-->

Pembunuh Gelap Jilid 01

Jilid 01

MUSIM SEMI dikota Tiang-an. Kota yang pernah dijadikan ibu kota beberapa kerajaan dijaman dahulu kala, dari jaman kerajaan mulai berobah menjadi pusat kota perdagangan.

Mudah diduga, betapa ramai kota Tiang-an ini. Gedung2 dan bangunan2 nongkrong dipusat keramaian kota. Bekas- keraton Sek- kong-tian, kupel Hoa-auw-lauw, istana Tay-beng-kiong, gedung Leng-yen-kok, kuil Po-keng-sie, kelenteng Im-siong-koan, biara Pat- sian-am, pagoda Tay-ya-tak dan telaga Ciok-kang-tie tuvut menghiasi kota Tiang-an yang indah itu.

Bila para pelancong berkunjung kekota Tiang-an, pasti mereka berziarah pada tempat2 yang telah disebutkan diatas. Disanalah mereka dapat menyaksikan sesuatu yang tidak peruah mereka lihat pada waktu2 sebelumnya.

Pikiran kita segera terbayang kepada aneka macam ragam perubahan dari segala kejadian2, Banyak keanehan2 dan keajaiban2 yang menyisihkan kesepian kota. Perkumpulan2 dan gerombolan- gerombolan dari seribu satu aliran juga bersarang di kota Tiang-an.

Kadangkala ada juga, penduduk kota Tiang-an menjadi terkejut menyaksikan sesuatu peristiwa yang sangat ajaib sekali.

Tetapi segala macam keanehan dan keajaiban itu setelah muncul, seperti gumpalan awan yang lewat diangkasa bebas, sesudah menggemparkan seluruh isi kota, tidak lama kemudian pun sirap kembali, menguap bagai asap lepas dikeramaian kota.

Kejanggalan yang telah berulang kali terjadi tentu tidak akan dianggap aneh lagi. Keajaiban yang muncul lebih dari satu kali, tentu tidak lagi dianggap ajaib. Penduduk kota Tiang-an telak biasa menghadapi segala macam keanehan dan keajaiban.

Didalam hal ini hanya terjadi satu pengecualian. Keanehan keajaiban yang masih ada itu bersarang didalam Boan-chio Piauw- kiok, yang berkedudukan tidak jauh dari tempat Hoa-auw-lauw.

Adapun Boan-chio Piauw-kiok itu, dari nama-nya jelas adalah sebuah perusahaan pengangkutan. Anehnya, 'Perusahaan pengangkutan' ini belum pernah mengangkut barang. Pada tembok Boan-chio Piauw-kiok terpancang papan pemberitahuan yang menjelaskan tentang keanehan dari perusahaannya.

Demikianlah kira2 bunyi tulisan2nya:

1. Boan-chio Piauw-kiok bukan perusahaan pengangkutan biasa, tidak menerima barang2 antaranya ( termasuk emas, perak atau barang permata ) untuk dikirim atau diantar ke lain tempat.

2. Boan-chio Piauw-kiok khusus mengurus perkara yang aneh% yang tak dapat diselesaikan sendiri. Seperti misalnya mencari anak hilang, barang2 yang hilang tercuri, mencari bukti2 yang sangat sulit ditemukan dan lain dan sebagainya yang teramat sulit.

3. Boan-chio Piauw-kiok menjaga kepercayaan para langganan sampai tugas yang dipercayakan kepadanya mendapat sukses dan berjanji akan menyimpan segala rahasia2 para langganan agar tidak diketahui oleh pihak ketiga.

Dengan peraturan2 tadi dibubuhi tanda tangan dari seorang yang bernama It kiam-tin-bu-lim Wie Tauw, selaku ketua pemimpin perusahaan pengangkutan Boan-chio Piauw-kiok.

Wie Tauw ini sungguh berani. Dengan menyebut diri sebagai It- kiam-tin-bu-lim atau Pedang penakluk rimba persilatan, terang- terang sangat tidak memandang mata kepada semua tokoh-tokoh silat lain didalam dunia.

Dan yang lebih aneh lagi ialah, belum pernah ada orang yang berani mengganggu gugat atau menurunkan papan nama bertulisan It-kiam-tin-bu-lim tersebut!

Sewaktu Boan-chio piauw-kiok meresmikan pembukaannya dan memancangkan papan nama aneh itu, tidak ada orang yang merasa tertarik. Keanehan tadi dianggap salah satu dari keanehan- keanehan yang sering terjadi di dalam kota Tiang-an.

Beruntun sehingga dua bulan, tak ada satu langganan pun yang bersedia menyerahkan kesulitan mereka kepada Boan-chio Piauw- kiok. Tetapi, selewatnya dua bulan itu, setelah pemimpin Boan-chio Piauw-kiok Wie Tauw memecahkan tiga peristiwa besar dengan hasil gemilang, penduduk kota Tiang-an baru sadar betapa hebat adanya perusahaan pengangkutan aneh itu.

Seluruh isi kota Tiang-an menjadi gempar !

Keanehan pertama yang dipecahkan oleh It-kiam-tin-bu-lim Wie Tauw ialah, soal pencurian. Perdana menteri telah kehilangan tanda kebesaran Cit-cay-hiang-giok-hu yang harus dibawa setiap ia menghadap raja. Kehilangan Cit-tiay-hiang-giok-hu berarti akan segera kehilangan kedudukan juga mungkin mendapat hukuman penggal kepala.

Karena itulah sang perdana menteri sudah segera mengerahkan semua orang2nya untuk mencari kembali barang tersebut.

Setelah tidak hasil, baru ia teringat akan Boan-chio Piauw-kiok yang belum lama dibuka. Apa boleh buat, ia meminta bantuan perusahaan pengangkutan aneh tersebut. Eh, betul saja. Hanya dalam waktu 3 hari saja, It-kiam-tin-bu-lim Wie Tauw berhasil membekuk sipencuri tanda kebesaran, berikut tanda kebesaran yang diminta, telah menyerahkan kepada sang perdana menteri.

Keanehan kedua, soal mencari seseorang yang lenyap. Orang itu adalah laki2 yang sudah menghilang selama 19 tahun dan tidak berhasil ditemukan. Sebelum ia   hilang, ia tinggal diluar kota, setiap hari kerjanya memikul kayu untuk dijual didalam kota. Pada 19 tahun yang lalu, ia meninggalkan rumah dan dinyatakan hilang. Yang aneh ialah, ia tidak meninggalkan anak dan isterinya begitu saja, setiap bulan pastil mengirim uang untuk    mereka. Maka si isteri yang menduga bahwa sang suami belum mati, meminta bantuan khalayak ramai untuk mencari suaminya tersebut. Hampir seluruh isi kota telah dicari, tidak berhasil juga mereka menemukannya.

Mendadak tersiar kabar Boan chio Piauw-kiok, yang berhasil menemukan tanda kebesaran Cit-cay-hiang-giok-hu. Dalam keadaan putus harapan, isteri laki2 itu meminta bantuan It-kiam-tin-bu-lim Wie Tauw. Sudah barang tentu ia tidak dapat membayar mahal, tetapi It-kiam-tin-bu-lim Wie Tauw bersedia untuk mengungkap perkara aneh ini.

Seperti keajaiban yang sebelumnya, hanya memakan waktu dua hari, salah seorang piauwsu dari Boan-chio Piauw-kiok berhasil menemukan laki2 yang telah lenyap 19 tahun tersebut dikuil Po- keng-sie, Ternyata laki2 penjual kayu itu telah jemu dengan penghidupannya karena pada pikirannya, terbayang sesuatu yang aneh. Telah diperhatikan olehnya bahwa setiap pengemis di-kota Tiang-an, yang hidupnya lumayan, tiada se-orangpun dari antara mereka yang kurus. Dari sini sudah dapat dibayangkan bahwa penghasilan pengemis kota Tiang-an tentu lumayan, lebih dari setiap hari memanggul kayu. Maka iapun meninggalkan pekerjaannya semula, dengan mengubah dirinya sebagai seorang bungkuk, ia mulai melakukan tugasnya   sebagai pengemis. Dan betul saja, apa yang didapat dari hasil minta2 ternyata beberapa kali lipat lebih banyak dari hasil penjualan kayu. Karena itu, ia juga jadi malu menemukan anak isterinya, setiap hari kerjanya mengemis dan dengan hasil yang cukup baik ini ia mengirim uang kepada mereka. Hidup secara demikian telah ditempuh olehnya sampai 19 tahun. Bila saja tak ada Boan-chio Piauw-kiok yang membongkar rahasia, mungkin ia akan melakukan pekerjaan mengemis itu sampai mati.

Keanehan ketiga iyang menjadi kebanggaan Boan-chio Piauw- kiok ialah soal penculikan. Seorang hartawan dari kota Tiang-an yang bernama Thung Goan Gwa hanya mempunyai seorang putera, suatu hari ketika mereka sedang pergi pesiar, putera tunggal Thung Goan Gwa itu dilarikan orang, para penculik menulis surai kepada Thung Goan Gwa dengan ancaman mati bagi anaknya bila uang sebanyak 50.000 tail perak tidak terpenuhi untuk mereka. Sebagai seorang yang sangat kikir dan pelit, Thung Goan Gwa merasa sayang mengeluarkan uang tersebut. Ia pergi pada It kiam tin bu lim Wie Tauw dan meminta bantuannya untuk menolong anaknya. Menggunakan kesempatan   itu, Wie Tauw meminta uang sebanyak

5.000 tail perak sebagai upah   mencari putera sihartawan yang terculik. Dan sihartawan setuju. Hanya mengutus seorang piauwsu, Boan-chio Piauw-kiok berhasil mengalahkan para penculik dan mengembalikanj anak yang diculik itu kepada ayahnya.

Sebenarnya, tiga cerita dari keanehan- tadi tidak satupun yang berbuntut panjang. Dan nama Boan chio Piauw kiok membumbung cepat. Didalam melakukan tugas2nya itu, Boan chio Piauw kiok telah menunjukkan ketangkasannya, kepintaran dan keberaniannya. Didalam hal ini Boan chio Piauw kiok telah membuktikan tiga keakhliannya. Kesatu ialah mengetahui jelas setiap tempat sembunyi dan gerakan- gerombolan bandit didalam kota Tiang-an. Kedua, menandakan betapa tajam daya pikiran para Piauwsu Boan chio Piauw kiok itu. Dan ketiga menonjolkan kekuatan mereka yang dapat menundukkan bandit2 dikota Tiang an.

Bila menghadapi peristiwa pertama dan kedua It kiam tin bu lim Wie Tauw turut serta mengadakan penyelidikan, pada perkara ketiga ia hanya menyuruh seorang piauwsu menyelesaikan perkara itu dengan baik. Dan toch masih berhasil bagus. Dengan demikian, nama Boan chio Piauw kiok semakin kesohor.

Nama It-kiam-tin-bu-lim Wie Tauw juga menggemparkan kota Tiang-an. Tersebar luas diseluruh rimba persilatan.

Sajak waktu ini, banyak rahasia2 aneh2 yang telah dibongkar oleh Boan-chio Piauw-kiok sampai tidak terhitung jumlahnya. Belum pernah mereka gagal.

Boan-chio Piauw-kiok telah mempunyai langganan yang berjumlah ribuan. Nama Boan-chio Piauw-kiok semakin harum.

Suatu waktu, dikala senja mengarungi kota Tiang-an. Dipintu Boan-chio Piauw-kiok ada berdiri seorang laki2 mengenakan pakaian biru, umurnya kurang lebih 40-an, alisnya tebal dan miring keatas, sinar matanya bening bercahaya. Ia sedang memegang kipas yang terbuat dari gading mahal. Ia terhenti beberapa saat didepan pintu. Memang bukan tujuannya berkunjung ke Boan-chio Piauw-kiok, tetapi ia telah berada disini, karena tertarik oleh cerita2 yang sering didengar tentang Piauw-kiok itu. Ia terhenti sejenak dan memperhatikan papan pengumuman yang sangat ganjil dari perusaan pengangkutan itu.

Selesai membaca peraturan2 Boan-chio Piauw-kiok, dari hidungnya terdengar suara dengusan yang tidak memandang mata. Kini langkahnya menuju kepintu.

Melihat ada langganan datang, pegawai Boan-chio Piauw-kiok menyambut dengan laku yang sangat hormat.

„Tuan datang untuk mengurus sesuatu?" Pegawai itu mengajukan pertanyaan sebagaimana biasa bila menghadapi para tamu.

„Betul." sahut laki2 tersebut. „Aku ingin bertemu muka dengan It-kiam-tin-bu-lim Wie Tauw."

„Silahkan masuk..... Silahkan masuk."

Berkata si pegawai hormat, „biarlah hamba laporkan dulu kedatangan tuan."

Diajaknya sang tamu keruang tamu yang bersih, setelah menyuguhkan teh wangi, pegawai tadi masuk untuk memberi tahukan tentang kedatangan langganan kepada pemimpinnya.

Laki2 itu menghirup sedikit teh yang disuguhkan kepadanya.

Matanya memeriksa seluruh isi ruang tamu tadi.

Seperti ruang tamu perusahaan pengangkutan lainnya, tidak ada keanehan yang terlihat. Beberapa surat pujian terpancang ditembok. Diantaranya ialah surat penghargaan dari perdana menteri Ang Siang Kok yang pernah kehilangan tanda kebesarannya itu.

TOKOH LUAR BIASA.

Itu adalah tulisan tangan perdana mentri Ang Siang Kok yang asli.

Mata laki2 tersebut terpaku melihat deretan kata2 yang berbunyi "Tokoh luar biasa' tersebut. Ia tersenyum.

„Tokoh luar biasa?" Gumamnya perlahan. „Tokoh luar biasa It- kiam-tin-bu-lim Wie Tauw?. . . . Ng . . . . Memang agak aneh dan luar biasa "

Tak lama kemudian pegawai tadi sudah balik kembali dihadapan laki2 tersebut.

„Tuan telah dipersilabkan Cong-piauw-tauw masuk kedaiam." Demikian ia berkata.

Laki2 itu meletakkan cangkir mengikuti sipegawai masuk keruang dalam.

Disuatu kamar yang lebih kecil ukurannya dari ruang tamu didepan, ada berduduk dua orang. Satu adalah orang tua yang berumur hampir 6O, Berpakaian baju panjang dua berjenggot panjang. Badannya agak kurus, tetapi matanya bercahaya terang, menandakan bahwa orang ini pandai ilmu silat dan ilmu surat. Dan seorang lagi ialah laki2 setengah umur dengan wajah putih, cakap, alisnya seperti terpisah, bibirnya selalu tersungging senyuman. Setiap orang yang menyaksikan wajah ini pasti merasa tertarik.

Melihat kedatangan sang tamu, laki2 berwajah putih tadi bangkit dari tempat dudukuja. Dia adalah pemimpin dari perusahaan pengangkutan Boan-chio Piauw-kiok, It-kiam-tin-bu-lim Wie Tauw sendiri.

„Tuan tentunya yang berjulukan It-kiam-tin-bu-lim Wie Tauw itu?" Sang tamu lebih dahulu menegur.

Wie Tauw menganggukkan kepala.

„Betul." ia memberi jawaban singkat. „Silahkan duduk."

Laki2 berbaju biru duduk di tempat yang telah disediakan untuknya. Seorang pegawai Boan-chio Piauw-kiok menyuguhkan teh lagi.

Memperhatikan sang tetamu beberapa saat, It-kiam-tin-bu-lim Wie Tauw mulai mengajukan pertanyaan.

„Bagaimanakah boleh kami sebut nama tuan yang mulia?" „Oh Giok." jawab laki2 berpakaian warna biru itu.

„Tempat kelahiran?" tanya pula It-kiam-tin-bu-lim Wie Tauw masih menatap tajam.

„Kota Kay-hong dipropinsi Ho-lam."

It-kiam-tin-bu-lim Wie Tauw tertawa. Ia menoleh dan memandang sang penasehat, siorarg tua tadi. Orang tua berjenggot panjang itu menggoyangkan kepala.

Wie Tauw menurunkan pandangan matanya ke tanah, se-olah2 sedang memikir sesuatu. Tak lama kemudian, ia tersenyum. Mendongakkan kembali kepalanya dau langsung menatap laki-baju biru yang mengaku bernama Oh Giok tadi.

„Siapa nama tuan?" Wie Tauw mengulang pertanyaannya. Wajah laki2 berbaju biru berubah. Agaknya ia sangat marah.

„Bukankah tadi sudah kukatakan kepada Cong-piauw-tauw?" Suara ini agak kaku.

It-kiam-tin-bu-lim Wie Tauw masih mempertahankan senyumannya, dengan suara yang tetap tenang ia berkata:

“Maaf. Setiap langganan yang datang ke Boan-chio Piauw-kiok diwajibkan memberi keterangan secara jujur. Dengan demikian barulah Boan-chio Piauw-kiok bersedia menerima tugas yang tuan percayakan. Kini tuan ternyata sudah memberi keterangan tidak benar. Menyesal sekali Boan-chiu Piauw-kiok tidak dapat menerima,"

Wajah laki2 berbaju biru menjadi merah.

„Dari mana Cong-piauw-tauw tahu bahwa aku memberi nama palsu ?" Ia mengajukan pertanyaan.

„Setiap psrkara yang diurus oleh Boan-chio-Piauw-kiok, semua merupakan perkara2 yang sulit dan ganjil." berkata Ir-kiam-tiu-bu- lim Wie Tauw masih dengan tersenyum. „Bila kami tidak dapat melihat soal yang kecil, bagaimana dapat mcnyelesaikan urusan besar ?" Laki2 berpakaian biru itu angkat pundak.

„Baiklah. Aku menyerah kalah," katanya. „Namaku Gak Giok Ceng."

„Tempat kelahiran masih tetap dipertahankan?" Bertanya It- kiam-tin-bu-lim Wie Tauw lagi. „Kota Kay-hong dipropinsi Ho-lam ?"

„Bukan. Kelahiran Po-teng dipropinsi Ho-pak." Laki2 berbaju biru ini benar2 berhasil ditundukkan.

„Aaaa....." Seolah-olah menemukan sesuatu yang sangat menggirangkan, It-kiam-tin-bu-lim Wie Tauw berteriak girang. “Jadi tuan Gak asal kelahiran Po-teng? Di kota tuan ada seorang ternama yang bernama To It Ie, seorang sastrawan yang tersohor diseluruh negeri. Tentu-nya tuan kenal dengan tuan To tadi, bukan?"

Laki2 berbaju biru yang bernama Gak Giok Ceng itu menganggukkan kepala.

„Kami hanya pernah bertemu beberapa kali." Demikian ia berkata.

Lagi2 It-kiam-tin-bu-lim Wie Tauw tertawa.

„Tuan." Ia menatap tamunya tajam2. „Inilah pertanyaanku yang terachir. Siapakah nama tuan ?"

Gak Giok Ceng menjadi marah, ia bangkit dari tempat duduknya, mengibas-ngibaskan lengan bajunya, seolah-olah ingin meninggalkan ruangan itu.

“Apa maksud cong-piauw-tauw sehingga menanyakan nama orang sampai beberpa kali?” Ia meminta keterangan.

“Keteranganku ialah…." It-kiam-tin-bu-lim Wie Tauw menghentikan kata2nya sebentar. “Dikota Po-teng tidak ada orang bernama To It Ie yang tersohor diseluruh negeri itu. Orang yang bernama To It Ie hanya berupa nama khayalan belaka. Tetapi tuan tadi kata pernah berjumpa sampai beberapa kali. Bukankah nama Gak Giok Ceng itu berupa khayalan belaka juga ?” Lagi2 wajah laki2 berbaju biru itu menjadi merah. Beruntun sampai beberapa kali ia dikalahkan. Tentu sangat malu sekali.

„Baiklah." Akhirnya ia menghela napas. „Aku mengakui keunggulan Cong-piauw-tauw. Namaku yang rendah ialah Lu Ie Lam."

Cepat It-kiam-tin-bu-lim Wie Tauw bangkit dari tempat duduknya, ia menjura tanda kehormatan yang tinggi kepada tamu itu.

„Tuan adalah Duta Nomor Delapan dari Barisan Istimewa Berbaju Kuning kesatuan Su-hay-tong-sim-beng. Maafkan Wie Tauw yang tidak mempunyai mata tetapi tidak dapat mengenali seorang tokoh ternama."

Duta Nomor 8 dari Barisan Istimewa Berbaju Kuning Lu Ie Lam orang itu, tertawa masam.

„Jangan terlalu merendahkan diri," katanya. „Telah lama kudengar nama Pedang penakluk rimba persilatan, Wie Tauw. Ternyata nama ini bukan nama kosong belaka. Kalau aku tadi merasa tidak puas, kini betul2 aku merasa sangat kagum."

Tokoh2 yang menguasai rimba persilatan di-masa itu adalah tokoh2 dari Su-hay-tong-sim-beng atau Kesatuan Para Jago Dari Empat Penjuru. Satu diantaranya ialah Lu Ie Lam, Duta Nomor 8 itu.

„Aku sangat berterima kasih atas pujian saudara Lu." Berkata It- kiam-tin-bu-lim Wie Tauw. „Saudara adalah salah satu dari duta barisan Istimewa Berbaju Kuning yang menjadi pilar Su-hay-tong- sim-beng. Bila ingin menonjolkan ilmu kepandaian, tentu dunia menundukkan kepala. Kedatangan tuan ke Boan-chio Piauw-kiok tentu membawa suatu petunjuk, bukan ?”

„Aku datang karena ingin menyaksikan kehebatan saudara." Berkata Lu Ie Lam. „Nama julukah It-kiam-tin-bu-lim itu sangat aneh sekali."

„Nama julukan hanya sekedar untuk mencari sesuap nasi. Harap tidak membuat kecil hati Su-hay-tong-sim-beng." Wie Tauw memandang wajah Lu Ie Lam. Belum diketahui apa sebenarnya maksud kunjungan sang tetamu.

„Ha, ha       " Lu Ie Lam tertawa. „Su-hay-tong-sim-beng adalah

kesatuan pada Jago Dari Empat Penjuru, suatu wadah yang menempatkan semua kekuatan ilmu silat untuk membela keadilan dan kebenaran didalam arti yang sesungguhnya. Untuk mengurus perkara2 yang berjatuhan diatas pundak kami sendiripun masih kewalahan. Bagaimana ada waktu untuk memusingkan julukan nama kosong yang tiada arti-nya ?"

„Sungguh beruntung bila Su-hay-tong-sim-beng tidak menaruh dihati." Berkata It-kiam-tin-bu-lim Wie Tauw „Kiranya hanya kesan pribadi saudara Lu saja yang agaknya kurang puas dengan julukan tekebur itu.”

Lu Ie Lam mengerutkan alisnya. Tetapi ia tidak marah.

„Lu Ie Lam tidak menempatkan dirinya pada kedudukan yang bermusuhan dengan cong-piauw-tauw." Duta Nomor 8 dari Su-hay- tong-sim-beng ini berkata „Dapatkah cong-piauw-tauw mempertunjukkan beberapa ilmu yang cukup untuk memperluas pandangan mataku?"

„Silahkan saudara Lu memberi perintah." Ber kata It kiam-tin-bu- Iim Wie Tauw. „Didalam hal apa yang saudara ingin ketahui ?"

„Dalam hal ini." Berkata Lu Ie Lam yang melempar cangkir minumannya kearah pilar tembok yang berwarna merah. Maka cangkir tersebut terpendam pada pilar merah itu dengan isi yang tidak muncrat keluar.

Cangkir yang biasa disuguhkan kepada tetamu terbuat dari pada tanah liat, sedangkan pilar tembok terbuat dari kayu pilihan yang sangat keras. Tetapi cangkir itu tidak pecah dipinggir pilar, sebaliknya melesak ambles disitu. Ilmu Lu Ie Lam memang luar biasa hebatnya.

„Aku harus meminta maaf atas kelancanganku ini," kata Lu Ie Lam, „yang telah merusak pilar bangunan rumah." „Tak apalah, cangkir yang melesak dipilar ini masih dapat dicabut kembali." Berkata It-kiam-tin-bu-lim Wie Tauw. Cangkir yang berada ditangan disambitkan, dengan cara yang serupa seperti apa yang dilakukan oleh Lu Ie Lam. Wie Tauw 'menyimpan' cangkirnya didalam pilar itu juga. Yang aneh ialah, setelah cangkir Wie Tauw masuk kedalam pilar, cangkir Lu Ie Lam yang terbenam ditempat itu melesat keluar, dan melayang tenang kembali kehadapan sang tetamu.

„Lu tayhiap, silahkan minum." berkata Wie Tauw dengan sikap merendah.

Lu Ie Lam menyambuti cangkir yang terbang kembali kearahnya, yang aneh ialah isi cangkir tetap seperti sadia kala.

„Terima kasih." Dan cangkir tadi diletakkan lagi ke meja. „Cong- piauw-tauw memang hebat. Ketika Su-hay-tong-sim-beng mencari 12 Barisan istimewa Berbaju Kuning, mereka tidak tahu ada seorang tokoh pandai seperi cong-piauw tauw. Didalam hal ini sesungguhnya merupakan suatu kerugian bagi Su-hay-tong-sim-beng.,"

„Su-hay-tong-sim-beng didirikan pada 20 tahun berselang, sedang Wie-Tauw muncul didalam kalangan Kang-ouw baru saja setengah tahun. Tentu Kesatuan Para jago Dari Empat Penjuru tidak tabu." berkata It-kiam-tin-bu-lim Wie Tauw sambil tersenyum- senyum.

Lu Ie Lam menganggukkan kepala. Mulutnya berkemak kemik seperti ingin mengucapkan sesuatu. Hanya beberapa saat, ia telah mengambil putusan. Katanya :

„Congpiauw tauw, sampai disini dulu kunjunganku kali ini. Bila Cong piauw tauw tidak keberatan, aku Lu Ie Lam bersedia menyarankan kepada Su-hay-tong-sim-beng agar menerima Cong piauw tauw sebagai Duta Nomor 13 dari Barisan Istimewa Berbaju Kuning."

Wie Tauw menggeleng gelengkan kepalanya.

„Terima kasih." katanya. „Aku sudah merasa sangat bersyukur kepada saudara Lu yang tidak mengganggu gugat julukanku. Dengan demikian Wie Tauw dapat mempertahankan mangkuk nasi- nya dari Boan-chio Piauw-kiok. Terus terang saja kukatakan, Wie Tauw tidak berhasrat untuk menjadi Anggauta Barisan Istimewa Berbaju kuning di Suhaytong simbeng."

Lu Ie Lam menatap Wie Tauw tajam2.

„Apakah ada sesuatu yang saudara rasakan tidak puas terhadap tindakan Su-hay-tong-sim-beng ?"

„Tidak," Wie Tauw mengucapkan kata2 ini dengan hati sejujurnya. „Sedari berdirinya Su-hay-tong-sim-beng, belum pernah ada perkara yang tidak dapat dibereskan. Didalam hal ini, Wie Tauw sangat memuji tindakan Su-hay-tong-sim-beng."

„Dengan alasan apa saudara Wie tidak bersedia masuk menjadi anggauta Su-hay-tong-sim-beng ?”

„Setiap manusia mempunyai tujuan hidup yang berbeda-beda." Berkata Wie Tauw: „Terus terang kukatakan, dan juga tidak malu aku kepada saudara Lu yang pasti akan menertawakan tujuan hidupku. Wie Tauw tidak bersedia melakukan kejahatan, tetapi terhadap benda2 yang gemerencing itu, Wie Tauw sangat membutuhkan, Boan-chio Piauw-kiok dibuka untuk maksud dan tujuan mencari uang, siapa yang berani membayar mahal, Wie Tauw bersedia melayani.”

Lu Ie Lam menghela napas.

„Sayang uang jasa yang diberikan kepada Barisan Istimewa Berbaju Kuning sesungguhnya tidak terlalu besar. Bila tidak tentunya • • •"

„Betul." sahut It-kiam-tin-bu-lim Wie Tauw „Tentunya Wie Tauw bersedia menggabungkan dirikepada kesatuan Su-hay-tong-sim- beng."

„Akh    Memang sayang,,"

„Tetapi, siapakah yang tidak mcnunjukkan jempolnya bila mendengar nama 12 Barisan Istimewa Berbaju Kuning dari Su-hay- tong-sim-beng?" Berkata Wie Tauw lagi. „Hanya bagi yang mempunyai bakat kepintaran melebihi orang, dan memiliki ilmu silet tertinggilah, baru dapat menduduki tempat dalam Barisan Istimewa Berbaju Kuning itu. Suatu tugas mulia yang tiada taranya. Misalnya Lu tayhiap, Su-hay-tong-sim-beng tentu tidak berani meremehkan dan memandang rendah dengan memberikan jumlah uang yang kecil untuk keperluan saudara. Dan saudara sendiri juga tidak akan mempersoalkan berapa banyak uang yang didapat dari jasa2 saudara, bukan ?"

„Saudara Wie dapat menebus isi hati seseorang, benar2 memiliki pandangan mata yang melebihi orang biasa. Tetapi mengapa tidak dapat melepaskan keinginanmu untuk mengumpul uang terlalu berlebih-lebihan ? Sesungguhnya sangat memalukan bila dianggap sebagai seorang tokoh rimba persilatan yang mata duitan."

It-kiam-tin-bu-lim Wie Tauw menganggukkan kepalanya.

„Betul." Ia berkata. „Aku adalah seorang tokoh mata duitan kota Tiang-an. Wie Tauw belum bersedia menjadi seorang tokoh silat yang budiman, tokoh silat yang membela keadilan dan kebenaran tanpa mengharap balas jasa yang setimpal."

Lu Ie Lam menatap ketua Boan-chio Piauw kiok itu tajam2, kemudian berkata.

„Cong-piauw-tauw, dimisalkan Su-hay-tong-sim-beng bersedia mengeluarkan uang balas jasa yang cukup, dapatkah Cong-piauw- tauw mempertimbangkan kembali katakmu tadi ?"

„Untuk menerima jabatan Duta Nomor 13 tentu keberatan. Tetapi bila Wie Tauw diberi sesuatu tugas yang sesuai dengan pekerjaanku, hal ini masih dapat kupertimbangkan."

„Baik. Aku Duta Nomor 8, Lu Ie Lam ingin menjadi langganan baru Boan-chio Piauw kiok."

„Katakanlah, perkara apa yang saudara Lu ingin serahkan kepada kami?" „Mencari seorang pemuda yang bernama Ie Lip Tiong."

„Oooo . ! . . Putra tunggal dari ketua partai Oey-san-pay Ie In Yang almarhum." tanpa banyak pikir, It-kiam-tin-bu-lim Wie Tauw dapat menyebut asal usul pemuda yang lenyap tanpa bekas itu.

Kemudian, ia memandang orang tua berjenggot panjang itu dan berkata kepadanya,

„Bapak penasihat, tolong carikan riwayat hidup Ie Lip Tiong didalam buku Bu-lim-beng-jin-liok."

Buku Bu-lim-beng-jin-liok adalah sebuah buku khusus dari Boan- chio Piauw-kiok, Dimana tercatat semua tokoh-silat ternama. Dengan mengandalkan buku catatan riwayat hidup semua tokoh silat inilah, Boan-chio Piauw-kiok dapat mengembangkan perusahaannya.

Orang tua berjenggot yang dipanggil Bapak penasihat itu bangkit dari tempat duduknya dan meninggalkan ruangan. Tidak lama kemudian, ia kembali lagi dengan buku riwayat hidup para tokoh rimba persilatan,

Dibalik-balik lembaran2 buku Bu-lim-beng-jin-liok dan terhenti pada sesuatu lembaran, maka sang bapak penasihat mulai membaca:

„Ie Lip Tiong, putera tunggal dari ketua partai Oey-san-pay generasi ke-23 Ie In Yang. Mempunyai wajah tampan dan kepintaran yang melebihi orang. Didalam anggapannya, dia seoranglah yang paling romantis. Sering melakukan kebajikan dan membantu yang lemah, membela keadilan dan kebenaran. Didalam hal ini, hanya terbatas didaerah2 yang berada dibawah kekuasaannya. Setelah sang ayah terbunuh, diapun lenyap tiada bekas."

Si bapak penasihat telah selesai membacakan riwayat hidup Ie Lip Tiong.

It-kiam-tin-bu-lim Wie Tauw mengalihkan dan menatap Lu Ie Lam tajam2. „Apa maksud Lu tayhiap mencuri pemuda ini?" Ia mengajukan pertanyaan.

Lu Ie Lam tidak menyawab. Sebaliknya mengajukan pertanyaan lain:

„Cong-piauw-tauw ada catatan tentang ayah Ie Lip Tiong?" It-kiam-tin-bu-lim Wie Tauw memandang penasihat tuanya.

„Tolong kau bacakan riwayat hidup ketua partay Oey-san-pay Ie In Yang." Ia menyuruh sang penasihat itu membacakan riwayat hidup kelua partay Oey-san-pay supaya puas.

Pada halaman yang sama terdapat catatan tentang le In Yang, maka penasihat tua itu mulai membaca:

„Ie In Yang, ketua partay Oey-san-pay generasi ke-23. Ilmu silatnya tinggi sekali Hasil ciptaannya yang bernama Oey-san-sa- cap-lak-kiam pernah merajai dunia. Karena ilmu pedang inilah nama Oey-san-pay membumbung tinggi. Setelah mengalami gencetan dari sana sini selama 200 tahun dibawah pimpinan Ie In Yang, Oey-san- pay naik derajat sehingga menjadi salah satu dari 5 partai ternama. Dikala semua orang sedang membayangkan bagaimana nanti Ie In Yang memimpin seluruh rimba persilatan waktu itu ia berumur 58 tahun karena membunuh Ngo-kiat Sin-mo Auw-yang Hui dan mengambil kitab Thian-tiok Sin-keng yang tidak mau diserahkan kepada Su-hay-tong-sim-beng, maka Siauw-lim-pay, Bu-tong-pay, Khong-tong-pay, Kun-lun-pay dan Hoa-san-pay lima ketua partay bersatu padu membunuhnya. Setelah kejadian itu Oey-san-pay dikeluarkan dari perkumpulan Su-hay-tong-sim-beng."

„Ada catatan lain tentang dirinya?" It-kiam-tin-bu-lim Wie Tauw mengajukan pertanyaan.

„Masih ada catatan keterangan." Sang penasehut tua berkata.

„Keterangan itu begini bunyinya: Kitab Thian-tiok Sin-keng yang menyebabkan kematiannya adalah kitab pelajaran silat paling lengkap dari wilayah daerah Barat, belum diketahui dengan pasti sejak kapan masuk kedaerah Tionggoan. Karena kitab Tnian-tiok Sin-keng inilah sering terjadi bentrokan2 yang memakan banyak korban jiwa. Setelah Su-hay-tong-sim-beng mengadakan rapat, mereka memutuskan untuk menyimpan kitab tersebut didalam perpustakaan bersama."

Penasihat tua menutup buku keterangan tokoh2 silat ternama. Wie Touw memandang Duta Nomor 8 dari Kesatuan Para Jago

Dari Empat Penjuru Lu Ie Lam.

„Mungkinkah anak Ie In Yang itu telah menimbulkan huru hara ?” Ia bertanya.

Lu Ie Lam membenarkan dugaan ini:

„Ya, Didalam waktu setengah tahun belakangan ini, Siauw-lim- pay, Bu-tong-pay, Kun-lun-pay dan Hoa-san-pay sering diganggu oleh seorang pemuda misterius. Beberapa tokoh dari 5 part besar itu telah meninggal dunia menjadi korban si pemuda itu. Setiap kali muncul, pemuda tersebut menggunakan kerudung tutup muka berwarna hitam yang menyelubungi seluruh wajahnya. Disebarkan ancaman pula bahwa ia ingin membunuh bersih semua anak murid dari 5 partay besar. Maka 5 partay besar mengajukai aduan kepada bengcu Su-hay-tong-sim-beng. kami mengambil kesimpulan bahwa pemuda kerudung hitam itu adalah putra Ie In Yang yang bernama Ie Lip Tiong. Hanya Ie Lip Tiong yang mempunyai dendaman sakit hati kepada 5 partay besar. Terbukti dari langkah2 sipemuda misterius yang selalu mengadakan pembunuhan gelap kepada anak murid 5 partay besar. Tetapi belum pernah ia mengganggu Tiang- pek-pay, Ceng-shia-pay Oey-san-pay, Soat-san-pay, Thay-khek-pay dan partay lainnya. Juga tidak mengganggu golongan Kay-pang dan Hay yang-pang. Tidak mengganggu perkumpulan Ngo-thong-kauw, Pek-ie-Kauw dan Hek-ie-kauw. Didalam hal ini karena partay2 lainnya, perkumpulan2 lainnya tidak mempunyai dendam dengan Ie Lip Tiong."

„Maka putusan ketua Su-hay-tong-sim-beng jatuh kepada Ie Lip Tiong yang melakukan pembunuhan gelap itu ?" „Betul"

„Kedatangan Lu tayhiap dikota Tiang-an apa kan hendak meucari Ie Lip Tiong?"

„Betul."

„Maksud tujuan Lu tayhiap apa sudah mendapat kesepakatan Su- hay-tong-sim-beng ?"

„Tentu." Lu Ie Lam selanjutnya memberi keterangan. „Bengcu kami telah memberi tugas kepada Duta Nomor 7 Siang-koan Wie dan aku untuk membawa Ie Lip Tiong kemarkas besar Kesatuan Para Jago Dari Empat Penjuru akan diadili kesalahannya. Setelah melakukan penyelidikan lebih dari satu bulan, kami belum dapat juga menemukan bayangan2 Ie Lip Tiong itu. Beberapa hari belakangan dikhabarkan Ie Lip Tiong pernah muncul dikota Tiang- an, Maka kami menyusul kemari, beruntun sehingga 3 hari, masih belum juga ada penemuan2 yang ada sangkut paut dengannya. Hari ini, terpaksa harus meminta bantuan Cong-piauw-tauw."

„Sekalian menguji ketangkasan kerja Boan-chio Piauw-kok, bukan

?" It-kiam-tia-bu-lim Wie Tauw tersenyum penuh selidik.

Lagi2 Lu Ie Lam mengagggukkan kepalanya-

„Betul." katanya. Segala sesuatu yang menyangkut diriku tentu dapat diketahui dari buku Bu-lim-beng-jin-liok tadi, bukan ? Terserah bagaimana putusan Cong-piauw-tauw."

„Baik. Keterima tugas ini." Berkata Wie Touw gagah. „Tetapi.   ”

„Katakanlah, berapa banyak upah jasa yang Cong-piauw-tauw butuhkan ?" Didalam hal ini Lu Ie Lam berlaku sangat cerdik sekali.

„Boan-chio Piauw-kiok menentukan besar kecil upah jasa dari sulit dan mudahnya perkara yang harus diselesaikan. Dalam hal ini tentu Lu tayhiap maklum bahwa mencari orang yang seperti Ie Lip Tiong bukan pekerjaan yang mudah."

„Betul. Katakanlah jumlah itu." „Untuk pembayaran pertama, kami ingin menerima 5.000 tail perak dahulu." Terang2an Wie Tauw meminta uang. „Dan sisanya yang masih 5.000 tail perak itu boleh ditangguhkan sehingga orangnya berhasil ditemukan. Setujukah dengan usul ini?"

Permintaan yang disebut oleh Wie Tauw sungguh berada diluar dugaan Lu Ie Lam. Ia tertegun sejenak, achirnya tertawa getir.

„Sungguh mahal." katanya. „Jumlah penghasilanku selama 9 tahun didalam Su-hay-tong-sim-beng sebagai Duta Nonor 8 juga tidak mungkin bisa mencapai 10.000 tail perak itu."

“Bila Boan-chio Piauw-kiok tidak berhasil menemukan Ie Lip Tiong, tentu angka2 tadi hanya tinggal angka2 bilangan saja, bukan?" It-kiam-tin bu-Iim Wie Tauw tertawa.

Akhirnya Lu Ie Lam dipaksa mengalah.

“Baiklah." katanya. Lalu dikeluarkannya sebutir mutiara sebesar biji lengkeng yang bersinar terang, diserahkannya kepada siketua perusahaan pengangkutan aneh itu. „Menurut taksiran cong-piauw- tauw, ada seharga 5.000 tail perakkah mutiara sebesar ini ?”

It-kiam-tin-bu-lim Wie Tauw menyambuti mutiara tersebut, diperiksanya sebentar dan ia menganggukkan kepala. Satelah mana, kepada penasihatnya ia memberi perintah.

„Tolong kau berikan kwitansi untuk barang ini kepada Lu tayhiap."

Si penasihat tua menuju kearah meja tulis, dari laci meja tulis ia mengeluarkan kertas dan segera membuat surat perjanjian dan kwitansi penerimaan dari mutiara yang diterima oieh mereka.

It-kiam-tin-bu-lim Wie Tauw menerima surat2 yang telah selesai ditulis itu untuk ditanda tangani, setelah itu lalu diserahkan kepada Lu Ie Lam seraja katanya:

„Dapatkah Lu tayhiap memberitahukan tempat kediaman Lu tayhiap dikota ini ?"

Lu Ie Lam lebih dahulu memeriksa kwitansi penerimaan mutiara itu, setelah memasukkan ke-dalam saku bajunya, baru ia memberi jawaban.

„Untuk sementara menetap dirumah penginapan Tiang-hin.

Segala sesuatu boleh dialamatkan ketempat itu."

„Baik." kata Wie Tauw sambil bangkit dari tempat duduknya,

„dalam waktu 3 hari, bila ternyata Boan-chio Piauw-kiok tidak bisa menemukan Ie Lip Tiong, mutiara ini akan kukembalikan kepadamu dirumah penginapan Tiang-hin."

Setelah selesai menyerahkan tugas, Lu Ie Lam minta diri. It- kiam-tin-bu-lim Wie Tauw dan sipenasihat tua mengantarkan tamunya keluar.

„Susiok." Setelah berkata didalam kembali Wie Tauw membuka mulut  terlebih dahulu.

Kepada si penasehat tua alias 'susiok' itu. Seterusnya ia berkata:

„Dilihat dari keadaan, akhirnya kesempatan untuk merendahkan diri rasanya sulit untuk dipertahankan."

Si penasehat tua yang dipanggil susiok oleh Wie Tauw itu menunjukkan wajah yang bersungguh-sungguh.

„Maksudmu bagaimana?" tanyanya.

„Menyerahkan Ie Lip Tiong kepadanya." It-kiam-tin-bu-lim Wie Tauw memberikan jawaban yang sangat tegas dan mantap.

Wajah si orang tua berjenggot panjang ditekuk masam.

„Harus kau ketahui bahwa tidak seorangpun didalam Su-hay- tong-sim-beng yang menaruh belas kasihan kepada Oey-san-pay." Ia memberi nasihat. „Setelah berada didalam markas besar Kesatuan Para Jago Dari Empat Penjuru itu, tidak mungkin ada kesempatan hidup."

„Aku tahu." kata Wie Tauw. „Mereka ingin menetapkan kesalahan orang. Tetapi wajib memberi bukti2 yang nyata untuk menjatuhkan hukuman kepadanya." Si penasehat tua itu terdiam sejenak. Akhirnya iapun dapat memahami dan menjetujui pendapat sang murid kemenakan.

„Baiklah." katanya. „Bila sampii terjadi sesuatu dan buntu jalan, tentunya kau tahu apa yang harus kau lakukan, bukan ?"

It-kiam-tin-bu-lim Wie Tauw menganggukkan kepala.

„Bagaimana penilaian susiok terhadap Lu Ie Lam tadi?" Ia menanya siorang tua tentang kesannya terhadap si Duta Nomor 8 dari Su-hay-tong-sim-beng itu. „Pernahkah susiok bertemu muka dengannya ?"

„Entah beberapa tahun yang lalu sebelum ia menjabat Duta Nomor 8 dari Su-hay-tong-sim-beng, aku pernah bertemu dengannya." jawab sang susiok. „Mungkin dia sudah lupa kepadaku." Dengan adanya jawaban ini berarti bahwa nama Lu Ie Lam itu bukan nama palsu lagi.

Bila dihadapan para langganan Bosn-chio Piauw-kiok, sang susiok menjabat penasihat dan dapat disuruh-suruh, kini Wie Tauw tidak berani berlaku kurang ajar kepada sang susiok ini. Ia mengambil buku catatan dari nama2 dan riwayat tokoh2 ternama didalam rimba persilatan, kemudian mulai memeriksa tentang riwayat hidup Lu Ie Lam. Selanjutnya ia membaca :

„Lu Ie Lam. Murid seorang cendekiawan Liong-tam Lo-jin Khong Pek Ong. Mempunyai sifat dan bakat yang bagus. Pandai silat maupun surat. Umur dua puluh tahun telah berhasil mendapatkan gelar Keng-su. Kemudian menjabat tugas dikantor pemerintah kota Cek-yang. Karena sifat2nya yang tidak pandai menjilat atasan dan benci kepada kejahatan, jabatan tersebut hanya dapat dipertahankan sampai akhir tahun, ia meninggalkan kota dan pergi mengembara. Kerja membantu para rakyat lemah yang sering menderita dan tertekan. Berkat latihannya yang dalam, ditambah ilmu silat yang tinggi, akhirnya ia berhasil menempatkan diiinya diatas para ketua partay dan menduduki Duta Nomor 8 dari Kesatuan para jago dari empat penjuru Su-hay-tong-sim-beng

..........." Membaca sampai disini, Wie Tauw menutup buku caiatan mengenai riwayat hidup para tokoh kenamaan didalam rimba persilatan itu.

„Lu Ie Lam memang agak istimewa." Ia mengeluarkan suara pujian. „Entah ber-sungguh2-kah maksud kedatangannya tadi ?"

Kata2 yang terakhir ditujuk&n kepada sang susiok, orang tua berjenggot panjang, bapak penasihat dari Ban-chio Piauw-kiok itu.

Si bapak penasihat menggoyangkan kepala.

„Kukira tidak." ia mengeluarkan pendapat. „Pandangannya terhadapmu diliputi oleh kebingungan dari penuh keajaiban. Harusnya 12 Duta Ternama dari Su-hay-tong-sim-beng itu mempunyai kepintaran otak yang melebihi manusia biasa, untuk selaujutnya kau harus berhati hati."

„Baik. Sutit memutuskan untuk menemuinya besok malam." “Ng....." Sibapak penasihat merenungkan sejenak. „Tidak terlalu

cepatkah keputusanmu ?"

„Kukira tidak," jawab Wie Tauw, „karena cepat atau lambat, toch juga harus menemuinya. Ada lebih baik menyelesaikan perkara secara singkat."

***

Pada hari kedua, It-kiam-tin-bu-lim Wie Tauw meninggalkan Boan-chio Piauw-kiok dan menuju kearah rumah penginapan Tiang- hin.

Seperti apa yang dikatakan oleh Lu Ie Lam, Duta Nomor 8 ini menetap dirumah penginapan Tiang-hin. Maka sangat jelas maksud tujuan Wie Tauw untuk menemui Lu Ie Lam.

Wie Tauw mencari seorang pelayan rumah penginapan dan menanyakan letak kamar yang didiami oleh tamu tersebut.

Si pelayan rumah penginapan segera mengajak

It-kiam-tin-bu-lim Wie Tauw ke ruang atas. Pada kamar ketiga, mereka berhenti.

“Lu tayhiap menetap dikamar ini." Si pelayan menunjuk sebuah kamar dan segera meninggalkan Wie Tauw seorang diri, agaknya pelayan tersebut sangat repot dan banyak pekerjaannya.

Wie Tauw memperhatikan keadaan disekelilingnya. Sepi sekali.

„Tok .... Tok . . . Tok . . ." Wie Tauw mulai mengetuk pintu.

Tiada jawaban.

Dicobanya mendorong pintu . . . krekek . . . daun pintu terbuka segera. Ternyata pintu kamar Lu Ie Lam tidak terkunci.

„Saudara Lu Ie Lam." Wie Tauw memanggil perlahan.

Tetap tak ada jawaban. Dari sela2 pintu yang terbuka, dapat diketahui bahwa Duta Nomor 8 itu tidak berada dikamarnya.

Menurut pengalaman It-kiam-tin-bu-lim Wie Tauw, tentunya Lu Ie Lam tidak keluar dari rumah penginapan, dan tidak lama lagi pasti akan kembali kedalam kamar. Cepat ia menyelinap masuk, dan merapatkan kembali daun pintu. Duduk menunggu.

Tak lama kemudian, terdengar langkah kaki seseorang yang sedang menuju ketempat dimana Wie Tauw duduk. Tentu Lu Ie Lam telah kembali.

Baru saja Wie Tauw bangkit dengan maksud akan membukakan pintu, tiba2 terkilas suatu pikiran buat menguji ketangkasan Duta Nomor 8 itu. Ia sembunyikan diri dibelakang tirai, dengan lebih dahulu sengaja menggeser letak pakaian Lu Ie Lam.

Dugasn Wie Tauw memang tepat. Orang yang baru datang adalah Lu Ie Lam. Pintu kamar terbuka dan Duta Nomor 8 dari kesatuan Su-hay-tong-sim-beng itu masuk kedalam kamarnya.

Perasaan Lu Ie Lam sungguh sangat tajam, ketika ia hendak berganti pakaian yang telah berubah letaknya itu menimbulkan kecurigaannya.

Ia memeriksa diseluruh kamar dan berhenti pada tempat persembunyian Wie Tauw. Cepat bagaikan kilat ia manyambar cangkir dan dilemparkan kearah tirai sambil mengeluarkan suara keras.

“Kawan dari mana yang telah sudi berkunjung kemari?"

Dari balik tirai terdengar suara It-kiam-tin-bu-lim Wie Tauw yang tertawa berkakakan. Pada tangannya kini terpegang sebuah cangkir yang belum lama tadi dilemparkan oleh Lu Ie Lam.

„Lu tayhiap," katanya. „Teh dingin mana baik disuguhkan kepada tamu ?"

Kejadian ini sungguh berada diluar dugaan Lu Ie Lam, tetapi iapun tertawa bsrkakakan.

„Ternyata cong-piauw-tauw yang menggoda." katanya. „Maaf atas penyambutanku yang kurang sempurna."

„Akulah yang bersalah." menyela Wie Tauw „Maafkan kelancanganku."

„Tentunya cong-piauw-tauw telah bekerja berat mencari Ie Lip Tiong." berkata Lu Ie Lam „Apa kabar?"

„Bagaimana hasil penjelidikan Lu tayhiap semalam?" It-kiam-tin- bu-lim Wie Tauw balik bertanya.

Wajah Lu Ie Lam menunjukkan keheranan.

„Cong-piauw-tauw," katanya. „kau membayangi diriku?"

„Tidak."

„Bagaimana kau tahu kalau semalam aku membikin penyelidikan juga?"

„Dari keadaan kamar, dan menurut dugaan saja mungkin belum lama Lu tayhiap bangun dari tempat tidur."

„Cong-piauw-tauw memang hebat, kau dapat menduga sesuatu dengan tepat. Maksudku mengadakan penyelidikan sendiri ialah agar mutiara yang mempunyai nilai lebih dari 5.000 tail perak itu tidak terjatuh kedalam tangan cong-piauw-tauw." It-kiam-tin-bu-liin Wie Tauw tertawa lebar.

„Lu tayhiap terlambat." katanya. „Mutiara mahal itu benar2 harus menjadi milik Boan chio Piauw-kiok. Dan maksud kunjungan Wie Tauw kemari ialah guna menagih sisa kekurangan yang 5.000 tail perak itu."

Lu Ie Lam sungguh terkejut. Betapa tidak ? Coba saja bayangkan, hanya dalam waktu beberapa jam saja Boan-chio Piauw-kiok telah berhasil menemukan jejak Ie Lip Tiong, sedangkan Su-hay-toig-Sim-beng dengan kekuatan 12 orang luar biasa ternyata tak dapat berbuat apa2.

„Cong-piauw-tauw telah berhasil menemukan Ie Lip Tiong?" tanya Lu Ie Lam masih ragu2.

„Ya," kata It-kiam-tin-bu-lim Wie Tauw sambil menganggukkan kepala. „Nasib Boan-chio Piauw kiok masih mujur sehingga tidak menelantarkan tugas yang telah diserahkan dan dipercayakan oleh Lu tayhiap kepada kami."

„Di manakah dia menyembunyikan diri?"

„Maaf." Wie Tauw tersenyum penuh arti-„Tentunya Lu tayhiap tidak keberatan untuk menyerahkan sisa kekurangan upah mencari itu, bukan ?"

Sulit keadaan Lu Ie Lam. Ternyata uang simpanannya tidak ada lagi.

„Kecuali beberapa puluh tail perak untuk perjalanan kembali, Lu Ie Lam mana ada simpanan ?" demikian ia berterus terang. „Bila cong-piauw-tauw percaya kepada Su-hay-tong-sim-beng, nanti dua bulan kemudian, aku Lu Ie Lam pasti dapat melunasi hutang 5.000 tail perak ini."

It-kiam-tin-bu-lim Wie Tauw tidak segera memberi jawaban.

Lama sekali baru ia memberi putusan :

„Baiklah. Tetapi Lu tayhiap harus menyerahkan kembali tanda terima dari mutiara kemarin, selain itu sukakah kiranya Lu tayhiap membuat lain, surat hutang, dari sisa kekurangan upah jasa yang sebesar 5.000 tail perak lainnya."

Lu Ie Lam mengkerutkan alisnya, suatu tanda bahwa ia merasa tidak puas dengan tindakan Wie Tauw,

Wie Tauw tidak mendesak, ia menunggu putusan dengan sabar.

Lu Ie Lam tidak berdaya. Dengan apa boleh buat ia menyerahkan kwitansi tanda terima mutiara kemarin dan membuat lain surat pinjaman dari kekurangan yang berjumlah 5.000 tail perak.

„Baiklah. Lu Ie Lam dapat menyetujui semua saran2mu." demikian kata si Duta Nomor 8 ini. Tidak lupa ia menyerahkan tanda2 bukti yang di minta oleh Wie Tauw. „Dimanakah Ie Lip Tiong kini berada?"

It-kiam-tin-bu-lim memasukkan dua lembar surat2 penting itu kedalam saku bajunya, dengan tenang ia memberi jawaban:

„Sampai saat ini, jejaknya belum diketahui."

Wajah Lu Ie Lam berubah cepat, jelas ia marah sekali.

„Berani kau main gila ?"

„Sabar . . . Sabar . . . ." It-kiam-tin-bu-lim Wie Tauw menggoyang-goyangkan tangannya. „Betul sampai kini belum diketahui dimana jejaknya. Tetapi sebentar malam, tepat jam 3, aku dapat mengetahui dimana ia berada."

„Lekas katakan, dimana adanya dia nanti malam !"

„Tepat pada waktu kentongan dibunyikan tiga kali, Ie Lip Tiong akan keluar dari pintu Selatan dan tidur didalam makam jenderal kerajaan lama."

„Oh! Mengapa ia tidur didalam kuburan jenderal lama?"

„Tentunya ia telah dapat mengetahui bahwa Su-hay-tong-sim- beng sedang mencari jejaknya. Maka dengan menempatkan diri didalam kuburan itulah yang dikira paling aman baginya." Lu Ie Lam menatap tajam wajah si pemimpin Boan-chio Piauw- kiok itu, se-olah2 ingin mengorek keterangan lebih banyak darinya.

It-kiam-tin-bu-lim Wie Tauw segera membalikkan badan seraja katanya.

„Nah, aku Wie Tauw kini hendak minta diri."

„Tunggu dulu." Tiba2 Lu Ie Lam berteriak. Wie Tauw berhenti.

„Siapakah yang menyangsikan ilmu kepandaian Lu tayhiap ?" Demikian pemimpin Boan-chio Piauw kiok ini berkata. „Pengalaman Lu tayhiap untuk menangkap orang lebih banyak. Sebentar malam jam tiga, pasti Ie Lip Tiong kembali kekuburan jenderal lama. Asal Lu tayhiap tidak menggebah atau menakut-nakutinya, pasti akan berhasil menangkap putera ketua partay Oey-san-pay itu."

Lu Ie Lam tersenyum.

„Didalam hal ini, aku Lu Ie Lam mengerti." katanya. „Maksudku menahan cong-piauw-tauw ialah aku sesungguhnya sangat heran, bagaimana Boan-chio Piauw-kiok mengetahui jejak Ie Lip Tiong?"

„Ha, ha, ha . . . ." It-kiam-tin-bu-lim Wie Tauw tertawa. „Boan- chio Piauw-kiok mengandalkan rahasia 'piring mangkuk' yang seperti ini untuk mempertahankan perut semua pegawainya. Bila cara2 untuk menggunakan "piring mangkuk' aneh sampai diketahui orang, apa yang harus kami andalkan ?"

„Memang cong-piauw-tauw pandai bicara." Lu Ie Lam menghela napas. „Kau adalah orang pertama yang paling sulit kuhadapi."

It-kiam-tin-bu-lim Wie Tauw meninggalkan kamar Lu Ie Lam.

„Selamat menangkap orang." ia membalikkan kepala sebentar dan lenyap dari pandangan mata Duta Nomor 8 itu.

***

PENGEMBARA MERANA DIDALAM RIMBA PERSILATAN

IT KIAM TIN BU LIM WIE TAUW kembali ke Boan-chiok Piauw- kiok. Segera ia mengumpulkan semua piauwsu dan mengadakan rapat di dalam ruang bawah tanah. Rapat ini berlangsung sampai sore, suatu tanda betapa penting rapat tersebut,

Selesai rapat, It-kiam-tin-bu-lim Wie Tauw mengajak sang susiok, si penasihat, bersantap,

Sesudah makan malam, mereka masuk ke sebuah kamar, disini sang susiok duduk disebuah kursi. Dari sebuah batok kecil, Wie Tauw menuang bubuk berwarna putih yang dicampur dengan air, lalu meng-gosok2 mukanya.

Dalam sekejap mata, wajah It-kiam-lin-bu-lim Wie Tauw telah berubah.

Selembar wajah yang putih cakap sebagai pengganti wajah Wie Tauw, suatu wajah yang terlalu muda, diduga umurnya belum cukup 20 tahun.

Sang susiok yang duduk dibangku mengawasi perubahan didepan matanya dengan wajah yang sangat murung dan sedih.

„Lip Tiong," katanya kata pemuda cakap di-hadapannya. „Kau ingin membawa pedang pusakamu ?"

It-kiam-tin-bu-lim Wie Tauw tidak menjadi terkejut dipanggil Lip Tiong. ia menggoyang-kan kepalanya.

„Tidak." Partai Oey-san-pay dimusuhi karena pedang pusaka dan ilmu pedangnya, sampai ter-jadinya drama yang begitu tragis. Mulai saat ini, sutit akan meninggalkan pedang dan menghadapi lawan dengan sepasang telapak tangan ini."

Si bapak pcnasehat mengeluarkan keluhan napas panjang.

„Agaknya tidak begitu mudah seperti apa yang kau pikir katanya." „Kau harus paham akan kesulitan2mu dikemudian hari."

„Betul." Pemuda yang dipanggil Lip Tiong itu berkata. „Sutit akan membuktikan kepada seluruh rimba persilatan bahwa Oey-san-pay dapat bangun kembali dengan ilmu lain, belum tentu harus menggunakan ilmu pedang yang itu saja." „Baik2lah kau menjaga diri."

„Terima kasih. Sutit minta diri."

Sang susiok menganggukkan kepalanya.

„Baiklah. Segera aku memberitahu kepada suhumu tentang hal ini. Legakanlah hatimu."

Si pemuda yang dipanggil 'Lip Tiong' itu menganggukkan kepala. Membuka sebuah lemari dan masuk kedalamnya. Disitu ia melenyapkan diri.

Ternyata pintu lemari adalah salah satu jalan keluar perusahaan pengangkutan Boan-chio Piauw-kiok.

Seperempat jam kemudian, seorang pemuda berpakaian baju biru keluar dari pintu rumah obat Tiang-cun Yok-poh yang terletak disebelah Boan-chio Piauw-kiok.

Malam itu kota Tiang-an terang benderang. Orang2 yang berjalan dimalam hari tidak perlu takut tidak terlihat. Pemuda berpakaian baju biru tadi mencampurkan dirinya diantara arus orang banyak dan menuju kearah pintu Selatan.

Keluar dari pintu kota, orang yang berjalan semakin jarang. Kecuali bulan sabit yang menerangi tanah, lampu penerangan sudah hampir tidak terlihat.

Bayangan pemuda berpakaian baju biru itu lenyap didalam semak2.

Dalam sekejap mata ia telah melakukan perjalanan lebih dari 4 lie. Kini dirinya telah berada disebuah lapangan tanah kuburan.

Tanah kuburan itu sangat luas. Dilihat dari jauh, masih terbayang makam2 yang menjulang tinggi. Disekitar kuburan2 itu tumbuh rumput2 tinggi. Sungguh menyeramkan.

Pemuda berbaju biru merayap dan tiba disebuah makam yang besar. Ia mendongakkan kepala sebentar dan mulai mendaki tangga makam besar tersebut. Tinggi makam lebih dari 8 tombak. Dikelilingi oleh pagar2 besi, makam tersebut semakin me-nonjol. Diduga makam seorang keturunan raja.

Pemuda itu telah tiba dipuncak makam, ia memandang langit dan berkata seorang diri :

„Kini belum jam satu, aku masih mempunyai kesempatan untuk istirahat."

Dengan gerakan2 yang lincah, ia membuka sebuah batu, maka terbukalah sebuah lubang berukuran tubuh manusia. Ia menurunkan kakinya terlebih dahulu dan masuk kedalam kuburan itu.

Keadaan disekitar tanah kuburan tetap sunji. Bulan sabit bergeser ketengah. Angin meniup daun2 pohon disekitar tempat itu.

Menjelang subuh, seolah-olah turun dari langit sesosok bayangan melayang turun.

Samar2 masih terlihat seseorang berpakaian kuning emas, pada punggungnya tergembol pedang. Dia adaTah seorang laki2 setengah umur.

Tak lain tak bukan orang yang baru muncul ini tentu adalah Duta Nomor 8 dari Su-hay-tong-sim-beng yang bernama Lu Ie Lam.

Lu Ie Lam naik keatas makam yang tadi dipakai Ie Lip Tiong sebagai tempat sembunyi, ia membuka batu dan mengeluarkan suara bentakan :

“Ie Lip Tiong, hayo keluar!"

Siuuttt    Satu bayangan melesat keluar dari lubang kuburan tua

itu. Tetapi gerakan Lu Ie Lam lebih cepat, dengan pedang terhunus, ia membarengi orang didepannya.

Seorang pemuda berpakaian biru melesat keluar dari dalam kuburan, tetapi lehernya segera merasakan ketajaman pedang Lu Ie Lam yang seolah2 terus membayangi dirinya. „Jangan bergerak !!"

Pemuda dari kuburan itu benar2 tidak bergerak. Ia memang tidak bermaksud melarikan diri atau melawan.

„Siapa kau?" tanyanya sambil menoleh.

„Lupakah kau padaku ?" balas tanya Lu Ie Lam sambil bersenyum.

„Eh......" Seolah-olah2 terkejut sekali, pemuda berbaju biru itu mengeluarkan suara seruan tertahan. „Duta Nomor 8 dari Su-hay- tong-sim-beng ?"

„Betul." Lu Ie Lam menganggukkan kepala. „Tentunya kau juga telah mengerti akan kedatanganku ditempat ini, bukan ?'

Pemuda berbaju biru mengatupkan kedua kulit matanya.

„Aku Ie Lip Tiong ada salah apa?" tanyanya dengan suara datar.

„Apa maksudmu menangkapku ?"

Lu Ie Lam tidak segera mencabut ancaman pedangnya, ia memberikan jawaban:

„Beberapa orang mengadu kepada Su-huy-tong-sim-beng, mengatakan bahwa kau telah membunuh banyak orang. Maka bengcu kami memberi tugas kepadaku untuk menangkapmu.'

„Suatu fitnah!" Pemuda baju biru Ie Lip Tiong berkata dengan geram. „Sampai dengan detik ini, belum pernah aku membunuh orang."

Lu Ie Lam mengeluarkan suara tertawa dingin.

„Hanya kau seorang yang mempunyai dendaman dengan Siauw- lim-pay, Bu-tong-pay, Khong-tong-pay, Kun-lun-pay dan Hoa-san- pay." Ia mengucapkan kata2 tadi dengan terang dan jelas. „Dan orang2 yang terbunuh ialah orang dari kelima partay besar tadi, bila bukan kau yang membunuh mereka, siapa lagi?"

„Adakah orang yang menyaksikan aku Ie Lip Tiong membunuh orang?" „Apa yang-mereka lihat ialah seorang berkerudung hitam, tetapi bila bukan jelmaanmu mengapa tidak berani menunjukkan wajah aslinya ?"

„Hm. . ." Ie Lip Tiong mengeluarkan suara dengusan. „Sudah lama kudengar bahwa Duta Nomor 8 dari Su-hay-tong-sim-beng mempunyai kecakapan kerja yang luar biasa. Mengapa tidak terpikir olehmu akan adanya orang yang bermaksud mengadu domba ?"

„Dalam hal ini memang bukan tidak mungkin." Lu Ie Lam menganggukkan kepalanya. „Tetapi menurut keterangan dari lima partay besar itu, tidak ada seorang pemuda lainnya yang mempunyai dendam permusuhan dengan mereka-"

„Seharusnya kau curiga lebih banyak kepada mereka yang ingin membunuh diriku." Ie Lip Tiong mengadakan pembelaan. „Harus kau ketahui, bahwa setelah ayahku dibunuh oleh orang2 dari 5 partay besar itu, tidak henti2nya mereka mengejar diriku. Tetapi tidak berhasil. Dengan menggunakan siasat ini, bukankah merupakan rencana jahat 5 partay besar?"

„Kukira alasan yang kau kemukakan ini tidak masuk diakal.'' Berkata Lu Ie Lara tegas. „Ketahuilah olehmu, bahwa orang2 mereka yang terbunuh itu semua telah mempunyai kedudukan baik. Untuk mencari alasan buat membunuh dirimu dengan mengorbankan tokoh2 penting mereka, tentu tidak mungkin. Tidak mungkin mereka mau mengorbankan orang itu untuk ditukar dengan satu jiwamu."

Ie Lip Tiong bungkam, tak berkata apa2 lagi.

„Ada pertanyaan lain lagi?" bertanya Lu Ie Lam kemudian. Ie Lip Tiong menghela napas.

„Kau ingin membawa diriku ketempat Su-hay-tong-sim-beng?" Akhirnya ia bertanya.

„Betul. Kemarkas besar Su-hay-tong-sim-beng."

„Apa yang akan kalian lakukan atas diriku di Su-hay-tong-sim- beng? '

„Kau harus dapat membuktikan bahwa orang yang mengadakan pembunuhan gelap kepada orang2 5 partay besar bukan kau, kalau kau ingin mendapat kebebasan. Tetapi, bila kau tidak dapat membuktikan hal ini, karena kau membunuh mereka atas dasar menuntut balas atas kematian ayahmu yang dibunuh oleh 5 ketua partay dari 5 golongan itu, kuduga putusan se-adil2nya ialah menjatuhkan hukuman seumur hidup."

„Didalam Su-hay-tong-sim-beng tentu diberikan kebebasan berbicara, bukan?"

„Tentu," Berkata Lu Ie Lam. „Berusahalah untuk membebaskan dirimu dari segala tuduhan itu!"

„Baik. Aku bersedia ikut kemarkas besar Su-hay-tong-sim-beng."

Wajah Lu Ie Lam tidak menunjukkan rasa girangnya, ia memberi peringatan:

„Aku tidak mempunyai kesan buruk kepadamu. Tetapi, bila kau berusaha untuk melarikan diri, jangan katakan aku keterlaluan."

„Aku Ie Lip Tiong bukan seorang pengecut-" Berkata Ie Lip Tiong. „Sudah kukatakan aku bersedia ikut kepadamu, tentu tidak mau melarikan diri."

„Nah, ikutlah segera!"

„Langsung pergi ?'

„Betul. Kini bertepatan dengan pesta musyawarah besar kesatuan golongan Su-hay-tong-sim-beng, yang diadakan 4 tahun sekali. Semua partay, semua golongan dan semua perkumpulan tentu mengirim utusan'- mereka menghadiri pesta Para jago ini berkumpul dipuncak Ngo-lo-hong dari gunung Lu-san. Berusahalah meminta simpati mereka untuk membebaskan dirimu dari tuduhan pembunuh gelap itu ."

„Baik. Aku akan berusaha. " Berkata Ie Lip Tiong. „Kini, sebelum aku ikut denganmu, bolehkan aku mengajukan suatu permintaan?" „Tentang apa?"

„Keberangkatan kita kegunung Lu-san ini harus dirahasiakan."

„Mengapa?"

„Maksudku agar mereka tidak mangetahui bahwa kau telah berhasil membawa Ie Lip Tiong kemarkas besar Su-hay-tong-sim- beng itu."

„Mengapa orang tidak boleh tahu bahwa kau sedang berada didalam perjalanan kesana?" Sekali lagi Lu Ie Lam mengajukan pertanyaan.

„Dalam hal ini sangat penting bagiku, untuk membebaskan segala tuduhan2 yang bukan2 itu." Ie Lip Tiong memberi penjelasan. „Bila kau menggiring diriku kegunung Lu-san dengan cara gelap, besar sekali kemungkinannya si kerudung hitam melakukan pembunuhan2 gelap pula. Maka dengan mudah, aku dapat membebaskan diri dari tuduhan2 jahat tersebut."

Duta Nomor 8 Lu Ie Lam mempunyai pandangan yang jauh, ia dapat memaklumi keadaan ini, dengan tertawa ia berkata.

„Baik. Aku bersedia melulusi permintaanmu. Mari kita pergi kekota Tiang-an dulu buat men-cari kereta."

Dua orang meninggalkan makam jenderal lama itu dan kembali kekota Tiang-an.

Tidak menunggu sehingga hari kedua, Lu Ie Lam segera mengetuk beberapa perusahaan psnyewa kereta, maksudnya menyewa kereta mereka untuk diberangkatkan ke gunung Lu-san. Tetapi jawaban yang didapat sangat mengecewakan, tiga perusahaan kereta itu memberi alasan yang sama dan menolak untuk menyewakan kereta mereka. Dikatakan letak gunung Lu-san terlalu jauh dari kota Tiang-an, maka mereka menolak.

Lu Ie Lam telah menggunakan seluruh kepintarannya, ia tidak berhasil. Tiba2 ia teringat akan perusahaan pengangkutan Boan- chio Piauw-kiok. Ia bertepuk tangan. „Ha . . . ." Serunya gembira. „Mari kita meminta bantuan Boan- chio Piauw-kiok."

Ie Lip Tiong sangat terkejut. Cepat ia memberi alasan agar si Duta Nomor 8 itu membatalkan niatannya untuk barkunjung kedalam Boan-chio Piauw-kiok.

„Kukira Boan-chio Piauw-kiok tidak mau menerima kiriman barang, bukan ?"

„Aku tahu." Berkata Lu Ie Lam, „Tetapi pemimpin perusahaan itu yang bernama It-kiam-tin-bu-lim Wie Tauw adalah kawan baikku. Pasti ia dapat membantu usahaku."

Ie Lip Tiong bungkam.

„Hayo." Berkata Lu Ie Lam. „Kita harus segera pergi kesana." Terpaksa Ie Lip Tiong menurut perintah Lu Ie Lam.

Perkembangan yang seperti ini sungguh berada diluar dugaannya. Ia memaki diri sendiri yang melupakan faktor kereta sewaan. Dikhawatirkan sang susiok tidak mengerti akan kedatangannya dengan Lu Ie Lam keperusahaan mereka dan terjadi sesuatu yang tidak diingini. Moga2-an saja susiok itu tidak menjadi salah paham dan mengetahui kedatangannya ke Boan-chio Piauw-kiok bukan karena kedok penyamarannya terbongkar oleh Lu Ie Lam. Tetapi membikin kunjungan untuk mencari kereta.

Dikala pikiran Ie Lip Tiong membayangkan kejadian2 itu, mereka telah berada didepan pintu Boan-chio Piauw-kiok.

Lu Ie Lam memberi kisikan perlahan kepadanya : „Pemimpin perusahaan Boan-chio Piauw-kiok ini adalah seorang tokoh silat yang paling mata duitan. Maksud tujuannya hanya mengeruk uang orang dengan memberi sumbangan pikiran dan ilmu kepandaiannya yang memang aneh luar biasa. Maka dimisalkan ia tahu kau adalah Ie Lip Tiong, setelah menerima uangku, tidak mungkin ia membocorkau rahasia. Legakan hatimu dan bersama-sama menemuinya."

Lu Ie Lam mulai mengetuk pintu. Maka seorang pegawai Boan- chio Piauw-kiok muncul dihadapan mereka.

„Tolong kau beritahu kepada pimpinanmu bahwa ada seorang yang bernama Lu Ie Lam membikin kunjungan." Lu Ie Lam meminta bertemu dengan It-kiam-tin-bu-lim Wie Tauw.

Penjaga pintu betul bekerja diperusahaan Boan-chio Piauw-kiok, tetapi sama sekali ia tidak tahu bahwa pemimpinnya It-kiam-tin-bu- lim Wie Tauw adalan putera ketua Oey-san-pay Ie In Yang almarhum yang bernama Ie Lip Tiong. Dan terlebih-lebih tidak diketahuinya bahwa 'sipemimpin' sudah tidak berada didalam perusahaan. Diliriknya Ie Lip Tiong sebentar dan masuk kedalam untuk menyampaikan maksud kedatangan dua langganannya.

Tidak lama, Bapak penasihat Boan-chio Piauw-kiok mengajak seorang piauwsu tua tampil dihadapan mereka. Menyaksikan Ie Lip Tiong berjalan sama2 dengan Lu Ie Lam, wajah mereka menunjukkan rasa heran dan tidak mengerti. Sebagian besar pusat perhatian mereka ditujukan kearah Ie Lip Tiong. Entah apa yang harus mereka lakukan.

Duta Nomor 8 Lu Ie Lam maju memberi hormat:

„Mengganggu. Dapatkah kami menemui cong piauw-tauw kalian

?"

Mata Bapak Penasihat Boan-chio Piauw-kiok yang lihay dapat

melihat isyarat mata Ie Lip Tiong. maka iapun segera mengerti akan duduk-nya perkara. Segera ia membalas sang tetamu.

„Sangat menyesal," katanya. „pemimpin kami sedang keluar mengurus sesuatu."

„Bilakah ia akan kembali ?" Lu Ie Lam bertanya lagi.

„Mungkin 3 atau 5 hari. Tentunya Lu tayhiap ada urusan, bukan? Bila Lu tayhiap bersedia memberitahu kepada kami, maka setelah pemimpin kami kembali, segera dapat kami beritahu kepadanya."

Menunjuk kearah Ie Lip Tiong, Lu Ie Lam berkata:

„Aku ingin mengajak pemuda ini kegunung Lu-san dengan kendaraan kereta. Tetapi perusahaan-perusahaan penyewa kereta dikota ini menganggap arah tujuan itu terlalu jauh dan tidak bersedia disewa. Dapatkah perusahaan kalian untuk mencarikan kereta kesana?"

Memandang Ie Lip Tiong sebentar, baru penasihat tua dari Boan- chio Piauw-kiok itu berkata :

„Baiklah. Perusahaan kami dapat menjamin kereta ini sampai tiba digunung Lu-san."

Maksud tujuan Lu Ie Lam ke Boan-chio Piauw-kiok hanya meminta kereta. Kini mereka bersedia menjamin kereta tersebut sehingga sampai ketempat tujuan, dengan lain arti ialah mengadakan kawalan, menjamin keselamatannya, se-olah2 meremehkan ilmu kepandaiannya tidak cukup tinggi sehingga wajib dikawal. Tetapi ia segera teringat bahwa bukan waktunya untuk menonjolkan ilmu kepandaian diri sendiri. Tambahnya seorang pembantu lebih menguntungkan dirinya. Maka ia tidak menolak.

„Baiklah." katanya. „Sebelumnya kami menghaturkan banyak2 terima kasih."

Bapak penasihat Boan-chio Piauw-kiok itu tertawa.

„Sebenarnya perusahaan kami tidak menerima antaran barang atau orang keluar kota." Ia memberi keterangan. „Mengingat kekurangan Lu tayhiap terhadap perusahaan kami yang belum dilunasi semua itu, maka kami bersedia mengutus seorang piauwsu untuk membantu usaha Lu tayhiap ditengah jalan. Sekalian menerima kekurangan uangnya."

„Aaaa . . . ." Lu Ie Lam se-olah2 baru sadar. Betul .... Betul . . Setelah berada dimarkas besar Su-hay-tong-sim-beng, aku Lu Ie Lam pasti akan menyerahkan 5.000 tail perak itu."

„Bukan 5.000 tail perak lagi." Penasihat tua dari perusahaan Boan-chio Piauw-kiok itu menyela. „Tetapi 7.000 tail perak."

„Eh.....Lu Ie Lam melongo. „Mengapa bertambah 2.000 tail perak lagi ?" „Jarak antara kota Tiang-an dan gunung Lu-san ada ribuan lie," Penasihat tua itu berkata sambil senyum. „Perusahaan kami telah menyediakan kereta berikut pengawal yang paling kami percaya, tidak patutkah menerima upah jasa sebanyak 2.000 tail perak itu ?" 

Achirnya Lu Ie Lam menyetujui juga jumlah tambahan yang diminta.

„Baiklah." katanya. „Aku tidak keberatan untuk menambah 2000 tail perak. Silahkan tuan segera membuat persiapan."

Sang penasihat Boan-chio Piauw-kiok menunjuk tosu tua yang berada disebelahnya dan berkata.

„Perkenalkan, ini ada piauwsu kami yang bisa dipercaya Tangan Pengejar Maut Mo Jiak Pin. Ia dapat mengantarkan kalian sehingga tiba ditempat tujuan dengan selamat."

Satu jam kemudian.......

Sebuah kereta dengan tempat duduk tertutup rapat telah berada didepan pintu perusahaan Boan-chio Piauw-kiok. Sebagai kusir kereta adalah si Tangan Pengejar Maut Mo Jiak Pin yang telah menyamar. Ia membuka pintu kereta itu dan menyilahkan Lu Ie Lam mengajak Ie Lip Tiong duduk didalam. Setelah pintu ditutup, cepat dan gesit Mo Jiak Pin lompat ditempat kusir kereta. Dengan satu kali kedutan, kereta berkuda itu telah meninggalkan Boan-chio Piauw-kiok.

Waktu matahari menyingsing, kereta itu telah berada diluar kota Tiang-an. Dengan roda-yang berputar cepat, kereta meluncur di jalan raya.

Lu Ie Lam dan Ie Lip Tiong didalam kereta belum pernah memejamkan mata, tetapi tidak terlihat ada tanda2 yang menyatakan mereka mengantuk. Mereka hadap-berhadapan sambil saling berpandangan.

„Lotee, kau boleh rebahkan diri beristirahat." Berkata Lu Ie Lam kepada orang tawanannya. Ia menggunakan sebutan lotee kepada Ie Lip Tiong, suatu tanda bahwa ia masih menghargai tawanannya.

Ie Lip Tiong menggoyangkan kepala. „Tidak mengantuk." Ia berkata terus terang. „Aku pun tidak mengantuk. Kalau begitu, bagaimana bila kita bertukar pikiran saja?"

Ie Lip Tiong bungkam tidak segera menerima ajakan orang, pun tidak menuujukkan reaksi menolak.

Lu Ie Lam meng-usap2 janggutnya sendiri.

„Lotee, maukah kau bercerita mengenai riwayat hidup ayahmu ?"

“Tentunya Lu tayhiap sudah mengetahui lebih jelas, bukan ?" Ie Lip Tiong memberikan jawaban tawar. „Apa lagi yang perlu dicerita- kan ?"

„Lotee masih kurang paham." Berkata Lu Ie Lam. „Aku Lu Ie Lam hanya menjalankan tugas yang diberikan oleh Su-hay-tong-sim- beng. Tentang cerita kalian, bagiku masih merupakan bayangan samar2 dan belum mengetahui jelas. Teristimewa mengenai ayahmu."

Ie Lip Tiong memperhatikan wajah orang. Hampir pemuda ini mengucurkan air mata bila teringat akan kematian sang ayah yang penasaran.

„Aku tidak ada niatan untuk menyusahkan dirimu." Sambung Lu Ie Lam, „Terus terang kukatakan kepadamu bahwa di antara sekian banyaknya ketua2 partay itu, kesanku yang paling baik jatuh pada ayahmu. Bila tidak mengalami kejadian ini, berani kupastikan bahwa dibawah pimpinan ayahmu, Oey-san-pay akan menjadi partay terbesar. Betul peristiwa itu telah terjadi, tetapi aku masih merasa heran, dengan kepribadian ayahmu, kukira ada sesuatu yang menyelip diantaranya. Dapatkah kau menceritakan bagaimana kejadian2 sebelumnya?"

Ie Lip Tiong terharu.

„Yang membuat gara2 sebenarnya adalah Ngo-kiat Sin-mo Auw- yang Hui." „Betul, aku tahu." Lu Ie Lam menjela. „Ngo-kiat Sin-mo Auw- yang Hui adalah tokoh silat yang paling cerdik. Duapuluh tahun berselang, ia telah membawa malapetaka besar bagi kaum rimba persilatan. Kepandaian silatnya telah mencapai taraf paling tinggi. Beberapa kepandaian lainnyapun belum ada yang dapat menandingi. Baik ilmu surat, ilmu lukis atau permainan caturnya tiada tara. Sangat disayang-kan, kecuali ilmu2 tadi, ia masih mempunyai kegemaran sex. Ilmu yang terakhir inilah yang menjerumuskan dirinya kedalam kemusnaan."

-oo0dw0oo-