-->

Pembunuh Gelap Jilid 10

Jilid 10

Karena tidak dapat melampiaskan rasa kebenciannya, Ai Ceng telah menguyapkan kata2 yang seperti tadi.

Orang berbaju hitam adalah orang yang Ai Ceng kumpulkan dari cabang-cabang perusahan pamannya. Ilmu kepandaian mereka tidak berarti, Menyaksikan bagaimana gagahnya musuh itu. mereka manjadi gentar.

Setelah dibentak sampai dua kali, baru mereka maju kembali.

Wie Tauw tidak tega untuk membunuh orang2 ini, ia memukul pergi setiap senjata yang terarah ketempat dirinya, didalam sekejap mala, terjadi hujan senjata, ada juga yang salah jatuh, melukai kawan sendiri. Pedang Wie Tauw bergerak tanpa peryuma, setelah terjadi benturan-benturan senjata, alat2 itu telah bertebaran banyak.

Yang menguntungkan pihak Ai Ceng yalah jumlah mereka yang berjumlah besar, begitu senjata jatuh, mereka memungut kembali dan terjun kedalam gelanggang pertempuran, silih berganti, bergiliran mereka menyerang musuh.

Beberapa saat Wie Touw kewalahan tidak boleh terlalu sayang kepada jiwa2 itu, segera ia berteriak :

"Hei! Rombongan manusia goblok Dengarkan baik2 peringatanku. Siapa yang berani maju lagi, berhati hatilah dengau jari2 tangan kalian."

Ancaman itu disertai dengan kenyataan, Wie Tauw memapas putus beberapa jari orang yang menyerang dirinya terdepan.

Mereka menjerit jerit.. 5 orang membalikkan badan dan meninggalkan tempat pertempuran.

Didalam sekejap mata, penyerangan orang2 berbaju bitam itu mengendur. Mereka lebih suka berteriak teriak ditempat jauh, dari pada harus menempur musuh tangguh dengan jarak dekat, resiko itu terlalu besar, bagi mereka yang berani maju lagi, pasti mengalami papasan jari.

Rasa ketidak puasan Ai Ceng menjadi jadi ia membanting kaki. "Goblok. Goblok " Ia memaki "manusia goblok, lekas kalian pergi

yauh yauh". Orang-orang berbaju hitam itu mendapat kesempatan untuk menyelamatkan jari jari mereka dari tajamnya pedang Wie Tauw, mereka mengundurkan diri,

Wie Tauw tertawa berkakakan

"Betul. tidak seharusnya kau memberi umpan yang terlalu empuk. perintahkanlah kepada mereka, agar pulang kerumah, membersihkan kuda kuda"

Ai Ceng mempunyai pendapat yang sama, dengan adanya orang- orang ini, tiada artinya untuk membantu meng-clear-kan keadaan, bahkan dari pada itu, mereka banyak mengacaukan gangguan, menjatuhkan pamor Sangleng The churg dan Su-thong-bee-kie- bang, Segera gadis ini membentak.

"Pergi Semua orang pergi pulang memelihara kuda-kuda itu," Orang-orang berbaju bitam menduga kepada umpat cayi biasa,

tidak seorangpun dari mereka yang berani berkutik dari tempatnya.

Ai Ceng semakin marah, ia memandang rombongan itu dan membentak:

"Kukatakan pergi. Tidak dengarkah akan adanya perintah ?"

Tidak seorangpun dari mereka yang tidak mendengar perintah tersebut, mereka saling pandang dengan perasaan bingung. Kukuh tidak bergerak pulang.

Sepasang alis sigadis terangkat naik, tiba2 tubuhnya bergerak, menerjang rombongan orang berbaju hitam itu, pedangnya dimainkan yepat, maka tiga diantaranya mengeluarkan jeritan, dengan darah berceceran, mereka lari pulang.

Ditanah, masih terlihat tiga telapak tangan yang masih segar hidup.

Orang2 berbaju hitam segera sadar bahwa perintah sang nona majikan bukanlah kata2 yang keluar dari muluinya saja, perintah itu harus segera ditaati, serentak mereka berteriak, melarikan diri, bubar Kini disana hanya tinggal dua orang, itulah lt kiam tin bu lim Wie Tauw dan Ai Ceng

Ai Ceng memandang sang kekasih dengan dingin, ia berkata: "Tentunya, kau menganggap diriku sudah tidak berdaya

kepadamu, bukan ?"

"Kepintaran nona Ai jauh berada diatas orarg Belum pernah aku memikirkan kejadian yang seperti itu." Berkata Wie Tauw lompat turun dari kuda tunggangan.

Kau cukup pintar. Tentunya sudah tahu bahwa jenazahmu akan dikebumikan ditempat ini."

"Dengan pedang yang berada ditanganmu itu?"

"Aku tidak dapat menggunakan pedang mengalahkanmu. Tapi masih bajak cara untuk melenyapkanmu dari permukaan bumi."

Dengan sikap bersungguh sungguh, Wie Tauw berkata :

"Nona Ai, jangan kau membenci orang seperti itu ? Betul bahwa kedudukan diriku bertentangan dengan ayah dan pamanmu. Cintaku kepadamu belum padam, aku..."

"Cukup " Sigadis memotong pembiyaraan orang. "Aku tidak mau dengar."

"Maksudku hendak mengajak kalian kejalan yang benar, tinggalkanlah kejahatan"

"Sampai pecah lidahnya, tidak mau aku mendengar keteranganmu, kecuali. "

"Bagaimana?"

"Kecuali kau menyebut nama aslimu. Membuka penyamaranmu." "Tentu saja. Pada suatu hari, aku akan membuka kedok It kiam

tin bu lim Wie Tauw. Aku bukan sembarang orang, aku masih membutuhkan pcnyamaran. Tapi bukan hari ini."

"baik. Segala keterangan tidak akan kudengar." "Dengarlah perlahan-lahan, maksud tujuanku menggunakan nama It kiam Tin bu lim Wie Tauw dengan suatu rencana besar, aku harus berhasil Dan tiada pernah terkandung maksud2 jahat untuk mengelabui dirimu "

"Apa maksud tujuanmu menyamar sebagai si Pedang Penakluk Rimba Persilatan It kiam tin bulim Wie Tauw ?"

"Aku mempunyai dendam penasaran yang belum bisa ditebus. Dengan menggunakan wajah It kiam tin bu lim Wie Tauw aku harus membikin teratg perkara itu."

"Kau menerima jabatan Duta Nomor Tiga Belas dari Su hay tong sin beng, kau pergi ke Siauw lim sie, menggagalkan rencana kami. Kau menggunakan kelemahanku, menyelusup masuk ke dalam Sang leng Te cung, semua rentetan kejadian juga ada hubungan dengan penyelidikanmu untuk menebus dendam penasaran itu?"

"Betul"

"Hah! Kau kira, kau dapat berhasil ?"

"Kukira, Iangkahku itu belum mengalami kegagalan."

"Dengan menempatkan dirimu pada posisi yang bertentangan denganku, bagaimana aku harus berdiri ?"

"Aku menempatkan diriku pada tempat yang banar."

"Langkah langkahmu tidak dipat kuterima. Jangan harap aku dapat..." Wajah Ai Ceng berubah menyadi merah. Ia tidak meneruskan kata-katanya.

"Dengarlah keteranganku. " berkata lagi Wie Tauw. Nona Ai, umurmu masih terlalu muda, tapi sudah dapat membedakan kebenaran dan keburukan. Tentunya kau tahu, bagaimana sifat2 dan kepribadian ayahmu, dari pekerjaannya yang mengerjakan pembesetan kulit kulit manusia, dapatkah kau mengatakan sebagai kebenaran?"

"Ayah dan ketiga pamanku tidak pernah membeset kulit manusia." Ai Ceng mengadakan bantahan. "Pembelaan yang sangat tidak masuk diakal." berkata Wie Tauw. "Harus diketabu1, menyuruh orang-orang melakukan perbuatar- pe>buatan terkutuk menempatkan diri mereka pada dosa-dosa yang lebih besar. Semua tanggung jawab berada pada ayah dan ketiga pamanmu."

"Segala perintah bukan keluar dari mereka." Ai Ceng membantah.

Wie Tauw segera teringat akan adanya seorang Raja Gunung, ternyata orang yang bernama Raya Gunung itulah yang menjadi biang keladi.

"Eh, masih ada orang yang memberi perintah kepada ayahmu? Siapakah orang itu?" la me tunyukkan rasa terkejutnya. Ai Ceng menguyek-nguyek mata ia berkata ;

"Tidak kuberi tahu "

Wie Tauw tidak memaksa, dengan tenang, ia berkata : ,

"Betul. Setiap orang mempunyai rahasia. Diantara kita memang sudah tidak ada hubungan sama sekali, bukan ?"

"Apa ?" Ai Ceng terpaku ditempat. Wie Tauw berkata :

"Karena sesuani hal, aku tidak dapat memberi tahu nama asliku. Tentu kau marah kepadaku, mengupat yanyi dan mengatakan aku tidak jujur. Kini kau tidak memberi tahu, siapa yang mengepalai komplotan tukang beset kulit. Alasannya, mudah dimengerti, kau tidak ingin membuka rahasia. Sama-s«ma kita mempertahankan diri, suatu bukti belum adanya penyesuaian diri yang lebih mendalam, kau masih berada jimbang pintu keragu raguan, cintamu belum mencapai seratus persen."

"Kau yang tidaK cinta seratus persen." Debat Ai Ceng tidak mau kalah.

"Kita berdua, sama mempunyai kesulitan, lebih baik kuatur seperti ini. " Ai Ceng memasang kuping tajam2, memandang sipemuda, menunggu lanjutan dari kata2 itu.

It-kiam-tin bu lim Wie Tauw batuk2 sebentar, kemudian berkata :

"Untuk sementara, kita jangan mengorek rahasia orarg, masing2 melakukan tugas. Jangan kau ambil tahu siapa diriku, akupun tidak memaksa kau membongkar rahasia keluarga kalian. Bila sampat terjadi bentrokan dengan ayahmu, aku akan berusaha memberi kelonggaran, kau tidak perlu turut campur. Pada suatu hari... Kukira tidak lebih dari setengah tahun, setelah aku berhasil membunuh musuhku, aku akan menemui, dihadapan semua orang, membuka kedok penyamaranku, kau segera tahu, siapa diri asliku, kuberi tahu nama asliku. Nah itu waktu, permusuhan kita telah selesai. Setuju ?"

Ai Ceng menjebikan bibirnya yang keyil.

Keenakan kau." Ia kurang setuju. Usul Wie tauw seperti mengulur waktu merugikan pihak perempuan.

"Perkebunan teh San-Yeng The-cung telah dibakar, bagaimana mengatakan enak aku?"

"Hari ini, yang kuhendaki yalah nama aslimu Lain tidak."

"Bila kuberi tahu nama asliku, ludaslah semua harapan untuk menuntut balas."

"Aku akan merahssiakannya."

"Terima kasih. Terus terang Aku suka kepadamu. Tapi masih kurang percaya, tidak mungkin kau dapat memegang rahasia"

"Aku akan bersumpah tidak membocorkan rahasia."

"Tiada guna. Hati manusia tidak dapat diukur dengan kau, termasuk janji muluk"

"Tidak mau memberi tahu nama aslimu." "Maaf"

"Baik kau boleh pergi." Kata2 Ai ceng yang terakhir diucapkan dengan penuh keikhlasan Wie Tauw menjadi curiga tidak mengerti.

Disaat ini, ia lihat seluruh udara menjadi merah, itulah api.

Si Pedana Penakluk Rimba Persilatan itkiam-t.B-by lin Wie Tauw terkejut, ternyata api merah telah mengurung mereka

"He, kau menyuruh orang-orangmu melepas api?" la menegur kekasihnya.

Dengan tenang, Ai Ceng menganggukkan kepalanya.

"Betul" Keadaan gadis itu masih seperti biasa. "itupun termasuk salah satu dari rencanaku. Setelah aku tidak berhasil mengalahkanmu, api akan menghanguskanmu."

"Kemarahan Wie Tauw tidak dapat dilukiskan, la membentak. "Lupakah bahwa kau belum berhasil melepaskan diri? Kau juga

akan menjadi sate daging, tahu?"

"Telah kupikir masak2. Aku bersedia berkorban, kau telah mencium diriku, setelah itu, ingin mengelakkan diri? Lebih baik kita mati bersama, bukan?"

"Kentut. Sebentar lagi, kita menjadi daging bakar, masih ada itu kesenangan untuk menggoda orang ?"

"Sudah tahu lihaynya nonamu?"

"Sungguh keterlaluan. Kau harus diberi hajaran. "Hajarlah." Ai Ceng memasang pipinya. Parrrrr.....

Wie Tauw menempeleng pipi gadis tersebut.

Suatu hal yarg berada diluar dugaan Ai Ceng. Tidak pernah dibayangkan, betul2 pemuda itu menempeleng dirinya. Ia berteriak sakit, kemudian membentak.

"Hei, mengapa menamper orang ?"

Kata2 tadi disertai dengan gerakan, Ai Ceng mengayun pedang, ditusukkan , kearah tubuh sipemuda. Dengan gerakan yang sangat gesit, Wie Tauw menghindari tusukan pedang itu, kemudian membalikkan tangan,ha, menangkap pergelangan si gadis dengan mengerahkan tenaga dalamnya, ia membuat Ai Ceng berteriak mengaduh, pedang terlepas jatuh.

Ai Cing meronta ronta, ia berusaha melepaskan dirinya dari kekangan sipemuda terlalu keras.

"Ampun, tidak ?" Wie Tauw membentak. "Tidak." Ai Ceng tidak mau kalah.

Wie Tauw memeluk gadis tersebut semakin keras, perasaan cinta dan benci berkeyamuk. Akhirnya rasa cinta memenangkan segala perasaan, ia menciumi kakasihnya.

Beberapa saat, Ai Ceng berusaha mamberontak, hendak melepaskan diri. Tapi tidak berhasil, la menyerah, dibawah ciuman Wie Tauw yang bertubi2, ia menggeliat lemah.

Wie Tauw berhasil menundukkan lawannya. Tapi api telah barkobar besar, mengurung semua tempat disekitar mereka.

Dengan mengeluarkan satu keluhan napas panjang. Wie Tauw melepaskan kekangannya.

Bersandar disebuah pohon, Ai Ceng menangis sesenggukan. "Menangislah." Berkata Wie Tauw. "Menangislah sepuas hatimu."

"Pemuda mata keranyang, berani kau menghina diriku, uh. uh, uh..." Ai Ceng masih menangis. "Jangan terlalu cepat cepat puas, sebentar lagi, akan kulihat. bagaimana kau membebaskan diri dari bahaya kurungan apiku"

Disaat itu, api telah mengulek semakin besar orang2 yang Ai Ceng bawa melepas letupan api dipuluhan tempat. Rumah itu kering, dengan cepat menjalar panjang.

"Aku tidak ada niatan untuk mengganggu dirimu." Berkata Wie Tauw. "Aku betul2 cinta padamu." ,

"Betul kau cinta? Buka|ah kedok penyamaranmu. Siapa kau ?" Ai Ceng masin penasaran. It-kiam tin bu lim Wie Tauw adalah penyamaranan Ie Lip Cong. Diketahui Ie Lip Tiong telah menjalankan hukuman mati, darimana pula muncul lain It kiam tin Bu lim Wie Tauw?

"Kau harus bersabar" Berkata sijago ajaib. "Paling lambat setengah tahun lagi, segera kau mengetahui wajah asliku "

"Didalam jangka waktu setengah tahun, kau pasti mengetahui musuh besarmu, dan membunuhnya?"

"Pasti."

"Bila kau tidak berhasil ?"

"Tidak mungkin. Aku adalah Pedang Penakluk Rimba Persilatan. It kiam tim bu lim Wie Tauw yang ternama, seorang tokoh ajaib yang belum pernah mengalami kegagalan. Jangka Waktu setengah tahun itu sudah terlalu lama sekali."

"Aku tidak percaya. Aku ingin tahu, dimisalkan kau mengalami kegagalan, bukankah tidak dapat melihat wajah aslimu?"

"Baik. Aku berjanji, didalam jangka waktu setengah tabun, berhasil atau tidak, aku akan membuka kedok penyamaranku, kau segera tahu, siapa orang yang menjadi kekasihmu."

"Bila kau tidak menepati janji?"

"Ha, ha, ha. Kau kira aku orang apa?"

"Aku meminta kenyataan, bukan janji kosong"

"Sungguh keterlaluan. Bagaimana kau tidak percaya kepadaku?" "Aku minta janji yang berisi."

"Baik. Ada beberapa tokoh dewa yang daput dijadikan pegangan kuat, akan kusebut nama2 mereka. Cukup tenar, kau harus percaya kepada mereka."

"Siapakah orang itu ?"

"Pernah dengar nama Dewa Ketenangan Bu Eng?" "Dia menjamin pelaksanaan janjimu?"

"Tentu. Bila aku menelan janji, kau boleh menegur dirinya," "Baik. Aku percaya kepada Bu Eng cianpwe." Ai Ceng

menganggukkan kepala. "Masih ada lain orang ?"

"Orang kedua yang menyamin kepercayaanku adalah Dewa Kesuyian Bu Ong."

"Bagus. Dan orang ketiga ?"

"Orang ketiga adilah Dawa Kecerdikkan Bu Khun." "Orang keempat ?"

"Eh, dengan adanya ketiga pendekar dewa-dewa tadi yang menjadi orang jaminanku, masih kau tidak percaya ?"

"Maksudmu, bila ada sesuatu yang terjadi kepadamu, aku boleh menegur mereka?"

"Betul. Ketiga cianpwe harus diperyaya, mereka dapat memberi tahu siapa aku"

"Kudengar nama-nama para pendekar kedewaan mereka pada puluhan tahun yang lalu, mungkinkah masih ada didalam dunia?"

"Ketiga cianpwe tadi telah menolong diriku, tidak perlu kau ragukan kehidupan mereka. Mereka masih ada. Setengah tahun kemudian, bila aku tidak menepati janji, kau boleh membikin perhitungan dengan mereka."

"Huh, mungkinkah aku dapat menandingi ilmu silat ketiga orang yang kau sebut tadi?"

"Kau salah mengerti, yang kuartikan dengan membikin perhitungan, bukanlah menempur mereka. Kau menceritakan semua kejadian kepadanya, bila aku yang bsrsalah, mereka dapat membunuh diriku, tahu"

"Dimana aku harus menemukan Pendekar setengah dewa itu?" "Kau harus pergi kesebuah desa yang bernama Seng cu, desa ini terletak dibawab kaki gunung Lu san. Setelah itu, kau harus mencari sebuah tempat yang bernama Lam yun, ditempat itu ada sebuah empang, kau bersihkan kakimu diempang, hanya beberapa asal, pasti ada orang yang menegurmu, beritahu kepada orang itu, bahwa kau hendak bertemu dengan tiga pendekar silat yang telah mencucikan diri, orang itu akan mengajakmu bertemu dengan ketiga cianpwe."

"Kulihat kau beryerita dengan lancar, tentunya bukan isapan jompol, bukan?"

"Ha, ha, ha. Kau kira It kiam tin bu lim Wie Tauw tukang bohong

? Kau harus percaya kepada keteranganku."

"Apa guna peryaya? Lihatlah, api itu telah menjalar semakin dekat."

Barkobarnya api sangat cepat, lidah merah telah berjuluran diseluruh tempat, membakar semua yang ada, suara pik pik pok pok dari bambu dan kayu peyab terdengar jelas, mengurung dua insan ilu ditengah tengah.

Wie Tauw mengkerutkan kedua keningnya. •Heran..." Ia mengoceh seorang diri. "Mungkinkah orang2mu tidak tahu, bahwa kau masih beserta denganku ?"

"Kukatakan kepada mereka, bahwa aku membawa burung raksasa, dengan burung itu, aku dapat terbang tinggi, melepaskan diri."

"Dimanakah burung yang kau bawa itu ?" Bertanya Wie Tauw, timbul harapannya untuk meloloskan diri dari korban dibakar api.

"Tentu saja tidak ada Bila tidak kukatakan demikian, mungkinkah mereka mau membakar diriku ?"

Wie Tauw menarik napas.

"Agaknya kau sudah bosan hidup." Ia menggerutu.

"Mengapa kau tidak baik2 memperlakukan diriku ?"Ai Ceng melirik kearah pemuda itu. "Bagaimana harus menolong diri dari bahaya api ?" Wie Tauw sedang mengasah otak. Ia tidak melayani tantangan sigadis. Jalan yang harus ditempuh yalah segera membebaskan diri dari tempat itu.

Ai Ceng tertawa getir. "Tidak baikkah kita mati bersama ?" Sigadis lebih suka mati bersama. Dari pada menanggung derita,

hidup tanpa kasih cinta.

"Pikiran yang sudah gila." Wie Tauw membentak. "Kita harus berusaha, kita harus keluar dari kurungan api2 ini. Kita orang tidak boleh mati." ,

"Mati hidup kita orang berada didalam genggaman api itu, bukan berada ditanganmu."

Wie Tauw tidak mendebat sigadis, otaknya yang lihay sedang bekerja. Jago ayaib dari Boan-khio Piauw-kiok dikota Tiang-an pernah menggegerkan semua pelosok tempat Hal itu bukan tanpa sebab, belum pernah Wie Tauw mengalami kegagalan. Karena itu, ia sangat peryaya kepada dirYnya, sendiri.

Beberapa saat kemudian, tiba2 Wie Tauw menepuk paha, ia berteriak :

"Ha haa...- Likas bantu aku membuat lubang."

Wie Tauw telah menggunakan pedangnya mengorek tanah.

Ai Ceng mengerti akan maksud tujuan pemuda itu. tentunya hendak membuat suatu perlindungan dibawab tanah, ia tertawa-

"Tiada gura." Berkata sigadis yang sudah mempunyai kenekatan untuk mati. "Panasnya apipun cukup untuk menamatkan riwayat hidup kita

"Lekaslah bantu mengorek tanah." Bentak Wyc Tauw "Dimisatkan hendak matu, tidak puaskah mati bersama-sama dengan diriku ? Berkalang di satu lubang yang kita buat dengan keempat tangan kita sendiri? Kau hendak mati bersama? Lekaslah membuat lubang kuburan. Lambat sedikit, tiada tempat untuk mengubur dirimu, tahu ?"

Wie Tauw bicara tanpa menghentikan gerakan tangannya,

sebentar kemudian, ia telah membuat suatu lubang kecil.

Ai Ceng juga turun tangan, ia berpikir, tidak salahnya membantu kekasih yang sudah diambang pintu maut itu, dimisalkan mereka mati, karena mati dibawah tanah, mati bersama pemuda idamannya, iapun yukup puas Pedangnya bergerak cepat, ia membantu usaha Wie Tauw, membuat lubang kematian, lubang kematian untuk mencari kehidupun, lubang kematian untuk menolong diri, lubang untuk memperpanjang hidup mereka.

Atas kecepatan dan kekuatan sepasang makhluk itu, lubang telah terbuat, cukup untuk mengisi keduaanya.

Mulai terdengar ringkikan kuda, binatang itu sudah merasakan adunya bahaya panas, lari kian kemari. tapi Tidak berhasil, seluruh daerah itu telah menjadi lautan api.

Selesai membuat kubangan tanah, Wu Tauw lompit naik keatas, ia menyingkirkan pohon-pohoa yang berada diatas tempat perlindungannya. Sudah terasa sekali panasnya api.

Didalam tempat perlindungan itu, Ai Ceng dapat merasakan datangnya bahaya kebakaran, sigadis berteriak-teriak :

"Hei, apa yang kau perbuat diatas ? Lekas, kemari. Lekas kemari."

Wie Tauw selesai membuat semua persiapan dengan satu lompatan yang indah, ia terjun masuk.

Mereka meringkal ditempat perlindungan baru, kubangan tanah yang belum lama selesai di buat.

Lidah api memain dengan hebat.

Walaupun berada dibawah tanah, panas yang luar biasa masih menyerang mereka. Butiran keringat membasahi baju, berulang kali Ai Ceng menyusut keringat-keringat itu. "Bagaimana?" Wie Tauw memandang sang gadis. "Sangat panas? Inilah hasil buah pekerjaanmu. Senjata makan tuan, api yang dilepas orang-orangmu menggarang tuan putri sendiri. Tidakkah kaurasakan, betapa kejam langkah yang kau ambil ?"

"Tidak kusangka, kau adalah musuh didalam selimut. Tidak mungkin hidup bersama hal ini terbatas didalam dunia, kukira putusanku tidak salah diakhirat, kita dapat hidup bersama, Aku tidak menyesal."

Gadis itu tersenyum. puas karera ia dapat tetap memiliki orang idamannya.

Wie Tauw merangkul tubuh yang lemas itu, ia berkata: "Sudahlah, jangan keluarkan kata2 yang seperti itu lagi. Kulihat,

kaupun sangat lelah, tidurlah didalam kubangan tanah ini. Menunggu redanya api."

Setelah mengadakan pembakaran perkebunan teh Sang leng The chung, Ai Ceng mengikuti ayah dan pamannya melakukan pengejaran, ia sedang tidur, sangat lelah sekali, didalam rangkulan Wie Tauw, gadis itu mengatupkan kedua matanya, tidak lama kemudian, iapun tertidur sangat pulasnya.

It kiam tin bu lim Wie Tauw tidak kalah kantuk, ia lebih menderita dan gadisnya. Menunggu redanya api yang memain main diatas kepala, ia pun tenggelam didalam keuangan impian, tidur tanpa dirasa.

Mereka tidur didalam rangkulannya sang kekasih, panasnya api diatas telah dilupakan sama sekali.

Dikala menjelang fajar, Wie Tauw bangun lebih dahulu, hari telah menjadi terang, panas yang menyerang badan sudah mereda, ternyata, api telah sirap.

Wie Tauw menoleh kesamping, Ai Ceng masih tidur nyenyak, sangat lelap. Perlahan lahan meletakkannya ditanah, Wie Tauw lompat naik keatas. Memandang keadaan sekeliling dirinya, tanah telah menghitam itu, rumput2 tinggi dan semua pohon hangus menyadi kering, menghitam seperti orang mati terlihat kepulan aiap melepus, perlahan sekali.

Keadaan telah menjadi tenang.

Disuatu tempat, Wie Tauw melihat sang kuda tunggagannya; meringkal menjadi satu, daging kuda telah msnjadi hangus hitam, itulah panggang kuda hidup. Korban keganasan api.

Wie Tauw mengeluarkan satu keluhan panjang. la harus memnbikin terang pembunuhan yang menuangkut ayahnya, pembunuhan sipemuda berkerudung hitam Su khong Eng Sebelum tugas itu selesai, mungkinkah boleh berkasih kasihan? ia harus berhati hati, tidak boleh lupa diri. Orang yang menjadi kakasihnya adalah putri dari komplotan penjahat?

Wie Tauw mengambil putuian untuk meninggalkan Ai Ceng.

Untuk sementara, ada baiknya memisahkan diri dari gadis itu.

Peronda berkerudung hitam yang memfitnah dirinya adalah Su- khong Eng, suheng Ai Ceng diatas mereka masih ada Ai Lam Cun, Ai Pe Cun, Ai Tong dan Ai See Cun.

Diatas keempat orang masih ada seorang RAJA GUNUNG, orang yang menjadi otak dari semua kejahatan2, orang inilah yang merenyanakan semua kejadian.

Siapi si Rija Gunung? Siapakah empat keluarga Ai ?

Wie Tauw harus mengetahui hal itu. Ia baru meninggalkan Ai Ceng.

Dangan menggunakan ujung pedang, Wie Tauw menulis beberapa patah kata, tulisan2 itu ditujukan kepada Ai Ceng, mengatakan penuh penyesalan, atas kepergiannya tanpa pamit.

Si Pedang Penakluk Rimba Persilatan, It-kiam tin-bu-lim Wie Tauw melanjutkan perjalanan. Meninggalkan sang kekasih.

Jalan yang menuju kearah pemecahan rahasia dirinya telah menjadi rata.

Ia harus membasmi komplotan si Raja Gunung. Dapatkah Wie Tauw mengalahkan komplotan itu ? Siapa si Raja Gunung ?

Bagaimana Wie Tauw menempatkan cinta kasihnya kepada siputri penjahat ?

Mari kita mengikuti yerita dibagian belakang. xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

TANGGAL 15 bulan Delapan. Pagi2 sekali, seorang pemuda dengan wajah kucel, pakaian kotor penuh debu, dengan langkahnya yang seperti kehabisan tenaga menaiki puncak Ngo-lo-hong digunung Lam-san. Itulah It-kiam tin-bulim Wie Tauw. Melakukan perjalanan siang malam akhirnya Wie Tauw tiba juga ditempat tujuan.

Menurut rencana si Raja Gunung, mengikuti langkah2 sipemuda berkerudung hitam Su-khong Eng, dua jago ulat kelas satu, Ai Tong Cun dan Ai See Cun telah diselundupkan masuk kedalam Su-hay- tong- sim-beng. Mereka menggunakan 'baju' Duta Istimewa Berbaju Kuning, maksudnya menjatuhkan gerakkan gabungan para jago rimba persilatan.

Wie Tauw harus menggagalkan rencana busuk itu.

Memasuki pintu gerbang gabungan rimba persilatan, terlihat dua batu besar. Datas batu ada tulisan seperti dibawah:

Menegakkan keadilan dan kebenaran Mengatasi kesulitan dan perselisihan

Demikian kata2 yang menjadi moto Su hay tong sim beng.

Didalam markas besar Su hay tong sim beng belum terlihat gerakan musuh, keadaan masih tenang, Untuk menyambut hari besar, semua bangunan telah dikapur putih, serba bersih. Para Wakil dari partay dan golongan rimba persilatan beristirahat ditempat gardu pemandangan, ada yang bercakap cakap, ada yang memperbinyangkan teataug ilmu silat dan beberapa diantaranya memain catur.

Wie Tauw mulai menaiki langgan undakan batu yang meouju keatas gunung, Seorang laki2 tinggi besar mencegatnya.

"Saudara ini jangan maju lagi " Demikian berkata laki2 itu. "Hari ini Su hay tong sin beng sedang istirahat. Tidak terima tamu."

"Aku tahu. Maksud kunjunganku bukan bertamu." Demikian Wie Tauw msniyawab, "Maksud saudara ?"

"Menyembangi famili." Jawab Wie Tauw sangat singkat. "Wakil dari partay manakah yang menjadi familimu?" "Duta nomor Delapan, Pendekar Pengembara Lu Ie Lam."

"Aaaaa..." Sipenjaga gunung tidak berani memandang rendah sanak Lu Ie Lam. "Bolehkah aku mengetahui nama saudara"

Wie Tauw meratap tajam laki2 itu, ia berkata kepadanya : "Kau orang Suhay tong simbeng?"

"Betul." Berkata orang itu. "Hari ini aku dapat glliian tugas." "Tolong beri tabu krpada Lu Ie Lam, katakan, kepadanya, adik

misannya telah tiba." Wie Tauw tidak mau menyebut nama. Ia meragukan keaslian orang ini, siapa tahu, mata-mata dari pihak musuh?

Orang itu segera memberitahukan berkunjungnya seorang tamu kemarkas mereka.

Tidak lama kemudian, terlihat Lu Ie Lam berlari datang Ia tiba dihadapan Wie Tauw, ditatapnya, sebentar sang adik misan, dan dengan terkejut ia berteriak ;

"Aaaaaa .... Kau   "

"Betul." Cepat-yepat Wie Tauw menubruk maju. li harus mencegah Lu Ie Lam menyebut namanya seolah olah seorang pendatang jauh, orang yang baru terhindar dari kesusahan, Wie Tauw merangkul si Duta Nomor Delapan.

"Toako, rumah sulah dilanda banjir.,." Demikian Wie Tauw bermain sandiwara. "Aku telah kehilangan rumah tempat tinggal. Satu keluarga telah berantakan, ayah dan ibu mati, semua binatang peliharaan dihanyutkan oleh air, isi rumah tergenang. Uh,"

Lu Ie Lam adalah orang yang membawa Ie Lip Tiong kemarkas besar Su hay tong sim beng. la berhasil menangkap Ie Lip Tiong, orang menjadi ketua muda 0ey-san pay atas hasil jasa sijago ajaib dari perusahaan aneh Boah ciu Piauw-kiok, It kiam tn bu lim Wie Tauw, Tentu saja Lu Ie Lam tidak tahu, bahwa Ie Lip Tiong adalah penyamaran Wie Tauw. Kini dilihat kedatangan pemimpin perusahaan aneh itu berkuujung datang ia, menduga adanya urusan penting. Menarik tangan Wie lauw, ia berkata :

"Mari kau tinggal bersama sama denganku." Mereka mendaki gunung.

"Apa yaug telah terjadi?" Demikian Lu I3 Lam mengajukan pertanyaan.

Wie Tauw tidak segera menyawab pertanyaan itu, terlihat seorang mendatangi, itulah Duta Nomor Enam, si Pendekar pedang Kayu, Koan Su Yang.

Koan Su Yang sedang berjalan datang, sepasang matanya memperhatikan tamu yang berkunjung kemarkas besar Su hay tong sim beng itu tiba2 ia menghentikan langkahnya, menatap tajam tajam.

"Eh, siapakah orang ini?" Ia meminta keterangan Lu Ie Lam. "Adik misanku." Jawab si Pendekar Pcnggembara Lu Ie Lam.

Itu waktu, tangan Wie Tauw yang memegang jari Lu Ie Lam dikeraskan, maka Si Duta Nomor Delapan yang pintar segera mengarti, tidak boleh membocorkan rahasia orang. "Rumahnya dilanda banjir, sepasang orang tuanya telah tiada, ia meminta bantuanku." Demikian Lu le Lam meneruskan keterangan.

Pendekar Pedang Kayu Koaa Su Yan mengerutkan alis, ia berkata:

"Belum penah kudengar bahwa Lu tatsu mempunyai seorang adik misan."

Lu Ie Lam tidak puas, segera ia mendebat :

"Koan tatsu belum pernah mendengar bahwa aku mempunyai seorang adik misan, karena itu segera memastikan bahwa aku tidak boleh membuat seorang adik misan?"

Didalam hati Lu Ie Lam bekata, bagus ternyata kau telah menyelidiki rumah keluargaku ? "

Koan Su Yang tertawa terbahak bahak, katanya gembira: "Saudara misanmu itu tentunya mempunyai ilmu silat yang

tinggi."

"Hanya melatih beberapa tahun." Lu Ie Lam berkata. "Mana boleh dikatakan mempunyai ilmu silat yang tinggi?"

Koan Su Yang menganggukkan kapala, dnn meneruskan porjalanannya. ia sedang mendapat tugas untuk mengadakan perondaan.

Wie Tauw dan Lu Ie Lam melanjutkan perjalanan mereka.

Ditengah jalan, Lu Ie Lim mengajukan pertanyaan:

"Orang tadi adalah Pendekar Kayu, Koan Su Yang, Duta Nomor Delapan dari gerakan kita Saudara Wie tidak kenal padanya ?"

"Siapa yang mengatakan tidak kenal ?" wie Tauw tertawa. "Yang jelas, dia tidak kenal kepada diriku."

"Duta2 berbaju kuning adalah orang sendiri, mengapa saudara Wie melarang menyebut namamu?"

"Telah terjadi sesuatu, bawalah aku kekamarmu." Berkata Wie Tauw

Lu Ie Lam mengajak Wie Tauw kedalam kamarnya, si Pendekar Pengembara sangat taat dan patuh kepada tokoh ajaib itu, dua kali ia meminta bantuannya, dua kali pula berhasil.

Dikala Lu Ie Lam pertama berkupjuig kekota Tiang-an, memasuki perusahan Boan chiu Piauw kiok, ia meragukan kepindaian Wie Tauw. itu waktu ia meminta pertolongan Wie Tauw untuk mencari dan menemukani Ie Lip Tiong. ia berhasil, Lu Ie Lam memuyi kepintaran dan keakhlian si tokoh ajaib.

Permintaan kedua adalah menemukan pemuda berkerudung hitam Su khong Eng. Ie Lip Tiong mati penasaran karena fitnah Su khong Eng. Atas persetuyuan semua orang Duta Istimewa Berbaju Kuning, Lu Ie Lam meminta pertolongan Wie Tauw. Juga berhasi1, didalam gereja Siauw lim sie, Su khong Eng kena tangkap, dan kini berada didalam kamar tahanan Su hay tong sim beng

"Cong piauw tauw," Berkata Lu Ie Lam. "Katakanlah, apa yang telah terjadi?"

Wie Tauw menguap, ia terlalu letih. Walaupun demikian, ia masih mempertahankan dirinya, memperhatikan seluruh isi kamar, setelah betul2 mengetahui tidak ada orang ketiga, barulah ia berkata .

"Amankah biiyara ditempai ini ?"

"Sangat aman. Tidak ada orang yang berani mencuri dengar percakapan kita." berkata Lu Ie Lam.

"Termasuk Duta2 Berbaju Kuning?"

"Eb, cong piauwyuw meragukan kemurnian hati mereka ?" "Orang yang kupsryaya hanya seorang." Demikian It kiam tin bu

lim Wie Tauw berkata.

"Dia adalah kau, Lu tatsu."

Lu Ie Lam belum mengarti duduk pcrkara, Duta Nomor Delapan ini pernah melihat pembesetan kulit manusia, tapi ia belum tahu, akan adanya sesuatu komplotan yang dapat menggunakan baju2 itu melakukan kejahatan2.

"Bila kau takut didengar orang, kita boleh biyara dengan tekanan gelombang tinggi." Lu le Lam mengajukan usul.

Wie Tauw bermaksud menyetujui saran itu, mereka harus bicara dengan ilmu Toan im Jie bie, satu pembiyaraan kelas tinggi, mereka dapat bicara tanpa didengar orang ketiga, hal ini untuk menghindari turut campurnya orang yang tidak bersangkutan, sangat penting.

"Dua belas hari aku mslakukan perjalanan siang hari malam, dengan maksud tujuan untuk menyampaikan. satu berita penting." Demikian Wie Tauw mulai bicara dengan ilmu Toan im Jie bie. Selama 12 hari, aku hanya mengisi perut 4 kali, istirahat 2 kali, menggunakan ilmu Toan-im Jie bie sangat memakan tenaga, kukira aku tidak dapat bertahan lama."

Suara Wie Tauw sangat lemah sekali. Lu Ie Lam terkejut.

"Oh, pantas saja suaramu kedengarannya tidak bertenaga, aku sedang heran, apakah yanyi lelah menimpa perusahaan Boan chiu Piauw-kiok! Mengapa datang dengan wajah kucal seperti itu? Ternyata membawa suatu berita penting Tidak mengapa, istirahatlah dulu, biar sebentar kita melanjutkan pembicaraan lagi, setelah kau puas tidur."

Wie Tauw menggelengkan kepala. "Tidak ada waktu lagi." Ia berkata.

"Tidak ada waktu lagi?" Lu Ie Lam mengulang pembiyaraan orang, ia batal meninggalkan kamarnya. Maksudnya hendak memberi kesempatan istirahat kepada sang tamu. Mendengar kata2 tadi, ia terhenti, langkahnya yang sudah diayun ditarik kembali.

Wie Tauw berpikir sebentar, kemidian mendapat akal, ia membuka pintu kamar, dengan tertawa berkata :

"Kini kita tidak perlu takut mendapat kunjungan tamu luar, tanpa diketahui, bila mereka datang, kita pun dapat melihat kodatangannya."

"Kau pintar." Lu Ie Lam memuji, "Berhati2 adalah pangkal keselamatan."

"Cong piauw tauw," Panggil Lu Ie Lam. "Mengapa kau tidak percaya kepada 12 Duta istimewa Berbaju Kuning?"

"Lu Tatsu, berapakah jumlah Duta Istimewa Berbaju Kuning didalam gerakan Su hay tong sim beng?"

"Jumlah Duta Istimewa Berbaju Kuning tepat 12 orang, setelah dikurang Hakim Hitam Can Ceng Lun yang mengundurkan diri, jumlahnya hanya tinggal sebelas orang. Tapi mendapat tambahan dirimu, Duta Istimewa berbaju Kuning Nomor Tiga Belas. Jumlah kita tetap 13 orang. Walaupun demikian, kita tetap menyebut dengan 13 Duta Istimewa Berbaju Kuning. Dengan harapan, pada suatu hari, Cang Ceng Lun kembali lagi."

Si Pendekar Pengembara tidak tahu, pengunduran diri Si Hakim Hitam Cang Ceng Lun dari jabatan sebetulnya ada hubungan dengan Ie Lip Tiong

Wic Tauw tahu, tapi tidak mau mcnyebut kejadian itu.

"Oh, aku lupa menguyapkan selamat padamu." berkata Lu Ie Lam. "Secara resmi, kau telah di terima menjadi Duta Istimewa Berbaju Kuning dari gerakan Su hay tong sim beng, dengan urutan nomor Tiga Belas."

"Terima kasih Jabatan sebagai Duia Nomor Tiga Belas dirahasiakan, bukan ?"

"Betul. Pendekar Kedewaan Hong lay San ong akan mengadakan pengumuman dan pengesahan, setelah mendapat perseiujuanmu."

"Berapa orangkah yang mengetahui tentang urusan ini ?"

"Hanya Hong lay Sisn ong dan para Duta istimewa Berbaju Kuning." "Tidak ada orang luar ?"

"Tidak mungkin diketahui orang luar, sedangkan semua wakil dari partay dan golonganpun tidak diberitahu. Semua orang diwajibkan menyimpan rahasiamu."

"Tapi ada sesuatu komplotan jahat yang telah mengetahui kedudukanku sebagai Duta Istimewa Berbaju Kuning Nomor Tiga Belas."

Wajah si Pendekar Pengembara Lu Ie Lam nampak berubah. "Mana mungkin ?" Ia tidak pecaya.

Tapi hal ini telah terjadi. Rahasia bocor dari salah satu Duta Istimewa Berbaju Kuning juga."

"Tidak mungkin. Aku Lu Ie Lam berani mempertaruhkan yiwa, kepribadian Duta Istimewa Berbaju Kuning telah mengalami ujian berat, mereka bukanlah orang mayam itu."

"tentu saya Lu tatsu beranu menyamin kepribadian duta Istimewa Berbaju Kuning, tapi diantara mereka, paling sedikit telah kesusupan dua orang luar. Dua diantara 13 Duta Istimewa Berbaju Kuning adalah manusia palsu."

"Manusia palsu?" Belum pernah Lu Ie Lam mendengar istilah sebutan seperti ini.

"Bstul. Yang kuatirkan sebagai manusia palsu adalah menggunakan kulit masing2 yang dipalsukan, dengan menyelimuti diri mereka kedahm kulit yang sudah dikeringkan, mereka memegang peranan sebagai Duta Istimewa Berbaju Kuning. Sehingga, Duta Istimewa berbaju Kuning yang asli. Duta Berbayu Kuning yang bersangkutan telah tiada mereka telah dibunuh komplotan penjahat"

"Aaaaa Lu Ie Lam mendengar suatu barita baru.

"Kedatanganku dihari ini yalan untuk memberi tahu kejadian tadi." Berkata lagi It kiam-tin-bu-lim Wie Tauw. "Dari mana cong-piaw-Tauw tahu berita ini? Adakah buktt2 yamg nyata?" Lu le Lam masih tidak percaya. Para Duta Istimewa Berbaju Kuning adalah jago tanpa tandingan, setelah mengalami keprihatinan dan kejujuran hati mereka, baru dapat diangkat sebagai Duta Istimewa, bukan

manusia biasa, rata2 mempunyai ilmu silat tinggi, siapakah yang dapat membunuhi mereka ? Bahkan sampai lebih dan 2 orang ?

"Aku mendapatkan surat mereka yang boleh dijadikan sebagai bukti." kata Wie Tauw.

"Mana surat itu?" Lu Ie Lam mengeluarkan tangan, meminta surat yang dikalakon sebagai bukti boyornya rahasia penting didalam Su hay tong sim beng.

Bila penambahan Duta Istimewa Berbaju Kuning baru yang sangat dirahasiakan dapat bocor keluar, mudah dibayangkan, umum rahasia Su hay tong sim beng bukanlah rahasia lagi. Musuh telah berhasil menyelusup masuk ke dalam pimpinan kelas tinggi dan gabungan para yago silat itu.

Dari dalam saku bajunya, Wie Tauw mengeluarkan surat yang didapat dari dua anak penunggang burung, itu waktu, ia baru keluar dari ruang rahasia dibawah tanah dari perkebuuan teh Seng leng The chung.

Menerima surat pemberian Wie Tauw, Lu Ie Lam membaca dengan suara pcrlahan:

"Memo kepada Ai Lam Cun dan Ai Pek Cun. Persiapan Ai Tong Cun dan Ai See Cun didalam gerakan Su hay tong sim beng telah selesai. Waktu untuk membunuh Hong lay sian ong di tetapkan pada tanggal lima belas bulan delapan.

Segera beri bantuan kepada mereka. Su khong Eng telah di giring oleh 18 Lo han dari Siauw lim pay, kini telah berada didalam kamar tahanan Su hay tong sin beng. Kagagalan Si khoog Eng disebabkan oleh munculnya It kiam tin bu lim VVie Tauw dari Boan chiu Piauw kiok. Jejaknya kini tidak diketahui, besar kemungkinan sudah berada disekitar Sang leng The yhung, kalian harus berhati2 kepada tokoh aneh ini, dia telah menyabat Duta Istimewa Berbaju Kuning Nomor Tiga Balas."

Selesai membaca Lu 1e Lam lalu mengangkat muka msmandang wayah Wie Tauw dengan penuh ketegangan.

"Siapa Ai Lam Cun, Ai Pak Cun, Ai Tong Cun dan Ai Sie cun itu ?" "Mereka adalah guru dan paman guru dari si pemuda

berkerudung hitam Su khong Eng."

"Aaaa... Su khong Eng hanya menduduki urutan tingkat ketiga?

Diatas Su khoug Eng masih ada dua tingkat lainnya?"

"Betul. Pucuk pimpinan tertinggi berada ditangan seseorang yang menamakan dirinya sebagai Raya Gunung."

"Tidak ada kata2 yang msnyebut mereka menyamar sebagai Duta Istimewa kita." Demikian Lu Ie Lam berkata.

"Rahasia itu kudapat dari salah satu pengawal di Sang-leng Tbe- chung."

"Dikatakan Ai Tong Cun dan Ai See Cun menyelusup masuk kedalam gerakan kita, mungkinkah kedua orang ini yang menyamar sebagai Duta Istimewa Berbaju Kuning?" Lu Ie Lam mengutarakan pendapat.

"Tentunya dua orang itu yang memegang puyuk pimpinan mata- mata didaerah kita, mereka adalah paman-paman guru Su-khong Eng."

"Bagaimana Cong piauw tauw bisa mendapst surat ini ?" Lu Ie Lam adalah seorang yang sangat teliti, tidak mudah percaya kepada setiap fakta fakta ciptaan manusia.

"Cerita itu terlalu panjang, akan kujelaskan lain kali. Kini aku harus menemui Hong-lay Sian-ong dimanakah ia berada?"

"ilmu kepandaiannya sangat tinggi. Jangan kau mengkhewatirkan keselamatannya. Tidak mudah membunuh orang orang seperti kita. Apa lagi Hong-lay Sian ong."

"Dimana kini ia berada?" Wie Tauw mengulang pertanyaannya. "Sedang bermain yatur dengan Duta Nomor Sembilan, si Lampu

Besi Thiat-teng Hwe-sio."

"Hanya dua orang?" Hati Wie Tauw semakin memukul keras. "Legakan hatimu, beberapa duta baju kuning lainnya juga berada

disana, mereka turut menonton pertandingan catur itu, inilah babak kelima, setelah melakukan pertarungan karet selama S babak, kini mereka mulai memasuki babak kenam

"Lebih baik memberitahu bahaya pembunuhan gelap yang akan dilakukan kepada dirinya." Wie Tauw mengajukan usul.

Pendekar Pengembara Lu Ie Lam menganggukkan kepala. "Segera kuberi tahu berita itu." katanya. Diserahkan kembali

surat si Raja Gunung

Meninggalkan Wie Tauw didalam kamarnya, Lu Ie Lam berjalan pergi.

Dikala melewati palang pintu, tiba2 Wie Tauw meneriakinya: "Lu tatsu. "

Lu Ie Lam menolehkan diri, memandang tokoh ayaib itu.

"Jangan sampai para Duta istemewa lainnya mengetahui berita berita yang kubawa." Wie Tauw memberi pesan.

"Aku tahu." Dan Lu Ie Lam lelah melesat kearah tempat tuyuan.

Wie Tauw lelah, ia membaringkan diri.

Hanya beberapa saat, samar2 Wie Tauw sudah hampir jatuh tidur, ia dikejutkan oleh satu suara, cepat2 melejit bangun, dikala membuka mata, terlihat seorang kakek telah berdiri diambang pintu.

Orang itu sudah sangat tua. wajahnya bulat tidak terlihat tanda2 ketuaannya, mulutnya selalu bersungging senyuman, sangat menarik bati bagi orang yang melihatnya, seoluh olah sikapnya kanak2 yang suka berkelakar.

Orang ini adalah Duta istimewa Nomor Dua, si Boyah Tua Koo Sam Ko

Wie Tauw pernah berkunyung kemarkas besar Su hay tong sim beng, maka ia dapat mengenali si Bocah tua Koo Sam Ko, hanya kedudukannya itu kali berbeda, hari ini, ia datang sebagai seorang biasa, seolah olah tidak kenal kepadanya, ia menatap kakek tersebut.

Koo Sam Ko hendak mencari Lu Ie Lam, maka ia mendatangi kamar si Pendekar Pengembara, di sini ia tidak menemukan orang yang hendak dicari. Hanya melibat seorang laki2 dengan wajah kumal, penuh kelesuhan.

"Hei," Tegur Duta Nomor Dua itu. "Siapa kau ? Mengapa berada ditempai ini?"

"Boanpwe adalah adik misan dari Lu tatsu. "Wie Tauw memberikan keterangan.

"Kemana perginya Lu Ie Lam?" Bertanya lagi Koo Sam Ko. "Saudara misanku sedang ada urusan, ia pergi keluar. Tapi tidak

lama, sebentarpun, ia akan tiba kembali."

Ko Sam Ko menarik sebuah bangku, ia duduk ditempat itu.

Mulutnya menggerendel:

"Sial. Lu Ie Lam ini paliog susah ditemukan. Setiap kali ada urusan, selalu ia pergi. Apa guna kamar, bila tidak ditempati ?"

Dengan sikap yang hormat Wie Tauw mendekati orang tua itu. "Cianpwe mencari saudara misanku, tentunya ada urusan.

Bolehkah aku tahu, urusan tersebut?" Demikian Wie Tauw berkata.

Dari dalam saku bajunya, Koo Sun Ko mengeluarkan sebuah bumbung dengan bangga berkata :

"Aku berhasil menangkap seekor Kie bu pa, luar biasa galaknya. hendak kutantang lagi saudara misanmu itu." Wie Tauw tidak mengerti.

"Kie bu pa " Ia mengulang kata2 orang. "Benda apakah itu?"

"Lihatlah sendiri" koo Sam Ko menyodorkan bumbungnya didalam bumbung itu terdapat seekor jangkrik.

Kie bu pa adalah nama yang Koo Sam Ko berikan kepada jangkriknya.

"Aaa .... Kau hendak mengajak saudara misanku mengadu jangkrik?" Wie Tauw dapat menduga maksud tujuan si Bocah Tua

"Betul." Koo Sam Ko mengangguk "Dahulu, karena kelengahanku, kurang mengkilik jangkrik, eku dikalahkan oleh saudara misanmu Kini, aku hendak menebus kekalahan dahulu."

Wie Tauw harus barhati bati kepada manusia palsu, sedangkan ai Bocah Tua. Duta Nomor Dua Koo Sam Ko berada didepannya. ia tidak tahu. mungkin Koo sam Ko asli, mungkin juga Koo Sam Ko palsu. Ia harus menaruh kewaspadaan".

Mendengar ajakan Koo Sam Ko yang hendak mengajak. Lu Ie Lam mengadu jangkrik, Wie Tauw mewakilinya menolak tawaran.

"Hari ini, saudara misanku banyak urusan. Tidak ada waktu untuk mengadu jangkrik." Demikian ia berkata

"Eh..." Wayah Koo Sam Ko ditekuk masam." Mengapa kau yang menolak?"

"Kukatakan kami banyak urusan, lain kali sajalah."

"Mana boleh. Kemarin kau tidak datang, besok kau tidak datang. Mcngapa memilih hari ini berkunjung datang ? Dikala aku hendak mengajak saudara misanmu mengadu jangkrik?" Koo Sam Ko sangat marah.

"Aku bukan dewa, mana kutahu cianpwe hendak mengadu jangkrik hari ini?" "Lekas kau kembali kerumahmu. Besok kau datang lagi Urusan dengan saudara misanmu boleh ditunda dulu. Biar aku mengajaknya mengadu jangkrik" Koo San Ko mau menang sendiri.

"Dari tempat yang bcrjarak ribuan lie, aku berkunjung kemari. Bagaimana kau yang mengusir?" Wie Tauw tertawa, kejenakaan si Boyah Tua agak menarik.

"Baik. Aku tidak mengusir. Tapi kau tidak boleh mengganggu usahaku yang mengajak saudara misanmu itu mengadu jangkrik." Berkata Duta Nomor Dua yang Bersifat seperti anak kecil.

"Aku tidak bermaksud mengganggu kesenangan kalian." kata Wie Tauw "Tapi aku percaya, saudara misanku tidak mempunyai waktu."

Koo Sam Ko semakin sibuk, ia menggaruk-garuk kepala, bangkit meninggalkan bangku duduknya, berjalan mundar mandir beberapa saat, tiba2 ia berteriak, berlompat.

"Aha Saudara misanmu tidak punya waktu, tapi kau ada." Bocah Tua itu girang sekali. Seolah menemukan jalan untuk memecahkan kesepiannya. "Kau harus menemani aku mengadu jangkrik."

It kiam tin bu lim Wie Tauw mentertawakan otak si Bocah Tua yang kurang encer, didalam hati, sangat geli sekali.

"Akupun tidak mempunyai waktu." Katanya "Juga tidak memelihara jangkrik."

Dari dalam sakunya. si Boyah tua mengeluarkan lain tabung.

Diserahkan kepada Wie Tauw seraya berkata :

"Boh goan ja kuberi pinjam kepadamu. Mari.... mari kita mengadu jangkrik.:

Tanpa meminta persetujuan orang, Koo Sam Ko menggoreskan jari, maka lantai kamar Lu Ie Lam telah dirusak olehnya, terlihat satu jalur panjang untuk mengadu jangkrik.

Wie Tauw mengetahui bahwa 12 Duta Istimewa Berbaju Kuning dari Su hay tong sim beng tiada yang berkepandaian rendah, melihat cara Koo Sam Ko membuat lubang aduan, tanpa menggunakan tenaga sama sekali, dalam hati, ia memuji kehebatan ilmu jari si Boyah Tua.

Hanya kesiap siagaannya belum lenyap. ia tidak tahu, bagaimana keasliannya Duta Nomor Dua ini ? Mungkinkah mata2 musuh juga ?

Koo Sam Ko lelah meletakkan tabung yang kriknya diujung jalur tanah.

"Hayo ia berkata, "lepaskan jagomu:"

Wie Tauw melepas jangkrik yang bernama Boh goat saya itu, jauh lebib keytl dari jangkrik lawan.

"Lha... Mana mungkin mengalahkan jangkrikmu?" ia tertawa. "Pasti dia menang." Bsrkata Koo Sam Koo. "Namanya Boh goan

ja, berarti Hantu galak di malam hari, diapun seekor jangkrik aduan, pengalaman tempurnya telah menjuarai semua jangkrik2 aduan. Pasti yangkrikmu yang menang."

Wie Tauw tertawa.

"Nah, kau psgmg Bah goan ja." la menyerahkan jangkrik aduan yang kecil itu kcpada si Bocah Tua.,

Koo Sam Ko menggeleng golengkan kepala.

"Jangan." Ia menolak. "Kie bu pa belum pernah masuk kedalam gelangang pertempuran. Namanya jago baru, kukira ia tidak dapat melawan, jagomu. Kau adalah tamu, tidak baik mengakali orang, bukan ?" .

"Tidak menyadi soal." Wie Tauw sangat geli Dtkatakan Si Bocah Tua tidak hendak mengakali orang, tapi kenyataan adalah demikian, dengan mau meyerahkan jangkrik kecil kepadanya, dan memegang siraksasa jangkrik sebagai pegangan diri sendiri, mungkinkah bukan mengakali orang!

Melihat kekukuhan saudara, misan Lu Ie Lam yang berkepala batu, Koo Sam Ko lemas badan, dengan mendalikkan mata, ia membentak : "Hei, jangan mengadu urailah. Mau memegang Boh goat-ja sebagai jagoanmu, bukan?"

Wie Tauw tidak mendebatnya, melepaskan lagi Boh goat ja yang keyil kcdalam lobang aduan.

Koo Sam Ko telah menjongkokkan diri, bertepuk2 ia berkata : "Hus, hus... Hayo maju... Lekas potes turun batang leher

lawanmu itu !"

Jayo si Boyah Tua yang bernama Kie-bu-pa berkerik, dsngan pentang sayapnya yang besar, jangkrik itu menantang.

Seperti apa yang telah dikatan oleh Koo sam Ko, jago Wie Tauw yang diberi nama Bob-goat-ja mempunyai pengalaman tempur, begitu melihat ada musuh, walaupun lebih besar dari dirinya, diapun masih menerjang maju.

Dua ekor jangkrik mengadu gulat.

"Hus... Hus... Hayo... terkam..." inilah suara si boyah Tua Koo Sam Ko.

Kie-bu-pa lebih besar dua kali dari lawannya dengan tubuh Boh- goat ja yang kecil, walaupun berusaha menangkis setiap seranagan, ia tidak ungkulan, setapak demi setapak, Boh-goat-ja didesak mundur.

Koo Sam Ko berteriak girang :

"Hayo terkam... Hayo... terjang... Hidup Kie-bu pa."

Kalah menangnya dari dua jangkrik aduan tidak menarik perhatian Wie Tauw. Kekalahan Boh goat ja sudah diketahui lebih dahulu.

Koo Sam Ko berteriak girang:

"Aku menang. Lihat, Kie bu pa merangsek semakin hebat.

Bagaimana keadaan jagomu? Huh. bisanya main mundur."

Tentu Koo Sam Ko lupa, bahwa  Boh goat ja-pun jago yang ditetapkan olehnya. Segala sesuatu sudah diatur lebih dahulu, kemenangan Kie bu pa adalah kenenangan dirinya.

Salah satu akal yang paling tua, siasat yago masih dipakai sehingga saat ini.

Dikala Koo Sim Ko sedang mencak mencak, terjadi perubahan, Boh goat ja yang tidak mempunyai jalan mundur menjadi nekat, tiba2 lompat jauh kedepan, kini sudah berada dibuntut Kie bu pa, begitu lompat maju, berhasil menggigit ekor lawannya, ditariknya kuat buntut jangkrik raksasa itu.

Koo Sam Ko tertegun. ia berteriak :

"Eh, apa2an nih ?"

"Ini yanyi dinamakan gerakan tipu! Mengadu jiwa!" Wie Tauw memberikan keterangan.

Manyaksikan jagonya telah kewalahan, dengan setengah menangis Koo Sam Ko merengek :

"Kali ini aku menyerah kalah, tarik pulang yauh Boh goat ja. Mari kita mengulangi sekali lagi."

Wie Tauw mencomot Boh goat ja, ia harus mengikuti kemauan si Boyah Tua yang nakal.

Koo Sam Ko juga menarik pulang jagonya, tapi bukan untuk di pale. Jangkrik raksasa yang diberi nama Kie bu po olehnya itu disodorkan kearah Wie Tauw.

"Ambil." Ia berkata. "Jangkrik Boh goat ja milikmu ini sangat galak."

Lagi2, Koo Sam Ko main sandiwara, jangkrik Kie bu pa diganti nama menjadi Boh goat-ja, sedangkan Boat goat ja menjadi Kie bu pa. ia mengambil pulang jangkriknya. bernama Boh goat ja Jangkrik kecil yang penuh pengalama tempur, maka berhasil memenangkan babak pertama.

Wie Tauw memegang jangkrik raksasa Kie bu pa. Ia mulai mempale,

Koo Sam Ko telah meletakkan Boh goat ja didalam lorong tempat adu jangkrik. "Lepaskan Boh goat ja milikmu."

Ia mash menyebat Kie bu pa dengan nama boh goat ja

Wie Tauw tidak mendebat kesalahan nama itu. Dilihat sepintas lalu, Kie bu pa yang besar pasti menang. Karena kurang pergalaman, maka siraksasa kalah, Boh goat ja yang kecil telah dipegang oleh Ko Sam Ko.

Wie Tauw siap meletakan Kie bu pa. Sebelum itu, ia berkata : "Mengadu jangkrik tanpa pertaruhan sengit membosankan,

berani kau bertaruh ?"

Si jago ajaib, Pedang yang Menaklukan Rimba Persilatan, It kiam tin bu lim Wie Tauw menantang.

"Mengapa tidak ?" Koo Sam Ko menerima tantangan. "Barang apa yang kau jadikan barang pertaruhan?"

"Kehendakmu, bagaimana ?"

Koo Sam Ko memiringkan kepala, sangat lama Ilmu, kepandaian Duta Istimewa baju Kuning Nomor Dua ini sangat tinggi, tapi mempunyai isi otak yang kering, kurang oli. Untuk memecahkan persoalan pertaruhan sajapun seperti sangat sulit sekali. Wie Tauw menunggu dengan sabar, "Aaaa..." Koo Sam Ko berteriak. "Ia telah menemukan jalan. "Bertaruh dengan uang. Lima tail perak. Setuju?"

"Baik. Bila aku kalah, akan kuberikan lima tail perak itu. Tapi bila kau yang kalah, aku tidak mau menerima uangmu."

"Heeee... pertaruhan apakah ini ?"

"Bila Kie bu pa milikku yang menang, aku hendak memiliki bajumu. Kau harus membuka segera bersedia menyerahkan bajumu?"

"Mengapa menghendaki bajuku?" Koo San Ko tidak mengerti. "Baju ini tidak berharga lima tail perak" "Itulah baju Duta Istimewa Berbaju Kuning bila kau keluar telanjang, berarti kau kalah berjudi. Mengerti maksudku?"

Tentu saja si Boyah Tua tidak mengerti. Tapi ia mengangguk.

Seolah olah lebih mengerti dari orang yang biyara dengan dirinya.

"Eh.. " Tiba2 dirasakan sesuatu yang tidak beres. "Aku diharuskan telanyang bulat, tanpa selembar benangpun? Seharusnya pertaruhan itu tidak tcrmasuk celana dalam."

"Baik. Tidak termasuk celana dalam. Bila Boh goat ja kalah, kau harus membuka pakaian keyuali celana dalam."

Koo Sam Ko setuju.

Wie Tauw meletakkan sijangkrik raksaksa, si Kie bu pa didalam lorong buatan mengadu jangkrik.

Mereka lelah mengganti jago.

Bula dibabak pertama, Koo Sim Ko memegang Kie-bu-pa sebagai jagonya, kini ia hendak menjagoi Boh-goat-ja.

It kiam-tin bu lim Wie Tauw menjagoi Kie-bu pa, sedang pertama melihat jangkrik itu, ia sudah sangat tertarik. Kekalahan Kie bu pa di-babak pertama adalah kesalahan sendiri, terlalu pandang rendah lawan. Bentuk Boh goat ja sangat keyil, tapi pengalaman tarungnya sangat luar biasa. Dengan menggunakan satu tipu siasat yang lihay, tipu yang Wie Tauw beri nama Gerakan tipu mengadu jiwa, berhasil lompat lewat diatas kepala Kie bu pa, dan menggigit ekornya.

Kini Koo Sam mengganti jangkrik, ia memegang Bho goat ja.

Sedang Wie Tauw disuruh memegang Kie bu pa.

Pertempuran adu jangkrik babak kedua dilanjutkan.

Seperti keadaan dibabak pertama, begitu mengadu taring, Kie bu pa yang besar merangsek lawannya.

St Bocah Tua Koo Sana Ko rupanya tidak lagi berkhawatir, ia tahu, pada suatu saat, Bho goat ja yang mempunyai pengalaman adu taring lebih banyak dapat menggunakan tipu, memenangkan pertandingan itu.

Dugaan Duta Nomor Dua itu salah. Mengira betul pengalaman pertama, Kie bu pa tidak membuat kelengahan. Ia siap sedia, perlahan tapi tetap, mendesak lawan hingga kesudut lorong.

Suatu saat. si jangkrik raksaksa menerkam lawannya, Boh goat ja berusaha meloloskan diri dari terkaman musuh. Tapi tidak berhasil hanya satu kali genjetan, Kie bu pa mengakhiri pertandingan. Gigi sijangkrik besar menjepit Boh goat ja.

Itu waktu, Koo San Ko sedang berteriak teriak :

"Betul... Begitu... mundur lagi... Hayo Boh goat ja.. gunakan tipu gerakan 'Mengadu yiwa', lompati lawanmu.. Hayo. Eh mundur lagi. mengapa tidak menggunakan cara lama?. Betul... Mundur dahulu... jauh kebelakang... nanti... setelah lengah, lompat diatas kepalanya, dan gigit buntut ekor si Kie bu pa."

Tapi kenyataan telah membuktikan. Boh goat ja keok.

"Aaaaaa... Si Boyah Tua. Koo Sam Ko berteriak kaget. Tubuhnya menjadi lesu, hampir ia jatuh berdiri. Matanya melotot, memandang lurus, jauh kedepan.

Duta Istimewa Berbaju Kuning Nomor Dua dari Su-bay-tong-sim berg itu harus menerima kekalahannya.

Wie Tauw tersenyum senyum. Si jago ajaib berkata : "Nah, kau kalah bertaruh. Bukalah bajumu segera."

"Uh.... uh... Bajuku sangat jelek, biar kuambil yang lebih bagus. Sebentar aku kembali lagi, menyerahkan baju kepadamu." Koo Sam Ko berkata tergagak guguk.

Wie Tauw menggeleng gelengkan kepala.

"Aku menghendaki bajumu yang ini." Ia berkata.

"Kau... kau tega membiarkan aku telanjang keluar ?" Koo San Ko memohon pengampunan. "Bukalah." Wie Tauw memaksa.

Koo Sam Ko naik darah. Ia menjadi marah.

"Hei."Ia membentak. "Aku adalah Duta Istimewa Berbaju Kuning dari Su hay tong sim beng, orang yang mempunyai kedudukan sama tinggi dengan saudara misanmu, berani kau menghina ?"

Dsngan bersungguh2 Wie Touw berkata : "Cianpwe adalah Duta Nomor Dua dari Su bay tong sim beng, segala ucapan yang dikeluarkan harus ditepati."

Koo Sam Ko nampak lesu, ia menggeliat duduk "Baiklah." Ia menyerah kalah. "Mulutmu lihay! Aku menyerah."

Duta Nomor Dua itu mulai membuka bajunya

Itu waktu, si Pendekar Pengembara, Duta Nomor Delapan, Lu Ie Lam kembali kekamarnya. Disaksikan kejadian tadi, ia menjadi heran.

"Hei..." Memanggil si Boyah Tua Koo Sam Ko, Pendekar Pengembara Lu Ie Lam berkata. "Apa2an, nih ?"

"Kalah bertaruh." Jawab si Boyah Tua Koo Sam Ko bersungut sungut.

Dita Nomor Dua itu masih membuka pakaiannya.

Lu Ie Lam memandang Wie Tauw, menegur pemimpin perusahaan Boan-chiu Piauw-kiok itu :

"Eh, permainan macam apa ini ?"

Silih berganti, ia memandang kedua orang yang berada didalam kamarnya.

Koo Sam Ko telah selesai mencopot seluruh pakaiannya, kecuali pakaian dalam, dilemparkan semua bayu itu, dari keluar dari kamar, ia masih urungkan.

Lu Ie Lam tertawa.

"Mengapa bisa menjadi begini?" Ia meminta keterangan Wie Tauw. It-kiam-tin-bu-lim memberi keterangan : "ia mengajak mengadu jangkrik, kalah bertaruh, maka beginilah jadinya."

Wie Tauw menunjuk kearah dua ekor jangkrik ditanah itu waktu, Boh soat ja telah mati diterkam oleh Kie bu pa.

"Bagaimana sampai terjadi pertaruhan itu?" Bertanya lagi Lu Ie Lam.

"Dia berjanji, jika jagonya dikalahkan, membuka pakaiannya, dan jika aku yang kalah, aku harus menyerahkan 5 tail perak."

Lu Ie Lam menggeleng-gelengkan kepala, kemudian berkata : "Langkah dan yara cong piauw tauw mengambil cara seperti ini

tidak dapat dibenarkan. Betul Koo Sam Ko masih seperti kanak2,

sangat jujur..."

"Kukira, caraku memaksa ia membuka pakaian tidak salah." Wie Tauw mendebat.

"Mengapa ?" Lu Ie Lim memandang si jato ajaib dari kota Tiang-

an

"Harus kau ketahui, diantara para Duta Isrimewa Berbaju Kuning

ini telah memasukkan dua musuh, yaitu Ai Tong Cun dan Ai Sek Cun, Mana kutahu, 'baju' kulit siapa yang digunakan oleh mereka ? Keyuali membuka dan menanggalkan pakaian semua Duta Istimewa Berbaju Kuning, mana dapat membedakan musuh"

"Membuka baju para Duta Istimewa Berbaju Kuning?" Lu le Lam masih belum mengerti.

"Mungkinkah dengan cara itu dapat membedakan kawan dan lawan?"

Wie Tauw mengeluarkan kulit si Belibis terbang Cia Cu Liang yang telah dikeringkan dengan obat2 tertentu. Ai Lam Cun telah membuat kulit itu hidup seperti sediakala, seperti baju biasa, yang dapat dikenakan disetiap tubuh orang yang hendak menyamar.

"Lihat dan perhatikanlah 'baju' ini." Wie Tauw menyerahkan kulit itu pada Lu Ie Lam. Lu Ie Lam pernah menyaksikan bagaimana pembesetan kulit manusia, menyaksikan 'dengdeng kering' itu, ia tidak terlalu heran, diperiksanya dengan teliti, ia dapat mengetahui kegunaan dan cara2 pemakaian 'baju' itu. Ada kanying2 daging untuk melengketkan 'baju', sangat mudah dan praktis, pantas saja banyak manusia2 palsu.

"Oooo. Aku mengarti" Berkata Lu Ie Lam. "Maksud tuyuanmu membuka baju si Boyah Tua, Koo Sam Ko adalah ingin melihat ada tidaknya kanying kulit ini bukan ?"

Lu Ie Lam menunjuk kencing kulit Cia Cu Liang. Wie Tauw menganggukkan kepalanya.

Bila Koo Sam Ko bukan manusia asli, tentu tidak berani membuka bayu atas, sangat mudah memperlihatkan kancing2 daging yang melengketkan 'baju'  penyamarannya.

"Siasat bagus." Lu Ie Lam mengeluarkan puyian.

"Dibelekang punggung Koo Sam Ko tidak ada kencing daging, maka ia bebas dan keyurigaan. Dia adalah Duta Nomor Dua yang asli, tidak perlu diragukan lagi." Wie Tauw memberi keterangan.

Lu Ie Lam menyerahkan kembali kulit kering Cia Cu Liang.

"Cong-piauw tauw hendak membuka bayu para Duta Istimewa ?" Ii bertanya.

" Kecuali kau, dan Koo Sam Ko, semua Duta Istimewa harus mendapat pemeriksaan Satu persatu harus membuka baju mereka, aku memeriksa panggung mereka, adakah kancing daging yang seperti ini ?"

"Kukira tidak mudah." kata Lu Ie Lam.

"Memang tidak mudah." Nama para Duta Istimewa Berbaju kuning telah disegani orang. Siapa yang kesudian membiarkan diri mereka di periksa? Apa lagi mewajibkan membuka pakaian, satu persatu, itulah penghinaan. Walau pun demikian, kita harus bisa melakukan tugas berat ini." Wie Tauw memberi keterangan. "Salah satu dari Daia Berbayu Kuning kita adalah wanita." Lu Ie Lsm turut bicara.

"Betul. Diantara para Duta Istimewa Berbaju Kuning, Duta Nomor Dua Belas, Neng Manis Cia In Gie adalah wanita.

Untuk membuka baju para Duta Istimewa sudah tidak mudah, lebih sulit lagi untuk memeriksa tubuh si Neng Manis Cia In Gie, mengingat hanya dia seorang yang berkelamin wanita, bagaimana harus mengadakan pemeriksaan?

Satu2nya cara untuk melihat kancing daging manusia adalah membuka baju orang yang bersangkutan, ini tidak mudah.

"Seperti api yang telah kau lihat," Berkata It-kiam-ttn-bu lim Wie Tauw. "Aku berhasil membuka baju seorang Duta Istimewa Berbaju Kuning, Si Boyah Tua Koo Sam Ko adalah barang asli, bukan tiruan atau imitasi."

"Kau lihay" Lu Io Lam memuji.

"Eh, bagaimanakah keadaan para Duta Istimewa?" Wie Tauw bertanya kepada Si Pendekar Pengembara.

Lu Ie Lam memberi keterangan :

"Kecuali Duta Nomor Lima dan Duta Nomor Sebelas, semua Duta Istimewa Berbaju Kuning berkumpul didalam."

Untuk yelasnya, kami berikan gambaran yang lebih jelas dari para Duta Istimewa Berbaju Kuning didalam Su-hay-tong sim beng.

Urutan nama dan gelar mereka sebagai berikut : Duta Pertama, Pendekar Gembira Oe tie Pie-seng.

2. Dara Nomor Dua, Bocah Tua, Koo Sam Ko.

3. Duta Nomor Tiga, Windu Kencana, Toan In Peng.

4. Outa Nomor Empat, Hakim Hitam Can Ceng Lun.

5. Duta Nomor Lima, Raja Selatan, Tong Yang Cin jin.

6. Duta Nomor Enam, Dewa Pedang Kayu, Koan Su Yang. 7. Duta Nomor Tuyuh, Pendekar Pedang Duta, Siangkoan Wie.

8. Duta Nomor Delapan, Pendekar Pengeyar nyawa, Lu Ie Lam.

9. Duta Nomor Sembilan, Pendekar Lampu Besi Thiat-yang Hwe- sio.

10. Duta Nomor Sepuluh, Pendekar Laut selatan, Lam hay Sanyin

11. Duta Nomor Sebelas, Pengemis Mata Satu, Tok-goo Si kay. 12 Duta Nomor Duabelas, Neng Manis, Cia ln Gie.

Duta Nomor Empat, si Hakim Hitam Cang Ceng Lun telah meletakkan yabatan, walaupun demikian, su hay tong sim- beng masih mengharapkan kembalinya tokoh iilat tersebut, maka belum menghapus urutannia. Duta Nomor Tiga Belas, It-kiam tin-bu-lim Wie Tauw masih bersifat sementara, maka tidak di digolongkan kedalam urutan diatas.

Lu Ie Lam mengatakan bahwa Dula Nomor Lima dan Duta Nomor Sembilan sedang bertugas diluar. Mereka adalah si Raja Selatan Tong-yang Cin-jin dan si Pengemis Mata Satu, Tok gan Sin kun.

Kecuali itu, didalam markas besar Su-hay tong sim beng masih berkumpul 9 Duta Istimewa Berbaju Kuning.

Yang pasti, Duta2 sejati adalah Lu Ie Lam dan Koo Sam Ko, masih ada 7 orang harus mendapat perhatian, 2 diantara 7 itu adalah peryamaran Ai Tong Cun dan Ai See Cun. It-kiam-tin-bu-lim Wie Tauw berkata : "Dapatkah msmberi gambaran yang lebih yelas dari 9 Duta-Istimewa Berbaju Kuning yang berada disini." Lu Ie Lam menjawab psrtanyaan itu : "Belum lama aku berada dikamar bengcu, dikamar itu berkumpul Duta Nomor Satu, pendekar Gembira Oe-tie Pie seng, ia duel nonton pertandingan catur."

Bengcu berarti kepala pimpinan, itu si Pendekar Kedewaan Hong- lay Siam-ong. Pemimpin tertinggi dari Su-hay tong-sim beng.

"Dan lain saya?" tanya Wie Tauw dengan sikap tidak sabaran.

-oo0dw0oo-