-->

Pedang Karat Pena Beraksara Jilid 24

Jilid 24

SESUDAH TERTAWA SERAM, tegurnya: "saudara cilik, siapakah ketiga orang ini?"

Tidak sampai Wi Tiong-hong menjawab, Kakek Ou sudah menyela sambil tertawa seram. a!" "Sobat, lebih baik kau menyebubtkan dulu asal dusulmu sendiri

"Hmmmm... sudah banyak tahun lohu tak pernah berkelana dalam dunia persilatan sekalipun kuutarakan juga belum tentu sobat ketahui.."

Mendadak mencorong sinar tajam dari balik mata kakek Ou, katanya sambil tertawa terbahak-bahak:

"Haaahh... haaaah... haaahh... bagus sekali kalau begitu, lohu pun sudah banyak tahun tak pernah berkelana dalam dunia persilatan, apakah sahabat pernah mendengar nama Kim pit-ciang (Panglima berlengan emas) yang menjaga pintu langit selatan ? Nah itulah lohu."

Panglima berlengan emas Ou Huan yang bertugas menjaga pintu langit selatan adalah petugas yang menjaga jalan utama menuju ke Lam-hay, sejak Lam-hay-bun menderita serbuan dari Ban kiam hwee dan menderita korban amat banyak, pihak Lam hay bun kuatir kalau partai lain dilain dunia persilatan memanfaatkan kesempatan itu untuk melancarkan serbuan lagi, maka dijalan utama menuju ke Lam hay tersebut diberi petugas yang berfungsi untuk menahan serangan.

Waktu itu, tidak sedikit jagoan kenamaan dari dunia persilatan yang menderita kekalahan diujung telapak tangannya, karena kelihayan llmu silatnya maka dia disebut orang sebagai panglima berlengan emas...

Begitu mendengar nama panglima berlengan emas dari pintu langit selatam kakek berbaju hijau itu berkerut kening, namun tidak menunjukkan perubahan apa-apa diatas wajahnya yang menyeramkan, serunya kemudian dengan tertawa seram:

"Ooh, rupanya Ou lotoa, siapa pula kedua orang ini ?" Kam Liu cu segera tertawa bergelak.

"Hiaah, haah, haaah, Kam Liu cu dan Liu Leng-poo dari Thian sat bun, sudah pernah mendengar namaku ?" jawab Kam Liu cu Kakek berjubah hijau itu segera berpikir:

"Thian Sat nio merupakan tokoh persilatan yang paling sukar dihadapi dalam dunia persilatan dewasa ini, heran, mengapa orang Lam hay bun bisa muncul bersama dengan orang-orang dari Thian sat bun ?" katanya kemudian

Berpikir sampai disitu, dia tertawa seram, lalu sambil berpaling ke arah Wi Tiong hong kemudian tanyanya dengan tenang.

"Saudara cilik apakah mereka datang karena mutiara Ing-kiam-cu serta Lou bunsi itu?"

"Hmm! Kau sendiri baru datang untuk mendapatkan mutara Ing kiam cu serta Lou bun si tersebut!"

Bersamaan dengan berkumandangnya suara ejekan merdu itu, dari balik hutan disebelah kiri berjalan keluar seorang gadis berbaju hijau yang bermata amat jeli.

Sambil berjalan mendekat, kembali gadis itu berkata

"Empek Ou, siapa sih orang ini? Dia menghadang jalan pergi Wi sauhiap, sudah jelas tidak bermaksud baik, buat apa kau mesti banyak berbicara dengan manusia semacam ini?

Dibelakang gadis berbaju hijau itu mengikuti empat orang lelaki berbaju coklat, kening mereka rata-rata pada menonjol amat tinggi, sudah jelas kepandaian silat yanng dimiliki orang-orang itu lihay sekali.

Berkilat sepasang mata kakek berjubah hijau iiu, serunya kemudian sambil tertawa terbahak-bahak:

"Haaahh... haaaah... haaaah... lohu adalah sahabat ayahnya, masa aku akan mengincar benda miliknya? kalau toh kalian mencurigai lohu sebagai manusia bermaksud jelek, baiklah, lebih baik lohu akan mohon diri lebih dulu, dengan begitu tentunya kalian boleh berlega hati bukan?"

Begitu selesai berkata, tanpa menunggu jawaban dari semua orang lagi, dia mengulapkan badan dan berlalu dari situ. Disaat dia beranjak pergi dari situ itulah mendadak Wi Tiong hong mendengar serentetan suara yang lembut berkumandang disisi telinganya.

"Saudara cilik, ayahmu masih hidup didunia ini. lohu tentu akan mengirim orang untuk memberi kabar padamu."

Wi Tiong hong merasakan hatinya bergetar keras, buru-buru dia mengangkat kepala sambil berseru.

"Lotiang, harap tunggu sebentar!"

Tapi ditengah gelapnya suasana, bayangan tubuh dari sikakek berjubah hijau itu sudah lenyap tak berbekas.

Bahkan empat orang kakek berjubah hijau dan delapan kakek berjubah abu-abu yang berdiri luar rumah gubuk pun, kini lenyap tak berbekas.

Sekalipun Wi Tiong hong tidak tahu apakah ayahnya benar-benar masih hidup didunia ini, namun hatinya gelisah juga setelah mendengar kabar tersebut.

Baru saja ia akan melakukan pengejaran, Kam Liucu segera menariknya sambil menegur.

"Saudara Wi. apa gunanya kau menyusulnya?"

"Tadi, dia bilang ayahku masih hidup didunia ini, maka aku hendak menanyakan persoalan ini hingga jelas."

Dengan lemah gemulai Su Siau htui berjalan mendekat pula, kemrudian tanyanya sambil tesenyum.

"Wi saubiap, apakah kau kenal dengannya." "Tidak aku tidak kenal." pemuda itu menggeleng. Kam Liu cu segera tertawa tergelak.

"Haaah... haaah... haaaah... bila saudara Wi-tidak kenal dengan orangnya, ini berarti apa yang dia katakanpun tak boleh dipercaya dengan begitu saja." "Betul" sambung Su Siau hui lagi, "orang itu berwajah licik dan tipu muslihatnya. manusia semacam ini sudah pasti bukan orang baik-baik."

Setelah berpaling kembali dia menambahkan:

"Empek Ou, tahukah kau tentang asal usul dari orang itu?" Kim pit ciang Ou Han menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Orang ini belum pernah kujumpai didalam dunia persilatan." sahutnya cepat.

"Betul." kata Kam Liu cu pula. "akupun belum pernah berjumpa dengan orang ini."

"Menurut dugaan siaumoay, besar kemungkinan kalau orang ini berasal dari selat Tok seh sia" timbrung Liu Leng poo tiba-tiba.

Wi Tiong hong termenung beberapa saat lamanya, setelah itu katanya lagi:

"Tapi kalau didengar dari apa yang dia katakan, rasanya ada juga bagian-bagian yang dapat dipercaya."

Llu Leng po mendengus dingin.

"Tentu saja Thian yu telah menceritakan keadaanmu yang sebenarnya kepadanya, untuk mengarang sebuah cerita, memangnya kau anggap susah ?"

Su Siau hui memandang sekejap kearah Wi Tiong-hong, kemudian bertanya:

"Wi sauhiap, sebenarnya kau hendak kemana ?"

OooodOwoooO

SETELAH mendengar perkataan dari kakek berjubah hijau itu. hasrat Wi Tiong hong untuk menemukan paman tanpa namanya semakin besar, mendengar pertanyaan tersebut dia lantas menyahut. "Hingga kini, asal usulku masih belum jelas maka aku ingin mencari seorang pamanku untuk menanyakan tentang masalah ini. Terima kasih banyak atas bantuan dari nona Su, Ou lotiang, saudara Kam dan nona, kebaikan kalian pasti akan selalu kuingat di dalam hati, baiklah untuk sementara waktu aku ingin mohon diri lebih dulu."

Selesai berkata, dia lantas menjura kepada semua orang, kemudian membalikkan badan dan berlalu dari sana.

Memandang bayangan punggung sang pemuda yang menjauh, Su Siau-hui nampak amat murung, serunya kemudian sambil mendepak-depakkan kakinya ke atas tanah.

"Empek Ou, mari kitapun pergi !"

Selesai berkata dia beranjak pergi lebih dulu menuju ke hutan pohon liu itu.

Angin malam berhembus lewat mengibarkan ujung gaunnya, tapi dia berjalan terus dengan kepala tertunduk, dari sikap mau pun gerak-geriknya bisa diketahui kalau dia sedang diliputi rasa sedih dan murung amat tebal.

Kakek Ou segera membungkukkan badan dan mengikuti dibelakangnya, sementara ke empat orang lelaki berbaju coklat itu mengikuti dibelakang kakek Ou, mereka semua membungkam dalam seribu bahasa, siapa pun tidak mengucapkan sepatah katapun

Tak selang berapa saat kemudian, beberapa orang itupun sudah pergi jauh.

Memandang bayangan punggung orang-orang itu, Liu Leng-poo menghela napas panjang, gumamnya kemudian:

"Aai, sam moay telah bertemu dengan musuh tangguh !" Mendengar ucapan mana, Kam Liu cu segera tertawa.

"Jika persoalan semacam ini yang dihadapi, jangan harap orang lain bisa membantunya lagi" dia berkata. Liu Leng poo kembali mendengus.

"Hmm, tindakan suhu menyuruh sam moay mengikuti Thian ti tiau sia benar-benar merupakan suatu tindakan yang keliru besar l"

Setelah berpamitan dengan So Siau hui dan Kam Liu cu sekalian, Wi Tiong hong melanjutkan perjalanannya dengan cepat, dalam waktu singkat dia sudah menempuh perjalanan sejauh enam tujuh li.

Mendadak kepalanya terasa pusing sekali, menyusul kemudian badannya jadi lemah dan robohlah tubuhnya ke atas tanah.

Baru saja Wi Tiong hong roboh bke tanah, dari dbelakang tubuhnya segera muncul belasan sosok bayangan hitam yang meluncur mendekati dengan kecepatan luar biasa.

Bayangan hitam yang melayang turun disamping tubuh Wi Tiong hong itu berjumlah enam belas orang, mereka adalah lelaki berbaju ringkas berwarna hijau yang menggembol pedang semua.

Begitu mencapai permukaan tanah, serentak orang-orang itu menyebarkan diri disekeliling pemuda tersebut dan berdiri dengan tangan memegang pada gagang senjata.

Salah satu diantaranya segera berjongkok disamping Wi Tiong hong dan meneliti dengan seksama, beberapa saat kemudian ia lalu menghembuskan napas panjang, bangkit berdiri disitu dengan tangan diluruskan ke bawah, seakan-akan sedang menantikan kedatangan dari seseorang...

Tak selang berapa saat kemudian muncul kembali seorang sastrawan berpedang yang mengenakan jubah berwarna hijau. dengan langkah kaki yang enteng dan cepat dia bergerak mendekat.

Ternyata orang itu tak lain adalah congkoan pasukan pedang berpita hijau dari perkumpulan Ban-kiam-hwee. Pau kiam suseng (sastrawan membawa pedang) Buyung Siu adanya.

Enam belas orang jago pedang berpita hijau itu serentak membungkukkan badan memberi hormat. Buyung Siu memandang sekejap sekeliling tempat itu kemudian tegurnya:

"Apakah Wi sauhiap telah menderita suatu luka parah ?"

Jago pedang yang berdiri disisi Wi Tiong hong itu segera membungkukkan badannya, kemudian menjawab sambil tertawa:

"Diatas badan Wi sauhiap tidak dijumpai cedera atau luka apapun, tampaknya dia keracunan kini kesadarannya telah hilang dan berada dalam keadaan pingsan."

"Mungkinkah keracunan ?" seru Buyung Siu dengan kening berkerut.

Dia lantas mengangkat kepalanya sambil mengulapkan tangan, kembali serunya:

"Cepat kalian gotong dia menuju ke dalam hutan sana untuk diberi pertolongan seperlunya."

"Baik !" jawab ke enam belas orang jago pedang itu bersama- sama.

Dengan cepat muncul dua orang untuk menggotong tubuh Wi Tiong hong dan mengundurkan diri kedalam sebuah hutan disisi jalan.

Pau kiam suseng Buyung Siu sendiri segera duduk diatas batu didepan hutan dengan senyum dikulum sementara sepasang matanya yang tajam bagaikan sembilu dengan sengaja tak sengaja memandang sekejap ke sekeliling tempat itu.

Pada waktu itu cuaca sudah gelap, suasana diluar kota amat hening, sejauh mata memandang hanya bukit menjulang nun di kejauhan sana.

Dengan sikap yang amat tenang Buyung Siu mendongakkan kepalanya, kemudian berkata:

"Sobat, jejakmu sudah ketahuan, aku pikir kaupun tak usah sembunyikan diri lebih jauh !" "Haah... haaah... haaaah..." gelak tertawa panjang yang bernada parau tiba-tiba berkumandang dari atas sebuah pohon, lebih kurang tiga kaki dihadapan sana, menyusul gelak tertawa itu nampak sesosok bayangan manusia melayang turun dengan kecepatan luar biasa.

Begitu orang itu mencapai diatas tanah, menyusul kemudian muncul pula empat sosok bayangan hitam kecil berlompatan turun dari dua batang pohon lainnya.

Buyung Siu segera bangkit berdiri, katanya sembari menjura: "Siaute mengira siapa yang datang, rupanya saudara Seh yang

menguntilku disepanjang jalan. ehmm. ... aku lihat kalian memang

benar-benar tahu seni..."

Rupanya orang yang baru saja melayang turun dari atas pohon itu adalah Hek sat seng kun Seh Thian-yu.

Dibelakangnya sekarang berdiri empat orang tosu kecil berbaju hitam yang membawa senjata kebutan.

Seh Thian-yu tertawa seram, katanya kemudian:

"Buyung loko, entah darimana datangnya ucapan seperti itu ? Yang menguntil siaute sepanjang jalan sesungguhnya diriku atau Buyung loko sendiri ?"

Buyung Siu kembali tersenyum.

"Bukankah siaute sedang duduk disini ? Sebaliknya Saudara Seh begitu datang lantas menyembunyikan diri diatas pohon, bagaimana mungkin bisa dikatakan kalau siaute yang sedang menguntit saudara Sah?"

Sah Thian yu tertawa terkekeh-kekeh.

"Heeehh... heeehh... heeeh... congkoan dari pasukan pedang berpita hijau memang hebat sekali, tak nyana kalau siaute bisa termakan siasat memancing harimau turun gunungmu sehingga terpancing pergi dan akhirnya datang terlambat, didalam hal ini mau tak mau aku memang harus mengagumi atas kecerdasan dari Buyung loko."

Buyung Siu nampak tertegun, serunya dengan cepat: "Saudara Sah, apa maksud dari perkataanmu itu?" Sah Thian yu tertawa terbahak-bahak.

"Haaahh... haaarhh... haaah... didepan mata orang pinter, lebih baik tak usah berlaga pilon bukankah Buyung loko telah menitahkan kepada anak buah mu untuk menyamar sebagai Wi Tiong hong dan memancing beberapa orang murid bodohku menuju kejalan lain? Memang nya ucapanku ini keliru?"

"Saudara Sah salah paham, sejak kapan sih anak buah siaute menyaru sebagai Wi sauhiap?"

"Tentu saja bukan menyaru." kata Sah Thian yu sambil tertawa seram, mencorong sinar tajam dari balik matanya, "mereka memang cuma memakai pakaian yang sama dengan perawakan yang sama pula, didalam suasana gelap seperti ini, dandanan macam begitu sudah lebih dari cukup."

Buyung Siu tertawa hambar, katanya kemudian dengan wajah bersungguh-sungguh:

"Saudara Sah, kau telah apakan anak buahku?"

"Apa yang bisa dilakukan murid-murid bodohku terhadap jago pedang berpita hijau dari Ban kiam hwee ? Setelah menyadari kalau mereka salah mengejar mengejar orang, tentu saja urusan disudahi dengan begitu saja..."

Kembali Buyung Siu tertawa dingin. "Akhirnya saudara Sah mengakui juga kalau sekarang menguntit diriku hingga kemari." ejeknya.

Sah Thian yu tertawa.

"Ya, aku memang sedang menguntit Wi Tiong hong, buat apa siaute mesti berbohong ?" Kemudian setelah berhenti sejenak, kembali dia bertanya: "Apakah Buyung loko dengan membawa para jago pedang

berpita hijau pun bukan lagi menguntil Wi Tiong hong juga ?" "Tentu saja begitu"

Berkilat sepasang mata Sah Thian yu, katanya lagi dengan cepat:

"Tadi, Buyung loko telah menggunakan sedikit siasat untuk memancing siaute mengambil jalan yang sama, tampaknya kalian telah berhasil menyusulnya bukan?"

"Yaa, memang telah berhasil kami susul." Buyung Siu mengangguk.

"Dimana orangnya sekarang?" buru-buru Sah Thian yu bertanya. Buyung Siu tersenyum.

"Terus terang saja kuberitahukan kepada Sah, dia telah berhasil ditangkap oleh anak buah siaute."

Baru saja berbicara sampai disitu, tampak seorang jago pedang berpita hijau muncul dari dalam hutan dengan langkah tergesa- gesa, setelah memberi hormat kepada Buyung Siu serunya:

"Lapor Congkoan."

Mendadak dia berhenti berbicara, rupanya sorot matanya telah menangkap kehadiran Sah Thian yu sekalian disitu, maka buru-buru dia menutup mulut.

"Ada urusan apa ? Katakan saja secara berterus terang" perintah Buyung Siu dengan wajah tenang.

"Benda tersebut tidak berada dalam sakunya." ucap jago pedang berpita hijau itu dengan suara lirih.

Buyung Siu nampak tertegun.

"Aaaah, masa bisa begitu? Sudah kau geledah dengan seksama?" "Yaa, hamba telah menggeledahnya dengan seksama !" "Waaah, aneh kalau begitu !" seru Buyung Siu setelah termenung sejenak.

Berbicara sampai disana, tangan kanannya segera diulapkan pelan.

Jago pedang berpita hijau itu segera membungkukkan badan memberi hormat, kemudian mengundurkan diri dari situ.

Sah Thian yu berdiri satu kaki dihadapannya, dengan sepasang mata yang tajam dia mengawasi terus tubuh jago pedang berpita hijau itu lekat-lekat, dengan tenaga dalamnya yang sempurna, kendatipun nada suara dari jago pedang berpita hijau itu amat rendah, ia masih dapat mendengar dengan jelas. Diam-diam ia mendengus dingin, katanya: "Keparat sialan, berada di hadapanku pun kau juga ingin bermain gila..."

Namun paras mukanya sama sekali tidak berubah, bahkan berlagak seolah-olah tidak mendengar.

Menanti si jago pedang berpita hijau itu sudah mengundurkan diri, ia baru mengangkat kepalanya sembari menegur:

"Tentunya saudara Buyung sudah tahu bukan apa maksud tujuanku datang kemari ?"

"Tentu saja siaute mengerti." jawab Buyung Siu hambar.

"Asal saudara Buyung sudah tahu, ini memang lebih baik, haha, siaute mendapat perintah untuk melaksanakan tugas ini dan kami di perintahkan untuk berusaha sampai dapat"

Buyung Siu segera mendongakkan kepalanya dan tertawa tertawa terbahak-bahak.

"Haah... haah... haah... ucapanmu memang betul, dan kebetulan juga siaute pun sedang melaksanakan tugas dengan catatan harus berusaha sampai dapat”

"Saudara Buyung" seru Sah Thian-yu kemudian dengan gusar, "seharusnya kau tahu bukan, bahwa orang she Wi itu terkena bubuk tujuh bintang Jit seng hiang kami ? Kalau tidak, bagaimana mungkin kalian bisa membekuknya secara mudah ?"

"Tapi orangnya sudah berada ditangan siaute sekarang."

"Heeh... heeh... heeheh... setelah kudengar cara saudara Buyung berbicara, tampaknya kau sudah tidak memperdulikan hubungan antara dua keluarga lagi ?" Sah Thian yu tertawa seram.

"Bila saudara Sah ingin berkata demikian, siaute pun tak bisa berbuat apa-apa."

"Apakah Buyung lote menganggap sudah pasti dapat mengungguli siaute ?"

"Siaute hanya melaksanakan tugas atas perintah" kata Buyung Siu dengan hambar, "soal menang atau kalah adalah masalah lain, jadi andaikata saudara Sah ingin merampas orang dari tangan kami, aku pikir hal tersebut bukan suatu pekerjaan yang gampang."

"Bagus sekali kalau begitu mari kita menunggang keledai sambil membaca buku, lihat saja akhirnya nanti!"

Tiba-tiba Buyung Siu menggerakan tangan kanannya, dengan senyum tak senyum ia berseru.

"Daripada harus menunggu sampai akhirnya nanti, lebih baik kalau dibereskan sekarang juga, silahkan saudara Sah meloloskan senjatamu."

"llmu pedang Buyung lote amat lihay, siaute menyadari kalau bukan tandinganmu." seru Sah Thian yu cepat sambil menjura berulang kali.

"Kalau begitu saudara Sah ingin menggunakan racun?"

Kembali Sah Thian yu menjura berulang kali. "Seandainya siaute menggunakan racun, mungkin saudara Buyung..."

Buyung Siu segera berkerut kening, kemudian tertawa terbahak- bahak. "Haah.. haa... haa... apakah siaute sudah berhasil kalian bekuk sedari tadi? Hmm, saudara Sah, silahkan saja turun tangan!"

Sah Thian yu menggoyangkan tangannya berulang kali.

"Harap Buyung loko jangan gusar dulu, sesungguhnya dalam peristiwa hari ini, yang memegang peranan sesungguhnya adalah orang lain, siaute tak lebih hanya bertindak sebagai perantara saja untuk menjaga hubungan habrmonis antara selat Tok seh sia dengan Ban kiam hwee, itulah sebabnya aku mengajak Buyung-loko untuk berbicara dengan cara yang baik dan damai."

"Kalau begitu, saudara Sah tak usah berbicara lagi."

Untuk kesekian kalinya Sah Thian yu menjura, kemudian berseru:

"Untuk sementara siaute akan mohon diri lebih dulu, harap Buyung loko sudi berpikir tiga kali sebelum bertindak." selesai berkata lalu dia melompat mundur ke belakang.

Buyung Siu segera membentak keras:

"Sah Thian-yu, kau mempunyai siasat busuk apa? Keluarkan saja semua, aku orang she Buyung yakin masih mampu untuk menerimanya."

Cepat sekali Sah Thian yu berlalu dari sana, sambil mundur dia tertawa terbahak-bahak-katanya:

"Buyung loko, kalian sudah terkepung rapat!"

Buyung Siu adalah seorang jago kawakan yang sudah berpengalaman, dari bayangan hitam diempat penjuru dia sudah tahu kalau disitu sudah ada pasukan lawan, kehadiran orang-orang itu tentu saja tak akan mengelabuhi ketajaman mata dan pendengarannya.

Maka sesudah mendengar perkataan itu, dia mendengus dingin dan sama sekali tidak memikirkan persoalan itu didalam hati.

Tapi, disaat Sah Thian yu dengan membawa ke empat orang bocah itu mundur kebelakang, mendadak berkumandang suara desingan tajam meleset ketengah udara, menyusul kemudian munculnya segulung cahaya api berwarna biru yang membumbung tinggi ke tengah udara.

Buyung Siu merasakan hatinya tergerak, segera pikirnya: "Mungkin itulah pertanda dari mereka untuk melakukan

pengepungan !"

Baru saja ingatan tersebut melintas lewat di dalam benaknya, tampak tujuh delapan sosok bayangan abu-abu meluncur datang dengan kecepatan luar biasa.

Buyung Siu segera mencabut pedangnya sambil membentak keras. "Berhenti!"

Gerakan tubuh dari ke tujuh delapan sosok bayangan abu-abu itu cepat sekali, dalam waktu singkat mereka sudah tiba di depan mata.

Rupanya mereka adalah delapan orang kakek berjubah abu-abu yang membawa senjata penggaris baja di tangannya.

Disaat Buyung Siu membentak nyaring tadi empat orang diantara mereka segera berhenti dihadapannya, sedangkan-empat orang yang lain memencarkan diri secara tiba-tiba dan mengambil posisi dikiri dan kanan Buyung Siu

Perlu diketahuri, orang persilatan pada umumnya hanya tahu tentang nama besar Tok seh-sia, tapi bagaimanakah kenyataannya yang sesungguhnya boleh dibilang jarang diketahui orang.

Agak tertegun Buyung Siu setelah menyaksikan kecepatan gerak kedelapan orang kakek berbaju abu-abu itu, apalagi setelah menyaksikan sikap dingin dan seram yang menyelimuti wajah mereka, diam-diam pikirnya dihati:

"Entah apa kedudukan mereka didalam selat Tok seh sia?" Berpikir demikian dengan kening berkerut ia tertawa terbahak-

bahak, kemudian ujarnya. "Hanya mengandalkan kalian berdelapan saja untuk menantang aku orang she Buyung?"

Delapan orang kakek berjubah abu-abu itu tidak menjawab, mendadak salah seorang dian taranya berpekik rendah, delapan bilah senjata penggaris baja itu serentak bergerak secara bersama- sama, bayangan senjata meluncur memenuhi angkasa dan maju mengurung kedepan.

Buyung Siu tertawa nyaring, pedangnya digetarkan dengan jurus Jian-kun-pit-gi (seribu prajurit menghindari maut), tampak selapis cahaya pedang yang tebal segera melindungi seluruh tubuhnya.

Benturan nyaring yang memekikkan telinga segera berkumandang memecahkan keheningan, bayangan-bayangan senjata yang menyerang tiba dari kiri kanan depan mau pun belakang tubuhnya itu segera terhajar miring oleh sapuan pedangnya.

Namun Buyung Siu juga merasakan betapa mantap dan beratnya kedelapan bilah pedang lawan yang bersama-sama menekan ke atas tubuhnya itu.

Bukan begitu saja, malah dari ujung kedelapan senjata penggaris itu muncul segulung tenaga hisapan yang sangat kuat.

Untung saja dia sendiri yang menghadapi serangan tersebut, coba kalau berganti orang lain, niscaya pedang mereki sudah kena terhisap hingga terlepas.

Dengan perasaan amat terkejut dia lantas berpikir:

"Kendatipun tenaga dalam yang dimiliki ke delapan orang ini amat sempurna, mustahil mereka dapat memancarkan tenaga hisapan disaat sedang melancarkan serangan ketubuh lawan, jangan-jangan senjata penggaris mereka mengandung alat pengisap yang kuat ? Waaaaah, kalau betul begini, aku tak boleh menghadapinya secara gegabah !"

Bagaimanapun juga pengalaman serta pengetahuannya memang sangat luar, hanya berpikir sebentar saja ia sudah dapat menduga kalau senjata yang mereka pergunakan mengandung besi semberani.

Delapan orang kakek berbaju abu-abu itu nampak tertegun pula dikala jurus serangan mereka berhasil dipukul sampai mental oleh sambaran pedang Buyung Siu, untuk beberapa saat lamanya mereka jadi termangu dan berdiri kaku.

Tapi, tampaknya mereka pun memiliki ilmu kerja sama yang amat hebat, walau pun senjata mereka kena dipentalkan oleh Buyung Siu, namun tubuh mereka tetap berdiri tak bergerak, bahkan sama sekali tak bermaksud untuk mengalah atau mundur.

Senjata mereka segera diputar kembali untuk saling menolong rekan lainnya, mereka berusaha agar Buyung Siu tak sempat melancarkan serangan berikutnya.

Dalam waktu singkat, ke delapan orang itu memencarkan diri dengan tugas masing-masing.

Empat orang diataranya seakan-akan bertugas untuk mencegat pedang Buyung Siu dan memaksa untuk melakukan bentrokan- bentrokan secara kekerasan, sedangkan empat orang lainnya khusus melancarkan serangan-serangan maut yang dilepaskan dari kiri kanan, depan dan belakang.

OOOdow

Sebagai seorang congkoan pasukan pedang pita hijau dalam perkumpulan Ban kiam hwee, Buyung Siu memang memiliki kepandaian ilmu pedang yang amat sempurna, namun dibawah serangan kerja sama dari delapan orang kakek berbaju abu-abu itu, dia toh merasa terdesak juga sehingga hampir boleh dibilang setiap kali dia melancarkan serangan, jurus serangannya selalu dicegat lebih dulu ditengah jalan oleh mereka, dengan keadaan seperti ini, tak heran kalau kelihayan ilmu silatnya hampir tak dapat dikembangkan sama sekali. Pertempuran yang berkobar sekarang benar-benar amat seru, terdengar suara bentrokan nyaring yang memekikkan telinga berkumandang tiada hentinya.

Disaat Buyung Siu sedang seru melawan ke delapan orang kakek berbaju abu-abu itu, suitan nyaring berkumandang dari empat penjuru, menyusul kemudian nampak dua tiga puluh sosok bayangan hitam bermunculan dari empat penjuru dan sama-sama menerjang masuk ke dalam hutan.

Kalau jago pedang berpita hijau di bawah pimpinan Buyung Siu merupakan sekawanan jago pedang pilihan yang berilmu tinggi, begitu menyaksikan datangnya serbuan musuh, serentak mereka meloloskan senjata sambil menyongsong datangnya serangan tersebut.

Dalam waktu singkat dalam hutan tersebut berkumandang suara bentrokan senjata.

Pau kiam suseng Buyung Siu yang berada di bawah kerubutan senjata penggaris dari delapan orang kakek berjubah abu-abu itu praktis tak mampu berkutik secara leluasa, gerakan pedangnya selalu kena dibendung dan dihambat gerakan selanjutnya.

Bagaimana pun jua, dia memang seorang jago kawakan yang sudah amat berpengalaman dalam menghadapi musuh, begitu menyaksikan senjata penggaris mereka yang khusus dilengkapi dengan besi semberani, dengan cepat ia menyadari akan duduk soal yang sebenarnya.

Sudah jelas orang-orang Tok seh-shia itu memang khusus dipersiapkan untuk menghadapi orang-orang Ban-kiam hwee, dari sini pula dapat ditarik kesimpulan kalau rencana tersebut bukan dipersiapkan dalam sehari dua hari saja, atau dengan perkataan lain mereka telah menganggap Ban kiam hwee sebagai musuh paling tangguh didalam perjuangan mereka untuk menguasai seluruh dunia persilatan.

Memahami situasi yang dihadapi, Buyung Siu segera berpikir: "Walaupun aku telah bermaksud untuk menggunakan siasat melawan siasat dalam menghadapi situasi hari ini, namun bila aku tidak memberi sedikit kelihayan, tentu kejadian ini akan melemahkan dan merosotkan pamor ku sebagai Pau kiam suseng !"

Walaupun Buyung Siu tak mampu membendung hawa amarahnya dlbawah serangan yang bertubi-tubi dari musuhnya, namun di hati kecilnya dia telah menyiapkan suatu rencana "siasat melawan siasat", tapi apa gerangan rencananya itu, siapapun tak ada yang tahu dengan pasti...

Sembari mengerahkan tenaganya untuk dihimpun ke dalam pedangnya, secara diam-diam dia mulai mengamati serangan gencar yang dilakukan kedelapan orang kakek berbaju abu-abu itu, mendadak ia temukan kalau serangan orang-orang itu seperti mempunyai suatu perubahan yang tertentu.

Empat orang yang bertugas mengajak dia beradu kekerasan itu meski bertugas untuk menghadang setiap perubahan gerak pedang sendiri, tapi yang penting adalah untuk mengimbangi ke empat orang rekannya yang melancarkan serangan ke arahnya itu.

Sebab justru karena gerakan pedangnya terhambat, mereka baru mempunyai peluang untuk dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.

Walaupun demikian, tak bisa dipungkiri kalau ilmu silat yang dimiliki ke delapan orang kakek berbaju abu-abu ini memang luar biasa hebatnya.

Buyung Siu mendengus dingin, mendadak ia memperketat permainan pedangnya, dengan jurus Liu im sia beng (bayangan melintas gerakan terhadang) ia serang si kakek yang berada disayap kanan.

Menyaksikan datangnya serangan pedang dari Buyung Siu seorang kakek lain segera menggetarkan senjatanya untuk menghalau sementara kakek disebelah kanan itu segera menutulkan senjatanya dan memmanfaatkan kesempatan tersebut untuk menerobos masuk kedalam. Dengan serangan pedangnya ini, sesungguhnya Buyung Siu memang berniat untuk memancing lawannya menggunakan peluang tersebut, maka begitu melihat musuhnya yang satu menghalau yang lain menyerang pada saat yang bersamaan dengan tibanya sergapan itu mendadak ia membentak keras, pedangnya disodok luruk ke depan, hawa murni yang disalurkan ketubuh dikerahkan semua ke tangan, tiba-tiba saja gerakan tubuhnya menjadi lebih cepat. Berbareng itu pula, dia miringkan sedikit tubuhnya sambil mendesak lebih kedepan,

Oleh sebab dia maju sembari miringkan badannya, otomatis serangan yang dilancarkan kakek disebelah kanan mengenai sasaran kosong, padahal gerakan tubuh dari Buyung Siu cepatnya bukan kepalang sudah barang tentu dia tak akan membiarkan lawannya sampai menarik kembali ancamannya itu.

Tangan kirinya berkelebat kedepan langsung mencengkeram tubuh senjata penggaris itu.

Kejadian ini segera mengejutkan beberapa orang kakek berjubah abu abu lainnya, mereka berusaha memberi perlindungan secepatnya sayang keadaan sudah terlambat

Tahu-tahu senjata penggaris kakek disebelah kanan itu sudah kena dicengkeram, melihat datangnya sambaran pedang yang mengancam tubuhnya, mau tak mau dia harus lepaskan senjata sambil melompat mundur ke belakang.

Sayang keadaan sudah terlambat di mana ujung pedang tersebut menyambar lewat, bahunya segera terbacok telak, darah kental pun bercucuran keluar dengan deras.

Semua kejadian tersebut berlangsung dalam sekejap mata, tahu- tahu Buyung Siu dengan senjata penggaris ditangan kirinya telah melancarkan serangan kekerasan lagi keatas senjata lawannya.

"Traang!" benturan nyaring yang memekikkan telinga berkumandang memecahkan keheningan, kakek berjubah abu-abu itu segera merasakan pergelangan tangannya menjadi kaku dan kesemutan, senjata penggarisnya terpental kesamping sementara tubuhnya terhuyung mundur setengah langkah ke samping.

Begitu berhasil dengan serangannya, Buyung Siu tertawa nyaring, tubuhnya berputar mengikuti gerakan pedang tersebut, dengan jurus To pit thian loo (menggulung hancur jaring langit) dia ciptakan selapis cahaya tajam yang menggulung kedepan.

Sedang senjata penggaris ditangan kirinya di ayunkan kearah dua batang senjata penggaris disisi kiri tubuhnya.

Serangan balasan yang dilancarkan olehnya sekarang benar- benar luar biasa, cahaya pedang berputar seperti roda lapisan hawa pedang menyelimuti angkasa, semuanya itu memaksa beberapa orang kakek berjubah abu-abu itu harus mundur dengan ketakutan.

Dari delapan orang kakek berjubah abu-abu itu, ada dua orang diantaranya yang sudah kehilangan senjata, enam orang lainnya menjadi kacau balau tak karuan, mereka tak berdaya untuk menolong keadaan lagi, kerja sama mereka yang tangguh segera jadi berantakan.

Tampaknya mereka sama sekali tidak menyangka kalau Buyung Siu berhasil mematahkan kerja sama mereka berdelapan dalam waktu sesingkat ini, kontan saja mereka jadi terkesiap dan mundur ke belakang.

Pada saat itulah, dari kejauhan sana berkumandang suara peluit yang dibunyikan dengan suara tinggi melengking di tengah kegelapan malam yang mencekam, suara peluit itu kedengaran amat menusuk pendengaran orang...

Begitu bunyi peluit tersebut berkumandang tiba-tiba saja ke delapan orang kakek berjubah abu-abu itu mengundurkan diri dari arena pertarungan.

Dua tiga puluhan lelaki berbaju abu-abu yang bersama-sama melancarkan serangan ke dalam hutan tadipun serentak mengundurkan diri dan berlalu dari situ dengan cepat. Buyung Siu tidak mengerti apa sebabnya mereka mundur secara tiba-tiba, disamping itu dia pun kuatir apabila Wi Tiong hong berhasil di culik mereka sementara pertarungan sengit sedang berlangsung tadi maka bentaknya dengan suara menggeledek:

"Berhenti kalian !"

Agaknya delapan orang kakek berbaju abu-abu itu ada maksud untuk melindungi kawanan lelaki berbaju abu-abu tersebut untuk mundur dari situ, oleh sebab itu kendatipun mereka sedang mundur, namun mundur agak pelan.

Tiba-tiba terdengar salah seorang diantara mereka berseru dengan suara menyeramkan.

"Walaupun ilmu pedang yang kau miliki sangat lihay, namun jangan harap bisa menahan lohu sekalian."

Buyung Siu tertawa nyaring.

"Sekalipun Buyung Siu tak mampu menahan berdelapan, paling tidak masih mampu untuk menahan beberapa lembar nyawa kalian."

"Buyung congkoan, memangnya kau masih memiliki kekuatan untuk bertarung kembali ?" jengek kakek itu sinis.

"Bila kau tidak percaya, mari kita buktikan bersama !" "Hmmm, aku lihat tak usah.." seru kakek itu dingin.

Begitu selesai berkata, ke delapan sosok bayangan manusia itu segera meluncur ke tengah udara dengan kecepatan bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya.

Sekarang Buyung Siu baru tahu kalau mereka hanya takut bila dikejar olehnya, maka secara sengaja mengulur waktu dengan mengajaknya berbincang-bincang, hal mana membuatnya tertawa terbahak-bahak...

Sementara itu, dari balik hutan di belakang tubuhnya, secara beruntun berjalan keluar tiga belas orang pendekar pedang berpita hijau, mereka bersama-sama berdiri disitu dengan sepasang tangan diluruskan kebawah.

Buyung Siu berpaling dan memandang sekejap, dia saksikan korban yang jatuh dari pihaknya cuma berapa orang saja, itupun cuma terluka ringan, jumlahnya sedikitpun tidak berkurang, padahal sewaktu datang berjumlah enam belas jago pedang.

Sambil manggut-manggut katanya kemudian.

"Bagaimana dengan Wi sauhiap? Apakah kena diculik oleh mereka...?"

Salah seorang diantara jago pedang tersebut segera membungkukkan badannya memberi hormat, sahutnya:

"Hamba belum memperoleh perintah dari congkoan..."

Buyung Siu segera menjatuhkan sorot matanya memandang ke depan, ia saksikan Wi Tiong hojg berbaring dibawah pohon besar dalam keadaaa tak sadar, tanpa terasa keningnya berkerut kencang.

Tidak sampai jago pedang itu menyelesaikan kata-katanya, dia telan mengulapkan tangan seraya berkata:

"Asalkan tidak sampai diculik boleh mereka hal ini sudah cukuap...!"

Disaat dia sedang berpaling itulah, tampak beberapa sosok bayangan manusia sedang bergerak mendekat dengan kecepatan luar biasa.

Dengan kening berkerut Buyung Siu segera mendengus, tangan kirinya diulapkan memberi tanda kepada jago pedang yang berada dibelakang tubuhnya.

Semua kejadian berlangsung dalam sekejap mata, tiba-tiba saja terdengar seseorang yang tertawa keras dengan suara yang parau, kemudian menegur keras.

"Buyung loko, kau belum pergi?" Buyung Siu tertawa dingin. "Jago lihay dari Tok seh sia masih belum mampu untuk mengurungku, saudara Sah, setelah berlalu tadi, mau apa kau datang lagi kemari, persoalan apa yang hendak kau sampaikan?"

Ternyata yang muncul adalah Hek sah seng tua Seh Thian-yu bersama ke empat orang tosu kecil itu.

Seh Thian yu baru berhenti berjalan setelah berada satu kaki dari hadapan lawannya, seraya menjura katanya sambil tertawa:

"Siaute dengar delapan orang anak buah lotoa kami telah menderita kekalahan diujung pedang Buyung loko, bahkan dua puluh delapan bintang pun kalah semua ditangan jago pedang berpita hijau dibawah pimpinan loko sehingga banyak yang terluka, oleh sebab itulah sengaja siaute kemari untuk menyampaikan selamat kepadamu."

Diam-diam Buyung Siu berkerut kening, pikirnya:

"Orang ini licik seperti rase, entah permainan busuk apakah yang sedang dipersiapkan olehnya ?"

Berpikir demikian dia pun mendengus dingin tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Sementara berbicara tadi, Seh Thian yu sudah berjalan semakin mendekat, tapi pada saat itulah ke tiga belas orang jago pedang berpita hitam itu sudah maju mengurung dengan kecepatan luar biasa, dalam waktu singkat kelima orang lawan sudah terkurung rapat-rapat.

Tiga belas bilah pedang dengan pancaran sinar yang membuat pagar melingkar disekitar situ, asal Buyung Siu menurunkan perintah nya, niscaya Sah Thian-yu berlima akan terluka diujung senjata tersebut.

Ternyata paras muka Sah Thian yu masih tetap tenang-tenang saja seakan-akan tak pernah terjadi sesuatu ancaman pun, pelan- pelan dia berkata lagi: "Buyung loko, mengapa sih kau mempersiapkan barisan seperti ini untuk menghadapiku?"

"Tadi, bukankah saudara Sah pubn telah memperldihatkan kelihayaan ilmu barisanb mu terhadap siaute?"

Sah Thian yu segera tertawa terbahak-bahak.

"Haaaahh... haaaah... haaahh sudah lama siaute mendengar tentang kelihayan jago-jago berpita hijau dibawah pimpinanmu, maka soal musIihat barisan tersebut atau tidak sesungguhnya sama saja..."

"Saudara Sah, mumpung kesempatan sudah berada didepan mata, bagaimaaa kalau kau coba saja kenyataannya ?" seru Buyung Siu dengan suara sedingin es.

"Siaute pikir tak perlu untuk dicoba lagi."

"Kalau begitu, ada urusan apa saudara Sah datang kemari ?" Sah Thian yu tertawa Iicik.

"Berada didepan orang yang berpengaIaman, tak ada gunanya berbohong, tentu saja kedatangan orang siaute gara-gara orang she Wi tersebut, aku bermaksud untuk mengajak Lo-ko merundingkan persoalan ini."

"Heeehh... heeehh... heehh... kini orang she Wi tersebut sudah terjatuh ketangan orang-orang Ban kiam hwee, tampaknya saudara Sah masih belum mau memadamkan niatmu untuk mengincar Lou bun si tersebut ?" jengek Buyung Sin sambil tertawa dingin.

Kembali Sah Thian yu tertawa seram, "Bukan hanya Lou bun si saja, masih ada pula sebutir mutiara Ing kiam cu terus terang saja kukatakan kepada loko, siaute benar-benar berada dalam keadaan kepepet untuk melaksanakan tugas ini atas perintah."

Buyung Siu segera manggut-manggut.

"Orang she Wi itu berada di sini, apabila saudara Seh memang berkepandaian hebat, silahkan untuk membawanya pergi." "Terima kasih, terima kasih, kalau toh loko sudah setuju siaute pun tidak akan sungkau sungkan lagi." kata Sah Thian yu sambil menjura tiada hentinya.

Buyung Siu menjadi curiga, apalagi setelah dilibatnya Sah Thian yu masih bisa mengucapkan perkataan semacam itu kendatipun sudah berada di tengah kepungan jago-jago pedangnya, mungkinkah dia sudah sinting atau tak waras otaknya ?

Tanpa terasa dia bertanya sambil tersenyum.

"Apakah saudara Sah merasa punya keyakinan akan berhasil ?" Sah Thian yu segera tertawa seram.

"Heeh... heeeh... saat ini para jago pedang, anak buah loko sudah tidak berkekuatan lagi untuk melangsungkan pertarungan tentu saja siaute akan membawa pemuda she Wi tersebut untuk berlalu dari sini."

Buyung Siu menjadi tertegun sesudah mendengar perkataan itu, segera tanyanya:

"Apakah saudara Sah telah melepaskan racun secara diam- diam?"

Sambil mengangkat bahunya Sah Thian yu tertawa.

"Setelah Buyung loko mengajukan pertanyaan, siaute pun tidak berani merahasiakan lagi, sesungguhnya kalian semua telah terkena semacam obat beracun yang lambat bekerjanya, seandainya tidak mengerahkan tenaga untuk bertarung, tiga hari kemudian racun tersebut baru akan mulai bekerja sampai waktunya tenaga dalam kalian akan punah tidak berbekas tetapi oleh sebab kalian telah melangsungkan pertarungan sengit barusan maka obat beracun tersebut sudah mulai bekerja dalam tubuh kalian...

Secara diam-diam Buyung Siu mencoba untuk mengerahkan tenaga dalamnya, betul juga, lamat-lamat dia merasa perutnya amat sakit. Kenyataan tersebut kontan saja menggusar hatinya, ia segera membentak keras: "Aku sudah harusnya menduga sampai disitu!"

"Harap Buyung loko jangan salah paham racun itu bukan siaute yang lepaskan sebab ketika kalian sampai kemari, racun tersebut sudah mengeram dalam tubuh kalian,hanya saja..."

"Hanya saja kenapa?"

Kembali Sah Thian yu tertawa seram.

"Hanya saja obat beracun yang bersifat lambat kerjanya ini meski sudah bekerja saat ini hanya terbatas tak mampu mengerahkan tenaga saja, didalam tiga hari mendatang nyawa kalian masih belum terancam oleh bahaya maut."

Sementara itu, ke tiga belas orang jago pedang berpita hijau itu sudah mencoba untuk mengerahkan tenaga, dan mereka mendapatkan kalau dalam tubuh mereka telah terdapat racun tersebut, maka mereka semua berdiri tak berkutik dengan pedang terhunus.

Dua puluh enam buah mata yang tajam bersama-sama dialihkan kearah congkoan mereka, tampaknya mereka sedang menantikan perintahnya untuk bertindak lebih jauh.

Buyung Siu memandang sekejap kearah anak buahnya, kemudian pelan-pelan berkata:

"BetuI, mereka semua memang telah keracunan."

Setelah berhenti sejenak, mendadak mencorong sinar tajam dari balik matanya, setelah tertawa tertawa terbahak-bahak katanya lagi:

"Sah Thian yu, aku dan segenap jago pedang meski sudah keracunan, namun kami bisa pertaruhkan jiwa kami untuk membinasakan dirimu."

"Apakah Buyung loko hendak memaksa siaute untuk menyerahkan obat penawaran racunnya ?" tanya Sah Tnian yu sambil tertawa licik. "Benar, siaute memang bermaksud demikian" Sekali lagi Sah Thian yu tertawa seram. "Harap Buyung loko suka berpikir, sekarang, posisi kita sedang bermusuhan, mungkinkah siaute akan datang kemari dengan membawa obat penawar racunnya?"

"KaIau begitu saudara Yu memaksa siaute untuk turun tangan?" desak Buyung Siu sambil menatap tajam-tajam.

"Bila siaute tidak mempunyai keyakinan, bagaimana mungkin akan datang kemari untuk menyerempet bahaya?" katanya.

Kemudian setelah berhenti sejenak, lanjutnya lagi dengan suara yang dingin menyeramkan.

"Sekarang, saudara sekalian sudah tidak berkemampuan untuk melangsungkan pertarungan lagi, siaute pun tidak ingin diantara kita dua keluarga saling bertempur, asal kami telah membawa pergi orang she Wi tersebut, hal mana sudah lebih dari cukup."

Kepada ke empat orang bocah berbaju hitam yang berada dibelakangnya, ia membentak keras:

"Sekarang kita boleh berangkat!"

Buyung Siu benar-benar gusar sekali, sambil membentak keras, telapak tangannya di ayunkan kedepan untuk melancarkan sebuah bacokan maut kearah Sah Thian yu.

Pau kiam suseng Buyung Siu bukan hanya sempurna didalam permainan ilmu pedang saja, tenaga dalam yang dimilikinya pun sudah mencapai ketingkatan yang luar biasa, serangan yang dilancarkan dalam keadaan gusar ini benar-benar luar biasa sekali.

Walaupun Sah Thian yu sudah tahu kalau pihak lawan telah keracunan namun dia toh tak berani juga untuk menyambut serangan tersebut dengan kekerasan, cepat dia mengigos ke- samping untuk menghindarkan dari serangan.

Siapa tahu, setelah melepaskanb pukulannya itu, mendadak paraas muka Buyung Sbiu berubah hebat, kemudian... "Blaaamm!" tubuhnya jatuh terduduk keatas tanah. Melihat congkoannya sudah turun tangan, tiga belas orang jago pedang itupun serentak menggerakan pedangnya sambil melancarkan kearah Sah Thian yu sekalian.

Sesungguhnya yang ditakuti oleh Sah Thian yu hanya Pau kiam suseng sudah roboh terduduk, tanpa terasa lagi dia segera tertawa terbahak-bahak.

Tangan kanannya dengan cepat dikebaskan dan senjata kebutannya sudah diayunkan ke arah depan.

"Traaang, traaang... traaang... !" suara dentingan nyaring berkumandang tiada hentinya.

Tahu-tahu tiga belas bilah pedang yang berada ditangan ketiga belas orang jago pedang tersebut sudah terlepas dari cekalan mereka. kemudian diiringi dengusan tertahan, satu persatu terjatuh keatas tanah...

Sah Thian yu memandang sekejap kearah Buyung Siu, kemudian setelah menjura dan tertawa katanya:

"Buyung toako, silahkan beristirahat sebentar disini, sebentar keadaanmu akan sehat kembali, maaf kalau siaute harus mohon diri lebih dulu !"

Dia mengulapkan tangannya dan keempat bocah berbaju hitam itu segera bekerja, dua di antaranya mendekati mendekati Wi Tiong- hong yang masih tergeletak tak sadar di bawah pohon dan siap menggotongnya pergi,

"Tunggu sebentar!" tiba-tiba Sah Thian yu berseru kembali, "coba kalian menggeledah dulu sakunya dan mengambil keluar benda itu" Seorang bocah berbaju hitam segera menggeledah saku Wi Tiong hong, tapi selang sejenak kemudian dia bangkit berdiri seraya berkata:

"Benda itu tidak berada di dalam sakunya!" Sah Thian yu menjadi tertegun, dia segera berpaling, betul juga, Wi Tiong hong tergeletak disitu, bahkan pedangnya juga tak nampak. Tanpa terasa ia mendengus dingin, katanya: "Mungkin sudah mereka dapatkan benda-benda tersebut cepat kalian geledah saku mereka satu persatu!"

Dalam pada itu. Buyung Siu dan ketiga belas orang jago pedang berpita hijau itu sedang merasakan kesakitan yang hebat, karena harus mengerahkan tenaga dalam tadi, kini isi perutnya terasa seperti mau hancur, hawa murninya buyar sama sekali.

Dengan keadaan seperti ini, tentu saja mereka tak mampu untuk mencegah penggeledahan atas diri mereka.

Sah Thian-yu turun tangan menggeledah sendiri saku Buyung Siu, sedangkan ke empat orang bocah berbaju hitam itu menggeledah saku ke tiga belas jago pedang lainnya.

Namun meski sudah digeledah sekian lama, Lou bun-si maupun mutiara Ing kiam cu belum juga ditemukan.

Diam-diam Sah Thian yu lantas berpikir:

"Tadi, bocah beparat ini telah bersua muka dengan orang-orang dari Lam-hay bun serta Thian sat bun, jangan-jangan benda tersebut sudah diambil oleh kedua rombongan manusia itu ?"

""Hmmm, budak liar dari Lam hay bun itu sudah menaruh perasaan cinta kepada bocah keparat ini, sedangkan orang-orang Thian sat bun juga sudah bersekongkol dengannya, sudah pasti kedua rombongan itu tak bakal membegal barangnya ditengah jalan, siapa tahu kalau bocah keparat ini telah menyadari kalau dirinya akan menjadi incaran orang banyak maka dia menyerahkan barang- barang tersebut kepada mereka!"

Berpikir sampai disini, dia lantas tertawa seram, gumamnya kemudian:

"Bocah keparat, sekalipun kau licik, setelah orangmu terjatuh ke tangan kami, memangnya benda-benda itu tak akan kau serahkan dengan sendirinya !"

Dia lantas mengulapkan tangannya sambil berseru: "Bawa dia pulang !"

Begitu selesai berkata. dia segera berjalan lebih dulu meninggalkan tempat tersebut, sedangkan keempat orang bocah berbaju hitam itu mengikuti dibelakangnya sambil menggotong tubuh Wi Tiong hong. Tek lama setelah Sah Thian-yu pergi, ditengah jalan raya kembali berkumandang suara derap kaki kuda yang bergerak mendekat dari kejauhan sana.

Rombongan tersebut berjumlah dua puluhan orang lebih, mereka meluncur datang dengan kecepatan luar biasa, penunggang kudanya adalah sekawanan manusia berbaju ringkas deruan pedang berpita hitam pinggangnya.

Rupanya rombongan yang baru datang itu adalah pasukan jago pedang berpita hitam dari Ban kiam-hwee.

Orang yang berada dikuda paling depan adalah seorang kakek kurus kecil berkucir kecil yang mengenakan baju berwarna biru, dia tak lain adalah congkoan dari pasukan jago pedang berpita hitam, Siu bun-kui jiu (tangan setan pencabut nyawa) Chin Tay-seng adanya.

Dengan lengan kanan terkulai di bawah dan tangan kiri mengendalikan tali les kuda, sepasang matanya nampak berkilat tajam ditengah kegelapan malam.

Saat ini dia berjalan dipaling depan dengan sorot mata yang menyapu kian kemari dengan tajamnya.

Ketika semakin mendekat mendadak ia berseru tertahan, dengan cepat ia melejit turun dari atas kudanya, begitu melayang turun di- hadapan Buyung Siu, serunya dengan terkejut:

"Mungkinkah Buyung Congkoan? Aah, betul saudara Buyung!

Apakah... apakah kau terluka berat?"

Begitu ia berhenti, dua puluh orang jago pedang berpita hitam yang berada dibelakang tubuhnya ikut berlompat turun dari atas kudanya. Sementara itu, Buyung Siu dan tiga belas orang jago pedang berpita hijau sudah berhasil mengurangi rasa sakit isi perutnya setelah bersemedi berapa saat, cuma mereka masih belum dapat mengerahkan tenaganya.

Maka setelah mendengar teguran itu, dia membuka matanya pelan, kemudian berbisik:

"Saudara Chin kah yang telah datang ?"

”Siaute mendapat perintah dari Kiamcu untuk datang memberi bantuan, bagaimanakah keadaan luka saudara Buyung?" tanya Chin Tay seng kembali.

Pelan-pelan Buyung Siu bangkit berdiri, setelah isi perutnya tidak merasa sakit lagi, dia menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya pelan:

"Siaute dan mereka semua terkena racun yang amat ganas" "Keracunan?" seru Chin Tay seng terkejut. "apakah saudara

Buyung telah berjumpa dengan orang-orang Tok seh sia?"

"Seandainya racun itu dilepaskan dihadapanku, siaute masih dapat untuk menghadapinya tapi besar kemungkinan mereka telah mencampuri hidangan yang kami makan dengan racun"

"Oooh, telah terjadi peristiwa seperti itu?" seru Chin Tay seng dengan perasaan terkesiap. Dia memandang sekejap kesekeliling tempat itu, kemudian katanya lagi:

"Dari enam belas orang jago pedang yang saudara Buyung bawa, adakah yang terluka atau tewas?"

"Yaa, didalam pertarungan tadi, ada tiga orang saudara yang terluka parah dan tewas"

"Apakah saudara Buyung telah berhasil menyusul Wi sauhiap ?" "Ketika siaute sampai disini, Wi sauhiap telah keracunan dan

roboh tak sadarkan diri, anehnya baik mutiara Ing kiam cu maupun Lou bun si sudah tak ditemukan lagi dalam sakunya." "Oooh... mana orangnya sekarang ? Apakah sudah diculik oleh orang-orang Tok seh sia"

"Aaaai, kalau dibicarakan memang memalukan, siaute bersama mereka berhasil memukul mundur orang-orang itu dalam suatu pertarungan sengit, tapi akhirnya kami keracunan dan roboh Wi sauhiap pun dilarikan oleh Sah Thian yu."

ooOoo dw ooOoo

Sekilas senyuman licik segera menghiasi wajah Chin Tay-seng, serunya kemudian dengan nada gusar:

"Siaute telah datang terlambat sehingga berakibat terjadinya peristiwa ini, oooh . . apakah saudara Buyuog masih mampu untuk naik ke atas kuda ?"

"Siaute hanya terkena racun keji. asal tidak mengerahkan tenaga, keadaanku masih tidak membahayakan, aku pikir untuk menunggang kuda pun masih mampu."

"Kalau begitu silahkan saudara Buyung untuk naik ke atas kuda, kalau toh Wi sauhiap sudah terjatuh ke tangan orang-orang Tok seh sia, kejadian ini perlu segera dilaporkan kepada Kiamcu agar bisa mengambil tindakan seperlunya."

Sementara pembicaraan berlangsung seorang jago pedang berpita hitam telah muncul sambil menuntun seekor kuda, lalu memayang Buyung Siu naik keatas kuda dan menuntun kuda itu untuk meninggalkan tempat tersebut.

Tiga belas orang jago pedang berpita hijau pun dibimbing para jago pedang berpita hitam naik ke atas kuda, dua orang menunggang seekor kuda dan bersama-sama berangkat menuju ke bukit Pit bu san.

Kentongan pertama baru tiba.

Tempat ini merupakan sebuah ruang batu yang diatur sangat indah dan megah dalam lambung bukit Pit bu san. Empat sekeliling ruangan tersebut berupa pintu batu yang tertutup rapat, diluar setiap pintu tampak dua orang jago pedang berpita hitam melakukan penjagaan.

Suasana disitu amat ketat dan serius, seakan-akan sedang menghadapi serangan musuh tangguh.

Waktu itu, beberapa orang tokoh penting dari Ban kiam hwee sedang melakukan perundingan rahasia dalam ruangan batu.

Lentera kristal diatas atap ruangan memancarkan sinar yang terang, mutiara yang berkilauan tajam memenuhi dinding batu disekeliling ruangan.

Namun setiap orang yg hadir dalam ruangan itu sedang diliputi oleh suasana yang murung dan masgul.

Ban kiam hweecu duduk dikursi utama tanpa bergerak, selembar wajahnya yang berwarna semu emas tidak nampak sedikit perubahanpun.

Tapi tiga orang gadis berpedang pita kuning yang berdiri dibelakangnya menunjukkan sikap yang amat gusar.

Dihadapan Ban-kiam hwee cu terdapat dua buah kursi, disebelah kiri duduk congkoan pedang berpita hijau Pau kiam suseng Buyung Siu, sedangkan yang duduk disebelah kanan adalah congkoan pedang berpita hitam, Siu bun kui jiu Chin Tay Seng.

Paras muka kedua orang congkoan itu diliputi oleh ketegangan dan murung, seolah-olah sedang menghadapi suatu persoalan besar yang amat berat.

Suasana didalam ruangan batu itu dicekam oleh suasana hening yang berat dan menyesakkan napas, sedemikian heningnya sampai suara jatuhnya jarum pun kedengaran.

Setiap kali Ban kiam hwee cu menghadapi persoalan yang berat dan sulit, dia selalu bersikap demikian hal ini merupakan suatu kebiasaan baginya. Bila dia butuh untuk berpikir dan merenung kan persoalan itu, maka dia duduk tenang ditempat duduknya tanpa bersuara, dalam keadaan demikian, siapapun tak berani buka suara untuk mengganggunya.

Lewat beberapa saat kemudian, Ban kiam-Hwe cu baru menggerakan kelopak matanya dan bertanya:

"Sudah hampir kentongan pertama bukan?"

"Mungkin kentongan pertama sudah lewat" buru-buru congkoan pasukan pedang berpita hijau Chin Tay seng menjawab.

Ban kiam hwe cu segera menghembuskan napas panjang.

@oo=dw=oo@