-->

Pembunuh Gelap Jilid 09

Jilid 09

Su Hay tong-sim-beng adalah gerakan gabungan dari semua aliran ilmu silat yang ada pada masa itu, dengan kekuatan inti mereka yang terdiri dari 12 Duta Istimewa Berbaju Kuning,

Adapun urutan 12 Barisan Duta Istimewa Berbaju Kuning tersebut sabagai berikut :

1. Data pertama, Pendekar Gembira Os-tie Pit seng,
2. Duta Nomor dua, Bocah Tua Koo Sam Ko
3. Duta Nomor Tiga, Windu Kencana Toan In Peng.
4. Duta Nomor Empat, Hakim Hitam cang Ceng Lun:
5. Duta Nomor Lima, Raja Selatan Tong Yang.
6. Duta Nomor Enam, Dewa Pedang Kayu Koan Su Yang.
7. Duta Nonor Tujuh, Pendekar Pedang Duta, Siang-koan Wie.
8. Duta Nomor Delapan, Pendekar Pengembara! Lu Ie Lam.
9. Duta Nomor Sembilan, Pendekar Lampu Besi, Thiat-teng Hwesio.
10. Duta Nomor Sepuluh, Pendrkar Laut Selatan Lam-hay San-jin.
11. Duta Nomor Sebelas, Pengemis Mata Satu Tok-gan Sin-kay.
12. Duta Nomor Dua belas, Neng Manis cu In Gie.

Dari dua belas Duta Istimewa Berbaju Kuning yang tergabung didalam Su-hay-tong sim beng, Duta Nomor Dua belas adalah seorang wanita, sikapnya adem, tapi tegas.

Semua Duta Istimewa itu adalah jago2 tanpa tandingan, masing2 mempunyai daya pemikiran yang melebihi orang, langkahnya tegas dan spontan, berjanji hidup membela kebenaran dan keadilan. Wie Tauw tahu jelas tentang nama2 mereka, bila dirinya diterima menjadi Duta Istimewa Berbaju Kuning Nomor Tiga belas, maka kekuatan Su-Hay-tong-Sim-beng akan bertambah.

Dari pembicaraan Lay Eng To sekalian, Wie Tauw dapat menangkan arti bahwa chungcu pertama dari keempat dari Sang- leng The-Chung sedang menjabat tugas Duta Istimewa Berbaju Kuning juga, mungkinkah ada penambahan anggota baru didalam gerakan gabungan Su-hay tong Sim-beng itu?

Ia harus mengetahui kejadian tersebut.

Dilihat dari ilmu kepandaian At Lam cun dan Ai Pek cun, tentu Ai Tong cun dan Ai See cun mempunyai ilmu kepandaian yang sangat tinggi. Tidaklah mustahil bahwa mereka menpunyai kesempatan untuk menduduki jabatan Duta Istimewa Berbaju Kuning,

Yang penting, setiap Duta Istimewa Berbaju Kuning harus taat kepada panji2 lama, bukanlah setiap orang jahat dapat menduduki tempat itu.

Tidak mungkin Hong lay Sian-ong mau menerima Ai Tong cun dan Ai See cun.

Wie Tauw telah selesai memakan barang yang disediakan diatas meja, kini ia memanggil

"Pelayan."

Pelayan rumah makan itu menghampiri dengan gerakan cepat, agak gugup bertanya :

"Ada pesanan lain?"

Wie Tauw menggeleng gelengkan kepala, ia berkata: "Bilakah hari ini?"

"Tanggal tiga bulan delapan."

"Sudah tidak jauh dengan hari TiongCiu."

"Ha.ha ...." Pelayan itu tertawa. "Tentu-nya ingin cepat2 pulang rumah, merayakan Tiong-ciu?"

"Betul," Wie Tauw berkata. "Tempat asalku Lu san. Waktu haanya dua belas hari iagi, bagaimana aku harus kembali tepat pada waktunya ?"

Pelayan rumah makan itu mempunyai pengalaman luas, segera ia memberi keterangan :

"jarak Lu-san dengan kota ini hampir seribu li, bila tuan berganti kuda. terus menerus sehingga dua belas hari; Tentu masih dapat tiba pada waktunya."

"Berganti kuda setiap hari? Terus menerus ganti kuda ? Huh, kau memang pandai bicara. Berapa banyakkah uang yang harus kuhamburkan membeli kuda2 itu? mungkinkah ada kuda2 yang dijual ditengah jalan?"

Pelayan rumah makan itu tertawa.

"Tidak mahal." Ia memberi keterangan lagi. "Hanya dua puluh tail saja. Dan setiap kuda pasti telah disediakan."

Wie Tauw memperhatikan wajah pelayan tersebut, wajah itu bersungguh-sungguh, bukanlah berkelakar atau menggoda dirinya. Hatinya tergerak,

"Coba kau katakan," Ia berkata. "Bagaimana aku dapat menggunakan 20 tail perak itu dan tiba di Lu-san sebelum tangga! 15."

Apa yang dikemukan sangat mustahil sekali.

"Tuan mungkin belum tahu bahwa dikota ini terdapat satu perusahaan penyewa kuda yang mempunyai cabang-cabang diseluruh pelosok tempat, disetiap kota yang agak besar, mereka mempunyai cabang perusahaan. Bila tuan betul betul membutuhkan perjalanan yang cepat, hanya puluhan tail saja dapat menyewa kuda-kuda mereka. "

"Bagus," Wie Tauw berteriak girang. "Dimana letak perusahaan penyewa kuda itu?" Sang pelayan menunjuk kearah Utara, mulutnya berkata :

"Bila tuan menuju kearah itu, disana akan ada satu perkebunan teh yang sangat besar dan luas. Disebelah kebun teh itulah tempat persahaan penyewa kuda Su-thong-bee-kie bang."

It-kiam-tin-bu-lim Wie Tauw terkejut, mulutnya berteriak: "Disebelah Sang leng The chung? Siapakah pemilik perusahaan

penyewa kuda Su thong be kie beng itu?"

Wie Tauw segera menduga buruk kepada perusahaan penyewa kuda yang mempunyai cababg di setiap kota itu.

Pelayan rumah makan berkata:

"Menurut apa yang mereka katakan, seolah-olah perusahaan penyewa kuda Su thong bee kie hang mempunyai hubungan dengan Sang leng The chung. Tentang benar tidaknya cerita ini, belum ada orang yang tahu."

Dugatan Wie Tauw ternyata mengenai sasaran. Perusahaan penyewa kuda Su thong bee kie hang dan Perkebunan teh Sang Seng The cung adalah cabang dari usaha si Raja Gunung yang berkekuasaan luas itu.

Ia menyergir masam. Belum lama ia melarikan diri dari sana, mana mungkin mengantarkan jiwa lagi?

Masih untung Wie Tauw tidak berlaku ceroboh, langsung menubruk perusahaan penyewa kuda Su thong bee kie bang. Bila tidak, pasti ia masuk kedalam mulut macan keluarga Ai itu.

"Terima kasih kapada keteranganmu." Berkata Wie Tauw yang segera memperhitungkan rekening makanannya.

Dikala mau meninggalkan rumah makan itu, Terdengar suara2 yang sangat gaduh.

"Kebakaran." Teriak seseorang. "Api. " "Ada api. "

"Sang leng The chung kebakaran." "Api menyala di Sing leng The chung. "

Wie Tauw melongok kearah tempat yang disebut, betul saja, disana telah mengulak api merah, kebakaran itu telah berlangsung cepat, mengulak tinggi sekali.

Ternyata kebakaran telah terjadi agak lama. hanya rumah makan dipintu Selatan itu agak jauh dari tempat terjadinya. Maka berita agak lambat.

Penduduk yang berada disekitar Sang leng The chung telah kalut, jeritan anak kecil dan tangis kaum wanita merambah keramaian kebakaran.

It kiam tin bu lim Wie Tauw terkejut, tapi tidak lama, ia segera menduga kepada Ai Pek Cun yang membakar sarang markas diri sendiri. jelas, mereka melepaskan pos ditempat ini. Maka membakarnya. Wie Tauw membalikkan warna bajunya, saat sebelumnya, bila ia mengenakan pakaian biru, kini pakaian tersebut telah berubah panjang dengan berwarna abu2.

Dan kantung bajunya, ia mengikat kepala seolah olah seorang pelajar biasa.

Selesai berganti dandanan, Wie Tauw lari balik kearah Sam Leng The-chung

Gerakan Wie Tauw sangat berhati hati, takut diketahui oleh orang-orang Sam-leng The Chung ia menundukkan kepalanya kearah tanah.

Dijalan yang berada dekat dengan Sang-Leng The-chung telah penuh dengan orang. Mereka menonton keramaian, memperhatikan bagaimana api itu memusnahkan perkebunan teh keluarga Ai.

Anak-anak masih menangis, wanita wanita telah mengeluarkan buntelan-buntelan mereka sesambatan. Mereka turut meramaikan situasi itu. Wie Tauw telah mencampurkan dirinya dengan para penonton keramaian tersebut.

Diketahui bahwa perusahaan penyewa kuda Su thong-boe-kie- hang adalah saudara kembar dari Sang-leng The chung. Wie Tauw memperhatikan tempat sewa kuda itu.

Seperti apa yang diduga, sebentar kemudian, kandang kuda yang tersedia didepan Su-thong-beo kie-liang pecah mendadak, dari sana muncul beberapa penunggang kuda, orang yang berjalan dipaling depan adalah Ai Lam cun, ia menunggang kuda berbulu putih, direndengi oleh Ai Pa Cun, kudannya agak coklat, orang berikutnya ialah Ai Ceng, Lay eng To, Bwee Can Giam dan lain-lainnya.

Mereka membawa banyak buntalan, itulah benda berharga.

Barang barang ini diletakkan dikereta kuda.

Dikala rombongan berkuda itu muncul dijalan raya, semua orang menyingkirkan diri membuka jalan.

Ai Lam Cun membentak-bentak, maka semua orang lari menjauhinya, kuda putih itu langsung menuju ke arah pintu selatan.

Dibelakang Ai Lam Cun, beletot para barisan kuda itu. Satu persatu, dengan punggung penuh buntelan, mereka meninggalkan Sang leng The Cung yang telah dimakan api.

Wie Tauw menyelak keluar dari rombongan orang banyak, pada tangannya telah menggenggam uang gobangan, ia mengincar salah seorang dari rombongan berkuda yang ingin pergi itu, si Belibis terbang Cia Cu liang, orang inilah yang diingini olehnya.

Dikala uang gobangan Wie Tauw lepas dari tangannya, kuda Cia Cu Lian meringkik keras, ternyata kaki kuda itu yang diberi hadiah uang gobangan  Wie Tauw.

Tia cu Liang tidak tahu bahwa jiwanya diincar, ia menduga kepada gangguan biasa, tentunya sang kuda yang mengalami sesuatu, ia membuka mulut dan membentak tunggangannya.

"binatang, bila kau tidak mau jalan, kulempar kau kedalam api." Setiap kuda didalam perusahaan kuda Su-thong-bee-kie hang adalah kuda-kuda pilihan, demikian juga dengan kuda yang ditunggangi oleh cia cu Liang, kakinya telah pincang tapi, mendergar suara sang majikan, ia masih berusaha maju. Hanya gerakkannya banyak terganggu.

Seorang penunggang kuda yang berada dibelakang cia cu Liang dapat melihat ketidak normalan kuda tersebut, ia berteriak kepada kawan itu:

"Hei, kudamu menderita luka."

Cia cu Liang melongok kearah kaki kuda, dan seperti apa yang sang kawan katakan, kaki belakang dari kuda tunggangannya telah berdarah, ia menduga kepada kesalahan kuda tunggangan kawan tersebut.

"Tentu kaki kuda tungganganmu yang melukainya." Ia berkata kepada kawan itu.

Kawan cia cu Liang tidak membenarkan kaia-kata dakwaan yang dijatuhkan kepadanya. Tapi, ia-pun tidak mendebat. Didalam keadaan kalut, siapa yang memperhatikan kaki kuda?

"Lekaslah berganti kuda." Ia menganjurkaa cepat. Melewati Cia cu Liang, ia menyusul rombongan didepan. Cia cu Liang tertinggal dibelakang rombongan.

It-kiam-tin-bu-lim Wie Tauw menyelak maju, kesempatan itu digunakan baik olehnya, hanya beberapa orang lagi disana, tubuhnya telah berada disisi cia cu Liang, hanya satu kali tarik, ia telah menguasai jalan darah pergelangan tangannya,

"Sahabat she cia, mari kita ketempat sepi sebentar, ada sesuatu yang ingin kurundingkan denganmu,"

Cia cu Liang terkejut, lebih terkejut lagi setelah mengetahui bahwa dirinya berada dibawah kekuasaan jago aneh tersebut.

"Kau. " Sebagai seorang yang berpengalaman luas, cia cu Liang tidak meneruskan kata katanya, apa akibatnya, bila ia berteriak, tentu sang lawan akan marah, dan celakai dia.

Cia cu Liang mengikuti segala kemauan It-kiam-tin-bu-lim Wie Tauw. Mereka menuju kearah istal kuda.

Wie Tauw membuka bicara:

"Kukenal kau sebagai murid Oey-san-pay, tapi bukanlah si Belibis Terbang cia cu Liang.

Kini aku membutuhkan baju kulitmu ini, serahkanlah kepadaku."

Tanpa menunggu reaksi orang, Wie Tauw mengetuk pelipis sang lawan. Maka cia cu Liang jatuh pingsan.

Dengan gerakkan yang gesit, Wie Tauw membalikan tubuhnya. membuka kancing kulit, itulah kancing kulit si Belibis Terbabg cia cu Lieng asli.

Setelah menelanjangi kulit cia cu Liang, terbentang dihadapan Wie Tauw, seorang yang berwajah putih, itulah wajah sipenghianat Oey san pay yang bernama Kiong Tay Seng.

Timbul kemarahan Wie tauw:

"Hm, ternyata cia cu Liang binasa dibawah tanganmu? Hari ini, kau jangan harap hidup."

Maksud Wie Tauw hanya ingin meminjam kulit 'Cia cu Liang' yang telah dibeset dan dikeringkan orang. Perubahan segera terjadi, setelah mengetahui bahwa orang yang membunuh cia cu Liang adalah sipenghianat partay 0ey san pay. jarinya dikeraskan, menotok jalan darah kematian Kiong Tay Seng.

Wie Tauw membuka pakaiannya, dikenakan kulit cia cu Liang, dipakai juga baju Kong Tay Seng. Kini dirinya telah menjadi cia cu Liang.

"Memilih seekor kuda, Wie Tauw menerjang keluar,"

Keadaan telah   semakin   kalut,   tidak   mungkin   api   dapat dipadamkan lagi.

Terdengar teriakkan beberapa orarg : "Hei, keluarga Ai harus bertanggung jawab atas terjadinya kebakaran."

"jangan kalian melarikan diri."

"Lekas suruh mereka memadamkan api." "Tangkap orang itu."

"Tangkap."

Suara hiruk pikuk hanya dicetuskan oleh orang2 itu, tidak satupun yang berani menghadang Wie tauw, lebih cepat lari bila kita kata kau Si Belibis Terbang Cia Cu Liang.

It-kiam-tin-bu-lim Wie Tauw menerjang orang orang itu, arah tujuannya pintu kota Selatan. Rombongan Ai Lam cun sidang menerobos keluar kota diarah tersebut.

Di dalam sekejap mata, Wie Tauw berhasil mengejar rombongan itu. Ia tidak tergesa gesa mendekatinya, t kut diketahui atau dipergoki.

Apa langkah yang diperbuat olehnya? Dan apa pula rencana musuh didepan?

Tentunya, keluarga Ai itu mengadakan pengejaran kepada dirinya.

Memperhatikan gerak gerik rombongan itu, Wie Tauw menarik satu kesimpulan, Ai Lam cun dan Ai Pek cun akan mengejar dirinya.

Perintah si Raja Gunung untuk membunuh ketua Su ha tong sim beng Hong lay Sian ong belum tentu diketahui oleh Ai Lam cu dan Ai Pek cu. Mereka menduga pasti bahwa dirinya akan melarikan diri kearah gunung Lu san, maka arah pengejar menuju kemarkas besar Su hay-tong sim beng.

Wie Tauw mengundurkan dirinya, ia menjauhi rombongan didepan terlalu be bahaya. Apa yang harus diperbuat?

Ai Tong cun dan Ai See cun berada diatas gunung Lu san. Hal ini sangat mengawatirkan. Ia harus cepat2 memberi tahu kepada liong lay-Sian Ong.

Wie Tauw mempunyai tujuan yang bersamaan dengan tujuan yang musuh tempuh.

Beberapa kali Wie Tauw menyingkirkan diri dari rombongan Ai Lam Cun dan Ai Pek Thin beberapa kali pula ia mengalami kegagalan. Mengetahui tidak ada jalan yang lebih pendek dari jalan yang harus ditempuh, dengan memberanikan diri, ia mendekati rombongan itu.

Wee Tauw berhasil menjauhkan dirinya. hanya rombongan perbekalan, tidak terlihat Ai Lam Cun dan Ai Pek Chun. ternyata dengan mengajak beberapa jago pilihan, mereka mengejar didepan. Pasti mengejar dirinya. Tiga orang segera menghampirinya.

Menggunakan suara Kiong Tay Seng, berkatalah jago kita : "jie chungcu dan Sin Cungcu telah berjalan lebih dahulu?" Seorang dari mereka berkata :

"Betul. Kita mendapat tugas untuk mengawal kereta ini sehingga kota Dap bee. Cia toako, kedatanganmu tepat pada waktunya. Pimpinlah kami."

Dengan tidak menghentikan dirinya, Wie Tauw melewati rombongan kereta itu, ia berteriak :

"Maaf, Aku mempunyai berita penting yang harus disampaikan kepada jie cungcu. Kalian bertiga sajalah yang meneruskan pengawalan ini."

"Cia toako, berita penting apakah yang kau dapat?"

"Lain kali kuberi tahu." Wie Tauw telah meninggalkan mereka jauh.

Tanpa menghentikan kudanya, Wie Tauw melakukan perjalanan terus menerus, pada siang harinya, ia telah tiba dikota Ie coan. Masih belum berhasil mengejar rombongan Ai Lam Cun.

Dipintu Selatan kota Ie-coan, Wie Tauw menemukun pos pertama dari perusahaan kuda Su-hay-bee-kie hang.

Letak perusahaan diujung kota, belasan kuda yang masih penuh keringat sedang tertambat di istal kuda, Tentunya kuda2 yang baru saja digunakan melakukan perjalanan jauh.

Wie Tauw segera mengenali akan kuda2 tunggangan Ai Lam Cun sekalian, itulah kuda2 dari kota Liok-yang.

Wie Tauw lompat turun dari kuda tunggangan menghampiri seorang pelayan dan berteriak:

"Ganti kuda."

Setiap kuda dari perusahaan Su-hay-bee-kie hang ada kode2 tertentu, pada bagian belakang dari kuda2 tersebut mendapat setempel khusus, sipelayan yang mengetahui kode kuda dari pusat, segera datang menghampiri.

"jie Chungcu baru saja berangkat." Ia memberi keterangan. "Cia toako datang agak lambat bila tidak, tentunya dapat menyandakan diri. Arah tujuan manakah yang Cia toako hendak tempuh?"

"Arah manakah yang jie chungcu tempuh?" balik tanya Wie Tauw bertanya.

"Rombongan jie chungcu dipecah menjadi tiga jurusan. Satu menuju kota Teng-hong. satu menuju keerah kota Leng-an dan satu lagi mengambil tujuan Ie-yang. ketiga rombongan ini diharapkan dapat berkumpul dikota Kho tong. Tentang arah tujuan mana yang ditempuh oleh jie chungcu, hamba kurang jelas."

"Dikota Leng-an ada kuda tukaran?"

"Ada. Ada. Cabang dari perusahaan menempatkan pos pergantian kuda dipinggir kota. Dengan mudah dapat terlihat segera.....Ech,..., Cui toako baru saja kembali dari kota Leng an, bukan?" Pelayan ini segera menjadi heran. Wie Tauw telah melakukan kesalahan. Tidak seharusnya ia mengajukan pertanyaan tolol itu. Mana diketahui, bahwa Kiong Tay Seng dengan wajah Cia Cu Liong pernah mengadakan perjalanan kekota Leng-an ?

Segera Wia Tauw menekuk mukanya, dengan sungguh2 berkata

:

"Betu? Ada sesuatukah yang aneh?"

"Cia toako baru saja kembali dari kota Leng-an. Bagaimana tidak

tahu ada cabang perusahaan dikota itu?" Wie Tauw membentak :

"Dimanakah kau simpan daun telingamu? Yang kutanyakan, masih ada kuda baikkah dipos perusahaan kota Leng an. Bukan menanyakan ada tidaknya pos perusahaan di kota Leng-an?"

"Betul....Betul....." Pegawai itu mintai maaf. "Harap Cia toako tidak menjadi gusar."

Wie Tauw telah mengganti kuda tunggangan, dengan satu kali pecut, ia mengaburkan kuda tersebut. tidak melayani pegawai perusahaan Su thong bee kie bang tadi.

jarak Ie Coan dan Leng an tidak ada 200 lie. tidak terlalu jauh, dimisalkan ia mengambil waktu untuk istirahat bersantap, setelah itu melakukan perjalanan lagi, ia akan tiba dimarkas besar Su hay tong sim beng, pada satu hari lebih cepat dari Ai Lam Cun sekalian.

Wie Tauw memutuskan untuk mengambil waktu istirahat dikota Pek saa tin.

Pek saa tin adalah kota yang mempunyai jarak sama jauh dengan Ie Coan dan Leng an. Dikala Wie Tauw memasuki kota tersebut, kabut malam telah mengarungi jagat. Rencananya telah mendapat perhitungan yang masak, karena itulah, dengan memilih sebuah rumah makan berikut penginapan, ia lompat turun dari kuda tunggangan.

Seorang pelayan rumah penginapan yang kedatangan tamu segera mengadakan penyambutan. "Kedatangan tuan masih belum terlambat, masih ada satu kamar kosong untukmu," Demikian ia berkata,

Wie Tauw harus berhati-hati, ia bertanya :

"Belum lama, tidak ada tamukah yang datang menginap?"

"Tidak ada." Pelayan itu agak tertegun. Dari dalam saku bajunya, Wie Tauw mengeluarkan emas recehan, dijejalkan kedalam tangan pelayan tersebut, ia memberi pesan:

"Tolong rawat kudaku baik2, sebentar lagi, aku harus meneruskan perjalanan."

"Tuan ingin melakukan perjalanan malam?" Pelayan itu seakan heran.

"jangan takut, senua ongkos2 akan kubayar penuh." Berkata Wie Tauw. "Rawatlah kudaku baik2. Setelah mengisi perut, aku haru meneruskan perjalanan."

Sang pelayan telah mendapat hadiah, segala boleh diurus belakangan, Ia diam.

it-kiam-tin-bu lim Wie Tauw mendapat satu kamar kecil, disini ia membaringkan diri, sambil menunggu pesanan makanannya.

Beberapa saat, pelayan datang dengan satu mangkuk mie yang masih panas.

Wie Tauw lompat bangun, terlalu lapar baginya, dikala ia ingin melahap makanan panas itu..

"Tok.... Tok.... Tok... " Terdengar uara pintu diketuk. Dengan bersengut sengut, Wie Tauw membentak : "Siapa?"

Seorang tua berbaju hitam mendorong pintu itu, langsung memasuki kamar Wie Tauw. Inilah salah satu pengawal utama dan 10 jagoan San gu leng the Cung.

Wie Tiuw tidak dapat menyebut nama orang tersebutf, ia mengeluh. Cepat2 bangun menyambut. Ia berkata :

"Ob .... Kau juga berada ditempat ini." Orang tua berbaju hitam itupun terkejut :

"Kau?!"

Wie Tauw berkata hormat : "Silahkan duduk. Sudah makan?" "Kalian berempat mendapat tugas untuk mengawal kereta kekota

Hap bee, mengapa berada ditempat ini?"

Wie Tauw telah siap sedia, tenaganya dikerakan penuh, dimisalkan orang ini mengetahui penyamarannnya, ia harus membunuhnya. Segera  ia mengajukan alasan ;

"Pagi ini, dikala menerjang keluar dan kurungan api..."

"Aku tahu," Potong orang tua berbaju hitam itu. "Kudamu menderita cedera, kau kembali untuk mengganti kuda. kemudian?"

"Para tetangga tidak mau mengerti, mereka mengurungku dan meminta pertanggungan jawabku. Dikatakan Sang-lang The-chung harus bertanggung jawab, atas terjadinya kebakaran,"

"Api telah menelan korban?" bertanya si orang tua baju hitam tertawa.

"Belum. yang jelas dan pasti, api itu akan menghancurkan semua bangunan."

"Bagaimana kau meloloskan diri dari kepungan mereka ?" "Mengetahui tidak guna mengadakan perdebatan. Dsngan satu

kali terjangan, aku berhasil lompat keluar dari kurungan orang banyak, Karena gangguan inilah, dikala aku berhasil keluar kota. Kalian telah pergi jauh."

"Kau tidak menyusul kereta2 itu?"

"Kukira mereka tidak menempuh jalan raya, maka tidak berhasil." "Maka kau lari ketempat ini untuk meminta mie panas?" Orang

itu tidak puas. "Di kala bertukar kuda dikota Ie-Coan, kudengar Jie chungcu telah memecah rombongan menjadi tiga jalan, tentunya bermaksud mengejar orang itu. Segera kuikuti jejak pengejaran sehingga tiba di kota ini.. Setelak menyelesaikan santapan ini. segera kuteruskan lagi perjalanan yang terganggu,"

Oranr itu berkata :

"Kau tidak perlu meneruskan perjalanan." "Mengapa!?" Wie Tauw membelalakkan mata.

"jie chungcu menduga dengan pasti, bahwa dia melarikan dari kearah Su-hay-tong-sim-beng. Tiada guna mengejar terlalu jauh, aku mendapat tugas untuk menjaga daerah ini. Kedatanganmu tepat pada waktunya. Kini kau boleh mewakili diriku. Tugas ini akan kuoper kepadamu. Perhatikanlah kepada setiap orang."

"Dan kau ?"

"Aku harus segera mengabungkan diri." berkata orang tua berbaju hitam itu.

"jie chungcu mengatakan dengan pasti, babwa orang itu belum berhasil lepas dari kurungan kita ?"

"Tentu. Ia tidak mempunnyai kuda tunggangan. Dijalan raya, tidak dapat menggunakan ilmu meringankan tubuh, tidak mungkin lepas dan pengawasan banyak orang."

Wie Tauw mengerutkan alis.

"Musuh terlalu kuat. Bagaimana kusanggup menahannya? Dimisalkan betul ia berada didepanku, akupun hanya dapat membiarkan ia lewat begitu saja."

"Betul. Biarkan saja ia lewat. Kau boleh mengikuti jejaknya dengan sepasang matamu dan beri laporan kepada kita."

Aku diperintahkan jie chungcu untuk menuju ke kota Hap bee, tugas ini harus segera kulakukan."

Orang itu tidak puas. ia berkata : "Tenaga kita serba kekurangan, kau kutugaskan menjaga pos ini. Segala kesalahan yang Jie chungcu jatuhkan kepadamu, biar aku Pauw Kay San yang memikul."

ternyata orang ini bernama Pauw Kay San. Wie Tauw menganggukkan kepala.

"Biar kuselesaikan makanan ini dahulu." ia ingin mengisi perut. "Kau tidak akan mati kelaparan. Lekas ikut dibelakangku."

Wie Tauw mengedumel didalam hati :

"Tua bangka yang sudah bosan hidup, sebentar setelah kau mati dibawah tanganku. jangan sesalkan orang yang berlaku keterlaluan."

Karena kedatangannya orang tua berbaju hitam yang bernama Pauw Kay San inilah, semua rencana Wie Tauw terganggu.

15

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

WIE TAUW memanggil pelayan rumah makan dan dengan mengikuti dibelakang Pauw Kay San, ia meninggalkan rumah penginapan tersebut.

Dipekarangan depan, sipelayan sudah menyediakan kudanya. Pauw Kay San lompat, menduduki kuda Wie Tauw dan berkata : "Berilah kuda ini kepadaku."

Wie Tauw tertegun. "Dimana kudaku?" Ia bertanya.

"jalannya sudah pincang, mengganggu, Maka kupukul dia sehingga mati. Kulempar dia ditengah jalan."

Wie Tauw mengupa caci, tapi hanya didalam hati. Pauw Kay San berkata :

"Lekas ikut dibelakangku, akan kuberitahu tempat yang harus kau tunggu."

Kudanya telah dibedal, menuju kearah luar kita. Wie Tauw mengikuti dibelakangnya.

Dengan ilmu meringankan tubuh Wie Tauw, tidak sulit untuk mengikuti perjalanan itu.

"Eh, bagaimana kau menemukanku?" Ia mengajukan pertanyaan.

"Aku lewat dirumah penginapan itu, kulihat si pelayan menuntun kuda Su-thong bee kie hang, timbul kecurigaanku, kuselidiki sebentar dan berhasil menemukanmu."

Wie Tauw mengumpat caci lagi : "jangan terlalu cepat bergembira, sebentar, akan kubereskan jiwamu."

Lain dihati, lain pula dimulut, dengan senyuman dibuat, Ia berkata:

"Dikala memasuki kamar, tidak pernahkah ada dugaan kepada musuh?"

"Sudah kutanyakan pelayan itu. Tidak akan salah lagi."

"Bila dia yang berada didalam kamar, apa langkah yang kau ambil?"

"Pintu tetap kubuka."

"Dia tidak mudah dihadapi." Berkata Wie Tauw.

Pouw Kay San mengeluarkan suara jengekkan, katanya :

"Tentu. Kau Cia cu leng tidak dapat mengalahkannya. tapi aku Pauw Kay San tidak takut kepada It-kiam tie bu lim Wie Tauw itu."

"Kau belum tahu, bagaimana dibawah ruang tanah, dengan ilmu Oey san sa cap lek kiam. aku mendapat kesempatan bergebrak dengan dirinya, itu waktu, tanpa gerakan sama seklai, bajuku telah dilubangkan, betapapun hebat ilmu kepandaiannya? Mudah dibayangkan."

"Apa yang harus di puji? Aku juga dapat melakukan apa yang dapat dilakukan olehnya. kau tidak percaya?"

"Tidak peracya." Berkata wie Tauw mengoyangkan kepala. Ini waktu, mereka sudah berada diluar kota.

Pauw Kay san melengak. Tidak disangka bahwa si Belibis Terbang Cia cu liang berani melawan dirinya. Ia sangat marah, dengan menudingkan jari, ia membentak"

"Cia Cu Liang, kau tidak puas kepadaku?" "Mana berani?" Berkata Wie Tauw singkat.

"Dengan alasan apa kau memuji2 ilmu kepandaian musuh? Kau kira ilmu kepandaianku tidak dapat memadainya?"

"Jangan gusar. Inilah suatu kenyataan." Berkata Wie Tauw tertawa "Jangan terlalu cepat naik darah."

"Siapa yang cepat naik darah? Kau Cia Cu Liang berani menerima dua jurus seranganku?"

"Bila kau mempunyai itu kegembiraan, mengapa harus menolak?"

Maksud Pauw Kay San hanya menakut nakuti si Cia Cu Liang, tidak disangka, tawaran itu diterima baik. Ia meneliti wajah itu sangat lama, wajah ini terlalu biasa sekali. Dengan memandang rendah, ia berkata:

"Cia Cu Liang, nyalimu cukup besar he?" Dengan Hormat Wie Tauw berkata:

"Bila seseorang yang menerima tantangna dicap sebagai orang yang bernyali besar, tentu banyak orang yang mempunyai nyali besar."

"Bagus. Kulihat gerak gerikmu pada hari ini memang sangat aneh sekali. Keluarkanlah senjata tamu untuk menerima dua seranganku."

Wie Tauw mengeluarkan pedang warisan Kiong Tau Sam, seharusnya, pedang milik Cia cu Liang almarhum, dengan mengundurkan diri tiga langkah, Wie Tauw berkata: "Silahkan"

Pauw Kay San menurunkan pedangnya, dengan menimbang nimbang pedang itu, ia berkata:

"Sudah siap ? Berhati-hatilah menerima seranganku ini."

Dia maju ke depan, mulai dari perlahan. Pauw Kay San menambah kecepatan pedangnya... Sret. menusuk ulu hati orang.

"Ilmu pedang yang hebat!" Pauw Kay san berani mengucapkan kata2 besar, karena ia memang mempunyai ilmu kepandaian yang luar biasa.

Wie Tauw mengeluarkan suara tertawa, ia tidak memandang mata kepada serangan itu, ujung pedang di gulung dan dilingkarkan sebentar, menyerong searah datangnya serangan.

Trraaaannnngggg........

Beradunya dua bilah pedang telah menimbulkan suara yang nyaring panjang.

Trraannnggggg....

sekali lagi terdengar suara benturan pedang mereka yang telah mengulang jurus2 pertama.

Dua serangan Pauw Kay San telah diterima dengan baik. Masing2 mundur ketempat asalnya.

Maksud Pauw Kay San yang ingin membolongi ujung baju lawan mengalami kegagalan.

Dan lebih dari pada itu, dua serangan itu tertahan diengan jalan, Tenaga dalam Cia Cu Liang itu tidak berada dibawah dirinya.

Wie Tauw menunjukkan sikapnya yang seperti pemimpin atasan, ia berkata:

"Kau tidak menggunakan tenaga penuh. Dua jurus tadi boleh dianggap sebagai dua jurus percobaan. Tidak masuk hitungan. Mari kita mulai dengan dua jurus lainnya."

Diam2, Pauw Kay San menarik napas dalam, Untuk menutupi rasa malunya, cepat2 ia berkata:

"Agak sulit untuk menempur orang sendiri. Aku tidak mempunyai itu ketegasan. Tenaga dalamku berat dikeluarkan."

"Kau tidak tega kepada orang, Bagaimana dapat berhadapan dengan It-kiam-tin-bu-lim Wie Tauw?"

Pauw Kay San menekuk wajahnya berkata: "Bila bersungguh- sungguh, kau kira kau cia cu Liang dapat hidup lama?"

"Belum tentu. Bila ilmu kepandaianmu berada diatas It-kiam-ti- bu-lim Wie Tauw, tentunya dapat melepas dan menahan setiap serangan yang dilontarkan."

Dicemoohkan seperti itu, amarah Pauw Kay San naik keatas, kedudukaanya jauh berada diatas Cia cu Liang, entah mengapa? Hari ini ia dihina terus menerus?

"Baik. Mari kita mengulang jurus2 tadi" Demikian akhirnya ia berkata-

"jangan malu2." Berkata Wie Tauw.

Pauw Kay San berdengus, tiba2 saja ia mengirim satu tusukan kilat.

"Lihat serangan." ia berteriak.

Berbeda dengan serangan pertama yang digerakan perlahan- lahan. Kini ia menyerang agak hebat meneriaki orang setelah serangan ditengah jalan. Itulah serangan gelap.

Terdengar lagi suara Trang... trang.. dua kali. sangat cepat sekali, lagi2 mereka telah melepaskan gebrakan2 itu.

Wie Tauw tersenyum di tempat. Tidak ada cedera luka.

Berbeda dengan keadaan lawan, Pauw Kay San berdiri dengan canggung, pada baju dibagian dada terdapat tanda tapak jalak, pecah sehingga bagian dalam. Beruntung Wie Tauw menggunakan tangan perlahan, maka tidak terluka.

Wajah Pauw Kay San pucat pasi, bagikan bertemu dengan setan jejadian, ia terbelalak, bingung dan takut.

Wie Tauw menunjuk hormat, setelah itu berkata:

"Didalam Sang leng The chung, kedudukan Pauw Kay San berada diatas Cia Cu liang, saat kau belum dapat memiliki ilmu silat yang lebih tinggi.

Pauw Kay San bergugam:

"Cia Cu Liang... Cia cu liang mempunyai ilmu kepandaian silat diatas diriku..."

Wie Tauw memotong pembicaran itu:

"Perhatikan baik2, ilmu kepandaian mu cukup gesit, sangat cepat. Tapi bila dugaanku tidak salah, kau melatih diri didalam kecepatan ilmu silat, kurang memperhatikan perubahan. Ini suatu kesalahan. Ilmu pedang tidak ubah sebagai lagu2 yang harus dimainkan. Perpaduan suara hati nurani sendiri dan alam, harus mendapat perhatian. Jangan terbatas pada Jurus2 yang mati, ada baiknya mengikuti perubahan situasi, berkembang mengikuti keadaan lawan. Ilmu pedang sangat mementingkan keadaan ini, menusuk, menyerang, membacok, menyengkelit, dan. "

Kata2 seperti apa yang tertera diatas dalah kata2 petuah setiap orang baru belajar silat, didalam arti lain. petuah seorang guru kepada muridnya. Pauw Kay san dianggap murid. Dan wie Tauw meninggikan diri sebagai guru yang bersangkutan.

Selama berkelana didalam riba persilatan, belum pernah Pauw Kay san menerima hinaan serendah itu, sesudah kalah bertempur, dirinya sangat benci kepada Cia Cu Liang, ingin sekali ia memotong berkeping-keping tubuh lawan tersebut. Sayang ilmu kepandaian si Belibis terbang yang dahulu diremehkan olehnya mendapat kemajuan banyak, dia sudah bukan tandingannya. Kekesalan ini tidak mendapat wadah yang baik manakala Wie Tauw nyerocos terus, Ia cupat pikiran, tidak sanggup menerima tekanan2 yang lebih ebat, tiba2 ia menengadahkan kepala dan mengeluarkan jeritan, pedang ditangan digorokkan kearah leher,ia bunuh diri!

Diantara pecahan darah yang memerah, tubuh Pauw Kay San bergoyang sebentar, dan jatuh ditanah.

Perkembangan situasi seperti ini sudah berada didalam perhitungan Wie Tauw, dengan suara perlahan, ia menyanyikan lagu kemenangan.

"Tua bangka, kematian seperti ini jauh lebih enak dari pada kematian orang2 yang kalian beset2".

Ia menyorengkan pedangnya, dan menyeret bangkai Pauw Kay San ketempat gelap. Siap melanjutkan perjalanan.

Tiba2................

Terdengar satu suara deheman berakat:

"Hhmm.....Didalam satu hari kau telah membunuh dua jiwa. BAgaimana daapat menaruh kedua kakimu dalam dunia persilatan? Lupakah kepada pesan yang telah kuberikan? Mulai hari ini, berusahalah untuk menghindari pembunuhan,"

Wie Tauw dapat mengenali suara itu, segera ia menjatuhkan dirinya, dengan patuh berkata

"Akan tecu perhatikan pesan ini."

Orang itu menghela napas, berkata lagi:

"Bukan kumaksudkan melarang kau membunuh orang, tapi batasilah pembunuhan."

"Tecu mengerti!"

"Su hay tong sim beng telah dirembes musuh. lekas kau pergi kesana. Berhati hatilah." Terdengar desiran angin, orang tersebut telah melayangkan diri.

Lompat naik keatas kuda tunggangannya, Wie Tauw menerukan perjalanan, Tujuannya ialah markas Besar Su hay Tong sim beng digunung Lu san.

PAda tengah malam , Wie tauw tiba dikota LEng san.

Dari mulut Pauw Kay san, ia mengetahu bahwa Ai Lam Cun berada didalam kota ini. Untuk menghindari kerewelan, ia harus mengitari satu putaran, menyusuri kaki benteng kota dan pada hari kedua diharapkan berada dikota Pohong.

Dalam perhitungan Wie Tauw, menyusuri benteng kota adalah jalan tercepat, tanpa bersuda denga Ai Lam Cun yang berada dalam kota Leng San, tentunya tidak ada kerewelan.

Mana diketahui bahwa perhitungan orang itu sering mengalami kegagalan, disaat tiba di pintu kota bagian Barat, terdengar satu suara yang menegurnya:

"Eh, cia cu Liang kah yang datang? Mengapa berada disini?"

Seorang tua berbaju hitam lompat keluar dari tempat persembunyiannya. Lagi2 seorang dari 10 jago Utama Sang teng The chung.

Wie Tauw terkejut. cepat2 ia memberi hormat dan berkata : "Aaaa Kau berada disini ? Mengapa keluar ditengah malam ?"

Orang tua baju hitam itu memperhatikan Wie Tauw, untuk beberapa saat, ia-pun sangat curiga.

"Mengapa kau berada ditempat ini?" Ia mengajukan pertanyaan. "Kaki kudaku mengalami cedera. Karena itu balik tukar kuda.

Mengalami sedikit gangguan dan berhasil melepaskan diri dari kepungan orang banyak. Karena keterlambatan itulah, aku tertinggal dibelakang."

Orang tua baju hitam menyetop pembicaraannya : "Kuda tungganganmu adalah kuda Ie coan. Berani kau mengatakan belum tiba dikota tersebut?"

"Setelah ganti kuda di kota Ia coan, aku melanjutkan perjalanan,"

"Yang kuingin tahu, bagaimana kau berada ditempat ini?" Bentak orang tua tersebut.

"Dikota Pek sa tin, aku bertemu dengan Pauw Kay San "

"Eh, kau berhasil menemukan Pauw Kay San?"

"Betul. Atas petunjuknya yang mengatakan kurang tenaga. Aku diperintah menuju kemari."

"Mengapa tidak masuk kedalam kota?" "Pintu kota telah ditutup."

"Aku tidak mengerti. Mengapa kau berubah menjadi seorang penakut?" Orang tua baju hitam itu mengerutkan jidat.

Ternyata, benteng kota itu tidak pernah menyulitkan perjalanan jago rimba persilatan. Waalaupun di tengah malam buta, setelah pintu kota ditutup oleh serdadu negeri. Dergan ilmu kepandaian mereka yang dapat terbang diantara pucuk-pucuk rumah, kesulitan kecil itu tiada artinya. Dan bagi mereka yang berkepandaian agak rendah, cukup mengeluarkan beberapa tail uang perak, memberi hadiah tanda terima kasih kepada penjaga pintu gerbang, itupun cara yang terbaik untuk memasuki kota ditengah malam.

yang diartikan sebagai penakut ialah langkah2 seperti tersebut diatas.

It Kiam tin Bu Lim Wie Tauw paham akan arti itu, segera ia berkata:

"Hari ini sangat terburu-buru, maka lupa membawa uang untuk "

Kecurigaan orang itu lenyap, segera ia berkata: "Apa langkah berikutnya dari tujuanmu?"

"Sebentar lag, haripun akan menjadi pagi, berkeliling kota sebentar, setelah pintu gerbang dibuka, aku bersedia menemui Jie Chungcu."

". Eh, mengapa kau tidak menyertai Jie Chungcu?"

"Hmm. Jie Chungcu tidak berada didalam kota. Belum waktunya

kita boleh tidur. It kiam tin bu Lim wie Tauw harus dicandak dapat."

"ooooo...." Wie Tauw mendapat berita baru. Beruntung ia menggunakan wajah Cia Cu liang. Orang tua ini tidak tahu bahwa dirinya sedang berhadapan dengan orang yang disebut.

"Jie cungcu menjaga pintu timur, nona Ai menjaga pintu Utara.

Dikala melewati pintu2 itu, tidak bersuakah dengan mereka?"

"Tidak" berkata Wie Tauw. "Baru saja memutar dipintu ini, segera bertemu denganmu "

Wie Tauw bersyukur karena tidak menemukan Ai Lam cun atau Ai ceng.

"Lekas sembunyikan kuda tungganganmu." Orang tua itu memberi perintah

Wie Tauw menyembunyikan kudanny kedalam semak2, disini ia menemukan kuda tunggangan orang ini, ia berkata :

"Eh, kuda iui juga ditukar dikota Ie coan?"

"Baru saja ditukar. Inilah perintah ji chungcu. Dikatakan pasti bahwa musuh melewati kota ini, kita harus selalu siap mengadakan pengejaran. Maka bersedia kuda segar "

Wie Tauw mendekati orang tua baju hijau itu, tiba2 ia berteriak: "Hei, ada apa ditempat itu ?"

Orang tua baju hitam menoleh kearah tempat yang ditunjuk. Tiba2 dirasakan tulang rusuknya menjadi sakit, itulah serangan gelap yang Wie Tauw hadiahkan kepadanya. Mengetahui bahwa orang tua itu telah jatuh, Wie Tauw lompat naik keatas kuda tunggangan yang baru, dibedalnya keras, segera ia melarikan diri.

Tidak terlalu lama, diudara malam gelap terdengar letupan yang agak keras, sebuah kembang api pecah diawang awang tinggi, menyinari seluruh tempat. Itulah tanda bahaya yang dilepas oleh orang tua berbaju hitam.

Wie Tauw mengaburkan kuda tunggangannya lebih keras.

Tidak beberapa lama, lapat-lapat terdengar suara ketoprakannya kaki kuda yang datang mengejar.

Hati Wie Tauw menjadi tegang. Hanya ada dua kemungkinan. ternyata Ai Lam cun atau Ai Ceng yang mengejar datang.

Tanpa menoleh sama sekali, ia melecuti kuda yang baru saja didapat.

Ia harus berada dimarkas besar Su-hay-tong-sin-beng sebelum tanggal lima belas bulan delapan. Hari yang ditetapkan musuh untuk membunuh Hong-lay Sian-ong.

Dapatkah ia menghindari kejaran-kejaran musuh? Dapatkah menggunakan perusahaan Su-thong bee-kie hang tanpa gangguan?

Suara kaki kuda di belakang Wie Tauw berhasil ditinggalkan, walaupun demikian, suara itu tetap ada.

Desingan angin terbang kebelakang, semua pohon pohon dan benda dikedua sisinya bergeser dengan cepat, Wie Tauw melakukan perjalanan yang tercepat.

Manakala langit gelap berubah menjadi putih, Wie Tauw memasuki keta Po-hong. Langsung menuju kearah pintu Selatan. Disini letak cabang perusahaan Su-thong-bee-kie-hang.

Wie Tauw menubruk masuk kedalam kandang kuda dan berteriak: "Lekas ganti kuda."

Seorang yang   kenal   kepada   wajah   cia   cu   Liang   segera menyambuti kuda Wie Tauw. Dengan tertawa berkata : "Cia Toako dari kota Leng-an ?"

Wie Tauw menganggukkan kepala, setelah berganti kuda, tanpa istirahat lagi. Ia meneruskan perjalanan. Kupingnya yang tajam, masih dapat menangkap suara derap kaki kuda sipengejar.

Wia Tauw telah membiasakan dirinya berlari dibawah kejaran orang. Hatinya agak tenang, diketahui bahwa Ai Lam cun dan Ai Ceng mengejar dirinya, tepi merekapun telah melakukan perjalanan satu harian penuh, mereka harus berganti kuda, dan itu waktu, dirinya telah lari lebih jauh lagi.

Wie Tauw mengebrak kudanya, pikirannya terus digunakan. Dibayangkan olehnya, betapa tinggi ilmu kepandaian Ai Lam cun, kecepatan larinya tidak berada dibawah derap kaki kuda. bila saja orang tua itu melepaskan kuda tunggangan dan mengejar dengan ilmu meringankan tubuh, ach....

Wie Tauw menengok kearah belakang. Helaaaaaaas.....

Seperti apa yang terbayang didalam alam pikirannya, seorang tua berbaju biru sedang mengempos empos tenaga, bagaikan seekor capung yang menutul air, hanya beberapa kali pantulan! tubuhnya meluncur cepat, bagaikan terbang diatas awang2, itulah Ai Lam cun yang datang mengejar.

Wie Tauw mengeluh :

"Oh, Su hay longsim berada masih berada di tempat ribuan lie, kau sudah ingin mengadu jiwa?"

Didalam waktu waktu tertentu, kecepatan kuda tidak akan dapat mengimbangi kecepatan larinya kaki Ai Lam cun. Wie Tauw maklum akan hal ini, tubuhnya melesat, meninggalkan kuda tunggangan dan meluncur masuk kedalam sebuah rimba.

Menyaksikan hal tersebut, Ai Lam cun tertawa berkakakan. "Ha, ha.....Keujung langitpun kau melarikan diri, tetap akan kukejar juga." Ia sangat puas.

Wie Tauw telah lenyap didalam rimba, dikenal betul akan pantangan setiap pengajar yang tidak terlalu cepat mengejar masuk kedalam rimba. Maksudnya meninggalkan Ai Lam cun sebentar dengan berdaya upaya, ia masih ingin melepaskan diri dari kejaran orang tua itu.

Terdengar teriakkan Ai Lim cun :

"Hei, jangan kau merusak nama baik It-kiam tin-bu-lim Wie Tauw yang belum pernah melarikan diri."

Wie Tauw tertawa :

"Dibawah ancaman maut. Aku tidak dapat memusingkan hal itu." Ai Lam cun sangat marah, ia membentak : "Bagus. Kau ingin mengadu lari denganku?

Huh!!"

Wie Tauw tidak mendebatnya lagi, rimba itu terlalu kecil, ia telah berada diujung lain, di-sana melintang sebuah sungai, dan diseberang dari sungai tersebut adalah dataran tanah yang luas, itu tidak menguntungkan dirinya.

Mengetahui tidak ada tempat sembunyi, ia balik menikung kearah kiri, berjongkok di-sebuah rumput yang agak lebat. Menunggu lawannya Ai Lim cun, dengan harapan agar pengejarnya lari melewati sungai, maka ia dapat berganti arah, keluar dari rimba, balik kembali mencari kuda tunggangnnnya, dengan arah yang berlawanan, ia akan menjauhkan dengan Ai Lam cun.

Rencana inipun mengalami kegagalan, terdengar suara sret sret sret sret nya babatan orang yang menebang pohon, Ai Lam cun telah memainkan senyatanya demikian rupa, semua pohon2 telah ditumbangkan, jatuh dan roboh.

Wie Tauw manjerit, tubuhnya mslesat dan lari kisamping lagi. Terdengar suara senyata yang melayang tepat, belasan batang pohon, di mana ia bersembunyi tadi telah menjadi korban keganasan pedang Al Lam cun.

Wie Tauw memuji kehebatan ilmu silat orang tua itu. Ia berseru: "Bagus! jie chungcu, ilmu pedangmu memang luar biasa."

Ai Lam cun meluncur datang, belasan pohon lagi telah ditumbangkannya.

Wie Tauw berlompat lompatan diantara pohon2 yang berguguran itu, ia berteriak :

"jie chungcu, kau sudah tidak membutuhkan kulit It-kiam-tin bu- Lim Wie Touw ?"

"Hmm.....kulit tubuhmu belum tentu lebih berharga dari kulit tubuh lain orang. Apa guna aku menyayangkannya ?"

Wie Tauw telah mengeluarkan pedang, ia menangkis beberapa serangan yang sangat mendesak, dengan tertawa berkata :

"jie chungcu, mengapa kau mengamuk kepada pohon yang tiada dosa?"

Ai Lain cun menggigit bibir, ia menyerang semakin kalap, ilmu kepandaiannya luar kiasa, bagaikan ular yang memain, pedang ditangannya meluncur gesit.

Wie Tauw telah mengeluarkan pedang, ia harus mengadakan serangan balasan, terus menerus di-cecer dengan serangan2 tentu tidak menguntungkan dirinya.

Kini, kedua jago itu bertempur diantara tumpukkan batang2 pohon yang sudah tumbang.

Masing2 ingin menjatuhkan lawan mereka, yang satu gesit dan hebat, yang lain kuat dan lihay. Pertempuran berjalan dengan kecepatan luar biasa, sulit diikuti dengan mata.

Didalam sekejap mata, 60 jurus telah dilewatkan.

Tiba2 mereka   menggereng,   masing2   mundur   dari   posisi kedudukan semula. Masing2 berhasil melukai sang lawan, dan masing2 pun terluka. Luka itu tidak ada artinya bagi kedua orang yang bertempur. Wie Tauw luka dipundak kanan, hanya satu goresan. Ai Lam cun luka dipinggang pun tiada artinya.

Kedua jago saling pandang, luka mereka tidak berat, tapi tempat tersebut sangatlah bahaya, masing-masing mengeluarkan keluhan dingin.

Wie Tauw mendahului sang lawan bicara :

"jie chungcu, kau tentu maklum, pertempuran seperti ini akan memakan waktu lama. Tidak mungkin selesai dihari ini."

Ai Lam cun memberi sahutan dingin : "Betul. Akan kulayanimu sehingga detik detik terakhir."

"Ha,ha -." Wie Tauw tertawa. "Lihatlah ke atas rambutmu yang sudah putih, kau sudah tua, masih berapa banyakkah tenaga simpanan yang dapat kau kerahkan?"

"Terima kasih kepada perhatianmu." Sahut Ai Lam cun. "Aku pernah memegang rekor bertempur beberapa hari bebsrapa malam."

"jangan mengindividukan diri sendiri. Akupun pernah mengalami pertempuran yang memakan waktu sehingga seharian."

"Tapi satu hari satu malam kau belum mengisi perut. Maka kemenangan terackhir pasti berada padaku."

Perang mulut berhasil dimatangkan Ai Lam cun. Seperti apa yang disebut oleh jago tua, belum sebutir nasipun yang mengisi perut Wie Tauw. Di kala melakukan perjalanan menghindari maut, ia dapat melupakan hal tersebut kini diberi peringatan, tiba2 saja, perutnya berkeroncongan.

Bagi seorang ahli silat, kelaparan adalah soal sipil. Tapi penderitaan Wie Tauw yang dikejar maut terus menerus, tanpa ada istirahat dan pengisian perut, tentu tidak dapat disamakan dengan Ai Lam cun yang mempunyai banyak waktu istirahat, Wie Tauw mengambil putusan nekat, ia harus menjatuhkan onng tua itu, setidak-tidaknya, harus luka bersama, hal ini harus terjadi sebelum tenaganya copot keluar dari sukma.

Mata It kiam tin bu lim Wie Tauw memancarkan hawa pembunuhan, dengan geram ia berkata :

"jie chungcu, hari ini adalah hari2 yang akan menentukan hidup mati kita."

"Betul." Berkata Ai Lam cUn. "hari2 yang akan menentukan riwajat hidupmu."

Wie Tauw mengirim satu tusukan pedang, ia membentak : "Terima serangan!"

Setelah ujung pedang terjulur sebagian, Wie Tauw manekan pundak, arah pedang membuat satu lingkaran, bagaikan bintik2 jarum dilangit, serangan itu berkembang biak, seolah olah cahaya jala yang mengurung datang.

Menyaksikan serangan Wie Tauw, dengan tata cara permainan pedangnya yang luar biasa, Ai Lam cun tidak menunjukkan rasa gentar, tanpa ragu2, ia memapaki serangan itu dengan satu tutupan sinar pedang. Kekerasan dilawan dengan kekerasan.

Ser...Ser .... dua bilah pedang memain di-tempat2 yang berbahaya dari kedudukan lawan. Tidak seorang diri mereka yang dapat menarik keuntungan, masing2 berganti posisi.

Satelah mundur satu tapak, Wie Tauw meneruskan serangannya.

Inilah serangan nekad!

Lebih berbahaya dari gebrakan2 semula, lebih cepat dan lebih sulit diikuti perkembangan mata.

Hanya terlihat dua gulungan sinar pedang yang melingkar lingkar, tidak terlihat tubuh2 dari ke dua orang yang bertempur. Tidak dapat mambedakan, di mana Wie Tauw dan dimana Ai Lain cun. Dikala hampir tiba pada jurus2 keseratus.

tiba tiba Wie Tauw mengeluarkan suara lengkingan, bagaikan memainkan ilmu golok; ia memutar pedang demikian rupa, hanya terdengar suara wat wut wat wut dari angin tersebut.

Dan dua bayangan terpisah. Taburan yang seperti benang hitam berjatuhan ditanah. Itulah rambut Ai Lam cun yang menjadi korban pedang lawan.

Wie Tauw berdiri dengan napas sengal sengal keadaannya tidak lebih baik dari keadaan Ai Lam cun, pahanya mengucur darah merah, itulah pedang lawan yang melukainya.

Menilai keadaan, luka yang Wie Tauw derita lebih hebat dari Ai Lam cun. Berhubung rambut orang tua berbaju biru itu yang hampir di buat botak, bukanlah satu dua hari dapat tumbuh kembali, mana sitokoh aneh dari perusahaan Boan-chiu Piauw-kiok boleh merasa puas. Ia mengeluarkan senyuman.

Ai Lam cun memasang kedudukan baru, ia mengacungkan pedang serta berkata :

"Mari kita teruskan pertandingan."

Wie Tauw menganggukkan kepala. Tiada jalan kedua bsginya. Kecuali dapat mengalahkan orang tua itu, sedangkan hal itu adalah tidak mudah

Tiba-tiba muncul seorang tua berkerudung, segera ia membentak kepada kedua orang tersebut.

"Berhenti !"

16

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

munculnya orang tua berkerudung itu segera menghentikan jalan pertempuran. Wie Tauw lompat jauh kesamping, dengan sikap patuh berdiri ditempat itu; Ai Lam cun memancarkan sinar kebencian dan membentak : "Sebutkan namamu."

"Nama palsu." Berkata orang berkerudung itu.

"Apa arti jawaban ini ?" Bertanya Ai Lam cun tidak mengerti. "Artinya, aku tidak mau menyebut nama gelarku. Seperti

keadaan kalian yang menggunakan nama Ai Tong cun, Ai Lam cun, Ai See cun dan Ai Pek cun. Semua pun ini nama nama palsu, bukan

?"

"Bagaimana kau tahu, bahwa nama kami berempat bukan nama benar?"

Orang tua berkerudung itu berkata:

"Mengapa harus menyangkal kenyataan?"

"Bagus. Kini sebutkanlah maksud kedatangan mu."

"Aku ingin menolong dirinya." Orang yang baru datang itu menunjuk It kiam tin bu lim Wiee Tauw.

"Ha, ha, ha, ha.   "

"Mesngapa kau tertawa?"

"Kau dapat menyebut nama kami 4 saudara tentunya tahu, bahwa kami bukanlah menusia biasa."

"Ha, ha, ha....Kukira nama2 12 Duta Istimewa Berbaju Kuning sudah tidak menggetarkanmu, bukan-?"

Dengan sungguh2, Ai Lim cun berkata: "tidak dapat disangkal bahwa kedudukan 12 Duta Istimewa Berbaju Kuning berada diatas kedudukkan orang lainnya, mereka menpunyai ilmu silat yang tinggi, mempunyai kepintaran yang luar biasa. Tapi didalam hal ini bukanlah aku takut kepada mereka. Didalam penilaian mataku, tidak sulit untuk menghadapi kedua belas orang itu."

Orang tua berkerudung menganggukkan kepala, ia berkata lagi: "Bagus. Bagaimana bila guru2 dari kedua-belas Duta2 Istimewa Berbaju Kunirg itu ?"

Wajah Ai Lam cun berubah, hanya sebentar dan ia mengajukan pertanyaan :

"Mungkinkah para Raja Pendekar itu masih ada ?"

"Mengapa tidak? Kecuali Hong-lay Sian-ong tidak ada orang yang melihat sebelas Raja Pendekar, mereka menduga telah tiada. Sebenarnya, mereka masih segar bugar, mengasingkan diri dari alam keramaian."

"Mereka telah mengasingkan diri, bagaimana kau tahu adanya kedua belas Raja2 Pendekar Silat tersebut?"

"Ingin mendengar nama 12 Raja Pendekar Silat ?" "Sangat menarik hati."

"Mereka adalah Pendekar Kedewaan Hong lay Sian-ong, Pendekar Ketenangan Bu Eng, Pendekar Kejayaan Bu Hiong, Pendekar Keagungan Bu Hiuw, Pendekar Kesucian Bu Ong. Pendekar Ke muraman Bu Say, Pendekar Kekesatriaan Bu Kiat, Pendekar Keamanan Bu cun, Pendekar Kemakmuran Bu Hiap, Pendekar Ketentraman Bu Su, Pendekar Kebebasan Bu Sen dan Pendekar Kekaryaan Bu Khun."

"Oooo.... Aku juga dapat menyebut nama dari 12 Raja Silat lainnya:" Berkata Ai Lam cun tertawa.

"Ha, ha....Seperti apa yang telah kuduga," Orang tua berkerudung itu tertawa. "Katakanlah."

Dengan menunjukkan wajahnya yang puas, Ai Lam cun berkata: "Urutan ke-12 Raja Silat adalah : 1.Maha Raja. 2. Raja Gila. 3.

Raja Bisa. 4. Raja sinting. 5. Raja Siluman. 6. Raja Bajingan. 7. Raja

Buaya. 8. Raja Srigala. 9. Raja Copet. 10. Raja Semrawut. 11. Raja Racun. 12. Raja Maling."

"Sudah kuduga.. sudah kuduga..." berkata orang tau berkerudung itu. "apaya yang telah kau duga?" bertanya Ai Lim Cun.

Orang tua berkerudung berpaling kearah It-kiam-tin-bu-lim-Wie Tauw, kemudian berkata:

"Pergilah untuk meneruskan perjalananmu."

Wie Tauw melesatkan diri, dengan satu jurus Giok-lie tauw-cun, ia lompat keluar dari rimba itu.

Ai Lam cun segera mengadakan pengejaran. ia membentak: "Jangan lari."

Orang tua berkerudung tidak berpeluk tangan, entah bagaimana, tubuhnya juga turut berpindah tempat.

"Ayaa..aaaa "

Wie Tauw dan orang tua berkerudung itu turun ketanah. Ai Lam Cun gagal mengadakan pengejaran. Sedangkan orang tua yang menghadang ditengah, pada tangannya terdapat tangkai batang pohon yang telah terpapas beberapa bagian.

Dikala orang tua berkerudung memunculkan dirinya, ia bertangan kosong, dan bila mana melihat Ai Lam cun ingin mengejar Wei tauw, ia lompat dan menyambar setangai batang pohon, dengan senyata itu ia menghalau pedang Ai Lam Cun.

Meninggalkan cerita orang tua berkerudung yang masih menahan Ai Lam cun, dan menyusul cerita si jago luar biasa, It Kiam tin bu lim Wie Tauw.

Melesat dari luar rimba, Wie Tauw berhasil menemukan kuda tunggangan yang sedang enak makan rumput, ia mencongklang kuda tersebut, membedal menuju kearah gunung Lu-san.

Tidak ada pengejaran. Hal ini sudah berada dalam perhitungan dirinya, mengingat Ai Lam Cum tidak mempunyai itu kesempatan.

Betulkah tidak ada pengejaran?

Wie Tauw ingat betul bahwa psngejar dirinya terdiri dari dua penunggang kuda, itulah Ai Lam cun dan Ai ceng.

Bila Ai Lam cun meninggalkan kuda tunggangan dan mengejar dengan ilmu meringankan tubuh setelah berselang beberapa saat, bagaimana Ai ceng belum berhasil mengejar ketempat itu? Hnm, gadis yang banyak akalnya itu tentu mempunyai rencana luar biasa. Mungkinkah sengaja melepas dirinya, dan menangkap dengan lain tipu muslihat ?

Disepanjang jalan, Wie Tauw memperhatikan kedua pinggir jalan, ia harus waspada kepada setiap serangan bokongan.

80 Lie telah dilewatkan, tanpa ada satu gangguan.

It kiam tin bu lim Wie Tauw telah menghampiri kota Yap biau.

Perusahaan penyewa kuda Su thong bee It bang mempunyai banyak barang2, yang terdapat diseluruh pelosok, termasuk dikota Yap biau tidak ada pengecualian.

Wie Tauw harus lebih berhati hati, dimisalkan Ai Ceng telah mendahului dirinya, bercokol didalam cabang perusahaan didalam kota itu, itulah sangat berbahaya.

Haruskah ia memasuki kota Yap-hian? Haruskah menggunakan kuda2 dari Su-thong-bee-ki-tiang ?

Kini, kuda tunggangan Wie Tauw telah memasuki pintu kota. Ia harus berani hati. Langsung menuju kearah anak cabang perusahaan Su thong-bee-kie bang.

Seorang pegawai kuda datang menyambuti kuda tunggangan Wie Tauw, dengan bersenyum senyum ia berkata:

"Ingin melakukan perjalanan jauh?"

"Tujuan Lu-san." jawab Wie Tauw singkat. Ia memperhatikan wajah pegawai perusahaan itu. Biasa, tidak ada perubahan yang mendadak. Didalam hal ini, tentunya Ai Ceng belum berhasil mendahuluinya.

Satelah menerima kuda baru, Wie Tauw mengajukan pertanyaan: "Pada pos berikutnya, dimanakah aku harus berganti kuda?" "Kota Tok-su-tin."

"Bagaimana barus tiba dikota Tok-su-tin ?"

"Setelah melakukan pcrjalanan 10 lie, dimana ada jalan bercagak dua, kau boleh mengambil jalan yang sebelah kiri."

Diwakili melakukan tanya jawab, Wie Tauw memperhatikan wajah pegawai itu, tidak ada yang mencurigakannya, tentunya tidak ada sesuatu yang diluar dugaan.

Kini ia bertanya lagi:

"Bilakah dapat tiba dikota tersebut." "Kurang lebih diantara tengah malam." "Terima kasih."

Dan Wie Tiauw melanjutkan perjalanan, menuju kearah kota Tok su tin.

Setelah keluar koa, Wie Tauw membedal kuda tunggangannya,

10 lie kemudian, ia telah berada didepan sebuah persimpangan jalan.

Menurut keterangan pegawai perusahaan tadi, ia harus menempuh jalan yang disebelah kiri, maka akan tiba dikota Tok su tin.

Menurut arah tujuan, seharusnya jalan yang arah kanan itulah jarg menuju kegunung Lu san. Lapi Wie Tauw tidak kenal jalan, dan petunjuk itu seharusnya tepat. Ia mengambil jalan yang disebelah kiri.

Semakin lama, perjalanan semakin sepi, kecuali jalan yang berliku liku, tidak terlihat lagi orang yang lewat. juga tidak tampak ada penghuni pribumi setempat.

perjalanan seperti ini tidak dapat disamakan deugan perjalanan biasa, kesatu, ia harus memperhatikan setiap benda yang seakan akan dapat bergerak, kedua jalan yang banyak batu itu pun banyak mengadakan gangguan.

Dari jauh terlihat penerangan api, itulah sebuah kota. Wie Tauw berteriak girang. Ia mempercepat jalannya kuda, lupalah kepada bahaya yang mengancam.

Setelah tiba dikota tersebut, Wie Tauw dapat membuktikan kebenarannya, itulah kota Tok-su tin.

Langsung ia menuju kecabang perusahaan Su thong-bee-kie- hang.

Kota Tok-su-tin terlalu kecil, hanya ada seorang pegawai dengan dua ekor kuda. Dikala kedatangan Wie Tauw yang membangunkannya. ia mengucek ngucek mata dan bertanya:

"Ingin mengganti kuda ?"

"Betul. Barilah aku seekor kuda yang bagus."

"Ada sesuatu yang tidak beres pada kuda2ku. jangan digunakan terlalu cepat." Berkata orang itu.

"Aku dari pusat." Berkata Wiee Tauw. "jangan kau main gila." "Disini hanya ada dua ekor kuda."

"banyakkah orang yang menyewa kuda?"

"0h, satupun tidak ada. Sudah tiga hari tidak ada langganan. jurusan dibagian ini sangat sepi sekali."

"Aku sedang melakukan tugas kegunung Lu-san Diamanakah pos berikutnya.?"

"Kota Ie kie-tiu. Kau tiba dikota tersebut pada pagi hari." "Hanya satu jurusan?"

"Dasarnya hanya ada satu jalan. Tapi bila kau ingin memotong jalan, melakukan perjalanan pegunungan jauh lebih dekat dari pada jalan yang telah ditetapkan."

"jalan berjarak pendek yang kau maksudkan?" "Keluar kota tiga lie, ada jalan yang agak kecil, kurang lebih empat lie, adalah jalan pegunungan Gu-thauw san, melewati jalan pegunuagan Gu-thauw san kurang lebih tujuh belas lie, maka kita akan tiba dikota Ie-kie-iin. Hanya ada satu bagian dari jalan gunung Gu-thauw-san yang rusak, orang harus meninggalkan kuda berjalan kaki, maka jarang orang mengambil jalan ini."

Wie Tauw tertawa :

"Aku tidak mau meliwati jalan pendek itu. Bila kesasar dijalan, maka akan lebih lama dan rencana yang lama."

Pegawai itu tertegun.

Wie Tauw telah meneruskan rentetan perjalanan yang keenam kalinya.

Tiga lie setelah meninggalkan kota, Wie Tauw dapat melihat adanya jalur jalan yang lebih kecil, waktu terlalu gelap, tidak dapat dibedakan betul tidaknya keterangan pegawai cabang perusahaan Su Thong bee kie liang itu. Untuk mempercepat perjalanan, Wie Tauw memutuskan untuk memotong jalan. Ia menikung kearah jalur kecil.

Berjalan kurang lebih 4 lie, ada sebuah gunung yang tengkurap didepan, tentunya gunung Gu thauw san.

Wie Tauw berkependaian tinggi, tidak takut kepada binatang2 liar ia melakuksn perjalanan di jalan gunung.

Tidak berapa lama, jalan ini seperti berganti arah- Wie Tauw mulai menaruh curiga. Semakin lama, arah itu semakin bertentangan dengan tempat tujuan.

Mungkinkah masuk kedalam jaringan perangkap musuh?

Wie Tauw memanjangkan telinganya Meneruskan perjalanan dengan hati2.

Beberapa saat lagi, Wie Tauw menghentikan kuda, ia memandang kesuatu arah, ada sesuatu yang mencurigakannya. Dari sana terdengar suara orang tertawa : "Ha,ha,..., Disinilah kau akan manguburkan diri."

Dibarengi dengan munculnya beberapa rombongan orang, jumlah mereka diperkirakan diantara 50-an, ada anak muda dan ada orang tua. Semua bsrseragam hitam, pada tangan orang2 itu tergenggam aneka macam senyata. Mereka mengurung Wie Tauw dipusat lingkaran

Wie Tauw terkejut. Ia memperhatikan orang2 itu, dan seperti apa yang telah diduga, diantara mereka terdapat juga Ai Ceng.

"Ha, ha..." Wie Tauw tertawa. "Nona Ai, semua rencana tentunya keluar dari pikiranmu?"

"Betul." Ai Ceng menganggukkan kepala.

"Tidak ada jalan damai." kata Wie Tauw tertawa. "Aku sungguh tobat kepadamu."

Ai Ceng telah mengeluarkan pedangnya, dengan sikap adem berkata : "Sudah tidak ada waktu untuk bertobat." Wie Tauw tidak turun dari kuda tunggangan, memandang para pengurungnya, ia berkata :

"Nona Ai, kukira orang2mu ini bukan manusia goblok."

"Goblok atau tidaknya, setelah ditempur mereka. Kau dapat membuktikan semua kecurigaanmu" jawab Ai Ceng singkat.

"Tidak ada perundingan?"

"Boleh saja. Bila kau bersedia berlekuk lutut dibawah kedua kakiku."

"Syaratnya tidak sukar untuk dipenuhi." Berkata Wie Tauw. "Yang penting, bila kujalanksn perintahmu tadi, kau tidak akan menyintai lagi seorang pemuda yang tidak mempunyai ambekkan. Maka, tekuk lututku itu boleh dihutang untuk lain kali saja. Setelah kita..."

Wajah Ai Ceng bersemu dudu, ia membentak :

"Bajingan, jangan main putar lidah. Hari ini, maksud tujuanku hanya satu, ialah mencopotkan batang lehermu dari tempatnya."

"Kau masih seorang gadis, tidak baik mengeluarkan kata2 seperti itu."

Ai Ceng membanting banting kaki, segera ia mengeluarkan perintah :

"Semua maju. cingcang orang ini sehingga mati."

Belasan orang berbaju.hitam telah meluruk kearah Wie Tauw. dengan bermacam2 senyata, pedang, golok dan rantai besi, mereka menghujani sitokoh ajaib dengan hujan senyata.

It kiam tin bu lim Wie Tauw mengeluarkan tertawa panjang, disertai dengan beberapa sabetan pedang, terlihat cahaya sinar pedang sijago ajaib yang luar biasa, dan beberapa senyata yang menyerang datang itu telah berguguran jatuh.

Wie Tauw telah kembali nangkring diatas kudanya, sangat ganteng sekali. Ia memberi kerlingan mata kearah sigadis dan berkata :

"Bagaimana? Mengapa tidak membawa jago silat kelas utama? Memaksa mereka mengantar kematian dihadapanku adalah kebijaksanaan yang kurang sempurna."

Ai Ceng berjingkrak2, hatinya sangat panas sekali, kemarahannya tidak dapat dikendalikan, ia membentak kepada orang2nya :

"Goblok! Lekas keroyok! Mengapa kalian diam saja ditempat itu

?"

-ooo0dw0ooo-