-->

Pedang Karat Pena Beraksara Jilid 06

Jilid 06

BEGITU ucapan tersebut diutarakan keluar, dia jadi malu sendiri, mengapa secara tiba tiba ia menjadi menaruh perhatian atas keselamatan jiwanya? Tanpa terasa pipinya menjadi merah padam.

Agaknya Keng hian tojin mempunyai pendapat yang sama seperti Ting ci kang, setelah termenung sebentar katanya. "Apa yang diucapkan Ting thayhiap memang benar, Wi siau sute tak boleh terlalu mengumbar napsu, segala sesuatunya harus dihadapi dengan berhati-hati, kami akan menunggumu di sini."

Sekali lagi Lakjiu im eng membelalakkan sepasang matanya sambil berseru dengan gelisah. "Hal ini mana boleh jadi, bila dia . .

." belum selesai dia berkata, suara dari Thian Sat nio kembali sudah berkumandang datang. "Sudah selesai belum perundingan kalian?"

Wi Thiong hong tidak bicara lagi, dia segera membalikkan badannya dan berjalan menuju kepintu keluar.

Ketika itu, mendadak dari sisi telinganya berkumandang suara bisikkan seseorang dengan suara yang amat lembut.

"Bukankah dalam sakumu terdapat sebuah lencana besi? cepat keluarkan Sebelum mencapai pintu gerbang nanti, letakkan diatas tangan sebelah kiri, jangan buka suara atau mengucapkan sepatah katapun"

Suara bisikkan itu sangat lembut sekali dan halus melayang masuk kedalam telinganya bagaikan bisikan, Wi Tiong hong tak dapat mengenali suara siapakah itu, sehingga tanpa terasa dia menjadi tertegun-

"Lencana besi?" Yang dimaksudkan orang itu sudah pasti lencana besi milik paman yang tak di ketahui namanya dan memerintahkan padanya untuk "menyimpan jangan sampai hilang" itu.

Dia masih ingat, kecuali pada permukaan sebelah depannya berukiran sebuah wajah setan yang serang menyeringai seram. diatas lencana besi tersebut tidak ditemukan sebuah tuIisanpun. dia sendiri tidak jelas apa kegunaan dari lencana tersebut, tapi berhubung paman tak diketahui namanya telah berpesan agar "penyimpanan baik-baik jangan sampai hilang", maka selama ini benda tersebut disimpannya dalam saku.

Entah siapa pula orang yang membisikan pesan tersebut tadi?

Dari mana dia bisa tahu kalau dalam sakunya terdapat lencana besi? Tapi kalau dilihat caranya berbicara amat serius, sudah paSti besar Sekali kegunaannya.

Sementara ia berpikir sampai kesitu, tubuhnya sudah berada didepan pintu gerbang dengan cepat dia merogoh kedalam sakunya dan mengeluarkan lencana besi itu, kemudian diletakkan pada lengan kirinya.

"Diatas lencana besi itu, hanya pada permukaan depan yang berukiran muka setan, itu berarti lukisan muka setan lah yang meletakkan didepan" demikian ia berpikir.

Dengan jari tangannya dia lantas meraba permukaan lencana yang berukir muka setan tadi kemudian menghadapkannya ke depan, setelah itu sambil mengepalkan tinjunya, berbusung dada dia keluar dari pintu.

Ketika sorot matanya diangkat kedepan, tampak diluar pintu suasana amat hening, sesosok bayangan manusia pun nampak. apalagi Thian-Sat nio?

Wi Thio- hong mengingat terus pesan dari orang yang tak dikenalnya itu, dia tahu meski dirinya tidak melihat Thian Sat nio, kemungkinan besar Thian Sat nio bersembunyi disekitar tempat itu tentu saja dia dapat menjumpai kehadirannya.

Maka dia pun berhenti dan berdiri serius, sementara tangan kirinya yang di genggam tadi, dibuka kembali.

Ternyata tindakannya itu benar benar mendatangkan hasil yang diluar dugaan-Terdengar Thian Sat nio tertawa ringan kemudian serunya.

"Bocah muda, kau memang hebat, cepat simpan kembali, sekarang kau sudah boleh kembali kedalam."

Suara tersebut berkumandang dari hadapan matanya, namun Wi Tiong hong tidak berhasil menemukan tempat persembunyian Thian Sat nio Wi Tiong hong betul merasa tercengang dan tidak habis mengerti menyaksikan semuanya itu.

Tanpa terasa dia kembali berpikir

"Sebenarnya apa yang telah terjadi? Apakah dia menyuruhku keluar hanya bermaksud untuk menyaksikan lencana besi ini?"

Dia ingat terus dengan pesan orang yang tak dikenalnya itu agar jangan bersuara, maka dia tak berani banyak bertanya meski pelbagai kecurigaan berkecamuk didalam benaknya.

Thian Sat nio menyuruhnya menyimpan kembali, tentu saja yang dimaksudkan adalah lencana besi itu, maka dia menyimpan kembali lencana tersebut, kemudian tanpa mengucapkan sepatah katapun dia membalikkan badan dan masuk kembali kedalam gedung.

sementara dia membalikkan badannya itulah, terdengar suara Thian Sat nio yang parau macam bambu pecah itu berseru kembali diiringi suara tertawa ringan-

"Memandang diatas wajah bocah she Wi itu, kita lepaskan mereka pada hari ini, anak-anak mari kita pergi"

"Sreeet, sreeet sreeet..."

Begitu mendengar perintah dari Thian Sat nio ketiga orang anak buah Thian Sat nio, didepan pelataran itu segera menggerakkan tubuh masing-masing, bagaikan tiga gulung asap mereka melejit ketengah udara dan melenyap dibalik dinding pekarangan sana.

Menyaksikan gerakan tubuh mereka itu, diam-diam Wi Tiong hong memuji tiada hentinya. "cepat nian gerakkan tubuh mereka bertiga"

Semua peristiwa berlangsung cepat dan didalam waktu singkat, semua orang yang berada didalam gedung masih belum tahu apa yang telah terjadi ketika mereka saksikan Wi Tiong-hong berjalan keluar dari pintu gerbang hati semua orang lantas berdebar keras menguatirkan keselamatannya. Kemudian secara tiba-tiba Thian Sat nio memerintahkan anak buahnya untuk mundur, kejadian ini makin diluar dugaan semua orang, siapapun tidak habis mengerti apa gerangan yang sebenarnya telah terjadi?

Pada saat inilah, sastrawan berbaju hijau yang selama ini hanya berdiri diatas undak undakan batu sambil bergendong tangan itu melayang keluar dari pintu gerbang.

Tapi berhubung perhatian semua orang sedang ditujukan pada Wi Tiong hong seorang, maka tak seorang pun yang memperhatikan gerak-gerik orang tersebut.

Selesai itu, Ting ci kang, Beng Kian ho, Keng hian, Kengjin tootiang-serta Bwe hoa kiam bersaudara juga sedang maju ke depan menyongsong kedatangan Wi Tiong hong.

Dengan demikian, Wi Tiong bong berjalan dari muka masuk ke dalan, sedang sastrawan berbaju hijau itu berjalan dari dalam menuju keluar, kedua orang itu segera berpapasan muka.

Tapi pada saat itulah, disisi telinga Wi Tiong hong kembali terdengar suara bisikan Iirih.

"Nak. selama melakukan perjalanan dalam dunia persilatan, janganlah mendekat bila bertemu dengan orang selat Tok sah sia" begitu mendengar perkataan itu, Wi Tiong- hong segera meraSakan hatinya bergetar keras, dengan cepat dia membalikkan badannya sambil berteriak keras. "Paman . . . paman-.."

Sambil berteriak. tubuhnya laksana sambaran petir segera menerjang keluar dari balik pintu.

"Paman, harap kau orang tua menghentikan langkahmu ..." teriaknya lagi.

Tapi setibanya didepan pintu, tak terlihat lagi ke mana perginya sastrawan berbaju hijau itu. Wi Tiong- hong segera berdiri kaku didepan pintu itu, sepasang matanya berkaca-kaca, tak tertahan lagi titik air mata jatuh berlinang membasahi pipinya, dia bergumam.

"ooh paman, mengapa kau orang tua tak bersedia untuk bertemu muka dengan Hong-ji ? Meugapa kau orang tua pergi dengan begitu cepat ?" Ia tak salah mendengar.

Suara terakhir sewaktu mengucapkan kata tersebut kedengaran begitu mesra, begitu hangat dan begitu dikenal

ItuIah suara dari paman yang tak diketahui namanya selama lima belas tahun selalu menganggapnya sebagai anak sendiri, ternyata dia adalah sastrawan yang berbaju hijau itu.

oleh teriakan serta isak tangis dari Wi Tiong hong yang bergema secara tiba-tiba itu, semua orang sama-sama dibuat tertegun.

Dengan cepat Ting ci-kang memburu ke depan dan dia mendekati Wi Tiong- hong kemudian tegurnya lirih.

"Saudara Wi, siapakah pamanmu?"

"Pamanku adalah sastrawan berbaju hijau tadi." kata Wi Tiong hong sambil menyeka matanya, "siaute dididik dan dipeliharanya hingga dewasa, sungguh tak kusangka dia orang tua..."

Sementara pembicaraan itu berlangsung, Beng Kian hoo, Keng hian toojin dan sekalian jago lainnya telah memburu pula keluar, maka Wi-Tiong-hong segera menutup mulut rapat-rapat.

Ting ci-kang adalah seorang jago kawakan yang sudah lama melakukan perjalanan dalam dunia persilatan, dalam hati keCilnya dia telah menduga kalau Wi Tiong hong mempunyai kesulitan yang tak dapat diutarakan maka buru ujarnya untuk melamurkan keadaan tersebut.

"Walaupun saudara datang karena mencari pamanmu, kini pamanmu telah pergi jauh, aku rasa saudara Wi juga tak perlu memburu napsu, lebih baik masuk dulu kedalam, setelah beristirahat sejenak. persoalan baru dibicarakan kembali." "Benar" sambung Beng Kian ho cepat, "silahkan saudara cilik masuk kedalam untuk minum teh lebih dulu"

Didengar dari na da pembicaraan Thian Sat- nio menjelang kepergiannya tadi, ia dapat menarik kesimpulan bila kesudahan dari pertarungan hari ini tak lain karena memandang diatas wajah Wi Tiong hong, tahu kalau pemuda itu adalah tuan penolongnya, sudah barang tentu kakek itu tak memperkenankannya pergi dengan begitu saja. Keng hian lojin menjura kepada Beng Kian hoo, kemudian ujarnya.

"Bu liang siu hud, gara gara urusan sute ku, hampir saja mendatangkan bencana besar untuk perusahaan anda, terutama sekali atas kematian dari Li Hu congpiautau serta Lo tayhiap sekalian, kesemuanya ini membuat pinto merasa tak tenang, sekarang Thian Sat nio telah pergi jauh, pinto juga mesti buru buru pulang ke gunung untuk memberi laporan, sebab itu pinto sekalian ingin mohon diri lebih dulu kepada congpiautau"

Beng Kian hoo masih ingin menahannya, tapi dia pun tahu akan gawatnya situasi, terutama atas kemunculan dari Thian-Sat nio dalam dunia persilatan Keng hian tojin memang perlu untuk melaporkan hal ini kepadanya.

-ooodwooo- Maka dia pun segera menjura seraya berkata.

"Totiang terlalu merendah,justru dalam peristiwa hari ini, aku orang She Beng sebagai tuan rumah merasa malu dan menyesal sekali, kau memang Totiang masih ada urusan, siautepun takkan menahan lebih jauh, bila pelayananku sebagai tuan rumah kurang memadahi, kuharap saudara sekalian suka memaafkannya."

"Tidak berani. ." buru- buru Keng hian lojin menyahut. Dia lantas berpiling kearah Wi Tiong hong dan berkata lebih jauh.

"Wi siaute berasal dari murid toa supek. betul belum pernah menjadi anggota Bu tong-pay secara resmi, toh hubungannya dengan Butong pay tetap ada, sebab itu dalam perjalanan siau-sute didunia persilatan mendatang, bila berkesempatan berkunjunglah keatas bukit Bu tong san"

"Terima kasih banyak atas undangan tootiang" buru buru Wi Tiong hong membalas hormat, "asal ada kesempatan aku tentu akan berkunjung keatas bukit Butong."

Kengjin lojin dan Bwe hoa kiamThio Kun kay segera berpamitan pula kepada semua orang.

Hanya Lakjiu im eng Thio Man tetap menundukkan kepalanya rendah-rendah, sementara sepasang matanya yang jeli selalu melirik secara diam kearah Wi Tiong hong.

Kalau sewaktu datang tadi, ia selalu memakinya sebagai "bajingan Cilik," tapi entah mengapa, sewaktu mau pulang halnya malah terasa berat untuk berpisah. Tentu saja Bwe hoa kiam Thio Kun kai dapat menyaksikan tingkah laku dari adiknya ini.

Wi Thiong hong selain ganteng dan gagah diapun ahli waris dari Toa supeknya, coba kalau saat ini tiada permainan pedangnya yang cepat, mungkin dua lembar nyawa mereka sudah lenyap diujung pisau terbang Thian Sat nio

Ia cukup tahu, dihari-hari biasa adiknya ini mempunyai pandangan yang kelewat tinggi, terhadap siapapun sikapnya selalu dingin dan sinis, baru kali ini dia saksikan adik perempuannya itu menunjukkan sikap maupun pandangan mata yang lemah lembut penuh rasa cinta.

Satu ingatan segera melintas dalam benaknya sambil menjura dan tertawa katanya kemudian, "Rumah kami berada di kota ciu bong tin dibawah bukit Butong san, bila Wi sute ada kesempatan silahkan mampir dirumah kami, dengan senang hati kami dua bersaudara akan menyambut kedatanganmu."

"Bila sempat, aku pasti akan berkunjung kesana "

Setelah berpamitan dengan semua orang, Keng hian tojin dengan mengajak Keng jin tojin serta bwee hoa kiam bersaudara segera berlalu dari tempat itu. Sebelum pergi meninggalkan tempat itu, Lakji im eng sempat berpaling dan ujarnya kepada Wi Tiong hong.

"Kalau kau sudah berjanji,jangan dlingkari lagi . . ."

Setelah keempat orang jago dari Bu tong pay berlalu, Ma koan tojin, Thi Lo han Kwong-Beng, si naga tua berekor botak To sam seng sekalian juga mohon diri dari Beng Kian hoo.

Sambil tertawa seram, Ma koan tojin berpaling kearah Wi Tiong hong sambil ujarnya.

"Dalam peristiwa hari ini, semuanya menjadi selamat berkat muka emas dari siau sicu, untuk itu pinto merasa banyak terima kasih sekali."

"omintohud" kata Thi Lo han Kwong Beng pula sambil menjura, "terimalah salam hormat pinceng sebagai rasa terima kasih kami"

Sedangkan si naga tua berekor botak To Sam seng segera menepuk-nepuk bahu Wi Tiong- hong sambil tertawa terbahak- bahak.

"Haaahhh . -. haaahhh . . . saudara cilik sampai jumpa lagi dilain kesempatan-" Selesai berkata mereka segera berlalu meninggalkan tempat itu.

Mendadak paras muka Ting Ci kang berubah hebat, buru- buru bisiknya dengan suara lirih, "Saudara Wi, cepat kerahkan tenaga dalammu untuk mencoba, coba diperiksa apakah ada sesuatu bagian didalam tubuhmu yang terasa tidak beres . . .?"

Wi Tiong hong menurut dan segera mengerahkan tenaga dalamnya untuk mencoba, ternyata dia tidak berhasil menemukan sesuatu gejala yang kurang beres, maka dengan keheranan segera tanyanya.

"Aku tidak meraSakan Susuatu yang beres, Ting toako, apakah kau telah menyaksikan sesuatu yang tidak beres?"

Mendengar jawaban tersebut, Ting ci kang baru menghembuskan napaS lega. "DimaSa lalu, si naga tua berekor botak adalah seorang jagoan dari perkumpulan Pay- kau yang sangat lihay dalam permaian ilmu "Ian-jiu" atau pukulan hawa dingin, biasanya dia dapat melukai orang tanpa berwujud, karena kudengar ucapannya bernada kurang baik, maka kusangka seCara diam-diam dia telah melepaskan serangan untuk mencelakai dirimu"

Dengan wajah balik tertegun Wi Tiong hong segera berkata. "Antara siaute dengan dirinya sama sekali tidak terikat dendam

sakit hati apapun, mengapa tanpa sebab dia hendak melancarkan serangan untuk melukai siaute?"

"Hati dan jalan pikiran seorang jago silat sukar diduga, kau anggap apa yang diucapkan ketiga orang itu sebelum pergi tadi, benar-benar adalah ucapan untuk menyampaikan rasa terima kasihnya kepadamu"

"Apakah mereka mengandung maksud jahat?"

Ting cing kang menghela napas panjang. "Apa yang diucapkan saudara Wi memang benar, ketiga orang gembong iblis ini telah mencatatkan dendam sakit hati mereka terhadap Thian Sat nio atas nama saudara Wi, maka bila dikemudian hari kau sampai berjumpa lagi denga mereka dalam dunia persilatan, lebih baik kau bertindak lebih hati- hati"

"Aaaah, pada hakekatnya persoalan ini sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan siaute" kata Wi Tiong hong penuh kegusaran- "hmmm, Sekalipun mereka hendak mencatatkan sakit hatinya pada hari ini atas nama siaute, aku juga tak bakal takut kepada mereka." Sambil berkata mereka masuk kembali ke ruangan dalam.

Dalam pada itu, si Tok hay ji, si bocah beracun itu sudah lenyap tak berbekas, entah dia pergi sejak kapan.

Sementara jenazah dari cuan iman Li Goan tong serta Ko thian seng Lo ciang dan Heng-pak siang kiat sekalian telah dibereskan oleh anggota perusahaan, para Tang cujupun sibuk membersihkan lantai dari noda darah.

setelah semua orang mengambil tempai duduk, dengan amat sedih Beng Kian ho berkata.

"sepanjang hidup, aku Beng Kian ho sudah banyak mengalami kejadian besar maupun pertaruhan sangit, akupun pernah berapa kali menderita kekalahan besar, tapi belum pernah menderita kalah seperti hari ini aaai . . . kali ini, aku orang she Beng benar- benar telah dipecundangi orang."

"Beng loko tak usah putus asa." kata Ting ci kang dengan cepat, "walaupun serangan yang dilancarkan oleh Thian Sat nio amat ganas dan keji, tapi kedatangan mereka toh bukan ditujukan kepada lo-koko, ai . kematian Li toako yang begitu mengenaskan benar- benar membuat siaute merasa sedih sekali". Beng Kian hoo menghela napas panjang.

"Walaupun apa yang dikatakan Ting lote benar, tapi dilihat dari kematian Siau Beng san dari perusahaan Ban liPiaukiok yang memancing kemunculan Thian Sat nio, dapat disimpulkan kalau inilah awal dari suatu pertikaian serta badai yang akan melanda dunia persilatan-"

"coba bayangkan, siapakah umat persilatan yang tidak tahu kalau tulang punggung dari Siau Bing San dengan perusahaan Ban lipiau- kloknya adalah partai Bu tong? Seperti jugaan wan Piaukiok dari engkoh tua yang mempunyai hubungan dengan Siau lim-si semua orang hampir memberi muka kepadanya."

"Tapi setelah Ban liPiaukiok menemui musibah kemudian ternyata manusia seperti Ma koan tojin dari bukit Hong San, Thi Lo han serta naga tua berekor botak sekalian pun turut bermunculan semua."

"Betul kemunculan mereka lantaran tergiur oleh benda mustika, tapi tindakan mereka itu toh sama artinya dengan tidak memberi muka kepada pihak Bu tong pay? Kalau mereka saja tak pandang sebelah mata terhadap Ban lipiau klok, apakah mereka mau memberi muka pula kepada An piautok milik engkoh tua?" Terutama sekali diantara pendatang itu terdapat pula orang- orang Tok seh sa, walaupun Thian Sat nio tidak muncul, persoalannya juga telah berkembang meluas. Dunia memang akan kaCau bia tidak diatur, kalau sudah kaCau pasti akan diatur, apakah kejadian ini pun bisa dikecualikan ?"

"Kalau kudengar dari nada pembicaraan Beng loko, tampaknya kau ada maksud untuk mengundurkan diri dari dunia persilatan?" tanya Ting cing kang kemudian-

"KekaCauan sudah mulai menyelimuti dunia persilatan, bila aku tidak segera mengundurkan diri, Ban li Piaukiok merupakan contoh yang paling nyata bagiku." Ting cin kang segera manggut manggut.

"Yaa, siaute pun merasa dengan munculnya Tok seh sia dan Thian sat- bun dalam dunia persilatan, hal ini menunjukkan kalau dunia persilatan bakal dilanda oleh kekacauan dan kekalutan, apa yang engkoh tua katakan memang benar, tapi entah bagaimanakah rencana dari engkoh tua?"

"Setelah menutup pintu perusahaan, aku ingin berkunjung kebukit siong-san, siapa tahu kalau pihak kuil masih belum tahu akan peristiwa yang telah terjadi sekarang itu, terutama atas kematian Li sute yang mengenaskan, aku mesti laporkan sendiri jalannya peristiwa ini kepada ciangbunjin."

Berbicara sampai disini, dia lantas mendongakkan kepalanya sambil tanyanya.

"Ting lote, bagaimana dengan dirimu? Menurut penglihatanku, peristiwa misterius yang mencekam perusahaan Ban li Piaukiok bukan saja takkan menjadi reda, bahkan akan berkembang lebih jauh, selama melakukan didalam dunia persilatan, kau harus bersikap lebih berhati-hati."

Ting ci kang segera tertawa getir, "Siaute ucapkan banyak terima kasih atas kesediaan engkoh tua untuk bertindak sebagai saksi didalam peristiwa ku ini sehingga semua kecurigaan dan tuduhan atas diriku bisa terselesaikan, walaupun pihak Bu tong pay sudah bisa memahami keadaanku, tetapi dalam anggapan siaute masalah belum selesai, tugas siaute tetap ada, lagi pula siaute telah menyetujui permintaan pihak Bu tong pay untuk membongkar kasus ini hingga tuntas, maka sebelum kedudukan perkara terbongkar, siaute takkan berdiam diri belaka."

Beng Kian ho menatap sekejap ke arahnya, kemudian baru ujarnya lagi.

"Kegagahan lote sangat mengagumkan, ucapanmu berat bagaikan bukit karang, tentu saja engkoh tua mengetahui akan hal ini, cuma..."

Berbicara sampai disitu, dia berhenti sebentar, kemudian baru melanjutkan lebih jauh.

"cuma saja persoalan ini mempunyai akibat sampingan yang sangat luas, aku kuatir dibalik dibegalnya barang kawalan Ban li Piaukiok masih tersembunyi sebuah rahasia lain. Bila lote dapat membongkar rahasia ini, tentu saja lebih baik, kalau tidak . . . aku harap kaupun sedikit tahu batas- batas diri."

"Nasehat dari engkoh tua, pasti akan siaute ingat terus didalam hati..."

"Lote, apa rencanamu selanjutnya tantang persoalan ini?"

Ting ci kang termenung dan berpikir sebentar kemudian sahutnya.

"Siau Beng sau dan rombongannya terluka oleh semaCam senjata pena, sedang ditempat kejadian ditemukan pena baja milik siaute, sudah jelas peristiwa ini bukan suatu kebetulan, sebab itu siaute ingin berangkat ke sikjin tan besok untuk melakukan pemeriksaan sekali lagi, siapa tahu aku bisa menemukan sesuatu pertanda yang bisaku pakai untuk membongkar rahasia ini ?"

Beng Kiam hoo segera manggut- manggut, dia seperti hendak mengucapkan sesuatu, tapi kemudian niat tersebut dibatalkan.

Sementara itu, Ting ci kang sudah berpaling ke arah Wi Tiong hong sambil bertanya. "Saudara Wi, kau hendak pergi ke mana?" "Siaute tidak mempunyai suatu tujuan tertentu, bila Ting toako hendak pergi ke Sek jin tiao siaute bersedia untuk mengiringi kepergianmu itu, agar ditengah jalanpun ada temam berbicara, entah bagaimana pendapat Ting toako?" Ting ci kang menjadi gembira sekali.

"Bila saudara Wi bersedia ikut kesana, sudah barang tentu tawaranmu itu akan kusambut dengan senang hati"

Dalam pada itu, orang dalam perusahaan telah mempersiapkan hidangan malam, tapi berhubung Beng Kian ho dan Ting ci kang mempunyai persoalan dalam hati, mereka hanya bersantap tanpa banyak berbicara, kemudian oleh Ting ci kang, Wi Tiong hong dihantar menuju ke kamar tamu untuk beristirahat.

semalam tiada kejadian apa apa, keesokan harinya Ting Ci kang dan Wi Tiong hong pun berpamitan kepada Beng Kian ho untuk melanjutkan perjalanannya.

Waktu itu fajar baru saja menyingsing, sang surya telah memancarkan sinarnya dilangit sebelah timur.

Banyak orang yang berdatangan dari luar kota untuk berjualan dipasar, tapi banyak pula yang keluar kota untuk melakukan perjalanan, pintu kota yang sempit menjadi penuh sesak dengan manusia yang berlalu lalang.

Tampaknya kesempatan semacam ini tak pernah disia-siakan oleh kaum pengemis untuk mencari sedekahnya, tampak banyak gembel yang meminta uang sedekah dari mereka yang lewat.

Ting Ci kang dan Wi Tiong hong berdua keluar pintu utara, suatu ketika tiba anak muda itu merasa tubuhnya segera didesak oleh seseorang, ketika dia berpaling, lamat-lamat dapat dilihat bahwa orang itu adalah seorang pengemis kecil yang kurus kering, saat itu dia pun tak menaruh perhatian yang khusus.

Sik jin tian terletak di ujung pegunungan Huay jlok san, jaraknya dengan kota Sang siu hanya puluhan lie, dengan kecepatan lari kedua orang itu, tak satujam mereka telah sampai di tempat tujuan. Yang dimaksudkan Sikjin tian tak lebih cuma sebuah kuil kecil tanpa penghuni dibawah kaki bukit, kalau dibilang kuil, sesungguhnya sedikitpun tidak mirip kuil.

Diatas ruangan tengah berdiri sepasang patung manusia, tak tampak api hio, tidak nampak pula pengunjung atau penjaga, sehingga sepintas lalu tempat itu mirip gardu yang dipakai orang untuk tempat beristirahat daripada sebuah rumah beribadah.

Ting Ci kang sengaja berkunjung kesana karena disekitar tempat itulah Siau Beng san serta anggota perusahaan Ban liPiaukioknya menemui musibah, dia berharap dari sekeliling tempat kejadian itu bisa ditemukan sesuatu petunjuk.

Begitu sampai ditempat tujuan, mereka mulai lakukan pemeriksaan yang seksama, bahkan setiap rumput setiap jengkal tanah diperiksa semua dengan seksama.

Sayang jaraknya dengan saat kejadian sudah cukup banyak selisihnya, hingga sekalipun waktu peristiwa meninggalkan bekas, setelah melewati sekian banyak waktu akhirnya punah juga .

Setengah harian mereka berdua melakukan pemeriksaan dengan seksama, akan tetapi tiada sesuatu yang mereka temukan, namun Ting Ci kang tak mau menyerah dengan begitu saja, dengan kuil Sikjin tian sebagai pusat, mereka mulai melakukan pencarian ke empat penjuru sekeliling tempat itu. . .

Satujam sudah iewat, namun mereka belum juga menemukan sesuatu yang sangat mencurigakan mereka berdua.

Sambil merangkak keluar dari balik semak belukar dan meluruskan pinggangnya pegal, Ting Ci kang menghembuskan napas panjang katanya sambil menghela napas.

"Tampaknya orang yang melakukan pembegalan barang kawalan itu betul-betul mempunyai rencana yangamat masak ....

Belum habis dia berkata mendadak ia berseru tertahan, kemudian dengan cepat membungkukkan badannya. Semak belukar yang tumbuh ditempat itu sebenarnya amat lebat, tumbuhan ilalang tingginya mencapai sebatas pinggang, maka begitu dia jongkok, seketika itu juga badannya lenyap tak berbekas.

Wi Tiong hong bermata tajam bertelinga tajam, mendengar seruan tertahan itu, dengan cepat dia memburu kedepan, lalu tegurnya.

"Ting toako, apa yang telah kau temukan-" Dimana sorot matanya dialihkan tampak olehnya Ting Ci kang dengan sepasang matanya yang tajam bagalkan sembilu sedang mengawasi balik semak belukar tanpa mengucapkan sesuatu apa pun, kenyataan ini membuat hatinya menjadi amat keheranan.

Tiba-tiba Ting Ci kang mengambil sedikit hancuran rumput bercampur tanah dan didekatkan ke hidungnya, setelah mengendus sejenak. akhirnya dia bergumam. "Tembakau Aaah, orang ini menghisap tembakau "

Wi Tiong hong ikut mengawasi benda tersebut, betul juga , diantara semak belukar dia temukan ada bekas yang terbakar, tak tahan segera ujarnya.

"Banyak sekali orang menghisap tembakau, apa anehnya dengan kejadian ini?"

"orang yang menghisap tembakau memang tak sedikit jumlahnya." sahut Ting Ci kang sambil mendongakkan kepalanya. "Cuma tempat ini bukan tapi jalan raya, disini pun bukan jalan penting yang dilewati setiap orang, apalagi semak belukar ditempat itu tubuh amat dan setinggi pinggang, mengapa orang itu mesti menghisap tembakau sambil bersembunyi dibalik semak belukar? Ditinjau dari hal ini bisa disimpulkan kalau peristiwa ini sangat mencurigakan. "

"Betul, biasanya orang yang menghisap tembakau adalah orang orang yang telah lanjut usia." Wi Tiong hong menambahkan. Ting Ci kang manggut-, sambil beranjak katanya. "Sekalipun kita tahu kalau orang itu penghisap tembakau, usianya diantara lima puluh tahunan, namun tanda tersebut masih terlalu minim, mau mencari orang itu dalam masyarakat ibaratnya mencari jarum di dasar lautan - - -" Setelah mengamati sebentar posisi matahari di langit, sambungnya lebih jauh.

"Kini waktu sudah mendekati tengah hari, mungkin saudara Wi juga sudah lapar, disekitar tempat ini hanya terdapat sebuah rumah petani dekat kaki bukit sana mari kita suruh mereka buatkan nasi untuk kita, setelah melepaskan lelah kita baru berbicara lagi." 

Seusia berkata, dia lantas mengajak Wi Tiong hong berjalan keluar dari hutan rendah itu menuju ke sebelah kanan kiri bukit.

Setelah berjalan kurang lebih beberapa li, betul juga , didepan sebuah hutan bambu, diatas gundukan tanah berdiri sebuah rumah gubuk, disekeliling rumah gubuk itu penuh ditanami sayur.

Baru saja mereka berdua mendekat, dari dalam rumah gubuk itu telah berjalan keluar seorang nenek berambut putih.

Ting Ci kang segera maju selangkah kemuka kemudian sambil menjura katanya. "Permisi nenek"

Nenek berambut putih itu manggut- manggut.

"silahkan duduk kek koan-" katanya sambil mempersilahkan-

Sambil maju selangkah ke depan, dengan suara keras dan satu persatu Ting Ci-kang berkata.

"Kami datang mengganggumu lagi, harap nenek bersedia membuatkan hidangan untuk kami."

-ooodwooo-

Bagian ke dua belas Tampaknya nenek berambut putih itu sudah …. tuli, buktinya dia mesti miringkan kepa la dan mendengarkan setengah harian dengan seksama sebelum akhirnya dia manggut.

“Cuma diatas gunung tiada hidangan yang lezat, harap Kek koan menjadi maklum adanya.”

“Terima kasih nenek!”

Dengan mengikuti dibelakag nenek berambut putih itu, mereka berdua berjalan masuk ke dalam rumah gubuk.

Dalam ruangan, tengah, di atas pembaringan bambu tampak seorang kakek berambut putih sedang berbaring, sebuah selimut kumal menutupi badannya, dia seperti lagi mengidap penyakit yang parah.

Nenek berambut putih itu segera mempersilahkaa kedua orang tamunya untuk duduk disamping sebuah meja, setelah mengambil dua mangkuk air teh, ujarnya dengan rasa rikuh.

"Kek koan sudah melakukan perjalanan jauh sudah pasti kalian sangat haus, sayang di tempat terpencil seperti ini tak ada daun teh, silahkan minum semangkuk air putih saja"

Sambil bangkit berdiri Ting Ci kang menerima pemberian tersebut.

"Terima kasih banyak nenek, berapa hari berselang orang tua ini masih segar bugar, apa sekarang lagi meaderita sakit? "

Sambil membungkukkan badannya, nenek meninju beberapa kali punggungnya, kemudian menyahut.

"Aaah, tidak apa apa, kalau sudah tua memang banyak penyakitnya, aaai ..."

… … pernah mengidap sesuatu penyakit …. berubah, penyakit pun turut kambuh.

…. ia berbatuk batuk semalaman suntuk, …. sekarang baru dapat menjadi tenang …. mungkin ia sudah tertidur nyenyak." Wi Tiong hong mengangkat cawannya dan minum melegukan, kemudian baru ujarnya.

“Ting toako, kau kenal dengan mereka?

Tampaknya Ting Ci kang merasa haus sekali dalam waktu singkat dia telah minum semangkuk sampai habis, setelah meletakkannya kembali, ia baru berkata.

“tiga hari berselang, aku pernah berkunjung kemari untuk menyelidiki sebab kematian dari sahabat dari perkumpulan kami, waktu i…. tengah hari seperti saat ini, disektiar tempat ini tidak kujumpai rumah penduduk lain, maka kamipun bersantap siang disini, sikap maupun ….an kedua orang tua baik sekali.”

Nenek berambut putih itu tuli, ia tak mendengar apa yang dibicarakan kedua orang itu, maka sambil memandang kedua orang itu, dengan senyuman dikulum, ujarnya agak tergetar, "Kek koan berdua, silahkan duduk se bentar aku si nenek akan segera menyiapkan hidangan.”

Selesai berkata dia lantas berjalan menuju dapur.

Ting Ci kang beranjak dan mengambil sebuah poci dari meja, kemudian setelah menuang semangkuk air, kembali ia minum dengan lahap.

Mendadak sorot matanya dialihkan kepembaringan, di atas dinding dekat pembaringan tergantung sebuah hucwe yang telah berwarna hitam, pada ujung hucwe tergantung sebuah bungkusan yang berisi tembakau.

Tak usah diperiksapun Ting Ci kang bisa duga kalau isi bungkusan itu adalah tembakau tentunya dihari hari biasa kakek itu terbiasa mengisap hucwee.

Maka tanpa terata gumamnya dihati. "Tembakau?" …. berpikir sampai disitu, dia sama sekali tidak mempunyai ingatan untuk menaruh …. curiga, sebab kedua orang tua itu tidak lebih cuma rakyat biasa.

“….”

Hingga pada saat itulah mendadak Wi Tiong hong menjerit kaget.

Dengan cepat Ting Ci kang berpaling, dia menemukan Wi Tiong hong sedang memegang secarik kertas, waktu itu kertas tadi sudah di… lipatannya dan sedang diamati dengan seksama.

…. tak tahu apa isi surat itu, tapi jelas ….kalnu kertas itu berisi beberapa huruf. Wi Tiong hong sesudah memandang sekejap kertas itu, segera mendongakkan kepalanya berseru.

“Ting toako, cepat kau lihat !”

Ting Ci kang menerima kertas itu dan membaca isinya. “Ingin melakukan perjalanan bersama orang she Ting "

Gaya tulisannya indah, jelas tulisan dari seorang gadis muda. Dengan perasaan keheranan dia segera bertanya.

"Saudara Wi, darimana kau dapatkan kertas tersebut didalam sakuku!"

"Jadi kau tak tahu sedari kapan orang itu masukkan kertas tersebut kedalam sakumu.”

"Keanehannya justru terletak di sini, orang dapat masukkan gulungan kertas ke dalam saku siaute, namun siaute sama sekali tidak mengetauinya."

"Mungkinkah semalam…”

Belum habis dia barkata, wi Tiong hong telah menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Tidak mungkin, hal ini tak mungkin terjadi, pagi tadi siaute telah memeriksa sakuku, namun tidak kujumpai gulungan kertas ini" Sekali lagi Ting Ci kang memperhatikan tulisan diatas kertas itu dengan seksama, kemudian ujarnya.

“Gaya tulisan orang ini sangat indah dan halus agaknya ditulis oleh seorang gadis, lagi …. dilihat dari gaya tulisannya, tak mungkin pembuatnya sudah tua. saudara Wi, apakah kau kenal dengan seorang gadis muda? "

Cepat muka Wi Tiong hong segera berubah merah padam, dengan cepat dia menggelengkan kepalanya berulang kali.

“Tidak, aku tidak kenal gadis muda, siaute baru terjun kedalam dunia persilatan orang persilatan yang kukenal adalah Ting toako, sedang Lak jiu im eng nonaThio dari Bu tong pay baru kujumpai kemarin boleh dibilang merupakan gadis pertama yang siaute kenal, lainnya tidak ada ..."

Sewaktu membicarakan soal Lak jiu im eng, tanpa terasa dia membayangkan kembali sikap angkuh dan tinggi hati dari gadis tersebut, walaupun kemudian dengan wajah memerah dan senyuman dikulum ia mengundangnya untuk berkunjung kekota Cing hong tin, baginya, boleh dibilang dia tidak menaruh kesan baik terhadap gadis itu.

Ting Ci king tahu kalau jawaban dari Wi Tiong hong itu merupakan jawaban yang sejujurnya, tapi jelas kalau tulisan itu ditulis seorang perempuan, mana mungkin …

Mendadak ia teringat kembali dengan perempuan penyanyi dari perguruan Thian sat …. yang pernah dua kali menganjurkan kepada Wi Tiong hong agar pergi dari situ daripada mati secara konyol, mungkin perbuatan dari gadis itu.

Walaupun Wi Tiong hong baru terjun dalam dunia persilatan, namun asal usul ….ti mempunyai banyak rahasia besar, bahkan sampai manusia macam Thian sat nio pun menaruh sikap yang luar biasa dan lain dari yang lain terhadap dirinya… Dari surat peringatan itu, tanpa terasa dia memikirkan soal asal usul Wi Tiong hong, ke....an membayangkan pula tingkah laku dari Thian sat nio tempo hari, untuk sesaat lamanya menjadi termenung tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Sementara dia masih termenung, tampak nenek berambut putih itu sudah muncul kembali sambil menghidangkan sayur dan nasi, katanya sambil tertawa setelah hidangan itu diletakkan diatas meja, “Kek koan berdua, diatas gunung cuma ada sayur mayor belaka, bila hidangannya kurang berkenan didalam hati, harap kalian berdua jangan marah, silahkan bersantap!"

Ting Ci Kang memperhatikan hidangan yang …. Di meja dalam sekilas lintas, tampak …. kecuali rebung, sayur mayur, masih …. sepiring ikan asin dan sepiring da….

Berbicara buat orang guaung, hidangan semacam itu boleh dibilang sudah cukup mewah.

Buru ujarnya sambil barterima kasih,

“Waah, nenek kelewat sungkan, beginipun sudah baik sekali."

Diatas wajah si nenek yang penuh keriput segera dihiasi dengan senymuan lebar, kembali dia berkata.

"Kini tengah hari lewat, silahkan kalian berdua cepat bersantap, akan kumasakkan lagi air bening buat kalian."

Dia lantas membalikkan badan dan berjalan masuk kedalam.

Waktu itu Ting Ci kang dan Wi Tiong hong sudah merasa lapar sekali, setelah mengucap terima kasih, merekapun tanpa sungkan segera bersantap dengan lahap.

Dalam waktu singkat Ting Ci kang menghabiskan dua mangkok nasi, sekarang sedang mempersiapkan nasi yang ketiga.

Mendadak Wi Tiong hong menghentikan sumpitnya sambil berkata. "Ting toako, beberapa malam berselang waktu siaute masih menginap di rumah penginapan, telah kutemukan pula secarik kertas.

"Ooh. apakah tulisan perempuan juga?” tanya Ting Ci kang sambil menatapnya lekat lekat. Wi Tiong hong segera mengangguk.

Ting Ci kang segera bertanya lebih jauh. "Apa yang ditulis dalam surat itu? "

"Setelah fajar keluar kota, jangan menunda nunda"

“Setelah fajar keluar kota. jangan menunda nunda …” gumam Ting Ci kang, mendadak mendongakkan kepalanya sambil bertanya, “Apakah kau tahu siapa yang mengirim surat itu?"

“Tidak.” keesokan harinya, ketika siaute bangun …. surat tersebut baru kutemukan"

Diapun lantas menceritakan bagaimana malam sebelumnya ada orang mengintipnya dari luar kamar, kemudian pada keesokan harinya diatas meja ditemukan surat peringatan.

Ketika selesai mendengar peringatan tersebut Ting Ci kang segera merasa kalau dugaannya mungkin tak salah lagi, maka setelah termenung beberapa saat lamanya, mendadak dia berkata. "Saudara Wi, ketika hari ini kita akan keluar kota tadi, adakah seorang yang lewat dari sampingmu dan sengaja menumbuk badanmu?”

Wi Tiong hong berpikir sebentar, lalu sahut nya

“Aaah, betul, sekarang Siaute sudah ingat, yaa, betul ketika ia berada didepan pintu kota memang ada orang ….sak badanku.”

"Apakah kau melihat jelas manusia macam apakah itu?” tanya Ting Ci kang sambil ….

"Sewaktu siaute berpaling, orang itu sudah pergi jauh, aku hanya sempat menangkap bayangan punggungnya, dia seperti seorang pengemis cilik yang dekil sekali pakaiannya. "Pengemis cilik ?” seru Ting Ci kang terperanjat, "Apakah dia seorang perempuan?”

Wi Tiong hong segara menggelengkan kepala nya berulang kali. "Tentang soal ini, siuate kurang begitu jelas”

"Kemungkinan besar adalah perempuan, sebab perawakan badan perempuan biasanya kecil kurus, kalau dipandang dari belakang….”

Belum selesai dia berkata, mendadak matanya yang tebal berkernyit, kemudian… "Blaamm!" dia memukul meja keras keras sambil melompat bangun, serunya dengan gusar.

"Ada yang tak beres….”

….. …. Dia berkata, tahu tahu badannya …. dan roboh terkapar keatas tanah.

Wi Tiong hong menjadi terkejut sekali buru ….nya “Ting toako, mengapa kau ?”

Terhampar ditanah, Ting Ci kang masih sempat mendesis dengan suara rendah dan berat. “Dalam sayur….”

“Dalam sayur kenapa…” buru baruWi Tiong hong Tanya dengan sangat gugup.

“Bagaimana dengan sayur itu?” Wi Tiong hong …. Tak sempat menyelesaikan kata nya. Karena seperti juga Ting Ci kang, dia turut ter …. keatas tanah dalam keadaan lemas.

Suasana didalam rumah gubuk itu menjadi hening, sepi dan tak kedengaran sedikit suarapun. Dua orang yang tergelepar diatas tanah itu jatuh tak sadarkan diri.

Si nenek berambut putih yang berwajah penuh keriput itu sudah berubah menjadi pucat karena ketakutan, dengan tubuh membungkuk berjalan keluar dari rumah gubuk menggoyang goyangkan tangannya kearah sebelah kiri hutan. Dari balik hutan segera berkumandang suara gelak tertawa yang amat keras, menyusul kemudian tampak tiga sosok bayangan manusia …. yang masuk kedalam rumah gubuk itu ...

Ternyata mereka adalah seorang tosu tua seorang hwesio gemuk dan seorang kakek bermuka merah yang berkepala botak.

Mereka tak lain adalah Ma koan tojin, Ma lo han Kwong Beng hwesio serta sinaga tua berekor botak To Sam seng yang secara diam diam menguntit perjalanan Ting Ci kang serta Wi Tiong hong.

Tampaknya nenek berambut putih itu belum pernah manyaksikan ada orang bisa terbang ke angkasa, dia nampak gugup, takut dan cemas secara beruntun badannya mundur terus kebelakang.

Setelah mencapai pemukaan tanah, sinaga tua berekor botak segera mengulapkan tangannya ….. dengan suara dalam.

“Nenek tua, kau tak usah takut, cepat masuk hidangkan sayur dan arak, asal kau menurut …. akan membebaskan jalan darah dari para tamu mu itu dan tak akan melukainya walau hanya seujung rambutpun …”

Dengan ketakutan nenek berambut putih itu mengangguk berulang kali, dia lantas berjalan masuk kedalam.

“Omitohud …!” kata Thio lo han Kwong Beng hwesio kemudian, "tindakan yang dilakukan lo loko kali ini betul betul sangat jitu dan tepat sekali!"

Naga tua berekor botak segera tertawa bangga.

“Taysu kelewat memuji, beberapa li disekitar Kek jin tian cuna tinggal sepesang suami istri tua itu, tiga hari berselang Ting Ci kang beristirahat disini, tentu saja hari ini pun ia akan datang kemari pula.

"Cuma sepasang suami isteri ini … memperoleh kebaikan dari Ting Ci kang pada masa lalu, maka bila siaute tidak menotok jalan darah dari tua bangka itu, sudah pasti nenek itupun enggan mencampurkan racun kedalam sayur.” Sembari berbincang bincang mereka berdua maju kedepan memasuki ruangan gubuk.

Dilihatnya Ting Ci kang dao Wi Tiong hong masih tergelepar diatas tanah dalam keadaan tidak sadar, tubuhnya sama sekeli tak bergerak.

Tak tahan Thi ho han Kwong Beng hwesio berseru.

"Sejak kecil Ting Ci kang sudah mengikuti si rase tua dari Thi Pit pang yang bernama … Pek li, segala macam permainan busuk dunia persilatan boleh dibilang sudah diketahui olehnya, masa begitu gampang dia kena dipecundangi? "

Naga tua berekor botak To Sam seng segera tertawa.

"Obat pemabuk yang dicampurkan dalam sayur adalah obat Ji ko mi (masuk … mabuk), sejenis obat pemabuk yang buat

dengan resep rahasia, se…. berwarna dan juga tak berbau, kendati

….. memang memiliki kelihayan dan pengaruh yang luar biasa, jangan harap ia bisa me…. segala dari racunku ini, menanti dia …… gelagat tak beres, biasanya obat itu sudah mulai bekerja."

Setelah berkata dia lantas berjongkok dan …. menggeledah isi saku Ting Ci kang.

Thio lo han Kwong Beas hweesio tak mau ketinggalan, dia turut melakukan penggeledahan saku Wi Tiong hong.

Hanya Ma koan tojin seorang teiap berpeluk …. Belaka sambi mengawasi kedua orang ia dengan senyum tak tak senyum, seakan akan kedua orang rekannya yang menggeledah saku Ting Ci kang serta Wi Tiang hong sama sekali tak menarik perhatiannya.

Padahal dibalik telapak tangannya yang saling ….. itu telah dipersiapkan tenaga pukulan ….. kut ciang sebesar sepuluh bagian, asal salah seorang diantara mereka berhasil menemukan pusaka, maka secepat kilat pula dia melancarkan serangan.

Dalam saku Ting Ci keng, si naga tua berekor botak To Sam seng hanya   berhasil   menemukan   sebatang   pena   emas,   sambil menghembuskan napas ia lantas bangkit berdiri, kemudian dengan wajah ragu gumannya,

"Heran, barang itu tidak berada disakunya.”

Dari ucapan tersebut bisa ditarik maknanya bahwa dia seperti tidak percaya dengan kenyataan tersebut.

Dari saku Wi Tiong hong, Thio Lo han Kwong Beng hwesio pun cuma berhasil mendpapatkan sepasang pena besi, sambil bangkit berdiri tanya pula.

"Dalam saku bocah inipun tidak berhasil temukan apa apa"

Diam diam Ma koan tojin segera Meneg…kan kembali sepasang tangannya, dia tertawa seram, katanya.

"Sudah sejak tadi pinto berpendapat demikian, mustahil barang itu bisa berada didalam sakunya."

“bagaimana suheng bisa berpendapat demikian?” Tanya si Naga berekor botak dengan wajah….

Ma Koan tojin tertawa hambar.

“……. Ting Ci kang telah berhasil mendapatkan barang itu, dia tak akan melakukan pencarian yang teliti lagi didalam rerumputan"

Mendengar perkataan itu, diam si Naga tua berekor botak menyumpah didalam hati. “Tua bangka celaka, hidung kerbau sialan, kau adalah seorang yang licik!”

Sementara itu diluaran katanya dengan nada kalem. “Kalau begitu, usaha siaute selama ini hanya …. belaka? "

“…. mah tidak, benda mestikah itu ada sangkut pautnya dengan perkumpulan Thi pit pang, apalagi disaat Siau Beng san beserta kedelapan belas pengikutnya dari perusahaan Ban li piauwkiok terbunuh, Thi jiau tong long (Belakang …. baja) Lu Yau cun seorang dari ke  pelindung hukum perkumpulan Thi Pit pang yang ditemukan tewas disana. "Bahkan ditinjau dari bekas lukanya mereka semua tewas diujung senjata pena baja, …. menandakan kalau peristiwa berdarah itu merupakan hasil perbuatan dari Thi pit pang. "Bukankah toheng mengatakan kalau Ting Ci kang belum berhasil menemukannya?” Tanya pula si naga tua berekor botak.

Ma koan tojin segera tertawa seram.

"Betul, mungkin saja ketika ia selesai melakukan pembunuhan para saksi, dijumpai kalau benda yang berhasil didapatkannya ternyata palsu "

"Darimana toheng bisa tahu?" naga tua berekor botak makin kaget dan keheranan.

Ma koan tojin segera tertawa seram.

"Heeeehhh…heeeehhhh... heeeebh pinto hanya berbicara menurut keadaan disamping memberikan pula dugaan dugaan, siapa tahu orang orang Thi Pit pang setelah membunuh Siau Beng san, tiba tiba terjadi pergolakan di dalam sehinga terjadi pembunuhan yang berakibat kematian dari Yau cun?

“…. mungkin saja benda mustika yang …. disembunyikan Lu Yau cun. sedang Lu Yau cun tak pernah meningalkan sekitar tempat kejadian, hal ini dapat di buktikan dengan ke …. Ting Ci kang yang berulang kali ketempat kejadian siapa tahu mustika yang disembunyikan …. berhasil ditemukan kembali?"

“Pendapat toheng memang dapat diterima dengan akal sehat, cuma dari mana pula dia bisa mengetahui kalau benda yang diperolehnya itu adalah barang palsu?”

Ma tojin tertawa seram.

“Heeeh ... heeeh ... heeeh ... mung… … belum tahu, barang itu semuanya berjumlah tiga buah, dua palsu dan satu asli, tapisemuanya justru mirip sekali satu sama lain…”

Ketika berbicara sampai disini, tiba tiba dia mwmbungkam. “Suheng, tahukah kau apa kegunaan dari benda …, sehingga begitu banyak umat persilatan mengincarnya ?” Thi Lo han bertanya.

Ma koan tojin mendehem pelan, kemudian menjawab. "Soal itu mah pinto kurang begitu memahami.”

"Menurut berita yang tersiar didalam dunia persilatan" kata si Naga tua berekor botak pula, "barang siapa yang mendapatkan ….. maka dia tiada tandingannya dikolong langit, asal kita berhasil menemukannya, …. …kut tak bisa menyelidiki daya kegunnya. “

Sementara pembicaraan sedang berlangsung si nenek berambut putih itu sudah muncul kembali sambil mempersiapkan sayur dan arak buat ke tiga orang itu.

Tentu saja sayur yang bisa dipersiapkan cuma sayur mayur, dadar telur serta ikan asin hanya kali ini nampak pula sepoci arak.

Diatas wajah si nenek tua berambut putih dan kering berkeriput nampak diliputi perasaan takut dan tak tenang, dengan suara agak gagap dia berkata.

"Harap dimaafkan tuan bertiga, kami ... kami orang miskin dan tinggal digunung, kami… kami tak bisa menyediakan hidangan yang lezat lezat untuk kalian, sedang   … sedang arak dalam poci itupun dibeli oleh …. beberapa hari berselang di kota, silahkan …. kalian bertiga untuk mendaharnya. Lalu si Naga tua berekor botak mengeluarkan sekeping uang perak dan diletakkan ke…. lalu katanya,

“Kami telah merepotkan kau, nah terimahlah uang perak ini.”

Melihat ada uang, sorot mata si nenek berambut putih itu nampak terkesima, lalu memantap dengan perasaan ingin, meski be… dia tak berani menerimanya, malah sambil menggoyangkan tangannya dia berkata sambil tertawa. “Ah, cuma hidangan sederhana saja.. aku nenek tak berani menerima uang loya, aku… aku hanya memohon kemurahan hati loya, untuk melepaskan suamiku…”

“Terima dulu uang ini, bila kami akan pergi nanti pasti akan kubebaskan suamimu itu"

Legalah mendengar kalau suaminya akan dibebaskan, si nenek berambut putih itu segera menerima uang perak tersebut, setelah melirik sekejap ke arah Ting Ci kang dan Wi Tiong hong berdua yang tergeletak di tanah, dengan perasaan terima kasih yang besar ia mengundurkan diri dari situ.

Si Naga tua berekor botak segera turun tangan untuk memenuhi cawan Ma koan tojin dan Thio Lo han dengan arak, kemudian diapun memenuhi cawan sendiri dengan arak, setelah itu katanya sambil tertawa.

"Toheng, taysu, silahkan sehabis ber…. kenyang nanti, kita harus mulai mencari …. jejak tentang benda mustika tersebut.”

Selesai berkata dia lantas mengangkat cawan araknya dan minum dengan tegukan besar.

Paras muk Ma koan to jin masih tetap dingin menyeramkan, ia tidak turut minum tubuhnya masih tetap duduk di tempat semula tanpa bergerak barang sedikitpun juga .

Thi Lo han paling supel orangnya, apalagi waktu itu perutnya jugi sedang lapar, tapi melihat Ma koan tojin belum juga menggerakkan sumpitnya, dia jadi sangsi dan tidak berani menggerakkan sumpitnya pula .

Sudah barang tentu si Naga tua berekor botak …. yang dapat menyaksikan kejadian itu, … … dia tertawa terbahak bahak.

“Haahh..haahh..haahh apakah kalian masih sangsi dengan sayur dan arak ini? Apa kalian takut aku telah mencampurkan pula racun Ji ko mi kedalam sayur dan arak ini?" Ma Koan tojin tertawa seram. “Heehh.. heeeh.. heeeh..   Lo Bun si cuma ….. sedang kita bertiga, apakah tidak ….. sedikit bila benda itu dibagi tiga???"

“Betul, betul" seru Thio Lo han sambil mengangguk tiada hentinya "bila ingin selamat dalam dunia persilatan, kita memang sudah sepantasnya untuk selalu waspada dan menjaga segala kemungkinan yang tidak diinginkan"

Si Naga tua berekor botak To Sam seng tertegun sejenak, kemudian katanya dengan perasaan ngeri.

“Suheng, taysu, apabila kalian menaruh perasaan curiga kepada diriku, bagaimana mungkin siaute bisa menjelaskannya? Baklah, aku akan membuktikan kepada kalian kalau dalam sayur sayur ini tak ada racunnya"

Selesai berkata dia lantas menggerakkan sumpitnya dan mengambil setiap sayur itu … lalu dimasukkan kedalam mulutnya.

Selesai mencicipi sayur sayur tersebut, ia lalu mendongakkan kepalanya sambil berseru,

"Sekarang, apakah kalian sudah percaya ?”

Ma koan tojin mangut manggut. "Tentu saja pinto dapat mempercayai saudara To, entah saudara To bisa mengeluarkan bubuk Ji ko mi tersebut dan memperlihatkam pada pinto?”

Bagian ke tiga belas

Si Naga tua berekor botak To Sam seng cukup mengenali watak Ma koan tojin yang ba nyak curiga, mendengar perkataan itu dia lantas mengeluarkan dua buah botol kecil berwarna putih diletakkan ke atas meja setelah itu ujarnya sambil tertawa, “Silahkan dilihat toheng "

Ma koan tojin menerima botol perselen itu diperiksanya sebentar, tampak dalam botol pertama berisikan bubuk halus berwarna hijau, dalam botol tersebut tertera tiga huruf kecil yang berbunyi “Ji ko mi" Sedengkan dalam botol porselen yang kedua berisikan butiran obat sebesar biji kelereng sedang didalam botol itu tertera huruf kecil pula, "Obat penawar Ji ko mi.”

Sambil mendongakkan kepalanya dan tertawa, dia lantas berkata "Saudara To memang benar benar seorang yang bijaksana, entah bolehkah aku minta beberapa butir pil penawar dari bubuk pemabuk ini?”

Si naga tua berekor botak segera tertawa terbahak bahak.

OoodwooO