-->

Pelenyap Sukma Jilid 4

Jilid 04

IE LIP TIONG membenarkan peredaran jalan darahnya, dia berkata: “Apa kau sudah memperkenalkan nama asli?” Ai pek Cun berkata: “Baik. Aku bernama Ai Pek Cun."

Ai Lie Tiong menggoyangkan kepala, dia berkata: “Nama itupun bukan nama asli."

“Kepala batu," Ai Pek Cun mengeluarkan kata2 makian. "Kau menghendaki suatu pertarungan yang membawa maut? Kukira seorang dari kita akan mat! ditempat ini"

Ai Pek Cun menyadari ketangkasan lawannya, maka dia mengucapkan kata2 yang sudah tertera seperti diatas.

"Bukan aku yang manantang perang, Lotiang," Berkata Ie Lip Tiong tenang.

"Baik. Kita boleh mengulang pertandingan" Berkata Ai Pek Cun siap.

"Tidak menjadi soal." Barkata Ie Lip Tiong menantang.

"Kau mempunyai pegangan kuat untuk mengalahkanku?" Bertanya Ai Pek Cun.

"Mengapa tidak?" Balik tertawa Ie Lip Tiong. Dia sedang berhadapan dengan komplotan tukang beset kulit manusia golongan B.

"Kau memang seorang gagah berani." Berkata orang tua berbaju hijau Ai Pek Cun. “Berani menjawab beberapa pertanyaanku?"

“Pertanyaan apa?"

"Kau termasuk salah seorang dari rombongan Sun-hong Piauw- kiok?"

"Betul."

"Kalian sudah mempunyai rencana lama untuk merampok uang- uang perak itu?"

“Salah. Belum pernah kami merampok harta benda orang." "Masib berani main lidah? Siapa yang merampok uang uang perak pegawaiku?"

"Tidak ada yang merampok."

"Dari mana kau dapat uang2 perak di kota Cui cit lie?"

"Uang itu didapat dari kemenanganku. Hadiah pemberian dari dua orang raja silat yang ternama."

"Huh, lidahmu memang lihay sekali." “Terima kasih."

“Sungguh aneh. Sebagai salah satu badan pengusaha pengangkutan, kewajibannya adalah menjaga keamanan barang yang dititipkan kepada kalian. Tapi Sun hong Piauw kiok tidak, bukan saja tidak memberi jaminan tentang keselamatan para langganannya, kalian merampok uang-uang itu. Apakah yang menyebabkan sampai terjadinya perkara ini?"

“Sekali lagi kami meralat, kami tidak pernah merampok uang yang yang didapat oleh Lauw Can Cun ci secara tidak halal itu."

"Hmm.... Kukira, ada seseorang yang mengatur perampasan ini, siapa orang lihey itu?"

"Terima kasih."

“Sebutkan nama orang itu?"

"Aku." Ie Lip Tiong menunjuk hidung sendiri.

"Huh...." Ai Pek Cun mengkernyitkan alisnya "Kau? Kau yang mengepalai mereka? Apa maksud tujuanmu menguasai uang itu?"

“Mengambil alih."

"Kau tahu, siapa yang berhak untuk mengambil alih semua uang2 perak itu?"

"Lauw Can Cun atau Co Khu Liong?"

“Orang yang mempunyai kedudukan lebih tinggi dari mereka yang kumaksudkan." “Seseorang yang menamakan dirinya sebagai Raja Gunung itu?" “Betul2." Ai Pek Cun mengeluarkan suara dengusan dari hidung

“Dia yang mengepalai 11 Raja Silat lainnya?" Bertanya Ie Lip Tiong.

Ai Pek Cun mendelikkan matanya. "Huh, dimana kau kenal kepada 11 raja Silat?" Dia mengajukan pertanyaan.

“Raja Silat Bajingan Co Khu Liong, Raja Silat Siluman Bu Bee Bang dan Raja Silat Gila Sie It Hu."

"Ketiga raja silat ini mengikuti rombongan kalian dari kota Han- yang?'' Bertanya Ai Pak Cun.

"Tidak semua." Berkata Ie Lip Tiong. “Hanya Raja Silat Bajingan Co Khu Liong seorang yang menyertai rombongan dari Han-yang. Tentang dua lainnya, Raja Silat Siluman Bu Bee Bang dan Raja Silat Gila Sie It Hu, menyambut dltengah jalan. Dikatakan, atas perintah Raja Gunung, Co Khu Liong mendapat tugas baru, pengawalan diteruskan oleh dua raja silat yang terakhlr,"

“Begitu mudah Co Khu Liang tergeser pergi?" “Begitulah."

“Apa tugas baru uctuk Co Khu Liong itu?" Bertanya terus Ai Pek Cun.

“Mana tahu?"

“Huh, kau kenal kepada Raja Silat Bajingan, Raja Silat Gila dan Raja Silat Siluman?"

“Mereka adalah raja2 silat dari 12 Raja Silat golongan Sesat." “Huh, sudah tahu bahwa uang itu menjadi milik raja silat, masih

berani kau merampasnya?” “Mengapa tidak?"

“Huh, dengan alasan apa kau merampok uang partay Raja Gunung?" “Sekali lagi aku mengulang pernyataan." Berkata Ie Lip Tiong. "Uang itu bukan hasil rampokkan. Ketahuilah, Raja Silat Siluman Bu Bee Beng dan Raja Silat Gila Sie It Hu yang menghadiahkan kepadaku."

“Huhh...”

“Tidak percaya? Boleh bertanya kepada orang2 yang menyaksikannya."

"Tentu akan kutanyakan kepada mereka. Tapi bukan sekarang.

Kini yang penting aku harus mengetahui, siapa dirimu." "Aku Liong Palsu."

"Lagi2 jawaban yang tidak kubutuhkan sama sekali."

“Raja Silat Bajingan Co Khu Liong, Raja Silat Gila Sie It Hu, Raja Silat Siluman Bu Bee Beng percaya, mengapa kau tidak percaya?”

“Co Khu Liong terpancing pergi. Dia ditipu olehmu mentah2." "Dan kedua raja silat lainnya?"

“Bu Bee Beng dan Sie It Hu yang menghadiahkan uang2 itu?"

“Semua orang yang dapat dijadikan saksi akan berkata seperti itu."

"Aku berani bertaruh, bahwa kedua raja silat itu adalah raja silat palsu."

"Tidak mungkin. Mereka adalah raja silat yang asli." “Alasanmu?"

"Kedua raja silat itu telah mendemontrasikan ilmu kepandaiaanya yang sangat menakjubkan. Berdiri diatas abu dupa sembahyang, tanpa mengganggu atau merontokkan abu dupa itu."

"Kukira, raja2 silat dari lain gslongan yang kau maksudkan," “Raja silat dari golongan kesatria?" "Golongan Hong-lay Sian-ong.” Berkata Ai Pek Cun.

“Hong-lay Sian-ong adalah pemimpin dari 11 raja silat golongan ksatria, bila mereka yang menghadiahkan uang2 itu kepadaku, tanggung jawab bukan berada padaku."

"Huh, kau adalah komplotannyai. Kukira kau adalah salah seorang dari 11 raja silat golongan Hong-lay Sian-ong."

“Atas penghargaanmu aku mengucapkan banyak terima kasih" Berkata Ie Lip Tiong.

Dia adalah murid Pendekar Hakim Hitam Can Ceng Lun dan Can Teng Lun adalah murid Raja Silat Suci Hong Hian Leng. Atas prestasi Ie Lip Tiong yang luar biasa, Ai Pek Cun mengangkat satu tingkat derajat.

Dimasa itu, terdapat 12 raja silat kesatria dan duabelas raja silat sesat, mereka adalah tandingan yang setimpal. Urutan mereka sebagai berikut:

12 RAJA SILAT KESATRIA:

1. Raja Silat Dewa Hong Jay Sian ong.

2. Raja Silat Karya Kam Lu Bin.

3. Raja Silat Tenang Hong-poh Kie.

4. Raja Silat Suci Hong Hian Leng.

5. Raja Silat Sastra Lee Tiong Hu.

6. Raja Silat Makmur Wan Tin.

7. Raja Silat Jaya Bu Hiong

8. Raja Silat Agung Bu Hauw

9. Raja Silat Murni Bu Say.

10. Raja Silat Aman Bu Cun.

11. Raja Silat Tentram Bu Su

12. Raja Silat Bebas Bu Sen. Dua belas Raja Silat Sesat adalah:

1. Maha Raja Silat Ngo kiat Sin mo Auw yang Hu,

2. Raja Silat Bajingan Co Khu Liong,

3. Raja Silat Gila Sie It Hu.

4. Raja Silat Siluman Bu Bee Beng.

5. Raja Silat Buaya Tho It Beng.

6 Raja Silat Bisa Bak Liong.

7. Raja Silat Maling Su to In kho

8. Raja Silat Srigala Lem Bu Sim.

9. Raja Silat Sinting Lauw Lit Su

10. Raja Silat Semrawut Kiong Pak.

11. Raja Silat Racun In Tay Hie

12. Raja Silat Copet Sin-tauw Jin.

Atas ilmu kepandaian yang terlalu menakjubkan, Ai Pek Cun menduga kepada salah seorang murid dari 12 Raja Silat Kesatria.

Inilah suatu penilaian yang salah, Ie Lip Tiong hanya seorang cucu murid Raja Silat Suci Ong Hian Leng!

Ayah Ie Lip Tion2 adalah Ketua partay Oey san pay, Ie In Yang almarhum, dimasa hidupnya, Ie In Tang adalah kepala dari para ketua partay, ilmu kepandaiannya sudah hampir merendengi raja2 silat. Ie In Yang yang mengasuh sang putra sehingga dia miliki ilmu kepandaian tinggi dan kecerdasan otak yang luar biasa.

Ie Lip Tiong berguru kepada Pendekar Hakim Hitam Can Ceng Lun, jabatan terakhir Can Ceng Lun adalah Duta Istimewa Berbaju Kuning dari Kesatuan Gabungun Partay2 dan GolonganS Su-hay tong sim-beng. Dengan angka pengenal Nomor Empat dia meletakkan jabatan karena tersangkut perkara Ie Lip Tiong, hubungan murni diantara guru dan murid tidak dapat dilupakan. Dikala Ie Lip Tiong hampir menjalani hukuman mati, Can Ceng Lun melepaskan muridnya. Inilah pelanggaran disiplin, dia malu kepada Su hay tong-sim beng, maka melepaskan jabatannya sebagai Duta Istimewa Nomor Empat

Mulai itu waktu, Can Ceng Lun seperti lenyap dari permukaan bumi, tidak terdengar kabar ceritanya lagi.

Ie Lip Tiong mendapat didikan langsuag dari sang kakek guru, si Raja Silat Suci Hong Hian Leng, ilmu kemajuan jago kita mendapat kemajuan pesat.

Gambar dihadapan kita adalah pemandangan di malam gelap Ie Lip Tiong sedang berhadap-hadapan dengan Ai Pek Cun.

Ai Pek Cun memetik sebatang tangkai pohon, membuat suatu posisi tempur, dia berkata: “Keluarkan senjatamu"

Ie Lip Tiong menarik keluar pedangnya. Dia selalu siap.

Masing2 mundur sehingga tiga tapak. Dengan sinar mata memandang tetap. Inilah persiapan yang luar biasa.

Terjadi ketegangan yang memuncak. Ai Pek Cun menggeser kaki kanan, bergoyang ke arah samping.

Ie Lip Tiong membuat posisi frontal, mengikuti arah orang, dan menggeser kakinya. Tetap sejauh keadaan semula.

Demikian mereka bersitegang kembali. Lama keadaan ini berlangsung.

Perlahan lahan, Ai Pek Cun menekuk sepasang kaki keadaannya menjadi setengah berjongkok, tangan kiri menyongsong ke depan, tangan kanan ditekuk kedalam, membuat gerakan seperti memeluk dan mendorong pohon, pusat tujuan adalah jantung hati Ie Lip Tiong.

Begitu melihat posisi ini, Ie Lip Tiong menggeser kakinya maju setengah langkah, sepasang kakinya dipersilangkan, badan bagian atas condong kedepan, dengan meratakan pedang dengan dingin, ujung pedang tidak ditujukan kepada musuh, tapi berarah kebelakang, inilah persiapan untuk membikin pentabetan. Mulutnya tersenyum tenang.

Pasangan yang Ai Pek Crn perlihatkan bernama tipu Burung Surga Menerobos Air Terjun. Dan stel pasangan yang ditonjolkan oleh Ie Lip Tiong bernama Jarum yang Tersembunyi Dibalik Tangan, jurus tipu yang menjadi tandingan dan timpalan maut dari Burung Surga Menerobos Air Terjun Ai Pek Cun.

Segala macam pembukaan2 adalah kunci set yang paling penting bagi seorang yang betul2 ahli. Dari cara berdiri dan gerak-gerik tangan kaki musuhnya, dia sudah dapat menentukan, apa akibat yang dapat diderita bila dia meneruskan serangannya.

Ai Pek Cun adalah murid kesayangan si Raja Gunung yang istimewa, mengetahui pembukaan jalannya menemukan batu, dia menarik tipu Burung Surga Menerobos Air Terjun. Badannya berdiri tegak kembali kini bergeser ke arah kanan lagi satu tapak dan mempentangkan kedua kakinya.

Ie Lip Tiong juga menerik stel pembukaannya, mengganti dengan lain stel yang lebih sempurna. Mengikuti arah musuh itu, tepat memasang mata.

Ai Pek Cun mengangkat tinggi tangkai kayunya, tangan kiri menunjuk jantung, jurus ini bernama Lebah kuning Menyedot Sari bunga. Bilamana senjat di tangan digerakkan, maka jiwa orang yang diancam akan terengut mati, suatu serangan tajam.

Ie Lip Tiong mempelintirkan tubuhnya, dia menghadapi musuh dengan samping badan, dengan kedua tangan memegang pedang seolah2 orang yang hendak menbabat pohon kuat, inilah tipu Bocah Sakti Mempersembahkan Serangan.

Lagi Ai Pek Cun kehilangan waktu, dia mengganti dan menarik tipu Kembang Kuning Menyedot Sari Bunga. Percobaan ketiga bernama tipu Katak Siap Menjilat Nyamuk. tipu inipun tidak beehasil, karena Ie Lip Tiong sudah menyediakan tipu Capung Bertelur Menyentuh Air.

Demikianlah, di malam gelap, dijalan yang menuju kearah kota Ceng-yang, terjadi perang gerakan pedang, Ai Pek Cun mencoba dengan aneka macam cara, dia tidak berhasil menemukan kekosongan atau kesempatan untuk menerobos pertahanan Ie Lip Tiong yang kuat, pertahanan ilmu pedang Ie Lip Tiong adalah rangkaian ilmu pedang yang terkuat, tidak ada kekosongannya.

Bilamana ada orang yang menyaksikan pertandingan itu, tentu menduga kepada permainan bocah cilik. Tidak seorangpun yang akan percaya, bahwa kedua orarg itu sedang berada diujung jurang maut.

Serangan2 Ai Pek Cun tidak perlu dilanjutkan, akibatnya sudah mudah diduga, stand adalah draw. Cara2 ini jarang terdapat didalam pertandingan pertandingan biasa.

Ai Pek Cun semakin terkejut atas kepandaian si Pendekar Pemetik Bintang Liong Pal Su. Ilmu pedangnya tidak mungkin dapat mengalahkan lawan itu, dia harus mengganti taktik perang. Tenaga dalam anak muda itu belum ia dikeluarkan. Ai Pek Cun percaya, bahwa ilmu tenaga dalamnya dapat digunakan untuk menandingi musuh, memusatkan semua tenaga ini pada tangkai kayu, dia menggepruk keras.

“Ssrrrr”

Suara dengungan ini begitu dahsyat sekali.

Ie Lip Tiong mengangkat pedang, menahan datangnya serangan itu.

“Darrrr ”

Terdengar suara benturan yang keras. Sungguh aneh diceritakan. Kayu Ai Pek Cun sudah tertabas putus akibat benturan pedang dan tangkai kayu yang berdebur seperti itu dikarenakan adanya tenaga dalam Ai Pek Cun yang jauh berada diatas Ie Lip Tiong.

Jago kita kalah tenaga. Ie Lip Tiong mengganti praktek, pedang diseret kesamping, meloloskan diri dari serangan musuhnya.

Ai Pek Cun begitu girang, dia memberi serangan yang gencar. Ie Lip Tiong main mundur.

Dengan suara tertawa panjang, Ai Pek Cun memainkan tangkai kayunya, tentu saja disertai dengan tenaga dalam yang penuh desiran suara itu mengaum aum berat. Seperti main petak, Ie Lip Tiong menyembunyikan diri dibalik pohon atau dirumpun semak2.

Daun dan ranting pohon menjadi korban, Ai Pek Cun menghajar setiap rintangan tanpa pengecualian, mengamuk kalang kabutan.

Ie Lip Tiong melompat kearah suatu pohon besar.

Ai Pek Cun mengayun tangkai kayu “Beekk...”

Menyalurkan tenaga dalamnya melalui tangkai kayu itu, menumbangkan pohon tersebut.

“Kreeek... kreeek.... pohon yang sebesar badan manusia tumbang jatuh.

Ai Pek Cun memasang mata, dia kehilangan bayangan musuh. Ie Lip Tiong telah memyembunyikan dirinya dengan baik.

Memeriksa kedaan itu, Ai Pek Cun membentak keras: "Liong Pal Su, hayo kau keluar."

Ai Pek Cun tidak tahu nama asli dari jago kuat yang dilawan itu, maka dia masih menggunakan nama 'Liong Pal Su’ kepada Ie Lip Tiong.

Tidak ada jawaban. Seolah olah Ie Lip Tiong sudah malarikan diri dari tempat itu.

"Huuh...” Ai Pek Cun mengeluarkan suara dengusan. “Aku tidak takut kau melarikan diri. Akan kulihat bagaimana kereta uang itu dapat dilarikan” Tubuhnya melayang kembali ke arah kota Cui Cit lie.

Mudah dibayangkan, Ai Pek Cun tidak berhasil menangkap Ie Lip Tiong. Dia menduga bahwa kereta dari rombongan San-hong Piauw- kiok belum tahu keadaan dirinya, tentu masih ada dikota Cui- Cit lie. Karena itulah, dia hendak melampiaskan kemarahannya kepada orang itu, hendak mengobrak napsu membunuhnya kepada mereka.

Itu waktu, kepala Ie Lip Tiong nongol keluar dari sebuah rumput semak2. Dia belum lari pergi menyaksikan bayangan Ai Pes Cun yang berlari ke arah Cui-cit-lie, dia dapat menduga maksud tujuan Ai Pek Cun. Tentunya membikin perhitungan dengan Leng San Pian. Tapi Leng San Pian yang sudah diberitahu olehnya, tentu telah memendam semua uang, membubarkan rombongannya, keadaan mereka boleh dikata aman.

Gangguan yang diberikan kepada Ai Pek Cun sudah cukup lama, dengan mengintil dari jauh, Ie Lip Tiong membayangi orang tua berbaju hijau itu.

Didalam sekejap mata, Ai Pek Cun sudah memasuki rumah makan dan penginapan Cu in koan kho Ciam.

Seperti apa yang Ie Lip Tiong duga, semua orang dari Sun tong Piauw kiok sudah tidak berada di tempat itu, mereka sudah membubarkan diri. Tidak lama kemudian, dengan wajah yang bersungut sungut, Ai Pek Cun keluar dari rumah makan Cui in koan kho Ciam.

Ie Lip Tiong menyembunyikan diri. Dia tertawa geli.

Ai Pek Cun memandang kesemua penjuru. Kota Cui-cit-lie berupa kota air, ada sembilan jalan yang menuju keluar kota. Mengingat jumlah kereta yang berjumlah berat dan besar. mengingat orang orang itu yang berjalan lambat, dia tidak takut kehilangan jejak. Memilih satu jurusan Ai Pek Cun meluncurkan kakinya. Dia melakukan pengejaran.

Sekaligus, Ai Pek Cun mengejar sehingga tiga puluh lie, tidak ada tanda2 dari adanya rombongan kereta Sun-hong Piauw kiok itu. Mengetahui dia sudah salah jalan, Ai Pek Cun balik kembali.

Kini dia memilih jalan yang kedua. Membikin pengejaran lagi. Tiga puluh lie kemudian, juga tidak berhasil mengejarnya. Ai Pik

Cun percaya, sehingga sampai disaat itu, berapa banyak pun

kecepatan kereta yang dikejar tidak mungkin dapat melampaui 30 lie, dia balik kembali.

Demikian, Ai Pek Cun berlari sungsang sumbel diantara sembilan jalan bercabang itu. Tentu saja tidak berhasil. Leng Sin Piao sudah merusak semua kereta dan menyembunyikannya. Mereka bukan melarikan diri, tentu saja Ai Pek Cun tidak berhasil.

Betapa cerdikpun Ai Pek Cun, dia sudah melupakan suatu unsur penting, tidaklah terpikir. bahwa rombongan Sang hong Piauw kiok sudah mengetahui asal-usulnya. Tidaklah terpikir, bahwa rombongan itu tidak membawa lari semua uang yang ada tapi menanam dan menyembunyikan uang itu.

Ai Pek Cun menjadi bingung atas hasilnya yang bertangan kosong. Demikianlah dia pulang kandang, sebentar2 memeriksa tepian jalan.

Dimanakah kandang komplotan tukang sobek kulit manusia partay Raja Gunung itu?

Berhasilkah Ie Lip Tiong menemukan markas partai Raja Gunung?

Mari kita mengikuti cerita dibagian berikutnya.

SEORANG kakek berbaju hijau meningalkan kota Cui Cit- lie. Tujuannya kearah utara. Inilah murid si Raja Gunung yang bernama Ai Pek Cun, dia gagal menemukan komplotan yang melarikan uang partaynya.

Ie Lip Tiong mendapat tugas untuk menyelidiki pusat gerakan tukang sobek kulit manusia yang dibuat seperti dendeng itu, pengusutannya hampir terputus karena kematian Lauw Can Cun dan In Thian Liu, dan harapannya timbul kembali karena dapat mengikuti perjalanan Ai Pek Cun.

Tentu saja, mengikuti Ai Pek Cun jauh lebih berbahaya dari mengikuti In Thian Liu atau Lauw Can Cun. Mengingat tiada jalan lain, Ie Lip Tiong harus menanggung segala resiko besar itu.

Ai Pek Cun meninggalkan Cui Cit lie dimalam itu juga.

Keadaan gelap memudahkan Ie Lip Tiong membikin pengejaran.

Demikian sehingga hari mendekati terang, Ai Pek Cun tidak istirahat, maka Ie Lip Tiong harus menggunakan semua tenaga mengemposnya.

Menyusuri daerah pegunungan Kiu hoa san, Ai Pek Cun menuju kearah utara.

Ie Lip Tiong tidak melepaskan diri dari penguntitan itu. Siaon harinya, mereka tiba d kota Kui tie.

Parjalanan itu memakan waktu yang cukup lama, memasuki kota, langsung Ai Pek Cun memilih sebuah rumah makan.

Ie Lip Tiong menunggu diluar rumah makan itu. Lebih ko tr dan tidak mungkin dapat memadai kemegahannya rumah makan Hian- kok-lauw dikota Han-yang, Ie Lip Tiong dapat menarik suatu kesimpulan, bahwa rumah makan ini bukan rumah makan si Raja Gunung. ..... (terpotong hurufnya) ri golongan itu tersedia untuk membuat income keuangan, rumah makan yang seperti itu tidak cukup untuk menangsal perut. Berapa banyak keuangan yang dapat disedot dari rumah makan yang sepertinya? Tentu dapat dihitung dengan jari. Dari situlah, Is Lip Tiong dapat menduga pasti, bahwa rumah makan ini bukanlah cabang perusahaan dari partai si Raja Gunung.

Menggunakan kesempatan itu, Ie Lip Tiong mengubah diri. Bajunya dibalikkan Warnanya menjadi hijau tua, pedangnya dibuang begitu saja, hal ini dapat menarik perhatian orang yang dibayangi olehnya.

Maka lenyaplah seorang Liong Pal Su dari permukaan bumi.

Ai Pak Cun sudah selesai mengisi perut. Dia keluar dari rumah makan tadi. Itu waktu, Ie Lip Tiong sendiri selesai berhias. Dengan mudah, dia dapat melanjutkan pengintaiannya.

Kepintaran Ai Pek Cun tidak berada di bawah Ie Lip Tiong. Dia juga sudah memperhitungkan tentang adanya pembayangan yang seperti itu. Sebelum pergi berangkat, dia memeriksa orang2 yang ada di sekelilingnya. Ie Lip Tiong telah mengubah wajah, juga berdiri jauh darinya, tentu saja tidak menarik kecurigaan.

Mengetahui bahwa keadaan sudah aman, Ai Pek Cun menuju ke arah pintu kota bagian utara.

Dia meninggalkan kota Kui-tie.

Kota Kui tie terletak ditepinya sungai Tiang-kang, sungai terbesar itu tepat di bagian utara, Dijaman mereka, jarang terdapat jembatan, penyebrangan dilakukan dengan perahu atau eretan. Untuk sungai Tiang-kang yang terlalu lebar, eretan tidak ada gunanya, harus perahu besar atau kapal penyebrangan. Menghadapi pintu kota ada terdapat tempat penyebrangan. Disana sudah berkumpul banyak orang yang hendak pergi kesebrang. Ai Pek Cun mencampurkan dirinya dengan orang2 itu.

Ie Lip Tiong tidak segera mengikutinya. Betul dia sudah berganti wajah, dengan mata Ai Pek Cun yang lihay dari gerak-gerik atau perawakan tubuhnya, dia dapat menaruh curiga. karena itu, harus menunggu kesempatan.

Lima belas kedipan mata kemudian, dari arah kota mendatangi sepasang suami istri tua, mereka ada membawa tentengan yang agak berat, otak Ie Lip Tiong tergerak, cepat2 menyonsong kedatangan kedua kakek nenek itu.

"Kakek berdua juga handak mengadakan penyeberangan?" Dia menyapa dengan hormat. "Oooo...." Sikakek memperhatikan pemuda yang menyambut mereka.

"Aku juga hendak menyebrang." Berkata dari Ie Lip Tiong. “Ooo. " Orang tua itu belum kenal kepadanya.

"Mari kubantu." Ie Lip Tiong mengangsurkan tangan, tanpa menunggu jawaban, dia menerima perbekalan sinenek tua.

"Menyusahkanmu saja, nak," berkata nenek tua itu girang

"Kita sama2 melakukan perjalanan jauh, sudah selayaknya bantu membantu” berkata Ie Lip Tiong merendah diri. Dia memanggul barang bawaan nenek itu.

"Anak bukan kelahiran sini?” Bertanya si kakek. “Kelahiran Oey-san, pak" Berkata Ie Lip tiong. Merekapun menuju ketempat penyeberangan.

Saat itu, perahu besar yang hendak menyebrangkan mereka sudah datang, penumpang-penumpang diri seberang berlerot tutun, Giliran para penumpang dari kota Kut-tie yang berlompatan naik perahu itu, dengan ilmu kepandaian yang Ai Pek Cun miliki dia dapat lompat sebagai orang pertama, tapi dia tidak mau melakukan perbuatan seperti itu. Membaikan orang2 untuk melewatinya satu persatu dia memperhatikan penumpang perahu yang akan berangkat bersama sama dengannya, Hal ini dapat memeriksa adakah orang yang membayangi dirinya.

Ie Lip Tiong dan pasangan orang tua itu naik perahu. Mereka melewati Ai Pek Cun.

Dikala Ai Pek Cun memperhatikan semua orang, dia tidak sadar bahwa seseorang telah mendahuluinya. Dia tidak kenal pada wajah baru Ie Lip Tiong.

Menyaksikan kecerdikan tokoh tukang beset kulit itu, Ie Lip Tiong bersyukur kepada takdir, adanya kakek dan nenek tua itu banyak membantu usahanya. Terakhir, Ai Pek Cun juga loncat ke dalam perahu penyebrangan yang sama.

Perahu besar itu berangkat kelain tepi sungai Tiang kang. Setengah jam kemudian, Ai Pek Cun meninggalkan perahu,

melanjutkan perjalanan kearah utara.

Is Lip Tiong membawa buntalan kakak dan nenek itu, tiba dilain tepi, dia menyerahkan barang2 tersebut dan melanjutkan perjalanannya, tetap membayangi Ai Pek Cun.

Satu harian penuh ditengah perjalanan. Dikala senja hampir mengarungi jagat, Ai Pek Cun memasuki kota Lu kang. Langsung memilih sebuah rumah penginapan yang agak mewah dan lenyap didalam rumah penginapan itu.

Hok lay Khek ciam, demikian nama dari rumah penginapan yang dipilih oleh Ai Pek Cun.

Ie Lip Tiong tidak memasuki rumah penginapan itu, dia memilih lain rumah penginapan yang bernama Liong bun Khek Ciam, tepat berdiri dihadapan sisi Hok lay Khek Ciam.

Menghitung jarak kota Lu kang dan Su shia yang berjarak diantara lima puluhan lie Ie Lip Tiong tidak dapat istirahat. Seperti apa yang dia ketahui, uang perak rumah makan Hian kok lauw dan Oey kok lauw hendak dibawa kearah kota Su shia, tentunya, markas besar partay Raja Gunung dibangun di daerah ini. Ai Pek Cun hendak pulang markas, tentu melakukan perjalanan malam. Untuk membayangi tokoh tukang beset kulit manusia itu, Ie Lip Tiong menggadanginya. Dia tidak tidur.

Memilih suatu tempat yang agak strategis, dia mengawasi pintu keluar rumah penginapan Hok lay khek Ciam.

Kali ini, perhitungan Ie Lip Tiong meleset. Tidak ada tanda2 bahwa Ai Pek Cun melakukan perjalanan malam. Semalam suntuk Ie Lip Tiong menjaga pintu rumah penginapan Hok lay Khek Ciam, tidak terlihat bayangan Ai Pek Cun keluar dari pintu, Pada dini hari, dengan wajah dan badan segar, terlihat Ai Pek Cun keluar dari rumah penginapan Hok lay Khek Ciam. Dia melanjutkan perjalanannya.

Kondisl badan Ie Lip Tiong agak terganggu, tapi dia tidak menyesal atas langkah setnya yang salah, begitu lelah, toch tetap membayangi mangsanya.

Ai Pek Cun keluar dari kota Lu kang.

Perjalanan diluar kota tidak dapat disamakan dengan didalam kota yang sesak ramai dengan orang. Sebelum meneruskan penguntitannya, Ie Lip Tiong mengubah diri lagi, kini dia berdandan sebagai seorang petani. Dengan pikulan dipundak, mengejar dibelakang Ai Pek Cun.

Arah tujuan Ai Pek Cun pindah ke barat daya. Hanya melakukan perjalanan dua jam dia sudah memasuki daerah Telaga Darah Hiat ouw.

Telaga Hiat ouw dipanggil juga sebagai nama lamanya Telaga Darah. Terletak diantara 4 kota ternama, dibagian Barat, Timur Utara dan Selatan terdapat kota Su shia, Hap bie, Lu kang dan Hiat hian. Daerah ini sebagai daerah muara besar dengan bertitik tolak dari gunung Lo san, menyusuri muara2 yang bersimpang siur, terjadilah daerah Telaga Darah.

Dari jauh, sudah terlihat gunung Lo san yang menjulang tinggi.

Hati Ie Lip Tiong tergerak, markas besar partay Raja Gunung dipasang pada gunung Lo san?

Letak gunung Lo san begitu strategis, dari puncak gunung itu, mereka dapat mengawasi semua daerah Telaga Darah sejauh keempat kota yang mengelilinginya. Mengapa arah tujuan uang perak Lauw Can Cun harus dibawa ke tempat kota Su shia? Mengingat adanya situasi yang seperti ini, tentu mudah dimengerti.

Ai Pek Cun mempercepat langkah larinya menuju ke salah satu muara. Hasll perikanan daerah Telaga Darah sangat makmur, banyak kaum nelayan yang hidup ditempat itu. Pada muara dimana Ai Pek Cun bertaring, terdapat beberapa parahu nelayan.

Ai Pek Cun menghampiri rombongan nelayan itu, berbicara sebentar, kemudian lompat naik kearah perahu kecil, maluncur ke arah Telaga Darah.

Ie Lip Tiong akan keputusan jejak Ai Pek Cun, bila dia tidak mengejar orang tua itu. Mencari lain muara, dia menemukan tiga nelayan yang sedang menambal jaring iKan mereka.

“Banyak hasilnya?" Dia menyapa mereka.

Dari ketiga nelayan itu, seorang yang berumur sudah tua menoleh kearah munculnya Ie Lip Tiong, menatap sebentar dan tanpa memberi reaksi, nelayan tua itu akan jahit jala lagi.

"Lumayan." jawabnya ogah2an.

"Boleh menyewa perahu?" bertanya lagi Ie Lip Tiong. “Saudara hendak kemana?" Bertanya lagi nelayan tua itu. “Pesiar." Berkata Ie Lip Tiong.

Nelayan tua meninggalkan pekerjaannya, menuju kearah sebuah perahu kecil.

"Inilah perahuku." Dia memberi keterangan.

Ie Lip Tiong memandang kepermukaan telaga, perahu kecil Ai Pek Cun sudah jauh, cepat2 dia lompat kearah perahu nelayan tua Itu.

Sang nelayan juga menaiki perahunya.

Ie Lip Tiong berkata, “Kukira pemandangan pegunungan Lu-san sangat menarik, bukan?"

Nelayan tua itu sudah mengayuh perahunya. Dia berkata: "Bagi kita yang sudah lama menetap didaerah ini, tempat itu biasa saja."

"Ada orangkah yang menetap di atas gunung itu?" Bertanya lagi Ie Lip Tiong.

Nelayan tua memberikan jawaban: "Tidak. Tidak seorangpun yang mau tinggal dlsana”

“Mengapa?" Ie Lip Tiong memandang nelayan tersebut.

Nelayan tua berkata: “Gunung Lo-san dikelilingi oleh air telaga, keadaannya serba susah. hilir mudik dengan perahu memakan waktu."

“Ooo "

Perahu meluncur terus, jauh dibeiakang perahu Ai Pek Cun. Kakek Nelalan itu masib mengayuh perahunya.

“Saudara asal mana ?" Dia mengajukan pertanyaan. “Kelahiran kota Tay peng." jawab Ie Lip Tiong terus terang.

“Kota Taypeng digunung Oey-san?" Bertanya kakek nelayan itu. "Betul."

“Ouw jauh sekali. khusus untuk menyaksikan keindahan dalam Telaga Darah" Kakek nelayan itu menatap tamunya.

“Bukan." Ie Lip Tiong menyangkal. "Aku sedang berada didalam perjalanan menuju kota Seng-kee-kauw sekaiian menyaksikan keindahan telaga Darah"

Telaga Darah berasal dari warna telaga yang kadang2 berubah menjadi merah. Disekitar gunung Lo san sering timbul awan merah, karena itu, warna air telagapun berubah. Pemandangan ini memang lain daripada yang lain, sangat indah.

"Ouw. " Kakek nelayan itu mengayuh lagi.

Perahu yang ditumpangi Ai Pek Cun meluncur terus, tidak ada tanda2 untuk menepi di gunung Lo-san. Kini menuju kearah timur.

Ie Lip Tiong menjadi bingung. Mungkinkah dugaannya salab? Markas besar partay Raja Gunung tidak dibangun diatas gunung Lo- san?" Tempat itu begitu strategis, dikelilingi oleh air, dilindungi oleh tempat yang tersembunyi.

Kakek nelayan mendayung terus perahu mereka.

“Lotiang tentunya kenal baik teatang keadaan tempat ini, bukan

?" Bertanya Ie Lip Tiong.

Sikakek menganggukkan kepalanya.

“Kecuali gunung Lo san, mungkinkah ada lain gunung?"

"Tidak. Kecuali gundukkan tanah yang menonjol keluar diatas permukaan air."

Ie Lip Tiong bertanya lagi “Macam apakah yang diartikan dengan gundukan2 tanah yang menonjol diatas permukaan air itu?"

Kakek nelajan memberikan jawaban “Itulah pulau2 kecil yang tidak cukup untuk menampung sebuah bangunan rumah."

Ie Lip Tiong mengasah otak, memeras isi pikirannya.

Perahu Ai Pek Cun berlayar semakin jauh, hampir tidak terlihat.

Perahu Ie Lip Tiong tetap membuntutinya. Mereka telah melewati gunung Lo-san.

Telaga Darah begitu luas, seolah-olah permukaan air laut kecil saja.

Kakek nelayan meninggalkan pengayuhnya dia berkata: "Klta sudah berada ditengah Telaga Darah,"

Pemandangan ditempat itu terlalu indah, diatas ada langit biru, dibawah air berwarna biru, seira biru. Seharusnya telaga itu di beri nama Telaga Biru.

"Ooooo...” Ie Lip Tiong belum berhasil memecahkan problem yang sedarg dihadapi olehnya.

"Eh, saudara ini tentunya pandai renang?" Bertanya lagi si kakek nelayan.

Ie Lip Tiong menggoyangkan kepala. “Tidak bisa." Dia memberikan jawabannya.

"Nah, ada belasan perahu yang meugurung kita." Berkata kakek nelayan itu.

Ie Lip Tiong terkejut, dia terlalu memusatkan pikirannya kepada Ai Pek Cun, terlalu ia percaya kepada kakek nelayan, dirinya sudah berada didalam kepungan perahu2 itu.

Lima belas perahu kecil meluncur dengan kecepatan luar biasa, laju sekali mengurung perahu yang Ie Lip Tiong tumpangi.

Mereka mengurung jago kita.

Ie Lip Tiong memperhatikan datangnya perahu2 itu, dia menoleh kearah sikakek nelayan, tampak wajah orang tua itu yang menyeringai seram.

Alis jago kita terjentik naik, dia merasa tertipu, mendekati kakek nelayan itu dan berkata: "Kau juga komplotan mereka?" Kakek itu tertawa berkakakan, tubuhnya melejit, plungg. terjun kedalam air

telaga. Dia meninggalkan perahunya.

Ie Lip Tiong terkurang dltengah tengah telaga yang sangat luas, perahunya tidak aman lagi, cepat2 membuka sepatu, meninggalkan pakaian atas, dengan tangan menggenggam pisau belati, dia juga menerjunkan dirinya.

Plungggg.....

Ie Lip Tiong terjun dalam. Langsung menyelam ke dasar telaga. Disini dia mendekam. Air telaga begitu jernih, dikala memandang keatas, dua bayangan berbintik hitam terpeta dikaca hitam matanya, satu besar dan lainnya kecii. Bintik hitam besar diam tidak bergerak, dan bintik hitam kecil mendekati bayangan yang kita sebut lebih dahulu. Itulah bayangan perahu dan si kakek tukang perahu. Maksudnya mudah di duga, dia percaya bahwa Ie Lip Tiong tidak pandai ilmu air, dia hendak merusak perahunya. Menenggelamkan mangsanya.

Hati Ie   Lip   Tiong   tertawa   geli,   dengan   perlahan,   dia menggerakkan tubuhnya, mendekati bintik2 hitam itu.

Menunggu sampai dekat, dengan pisau belati yang diluruskan kedepan, dia menerjang tukang perahu tua.

"Aouw...." sikakek mengeluarkan suara jeritan ngeri, terguling guling meluncurkan diri, timbul kearah permukaan air, membawa warna merah yang panjang berdarah.

Ie Lip Tiong tenggelam kedasar telaga, mengayuh baberapa saat, baru naik perlahan lahan.

Perhitungan sipemuda sangat tepat, dia timbul diatas permukaan air, dengan bantuan bayangan sebuah perahu yang menutupinya. Inilah salah satu dari 15 perahu yang datang mengurung

Tukang perahu yang membawe Ie Lip Tiong kepusat telaga sedang menderita luka dipantatnya, itulah hadiah Ie Lip Tiong, kini sinelayan dikerumuni banyak orang. dia mendapat pertolongan kawan2nya. mulutnya ber-teriak2!

“Awas! Bocah itu sangat alot. Tujuh Naga Air, lekas tangkap dia!" Plung.... Plungg.... Plungggg..... Plungggg.... Plungggg.....

Tujuh laki2 berbadan tegap menerjunkan diri mereka, inilah orang yang mendapat julukan nama Tujuh Naga Air. mereka menerjunkan diri, mencari jejak musuhnya.

Adanya julukkan sebagai Tujuh Naga Air tentu mempunyai keistimewaan mereka, Ie Lip Tiong membikin perhitungan baru, untuk perang tanding didalam air, tentu tidak dapat mengalahkan ketujuh orang itu, dia merayap naik. Dengan kecepatan yang luar biasa, dia sudah berada diatas geladak perabu itu. Tiga laki2 berbaju hitam menoleh, mereka segara berteriak: “Ini dia orangnya!"

Ie Lip Tiong menggerakkan kaki, pletak.... pletak.....

Dua dari tiga laki2 berbaju hitam itu ditendang jatuh, tulang mereka patah remuk, terjungkal keair, dan seorang lagi, karena terdorong oleh tenaga dalam Ie Lip Tiong, juga jatuh kedalam telaga.

Didalam sekejapan mata, Ie Lip Tiong menjatuhkan ketiga orang itu. Dia berhasil mengadakan pembajakan perahu.

Semua perahu bergerak, kini mengurung kendaraan air yang telah dibajak, dimana Ie Lip Tiong mempernahkan dirinya,

Nelayan tua yang membawa Ie Lip Tiong adalah pemimpin orang2 itu. Namanya Yo Tay Bwee, dia tidak sempat membalut lukanya, menyaksikan ketangkasan Ie Lip Tiong diperahu lain, dia ber-teriak2: “Saudara2 kepung perahu itu. jangan beri kesempatan kepadanya untuk melarikan diri."

Perintah Yo Tay Bwee dan gerakkan perahu perahu itu terjadi disaat yang sama, Ie Lip Tiong terkurung lagi.

Perahu yang terdekat ditumpangi oleh tiga laki2 berbaju hitam, mereka lompat naik keatas perahu Ie Lip Tiong. Memisahkan diri, dengan golok2 ditangan, mereka menyerang pemuda kita.

Ie Lip Tiong tidak membiarkan dirinya terkurung seperti itu, badannya bergerak, kini dia sudah dekat dangan seorang baju hitam, tangannya melayang.

“Hekkk”

Tanpa dapat ditangkis, dada laki2 itu dipukul telak, disertai oleh jeritannya yang panjang, tubuhnya jatuh keair.

“Bek, bek”

Lagi dua kali pukulan. Ie Lip Tiong menjatuhkan sisanya orang2 berbaju hitam.

Enam musuh telah disingkirkan olehnya. Perahu Yo Tay Bwee sudah kosong, dan perahu dlmana tiga orang itu mengayuh juga kehilangan penumpang.

Satu perahu jatuh ke dalam tangan Ie Lip Tiong.

Jumlah perahu yang ada terdiri dari enam belas perahu laki2 berbaju hitam. Tiga belas perahu mengurung Ie Lip Tiong, tapi tidak seorangpun dari mereka yang berani membikin penyerangan.

Tujuh Naga Air bekerja dibawah, mereka merusak perahu yang dikuasai oleh jago kita.

Sebagai Duta Nomor Tiga Belas dari persatuan Gerakan Gabungan Partay2 dan Golongan golongan Su hay tong sim beng, Ie Lip Tiong mempunyai kepintaran dan kepandaian yang diatas manusia biasa. Tubuhnya melejit, meninggalkan perahu yang sudah rusak melayang kelain perahu.

Disini, dia disambut oleh tiga batang golok yang berkilat2

Tentu saja, senjata senjata itu tidak dapat mengenai kulit Ie Lip Tiong, gerakan jago kita begitu, gesit, begitu cekatan, hanya satu kali terkaman, dia mencekal pergelangan tangan seorang.

“wing” dilemparkan keatas awang2 “Plung jatuh keair.

“Plung.... Plung. Dua orang lagi dijatuhkan oleh jago kita.

Tujuh Naga Air hendak membantu pertempuran itu, menyaksikan ilmu keandalan Ie Lip Tiong yang begitu tinggi, mereka tidak berani bertanding diatas perahu, kelebihan ketujuh orang itu adalah menyelam dan bersarang didalam air, dengan mengembangkan kepandaian mereka, lagi2 membocorkan perahu sipemuda.

Satu perahu lagi yang rusak masuk air Telaga Darah.

"Ha ha ha...." Ie Lip Tiong tertawa sudah pindah perahu. Dari satu perahu kelain perahu. Lagi2 tiga orang berbaju hitam yang diusir pergi dari perahunya.

Demikian pertempuran itu berjalan tidak seimbang. Delapan buah perahu sudah dirusakkan, sisanya tidak berani terlalu dekat. Buyarlah kurungan perahu2 itu.

Ie Lip Tiong sedang berusaha menguasai perahu rampasannya untuk menepi, Dimisalkan tidak ada gangguan, karena tidak adanya keberanian dari para nelayan Telaga Darah untuk menandinginya, jago kita dapat meninggalkan tempat itu.

Tiba2.....

Diudara lepas berkumandang satu suara pekikan yang panjang, datangnya dari arah tepi telaga, suatu suara yang berkekuasaan hebat.

Ie Lip Tiong memandang kearah itu, tidak ada bayangan sama sekali. Cepat seperti itu disana terlihat sebuah titik hitam yang sangat kecil, semakin lama semakin besar, itulah seorang kakek tua yang mempunyai bentuk tubuh sangat kurus, dengan meluncurkan sepasang kakinya diatas permukaan air, dia melayang datang

Ilmu Teng peng Tu cui yang menakjubkan sekali!

Untuk jaman itu, tokoh2 silat tanpa tandingan adalah 12 Duta Istimewa Berbaju Kuning dari Su hay-tong sim beng. Dari ketiga belas orang ini, termasuk Ie Lip Tiong, tidak seorangpun yang dapat menggunakan ilmu Teng peng Tu cui diatas permukaan air yang begitu luas seperti Telaga Darah.

Tidak perlu diragukan lagi, bahwa orang tua kurus yang sedang meluncur datang itu adalah salah seorang dari 24 orang Raja Silat.

Orang tua kurus itu sudah berada dihadapan semua orang. Ie Lip Tiong tidak kenal kepadanya. Inilah salah satu dari 12 Raja Silat golongan sesat.

Siapakah orang tua kurus ini?

Yo Tay Bwee berteriak girang: "Tho It Beng Cianpwe, kedatanganmu tepat pada waktunya,"

Tho It Beng!

Orang tua kurus ini bernama Tho It Beng? itulah raja Silat Buaya!

Sebelum Ie Lip Tiong turun gunung, sang kakek guru, Raja Silat Suci Hong Hian Leng pernah bercerita tentang si Raja Silat Buaya Tho It Beng yang aneh. Keanehannya terletak pada ketahayulan. Tho It Beng sangat patuh kepada hukum tata krama. Begitu percayanya kepada ramalan2 buku pat-kwa, sebelum dia bertanding dengan lawan, dia mengajukan pertanyaan tentang hari lahir atau bintang kelahiran orang tersebut.

Manakala bertanya kelahiran orang itu klop atau segaris dengan bintang kelahiran Tho It Beng, si raja silat tidak akan mengganggu orang itu, tidak nanti dia menempurnya. Bilamana bintang kelahiran musuh yang berhadapan mengganggu garis hidup bintang kelahiran si Raja Silat Tho It Beng tentu menempurnya mati-mati an. Tentu saja, didalam hal ini, mengingat ilmu kepandaian si Raja Silat Buaya yang sudah terlalu tinggi, belum pernah ada orang yang dapat mengalahkannya, selalu Tho It Beng yang keluar sebagai pemenang. Hasil kemenangan ini disambung lagi dengan ketahayulannya. Tho It Beng berterima kepada buku pat kwa. Karena adanya pertentangan bintang kelahiran itu, berkat adanya bimbingan takdir2 Ilahi, dia memenangkan pertandingan!

Inilah yang menjadi keanehan dari Raja Silat Buaya Tho It Beng. Ketahayulan yang digabungkan dengan keserasian hidup.

Raja Silat Buaya Tho It Beng menghadapi Ie Lip Tioog, dia mendemontrasikan ilmu Terapung Diatas Air Teng peng Tu Cui yang sangat mahir, sengaja berdiri tegak, menginjak air telaga tanpa sedikit air pun yang menenggelamkannya, kepalanya menoleh kearah sikakek nelayan Yo Lay Bwee.

"Regu nelayanmu dihancurkan oleh bocah ini? Sudah babak belur?"

Yo Tay Bwee menundukkan kepalanya rendah. Inilah reaksi tanpa sangkalan.

Tho It Beng mengangguk-angggukkan kepalanya, berpaling lagi kearah Ie Lip Tiong, dia berkata: "Eh, ilmu kepandaianmu boleh juga. Huah, lumayan.... lumayan..."

“Terirna kasih." Ie Lip Tiong tertawa. “Terus terang kukatakan. Sebenarnya, ilmu kepandaian orang2mu inilah yang terlalu rendah."

Jawaban Ie Lip Cong yang begitu berani sangat mencocoki selera Tho It Beng, berulang kali dia menganggukan kepalanya.

“Betu.... Betul...." Dia mengiyakan kata2 Ie Lip Tiong. "Ai Pek Cun itu sungguh keterlaluan. Mengapa menyuruh anak buah Yo Tay Bwee untuk menandingi jago yang sepertimu? Eh, kau bergelar Pendekar Bintang apa tuh?"

"Pendekar Pemetik Bintang Liong Pal Su." Berkata Ie Lip Tiong.

Orang yang dapat membayangi Ai Pek Cun dari Cui-cit lie sampai ditempat ini hanya satu orang saja, itulah si Pendekar Pemetik Bintang Lioag Pal Su. Tetap dia menggunuakan nama dan gelar itu.

"Nah," Berkata Tho It Beng. "keluarkan pedang tukang petik bintangmu."

“Pedang itu sudah kubuang dltengah jalan." berkata Ie Lip Tiong. "Mau kuberi pinjam sebatang pedang lain?” bertanya Tho It

Beng.

"Terima kasih. Tanganku inipun mempunyai ketajaman yang tidak kalah dengan pedang,"

Tho It Beng mengeluarkan jempolnya. "Hebat." Dia memberi pujian. “Kau kelahiran bintang apa?"

“Virgo." Berkata Ie Lip Tiong. “Tanggal 2 Agustus tahun 303. "Ung...." Raja Silat Buaya berkemak kemik sebentar. “Bintang

Virgo untuk kelahiran bulan delapan, bintang seorang wanita yang

lemah. tapi tidak boleh dipandang rendah, sederajat dengan bintang aquarius, kukira.... kukira.... Aha.... tentu tidak menguntungkan dirlmu."

“Bagaimana?" Ie Lip Tiong terkejut. "Aku harus mati dibawa tangan Ciatipwe?"

“Tidak begitu berat." berkata Tho It Beng.

Disinilah letak keistimewaan Sang Raja silat buaya, dari hukum perbintangan, dia akan meramalkan nasib sendiri, juga nasib orang. Hasil ramalan untuk hari itu adalah Netral!

Belum pernah Tho It Beng mengadakan pelanggaran kepada nasib yang sudah ditentukan oleh bintang2, demikianpun pada hari ini, dia menekuninya.

Ie Lip Tiong mengajukan pertanyaan: “Apa kata bintang, tentang nasib kita berdua?"

"Tiga pukulan tangan yang menentukan." berkata Tho It Beng. "Kalah atau menang, mati atau hidup akan ditakdirkan oleh Yang Maha Kuasa."

“Mengadu pukulan tangan?" Ie Lip Tiong meminta ketegasan. "Betul." Tho It Beng menganggukkan kepala. "Hanja tiga kali!"

Hal ini tidak mengganggu kepandaiannya menginjak diatas permukaan air, dia tetap berdiri didepan perahu. “Kita akan mengadu pukulan2 tangan seperti apa yang sudah ditentukan oleh takdir Ilahi" dia berkata tenang.

“Baik" Ie Lip Tiong menerima tantangan. "Silahkan naik.”

Raja Silat Buaya Tho It Beng menggoyangkan tangan, maka tubuhnya terbang naik keatas perahu Ie Lip Tiong, meninggalkan permukaan air, tidak setetes air telagapun yang terbawa oleh sepasang kakinya. Betul2 dia memiliki ilmu kepandaian Terapung Di atas Air Teng peng Tu-cui yang sangat sempurna.

Setelah menginjakkan kakinya diatas papan perahu, Tho It Beng menoleh kearah Yo Tay Bwee.

"Kau mengikuti percakapan tadi? Sudah jelas."

Yo Toy Bwee masih menutup pantatnya yang ditusuk oleh pisau belati Ie Lip Tiong, sakitnya tidak terhingpa, dengan meringis menahan sakit, dia menganggukkan kepala.

“Sudah." Dia berkata.

Tho It Beng berkata: "Kau harus menjadi juri yang jujur Kau harus berkata, siaap.... satu, dua... tiga.... Gempur! Nah, itu waktu, aku segera menggempurnya. Demikian untuk dua kali berikutnya lagi. Mengerti?"

Yo Tay Bwee menganggukkan kepala.

Tho It Beng berhadap hadapan dengan Ie Lip Tiong.

“Bikinlah persiapan. Perintah Yo Tay Bwee adalah komando. Kita saling gempur. Kukira ada baiknya diperinci sehingga tiga kali, setuju?"

“Sangat setuju." Berkata Ie Lip Tiong.

Ilmu kepandaian Tho It Beng sederajat dengan kakek gurunya. Golongan raja2 silat itu menang dua tingkat generasi darinya. Sangat beruntung tentang adanya peraturan yang Tho It Beng tetapkan, untuk mengadu tiga pukulan tangan, dia belum tentu menderita kerugian.

Tho It Beng memeramkan mata, dia memutarkan jalan peredaran jalan darahnya sehingga keseluruh tubuh, demikian sampai tiga putaran.

It Lip Tiong juga membikin persiapan yang kuat, tenaganya dipusatkan kepada sepasang tangan? Siap menerima gempuran si Raja Silat Buaya

Yo Tay Bwee mempertahankan kakinya diatas papan perahu. perahu lain tentunya. Ie Lip Tiong dan Tho It Beng sudah siap, maka Yo Tay Bwee berteriak: "Sudah siap?”

Ie Lip Tiong dan Tho It Beng saling memperdengungkan suara mereka. Yo Tay Bwee memberi komando: “Satu.... Dua. Gempur!"

“Blegur. ”

Pukulan tangan Ie Lip Tiong dan pukulan tangan Tho It Beng membuat perpaduannya yang pertama, kekuatan itu ternyata seimbang, maka memecah kesamping membuat dua aliran gelombang pasang. Perahu Yo Tay Bwee menaik dan bergerak dari tempatnya yang semula. Bagaimana keadaan dua orang yang sedang adu tenaga?

Dari gelombang pasang yang mereka timbulkan memberi kesan, seolah-olah kekuatan kedua orang itu tidak ada perbedaannya. Kenyataan memanglah demikian, gempuran yang pertama membawa hasil draw.

Kekuatan sama kuat! Tapi kedudukan mereka sudah berubah. Bilamana Tho It Beng dapat diam ditempat tanpa desiran angin, keadaan Ie Lip Tiong begitu bahaya, hampir tubuh jago muda itu jatuh keair, berguling dan berputar sebentar, baru dapat balik ketempat kedudukannya yang semula.

Mereka berhadapan muka kembali.

Yo Tay Bwee berteriak lagi. “Siiaaaappppp. Gempur!"

Tho It Beng mendorong kedua tangannya, demikian juga keadaan Ie Lip Tiong, dia menekan kedua telapak tangan, maju ke arah depan.

Braaaaaakkkkk......

Keadaan ini tidak jauh berbeda dengan keadaan yang pertama, perbedaan terletak pada penambahan tenaga dari kedua orang itu, masing2 memperkuat tenaga pukulannya, gelombang pasang yang satu disusul dengan gelombang berikutnya, bahkan lebih keras dari yang semula, maka dua nelayan berbaju hitam terdampar oleh gelumbang yang menyapu perahu itu, mereka jatuh keair. Beberepa orang cepat membikin penolongan.

Ie Lip Tiong bergoyang goyang dan berputar lagi, setelah itu, dia balik ketempatnya yang semula. Membikin persiapan penggampuran yang ketiga.

Inilah tipu muslihat si Pedang yang Menundukkan Rimba Persilatan Wie Tauw, alias Liong Pal Su alias Ie Lip Tiong.

Pukulan Tho It Beng yang pertama hanya menggunakan 5 bagian dari kekuatan siraja Silat.

Ie Lip Tiong bermata tajam, sengaja menggoyang goyangkan dan memutar tubuh, seolah-olah tidak sanggup menerma setengah kekuatan yang Tho It Beng kerahkan. Dengan demikian, membuat kelengahan hati orang. Pada pukulan berikutnya, Thio It Beng rnenambah 2 bagian kekuatan 70% persen itu betul2 menarik keuntungan. Ie Lip Tiong tidak sampai menderita luka, masih berputar, dengan maksud tujuan agar musuhnya tidak menggunakan tenaga penuh pada serangan ketiga.

Kekuatan Ie Lip Tiong yang seperti itupun sudah mengejutkan Raja Sllat Buaya Tho It Beng.

“Eh, begitu hebat?" Dia memperlihatkan wajah yang terkejut.

Ie Lip Tiong menghembus-hembuskan napasnya yang dibuat terengah engah, dengan suara lemah dia berkata: “Terus terang saja, bilamana cianpwee menambah sedikit tenaga lagi, boaepwe tidak dapat mempertahankan diri."

Inipun suatu sandiwara. Tho It Beng mengeluarkan suara jeritan yang melengking panjang: "Kentut bau, kukira, kau bukan manusia biasa."

"Tentu saja bukan piauwsu biasa." Berkata Ie Lip Tiong. "Sayang belum dapat menandingimu Bila kau mengkehendaki kematianku, menambah sedikit tenaga lagi, aku matilah."

"He He...." Raja Silat Buaya Tho It Beng tertawa “takut mati?" "Manusia manakah yang tidak takut mati?" Ie Lip Tiong membikin

perdebatan. "Bedanya, ada orang yang lebih rela mati, dari pada menanggung dosa yang tidak terhingga. Ada orang yang rela mati karena tidak dapat memecahkan problem berat yang menyelubungi. Ada orang yang rela mati karena tidak dapat memberi jaminan kepada keluarganya. Dan aneka macam kematian yang tidak dapat ditolak membuat orang itu tidak takut menghadapi kematian. Demikanpun dengan keadaan diriku. Tiga pukulan maut sudah lewat dua, haruskah takut menghadapi sisanya?”

"Bagus," Tho It Beng memberi pujian. "Sudahkah kau membikin persiapan?" Ie Lip Tiong menganggukan kepala.

Tho It Beng menoleh kearah yo Tay Bwee, itulah perintah, agar sikakek nelayan memberi perintah.

Itu waktu, perahu Yo Tay Bwe sudah dikayuh dekat dan membuka mulut: "Satu.... Dua. Gempur!"

Ie Lip Tiong bergeram keras, mendorong kedua tangan, sangat keras sekali, inilah tenaga penuh.

Lagi2 terdengar dentuman suara dari perpaduan dua kekuatan, bagaikan digaluh oleh pukulan raksasa, dada Ie Lip Tiong menjadi sesak bernapas dirasakan juga dunia yang seperti berputar, matanya ber-kunang2 tubuhnya betul2 terlompat kebelakang, jatuh diatas permukaan air.

Tujuh Naga Air sudah menantikan kejadian   yang seperti ini, lama sekali mereka mengharapkan hal ini terjadi, bagaikan merebut bola air, mereka saling terjang.

Ie Lip Tiong mengalami getaran terhebat. Caranya yang mengundurkan diri itu adalah cara yang terbaik untuk menghindari luka yang terlebih berat dia jatuh diatas permukaan air Telaga Darah, tapi tidak mengalami cedera, jatuhnya dicelentangkan, menggunakan kesempatan itu, dia menyedot napasnya sehingga tiga kali, memperputarkan peredaran jalan darahnya cepat, membenarkan keadaan2 yang kurang normal.

Bagitu cepat, Ie Lip Tiong sudah membenarkan dirinya dari posisi yang ada.

Disaat ini, Tujuh Naga Air sudah menerjang datang. Si Naga Pertama Song Toa dan Naga Ketiga Song sam yang menyaksikan keadaan Ie Lip Tiong terlena di atas permukaan air dengan mata tertutup, menduga bahwa musuh itu sudah jatuh pingsan, mereka menjulurkan tangan, siap menyeret tubuh orang itu.

Ditaat itulah, Ie Lip Tiong menggerakkan kedua tangan, cepat sekali, membacok kedua naga air itu. "Aduh. ”.

"Auuw "

Naga Pertama Song Toa dan Naga Ketiga Song Sam dihajar keras, mereka tidak segera binasa, tapi tulang2 rusuk kedua jago air itu sudah patah berguguran.

Kelima Naga lainnya berteriak, serentak mereka memisahkan diri, mengurung Ie Lip Tiong.

Raja Silat Buaya Tho It Beng betul2 mentaati apa yang sudah dikatakan oleh bintang2nya untuk hari itu, setelah membentur dengan tenaga kekuatan Ie Lip Tiong sampai tiga kali, dia tidak turun tangan lagi, berdiri diatas perahunya, menonton pertandingan itu. Dengan tertawa terbabak, dia berkata: "Hayo, Tujuh Siluman Naga Air, giliran kalian yang harus mengeluarkan tenaga. Hendak kulihat, bagaimana jago2 airku menangkap musuh?"

Naga Dua Song Jie. Naga Empat Song Su, Naga Lima Song No. Naga Enam Song Liok dan Naga Tujuh Song Cit saling pandang, tiba2 saja mereka mengeluarkan suara pekikan keras, sepuluh tangan memukul air, membuat semprotan keras, arah tujuan berpusat pada Ie Lip Tiong.

Inilah penyerangan air yang hebat,

Ie Lip Tiong menutup kedua mata, cipratan air itu sangat pedas sekali, dia belum mendapat cara bagus untuk menghadapi serangan mereka, tangannya dihantamkan ke atas air membalas serangan dan pertahanan yang sama.

Terjadilah perang air!

Para Siluman Naga Air tidak hentinya berteriak teriak tangan merekapun dipukul pukulkan, air itu seperti mau menenggelamkan jago kita.

Pertarurgan seperti itu berlangsung untuk beberapa waktu, ilmu kepandaian air Ie Lip Tiong tidak dapat menandingi Tujuh Siluman Naga Air, dia berada dalam posisi bertahan, keadaannya seringkali terjepit. Di kala dia hendak berusaha mengatasi kesulitan itu, kedua kakinya terasa dipegang orang, terseret kedasar telaga. Inilah perbuatan musuhnya, tentu buah hasil dari para siluman naga air.

Betul!

Yang menarik kaki Ie Lip Tiong adalah Naga Enam Song Liok dan Naga Tujuh Song Cit, mereka berusaha membetot kaki musuhnya dengan tujuan melahapnya didasar telaga.

Ie Lip Tiong mengerahkan tenaga dalamnya, demikian terjadi perkutetan didalam air.

Beberapa bayangan gelap meluncur kearahnya, para siluman naga lain segera merejeng jago kita.

Ie Lip Tiong merggerakkan kedua tangan memukul kearah orang2 itu.

Naga Lima Song Ngo dan Naga Empat Song Su menerima pukulan, tarjadi benturan yang hebat.

Berulang kali Ie Lip Tiong hendak melepaskan diri, tidak berhasil, tenaganya telah banyak mengalami kekurangan. Hal ini disebabkan oleh karena adanya benturan benturan keras dengan si Raja Silat Buaya Tho It Beng.

Pertarungan didalam air berlangsung untuk bebrapa waktu, dikeroyok oleh jago2 air kelas satu yang seperti tujuh Siluman Naga Air, Ie Lip Tiong kewalahan, suatu kali kepalanya tertekan, menenggak beberapa ceglukan air, sinar pandangan matanya berkunang kunang, haapppp.... jago kita diterjungkal balikkan, lenyaplah semua ingatannya.

Ie Lip Tiong mendapat rejengan para siluman naga air itu.

Tujuh Siluman Naga Air adalah tujuh saudara kembar dari satu kandungan, mereka dilahirkan oleh seorang ibu nelayan, hancurnya Naga Pertama dan Naga Ketiga Song Sam membuat suatu dendam kesumat yang tidak terhingga. Karena itu, Ie Lip Tiong mengalami hujan pukulan, pelampias kemarahan. Mereka memberikan pukulan2 luar biasa. Setelah puas, mereka membawanya ke atas permukaan air, disana Raja Silat Buaya Tho It Beng sudah menunggu.

Disaat itu, Ie Lip Tiong sudah tidak sadarkan diri lagi. Jago kita ditawan musah!

KEADAAN begitu gelap, hanya bayangan hitam yang menyelubungi tempat itu.

Inilah situasi pemandangan dikala Ie Lip Tiong sadarkan diri, dia mendapatkan diri sendiri berada didalam suatu tempat yang sangat gelap, tubuhnya terikat, matanya tertutup.

Goncangan keras menyakitkan lukanya.

Memperhtikakan untuk beberapa waktu, Ie Lip Tiong berani memastikan, bahwa dirinya berada didalam suatu kereta tertutup.

Rasa sakit menyerang seluruh bagian tubuhnya. Inilah akibat dari pukulan2 Tujuh Naga Air.

Kereta itu berjalan terus. Dimana dia hendak dibawa?

Ie Lip Tiong sedang memikir mikir Siapa2kah yang duduk satu kereta dengan dirinya?

Didalam suasana yang seperti itu, Ie Lip Tiong tidak dapat membuat penilaian. Ie Lip Tiong memeramkan mata lagi. Kemana dia hendak dibawa? Markas partay Ai Pek Cun?

Tidak salah. Tentunya, orang itu hendak membawa dirinya kedalam sarang partay Raja Gunung, suatu golongan kerja yang sangat senang kepada usaha pembesetan kulit manusia.

Ie Lip Tiong mengerenyitkan keningnya. Dari apa yang sudah diketahui, partay Ra ja Gunung menempatkan sarang mereka di sekitar Telaga Darah. Dan hampir dia berhasil menemukan tempat itu, bila bukan gagalnya usaha membuntuti Ai Pek Cun.

Kini, Ie Lip Tiong dibaringkan dalam sebuah kereta tertutup, dibawa kesuatu tempat jing belum diketahui. Masih gelap sekali.

Bisakah hal ini terjadi, bahwa sarang partay Raja Ganung berada diluar daerah Telaga  Darah?

Kakek guru Ie Lip Tiong, si Raja Silat Suci Hong Hian Leng ada memberi tugas berat, dia, Ie Lip Tiong sebagai Duta Istimewa Berbaju Kuning Nomor Tiga Belas dari persatuan gabungan Su hay- tong sim beng, wajib menyelidiki tempat yang dijadikan markas besar partay Raja Gunung

Ie Lip Tiong menerima tugas itu dengan rela dan segala senang hati.

Bintik2 cahaya terang sudah menampakkan dirinya. Disekitar Telaga Darah, para nelayan dikoordinir dengan kekuatan, tentunya anak buah dari partay rahasia itu.

Dia tertawa ditempat ini!

Tanpa diudukkan didalam kereta, tanpa dibawa kelain tempat. Ie Lip Tiong dapat berhubungan dengan pucuk pimpinan tertinggi dari partay Raja Gunung, inilah suatu keharusan.

Tapi, kenyataan tidaklah demikian.

Penetapan sementara yang permisalan kedudukan markas Partay Raja Gunung mengambil kedudukan di Telaga Darah harus dikesampingkan.

Kini, dirinya sedang dibawa kesuatu tempat baru, suatu tempat yang masih asing baginya, suatu tempat yang sangat gelap dan dirahasiakan.

Kemanakah Ie Lip Tiong hendak dibawa?

Roda2 kereta itu masih menggelinding terus. Kadang2 diseling oleh ringkikan suara kuda. inilah kuda2 penarik kereta. Semua kejadian yang tersebut diatas adalah rangkaian dari hasil pembuntutan Ai Pek Cun.

Dimanakah manusia itu?

Terbayang wajah Ai Ceng yang sangat cakep menarik, gadis itu memiliki sifatu2 yang panas membara.

Adanja bentrokan Ie Lip Tiong dengan pihak Partay Raja Gunung berarti meretakkan hubungan baik dengan Ai Pek Cun.

Tidak adanya hubungan baik dengan Ai Pek Cun akan membawa suatu ekor kisah cintanya yang sulit diterka.

Dapatkah dia memperistri seorang patri musuhnya?

Ai Ceng begitu lincah, begitu menarik dan begitu bergelora. Sungguh sangat di sayangkan, bila sampai terjadi kisah cinta yang dibayangi oleh perpecahan.

Lain bayangan gadis menggantikan bayangan Ai Ceng, itulah bayangan Ang Siauw Peng.

Memiliki sifat2 yang hampir sama dengan Ai Ceng, Ang Siauw Peng mompunyai ilmu kepandaian yang cukup lumayan, daya tariknya hanya menduduki urutan dibawah Ai Ceng.

Bayangan Ang Siauw Ping semakin membesar, semakin membesar dan akhirnya menutupi semua khayalan Ie Lip Tiong.

"Heeiii ” Tiba2 satu suara karas memecahkan kesunyian itu.

Pundak Ie Lip Tiong kena ditepuk orang.

“Ie Lip Tiong," Panggil lagi suara itu. "Masih kau belum sadarkan diri?" Inilah suara si Raja Buaya Tho It Beng.

Ie Lip Tiong terkejut. "Aaaaaa. " Dia bingung.

“Ie Lip Tiong," Panggil lagi Tho it Beng “hanya sampai disini sinikah ilmu kekebalanmu?”

Tho It Beng tidak lagi memanggil dengan nama Liong Pal Su. Dia memanggil langsung dengan kata2 Ie Lip Tiong. Ini berarti locot dan copot penyamaran.

"Aku bukan Ie Lip Tiong." Sipemuda hendak menyangkal.

“Ha Ha Ha Ha...." Tho It Beng tcrtawa. "Bikin tamat sajalah permainan sandiwaramu itu. Penyamarannya sudah tarbuka, topeng2 yang mengotori wajahmu itu sudah dilunturkan. Kau adalah Ie Lip Tiong alias Pandekar Pemetik Bintang Lioog Pal Su, alias si Pedang Yang Menundukkan Rimba persilatan, It-kiam-tin bu-lim Wie Tauw, jago baru dari gerakan Su hay tong sim-beng, Duta Istimewa Nonsor Tiga Belas dari kekuatan itu. Ha Ha Ha Ha. ”

Ie Lip Tiong menundukkan kepalanya.

"Tho Cianpwe," Akhirnya suara sipemuda menjadi lemah, Kau lihay, aku menyerah kalah."

"Tentu saja kau kalah" Berkata Tho It Beng sangat bangga. "Adakah jago2 silat diluar lingkungan 24 raja silat ternama dapat menandingi aku?"

"Tho Cianpwe," Memanggil Ie Lip Tiong. "Kemanakah Cianpwe hendak mengendalikan kereta?"

Tho It Beng balik mengajukan pertanyaan:”Tempat manakah yang hendak menjadi tujuan kehendak hatimu?"

"Maksud Cianpwe?"

“Aku hendak mengajak kau ke tempat markas besar partay besarku"

"Partay Raja Gunung?" "Tepat!"

"Dimanakah tempat itu?" Ie Lip Tiong memancing rahasia orang.

"Ha ha....." Raja Silat Buaya Tho It Beng tertawa. "Menurut dugaanmu, dimanakah seharusnya letak markas besar Partay Raja Gunung?"

"Apakah bukan didaerah Telaga Darah?" “Bukan." Tho It Beng menolak dugaan yang seperti itu. "Dimana?" bertanya Ie Lip Tiong.

“Disuatu gunung lain yang terpisah dari keramaian, dikelilingi oleh air2 yang luas"

Ie Lip Tiong berkata: “Mengapa kalian menutup kedua mataku?"

Thio It beng berkata: "Agar kau tidak mengetahui letak tempat yang tepat dari markas besar Partay Raja Gunung."

“Begitu takut kepadaku?" Ie Lip Tiong megeluarkan suara dingin. “Ha Ha.... Kukira, kata2mu yang seperti ini agak keliru.

Seharusnya, kaulah yang harus takut kepada orang”. “Boanpwe tidak pernah takut kepada orang "

"Apa kau pernah dengar, bahwa ada raja2 silat yang takut kepada orang?"

Pcmbicaraan mereka terputus. Kereta masih berjalan.

Didalam keadaan tubuh terikat, mata tertutup, Ie Lip Tiong hendak digiring ke markas besar Partay Raja Gunung.

Berbeda dengan partay2 lainnya, Partay Raja Gunung masih menyembunyikan gerakan-gerakan mereka, juga menyembunyikan markas besar komplotan itu.

Suatu saat, Ie Lip Tiong membuka mulut lagi, dia mengajukan pertanyaan: “Tho Cianpwe, bagamanakah hari ini?"

“Hmm...” Tho It Bang bersunggut2 "Kau hendak menghitung jarak perjalanan?"

Lagi2, usaha Ie Lip Tiong mengalami kegagalan. Ia memuji kecerdikan dan kecepatan pikiran si Raja Silat Buaya.

"Mata boaopwe ditutup." berkata Ie Lip Tiong, "Karena itulah, boanpwe tidak mengetahui hari." "Aku tidak takut kau mengetahui hari” berkata Tho It Beng. "Kau telah melakukan perjalanan 43 jam. Kini menjelang sore yang kedua."

"Heran," berkata Ie Lip Tiong. "Mengapa boanpwe masih mengenakan pakaian basah?"

“Sekarang musim apa? Mengingat kau terkurung didalam kereta yang tertutup, mungkinkah ada sinar matahari yang mengeringkan bajumu? Tidak satupun dari orang2 ku yang mau menggantikan pakaianmu, karena itu, baju tetap basah!"

Ie Lip Tiong berkata: "Boanpwe hendak nsembuang air kecii, dapatkah cianpwe memberi kelonggaran untuk mempernnahkan air itu?"

"Hmmm.... Bajumupun belum kering, kencing saja dicelana. Tetap saja basah Jangan kau hendak mencari kesempatan yang bukan2"

"Cianpwe tidak takut bau pesing?"

“Kereta ini segera dibuang, tidak lama lagi. Kukira sudah wajib menerima derita ini

Ie Lip Tiong bungkam. Untuk peperangan otak babak kedua, lagi2 dia mengalami kegagalan.

“Krikikkk.... Krekek   ”

Roda2 kereta berjalan terus.

Ie Lip Tiong membuka suara: “Masih lamakah perjalanan?" "Maksudmu?" Tho It Beng cukup sabar.

"Perjalanan yang seperti ini tidak begitu menyenangkan." “Tentu saja. Kau harus tahan tiga atau empat lie lagi."

Kereta berjalan diantara tiga atau empat, kecepatannya mulai berkurang. Suatu waktu, hekkkk, kereta itu berhenti.

Tubuh Ie Lip Tiong terasa diangkati orang, inilah tangan2 Tho It Beng yang kokoh kuat, lompat keluar dari dalam kereta, berjalan belasan langkah, lagi2 ada getaran lompatan, tenggelam sedikit dan timbui kemball, inilah perasaan naik diatas kendaraan air.

Perjalanan dilanjutkan dengan perahu.

Sebentar kemudian, Ie Lip Tiong dapat merasakan gerakan kendaraan itu, meluncur dan mulai melakuken gerak jalan.

Tubuh Ie Lip Tiorg masih berada di dalam pelukan seseorang. "Tho Cianpwe, kau yang menggendong boanpwe?" Jago kita

menganjukan pertanyaan lihay.

Tho It Beng berkata: “Betul. Enak sekali, bukan?"

“Menyusahkan Cianpwe saja. Mengapa tidak meletakkan di geladak kapa?"

Tho It Beng tertawa: “Ha Ha.... Meletakkan tubuhmu berarti memberi kesempatan kepadamu, maka kau dapat memberi penilaian, dengan kendaraan air macam apa? Kau dibawa kemarkas besar kita orang."

"Cianpwe terlalu lihay." Ie Lip Tiong menyengir pahit. Adu otak ketigapun gagal. Ie Lip Tiong tidak mempunyai kesempatan untuk melihat atau menilai, dia dibawa dengan kendaraan macam apa?

"Kau juga lihay" Balas memuji si Raja Silat Buaya. “Aneka macam tipu dapat kau gunakan, menandakan lubang pikiranmu yang lebih dari satu. Demi membikin penyelidikkan-penyelidikan yang tidak dapat kau lihat dengan mata, masih saja kau berusaha”

“Tentu tidak dapat disamakan dengan Raja Silat Buaya yang ternama," Ie Lip Tiong mengumpak orang.

“Terima kasih. Namamu, si Pedang yang Menundukkan Rimba Persilatan dari Kota Tiang-an Wie Tauw itu juga tidak kalah tersohornya."

“Boanpwe setelah menjadi orang tawanan. Mengapa Cianpwe begitu berhati-hati?" "Segala sesuatu itu harus berhati hati." “Termasuk seseorang tawanan?"

“Seorang tawanan yang cukup ternama. Entah bagaimana kau dapat menghindari hukuman pancung Su-hay tong-sim- beng? Aku mengakui kecerdikanmu."

"Boanpwe kira, boanpwe tidak mempunyai kesempatan hidup " "Belum tentu "

“Maksud Cianpwe?"

“Sancu kita sangat menghargai otak kepintaranmu. Segera kau dapat berurusan dengannya."

Yang diartikan dengan panggilan Sancu adalah ketua partay Raja Gunung. Tokoh ini masih terlalu misterius, adanya dia bisa menduduki ketua partay itu, adanya dia dapat menguasai raja2 silat dari golongan sesat dapat membingungkan orang. Siapakah sang tokoh baru?

Dibawah si Raja Gunung Sancu terdiri 11 raja silat golongan sesat.

Dibawah 11 raja silat golongan sesat terdapat Ai Pek Cun, At Lam Cun, Ai Tong Cun dau Ai See Cun.

Golongan C untuk partay ini adalah sipemuda beekerudung hitam Su khong Eng

Tokoh2 yang seperti kita sebutkan diatas adalah tokoh2 yang cukup luar biasa sekali.

Prestasi Su khong Eng dengan pembunuhan pembunuhan yang sudah dilakukan kepada para anak murid dari lima partay besar cukup mengagumkan.

Prestasi Ai See Cun dan Ai Tong Cun yang dapat menyeludup masuk didalam gerakan Su hay-tong-sim-beng masih sangat mengesankan. Terlebih istimewa lagi adalah raja2 silst dari golongan sesat sebangsa Raja Bajingan Co Khu Liong, Raja Buaya Tho It Beng, Raja Siluman Sie It Hu, Raja Gila Ku Bee Beng dan raja2 silat iainnya. Tidak satupun dari raja2 silat ini yang tidak mempunyai reputasi luar biasa.

Pucuk pimpinan tertinggi berada dalam genggaman Raja Gunung Sancu. Siapakah Raja Gunung ini?

Ie Lip Tiong hendak dibawa menghadap Raja Gunung.

Perahu diombang ambingkan ombak. Di dalam gendongan Tho It Beng, tubuh Ie Lip Tiong turut diturun naikkan

Sipemuda membuka suara, “Berapa lamakah harus melakukan perjalanan seperti ini?"

Tho It Beng berkata: "Segera kita menepi"

Terasa suatu lemparan sauh, perahu itu seperti sudah membentur gili2. Badan Tho It Beng bergerak lagi, lompat meninggalkan kendaraan air.

Tubuh dan kedua kaki Ie Lip Tiong belum bisa menyentuh tanah. Tho It Beng tidak menurunkan orang gendongannya. terdengar suara angin yang menderu-deru, kedua kaki si Raja Silat Buaya bergerek cepat, kini dia melakukan perjalanan dldarat, tidak dengan kereta atau perahu. Meluncur begitu cepat.

Kedua mata Ie Lip Tiong ditutup, badan diikat sepertl ketupat. Dia tidak bisa membedakan arah, juga tidak bisa mancari kebebasan.

Ie Lip Tiong menggunakan otaknya mengingat perjalanan itu.

Badan Tho It Beng mulai berlompat lompatan. Benak Ie Lip Tiong diberi kesan, se-olah-olah sedang melakukan perjalanan di lereng lereng dan di-bukit2 gunung, sebentar meninggi dan sebentar menurun, seperti mendaki undakan2 batu.

Sesudah melakukan perjalanan diatas kereta, Ie Lip Tiong diberi kesempatan menaik perahu, kemudian dibawa lari2an diantara daerah pegunungan.

Daerah apakah yang mempunyai ciri2 seperti ini?

Telaga2 yang besar dan luas dapat dihitung dengan jari, kecuali Telaga Darah, Telaga Pok yang, Telaga Ang-cek ouw, Telaga See ouw, Telaga Lam-ie paw, Telaga Ciok bo-auw dan Telaga Tong ouw, mungkinkah masih ada telaga baru?

Diantara telaga2 yang tertera diatas, telaga manakah yang mengerami sebuah gunung?

Jawabannya terlalu mudah, hanya ada dua kemungkinan. Kemungkiaan pertama adalah Telaga Darah Co ouw.

Dan kemungkinan kedua adalah telaga Ciok bo ouw.

Hanya dua telaga inilah yang memiliki area luas, dan memenuhi syarat kedua, dia dapat menyembunyikan sebuah gunung kecil di tengah2 telaga.

Menurut apa yang Thio It Bang kemukakan, mereka telah melakukan perjalanan dua hari disusul dengan perjalanan kereta, perjalanan perahu dan perjalanan darat. Untuk mendapat jawaban tempat yang mempunyai proses perjalanan yang seperti ini. Mengambil titik tolak dari Telaga Darah, seharusnya, mereka sudah tiba di Telaga Ciek-bo ouw.

Telaga Ciok-bo ouw?

Partay Raja Gunung menggunakan tempat Ciok bo-ouw sebagai markas besar mereka?

Langkah2 Tho It Beng yang sebentar tinggi sebentar pendek, sebentar naik, sebentar turun itu telah selesai. Kini meluncur lurus lagi.

Inilah suatu bukti, bahwa mereka telah meninggalkan daerah pegunungan dan mengarungi daerah dataran tinggi.

Ie Lip Tiong mengingat-ingat betul situasi tempat yang seperti ini. Gerakan Tho It Beng yang cepat mengendur, dia tidak berlari lagi, tapi berjalan seperti biasa.

Ie Lip Tiong berpikir: “Mungkinkah sudah tiba?"

Betul! Mereka sudah tiba ditempat tujuan. ini waktu, terdengar Tho It Beng berteriak: "Beri tahu kepada Sancu, bahwa aku telah membawa orang yang dlminta."

Mereka mulai memasuki markas besar Partay Raja Gunung.

Terdengar derap langkah kaki beberapa orang, mereka seperti memasuki suatu ruangan yang sangat besar.

Tidak terlalu lama, Tho It Beng menurunkan orang tawanannya. Dia membuka suara lagi: "Sancu, aku berhasil menawan si Pendekar Pemetik Bintang Liong Pal Su. Orang inilah yang berani membikin pembayangan kepada Ai Pek Cun."

“Bagus." terdengar satu suara yang sangat lemah, inilah tentunya orang yang menjabat ketua Partay Raja Gunung.

Hati Ie Lip Tiong berdebar keras. Dia sudah berada didepannya seseorang yang terlalu misterius. Ttidak lama lagi, dia dapat mengetahui, siapakah Raja Gunung itu?

Sebagai seseorang yang memegang jabatan tertinggi dari sesuatu Partay, tentu memiliki ilmu kepandaian dan tenaga dalam yang sangat tinggi. Hal ini tanpa  pengecualian.

Suara si Raja Gunung begitu lemah, menandakan tenaga dalamnya yang tiada, Siapakah orang ini?

Ie Lip Tiong bingung memikirkannya.

Orang yang bersuara seperti kurang makan ini yang mengepalai sesuatu komplotan besar?

“Sancu." Terdengar lagi suara Tho It Beng memberi laporannya. "Tahukah kau, siapa orang yang menggenakan nama Liong Pal Su dengan gelar si Pendekar Pemetik Bintang?"

Suara yang lemah seperti kurang makan itu berkata: “Sipemuda Ie Lip Tiong yang berhasil menolong kehancurannya Su-hay-tong- sim-beng dari tangan kita?"

Tho It Beng berkata: “Betul. Inilah dia, Si Pedang yang Menundukkan Rimba Persilatan dari kota Tiang-an, tokoh luar biasa dari perusahaan Boan chio Piauw-kiok Wie Tauw. Nama aslinya Ie Lip Tiong."

Raja Gunung mengeluarkan suara berpenyakitannya: “Bagus. Tolong kau buka penutup matanya. Beri kesempatan kepadanya menyaksikan markas kita."

Sretttt.....

Tutup mata Ie Lip Tiong lepas dari tempatnya yang semula. Pemandangan ditempat itu begitu menyilaukan mata. Cepat2 Ie

Lip Tiong mengatupkan indra penglihatannya.

Setelah dapat menyesuaikan diri dengan iklim tempat itu, Ie Lip Tiong menyaksikan suatu pemandangan yang belum pernah dapat dibayangkan.

Disana disuatu tempat aula yang sangat luas ada berkumpul banyak orang, inilah ruang sidang Partay Raja Gunung, ruangan iiu terbuat dari batu pualam yang mengkilap penerangan cukup terang, dengan perhiasan dan ukiran2 yang sangat indah, ruangan itu adalah ruangan terindah yang pernah dilihat oleh pemuda kita.

Dari keindahan ruangan, perhatian Ie Lip Tiong tertarik kepada orang2 yang berada di tempat itu.

Dua orang sedang berlutut ditengah-tengah ruangan, inilah pusat.

Didepan kedua orang bersakitan itu, duduk seorang berkerudung. Dikanan dan kirinya berdiri empat dayang, dengan kipas2 mereka yang panjang, tidak henti2nya mengebut, membuat angin lalu yang silir2 .

Inilah tempat teragung. Mudah juga orang berkerudung itulah yang bernama Raja Gunung. Ie Lip Tiong berhadapan muka dengan ketua partay Raja Gunung.

Sayang, orang itu menggunakan kerudung yang serba hitam.

Tidak terlihat jelas, bagaimana wajah mukanya.

Memandang kepada kedua orang yang berlutut di-tengah2 ruangan, Ie Lip Tiong terkejut, itulah Iblis Gendut Keng Lie dan lblis Kurus Eng Kian.

Iblis Gendut Keng Lie dan Iblis Kurus Eng Hian adalah tokoh2 silat kenamaan. Kedudukannya hanya kalah setingkat dari raja2 silat, setanding dengan Ai Lam Cun, Ai Pek Cun sekalian. Kecuali pernah kalah dl tangan Raja Silat Suci Hong Hian Lang, belum pernah mereka terjungkal ditangan orang lain. Mengapa berada ditempat ini? Mengapa berlutut dihadapan Raja Gunung ?

Ie Lip Tiong kenal kepada kedua orarg itu atas gambaran2 yang diberikan oleh Can Ceng Lun. Sang guru pernah menceritakan pengalamannya bersua dengan sepasang iblis gendut kurus itu, dengan mengeluarkan gertak sambal yang bernama Tiga Pukulan Geledek, Keng Lie dan Eng Hian dibuat ngiprit pergi.

Ternyata, Keng Lie daa Eng Hian juga termasuk enggota Partai Raja Gunung. Mereka mendapat tugas mem ‘becking para keroco2 tukang beset kulit manusia, dikala komplotan itu hendak membeset kulit Duta Nomor Delapan Lu Ie Lam, Can Ceng Lun datang dan memberi pertolongan, Lu Ie Lam lolos dari bahaya pembesetan kulit manusia

Iblis Gendut Keng Lie dan Iblis Kurus Eng Hian tidak takut kepada Can Ceng Lun tapi mereka takut kepada guru Can Ceng Lun. Suatu ketlka kedua iblis itu diberi hajaran oleh Raja Silat Suci Hong Hian Leng, ilmu yang digunakan ada Iah Tiga Pukulan Geiedek dan Can Ceng Lun dapat menggunakan ilmu ini, demikian lah Keng Lie dan Eng Hian meninggalkan tugas becking orang2nya

Untuk perkara ini, Raja Gunung sangat marah, demikian kedua iblis gendut dan kurus dipanggil untuk memberi pertanggung jawaban mereka, Keng Lie dan Eng Hian ditarik pulang kemarkas besar.

Disini mereka berlutut, meminta pengampunan.

Bagaimanakah Raja Gunung menghukum orangnya yang bersalah?

Bagaimanakah Ie Lip Tiong mengacau markas besar Raja Gunung?

Marl kita menantikan jawaban ini pada jilid kelima.

-oo0dw0oo-