-->

Pembunuh Gelap Jilid 04

Jilid 04

Disini hanya dua kemungkinann kemungkinan pertama ialah mereka belum berhasil menemukan si pendekar Nyali Merah Sa Jin, maka meneruskan usahanya, mengalami keterlambatan. Kemungkinan kedua ialah ada sesuatu yang terjadi pada diri mereka, mengalami bahaya atau lain kemungkinan yang menyebabkan mereka tidak dapat kembali, tepat pada waktunya.

Waktu memang tidak mengenai kasihan, hari demi hari, minggu keminggu dan akhirnya bertemu bulan kembali.

Para wakil golongan dan partay yang menganggap Ie Lip Tiong sebagai pembunuk gelap bertepuk tangan, didalam anggapan mereka, kematian sipenauda tidak dapat ditolong lagi.

Lain halnya para wakil yang menyangsikan kejahatan Ie Lip Tiong, hati mereka berdebar2, tidak tenang, semakin lama semakin berat. Mereka tidak berani membayangkan kejadian apa yang segera menimpa pemuda pandai itu.

Setapak demi setapak, maut mulai menghampiri Ie Lip Tiong. Dua bulan lebih telah dilewatkan.... Belasan hari lagi, kepala Ie

Lip Tiong belum tentu dapat dipertahankan.

Hari ini, wakil Tiang-pek-pay yang bernama Bit Ciu In, dengan dikawani oleh Duta Nomor 4, si Hakim Hitam Can Ceng Lun turun ke bawah tempat tahanan Su-hay-tong-sim-beng.

Bit Ciu In adalah sumoy dari ketua partay Tiang-pek-pay Kiu-cie Lo-lo, julukannya ialah Hakim Wanita, sifatnya benci kejahatan dan rela berkorban untuk membela keadilan, umurnya diantara empat puluhan, cukup cantik. Dengan pikiran otaknya yang tajam, kadang2 mempunyai pendapat yang melebihi orang.

3 tahun yang lalu, ketika mendengar berita kematian Ketua partay Oey-san-pay Ie In Yang yang membunuh Ngo-kiat Sim-mo Auw-yang-Hui dan merebut kitab pusakanya Thiat-tiok Sin keng, si Hakim Wanita Bit Ciu In tidak percaya ke ketua partay Oey-san-pay itu mempunyai martabat yang rendah sehingga mau merebut kitab yang bukan menjadi miliknya. Tindak tanduk Ie In Yang tegas dan jujur, karena mengenal kepribadian orang itulah yang menyebabkan Bit Ciu In mempunyai pandangan lain.

Demikian pula dengan perkara Ie Lip Tiong, setelah Su-hay-tong- sim-beng melakukan kesalahan, membiarkan lima ketua partay membunuh Ie Im Yang. ia tidak ingin melihat kesalahan kedua dan membunuh anak dari korban penasaran itu. Ia berusaha membela Ie Lip Tiong, sayang suaranya lemah karena tidak mendapat bantuan dari partai2 atau golongan lainnya.

Melihat kedatangan Bit Ciu In, Ie Lip Tiong lompat girang. Segera menjatuhkan diri memberi hormat.

“Atas bantuan Bit cianpwe didalam sidang perkara boanpwe, dengan ini boanpwe menghaturkan terima kasih." Ie Lip Tiong tidak mungkin dapat melupakan budi orang.

“Sama2." Bit Ciu In tertawa. “Itulah kewajiban Tiang-pek-pay untuk membela siapa yang tidak bersalah."

“Bit cianpwe datang tentunya dengan suatu berita lain."

“Waktu 3 bulan yang ditetapkan hampir habis, tentunya kau tahu hal ini, bukan?" Bit Ciu ln memandang pemuda itu.

“Waktu untuk mempetaruhkan kepala boanpwe pada tempat semula hanya tinggal 14 hari lagi" Ie Lip Tiong telah bersedia untuk menyerahkan kepalanya.

“Harapan agar munculnya pemuda berkerudung hitam itu tidak perlu diimpikan." Si Hakim Wanita menaruh balas kasihan. “Sedangkan Duta Nomor 6 dan Duta Nomor 9 tidak ada kabar beritanya. Apa langkahmu didalam hal ini?"

Ie Lip Tiong memandang ruang tahanan sebentar, baru menjawab pertanyaan si Hakim Wanita Bit Ciu In: “Setelah gagal mencari bukti2 yang dapat meringankan kedudukan boanpwe, pernah timbul didalam benak boanpwe untuk melarikan diri. Tetapi kamar tahanan ini sangat kokoh dan kuat, bahkan masih ada seorang Duta Istimewa Berbaju Kuning yang menjaga. Harapan inipun pudar. Kecuali menantikan waktu2 kematian, boanpwe tidak mempunyai rencana lain."

Dengan setengah berkelakar, Bit Ciu In berkata kapada Can Ceng Lun: “Can tatsu, bila kau mengadakan pertanyaan kepadaku, bagaimana untuk menghadapi perkara ini? Anjuranku ialah 'Meramkan mata'."

Wajah si Hakim Hitam Can Ceng Lun masih tetap dingin. “Bila aku tidak menjabat Duta Nomor 4 dari Su-hay-tong-sim-beng, sudah pasti kutolong dirinya." Suara ini kaku sekali.

Bit Ciu ln memandang Ie Lip Tiong.

“Putusanmu memang tepat, jangan mencoba untuk melarikan diri." berkata Hakim Wanita ini. “Maksud dari kunjunganku kemari ialah ingin mencari sesuatu yang dapat meringankan tuduhan2 yang mereka jatuhkan kepadamu."

“Telah boanpwee usahakan. Tetapi sebelum pemuda berkerudung hitam itu ditemukan. Segala bukti2pun tiada guna"

“Belum tentu." Bit Ciu ln mempunyai pandangan lain. “Dimisalkan kau mempunyai saksi kuat yang dapat membuktikan bahwa kau berada ditempat mereka. Dan dikala itulah pemuda berkerudung hitam itu melakukan pembunuhan2 gelap, kukira hukuman mati dapat diperpanjang lagi."

Ie Lip Tiong telah dapat memikir ketempat itu, tetapi ketika pemuda berkerudung hitam itu melakukan pembunuhan2 gelap selama setengah tahun, ia berada didalam Boan-chio Piauw-kiok. Semua piauw-su didalam perusahaan Boan-chio Piau-kiok dianggap penuh keajaiban, penuh teka teki, siapakah yang percaya keterangan ini?

Ada lebih baik tidak membawa Boan-chio Piauw-kiok, maka Ie Lip Tiong menggelengkan kepala. “Boanpwee berkelana, tidak seorangpun yang dapat membuktikan dimana boanpwee berada." Ie Lip Tiong merasa tidak enak hati karena tidak dapat berterus terang.

“Yah. Apa boleh buat. Akupun tidak berdaya." Bit Ciu In menghela napas.

Sekali lagi, Ie Lip Tiong menghaturkan terima kasihnya.

“Semua orang diatas bumi, termasuk guru boanpweepun tidak percaya bahwa boanpwee tidak membunuh orang. Bit cianpwe kukuh ingin membebaskan boanpwe dan percaya bahwa pemuda berkerudung hitam itu berupa ciptaan orang lain, hal ini cukup melegakan hati boanpwee. Dimisalkan betul boanpwe mati penasaran, budi cianpwee tetap tidak boanpwee lupakan."

Wajah Bit Ciu In menjadi murung. “Siapakah suhumu?" Ia mengajukan pertanyaan.

Ie Lip Tiong melirik kearah si Hakim Hitam Can Ceng Lun, air matanya mengalir dengan cepat, segera ia menundukkan kepala dan menjawab pertanyaan Bit Ciu In: “Maaf, Guru boanpwee sudah tidak mau mengenal muridnya. Bila boanpwee menyebut nama julukan dia siorang tua, tentu dianggap sebagai suatu penghinaan besar."

Bit Ciu ln menarik napas dalam2. “Dimisalkan sampai terjadi sesuatu apa, adakah pesanan yang harus kusampaikan." la telah menyediakan dirinya untuk melakukan sesuatu, demi sipemuda yang sudah berada diambang pintu kematian.

Ie Lip Tiong menggoyangkan kepala. “Terima kasih." Ia sangat bersukur menemui seorang yang seperti Bit Ciu ln. “Boanpwee tidak mempunyai pesanan yang harus disampaikan."

Bit Ciu ln menjadi kecewa, harapannya untuk memperpanjang umur sipemudapun putus sama sekali. Beberapa kali ia menarik napas panjang pendek, bersama dengan Duta Nomor 4 si Hakim Hitam Can Ceng Lun meninggalkan tempat tahanan.

Hari berganti terus..... Dan akhirnya tiba pada hari yang terakhir. Itulah tanggal 14 bulan 6. Batas hari untuk kesempatan hidup Ie Lip Tiong.

Selama tiga bulan, bukan saja tidak ada kabar berita tantang pemuda misterius kerkerudung hitam. Dua duta Istimewa Berbaju Kuning Suhay tong sim-beng itupun lenyap tiada bekas, entah kemana mereka telah pergi.

Untuk menepati janjinya, Hong-lay Sian-ong segera menugaskan Duta Nomor 4 si Hakim Hitam Can Ceng Lun untuk melaksanakan hukuman mati.

Tempat hukuman ialah dilapangan dengan Su-hay-tong-sim- beng. Ketika Ie Lip Tiong dibawa ketempat lapangan, semua wakil partay, golongan-golongan dan perkumpulan2 telah berada disekelilingnya dan menyaksikan bagaimana wajah pemuda itu menjadi lesu.

Untuk menjaga agar jangan sampai terjadi sesuatu, sembilan orang Duta Istimewa Berbaju Kuning mendapat tugas untuk menjaga keamanan.

Diantara 12 Duta Istimewa Berbaju Kuning, kecuali Duta Nomor 6 Koan Su Yang dan Duta Nomor 9 Thiat-teng Hwe sio, sepuluh duta lainnya telan mendapat tugas berat. Sipengacara ialah Duta Nomor 4, Can Ceng Lun, petugas keamanan ialah 9 duta lainnya.

Algojo adalah seorang laki2 berbadan besar dengan tutup kerudung muka warna hitam, pada tangan sialgojo terlihat golok besar yang berkilat kilat.

Can Ceng Lun membawa Ie Lip Tiong kepusat lapangan. Setelah memaksa pemuda itu berlutut Can Ceng Lun menghadap Hong-lay- Sian-ong.

“Orang persakitan telah tiba, harap bengcu memberi perintah." Ia meminta putusan ketua kesatuan gabungan itu.

Hong-lay Sian-ong bangkit dari tempat duduknya. Rambut orang tua ini telah putih kini terlihat berkibar-kibar, orang mengatakannya sebagai tokoh setengah dewa. Tetapi ia tetap adalah seorang manusia biasa, dengan segala kelemahannya.

Hong-lay Sian-ong memandang semua orang, mulutnya bergerak, ingin mengucapkan sesuatu. Tetapi batal, menunggu waktu yang telah ditetapkan, segera ia memberi perintah. “Laksanakan hukuman."

Daging Can Ceng Lun berdenyut. Badannya dibalikkan memandang sang algojo, mulutnya siap menyampaikan perintah sang bengcu.

Tiba2 terdengar suara bentakan2 dari 4 penjuru. Empat orang melesat dan menuju kepusat lapangan, arahnya ialah tempat dimana Ie Lip Tiong terbelenggu.

Ada orang yang berani merampok orang pesakitan?

Betul. Empat orang tua berpakaian warna hijau telah menghunus pedang mereka cepat sekali telah mendekati Ie Lip Tiong. Maksudnya menolong sipemuda dari hukuman mati.

Su-hay-tong-sim-beng berupa wadah yang menyatukan semua partay2, golongan2 dan perkumpulan, betapa hebat kekuatan gabungan ini. 12 Duta Istimewa Berbaju kuning adalah barisan inti mereka, tidak satupun dari para duta istimawa itu yang berilmu rendah, rata2 berada diatas para ketua partay.

Melihat ada yang berani merampok hukuman mati, diantara 9 Duta istimewa yang mendapat tugas menjaga keamanan, bergerak

4 orang. Gerakan mereka tenang dan perlahan. Masing2 menyambut datangnya 4 orang tua berbaju hijau, hanya beberapa jurus dengan gerakan2 yang sangat manis, mereka berhasil meringkus para pengacau itu.

Empat orang tua berbaju hijau tidak berhasil untuk melarikan Ie Lip Tiong. Kini merekapun turut menjadi orang tawanan.

Menyaksikan rombongan orang yang ingin merampok orang persakitan telah diringkus, Hong-lay-Sian-ong membuka suara: “Dari golongan mana?" “Oey-san-pay." Jawaban ini keluar dari salah seotang Duta Istimewa Berbaju Kuning. “Diantaranya terdapat si Bintang Cemerlang Lam Thian To."

“Bawalah mereka ketempat tahanan sementara." Hong-lay Sian- ong memberi perintah.

Maka orang tua berbeju kuning dari Oey-san-pay yang ingin menolong ketua muda mereka dibawa ketempat tahanan sementara Su-hay-tong-sim-beng.

Setelah para perampok orang hukuman mati itu digusur masuk, Hong-lay Sian-ong memandang Can Ceng Lun berkata: “Can tat-su, acara boleh diteruskan," Si Hakim Hitam Can Ceng Lun agak ragu2, mendadak ia membungkukkan setengah badan berkata: “Bengcu, bolehkah Can Ceng Lun mengajukan suatu permintaan?"

“Can tat-su mempunyai usul lain?"

“Untuk menjaga sesuatu yang tidak diinginkan, Can Ceng Lun bersedia turun tangan sendiri."

Permintaan Can Ceng Lun untuk langsung memanggal kepala Ie Lip Tiong menandakan daya kerjanya yang dilakukan 'tanpa reserve'. Tetapi masuk kedalam telinga Lu Ie Lam dan Bit Ciu Im sebagai suatu penjilatan. Mereka menjadi benci dan jijik kepada Duta Nomor 4 tersebut. Biasanya si Hakim Hitam Can Ceng Lun melakukan sesuatu tanpa teguran, hari ini terkecuali.

Diantara banyak orang didalam Su-hay-tong-sim-beng, hanya Lu Ie Lam dan Bit Ciu In, dua orang yang percaya keterangan Ie Lip liong. Mereka telah berusaha, tetapi mengalami kegagalan. Dimisalkan betul Ie Lip Liong melakukan pembunuhan2 gelap itu, hal inipun di anggap lumrah karena ayahnya mati dibawah tangan 5 ketua partay, untuk menuntut balas atas kematian ayahnya, tiada pantas mereka memberi hukuman yang terberat — hukuman mati.

Beruntung dua orang ini tidak tahu bahwa Can Ceng Lun itu adalah guru Ie Lip Tiong. Bila mereka mengetahui rahasia ini, sudah pasti mereka memaki kalang-kabut. Hong-lay sian-ong telah mempertimbangkan permintaan Can Ceng Lun, ia tidak menolak.

“Baiklah." Ia membuka mulut dan menyetujui. “Can tat-su boleh mulai."

Can Ceng Lun menghampiri sialgojo, dari tangannya mengambil alih golok besar yang tentu sangat tajam itu. Kemudian menuju ke tempat dimana Ie Lip Tiang berlutut, golok besar itu diangkat tinggi- tinggi.....

“Penggal."

Entah siapa yang membuka mulut dan mengucapkan kata2 ini.

Si Hakim Hitam Can Ceng Lun mengeluarkan suara dari hidung Hm dan menurunkan golok besar itu cepat.

“Creeessss. ”

Batok kepala Ie Lip Tiong telah terpental jauh, darah murcrat kemana-mana. Tubuh yang telah kehilangan kepala itu membawakan sikap lamanya sekian saat, kemudian roboh menggeliat.

Ie Lip Tiong mati karena harus menjalani hukuman penggal kepala ditanah lapang Su-hay-tong-sim-beng.

Kejadian ini telah disaksikan oleh banyak orang, tidak sedikit yang menggigil seram. Tidak peduli mereka sudah biasa menggunakan pedang yang berlopotan darah, menghadapi hukuman penggal kepala itu adalah kejadian yang jarang terjadi.

Si Hakim wanita dari Tiang-pek-pay, Bit Ciu In menyusut air matanya. Dengan mengajak 4 wakil dari golongan partaynya, ia mengundurkan diri terlebih dahulu

Acara hukuman mati untuk Ie Lip Tiong telah selesai. Seharusnya para penonton itu segera membubarkan diri. Tetapi kenyataan tidak, perhatian mereka sedang dipusatkan ke suatu tempat.

Apakah yang telah terjadi? Ie Lip Tiong hidup kembali? Atau arwahnya yang mati penasaran tidak mau menerima kenyataan dan menganggu orang?

Bukan!

Itulah Duta Nomor 4. Can Ceng Lun yang melakukan sesuatu yang aneh. Setelah mengayun golok besar memenggal kepala Ie Lip Tiong, ia meletakkan golok algojo dan menyerahkan kepada sipemiliknya, kemudian membuka baju kuning yang menjadi lambang kejayaan Su-hai-tong-sim-beng Duta Istimewa Berbaju Kuning. Baju ini dilipatnya rapih2 dan berjalan ketempat Hong-lay Sian-ong, diserahkannya baju kuning itu kepada sang bengcu, prilakunya sangat hormat sekali.

Hong-lay Sian-ong mengerutkan kedua alisnya, ia bangkit dari tempat duduk dan bertanya: “Eh, apakah arti permainan ini?"

Dengan wajah sungguh2, Can Ceng Lun memberi jawaban: “Can Ceng Lun telah melakukan sesuatu yang menentang kepribadian, sendiri kesalahan ini tidak dapat pengampunan. Maka jabatan Duta Isimewa Berbaju kuning Nomor 4 tidak boleh dipertahankan. Dengan ini aku menyerahkan baju jabatan dan berhenti menjalankan tugas."

Wajah Hong-lay Sian-ong berubah.

“Bukan kesalahanmu." Ia berteriak. “Semua orang telah setuju dan segala susuatu adalah tanggung jawabku."

Can Ceng Lun berkata dengan suara tawar: “Pada suatu hari, pasti Can Ceng Lun mendapat teguran. Karena itulah harap bengcu dapat menerima baju ini."

Tidak meminta ijin lagi, ia meninggalkan baju Duta Istimewa Berwarna Kuning itu ke tangan Hong-lay Sian-ong. Mundur tiga langkah, memberi hormat terakhir dengan hampir membentur tanah dan cepat ia berbalik, meninggalkan Hong-lay Sian-ong Masuk kedalam rombongan orang banyak, langsung meninggalkan Su-hay- tong-sim-beng.

Si Hakim Hitam Can Ceng Lun meletakkan jabatan Duta Istimewa Berbaju Kuning, kejadian inilah yang mengherankan semua orang.

Jumlah barisan berbaju kuning dari Su-hay-tong-sim-beng ada 12 orang. Kecuali duta nomor 6 Koan Su Yang dan duta nomor 9 Thiat- teng Hwe-sio yang belum kembali. Disana masih ada 10 orang. Kini Can Ceng Lun pergi, sembilan orang lainnya memandang bayangan kawan mereka itu dengan penuh tanda tanya.

Para wakil dari partay2, golongan2 dan perkumpulan- perkumpulan turut menyaksikan kejadian tadi, mereka lebih tidak mengerti.

Beberapa saat kemudian......

Suara It-ie Tay-su dari Siao-lim-pay yang memecah kesunyian. “O-mie-to-hud. "

Kemudian memandang wakil Bu-tong-pay, Kho-bok To-tiang yang berada didekatnya berkata : “Mungkinkah kita telah mengambil langkah salah?"

Kho-bok To-tiang menggelengkan kepalanya. “Kukira tidak," Ia puas atas hasil yang telah dicapai. Lenyapnya Ie Lip Tiong dari permukaan bumi, berarti lenyap pula gangguan2 yang mengacau ketenangan anak murid golongannya.

It-ie Tay-su memandang jauh ketempat awan lepas, agaknya ada sesuatu yang sedang dikenang.

“Taysu." Kho-bok To-tiang memanggil sang kawan. “Mungkinkah kau tidak. "

Ucapan Kho-bok To-tiang terputus, lagi2 terjadi kegaduhan. Ketika ia memandang ketempat rombongan kalut itu, terlihat seorang tosu mencelat keluar dari sela2 orang banyak, arah yang ditempuh ialah dirinya.

Tosu yang berlari kearah Kho-bok To-tiang itu berwajah pucat, muka dan pakaiannya penuh debu, tentunya baru saja melakukan perjalanan jauh.

It-ie Tay-su seperti mengenali wajah tosu itu, memandang Kho- bok To-tiang, ia berkata : “Totiang, kulihat tosu itu adalah salah satu dari rombongan 'Kuda cepat’ kalian. Apa yang terjadi digunung Bu-tong?"

Ternyata, setelah partay2 dan golongan2 menempatkan diri mereka kedalam wadah Su-hay-tong-sim-beng, mereka membentuk beberapa barisan 'Kuda cepat' barisan ini terdiri dari beberapa orang pilihan dari partay atau golongan masing2, tugasnya yang menghubungkan ketua partay dan wakil2 yang berada di markas besar Su-hay-tong-sim-beng.

Melihat salah seorang dari barisan 'Kuda cepat' partaynya, wajah Kho-bok To-tiang berubah.

Tosu itu telah berada didekat Kho-bok Totiang, segera ia membuka mulut berteriak: “Supek, ada sesuatu yang harus diberi tahu. "

“Ceng-thong." panggil Kho-bok Totiang keren. “Ceritakanlah apa yang telah terjadi?"

“Kho-bok dan Kho-cui dua supek telah dibunuh orang." Tosu yang menjadi orang dari barisan 'Kuda cepat' Bu-tong-pay itu, ternyata bernama Ceng-thong To-su.

Kho-hwe To-tiang, Kho-cui To-tiang dan Kho-bok Totiang adalah tiga Orang yang mempunyai tingkatan tinggi. Kini dua diantaranya telah binasa, hanya tinggal ia seorang diri, bagaimana Kho-bok Totiang tidak menjadi terkejut?

“Apakah yang menyebabkan kematiannya?" Kho-bok To-tiang mengajukan pertanyaan.

Wajah Ceng-thong To-su masih bersedih. “Kho-hwa Supek dan Kho-cui supek binasa dibawah pedang seorang pemuda berkerudung hitam." Ia memberi keterangan.

“Apa?" Kho-bok To-tiang terjengkit. Hampir ia mengorek kuping telinganya.

“Kho-hwe dan Kho-cui supek binasa dibawah ujung pedang pemuda berkerudung hitam itu." Ceng-thong To-su mengulang keterangannya.

Kho-bok To-tiang terpaku ditempatnya.

Hong-lay Sian-ong dan para barisan Duta Istimewa Berbaju Kuning, semua wakil partay2, golongan2 dan perkumpulan2 yang tergabung didalam Su-hay-tong-sim-beng telah mendengar percakapan tadi. Merekapun tercengang sekali.

Sungguh sayang, setelah kepala Ie Lip Tiong menggelundung jatuh, berita ini baru tiba disana, berita yang menggemparkan dan menyangkut mati hidupnya seseorang.

Rasa penuh penyesalan menyempitkan hati para wakil yang kukuh ingin membunuh mati Ie Lip Tiong, kesalahan ini seharusnya dipikul oleh Ceng-thong tosu yang lambat datang.

Bagaimana gabungan Su-hay-tong-sim-beng membenarkan kesalahannya? Siapakah pemuda misterius berkerudung hitam itu? Dengan maksud tujuan apa memfitnah Ie Lip Tiong yang ternyata mati tanpa dosa?

Silahkan para pembaca meneruskan cerita pada bab2 berikulnya. KESALAHAN TERBESAR

IE LIP TIONG telah menjalani hukum penggal kepala, setelah golok besar berhasil memutuskan lehernya, baru laporan Ceng- thong-To-su datang, sesungguhnya, duniapun tidak adil.

Kho-bok To-tiang lama berdiri mematung di tempatnya, hatinyapun terasa sakit, butiran air mata membasahi kelopak matanya.

“Berapa lamakah kejadian ini berlangsung?” Akhirnya ia menekan rasa sedih itu dan mengajukan pertanyaan.

“Tanggal 2 bulan 6." Ceng-thong Tosu memberi keterangan. “Sudah 12 hari."

Wajah Kho-bok To-tiang berubah marah, dengan geram ia membentak: “Mengapa menunggu dari ini, kau baru memberi laporan?"

Ceng-thong To-su meluruskan kedua tanganya kebawah, ia memang harus disalahkan, segala kejadian se-olah2 mempermainkan manusia.

“Menurut perhitungan, seharusnya teecu tiba disini pada kemarin hari." Keterangan ini sangat perlu, bila mengingat rasa benci semua orang kepada dirinya. “Tetapi ketika melewati gunung Kiu-kiong- san, tiba2 saja kuda tunggangan mati dijalan terpaksa teecu bersusah payah mencari kuda lain. Lagi2 kuda inipun mati. Beruntun dua kali orang mematikan kuda tunggangan teecu. Maka sadarlah ada komplotan jahat yang mengganggu. Teecu melanjutkan perjalanan tanpa kuda tunggangan. Sehingga terlambat satu hari."

Hong-lay Sian-ong dapat menduga kejadian2 yang berlangsung disekitar Ie Lip Tiong almarhum. Kini mereka masih berada dilapangan hukuman mati, untuk merundingkan kesalahan2 yang telah mereka lakukan. Hong-lay Sian-ong memandang perlu untuk segera mengadakan musyawarah.

“Saudara2 sekalian diharap segera berkumpul diruang sidang."

Suara Hong-lay Sian-ong masih tetap berpengaruh. Semua orang meninggalkan lapangan tempat menjalani hukuman mati dan berbondong bondong keruang sidang.

Ceng-thong To-su adalah sumber berita, maka ia digiring oleh banyak orang ketempat itu. Disanalah ia mulai bercerita:

“Tanggal 2 bulan 6, setelah gelap mengarungi angkasa, dua anggauta pelindung hukum kami bersemedi di ruang dalam. Keadaan disekitar Cek-siao-koan sangat sepi dan sunyi. Tetapi kira2 hampir pukul 2 pagi. tiba2 pemuda misterius barkerudung hitam itu muncul kembali, entah dengan cara bagaimana, ia berhasil menembus penjagaan2 depan dan berada dipusat Cek-siao-koan. Dua anggauta pelindung hukum kami itu berkuping tajam, kedatangan tamu tidak diundang ini dapat dipergoki, maka mereka mengadu kekuatan. Mengetahui jejaknya tidak berhasil mengelabui orang, pemuda berkerudung hitam itu lari meninggalkan Cek-siao- koan. Dua anggauta pelindung hukum itu mengejar di belakangnya, arah lari ialah belakang gunung. Kejadian ini segera diberitahukan kepada ketua partay, maka dengan mengajak beberapa orang, beliau meninggalkan Cek-siao-koan dan mengejar kearah belakang gunung, ternyata kitapun terlambat. Ketika tiba dipuncak Kim-teng, dua kepala pelindung hukum kami itu telah tiada pada tempatnya. Pada batu besar yang tidak jauh dari korban2 itu, terdapat tulisan2 dengan darah merah:

“Diharap ketua partay Bu-tong-pay menunggu gilirannya!"

Dua anggauta pelindung hukum yang disebut oleh Ceng-thong To-su adalah Kho-hwe Totiang dan Kho-cui To tiang, dua saudara seperguruan Kho-bok To-tiang.

Semua orang menggeleng gelengkan kepala.

“Ketua partay kami maklum bahwa munculnya pemuda berkerudung hitam mempunyai hubungan mati hidupnya Ie Lip Tiong ditempat ini," Ceng-thong To-su menyambung cerita. “siao- kho segera diperintah untuk memberi tahu kejadian ini kepada Kho- bok susiok. Sayang ada orang yang mengganggu diperjalanan, dua kuda mati diganggu olehnya, sehingga tetap terlambat."

Seluruh ruang sidang diliputi oleh awan kedukaan, kini mereka sadar bahwa ada seseorang yang menghendaki kematian Ie Lip Tiong. Entah siapa manusia bermoral bejat itu. Rencana busuknya ternyata berhasil. Io Lip Tiong harus mati penasaran. Su-hay-tong- sim-beng harus menerima makian2 dan hinaan2.

Hong-lay Sian-ong menghela napas, ia mengajukan pertanyaan: “Sewaktu ketua partay kalian tiba dipuncak Kim-ieng, berhasilkah melihat pemuda berkerudung hitam itu?"

“Tidak." Ceng-thong To-su menggelengkan kepala. “Sewaktu ketua partay kami tiba diatas puncak Kim-teng, tidak terlihat bayangan pemuda berkerudung hitam itu. Maka pesannya ialah, agar Siao-lim-pay, Kun-lun-pay, Hoa-san-pay dan Khong-tong-pay berhati-hati, pemuda berkerudung hitam itu mempunyai ilmu kepandaian tinggi. Tidak mudah untuk menjaga gangguannya."

Hong-lay Sian-ong menganggukkan kepala, memandang semua orang yang turut sidang, ia berkata lantang: “Karena munculnya pemuda berkerudung hitam ini, terbuktilah bahwa kata2 keterangan Ie Lip Tiong boleh dipercaya, sayang pemuda itu telah binasa dibawah putusan kita yang tergesa-gesa. Untuk memasukkan acara bagaimana kita harus meringkus pemuda berkerudung hitam itu. Sebelumnya, kita harus mengadakan koreksi atas kesalahan kita yang telah dijatuhkan kepada Ie Lip Tiong."

Semua orang menundukkan kepala, tidak ada orang yang menolak usul Hong-lay Sian-ong. Teristimewa para wakil dari 5 partay besar, ketika mereka ngotot ingin membunuh Ie Lip Tiong segera, belum pernah terbayang didalam pikiran mereka tentang kejadian yang kini harus mereka hadapi.

Kecuali Siao-lim-pay, Bu-tong-pay, Kun-lun-pay, dan Hoa-san- pay, partay2 dan golongan lainnya bersyukur bahwa mereka tidak mengajukan tuntutan yang sama dengan 5 partay besar itu. Mereka berusaha mencari para wakil Tiang-pek-pay, tetapi Bit Ciu In telah mengajak wakil Tiang-pek-pay lainnya meninggalkan lapangan hukuman mati. mereka tidak tampak di ruang sidang ini.

Hening beberapa saat, wakil Siao-lim-pay, It-ie Tay-su bangkit dari tempat duduknya, wajahnya merah sekali. “O-mie-to-hud." Ia mengeluarkan pujian kepada Buddha. “Siao-lim-apay merasa malu atas tuntutan2 untuk membunuh Ie Lip Tiong dahulu. Kami mengharapkan dapat mengebumikan jenasah Ie Lip Tiong dengan upacara kebesaran dan membebaskan 4 tokoh tua Oey-san-pay tadi”

Seorang wakil Soat-san-pay bangkit dan menyetujui usul It-ie Tay-su.

“Hanya mengebumikan jenasah Ie Lip Tiong dengan upacara kebesaran belum berarti melegakan hati anak murid Oey-san-pay, bila dapat memulihkan kedudukan Oey-san-pay didalam Su-hay- tong-sim-beng, kami kira kesalahan ini dapat diperingan”

“Kami menolak usul Soat-san-pay." Wakil Hoa-san-pay segera mengajukan keberatan. Setelah Ie In Yang mati, partay Oey-san- pay telah diasingkan dari Su-hay-tong-sim-beng. Maka ia tidak setuju untuk memulihkan kedudukan partay itu. “Kematian Ie Lip Tiong adalah langkah yang terburu napsu, tetapi kedudukan Oey- san-pay telah dihapus sama sekali, karena ketua partay mereka itu membunuh Ngo-kiat Sim-mo Auw-yang Hui dan merebut kitab pusakanya. Hoa-san-pay tidak dapat menyetujui untuk menyatukan dua persoalan yang tidak sama ini."

Wakil Soat-san-pay tertawa dan membungkukkan setengah badan kepada orang2 Hoa-san-pay. Ia masih mempertahankan usulnya, alasannya ialah : “Perkara Ie Lip Tiong dan kedudukan Oey-san-pay didalam Su-hay-tong-sim-beng memang tidak dapat disatukan. Tetapi mengingat Ie In Yang telah mati dibawah tangan 5 ketua partay besar, semua anak murid Oey-san-pay seharusnya tidak diwajibkan menanggung dosa ketua partay mereka. Orang2 ini patut mendapat tempat yang selayaknya. Ie Lip Tiong adalah pengganti ketua Oey-san-pay, tapi orang yang diharapkan oleh golongan tersebut membangun kekuatannya lagi telah mati menjadi setan penasaran atas kesalahan orang2 yang mengambil keputusan terburu napsu. Apabila kedudukan partay tersebut didalam Su-hay- tong-sim-beng dipulihkan, tentu dosa mereka atas pembunuhan Ie Lip Tiong dapat diperkecil”

Tentang alasan dua perkara yang tidak dapat digabungkan menjadi satu, wakil Soat-san-pay ternyata mempunyai pandangan mata yang tersendiri.

Seperti apa yang telah diketahui, ketua partay Oey-san-pay Ie In Yang 'membunuh' Ngo-kiat Sin-mo Auw-yang Hui dan 'merebut' kitab pusaka Thian-tiok-sin-keng. Akibat dari 'perbuatannya' ialah kematian untuk ketua partay itu. Bahkan kedudukan Oey-san-pay dalam kesatuan Su-hay-tong-sim-beng turut jatuh. Setelah Oey-san- pay dibubarkan, anak murid golongan inipun hancur berantakan hidup merana. Perkara kesalahan ketua partay ternyata telah disatukan dengan anak murid partay tersebut. Maka rasa kecewa atas kematian Ie Lip Tiong sudah patut mendapat perhatian yang selayaknya.

Diantara Hoa-san-pay dan Oey-san-pay pernah terjadi permusuhan hebat. Maka para wakil Hoa-san-pay tidak dapat menerima usul Soat-san-pay yang menghendaki supaja Oey san-pay dihidup kembali. Ketegangan dua partay ini mulai memuncak.

“Dipersilahkan wakil2 dari Hoa-san-pay dan Soat-san-pay duduk kembali." demikian Hong-lay Sian-ong menghentikan perdebatan itu.

Kata2 bengcu Su-hay-tong-sim-beng sudah tentu tidak boleh dibantah. Merekapun duduk dengan hati tetap panas.

Hong-lay Sian-ong angkat bicara lagi.

“Kesatuan gabungan Su-hay-tong-sim-beng dibentuk atas dasar menyelesaikan persengketaan secara damai, untuk memutuskan sesuatu, ada lebih baik menggunakan cara lama, memihak kepada suara yang terbanyak dan menolak usul yang tidak mendapat dukungan suara." 

Semua orang menganggukkan kepala, membenarkan kata2 Hong-lay Sian-ong. Termasuk dua golongan yang mempunyai pandangan mata tidak sama.

“Kini, mari kita mulai mengadakan pemungutan suara." Hong-lay Sian-ong segera mulai menarik suara. “Bagi siapa yang tidak setuju menempatkan kembali kedudukan Oey-san-pay didalam Su-hay- tong-sim-beng, dipersilahkan angkat tangan."

Para wakil dari Hoa-san-pay, Ngo-thong-kauw dan Hek-ie-kanw mengangkat tangan mereka. Persekutuan dari tiga golongan ini memang agak dekat.

Menolak menempatkan Oey-san-pay kedalam kedudukan semula didalam Su-hay-tong-sim-bsng berarti menolak kesalahan mereka yang telah mencabut jiwa seseorang yang tidak bersalah. Pendapat tiga golongan yang baru saja kita sebut di atas agak menyimpang dari pendapat umum di itu waktu. Segera terdengar makian2 dan pekikan2 ribut.

“Diharap tenang!" Lagi2 suara Hong-lay Sian-ong berkumandang dan berdengung ditelinga semua orang. “ Kini memungut suara untuk mereka yang setuju menghidupkan kembali partay Oey-san- pay, menempatkan kedudukan lama mereka didalam Su-hay-tong- sim-beng. Silahkan angkat tangan."

Siao-lim pay, Bu-tong-pay, Kun-lun-pay, Soat-san-pay, Ceng- shia-pay, Thay-khek-pay, Kay-pang, Hay-yang-pang, Pek-ie-kauw dan Tiang-pek-pay yang telah dipanggil kembali mengangkat tangan mereka. Jumlah yang terbanyak berada dipihak orang2 yang membela mengembalikan partay Oey-san-pay.

Turut sertanya Siao-lim-pay, Bu-tong-pay, Kun-lun-pay dan Khong-tong-pay kedalam barisan mengembalikan kedudukan Oey- san-pay pada tempatnja sungguh berada diluar dugaan semua orang. Seperti apa yang mereka ketahui 4 partay itu dan Hoa-san- pay adalah 5 partay yang paling gigih menjerumuskan Ie Lip Tiong kedunia lain. Kini mereka berobah pandangannya dan memihak Oey-san-pay, memang agak luar biasa.

Terdengar suara tepukan. Pertama tama hanya beberapa orang saja. Tetapi semakin lama, semakin banyak. Akhirnya terdengarlah suara gegap gempita yang hampir membelah ruangan sidang. Mereka bertepuk tangan atas kejujuran hati dan kesadaran partay2 yang kita sebut diatas.

Wajah Hong-lay Sian-ong yang bermuram durja karena kematian Ie Lip Tiong mulai bercahaya. Segera ia mengumumkan hasil dari pemilihan itu : “13 lawan 4, maka kami menerima usul untuk memulihkan kedudukan partay Oey-san-pay didalam Su-hay-tong- sim-beng. Kini segera undang 4 tokoh tua partay tadi."

Didalam sekejap mata, 4 orang tua berbaju hijau yang belum lama ingin 'merampok orang hukuman mati Su-hay-tong-sim-beng telah dibawa masuk kedalam ruang persidangan. Mereka telah menerima khabar bahwa ketua mudanya telah tiada, dan berita tentang munculnya pemuda misterius berkerudung hitam itu lagi. Hanya takdir telah menentukan kejadian itu terpapar dihadapan mereka, apa yang dapat dilakukan? Mereka memasuki ruang sidang dengan rasa duka yang tak terhingga.

Untuk memberi hiburan kepada 4 orang tua ini, Hong-lay Sian- ong turun tangan sendiri dan membuka belengguan mereka, menyilahkan duduk pada kursi2 agung yang disediakan khusus.

Diluar dugaan, keempat orang Oey-san-pay tersebut tidak menerima etikad baik sang bengcu, pemimpin rombongan adalah si Bintang Cemerlang Lam Thian To, dengan suara dingin berkata : “Tidak perlu kau ber-pura2, Oey-san-pay telah di 'cap' sebagai partay terganas, hak duduk kami didalam Su-hay-tong-sim-beng telah dicabut resmi. Atas kebaikan hatimu, atas nama seluruh murid Oey-an-pay, kami menghaturkan terima kasih."

Hong-lay Sian-ong bersungut, apa mau kesalahan berada dipihaknya. Dengan sabar ia berkata: “Kedudukan Oey-san-pay didalam Su-hay-tong-Isim-beng telah kami pulihkan, hal ini telah mendapat kesepakatan semua orang. Ternyata kami salah membunuh ketua muda kalian, untuk menebus dosa ini, kami mempersilahkan kalian berempat mewakili Oey-san-pay menduduki kursi2 ini."

Si Bintang Cemerlang Lam Thian To beserta 3 kawannya berdiri tidak bergeming, tetap mereka menolak kursi2 kedudukan yang didapat dari korban korban kepala ketua mudanya.

“Terima kasih." Katanya singkat. “Sebelum rasa penasaran ketua partay kami dibikin terang, kami tidak bersedia menduduki kursi ini."

Hong-lay Sian-ong mengkerutkan kedua alisnya. “Ketua muda kalian telah dibebaskan dari segala tuduhan, kecuali itu, kami akan mengebumikan jenazahnya secara kebesaran Su-hay-tong-sim- beng."

“Ketua muda kami telah dibebaskan dari segala tuduhan, tetapi bagaimana dengan tuduhan keji kepada ketua lama?"

Ternyata Lam Thian To percaya bahwa pembunuhan yang terjadi atas diri Ngo-kiat Sin-mo Auw-yang Hui, bukan hasil tangan ketua partaynya. Kepribadian Ie In Yang sangat berkesan didalam hati mereka.

“Bila kalian ingin mengajukan sesuatu tuntutan, atau ingin membersihkan diri, membikin terang perkara yang menyangkut ketua lama kalian. Ada lebih baik menerima kedudukan ini. Setelah itu, bersama samalah kita menyelidiki perkara lama itu."

Hong-lay Sian-ong berusaha mempulihkan kedudukan Oey-san- pay.

Sayang sifat Lam Thian To kukuh, setapakpun tidak mau mengalah.

“Kami tidak mempunyai cukup kesabaran." katanya menantang. “Terima kasih kami ucapkan."

Hong-lay Sian-ong dikatakan sebagai tokot silat setengah dewa, hal ini memang tidak berlebih lebihan, ia mempunyai cukup kesabaran. Ditantang demikian ia masih tertawa.

“Bolehkah aku bertanya," ia menatap wajah si Bintang Cemerlang Lam Thian To tajam2. “Siapakah yang kini menjabat ketua partay Oey-san-pay?"

“Oey-san-pay bubar, hancur berantakan, kami tidak mempunyai ketua lagi."

Semakin lama, suara Lam Thian To semakin ketus. “Kami memulihkan kedudukan Oey-san-pay dengan sungguh hati." Berkata Hong-lay Sian-ong. “Harapan kami ialah agar Lam tayhiap dapat mengumpulkan semua orang Oey-san-pay dan ajaklah mereka menyatukan diri, membangun Oey-sa-pay lama."

“Lebih baik kau menawan kami berempat lagi." jawaban Lam Thian To sangat singkat.

“Apakah arti kata2 Lam tayhiap ini?" Hong-lay Sian-ong tidak mengerti.

“Ketua lama kami mati dibawah tangan kalian, ketua muda kamipun mati menjadi korban kecerobohan kalian. Dimisalkan kami mendapat kebebasan, kukuatirkan terjadi bentrokan2 lagi. Ilmu kepandaian kalian terlalu tinggi, tentu kami ditawan kembali. Dari pada mendapat kebebasan untuk beberapa hari, ada lebih baik menyerahkan diri lagi."

Hong-lay Sian-ong menghela napas. “Akh, semua katakku tidak satupun yang masuk kedalam telinga Lam tayhiap?" Ternyata ketua Su-hay-tong-sim-beng mengalami kegagalan.

Si Bintang Cemerlang Lam Thian To mengeluarkan suara dingin: “Apabila kau dapat menerima usul para wakil Tiang-pek-pay dan menerima keterangan Lu tayhiap, niscaya ketua muda kami tidak mati penasaran. Kini ia telah tiada, apa yang kami dapat harapkan?"

“Baiklah." Hong-lay Sian-ong menghela napas panjang. “Aku tidak boleh salah lagi, kalian bebas dan boleh pergi."

Lam Thian To mengajak ketiga kawannya meninggalkan ruang sidang, tanpa mengucapkan terima kasih lagi. Sifatnya semakin angkuh saja.

Semua wakil dari partay2 dan golongan2 duduk ditempat masing2. Tidak seorangpun yang membuka suara atau membentak kekurangan ajaran Lam Thian To sekalian. Mereka maklum, bila kejadian itu jatuh kepada kepala mereka, sikap yang mereka bawakanpun tidak lebih dari pada sikap2 kepala batu Lam Thian To itu.

Setelah bayangan orang tua Oey-san-pay lenyap dari pandangan mata. Hong-lay Sian-ong melanjutkan sidang lagi.

“Saudara2 sekalin, mari kita mengadakan tukar pikiran, bagaimana untuk menangkap pemuda misterius berkerudung hitam itu."

Kemudian, Hong-lay Sian-ong memandang wajah semua orang. Tidak seorangpun yang tahu, siapa pemuda berkerudung hitam itu? Bagaimana asal usulnya? Mengapa hanya membunuh anak murid dari 5 partay besar saja? Maka tidak seorangpun yang bicara.

Sebelumnya, mereka menduga pasti bahwa pemuda berkerudung hitam itu adalah jelmaan Ie Lip Tiong, kini terbukti bahwa hal itu tidak benar. Mana mungkin mereka mengadakan 'calon' yang mudah untuk dituduh?

Hong-lay Sian-ong mengetahui bahwa para wakil dari semua paytay sakit kepala, menghadapi sipemuda berkerudung memang sulit, dan yang penting ialah tidak dapat menghadapinya segera.

Ia memandang kearah rombongan para Duta Istimewa Berbaju Kuning.

“Apa kalian mempunyai cara baik untuk menghadapi persoalan ini?" Barisan baju kuning ini adalah inti kekuatan, dan otak2 cabang Su-hay-tong-sim-beng.

“Menyesal sekali, kami sebagai para Duta Istimewa Berbaju Kuning tidak mempunyai rencana bagus untuk menghadapi soal yang tidak ada ujung pangkalnya ini." Berkata Duta Nomor 7, si Pendekar Seribu Bayangan Siang-koan Wie.

Duta Nomor 8, si Pendekar Pengembara Lu Ie Lam memancarkan cahaya mata yang terang. Teringat bantuan Boan-chio Piauw-kiok yang berhasil menangkap Ie Lip Tiong, perusahaan tersebut memang suatu perusahaan yang teraneh.

“Kata2 Siang-koan tatsu mengingatkan Lu Ie Lam kepada seseorang." Ia memandang Hong-lay Sian-ong berkata

“Siapakah orang itu?” Bertanya Su-hay-tong-sim-beng.

“Untuk mengurus perkara aneh dan sulit, perkara2 yang tidak berujung pangkal, It-kiam-tin-bu-lim Wie Tauw adalah calon yang memuaskan."

“It-kiam-tin-bu-lim Wie Tauw?" Hong-lay Sian-ong bergumam. It- kiam-tin-bu-lim berarti si Pedang yang menundukkan rimba persilatan, sungguh hebat julukan itu, seolah-olah semua orang berada dibawah telapak kakinya.

“Betul." Lu Ie Lam menganggukkan kepala, “lt-kiam-tin-bu-lim Wie Tauw adalah tokoh ajaib yang paling aneh, calon yang paling tepat diserahkan tugas untuk mengurus perkara pemuda mistirius berkerudung hitam, itu”

“Maksud Lu tatsu agar kita mengundang Wie Tauw, diberi jabatan Duta Nomor 4 yang telah dikosongkan oleh Can Ceng Lun?"

“It-kiam-tin-bu-lim Wie Tauw tidak menyangkal sebagai seorang tokoh silat mata duitan dikota Tiang-an. Hobby kesenangannya uang dan emas, ia tidak menginginkan kedudukan. Biia kita menginginkan tenaganya, cukup dengan menyediakan uang yang diminta”.

“Berapa jumlah uang yang Lu tatsu gunakan untuk menemukan Ie Lip Tiong?"

“Sepuluh ribu tail perak."

Hong-lay Siau-ong termenung sebentar dan akhirnya ia setuju untuk meminta bantuan Bojii-chio Piauw-kiok.

“Baik." katanya. “Menambah 10 000 tail perak lagipun tidak menjadi soal. Lu tatsu, tolong kau kekota Tiang-an segera, meminta bantuan tenaganya untuk manemukan pemuda misterius berkerudung hitam itu."

Lu Ie Lam sangat senang berhubungan dengan It-kiam-tin-bu Iim Wie Tauw, minatnya untuk bertemu dengan tokoh aneh itu sangat besar. Segera ia meminta diri, meninggalkan ruang sidang.

Ia kembali kedalam tempat tinggalnya, disini menyiapkan bekalan, kemudian berangkat meninggalkan gunung Lu-san.

Duta Nomor 8, si Pendekar Pengembara Lu Ie Lam telah turun dari gunung, arah tujuannya ialah kota Tiang-an.

Meninggalkan daerah Lu-san, dari arah yang berlawanan, mendatangi dua orang, Lu Ie Lam menepuk kepala. Dua orang inilah yang lama diharapkan.

Siapa mereka?

Dua orang itu adalan Duta Nomor 6, si Pedang Kaju Koan Su Yang dan duta Nomor 9 si Lampu Besi Thiat-teng Hwe-sio, dua duta yang diutus untuk memanggil si Pendekar Nyali Merah Sa Jin, dua orang yang telah lenyap selama 3 bulan.

Koan Su Yang dan Thiat-teng Hwe-sio berjalan berendeng, mereka tertawa-tawa, entah apa yang sedang dirundingkan. Melihat kedatangan Lu Ie Lam, mereka tidak memanggilnya, seolah-olah orang yang tidak dikenal.

Bertemu dengan kawan lama dengan tiada memberi sambutan yang semestinya adalah suatu hal yang paling memuakkan. Tetapi Lu Ie Lam mempunyai jiwa luhur, ia tidak membenci. Ia menghentikan langkahnya, memanggil mereka: “Apakah saudara2 baru kembali?"

Koan Su Yang dan Thiat-teng Hwe-sio sedang asyik membicarakan sesuatu, mereka dikejutkan oleh suara Lu Ie Lam. “Aaa Saudara Lu, kemana kau hendak pergi?"

Lu Ie Lam menceritakan maksudnya turun gunung meminta bantuan It-kiam-tin-bu-lim Wie Tauw, munculnya pemuda berkerudung hitam, dan bagaimana ia harus menemui ketua perusahaan Boan-chio Piauw-kiok menangkap pemuda misterius itu.

“Bagaimana dengan hasil kalian?" Bertanya Lu Ie Lam kemudian. “Mengapa sehingga saat ini baru kembali? Berhasilkah Sa Jin ditemukan?"

“Ketika kita tiba dirumah si Pendekar Nyali Merah Sa Jin, rumah itu telah menjadi abu." Berkata Pendekar Pedang Kaju Koan Su Yang. “Karena tidak berhasil menemuinya, kita menyelidiki ke berbagai tempat, tetapi tidak berhasil karena itulah terlambat."

“Bagaimana rumah Sa Jin bisa menjadi abu?” Lu Ie Lam mangkerutkan alisnya. “Entahlah." Duta Nomor 6 Koan Su Yang berkata. “Tidak ada tanda2 pertempuran disekitar rumahnya, diduga ia membakar sendiri dan melarikan diri."

Wajah Lu Ie Lam menjadi ber-sungguh2.

“Betul2 dua saudara Sa itu telah dibeli oleh sipemuda berkerudung hitam, mereka telah berkomplot dengan sipemuda jahat itu."

“Apa yang dapat kita laporkan kepada Su-hay-tong-sim-beng ialah ini saja." Berkata Koan Su Yang.

Lu Ie Lam menunjukkan wajahnya yang muram.

“Berita ini cukup membuktikan bahwa Ie Lip Tiong bukan sipemuda berkerudung hitam, sayang telah terlambat."

“Su-hay-tong-sim-beng telah membunuh Ie Lip Tiong?" “Betul. Kejadian itu terjadi dihari ini..."

“O-mie-to-hud......" Thiat-teng Hwesio turut berkata. “Su-hay- tong-sim-beng salah bunuh orang."

“Betul." Lu Ie Lam membenarkan dugaannya. “Baru saja kepala Ie Lip Tiong jatuh ditanah, salah seorang 'barisan Kuda Cepat' Bu- tong-pay tiba, mewartakan munculnya sipemuda berkerudung hitam, pelindung hukum mereka telah mati dibunuh olehnya."

“Mengapa Bu-tong-pay memberi khabar ini terlambat?" berkata Duta Nomor 6, si Pendekat Pedang Kaju Koan Su Yang mengkerutkan alisnya.

“Ketua partay Bu-tong-pay tahu waktu untuk menghukum Ie Lip Tiong, maka ia mengutus orang memberi berita itu segera. Sayang ditengah jalan, ia mengalami gangguan, maka berita terlambat setengah jam."

Koan Su Yang mengeluarkan suara dari hidung dan berkata: “Pemuda berkerudung hitam itu sengaja ingin manggunakan tangan Su-hay-tong-sim-beng membunuh Ie Lip Tiong." “Itulah." Berkata Lu Ie Lam. “Dari kejadian ini, kukira kematian Ie In Yang mempunyai latar belakang yang sama, hasil buah tangan sipemuda berkerudung hitam yang membunuh orang secara halus. Mereka ayah dan anak telah mati dibawah fitnahan, kukira rencananya telah berhasil dengan baik. Untuk selanjutnya, kukira ia akan menghentikan gerakannya membunuh bunuhi anak murid S partay besar. Tetapi kesalahan ini tidak dapat dibiarkan, Kita Su- hay-tong-sim-beng harus membekuknya untuk dituntut."

“Betul. Pemuda berkerudung hitam itu sangat kejam." Berkata Duta Nomor 6, si Pendekar Kayu Koan Su Yang.

“Diatas gunung, bengcu masih bingung memikirkan cara pemecahan soal ini. Kedatangan kalian berdua sungguh tepat pada waktunya. Segeralah naik gunung memberi laporan, sekalian dapat turut serta mengikuti jalannya rapat."

Koan Su Yang merangkapkan kedua tangannya dan berkata. “Baiklah. Kupujikan kau berhasil."

Lu Ie Lam menbalas hormat itu, kemudian mengambil selamat berpisah dengan Duta Nomor 9, si Lampu Besi Thiat-teng Hwe-sio. Meninggalkan mereka, meneruskan perjalanan menuju kekota Tiang-an.

Duta Nomor 6 dan Duta Nomor 9 saling pandang, mereka tertawa. Menyaksikan bayangan belakang si Duta Nomor 8 lenyap, tertawa merekapun semakin lebar.

“Berbahaya." Thiat-teng Hwe-sio meleletkan lidah. “Hampir gagal dihadapannya."

“Betul." Berkata Koan Su Yang. “Beruntung kita dapat menyebut namanya. Tetapi aku telah siap, bila ia mengetahui penyamaran kita, segera turun tangan membunuhnya."

“Ha, ha....." Thiat-teng Hwe-sio tertawa. “Kita mempunyai pendapat yang sama. Menghadapi macan nomor 8 ini, kita harus bergerak cepat, bila tidak... hm... Bahaya tetap ada."

“Hm... Hm..." Duta Nomor 6, si Pendekar Pedang Kayu Koan Su Yang mengeluarkan tertawa dingin. “Ia ingin menemui It-kiam-tin- bu-lim Wie Tauw? Sungguh lucu."

“Sepuluh Duta Istimewa Berbaju Kuning Su-hay-tong-sim-beng telah berada dibawah pengawasan guru kita. Macan nomor 8 ini pasti tidak terkecuali."

“Betul." Berkata Koan Su Yang, “Mari kita ikut rapat Su-hay-tong- sim-beng. Mencari berita baru lagi."

Dua Duta Istimewa Berbaju Kuning aneh ini naik keatas gunung Lu-san, mengikuti acara rapat Su-hay-tong-sim-beng.

ooOoo

Sepuluh hari kemudian.........

Lu Ie Lam duduk di suatu rumah makan, menikmati pemandang kota Siang-yang. Sebagai seorang Duta Istimewa Berbaju Kuning, ia mempunyai ketajaman panca indra yang luar biasa. Segala sesuatu yang terjadi tidak lepas dari mata dan telinganya. Kini ia senang memperhatikan dua orang yang duduk tidak jauh dari tempat mejanya.

Si Pendekar Pengembara Lu Ie Lam mengikuti pembicaraan dua orang itu secara tidak sengaja, hal ini memang wajib, untuk menambah pengalaman seorang Duta Istimewa Berbaju Kuning. Siapa tahu, karena rasa usilnya terhadap perkara ini, hampir saja ia kehilangan jiwanya. Terdengar salah seorang itu berkata perlahan: “Lo Un, sebenarnya apakah yang telah kau lihat?"

Suara itu sangat perlahan sekali, tetetapi masuk kedalam telinga Lu Ie Lam sengat jelas.

Orang yang dipanggil Lo Un menggoyangkan kepala. “Sungguh menyeramkan." Ia menggigil dingin. “Aku telah berkelana lebih dari sepuluh tahun, tetapi belum pernah mengalami kejadian seram seperti yang kuhadapi kali ini."

“Sesungguhnya, apakah yang telah kau alami?" Kawan Lo Un itu mendesak. “Bertemu dengan setan?"

“Setan? Bila kejadian itu dapat dibandingkan dengan setan, aku lebih suka bertemu dengan setan."

Mereka lupa makan, dan memperbincangkan soal yang dikatakan sangat seram itu. Diluar tahu mereka, bahwa tidak jauh dari mereka, pada suatu meja rumah makan yang sama, duduk seorang berbaju kuning, inilah Duta Istimewa Berbaju Kuning Su-hay-tong- sim-beng yang kedelapan, si Pendekar Pengembara Lu Ie Lam.

“Katakanlah, apa yang telah kau saksikan?" Terdengar suara kawan orang yang dipanggil Lo Un itu.

“Kemarin malam, aku telah selesai membereskan perkara dikota Hoan-shia dan pulang segera. Maksudku agar sampai disini pada pagi hari. Ketika melewati pegunungan Tiang-san, tiba2 terdengar suara rintihan seseorang yang sangat menyayatkan hati." Lo Un mulai bercerita. “Hm.... Belum pernah kudengar ada orang yang mengeluarkan suara seperti itu, kukira ia sedang menderita siksaan yang paling hebat, ingin berteriak, tetapi tidak dapat. Aku heran sekali, mengikuti arah datangnya suara rintihan aneh ini, aku mendaki gunung, berjalan hampir 100 langkah akhirnya kutemukan orang yang sedang menderita siksaan hebat itu.

“Dia mengapa?

“Jangan kau terlalu mendesak. Berilah aku air minum dahulu," Betul2 Lo Un menenggak air dimeja.

“Eh, Lo Un, mengapa tubuhmu gemeteran?" Tiba2 sang kawan mengajukan pertanyaan aneh.

Lo Un menarik napas dalam2. Ia berkata : “Gemetaran? Hm... Kau Lo Sun terkenal berani. Tetapi bila melihat kejadian itu dengan kepalamu sendiri. Pasti kaupun akan gemetaran."

“Hm... Aku tidak kena gertakanmu. Kata kaulah terus." “Hei, pernahkah kau melihat orang yang tidak berkulit?"

“Orang yang tidak berkulit?" Si Lo Sun memandang Lo Un dengan heran.

“Betul. Dari kepala, sehingga ujung kakinya, orang itu telah tiada berkulit. Hanya daging merah yang melengket darah."

Lo Sun mengkerutkan jidatnya. “Orang yang tidak   berkulit mana mungkin hidup?"

“Tentu saja tidak bisa hidup” Berkata Lo Un. “Sewaktu aku melihat dirinya, napasnya sudah hampir putus, ia sedang menunggu ajal kematian."

“Kulitnya dibeset orang? Siapakah yang mempunyai kekejaman seperti ini?"

“Mana kutahu? Ia merintih-rintih karena menanggung rasa sakit yang tidak terhingga. Boleh kau bayangkan, seorang yang dibeset kulit tubuhnya, dari kepala sehingga telapak kaki, betapa hebatkah penderitaan orang ini? Daging merah itu terlihat jelas, darah membasahi sebagian besar. Ia berguling gulingan ditanah, berusaha meringankan penderitaannya. Tetapi daging yang tidak berkulit itu membentur tanah dan pasir. Rasa sakit semakin menjadi jadi. Bagaimana ia tidak menderita?"

“Dimana pula kulit tubuh orang itu?"

“Tidak ada." Berkata Lo Un. “Telah kuperiksa disekitar dirinya. Tidak terlihat. Entah dibuat apa kulit manusia? Kubalik lagi kepadanya, kulihat ia hampir menghembuskan napasnya yang penghabisan. Ditempat itu tidak ada orang, segera aku mengajukan pertanyaan kepadanya. Siapa dia dan dari mana?"

“Dia dapat menjawab pertanyaanmu?"

“Tentu sulit. Tetapi ia berusaha mengatakannya juga, walau dengan susah payab. Kuduga ia bernama Sa Jin atau Sat Cin. Aku tidak jelas."

Lu Ie Lam yang mengikuti percakapan Lo Un dan Lo Sun itu terkejut.

“Sa Jin atau Sat Cin?" Pertanyaan ini mengarungi benaknya. “Mungkinkah si Pendekar Nyali Merah Sa Jin yang membakar rumahnya sendiri dan melarikan diri?"

Seperti apa yang telah Lu Ie Lam ketahui, Su-hay-tong-sim-beng mengutus Duta Nomor 6 dan Duta Nomor 9 memanggil si Pendekar Nyali Merah Sa Jin untuk didengar keterangannya. Tetapi rumah Sa Jin telah ludes dimakan api, tidak ada tanda2 pertempuran, tentunya dibakar sendiri, orangnyapun lenyap, tentunya melarikan diri. Sudah dapat dipastikan bahwa Sa Jin itu adalah salah satu dari komplotan sipemuda misterius berkerudung hitam, mengapa mati dibeset orang?

Siapakah yang melakukan kekejaman itu? Untuk apa pula kulitnya dibawa lari?

Terdengar lagi suara Lo Sun bicara : “Kemudian?"

“Mana ada kemudian lagi?" Berkata Lo Un, “Kepalanya terkulai matilah orang tiada berkulit itu."

“Aku heran." berkata Lo Sun. “Bagaimana orang itu membiarkan kulitnya dibeset orang tanpa melawan?"

“Mana kau tahu? Sebelum dikuliti tubuhnya. Orang telah menotok jalan darahnya. Tentu ia tidak berdaya. Kulihat ditempat itu ada sebuah batu, masih penuh darah, entah digunakan untuk apa."

Untuk menyelidiki sipemuda berkerudung hitam, terlebih baik menemukan si Pendekar Nyali Merah Sa Jin, kini diketahui orang ini telah binasa. Ia harus menyelidiki tentang kebenarannya.

Demikian Lu Ie Lam berpikir.

Maka, ia memanggil pelayan rumah makan dan membikin perhitungan. Meninggalkan Lo Un dan Lo Sun, mengikuti petunjuk yang mereka berikan. Ia menuju kearah pegunungan Tiong-san.

Gunung Tiong-san dipanggil juga pegunungan Long-tiong-san, letaknya hanya berjarak 20 lie dari kota Siang-yang. Dijaman dahulu kala, tempat ini pernah menjadi medan pertempuran diantara tiga kerajaan, maka namanya cukup terkenal. Malam agak gelap. Orang2 yang melakukan perjalanan malam tidak terlalu banyak. Dengan menggunakan ilmu meringankan tubuhnya, Duta Nomor 8, si Pendekar Pengembara Lu Ie Lam menuju kearah gunung Long-tiong-san.

Setengah jam kemudian, Lu Ie Lam telah berada didaerah pegunungan Long-tiong-san. Mengikuti daerah yang berada tidak jauh dari jalan raya, ia mengadakan penyelidikan.

Kedudukan Duta Istimewa Berbaju Kuning tidak mudah didapat, bila ia tidak memiliki ilmu kepandaian dan kepintaran yang berada diatas orang, tidak mungkin menduduki kursi ini. Mempeihatikan beberapa tempat, Lu Ie Lam berhasil menemukan batu yang diceritakan si Lo Un.

Tidak jauh. terlihat tanah yang baru diuruk.

“Hah.... Mereka telah menguruk jenasah sang korban." Demikian Lu Ie Lam tertawa didalam hati.

Ia lompat keatas tempat itu, ingin melihat betulkah si Pendekar Nyali Merah Sa Jin yang telah menjadi korban keganasan.

“Sreet ”

Tiba2 mata kaki sebelah kiri Lu le Lam telah dijepit sesuatu. Si Pendekar Pengembara masuk perangkap.

“Sraaakkkk. ”

Dari atas mengurung turun jala yang besar, cepat sekali mengurung Lu Ie Lam.

Kejadian itu terjadi didalam waktu yang sangat singkat, dikala Duta Nomor 8 kita merasakan sesuatu yang tidak beres, dirinya telah kena diringkus oleh jala itu. Kakinyapun dijepit cengkeraman.

Ia mengeluarkan geraman, kedua tangannya didorong keatas, memukul jala besar yang mengurung dirinya.

Kekuatan telapak tangan Lu Ie Lam tadi dapat menghancurkan sebuah batu besar, pikirnya, dengan mudah dapat keluar dari kurungan tadi. Setelah ia akan menghadapi orang jahat yang membokong dirinya.

Ia tidak tahu bahwa jala besar itu terbuat dari kulit sapi yang dikeringkan, keuletannya sungguh luar biasa, kini mengurung semakin keras.

Rasa bingung Lu Ie Lam tidak terkira, sadarlah bahwa dirinya telah masuk perangkap sesuatu komplotan jahat. Bila tidak berusaha membebaskan diri, tentunya akan celaka. Berulang kali tangannya menarik jala urat sapi itu, hampir seluruh kekuatannya telah dikerahkan, ia harus berusaha membebaskan diri dari kekangan jala orang.

Lu Ie Lam tidak berhasil, jala semakin kencang membelenggu dirinya.

“Ha, ha..." Terdengar satu suara tertawa.

Dari balik batu, keluar seorang berkerudung muka dengan kain warna hitam. Orang inilah yang mengeluarkan tertawa, orang inilah yang menggunakan siasat meringkus Duta Istimewa Berbaju Kuning Su-hay-tong-sim-beng Nomor 8 itu.

Pemuda misterius berkerudung hitam? Bukan!

Dari suara dan potongan badan, Lu Ie Lem dapat mengetahui bahwa laki2 yang berada dihadapannya itu bukan pemuda misterius berkerudung hitam yang sering didesas desuskan orang. Paling sedikit umur orang ini berada diatas 30 tahun.

Laki2 berkerudung hitam menjuruskan jarinya, menotok jalan darah Lu Ie Lam. Maka mati kutulah Duta Nomor 8 itu.

Dari 4 penjuru muncul lagi 4 orang berpakaian warna hitam, wajah muka mereka tidak ditutup, tetapi tidak seorang dari mereka yang Lu Ie Lam kenal.

Laki2 berkerudung hitam adalah kepala dari rombongan ini, setelah menotok jalan darah kaku Lu Ie Lam, ia menyuruh 4 orang berbaju hitam itu membuka jala jaringan dan alat perangkap yang membelenggu kaki jago itu.

Alat yang membelenggu kaki Lu le Lam adalah semacam perangkap kecil, laki2 berkerudung hitam itu menerima kembali alat tadi, tertawa berkakakan.

“Ha, ha... Alat ini digunakan oleh para pemburu untuk menangkap srigala dan binatang2 lainnya. Tidak disangka, disini kita menggunakan alat ini untuk menangkap seorang Duta Istimewa Berbaju Kuning Su-hay-tong-sim-beng."

Jalan darah gerak Lu Ie Lam telah dibekukan, tetapi mulutnya masih dapat bicara, setelah berhasil menenangkan dirinya. la meugajukan pertanyaan : “Oooo... Tentunya dua orang Lo Un dan Lo Sun dikota Siang-yang itu orang2mu pula, bukan?"

“Betul." Laki2 berkerudung hitam itu tidak menyesal. “Lu tayhiap tentunya mengagumi kepandaian main sandiwara mereka, bukan?"

“Tidak kusangkal. Hari ini adalah hari naas-nya Lu Ie Lam. Pertama kali aku terjatuh kedalam tangan orang. Kau harus memberi hadiah besar kepada dua orangmu yang berhasil memancingku ketempat ini."

“Tentu.... Tentu.... Sudah pasti aku memberi hadiah besar kepada mereka." Berkata laki2 berkerudung hitam. “Apa Lu tayhiap tidak ingin mengetahui, siapa diriku?"

“Aku tidak perlu tahu nama seseorang yang tidak berani unjuk wajah aslinya," berkata Lu Ie Lam menantang.

Laki2 berkerudung hitam tertawa. “Lu tayhiap pandai bicara." katanya. “Tetapi tidak seperti apa yang kau katakan. Sebelum kau menghembuskan napas penghabisan, kau segera melihat wajah asliku."

“Tidak melihatpun tidak mengapa." Berkata Lu Ie Lam. “Kukira maksud tujuanmu mengadakan balas dendam?"

“Salah. Aku tidak mempunyai dendam permusuhan denganmu." Berkata laki2 berkerudung hitam itu tertawa. “Mempunyai dendam permusuhan dengan Su-hay-tong-sim- beng?" Lu Ie Lam mengemukakan dugaan lain.

“Li tayhiap sangat pintar." Laki2 berkerudung hitam itu tidak menyangkal.

“Ha, ha.... Duta Istimewa Berbaju Kuning Su-hay-tong-sim-beng berjumlah 12 orang. Kini kau membunuhku, sebelas orang lainnya tetap bergerak bebas. Tidak adanya Lu Ie Lam didalam barisan itu, tidak mengganggu usaha Su-hay-tong-sim-beng."

“Bila membunuh kau seorang, tentu tidak akan mengganggu usaha besar Su-hay-tong-sim-beng. Maka kita menangkapnya satu persatu. Setelah 12 Duta Istimewa Berbaju Kuning ini habis terbasmi, kita dapat mengajukan 12 Duta Istimewa Berbaju Kuning yang sama untuk menggantikan kalian."

Didalam hati Lu Ie Lam sangat terkejut, tetapi ia berusaha menenangkan dirinya. “Rencana bagus." Ia mengeluarkan pujian. “Kau dua kali menggunakan istilah 'kita', tentunya usaha ini bukan usaha seorang. Kecuali dirimu, berapa orang lagikah yang mengusahakan komplotan ini?"

Sinar mata laki2 berkerudung hitam itu menatap Lu Ie Lam tajam2, lalu angkat pundak. “Ada orang memberi tahu kepadaku agar tidak banyak bicara dengan Duta Nomor 8, peringatan ini masuk diakal. Kau terlalu pandai menganalisa sesuatu."

“Pemuda misterius berkerudung hitam itu tentunya salah satu dari komplotan kalian, bukan?" Lu Ie Lam melepas kata2 pancingan.

Pertanyaan ini tidak mendapat jawaban. Laki2 berkerudung hitam itu memandang 4 orang berbaju hitam, kemudian memberi perintah: “Boleh dimulai."

Dua diantaranya berjalan pergi, dari balik semak2 pohon, mereka menenteng keluar seorang, tubuhnya ditelanjangkan, tidak selembar pakaianpun yang melekat.

Memandang kejadian tadi, Lu Ie Lam mengerutkan alisnya. Dua orang berbaju hitam telah membawa orang tawanan itu datang, dia adalah seorang laki2 dengan badan kekar, berewok dan kumisnya keren, pada wajahnya terlihat keangkeran. Tetapi telah ditotok jalan darah kakunya, maka tiada berdaya.

Lu ie Lam seperti pernah melihat wajah ini. tetapi ia telah lupa. “Kawan, siapakah namamu?" Si Pendekar Penggembara Lu Ie

Lam mengajukan pertanyaan.

Laki2 itu tidak menjawab, ternyata jalan darah gagunyapun telah ditutup.

Dua orang berbaju hitam memasukkan orang tawanan mereka kedalam lubang yang telah tersedia.

Lu Ie Lam memandang laki2 berkerudung hitam dan membentak: “Hei, apa yang kalian perbuat kepada dirinya?"

“Jangan bertanya." Berkata laki2 berkerudung hitam itu. “Kau mempunyai mata, maka kau dapat menyaksikannya.”

Dua orang berbaju hitam telah meletakkan laki2 telanjang itu didalam tanah, salah seorang mengeluarkan pisau belati yang tajam. Ia berdiri tepat di belakang orang tawanannya. Seorang lagi telah mengeluarkan botol kecil, entah apa isi botol itu, ia berdiri menantikan perintah.

Sedangkan dua orang berbaju hitam lainnya, menjaga dikiri dan kanannya.

Lu Ie Lam didanpingi oleh laki2 berkerudung, menyaksikan bagaimana empat orang berbaju hitam itu menghadapi seorang tawanan.

EX DUTA NOMOR EMPAT   DARI BARISAN   ISTIMEWA BERBAJU KUNING CAN CENG LUN MEMBERI PERTOLONGAN LU IE LAM adalah seorang yang mempunyai kecerdikan luar biasa, berpikir sebentar, ia telah dapat menduga, apa yang akan dilakukan oleh orang2 berbaju hitam ini.

“Hei....” Ia berteriak. “Apa dendam permusuhan kalian dengan dirinya, mengapa harus melakukan perbuatan yang terkutuk?"

Laki2 berkerudung hitam adalah pemimpin dari rombongan 5 orang berbaju hitam itu, ia tertawa dingin. “Seperti dengan keadaan dirimu. Kitapun tidak mempunyai dendam permusuhan, bukan? Kulitnya itulah yang kita butuhkan."

“Kalian ingin membeset kulitnya?" Lu Ie Lam tidak mengerti. “Betul."

“Apa gunanya kulit manusia bagimu?"

“Ha, ha..." Laki2 berkerudung hitam itu tertawa. “Bukan kulit orang ini saja yang berguna. Kulit Lu tayhiap dan 11 Duta Istimewa Berbaju Kuning lainnyapun tidak dikecualikan."

“Segera bebaskan dia." berteriak Lu Ie Lam.

“Lu tayhiap," berkata laki2 berkerudung hitam itu dingin. “Lebih baik diam2lah kau manonton dipinggir. Bila tidak, terpaksa akupun menotok jalan darah gagumu."

Teringat dirinya telah berada dibawah kekuasaan orang, hati Lu Ie Lam menjadi gentar, ia telah berulang kali berusaha membebaskan totokan jalan darah yang mengekang dirinya. Dengan ilmu kepandaian yang dimiliki, seharusnya hal ini dapat dilakukan, tetapi kenyataan tidak. Entah totokan istimewa macam apa yang dipergunakan orang ini? Mengapa aneh sekali? Bila ia tidak menurut perintahnya, tentu jalan darah gagupun turut ditotok. Kini iapun bungkam.

Laki2 berkerudung hitam memberi isyarat. Maka drama mengerikan yang diceritakan oleh Lo Un dan Lo Sun dirumah makan, dikota Siang-yang terbukti. Orang berbaju hitam yang memegang pisau telah mulai menggerakkan pisaunya.... “Srreeeettttt....” Mata laki2 berewok itu melotot, tetapi tidak berdaya. Darah muncrat kemana-mana.

Julukan 'Pendekar’ yang Lu Ie Lam dapat adalah julukan asli, ia tidak dapat menahan gejolak hatinya, terdengar teriakannya keras: “Bajingan... Manusia busuk... Hentikan perbuatan terkutuk ini....

Hentikan perbuatan terkutuk ini."

Lima orang berbaju hitam melakukan perbuatan terkutuk mereka, tanpa menggubris teriakan2 Lu Ie Lam, Gerakan2 mereka sangat cekatan, kulit laki2 berewok itu telah dibeset cepat, orang yang memegang batok itu menuang isinya, melumuri kulit sang korban. Dengan tenang, menggantungkan kulit itu ditangkai sebuah pohon.

Tiba2 terjadi keanehan, tubuh laki2 berewok yang sudah tiada berkulit itu terbang keluar dari lubang, tetapi gerakan itu hanya gerakan sekaratnya seorang yang hampir mati, dengan daging2 tanpa pembungkus yang menyedihkan, dia jatuh lagi, menghembuskan napasnya yang terakhir

Laki2 berkerudung sudah biasa menyaksikan pemandangan2 seperti itu, tidak sedikitpun rasa gentar yang menyelubungi dirinya. Ia memandang Lu Ie Lam berkata: “Lu tayhiap tentunya heran, mengapa orang itu dapat terbang tinggi, bukan?"

Bila Lu Ie Lam mempunyai jantung yang tidak cukup kuat, tentunya ia jatuh pingsan di saat itu juga. Sungguh2 apa yang disaksikan itu berada di luar pri-kemanusian, perbuatan terkutuk yang belum pernah disaksikan oleh manusia. Matanya terpaku kepada korban tersebut, mulutnya terbuka lebar. Apa yang dikatakan oleh laki2 berkerudung hitam itu tidak terdengar sama sekali.

“Hm.... Hm....." Berkata laki2 berkerudung hitam itu dengan suara seram. “Aku tidak menotok jalan darahnya. Tetapi merusak semua ilmu kepandaian yang dimilikinya. Maka dikala ia tidak sanggup menahan rasa sakit yang tidak terhingga itu, ia dapat lompat lagi." Getaran pembuluh darah Lu Ie Lam mengalami tekanan keras, hampir ia menjadi gila, menyaksikan drama kejam tadi.

“Lu tayhiap..." Laki2 berkerudung hitam memanggil dengan suara keras. “Kini sudah waktunya kau mendapat giliran."

Ia memanggil 4 orangnya untuk mengulang perbuatan terkutuk mereka. Satu persatu, mereka membuka baju Lu Ie Lam. Mereka memang kejam, entah siapa yang menjelmakan manusia manusia berbaju hitam ini, sedikitpun tidak terlihat rasa takut yang membayangi wajah meraka.

“Lu tayhiap..." Panggil lagi laki2 baju hitam yang mengenakan kerudung tutup muka. “Tentunya kau telah berusaha membebaskan diri dari totokanku. Ha, ha... Terus terang kukakatakan, tidak mungkin kau berhasil. Ilmu totokan jalan darah yang kupelajari sangat istimewa, semakin keras kau berusaha membebaskan diri, semakin lama pula ia mengekang kebebasanmu. Tetapi bila kau diam, mempasrahkan diri, dua jam kemudian, jalan darahmu mengalir seperti biasa, dan kau bebas normal. Ha.... ha...”

Duta Nomor Delapan dari Barisan Istimewa Berbaju Kuning Su- hay-tong-sim-heng, si Pendekar penggembara Lu Ie Lam sedang mengalami hari naas, ia telah di telanjang bulatkan.

-oo0w0oo-