-->

Pendekar Lengan Buntung Jilid 02

Jilid 02

Dengan cekatan sekali gadis itu telah menjongkok di pinggir perahunya. Dia menarik baju di leher si pemuda dan dinaikkan ke atas perahunya, Itulah tubuh Tiang Le. Masih pingsan ia. Untuk yang ketiga kalinya si gadis menjerit apabila pandangannya terbentur oleh sebuah lengan yang sudah buntung sebatas pundak.

Darah merah membasahi baju si pemuda. Napas itu satu-satu, sekarat demi sekerat dadanya yang bidang berombak turun naik. Tahulah si gadis bahwa pemuda ini masih hidup. Masih ada harapan untuk ditolong.

Tidak tahu ia apa yang mesti ia perbuat sekarang.

Ia bukan seorang ahli pengobatan. Bukan juga seorang ahli untuk menolong napas-napas yang tinggal sekarat itu. Maka dalam bingungnya dia cuma bisa menyambar dayungnya dan melajukan perahunya cepat-cepat meninggalkan tempat itu.

◄Y►

Angin berhembus sepoi-sepoi. Udara dingin.

Sesosok tubuh langsing, berkelebat menyusuri sepanjang sungai itu. Matanya menyapu-nyapu permukaan sungai yang mengalir tenang. Kemudian mata itu menjadi basah.

Bibir itu bergemetaran.

“Tiang Le koko…..!!” Ia berbisik dalam kecemasan hati yang amat sangat. Kuatir jangan-jangan Tiang Le terbawa hanyut oleh air yang menggelombang garas tadi. Apabila ada benda yang mengambang di air itu, diperhatikannya baik-baik. Hatinya berharap, mudah-mudahan Tiang Le dapat diketemukannya.

“Tiang Le koko, jangan kau tinggalkan aku koko. Kalau kau mati, hidupku tak akan berarti, jangan kau mati kokoooo, ugh….. uuugh.”

Tak tertahankan lagi hati yang hancur itu, maka menangislah dia. Rambutnya yang basah berderai-derai, dan pakaiannya yang basah kuyup, tak diperhatikan lagi. Meski hawa dingin mulai menyerang tubuhnya! Terus saja ia mengikuti tepian sepanjang sungai yang tak berujung itu. Matanya mencari-cari manyelusuri permukaan air yang menderas!

Gadis itu adalah Liem Sian Hwa. Seperti kita ketahui Liem Sian Hwa ini meninggalkan suhengnya Song Cie Lay dan berlari turun gunung. Siapa sangka kalau gadis itu tidak lama kemudian kembali lagi ke tempat itu dan mencari-cari tubuh Tiang Le yang hilang tiba-tiba. Ia mempunyai keyakinan, tentu dalam pingsannya tadi Tiang Le terbawa air sungai yang meluap. Maka oleh sebab itulah ia bertekad mencari Tiang Le. Menyelusuri tepian sungai.

Dan Tiang Le belum juga ditemukan.

Limabelas lie sudah ia menyusuri tepian sungai itu. Kakinya sudah mulai menggigil saking lelahnya. Jalannya sudah terhuyung-huyung. Pandangannya nanar. Dirasakannya ada kabut yang kelam di depannya. Tak tertahan lagi ia.

Terjatuhlah ia di tepi sungai itu.

O, betapa lelahnya Sian Hwa, betapa tertekannya hati itu kehilangan seorang yang paling dikasihi, Sian Hwa letih lahir dan batin letih teramat sangat. letih.

Dan menggeletaklah ia disitu.

Lama ia menggeletak di pinggir sungai itu.

“He he he! Gadis manis di tepi sungai sangat kebetulan sekali. Rezeki turun dari langit, he he he!” terdengar suara orang tertawa dan habis suara itu menggema, berkelebat sesosok tubuh menghampiri Sian Hwa yang masih pingsan.

Orang itu berjongkok.

Memegang pergelangan tangan Sian Hwa.

“He he he masih…… cuma pingsan, kebetulan!” terdengar ia berkata sendiri lagi. Dengan ke dua tangannya ia mengangkat tubuh Sian Hwa, dan sekali menggerakkan tubuh orang itu sudah lenyap merupakan bayangan setan berkelebat meloncati sungai, dan kemudian terus berlari memasuki hutan lebat. Gelap menyeramkan.

Sambil tertawa terkekeh-kekeh orang itu memasuki hutan dan seperti sudah hapal jalan-jalan di hutan itu, ia teruskan memasuki ke hutan yang amat gelap dan menyeramkan. Pohon-pohon raksasa berdiri di kanan kiri dengan daunnya yang amat rimbun jalan di hutan itu.

Ternyata di hutan yang lebat itu terdapat sebuah pondok. Pondok kecil itu hanya terbuat dari rumbai-rumbai dedaunan merupakan atapnya dan bertiang-tiang kayu besar, tidak terdapat dindingnya. Hanya empat buah tiang yang menunjang atap dari rumbai-rumbai itu.

“A Mey…..! A Mey!” orang itu memanggil-manggil.

Seorang nenek tua mendatangi dengan tongkat di tangan. Rambutnya sudah putih semua. Pipinya ditumbuhi banyak kerisut. Tubuhnya kurus kering. Matanya tajam melirik gadis yang dalam pondongan orang yang datang itu.

“Hehehe! A Thiong….. apa belum cukup latihan Jing-tok-ciang sehingga kau bawa-bawa lagi gadis ini!” Nenek itu bertanya.

Orang yang dipanggil A Thiong oleh si nenek tadi, menghampiri. Sikapnya nampak mesrah dan halus waktu ia berkata:

“A Mey sayang..... apa kau kira sudah cukup latihan Jing-tok? Makanya aku bawa gadis ini lagi. Otaknya baik sekali sebagai obat kuat.”

“Apalagi dimakan dengan jin-som, hem sedap! Merupakan tonikum yang hebat untuk menambah tenaga muda kita dan tenaga sin-kang kita akan bertambah hehehe!”

Orang itu meletakkan tubuh Sian Hwa. Kasar sekali orang itu meletakkan tubuh gadis itu. Dilempar begitu saja dan untuk seketika itu juga Sian Hwa sadar kembali. Begitu matanya terbuka, terheran ia melihat seorang nenek dan seorang kakek sudah berdiri di depannya sambil tersenyum gairah.

Air liur si kakek yang dipanggil A Thiong oleh si nenek bertetes-tetes berjatuhan. Matanya memandang ke seluruh tubuh si gadis.

Melihat pemandangan yang mengerikan ini, bergidik Sian Hwa.

“Locianpwe ini siapa dan di…... mana aku?” tanyanya.

“Hehehe! A Mey, cantik juga ia gadis ini, sayang kalau kita bunuh...... akan tetapi otaknya segar dan baik...... jarang gadis-gadis mempunyai otak seperti dia. Rupanya nikmat benar kalau dimakan, hehehe!”

“A Thiong, benar juga katamu. Gadis ini sayang kalau dibinasakan...... sebaiknya diberikan kepada A Seng, tentu dia girang mendapatkan teman bermain secantik gadis ini! Betul kita kasih A Seng saja. Anak kita itu hihik….. hik hik!”

Bergidik Sian Hwa.

“Celaka. Rupanya aku terjatuh ke tangan nenek dan kakek gila ini pemakan manusia, entah siapakah orang tua ini,” pikir Sian Hwa.

“Locianpwe kau ini siapa?”

“Kami adalah Jing-tok-siang-lomo, namaku A Thiong dan ini adalah istriku A Mey perempuan cantik. Kau nanti bakal anakku A Seng. Kau mau ya?” berkata Jing-tok-siang-lomo A Thiong. Kakek tua ini mengerinyitkan bibirnya. Matanya menyapu seluruh tubuh Sian Hwa dengan gairah.

“Benar kau nanti bakal jadi isteri anakku A Seng. Eh! namamu siapa? Ahay…… namanya tentu juga bagus yaa…..” Jing-tok-siang-moli A Mey menyahut. Ia tersenyum kepada Sian Hwa.

Sian Hwa melototkan matanya.

“Gila!! Siapa yang bakal jadi isteri anakmu? Anakmu yang mana??” tanya Sian Hwa dengan heran dan marah.

“Anakku A Seng sedang memancing di sungai, sebentar ia tentu datang, eeh tentu kau suka kawin dengan A Seng ya? Tentu kau suka kawin dengan anakku A Seng, hi hi hi?”

“Gila! Siapa yang sudi kawin dengan anakmu. Keparat, kalian orang sinting, orang gila! Tentunya anakmu juga gila, gendeng, sinting!” Sian Hwa memaki. Ia berdiri.

“Eh kau bilang apa gadis manis….. kau bilang apa tadi?” Jing-tok-siang-moli A Mey bertanya marah, dia melangkah maju. Sepasang matanya yang penuh keputih-putihan itu mendelik menatap gadis di depannya seakan-akan mata itu hendak menelannya. Sian Hwa yang sedang mendongkol hatinya membalas mempelototi nenek itu dengan berani.

“Aku bilang kalian ini sudah gila, sudah sinting....... tentu anakmu yang bernama A Seng itu juga orang gila, sinting!!” sahut Sian Hwa sambil menyentakkan tangannya.

“Apa? Apa kau bilang……, A Seng gila?”

“Ya…… kalian dan A Seng sudah gila!”

“Plak plak plak!” Tangan kiri Jing-tok-siang-moli A Mey menampar pipi Sian Hwa tiga kali. Sian Hwa terhuyung-huyung. Tiga buah tapak jari memerah di ke dua pipi yang putih. Ia tidak melihat itu hanya dirasakannya ke dua pipinya menjadi pedas. Saking perihnya dirasakan ke dua pipinya itu. Sian Hwa sampai mengeluarkan air matanya menitik.

“He he he, A Mey…… kau keliwatan, masa mantu kita kau tampar sampai menangis….. jangan begitu ah….. aduh, kau menggunakan Jing-tok-ciang (pukulan racun hijau) ya....... wah, celaka....... kalau pipi mantu kita angus, mana A Seng mau sama dia….., wah, wah A Mey, lekaslah kau ambil daun Ang-coa-ko, di samping rumah kita lekas.......wa, jangan-jangan muka gadis itu akan hangus, celaka!”

Mendengar perkataan A Thiong, mau tak mau, tanpa disadarinya Sian Hwa mengusap pipinya. Tidak ada apa-apa, hanya saja terasa pipinya menjadi gatal sekarang. Celaka jangan-jangan….., pipiku kena racun dalam tamparan nenek tadi!

Sian Hwa menjadi cemas bukan main.

Tentu saja sebagai seorang wanita, siapa pun wanita itu tidak ingin kehilangan akan wajah kecantikannya. Dan dari rasa kuatirnya yang menggerogoti hatinya, Sian Hwa menjadi marah kepada nenek yang telah menamparnya. Dengan bentakan keras ia sudah menerjang nenek itu. Pedangnya menusuk ke arah ulu hati Jing-tok-siang-moli A Mey.

Akan tetapi melihat gerakan ini, sekilas saja nenek itu sudah tahu bahwa lawan hanya memancing saja, dan serangan itu tidak dilanjutkan, oleh karenanya dengan tertawa ha ha hi hi nenek itu tidak menangkis atau mengelak, malah ia sengaja berdiri tegak.

Panas hati Sian Hwa ditantang seperti ini. Sikap nenek ini mengherankan sekali di hatinya, akan tetapi karena sudah kepalang tanggung, tusukan pedangnya dilanjutkan dengan sekuat tenaga ia menusuk ke arah ulu hati itu. Kepingin ia tahu apakah nenek gila ini tidak mengelak akan sambaran ujung pedangnya? Sedangkan tangan kirinya menghantam ke depan dengan pukulan yang amat kuat. Inilah pukulan Soan-hong-ciang (tenaga angin puyuh) yang luar biasa.

Akan tetapi Jing-tok-siang-moli A Mey sudah bersiap sedia menghadapi dua serangan sekali gus ini. Ia sudah mendapat serangan susulan yang amat berbahaya. Menghadapi pukulan yang mendatangkan hawa pukulan dingin ini, ia hendak mencoba membarengi dengan pukulan Jing-tok-ciang (pukulan racun hijau) yang paling diandalkan, maka ia tidak mengelak pukulan tangan kiri Sian Hwa, sebaliknya ia menangkis pukulan itu dengan tangan kanannya medorong ke muka, sementara tubuhnya meliuk ke kiri menghindarkan sambaran pedang

“Duukkk!”

“Hayya….. lihay sekali!” Si Nenek berseru kaget dan kagum. Dan ia melangkah mundur dua tindak. Karena pertemuan dua tenaga itu membuat ia mundur tergempur kuda-kudanya.

Juga Sian Hwa merasa lengannya sebelah kanan tergetar hebat dan iapun mundur sampai dua langkah. Bukan main hebatnya pukulan jing-tok-ciang dari nenek gila itu, sehingga terasa kini lengan kirinya menjadi gatal-gatal. Diam-diam Sian Hwa terkejut, celaka, tentunya racun hijau yang menyerang lengannya pula.

Begitu dilihatnya, benarlah lengan kirinya itu telah hitam dan bengkak. Rasa gatal begitu hebat menyerangnya.

“He he he, hebat juga mantumu ini. Cocok sama A Seng, eh. A Mey hayo nanti malam kita rayakan hari perkawinan anak kita A Seng..... heran...... kenapa si A Seng belum juga kembali?” Jing-tok-siang-lomo A Thiong berkata kepada A Mey.

“Keparat aku harus mengadu jiwa denganmu!” Sian Hwa memekik panjang dan mengirimkan pukulan ke arah A Thiong. akan tetapi begitu si kakek berkelit tahu-tahu seluruh tubuh Sian Hwa menjadi lumpuh tertotok urat nadi di tubuhnya.

“Dia mesti kita rangket dulu, A mey…… masukan dia ke dalam kerangkeng. Hati-hati jangan terlepas, dia amat galak dan harus dijinakkan dulu. Kau tunggu aku mencari A Seng anak bengal itu!” Sesudah berkata demikian tahu-tahu tubuh si kakek mencelat tinggi dan hilang ditelan bayang-bayang kegelapan di atas pohon yang rimbun.

Si Nenek tertawa.

Menghampiri Sian Hwa.

“Betul...... kau mesti dirangket dulu, nyonya mantu…… nanti kalau A Seng sudah dataug biarlah anakku itu yang menjinakanmu….. hihihikk…. tangan si Nenek menyambar tangan kanan Sian Hwa dan sekali lempar tahu-tahu tubuh Sian Hwa telah masuk ke dalam sebuah kerangkeng yang terdapat di dalam pondok itu.

Di dalam kerangkeng itu Sian Hwa tidak berdaya. Bukan saja ia sudah tidak dapat mengerahkan tenaganya lagi, akan tetapi di dalam kerangkeng yang berukuran empat persegi ini, mana ia dapat melarikan diri?

Dilihatnya si nenek gila itu menghampiri kerangkeng dan mengunci dari luar. Celaka, ia benar-benar di penjara di situ!

Terasa tubuhnya lemas sekali. Ia bersandar di tiang-tiang kerangkeng, sementara pipi dan lengannya semakin gatal. Semakin menghitam. Tak tahu ia, bahwa saat itu kedua pipinya juga menjadi hitam seperti pantat kuali. Memang hebat sekali pukulan Jing-tok-ciang ini, kalau saja tadi si nenek memukulnya dengan sungguh-sungguh, tidak menampar seperti tadi, tentu siang-siang, tubuhnya sudah hangus disambar keganasan hawa Jing-tok (racun hijau).

Saking lelahnya lahir dan bathin, Sian Hwa terlena di dalam kerangkeng menyenderkan tubuhnya pada jeruji kerangkeng yang sebesar jempol kaki besarnya itu. Ia setengah pingsan setengah sadar.

Sementara gelap mulai menyelubungi pondok. Sebentar itupun malam akan mendatang. Bulan bersinar di atas menerangi hutan sehingga cahaya bulan yang cukup terang itu tidak membutakan mata Sian Hwa. Dilihatnya nenek itu sudah menggeletakkan tubuhnya di atas sebuah dipan dan terdengar suara tidurnya menggeros-geros seperti babi disembeli. Sian Hwa mencari akal.

Di guncang-guncangkannya jeruji kerangkengnya yang mengurungnya itu. Tetapi alangkah terkejutnya dia, karena jeruji kerangkeng yang terbuat dari besi itu amat kuat sekali. Tak dapat ia mematahkannya.

Tak betah ia dikurung seperti itu.

Sementara nyamuk besar-besar sudah mengiang di sekitar telinganya. Dengan sengit ia menepok nyamuk yang menggigiti lengan dan pahanya.

Mendengar tepokan dari Sian Hwa, nenek itu terbangun dari tidurnya. Sejenak ia memandang gadis di dalam kerangkeng itu.

Menghampiri Sian Hwa.

“Hi hi hik mantuku yang manis, ngak betah di sini ya, banyak nyamuk….., sabar nyonya mantu, sebentar A Seng datang, engkau pasti diajak tinggal di kota....... di sana hidup senang hik hik hik!”

“Keluarkan aku nenek gila, nenek peot!” maki Sian Hwa dengan matanya melotot.

“Banyak nyamuk ya..... banyak nyamuk..... biar kunyalai api, biar nyamuk-nyamuk itu takut dan kabur…… ha ha hek!” tanpa menghiraukan Sian Hwa yang sudah mencak-mencak di dalam kerangkeng itu. Nenek Jing-tok-siang-moli A Mey membuat api unggun di dekat kerangkeng.

Api besar menerangi suasana di situ.

Sementara nyamuk-nyamuk kabur akan sinar api yang hangat.

“Tidurlah….. nyonya mantu, besok bangun pagi-pagi, ya!”

“Nyonya mantu kepalamu!” Sian Hwa membentak.

“Hik hik hik, galaknya. Sayang kau cantik, kalau tidak suamiku tentu mengambil otakmu untuk dibuat obat sebagai latihan Jing-tok-ciang, Hihi benar juga kau cantik nyonya mantu, sayang, kalau dibunuh, lebih baik dikawinkan sama A Seng….. ya A Seng anakku, hek hek hek!” berkata begitu nenek itu masuk ke dalam pondoknya.

Sian Hwa terkejut sekali. Celaka, kiranya ia bukan saja berhadapan dengan kakek dan nenek gila, malahan rupa-rupanya kedua orang gila ini pemakan otak manusia. Siapakah kakek dan nenek yang bernama Jiang-tok-siang-lomo? Dan siapakah yang disebut A Seng anaknya itu. Apakah anaknya juga?

Tentu saja Sian Hwa tidak mengenal mereka.

Ia masih hijau dalam dunia kang-ouw. Kalau saja ia tahu. Tentu ia akan lari menjauhkan tempat ini. Tempat ini adalah memang tempat tinggal Jing-tok-siang-lomo (sepasang iblis racun hijau) A Mey dan A Thiong. Di dunia kang-ouw mereka ini terkenal sebagai datuk hitam yang ganas sekali di samping kegila-gilaannya yang otak-otakan itu. Mungkin karena saking banyaknya ia makan otak gadis-gadis remaja, sehingga sikap kedua orang ini sudah tidak normal lagi pikirannya, kendatipun demikian, kedua kakek dan nenek ini sangat ditakuti oleh dunia kang-ouw sebagai sepasang iblis pemakan manusia!

Dan siapakah A Seng yang disebut-sebutnya itu?

A Seng adalah anaknya. Anak tunggal sepasang iblis racun hijau itu. Akan tetapi A Seng sudah mati.

Mati tenggelam pada waktu ia pergi memacing di sungai. Dan matanya diketemukan oleh sepasang iblis racun hijau ini di rumah seorang penduduk dusun. Akibatnya. Luar biasa, seluruh keluarga dusun itu habis binasa dibunuh-bunuhi oleh Jing-tok-siang-lomo, sedangkan wanita-wanita remaja diambil otaknya untuk sebagai obat kuat sedangkan jantung dan hati wanita-wanita itu dikeringkan sebagai dendeng yang amat lezat bagi mereka!

Inilah Jiang-tok-siang-lomo?

A Thiong, kakek gila itu pergi ke dalam hutan di mana ia menguburkan anaknya. A Seng. Lucunya orang gila ini malah menangis di situ. Mengoceh tidak keruan.

“A Seng….. anakku, mengapa kau belum bangun juga anakku....... aii kasihan calon isterimu menanti-nantikan di rumah. Bangunlah A Seng....... bangunlah….. ugh, ugh....... mengapa engkau belum juga bangkit…... A Seng....... biarlah papa tunggu di sini menantimu sampai kau bangun….. besok papa dan mama hendak mengawinkanmu A Seng….. dengan gadis cantik he he he, kau tentu suka ya A Seng….., ya, ya kau tentu cinta....... gadis itu manis sekali. A Seng cocok sekali buat menjadi istrimu, A Seng bangunlah..... bangunlah!” Jing-tok-siang-lomo A Thiong menggebrak-gebrakan tanah kuburan anaknya itu. Keruan saja batu nisan itu menjadi retak dan mental terhantam gebrakan tangan kanan A Thiong. Sementara mulutnya memanggil-manggil anaknya.

“A Seng, kau belum mau bangun juga biarlah papa membangunkan dirimu Nak. Yaa…… yaa mestinya papa yang membangunkanmu. Aduh! Kasihan sekali kau A Seng, papa lupa kau tidak bisa bangun lagi. A Seng biarlah papa membangunkanmu!!!” Sesudah berkata demikian Jing-tok-siang-lomo mundur ke belakang dua tindak. Tangannya mendorong ke depan dan mulutnya segera membentak.

Inilah pengerahan tenaga Jing-tok-ciang. Keruan saja batu nisan kuburan itu hancur berantakan terhantam pukulan si kakek. Tanah yang menggunduk di situ berhamburan merata, kemudian dengan menangis mengguguk, si kakek gila itu menggali kuburan anaknya.

Menggali. Menggalinyapun dengan cara yang luar biasa pula. Tangan kanannya diputar-putarkan di atas kepala, kemudian dipukulkan ke arah gundukan tanah pekuburan itu.

“Braaak!!” Tanah di sekitarnya berguncang keras. Tangan itu berputar-putar seperti kitiran dan tanah-tanah di dalam kubur itu berhamburan ke atas dan sebentar itu pula nampak di dalam kubur itu tulang belulang manusia. Itulah tengkorak A Seng.

Jing-tok-siang-lomo A Thiong melompat ke dalam dan memeluk tengkorak itu menangis mengguguk.

“Aduh, A Seng aaaa..... kau, kau kenapa tidak bisa bangun nak, biarlah papa mengangkatmu. Mari kita pulang nak, sebentar lagi papa akan mengawinkanmu dengan gadis cantik….. A Seng kau tentu setuju ya dengan pilihan papa dan mama….. ya, ya kau pasti setuju A Seng. Kau lihatlah sendiri. Ugh ugh ugh A Seng....... A Seng!”

Dengan ke dua tangannya itu Jing-tok-siang-lomo A Thiong sudah membopong rangka manusia A Seng, dan sekali berkelebat tubuhnya sudah lenyap dari pekuburan itu. Hebat memang Jing-tok-siang-lomo ini kalau ada manusia yang melihatnya, tentu orang itu mengiranya setan-setan yang bergentayangan melihat tingkah laku A Thiong yang aneh.

Amat cepat sekali tubuh A Thiong berkelebat sambil memondong tengkorak A Seng anaknya. Sebentar ia tertawa, sebentar pula ia menangis seperti anak kecil yang kehilangan barang mainan. Itulah A Thiong yang aneh, si kakek gila!

Begitu tiba di dalam hutan di luar pondok ia berseru,

“Heei A Mey….., lihat aku membawa anak kita A Seng, eh mana gadis cantik itu A Mey……. A Mey!!”

Jing-tok-siang-moli A Mey keluar dengan wajah bersungut-sungut.

“Sudah….. pergi....... sudah pergi…...!”

“Ha! Pergi? Pergi kemana…..?”

“Nggak tahu……. kau kakek-kakek pikun. Bepergian dari tadi sore sampai tengah malam begini....... kau memang keterlaluan!”

“A Mey jangan main-main kau, aku sudah bawa pulang A Seng……, dia harus dikawinkan dengan gadis itu…..” berkata A Thiong sambil meletakkan tengkorak A Seng di tanah.

A Mey menangani tengkorak itu.

Dan ia menjerit memeluk tengkorak itu menjerit-jerit lirih.

“Aduh….. A Seng....... mengapa kau begini kurus......... kemana daging-dagingmu A Seng......., apa kau di kota tidak makan-makan sehingga kau demikian kurus…… A Seng…... Bangunlah A Seng……!”

“Dia sudah nggak bisa bangun lagi A Mey....... ugh….. ugh nggak bisa ngurusin anak, sampai A Seng tidur di sungai itu dan nggak bangun-bangun sampai sekarang….. ugh….. ugh…… A Seng….. anakku……”

Jing-tok-siang-lomo A Thiong menangis menggerung-gerung. Suaranya jauh besar dan parau menggetarkan hutan belantara ini. Dan berganti-gantian mereka itu menangis. Habis A Thiong berganti A Mey menangis, bergulingan seperti anak kecil nggak dikasih barang mainan. Memeluki tengkorak manusia yang sudah berbau busuk dan dibelatungi.

Lupalah mereka akan gadis yang tadi ditawannya.

Lupalah A Thiong bahwa sebetulnya ia hendak mengawinkan anaknya ini dengan gadis tawanannya yang telah lenyap.

Ya, kemanakah perginya Sian Hwa dan apa yang terjadi dengannya?

Waktu A Thiong masih di dalam hutan tadi, si Nenek A Mey yang memang doyan tidur, ia tidak menghiraukan lagi akan tawanan di dalam kerangkeng itu. Sebentar itu pula ia sudah mengorok tidur dengan nyenyaknya.

Sian Hwa termenung. Memandang bulan di atas yang indah sekali berseri-seri menampakkan dirinya. Segumpalan awan tipis menghampiri bulan. Langit begitu cerah, dialasi selimut membiru laksana lautan luas yang hening tiada berombak.

Sian Hwa termenung lagi.

Teringat kepada sam-suhengnya Tiang Le. Aduhai bagaimanakah nasib suhengnya itu, masih hidupkah ia? Pikirannya menerawang jauh, merayap naik ke atas puncak Tiang-pek-san mengenangkan masa yang indah waktu ia masih berkumpul di puncak. Terasa bahwa di puncak itu, sikap sam-suhengnya Tiang Le memang amat dingin, kadang-kadang suka menjauhi dirinya. O tahulah ia sekarang bahwa jie-suhengnya yang bernama Song Cie Lay itu menaruh hati kepadanya. Ah, tahulah ia tentu ia Tiang Le jadi menjauhi dirinya. Padahal ia yakin benar dari pandangan Tiang Le, berkaca-kaca apabila bertemu pandang dengannya. Amat berkesan. Mungkinkah Tiang Le membalas cintanya?

Teringatlah Sian Hwa akan kenangan manis dalam hujan lebat di pondok di tengah-tengah pematang sawah itu. Teringat sewaktu Tiang Le memeluknya. Memeluk dengan sangat mesra dan ia teringat pula perkataan Tiang Le.

“Sumoay, Hwa-moay-moay mengapa begitu? Mengapa di dekatku engkau bahagia?”

Dan ia menjawab.

“Koko, sejak....... sejak pertama kali kau datang di puncak Tiang-pek-san itu hatiku sudah terpaut denganmu, aku….. aku mencintaimu koko!”

Dan ia mendengar suara Tiang Le yang gemetar penuh perasaan,

“Moay-moay!”

“Koko, aku tahu bahwa kaupun mencintaiku.......” Sian Hwa berbisik kepada bulan di atasnya. Seakan-akan di atasnya itu Tiang Le tersenyum kepadanya. Dan ia tersenyum kepada bulan.

Aneh memang. Cinta kadang-kadang membuat orang menjadi takut dan sinis akan hidup ini. Dan membawa kesengsaraan di badan. Akan tetapi cinta pula yang membuat hidup ini begitu romantis dan penuh gairah. Cintanya Sian Hwa kepada Tiang Le membuat ia tidak menyadari bahwa kini dirinya terancam bahaya di tangan Jing-tok-siang-lomo A Thiong, dan Jing-tok-siang-moli A Mey, kedua kakek dan nenek iblis. Akan tetapi bagaikan mimpi Sian Hwa masih bisa tersenyum kepada bulan. Padahal racun hijau yang di tangan kirinya itu semakin menjalar, dan berbahayalah apabila hawa racun itu menyentuh jantung. Dan kedua pipinya semakin hitam, semakin menyerupai pantat kuali.

Sian Hwa tersentak dari lamunannya ketika tangannya ada yang menepuk.

“Cie-cie yang baik, kau....... lekaslah ke luar……”

Sian Hwa menoleh. Dan alangkah terkejutnya ia melihat seorang laki-laki cebol. Amat pendek sekali laki-laki itu. Akan tetapi melihat dari form wajahnya, lelaki itu bukan kanak-kanak lagi. Melainkan seorang pemuda yang berwajah tampan. Hanya tubuhnya saja kecil dan pendek, setengahnya dari Sian Hwa.

“Cici….. keluarlah….., kau….. bahaya sekali….. aduh, mukamu hitam benar....... celaka….. kau sudah kena racun Jing-tok cici. Kalau tidak segera diobati bahaya sekali mukamu akan rusak,” pemuda cebol itu menarik tangan Sian Hwa.

Dan Sian Hwa menjadi panik sekali. Tanpa disadarinya ia mengusap pipinya dan melihat ke arah lengan kirinya yang sudah gosong.

“Mukaku hitam?” Sian Hwa bertanya seakan kepada dirinya. Membandingkan hitam di lengan dan di pipi. Tentu saja ia tidak melihat akan ke dua pipinya yang sudah berkerisut hitam itu. Andaikata Sian Hwa melihatnya, ia akan menjerit pasti.

“Kedua pipimu hitam seperti pantat kuali!”

“Plak!” tangan Sian Hwa menampar pipi pemuda cebol itu.

Pemuda cebol mengusap pipinya yang terasa perih dan sakit.

“Kau bilang mukaku kayak pantat kuali, kurang ajar kau!” Sian Hwa memaki, Akan tetapi diam-diam ia merasa kasihan juga kepada manusia cebol ini, Kenapa ia menampar?

“Cici!”

“Kau siapa..... mengapa kau ada di sini, pergilah kau, jangan nanti si kakek gila memasukan engkau ke dalam kerangkeng ini. Cepatlah pergi, jangan dekat?”

“Tidak cici aku harus menolongmu!”

“Hm, menolongku?”

“Ya, cici tunggulah sebentar…… aku akan mencuri kunci kerangkeng ini, tahukah kau di mana nenek itu menyimpan kunci kerangkeng ini?” tanya si pemuda cebol.

Melihat bahwa pemuda cebol itu tidaklah main-main, Sian Hwa tersenyum dan berkata:

“Betul, kau mau menolongku??” tanyanya.

“Kenapa tidak?”

“Bagus adik, nah kau curilah kunci itu!”

“Di mana…… di mana disimpannya??”

“Tentu saja di sakunya. Eh!! kau dengar tidak, nenek itu sedang tidur nyenyak. Nah!! curilah, hati-hati kau. Kalau dia bangun lehermu akan dipotongnya!” kata Sian Hwa.

Pemuda cebol berpikir sebentar, menoleh ke arah si nenek yang sedang tidur dengan nyenyaknya!

“Baiklah cici!”

“Hati-hati kau……!” sahut Sian Hwa.

Pemuda cebol menghampiri nenek A Mey yang tengah tenggelam dalam tidurnya. Kagum juga Sian Hwa melihat Langkah-langkah kaki yang ringan dari pemuda cebol itu. Tahulah dia bahwa pemuda pendek ini mempunyai gin-kang yang boleh juga. Buktinya suara kakinya itu tidak terdengar sama sekali.

Ia memperhatikan pemuda cebol itu. Gelinya ia, melihat pemuda cebol berjingkat-jingkat di depan si nenek. Kemudian bagaikan seorang pencuri ulung, tangan kecil itu menyelusup ke baju luar si nenek. Dan sebentar itu pula serencengan kunci sudah dikeluarkan dari saku si nenek yang masih tenggelam dalam tidurnya.

Girang sekali hati Sian Hwa.

Pamuda cebol sudah menghampiri. Membuka kunci kerangkeng. Dan berderit perlahan mengejutkan si Nenek. Akan tetapi nenek itu cuma menggeliat saja dan tidur lagi.

Pemuda cebol berbisik perlahan. “Cepat….. cepat....... cici… ssssst.”

Sian Hwa keluar dari kerangkeng itu. Terasa tangannya ditarik oleh pemuda cebol,

“Hayo kita lari!”

Maka berlari-larianlah kedua orang muda itu.

Kagum sekali Sian Hwa melihat gin-kang pemuda cebol ini. Meskipun tubuh pemuda itu pendek dan kecil, akan tetapi larinya demikian ringan sekali. Malah dalam melarikan diri itu seringkali Sian Hwa tertinggal.

Amat jauh sudah mereka melarikan diri.

Mereka sudah ke luar dari dalam hutan yang lebat itu.

Sekarang mereka berjalan perlahan. Lambat-lambat.

“Terimakasih atas pertolonganmu…..” berkata Sian Hwa.

“Tidak apa cicie....... sama-sama…..” sahut si Pemuda cebol.

“Jangan panggil aku cici ah, kulihat umurmu tentu tidak di bawah umurku.”

“Usiaku duapuluh tahun Cici.”

“Nah, malah kau lebih tua dariku. Kau tahu usiaku baru juga delapanbelas. Jangan panggil aku cici….. panggil saja namaku!”

“Siapa namamu?” tanya pemuda cebol.

“Namaku Liem Sian Hwa,” sahut Sian Hwa singkat.

“Dan aku Go Sin Thong,” sahut Sin Thong.

Sian Hwa tertawa.

Sin Thong menoleh.

“Kenapa kau tertawa Sian Hwa?” tanyanya.

“Kau memang patut disebut Sin-thong (anak sakti)!”

“Mengapa?”

“Buktinya….. kau benar-benar sakti….. ah, sudahlah….. kalau tidak ada engkau muncul di pondok itu, entah bagaimana nasibku. Eh, Sin Thong….. bagaimana kau bisa muncul di situ?”

“Kebetulan saja Sian Hwa. Kebetulan aku melihat kakek Jing-tok-siang-lomo A Thiong memanggul tubuhmu yang pingsan di tepi sungai itu. Aku heran sekali, tapi aku tak ingin bertindak semberono. Aku ikuti si kakek gila itu sampai ke dalam hutan. Siapa kira bahwa aku dapat menolongmu….. untung nenek itu tidurnya kebluk. Kalau tidak mana bisa aku menolongmu dari cengkeraman ke dua iblis sakti itu?”

Sian Hwa menoleh, langkahnya diperlambat lagi.

“Kau mengenal mereka Sin Thong?”

“Tentu saja aku pernah mendengar Jing-tok-siang-lomo sepasang iblis racun hijau yang amat ganas itu. Suhu yang mengatakannya itu, eh ya Sian Hwa kulihat ke dua pipimu tentu terserang racun hijau, biarlah nanti suhu yang akan mengobatimu!”

“Tentu suhumu itu ahli pengobatan ya, siapa sih suhumu itu?' tanya Sian Hwa tertarik.

“Suhuku orang biasa saja Sian Hwa, disebut orang Kwa-sinshe (ahli pengobatan she Kwe) tentu ia mau menolongmu.”

“Terima kasih Sin Thong!” sahut Sian Hwa.

Dan keduanya berjalan lambat-lambat.

◄Y►

4

Tiang Le membuka matanya. Betapa terkejut ia ketika merasa dirinya berada di sebuah pembaringan yang cukup bersih. Pertama yang dilihatnya adalah langit-langit kelambu yang bersih dan putih, kasur yang empuk beralaskan sprey yang putih bersih pula. Sebuah kamar persegi empat yang cukup luas. Sebuah almari pakaian yang sederhana, dan sebuah meja tulis. Sebatang hio wangi menyebarkan harumnya ke seluruh penjuru kamar itu.

Kamar seorang gadis.

Terkejut sekali hati Tiang Le, apabila dilihatnya sebuah pakaian wanita tergantung di atas pembaringan. Dan begitu ia melirik, ia menjerit lirih mengingat tangan kanannya telah buntung sebatas pundak. Dan pundak itu terbalut rapih sekarang. Hatinya terasa nyeri sedikit menyelikit di luka yang dibalut itu. Tiang Le menarik napas panjang teringat sekarang ia akan tragedi yang menimpah dirinya.

“Habislah…..” bisik Tiang Le. “Ya, habislah sudah cita-cita untuk membalas dendam. Setelah lengannya buntung, apakah ia bisa menarik pedang?”

“Bwe Hwa sumoay….. betapa kejamnya hatimu....... Mengapa kau membuatku tidak berdaya seperti ini….., ah sumoay....... lebih baik aku mati dari pada begini….. Apa gunanya lagi hidupku, kalau aku tidak dapat membalas dendam kematian suhu dan kehancuran Tiang-pek-pay? Sumoay...... sumoay!!”

Hati Tiang Le merenyuh.

Pintu kamar berderit nyaring apabila seorang gadis membuka pintu dan masuk ke dalam. Ia tersenyum kepada Tiang Le. Senyumnya amat manis. Mangkuk obat yang dipegangnya diletakkan di atas meja. Di dekat pembaringan.

“Tiga hari tiga malam kau pingsan tak sadarkan diri, untung kau sudah sadar sekarang. Apakah masih sakit lukamu?” suara itu amat halus tutur katanya. Terdengar amat merdu dan nyaring bersih. Tiang Le mengawasi gadis ini. Terkejut ia apabila mengingat dirinya berada di dalam kamar gadis itu.

Ia bangkit berdiri. Akan tetapi ia terguling lagi karena dirasakannya kepalanya demikian berat dan berkunang-kunang. Pandangannya nanar. Tiang Le memejamkan matanya.

“Kau masib lemah, kongcu. Sebaiknya jangan bergerak dulu. O ya, ini obatnya, minumlah kongcu!” gadis itu meraih mangkuk dan didekatkan ke bibir Tiang Le.

Tiang Le memandang gadis itu.

“Minumlah kongcu?!”

“Siocia, kau siapa? Mengapa aku berada di sini? Dimana aku ini?”

“Tenanglah kongcu. Dan minum obat ini!” mangkuk itu didekatkan lagi oleh gadis itu di dekat bibir Tiang Le. Tak enak hati Tiang Le bertanya-tanya terus dan menolak kebaikan gadis ini maka Tiang Le meneguk habis obat dalam mangkuk itu.

Gadis itu meletakkan mangkuk kosong di meja. Dan langkahnya yang gemulai ia hendak meninggalkan kamar, akan tetapi Tiang Le memanggilnya.

“Siocia?”

“Ya?” Gadis itu membalikkan tubuhnya. Memandang Tiang Le.

Tiang Le sudah duduk di pembaringan. Terasa sekali betapa lemas tubuhnya. Ia berpegangan pada tepi meja itu.

“Siocia......aku.....”

“Eh, hendak kemana kongcu, jangan….. jangan turun, berbaringlah di situ. Aku hendak masakan kau bubur, ya?”

“Terima kasih siocia, jangan, jangan merepotkanmu...... ah dimana aku ini?”

“Ini kamarku kongcu,” sahut gadis itu

“Hem!?”

“Ya, kamarku. Tak apa kau istirahatlah sementara aku hendak memasak bubur!” berkata begitu gadis itu sudah meninggalkan Tiang Le di dalam kamar itu.

Tinggal Tiang Le di dalam kamar itu terlongong heran.

Tidak lama kemudian gadis itu telah mendatangi lagi dengan membawa sebuah mangkok bubur di tangannya, ia tersenyum kepada Tiang Le.

“Kongcu kau makanlah bubur ini,” berkata gadis ini.

Akan tetapi Tiang Le menggelengkan kepala.

“Terima kasih siocia. Harap kau menceritakan mengapa aku berada di sini dan kau…... kau ini siapa?”

“Kongcu…... tiga hari yang lalu aku dapati engkau di sebuah sungai. Untung aku waktu itu. Aku sedang berperahu melihatmu dan keburu menolongmu. Kalau tidak mungkin kau akan terhanyut dalam air yang sedang meluap sehabis hujan kemarin dulu. Dan kau terluka hebat pada lengan kanan dan telah pingsan pula. Kubawa engkau ke mari, kongcu. Tiga hari tiga malam kau tak sadarkan diri!”

“O. Tiga hari tiga malam aku pingsan?”

“Ya......”

“Dan selama itu engkau yang merawatku?”

“Benar Kongcu. Aku disini sendirian, dan untungnya aku memanggil Kwa-sinshe, dan orang she Kwa itu yang memberikan obat!”

“Siapa Kwa-sinshe itu?” tanya Tiang Le.

“Dia ahli pengobatan she Kwa, agak jauh juga rumahnya dari sini……”

Tiang Le terdiam.

Gadis itupun diam. Dari cela-cela bulu matanya yang melirik ke arah pemuda yang buntung lengannya. Dan hatinya berdesir apabila pandangan Tiang Le merenggut mata itu.

“Kau siapa siocia…..? Dan tinggal sendirian di sini?”

Gadis itu mengangguk.

“Aku she Cia, dan namaku Pei Pei. memang aku sendirian. Aku sudah sebatang kara kongcu.”

“O ya!”

“Makanlah bubur itu kongcu. Kalau bisa tahu siapakah namamu?”

“Aku Sung Tiang Le.

“O, ya. Aku akan memanggilmu Tiang Le twako, bolehkan?”

Tiang Le mengangguk.

“Dan kau jangan panggil aku siocia lagi. Panggil saja namaku…..”

“Terima kasih siocia, oh, Pei Pei!”

Gadis itupun tersenyum.

Tiang Le kagum sekali akan senyum gadis itu.

Senyum yang membawa kesan di dalam hatinya, terharu apabila ia ingat bahwa gadis itu telah sebatang kara.

Akan tetapi bagaikan disentak oleh pagutan ular pada kakinya, Tiang Le berdiri dan berkata.

“Pei Pei moay….., terima kasih banyak untuk segala kebaikanmu, dan sekarang aku hendak melanjutkan perjalananku….. terimakasih!”

Keruan saja Cia Pei Pei menjadi terkejut.

“Mengapa begitu twako, mengapa lekas-lekas pergi. Tinggallah di sini sampai lukamu sembuh benar. Sebentar Kwa-sinshe akan datang dan memeriksa lukamu lagi.

“Tidak Pei Pei moay (adik Pei Pei) setelah aku sadar, tak boleh lagi aku tinggal bersama-samamu. Kau seorang gadis terhormat dan aku seorang pemuda. Tak baik ini kalau diketahui para tetangga. Apa kata mereka terhadap aku dan dirimu?”

Merah wajah Pei Pei mendengar ini.

Hati perempuannya tersentuh oleh perkataan Tiang Le.

“Tidak Tiang Le twako, tempatku ini terpencil....... mereka tidak tahu engkau berada di sini, selain Kwa-sinshe itu.”

“Kendatipun demikian, tak boleh lagi aku ada di tempat ini, Pei Pei moay, biarlah aku pergi!”

“Twako……!”

Tiang Le memandang gadis itu.

Di mata Cia Pei Pei ada air membasahi menggenang. Berkaca-kaca mata itu memandang Tiang Le, sebuah air bening meloncat di ke dua pipinya yang putih halus.

Tiang Le heran melihat gadis itu.

“Pei Pei moay, kau baik sekali. Aku tidak akan melupakan segala kebaikanmu ini. Kelak Thian saja yang akan membalas budi baikmu. Pei Pei…... selamat tinggal dan sekali lagi terima kasih atas pertolonganmu kepadaku itu!”

Dari kelopak mata Cia Pei Pei mengalir turun bertetes-tetes air mata di ke dua pipinya. Matanya semakin basah.

“Tiang Le twako, kenapa selekas itu kau pergi….. Luka di lenganmu belum sembuh twako. Sebentar lagi Kwa-sinshe akan datang ke mari. Tidak maukah engkau menanti sebentar saja sampai Kwa-sinshe memeriksa lukamu sekali lagi??”

Tiang Le memandang mata yang basah itu. Tidak tega ia untuk menolak permintaan gadis yang telah menjadi penolongnya itu, apalagi melihat sinar mata gadis itu yang penuh harap dan permohonan, mata yang basah. Ah, tidak mau ia membuat gadis itu mengeluarkan air mata. Tak tega hati itu.

Tiang Le memegang tangan gadis itu.

“Baiklah Pei Pei, aku akan menantikan kedatangan Kwa-sinshe. Bilakah ia akan datang??” tanya Tiang Le.

Mata yang basah itu bersinar cerah.

Cia Pei Pei tersenyum menghapus air mata yang tadi berderai. Ia membalas genggaman tangan Tiang Le.

“Sebentar Kwa-sinshe akan datang. Twako, kau makanlah bubur itu. Aii, kau ngajakku berbicara terus sampai aku lupa menawari makanan, sampai dingin bubur di mangkuk itu, makanlah twako…!” berkata pula Pei Pei memberikan mangkuk bubur kepada Tiang Le.

Diterima oleh Tiang Le dengan tangan kiri.

Cia Pei Pai melirik ke arah lengan yang di balut itu.

Menarik napas dalam.

“Aii... sampai sekarangpun aku masih heran twako, siapa yang telah membuntungi lengan kananmu. Atau kau bertempur, ya, sampai tanganmu itu terluka?”

Untuk seketika awan-awan hitam menyuram di wajah Tiang Le. Akan tetapi melihat sinar mata si gadis. Ia jadi tersenyum pedih.

“Lengan kananku buntung bukan karena pertempuran Pei Pei moay, akan tetapi sumoay ku itulah yang membuntungi lenganku!” sahut Tiang Le perlahan.

Cia Pei Pei terkejut.

“Sumoaymu…… sumoaymu yang melakukan ini?”

Tiang Le mengangguk.

“Aii, betapa kejinya dia….. mengapa bisa begitu Twako?”

Tiang Le menggelengkan kepala.

Tersenyum pahit.

“Tidak apa-apa….. Pei-moay, sudahlah tak perlu kuceritakan itu. Oh, ya kudengar ada suara orang mendatangi,” berkata Tiang Le. Tentu saja dengan pendengaran telinganya yang sudah terlatih itu, ia sudah dapat mendengar langkah-langkah kaki orang mendatangi.

Cia Pei Pei melongok dari jendela yang terbuka.

“Itu Kwa-sinshe,” katanya sambil meninggalkan Tiang Le keluar dari kamar.

Sementara di dalam kamar sendirian itu, Tiang Le menghabiskan bubur yang tadi disodorkan Cia Pei Pei.

Tak lama kemudian pintu kamar terbuka, masuklah Cia Pei Pei dengan diikuti seorang tua. Orang tua itu sudah tua, umurnya sekitar limapuluhan. Berjenggot putih pula, panjang berjuntai di bawah dagunya, rambutnya sudah putih pula ditumbuhi uban. Matanya bersinar-sinar apabila melihat Tiang Le sudah dapat bangkit dan duduk di pembaringan. Sekilas matanya melirik ke arah lengan yang terbalut itu.

“Hee… hee sudah segar sekarang ya, apa masih terasa sakit?” datang-datang sinshe Kwa bertanya kepada Tiang Le.

Tiang Le menjura hormat dan berkata:

“Terima kasih atas pertolongan Kwa-sinshe yang telah merawat luka-lukaku. Aku yang muda Sung Tiang Le, memberi hormat,” kata Tiang Le sopan.

“Tidak apa. Sama-sama Sung sicu, aku hanya seorang ahli pengobatan biasa. Kalau engkau mau berterima kasih, kepada nona Pei Pei inilah yang telah menolongmu dari sungai itu dan merawatmu dengan penuh perhatian. Aku orang she Kwa hanya turut membantu saja.”

Kemudian bertanyalah Kwa-sinshe kepada Pei Pei:

“Nona, apakah dia sudah kau beri minum obat??”

Cia Pei Pei mengangguk. Orang she Kwa tersenyum puas.

“Bagus, minumlah terus akar obat itu. Godok sampai tiga kali juga boleh. Kurasa dalam tiga hari lagi lukanya itu akan sembuh benar. O ya, biar kuperiksa lukanya sekali lagi…..!” Berkata begitu Kwa-sinshe mendekati diri Tiang Le dan membuka balutan pada lengan kanan itu. Diberinya obat bubuk berwarna kuning dan balutannya diganti dengan yang baru.

Amat cekatan sekali orang she Kwa itu bekerja. Tidak berkata apa-apa dia di dalam memeriksa luka-luka itu. Baru setelah selesai ia mengganti balutan di lengan kanan Tiang Le, bibir yang tua itu tersenyum cerah.

“Sudah baik. Sudah baik, hayaa, baru saja tadi pagi aku memeriksa luka seorang gadis temannya Sin Thong, mukanya hitam kayak pantat kuali. Hangus. Kalau tidak keburu pertolonganku, sayang sekali wajah itu akan hitam dan rusak. Ganas memang pukulan Jing-tok-ciang dari sepasang Iblis Racun hijau.

“Ah, kau memang hebat Kwa-sinshe. Patut dipuji,” sahut Tiang Le memuji.

“Biasa saja Sung sicu. Hebat dan tidaknya ahli pengobatan she Kwa sepertiku ini, nyawa manusia masih di tangan Thian. Aku belum dapat menyembuhkan orang mati, hehe! Apa yang dapat dibilang hebat?” Kwa-sinshe berkelakar.

Tiang Le tersenyum.

Pei Pei juga tersenyum lebar.

Kwa-sinshe menoleh kepada Pei Pei.

“Nona Pei Pei aku permisi, sebentar lagi aku hendak memeriksa nona muka hitam dari racun Jing-tok, mudah-mudahan racun hijau itu dapat kuusir di wajahnya. Kalau tidak, kasihan. Akan cacadlah gadis teman Sin Thong muridku, hehehe, permisi nona Pei permisi Sung sicu.”

“Kwa-sinshe terima kasih,” sahut Pei Pei.

“Terima kasih,” Tiang Le juga berkata.

Apabila Kwa-sinshe itu sudah pergi. Di dalam kamar itu tinggallah Tiang Le dan Pei Pei. Ke dua-duanya saling memandang sekarang. Dua pasang mata itu saling bertemu. Saling merenggut.

Dan Tiang Le berdebar sekali hatinya melihat pandang mata yang penuh kelembutan itu. Tak kuasa ia menentang lebih lama lagi. Ia tertunduk dan berkata.

“Pei Pei……. sekarang tibalah saatnya kita berpisah, aku….... aku hendak pergi, hendak melanjutkan perjalananku.

“Ke mana tujuanmu, twako?”

“Entahlah adik Pei, ke mana saja kakiku ini membawanya, aku tak mempunyai tujuan sebetulnya.”

“Kalau begitu, mengapa kau begitu kesusu. Tinggallah di sini lebih lama twako!”

Tiang Le tersenyum lebar.

“Tak mungkin adik Pei, tak mungkin seorang pemuda dan seorang gadis tinggal serumah berdua-duaan saja. Kau maafkan aku.”

Merah wajah Pei Pei.

“Benar twako, tak mungkin kita selalu bersama-sama. Di mana ada pertemuan, di situ ada perpisahan……, ah, alangkah beratnya hatiku berpisah dengan twako......” suara Pei Pei terdengar bergetar penuh perasaan hati.

Tiang Le terkejut sekali dan menoleh. Menatap Pei Pei.

“Mengapa begitu adik Pei.....?” tanyanya.

Pei Pei tersenyum menggelengkan kepala.

“Maafkan aku twako..... sebetulnya..... tidak apa-apa! O ya, apakah sekarang juga kau hendak berangkat?”

Tiang Le mengangguk.

“Sekarang saja Pei moay,” sahutnya.

“Kalau begitu kau bawalah akar obat yang masih tersisa itu. Godoglah dan airnya diminum agar lukamu lekas sembuh. O ya, sin-she bilang tiga hari lagi lukamu akan sembuh, nah kau bawalah akar obat ini twako,” Pei Pei memberikan bungkusan akar obat dari Kwa-sinshe. Diterima oleh Tiang Le.

“Terimakasih Pei moay….. kau baik sekali. Budi baikmu akan selalu kuingat, Pei moay. Sekarang aku hendak berangkat,” sahut Tiang Le seraya tangannya menjinjing akar obat yang dibungkus dengan kain kuning.

Pei Pei menatap pemuda buntung itu, lama-lama pandangan matanya berkaca-kaca sayu. Setitik air mata meleleh lewat pipi kirinya, Pei Pei membalikkan tubuhnya dan berjalan ke luar kamar. Tiang Le mengikuti gadis itu dari belakang.

Apabila sampai di luar halaman itu.

Ke dua-duanya saling berpandangan.

Tiang Le mengangkat tangan kirinya dan memegang bahu Pei Pei.

“Selamat tinggal Pei Pei,” katanya.

“Selamat jalan Tiang Le twako. Kapan-kapan kalau kau kebetulan singgah di dusun ini, kau mampirlah ke sini dan ingatlah kepadaku twako.”

“Aku akan selalu mengingatmu Pei Pei, selamat tinggal…..!” Tiang Le melambaikan tangan kirinya.

Basah ke dua mata gadis itu.

Terharu sekali hati Tiang Le. Akan tetapi ia menekan perasaan dan berjalan lanmbat-lambat. Apabila ia menoleh ke belakang, nampak Pei Pei masih memandangi kepergiannya itu dengan air mata membanjir turun lewat ke dua pipinya.

Cia Pei Pei, betapa indahnya nama gadis penolongnya. Dan nama itu hendak diingatnya selalu. Disisipkan ke dalam isi hatinya. Sementara berjalan lambat itu, ia tersenyum dan terharu melihat kebaikan Pei Pei yang manis.

Sebuah bayangan lain menyelinap dalam benaknya.

Bayangan itu, bayangan Sian Hwa!!

Tiang Le menengadah ke atas. Tampak dari kejauhan puncak Tiang-pek-san diselimuti oleh salju menebal. Kenang-kenangan di puncak Tiang-pek-san membayang di ruang matanya.

Tiang Le tersenyum.

Lambat-lambat ia berjalan.

Semenjak Tiang Le menuntut ilmu di pegunungan Tiang-pek-san baru kali ini ia kembali ke dunia ramai. Hampir empat tahun lamanya ia di puncak Tiang-pek-san itu. Selama empat tahun itu, hari demi hari dilewatkannya dengan berlatih silat bersama-sama ke empat orang saudara seperguruannya. Kadang, ia mendengarkan wejangan-wejangan dari suhunya Swie It Tianglo dengan duduk berkeliling di ruang belakang Tiang-pek-pay, dan kadang-kadang pula ia memburu rusa atau kelinci di hutan pegunungan Tiang-pek-san bersama-sama saudara-saudara seperguruan. Atau kadang-kadang lagi ia mendengarkan cerita dongeng dari orang-orang tua di Tiang-pek-pay.

Banyak lagi.

Selama empat tahun itu ia hanya berkumpul dengan Sian Hwa, Bwe Hwa, Liok Kong In dan Song Cie Lay, di samping itu sekali-sekali suhunya datang memberi petunjuk dalam berlatih. Kadang-kadang pula pernah Kong In bertengkar dengan Cie Lay, atau Bwe Hwa bertengkar dengan Sian Hwa.

O, kenang-kenangan di puncak itu membayang sekarang di lubuk matanya. Teringatlah Tiang Le betapa empat tahun yang lalu, suhunya inilah yang menolong dia dari wabah penyakit kelaparan yang menyerang keluarganya.

Empat tahun yang lalu Tiang Le tinggal di sebuah dusun Ting-ling-bun. Dusun yang jauh sekali ke kota. Tempatnya terasing. Dusun ini berkepala keluarga ada sekitar limapuluh kepala keluarga. Dusun yang sederhana dan sangat miskin.

Keluarga Tiang Le adalah keluarga miskin. Ayahnya Sung Tek Han meninggal dunia akibat serangan penyakit jantung. Ia anak tunggal dari keluarga Sung. Dan sebagai anak keluarga yang miskin, Tiang Le sejak kecil mulai membantu ibunya menangkap ikan. Senang sekali ia bermain di sungai yang banyak ikannya itu. Sungai yang memberi mata pencaharian kepada limapuluh kepala keluarga. Dan ikan yang didapatnya diasinkan dikirim ke kota. Begitu kehidupan orang-orang di dusun Ting-li-bun ini.

Tentu saja untuk melancarkan hubungan dagang dari Ting-ling-bun ke kota Tiang An yang cukup jauh itu, banyak orang-orang dusun yang tidak sanggup berjalan sejauh itu, maka datanglah tengkulak-tengkulak ikan, membeli ikan asin di dusun ini dengan harga murah dan dijualnya ke kota dengan keuntungan berlipat ganda.

Tahu bahwa di dusun ini merupakan sumber penghasilan ikan yang cukup banyak maka muncullah tengkulak yang bernama Sie Tek Pek. Orang tua she Sie itu lantas mendirikan rumah di dusun itu dan berkat anak buahnya yang pandai ilmu silat sebagai tukang pukul, maka orang tua she Sie memonopoli daerah itu. Setiap nelayan tak boleh menjual ikannya ke daerah lain atau tengkulak lain, seluruh hasil pengasinan itu harus dijual kepada tengkulak she Sie itu.

Maka sejak itu terjadilah penekanan-penekanan terhadap orang-orang dusun, pembelian pengasinan ikan tidak memadai untuk kehidupan orang-orang di dusun, karenanya diam-diam banyak orang-orang dusun itu menaruh hati tak senang kepada keluarga she Sie itu, tetapi apa daya?

Mereka tidak bisa berbuat apa-apa.

Tukang-tukang pukul yang disewa oleh orang she Sie itu merajalela. Membeli ikan semaunya, dan tidak sebanding dengan harga ikan-ikan itu.

Pada suatu hari, datanglah musim kemarau yang panjang. Sungai Sin-kiang menjadi kering. Dan air sungai itu membawa bibit penyakit kolera, tipus dan disentri. Banyak orang dusun yang telah meninggal dunia terserang penyakit yang semakin mengganas ini. Termasuk juga ibu Tiang Le yang sudah tua itu. Tak tertahan lagi ibu itu, sehari cuma dan keesokan harinya tak kuat lagi ibu Tiang Le menanggung sakit pada perutnya dan meninggallah orang tua itu.

Betapa sedihnya hati Tiang Le.

Tak ada lagi kesedihan yang paling memilukan apabila seorang anak ditinggalkan ibunya. Ditinggalkan untuk selama-lamanya. Tak tahan Tiang Le akan musibah yang menimpa keluarganya. Orang satu-satunya yang kini masih merupakan tumpuhan kasih sayangnya juga harus menyerahkan kepada maut yang menjemput. Tiang Le pingsan di samping ibunya yang membujur kaku.

Sementara para orang-orang dusun mulai berdatangan. Dan ikut berduka cita atas kematian ibu Tiang Le. Hari itu, semua orang-orang dusun tidak menangkap ikan. Bukan saja sungai menjadi kering dan ikan-ikan pada mati di sana, melainkan juga mereka ini bersama-sama secara gotong royong pergi mengurus pemakaman ibu Tiang Le.

Tengah hari itu, udara cerah sekali.

Orang-orang dusun mengantarkan pemakaman ibu Tiang Le ke pekuburan. Tiang Le dengan menangis sedih mengiringi peti mati ibunya yang diusung oleh para tetangga. Berkaca-kaca mata anak muda itu melihat orang-orang yang mengantar. Hatinya penuh syukur dan terima kasih atas kerukunan orang-orang dusun itu. Meskipun mereka semua itu orang-orang bodoh tetapi di hati mereka itu tersembunyi rasa kasih di antara sama sendiri.

“Ibu...... mengapa kau secepat itu pergi…....? Mengapa kau tinggalkan aku! O, Ibu belum lagi aku membalas budi baikmu yang telah merawatku sampai besar....... kau sudah…... Ibu, Ibu!” Tiang Le mengeluh. Sementara matanya berkaca-kaca, jalannya tertunduk.

“Sudahlah Tiang Le..... jangan memberatkan kepergian ibumu dengan air mata….. yang sudah ya sudah....... ibumu sudah pergi ke tempat yang tenang dan tiada kesusahan. Ia sudah senang sekarang…... tinggal kita yang masih hidup, nggak tahu bagaimana nasib kita….. Tiang Le, makanya kalau seorang anak mau berbakti kepada orang tua, sebaiknya engkau berbaktilah selama waktu orang tuamu itu masih hidup. Senangkanlah hatimu….. hiburkanlah….. sekarang kalau sudah tiada lagi kesempatan untuk berbakti!”

Bertambah deras air mata Tiang Le mengucur.

“Betul lopek sekarang ini sudah terlambat….. aku belum sempat berbakti untuk ibu….. ibu sudah pergi.......ugh, ugh.”

“Hus mengapa kau bilang terlambat? Soal berbakti bukan saja kepada orang tua, selama manusia hidup, banyak kesempatan untuk berbakti. Berbakti kepada orang tua berbakti kepada negara....... berbakti kepada sesama hidup…… kepada saudara-saudara…… Tiang Le kalau kau mau berbakti, banyak sekali kesempatan itu, tentu kalau kau menjadi anak baik, menjadi orang yang berguna bagi masyarakat dan bangsa, ibumu di surga akan senang sekali melihatmu. Tak kecewa ia membesarkan engkau.......” Si kakek yang berjalan di sebelah Tiang Le menghisap pipanya dalam-dalam, asap rokok bergulung-gulung memutih di udara.

Dengan amat sederhana sekali. Selesailah sudah pemakaman ibu Tiang Le. Akan tetapi baru saja semua orang itu menyoja memberikan penghormatan terahir kepada mendiang ibu itu, Tiba-tiba terdengar suara tertawa keras.

“Ha ha ha, orang dusun dasar pemalas. Tidak pergi ke sungai menangkap ikan, malah ke tempat ini bersenang-senang dengan mayat. Apa kalian mencari mampus?”

Pucatlah orang-orang dusun ini mendengar suara itu. Belum lagi hilang herannya, tahu-tahu dari atas pohon itu meluncur sesosok tubuh dan berdiri di atas batu nisan sambil bertolak pinggang. Itulah dia, tukang pukul Sie Tek Peng yang berjuluk si Cambuk Maut Oey Goan.

“Hayo kalian kembali ke sungai..... pantesan penghasilan kalian banyak berkurang enggak tahunya kalian bermalas-malasan, hu, patut dihajar.” Si Cambuk Maut Oey Goan melecutkan cambuk hitamnya dan suara menggeletar memecut-memecut di udara.

“Harap Oey Goan sicu tidak menaruh marah kepada kami, baru saja kami memakamkan tetangga kami yang meninggal akibat terserang penyakit........ maafkanlah kami……”

“Tar tar tar!” Tiga kali pecut itu meluncur terjungkallah orang tua yang tadi berkata sambil memohon-mohon.

Pucat wajah Tiang Le melihat kepala kampungnya sudah putus nyawanya disambar tamparan pecut di tangan tukang pukul itu. Dengan sekali enjot tubuhnya Tiang Le meloncat maju dan menyerang Si Cambuk Sakti Oey Goan sambil membentak keras.

“Keparat! Anjing Sie Tek Peng…… rasakanlah pembalasanku!” dengan berani Tiang Le menjotoskan tangan kanannya ke arah perut tukang pukul itu.

Melihat betapa yang menyerangnya adalah seorang pemuda kurus dan berwajah pucat seperti orang berpenyakitan, dengan tertawa mengejek si cambuk sakti Oey Goan memutarkan cambuknya dan karuan saja ke dua tangan Tiang Le telah dapat dililit oleh cambuk itu. Bertambah panas hati Tiang Le. Ia melompat maju dan menendang.

“Duuk!” Perut si cambuk sakti Oey Goan kena tendangan kaki kanan Tiang Le. Namun bukan si cambuk sakti yang berteriak kesakitan malahan Tiang Le sendiri yang meringis merasakan kaki kanannya menjadi sakit sekali.

“Hee....... hee anak nggak tahu diri, sudah ditinggal mati ibumu masih berlagak, hayo, kau berlutut di depanku!!” Perintah si cambuk sakti Oey Goan sambil bertolak pinggang.

Tentu saja mana Tiang Le sudi berlutut di depan orang ini. Bukan dia berlutut malah sebaliknya, matanya melotot memandang Oey Goan dan makinya:

“Anjing penjilat pantat Sie Tek Peng aku berlutut di depanmu, lebih baik aku mengadu jiwa denganmu.”

Tiang Le meronta-ronta dan mengobat-abitkan cambuk yang masih membelit ke dua tangannya. Akan tetapi begitu cambuk ditarik oleh Oey Goan, tubuh Tiang Le terhuyung-huyung dan melayang jatuh. Jidatnya berdarah terhantam batu. Ke dua dengkulnya lecet bekas terseret cambuk yang ditarik Oey Goan.

Dua orang dusun itu maju ke dekat Si Cambuk sakti Oey Goan dan berlutut,

“Oey Goan sicu……, ampunilah anak ini, jangan kau mencelakakan Tiang Le. ampunkan dia sicu!”

Oey Goan menoleh,

“He he he, anak ini kurang ajar kepadaku, kalau dia mau berlutut tujuh kali kepadaku, niscaya cambukku ini akan mencabut nyawanya,” kata Oey Goan angkuh.

Sekali sentak tubuh Tiang Le melayang lagi dan kali ini tubuhnya menghantam batu nisan. Darah merah mengucur dari ke dua lobang hidung Tiang Le.

“Hayo kau berlutut anak setan!” bentak si Cambuk Sakti Oey Goan.

Tiang Le mendelik menatap Oey Goan.

“Tak sudi aku berlutut kepadamu! Tak sudi!”

“Setan! Kalau begitu mampuslah kau!” Cambuk di tangan Oey Goan terangkat naik membawa tubuh Tiang Le. Berputar-putar di udara, mengombang ambingkan tubuh Tiang Le yang berputar seperti kitiran. Hebat si Cambuk Sakti Oey Goan ini. Dengan memutar-mutar cambuk di tangannya tubuh Tiang Le berputaran di udara dan sekali si Cambuk Sakti menghentakan ujung cambuknya, tubuh Tiang Le melayang tinggi.

Terdengar jeritan dari orang-orang dusun melihat pemandangan yang mengerikan ini. Terbelalak ngeri mata mereka melihat tubuh Tiang Le yang masih melayang tinggi itu. Tepat di bawahnya sebuah batu nisan pekuburan siap menyambut tubuh anak muda itu. Akan hancurlah tubuh itu!

“He he, mampuslah bocah setan!”

“Tar tar tar!” Cambuk itu melayang lagi. Melempar lagi tubuh Tiang Le tinggi ke udara. Demikianlah tubuhnya dipermainkan oleh si Cambuk Sakti Oey Goan sambil tertawa-tawa seperti kanak-kanak yang kegirangan bermain layang-layang.

Pusing kepala Tiang Le dipermainkan seperti ini.

Akan tetapi ia masih dapat memaki.

“Anjing buduk…… turunkan aku, pengecut!”

“Hee…… hee, turunlah sendiri……. Turunlah kalau bisa!!” tertawa si Cambuk Sakti Oey Goan mempercepat putaran cambuknya.

“Setan! Anjing buduk! Anjing penjilat pantat Sie Tek Peng…… pengecut besar, kalau kau gagah, turunkan aku, rasakan pembalasanku!”

Tiang Le berteriak-teriak, sementara kepalanya semakin pusing. Tiba-tiba dirasakannya cambuk Oey Goan terlepas dan tubuhnya meluncur ke bawah. Saking ngerinya Tiang Le memejamkan matanya. Matilah aku!!!

Aiiiiii Tiang Le!! Orang-orang dusun memburu.

Sesosok tubuh dengan gesit sekali berkelebat dan mencelat tinggi, tahu-tahu tubuhnya Tiang Le telah ditangkap oleh sebuah tangan yang amat kuat.

“Siancay……. siancay, keji benar kau Oey Goan!” terdengar suara halus dan menusuk hati dan tahu-tahu di depan si cambuk sakti Oey Goan telah berdiri seorang kakek yang memegang tongkat di tangan. Sedangkan tubuhnya Tiang Le sudah dilepaskan oleh tangan kanan kakek yang telah menolongnya itu.

“Orang tua, siapakah engkau?” Oey Goan yang melihat gerakan orang tua itu demikian ringan dan telah dapat menyambar tubuh pemuda itu menjadi hati-hati sekali. Dan ia terkejut apabila pandangan matanya terbentur oleh tatapan sinar mata si kakek yang tajam menusuk.

“Oey Goan, kalau gurumu tahu engkau berkelakuan seperti tadi, tentu siang-siang engkau telah dijiwir oleh karena watakmu yang jahat itu. Sembarangan saja kau mencabut nyawa manusia apakah kau dapat menghidup kehidupan ini?”

“Orang tua…… kau berbicara seenaknya saja. Lekaslah minggat sebelum aku naik darah!” bentak si Cambuk Sakti Oey Goan mempermainkan ujung cambuknya melecut-lecut di udara.

“Oey Goan...... Bu Beng Siangjin itu adalah teman baikku. Hem, kalau kulaporkan kelakuanmu yang buruk ini, niscaya kau akan dapat jiwiran di telingamu!” berkata kakek itu tenang.

Terkejut juga hati si Cambuk Sakti Oey Goan,

“Kakek....... kau siapa?”

“Aku Swie It Tianglo dari Tiang-pek-san,” sahut kakek itu

“Kau...... kau Swie It Tianglo yang telah membunuh suteku, Lie Cu Seng murid Bong Bong susiok?”

“Awas juga matamu Oey Goan……, tapi sayang watakmu juga sama jahatnya dengan Lie Cu Seng, murid Bong Bong Sianjin!”

“Keparat....... kalau begitu kau harus mampus!” teriak Si Cambuk Sakti Oey Goan menerjang maju dengan sabetan cambuk yang seperti ular hitam hcndak membelit tubuh Swie It Tianglo.

“Wessss!” samberan cambuk itu lewat di samping si kakek Swie It Tianglo ketika orang itu dapat terkelit ke kiri dengan amat mudahnya. Panas sekali hati Oey Goan melihat samberan pecutnya luput dan dengan memekik-mekik ia menerjang lagi. Hebat sekali terjangan cambuk itu. Akan tetapi anehnya, tiada pernah cambuk itu menyentuh tubuh Swie It Tianglo seakan-akan cambuk hitam itu menghantam bayangan-bayangan saja.

“Ha ha ha….. Oey Goan mengapa ragu-ragu? Pukulan cambukmu itu, pukulan yang keras, biar tubuh tuaku ini menerima satu atau dua gebukan darimu…… memang pinggangku ini sedang rematik kepingin digebukin…… rasanya.... enak sekali kalau cambukmu itu memijit-mijit tubuh tuaku, hahaha….. pukullah yang kuat!” Swie It Tianglo mengejek sambil berloncatan lincah menghindarkan sambaran cambuk itu.

“Kakek gila kalau mau digebuk oleh cambukku jangan mengelak,” seru Oey Goan penasaran merasa melawan bayangan sendiri saja. Malu ia, masakan cambuknya yang terkenal dengan sebutan cambuk sakti itu sekarang tidak dapat menyentuh tubuh si kakek. Benar-benar memalukan.

“Ha ha ha! Benar juga Oey Goan aku sedang sakit pinggang, nah, pukullah kuat-kuat pinggangku.”

“Tar tar tar!” Tiga sambaran cambuk mengguntur menyambar pinggang si kakek. Melilit kuat. Dan seakan-akan melekat di pinggang si kakek, cambuk itu tak dapat dilepaskan lagi. Oey Goan membetot dengan kuat.

“Ayaa..... nggak enak dipijitnya, eh Oey Goan……. jangan tarik-tarik begitu nanti cambukmu putus tolol!” si kakek memaki.

“Keparat!” Oey Goan memaki.

Dengan kedua tangannya ia membetot kuat-kuat.

“Tesss!” cambuk itu putus ditengah-tengah saking kuatnya ditarik oleh si Cambuk Sakti. Dan akibatnya tubuh Oey Goan terpental lima meter bergulingan. Saking kerasnya ia terjengkang ke belakang, kepalanya membentur batu nisan sehingga di kepala itu tumbuh sebuah benjol sebesar telur bebek.

Oey Goan terhuyung-huyung. Meraba kepalanya yang benjol itu.

“Kubilang juga apa….. jangan tarik kuat-kuat…… rasain kau, apa masih kurang?”

“Kakek gila……. kucabut nyawamu!”

“He he he……, kau bukan Giam-lo-ong, mana berhak kau mencabut nyawaku. Hati-hati Oey Goan jangan-jangan Giam-lo-ong mendengar perkataanmu dan engkau sendiri yang akan dicabut nyawamu……!”

“Orang tua sombong! Mampuslah kau!” Sebuah pukulan jarak jauh dari Oey Goan menyambar tubuh Swie It Tianglo. Nampak jubah orang tua itu berderai-derai dan begitu si kakek mengangkat tangannya ke depan, tak ampun lagi untuk yang kedua kalinya tubuh Si Cambuk Sakti terjengkang. Kali ini amat keras tubuh itu tertumbuk batu nisan sehingga terdengar suara bergedebuk dan batu nisan itu semplak tertimpa tubuh Oey Goan yang meringis-ringis karena tulang belakangnya patah.

“Melihat muka Bu Beng, aku tidak menjatuhkan tangan maut kepadamu. Tapi awas sekali lagi aku bertemu denganmu, jangan berkata aku berlaku kejam. Nah minggatlah kau!” tongkat butut Swie It Tianglo mencukil ke depan dan tahu-tahu tubuh Oey Goan terlempar jauh.

Akan tetapi si Cambuk Sakti telah berdiri. Memegangi tulang pinggangnya yang remuk.

“Kakek sialan. Tunggulah pembalasanku nanti!” sekali berkelebat Oey Goan telah lenyap dari tempat itu.

Tiang Le menghampiri kakek sakti itu dan menjatuhkan diri berlutut.

“Locianpwe yang baik, terima kasih atas pertolonganmu kepada saya yang tiada berharga ini…….”

“Hm, ia sudah mabur, sekarang orang muda pulanglah kau ke rumahmu!” kata Swie It Tianglo.

Orang-orang dusun yang tadi melihat kelihayan si kakek sakti, berlutut pula. Dan seorang di antaranya berkata:

“Lopek….., tolonglah kami….. kami sebetulnya dalam tindasan sewenang-wenang dari tengkulak Sie Tek Peng. Kalau lopek tak keberatan tolonglah kau damaikan kami dengan orang she Sie supaya ia dapat memaklumi kami. Sungai-sungai pada kering dan ikan-ikan banyak yang mati, penghasilan kami sangat terbatas sekali kalau orang tua she Sie itu mau berdamai dengan kami …… senang kami bekerja.”

“Sudahlah…… bangunlah kalian. Sebelumnya aku sudah memberi hajaran kepada manusia she Sie itu. Kalian pulanglah kembali ke tempatmu masing-masing, eh……, orang muda kau kembalilah.”

“Locianpee yang baik, saya……, saya sudah tidak mempunyai sanak famili. Ibu saya baru saja meninggal dunia. Locianpwe……, kalau….. kalau tidak keberatan biarlah saya turut denganmu merantau,” sahut Tiang Le.

“Ikut denganku mudah saja orang muda. Sekarang kau pulanglah ke rumahmu. Tak baik kau ikut denganku sekarang. Bukankah kau masih berkabung kematian ibumu? Nah, kau kembalilah pulang ke rumah. Besok kalau kebetulan aku singgah ke sini aku akan membawamu serta, eh siapa namamu orang muda?” tanya Swie It Tianglo. Diam-diam matanya melirik, dan alangkah girangnya ketika matanya itu dapat melihat tulang yang baik dan berbakat dari anak muda itu untuk belajar silat.

“Siapa namamu?” tanyanya lagi.

“Nama saja Sung Tiang Le, cianpwee.”

“Sung Tiang Le……” Swie It Tianglo mengulangi nama itu dan sekali menggerakkan tubuhnya tahu-tahu Tiang Le dan orang-orang dusun kehilangan kakek yang tadi masih berdiri.

“Hebat, kakek itu bisa menghilang!”

“Dia memang sakti!”

“Eh, Tiang Le kalau engkau dapat ikut dengan kakek itu wah, kau pasti bisa menghilang seperti dia.”

Ramailah orang dusun membicarakan tentang kakek sakti yang telah menolong Tiang Le dari permainan maut Oey Goan dan mengusirnya.

Benar saja sejak kemunculan kakek sakti itu tidak ada lagi tukang-tukang pukul dari Sie Tek Peng yang berkeliaran di dusun-dusun. Tak ada tengkulak-tengkulak yang memaksa penduduk untuk menyerahkan hasil penangkapan ikan penduduk. Tidak ada bentakan-bentakan dari tukang pukul.

Akan tetapi mara bahaya tetap saja mengancam penduduk dusun Ting-ling-bun itu. Bahaya kelaparan merajalela di sana sini. Ikan-ikan sungai pada mati akibat air sungai yang mengandung racun dan kering akibat musim kemarau yang begitu panjang tahun ini. Sumur-sumur dan telaga kering. Dan akibatnya sawah-sawah menjadi tandus dan gersang. Bahan gandum sedikit sekali dan itu siang-siang telah didrop oleh orang-orang berduit.

Penduduk dusun mengharapkan hujan.

Dan hujan tak kunjung datang

Dan kemarau semakin panjang......

Akibatnya bahaya kelaparan terjadi di dusun ini!

“Lapar! Lapar!” Teriakan-teriakan anak-anak kecil sungguh menyayat-nyayat hati, mengiris-iris jantung si ibu yang tak dapat lagi memberikan makan kepada anaknya.

Di mana-mana terancam bahaya kelaparan. Bersamaan dengan itu berbagai penyakit bermunculan menyerang penduduk. Satu persatu nyawa-nyawa manusia meninggalkan tubuhnya. Di mana-mana terdengar ratap tangis dari orang-orang yang ditinggal mati.

Si mati membujur tenang.

Si hidup menangis ditinggal si mati. Mengeluh panjang pendek akan kehidupan yang menyengsarakan badan. Badan yang semakin hari tinggal kulit berbalut tulang. Badan yang sudah mulai kurus kering.

Seorang pemuda berjalan lunglai. Perutnya terasa perih bukan main. Matanya berkaca-kaca basah melihat pemandangan yang mengenaskan hatinya. Mendengar ratapan si kecil yang ditinggal mati ibu, ratapan-ratapan yang menangisi perut yang minta diisi.

Tang Le termenung sendirian.

Jauh terbentang di depannya sawah-sawah yang tandus dan kering tak mengeluarkan gandum. Sungai Sin-kiang tak mengeluarkan air lagi. Pepohonan tak lagi mengeluarkan kuncup, dedaunan itu sudah patas diambil orang untuk dimakan. Tidak ada lagi yang menghijau di sana. Segalanya serba tandus dan gersang.

Tiang Le berjalan perlahan.

Seorang anak kecil menghampiri sebuah rumah gedung di depan sebelah sana. Suara anjing menggonggong panjang menyalak-nyalak menyambut si anak kecil itu di halaman rumah.

Si anak kecil yang kurus kering itu menangis. Ketakutan digigit anjing Sementara, mulutnya meratap.

“Ibu…… lapar….. ibu…… lapar, aduh…..!”

Menangislah anak itu.

Tiang Le menghampiri anak itu.

“Adik kecil, kenapa kau menangis di dalam rumah orang?”

“Ugh….. ugh lapar, ngko…... kasih aku nasi dong, aku lapar….. aduh perutku sakit!”

Tiang Le terhenyak mendengar ratapan anak kecil itu. Ia juga tengah kelaparan saat itu, bagaimana ia dapat menolong anak ini???

“Adik kecil……”

“Ngko aku lapar, aduh…… nggak tahan perutku!!”

Tiang Le kebingungan.

Tiba-tiba pintu rumah gedung itu terbuka, seorang gadis remaja mendatangi,

“Kau??”

“Cici minta nasi, aku lapar!” kata anak kecil itu sambil menghampiri gadis itu.

“Waah kau lagi…… barusan tadi pagi aku berikan kau nasi,” sahut si gadis.

“Cici, nasi yang tadi pagi sudah habis. Sekarang lapar lagi…….”

“Kau lapar??”

Anak kecil itu mengangguk.

Tiang Le menghampiri gadis itu.

“Nona, kalau kau mempunyai persediaan berikanlah pada anak ini, kasihan…..”

Gadis itu menoleh dan tanyanya:

“Kau siapa???”

“Aku penduduk dusun sebelah sana itu. Di sana banyak orang mati kelaparan.”

“Aku tahu…... memang sekarang jamannya orang mati kelaparan.”

“Nona, anak itu kelaparan, apakah kau dapat menolongnya?”

Gadis itu tersenyum.

“Sebentar…… aku akan ambilkan sedikit gandum,” berkata demikian gadis itu berlalu masuk ke dalam rumahnya.

Tiang Le menarik napas lega menghampiri anak kecil itu.