-->

Pembunuh Gelap Jilid 02

Jilid 02

Kini berbalik Ie Lip Tiong yang menjadi pihak pendengar, ia mendengarkan dengan serius, agaknja baru sekarang ia mendengar kisah dari orang istimewa Ngo-hiat Sin-mo Auw-yang Hui itu.

"Asal mula ia menjadi musuh nomor satu dalam rimba persilatan ialah" Lu Ie Lam berhenti sebentar dan menelan ludah, "suatu hari, dikala ia merajakan hari ulang tahunnja yang ke-50, ia pernah mengirim undangan kepada Siauw-lim, Bu-tong, Khong-tong, Kun- Iun, Hoa-san dap Oey-san, maksudnja mengajak 6 ketua partay itu untuk makan minum bersama. Enam ketua partay besar takluk akan ilmu silat, ilmu surat, ilmu lukis dan permainan catur Ngo-kiat Sin- mo Auw-yang Hui. Tetapi terhadap ilmu yang terachir dari tokoh ajaib itu, jaitu ilmu sex, mereka merasa sangat jijik dan jadi segan berhubungan dengannja, itulah sebabnja mereka tidak bersedia memberi selamat ulang tahun. hanja mengirim beberapa anak murid sebagai wakil untuk memenuhi undangan. Disinilah letak permulaan bibit kekacauan, dimana Ngo-kiat Sin-mo Auw-yang Hui mulai menganggap bahwa 6 ketua partay tidak memandang mata lagi kepadanja. Mulai hari itu juga ia mencari gara2 dan mengganggu ketenangan 6 partay besar."

Asal mula kejadian ternjata betul2 Lu Ie Lam tahu lebih banjak, apa yang belum diketahui oleh Ie Lip Tiong ternjata ia sudah dapat mengatakan dengan jelas.

"Anak murid 6 ketua partay tentu mengadakan perlawanan." Lu Ie Lam meneruskan cerita. "Tetapi Ngo-kiat Sin-mo Auw-yang Hui bukan orang biasa, mana mungkin mereka dapat menandingi tokoh ajaib itu? Hampir sebagian besar anak murid dari 6 partay besar terbinasa. Menurut taksiran, yang mati sudah lebih dari 300 -orang. Maka 6 ketua partay jadi tambah dendam, mereka bergabung dan mencari iblis itu, dengan kekuatan 6 orang tokoh2 silat kelas satu, Ngo-kiat Sin-mo Auw-yang Hui achirnja berhasil ditundukkan. Peristiwa pengerojokan terjadi digunung Ngo-tay-san."

Ie Lip Tiong yang mengikuti cerita itu, matanja berkilat2, salah satu dari 6 ketua partay besar yang diceritakan adalah ajahnja. Terbajanglah olehnja betapa hebat ilmu kepandaian sang ajah kala itu.

"Setelah berhasil menangkap Ngo-kiat Sin-mo Auw-yang Hui, maksud 6 ketua partay ialah membunuhnja dengan segera." Lu Ie Lam ingin mengetahui apa2 yang belum diketahui, maka ia merasa perlu memberitahukan lebih dahulu apa yang telah diketahuinja. Begitulah selanjutnju ia meneruskan : "Siapa tahu, dikala 6 ketua partay ingin membunuh korbannja, tiba2 ditang seorang tokoh silat yang telah lama didewa-dewakan, Hong-lay Sian-ong- Menurut cerita orang, kepandaian Hong-lay Sian-ong masih beraja jauh diatas Ngo-kiat Sin-mo Auw-yang Hui. Hong-lay Sian-ong mengajukan permintaan supaja 6 ketua partay membatalkan niat mereka yang ingin membunuh Auw-yang Hui. Tetapi ia sama sekali tidak keberatan ketika 6 ketua partay memunahkan ilmu kepandaian silat tokoh jahat itu, dengan alasan supaja Auw-yang Hui tidak dapat mengacau dunia lagi. Maksud Hong lay Sian-ong hanja hendak mempertahankan ilmu surat, ilmu lukis dan ilmu catur Auw- yang Hui agar tidak turut terpendam kedalam liang kubur. Memunahkan ilmu kepandaian berarti menghilangkan ilmu silatnja. Dengan demikian, ia tidak berani mengganggu perempuan lagi. Tentunja, saran ini dapat diterima baik oleh 6 ketua partay, begitulah umur Ngo-kiat Sin-mo Auw-yang Hui telah diperpanjang." Lu Ie Lam menghentikan ceritanja, dengan memandang Ie Lip Tiong ia mengajukan pertanjaan : "Ada yang salah?"

"Tidak." Jawab Ie Lip Tiong singkat Ie Lam meneruskan : "Setelah ilmu Ngo-kiat Sin-mo Auw-yang Hui dilenjapkan, mereka

menetapkannja di perkampungan Han-kong San-chung digunung Ngo-tay-san. Bergiliran setiap harinja ditugaskan 6 orang untuk mengawasi tokoh ajaib ini.

Auw-yang Hui hanja terbatas disilat dan kegemarannja terhadap Ia masih diperbolehkan menurunkan 3 ilmu lainnja kepada tiga orang Mereka akan mewarisi ilmu surat, ilmu Kebebasan luar ilmu perempuan, tiga macam murid. ilmu lukis dan ilmu caturnja yang terhebat.

Bunji? roda kereta bagaikan irama cerita, apa jang oleh Lu le Lam jadi semakin, dituturkan menarik.

"Siauw-lim-pay ciangbun, Bu-tong-pay ciangbun, Khong-tong-pay ciangbun, Kun-lun-pay ciang-bun, Hoa-san-pay ciangbun dan ajahmu mengajak Hong-lay Sian-ong merajakan kemenangan mereka."cerita Lu Ie Lam kiranja masih belum selesai, ia meneruskan pula: "Maka dirasakan oleh mereka betapa hebat dan kuat tenaga gabungan itu. Ada orang mengusulkan untuk membentuk suatu Kesatuan Jago Dari Empat Penjuru, dan ternjata tidak ada yang menolak usul ini. Mulai hari itu juga terlahir Su-hay- tong-sim-beng. Mereka memilih sitokoh setengah dewa Hong-lay Sian-ong sebagai bengcu, memimpin kesatuan gabungan tersebut. Dibawah pimpinan bengcu yang arif bijaksana, ketegangan dunia persilatan cepat atau lambat pasti dapat diredakan."

"Itu aku tahu." Berkata Ie Lip Tiong "Jang ingin kuketahui adalah kejadian berikutnja. Bagaimana dengan Ngo-kiat Sin-mo Auwyang- Hui itu?"

"Auw-yang Hui menetap dikampung Han-kong San-chung dan melatih tiga muridnja didalam ilmu surat, ilmu lukis dan ilmu catur. Hidup achir tuanjapun tidak mendapat gangguan. Hidup tenang seperti itu dapat dipertahankan sehingga 17 tahun. Pada tiga tahun yang lalu, ia merasakan bahwa kondisi badannja tidak mengijinkan ia hidup terlebih lama lagi dan menulis surat kepada 6 ketua partay, menceritakan bahwa semua ilmunja yang hebat itu sebenarnja ia dapatkan dari sebuah kitab yang bernama Thian-tok Sin-keng. Menjelang kematiannja, ia ingin membagi-bagikan kitab tersebut kepada para ketua 6 partay besar dan mengharapkan kedatangan mereka untuk menerima warisannja yang terachir. Hari yang ditetapkan ialah tanggal 9 bulan 9. Tentu saja, daja tarik ini sangat kuat, bagi siapa yang memiliki seluruh isi kitab Thian-tiok Sin-keng berarti mempunjai semua ilmu kepandaian yang pernah dimiliki oleh tokoh ajaib itu. Tepat pada tanggal 9 bulan 9, ketua partay Siauw- lim-pay It-su Siang jin, ketua partay Bu-tong-pay Kho-goat To tiang, ketua partay Khong-tong-pay Cie Kong Bie, ketua partay Kun-lun- pay Hie-bu Taysu dan ketua partay Hoa san-pay Bin Tiong Ngo telah berkumpul di-gunung Ngo-tay-san. Hanja ketua partay Oey san-pay Ie in Yang yang tidak tampak hadir."

"Ajahku menerima lain undangan dari kawannja terdekat." Ie Lip Tiong cepat berkata.

"Betul," Lu Ie Lam mengangguk2. "Begitulah 5 ketua partay besar saja yang menemui Ngo-kiat Sin-mo Auw-yang Hui. Sedianja tokoh ajaib ini akan segera membagi-bagikan lembaran kitab pusaka kepada 5 orang. Tetapi It-su Siang-jin tidak mupakat, dikatakan olehnja bahwa ketika menangkap Ngo-kiat Sin-mo Auw-yang Hui dahulu adalah ajahmu yang paling besar jasanja Ia berkeras menjuruh menunggu kedatangan ajahmu. Semua orang achirnja setuju. Siapakah yang tidak tunduk kepada ketua partay Oey-san- pay Ie in Yang? Begitulah 5 ketua partay dan sitokoh ajaib Ngo-kiat Sin-mo Auw-yang Hui dengan sabar harus menunggu kedatangan ajahmu dikampung Han-kong San-chung. Dikala senja, tiba2 berlari mendatangi seorang pelajan kampung dan mengatakan sesuatu kepada Ngo kiat Sin-mo Auw-yang Hui. Wajah sitokoh ajaib berubah segera, ia bangkit dau meminta diri kepada 5 ketua partay untuk meninggalkan perjamuan itu, dikatakan olehnja bahwa ada seorang kawan yang datang berkunjung kepadanja. Lima ketua partay tidak menduga sesuatu yang buruk. Kebebasan Ngo-kiat Sin-mo Auw- yang Hui didalam kampung Han-kong San-chung memang tidak dikekang. Demikian pergilah tokoh ajaib itu meninggalkan lima orang ketua partay besar. Siapa tahu, tak lama kemudian, 5 ketua partay mendengar suara2 jeritan panjang yang mengerikan. Cepat sekali 5 orang ini meninggalkan meja perjamuan untuk memeriksa. Apa jang mereka temukan...." Lu Ie Lam menelan ludah menghilangkan ketegangan sjarafnja dikala itu.... "adalah Ngo-kiat Sin-mo

Auw-yang Hui dan kacung Han-kong San-chung tadi. Mereka telah menggeletak dengan tak bernapas lagi. It-su Siang-jin dari Siauw-lim-pay yang bermata tajam segera dapat menemukan dua batang jarum Bong hun-kim-ciam, jarum halus inilah yang telah merenggut njawa dua orang itu. Lotee, jarum Bong-hun-kim-ciam adalah senjata kebanggaan ajahmu, bukan?"

Kata2 yang terachir langsung ditujukan kepada Ie Lip Tiong. "Betul." Wajah Ie Lip Tiong terlihat menjadi tegang. "Dan

seterusnja apa yang mereka lakukan?"

"Lima ketua partay segera mencari copy 6 jilid kitab Thian-tiok Sin-kcng yang sedianja ingin dibagi-bagikan kepada 6 partay besar. Ternjata kitab2 itupun telah lenjap. Dugaan mereka segera tertuju kepada sipembunuh gelap yang telah melarikan diri. Kerena waktu kejadian belum lama, mereka menduga bahwa pembunuh gelap itu belum pergi jauh. Begitulah 5 orang segera mencari guna membikin pengejaran. Betul saja, Sekira 5 lie dari tempat kejadian. Ajahmu diketemukan sedang berdiri dibawah sebuah pohon Tong-ceng. it-su Siang-jin dan 4 ketua partay lainnja segera mengurung ajahmu dan menegur kepadanja, mengapa membunuh Ngo-kiat Sin-mo Auw- yang Hui dan merebut kitab pusakanja. Ajahmu menjangkal. Dikatakan ia berada ditempat itu kerena menunggu kawannja. Didalam hal ini, tentu saja S ketua partay tidak percaja dan dengan demikian terjadilah suatu pengerojokan dengan kesudahan terbunuh matinja ajahmu."

Ie Lip Tiong menahan berlinangnja air mata, dengan dingin ia mengajukan pertanjaan:

"Dan achirnja mereka menemukan kitab Thian-tiok Sin-keng pada diri ajahku. bukan?"

"Tidak." sahut Lu Ie Lam sambil menggelengkan kepala. "Tetapi mereka percaja bahwa ajahmu telah mengoper kitab pusaka itu kepada orang kedua. Diduga keras bahwa orang itu adalah kau."

"Hm... Itu alasannja mereka msngejar-ngejar diriku dengan menjebarkan semua kekuatan yang ada? Masih untung aku dapat menjembunjikan diri ditempat bagus sehingga tidak ditemukan oleh mereka. Bila tidak... hm.... Tentu akupun akan mati penasaran pula."

"Kitab Thian-tiok Sin-keng tidak berada padamu ?"

"Kau menduga pasti bahwa kitab itu berada padaku?" Ie Lip Tiong balik bertanja.

"Aku tidak tahu." kata Lu Ie Lam sambil angkat pundak, "Jang mengherankan ialah, dengan sifat2 kepribadian ajahmu, mengapa dapat melakukan pekerjaan serendah itu?"

Mata Ie Lip Tiong memancarkan cahaja kebencian, penasaran dan ketidak puasan. Tentu saja, tentang sifat2 ajahmu, ia mempunjai pandangan yang lebih jeias dari semua orang. Termasuk si Duta Nomor 8 Lu Ie Lam ini.

"Dikala ajah berkunjung kegunung Ngo-tay-san dan dikerojok sehingga mati oleh 5 ketua partay, aku sedang berada dalam pengembaraan." Ia berkata dengan suara keras, "Maka tidak mengetahui pasti betulkah Ngo-kiat Sin-mo Auw-y»ng Hui ada memberi surat undangan kepadanja? Jang berani kupastikan ialah, tidak mungkin ajah melakukan pekerjaan serendah itu. Dengan ilmu kepandaian jang telah dimiliki olehnja, dengan nama serta kedudukan yang telah diperolehnja, kukira ia tidak membutuhkan kitab Thian-tiok Sin-keng itu. Berani kupertaruhkan leherku diatas tajamnja golok dan mengatakan bahwa pembunuhan terhadap Ngo- kiat Sin-mo-Auw-yang Hui bukanlah pekerjaan ajahku, dan Suatu cerita mustahil pula bahwa ajahku merebut kitab Thian-tiok Sin- keng !"

"Tetapi bukti njata bahwa Ngo-kiat Sin-mo-Auw-yang Hui mati terbunuh akibat jarum Bong-hun-kim-ciani ajahmu, ini tidak dapat disangkal. Bukti bahwa 5 ketua partay menemukan ajahmu ditempat yang tidak jauh dari Han-kong

San-chung juga tidak boleh disangkal, ajahmu mengatakan kehadirannja di Han-kong San-chung adalah buat menunggu kawarnya. Siapakah yang akan percaja, menunggu kawan disuatu tempat yang letaknja ribuan lie dari tempat kediamannja sendiri ?"

"Apa yang Lu tayhiap katakan memang tak dapat dipungkiri. Bukti2 inilah justru yang terlalu memberatkan ajahku," Berkata Ie Lip Tiong. "Selama tiga tahun belakangan ini, aku telah berusaha keras mengadakan penjelidikan, kawannja yang manakah itu yang mengajak ajah bertemu ditempat yang tidak jauh dari Han-kong San chung."

"Kau berhasil?" Lu Ie Lam menatap tajam2.

"Tidak seorangpun dari mereka jang kucurigai mengaku pernah mengirim surat kepada ajah untuk mengadakan pertemuan disana." Berkala Ie Lip Tiong. Tetapi tetap KUpertahankan pendirian ku bahwa kematian ajah adalah sangat penasaran!"

"Kau sangat percaja bahwa pendirianmu ini benar?"

"Lu tayhiap tidak percaja bahwa ajahku mati dengan menanggung penasaran ?"

"Percajapun tiada guna." Lu Ie Lam tertawa. «Setelah berada dimarkas besar Su-hay-Tong-sim beng, kau harus dapat menunjukkan bukti2 jang njata bahwa ajahmu mati penasaran. Jang terpenting ialah bahwa kau harus berusaha membebaskan dirimu dari tuduhan mengadakan pembunuhan gelap kepada anak murid 5 partay besar."

"Jikalau Su-hay-tong-sim-beng suka memberi keluangan waktu beberapa lama, pasti aku akan dapat mengeluarkan bukti2 ini."

"Stauw-lim, Bu-tong. Khong-tong, Kun-Iun. dan Ho-san-pay tidik mempunjai kesan baik kepadamu." Lu Ie Lam memberi sedikit gambaran tentang partay2 dan golongan yang memusuhi Oey-san- pay. "Tetapi, didalam rapat Su-hay-tong-sim-beng, semua kumpulan dan semua golongan lainnja tidak memberikan reaksi yang pasti. Kukira tidak sedikit dari mereka yang menaruh simpati kepada keadaan kalian ajah dan anak. Amat disajangkan, sebelumnja kau tidak memberitahu kesukaranmu kepada Su-hay-tong-sim-beng, dan patut disesalkan, bahwa baru hari ini aku tahu keadaan dirimu jang sebenarnja. Bukankah terlalu lambat untuk menarik beberapa orang Su-hay-tong-sim-beng, guna menjumbang suara untukmu?"

Ie Lip Tiong mempunjai lain pendapat. "Bila aku mengutus orang pergi kekesatuan Su-hay-tong-sim-beng, tentu aku mendapat kecurigaan yang lebih banjak lagi." Demikian ia mengajukan pendapat. "Dengan sendirinja tuduhan kepada ajah dan aku semakin kuat."

"Bila kau menceritakan segala sesuatu dengan secara jujur dan terperinci, sehingga mereka mempunjai gambaran yang lebih jelas tentang duduknja perkara, dikala mereka mengadili dirimu nanti, kukira beberapa orang bersedia membelamu. Hukumanpun seumpama kau harus dihukum, dapat menjadi ringan."

"Ha, ha..." Tiba2 Ie Lip liong tertawa.

"Apa yang kau tertawakan?" Lu Ie Lam tidak mengerti.

"Lu Tayhiap, pendirian hidupmu tegas dan bebas, pandangan matamu tajam dan tepat. Aku tunduk kepadamu." Ie Lip Tiong menutup tertawanja. "Disajangkan kau telah menjadi Duta Nomor 8 dari Su-hay-tong-sim-beng. Suatu hari kita harus menentukan nasib kita dengan pedang dan kekuatan."

"Ha, ha..." Lu Ie Lam tidak marah. "Aku tidak menjalahkan kepadamu. Bila kau tidak berhasil mencuci diri dari segala tuduhan tadi, kau akan segera dijebloskan kedalam penjara Ceng-sim-Tauw. Kukira tidak ada kesempatan untuk menempur diriku." "Pasti ada." Ie Lip Tiong menantang. "Aku tidak menerima dan tidak bersedia menerima tuduhan Su-hay-tong-sim-beng yang dijatuhkan kepadaku."

"Dengan tenagamu seorang ingin menentang Su-hay-tong-sim- beng ?"

"Betul." Ie Lip Tiong menganggukkan kepala. "Partay Oey-san- pay telah disisihkan dari Su-hay-tong-sim-beng. Maka aku tidak perlu tunduk kepada peraturan2 kesatuan gabungan itu, bukan ?"

"Jangan kau menjerumuskan dirimu kedalam jurang dalam."

"Bila aku tidak berani menerjang jurang, siapa yang akan membikin terang perkara penasaran ajahku ?"

Lu Ie Lam mengkerutkan kedua alisnja. Tetapi ia tidak marah. "Baiklah. Sebelumnja, aku harus mengucapkan terima kasih

kepadamu yang memberitahukan hal ini kepadaku." katanja. "Tetapi

setelah kau berada didalam tahanan Ceng-sim-tauw, aku wajib memberitahu kepada mereka agar baik2 menjaga dirimu agar tidak melarikan diri. Bila hal ini sampai terjadi, yang capai tentunja aku pula mengejar-ngejar."

"Belum tentu mereka sanggup mengunci diriku rapat2. Ha, ha..." Ie Lip Tiong tertawa "Legakan hatimu. Nanti aku yang mengunci dirimu rapat2. Ha, ha.." juga Lu Ie Lam tertawa

Entah apa yang dua orang tertawakan dalam hati.

Tiba2 kereta yang mereka tumpangi itu berhenti secara mendadak.

"Eh....." Lu Ie Lam menghentikan suara tertawanja. Ia menjingkap kain penutup kereta, memandang piawsu Boan-chio Piauw-kiok Mo Jiak Pin yang menjamar menjadi kusir kereta..

"Mo piauwsu, apa yang telah terjadi?" Ia mengajukan pertanjaan.

Mo Jiak Pin tetap duduk ditempatnja. sebagaimana lajaknja soarang kusir kereta, ia bertahan diposnja. Ada seorang yang rebah melintang di tengah jalan." jawab Mo Jiak Pin sambil tetap duduk.

Wajah Lu le Lam berubah. Betul saja, terlihat olehnja seorang pengemis tua tergeletak di tengah jalan yang akan mereka lewati. Maka kereta terganggu dan berhenti.

"Kulihat seperti orang dari golongan pengemis." Berkata Lu Ie Lam. "Mo piawsu, tolong kau periksa keadaan dirinja."

Mo Jiak Pin telah menghentikan kereta. Ia lompat mendekati orang itu. Rambutnja riap2an dan kusut, pakaiannja penuh tambalan, dia memang seorang pengemis. Umurnja diduga telah hampir mencapai 80 tahun. Ia tengkurap tidak bergerak.

Memperhatikan sekian lama, baru Mo Jiak Pin menarik kaki pengemis tua itu sambil berkata:

"Hei, kau mengapa?"

Tidak ada jawaban. Maka ditelentangkan tubuh pengemis tua itu.

Napasnja sudah tidak teratur. VVajahnja agak pucat "Aaaa Pengemis sakit."

Dari dalam kereta Lu Ie Lam memanggil Mo Jiak Pin.

"Mo piauwsu, tolong kau bawa pengemis sakit itu kemari, biar kulihat bagaimana keadaan sakitnja."

Ie Lip Tiong mengerutkan kedua alisnja. la menentang kata2 Lu Ie Lam tadi.

"Lu tsyhiap lupa akan permintaanku dahulu?" tanjanja. Lu Ie Lam pernah berjanji untuk membawa dirinja kemarkas besar Su-hay- tong-sim-beng dengan diam2 dan tidak boleh diketahui orang.

"Aaaa " Lu Ie Lam sadar akan ke-salahannja. "Tetapi pengemis

tua itu sudah hampir mati. Tegakah kita membiarkan dia merana dan tersiksa? Kulihat dia seperti seorang pengemis biasa, asanja tak ada salahnja dibawa kemari."

"Lu tayhiap jakin kalau dia cuma seorang pengemis biasa?" "Mo piauwsu adalah tokoh silat dari Boan chio Piauw-kiok. Tidak seorangpun dari perusahaan itu mempunjai penilaian rendah. Bila ada sesuatu yang kurang beres, tentu Mo piauwsu lebih tahu dari kita."

"Terlalu percaja kepada orang lain adalah cacad dari Lu tayhiap. Aku percaja, pada suatu hari Lu tayhiap akan jatuh karena kesalahan ini."

"Baiklah." Achirnja Lu Ie Lam mengalah.

"Aku mengerti maksud peringatanmu." Kemudian, ia meneriaki Mo Jiak Pin: "Mo piauwsu, taruh saja pengemis sakit itu dipinggir jalan. Mari kita lanjutkan perjalanan sekarang !"

Si Tangan Pengejar Maut Mo Jiak Pin dengan cepat menjalankan perintah, secepat itu pula ia sudah balik kembali keatas kereta dan terus melanjutkan perjalanan

ADA SEORANG JANG MEMPUNJAl WADJAH MIRIP DENGAN LU IE LAM?

RODA Kereta yang menggelinding diatas jalan yang penuh batu, menimbulkan suara berisik. Mo Jiak Pin duduk didalam kereta. Dan Lu Ie Lam telah menurunkan kayu penutup, keadaan didalam kereta gelap.

Melirik ketempat Ie Lip Tiong duduk, Lu Ie Lam mengajukan pertanjaan :

"Jarak kegunung Lu-san masih ribuan lie, Apa kau kira dapat mengeram terus didalam kereta untuk menghindari perhatian orang?"

"Dapat!" Berkata Ie Lip Tiong. "Makan dan tidur dapat kulakukan didalam kereta. Kecuali buang air besar dan kecil, aku dapat memilih tempat yang tak ada orang. Maksudku ialah agar pemuda berkerudung hitam itu tidak tahu bahwa aku telah terjatuh kedalam tanganmu. Pada saat2 seperti ini, berani kupastikan, ia sudah melakukan pembunuhan2 gelap lagi kepada anggota2 lima partay besar lagi. Kecuali ia mengetahui aku telah terjatuh kedalam tanganmu, tentu ia akan segera menghentikan pembunuhan gelapnja."

Lu Ie Lam mengerutkan kedua alisnja.

"Akupun tidak boleh bermalam dirumah penginapan?" katanja. "Bukankah itu malah dapat menghemat ongkos? kata le Lip Tiong

sambil tertawa. "Seharusnja kau berterima kasih kepadaku yang dapat iseng utarakan rencana bagus ini."

Lu Ie Lam tertawa menjeringai.

"Hm.... Kukira aku masih kuat bertahan" dengusnja dari hidung. Tetapi bagaimana dengai Mo piauwsu dari Boan-chio Piauw-kiok itu Apakah ia juga perlu bermalam dibawab hujan embun?"

"Bagi seorang piauwsu, melewatkan waktu malam tidaklah menjadi soal lagi."

Lu Ie Lam mengusap-usap jenggotnja. Tiba2 telinganja terangkat tinggi. Biji matanja jelalatan dan kemudian tertawa sendiri:

"Aaaaa... sikapmu yang amat berhati2 ini memang cukup beralasan." kata le Lip Tiong, Ia telah mengetahui ada sesuatu yang tidak beres melekat pada dinding bawah kereta mereka.

Ie Lip Tiong mempunjai perasaan yang sama. Entah siapa yang telah membuntuti kereta dan kini telah nekad, memasang telinga dari dekat.

Perjalanan mereka ternjata sudah diketahui orang.

"Nah, suatu 'bukti' njata untuk suatu pelajaran dikemudian hari." katanja sambil tersenjum. "Kuharap Lu tayhiap dapat membuktikan ini disidang Su-hay-tong-sim beng agar dapat menghindarkan tuduhan jahat yang dijatuhkan kepada diriku."

Lambat2, dengan gerakan yang hampir tidak bersuara, Lu Ie Lam mengeluarkan sebilah pisau belati.

«Tentu." katanja. "Akupun mengharapkan bahwa kau bukannja pemuda berkerudung hitam. Tiba2, pada kata2 yang terachir, cepat bagaikan kilat dan dengan sangat mendadak, Lu Ie Lam menusukkan pisau belatinja kepapan kereta yang mereka injak.

Clep

"Aaa aaa. "

Suara belati yang menembus papan dasar kereta dibarengi oleh jeritannja seorang yang sangat menyayat hati. Kemudian terdengar suara benda jatuh, terlempar dari kereta yang masih berjalan itu.

Banjak sekali pengalaman Mo Jiak Pin didalam menghadapi bermacara-macam kejadian.

Tetapi kejadian dibawah kereta itu sama sekali tak pernah disangka olehnja, hanja suara jeritan tertahan dan suara benda yang dilempar jatuh dari kereta itu yang dapat menjadarkan dirinja. Cepat ia menarik les untuk menghentikan kereta. Badannja melesat, siap menghadapi sesuatu.

"Disaat yang sama, Lu Ie Lam dan Ie Lip Tiong membuka pintu kereta dan keluar untuk memeriksa keadaan orang yang berani mencuri dengar percakapan mereka.

Pemandangan dimalam gelap sangat suram, orang yang terlempar dari kolong kereta tampak menggeletak dipinggir jalan, orang itu ternjata adalah sipengemis tua yang disangka sakit hampir mati tadi.

Darah membasahi sebagian besar dada pengemis tua itu, badannja menggigil dan menggeliat-geliat, ternjata luka pisau belati Lu Ie Lam tepat mengenai tempat yang paling berbahaja.

Ie Lip Tiong mendekati sang korban, ia membuka dada sipengemis yang terluka, ternjata belati Lu Ie Lam melukai tempat yang hanja berjarak setengah dim dari jantung, darah masih mengalir deras dari lubang luka itu.

"Hei..... hei .... Siapa kau?" Ie Lip Tiong mengangkat sedikit kepala pengemis tua itu dan mengajukan pertanjaan. Pengemis itu membuka lebar2 matanja, tetapi sudah tidak ada suara, luka yang diderita olehnja terlalu parah.

Lu Ie Lam turut membantu, ia menotok beberapa jalan darah sipengemis, dengan melakukan hal ini, ia bermaksud mempertahankan jiwa siluka. Tangannja ditempelkan dijalan darah Leng-tay-hiat, dengan tenaga dalam yang kuat, Lu Ie Lam menjebarkan tenaga murninja. Beberapa saat kemudian, keadaan pengemis tua itu agak lumajan.

"Ada harapan hidup?" tanja Lu Ie Lam sambil memandang Ie Lip Tiong.

Ie Lip Tiong telah memeriksa luka sikorban, karena letak lubang terlalu dekat dengan jantung, maka darah yang mengalir terlalu banjak, sedikit harapan dapat ditolong. Diperhatikan bantuan tenaga murni Lu ie Lam, wajah pengemis itu berubah sebentar, tetapi hanja beberapa detik, kemudian muram pula.

"Tidak ada." Ie Lip Tiong rueuggojangkan kepala. "Tusukan belatimu itu telah mengganggu jantungnja."

"Coba kita barusaha lagi." Wajah Lu le Lam tidak sedap dipandang.

le Lip Tiong menowel nowel pipi pengemis tua itu sambil berteriak.

"Hei....hei. Siapa namamu?"

Sinar mata pengemis itu semakin redup, semakin redup, mulutnja berkemak kemik, berusaha mempertahankan dirinja dari cengkeraman maut, tetapi ia tidak berhasil, berontak sebentar dan kepalanja terkulai, menghembuskan napasnja yang terachir dihadapan Lu Ie Lam dan le Lip Tiong.

Harapan Ie Lip Tiong untuk mencari seorang saksi yang dapat membebaskan dirinja dari segala tuduhan itu kandas ditelan kenjataan Pengemis tua yang tentunja mengetahui siapa sipembunuh gelap yang berkerudung hitam dan mempunjai potongan badan sama dengan dirinja itu telah mati. Wajah sipemuda menjadi murung, ia memandang Lu Ie Lam seraja kata

"Ach.... kau telah membunuh saksi kuat untuk melepaskan diriku dari tuduhan mereka."

Lu Ie Lam ada maksud untuk memberi kesempatan hidup kepada Ie Lip Tiong, pisau belati yang ditusukkan kepada orang ini seharusnja dijatuhkan pada tempat yang tidak berbahaja, tetapi mana ia tahu dimana letak tempat yang tidak berbahaja itu. Sedangkan diantara mereka terpisah oleh papan kereta. Wajahnjapun kurang gembira, tangan yang menempel dijalan darah Leng-tay-hiat orang ditarik pulang, usaha terachir yang memberi saluran tenaga murnipun gagal pula.

"Apa mau dikata." ia mengeluh. "Kutahu keterangannja dapat membantu kau. Maka aku telah berusaha. Amat sajang umurnja sudab ditakdirkan hanja sampai hari ini. Mengapa pisau tidak mau masuk kebagian tubuh lainnja dan malah memilih tempat yang berbahaja ini?"

Ie Lip Tiong memegang denjut nadi orang dan kini dibuktikan betul2 bahwa pengemis tua ini telah berhenti bernapas. Ia melepaskan pegangannja dan menjingkirkan majat itu kepinggir jalan.

"Lu tayhiap berpengalaman luas. Kenalkah siapa adanja pengemis tua ini?" tanjanja.

Lu Ie Lam memeriksa sebentar, kemudian iapun menggeleng- gelengkan kepala.

"Tokoh2 pengemis yang berkepandaian tinggi tidak dapat lepas dari mataku. Tetapi wajah ini samasekali asing bagiku."

Ie Lip Tiong menoleh dan memandang Mo Jiak Pin. "Mo piauwsu kenal dengan pengemis tua ini?"

"Tidak." Piauwsu itupun menggojangkan kepala. "Mengapa tidak mencoba untuk memeriksa tubuhnja? Kukira dari surat2 keterangan yang dibawa, kita dapat mengetahui asal usulnja." Ie Lip Tiong berpikir sebentar, dan apa yang dikemukakan oleh Mo Jiak Pin itu memang cukup beralasan. Ia menggeledah kantong baju orang, dari sini, ia tidak menemukan sesuatu. Tetapi pada badan pengemis sakit itu telah ditemukan sekantong senjata rahasia Kim-ci-piauw.

"Ha... Inipun cukup digunakan untuk bahan pengusutan" ia berseru girang.

Lu Ie Lam menerima senjata rahasia Kim ci-piauw itu, diperiksanja sebentar, dengan menunjukkan rasa heran ia berkata.

"Heran, menurut apa yang aku tahu, tokoh, silat yang menggunakan senjata rahasia semacam ini hanja ada dua orang."

"Betul." Mo Jiak Pin turut mengeluarkan pendapat. "Mereka adalah dua saudara Sa dari Kang-pak. Lotoa si Tabib Sakit Sa Sun dan adiknja si Hartawan Njali Merah Sa Jin. Dua orang ini memisahkan diri dari semua golongan."

Sinar mata Ie Lip Tiong bercahaja terang, ia memandang Lu le Lam berkata:

"Aku percaja kedudukan Duta-Nomor 8 dari Su-hay-tong-sin beng tidak mudah didapat, dan tentunja Lu tayhiap telah dapat mengetahui siapa pengemis siapa ini?"

"Saudara Ie jangan mencari gara2." Berkata Lu Ie Lam "Aku bukan dewa. Tidak baik kau mengucapkan kata* semacam tadi, tahu?"

Terhadap tawanannja, Lu Ie Lam masih mempunjai kesabaran luar biasa.

"Bukan maksud siaote Ie Lip Tiong membahasakan dirinja 'siaotee' yang berarti seorang adik kecil. Tetapi dalam hati ia mengejek. Menertawakan Duta Nomor Delapan itu yang pada anggapnja tidak pantas menduduki kursi kehormatannja yang diberikan oleh Su-hay-tong-sim beng. Sedianja ia ingin berkata : "Bila kau tidak dapat membongkar teka-teki pengemis tua ini, apa guna kau menjadi Duta Istimewa Berbaju Kuning dari Su-hay-tong- sim-beng?"

Tetapi kata2 ini tidak jadi dikeluarkan kandas ditengah jalan.

Lu le Lam seperti dapat menduda isi hati orang, hanja pendirian Duta Nomor 8 ini mempunjai keistimewaan yang luar biasa. Ia tidak menarik panjang perkara.

Lu Ie Lam mengurut jenggotnja, tiba2 ia teringat sesuatu kecurigaan ini segera dikemukakan:

"Lotee, kini baru aku rasakan bahwa kau ternjata mempunjai pendengaran yang sangat tajam sekali. Ternjata kaupun mengetahui bahwa pengemis sakit ini mengikuti perjalanan kita dan menjelip dibawah kereta."

Ie Lip Tiong tentu paham bahwa ia lupa menjimpan ilmu kepandaiannja yang hebat, karena disaat yang sama, dapat mengetahui ada orang yang menempel dikolong kereta mereka.

"Apa Lu tayhiap bersedia mengadakan pertaruhan tentang asal usul yang sebenarnja dari orang ini?" Ie Lip Tiong mengalihkan pembicaraan,

"Bila dugaanku salah, aku akan segera meletakkan jabatanku sebagai Duta Istimewa Berbaju Kuning Nomor Delapan dari Su-hay- tong-sin-beng." Berkata Lu Ie Lam dengan sungguh2. "Dia adalah orang pertama dari dua saudara Sa Si Tabib Sakit Sa Sun."

Ie Lip Tiong menganggukkan kepalanja. Kemudian ia mengalihkan pandangannja kearah Mo Jiak Pin.

"Mo piauwsu," ia memanggil. "Apa yang kau ketahui tentang ciri2 si Tabib Sakit Sa Sun?"

"Ia mempunjai tahi lalat besar dijanggut bawah, ditempat tahi lalatnja ini tumbuh tiga helai rambut panjang." jawab yang ditanja.

Ie Lip Tiong mengulurkan tangan dan menarik 'wajah' pengemis tua itu, maka 'wajah' tersebut copot segera, berikut rambutnja yang riap2 ari itu. Terbentang di hadapan mereka, suatu wajah laki2 setengah umur yang pucat pasi, pada janggut bawahnja terlihat tahi lalat besar, seperti apa yang dikatakan oleh Mo Jiak Pin. pada tahi lalat ini memang ada tumbuh tiga helai rambut panjang. Dia adalah si Tabib Sakit Sa Sun.

"Sukar dibajangkan," le Lip Tiong menghela napas panjang, dan memandang Lu Ie Lam. "Si Tabib Sakit Sa Sun bukan manusia sembarangan, achirnja ia harus menemukan ajalnja diujung pisau belatimu."

"Aku sama sekali tidak ada maksud membunuhnja."

"Betul. Tetapi ia telah terbukti mati. Bagaimana Lu tayhiap dapat pertanggung jawabkan ini kepada adiknja, si Hartawan Njali merah Sa Jin?"

"Kalian berdua telah menjaksikan bagaimana kematian Sa Sun tadi, bukan?" Lu Ie Lam memandang Ie Lip Tiong dan Mo Jiak Pin bergantian. "Terserah penilaian Sa Jin nanti, aku tidak terlalu pusingkan perkara ini."

Kemudian si Duta Nomor 8 dari Su-hay-tong-sim-beng menggotong jenazah Sa Sun, dipilihnja suatu tempat dan ia mulai menggali lubang.

Ie Lip Tiong membantu usaha mengubur jenazah Sa Sun, ia memberi suara bantuan:

"Bila siaotee mempunjai kesempatan bertemu muka dengan si Hartawan Njali Merah Sa Jin, siaotee bersedia memberikan keterangan kepadanja. Pendirian siaotee ialah, tetap berdiri dipihak Lu tayhiap."

"Terima kasih." Gesit sekali Lu Ie Lam telah menggali lubang dan mengebumikan si Tabib Sakit Sa Sun yang telah tidur untuk selama- lamanja ditanah sepi itu.

"Mari kita Ianjutkan perjalanan." Lu Ie Lam mengibas-ngibaskan tanah yang melekat dibajunja.

Mereka balik menuju kereta. Ie Lip Tiong membuka pintu dan masuk terlebih dahulu, gerakannja disusul oleh Lu Ie Lam. Dan yang terachir Mo Jiak Pin duduk ditempat kusir.

Tarr........

Cambuk pecut diajun dan bergelindinglah roda2 kereta itu.

Ie Lip Tiong dan Lu Ie Lam duduk berhadap-hadapan didalam kereta.

"Si Tabib Sakti Sa Sun bukanlah seorang penyelidik biasa tentunja ada orang yang mendalangi peristiwa ini." Ie Lip Tiong mengemukakan pendapatnja.

"Persoalan ini masih memusingkan kepalaku." Lu Ie Lam belum dapat memecahkan persoalan Ie Lip Tiong yang diduga sebagai pembunuh gelap 'Pemuda berkerudang hitam'. Kini ia dihadapi lagi dengan persoalan si Tabib Sakit Sa Sun,

"Mari kita mengadakan tukar pikiran untuk bersama-sama memecahkan persoalan ini." Ie Lip Tiong memberanikan diri. Sebagai salah seorang tokoh ternama, tentu ia kenal siapa Lu Ie Lam. Dengan alasan apa ia berani mengusik ketenangan Duta Nomor Delapan dari Su-hay-tong-sim-beng ?"

"Betul." Lu Ie Lam mempunjai pandangan dan penilaian yang sama. "Bagaimana pendapatmu tantang hal ini ?"

"Ia tahu di hadapan para Duta Istimewa dari Su-hay-tong-sim- beng tidak boleh main gila, dan toh masih berani ia mempertaruhkan njawanja. Bila tidak mempunjai maksud tujuan besar, bagaimana ia sudi menerima tugas berat yang sangat berbahaja ini? Tentu orang dibela-kang lajar itu menjanjikan sesuatu padanja."

"Apa yang kau artikan dengan 'Sesuatu' itu?" Lu le Lam menatap wajah tawanan tersebut tajam-.

"Hal ini belum dapat diketahui." Berkata Ie Lip Tiong. "Jang pasti adalah Sa Sun ingin mengetahui sesuatu. Maka ia berani menanggung resiko dengan mempertaruhkan njawa menempel dibawah kereta." "Apa yang ingin diketahui sebetulnja?"

"Siaotee ingin mengatakan sesuatu yang tidak sedap didengar." "Tidak, apa katakanlah."

"Kukira ia ingin mengetahui sesuatu 'rahasia gelap' tentang Lu tayhiap."

"Ha, ha....." Lu Ie Lam tertawa semakin lebar. "Aku tidak mempunjai 'rahasia gelap'. Tentunja 'rahasia gelap'mu yang ingin diketahui olehnja."

"Oooo. " Ie Lip Tiong tertawa.

"Bagaimana siaotee mempunjai rahasia gelap?

"Mengambil contoh langkah Su-hay-tong-sim-beng yang mengutus dua Duta Istimewa Berbaju Kuningnja menangkap dirimu, mereka mendakwa kaulah yang menggunakan tutup kerudung hitam melakukan pembunuhan2 gelap terhadap orang2 partay besar. Rahasia gelap tentang penjamaranmu menjadi 'pemuda misterius berkerudung hitam"

"Seumpama betul siaotee yang menjadi sasaran pengintaiannja, kini setelah dia tahu siaotee telah menjadi orang tawanan Su-hay- tong-sim-beng, dengan alasan apa Sa Sun masih mau mengikuti dengan cara seperti tadi ?"

"Kukira ia pernah dirugikan olehmu."

"Sungguh mengecewakan, karena Lu tayhiap masih tetap kukuh berpendapat bahwa siaoteelah yang menjadi 'pemuda misterius berkerudung hitam' itu" Ie Lip Tiong mengeluarkan keluhan napas panjang.

Lu Ie Lam menatap tawanannja sebentar dan bertanja:

"Aku ingin mengetahui, pernahkah kau menanam bibit permusuhan dengan seseorang?"

"Tidak!" Ie Lip Tiong menjawab tegas "Sampai dengan saat ini, hanja dendam kepada mereka yang telah membunuh ajah yang belum bisa hilang, tapi sama sekali belum pernah siaotee membunuh orang."

"Inilah yang tidak mudah dimengerti. Dengan maksud tujuan apa pemuda misterius berkerudung hitam itu melempar getah kepadamu?"

Ie Lip Tiong tidak dapat menjawab. Siapa gerangan kiranja pemuda misterius berkerudungi hitam itu? Mengapa harus melempar getah keatas dirinja ? Memikir semua pengalaman hidupnja, belum pernah ia menanam musuh, tentu tidak ada seorang jang dapat digunakan sebagai jawaban pemuda misterius berkerudung hitam itu.

Terbajang kembali perusahaan Boan-chio Piauw-kiok yang berada dibawah pimpinannja, setelah memecahkan banjak persoalan rumit, dan ajaib2. Dimata orang, Boan-chio Piaim-kiok adalah tempat pemecahan segala problem. Betapa besar sekalipun suatu perkara, dapat juga diselesaikan olehnja. Tidak ada sesuatu yang tidak dapat dipecahkan oleh Boan-chio Piauw-kiok. Mengapa tidak berhasil mengatasi kesulitan diri sendiri?

Ie Lip Tiong menguap, agaknja ia sudah terlalu letih.

"Banjak sekali persoalan dunia yang tidak dapat dimengerti." Achiriija ia memberikan jawaban yang seperti ini. "Lu tayhip tidak akan mienjangkal bukan?"

"Memang." Lu Ie Lam menjetujui pedapat ini. "Mengambil contoh dirimu, kukira lotee termasuk salah seorang yang tidak mudah dimengerti."

Mata Ie Lip Tiong terpentang lebar lagi.

"Didalam hal mana, apa Lu tayhiap menganggap siaotee sebagai seorang yang tidak mudah dimengerti ?" tanjanja.

"Sesudah ajahmu dibunuh orang, tidak ada tanda2 kau mempunjai maksud hendak menuntut balas Juga tidak mau segera tonjolkan diri atau meminta bantuan kepada Su-hay-tong-sim-beng. Terlebih2 pula tidak mengajukan pertanjaan kepada 5 ketua partay, dengan alasan apa mereka membunuh orang tuamu itu. Disinilah letak keistimewaanmu, dan menjadi seorang yang tidak mudah dimengerti."

ie Lip Tiong tertawa hambar.

"Siauwtee mengucapkan banjak2 terima kasih padamu." katanja. "Bila Lu tayhip tak bermaksud hendak mendakwa siaotee sebagai pemuda misterius berkerudung hitam itu."

"Tentu. "

"Partanjaan siaotee ialah, kepada siapa siaotee menjatuhkan tuntutan balas dendam itu?"

"Sebagai seorang anak yang bebakti, kau patut menuntut balas dendam terhadap 5 partay besar. Mereka tidak ada alasan untuk membikin pengaduan kepada Su-hay-tong-sim-beng. Sebagaimana mereka boleh menuntut minta ajahmu mati, aku juga wajib menuntut supaja semua mereka mati, supaja tidak perlu terjadi pembunuhan2 gelap. Semua orang kukira akan berdiri dipihakmu."

"Menurut hemat Lu tayhiap, apakah musuh siaotee ialah 5 ketua dari 5 golongan besar?"

"Jang jelas, mereka telah membunuh ajahmu, bukan?"

"Siaotee kira tujuan dan pandangan hidup siaotee tidak salah," Berkata Ie Lip Tiong. "Bila semua orang mempunjai pendapat dan pandangan seperti Lu tayhiap tadi, dunia selalu akan dilanda kekacauan dan kegegeran. Dunia persilatan penuh dengan pembunuhan2, maut tetap membajangi semua orang ?"

"Bagaimana pandangan dan tujuan hidupmu?"

"Didalam peristiwa yang terjadi atas diri ajah siaotee, seumpama betul ajah serakah dan ada maksud memiliki kitab Thian-tiok Sin- keng, sehingga harus membunuh Ngo-kiat Sin-mo Auw-yang Hui, dan kemudian ia mati terbunuh oleh 5 ketua partay, maka kesalahan itu terletak pada diri ajah siaotee sendiri. Siaotee juga tidak akan menuntut apa2 lagi." Lu Ie Lam memandang wajah Ie Lip Tiong dengan pandangan penuh keheranan. Lama sekali ia mencari sesuatu yang aneh pada wajah tersebut. Tetapi ia tidak berhasil menemukan keanehan apapun.

"Tetapi kau tentunja tidak percaja bahwa ajahmu mempunjai sifat tamak dan serakah, bukan ?" tanjanja. "Dan tentunja juga tidak percaja bahwa ajahmu membunuh Ngo-kiat Sin-mo Auw-yang Hui."

"Memang." Ie Lip Tiong menganggukkan kepala. "Orang yang membunuh Ngo-kiat Sinmo Auw-yang Hui tentunja adalah itu orang yang menjanjikan ajah siaotee untuk bertemu muka di Hauw-tauw- po, tempat yang tidak jauh dari Han-kong San-chung. Setelah membunuh Ngo-kiat Sin-mo Auw-yang Hui dan merebut kitab Thian-tiok Sin-kengnja, orang itu sengaja menjatuhkan tanda2 palsu sehingga kesalahan jatuh pada ajah siaotee. Karena kesalahan itulah, hingga dari pihak 5 ketua partay timbul salah kepahaman dan mengerojok dengan kesudahan terbunuhnja ajah siaotee. Maka, sebelum dapat mengetahui dengan jelas siapa orang jahat itu, siaotee tidak akan mengganggu 5 ketua partay tersebut."

Berulang kali Lu le Lam menganggukkan kepalanja, senjumnja semakin lebar, suatu tanda bahwa ia mempunjai pendapat yang sama dengan Ie Lip Tiong.

"Lote, aku Lu Ie Lam bersedia membantu usahamu untuk _ membebaskan diri didalam persidangan dimarkas Su-hay-tong-sim- beng nanti."

"Mengapa ?" tanjanja heran.

"Lotee adalah manusia ajaib kedua yang pernah kujumpai." "Siapakah 'Manusia ajaib' pertama yang Lu tayhiap maksudkan ?"

Lu Ie Lam menunjuk kearah tempat duduk kusir kereta, dimana piauwsu Boan-chio Piauw-kiok Mo Jiak Pin bercokol.

"Majikarnja..." Suara Lu Ie Lam mulai bersungguh-sungguh "pemimpin perusahaan Boan-chio Piauw-kiok yang bernama It-kiam- tin-bu-lim Wie Tauw itulah yang pernah kutemukan sebagai manusia ajaib pertama."

Ie Lip Tiong tertawa didalam hati.

"Betul," tukasnja dengan bersemangat, "siaotee pernah mendengar nama besar itu. Dia memang patut mendapat julukan Manusia ajaib pertama...Ha... ha.... ha. "

Kereta yang ditumpangi Lu Ie Lam dan Ie Lip Tiong seolah-olah turut tertawa, monggelindingnja roda2 kereta menimbulkan suara semakin berisik.

Kini kereta telah memasuki daerah Ciong-lam-san, disini tidak terjadi sesuatu apa. Lewat Ciong-lam-san adalah propinsi Ouw-pak. Langsung menuju ke Bu-tong-san dan arah tujuan kereta ialah Tenggara.

20 hari kemudian, kereta tetap berjalan dengan aman dan tiba dikota Bu-chiang, kota penting dipropinsi Ouw-pak.

Lu Ie Lam mengabulkan permintaan orang tawanannja untuk melakukan 'perjalanan gelap' maka setiap tiba disebuah kota, kereta tidak dihentikan sama sekali, Langsung lewat. Maka ketika berada dikota ini, biarpun hatinja ingin singgah untuk beristirahat, karena keramaian kota yang luar biasa itu, tapi berusaha menindas perasaan sendiri dan mengekang dirinja di-dalam kereta.

Kereta dengan pintu dan jendela tertutup itu meluncur terus melewati jalan2 dikota Bu-chiang yang ramai. Tiba2 Mo Jiak Pin yang mengemudikan kereta menarik les dan mengeluarkan jeritan tertahan.

"Eh    "

"Mo Piauw-su, ada apa?"

"Tidak... Hm... Hm... Warung2 arak disini luar biasa banjaknja. Liurku agaknja sudah tidak tertahan lagi," demikian jawab Mo Jiak Pin.

Liur Lu Ie Lam bertambah banjak, sebagai Duta Istimewa Berbaju Kuning dari Kesatuan para jago rimba persilatan, ia sering menjalankan tugas dikota kota besar, termasuk kota Bu-chiang.

"Rumah makan yang tersohor ialah rumah makan Liok-beng-cun disana... Ach. " tiba2 Lu Ie Lam berhenti bicara.

"Bagaimana ?" Mo Jiak Pin ditempat kusir mengajukan pertanjaan.

"Mo piauwsu, tekanlah perasaanmu itu." pinta Lu Ie Lam,

Mo Jiak Pin terpaksa bungkam. Piauwsu dari Boan-chio Piauw- kiok itu betul2 dapat menahan perasaanja.

Perut Lu Ie Lam mulai dirasakan lapar, maka iapun memandang Ie Lip Tiong dan barkata:

"Lotee, setelah melakukan perjalanan 20 hari dengan tidak tejadi sesuatu apa, dapatkah kau memberi pengecualian untuk istirahat dan makan minum dirumah makan?"

Ie Lip Tiong tertawa. Ia menganggukkan kepala.

"Baiklah." katanja. Lu tayhiap boleh memilih rumah penginapan, disana kita dapat memesan makanan dan minuman. Didalam kamar rumah penginapan tentunja lebih aman dari pada rumah makah terbuka."

Jawaban ini diluar dugaan Lu le Lam. la terjingkrak girang. "Haa....." Serunja "Terus terang aku sudah terkenang kepada

arak yang harum, ini pasti kugunakan baik2 kesempatan untuk

mencicipinja."

Si Pengejar Maut Mo Jiak Pin diberi tahu tentang keputusan tadi, dengan girang ia membedal keretanja dan berhenti disebuah rumah penginapan yang bernama Kui-Iay Ko-tan. Setelah menempatkan kereta, ia menghampiri palajan rumah penginapan itu yang membungkuk bungkuk girang mendapat langganan.

Lu Ie Lam dan le Lip Tiong turut masuk kedalam rumah penginapan itu. Orang yang kita sebut paling dulu itu berkata kepada sang pelajan:

"Ada kamar kelas satu yang besar?" "Ada.....Ada " Dan mengajak

ketiga tamunja keruang belakang dari rumah penginapan tersebut. Disebuah kamar yang besar, pelajan itu membuka pintu.

"Bagaimana dengan kamar ini?" Ia meminta pendapat tamunja.

Lu le Lam memeriksa sebentar dan dapat menjetujui tempat yang disediakan untuknja.

"Baik." katanja. "kita akan menginap disini. Tolong kau pesankan beberapa makanan dirumah makan Liok-beng-cun minta dibawa kemari, Jangan lupa dengan araknja untuk tiga orang."

Berulang kali pelajan rumah penginapan itu membungkukkan badan tanda mengerti. Tiba2 ia mendekati Lu Ie Lam, dengan wajah cengar cengir dan suara yang sangat perlahan berkata.

"Tentunja butuh hiburan ? Maukah memanggil beberapa orang untuk kawan kesepian?"

Lu Ie Lam menoleh kearah Ie Lip Tiong dan tertawa. "Aku tidak ingin menelantarkan anak orang." katanja.

Ie Lip Tiong tegera memanggil Mo Jiak Pin yang agak jauh dari mereka.

"Mo piauwsu, kudengar didalam perusahaan Boan-chio piauw- kiok kalian ada sejilid buku catatan yang memuat lengkap riwajat hidup para tokoh2 rimba persilatan. Adakah catatan tentang diri siaotee?"

"Ada." Mo Jiak Pin berdiri dipintu. "penilaian terhadap lotee ialah: Cerdik pandai, kepintarannja melebihi orang, menganggap dirinja sebagai pemuda yang paling romantis."

le Lip Tiong angkat pundak dan memanggil sipelajan, katanja. "Carikan tiga perempuan, harus yang cantik molek, yang kurang menarik jangan dibawa."

Pelajan rumah penginapan membungkukkan lagi badannja dalam2, cepat menjalankan tugas2nja; termasuk tugas istimewa yang terachir itu.

Lu Ie Lam, Mo Jiak Pin dan Ie Lip Tiong saling pandang, kemudian mereka tertawa berkakakan. Mereka menunggu dikamar itu.

Lu Ie Lam menanggalkan baju luar digantungan tembok kamar, kemudian memandang le Lip Tiong dan berkata.

"Mari kita mandi. Sudah dua puluh hari tidak merasakan gujuran air."

Ie Lip Tiong juga membuka baju luarnja, tetapi jawaban pemuda ini sungguh diluar dugaannja.

"Lu tayhiap boleh jalan lebih dahulu." katanja sabar. "Siaotee ingin membuang air besar di belakang.

"Aku yang rendahpun ingin pergi kebelakang." Sambung si Tangan Pengejar Maut Mo Jiak Pin. "Lu tayhiap boleh menunggu dikamar mandi."

Lu Ie Lam belum mengangkat kakinja. Tentu saja, ia takut orang menggunakan kesempatan itu untuk melarikan diri.

le Lip Tiong dapat menduga isi hati orang, kedua alisnja dikerutkan tanda tidak puas, kemudian ia memberi keterangan:

"Lu tayhiap, tidak perlu takut siaotee melarikan diri. Ketahuilah, bila siaotee ada maksud membebaskan diri sendiri, didalam waktu 20 hari itu, kesempatan lari lebih dari 100 kali. Legakanlah hatimu."

Si Tangan Pengejar Maut Mo Jiak Pin turut bicara:

"Apa yang dikatakan olehnja memang beralasan. Lu tayhiap boleh menjerahkan hal ini kedalam tanganku."

Lu Ie Lam dapat merasakan bahwa dalam menghadapi bsrkara Ie Lip Tiong ini agaknja kurang memuaskan. Dengan terpaksa ia meninggalkan mereka.

Setelah Lu Ie Lam jauh dari kamar, Ie Lip Tiong mendekati Mo Jiak Pin dan bertanja dengan suara yang sangat perlahan:

"Mo Suheng, apa yang telah kau saksikan tadi ?"

"Pada sebuah tikungan, aku melihat seseorang." Katanja bersungguh-sungguh. "Siapakah orang itu?"

Mo Jiak Pin mendekat kekuping sipemuda dan berkata dengan suara yang agak gemetar:

"Lu le Lam?" Ie Lip Tiong memandang wajah suheng itu. la kurang percaja kepada pendengarannja. Tetapi memang tidak salah. Didalam hal ini memang ada yang aneh.

"Kau tidak salah mata?" Untuk memastikan kecurigaannja, Ie Lip Tiong harus berhati-hati dan mengulang sekali lagi.

"Tidak mungkin." Mo Jiak Pin berkata dengan pasti. "Aku dapat melihat dengan jelas. Tidak perlu disangsikan lagi."

"Mungkinkah... Mungkinkah dia jang... " Wajah Ie Lip Tiong diliputi oleh rasa kebingungan. Belum pernah ada orang jang mengatakan Lu Ie Lam mempunjai saudara "Mungkinkah ia berani memalsukan dirinja?"

Cepat Mo Jiak Pin memberi putusan:

"Kita tidak dapat memberi kepastian pada hari ini. Jang penting ialah kau harus lebih berhati-hati. Setelah berada dimarkas besar Su-hay-tong-sim-beng, tentu dapat diketahui kebenarannja... Sekarang, hajo cepat kebelakang"

Dua orang meninggalkan kamar itu, setelah membuang air besar, bersama-sama pula menuju kekamar mandi.

Lu Ie Lam telah menceburkan dirinja kedalam bak mandi, kebetulan sedang menongolkan kepalanja. Melihat kedatangan dua orang itu, ia tertawa.

"Saudara Ie," katanja dengan wajah terang. "Kau ternjata seorang jujur."

Sambil membuka pakaiannja, Ie Lip Tiong memberikan jawabannja yang mengandung humor:

"Suatu hari, kukira kau akan dapat membuktikan kata2mu tadi itu."

Iapun menceburkan diri kebak mandi yang lain.

Lu Ie Lam tidak ingin perdebatan mulut. Maka iapun menjudahi sampai disitu saja.

Tak lama kemudian, Lu Ie Lam, Ie Lip Tiong dan Mo Jiak Pin kembali kekamar penginapan

diruang belakang. Disana sudah tersedia barang hidangan yang dipesan, beserta tiga gadis panggilan yang berpakaian warna warni.

Setelah pelajan rumah penginapan memperkenalkan nama2 dari tiga 'hiburan hidup' itu, ia meninggalkan tiga pasang tamunja.

Gambar pemandangan didalam kamar adalah pemandangan pesta makan yang disertai dengan pelajanan2 manis.

Ie Lip Tiong menjesuaikan diri dengan catatan tentang dirinja : Menganggap dirinja sebagai pemuda yang paling romantis, tidak henti2nja main tangan dan kaki ditubuh sitiga 'boneka hidup'. Tetapi gerakan2nja teratur rapi, romantisnja terbatas pada romantis biasa, la membuktikan bahwa romantis Ie Lip Tiong adalah romantis sopan yang tidak kotor.

Setelah mereka penuh menjejal perut masing2, didalam keadaan bau arak, tiga jago silat itu kembali ke tempat tidurnja.

Malam itu dilewatkan dengan aman......

Jarak dari Bu-ching kemarkas besar Su-hay-tong-sim-beng di Ngo-lauw-hong masih ada lima ratusan lie. Setelah kejadian adanja Lu le Lam lain yang disaksikan oleh Mo Jiak Pin dikota Bu-chiang, tidak terjadi peristiwa apa2 lagi.

Maka pada hari ke-29 sore, mereka mulai menginjak daerah pegunungan Lu-san. Daerah basis kekuatan Kesatuan Su-hay-tong- sim-beng.

Kota pertama yang mereka injak ialah kota Kho-leng-sie. Dan perjalanan kereta itu hanja sampai disini. Perjalanan berikutnja, karena harus mendaki gunung dan bukit2, orang harus menggunakan tandu atau joli.

Lu-san adalah daerah pegunungan yang sangat luas. Gunung demi gunung berlapis sehingga 9 susun. Sungai dan bukit ada banjak sekali disekitar lembah dan tebing curam. Ribuan tempat hiburan dan peniggalan dari kerajaan lama sukar dihitung. Beberapa diantaranja yang dapat kita sebut ialah Guha titisan air, Batu tangan dewa, Pagoda awan tinggi, Tebing bunuh diri, Lapangan Menjangan putih, lapangan mutiara, Istana naga sakti, Pelataran bambu kuning, Selat batu hijau, Telaga naga kuning, Gunung mata, raksaksa, Puncak panca delima, Lorong pisang. Keramat tempat Penjembah kasih-kasihan, Air panas trisaka, Sumur dewata, Puncak anglo, Puncak sapasang pedang, Guha para dewa, Telaga hitam, Lembah maut, Lembah Merpati, Pintu Neraka dan lain2 tempat ternama yang sukar dihitung, jumlahnja.

Kecuali tempat2 yang kita telah sebutkan diatas kelenteng, kuil dan vihara tersebar diseluruh pelosok. Disinilah terletak suatu daerah yang kaja raja.

Setiap tahun menjelang musim panas, para pelancong dari seluruh negeri berpusat ditempat tempat tadi.

Diwaktu sore hari, para pelancong yang berkunjung kedaerah gunung Lu-san dan selesai melakukan kunjungan2 keberbagai tempat, pada kembali kekota Kho-leng-sie.

Si Tangan Pengejar Maut Mo Jiak Pin meluncurkan keretanja kekota ini. Setelah tiba dipusat keramaian, ia memberi laporan:

"Lu tayhiap, kereta telah berada dipusat kota. Dan perjalanan berikutnja kukira tidak dapat diikuti dengan kereta berkuda ?"

"Betul." Lu Ie Lam memberikan jawabannja. "Pada ujung jalan ini ada sebuah perusahaan kereta, dia adalah kawan baikku. Kau boleh tujukan kereta ketempat itu. Dengan menitipkan keretamu disana, kau boleh turut mengambil uang diatas."

"Menaiki gunung Lu-san dengan berjalan kaki?" Ie Lip Tiong turut mengajukan pertanjaan. Didalam hal ini ia keberatan.

"Ha, ha..." Lu Ie Lam tertawa. "Tentunja lotee ingin naik joli?" "Betul." Ie Lip Tiong mengucapkan kata2 ini dengan sungguh2.

"Daerah pesiar banjak dikunjungi orang. Siapa berani jamin kalau

diantara mereka tidak ada mata2 sipemuda berkerudung hitam itu?" Lu Ie Lam hanja angkat pundak.

"Baiklah." Ia melulusi permintaan siorang tawanannja. "Didalam tugasku ini, aku Lu Ie Lam sudah menghamburkan tidak sedikit uang kas Su-hay-tong-sim-beng, sekalipun ditambah lagi dengan ongkos gotong dan sewa jolipun tidak menjadi soal."

Kereta aneh ini tiba diperusahaan kereta Kho-leng Kie-tiam. Lu Ie Lam menongolkan kepalanja memberi isjarat mata kepada seorang pegawai perusahaan itu, maka kereta langsung dituntun masuk kedalam. Setelah mengatur selesai, baru pegawai tadi menghadap Lu Ie Lam dengan laku yang sangat hormat berkata:

"Lu tayhiap sudah lama tidak berkunjung, adakah sesuatu yang harus hamba lakukan ?"

"Majikanmu ada?" Lu Ie Lam mengajukan pertanjaan.

"Ada." Pegawai perusahaan kereta itu cepat menjawab. "Biarlah hamba nanti laporkan!"

"Tidak usah." Lu Ie Lam mencegah. "Kita tidak ingin turut kereta menemukan orang. Tolong kau mencarikan tiga joli atau tandu untuk membawa orang naik gunung."

Orang tadi memberi kesanggupan dan lari keluar, tentunja mencari joli untuk Lu Ie Lam sekalian:

Mo Jiak Pin lompat turun, ia memandang Ie Lip Tiong, kemudian mengajukan pertanjaan kepada Lu Ie Lam.

"Lu tayhiap, perusahaan kereta ini tentunja salah satu dari cabang perusahaan Su-hay-tong-sim-beng, bukan ?"

Lu Ie Lam menganggukkan kepala.

"Setiap piauwsu dari Boan-chio Piauw-kiok memang tidak satupun yang tidak hebat" ia mengeluarkau pujian. "apa yang harus kukatakan lagi."

"Lu tayhiap terlalu memuji." Berkata Mo Jiak Pin merendah, "dugaanku itu hanja kebetulan saja."

Ie Lip Tiong segera turut bicara: "Menurut apa yang siauwtee ketahui, Lu tayhiap memandang tinggi kepada perusahaan Boan- ciiio Piauw-kiok. Mungkinkah penangkapan atas diri siauwtee juga berita bantuan perusahaan itu ?"

Hati Lu Ie Lam menjadi kaget.

"Tidak... Tidak..." Cepat ia menjangkal. "Aku berhasil menemukan kau dengan ilmu kepandaianku. Didalam hal ini tidak ada sangkut pautnja dengan perusahaan Boan-cio Piauw-kiok."

"Siauw-tee juga mengharapkan demikian." Berkata le Lip Tiong. "Sungguh suatu perbuatan yang bisa menjadi buah tertawaan rimba persilatan, apabila untuk menangkap satu orang saja seorang Duta Istimewa Berbaju Kuning dari Kesatuan Gabungan Su-hay-tong-sim- beng harus meminta bantuan tenaga suatu perusahaan piauwkiok."

Lu Ie Lam tertawa bergelak gelak.

"Ha, ha..." Ia berusaha menindas gelora hatinja. "Beruntung aku Lu Ie Lam tidak pernah meminta bantuan orang."

Kemudian memandang Mo Jiak Pin dan bertanja: "Mo piauwsu, betulkan katakku tadi ?"

"Betul." Mo Jiak Pin harus membawakan peranan sandiwara" Perusahaan kami masih belum mempunjai kesempatan untuk menarik keuntungan uang dari Lu-tayhiap." "Ooo....." Ie Lip Tiong berdehem. "Hari itu, kudengar orang tua didalam perusahaan Boan-chio Piauw-kiok mengatakan Lu tayhiap berhutang 5.000 tail perak. Bagaimana asal mula hutang tersebut? "

"Waktu itu Lu tayhiap berada didalam keadaan terjepit, maka meminjam kepada perusahaan kami." Cepat Mo Jiak Pin memberikan djawaban.

Mereka menghentikan percakapan karena tiga joli yang mereka pesan telah datang Atas petunjuk pelajan perusahaan kereta itu, tiga joli digotong masuk ketempat kereta berhenti.

Joli itu bewarna merah, bentuknja kecil dan mungil- Setiap joli digotong oleh dua laki2 berbadan tegap dan besar. Mereka membuka kain penutup joli menjilahkan Lu Ie Lam, Ie Lip Tiong dan Mo Jiak Pin masuk kedalam masing2 jolinja.

Tiga "kereta gotong" segera diberangkatkan. Joli yang terdepan ialah Mo Jiak Pin. Ie Lip Tiong ditengah dan Lu Ie Lam menjaga dibelakang mereka.

Kini mereka melakukan perjalanan mendaki gunung, bagi para penggotong joli yang sudah biasa melakukan perjalanan itu, mereka diapit mempertahankan keseimbangan orang2 yang mereka gotong sehingga tidak merasakan sesuatu yang tidak enak, joli bertahan dengan tenang.

Melakukan perjalanan "diatas gunung dengan menjaksikan pemandangan alam adalah suatu hal yang sangat menjenangkan, dari tempat terlihat dataran rendah yang sangat luas, pemandangan lainnja membuat suatu kontras yang istimewa.

Puncak Ngo-lauw-yen menjulang tinggi, dengan warna yang kebiru biruan memecah pemandangan latar belakang yang berwarna merah, ciri2 senja hari yang paling khas.

Daun2 dan pohon2 hijau menuiup pemandangan mata, kadang2 mereka harus melakukan perjalanan berliku-liku yang menurun, kemudian naik tinggi keatas. Samar2 terdengar suara air terjun yang bergemuruh, bagaikan pasukan kuda dimedan perang yang ingin mengadakan penjerbuan, suara ini hebat sekali.

Ie Lip Tiong adalah putra tunggal ketua partay Oey-san-pay, daerah Lu-san sudah tidak terlalu asing baginja. Ia memeramkan mata dan dapat membajangkan bagaimana dikala partaynja jaya dahulu. Tidak disangka, ia harus kembali naik gunung Lu-san sebagai seorang tawanan.

Ia memeramkan kedua matanja. Msnggunakan pendengaran kupingpun sudah cukup untuk merasakan keadaan sekelilingnja.

Apa yang harus dilakukan dimarkas besar Su-hay-tong-sim-beng? Disini ada 12 Duta Istimewa Berbaju Kuning yang mempunjai keistimewaan luar biasa, disini ada dua golongan dan tiga perkumpulan yang tidak mempunjai kesan baik tehadap Oey-san- pay. Terlebih 9 partay yang sangat memusuhinja. Bila mereka nanti memutuskan bahwa dia sebagai si 'Pemudi misterius berkerudung hitam' itu dan menjatuhkan hukuman mati. Dapatkah meloloskan diri dari sekian banjak tokoh kuat kelas satu itu?

Tiga joli itu berjalan terus, lewat daerah Hud-chio-yen dan mulai menuju ke Pek-liok Seng-tay. Ie Lip Tiong merasakan gerakan jolinja terhenti. Tiba2 dari mulut dua orang penggotong joli terdengar suara membentak:

"Hei, taysuhu, coba kau minggir."

Hati Ie Lip Tiong tergerak, ia menjingkap sedikit kain penutup dan melihat seorang hwesio beralis putih menghadang ditengahi perjalanan. Dengan merangkapkan kedua tangannja, hwesio itu diam tidak bergerak.

"Hei, apa maksudmu menghadang orang?" Dua penggotong joli itu raengajukan pertanjaan lagi.

Hwesio beralis putih itu membuka mulutnja : "Kelenteng kami mengharapkan persenan dari tiga tuan yang berada didalam joli."

"Kurang ajar " Tukang gotong joli marah. "Kau memaksa orang memberikan hadiah persenan ?" Kesabaran hwesio alis putih ini sungguh luar biasa. Ia tidak marah. Tetapi tidak mengadakan perdebatan. Tetap menghadang jalan maju orang.

Dua tukang gotong harus menjelesaikan tugas mereka dengan rjepat, setelah itu, mereka dapat menerima hadiah dan kembali ketempat masing2. Kini mereka diganggu, tentu sangat marah sekali.

Joli yang terachir adalah Lu Ie Lam, Duta Nomor Delapan ini lalu membuka suara :

"Pek-khong Tay-su, lupakah kepadaku ?"

Hwesio alis putih itu ternjata bernama Pek-khong Tay-su, ia memandang ketempat joli ketiga dan segera mengenali Lu Ie Lam.

"Aaaaa..." Hal ini sungguh kerada diluar dugaannja. "Ternjata Lu tayhiap sudah kembali. Maafkan loceng yang tidak tahu diri."

Lu le Lam tertawa.

"Apa Su-hay-tong-sim-beng masih mengadakan rapatnja?" Ia mengajukan pertanjaan.

"Masih." Pek-khong Tay-su memberikan jawaban hormat. "Loceng menerima berita yang mengatakan ada tiga joli memasuki daerah kita.

Maka untuk mengetahui keadaan, loceng mengambil langkah kurang ajar tadi. Harap Lu tayhiap tidak menaruh didalam hati."

"Bertemu denganmu memang kebetulan." Berkata Lu Ie Lam. "Malam ini kita ingin menetap dikelenteng Tay-lim-san-sie."

Kelenteng Tay-lim-san-sie adalah kelenteng yang berada dibawah pengawasannja Pek-khong Tay-su itu.

Maka hwesio beralis putih mengajak tiga tamunja kembali ketempat dimana ia menetap.

Ie Lip Tiong dapat melihat betapa tinggi ilmu kepandaian Pek- khong Tay-su, sedangkan hwesio ini hanja merupakan salah satu dari anak buah Su-hay-tong-sim-beng. Entah bagaimana ia harus menghadapi kesatuan gabungan para jago dari rimba persilatan itu?

Malam itu, Lu Ie Lam, Ie Lip Tiong daa Mo Jiak Pin istirahat dikelenteng Tay-lim-san-sie.

RAPAT BESAR SU HAY TONG SIM BENG

PADA hari berikutnja, Lu Ie Lam, Ie Lip Tiong dan Mo Jiak Pin meninggalkan kelenteng Tay-lim-sau-sie dan meneruskan perjalanannja.

Usungan tandu itu melewati pagoda Awan Tinggi fhian-tie-tak, lalu menikung kearah lapangan mutiara Bun-cu-tay, dan achirnja tiba dibawah puncak panca delima Ngo-lauw-hong;

Puncak panca delima Ngo-lauw-hong adalah nama kesatuan dari

5 buah puncak gunung yang sambung menjambung. Penduduk disekitar daerah Lu-san sering berkunjung kepuncak Ngo-Iauw-hong untuk menjaksikan seluruh pemandangan pegunungan Lu-san. Sebenarnja, dari puncak Ngo-lauw-hong tidak dapat memandang seluruh pemandangan daerah Lu-san. Masih ada beberapa tempat yang letaknja lebih tinggi daripada puncak Ngo-lauw-hong. Hanja letak yang datar dan banjak pepohonan, orang tidak dapat menjaksikan pemandangan seluruh gunung Lu-san seperti apa yang dapat disaksikan dari puncak Ngo lauw hong.

Semua pelancong pasti berkunjung kepuncak Ngo-lauw-hong, tempat yang menjadi tujuan utama.

Su-hay-tong-sim-beng yang berhasil mempertahankan golongan2 Hay-yang-pang, Kay-pang, Ngo-tong-kauw, Pek-ie-kauw, Hek-ie- kauw, Siauw lim-pay, Bu-tong-pay, Hoa-san-pay, Kun-lun-pay, Khong-tong-pay, Tiang-pek-pay, Ceng-shia pay, Oey-san-pay dan Thay-khek-pay memilih puncak ketiga dari Ngo-lauw-hong itu sebagai markas besar mereka.

Kini Lu Ie Lam bertiga telah berada dibawah puncak markas besar kesatuan gabungan Su-hay-tong-sim-beng. Joli atau tandu tidak dapat digunakan mendaki puncak Ngo-lauw- hong. Maka Lu Ie Lam memberi persen kepada para tukang gotong itu dan menjuruh mereka kembali.

"Laotee," berkata Lu Ie Lam sambil memandang Ie Lip Tiong. "Pernahkah kau berkunjung kepuncak Ngo-lauw-hong?"

Ie Lip Tiong menggelengkan kepala. mendaki puncak Ngo-

"Belum." jawabnja, "meski sudah beberapa kali berkunjung kedaerah Lu-san, tetapi tidak berani siaotee naik keatas puncak Ngo-lauw-hong. Markas besar Su-hay-tong-sim-beng mana boleh dikunjungi sembarang orang?"

"Siapa kata tidak boleh dikunjungi sembarang orang?" bertanja Lu Ie Lam, "setiap orang boleh berkunjung untuk manjaksikan keindahan daerah Lu-san."

"Lupakah kau bahwa partay kami telah diasingkan dari Su-hay- tong-sim-beng?" Ie Lip Tiong memberi keterengan.

"Oooo Lu le Lam sadar bahwa partay Oey-san-pay telah diusir keluar dari kesatuan gabungan itu.

Lu Ie Lam melompat dan menggunakan ilmu meringankan tubuhnja yang tinggi itu berjalan diatas jalan2 kecil yang penuh dengan kabut.

Ie Lip Tiong dan Mo Jiak Pin mengikuti dibelakang dirinja. Setengah jam kemudian, mereka telah berada dipuncak gunung

Ngo-lauw-hong.

Pemandangan pertama yang terlihat diatas puncak ialah kebun besar yang teratur rapi, ditengah-tengah kebun adalah jalan orang yang terbuat dari pada batu putih. Dikedua belah dari jalan itu ditanami rumput2 yang hijau beberapa bangunan yang disediakan untuk istirahat menghias kebun besar itu. Gunung, air mancur dan empang tersebar dibeberapa tempat, siapa yang memandang tempat ini segera dapat merasakan ketenangan dunia. Melewati kebun besar tadi, terlihat bangunan tinggi berbentuk lingkaran, bahan2 bangunan terdiri dari pada batu. Bangunan tersusun rapi menjadi tiga bagian, atas tengah dan bawah. Diempat penjuru dari bangunan ini ada pilar batu yang menjulang tinggi, pintu masuk adalah berarah dari jalan dikebun besar tadi, dua ekor singa batu bertengger dikedna belah pintu masuk itu. Menambah angker pemandangan.

Ie Lip Tiong melangkahkan kakinja dengan berbagai pikiran, disaksikannja bangunan megah dihadapannja, mulutnja mengeluarkan pujian :

"Hebat, markas besar Su-hay-tong-sim-beng memang hebat.

Berapa banjak orangkah yang dapat ditampung ditempat ini ?" Lu Ie Lam memberi keterangan :

"Inilah tempat persidangan Su-hay-tong-sim-beng, dengan isi

200 meja dan 1.600 bangku duduk untuk para wakil dari semua golongan dan partay yang datang berkunjung. Kecuali itu, kami juga menjediakan ruang istirahat dan tempat2 untuk bermalam. Cukup untuk menampung tamu yang berjumlah tiga ribuan orang."

"Tiga ribuan?" bertanja Ie Lip Tiong "Apakah aku akan disidangkan dihadapan sekian banjak orang itu ?"

Lu le Lam menggeleng-gelengkan kepala.

"Tentu tidak." jawabnja tertawa. "Untuk hari2 biasa. Orang2 yang mengikuti sidang hanja tiga sampai lima ratusan. Bila menghadapi perkara besar, paling banjakpun hanja seribu lebih"

Mo Jiak Pin turut bicara:

"Beberapa tahun yang lalu, kamipun pernah mengikuti sidang Su- hay-tong-sim-beng. Waktu itu sedang mengurus perkara Hek-ie- kauw yang menjerang dan menguasai daerah Hay-yang-pang. Para wakil dari kedua belah pihak ngotot mempertahankan pendirian masing2, sehingga hampir terjadi penumpahan darah."

"Untuk menghindari terjadinja bentrokan senjata, Su-hay-tong- tong-sim-beng mengeluarkan peraturan yang melarang setiap peserta sidang menggunakan kekerasan." demikian Lu Ie Lam memberi sedikit keterangan, "peraturan ini sangat keras, siapa yang berani melanggar akan dikeluarkan, termasuk partay atau golongan dari sipelanggar undang2 itu. Maka setelah terjadi persengketaan diantara Hck-ie-kauw dan Hay-yang-pang, tidak ada orang yang berani main keras lagi."

Mereka bertiga bicara dan mulai masuk kedalam ruang persidangan Su-hay-tong-sim-beng.

Dari pintu tempat persidangan, keluar dua orang berbaju kuning. Jang disebelah kiri adalah seorang tua dengan badan lebar wajahnja hitam seperti pantat kwali, kedua alis, djenggot dan kumisnja tebal berdiri, wajah ini seperti tokoh wajang yang sangat galak.

Berbeda pengait kawannja, orang yang berada disebelah Kanan mempunjai wajah keren dan cakap, umurnja 4O-an, tapi masih gagah, dilihat sepintas lalu, sangat agung dan mirip dewa didalam cerita.

Dua orang itu cepat menjongsong kedatangan Lu Ie Lam.

Mudah diduga, dua orang berbaju kuning itupun termasuk 12 Duta Istimewa Berbaju Kuning dari kesatuan Su-hay-tong-sim-beng.

"Lu taisu, kau telah kembali ?" demikian dua orang itu berkala berbareng.

"Terima kasih." Berkata Lu Ie Lam. "Acara apa yang sedang diperdebatkan?"

"Kemaren sedang menjidangkan permintaan Ngo-tok-kauw yang ingin menjatukan diri ke-dalam Su-hay-tong-sim-beng. Setelah menerima berita tentang kedatanganmu dengan orang tangkapan, setelah mendapat persetujuan para wakil dari semua partay dan golongan, perkara permulaan masuknja Ngo-tok-kauw kedalam kesatuan gabungan kita ditangguhkan dan segera mengajukan Ie Lip Tiong kedalam sidang."

Lu Ie Lam tertawa, ia membalikkan kepala dan berpaling kcarah Ie Lip Tiong. Kepada orang tawanannja itu ia berkata:

"Ie lotee, mari kuperkenalkan kepada mereka," Ditunjuk siwajah hitam seperti pantat kuali itu berkata:

"Inilah Duta Nomor 4 dari kesatuan gabungan kami, si Hakim CanCeng Lun, Can tayhiap."

Lalu menunjuk kepada orang satunja lagi:

"Inilah Duta Nomor 6 dari barisan Duta Istimewa Berbaju Kuning, si Dewa Pedang Kayu Koan Su Yang Koan tayhiap."

-oo0dw0oo-