-->

Pedang Karat Pena Beraksara Jilid 10

Jilid 10

KEMUDIAN sambil mendongakkan kepala dan menatap pemuda itu, dia bertanya lagi. "Apakah Wi sicu tidak merasakan sesuatu yang tak beres dengan tubuhmu."

"Aku sama sekali tidak merasakan apa-apa." sahut pemuda itu dengan perasaan tercengang.

hwesio tua itu menghela napas panjang.

"Aaai, tak salah lagi, paling tidak lima hari kemudian kau baru akan merasakan sesuatu yang tak beres, sampai kejadian hari ini wi sicu baru melewati sehari, tentu saja kau tak akan merasakan apa- apa.”

“Losuhu, apa maksud ucapanmu itu? "

"Sewaktu Tok Hay ji menulis huruf huruf tersebut diatas telapak tangan sicu, dia pasti telah melepaskan pula sejenis racun yang amat keji, racun mereka itu bernama Sip jit sau (bubuk sepuluh hari buyar), selain tidak berwarna juga tidak berbau, siapa yang terkena sama sekali tak akan merasakan apa-apa, tapi sepuluh hari kemudian bila racun itu mulai bekerja maka tiada obat lagi yang bisa menyelamatkan jiwamu."

Setengah percaya setengah tidak Wi Tiong hong setelah mendengar keterangan itu, dia lantas bertanya.

"Darimana losuhu bisa mengetahui hal ini? " hwesio tua itu menghela napas panjang.

"Aai, lima hari berselang, ada seorang Seh tosu datang mencari lolap. diapun mengatakan ada suatu persoalan rahasia yang hendak dititipkan kepada lolap. bahkan tak boleh sampai terdengar oleh pihak ketiga.

"Lolap setengah percaya setengah tidak, dia minta lolap ulurkan tanganku, maka diapun menulis beberapa huruf disitu, tulisan itu berbunyi: "Sepuluh hari lagi, nantikan jawaban-"

"Sebelum berlalu dia menerangkan kepada lolap kalau ia telah melepaskan racun Sip jit san yang amat dahsyat kedalam tubuhku, sepuluh hari kemudian bila sari racun itu mulai bekerja maka tiada obat lagi yang bisa menolong jiwaku, tapi dia akan muncul kembali sepuluh hari kemudian dengan membawa obat penawarnya, asalkan aku bisa memberikan jawaban kepadanya . " Mendengar itu, Wi Tiong hong segera berpikir.

"Kalau begitu Seh tosu itu telah memperalat Hongtiang dari kuil Pau in-si untuk menyampaikan kabar berita."

Sementara dia masih termenung, hwesio tua itu sudah berkata lebih lanjut:

"Waktu itu lolap tidak mengerti apa yang dimaksudkan sebagai jawaban, Tapi setelah mendengar perkataan dari sicu, barulah kuketahui kalau kabar yang dibawa siculah yan mereka maksudkan sebagai jawaban." "Setelah kuketahui pula kalau Tok hay ji juga menulis huruf-huruf itu diatas telapak tangan sicu, maka lolap menarik kesimpulan kalau sicu pun sudah terkena pula racun Sip-jit san dari Tok Hay ji.”

“oooh, masa begitu? "

"Setiap manusia yang berkelana dari dunia persilatan kebanyakan adalah manusia-manuiia licik yang tak bisa diketahui jalan pemikirannya, lebih baik mempercayai segala sesuatu dari pada tidak mempercayainya, lolap sudah lama mengidap penyakit, kendatipun dia tidak memberi obat penawar tersebut, kehidupanku memang tak akan seberapa lama lagi, berbeda dengan sicu yang masih muda, seandainya benar-benar sampai terkena racun sip ji- san, wah bisa berabe.”

“Mengapa aku tidak merasakan apa-apa? "

"Kalau harus menunggu sampai racun itu mulai bekerja, saat itu pasti keadaannya pasti sudah terlambat."

Berbicara sampai disini, dia segera memejamkan mata sambil termenung sebentar, ke mu dian katanya lagi:

"Menurut yang lolap ketahui, dipintu utara-kota Sangciau berdiam seorang tokoh sakti, orang ini bukan cuma pandai dalam ilmu pertabiban, bahkan sangat menngusai tentang pelbagai ilmu beracun yang ada didunia ini, bila sicu bersedia mendengarkan nasehat lolap. entah benar keracunan atau tidak, mumpung racun itu belum mulai bekerja, lebih baik mohonlah bantuannya."

Mendengar pendeta itu dengan serius, tanpa terasa Wi Tiong hong teringat kembali akan peristiwa semalam, ketika racun dari jarum beracun keluarga Lan mulai bekerja dalam tubuhnya, keadaannya memang mengerikan sekali, maka dia lantas bertanya. "Lo suhu, siapakah nama tokoh sakti itu? Dan bagaimana cara untuk menemukannya? "

"Tiada orang yang mengetahui nama sebetulnya dari tokoh persilatan tersebut, Tapi oleh karena dia berdiam dibawah bukit Heng san maka orang menyebutnya Heng-san Gisu (pertapa dari bukit IHeng san), di depanpintu rumahnya terdapatpagar bambu, tempat itu gampang sekali di temukan."

Mendengar nama Heng san gi su, tanpa terasa Wi Tiong hong teringat kembali akan si nona berbaju hijau yang pernah dijumpainya semalam, agaknya gadis itupun pernah menyebut nama itu, dari sini dapat ditarik kesim pulan kalau Heng san gi su adalah seorang manusia yang benar-benar ternama.

Berpikir sampai disitu, dia lantas bangkit berdiri seraya berkata: "Terima kasih banyak atas petunjuk dari lo suhu, aku hendak

mohon diri lebih dahulu."

"Sicu jauh-jauh datang untuk membawakan berita buat loolap. untuk itu loolap merasa berterima kasih sekali, lima hari kemudian silahkan Wi sicu mampir lagi kemari, lolap pasti akan menunggu kedatangan dari sicu."

Tentu saja Wi Tiong hong dapat menangkap maksud dari ucapan si hweesio tua itu, gara-gara hendak menyampaikan pesan kepadanya, pemuda ini harus keracunan, maka andaikata Heng san gi su tidak dapat menyembuhkan racun Sip jit san tersebut, maka dia rela, memberikan bagian obat penawarnya untuk pemuda tersebut.

Mengetahui akan maksud baik pendeta tersebut, timbul perasaan kagum dan hormatnya terhadap hweesio itu, ujarnya kemudian sambil menjura: "Lo suhu, apakah kau ada sesuatu urusan? "

"Bila sampai waktunya Wi sicu bisa datang kemari, lolap memang ada sesuatu persoalan hendak disampaikan kepadamu."

"Jikalau lo suhu memang berkata begitu, sampai waktunya aku pasti akan datang kemari."

"Maaf, gerak gerik lolap kurang leluasa, jadi tak bisa mengantarmu lebih jauh.”

“Tak berani merepotkan diri taysu" Setelah berjalan keluar dari ruangan itu, dia langsung menuju ke kuil bagian depan.

Berhubung dia telah berjanji, untuk berjumpa dengan Ting ci kang diluar kuil, maka sekeluarnya dari kuil Pau in si, dia lantas Celingukan kesana kemari, tapi bayangan tubuh Ting ci kang tidak nampak. agaknya dia belum lagi menyusul kesitu.

Sepanjang jalan dia merenungkan kembali apa yang diucapkan hweesio tua tadi, tanpa terasa langkahnya lambat laun semakin lamban sekali...

Sementara dia masih berjalan, mendadak terdengar suara pujian pada Sang Buddha.

"omintohud? "

Dari balik pohon muncul seorang pendeta berbaju abu-abu, sambil menghadang jalan perginya dia berkata dengan suara dalam. "Wi sicu, harap berhenti "

Wi Tiong hong segera mendongakkan kepala-nya, ternyata dia adalah Gho tong, si pendeta penerima tamu dari kuil Pau in si, tanpa terasa dia lantas menghentikan langkahnya, kemudian sambil menjura tanya nya: "Taysu, ada sesuatu urusan? "

Pelan-pelan Gho Tong berjalan mendekat, kemudian sambil tertawa seram katanya.

"Yang pinceng ingin ketahui adalah persoalan rahasia yang baru saja sicu bicarakan dengan suhengku? ."

Dengan cepat Wi Tiong hong mundur selangkah, lalu katanya dingin.

"Taysu, mengapa kau tidak kembali saja ke kuil untuk bertanya langsung kepada suhengmu? "

Gho tong ikut melangkah maju kedepan, sahutnya sambil tertawa seram. "Setelah berjumpa dengan sicu ditempat ini, aku rasa bertanya kepada sicu pun sama saja."

Diam-diam wi Tiong hong manggut-manggut, pikirnya:

"Sudah jelas dia memang sengaja menantikan kedatanganku diluar kuil ini." Maka setelah mendengus katanya:

"Toa-suhu, aku lihat tampaknya kau memang sengaja menantikan kedatanganku disini.”

“Wi sicu memang tak malu disebat orang yang tahu diri." Gho tong tertawa. "Aku tak mengerti."

"Tidak mengerti juga tak menjadi soal, asal Wi sicu mengaku saja terus terang, maka akan beres dengan sendirinya."

"Kalau didengar dari ucapan taysu, agaknya kalau aku tidak memberitahukan kepada Toa su ibu maka bakal ada urusan."

"omintohud " Gho tong mengangkat bahunya. "asal sicu sudah tahu, hal ini lebih baik lagi."

Berbicara sampai disitu. dia lantas menuding kesamping kirinya sambil berkata lagi.

"Sicu, bersediakah kau mengikuti pinceng untuk berbincang- bincang sebentar didalam lembah itu? "

Mengikuti arah yang ditunjuk. Wi Tiong hong saksikan ada sebuah lembah yang menjorok jauh kedalam bukit sana dengan hutan yang lebat sekali, tempat itu sepi dan mengerikan, baru saja dia hendak mengatakan: "Aku tak mau turut."

Mendadak dilihatnya Gho tong dengan senyuman licik menghiasi wajahnya telah melepaskan sebuah cengkeraman maut yang diarahkan keatas bahunya.

Bagaimanapun juga Wi Tiong hong adalah seorang yang berilmu, reaksinya tentu saja lebih cepat dari pada orang lain, sambil berkelit kesamping dan menangkis ancaman itu dengan tangan kiri, bentaknya: "Mau apa kau? " Gho tong tidak menyangka kalau Wi Tiong hong dengan usia semuda itu sudah memiliki tenaga dalam yang sempurna, begitu tangannya kena ditangkis, serta merta badannya bergeser kesamping kanan, Kemudian seraya berpaling dan menatap wajah si anak muda itu lekat-lekat serunya dingin:

"Sicu, ilmu silatmu memang sangat hebat, lampaknya pinceng telah salah menilai dirimu."

Mendadak dia menerjang maju ke depan, lalu mengayunkan telapak tangannya melepaskan sebuah bacokan.

Wi Tiong-hong segera miringkan badan bagian atasnya kesamping untuk meloloskan diri dari ancaman tersebut, kemudian lengannya diputar kencang, berbareng dilepaskannya sebuah pukulan, tubuhnya melompat mundur ke belakang. Bentaknya kemudian dengan kening berkerut.

"Toa suhu, bila kau tidak segera menghentikan seranganmu, jangan salahkan kalau akan bertindak kurang sopan kepadamu."

Sementara itu hawa nafsu membunuh telah menyelimuti wajah Gho tong, sambil menyeringai seram katanya.

"Sicu, berapa banyak kepandaian silat yang kau miliki, silahkan saja digunakan semua."

Ditengah pembicaraan tersebut, badannya menerjang ke depan, sepasang tangannya di ayunkan kesana kemari dan secara beruntun-melepaskan tujuh delapan serangan berantai.

Serta merta Wi Tiong hong mengayunkan pula sepasang tangannya menangkis dan mematahkan serangkaian serangan berantai yang dilancarkan Gho Tong hwesio.

Begitu serangan yang dilancarkan Gho tong mengendor Wi Tiong hong segera manfaatkan kesempatan itu sebaik-baiknya untuk melancarkan serangan balas an-Secara beruntun dia melepaskan tiga cacok dan empat pukulan yang memaksa Gho tong mundur sejauh dua langkah. Begitu berhasil mendesak mundur Gho-Tong, wi Tiong hong tidak melanjutkan pengejarannya, dia menarik kembali sepasang telapak tangannya dan berdiri ditempat, hanya ujarnya dingin:

"Toa suhu, bila kan tidak ada persoalan lain yang hendak disampaikan maaf kalau aku tak bisa menemani lebih lama"

Gho tong hwesio benar-benar tidak menyangka kalau ilmu silat yang dimiliki Wi Tiong hong sudah mencapai ke tingkatan yang begini hebat, untuk sesaat lamanya dia menjadi tertegun.

Diam-diam dia lantas berpikir:

"Agaknya bocah keparat ini berasal dari perguruan Bu tong pay, ilmu silatnya hebat sekali, dengan mengandaikan kekuatanku seorang, sudah jelas tak mungkin begitu untuk menghadangmu"

Pada saat itulah, dari arah tanah perbukitan sana muncul sesosok bayangan manusia yang meluncur datang dengan kecepatan tinggi, dalam waktu singkat ia sudah tiba didepan mereka berdua.

Begitu Gho tong hwesio mengetahui siapa yang datang, hatinya segera bergetar keras.

Sebaliknya Wi Tiong hong menjadi girang sekali, buru-buru teriaknya dengan suara lantang: "Ting toako"

Ternyata yang datang adalah ketua perkumpulan Thi pit pang Ting ci kang adanya. Tampak Ting ci-kang memandang sekejap sekeliling tempat itu, kemudian tanyanya: "Saudara Wi, mengapa kau bertarung dengan toa-suhu ini? "

Sembari berkata sepasang matanya yang tajam dialihkan ke wajah Gho tong hwesio, sementara tangan kanannya seperti sengaja tak sengaja diayunkan ke bawah.

Dengan jelas Gho tong hwesio melihat bahwa diantara ayunan tangannya itu, telapak tangannya memainkan sebuah taktik ilmu pedang hal ini membuatnya semakin terperanjat.

Dengan cepat dia mundur selangkah lalu merangkap tangannya didepan dada, katanya kemudian sambil tertawa paksa: "oooh . . . pinceng hanya ingin memohon suatu petunjuk dari Wi siecu ini, siapa tahu Wi sicu menaruh curiga kepada pinceng, jadi sebenarnya hal ini merupakan suatu kesalahan paham, untuk itu pinceng mohon maaf yang sebesar-besarnya"

"Kalau memang suatu kesalahan paham, silahkan Toa suhu berlalu," ucap Ting ci kang. Gho tong hweesio mengangguk berulang kali

"Baik, pinceng mohon diri lebih dahulu" Selesai berkata dia lantas memberi hormat, lalu membalikkan badan dan berlalu dari Sepeninggalnya hweesio tersebut, Ting ci kang baru berkata:

"Saudara Wi, sebenarnya dikarenakan apakah kau sampai bertarung dengan hweesio itu? "

Secara ringkas Wi Tiong hong segera menerangkan kisah pengalaman yang baru saja di alaminya.

Mendengar peraturan tersebut, Ting ci kang segera mendengus dingin-“Hm, ternyata mereka benar benar ingin menggunakan Hong Hongtiang dari kuil Pau in si untuk menyampaikan berita, kalau begitu Seh tosu tersebut, sudah pasti anggota dari selat Tok Seh shia."

Sekarang Wi Tiong hong baru teringat kembali pesan dari paman yang tak diketahui namanya itu berapa hari berselang.

Waktu itu, dengan ilmu menyampaikan suara paman yang tak dikenal namanya itu pernah memperingatkan kepadanya agar berhati-hati dengan para jago dari Tok Seh shia, bila berjumpa dalam dunia persilatan dikemudian hari.

Maka setelah mendengar toakonya menyinggung pula tentang selat Tok Seh shia tersebut, tanpa terasa dia bertanya:

"Ting toako sebenarnya tempat macam apakah selat Tok Seh shia tersebut...? "

"Tentang selat Tok Seh shia mah... pokoknya anggota mereka pandai sekali dalam mempergunakan racun, berapa tahun tidak pernah bermunculan kembali didunia persilatan, siau heng sendiripun kurang begitu tahu."

Mendadak dalam hati kecil Wi Tiong hong timbul suatu perasaan aneh, dia merasa Ting-toako yaug dihadapinya sekarang jauh berbeda dengan Ting toakonya dulu.

Kalau dulu, Ting toakonya selalu berjiwa terbuka dan suka blak- blakan, maka sekarang Ting toakonya seakan-akan suka merahasiakan sesuatu dan menutup diri, seakan orang yang di hadapinya kini bukanlah orang yang dulu.

Tadi, dia bertanya tentang Ban kiam hwee, tapi dia mengatakan tak tahu, sekarang ditanya tentang selat Tok Seh shia, kembali dia mengatakan tak tahu, padahal kalau didengar dari pembicaraannya jelas dia tahu banyak hal, cuma enggan untuk memberitahukan soal ini kepada nya.

Ketika Ting ci kang menyaksikan pemuda itu membungkam diri dalam seribu bahasa mendadak dengan sikap penuh perhatian dan bersungguh-sungguh ia berkata:

"Apa yang dikatakan Gho beng hwesio itu memang benar, lebih baik mempercayai sesuatu ada daripada tidak mempercayai adanya sesuatu, orang dari selat Tok Seh shia memang manusia manusia licik yang berhati kejam dan berbahaya, besar kemungkinannya juga Tok Hay ji telah melepaskan racun Sip jit san ke-tubuhmu, mari kita segera berangkat kebukit Heng san sekarang juga ."

"TING TOAKO, apakah kau kenal dengan Heng san Gisu? " tanya Wi Tiong hong.

"Tidak. Aku tidak kenal, konon Heng san Gisu adalah seorang yang amat termashur didalam dunia persilatan, selain liehay dalam pertabiban juga amat menguasai tentang berbagai ilmu beracun.

"Tapi orangnya amat sosial sekali, dia tak pernah membedakan antara golongan lurus dengan golongan sesat, diapun tidak membedakan antara yang jahat dan baik, asal datang ke rumahnya minta bantuan, dia pasti memberi pengobatan dengan bersungguh hati, itulah sebabnya orang persilatan menyebutnya sebagai Say Hoa toa (Hua Tuo sakti)" Sembari berkata mereka melanjutkan perjalanan dengan gerakan tubuh yang amat cepat.

Tak selang berapa saat kemudian, mereka sudah masuk dari pintu kota sebelah selatan dan keluar dari pintu kota sebelah utara, langsung menuju ke bukit Heng san-Heng san, seperti juga namanya, bukit itu melintang bentuknya dengan ketinggian yang tak seberapa, antara tebing satu dengan tebing yang lain semuanya saling berhubungan hingga orang akan merasa bahwa bukit itu namanya merupakan sebuah bukit melintang yang hampir sejajar bentuknya.

Dengan cepat kedua orang itu memburu ke kaki bukit Heng san, apa yang dikatakan hwesio tua itu memang benar, rumah Heng san Gisu berpagar bambu dengan bentuk yang sangat khas, memang tidak sukar untuk menemukan letak rumah tersebut.

Sungai kecil yang melintang didepan rumah dengan pepohonan yang rimbun menambah indahnya pemandangan alam ditempat itu.

Tanpa terasa Wi Thiong hong membayangkan kembali rumah gubuknya dibukit Huay giok san dimana Sejak kecil sampai besar dia menetap. pemandangan alam disitu mirip keadaan ditempat ini.

Ayah yang hidup bersamanya sejak kecil ternyata berubah menjadi paman yang tak diketahui namanya, asal usulnya menjadi teka-teki, masa depannya merupakan tanda tanya besar, kehidupan sederhana tanpa keributan dan penuh suasana damai itu kini sudah tinggal kenangan-Teringat kesemuanya itu, hatinya menjadi sedih kembali sehingga air matanya hampir saja jatuh bercucuran-

Ketika Ting ci kang merasa langkah kaki pemuda itu makin lama semakin tamban, mendadak berpaling dan memandang sekejap ke arah Wi Tiong hong, kemudian serunya terkejut, "Saudara Wi, wajahmu kurang beres, apakah kau merasa kurang enak badan? "

Wi Tiong hong menggeleng "Tidak. memandang pemandangan alam disekitar tempat ini, tanpa terasa siaute jadi teringat kembali dengan tempat tinggalku dulu.” “Aku . . . aku ... aku tak punya rumah, aku tak punya rumah lagi."

ooo^dw^ooo

TING CI KANG segera tertawa ter-bahak.

"Saudaraku, kau masih berusia sangat muda." katanya, "haaahh

.. . haaah ... haaah . . sebagai seorang lelaki, cita-cita berada di empat penjuru, mana boleh tinggal dikampung halaman melulu? Ada atau tidak ada rumah, buat apa mesti dirisaukan? "

setelah mendengar perkataan itu, Wi Tiong hong merasakan hatinya menjadi lega sekali, dia menganggukkan kepalanya berulang kali.

"Perkataan dari toako memang tepat sekali" demikian dia berseru kemudian-Beberapa saat kemudian mereka sudah tiba dimuka pekarangan, Ting ci kang segera mengetuk pintu beberapa kali, namun dari dalam tiada jawaban.

Dibalik pagar pekarangan merupakan sebuah obat yang kecil, dibagian tengahnya tiga buah rumah gubuk. Tapi sepasang pintu rumah itu tertutup rapat-rapat, karena itu tak dapat terlihat apakah didalam rumah ada orangnya atau tidak? Ting kang mengetuk lagi berapa kali sambil menegur dengan suara lantang: "Ada orang kah didalam? "

"Siapa? " seseorang segera menegur dengan suara yang parau, kasar dan keras.

Jika didengar dari nada pembicaraan orang itu, tampaknya dia merasa amat tidak sabaran.

Dengan kening berkerut Ting ci kang segera berpikir:

"Nada suara orang itu kasar dan parau, sudah barang tentu bukan Heng san Gisu pribadi, jangan-jangan Heng san Gisu sedang tidak berada dirumah? " Berpikir demikian, dia lantas menjawab. "Aku Ting ci kang, datang untuk berjumpa dengan Gi-su" Suara bisikan lirih yang lembut segera kedengaran dari dalam rumah gubuk itu, menyusul kemudian seseorang dengan suara yang parau dan keras berkumandang lagi. "Mungkinkah saudara adalah ketua perkumpulan Thi pit pang Ting tayhiap.? ”

“Tidak berani, memang akulah orang nya"

"Harap Ting tayhiap suka menunggu sebentar, aku akan segera membukakan pintu"

Tak selang berapa saat kenudian, pintu rumah gubuk itu dibuka dan seorang lelaki berbaju hitam munculkan diri dengan langkah lebar.

Sesudah membukakan pintu pagar pekarangan sambil menjura katanya kembali. "Silahkan kalian berdua masuk "

Ting ci kang mencoba untuk memperhatikan lelaki berbaju hitam itu sekejap. dia saksikan gerak gerik orang itu sangat liehay dan mantap. kelihatan memiliki kepandaian yang sangat hebat, diam- diam timbul kecurigaan di dalam hatinya. Sambil membalas hormat dia lantas bertanya. "Aoakah Gisu berada dirumah? "

"Majikan kami sedang membUat obat, silahkan kalian berdua masuk dan duduk didalam."

Setelah mendengar panggilan orang itu terhadap Heng san Gisu, kecurigaan didalam hati Ting ci kang segera lenyap sebagian.

Bagaimana pun juga : Heng san Glau adalah seorang manusia yang termashur didalam dunia persilatan, tidaklah heran jika dia memiliki ilmu silat yang sangat lihay, otomatis seorang yang menjadi anak buahnya untuk menjaga pintu tentu memiliki pula kepandaian silat yang lihay, dan hal ini tiada sesuatu yang perlu diherankan.

Sedangkan suara bisikan lirih yang terdengar tadi, tentulah suara bisikan mereka yang sedang meminta petunjuk kepada IHeng-san Gisu, apakah perlu untuk membukakan pintu atau tidak. Sementara dia masih berpikir, bersama Wi Tiong hong dan diiringi lelaki berbaju hitam itu, mereka masuk kedalam rumah.

Diruangan bagian tengah dari rumah gubuk itu adalah sebuah ruangan tamu, perabotnya amat sederhana, selain meja kursi tak nampak benda apapun.

Sekalipun demikian, lantai maupun seluruh ruangan itu nampak bersih sekali, hal ini menunjukkan kesederhanaan dan kebersihan dari seorang pertapa.

Sesudah mempersilahkan tamunya duduk, lelaki berbaju hitam itu segera menghidangkan air teh, lalu katanya. "Saudara berdua, silahkan minum teh "

Sesudah meletakkan cawan air teh ke atas meja, dengan cepat dia mengundurkan diri lagi.

Tak selang berapa saat kemudian, dari ruang sebelah kiri kedengaran suara langkah manusia disusul pintu kamar dibuka orang, seorang kakek berambut putih dan berjenggot kambing munculkan diri dalam ruangan tersebut.

Rupanya orang inilah yang dinamakan Say hoa toa (Hua Tou pintar) IHeng san Gisu.

Dia mengenakan sebuah jubah berwarna biru yang amat tidak sesuai dengan potongan badannya, bahkan kancing bajupun tak sempat dikancingkan, begitu melangkah keluar dari kamar dengan cepat dia menutup lagi pintu kamar tersebut, seakan-akan takut kalau orang lain dapar menyaksikan rahasia didalam kamarnya.

Hal ini dapat dimaklumi sebab dia adalah seseorang yang pandai dalam ilmu pertabiban, tentu saja dia tak akan membiarkan orang lain mencuri rahasia pembuatan obat dari keluarganya.

Begitulah, setelah menutup pintu dia baru mengelus jenggotnya danpelan-pelan berjalan kedalam ruang tamu.

Setelah memandang kedua orang itu sekejap sekulum senyuman menghiasi wajarnya yang kurus, ujarnya sambil menjura. "Lohu sedang membuat sejumlah obat mestika sehingga harus menyuruh kalian menunggu cukup lama, entah yang manakah yang bernama Ting tayhiap? "

Kedua orang itu berdiri bersama, kemudian Ting ci-kang membalas hormat seraya menyahut. "Akulah yang bernama Ting ci kang, sedang dia adalah adik angkatku Wi Tiong hong kami datang karena sudah lama mengagumi nama besar lotiang, bila kedatangan kami telah mengganggu ketenangan lotiang, harap kau sudi maafkan-”

“Mana... mana, silahkan kalian berdua segera duduk " buru-buru Heng-san Gi-su berseru.

Dia mengambil tempat duduk dan melanjutkan "Ting tayhiap. sungguh tak disangka kau pun berkunjung ke kota Sang-siau, entah ada urusan apakah kau berkunjung kerumah kami? Harap sudi diutarakan."

"llmu ketabiban yang lotiang miliki sudah amat termasyur dalam dunia persilatan, ada satu hal siaute ingin mohon bantuanmu."

Heng-san Gisu memandang sekejap wajah ke dua orang itu, kemudian katanya.

"Tidak berani, lohu hanya mengerti sedikit ilmu pertabiban saja, jika Ting tayhiap menjumpai suatu kesulitan, asal lohu tahu, pasti akan kujawab dengan sejujurnya." Ting ci kang segera menunjuk kearah Wi Tiong hong sembari berkata:

"Kemungkinan besar saudaraku ini sudah diracuni orang secara diam-diam, karena itu ku mohon bantuan dari lotiang untuk memeriksakan keadaan penyakitnya”

“Entah racun apakah itu? " tanya IHeng san Gi-su dengan perasaan terperanjat.

"Pernahkah lotiang dengar tentang racun yang dinamakan Sipjit san (sepulun hari buyar)? " Sekujur tubuh Heng san Gi-su nampak bergetar keras, lalu dengan wajah tercengang serunya:

"Sipjit san? Belum pernah lohu dengar dengan nama tersebut, IHmm, entah bagaimana kah perasaan Wi sauhiap sekarang? "

"Konon racun Sipjit san itu tak merasakan apa apa, tapi sepuluh hari kemudian bila racun itu mulai kambuh, maka tiada obat yang bisa menolong jiwanya lagi" kata Ting ci kang lagi.

Berkilat sepasang mata IHeng san Gisu setelah mendengar perkataan itu, dengan cepat serunya.

"Aah, masa telah terjadi peristiwa seperti ini? Wi sauhiap. bagaimanakah kejadiannya sampai kau menderita keracunan? Dapatkah di ceritakan kepada lohu? "

"Dua hari berselang aku mendapat titipan dari seseorang untuk menyampaikan sepatah kata, dan orang itu telah menulis beberapa huruf diatas telapak tanganku...”

“Siapa kah orang itu? " buru buru Heng san Gi su bertanya. "Dia bernama Tok Hay ji."

Dengan cepat Heng san Gi-su menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Tok Hay-ji? Belum pernah lohu mendengar tentang nama orang ini" katanya.

"Tampaknya Tok Hay ji ini berasal dari selat Tok Seh shia" timbrung Ting ci kang. sekali lagi Heng san Gisu merasakan tubuhnya bergetar keras, buru buru dia berseru: "Dan Wi sauhiap pun keracunan hebat setelah kejadian itu? "

"Dia menitipkan pesannya kepadaku agar disampaikan kepada Hongtiang dari kuil Pau in si, dari hongtiang tua itulah aku baru mengetahui keadaan yang sebenarnya"

"Apa lagi yang diucapkan oleh hongtiang itu? " tanya IHeng san Gisu dengan mata terbelalak. "Menurut Hongtiang tua itu, lima hari berselang ada seorang hendak menitipkan pula sesuatu pesan kepadanya, dan orang itu menulis beberapa huuf diatas telapak tangannya, kemudian sebelum pergi orang itu memberitahukan kepadanya kalau dia sudah terkena racun Sipjit san, karena itulah kuduga kemungkinan besar Tok Hayji melepaskan racun pula kedalam tubuhku, itulah sebabnya aku lantas datang kemari untuk mohon bantuan dari lotiang"

"Waaah... peristiwa ini benar-benar merupakan suatu berita aneh yang belum kudengar sebelumnya" seru Heng san Gi su sambil tertawa lebar.

Berbicara sampai disini, dia mengelus jenggot kambingnya sambil manggut-manggut, katanya:

"Kalau dilihat dari keadaan tersebut, bisa disimpulkan bahwa Wi sauhiap mungkin sudah keracunan, mungkin juga sama sekali tidak keracunan-”

“Ya, memang demikian" sambung Ting ci kang. sekali lagi Heng san Gi-su manggut-manggut katanya.

"Wi sauhiap. mari kuperiksakan dahulu denyut nadimu"

Wi Tiong hong segera mengeluarkan tangannya. Heng san Gi-su segera menempelkan ketiga jari tangannya diatas urat nadi pada pergelangan tangannya sambil memejamkan mata, lebih kurang seperminum teh kemudian dia baru membuka matanya sambil memerintah. "Ganti pergelangan tangan yang lain-"

Wi Tiong hong menurut dan segera mengganti dengan tangan yang lain-Sekali lagi Heng san Gi su memejamkan matanya dan memusatkan segenap perhatiannya untuk memeriksa denyutan nadi orang, tapi di atas wajahnya yang kuruspun lambat laun muncul selapis wajah yang amat serius.

Lebih kurang seperminum teh kemudian, tiba-tiba dia membuka matanya lebar-lebar sambil memerintah kan:

"Buka mulutmu lebar-lebar, coba akan lohu periksa lidah dan tenggorokanmu." Wi Tiong hong menurut dan membuka mulutnya lebar-lebar, Heng san Gi-su segera menggunakan sebuah jari tangan kanannya untuk menekan lidah Wi Tiong hong dengan pelan lalu diamatinya beberapa saat.

Sesudah itu dia membuka pula kelopak mata Wi Tiong hong dan memeriksanya beberapa saat, akhirnya dia memejamkan matanya dan membungkam dalam seribu bahasa. Ting ci kang segera bertanya. "Lotiang, apakah saudara Wi keracunan? "

Heng san Gi su menghembuskan nafas panjang, pelan-pelan dia mengalihkan sorot matanya ke wajah Ting ci kang lalu menjawab.

"Menurut hasil pemeriksaan lohu atas nadi Wi sauhiap. memang kujumpai adalah sejenis racun keji yang bersarang dalam tubuhnya, cuma saja racun keji itu agaknya seperti mengendon dalam isi perut, sebelum racun itu mulai kambuh, sulit bagi lohu untuk mengatakannya . "

"Yaa, benar" sambung wi Tiong hong, "akupun pernah mendengar lohongtiang itu berkata bahwa racun semacam ini paling tidak lima hari kemudian baru akan menunjukkan gejala gejala anehnya." Heng san Gisu menganggUk berulang kali.

"Benar, benar, lebih baik kalau lima hari kemudian kau datang kemari lagi."

"Maksud lotiang, saat ini masih belum dapat mengeluarkan resep untuk pengobatan? " Ting ci-kang bertanya.

"Walaupun ilmu pertabiban lohu tak berani dibilang sangat liehay, tapi sudah banyak penyakit aneh dan racun jahat yang berhasil kusembuhkan, namun kasus seperti sekarang dimana racun sudah mengendon dalam isi perut akan tetapi sama sekali tidak menunjukkan gejala apa-apa, baru pertama kali ini kujumpai, sebab itu sebelum melihat gejala racunnya sewaktu bekerja, sesungguhnya sulit buat lohu untuk membuka resep dan memberikan pengobatan" Berbicara sampai disitu, dia lantas berpaling kearah Ting ci kang, setelah memandangnya sekejap, dia membuka mulut seperti hendak mengucapkan sesuatu, tapi akhirnya niat itu diurungkan-"Lotiang, bila ada persoalan silahkan kau utarakan saja secara berterus terang" seru Ting ci kang dengan cepat.

"Lohu merasa kepandaian silat yang Ting tayhiap miliki luar biasa sekali, tapi kulihat sinar matamu seperti agak sayu dan kurang bersih, sedangkan ujung hidung pun membawa warna abu-abu, seharusnya itukah gejala dari keracunan, apakah Ting tayhiap merasakan sesuatu yang aneh didalam tubuhmu? "

Ucapan tersebut memang merupakan yang amat mengejutkan hati, Ting ci kang yakin belum pernah berhubungan dengan siapa pun, ketika mencoba untuk mengatur pernapasan, dia pun tidak menunjukkan sesuatu gejala yang aneh.

Tapi dia tahu Hengsan Gisu adalah seorang tabib sakti yang pandai sekali menyembuhkan segala macam keracunan, tentu saja setiap perkataannya juga amat berbobot. Maka setelah tertegun sebentar, dia mendongakkan kepalanya sambil berseru:

"Aku sama sekali tidak merasakan apa apa, Totiang . . . "

Sambil mengelus jenggot kambingnya, pelanpelan Heng sau Gi su berkata lagi:

"Bila lohu tidak salah melihat, racun yang bersarang dalam tubuh Ting tayhiap adalah sejenis racun yang sifat kerjanya jauh lebih cepat..."

Sambil berkata dia lantas maju mendekat dan membuka kelopak mata Ting ci kang untuk diperiksa, setelah iiu sambungnya lagi.

"Betul, racun itu sudah menyusup sampai ke dalam darah, tak sampai enam jam kemudian racun itu pasti akan mulai bekerja, racun seganas itu boleh dibilang jarang sekali di jumpai dalam dunia persilatan..." Belum habis dia berkata, mendadak terdengar suara seorang perempuan yang merdu berkumandang dari luar pintu: "Apakah sian seng berada dirumah? "

Heng san Gisu berkerut kening lalu menggumam seorang diri: “Hm, lagi-lagi ada orang yang datang mencariku."

Kemudian dengan mempertinggi suaranya ia berteriak: "Siapa disitu? silahkan masuk "

Pintu pagar pekarangan didorong orang dan seorang gadis yang berambut kusut menerjang masuk ke dalam ruangan dengan langkah cepat, setelah memandang sekejap ke arah tiga orang itu, buru buru dia bertanya dengan cemas. "Siapakah yang sakit? cepat lihatkan keadaan penyakitku."

Gadis itu berambut kuning dan sangat kusut, wajahnya kuning dengan wajah penuh bopeng, jeleknya bukan kepalang, tapi potongan badannya justru amat ramping, suaranya juga merdu merayu, jauh berbeda dengan wajahnya yang menggidikkan hati.

Wi Tiong hong hanya memandang sekejap ke arah gadis jelek itu, tiba-tiba saja dia merasa seperti pernah bersua disuatu tempat.

Pelan pelan Heng san Gisu mengalihkan sorot matanya ke wajah si nona bermuka jelek itu, kemudian ujarnya.

"Lohulah orang nya, entah penyakit apakah yang nona derita? ” “Aku... aku telah terkena racun jahat"

Sebetulnya waktu itu Ting ci-kang sedang merasa keheranan karena Heng-san Gisu mengatakan dia menunjukkan gejala keracunan, maka setelah mendengar kalau gadis jelek ini pun keracunan pula ditangan orang, diam-diam dia menjadi tertegun, segera pikirnya. "Entah mengapa dia bisa sampai keruangan pula? "

Sementara dia masih termenung, Heng-san Gisu telah berkata dengan suara pelan-"Nona, silahkan duduk. lohu akan memeriksa kan denyutan nadimu lebih dahulu." Gadis berwajah jelek itu menurut dan segera duduk diatas kursi, setelah itu dia menjulurkan tangannya menunggu Heng-san Gisu memeriksakan denyutan nadinya^

Pelan-pelan Heng san Gisu mengeluarkan tiga jari tangannya lalu ditekankan diatas urat nadinya pergelangan tangan sinona jelek yg sedang diperiksa itu mendadak membalik keatas, kemudian mencengkeram pergelangan tangan kanan Heng-san Gisu.

Selisih jarak kedua belah pihak cuma beberapa depa, tentu saja Heng-san Gi-su sama sekali tidak menyangka kalau gadis berwajah jelek menyergapnya. Menanti dia menyadari datangnya bahaya dan berusaha untuk menghindarkan diri, keadaan sudah terlambat, tahu-tahu urat nadi pada pergelangan tangan kanannya sudah kena dicengkeram oleh perempuan jelek itu.

Semua peristiwa yang berlangsung terjadi secara tiba, sampai Ting ci kang dan Wi Tiong hong yang duduk dihadapannyapun tak sempat untuk memberikan pertolongan meski demikian tanpa terasa kedua orang itu bersama-sama bangkit berdiri.

"GERAKAN yang dilakukan gadis berwajah jelek itu cepat sekali, setelah tangan kirinya berhasil mencengkeram pergelangan tangan kanan IHeng-san Gisu, tangan kanannya segera diayankan ke depan menotok jalan darah Ki bun hiat diatas tubuh Heng san Gisu tersebut.

Kemudian dia baru mendongakkan kepalanya dan memandang ke arah kedua orang itu sambil tertawa dingin.

"Kalian menganggap dia adalah Heng san Gisu asli? " serunya dingin.

Ting ci kang maupun wi Tiong hong menjadi tertegun setelah mendengar pertanyaan.

Gadis berwajah jelek itu tidak berbicara lagi, dia segera menarik jenggot kambing dari Heng san Gisu hingga terlepas, kemudian diapun menarik muka orang itu sehingga terlepaskan selembar topeng kulit manusia. Dengan cepat Wi liong hong mengalihkan perhatiannya ke arah orang itu, ternyata orang yang menyaru sebagai Heng san Gisu, gadungan itu adalah seorang lelaki berusia tiga puluh-tahunan yang berwajah kurus, saat itu dia sedang melototkan sepasang mata tikusnya lebar-lebar, sementara wajahnya pucat pias seperti mayat. "Sreeet... sreeet ... sreeet . .^"

Mendadak terdengar tiga titik bayangan biru yang disertai tenaga kuat meluncur keluar dari belakang rumah dan langsUng menyergap ke belakang tubuh perempuan berwajah jelek itu.

Ketiga titik cahaya biru tersebut tak lain adalah tiga batang senjata rahasia kecil yang lembut dan beracun, selain cepat datangnya juga disertai desingan angin yang memekikkan telinga Dengan formasi segi tiga, ke tiga batang senjata rahasia itu langsung meluncur ke belakang tubuh gadis bermuka jelek tersebut.

Yang satu mengancam jalan darah Hong gan, sementara dua lainnya satu dari kiri yang lain dari ka nan mengancamjalan darah Hong Wi hiat, selain tenaga serangannya sangat kuat ketepatanjalan darahnya pun mengagumkan.

Tampaknya Ting ci-kang enggan untuk mencampuri banyak urusan, meski dia melihat jelas kejadian tersebut, namun ia masih saja berpangku tangan seakan-akan tidak melihat akan hal tersebut.

Betapa terkejutnya Wi Tiong hong menyaksikan kejadian itu, dia segera berteriak keras.

“Hati-hati nona "

Hanya ia tak usah berteriakpun gadis bermuka jelek itusudah dapat merasakan akan hal tersebut. Terdengar ia mendengus dingin, kemudian tanpa berpaling dia mengangkat topeng kulit manusianya untuk diayunkan ke belakang, bersamaan itu juga dia segera berpaling dan tertawa lebar kepada Wi Tiong hong.

Jangan dilihat wajahnya terhitung jelek, begitu tertawa, dibalik bibirnya yang tebal segera terlihat dua baris giginya yang rapih dan putih bersih. Tiga batang senjata rahasia beracun yang meluncur kearah belakang tubuhnya itu, mendadak lenyap tak berbekas tanpa menimbulkan sedikit suarapun begitu termakam oleh ayunan tangannya.

Paras muka Ting ci-kang nampak agak berubah setelah menyaksikan kejadian tersebut. Wi Tiong-hong juga cerdiri termangu-mangu, diam-diam dia lantas berpikir.

"Kepandaian ma cam apaan itu? Tidak nampak dia menyambut dengan tangannya, tapi kemana hilangnya ketiga batang senjata rahasia tersebut? " Dalampada itu, si gadis bemuka jelek itusudah berkata sambil tertawa dingin:

"Kalau toh kalian datang untuk mencari Heng-san Gisu, mengapa tidak cepat cepat membebaskannya? Buat apa kalian berdiri termangu belaka di sini? ”

“Nona, bukankah kaupun datang untuk mencari Heng san Gisu? " tanya Ting ci kang. Gadis bermuka jelek itu berpaling seraya mendengus dingin, “Hmmm, aku telah berhasil membekuk seorang, suruh kalian...”

“Aduuh..."

Keiika dia harus memeCahkanperhatiannya untuk berbicara, tiba tiba terdengar lelaki yang menyaru sebagai Heng san Gisu itu menjerit tertahan kemudian roboh terjengkang ke atas tanah.

Tentu saja orang yang melancarkan serangan gelap untuk membunuh rekannya sendiri itu adalah orang yang menyergap si nona bermuka jelek tadi, dan mungkin dia kuatir rekannya itu akan membocorkan rahasia mereka, maka diambillah tindakan untuk membungkam orang tersebut.

"Bajingan, bagus sekali perb uatanmu itu" bentak gadis bermuka jelek itu dengansuara nyaring.

Sepasang kakinya segera menjejakpermukaantanah lalu melesat ke arah belakang rumah. Pada saat dia menerjang keluar rumah, mendadak sambil berpaling serunya dengan gusar. Jikalau kalian tidak segera berangkat untuk menolong orang, mungkin Hengsan Gisu aslipun akan terbunuh juga ditangan orang."

Agaknya secara tiba-tiba Ting ci kang berpikir pula sampai kesitu, maka tidak menanti sigadis bermuka jelek itu menyelesaikan kata katanya, dia menggerakkan badandan segera menerjang kebilik sebelah kiri dengan keCepatan luar biasa. Buru buru Wi Tong hong menyusul dari belakangnya.

Bilik sebelah kiri itu mungkin merupakan tempat tidur Hang san Gisu. dekat dinding terletakpembaringan kayu, sedangkan empatpenjuru dinding dipenuhi rak-rak kayu, ada yang besar ada yang kecil dansemuanya berisikanpelbagai macam botolobat.

Sementara itu Ting ci kang telah melompat kesamping pembaringan dan menyingkap selimut yang berada disitu, betul juga

, tampak seorang kakek berjenggot kambing sedang berbaring kaku disitu.

Tentu saja orang ini adalah Heng san Gisu yang asli.

Jika ditinjau dari raut wajah ini, kemudian ditambah pula dengan jenggot kambingnya yang berwarna putih, tampak sekarang kalau raut wajahnya memang mirip dengan orang yang menyaru sebagai Heng san Gisu tadi.

"Ting toako, bagaimana keadaannya? " Wi-Tiong hong segera berbisik lirih.

"Agaknyajalan darah telah ditotok orang."

Sambil berkata, dia turun tangan untuk membebaskanjalan darah Heng san Gisu yang tertotok itu.

Heng san Gisu memandang sekejap dua orang yang berada di hadapannya, kemudian setelah menggeliat sebentar, pelanpelan dia bangun dan duduk di pembaringan.

Wi Tiong hong menyaksikan orang itu mengenakansatustelpakaian yang sempit dengan orang yang menyaru sebagai tabib sakti tadi, orang itupun mengenakanjubah panjang yang kedodoran.

Sudah jelas pakaian tersebut dilucuti daribadan orang ini dan dikenakan secara tergesa-gesa, tak heran kalau sampai kancing pun lupa dikenakan lagi. Ting ci kang pun terlihat agak tertegun, dan hati kecilnya dia berpikir:

"Ternyata Heng san Gisu yang amat termashur namanya dalam dunia persilatan itu adalah seorang yang takpandai bersilat"

Heng san Gisu melompat turun dari pembaringannya, la lu sambil menjura kearah kedua orang tersebut, dia berkata:

"Lohu ucapkan banyak terima kasih atas bantuan dari kalian berdua, tentunya kalian adalah Ting tayhiap dan Wi sauhiap bukan? "

"ooo, nampaknya lotiang telah mendengar semua pembicaraan kami? " kata Ting ci kang sambil balas memberi hormat.

"Walaupunjalan darah lohu tertotok. mulut ku tak bisa berbicara dan tubuhku tak dapat berkutik, namun semua pembicaraan kalian dapat kudengar denganjelas."

"Tomng, apakah kau tahu orang itu berasal dari mana? " tanya Ting ci kang.

"Mereka mengatakan datang kemari untuk melaksanakanperintah, lohu diminta untuk pergi bersama mereka, lohu keberatan dan kebetulan Ting tayhiap tiba disini, mungkin mereka kuatir lohu bersuara maka jalan darahku ditotok^ lohu sendiripun tidak tahu asal usul mereka? "

Didengar dari pembicaraan tersebut, Ting ci kang tahu kalau orang itu enggan banyak berbicara, maka dia lantas menjura seraya berkata : "Kalau begitu, mari kita berbinoang bincang diluar saja? "

Setelah itu dia melangkah keluar lebih dulu dari dalam ruangan- Sementara mereka bertiga berbinoang-bincang, bayangan tubuh sinona bermuka jelek itu sudah lenyap tak berbekas. Sedang may at yang tergelepar diatas tanah itu sudah berubah menjadi hitampekat, Seluruh tubuhnya seperti telah digeledah orang, bahkan senjata rahasia yang menancap dibadannya juga telah diambil, yang tersisa hanya sebuah mulut luka kecil yang masih mengucurkan darah berwarna hitam. Diam-diam Ting ci kang mendengus dingin, pikirnya.

"Sungguh cepat gerakan tubuh dari budak berwajah jelek itu, entah dia berasal darimana."

Sementara itu, Heng san Gisu telah berjongkok sambil memeriksa mulut luka pada mayat tersebut, kemudian dengan perasaan terperanjat serunya:

"oooh, sungguh ganas racun yang dipoleskan diujung senjata rahasia tersebut."

Ketika Wi Tiong hong berpaling kesekitar tempat itu, tiba-tiba dia menyaksikan diatas meja telah bertambah dengan sebuah botol kecil, ketika diamati lebih seksama, dijumpainya beberapa huruf tertera diatas meja, tulisan itu berbunyi demikian: "obat pemunah dalam botol, di hadiahkan untuk kalian berdua"

Tulisannya indah dan tampaknya ditulis dengan menggunakan ilmu Kim kong ci atau sebangsanya, tulisan itu melesak sedalam tigainci dalampermukaan meja dan kelih atan nyata sekali, jelas si gadis bermuka jelek itu yang meninggalkanpesan ini.

Heng san Gisu juga telah mengambil botol porselen tersebut, sesudah memandangnya sekejap dia berkata:

"Botol ini di tinggalkan nona tersebut, apakah kalian berdua kena dipecundangi orang? "

Ting ci kang segera ingat bagaimana Heng san Gisu gadungantadi itupernah memeriksa lidah Wi Tiong hong dengant jari tangannya dan membalik kelopak matanya, diam diam ia berpikir dihati: Berpikir sampai disitu, dia pun lantas berkata: "Saudara Wi, coba mintalah tolong kepada lotiang untuk memeriksakan apakah dalam tubuhmu mengidap racun Sipjit-san? "

"Lohu belum pernah mendengar hal nama Sip jit san, apakah keracunan atau tidak. aku harus bisamengetahui setelah memeriksa denyutan nadimu" jawab Heng san Gisu.

Maka dia lantas memeriksakan denyutan nadipada pergelangan tangan kiri dan kanan dari Wi Tiong hong, kalau dilihat dari tindak tanduknya, hal mana sama sekali tak berbeda dengan apa yang dilakukan simanusia gadungan tadi, malah dia turut memejamkan mata pula sambil termenung lama sekali.

Lewat seperminum teh kemudian dia baru membuka matanya dan berbisik dengan suara lirih:

"Aneh .. . . sungguh aneh..."

Mendengar orang itu mengucap "aneh" sampai berulang kali, Wi Tonghong merasa keheranan sekali, baru saja dia hendak bertanya Mendadak Heng san Gisu menatap wajah Wi Tiong hong lekat lekat, kemudian dengan wajah terkejut bercampur keheranan katanya :

"Tadi, tanpa sengaja Wi siauhiap memang telah menelan semacam obat beracun, tapi oleh semacam tenaga yang terpancar oleh sejenis obat pena war yang kuat dalam tubuhmu, racun tersebut telah berhasil dipunahkan semua tak berbekas." Wi Tiong hong segera membuka mulutnya seperti hendak bertanya sesuatu. Tapi dengan cepat Heng san Gisu menyambung kembali kata katanya:

"Menurut hasilpemeriksaan lohu, selama dua hari inisecara berturut-turut Wi sauhiap telah keracunan dua kali, pertama sekitar dua hari berselang, melalui telapak tangan kiri melewatijalan darah Lau-Kiong-hiat dan menyusup kedalam badan, dan racun itu merupakan sejenis racun yang sangat keji dan bersifat agak lamban" "Kalau begitu, racun tersebut sudah pasti adalah racun Sipjit san tersebut" sela Ting ci kang.

"Sedangkan racun yang lain, masuk melalui telapak tangan kanan, menembusi jalan darah Sin bun-hiat dan menyelusuri lengan bergerak naik keatas..." lanjut Heng san Gisu. Mendengar sampai disitu, tak kuasa lagi Ting ci kang segera tertawa terbahak-bahak.

"Hahahaha.... kecermatan lotiang dalam melakukan pemeriksaan atas nadi sungguh membuat aku merasa kagum, semalam saudara Wi memang terkena tusukan jarum beracun keluarga Lan pada telapak tangan kanannya.”

“Jarum beracun dan keluarga Lan? "

Agaknya Heng san Gisu merasa agak terperanjat setelah mendengar nama jarum beracun dari keluarga Lan itu, tapi dengan cepat dia manggut-manggut katanya:

"Ya, kalau begitu tak salah lagi, kecuali jarum beracun dari keluarga Lan, rasanya memang tak akan bisaditemukan lagi bendayang lebih beracun lagi" Setelah berhenti sejenak, dia berkata lebih jauh:

"Dua macam racun jahat yang menyerang Wi sauhiap boleh dibilang merupakan racun yang benar-benar luar biasa dahsyatnya, cukup sejenis saja sudah dapat membunuh orang, tapi tampaknya Wi sauhiap telah menelan sebutir pil mestika yang dapat memunahkan racun keji itu."

"Aaaah... sepanjang hidup lohu mencurahkan segenap pikiranku untuk memperdalam ilmu pertabiban dan memunahkan pelbagai macam racun, sungguh tak disangka menjelang usia tuaku, aku masih sempat untuk berjumpa dengan obat pemunah yang begitu hebat kasiatnya."

"Bukan, saja seluruh racun keji yang bersarang dalam tubuh wi sauhiap berhasil dipunahkan, bahkan sari obat pemunah racun itu masih tertinggal didalam peredaran darahmu, palmg tidak masih bisa bertahan selama satujangka waktu tertentu, dalam waku-waktu itu jangan harap ada racun yang bisa menyerang tubuh mu."

“Hahahaha... Wi sauhiap. tentang racun terakhir yang kau telan tanpa sengaja, dibandingkan dengan dua ma cam racun sebelumnya, boleh dibilang jauh sekali selisihnya, entah Wi sauhiap berhasil mendapatkan ooat pemunah semujarab itu dari mana? " Ting ci kang segera berpaling kearah Wi Tiong hong dan berkata sambil tersenyum.

"Mungkin yang lotiang maksudkan adalah obat pemunah hadiah dari sinona berbaju hijau itu."

"Nona berbaju hijau? siapakah nona berbaju hijau? " Heng san Gisu segera bertanya.

Merah padam selembar wajah Wi Tiong Hong mendengar ucapan itu, buru-buru dia menjawab:

"Aku sendiripun tidak tahu siapakah dia, semalam aku terkena jarum beracun dari keluarga Lan, berkat tiga butir pil pemunah hadiah nona berbaju hijau itulah lukaku berhasil di-sembuhkan."

"Sayang, sayang..." kata Heng san Gisu dengan wajah kecewa bercampur sayang, "entah siapa kah sinona itu? "

Sementara pembicaraan berlangsung, mendadak Ting ci kang menjadi sempoyongan hampir saja dia tak mampu untuk berdiri tegak.

Buru-buru wi Tiong hong memayangnya dan berseru dengan terperanjat.

”Ting toako, kenapa? "

"Aku, merasa kepalaku agak pusing"

"Aaah, tampaknya Ting tayhiappun sudah diracuni orang tanpa kau sadari." seru Heng san Gisu dengan cepat, "aai, lohu hanya ribut berbicara terus, sudah seharusnya kuduga akan hal ini." Sambil berkata dia lantas memegang pergelangan tangan kiri Ting ci kang dan memeriksanya sebentar, lalu berkata.

"Masih untung sari racunnya baru saja bekerja, tidak terlampau serius keadaannya."

Diambilnya botol porselen dimeja dan dibuka penutupnya, kemudian setelah diendusnya sebentar dia manggut-manggut. "Tak salah lagi, memang ini obat penawarnya."

Dia mengambil sedikit obat penawar itu, lalu dihembuskan kedalam lubang hidung Ting ci kang.

Secara beruntun Ting ci kang bersin dua kali, benar juga , dia segera merasakan semangatnya menjadi segar kembali.

I Heng san Gisu segera menyerahkan botol porselen itu ke tangan Ting ci kang dan berkata sambil tertawa.

"obat penawar yang berada dalam botol ini agaknya khusus merupakan obat penawar untuk memunahkan racun yang biasanya disentilkan ke dalam mulut atau lubang hidung lewat sentilan kuku, Ting tayhiap. dalam melakukan perjalanan dalam dunia persilatan, mungkin obat penawar tersebut akan sangat bermanfaat bagimu."

Ting ci kang segera menerimanya dan di masukkan kedalam saku, kemudian sambil menjura katanya:

"Terima kasih banyak lotiang atas bantuan tuan, kami berdoa ingin mohon lebih dulu."

"KebetuIan lohu sendiripun masih ada urusan harus buru-buru diselesaikan, maaf aku tak akan mengantar kalian berdua lagi." kata Heng san Gisu cepat dengan nada minta maaf.

Setelah meninggaikan rumah kediaman Heng san Gisu, Ting ci kang dan wi Tiong hong segera berangkat menuju ke kota, tiba di kota hari sudah senja.

Buru-buru mereka kembali ke rumah penginapan, Ting ci kang yang berjalan di depan, sewaktu lewat diserambi disebelah timur, mendadak diatas salahsebuah pintu kamar dia saksikan ada sekuntum bungama war hitam terbuat dari kertas yang ditancapkan disitu, ia nampak agak tertegun, tapi kemudian sekulum senyuman segera menghiasi wajahnya.

Setelah berada dalam kamar, pelayan datang membawakan air untuk membasuh muka, lalu bertanya:

"Kek-koan berdua masih membutuhkan apa lagi? " tanya si pelayan kemudian-Selesai membersihkan muka, Ting ci-kang baru berpaling seraya menjawab: "Kami belum bersantap. tolong pesankan dua porsi mas akan dan arak untuk kami berdua." Setelah pelayan itu mengundurkan diri, Ting ci-kang baru berkata lebih jauh. "Saudara Wi, beristirahatlah dahulu di kamar, aku akan pergi sebentar saja."

Wi Tiong hong tidak tahu dia ada urusan apa. baru saja hendak bertanya Ting ci kang dengan Cepatnya telah menyelinap keluar meninggaikan tempat itu.

Menyusul kemudian pelayan datang mengantar airteh, sambil tertawa paksa dia berkata. "Tadi hamba lupa untuk memberitahukan sesuatu kepada kalian berdua," kata si pelayan

"Urusan apa? " Wi Tiong hong menyahut.

"sore tadi ada seorang tamu perempuan yang menanyakan diri Ting kek koan, hamba lantas teringat akan pesanmu pagi tadi dan tahu kalau kek koan yang satunya she Ting, maka hamba pun bertanya kepadanya, ada urusan apa dia mencari Ting kek koan, perempuan itu mengatakan tak ada apa-apa, hanya bertanya sambil lalu saja," si pelayan menjelaskan.

"Macam apakah tamu perempuan itu? Kemudian apakah ia pergi meninggaikan tempat ini? "

-oooDoWooo-