-->

Pedang Karat Pena Beraksara Jilid 01

Jilid 01

BUKIT SIAN HOA-SAN

dalam bilangan propinsi Phu- kang, disebut pula bukit Siau- koh san, diatas puncak bukit terdapat sebidang tanah datar yang amat luas.

Memandang   jauh kedepan, hanya bukit yang saling bersambung- sambungan dengan hutan yang lebat, sungai Phu-yang kang bagaikan sebuah rantai putih  memanjang disepanjang kaki bukit.

Malam ini adalah malam Tiong-ciu, udaranya bersih, rembulan bersinar purnama 

Seorang manusia berbaju putih, berdiri di tanah lapang pada puncak bukit sian hoa san dengan sikap yang gagah.

Orang itu berperawatan jangkung dengan alis mata yang tajam, dia berusia tiga puluh tahunan, sebatang pedang berpita putih tersoren dipinggangnya hingga menambah kegagahan orang itu.

Mendaki bukit dimalam Tiong-ciu, tampaknya orang itu sengaja datang untuk menikmati keindahan malam bulan purnama.

Namun sepasang matanya justru memandang ke tempat jauh seakan-akan bukan datang untuk menikmati keindahan malam bulan purnama, melainkan sedang menunggu kedatangan seseorang.

"Sreet" bunyi lirih seperti daun kering yang rontok terhembus angin bergema di belakang tubuhnya.

Seperti merasakan sesuatu, secepat kilat orang berbaju putih itu membalikkan badannya, kemudian sambil menatap tajam asal suara itu, dia membentak berat-berat. "Siapa disitu ?"

Gelak tertawa nyaring berkumandang dari balik hutan dihadapannya, kemudian sesosok tubuh manusia pelan-pelan menampakkan diri.

orang inipun berbaju putih dengan perawakan jangkung, alis matanya lentik dan dengan sepasang mata tajam, usianya antara tiga puluh tahunan, sebilah pedang berpita putih tersoren pula dipinggangnya.

Berbincang soal wajah, potongan badan dandanan sikap serta yang dipakai, orang ini mempunyai segala-gala yang persis seperti orang berbaju putih pertama tadi.

Andaikata kau membawa sebuah cermin besar dan menjajarkan kedua orang itu jadi satu, maka akan terasa bahwa kedua orang itu ibaratnya pinang dibelah dua.

orang berbaju putih yang datang lebih duluan itu nampak agak tertegun lalu dengan wajah serius tegurnya. "sobat, slapakah kau ?" orang berbaju putih yang datang belakangan itu berkerut kening, lalu tertawa nyaring.

"Haaahh -- haaahhh--- haaahhh--- sobat, kau toh dapat berdandan seperti aku, masa kau bertanya lagi siapakah aku? Kebetulan pada malam ini aku punya janji dengan seorang teman untuk bertemu disini, maka turutilah nasehatku, cepat-cepatlah kau tinggalkan tempat ini."

Mencorong sinar tajam dari balik mata orang berbaju putih yang pertama kemudian tertawa seram.

"Sobat, tahukah siapa yang telah berjanji dengan siaute untuk berjumpa disini malam ini"

"Haaahhh... haaahh... haaahh... siaute bisa datang kemari untuk memenuhi janji, tentu saja mengetahui pula slapa orang itu, maka siaute anjurkan kepadamu cepatlah kau tinggalkan tempat ini"

Kedua orang ini bukan cuma wajah, pakaian, sikap maupun gerak geriknya sama, malahan nada serta logat berbicaranya pun tak berbeda dengan lainnya.

orang berbaju putih yang datang duluan itu segera berkerut kening serta mendadak dia maju selangkah lalu ditatapnya orang berbaju putih yang lain lekat-lekat, kemudian tegurnya. "Sobat, siapakah kau?"

"Haaahhh. . . haaahhh      suatu pertanyaan yang sangat bagus,

pertanyaan ini kebetulan ingin siaute ajukan pula kepada dirimu"

Mendengar perkataan itu, orang pertama tadi mendongakkan kepalanya dan tertawa nyaring, suaranya keras memekikkan telinga "Sobat, mengapa kau tertawa?" tegur orang kedua agak tertegun

orang pertama itu segera menghentikan gelak tertawanya, lalu sambil menjura katanya dengan serius. "Sobat dapat menyaru persis seperti siaute, itu berarti kau adalah orang yang cukup kukenal, hanya saja pertemuan malam ini, siaute punya janji dengan seorang gembong iblis yang sudah lama termasyur karena kekayaannya dia datang dengan maksud tak baik bahkan siaute sendiripun tidak yakin menangkan dirinya. aku tak ingin menyusahkan sobat, buat apa saudara mesti menyaru sebagai siaute untuk datang kemari. "

Belum habis orang pertama berbicara, orang berbaju putih kedua sudah menukas sambil menjura pula.

"Betul, usaha saudara untuk menolong orang yang sedang kesulitan sungguh membuat siaute amat terharu, kebaikan ini pasti akan kuingat selalu didalam hati Seperti apa yang saudara katakan dalam peristiwa malam ini, siaute dipaksa oleh keadaan dan mau tak mau mesti datang untuk memenuhinya, sebab itu kuharap saudara mau menuruti anjuranku dan cepatlah tinggalkan tempat ini"

Berbicara sampai disitu, dia lantas menjura berulang kali menyatakan rasa terima kasih.

Dengan tenang orang berbaju putih pertama mendengarkan pembicaraan lawannya, sementara sepasang matanya yang tajam mengamati orang berbaju putih kedua lekat-lekat, hendaknya dia berusaha untuk menemukan titik kelemahanpada tubuh orang ini.

Mendadak dia melesat maju kedepan, dalam sekejap mata tubuhnya sudah berada dihadapan orang berbaju putih yang datang belakangan.

Setelah saling berhadapan, baru nampak kini perbedaannya, ternyata orang berbaju putih yang datang belakangan itu lebih pendek setengah bahu diripada orang pertama.

Seperti menyadari akan sesuatu, tiba-tiba orang berbaju putih yang datang duluan itu menjadi sangat emosi serunya dengan suara agak tergagap. "Rupa... rupanya kau ... kau adalah "

Belum habis ucapan itu diutarakan, dari bawah bukit sana telah berkumandang suara tertawa nyaring yang amat memekikan telinga, suaranya sangat keras sehingga menggetarkan seluruh tanah perbukitan itu. Sikap siorang berbaju putih yang datang duluan itu makin emosi, tidak sempat melanjutkan kata kata sebelumnya, ia segera membentak dengan suara dalam.

"Kenapa kau tidak segera pergi dari sini?" orang baju putih yang datang belakangan itupun tampak dipengaruhi emosi sahutnya dengan gelisah.

"Seharusnya kaulah yang harus pergi..." Belum habis ucapan tersebut diutarakan, terdengar seseorang telah menukas sambil tertawa seram.

"Kaliau berdua tak usah pergi lagi dari sini" suaranya tajam dan melengking, amat tak sedap didengar.

Walaupun kedua orang manusia berbaju hitam itu merasakan hatinya bergetar keras dan diam-diam kaget akan kecepatan gerak lawan^namun mereka masih tetap berdiri tegak di tempat semula.

Angin malam yang berhembus lewat mengibarkan ujung baju berwarna putih kedua orang itu mereka tampak amat tenang, seolah olah tiada sesuatu ancamanpun dihadapan mereka.

Sesosok bayangan hitam dengan kecepatan tinggi meluncur tiba, ternyata dia adalah seorang kakek berusia lima puluh tahun yang mengenakan jubah warna hijau.

Diatas wijahnya yang kurus dan berwarna hitam pekat tersungging sekulum tertawanya yang menyeringai seram, ditatapnya kedua orang itu sekejap. lalu berkata.

"Tak kusangka Pek ih kiam kek (jago pedang berbaju putih) yang begitu termasyhur namanya dalam dunia persilatan, telah mencarikan seorang pengganti untuk menghadapi kematian, haaahhh... haaahh... haaahhh... untung saja lohu tak datang terlambat, kalau tidak niscaya salah seorang diantara kalian sudah ada yang kabur dari sini..."

Berkilat sepasang mata orang berbaju putih yang datang lebih duluan itu, katanya gagah. "Hmmm... Kau telah menganggap diriku ini sebagai manusia macam apa..?" orang berbaju putih yang datang belakangan ikut tertawa tergelak pula.

"Kau telah berani datang kemari untuk memenuhi janji, sebelum menghasilkan sesuatu, kaupun tak usah pergi dan sini."

Dengan sorot mata yang tajam, kakek berbaju hijau mencoba meneliti kedua orang itu dengan seksama, namun diapun tidak berhasil membedakan mana yang asli dan mana yang gadungan, maka sambil manggut-manggut dia berkata.

"Ehmm. betul-betul hebat, tampaknya penyaruan kamu berdua

memang hidup dan sempurna, namun bagi lohu mah tak acuh terhadap keaslian kalian, setelah berani datang kemari untuk memenahi janji, maka lohu hanya ingin mengajukan satu pertanyaan saja, sudahkah barang itu dibawa serta?"

"Barang milik perguruan kami tak akan dibiarkan terjatuh ketangan kaum laknat, menangkan dulu pedang ditanganku ini sebelam bertanya yang macam-macam" kata orang berbaju putih yang datang duluan itu ketus.

Orang berbaju putih yang datang belakangan ikut berseru pula. "Barang itu berada d isakuku, menangkan dulu pedangku ini, bila

aku kalah niscaya benda tersebut akan kuserahkan kepadamu"

"Bagus, sekali" kakek berbaju hijau itu menyeringai seram, "kalian terdiri dari yang asli dan yang gadungan, berarti barangnya ada yang asli ada pula yang palsu, haaahhh . . .haaahhh-. . .

haaahhh,. . .biar palsu maupun asli akan lohu ambil semua, nah, bila ingin turun tangan, lebih baik kalian maju bersama saja"

Dalam pembicaraan pergelangan tangannya segera digetarkan keras, sebatang ruyung lemas berkepala ular yang memancarkan sinar kehitam hitaman telah meluncur keluar dari balik bajunya, kemudian tangan kirinya digetarkan pelan, ruyung itu segera berputar sambil memancarkan cahaya kehijau-hijauan, bentaknya dengan suara dalam. "Majulah, lohu tak sabar untuk menunggu lebih lama lagi"

"criiing criiing..."

Hampir pada saat yang bersamaan, kedua orang manusia berbaju putih telah meloloskan pedangnya. Tapi orang berbaju putih yang datang belakangan maju kedepan lebih dulu, tiba dihadapan musuh dia membentak keras.

"Aku akan lebih dulu mencoba dimana kehebatanmu "Sreet ... " serentetan cahaya perak yang menyilaukan mata, secepat kilat meluncur kedepan dan melepaskan sebuah tusukan dahsyat dimana pedangnya menyambar lewat, hawa dingin yang menyayat tubuh memencar keempat penjuru.

Tetapi orang yang berbaju putih yang datang duluan telah mendahuluinya.

Sambil menghalangi jalan pergi orang berbaju putih yang datang belakangan, dia membentak dengan mata berkilat tajam.

"Kau mundur dulu"

Bentakan itu tidak begitu nyaring, akan tetapi membawa suatu kewibawaan yang tak terbantahkan-

Orang berbaju putih yang datang belakangan agak tertegun, tanpa sadar ia mundur selangkah.

Orang berbaju putih yang datang duluan itu, tidak menggubrisnya lagi, ia menatap wajah si kakek berjubah hijau seraya bentaknya. "Sekarang, kau boleh lancarkan seranganmu"

"Baik"

Kakek berjubah hijau itu segera menggetarkan lengannya, ruyung itu berputar diangkasa dengan membawa suara nyaring, kemudian diiringi kilatan cahaya tajam, kepala ular diujung ruyung itu menyambar ke dada orang berbaju putih itu dan mengancam ketiga buah jalan darah penting yang berada disana. Dalam keadaan gusar, serangan yang dilaksanakan oleh gembong iblis tua ini selain cepat bagaikan kilat, juga ganas dan mematikan

Terkesiap juga orang berbaju putih yang datang duluan itu setelah menyaksikan kelihayan serangan lawannya dalam jurus ternama.

"Tak heran kalau gembong iblis ini amat tersohor namanya didalam dunia persilatan ternyata kepandaian silat yang dimilikinya memang benar-benar luar biasa" demikian ia berpikir.

Tangan kiri mengayun miring kesamping dengan suatu taktik pancingan, sementara pedang ditangan kanannya menyongsong dengan jurus Sam seng tang hu (tiga bintang dimuka jendela).

Tatkala orang berbaju putih yang datang belakangan menyaksikan kedua orang itu sudah terlibat dalam suatu pertarungan sengit, diam-diam ia menghela napas panjang dan mudur beberapa langkah dari situ.

Dalam waktu singkat pertarungan telah berlangsung tujuh delapan gebrakan lebih.

Sementara itu kakek berjubah hijau itupun sudah merasakan pula kemampuan dan ketangguhan lawannya memainkan ilmu pedang, bahkan dia pun tahu bahwa kepandaian lawan telah mencapai puncak kesempurnaan

Kendatipun di hari-hari biasa dia angkuh dan tak pernah pandang sebelah matapun terhadap lawannya, kali ini tak berani memandang remeh musuhnya.

Sebaliknya orang berbaju putih yang datang duluan itupun memahami sekali akan asal-usul kakek berbaju hijau itu, kendatipun dia mempertaruhkan nyawa pun belum tentu merupakan tandingannya, maka begitu turun tangan, ia lantas mengambil taktik bertahan menyelamatkan diri lebih dahulu.

Dihati mereka berpikir serangan tak pernah mengendor, bahkan lamat-lamat semakin menanjak hebat. Lima puluh gebrakan kemudian, daerah seluas dua kaki sudah berada dalam lingkaran bayangan ruyung yang berlapis-lapis serta desingan angin pedang yang tajam.

Lama kelamaan kakek berjubah hijau itu menjadi naik pitam juga setelah semua usahanya tidak mendatangkan hasil, mencorong sinar hijau yang mengidikkan hati dari balik matanya, dia segera mundur dua langkah, lalu sambil tertawa seram katanya.

"Pek ih kiam kek, namamu memang benar-benar bukan nama kosong belaka, coba kau sambut lagi beberapa buah serangan ruyung dari lohu."

Jubah hijaunya dikembangkan menjadi sangat besar, lalu tubuhnya bergerak bagaikan hembusan angin, permainan ruyungnya kontan berubah sama sekali

Sekejap mata kemudian deruan angin yang berbau amis memancar dari empat penjuru, bayangan ruyung menjadi makin gencar, bagaikan gulungan ombak dahsyat saja selapis demi selapis menggulung datang tiada hentinya....

Betul ilmu pedang yang dimiliki orang berbaju putih itu sangat lihay, namun kewalahan juga dibuatnya setelah menghadapi gelombang serangan ruyung yang maha dahsyat itu, kontan dia menjadi kalang kabut tak karuan dan mundur berulang kali. Terkesiap amat hatinya menghadapi kejdaan demikian, pikirnya.

"Bila kugunakan suatu taktik pertarungan semacam ini terus untuk melayaninya, cepat atau lambat aku pasti akan terluka juga diujung ruyungnya, lebih baik mumpung kini masih ada kesempatan untuk melancarkan serangan balasan, baiklah aku beradu jiwa dengannya."

Berpikir demikian, hawa murninya segera di himpun semakin kuat, lalu sambil tertawa nyaring serunya.

"Suatu permainan ilmu ruyung yang sangat bagus, nah, kaupun boleh menyambut tiga buah serangan pedang ku. " Begitu selesai berkata, mendadak ia mengembangkan ilmu Pek- lek-sam leng (tiga getaran geledek) dari perguruannya untuk melancarkan serangan balasan, diantara getaran tangannya itu, secara beruntun dia telah melepaskan tiga buah serangan berantai.

Tiga buah serangan yang dilepaskan secara berbarengan ini benar-benar luar biasa sekali, tampak ujung pedang yang bergetar keras segera menciptakan selapis cahaya bianglala berwarna perak yang segera menerjang kearah bayangan ruyung tersebut.

Bagaikan amukan angin topan, diiringi suara guntur dan angin yang menggetarkan sukma, serangan itu melesat keudara dan menyongsong datangnya tubuh lawan.

"Traaang .. " pedang dan ruyung segera saling membentur satu sama lainnya hingga menimbulkan suara getaran yang memekikkan telinga, seketika itu juga cahaya pedang dan bayangan ruyung lenyap bersama dari tengah angkasa.

Paras muka kakek berjubah hijau itu berubah menjadi mengerikan sekali, ruyung ular-nya tergetar hingga lepas dari cekalan, sementara itu tubuhnya tergetar mundur sejauh tiga langkah.

Demikian pula keadaan dari si orang berbaju putih yang datang duluan itu, tiba-tiba saja dia merasakan pergelangan tangan kanannya yang memegang pedang menjadi sakit sekali, seakan- akan telah digigit oleh suatu makhluk, kemudian mulut lukanya menjadi gatal sekali, separuh lengan kanannya dari batas siku sampai pergelangan tangan kontan menjadi kaku dan mati rasa. "Trang. . " pedang itupun jatuh ketanah.

orang berbaju putih yang datang belakangan menjadi terkejut sekali setelah menyaksikan kejadian itu buru-buru teriaknya.

"cepat kau tutup jalan darah ci ti hiat pada siku kananmu, jangan biarkan racun itu mengalir lebih keatas"

Seraya berseru, pedangnya digetarkan keras lalu diterjangnya kakek bejubah hijau itu dengan dahsyat. "Bajingan tua, mana obat penawarnya?" ia membentak nyaring.

Kakek berjubah hijau itu mundur kebelakang, sementara tangan kanannya segera menggapai ketanah, ruyung panjang berkepala ulatnya yang tergeletak ditanah itu segera berputar satu kali di angkasa dan- . . "weeesss" meluncur kembali ketangannya.

Setelah senjata berada ditangan kembali ia menggetarkannya keras-keras lalu sambil tertawa seram, katanya kepada orang berbaju putih yang datang belakangan. "Benar, masih ada kau yang tak boleh dilepaskan juga"

Orang berbaju putih yang datang belakangan tertawa dingin dihati, pikirnya.

"IHeeehh . . . heehh... heeehh .. . kau tak akan menyangka kalau pedang yang sederhana dan sama sekali tidak membawa cahaya ini sesungguhnya adalah sebilah senjata mustika yang tajamnya bukan kepalang."

Pedangnya segera dicukil keatas, lalu tanpa berkelit dia babat datangnya senjata lawan

Kedua belah pihak sama sama berindak dengan kecepatan tinggi, "Traaang . . ." pedang dan ruyung itu segera saling membentur satu sama lainnya.

Tiba tiba kakek berjubah hijau itu merasakan tangannya menjadi ringan, ternyata ruyung sakti Thi-ieng-tiok-kiat-coe (ruyung sakti beruas ular bersisik baja) yang biasanya tidak mempan dibacok oleh pelbagai macam senjata itu kini sudah terlepas hingga tinggal separoh bagian saja.

Tak terlukiskan hawa amarah yang berkobar dalam dadanya, dia membentak keras, tubuhnya yang tinggi besar menerjang kemuka dengan kecepatan bagaikan sambaran petir, sementara telapak tangan kirinya dibabat keatas dada orang berbaju putih itu.

Serangan yang dilancarkan dalam keadaan gusar ini betul-betul hebat sekali kekuatannya, berbareng dengan ayunan tangan itu, gelombang angin puyuh yang maha dahsyat disertai desingan angin tajam ibarat amukan ombak besar ditengah samudra segera meluncur kedepan, kekuatannya betul-betul mengerikan hati.

orang berbaju putih yang datang belakangan itu, meskipun berhasil memapas kutung senjata ruyung lawan, akan tetapi Thileng tlok kiat coa tersebut terhitung sebuah senjata yang lunak walaupun tubuh ruyung itu sudah kutung, bukan berarti serangannya telah hilang.

Apalagi setelah ular itu merasa kesakitan, tubuh bagian atasnya segera menubruk kedepan dengan kecepatan bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya.

Orang berbaju putih yang datang belakang sama sekali tidak menyangka sampai ke situ, tatkala bau amis berhembus datang, hampir saja ia kena tergigit. Dalam kagetnya baru baru dia miringkan kepalanya ke samping, lalu memutar pedangnya untuk melindungi muka.

Ujung pedangnya segera, berputar ke atas, tubuh ular tersebut seketika, tercukil lenyap.

Tapi pada saat yang bersamaan, angin pukul dari si kakek berjubah hijau itupun telah menerjang datang ke tubuhnya, diam- diam ia menjadi amat terkesiap. dia tak mengira kalau tenaga dalam yang dimiliki gembong iblis tua itu sedemikian sempurnanya.

Buru-buru dia menghimpun kembali tenaga dalamnya, lalu tubuhnya melambung ke udara dan melayang ke samping kiri untuk menghindarkan diri.

Saat ini, si kikek berjubah hijau itu sudah geram sekali, kalau bisa dia ingin membunuh orang berbaju putih itu dibawah pukulannya, tentu saja ia tidak memberi kesempatan lawannya untuk menghindarkan diri.

Gagal dengan serangannya yang pertama tubuh yang sedang menerjang kedepan itu sama sekali tidak berhenti, sambil berputar tangan kirinya dengan membawa tenaga pukulan yang kuat segera diayunkan ke depan, menyusul kemudian tangan kanannya diayunkan pula kedepan melepaskan serangan lain.

Angin puyuh yang amat dahsyat dari serangan lurus segera beri hati menjadi suatu sapuan yang datang dari samping, bahkan setelah mengalami penambahan tenaga ditengah jalan daya kekuatannya menjadi berlipat ganda lebih dasyat daripada serangan yang pertama tadi.

Tiba tiba orang berbaju putih yang datang belakangan itu berdiri tegak di tanah, pedangnya yang berada ditangan kanan segera dialihkan ketangan kiri, sementara telapak tangan kanannya disilangkan kedepan dada. Bentaknya kemudian dengan wajah serius.

"Tua bangka, kau anggap aku benar-benar merasa jeri kepadamu?"

Telapak tangan kanaknya yang semula disilangkan didepan dada itu, mendadak dibalik kemudian mendorong ke muka dengan suatu gerakan yang cepat sekali bagaikan sambaran kilat.

"Sreeet.." segulung desingan angin tajam memekikkan telinga, meluncur kedepan dengan dahsyatnya.

Seketika itu juga, si kakek berjubah hijau itu merasakan empat- lima depa disekeliling tubuhnya seolah-olah telah diliputi oleh angin pukulan yang kuat, dia merasa tubuhnya seakan-akan telah dibelah jadi dua bagian oleh pukulan yang dilancarkan manusia berbaju putih itu. "Haaah, . . ilmu pukulan Siu lo lek.. ."

Tampaknya tak ringan luka yang diderita kakek berjubah hijau itu akibat serangan dahsyat yang dilancarkan musuhnya.

Dalam jerit kagetnya yang keras, dia memekik, tubuhnya dan kabur dari situ diiringi suara pekikkan memanjang yang amat memekikkan telinga..

Dalam waktu singkat, bayangan tubuhnya telah lenyap dari pandangan mata, sementara itu orang berbaju putih yang datang belakangan itupun berdiri tersengal-sengal dengan wajah memucat, tapi ia tak sempat lagi untuk mengatur napas, sambil menyarungkan kembali pedangnya, ia segera membopong tubuh orang berbaju putih yang datang lebih dulu itu, lalu kabur turun gunung.

-ooodwooo-

BAB : PAMAN TAK BERNAMA

BULAN delapan telah menjelang kembali. Rembulan bulat dan berwarna putih keperak-perakan itu sudah muncul ditengah angkasa, begitu bulat bulatan tersebut hingga kau takkan menemukan perbedaannya. Tapi hari baru tanggal empat belas.

Sebuah gubuk yang amat sederhana nampak berdiri dikaki bukit nanpermai, dibawah sinar rembulan tampak seorang pemuda tampan sedang menggerakkan tangannya melatih serangan jurus jurus silat.

Dilihat dari gerakannya, ia seperti tidak sertakan tenaga dalam latihannya itu, namun sepasang telapak tangannya berputar dan berputar terus saling menyambung tiada hentinya, setiap kali tangannya diayunkan, terasa ada angin lirih yang berhembus lewat.

Bagi mata seorang ahli, hanya sekilas pandangan saja dapat diketahui kalau pemuda itu sedang memainkan ilmu Tay khek ciang dari partai Bu tong yang amat termashur itu.

Setengah jam kemudian, rangkaian ilmu yang sedang dilatih pemuda itu sudah mendekati akhir.

Mendadak dia maju sambil berputar, lengan kanan menekuk kedalam sambil membuat satu gerakan lingkaran, kemudian telapak tangannya yang tegak ke atas, secepat kilat membabat ke-depan-

"Sreeet..." segulung angin pukulan yang kuat meluncur keluar dari telapak tangannya. "Kraaak..." sebatang bambu yang besar kurang lebih enam depa dihadapan segera di sambar oleh pukulan itu sehingga patah menjadi dua bagian- Pemuda itu tampak terkejut apa yang dilakukan sekarang tak lebih hanya suatu gerakan iseng belaka, siapa sangka pukulan yang dilepaskan dengan ringan itu telah menghasilkan tenaga pukulan yang begitu dahsyat.

Dengan cepat dia memburu ketempat kejadian dan memeriksa bekas patahan pada bambu itu, ternyata bekasnya rata bagaikan disayat dengan golok tajam saja.

Entah karena kaget, entah karena gembira untuk sesaat lamanya ia berdiri tertegun disana, Lewat beberapa sant kemudian dia baru berguman lirih, "Aaiih... tidak benar."

Dikala mewariskan ilmu pukulan tersebut kepadanya, berulang kali diperingatkan kepadanya bahwa ilmu pukulan Tay-Khek bukanlah suatu kepandaian yang bersifat ganas, tapi yang diutamakan adalah menggunakan tenaga dalam sewajarnya, dengan hati menimbulkan perasaan, dengan perasaan menimbulkan tenaga, maka yang dinamakan bukan penggunaan tenaga, melainkan dengan perasaan menimbulkan tenaga, dan dengan tangan menghantam lawan... itulah prinsip yang penting dari kepandaian tersebut.

Seperti pula dengan jurus Hud im jiu (pukulan menyapu awan) yang baru saja dipergunakan, seharusnya gerakan itu enteng seperti segumpal awan yang sedang bergerak diangkasa, tapi mengapa tenaga setajam golok yang meluncur keluar dari balik telapak tangannya? Hal ini terasa tidak sesuai dengan teori yang diwariskan ayahnya selamanya ini.

Sebab kalau bukan suatu kekeliruan kenapa tenaga yang dipancarkan keluar tidak sesuai dengan apa yang diminta?

Untuk sesaat lamanya dia menjadi tertegun dan berdiri termangu-mangu dengan wajah penuh tanda tanya.

Dia tahu, bila seorang yang belajar ilmu sampai salah melatih diri, itu sama artinya dengan seseorang yang tersesat dijalan, makin berjalan tersesat makin jauh, dia harus segera balikan badan dan berjalan kembali dari permulaan

Andaikata sampai terjadi keadaan demikian bukankah berarti pula perjuangannya selama tiga tahun ini hanya sia-sia belaka? padahal secara teliti ayahnya telah menetapkan bahwa ilmu pukulan tersebut harus sudah berhasil dikuasahinya secara sempurna sebelum bulan Tiong ciu tahun ini.

Mendongakkan kepalanya memandang rembulan di angkasa, pelan-pelan ia bergumam lirih:

"Tanggal empat belas, besok ayah akan kembali, kepada persoalan pertama ini yang harus kusampaikan kepada dia orang tua adalah persoalan ini"

Maka dia tidak berlatih lagi dan kembali ke dalam rumah, menutup pintu dan naik ke atas ranjang untuk tidur.

Fajar telah menyingsing, kemudian siang tiba malampun menjelang kembali.

Entah berapa kali pemuda itu berdiri didepan pintu sambil menantikan pulangnya ayahnya.

Dimasa masa lalu, bila ayahnya sedang turun gunung, maka pada saat ini pasti telah kembali kerumah, tapi hari ini, mengapa ayahnya belum juga kembali. Mungkin dia orang tua telah menjumpai suatu musibah ditengah jalan-

Baru saja ingatan itu muncul, dengan cepat ia menghilangkan kembali ingatan itu dengan berpikir.

"Aiaah. tak mungkin, dengan mengandalkan kepandaian silat yang dimiliki ayah tak mungkin dia sampai ketimpa musibah."

Apalagi dihari-hari biasa, ayahnya memang jarang bersikap kasar kepada orang, dia selalu halus berbudi dan enggan untuk mempamerkan kepandaian silatnya dihadapan orang, itu berarti ada suatu persoalan lain yang sedang dihadapinya, membuat dia terlambat pulang ke gunung. "Aah ..." tiba-tiba dia berseru tertahan Rupanya pemuda itu telah teringat akan sesuatu, sehari menjelang keberangkatan ayahnya turun gunung, dia telah menyerahkan sesuatu benda kepadanya sambil berpesan, andaikata malam Tiong ciu nanti tak sempat kembali, maka ada persoalan yang harus dia laksanakan-

Dia orang tua menyimpan benda itu dalam sebuah kotak kayu, kemudian berpesan lagi.

"Asal kau melihatnya sendiri maka semuanya akan menjadi jelas, tapi belum tiba waktunya, dilarang untuk memeriksanya."

Kini ayahnya belum kembali, itu berarti bukan terhitung mengintip bila ia periksa isi kotak tersebut.

Begitu ingatan tersebut melintas lewat dalam benaknya, dengan copat dia lari masuk ke dalam kamar lalu dari kolong ranjang mengeluarkan sebuah anak kunci kecil, kunci itu diberikan kepadanya sesaat sebelum kepergian ayahnya.

Lalu dari kolong ranjau dia mengeluarkan pula kotak kayu berbentuk sepi panjang dan dibukanya dengan sangat berhati-hati.

Dibawah cahaya lentera, semua benda dalam kotak itu tertera jelas, mendadak pemuda itu merasakan jantungnya berdebar keras.

Dalam kotak itu berisikan sebilah pedang yang telah berkarat sebuah lencana besi yang kecil, sepucuk surat.

Pada sampul surat itu tertera beberapa huruf yang berbunyi "Surat ini tertulis untuk Tiong hiong keponakanku."

Inilah gaya tulisan dari "ayahnya" Dalam sekilas pandangan saja dia dapat mengenalinya kembali.

Tapi mengapa dia menulis "keponakan?" sebagai orang tua, seharusnya kalau dia orang tua menyebut "ananda" kepadanya?

Setelah termangu sejenak. akhirnya dengan tangan gemetar dia menerima sampul surat itu dan dirobek sampulnya, setelah itu diambilnya kertas surat didalam dan dibaca isinya. "Keponakan Tiong hong." "Ketika membaca panggilan tersebut, kau tentu merasa terkejut bercampur keheranan bukan? Lima belas tahun lamanya, kau selalu menganggap diriku sebagai ayahmu, aku pun selalu menganggap kau sebagai anak kandungku sendiri, tapi dalam kenyataan aku bukan ayahmu, kalau dihitung kembali kau sepantasnya menyebut paman kepadaku."

Sepasang tangan pemuda itu mulai gemetar matanya berkaca- kaca dan wajahnya memucat, hampir saja ia menjerit lengking.

"Tidak, oooh tidak... ayah kau membohongi aku, kau adalah ayahku, sejak kecil ananda sudah mengikuti dirimu, suaramu, tertawamu sudah kukenal sejak kecil dulu, mengapa secara tiba tiba kau tak mengakui diriku sebagai anakmu lagi ?"

Dengan ujung bajunya ia menyeka air mata dipipi, kemudian membaca isi surat itu lebih lanjut.

"Anakku, kau jangan menangis dulu, sesungguhnya aku sudah lama hendak memberitahu-kanpersoalan ini kepadamu, tapi aku tak ingin memecahkan perhatianmu karena ilmu silatmu belum berhasil.

Untung juga belum terhitung lambat bila ku beritahukan hal ini sekarang, kau telah berusia delapan belas tahun-

Delapan belas tahun, boleh dibilang sudah dewasa, yang paling ayah sayangkan ilmu silatmu telah berhasil kau kuasai, itulah satu satunya perkara yang membuatku merasa amat girang.

"Kau tidak She Wi, tapi sekarang kau masih harus menggunakan "wi thong hong" sebagai namamu"

"Membaca sampai disini. wi thong hong tak kuasa untuk menahan air matanya lagi, titik-titik air mata jatuh bercucuran membasahi pipinya, peristiwa ini benar benar mengesalkan sekali.

Ayah yang belum pernah berpisah dengannya semenjak ia masih kecil dulu, ternyata bukan ayah kandungnya.

Sedang nama yang sudah terbiasa ia pakai sejak kecil ternyata bukan nama aslinya, lalu siapakah aku yang sebenarnya. "Nak. bila kan membaca sampai disini, pasti akan timbul pertanyaan siapakah dirimu yang sebenarnya? siapakah namamu? Dari mana asal usulmu? Dan siapa pula orang tuamu? Tapi aku hanya bisa menjawab dengan enam patah kata yakni.

"Dikemudian hari kau akan tahu sendiri, bukan aku enggan memberitahukan hal ini kepadamu karena... belum sampai waktunya.

Tampak oleh Wi Tiong hong, dibawah tulisan "karena" itu masih ada beberapa patah kata yang telah dicoret kembali, bahkan dibubuhi dengan tinta hitam sehingga tidak nampak tulisan yang sebenarnya, sedang: kata berikutnya tak lebih hanya kata tambahan belaka.

Dari sini dapat dilihat, sebenarnya dibawah tulisan "karena" dia hendak menjelaskan sesuatu, tapi kemudian dirasakan kurang tepat, maka tulisan yang sudah terlanjur ditulis dihapus kembali dengan tinta.

Wi Tiong hong segera mendekat kertas surat itu didekat lampu lentera, dia bermaksud untuk meneliti tulisan apakah yang telah dihapus itu, sayang usahanya ini tidak berhasil. Terpaksa dia membaca lebih jauh.

"Nak. paman hanya dapat memberitahukan satu hal kepadamu, yakni ayahmu telah tewas ditangan seorang musuhnya pada lima belas tahun berselang, sedangkan ibumu masih hidup segar bugar didunia ini."

"Dikemudian hari, disaat engkau dapat berjumpa kembali dengan ibumu, saat itulah asal usulmu akan menjadi jelas, dan disaat kau membalas dendam berdarah itu "

Kembali dibawah tulisan mana tampak beberapa puluh huruf yang dicoret kembali dengan tinta.

"Mulai besok kau harus turun gunung, hal ini dikarenakan aku masih ada persoalan lain yang harus segera diselesalkan dan tak mungkin akan balik kembali kemari, kau harus terjun ke dalam dunia persilatan untuk melatih diri sambil mencari pengalaman-

Tapi ada satu hal perlu kau ingat baik-baik, bila ada orang menanyakan tentang asal usul perguruanmu maka kau harus mengatakan sebagai murid Thian Goan-cu dari Bu-tong-pay.

Dunia persilatan penuh dengan mara bahaya serta tipu muslihat yang licik, hati-hati dalam pergaulan dan mencari teman-

Ilmu menyaru dari paman telah kau kuasahi sepenuhnya, selama melakukan perjalanan didalam dunia persilatan, jangan kau perlihatkan wajah aslimu. Aku rasa dengan mengandalkan kepandaian silat yang kau miliki, asal tidak terlalu menyolok aku yakin kau masih mampu untuk menghadapinya.

"Pedang besi dalam peti, jangan kau anggap sudah berkarat dan tumpul, sesungguhnya pedang itu tajam sekali dan merupakan benda milikku dulu, sekarang kuhadiahkan kepadamu sebagai kenangan

"Bila paman tidak mati, aku pasti akan pergi mencarimu." Dalam peti terdapat sebuah lencana besi, baik-baik simpan benda itu dan jangan sampai hilang.

Bila kau selesai membaca surat ini, bakarlah sampai musnah, Nah, cukup sekian dahulu semoga kau baik baik menjaga diri. Tertanda: “Paman yang tidak dikenal namanya"

Selesai membaca surat itu, Wi. Tiong hong merasa sukmanya seperti telah melayang tinggalkan raganya saja, untuk sesaat lamanya dia berdiri tertegun didepan ranjang.

Dendam ayahnya, asal usulnya, ibunya serta paman yang tidak dikenal namanya, kesemuanya itu bercampur aduk dalam benaknya membuat pemuda itu merasa amat kesal.

Tanpa disadari air matanya jatuh bercucuran membasahi pipinya.

Sekali lagi dia baca isi surat itu, kemudian baru mengikuti pesan dari pamannya untuk membakar surat itu hingga punah. Kemudian dari peti kayu itu dia mengeluarkan pedang dan lencana besi tersebut, setelah itu ditelitinya dibawah sinar lentera.

Pada lempengan lencana itu, selain terukir seraut wajah setan yang sedang menyeringai seram, tak tampak sepatah katapun yang tertera disitu, dia tak tahu apa kegunaannya, tetapi mengingat pamannya telah berpesan agar "simpan baik baik dan jangan hilang" maka dia masukkan benda itu kedalam sakunya.

Kemudian dia meloloskan pedang berkarat itu dari sarungnya, meskipun pedang itu sudah karat, namun sama sekali tidak menunjukkan sesuatu keistimewaan apapun.

Dia mencoba membacok kearah batu, ternyata tanpa menggunakan banyak tenagapun senjata tersebut telah menancap kedalam batu cadas yang amat keras.

Sekarang dia baru terperanjat dia baru tahu dan percaya kalau pedang tersebut benar benar tajam sekali.

Sambil mencabut keluar pedang itu, dengan air mata bercucuran ia bergumam, "Aku hendak mempergunakan pedang ini untuk membalaskan dendam ayahku, aku hendak mencari ibuku"

Berbicara sampai disini, hatinya makin sedih sehingga air mata bercucuran keluar semakin deras.

-oooodwoooo-

UDARA AMAT CERAH, angin lembut berhembus sepoi-sepoi.

Udara dibulan delapan adalah bulan mendekati musim dingin meskipun begitu, bila kau berjalan dibawah sinar matahari, keringat akan bercucuran karena gerah.

Tengah hari sudah menjelang tiba, namun diatas jalan masih nampak banyak manusia yang melakukan perjalanan sambil bercucuran keringat. Tampaknya mereka sedang memburu masuk kedalam kota sebelum tibanya tengah hari.

Orang-orang itu ada yang merupakan saudagar kain, ada pula pelancong yang datang untuk berpesiar.

Seorang pemuda berbaju hijau dengan membopong sebuah bungkusan kecil dipunggung serta sebuah bungkusan panjang berwarna hijau, sedang melakukan perjalanan pula dibelakang orang-orang itu.

Dia tak lain adalah Wi Tiong hong yang disuruh paman yang tak diketahui namanya untuk melakukan perjalanan dalam dunia persilatan.

Ketika meninggalkan bukit Huay Giok-san, pikirannya terasa kosong bagaikan selembar kertas putih, dia tak tahu kemana harus pergi, maka ditelusurinya jalan raya yang dijumpai.

Pintu kota yang tinggi besar telah muncul di depan mata, tampak banyak sekali manusia yg berjalan masuk kedalam kota, tapi banyak pula yang berjalan keluar meninggalkan kota.

Seorang diri Wi Tiong hong berjalan menelusuri jalan, ia belum pernah masuk kota, ketika melihat begitu banyak orang yang berlalu lalang disana, dia turut celingukan kesana kemari dengan perasaan ingin tahu, seakan-akan sedang mencari sesuatu, padahal tiada yang dicarinya. Mendadak ia jumpai dikaki tembok kota sana, duduk seorang nenek berambut putih serta seorang gadis berbaju kasar.

Nenek itu kurus kering, sepasang kakinya sebatas lutut telah kutung, ia duduk lemas ditanah sambil mengawasi orang yang berlalu lalang disana dengan sepasang biji matanya yang berwarna putih.

Gadis itu berusia enam tujuh belas tahun, rambutnya berwarna kuning dan mukanya burik mana kuning hitam pekat lagi sehingga wajahnya kelihatan sangat jelek.

Dihadapan kedua orang itu bergerombol anak-anak kecil yang lagi menonton keramaian, diatas tanah berserakan pula dua tiga puluh mata uang yang merupakan sedekah dari orang-orang yang berlalu lalang dihadapannya.

Mendadak timbul perasaan iba dalam hati Wi Tiong hong, tanpa terasa diapun teringat dengan enam puluh tahil perak yang ditinggalkan paman tak dikenal untuknya.

"Mengapa tidak kubagikan separuh diantaranya buat mereka?" demikian dia berpikir, "kasihan kalau nenek cacad ini harus duduk dibawah kaki tembok kota sepanjang hari. ah mungkin uang yang

kuberikan kepada mereka akan bermanfaat bagi kedua orang itu?"

Berpikir demikian dia lantas menurunkan buntalannya dan mengambil separuh bagian uang yang dimilikinya untuk nenek itu, kemudian dia berbisik. "Nek, terimalah tiga puluh tahil perak ini untuk kebutuhan hidupmu."

Tatkala sepasang tangan nenek berambut putih itu meraba diatas uang perak itu, terdengar ia berseru tertahan.

Sementara itu Wi Tiong hong telah bangkit berdiri dengan wajah memerah, ketika mendongakan kepalanya, ia saksikan gadis berwajah jelek itu kebetulan sedang memandang kearahnya.

Takala empat mata saling bertemu, Wi Tiong- hong segera merasa walaupun gadis itu jelek tampangnya namun memiliki sepasang mata yang jeli dan indah sekali.

Anak muda itu menjadi gugup, seperti telah melakukan sesuatu berbuatan salah, tiba tiba ia menyambar kembali buntalannya dan kabur dengan menerobosi kerumunan orang banyak

Setelah melewati jalan raya, dia baru merasakan hatinya rada tenang, hingga langkah kakinya turut mejadi lebih santai.

Tiba-tiba hidungnya mendengus bau harum semerbak, sudah setengah harian dia belum bersantap. sejak tadi memang perutnya sudah lapar maka mendengus bau harum, perutnya menjadi lapar bukan main Iapun mengalihkan pandangan matanya kearah mana berasalnya bau harum tadi, tampak sebuah rumah makan yang besar berada didepan sana, rumah makan papan nama itu telah dimakan usia warna emasnya meski utuh namun sekeliling papan itu berwarna hitam pekat.

Pelan-Pelan Wi Tiong hong naik keatas loteng, pelayan segera menyiapkan tempat duduk sambil bertanya akan memesan apa.

Wi Tiong hong tak mengenal nama-nama hidangan yang ada, maka ketika dia berpaling kemeja sebelah dimana ada seorang lelaki kekar sedang mendahar sepiring daging sapi dan semangkok arak diapun lantas menuding kearah hidangan tersebut seraya berkata. "Aku pesan seperti hidangan itu, daging sapi dan sepoci arak."

Lelaki dimeja sebenarnya itu segera berpaling tatkala mendengar perkataan tersebut, sepasang matanya yang tajam memandang sekejap ke atas wajahnya, kemudian memperhatikan pula bungkusan panjang yang diletakkan diatas meja itu.

Wi Tiong hong dapat melihat kalau orang itu berusia tiga puluh tahunan, berjubah hijau beralis tebal dengan mata yang besar, bentuk wajahnya persegi empat dengan warna hitam pekat, ia nampak gagah dan perkasa sekali.

"Dia pasti seorang pendekar besar" pekiknya dalam hati.

Lelaki tadi hanya memperhatikannya beberapa kejap kemudian berpaling lagi untuk melanjutkan santapannya.

Tak lama kemudian pelayan datang menghidangkan arak, witopg hong memenuhi cawannya dan meneguk setegukan, siapa tahu dia memang belum pernah minum arak. begitu arak masuk lewat kerongkongan kontan saja dia terbatuk-batuk.

Mendadak lelaki tadi berpaling lagi, wajahnya-tampak diliputi oleh perasaan heran dan tidak habis mengerti.

Merah padam selembar wajah Wi Tiong-hong. buru-buru ia menyumpit sepotong daging dan disuap kedalam mulutnya, setelah itu baru ia mengangkat mangkok araknya dan minum setegukkan lagi.

Setelah meneguk beberapa tegukan dia menjadi telah terbiasa, tak selang beberapa saat kemudian dua mangkok arak sudah berpindah kedalam perutnya. Tiba tiba ia merasakan timbulnya rasa pedih dari hati kecilnya. Dendam ayahnya, teka-teki tentang ibunya, musuh besarnya, asal usulnya ....

Menanti arak ketiga sudah habis, tanpa terasa dia memukul meja keras-keras, hampir saja dia berteriak "Sesungguhnya siapakah aku?"

Untung saja ucapan itu tak sampai diutarakan keluar, akan tetapi gebrakan diatas meja tadi telah menimbulkan suara yang cukup keras.

"Braaak..." dengan cepat dia menyadari kembali akan kekhilafannya. Anak muda itu menjadi malu, mukanya semakin merah membara, sebuah bekas telapak tangan yang amat dalam telah tertera diatas permukaan meja ini.

Untuk kesekian kalinya lelaki itu berpaling tatkala menyaksikan cawan arak yang melesak masuk kedalam permukaan meja, kemudian menyaksikan pula sorot mata yang terpancar keluar dari balik mata Wi Tiong hong, mendadak ia tertawa tergelak. serunya sambil bangkit berdiri.

"Engkoh cilik, apakah kau mempunyai suatu persoalan yang mengganjal dalam pikiranmu ? Bagaimana kalau kita minum bersama barang setegukan ?"

Pada dasarnya Wi Tiong hong memang menaruh perasaan simpatik terhadap dirinya, maka dengan wajah memerah dia lantas menjura, "Siaute telah membuat silaf, harap saudara jangan merasa tersinggung adanya."

Sambil mengangkat cawan arak sendiri, dia pindah kehadapan lelaki itu, pelayan segera memindahkan pula semua benda ke meja orang itu. Wi Tiong hong kembali berkata, "Kita belum pernah bersua muka, belum ku tanyakan siapakah nama saudara. . .?"

Lelaki itu tertawa.

"Aku Ti ci kang, dan engkoh cilik ?"

"Siaute Wi Tiong hong, baru kali ini terjun dalam dunia persilatan, harap saudara Ting bersedia banyak petunjuk kepada diri siaute ., ."

Setelah Ting ci kang menyebutkan namanya, dan melihat pemuda itu seperti belum mendengar namanya, bahkan mengucapkan "selamat berjumpa pun tidak," dia lantas berpikir. "Tampaknya dia memang benar seorang yang baru terjun kedalam dunia persilatan-" Dia lantas mengangkat cawan sendiri dan minum setegukan kemudian katanya. "Saudara Wi, tampaknya kau tak pandai minum arak. mari, mari, kurangi sedikit arakmu."

Menyaksikan kegagahan orang, Wi Tiong hong semakin simpatik terhadap orang ini, buru-buru diapun mengangkat cawan dan minum setegukan pula, setelah itu baru katanya.

"Siaute merasa amat bangga hati dapat berkenalan dengan seorang enghlong seperti saudara Ting."

Sambil bersantap mereka bercakap-cakap ternyata semakin lama merasa makin cocok, hingga pembicaraan pun makin meluas dan makin akrab.

Tiba tiba Ting ci kang menatap wajah Wi Tiong-hong lekat-lekat, setelah itu ujarnya.

"Aku lihat, walaupun saudara Wi baru terjun kedalam dunia persilatan tampaknya kau seperti mempunyai suatu rahasia dalam hati kecilmu."

Setelah ditanya dua kali, paras muka Wi Tiong hong baru berubah menjadi sedih, katanya.

"Saudara Ting, terus terang kukatakan, siau-te mempunyai dendam kesumat yang dalam bagaikan lautan, tapi hingga kini belum kuketahui asal usulku sendiri, maka sewaktu terbayang kembali persoalan itu tadi, aku menjadi silaf dan membuat saudara Ting menjad kaget."

Ting ci kang yang mendengar keterangan itu menjadi kaget bercampur keheranan, katanya sambil manggut-manggut.

"Tak heran kalau rasa sedih saudara Wi segera timbul setelah arak masuk kedalam perut."

Berbicara sampi disitu, mendadak dia mengeluarkan sebatang pena baja dan diserahkan kepada Wi Tiong hong sambil katanya dengan wajah serius.

"Aku merasa cocok sekali dengan dirimu, sayang pada saat ini aku masih ada urusan yang harus segera diselesaikan, besok tengah hari. silahkan saudara Wi datang ke perusahaan An-wan piaukiok dijalan Tang heng untuk mencari diriku" Dia lantas memanggil pelayan untuk membereskan rekening.

Kemudian mereka turun bersama dan keluar diri rumah makan, kembali Ting ci kang berkata, "Saudara Wi, jangan lupa, selewatnya tengah hari besok. aku akan menantikan kedatanganmu dalam perusahaan An- Wan piaukiok"

Selesai berkata dia lantas menjura dan buru-buru meninggalkan tempat itu. Menyaksikan kehalusan budi dan kehangatan orang itu. wi Tiong hong lantas berpikir.

"Saudara Ting ini benar-benar gagah dan menyenangkan, tampaknya ilmu silat yang miliki termasuk tangguh sekali, bisa berkenalan dengan seorang teman seperti dia, bagaimana-pun juga termasuk pekerjaan yang baik" Kemudian ia berpikir kembali

"Kalau dilihat kepergiannya yang tergesa-gesa. tampaknya dia memang benar-benar ada urusan penting, yaa ... bagaimanapun juga aku toh tiada suatu tujuan tertentu, apa salahnya kalau menginap sehari lagi disini dan besok siang pergi menjumpainya?"

Berpikir sampai disitu, dia lantas mencari sebuah rumah penginapan dikota itu dan beristirahat. Baru selesai membersihkan badan, pemuda itu mendengar pelayan penginapan itu telah masuk kembali membawa dua orang tamu.

Kalau didengar dari panggilan mereka, agaknya kedua orang itu adalah bersaudara, si lelaki jarang berbicara, suaranya dingin dan angkuh. Sebaliknya yang perempuan cerewet dan suaranya lembut dan amat merdu. Kamar mereka berdua tepat berada dikedua belah sisi kamarnya.

Wi Tiong hong adalah seorang lelaki yang mengerti akan sopan santun apa lagi setelah dikamar sebelah tinggal seorang nona ia merasa rikuh akan celingukan lagi maka sambil merapatkan pintu kamarnya dia mengambil secawan air teh dan duduk ditepi jendela sambil menghirupnya pelan-pelan-

Tak lama kemudian terdengar dari luar kamar sana berkumandang suara langkah manusia menuju ke kamar sebelah kanan kemudian terdengar suara saag pelayan berkata sambil tertawa. "Tuan, apakah kau adalah Tio tayhiap dari Bu tong pay, diluar ada orang yang menghantar kartu undangan"

Ketika mendengar nama "Bu tong pay" disebut orang, tanpa sadar Wi Tiong hong melompat bangun.

Dari kamar sebelah kanan segera terdengar suara lelaki yang dingin dan angkuh menjawab.

"Benar, akulah Thio Kun-kai, kau suruh orang mau mengantar kartu undangan itu masuk kemari"

Pelayan itu mengiakan berulang kali dan buru-buru berjalan keluar dari sana.

"Blaaam ... " dari pintu kamar sebelah segera terdengar pintu kamar dibanting orang keras-keras, kemudian terdengar suara seorang perempuan bertanya dengan cemas. "Jiko, siapa yang menghantar kartu undangan kemari?"

"Mungkin orang she Ting itu, hmm... tajam betul pendengaran bangsat ini" Tergerak hati Wi Tiong hong setelah mendengar perkataan itu, buru-buru dia mendekati jendela dan mengintip keluar.

Tampak diatas undak-undakan batu berdiri seorang lelaki yang berjubah hijau yang berusia tiga puluh tahunan, sinar matanya tajam dan sifatnya angkuh.

Disebelah kirinya berarti seorang gadis berbaju merah yang berusia dua puluh satu dua tahunan, wajahnya cantik sekali, bibirnya mencibir keatas, dibalik kecantikan wajahnya terdapat pula keangkuhannya.

Diam-diam Wi Tiong- hong berpikir, entah murid siapakah kedua orang ini ?

Tapi sebagai jago Bu-tong-pay, sudah pasti kepandaian silat yang dimilikinya lihay sekali.

Sementara dia berpikir sampai disitu, tampak pelayan itu sudah muncul kembali sambil membawa seorang lelaki berbaju kasar.

Setibanya didepan Tiong Kun-kai, orang itu menjura dalam- dalam, kemudian sambil mempersembahkan dua lembar kartu undangan berwarna merah, dia berkata:

"Pangcu kami tahu kalau Thio tayhiap berdua pasti akan datang pada hari ini, maka beliau khusus memburu kemari untuk menjumpai kalian, sebetulnya pangcu hendak berkunjung sendiri kemari, namun karena kuatir timbulnya kesalahan paham, maka sengaja mengutus aku yang kemari untuk menyampaikan kartu undangan, diharapkan besok siang kalian berdua sudi mengunjungi perusahaan An wan piaukiok."

"Kau adalah anggota perkumpulan Thi pit-pang (perkumpulan pena baja)." tegur nona berbaju merah itu dengan wajah dingin.

"Benar" lelaki itu lalu membungkukkan badan dalam-dalam.

Thio Kun kai melirik sekejap keatas kartu undangan tersebut, kemudian jengeknya sambil tertawa dingin. "Sejak kapan Beng Kian hoo dari perusahaan An Wan piaukiok bersekongkol dengan perkumpulan pena baja kalian?"

Walaupun ucapan tersebut kurang sopan, tetapi lelaki itu tetap menjawabnya sambil tertawa dengan sopan santun. "Berhubung peristiwa ini timbul karena suatu kesalahan maka pangcu akan tampilkan diri untuk menjelaskan kesalah pahaman ini. Hingga kedua belah pihakpun tak usah sampai terjadi bentrokan sendiri"

"Tutup mulut" hardik Thio Kun kai "kalian anggap setelah orang- orang Thi pit pang membegal barang kawalan dan membunuh orang, urusan bakal selesai dengan begitu saja setelah dilerai oleh orang Siau limpay?"

"Harap Thio Tayhiap jangan marah, Siau tay hiap dari partai kalian dan In huhoat dari perkumpulan kami mati bersama ditempat kejadian, peristiwa itu nampak sangat aneh dan mencurigakan itulah sebabnya pangcu kami hendak melakukan penyelidikan terhadap duduknya peristiwa tersebut..."

Tiba-Tiba nona berbaju merah itu menjerit lengking "Enak benar kalau bicara, Thi pit pang adalah komplotan pencoleng yang kerjanya cuma membegal barang dan membunuh orang, apanya lagi yang hendak dia selidiki?"

Paras muka lelaki itu berubah menjadi merah padam, namun dia tetap berusaha keras untuk menahan diri, katanya.

"Lihiap. kenapa kau sembarangan memfitnah perkumpulan kami .

. . ."

"Kenapa ?" jawab nona berbaju merah itu dengan mata melotot "Thi-pit-pang memang komplotan pembegal yang kerjanya cuma merampok dan membunuh, buktipun sudah didepan mata, masa nona sengaja menfitnah kalian ? Pulang dan beritahukan kepada pentolan kalian, delapan belas lembar jiwa anggota Ban-piau-klok akan kami balas dengan seratus delapan puluh orang anggota Thi- pit pang, jangan harap kalian pencoleng pencoleng biadab bisa lolos dalam keadaan hidup." -ooodwooo-