-->

Pedang Karat Pena Beraksara Jilid 28 (Tamat)

Jilid 28 (Tamat)

”CEPAT TURUNKAN PERINTAH, agar semua saudara kita beristirahat di ruang depan, kecuali mereka yang sedang bertugas melakukan perondaan, yang lain boleh masuk untuk bersantap."

Salah seorang diantara ketiga orang jago pedang berpita hijau itu mengiakan, kemudian menerima perintah dan berlalu.

Tak lama kemudian, delapan jago pedang berpita biru dan dua puluh delapan jago pedang berpita putih telah masuk kedalam ruangan dan memenuhi sampai empat meja, semuanya duduk tenang ditempat masing-masing, tak seorangpun yang berbicara.

Pada saat itulah dari lorong sana berkumandang suara derap kaki manusia, kemudian tampak Chin Tay seng berjalan dipaling depan muncul dalam ruangan tersebut.

Begitu melangkah keluar dari lorong, dengan suara lantang segera serunya.

"Kiam cu tiba !"

Huan Khong phu, Wi Tiong hong. Lok In lim dan Cho Kiu moay serentak bangkit berdiri, sedangkan para jago pedang yang memenuhi empat meja itu pun serentak berdiri tegak.

Orang yang berjalan dibelakang Chin Tay seng adalah congkoan pedang berpita hijau, Bau kiam suseng (sastrawan pemeluk pedang) Buyung Siu, dia berjalan dengan lamban sekali, sudah jelas racun yang berada dalam tubuhnya telah membuatnya jadi lemah.

Namun sikapnya masih nampak santai, dengan senyuman dikulum dia memandang ke arah Cho Kiu moay serta Huan Khong phu sekalian, setelah menjura katanya sambil ketawa. "Nona Cho, saudara Huan, saudara Kiong, saudara Lok. rupanya kalian telah datang semua, maaf kalau siauheng tak dapat menyambut kedatangan kalian."

Serentak Huan Kong-phu sekalian balas memberi hormat.

Wi Tiong hong harus mengikuti yang lain menjura juga, sedang dihati kecilnya dia berpikir:

"Huan congkoan adalah seorang congkoan bagian istana dari Ban kiam hwee, seharusnya kedudukan ini masih berada diatas ke empat congkoan maupun Hak bun kun Cho Kiu moay apalagi yang terakhir ini hanya seorang dayang dari Hwe cu mereka, apa sebab semua orang bersikap begitu hormat kepadanya ?"

"Didalam sapaannya barusan, ternyata Buyung Siu telah mendahulukan Cho Kiu moay di depan Huan, congkoan sekalian, nampaknya kedudukan dari Cho Kiu moay masih berada jauh diatas congkoan bagian istana."

Sementara dia berpikir tampak tiga orang gadis berbaju ringkas warna hijau dengan menyoren pedang berpita kuning pelan-pelan berjalan keluar dari tikungan lorong.

Wi Tiong hong sudah tahu kalau mereka adalah ke empat pelayan dari Ban Kiam hwee cu kecuali Hek bun Cho Kiu moay seorang, sisanya yang lain adalah Jin Kiu moay serta Lim Thian moay ilmu silat yang mereka miliki rasanya sama sekali tidak berada dibawah kepandaian Cho Kiu moay.

Begitu ke tiga orang gadis tersebut munculkan diri Huan Khong phu, Lok In lim sekalian segera membungkukkan badannya sembari berseru: "Hamba menghunjuk hormat buat Kiam cu."

Oleh karena Wi Tiong hong sedang menyaru sebagai congkoan pedang berpita merah Kiong Thian ciu dari Ban Kiam hwee waktu itu tentu saja dia harus ikut membungkukkan badannya pula untuk memberi hormat. Ban Kiam hwecu dengan jubah suteranya berjalan keluar dari loteng tersebut dengan langkah lebar dia segera mengangkat tangannya sambil berkata:

"Sepanjang jalan kalian pasti sudah amat lelah, tak usah banyak adat lagi, silahkan bersantap."

Selesai berkata, dengan langkah lebar dia lantas menuju ke meja perjamuan sebelah tengah.

Tampaknya terpengaruh oleh racun berdaya kerja lamban yang mengeram di dalam tubuhnya, maka Wi Tiong hong merasa nada suaranya rendah lagi berat, sedangkan langkahnya pun tidak segagah dan sementereng dahulu.

Setelah Ban-kiam hwecu menuju ke meja utama, Cho Kiu moay segera berjalan menghampirinya dan berdiri disisi kiri Ban kiam hwecu, sedangkan Huan Kong phu, Buyung Siu, Wi Tiong hong, Lok Im-lin serta Chin Tay-seng masing-masing berdiri menurut urutan masing-masing.

Hanya Ma koan tojin, Thi Khong beng hwesio serta si Naga tua berekor botak To Sam seng bertiga yang berkedudukan rendah kebagian tempat dipaling ujung sebelah bawah.

Cho Kiu-moay memandang sekejap sekeliling arena, kemudian setelah tertawa merdu katanya:

"Hari ini toh bukan upacara resmi atau pertemuan besar, kita semua tak sungkan-sungkan lagi, Kiamcu paIing ramah terhadap siapapun, harap kalian bertiga pun ikut duduk pula !"

"Benar" timbrung Ban kiam hweecu sambil mengangguk, "Chin congkoan, cepat kau undang Hu congkoan serta kedua Orang huhoat untuk bersantap bersama-sama"

Sikap Chin Tay seng saat ini pun nampak jauh lebih merendah daripada dihari hari biasa, dia segera mengiakan kemudian katanya.

"Perintah Kiamcu, harap Mo koan toheng sekalian bertiga turut mengambil tempat duduk." "Terima kasih Kiamcu !" kata Ma koan to jin sambil menjura. Ketiga orang itu segera berjalan kedepan meja perjamuan,

dengan cepat tiga orang jago pedang terpita hitam mengambil poci arak dan memenuhi cawan arak masing-masing orang.

Pelan-pelan Ban kiam hwecu mengangkat cawan araknya. kemudian setelah memandang sekejap sekeliling arena, pelan-pelan dia berkata:

"Aku bersama Buyung congkoan, Chin congkoan serta segenap jago pedang berpita hijau dan jago pedang berpita hitam yang berada dibukit Pit bu san ini telah dipencundangi pengkhianat sehingga keracunan semenjak tiga hari berselang."

"Walaupun daya kerja racun sangat lambat, namun orang yang keracunan tak boleh mengerahkan tenaga, hal ini pada hakekatnya bagaikan orang yang sama tetapi kehilangan ilmu silat saja, oleh karena itulah aku lantas turunkan perintah untuk mengundang kehadiran Huan congkoan, Kiong congkoan dan Lok congkoan agar datang kemari secepatnya guna menghadapi segala kemungkinan yang tak diinginkan..."

Berbicara sampai disitu sejenak, tapi semua orang yang berada dalam ruangan kecuali mendengarkan perkataan tersebut dengan seksama tak kedengeran sedikit suara pun yang berkumandang.

Terdengar Ban kiam hwecu berkata lebih jauh:

"Konon, racun yang mengeram didalam tubuh kami baru akan mulai bekerja selewatnya tiga hari, itu berarti hari ini merupakan hari yang terakhir."

"Tentu saja partai yang paling termashur dalam penggunaan racun dalam dunia persilatan terhitung Tok seh sia paling utama, hanya pemimpin Tok seh sia pula yang berambisi untuk merajai seluruh dunia persilatan, padahal lima partai besar dunia persilatan telah menutup diri dari keramaian dunia, itu berarti satu-satunya musuh tangguh bagi mereka hanya perkumpulan kita." "Itulah alasannya mengapa pihak lawan telah meracuni kita semua, hanya anehnya hingga kini pihak lawan sama sekali tidak menunjukkan gerakan apa pun."

"Tentu saja, mereka bisa meracuni kita, berarti dapat pula sekaligus meracuni kita semua hingga mati, namun kenyataannya mereka malah memilih racun yang lambat daya kerjanya dengan membiarkan kami hidup selama tiga hari lagi.

"Dari sini dapat disimpulkan kalau mereka tidak berhasrat untuk membinasakan diriku dalam sekali serangan, atau dengan perkataan lain mereka mesti mempunyai rencana busuk Iain, siapa tahu kalau mereka akan mengajukan syarat agar kita masuk perangkap."

Belum juga kedengaran seseorangpun buka suara, semua orang seolah-olah terbungkam dalam seribu bahasa.

Ban kiam hwecu memandang sekejap sekeliling tempat itu, kemudian katanya lagi:

"Oleh karena itu, kalau toh hari ini sebagai hari terakhir dari batas waktu tidak bekerjanya racun tersebut, berarti mereka pasti akan datang kemari, jika dugaanku tak salah, mereka pasti akan menggunakan obat penawar sebagai umpan, lalu mengutus orang untuk mengajakku bertukar syarat, sedang kekuatan ilmu silat rupanya hanya dipersiapkan sebagai langkah terakhir"

"Ucapan Kiamcu memang tepat sekali" sahut Hian Kong phu berseru.

"Kini, congkoan bertiga telah sampai disini, dalam soal kekuatan kita tak perlu merasa takut" sambung Ban Kiam hwecu lagi "kini tengah hari sudah tiba, musuh tangguh pun setiap saat bisa muncuI disini, kalian yang baru datang dari jauh boleh segera bersantap dulu, selesai bersantap aku akan membagi tugas untuk kalian, Nah cukup ucapanku kali ini, terimalah hormat secawan arakku untuk kalian semua.."

"Hamba semua sudah seharusnya menghormati kiamcu lebih dulu" serentak para jago pedang berseru berbareng. Sekali teguk Ban Kiam hwecu menghabiskan isi cawannya kemudian baru berkata:

"Aku telah bersantap tadi, silahkan kalian untuk mengeringkan cawan arak itu lebih dulu kemudian silahkan untuk bersantap."

Serentak empat pelayan, lima congkoan, Ma koen tojin bertiga serta segenap jago pedang yang berada mengangkat cawannya bersama-sama, kemudian baru sekali teguk menghabiskan isinya, kemudian mereka duduk bersama-sama dan mulai bersantap.

Tak seberapa lama kemudian, semua orang telah selesai bersantap.

Huan Kong phu segera berseru kepada delapan jago pedang berpita birunya:

"Kalian tetap tinggal disini, sedangkan para jago berpita putih yang selesai bersantap segera mengundurkan diri dari ruangan, menyusul kemudian sepuluh orang yang tertugas melakukan penjagaan masuk kedalam untuk bersantap.

Pada saat itulah, tampak seorang jago pedang berpita putih tergopoh-gopoh lari masuk kedalam kemudian serunya sambil menjura:

"Lapor Kiamcu pihak Tok seh sia telah mengutus orang untuk menyampaikan sepucuk surat, harap Kiamcu memeriksanya."

"Bawa kemari!" perintah Cho Kiu moay.

Pendekar pedang berpita putih segera mempersembahkan surat itu dengan kedua tangannya.

Setelah menerima surat itu, kembali Cho Kiu-moay bertanya. "Mana si pengirim suratnya?"

"Sudah pergi"

"Baik.. kau boleh mundur" kata Cho Kiu moay kemudian sambil mengulapkan tangannya. Pendekar pedang putih membungkukkan badan dan segera mengundaurkan diri.

Baru saja Cho Kiu moay hendak merobek sampul surat tersebut, tiba-tiba Chin Tay seng memperingatkan:

"Nona Cho, hati-hati kalau diatas surat mereka sudah dibubuhi racun."

Cho Kiu moay mendengus dingin, lalu sahutnya sambil tertawa lebar:

"Tidak mengapa, aku sudah minum obat campuran Lou bun si, jadi beberapa hari memang tak kuatir kena racun lagi..."

Selesai berkata dia lautan merobek sampul surat itu dan mengeluarkan isinya, kemudian terbacalah surat itu berbunyi demikian:

"Ban kiam hwecu! Racun berkadar rendah yang bersarang ditubuhmu dan semua pendekar pedang berpita hijau serta pendekar pendang berpita hitam, hari ini sudah mencapai hari yang ketiga, selewatnya tengah malam nanti racun itu akan mulai bekerja dan tak akan tertolong lagi.

"Kau anggap dengan kehadiran tiga orang congkoan, berarti bala bantuan sudah datang? Terus terang saja kukatakan kepadamu, didalam air teh yang mereka minum pun sudah dicampuri dengan racun."

"Racun ini akan mulai bekerja selewatnya setengah jam, saat kau membaca surat ini, aku percaya saatnya sudah hampir tiba."

"Asal kau bersedia untuk bekerja sama dengan kami, akan kami kirim orang untuk menyembuhkan racun itu, bahkan menambahkan obat penawarnya untuk kalian.

Tertanda: Sah Thian yu"

Berubah hebat paras muka Cho Kiu moay setelah membaca isi surat itu, tiba-tiba saja sepasang tangannya yang memegang surat itu gemetar keras, lalu serunya keras-keras: "Bedebah, betul-betul bedebah ..siapa lagi yang sudah bermain gila dengan air teh kami?"

"Apa maksudmu? Apa yang ditulis didalam surat tersebut?" buru- buru Ban kiam hweecu bertanya.

"Sah Thian yu si bedebah terkutuk tersebut telah mengirim orang untuk bermain gila lagi di dalam air teh kita, bahkan racun yang di campurkan kedalam air teh tersebut segera akan mulai bekerja"

Sembari berkata, dia menyerahkan surat tersebut kepada Ban kiam hweecu.

Huan Kong pho segera menggebrak meja keras-keras, kemudian serunya dengan gusar:

"Kalau begitu disini pasti ada mata-mata !"

"Blamm!" menyusul gebrakan mejanya yang amat keras itu, sekujur badan Chin Tay seng gemetar keras.

"Huan congkoan!" kata Ban kiam hwecu kemudian, "coba kau mengatur napas dan periksa lah apakah dirimu sudah turut keracunan pula."

Huan Kong phu, Wi Tiong hong dan Lok-In lin bertiga segera mencoba untuk mengatur napas, dengan cepat paras muka mereka berubah hebat.

Huan Khong phu melototkan sepasang matanya bulat-bulat, dengan keringat jatuh bercucuran tiada hentinya, ia berseru penuh rasa ngeri:

"Cepat benar kerjanya racun ini, sekarang hamba sudah tak bisa lagi menghimpun hawa murni yang hamba miliki, ketika dipaksakan, isi perut hamba terasa sakit sekali bagaikan diiris-iris."

"Hambapun merasa demikian." kata Wi Tiong hong pula dengan cepat.

Huan Khong phu segera berpaling ke arah delapan orang pendekar pedang berpita biru lainnya, kemudian menegur: "Apakah kalian pun merasa keracunan?"

Kedelapan pendekar pedang berpita biru itu segera membungkukkan badannya memberi hormat dan menyahut:

"Hamba semua telah mencoba untuk menghimpun tenaga, ternyata kami memang keracunan pula."

Ke sepuluh orang pendekar pedang berpita putih yang sedang menundukkan kepala sambil bersantap itu segera menghentikan santapannya lalu seorang diantaranya bangkit berdiri dan memberi hormat, katanya:

"Lapor congkoan, hamba semua pun merasa telah keracunan hebat.."

Lok In Iin yang duduk disamping Ching tay seng segera menggertak giginya sambil mendengus, serunya menahan geram:

"Bila orang yang meracuni kami sampai terjatuh ketangan aku orang she Lok, aku bersumpah tak akan menjadi manusia bila tidak bisa mencincang tubuhnya sehingga hancur berkeping-keping..."

Ban kiam hweecu menghela napas panjang, bisiknya tiba-tiba dengan sedih.

"Aaai .. sekarang, perkumpulan Ban kiam hwee kita benar-benar telah di pecundangi orang!"

"Wah, kalau begitu tinggal aku dan ketiga orang pendekar pedang berpita hijau yang tidak keracunan sama sekali?" seru Cho Kiu moay.

"Ucapan nona memang benar, hamba pun, tidak merasakan gejala keracunan." kata tiga orang pendekar pedang berpita hijau itu.

"Sekarang, keadaan kita yang menguntungkan sudah lewat," ucap Hoa Khong phu, "sekalipun nona berempat tidak keracunan, mustahil kekuatan kalian sanggup menghadapi serbuan lawan." "Asal kami tak keracunan, paling tidak toh masih bisa melindungi Kiamcu untuk meninggalkan tempat ini dan berusaha untuk mendapatkan obat penawar racun."

"Perkataan nona Cho memang tepat sekali" seru congkoan pedang berpita hijau Buyung Siu, "persoalan ini tak bisa ditunda- tunda Iagi, lebih baik Kiamcu segera berangkat meninggalkan tempat ini.."

"Sayang sekali keadaan sudah tidak mengijinkan." tiba-tiba congkoan pedang berpita hitam Chin Tay-seng tertawa seram.

"Mengapa tidak mengijinkan lagi?" Cho Kiu moay bertanya. "Walaupun nona dan ke tiga orang pendekar pedang berpita

hijau tidak keracunan namun sulit rasanya untuk meloloskan diri dari kepungan."

"Maksud Chin congkoan, kami semua sudah terkepung ?" "Yaa, memang begitulah keadaan yang sebenarnya !" "Darimana Chin congkoan bisa mengetahui akan hal ini ?" Chin Tay seng tertawa seram.

"Heeehhhh... heeehhh... heeehhh sebab mereka yang melakukan pengepungan adalah para pendekar pedang berpita hitam anak buahku, bagaimana mungkin hamba tidak tahu ?"

Ban-kiam hwee cu yang mendengar jawaban tersebut segera membelalakkan sepasang matanya lebar-lebar:

"Maksud Chin congkoan, semua pendekar pedang berpita hitam telah melakukan penghianatan ?"

"Ucapan Kiamcu memang tepat sekali !" sahut Chin Tay seng tiba-tiba bangkit berdiri, lalu sambil tertawa seram membanting cawannya ke atas tanah.

Begitu Chin Tay seng membanting cawannya ke atas tanah, Ma koan tojin, Thi lohan Khong beng hwesio serta si Naga tua berekor botak To Sam seng serentak melompat bangun puIa. Bersamaan waktunya dari arah lorong bermunculan dua puluhan orang pendekar pedang berpita hitam yang membawa senjata terhunus dengan cepat mereka melakukan pengepungan terhadap sekeliling tempat itu.

Melihat kejadian mana, ke tiga orang pendekar pedang berpita hijau itu nampak terkejut, serentak mereka meloloskan pula pedangnya sambil bersiap sedia.

"Kalian jangan sembarangan bergerak !" cegah Cho Kiu moay dengan cepat:

Mendengar perintah tersebut ke tiga orang pendekar pedang berpita hijau itu segera menghentikan gerakannya dan berdiri tak berkutik ditempat semula.

"Nona Cho !" Chin Tay seng segera berseru, ”hanya manusia yang tahu dirilah yang dinamakan manusia pintar, ditempat ini hanya ada empat gelintir manusia saja yang sama sekali tidak keracunan, sekalipun memiliki kepandaian silat yang bagaimanapun tingginya. tak mungkin kekuatan yang kalian miliki itu bisa menolong keadaan..."

Huan Khong phu betul-betul marah sekali, sedemikian gusarnya sehingga rambut dan jenggotnya pada berdiri kaku bagaikan landak.

"Blaaammm!" dia menggebrak meja keras-keras, kemudian bentaknya dengan lantang:

"Chin Tay-seng. apa apaan kau ini ? sebenarnya apa yang hendak kau lakukan ?"

Dengan cepat Chin Tay seng menjura, sahutnya sambil tertawa licik:

"Harap Huan congkoan jangan marah-marah dulu, sesungguhnya siaute tidak mempunyai niat jahat walau hanya secuwilpun, apa yang kuminta tak lebih hanyalah persetujuan kiamcu untuk bekerja sama dengan pihak Tok seh sia..." Ban kiam hweecu yang mendengar perkataan itu betul-betul gusar sekali, sampai-sampai sekujur badannya ikut gemetar keras, bentaknya nyaring:

"Chin Tay seng, kau berani berkhianat ?"

"Chin congkoan !" congkoan pedang berpita hijau Buyung Siu turut membentak pula. "apakah obat penawar racunnya berada disakumu.?"

"Asal Kiamcu sudah menyatakan persetujuannya, mereka akan segera menampilkan diri untuk menyerahkan obat penawar racun tersebut."

"Chin tay seng." seru Cho Kiu moay pula dengan suara dingin, "tahukah kau apa dosa dan hukumannya bagi mereka yang berani menghianati perguruan?"

Chin Tay-seng tertawa terbahak-bahak.

"Haahh... haaahh... haaahh... siaute berani berbuat berani bertanggung jawab, cuma sayangnya semua anggota Ban Kiam hwee yang hadir kesini sekarang sudah jatuh ke tanganku semua, mau dibunuh atau dicincang sudah berada ditanganku keputusannya, buat apa kita masih membicarakan soal berkhianat atau tidak."

Berbicara sampai disini, dia lantas menjura kearah Ban kiam hweecu sembari berkata:

"Kiamcu memang hebat sekali, aku yakin kau tentu sudah mengambil keputusan bukan?"

Tiba-tiba Ban Kiam hwecu tertawa cekikikan, kemudian berseru merdu.

"Sayang seribu kali sayang, aku tidak bisa mengambil keputusan dalam persoalan ini."

Gelak tertawanya itu merdu, lembut dan nyaring, tiba-tiba saja berubah menjadi suara seorang gadis. Wi Tiong hong yang menyaksikan hal ini jadi keheranan, tanpa terasa pikirnya:

"Oh, rupanya Ban kiam hwecu adalah seorang gadis !"

Ooo-ooOdwOoo-oooO

MENDADAK saja sekujur badan Chin Tay seng gemetar keras, kemudian serunya dengan perasaan terkejut bercampur tercengang: "Kau... kau bukan Kiam cu!"

"Tentu saja aku bukan Kiam cu !" jawab Ban kiam hwecu dengan cepat.

Sembari berkata tangannya lantas menyeka ke atas wajahnya dan melepaskan selembar topeng kulit manusia dari sana.

Begitu terbukanya topeng kulit manusia itu, maka seketika itu juga Ban kiam hweecu berubah menjadi seseorang yang lain, itulah seleombar wajah bulat telur yang centil dan cantik dengan alis mata yang melengkung, sepasang mata yang besar lagi jeli serta bibir yang kecil mungil, ternyata dia bukan lain adalah Hek bun-kun Cho Kiu moay adanya.

Lantas siapa pula Hek bun kun Cho Kiu moay yang berada disampingnya itu ?

Buru-buru Chin Tay seng menegur ke arah Cho Kiu moay: "Sebenarnya siapakah nona ?"

Cho Kiu moay mendengus dingin. dia segera menyeka pula keatas wajah sendiri serta melepaskan selembar topang kulit manusia.

Begitu topengnya terlepas segera berubahlah raut wajah orang itu, sebab dia memiliki selembar wajah bersemu emas yang ganteng, keren penuh kewibawaan sehingga siapa pun yang memandang jadi keder sendiri. Wi Tiong hong yang menyaksikan semua peristiwa tersebut menjadi tertegun, ternyata Cho Kiu moay yang datang bersamanya sepanjang jalan bukan lain adalah Ban kiam hweecu.

Paras muka Chin Tay-seng berubah sangat hebat, buru-buru dia mundur sejauh dua langkah ke beIakang, kemudian serunya dengan perasaan lerkejut:

"Kau... kau adalah Kiamcu!"

Sebagaimana diketahui, Ban kiam hweecu memiliki kepandaian silat yang tak terlukiskan tingginya, bila dia tidak keracunan maka dengan mengandalkan beberapa orang yang ada didepan mata ditambah pula dengan dua puluhan orang pendekar pedang berpita hitam, tetap masih bukan tandingannya.

Tidaklah heran kalau Chin Tay seng dibuat terkejut, gugup dan gelagapan dengan sendirinya.

Dengan sepasang mata yang amat tajam bagaikan sembilu, Ban- kiam hweecu mengawasi wajah Chin Tay-seng tanpa berkedip, kemudian tegurnya:

"Chin Tay-seng, apakah kau sudah tahu salah !"

Chin Tay-seng mundur dua langkah ke belakang, sesudah dapat menenangkan hatinya dengan paksa dia berkata:

"Sekalipun Kiamcu tidak keracunan, tapi ke empat congkoan dan segenap pendekar pedang yang berada disini telah keracunan semua harap Kiamcu suka berpikir tiga kali sebelum bertindak."

Huan Kong phu segera melompat bangun, kemudian sesudah tertawa terbahak-bahak serunya:

"Haaahh... haaahh... haaah... Chin Tay-seng, kau betul-betul berhati busuk, tapi coba kau lihat sendiri, siapakah diantara kami yang telah keracunan ?"

Sembari berkata dia lantas mengulapkan tangannya kepada ke delapan orang pendekar pedang berpita biru seraya serunya: "Jangan biarkan dia kabur dari sini !"

Ke delapan orang pendekar pedang berpita biru itu mengiakan bersama, bagaikan harimau-harimau yang buas, serentak mereka melompat ke depan dan melakukan pengepungan disekeliling tempat tersebut.

Dua belas orang pendekar pedang berpita putih pun turut berlompatan keluar dari ruangan itu dan berdiri dalam dua barisan dimuka gedung ruangan.

Perubahan yang berlangsung sangat mendadak dan sama sekali diluar dugaan ini disambut oleh Chin Tay-seng bagaikan guntur yang membelah bumi disiang hari bolong, dengan perasaan bingung dan panik dia mengawasi sekejap sekeliling tempat itu, kemudian serunya keras-keras:

"Kalian sudah jelas telah meneguk air teh yang bercampur dengan racun..."

Dari dalam saku-nya Ban kiam hwecu mengeluarkan sebatang pena kemala yang berwarna hijau, kemudian sambil diperlihatkan kepada lawan, ujarnya tertawa terbahak-bahak.

"Haah... hahh... haahh... Semua orang yang datang kemari bersama aku sudah minum air yang bercampur pena Lou bun si terlebih dulu, bahkan racun yang mengeram dalam tubuh Buyung congkoan sekalian pun sudah berhasil dipunahkan, sekarang apabila Ban kiam hwe begitu gampang tertipu dan masuk perangkap, percuma saja kami berdiri dalam dunia persilatan sebagai salah satu kekuatan."

Chin Tay seng benar-benar merasakan sukmanya bagaikan melayang meninggalkan raganya, mendadak dia menjejakkan kakinya ke atas tanah dan buru-buru melarikan diri kedalam lorong rahasia tersebut.

Ban kiam hwecu sama sekali tidak memberi komentar apa-apa, sedangkat semua orang yang hadir disanapun tiada yang bergerak untuk menghalangi jalan perginya. Namun kedua puluh orang pendekar pedang berpita hitam yang berdiri dimulut lorong bukan saja tidak melindunginya untuk melarikan diri, mereka malah memutar pedangnya bersama-sama dua puluhan batang pedang yang berkilauan tajam serentak ditujukan keatas ulu hati Chin Tay seng.

"Harap congkoan berhenti dulu." bentak mereka bersama-sama,

Mimpipun Chin Tay seng tidak pernah menyangka kalau pendekar pedang berpita hitam yang dididiknya selama ini dalam keadaan yang terakhir bisa berbalik mengkhianatinya, dengan perasaan terkesiap ia menjerit:

"Eei, apa-apaan kalian?" Ma koan tojin turut memburu kesitu, serunya pula dengan nada menyeramkan:

"Congkoan toh sudah menyerahkan mereka kepadaku? Tentu saja mereka hanya mendengarkan perintah hamba, barusan hamba telah memberitahukan kepada mereka, sebelum memperoleh perintah hamba. siapapun tak boleh dibiarkan berlalu dari tempat ini. Sekarang congkoan hendak melarikan diri, sudah seharusnya kau memberitahukan dahulu niatmu tersebut kepada hamba, sehingga bamba, sehingga hamba dapat menitahkan kepada mereka untuk segera mengundurkan diri"

"Sekarang kau toh boleh memerintahkan kepada untuk mundur.?" seru Chin Tay seng.

Ma koan tojin membetulkan letak pakaiannya, kemudian berkata: "Congkoan, aku ingin bertanya dulu kepadamu, benarkah

congkoan telah meracuni hamba sekalian?"

"Kau cepat suruh mereka menyingkir, pokoknya aku berjanji akan memberi obat penawar racun untuk kalian."

Ma koan tojin kembali tertawa.

"Sekarang kami sudah tidak membutuhkan obat penawar racun lagi, tadi bukankah congkoan telah menyaksikan hamba sekalian meneguk secawan arak ? Nah, di dalam arak itulah sudah ada campuran Lou bun si yang telah menawarkan racun didalam tubuh kami."

Chin Tay seng semakin gelisah, tapi setelah mendengar ucapan tersebut, saking cemasnya peluh dingin sampai jatuh bercucuran membasahi seluruh tubuhnya, agak gemetar dia berseru:

"To-heng bertiga, masih ingatkah kau. oleh karena jaminan siaute dihadapan Kiamcu, kau baru bisa diangkat menjadi wakil congkoan dalam perkumpulan kami ? Mengapa to heng membalas air susu dengan air tuba ?"

"Dua puluh tahun berselang Huan congkoan memberikan jaminannya dihadapan Kiamcu sebelum kau dapat diterima sebagai congkoan pedang berpita hitam, sekarang bukankah kau pun berkhianat ? Apalagi Kiamcu telah menjanjikan kepada pinto asal mata-mata sudah dapat dilenyapkan maka berbicara soal jasa, pinto masih ada harapan untuk menjadi congkoan !"

"Omintohud !" ujar Thi lohan Kwong beng hwesio pula sambil merangkap tangannya di depan dada, "benar-benar Buddha maha pengasih, kali ini pinceng dan saudara To pasti akan diangkat sebagai wakil congkoan !"

Sekujur badan Chin Tay-seng gemetar keras, matanya berputar liar, tapi semua orang yang hadir disitu hanya tersenyum dan duduk tak bergerak ditempat semula sanbil mengawasi gerak-geriknya.

Kini dimulut lorong sudah berdiri dua puluh jago pedang berpita hitam, diluar gedung berderet sepuluh orang pendekar pedang berpita putih.

Yang jauh tak perlu disinggung, yang dekat dengan dirinya saja sudah terdabat tiga orang pendekar pedang berpita hijau serta belasan orang pendekar pedang berpita hitam.

Walaupun sampai detik ini mereka masih berdiri tak berkutik di tempat masing-masing, namun sorot matanya mengawasi terus gerak-geriknya tanpa berkedip, tampaknya mereka sedang menunggu perintah dari Kiamcu. Paras mukanya segera berubah menjadi pucat keabu-abuan, sorot matanya memancarkan sinar kaget dan ngeri, sedemikian takut dan seramnya dia sehingga hampir saja jatuh tak sadarkan diri.

Mendadak dia memburu ke hadapan Ban kiam-hweecu, kemudian sambil menjatuhkan diri berlutut dan mengangguk- anggukan kepalanya berulang kali katanya:

"Harap Kiamcu maklum, hamba telah berbuat tolol sehingga banyak menyusahkan perguruan, harap Kiamcu sudi mengampuni kesalahan hamba."

Ban kiam hweecu segera tertawa dingin.

"Chin Tay-seng, kau anggap aku akan mengampuni selembar jiwamu ?" jengeknya.

Kembali Chin Tay seng menganggukkan kepalanya berulangkali sehingga keningnya beradu dengan tanah, kembali dia berseru dengan suara gemetar.

"Harap Kiamcu maklum hamba dipaksa untuk berbuat demikian, semua kejadian bukan atas kemauan hamba sendiri, sesungguhnya hamba bukan Chin Tay seng yang sesungguhnya."

Perkataan "hamba bukan Chin Tay seng yang sesungguhnya" ini sungguh berada diluar dugaan semua orang, kontan saja suasana menjadi gempar dan orang-orang yang berada disitu menjadi tertegun.

"Lantas siapakah kau?" tegur Ban Kiam hwee cu kemudian dengan kening berkerut.

Orang yang menyaru sebagai Chin Tay seng itu buru-buru membersihkan obat penyaruan dari wajahnya, setelah itu ujarnya sambil menyembah berulang kali.

"Hamba adalah pendekar pedang berpita hitam Ciu Toa nian." "Sejak kapan Chin Tay seng menitahkan kepada kamu untuk

menyaru sebagai dia?" tanya Huan Kong phu tiba-tiba. "Pagi tadi, diar menyuruh hambat menyaru mukanyqa, kemudian menryekap diri hamba didalam sebuah kamar kosong, barusan dia masuk secara tergopoh-gopoh dan mengajarkan hamba untuk berbicara kemudian hambapun disuruh ke luar dari kamar dan bersandiwara disini. Hamba telah keracunan hingga mau tak mau harus menuruti perintahnya, kejadian ini tak ada hubungannya sama sekali dengan hamba."

"Jadi kalau begitu, orang yang menyambut kami tadi masih yang asli?" seru Huan Kong phu amat gusar. "aaai... tahu begini, seharusnya dia sudah dibekuk sedari tadi"

"Bisa jadi dia masih bersembunyi didalam sana" ujar congkoan pedang berpita putih Lok Im lin. "mari kita menggeledah seluruh loteng dan menyeretnya keluar lebih dulu."

"Chin congkoan adalah manusia yang amat licik" kata congkoan pedang berpita hijau Buyung Siu. "ditinjau dari tindakannya yang menyuruh orang menyaru sebagai dirinya, ini menunjukkan kalau mereka sudah mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya, atau dengan perkataan lain dia takut kita sudah mempersiapkan diri maka dia sendiri bersembunyi di tempat kegelapan sambil mengawasi gerak-gerik kita, tapi sekarang rencananya sudah mengalami kegagalan total, aku yakin dia pasti sudah merat dan menyelamatkan diri."

Huan Kong pho bertepuk tangan keras-keras sambil berseru pula. "Betul, baik didepan bukit maupun dibagian belakarg bukit,

seluruhnya terdapat sembilan buah jalan tembus..."

Belum habis dia berkata, tiba-tiba nampak seorarg pendekar pedang berpita putih lari masuk dengan tergopoh-gogoh, kemudian setelah memberi hormat katanya:

"Lapor congkoan, menurut laporan yang datang dari pos penjagaan sebelah barat, dikatakan ada dua puluhan orang pendekar pedang berpita hitam sedang melarikan diri ke arah barat, sekarang menanti perintah selanjutnya." Congkoan pedang berpita putih Lok im lim segera berseru

"Apa yang diucapkan saudara Buyung memang betul, dia benar- benar melarikan diri"

Huan Kong phu segera melompat bangun, kemudian bentaknya keras-keras:

"Ayo kita kejar . . ."

Ban kiam hweecu segera menggoyangkan tangannya berulang kali, ujarnya dengan tenang:

"Chin Tay seng tidak bakal bisa meloloskan diri."

Kemudian setelah berhenti sejenak, sambungnya lebih jauh:

"Bila dugaanku tidak salah, musuh tangguh akan segera mendesak tiba."

"Kiamcu maksudkan orang-orang dari Tok-seh sia ?" tanya Huan Kong phu.

Ban Kiam hweecu manggut-manggut.

"Betul, bisa jadi mereka akan melancarkan serangan secara besar-besaran terhadap kita."

"Datang tentara kita hadang dengan panglima, datang air bah kita bendung dengan tanah, Memangnya kita harus takut terhadap orang-orang Tok seh sia ?"

Dengan sorot matanya yang tajam bagaikan sembilu Ban kiam hweecu mengawasi sekejap semua orang yang hadir disana kemudian katanya.

"Tak mungkin dua jagoan akan hidup berdampingan, cepat atau lambat bentrokan kekerasan antara Ban kiam hwee dengan Tok seh sia bakal terjadi juga, tapi hari ini kita semua sudah meneguk air pemunah racun dari Lou bun si, jadi serbuan mereka pada hari ini sesungguhnya merupakan hari yang paling menguntungkan untuk kita" Kemudian setelah berhenti sejenak, dia berkata Iebih jauh: "Kalau toh hari ini merupakan hari yang paling menguntungkan

buat kita, sedangkan kita pun sudah mengikat tali permusuhan yang lama dan dalam dengan pihak Tok seh sia, mengapa tidak kita manfaatkan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya untuk melukai musuh sampai seakar-akarnya?"

"Ucapan kiamcu memang benar, kalau kita tak menghajar mereka sampai kalang kabut, dianggapnya Ban kiam hwee kita hanya terdiri dari manusia tempe belaka!"

Buyung Siu tersenyum.

"Aku pikir, Kiam cu pasti mempunyai cara yang paling bagus untuk mematahkan serangan musuh?"

"Sebenarnya aku sudah mempunyai suatu rencana yang matang, tapi setelah menduga datangnya serangan musuh pada hari ini secara besar-besaran, aku pikir, rencana aku semula mungkin sudah tidak begitu baik lagi "

Mendadak dia menutup mulutnya sambil berpaling ke arah Ciu Toa nian yang menyaru sebagai Chin Tay-seng, setelah itu tegurnya lagi:

"Bukankah kau mengharapkan aku mengampuni selembar jiwamu..?"

Ciu Toa-nian yang berdiri di samping buru-buru menjatuhkan diri berlutut, sambil menyembah berulang kali serunya:

"Berbesarlah jiwa kiamcu, ampunilah selembar nyawaku. "

"Bagus sekali, sekarang aku mempunyai satu tugas yang harus kau lakukan, asal tugas tersebut dapat kau laksanakan dengan baik, maka jasa tersebut dapat pakai untuk menebus dosamu."

"Hamba siap menunggu perintah dari Kiamcu"

"Kau tetap menyaru sebagai Chin Tay seng, bawalah dua puluh orang jago pedang berpita hitam dan senja nanti berangkat ke kuil Sik jin tian, bekuk Chin Tay seng serta dua puluh penghianat tersebut"

Pucat pias selembar wajah Ciu Toa nian sesudah mendengar perkataan itu, serunya dengan cepat:

"llmu silat yang Chin congkoan miliki sangat lihay, bagaimana mungkin hamba dapat menandingi kepandaiannya ?"

Ban kiam hwee cu tersenyum.

"Benar saja, aku akan mengutus Khong beng taysu dan To Sam- seng dua orang huhoat untuk berangkat bersamamu, bagaimana ?"

Ciu Toa nian segera memperlihatkan sikap keberatan, dia seperti ingin mengucapkan sesuatu lagi.

Belum sempat dia berbicara, Thi lohan Khong beng taysu dan Naga tua berekor botak To Sam seng sudah membungkukkan badannya seraya berkata:

"Hamba akan turut perintah !"

Terpaksa Ciu Toa nian harus mebmbungkukkan pulda badannya membaeri hormat, katbanya kemudian.

"Bila dua orang huhoat bersedia menemani kami, tentu saja hamba pun akan bersedia melaksanakan perintah kedua orang huhoat."

"Bukan begitu" tukas Ban kiam hwee cu sambil menggeleng, "Kau toh sedang menyaru sebagai Chin Tay seng, maka kedudukanmu masih tetap merupakan congkoan pita hitam, kedua orang huhoat tersebut tidak lebih hanya membantumu menangkap orang, jadi segala kekuasaan masih tetap berada ditanganmu."

Ciu Toa nian memandang sekejap ke arah Thi lohan dan naga tua berekor botak, kemudian kemudian ujarnya ketakutan:

"Hamba tidak berani . . ."

"lni merupakan perintahku, jadi kau cukup melaksanakan perintah saja." Ciu Toa nian mengiakan berulang kali dan segera mengundurkan diri ke samping.

Huan Kong phu, Buyung Siu dan Lo In lim tiga orang congkoan serta Wi Tiong hong yang menyamar sebagai congkoan pedang berpita merah jadi keheranan sekali setelah menyaksikan kejadian tersebut . . .

Padahal disitu hadir banyak jago lihay, mengapa Kiamcu tidak memilih orang Iain sebaliknya malah mengutus Ciu Toa nian untuk memburu Chin Tay seng?

Sambil tersenyum Ban Kiam hweecu berkata. "tapi oleh karena congkoan pedang berpita hitam Chin Tay seng telah menghianati perkumpulan, maka kedudukan sebagai congkoan bisa dijabat oleh Ma Koan toheng, sedangkan Khong beng taysu dan saudara To boleh menjadi wakilnya."

Buru-buru Ma koan tojin berseru sambil memberi hormat:

"Harap Kiamcu maklum, hamba belum lama bergabung dengan perkumpulan, hamba kuatir kemampuanku masih terbatas sehingga tak mampu menanggung tugas berat ini"

Ban Kiam hweecu kembali tertawa.

"Kalian bertiga sudah lama termashur dalam dunia persilatan, aku pikir untuk menjabat sebagai congkoan pedang berpita hitam masih lebih dari cukup, harap toheng tak usah menampik lagi. . ."

Huan Kang phu trertawa terbahak-bahak, dengan cepat timbrungnya dari samping:

"To heng, kionghi untukmu, kalau toh Kiamcu sudah berkata demikian, kalian bertiga pun tak usah merendah lagi."

Buyung Siu sekalian segera maju ke muka dan bersama-sama memberi selamat.

Ma koan tojin dan Thi lohan serta Naga tua berekor botak buru- buru balas memberi hormat sambil mengatakan tidak berani. "Malam ini, bila ada musuh tangguh melancarkan serangan" kata Ban kiam hweecu kemudian, "Ma koan tojin boleh memimpin segenap jago pedang berpita hitam yang ada untuk melindungi ruangan ini, harap perintah ini dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.

. ."

Sambil berkata dia mengelus jenggotnya dan berpaling ke arah Ma koan tojin, sementara bibirnya bergerar membisikan sesuatu, agaknya bagian yang paling rahasia disampaikan dengan ilmu menyampaikan suara.

Ma koan tojin segera membungkukkan badan memberi hormat, sahutnya cepat:

"Hamba akan turut perintah."

Ban kiam hweecu segera berpaling kembali, kepada congkoan pedang berpita putih Lok-In In, katanya:

"Lok congkoan !"

Dengan cepat Lok Im lin melompat bangun sambil menyahut. "Siap !"

"Kau boleh memimpin segenap jago pedang berpita putih berangkat meninggalkan tempat ini, sebelum senja menjelang tiba, kau harus sampai di Poan kiau phu sebelah tenggara bukit Pit bu san untuk menanti perintah."

Kemudian dengan ilmu menyampakkan suara kembali dia membisikkan sesuatu yang rahasia"

Buru-buru Lok In lin membungkukkan badannya memberi hormat.

"Hamba siap menerima perintah."

Kemudian Ban kiam hwecu berkata pula kepada congkoan pedang berpita hijau Buyung Siu:

"D barat dari bukit Pit bu san terdapat sebuah tempat yang bernama Ciang sucia, jaraknya tujuh delapan Ii dari sini, harap Buyung congkoan memimpin segenap jago pedang berpita hijau untuk berangkat ke situ dan tiba sebelum senja."

Selesai berkata, lagi-lagi dia berkemak-kemik dengan mempergunakan ilmu menyampaikan suara.

Buyung Siu segera membungkukkan badan dan memberi hormat sambil menyahut: "Hamba terima perintah"

"Bila dugaanku tidak keliru" ujar Ban kiam hwecu lebih jauh, "di sebelah timur laut sana? daerahnya paling terpencil dan sepi, apabila orang-orang Tok seh sia hendak melakukan serangan secara besar-besaran, maka besar kemungkinan mereka akan mempergunakan jalan tersebut sebagai jalan mundurnya apabila menderita kekalahan."

"Perkataan kiamcu tepat sekali, tempat itu memang sebuah kompleks tanah pekuburan.

Ban kiam hwecu manggut-manggut, kepada Huan Kong phu dia segera berseru:

"Huan congkoan boleh memimpin segenap anak buahmu untuk mempersiapkan perangkap diatas sebelum senja nanti, jangan kau lepaskan seorang manusia pun"

Tentu saja selesai berkata dia pun berkemak kemik mengirim pesan dengan ilmu menyampaikan suara.

Mencorong sinar tajam dari balik mata Huan Kong phu setelah mendengar bisikan itu, serunya sambil tertawa terbahak-bahak.

"Haah . . haah. . haah... bila hamba membiarkan seorang saja diantara mereka berhasil lolos, hamba bersedia menerima hukuman yang paling berat dari Kiamcu."

"Hasil dari pertarungan malam ini mempunyai pengaruh yang amat besar, walaupun saat ini hari masih siang, namun aku harap semuanya mulai bersiap sedia"

Berbicara sampai disitu, dia lantas berpesan kepada ketiga oarang pendekar pedang berpita hijau. "Kalian simpan benda itu dimana ?"

"Tinggal diruang depan dan dijaga secara bergilir oleh jago pedang berpita putih." sahut seorang pendekar pedang berpita hijau sambil membungkukkan badannya.

"Bagus sekali, sekarang kalian boleh menggotongnya masuk ke dalam . . ."

Ketiga orang jago pedang berpita hijau itu mengiakan dan bersama-sama menuju ke ruang depan.

Tak selang berapa saat kemudian, muncul tiga orang ke dalam ruangan itu, seorang membawa pedang terhunus melakukan perlindungan sementara dua orang yang lain menggotong masuk sebuah karung goni besar.

Tiada seorang pun yang tahu apa isi karung goni tersebut, Ciu Toa nian yang berdiri disamping pun hanya bisa melirik sekejap ke arah karung tersebut dengan diam, sebelum mereka turunkan karung goni itu ke atas tanah, Ban-kiam hweecu telah memerintahkan kembali:

"Kirim dia ke dalam kamar beristirahatku!"

Tiga orang pendekar pedang berpita hijau itu mengiakan dan segera melanjutkan perjalanannya menelusuri lorong rahasia.

"Kiong congkoan, harap ikut aku masuk ke dalam" ucap Ban kiam hweecu kemudian sambil berpaling ke arah Wi Tiong-hong.

Selesai berkata, dia membalikkan badan dan berjalan masuk ke dalam lorong.

Wi Tiong hong menerima perintah dan mengikuti dibelakang Ban kiam hweecu, sedangkan ke empat dayangnya menyusul dibelakang Wi Tiong hong.

Mereka bersama-sama menelusuri lorong rahasia dan memasuki ruang tamu Ban kiam hwee-cu yang indah dan mungil itu. Dalam pada itu, ke tiga orang pendekar pedang berpita hijau tadi sudah meletakkan karung goni tersebut keatas lantai.

Sambil mengangkat kepalanya Ban kiam hwee-cu segera memerintahkan:

"Sekarang kalian boleh berjaga di depan pintu, entah siapa pun, sebelum memperoleh ijinku dilarang masuk ke dalam"

Para pendekar pedang berpita hijau itu mengiakan dan segera mengundurkan diri.

Sepeninggal orang-orang itu, Ban kiam hweecu baru menjura kepada Wi Tiong hong sambil berkata.

"Saudara Wi, silahkan duduk sebentar siaute akan berganti pakaian lebih dulu sebelum menemani saudara lagi"

"Betul" kata Hek bun kun Cho Kiu moay pula sambil tertawa merdu, "hamba pun merasa sesak sekali dan kurang leluasa mengenakan pakaian ini, lebih baik bertukar pakaian dulu."

Hingga detik ini, Wi Tiong hong masih belum mengetahui sesungguhnya Ban kiam hweecu seorang pria atau wanita?, dia merasa orang ini adalah seorang yang sangat misterius.

Buktinya ketika ia menyamar sebagai Hek bun kun Cho Kiu moay, mungkin Cho Kiu moay sendiripun kalah luwes dan lemah gemulai ketimbang dia.

Apalagi sewaktu menyamar sebagai Soat ji si nona dusun, pada hakekatnya mirip sekali dengan seorang nona dusun sungguhan.

Tapi begitu dia pulih kembali kedudukannya sebagai Ban kiam hwecu, kewibawaan dan keangkerannya segera pulih kembali, bahkan setiap perintahnya dapat membuat semua orang tunduk dan takluk.

Tapi ketika ia bersikap sebagai sahabat terhadap dirinya ternyata gayanya berbeda lagi, senyumannya kelihatan jauh lebih lebar dan cerah. Berpikir demikian, untuk beberapa saat lamanya dia memandang wajah Ban kiam hwecu dengan tertegun, untuk beberapa saat lamanya dia sampai lupa menjawab.

Ban kiam-hweecu segera tersenyum, katanya: "Saudara Wi, silahkan duduk !"

Pelan-pelan dia berjalan masuk kedalam kamar, sedang Hek bun kun Ciu Kiu moay juga segera menyusul dibelakangnya.

Wi Tiong hong merasakan pipinya menjadi panas, cepat dia mengambil bangku dan duduk.

Seorang dayang muncul menghidangkan air teh, sambil disodorkan ke hadapannya ia berbisik:

Buru-buru Wi Tirong hong bangkit berdiri.

"Terima kasih banyak nona Jin, aku tak berani menerima penghormatanmu ini" serunya tersenyum.

Jin Kiam moay segera mengerdipkan matanya berulang kali, kemudian serunya agak tercengang: "Sauhiap, kau kenal aku ?"

Lim Thian moay yang berdiri disisinya segera mencibirkan bibir sambil berseru:

"Yaa betul, Wi sauhiap sudah lama kenal denganmu.”

Merah padam selembar wajah Jin Kiam moay, diam-diam dia mendesis Iirih.

Wi Tiong hong segera berkata:

"Empat dayang pribadi Ban-kiam-hweecu sudah termashur namanya dalam dunia persilatan, siapa bilang aku tidak mengenalnya."

Sementara pembicaraan masih berlangsung Hek bun kun Cho Kiu moay sudah berganti pakaian berwarna hitam gelap dan munculkan diri dalam ruangan. "Toaci, sejak kapan kau kenal dengan Wi sauhiap?" tanya Lim Thian moay kemudian.

Cho Kiu moay melirik sekejap kearah Wi Tiong hong, lalu sahutnya sambil tertawa: "Sudah sejak lama aku kenal dengannya."

Jawaban mana kontan saja menimbulkan gelak tertawa cekikikan dari Kiam moay, Kho Hui moay dan Lim Thian moay bertiga.

Merah padam selembar wajah Cho Kiu moay mendengar gelak tertawa tersebut, segera bentaknya:

"Hei, apa sih yang menggelikan?"

Sementara itu Ban-kian-hweecu sudah berganti pakaian kebesaran dan keluar dari kamar dengan langkah lebar, setelah duduk di kursi kebesaran, katanya sambil menuding ke arah karung goni besar itu:

"Coba kalian bebaskan orang itu"

"Didalam berisi orang? siapakah dia?" seru Cho Kiu moay keheranan.

Kho Hui moay dan Lim Thian moay sudah maju ke depan membuka tali pengikat karung goni itu, dari dalamnya mereka menyeret keluar seseorang.

Dengan mata terbelalak lebar Cho Kiu moay segera berseru: "Aaaah, rupanya Hek sat seng Sah Thian yu, Kiam cu! Kau

berhasil membekuk Sah Thian yu?"

(Agar pembaca tidak bingung perlu kami jelaskan bahwa Cho Kiu moay yang memantek Ma koan tojin dipintu serta membekuk Sah Thian yu di rumah petani tempo hari sesungguhnya adalah hasil penyaruan dari Ban kiam hwecu, sedang Cno Kiu moay yang asli menyaru sebagai Ban kiam hwecu gadungan dan tetap berada di bukit Pit bu san.) Diam-diam Wi Tiong-hong mengangguk, dia sudah menduga kalau isi karung goni itu adalah Sah Tbian yu, tapi siapa pula Sah Thian yu yang menerjang pintu dan melarikan diri tempo hari..?

Mendadak dia teringat akan seseorang, jangan-jangan Sah Thian-yu yang melarikan diri tempo hari adalah hasil penyaruannya .

Siapakah orang itu? Tak ada salahnya pembaca menerka sendiri, jawaban akan diketahui pada bagian lain.

Sementara itu Ban kiam hwecu sudah mengangkat cawan air teh dan meneguk secegukan, kemudian pelan-pelan dia berkata:

"Bebaskan jalan darahnya"

Kho Hui moay menurut dan segera membebaskan seluruh jalan darah Sah Thian yu yang tertotok, kemudian dengan gerakan cepat ke empat dayang itu balik kembali ke kedua belah sisi Ban Kiam hwe cu sambil bersiap sedia.

Hek sat seng Sah Thian Yu segera menggerakkan ke empat anggota badannya dan membuka matanya kembali, setelah duduk dan memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu mendadak dia mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.

Ke empat dayang dari Ban Kiam hweecu sudah tahu kalau Sah Thian-yu adalah salah satu di antara empat racun Su tok thian ong, ilmu silatnya lihay sekali.

Maka secara diam-diam mereka telah membuat persiapan secara diam-diam, asalkan dia berniat melakukan perlawanan maka dia akan segera turun tangan.

Sah Thian yu tertawa terbahak-bahak sambil menjura ujarnya: "Rupanya siaute sudah diundang oleh perkumpuan kalian,

tempat ini gelap dan tidak nampak sinar matahari, kalau dugaanku tak salah, seharusnya tempat ini adalah perut bukit Pii bun san.."

Mau tak mau Wi Tiong hong harus mengangguk juga setelah menyaksikan gembong iblis itu begitu sadar lantas dapat berbincang-bincang dengan santai pikirnya: "Tua bangka ini benar-benar seorang manusia yang luar biasa." "Sah totiang, silahkan duduk" kata Ban kiam hwecu kemudian

sambil bangkit berdiri dan menjura.

Tanpa sungkan-sungkan Sah Thian yu duduk di sebuah kursi persis di hadapan Wi Tiong hong.

Lim Thian moay segera maju dan menuangkan secawan air teh baginya.

"Aku sering mendengar orang bilang empat dayang yang mengiringi Ban kiam hweecu memiliki ilmu pedang yang luar biasa, nama harumnya termashur dalam dunia persilatan, tak berani aku merepotkan nona untuk menuangkan air teh bagiku."

"Setelah Sah totiang sampai disini, berarti kau adalah tamu agung kiamcu kami."

Sah Thian yu segera tertawa terbahak-bahak.

"Haahahaha. . . kalian berani membebaskan jalan darah siaute dikarenakan banyak orang hadir disini dan tidak kuatir siaute melarikan diri, apa lagi diluar ruangan banyak tersebar barisan yang sakti dengan perangkap yang bersusun-susun.

"Sekalipun aku orang she Sah ingin kabur sekali pun, tidak mungkin bisa lolos dari sini dengan selamat. Nona masih menyebutku sebagai tamu agung, padahal dalam kenyataan aku orang she Sah tidak lebih hanya tawanan kalian, bukankah demikian?"

Berbicara sanpai disini dia lantas berpaling kearah Cho Kiu moay dan serunya menjura:

"Nona Cho memang berilmu tinggi, buktinya siaute pun berhasil kau tangkap dalam keadaan hidup, siaute benar-benar merasa kagum sekali."

Cho kiu moay segera tertawa terkekeh sesudah mendengar perkataan itu, serunya: "Dugaan Sah lotiang kali ini salah besar, aku pernah mencoba kepandaian silatmu selagi berada diperusahaan An wan piau kiok. Dengan mengandalkan kepandaiaanku ini, bagaimana mungkin aku mampu membekuk lotiang dalam keadaan tangan kosong belaka?"

"Kalau bukan nona Cho, lantas siapa dia?"

"Orang itu adalah Kiamcu kami." kata Cho Kiu moay sambil tertawa ringan.

Sah Thian yu segera mengalihkan sorot matanya yang penuh keheranan itu kearah Ban kiam hwee cu, kemudian sahutnya sambil manggut-manggut:

"Ya betul, hanya Kiamcu pun berapa gelintir manusia saja yang mampu membekuk siaute dengan tangan kosong belaka dalam dunia persilatan dewasa ini."

Ban kiam hweecu tersenyum. "Saudara Sah terlalu memuji." "Hwecu... kau berhasil membekuk siaute, jalan darahku sudah

kau bebaskan pula, sebenarnya kau ingin menanyai diriku ataukah masih ada petunjuk yang lain?"

Ban kiam hweecu tertawa hambar.

"Barusan pihak Tok seh sia telah mengirim surat yang isinya mengajak siaute bekerja sama."

Berbicara sampai disini sengaja dia berhenti berbicara.

Di singgung kembali oleh ketuanya, Cho Kiu moay baru teringat pula kalau surat tersebut ditanda tangani pula oleh Sah Thian yu, hal ini membuatnya keheranan sehingga mengalihkan sorot matanya kewajah Sah Thian yu.

Hanya Wi Tiong-hong yang memahami hal yang sebenarnya, sekulum senyuman segera menghiasi wajahnya.

Berkilat sepasang mata Sah Thian yu. katanya sambil tertawa seram: "Bila hweecu mau bekerja sama dengan pihak kami, jelas hal ini merupakan suatu kejadian yang baik, apakah hweecu telah menyetujui usul mana?"

Dari nada pembicaraannya, sudah kedengaran kalau dia merasa amat bangga.

"Ucapan saudara Sah memang betul, kerja sama memang sesuatu yang baik cuma orang-orang Ban kiam hwee tidak sudi ditekan atau ditindas orang lain"

"Yaa, tentu saja" sengaja Sah Thian yu berseru, "anak buah hwecu kan semuanya merupakan jago-jago pedang kelas satu dalam dunia ini-tentu saja kalian tak sudi ditindas atau ditekan orang lain"

Pelan-pelan Banr kiam hwecu berkata:

"Pihak kalian telah menrgirim orang untuk meracuni orang-orang kami, bukan saja semua jago pedang berpita hijau yang berada di bukit Pit bu san keracunan, para jago pedang berpita putih dan merah yang datang memberi bantuanpun ikut menderita celaka."

Mendengar sampai disini, Sah Tnian yu tak kuasa menahan rasa bangganya lagi, dia tertawa terbahak-bahak.

"Jadi maksud hweecu aku hendak dijadikan sebagai sandera untuk memperoleh obat penawar atau kah ingin memaksa siaute untuk menyerahkan obat penawar tersebut?"

"Semuanya bukan" jawab Ban kiam hweecu tenang, ”siaute hanya curiga jangan-jangan aku sudah salah menangkap orang, siapa tahu kau bukan Sah Thian yu yang sesungguhnya, maka aku ingin bertanya sampai jelas?"

Bergetar keras seluruh badan Sah Thian yu setelah mendengar ucapan tersebut. serunya:

"Mengapa hwecu berkata demikian?"

Dari sakunya Ban kiam hwecu mengeluarkan sepucuk surat dan diangsurkan ke depan, peIan-pelan katanya: "Aku curiga karena di atas surat ini pun tercantum nama dari Sah Thian-yu"

Sah Thian yu menerima surat itu dan dibacanya sejenak, kemudian dengan wajah keheranan dan curiga dia bergumam seorang diri.

"Aneh, siapakah orang ini ? Yaa... sungguh mengherankan, siapakah orang ini ?"

Siapakah orang yang telah menanda tangani surat dengan mencatut nama Sah Thian yu ? Atau mungkin orang ini adalah Sah Thian yu gadungan ?

Untuk mengetahui keadaan yang lebih jelas tentang hal ini serta untuk mengetahui kisah selanjutnya tentang Wi Tiong hong, silahkan baca lanjutannya dalam cerita:

PERSEKUTUAN PEDANG SAKTI 

T A M A T