-->

Pelenyap Sukma Jilid 2

Jilid 02

MENDAPAT kunyungan Ie Lip Tiong lebih dahulu. si Pendekar Cambuk gunung Leng San Pian mendapat banyak kesempatan untuk menghadapi tamunya. Kedatangan pemilik rumah makan Hian-kok-lauW yang bernama Lauw Can Cun sudah berada didalam perhitungannya. Kini dia sedang menghadapi sang pengurus cabang dari perusahaan si Raja Gunung dikota Han-yang.

Memandang langganannya, Leng San Pian bertanya: "Barang apakah yang hendak dipercajakan kepadaku ?"

"Uang perak." Berkata Lauw Can Cun singkat.

"Uang perak ?" Leng San Pian membawakan sikapnya yang terkejut sekali.

"Betul Uang perak seharga 570 000 tail yang hendak kami tranfusikan kelain tempat. Besar harapan Hian-kok-lauw agar Sun- hong Piauw-kiok dapat mengadakan pengawalan secara aman,"

"Jumlah ini tidak sedikit " Berkata Leng San Pian.

Lauw Can Cun tertawa geli, dia tidak menyebut 61.000 uang si Raja Gunung yang nyangkut pada dirinya. berganti tangan uang itu sudah berada didalam kantong Co Khu Liong.

"Berapa jasa tanggungan yang hendak kau minta untuk uang sejumlah itu ?" tanya Lauw Can Cun.

"Diantar kekota apa ?" balik tanya Leng San Pian, "Kekota Su-shia dipropinsi Wan-tiong."

Leng San Pian menarik alat hitungnya, alat itu selalu sedia dibeberapa ruangan, alat ini dapat memudahkan perhitungan baginya. jari-jarinya lantas memain-main biji2 benda tersebut,

"Perjalanan harus melewati kota Bu-ciang bukan?" Bertanya Lauw Can Cun, "Dikota Itu," Dia menyambungnya lagi, "Masih ada sebagian lagi uang yang harus diangkut, jumlah ini belum diketahui, diperkirakan dua kali lipat dari angka yang ada."

"Nggg . . . ." Leng San Pian berketak-ketik terus. "Menurut apa yang kau sebutkan, uang jasa seharusnya 12.300 tail perak. Mengingat hubungan kita yang tidak ada biarlah kubulatkan saja menjadi 12.000 tail perak." "Terus terang kukatakan," Berkata Lauw Can Cun. "Uang ini bukan hak milikku. Boleh saja kau tambah dengan ongkos rupa- rupa."

"Akh "

"Majikanku sangat pelit sekali." Betkata Lauw Can Cun. "Menggunakan kesempatan ini. ada baiknya kita menggaruk sedikit. yangan sungkan2."

"Heh, yangan, berkelakar."

"Sungguh," Berkata Lauw Can Cun. "Pada rekeningmu, boleh dibuka 18.000 tail perak. Tidak keberatan bukan?"

Lagi2 Lauw Can Cun menggunakan kesempatan ini untuk korupsi.

Tidak ada alasan untuk menolak pemberian komisi ini, langganan adalah raja, sudah lama kereta Sun-hong Piauw-kiok kosong, tidak mendapat muatan, nganggur terongok diujung garasi pekarangan.

Leng San Pian menganggukkan kepalanya.

"Nah, sampai disini pertemuan kita" Berkata Lauw Can Cun. "Besok pagi, Cong piauw-tauw boleh menyuruh orang-orangg, menggiring gerobak piauw ke Rumah Keuangan Kim-tauw San Ciam-chung disana jumlah uang itu akan kami sediakan."

Sebagai tanda jadi, Lauw Can Cun meninggalkan 1,200 tail perak. Pengurus berkuasa penuh untuk Rumah Makan Hian-kok-lauw lantas meminta diri.

Mau tahu perkembangan berikutnya. Silahkan mengikuti lembaran cerita.

KOTA HAN-YANG mendapat sinar cahaja matahari pagi, kabut malam baru saja terusir pergi, Leng San Pian membawa dua piauwsu dan 30 tukang dorong kereta menunggu di Rumah Keuangan Kim tauw-san Ciam-chung.

Lauw Can Cun sudah selesai menyelesaikan pengambilan uang, mengajak Raja Bajingan Co Khu Liong, mereka menghampiri rombongan dari perusahaan Sun-hong Piauw-kiok.

Pendekar Cambuk Gunung Leng San Pian maju menghampiri mereka.

"Cong-piauw tauw," berkata Lauw Can Cun maju kedepan, "Mari kuperkenalkan, inilah bapak kuasa kami. Cong Koan Kee."

Leng San Pian menunjuk hormatnya. Hal mana dibalas oleh Co Khu Liong dengan satu anggukan kepala. Memperhatikan dua piauwsu yang berada dibelakang Leng San

Pian, si Raja Bajingan mengajukan pertanyaan: "Bagaimana gelar kedua piauwsu ini ?"

Menunjuk piauwsu yang disebelah kiri, Leng San Pian memperkenalkan sang pembantu: "Dia bernama Yu Seng Cu, dengan gelar Pendekar Tangan Besi."

Menunjuk piauwsu yang disebelah kanan, Leng San Pian berkata lagi: "Liong Pal Su. dengan gelar Pendekar Pedang Penyontek Bintang,"

Dua piauwsu perusahaan Sun-hong Piauw-kiok itu membungkukkan badan mereka, suatu tanda kehormatan bagi sang langganannya, Co Khu Liong tidak membalas hormat ini, menoleh kearah Lauw Can Cun dan mengajukan pertanyaan kepadanya:

"Kau menetap dikota Han-yang cukup lama, tentunya kenal kepada mereka,"

Lauw Can Cun menganggukkan kepala kearah Yu Seng Cu. "Pendekar Tangan Besi Yu Seng Cu adalah kawan lama kita,

dikala mengunyungi perusahaan Sun-hong Piauw-kiok, sering juga berjumpa dengannya." Dia memberi keterangan, "Dan tentang saudara ini . . ."

"Dia adalah saudara misanku." Berkata Leng San Pian. "Dahulu bekerja pada perusahaan Sin-hong Piauw-kiok dikota Cee-lam. Baru2 belakangan ini datang untuk membantu usaha Sun-hong Piauw-kiok."

Raja Bajingan Co Khu Liong memperhatikan tiga puluh tukang dorong. satu persatu dengan penuh perhatian. Mengetahui tidak ada seorang-orang yang dicurigakan dia berkata:

"Nah, boleh mulai "

Hanya satu kali terima perintah, merekapun mulai bekerja. Repot sekali.

Co Khu Liong sudah dapat memperhitungkan adanya penyelundupan orang-orang diantara orang-orang2 ini. Maka dia tidak pernah lengah. Tapi dia tidak tahu, bahwa Pendekar Pedang Penyolek Bintang Liong Pat Su adalah jelmaan Ie Lip Tiong Sipemuda pandai mengubah wajah, dia menjadikan dirinya sebagai Liong Pat Su.

Para tukang dorong sudah selesai menggotong lempengan perak kegerobak dorong Sun-hong Piauw-kiok. Didalam sekejap mata,

530.000 tail perak sudah diisi pada 15 gerobak.

Dibawah pimpinan seorang-orang tukang pukul gembreng, Tong

. . .Tong . . -Tong . . .Tong . . .Iring2an perusahaan pengangkutan San-hong Piauw-kiok mulai berangkat.

Berjalan dipaling depan adalah pemimpin perusahaan, Pendekar Cambuk Gunung Leng San Pian. Direndengi oleh kedua pembantunya. Pendekar Penyolek Bintang, Liong Pat Su dan Pendekar Tangan Besi Yu Seng Cu.

Lima belas kereta dorong berderet panjang satu persatu mengintil dibelakang ketiga Piauw-su mereka.

Dibelakang iringan Sun-hong Piauw-kiok. Sebagai pemilik barang yang dipercajakan kepada perusahaan pengangkutan itu, duduk Co Khu Liong dan Lauw Can Cun, mereka menggunakan kereta tertutup. Iring2an kereta ini mulai keluar dari kota Han-yang.

Tujuan mereka adalah arah Timur. Menuju kearah kota Bu Ciang.

Demikian perjalanan itu berlangsung. Terdengar suara gelinding roda2 yang bergemuruh, tidak seorang-orang pun dari mereka yang ber-cakap2 dengan suara keras.

Leng San Pian diapit oleh kedua pembantunya, kadang2 Yu Seng Cu dan Liong Pat Su membikin perondaan, mereka hilir-mudik disepanyang iring2an kereta.

Kereta penumpang yang berada dipaling belakang dari iring2an itu adalah kereta Co Khu Liong sekalian, mereka disertai oleh Lauw Can Cun.

Manakala Liong Pat Su mendekati kereta itu, kain penutup kereta tersingkap, kepala Lauw Can Cun muncul ditempat itu, dia memanggilnya:

"Liong piauwsu, tolong kau undang cong-piauw-tauw kalian." Dia mengharapkan kedatangan Leng San Pian.

Ie Lip Tiong hendak mencuri dengar percakapan2 mereka, dia gagal, kedudukannya adalah Liong Pat Su, hanya seorang-orang piauwsu biasa, mendapat perintah tadi, dia menggebrak kuda. lari kedepan dan mengundang Leng San Pian.

Tidak lama, ketua perusahsan Sun-hong Piauww-kiok Leng San Pian mendekati kereta langganannya.

Lauw Can Cun yang sudah menunggu lama segera berkata. "Bapak kuasa kami Cong Koan Kee hendak bicara."

Leng San Pian mendekati jendela kereta, memandang Co Khu Liong dan berkata:

"Cong Koan Kee ada panggilan ?"

Co Khu Liong berkata: "Bila kita tiba dikota Bu Ciang ?" "Dengan segera. Setelah melewati sungai Tiang-kang."

"Dikota Bu Ciang muatan kereta akan ditambah ratusan ribu tail perak lagi kukira. keretamu ini tidak cukup." Berkata Co Khu Liong.

Leng Sin Pian memberi keterangan:

"Perusahaan Thian-bee Piauw-kiok dikota itu dapat membantu usaha kita."

Co Khu Lfong menganggukkan kepalanya.

"Dimisalkan kereta piauw mereka ada muatan, boleh juga kita menyewa kereta lain," Leng San Pian menambah keterangan.

Co Khu Liong lebih puas lagi.

Singkatnya cerita, mereka tiba dikota Bu-ciang. Co Khu Liong memberi perintah untuk menuju kerumah makan Oey-kiok-lauw, inipun termasuk salah satu cabang perusahaan si Raja Gunung.

Seperti apa yang kita ketahui, satu komplotan tukang beset kulit manusia yang menamakan diri mereka Partay Raja Gunung ini mengembang biakkan kekuasaannya, kulit2 manusia yang mereka beset dikeringkan, hal itu mudah untuk bikin penyamaran2, mereka dapat merubah dirinya, tentu saja menggunakan kulit2 kering itu, hanya untuk waktu yang beberapa detik, adanya baju2 kulit kering memudahkan mereka, seseorangorang dapat berubah menjadi beberapa macam wajah.

Partay Raja Gunung berada dibawah pimpinan seorang-orang tokoh misterius yang menggunakan nama Raja Gunung, markas besar mereka tersembunyi rapi, didalam hal ini, Ie Lip Tiong mendapat tugas untuk mencarinya.

Disetiap kota besar, Raja Gunung mempunyai banyak cabang perusahaan, Lauw Can Cun hanya kaki tangannya yang ditancapkan dikota Han-yang, dengan membuka rumah makan Hian-kok-lauw yang terkenal itu.

Dan untuk kota Bu Ciang, Si Raja Gunung mempunyai lain cabang perusahaan yang dikuasakan kepada lain orang-orang Perusahaan ini adalah rumah makan Oey-kiok-lauw.

Tiba dirumah makan Oey-kiok-lauw, Co Khu Liong dan Lauw Can Cun menyumpai seorang-orang tua berwajah merah. itulah pengurus rumah makan untuk cabang kota Bu Ciang yang bernama In Thian Liu.

In Thian Liu ada kenal kepada Leng San Pian, mengetahui kedatangan piauwsu itu, dia menyapanya:

"Ha, ha     Leng piauw tauw, sudah lama kita tidak bertemu".

"Bagaimana keadaan disini ?" Tertawa Leng San Pian.

"Ha, ha ... . Masih seperti biasa. Tidak kusangka, kaulah yang akan mengawal barang-barang ini. 1.000.000 tail perak? Ha, ha. kukira belum pernah kau mengawal benda berharga sebanyak

apa yang kini kau akan kawal ?"

"Terus terang kukatakan", berkata Leng San Pian. "Bila tidak mengingat keadaan jalan yang sudah tenang. aku tidak berani menerima kepercajaan kalian ?"

"Ha, ha......" Menengok kearah Ie Lip Tiong dan orang-orang tua berwajah merah itu berkerut alis. "Eh, siapakah piauwsu ini?"

"Saudara misanku yang bernama Liong Pat Su". Berkata Leng San Pian.

"Sangat asing sekali.".

"Baru saja dia membantu perusahaan Sun-hong Piauw-kiok".

Demikian. rombongan barang Sun-hong Piauw-kiok bertambah enam buah kereta baru, kereta2 itu bukan didapat dari perusahaan Thian-bee Piauw-kiok. Mengingat bakal menjadi pertarungan, menimbang tidak perlu membawa-bawa atau merembet-rembet perusahaan Thian-bee Piauw-kiok, Leng San Pian memutuskan menyewa kereta lain.

Iringan Sun-hong Piauw-kiok meninggalkan kota Bu-Ciang. Mengajak pengurus rumah makan Hian-kok-lauw dikota Han- yang, mengajak pengurus rumah makan Oey-kok-lauw dikota Bu- Ciang. si jago Silat Raja Bajingan Co Khu Liong hendak pulang kandang, tentu saja dengan harta benda bojongan mereka. Sang Raja Gunung hendak memperindah pesanggrahannya.

21 kereta dorong dan 1 kereta penumpang, ditambah dengan tiga penunggang kuda menuju kearah kota Su-thia didaerah Wan- liong.

Perjalanan itu terlalu jauh, mereka harus melewatkan beberapa hari.

Kota pertama yang sudah dilewati adalah kota Bu Ciang. Kota berikutnya segera tiba dikota Kat-seng, Ditengah jalan, Co Khu Liong mengajukan pertanyaan: "Cong-piauw-tiauw, dimana hari ini kita bermalam ?"

Pendekar Cambuk Gunung Leng San Pian memberi jawaban: "Kota Kat-seng".

Sebetulnya, tanpa pengawalan Sun-hong Piauw-kiok, dengan tenaga Kekuatan Co Khu Liong, Lauw Can Cun dan In Thian Liu sekalian, mereka dapat membawa uang2 itu kesarang mereka, hanya ini terlalu mencolok mata, untuk menghindari diri dari kerahasiaan tempat tujuan mereka, sengaja memakai tenaga Sun- hong Piauw-kiok.

Sebelum hari senya, mereka tiba dikota Kat-seng.

Malam ini tidak ada sesuatu yang perlu dicatat, dengan tenang, semua orang-orang dapat tidur nyenyak, hari berikutnya, mereka meninggalkan kota Kat-seng, meneruskan perjalanan.

Hari2 berikutnya juga tidak terjadi sesuatu.

Pada hari keempat, dikala iring2an kareta piauw hendak memasuki daerah Wan-liong di suatu tempat yang bernama Kiu- kho-leng, suasana agak berubah.

Jauh dibelakang iring2an kereta itu, terdengar suara ketoprakkannya kuda yang riuh, sebentar kemudian. para penunggang kuda sudah menyusul datang para penunggangnya terdiri dari laki2 berseragam hitam, melewati semua kereta, mereka lari terus.

Sebentar kemudian, para penunggang kuda berseragam itu sudah lenyap didepan mata mereka,

Leng San Pian, Yu Seng Cu dan Ie Lip Tiong telah membikin persiapan.

Pendekar Cambuk Gunung Leng San pian menghampiri Yu Seng Cu dan bertanya kepada pembantu itu:

"Mungkinkah mereka ?"

"Aneh." Berkata si Pendekar Tangan Besi Yu Seng Cu, "Tidak seharusnya ada kejadian yang seperti tadi."

Leng San Pian berkata:

"Pada tahun yang lalu, perusahaan pengangkutan Thian-bee Pianw-kiok terjungkal disini, mereka kehilangan barang yang dipertanggung jawabkan kepada mereka. Karena itu, mereka sendiri ada banyak kerugian."

"Berandal dari mana yang merampok mereka ?" Bertanya Ie Lip Tiong.

"Sembilan Dara dari keluarga Ang."

"Aaaaa. , . Para berandal cantik2 itu?" Ie Lip Tiong pernah dengar nama2 mereka.

Didalam rimba persilatan, agak jarang terjadi kaum berandal yang berada dibawah pimpinan kaum wanita, hanya 9 dara cantik dari keluarga Ang itulah yang berkepandaian tinggi, mengepalai banyak anak buah, mereka sering mengadakan penggarongan.

Karena itu, Ie Lip Tiong tidak asing kepada mereka.

"Kuharap saja bukan mereka ." Berkata Leng San Pian sungguh2. "Sangat menyebalkan, bila berurusan dengan rampok. wanita itu." "Ha, ha....." Ie Lip Tiong tertawa. "Memang tidak mudah berurusan dengan kaum wanita. Membunuh mereka. tentu tidak tega. Tidak membunuh, akan dirugikan olehnya.

Ha, ha    "

"Biar kuberi tahu kepada mereka " Berkata Leng San Pian. Dia membalikkan kuda dan menghampiri kereta penumpang yang berada dibagian belakang.

"Diminta perhatian sam-wie sekalian." Dia berteriak kearah Co Khu Liong. "Didepan kita segera sesuatu yang dapat menimbulkan kegaduhan. Kita harap kalian dapat menyaga ketenangan."

"Apa ?" Co Khu Liong membawakan sikapnya yang seperti takut kepada pertempuran. "Ada rampok?"

"Masih belum diketahui pasti. Mungkin rombongan dari Sembilan Dara dari Keluarga Ang."

"Celaka! Celaka! mengapa kau tidak memilih jalan yang aman ?" "Sun-hong Piauw-kiok akan mengatasi kesulitan ini." Berkata

Leng San Pian.

Disaat itu, jauh dibelakang mereka terdengar lagi suara ketoprakkan kuda yang kedua kalinya, 4 orang-orang berbaju hitam membedal kuda tunggangan mereka, begitu cepat, sebentar kemudian sudah berada disisi Leng San Pian dan hendak melewati piauwsu itu.

Sipengurus perusahaan Sun-hong Piauw-kiok mengeluarkan cambuknya, 'ret', menghantam kearah 4 orang-orang tadi.

Para penunggang kuga yang berseragam hitam sangat lihay, membedal kuda keras, melewati ajunan cambuk, mereka tetap melarikan diri.

Pendekar Cambuk Gunung Leng San Pian? berteriak keras:

"Beri tahu kepada kesembilan saudara Ang, sasaran barang piauw ini tidak dapat diganggu." "Kami tidak mengerti." Empat orang-orang berbaju hitam itu menggebrak kuda mereka, lari lurus kedepan.

"Teeserah." Berkata Leng San Pian. "Para pemimpin kalian itu akan mengerti."

Bentrokan kecil itu berakhir sampai disitu.

Leng San Pian, Yu Seng Cu dan Ie Lip Tiong maju kemuka, mereka harus bersiapsiap menghadapi pertempuran besar.

Menikung lagi dua tikungan, terbentang rimba yang agak seram, samar2, dari dalam rimba terdengar suara jeritan wanita, banyak bayangan berbaju hitam bergerak, mereka sedang mengganyang wanita yang dijadikan korbannya.

"Tolong ....Tolong. . ." Terdengar teriakan wanita itu.

Ie Lip Tiong menggebrak kuda, melesat dan meninggalkan binatang tunggangan itu, langsung menyergap orang-orang berbaju hitam-

Para bajingan yang melihat ketangkasan Ie Lip Tiong seperti tikus yang menemukan kucing, mereka lari dan membubarkan melarikan diri, lari berpencar kearah 4 penyuru dan lenyap dibalik semak2 pohon.

Leng San Pian lebih berpengalaman, dia hendak memberi peringatan kepada sang ketua muda, tapi sudah terlambat IceLip Tiong bergerak begitu cepat.

Dengan direndengi oleh Yu Seng Cu, Leng San Pian memperhatikan perkembangan berikutnya.

Ie Lip Tiong tidak mengejar para rampok gunung itu, dia menghampiri wanita yang dijadikan korban. Wanita ini berpakaian istri petani, umurnya diantara dua puluh limaan, agak cantik juga. dia tengkurap ditanah, seolah-olah sudah pingsan.

"Nona," Ie Lip Tiong berkata perlahan. "Didalam Sembilan Dara Keluarga Ang, kau menduduki urutan nomor berapa?" Wanita itu terkejut, badannya mengeliat, hendak bangun dan melarikan diri. Tapi Ie Lip Tiong bergerak lebih cepat, jarinya sudah menotok jalan darah dibagian pinggang.

"Aouw. " Dia menyerit.

Gagal rencana yang sudah diperhitungkan masak itu. "Toa-cie, lekas kalian datang."

Ser. ser, ser, ser.....Dari empat penyuru muncul 4 gadis2 cantik. Masing2 mengenakan pakaian yang bewarna merah, kuning, biru dan terong, pakaian itu begitu ketat, sangat pas dengan bentuk tubuhnya, menonyol sekali.

Mata Ie Lip Tiong terbelalak lebar, pakaian keempat gadis itu terlalu berani sekali.

Empat gadis adalah dara2 dari keluarga Ang yang berkepandaian tinggi, pada tangan keempat orang-orang tadi terpantyang busur yang sudah dikompliti oleh anak panahnya.

Mengambli posisi mengurung, mereka berteriak: "Lepaskan adik kami!"

Ie Lip Tiong masih memayang orang-orang tawanannya, inilah pegangan untuk mengatasi kesulitan ditempat itu. Gadis berbaju merah adalah saudara mereka yang tertua, namanya Ang Yan Bwee, menyaksikan bahwa Ie Lip Tiong belum mau melepaskan adiknya, dia membentak lagi:

"Hei, mengapa kau tidak mau melepaskan adik kami ?" It Lip Tiong memperhatikan dara berbaju merah:

"Tentunya, kau adalah saudara tua yang bernama Ang Yan Bwee, bukan?"

Ang Yan Bwee menganggukkan kepala

"Betul." Dia berkata. "Bila kau masih sayang kepada jiwamu, lekas lepaskan adikku !" "Namamu dan 8 adikmu pernah menggemparkan rimba persilatan. Hari ini, aku mempunyai kesempatan baik untuk berkenalan dengan kalian. Mengepa harus melepaskan adikmu, sebelum kalian memperkenalkan diri?"

Sikap Ie Lip Tiong begitu tenang, sehingga dapat memikat hati Ang Yan Bwee, dia berkata:

"Inilah adikku yang pertama, Ang Siok Lan." Dia menunjuk kearah dara yang berpakaian warna kuning.

"Dia adalah yang ketiga Ang Ciu Ciok, Ang Yan Bwee menerangkan.

Urutan nama dari sembilan saudara itu adalah sebagai berikut:

1. Ang Yaa Bwee.

2. Ang Siok Lan,

3. Ang Ciu Ciok,

4. Ang Soat Tiok.

5. Ang Hiang Lian.

6. Ang Hiang Tiap

7. Ang Giok Lui.

8. Ang Giok Hui.

9. Ang Siauw Peng.

Dara yang jatuh kedalam tangan Ie Lip Tiong adalah dara yang kalima Ang Hiang Lian. Dara2 keenam, ketujuh, kedelapan dan kesembilan belum menampilkan diri, mereka berada dibarisan kedua.

"Hei," Berteriak Ang Yan Bwee. "Mengapa kau tidak mau melepaskan adikku?"

"Untuk melepaskan Ang Hiang Lian sangat mudah." Berkata Ie Lip Tiong. "Asal saja kau mau berjanyi, tidak merampok barang antaran kita!" "Siapa yang merampok barang antaran mu ?" Ang Yan Bwee mencoba menyangkal.

"Ha, ha. . " Ie Lip Tiong tertawa. "Bila aku lengah sedikit saja, tentu sudah masuk kedalam perangkapmu. Masih hendak menyangkal?"

"Baiklah." Ang Yan Bwee menarik napas. "Lepaskan adikku. Aku tidak merampas barangmu."

Ie Lip Tiong melepaskan totokkannya. Dengan demikian, Ang Hiang Lian mendapat kebebasannya. Dia lari kebelakang perlindungan kakaknnya.

Itu waktu, Pendekar Cambuk Gunung Leng San Pian dan Pendekar Tangan Besi Yu Seng Cu sudah menghentikan perjalanan, menyatukan kereta2 barang antaran.

Ie Lip Tiong memberi hormal kepada Ang Yan Bwee sekalian, dia berkata:

"Terima kasih kepada budi kalian, lain kali, Sun-hong Piauw-kiok akan membalas budi ini. Kini, kami meminta diri."

Dia ber-siap2 untuk kembali kedalam rombongannya. Disaat itu Ang Yan Bwee memberi perintah lain: "Serang !!"

Terlebih dahulu, dia melepaskan panahnya. Gerakkan ini diikuti oleh Ang Siok Lan, Ang Ciu Ciok dan Ang Soat Tiok. Terjadi hujan anak panah yang mengancam Ie Lip Tiong.

Jago kita berteriak kaget, dia melejitkan tubuhnya, lompat tinggi berusaha menghindari 4 batang anak panah tadi. Panah2 kecil dari keluarga Ang agak istimewa, dia lolos mengenai sasaran, tapi begitu cepat panah itu balik kembali. Tetap mengarah Ie Lip Tiong. Leng San Pian yang turut menyaksikan kejadian itu berteriak: "Awas, itu Panah Belut."

Ie Lip Tiong berpengalaman luas, dia tahu dan mengerti, apa artinya panah yang diberi julukkan Panah Belut itu. Yang diberi nama Panah Belut adalah semacam panah kecil yang berbentuk bengkung, kegunaan dari perubahan bentuk itu adalah dapat berbeluk panyang, setelah gagal menyerang orang-orang mengikuti arah tertentu, dia dapat balik kembali. Sifatnya seperti bumerang.

Disini letaknya ujian terberat, Ie Lip Tiong menggunakan wajah Pendekar Penyontek Bintang Liong Pat Su, karena itu, dia tidak boleh memiliki ilmu kepandaian yang terlalu tinggi, hal itu dapat menimbulkan kecurigaan Co Khu Liong.

Berbahaja, bilamana Co Khu Liong tahu bahwa si Pendekar Penyontek Bintang Liong Pat Su adalah jelmaannya Ie Lip Tiong, kepalanya bisa dipotes copot dari tempat asalnya yang semula.

"Sret", Ie Lip Tiong menarik keluar pedangnya, 'wing', dia menyapu kearah anak2 panah itu.

"Ting, ting, ting'. ..Tiga diantaranya dapat dipukul pergi. yang satu tidak dapat dielakkan, tembus pada tangan baju kanannya.

Ie Lip Tiong mengeluarkan keluhan napas dingin.

"Ang Yan Bwee." Dia membentak. "Sudah lupa kepada janyimu?"

"Ha, ha. . . Aku berjanyi tidak merampas barang milikmu. Bukan berarti tidak melukai kau. juga tidak berjanyi untuk melepaskan kesempatan kami untuk merampas barang antaran piauw itu."

Ie Lip Tiong merasa ditipu mentah2. Tiga batang Panah Belut belum berhenti kerja, berganti arah, lagi2 menyerang si 'Pendekar Pemetik Bintang Liong Pat Su'.

Jago kita bergelimpangan ditanah, masih dia belum berhasil, terbang keatas, juga dikejar senyata istimewa, bingung Ie Lip Tiong meloloskan diri dari panah2 Belut itu.

Tiba2 terdengar suara teriakkan Leng San Pian: "Lemparkan pedang!"

Ie Lip Tiong semakin bingung, disaat yang seperti ini. melempar pedang berarti melocoti senyata diri sendiri, bukankah suatu kejadian yang sangat yanggal sekali? Kesetiaan Leng San Pian kepada Oey-san-pay tidak perlu diragukan lagi, dan Ie Lip Tiong maklum akan hal ini. Dia percaja. tentu ada sesuatu yang mengandung unsur aneh, cepat2 dia melempar pedang.

Terjadi keanehan, tiga Panah Belut yang membayangi dirinya itu berganti arah. Tidak lagi mengejar dirinya, tapi melunrjur kearah pedang yang dilempar. Ting.... Ting....Ting.... Terdengar tiga kali suara benturan, Panah2 Belut menempel pada badan pedang.

Ternyata letak keistimewaannya Panah Belut terletak pada bentuknya yang bengkung dan juga pada badan yang digunakan pada panah itu. Panah Belut terbuat dari logam bermaknit, sifatnya mengejar logam sejenis. Karena itu, dia dapat mengejar lawan yang menggunakan senyata logam.

Hampir Ie Lip Tiong tersungkur jatuh.

Disaat itu, satu bayangan mendahului gerakkan Ie Lip Tiong, inilah Pendekar Cambuk Gunung Leng San Pan, dia telah menangkalkan senyatanya ternyata, cambuk Leng Sen Pian juga terbuat dari logam, mengingat bahaja Panah Belut yang mengincar benda sejenis itu, dia maju bertangan kosong, langsung menghujani kelima dara dari keluarga Ang, tanpa memberi kesempatan kepada mereka untuk menyerang Ie Lip Tiong.

Ie Lip Tiong turut maju. dua laki2 menempur lima dara dari keluarga Ang.

Mengetahui sifat istimewa Panah Belut, Ie Lip Tiong juga bertangan kosong, dia mendesak Ang Siok Lan dan Ang Soat Tiok.

Ang Yan Bwee, Ang Ciu Ciok dan Ang Hiang Lian mengurung Leng San Pian.

Pertempuran2 itu berjalan seimbang.

Dilain pihak, Pendekar Tangan Besi Yu Seng Cu mengepalai para tukang dorong mengumpulkan kereta barang, membuat satu lingkaran, dia mendapat tugas untuk mejaga keamanan itu. Orang-orang2 berbaju hitam yang pada sebelumnya membubarkan diri dan lenyap dari tempat itu. Kini mereka balik kembali, disertai oleh -4 dara lainnya. Mereka langsung menyerang kearah kereta barang.

Empat dara yang muncul belakangan adalah Ang Hiang Tiap, Ang Giok Lui. Ang Giok Hui dan Ang Siauw Peng, mereka juga mengenakan pakaian ketat.

Dari keempat dara ini, sibungsu Ang Siauw Peng yang berkepandaian paling tinggi, mengepalai kakak2nya, dia berteriak kepada semua orang-orang:

"Hajo, semua orang-orang menyerah. Tinggalkan barang2 antaran itu."

Yu Seng Cu menghadapi dara itu. Katanya lantang: "Nona Ang, kami adalah Sun-hong Piauw-kok."

"Huh, sudah lama kalian tidak membajar pajak jalan. Tidak perduli kepada perusahaan pengangkutan dari mana. Hari ini, kita hendak menelan semua barang yang ada." Ang Siauw Peng mengeluarkan Panah Belutnya.

"Tidak baikkah untuk memberikan kesempatan kepada kami mengoreksi kesalahan yang sudah lalu? Lain kali, kami tetap akan mengirim barang upeti." Berkata Yu Seng Cu yang masih berusaha mengadakan perdamaian.

"Sudah kokalakan. segera tinggaikan barang-barang ini, Panah." Berkata Ang Siauw Peng memonyongkan bibirnya yang kecil.

Pendekar Tangan Besi Yu Seng Cu adalah pembantu Leng San Pian yang terpercaja, dia mengikuti perusahaan pengangkutan Sun- hong Piauw-kiok sudah tahunan, mendapat tantangan para berandal gunung yang seperti itu, dia tidak menjadi gentar. yang penting, dia harus mengunci pemimpin2 dari rombongan pembegal. "Sun-hong Piauw-kiok tidak menyerah." Dia berteriak lantang.

Ang Siauw Peng melepaskan panahnya, 'ser' . . .meluncur kearah Yu Seng Cu.

Yu Seng Cu telah mendapat kisikkan Leng San Pian, dia tahu, bagaimara harus menghadapi panah2 istimewa ini, tubuhnya lompat tinggi, menyingkirkan himpitan panah.

Ang Siauw Peng memperhatikan situasi tempat. hanya seorang- orang Yu Seng Cu yang bertahan, karena itu, dia mengulapkan tangan, memanggil anak buahnya:

"Anak2, hajo serbu!"

Umur Ang Siauw Peng belum cukup 16 tahun, sedangkan para berandal itu terdiri dari laki-laki galak, panggilan ,Anak-anak' tadi sangat lucu sekali.

Anak buah dari keluarga Ang taat kepada perintah pimpinan, secara serentak, mereka maju kearah kereta2 barang.

Yu Seng Cu mencoba untuk membikin pembelaan, dia tidak berhasil, dia digunyang oleh Ang Siauw Peng dan tiga kakaknya.

Keadaan seperti itu sangat berbahaja untuk pihak Sun-hong Piaw-kiok. Semua anak buah Sembilan Dara dari keluarga Ang menyerbu kereta barang.

Tiba2.....

Beberapa batang jarum halus meluncur cepat, dibarengi oleh jeritan2nya orangorang2 tadi, beberapa yang terdekat sudah jatuh menggdetak, napas mereka terhenti.

Tidak ada yang tahu, dari mana datangnya senyata2 halus itu. Beberapa orang-orang berbaju hitam lagi yang menjadi korban kematian.

Jumlah anak buah begal gunung itu diatas puluhan, belasan orang-orang lagi yang meluruk maju.

Seperti keadaan kawan2 mereka, rombongan inipun gugur jatuh. Pada dada mereka tertancap sebatang jarum beracun, begitu cepat kerjanya racun jahat yang ada pada jarum2 kecil itu, mereka mati seketika itu juga.

Beberapa orang-orang berbaju hitam yang tahu bahaja mengundurkan diri.

Ang Hiang Tiap mendapat tugas untuk merebut barang2 antaran Sun-hong Piauwkiok, melihat adanya gelagat yang kurang baik, dia menghampiri Ang Siauw Peng dan berkata kepada sang adik:

"Musuh mendapat bantuan, coba kau hadapi mereka."

Ang Siauw Peng melepaskan diri dari kancah pertarungan dengan Yu Seng Cu, dia lari kearah kereta2 piauw itu.

Tiba2 meluncur satu bayangan, menghadang didepan Ang Siauw Peng.

"Nona Ang, yangan lari terburu-buru." Inilah Ie Lip Tiong.

Ang Siauw Peng kenal kepada si Pendekar Pemetik Bintang Liong Pat Su, adanya orang-orang ini dihadapannya menandakan bahwa pertempuranya dengan kedua kakak itu sudah selesai, Dia menjadi sangat khawatir.

"Hei," Dia berteriak sedih. Kau telah mencelakakan kedua kakakku?"

Disaat yang sama, Ie Lip Tiong sudah bergerak, meluruskan dan menarik tangannya, dia berhasil menguasai dara ini.

"Jangan berkutik." Ie Lip Tiong memberi ancaman Ang Siauw Peng tidak berdaja.

"Hei, ilmu apa yang kau gunakan ?" Dia bingung dan panasaran sekali.

Ie Lip Tiong tidak menyawab pertanyaan itu, dia tertawa berkakakan, mengangkat tubuh Ang Siauw Peng tinggi2, kemudian dia melompat kearah salah satu kereta barang, diatas kereta ini dia berteriak kepada semua orang-orang: "Hentikan semua pertempuran dengan segera. Atau akan kulempar dahulu tubuh pemimpin kalian yang satu ini."

Ie Lip Tiong mendapat julukan Pedang yang menundukkan Rimba Persilatan, suaranya sangat keren sekali, berkumandang jauh, betul2 dia menundukkan semua orang-orang2 itu. Pertempuran terhenti.

Ternyata, Ie Lip Tiong telah berhasil menyatuhkan Ang Siok Lan dan Ang Soat Tiok, keadaan sudah menjadi begitu gawat, meninggalkan kedua orang-orang itu, dia menangkap Ang Siauw Peng.

Ang Yan Bwee telah memberi perintah kepada orang-orang2nya, untuk menghentikan pertempuran, kini dia menghadapi Ie Lip Tiong.

"Hei, Lepaskan adikku itu Kita semua menyerah kalah." Dia berteriak keras.

Ie Lip Tiong tertawa:

"Ha, ha . . . Bukan kita yang kalah." Dia berkata. "Tapi pihakmu yang harus menyerah kalah "

"Betul." Berkata Ang Yan Bwee. "Pihakku harus menyerah kalah. "Lekas lepaskan adikku."

"Tidak." Ie Lip Tiong menolak.

"Eh, kau mau apa ?" Ang Yan Bwee menjadi marah.

"Aku tidak percaja lagi kepadamu." Berkata si pemuda. "Apa boleh buat, aku harus membawa adikmu ini."

Dia mengajunkan lagi tubuh Ang Siauw Peng Ang Yan Bwee semakin marah.

"Kau Berani?" Dia membentak keras. "Mengapa tidak ?" Ie Lip Tiong menantang.

"Kami akan mengejar terus menerus." Ang Yan Bwee mengancam.

"Sabar." Ie Lip Tiong memberi keterangan. "Pos berikutnya untuk kami bermalam adalah kota Tay-ouw-hian. Dimisalkan kami dapat tiba ditempat Tay-ouw-hian dengan keadaan selamat. Adikmu akan kami bebaskan segera."

"Huh, kau hendak menarik keuntungan dari kejadian ini?

Berteriak Ang Yan Bwee memprotes.

"Ha, ha ..-.Kami adalah para piauw-su dari Sun-hong Piauw-kiok yang ternama. yangan kau salah duga". Berkata Ie Lip Tiong,

"Lepaskan adikku". Berteriak Ang Yan Bwee. "Kami berdianyi. tidak akan mengganggu barang2 kalian lagi".

"Ha, ha ... .Aku tidak percaja kepada janyimu. Betapa manisnya pun mulutmu, tetap mulut seorang-orang wanita. Aku tidak percaja".

"Bagaimana harus mendapat kepercajaanmu?" Ang Yan Bwee mulai lemah.

"Beri kesempatan kepada kami untuk bergerak. Setelah tiba dikota Tay-ouw-hian. Adikmu segera mendapat kebebasan". Berkata Is Lip Tiong.

Dia masih berdiri diatas kereta barang.

"Bila aku menolak saran ini?" Ang Yan Bwee tidak membiarkan adiknya dipeluk seperti itu.

"Apa boleh buat. Aku dipaksa membunuh adikmu lebih dahulu".

Berkata Ie Lip Tiong.

"Kau berani ?" Ang Yan Bwee menantang.

Ie Lip Tiong tertawa dingin, tubuh Ang Siauw Peng diangkat lebih tinggi, 'bek', dia membanting kebawah.

Kedudukan Ie Lip Tiong masih berada diatas kereta barang, dengan bantingan yang seperti itu, belum tentu dia dapat membunuh orang-orang. Tapi cukup untuk melukainya sehingga parah.

Ang Yan Bwee mempunyai kebebasan bicara, mengetahui keadaan dirinya yang sangat kritis. dia berteriak:

"Aaaaaa      "

Ang Yan Bwee terkejut, dia masih menyayangkan jiwa adiknya, lebih sakit lagi, tatkala melihat keadaan seperti itu, tubuhnya bergerak, siap menyanggah tubuh Ang Siauw Peng. Keberanian Ie Lip Tiong yang melempar orang-orang jaminan itu menaklukan dirinya. Bila sampai terjadi sesuatu atas diri sang adik, inilah dosanya.

"Ha. ha . . ." Ie Lip Tiong tertawa. Dia menarik balik tubuh Ang Siauw Peng,

"Ang Yan Bwee," Dia berteriak. "Inilah suatu peringatan kepadamu, yanganlah bermain2 dengan jiwa adikmu."

Ang Yan Bwee mengeluarkan keluhan napas lega. Dengan apa boleh buat, dia menerima saran si pemuda.

"Baiklah." dia berkata lirih. "Aku bersedia mengikuti petunjukmu setibanya dikota Tayouw-hian, kau harus segera membebaskan adikku."

"Tentu, Sun-hong Piauw-kiok selama memegang janyi",

Ang Yan Bwee sekalian tidak mempunyai jalan lain, kecuali melulusi permintaan Ie Lip Tiong.

Berbalik memandang pada anak buahnya, dia berteriak kepada mereka;

"Semua kembali!"

Para berandal itu membubarkan diri meninggalkan rombongan Sun-hong Piauw-kiok, dan juga membawa dua puluh dua korban mereka, mereka mati dibawah bisa racun yang sangat jahat.

Leng San Pian memeriksa para tukang dorong, hanya beberapa orang-orang yang luka2, hatinya agak lega. Dia mendekati kereta penumpang dibelakang dan berteriak: "Penyamun telah dipukul mundur. Harap Sam-wie bertiga tahu."

Tidak ada penyahutan.

Leng San Pian kaget. dia menyingkap kain penutup dan matanya terbelalak, tiga sosok tubuh itu terbaring ditempat.

"Haaa    " Dia berteriak.

Ie Lip Tiong memperhatikan keadaan itu, dari jauh. dia sudah tahu, Co Khu Liong bertiga menyembunyikan diri mereka didalam kereta, keadaannya tentu aman. Terjadi pembunuhan2 atas para berandal yang d-tang, Ie Lip Tiong tahu, itulah hasil perbuatan Co Khu Liong. Dengan ilmu kepandaian yang dimiliki oleh si Raja Silat Bajingan, membunuh para keroco kecil itu memang sangat mudah sekali. Sama mudahnya seperti memites seekor semut,

Teriakkan Leng San Pian mengejutkan Ie Lip Tiong. Apakah yang sudah terjadi?

Dia lari mendatangi dan berteriak; "Ada apa?"

Leng San Pian menunjuk kearah kereta penumpang. "Lihat," Katanya. "Mereka jatuh pingsan semua."

Ie Lip Tioog tertawa geli, tentunya, ketiga orang-orang itu sedang main sandiwara, ber-pura2 pingsan, takut dan jatuh kelengar.

Memeriksa sebentar. dan dia berkata: "Masih untung tidak menderita luka."

Itu waktu, Co Khu Liong mengeliat bangun, seolah-olah orang- orang yang baru tidur lama, memandang Pendekar Cambuk Gunung Leng San pian dan Pendeker Pemetik Bintang Liong Pat Su, dia berkata gugup:

"Ba . . .Bagaimana? . . .Su . . Sudahkah rampok2 itu terusir pergi?" Tentu saja, sikap gugupnya hanya berupa permainan sandiwara. "Sudah." Leng San Pian menganggukkan kepala. "Mereka sudah lari semua. Kita berhasil menawan seorang-orang dari para rampok wanita itu."

"Ha, ha. ." Co Khu Liong berteriak girang. "Bagaimana dengan barang2 antaran?"

"Aman. Tidak ada yang kurang."

Co Khu Liong menunjukkan jempolnya.

"Kalian Sun-hong Piauw-kiok memang hebat !" Dia memberi pujian.

"Kami mendapat bantuannya tokoh silat yang tidak mau memperlihatkan diri." Berkata Leng San Pian.

"Tokoh silat yang tidak mau menampilkan diri ?"

"Betul." Leng San Pian menganggukkan kepala. "Atas bantuannya tokoh luar biasa itu. Para berandal yang hendak merusak kereta barang dapat dibunuh mati. Pada dada mereka bersarang sebuah jarum beraCun."

"Hoo....., Berbahaja......Berbahaja. . . ." Co Khu Liong berpura- pura takut. "Lekas tinggalkan tempat ini. Sangat berbahaja sekali."

Demikian, rombongan itu melanyutkan perjalanan yang terganggu.

Ie Lip Tiong masih menggendong Ang Siauw Peng.

"Aku memprotes." Berteriak gadis itu. "Tidak pantes, kalian memperlakukan seorangorang tawanan wanita seperti ini."

"Maksudmu ?" Ie Lip Tiong tertawa. "Beri aku kereta yang lajak."

"Ha ha. . .Kereta hanya disediakan untuk langganan kita. Tidak ada kereta lain." Ie Lip Tiong memberi keterangan.

"Aku tidak mau kau gendong." Ang Siauw Peng masih berteriak. "Tidak ada orang-orang lain, nona" Berkata Ie Lip Tiong sabar. "Cis, tidak tahu malu. Mau menarik keuntungan dariku?!" Ie Lip Tiong menggendong tubuh gadis itu.

"Sjukurlah, bila kau sudah tahu maksudku." Dia tertawa cengar- cengir.

"Tidak tahu malu. Manusia yang tidak mempunyai prikemanusiaan. Bajingan perempuan. Tukang kelonin wanita jalang

. . ." Dan masih banyak lagi caci-maki Ang Siauw Peng yang tertuju kepada Ie Lip Tiong.

Ie Lip Tiong mendelikkan matanya.

"Masih saja kau memaki kalang kabutan, segera kubanting ditanah." Dia mengancam.

Ang Siauw Peng tidak takut, masih saja memaki:

"Manusia gila basa . . . Pemuda hidung belang . . , Bajingan perempuan....Laki2 jabg tidak tahu malu. "

Ie Lip Tiong memungut sehelai rumput, dengan rumput itu, dia mengilik hidung Ang Siauw Peng.

Sang dara mendapat totokan jalan darah dia tidak dapat mengelakkan.

"Hacih .... Hacih. " berulang kali dia berbangkis.

"Masih berani memaki lagi ?" Ie Lip Tiong tertawa. "Orang-orang gila " Ang Siauw Peng masih memaki.

"Haijih .... Hacih " Ie Lip Tiong mengiliknya lagi.

Ang Siauw Peng mengeluarkan air mata, tidak berani dia membuka mulut. Mengancing mulut itu rapat2.

Leng San Pian menjadi tidak tega, dia menghampiri dan berkata: "Kukira tidak baik menyiksa orang-orang. Dia memang agak

berandalan. Tapi perangainya cukup baik."

"Sudah kukatakan", berkata Ie Lip Tiong membikin pembelaan. "Sudah kuberitahu untuk menutup mulutnya yang bawel itu. Dia tidak mau. Apa boleh buat. Kini dia baru dapat diam !"

"Aku benci kepadamu". Berdesis Ang Siauw Peng.

"Boleh saja". Berkata Ie Lip Tiong. "Sebentar lagi. setelah kita tiba dikota Tay-ouwhian, segera kuberi kesempatan kepadamu untuk pergi menemui 8 kakak-kakakmu, itu Waktu kau bebas meelakukan segala kehendak hatimu."

Roda2 kereta dorong dan kereta kuda yang digunakan oleh Co Khu Liong menggelinding terus.

Untuk menutupi tubuh Ang Siauw Peng yang terlalu ketat, Ie Lip Tiong meminyam baju luar Yu Seng Cu, dikerudungkan kepada tubuh dara itu.

Ang Siauw Peng sudah menutup mulutnya dia tidak bicara. Perjalanan berlangsung satu hari penuh, beberapa kali, Ie Lip

Tiong memberi minum kepada orang-orang tawanannya. Ang Siauw

Peng menerima pemberian itu, wajahnya masih asam cembetut. Tidak sepatah ucapan terima kasih yang keluar dari mulutnya.

20 lie lagi perjalanan itu berlalu, Ie Lip Tiong teringat kepada panah belut keluarga Ang yang istimewa, dia berkata:

"Nona Ang, tiga jam lagi kau tidak membuka mulut, jalan paru2mu bisa menjadi buntu."

"Bukan urusaamu." Ang Siauw Pang membentak. "Haaa. Ie Lip Tiong tertawa.

"Akhirnya kaupun membuka mulut juga."

Ang siauw Peng merapatkan kedua bibirnya. dia benci sekali. Ie Lip Tiong menggoda:

"Kudengar cerita orang-orang yang menggembor-gemborkan 9 dara keluarga Ang yang hebat, ternyata kakak2mu itu sepertimu juga?" "Aku bagaimana ?"

"Kau seorang-orang pengecut." "Kau yang pengecut."

"Mengapa kau tidak berani menghadapi kenyataan? Mengapa kau tia.k berani bicara?"

"Nah, aku bicara. Kau mau apa?" Ang Siauw Peng menantang. "Aku " hendak menanyakan sesuatu tentang panah istimewa dari

keluarga kalian." Berkata Ie Lip Tiong.

"Apa perlunya?"

"Aku heran. Bagaimana dia dapat mengejar orang-orang yang membawa senyata?"

"Inilah rabasia kami." Berkata Ang Siauw Peng.

"Rahasianya sudah diketahui oleh Cong-piauw-tauw kami Leng San Pian." Berkata Ie

Lip Tiong. "Kau tidak mau menyawab pertanyaan tadi. Aku dapat bertanya kepada dia."

"Boleh! Aku tidak melarang kau bertanya kepadanya." Berkata Ang Siauw Peng bersengut-sungut

"Pikiranmu agak kurang tepat." Berkata Ie Lip Tiong. "Rahasia keluarga Ang dapat diucapkan oleh oraag lain. Itu akan memalukan."

"Dia terbuat dari besi berani." Berkata Ang Siauw Peng. "Hebat." Ie Lip Tiong memberi pujian.

"Tentu saja hebat." Berkata Ang Siauw Peng.

"Cong piauw-tauw kami memberi perintah untuk melemparkan senjata, hal untuk menghindari kejaran panah belutmu itu." Memberi keterangan Ie Lip Tiong.

"Kukira, kau masuk kedalam perusahaan pengangkutan Sun- hong Piauw-kiok belum lama bukan?" Bertanya Ang Siauw Peng, Sikapnya sudah berubah. Dia tertarik kepada lagu pembicaraan Ie Lip Tiong.

"Betul". Ie Lip Tiong menganggukkan kepalanya. "Baru beberapa hari saja".

"Hei, siapakah namamu ?" Bertanya dara keluarga Ang yang nomor sembilan itu.

"Eh, mau menuntut balas ?" Ie Lip Tiong memperhatikan tawanannya.

"Betul". Berkata Ang Siauw Peng gagah. "Berani kau menyebut nama aslimu ?"

"Untuk sementara tidak berani". "Berkata Ie Lip Tiong.

"Mengapa ? Takut aku menuntut balas?" Ang Siauw Peng menyipitkan sepasang matanya.

"Ha, ha . . ." Ie Lip Tiong tertawa.

"Mengapa tertawa ?" Bentak Ang Siauw Peng galak.

"Aku agak geli. Bila menyebut namaku yang palsu, tentu tidak baik kepadamu". Ie Lip Tiorg mengucapkan kata2 ini dengan suara rendah.

Cara duduk mereka yang mencongkang satu kuda tidak dapat menarik perhatian semua orang-orang, apa lagi diucapkan oleh suara perlahan, tentu tidak ada yang mendengar kata2 tadi.

"Coba kau sebutkan nama itu . . ."

"Hus       " Ie Lip Tiong menutup mulut gadis itu. "yangan bicara

terlalu keras Sekarang, aku menggunakan nama Pendekar Pemetik Bintang Liong Pat Su. Dan nama asliku belum dapat kusebut. Bila kau hendak mengadakan tuntutan balas. kau boleh pergi ke Persekutuan Su-hay-tong-sim-beng, tanyakanlah nama asliku kepada Hong-lay Siauong bengcu."

Hong-lay Sian-ong adalah bengcu atau ketua dari gerakkan persekutuan Su-hay-tongsiam-beng. Suatu gerakkan yang menggabungkan semua kekuatan yang ada pada rimba persilatan.

Ang Siauw Peng terkejut.

"Kau orang-orang dari Su-hay-tong sim-beng?" Dia mengajukan pertanyaan perlahan.

"Betul". Ie Lip Tiong menyingkap baju luar, dan memperlihatkan baju kuning Su-haytong-sim-beng

"Aaaaaa    "

"Jangan berteriak" Bentak Ie Lip Tiong perlahan. "Kedudukanku masih dirahasiakan".

Ang Siauw Peng mengerlip-ngerlipkan sepasang matanya yang jeli. Nama Su-haytong-sim-beng sangat berkenan kepada semua orang-orang, termasuk juga dirinya,

"Su-hay-tong-sim-beng tidak akan mengganggu kalian". Berkata Ie Lip Tiong. "Bilamana kalian bersedia melepaskan penghidupan illegal itu. Setelah sampai dikota

Tay-ouw-hian, segera kubebaskan dirimu".

Ie Lip Tiong melepas tangannya yang menutup mulut sang dara. Ang Siauw Peng bertanya lagi,

"Kau Duta Istimewa Berbaju Kuning dari gerakkan Su-hay-tong- sim-beng ?"

Ie Lip Tiong menganggukkan kepala.

"Kukira kau adalah Duta Nomor Tujuh si Pendekar Pedang Duta Siang koan Wie."

Berkata Ang Siauw Peng penuh pegangan.

Ie Lip Tiong membelalakkan mata, dari mana dara ini tahu julukan dan nama lengkap Siang-koan Wie ?

"Atau Duta Nomor Delapan, si Pendekar Pengembara Lu Ie Lam." Berkata lagi Ang Siauw Peng. Dia menduga satu dari dua orang- orang itu

Ie Lip Tiong menggelengkan kepala.

"Bagaimana kau hanya menduga kepada kedua mereka ?" Dia bertanya.

Ternyata. Gabungan persekutuan gerakkan Su-hay-tong-sim- beng mempunyai 1 Duta Istimewa berbaju kuning. Urutannya sabagai berikut:

Duta Pertama, Pendekar Gembira Oe tie Pie sang. Duta Nomor Dua, Pendekar Bocah Tua Koo Sam Ko.

Duta Nomor tiga, Pendekar Windu Kencana Toan In Peng. Data Nomor empat, Pendekar Hakim Hitam Can Ceng Lun. Duta Nomor lima, Pendekar Raja Selatan Tong yang Cin-jin. Duta Nomor Enam, Pendekar Pedang Kaju Koan Su Yang.

Duta Nomor Tujuh, Pendekar Pedang Duta Siang koan Wie. Duta Nomor Delapan, Pendekar Pengembara Lu Ie Lam,

Duta Nomor Sembilan. Pendekar Lampu Besi Thiat-teng Hwee- sio.

Duta Nomor Sepuluh, Pendekar Laut Selatan Lam-hay San-jin. Duta Nomor Sebelas, Pendekar Mata Satu Tok-gan Sin-kay.

12 Duta Nomor Duabelas, Neng Manis Co In Gie.

13 Duta Nomor Tiga Belas, Pedang yang menundukkan Rimba Persilatan Ie Lip Tiong.

Duta Nomor Enam dan Duta Nomor Sembilan sudah almarhum, mereka binasa didalam satu tugas untuk menyelidiki rahasia pembunuhan gelap yang menyangkut nama baik Ie Lip Tiong, binasa dibawah tangan komplotan tukang beset kulit manusia, partay Raja Gunung itu. 

Duta Nomor Sebelas telah melepaskan jabatannya, karena soal penggelapan Ie Lip Tiong yang tidak dibunuh mati. Dia exit.

Duta Nomor Tiga Bilas Ie Lip Tiong memegang jabatan belum lama.

Ie Lip Tiong mengatakan, bahwa dirinya adalah salah satu dari 8 para Duta Istimewa Berbaju Kuning dari gerakkan Su-hay-tong-sim- beng. Ang Siauw Peng menduga kepada Duta Nomor Tujuh Siang koan Wie atau Duta Nomor Delapan Lu Ie Lam.

"Bagaimana kau tidak menduga kepada lain orang-orang?" Bertanya Ie Lip Tiong tertawa.

Ang Siauw Peng mengemukakan alasannya:

"Dari 12 Duta Istimewa Berbaju Kuning yang duduk didalam Su- hay tong-sim-beng. Hanya Duta Nomor tujuh dan Nomor Delapan yang masih belum berkeluarga. Tentu saja aku tidak menduga kepada 10 orang-orang lainnya."

Dia belum tahu, bahwa Su-hay-tong-sim-beng telah Bertambah seorang-orang Duta Istimewa Berbaju Kuning, inilah Ie Lip Tiong. Orang-orang yang sedang merendengi dirinya.

Ie Lip Tiong berpiklr sebentar, otaknya bekerja cepat, akhirnya dia menggunakan nama Siang koan Wie.

"Betul." Dia berkata. "Aku adalah Duta Nomor Tujuh Siang koan Wie."

Apa maksud Ie Lip Tiong menggunakan nama Siang koan Wie? Untuk sementara kita tidak jawab pertanyaan ini. Pada babak akhir cerita, tentu terpecah sendiri. Tidak ada satu langkah Ie Lip Tiong yang mengalami kegagalan .Demikian didalam pemalsuan nama inipun juga.

"Berapa kini. umurmu yang sebenarnya ?" Bertanya lagi Ang Siauw Peng. Sifatnya sudah banyak berubah balk.

Ie Lip Tiong semakin bingung.

"Menurut dugaanmu, berapa seharusnya Umur yang kupunyai?" Dia balik bertanya kepada orang-orang yang mengajukan pertanyaan itu: "Mengapa kau mengajukan pertanyaan tentang umur?"

Wajah Ang Siauw Peng bersemu merah, deburan napasnya menjadi bertambah cepat.

"Tidak bolehkah?" Dia berdongak lagi kearah orang-orang yang memegangnya.

"Tiga puluh delapan." Berkata lagi Ie Lip Tiong. Dia juga menggunakan umur Duta

Nomor Tujuh Siang koan Wie.

"Aha. . ." Wajah Ang Siauw Peng bercahaja terang. "Lebih tua sembilan tahun dari kakakku Ang Yan Bwee."

Ie Lip Tiong segera dapat menangkap arti yang tersembunyi dari pertanyaan umur tadi. dia tersenyum geli.

"Oooo. , . ." Tanpa komentar.

"Eh, bagaimana penilaianmu kepada Ang Yan Bwee?" Bertanya lagi Ang Siauw Peng.

"Cukup cantik." Berkata Ie Lip Tiong.

"Kukira, dia cocok untukmu," Berkata Ang Siauw Peng. "Husss . . .Kakakmu itu benci kepadaku."

"He. dia belum tahu bahwa kau adalah Duta Istimewa Berbaju Kuning dari Su-haytong-sim-beng yang ketujuh, Pendekar Pedang Duta Siang-koan Wie yang ternama. Bila saja dia tahu, huh. Aku

percaja, dia akan tertarik kepadamu. juga tidak sampai terjadi pembegalan yang seperti tadi."

"Aku tidak mengerti." Berkata Ie Lip Tiong.

Ang Siauw Peng berkata: "Pandangan matanya terlalu tinggi. tidak satupun yang masuk kedalam lubuk hatinya. Kecuali kau dan Lu Ie Lam. Dia sering menyebut nama kalian. Karena itu, aku percaja, langkahku ini tidak menyalahinya."

"Mendapat pujian seorang-orang dara jelita memang sangat muluk sekali." Berkata Ie Lip Tiong. "Aku sangat berterima kasih."

"Sungguh." Berkata Ang Siauw Peng. "Sampai saat ini, belum pernah dia kecantol kepada laki2 lain. Aku menguatirkan perjodohannya-"

"Tidak guna dikuatirkan." Barkata Ie Lip Tiong "Dewi amor belum melepaskan anak panah kepadanya. Apa guna ?"

"Tapi, dimisalkan dia seorang-orang tidak menikah, kami. . , .Ang Siok Lan, Ang Ciu Ciok. Ang Soat Tiok, Ang Hiang Lian, Ang Hiang Tiap, Ang Giok Lan dan Ang Giok Hui tidak bebas memilih kekasin mereka."

Ie Lip Tiong tertawa.

"Mengapa tidak menyebut namamu, Ang Siauw Peng juga tidak bebas memilih kekasih yang diidam idamkan?" Dia menudingkan jari sehingga mengenai hidung anak dara itu.

Ang Siauw Peng mendelikkan matanya.

"Cih, aku belum pernah memikirkan sampai kesitu." Suaranya dara ini sangat menarik  sekali.

"Ha, ha      " Ie Lip Tiong tertawa.

"Kau lihay" Berkata Ang Siauw Peng. "Aku percaja. Ang Yan Bwee menyetujui calon suaminya yang sepertimu."

"Kuanyurkan kepadamu agar kalian, sembilan dara manis2 ini lekas2 mencari jodoh, sehingga tidak terlunta-lunta menjadi berandal gunung." Berkata Ie Lip Tiong memberi nasihat.

"Maka, aku meminta bantuanmu. Lekaslah mengawini kakakku. Akan kujamin, di dalam tempo satu tahun. sesudah pernikahanmu dengan Ang Yan Bwee delapan lainnya akan memilih kekasih masing2."

"Kau tahu, aku sedang menyalankan tugas, bagaimana    " "Aku tidak memaksa dengan segera." Potong Ang Siauw Peng. "Sesudah selesai tugas itu, datanglah ke Kiu kho-leng."

Ie Lip Tiong memutar otak. Memandang dara itu dan berkata: "Kukira, ada lebih baik kalian yang pergi kegunung Lu-san." Gunung Lu-san adalah markas besar garakan Su-hay-tong-sim-

beng.

"Boleh juga". Berkata Ang Siauw Peng. "Akan kuajak Ang Yan Bwee menemuimu digunung Lu-san. "Eh, bilakah kau selesai tugas itu?"

"Kukira harus memakan waktu dua bulan." Berkata Ie Lip Tiong "Baik. Itu waktu. akan kuajaknya kesana.". Berkata Ang Siauw

Peng.

"Jangan lupa". berkata Ie Lip Tiong. "Ajak juga kakakmu yang nomor dua Ang Siok Lan".

"Hayaaaa, kau hendak menelan sekaligus dua orang-orang?" Ang Siauw Peng berteriak.

"Jangan salah mengerti". Ie Lip Tiong memberi keterangan. "Aku Siangkoan Wie hendak memperistri Ang Yan Bwee. Dan Duta Nomor Delapan Lu Ie Lam tidak boleh kesepian, Ang Siok Lan itu cocok untuknya".

"Ha, ha . . ." Ang Siauw Peng tertawa. "Setuju?"

"Terapi....." Ang Siauw Peng ragu2. "Belum tentu Ang Siok Lan mau menuruti jodoh ini ?"

"Jangan khawatir.". Berkata Ie Lip Tiong. "Ilmu kepandaian Lu Ie Lam tidak berada dibawahku. Aku percaja, tidak akan mengecewakan kalian".

"Baiklah sedapat mungkin, akan kuusahakan jodoh mereka." Berkata Ang Siauw Peng. Perjalanan itu cukup memakan waktu tapi bagi Ie Lip Tiong dan Ang Siauw Peng yang telah mengikat tali persahabatan, tentu saja terlalu cepat.

Sebentar kemudian, sinar matahari telah terbenam. Ie Lip Tiong membebaskan totokannya.

Ang Siauw Peng begitu jinak, dengan menunggang satu kuda, dia tidak mencoba untuk melarikan diri.

Hanya didalam satu hari, Ie Lip Tiong berbasil mengubah permusuhan dengan keluarga Ang menjadi stutu persahabatan yang kekal abadi.

Pendekar cambuk Gunung Leng San Pian sangat berhati-hati kepada pembegalan2 lainnya, kadang kala, diapun menengok kearah pasangan itu. Begitu riang mereka tertawa, didalam hati, dia memuji kepintaran tangan Ie Lip Tiong yang mudah memikat hati si dara kesembilan dari keluarga Ang.

Hampir menyelang tengah malam iring2an kereta Sun-hong Piauw-kiok tiba dikota Tay-ouw-hian.

Didepan pintu kota itu, Ie Lip Tiong berkata kepada orang-orang tawanannya.

"Kini kau boleh kembali kepada saudara2mu itu".

Ang Siauw Peng tidak segera lompat turun, dia menoleh kebelakang dan bertanya:

"Boleh aku mengajukan suatu permintaan?" "Permintaan tentang apa?" Bertanya Ie Lip Tiong.

"Aku meminta tanda bukti dari undangan dan kesungguh- sungguhan hatimu. Dengan bukti ini, kami baru dapat membikin kunyungan kegunung Lu-san". Berkata Ang Siauw Peng yang mempunyai pikiran panjang

Ie Lip Tiong memotong sebagian baju kebesaran Duta Istimewa Berbaju Kuning dari Su-hay-tong-sim-beng. Diserahkan kepada dara manis itu.

"Bukti ini cukup kuat, bukan?" Dia tertawa.

Ang Siauw Peng menyambuti potongan baju itu, dia lompat turun dari kuda tunggangan mereka. Tubuhnya meluncur cepat dan melambaikan tangan.

"Selamat bertemu lagi." Dia berkata dengan gesit.

"Selamat jalan". Ie Lip Tiong memperhatikan sehingga lenyapnya bentuk tubuh yang langsing itu.

Ang Siauw Peng kembali kearah Kiu khe-leng.

Ie Lip Tiong dan rombongannya memasuki kota Tay-ouw-hian.

MENINGGALKAN cerita Ang Siauw Pang yang kembali keatas gunung Kiu-kho-leng.

Mengikuti rombongah Sun-hong Piauw-kiok dengan kereta mereka yang masih menggelinding terus.

Mereka bermalam dirumah penginapan Tay-ouw Ko Ciam.

Tidak ada kejadian yang perlu dicatat. Semua berjalan dengan tenang.

Hari berikutnya......

Perjalanan dilanyutkan, menuju kearah Su-shia.

Pos berikutnya adalah kota Ciam-san-hian, Seperti apa yang sudah diperhitungkan, malam itu mereka akan menginap disana dan seterusnya menuju ketempat tujuan.

Perdialanan seterusnya dari luar kota Ciam-san-hian adalah tempat strategis untuk melarikan barang2 itu. Acara Ie Lip Tiong dan Leng San Pian adalah mengerjai barang2 itu disana. Tapi bantuan tenaga yang diharapkan belum datang, mereka menjadi bingung. Kereta2 memasuki daerah pegurungan Wan-san, roda2 itu bergelinding dengan suara yang sangat berisik.

Pendekar Cambuk Gunung Leng San Pian mendekati si 'Pendekar Pemetik Bintang Liong Pat Su.

"Mana bala bantuan yang kita harapkan?" Dia bertanya kuwatir. "Kukira mereka sudah menunggu dikota Ciam-san-hian." Berkata

Ie Lip Tiong.

"Bila bantuan itu tidak datang?" Suara Leng San Pian sangat pelahan.

"Rercana tetap dijalankan." Berkata Ie Lip Tiong mantap. "Kita bukan tandingan mereka." Berkata Leng San Pian lagi. "Boleh menggunakan akal lain," Berkata Ie Lip Tiong. "Dengan obat tidur?" Leng San Pian memberi usul.

Ie Lip Tiong menggoyangkan kepala.

"Co Khu Liong adalah Raja Bajingan, sangat berbahaja." Dia mengemukakan alasannya. "Tidak mungkin mengelabui matanya."

"Kita sergap si Raja Bajingan lebih dahulu ?"

"Tidak ada pegangan kuat untuk mengalahkannya. juga berbahaja."

Ie Lip Tiong hendak mencari satu jalan yang terbaik untuk mengatasi kesulitan ini. "Bila kita gagal. Ludeslah semua harapan itu."

Leng San Pian tertawa nyengir.

"Aku tidak mempunyai pengalaman yang baik. Kau pikirkanlah cara2 untuk menghadapi kenyataan." Dia putus harapan.

"Bersabarlah sehingga tiba dikota Ciam-san-hian." Berkata Ie Lip Tiong. "Aku tidak percaja bahwa suratku itu tidak sampai ketempat tujuan. Tunggulah bantuan tenaga yang kuat." Mereka telah mendekati kota Ciam san-hian. Pikiran Ie Lip Tiong dan Leng San Pian semakin kalut.

Benteng kota sudah tampak dihadapan mata, mereka berada dipintu Barat dari kota Ciam-san-hian.

Jauh didepan rombongan Su-hong Piauw-kiok, tepat dibagian depan pintu kota itu berdiri dua orang-orang tua.

Ie Lip Tiong dan Leng San Pian saling pandang, mereka menduga kepada bantuan dari Su-hay-tong sim-beng. Mereka menggebrak kuda, menghampiri mereka.

Dua orang-orang yang menunggu rombongan Sun-hong Piauw- kiok tadi adalah dua orang-orang kakek yang berambut putih, yang satu berjubah kuning dan satu lagi mengenakan pakaian warna hijau. Orang-orang tua yang berjubah kuning menguraikan rambutnya sehingga pundak. Matanya besar dan galak, sepasang alisnya tebal gompiok, sikapnya sangat sombong.

Orang-orang tua yang berbaju hijau bermata sipit. bertopi kecil, tidak galak, tapi sangat menyeramkan.

Dua orang-orang tadi berdiri didepan pintu kota seperti dua iblis yang menantikan mangsa.

Ie Lip Tiong tidak kenal kepada dua orang-orang itu, dia menduga kepada musuh.

Leng San Pian memberi hormat kepada kedua orang-orang tadi, sebagai seorangorang pemimpin perusahaan pengangkutan, dia banyak pengalaman.

"Kami Leng San Pian, pemimpin dari perusahaan pengangkutan Sun-hong Piauwkiok. Bilamana jiWie berdua ada urusan, dipersilahkan bicara."

Orang-orang tua yang berjubah kuning menengadahkan kepalanya, tidak memberi penyahutan atas kata2 tadi.

Orang-orang berbaju hijau menganggukkan kepalanya, dia berkata: "Aku tahu. Dan barang yang berada di dalam kereta dorong itu berupa uang perak, bukan?"

Suaranya tidak sedap didengar.

Leng San Pian segera membikin persiapan, "Betul". Dia berkata tenang.

"Berangkat dari kota Han-yang, via Bu-ciang dan menuju kearah Su-shia, bukan?"

"Betul". Sekali lagi Leng San Pian membenarkan pertanyaan itu.

Hatinya semakin was2.

"Bisa kami bicara dengan orang-orang yang mempunyai uang ini

?" Berkata orang-orang tua berbaju hijiu.

"Maaf." Leng San Pian menolak permintaan orang-orang. Segala tanggung jawab berada ditangan Sun-hong Piauw-kiok. Urusan to ich diselesaikan denganku".

"Ha, ha . . .Dia barada didalam kereta penumpang, bukan?" Bertanya lagi kakek berbaju hijau itu.

"Kami belum tahu maksud tujuan kalian berdua". Berkata Leng San Pian.

Kakek berbaju hijau menoleh kearah kawannya, dan berkata kepada kakek baju kuning ini;

"Sie It Hu, suaramu lebih panyang, coba kau panggil dia keluar". Ie Lip Tiong Terkejut,

Sie It Hu adalah nama dari salah satu dari dua belas Raja Silat Sesat, gelarnya si Raja Silat Gila. Adanya kedua kakek ini ditempat ini dapat mengganggu usaha gerakkan Su-hay-tong-sim-beng.

Kakek berjubah kuning adalah Raja Silat Gila Sie It Hu, dia membuka suaranya yang lantang.

"Co Khu Liong, lekas menemui kita." Suaranya berdengung lama. Suara ini mendapat sahutan spontan. Terdengar suara tertawa berkakakan. dan melayanglah satu bayangan gesit, sebentar kemudian sudah berada didepan kedua kakek itu, inilah si Raja Silat Bajingan Co Khu Liong, dia meninggalkan kereta penumpang, meninggalkan Lauw Can Cun dan In Thian Liu, dia menghadapi mereka.

"Bagaimana kalian berada ditempat ini?" Co Khu Liong kenal kepada kedua kakek yang menghadang perjalanan.

Kakek berbaju hijau menoleh kearah kawannya dan berkata kepada kakek yang berbaju kuning.

"Bu Bee Beng, giliranmu yang bicara,"

Lagi2 Ie Lip Tiong dikejutkan oleh nama ini, Bu Bea Beng adalah seorang-orang tokoh silat Raja Sesat juga, dia bergelar Raja Silat Siluman. Kedudukannya sederajat dengan si Raja Silat Gila Sie It Hu, Raja Silat Bajingan Co Khu Liong dan raja silat lainnya.

Ie Lip Tiong mengeluh pajah, satu Co Khu Liong saja tidak dapat dihadapi dengan kekerasan, apa lagi tambah dua bantuan, hatinya menjadi bingung

Itu waktu, Co Khu Liong sudah menghadapi dua kakek berambut putih.

"Bagaimana kalian berada ditempat ini?" Dia bertanya kepada Sie It Hu dan Bu Bee Beng.

Kakek yang berbaju hijau, si Raja Silat Siluman Bu Bee Beng mengerlip-ngerlipkan matanya, setengah main2 dia berkata:

"Mendapat perintah untuk merampas uang kau."

Raja Bajingan Co Khu Liong membentak keras: "Dasar manusia siluman "

Raja Gila Sie It Hu berkata: "Co Khu Liong, diantara 12 Raja Silat Kesatria, siapa yang dapat kau dekati?"

"Mengapa bertanya tentang mereka?" Berkata Raja Bajingan Co Khu Liong. Ternyata, dimasa itu ada 12 Raja Silat Sesat dan 12 Raja Silat Kesatria.

12 Raja Silat Sesat berada dibawah pimpinan si Maha Raja Ngo- kiat Sin-mo Auwyang Hui, setelah Auw-yang Hui binasa dibawah kerojokkannya ajah Ie Lip Tiong sekalian, mereka berceceran.

Tiga diantaranya adalah si Raja Silat Gila Sie It Hu, Rija Silat Siluman Bu Bee Beng dan Raja Silat Bajingan Co Khu Liong.

12 Raja Silat Kesatria berada dibawah pimpinan Raja Silat Kedewaan Hong-lay Sianong. Inilah orang-orang yang menduduki kursi ketua persatuan gerakkan Su-hay-tongsim-beng.

Untuk masa itu, tokoh2 silat yang terkemuka adalah 24 orang- orang raja2 silat tadi. Tiga diantaranya sudah berada didepan Ie Lip Tiong.

Raja Silat Siluman Bu Bee Beng berkata:

"Co Khu Liong. kau belum menyawab pertanyaan Sie It Hu, dari 12 Raja Silat Kesatria, siapa yang dapat kau dekati?"

Co Khu Liong mendelikkan mata.

"Mengapa mengajukan pertanyaan ini ?" Dia seperti dipermainkan.

Raja Silat Gila Sie It Hu berkata :

"Dasar bajingan, segala sesuatu harus tahu jelas. jawab dulu pertanyaan ini. Nanti kukemukan alasannya."

"Terus terang saja, aku tidak mempunyai hubungan baik dengan 12 Raja Silat Kesatria, Diantaranya, hanya Raja Silat Kebebasan Bu Sen Oen Bun Po yang mudah diketahui. Dia terlalu baik hati. Maka tidak segala raja2 silat Kesatria lainnya."

"Tepat. Karena Itulah, sancu kita memberi tugas kepadamu untuk menemui Bu Sen Oen Bun Po itu,"

Sancu berarti raja gunung. Orang-orang yang mau jadi guru Ai Tong Cun, Ai See Cun, Ai Lam Cun dan Ai Pek Cun. Mengikuti percakapan ini, Ie Lip Tiong mendapat gambaran baru. Ternyata si Raja Silat Gunung mempunyai kedudukan yang berada diatas 12 Raja Silat Sesat?

Siapakah si Raja Silat Gunung itu? Bagaimana dia dapat menundukkan 12 Raja Silat Sesat sebangsa Co Khu Liong sekalian?

"Mengapa harus menemuinya?" Co Khu Liong memandang Sie It Hu dan Bu Bee Beng. Dia belum mengerti.

"Eh, eh, lagi2 meminta alasan lagi?" Berkata si Raja Silat Gila Sie It Hu.

"Aku harus menyalankan tugas, bukan?" Berkata Co Khu Liong. "Persoalan apa yang menyangkut dengannya?"

"Begini," Sie It Hu memberi keterangan. "Sancu kita mendapat berita yang mewartakan bahwa itu Raja Silat KeSatria bermunculan kembali. Ini berbahaja! Karena itu. kau ditugaskan menemui Bu Sen Oen Bun Po, usahakanlah agar raja silat ini tetap mengeram ditempatnya, atas dengan cara lainpun kau harus berusaha agar dia tidak turut serta didalan gerakan persatuan Su-hay-tong-sim-beng. Mengerti ?"

Wajah Co Khu Liong berubah.

"Maksud kalian agar aku yang membunuh Bu Sen Oen Bun Po?" Dia bertanya.

"Inilah tugas." Berkata Sie It Hu.

"Kau kira si Raja Silat Kebebasan mudah dihadapi ?" Co Khu Liong mengutarakan kekhawatirannya.

"Sebagai seorang-orang raja bajingan, kau tidak akan kekurangan akal. Karena itu, Sancu mempercajakan tugas ini kepadamu."

"Tetapi aku tidak tahu jejak si Raja Silat Kebebasan Bu Sen Oen Bun Po." Co Khu Liong mengemukakan alasan untuk menolak.

"Sancu kita telah mendapat info pasti, bahwa Oen Bun Po menetap digunung Mo-kausan. dia mengasingkan diri ditepi telaga Kiam-tie, pergilah kau kesana. Tidak salah lagi."

"Aku tidak mempunyai pegangan kuat." Berkata si Raja Silat Bajingan Co Khu Liong.

"Sancu tidak memastikan kau dapat memenangkannya.

Berusahalah."

"Perintah harus segera dijalankan?" Bertanya si Raja Silat Bajingan.

"Betul."

"Dan kalian berdua yang mengambil alih tugas pengawalan uang2 ini?" Co Khu Liong memandang kedua kakek itu.

"Betul." Berkata si Raja Silat Gila Sie It Hu. "Apa alasan lainnya ?"

"Aku menaruh curiga," Berkata Co Khu Liong. "Tidak seharusnya Sancu kita mengutus kalian berdua barbareng hanya untuk melakukan tugas yang sangat ringan sekali."

"Berani kau meragukan keputusan Sancu?" Raja Silat Gila Sie It Hu mendelikkan matanya.

"Ha. ha ..." Co Khu Liong tertawa. "Kalian belum tahu, di Kiu kho- leng, masih ada orang-orang yang mau merampok uang kita, Tapi mereka tidak berhasil. Dengan mudah kita dapat mengatasinya."

Raja Silat Gila Sie It Hu itu berkata:

"Dimisalkan Ie Lip Tiong yang mengada-adakan perampokan itu, mungkinkah kau dapat beri aku tenang lagi?"

"Ie Lip Tiong ?" Co Khu Liong berteriak kaget. "Ie Lip Tiong juga mau merampok uang kita?"

"Kau baru tahu ?" Raja Gila Sie It Hu tertawa dingin. "Mengertikah kau, mengapa sancu mengutus kita berdua ?"

Raja Bajingan Co Khu Liong bungkam. Ie Lip Tiong sedang mengasah otak bagaimana harus menghadapi tiga Raja Silat Sesat dihadapannya. Dia tidak berdaja sama sekali.

Itu waktu, Lauw Can Cun dan In Thian Liu telah menampilkan diri. MereKa tidak perlu berlaku bodoh lagi.

Ie Lip Tiong, Leng San Pian dan Yu Seng Cu berdiri berendeng, perkembangan situasi yang seperti itu sungguh berada diluar dugaan mereka.

Co Khu Liong memandang kearah tiga piauw-su itu, dan berkata kepada mereka:

"Mari, kalian kemari, akan kuperkenalkan kalian kepada dua rekanku".

Leng San Pian bertiga sudah lompat turun dari kuda tunggangan mereka, memberi hormat segera.

"Kami tidak tahu bahwa berhadapan dengan Co Cianpwe yang mulia. Harap memaafkan kepada kami semua".

Co Khu Liong tertawa dingin, menunjuk kearah kakek yang berbaju kuning dan berkata:

"Raja Silat Gila Sie It Hu".

Leng San Pian bertiga menunjuk hormat mereka.

Menudingkan kearah kakek yang berbaju hijau, Co Khu Liong melanyutkan perkenalannya:

"Raja Silat Siluman Bu Bee Beng".

Leng San Pian, Ie Lip Tiong dan Yu Seng Cu membeir hormat lagi.

"Mereka adalah tiga piauwsu dari Sun-hong Piauw-kiok". Kata2 Co Khu Liong ini ditujukan kepada Sie It Hu dan Bu Bee Beng.

Kedua raja silat itu mengerlingkan matanya, memandang rendah kepada ketiga piauw-su yang diperkenalkan. Hal ini sudah jamak, Ie Lip Tiong sekalian maklum kepada perbedaan derajat mereka yang terlalu banyak, mereka menyerah.

Co Khu Liong memandang kearah Leng San Pian.

"TeruS terang jawab pertanyaanku", Katanya. "Didalam rombonganmu, apa tidak terselip seorang-orang pemuda yang bernama Ie Lip Tiong ?"

"Ie Lip Tiong?" Leng San Pian membawakan sikap yang seperti kaget "Putra ketua partay Oey-san-pay Ie Im Yang almarhuma itu ?"

"Betul " Bergerak si Raja Silat Bajingan Co Khu Liong, "Ada tidak?"

"Mana ada ?" Berkata Leng San Pian. "Dipersilahkan cianpwe memeriksa lagi."

Sebelum rombongan ini berangkat meninggalkan kota Han-yang. Co Khu Liong telah membikin pemeriksaan yang teliti, dia tidak berhasil menemukan Ie Lip Tiong, yang dicurigai adalah Pendekar Pemetik Bintang Liong Pat Su, kecurigaan itu pun tidak beralasan. Dia diam.

"Dengar", Bentak lagi raja Silat Bajingan ini. "Pernah dengar nama 12 Raja Silat Sesat, kita bertiga dapat melakukan pembunuhan tanpa berkedip. Bila terbukti kau menyembunyikan Ie Lip Tiong. Batok kepalamu akan dicopot menjadi beberapa potong. Segerobak pun Bala bantuan yang kau datangkan. Tidak mungkin dapat mengelakkan mala petaka ini, tahu !"

Leng San Pian mengangguk anggukkan kepalanya, hatinya memukul keras.

"Nah," Berkata lagi Co Khu Liong. "Tetap antar uang2 ini kekota Su-shia. Dua

Cianpwe ini akan menggantikan aku".

Dia menunjuk Sie It Hu dan Bu Bee Beng.

Tidak lupa, Co Khu Liong memperkenalkan Lauw Can Cun dan In Thian Liu, kedua

pengurus rumah makan untuk cabang Han-yang dan cabang Bu- Ciang itu harus tunduk dibawah kekuasaan penggantinya.

"Nah, tugasku telah selesai." Dia berkata kepada rekan2nya. "Bila sampai terjadi sesuatu, kalian berdua harus memikul tanggung jawab ini."

"Legakanlah hatimu." Berkata Raja Silat Siluman Bu Bee Beng. "Pergilah." Berkata Raja Silat Gila Sie It Hu.

Co Khu Liong memberikan hormat, tubuhnya melesat, dan lenyap dimalam gelap.

Mereka memasuki kota Ciam-san-hian.

Leng San Pian dan Ie Lip Tiong berjalan didepan. Menggunakan kesempatan yang baik, mereka bercakap2.

"Satu Co Khu Liong saja tidak dapat kita hadapi. Kini datang dua Raja Silat Sesat lainnya. Sungguh celaka." Leng San Pian ngedumel.

"Kepandaian dan kepintaran dua raja silat ini tidak berada dibawah Co Khu Liong. Apa lagi mereka sudah bersiap sedia untuk menghadapi sargapan. Lebih sulit dihadapi." Berkata Ie Lip Tiong.

"Aku mempunyai rencana baik untuk menghadapi mereka." Berkata Leng San Pian.

"Rencana apa ?"

"Si Raja Silat Gila Sie It Hu gila ilmu silat, bukan?"

"Betul. Dia paling tekun kepada ilmu silat, maka mendapat julukkan Raja Silat Gila."

"Orang-orang yang sebangsa Sie It Hu paling suka mendengar pujian. Dengan alasan mengagumi ilmu kepandaiannya, kita mengundang dia makan2, setelah itu, kita meminta dia mendemontrasikan beberapa macam ilmu silat. disusul dengan pertandingan beberapa babak. Menggunakan kesempatan ini, kita memberi perintah kepada Yu Seng Cu untuk mengajak semua anak buah melarikan uang2 itu. Dipindah secara diam2."

"Sangat berbahaja." Berkata Ie Lip Tiong. "Apa boleh buat, keadaan sangat mendesak."

"Baiklah. Yu Seng Cu harus diberi tahu tentang rencana ini." Mereka mulai memilih rumah penginapan.

Tiba2 terdengar teriakan Lauw Can Cun dari kereta penumpang dibelakang,

"Cong piauw-tauw . . . .Cong piauw-tauw. "

Leng Sin Pian menghampiri mereka, "Ada apa?"

Raja Silat Gila Sie It Hu berkata:

"Beri perintah kepada semua orang-orang segera kita berganti haluan."

"Ganti haluan?" Ludeslah semua rencananya.

"Betul." Membenarkan Sie It Hu. "Kita tidak mau bermalam dikota Ciam-san-hian. Segera teruskan perjalanan kekota Hoay-leng "

"Tapi   Tapi hari sudah malam." Leng San Pian memberi alasan.

"Untuk menambah ongkosmu, kuberi bea extra sebanyak 10% dari apa yang telah ditetapkan oleh si Raja Bajingan Co Khu Liong. Dan untuk orang-orang2mu, beri tahu kepada mereka, setiap orang- orang mendapat tambahan uang lelah sebanyak 1 tail perak."

Pendekar Cambuk Gunung Leng San Pian tidak berdaja, dia ngelujur pergi dengan kepala ditundukkan kebawah.

Leng San Pian memberi tahu hal ini kepada semua anak buahnya mereka tidak mendapat istirahat, langsung meneruskan perjalanan malam. menuju kearah kota Hoayleng. Para tukang dorong yang mendapat perintah itu berkeluh kesah, mereka sangat lelah sekali.

Tatkala mengetahui bahwa setiap orang-orang mendapat uang tambahan 1 tail perak untuk jasa capai lelah itu, semua orang-orang segar kembali. Demikian perjalanan malam diteruskan.

Ie Lip Tong mendekati Leng San Pian.

"Mengapa kau lulusi permintaannya?" Dia mencela.

"Bagaimana dapat menolak ?" Leng San Pian mempaparkan tangan.

Tujuan kearah kota Hoay-leng sangat bertentangan dengan arah Su-shia, bantuan

Su-hay-tong-sim-beng belum datang, Musuh bertambah kuat, bagaimana dia dapat mengatasinya? Ie Lip Tiong bingung.

Roda2 bergemuruh disuasana malam, perjalanan itu sangat berbahaja, kereta menuju kearah kota Hoay-leng.

Senya harinya. . . .

Dengan badan penat letih, rombongan Sun-hong Piauw-kiok memasuki kota Hoayleng.

Seperti apa yang telah dijanyikan oleh Sie It Hu dan Bu Bee Beng, setiap tukang dorong mendapat uang lelah 1 tail perak. Untuk merasakan penghasilan itu, para tukang dorong diberi kesempatan istirahat setengah jam, mereka bebas berbelanya atau berpesta pora, ada juga beberapa tukang dorong yang setia, mereka menyimpan uang ini, saking lelahnya perjalanan yang dilakukannya terus menerus, mereka tidur ditempat rumah penginapan.

Ie Lip Tiong, Leng San Pian dan Yu Seng Cu menyaga kereta uang.

Setengah jam kemudian, setelah para tukang dorong itu kembali, Sie It Hu dan Bu Bee Beng mengundang ketiga piauwsu Sun-hong Piauw-kiok. Pendekar Cambuk Gunung Leng San Pian, Pendekar Pemetik Bintang Liong Pat Su dan Pendekar tangan besi Yu Seng Cu memberi pesan kepada para tukang dorong dan mereka menghadap pemilik barang yang dipercajakan kepadanya.

Didalam kamar sudah berkumpul Raja Silat Gila Sie It Hu, Raja Silat Siluman Bu Bee Beng, Pengurus rumah makan Hian-kok-lauw dikota Han-yang Lauw Can Cun dan pemilik rumah makan Oey-kok- lauw di kota Bu Ciang In Thian Liu.

Memasuki kamar mereka, Leng San Pian dan Ie Lip Tiong saling pandang.

"Silahkan duduk." Berkata Bu Bee Beng hormat.

"Kami tidak berani." Berkata Leng San Pian merendah. "Silahkan Cianpwe. memberi perintah."

"Duduklah dulu." Berkata Bu Bee Beng lagi.

Ie Lip Tiong bertiga mengambil tempat duduk masing2 yang sudah tersedia.

Dan Raja Silat Siluman Bu Bee Beng berkata:

"Mulai besok pagi, perjalanan akan dilakukan secara rahasia." Bu Bee Beng memberi perintah.

"Maksud Cianpwe ?" Leng San Pian mengajukan pertanyaan. Sebagai pemimpin perusahaan Sun-hong Piauw-kiok, dia wajib mengetahui segala alasan dari adanya perubahan itu.

Bu Bee Beng memberi keterangan yang lebih jelas:

"Pagi2, sebelum berangkat, panyi perusahaan Sun-hong Piauw- kiok harus segera disimpan. Semua kereta yang ada harus dirusak, dan siapkan kereta2 barang, semua uang dipindah kedalam kereta itu. perjalanan selanyutnya dilanyutkan dengan penyamaran, semua kerugian2 kereta akan kuganti lipat. Mengerti ?"

Leng San Pian dan Ie Lip Tiong tidak dapat menyetujui usul ini, tapi mereka tidak dapat mengemukakan alasan yang tepat. Sebagai wakil pemilik uang yang mereka bawa, Bu Bee Beng dan Sie It Hu dapat dan berhak untuk menentukan segala apa.

Sebelum Ie Lip Tiong atau Leng San Pian mengemukakan pendapat mereka, In Thian Liu bangun dari tempat duduk dan mengajukan pertanyaan:

"Dengan alasan apa Bu Bee Beng Cianpwe mengambil langka2 yang seperti ini ?"

"Dengan maksud menghindari kerewelan2." Berkata Bu Bee Beng dingin. "Kau tidak dapat memahami maksud tujuan kita ?"

-oo0dw0oo-