-->

Pedang Karat Pena Beraksara Jilid 16

Jilid 16

TAK SELANG BEBERAPA saat kemudian, dari bawah bukit situ kedengaran juga suara langkah kaki manusia yang berjalan makin mendekat, agaknya ada orang sedang berjalan sambil berbincang- bincang.

Tanpa terasa Lok Khi melongok keluar dan mengintip sekejap. kemudian tanyanya: "Engkoh Hong, menurut kau siapa yang telah datang? jangan mengintip. kau harus menebaknya"

Wi Tiong hong segera memasang telinga baik- baik, ia mendengar suara langkah kaki dari beberapa orang itu sudah berada tujuh delapan kaki dari hadapan mereka.

Tiba-tiba terdengar seseorang berkata dengan suara yang menyeramkan "Tentu saja mereka tak akan pernah menduga, setelah pinto dibebaskan kini pinto berani datang lagi, Chin tua seng tinggal di dalam sebuah rumah gubuk di tengah hutan sana." orang yang lain segera tertawa tergelak.

"To-heng memang benar- benar hebat, kalau dibicarakan sebetulnya memalukan sekali, waktu itu sepasang mata pinceng ditutup juga dengan secarik kain, tapi secara diam-diam, aku telah menghapalkan jumlah langkah kakinya, siapa tahu setelah dihitung hitung ternyata hanya sampai ditengah hutan Siong dibawah ciang- siu-nia sana, kalau dihitung dari sini paling tidak mencapai satu-dua lie lebih."

Pembicaraan yang mereka langsungkan tidak terlalu nyaring, namun dapat terdengar sangat jelas. Wi Tiong-hong seperti membayangkan kembali pengalaman yang dialaminya tempo hari, waktu itu dia pun diajak dayang berbaju hijau itu berjalan jalan hingga sampai setengah harian lamanya, persis seperti apa yang dikatakan orang-orang itu, tanpa terasa dia tertawa geli.

Kepada Lok Khi katanya kemudian:

"Merdka adalah Ma koan tojin serta Thio-lo Khong beng hwesio..."

"Kau sudah mendengar suara pembicaraan mereka, tentu saja segera tahu, tidak bisa dihitung. ehm, ayo coba tebak siapa yang lainnya pembicara pembicara itu?" Wi Tiong hong segera tertawa.

"Dua sudah tertebak jitu, kalau masih ada seorang lagi tentu sudah pasti dia adalah sinaga tua berkepala botak To Sam seng."

Baru selesai dia berkata, sinaga tua berkepala botak telah berkata pula:

"Sedari tadi siaute kan sudah bilang sudah pasti apa yang kita alami hanya merupakan jebakan musuh untuk membingungkan pikiran kita, padahal jalan untuk masuk dan keluar dari bukit ini cuma satu, menurut perhitungan Khong beng taysu, semuanya mencapai tiga tikungan dan sembilan puluh enam tanjakan, persis seperti jumlah hitungan yang siaute ingat, hal ini sudah membuktikan kalau perhitungan kita ini tak bakal salah."

"Andaikata saudara To itu harus memasuki lorong rahasia bawah tanah lagi, apakah kau masih dapat mengingatnya dengan jelas?" Naga tua berkepala botak segera tertawa.

"Soal lain siaute tak berani berbicara, tapi kalau cuma soal jalanan yang pernah siaute lewati, hampir semuanya tentu kutinggali kode rahasia." Wi Tiong hong yang mendengar ucapan tadi itu diam-diam mengangguk, pikirnya:

"Bagaimana pun juga jahe memang semakin tua semakin pedas, mereka sudah lama disekap disana, sebelum dibebaskan hanya tinggal disitu terus, kemudian waktu di bebaskan juga harus berjalan lebih dulu, memang tidak sulit untuk meninggalkan kode rahasia secara diam-diam."

"Asal kau sudah berbuat demikian, urusan akan lebih muda untuk di selesaikan- ." seru Khong beng hwesio kemudian-

"Apa bila kita sudah menemui pintu masuknya, biar To lo koko yang membawa jalan-" kata Ma-koan tojin pula, "asal kita dapat membekuk Chin Toa-seng, sehebat-hebatnya jago pedang berpita hitam anak buahnya aku rasa tak perlu dikuatirkan lagi."

"Heksbun-kun Cho Kiu-moay tidak berada disini, kalau cuma untuk menghadapi Chin Toa seng saja, dengan kemampuan toheng dan pinceng berdua pun aku rasa sudah cukup untuk menghadapinya." kata Khong beng hwesio kemudian-

"Benda yang diperoleh menjadi milik kita bertiga, asal ilmu silat yang berada diatas benda itu berhasil kita latih, ketua Ban kiam hwee tak nanti bisa berbuat apa apa terhadap kita."

"Bukan hanya Ban kiam hwecu saja, bahkan pihak Tok See sia maupun Thian-sat nio juga tak mungkin bisa berbuat apa-apa terhadap kita."

Berbicara sampai disitu, tak tahan lagi mereka berdua segera tertawa terbahak-bahak, Lok Khi yang mendengar perkataan itu mendengus dingin, bisiknya dengan mendongkol.

"Tampaknya mereka belum puas. Sebelum berhasil mendapatkan Lou bun-si, benar benar manusia yang tak tahu diri "

Dalam pada itu Ma koan tojin sudah berkata lagi dengan suara yang dingin menyeramkan:

"Kalian berdua jangan keburu merasa bangga, bila dugaan pinto tak salah, mungkin bukan cuma kita saja yang datang ke bukit Pit bu san ini . ."

"Sejak banyak orang mengetahui kalau benda itu sudah terjatuh ke tangan orang orang Ban Kiam hwee, banyak diantara mereka yang tahu susah dan mengundurkan diri, ada pula yang langsung menuju ke bukit Kiam bun san, siapa yang bakal kemari ?"

"Apa yang ingin kita dapatkan, tentu saja diinginkan pula oleh orang lain" kata Ma koan toj in sambil tertawa, "kita bisa sampai disini, tentu saja orang lain juga dapat sampai disini"

Berbicara sampai disitu, mendadak dia mendongakkan kepalanya sambil berseru. "Ma koan tojin dari Hong san, Khong beng taysu dari kui Thi hud si dan Naga tua berekor botak To tayhiap dari Huan yang berada disini, aku harap sobat tak usah menyembunyikan diri lagi."

Wi Tiong hong yang mendengar perkataan itu menjadi terperanjat sekali, dia tak tahu yang berhasil ditemukan jejaknya oleh orang itu adalah mereka berdua ataukah pihak Tok Hayji?

Tiba-tiba Lok Khi berbisik:

"Engkoh Hong. mari kita keluar, siapa yang takut kepada mereka?"

Buru-buru wi Tiong hong menarik tangannya sambil berseru: "TUnggu dulu..."

Belum selesai dia berkata, terdengar Tok Hay ji sudah berseru sambil mendengus:

"Hmm, kalau hanya mengandalkan papan nama emas dari kalian bertiga mah masih belum dapat menyulitkan aku, siapa yang bilang kalau kami sedang bersembunyi?"

"sreet" Sreet." dua sosok bayangan manusia segera melompat keluar dari balik batu.

Begitu sinaga tua berekor botak To Sam-seng mengetahui kalau yang muncul adalah Tok Hayji dengan cepat dia menggeserkan tubuhnya berdiri searah dengan angin, kemudian sambil menggelus jenggotnya dia tertawa terbahak-bahak. "Haaahhh .

,haaahhh...haaaahh.. rupannya kaupun sampai disini juga" Ma-koan tojin danThi io ba Khong beng hwesio adalah jago jago persilatan yang berpengalaman luas, serentak mereka menggeserkan tubuh masing masing berdiri kearah dengan hembusan angin, dengan demikian mereka tak usah kuatir Tok Hay ji menggunakan racunnya lagi.

Tok Hay-ji segera mendengus dingin.

"Hmmm. tadi, bukankah lo tosu sudah bilang, kalian bisa datang tentu saja orang lain juga bisa datang"

Ma-koan tojin maju selangkah ke depan lalu menjura dalam- dalam. "Siancay, siancay, siau sicu telah datang apakah Seh Toheng juga bakal datang.

"Buat apa kau menanyakan tentang soal ini ?" seru Tok Hay-ji dengan angkuhnya. Dengan senyum tak senyum Ma koan tojin berkata:

"Dimasa yang lampau, pinto mempunyai kesempatan untuk bertemu beberapa kali dengan Seh toheng, hampir kini sudah banyak tahun kami tak pernah bersua, berhubung pinto teringat akan sahabat lama, oleh sebab itu aku lantas menanyakannya."

Ma koan tojn dari bukit Hong san mempunyai nama yang termashur dalam dunia persilatan, kalau dia bilang kenal dengan Seh Thian yu, sudah barang tentu hal ini tak bakal salah. Mendengar perkataan tersebut, mau tak mau Tok Hay-ji harus mempercayai juga. dia mendongakkan kepalanya hendak berbicara, tapi secara tiba-tiba dia menyaksikan sekulum senyuman aneh menghiasi wajah Ma-koan tojin, meski kecil orangnya tapi otaknya besar,jadi orang pun cekatan, satu ingatan pengan cepat melintas dalam benaknya.

Dengan suatu gerakan cepat, bocah itu segera melompat mundur ke belakang kemudian bentaknya keras-keras: "Kau mau "

Tidak memberi kesempatan kepada musuhnya untuk mundur, Ma-koan tojin segera melompat ke depan sambil melakukan terjangan serunya dengan suara menyeramkan: "Seh to heng belum juga datang tapi tak apalah, menahan kau disini pun sama saja." ujung bajunya dikembangkan, lalu tapak tangannya yang kurus kering tak berdaging, dan berwarna putih keabu abuan itu melepaskan sebuah pukulan secepat kilat, Rupanya d isaat pembicaraan dengan Tok Hay ji tadi, secara diam-diam ia telah menghimpun ilmu Pek kut ciang-nya dengan tujuan membunuh lawannya dalam sekali pukulan.

Bicara soal ilmu silat tentu saja Tok Hay-ji bukan tandingan dari Ma kom tojin, apa lagi dalam keadaan tak slap. kendatipun demikian ia merasakan adanya ancaman bahaya, namun waktunya sudah terlambat.

Tampaknya Tok Hay ji akan segera terluka oleh pukulan Pek kut ciang tersebut.

Tiba-tiba ia menjatuhkan diri dan berguling diatas tanah. Tentu saja dia berusaha keras untuk menghindar namun dibawah kepungan serangan Pek kut ciang dari Ma koan tojin, tampaknya sulit bagi bocah itu untuk meloloskan diri.

Ditengah kepungan musuh yang amat mengerikan inilah, tiba- tiba ia tertawa ringan, kemudian tangan kirinya diayunkan keatas dan menyentil beberapa kali.

Sentilan jari tersebut tidak menimbulkan gerakan angin, juga tidak nampak suatu benda yang di sentilkan-

Tapi anehnya Ma koan tojin yang siap melancarkan bacokan itu mendadak menarik, serangannya, dia buru-buru lompat ke samping.

Menggunakan kesempatan inilah Tok-hay-ji segera menggelinding sejauh tujuh delapan depa dari posisi semula menanti ia sudah melompat bangun, ditangannya telah bertambah dengan sebuah senjata berwarna hitam pekat yang mirip cambuk bukan cambuk, mirip ruyung bukan ruyung.

"Haaaahhh,.. haaah....haahhh... tosu tua padahal aku tidak menyentilkan apa kepadamu, mengapa sih kau kelihatan ketakutan setengah mati?" serunya sambil tertawa tergelak. "memang kuatir keracunan? Lebih baik tak usah mencari gara dengan orang Tok- see sia. bila sampai mengusik kami, tanggung kau bakal kerepotan sendiri nantinya..."

Rupanya didalam keadaan tadi timbulnya akal ciliknya dengan manyentilkan jari tangannya ke udara, padahal tiada suatu yang disentilkan.

Ma koan tojin bisatermakan oleh tipuan tersebut oleh karena dia memang menaruh perasaan was- was terhadap orang-orang Tok- Seh sia. tahu kalau dibohongi kontan saja dia menjadi mendongkol, serunya sambil tertawa, "Bocah keparat, kau berani bermain gila di hadapan aku Ma-koan lojin dari bukit Hong-san ?"

Tiba-tiba ia menerjang ke muka sepasang telapak tangannya diayunkan bersama melepaskan serangkaian serangan gencar. Tok Hay ji mendengus dingin.

"Hmm, bajingan tua. kau anggap aku benar-benar takut kepadamu ?" sambil memutar senjatanya, selapis bayangan tajam segera menyelimuti seluruh angkasa, bagaikan titiran air hujan dia mendesak musuhnya habis-habisan.

Bersamaan waktunya ketika Ma koan tojin turun tangan, tubuh Khong bing hwesio yang gemuk ikut bergerak pula mendesak kebelakang Tok-si cuan Sun oh, kemudian bentaknya. "Sicu, kau pun harus tetap berada di sini "

Sebuah pukulan yang maha dahsyat dengan cepat dilontarkan ke belakang punggung Tok-si cuan Sun oh.

Tok si cuan Sun oh lebih berpengalaman kalau dibandingan dengan Tok Hay-ji, semenjak ia menyaksikan ketiga orang musuhnya bergeser keposisi searah dengan hembusan angin, ia sudah menduga kalau orang orang itu tidak bermaksud baik.

Sewaktu Ma-koan tojin berjalan menghampiri Tok-i Hay ji ketika mengajak bocah itu berbicara, dia sudah tahu kalau musuh akan- berbuat licik, sebenarnya dia hendak memberi peringatan kepada rekannya. Namun sayang Ma-koan tojin telah melancarkan serangan lebih dulu, disamping pada saat yang bersamaan dari belakang tubuhnya menyambar pula hembusan angin pukulan.

Rupanya Khong beng hwesio dengan mengandaikan Hek sat jiunya telah melepaskan sebuah bacokan kilat.

Tok si cuan Sun oh sama sekali tidak berkutik, sambil meringkukkan badan ia membuang badannya ke bawah.

Padahal Thiloh an Khong beng hwesio menerjang ke muka dengan kecepatan luar biasa,

tapi dia tak mengira kalau musuh akan meringkukkan badan ke bawah, dengan gerakan mana maka... "Weeesss " angin pukulan itu menyambar lewat dari atas kepala Tok si cuan dan mengenai sasaran yang kosong.

Kenyataan ini segera mengejutkan lawan, buru-buru hweeslo itu menghentikan gerakannya sambil menunduk.

Ternyata Tok si- cuan telah memasukkan kepalanya ke bawah dan muncul kembali dari selangkangan, malah dengan wajah yang mengejek sedang memandang kearahnya sambil tersenyum.

Keadaannya sekarang tak berbeda dengan permainan seorang akrobatik diatas panggung, sama sekali tak ada model kalau seorang yang bertarung akan menunjukkan gaya seperti ini.

Selama ini Thi-lo han Khong Beng hwesio sering menjumpai banyak jago lihay di dunia persilatan, tapi setelah menyaksikan gaya Tok si cuan yang sangat aneh itu, dia menjadi tertegun.

Thi lohan Khong beng hwesio bukan seorang gadis cantik yang menawan hati seperti bidadari dari kahyangan, apalagi dia menerjang kemuka sambil melepaskan sebuah pukulan dahsyat dengan ilmu Heks sat- ciang, tentu saja Tok-sicuan Sun ou tak bakal melemparkan sekulum senyuman kepadanya.

Tapi dia tertawa sekarang, itu berarti dibalik senyuman itu pasti ada sesuatu yang tak beres. Rupanya disaat sapuan Thi lohan mengenai sasaran kosong inilah, mendadak dari mulut Tok-si-cuan Sun oh yang tersenyum menyembur keluar serangan cahaya biru yang secara langsung menyambar ke atas tenggorokan hwesio tersebut.

cahaya biru tersebut merupakan jarum racun yang amat lembut, jumlahnya bukan hanya sebatang, secara beruntun dari mulutnya segera menyembur keluar tujuh delapan belas batang jarum lembut.

Thi lo han Khong beng hwesio dapat menyaksikan semua peristiwa tersebut secara jelas, ia menjadi amat terperanjat, sambil mengebaskan ujung bajunya buru-buru dia melompat mundur ke belakang. "Haaah, haaah, haaah..."

Tok-si cuan Sun oh tertawa terbahak-bahak sepasang telapak tangannya segera menepuk permukaan tanah keras keras, setelah itu berjumpalitan dan melompat bangun, ketika tubuhnya dilejitkan ke muka, "Blaamm " sepa sang kakinya telah menjejak di atas perut Thi lohan Khong beng hwesio yang buncit, kemudian tubuhnya seCepat anak panah yang terlepas dari busurnya meluncur datar ke depan.

Thi lo han Khong Beng hwesio tidak menyangka kalau musuhnya akan mengeluarkan jurus seaneh itu, seketika itu juga badannya terjejak secara telak.

Andaikata orang lain yang terkena jejakan itu, paling tidak dia pasti akan menderita luka dalam yang cukup parah, untung saja dia adalah Thi lo han yang Cukup termashyur, kepandaiannya boleh dibilang tangguh. sedang kekebalan tubuhnya sudah mencapai dua belas bagian, jejakan mana sekali tak berarti baginya.

Tapi, disaat tubuhnya yang gemuk sedang melompat mundur kebelakang, mendadak tubuhnya kena ditendang orang lagi, untuk sesaat dia menjadi tak sanggup mengendalikan diri lagi, seperti bola daging, tubuhnya kontan mencelat setinggi satu kaki lebih dari posisi semula.

Untuk diceritakan semua peristiwa itu tampaknya memang panjang, padahal semua kejadian beriangsung pada saat yang bersamaan, tiba-tiba saja orang melihat ada dua tubuh yang mencelat dan saling berpisah, yang satu menyusup ke depan, sementara yang lain mencelat ke belakang.

Dalam dunia persilatan Thi lo han Khong Beng hwesio tersohor karena kebuaSannya, dia pun termaSuk seorang jagoan kelaS satu, siapa tahu hanya menghadapi seorang anggota perguruan dari Tok see sia pun harus mengalami kekalahan berulang kali.

Lama kelamaan timbul juga kebuasannya, tubuh yang mencelat seperti bola daging itu secepat kilat melayang kembali ke tempat semula kemudian-..

"criiingg . . ." dari balik sakunya mencabut keluar dua bilah golok yang panjangnya dua depa.

"Bocah keparat." serunya sambil menyeringai seram, "Hud-ya akan segera mengirimmu pulang ke akhirat"

cahaya golok berkilauan di angkasa, diantara kilauan sinar yang luar biasa tajamnya, dia telah membacok tubuh Tok si cuan Sun ou keras- keras.

Tok si cuan Sun ou segera melejit kesamping dengan gesit, begitu lolos dari ancaman, dia lantas berkata sambil tertawa:

"oooh . . . rupanya kau juga menggunakan golok, kalau begitu sungguh kebetulan sekali "

Sambil berkelit ke kiri kanan dengan menggunakan gerakan gerakan yang lincah, tangan kanannya cepat- cepat merogoh ke dalam bajunya mengeluarkan sebilah sarung golok berwarna hijau sepanjang dua depa.

Dengan tangan kiri memegang sarung, tangan kanan menggenggam golok. sreet . . . Dia telah mencabut keluar golok itu.

Beg itu golok itu diloloskan maka segera terlihatlah mata golok yang memancarkan cahaya biru yang berkilauan, dalam sekilas pandangan saja semua orang dapat mengetahui kalau golok itu sudah direndam dalam racun yang sangat ganas. Sarung golok yang berada di tangan kiri Tok si cian Sun ou ternyata digunakan sebagai senjata, pelan-pelan dia mengayunnya ke samping, sementara golok beracun ditangan kanannya menciptakan selapis cahaya berwarna biru.

"Berhati-hatilah hwesio gede." dia segera memperingatkan sambil tertawa keras. "golok darahku ini bukan golok sembarangan yang boleh dianggap sebegai barang mainan, asal merobek kulit manusia maka dalam setengah jam tubuh sang korban akan berubah menjadi segumpal darah kental, sekalipun Ji lay hud datangpun jiwanya tak bakal tertolong lagi."

Sudah lama Thilohan Khong Beng hwetlo menyadari akan kelihayan orang-orang Tok see sia didalam menggunakan racun, ia benar-benar kena tergertak oleh ucapan tersebut, sambil meningkatkan kewaspadaan, pikirnya.

"Jelas tenaga dalam keparat ini tak akan melebihi aku, namun jurus yang barusan digunakan luar biasa, ditambah lagi golok beracunnya itu, dia betul-betul seorang musuh yang tak boleh dianggap enteng."

Berbicara yang sesungguhnya, baik ilmu silat maupun tenaga dalam yang dimiliki Thi lo han Khong beng hwesio masih jauh melebihi musuh-nya, permainan sepasang goloknya juga jauh lebih dahsyat daripada permainan musuh, tapi dengan demikian- berhubung seluruh perhatiannya hanya tertuju kearah golok beracun itu, maka pikirannya menjadi makin bercabang, otomatis kelihayannya pun merosot.

Akibatnya Tok si cuan merasakan serangan musuh jauh lebih enteng dan kendor, dengan sarung golok ditangan kiri golok ditangan kanan, ditambah lagi dengan kepandaian lainnya ia berhasil memaksa Thi lo han untuk bertarung seimbang dengannya.

Wi Tiong hong dan Lok Khi mengikuti terus jalannya pertarungan antara keempat orang itu dari balik semak belukar.

Tok Hay ji sudah barang tentu bukan tandingan dari Ma koan Tojin, namun setiap kali keadaan menjadi kritis, dia lantas mengayUnkan tangan kirinya, kadangkala darijari tangannya menyemburkan asap kuning atau asap hitam, kadangkala hanya gertak sambal belaka.

Ma-koan tojin memang seorang yang berwatak banyak curiga, sekali menyaksikan Tok Hay-ji mengayunkan tangannya, dia selalu cepat- cepat mundur ke belakang, oleh karena itu Tok Hay-jipun secara dipaksakan masih sanggup mempertahankan diri. Tiba-tiba Lok Khi berbisik sambil tertawa.

"Engkoh Hong, Tok Hayji benar-benar licik dan nakal, coba kalau aku menggantikan kedudukan Ma koan tojin, niscaya dia akan ku bacok sampai mampus."

"Kalau begitu, maka kau bakal keracunan." Lok Khi tertawa lirih. "Tak usah kuatir, topengku ini tidak takut terhadap serangan

racun atau sebangsanya."

Suara tertawanya kali ini bernada agak keras, dengan cepat hal ini menarik perhatian orang orang yang berada disebelah sana.

Tiba tiba si Naga tua berekor botak To Sam seng membentak beras: "Siapa disitu?"

"Lohu"

Sesosok bayangan manusia menerjang turun dari atas pohon- ditangannya membawa sebuah senjata berwarna hitam pekat, bentuknya seperti sebuah penggaris besi.

Dengan membawa suatu kekuatan yang amat keras, penggaris besi itu langsung menghajar ke atas batok kepala naga tua berekor botak.

Gerakan tubuh orang itu cepat sekali, rupanya semua orang hanya memperhatikan musuh yang berada ditanah, sedang dia datang lewat atas pohon, ditinjau dari ilmu meringankan tubuhnya yang begitu sempurna, dapat diketahui kalau dia adalah seorang manusia yang luar biasa. Lok Khi segera menjulurkan lidahnya kepada Wi Tiong hong, bisiknya lagi sambil tertawa ringan:

"Untung saja ada orang Iain yang mewakili kita, coba kalau tidak kita bakal repot .."

Dalam pada itu si Naga tua berekor botak sedang merasa terkejut sekali, pada hakekatnya dia tak sempat melihat jelas bayangan orang ketika angin tajam telah menyambar tiba dan senjata penggaris besi itu sudah berada tiga depa diatas kepalanya.

Dengan cepat dia mendengus lirih, tangan kanannya menyambar ke balik pakaian lalu diayunkan keatas, tahu-tahu dalam genggamannya telah bertambah dengan sebilah senjata yang mirip cakar bukan cakar untuk menyambut ancaman tersebut.

"Traaang" suatu benturan nyaring bergema memecahkan keheningan, kedua belah pihak sama-sama berdiri tegak ditempat masing- masing.

Setelah terjadi bentrokan itu, si Naga tua berekor botak baru merasa betapa beratnya senjata penggaris baja lawan, bahkan tenaga dalamnya tidak berada dtbawah tenaga dalam sendiri.

cepat-cepat dia menggerakan lengannya untuk menarik kembali senjata cakarnya itu, siapa tahu senjata IHek Liongjiau (cakar naga hitam) andalannya itu seakan-akan menempel rapat-rapat diatas senjata penggaris lawan, bagaimanapun dia membetot, senjata tersebut tak berhasil ditarik kembali.

Tak terlukiskan rasa terkejut naga tua berekor botak menghadapi kenyataan itu, cepat-cepat dia mengerahkan segenap tenaga dalam yang dimilikinya, setelah bersusah payah akhirnya senjata cakar naga hitam itu baru bisa dipisahkan dari penggaris raja tersebut.

"Hm, rupanya senjata penggarismu itu terbuat dari besi sembrani." serunya dingin. "Senjata ku itu amat beracun, kau mesti berhati-hati " kata orang itu cepat. Yang muncul lagi- lagi anggota Tok seeh sia, nampaknya mereka semua memang pandai menggertak orang dengan mengandalkan kelihayan racunnya. Tok Hay ji segera tertawa terbahak-bahak.

"Haahh . . haahh . . hnahh. . Lu suko telah datang, Lu suko, cepat kau lepaskan racun tak berwujud untuk merobohkan ke tiga orang itu"

"Saudara To, cepat hadang orang itu " Ma koan Tojin membentak pula dengan suara dingin-

Tampaknya si Naga tua berekor botak juga kuatir kalau musuhnya benar-benar melepaskan racun, sahutnya dengan suara dalam.

"Tak usah kuatir, siaute tak akan memberi kesempatan kepadanya untuk melepaskan racun."

Seusai berkata, senjata cakarnya kembali diputar secepat angin lalu menyerang orang itu, senjata cakar naga hitamnya diputar makin lama semakin cepat sehingga seluruh angkasa dilapisi oleh bayangan cakar yang amat tebaL Hanya kali ini, dia tak berani saling beradu senjata lagi dengan penggaris lawan-

OoooDWoooO

DALAM pada itu, Tok Hay ji sudah terdesak sehingga berada dibawah angin, dia benar-benar dibikin kalut sehingga gelagapan setengah mati, senjata ruyung lemasnya kena terkurung oleh angin pukulan Ma koan tojin sehingga tak mampu dikembangkan sebagaimana mestinya.

Tangan kirinya sudah diayunkan berulang kali, namun ayunan tangannya tak pernah mendatangkan hasil, jelas bubuk beracun yang tersedia telah habis dipakai.

Senyum menyeringai telah menghiasi bibir Ma koan tojin, kini hawa pembunuh telah menyelimuti wajahnya, sementara serangan yang dilancarkan juga makin lama semakin bertambah berat. Dengan keringat bercucuran mendadak Tok Hay ji mengayunkan kembali tangan kirinya, "Tosu tua, roboh kau" bentaknya keras. Lagi lagi serangannya kosong dan tidak mendatangkan hasil apa-apa. Ma koan tojin tertawa seram.

"setan cilik, kau masih mempunyai permainan kembangan apa lagi?"

"Weees, weees,., Secara beruntun dia melancarkan lagi dua pukulan dahsyat.

Tok Hay ji menjatuhkan diri ketanah dan bergelinding diatas tanah. teriaknya keras.

"susiok, cepat tolong aku"

Setelah terhindar dari pukulan dan cambuk lemas itu ditarik ke belakang, dia melompat bangun, setelah itu sambil tersenyum dia menengok ke belakang tubuh Ma-koan tojin.

Dengan perasaan terkejut Ma-koan tojin segera berpaling^ Tok Hay-ji kontan saja tertawa terbahak-bahak.

"Haaahh . . . haaaahh . . . haaahh. , . tosu tua, tertipu kau kali ini."

Mendadak tampan kanannya diayunkan ke muka, asap berwarna abu-abu segera menyelimuti daerah seluas satu depa dan mengurung seluruh tubuh Ma koan tojin.

Padahal dalam perkiraan Ma koan tojin, racun milik musuhnya ini sudah habis terpaka sesudah beberapa kali ayunan tangannya tidak memberikan reaksi apapun, setelah menyakslkan kabut berwarna abu-abu menyambar keatas wajahnya dia terkejut dan buru-buru menjatuhkan diri ke belakang, kemudian sambil menahan napas dia melompat pergi.

Siapa tahu pada saat itulah terdengar Tok Hay ji membentak keras: "Tosu tua, roboh kau " Ma koan tojin melejit ke udara, sewaktu bentakan tersebut menggelegar disisi telinganya, tahu-tahu dia merasa kakinya terjirat sesuatu benda, tak ampun dia kena dijerat oleh senjata cambuk Tok Hay ji dan jatuh terpelanting diatas tanah.

Dalam keadaan seperti ini, dia lebih- lebih tak berani berayal lagi, masih tetap menahan napas, ujung kakinya segera menutuI permukaan tanah kemudian menyelinap kesamping. Tok Hay ji tertawa semakin panas, "Haah . . . haahh . . . haahh . tosu tua, pelan sedikit, tidak mengapa."

Sudah puluhan tahun lamanya Ma koan tojin malang melintang dalam dunia persilatan, tapi sekarang dia harus jatuh terpelanting oleh permainan Tok Hay ji yang masih ingusan, kejadian ini boleh dibilang benar-benar memalukan jagoan ini.

Setelah berhasil berdiri tegak. paras mukanya yang di hari-hari biasa telah nampak menyeramkan, kini berubah jadi pucat karena marahnya, selangkah demi selangkah dia berjalan maju mendekati lawannya.

Siapa sangka, baru berapa langkah tiba-tiba dari muka sana muncul sesosok bayangan manusia yang secepat sambaran kilat menerjang kearahnya.

Gerakan tubuh orang itu sangat cepat, sedemikian cepatnya sehingga dalam waktu singkat telah berada dihadapan mereka berdua.

orang itu adalah seorang kakek berbaju pendek warna coklat yang bertangan kosong jenggot putihnya sepanjang setengah depa sedang punggungnya bungkuk.

Melihat kehadiran orang itu, Tok Hay ji segera menarik kembali senjata ruyungnya dan mundur beberapa langkah.

Dari tindakanaya ini, jelas dia hendak menyerahkan Ma koan tojin kepada orang itu, agar orang itulah yang memberi pelajaran kepada tosu tersebut. Tadi Ma koan tojin pernah mendengar Tok Hay ji memanggil orang itu sebagai susiok, kini setelah menyaksikan kelihayan musuhnya ia baru merasa terperanjat.

Seingatnya, di dalam dunia persilatan belum pernah dijumpai seorang jagoan yang bertampang seperti ini, hal yang mana menunjukkan kalau orang itu adalah jagoan dari Tok see sia.

sebagai seorang jagoan yang sudah termasyur selama banyak tahun dalam dunia persilatan, tentu saja dia tidak berhasrat untuk mengundurkan diri dengan begitu saja.

Walaupun paras mukanya tidak menunjukkan perubahan apa- apa, padahal secara diam-diam dia telah menghimpun segeaap tenaga dalamnya untuk bersiap siaga menghadapi segala kemungkinan yang tak diinginkan-Kepada Tok Hay ji serunya sambil tertawa seram. "Dia adalah susiokmu ?"

"Siapa bilang ? Aku malah mengira dia ada lah susiokmu " jawab Tok Hay-ji cepat.

Sementara itu si kakek berbaju coklat itu sudah semakin mendekat, ketika orang itu menyaksikan Tok Hay-ji sudah mundur sedangkan Ma koan tojin masih menghadang dihadapannya, tanpa terasa bentaknya keras- keras. "Minggir kau "

Sambil mengayunkan tangan kirinya, sebuah pukulan segera dilontarkan ke tubuh Ma koan tojin.

Mimpipun Ma koan tojin tidak mengira kalau orang itu sekali tidak manggubris tentang peraturan dunia persilatan, bahkan begitu ingin bertarung, sebuah pukulan langsung dilontarkan kearahnya.

Satu-satunya yang ditakuti olehnya adalah ilmu beracun dari orang-orang Tok see sia, bagaimana mungkin ia berani menyambut serangan mana dengan kekerasan?

Tubuhnya dengan cepat melejit ke samping untuk menghindarkan diri dari ancaman mana. Siapa sangka serangan tangan kiri kakek berbaju coklat itu tidak dilanjutkan lebih jauh, baru tiba ditengah udara tahu-tahu dia sudah dia sudah merubahnya menjadi serangan cengkeraman.

Dengan suatu gerakan yang amat cepat dia cengkeram belakang baju Ml koan tojin, lalu serunya:

"Aku toh sudah meuyuruh kau menggelinding pergi, sekarang juga kau harus menggelinding pergi dari sini."

Diantara getaran tangannya, dia sudah melemparkan tubuh Ma koan tojin ke depan-

Sungguh terperanjat hati Lok Khi setelah menyaksikan kemampuan si kakek berbaju coklat yang berhasil membekuk dan melemparkan tubuh Ma-koan tojin hanya dalam sekali gebrakan saja, segera bisiknya lirih:

"Engkoh Hong, gerak serangan yang dimiliki orang ini sangat aneh, entah siapakah dia?"

Tentu saja Wi Tiong-hong lebih- lebih tidak tahu, dia hanya menggelengkan kepalanya berulang kali dengan mulut tetap membungkam. Tok Hay ji segera bertepuk targan sambil bersorak sorai.

"Tosu tua setelah berjumpa dengan susiokmu, mengapa kau sama sekali tak mampu berkutik ?"

Kakek berbaju coklat itu melotot sekejap kearah Tok Hay ji kemudian secara tiba-tiba ia berpaling ke arah empat orang yang sedang bertarung disebelah depan sana, dan membentak keras.

"Mengapa kalian tidak segera menghentikan pertarungan?"

oleh bentakan yang menggeledak itu Thi lo han Khong Beng, Naga tua berekor botak To Sam-seng, Tok si cuan dan lelaki yang bersenjatakan penggaris besi sama sama menghentikan serangan-

Kakek berbaju coklat itu segera mengalihkan kembali sorot matanya ke tempat persembunyian Wi Tiong hong dan Lok Khi, ke mudian tiba tiba bentaknya keras. "Kalian juga segera keluar " Kakek ini benar-benar sangat lihay, tampaknya siapa pun tak dapat mengelabuhi dia.

Tanpa terasa sorot mata semua orang yang hadir di arena pun bersama-sama dialihkan ke situ.

Sambil tertawa dingin Lok Khi segera berkata.

"Engkoh Hong, keluar ya keluar, siapa yang takut kepada mereka

?"

Kedua orang muda mudi itu segera melompat keluar dari batu-

batuan cadas.

Semua orang tidak mengenai siapa kah kakek berbaju coklat itu, semua saja tidak mengetahui maksud tujuannya.

Dalam pada itu yang bertempur telah menghentikan pertarungan sedang yang munculkan diri pun sudah muncul.

Diseputar batuan cadas itu segera berkumpul beberapa orang yang saling mengelompok pada rombongannya masing- masing, tak seorang pun diantara mereka yang bersuara.

Kini, sorot mata kawanan jago itu sudah di alihkan kembali dari wajah Wi Tiong long dan Lok Khi keatas wajah kakek berbaju coklat itu.

sikakek memandang sekejap wajah orang-orang itu, kemudian tanyanya:

"Aku lihat kalian semua mungkin sudah pernah datang satu kali kemari, apakah pernah melihat toa-siocia kami datang kemari?"

"Toa siocia kalian?" Tok Hay ji balik bertanya.

Kakek berbaju coklat itu melotot besar-besar, kemudian bentaknya: "Toa siocia kami tentu saja Su toa siocia"

"Su toa siocia"

Tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benak Wi Tiong hong, dia jadi teringat kembali dengan sinona berbaju hijau yang pernah menghadiahkan pil penawar racun kepadanya itu, di atas botol porselen tempat obat tersebut bukankah pernah terbaca tulisan yang berbunyi "Buatan keluarga su."

Mungkinkah Su toa siocia yang dimaksudkan orang ini adalah si nona berbaju hijau itu. Dalam pada itu Lok Khi telah mencibirkan bibirnya yang tebal sambil tertawa dingin.

"Heeh, heeeh, heeeh, kau bertanya kepada kami, lantas kami harus bertanya kepada siapa?"

Tampaknya maksud kedatangan kakek berbaju coklat itu hanya untuk mencari Su toa siocia nya, terhadap sindiran Lok Khi itu sama sekali tidak ambil perduli.

Dengan kening berkerut dia segera termenung sambil berpikir sejenak kemudian ujarnya lagi:

"Kalau begitu, toa siocia tidak datang kemari ?"

Makoan tojin yang kena dibikin keok dalam satu gebrakan saja benar-benar merasa amat tak puas, dia merasa nama baiknya sebagai Makoan lojin dari bukit Hong san sudah cukup lama termashur dan dikenal dalam dunia persilatan. jika kenyataannya dia tak becus, andaikata berita ini sampai tersiar keluar, bukankah dia akan merasa sangat kehilangan muka?

Maka sambil tertawa seram pelan pelan dia menyongsong kedepan, kemudian setelah menjura katanya:

"Lo-sicu sungguh berilmu sangat tinggi, dengan memberanikan diri pinto ingin minta petunjuk kepada sicu, siapa gerangan nama dan sebutanmu . . .?"

Secara diam-diam hawa murninya telah di himpun menjadi satu dalam telapak tangan-meminjam kesempatan dikala menjura tadi dia lepaskan sebuah pukulan gelap ke tubuh lawan-

Serangan ini boleh dibilang telah disertai dengan tenaga dalam hasil latihannya selama puluhan tahun, walaupun tanpa wujud dan tidak terdengar sedikit suara pun, namun kekuatannya sanggup menghancurkan batu karang dan melukai orang tanpa terasa.

Kakek berbaju coklat itu memandang sekejap ke arahnya. kemudian menegur dengan dingin.

"Jadi kau masih merasa belum puas?" Selesai mengucapkan perkataan tersebut- dia tidak menggubris orang-orang itu lagi, mendadak kepalanya didongakkan dan memperdengarkan suara pekikan nyaring.

Suara pekikannya amat keras hingga menjulang tinggi menembusi awan, kemudian memancar ke empat penjuru dan mendengung tiada hentinya.

Dalam anggapan Ma koan tojin semula dengan serangannya tersebut, kendatipun pihak lawan memiliki tenaga dalam yang sempurna. namun tak siap. paling tidak tubuhnya akan terpental mundur sejauh satu- dua langkah.

Kemudian dia akan menggunakan kesempatan itu untuk mundurkan diri, meminta maaf dan tak usah kehilangan muka.

Siapa tahu pihak lawan hanya mengucapkan sepatah kata kemudian tidak menggubrisnya lagi.

Tidak. serangan gelap yang dipancarkan olehnya bukan saja tidak menemukan tenaga perlawanan juga tidak terasa hadangan apapun, seakan-akan lenyap tak berbekas dengan begitu saja.

Sekarang dia baru terperanjat, buru-buru dia terperanjat, mundur untuk menyelamatkan diri. Kakek berbaju coklat itu sama sekali tak acuh, pada hakekatnya dia tak menganggap peristiwa tersebut sebagai suatu kejadian, bahkan melirik sekejap pun tidak.

Disaat inilah, dari empa tpenjuru berkumandang suara pekikan panjang yang saling bersahut-sahutan, suara itu berasal dari tempat kejauhan sana.

Jelas, dengan pekikan panjangnya tadi, kakek berjubah coklat itu sedang mengumpulkan para jagonya. Ma koan tojin semakin terkesiap sesudah mendengar pekikan itu, hatinya dag dig dug tak keruan, sedangkan Thi lo han Khong beng hwesio dan si Naga tua berekor botak To Sam seng juga turut berubah muka.

Mereka bertiga saling berpandangan sekejap kemudian masing masing mengundurkan diri dan bergabung menjadi satu kelompok.

Tok si cuan, Tok Hayji dan lelaki bersenjata penggaris baja itu pun dapat merasakan situasi yang tak menguntungkan, serentak mereka bersiap sedia pula menghadapi segala kemungkinan yang tak diinginkan-

Dalam pada itu, Lok Khi telah meloloskan golok tipisnya yang berbentuk bola dan digenggam dalam tangan, sementara tubuhnya masih tetap bersandar ditubuh Wi Tiong- hong sembari berbisik:

"Engkoh Hong, nampaknya kita sudah berada dalam kepungan orang lain-.." Wi Tiong- hong manggut manggut

"Ya, nampaknya mereka adalah orang-orang dari Lam hay bun " tambahnya pelan-

Sementara berbicara, suara pekikan yang berkumandang di sekeliling tempat itu kian lama sudah kian mendekat, kemudian tampak empat sosok bayangan abuabu yang meluncur tiba dengan kecepatan tinggi, dalam waktu singkat mereka sudah melayang turun didepan kakek berbaju coklat itu.

Diatas punggung ke empat orang lelaki berpakaian ringkas warna coklat itu masing- masing menggembol sebuah senjata yang berbentuk aneh, mereka berhenti dan berdiri berjejer lebih kurang satu kaki dihadapan Kakek tersebut, tangannya lurus ke bawah dengan wajah serius sikapnya menghormat sekali.

Kakek berbaju coklat itu manggut- manggut kepada mereka, lalu katanya pelan: "Toa siocia tak ada disini, mari kira pergi"

Seusai berkata. dia mengulapkan tangannya dan kelima sosok bayangan manusia itu bersama-sama melompat pergi dengan kecepatan luar biasa. Semua orang yang berada diarena tak menyangka sama sekali kalau orang-orang itu akan berlalu dengan begitu saja, padahal semua orang sudah merasakan ketegangan semenjak tadi.

Setelah mengalami nasib sial berulang kali pada hari ini, Ma koan lojin benar benar geram sekali, maka begitu sikakek berbaju coklat itu pergi, semua kemarahannya segera di limpahkan ke atas tubuh Tok Hay ji.

Dengan sorot mata berkilat dan bibir digertak kencang-kencang, serunya dengan suara menyeramkan:

"Hei, mengapa susiokmu pergi dengan begitu saja?"

Berbareng dengan ucapan itu, pelan-pelan dia bergerak mendekati Tok Hayji.

Thi Lohan Khong beng hwesio serta Naga tua berekor botak To Sam seng tak ketinggalan serentak mereka pun bergerak maju, Tok Hayji mendengus dingin, sahutnya: "Kenapa? Apakah kau masih ingin bertarung?"

Ma koanjin menyeringai seram: "Ha eehh ..heeehh.. heeeh h, bila pinto membiarkan kau berhasil mempertahankan diri sebanyak sepuluh jurus lagi mulai detik ini aku tak akan bernama Ma koan dari bukit Hong san lagi."

Tok   Hayji    segera    tertawa    terbahak    bahak.    "Haaahh,

.haaahh...haahh.. tak usah kuatir, kali inipun aku tak akan membiarkan kau mampu bertahan sebanyak tiga gebrakan lagi..."

Sementara itu lelaki bersenjata penggaris-baja itu telah berkata kepada Tok si cuan dengan kening berkerut:

"Kita takpunya banyak waktu lagi untuk ribut dengan mereka, siapa sih ke tiga orang itu?"

Tok sicuan menuding orang-orang itu sambil menjawab.

"Dia adalah Makoan tojin dari bukit Hong san, dia adalah Thi lo han Khong beng hwesi o dan dia adalah Naga tua berekor botak To Sam seng dari kota huan yang." "Apakah mereka termasuk manusia manusia yang punya nama?" tanya lelaki yang bersenjata penggaris lagi.

"Tentu saja, mereka adalah manusia- manusia yang mempunyai nama besar dalam dunia persilatan-"

Pelan pelan lelaki bersenjata penggaris baja itu mengangguk. "Jadi mereka pun datang lantaran Lou bun si tersebut?"

"Masa ditanya lagi?" sela Tok Hayji.

"Kalau begitu, mereka tak boleh dilepaskan dengan begitu saja" "Yaa. tentu saja, bangsat-bangsat itu memang tak boleh

dilepaskan dengan begitu saja" seru Tok Hayji sambil tertawa.

Ma koan tojin adalah orang banyak curiga, selama ini ia dengarkan tanya jawab tiga orang itu dan menyaksikan sikap mereka yang seolah-olah tidak memandang sebelah matapun terhadap mereka bertiga, tanpa terasa ia berhenti sambil ucapnya dengan nada menyeramkan: "Tahukah kalian, apakah kamipun akan melepaskan kalian dengan begitu saja?" Lelaki bersenjata penggaris besi itu manggut- manggut, kemudian tertawa dingin.

"Heehh. .heeeh.. heeh... bagus, bagus sekali, kalau begitu mari kita mencoba bersama-sama, didalam tiga gebrakan kemudian- bila kalian membinasakan kami, tentu saja kami tak akan banyak berbicara, sebaliknya bila dalam tiga gebrakan kemudian tak mampu membunuh kami, heeehh... heehh . aku kuatir, kesempatan bagi kalian bertiga, untuk melarikan diripun mungkin sudah tak ada."

Dengan kening berkerut kencang, mendadak si Naga tua berekor botak To Sam seng membentak keras.

"selamanya lohu tidak percaya dengan segala macam tahayul" "Betul." sambung Ma koan tojin sambil tertawa seram, "paling

banter, kalian toh akan mengandalkan bubuk beracun saja untuk

merobohkan kami.." "Kalau ingin bunuh, ayo kita bunuh sekarang, apagunanya banyak berbicara?" sambung Thi lohan Khong beng hwesio pula dengan suara yang lantang sekali.

Tangan kanannya menggenggam dua bilah golok kecil dan menerjang maju kemuka, sementara telapak tangan kirinya segera diayunkan kedepan membacok lelaki yang bersenjata penggaris besi itu.

Tenaga pukulan yang dimiliki Thi lohan Khong beng hwesio benar-benar lihay sekali begitu serangan dilontarkan. "weees" segulung angin serangannya yang dahsyat segera menggulung ditengah angkasa dan menyambar ke-muka dengan kecepatan tinggi.

Lelaki yang bersenjatakan penggaris besi itu tak berani menyambut dengan kekerasan, cepat dia mengigos kesamping menghindarkan diri dari amukan serangan sedangkan senjata penggaris bajanya langsung diayunkan kedepan mengetuk sikut hwesio tersebut.

Begitu kedua orang itu bertarung, Ma koan tojin dan Naga tua berekor botak To Sam seng turut bergerak pula, masing- masing segera melepaskan sebuah pukulan dahsyat, sementara tubuhnya menerjang kemuka menghantam tubuh Tok si cuan serta Tok Hayji.

Enam sosok bayangan manusia saling berpencar, bayangan cambuk. cahaya golok segera menyelimuti seluruh angkasa.

Untuk saling memanfaatkan kesempatan dan waktu yang tersedia, begitu turun tangan, ke dua belah pihak sama-sama mengeluarkan jurus serangan yang paling tangguh. Lok Khi mendengus dingin setelah menyaksikan kesemuanya itu, sambil melengos katanya. "Huuuh, pada hakekatnya mereka seolah olah tidak memandang sebelah matapun pada kita" Wi Tiong hong segera tertawa lebar

"Ai orang lain tidak mengusik kita kenapa kita mesti marah ? Mereka toh tidak mencari gara-gara pada kita bukankah hal ini justru lebih menggirangkan ?" Lok Khi segera mencibirkan bibirnya. "IHmm, kau anggap mereka orang baik?" serunya, "Huh, mereka ingin cepat membereskan lawannya, hal ini setengahnya dikarenakan kita."

"Apa maksudmu ?"

"Hal inipun tak pernah kau duga. perduli siapakah pihak lawannya, mereka hanya tahu cepat-cepat membereskan musuhnya agar bisa menghimpun kembali tenaga untuk menghadapi kita."

Tak tahan lagi Wi Tiong hong segera menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Belum lagi bayangan Lou bun si ditemukan, orang-orang ini sudah saling bertarung mati-matian, betul-betul perbuatan yang bodoh."

Padahal orang-orang dari kedua belah pihak itu yang sama-sama bergunanya untuk kita, biar aku suruh mereka berhenti bertarung lebih dulu."

"Kau bilang mereka berguna untuk kita?" tanya Wi Tiong-hong dengan wajah keheranan.

"Tentu saja berguna sekali.."

Berbicara sampai disitu, dia segera mendongakkan kepalanya sambil berteriak lantang. "Hei, kalian semua harap berhenti dulu"

Teriakan yang merdu dan lembut itu tentu saja dapat didengar oleh enam orang yang berada di arena, akan tetapi mereka ingin menyelesaikan pertarungan tersebut secepatnya ketika itu, siapapun berhasrat untuk menghabisi lawannya secepat mungkin, sudah barang tentu tidak ada yang mau menuruti perkataannya.

Melihat teriakannya sama sekali tak di gubris lawan, bahkan orang-orang itu masih bertempur dengan sengit, mendongkol juga hati Lok Khi dibuatnya.

"Hmmmm, kalian benar-benar tidak memandang sebelah matapun terhadapku." demikian ia berseru, "engkoh Hong. tunggu saja dahulu di tempat itu " katanya kemudian- Dia segera menjejakkan kakinya dan sesosok bayangan manusia dengan kecepatan luar segera menerjang ke tengah arena di mana ke enam orang itu sedang melangsungkan pertarungan seru.

Belum lagi orangnya sampai "criiing "dari tengah udara sudah melintas lewat serentetan cahaya perak yang amat menyilaukan mata kemudian bagaikan tubuh dan pedang melebur menjadi satu, dia meluncur ke muka dengan kecepatan yang mengagumkan.

"criiing criiing " secepat sambaran petir gadis itu sudah menyambar lewat diantara tubuh ke enam orang itu.

Meskipun Wi Tiong hong sudah tahu kalau Lok Khi memiliki kepandaian silat yang tinggi akan tetapi selamanya ia belum pernah menyaksikan gadis itu turun tangan secara benar-benar, tertegun juga hatinya setelah menyaksikan kelihayan Lok Khi, nona tersebut Diam-diam dia lantas memuji: "Anak murid Thian Sat-ilo benar- benar luar bias a."

oooOdwOooo

CAHAYA PERAK tiba-tiba sirap. kemudian terlihat Lok Khi telah menarik kembali golok tipisnya dan melayang turun kembali ke atas permukaan tanah, sambil bertolak pinggang ia mendengus dingin tiada hentinya.

"Hm, aku toh menyuruh kalian berhenti, sudah kalian dengar belum seruanku itu ?"

Dari enam orang yang bertempur, sebetulnya mereka terbagi dalam tiga bagian pertarungan yang berbeda-beda, dalam sengitnya pertarungan itulah, mendadak semua orang merasakan cahaya perak menyilaukan mata, tahu-tahu masing- masing pihak merasa kena diserobot.

Untuk sesaat mereka menyangka kalau pihak lawan telah mendapat bantuan dari rekannya sehingga buru buru mereka mengundurkan diri ke belakang. Begitu ke enam orang iiu didesak untuk mundur selangkah, seketika itu juga semua pertarungan berhenti.

Menanti mereka sudah melihat jelas siapa gerangan musuhnya itu, barulah semua orang merasa tertegun.

Ma-koan tojin, Thi lohan dan Naga tua berekor botak pernah menyaksikan bagaimana Wi Tiong hong mematahkan serangan pisau terbang dari Thian Sat nlo ketika berada di perusahaan An- wanpiaukiok tempo hari, mereka semua sudah tahu kalau pemuda itu memiliki kepandaian silat yang lihay.

Akan tetapi siapa pun tidak menyangka kalau gadis bertampang jelek yang sama sekali tidak menyolok disisi Wi Tiong hong, justru memiliki ilmu silat yang jauh lebih hebat lagi.

Lelaki bersenjata penggaris baja itu nampak tertegun. kemudian tanya nya dengan suara rendah:

"Siapa sih ke dua orang itu ?"

"Yang lelaki adalah Wi Tiong-hong, sedangkan yang perempuan itu tidak kuketahui siapakah dia ?" jawab Tok Hayji.

Tok-si cuan yang pernah menyaru sebagai si Makhluk bertanduk tunggal Ku Tian-sun mengenali siapakah kedua orang itu, buru buru dia menyambung dengan cepat:

"Wi Tiong hong adalah wakil pangcu dari perkumpulan Thi-pit- pang sekarang, sedangkan yang perempuan adalah adik misannya bernama Lok Khi" Dalam pada itu, Ma-koan tojin telah menjura sambil menegur.

"Li sicu benar-benar berilmu sangat tinggi, entah ada urusan apakah menyuruh kami berhenti bertarung? Harap sicu sudi menjelaskan, pinto pasti akan mendengarkan dengan seksama."

Masih tetap bertolak pinggang, Lok Khi berkata:

"Aku ingin bertanya kepada kalian, aku dan Piauko ku berdiri disini, sebetulnya sudah kalian lihat atau belum ?" Nadanya amat mendongkol. Ma koan tojin dibuat tertegun oleh pertanyaan tersebut, tapi sebentar kemudian sudah tertawa terbahak-bahak. kembali dia menjura kemudian baru ujarnya:

"Sejak Wi sauhiap dan li-sicu menampakkan diri, pinto sekalian sudah mengetahuinya, tentu saja tahu juga akan kehadiran kalian, cuma musuh besar berada di depan mata, sehingga bila kami tidak menyapa kalian berdua, harap kalian sudi memaafkan "

"Yaa benar, apalagi Wilote pun sudah pernah membantu lohu sekalian untuk meloloskan diri dari kepungan orang sewaktu berada diperusahaan An-wanpiau-kiok tempo duu. . ." sambung Naga tua berekor botak sambil ketawa.

Tidak menunggu sampai mereka menyelesaikan kata-katanya, sambil tertawa dingin Lok Khi telah menukas:

"Hmmm, dengan kedudukanmu si Naga tua berekor botak, kalian anggappantas untuk menyebut saudara dengan kakak misanku?"

Paras maka Naga tua berekor botak To Sam seng segera berobah hebat, tapi dia tetap ber sabar untuk menahan diri.

Sebaliknya Tok Hay-ji segera memanfaatkan kesempatan itu sambil tertawa terbahak-bahak ejeknya:

"Haaah .. . haaaahh . . . haaah . . . suatu dampratan yang tepat sekali, kau orang she To terhitung manusia macam apa ?"

Mencorong sinar tajam dari balik mata Naga tua berekor botak, tampaknya ia hendak mengumbar hawa amarahnya lagi.

Lok Khi segera berpaling kearah Tok Hay ji dan mendamprat sambil mendengus. "Hmmm, hm sendiripun bukan manusia baik- baik "

"Bagaimana kalau kita berduel satu melawan satu?" tantang Tok Hay ji cepat.

"Hmmm " Lok Khi mendengus sinis, "aku tak akan takut menghadapi   racunmu,   akupun   tak   punya   kesempatan   untuk bertarung melawanku. Terus terang saja, kau masih belum pantas untuk bertarung melawanku."

"Besar amat nada pembicaraan nona" kata lelaki bersenjata penggaris besi itu cepat, "sekarang aku ingin bertanya kepadamu- sebenarnya ada urusan apa kau menyurut kami berhenti bertarung

?"

Lok Khi menendang sekejap ke arahnya, kemudian katanya, "Apakah kau she Lu?" Lelaki bersenjata penggaris itu tertawa terbahak-bahak.

"Haah, haaah, haaah, aku bukan she Lu, tapi julukanku menggunakan kata Lu."

"Aku tidak ambil perduli apakah she Lu atau julukanmu yang menggunakan kata Lu."

"Aku adalah Tok-lu-pan (Lu-pan beracun), ada urusan apa nona mencari diriku ?" tanya lelaki bersenjata penggaris besi itu.

Diam-diam Lok Khi mengangguk. sedang di luaran serunya setelah mendengus:

"Hmmm. siapa yang mencari kau? Aku hanya ingin bertanya kepada kalian, apa sebabnya kalian bertarung mati-matian ? Sebenarnya dikarenakan apa?"

Lu-pan beracun tertegun. "Pertanyaan dari nona sungguh mengherankan," sahutnya. "apakah kalian berdua bukan datang untuk mencari orang-orang Ban-kiam hwee ?"

"Tentu saja kami datang untuk mencari mereka" jawab Lok Khi sambil tertawa, "apakah kalian sudah menemukan orang-orang dari Ban kiam hwee itu ?"

"Aku baru saja datang, masih belum sempat melakukan pemeriksaan yang teliti."

"Hmmm, kalian datang mencari orang-orang Ban kiam bwee tak usah ditanya pun sudah tahu kalau disebabkan Lou bun si, apakah kalian sudah berhasil mendapatkan Lou bun si ? Hmm, bayangannya saja belum kelihatan, kalian sudah saling beradu jiwa?"

"Menurut pendapat nona, apa yang harus kami lakukan sekarang

?" tanya Ma koantojin,.

"Tadi, kalian berati sudah mencari setengah harian lamanya, tapi dimanakah pintu masuk mereka belum juga ditemukan, bukankah demikian . . .?" "Kalau begitu pembicaraan pinto sekalian sudah didengar semua oleh nona?"

"Buat apa ditanya lagi ?"

Kemudian sambil berpaling kearah Lupan beracun, terusnya. "Kau bernama Lupan beracun, rupanya pintu masuk mereka

sudah kau temukan bukan ?" Lok Khi segera mendengus.

"Hmm, wa la upun pintu alat rahasia yang digunakan Ban-kiam- hwe berasal dari Lam-hay tapi setelah melewati banyak tahun, sudah dapat dibayangkan banyak perubahan yang telah mereka lakukan, sekalipun kau berhasil menemukan pintu masuknya, belum tentu bisa menembusi rintangan-rintangan yang ada."

"Perkataan nona memang benar, aku memang-mempunyai keyakinan yang terlalu besar."

Lok Khi segera menyapu mereka sekejap. kemudian setelah tertawa dingin katanya lebih jauh:

"Itulah dia, belum lagi pintu masuknya ditemukan, apalagi setelah menemukan pintu rahasia itu belum tentu bisa menembusinya, belum lagi harus bertarung melawan orang orang Ban kiam-hwe dan memaksa congkoan pasukan pita hitam menyerahkan Lou-bun-si tersebut kepada kalian, tapi sekarang kalian sudah saling bertarung sendiri untuk saling beradu jiwa, benar-benar satu perbuatan yang amat menggelikan."

Mencorong sinar tajam dari balik mata Ma koantojin, dia saling berpandangan sekejap dengan si Naga tua berekor botak, kemudian serunya sambil tertawa terbahak-bahak: "Haaahh . . . haaahh . . . baaahh . . . . jadi nona mengharapkan agar kita saling bekerja sama ?."

"Bekerja samakan jauh lebih baik daripada saling beradu jiwa tanpa hasil yang bisa diraih ?" jengek si nona dingin. Thi lohan Khong beng hwesio tertawa nyaring.

"Bagus, cara ini memang bagus sekali" terlaknya, "bila Lou bun si berhasil kita temukan, kita bertiga rombongan baru saling menentukan siapa yang lebih unggul dan berhak mendapatkan benda mestika tersebut . . "

cepat-cepat Wi Tiong hong menjura, katanya:

"Harap kalian jangan salah paham, aku dan adik misanku sama sekali tak berniat dengan Lou-bun-si tersebut."

"Lantas mau apa kalian datang kemari?" Tok Hay ji sambil membelalakkan matanya lebar-lebar, seakan-akan tidak percaya.

Dengan wajah serius, si anak muda itu berkata:

"Aku hendak mencari congkoan pasukan pita hitam dari Ban kiam hwee, dan memintanya agar membebaskan Ting ci kang, Ting toako kami."

Mendengar itu, Thi lo han Khong beng-hwesio segera tertawa terbahak-bahak.

"Hahh . . .haah. . . haahh . . itu mah soal gampang, asal kita telah berhasil membekuk Chin congkoan, masa dia tak akan melepaskan orang ?" Naga-tua berekor botak juga manggut berulang kali.

"Ya, betul Asal kita berhasil mengetahui pintu masuknya, siaute telah meninggalkan banyak kode rahasia disitu, aku percaya masih mampu untuk membungkam alat-alat jebakan mereka"

Lok Khi segera berpaling ke arah Tok Lupan sambil bertanya. "Bagaimana dengan kalian ?" "Soal ini tak bisa kuputuskan sendiri, harus kami rundingkan lebih dulu sebelum memberi jawaban."

Maka Lu-pan beracun segera menjejak Tok sj-cuan dan Tok Hay- ji untuk menyingkir ke samping dan merundingkan persoalan itu dengan suara rendah, selang berapa saat kemudian Lu-pan beracun baru berkata.

"Kami setuju"

"Apakah ingin meracuni kami secara diam-diam ?" ejek Naga tua berekor botak sambil tertawa dingin.

"Setelah kami menyatakan kesanggupan kerja sama, tentu saja tak akan melakukan perbuatan semacam itu, dan lagi apa yang diucapkan tak akan dilanggar"

"Sekalipun dilanggar juga tak menjadi soal, aku punya obat penawarnya..." sambung Lok-Khi cepat.

Dari dalam sakunya dia keluarkan dua buah botol kecil dan segera diperlihatkan ke semua orang

"Kalian tak usah kuatir" cepat Tok si cuan menimbrung. "obat penawar yang berada ditangan Lok lihiap adalah benda milikku."

"Tentu saja kami percaya penuh kepada- Li sicu" sahut Ma koan tojin cepat.

"Suduh cukup, sekarang kita sudah selesai berunding, maka Tok Lupan harus mulai memperlihatkan kelihayannya." seru Lok Khi.

Lupan beracun manggut-manggut, dengan membawa senjata penggaris besinya dia mundur sampai beberapa langkah, kemudian memperlihatkan sekeliling tempat itu dengan seksama.

Mendadak dia melompat naik keatas sebatang pohon besar, tangannya menekan dahan pohon tersebut satu kelilingan, lalu matanya celingukan kesana kemari.

Lebih kurang satu perminuman teh kemudian dia baru menggelengkan kepalanya beruang kali sambil melompat turun. Tok Hay ji yang menyaksikan kejadian tersebut, tak tahan lagi segera berseru.

"Lu suko, adakah kau telah menemui sesuatu"

Lupan beracun tidak menjawab tapi selangkah demi selangkah berjalan menuju ketimur, ratusan langkah kemudian berbalik menuju kearah selatan, lalu memasuki sebuah sekat lebar ke-arah selatan sana,

Akan tetapi belum sampai berapa jauh, dia telah menggelengkan kepalanya sambil berjalan kembali.

Kemudian setelah berpikir sebentar, dengan cepat dia berjalan lurus menuju kearah batu besar di mana Wi Tiong hong berdua menyembunyikan diri tadi, tanpa mengucapkan Sepatah katapun dia mengukur Sekeliling batu besar tadi dengan penggaris besinya setelah itu berjalan kembali menuju kepohon besar.

Wi Tiong hong yang menyaksikan orang itu hanya sibuk sambil menghitung tiada hentinya, diam-diam merasa keheranan, segera pikirnya didalam hati.

"pintu rahasia itu berada disini, mengandalkan hitungan kakimu saja, mas amereka bisa ditemukan ?"

Tampaknya Tok Hay-ji juga tak sabar lagi, segera dia menegur kembali. "Lu suko, sebenarnya apa yang terjadi ?"

Tok-si cuan segera mengulangi perbuatan rekannya itu, dia berkata. "Dia sedang menghitung,jangan kau ganggu jalan pemikirannya."

-oooOdowOooo-