-->

Pembunuh Gelap Jilid 08

Jilid 08

Mengikuti perjamuan. Dimana terdapat juga Ai Ceng, Lay Eng Tauw dan Bwee Chun Giam.

Wie Tauw pandai membawa dirinya, semua orang tidak menyangka bahwa 'Wie Tiong Beng' ini mempunyai ilmu kepandaian silat tinggi. Orang dengan julukan It-kiam-tin-bu-lim Wie yang disegani orang.

Dikala mereka sedang makan minum, tiba-tiba datang seorang yang memberikan laporan:

"Lo-tong-kee, Jie Loya telah kembali." Jie Loya berarti majikan yang kedua.

Ai Ceng yang mendengar berita itu, lompat berjingkrak, katanya: "Hha, pamanku yang kedua telah kembali!"

Suara Ai Ceng disusul oleh satu suara tertawa panjang yang menggema seluruh isi ruangan:

"Ha-ha-ha.     Sudah ketagiban main catur lagi ?"

Seorang tua dengan pakaian warna biru telah tampil disana, kurus dan panjang. Dia inilah tentunya yang disebut sebagai Jie Loya.

Ai Pek Cun Lay Eng To dan Bwee Cun Giam telah bangkit dari tempat duduk masing2, mereka memberi hormat kepada orang yang baru datang.

"Jieko," berkata Ai Pek Cun. "Kau telah kembali ?" Wie Tauw juga sudah turut berdiri.

Orang itu mengangukkan kepala. Tiba2 dilihat bertambahnya seorang baru, ia memandang Wie Tauw dan menatapnya tajam.

"Samte, siapakah orang ini?" Ia mengajukan pertanyaan Kepada Ai Pek Cun.

Samtee berarti adik nomor tiga. Ternyata Lo-tong-kee Ai Pek Cun bukanlah majikan pertama dari perusahaan besar itu.

Mendapat pertanyaan, Ai Pek Cun segera:

"Kawan Ai Ceng yang bernama Wie Tiong Beng. Pengetahuannya cukup lumayan, Siaote meminta bantuannya untuk membantu usaha kita." Dan memandang Wie Tauw berkata: "Tuan Wie, inilah majikan nomor dua Ai Lam Cun. Kalian boleh berkenalan."

Wie Tauw memberi hormat:

"Boanpwee bernama Wie Tiong Beng, dengan ini memberi hormat kepada Lo-tong-kee."

"Duduklah-" Berkata orang yang bernama Ai Lam Cun itu.

Didalam hati, It-kiam-tin-bu-lim Wie Tauw berkata; "Inilah dua biang keladi dari drama 'Pemuda berkerudung hitam itu."

Para pelayan telah menambah kursi, dimeja jamuan juga disediakan sumpit dan mangkuk, khusus untuk orang yang baru datang itu.

Setelah duduk. Ai Pek Cun memandung Ai Lam Cun bertanya: "Bagaimana keadaan perdagangan kita?"

Ai Pek Cun tertawa.

"Lumayan." Katanya. "Hanya untuk daerah Ho-lam menderita kerugian, ada orang yang berani mengalap usaha kita. Aku telah mengutus dua pegawai untuk mengadakan pengejaran."

Yang dimaksud dua pegawai oleh Ai Pek Cun tentu bukan pegawai biasa. Mereka adalah si Iblis gemuk Keng Lie dan iblis kurus Eng Hian.

"Aku tahu." Ai Lam Cun menganggukkan kepala. "Orang yang mengalap dagangan kita itu telah melarikan diri kedaerah."

Ai Pek Cun terkejut.

„Dua pegawai siaotee itu tidak berhasil mengejar?"

"Tentunya tidak." Berkata Ai Lam Cun. "Ada orang yang sudah merencanakan penipuan itu, maka segala sesuatu telah diatur bagus. Dua pegawai itu harus beberapa kali menubruk tempat kosong. Dikala benar2 tahu arah lari sipenipu ulung, mereka sudah tidak berhasil mengejar lagi."

Wie Tauw sangat gembira. Maka diketahui bahwa 18 Lohan Siao- lim-pay itu berhasil menghindari pengejaran iblis gemuk dan iblis kurus, tentunya telah berhasil membawa sipemuda berkerudung hitam menuju kearah Su-hay-tong-sim-beng.

Wajah Ai Pek Cun mcnjadi suram, dengan mengeretek gigi, ia berkata:

"Masih ada orang yang berani menipu usaha Sang-leng The- chung? Hm . . . Dikira kita mudah dianggap begitu saja ? Hm.....

Biar bagaimana, kita akan menyiapkan penagih-penagih hutang kita mengejarnya."

Dengan tenang, Ai Lam Cun berkata: "Mengutus orang menagih sudah agak terlambat. Kukira berusahalah dengan usaha lain."

Ai Pek Cun memandang Ai Lam Cun. Katanya: "Jie ko mempunyai rencana bagus?"

"Belum ada. Mari kita makan minum sambil mencari daya upaya untuk menagih hutang yang dianglap orang itu."

"Berapa besarkah uang yang tidak dibayar olehnya?"

Ai Pek Cun menghelah napas. katanya: "Jumlahnya tidak besar, tapi juga tidak kecil Kurang lebih seribu tiga ratus tail?" "Hou.....Seribu tiga ratus tail? Jumlah yang tidak sedikit." Wie Tauw berteriak..

"Dahulu, orang itu sangat jujur. Entah mengapa, tiba2 saja berani menyengkelit uang kita.

Uh....." Ai Pek Cun menarik napas panjang pendek.

Ai Lam Cun berkata dingin: "Dibelakangnya tentu ada lakon baju hijau."

Ai Pek Cun menganggukkan kepala- "Betul." Ia berkata. "Hal ini pasti."

Tanpa sadar, Wie Tauw bersorak: "Hwa, orang ini sungguh berani."

Ai Lam Cun melirik, memberi kerlingan mata yyang sangat tajam, Katanya: "Eh, tuan Wie seperti berada dipihak orang luar?"

Wie Tauw terkejut. Ia harus cepat2 menyelesaikan kesalah pahaman ini.

Ai Ceng lebih cepat, gadis itu segera berkata:

"Jie-pek maklum, Ia memang suka berkelakar. Tetapi kutahu betul, bahwa orangnya amat jujur-"

"Ha, ha, ha. " Ai Lam Cun tertawa, Ia memang sangat sayang

kepada sang kemenakan itu.

Maka tidak menarik panjang perkara. Memandang kearah Ai Pek Cun, ia berkata; "Sim-tee, putrimu ini telah berpihak kearah kekasihnya."

Selembar wajah Ai Ceng menjadi merah, ia jengah. Untuk menghindari diri dari godaan2 yang lebih memalukan dirinya, ia bangkit dari tempat duduk, kemudian melarikan diri, masuk keruang dalam.

Perjamuan itu dilanjutkan beberapa wakil dan didalam suasana yang riang, mereka menutup makan malam. Wie Tauw kembali kedalam kamarnya, disana tampak Ai Ceng.

Gadis itu sedang duduk terpekur ditempat tidurnya.

"Ceng-moay," Wie Tauw memanggil perlahan, "Beberapa macam masakan enak yang terakhir tidak kau selesaikan. Apakah tidak lapar?"

Ai Ceng membelalakkan mata, ia berkata dengan suara manja: "Semua ini gara2mu juga."

Wie Tauw mendekati gadis itu, dengan penuh kasihan, ia berkata;

"Aku sangat berterima kasih kepadamu."

"Pamanku menceploskan hubungan kita terang terangan, bagaimana aku bisa duduk lebih lama lagi? Dimanakah harus kuletakkan kulit mukaku ?"

"Bila kau malu. Kantongi saja didalam saku baju." Berkata Wie Tauw tertawa.

Ai Ceng mendelikkan mata.

„Ceng moay," Wie Tauw berkata sungguh2. "Kau belum menceritakan tentang adanya paman nomor dua ini."

"Ketahuilah bahwa ayahku berempat saudara, kecuali paman tadi, aku masih mempunyai dua paman lainnya."

"Ouw. "

"Ayah menduduki urutan nomor tiga, yang tertua bernama Ai Tong Cun, yang tadi bernama Ai Lam Cun menduduki urutan kedua, yang ketiga ayahku Ai Pek Cun dan yang terakhir paman kecilku yang benama Ai See Cun. Mereka empat saudara rata2 mempunyai ilmu silat dan surat yang bagus."

"Aku belum melihat ibumu ?"

"Aku sudah tidak beribu." Mata Ai Ceng menjadi basah.

„Oh. maaf. Aku tidak sengaja." "Tidak mengapa," Berkata Ai Ceng menyusut matanya. "Aku tahu, kau sangat sayang kepadaku hal ini sudah cukup menggirangkan hatiku."

"Dikala berkunjung kegereja Siao-lim-sie, bibi Hoan itu mengaku kau sebagai anaknya. Mengapa ia tidak memperlihatkan diri? Tidakkah tinggal bersama dengan kalian ?"

"Ia ada urusan lain, dua hari belakangan ini, terus menerus mengusahakan urusan itu, repot sekali. Dan kini telah berangkat kelain tempat."

Diluar pintu terdengar suara langkah kaki yang mendatangi, tidak lama terdengar suara Lay Eng To:

"Tuan Wie ada dikamar ?"

"Ada apa?" Wie Tauw menampilkan dirinya.

Tampak orang tua itu berdiri didepan pintu, dengan wajahnya yang tersungging senyuman, menantikan keluarnya Wie Tauw dan berkata:

"Lo-tong-kee ada urusan, ia menunggu dikamar kerjanya."

"Baik. Aku segera datang. Dimanakah kamar kerja Lo-tong-Kee

?"

"Mari ikut dibelakangku."

Ai Ceng mengikuti dibelakang mereka. Lay Eng To tidak berpaling

kebelakang, tetapi langkah gadis itu tidak lepas dari pendengarannya, dengan suara datar ia berkata:

"Nona Ai, ayahmu tidak ingin diganggu." "Aku adalah putrinya."

"Tetapi ia tidak mengundangmu."

"Hm." Ai Ceng cukup paham adat ayahnya. Maka ia membalikkan dirinya dan pergi dengan perasaan mendongkol.

"Akupun tidak sudi pergi." Berkata sigadis mendongkol. Lay Eng To berjalan didepan, Wie Tauw mengikuti dibelakang.

Melalui beberapa lorong, masih juga Lay Eng To belum menghentikan langkah gerakannya Wie Tauw mulai menaruh curiga.

"Lay congkoan." Ia memanggil. "Tahukah apa keperluan Lo-tong- kee memanggilku ?"

"Mungkin merundingkan cara2 untuk menghadapi orang yang melarikan diri itu." Jawab Lay Eng To sangat singkat.

Hati Wie Tauw terkejut, menunjukkan rasa bingungnya, ia bertanya :

"Aku tidak tahu menahu tentang hal itu, bagaimana merundingkan soal tersebut."

"Entahlah. Setelah menemui mereka, tentu kau mengerti."

Mereka telah tiba disuatu ruangan, Lay Eng To membuka pintu dan berkata:

"Masuklah."

"Silahkan." Wie Tauw menyilahkan orang masuk lebih dahulu. "Aku masih banyak urusan." Berkata Lay Eng To. "Masuklah

seorang diri."

Wie Tauw menggeser kaki, ia masuk kedalam ruangan itu.

Baru saja ia bergerak, tiba2 dirasakan kepalanya dibentur oleh suatu benda berat. Keadaan itu menjadi gelap, matanya berkunang- kunang sebentar dan tubuhnya jatuh mengeloso, ia pingsan.

Tatkala siuman kembali, ia mendapatkan dirinya telah terbaring disuatu kamar gelap.

Itulah kamar yang berada dibawah tanah. Tidak terlihat selembar daun pintu, tidak terlihat sebuah lubang jendela. Dan dihadapan si- jago ajaib Wie Tauw, duduk dua orang, mereka adalah Ai Lam Cun dan Ai Pek Cun.

Melihat orang itu telah mengeliat, Ai Lam Cun mengeluarkan suara dengusan yang ingin. "Hmmm. "

Tanpa bicara, Wie Tauw sudah tahu bahwa penyamarannya telah diketahui orang. It-kiam-tin-bu-lim Wie Tauw mengusap-usap kepalanya yang masih sakit, dengan tertawa getir

ia berkata:

"Lo-tong-kee, upah jasaku yang sebanyak dua tapi itu belum kuterima. Tetapi banjol dikepala lebih dahulu yang kurasakan."

Ai Lam Cun bergoyang-goyang ia berkata: "Tuan Wie, kita empat saudara, kecuali membuat dan menjual beraneka macam daun teh. masih ada usaha lain. Tahukah usaha apa yang kita lakukan itu ?"

"Memproduksi kulit ?" Wie Tauw membuka mulut.

"Betul memproduksi kulit manusia." Ai Lam Cun menganggukkan kepala. "Maukah tuan Wie turut serta ?"

"Hal ini memang menarik. Bolehkah aku mendapat keterangan yang lebih jelas?" Wie Tauw telah berhadapan dengan pucuk pimpinan tertinggi dari para usahawan pabrik kulit manusia ini. Ia harus berhati-hati.

"Bila kau bersedia diajak bekerja sama," berkata Ai Lam Cun perlahan. "Beritahukan asal usul aslimu."

"Loo-tong-kee sedang mengada kir nama." Berkata Wie Tauw batuk2. "Aku percaya bahwa Lo-teng-kee, siapa diriku."

"Betul." Berkata Ai Lam Cun. "Yang kukenal wajahmu It-kiam-tin- bu-lim Wie Tauw dari Boan-Chio Piauw-kiok dikota Tiang-an. Tapi It- kiam-tin-bu-lim Wie Tauw dari Boan-chio Piauw-kiok itu adalah jelmaan Ie Lip Tiong. Sedangkan Ie Lip Tiong telah dibunuh orang dan mati digunung Lu-san. Berita selanjutnya memberi tahu bahwa Hong-lay Sian-ong mengutus Duta nomor delapan Lu Ie Lam pergi kekota Tiang an, disana ia menemuimu dan memberi jawaban Duta Istimewa Berbaju Kuning Nomor jabatanmu ini sangat rahasia. Tapi kami dapat mengetahui cepat. Dikala datangnya berita itu, aku tertawa, dari manakah muncul seorang It-kiam-tin-bu-lim Wie Tauw kedua. Tidak disangka kejadian aneh betul2 terjadi, kau muncul ditempat itu, kau membantu Siao-lim-pay menggagalkan usaha kami. Maka hal yang ingin kuketahui ialah, siapa asal usul dirimu yang asli? Kau, It-kiam-sin-bu-lim Wie Tauw kedua ini bagaimana menampilkan diri? Siapakah keadaan dirimu yang sebenarnya?"

Sampai disini, cerita meningkat kedalam acara pokok.

Siapakah It-kiam-tin-bu-lim Wie Tauw yang kini sedang berhadapan dengan Ai Lam Cun dan Ai Pek Cun ?

Bila Ie Lip Tiong dapat mengubah dirinya menjadi It-kiam-tin-bu- lim Wie Tauw, mungkinkah ada manusia kedua yang turut mangikuti jejak pemuda itu, menjelma menjadi It-kiam-tin-bu-lim Wie Tauw kedua?

Dimanakah perbedaan It-kiam-tin-bu-lim Wie Tauw pertama dan yang kedua ?

Betulkah It-kiam-tin-bu-lim Wie Tauw ini dapat menundukkan rimba persilatan?

Dan siapa komplotan tukang beset kulit manusia, Ai Teng Cun, Ai Lam Cun, Ai Pek Cun dan Ai See Cun?

Bagaimana pula kasih percintaan Ai Ceng dengan Wie Tauw ? Semua ini akan terjawab dibagian berikutnya.

xxxxxxxxx

SIAPAKAH It-kiam-tin-bu-lim Wie Tauw ?

Diketahui bahwa It-kiam-tin-bu-lim Wie Tauw adalah samaran Ie Lip Tiong, tetapi Ie Lip Tiong telah mati digunung Lu-san. Mati menjadi korban penasaran, karena fitnah pemuda misterius berkerudung hitam.

Pemuda misterius baju hitam adalah Su khong Eng. Su-khong Eng adalah anak angkat dari ayah Ai Ceng. "Lekas katakan," terdengar Ai Lam Cun membentak. "Kau, alias Lie Tiong Beng alias It-kiam tin-bu-lim Wie Tauw dan entah alias apa lagi bagaimanakah sebutan nama aslimu?"

Wie Tauw hampir bertepuk tangan, ternyata musuh belum tahu asal usul dirinya. Bila saja ia berhasil meloloskan diri dari tempat ini pasti masih mempunyai banyak kesempatan untuk melayani mareka.

Ia pun terkejut, heran atas infonya sang lawan yang sangat tajam itu, dari mana diketahui bahwa dirinya adalah adalah samaran It-kiam-tin-bu-lim Wie Tauw ?

Dari mana musuh tahu bahwa dirinya telah menjabat Duta Istimewa Berbaju Kuning Nomor 13?

Dibentak sampai dua kali, baru ia tertawa berkakakan.

„Ha, ha, ha, ha,. "

Wajah Ai Lam Cun menjadi masam. Matanya mengeluarkan cahaya seperti binatang.

"Sahabat," katanya. Entah bagaimana ia harus memanggil orang yang menyamar menjadi It-kiam-tin-bu-lim Wie Tauw ini. "Didalam keadaan yang tidak menguntungkanmu. tidak seharusnya kau tertawa-tawa."

"Mengapa tidak boleh tertawa ?" Wie Tauw menantang. "Katakanlah alasan tertawa itu." Ai Pek Cun berkata dingin. Tidak

disangka olehnya bahwa, orang yang ingin dipungut menjadi mantu itu adalah lawan yang terberat.

"Kalian berdua ingin mengetahui nama asliku bukan ?" Wie Tauw masih dapat menjaga ketenangan dirinya.

"Betul." Berkata Ai Pek Cun. "Kau wajib berterus terang." "Sebelum memberikan jawaban ini, aku ingin mengetahui kesan

kalian terhadap kematian Ie Lip Tiong, senang atau sedih? Girang atau menyesal ?" "Ha, ha, ha, ha.....Hali ini sudah berada didalam dugaan kami. Hal ini sudah berada didalam garis yang kami tentukan. Ayah Ie Lip Tiong dibunuh mati oleh lima ketua partay besar, sebelum berhasil menuntut balas itu, Ie Lip Tiong harus mati penasaran. Baginya mati penasaran penasaran, tetapi bagi kami hal itu adalah langkah yang melenyapkan duri bahaya dikemudian hari.

"Bagus Bagaimanakah reaksinya, bila seseorag mati penasaran?" Ie Lip Tiong menatap dua orang itu dengan sinar mata tajam.

"Kukira ia mati dengan mata tidak meram. Tetapi, yang penting, ia telah mati."

"Arwahnya akan bergentayangan." Wie Tauw mengeluarkan suata gerem.

Ai Lam Cun dan Ai Pek Cun bangkit dari tempat duduk mereka. "Kau Apa yang kau katakan ?" Serentak mereka berteriak.

Wie Tauw tertawa dingin :

„Tentunya kalian segera dapat menduga asal usulku, bukan?"

Ai Lam Cun membelalakan mata, tidak terasa ia mengucapkan kata2 tolol:

"Kau.   Kau Ie Lip Tiong?"

"Aku adalah arwah Ie Lip Tiong yang masih gentayangan itu, Aku memasuki tubuh seseorang. Para manusia durjana yang mengakibatkan kematianku itu."

"Ha, ha, ha, ha......" Ai Pek Cun yang mempunyai pikiran lebih terang, tidak percaya kepada cahaya tersebut. Ia tertawa. "Tidak sedikit buku2 yang telah kau baca, tentunya tahu bagaimana menipu orang yang mempunyai pikiran tidak kuat. Tetapi, kami tidak dapat ditipu olehmu."

Terdengar Wie Tauw masih mengoceh terus: "Kini, akulah Ie Lip Tiong, bintang penolong bagi kaum yang sedang kesusahan, khusus mengerjakan segala keanehan dan keajaiban, membantu siapa yang memerlukan tenagaku, katakanlah, berapa banyak uang yang kalian sediakan? Aku bersedia bekerja untukmu."

Ai Pek Cun membentak: "Kau tidak mau mengaku ?" "Sudah jelas, telah kukatakan, bukan ?" Berkata Wie Tauw. Ai Pek Cun berkata;

"Kuketahui bahwa wajahmu itu telah dilapis oleh obat2an, harus menggunakap ramuan khusus lagi untuk mencucinya. tetapi lupakah bahwa kami dapat membeset kulit wajah itu, tanpa mencuci dengan obat lagi ?"

"Membeset kulit ? Ha, ha, ha, ha.....Sudah lama kudengar tentang usaha kalian yang main beset kulit orang."

"Tidak percaya? Lihatlah!"

Berbareng, terdengar suara kreket-kreketnya dinding batu yang terbuka, Wie Tauw berpaling kearah itu, disana ada suatu ruangan lain, terlihat lembaran2 kulit tergantung rapi, itulah kulit2 manusia, ada lelaki, ada juga wanita, ada yang tua, ada juga yang muda, disana serba ada, komplit dengan aneka macam wajah yang tidak sama.

Kulit2 itu dijemur kering, bagaikan dendeng orang.

Ai Pek Cun dan Ai Lam Cun menyaksikan reaksi orang tawananannya. Kemudian mereka berkata:

"Mereka adalah tokoh2 ternama dari aneka macam orang. Bila kau tidak ingin mengikuti jejaknya, lebih baik terus terang.,,"

Didalam hati, Wie Tauw sangat kaget sekali. Hanya perasaannya itu tidak diperlihatkan kedalam perubahan wajahnya, ia menunjukkan wajah yang tidak takut, tidak gentar. Dengan senyuman ewah ia berkata:

"OuW, kalian ingin mendapatkan dendeng kulit It-kiam-tin-bu-lim Wie Tauw? Silahkan.....silahkan. Dengan alasan apa kalian ingin mengetahui lebih banyak lagi ?" "Hmm . . ." Ai Pek Cun mengeluarkan suara dari hidung. "Aku menyayangkan kepintaran otakmu, juga memuji ilmu silatmu, segala sesuatu yang melekat padamu cukup untuk orang mengangkat topi. Bila kau bersedia tunduk dibawah kekuasaan kami, kami dapat menimbang kembali putusan itu."

"Dan bagaimana dengan keuntunganku?" Berkata Wie Tauw, seolah-olah ia sudah tertarik dengan kata2 tadi.

"Bila kau masih muda, tentunya doyan ini . ."

Tedengar suara krekek2 dari pintu2 batu itu. ruangan yang digunakan untuk menyimpan dendeng kulit manusia telah tertutup, dilain bagian telah terbuka ruangan lain.

"Ruangan itu tembus keistana Boan-hoa-kiong," Terdengar suara Ai Lam Cun berkata: "Disana tersedia gadis2 pilihan dari seluruh negri."

It kiam-tin-bu-lim Wie Tauw memandang kearah itu.

Terdengar lagi suara Ai Lam Cun: "Silahkan Bauwtan Merah menampilkan diri."

Seorang gadis dengan selendang merah telah berjalan keluar dari pintu ruangan Istana Boan-hoa-kiong itu, umurnya Sedikit kira2 20 tahun mukanya berbentuk bulat telur, bibirnya merah kulitnya putih meletak, agak montok, kecuali lapisan selendang merah yang tipis itu, tidak ada kain pembungkus lainnya.

Peredaran darahnya bertambah tidak dapat dikuasai bergolak menelan ludah, keras, hampir ber-golak2.

"Bagus." Ia berkata didalam hati. "Dua iblis tua ingin menggunakan wanita cantik sebagai umpan."

Seolah -lah tidak berhasil menguasai dirinya, mata tidak berkesip Ai Lam Cun tertawa

ia sangat puas.

"Bauwtan Merah masuk." Ia memberi perintah, maka keadaan ruangan yang dekatan sebagai istana Boan-hoa-Kiong itu kosong kembali.

Memandang Wie Tauw, Ai Lam Cun berkata:

"Bila kau sudah bosan dengan yang montok, masih ada yang lebih kurus."

"Silahkan Bweehoa Putih menampilkan diri." Ai Lam Cun memberi perintah kearah dalam.

Diruangan yang sama, muncul seorang gadis berselendang putih, wajahnya agak bundar, tidak banyak berbeda dengan Bauwtan Merah tadi, hanya Bweehoa Putih ini agak kurus, seolah-olah pohon Yangliu yang mengeliat, lebih menarik lagi.

Wie Tauw maju lagi satu langkah, matanya tetap bercahaya, menatap wanita setengah telanjang itu.

Terdengar lagi suara Ai Lam Cun; "Bila kau tidak suka dangan yang kurus, masih ada yang lebih gemuk."

Kemudian memanggil kearah dalam: „Silahkan Kiok-hoa kuning menampilkan diri."

Disana telah berlenggang lenggok seorang gadis berselendang kuning, keadaannya juga tidak berpakaian, itulah si Kiok-hoa Kuning. Badannya gemuk, mempunyai ukuran yang lain dari gadis

Seperti juga dua gadis yang pertama, Kiok-hoa Kuning hanya berupa pameran sebentar, atas perintah Ai Lam Cun, setelah berkeliling satu putaran, gadis itu masuk kembali.

Seterusnya ialah giliran Cui-hiang Biru, Teng-hiang Hijau dan Lam-koa Hitam.

Jumlah mereka adalah 6 orang. Satu persatu menampilkan dirinya dan satu persatu pula masuk kembali. Tidak seorargpun diantara mereka yang tidak cantik, tidak seorangpun dari mereka yang tidak menarik, apalagi didalam keadaan tidak berpakaian.

It-kiam-tin-bu-lim Wie   Tauw   telah   berteriak:   "Lo-tong-kee, bagaimanakah dengan gadis2 itu?"

Pintu yang menuju ke Istana Boan-hoa-kiong telah tertutup lagi.

Dan Ai Lam Cun tertawa puas, ia berkata: "Bila kau bersedia bekerja dibawah kekuasaan

kami, 6 gadis cantik itu adalah menjadi hak milikmu."

Wie Tauw menari-nari, bagaikan orang yang lupa daratan, ia berteriak:

"Baik. . . Baik .... Sudahlah .... Aku menyerah. . . Gadis yang cantik mamang menarik. Bila tidak ada mereka, mungkin aku mati

kehausan."

"Berapa lamakah seorang manusia hidup didunia? Bila kau tidak menggunakan kesempatan itu, mungkinkah kau dapat menikmatinya lagi ? Katakanlah, siapa nama aslimu."

Bagaikan seekor jago yang kalah tanding, tubuh Wie Tauw menjadi nguyung, lesu dan tidak bersemangat.

"Betul." Ia menganggukkan kepalanya. "Bila tidak menggunakan ketika itu. bilakah aku dapat menikmati kesenangan dunia ?"

"Katakanlah, siapa nama aslimu."

"Namaku yang rendah ialah Auw-yang Cie-hong." "Tempat kelahiran ?"

"Bwee cui-kauw dipropinsi Hok-pak. "Asal usul perguruan ?"

"Murid dari Ha Kho Hud digunung Bu-liang San dari propinsi In- lam."

"Ha, ha, ha,. " Ai Lam Cun tertawa.

"Kau memang pandai mengelantur. Aku dilahirkan didaerah In- lam. Belum pernah mendengar nama seorang tokoh silat yang bernama Ha Khao Hud itu." "Guruku segan berhubungan dengan dunia ramai. Orang yang mengetahuinya rsdikit sekali. Tapi, bila kau betul asal kelahiran In- lam, tentunya pernah mendengar nama ini. Kukira nama Nge Lan Tua itu adalah kau sendiri."

"Baik. Aku dapat mengutus orang pergi kegunung Bu-liang-san untuk menyelidiki kebenaran dari keteranganmu ini-"

"Silahkan menyelidikinya segera. Tapi jangan sekali kau memberitahukan tentang kejadianku disini, bila beliau tahu bahwa muridnya mau jadi nguyung dihadapan enam gadis2 cantik, mungkin kulitku dapat dibeset menjadi beberapa keping."

"Dibagian apakah ilmu kepandaian khusus gurumu itu?" "Pedang."

"Bolehkah kau mengadukan sedikit demontrasi?"

"Tentu saja boleh. Silahkan bawa sebilah pedang." Berkata Wie Tauw tenang.

Ai Lam Cun bertepuk tangan, kemudian berkata: "Bawa kemari."

Seorang laki2 tegap berbaju hitam lompat muncul, ditangannya membawa sebatang pedang, dengan sikap yang cekatan, ia menyerahkan pedang itu kepada Ouw-yang Cie-hong.

Ouw-yang Cie-hong menyambuti pedang itu. memperhatikan siorang baju hitam sebentar, tiba2 ia mengeluarkan teriakannya:

"Eh, kau si Belibis terbang Cia Cu Liang dari aliran partay Oey- san-pay ?"

Orang berhaju hitam itu tertegun. Berpaling kearah Ai Pek Cun dan Ai Lam Cun, seolah-olah meminta putusan dua orang itu. Dia sendiri tidak berani memberikan jawaban.

Ai Pek Cun tertawa memandang Wie Tauw ia berkata :

"Matamu lihay. Tidak percuma menjelma sebagai si pedang yang menundukkan rimba persilatan It-kiam-tin-bu-lim Wie Tauw kedua." "Kepada pujian ini, kuucapkan terima kasih." Demikian Ouwyang Cie-hong berkata, "Ie Lip Tiong adalah anak murid Oey-san-pay, sebelum aku menggantikan kedudukannya sebagai It-kiam tin-bu- lim Wie Tauw, sedikit banyak tentu harus membikin penyelidikan tentang diri dan partaynya. Setiap anak murid Oey-san-pay tidak boleh tidak dikenal."

Dan ia menghadapi si Belibis Terbang Cia Cu Liang dari Oey-san- pay itu.

"Hei," panggilnya. "Kau si Belibis Terbang Cia Cu Liang asli atau menggunakan daging keringnya akhli pedang yang hebat itu? Katakan!"

Kali ini, orang berbaju hitam itu memberikan jawaban: "Aku adalah Si Belibis Cia Cu Liang."

Auwyang Cie-hong memainkan pedang ditangan ia berkata:

"Sudah lama kudengar nama Oey-san sa-cap-lak-kiam yang terkenal, ilmu itu telah lama disebut2 orang, tentunya tuan dapat memainkannya bukan?"

Oey-san sa-cap-lak-kiam adalah tiga puluh enam jurus ilmu pedang Oey-san-pay. Si iblis terbang Cia Cu Liang menganggukkan kepala berkata:

"Hanya bagian permulaan saja, masih kurang sempurna."

"Ha, ha, ha, kau terlalu merendahkan diri." Berkata Auwyang cie- hong, "Oey-san sa-cap-lak-kiam adalah ilmu khusus Oey-san-pay yang diturunkan kepada tokoh2 tertentu, bila kau dapat memainkan ilmu pedang ini, tentu bukan tokoh biasa lagi."

Dan berpaling kearah Ai Lam Cun dan Ai Pek Cun, kemudian berkata:

"Bolehkah aku bermain-main dengannya ?"

Ai Lam Cun memandang kearah  Cia Cu Liang sebentar, dan berkata: "Perbedaan tenaga dalam kalian terlalu menyolok mata." Auwyang-ce-hong tertawa.

"Aku tidak menggunakan tenaga dalam untuk memenangkannya."

Ai Lam cun menganggukkan kepala.

"Baiklah." Ia setuju. "Saudara Cia, ambillah sebatang pedang yang lain."

Si Iblis Terbang Cia Cu Liang menerima perintah itu dan pergi untuk kembali lagi dengan sebatang pedang ditangan.

"Saudara Cia, berkata lacg Ai Lam Cun. Gunakanlah ilmu kepandaian Oey-san-sa-cap-lak-kiam dan minta pelajaran dari tuan Auwyang Cie-hong."

Cia Cu Liang ia sudah memasang posisi bertempur, ia berkata: "Silahkan."

Auwyang Cie-hong berdiri tanpa membikin persiapan sama sekali, dia berkata: "Silahkan saudara Cia menyerang."

"Baik." Dan Cia Cu Liang mulai mengitari tubuh lawannya itu.

Oey-san-pay dikenal orang karena ilmu kepandaian pedang yang istimewa, si Iblis Terbang bukan jago kelas satu dari golongan partay itu tetapi dengan cara2nya ia memegang pedang dapat diketahui keistimewaannya, hal itu tidak boleh diremehkan.

Memutar lagi satu kelilingan, tiba2 Cia Cu Liang meluruskan pedangnya, menuju kearah dada lawan.

Itulah jurus pembukaan dari Oey-san-sa-cap-lak-kiam yang diberi nama Sian-tian Tian-to atau 'Dewa turun kepuncak Thianto', bila musuh lengah, serangan diteruskan dan memberikan satu pukulan maut, bila lawan telah bersedia, maka jurus tadi berubah menjadi satu ancaman kosong. Dua perubahan dapat terjadi dengan mudah didalam arti ini, puncak Thianto adalah salah aatu puncak dari gunung Oey-san, tempat yang menjadi markas besar Oey-san-pay. Dewa turun kepuncak Thianto berarti kejayaan meridoi daerah basis partay tersebut.

Hong-lay Sian-ong pernah barkata bahwa siapa yang dapat menghadapi jurus Sian-ciang Tian-to dari Oey San sa-cap-lak-kiam, orang itu boleh menggolongkan dirinya sebagai jago kelas satu. Mudah dibayangkan, betapa hebat dari jurus serangan Sian-ciang Thian-to itu.

Auwyang Cie-hong memang istimewa, ia tidak menghiraukan serangan tadi, dengan menggeser telapak tangan kearah kiri, mudah sekali menyingkirkan serangan tersebut. Tangannya yang memegang pedang masih lunglai kebawah, seolah-olah orang lemas tidak kuat mengangkat pedang, seolah menganggap remeh lawan.

Jurus serangan pedang Cia Cu Liang mengalami kegagalannya, dan menjengkelkan ialah sikap lawan yang seperti ogah2an itu, juga langkah Wie Tauw yang menggeser kaki itu pun bebat luar biasa tidak diketahui dari aliran mana manusia aneh ini.

Bila orang yang mengaku yang bernama Auwyang Cie-hong itu sangat tenang dan mempunyai pegangan penuh untuk memenangkan pertandingan Cia Cu Liang tidaklah demikian, ia sangat marah, dengan mengeluarkan suara geraman, ia mengganti arah pedang, ini jurus kedua yang bername Ciang-long Can-ie atau 'Burung biru membentang sayap. Jurus tipu yang khusus ditujukan uniuk memaksa orang melintangkan pedang, menangkis dan menutup serangan ini, kemudian menggunakan kekosongan dibagian belakang mengirim lain tusukkan maut.

Kejadian berikutnya ialah gerakan Auwyang Cie-hong yang berputar, sungguh cepat, tokoh ajaib kita berputar kekanan dan kenmdian berputar kekiri, bagaikan roda bergigi, dengan cara demikian ia berhasil mendekati tubuh Cia Cu Liang, terlalu rapat bila ia mau, dengan mudah dapat melukai lawannya itu.

Tetapi, Wie Tauw tidak melukainya, ia menghentikan gerakan, juga menghentikan permainan pedang, ia berdiri dengan senyuman puas, menantikan reaksi para juri. Ai Lam Cun segera berteriak:

"Bagus. Saudara Cia, kau boleh kembali."

Cia Cu Liang memandang sang majikan dengan wajah merah, ia berkata:

"Ijinkanlah hamba menerima beberapa jurus dari tuan Auwyang Cie-hong ini."

"Kau sudah kalah." Berkata Ai Lam Cun.

"Mungkin, hamba bukan tandingan tuan Auwyang Cie-hong, tetapi sebelum bergebrak dengan puas. Bagaimana terlalu cepat untuk menyerah piala kemenangan kepada dirinya ?" Cia Cu Liang berkata dengah nada suara tidak puas.

Ai Lam Cun tertawa.

„Lihatlah sekujur tubuhmu." Ia berkata.

Cia Cu Liang memeriksa bajunya, maka disana sudah ada dua celahan penting, itulah bekas goresan pedang, tentunya pedang lawan yang memberi tanda mata ini. Ia terkejut, mulutnya ternganga, tanpa suara bantahan lainnya. Cia Cu Liang mengagumkan kesehatan tangan sang lawan.

"Lekas balik." Bentak Ai Lam Cun. Bila tuan Auwyang Cie-hong tidak menaruh balas kasihan mungkinkah kau masih dapat bernapas

?"

Cia Cu Liang mengundurkan diri.

"Ilmu pedang tuan Auwyang memang hebat." Ai Lam Cun memberi pujian. "Bolehkah kami mengetahui, apa gerangan nama dari rangkaian jurus ilmu pedang tadi ?"

„Inilah ilmu pedang Hok-mo sam-po-kiam."

"Kini, aku agak percaya kepada keteranganmu." Berkata Ai Lam Cun,

"Bagaimana dengan gadis-gadis tadi?" Wie Tauw berkata. "Mereka adalah milikmu." Berkata Ai Lam Cun. "Setelah kau berhasil menempuh ujian yang terakhir."

"Katakanlah nama dari ujian tersebut." Berkata orang yang menggunakan nama It-kiam-tin-bu-lim Wie Tauw itu.

"Setelah kau sungguh2 ada niatan untuk bekerja sama, tentunya menggunakan wajah asli menemui kami, bukan? bukanlah kedok penyamaranmu."

"Tentu. Aku Auwyang Cie-hong sudah waktunya untuk memperlihatkan wajah asliku. Sayang ramuan obat pembersih tidak ada, bagaimana aku dapat mencuci muka?"

"Oh, tentang hal ini mudah diatasi. Beritahulah obat2an yang kau butuhkan, kami segera menyiapkan segala kebutuhanmu itu."

"Baik. Tolong sediakaa rotan Cian-cing-ten 2 tail, kayu Bok-koa satu tail, kapur Ciok-kwang tiga tail, kembang Liu-ciok satu setengah tail, setelah ditumbuk halus dan diaduk selama tujuh hari, dikeringkan dan akan digunakan untuk menghilangkan samaran wajahku."

"Harus membutuhkan waktu tujuh hari?" Ai Lam Cun mengerutkan keningnya.

"Betul. Tidak boleh kurang dari tujuh hari." Berkata It-kiam-tin- bu-lim Wie Tauw menganggukkan kepala.

Ai Lam Cun menggeliatkan badan.

"Baiklah." Ia berkata. "Aku mohon agar tuan Auwyang dapat istirahat ditempat ini sehingga tujuh hari. Setelah ramuan obat untuk mencuci wajah samaran itu selesai, kami akan datang kembali."

Menggunakan jalan rahasia, Ai Lam Cun dan Ai Pek Cun keluar dari ruang rahasia dibawah tanah itu. Tentu saja, sebelum pergi. mereka meminta pedang yang berada di tangan Wie Tauw senjata itu dapat menggagalkan usaha mereka.

It-kiam-tin-bu-lim Wie Tauw menghela nafas. Ia telah berusaha, dikala munculnya enam orang gadis setengah telanjang diruang yang disebut istana Boan-hoa-kiong, ia telah mendekati pintu rahasia itu, apa mau dilihat ruangan tersebut juga mempunyai pintu batu yang tertutup. Percuma saja ia melarikan diri ke tempat tersebut disana ia belum bebas keluar.

Kemudian, ia mengajak Cia Cu Liang mengadu ilmu pedang, dengan pedang ditangan. maksudnya menerjang keluar. Tetapi teringat betapa hebat ilmu kepandaian Ai Ceng dan Su khong Eng. Bila putri dan anak angkat Ai Pek Cun mempunyai ilmu kepandaian hebat, mungkinkah sang ayah dan paman tidak berkepandaian? Apa lagi mereka dua orang, tidak mungkin untuk mengalahkannya.

Jalan lari keduapun mengalami kegagalan. Kini pintu rahasia telah tertutup lagi. Kamar menjadi gelap gulila. Wie Tauw dikurung dibawah tanah, didalam sebuah ruangan yang dikelilingi oleh batu2.

Dikala Ai Lam Cun dan Ai Pek Cun meninggalkan tempat itu, Wie Tauw pernah memperhatikan tebal dinding batu, lebih dari dua meter, tidak mungkin tenaga seseorang dapat menjebolkannya.

Jalan lari yang ketiga pun mengalami kegagalan.

Kini Wie Tauw memeriksa seluruh isi kamar tahanan dibawah tanah itu, pada keempat sudut dari ruangan tersebut terdapat empat buah patung besi. Hal ini tidak dapat banyak membantu usahanya.

Wie Tauw kembali duduk bertopang dagu, ia terus berdaya upanya untuk menolong jiwanya dari ancaman bahaya.

Seperti apa yang telah diketahui, bahwa ramuan-ramuan obat peluntur itu adalah ramuan2 obat palsu, ia menyebut nama2 itu seenak udel, tanpa memikirkan segala akibat. Tujuh hari kemudian, bila ramuan telah selesai, pasti ia mati dibawah pedang mereka.

Tiba2 ia lompat bangun.

Wie Tauw memeriksa patung2 besi. Ia menggoyang-goyangkan sebentar dan seperti apa yang telah diduga, patung2 itu tidak padat. Cukup untuk mengisi tubub seseorang, walaupun tidak leluasa-

"Bagus !" Wie Tauw berseru didalam hati. "Kukira patung besi kosong ini dapat menolong diriku."

Wie Tauw tidak menghentikan usahanya untuk melarikan diri. Kini ia mulai mengetuk-ngetuk seluruh dinding batu, harapannya ialah mencari tempat yang agak tipis.

Kali ini, ia gagal.

Wie Tauw memeriksa 4 patung, salah satu di antaranya memegang tombak tembaga, tombak itu

tidak dapat dikatakan keras, tetapi bila perlu, ia dapat menggunakannya.

Ia mengangkat patung tersebut, cukup ringan. Menurunkan kembali dan meloloskan tombak dari tangannya. Terlalu ringan, dan ia meletakkannya kembali.

Disaat inilah, dinding diatas kepalanya terbuka, disana berkerek turun seseorang, terdengar satu suara yang dingin membentak:

"Apa yang kau lakukan !"

Itulah suara Ai Ceng yang dikenal baik. Wie Tauw berteriak girang.

"Aaaaa......Ceng-moay, kau. kau turut masuk kesini?"

Ai Ceng maju dua langkah, napasnya memburu, masih sengal2. Penasaran sekali, khekhi dan panas hati. Tangannya diayun dan tar.

. . tar menempiling pipi laki2 dihadapannya.

"Hayo, katakan, apa yang sedang kau lakukan?" Ia membentak, "Aku.....Aku....." Wie Tauw menjadi gugup. "Kau.....Kau ingin

mengetahui alasanku yang meng-geser2 patung2 ini ?"

"MungkinKah sudah tidak tahan?" Berkata Ai Ceng keras. "Mengapa menggeser-gesernya?" „Oh......Ng .... Lihatlah. Bukankah lebih tepat bila diletakkan ditempat ini ?"

"Hm......" Ai Ceng mengeluarkan suara dari hidung. "Kau masih mempunyai itu kesanangan untuk mengatur kamar tahanan ?"

Wie Tauw dapat menyelami hati gadis itu, diketahui Ai Ceng tidak terlalu benci kepada dirinya. Dengan membawakan sikapnya yang lucu dan jenaka, ia berkata:

"Betul. Aku sedang merapi-rapikan kamar tahanan. Hal ini kulakukan untuk penglipur lara Mengisi waktu2 yang terluang.

"Bagus." Berkata Ai Ceng dingin. "Masih bagaimana dapat bertemu denganmu lagi? tertawa cengar-cengir? Akan kulihat, bagaimana kau masih dapat tertawa, bila ayahku sudah mulai membeset kulit2 tubuhmu?"

"Itu waktu." Wie Tauw melowekkan mulutnya. "Cepat2 kuhentikan suara tertawaku. Segera aku sudah tidak dapat melawan berkoar-koar, meminta pertolonganmu."

Suatu jawaban yang penuh humor.

Ai Ceng berada didalam keadaan penasaran dan marah. Mendengar jawaban itu, tidak dapat tidak, iapun tertawa. Walau hanya sekejap mau hal itu sudah meredakan ketegangan.

Ai Ceng sadar akan kesalahannya, cepat2 ia menutup mulutnya. "Penipu," ia membentak, mainkan diriku? Hari ini, aku akan

membunuhmu."

"Tunggu dulu." Berteriak Wie Tauw. "Aku telah menyerahkan diri kepada ayahmu, maka, kita telah menjadi keluarga sendiri."

"Hm, keluarga sendiri?" Ai Ceng menjebirkan bibir dan berkata dengan suara dingin. "Kejadian yang belum lama, telah kusaksikan. Kulihat kau sudah mengiler dan ketarik kepada 6 gadis2 itu. Masih ingin memperisteri aku ?"

It-kiam-tin-bu-lim Wie Tauw tertawa. "Ha, ha, bila aku tidak berpura-pura berteriak bagaimana dapat bertemu denganmu lagi?"

"Tidak perduli! Mulai saat ini, aku tidak percaya kepadamu."

"Baik " Wie Tauw berkata singkat. "Aku adalah orang tawanan.

Kau mau apakan pun, aku sudah tidak dapat melawan." Ai Ceng membanting kaki.

"Ingin sekail aku menggepengkan dirimu." Ia berkata gemas, Wie Tauw mengedepankan wajabnya.

"Silahkanlah." Ia berkata.

Ai Ceng menjadi geregetan. la lompat menubruk. Dengan dua kepalan kecilnya, ia menggebuki dada orang, tetapi tidak satupun dari pukulan-pukulan tadi yang disertai dengan tenaga dalam, tiada kekuatan yang keras, seolah-olah seorang isteri yang sedang kolokan kepada lakinya.

Wie Tauw tertawa berkakakan.

"Ha, ha, ha, . . .memukul seperti ini, mana bisa menggepengkan orang?" Terasapun tidak. Kau . . . Auw "

Terasa satu pukulan yang menyesakkan dada, disertai dengan teriakan 'Auw' tadi, tubuhnya jatuh celentang, tentunya pingsan.

Ai Ceng terkejut, memandang tubuh laki2 yang telah menggeletak dihadapannya, tiba2 ia membekap wajahnya, menangis menggerung-gerung.

Gadis ini mengalami kehancuran hati. Dikala pertemuannya yang pertama dengan It-kiam-tin-bu-lim Wie Tauw. ia pernah menaruh curiga kepada musuh yang berselimut. Hanya ia tidak dapat mengenyampingkan api asmara muda yang telah membara. Ia bercumbu-cumbuan dengannya, dengan harapan dugaan dan kecurigiannya melesat, atau setidak-tidaknya, orang ini bukan musuh kuat. bila ia berhasil kedalam pihak komplotan ayahnya hal itu akan menyenangkan sekali. Kini. segala sesuatu telah terbuka dihadapan matanya. Orang yang mengaku bernama Wi Tiong Beng ini adalah jelmaan It-kiam- tin-bu-lim Wie Tauw. adalah jelmaan 'Auw-yang Cie-hong' dan mungkin orang yang bernama Auwyang Cie-hong, inipun sebagai jelmaan manusia mana lagi.

Yang sudah pasti, ia sangat misterius dan sangat berbahaya. Apalagi setelah menyaksikan bagaimana sikap 'Wie Tiong Beng'

kepada gadis2 didalam istana Boan-hoa-kiong, hati itu semakin

hancur luluh, buyarlah segala harapan dan kenangan manisnya.

Ai Ceng menangis sesunggukkan. Disaat ini, terdengar suara Ai Pek Cun;

"Ai Ceng, kau jangan main gila."

Ai Ceng terkejut. Suara sang ayah itu dikenal betul.

„Ayah, aku ingin membunuh orang ini." ia berkata. Terdengar suara Ai Pek Cun yang sangat dingin: "Eh, kau memukulnya sehingga pingsan ?"

"Aku harus membunuhnya Aku membunuhnya."

Terdengar lagi suara Ai Pek Cun yang menggema keras: "He, lekas kau kembali! Memukul dirinya?"."

"Huuh!" Berkata Ai Ceng. "Siapa yang menyuruh dia mentertawakan orang ? Kiranya aku tidak berani membunuh?"

"Lihatlah, bukankah ia telah siuman ?"

"Belum, ia menggeletak dengan tidak sadarkan diri lagi." "Dengarlah kataku, aku tidak akan melarang kau membunuhnya,

tetapi setelah ia memperlihatkan wajah aslinya." Berkata Ai Pek

Cun,

"Bukankah kau bersedia menerima dirinya ?" Ai Ceng heran kepada sikap ayahnya itu. "Hmm, . . Seperti kau tidak kenal kepada sifat tabiat ayahmu sendiri?"

"Ayah ingin membeset kulitnya ?"

"Tentu, kulit orang ini sangat berharga sekali."

Ai Ceng meninggalkan Wie Tauw, tubuhnya melesat naik, dan ruangan tahanan dibawah tanah itu gelap kembali.

Waktu berjalan maju kedepan . . .

Pada hari keenam, lubang rahasia dari kamar tahanan batu dibawah tanah itu telah terbuka.

Lubang rahasia ini dibuka tiga kali perhari, It-kiam-tin-bu-lim Wie Tauw telah menerima belasan kali antaran barang makanan, sipembawa makan adalah Belibis Terbang Cia Cu Liang, ia telah bergaul akrab dangau Wie Tauw, setiap kali datang, tentu meminta beberapa jurus pelajaran ilmu Oey-san-pay. Wie Tauw ingin mendapat pelayanan yang lebih baik, diberi juga pelajaran2 ilmu golongannya. Mereka dapat bekerja sama, yang satu melayani segala kebutuhan makanan sang orang tawanan, dan yang lain melayani segala kekurangan ilmu silat sang pengantar rangsum.

Hari ini, dikala lubang rahasia pengantar makanan terbuka. Belibis Terbang Cia Cie Liang sudah membuka mulut, berteriak- teriak keras:

"Hayo, tuan Auw-yang, hari ini kau makan besar, disitu kusediakan panggang ayam, babi merah.... Eh, kemanakah orangnya?"

Ternyata ruang kamar tahanan dibawah tanah itu telah kosong melompong, tidak terlihat bayangan-bayangan It-kiam-tin-bu-lim Wie Tauw.

Maka, si Belibis Terbang Cia Cie Liang berteriak!

Hal ini penting, tanggung jawabnya terlalu besar, tidak berani memikul resiko ini, cepat2 Cia Cu Liang meletakkan santapannya, balik kejalan keluar, sambil berteriak-teriak: "Celaka, . . ,Tuan Auwyang Cie-hong melarikan diri.... Celaka ....

Tawanan kita telah melarikan dir      "

Didalam sekediap mata, pintu rahasia lain terbuka, disitu tampak Ai Lam Cun dan Ai Pek Cun, mata mereka merah dan liar, bagaimana mungkin seorang tahanan yang dijaga kuat dan ketat dapat melarikan diri ?

Teriakan Cia Cu Liang bukan isapan jempol dikala Ai Lam Cun dan Ai Pek Cun tiba disana, mereka telah kehilangan jejak orang penting itu. Mereka memeriksa seluruh kamar tawanan, maka terlihat tulisan yang ditinggalkan Wie Tauw pada dinding batu. Demikianlah bunyi tulisan itu:

Jie-wie Lo-tong-kee, apa yang dikatakan kalian memang masuk diakal, cukup beralasan, kulit tubuhku ini menang sangat berharga. Maka, sebelum mengalami beset kulit, dibuat dendeng manusia kering, aku wajib meninggalkan tempat ini."

Dan diujung kata2 tadi, dengan tulisan yang agak kecil, terdapat keterangan dari sipenulis:

IT-KIAM-TIN-BU-LIM WIE TAUW.

Tulisan2 tadi digurat dengan tangan yang bertenaga dalam hebat, dalamnya kira2 hampir satu senti, bagus dan rapih. Suatu tanda betapa hebat ilmu tenaga dalam si Pedang Penakluk Kang- ouw itu.

Ai Lam Cu berdengus, memandang saudaranya. ia berkata: "Bagaimana ia dapat meninggalkan tempat ini?"

Ai Pek Cun mengkerutkan kedua alisnya, ia-pun tidak mengerti, bagaimana sang tawanan dapat meninggalkan tempat yang kokoh dan kuat?

"Tidak mungkin ia dapat menembus tembok." katanya. "Lihatlah, semua dinding masih utuh seperti sedia kala."

"Inilah yang kuherankan." Berkata Ai Lam Cun. "Setiap pintu rahasia disertai dengan bunyi dering bel yang dapat kita dengar, tidak ada tanda dari pintu yang terbuka, bagaimana ..."

Dikala dua orang itu bercakap-cakap, mencari jawabn tentang cara bagaimana sang tawanan dapat melarikan diri. Patung yang berada didekat pintu rahasia itu mulai bergerak, sangat perlahan dan dengan berindap indap meninggalkan mereka.

Betapa perlahan gerukan si 'Patung hidup' suara gesekan besi tembaga yang berat mengejutkan Ai Lam Cun dan Ai Pek Cun.

Mereka sadar akan tipu daya orang, masing2 lompat balik, mengejar 'Patung' aneh itu.

"Hei," Berteriak Ai Lam Cun. "Kau kira dapat melarikan diri ?"

Mereka tahu bahwa rahasia dibawah tanah tidak mudah dijalankan oleh orang yang tidak tahu seluk beluk rahasia-rahasia itu, maka mengejar dengan tenang.

Tubuh mereka keluar dari ruangan tersebut.

Disaat ini terdengar suara yang bergeleser keras, batu penutup pintu telah turun kebawah, menutup jalan mereka.

Hampir2 saja Ai Lam Cun dan Ai Pek Cun gepeng ditindih oleh batu berat tersebut.

Ternyata. patung yang bergerak itu adalah kulit penyamaran It- kiam-tin-bu-lim Wie Tauw, dikala ia bergerak lari keluar dari lorong rahasia, terlihat dua pengejarnya telah membalikkan diri, cepat sekali ia memutuskan tali penarik pintu, maka batu yang beratnya ratusan kati jatuh, mengurung dua orang.

Wie Tauw tertawa panjang, ia lari meninggalkan kamar tahanannya, berjalan dilorong panjang dan gelap.

Hanya berjalan beberapa langkah, terdengar suara ting ting tang tang yang nyaring, ratusan benda kecil menyerang tubuhnya. Beruntung tubuh itu dikuliti oleh selaput patung, maka tidak melukai dirinya,

Itulah senjata? rahasia yang dipasang didalam lorong, maka bila tidak ada penuntun jalan. Tidak mungkin keluar masuk kedalam lorong itu.

Wie Tauw mengenakan pakaian tameng yang kuat, ia tidak ada takut kepada serangan2 itu, maka dilanjutkan perjalanannya keluar.

Beraneka macam senjata rahasia berserakan jatuh ditanah.

Berjalan lagi beberapa saat, lorong itu bercabang tiga.

Wie Tauw mengerutkan alisnya, ketiga cabang lorohg itu gelap, tidak tahu harus mengambil jalan yang mana.

Ia tidak segera memilih jalan keluar, bila ada rahasia lubang atau rahasia batu besar yang menjatuhi dirinya, pasti pakaian besi itu tidak dapat menolong dirinya dari kematian.

Untuk mempermudah gerakkannya, Wie Tauw siap membuka pakatn besi itu.

Tiba2. . . .

Kupingnya yang tajam dapat mendengar suara derap langkah kaki orang, mereka sedang berjalan datang, dari suara percakapan, orang yang datang berjumlah tidak sedikit.

Wie Tauw diam mematung diam ditempat.

Terdengar suara seorang berkata: "Seperti ruangan dibawah tanah yang longsor."

"Bukan, debat lain suara, hanya sebuah benda berat yang jatuh." "Lo-tong-kee kita berada disana, berkata lain suara."

"Betul, dua majikan kita baru turun kebawah." "Mari kita periksa."

"Hayo, lihat. Apa yang telah terjadi ?"

Jumlah orang yang datang ada tujuh orang mereka segera masuk kedalam lorong gelap itu.

Wie Tauw telah membawakan sikapnya yang seperti patung asli, ia berdiri tegak dipinggir terowongan dibawah tanah itu. Sebentar kemudian, melihat 8 orang muncul ditempat itu, yang menjadi kepala dari rombongan tersebut adalah si pengurus perkebunan teh San-leng The-ciang, Lay Eng To, berikutnya terdapat Bwee Cun Giam, Poh It Kong dan lain2nya, mereka adalah orang2 yang pernah menyamar menjadi tukang gotong tandu kebesaran 'Cia-hujin' digereja Siao-lim-sie. Maka Wie Tauw dapat mengenalinya.

Tiba dipersimpangan jalan, mereka menjadi kemekmek, semua orang berhenti dan memandang kearah patung yang muncul mendadak ditempat tersebut.

"Eh," Lay Eng To mengeluarkan jeritan tertahan. "Patung dibawah tanah mengapa berada disini?"

Bwee Cun Giam mempunyai pengalaman yang luas sekali, khusus tentang patung2 yang berada didalam San-leng The-chung, patung2 itu disembah oleh pemimpin mereka, kedudukannya sebagai pujaan. Segera ia berkata:

"Inilah patung JENDRAL KESELAMATAN Su-chungcu."

Su chungcu berarti majikan yang keempat dari perkebunan teh mereka. Lay Eng To menyalakan keheranannya:

"Aneh, Su chungcu paling tidak sudi bila ada yang mengganggu Dewa Jendral Keselamatannya."

"Su chungcu sudah kembali ?" Seorang mengutarakau pikiran. "Mana mungkin. Su chungcu dan Toa changcu sedang bertugas

didalam Su-gay-tong-sim-beng, mana mungkin kembali ke San-leng The-chung ?"

"Su chungcu dan Toa chungcu mereka berada di Su-hay-tong- sim-beng ?" Wie Tauw tidak mengerti.

"Aneh, siapakah yang berani mengganggu Dewa Jenderal Keselamatannya ?" Berkata seorang lain.

"Mungkinkah ada hubungan dengan suara gaduh dibawah?" Berkata yang mengeluarkan pendapat. "Betul. Ada sesuatu yang tidak beres." "Mari kita lihat." Inilah suara Lay Eng To

Lay Eng To adalah pemimpin dari orang2 itu, segera ia mangambil putusan.

"Tolong kau jaga Dewa Jendral Keselamatan Su chungcu." Ia memandang Poh It Kong dan memberi perintah tadi.

Kemudian memandang semua orang dan berkata .

"Kalian ikut aku keruang bawah." Mengajak enam orang2nya, Lay Eng To menuju keluar kamar tahanan.

Poh It Kong menjaga patung Dewa Jendral Keselamatan, didengar semua percakapan itu.

Wie Tauw menduduki sukma Dewa Jendral Keselamatan, didengar semua percakapan tadi Hatinya berpikir:

"Ternyata perkampungan Sang-leng The chung mempunyai empat orang majikan."

Su chungcu itu berada didalam Su-hay-tong-sim-beng, hal ini sangat membingungkan jago kita. Siapakah dua orang itu? Dan apakah tugas dua orang itu disana ?

Bagaimana orang2 Su-hay-tong-Sim-beng tidak mengetahui ada musuh didalam kekuatannya?

Bercerita Poh It Kong yang menjaga Dewa Jendral Keselamatan. Orang tua itu termasuk salah seorang jago Sang-leng The-chung, jabatannya hanya kalah setingkat dari Lay Eng To, tapi ditugaskan menjaga patung yang tidak bergerak. Sungguh menjengkelkan.

Setelah menyaksikan semua orang masuk kedalam terowongan bawah, Poh It Kong mulai ngedumel:

"Sial, Lay Eng To itu memang dengki hati, ia mengiri kepadaku. Sebagai kepala dari sepuluh pengawal besar, masakan disuruh menjaga patung besi ?" Wie Tauw didalam patung tertawa geli. Terdengar lagi suara Poh It Kong:

"Lay Eng To, suatu hari kau akan merasakan pembalasanku.

Nanti, setelah aku menjabat congkoan Sian-kho-lauw, hm...hm. "

Disaksikan oleh Poh It Kong, seolah-olah patung Dewa Jendral Keselamatan itu memperhatikan dirinya, mengomel dihadapan tokoh pujaan itu adalah perbuatan yang tidak pantas. Segera ia memberi hormat kepada patung pujaan Su-chungcu itu, dengan tertawa, berkatalah kepadanya:

"Kiu-beng Ciangkun, bila sungguh kau berilmu tinggi, tolonglah membantu usahaku untuk menduduki lowongan Siam-kho-lauw itu."

Kiu-beng Ciangkun berarti Dewa jendral keamanan.

Kemudian dengan sujut, ia menyembah si Dewa Jendral Keselamatan itu.

Wie Tauw semakin tertawa geli. ia dipuja dan disujut oleh seorang yang menjadi kepala pemimpin dari 10 pengawal besar Sang-leng The-chung.

Terdengar lagi suara Poh It Kong berkemak-kemik:

"Kiu-beng Ciangkun, tolonglah kepada hambamu ini, tolonglah memberi jalan yang lebih cocok dengan kedudukanku tolonglah menempatkan diriku pada kedudukkan yang tinggi. Tolonglah mengusahakan tempat yang leoih bagus dari Sang-leng The-chung."

Tiba2, Dewa Jendral Keselamatan itu bersuara: "Wahai, Poh It Kong, berlututlah dengan sujut."

Poh It Kong terkejut hampir ia lompat bangun mungkinkah Kiu- beng Ciangkun telah turun dari kayangan, betulkah patung itu dapat mengeluarkan suara petuah ?

Mulut Poh It Kong terpentang lebar.

"Aaaaaa .... Kau siapa ?" ia memperhatikan patung yang berada didepannya.

"Poh It Kong." Terdengarlah suara bentakkan sang Dewa Jendral Keselamatan. "Munusia goblok, tidak dapat membedakankah suaraku ?"

Wajah Poh It Kong menjadi pucat,

"Kau . . .Kau Jie chungcu ?" Ia menduga kepada suara Ai Lam Cun.

"Betul." Berkata Kiu-beng Ciangkun. "Bila kau ingin cepat naik pangkat, lekas bersujut tiga kali."

Poh It Kong menjatuhkan dirinya, ia membentur-benturkan kepalanya kepada tanah sehingga tiga kali, setelah itu baru ia berani membuka suara:

"Jie-cungcu jangan gusar, hamba telah salah bicara." , "Kau terima salah."

"Hambamu bersalah. Harap saja dapat memberi ampun kali ini."

"Baiklah." Berkata Dewa Jendral Keselamatan itu. "Mengingat jasa2mu yang telah lalu, aku tidak menarik panjang urusan, lekas kau dengar perintahku."

"Hamba terima perintah." Sekali lagi lagi Poh It Kong memberi hormat.

Tiba2 ia merasakan keanehan ini, bagaimana Ai Lam Cun mau menyembunyikan dirinya didalam patung itu? Segera Poh It Kong mengajukan pertanyaan itu:

"Jie-chungcu, bagaimana kau masuk kedalam patung Dewa Jendral Kesalamatan?"

Dapatkah Wie Tauw meloloskan diri dari bahaya kematian ? Mari kita saksikan bagaian lanjutan dari cerita ini. xxxxxxxxxx

BERCERITA It-kiam-tin-bu-lim Wie Tauw menyembunyikan diri didalam patung Dewa Jendral Keselamatan yang paling dijungjung oleh salah satu dari emgat chungcu kampung Sang-leng The-chung. Tapi ia belum berhasil melarikan diri dari lorong rahasia dibawah tanah, di kala itu datang orang2 Ai Lam Cun dan Ai Pek Cun, Lay Eng To mengajak semua orang turun kebawah, dan mengutuskan Poh It Kong menjaga patung itu.

Poh It Kong mulai mencurigai patung tersebut, maka ia bertanya: "Bagaimana Jie-chungcu masuk kedalnm Dewa Jendral

Keselamatan?"

Suara yang Wie Tauw bawakan agak mirip dengan cungcu kedua Ai Lam Cun. Maka Poh It Kong tidak menyangka kepada musuh.

Dewa Jendral Keselamatan itu menggeram:

Poh It Kong, percuma kau menjadi kepala sepuluh pengwal besar, mungkinkah tidak mengetahui situasi bahaya -"

"Aaaaaa. Di manakah musuh berada?"

Poh It Kong memandang keseluruh tempat. Tentu saja tidak dapat menemukan sesuatu.

"Jangan banyak tanya." Bentak Dewa Jendral Keselamatan lagi.

Lekas gotong diriku keluar."

Poh It Kong masih dak-dik-duk bila memikirkan mulutnya yang telah lancang bicara, berani mencemoohkan Sang-leng The-chung. Beruntung Jie-chungcu ini tidak menarik panjang perkara, maka jiwanya berhasil diselamatkan dari kematian. Mendengar perintah ini, mana berani ia banyak mulut lagi? Segera ia bergerak, menggotong patung itu dan berjalan keluar.

Bangunan dibawah tanah itu diperlengkap dengan macam2 alat rahasia, bila tidak ada orang yang memberi petunjuk jalan, pasti tidak dapat keluar.

Poh It Kong adalah kepala dari sepuluh pengawal besar, tentu saja mengetahui baik seluk-beluk keadaan ditempat itu. Sebentar ia menikung kekanan lagi dan berputar-putar seperti itu baru ia dapat menggendong patung Dewa Jendral Keselamatan keluar dari bangunan dibawah tanah.

Wie Tauw mengeluarkan keluhan napas lega. ia berkata didalam hati;

"Beruntung aku tidak sembarang menerjang lorong tadi. Bila tidak, pasti aku sesat dijalan."

Disaat ini Poh It Kong telah memijit alat rahasia, . . .klek -Lantai yang mereka pijak naik keatas.

Menyingkap selembar benda yang mirip dengan tirai, akhirnya ia mendirikan tubuh sang patung .

Poh It Kong menduga kepada Ai Lam Cun yang menyekap diri didalam patung itu, maka ia tidak berani banyak berkutik. Diam dipinggiran dan menantikan perintah berikutnya.

It-kiam-tin-bu-lim Wie Tauw mendapatkan diri mereka telah berada diruangan besar. Disaksikan sikapnya Poh It Kong yang sangat hormat itu, maka ia berkata:

"Musuh berada diruang bawah, lekas kau membantu mereka." Poh It Kong mengiyakan perintah itu, dengan patuh berkata: "Siap, haruskah menutup mati semua jalan2 rahasia dibawah

tanah ?"

"Tentu." Berkata Wie Tauw lekas. "Segeralah mulai bekerja."

Poh It Kong membalikkan badan, siap masuk kedalam lorong dibawah tanah lagi. Tapi gerakkannya berhenti, dilihat ada sesuatu yang datang masuk kedalam ruangan itu.

Seorang anak laki2 yang berwajah tampan, berpakaian warna hijau, berdandan sebagai seorang pelayan buku, dengan gerakan yang lincah telah berada ditempat itu. Dari dalam saku bajunya. anak laki2 itu mengeluarkan sepucuk surat, memberi beberapa kode kepada Poh It Kong, kemudian, dengan lagu yang sangat keren berkata: "Perintah dari Raja Gunung yang ditujukan kepada Ai Lam Cun dan Ai Pek Cun."

Poh It Kong tahu bahwa didalam patung Dewa Jendral Keselamatan bersembunyi seseorang, ia menduga kepada Jie- chungcu Ai Lam Cun.

Tapi anak laki2 itu tidak tahu akan hal ini, yang dilihat sebagai manusia adalah Poh It Kong maka ia hanya meminta jawaban kepala pengawal itu.

Poh It Kong melirik kearah 'Jie cungcu'nya dilihat patung ini diam tidak bergerak, menduga kepada sesuatu kejadian yang menganggu majikannya, maka ia harus mewakili menerima kedatangan anak laki2 berbaju hijau yang menjadi pesuruh Raja Gunung itu.

Poh It Kong menjatuhkan diri, ia memberi hormat, kemudian berkata:

"Sang-leng The-chung sedang mendapat serangan musuh, hamba Poh It Kong bersedia menyampaikan perintah."

Didalam patung Wie Tauw memutar kepala ternyata diatas empat Chungcu Sang-leng The-chung masih ada seorang Raja gunung, siapakah yang memakai nama samaran Raja Gunung ini ?

Maksud Wie Tauw merembes ketempat ini ialah membuka rahasia pemuda misterius berkerudung hitam Su Khong Eng, ternyata empat chungcu Sang-leng The-chung yang mengepalai komplotan tukang bikin dendeng kulit manusia.

Tapi diatas Ai Lam Cun dan Ai Pek Cun masih ada orang yang bernama Ranya Gunung, orang inilah yang betul-betul menjadi otak kejahatan. Ia harus mencari jejak orang itu.

Wie Tauw memperhatikan anak laki2 berpakaian hijau itu, sikapnya Poh It Kong yang sangat hormat itu, maka ia berkata.

Anak laki2 berpakaian hijau adalah utusan Raja Gunung, ia memutar biji matanya yang jeli, kemudian menganggukkan kepala berkata "Baik. Kau terimalah surat perintah ini." Diserahkannya surat perintah itu kepada Poh It Kong.

Poh It Kong menerima surat tersebut dengan kedua tangan, sikapnya sangat menghormat sekali. Memandang pun tidak berani kearah pembawa perintah itu.

Anak laki2 baju hijau telah selesai menjalankan tugas, tubuhnya melesat, sangat tinggi, dan sebentar kemudian, bayangannya sudah berada diatas genting.

Wie Tauw memperhatikan anak laki2 itu, terdengar suara gedebraknya sesuatu sayap yang dipentang, kemudian terlihatlah bayangan seekor burung raksasa, terbang pergi meninggalkan Sang-leng The-chung.

"Ternyata pelayan kecil dari Raja Gunung itu berkendaraan burung raksaksa" Wie Tauw berpikir didalam hati.

Keadaan sudah menjadi jelas, ada seseorang yang bernama Raja gunung bertakhta didalam kerajaan gelapnya, dibawah orang itu berjejer empat chungcu, mereka adalah Ai Tun Cun, Ai Lam Iyuu, Ai Pek Cun dan Ai See Cun,

Dibawah empat chungcu itu, baru bergilir barisan Ai Ceng dan Su-khong Eng.

Satu Su-khong Eng saja sudah cukup menghebohkan rimba persilatan, julukannya sebagai 'pemuda misterius berbaju hitam' memegang peran sebagai Ie Lip Tiong.

Karena itulah, semua orang membenci Ie Lip Tiong. Hasil dari kesudahan peran yang dipegang olehnya ialah kebinasaan Ie Lip Tiong di gunung Lu-san.

Sungguh disayangkan !

Yang harus diketahui ialah, siapa orang yang menggunakan nama Raja Gunung itu ? Dan apa hubungannya dengan Ie Lip Tiong

? Mengapa harus memfitnah dan mencelakakan pemuda tersebut.

Wie Tauw adalah lakon cerita, dengan derat ia menggerakkan tangan 'besinya'nya, membuat satu posb meminta ia berkata: "Poh It Kong, serahkan surat perintah itu kepadaku."

Wajah Poh It Kong berubah, baru ia sadar akan kesalahannya.

Segera ia membentak: "Hei, siapa kau ?"

Suara Wie Tauw membuka kedok penyamarannya, Poh It Kong tidak menyerahkan surat tersebut.

It-kiam-tin-bu-lim Wie Tauw tidak kalah akal tiba2 ia berteriak: "Awas serangan dari belakang."

Poh It Kong terkejut, cepat2 menoleh kebelakang.

Maka, ia terkena tipu Wie Tauw. Dengan satu pukulan. Pemimpin perusahaan Boan-chio Piauw-kiok itu membuat tubuh Poh It Kong jatuh menggeletak.

Dirinya masih berada didalam sarang musuh, cepat2 Wie Tauw melepaskan pakaiannya dewanya itu, dipungutnya surat perintah dari Raja Gunung, yang seharusnya ditujukan kepada Ai Lam Cun dan Ai Pek Cun, yang itu waktu masih berada ditangan Poh It Kong.

Dengan lincah, Wie Tauw berhasil meninggalkan Sang-leng The- chung.

Belum ada reaksi pengejaran, Wie Tauw masuk kedalam jalan kecil, kemudian menikung dan ia tiba dijalan raya.

Itulah jalan yang menuju kearah pintu Selatan dari kota Liok yang.

Ditempat yang ramai, Wie Tauw bebas melakukan perjalanan.

Kini jelas baginya, ternyata orang yang mengadakan fitnahan itu terdiri dari satu komplotan yang berkekuasaan besar. Pemimpin dari komplotan itu bernama Raja Gunung.

Siapakah orang yang menggunakan nama Raja Gunung itu ?

Untuk mengetahui lebih jelas, Wie Tauw masuk kedalam rumah makan. Disini, ia membuka surat Raja Gunung yang ditujukan kepada Ai Lam Cun dan Ai Pek Cun.

Bunyi surat sangat singkat, tapi cukup untuk mengejutkan jago kita.

Isi surat sebagai berikut:

"Memo kepada Ai Lam Cun dan Ai Pek Cun, persiapan Ai Tong Cun dan Ai See Cun didalam Su-hay-tong-sim-beng telah selesai, waktu itu untuk membunuh Hong-lay Sian-ong ditetapkan pada tanggal lima belas bulan delapan. Segera beri bantuan kepada usaha mereka." 

Wie Tauw terkejut, bagaimana Ai Tong Cun dan Ai See Cun dapat merembes masuk kedalam Su-hay-tong-sim-beng! Ia tidak mengerti.

Kecuali surat tadi, masih ada keterangan lain yang lebih kecil, demikian bunyinya:

"Su-khong Eng telah digiring oleh delapan belas Lo-han Siauw- lim-sie, kini berada didalam kamar tahanan Su-hay-tong-sim-beng. Kegagalan Su-khong Eng disebabkan oleh munculnya It-kiam-tin-bu- lim Wie Tauw dari Boan-chio Piau-kiok. Kini jejaknya sudah tidak terlihat, besar kemungkinannya berada disekitar Sang-leng The- cung, kalian harus berhati-hati kepada tokoh aneh ini."

Wie Tauw menyimpan surat tersebut, ia mengeluarkan suara keluhan:

"Bagus. Ternyata mereka mulai merencanakan pembunuhan kepada ketua Su-hay-tong-sim-beng.

Diketahui bahwa Hong-lay Sian-ong berkepandaian tinggi, siapakah yang dapat membunuh raja silat itu ?

Yang mengawatirkan ialah, bagaimana mereka mengetahui berita2 tentang gerakan Su-hay-tong-sim-beng dan gerakan dirinya

? Dari manakah sumber berita ?

-oo0dw0oo-