

“Eh, suci kenapa meladeni si buntung ini, hayo cepat kita seret gerobak yang memuat limaribu tail emas itu!” gadis ketiga muka kerudung berkata ketus, matanya mendelik menatap Tiang Le.

“Sumoay kau bereskanlah kucing-kucing penjaga peti uang itu, biar aku menjaga anjing buntung yang menyalak-nyalak, minta digebuk pantatnya,” kata gadis yang dipanggil suci oleh gadis ketiga.

Kemudian ia bertolak pinggang menantang.

“Anjing buntung, setelah lenganmu buntung apakah kepingin nona besarku membuntungi pantatmu?”

“Nona, mulutmu tajam sekali tak pantas seorang gadis secantik kau berkata sekasar itu. Lenganku buntung ini tidak ada sangkut pautnya denganmu. Mengapa kau mengataiku anjing buntung segala?”

“Eh, kau marah kuejek anjing buntung!”

“Tentu aku bukan seekor anjing dan tak mau aku disamakan dengan anjing buntung yang kau sebut-sebut!” Tiang Le panas hatinya.

“Hm tidak senang juga ya dikatai anjing buntung?” gadis itu berkata sambil menghampiri Tiang Le.

Tiang Le panas perutnya. Masa ia disebut anjing buntung. Terlalu sekali mulut gadis yang tertutup oleh kerudung hitam. Ingin sekali ia merenggut kerudung hitam itu dan melihat mulut gadis yang telah lancang menyebutnya anjing buntung segala. Ia disebut-sebut anjing buntung, menghina benar gadis ini!

“Lenganku buntung tidak ada sangkut pautnya denganmu. Harap kau dapat menjaga mulutmu yang lancang itu!” Tiang Le marah.

“Hem, kau yang lancang mencampuri urusanku dengan orang-orang Kim-coa-pay. Sudah, aku tidak ada urusan denganmu. Minggir!” sambil membentak itu tangan si gadis kerudung hitam mendorong ke arah Tiang Le. Serangkum angin pukulan menyambar ke arah pundak pemuda buntung dan Tiang Le nenjadi terkejut sekali merasa ada tenaga yang amat kuat mendorongnya. Untung ia berlaku waspada, dan begitu melihat tangan itu bergerak mendorong, dengan serta merta ia mengangkat tangan kirinya membalas dengan dorongan pula.

“Dess!” Dua tenaga yang tidak kelihatan itu bertemu menggetarkan tangan ke duanya. Si gadis muka kerudung hitam kaget bukan main, melihat pemuda buntung ini dapat mempertahankan pukulannya. Malah bukan saja ia dapat mempertahankan pukulan jarak jauh akan tetapi juga membuat kuda-kudanya tergempur hebat.

Di lain pihak Tiang Le juga kagum terhadap gadis yang mempunyai tenaga yang sebesar gajah ini. Tangan kirinya terasa linu ketika bertemu dengan telapak tangan si gadis.

“Ayaaa...... pantesin kau berani bertingkah di depanku, tidak tahunya ada simpanannya, juga ya? Eh, buntung berani kau menghadapi sepasang pedangku?” tanya gadis itu dan dengan gerakan seorang ahli tahu-tahu kedua pedang pendek itu telah berada di tangannya, melintang di depan dada.

“Nona........ aku tidak ingin berkelahi!”

“Setan! tak usah berpura-pura, kau mau atau tidak, kau harus melayani beberapa jurus. Bersiaplah! Awas pedang!” serta merta gadis centil itu telah menerjang dan mengirim tusukan cepat, secepat kilat menyambar.

“Wah, wah….. kalap!” Tiang Le mengeluh dalam hatinya. Ia cepat membuang diri mengelak, maklum akan kedahsyatan pedang yang bersinar perak itu. Tetapi gadis muka kerudung itu sudah menyerang lagi bertubi-tubi! Malah ia mulai menggerakkan sepasang pedangnya dengan jurus-jurus yang amat cepat sekali, bagai kilat menyambar-nyambar dari langit.

Tiang Le mengeluh dalam hati. Celaka gadis ini bukan saja lihay dalam ilmu pedangnya, tetapi juga kelihatannya bernapsu untuk mengalahkannya. Tiang Le menghadapi serbuan sepasang pedang yang cepat ini tak berdaya. Ia sibuk sekali, meloncat ke kanan ke kiri menghindari sambaran-sambaran sepasang pedang yang hebat itu.

Hebat! Gadis ternyata mempunyai ilmu yang dahsyat dan ganas. Kalau Tiang Le belum menguasai ilmu meringankan tubuh niscaya sejak tadipun sudah tersate tubuhnya oleh tusukan-tusukan pedang dari kanan kiri.

Tiang Le repot menghadapi gadis yang ganas ini. Hancurlah cita-cita hendak menolong para piauwsu pengantar barang ini. Terkejut bukan main ia waktu melihat di sekitar gerobak menggeletak anak buah Kim-coa-pay telah terluka pada pundak dan pahanya. Ternyata tadi begitu ketiga wanita berkerudung itu menghampiri gerobak limabelas anggota Kim-coa-pay menyerang wanita berkerudung hitam itu dan sebentar itu pula tiga wanita kerudung hitam itu sudah dikeroyok oleh belasan orang anggota Kim-coa-pay.

Tentu saja menghadapi orang-orang Kim-coa-pay tidak begitu tinggi ilmu silatnya, sebentar saja tiga wanita itu sudah dapat membereskan pengawal barang dan seorang di antaranya, gadis kerudung hitam yang tinggi langsing, dengan rambut digelung ke atas itu sudah berdiri di tengah-tengah gerobak barang sambil melintangkan pedang di depan dada dan tersenyum mengejek.

“Jangan melawan! Sekali pedangku ini bergerak, aku tak akan memberi ampun...... Kalian boleh melanjutkan perjalanan, akan tetapi tiga gerobak barang ini tidak boleh di bawa. Ingat siapa yang menentang, pedangku ini akan memenggal kepala!”

Tentu saja melihat para pengawal barang sudah tak berdaya dan pangcu Kim- coa-pay itupun sudah menggeletak lemas hampir pingsan, maka tanpa berani menoleh ke belakang lagi orang-orang yang mengikut dalam rombongan piauw-kiok (ekspedisi) itu cepat-cepat meninggalkan tempat itu dan melanjutkan perjalanan mereka dengan tubuh menggigil. Masih untung jiwa mereka selamat! Oleh karena itu masing-masing tak berani buka suara atau bertindak. Masing-masing saling dulu meninggalkan tempat itu!

Tak mau perduli lagi mereka akan limaribu tail emas di dalam tiga peti gerobak itu.!

Tiga gadis muka kerudung itu menghampiri gerobak-gerobak barang dan mendorongnya menjadi satu berjejer. Kemudian ketiganya menoleh ke arah saudara seperguruannya yang masih mendesak pemuda buntung.

Tak berdaya Tiang Le menghadapi gadis yang lihay ilmu pedangnya ini. Ia cuma bisa mengandalkan kelincahan tubuhnya saja, berkelebat menghindarkan sambaran sepasang pedang yang bergerak amat cepat dan ganas. Repot ia. Lama kelamaan ia menjadi lelah juga. Tiga kali sudah pedang di tangan kiri gadis itu menyerempet pundak kirinya hingga mengeluarkan darah.

Di lain pihak gadis muka kerudung hitam ini merasa penasaran dan marah membuat ia bergerak makin ganas dan dahsyat. Masa aku tidak dapat mengalahkan pemuda buntung yang kelihatannya ini sudah terdesak hebat, memalukan benar, pikirnya. Ia memainkan pedang pendeknya semakin cepat.

Tiang Le diam-diam mengeluh. Celaka! Setelah lengan kanannya buatung, ia benar-benar tidak bisa lagi memainkan pedang dengan kanan kiri. Oleh sebab itulah, tak mampu ia membalas serangan-serangan gadis kerudung hitam itu. Ia merasa penasaran sekali. Kalau menghadapi gadis ini saja ia tidak mampu, apalagi menghadapi musuh besar gurunya Bong Bong Sianjin, Te-thian Lomo dan Sianli Ku-koay?

“Nona…... aku tak ada permusuhan apa-apa denganmu, mengapa kau harus bersikap keras membunuhku?!?”

“Setan! Kau sudah membantu Kim-coa-pay, berani lancang menghadapi sepasang pedangku. Nah rasakanlah!”

“Kau ini gadis aneh sekali. Ganas dan telengas, kepingin sekali aku melihat wajahmu. Hemm, tentu wajah yang tertutup itu cantik jelita, alangkah senangnya hatiku kalau boleh melihat sekejap saja, biar matipun tidak mendelik!” seru Tiang Le ketika ia terpaksa berjungkir balik untuk menghindarkan sebuah tusukan pedang di tangan kiri si gadis.

Suara pedang berdesing saking kuatnya dan Tiang Le tak berani berlaku lambat lagi, berbahaya sekali, lambat sedikit saja tentu tubuhnya itu akan disate oleh pedang pendek di tangan kiri si gadis. Sambil berjungkir balik ia menendang ke arah lengan kiri si gadis. Tiba-tiba terdengar suara cambuk meluncur tiga kali,

“Tar! Tar! tar!”

“Ayaaa,” Tiang Le kaget bukan main. Apalagi ketika melibat cambuk itu berubah menjadi lingkaran-lingkaran yang membingungkan. Seketika itu juga keadaan Tiang Le benar-benar sangat terdesak. Beberapa kali pundaknya hampir tersambar sepasang pedang di tangan gadis muka kerudung hitam.

Belum lagi hilang kagetnya tahu-tahu cambuk yang tadi menyambarnya dari belakang bergulung-gulung lagi dan tak sempat ia meloncat, tahu-tahu pinggangnya telah terlibat cambuk itu dengan amat kuatnya menyentak dan “Werrrr” tubuh Tiang Le melayang ke atas. Ketika itulah sepasang pedang pendek di tangan gadis pertama menyerbu ganas.

“Suci….. tahan!!”

Ternyata yang berteriak itu adalah gadis muka kerudung hitam yang kedua. Dengan sekali berkelebat gadis itu telah berdiri di depan sucinya.

“Jangan kau membunuh dia suci!”

Gadis yang dipanggil suci itu menoleh.

“Eh, mengapa begitu?” tanyanya.

Dari balik kerudung hitam itu, gadis itu tersenyum.

“Tak boleh kita membunuh orang yang sudah tak berdaya suci. Pemuda buntung itu tidak bersalah, tak perlu kita menjatuhkan tangan maut.......” suara gadis yang berbicara ini amat merdu dan tidak ketus seperti sucinya. Tiang Le yang tadi terguling dan telah bangun melirik kepada dua orang gadis aneh ini.

“Hu, siapa bilang dia tidak bersalah? Dia berani menghadapi sepasang pedangku. Tak puas aku kalau belum menundukkan si buntung ini!”

“Suci sudahlah…... dia sudah kalah olehmu. Ingat tugas kita hanya merampas limaribu tail emas itu. Hayo kita kembali ke pulau dan biar pemuda buntung itu kita serahkan kepada Sianli!”

Wanita kerudung yang memegang tongkat kecil meaghampiri dan berkata: “Betul suci.......kita harus segera kembali ke pulau dan tidak usah memusingkan kepala mengurusi si buntung ini. Tinggalkan ia disini, habis perkara!

“Sam-sumoay, apa-apaan kau ini? Mau mengatur….. tidak! Sekali kubilang, itu kau harus turut dan pemuda buntung ini harus dibawa ke pulau, harus kataku!”

“Terserahmulah suci…..” gadis muka kerudung hitam yang memegang tongkat kecil itu mengedikkan kepalanya.

“Kau rangket anjing buntung itu. Giring dia ke pulau. Awas jangan dia lari!” pesan si suci.

Tiga orang gadis yang termuda menubruk Tiang Le, dan mengikatnya dengan sebuah tali yang amat kuat sekali. Tentu saja Tiang Le yang sudah tertotok waktu terlibat cambuk tadi tak berdaya. Sekarang diguncang-guncang oleh tiga orang dara remaja yang mengikat ke dua kaki dan tangannya.

Setelah kedua kaki dan tangannya itu diikat, Tiang Le dilempari oleh gadis pertama yang galak itu ke dalam gerobak barang. Gerobak yang di atasnya penuh dengan tumpukan karung, yang berisi ikan asin dan terasi. Begitu masuk ke dalam gerobak yang penuh dengan karung-karung ikan asin dan terasi itu hampir saja Tiang Le muntah, karena tak tahan lagi akan bau yang amat tidak sedap menyengat hidung ini!

“Hihihi, enak yaa di situ….. sedappp!” berkata si gadis muka kerudung hitam yang memegang sepasang pedang, pedang pendek itu, kemudian ia memerintahkan kepada ke dua orang sumoaynya untuk mendorong gerobak itu.

Tiang Le menutup hidungnya dengan tangan, begitu bau yang tidak enak menyengat hidungnya. Heranlah dia, mengapa gerobak berisi karung-karung ikan asin ini saja diperebutkan? Akan tetapi tak lama kemudian otaknya yang cerdik itu sebentar saja sudah dapat menerka akan isi di dalam peti paling bawah dalam tindihan karung terasi dan ikan asin.

Gerobak yang ditumpanginya didorong oleh gadis ke dua yang mempunyai suara bidadari itu. Dan gerobak kedua dan ketiga didorong oleh dua gadis yang memegang tongkat dan pedang.

Tiang Le dari dalam gerobak itu memperhatikan gerak gerik ke empat gadis aneh berkerudung hitam itu. Diam-diam di dalam hatinya bertanya-tanya siapakah gerangan empat gadis yang berkepandaian tinggi ini dan dari partai persilatan manakah? Dan anehnya. mengapa ke empat gadis itu mukanya ditutup oleh sutera hitam, apakah karena tindakannya ini takut diketahui oleh orang? Aneh, benar-benar aneh!

Ya, siapakah ke empat gadis berkerudung hitam ini?

<>

Untuk mengenal mereka, marilah kita sejenak berkenalan dengan Pulau Bidadari. Sebuah pulau yang terdapat di antara segugusan pulau di sekitar laut Po-hay. Pulau itu terletak di muara laut Po-hay dan merupakan sebuah pulau yang terpencil dan jarang didatangi manusia. Bukan saja pulau itu penuh dengan hutan-hutan lebat dan tiada berpenghuni, akan tetapi juga sering kali terjadi gempa dan berbahaya sekali didiami.

Meskipun demikian tak dapat disangkal bahwa di pulau ini banyak sekali pemandangan alam yang sejuk dan subur tanahnya. Dan sepuluh tahun yang lalu, barulah pulau ini dikenal sebagai pulau Bidadari sejak Bu-tek Sianli, si nenek kepalan dewa tanpa tandingan itu mendirikan sebuah partai persilatan yang bernama Sian-li-pay (partai bidadari) Penghuni dari partai Bidadari itu semua terdiri dari wanita-wanita muda dan cantik.

Bu-tek Sianli, si Nenek sakti, Kepalan Dewa Tanpa Tandingan itu mempunyai empat orang murid utama yang disebut Sianli-sie-ci-moay (empat kakak beradik bidadari). Mereka ini diberi pelajaran-pelajaran silat khusus sesuai dengan bakat dan kemampuan muridnya.

Sengaja memang untuk itu, Bu-tek Sianli menciptakan empat macam ilmu silat. Kepada muridnya yang pertama, Bu-tek Sianli mengajarkan Bu-beng-siang-sin-kiam-hoat (Sepasang Pedang Sakti Tak Bernama), sehingga gadis pertama itu dijuluki Bu-beng Sianli (Nona Tak Bernama) sedangkan kepada murid kedua yang dijuluki Sianli-eng-cu (Si Bayangan Bidadari) diturunkan ilmu bermain cambuk dan senjata rahasia yang disebut Sianli-tok-ciam (Jarum Beracun Bidadari), dan gadis ketiga yang dijuluki Sianli-sin-tung-hoat (Si Bidadari Tongkat Sakti) diberikan ilmu bermain tongkat yang amat hebat dan luar biasa lihaynya. Tak kalah dengan keganasannya bermain dengan pedang, dan murid yang terakhir adalah Sianli-toat-bun-kiam, kepada gadis keempat inilah Bu-tek Sianli memberikan ilmu pedang yang bernama Toat-beng-kiam-sut (Ilmu Pedang Pencabut Nyawa).

Dan kepada murid-murid pelayan lainnya. Juga murid-murid yang masih muda dan cantik-cantik ini, Bu-tek Sianli menurunkan ilmu silat tangan kosong yang disebut Sin-kun-bu-tek.

Dan siapakah Nenek sakti yang menamakan dirinya Bu-tek Sianli ini??

Tidak banyak kita mengenal akan riwayatnya dan tidak tahu pula kita entah dari partai persilatan manakah Nenek sakti ini. Akan tetapi puluhan tahun yang lalu, tokoh-tokoh di dunia kang-ouw pernah mengenalnya sebagai seorang gadis yang amat tinggi ilmu silatnya. Gadis itu pernah menjadi kekasihnya seorang pendekar sakti yang bernama Lim Heng San yang terkenal dangan julukan Sin-kun-bu-tek (Kepalan dewa tanpa tandingan).

Kabarnya, setelah gadis yang menjadi pacar Lim Heng San ini menguras habis ilmu pukulannya Sin-kun-bu-tek, maka pada suatu hari terjadilah pertandingan yang amat seru antara Heng San dan gadis yang menjadi pacar Heng San itu. Sudah barang tentu Heng San selalu mengalah kepada gadis ini, dan suatu kali dengan amat kejamnya, gadis itu melumpuhkan kedua buah kakinya Heng San dan ditinggalkannya di puncak pegunungan Go-bie yang bernama puncak Ban-tauw-san.

Sejak itulah tokoh-tokoh kang-ouw tidak pernah mendengar lagi nama Lim Heng San, akan tetapi sebagai gantinya muncul seorang wanita berkepandaian dan ganas seperti setan dan bernama Bu-tek Sianli.

Sejak kemunculan Bu-tek Sianli, nama pendekar Sin-kun Bu-tek tak pernah terdengar lagi. Banyak orang mengira pendekar sakti itu sudah mati atau mengasingkan diri menjadi pertapa dan tak mau lagi muncul di dunia ramai.

Demikianlah sekedar perkenalan kita dengan Pay-cu (ketua) Sian-li-pay yang bernama Bu-tek Sianli. Nenek tua berumur limapuluhan tahun itu, masih bersemangat dalam mengurus kegiatan Sian-li-pay. Dan karena percaya akan kelihaian ke empat murid utamanya yang disebut Sianli-sie-ci-moay (empat Bidadari Kakak Beradik)! para anak buah Sian-li-pay mengangkat ke empat murid utama itu sebagai tangan kanan Bu-tek Sianli dalam pergerakan Sian-li-pay.

Bu-tek Sianli sengaja mengumpulkan orang-orang dari golongan hitam, dipilih yang berkepandaian tinggi, malah Nenek itu lalu melatih mereka, dan menurunkan ilmu pukulan Sin-kun-bu-tek kepada muridnya. Setelah masa peralihan kekuasaan, menggunakan keadaan kacau, perkumpulan Sian-li-pay ini merajalela. Merampok, membajak dan keadaan mereka menjadi kuat, setelah perampok-perampok ternama dan tokoh-tokoh datuk hitam menggabungkan diri ke dalamnya.

Meskipun Bu-tek Sianli tidak memperbolehkan kaum laki-laki menginjak kakinya di pulau bidadari itu, tetapi hubungan persatuan tetap ada dan kepada murid-murid perempuannya itulah yang menjadi penghubung. Setiap kali anak murid Bu-tek Sianli itu bergerak, selalu mereka diharuskan dengan muka berkerudung hitam. Tak boleh menampakkan diri di luar pulau Bidadari.

Oleh sebab itu tak heran, kalau kita bertemu dengan Sianli-sie-ci-moay yang berkerudung ini. Kerudung hitam itu tak pernah dibuka di luar pulau Bidadadari! Itulah salah satu peraturan yang diadakan oleh nenek sakti tanpa tandingan yang menjadi pay-cu (ketua) Sian-li-pay!

◄Y►

6

Kita tinggalkan dulu Sung Tiang Le, pemuda lengan buntung yang tertawan di tangan empat orang dara remaja dari pulau Bidadari. Dan sekarang kembali kita mengikuti pengalaman Bwe Hwa, gadis keras hati yang telah membuntungi lengan suhengnya yang bernama Tiang Le dan setelah itu berlari dengan membawa penyesalan hati yang amat sangat.

Tidak perduli akan hujan dan angin, tidak perduli akan tubuhnya yang separuh beku akibat kedinginan yang amat sangat. Dia berlari terus bagai orang yang hilang ingatan. Sebentar dia tertawa, sebentar kemudian dia menangis mengucurkan air mata yang mengalir menjadi satu dengan deraian hujan yang sangat deras turun.

Seperti telah dituturkan di bagian depan, Bwe Hwa melihat adegan yang amat romantis antara sumoaynya Sian Hwa dengan Sam-suhengnya Tiang Le. Adegan yang membuat ia lupa diri dan mengamuk menyerang Tiang Le. Akan tetapi, apa jadinya suhengnya ternyata lebih tinggi ilmu silatnya sehingga ia tak mampu mengalahkan.

Dalam gejolak api cemburu yang sedang membara itu karena mendengar pengakuan Sian Hwa yang berterus terang mencintai Tiang Le. Tak kuasa ia mengendalikan perasaan hati itu waktu ia berpelukan minta maaf kepada Sam-suhengnya Tiang Le. Di dalam berpelukan itulah timbul pikiran setan yang menyelinap dalam benaknya.

Dan sekali ia mengelebatkan pedangnya putuslah tangan kanan Tiang Le sebatas pundak. Bagaikan orang yang baru sadar dari mimpi ia terbelalak memandang sebuah tangan manusia yang menggeletak di bawah kaki suhengnya yang telah buntung itu.

Akan tetapi, sebuah perasaan puas timbul di dalam hatinya. Cinta yang tak terbalas membuat ia mendendam kepada Tiang Le. Senanglah hatinya setelah Tiang Le kehilangan tangan kanannya! Puaskah hatinya setetah Sam-suheng kehilangan lengan dan tak mampu lagi menarik pedang.

Bermacam-macam perasaan mengaduk di dalam hati gadis itu.

Setelah ia ketahui Tiang Le tidak mencintainya, malah membalas cinta sumoaynya Sian Hwa, ah…... entah perasaan apa yang kini berkecamuk di dalam hatinya. Ia merasa menyesal dan kecewa.

Menyesal ia telah membuntungi lengan suhengnya. Terlalu Tiang Le, mengapa ia tidak mau mengangkat pedang melawanku? Mengapa ia membiarkan pedangnya menebas lengan itu?!

Menyesal bukan main Bwe Hwa. Andaikan Tiang Le menangkis sabetan pedang di pundak itu, tak nanti Tiang Le kehilangan lengan kanannya. Akan tetapi Tiang Le tidak menangkis pedangnya, membiarkan pedang menebas lengan kanannya itu. Ah, Tiang-suheng…... aku malu bertemu denganmu……. aku malu!!

Mengingat ini Bwe Hwa menyesal dan kecewa!

Kecewa karena cinta yang tiada terbalas! Tak disangkanya Tiang Le membalas cinta kasih Sian Hwa. Hemm, kalau lain gadis yang berani mencintai Tiang Le, tak tahulah Bwe Hwa. Barangkali ia akan mengadu nyawa dengan gadis itu, akan mengamuk sampai tetesan darah terakhir. Akan tetapi yang mencintai Tiang-suhengnya itu bukan gadis lain, bukan siapa-siapa, akan tetapi sumoaynya sendiri. Ya, Sian Hwa!

Sian Hwa!

Mengingat ini, menangislah Bwe Hwa di sepanjang jalan. Ia amat menyintai Tiang Le dan sekarang yang dicintainya telah buntung lengan kanannya. Telah hilang pula terbawa air sungai yang meluap. Entah hidup, entah mati, tak tahulah ia akan nasib suhengnya yang bernama Tiang Le!

Tak tahu dia!

“Bwe Hwa kau kejam, kau keji…...! Mengapa kau sampai hati membuntungi lengan Tiang-suheng,” demikian suara hatinya menyalahkan dirinya. Akan tetapi suara lain mengatakan: “Bwe Hwa, sekarang Tiang-suhengmu yang sombong itu sudah buntung lengan kanannya, ia tidak dapat menarik pedang, ia menjadi tuna netra, puaskanlah hatimu...... dan tunggulah setelah Tiang Le menjadi manusia tunanetra apakah Sin Hwa dapat mencintai pemuda buntung itu?”

“Memang aku kejam. aku telah membuntungi lengan suhengnya Tiang Le, ah....... sepantasnya aku ini mampus dan habis perkara,” bisik Bwe Hwa sambil berlarian di antara hujan badai yang menggila.

Tak tahu dia kalau pada saat itu Liok Kong In tengah mengejarnya dan kehilangan arah. Ia tak mau tahu. Tak perduli dengan Liok Kong In! Seandainyapun ia tahu Liok Kong In mengejarnya, ia terus lari. Akan terus lari. Lari dan aneh sekali memang gadis yang bernama Bwe Hwa itu jadi takut kepada Suhengnya Liok Kong In.

Ia tahu tak mungkin dia membalas cinta kasih pemuda itu!

Betapapun juga, Bwe Hwa dapat menguasai perasaannya dan melakukan perjalanan dengan tabah. Tak ada arah tujuan kemana ia pergi meskipun ada itu barangkali tertuju untuk membalas dendam kepada Bong Bong Sianjin, Sianli Ku-koay dan Te-thian Lomo.

Ia akan menantang tiga orang itu sebagai murid keempat dari Swie It Tianglo dan ia berusaha sedapatnya untuk mengirim ke tiganya itu ke neraka menemui suhunya. Biarpun ia tahu belum tentu ia dapat menandingi kepandaian ke tiga orang sakti itu, tetapi ia sudah bertekad untuk menggempurnya, kalau perlu ia mengadu nyawa dengan musuh-musuh besarnya itu.

Memang di antara ke empat murid ini, Bwe Hwa lah yang paling dimanja oleh suhunya, semasa orang tua itu belum meninggal. Tak heran kalau dirinya merasa kuat dan tidak gentar menghadapi lawan yang bagaimanapun juga.

Ingat hal itu Bwe Hwa menjadi semangat dan di bawah pohon besar ia berhenti lalu berlatih dengan ilmu silat Tiang-pek-kiam-sut yang telah ia terima dari mendiang suhunya. Memang hebat ilmu pedang ini, sebatang pedang biasa berubah menjadi gulungan sinar putih yang naik turun menyambar-nyambar di antara gumpalan awan hitam yang merupakan uap dari pukulan-pukulan Pek-in-kang!

Ketika ia berhenti berlatih sejam kemudian, di bawah pohon telah penuh daun-daun yang terbabat putus tangkainya oleh sinar pedang dan daun-daun rontok kena hawa pukulan tangan kiri yang menggunakan pukulan Pek-in-kang. Bwe Hwa berdiri tegak, kepalanya tunduk memandangi daun-daun itu dengan hati puas. Bong Bong, Te-thian, Sianli Ku-koay, kepala kalian akan hancur rontok seperti daun-daun ini pikirnya.

Sebagai seorang gadis yang baru berusia delapanbelas tahun lebih. Bwe Hwa melakukan perjalanan yang jauh dan sulit. Tiang-pek-san merupakan pegunungan yang luas dan menuruni pegunungan ini sama sukarnya dengan jalan pendakiannya.

Namun dengan kepandaiannya yang cukup tinggi itu, Bwe Hwa tidak banyak mendapatkan kesukaran. Kadang-kadang ia harus melompati jurang. Dengan gin-kangnya yang tinggi, ia melompati bagaikan terbang saja dilihat dari jauh bagaikan dewi kahyangan yang turun dari sorga. Pakaiannya yang halus terbuat dari sutera berwarna merah jingga, biru dan kuning itu berkibar-kibar kena angin ketika ia meloncat atau berlari cepat.

Ronce-ronce pedang yang tergantung di punggungnya menambah kecantikan dan kegagahannya!

Berpekan-pekan Bwe Hwa keluar masuk hutan, naik gunung turun gunung melalui banyak dusun di kaki gunung dan melalui beberapa kota di pegunungan. Setiap kali ia bertemu orang tentu ia menjadi pusat perhatian. Apalagi kaum pria melihat gadis remaja demikian cantik jelitanya, memandang dengan mata melongo penuh kagum.

Namun tiada orang yang berani mengganggu, karena tidak hanya pedang di punggung Bwe Hwa yang membuktikan bahwa gadis remaja yang jelita ini seorang ahli silat, akan tetapi juga Bwe Hwa tidak menyembunyikan gerak geriknya yang lincah dan ringan sehingga setiap orang tahu bahwa dia adalah seorang pendekar wanita muda yang tidak boleh dibuat main-main!

Setelah berbulan Bwe Hwa melakukan perjalanan seorang diri dan bebas seperti seekor burung yang lepas dari dalam sangkarnya terhibur juga hati gadis remaja ini melihat pemandangan-pemandangan yang indah di sepanjang jalan. Perlahan-lahan lenyaplah kesedihan hatinya, hilanglah rasa kecewa dan penyesalannya. Tak mau lagi ia dipusingi oleh urusan-urusan di Tiang-pek-san. Ia hendak melupakan itu!

Pada suatu hari sampai ia di kota Siauw-ling di tepi sungai Yang-ce-kiang setelah melakukan perjalanan berminggu-minggu ke selatan. Sebetulnya Siauw-ling tidak layak disebut sebuah kota, melainkan sebuah dusun yang cukup luas. Dan karena dusun ini mempunyai tanah yang amat subur sekali untuk ditanami dan merupakan sebuah dusun yang menghubungkan sungai Yang-ce-kiang dengan kota Tai-goan yang terkenal sebagai kota yang terbesar di selatan. Maka banyak sekali kaum pelancong dan para pedagang melewati kota Siauw-ling.

Melihat betapa kota kecil ini merupakan jalan hidup untuk ke Tai-goan, maka seorang pembesar di kotaraja memberikan kontrak kepada seorang hartawan untuk membangun kota Siauw-ling ini menjadi kota yang besar dan mega. Di mana-mana nampak bangunan-bangunan menjulang tinggi. Di sekeliling kota ini didirikan tembok besar, tembok yang membatasi sungai Yang-ce dengan kota Siauw-ling.

Tidak heran kalau kita datang ke kota ini. Banyak sekali orang-orang dusun yang bekerja sebagai kuli, siang malam tenaga mereka diperas untuk membangun tembok kota. Kerja paksa yang ini membuat hati penduduk kota Siauw-ling merasa tak senang kepada tindakan Nguyen Wan-gwe yang sewenang-wenang saja memaksa tenaga penduduk! Tak perduli akan orang-orang tua dan sakit, dipaksanya mereka itu untuk bekerja.

Tentu saja orang dusun yang bodoh dan kebanyakan buta huruf ini tak bisa berbuat apa-apa, karena intruksi kerja paksa itu langsung dari pusat. Dari kotaraja. Dan siapakah orangnya yang berani menantang. Sedikit saja para pekerja ini membuka mulut mereka itu akan dicap sebagai pemberontak dan digiring ke kotaraja tak kembali lagi!

Ketika Bwe Hwa lewat di tepi sungai Yang-ce-kiang, ia melihat banyak orang mengangkut batu-batu sungai dan pasir ke atas gerobak-gerobak besar. Orang-orang ini bekerja dengan wajah muram, tubuh mereka kurus-kurus dan berpakaian penuh dengan tambalan. Beberapa orang yang memegang cambuk dan berpakaian sebagai kepala kuli, membentak-bentak dan ada kalanya mengayun cambuk ke punggung seorang pengangkut batu sungai yang kurang cepat bekerja.

Ada lima-enam orang yang menjadi pengawas orang-orang bekerja itu, dan begitu melihat Bwe Hwa lewat, mereka pada tertawa dan memandang dengan mata kurang ajar dan mulut ceriwis mengeluarkan kata-kata tak sopan. Ada yang bersuit dan menuding-nuding kepada Bwe Hwa, malah ada yang berani gila hendak memegang lengannya!

Panas hati Bwe Hwa. Akan tetapi ia menahan sabar, karena ia tidak mau mencari ribut dengan orang-orang di tempat ini. Ia mempercepat langkahnya dan sebentar itu pula ia sudah tiba di luar kota Siauw-ling dan di pintu yang tengah dibangun itu.

Akan tetapi di sini ini. Di kanan kiri di mana orang sedang sibuknya bekerja mengaduk semen, menyusun bata, memecah batu, dan di antara kesibukan orang-orang yang tengah bekerja ini, ia disuguhi pemandangan yang menyolok mata. Puluhan orang laki-laki yang keadaannya miskin dan kurus seperti para kuli angkat batu sungai yang tadi dilihatnya di sepanjang sungai Yang-ce-kiang tadi, malah di antara puluhan orang lelaki miskin itu ada juga belasan orang wanita yang turut bekerja, nampaknya mereka bekerja dengan penuh semangat, namun jelas bukan semangat yang mengandung kegembiraan, melainkan semangat karena takut pengawas-pengawas itu, yang disembarang waktu siap melecutkan cambuknya, memukul punggung atau melempar.

Beberapa orang pengawas pekerja-pekerja ini kelihatan menjaga mereka dengan cambuk di tangan, Di sana sini terdengar cambuk berbunyi ketika melecut punggung, diiringi pekik kesakitan!

Bwe Hwa berdiri terpaku melihat pemandangan yang tak senonoh ini, hatinya mulai panas. Akan tetapi ia kira tidak sembarangan mau mencampuri urusan orang lain kalau saja tidak melihat kejadian yang membuat wajahnya yang jelita menjadi kemerahan saking marahnya. Ia melihat betapa seorang wanita setengah tua yang tampaknya sakit, roboh terpelanting setelah menerima cambukan pada punggungnya.

Seorang gadis yang usianya sebaya dengan Bwe Hwa menjerit dan menubruk ibunya itu, menangisi ibunya yang sudah pingsan. Dua orang pengawas cepat menghampiri mereka, yang seorang sekali sambar telah menarik tubuh si gadis dan menciumi sambil tertawa terkekeh dan berkata,

“Ha ha ha, sayang kau cantik…. cantik dan manis, sebaiknya kau tidak mencapekan diri, bekerja. Biar kuminta kau kepada Nguyen Wan-gwe (Hartawan she Nguyen) untuk membebaskanmu dan menjadi bini mudaku, ha ha ha!”

Adapun pengawas kedua dengan marahnya menghajar ibu tua itu dengan cambuknya dan memaki-maki sambil mendupak:

“Anjing tua, siapa suruh kau pura-pura pingsan di sini, hayo berdiri dan bekerja, kalau tidak kucambuki sampai hancur badanmu!”

Melihat pemandangan yang mengenaskan hatinya ini, Bwe Hwa tak dapat menahan kesabaran hatinya. Matanya membelalak mengeluarkan sinar berapi-api memandang ke dua pengawas yang berlaku sewenang-wenang itu.

“Keparat, jahanam! Lepaskan mereka?” bagaikan seekor burung walet cepat dan ringannya tubuh Bwe Hwa sudah melayang dekat orang yang menciumi gadis ibu itu.

Sekali kakinya bergerak terdengar suara “bluk, desss!” dan pengawal yang tengah ditunggangi nafsu dan kecabulannya itu terlempar sampai sejauh lima meter. Dan jatuh terbanting ke dalam adukan semen yang berlumpur. Hanya beberapa detik selisihnya tahu-tahu terdengar pula suara “hekk” ketika pengawas itu sedang mencambuki ibu tua itu terlempar pula oleh tendangan Bwe Hwa, hampir menimpa kawan yang sedang berusaha ke luar dari adukan semen yang kental berlumpur itu.

Pekerja paksa melibat kejadian itu jadi berhenti terpaku, muka mereka pucat dan mereka hampir saja tidak percaya dengan penglihatan mereka sendiri. Malah di antara mereka itu ada yang mencubit lengannya sendiri, dan aduh! memang bukan impian belaka. Sebuah kenyataan! Seorang gadis jelita, seorang gadis remaja telah berani melawan pengawas yang terkenal akan kekejamannya.

“Kwan-im Sianli (Dewi Kwan-im) menolong kita…….” bisik laki-laki tua dan serentak ia menjatuhkan diri berlutut di depan Bwe Hwa.

Pada jaman itu di Tiongkok memang orang-orang kota dan dusun percaya sebuah aliran Agama yang jadi bintang penolong sesama hidup bernama Kwan-im Posat. Diceritakan pada cerita-cerita kuno betapa Dewi Kwan-im ini adalah seorang yang Welas Asih yang menjelma ke dunia berwujud seorang gadis yang sangat cantik dan agung. Terkenal kesaktiannya Dewi Welas Asih yang sering kali menjelma dirinya menolong kesusahan, dewi lambang kasih sayang gadis yang terkenal akan kelembutan dan cinta kasih dari pancaran mata itu!

Pada masa itu orang-orang dusun Siauw-ling masih tebal kepercayaan mereka terhadap Kwan-im Posat. Tak heran kalau Bwe Hwa dianggapnya sebagai penjelmaan Kwan-im yang diutus menolong mereka!

Tentu saja kalau semua para pekerja itu berlutut dan mengira bahwa yang datang itu adalah penjelmaan Posat. Akan tetapi tidak dengan pengawas-pengawas yang lain! Pengawas-pengawas itu merasa rendah diri untuk berlutut di dekat kaki seorang gadis, gadis remaja.

Meskipun tak dapat disangkal ada sedikit kepercayaan dalam hatinya, jangan-jangan gadis itu adalah penjelmaan Posat! Namun mereka ini, pengawas-pengawas itu adalah orang-orang kang-ouw yang kasar, yang mengerti akan wanita-wanita pandai ilmu silat seperti Bwe Hwa ini. Mana mereka mau berlutut bersama kuli-kuli hina ini.

Sementara itu pengawas yang terjerembab mencium adukan semen, dengan berbangkis-bangkis karena hidung dan mulut kemasukan adonan semen, menyumpah-nyumpah sambil merangkak bangun dan memerintahkan kepada pengawas-pengawas yang lain.

“Tangkap gadis setan itu dan berikan padaku!”

Mendengar ini ke lima orang pengawas yang lain menghampiri Bwe Hwa. Seorang di antara mereka yang berkumis kucing dan bertubuh gemuk pendek membentak: “Anak setan siapa kau....... mengapa kau membikin kacau para pekerja di sini?”

“Gendut gembrot, apa kau tidak tahu aku Kwan-im Sianli datang hendak menghukum kalian, membawa kalian orang-orang jahat ini ke neraka!” suara Bwe Hwa terdengar merdu.

Tetapi ia diam-diam mengerahkan khi-kang mengirim suaranya menyerang ke lima pengawas itu. Sehingga bagi mereka suara gadis itu terdengar melengking tinggi memekakkan anak telinga. Akan tetapi terdengar merdu dan sejuk di hati kuli-kuli pekerja paksa itu sehingga mereka makin percaya bahwa dara itu adalah Kwan-im Posat.

“He, gendut! Kalian ini adalah manusia-manusia jahat. Patut dihajar, masih bagus dua orang kawanmu itu mencium adonan semen saja, dan kalian berlima, yang sudah bertumpuk dengan kejahatan, takkan kuberi ampun lagi! Hayo berlutut dan minta ampun!”

Dapat dibayangkan betapa marahnya ke lima orang itu. Mereka adalah tukang pukul dari Nguyen-loya (Tuan tua she Nguyen) yang terkenal sebagai Nguyen Wan-gwe (hartawan Ngu-yen) yang juga kaya raya itu. Semua pembangunan di kota Siauw-ling ini mendapat kepercayaan dari kotaraja untuk dikontrakkan kepada orang tua she Nguyen ini.

Semua penginapan-penginapan adalah milik Nguyen-loya, juga rumah-rumah makan besar, gedung-gedung yang megah dan besar itu juga milik Nguyen-loya. Dan siapa orangnya yang berani menantang Nguyen-loya yang mempunyai pengaruh besar pula sampai di Kotaraja? Para jenderal-jenderal dan pembesar-pembesar di Kotaraja itu adalah sahabat baiknya, para buaya-buaya darat adalah tukang pukulnya, dan pengawas-pengawas pekerja paksa itu adalah kaki tangannya untuk kelancaran pembangunan-pembangunan dan tembok besar di luar kota Siauw-ling!

Kini gadis muda belia, gadis remaja yang kelihatannya lemah itu berani memandang rendah mereka?

“Bocah bau kencur, masih mau berlagak menjadi utusan Kwan-im Posat. Hemm, biarpun kau datang dari utusan Neraka sekali pun aku tak sudi berlutut seperti kuli hina itu. Hey bocah gendeng, kau harus diseret ke depan Nguyen-loya dan ditelanjangi kemudian dihajar babak belur, biar tahu rasa…… Hem setelah itu apakah kau akan tetap kelihatan cantik?” bentak seorang di antara mereka, yang berbicara si kurus jangkung, berkopyah lebar seperti petani akan tetapi baru saja ia menutup mulut, tahu-tahu tubuhnya sudah terlempar jauh dan tak dapat bangun lagi. Untuk seketika juga, napasnya sudah putus mengiringi nyawa yang pergi entah ke mana!

Gerakan Bwe Hwa tadi adalah cepat bukan main. Hanya dengan dorongan tangan kiri saja membuat tubuh pengawas lancang mulut itu terlempar dan putus nyawanya. Semua orang terkejut sekali. Para pekerja paksa semakin berlutut mencium tanah, mendoa moga-moga dewi Kwan-im tidak menaruh marah kepadanya dan menjatuhkan tangan maut, seperti pengawas lancang mulut tadi.

“Lihat! Siapa saja yang berlaku kurang ajar di depan Kwan-im Sianli nyawanya pasti kucabut seperti orang itu,” kata gadis itu menunjuk tubuh pengawas yang lancang mulut itu dan yang telah mati sedetik sehabis berbicara tadi Bwe Hwa berdiri di depan orang-orang miskin, yang belum berani menggerakkan kepalanya. Gadis itu berdiri angkuh laksana dewi yang baru turun dari kahyangan. Memang gadis itu cantik jelita, berdiri seperti itu nampak agung seperi dewi Kwan-im.

Tiga pengawas lainnya menerjang maju, mereka tidak menggunakan cara berkelahi lagi, saling menubruk maju dan hendak menerkam gadis itu. Tentu saja melihat kecantikan gadis itu, tukang-tukang pukul lantas segan-segan mengeluarkan senjata sayang kalau tubuh gadis cantik itu terkena oleh senjatanya. Oleh sebab itu sudah mufakat lantas ketiganya menubruk maju hendak menangkap gadis itu hidup-hidup? Dan saling ingin dulu memeluknya.

“Dukk!” tiga orang tukang pukul itu sama mengaduh karena mereka saling tubruk dan saling beradu kepala.

Dalam kegemasan tadi mereka menubruk berbareng bagai tiga ekor kucing menangkap tikus, tetapi sang tikus begitu lincahnya dan kucing yang bernapsu buat memeluk mangsanya yang menggemaskan dan yang menggairahkan itu, tak berhati-hati lagi. Akibatnya karena amat cepat gerakan si tikus tiga buah kepala kucing itu saling tubruk dan masing-masing terpelanting ke belakang dengan kepala benjut beradu dengan kepala temannya.

Dengan gerakan ringan tiga kali tangan kiri Bwe Hwa bergerak, tiga tukang pukul itu sudah tak dapat bangun lagi karena tulang belakang mereka telah patah dan menjadi orang yang tak berguna lagi. Kelak jika orang itu sadar, ia akan kehilangan segala kepandaiannya memukul. Sengaja memang gadis ini meremukkan tulang belakang si tukang pukul agar di lain hari orang itu tidak lagi mempunyai tenaga untuk memukul.

“Lopek siapakah orang-orang ini yang bertindak semau-maunya saja, dan kalian ini sedang membuat tembok apakah?” Bwe Hwa bertanya kepada seorang pekerja yang berpakaian compang camping dan kotor!

“Posat (dewi) yang mulia kami adalah penduduk dusun yang sengsara dan miskin, tolonglah kami, kami dipaksa bekerja keras untuk pembangunan-pembangunan di kota Siauw-ling ini dan diperlakukan sewenang-wenang oleh orang-orang Nguyen-loya, mereka itu adalah mandor-mandor dari Nguyen-loya.”

“Betul Posat, tenaga kami diperas siang malam padahal upah yang kami terima tidak memadai ongkos....... hidup kami dipaksa kalau tidak mau, kami dipukul…… malah banyak pula teman-temanku yang mati di tangan para mandor itu.......” sahut pekerja yang lain. 

Bwe Hwa menahan senyum di hatinya. Ia disebut Posat, alangkah indahnya sebutan itu! Alangkah berkesannya sebutan Kwan-im disanubarinya, ia dianggap dewi Kwan-im! Kwan-im Posat adalah lambang seorang dewi cantik yang sakti dan mempunyai kasih sayang yang tulus dan sering menolong manusia sengsara.

Pernah suhunya mendongeng kalau Kwan-im pernah turun ke dunia menyamar sebagai perempuan agung dan cantik, juga sakti, malah saking terkenalnya sebagai dewi Welas Asih sehingga banyak tokoh-tokoh kang-ouw memakai julukan dengan nama Kwan-im Posat. Alangkah indahnya nama itu! Hm, orang lain dapat memakai julukan itu, mengapa aku tidak?

Gadis itu tersenyum kepada pekerja-pekerja miskin ini. Sebuah senyuman yang memberikan harapan di dada yang gersang itu. Sebuah senyuman yang menyejukkan jiwa yang lelah. Baru kali ini orang dusun para pekerja paksa itu dapat melihat jelas-jelas gadis yang dianggapnya titisan Kwan-im. Alangkah cantiknya.

Gadis itu berjalan menghampiri seorang tua yang patut dikasihani itu. Orang itu amat miskin dan tua sekali. tujuhpuluhan umurnya, tubuhnya yang kurus kering itu terbongkok-bongkok. Wajah yang diliputi awan hitam itu penuh dengan kabut-kabut kerisut yang menampakkan kesusahan hatinya.

“Lopek, apa kau juga yang setua ini masih kerja paksa?” berkata demikian dengan amat cepat sekali tangan Bwe Hwa bergerak dan kelak empek tua itu akan mengetahui bahwa entah darimana datangnya tahu-tahu di kantongnya yang butut itu kedapatan sekeping uang emas.

Saking gugupnya empek tua itu ditanya oleh Kwan-im pujaannya sehingga untuk beberapa ia hanya memandang saja. Menatap kosong ke arah bintang penolongnya!

“Posat yang mulia…… bukan saja empek ini yang dipaksa bekerja, malah orang-orang tua yang sudah lumpuh dan berpenyakit sekalipun di paksa untuk bekerja. Kalau tidak orang tua disiksa sampai mati……” sahut orang yang di sebelah empek itu.

“Keparat! Kalau bagitu……. mereka harus dimusnahkan di muka bumi ini, eh lopek..... apakah semua mandor anjing-anjing orang she Nguyen itu jahat?”

“Jahat?” empek tua itu mengulang kata-kata dengan yang hampir tak terdengar. Mukanya memperlihatkan bayangan kemarahan yang memuncak: “Anjing-anjing itu lebih jahat dari majikannya sendiri. Anjing-anjing itulah yang selalu menggonggong dan menyalak-nyalak maka sering menggigit…… lebih kejam dari serigala kelaparan. Entah berapa banyak di antara kami yang menjadi korban anjing-anjing keparat itu..... Kami disiksa, dianiaya menjadi manusia-manusia cacat dan selanjutnya sebagai manusia jembel!”

Makin panas hati Bwe Hwa. Orang-orang yang suka berbuat jahat dan bertindak sewenang-wenangnya saja, apalagi sampai menganiaya dan membunuh orang, patut dihajar, pikirnya. Ketika ia melirik ke arah dua orang tadi yang mencium adonan semen, yang ternyata mereka sudah bangkit dari benaman adonan semen pada mukanya dan tengah menyusuti mukanya yang berlepotan adonan semen itu dan kemudian mereka berdua itu sudah mencabut pedang dan berjalan menghampiri Bwe Hwa dengan sikap mengancam, pedang di tangan, napsu membunuh nampak pada wajah mereka yang berlepotan lumpur-lumpur semen itu.

“Setan betina, berani kau main gila dengan para Ngo-houw dari Nguyen-loya? Bersiaplah untuk mampus!” teriak si kumis tikus sambil menerjang lebih dulu dengan bacokan pedangnya.

Melihat gerakan mereka, Bwe Hwa memandang rendah. Mereka itu hanyalah orang-orang kasar yang mengandalkan tenaga besar saja, sama sekali tidak seberapa ilmu silatnya. Oleh karena itu ia tak perlu untuk mencabut pedang menghadangi tukang-tukang pukul murahan ini, hanya dengan tangan kosong ia menghadapi bacokan si kumis tikus.

Dengan sebat ia miringkan tubuhnya ke kiri dan tangan kanannya menyambar. Pada saat itu tangan Bwe Hwa yang sudah terlatih dan tenaga Pek-in-kang. Tangan kanan halus yang mengeluarkan uap itu bergerak dan tahu-tahu si kumis tikus berteriak keras dan terpelanting roboh, pedangnya terlempar jauh dan dengan mengeluarkan suara “krek” patahlah tulang-tulang pinggang orang itu dan kelak orang ini akan menjadi orang yang tiada berguna karena untuk selanjutnya orang itu tidak dapat lagi menggunakan tenaganya. Bwe Hwa memang sengaja mematahkan tulang pinggang orang itu, melenyapkan tenaga, apabila orang itu hidup ia akan menjadi orang yang tak lagi bertenaga!

Tentu saja melihat kejadian ini, tukang-tukang pukul yang lain menjadi marah dan terkejut sekali akan kelihaian gadis ini. Maka dengan beramai-ramai dan serentak mereka berlima maju dan menerjang dengan marah. Bwe Hwa yang sudah dibuat panas hatinya oleh cerita-cerita empek yang dipaksa bekerja oleh Nguyen-loya ini, kali ini tak memberi ampun.

Begitu suara pedang tercabut dan tampak sinar perak begulung-gulung laksana awan putih mengamuk, terdengar jerit saling menyusul dan dalam segebrakan saja, ke lima orang tukang pukul itu sudah tergores pundaknya sehingga mengeluarkan darah dan begitu tangan Bwe Hwa bergerak terdengar tulang-tulang pundak patah-patah.

Saking kuatnya pukulan tangan kiri yang menggunakan hawa Pek-in-kang membuat ke lima tukang pukul tak dapat bersambat lagi dan terus menggeletak pingsan! Hebat sekali tindakan gadis itu, dalam waktu beberapa menit saja dia sudah menghajar habis-habisan tukang-tukang pukul sewaan Nguyen-loya.

Dengan tenang gadis itu menghadapi orang-orang pekerja yang masih berlutut dan semua pucat wajahnya melihat tukang-tukang pukul itu sudah menggeletak tak berdaya. Di dalam hati mereka puas akan tindakan sang dewi yang telah membalaskan sakit hari mereka terhadap tukang-tukang pukul yang kejam tiada prikemanusiaan itu. Tetapi mereka juga amat takut kalau nanti setelah sang dewi pergi ke kahyangan alangkah akan marahnya Nguyen-loya.

“Para paman dan bibi, jangan kalian takut, sekarang mari antarkan aku ke rumah manusia Nguyen itu....... di manakah rumahnya?”

Mula-mula para pekerja paksa itu ketakutan. Akan tetapi setelah menyaksikan akan kesaktian sang dewi, bintang penolong ini, apalagi yang meski ditakuti?

Seorang laki-laki tua bongkok bangkit berdiri dan berkata gagah penuh bersemangat. “Mari Posat, mari saya antarkan...... Biar saya nanti mati dipukuli oleh anjing-anjing penjaga rumah Nguyen-loya, asalkan Posat dapat membebaskan kami dari kesengsaraan ini dan memberi hajaran kepada manusia jahat itu!”

Melihat semangat empek tua bongkok ini, maka beramai-ramai orang-orang pekerja paksa yang miskin itu berjalan mendahului Bwe Hwa. Wajah-wajah mereka membayangkan perasaan geram dan nekad, belasan orang laki-laki yang sebagian penuh dengan tambalan dan bertelanjang kaki mengantarkan “Sang Posat” masuk ke dalam kota Siauw-ling.

Tentu saja rombongan pekerja paksa ini menarik perhatian banyak orang. Apalagi setelah mendengar akan perbuatan gadis yang menjadi bintang penolongnya itu yang telah menghajar tukang-tukang pukul di luar tembok kota, gempar sekali keadaan kota Siauw-ling. Dan diam-diam rombongan itu semakin besar jumlahnya, merupakan sebuah barisan tentara yang hendak maju di medan perang!

Sang dewi, yang mereka anggap sebagai bintang penolong mereka berjalan gagah dan agung di tengah-tengah para pekerja paksa. Seluruh perhatian orang-orang kota tertarik akan kecantikan gadis yang mereka anggap sebagai penjelmaan Kwan-im Posat!

Gedung yang ditinggali oleh Nguyen-loya si orang tua she Nguyen adalah sebuah gedung yang amat besar dan mega ditengah-tengah kota Siauw-ling menjurus di depannya sungai Yang-ce-kiang mengalir merupakan ular panjang yang berkelok-kelok. Gedung itu amat besar sekali. Di depan gedung yang berdiri megah itu terhampar sebuah taman bunga yang penuh dengan aneka macam bunga-bunga dan ditumbuhi oleh rumput-rumput menghijau. Sebuah kolam terdapat di tengah taman itu.

Taman yang dilingkari oleh jeruji besi yang amat kuat dan kokoh bercat hijau. Inilah tempat tinggal Nguyen-loya. Seorang laki-laki berusia limapuluh tahun lebih menjadi orang kepercayaan dari gubernur di Kotaraja.

Dan pada kesempatan ini, Nguyen-loya diberi kepercayaan oleh gubernur untuk memperindah kota Siauw-ling, mendirikan restoran-restoran dan rumah-rumah penginapan dan tembok besar di luar kota.

Tentu saja kesempatan yang besar itu tidak disia-siakan oleh Nguyen-loya, dan sebentar saja ia sudah menjadi kaya raya berkat korupsi besar-besaran dari hasil bangunan dan pendirian tembok besar. Karena korupsi besar-besaran dan pengisapan akan tenaga orang-orang dusun yang dibayarnya dengan amat murah sekali dan dengan paksaan, maka sebentar saja manusia she Nguyen ini menjadi raja kecil Siauw-ling.

Pengaruhnya cepat sekali meluas. Dengan uang yang berlimpah-limpah itu ia menundukkan hati banyak orang-orang yang berkepandaian silat dan disewanya menjadi alat keamanan dan kaki tangannya!