-->

Pedang Karat Pena Beraksara Jilid 15

Jilid 15

"WEEESS.." DERUAN ANGIN tajam menyambar lewat, seketika itu juga ke tiga batang senjata Tokci-li yang beracun itu sudah kena tersambar sehingga rontok ke tanah.

Gerakan tubuh Lok Khi lebih cepat lagi, tidak nampak bagaimana dia menggerakkan tubuhnya, tahu tahu gadis ttu sudah tiba dihadapan Ku Tiang sun, lalu setelah mendengus dingin katanya:

"Rupanya kau memang tidak bermaksud jujur "

Mendadak jari tangannya diayunkan ke depan melepaskan sebuah totokan kilat. Gerak serangan tersebut dilancarkan dengan kecepatan luar biasa, si Makhluk bertanduk tunggal hanya merasakan bayangan manusia berkelebat lewat, pada hakekatnya dia tak sempat untuk menghindarkan diri lagi, tahu-tahu jalan darah pada clan keng hiatnya terasa kaku, lalu segenap tenaga dalamnya punah tak berbekas dan tubuhnya terjatuh keras-keras keatas tanah . . .

Sambil berpaling Lok Khi berseru amat mendongkol. "Engkoh Hong, orang ini tak boleh diampuni lagi"

Baru selesai dia berkata, Tam See hoa sudah muncul sambil menyeret tubuh seorang manusia dan melompat turun dari atas meja altar.

Tapi ia menjadi amat terperanjat setelah menyaksikan Ku Tiang sun duduk kaku diatas tanah, segera tegurnya: "Saudara Ku, mengapa kau? "

"Tak usah ditanya lagi" tukas Lok Khi cepat, "ia menghadiahkan senjata rahasia beracun kepada kita bertiga dan sekarang giliran aku yang menghadiahkan sebuah totokan untuknya."

Hampir saja si Pena baja Tam See hoa tidak percaya akan peristiwa itu, dia memadang sekejap kearah Ku Tiang-sun, lalu memandang pula tiga batang senjata rahasia beracun Tok-cili yang tergeletak ditanah, kemudian serunya kurang percaya. "Saudara Ku, mengapa kau berbuat demikian? "

Sementara itu Wi Tiong hong telah memutar otaknya memikirkan persoalan tersebut, ia dapat merasakan bahwa Ku Tiang sun menyergap mereka bertiga dengan senjata rahasia beracun, karena mereka berhasil menemukan kalau dibalik patung area tersembunyi seseorang mungkinkah kedua masalah ini ada sangkut pautnya? Mungkin dia melakukan pembunuhan karena persoalan itu? Tergerak hatinya, dia lantas angkat kepala sambil bertanya: "Saudara Tam, kau kenal dengan orang ini? "

Si Pena baja Tam See-hoa membaringkan orang yang diseret keluar itu keatas tanah, setelah memandangnya sekejap. dia lantas menggelengkan kepalanya berulang kali. "Siaute tidak kenal." Wi Tiong hong coba mengamati orang itu, dia adalah seorang lelaki tinggi besar yang berwajah hitam pekat, sepasang matanya terpejam rapat-rapat, dalam hati kecilnya diapun berpikir:

"Mungkin diapun datang kemari untuk mencari kabar dan bersembunyi dibelakang patung area, siapa tahu datang si kakek gemuk pendek itu yang menotok jalan darahnya.”

Belum habis dia berpikir Lok Khi sudah bertanya:

"Engkoh Hong, sikakek itukah yang memberitahukan kepadamu bahwa dibelakang patung area tersembunyi seseorang? "

Wi Tiong hong mengangguk. kepada Tam See hoa katanya kemudian:

"Sewaktu siaute menyuruh saudara Tam menuju kebelakang patung dan menyeret keluar orang ini, tiba-tiba saja saudara Ku turun tangan keji menyergap kita dari belakang, bila dugaan siaute tak salah, sudah pasti orang ini ada hubungannya dengan saudara Ku."

Pena baja Tam See hoa manggut-manggut.

"Yaaa, tindakan dari saudara Ku sungguh di luar dugaan siapapun, menurut apa siaute ketahui agaknya saudara Ku belum pernah mempergunakan senjata rahasia..."

"Siapa tahu Ku huhoat kalian telah bersekongkol secara diam- diam dengan pihak Ban-kiam hwee? Berhubung orang itu adalah mata-mata yang diutus pihak Ban kiam hwee, maka ia baru membantunya." kata Lok Khi mengemukakan pendapatnya.

Sekali lagi si pena baja Tam See hoa memandang sekejap lelaki yang tergeletak di tanah itu, kemudian baru ujarnya:

"Jalan darah orang ini tertotok, asal kita tanyai dia, segala sesuatunya tentu akan terungkap."

Selesai berkata, dia lantas mencengkeram tubuh lelaki yang tergeletak ditanah itu dan menepuk pelan punggungnya . Pelan-pelan lelaki itu membuka matanya memandang beberapa orang itu sekejap. mendadak dia melompat bangun.

Si Pena baja Tam See hoa sudab menyiapkan diri sedari tadi, sambil tertawa, ia turun tangan, secepat kilat dicengkeramnya nadi pada pergelangan tangan kanan orang itu, kemudian serunya dengan suara dalam: "Sobat, sudah kau lihat jelas keadaan di sekelilingmu? "

Lelaki itupun kelihatan tertegun setelah pergelengan tangan kanannya dicengkeram Tam See-hoa dengan suara keras dia berteriak: "Lo Tam, lepaskan tanganku, bagaimana sih kau ini"

Teguran tersebut kedengarannya sangat akrab, tapi seluruh badan Tam See-hoa segera gemetar keras.

Suara teriakan tersebut sangat dikenal olehnya, kalau ditanya suara siapa yang paling di kenal, maka suara inilah yang ditunjuk. sebab suara tersebut jelas suara teriakan dari si Makhluk bertanduk tunggal Ku Tiang sun.

Tapi, bukankah Ku Tiang-sun telah tertotok jalan darahnya dan duduk kaku disitu?

Tanpa terasa dia memandang sekejap kearah Ku Tiang-sun, lalu memperhatikan pula lelaki yang suaranya mirip suara Ku Tiang-sun itu , ia merasa raut wajah orang inipun mirip sekali dengan wajah Ku Tiangsun, cuma warna mukanya berbeda dan garis alis matanya agak berbeda.

Dangan perasaan keheranan dan mata terbelalak lebar-lebar dia lantas bertanya:

"Siapa kau sebenarnya? "

Dengan marah lelaki itu tergelak keras.

"Anjing geladak peliharaan kunyuk telah menyaru sebagai diriku, saadara Tam, kendati pun tidak kau kenali wajahku, masa suaraku pun tak bisa kau bedakan? " Kali ini, Tam See-hoa yane terkenal karena banyak akal muslihat ini benar-benar dibikin kebingungan setengah mati Ku Tiang sun yang tertotok itu bukan cuma raut wajahnya adalah wajah Ku Tiang sun, berikan nada suaranyapun suara Ku Tiang sun, sudah jelas mustahil kalau dia gadungan, tapi saudara yang berada dihadapannya sekarang pun mengaku sebagai Ku Tiang sun, paling tidak ia mempunyai nada suara yang mirip sekali.

Untuk sesaat dia jadi kebingungan sendiri, dengan kening berkerut ujarnya kemudian-"Saudara, bagaimana siaute bisa mempercayai dirimu dengan begitu saja? "

Jika si Pena baja Tam See hoa saja tak dapat membedakan, sudah barang tentu Wi Tiong hong dan Lok Khi lebih-lebih, tak bisa membedakan hal tersebut.

Saking gelisahnya lelaki itu sampai mencak-mencak macam monyet kepanasan, teriaknya berulang kali:

"Lo Tam, kau betul-betul monyet goblok cepat lepaskan aku. siaute punya cara untuk memaksanya berbicara sejujurnya."

"Tidak susah bila menginginkan siaute lepas tangan, tapi kau mesti memberikan keterangan lebih dulu yang sejelas-jelasnya."

"Ketika kau berangkat ke kota Sang siau untuk menyambut kedatangan Wi pangcu, tanpa kusadari jalan darahku telah ditotok oleh bangsat tersebut dari belakang, kemudian aku diseret kebelakang patung area dan pakaianku dilucutinya, kemudian dia memoleskan pula sesuatu diwajahku, setelah itu siaute pun tidak tahu apa yang terjadi."

Sambil berkata dia mengusap wajahnya sekuat tenaga dengan tangan kirinya, tapi meski sudah digosok sampai merah, wajahnya masih seperti sedia kala.

Tam See hoa berusaha untuk mengamati wajahnya dengan seksama, akan tetapi ia sama sekali tak berhasil menemukan suatu titik kelemahan apapun jua, maka segera tanyanya: "Anggap saja kau memang saudara Ku, coba kau terangkan dulu, bagaimana keadaan kita waktu menerima kabar buruk dari Ting pangcu? "

"Jadi kau masih belum percaya? "

"Asal jawabanmu benar, tentu saja aku akan mempercayai dirimu."

"Ketika kami menerima berita duka dari Ting pangcu, waktu itu hari sudah malam, dengan kaki telanjang kau menyerbu keluar, malah sambil mengancing pakaianmu dengan tangan kanan, pertanyaan pertamamu kepadaku adalah begini: "Saudara Ku, apakah berita ini dapat dipercaya? "

Siaute pun menjawab: "Berita ini di kirim secara kilat oleh anggota perkumpulan kita sendiri jadi tak mungkin salah."

Lantas kau pun berkata lagi: "Dari mana kau bisa berkata demikian? ”

“Nah, betul bukan ucapanku itu ? "

Tam See hoa agak percaya juga dengan perkataannya itu, sambil angkat kepala dia lantas berkata:

"sebelum kubebaskan dirimu, ada satu hal hendak kuperingatan dulu kepadamu, yakni sebelum siapa asli dan gadungan diketahui dengan pasti, kau tak boleh menyerang orang yang menyaru sebagai dirimu itu."

"Tentu saja, tidak ada salahnya kalau kita saling bertaruh, anjing geladak peliharaan kunyuk ini sudah pasti orang dari selat Tok Seh sia"

Sejak mendengar nadipembicaraannya itu, Tam See hoa sudah percaya beberapa bagian terutama ucapan "anjing geladak peliharaan kunyuk", kata makian itu memang merupakan ciri khas dari si Makhluk bertanduk tunggal.

Sebaliknya Ku Tiangsun yang sekarang duduk kaku ditanah itu justru ia pernah meIontarkan kata-kata mutiara tersebut hari ini, ditinjau dari sini bisa diketahui kalau masalah tersebut hari ini mencurigakan-Berpikir demikian, dia pun siap melepaskan cengkeramannya dari tangan orang itu.

Mendadak Lok Khi menyelinap datang seraya berseru:

"Sebelum siapa asli siapa gadungan diketahui, sebaiknya kau pun duduk beristirahat lebih dulu."

Seraya berkata dia lantas menotok jalan darahnya.

Lelaki itu berseru lirih kemudian jatuh terdudUk diatas tanah. "Adikku, mau apa kau?" Wi Tiong-hong seperti menegur, "apa

salahnya kalau badapkan mereka satu sama lainnya? " Lok Khi tertawa lirih.

"Kalau sampai begini, maka yang satu akan berbicara satu, yang dua akan berbicara dua, mana mungkin urusan dapat dibikin jelas? Sekarang aku sudah mempunyai cara baik untuk mengungkap siapa yang asli dan siapa yang gadungan, kemudian mereka baru ditanya, bukankah soal ini akan menjadi beres? ”

“Apa caramu? " tanya Wi Tiong-hong.

"Tadi, bukankah dia mengatakan wajahnya telah dipolesi sesuatu oleh orang yang menyaru sebagai Ku huhoat? Tapi dia sendiri telah mencoba untuk membersihkan dengan gosokan bajunya tanpa hasil, hal ini menunjukkan kalau obat penyaru yang digunakan tak akan bisa dihilangkan sebelum dibersihkan dengan obat khusus buatan mereka, jikalau disakunya tersedia obat penyaru berarti diapun membawa obat pembersih wajah. Tam huhoat, apa salahnya kalau kau menggeledah saku orang itu? Bukankah segala sesuatunya akan beres?"

Si Pena baja Tam See-hoa segera menepuk kepala sendiri sambil tertawa terbahak-bahak.

“Haaahhh , ,. haaahhh . . haaahhh . . . kalau bukan Lok lihiap yang memperingatkan, siaute pun tak akan berpikir sampai ke situ" Dia lantas mendekati si Makhluk bertanduk tunggal Ku Tiang-sun dan menggeledah tubuhnya, dari dalam sakunya segera ditemukan sebuah kotak kayu kecil dan dua buah botol kecil.

Begitu melihat botol kecil itu, Lok Khi segera mengenalnya sebagai botol kecil yang pernah ditemukan juga dari saku orang yang menyaru sebagai Heng-san-gi su tempo hari, tanpa terasa dia mendengus dingin.

“Hmmm, tampaknya orang ini benar-benar berasal diri selat Tok- Seh sia."

Tam See-hoa membuka kotak kayu itu, ternyata dalam kotak berisikan belasan macam, butiran obat yang berwarna-warni, setiap butiran sebesar buah kelengkeng, ia lantas mengenalinya sebagai obat untuk menyaru muka.

Hanya sayang dia pun tidak mengetahui cara penggunaannya, maka sambil mendongakkan kepalanya dia berkata:

"Lok lihiap. tahukan kau cara penggunaannya." Lok Khi segera menggeleng.

"Meskipun aku pernah mendengar semuanya ini dari toako, namun belum pernah kulihat obat-obat tersebut secara langsung."

"cara menyaru yang digunakan umat persilatan berbeda satu sama lainnya . . ." ucap Wi Tiong hong kemudian, "ada yang menggunakan cairan obat, ada yang mengguna kan bubuk obat ada pula yang memberi warna dulu diatas topeng kulit manusia lalu tinggal digunakan, meski caranya berbeda padahal teorinya sama, kalau ingin membersihkan obat penyaru tersebut maka yang dipakai selalu pil berwarna abu-abu, dicoba saja saudara Tam, segalanya toh akan menjadi jelas."

Dia membuka kotak kayu itu dan mengambil obat berwarna abu- abu, kemudian disodorkan ke tangan Tam See hoa.

Melihat Wi Tiong hong dapat menerangkan cara benar ilmu menyaru muka secara ringkas, tanpa terasa Lok Khi mengerdipkan matanya berulang kali, segera tanyanya keheranan: "Engkoh Hong, kau pandai menyaru muka? "

"Pamanku sangat pandai dalam ilmu menyaru muka, semenjak kecil aku sering mendengar dia suka membicarakan tentang hal ini."

Lo Khi menjadi amat girang, segera serunya:

"Suhuku, toako ku semuanya bisa kepandaian tersebut, tapi mereka selalu keberatan untuk mengajarkan kepadaku," katanya

"sekalipun dipelajari juga tak banyak manfaatnya,"

"kapan-kapan kau bersedia bukan mengajarkan kepandaian tersebut kepadaku? " Wi Tiong-hong segera tertawa.

"Aku sendiri pun belum pernah mempelajari kepandaian tersebut, aku hanya mendengar pamanku bercerita saja, jadi kepandaianku tak lebih cuma kulit luarnya belaka."

Tam See hoa lantas meremas obat itu ke-atas tangannya, kemudian dengan jari tangannya menggosokkan obat tadi ke wajah si Makhluk bertanduk tunggal. Begitu digosok, segera nampak pula hasilnya.

Kulit wajah Ku Tiang sun yang sebenarnya merah, kini kena tergosok hingga mengelupas sebagian.

Melihat itu, Tam See hoa berteriak gusar:

"Bajingan, rupanya bangsat ini sedang menyaru sebagai orang lain-"

Sambil mengomel jari tangannya bekerja keras mengusap seluruh wajahnya, dalam waktu singkat alis tebal Ku Tiang sun, matanya yang besar dan wajahnya yang memerah sudah terseka bersih hingga muncullah raut wajah aslinya yaitu seorang lelaki berwajah putih ke kuning-kuningan, bermata segitiga dan beralis mata terputus.

Berhubung jalan darahnya tertotok. ia tak mampu berkutik, tapi orangnya tetap segar, kini dia sedang melototkan sepasang matanya sambil memperhatikan Tam See hoa menggosok wajahnya, tapi sinar buas yang berapi-api mencorong seram sekali.

Kemudian Tam See hoa bekerja keras membersihkan pula wajah lelaki yang mengaku bernama Ku Tiang-sin itu dari pengaruh obat penyaru.

Seperti juga tadi, begitu wajahnya dicuci dengan obat pembersih, seketika itu juga lapisan obat penyarunya, terkelupas sehingga muncullah alis matanya yang tebal, matanya yang besar dan wajahnya yang merah, siapa lagi dia kalau bukan Makhluk bertanduk tunggal Ku Tiang sun?

"Haah .. . haah . . .haah . . , rupanya benar-benar adalah saudara Ku "

oooDoWooo

BURU BURU dia membebaskan jalan darahnya yang tertotok. lalu katanya sambil menjura. "Bila siaute berbuat kesalahan kepadamu tadi, harap saudara Ku bersedia memaafkan "

Ku Tiang-sun melompat bangun dan tertawa terbahak-bahak. "Haah ... haah . . . haah. . . tadi, wajah siaute telah dipolesi obat

penyaru oleh bajingan itu sehingga berganti rupa, masa hal ini kesalahan saudara Tam? "

Kemudian sambil menuding kearah Wi Tiong hong berdua, tanya nya: "Siapa kah kedua orang ini? "

"Dialah Wi tayhiap saudara angkat dari Ting pangcu."

Buru-buru Ku Tiang sun membungkukkan badan memberi hormat, katanya cepat: "oooh, rupanya Wi pangcu maaf kalau hamba tidak tahu diri."

“Harap saudara Ku jangan menyebut demikian." kata Wi Tiong hong sambil balas menghormat, "Siaute hanya mendapat perintah dari Ting pangcu lewat surat wasiatnya agar menyimpan lencana pena baja untuk sementara waktu."

Ku Tiang sun segera berpaling kearah Tam See hoa, dan serunya keras:

"Lo Tam, hai ini mana boleh jadi? Menurut pernyataan Ting pangcu. hei, Lo Tam, mengapa peti mati Ting pangcu berada dalam keadaan terbuka...? "

secara ringkas Pena baja Tam See hoa menceritakan kembali apa yang telah berlangsung. Kejut dan girang Ku Tiang sun setelah mendengar cerita itu, serunya. "Rupanya mayat itu bukan mayat Ting pangcu, kalau begitu Ting pangcu belum mati." Setelah berhenti sejenak. dengan mata melotot besar, teriaknya lagi:

"Benar, si anjing geladak peliharaan kunyuk ini bisa menyamar sebagai siaute sudah barang tentu bisa pula menyamar sebagai Ting pangcu, mari kita tanya dia "

Ia menghampiri lelaki beralis putus itu dengan langkah lebar- kemudian langsung menghadiahkan sebuah bogem mentah keatas tubuhnya.

Lelaki beralis mata kutung itu mendelik lebar, dia memandang sekejap kewajah Ku Tiang sun dengan dingin, kemudian sambil memejamkan matanya ia membungkam dalam seribu bahasa.

Sambil tertawa nyaring Makhluk bertanduk tunggal Ku Tiang sun berseru lagi:

"Anjing geladak peliharaan kunyuk, setelah terjatuh ketangan kami, ingin berlagak pilon pun percuma saja, itu mah soal gampang "

Lelaki beralis mata kutung itu hanya tertawa dingin, kembali dia membungkam dalam seribu bahasa.

"Apakah kau di utus oleh pihak Tok Seh sia? Mengapa menyaru menjadi aku orang she Ku? " Lelaki itu melengos kearah lain dengan sikap yang angkuh jumawa dan amat tak sedap dipandang.

Ku Tiang-sun makin naik darah, teriaknya.

"sobat, jika kau masih saja tak tahu diri, jangan salahkan kalau aku orang she Ku..."

Laki laki beralis mata kutung itu cuma tertawa dingin, terhadap perkataan dari Makhluk bertanduk tunggal Ku Tiang sun, dia berlagak seolah-olah tidak mendengar.

Paras muka Ku Tiang-sun yang pada dasarnya memang merah padam, kini berubah menjadi merah darah seperti babi panggang karena marah, sambil berpaling serunya:

"Lo Tam, anjing geladak peliharaan kunyuk, aku tidak percaya kalau tubuhnya terdiri dari otot kawat tulang besi, kalau tidak diberi sedikit pelajaran, dia masih mengira kita adalah orang-orang yang berwelas kasih."

Lok Khi yang mendengar ucapan tersebut tak sanggup menahan diri lagi, dia segera menutup mulutnya dan tertawa cekikikan.

Si Pena Tam Seehoa sendiripun sudah habis kesabarannya karena pihak lawan membungkam terus, katanya kemudian sambil manggut-manggut:

"Benar, mati hidup Ting pangcu belum di ketahui, tapi mereka sudah bertindak dengan menggunakan pelbagai cara yang keji, menghadapi keadaan seperti ini, tentu saja tak bisa disalahkan kalau kami tak akan sungkan-sungkan lagi untuk turun tangan.." Berbicara sampai disitu, ujarnya kemudian dengan suara dalam:

"Sobat, menurut anjuran aku orang she Tam, asal kau bersedia menjawab beberapa persoalan yang kami ajukan, aku orang she Tam jamin tiada orang yang akan melukai seujung rambut mupun"

Lelaki beralis mata potong itu tertawa dingin, mendadak serunya sambil melotot: "Kau anggap aku adalah seorang yang takut mampus? " "Tak usah kuatir." kata Ku Tiang-sun dingin. "walaupun kau tidak takut mati, kami pun tak akan membiarkan kau mati dengan perasaan lega dan tenteram."

Mendadak lelaki beralis mata kutung itu tertawa terbahak-bahak. “Hahahaha.... soal itu mah aku tak takut, tapi yang jelas

kedatanganku kali ini benar-benar telah berhasil mengorek banyak rahasia "

"Sobat, bila kau bersedia menjawab dengan jujur, maka selesai memberi keterangan kepada kami, kau segera akan kami bebaskan".

"Aku sama sekali tidak mengharapkan pembebasan dari kalian" tukas lelaki itu dingin.

"Jadi kau segan menjawab? " teriak Ku Tiang sun dengan berangnya, telapak tangannya segera diayunkan ketengah udara.

Kembali lelaki beralis mata kutung itu memperlihatkan senyuman yang licik.

"Bicara sih bicara, bila latar belakang yang kuketahui tidak dimuntahkan keluar, rasanya memang kurang leluasa "

"Latar belakang apa saja yang ingin kalian ketahui? " jawab lelaki itu angkuh.

"Asal sobat bersedia menjawab, itu sudah cukup,"

Lelaki beralis kutung itu berpaling kearah Tam See hoa, kemudian ujarnya: "Kalau begitu, tanyalah"

"Sobat, coba kau sebutkan dulu asal-usulmu? ” “Bukankah kalian sudah mengetahui asal-usuIku? ” “Jadi kau berasal dari salat Tok Seh sa? "

"Benar Tok si cuan Sun oi adalah diriku" Tok si cuan (si ahli racun Sun oi) Nama tersebut belum pernah didengar oleh siapapun. "oooh, rupanya saudara Sun" kata Tam See hoa kemudian, "ada satu hal ingin siaute ketahui, yakni benarkah Ting pangcu dari perkumpulan kami telah terjatuh kenangan kalian? "

"Soal ini aku tidak tahu" Ku Tiang sun menggerang gusar,

"lo Tam, aku sudah tahu kalau anjing geladak peliharaan kunyuk ini tak akan bicara sejujurnya, bila tidak diberi sedikit pelajaran yang setimpal."

"Jangan tergesa-gesa saudara Ku.." cegah Tam See hoa, "siaute percaya saudara Sun ini belum tentu mengetahuinya."

Si ahli racun Sun ou tertawa dingin, tiba-tiba dia berseru:

"Tujuan kedatanganku yang sebenarnya kemari adalah ingin tahu, apakah pangcu kalian benar-benar mati atau pura-pura mati? Dalam hal ini aku baru tahu setelah saudara membuka peti mati dan menemukan pembuktiannya dari tiadanya tahi lalat pada kakinya, andaikata pangcu kalian sudah terjatuh ketangan kami, buat apa aku mesti kemari lagi untuk melakukan penyelidikan? "

Tam See hoa menjadi tertegun setelah mendengar perkataan itu, dari perubahan mimik wajahnya dia tahu kalau musuhnya tidak berbohong, maka setelah termenung sebentar, katanya kemudian:

"Kalau begitu, ia benar-benar sudah terjatuh ke tangan orang- orang Ban Kiam hwee?"

"Aku toh sudah bilang sedari tadi" timbrung Lok Khi, "pihak Ban kiam hwe tak nanti akan membebaskan dia dengan begitu saja."

Tam See hoa lantas bertanya lagi:

"Kedatangan saudara Sun kemari, selain untuk menyelidiki mati hidupnya Ting pangcu, apakah masih mempunyai tugas lain? "

"Menurut berita yang tersiar dalam dunia persilatan Lou bun si sudah terjatuh ketangan Ting pangcu kalian, tak lama kemudian tersiar lagi berita tentang kematian Ting pangcu, sesungguhnya mati hidup pangcu kalian tak ada sangkut pautnya dengan kami, tapi berhubung soal itu menyangkut jejak dari Lou-bun-si. Maka mau tak mau terpaksa harus melakukan penyelidikan yang seksama, apakah semuanya ini masih belum cukup? ”

“Tadi Sun-heng mengatakan tahu banyak rahasia, rahasia apa sih yang kau maksudkan? "

Lelaki beralis kutung itu mendongakkan kepalanya, lalu berkata: "Aku adalah seorang yang hampir mati, baiklah akan kubeberkan

semua rahasia yang ku ketahui kepada kalian-."

"Kau ingin bunuh diri? Hmmm, tak akan segampang itu." seru Ku Tiang sun sambil tertawa dingin.

Buru-buru Tam see-hoa berkata: "Sun-heng, harap kau jangan salah paham, perkumpulan kami tak pernah terikat dendam kesumat apapun dengan pihak Tok-see-sia, buat apa kami berniat mencelakai Sun-heng? "

Tok-si-cian Sun cu tertawa hambar.

"Bagi anggota Tok see sia yang tertawan musuh maka kejadian ini sama artinya dengan tiada kesempatan bagiku untuk kembali dalam keadaan hidup" Berbicara sampai disitu, mendadak dia mengangkat kepalanya sambil berkata lagi:

"Tahukah kau, siapa kah orang yang pertama-tama mendapatkan pena mustika Lou bun si itu? "

Tergerak hati Wi Tiong hong, dia segera menyambung: " orang itu tentu Tok Hay ji"

Tok si cian Sun cu tertawa terbahak-bahak. “Haaahh, haaahhh haaah, aku dan Tok Hay ji sendiripun memperolehnya dari tangan orang lain, kalau ditanya siapa kah orang pertama yang mendapatkan Lou bun si, maka harus di bilang anggota Thi pit pang kalian"

Ucapan tersebut sama sekali berada di luar dugaan Wi Tiong hong.

"Kau jangan mengaco belo" bentak Ku Tiang sun gusar. Tok si cian Sun ou tertawa dingin, kembali ujarnya "Waktu itu aku sendiripun merasa heran, mengapa orang-orang Thi pit-pang bersedia jual tenaga untuk pihak Ban kiam-hwee, sayang orang itu datang terlambat hingga akhirnya kami berhasil, kini kami baru tahu ternyata dalam Thi-pit-pang terdapat penghianat."

"Kau maksudkan Lu bu han? " seru Ku Tiang sun dengan tubuh tergetar keras dan mata melotot.

Sun cu tertawa dingin.

"orang yang sudah mati susah dijadikan saksi, anggap saja orang itu adalah Thi-jui thong long (Belalang bereaksi baja), Lu Yau Cun, sebetulnya dia berada dipihak yang amat beruntung, sebab mendapatkan kesempatan disaat anggota Ban li piaukiok satu persatu roboh ketanah, dia sambar Lie bun-si tersebut."

Kembali Wi Tiong-hong merasakan hatinya tergerak. pikirnya: “Heran, mengapa anggota Ban-li-piauwkiok bisa roboh satu

persatu? jangan-jangan-.." Berpikir sampai disitu, dia lantas angkat kepala sambil bertanya: "Apakah Siau Beng san serombongan terkena racun kejimu? "

"Soal ini kenapa mesti di tanyakan lagi? . Mereka semua telah menginjak racun tanpa wujud yang sengaja kami sebarkan keatas tanah haah ..haah. .. sekalipun siBelalang bersayap baja juga tak terkecuali..."

"ooh, jadi Lu buhoat mati ditangan kalian" teriak Ku Tiang sun dengan gusar.

"Dia sendiri bersedia diperalat orang orang Ban kiam hwae, sekarang mau salahkan siapa pula? " jawab Sun ou dingin, "heeh...heeh... yang kumaksudkan adalah orang yang menyaksikan siBelalang bercakar baja roboh binasa ketanah, kemudian segera berlalu dengan tergesa-gesa dan melaporkan kejadian ini kepada chintay seng, congkoan dari Ban kiam bun."

"Bangsat, kan berani bicara sembarangan" bentak Ku Tiang sun dengan gusar, sepasang matanya melotot besar. Lalu tangannya diayun kedepan dan menghajar batok kepada Sun ou.

Tam See hoa ingin menghalangi perbuatan rekannya, tapi sayang tak sempat lagi.

Agaknya Sun ci sudah mempersiapkan diri sejak tadi, sambil tertawa dingin dia mengegos kesamping menghindarkan diri dari sambaran angin pukulan Ku Tiang-sun, kemudian sambil mengeluarkan sebuah lencana tembaga dari balik sepatunya dia berseru lagi keras-keras:

"Siapakah orang itu, aku rasa kau pasti lebih tahu dari pada aku, nah dari dalam saku sahabat itulah aku berhasil mendapatkan benda ini, tak bakal salah lagi. "

Belum selesai dia berkata mendadak tubuhnya menggelepar diudara dan terbanting keras-keras ke tanah, lencana tembaga itupun segera terjatuh keatas tanah.

Semua perubahan peristiwa itu berlangsung sangat mendadak dan sama sekali diluar dugaan.

Wi Tiong hong dengan cepat mengalihkan matanya keatas lencana tembaga tersebut, di-atas lencana itu terukir sebilah pedang, sedang dibawah pedang terdapat sebuah lingkaran hitam yang bertuliskan huruf enam belas.

Dalam sekilas pandangan saja dapat diketahui kalau lencana tersebut merupakan tanda pengenal dari pihak Ban-kiam hwee, tanpa terasa dia berpaling kearah Lok Khi.

Lok Khi segera manggut-manggut sambil tertawa.

Buru-buru sipena baja Tam See-hoa membangunkan Sun ou seraya berteriak keras: "Saudara Sun, sebenarnya kejadian apakah yang kau maksudkan- ?"

Pelan-pelan Sun on menutup kelopak matanya, darah kental berwarna hitam nampak meleleh keluar dari ujung bibirnya, dia sudah mati karena keracunan. Membaringkan kembali jenasah tersebut ke lantai, Tam See hoa menghela napas panjang.

"Betul-betul obat beracun yang sangat keji, tak nyana terhadap orang sendiripun mereka dapat bersikap seperti ini ."

Dengan kalap Si Makhluk bertanduk tunggal Ku Tiang su menyambar lencana tembaga itu, kemudian membentak keras- keras:

"Pit hitam nomor enam belas keparat, anjing geladak peliharaan kunyuk. . ." sekuat tenaga lencana tembaga itu dibanting keras- keras keatas tanah.

Termakan oleh tenaga lemparannya yang kuat itu, sambil menimbulkan suara dentingan nyaring, lencana tersebut menancap diatas tanah sedalam tiga cun lebih.

Pena baja Tam See hoa tertegun, tak terasa sinar matanya dialihkan kewajah Mahkluk-bertanduk tunggal, namun dia masih tetap membungkam dalam seribu bahasa. Ku Tiang sun menutupi wajahnya dengan kedua belah tangan, dan teriaknya keras keras: "Aku Ku Tiang sun telah berbuat salah kepada Thi pit pang..."

Telapak tangannya segera diayunkan menghantam ubun-ubun sendiri sekuat tenaga.

Padahal sejak tadi Tam See hoa sudah menangkap arti dari perkataan Sun cu, ia menjadi terperanjat setelah menyaksikan kejadian itu, cepat bentaknya: "Saudara Ku "

Lok Khi bertindak lebih cepat lagi seperti anak panah yang terlepas dari busurnya dia menerjang kemuka, lalu menotok jalan darah Pit ji hiat pada lengan Ku Tiang sun, kemudian serunya dingin:

"Sekarang seharusnya kau yang memberi keterangan-"

Belum sempat telapak tangannya menghantam batok kepala, Ku Tiang sun merasakan lengannya menjadi kaku dan tak berkutik. Tetapi mendadak saja dia membentak. lalu nampak darah kental keluar dari mulutnya, kemudian setelah berkelojot beberapa kali tubuh Ku Tiang sun yang tinggi besar itu roboh keatas tanah.

Waktu itu Lok Khi telah menotok jalan darah pada lengannya, tapi gadis itu tidak menyangka kalau dia bakal menggigit putus lidah sendiri untuk bunuh diri, melihat kejadian tersebut dia baru merasa terperanjat.

Sementara itu Tam See hoa telah menerjang kehadapannya, tapi Ku Tiang sun telah jatuh berguling-guling diatas tanah kemudian jatuh tak sadar.

Tam See hoa membuka paksa mulutnya, tampak darah kental bercucuran terus amat deras, lidahnya sudah putus dua dan jiwanya tak mungkin tertolong lagi. Menghadapi keadaan seperti ini, ia menghela napas panjang lalu mengeluh: "Saudara Ku, buat apa kau mesti berbuat demikian ?"

Dia lantas menotok jalan darah sim keng hiatnya agar sebelum ajalnya tiba, Ku Tiang sun tak usah merasakan penderitaan yang lebih hebat lagi.

Hanya di dalam sekejap mata, sudah dua nyawa manusia lenyap dalam ruangan tersebut, tentu saja Tam See hoa merasakan katanya sangat berat.

Wi Tiong hong melihat dirinya sudah tak ada urusan lagi disana, kepada Lok Khi segera ujarnya:

"Adikku, mari kitapun harus pergi"

Lok Khi mengambil kotak obat penyaru dari aku Sun ou dan disimpan kedalam saku sendiri, kemudian katanya:

"Yaa. benar, memang kita harus pergi, Tam huhoat, kami akan pergi dahulu "

"Wi tayhiap. Lok lihiap. harap duduk dulu" buru-buru Tam See hoa berseru, "setelah mengubur jenasah mereka berdua, masih ada satu urusan yang hendak kubicarakan dengan kalian berdua." Selesai berkata, dia membalikkan badan untuk menutup kembali peti mati tersebut, setelah itu membuka pintu dan menitahkan anak buahnya untuk menggusur keluar jenazah dari Ku Tiang-sun serta Sun cu. Setelah itu dia baru berkata lagi dengan wajah serius:

"Dewasa ini, meskipun kami belum tahu Ting pangcu sudah mati atau belum, tapi sejak Ting pangcu terjatuh ke tangan orang-orang Ban-kiam hwee, mati hidupnya menjadi tanda tanya besar. Kini wi tayhiap telah mendapat pesan Ting pangcu lewat surat berdarahnya untuk menyimpan lencana pena baja, hal ini berarti untuk sementara waktu Wi tayhiap adalah wakil pangcu kami. . ."

"Siaute hanya..."

"Hingga sekarang, mati hidup Ting pangcu masih merupakan tanda tanya besar, dari empat pelindung hukum tinggal siaute seorang yang hidup, Wi tayhiap sebagai pendekar yang berjiwa besar, sebagai adik angkat dan Ting pang cu, apakah merasa tega untuk membiarkan perkumpulan Thi pit pang bubar dengan begini saja ? Anggaplah sebagai bantuan, jadilah pangcu kami untuk sementara agar segenap arggota perkumpulan kami dapat merasakan sedikit ketenangan- wi tayhiap. tentunya kau tak akan menampik bukan ?"

Wi Tiong hong menjadi serba salah, ujarnya setelah termenung beberapa saat: "siaute tidak tahu apa-apa, bagaimana mungkin. . ."

Sambil tertawa Tam See-hoa menyela:

"Wi tayhiap dengan kedudukan sebagai adik angkat Ting pangcu menjadi pangcu kami untuk sementara waktu, tujuan tak lain agar anggota kami tidak putus asa dan membubarkan diri dengan begitu saja, tayhiap tak usah kuatir, soal urusan perkumpulan dan masalah sehari-hari, siaute lah yang akan bereskan,jadi Wi tayhiap tak usah terlalu pusing memikirkan hal tersebut." katanya seolah memohon.

"Maksud siaute, palmg penting adalah menolong orang, sudah pasti Ting toako masih berada ditangan orang-orang Ban kiam hwee." "Ban kiam hwee berpengaruh yang sangat luas, jagoan lihaynya banyak tak terhitung, sekalipun Ting pangcu belum mati, rasanya sulit juga untuk menolongnya keluar dari cengkeraman mereka."

"Soal menolong orang, biar siaute yang bertanggung jawab, sedang soal urusan partai siaute benar-benar tak sanggup melaksanakan akan tetapi kalau tujuannya hanya agar anggota perkumpulan jadi tenang dan tidak putus asa, baiklah, untuk sementara waktu biarlah siaute menggunakan nama sebutan tersebut."

Tam See-hoa menjadi sangat gembira, "Bagus sekali kalau begitu..." serunya, Tapi baru sampai ditengah jalan, tampak seorang anggota perkumpulan berlarian masuk ke dalam ruangan dengan napas tersengkal-sengkal, kemudian sambil memberi hormat kepada Tam See-hoa, serunya: "Lapor Huhoat, mayat itu mendadak melarikan diri."

Ucapan yang tiada ujung pangkalnya ini mencengangkan Tam See hoa, tanpa terasa tegurnya:

"Mayat yang mana?"

"Mayat lelaki bermuka kuning itu, ketika hamba berdua menggotongnya ke tepi hutan, tiba-tiba ia duduk lalu melarikan diri secepat terbang, hamba beberapa orang tak mampu menyusulnya, sebab itu kami datang mohon hukuman "

"sudah pasti dia adalah Sun oh" Lok Kai berseru.

"Yaa, tak kusangka bangsat itu hanya berpura-pura mati, semuanya ini, adalah gara-gara keteledoran siaute, kukira dia benar-benar mati keracunan. . ." Kemudian sambil mengulapkan tangannya kepada anggota perkumpulan itu, katanya: "Disini sudah tak ada urusan lagi, kau boleh mengundurkan diri " orang itu memberi hormat, lalu buru-buru mengundurkan diri dari sana. . .

Pelan-pelan Tam See hoa mengambil sebuah gulungan kain dari meja abu, lalu berkata lagi: "Wi tayhiap adalah seorang pendekar sejati, seorang lelaki yang pegang janji, siaute mewakili segenap anggota perkumpulan mengucapkan banyak-banyak terima kasih kepadamu. Mulai sekarang, Wi tayhiap sudah merupakan Pang cu kami. Sebagai seorang pangcu, sejak dulu hingga sekarang berlaku suatu kata- kata sandi yang mesti dibaca, karena kata-kata sandi itu melupakan sebuah jurus serangan, kendatipun jurus serangannya amat sederhana, namun merupakan peraturan yang ditetapkan lo pangcu dulu, apalagi di buat sendiri oleh lo pangcu, karenanya silahkan Wi tayhiap membacanya sendiri."

Selesai berkata, pelan-pelan dia membuka gulungan kain tersebut dan digantungkan diudara, hingga Wi Tiong-hong bisa melihat lebih jelas lagi. .

Karena ucapan mana diutarakan dengan wajah serius, Wi Tiong hong segera mengalihkan sorot matanya ke depan.

Diatas gulungan kertas itu tertera sebuah lukisan manusia, tubuhnya sedang berbungkuk ke depan, tangan kiri diayunkan membentuk suatu gerakan, sementara tangan kanan setengah ditekuk memperlihatkan gaya pena emas melakukan totokan. Diatas lukisan mana, tertera empat bait tulisan yang berbunyi demikian:

"Burung hong manggut tiga kali, cahaya tajam sirap dengan sendirinya. Bila tiada bermaksud di hati, Akan diperoleh tanpa bersusah payah. . . tertanda: Thi-pit-leng-gi"

Sesungguhnya gerakan serangan tersebut merupakan suatu jurus yang amat umum dan sederhana, jurus itu disebut Burung hong manggut tiga kali.

Bait-bait syair tersebut sesungguhnya merupakan pemeCahan pula untuk jurus serangan tersebut, dimana dapat disimpulkan kalau orang harus memusatkan pemikiran, dengan niat menciptakan hawa kekuatan.

Namun rahasia itu bersifat umum dan diketahui semua orang yang pernah belajar ilmu silat, Sehingga boleh dibilang tiada Sesuatu yang aneh dan baru. Diam-diam Wi Tiong hong membaca beberapa bait Syair tersebut beberapa kali, ia meraSa gaya tulisan dari lo pangcu perkumpulan Thi pit pang, Thi pit teng kan kun (pena baja menenangkan jagad) To Pek li betul-betul kuat dan bersemangat, tidak malu disebut pena-baja"

Tanpa meraSa dia memandang beberapa kejap lagi ke ataS tulisan mana...

Ketika Tam See hoa menyimpan kembali gulungan kain tersebut, para anggota perkumpulan telah datang menghidangkan nasi dan sayur. Mereka bertiga segera bersantap didalam ruangan-

Selesai bersantap. Wi Tiong hong segera bangkit berdiri seraya berkata pelan: "Saudara Tam, seandainya tak ada urusan Iain- siaute hendak mohon diri lebih dulu"

"Wi tayhiap hendak kemana ?" tanya Tam See-hoa sambil beranjak dari tempat duduknya.

"Ting toako telah dipalsukan orang lain, hal ini menunjukkan kalau Ting toako yang asli masih berada ditangan orang orang Ban- kiam hwee, sekarang siaute akan berangkat ke situ untuk minta orang."

Dia merasa mempunyai sebuah lencana Siu-lo cin-keng sebagai andalan, dia kuatir orang-orang Ban kiam hwee akan membangkang permintaannya.

Lok Khi sendiripun merasa bahwa Loau bun si kemungkinan besar masih berada ditangan orang-orang Ban kiam hwe, sebab Ting ci-kang hingga kini masih berada ditangan mereka, kebetulan suhunya memerintahkan kepadanya untuk menemani Wi Tiong hong menuntut kembali benda tersebut, dengan wajah berseri segera serunya:

"Betul, sekarang juga kita pergi menjumpai ketua perkumpulan Ban kiam hwee "

"Wi tayhiap benar-benar seorang pendekar besar yang bijaksana dan berjiwa besar" ujar Tam See hoa kemudian sangat terharu, "gara-gara persoalan Ting pangcu, kau bersedia pergi keBan kiam hwe, budi ini betul-betul besar sekali, Wi tayhiap. ijinkanlah siaute menemani kalian berdua, biar mesti terjun ke lautan api, siaute bersedia untuk melakukannya . "

cepat-cepat Wi Tiong- hong menggoyangkan tangannya berulang kali.

"Kepergian siaute hanya bertujuan untuk mengajak mereka membicarakan persoalan ini, jika orang yang kesitu kelewat banyak, aku rasa malah kurang leluasa. Sampai kini, mati hidup Ting toako masih merupakan tanda tanya besar, padahal perkumpulan anda masih memerlukan petunjuk dan bimbingan saudara Tam, lebih baik kita bertugas pada pekerjaan masing-masing saja."

Sementara Tam See hoa hendak berkata lagi, Wi Tiong hong telah menjura seraya berkata:

"Urusan ini tak bisa ditunda-tunda lagi, siaute akan berangkat lebih dulu." Selesai berkata, dia lantas mengajak Lok Khi berlalu dari dalam ruangan-

Tam See hoa segera menitahkan orang untuk mempersiapkan kuda, menanti kedua orang itu sudah pergi jauh, dia baru menitahkan orang untuk mengubur peti mati itu, lalu membawa anak buahnya kembali ke markas.

OoodowooO

SEMENTARA itu, Wi Tiong hong dan Lok Khi sepeninggal kuil Sikjin tian segera melarikan kudanya kencang-kencang menempuh perjalanan cepat ke depan.

Mendadak Wi Tiong hong menarik tali les kudanya dan berbelok ke sebuah jalan kecil di sebelah timur.

"Engkoh Hong akan kemana kau?" Lok Khi segera menegur. "Bukit Pit bu san " "Bukit Pit bu san ? Tempat manakah itu ?"

"Pit busan adalah markas besar pasukan pita hitam dari perkumpulan Ban kiam hwe, tempo hari aku bersama Ting toako dan Tok Hay ji sekalian disekap ditempat itu."

"oooh, aku tahu sekarang, tempo hari aku ingin turut toako ke situ, tapi toako tidak mau aku turut, apapun yang kukatakan dia juga tak mau menjelaskan dimanakah Chin congkoan itu berada, katanya tempat ini belum di temukan dan harus dicari lebin dahulu, sekarang, apakah kau hendak mencari orang she Chin itu?"

"Kalau kita ingin mengetahui kabar berita tentang Ting toako, tentu saja kita harus pergi mencari Chin congkoan."

"Kalau begitu kita tak usah pergi ke Kiam bun?"

"Bila kita tak berhasil mendapatkan sesuatu berita disini, rasanya belum terlambat untuk berkunjung ke Kiam bun."

Lok Khi berpikir sebentar, akhirnya dia mengangguk juga. "Baiklah"

Kedua orang itu meneruskan kembali perjalanannya hampir setengah jam lamanya, seringkali Wi Tiong hong celingukan memandang sekeliling tempat itu.

Dia merasa hutan siong yang terbentang di depan mata memang bukit ciang siu nia, tempat dimana Kam Liu Cu menantikan kedatangannya tempo hari, pemuda itu lantas tahu kalau jaraknya dengan bukit Pit bu san sudah tak jauh lagi.

Belakangan ini sudah banyak peristiwa besar yang dialaminya, pengetahuannya dan pengalamannya dalam dunia persilatan pun telah memperoleh kemajuan yang pesat, begitu tiba didepan hutan, dia lantas melompat turun dari kudanya. Lok Khi ikut melompat turun dari kudanya, setelah itu menegur dengan suara lirih: "Sudah sampai ?" "Masih harus menempuh perjalanan yang cukup jauh, tapi ada baiknya kita tambatkan dahulu kuda-kuda tersebut dalam hutan tersebut, daripada memancing perhatian orang lain "

Lok Khi manggut- manggut, mereka berdua segera menuntun kuda masing-masing dan menambatnya dalam hutan pohon siong itu kemudian meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki.

Tak selang berapa saat kemudian, mereka sudah sampai dibawah kaki bukit karang, didepan sana terbentang sebuah hutan menghalangi jalan pergi mereka.

Wi Tiong- hong tahu kalau mereka sudah tiba ditempat tujuan, tempo hari, ketika dia datang bersama Kam Liu cu, di sinilah kedatangan mereka dihadang oleh seorang pendekar pedang berpita hitam.

Karena kedatangannya hari ini bermaksud untuk menjumpai Chin congkoan dengan tata topan santun, sudah barang tentu dia tak ingin memasuki wilayah orang dengan begitu saja tanpa terasa dia lantas menghentikan perjalannya.

Lok Khi yang mengikuti dibelakangnya segera bertanya: "Engkoh Hong, disini ?" katanya kemudian-

"Kita mencari orang untuk memberi laporan lebih dulu, dari pada menimbulkan kesalahan paham orang lain-"

Lok Khi segera memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, kemudian dia bertanya: "Di manakah mereka ?"

Wi Tiong- hong menunggu beberapa saat lagi diluar hutan, benar juga, ternyata tidak mendengar ada orang yang menegur, dalam hati segera pikirnya: "Mungkin pendekar pedang berpita hitam itu masih berada didalam sana. . ."

Berpendapat demikian, dia lantas berpaling seraya berkata, "Mari kita masuk kedalam untuk melihat keadaan."

Selesai berkata, dengan langkah lebar dia masuk kedalam hutan tersebut, namun belum nampak juga seseorang yang menghalangi jalan perginya, kenyataan ini segera menimbulkan kecurigaan dalam hati kecilnya.

Ia lantas berjalan menuju ke tengah hutan hutan kecil yang ada, entah berapa saat dia sudah berjalan-

Padahal seingatnya dulu, semestinya disitu sudah ada rumah gubuk yang dimaksudkan, karena sewaktu datang bersama Kam Liu-cu tempo hari, gubuk tersebut berada di tengah hutan sini. Tapi kenyataannya sekarang, bayangan rumah gubuk itupun sudah tak nampak lagi.

Lok Khi yang menyaksikan si anak muda itu cuma memandang belaka kekiri dan kanan tanpa bersuara, lama kelamaan habis sudah kesabarannya, tak tahan dia lantas bertanya: "Apakah kau sudah tak dapat mengingat lagi jalan yang pernah dilalui dulu ?"

"Bukan begitu, jalan yang dilalui tak ada yang salah, cuma rumah gubuk yang sebenarnya berada disini, mengapa bisa lenyap tak berbekas ?"

"Mungkin tempat ini hanya tempat sementara yang mereka diami, sekarang orang-orang itu sudah tidak berada disini lagi"

"Lantas rumah gubuknya?" Lok Khi segera tertawa cekikikan. "Sebelum pergi meninggalkan tempat ini, tentu saja rumah rubuk

tersebut mereka bongkar terlebih dahulu."

Wi Tiong hong baru tertegun sesudah mendengar perkataan itu, dalam kenyataan, sepanjang jalan menuju kesitu, dia memang tidak menjumpai seorang pendekar pedang berpita hitam pun, rupanya mereka benar-benar sudah tidak berada disitu lagi.

Berpikir sampai disitu, mendadak satu ingatan kembali melintas lewat, dengan cepat dia menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Tidak benar, tempat ini sudah pasti bukan tempat tinggal mereka untuk sementara."

"Darimana kau bisa tahu?" "Tempat yang digunakan mereka untuk menyekap kami agaknya berada didalam perut sebuah bukit, tempat didalam sana amat besar, tak mungkin kalau semacam itu merupakan tempat tinggal sementara."

"Tadi kau mengatakan tempat itu adalah sebuah rumah gubuk?" "Sewaktu alu dan Kam toako datang kemari tempo hari, cnin

congkoan memang tinggal didalam rumah gubuk." Lok Khi segera mendengus, tukasnya:

"jikalau dibawah tanah sana tersedia ruangan yang besar, buat apa mereka harus tinggal didalam rumah gubuk? Sudah pasti rumah gubuk itu hanya bersifat untuk mengelabui orang."

Ketika bicara sampai disitu, tiba-tiba dia berseru tertahan, katanya lagi kemudian:

"Aaah, benar, berita tentang dilarikannya Lou bun si oleh Ting ci kang telah tersebar luas dalam dunia persilatan, sudah pasti merekalah yang sengaja mencari orang untuk menyamar sebagai Ting ci kang kemudian dibunuh dikuil sikjin tian agar semua orang menyangka Ting ci kang tewas dibunuh orang dan Lou bun si tersebut dilarikan juga oleh pembunuh tersebut, padahal merekalah yang sebenarnya mendapatkan Lou bun si itu."

"Setelah berita tersiar dalam dunia persilatan- sudah pasti ada banyak orang yang akan datang ke kuil sikjin-tian untuk melakukan penyelidlkan, padahal tempat ini tak jauh letaknya dari kuil Sikjin tian, andai kata sarang pasukan pedang berpita hitam dari Ban kiam hwee benar- benar berada disini, bukankah hal ini sama artinya dengan memperlihatkan kepada orang bahwa merekalah yang melakukan perbuatan tersebut? oleh karena itu rumah gubuk itu segera dibongkar, seakan-akan mereka sudah pindah dari situ, hanya dengan begitu orang lain baru tak akan menaruh curiga terhadap mereka."

Wi Tiong hong segera mengangguk berulang kali, dengan wajah serba salah dia lantas berkata: "Lantas kita harus kemana mencari mereka?" Lok Khi mendengus dingin.

"Kalau toh para jago pedang berpita hitam pada menjadi kura- kura yang menyembunyikan diri, apakah kira tak dapat pergi mencari mereka ? jikalau rumah gubuk tersebut terletak disekitar sini, berarti pintu rahasia mereka menuju keruang bawah tanahpun tak akan terlampau jauh letaknya, suatu saat kita pasti akan menemukan jejak tersebut." Wi Tiong hong segera berpikir:

"Waktu itu, Chin congkoan hanya bertepuk tangan, dari belakang ruangan segera muncul seorang bocah, Chin congkoan menitahkan kepadanya untuk menanyakan soal pedang pusaka miliknya kepada nona Hong, tak lama setelah bocah itu pergi, dia telah muncul kembali sambil membawa pedang mestika tersebut, andaikata pintu masuk keluarnya tidak berada disekitar tempat itu, mustahil dia dapat pergi datang sedemikian cepatnya?"

Berpikir sampai disitu, buru-buru sahutnya: "Apa yang dikatakan adik memang benar, mari kita segera mencarinya..."

Hutan tersebut terletak dikaki bukit, sedang bukit itu adalah bukit karang yang berkapur, sampai diujung hutan sana, pepohonan nampak semakin jarang, disana sini penuh dengan bongkahan batu cadas, sedang dari sela sela batu tumbuh semak belukar yang lebat.

Wi Tiong hong mencoba untuk memeriksa sekeliling tempat itu, tapi ia gagal unfuk menemukan dimanakah rumah gubuk tersebut pernah didirikan, sepantasnya kalau gubuk itu dibongkar paling tidak diatas tanah pasti akan ketinggalan bekas-bekasnya.

Tapi keanehan mana justru terletak disini, sekalipun mereka berdua sudah memeriksa seluruh semak belukar disekitar bukit berbatu itu, namun tak sesosok bayanganpun yang di temukakan, apalagi menemukanpintu masuknya menuju ke ruang rahasia ? Lama kelamaan Lok Khi menjadi naik darah, dia segera mendengus dingin:

"Humhh, kalau cuma sebuah rumah rongsokan saja, apa sih luar biasanya ? Hmmm, bahkan alat rahasia yang begitu sempurna dari It-teng taysupun berhasil kutemukan, masa rumah rongsokan tak bisaku jumpai . . . ?"

Gadis itu memang tidak menyombongkan diri, tempat teratai Buddha besi dari It-teng taysu memang terbuka karena sentuhan tangan nona itu namun sentuhan tersebut adalah suatu sentuhan tanpa sengaja, bergeraknya alat rahasia tersebut pun hanya suatu kebetulan.

Padahal suatu peristiwa yang kebetulan belum tentu bisa terulang lagi, sudah barang tentu kejadian macam begini tak dapat dianggap sebagai suatu kepandaian yang sebenarnya.

Lok Khi menjadi semakin mendongkol sambil bergumam dia lantas menendang sebutir batu hingga remuk dan mencelat jauh sekali.

Tapi justru karena tendangannya yang menyebabkan hancuran batu berhamburan kemana-mana. Wi Tiong-hong yang sedang berjongkok sambil melakukan pencarian itu segera mendongakkan kepalanya dengan perasaan terperanjat.

Baru saja dia mendongakkan kepalanya, dari tempat kejauhan sana ia saksikan ada dua sosok bayangan manusia sedang meluncur datang kearah hutan dengan kecepatan tinggi. Buru-buru dia membentak dengan suara rendah: "Adik Khi, ada orang datang."

"Bila begitu kita tak usah repot lagi" sahut Lok Khi sambil tertawa cekikikan.

Setelah memandang sekejip sekeliling tempat itu, dia menarik tangan Wi Tiong hong sambil berseru. "cepat kemari."

Tubuhnya segera berkelebat ke depan dan berjongkok dibelakang sebuah batu besar untuk menyembunyikan diri.

Wi Tiong hong ikut menyembunyikan diri dibelakang batu, mereka berdua saling berdesakan berjongkok menjadi satu. Baru selesai menyembunyikan diri, mendadak terdengar suara langkah kaki manusia telah berkumandang empat lima kaki dihadapan-nya.

Dari balik semak belukar Lok Khi mencoba untuk mengintip ke depan, dia saksikan orang yang berjalan dipaling depan adalah seorang bocah lelaki berbaju hitam yang kurus lagi kecil, ternyata dia adalah Tok Hay ji...

Sedangkan yang lain bertubuh kurus berjubah panjang berwarna biru, dalam sekilas pandangan saja dia kenali jubah biru itu sebagai jubah yang di lepas oleh Sin cu yang menyaru sebagai Ku Tiang sun itu dari badan Ku Tiang sun.

"Engkoh Hong, cepat lihat, orang yang datang bersama Tok Hay ji itu bukankah Tok si cuan Sun cu yang berpura pura mampus ?"

Wi Tiong hong yang mendengar suara bisikan itu merasakan lubang telinganya gatal sekali, buru-buru dia menghindar dan melongok sekejap keluar, tapi dengan cepat ia menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Tidak mirip. Tok si-cuan Sun ou mempunyai alis mata yang terpotong, mata segitiga, muka bulat dan berperawakan tinggi besar, sebaliknya orang ini berwajah kurus"

"Tapi jubah panjang berwarna biru yang dia kenakan itu jelas milik Ku Tiang sun. coba perhatikan lagi bukankah pakaian itu cocok sekali dengan potongan badannya ?"

"Ssttt . . jangan berisik lagi, mereka sudah semakin dekat."

Lok Khi segera mendengus, "IHmm. padahal kalau untuk menghadapi dua orang manusia tersebut kita tak perlu untuk menyembunyikan diri."

"Tidak kita harus menyadap pembicaraan mereka lebih dulu coba kita dengarkan apa yang sedang mereka bicarakan siapa tahu mereka mengetahui jalan rahasia tersebut?" Sesudah mendengar perkataan itu Lok Khi baru membungkam dan tidak berbicara lagi, sementara itu, mereka berdua telah berhenti kurang lebih dua kaki didepan sana, terdengar lelaki berwajah kurus itu berkata: "Apakah disini tempatnya ?"

Begitu orang itu bersuara, tanpa terasa Lok Khi menyikut tubuh Wi Tiong-hong, maksudnya:

"coba kau dengar, kalau dia bukan Tok-si Cuan Sun ou lantas siapa lagi ? Sampai logat suaranya pun sama "

"Bukit Pit bu san hanya terletak di tempat ini, masa aku bisa salah jalan ?" seru Tok Hay ji.

"Kau biIang, pada waktu itu kau kabur dari rumah gubuk tapi disini tidak kujumpai rumah gubuk yang kau maksudkan itu ?"

Tenyata mereka pun datang untuk mencari rumah gubuk tersebut, sekali lagi Lok Khi menyikut tubuh Wi Tiong hong.

Wi Tiong hong segera manggut- manggut, sementara dalam hati kecilnya berpikir.

"Kalau ditinjau dari sini, apa yang dikatakan Tok si cuan Sun ou memang tidak salah, setelah ia membuktikan kalau orang yang mati bukan Ting ci kang, hal itu berarti permainan busuk dari Ban kiam hwae, atau dengan perkataan lain Lou bun si itu pasti berada ditangan orang-orang Ban kiam hwe, rupanya setelah pulang dia setelah memberi laporan, dia lantas mengajak Tok Hay-ji untuk mencari sampai disini" Sementara itu Tok Hay-jipun nampak tertegun, selang sesaat kemudian ia baru berkata:

"Yaa, betul, kemana larinya rumah gubuk tersebut ? Masa dapat lenyap dengan begitu saja?"

"Sudah pasti rumah gubuk itu telah mereka bongkar" kata Tok si cuan kemudian sambil tertawa.

"Hmnm, sekalipun rumah gubuk itu dibongkar, apalah gunanya

?" teriak Tok Hay-ji dengan marah, "hmmm, kecuali kalau mereka mengangkut sekalian bukit Pit-bu san tersebut" "Betul, mereka membongkar rumah gubuk tersebut, hal mana membuktikan kalau orang orang mereka masih tetap berada disini."

"Mari kita segera melakukan pencarian, aku masih ingat waktu itu aku harus melalui banyak sekali anak tangga berbatu sekalipun sarang mereka amat rahasia, toh sudah pasti terdapat sebuah jalan masuknya."

"Jika pintu rahasia itu dapat ditemukan secara gampang, terhitung kepandaian macam apakah itu ? dalam sekilas pandangan tempat ini hanya penuh dengan batu batu cadas yang berserakan kita toh tak dapat membongkar semua batuan cadas itu bukan ?"

"Kaupun tidak mengerti." tanya Tok Hay-ji, Tok Si cuan atau si pencuri beracun, tentu saja kepandaiannya hanya terbatas dalam soal curi mencuri saja, tapi biasanya sebagai seorang pencuri diapun mengerti tentang alat-alat rahasia. Sambil tertawa Tok si cuan Sun ou berkata:

"Kalau cuma yang biasa-biasa saja, tentu saja aku mengerti, tapi kalau sudah dihadapkan dengan alat-alat rahasia yang dalam, terpaksa aku hanya bisa melototkan mata belaka."

"Eeeh, mengapa kau memandang mereka sampai sedemikian hebatnya?" seru Tok Hay ji dengan perasaan tidak puas .

"Yaa, apa boleh buat? Aku dengar suhu sering berkata, alat rahasia dari Ban kiam hwe beraneka ragam jumlahnya, konon kepandaian itu berasal dari perguruan Lam hay bun, bisa dibayangkan isinya pasti mendalam sekali, Lebih baik kita duduk duduk dulu sambil beristirahat, bila Lo suko sudah datang, dia pasti akan berhasil menemukan pintu rahasia mereka"

"Menunggu Lu suko? Sampai kapan dia baru akan kemari?" "Apakah kau tidak mendengar perkataan dari Seh suslok ? Hari

ini Lu suko sudah pasti akan sampai, lagipula kita toh cuma bertugas mengawasi gerak gerik mereka, bila Lu suko telah sampai kemari, tentu saja dia akan menemukan tempat itu." "Baik, menunggu yaa menunggu . . ." seru Tok Hay ji dengan gemas, "bila Chin Toa-seng sudah tertangkap. aku akan menyuruh dia rasakan dulu bagaimana nikmatnya Tok si ci kut (pagutan racun peremuk tulang)"

Wi Tiong hong yang mendengar perkataan itu, diam-diam lantas berpikir:

"Entah apa yang dimaksudkan sebagai Tok si ci kut oleh Tok Hay ji itu? biasanya perbuatan dari orang-orang Tok Seh sia sangat keji dan tak berperasaan sudah pasti hal itupun bukan sesuatu yang baik."

-ooodwooo-

"ASAL kita berhasil membekuk seorang di antara mereka, masa ia tak akan menuruti perkataan kita ?" kata Tok si cuan Sun ou sambil tertawa rendah.

Setelah itu terdengar suara langkah manusia bergerak menuju kearah barat, di susul kemudian tak kedengaran suara lagi, tampaknya mereka berdua sudah mencari batu besar dan duduk.

Lok Khi segera berbisik: "Engkoh Hong, entah siapakah Lusuko yang mereka katakan itu? Kalau didengar daripada suaranya, dia seperti seseorang yang ahli dalam ilmu alat rahasia, tapi begitupun lebih baik asal mereka sudah berhasil membuka pintu, kitapun ikut masuk pula kedalam."

"Enak benar kalau bicara, bila orang orang Tok see sia berhasil membuka pintu rahasia tersebut, masamereka akan membiarkan kita ikut masuk kedalam? Lagi pula dengan demikian bukankah kita akan menghadapi musuh dari kedua belah pihak?"

Lok Khi segera tertawa cekikikan, "Kalau kita harus menghadapi musuh dari kedua belah pihak. apakah mereka juga tidak sama saja mesti menghadapi musuh dari kedua belah pihak?" Sementara pembicaraan berlangsung, Wi Tiong-hong merasakan Lok Khi semakin menempel diatas tubuhnya, sedemikian menempelnya sampai hampir boleh dibilang pipi menempel dengan pipi, napaspun hampir terjadi bercampur aduk.

Dalam keadaan seperti ini, bukan saja napasnya yang harum dapat terendus, bau semerbak yang tersebar dari tubuh si nona pun dapat terendus, kesemuanya itu secara lamat-lamat mendatangkan perasaan aneh untuk si anak muda tersebut.

Dalam waktu singkat, pemuda itu merasakan badannya menjadi panas, peluh sebesar kacang hijau turut bercucuran dengan amat derasnya.

Ketika Lok Khi merasakan napas pemuda itu mendadak menjadi kasar dan agak memburu, dengan keheranan ia berpaling, katanya: "Engkoh Hong, apakah kau merasa kegerahan?"

Karena berpaling. maka topeng kulit manusianya yang jelek dan penuh dengan burik itu persis menyentuh diatas pipi Wi Tiong hong.

Anak muda itu segera merasakan wajahnya seperti membentur diatas benda yg tebal lagi kasar, sedemikian kasarnya hampir saja membuat kulit mukanya sakit.

"oooh. maaf" Lok Khi segera mengerdipkan matanya, "apakah terasa sakit ? topeng ku ini memang kasar, bacokan golok atau pedang tak bakalan mempan ..." Seraya berkata, tiba-tiba dia melepaskan topeng tadi. Dengan terkejut Wi Tiong hong segera berbisik:

"Hei. mau apa kau melepaskan topeng itu?" Dengan wajah bersemu merah Lok Khi tertawa.

"Sebentar baru pakai lagi, toh sama saja ? Dengan demikian bila sampai menggesek di atas wajahmu nanti tak akan terasa sakit lagi."

Ucapan tersebut diutarakan dengan kobaran api cinta yang membara, benar juga, dia lantas menempelkan selembar wajahnya yang lembut dan halus itu diatas wajah pemuda tersebut. Wi Tiong hong merasa malu sekali, namun dia pun rikuh untuk menampik, terpaksa dia membiarkan gadis itu menempel ditubuhnya.

Sementara kedua orang itu masih di mabuk cinta, mendadak terdengar bunyi lirih bergema memecahkan keheningan, sebutir kerikil kecil meluncur melalui atas kepala kedua orang itu dan terjatuh keatas tanah.

Dengan perasaan terkejut Wi Tiong-hong segera berpaling ke sekeliling tempat itu, namun tidak ditemukan seorang manusiapun, hal ini membuat hatinya keheranan.

Dengan cepat Lok Khi mengenakan kembali topeng kulit manusianya dan membereskan rambutnya yang kusut, lalu tanyanya pelan:

"Engkoh Hong, apakah ada orang yang telah menemukan jejak kita ?" Wi Tiong hong segera menggeleng.

"Heran, berapa kaki disekitar tempat ini tak nampak ada seorang manusiapun. ."

Belum habis dia berkata, terdengar Tok si cuan Sun oa telah membentak dengan suara rendah.

"Lo su, ada orang datang, cepat bersembunyi " Tok Hay ji segera mendengus.

"Hmmm, yang datang berjumlah tiga orang, mirip orang-orang Ban kiam hwee "

Kemudian terdengar suara gemerisik yang pelan, rupanya kedua orang itupun sedang menyembunyikan diri dibalik semak belukar. Mendadak Lok Khi mendesis lirih:

"Sekarang aku sudah tahu, yang melemparkan batu tadi tentu ji suciku, setan alas "

"Ji-sucimu ? sekarang dia berada dimana ?" tanya Wi Tiong hong keheranan- "Siapa yang tahu" jawat Lok Khi manja, "gara-gara kau, hmm. sekarang kelihatan ji-suci malu toh rasanya ?"

-ooodowooo-