-->

Pelenyap Sukma Jilid 3

Jilid 03

IE LIP TIONG mencurigai gerak-gerik dua raja silat sesat yang mcnggantikan kedudukan Co Khu Liong.

Demikianpun In Thian Liu, dan Lauw Can Cun. Kecurigaan ini timbul karena adanya pcrubahan jalan yang mendadak. Menurut rencana. mereka dapat sambutan2 dari kawan sekomplotan, tujuan adalah kot Su-thia, bukan tempat yang ditentukan oleh Bu Bee Beng dan Sie It Hu.

Setelah menggantikan kedudukan Cho Khu Liong, gerak gerik Bu Bee Beng dan Sie It

Hu semakin mencurigakan

Mengapa arah tujuan disasarkan kekota Hoay leng? Mengapa perjalanan diburu burukan?

Alasan untuk menghindari keruwetan2 ditengah jalan adalah tidak masuk diakal sama

sekali.

Dengan memberanikan diri, Ie Thian Liu mengajukan pertanjaan lain: "Tujuan kita adalah kota Su shia, dan Cianpwee telah mengganti haluan, ini juga

termasuk cara-cara untuk menghindari keruwetan?" Pertanjaan yang pedas dan tajam.

Raja Silat Gila Sie It Hu membantu kawannya yang mulai terjepit

"Inilah perintah sancu kita."

Jang diartikan dengan 'sancu kita' oleh rombongan itu adalah si

Raja Silat Gunung

yang masih misterius.

Seperti apa jang kita telah maklumi, 12 Raja Silat Sesat belum pernah dapat ditaklukan, kecuali si Maha Raja Ngo kiat Sin mo Auw yang Hui. Setelah Ngo Kiat Sin mo Auw yang Hui binasa semua raja sesat hendak merebut pucuk pimpinan tertinggi Tapi tidak herhasil. Adanya si Raja Silat gunung yang dapat menundukan 11 Raja Silat Sesat

itu sangat mcmbingungkan sekali

le Lip Tiong memanjangkan kuping lebih tajam In Thian Lu bertanya lagi :

"Boleh kami bertsnya, dimana sancu kita hendak menerima kiriman uang?" Raja Silat Gila Sia It Hu berdengus. "Inilah rahasia, Kau tebagai pengurus rumah makan tidak berhak tahu "

"Betul." In Thian Liu tidak berani terlalu kurang ajar kepada mereka. "Kami tidak mempunyai hak untuk bicara. Tapi, mungkinkah Co Khu Liong Cianpwee juga tidak boleh diberi tahu?"

"Bukan urusanmu." Bentak Sie It Hu. "Co Khu Liong juga tidak boleh tahu." Turut bicara Bu Bee Beng.

"Mengapa?" In Thian Liu semakin menuduh curiga.

"In Thian Liu, apa kau tidak bisa bicara lebih sedikit lagi? Hendak mengadakan tantangan? Mau menggempol?"

In Thian Liu terkejut, wajahnya berubah pucat. Dia bungkam. tidak berani mengajukan pertanyaan lain.

"Huh. " Raja Silat Gila Sie It Hu mengluarkan suara dari hidung,

menoleh kearah Raja Silat Siluman Bu Bee Beng, dia berkata "Seorang-orang pengurus anak cabang berani menentang kita Seolah olah mempunyai kedudukan yang berada diatas 12 Raja siat Sesat. Hm.... Hm.....

Apa kita harus tunduk dibawah perintahnya?"

Raja Siluman Bu Bee Beng mengeluarkan suara yang sangat tidak sedap:

"Sesudah pulang markas kita boleh bertanya kepada Sancu kita, siapa yang harus

tunduk kepada siapa? Bila betut kedudukan kita berada diatas 12 Raja Silat, itu waktu tidak ada salahnya uatuk meminta maaf kepadanya."

Wajah In Thian Liu semakin pucat. Dengan suara tidak lancar dia berkata :

"Harap kedua Cianpwee tidak menjadi gusar In Thian Liu mana berani kurang ajar? Dengan ini In Thian Liu menyatakan penjesalannya. Sekali lagi In Thian Liu meminta maaf."

Sie It Hu dan Bu Bee Beng membudekkan telinga, seolah olah tidak mendengar ucapan permintaan maaf In Thian Liu.

Sie It Hu memandang Leng San Pian.

"Cong piauw-tauw " dia berkata. "Bagaimana pendapatmu?" "Dua puluh satu kereta dorong itu adalah. "

"Semua kerusakkan akan diganti dengan uang." Memotong Sie It Hu.

"Baiklah." Dia   menghela   napas,   "Segera   kucari   kereta penuampang untuk digunakan memindahkan uang kiriman.

Sie It Hu menganggukkan kepala.

Mengajak kedua pembantunya, Leng San Pian meninggalkan kamar perundingan tadi.

Yu Seng Cu mendapat tugas menjaga keamanan kereta.

Leng San Pian keluar bersama sama Ie Lip Tiong

"Ie kongcu," Leng San Pian berkata kepada ketua muda itu. "Bagaimana penilaianmu kepada kedua iblia tua tadi?"

"Hanya ada dua kemungkinan." Berkata le Lip liong. "Bila bukan markas besar mereka jang sudah pindah kelain tempat, tentu mereka hendak mengangkangi uang ini."

Leng San Pian menggeleng gelengkan kepala, dia tidak setuju dengan pengilmiahan yang seperti Itu, katanya:

"Bilamana markas besar mereka yang sudah pindah, kajadian ini agak tidak mungkin. Dihadapan kita mereka menutup mulut. Tapi secara diam2, tentu memberi tahu perubahan tempat ini kepada Co Khu Liong, Lauw Can Cun dan In Thian Liu. Tidak nanti dapat terjadi bentrokkan seperti tadi. Kemungkinan kedua adalah kedua iblis silat itu hendak mengangkangi semua uang perak, mungkinkah hal ini dapat terjadi? Mengingat kedudukan dan ilmu kepandaian mereka jang sudah begitu tinggi mengapa tidak mau mencari jalan lain untuk mencari uang?"

Ie Lip Tiong tertawa.

"Co Khu Liong Itu mempunyai kedudukan yang soma dengan Bu Bee Beng dan Sie It Hu, kenjataan, dia berani menelan sebagian dari uang si Raja Silat Gunung." Dia momberi fakta yang ada,

Leng San Pian mempaparkan tangan. dia betul2 tidak mengerti atas kebijaksanaan Bu Bee Beng dan Sie It Hu

Perjalanan yang dilakukan secara tersembunyi dan gelap itu seperti merugikan pihak Partay Raja Gunung, juga tidak menguntungkan Ie Lip Tiong Karena belum adanya bantuan dari pihak Su Hay Tong Sim Beng, maka arah perjalanan yang Ie Lip Tiong gambarkan kepada kawan2 seperjuangan itu menjadi tiada guna sama sekali, Lenyapnya jejak kereta piauw juga merugikan Su hay tong sim beng.

"Bagaimana kita harus menghadapi mereka?" Bertanya Leng San Pian. Sudah waktunya untuk turun tangan mengharapkan bantuan Su hay tong sim beng Sudan tidak bisa diharapkan.

perak ini?" Bertanya Ie Lip Tiong.

"Bagaimana kita bisa tahu?" Berkata Leng San Pian. "Mereka merahasiakan jejak perjalanan."

"Kira2 menuju kearah kota apa?"

"Bila mereka menyebrangi sungai Tiang-kang, kita akan tiba dikota Cui cit lie. Inilah kota yang terdekat."

"Bagus." Berteriak Ie Lip Tiong girang. "Keadaan kota Cul cit lie sangat strategis untuk melarikan diri, Banyak cabang jalan yang tersebar luas Bila kita merampas uang itu disana, dan membubarkan diri, mereka tidak mudah mengejar."

"Kau hendak turun tangan dikota Cui cit-le?" Bertanya Leng San Pian.

"Tidak ada jalan lain." jawab Ie Lip Tiong. "Bagaimana dengan dua raja silat sesat itu ?" "lnilah yang membingungkan aku."

"Mungkin kau sudah mempunyai rencana bagus?"

"Menurut rencanamu saja," Berkata ie Lip Tiong. "Kita mengajak mereka berpesta, secara diam2 memberi tugas kepada beberapa anak buah yang dapat dipercaya, kita membongkar muatan mereka."

Persetujuan itu dapat kesepakatan. Mereka mencari kereta barang. Dengan mudah, kereta2 itu sudah berhasil ditemukan. Dengan delapan kereta penumpang, mereka menambah iring2an Sun hong-piauw-kiok.

Pada dini hari kedua, rombongan itu berangkat, meninggalkan kota Hoay-leng.

Diluar kota, semua kereta2 dorong Sung hong Piauw-kiok dirusak dan dimusnahkan. Muatan uang dipindah kekereta barang. dengan kain2 psnutup yang diturunkan, mereka menggelapkan perjalanan.

Iring2an ini bukan lagi berapa rombongan kereta pengangkutan.

Tapi beberapa

rombongan pedagang biasa.

Raja Silat Siluman Bu Bee Beng memberi perintah: "Segera berangkat kekoia Cui-Cit-lie."

Hati le Lip Tiong dan Leng San Pian berdebar keras. Kota Cui cit lie?

Adakah kejadian jang begitu kebetulan. Seperti jang sudah mereka rencanakan?

Rombongan diarahkan kekota Cui cit lie ?

Menggunakan kesempatan yang baik, Leng San Pian bertanya: "Kita bermalam dikota Cui-cit lie?"

"Betul." Bu Bee Beng menganggukkan kepala. "Dikota itu ada sebuah rumah makan

dan penginapan yang bernama Cui-in Koan-ko Ciam. Kita bermalam disana."

"Aha, Cui in-koan ko ciam terkenal dengan masakan 'Kura2 basah'." Berteriak Leng San Pian.

"Betul, 'kura2 basah' adalah makanan khas rumah makan 'bakmie kering' dirumah makan itu." Bu Bee Beg menoleh kearah Lauw Can Cun. Rumah makan Hian-Hok lauw bukan saja tcrkenal dengan rahasialisme mereka yang membuat kasta2 perbedaan diantara kaum beruang dan kaum miskin, terkenal karena makanan ditingkat atas yang enak dan lezat juga terkenal dengan 'Bakmie kering' di

tingkat bagian bawah.

Atas hasil prestasi ini, Lauw Can Cun boleh menjadi bangga.

Pendekar Cambuk Gunung Leng San Pian memberi komando berangkat.

Tujuh kereta penumpang dengan bawaan uang perak berangkat menuju kearah kota

Cui cit lie,

Singkatnya cerita, mereka tiba dikota Cui cit lie.

Untuk daerah propinsi Wan-tiong, kota Cui Cit lie bukanlah termisuk kota penting, tapi kedudukkannja cukup strategis, jaringan2 lalu lintas berpusat ditempat ini. Hawanya sejuk, pemandangannya indah, pohon dan bunga2 tumbuh subur, sungai2 berjalur sehingga keseluruhan kota, karena itu mendapat julukkan Kota Air Cui-cit-lie.

Tujuh keteta menuju kearah rumah makan dan penginapan Cui in Koan-ko Ciam penuh sesak dengan rombongan Sun hong Piauw kiok.

Dijaman dahulu, setiap rumah penginapan ada menyediakan tempat kuda dan tempat

penjmpanan kereta, maka semua kereta ditujukan kearah tempat yang sudah tersedia itu.

Keadaan telab menjadi gelap, obor panerangan dinyalakan.

Leng San Pian, Ie Lip Tiong dan Sang Cu memberi pengawasan dan msmpernahkan

kereta itu. Kemudian, mereka memesan tempat.

Leng San Pian tidak segera istirahat, dia memesan 4 meja perjamuan. Tidak lupa

makanan khas Cui-ln Koan-ko-Ciam yang bernama 'Kura2 basah' itu.

Satu meja tersedia untuk menjamu Bu Bee Beng, Sie It Hu, Lauw Can Cun dan In Thian Liu.

Dihadapan mereka, Leng San Pian membagi rombongannya menjadi dua regu, setiap

regu terdiri dari lima belas orarg. mereka diwajibkan menjaga kereta sccara bergilir.

Sie It Hu menjadi tertawa, dia berkata :

"Tempat ini begitu sepi, kukira tidak mungkin ada perampok mengganggu barang kita.

Berilah kesempatan pada orang-orangmu untuk memeriahkan pesta ini. dua atau tiga orang-orangpun sudah cukup untuk menjaga kereta."

Leng San Pian bergojang kepala, dia mengemukakan alasan : "Satu juta uang perak terlalu besar bagiku, bila sampai terjadi

suatu apa. Sun hong Piauw kiok tidak kuat mengganti. Ada baiknya untuk berhati hati."

Ataa sikap Leng San Pian jang mempunjai pikiran panjang, Sie It Hu dan Bu Bee Beng tidak keberatan! Mereka telah melakukan perjalanan jauh, wajah dan tubuhnya penuh debu untuk membersihkan diri, mereka pergi mandi.

Setengah jam kemudian, keempat meja perjamuan sudah penuh dengen makanan. Meja pertama duduk Bu Bee Beng, Sie It Hu, Lauw Can Cun In Thian Liu, Leng San Pian, Ie Lip Tiong dan Yu Seng Cu.

Tiga meja lainnya tersedia bagi para pengiring Sun hong Piauw- kiok.

Perjamuan makan segera dimulai.

Leng San Pian mengangkat cawan arak, dikelilingkan keempat penjuru, dia mulai

angkat bicara :

"Saudara2 dari Sun hong Piauw kiok sekalian, selama 10 tahun kita menjalankan praktek perusahaan pengangkutan, ribuan kali tur telah kita berangkatkan, tapi belum

pernah ada kegembiraan seperti apa yang kita dapat alami pada pemberangkatan dikali ini. Dilereng puncak Kiu-kho-Lang, Sembilan Dara Keluarga Ang dan anak buahnya mencoba untuk mengadakan perampokan, humpir kita gagal Tapi Tuhan masin bersama kita, datang pertolongsn yang sangat mendadak, kita menduga kepada tokoh silat berkepadaian tinggi yang tidak mau menampilkan diri membantu usaha kita, anak buah keluarga Ang itu dapat dirontokkan Siapakah tokoh silat kelas satu ini, tidak lain tidak bukan adalah pemiiik barang Cho Khu Liong Cianpwe. Siapakah Cho Khu Liong Cianpwee ini? dia adalah salah satu dari 12 Raja Silat ternama. Kini Cho Khu Liong cianpwee tidak menyertai kita, tapi Bu Bee Beng cianpwee dan Sie It Hu Cianpwee sudah menggantikan kedudukannya. Siapakah kedua cianpwee ini? Merekapun termasuk 12 Raja Silat lainnya. Kita percaya tidak ada yang berani mengutik- utik barang antaran lagi. Mari kuperkenalkan, inilah Bu Bee Beng Cianpwee dan Sie It Hu Cianpwee."

Leng san Pian memperkenalkan si Raja Silat Siluman Bu Bee Beng dan si Raja Silat Gila Sie it Hu.

Seluruh ruangan gegap gempita dengan tepuk tangan anak buah Sun-hong Piauw kiok.

Leng San Pian berkata lagi :

"Untuk hasil gemilang ini, kami memberi penghormatan pertama kepada Bu Bee Beng dan It Hu Cianpwe, arak kemenangan. dan kebanggaan." Dia mengajak toas kepada kedua Raja Silat itu.

Bu Bee Beng dan Sie It Hu tidak begitu puas kepada sikap Leng San Pian yang membesarkan nema raja silat. Dihadapan banyak orang-orang, tidak baik untuk mengadakan teguran, dia mcnerima ajakan toas dengan sikapnya yang dingin.

Dilainnja, acara selanjutnya adalah permainan sumpit diatas Piring mangkuk, para kuli tukang dorong melahap makanan yang tersedia.

Bu Bee Beng. Sie It Hu, Lauw Can Cun, In Thian Liu, Leng Sian Pian, Ie Lip Tiong dan Yu Seng Cu mengicipi kesenangan dimeja, dengan perlahan lahan, mereka dapat merasakan lezatnya 'Kura2 basah'.

Setelah setengah pesta. Leng San Pian memberi hormat kepada Bu Bee Keng dan Sie It Hu, kepada kedua orang-orang itu, si Cambuk Gunung berkata :

"Bu Bee Beng Cianpwe, Sie It Hu Cianpwe, ada sedikit permintaanku untuk merayakan pesta kita."

"Katakan." Berkata si Raja Silat Gila Sie It Hu.

"Boanpwe senang kepada ilmu silat, sayang belum menemukan jodoh yang tepat, belum mendapat didikan seorang-orang tokoh silat tokoh utama sebangsa kalian berdua. Hari ini mendapat waktu untuk berkumpul. Besar harapan boanpwe untuk menyiksikan ilmu kepandaian kalian yang luar biasa."

Sie It Hu meninggikan sepasang alisnya, dia berkata:

"Ha, ha.... Kukira dapat makan secara gratis. Kini aku mengerti, kau mempunjai maksud tujuan tertentu bendak mencuri lihat ilmu pelajaranku? Ha, ha..."

"Dengan sesungguhnya, kita mengagumi ilmu kepandaian dua Cianpwe. Tapi bila maksud baik ini mendapat tempat yang salah. Boanpwe bersedia menarik kembali permintaan tadi."

Sie It Hu menoleh kearah Bu Bee Beng, dia berkata: "Bagaimana ? Kau ada kesenangan untuk mendemontrasikan ilmu kepandaianmu?"

"Bila kau tidak menolak permintaan mereka, bagaimana aku tidak beisedia?" Berkata

Bu Bee Beng penuh arti.

"Baik." Sie It Hu bangkit dari tempal duduknya. Memandang kearah Leng San Pian, dia berkata lagi :

"Coba kau suruh orang-orang2mu mengambil beberapa batang hio sembahyang."

Tanpa permintaan kedua kalinya, Leng San Pian menyuruh orang-orang menyediakan

barang yang diminta. Sie It Hu msnerima tiga barang hio sembahyang itu, diserahkan kepada Bu Bee Beng

dan berkata:

"Pertunjukkanlah ilmu kepandaian aslimu?"

"Ha, ha...." Bu Bee Beng tertawa, tokh disambuti juga tiga batang hio itu.

Bu Bee Beng memetik jari, plak, menyalahlah api, menyulut hio2 sembahjang itu, cepat sekali, menancapkan hio2 tersebut pada tempat yang tidak jauh dari meja perjamuan. Membalikkan badan, dan duduk ditempatnya semua, melihat 'Kura2 basah.'. Tanpa mamandang kearah hio2 sembahyang. tadi.

Semua perhatian sedang dipusatkan pada Bu Bee Beng. tindak tanduknya siraja silat itu sangat membingungkan orang-orang, hanja memetik jari mengetuarkan api sajakah yang dipertontonkan? Kepandaian itu memang menakjupkan, apa gunanya tiga batang hio sembahyang ?

Beberapa orang-orang sudah mulai berbisik bisik, bingung kepada permintaan raja sikuman itu. Dupa sembahyang terbakar terus. abu dupa itu mulai memanjang sebanyak satu dim.

Kejadian didalam rumah makan sangat tenang. tidak ada angin lalu. maka abu dupa itu tidak rontok jauh, masih melekat di tempatnya.

Nah disaat itulah. badan Bu Bee Beng mula bergerak, melesat cepat, entah bagaimana, ujung kakinya sudah menempel diatas salah Satu dari abu dupa sembahyang itu. lain kakinja terputar, dengan ujung kaki yang berada diatas dupa sembahyang sebsgai titik putaran, dia membuat busur.

Jang mengherankan, abu dupa itu tidak buyar karena bobot badan yang dijatuhkan keujung kaki siraja silat.

semua orang-orang bersorak.

Raja Siluman Bu Bee Beng belum menghentikan demonstrasinya, semakin lama, dia berputar semakin cepat, sluttt.... kakinya turut berputar dan pindah kelain dupa

sembahyang, kini menginjak yang ditengah, siuttt.... lagi dan menginjak abu dapa yang ketiga

Ukuran badan Bu Bee Beng tidak dapat dikatakan tinggi besar. tapi bagaimanapun dia masih berupa seorang-orang manusia, berat seorang-orang manusia dapat diperhitungkan, dengan mengandalkan perputarannya badan, dia mengurangi bobot berat dirinya. bertengger dari satu abu dupa ke lain abu dupa inilah ilmu kepandaian jang sangat menakjubkan.

Dimisalkan orang-orang bercerita tentang adanya kejadian jang diatas kita tuturkan diatas, mudah dibayangkan, tentu mendapat cemoohan atau reaksi tidak percaya yang spontan. Kini mereka telah menyaksikan dengan kepala dan mata sendiri, mau tidak mau, semua orang-orang meleletkan lidah.

"Bagus." Tiba2 ada yang mengeluarkan pujian. "Hebat." "Sungguh luar biasa."

"Betul2 ilmu kepandaian seorang-orang raja silat." "Sepersi ilmu dewa saja "

Bu Bee Beng masih terputar putar diantara ketiga dupa sembahyang tadi,

Suara tepuk tangan dan suitan semakin banyak, suasana dalam ruangan itu sangat gegsp gempita.

Sebagai seorang-orang yang mahir mengguaakan tenaga dalam, sebagai tanggapan atas reaksi demontrasi yang Bu Bee Beng perlihatkan, Ie Lip Tiong tidak dapat turut memeriahkan suasana itu, hatinya menjadi begitu berat, inilah suatu peringatan, musuh2 yang dihadapi terlalu berat, berhasil tidaknya dari perampasan uang komplotan tukang beset kulit yang menyebut diri mereka sebagai partay Raja Gunung itu masih diragukan. Ilmu siraja Silat Siluman terla!u hebat, sungguhpun demikian dari 12 raja silat golongan sesat, Bu Bee Beng itu hanya menduduki urutan terakhir. bagaimana dia dapat melawan raja2 silat lainnja?

Untuk 12 raja silat jolongan kesatria, ketua Su hay tong sim beng Hong-lay Sian ong menduduki urutan pertama.

Untuk 12 raja silat dari golongan sesat, si Maha Raja Ngo kiat Sin mo Auw Yang Hui menduduki urutan pertama, si Raja Silat Siluman Bu Bee Beng duduk sebagai juru kunci mereka.

Ilmu kepandaian sang juru kunci sudah begitu hebat bapimana dengan raja2 silat lainnya?

Inilah yang le Lip Tiorg khawatirkan.

Kecepatan otak le Lip Tiong berjalan sejajar dengan demontrasi ilmu kepandaian Bu Bee Beng. Raja Silat Siluman itu sudah selesai mempertontokan ilmu kepandaiannya dan kembali ketempat duduknya.

Lama sekali suara tepuk tangan itu baru dapat senyap. Diantara tepuk tangan itu, terdengar suara tertawa Sie It Hu, Raja Silat Gila ini berkata kepada sang kawan:

"Hebat, ilmu meringankan tubuhmu mendapat kemajuan luar biasa."

"Ha, ha, ha...." Bu Bee Beng mancomot daging kura2 basah. "Tingginya langit tidak bisa diukur dengan mata. Kau mengatakan aku berkepandaian hebat tapi masih ada orang-orang yang lebih hebat dariku."

Giliran Sie It Hu jang harus mempertontonkan ilmu kepandaiannya.

Si Raja Silat Gila seperti kehabisan acara, dia menggaruk garuk kepala beberapa lama, tiba2 matanja bercahaya terang, itulah tanda adanya jalan jang sudah ditemukan, tiba2 tangannya meraih piring makan. Wing, diterbangkannya piring itu dengan tujuan arah tiga dupa sembahyang tadi.

Dikala Bu Bee Beng kembali ketempat duduknya, abu dupa sembahyang yang panjang hanya putus sebagian, api masih memakan dupa itu maka abu tetap ada.

Piring jang dilempar oleh Sie It Hu melayang lajang, kini dia berputar, cepat sekali perputaranya piring itu dikerahkan oleh tenaga dalam si raja Silat Gila Sie It Hu, tepat dibagian dupa sembahyang itu berhenti bergerak maju, berputar2 diatas abu dupa sembahyang itu seperti bagaimana keadaannja Bu Bee Beng berputar diatas abu dupa itu. Kejadian ini diulang lagi. Hanya yang berputar aiatas abu itu yang diganti, bilamana tontonan pertama dimainkan oleh berat badan Bu Bee Beng, permainan kedua dititik beratkan oleh adanya piring terbang berputar itu.

Dilihat sepintas lalu ilmu kepandaian Bu Bee Bang masih diatas Sie It Hu.

Kenyataan tidaklah demikian harus diketahui berputarnya berat badan Bu Bee Beng dapat dipertahankan setinggi mungkin. Dia dapat loncat dan terbang tinggi, tentu saja dapat menginjak abu dupa tanpa bobot sama sekali, boleh dikata melajang di atas abu dupa itu:

Piring adalah benda mati, perbitungan tenaga dalam yang salah dapat merusak rencana permainan itu, maka tenaga dalam Sie It Hu berada diatas Bu Bee Beng.

Sie It Hu menggoyang tangan, maka piring yang berada diatas abu dupa sembahyang berpindan kedupa sembahyang demikian berputar beberapa waktu, si Raja Silat Gila menggoyang lagi tangannya, inilah menguasai gerak genk piring dari jauh, juga mementingkan tenaga dalam yang sangat mahir sekali, pirirg itu berpindah lagi kedupa sembabahyang yang ketiga,

Bagaimana Bu Bee Beng mendemonstrasikan menginjak kaki diatas abu dupa sembahjang, dcmikianpun piring terbang itu bermain dan melakukan gerakan yang kedua.

Akhirnya Sie It Hu menyedot piring terbang itu, berputar dan kembali kedalam genggaman tangannya.

Lagi2 ruangan rumah makan jang dimeriahkan oleh tepuk tangan riuh, seolah olah mau meledak.

Raja Silat Gila Sie It Hu menutup acaranya, dia meoghampiri Leng San Pian,

"Cong-piauw tauw" Dia berkata kepada pimimpin perusahaan pengangkutan Sun Hong Piauw kiok. "Bagaimana komentarmu?"

"Luar biasa. Sungguh [uar biasa," Berkata si Cambuk Gunung Leng San Pian. "Belum pernah boanpwe menyaksikan ilmu kepandaian yang seperti ini. Betul2 menakjubkan sekali. Inilah ilmu kepandaian kelas satu. Tontonan terbesar pada jaman ini."

"Ha, ha, ha......." Se It Hu tertawa besar. "llmu kepandaianku belum terbatas sampai disini saja."

"Cianpwe hendak mendemontrasikan lain ilmu kepandaian7" Bartanya Leng San Pian dengan wajah girang.

"Betul." Sie It Hu menganggukkan kepalanya. "Pendengaran telingaku dapat menangkap angin lalu. Hendak kuperlihatkan ketajamannya pendengaranku ini."

Apakah yang didengar oleh si Raja Sila Gila Sie It Hu ?

Bagaimana dia mempertontonkan kelihayannya pendengaran telinga itu?

Mari kita mengikuti cerita dibalik lembaran ini.

Wajah si Cambuk Gunung Leng San Pian berubah menjadi pucat.

Si Raja Silat Gila Sie It Hu tersenyum-senjum, dia memperlihatkan wajahnya yang sangat misterius

"Kini aku hendak memperlihatkan, betapa tajamnya pendengaran telingaku yang panjang ini."

"Berapa jauhkah Cianpwe dapat mendengar suara sesuatu?" Bertanya Leng San Pian, Hatinya berdebar-debar keras.

Ie Lip Tiong sudah bersiap sedia, agaknya usaha yang direncanakan lama itu mengalami kegagalan.

"Kupingku dapat menangkap suara sejauh beberapa lie " Berkata Sie It Hu "Tidak percaya? Nah. dengarlah, disaat sekarang ini aku dapat menangkap suara2 orang-orang yang sedang membongkar kereta, itulah kereta uang kita. Percayakah anda kepada kata2ku?"

Hati Leng San Pian mengeluh, hancurlah semua harapannya untuk melarikan uang2 perak si Raja Gunung. Usaha 0rang yang dipercaya olehnya telah diketahui oleh Raja Silat Gila.

Biar bagaimana, Leng San Pian harus mengatasi keadaan, dengan tertawa nyengir, dia berkata :

"Ah, mana mana mungkin? Orang-orang orang-orangku masih siap siaga disekitar tempat itu. Mereka sudah boanpwe ingatkan untuk menjaga semua kereta2 uang." Sie It Hu tertawa lagi. Dengan sungguh2, dia berkata :

"Berani aku mengadakan pertaruhan, bahwa orang-orang2 jang membongkar kereta uang bukan orang-orang lain mereka adalah orang-orang orang-orangmu itu. Mereka adalah orang-orang orang- orang yang sudah kau beri perintah secara diam2 hendak melarikan uang kami."

Leng San Pian sudah meninggalkan tempat duduknya berlari keluar dan mengeluarkan ocehan.

"Kurang ajar. Berani mereka main gila?"

Gerakan Leng San Pian begitu gesit dikala kata2nya yang terakhir selesai diucapkan, bayangan pemimpin perusahaan Sun hong Piauw kiok itu sudah tidak terlihat sama sekali.

Gerakan mana diikuti oleh Sie It Hu, Bu Bee Beng. Lauw Can Cun, In Thian Liu dan lain2nya.

Dari jauh, Leng San Pian sudah dapat menyaksikan orang- orangnya yang sedang mengadakan pembongkaran. Segera dia mengeluarkan teriakkan ketas:

"Hei... Hei... Apa yang kalian lakukan?"

Orang-orang2 Sun hong Piauw kiok yang mendengar teriakan pemimpin perusahaan mereke mambelalakkam mata, menghentikan pembongkaran pcmbongkaran itu, Dibelakang Leng San Pian beriring iringan banyak orang-orang sudah tanda dari kegagalan usaha mereka. Wajah semua orang-orang menjadi pucat, entah bagaimana barus meagatasi keadaan yang seperti itu.

Salah seorang-orang dari anak buah Leng San Pian yang mempunyai otak lebih encer dari kawannya segera memberikan sahutan.

"Cong piauw tauw, kawan2 ini diganggu nyamuk yang galak, karena iiu kami hendak mcnyembunyikan diri didalam kereta."

Leng San Pian harus menunjukkan gengsinya sebagai seorang- orang pemimpin perusahaan, dia berpura pura mrmbentak: "Mengapa tidak memberi tahu lebih dahulu kepadaku?"

"Cong piauw tauw maklum." Berkata anak buah yang berotak encer itu. "Didalam rumah makan sedang diadakan pesta pora yang sangat meriah, bagaimana kami berani mengpanggu ketenangan makan semua orang-orang?"

Leng San Pian berkata:

"Lain kali, segala urusan harus dirundingkan lebih dahulu tahu?" "Baik." Anak biah berotak ence* itu mengijakan bentakkan ung

pemimpin.

Leng San Pian meroleh kearah Sie It Hu yang sudah berdiri tepat dibelakang dirinya.

dia mengemukakan alasan2 yang sudah dikordinir cepat. "Ciaapwe sudah dengar?" Dia berkata dengan senyum yang

dipaksakan. "Mereka hendak membikin penjagaan didalam kereta,

Sungguh diluar perhitungan boanpwe, bila nyamuk2 didaerah ini sangat galak sekali."

"jangan banyak komentar." Si Raja Silat Gila Sie it Hu membentak. "Lekas beri

perintah kepada mereka untuk membenarkan kereta!"

Leng San Pian membentak orang-orangnya "Bikin betul semua kerusakan"

Dengan cepat, anak buah Sun hong Piauw kiok menutup kerusakan2 kereta uang komplotan tukang beset kulit manusia itu.

Usaha untuk melarikan uang partay Raja Gunung mengalami kegagalan total.

Ie Lip Tiong dan Yu Seng Cu saling Pandang, mereka mengangkat pundak.

Sesudah msmpernahkan keadaan kereta Lang San Pian berkata kepada semua orang-orang: "Mari kita taruskan pesta yang terganggu. Semua balik kerumah makan."

Orang-orang2 itu sudah siap bergerak. Tiba2 sie It Hu membentak :

"Jangan."

Semua mata ditujukan kepada si Raja Silat Gila.

Keramaian sudah pindah kepekarangan rumah mekan Cui in koan Ko Ciam.

Sepasang sinar mata Sie It Hu diarahkan kepada Leng San Pian. "Hm.... Hm..." Suaranya begitu tidak menyedapkan. "Cong

piauw-tauw. giliranmu yang harus mendemontrasikan ilmu

kepandaian."

"Sie Cianpwe!" Leng San Pian hendak menolak permintaan. "Dengarlah keterangan boanpwe dahulu."

"Tidak perlu keterangan." Bsrkata Sie It Hu. "Aku tidak mcngatakan kau yang merampok uang. Tidak membutuhkan keteranganmu."

"Dengan alasan apa Cianpwe membikin usaha kepada boanpwe?" Bertanya Leng San Pian.

"Siapa yang menyusahkan kamu?" Sie it Hu membentak. "hanya kau yang boleh menonton kepandaian kita orang-orang? Tidak bolehkah kami yang menonton ilmu kcpandaian kalian?"

"Ilmu kepandaian boanpwe terlalu rendah, bagaimana dapat dipertunjukkan?" Leng San Pian masih belum mengerti maksud tujuan raja silat gila.

"Menonton pertarungan ada lebih menarik dari menonton demonstrasi ilmu kepandaian" Berkata Sie It Hu

Hati Leng San Pian tercekat.

"Mana mungkin boanpwe dapat menang dari Cianpwe?" Dia menduga hendak di tantang oleb si raja silat

"Bukan aku" Bsrkata Sie It Hu. "Tapi lawan jang sederajat denganmu "

Leng San Pian memperhatikan perobahan wajah raja gila Sie It Hu.

Sie It Hu sudah menggapaian tangan kearah Lauw Can Cun. "Lauw Can Cun." Dia memanggil pengurus rumah Hian-kiok lauw.

Kemari."

Lauw Can Cun menunjuk hormatnja.

"Sie Cianpwe ada perintah?" Dia sudah siap

"Kukira," Berkata Sie It Hu. "Ilmu kepandaianmu tidak terpaut jauh dengan Cong piauw tauw dari Sun hong Piauw kiok itu, bukan?"

Ilmu kepandaian Lauw Can Cun masih berada tinggi diatas Leng San Pian, dia sangat memandang rendah kepandaian pemimpin psrusahaan yang sudah hampir bangkrut itu, Mendapat pertanjaan Sie It Hu, dia segera menduga perintah baru tentunya, siraja silat gila hendak menggunakan tangannya membunuh Leng San Pian, untuk mengimbangi kekuatannya, dia berkata:

"Ilmu kepandaian boanpwe masih berada dibawah Leng cong- piauw tauw. Tapi tidak mengapa, boanpwe aksn berusaha membela kepentingan partay"

Leng San Pian maklum, dia bukan tandingan Lauw Can Cun Dalam keadaan jang seperti ini, Ia tidik mempunyai pilihan lain.

Maju ketengah lapangan, menghadapi

sipengurus rumah makan Hiat kok lauw dan berkata : "Kuharap saja kau tidak terlalu ganas."

Raja Silat Gila Sie It Hu mengeluarkan Pengumumam :

"Huh, mengapa tidak boleh bertindak secara ganas? Aku sebal kepefa mereka yang

bcrmain silat tangan kosong. Hanya seperti sulap. Aku bukan hendak menonton sulap. Kalian harus bertindak secara gagah dan berar."

Didalam arti kata lain, dia mengharapkan keganasan dan ketelengasan.

Lauw Can Cun segera menduga perintah membunuh Leng San Pian. Sudah terang dan jelas, bahwa Piauwsu Sun hong Piauw kiok itu hendak melarikan uang komplotannya, sebagai hukaman, dia wajib membunuhnya.

Lauw Can Cun berhadap hadapan dengan Leng San Pian.

Cong piauw tauw." dia berkata, "lama kudengar nama gelarmu yang ternama. Cambuk Gunung Leng San Pian memang bukan manusia biasa, hari ini aku mempunyai kesempatan untuk meminta pelajaran, keluarkanlah cambuk gunungmu itu."

Logat suara Lauw Can Cun angkuh sekali, dia mcremehkan ilmu kepaudaian lawannya.

Leng San Pian juga termasuk seorang-orang jago sejati, dia tidak membiarkan dirinya

dihina seperti itu. Srek. Dia mengeluarkan cambuknya.

"Silahkan." Dia mulai memasang stan pertempuran, Tiba2.....

Terdengar suara feriakkan seseorang-orang; "Tunggu dulu."

Ie Lip Tiong menampilkan dirinya disini. Kedudukannya adalah seorang-orang

piauwsu Sun hong Piauw kiok dengan gelar nama si Pendekar Pemetik Bintang Liong Pal Su.

Orang-orang yang menghentikan persiapan tempur adalah le Lip Tiong. Lauw Can Cun menggunakan ujung mata dia melirik kearah piauwsu itu.

"Hm.... Dia mengetuarkan suara dari hidung," Kukira ada yang mau mewakili kau bcrtanding?"

Kata2 jarg terakhir ditujukan kepada si Cambuk Gunung Leng San Pian.

Ie Lip Tiong menampilkan dirinya sebagai juru bicara, dia berkata

:

"Betui Inilah tata peraturan kita Sun hong Piauw kiok teratur

menurut susunan pengurus. Urusan ini berupa perkara kecil, Biar aku yang bicara."

"Kau berani bertanding dengan aku ?" Bertanya Lauw Can Cun. "Sudah tentu." Berkata le Lip Tiong membusungkan dada. "Bagus. Biar ku 'petik' dahulu 'kepala bintangmu' itu."

Ie Lip Tiong menggunakan nama Liong Pal Su dengan gelar Pendekar Pemetik Bintang, Dengan kata2 yang seperti tadi sudah jelas bahwa Lauw Can Cun hendak nengadakan pembunuhan.

Ie Lip Tiong mengeluarkan pedangnya, dia tidak segera cepat2 bertanding dengan Lauw Can Cun. Sebelum itu, dia mcnengok kearah Leng San Pian dan berkata kepadanja :

"Boleh aku jang bertanding lebih dahulu?"

Leng San Pian menganggukkan kepalanya, Hanya Ie Lip Tiong jang dapat menandingi Lauw Can Cun. Hatinya agak terhibur.

"Kau harus herhati-hati." Dia berkata, Kedudukannya dengan 'Liong Pal Su' adalah saudara misan,

"Biar bsgaimana, tuan Lauw Can Cun adalah langganan kita Kau tidak boleh. berlaku

kelewatan."

Leng San Pian mengundurkan diri. Ie Lip Tiong menghadapi Lauw Can Cun, "Tuan Lauw sudah siap ?" Bertanya jago kita. Lauw Can Cun mengeluarkan suara helaan :

"5elalus siap!"

"senjata tuan?" Bertanya lagi Ie Lip Tiong.

"Dergan tangan kosongpun aku dapat. menandingimu." Berkata Lauw Can Cun

memandang rendah.

"Baik." Ie Lip Tiong menutup katanya dengan satu tusukkan pedang.

Lauw Can Cun menggeser diri.

Gerakkan le Lip Tiong cepat sekali, di saat itu juga, ujung pedang sudah mengancam

ulu hati lawan,

Lauw Can Cun terkejut, tidak diduga, si Pendekar Pemetik Bintang Liong Pal Su ini mempunyai kegesitan yang melebihi pemimpin perusahaan Sun-hong Piauw-kioknya. Cepat cepat dia mengundurkan diri lagi.

Gerakin Lauw Can Cun sangat cepat sekali. kemajuan Ie Lip Tiong juga tidak lambat cukup kuat untuk menimpali kegestan lawannya. Disaat jang sama, ujung pedang tetap meluncur ketempat sasaran, itulah jantung hati Lauw Can Cun.

Lauw Can Can bergereng, tangannya di balikkan. memukul pergi pedang lawan. Di lihat sepintas lalu, gerakan tadi sangat berbahaya. tapi dia mempunyai tenaga dalam yang hebat, dia mempunjai pegangan kuat untuk mementalkan pedang dan berikut orang-orang jang bersangkutan hanya seorang-orang Pendekar Pemetik Bintang Liong Pal Su jang tidak ternama segera akan dikalahkan olehnya Demikianlah cara pemikiran Lauw Can Cun yang salah, Plek    Betul2 pedarg Ie Lip Tiong kena disampok pergi.

Kejadian ini sudah berada didalam perhitungannja Lauw Can Cun.

Kejadian berikutnya inilah yang membawa mala petaka kepada sipengurus rumah makan Hian-kok lauw, Menurut perkiraan lauw Can Cun, langkah kedua adalah menerbangkan lawannya. Kenyataan tidak. Ie Lip Tiong tidak dapat diterpental pergikan Apa jang kita dapat saksikan adalah. pedang Ie Lip Tiong membuat satu lingkaran, dari depan kebelakang dan dari belakang memutar balik kembali, menegang, dan tetap mengancam ulu hati Lauw Can Cun.

"Aaaaaa... lnilah suara jeritan sipengurus rumah makan Hian kok Lauw.

Jalan darah linu Lauw Can Cun dibagian pinggangnya telah kena totokan pedang Ie Lip Tiong. tubuhnya jatuh ngedubrak, telentang ditanah,

Para penonton yang menyaksikan kehebatan si Pemetik Bintang Liong Pal Su bertepuk sorak. Mereka berteriak gembira.

Lauw Can Cun yang jatuh untuk satu gebrakkan. Betul2 kejadian yang berada diluar dugaan.

Dinilai dari keakhlian kedua orang-orang itu, Lauw Can Cun memang bukan tandingan Ie Lip Tiong, yang menambahnya prosesnya kehancuran sacepat itu adalah tidak adanya persiapan persiapan matang dari Lauw Can Cun. Dia terlalu memandang rendah kepada lawan tanpa nama itu.

Semua mata ditujukan kearah Lauw Can Cun jang terlena ditanah. Tidak seorangorangpun jang membangunkannya. Maka perhatian berganti kearah Raja Silat Gila Sie It Hu.

Sie It Hu tidak menunjukkan perobahan sikap, seolah-olah kekalahan Lauw Can Cun itu tidak mempunyai hubungan dengan dirlnya. Dengan seanyuman jang menarik, dia memandang Ie Lip Tiong kemudian menganggukkan kepala. Itulah tanda penghargaan jang dapat diberikan olehnya, "In Thian Liu" Dia memanggil pengurus rumah makan. Oey kiok lauw. "Liong-piauwsu memang istimewa. Coba kau jang memberikan pelajaran kepadanya."

Kedudukan In Thian Liu sebagai pengurus rumah makan Oey kiok lauw berada diatas Lauw Can Cun, hal itu disebabkan karena ilmu kepandaiannya yang lebih tinggi. Menonton bagaimana Ie Lip Tiong mengalahkan Lauw Can Cun, hatinya agak bingung. Bagaimana dengan dua jurus sang kawan dijatuhkan?

Kini dia mendapat perintah untuk maju perang. Dengan sikap yang berhati hati, dia menghampiri lawannya.

"Liong piauwsu," Dia berkata. "Kami In Thian Liu meminta pelajaran."

"Tuan In terlalu merendah." Berksta Ie Lip Tiong.

In Thian Liu mengeluarkan pedang, Wing.... dia mulai membuka serangan

Ie Lip Tiong tidak menjadi gentar, dia memapaki serangan itu dengan lain macam serangan. Traangggg.... Traangggg. Beruntun

sampai dua kali, terjadilah benturan2 pedang.

Dua bajangan itu terpisah, Ie Lip Tiong diarah Timur dan Io Thian Liu diarah Barat"

Ciiaaaattttt......In Thian Liu mulai membuka babak pertandingan yang kedua. Betul2 dia melakukan kegalakkan jang luar biasa.

Pemikiran Ie Lip Tiong tidak dapat dikacaukan oleh pekikan In Thian Liu. dia membawakan sikapnya yang tenang. Air liur dapat menenggelamkan apa saja, itulah yang dijadikan dasar perlawanannya.

Trang... tranggg... tranggg.... Terjadi lagi tiga benturan pedang dan setelah itu tubuh merekapun terpisah.

Kali ini In Thian liu tidak melanjutkan penyerangan babak ketiga. Dia menyedot napasnya beberapa kali, mencari waktu istirahat ini penting, mengingat lawan jang harus dijatuhkan itu terlalu berat. Ie Lip Tiong dapat bersikap tahu diri, dia tidak menjerang lubang perangkap yang dipasang oleh In Thian Liu.

In Tbian Liu membenarkan perputaran jalan darahnya. Ie Lip Tiong juga memulihlan ketekoran tenaganya

Disini letak kecerdikan Ie Lip Tiong, dia tahu bagaimana harus menghadapi musuh jang tidak sama. Dia mendahului gerakan Lauw Can Cun karena pergurus rumah makan itu bersikap lengah dengan akhir kemenangan untuknya. Dia menantikan kelengahan In Thian Liu, karena itu dia tidak mau menyerang iebih dahulu.

Sepuluh kedipan mata kemudian, In Thian Liu mengangkat pedang, swiiiingg. lagi2 dia yang menyerang.

le Lip Tiong mengangkat pedang sangat perlahan, begitu cepat kedua pedang itu sudah saling bentur, plek... lengket menjadi satu, tidak lepas lagi. Mereka mengadu tenaga dalam.

Aittttttt... In Thiao Liu minarik diri.

"Ha, ha..." Ie Lip Tiong tertawa "Ilmu pedang tuan tidak buruk, sangat berasa sekali. Mengapa tidak menyerang sekaligus ? Terus menerus ? Adanya cara bertempur yang diplentit plentit seperti itu sangat membosankan. Kukira. ilmu 'istirahat' ini tidak termasuk didalam buku persilatan."

Wajah In Thian Liu menjadi sangat beringas, dia mengeluarkan deheman dua kali, tubuhnya mencelat tinggi, dengan satu tipu yang luar biasa dia msnyerang lawannya.

Ie Lip Tiong menggunakan tipu kelelawar bergerak kian kemari dibajangi oleh pedangnya, berkibar2 ditengah lapangan.

Kini terjadi perang sabit, kecepatan mereka diperlipat gandakan, bagaikan dua ekor naga Ie Lip Tiong dan In Thian Liu bertanding diudara.

Kadang kala terjadi juga benturan pedang dari kedua jago silat itu. Lelatu api memercik kian kemari. sungguh indah Terjadi lag! benturan yang lebih dahsyat, terus menerus sehingga delapan kali, suara itu terdengar lama. Setelah itu, dua bayangan dari dua jago jang sedang bertanding terpisah, lalu berdiri dibagian Utara dan lainnya dibagian Selatan.

Membayangi terpetanya kedua bayangan orang-orang itu. satu belahan tangan yang berketelan darah jatuh nyelepok ditengah tengah.

Mata semua orang-orang terbelalak.

Memandang kearah In Thian Liu ternyata orang-orang ini telah kehilangan sebelah tangannya. Dia berdiri dengan keadaan limbung, begitu berat darah mancur keluar dari bekas luka, terus menerus demikian, akhirnya dia jatuh tidak sadarkan diri.

Lagi2 Ie Lip Tiong yang memenangkan pertandingan itu!

Rombongan Sun hong Piauw kiok bertepuk sorak. hanya sebentar, sesudah itu, mereka dan biar bagaimana. In Thiau Liu termasuk kawan dari orang-orang yang menyewa usaha pengangkutan mereka.

Raja Silat Gila Sie It Hu tertawa berkakakan, dia maju menghampiri Ie Lip Tiong, dengan suara yang jelas, sepatah demi sepatah dia berkata:

"Ie Lip Tiong, kau memang hebat. Sebagai hasil kemenanganmu atas dua pertandingan tadi, semua uang perak itu menjadi milikmu."

Sie It Hu tidak lagi memanggil dengan sebutan Liong Pal Su, dia sudah dapat mengetahui penjamaran Ie Lip Tiong.

atas terbongkarnya rahasia penyamaran ini dapat mengejutkan semua orang-orang. Tapi tidak mengejutkan Ie Lip Tiong, hal itu sudah termasuk kedalam benak perhitungan Ie Lp Tiong, dengan ilmu kepandaian yang seperti itu, karena adanya pertarungan jang mengalahkan Lauw Can Cun dan In Thian Liu, tentu saja mereka dapat menduga, siapa manusia jang bergelar Pendekar Pematlk Bintarg Liong Pal Su itu. Yang mengherankan Ie Lip Tiong adalah atas keterangan Sie It Hu, mengapa menghadiahkan uang perak komplotan tulang beset kulit manusia?

Untuk jelasnya, bagaimana partay Raja Gunung mengadakan pembesetan kulit manusia, para pembaca dipersilahkan mencari buku dengan judul PEMBUNUH GELAP.

Ie Lip Tiong berhadapan dengan Raja Silat Gila Sie It Hu dia tidak takut, dengan sikapnya yang sangat menantang berkata:

"Cianpwe dapat menyebut nama boanpwe, sesudah boanpwe mengalahkan kedua orang-orang tadi. Tidakkah merasa terlambat atas terjadinya kejadian ini?"

"Tidak." Berkata Sie It Hu. "Kukira sangat tepat." "Alasannya?"

"Mengapa harus ada alasan? Kau menghendaki satu juta tail psrak ini. Nah, uang sudah kuserahkan. Apa lagi jang masih mengganggumu ?"

"Kuharap saja telingaku tidak saiah dengar." Berkata Ie Lip Tiong.

"Tidak salah dengar." Berkata Sie It Hu. "Inilah suatu kenyataan Kau berhasil memeanangkan semua uang perak itu"

"Dapat kau memberi sedikit keterangan?" Ie Lip Tiong masih kurang percaya,

"Mengapa harus keterangan?" Berkata Sie It Hu. "Sebagai seorang-orang tokoh ajaib It kiam tin bu lim Wie Tauw dari kota Tiang an jang ternama, mungkinkah harus mendapat keterangan secara terperinci ? Dimanakah kepintaran otakmu itu ?"

Tentang keistimewaan It kiam tin bu lim Wie Tauw, para pembaca dipersilahkan memcari buku PEMBUNUH GELAP.

"He, he, he, he. " Raja Silat Siluman Bu Bee Beng tertawa

"Ha, ha, ha, ha. " Raja Silat Gila Sie It Hu juga tertawa. Kcdua oreng ini bcrjalan tenggang meninggalkan keramaian mereka tidak mau tahu urusan berikutnja,

Apakah rahasia yang tersembunyi dibalik tabir ini?

Sebagai dua dari 12 Raja Silat golongan Sesat, Sie It Hu dan Bu Bee Beng kurang bertanggung jawab atas partaynya. Kcnyataan bahwa kedua raja silat itu sudah meninggalkan golongannya

Sudah insyap?

Sudah bertobat?/

la Lip Tiong bingung memikirkan duduk persoalan itu ?

Semua orang-orang juga bingung memikirkan adanya kejadian yang sudah

terbentang dihadapan mata mereka.

Otak Ie Lip Tiong bekerja keras. Tiba2 dia menepuk jidatnja "Aaaaaa...." Tubuh sipemuda melesat, menyusul larinya kedua

raja silat itu.

Otak terpenting dari sekian banyak oraug jatuh tepada Leng San Pian Dia hendak mencegah kepergian Ie Lip Tiong, menyusul dua raja silat itu adalah suatu kejadian yang berbahaya tapi terlambat, gerakkan dan kecepatan Ie Lip Tiong begitu menakjubkan Dia sadar sesudah bayangan Ie Lip Tiong turut lenyap.

Yu Seng Cu menghampiri ketuanya.

"Bagaimana hal Ini dapat terjadi ?" Dia mengajukan pertanyaan. Leng San Pian mengangkat pundak. Berarti diapun tidak tahu,

permainan semuanya apa jang sedang dihadapi oleh mereka?

"Sie It Hu dan Bu Bee Beng rela meninggalkan uang mereka?" Bertanya lagi Yu Seng Cu.

"Uang2 itu masih ada" Berkata Leng San Pian mengelakkan pertanjaan.

"Mungkinkah suatu penipuan?" "Ilmu kepandaian mereka begitu tinggi, siapakah yang dapat mengalahkannya ? Mengapa harus menggunakan cara tolol? Penipuan itu tidak mungkin terjadi."

Mereka menyengir pahit.

"Lihat," Yu Seng Cu menudingkan jarinya kearah In Thian Liu Pengurus rumah makan Oey kiok lauw dikota Bu Ciang itu terlalu banyak mengeluarkan darah. Kukira sulit diberi pertolongan."

Hati Leng San Pian tergerak, seperti apa yang Ie Lip Tiong terangkan, kongcu itu mendapat tugas khusus Su hay tong sim beng untuk menemukan markas besar satu komplotan tukang beset kulit manusia yang menamakan diri mereka sebagai partay Raja Gunung. In Thian Liu adalah salah satu anggota partay ia, untuk mendapat keterangan dia barusan, memberi pertolongan.

Cepat2 Leng San Pian bergerak menotok beberapa jalan darah In Thian Liu. dia hendak mencegah pembocoran darah yang terus menerus, membalikkan tubuh orang-orang itu, mata In Thian Liu sudah dikatupkan Memeleknya sebentar, hanya putih saja, memegang urat nadinya sudah diam tidak berdeguk, In Thian Liu mati katena mengalirkan darah terlalu banyak.

Leng San Pian gagal menolong jiwa orang-orang Lu.

Yu Seng Cu menghampiri datang. "Bagaimana dengan yang itu?" Dia menunjuk Lauw Can Cun.

Leng San Pian melirik kearah orang-orang yang ditunjuk sang pembantu.

"Dia aman." Leng San Pian berkata tenang. "Ie kongcu telah menoiok jalan darah bekunya. Dia kaku tidak bisa berkutik,"

Mereka menghampiri tubuh Lauw Can Cun yang masih terlena ditanah Seperti apa yang Leng San Pian katakan, pengurus rumah makan Hian-kok lauw ini dapat memutar mutarkan biji matanya, hanya keadaan tubuhnya yang seperti bangkai mati, diam tidak bergerak. Leng San Pian menoleh kearah pembantunya.

"Yu piauwsu." Dia berkata. "Tolorg kau atur penguburan jenazah In Thian Liu."

Yu Seng Cu menjalankan perintah itu, membawa beberapa orang-orang, dia mengebumikan mayat In Thian Liu.

Keramaian dilapargan rumah makan Cui in koan kho Ciam itu sudan selesai,

Bagi para tamu dan para pengurus rumah makan itu, kejadian berdarah seperti apa yang mereka saksikan adalah lumrah sekali. Hidupnya para piauwsu dari perusahaan2 pengangkutan berada diujung golok dan pedang. Kematian adalah bayangan mereka.

Leng San Pian mengdampingi Lauw Can Cun.

"Cong piauw tauw," Pengurus rumah makan Hian kok lauw itu membuka suara.

Leng San Pian menoleh kearahnya.

"Cong piauw tauw." Memanggll lagi Lauw Can Cun. "Boleh aku mengajukan

pertanjaan?"

"Boleh saja dia." Dia berkata ramah. Lauw Can Cun menarik napas dalam2, dia bertanya :

"Piauwsu yang. barnama Liong Pal Su dengan gelar Pendekar Pemetik Bintang itu

adalah saudara misanmu?"

"Aku menyesal harus berbohong kepadamu." Berkata Leng San Pian.

"Siapakah dia ?" Bertanya lagi Lauw Can Cun.

Leng San Pian menjawab pertanyaan itu: "Ketua muda Oey san- pay, namanya Ie Lip

Tiong." "Kau bersekongkol dengannya untuk merampas uang kami?"

"Ketahuilah," Berkata Leng San Pian. Akupun termasuk salah seorang-orang murid

Oey san-pay. Kami satu anggota partay, bukan konplotan atau bersekongkolan."

"Aku menyessl telah mengundang perusahaan pengangkutanmu menjadi pengawal keamanan." Berkata Lauw Can Cun menarik napas lagi. "Aku jatuh dibawah tanganmu."

"Untuk kota Han yang, hanya ada satu perusahaan pengangkutan. Bagaimanapun, kau harus mencari perusahaan pengangkutan Sun hong Piauw kiok." Berkata Leng San Pian tenang.

"Aku heran." Berkata lagi Lauw Can Cun. Bagaimana Ie Lip Tiong mengetahui bshwa

kami hendak mengadakan pengantaran feran uarg! perak itu?" Leng San Pian berkata:

"Masih ingatkah, bagaimana si Raja Silat Bajingan Co Khu Liong mengacau rumah

makanmu? Dimana terdapat seorang-orang pengemis diluar lingkungan para pengacau itu?"

"Aaaaaa. Ternyata tumah makanku sudah diincar lama?"

"Betul."

"Tapi...." Bertanya lagi Lauw Can Cun. "Bagaimana dia tahu bahwa uang itu milik partay Raja gunung?"

"Ie Lip Tiong adalah jelmaan It kiam-tin bu lim Wie Tauw dari perusabaan Boan chiu Piauw kiok." Berkata Leng San Pian. "Setelah berbasil menghancurkan perkebunan teh Sang leng The chung dan perutahaan pengangkutan kuda Su hay bee kie-hang di kota

Lok yang. Dia mendapat tugas untuk menyelidiki markas besar kalian. Tujuan utamanya adalah rumah makan Hian kok lauw kamu."

Perusabaan teh Sang leng The chung dan perusahaan persewaan kuda Su hay bee kie bang adalah cabang2 perusahaan dari partaynya rajaGunung juga Cerita ini terdapat didalam buku PEMBUNUH GELAP. Partay Rija Gunung adalah suatu komplotan tukang beset kulit manusia, dengan kulit yang sudah dikeringkan itu, mereka dapat menjelma menjadi orang-orang yang bersangkutan

Lauw Can Cun menarik napas sampai berulang kali, dia menyesal kapada diri sendiri mengapa begitu bodoh, mengundang musuh didalam selimut

"Cong piauw tauw" Dia memanggil lagi. "Ada apa?" Bertanya Leng San Pian.

"Cong piauw tauw, biar bagaimana, kita adalah orang-orang satu kampung. Dapatkah kau mengintai hubungan lama kita Memberikan kebebasanku lagi?"

"Aku sargat menyesal." Berkata Leng San Pian.

"Kau tidak mau membebaskan aku?" Bartanya Lauw Can Cun putus asa.

"Sedapat mungkin, aku akan membebaskan dirimu. Tapi bukan sekarang." berkata Leng San Pian.

"Dirumah makan Hian kok lauw, aku masih mempunyai uang sebanyak 80.000 tail perak. Sstengah dari uang ini kusediakan untukmu dengan syarat memberikan kebebasan untukku." Lauw Can Cun mulai membujuk.

"Aku tidak butuh uang itu." Berkata Leng San Pian. "Semuanya kuserahkan kepadamu." Berkata Lauw Can Cun.

"Sudah kukatakan, segera kubebaskan dirimu Setelah kau memberi tahu, dimana letak markas bssar partay Raja Gunung itu."

"Aku tidak bisa memberi tahu " Berkata Lauw Can Cun.

"Ie kongcu akan memberi putusannya," berkata Leng San Pian. "tunggulah sampai dia

kembali"

Wajah Lauw Can Cun berubaj menjadi pucat. Matanya dikatupkan, dia diam.

Leng San Pian tetap mendampinginya.

Yu Seng cu telah selesai menguburkan mayat in Thian Liu. dia balik memberi laporan.

Leng San Pian memberi pujian kepada kecekatannya pembantu itu.

Tiba2........

Terdengar suara rintihan Lauw Can Cun, hanya mulutnya yang bergetar badannya

ditotok kaku tidak bisa bergojang karena itu. semakin terasa kepedihannya.

Leng San Pian kaget. cepat2 dia bertanja:

"Mengapa?"

Wajahnya Lauw Can Cun menyeringai sakit, dia berkata lemah : "Cong piauw tauw, kau tidak tahu bahwa aku mempunyai

seorang-orang istri dan tiga anak.Disaat ini jiwa mereka berada

didalam tangan San cu kami."

Sancu berarti Raja Gunung Inilah pucuk pimpinan tertinggi dari tukang beset kulit manusia partay Raja Gunung.

"Lauw Can Can, biar bagaimana, kau adalah seorang-orang jago silat asli" Dia berkata. "Mengapa mengucapkan kata2 yang saperti ini?" »Aku mengharapkan belas kasihanmu untuk menolong jiwa mereka. Aku tidak dapat membocorkan rahasia partay, akibat dari penghianatan ini sangat besar. Semua keluargaku akan dihukum picis, sangat menderita sekali. lnilah hukuman yang terberat.

"Tunggulah sampai Ie kongcu kembali." Berkata Leng San Pian. "8eritahu kesulitanmu

kepadanya. kujamin, dia tidak akan membunuh mati dirimu." "Aku membutuhkan belas kasihanmu." Berkata Lauw Can Cun

lagi.

"Aku tidak berhak memberi kebebasan." Berkata Leng San Pian. "Baiklah Sudahkah kau tahu, bahwa sebelum aku menjabat

pengurus rumah makan

Hian kok lauw, sebuah gigiku sudah dicabut secara paksa?" "Hubungan apa yang ada dengan persoalan gigi palsu itu?"

Bertanya Leng San Pian heran.

Dada Lauw Can Cun turun naik secara drastis, napasnyapun memburu keras.

Bibirnya mulai gemetar-Dia berkata dengan suara yang tidak lancar:

"Hubungannya.... sangat erat... Tempat itu dipasang....

oleh gigi palsu. dengan obat beraCun"

"Aaaaa..." Leng San Pian berteriak kaget. "Kau memakan racun itu ?"

"hanya... Hanya menelan racun inilah... maka... jiwa semua keluargaku yang berada

dibawah... kekuasaan mereka... dapat terhindar dari

kematian.... yang paling mengerikan "

Hekkkk ....

Napas Lauw Can Cun tersentak keras jiwanya melayang pulang ketempat rokh suci berada. Dia mati bunuh dirl dengan memecahkan obat beracun yang sudah dipasang didalam mulutnya.

Tersipu sipu Leng San Pian menotok jalan darah hidup sipengurus rumah maitan Hian kok lauw, tidak berhasil. Kulit Lauw Can Cun berubah menjadi biru. Terlalu cepat sekali.

Yu Seng Cu tidak dapat berbuat sesuatu apa, kejadian mana berada keluar perhitungan semua orang-orang.

"Eh..." Tiba2 terdengar suara Ie Lip Tiong. "Mengapa kalian berkerumun disini?"

Ketua muda Ocy san pay itu telah berada dibelakang orang-orang banyak.

"Lauw Can Cun mati bunuh diri." Leng San Pian memberi keterangan.

Ie Lip Tiong memperlihatkan wajahnya yang heran.

"Dia terkena totokanku. Bagaimana bisa bunuh diri?" Dia mengajukan pertanyaan.

"Dimulutnya sudah terssdia racun jahat, dengan obat beracun itu, dia menghabisi jiwanya sendiri." Leng San Pian memberi keterangan.

"Mengapa harus buruh diri?" Ie Lip Tiong memeriksa keadaan Lauw Can Cun, betul2 orang-orang itu sudah melakukan harakiri/bunuh diri.

Leng San Pian berkata:

"Inilah gara2 mulutku yang lancang, kukatakan, kau hendak memaksa dia memberi petunjuk jalan yang menuju kearah markas besar komplotannya. Ternjata pemimpin komplotan tukang beset kulit manusia itu telah memegang kelemahannya, semua keluarga Lauw Can Cun telah dipegang kuat2, bila mana dia berani berkhianat, jiwa anak istrinya akan disiksa sehingga mati, dikatakan sangat mengenaskan sekali. Gigi Lauw Can Cun dicabut sebuah, diganti dengan gigi palsu yang berisi obat beracun, gigi ini khusus disediakan untuk bunub diri, dengan demikianlah, dia dapat menolong siksaan berat dari keluarganya."

le Lip Tiong menarik napas panjang, menengok kekanan dan kiri, dia tidak menemukan In Thian Liu, segera dia mengajukan pcrtanjaan:

"Dimana In Thian Liu?" Yu Seng Cu berkata:

"Dia terlalu banyak mengcKiarkan darah. jiwanya tidak dapat ditolong. Sudah kita kebumikan."

Ie Lip Tiong mengeluarkan keluhan napas lesu.

"Sebenarnya, aku hendak meminta keterangan mereka. Sungguh diluar dugaan. Dua2nya mati lebih dahulu."

"Kesalahan berada padaku " Berkata Leng San Pian. "Tidak sebarusnya kuberi keterangan yang terlalu banyak."

"Kukira, si Raja Gunung itulah yang terlalu lihay. Dimisalkan mereka tidak mati. Mengingat adanya gigi beracun itu yang sudah dipasang terlebih dahulu, kukira mereka juga tidak mau membocorkan rahasia. Seperti keadaan Lauw Can Cun, keluarga In Thian Liu tentu berada dibawah kekuasaan Raja Gunung itu."

"Kini pengusutan terputus." Berkata Leng San Pian. "Kau mangetahui lain cabang usaha mereka?"

Ie Lip Tiong menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Usaha komplotan tukang beset kulit manusia ini tidak tebatas pada perusahaan rumah makan saja. Adanya perusahaan rumah makan lebih menguntungkan mereka. Rumah mskan dapat menyedot uang kontan sebanyak mungkin juga tidak menarik kecurigaan banyak orang-orang. Tidak seperti perkebunan teh atau persewaan kuda. Sayang belum ada info baru tentang salah satu cabang perusahaan partay raja Gunung ini."

"Maksudmu ?" "Mereka hendak membawa uang uang ini kekota Su shia. Di kota itulah orang-orang2 mereka menantikan kedatangannya.Besar kemungkinan ada suatu cabang perusahaaannya, aku hendak menyelidikinya keadaan kota Su shia." Berkata Ie Lip Tiong.

Leng San Pian menyetujui langkah ini.

"Bagaimana hasilmu kepada pengejaran tadi?" Dia bertanya. "Dua Raja Silat Sesat i1u yang kau maksudkan?" Bertanya Ie Lip

Tiong tertawa.

Leng San Pian menganggukkan kepalanya.

"Mengapa mereka berpihak kepada kita?" Dia betul2 tidak mengerti.

"Ha, ha...." Ie Lip Tiong tertawa lagi. "Dua orang-orang tadi bukanlah raja silat sesat yang asli."

"Maksudmu ?" Leng San Pian membelalakkan mata.

"Kita telah kena dikibuli olehnya." Berkata 1e Lip Tiong. "Dua orang-orang inilah yang kita harapkan. Mereka berupa tenaga bantuan yang didatangkan oleb gerakan Su bay tong sim beng." yang menyamar menjadi Raja Silat Siluman Bu Bee Beng adalah Raja Silat Tenang Hong poh Kie, yang menyamar menjadi Raja Silat Gila Sie It Hu adalah Raja Silat Karya Kam Lu Bin. Merekapun berupa raja silat ternama, bedanya, bilamana Bu Bee Beng dan Sie It Hu dari 12 Raja Silat golongan Sesat, Kam Lu Bin dan Hong-poh Kie adalah raja2 silat dari golongan kesatria.

"Aha. Leng San Pian bsrteriak girang. "Tidak kusangka bantuan

itu dapat memainkan sandiwara seperti itu," ie Lip Tiong berkata ;

"Akupun tertipu olehnya. Aku sadar setelah kepergiannya kedua raja silat itu. maka aku mengejar mereka untuk mengucapkan terima kasih kita."

Berhasilkah mengejar kedua raja silat itu ?" Bertanya Leng San Pian.

"Mereka tidak pergi jauh." Berkata Ie Lip Tiong. Mereka menantikan kedatanganku. Mereka menantikan dibawah sebuab pohon besar. Kedatanganku disambut oleh Raja Silat Karya Kam Lu Bin, dengan tertawa dia berkata kepadaku bahwa aku mempunyai otak dari batu kerikil, bila tidak dapat memecahkan penyamaran mereka, aku tidak berhak duduk sebagai Duta 1stimewa Berbaju Kuning Nomor Tiga Belas, bila tidak dapat membedakan sifat raja silat sesat dan raja silat kesatria. Aku dipecat dari anggota Su hay tong sim beng, bila tidak menemui mereka berdua."

"Merekapun termasuk tokoh silat yang aneh." Berkata Leng San Pian.

"Mereka berkata, hanya cara halus yang seperti itulah Mereka dapat mengantar kita dikota ini, Cui cit lie mempunjai cabang jalan kearah 9 penjuru, mudah untuk melarikan diri. Bukan saja si Raja Silat Bajingan Co Khu Liong yang membikin pengawalan, anak buah komplotan tukang beset kulit manusia itu sangat banyak, dia meninggalkan pesan, kita harus berhati hati." Ie Lip Tiong meneruskan keterangan.

Leng San Pian bertanya lagi:

"Dimanakah mereka kini? sudah pergi?"

"Mereka pulang kemarkas besar Su hay tong sim beng sudah kuceritakan tentang

adanya 9 dara dari keluarga Ang, mereka bersedia menjodohkan dengan dua Duta Istimewa Berbaju Kuning yang masih bujangan."

"Nasib 9 dara dari keluarga Ang itu yang bagus." Berkata Leng San Pian.

Ang Yan Bwee dan saudaranya hendak merampas uang yang dititipkan kepada Sun hong Piauw kiok, mereka tidak berhasil Ang Siauw Peng tertangkap, atas mulut manis Ie Lip Tiong, terikatlah jodoh mereka. Inilah kejadian dibelakarg cerita, disini tidak perlu dipanjanglebarkan. Berhasilkah Ie Lip Tiong dan Leng San Pian membawa lari uang itu?

Mari kita mengikuti bagian ketujuh

LAGI2 Yu Seng Cu yang mendapat tugas mengurus kematian Lauw Can Cun.

Ie Lip Tiong dan Leng San Pan kembali kerumah makan, mereka harus bergegas gegas meninggalkan tempat itu.

Para tamu didalam rumah makan masih ramai memperbincangkan soal terjadinya pertempuran diluar lapangan.

Mata Ie Lip Tiong yang tajam segera dapat menangkap satu bayangan, itulah bayangan seorang-orang kakek berbaju hijau, makan disatu meja yang tersendiri, telinganya di pasang panjang.

Ie Lip Tiong menarik Leng San Pan, dengan tangannya yang dibasahi dengan arak dia menulis :

"Jangan bersuara, ada musuh!"

Wajah Leng San Pian berubah. Dia memperhatikan keadaan di dalam rumah makan itu, hanya tinggal 4 orang-orang tamu. Dia tidak tahu, siapa dari keempat orang-orang itu yang di maksudkan dengan musuh.

Leng San Pian memandang kearah Ie Lip Tiong. Dia hendak meminta keterangan jang lebih jelas

Didalam rumah makan itu masih terdapat banyak orang-orang Sun hong Piauw kiok, Ie Lip Tiong mendatangi seorang-orang diantaranya, dengan tulisan, dia mengajukan pertanyaan :

"Bilakah kedatangan orang-orang tua berbaju hijau itu ?"

Orang-orang yang ditanya membelalakkan mata, memeriksa seluruh isi ruangsn makan. akhirnya tertuju pada kakek berbaju hijau itu.

"Belum lama." Dia memberikan jawaban,

"Jangan bersuara." le Lip Tiong menggunakan tangannya menulis dimeja.

"Gunakanlah cara seperti aku. Dengan tulisan." Orang-orang itu meaganggukkan kepalanya.

"Apa yang diLakukan olehnya?" Bertanya lagi Ie Lip Tiong tetap dengan tulissn.

Orang-orang itu menulis :

»Semua orang-orang mempercakapkan kejadian tadi Dia memasang kuping panjang, kadang kadang mengajukan beberapa pertanyaan.

"Apa yang diajukan olehnya?" Menulis lagi Ie Lip Tiong. "Tidak terdengar jelas" Menulis orang-orang yang ditanya.

Ie Lip Tiong nsengajak Leng San Pian meninggalkan tempat itu. Diluar, Leng San Pian bertanya :

"Siapakah kakek berbaju hijau tadi?"

"Calon mertuaku, namanya Ai Pek Cun." jawab Ie Lip Tiorg. "Aaaaaa. "

Agaknja, ada perlu untuk menuturkan sedikit tcntang Ai Pek Cun.

Ai Pek Cun adalah ayah Ai Ceng, sedangkan Ai Ceng adalah kekasih Ie Lip Tiong.

Ai Pek Cun adalah salah satu dari empat murid si Raja Silat, Ai Pek Cun mempunjai seorang-orang murid yang bernama Su khong Eng, dan Su khong Eng inilah yang menjadi bibit bencana rimba persilatan, dengan menggunakan perawakannya yang agak mirip dengan Ie Lip Tiong, dengan menggunakan tutup kerudung hitam dan baju hitam, dia berhasil menciptakan dongeng pemuda Misterius berkerudung hitam. melakukan pembunuhan2 dibeberapa tempat Maka Ie Lip Tiong yang di kejar kejar orang-orang, inilah fitnah.

Adanya fitnah celaka itu, Ie Lip Tiong digusur kemeja hijau Su hay tong sim beng, dengan satu hukuman, itulah hukuman mati!

Duta Nomor Empat dari gerekan Su hay tong sim beng yang bernama Can Ceng Lun dengan gelar Hakim Hitam adalah guru Ie Lip Tiong, berkat bantuan Can Ceng Lun inilah jiwa, Ie Lip Tiong dapat diselamatkan.

Semua dosa ini harus ditanggung oleh Su khong Eng, Ai Pek Cun dan si Raja Gunung.

Dosa pertama berada ditangan Su khong Eng dosa kedua ditangan Ai Pek Cun dan berikutnya adalah si Raja Gunung yang misterius itu?

Menurut dosa, urutan tadi tidak bisa disangkal atau diganggu gugat. Msnurut kedudukkan, otak pertama adalah si Raja Gunung yang dibantu oleh 11 Raja2 Silat Sesat lainnya.

Karena itu, Su hay tong sim beng memberi tugas kepada Ie Lip Tiong untuk menyelidiki pusat markas gerakan tukang beset kulit manusia itu.

Info Ie Lip Tiong alias It kiam tin bu lim Wie Tauw dengan gelarnya tokoh ajaib dari Kota Tlang an, Pedang yang Menundukkan Rimba Persilatan itu sangat tajam. Dia berhasil msnemukan salah satu cabang perusahaan si Partay raja Gunung. Itulah ruman makan Hian kok lauw. Disana muncul seorang-orang Raja Silat Bajingan Co Khu Liong, kekayaan uang kontan yang ada harus diwajibkan dibawa pulang. Inilah kesempatan baik, dengan menyamar menjadi seorang-orang piauwsu Sun Hong Piauw kiok, Ie Lip Tiong berhasil menyertai perjalanan itu. Maksudnya mengincar pusat markas gerakan partay Raja Gunung.

Bantuan Su hay Tong sim beng sudah datang, degan menyamar sebagai Bu Bee Beng dan Sie It Hu, Raja2 Silat Kesatria Kam Lu Bin dan Hang poh Kie dapat mengusir Co Khu Liong secara halus Mereka menyerehkau uang itu.

Dikala Ie Lip Tiong dan Leng San Pian , hendak melanjutkan usahanya, mereka menemuksn Ai Pek Cun.

Inilah gangguan!

Leng San Pian menjadi bingung. Dia bertanya : "Bagaimana dia bisa berada ditempat ini?"

Ie Lip Tiong berkata .

"Kukira dia inilah yang meedapat tugaa menjambut kedatangan uang. Kukira dia sudah tahu kejadian tadi. Seluruh isi rumah makan Cui im koan ko Ciam sudah digegerkan olehnya."

"Bagaimana ilmu Ai Pek Cun itu?" Berkata Leng San Pian. "Sangat tinggi." Berkata Ie Lip Tiong. "Tinggi sekali. Dia adalah

murid si Raja Gunung. Inilah orang-orang yang berhasil mendidik sipemuda misterius berkerudung hitam Su khong Eng."

Ilmu kepandaian Su khong Eng sudah sangat tinggi, dia dapat mengacau anak buah lima partay besar tanpa gangguan, mudah dibayangkan, sampai dimana ilmu kepandaian Ai Pek Cun.

Ie Lip Tiong dan Leng San Pian belum menemukan cara untuk menghadapi Ai Pek Cun.

Disaat itu, satu bajangan hijau berjalan keluar, siapa lagi? Bila bukan tokoh tukang beset kulit manusia Ai Pek Cun?

le Lip Tiong dan Leng San Pian memisahkan diri mereka.

Ai Pek Cun menghampiri datang merangkapkan kedua tangannya, memberi hormat kepada Leng San Pian, digeser sedikit, juga kepada Ie Lip Tiong. Ai Pek Cun pernah menjumpai Ie Lip Tiong, tentu saja didalam keadaan seling. Kini le

Lip Tiong sudah berganti rupa, maka Ai Pek Cun tidak kenal kepadanya.

"Mengganggu jiwie berdua." Ai Pek Cun membuka suara. Leng San Pian dan Ie Lip Tiong membalas hormat itu. "Lotiang ada seauatu?" Bertanya Leng San Pian.

"Jiwie berdua tentunya piauwsu dari Sun hong Piauw kiok?" Bertanya Ai Pek Cun.

"Betul." Leng San Pian Menganggukkan kepala. "Kami Leng San Pian pemimpin perusahaan."

"Aaaaa... Pandekar Cambuk Gunung yang ternama." Sekali lagi Ai Pek Cun memberi hormat.

"Gelar itu diberikan oleh beberapa sahabat yang bermulut usil." Leng San Pian merendahkan diri.

"Dan bagaimana dengan sebutan saudara ini?" Ai Pek Cun menanyakan nama Ie Lip Tiong.

"Pendekat Pemetik Bintang Liong Pal Su." Berkata Leng San Pian memperkenalkan piauwsunya. "Saudara misanku yang membantu usahu Sun hong Piauw kiok."

"Oh, Pendekar PemetiK Bintang Liong Pal Su? Sudah lama aku mendengar namamu." Berkata Ai Pek Cun. Dia hendak mengumpak orang-orang, tentu saja bukan kata2 yang sejujutnya. Dari mana dia kenal kepada Pendekar Pemetik Bintang Liong Pal Su? Sedangkan nama itu hanya nama Ie Lip Tiong. Hanya Ie Lip Tiong punya bisa.

Ie Lip Tiong membalas hormat itu.

"Aku Hoan Pak Koo kelahiran Holam." Ai Pek Cun memperkenalkan diri dengan nama palsunya "Boleh lohu mengajukan pertanyaan, kemanakah rombongan jiwie sekalian hendak berangkat?"

"Maaf." Berkata Leng San Pian. "Perjalana perusahaan kami tidak dapat diterangkan."

"Bukan maksud lohu yang hendak menjadi mata2 perampok."

Berkata Ai Pek Cun

"Lohu ada membawa barang berharga. dimisalkan cuwie sekalian mengambil tujuan arah yang sama. Lohu ingin turut, sekalian mendapat jaminan kawalan "

"Lotiang hendak menuju kearah kota mana?" Bertanya Leng San Pian.

Ai Pek Cun tidak menjawab pertanyaan itu. Dari dalam saku bajunya, ia mengeluarkan sebuah bungkusan, dikeluarkannya isi bungkusan itu, ternyata butir mutiara bagus yang mempunyai nilai besar, kemudian, cepat2 disimpannya lagi mutiara tadi.

"Demi keamanannya barang2 inilah," Dia betkata. "Lohu membutuhkan pengawalan."

"Lotiang menuju kearah kota apa?" Leng San Pian mengulang pertanyaanya.

"Kota Ceng yang hian." jawab Ai Pek Cun "Dekat sekali."

"Sangat menyesal." Berkata Lerg San Pian "Kita bukan satu tujuan."

"Oh... Ai Pek Cun memperlihatkan sikapnya yang sangat kecewa. "Liong piauwsu," Leng San Pian menoleh kearah Ie Lip Tiong.

"Ada baiknya kita melanjutkan perjalanan."

"Tunggu dulu." Ai Pek Cun berteriak gugup. "Kujanjikan hadiah 100 tail perak uniuk ongkos pengawalan."

"Sun hong Piauw kiok hanya mampunyai dua piawsu pembantu." Berkata Leng San Pian. "Jumlah tenaga kita masih belum cukup,"

Leng San Pian menolak untuk melakukan perjalanan bersama sama dengan tokoh komplotan tukang beset kulit manusia itu.

"Dua ratus perak lagi," Ai Pek Cun menabah jumlah persennya.

"Seribu dua ratus tail perak." Dia mengucapkan jumlah uang. "Bukan soal ongkos " Berkata Leng San Pian. "Betul2 kami

kckurangan tenaga." Ai pek Cun menggusuk-gusukkan keduanya, seolah bertemu dengan kesulstan besar.

"Bagaimana..... Bagaimana aku melanjutkan perjalanan?" Dia mengoceh seorangorang diri.

Ie Lip Tiong membuka mulut, segera dia berkata : "Biar aku yang mengawal tuan ini."

Leng San Pian menoleh kearah ketua muda itu, alisnya berkerut kencang.

"Mana bisa ?" Dia memberi peringatan bahwa urusan mereka belum selesai. Ie Lip Tiong berkata :

"Jarak Ceng-yang-hian dan Cui-cit lie tidak terlalu jauh, paling lama memakan waktu perjalanan dua hari. Biar kuantar tuan ini terlebih dahulu, setelah selesai, aku akan kembali segera. Rombongan boleh menunggu di Cui cit Lie saja."

"Tapi... Tapi " Leng San Pian bingung.

Ie Lip Tiong menghadapi Ai Pek Cun. Dia tidak takut dikenali oleh Calon mertua itu, ilmu menghias wajahnya sudah begitu sempurna, disaat itu, kedudukannya adalah

Pendekar Pemetik Bintaog Liong Pal Su.

"Lotiang," Dia membuka suara. "Kau berjalan kaki atau menunggang kuda."

Lotiang ini berarti sebutan untuk orang-orang tua yang dihormati. Ai Pek Cun berkata :

"Sebenarnya, aku melakukan perjalanan dengan kuda, binatang itu tidak sanggup mempertahankan dirinya, dia mati ditengah jalan perjalanan yang diteruskan siang malam itu merenggut jiwanya Apa boleh buat, aku harus berjalan kaki."

"Sanggupkah melakukan perljalanan dengan sepasang kaki?" Bertanya lagi Ie Lip Tiong. "Akan lohu usahakan." Berkata Ai Pek Cun.

Lohu berarti aku. Suatu istilah sebutan seorang-orang tua yang menamakan dirinya.

"Hendak berangkat sekarang?" Bertanya le Lip Tiong.

"Ng.... Ng.... Bilamina Leng piauwsu tidak keberatan. Lohu hendak berangkat segera." Berkata Ai Pek Cun menganggukkan kepala.

Ie Lip Tiong memandang Leng San Pian. "Bagaimana ?" Dia bartanya.

"Baiklah." Leng San Pian belum dapat menduga isi hati Ie Lip Tiong Tapi dia percaya kepada ketangkasan sang ketua muda itu. Dia tidak melarangnya. "Berhati hatilah diperjalanan."

Ie Lip Tiong memandang Ai Pek Cun. "Lotiang masih mempunjai lain perbekalan?" Dia bertanja

"Tidak." Berkata Ai Pek Cun.

"Nah, mari kita melakukan perjalanan." Berkata Ie Lip Tiong.

Ie Lip Tiong mengawal Ai Pek Cun meninggalkan rumah makan Cui im koan Ko ciam. Tidak jauh. Secara mendadak saja. Ie Lip Tiong berkata : "Harap lodang tunggu sebentar. Aku Lupa sesuatu" Ai Pek Cun tidak takut pemuda itu melarikan diri, ia memandang dari jauh. Secepat itu, Ie Lip Tiong Lari kembali. menjumpai Leng San Pian dan meninggalkan pesan : "Aku tidak takut dikalahkan oleh Ai Pek Cun. Tapi aku belum mempunyai itu kekuatan untuk mengalahkannya Segeralah bubarkan orang-orang orang-orang kita. Tentang uang perak itu, sebaiknya disembunyikan atau ditanam saja disuatu tempat yang aman. Menunggu sampai keadaan bersih dari segala gangguan. kita dapat balik menggalinya."

"Dan kau ?" Leng San Pian sangat khawatir.

"Aku dapat melihat suasana. Mungkin tidak menggabungkan diri dengan kalian. Langsung mencari info baru dikota Su-shia." Percakapan mereka parlahan sekali.

Tubuh Ie Lip Tiong melesat, bergabung dengan Ai Pek Cun yang sudah manunggu dirinya. Perjalanan kedua orang-orang itu diteruskan. 2 lie kemudian, Ai Pek Cun menghentikan langkahnya

"Mengapa ?" Ie Lip Tiong mengadukan pertanjaan.

"Kaki tuaku sudah lemah " Berkata Ai Pek Cun. "Membutuhkan waktu untuk istirahat."

"Belum juga tiga lie," Berkata Ie Lip Tiong. Bilakah kita dapat sampai ditempat tujuan."

“Lohu seorang-orang pedagang, mana dapat disamakan denganmu " Berkata Ai Pek Cun.

”Lotiang melakukan perjalanan seorang-orang diri?" Bertanya lagi Ie Lip Tiong.

Ai Pek Cun menjawab: "Betul."

"Lotiang adalah seorang-orang yang pemberani." Berkata Ie Lip Tiong.

"Aku membutuhkan pengawalan, karsna mendengar cerita. para tamu rumah makan yang menceritakan adanya bentrokan senjata besar-besaran. Karena itu. hati lohu menjadi kecil".

"Kini sudah dikenal Tentu sudah berhasil memulihkan keberanian itu." Berkata Ie Lip Tiong tertawa.

Kedua orang-orang ino saling main sandiwara, tipu menipu. bohong membohongi.

Ai Pek Cun berkata :

"Lohu dengar tentang cerita raja2 Silat apakah yang terjadi? Cerita mereka simpang siur, Tidak mudah dimengerti. Kukira kau depat membuat cerita jang lebih jelas,"

"Tidak semua Raja Silat." Berkata Ie Lip Tiong. "Hanya dua. mereka adalah Raja Silat Siluman Bu Bee Beng dan Raja Silat Gila Sie It Hu."

"Mereka bersantap makan malam dirumah makan Cui im koank Ko-ciam ?" Bertanya Ai Pek Cun.

"Ng..." Ie Lip Tiong menganggukkan kepalanya. "Mungkin terlalu banyak menengak arak, didalam keadaan setengah mabuk, mereka mendemonstrasikan beberapa macam ilmu kepandaian Silat. Setelah itu. mereka pergi"

"Dan kudergar ada dua orang-orang lainnya yang bernama In Thian Liu dan Lauw Can Cun.. Kedua orang-orang ini juga turut pergi dibelakang kedua raja silat itu?"

Ternjata Ai P«k Cun belum mendapatkan keterangan yang jelas, dia tidak tahu bahwa In Thian Liu dan Lauw Can Cun sudah tidak ada.

le Lip Tiong menjawab pertanyaan :

"Betul. Mereka adalah satu rombongan." Ai Pek Cun bertanya lagi

:

"Tidak terjadi bentrokkan senjata?" Ie Lip Tiong menjawan : "Hanya demonstrasi demonstrasi biasa," Ai Pek Cun berkata lagi. "Liong piauwsu. kau sangat pandai mengarang cerita. Kau adalah

seorang-orang pembohong besar." Ie Lip Tiong trrtawa, katanya :

"Bagaimana?" "Menurut apa yang dapat kutangkap, cerita mereka sabagai berikut, Kau menotok jatuh Lauw Can Cun tanpa jurus ketiga. Kemudian, mengalahkan In Thian Liu sehingga orang- orang itu kehilangan sebelah tangannya. Adakah kejadlan yang seperti ini ?"

"Lotiang." Berkata Ie Lip Tiong. "Sebagai seorang-orang pedagang, apa guna kau menyelidiki persoalan kami?"

"Tahukah, apa saja yang diperdagangkan olehku?" "Belum tahu."

"Kulit manusiapun sangat berharga. Karena itu, aku harus tahu." "Bagaimana hubungan lotiang dengan kedua tokoh silat yang

lotiang Stbutkan tadi?" Ie Lip Tiong mengulur waktu Dia harus

Memberi banyak kesempatan kepada Leng San Pian sekalian menyebar uang peraknya.

"Lauw Can Cun dan In Thian Liu adalah dua orang-orangku yang boleh dipercaya." Berkata Ai Pek Cun terus terang.

Ie Lip Tiong sudah bersiap siap untuk menghadapi Ai Pek Cun. "Lotiang pandai membuat humor." Dia tertawa.

"Bukan humor." Berkata Ai Pek Cun sungguh2. "Inilah kenjataan."

"Lotiang hendak menyelidiki jejaknya kedua anak buahmu?" Bertanya lagi Ie Lip Tiong.

"Ng. "

"Lotiang hendak menuntut balas?"

"Tentu." Ai Pek Cun menganggukkan kepalanja. "Aku mulai tertarik padamu. Bila betul apa yang mereka ceritakan itu sebagai suatu kenjataan, kau dapat mengalahkan Lauw Can Cun tanpa gebrakkan ketiga, ini membuktikan ilmu kepandaian silatmu yang sangat tinggi. Aku bersedia menyudahi persengketaan, bila kau dapat mengalahkan diriku. Kecuali itu. aku akan memberi hadiah lain, semua barang milikku, termasuK 7 butir mutiara pusaka, segera kuserahkan padamu Bersiap-siaplah untuk membikin partempuran."

"Lotiang sudah terlalu banyak minum arak? Sudah mabukkah?" Bertanya Ie Lip Tiong sambil bersiap siap.

"Aku tidak mabuk." Berkata Ai Pek Cun dingin. "Hayo katakan siapa dirimu?"

"Piauwsu dari Sun hong Piauw kiok." jawab Ie Lip Tiong. "Namamu?" Ai Pek Cun membentak "Pendekar Pemetik Bintang Liong Pal Su." Berkata Ie Lip Tiong. Sikapnya semakin menantang.

"Masih hendak menyembunyikan diri?" Berdengus Ai Pek Cun marah.

"Apa jang disembunyikan ?" Ie Lip Tiong masih berlagak pilon. "Namamu." Membentak Ai Pek Cun keras.

-Namaku Liong Pal Su." Berkata Ie Lip Tiong.

"Bagus. Akan kulihat, sampai dimana kepandaianmu itu." Ai Pek Cun menggerakkan kaki, dengan kecepatan yang tidak dapat dilukiskan, mengancam perut jago kita.

Ie Lip Tiong memusatkan semua perhatiannya kepada sepasang tangan Ai Pek Cun yang datang adalah serangan kaki, sungguh berada diluar perhitungan. Dengan serangan seperti itu, dia dipaksa mengundurkan diri, Tapi Ie Lip Tiong tahu, apa akibat dan kemundurannya itu, dia akan didesak terus menerus, sehingga kehabisan tenaga. Tidak mudahi mengembalikan posisi yang sudah berlangsung. Karena itu semua kekuatan dikerahkan kepada sepasang ujung kaki. Ciiuutt.... melejit tiggi, tangan kanannya ditekan kebawah, tunduk memotong kaki Ai Pek Cun. Menghindari dari serangan musuh dan sekalian membikin penyerangan balasan.

Inilah pertahanan terkuat.

Ai Pek Cun mengeluarkan suara heran, ketangkasan Ie Lip Tiong sungguh berada diluar dugaannya, cepat2 dia menahan kaki, agar tidak terpapas rusak oleh tangan jago Itu. Kini tangannya yang bekerja, balik membacok tangan Ie Lip Tiong.

Ie Lip Tiong sengat kenal kepada Ai Pek Cun. sampai dimana ilmu kepandaian calon mertua itu. dia sudah dapat meresapkan kedalam benak pikirannya, dia sudah memperhitungkan bakal adanya serangan luar biasa tapi, dengan tubuh yang tidak. menginjak tanah. dia menjepakan kedua kaki, mengancam sepasang mata Ai Pek Cun. Sepasang tendangan kaki itu mengejutkan Ai Pek Cun. dengan bacokkan tangan jang disertai tenaga dalam. setidak tidaknja, musuh harus mundur lebih dahulu. hawa pukulannya cukup untuk menyesatkan jalan pernapasan piawsu biasa. tapi Ie Lip Tiong tidak, ini suatu bukti bahwa ilmu kepandaian lawan adalah setarap dengan ilmu kepandaiannya.

"Hm...." Ai Pek Cun menambah kekuatan menyerang, terus menerus mengejar sang musuh dengan pukulan berantai, sambung menyambung menjadi satu, galak sekali.

Ie Lip Tiong mempertahankan diri dari serangan2 itu,

Semakin lama, pertempuran semakin cepat. ia makin berbahaya.

Tubuh dua orang-orang itu berguling guling, terjadilah dua bianglala hitam. sulit membedakan, yang mana Ie Lip Tiong dan yang mana Ai Pek Cun.

Seratus jurus kemudian, terdengar suara benturan yang dahsyat, Beeenggg......

Tubuh dua orang-orang itu terpisah. Ai Pek Cun dan Ie Lip Tiong berusaha mempertahankan posisinya.

Ai Pek Cun berdiri dengan mata melotot begitu galak dengan suaranya yang berdengung jauh, dia berkata :

"Tuan mempunyai ilmu kepandaian yang luar biasa. Mengapa tidak berani memperkenalkan nama asli ?"

Dia tidak tahu sedang berhadapan dengan calon mantu pilihan putrinja sendiri.

-oo0dw0oo-