-->

Pedang Karat Pena Beraksara Jilid 23

Jilid 23

BAN KlAM HWEE CU mengulurkan tangannya yang putih ke depan, kemudian pelan-pelan berkata.

"Bawalah kemari, berikan kepadaku untuk kulihat!"

Meskipun Wi Tiong hong merasa keberatan dalam hati kecilnya, namun dia toh menurut juga dan memberikan benda tersebut kepada Ban-kiam hweecu.

Setelah menerima pena tersebut, sekali lagi Ban kiam Hwee cu memeriksa benda itu dengan seksama, akhirnya sambil mendengus dingin ujarnya dengan cepat:

"Lencana pena baja", betul-betul suatu penyaruan yang luar biasa, ternyata pada lapisan luar dari Lou bun si telah dilapisi dengan selapis kulit baja yang mengelabuhi pandangan orang lain..."

Berbicara sampai disitu, mendadak dia mengambil kutungan pedangnya lalu ditebaskan ke atas pena baja tersebut.

Dengan perasaan terkejut Wi Tiong hong segera menegur: "Hwee cu, apa yang hendak kau lakukan ?"

"Aku hendak membersihkan pena tersebut dari lapisan bajanya" sahut Ban-kiam hwee cu dengan suara dingin.

"Tapl pena ini merupakan tanda pengenal dari perkumpulan Thi pit pang yang sudah di turun temurunkan pada anggota perkumpulan nya, sedangkan aku tak lebih hanya menyimpankan benda tersebut bagi mereka untuk sementara waktu..." "Kalau toh di dalam pena baja tersebut disimpan Lou bun si yang asli, apa salahnya jika benda tersebut diperlihatkan kepada semua orang yang hadir..?"

Sementara berbicara, tangannya tak pernah berhenti bekerja, jangan dilihat pedang yang di pergunakan hanya sebilah kutungan pedang belaka, namun di dalam kenyataan tajamnya bukan kepalang, hanya di dalam berapa kali sayatan saja, lapisan luar yang membungkus pena baja tersebut telah berhasil disayat habis.

Dengan cepat muncullah sebilah pena kemala yang berwarna kehijauan.

Benar juga, benda tersebut adalah Lou bun-si yang asli, baik warna maupun bentuk tidak jauh beda dengan Lou bun si yang palsu.

Sambil membuang pedang kutungnya ketanah, dengan tiga jari tangannya Ban kiam-hwee cu memegang pena kemala tersebut, kemudian ujarnya:

"Hitung-hitung, tidak sia-sia belaka kalian datang menghadiri suatu pertemuan hari ini, kalau tadi Thio lo-huhoat telah memusnahkan sebatang Lou bun si yang palsu, maka sekarang benda yang asli telah muncul di depan mata.”

"Dari sini dapat dibuktikan kalau dua buah Lou bun si yang palsu dan sebuah yang asli telah terjatuh semua ke tangan Tou Pek li dimasa lalu, ketika ia menghancurkan sebuah Lou bunsi yang asli pada tiga puluh tahun berselang, rupanya yang asli telah dia lapisi dengan kulit baja yang kemudian dijadikan tanda pengenal dari perkumpulannya."

"Kemudian secara sengaja pula dia mengeluarkan Lou bun-si yang palsu ke dalam dunia persilatan hingga menciptakan badai pembunuhan yang amat dahsyat tiga puluh tahun kemudian..."

Dengan sorot mata yang licik dan memancarkan sinar serakah, Sen Thian-yu menatap Lou bun si itu lekat-lekat, kemudian katanya: "Atas undangan dari Hwee cu, kami memang datang kemari untuk Lou bun si tersebut sekarang benda tersebut sudah muncul didepan mata, bolehkah siaute ikut meminjam sebentar untuk dinikmati ?"

"Pena tersebut bukan milikku, sehingga sulit untuk memenuhi harapanmu tersebut." sahut Ban-kiam-hwee cu dingin, "bukankah kalian telah menyaksikan dengan cukup jelas, pena yang asli dan pena yang palsu berbentuk persis sama, diatas pena inipun terukir huruf Thian-hee-tit-it, totiang, mungkin yang kau kuatirkan sekarang adalah kepandaian silat yang tersimpan dalam pena tersebut bukan ?"

Sambil mengelus jenggotnya Thian yu tertawa seram.

"Heeehh... heeehh... heeehhh... menurut berita yang tersiar dalam dunia persilatan, dalam Lou bun si tersimpan sebuah jurus ilmu pedang yang sangat hebat, dalam ilmu pedang tersebut terkandung seluruh inti sari ilmu pedang yang berada dikolong langit dewasa ini, apakah Hwee cu tidak ingin menyaksikannya?"

Ban kiam hwee cu tertawa dingin, mendadak dia membalik pena kemala tersebut, lalu katanya:

"Di balik batang pena tersebut mungkin saja tersimpan kepandaian silat, seandainya ada mungkin sudah diambil orang sedari dulu, yang tertinggal sekarang tak lebih hanya sebuah batang pena kosong bila tidak percaya, silahkan kalian memeriksanya sendiri!"

Ketika semua orang mengalihkan perhatiannya kearah batang pena itu, betul juga batang pena itu sudah kosong, tiada sesuatu benda apa pun yang terdapat disana.

Mendadak satu ingatan melintas dalam benak Wi Tiong hong, segera pikirnya:

"Yang mereka maksudkan sebagai sebuah jurus ilmu silat itu, jangan-jangan adalah ukiran jurus Hong bong sam tiam tau yang terukir diatas kotak pena tersebut?" Bayangkan saja, pancaran sinar ke emasan yang dipancarkan oleh pedang Ban kiam hweecu tadi begitu dahsyat dengan hawa pedang yang mengerikan mana mungkin jurus serangan biasa dapat dipergunakan untuk memecahkan serangan tersebut ? Bahkan untuk menangkis pun belum tentu akan mampu untuk menangkisnya.

Tapi buktinya jurus serangan pedang yang begitu dahsyat pun tanpa disengaja telah berhasil dipecahkan olehnya...

Di dalam hal ini, tampaknya Ban kiam hwee cu serta semua yang hadir di sana telah tertarik perhatiannya oleh patahnya pedang Kim liong kiam serta munculnya Lou bun si yang asli tersebut sehingga siapa pun telah melupakan jurus serangan yang telah dipergunakan olehnya tadi...

Sementara dia masih termenung, tampak Ban kiam hwee cu telah menyodorkan kembali Lou bun si tersebut di hadapannya sembari berkata.

"Lou bun-si merupakan sebuah benda mestika dalam dunia persilatan, saudara Wi harus baik baik menyimpannya !"

Wi Tiong hong menerima kembali pena tersebut dan segera dimasukkan kedalam saku, setelah itu katanya hambar:

"Pena tersebut merupakan pena baja milik perkumpulan Thi pit pang, aku tak lebih hanya akan menyimpannya untuk sementara waktu."

Ban kiam hwee cu tersenyum, katanya lagi dengan suara lembut:

"Kecuali Lou bun si, bukankah dalam diri saudara Wi juga terdapat sebutir mutiara Jip kiam cu? sekalipun semua orang tidak menyinggung tentang persoalan tersebut, tapi aku yakin hal ini tak akan bisa mengelabuhi semua orang."

"Saudara Wi, apabila kau tak ada urusan penting, siaute ingin mengundangmu untuk mengunjungi Kiam bun san selama beberapa hari, terhadap saudara Wi mungkin merupakan suatu bantuan kecil, entah bagaimanakah pendapat saudara Wi?" Ucapan tersebut diutarakan dengan suara yang pelan sekali, sehingga kecuali Wi Tiong hong, boleh dibilang orang lain tak akan bisa mendengarnya.

Wi Tiong hong menjadi tertegun, kecuali Lou bun si masih ada sebutir mutiara Ing-ki-amcu ? Sejak kapan dalam sakunya terdapat sebuah mutiara Ing-kiam cu?

Sembari menjura dia segera menyahut:

"Aku masih ada urusan pentirg lainnya yang harus segera diselesaikan biarlah maksud baik Hwee cu kuterima dalam hati saja:"

Berhubung jarak diantara para hadirin dengan kedua orang itu berselisih agak jauh, maka siapa pun tidak mendengar apa gerangan yang mereka bicarakan.

Tapi semua orang dapat melihat kalau Wi Tiong hong sedang menjura berulang kali, tentu saja hal ini disebabkan dia sedang meminta maaf kepada Ban kiam Hwee cu karena telah mematahkan pedang mestika orang itu.

Dengan tatapan mata yang tajam Ban kiam Hwee cu mengawasi wajah Wi Tiong hong beberapa saat, dia seperti merasa sayang dan kecewa, katanya kemudian:

"Kalau toh saudara Wi masih mempunyai urusan penting lainnya, siaute pun tidak akan menahanmu lebih jauh,"

Sementara itu seorang dayang telah muncul ditengah arena, memungutkan pedang Jik siu kiam milik Wi Tiong hong dari atas tanah dan mempersembahkan kehadapannya.

Wi Tiong hong segera menjura sambil menyatakan rasa terima kasihnya, setelah menerima kembali pedangnya lantas dimasukkan kembali kedalim sarung.

Mendadak Seh Thian yu bangkit berdiri, kemudian katanya sembari menjura: "Sekarang, Lou bun si yang palsu sudah punah, yang aslipun sudah muncul, aku pikir pertemuan pada hari ini pun sudah berakhir sampai disini, apabila hwee-cu tiada petunjuk yang lain, siaute ingin mohon diri lebih dulu."

Ban kiam Hwee cu segera balas memberi hormat, sahutnya sembari tertawa:

"Terima kasih banyak atas petunjuk dari Seh too tiang, siaute ucapkan banyak terima kasih pula atas kesudianmu untuk menghadiri pertemuan ini."

Dengan sorot mata yang licik dan keji Seh Thian yu memandang sekejap ke arah semua orang, kemudian ujarnya sambil menjura.

"Lo heng sekalian, maafkan bila siaute harus berangkat selangkah lebih dulu."

Selesai berkata, dengan membawa anggota perguruannya ia lantas beranjak keluar dari ruangan tersebut dengan langkah lebar.

Wi Tiong hong sendiri yang memikirkan asal usulnya, diapun ingin buru-buru mengunjungi perguruan Siu lo bun untuk menyelidiki jejak dari pamannya yang tak diketahui namanya untuk ditanya tentang riwayat hidupnya, maka menyaks kan Seh Thian yu beranjak pergi. diapun segera menjura kepada Ban kiam hwe cu sembari berkata:

"Sekarang, aku sendiripun masih ada urusan penting yang harus segera diselesaikan, maaf bila akupun harus berangkat selangkah lebih dulu.."

Ban kiam hwe cu memandang sekejap ke-sekeliling arena, kemudian katanya.

"Kepergian Seh Thian yu secara tergesa-gesa sudah pasti mempunyai maksud dan tujuan yang kurang baik, sepanjang jalan nanti harap saudara Wi sudi bertindak lebih berhati hati lagi."

"Terima kasih banyak atas perhatian dari hweecu, aku bukan seorang manusia yang takut urusan !" Su Siau hui segera bangkit berdiri pula, tanyanya sambil menatap wajah pemuda itu lekat-lekat:

"Wi sauhiap, kau hendak pergi kemana ?"

Wi Tiong hong yacg ditegur dihadapi orang banyak segera merasakan paras mukanya berubah menjadi merah padam karena jengah, sahutnya cepat-cepat:

"Aku masih mempunyai persoalan lain yang harus diselesaikan maka aku ingin melanjutkan perjalanan cepat..."

Lak jiu-im eng Thio Man menjadi gelisah sekali setelah menyaksikan kejadian itu, buru-buru buru dia menarik ujung baju kakaknya sembari memberi tanda.

Thio Kun kay yang berpengalaman tentu saja memahami maksud hati adiknya ini, buru buru dia pun berseru:

"Saudara Wi, bagaimana kalau kita menempuh perjalanan bersama-sama..?"

Belum sempat Wi Tiong-hong menjawab, kakek Ou yang berdiri disamping Su Siau hui telah berkata sambil mendengus dalam- dalam.

"Siapa membawa mestika dia akan tertimpa bencana, dengan mengandalkan kemampuan dari kalian beberapa orang, memangnya sanggup untuk menghadapi hadangan dari musuh tangguh ?"

Pada dasarnya Thio Kun kay adalah seorang dlelaki tinggi hati, ketika dilihatnya orang itu berbicara kepada mereka, dimana sudah jelas dari sikapnya kalau orang itu tidak memandang sebelah mata pun terhadap kemampuan dari Bu tang pay, kontan saja dia mendengus gusar dan berseru:

"Hm, kepada siapa kau sedang berbicara ?"

"Lohu sedang berbicara dengan kalian" sahut kakek Ou dingin, "sekarang, bocah ini membawa mutiara ing kiam cu yang sudah lama diincar oleh setiap anggota dunia persilatan di samping Lou bun si yang sudah merupakan bencana besar. Kecuali melakukan perjalanan bersama tama toa siocia kami dan lohu yang melindungi keselamatan jiwanya, siapa pula yang mampu melindungi keselamatannya tanpa terjadi suatu peristiwa apapun ?"

Kam Liu cu yang mendengar perkataan tersebut segera mendongakkan kepalanya dan tertawa seram.

"Haah, haah, haah, lotiang, tidakkah kau merasa bahwa ucapanmu itu kelewat sombong sehingga kurang sedap kedengarannya ?"

Kakek Ou memandang sekejap ke arah Kam Liu cu berdua, kemudian katanya:

"Kalian adalah anggota Thian sat bun, hah haah... haah... masih mendingan juga ucapan tersebut diutarakan oleh guru kalian."

Liu Leng poo mendengus dingin, tantangnya dengan suara dingin:

"Kau ingin mencoba ?"

Menyaksikan semua orang hendak bentrok sendiri gara-gara urusannya, dengan cepat Wi Tiong-hong menjura berulang kali sembari berseru.

"Nona So, saudara Kam saudara Thio, harap kalian jangan sampai timbul kesalahan paham gara-gara urusan siaute, terus terang saja kukatakan kepada saudara sekalian, hingga kini asal usul siaute masih merupakan sebuah tanda tanya besar, maka sekarang aku ingin terburu buru mencari pamanku yang telah memelihara siaute selama ini untuk ditanyai asal usulku yang sebenarnya, itulah sebabnya siaute harus berangkat lebih dahulu."

Berbicara sampai disitu, dia lantas menjura kepada Thian Khi, Sip-cu taysu Sin ci ki Beng Kian hoo sekalian sembari berseru:

"Harap dimaafkan kalau aku terpaksa harus berangkat lebih dahulu."

Selesai berkata ia segera membalikan badan lalu beranjak pergi meninggalkan ruangan tersebut. Agaknya dia memang ada maksud untuk menghindari orang- orang tersebut gerakan tubuhnya cepat sekali.

Dalam waktu singkat bayangan tubuhnya sudah berada tujuh delapan kaki dari posisi semula dan bergelak ke depan tanpa berpaling lagi.

Dengan kecepatan yang luar biasa Wi Tiong hong bergerak meninggalkan kuil tersebut, dalam-waktu singkat dia sudah berada belasan li jauhnya dari tempat semula.

Kini didepannya muncul sebuah persimpangan jalan.

Tanpa terasa dia berhenti sejenak untuk menentukan arah tujuannya, baru saja hendak melanjutkan perjalanan..

Mendadak dari balik hutan disisi kiri jalan muncul tiga orang manusia...

Orang yang berjalan di barisan terdepan adalah seorang kakek berjenggot putih yang memakai jubah hijau, sedangkan dua orang kakek yang mengikuti di belakangnya adalah dua orang kakek berjubah abu-abu, sepasang tangan mereka lurus ke bawah, agaknya merupakan pengiring dari kakek berjubah hijau tersebut.

Kakek berjubah hijau itu muncul dengan wajah penuh senyuman, dengan sorot matanya yang dalam dia mengawasi Wi Tiong-hong beberapa saat lamanya, kemudian berkata sembari menjura:

"Yang datang apakah Wi Tiong hong, Wi sauhiap ?"

Belum pernah Wi Tiong hong berjumpa dengan kakek berjenggot putih yang memakai-jubah hijau ini, sudah barang tentu dia pun tidak kenal siapa gerangan mereka.

Sesudah tertegun beberapa saat, sahutnya sambil menjura:

"Aku adalah Wi Tiong hong, entah ada urusan apa lotiang datang mencariku?" "Atasan kami ingin sekali bersua muka dengan Wi sauhiap, oleh sebab itu sengaja mengutus lohu untuk menyambut kedatanganmu disini."

"Siapa sih atasanmu itu?" seru Wi Tiong bong tercengang, "aku sama sekali tidak kenal dengannya, mengapa dia mengutus kau untuk menyambut kedatanganku disini?"

"Mungkin atasan kami mengetahui tentang Wi sauhiap, kalau tidak, mustahil dia akan mengutus lohu untuk datang menyambut kedatanganmu.."

Mendengar perkataan itu, Wi Tiong hong segera berpikir di dalam hati:

"Siapa majikan dari kakek berjubah hijau itu dan dari mana datangnya? Lebib baik aku tanyai dulu sampai jelas sebelum bertindak."

Berpikir demikian, dia lantas mendongakkan kepala sambil bertanya:

"Siapa sia atasanmu? Dapatkah lotiang memberi petunjuk?" "Atasan kami tak memesan apa-apa, sebab itu lohu pun merasa

kurang leluasa untuk sembarangan berbicara." Mendengar itu, Wi Tiong hong segera tertawa dingin.

"Heeheehee kalau toh siapa nama atasan lotiang pun tak sudi diberitahu ada urusan apa dia mempunyai sesuatu urusan,"

"Harap lotiang sudi menyampaikan kepada atasanmu, katakan kalau aku masih ada urusan penting sehingga tak bisa memenuhi undangannya itu..."

Seusai berkata, dia lantas menjura dan bersiap-siap meninggalkan tempat itu.

Dua orang kakek berbaju abu-abu yang berdiri dibelakang kakek berjubah hijau itu segera berkelebat ke depan menghadang jalan pergi Wi Tiong hong. Diam-diam Wi Tiong hong tertegun lagi di buatnya, dengan cepat dia berpikir:

"Gerakan tubuh yang dimiliki kedua orang kakek itu sungguh cepat sekali, tampaknya ilmu silat yang dimiliki tidak lemah !"

Berpikir demikian, dengan kening berkerut segera serunya: "Mau apa kalian berdua sekarang ?"

"Atasan kami sedang menunggu di depan sana, harap Wi sauhiap sudi mengunjungi sebentar." sahut kakek berbaju hijau itu tertawa.

Wi Tiong hong tertawa dingin.

"Yang ingin berjumpa dengan diriku toh atasanmu sedang bersedia atau tidak menjumpai atasanmu adalah urusanku, atas dasar apa kalian bertiga hendak memaksaku dengan kekerasan ?"

"Lobu hanya mendapat perintah untuk menyambut kedatangan sauhiap, kami tidak berminat untuk memaksa dengan menggunakan kekerasan?"

"Bagus sekali, boleh saja aku kesitu, namun kalian mesti menjelaskan lebih dahulu siapakah atasan kalian itu. ada urusan apa mengundang kedatanganku? setelah itu baru akan kupertimbangkan lagi..."

Kakek berjubah abu-abu yang berada di-sebelah kiri itu segera membentak:

"Lengcu, orang ini enggan minum arak kehormatan, tampaknya kita harus suguhi arak hukuman!"

"Benar" sambung seorang yang lain, "kita sudah tidak banyak memiliki waktu lagi, bagai mana kalau kita bekuk saja dengan kekerasan?"

Nada pembicaraan kedua orang itu dingin, kaku dan sombong. seakan-akan tidak memandang sebelah matapun terhadap lawannya. Wi Tiong-hong dapat mendengar kalau mereka menyebut kakek berjubah hijau itu sebagai "leng cu" namun dia tidak mengetahui darimana datangnya sang Leng cu tersebut?

Selama ini. si kakek berjubah hijau itu hanya tersenyum belaka, sepintas lalu tidak mirip orang jahat, tapi dua orang pengiringnya itu sudah jelas itukan manusia baik-baik.

Kakek berjubah hijau itu sama sekali tidak menggubris ucapan kedua orang pengiringnya, dengan kening berkerut katanya lagi:

"Wi sauhiap harap kau sudi memaafkan kami, sudah banyak tahun atasan kami tak pernah melakukan perjalanan didunia persilatan, sehingga lohu memang agak kurang leluasa untuk memberitahukan siapa namanya, tapi lohu telah mendengar atasan kami berkata bahwa kepandaian silat sauhiap seperti berasal dari seorang sahabat karibnya, itulah sebabnya dia ingin sekali berjumpa dengan sauhiap."

Waktu itu Wi Tiong hong memang sedang risau dan kesal karena tidak mengetahui asal usulnya, mendengar perkataan tersebut, kontan saja semangatnya berkobar kembali, desaknya lebih jauh:

"Apa lagi yang dikatakan atasanmu itu?"

"Lohu hanya mendengar atasan kami berkata demikian saja, keadaan yang lebih jelas tidak lohu ketahui. paling baik kalan sauhiap menjumpai atasan kami sendiri dan bertanya lebih jelas."

Ucapan tersebut memang manjur sekali.

"Sekarang, atasanmu berada di mana ?" Wi Tiong hong segera bertanya dengan bernapsu.

Kakek berjubah hijau itu segera menuding ke depan sana.

"ltu dia, berada didepan sana, tak jauh dari tempat ini !" sahutnya cepat.

"Aku bersedia untuk menjumpai atasanmu itu" "Bagus sekali" seru kakek berjubah hijau itu sambil tersenyum, "harap Wi sauhiap sudi mengikuti lohu."

"Silahkan!" seru Wi Tiong-hong sambil mengangkat tangannya.

Kemudian tanpa banyak berbicara lagi dia berjalan mengikuti dibelakang kakek berjubah hijau itu, sementara ke dua orang kakek berbaju abu abu itu lalu mengikuti pula di belakang.

Setelah berjalan kurang lebih bsepertanakan nadsi kemudian, saampailah mereka bdisebuah dusun kecil dibawah bukit.

Kakek berjubah hijau itu mengajak Wi Tiong hong mendekati sebuah gubuk dekat selokan, kemudian berhenti secara tiba-tiba, Kemudian setelah menjura serunya:

"Hamba telah mengundang datang Wi sauhiap"

"Silahkan dia masuk!" suara serak seseorang berkumandang dari dalam rumah gubuk itu.

"Baik" sahut kakek berjubah hijau itu cepat, sambil membalikan badan ia berkata lagi.

"Atasan kami mempersilahkan Wi sauhiap untuk masuk!"

Wi Tiong hong segera beranjak masuk ke dalam rumah gubuk tersebut.

Waktu itu senja sudah menjelang tiba, matahari telah condong ke sebelah barat, suasana diluar ruangan masih tidak seberapa gelap, namun suasana dalam ruangan itu cukup redup.

Tampak disisi sebelah kiri dinding terdapat sebuah kursi bambu, seorang kakek berjubah lebar dan berjenggot putih duduk disitu dengan sangat angkernya.

Ditengah kegelapan, sepasang mata kakek itu memancarkan sinar tajam yang menggidikkan hati, bagaikan sembilu dia mengawasi wajah Wi Thiong hong lekat-lekat, ternyata ia tidak bangkit berdiri untuk menyambut kedatangannya. Sepasang mata Wi Tiong hong dapat dipakai untuk melihat dalam kegelapan, dalam sekilas pandangan saja dia dapat melihat kalau kakek itu mengenakan jubah panjarg berwarna hijau tua, wajahnya pucat dan daging tubuhnya kaku sehingga sekilas pandangan tidak mirip dengan manusia hidup.

Pengalaman yang dimiliki Wi Tiong hong sekarang sudah amat luas, pengetahuannya tentang dunia persilatan juga sudah maju pesat, sekilas pandangan saja dia sudah melihat kalau kakek itu mengenakan selembar kulit manusia.

Dari gerak-gerik maupun tingkah lakunya itu, dengan cepat anak muda itu mengambil kesimpulan kalau kakek yang dihadapinya sekarang sudah jelas bukan orang dari golongan lurus, diam-diam ia segera meningkatkan kewaspadaannya.

Ketika kakek berjubah hijau tua itu menyaksikap Wi Tiong-hong hanya berdiri saja dalam ruangan rumah, dia mengira pemuda itu tak dapat melihat jelas keadaan didalam karena silau, maka sambil tertawa dalam tegurnya:

"Saudara cilik, silahkan duduk, disisi sebelah kananmu terdapat sebuah kursi bambu."

Wi Tiong-hong segera menjura, katanya: "Terima kasih banyak atas undangan lotiang, bolehkah aku tahu siapa nama lotiang dan ada urusan apa mengundang kehadiranku kemari?"

Sejak perjumpaan pertama kali btadi, sepasang dmata si kakek baerjubah hijau tbua itu tak pernah terlepas dari wajah Wi Tiong- hong mendengar pertanyaan tersebut, ia segera tertawa terbahak bahak.

"Haah... haah... haah... sudah banyak tahun lohu tak pernah melakukan perjalanan dalam dunia persilatan, harap saudara cilik memanggilku dengan sebutan lotiang saja"

"Ada urusan apa lotiang mengundang kehadiranku ke sini ?

Harap kau sudi menjelaskan kepadaku" "Lohu memang ada suatu persoalan yang hendak dibicarakan denganmu, saudara cilik, siIahkan duduk lebih dulu sebelum pembicaraan mau dimulai... "

Wi Tiong hong menurut dan segera duduk dikursi yang berada di hadapannya.

Setelah mengawasi si anak muda itu beberapa saat, pelan-pelan kakek berbaju hijau tua itu berkata:

"Saudara cilik, kaukah yang bernama Wi Tiong hong ?" "Benar, aku bernama Wi Tiong hong"

"Wi Tiong.. Hong !"

Kakek berjubah hijau tua itu tertawa terkekeh-kekeh dengan suara yang aneh sekali, berapa saat kemudian ia baru berkata lagi:

"Saudara cilik, pikirku kau bukan she Wi?"

Wi Tiong hong merasa amat terperanjat, dengan cepat ia teringat kembali akan sepatah kata yang tercantum dalam surat yang ditinggalkan paman tanpa nama padanya tempo hari:

"Kau bukan dari Marga Wi, tapi sekarang kau harus tetap mempergunakan nama Wi Tiong hong sebagai pengganti namamu."

Setiap tulisan yang ditinggalkan paman tanpa nama didalam suratnya. boleh dibilang telah hapal diluar kepala, sekarang kakek itu mengatakan pula bahwa dia bukanlah she Wi, bukankah hal ini menunjukkan kalau dia memang bukan she Wi? Tapi darimana dia bisa tahu akan hal ini..?

Tapi pengalaman yang dimiliki Wi Tiong-hong kini sudah cukup luas, oleh sejak awal dia sudah merasa kalau orang ini bukan berasal dari golongan lurus, maka sesudah tertegun sejenak, katanya sembari menjura:

"Lotiang, atas dasar apa kau berkata demikian?"

Mencorong sinar tajam yang menggidikkan hati dari balik mata kakek berjubah hijau tua itu, dengan cepat dia mengerling sekejap ke-arah Wi Tiong hong, kemudian katanya seraya tertawa terbahak bahak:r

"Raut wajah saudara cilik mengingatkan lohu dengan seorang sahabat karibku..."

Sekali lagi Wi Tiong hong merasakan hatinya tergerak, katanya hambar:

"Bukan hanya seorang saja yang berwajah mirip didunia ini, mungkin lo tiang telah salah melihat orang?"

"Tentu saja lohu tak akan menganggap saudara cilik sebagai sahabat lohu haa... haah... haaa sahabat lohu itu paling tidak sudah berusia empat puluh lima tahunan saat ini, maksud lohu kemungkinan besar saudara cilik adalah putra dari sahabat lohu itu sebab..."

Ketika berbicara sampai di situ, mendadak ia menutup mulut dan tak melanjutkan kata-katanya lagi.

Wi Tiong hong segera berkata:

"Mengapa lotiang tidak melanjutkan perkataanmu itu?"

"Sebab sahabat lohu itu sudah hampir lima belas tahun lamanya tak pernah berhubungan dengan putra kandungnya itu."

Ketika ucapan "lima belas tahun" tersebut menyusup ke dalam telinga Wi Tiong hong, hampir saja dia melompat saking kagetnya.

Dia jadi teringat pula dengan tulisan paman tanpa nama didalam suratnya dulu:

"Selama lima belas tahun ini, kau selalu menganggapku sebagai ayahmu, namun dalam kenyataannya aku bukan ayah kandungmu, kalau dihitung-hitung, kau seharusnya memanggil paman kepadaku..."

Lima belas tahun, mungkinkah yang dia kakek berjubah hijau tua itu maksudkan adalah dirinya sendiri ? Tidak tidak benar, menurut dia, sahabatnya sudah lima belas tahun tak pernah berhubungan dengan putra kandungnya, itu berarti sahabat lamanya belum mati.

Padahal ayah sendiri sudah mati di tangan musuh besarnya pada limabelas tahun berselang... ini menurut tulisan dari paman tanpa nama dalam suratnya.

Sementara dia masih termenung, terasa olehnya kakek berjubah hijau tua itu sedang menatapnya dengan sorot mata yang tajam, maka ujarnya kemudian sambil menyangkal kepalanya.

"Mendiang ayahku sudah lama berpisah denganku..."

"Menurut apa yang lohu ketahui, sahabat karib lohu itu pernah memiliki sebutir mutiara, mutiara tersebut berada didalam saku saudara cilik sekarang..."

Mendengar sampai disitu, Wi Tiong hong segera berpikir:

"Yang dimaksudkan sebagai mutiara mestika tersebut pastilah mutiara Im kiam cu menurut Ban kiam hweecu, mutiara Im kiam cu berada disakuku, kemudian si kakek Ou dari Lam hay bun juga berkata demikian. Kalau dibilang Lou bun si berada disaku ku memang benar, tapi bagaimana dengan mutiara Im kiam cu tersebut ?"

Berpikir sampai disitu, maka tanyanya sambil tertawa dingin: "Apakab lotiang maksudkan mutiara Im-kiam cu?"

Kakek berjubah hijau tua itu seperti merasa tercengang dan diluar dugaan oleh pertanyaan lawan secara terang-terangan itu, setelah tertegun sejenak, katanya sambil tertawa seram:

"Benar memang mutiara itu yang lohu maksudkan."

Sekarang Wi Tiong hong baru mengerti, meskipun kakek tersebut tidak muncul dalam kuil tersebut, kemungkinan besar dia telah bersembunyi disekitar ruangan tersebut dan menyadap pembicaraan antara Ban kiam hweecu dan kakek Ou dari Lam hay bun, sehingga dianggapnya ia benar-benar memiliki mutiara Ing kiam cu tersebut. Mungkin dikarenakan alasan itulah, maka dia sengaja mengirim orang untuk memancing datang kesitu.

Dari sini, dapat disimpulkan pula kalau dia sengaja mencatut nama ayahnya dengan tujuan untuk mengincar mutiara Ing kiam cu tersebut.

Berpikir sampai disitu. tanpa terasa lagi ia tertawa nyaring, katanya kemudian:

"Kalau Lou bun si yang menggetarkan dunia persilatan mah benar-benar berada disakuku, sayang sekali dalam sakuku tidak terdapat mutiara Ing kiam cu tersebut."

Kakek berjubah hijau tua itu turut tertawa terbahak-bahak. "Haah... haah... haaah... apakah saudara cilik menganggap lohu

sedang mengincar mutiara lng kiam cu milikmu itu ?" "Memangnya bukan ?"

Berkilat sepasang mata kakek berjubah hijau tua itu, serunya setelah tertawa seram:

"Betul, lohu hanya ingin membuktikan apakah saudara cilik benar-benar merupakan putera sahabat karibku Hong Thian jin atau bukan, selain itu, aku tidak mempunyai maksud tujuan lain."

"Hong Thian-jin ?" Wi Tiong hong termenung sambil berpikir sejenak, "aku tibak kenal dengan orang itu."

Sekali lagi kakek berjubah hijau tua itu menatap wajah Wi Tiong hong lekat-lekat, kemudian tanyanya lagi dengan suara menyeramkan "Kalau begitu, tentunya saudara cilik pernah mendengar orang membicarakan tentang Sian soat Kiam-kek ( jago pedang dari Sian saat ) Ciang Lam-san bukan ?"

"Sian-soat kiam-kek Ciang Lam-san ?" Wi Tiong hong jadi teringat bagaimana Ban kiam hweecu pun pernah mengira dirinya sebagai anak murid Sian-soat kiamkek, dengan cepat dia menggeleng kembali: "Aku pernah mendengar Ban kiam hwee-cu menyinggung tentang nama Sian soat kiam kek, tapi sebelum itu belum pernah kudengar tentang nama tersebut, bersediakah lotiang untuk menjelaskan lebih jauh...?"

Dengan sorot mata yang tajam kakek berjubah hijau itu menatap wajah Wi Tiong hong lekat-lekat, dia menjadi agak tercengang sewaktu dilihatnya pemuda itu seperti tidak berbohong.

Selang berapa saat kemudian dia baru berkata lagi:

"Ciang Lam san berasal dari partai Bu tong, kalau dihitung masih termasuk paman gurunya ketua Bu tong pay saat ini Thian Yan cu. Tetapi kemudian dia bergabung dengan Ban kiam bun dan menjadi salah satu diantara delapan pelindung hukum perguruan tersebut"

Wi Tiong hong segera berpikir kembali.

"Dari delapan pelindung hukum Ban kiam-bun yang pernah kuketahui hingga kini diantaranya terdapat It teng taysu, lo pangcu dari Thi pit pang Tau pek li serta Thian sao tiau siu, nampaknya orang-oranng yang tergabung dalam delapan pelindung hukum tersebut rata rata merupakan manusia pilihan"

Sementara itu kakek berjubah hijau tua itu sudah melanjutkan kembali kata-katanya:

"Ban kiam hwee cu waktu itu mendapat kabar yang mengatakan bahwa di Lam hay bun terdapat sebutir mutiara Ing kiam cu yang bisa dipergunakan untuk mematahkan jurus pedang, konon benda mana merupakan satu-satunya benda yang bisa menandingi Bin- kiam bun, maka dia lantas mengutus jago-jago lihay nya untuk melakukan serbuan ke Lam-hay, tentu saja tujuan yang terutama adalah untuk merebut mutiara mestika itu."

"Siapa sangka, ilmu silat yang dimiliki orang orang Lam-hay bun amat lihay, jago tangguhpun banyak sukar dihitung, dalam pertarungan mana kedua belah pihak sama sama jatuh korban yang parah, konon dari kawananb jago yang menyderbu ke Lam haya, kecuali Ban kbiam hwee cu sendiri, hanya berapa orang saja dari kawanan jago lihay yang dibawanya berhasil mundur dengan selamat."

Wi Tiong hong manggut-manggut.

"Yaa, tentang soal itu memang pernah kudengar"

Kakek berjubah hijau itu tidak menggubris ucapannya, kembali dia berkata lebih jauh:

"Beratus orang jago lihay yang dibawa Ban kiam hwee cu, akhirnya tumpas dalam pertarungan mana, mutiara Ing kiam cu juga gagal didapatkan, sejak menderita pukulan berat itu, Ban kiam bun ikut lenyap pula dari peredaran dunia persilatan hampir puluhan tahun lamanya."

Setelah berhenti sejenak. dia berkata lebih jauh:

"Dari delapan orang jago lihay yang berhasil kabur dari pengepungan di Lam hay, akhirnya merekapun menyebarkan diri ke mana-mana, menurut berita, sewaktu melakukan penyerbuan ke Lam hay bun tempo hari, Ciang-Lam San san berhasil merampas sebuah kertas berisi ilmu pedang yang tidak utuh, sejak itu dia mengasingkan diri di bukit Sian Soat nia.

"Sejak itulah orang menyebutnya sebagai Sian soat kiam kek, sedangkan ilmu silat andalannya adalah Pek lek sam ceng (tiga getaran geledek) yang khusus untuk menggetarkan senjata tajam lain, konon ke tiga jurus ilmu pedang tersebut berasal dari lembaran kitab pusaka yang sudah tak lengkap lagi itu!"

Tergerak hati Wi Tiong hong setelah mendengar perkataan itu, pikirnya kemudian:

"Setelah Ban kiam hweecu menyakinkan jurus it goan hu si. Pau im cu yang dan Sam hoa ki teng yang kumainkan, dia lantas menganggap jurus-jurus tersebut sebagai Kam-sam ceng dari Sian soat kiam kek, mungkin ilmu tersebutlah yang dimaksudkan olehnya sekarang sebagai Pak lek sam ceng?"

Kemudian setelah berhenti sejenak, dia berpikir lebih jauh: "Ooooh" rupanya Sian soat kiam kek bermula dari Bu tong pay, kalau begitu adakah sesuatu hubungan antara ketiga jurus ilmu pedangku itu dengan dirinya?"

Sementara dia termenung, terdengar kakek berjubah hijau itu sudah tertawa terbahak-bahak.

"Haaahh... haaahh... haaah... dengan susah payah Ban kiam hweecu mengirim orang-orangnya untuk menyerbu Lam hay bun, akhirnya dia tidak berhasil mendapatkan mutiara lng kiam cu tersebut, coba kau tebak, akhirnya mutiara tersebut terjatuh ditangan siapa ?" 

Tanpa berpikir panjang Wi Tiong hong segera berkata:

"Kalau didengar dari nada pembicaraan lo tiang, mungkinkah ia adalah Sian soat kiamkek?"

Kakek berbaju hijau tua itu setgera manggut-maqnggut.

"Benar, peristiwa ini baru diketahui puluhan tahun kemudian, saat itu Sian soat kiamkek sudah mati, dan orang persilatan baru tahu kalau mutiara Ing kiam cu tersebut sebenarnya terjatuh di tangannya."

Wi Tiong hong hanya mendengarkan dengan tenang, tak sepatah katapun yang diucapkan.

Dengan tajam kakek berjubah hijau itu mengawasi sekejap wajah Wi Tiong hong, kemudian setelah tertawa seram katanya:

"Setelah Sian soat kiam kek meninggal dunia, tentu saja mutiara Ing kiam cu tersebut terjatuh ke tangan Hong Thian-jin, anak muridnya, peristiwa itu terjadi lima belas tahun berselang dan kini mutiara Ing-kiam cu tersebut muncul pula disaku saudara cilik, kebetulan sekali paras muka saudara cilikpun mirip sekali dengan raut wajah Hong Thian jin."

Sesudah mendengar uraian tersebut, lambat laun Wi Tiong hong mulai mempercayai perkataannya, diam-diam ia berpikir: "Jangan-jangan Hong Thian jin benar-benar adalah ayah kandungku ?"

Berpikir demikian, dia lantas mendongakkan kembali seraya berkata:

"Tapi didalam sakuku benar-benar tidak terdapat mutiara Ing kiam cu tersebut."

Kakek berbaju hijau itu segera mengalihkan sorot matanya ke atas tangan kiri pemuda itu, lalu katanya sambil tertawa seram:

"Saudara cilik, kau mengenakan apa pada jari tengah tangan kirimu itu?"

"Oooh, benda itu adalah cincin Ji gi huan !"

Kakek berbaju hijau itu segera tertawa terbahak-bahak.

"Haaah... haaah... haahh... Ji gi-huan merupakan senjata rahasia dari Bu-tong pay aku yakin hal ini tak salah, tapi mengapakah diatas cincin yang melingkari jari tangan kirimu itu terdapat sebutir mutiara besi sebesar kacang kedelai?"

"Yaa cincin ditangan kananku juga terdapat mutiara besinya" bantah pemuda itu cepat.

Kakek berjubah hijau itu kembali tertawa aneh.

"Mutiara Ing kiam cu terletak pada cincin yang melingkar jari tangan kirimu, sedangkan mutiara besi yang berada cincin ditangan kananmu hanya sebagai tipuan belaka. Tentunya kau mengerti akan perkataan lohu bukan?"

Sekarang Wi Tiong hong semakin mempercayai perkataan orang itu, namun dia hanya membungkam saja sambil termenung.

Kembali kakek berjubah hijau itu berkata:

"Saudara cilik, apakah kau masih belum percaya kalau kau adalah putra sahabat karibku itu?"

"Tentang soal ini..." "Saudara cilik tak usah merasa kesulitan" tukas kakek berjubah hijau itu sambil tertawa licik, "lohu masih mempunyai sebuah cara untuk membuktikan hal ini."

"Silahkan kau utarakan."

"Sudah lohu katakan tadi, Sian soat kiam khek mempunyai tiga jurus ilmu pedang yang disebut Pek lek sam ceng, tentunya kau mampu mempergunakan jurus pedang tersebut bukan?"

"Aku hanya bisa memainkan ilmu pedang Ji gi kiam kek, tidak kuketahui tentang Pek lek sam ceng, namun didalam ilmu pedang Ji gi kiam kek memang terdapat jurus serangan yang khusus dipakai untuk menggetar lepas senjata orang, apakah jurus serangan tersebut mengandung ilmu Pek lek sam ceng atau tidak, soal tersebut tidak kuketahui dengan jelas."

Sepasang mata si kakek berbaju hijau yang licik hanya mengawasi Wi Tiong-hong selama ini tanpa berkedip, menanti pemuda tersebut menyelesaikan kata-katanya ia baru berkata sambil tersenyum:

"Soal itu mah gampang, lohu akan mencoba beberapa gebrakan denganmu, asal kau gunakan ilmu mana. maku lohu akan segera dapat mengenalinya..."

Berbicara sampai disitu, pelan-pelan dia beranjak dari tempat duduknya, kemudian berkata lagi:

"Ayo berangkat, mari kita mencoba diluar ruangan !"

Baru saja ucapan tersebut diutarakan dan Wi Tiong hong belum sempat menjawab, tampak bayangan manusia berkelebat lewat segulung asap ringan, entah dengan gerakan apakah dia berkelebat, tahu-tahu saja sudah menyambar melalui sisi Wi Tiong hong dan tak nampak lagi bayangan hidungnya.

Diam-diam Wi Tiong hong merasa terkejut atas kejadian tersebut, segera pikirnya: "Sungguh cepat gerakakan tubuh orang ini, hampir saja aku tak sempat untuk melihat jelas, ditinjau dari hal ini bisa dibuktikan kalau tenaga dalamnya telah mencapai puncak kesempurnaan..."

Buru-buru dia membalikkan kepalanya tampak Kakek berjubah hijau itu sudah berdiri tiga kaki diluar pintu sambil berkata:

"Saudara cilik, cepatlah ikut keluar !"

Wi Tiong hong segera turut berjalan keluar dari gubuk tersebut, ditengah remang-remangnya cuaca tampaklah di kiri kanan rumah gubuk itu berdiri empat orang kakek berjenggot putih yang berjubah hijau, dibelakang setiap kakek berjubah hijau itu, masing masing berdiri dua orang kakek berjubah abu-abu yang berdiri dengan sepasang tangan diluruskan ke bawah.

Wi Tiong hong merasa keheranan sekali, karena ke empat orang kakek berjenggot putih berjubah hijau itu baik wajah maupun bentuknya hampir serupa semua sehingga sulit baginya untuk membedakan manakah kakek berjubah hijau yang menyuruhnya keluar tadi.

Walaupun ke empat orang kakek berjenggot putih berjubah hijau serta ke delapan kakek berjubah abu-abu itu hanya berdiri tak berkutik disitu dengan wajah yang sangat serius, namun Wi Tiong hong yang menyaksikan kejadian tersebut mau tak mau harus meningkatkan kewaspadaannya.

Sebenarnya apa maksud dan tujuan kakek berbaju hijau itu terhadap dirinya ?

Salah seorang diantara ke empat kakek berjubah hijau itu segera tersenyum, ujarnya sambil mengangkat kepalan.

"Saudara cilik. silahkan loloskan senjatamu!"

"Lotiang, apakah kau mengajakku bertarung hanya dikarenakan ingin membuktikan bahwa aku pandai ilmu Pek lek-sam kiam atau tidak?" tanya Wi Tiong hong agak ragu. "Yaa, memang begitulah." sahut kakek berjubah hijau itu sambil manggut-manggut.

"Kalau memang begitu, buat apa lotiang mesti turun tangan sendiri ? Asal kumainkan sekali dihadapan lotiang, bukankah hal mana sudah lebih dari cukup ?"

"Tidak salah" kata kakek berjubah hijau itu sambil menggeleng, "keampuhan dari Pek lek-sam ceng terletak didalam hal menggetar, tanpa terjun sendiri ke arena, kalau hanya menonton saja mah tak mungkin bisa dirasakan."

"Oooh, rupanya begitu, lotiang suruh aku meloloskan pedang, apakah lotiang sendiri tidak meloloskan senjata ?"

"Tentu saja lohu akan menggunakan senjata" selesai berkata, tangan kanannya segera di getarkan dan dari pinggangnya meloloskan sebuah ikat pinggangnya.

Tapi didalam getaran itulah, ikat pinggang tersebut telah digetarkan sehingga tegak lurus seperti sebatang pit, katanya kemudian sambil mengangkat kepala:

"Lohu akan mempergunakan ikat pinggang ini untuk bertarung bertarung beberapa gebrakan dengan saudara cilik."

 OdwO 

TENTU SAJA Wi Tiong-hong tahu, tanpa ditunjang oleh tenaga dalam yang sudah mencapai puncak kesempurnaan mustahil ikat pinggang yang lemas tersebut bisa digetarkan hingga keras bagaikan sebuah ruyung tembaga:

Maka dia pun tidak banyak berbicara lagi, setelah mundur selangkah, dari sakunya dia cabut keluar pedang Jit-siu-kiam.

Dengan sorot mata tajam kakek berbaju hijau itu mengawasi pedang karat Wi Tiong-yang sama sekali tak bersinar itu. Kemudian setelah memandang tangan pemuda itu lekat-lekat, dia mendongakkan kepalanya dan tertawa seram. "Haaah, haaah, haaah, pedang bagus ! pedang bagus !" serunya sambil manggut-manggut.

Wi Tiong hong merasakan gelak tertawa tersebut amat keras dan nyaring sehingga menggetarkan sukma orang, tanpa disadari timbul perasaan seram didalam hati kecilnya.

"Saudara cilik, berhati-hatilah, lohu akan segera turun tangan !" seru kakek berjubah hijau itu tiba-tiba.

Dengan langkah lebar dia maju ke depan, ikat pinggangnya diputar di tengah udara sehingga menimbulkan desingan angin serangan yang tajam, kemudian segera munculIah selapis bayangan hitam yang mengurung seluruh tubuh anak muda tersebut."

Dengan perawakan tubuh yang tinggi besar, meski getaran ikat pinggang itu dilakukan dengan suatu gerakan yang lamban, namun dalam kenyataannya menimbulkan kekuatan yang luar biasa.

Wi Tiong hong semakin terkesiap lagi setelah menyaksikan permainan ikat pinggang lawan bisa menimbulkan kekuatan yang begitu dahsyat, dengan cepat tangan kirinya membuat gerakan aneh, menyusul kemudian tubuh berikut pedangnya meluncur ke muka, begitu lolos dari sambaran lawan, dengan jurus Thian lo tiap bo (ajaran langit diamalkan) dia melancarkan serangan balasan.

"Jurus serangan ini merupakan jurus pedang dari Bu tong kiam hoat..!" bentak kakek berjubah hijau itu dengan suara dalam.

Tangan kanannya segera diputar, mendadak permainan ikat pinggang tersebut berubah, dalam waktu singkat kedahsyatannya terasa berlipat ganda, tampaknya bayangan ikat pinggang bermunculan dari empat arah delapan penjuru dan menggulung bersama-sama ke depan. 

Ditengah lapisan bayangan ikat pinggang yang tebal, terdengar kakek berjubah hijau itu membentak dengan suara yang dingin dan berat:

"Saudara cilik, mengapa tidak kau gunakan ke tiga jurus ilmu pedang tersebut ?" Waktu itu, Wi Tiong hong sedang merasakan kepayahan untuk membendung datangnya lapisan bayangan ikat pinggang yang begitu berlapis-lapis, mendengar bentakan mana, dia merasakan semangatnya berkobar kembali, dengan cepat dia mundur setengah langkah, pedangnya diputar kencang dan melancarkan serangan dahsyat.

Dia sendiripun ingin cepat-cepat membuktikan apakah ke tiga jurus ilmu pedang penggetar senjata lawan yang terdapat dalam ilmu pedang Ji gi kiam-hoat tersebut benar-benar adalah Pek lek- sam ciang seperti apa yang di katakan kakek tersebut.

Seandainya benar, itu berarti teka-teki sekitar asal-usulnya akan segera terungkap.

Berpikir sampai disitu, secara beruntun dia segera mengeluarkan jurus It goen hu si, Pau-im hu yang dan Sam hoa ki teng.

Ke tiga jurus pedang tersebut dilancarkan secara berantai, tampak bayangan padang segulung demi segulung memancar keluar dari ujung pedangnya dan segera menyambar ke-arah bayangan ikat pinggang yang sedang menyelimuti seluruh angkasa.

Seharusnya bentrokan antara pedang dengan ikat pinggang tersebut tidak akan menimbul suara apa-apa, namun sewaktu pedang W Tiong hong saling membentur dengan ikat pinggang lawan, ternyata berkumandanglah tiga kali suara benturan yang amat nyaring.

"Traang! Traang!"

Tentu saja ikat pinggang tak bakal menimbulkan suara, suara tersebut ditimbulkan karena pedang itu memperoleh sentilan keras yang menimbulkan suara getaran.

Namun didalam tiga kali bentrokan mana. dalam perasaan Wi Tiong hong, senjata yang berada ditangan lawannya justru seakan- akan tidak mirip dengan ikat pinggang.

Bagaikan membentur diatas sebuah senjata baja yang mempunyai daya tahan kuat, separuh badannya bergetar keras sampai kesemutan, pergelangan tangan kanannya yang menggenggam pedangpun hampir saja menjadi lumpuh, tak bisa dikuasai lagi, tubuhnya terdorong mundur sejauh tiga langkah lebih.

Yang lebih aneh lagi adalah pedang karat yang berada ditangannya ini, Jit siu kiam yang termashur karena ketajamannya itu ternyata tak mampu mengapa-apakan sebuah ikat pinggang.

Bayangan ikat pinggang yang menyelimuti seluruh angkasa itu tahu-tahu menjadi sirap dan lenyap.

Tampak kakek berjubah hijau itu memutar sepasang tangannya lalu mengikat kembali ikat pinggangnya diatas pinggangnya, kemudian sambil memandang ke arah Wi Tiong bong dengan sorot mata yang membesi dia tertawa terkekeh-kekeh, katanya:

"Kau masih muda, namun memiliki kepandaian yang luar biasa. sungguh merupakan suatu peristiwa yang tidak gampang."

Buru-buru Wi Tiong hong segera menarik kembali pedangnya, setelah itu tanyanya:

"Lotiang, apakah berhasil kau ketahui apakah ilmu yang kugunakan itu adalah pek-lek-sam kiam ?"

Hilang lenyap senyuman yang menghias wajah kakek berjubah hijau itu, katanya dengan suara menyeramkan:

"Sulit untuk dibicarakan !"

"Kalau begitu bukan ?" seru Wi Tiong hong agak kecewa. Dengan senyum tak senyum kakek berbaju hijau itu berkata lagi:

"Belum tentu demikian, bila ditinjau dari gerakan pedang yang saudara cilik gunakan, nyata kalau bukan ilmu Pek lek sam ceng, tapi kalau dilihat dari tenaga dalam yang dipancarkan dibaiik pedang tersebut, jelas merupakan simhoat dari ilmu Pek lek sam ceng."

Berbicara sampai disini, mendadak ia berhenti sejenak sambil mengawasi Wi Tiong hong dengan tenang, agaknya dia sedang menantikan reaksinya.. Ketika Wi Tiong hong mendengar kakek berjubah hijau itu pun tak mampu memastikan tentu saja dia mengira hal ini sebagai kenyataan.

Sementara itu kakek berjubah hijau tersebut telah berkata lebih jauh setelah berhenti sejenak.

"Namun menurut dugaan lohu, orang yang mewariskan ketiga jurus ilmu pedang itu kepada saudara cilik sudah pasti memahami sekali ilmu pedang Bu tong pay, setelah melalui pemikiran yang cermat, rupanya dia memang sengaja hendak merahasiakan indentitas ilmu pedang yang sebenarnya, entah siapakah yang mewariskan ilmu pedang tersebut kepada saudara cilik?"

Wi Tiong hoig hendak menjawab kalau orang itu adalah paman tanpa nama yang telah memelihara sejak dari kecil dulu, tapi tiba tiba saja tergerak hatinya, dia teringat kembali dengan peringatan yang berulang kali disinggung paman tanpa nama itu dalam suratnya.

Di dalam surat mana diperingatkan bila ada orang menanyakan tentang asal usul perguruannya, maka dunia persilatan amat berbahaya dan licik, asal usul yang sesungguhnya tak boleh disiarkan kepada orang lain secara sembarangan.

Tindak tanduk kakek berjubah hijau yang sangat aneh itu segera menimbulkan kewaspadaan, ucapan yang sudah berada diujung bibir nya terasa ditelan kombali, katanya kemudian dengan cepat:

"Guruku adalah Thian Goan cu, tentu saja ilmu pedangku juga kupelajari dari guruku itu"

Sebagai seorang jago kawakan yang sudah berpengalaman dalam dunia persilatan tentu saja tindak sang pemuda yang membuka mulutnya ingin berbicara yang kemudian diurungkan itu tak dapat mengelabuhi sepasang mata kakek berjubah hijau tersebut, setelah tertawa seram gumamnya: "Dulu, Sian-soat-kiam kek Ciang Lam sam juga berasal dari perguruan Bu tong pay, tentu saja anak muridnya pandai pula mempergunakan pedang Bu tong pay !"

Walaupun ucapan mana hanya di utarakan secara bergumam belaka, namun secara diam-diam seperti hendak menegur Wi Tiong hong bahwa apa yang diucapkan olehnya bukan kata kata yang jujur.

Mendadak sepasang matanya berkilat tajam, ditatapnya Wi Tiong-hong dengan sorot mara setajam sembilu, kemudian dia berkata dengan nada yang tenang:

"Lohu hanya kangen dengan sahabat lamaku dan sama sekali tidak mempunyai maksud-maksud tertentu. baiklah, soal ini saudara cilik boleh terangkan nanti saja, setelah kau memahami asal usul lohu yang sebenarnya."

Dibongkar kebohongannya, kontan saja paras muka Wi Tiong hong berubah menjadi merah padam.

Kembali kakek berjubah hijau itu berkata: "Thian goan cu berasal dari Siu lo, dia merupakan seorang dedengkot dari golongan lurus dan sesat, saudara cilik sebagai anak murid Thian Goan cu, tentunya menguasai ilmu golok Siu lo to bukan?"

"Ooh, rupanya dia tak percaya kalau aku adalah anak murid Thian Goan cu maka sengaja menanyakan soal ilmu silat dari Siu lo bun kepadaku..." demikian pikir Wi Tiong hong. Dia lantas menjura sambil menyahut: "Tenaga dalam yang kumiliki terbatas sekali bisanya sih bisa, cuma kurang sempurna."

"Tak menjadi soal coba gunakanlah agar lohu saksikan. "

"Apa yang harus kulakukan sehingga lotiang dapat mencobanya?"

Kakek berjubah hijau itu tertawa seram. "Dahulu lohu sudah pernah berjumpa beberapa kali dengan Thian Goan cu, konon ilmu Siu lo to merupakan ilmu khikang yang dipancarkan seperti babatan golok yang mampu untuk membobolkan serangan pukulan orang, tentu saja lohu harus melancarkan serangan untuk membuktikannya sendiri."

Berbicara sampai disini, pelan-pelan dia mengangkat tangan kanannya kedepan kemudian membentak:

"Saudara cilik, apakah kau sudah mempersiapkan diri baik baik...?"

Wi Tiong hong tahu, setelah dia mengucapkan perkataan tersebut berarti dia harus menyambut pukulan itu dengan kekerasan, terpaksa segenap tenaga dalamnya dihimpun, telapak tangan kanannya di silangkan di depan dada, lalu berkata dengan serius:

"Aku akan menuruti perintah saja, nah, bersiap siaplah secara baik-baik."

"Baik..." seru kakek berjubah hijau itu dengan suara dalam.

Telapak tangannya yang sudah terangkat itu pelan-pelan di ayunkan kedepan melancarkan sebuah pukulan dahsyat.

Jarak antara Wt Tiong hong dengannya sekarang paling tidak mencapai satu kaki lebih, begitu serangan lawan dilontarkan, dia segera merasakan datangnya segulung angin pukulan yang meluncur ke arah depan tubuhnya.

Tenaga pukulan tersebut sangat kuat bagaikan bukit dan menyelimuti daerah seluas tujuh delapan depa lebih.

Wi Tiong-hong tak berani berayal lagi, telapak tangan kanannya yang disilangkan di depan dada segera diayunkan pula ke depan melepaskan sebuah bacokan kilat.

Tampaknya tenaga dalam yang dimiliki kakek berjubah hijau itu sudah mencapai tingkatan mengerahkan dan menarik serangan sekehendak hatinya sendiri.

Begitu angin pukulan dilepaskan segera meluncur ke depan dengan kecepatan luar biasa namun ketika baru saja mencapai di hadapan Wi Tiong-hong, mendadak gerak serangan tersebut melamban dan pelan-pelan mendorong ke muka.

Sebaliknya serangan yang dilancarkan Wi Tiong hong dibacokkan secara langsung, tentu saja gerakannya cepat sekali, kedua gulung angin pukulan itu langsung bersentuhan satu sama lainnya hanya empat depa dihadapan Wi Tiong hong.

Bentrokan mana segera menimbulkan suara desingan yang amat nyaring...

"Criing !" kemurdian disusul berubah menjadi desingan yang memanjang..."

Enam tujuh depa disekeliling kakek beriubah hijau itu segera diliputi dergan angin pukulan yang menderu-deru, seperti memotong kertas saja, semuanya kena dibabat oleh desingan angin pukulan Wi Tiong hong yang tajam itu.

Angin golok menembus langsung ke dalam dan akhirnya... "Blaamm !" persis menghajar dada kakek berjubah hijau itu.

Jubah hijau yang dikenakan kakek itu menggelembung besar dan bergoyang kencang mesti tidak terhembus angin, serunya sambil tertawa terbahak-bahak:

"Lohu yang menggunakan tenaga sebesar tiga bagianpun tak mampu untuk menahan seranganmu, ilmu Siu lo-to memang benar- benar luar biasa sekali..."

Wi Tiong hong merasa amat terperanjat ketika dilihatnya serangan tersebut bersarang telak diatas dada lawan, dengan wajah memerah katanya kemudian:

"Aaaah, rupanya aku telah salah turun tangan, apakah telah melukai lotiang ?"

Sekilas rasa bangga menghiasi wajah kakek berjubah hijau itu, ujarnya sambil tertawa:

"Aaaah, kalau hanya Siu lo to mah belum dapat melukai lohu..." Sembari berkata mendadak tubuhnya mendesak maju ke depan, sepasang matanya memancarkan cahaya hijau, serunya sambil tertawa seram:

"Saudara cilik, rupanya kau adalah ahli waris dari Pit Ki beng..." Tangan kirinya segera diayunkan kemuka dan menyambar bahu

Wi Tiong hong dengan kecepatan tinggi.

Betapa terkejutnya Wi Tiong hong menyaksikan serbuan lawan, apalagi setelah dilihatnya paras muka kakek berjubah hijau itu menyeringai seram dan seakan-akan tidak mengandung maksud baik.

Tubuhnya mundur ke belakang dengan cepat, mendengar nama "Pit Ki beng" hatinya merasa terkejut sekali.

"Jangan-jangan orang itu mempunyai dendam kesumat dengan paman tanpa nama?" demikian ia berpikir.

Lolos dari cengkeraman lawan, dia segera berteriak keras: "Lotiang, mau apa kau ?"

Gagal dengan cengkeramannya yang pertama, sebenarnya kakek berjubah hijau itu berniat untuk mengejar lebih jauh, mendadak berkilat sepasang matanya seperti telah menemukan sesuatu, sambil menghentikan langkahnya dia tertawa terbahak-bahak.

"Haah... haah... haah... lohu hanya berniat untuk mencoba reaksi dari saudara cilik saja !"

Belum habis berkata, seseorang telah menyambung sambil mendengus "Hmm, belum tentu !"

Sesosok bayangan manusia meluncur datang dengan kecepatan luar biasa, baru saja ucapan tersehut diutarakan, bayangan manusia tadi sudah melesat lewat dari sisi tubuh Wi Tiong hong.

Baru saja orang itu muncul, dari sisi kiri telah muncul kembali dua sosok bayangan manusia yang meluncur datang. Menyusul kemunculan orang itu, terdengar seseorang berseru sambil tertawa nyaring.

"Saudara Wi, Kam Liu cu telah datang!"

Yang datang lebih duluan itu tertawa mengejek:

"Hmm... tidak terhitung lambat kedatangan dari kalian dua bersaudara !"

Salah seorang diantara dua orang yang datang belakangan segera mendengus lalu mengejek pula dengan suara dingin tapi merdu:

"Kau pun tidak lebih cepat banyak !"

Wi Tiong-hong berpaling ke arah di mana munculnya bayangan manusia tersebut, ternyata yang datang lebih duluan adalah si kakek berbaju coklat itu, kakek Ou yang berilmu tinggi dari Lam hay bun, dia melayang turun disebelah kanannya.

Dua orang yang datang belakangan adalah Kam Liu cu serta Liu Leng poo, mereka melayang turun di sisi kirinya.

Jelas ke tiga orang itu datang untuk memberi bantuan kepadanya

Tajam amat sepasang mata kakek berjubah hijau itu, sekilas pandangan saja dia dapat melihat kalau kakek Ou serta Kam Liu cu sekalian yang berada di arena memiliki tenaga dalam tidak berada di bawah sendiri, kenyataan mana membuat hatinya amat terkesiap.

ooOdwOoo