-->

Pedang Karat Pena Beraksara Jilid 03

Jilid 03

"CRING ..," sebilah pedang berkarat yang sama sekali tidak bersinar telah diloloskan dari sarungnnya, kemudian sambil mengangkat kepalanya dia berkata.

"Kau hendak bertarung dengan cara bagaimana ?" Selapis hawa napsu membunuh telah menyelimuti wajah Lak jiu im eng, serunya sambil menggertak gigi. "Nona menginginkan selembar nyawamu "

Ia memang termashur karena kekejiannya, begitu selesai berkata pedangnya segera digerakkan melancarkan sebuah tusukan kilat kedepan. Sebelum kejadian sekarang, wi Tiong hong belum pernah bertarung dengan siapapun, dia hanya tahu sebelum pertarungan ia mesti membuka pertahanan diri lebih dahulu.

Jurus pertama dari ilmu pedang ji gi kiam hoat adalah giok hu tiau thian (lempengan pualam menghadap langit), ujung pedangnya menghadap ke udara dengan tangan kiri melindungi dada, maksudnya adalah sungkan dan memberi hormat-kepada musuhnya, setelah itu ujung pedang mana baru menuding kemuka dan mulai melancarkan serangan. Sudah barang tentu jurus pambukaan ini cuma jurus tipuan belaka, seharusnya bila gadis itu teliti maka dari jurus pembukaan itu dia akan segera mengetahui kalau jurus itu merupakan pemulaan dari ilmu pedang ji gi Kiam hoat, atau dengan perkataan lain pemuda itupun berasal dari Butong pay. Dalam keadaan begini mestinya Lakjiu Im-eng akan membatalkan serangannya dan mencari tahu keterangan yang sejelasnya.

Siapa tahu Lakjiu im eng adalah seorang yang berangasan, apalagi apa saat ini dia berhasrat untuk menembusi dada pemuda itu dengan tusukan pedang nya, tentu saja dia tak ambil perduli terhadap semua persoalan tersebut, begitu Wi Tiong hong membuka serangan, Lak jiu im eng telah melepaskan sebuah tusukan kilat.

Wi Tiong hong sama sekali tidak berani berayal tangan kirinya membuka gerak tipuan, lalu pedangnya ditusuk ke muka menyongsong datangnya ujung pedang lawan. Suatu peristiwa aneh segera terjadi. Tatkala ujung pedang Lakjiu im eng menusuk sampai diseparuh jalan, mendadak senjata itu miring ke samping, serta merta pergelangan tangan kanannya yang memegang pedang jadi kena tersampok miring oleh gerakan tangan kiri wi Tiong hong. Dengan terjadinya keadaan tersebut, maka pertahanannya menjadi sama sekali terbuka, dadanya menjadi tanpa perlindungan lagi.

Dengan begitu, ketika ujung pedang wi Tiong hong meluncur ke depan, senjata itu langsung mengancam dadanya.

Wi Tiong hong sama sekali tak menyangka kalau gadis itu secara tiba tiba bisa membuyarkan serangan ditengah pertarungan bahkan membuka dadanya dari perlindungan, apakah dia memang menginginkan agar dadanya kena tertusuk? Pertarungan yang dilangsungkan olen kedua orang itu sama sama dilakukan dengan kecepatan tinggi, seandainya pedang tersebut benar-benar menembusi dada gadis itu, niscaya didunia ini akan kehilangan seorang Lakjiu im seng-tapi julukan Lakjiu hoa (tangan keji penghancur bunga) pasti akan terjatuh kepundak wi Tiong hong.

-oodwoo-

Bab  JURUS PEDANG ANEH Sedemikian cepatnya peristiwa itu berlangsung, hampir saja semua orang tak sempat melihat jelas apa yang telah terjadi, menanti apa yang terjadi dapat dilihat, pedang berkarat di tangan Wi Tiong hong telah menempel diatas dada nona itu. Bwee hoa kiam Thio Kun kai menjadi terkejut sekali.

Beng Kian hoo dan Ting Cing kang juga sama-sama merasa terperanjat. Siapapun tak sempat untuk turun tangan mencegahnya, tiada pula yang berteriak untuk menghentikan gerakan itu.

Padahal Wi Tiong hong sendiripun tidak jelas, ketika pedangnya ditusuk ke depan tadi, tiba tiba pihak lawan membuka sama sekali pertahanannya, hal ini membuat hatinya turut terperanjat buru buru dia menggetarkan pergelangan tangannya ke bawah sambil membuyarkan serangan, sebisanya dia menarik kembali senjatanya itu. Lakjin im eng menyangka anak muda itu berniat untuk mempermainkan dirinya dihadapan orang banyak, dari malu dia menjadi gusar.

Maka begitu rasa kagetnya menjadi hilang kembali bentaknya keras-keras.

"Nona akan beradu jiwa denganmu" suaranya menjadi parau karena gusar, tubuhnya melejit ke muka dan "Sreet sreet, sreet," cahaya pedang berkilauan secara beruntun dia lancarkan serangkaian serangan yang membabi buta.

Menghadapi keadaan seperti ini, Wi Tiong hong tak berani gegabah, buru-buru dia menggerakkan pedangnya untuk mematahkan setiap ancaman yang tertuju kearahnya. Tapi diapun cukup mengerti, walaupun pedang berkarat miliknya kelihatan jelek seperti barang rongsok, padahal merupakan sebilah pedang yang tajamnya bukan kepalang, padahal dia tak ada ikatan dendam atau sakit hati apa-apa dengan gadis itu, tentu saja dia enggan memapas kuntung senjata lawan, itulah sebabnya dia hanya menangkis serangan lawan dengan punggung pedang. Betul ilmu pedangnya hebat, tetapi bagaimanapun juga pertarungannya kali ini baru dilakukan untuk pertama kalinya, soal pengalaman menghadapi musuh masih cetek, dan lagi dia pun musti berhati-hati jangan sampai memapas kuntung senjata lawan, otomatis kesemuanya itu meajadi semacam belenggu baginya.

Tujuh delapan gebrakan kemudian ia sudah dibikin agak repot dan gelagapan. Tentu saja keadaan semacam itu bukan berarti ilmu silatnya masih belum mampu menandingi Lakjiu im eng, bila baru terjun kearena untuk pertama kalinya, tak urung pasti mengalami keadaan yang seperti itu. Sebaliknya Lak-jiu-im eng menyerang semakin gencar, pedangnya berputar kekiri kekanan dengan amat dahsyatnya. Ditengah serangan yang bertubi tubi, terdengar gadis itu mendengus dingin. "Hmmm ... Bajingan cilik, rupanya kau hanya mempunyai kepandaian secetek itu, lepas tangan"

Tiba tiba permainan ilmu pedangnya diper-gencar, sreet, sreet, ireet i.. Secara beruntun dia melepaskan tiga jurus serangan dahsyat. Betul juga, termakan oleh ketiga buah serangan si nona yang amat gencar itu, seketika itu juga wi Tiong hong kena terdesak sehingga mundur sejauh dua langkah. "Criing..."

Ditengah bentakan yang amat nyaring, tiba terjadi benturan nyaring yang memekikkan telinga, lalu menyusul sebilah pedang mencelat sejauh tiga kaki dan terlepas dari cekalan.

Tatkala bayangan manusia itu berpisah, maka tampaklah wi Tiong hong yang "Berilmu tak seberapa" itu masih memegang pedang berkaratnya yang mirip barang rongsok itu. Sebaliknya Lakjiu im eng berdiri dengan tangan kosong belaka, pedangnya telah terpental dari cekalannya.

Semua peristiwa llu berlangsung dalam sekejap mata, untuk sesaat Lakjiu im eng termangu mangu belaka.

Tapi kemudian, dia menjejakkan kakinya ke tanah dan menerjang kearah wi Tiong hong.

Kepalan dan kakinya secara beruntun melancarkan serangkaian ancaman yang bertubi tubi bagaikan hujan deras. Melihat gadis itu dari malu menjadi marah dan mengajaknya untuk beradu jiwa, wi Tiong hong tak berani bertarung lebih lanjut, sambil berkelit kesana kemari, bentaknya. "Nona, mengapa kau tak segera menghentikan seranganmu ?"

Bwee hoa kiam Thio Kun kai yang di hari biasa selalu angkuh dan tinggi hati, sesungguhnya adalah orang yang ternama.

Ia dapat menyaksikan dengan jelas, bahwa jurus-jurus serangan yang digunakan Wi Tiong hong tadi adalah serangkaian ilmu pedang Ji-gi kiam hoat, selain itu diapun merasa bahwa jurus Giok bu tiau thian (Lempengan pualam menghadap Lang it) yang dipergunakan anak muda itu aneh sekali. Kemudian diapun menyaksikan pemuda ini mengeluarkan jurus It goan bu li (bawa murni beralis kai), bunga pedang yang berputar di-udara semestinya cuma sebuah jurus pertahanan belaka, mustahil bisa menggetar lepas pedang adiknya seperti apa yang kemudian terjadi.

Maka timbullah kecurigaan didalam hatinya, buru buru dia membentak nyaring. "Adikku, kau bukan tandingannya, hayo cepat mundur"

Sementara itu, semakin tak mampu menghajar Wi Tiong-hong, Lakjiu im eng merasa semakin mendongkol,jeritnya keras keras,

"Tidak, hari ini aku harus bertarung habis-habisan melawannya." Bwe hoa kiam Thio Kun kai berkerut kening, kemudian bentaknya lagi keras-keras.

"Berhenti dulu, aku ada persoalan yang hendak ditanyakan kepadanya."

Dibentak oleh kakaknya seperti itu, terpaksa dengan uring- uringan Lak Jiu Im eng mengundurkan diri kebelakang, kemudian memungut lagi senjatanya yang terlepas. Selama hidup belum pernah dia alami kejadian yang begini memalukannya, paras mukanya dari kuning telah berubah manjadi hijau membesi, sepasang matanya menjadi merah, untung saja tak sampai menangis. Pelan-pelan Bwee hoa kiam Thio Kun kai mengalihkan sorot matanya ke wajah Wi Tiong hong kemudian tegurnya dingin. "Ilmu pedang ji gi kiam hoat yang kau pergunakan itu berasal dari mana .

. . ."

Sejak menyaksikan keangkuhan kedua orang itu, Wi Thiong hong sudah merasa tak senang, apa lagi setelah mendengar orang yang begitu dingin seakan-akan kepandaian itu berasal dari curian saja dia maka mendongkol. Sambil mengangkat kepalanya dia berseru, "pokoknya kepandaian itu bukan kudapatkan dengan cara mencuri"

Nada pembicaraannya juga kedengaran amat tak sedap. Paras muka Bwee hoa kiam berubah menjadi dingin dan kaku, kembali tegurnya.

"Aku ingin tahu, dari mana aku dapat kepandaian tersebut?" "Darimana aku berhasil mendapatkannya, apa pula sangkut

pautnya dengan dirimu."

Bwee hoa kiam menjadi naik pitam.

"Kurang ajar" teriaknya aku adalah anggota Bu tong pay, aku berhak untuk mencari tahu asal mula dari ilmu pedang yang kau miliki sekarang itu."

"Maaf, aku bukan anggota Bu tong pay-" tukas Wi Tiong hong ketus.

Suatu jawaban yang sangat aneh, kalau bukan anggota Bu tong pay, darimana dia dapatkan ilmu pedang dari aliran Bu tong pay. LakJiu Im eng segera mendengus dingin.

"Hmm - - -Jiko, sudah jelas dia peroleh kepandaian silat itu dengan jalan mencuri." serunya.

"Mencuri? Buat apa aku mesti mencuri?" seru wi Tiong hong dengan mata melotot.

"Ciss, tahu malu, sudah mencuri belajar ilmu pedang kami masih ingin mungkin?" damprat gadis itu lebih jauh. "Aku bukan anggota Bu tong pay, tapi orang yang memberi pelajaran ilmu pedang kepadaku adalah anggota Bu tong pay-"

"Coba katakan, siapa yang memberi pelajaran itu kepadamu?" bentakBwee hoa kiam.

"Walaupun dia orang tua bukan guruku, tapi mempunyai budi kepadaku karena memberikan ilmu pedang, dia bergelar Thian goan."

"Haaah ..masa toa supek?" seru Bwee hoa kiam Thio Kun kai dengan perasaan terkesiap.

Baru selesai dia berkata, tiba dari atas ruangan itu bergema suara hembusan angin berpusing yang amat kencang. Pusaran angin berpusing itu timbulnya dari atas kepala semua orang, dan lagi datangnya sangat aneh.

Enam orang manusia yang hadir di ruangan, kecuali wi Tiong hong, lainnya merupakan jago kawakan yang sudah berkelana didalam dunia persilatan, ketika merasa datangnya angin berpusing itu sangat aneh, serentak semua orang menengadah ke atas. Tapi bersamaan dengan gerakan itu, tiba-tiba dari empat penjuru sekeliling tempat itu berkumandang suara desisan nyaring kemudian muncul kepulan asap berwarna kuning. Keadaan seperti ini tak ubahnya dengan keadaan ketika arak beracun dituangkan keatas lantai.

Semua orang menjadi terkesiap dan sorot matanya bersama sama dialihkan keatas lantai. Ketika semua orang menengadah tadi, diatas lantai bergema suara aneh, mata sekarang ketika semua orang menundukkan kepalanya dari atas ruangan berkumanrtang lagi suara aneh. Suara itu mirip sekali dangan suara dengusan seseorang. Dengan kening berkerut tiba Beng kan hoo membentak keatas. "Siapa disitu?"

Mengikuti bentakan itu, serta merta semua orang menengadah lagi keatas ruangan. "Pletak" Dari permukaan lantai bergema lagi suara nyaring. Kali ini semua orang dapat melihat jelas kalau benda itu adalah segumpal bayangan hitam yang terjatuh lurus dari atas atap rumah-Ternyata bayangan hitam itu adalah seorang manusia, seorang manusia berbaju hitam yang kecil dan ceking. Tampaknya bantingan itu cukup berat, selain tertelentang, punggungnya lebih dulu yang menghantam lantai itulah sebabnya terdengar saara benturan yang sangat nyaring. Beng Kiam hoo sama sekali tak menyangka kalau ditengah hari bolong, apa lagi dikala dia sedang menjamu tamu, ada orang yang menyadap pembicaraan mereka dari atas wuwungan rumah.

Bila kejadian ini sampai tersiar keluar dikemudian hari sudah pasti nama baik perusahaan Ang wan piaukiok akan ternoda.

Dengan suatu gerakan cepat, wakil Congpiautau Cuan im nu Li Goan tong memburu ke depan, sekarang dia baru ketahui kalau orang itu adalah seorang bocah yang berusia empat lima belas tahunan.

Bocah itu berwajah hitam pekat dengan celana yang berwarna hitam pula, sepasang matanya bulat besar dan mukanya menunjukkan kekerasan hati. Ketika itu dia sedang duduk dilantai dengan wajah penuh kegusaran. Cuan im nu Li Goan tong tampik agak tertegun, kemudian bentaknya keras-keras: "Siapakah kau? Mau apa datang kemari? Hayo cepat bangun"

Sambil tertawa dingin Bocah berbaju hitam itu menjawab: "Siauya mau datang akan datang, mau pergi akan pergi, siapakah aku tak usah kau ketahui, toh sekalipun kuberitahukan kepadamu, kau juga tak bakal tahu."

"Bocah keparat" maki Cuan im nu Li Goan tong sambil menarik muka, "kau ang gap tempat ini tempat umum yang bisakau datangi dengan semau hatimu sendiri?"

"Tempat ini tempat apa?" bocah berbaju hitam itu mendengus sambil menengadah menantang, ia masih tetap duduk ditempat semula, "huuuh, kalau cuna An wan piaukiok mah masih tidak berada dalam pandangan muka siauya..." Li Goan tong semakin naik darah, kembali bentaknya.

"Bocah keparat, kau pingin mampus ..." Telapak tangannya segera diayunkan ke atas dan siap dihantamkan ketubuh bocah itu.

Walaupun di bawah ancaman, ternyata bocah berbaju hitam ini menunjukkan sikap yang amat sinis, ia tidak bermaksud untuk menghindar atau berkelit, bahkan memanriang sekejap kearah nya pun tidak,

Beng Kiam hoo yang berpengalaman dengan cepat menyadari kalau bocah berbaju hitam itu bukan manusia sembarangan.

Buru-buru dia menggoyangkan tangan berulang kali sambil membentak. "Li lote, tunggu sebentar"

Pada saat yang bersamaan tiba-tiba Ting-Ci kang menyelinap maju kedepan, kemudian sambil membungkuk, dia menepuk bahu bocah berbaju hitam itu, serunya. "Saudara cilik, bila ada persoalan mari dibicarakan sambil berdiri saja,jangan duduk dilantai"

Tatkala tangannya menepuk bahu bocah itu tadi, dengan cepatnya ia berhasil mencabut keluar dua batang jarum perak dari bahu dan lekukan kaki bocah tadi. Tiba-tiba bocah berbaju hitam itu melompat bangun, kemudian sambil mengalihkan sorot mata nya kearah Ting Ci kang, dia manggut-manggut, katanya. "Jadi kaulah ketua dari perkumpulan Thi pit pang. Ting Ci kang?"

Orang nya memang kecil, namun lagaknya betul-betul bukan alang kepalang besarnya.

Ting Ci kang sama sekali tidak marah, malah sahutnya dengan tertawa lebar. "Benar, akulah Ting Cing kang, Saudara cilik, siapakah kau? Dan siapa namamu?"

"Aku bernama Tok Hay ji (bocah racun), pernah mendengar orang menyebutkan?" kata si bocah sambil memandangnya sekejap. Pertanyaan ini segera membuatnya Ting Ci-kang menjadi tertegun dan tak mampu menjawab, sebab nama Tok Hayji baru didengarnya pertama kali ini. Mendadak terdengar Beng Kian hoo tertawa tergelak.

"Haahh,. haahh,. haahh,. saudara cilik menyebut diri sebagai Tok Hayji, aku rasa racun dalam arak dan pasir beracun yang ditebarkan disekitar tempat ini tadi, pastilah merupakan hasil karya mu.. ?" Tok Hayjie tertawa terkekeh-kekeh.

"Betul, memang aku yang melakukan"

Paras muka Beng Kian hoo agak berubah, tapi dengan cepat menjadi tenang kembali, katanya kemudian sambil menatap wajahnya tajam-tajam. "Antara kami dengan saudara cilik toh tak pernah teejalin hubungan dendam atau sakit hati, apa sebab nya kau meracuni kami?"

"Kenapa mesti menunggu sampai ada dendam sakit hati baru boleh turun tangan? Kalian boleh merampas benda itu dari tangan Kian kun jiu Siau Beng san, apakah aku tak dapat mengambil pula benda tersebut dari tangan kalian semua... ?" Dengan cepat Lakjiu im eng melirik sekejap kearah Bwee hoa kiam Thio Kun kai, namun mulutnya tetap membungkam dalam seribu bahasa.

"Saudara cilik, jangan sembarangan berbicara lagi?" kata Beng Kiam hoo dengan wajah serius "siapa yang telah merampas barang milik Siau tayhiap .. ?"

Tok Hay ji segera tertawa terbahak-bahak, "Setiap umat persilatan berkata demikian, memangnya aku sengaja mengarang cerita untuk memfitnah kalian?"

Berbicara sampai disitu, tiba ia berpaling kearah Tung Ci kang dan berseru. "Kau telah membantuku untuk mencabut keluar kedua batang jarum perak tadi, kelak akupun tak akan mencarimu, cuma aku kuatir orang yang sedang mencarimu sekarang tak sedikit jumlahnya."

Mendengar perkataan itu. Ting Ci kang segera mendongakkan kepalanya dan tertawa tergelak, "Dalam peristiwa berdarah yang menimpa perusahaan Ban li piaukiok, mungkin ada orang sengaja melimpahkan abu hangat ini kepadaku, padahal kami Thi pit pang tak pernah membegal barang kawalan tersebut, aku orang datang mencariku",

Lakjiu im eng segera mendengus berat-berat.

"Yang dibegal dari SiauBeng san bukan barang kawalan perusahaannya." seru Tok Hay ji sambil tertawa tergelak,

Ucapan ini segera menbuat Beng Kian hoo maupun Bwee hoa kiam Thio Kun kai sekalian menjadi tertegun.

Dengan keheranan Ting Ci kang segera bertanya:

"Kalau bukan barang kawalan perusahaan Ban-li piaukiok yang dibegal, lantas barang apa yang kena dirampok?"

Agaknya Tok Hayji telah sadar kalau dia sudah salah berbicara, maka buru-buru dia menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Aku sendiripun tidak tahu, pokoknya bukan barang kawalan perusahaannya ..."

Setelah memandang sekejap sekeliling tempat itu, serunya. "Maaf, aku tak dapat menemani terlalu lama"

Begitu berkata hendak pergi dia lantas pergi sepasang kakinya menjejak permukaan tanah dan secepat sambaran kilat berlalu dari sana.

"Berhenti" bentak Bwee hoa kiam Thio Kun kai dengan suara menggeledek, Menanti dia hendak menyusulnya, keadaan sudah terlambat, bayangan tubuh Tok Hayji tahu sudah lenyap dari pandangan mata. Tapi pada saat itu juga ia telah menyaksikan didepan pintu gerbang Anwan piaukiok telah muncul dua orang tojin berjubah biru yang menggembol pedang dipunggungnya. Melihat itu dengan girang dia lantas berpaling kearah adiknya, kemudian berbisik, "Coba lihat, para suheng dari angkatan Keng telah datang." LakJiu Im eng berseru tertahan, belum sempat dia berbicara, seorang lelaki telah datang melapor.

"Keng hian dan Kengjin totiang dari Bu tong pay telah tiba didepan pintu..."

Buru buru Beng kiam hoo bangkit keluar untuk menyambut, tak lama kemudian dia telah masuk kembali mendampingi dua orang totiang yang memakai jubah biru. Yang didepan seorang tosu berjenggot hitam, dia adalah murid pertama dari ketua Bu tong-pay saat ini, Keng hian toojin adanya, sedang dibelakangnya seorang tosu berusia tiga puluh tahunan, berwajah bersih, dia adalah sutenya, Kengjin toojin.

Bwee hoa kiam Thio kun kai dan Lakjiu Im-eng Thio Man buru- buru memberi hormat.

Sambil tersenyum Keng hian toojin berkata. "Thio sute sumoay, ternyata kalian benar benar sudah datang lebih duluan." Beng Kian hoo lantas memperkenalkan Ting Ci kang, Khok Thian seng Lo Liang dan Wi-Tiong hong sekalian pada kedua orang tosu itu.

Keng hian tojin mengira Kok thian seng dan Wi Tiong hong adalah anggota Thi Pit pang semua, setelah memberi hormat sambil tertawa, kepada Ting Ci kang ujarnya kemudian. "Nama besar Ting pangcu sudah lama pinto kagumi." Buru-buru Ting Ci kang mengatakan tidak berani. Bwee hoa kiam Thio kun kai yang berada di sisinya segera menimbrung.

"Toa suheng, konon Wi siauhiap ini adalah murid Toa supek"

Ucapan itu membuat Keng hian tojin segera tertegun, sorot matanya segera dialihkan ke wajah Wi Tiong hong, kemudian ujarnya sambil tersenyum.

"Oooh ... rupanya siau ciu - adalah murid Toa supek, kalau begitu kita berasal dari satu keluarga."

Dengan wajah memerah buru buru Wi Tiong hong menjura seraya tertawa, sahutnya. "Aaaah, aku hanya mendapat warisan beberapa macam kepandaian pelindung diri saja dari Thian goan lo totiang, sebelum mewariskan ilmu silat tersebut, dia orang tua berulang kali menyatakan bahwa antara beliau denganku tiada ikatan hubungan sebagai guru dan murid, jadi akupun tidak terhitung anggota perguruan Bu-tong pay"

--oodwooo--

RUPANYA beberapa patah itu itu sudah disusun lebih dulu sebelumnya sehingga ketika diutarakan kedepannya luwes dan amat leluasa, Meski ucapan itu hanya karangannya sendiri, tapi katanya justru sangat tepat. Thian Goan cu adalah toa suheng dari ketua Bu tong pay dewasa ini, tingkat kedudukannya dalam perguruan tinggi sekali, tapi berhubung ia berasal dari perguruan hitam dimasa mudanya, sehingga ilmu silat yang dipelajarinya amat beraneka ragam, maka selama ini tak pernah mau menerima seorang muridpun itulah sebabnya ketika Keng hian tojin mendengar perkataan dari Wi Tiong hong, ia menjadi percaya sekali, pikirnya. "Yaa, sudah pasti kepandaian yang diwariskan toa supek kepadanya adalah beberapa macam kepandaian silat gado-gadonya." Berpikir demikian, dia lantas tertawa terbahak bahak, kemudian katanya dengan nyaring.

"Sekali pun siau sicu tak mempunyai hubungan sebagai guru dan murid dengan toa supek, namun kenyataannya mempunyai hubungan sebagai guru dan murid, betul siau sicu belum menjadi anggota perguruan Bu tong pay secara resmi, namun kaupun mempunyai hubungan yang erat dengan Bu tong pay, hitung kita masih mempunyai ikatan persahabatan sebagai sesama anggota perguruan." Lakjiu im eng merasa sangat tidak puas oleh sikap toa suhengnya yang sama sekali tidak mencurigai pemuda itu, sebaliknya malah segera mengakuinwa sebagai sesama arggota perguruan. Baru saja dia akan berbicara, Keng hian to jin telah memberi hormat kepada Beng Kiau-hoo seraya berkata.

"Pinto bersaudara datang kemari atas perintah dari suhu untuk menyelidiki tentang hilangnya barang kawalan Ban li piaukiok, sebenarnya kami tak ingin mengganggu ketenangan Beng Cong piautau, tapi oleh karena Cong piautau begitu sungkan-sungkan dengan mengutus orang untuk menyambut kedatangan kami, terpaksa pinto berdua harus berkunjung kesini, atas kebaikan ini terlebih dulu pinto ucapkan banyak terima kasih."

Ucapan tersebut segera membuat Beng Kian-hoo menjadi tertegun, segera pikirnya. "Lagi-lagi suatu kejadian aneh,jangan toh mengundang mereka datang, mengetahui kalau Keng hian dan Kengjin dua orang tosu ini akan datang kemari pun aku tak tahu, bagaimana mungkin bisamengutus orang untuk menyambut kedatangan mereka?" Tentu saja perkataan tersebut tak dapat diutarakan secara langsung, maka setelah termenung dan berpikir sebentar, sahutnya sambil tertawa.

"Berhubung siaute mengetahui kalau antara partai anda dengan Ting lote telah terjadi kesalahan-paham gara-gara dibegal barang kawalan Siau tayhiap dari Bau-li piaukiok oleh seseorang, maka kemarin sewaktu kuketahui kalau Thio tayhiap kakak beradik telah datang kemari, kukirimkan dua lembar undangan kepada Thio tayhiap agar datang kemari berbincang-bincang dengan Ting lote sekalian berusaha untuk menghilangkan kesalahan paham tersebut, kini Kebetulan toheng berdua telah datang, tentu saja hal ini semakin kebetulan lagi."

Ting Ci kang adalah seorang ketua Thi pit pang yang berpengetahuan luas, semenjak kemunculan Tok Hayji atau bocah beracun tadi, dengan cepat dia sadar kalau dibegalnya barang kawalan Kan kunjiu (tangan sakti jagad ) Siu beng san dari Ban li piaukiok merupakan suatu pemula dari suatu peristiwa yang maha besar.

Maka ketika mendengar perkataan dari Beng Kian hoo barusan, kuatir kalau Keng hian tojin yang baru datang tak dapat menangkap maksud sebenarnya dari ucapan tersebut, buru-buru dia bangkit sembari menjura, lalu katanya.

"Beng loko, kedua orang toheng ini baru datang, mungkin mereka masih belum mengetahui peristiwa yang telah berlangsung disini dan lagi sebelum kejadian loko juga tak tahu kalau totiang berdua akan datang kemari, tentu saja mustahil kalau bisa mengutus orang untuk menyambut kedatangan mereka."

"Oleh karena itu, siaute merasa orang yang telah menyambut kedatangan tooheng itu amat mencurigakan, entah bersediakah toheng untuk menerangkan kejadian pada saat itu dengan lebih jelas lagi?"

Beng Kian hoo segera manggut-manggut sambil berkata pula. "Perkataan dari Ting Lote memang benar, peristiwa ini sungguh mencurigakan sekali" Keng hian lojin tertegun beberapa saat lamanya, kemudian dari salah sakunya dia mengeluarkan sepucuk kartu undangan berwarna merah dan diserahkan kepada Beng Kiam hoo ujarnya.

"Orang itu menyebut dirinya sebagai anggota An wan piaukiok yang mendapat perintah dari Beng Congpiautau untuk menyambut kedatangan pinto, diberitahukan juga sute kami Thio Kun kai kakak beradik telah menunggu pula dalam kantor, nah silahkan Beng Congpiautau periksa kartu undangan tersebut."

Beng Kian hoo segera menerima kartu undangan itu dan diperiksa isinya dengan seksama, terbaca diatas kartu undangan tadi tercantum beberapa patah kata yang berbunyi:

"Tengah hari nanti tersedia hidangan berpantang dengan kantor kami. mengharapkan kedatangan kalian berdua. Tertanda Beng Kian hoo."

Diatas kartu undangan tersebut tercantum pula nama dari Keng hian dan Kengji lotiang berdua.

Paras mukanya kontan saja berubah hebat, setelah termenung sebentar, ujarnya, "Heran, permainan busuk dari siapakah ini?" Ting Ci kang segera tertawa terbahak-bahak, "Haaahh ... haaah ... siapa tahu kalau hasil permainan busuk dari Tok Hayji dan komplotannya"

Kongjin tojin segera berkerut kening, kepada Bwee hoa kiam tanyanya kemudian.

"Thio sute, apa yang telah terjadi disini tadi?"

Secara-ringkas Thio kun kai segera menceritakan usaha Beng kian hoo untuk melerai kesalah pahaman tu serta bagaimana Tok Hayji meracuni mereka secara diam-diam ...

Selesai mendengar keterangan tersebut, Keng hian tojin segera berkata. "Kalau toh Beng Congpiautau sudah menampilkan diri sebagai penengah dalam peristiwa ini, bahkan ada Sip-cu taysu dari Siauw limpay sebagai saksi, tentu saja ucapan ia bisa dipercaya."

Berbicara sampai disini, dia lantas bangkit berdiri dan memberi hormat kepada Beng Kian hoo serta Ting Ci kang, kemudian ujarnya.

"Tindakan dari Beng congpiautau ini selalu dapat menghindarkan kesalahan paham antara dua keluarga, dan lagi bisa mengurangi pula banyak kesulitan bagi pinto berdua dalam tugasnya melacak peristiwa pembegalan atas perusahaan Ban li piaukiok, sebelumnya pinto ucapkan banyak terima kasih, duduk perkara yang sebenarnya telah diketahui, pinto pun berharap Ting pangcu jangan sampai marah oleh kesalahanpaham ini." Buru Tiang Ci kang balas memberi hormat katanya.

"Terima kasih atas ucapan toheng itu, dalam peristiwa terbunuhnya Siau tayhiap dari Ban li piaukiok, nama baik aku orang she Ting ikut tersangkut, betul berkat bantuan Beng loko, kecurigaan terhadap diriku bisa terhapus, tapi tindakan orang itu dengan membegal barang kawalan dan membunuh orang lalu sengaja meninggalkan pena baja milikku.jelas untuk memfitnah aku, maka sebelum pembunuh yang sebenarnya berhasil dibekuk, aku orang she ting pun tak bisa melepaskan diri dari tanggung jawab ini. "Paling cepat dalam tiga bulan, paling lama dalam satu tahun, aku orang she Ting bersumpah akan menemukan orang itu dan memberikan sesuatu pertanggung jawab terhadap partai anda dan Beng loko".

Bwe hoa kiam memandang sekejap kearah dua orang suhengnya, lalu menimbrung.

"Kini sudah terbukti kalau dalam peristiwa terbunuhnya Siauw suheng, Ting pangcu sama sekali tidak tersangkut, hanya apa yang terjadi selama inipun hanya suatu kesalahan paham biasa, aku yakin bagaimanapun liciknya pembunuh terse ut, Bu tong pay tak akan melepaskannya dengan begitu saja, harap Ting pangcu tak usah repot-repot".

Ketika Beng kian ho menyaksikan kesalah paham telah berhasil di lerai dan lagi kuatir kalau terjadi peristiwa lain karena pembicaraan yang tak tepat, smabil tertawa terbahak-bahak segera katanya:

"Perjamuan baru saja diselenggarakan Tok Hay ji telah datang dan mengacau dengan racunnya sehingga kalian kehilangan selera untuk bersantap, kini mumpung ada toheng berdua disini, siaute telah perintahkan orang untuk menyiapkan hidangan berpantang, mari kita duduk kembali di meja perjamuan."

Seraya berkata dia lantas mempersiapkan Keng Hian dan Keng jin tojin untuk mengambil tempat duduk kembali di meja perjamuan."

Seraya berkata dia lantas mempersilahkan Keng hian dan Keng jin tojin untuk mengambil tempat duduk dikursi utama. tentu saja Keng hian tojin menampik.

Sementara semua orang sudah saling mengalah, mendadak tampak sesosok bayangan manusia berjalan masuk lewat pintu depan dengan langkah sempoyongan.

Walaupun langkah orang itu sempoyongan ternyata gerakan tubunya amat cepat, dalam waktu singkat dia telah melewati pelataran depan terus menuju keruangan tengah. Ternyata dia adalah Tok Hayji

Hanya kali ini dia muncul dengan luka bekas bacokan pada bahu kanan serta paha kirinya, darah segar bercucuran tak hentinya,jelas bocah itu baru saja terlibat dalam suatu pertarungan yang seru sehingga wajahnya nampak amat letih. Dia langsung masuk keruangan tengah, kemudian tanpa berbicara segera duduk bersila ditanah, merogoh sakunya mengambil keluar sebuah botol dan menaburkan bubuk obat yang berwarna putih pada mulut lukanya. begitu Lakjiu im eng melihat kemunculan Tok Hayji, dia segera berteriak keras.

"Toa suheng, sam suheng, dia... dialah orangnya, dialah Tok Hayji itu"

Walaupun Tok Hay ji masih kecil, ternyata wataknya binal lagi kasar, sekalipun sudah letih, setelah mendengar ucapan itu matanya langsung melotot besar lagi. "Kalau betul aku ada apa?" teriaknya.

"Saudara cilik, mengapa kau balik kembali?" tegur Beng Kiau-ho dengan kening berkerut.

Tok Hayji segera mendengus dingin dengan acuh tak acuh sahutnya. "Setiap orang yang memasuki pintu gerbang An wan piaukiokmu ini jangan harap bisa pergi lagi dari sini dalam keadaan hidup "

Selesai berkata, pelan dia memejamkan matanya untuk mengatur pernapasan.

Walaupun wataknya keras kepala, namun berhubung darah yang mengalir keluar kelewat banyak, tubuhnya sudah menjadi lemah sekali.

Oleh perkataannya yang tanpa ujung pangkal itu, semua orang menjadi tertegun dibuatnya.

Pada saat itulah dari depan pintu gerbang An wan piaukiok telah muncul kembali sekelompok manusia. Orang pertama adalah seorang tosu tua berjubah kuning berkopiah tinggi yang membawa senjata kebutan, wajahnya suram menyeramkan. Orang kedua adalah seorang pendeta yang gemuk lagi pendek, Orang ketiga adalah seorang kakek berkepala botak, bermuka merah dan memelihara jenggot kambing. Orang ke empat adalah seorang lelaki berbaju hitam yang menyandang golok. Orang kelima adalah seorang lelaki yang berperawakan tinggi besar seperti pagoda kecil.

Orang ke enam adalah seorang sastrawan yang berbaju hijau, berwajah putih bersih dan berusia empat puluh tahunan.

Kemunculan ke enam orang ini selain mendadak, juga sama sekali diluar dugaan.

Beng Kian-hoo yang menyaksikan kejadian itu menjadi tertegun, sebab dari enam orang tamu yang tak diundang itu, kecuali sastrawan yang berbaju hijau yang berjalan paling belakang, lainnya cukup dikenal olehnya.

Beberapa orang itu merupakan wakil dari Jago-jago kelas satu yang ada diutara maupun selatan sungai Tiangkang dewasa ini. Orang pertama, si tosu tua tersebut tak lain adalah Ma koan Tojin dari bukit Hang san yang tersohor karena kekejian hatinya dan kebuasan cara kerjanya.

Orang kedua, si paderi gemuk itu adalah Thi lo-han (Lohan baja) Kiong beng taysu dari kuil Thi hud si dibukit Kan swan san.

Orang ketiga, si kakek botak itu adalah Tu wi-lo-liong (naga tua berekor botak) To sam teng dari kota Huan yang.

Orang ke empat dan orang kelima adalah Kang pak siang knt (sepasang orang gagah dari utara sungai) yang terdiri dari Tui hong-to ( golok pengejar angin) Hee ho Nian serta Se ong sia ( dewa raja kuda ) Ku Tay tong.

Hanya sastrawan yang berbaju hijau yang berada dibarisan terakhir saja yang tidak diketahui indentitasnya, tapi ditinjau dari kehadiran orang-orang yang ternama itu, bisa diketahui kalau diapun bukan seorang manusia sembarangan.

Setelah tertegun sesaat, Beng Kian hoo baru maju menyongsong kedatangan mereka, serunya sambil menjura. "Kehadiran saudara sekalian..."

Tidak menanti dia menyelesaikan kata-katanya, sambil tertawa seram Ma koan tojin dari bukit Hang san telah menjura sambil menukas.

"Beng Congpiautau tak usah banyak bicara, setelah menerima panggilanmu terpaksa pinto mesti mengganggumu sebentar "

"Omintohud" seru Thi lo han Kwong beng taysu pula sambil merangkap tangannya memuji keagungan sang Budha, "Beng losicu memang tak malu disebut pemimpin dari perusahaan piaukiok dilima propinsi selatan sungai besar, beritamu sungguh amat tajam, baru saja kaki kiri pinceng melangkah masuk ke kota Siausia, tangan kanannya telah menerima undangan dan losicu, konon losicu sedang menyelenggarakan suatu perjamuan besar, tolong tanya perjamuan apakah itu?"

Ucapan tersebut kontan saja membuat Beng Kian ho menjadi tertegun. Sudah jelas sekarang, kedatangan orang itu adalah menerima kartu undangannya, tapi siapakah orang yang secara diam-diam telah mencatut namanya untuk membagi kartu undangan itu? Dan apa pula maksud tujuannya? Tapi dilain keadaan begini tak sempat lagi baginya untuk berpikir panjang, sambil menjura berulang kali, katanya. "Kehadiran saudara sekalian sungguh membuat siaute merasa bangga, silahkan duduk, silahkan duduk"

Setelah semua orang dipersilahkan masuk ke ruang tengah, suasana pun menjadi ramai sekali.

Ting Ci kang yang menyaksikan kejadian ini diam-diam berkerut kening, dia tahu kehadiran orang-orang itu disana sudah pasti bukan lantaran suatu kebetulan saja, melainkan ada suatu tujuan tertentu.   Tanpa   terasa   ia   menjadi   teringat   kembali   dengan perkataan dari Tok Hayji tadi. "Orang yang datang mencarimu bukan cuma satu dua orang saja..."

Jangan-jangan kedatangan orang orang inipun lantaran untuk mencari dirinya?. Lantas benda berharga apakah yang sebenarnya telah dibegal orang dari perusahaan Ban-li piaukiok? Mengapa bisa memancing incaran begitu banyak jago persilatan di dunia ini?

Tak selang berapa saat kemudian dalam ruangan tengah telah ditambah lagi dengan sebuah meja perjamuan, Beng Kian hoo segera mempersilahkan tamu-tamunya untuk duduk, Pada meja perjamuan sebelah kanan duduk pada kursi utama adalah Keng Hian tojin dan Keng jin tojin dari Bu tong pay, menyusul kemudian Bwe hoa kiam Thia Kun kai, Lakjiu im eng Thio Man. Wi Tiong hong. Ting Ci kang, Kok thian seng Lo Liang dan ditemani oleh wakil congpiautau Cuan im itu Li Goan.

Sedangkan pada meja perjamuan sebelah kiri duduk Ma-koan Gwat, Thi lo han Kwong beng taysu, Tu wi lo liong To Sam- seng, Kang pak siang kiat Hee ho Niao dan Ku Tay tong, sastrawan berbaju hijau dengan didampingi Beng Kian ho.

Tok Hayji selama ini duduk bersila dilantai sambil memejamkan mata dan mengatur pernapasan itu, mendadak membuka matanya lebar, kemudian setelah tertawa terbahak serunya.

"Bagus sekali Orang yang datang menghantar kematian ternyata satu persatu telah datang menghantar dirinya"

Pada waktu itu, antara Thi lo han Kwong-nong taysu dengan Tu wi lo liong To Sam seng mengalah tempat duduk, baru saja Thi lo han-duduk dan Tu wi lo liong belum sempat duduk Tok Hayji telah menyerobot menduduki kursi tersebut. Dalam keadaan demikian, terpaksa Tu wi lo liong To sam seng harus menempati kursi paling buncit.

Tiba-tiba To sam seng berpaling kemudian tegurnya.

"Saudara cilik, apa yang barusan kau katakan?" padahal perkataan dari Tok Hayji tadi diucapkan cukup nyaring, semua orang dapat mendengarnya dengan jelas, itu berarti pertanyaan dari Tu wi liong sengaja ditanyakan lagi. Ternyata Tok Hayji sama sekali tidak sungkan-sungkan, setelah mengangkat cawan araknya dan minum satu tegukan, dia menyumput sepotong daging babi dan dikunyahnya, kemudian baru berkata sambil tertawa.

"Aku bilang, orang yang datang menghantar kematian, ternyata satu persatu telah berdatangan semua"

"Saudara cilik, kau mengatakan siapa yang datang mengantar kematiannya?" kembali Tu-Wi lo liong bertanya.

Dengan tangan kanan menyumpit paha ayam Tok Hayji menggigit dulu daging ayam itu dan mengunyah, kemudian setelah memandang sekejap seluruh ruangan, sahurnya sambil tertawa.

"Yang kumaksudkan tentu saja setiap orang yang hadir dalam ruangan sekarang"

"Bocah cilik kau berasal dari perguruan mana?"

"Huuh, pokoknya aku tak akan berbuat goblok dengan membuat beberapa buah lubang tatoo diatas batok kepalaku sendiri." Bocah ini betul-betul hebat sekali, orangnya memang kecil tapi nyalinya betul-betul besar dan mulutnya tajam, dia sama sekali tidak ambil perduli apakah Thi lo han Kwong beng taysu adalah seorang pendeta yang saleh atau bukan. Betul juga , diatas wajah Kwong beng taysu yang putih dan gemuk segera terlintas rasa gusar, akan tetapi bagaimanapun juga ia mesti memberi muka kepada Beng Kian ho, terutama sekali dengan nama besarnya tentu saja dia enggan melakukan banyak ribut dengan seorang bocah cilik,

Maka dia letakkan saja sumpitnya diatas meja. Kalau hanya sumpit itu saja yang diletakan dimeja masih mending an, tiba tiba cawan arak yang berada dihadapan Tok Hayji itu- melayang keudara setinggi satu depa, sedang arak yang berada dalam cawan itu sama sekali tidak tumpah barang setetespun. Menanti tangannya yang menekan pada sumpit itu ditarik kembali, cawan arak tadi baru melayang turun kembali ketempat semula.

Demontrasi kepandaian ini segera membuat para jago merasa terkejut bercampur tertegun diam diam mereka lantas berpikir. "Tampaknya pendeta bengis yang ternama ini benar benar memiliki tenaga dalam yang amat sempurna, jago itu tak boleh dianggap sebagai musuh enteng."

Paras muka Tok Hayji sama sekali tidik berubah, malah sambil tertawa dingin katanya. "Sayang sekali, walaupun kau memiliki ilmu silat yang sangat lihay, akan tetapi jangan harap bisa lolos dari kematian "

Mencorong sinar buas dari Thi Lohan Kwong beng taysu, dengan gusar segera bentaknya.

"Bocah cilik, kau ingin mampus ...." dia memang duduk berjajar dengan Tok Hayji begitu selesai membentak mendadak ia membalikkan badannya sambil mengayunkan telapak tangan kanannya.

Ma koan tejin yang duduk dikursi utama mendadak berseru dengan suara menyeramkan

"Taysu, harap tunggu sebentar" Thi Lo han menjadi tertegun. "Apakah toheng dengan bocah ini "

"Oooh tidak" tukas Mo koan tojin sambit tertawa, "pinto cuma ingin tahu mengapa kami beberapa orang datang kemari untuk menghantar kematian saja ?" Apa yang dia ucapkan memang merupakan persoalan yang ingin diketahui oleh setiap orang.

Mendadak Tok Hayji mendongakan kepalanya dan tertawa terbahak bahak, katanya.

"IHaaah ... hsaah .... haaahh... apalagi yang mesti ditanyakan? Bukankah kedatangan kalian disebabkan oleh benda yang di-bawa oleh Siau beng sau dari perusahaan Bau-li piaukiok ?" Ucapan tersebut benar- mengejutkan semua orang yang hadir, tanpa terasa paras muka semua orang berubah hebat.

Sekarang Beng kiam hoo baru mengetahui duduknya persoalan tak heran kalau orang orang itu bisa berdatangan ketempat ini

Namun dalam hati kecilnya masih ada beberapa hal yang tidak mengerti, dia tak tahu mengapa orang-orang mencatut nama dengan menyebar undangan pada orang-orang itu telah mengundang mereka untuk berkumpul dalam An Wan piaukiok? Dan apa pula maksud tujuan orang itu yang sebenarnya?

Terdengar Ma koan tojin berkata lagi sambil tertawa seram "Pinto ingin tahu, mengapa kami beberapa orang bisa datang kemari hanya untuk mengantar kematian?"

"Setelah kalian masuk kedalam pintu gerbang An wanpiaukiok, apakah dianggap masih bisa meninggalkan tempat ini dalam keadaan hidup?"

Tu wi lo liong To Snm sang segera terbawa terbahak-bahak, "Haah ... haaah ... kalau begitu tujuan Beng loko mengundang kami kemari adalah bertujuan untuk meringkus kami semua."

Buru-buru Beng Kian hoo menjura, katanya agak keder. "Harap To loko jangan salah paham, kehadiran kalian sekalian cukup membuat siaute merasa bangga, tapi terus terang saja, siaute sama sekali tidak tahu menahu tentang undangan yang telah kalian terima itu."

Dengan sorot mata setajam sembilu Thi Lo han segera mengalihkan sorot matanya ke wajah Ting Ci kang, kemudian serunya dengan suara lantang. "Kalau begitu siapakah yang telah mewakili Beng lo sicu untuk mengemukakan usul tersebut.?"

Beng Kian hoo segera tertawa getir. "Sampai detik ini, siaute masih belum tahu siapakah orang yang secara diam-diam telah mencatut nama siaute itu?"

"Tentu saja kau tak akan tahu"jengek Tok-Hayji sinis. Mendadak Bwee hoa kiam Thio Kun kai segera bangkit berdiri, lalu sambil menuding ke arah Tok Hayji bentaknya.

"Tadi dua kali kau pergunakan racun untuk mencelakai kami, hayo jawab, siapa pula yang telah memerintahkan kepada dirimu untuk berbuat demikian?"

"Apa yang kupikirkan dalam hati, kulakukan tanpa canggung- canggung, kenapa mesti menuruti perintah orang? Hmm, kau anggap dalam dunia persilatan ada orang yang pantas untuk memerintahkan aku?"

"Bocah keparat" bentak Thio Kun kai kemudian, "akan kubekuk dirimu, ingin kulihat kau akan berbicara atau tidak?"

"Huuuh, dengan andalkan kemampuanmu itu kau hendak membekuk aku?" Tok Hayji segera tertawa dingin, "bukankah akupun telah kembali kemari lagi? Terus terang kuberitahukan kepadamu, bahkan aku saja tak sanggup menerjang keluar, jangan harap manusia macam kalian bisa keluar dari sini" Perkataannya makin lama semakin aneh dan mengherankan hati orang saja. Apa yang diucapkan memang benar,jelas ia sudah pergi tadi, tapi sewaktu balik kemari, tubuhnya sudah penuh dengan luka. Ting Ci kang segera merasakan kejadian ini sedikit agak mencurigakan, tak tahan dia lantas bertanya.

"Saudara cilik, bukankah tadi kau sudah keluar dari sini?

Mengapa balik kemari lagi?"

"Bukankah tadi sudah kukatakan. barang siapa yang sudah memasuki pintu gerbang An Wan piaukiok,jangan harap lagi bisa keluar dari sini dalam keadaan hidup"

"ltu berarti ada orang yang berjaga didepan pintu sana?" "Tentu saja"

"Siapakah dia?" tanya Beng Kian hoo kemudian dengan suara dalam. "Entahlah" Tok Hayji menggeleng, "yang jelas lihay sekali, bahkan akupun tak mampu untuk menangkan dia"

Ucapannya itu benar benar berlagak-besar, maksudnya tak seorang jagopun yang hadir di situ dipandang sebelah mata olehnya.

Ma koan tojin segera tertawa seram, "Heehh .. heehh .. heehh :. sungguh menarik, sungguh menarik sekali serunya, "macam apakah orang itu? Bersediakah kau untuk menerangkannya kepada kami?"

"Aku tak sempat melihat wajahnya"

"Kalau kau tak melihat wajahnya, dari mana mungkin bisa bertarung lawan dirinya?"

Ma-koan tojin semakin memperhatikan. Agaknya Tok Hayji tak ingin menyinggung kembali soal luka yang dideritanya itu,

setelah berhenti sejenak katanya. "Aku dengar mereka bilang, kesemuanya ini adalah ide dari Thian Sat nio, barang siapa telah memasuki perusahaan An wan piaukiok, tak seorangpun boleh dilepaskan dalam keadaan hidup."

"Thian Sat nio?"

Ma koan tojin bergumam dengan suara lirih, agaknya dia seperti mulai percaya.

Dari sekian banyak orang yang berada dalam ruangan itu, kecuali Wi Tiong hong yang baru muncul dalam dunia persilatan, lainnya merupakan jago-jago kawakan yang mempunyai banyak pengalaman, namun tak seorangpun diantara mereka yang pernah mendengar kalau dalam dunia persilatan masih terdapat seorang manusia yang bernama Thian Sat nio. Tui hong tong (golok pengejar angin) Hee ho Nian dari Kang pak siang kiat segera tertawa terbahak bahak, serunya:

"Haaaahhh... haaaahhh... haaaahhh,.. masa didunia ini terdapat kejadian Seperti itu?" "Mengapa tidak?"jawab Tok Hay ji, "kalau tidak percaya, Cobalah sendiri, tanggung kau akan lebih tak becus daripada diriku."

"Bagaimana bisa lebih tak becus daripada dirimu?"

"Kalau aku masih dapat balik kemari, maka jika kau yang keluar,jangan mimpi bisa lagi kesini dalam keadaan hidup."

Si Golok pengejar angin Hee ho Nian menjadi naik pitam, serunya dengan gusar. "Bocah keparat, kau berani memandang hina diriku?"

"Apakah kau ingin mencoba beberapa jurus diujung telapak tanganku...?" tantang Tok hayji.

Seketika itu si Golok pengejar angin Hee ho Nian bang kit berdiri, bentaknya "Berdiri kau bajingan cilik, aku Hee ho Nian ingin mencoba sampai dimanakah taraf kemampuan yang kau miliki ?"

Mendadak Tok Hayji menggunakan sumpitnya untuk mengambil sepotong daging, lalu sambil mengunyah dengan asyiknya dia berkata.

"Tak usah dicoba lagi, akupun segan untuk bertarung melawanmu, jika kau tidak puas, mengapa tidak menyerbu keluar dari pintu gerbang dan mencobanya sendiri?"

Kegusaran si Golok pengejar angin Hee ho Nian benaK telah mencapai pada puncaknya, dia segera mendengus dingin. "Sudah banyak tahu aku Hee ho Nian berkelana dalam duina persilatan, belum pernah ada suatu tempat yang tidak berani kudatangi. Hmmm, lihat saja segera kubuktikan"

Dia benar membalikkan badan dan berjalan keluar dari ruangan itu dengan langkah lebar.

Buru Beng Kiam hoo maju menghalangi niatnya itu, ujarnya dengan lembut.

"Hee-ho loko, kau adalah tamu kami, harap minum beberapa cawan arak, siaute sebagai tuan rumah sudah seharusnya yang bertugas untuk menengok keluar, ingin tahu manusia macam apakah yang begitu berani memusuhi Siaute?" Ketika Cuan im an Li goan tong menyaksikan congpiautau-nya sudah bangkit berdiri, buru-buru diapun takut bangkit sambil berkata.

"Suheng, kau harus berada disini untuk menemani tamu, lebih baik biar siaute saja yang keluar"

Kiranya Cuan im an Li goan tong pun seorang murid preman dari Siau limpay, dengan Beng kiam ho mereka adalah sesama saudara seperguruan. Beng Kiam hoo segera manggut manggut

"Hati hatilah kau sute." pesannya. Cuan im an Li goan tong mengiakan, dia segera membalikkan badan berjalan keluar. Ting cikang turut bangkit berdiri dan berseru.

"Tunggu sebentar saudara Li, Siaute akan menemanimu untuk keluar melihat lihat keadaan"

Sepeninggal kedua orang itu, suasana dalam ruangan menjadi amat hening tak kedengaran suara sedikitpun, sorot mata semua orang hampir sama sama ditujukan ke tubuh ke dua orang itu.

Mendadak Tok Hayji meletakkan kembali sumpitnya, kemudian kepada si Golok pengejar angin Hee ho Nian ujarnya.

"Kau tidak jadi keluar, bagaimana jika kita lanjutkan pertarungan yang kau tantangkan tadi?"

"Bagus sekali" sahut si golok pengejar angin Hee ho Nian sambil tertawa seram.

Tok Hayji segera mengalihkan sorat matanya memperhatikan sekejap wajah orang yang berada dalam ruangan itu, kemudian ujarnya.

"Aku pikir,jika kalian sanggup mengalahkan diriku, mungkin saja masih ada setitik kesempatan untuk melarikan diri" Ma koan lojin yang duduk dikursi yang paling utama hanyalah mengawasi gerak gerik dari Tok Hay-ji, pada saat itulah mendadak dia  bertanya. "Siau-sicu, siapakah namamu ?"

"Tok Hay-ji" -oodwoo-

BAB KETUJUH

Ma koan tojin tidak berkata apa-apa lagi, dia tegang memikirkan asal usul dari bocah berwajah hitam ini.

Sementara itu, si Golok pengejar angin Hee-ho Nian telah bangkit berdiri dan berjalan menuju ketempat yang longgar ditengah ruangan, lalu sambil meloloskan golok Yan leng to-nya dia membentak berat. "Bocah keparat, kalau ingin turun tangan, hayo cepat cabut keluar senjatamu "

Meskipun Tok Hay ji- masih kecil, lagaknya sangat besar, dengan langkah yang acuh dia maju kedepan, kemudian sambil bertolak pinggang dan tertawa ejeknya. "Marilah"

Jelek jelek begitu, si Golok pengejar ingin Hee ho Nian terhitung jagoan termashur pula diwilayah utara sungai tiangkang, menyaksikan lagak musuhnya yang begitu besar, hatinya sudah menjadi panas seperti mau meledak, tapi dia tak bisa berbuat banyak, sebab bagaimanapun juga pihak lawan tak lebih hanya seorang bocah cilik,

Walaupun dalam hati kecilnya ingin mencincang tubuh bocah cilik itu menjadi berkeping-keping, namun dia tak dapat mengacuhkan tingkat kedudukan yang dimilikinya sekarang, maka sambil tertawa seram, ujarnya. "Mana senjatamu ?"

"Aaah, kau ini betul betul cerewet" seru Tok Hayji tak sabar, "jangan perdulikan aku, bukankah kau telah membawa senjata sekarang ? Bacokkan saja ketubuhku kan beres ?" Ucapan tersebut memang ada benarnya juga ,jikalau golok tersebut sudah dicabut tapi tidak dibacokkan, sebaliknya hanya berbicara melulu, bukankah hal ini sama halnya dengan menghambur-hamburkan waktu saja?

Kendatipun semua orang yang berada dalam ruangan itu merasa tingkah laku dari bocah hitam itu sangat tekebur, namun merekapun ingin mengetahui asal usulnya dari permainan silatnya nanti. Dengan mata melotot besar, Hee ho Nian betul-betul sangat berang, dia tertawa seram lalu serunya.

"Kau sendiri yang berkata begitu,jangan kau salahkan aku nanti.."

-ooodwooo-