-->

Pembunuh Gelap Jilid 06

Jilid 06

Nyonya Cia Sie Cu mengkerutkan kedua alisnya yang lentik.

"Kau sangat tidak memandang mata kepadaku," ia berkata, "apa alasanmu ?" "Ha. ha..." Wie Tauw tertawa, "bila menjawab pertanyaan ini, tentu lebih menyinggung perasaan Cia hujin."

"Tidak mengapa. Katakanlah."

"Boleh kami bertanya, bagaimana asal mula nyonya dibesarkan?" Apa yang menyebabkan nyonya mendapat kedudukan tinggi?"

"Menurut pendapatmu ?"

"Jawaban ini sangat singkat: Nasib mujur."

"Kau dapat memberi keterangan yang lebih jelas tentang 'Nasib mujur' itu ?"

"Nasib Cia hujin mujur karena dilahirkan dibawah naungan seorang ayah yang menyadi perdana menteri, kemujuran itu ditambah lagi dengan mendapat seorang suami Cia Sie Su, sekarang anggauta sidang yang sangat berani. Sebabnya kami tidak memandang mata kepada Cia hujin dikarenakan nyonya bukan mendapat kedudukan tinggi dengan jerih payah sendiri."

Cia hujin tersenjum senjum. Ia tidak marah mendengar ucapan itu.

"Menurut pendapatmu," ia berkata, "bagaimana supaja dipandang mata oleh semua orang?"

"Hoa Bok Lan jahg mewakili ayahnya berperang di medan perang. Liang Hok Giok yang mengenakan baju besi, membantu suaminya menghadapi musuh. Lo Su Nio yang berkepandaian silat tinggi dapat mengalahkan banyak orang. Mereka itu adalah wanita2 yang patut mendapat pujian."

Nyoja anggauta agung itu mengangguk-anggukkan kepala sehingga beberapa kali. Ia dapat menyetujui pendapat si Pedang Penakluk Rimba Persilatan, It-kiam-tin-bu-lim Wie Tauw.

Hal ini membuat sipemimpin kepala kawanan laki2 berbadan besar itu sangat marah. Ia maju kedepan dan membentak Wie tauw. "Hei, kulihat kau seorang terpalajar. Tentunya bukan sastrawan biasa ?"

"Betul. Ada sesuatu yang kurang beres ?" "Dan aku orang apa ?" "Seorang kepala serdadu yang gagah berani."

"Betul. Rasakanlah ini." Pemimpin kepala keamanan itu menggerakkan tangan, menampar pipi orang.

Tarrr.....

Pipi kiri It-kiam-tin-bu-lim Wie Tauw menyadi merah, tamparan orang itu hebat, tubuhnya sampai terpelanting jatuh.

Tapi ia berdiri cepat, kemudian tertawa terbahak-bahak :

"Ha... ha... ha... Kau memang hebat. Sayang musuh yang kau hadapi hanya seorang sastrawan lemah. Ini yang dinamakan kaum kecil bertemu dengan penggede, tidak ada aturan... tidak perlu menggunakan aturan "

lt-su Siang jin tidak menyangka bahwa pemimpin kepala keamanan itu berani memukul orang ditempat sunyi. Biar ia tidak puas sikap Wie Tauw yang terlalu menantang, langkah pemimpin kepala keamanan itu sangat tidak memandang mata kepada Siau- lim-pay.

"Sicu. kau...." Suara It-su Siang-jin ditujukan kepada pemimpin kepala keamanan itu.

Harus diketahui, Siao-Iim-pay adalah tempat suci yang harus dijunjung oleh semua orang. Ilmu silat berkembang dengan pesat, karena dimulai oleh pencipta partay Siao-lim-pay. Maka tidak seorangpun yang berani memukul orang dihadapan atau diatas gunung itu. Raja atau perdana menteripun tidak berani melanggar pantangan ini. Mengapa seorang kepala keamanan anggauta sidang agung berani berlaku kurang ajar?

Kekuasaan Siao-lim-pay tersinggung!

Bukan saja It-su Siang-jin yang memandang orang itu dengan marah, semua anak murid partay tersebut turut tersinggung.

Nyonya anggauta sidang agung dapat menyaksikan suasana panas ini, segera la membentak orangnya:

"Hei, siapa yang menjuruh kau memukul orang?"

Si Kepala keamanan menyadi kaget, ia menyatuhkan diri meminta ampun :

"Dia sangat kurang ajar. Saking marahnya, sehingga hambamu lupa sama sekali."

"Lekas bangun kau dan meminta maaf!"

Laki2 itu membangunkan Wie Tauw dan meminta maaf.

Wie Tauw melempar tangan sipemimpin kepala pemimpin itu. "Enak saja, setelah memukul orang lantas minta maaf."

Si Kepala keamanan tidak berani pentang mulut. Hal ini sangat memuaskan It-su Siangjin. Segera ia bangkit dari tempat duduknya, menghampiri Wie Tauw dan mendorong tamu itu.

"Sicu, kau boleh meninggalkan ruangan Ceng sian." Ia berkata.

Wie Tauw meninggalkan tempat tersebut. Dari jauh, ia masih menudingkan tangan kearah si Kepala keamanan.

"Jangan kira kau sudah menang, he ? Suatu hari. setelah aku lulus ujian, naik pangkat dan menduduki kedudukan penting, hm.. hm.."

Setelah ngomel seperti ini, ia pergi jauh.

It-su Siang-jin memberi hormat kepada nyonya putri perdana mentri.

"Sudah waktunya istirahat. Lolap minta diri." Ia berkata. "Silahkan." Berkata Cia-hujin "Jangan lupa pertemuan nanti

malam."

It-siu Siang-jin berjalan pergi sambil menganggukkan kepala, suatu tanda, bahwa ia tidak meUipakan janyi untuk memberi pelajaran kepada tamu agung itu.

Langkah It-su Siang-jin sangat cepat, sebentar saja ia telah meninggalkan rombongan tamu agung itu, maka terlihat bajangan belakang Wie Tauw ditempai jauh, ia sengaja menjusul tamu aneh itu.

"Sicu.    "Ia memanggil.

Si Pedang Penakluk Rimba Persilatan, It-kiam-tin-bu-Iim Wie Touw sengaja berjalan lambat, seperti apa yang telah diduga, ketua Siao-lim-pay itu menjusul dirinya. Ia membalikkan badan menghentikan langkah.

"Siang-jin memanggil ?" Ia masih berpura-pura bodoh.

"Maafkan kepadaku yang tidak dapat meocegah kejadian tadi." Berkata lt-su Siang-jin penuh penyesalan. Sikap kepala keamanan itu sangat keterlaluan.

"Bajingan itu mamang kurang ajar. Tetapi tidak ada hubungan dengan sianyin. Dan kata2 ku pun memang menyinggung perasaan."

"Hinaan yang sicu terima berarti hinaan Siauw lim-pay juga." Berkata It-su Siang-jin." Dengan kejadian ini, kami akan menyampaikan surat kepada Cia Sie Su pribadi, agar ia dapat menghukum orangnya yang kurang ajar itu."

«Ha, ha... Bila Cia Sie Su menerima surat itu, tentu ia menyadi bingung."

"Bingung?" It-su Siang-jin tidak mengerti." Apa yang menyebabkan ia bingung?"

"Kita dapat mengadakan pertemuan untuk 4 mata ?" Wie Tauw berkata sungguh2.

It-su Siang-jin sudah dapat menduga, bahwa tamu aneh ini dengan sesuatu maksud tujuan yang belum diketahui. Ia menganggakan kepalanya dan mengajak Wie Tauw keruang semedinya.

Ruang itu tidak terlalu besar, tetapi cukup bersih.

It-su Siang-jin segera berkata kepada U-ciok yang bertugas disana :

"Kau tunggu dan jaga diluar. Tolak semua orang yang ingin menjnnapaiku."

U-ciok Hwe-sio berjalan keluar, meninggalkan ruang semedhi ketua partaynya yang ingin meriiiidingken sesuatu dengan tamu aneh itu.

Menunggu sampai U-ciok Hwe-sio pergi, baru It-su Siang-jin berpata :

"Nah, sicu boleh kemukakan pendapat."

"Siangjin tentunya sudah mengetahui bahwa kami ingin mengucapkan sesuatu ?"

It-su Siang-jin menganggukkan kepala. xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

menggagalkan rfncana yang Hendak mengacau siauw lim pay.

Wie Tauw tertawa berkakakan

"Mata siangjin memang hebat " Ia mumuji.

"Sudah kuketahui bahwa sicu bukan orang biasa. Siapakah yang berani mencemoohkan istri Cia Se Su, orang yang masih mempunyai hubungan dekat dengan perdana menteri?"

"Siangjin memuji. "

"Apa yang menyebabkan Cia Sie Su bingung?"

"Bagaimana dengan berita pemuda misterius berkerudung hitam itu, spa ada jejaknya ?" Wie Tauw balik mengajukan pertanyaan.

Wajnh It-su Siang-jin berubah.

"Dapatkah sicu berterus terang, siapa dan bagaimana sebutan sicu ?"

"Aku yang rendah datang dari perusahaan Boan-chio Piauw-kiok." Wie Tauw memberikan keterangan.

Lagi2 wayah It-su Siang-jin berubah. Dengan menunjukkan rasa yang masih kurang penyaja, ia bertanya :

"Sicu sendiri yang bernama si Pedang Penakluk Rimba Persilatan, It-kiam-tin-bu-lim, Wie Tauw Wie Tauw membungkukkan setengah badan berkata :

"Betul. Kini menyabat Duta Rahasia Su-hay-toBg-sim-beng, Duta Istimewa Berbaju Kuning Nomor 13."

It-su Siang-jin pernah dengar tentang desas desus Su-hay-tong- sim-beng yang ingin manarik tenaga tokoh aneh ini, hanya diketahui It-kiam-tin-bu-lim Wie Tauw sangat mata duitan, ajakkan itu seperti pernah ditolak olehnya: Mengapa dengan mendadak sontak ia menerima jabatan itu?

"Lolap pernah dengar tentang ini," berkata It su Siang-jin. "katanya cong-piauw-tauw tidak berminat menduduki kedudukan itu, mengapa kini berganti haluan dan bersedia mengabdikan diri untuk Su-hay-tong sim-beng ?"

"Tidak sedikit orang yang mengutuk Wie Tauw sebagai seorang tokoh silat yang mata duitan, hingga Wie Tauw merasa tidak enak sekali. Putusan terbaik ialah membukukan dengan perbuatan."

Suatu chabar gembira. It-siu Siang-jin sangat bergirang.

"Wie tatsu telah mengunjuiigi Su-hay-tong-sim-beng ?" Ia bertanya.

"Belum. Kedudukanku sebagai Duta Nomor 13 hanya diketahui oleh tiga orang, kecuali Duta Nomor 8 Lu Ie Lam, ketua Su-hay- tong-sim-beng Hong-lay Sian-ong, orang ketiga yang mengetahui Wie Tauw telah menyadi Duta Nomor 13 dari Su-hay-tong-sim-beng ialah siangjin sendiri."

"Mengapa harus dirahasiakan?" It-su Siangjin bertanya. "Sebelum pemuda misterius berkerudung hitam itu dapat diringkus. Lebih baik rahasia ini dapat disimpan."

"Agar lebih mudah menangkapnya ?" "Betul."

"Wie tatsu mempunyai pandangan yang lebih tinggi dari orang."

"Siangjin memuji. Menurut dugaanku yang rendah, pemuda berkerudung hitam itu segera muncul ditempat ini."

"Lagi2 tatsu menduga tepat." Berkata It-su Siang-jin dengan wayah kagum. "Pemuda berkerudung hitam itu semakin kurang ajar."

"Dia mengirim surat tantangan ?"

It-siu Siang-jin menggeleng-gelengkan kepala, kemudian mengeluarkan sepucuk surat, diserahkan kepada Wie Tauw dan berkata :

"Silahkan Wie tatsu membaca surat ini."

It-kiam-tiu-bu-lim Wie Tauw membaca surat itu. Demikian bun ji isi surat:

Tanggal 5 bulan tujuh.

Ketua Siao-lim-pay, It-su Siang-jin yang terhormat, didalam 10 hari ini, aku akan menurunkan batok kepalamu dari tempatnya. Sekian, harap kau menyaga baik2 kepala itu.

Dari : Pemuda berkerudung hitam

Huruf tulisan itu sangat indah, kekar dan kuat, Suatu tanda hasil buah tangan seorang yang bertenaga, seorang achli tulisan.

Bagaikan menemukan pusaka dunia, Wie Tauw berseru girang. "Siangjin, bolehkah menghadiahkan surat ini kepadaku?"

"Wie tatsu membutuhkannya ?" It-su Siangjin bertanya.

"Boan-chio Piauw-kiok dapat menancapkan kakinya dikota Tiang- an dengan kokoh, adalah hasil dari bukti2 yang seperti ini." Wie Tauw memberi keterangan.

It-su Siang-jin menganggukkan kepala.

"Baiklah Pinto harap Wie tatsu berhasil membongkar rahasia ini."

Wie Tauw menyimpan surat itu kedalam saku bajunya, kemudian ia berkata:

"Hari ini sudah tanggal 12, berarti sudah 7 hari dari surat itu ditulis. Tiga hari lagi adalah batas hari yang ditetapkan olehnya. Apakah Siang-jin tidak menemukan sesuatu ?"

"Keadaan tenang seperti biasa." Berkata lt su Siang-jin. "Tidak ada yang mencurigakan."

"Kukira ia sudah datang."

Mata It-su Siang-jin terbelalak, kata2 itu sangat meugejutkannya. "Alasan Wie tatsu ?" Ia bertanya.

"Siang-jin tentu tahu, kejadian pertama yang mengangkat nama Boan-chio Piauw-kiok ialah perkara Cit-cay-hiang-giok-hu, siapakah pemilik benda itu?"

"Cit-cay-hiang-giok-hu adalah tanda kepercajaan perdana menteri."

"Betul. Karena perkara itulah. Wie Tauw masuk keluar gedung perdana menteri. Tentu saja pernah berjumpa dengan putrinya."

"Nyonya Cia Cie Su yang kini sedang menyadi tamu agung Siao- lim-pay ?"

"Betul. Kini ia telah menyadi nyonya Cia Cie Su, Tetapi bukan nyonya tadi."

Lagi2 mata It su Siang-jin terbelalak.

"Dia bukan nyonya Cia Cit Su asli ?" Ia bertanya. "Bukan putri perdana menteri ?"

"Tentang istri Cia Cie Su belum kulihat. Tetapi dia bukanlah putri perdana menteri. Hal ini tidak dapat disangsikan lagi." Wayah It-su Siang-jin tampak serius.

"Keterangan Wie tatsu dapat dipertanggung jawabkan ?" Ia bertanya geram.

"Siangjin tentu kurang percaja."

"Setengah bulan sebelumnya, Cia Cie Su pernah mengirim surat tentang maksud kunjung an istrinya. Surat itu terlanda tangan dan setempel negara." It-su Siang-jin memberi keterangan.

"Wie Tauw tidak menyangsikan kebenaran dari setempel negara itu, tapi bagi kaum kita yang sudah biasa lompat naik turun diatas genteng orang, untuk mengambil suatu setempel negara sangat mudah sekali, bukan?"

lt su Siang-jin dapat mengerti, maksud ucapan itu.

"Hari ini. bila Wie tatsu tidak berkunjung kemari, batok kepalaku ini tentu sudah leujap dan tempatnya." Ia berkata.

"Siang-jin telah curiga kepada mereka? Menurut hematku, pemuda berkerudung hitam adalah jelmaan pemimpin kapala keamanan itu, atau mungkin juga gadis Cia hujin Tetapi, yang sungguh2 berkepandaian silat paling tinggi, adalah Cia hujin itu sendiri."

"Dia menyanyikan untuk meminta pelajaran ilmu keagamaan diruaug Ceng-sian. Kukira diumpat itulah ingin mencopot batok kepalaku."

Wie Tauw mempunyai pendapat yang sama.

"Harap Siangjin berhati-hati. Kecuali Cia hujin. putrinya dan pemimpin kepala keamanan itu bertiga, 10 tukang gotong tandu itupun tidak boleh dipandang ringan." Belum lama berselang dengan sengaja Wie Tauw mendekati mereka dan mengetahui hal ini.

It-su Siang-jin menghela napas.

"Karena kelengahanku,   hampir   Siao-lim-pay   termusna."   Ia berkata. "Bagaimana pula dengan ketiga puluh serdadu yang mereka bawa?"

"Ilmu kepandaian mereka biasa saja, kukira serdadu2 biasa." Berkata Wie Tauw.

It-su Siang-jin segera mengambil langkah2 tertentu. Ia membuka pintu dan memanggil U-ciok Hwesio, memberi beberapa kata pesanan kepada hwesio itu, hal ini untuk menyaga keselamatan partaynya.

U-ciok Hwe-sio menerima perintah dan pergi meninggalkannya.

It-siu Siang-jin kembali kedalam kamar dan menemui It-kiam-tin- bu-lim Wie Tauw lagi.

"Lolap telah memanggil para anggauta pelindung hukum dan 18 Lohan mengadakan persiapan untuk menghadapi mereka." Ia berkata dan memberi keterangan.

Wie Tauw sangat puas. Ia diam.

Tidak lama kemudian, seperti apa yang It-su Siang-jin katakan. Para anggauta pelindung hukum Siao-lim-pay, yang terdiri dari It- hoay Tay-su dan It-ie Tay-su masuk kedalam ruang dimana It-su Siang-jin dan Wie Tauw bercakap cakap. Kedatangan mereka disusul lagi oleh kedatangan 18 Lohan.

Pucuk tertinggi para pimpinan Siao-lim-pay berembuk untuk menghadapi musuh kuat, Wie Tauw hanya duduk sebagai pendengar.

Bagaimana hasil perundingan mereka boleh kita singkat. Kini terjadi setelah mcnyelang tengah hari.

Petugas bagian penerimaan tamu. Hiang-goat Hwee-sio mengantarkan 10 tukang gotong tandu dan 30 serdadu2 pengiring sitamu agung itu ketempat kamar masing2.

Kemudian, atas petunjuk yang telah diberi kan kepadanya, Hiang-goat Hwesio menuju ke ruang Ceng-sim, dimana nyonya Cia Cie Su ibu dan anak, dengan sipimpinan kepala keamanannya bertiga itu menetap.

Setelah mengetuk pintu dan mendapat penyambutan, Hiang-goat Hwesio berkata kepada mereka:

"Ketua kami menyampaikan pesan, bahwa pemandangan Selatan gunung Siong-san lebih indah dari pemandangan lainnya, bila nyonya bersedia beliau tidak keberatan untuk mengawani menyaksikan keindahan alam itu."

Nyonya Cia itu berpikir sebentar, kemudian menerima tawaran itu

:

"Baiklah. Setelah makan, kita boleh melihat lihat pemandangan

alam gunung Siong-san."

Hiang-goat Hwe-sio berkata lagi :

"Ketua kami menunggu diruang depan, kedatangan nyonya sekalian sangat diharapkan."

Cia Hujin berkemas-kemas, kemudian dengan mengajak puterinya, sipemimpin kepala keamanan dan 4 dajangnya berjalan keluar.

It-siu Siang-jiu dan 18 Lo-han telah menunggu diruang depan. Bercakap-cakap beberapa saat, iringkan ini menuju kearah selatan, mereka ingin menyaksikan pemandangan indah digunung Siong- san.

Cia hujin sangat berperasaan, dilihat 18 Lo-ban selalu mengiring dibelakang, ia mengajukan pertanyaan :

"Siang-jin, 18 Lohan ini mengawal di belakang apakah untuk menyaga keamananmu ?"

"Bukan." Bantah It-su Siang-jin. "Keamanan kalianlah yang harus mereka jaga." "Teecu telak mendapat penyagaan kuat dari-Cia hujin menunjuk kepala keamanannya. "Teecu kira tidak membutuhkan banyak orang ini."

It-su Siang-jin tersenjum. "Siao-lim-pay sering mendapat kunjungan orang yang tak terduga, kepala keamanan tentara boleh menghadapi jago biasa. Tetapi bila orang2 yang datang terdiri dari tokoh Kang-ouw keat, 18 Lohan lebih berkuasa. Nyonya adalah tamu agung kita, bila sampai terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, bagaimana Siao-lim-pay muka menemui orang ? Turut sertanya mereka, kuharap saja tidak mengganggu ketenangan." Cia hujin tidak banyak debat lagi.

Tamasja mereka berjalan cepat, dengan alasan tidak enak badan, Cia hujin meminta pulang.

It-su Siang-jin mengantarkan para tamunya keruang Ceng-sim.

Didepan pintu ia berkata :

"Sebentar malam, setelah selesai pelajaran. Pinto akan berkunjung lagi "

Cia hujin masuk kedalam kamarnya.

It-su Siang-jin kembali ketempat ruang semedhinya. Disini, ia memanggil Siong goa Hwe-sio dan mengajukan pertanyaan :

"Bagaimana?"

"Semua telah diatur beres. Menurut pesan Wie sicu, ciangbunyin harus memperhatikan tirai kain dibelakang ruang Ceng-sim."

It-su Siang-jin menganggukkan kepala.

"Bagaimana dengan 10 tukang gotong tandu mereka ?" Ia bertanya.

"Teecu telah menempatkan mereka diruang bagian barat, kamar kesatu dan kedua. Hiang-kong dan Hiang-hoat dua suheng tidak pernah meninggalkan mereka."

It-su Siang-jin sangat puas.

"Baik. Kau boleh lebih berhati hati lagi." la berkata:

Hiang-goat Hwe-sio menerima pesan ini dan meminta diri.

Tidak lama kemudian, genta Siao-Iim-sie dipukul tiga kali, itulah suatu pertanda bahwa pelajaran malam dari anak murid partay tersebut dimulai.

Ternyata Siao-lim-sie adalah suatu perkumpulan agama yang mementingkan kesucian, setiap hwesio dilarang memakan barang yang berdaging, atau mengandung darah. Bila mana diantara mereka banyak yang berkepandaian silat tinggi, itulah disebabkan karena latihan mereka yang tekun. Kecuali mempelajari ilmu keagamaan, mereka wajib pula melatih kekuatan tenaga dan bermacam macam cara untuk menggunakan senyata.

Pelajaran malam Siao-lim-sie dimulai, mereka mulai nembacakan isi2 dari kitab itu. Suara para hwesip berdengung. Dicampur juga dengan suara bokhie yang dipukul.

Disaat ini diruang Ceng-sim, di mana sang tamu agung Siao-lim- pay itu menetap sedang bersantap malam. Tiga orang hwesio kecil melajani, Cia hujin ibu dan anak, sikepala keamanan dan 4 dajang mereka.

Tiga hwesio kecil Siao-lim-sie meletakkan santapan2 itu di atas meja mereka.

Cia hujin memandang barang2 santapan itu, agak lezat juga kelihatannya. Maka ia berkata kepada ketiga hwesio pembawa makanan.

"Sampaikan ucapan terima kasihku kepada guru2 kalian." "Terima kasih kembali." Berkata tiga hwesio kecil itu.

Melihat ketiga hwesio berkepala gundul itu tidak pergi meninggalkan ruangan, alis Cia hujin dikerutkan.

"Eh, mengapa kalian tidak keluar?" Ia mengadukan partanyaan. "Kami diperintahkan untuk melajani segala kebutuhan para sicu."

Berkata tiga hwesio kecil itu.

"Kami telah mempunyai 4 dajang pelajan, tidak membutuhkan pertolongan lagi." Berkata Cia hujin. "Kalian bertiga boleh menunggu di luar atau kembali saja." Tiga hwesio kecil itu telah dipesan agar sungguh-sungguh memperhatikan gerakan2 para tamunya, mana berani mereka melanggar perintah sang ketua. Kini Cia Hujin mengusir mereka sungguh hal yang membingungkan.

Ketiga hwesio itu saling pandang, kakinya tidak bergerak pergi. 4 dajang Cia Hujin membentak:

"Hei. Kalian tidak meadengar?"

Ketiga hwesio itu memandang 4 dajang Cia-hujin yang cantik2. Sebagai hwesio Siao-lim-sie yang tidak pernah turun gunung, mereka belum pernah melihat wanita, apa lagi wanita berparas cantik, mereka memandang dengan kesima. Lupalah kewajibannya. Cia Hujin tertawa.

"Merekalah yang akan melajani segala kebutuhan kita." Ia berkata kepada ketiga hwesio kecil itu.

Tiga hwesio masih tidak memberi jawaban.

"Eh, lupakah kepada pesan guru2 kalian ?" Tiba2 Cia Hujin bertanya.

"Pesan apa?" Bertanya tiga hwesio kecil itu.

"Mereka adalah kaum wanita, orang2 yang digolongkan tidak boleh didekati macan umpamanya.

"Macan ?" Ketiga hwesio kecil mempelototkan matanya.

"Betul. Macan yang bisa memakan orang. Salah seorang hwesio kecil menepuk dada. "Aku tidak takut macan. Suruh mereka memakanku." Ia menantang.

Kawannya yang mampunyai umur lebih tua mendelikkan matanya.

"Hei, berani kau suka kepada wanita ?" Ia membentak kawan tersebut.

"Aku bukan suka kepada wanita. Tetapi tidak takut macan." Hwesio ini masih tidak mau kalah. "Mereka adalah dajang2 wanitanya." "Tapi dikatakan macan ?"

"Suhu kita mengatakan wanita tidak boleh didekati, wanita adalah bibit kekacauan."

"Bibit yang bagaimanakah yang dinamakan bibit kekacauan itu?"

"Aku tidak tahu. Guru kita pernah berkata demikian, bukan?" "Bila mereka ini bibit kekacauan. Mengapa guru2 kita harus

melajaninya dengan hormat sekali ?"

"Ini disebabkan...Ng... Sudahlah jangan kau banyak tanya."

Perdebatan diantara ketiga hwesio kecil itu menyebabkan si kepala keamanan segera membentak :

"Hei, masih kalian tidak mau keluar?"

Tangan diangkat, seolah2 ingin memukul ketiga hwesio kecil itu. Tiga hwesio Siao-lim-sie lari ngiprit, mereka meninggalkan ruang

Ceng-sim.

Cia hujin, putrinya dan kepala keamanan saling pandang, mereka tertawa.

"Haa..." Cia Hujin membuka suara." Mereka lucu!"

"Mereka memakimu sebagai bibit kekacauan." Barkata si kepala keamanan.

Cia hujin memandang kepala keamanan ini, jarak mereka sudah dekat sekali. Dengan suara sangat pelahan, ia berkata :

"Kita memang bibit kekacauan, bukan ?"

"Hati2 kepada mereka" Kepala keamanan itu memberi peringatan.

"Disini tidak ada orang luar, apa yang harus ditakuti ?" Cia hujin memang sangat berani. Kepala keamanan itu menghela napas. Ia berkata :

"Dengarlah nasehatku, harus berhati-hati! Siao-lim-sie tidak boleh dipandang ringan."

Cia hujin menyebikkan bibir.

"Kulihat Siao-lim-sie hanya nama kosong saja." Ia berkata. "Kau sudah berhasil ?" Si Kepala Keamanan tidak sependapat. "Sudah dekat sekali." Berkata Cia hujin.

Kepala Keamanan itu tidak membuka suara lagi. Cia hujin memanggil puterinya dan berkata :

"Ai Ceng, mari kita makan."

Dan ia duduk dikursi dimeja makan. Gadis yang dipanggil Ai Ceng itupun duduk untuk bersantap. Hanya si Kepala Keamanan yang masih berdiri.

"Kau juga boleh duduk bersama." Cia hujin memanggilnya. "Disini sudah tidak ada orang luar."

Si Kepala Keamanan tidaK memberi sahutan, sikapnya sangat sombong dan angkuh sekali. Tetapi, tidak lama, iapun duduk bersama-sama dengan Cia hujin dan Ai Ceng.

4 dajang mereka melajani segala kebutuhan Cia hujin Ai Ceng dan Kepala Keamanan itu.

Selesai bersantap, baru Cia hujin menjuruh 4 dajang memanggil 3 hwesio kecil yang berada diluar kamar.

Ketiga hwesio itu masuk membawa piring mangkuk dan mengundurkan diri.

Tidak lama kemudian, terlihat seorang hwesio lain yang masuk memberi laporan :

"Ketua kami telah selesai memberi ceramah didalam pelajaran malam. Kini beliau sedang bersantap. Tidak lama, beliau segera datang." "Sudah tahu." Berkata Cia hujin. hwesio itupun pergi lagi.

Maka. Cia hunyin, Ai Ceng, Kepala keamanan dan 4 dajang2 mereka segera membikin persiapan. Mereka adalah musuh2 Siao- lim-sie yang ingin melakukan sesuatu ditempat itu.

Tidak lama, terdengar suara ketukan pintu. "O-mie-to-hud," Itulah suara It-su Siangjin. "Silahkan duduk." Berkata Cia hujin. Pintu dibuka dan mereka menyilahkan It-su

Siang-jin masuk kedalam. Ai Ceng telah menyediakan tempat, maka diletakkan untuk ketua partay Siao-lim-pay itu duduk.

"Silahkan duduk." Berkata Cia hujin. It-su Siang-jin duduk ditempat yang telah disediakan untuknya. Matanya memandang sekeliling ruangan, ia tidak menemukan jejaknya Kepala Keamanan rombonean tamu agung ini.

"Kemanakah Kepala keamanan Cia hujin ?" Ia mengajukkan pertanyaan.

"Mungkin memeriksa 30 anak buahnya." Berkata Cia hujin.

It-su Siang-jin mengijakan jawaban itu. Kini ia mulai masuk kedalam pokok persoalan.

"Cia hujin menapunyai pandangan luas didalam keagamaan, suatu hal yang sangat menggirangkan." Ia berkata.

"Hanya pelajaran2 yang biasa." Cia hujin merendah. "Tentang pelajaran2 yang lebih dalam, kami masih membutuhkan keterangan siangjin."

"Bila keterangan lolap kurang memuaskan, harap tidak menyadi buah tertawaan hujin." Berkata It-su Siang-jin.

"Tentu saja. Teecu mana berani menyamakan diri dengan seorang tokoh suci seperti siangjin. Teecu datang dengan sujut."

"Soal agama menyangkut banyak bagian, entah dibagian apa yang hujin butuhkan?" "Pertanyaan pertama ialah, dari mana asa mula Jie-lay?"

"Jie-lay adalah salah satu dari 10 dewa besar. Bahasa ini diterjemahkan dari bahasa sangsekerta yang mengandung arti dari mana kau datang, dari situ pulalah kau akan kembali. Boleh juga diartikan seperti demikian, segala sesuatu berpangkal untuk kebenaran, kejujuran dan kesamarataan, maka diartikan sebagai Jie-lay. Tetapi kami lebih suka mengartikan sebagai berikut hidup manusia untuk kebajikan, kejujuran, kebenaran dan keadilan."

Cia hujin mengangguk anggukkan kepala Kemudian mengajukan pertanyaan yang kedua;

"Tujuan hidup Jie-lay ingin masuk kedalam neraka. Ia pernah berkata 'Bila aku tidak masuk kedalam neraka, siapakah yang mau masuk kesana, bagaimana arti dari keterangan ini?'

"Arti ini tidak jauh berbeda dengan pepatah 'Apa yang kau tidak ingin terima dari orang lain, janganlah kau berikan kepada orang' Bila semua orang mau masuk sorga, siapa yang harus dijebloskan kedalam neraka. Tidak mungkin seseorang tidak mempunyai kesalahan."

"Mengambil contoh 'Kesalahan' kesalahan yang bagaimanakah yang sering dibuat orang ?"

"Kesalahan2 manusia terdiri dari aneka niat jam, ada juga kesalahan yang sengaja atau tidak dengan disengaja. Kesalahan yang di sengaja itulah yang paling dipantang."

"Siang-jin tentunya pernah membual kesalahan2 yang disengaja atau tidak disengaja ?"

"O-mie-to-hud..." It-su Siang-jin memuja budha.

"Bagaimanakah menghindari diri dari kesalahan itu ?" Cia hujin bertanya lagi.

"Bila kita sujud. Memusatkan semua bathin pada kesucian. Tanpa banyak kesukaran, para iblis lari menyingkir jauh2. Maka kitapun tidak melakukan kesalahan." "Terima kasih." Berkata Cia hujin. "Keterangan Siang-jin sangat bermanfaat sekali. Kemarin, didalam kitab ada beberapa yang agak sulit dimengerti. Bolehkah siangjin memberi sedikit penyelasan?"

"Silahkan hujin ajukan."

Cia hujin menoleh kesalah satu dari 4 dajang pelajan dan berkata kepadanya: "Cun-lan, pergi ambil kitab itu."

Dajang itu segera pergi dan kembali lagi dengan sejilid kitab ditangan, diserahkannya kepada sang nyonya majikan.

Cia hujin menyambuti kitab itu dan menyerahkan kepada It-su Siang-jin.

"Silahkan siangjin memeriksa halaman kedelapan." Ia berkata.

It-su Siangjin betul2 membuka lembaran2 kitab itu sehingga pada halaman kedelapan, disitu terselip selembar catatan yang berbunyi : "Para iblis penyabut nyawa telah tiba, bagaimana kau menghindari diri ?"

Disaat yang sama, bau harum semerbak menyelang hidung ketua Siao-lim-pay itu, tubuhnya bergojang gojang dan roboh kedepan.

Maka kain penutup jendela dibelakang It-su Siangjin tersingkap, disana muncul seorang pemuda berkerudung hitam !

Inilah pemuda misterius berkerudung hitam yang dihebohkan oleh para partay silat!

Pemuda berkerudung hitam telah mengeluarkan pedang, pedang itu diajun dan mengarah batang leher It-su Siang-jin, maksudnya menahas kepala orang.

Tiba2, tubuh It-su Siangjin yang sempojongan itu melentik, dibarengi oleh suara bentakannya yang keras, ia memukul sipenuida berkerudung hitam.

Inilah suatu hal yang tidak terduga sama sekali. Manakala pemuda berkerudung hitam itu heran dan tidak mengerti, mengapa seorang yang sudah dibius jatuh dapat bangun lagi ? Telapak tangan It-su Siangkjin telah mengenai dadanya.

Beekkk.....

Tubuh sipemuda berkerudung hitam terpental.

Tentu saja, pukulan It-su Siangjin sangat hebat dan kuat. Ditambah tidak ada tanda2 sama sekali, pemuda berkerudung hitam itu memuntahkan darah segar dan pingsan segera, disaat itu juga.

Wayah Cia hujin, sang putri Ai Ceng dan keempat dajang berubah. Perubahan itu terjadi dengan cepat sekali.

Kini It-su Siangjin menghadapi mereka.

Cia Hujin memandang Ai Ceng dan berkata:

"Ai Ceng, ajak 4 dajang kiia meninggalkan tempat ini." It-su Siangjin tertawa :

"Sudah terlambat." Ia berkata.

Dari luar melajang dua bajangan, mereka adalah para anggauta pelindung hukum Siao-lim-sie, It-hoay Taysu dan It-ie Taysu, dua hwesio tua dengan tingkatan sama dengan sang ketua partay.

"O mie-to-hud," Berbareng It-hoay Taysu dan It-ie Tavsu menyembah budha. "Li sicu jangan bergerak, agar tidak membuang jiwa percuma."

Cia hujin ibu dan anak, beserta dengan 4 dajang mereka menghadapi jalan buntu.

Mata Cia hujin memancarkan sinar kebencian, tiba2 ia tersenjum. "Ha, ha,.....Ia berkata. "Dengan modalkan tenaga tiga orang,

ingin menangkap kami?"

It-su Siangjin bertiga memperketat kurungannya.

Cia hujin telah mengambil putusan nekad, tiba2 saja tangannya bergerak, cepat. sekali, bukan It-su Siang-jin, It-hoay Taysu atau It- ie Taysu yang diancam, sebaliknya memukul 4, dajang pengiringnya. 4 dajang pengiring itu tidak menduga sama sekali, mana mungkin sang majikan menurunkan tangan jahat kepadanya? Tanpa berteriak, mereka telah jatuh terkapar dan melajanglah, jiwanya, Cia hujin memang hebat sekali. Sekaligus membunuh 4 dajangnya, agar mereka tidak membuka rahasia.

It-su It-hoa dan It-tie, tiga hwesio tua generasi tingkatan lt, sudah siap menangkap orang itu, ketika melihat Cia hujin bergerak, dugaan mereka jatuh kepada perlawanan atau terjangan, mereka telah siap, tak disangka Cia hujin membunuh 4 dajang pengiringnya sendiri, satu hal yang berada di luar dugaan.

Setelah sadar akan maksud tujuan kejam Cia hujin, It-su Siang- jin yang telah menyambar tongkatnya, mengajun senyata ini.

"Sungguh kejam." Ia berkata:

Cia hujin menyambuti serangan It-su Siangjin dengan satu loncatan indah, ia memapaki datangnya senyata, dengan tangan kosong, memberi perlawanan.

Dilain pihak, It-tie Tay-su telah bergebrak dengan gadis yang dipanggil Ai Ceng. Hanya It-hoay Saysu yang menonton pertandingan itu, ia siap dipihak yang membutuhkan tenaganya.

Ai Ceng mempunyai sifat seperti ibunya, ia tidak gentar. Tangannya digerakkan, menjulurkan dua jari, mengancam jalan darah Tan-thian lawan.

It-ti Tay-su harus mengeluarkan seluruh ilmu kepandaiannya seperti juga dengan It-su Siang jin, ia harus menghadapi musuh dengan hati2.

Keadaan dalam ruang Ceng-sim sangat ramai Dua pertempuran itu berlangsung, cepat dan gesit, mereka adalah tokoh2 silat yang telah digolongkan kadalam kelas satu.

Bila disini, bajangan senyata dan tangan berseliwer cepat. Di lain pihak, pada kamar2 barisan Barat terjadi pula pertempuran2 yang tidak kalah ramainya. Ternyata, dikala It-su Siang-jin memasuki ruang Ceng-sim. Atas perintah ketua ini, 18 Lo-han telah mengurang kamar2 dimana para pengiring Cia hujin menetap.

10 tukang gotong tandu adalah orang2 Cia hujin yang dikhususkan untuk memberi bantuan, karena adanya kisikan It- kiam-tin-bu-lim Wie Tauw, maka 18 Lo-han menghadapi 10 tukang gotong tandu itu.

Pemimpin 18 Lo-han adalah Sim-keng hwesio, ia telah mendobrak pintu kamar dan menghadapi 10 tukang gotong tandu itu.

"Jangan bergerak !" Dengan geram, Sim-keng hwesio membentak.

10 tukang gotong tandu Cia hujin itu adalah tokoh2 silat kenamaan yang menyamar, maksud tujuan mereka ialah raeughancurkan Siao-lim-pay. Menghadapi kejadian ini, mereka segera sadar bahwa rahasia telah terbongkar, serentak siap menghadapi perlawanan.

Salah seorang dari kesepuluh tukang gotong joli itu, yang mempunyai wayah agak menyeramkan tampil kedepan, ia mengadapi Sim-keng hwesio."

"Sambitlah seranganku." Ia berkata sambil memberi satu pukulan keras.

Sim-kheng hwesio bersenyata pedang, melihat datangnya serangan. Ia mengajun senyatanya bila kepala tukang gotong tandu itu tidak membatalkan serangan, pasti tangannya terpapas oleh tajamnya pedang.

Si Wayah suram tahu diri, ia menarik pulang tangannya, tetapi bukan berarti menyerahkan diri. Hanya memutarkan sedikit tangan itu, melalui satu lingkaran, ia mengubah pukulan menyadi suatu cengkeraman, arah sasaran ialah pundak Sim-kheng hwesio.

Sebagai kepala 18 Lohan, Sim-kheng Hwesio mempunyai ilmu kepandaian yang berada diatas kawan2nya, cepat sekali ia menyingkir dari ancaman bahaja. Tanpa menoleh lagi, ia memainkan pedangnya cepat. Maka dua orang ini bertempur hebat.

17 Lo-han lainnya tidak tinggal diam, mereka mengurung 9 tukang gotong tandu itu. Terjadilah pertempuran kalut.

Dengan jumlah yang lebih banyak, dengan ilmu kepandaian yang memang patut mendapat pujian, pihak Siao-lim-pay mendapat angin cepat. Didalam sekejap mata, mereka telah mendesak 10 tukang gotong tandu itu kesudut mati.

Walau berada didalam keadaan terdesak, 10 orang2nya Cia Hujin belum mau menyerah. Mereka memberi perlawanan yang nekad. Terlebih lebih si Wayah Seram yang gagah, dialah kepala dari rombongan tukang gotong itu. Agak sulit untuk mendekati dirinya. Biarpun menggunakan tangan kosong, pedang Sim-kheng Hwe-sio tidak mudah mengenai sasaran. Dilihat sekelebat bila satu lawan satu, mungkin kemenangan masih berada dipihaknya.

Berlangsung lagi beberapa lama, seorang tukang gotong tandu Cia Hu-jin mengeluarkan suara jeritan, ternyata dibawah ancaman dua orang hwesio Siao-lim-pay, ia jatuh sebagai korban pertama.

2 dari 18 Lo Han Siao-lim-pay telah membunuh orang.

Hal ini membangunkan semangat tempur mereka, bila mengingat pantangan yang tidak boleh terlalu banyak membunuh, tentu gerakan mereka agak perlahan dan hati2. Kini musuh2 itu terlalu bandel, adanya contoh pembunuhan itu, 16 Lohan lainnya berlaku lebih ganas lagi, mereka dipaksa mengerahkan semua ilmu kepandaian, sampaipun harus membunuh untuk cepat2 mengachiri pertempuran.

Hawa pembunuhan mempercepat proses pertempuran itu. Terdengar lagi suara jeritan dua tukang gotong itu, mereka mati dengan darah mencepreti ruangan itu.

Si Wayah Seram sadar bahaja kematian sudah dekat dengan ditinju beserta semua kawan2 yang masih hidup, ia memukul pergi pedang Sim-kheng Hwe-sio, membuka jalan darah dan meneriaki kawan2nya :

"Saudara2, cepat meninggalkan tempat ini." 6 kawan2nya mendobrak kepungan dan lari keluar dari ruangan itu.

18 Lo-han menggencar dengan serangan2, mereka mengejar. MEMASANG UMPAN

Bila pertempuran dikamar tamu bagian Barat telah selesai dengau matinya 3 tukang gotong tandu, kemenangan telah dicapai oleh pihak Siao-lim-pay. Diruang Ceng-sim, pihak pengacaupun tidak berhasil menyalankan siasatnya.

It-su, It-ie dan It-hoay adalah tokoh2 yang menyadi inti kekuatan Siao-lim-pay, untuk menghadapi Cia Hujin ibu dan anak, tentu tidak banyak mendapat kesukaran.

Putri Cia Hujin, gadis yang dipanggil Ai Ceng itu sudah tidak sanggup melawan lt-ie Taysu dan telah diringkus hidup2.

Kini Cia Hujin harus bertempur tanpa bala bantuan.

It-ie Tay-su dan It-hoay Tay-su menyaga jalan lari nyonya itu. It- su Siang-jin mendesak semakin hebat.

Cia Hujin tahu, tidak ada harapan untuk mengubah situasi itu. Ia mendesak sang lawan, kemudian mendobrak jendela dan lompat keluar, melarikan diri.

It-su Siang-jin mengejar dari belakang.

Tt-it dan It-hoay memotong jalan dan menyaga diluar pekarangan.

Tetapi Cia Hujin tidak lari dengan jalan itu, ia masuk kedalam ruang lain. Disinilah letak kepintaran otaknya. Tatkala It-su, It-ie dan It-hoat bergabung kembali, mereka telah menyaksikan genting ruangan itu pecah bolong, bajangan Cia Hujin tehih lenyap, tidak tertampak. Ia telah terbang pergi tanpa bekas.

Tatkala It-su Siang-jin memukul sipemuda berkerudung hitam, Cia Hujin membunuh 4 dajang pengiringnya. Ada sepasang mata yang menyaksikan hal itu, dia adalah si Pedang Penakluk Kang-ouw, It-kiam-tin-bu-lim Wie Tauw.

Wie Tauw tahu pasti; It-su, It-ie dan It-hoay dapat menghadapi Cia Hujin ibu dan anak. Maka ia meninggalkan ruang Ceng-sim dan melihat keadaan diruang tamu bagian barat, dimana 18 Lo-han harus berhadapan dengan 10 tukang gotong tandu2 Itu.

Hanya sepintas lalu, Wie Tauw juga tahu hahwa 10 tukang gotong itu bukan tandingan 18 Lo-han Siao-lim-pay yang gagah perkasa.

Kemenangan pasti berada dipihak Siao-lim-pay, baru ia balik kembali.

Karena kepergian inilah, Cia Hujin berhasil meloloskan diri. Wie Tauw dapat melihat bajangan nyonya itu yang menembus wuwungan rumah, tetapi jarak mereka tidak mengijinkan dia menangkapnya. Terpaksa iapun menjumpai It-su, It-ie dan It-hoay, tiga hwesio tua Siao-lim-pay itu.

"Sungguh menyesal, aku tidak keburu menangkap nyonya itu." Ia meminta maaf.

Wayah It-su Siang-jin sangat muram. "Kami tidak berguna" ia berkata, "maka ia tidak dapat diringkus."

Wie Tauw menunjuk kearah kamar2 tamu di barat, ia memberi sedikit laporan :

"Disana, pertemuan telah selesai. Mati tiga dan lain2nya berhasil melarikan diri."

It-su Siangjin segera memberi perintah lain :

"It-hoay sutee, segera kau bantu usaha mereka. Bila musuh telah lari jauh, panggil pulang 18 Lo-han, berhati hatilah kepada musuh lainnya yang dapat menyergap tempat2 yang lain."

It-hoay Taysu segera menyalankan tugas iiu, tubuhnya melesat dan menarik pulang tenaga 18 Lo-han Siao-lim-pay. It-ie Tatsu bertugas menyaga dua tawanannya, sigadis yang bernama Ai Ceng dan pemuda berkerudung hitam yang jahat itu.

It-su Siangjin mengajak Wie Tauw untuk mengadili dua tawanan itu :

"Walau Cia hujin melarikan diri. Kita telah berhasil meringkus gadisnya dan seorang pemuda berkerudung hitam, mari kita memeriksa mereka."

Wie Tauw mengikuti dibelakang It-su Siangjin menuju keruang Ceng-sim.

Tiba dipintu, tiba2 Wie Tauw menghentikan langkah kakinya. "Eh, Wie tatsu mengapa?" It-su Siangjin mengajukan pertanyaan.

"Aku yang rendah tidak ingin menjumpai gadis itu. Bolehkah menyingkirkannya dari ruang ini ?" Wie Tauw mengemukakan alasannya.

"Mengapa tidak ingin menjumpai gadis itu?" It-su Siangjin heran. "Aku yang rendah tidak boleh melihat gadis cantik." Wie Tauw

berkata. "Saring kali menggagalkan rencana."

It-su Siangjin agak kurang penyaja. Tetapi ia menjuruh orang untuk memindahkan gadis yang bernama Ai Ceng itu.

Setelah Ai Ceng dibawa kelain ruangan, baru It-su Siangjin mengajak Wie Tauw masuk ke-ruangan Ceng-sim. Mereka ingin membuka kedok sipemuda berkerudung hitam yang misterius itu. Manusia jahat yang sering membuat keonaran dan kehebohan.

Sipemuda berkerudung masih belum sadarkan diri, ia tidur tertelungkup.

Wie Tauw membalikkan tubuh itu dan mulai membuka tutup kerudung mukanya.

Wayah sibibit kekacauan, orang yang menyebabkan kematian Ie Lip Tiong ini adalah wayah seorang pemuda, umurnya berkisar diantara 19 tahunan, pipinya agak cekung kedalam, bibirnya miring sedikit, maka terlihat beberapa gigi yang tidak rapi, wayah dari sipemuda berkerudung hitam itu adalah wayah seorang pemuda yang sangat buruk.

Wie Tauw dan Tt-su Siangjin tidak kenal dengan wayah itu.

Orang yang telah memfitnah Ie Lip Tiong telah ditawan, hanya apa yang menyebabkan kejahatan itu ? Dengan apa pemuda buruk ini membunuh bunuhi anak murid 5 partay besar? Siapa nama dan bagaimana asal usulnya?

Wie Tauw dan It-su Siangjin saling pandang, mereka menggeleng-gelengkan kepala.

"Wie tatsu kenal dengan wayah ini ?" It-su Siangjin membuka suara.

"Tidak. Mungkin seorang pemuda yang baru terjun didalam rimba persilatan."

"Hal ini memang mungkin terjadi. Tetapi, seorang pemuda yang baru muncul didalam rimba persilatan tidak mempunyai musuh dendaman. Mengapa ia membunuh bunuhi anak murid 5 partay besar ?"

"Entah siapa yang berhasil mendidik pemuda ini. Orang itulah yang mempunyai musuh dengan 5 partay besar."

It-su Siang-jin dapat menyetujui pendapat ini Wie Tauw membungkukkan badan, mandekati tubuh pemuda buruk itu dan memeriksa isi kantungnya. Dari sana, ia menarik keluar sebuah bungkusan. Dibukanya bungkusan itu dan terlihat sebuah kulit wayah yang telah dikeringkan. Itulah wayah si Kepala Keamanan!

Wie Tauw membeberkan wayah Kepala Keamanan itu dan bertanya kepada It-su Siang-jin:

"Siangjin kenal dengan wayah ini ?"

"Eh itulah wayah si Kepala Keamanan Cia hujin. Bagaimana dapat seperti itu?" It-su Siang-jing tidak mengerti. Wie Tauw menganggukkan kepala. Ia memberi keterangan :

"Betul. Inilah wayah Kepala Keamanan itu. Setiap orang yang menggunakan kedok manusia ini dapat menyadi si Kepala Keamanan."

"Wayah yang sungguh2?" It-su Siang-jin bertanya. "Betul." "Agaknya kulit manusia yang telah dikeringkan,"

"Tepat ! Duta nomor 8 dari Su-hay-tong-sim-beng pernah melihat cara2 bagaimana sesuatu komplotan jahat ini manguliti manusia, hampir2 kulitnya dibeset oleh komplotan jahat itu. Ternyata pemuda berkerudung hitam mempunyai hubungan dengan komplotan tersebut."

It-su Siang-jin belum dapat membajangkan, bagaimana orang menguliti wayah manusia lainnya ? Adalah menusia2 yang sekejam ini ? Menggunakan kedok manusia asli untuk merencanakan tipu muslihat jahat ?

"Adakah pembesetan kulit manusia yang seperti ini ?" Terdengar suara si ketua partay yang bergumam.

Wie Tauw telah melipat kulit manusia itu, disimpannya baik2 dan berkata :

"Mereka sedang memproduksi benda ini secara besar2an. Bila tidak segera memberantas komplotan jahat itu, dunia tentu kacau dan rusak. Entah bagaimana keadaan achir kejadian kita."

"Apa tujuan membeset kulit manusia ?" It-su Siang-jin memandang si Pedang Penakluk Kauw-ouw, It-kiam-tin-bu-lim Wie Tauw.

"Tujuan utama ialah kulit wayah yang seperti ini."

"Wie tatsu mengartikan bahwa mereka menggunakan kedok kulit manusia untuk membunuh manusia lainnya?"

"Hanya jawaban yang seperti ini yang agak memuaskan." Berkata Wie Tauw. "Bila wayah kulitku yang rendah ini telah dibeset oleh mereka dengan menggunakan kedok kulit muka Wie Tauw dengan menggunakan tubuh Wie Tauw dengan mudah, mereka dapat membunuh kawanku yang terdekat."

It-su Siang-jin memandang dengan sinar mata bercahaja. Kemudian menoleh kearah pemuda buruk yang masih belum sadarkan diri itu, Pukulannya terlalu keras, maka sikorban belum tentu dapat hidup.

"Wie, tatsu kukira pemuda ini tidak ada harapan hidup." ia berkata.

Wie Tauw juga tahu. Tetapi ia membutuhkan keterangan sipemuda jahat itu. Berpikir sebentar, maka iapun berkata :

"Obat Pek-Ieng Sin-tan dari Siao-lim-pay terkenal dapat menghidupkan orang yang sudah hampir mati. Mengapa siangjin tidak mencoba untuk menolongnya ?"

It-su Siang-jin mengeluarkan obat Pek-leng Sin-tan, mengambil satu butir dan dimasukkan kedalam mulut pemuda buruk itu.

"Sebentar kemudian, ia dapat siuman dan sembuh." la berkata.

Wie Tauw maklum betapa tinggi ilmu kepandaian pemuda berkerudung hitam ini tidak sedikit tokoh2 kuat dari anak murid 5 partay besar yang mati dibawah tangannya, ia segera memberi peringatan :

"Sebelum ia siuman, Lebih baik siangjin menotok jalan darahnya dahulu."

It-su Siang-jin dapat diberi mengerti, ia menotok beberapa jalan darah pemuda buruk itu.

Dikala ini, It-hoay Tay-su kembali memberi laporan tentang kesudahan dari pertempiiian, dibelakangnya turun 18 Lohan.

Melihat kedatangan mereka. It-su Siang-jin bertanya : "Bagaimana ?"

"Para tukang gotong tandu itu rata2 mempunyai ilmu kepandaian tinggi. Kecuali tiga diantaranya yang telah mati, 7 lainnya berhasil, melarikan diri." It-hoay Tatsu mewakili 18 Lohan memberikan laporan.

"Bagaimana dengan keadaan 30 serdadu pengiring mereka?" It- su Siang-jin bertanya lagi.

"Para serdadu itu tidak sadar apa yang telah terjadi. Mereka tidak keluar dari tempatnya dan mengorok enak."

Hal ini berada diluar dugaan It-su Siang-jin. Masakkan tidur mengorok?"

"Tidak ada sesuatu yang mencurigakan ?" Ia bertanya.

"Jumlah para serdadu itu 30 orang. Hanya dua yang lenyap tidak terlihat mata hidungnya. Sisanya, 28 orang itu masih tidur menggeros."

It-kiam-tin-bu-Iim Wie Tuuw tertawa, ia turut bicara ;

"Siang-jin tidak perlu mencurigakan mereka. Para serdadu itu adalah orang2 yang dipungut ditengah jalan, kaum gelandangan atau para pengangguran yang dipakai sementara. Bukanlah orang2 bawaan komplotan tukang beset kulit manusia."

It-su Siang-jin telah memandang It-hoay Tay-su dan memberi perintah :

"Tidak perlu menggugah mereka. Setelah hari menyadi terang, bila tidak ada yang dicurigakan, biarkanlah mereka turun gunung."

It-hoay Tay-su menerima baik perintah ini. Matanya memandang keselulruh ruangan, tidak nampak bajangan gadis yang bernama Ai Ceng itu. ia mengajukan pertanyaan : "Kemanakah putri Cia Hujin itu ?"

"Diruang sebelah." It-su Siang-jin memberi jawaban. "Tidak mengompas dirinya ?" It-hoay Taysu bertanya.

It-su Siang-jin menoleh kearah Wie Tauw. Ia berhasil meringkus para komplotan tukang beset kulit manusia ini atas bantuan tokoh ajaib itu, mengingat orang pantang 'bertemu' dengan gadis cantik, ia harus meminta pendapatnya dahulu.

Wie Tauw merangkapkan kedua tangannya berkata :

"Mereka adalah tawanan Siao-lim-pay, taysu sekalian berhak untuk meminta keterangannya. dengan ini aku yang hendak undurkan diri."

"Wie tatsu tidak perlu menyingkir." Berkata It-su Siang-jin mencegah. "Mari kita meminta keterangan bersama."

Pedang Penakluk Kang-ouw Wie Tauw masih menolak.

"Bukan Wie Tauw sengaja menolak," ia berkata. "tetapi pantangan melihat gadis cantik menderita, yang melanggar akan mengakibatkan kesengsaraan badan."

Dan Pedang Penakluk Kang-ouw ini meninggalkan ruang Ceng- sim.

Maksud tujuan Wie Touw tidak berhadapan muka dengan gadis yang bernama Ai Ceng itu ialah suatu rencana yang berjangka panyang. Dan diketahui lagi, bahwa para hwesio Siao-lim-sie yang 'suci' itu sangat 'alim', Dengan adanya orang luar dihadapan mereka, pasti tidak berani menggunakan siksaan kejam untuk mengupas keterangan sipenyahat. Hal ini sangat perlu, mengingat gadis dan pemuda itu wajib memberikan keterangan tentang asal usul mereka. Bila tidak disertai kekerasan, mungkin mengalami kegagalan. Maka Wie Tauw nienyingkir dari sana.

It-kiam-tin-bu-lim Wie Tauw kembali kekamarnya. Disini ia duduk bersemadhi.

Setengah jam kemudian, terdengar pintu kamar Wie Tauw diketuk.

"Siapa ?" Ia mengajukan pertanyaan.

"Lolap," Itulah suara It-su Siang-jin. "Wie tatsu belum tidur ?" Wie Tauw membuka pintu kamarnya, ia menyilahkan ketua partay Siao-lim-pay itu masuk kedalam. "Silahkan masuk." Ia berkata.

It-su Siang-jin membalas dengan satu rangkapan tangan, mengambil bangku dan duduk ditempai itu. Ia mengeluarkan keluhan napas yang panyang.

"Pemuda berkerudung itu berkepala batu." Ia berkata.

Wie Tauw sudah dapat menduga akan hasil dari pengompresan ini. Ia tertawa dan berkata :

"Tidak bersedia memberi keterangan sama sekali ?" "Betul. Sekejappun tidak mau bicara."

"Cia Hujin itu tidak membunuhnya, dan hanya membunuh 4 dajang pengiring mereka saja. Dari sini sudah dapat diduga behwa pemuda buruk itu pasti tahan ujian. Dan bagaimana dengan gadis itu ?"

"Kita orang tidak menggunakan kekerasan pula. Maka gadis itupun tidak membuka rahasia mereka."

Wie Tauw telah berhasil menawan pemuda berkerudung hitam yang misterius itu, ternyata mempunyai wayah yang sangat buruk sekali. Sayang belum tahu siapa dan bagaimana asal usul orang tersebut.

"Bagaimana rencana siangjin untuk menghadapi mereka ?" Wie Tauw mengajukan pertanyaan.

"Lolap ingin mengutus 10 Lo-han untuk menggiring 2 tawanan ini kemarkas besar Su-hay-tong-sim-beng, menyerahkan kepada mereka dan mengadili para penyahat2 itu."

Wie Tauw tersenjum.

"Bagaimana pendapat Wie tatsu tcntang rencana tadi ?" It-su Siang-jin bertanya.

"Cocok" Berkata Wie Tauw. "Kalau boleh seorang diantaranya tidak dibawa."

"Maksud Wie tatsu.   "

"Mengiring yang lelaki dan menahan yang perempuan."

"Apa guna menahan gadis itu?" It-su Siangjin belum paham rencana orang.

Wie Tauw maju dan membisiki beberapa patah kata, ia mengemukakan rencananya.

It-su Siang-jin berseru girang:

"Bagus! Rencana bagus"

"Terima kasih." Wie Tauw merendah diri. "Bila Siang-jin tidak ada lain usul. Mari segera kita jalankan rencana ini."

"Baik. Segera kita laksanakan rencanamu."

"Wie Tauw meminta diri." Berkata It-kiam-tin-bu-lim Wie Tauw yang segera meninggalkan ketua partay Siao-lim-pay itu. Tubuhnya melesat dan lenyap didalam kabut malam gelap.

Malam berganti, hari telah menyadi pagi. Dari atas gunung Siong-san melajang turun satu bajangan langsing, itulah bajangan sigadis yang bernama Ai Ceng. Orang tawanan Siao-lim-pay yang dibebaskan.

Inilah langkah pertama dari rencana Wie Tauw yang bernama 'Melepas umpan memancing ikan'.

Ai Ceng turun gunung dengan tergesa-gesa, tujuannya ialah kota In-su, salah satu kota yang mempunyai jarak terdekat dengan gereja Siao-lim-sie.

Kini ia telah mulai memasuki kota, kepalanya ditundukan dan mencampurkan dirinya diantara lombongan orang yang berseliweran.

Tiba2 ia membentur seseorang !

Orang yang dibentur olehnya adalah seorang laki2 setengah umur dengan wayah putih cakap alisnya hampir terpisah, kereng dan hitam. Laki laki setengah umur ini adalah It-kiam-tin-bu-Iim Wie Tauw yang memang sengaja telah menantikan kedatangannya.

Ai Ceng mendongakkan kepala, segera dikenali laki2 yang pernah dijumpai digereja Siao lim-sie, laki2 yang angkuh dan berani menantang seorang nyonya pembesar.

"Eh, kau ?" Ia mengeluarkan suara tertahan. "Sastrawan kepalang tanggung yang sok pintar itu ?"

Wie Tauw senpaja menekuk mukanya masam.

"Nona, apa maksudmu menubruk dan memaki orang?" Ia memberi tekanan lebih dahulu.

Bukan maksud tujuan Ai Ceng yang melibatkan diri dengan kaum cerdik pandai sebangsa sastrawan yang sedang dihadapinya ini, ia harus segera kembali kesarangnya. Maka ia mengalah, tidak menarik panyang perkara itu, tidak ambil pusing tentang kebenaran dari kata2 sang lawan itu.

"Maafkan." Ai Ceng meminta dan memberi hormat. "Sudah puas, bukan ?"

"Hm... Memang sudah sapatutnya." Wie Tauw berkata.

Ai Ceng; segera meneruskan perjalanan, ia meninggalkan laki2 setengah umur itu.

It-kiam-tin-bu-lim Wie Tauw lari mengejar ia berteriak : "Nona tunggu !"

Ai Ceng tidak melajani panggilan ini. Ia mempercepat langkahnya dan lari kearah pintu lain, sebentar kemudian, ia telah meninggalkan kota In-su lagi.

Disana masih banjuk orang, Ai Ceng tidak dapat menggunakan ilmu meringankan tubuhnya, melajang terbang. Takut mengejutkan orang2 itu, maka Wie Tauw yang membawakan peranannya srbagai seorang sastrawan lemah, dapat mengikutinya dibelakang sigadis. Mereka kejar mengejar sehingga diluar kota.

Disini, orang2 yang berjaian agak kurang. Tiba2 Ai Ceng menghentikan gerakan kakinya. Dengan menudingkan telunjuk kearah Wie Tauw, ia membentak :

"Sastrawan busuk, apa maksudnya mengintil di belakang nonamu

?"

Wie Tauw memberi hormat yang khusus untuk menghormati

orang yang sangat dijunjung tinggi.

"Kejadian digereja Siao-lim-pay adalah kesalahanku yang rendah." Ia berkata seperti itu. Tidak sepatutnya aku yang rendah menentang kalian. Harap nona jangan menyadi gusar"

Gerak-gerik Wie Tauw agak lucu dan menawan hati, mau tidak mau Ai Ceng tertarik.

"Karena inikah kau mengejar ngejar diriku ?" Ta mengajukan pertanyaan.

"Bila...Bila nona tidak gusar, aku yang rendah ingin mengajukan suatu permintaan." Berkata Wie Tauw lagi.

"Permintaan apa ? Mengapa kau tidak katakan ?" Ai Ceng semakin tertarik.

Tidak henti2nya Wie Tauw menggosok-gosok kedua telapak tangannya, seolah-olah seorang sastrawan kutu buku yang sedang gelisah,

"Seperti apa yang nona telah maklum," ia ber kata. "Aku yang rendah bernama Wie Tiong Beng. Dilahirkan pada keluarga yang baik2, keluarga kaum cerdik pandai yang mementingkan pelajaran2 disekolah. Pada umur 10 tahun, aku yang rendah telah hapal dengan semua pelajaran2 itu, 15 tahun lulus sekolah dan menempuh ujian negeri, maksudku nanyak keatas, naik setingkat lagi. Beruntun sampai 9 kali, aku melakukan ujian2 yang telah membosankan itu. Sayang setiap kali ujian, setiap kali pula mengalami kegagalan. Kukira sipenyelenggara ujian itu meminta uang sogokan, dengki kepada orang yang mempunyai kepandaian. Kukuh menyampingkan namaku pada tingkat kekuasaan pemerintahan. Jah, apa boleh buat, bila nasib baik belum mau dekat, tidak mungkin memaksakan diri. "

Ai Ceng membanting-banting ujung kaki, ia agak bosan dan, kesel menerima ocehan2 Wie Tauw yang panyang lebar itu.

"Semua itu adalah urusanmu." Ia memotong. Ada hubungan apa dengan diriku? Tidak perlu kau uraikan lagi."

"Nona adalah cucu perdana mentri, putri seorang anggauta dewan agung yang ternama. Dimisalkan ayah atau kakak nona membutuhkan seseorang yang dapat dipercaja, aku yang rendah bersedia dicalonkan untuk jabatan itu. Budi nona ini tidak akan kulupakan. aku yang rendah bersedia menyadi budak nona yang mulai."

Ai Ceng tidak tahan mengeluarkan tertawa gelinya, ia tertawa dan cepat menutup mulutnya yang kecil mungil itu. Kemudian menudingkan jari. tepat sehingga hampir mengenai jidat Wie Tauw, ia berkata:

"Kau kira aku betul2 cucu perdana menteri itu?" "Putri Cia Ca Su, bukan?"

"Salah." Bsrkata Ai Ceng.

Wie Tauw ber-pura2 terkejut, tentu ia harus membelalakkan mata lebar2 lebih dahulu.

"Ada apa yang salah?" Ia mengajukan pertanyaan.

"Namaku Ai Ceng," nona itu memperkenalkan diri. "tidak ada hubungannya dengan perdana menteri atau anggauta dewan ternama Cia Cu Su itu "

"Tetapi... Tetapi... Nyonya Cia ju Su yang kemarin itu. "

"Dia juga bukan nyonya Cia Cu Su." Ai Ceng memberi kepastian. "Ibu nona ?" "Juga bukan. Terus terang kuberi tahu kepadamu, bahwa kita sedang mempermainkan para hwesio gundul Siao-lim-sie itu."

Wie Tauw menunjukkan wayahnya yang seperti lebih bingung. "Hei, mengapa kalian menggoda orang seperti itu ?" Ia

mangajukan pertanyaan.

Ai Ceng memutarkan biji hitam matanya berkata :

"Para hwesio Siao-lim-sie itu sangat keterlaluan sekali, Pada sebelumnya, aku dan bibi Hoan itu berkunjung kegunung mereka. Tetapi, karena pakaian kami yang kurang perhatian dan tidak mempunyai kedudukan tinggi, mereka hampir mengadakan pengusiran. Maka dengan mengubah diri menyadi putri dan cucu perdana menteri, kami naik gunung lagi. Ternyata penyaminan mereka sangat meriah dan memang luar biasa."

"Ouw..." Wie Tauw memainkan peranannya dengan cakap. "Ternyata ada latar belakang seperti ini? Tetapi para hwesio Siao- lim-pay rata2 berkepandaian silat tinggi. Tidak boleh dibuat gegabah."

"Hm... Ilmu silat tinggi yang bagaimana? Achirnya mereka telah kita kalang knbutkan." Berkata Ai Ceng sombong.

"Aaaaa..." Wie Tauw berseru. "Kau juga pandai main silat?" "Betul, Ilmu kepandaianku dan bibi Hoan itu tidak berada

dibawah mereka. Sayang kali ini mengalami kegagalan."

"Mengapa? Apakah yang telah terjadi ?" Ai Ceng menyebikan bibir.

"Mereka main kerojok." Ia berkata. "Bila satu lawan satu, tidak mungkin mereka dapat memenangkan pertandingan."

"Kalian kalah ?"

"Bibi Hoan melarikan diri. Aku tertawan oleh mereka." "Tertawan ? Bagaimana dapat kau melarikan diri?" "Mereka hanya mengikat diriku disebuah kursi dan menjuruh seorang hwesio menyaga. Tentu saja, keadaan ini tidak menjulitkan diriku. Setelah hwesio yang menyaga aku itu melenggut dengan memutuskan tali2 pengikat, aku berhasil melarikan diri."

"Hebat!" Wie Tauw mengeluarkan suara pujian. "Ilmu kepandaianmu hebat Bila aku yang ditawan oleh mereka, tentu tidak berdaja."

"Tentu." Berkata Ai Ceng yang tidak tahu bahwa laki2 setengah umur yang berada dihadapannya itu adalah seorang tokoh luar biasa It-kiam-tin-bu-lim Wie Tauw yang ternama. Maka ia berkata seperti ini. "Kau adalah seorang sastrawan, seorang kutu buku yang tidak mengerti silat, mana mungkin dapat memutuskan tali2 pengikat itu ?"

Wie Tauw masih menggosok gosok kedua tangannya, ia berkata . "Ach, kukira kau putri Cia Cu Su, cucu luar perdana menteri.

Tidak tahunya bukan Maka lenyaplah semua harapanku." Berulang kali Wie Tauw menghela napas.

Ai Ceng agak kasihan, Ditambah kesannya terhadap laki2 itu memang tidak buruk. Maka gadis ini mengajukan pertanyaan :

"Eh, siapa namamu ? Aku lupa lagi."

"Wie Tiong Beng." Wie Tauw menyebut nama palsunya. "Umur ?"

"Tiga.... Tiga puluh tujuh." "Dengan umurmu yang sudah cukup tinggi, tentunya telah beranak istri ?"

"Aku yang rendah belum berhasil menduduki sesuatu pangkat, maka belum berani beristri."

"Kulihat cara2 bicaramu, seharusnya tidak mungkin gagal terus menerus. Masakan sesuatu pekerjaan saja sulit dicapai ?"

"Menurut situkang ramal, tahun ini aku akan menemukan bintang penolong, kata2nya sangat pasti sekali. Dilihat kaum itu tiada guna, sampai hari ini, achir tahunpun menyelang tiba, belum ada tanda2 aknn datangnya bintang penolong yang dimaksud itu."

Semakin bicara, Wie Tauw menunjukkan sikapnya yang semakin sedih. Matanya menyadi berKaca kaca, seolah olah ingin mengeluarkan air mata.

Ai Ceng tidak tahan mengeluarkan pendapatnya : "Hei, seorang laki2 mengapa menangis?"

Wie Tauw menunjukkan wayahnya yang bermuram durja. "Maaf." Segera menjusut air mata yang sudah hampir jatuh itu.

Ai Ceng memperhatikan laki2 itu sekian lama tiba2 ia maju selangkah, tangannya dikepal dan menyotos perut orang.

"Aaaaaaaa....." Wje Tauw mengeluarkan suara jeritan tertahan, la mundur jauh kebelakang tubuhnya sempojongan.

"Hei," ia berteriak. "Mengapa kau memukul orang ?" Ai Ceng tertawa.

"Aku ingin menyajal keadaanmu." si Gadis ini berkata. "Apa yang dijajal ?"

"Aku menaruh curiga bahwa kau berpura2. Mungkin ada sesuatu yang diharapkan dan sengaja mendekati diriku." Kecurigaanku jatuh kepada musuh yang menyambar sabagai sastrawan."

"Kau sungguh keterlaluan." berkata Wie Tauw menekuk muka asam. "Bagaimana aku pisa menyadi musuhmu ? Hajo katakan, dengan alasan apa kau punya pikiran yang seburuk ini ?"

"Jangan marah." Berkata Ai Ceng. "Aku pun mengharapkan tidak sampai terjadi hal ini. Kau pernah diramalkan akan menemukan bintang penolong, bukan ? Akulah yang akan menyadi bintang penolongmu itu,"

Wie Tauw menggeleng gelengkan kepala.

"Ojangan menggodaku," ia berkata, "mungkinkah kau dapat menolong mengusahakan sesuatu pekerjaan untukku ?"

Alis lentiknya Ai Ceng terangkat tinggi, dengan keren ia berkata: "Bila kau mempunyai pegangan yang cukup kuat untuk menyabat

penulis sekretaris ayahku maka bintang penolong yang tukang ramal

katakan kepadamu itu ialah aku sendiri." "Sungguh ?"

"Tentu sungguh."

"Kau bukan putri Cia Cu Su atau cucu perdana menteri, bagaimana dapat mencarikan suatu kedudukan baik bagiku ?"

"Ayahku tidak mempunyai pangkat2 tinggi seperti mereka, tetapi uang dan harta kekajaan yang kami miliki cukup untuk mengundang dirimu, tahu ?"

"Nona dan keluarga nona yang ingin memakai diriku ?" "Betul. Kau tidak bersedia?"

Wie Tauw berpura pura tidak mengerti, dan meragukan usaha mereka. Ia termenung sekian lama, baru berkata :

"Bolehkah aku tanya, usaha dagang apa yang keluarga nona usahakan itu ?"

Ai Cong segera jual aksi, katanya :

"Didalam kota Lok-yang, ayahku mempunyai suatu cabang usaha, suatu perusahaan teh yang sangat besar. Ini waktu membutuhkan seorang penulis untuk mengurus perusahaannya. Bila kau bersedia, aku akan mengusulkan kepadanya." It-kiam-tian-bu- Iim Wie tauw menggunakan lidahnya menyilat-jilat bibirnya yang sudah menyadi kering, ia berkata:

"Menyadi seorang juru tulis cabang perusahaan teh tentu tidak mempunyai harapan besar, tidak ada masa depan."

"Hm...." Ai Ceng berdengus. "Perusahaan teh ayahku itu adalah cabang yang terbesar diantara puluhan cabang2 perusahaan lainnya. Mengapa kau menolak ? Ketahuilah; menyadi juru tulis ayahku lebih menyenangkan, dari pada kau berkelana seperti ini."

Wie Tauw tidak segera memberikan jawaban, seolah-olah sedang menimbang-nimbang untung rugi dari tawaran yang diajukan oleh nona itu. Beberapa saat kemudian, baru ia menganggukkan kepala dan berkata :

"Baiklah. Untuk sementara aku ikut kepadaku untuk melihat-lihat perusahaan teh ayahmu itu. "Kau bersedia ?" Ai Ceng bertanya. "Biar kucoba-coba." Berkata Wie Tauw. Tentunya nona tidak keberatan untuk mengajakku dengan keluargamu itu."

Ai Ceng sangat girang. Ia juga mengulurkan tangan menarik tangannya berkata kelaki2 itu :

"Mari kita berangkat segera. Esok hari kita sudah dapat berada dirumah."

dengan bergandengan tangan Mereka melakukan perjalanan.

Bagi Ai Ceng yang sudah lama kesepian, tidak merasa bagaimana bahwa ia telah menggandeng seorang tangan laki2 yang belum lama dikenal. Jang penting baginya adalah mendapat kawan yang menarik hati.

Bagi Wie Tauw yang ditarik oleh suatu tangan halus, karena ia mempunyai sesuatu rencana tertentu, hatinya menyadi tergetar keras, denjut nadinya memukul semakin kuat. Tidak henti2nya ia menduga, darimana asal usulnya gadis polos ini? Mengapa mau menyatukan diri dengan komplotan sipemuda misterius berkerudung hitam, pemuda buruk yang sedang berada didalam perjalanan kemarkas besar Su-hay-tong-sim-beng itu?

-oo0dw0oo-