-->

Pedang Karat Pena Beraksara Jilid 21

Jilid 21

”MENURUT apa yang tercatat dalam buku, Lou bun si adalah sejenis benda yang terbuat dari logam keras, bukan saja dapat memotong emas membelah kemala, dapat pula menghindari api dan memunahkan racun, oleh sebab itulah ular beracun atau benda beracun lainnya yang berada setengah li darinya akan hilang lenyap dan kabur terbirit-birit."

"oooh... rupanya mempunyai kegunaan sejauh itu" Seru Ban kiam Hwee cu sambil manggut- manggut.

Lok Khi tak mau kalah, sembari mencibirkan bibirnya dia turut berseru keras:

"Makanya semua orang menggunakan siasat yang paling licik dan perbuatan paling keji untuk mendapatkan benda tersebut rupanya benda tersebut mempunyai kasiat yang luar biasa."

Pelan-pelan Ban kiam Hwee cu memandang sekejap wajah para yang hadir disana, kemudian pelan pelan ujarnya: "Lou bun si dikatakan bisa memotong emas membelah kemala tidak takut api dan bisa memunahkan racun, apakah kita akan mencobanya satu per satu ? Aku mohon diantara saudara sekalian sudi menampilkan dua orang wakil untuk menyelenggarakan percobaan ini, entah bagaimanakah menurut pendapat kalian?"

"Menurut pendapat lohu" kata sin ci ki Beng Kian hoo cepat, "lebih baik kita memohon kepada Wi lote dan nona Su berdua untuk mewakili segenap hadirin yang ada untuk mencoba Lou bun si tersebut."

Begitu ucapan tersebut diutarakan serentak usulnya itu memperoleh dukungan dari beberapa orang.

Dalam waktu singkat, sorot mata semua orang pun bersama sama dialihkan kewajah Su Siau-hui.

Sambil tersenyum Ban-kian Hwee-cu menjura dan berkata: "Kalau toh semua orang memilih dua orang saudara ini, sekarang

kumohon kepada kedua orang itu untuk segera tampil kedepan."

Wi Tiong-hong dan Su Siau-hui segera bangkit berdiri dan bersama-sama menuju kemuka. Lok Khi yang menyaksikan hal tersebut kontan saja mencibirkan bibirnya, dengan wajah hijau membesi dia segera melengos kearah lain-

Sementara itu Wi Tiong-hong telah menjura sembari bertanya: "Hwee cu entah bagaimana cara mencobanya ?"

Ban-kiam Hwee cu tertawa ringan, sahutnya:

"Tentang soal ini, lebih baik nona Su saja yang mengambil keputusan "

Su Siau hui yang ada bersama-sama Wi Tiong hong merasa gembira sekali, wajah yang semula nampak murung dan kesepian, kini tersungging sekulum senyUman yang amat manis.

Mendengar ucapan tersebut, dia melirik sekejap kearah Wi Tiong hong, lalu sahutnya sambil tersenyum: "Lou bun si merupakan benda yang bisa memotong emas membelah kemala, sekali pun pedang atau golok yang terbuat dari baja aslipun tak akan tahan menghadapi guratannya. lebih baik kita menggunakan pedang dan golok dan sebagai barang percobaan."

congkoan dari pasukan jago pedang berpita hijau Buyung siau segera mengulapkan tangannya, seorang jago pedang berpita hijau tampil ke depan dan menyodorkan sebilah pedang panjang.

"Berikan kepadanya" perintah Su Siau hui sambil menuding kearah Wi Tiong hong.

Mendengar suara si nona yang begitu mesrah terhadap Wi Tiong hong, paras muka Lok Khi segera berubah menjadi kehijau-hijauan, tak tahan dia segera mendengus berat-berat.

Wi Tiong hong menerima pemberian pedang tersebut dari jago pedang berpita hijau itu, kemudian sambil mendongakkan kepalanya dia bertanya: "Nona, bagaimana cara kita untuk mencoba nya?"

Su siau hui tertawa, dia mengambil Lou bun si tersebut untuk membuat guratan diatas tubuh pedang tersebut, hasilnya kan ketahuan.

Wi Tiong menurut dan menggunakan Lou- bun si itu untuk membuat suatu guratan diatas tubuh pedang tersebut.

Kini semua sorot mata para jago telah tertuju keatas tubuh pedang itu, semua orang ingin cepat cepat tahu apakah pena kemala itu yang tulen atau bukan.

Tampak ujung pena tersebut menggurat diatas tubuh pedang tersebut dan lewat dengan begitu saja, sama sekali tidak nampak sesuatu gejala yang aneh. Wi Tiong hong segera mendongakkan kepalanya memandang kearah Su Siau hui.

Sebelum dia mengeluarkan sesuatu Seh Tbian yu sudah tak sanggup menahan diri lagi segera tanya nya.

"Nona Su sudah berhasil kau coba ?" "Tentu saja telah kucoba " "Asli atau tidak ?" tanya Ban-kiam hwee cu.

So Siau hui memandang sekejap kearah nya, kemudian menjawab "Tentu saja asli "

"Yang asli ?" seluruh badan Ban kiam hwee cu nampak tergetar keras sekali.

Kontan saja Su Siau hui tertawa dingin.

"Heeeh, heeeh, heeh. asli atau tidaknya Lou bun si tersebut seharusnya hweecu sudah mengetahui sedari tadi bukan ?" jengeknya.

"Seandainya aku sudah tahu, tak bakal ku repotan kalian berdua."

Su Siau hui mendengus dingin.

"Hmm. Hwee-cu lebih pantas kalau mengatakan sudah merepotkan semua orang "

Berbicara sampai disitu, dia lantas berpaling kearah Wi Tiong hong sambil ujarnya lagi.

"Wi siauhiap. kau harus mundur sekarang."

Dari pembicaraan nona tersebut, Wi Tiong hong merasa Lou bun si tersebut seperti bukan yang asli, hal mana membuat hatinya bingung dan merasa tidak habis mengerti

Menyaksikan Su Siau-hui sudah membalikkan badan dan mengundurkan diri dari situ, terpaksa ia letakkan kembali pedang dan Lou bun si itu keatas meja, kemudian turut mengundurkan diri.

"Kalau begitu benda tersebut palsu." seru Seh Thian yu tiba-tiba sambil tertawa kering

"Heeh, heeh. heeeh, sudah siaute duga, seandainya benda yang asli sudah terjatuh ketangan pihak Ban kiam hwee, masa dia akan bersikap begitu terbuka dan sosial untuk mengundang kehadiran semua orang ?" "Tapi hari ini, bagaimanapun juga kita sudah membantu pihak Ban kiam hwee," sambung Su Siau hui kemudian-

Kam Liu cu tertawa terbahak-bahak, katanya pula setelah berhenti dari tertawa nya:

"Benar, dalam dunia persilatan dewasa ini sudah tersebar berita yang mengatakan kalau Lou- bun si telah terjatuh ketangan orang orang Ban kiam hwee, dan sekarang Ban kiam hweecu telah mengUmpulkan kita semua disini, tentu saja maksudnya untuk menghilangkan berita sensasi tentang Ban kiam hwee mereka melalui mulut kita- kita ini."

"Sesungguhnya kenyataan memang demikian, tapi Ban kiam hweecu sebagai seorang pemimpin dari suatu perkumpulan besar tentu saja tak akan mengakui begitu,"

Buru- buru katanya sembari menjura:

"Apabila kalian semua menuduh begitu, aku pun tak bisa berbicara apa-apa lagi."

Kakek pengait dari langit tertawa terbahak-bahak.

"Haaah . . . haaahh . . . haaah . . . tiga puluh tahun berselang, lohu mendapat undangan dari si tua Tau, meskipun waktu itu aku sudah tahu kalau pena kemala yang diperolehnya cuma barang palsu, namun aku toh menghadiri juga pertemuan besar Lou bun si tersebut, tiga puluh tahun kemudian ternyata muncul kembali kejadian yang sama dengan munculnya sebatang pena gadungan lagi, padahal lohu sama sekali tidak berminat untuk turut memperebutkannya, aku datang karena rasa ingin tahu, aku ingin melihat benda macam apakah Lou bun si tersebut, mari Mari. berikan benda palsu tersebut untuk kuperiksa"

Ketika tangannya menggapai sungguh aneh sekali pena kemala yang terletak diatas meja tersebut mendadak melayang ke tengah udara dan meluncur ketangannya. Setelah menangkapnya, Kakek pengawal dari telaga langit itu menggosok dan memandangnya beberapa saat, akhirnya sambil menggeleng dia berguman:

"Yaa benda ini tak berbeda sedikitpun bentuknya dengan pena yang diperoleh si tua Tau pada tiga puluh tahun berselang, benda ini benar-benar sudah mencelakai banyak orang, lebih baik lohu memusnahkannya saja,,."

Rupanya dia masih belum percaya kalau Lou bun si itu palsu, maka ingin dicobanya sendiri untuk membuktikan keasliannya.

Begitu selesai berkata, ke dua jari tangannya segera menyentil kuat kuat . .

"Pleetak" pena kemala yang berwarna hijau itu seketika itu juga hancur dan berubah menjadi bubuk.

Sambil menghela napas panjang Kakek pengail dari telaga langit berkata:

"Aaai . .. ternyata memang benar-benar palsu. Tapi begini pun ada baiknya, setelah dua batang pena palsu remuk semua, maka bila dalam dunia persilatan muncul sebuah Lou bun-si lagi, sudah dapat dipastikan benda itu yang asli Aaaai . .. sayang sekali lohu sudah tak berjodoh untuk menyaksikannya kembali "

Selesai berkata, dia lantas bangkit berdiri dan menggapai kearah Lok Khi sembari berkata.

"Muridku mari kita pergi."

"Siapa yang menjadi muridmu ? ooh.... sekarang kau belum boleh pergi dulu, paling tidak kau harus mengajarkan dahulu kepadaku bagaimana caranya mengail ikan"

"Hei anak perempuan" seru kakek pengail dari telaga langit dengan mata melotot besar, "kau bilang apa ? Kau bukan murid lohu?"

"Tentu saja bukan." "Kau hendak mengingkari janji ? Kita sudah saling bertepuk tangan tadi.?"

"Kau sendiri yang telah mengingkar janji, aah benar, soal bertepuk tangan malah aku yang mengusulkan, waktu itu aku kuatir kau ingkar janji, kenyataannya sekarang kau memang mau mengingkar janji, hmm. . . tak tahu malu "

Senyuman yang menghiasi wajah si Kakek pengail dari telaga langit itu segera lenyap tak berbekas, dengan marah dia mendesis.

"Siapa yang hendak mengingkar janji ? Bocah perempuan. bagaimana janji kita tadi ? coba katakan, bagaimana janji kita tadi?" seru Lok Khi sambil tertawa lebar.

"Kau jangan licik, biar lohu pikirkan dulu ehmmm, lohu bilang hendak memancing dua orang siaupwiee tersebut seperti memancing ikan, kau pun bilang . . ."

"Waktu itu aku bilang: "Kalau begitu ajarkanah kepandaian memancing ikan itu kepadaku, bukan begitu ?"

Kakek pengail dari telaga langit manggut

"Yaa, dan lohu berkata lagi: Kalau begitu kau angkatlah aku sebagai gurumu"

"itu kan kau sendiri yang bilang dan aku sama sekali tidak menyatakan mengiakan atau tidak ?" seru Lok Khi.

Kontan saja kakek pengail dari telaga langit bertolak pinggang, kemudian serunyadengan mata melotot. "Kau masih bilang tidak mengiakan ?"

Menyaksikan keadaan si kakek yang begitu lucu, Lok Khi menjadi semakin bergairah untuk mempermainkannya, sambil tertawa dia lantas berkata:

"Tentu saja, waktu itu aku toh cuma bertanya: "Apakah kau bersedia mengajarkan kepada ku ?" "Kau lantas bilang begini: "Baik, kita berjanji begini " Aku pun berkata lagi :

"Empek tua, kalau sudah berjanji kau tak boleh mengingkarinya lagi, mari kita bertepuk tangan sebagai tanda letuju" Kau bertanya:

"Buat apa kita mesti bertepuk tangan ?"jawabku :

"Bila sudah bertepuk tangan maka siapapun tak boleh mengingkarinya..." Kau lantas berseru.

"Betul, betul, mari kita bertepuk tangan, mari kita bertepuk tangan-"

"Nah. aku toh tidak mengurangi atau menambahi perkataanmu barang sepatah katapun bukan ?"

"Masa semuanya itu belum cukup?" sahut kakek pengail dari telaga langit cepat. Lok Khi tertawa.

"Sekarang kau pikirkan kembali, aku toh mengajakmu bertepuk tangan karena kau hendak mewariskan ilmu mengait ikan kepadaku? Kapan aku pernah membicarakan soal pengangkatan guru ?" "

Kakek pengait dari telaga langit itu bergUmam sambil mengulangi kembali kata kata tersebut mendadak paras makanya berubah hebat, kemudian serunya dengan gusar: "Baik, hei budak cilik, rupanya kau bermaksud untuk membohongi lohu ?"

"Kau sendiri toh yang setuju untuk bertepuk tangan ? Siapa yang membohongi dinmu? Kau toh sudah punya jenggot yang telah memutih semua, memangnya kau masih seorang bocah berusia tiga tahun yang gampang ditipu?"

"Lohu tidak ambil perduli, pokoknya kau harus mengangkat diri lohu sebagai gurumu." seru kakek pengait dari telaga langit dengan penuh kegusaran-

"Kalau mau mengingkar yaa sudahlah, siapa sih yang kesudian dengan ilmu mengait ikan-mu itu? Hmm kau hendak menyuruh aku mengangkat dirimu menjadi guruku ? Huuh, dengan sedikit kepandaian yang kau miliki itu, untuk menjadi tukang pembersih sepatu guruku pun belum cukup."

Hawa amarah benar-benar telah menyelimuti seluruh wajah kakek pengait dari telaga langit, segera bentaknya.

"Budak cilik, kau berani bersikap kurang ujar kepada lobu., . ."

Belum habis dia berkata, terdengar dari atas ruangan tersebut telah berkumandang suara tertawa aneh yang amat menyeramkan menyusul kemudian terdengar suara perempuan tua berkata dengan nada melengking.

"Anak Khi, jangan kurang ajar, Thio locianpwe bisa tertarik kepadamu, hal ini sudah merupakan rejeki yang besar sekali untukmu."

Dengan perasaan kejut dan girang Lok Khi segera berteriak: "Ooh. suhu. .."

Kam Liu cu dan Liu Leng poo yang duduk di kursi tamupun serentak melompat bangun.

Sekujur badan si kakek pengait dari telaga langit bergetar keras, sambil membelalakkan matanya dia berseru:

"Kau adalah Thian Sat nio? Dari. . . dari mana kau bisa mengetahui nama margaku?"

Kembali Thian Sat nlo tertawa ter kekeh

"Tentu saja aku tahu, Thio loji Kalau toh kau ingin merebut muridku itu, baiklah, aku akan menjual muka kepadamu dengan memberikan anak Khi untukmu."

Dengan perasaan gelisah Lok Khi berseru: "Jangan, jangan suhu,

. tecu tak mau mengangkat dia Sebagai guruku."

"Anak pintar, kepandaian silat yang dimiliki Thio loji lihay sekali, dia bersedia menerimamu sebagai muridnya, hal ini merupakan kemujuranmu. dengarkan perkataanku dan cepat memberi hormat kepadanya." Tiba tiba Kakek pengait dari telaga langit mendesis, dan serunya:

"Bagus sekali, rupanya kalian guru dan murid telah bersekongkol Untuk membohongi orang? Lohu tak bakal terperangkap oleh siasat kalian itu..." Lok Khi mendengus dingin.

"Hmm Kita sudah berjanji lebih dulu, bahkan diperkuat dengan saling bertepuk tangan yang pasti aku tidak akan mengangkat dirimu sebagai guruku dan kaupun harus mewariskan mewariskan kepandaian itu kepadaku. Apa yang diucapkan guruku sekarang tak lalu karena hendak memberi muka untukmu, coba kalau tidak, aku tak akan sudi memanggilmu sebagai suhu. Nah, sekarang ayo jawab, kau ingin tidak aku memanggil kau sebagai suhu?"

Suara dari Thian Sat-nio segera berkumandang lagi:

"Anak Khi, jangan kurang ajar, ayo cepat maju dan menyembah kepadanya. . ."

Sembari mencibirkan bibirnya Lok Khi segera maju kedepan, sahutnya sambil mengomeli.

"Menyembah yaa menyembah, nah duduklah kau "

Selesai berkata ternyata ia benar benar menjatuhkan diri berlutut dan menyembah. Kakek pengail dari telaga langit kegirangan setengah mati, sambil mencak mencak seperti orang gila, dia menangkap tangan Lok Khi erat erat latu sembari memicingkan matanya ia bertanya:

"Kau benar benar hendak mengangkat lohu menjadi gurumu ?" "Kali ini sudah barang tentu sungguh."

Kakek pengail dari telaga langit segera memandang sekejap wajah semua orang, lalu sambil tertawa terbahak-bahak serunya:

"Haaah, haaah, haaah, kalian sudah mendengar semuanya bukan

? Mulai saat ini. si bocah perempuan ini adalah murid lohu."

"Locianpwe, kiong-hie atas keberhasilanmu mengangkat seorang ahli waris." seru Ban-kiam Hwee cu cepat. Kakek pengail dari telaga langit tidak menggubris ucapan itu, dia segera menjura ke udara sembari berseru: "Thian Sat nio, terima kasih banyak atas kerelaanmu "

Thian Sat nio tertawa terkekeh-kekeh.

"Thio loji, kalau berbicara yang jelas, aku hanya mengalah dalam soal murid, dalam soal ilmu silat, aku tak pernah mengaku kalah kepada siapapun."

"Benar, benar. haaah, haaah, muridku mari ikut lohu pergi dari sini "

"Tunggu dulu" seru Lok Khi cepat, "aku jadi murid mu karena ingin mempelajari ilmu mengait ikan, apakah kau menjamin aku bisa mengait mereka semua ?"

"Haah . . haah .. haah ., lohu justru tertarik kepadamu karena kau nakal, kenakalanmu itulah yang mencocoki seleraku, coba kalau tidak . . . hmm, lohu tak bakal sudi."

Lok Khi segera tertawa manis kepada toa-suko dan sucinya, setelah itu sambil mencibirkan bibirnya dia berseru kearah Wi Tiong- hong:

"Sekarang kau sudah mempunyai piau moay lain, aku tak sudi menjadi piau moaymu lagi."

Selesai berkata, dengan kepala tertunduk dia berlalu dari ruangan tersebut dengan cepat.

Walaupun beberapa patah kata itu diucapkan dengan suara yang pelan, namun setiap orang yang hadir dalam ruangan dapat mendengarnya dengan jelas sekali.

Paras muka Wi Tiong hong kontan saja berubah menjadi merah padam karena jengah, belum sempat dia mengucapkan sesuatu, si nona sudah lari keluar dari sana.

Sebaliknya paras muka Lan Kun pit berubah menjadi hijau membesi, tiba-tiba dia melompat bangun, kemudian sambil menuding dengan kipas peraknya dia membentak keras-keras: "Wi Tiong-hong, berdiri kau "

Dengan wajah tertegun dan tidak habis mengerti Wi Tiong hong bangkit berdiri, lalu katanya sambil menjura: "Saudara Lan, apa urusan apa kau ?"

Sambil menggertak gigi menahan rasa gusarnya Lan Kunpit berseru:

"Pun kongcu bersumpah tak akan hidup berdampingan denganmu, sekarang mumpung berada dihadapan para enghiong dari seluruh kolong langit, mari kita beradu kepandaian sampai titik darah penghabisan"

"Aku toh sama sekali tak ada hubungan denganmu atau sakit hati denganmu, apa maksudmu menantangku berkelahi ?" kata Wi Tiong hong dengan kening berkerut.

Mencorong sinar tajam penuh hawa napsu membunuh dari balik mata Lan Kunpit, setelah tertawa menyeringai dengan seramnya. ia menyahut:

"Aku tidak bermaksud apa- apa, pokoknya di antara kita berdua, hanya ada seorang yang boleh keluar dari pintu ruangan ini dalam keadaan hidup, mengerti kau?"

Sementara perkataan tersebut diutarakan, sambil menggenggam kipas peraknya selangkah demi selangkah dia berjalan mendekati Wi Tiong hong.

Menghadapi situasi seperti ini, tanpa terasa Wi Tiong hong mundur selangkah kebelakang, kemudian tegurnya: "Mau apa kau?"

Lan Kunpit mendesak maju satu langkah lagi, kemudian bentaknya keras-keras:

"Berhenti, orang she Wi, bila kau merasa punya kepandaian marilah bertarung mati hidup dengan Pun kongcu"

Hawa amarah sudah menyelimuti wajah Wi Tiong hong, namun dia tetap mundur selangkah, ucapnya dengan wajah bersungguh- sungguh. "Kita belajar silat bukan untuk berkelahi, melainkan untuk menegakkan keadilan dan kebenaran dalam dunia persilatan, membantu kaum lemah dan menumpas kaum durjana, kalau soal tantang menantang hanya bermaksud untuk gagah-gagahan saja seperti kau . .. hmm maaf Aku orang she Wi sama sekali tak berminat untuk melayaninya."

Berkilat tajam sepasang mata Lan Kunpit mendadak ia tertawa tergelak, kemudian sambil menuding hidung lawannya dengan kipas peraknya, dia berkata dingin:

"Lelaki banci, kau anggap pun kongcu akan melepaskan dirimu dengan begitu saja karena kau mengucapkan beberapa patah kata itu. Hmmm. bila kau tidak meloloskan pedangmu lagi, jangan salahkan jika pun-kongcu tak akan berbelas kasihan lagi."

oooodooowoooo

UMPATAN "Lelaki banci" tersebut kontan saja mengobarkan hawa amarah dalam hati Wi Tiong hong, keningnya segera berkerut lalu dengan suara lantang teriaknya: "orang she Lan, kau anggap aku orang she Wi takut kepadamu ?"

Lan Kun-pit mendengus dingin.

"Hmm, kalau tidak takut memang lebih bagus lagi, kita bisa mengandalkan kepandaian masing masing untuk menentukan menang kalah. Siapa yang kalah, dia hanya bisa menyalahkan kepandaian sendiri yang tidak becus"

Wi Tiong-hong merasa bahwa setiap patah kata yang diucapkan Lan Kun-pit sangat memojokkan posisinya, terutama sekali sikap lawannya yang begitu sombong dan tekebur, benar- benar membuat setiap orang yang mendengarnya merasa tak tahan.

Bagaimanapun juga adalah seorang pemuda yang berdarah panas, setelah dipojokkan terus menerus oleh lawan dihadapan orang banyak. akhirnya meluap juga kemarahan yang membara didalam hatinya, sambil tertawa nyaring dia berseru: "Bagus sekali, aku orang she Wi pasti akan melayani keinginanmu itu, cuma sebelum pertarungan di langsungkan kau harus menerangkan lebih dahulu apa vang menyebabkan kau memaksa aku orang she Wi untuk melangsungkan duel ini?"

Mengejang keras seluruh kulit wajah Lan- Kunpit yang kurus kering itu, kembali dia tertawa seram.

"Heeeh. .heeeh. . Pun kongcu justru merasa tak leluasa menyaksikan kehadiranmu disini, mau apa kau..."

Mendadak dia mengayunkan kipas peraknya kedepan, lalu sambil menerjang ke hadapan Tiong hong bentaknya lagi:

"Sekarang kau pasti akan mengetahuinya sendiri"

Dalam pada itu, paras muka Su Siau hui telah berubah menjadi dingin seperti es, tiba-tiba ia mendengus dingin.

Lak jiu im eng Thio Man yang berdiri dibelakang Thian Khi cu merasa penasaran juga setelah menyaksikan adegan tersebut, tak tahan tiba tiba ia berteriak keras: "Wi toako, cabut keluar pedangmu"

Sementara itu Wi Tiong hong sudah dibakar hatinya oleh api kemarahan, setelah berulang kali didesak dan dipojokan lawan, dia menyerbu ke depan dan mencabut keluar pedang berkarat tak bersinarnya itu, tapi sebelum ia melancarkan serangan mendadak ia berpaling kepada semua jago yang hadir di arena tiba-tiba tanyanya: "Siapa diantara kalian yang bersedia meminjamkan pedang untuk ku?"

Lakjiu im eng Thio Man dengan cepat mencabut keluar pedangnya dan dilemparkan ke- depan, serunya:

"Wi toako, gunakan saja pedangku ini."

Lan Kunpit memandang sekejap kearah Thio Man, lalu serunya sambil tertawa dingin: "Benar, pertarungan ini adalah untuk menentukan mati hidupnya berdua memang paling baik akan ditukar dengan sebilah pedang yang lebih tajam"

Setelah menerima pedang tersebut Wi Tiong-hong bersenyum: "orang she Lan, kau telah salah melihat"

"Apakah aku telah salah berbicara?"jengek Lan Kunpit.

Wi Tiong hong sama sekali tidak menggubris ocehannya, melainkan menyodorkan kembali pedangnya ke hadapan Thio Man, lalu berkata: "Nona harap kau menyimpan kembali pedangmu itu"

"Mengapa begitu?" seru Thio Man sambil menatap wajah si anak muda itu lekat-lekat.

"Pedang ini merupakan pedang milik nona, kurang baik jika kugunakan sampai rusak, maka dari itu aku hanya ingin mencari sebilah pedang yang tak dipakai lagi"

"Apa sih artinya sebilah pedang? Kalau memang rusak yaa sudahlah, toh tidak menjadi soal?"

Wi Tiong hong segera menjura.

"Kalau memang begitu, ku ucapkan banyak terima kasih dulu atas kebaikan nona."

Merah padam selembar wajah Lakjiu im eng Thio Man karena jengah, bisiknya lirih: "Mengapa harus berterima kasih?"

Dalam pada itu Kun-pit sudah tak sabar lagi, tiba-tiba dia menimbrung: "Sudah selesai belum pembicaraan kalian?"

Wi Tiong hong berkerut kening, dengan tangan kiri memegang pedang Thio Man, tangan kanan menggenggam pedang berkarat milik sendiri, dengan cepat dia membalikkan tubuhnya

Ketika semua orang menyaksikan dia membawa sepasang pedang, segera disangkanya anak muda itu hendak bertarung menggunakan sepasang pedang tersebut. Dengan sikap yang angkuh dan jumawa, Lan Kunpit segera mengejek lagi dengan dingin:

"Sekalipun kau menggunakan sepasang pedang memangnya bisa bertarung berapa jurus saja diujung kipas pun-kongcu?"

Berkilat sepasang mata Wi Tiong hong, mendadak serunya dengan suara keras: "Perhatikan baik baik."

Mendadak pedang karat ditangan kanannya diayunkan ke atas ujung pedang milik Thio Man tersebut sembari melancarkan sebuah tebasan tajam.

"Sreet .. " begitu pedangnya diayunkan, ujung pedang yang berada ditangan kirinya itu segera terpapas kutung satu bagian.

Kejadian ini kontan saja membuat semua orang tertegun, sekarang semua orang baru tahu kalau pedang karat yang sekali jelek dan tak menarik itu sebetulnya adalah sebilah pedang mestika yang ampuh sekali. Sambil tertawa terbabat bahak, Wi Tiong hong berseru lagi :

"Haaa .. haaaa... haaa.... tentunya kau sudah melihat dengan jelas bukan ? Berhubung aku tak ingin mencari keuntungan melalui ketajaman senjataku maka aku sengaja berganti menggunakan sebilah pedang yang lain "

Berbicara sampai disitu, dia lantas menyarungkan kembali pedang berkaratnya, lalu memindahkan pedang dari tangan kiri ke tangan kanannya dan berdiri dengan angker.

"Sekarang, kau boleh melancarkan serangan mu" bentaknya sambil menatap wajah Lan Kun. MuIa-mula Lan Kunpit dibikin tertegun juga oleh kegagahan serta kewibawaan orang, mendadak hawa pembunuhan yang amat tebal menyelimuti seluruh wajahnya, sembari melancarkan sebuah totokan dengan kipas peraknya, ia membentak keras-keras:

"Kau tak usah tekebur dulu, kalau ingin membacot, silahkan berkoar koar setelah menyambut tiga puluh jurus serangan dari pun kongcu" Pada dasarnya dia memang memiliki ilmu silat yang sangat lihay, ditambah pula hawa napsu membunuh telah menyelimuti seluruh wajahnya, tak heran kalau totokan yang dilontarkan dengan kipas peraknya itu disertai dengan tenaga serangan yang kuat.

Sekilas cahaya perak. dengan membawa suara desingan angin tajam langsung menyambar kedepan.

Ketika berada diluar kota Sang siau dahulu, Wi Tiong hong sudah pernah bertarung melawannya, dan tahu kalau ilmu silat yang dimiliki lawannya ini lihay sekali, karena itu dia berusaha keras untuk menghindari suatu bentrokan keras lawan keras.

Pedangnya lantas digetarkan ke atas, dengan jurus Thian-to Tiong- hoo (alur langit bertabung ditengah) menciptakan sebuah lingkaran cahaya pelangi berwarna keperak-perakan-

Tubuhnya bergerak mengikuti gerakan pedangnya, secara lincah dan gesit dia meloloskan diri dari serangan Lan Kunpit tersebut, lalu dari posisi bertahan berubah menjadi posisi menyerang.

Jurus serangan yang digunakan ini tak lain adalah ilmu pedang Ji gi kiam hoat dari Bu tong pay.

Dari Kenghian totiang, Thian Khi cu sudah tahu kalau Wi Tiong hong adalah murid toa suhengnya, maka dia menaruh perhatian khusus terhadapnya.

Terdengar Lan Kunpit mendengus dingin, kipas peraknya dicukil keatas kemudian membabat pergelangan tangan Wi Tiong hong.

Serangan ini dilancarkan dengan kecepatan luar biasa, kipas yang sudah jelas mencukil keatas untuk membabat pergelangan tangan Wi Tiong-hong, ketika sampai ditengah jalan tahu-tahu sudah berubah menjadi tiga kuntum bunga pedang yang sekali berkelebat telah sampai disasaran, ternyata kali ini dia mengancam tiga buah jalan darah penting disekitar tulang.

Selain ganas dan buas, serangan itu juga lihay sekali. Kembali Wi Tiong-hong bergerak mengikuti pedangnya, secara beruntun dia berganti tiga tempat, lalu sambil menggetarkan pergelangan tangannya melepaskan serangan dengan jurus It goan bu si (Sumber hawa berpusat satu)

Ujung pedangnya yang menjangkit ke atas-segera digetarkan kemudian dengan menciptakan sebuah lingkaran kecil sebesar mata uang, dengan cepat menumbuk kipas dari Lan Kan pit.

Serangan ini dilancarkan disaat dia sedang menghindari serangan musuh, hingga kelihatannya cepat sekali.

"criiing..." suatu bentrokan nyaring segera berkumandang memecahkan keheningan.

Tampaknya Lan Kunpit sama sekali tidak menyangka sampai ke situ, seluruh tuhubnya bergetar keras, mendadak ia melejit lalu secepat kilat melompat mundur satu langkah kebelakang.

Dalam pada itu. sepasang mata Thian Khi cu tak pernah lepas dari tubuh Wi Tiong hong, keningnya segera berkerut setelah menyaksikan peristiwa tersebut, pikirnya.

"Berbicara soal gerakan tubuh, gerakan langkah dan gerakan tangan sewaktu dia menggunakan jurus It goan bu si tadi, semestinya benar semua dan tak ada yang berbeda, tapi heran mengapa gerakan pedangnya justru berbeda jauh dengan gerakan aslinya? Mengapa toa suheng merobah jurus It goan bu si yang begitu bagus dengan penuh perubahan ini menjadi jurus serangan yang ganas dan mengerikan?"

Perlu diketahui, jurus It goan hu si tersebut merupakan himpunan dari seluruh jurus inti Ji gi-kiam hoat dari Butongpay, gerakan pedangnya hampir semua membentuk gerakan Thay kek, lingkaran yang tercipta seharusnya berada diluar badan.

Tapi lingkaran Thay kek yang diciptakan oleh Wi Tiong hong sekarang bukan cuma sebesar mata uang, bahkan tenaga pantulannya, sangat kuat dan besar. Tak heran kalau Thian Khi cu yang menyaksikan kejadian ini diam diam harus berkerut keras.

Pada benturan ke dua Lan Kunpit sudah digetarkan oleh serangan Wi Tiong hong sehingga tanpa terasa tubuhnya mencelat setinggi tiga depa lebih, benar saja kipas yang berada di tangannya tak mampu dipegang kencang.

Kenyataan ini segera mengejutkan hatinya, buru-buru melompat mundur, kemudian pikirnya.

"Tak kusangka kalau kepandaian silat yang dimiliki bocah keparat ini benar benar sangat lihay "

Ingatan untuk memandang enteng musuhnya segera menjadi jauh berkurang, bentaknya dengan suara dingin:

"Benar-benar suatu ilmu pedang yang bagus"

Berbareng dengan seruan itu, tubuhnya menerjang maju ke depan, pergelangan tangannya digetarkan dan kipasnya menciptakan selapis cahaya perak yang segera menyelimuti seluruh angkasa, cahaya tajam mana secara bersama-sama langsung mengurung tubuh Wi Tiong hong.

Begitu berhasil mendesak mundur musuhnya da lam serangan pedangnya, Wi Tiong hong merasa semangatnya berkobar begitu melihat datangnya bayangan kipas dari Lan Kunpit yang menyerang datang secara gencar, dia pun turut membentak. "Sebuah serangan yang amat bagus"

Pedangnya diputar ditengah udara, suara desingan tajam bagaikan pekikan naga, bersamaan dengan getaran pada pergelangan tangannya.

Ujung pedang meluncur ke atas menyongsong datangnya bayangan kipas dari Lan Kunpit.

Tampak selapis bayangan perak menyelimuti angkasa, cahaya tajam dan bayangan kipas segera bercampur aduk menjadi satu. Dalam waktu singkat Wi Tiong-hong dan Lan Kun-pit telah terlibat dalam suatu pertarungan adu cepat, dua puluh gebrakan sudah lewat tanpa terasa.

Ilmu pedang yang dipergUnakan Wi Tiong hong sekarang ilmu pedang Ji gi-kiam hoat dari Butong-pay, semua gerakan pedangnya mengambil posisi setengah busur, semuanya terbuka gagah dan mencerminkan suatu ilmu pedang dari suatu perguruan yang lurus.

Sebaliknya permainan kipas dari Lan Kunpit bergerak ganas keji dan berbahaya, semuanya berjalan seorang dengan jurus aneh yang bermunculan setiap saat, keganasan dan ancaman bahayanya sungguh membuat hati orang bergidik.

Didalam serangan bertubi-tubi itu, Wi Tiong hong mulai merasa keteter dan bertahan sepenuh tenaga.

Tiga puluh gebrakan kemudian, Lan Kunpit mulai habis kesabarannya dan tiba tiba ia membentak keras, permainan kipasnya berubah dalam waktu singkat, tampak serangan makin lama semakin bertambah cepat, kipas peraknya diputar sedemikian rupa menciptakan selapis demi selapis cahaya perak berputar bagaikan roda, tubuh dan kipasnya seperti telah melebur menjadi satu.

Bayangan kipas yang menyelimuti angkasa bagaikan gulungan ombak yang melanda seluruh permukaan saja, selapis demi seltpis menyerang tiba dengan ganasnya.

Pada hal Wi Tiong hong sudah berada dalam posisi di bawah angin, apalagi setelah diteter seperti itu, keadaannya semakin mengenaskan lagi . .

Dia mundur setengah Iangkah ke belakang kemudian memberikan perlawanan deagan gerakan yang justru merupakan kebalikan dari gerak cepat melawan cepat tadi.

Pedangnya diputar didepan dada, menciptakan sebuah lingkaran cahaya, gerakannya amat lamban dan satu jurus demi satu jurus dilontarkan secara berulang-ulang. Kalau dibicarakan yang sesungguhnya, keadaan waktu itu memang aneh sekali, gerakan pedang yang kelihatan sangat lamban itu sama sekali tidak nampak sesuatu kejutan, bahkan seakan-akan tidak disertai dengan sedikit tenaga pun.

Tapi semua serangan dahsyat yang dilancarkan Lan Kunpit itu justru kena terbendung semua oleh serangan pedangnya itu, bahkan keadaan yang kritispun makin berhasil dikuasai.

Thian Khi cu dari Bu tong pay mulai mengelus jenggotnya, sekulum senyumanpun mulai menghiasi wajahnya.

Tentu saja dia pun dapat melihat kalau Wi-Tiong hong yang semula berada dalam keadaan panik dan berangasan lambat laun berhasil menguasahi diri dan menjadi tenang kembali, sekarang seluruh hawa murninya dihimpun menjadi satu dan inilah inti sari yang sesungguhnya dari ilmu pedang Ji gi kiam hoat aliran Bu tong pay.

Keng hian tojin, Bwee hoa kiam Thio Kun-kay, maupun Lakjiu im eng Thio Man dari Bu tong pay juga mulai mengulumkan Senyuman diatas wajah masing- masing.

Ketika mereka menyaksikan Wi Tiong hong bertempur dengan mengandaikan ilmu pedang dari perguruannya, tentu saja hal ini segera menimbulkan kebanggaan dalam hati masing-masing, terutama sekali berada dihadapan jago-jago lihay dari berbagai perguruan, mereka ingin semua orang tahu kalau ilmu pedang dari Bu tong pay pun tidak kalah hebatnya dengan kepandaian lainnya.

Kedua belah pihak kembali bertarung dua puluh gebrakan lebih, bagaimana pun gencar dan dahsyatnya Lan Kunpit melepaskan serangan, hampir semuanya berhasil dipatahkan oleh Wi Tiong hong dengan gerakan pedangnya yang mengambang seolah-olah tak bertenaga itu, seakan-akan serangan dahsyat dari orang she Lan itu telah membentur pada selapis dinding tak berwujud yang tebal.

Makin lama pertarungan berlangsung, makin cemas perasaan Lan Kun-pit, hawa amarahnya juga makin lama makin berkobar pikirnya: "Jikalau hanya serangkaian ilmu pedang Bu-tong pay saja tak mampu kutembus, apakah-orang tak akan mentertawakan ketidak becusanku?"

Padahal darimana dia bisa tahu kalau ilmu pedang Ji gi kiam hoat dari aliran Bu tong pay ini diciptakan langsung oleh Thio Sam hong cousu, selain mengandung dua unsur thay kek yakni hawa im dan hawa yang, pemecahannya berbelit-belit dan tak terhingga luasnya, ilmu tersebut merupakan inti dari seluruh ilmu pedang perguruan lurus yang ada didunia persilatan dewasa ini.

Bayangkan saja, ilmu pedang semacam ini, mana mungkin bisa dianggap enteng.

Perasaannya pada waktu itu gelisah bercampur marah, mendadak sambil tertawa nyaring, sepasang kakinya menjejak tanah keras- keras dan meleset ke tengah udara setinggi tiga kaki lebih.

Wi Tiong hong yang baru saja mendengar suara gelak tertawa lawan tahu-tahu bayangan tubuh musuhnya sudah lenyap tak berbekas, setelah tertegun sejenak. buru buru dia mendongakkan kepalanya.

Pada saat itulah, Lan Kunpit dengan jurus ciong liong ji hay atau naga sakti masuk laut dalam waktu singkat sudah menerkam keatas kepalanya, sedangkan kipasnya juga pada saat itulah dipentangkan lebar-lebar membentuk gerakan setengah bulatan, lalu dengan berubah menjadi setipis cahaya tajam langsung mengurung seluruh tubuh Wi Tiong hong.

Su Siau hui cuma duduk dikursi dengan wajah dingin dan hambar, tapi setelah menyaksikan Lan Kunpit menggunakan perakan tubuh im li cing to atau berjumpalitan di tengah awan yang merupakan ilmu andalan keluarga Lan, tak urung berubah juga paras mukanya.

Sesungguhnya Wi Tiong hong hanya memiliki ilmu Ji gi kiam hoat belaka, ia tidak memiliki jurus serangan lainnya yang bisa dikatakan sebagai kepandaian hebat. Sepasang kakinya segera berdiri pada posisi cu-ba poh, lalu pedangnya menghadap ke atas dan menatap lawannya lekat-lekat, menanti sergapan Lan Kunpit yang datangnya dari tengah udara itu sudah hampir mencapai di atas kepalanya, mendadak ujung pedangnya di getarkan menciptakan lagi sebuah lingkaran cahaya besar mata uang dan menyongsong datangnya tubrukan lawan dengan tusukan keatas. Lagi-lagi dia mempergunakan jurus It- goan ku si.

Tindakan yang dilakukan olehnya itu, segera membuat Thian Khi cu menjadi terperanjat sekali.

Seharusnya jurus serangan lawan harus dihadapi dengan gerakan Yang-wang im ciat (memandang awan sambil mendongak) yang merupakan taktik menanti gerakan dengan ketenangan.

Tapi, mengapa si anak muda itu justeru menggunakan jurus It goan hu si yang justeru merupakan jurus serangan yang binal dan tidak bisa ditentukan arah sebenarnya?

"Aduh celaka . . ." dalam hati kecilnya dia segera berpekik keras- keras.

"Traaang ..." pedang dan kipas tersebut tahu-tahu sudah membentur satu sama lainnya, suara benturan nyaring yang memekikkan telinga pun segera berkumandang memecahkan keheningan.

Sekujur badan Lan Kunpit bergetar keras dan . . "weeess " dia mencelat lagi setinggi satu laki ke tengah udara, setelah berjumpalitan dua kali, tubuhnya baru melayang turun kembali ke tanah.

Tidak, setelah mencapai tanah, dia masih harus mundur sejauh dua tiga langkah lagi sebelum dapat berdiri tegak.

Tampak dadanya bergerak naik turun dengan kencangnya, paras muka yang tampan berubah menjadi merah membara, sepasang matanya berapi api amarah dan rasa bencinya boleh dibilang sudah mencapai pada puncaknya. Dengan suara yang berat dan dalam segera bentaknya: "Bagus . .."

Baru saja ucapan itu dilontarkan, sepasang lengannya sudah digetarkan lagi, ujung kakinya menjejak tanah dan secepat petir meluncur ke depan untuk melancarkan tubrukan untuk kedua kalinya ke arah Wi Tiong hong . . .

Mendadak kipas peraknya merapat menjadi satu, kemudian digerakkan kedepan dan di tarik ke belakang dengan kecepatan luar biasa, selapis hujan perak disebarkan keluar, cahaya tajam membias ke angkasa dan amat menyilaukan mata.

Di dalam melepaskan serangan ini, kembali tubuhnya meninggalkan permukaan tanah setinggi lima depa, kemudian menerjang kedepan dengan kipas yang digerakkan menciptakan beribu-ribu perubahan dengan jurus serangan yang digunakan pertama kali tadi boleh di katakan sama sekali bertolak belakang.

Kejadian ini kontan saja mengundang perhatian yang lebih seksama dari para jago.

Wi Tiong-hong masih tetap berdiri dengan posisi cu bupoh dan gaya serangan yang tak berubah, bukan berkelit atau maju menyongsong, dia tetap berdiri tak berkutik ditempat semula kemudian pedangnya dengan cepat membentuk dua buah lingkaran cahaya yang satu besar dan yang lain kecil untuk menotok ke depan-

Inilah jurus Hu im pau yang (berhutang di neraka membayar di dunia) dari ilmu pedang Ji gi kiam-hoat.

Namun gerakan yang digunakan lagi-lagi berbeda dengan jurus aslinya, kalau menurut gerakan yang asli, maka ke dua lingkaran cahaya ini seharusnya digunakan dengan ujung pedang menghadap ke bawah, lalu tubuhnya bergerak mengikuti pedang.

Berhubung Thian Khi cu yang merasa tidak seharusnya pemuda itu menggunakan jurus it goan-hu si tadi, tapi kenyataannya dengan jurus It goan husi anak muda tersebut malah berhasil mementalkan Lan Kun-pit, maka setelah dilihatnya dia menggunakan jurus Hu im pau yang yang digunakan menjadi sebuah jurus aneh, sebaliknya dia malah memperhatikan dengan penuh seksama.

Tubrukan dari Lan Kun-pit cepat sekali, dalam sekilas kelebatan saja, tahu-tahu tubuhnya sudah sampai pada sasaran.

Tapi disaat tubuhnya menubruk tiba inilah, mendadak Wi Tiong- hong menggeserkan badannya kesamping, kemudian pedangnya yang melancarkan tusukan pun ikut mencongkel ke atas secara tiba- tiba.

Mendadak saja Lan Kun-pit merasakan pandangan matanya menjadi kabur dan telinganya mendengar suara benturan nyaring "Traaang . .."

Pergelangan tangan kanannya segera bergetar keras, tubuhnya yang ikut meluncur datang pun kena dicongkel orang ke atas sehingga tak bisa terhindar lagi badannya kena dipukul miring ke samping dan tubuhnya melanjutkan terjangannya ke depan-

Menanti dia menyadari kalau gelagat tidak beres, cepat-cepat dia menarik napas panjang, tapi tubuhnya sudah meluncur sejauh dua tiga kaki dari posisi semula bahkan langsung menumbuk ke arah dinding ruangan disebelah timur.

Perlu diketahui ilmu In li cing to atau berjumpalitan ditengah awan dari keluarga Lan di Inlam ini seperti juga dengan ilmu Im liong pat si (delapan gerakan naga mega) dari Kun-lunpay, semuanya mengutamakan serangan tubrukan dari tengah udara.

Dasar ilmu silat yang dimiliki Lan Kunpit sudah mencapai tingkatan yang sempurna, sewaktu dilihatnya dia sedang meluncur ke depan dan hampir menubruk diatas dinding, bahkan gerakan tubuhnya sudah tak sempat ditahan lagi, dalam gelisahnya, satu ingatan lantas melintas lewat dalam benaknya.

Mendadak dia membalikkan badannya, lalu sepasang kaki menjejak diatas dinding dan secepat anak panah yang terlepas dari busurnya meluncur balik ke tengah arena. Kipasnya segera dipentangkan lebar-lebar, dengan membawa selapis cahaya perak sepanjang berapa depa untuk ketiga kalinya dia menerjang Wi Tiong hong. Kali ini, serangannya dilakukan dengan kecepatan yang benar-benar tak terlukis mata.

Sewaktu Wi Tiong hong berhasil mementalkan musuhnya tadi, diapun baru saja menarik kembali pedangnya, sewaktu Lan Kunpit dengan membawa desingan angin serangan yang maha dahsyat telah menerjang kembali kehadapan mukanya.

Berada dalam keadaan demikian, tak banyak waktu lagi buat Wi Tiong hong untuk berpikir panjang, pedangnya segera digetarkan menciptakan tiga kuntum bunga perak yang gemerlapan, lalu dengan kecepatan yang sama ia sambut datangnya serangan tersebut

Sam hoa sian teng (tiga bunga muncul dipundak) lagi- lagi sebuah perubahan jurus yang digubah dari ilmu Ji gi kiam hoat aliran Bu-tong pay.

Sekali lagi Thian Khi cu mengerutkan dahinya rapat rapat, meskipun dengan mata kepala sendiri ia saksikan Wi Tiong hong dua kali berhasil mementalkan Lan Kunpit, seakan-akan dibalik gubahan jurus serangannya tersimpan suatu kekuatan yang maha besar, namun ia tak habis mengerti dimanakah letak rahasia kekuatan itu.

"Traaang" Traang" Traaang"

Secara beruntun terdengar tiga kali benturan nyaring yang memekikkan telinga berkumandang memecahkan keheningan

Lan Kunpit kena digetarkan sampai melompat tiga kali kearah atas, kipas peraknya lepas dari genggaman dan berubah sebagai serentetan cahaya yang berwarna keperak-perakan langsung meluncur keatas.

"Taaak " dengan keras kipas perak itu menancap diatas dinding batu. Kemudian dengan tubuh sempoyongan dia mundur sejauh tujuh delapan langkah kebelakang sebelum berhasil berdiri tegak, wajahnya pucat pias, bibirnya terkatup kencang tanpa mengucapkan sepatah katapun, tampaknya ia sedang mengatur pernapasan-

Wi Tiong hong sama sekali tidak melakukan pengejaran, dia berdiri dengan pedang yang tersoren agaknya dia sendiripun tidak mempunyai pegangan untuk mengungguli musuh.

Sebab berbicara yang sebenarnya, dia sendiripun merasa tertegun dan sama sekali diluar dugaan ketika menyaksikan kipas perak Lan Kunpit teriepas dari genggaman dan orangnya bergetar sampai luka dalam . . .

Setiap anggota Bu tong pay segera menunjukkan wajah berseri, Thian Khi cu sendiripun sampai ikut berubah wajah.

Ban kiam hwee cu yang duduk dikursi utama segera berseru tertahan kemudian bisiknya lirih:

"Kan sam ceng atau tiga getaran maut yaa, benar, inilah Kan sam cang, masa dia adalah ahli waris dari Sian soat kiam kek ?"

Sian-soat kiam kek ciang Lam san berasal dari Bu tong pay, dia merupakan salah seorang diantara delapan pelindung hukum perkumpulan Ban kiam hwee, dan merupakan salah satu diantara tiga orang yang berhasil pulang dalam keadaan hidup setelah penyerbuannya ke Lam hay.

Ke tiga orang itu adalah It teng taysu, pendiri perkumpulan Thi pit pang Tau Pek li serta Siau soat kiam kek jago pedang dari (sian soat) ciang Lam san, tapi dengan munculnya kembali si Kakek pengait dari telaga langit berarti empat orang yang berhasil lolos dari Lamhay tempo hari.

Sementara itu Lan Kunpit telah membuka matanya kembali setelah memejamkan mata dan mengatur pernapasan beberapa saat lamanya, dari balik matanya sekarang terpancar keluar sinar kebencian yang merasuk sampai ketulang sumsum. Dengan penuh rasa dendam ia melototi wajah Wi Tiong hong, kemudian sumbil manggut-manggut katanya:

"orang she Wi, kau anggap dapat mengungguli pun kongcu ?"

Ia tidak membalikkan badannya untuk mengambil kipas peraknya, melainkan dengan sepasang tangan direntangkan lebar- lebar, selangkah demi selangkah berjalan mendekati Wi Tiong hong.

Dari sikap maupun mimik wajahnya yang menyeringai menyeramkan, Wi Tiong hong tahu kalau orang ini berniat untuk beradu jiwa dengannya, tanpa terasa dia mendengus gusar.

"Hmm... menang kalah sudah ketahuan, apakah kau masih belum mau mengakuinya?" dia menegur.

Sinar buas yang amat mengerikan memancar keluar dari balik mata Lan Kunpit, setelah menyeringai dan tertawa seram sahutnya :

"Pun kongcu sudah mengatakan tadi, di antara kita berdua, hanya seorang yang boleh keluar dari sini dalam keadaan hidup "

"Hmm, kongcu apaan kau itu ? Tak tahu malu " umpat Thio Man sambil meludah.

Lan Kunpit sama sekali tidak menggubris, sepasang lengannya masih tetap direntangkan didepan dadanya, sementara tubuhnya selangkah demi selangkah bergerak mendekati Wi Tiong hong.

Jarak mereka berdua makin lama semakin bertambah dekat, sambil melintangkan pedangnya di depan dada Wi Tiong hong membentak.

"Berhenti Apakah kau hendak mencoba kepandaianku dalam permainan tangan kosong?"

"Aku menginginkan nyawa anjingmu" bentak Lan Kunpit dengan penuh kebencian.

Bersamaan dengan menggemanya bentakan tersebut, tangan kanannya segera diayunkan kedepan, sekilas cahaya berwarna biru meluncur keluar dari balik ujung bajunya dan menyambar kedepan- Itulah sebilah pedang pendek yang panjang satu depa, ujung pedangnya berwarna biru gelap dan jelas sudah direndam dengan racun yang keji, kini pedang tersebut sedang menyambar ke dada Wi Tiong hong.

Cepat-cepat Wi Tiong hong memutar pedangnya untuk menangkis ancaman tersebut.

"Traaang , . ." diiringi dentingan nyaring, tahu-tahu pedangnya sudah terpapas kutung sepanjang tiga inci oleh bacokan pedang beracun lawan-

Dalam kejutnya, buru buru dia menarik napas panjang dan segera melompat mundur sejauh selangkah.

Lan Kun-pit tertawa terbahak-bahak, dia menarik kembali pedang pendeknya, lalu menerjang kemuka, sambil menggetarkan pergelangan tangannya, kali ini dia menusuk perut Wi Tiong hong

Ternyata pedang pendek beracunnya ini mempunyai seutas rantai perak yang tipis pada gagang pedangnya, itulah sebabnya dia dapat segera menarik kembali senjatanya dengan cepat.

Tapi berhubung serangan yang digunakan olehnya terlampau cepat, maka siapapun tak dapat melihat jelas akan hal itu, tahu-tahu Lan Kunpit berikut pedangnya sudah menerjang lagi ke depan-

Sejak tangkisan pedangnya tidak berhasil membendung serangan lawan, bahkan ujung pedang sendiri malah terpapas sebagian, Wi- Tiong hong sudah menyadari kalau gelagat tak menguntungkan.

Walaupun dia sudah mundur selangkah, tapi Lan Kunpit yang menerjang kemuka mengikuti terus secara ketat, bahkan pedang pendek beracunnya selalu mengancam dada Wi Tiong hong, dari kejauhan-

Sembari bergerak mundur terus, Wi Tiong-hong berputar tiada hentinya kesana kemari agaknya dia berusaha untuk meloloskan diri dari serangan dan sergapan pedang Lan Kun-Pit. Siapa tahu Lan Kunpit sudah mata gelap sepasang matanya berapi-api penuh kebencian, dia sudah bertekad untuk membunuh Wi Tiong hong dengan menggunakan cara apa pun-

Maka kemana saja lawannya mundur dia menempel terus secara ketat pedang pendeknya juga menempel terus diatas dada lawan tanpa bergeser barang sedikitpun.

Wi Tiong hong benar benar merasa terkejut bercampur gusar, sambil menbentak keras tangan kanannya diayunkan kedepan.

Sekali lagi dia menggunakan jurus It goan bu si untuk menerjang datangnya pedang dari Lan Kunpit.

Rupanya setelah dia mencoba kekuatan dari It goan bu si tersebut dan merasakan besarnya daya pental yang terpancar dari pedang tersebut, maka setelah menghadapi ancaman bahaya sekarang tentu saja dia berharap dapat membendung serangan lawan dengan jurus yang sama, syukur kalau bisa mementalkan pedang pendek musuh, atau paling tidak dia harus dapat memperbaiki posisinya semula.

Kalau hal ini gagal dilakukan, maka bisa dipastikan kalau dia bakal terluka di ujung pedang lawan hari ini.

Begitu serangan dilancarkan Wi Tiong hong segera menyelinap ke samping kiri.

"Traaang.." cahaya biru berkelebat lewat dan Wi Tiong hong segera merasakan tangannya menjadi enteng.

Ternyata pedangnya sudah kena terpapas oleh musuhnya sehingga patah sepanjang tiga inci.

Belum lagi tubuhnya berdiri tegak. pedang pendek beracun dari Lan Kun-pit kembali sudah mengancam dadanya.

Di dalam terkesiapnya, Wi Tiong- bong melintangkan pedangnya untuk melindungi dada, sementara tangan kirinya melepaskan sebuah bacokan kilat, berbareng itu juga badannya secepat kilat mengigos ke samping kiri untuk menghindarkan diri. Lan Kunpit mengigos ke samping menghindarkan diri dari serangan pukulan yang dilepaskan Wi Tiong hong dari arah depan, pedang pendek ditangannya sama sekali tidak mengendor, dia tetap mengancam terus dada pemuda tersebut.

Dengan sorot mata tajam Wi Tiong-hong mengawasi terus ke arah mana perginya ujung pedang lawan, telapak tangan kirinya melepaskan bacokan berantai sementara tubuhnya mengikuti bacokan serangan tersebut mengigos ke kiri menghindar ke kanan tiada henti.

Di dalam waktu singkat, dia telah melepaskan dua belas bacokan kilat, dan kakinya menghindarkan diri dalam delapan posisi yang berbeda beda

Baju biru yang dikenakan Lan Kun-pit di tengah deruan angin pukulan Wi Tiong hong yang amat dahsyat itu bergerak kian kemari gerakan tubuhnya sangat aneh serta sakti, setiap kali dia berhasil menghindarkan diri dari serangan Wi Tiong hong secara tepat.

Pedang pendeknya selama ini menempel terus didepan dada lawan bagaikan bayangan tubuh saja, entah ke manapun Wi Tiong hong mencoba untuk menghindar dia tak pernah berhasil uatuk meloloskan diri dari pengejaran musuh.

Pertempuran ini benar benar merupakan suatu pertarungan sengit yang jarang dijumpai dalam dunia persilatan ke dua belah pihak dengan mengandalkan ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi saling kejar mengejar, saling hindar menghindar, seolah-olah bagaikan bermain petak saja...

Walaupun pedang pendek Lan Kunpit terus menempel mengancam dada Wi Tiong-hong, namun jaraknya dengan Wi Tiong hong tak pernah kurang dari dua depa, dia seakan- akan tak mampu untuk memaksakan selangkah lebih ke depan, oleh sebab itu dia pun tak pernah berhasil untuk melanjutkan serangan pedangnya.

Wi Tiong hong sendiri dibawah kejaran dan desakan pedang pendek beracun lawan, terpaksa hanya bisa berkelit ke sana menghindar ke mari, sedikit terlambat saja dia bergerak. pihak lawan dapat mendesak lebih ke depan dan jiwanya niscaya akan melayang diujung pedang lawan-

Sekarang, keadaan sudah berkembang menjadi suatu keadaan dimana ke dua belah pihak tak dapat menghentikan serangan masing- masing, terutama sekali ilmu meringankan tubuh yang dimiliki ke dua belah pihak punsama-sama lihaynya.

Oleh karena itu meski saling berkejaran dan saling menghindar kedua belah pihak masih tetap menjaga posisi masing- masing.

Secara beruntun Wi Tiong hong melepaskan belasan buah pukulan berantai akan tetapi dia tak pernah berhasil memaksa Lan Kunpit untuk mundur dari posisinya semula.

Kini dia tidak melepaskan serangan secara gegabah lagi, pedang ditangan kanannya disilangkan didepan dada, sementara sepasang matanya yang tajam mengawasi pedang pendek lawan tanpa berkedip. asal ada kesempatan untuk melancarkan serangan, dia akan segera memanfaatkan dengan sebaik-baiknya.

Sementara itu, Lan Kunpit yang berkelebat kian kemari dapat merasakan juga betapa tajam dan dahsyatnya serangan dari Wi Tiong hong, kendatipun posisinya sekarang berada di atas angin: namun sedikit saja ia bertindak gegabah, niscaya dia sendiri yang akan terluka diujung telapak tangan lawan-

Semua jago yang menyaksikan jalannya pertarungan itu, diam- diam mengucurkan peluh dingin karena menguatirkan keselamatan kedua orang itu.

Selain itu, sepasang mata Ban kiam Hwee cu yang tajam bagaikan sembilu itu mengawasi terus pedang pendek dari Lan Kunpit, dari kedua orang yang sedang bertarung, jelas dia lebih berpihak kepada Wi Tiong-hong.

Begitu juga keadaan Kam Liu-cu, Liu Leng-poo, Thian Khi-cu dari Bu tong pay serta seng ciu ki Beng Kian-hoo. Tentu saja yang merasa paling tegang adalah Su Siau hui dan Lakjiu im seng Thio Man, wajah kedua nona itu sudah basah oleh keringat saking tegangnya.

Sementara itu, kedua sosok bayangan manusia tersebut masih saja maju mundur, berkelit menghindar tiada hentinya, tapi sudah sekian lama berlangsung, belum nampak juga kedua orang itu saling melancarkan serangan lagi.

Sekalipun Wi Tiong hong membekal pedang yang tidak kuatir dikutungi pedang pendek lawan, namun dia tidak mempunyai waktu untuk membuang kutungan pedangnya dan meloloskan pedang berkarat tersebut.

Bahkan waktu untuk memecahkan perhatian guna memikirkan persoalan inipUn tidak ada.

Selembar wajahnya sudah basah oleh air keringat, tentu saja diapun tidak mempunyai waktu untuk menyeka keringat tersebut.

Demikian pula dengan wajah Lan Kunpit, air keringat telah membasahi seluruh wajahnya, namun paras muka yang hijau membasahi itu telah diliputi oleh hawa napsu membunuh yang benar- benar mengerikan sekali.

"orang she Wi, serahkan selembar nyawamu"

Mendadak Lan Kunpit membentak dengan suara menggeledek. dia menarik napas panjang panjang, lalu tubuhnya seperti anak panah yang terlepas dari busurnya meluncur kedepan, pergelangan tangan kanannya diangkat dan diantara kilatan cahaya kebiru- biruan, dia langsung menusuk ke ulu hati Wi Tiong hong.

Berada dalam posisi begini, Wi Tiong hong sudah tak mampu lagi menghindari serangan lawan, amarahnya segera membara, sambil mendengus, tangan kirinya membuat gerakan lalu pedang kutungnya disilangkan didepan dada, dengan kecepatan yang luar biasa pula dia menutul ke ujung pedang Lan Kunpit keras-keras. Tindakan ini kontan saja menimbulkan jeritan kaget dan terkesiap bagi setiap jago yang hadir dalam arena, sebab pertarungan beradu jiwa.

Nampaknya kedua orang itu segera akan sama-sama terluka diujung pedang lawan

OoOdwOoO