-->

Pedang Dewa Naga Sastra Jilid 8 (Tamat)

Jilid 8 (Tamat)

“lao-si dan bun-liong-taihap, setelah saya hitung, semua pendekar ada sekitar dua ratus orang, dan yang yang menjadi incaran kita hanya ada delapan orang, yakni Lam-sian, Pak- sian, seng-twi-sin-kun,swat-kok-tiauw,hwi-ciang, swat-kiam- taihap,hoasan-taihap,butong-pek-peng.”

“lalu apa rencananya kim-tiauw ?” tanya Wan-lin

“kita punya tiga hari untuk membunuh mereka berdelapan.” sahut kim-tiauw, mendengar itu Han-hung-fei menelan ludahnya karena tiba-tiba ia merasa tenggerokoannya kering, hatinya berkecamuk.

“tunggu dulu, aku merasa sedikit pusing, kalian bisa melanjutkan, nanti bagaimana hasilnya biar lin-moi yang menyampaikan pada saya,” sela Han-hung-fei

“kamu baik-baik saja kan han-ko ?” tanya Wan-lin cemas “aku baik-baik saja lin-moi, maaf aku kekamarku dulu.” ujar Han-hung-fei, setelah Han-hung-fei pergi, ketiganya terdiam

“lao-si apa menurutmu kekasihmu itu akan mau melakukannya

?” tanya kim-liong

“aku akan bujuk dia, lanjutkanlah !” sahut Wan-lin

“baik, karena mereka berdelapan, kita harus masing-masing menaklukkan dua orang dalam satu malam saat kita bersaksi, demikian tugas berhasil kita akan lansung pergi dari sini.” ujar Kim-tiauw

“siapa membunuh siapa menurutmu kim-tiauw ?” tanya Wan-lin “lam-sian dan pak-sian ditangani oleh bun-liong-taihap, swat- kok-tiauw dan hwi-ciang lao-si sendiri yang tangani, seng-twi- sin-kun dan swat-kiam-taihap saya yang akan menangani, lalu hoasan-taihap dan butong-pek-peng akan ditangani kim-liong.” Sahut Kim-tiauw.

“kapan rencana itu kita jalankan ?”

“kita lakukan saat malam ketiga, dan dua hari ini kita akan membaca situasi masing-masing sasaran kita.”

“benar kalau memungkin kita ajak masing-masing sasaran kita ketempat tertentu.” sela Kim-liong

“hah..itu ide bagus, jadi kita laksanakan rencana kita sejak esok lusa sampai malamnya.” Sahut Kim-tiauw

“baiklah kalau begitu, hanya saya sedikit ragu dengan Bun- liong-taihap.” sela kim-liong

“lao-si rencana kita ini tidak boleh bocor, dan tolong supaya bun-liong-taihap dipastikan kesediannya.” ujar Kim-tiauw.

“baik, saya akan menemui han-ko.” sahut Wan-lin sambil bangkit dari duduknya, lalu keluar kamar kim-tiauw dan menemui Han-hung-fei, Han-hung-fei setelah sampai di kamar ia duduk diranjang dengan pikiran kalut, apa yang telah ia lakukan ? jerit hatinya, haruskah ia membunuh orang-orang yang tidak bersalah ini ? haruskah ia mengikuti kemauan Wan- lin yang dicintainya ? Han-hung-fei kalut dan bingung, perang batinnya berkecamuk luar biasa, bukankah ia telah menjanjikan dukungan, ini semua hanya demi cintanya pada Wan-lin, haruskah ia mengecewakannya ?” pikiran mumet membuat Han-hung-fei makin pening, satu sisi batinnya meneriakkan cinta mendalam, satu sisi hatinya menantang.

“han-ko bagaimana dengan kepalamu ? apakah masih pusing

?” tanya Wan-lin tiba-tiba masuk kedalam kamarnya, melihat kelembutan wajah kekasihnya yang mendekat, ia lalu merentangkan tangan minta dipeluk, Wan-lin memeluk hangat Han-hung-fei

“kamu kenapa sayang, apa yang kamu pikirkan ?” tanya Wan- lin sambil mengecup kening kekasihnya

“lin-moi sayang, haruskah kita membunuh orang ?”

“han-ko sayang, misi ini sangat penting bagiku dan aliran kita, ini semua untuk kita bertiga, saya, kamu dan peng-te, haruskah kita berhenti menurutmu ?”

“ta..tapi hatiku merasa berat lin-moi.”

“han-ko aku banyak mengharap banyak padamu, hanya kamulah tempatku untuk bersandar minta kekuatan, sungguh tidak sulit bagimu untuk mewujudkan impian kita.” bujuk wan-lin dengan raut sedih dan haru, matanya berkaca-kaca, melihat itu runtuhlah pertahanan Han-hung-fei, lalu ia mengecup kedua mata Wan-lin dan air mata itu mengucur membasahi bibirnya “jika demikian lin-moi, baiklah kita akan lakukan, bagaimana rencana yang kalian bicarakan ?” ujar Han-hung-fei, Wan-lin mendorong kekasihnya sehingga ia menindih tubuh Han-hung- fei, nantilah kita bicarakan han-ko, aku ingin kemesraan malam ini.” bisik Wan-lin lembut dan penuh gairah. Kedua sejoli itupun melakukannya dengan mesra, keduanya saling mendaki puncak kenikmatan, penuntasan itu membuat han-hung-fei makin nyaman dan yakin akan melakukan hal yang terbaik untuk kekasihnya, dipenghujung malam itu, dalam pelukan cinta, dikehangatan dua tubuh yang telanjang yang menyatu

“han-ko, diantara delapan orang itu, kami memutuskan Lam- sian dan Pak-sian akan han-ko tangani.” ujar Wan-lin lembut sambil mengelus dada telanjang kekasihnya

“kapan akan dilaksanakan sayang ?” tanya Han-hung-fei lembut

“esok lusa sampai malamnya, masing-masing kita akan menyelesaikan semuanya dalam satu hari dan malam itu, mungkin han-ko bisa mengajak lam-sian dan Pak-sian kesatu tempat”

“baiklah..mari kita tidur !” sahut Han-hung-fei sambil memeluk hangat wan-lin, sebentar saja merekapun pulas.

Keesokan harinya, keadaan berjalan seperti biasanya, setelah makan malam Han-hung-fei bercakap-cakap dengan lam-sian dan pak-sian

“jiwi cianpwe ! bagaimana kalau besok kita kehutan sebelah selatan?”

“untuk apa kita kesan han-taihap ?” tanya Pak-sian “disamping menikmati binatang buruan saya ingin lebih kenal dengan jiwi-cianpwe.”

“hehehe..hehehe…lam-sian besok kalau begitu kita akan menyaksikan bun-liong-sian-kiam yang luar biasa.”

“benar Pak-sian, baiklah kita akan pergi bersama besok.” sela Lam-sian. Disebuah hutan disebelah selatan banyak terdapat ayam hutan, tiga orang kosen sedang makan bersantap dengan nikmat,

Han-hung-fei menatap dua dewa yang berumur tujuh puluh tahun lebih yang makan dengan lambat

“han-taihap dimanakah sebenarnya engkau memperoleh anugrah yang besar kamu miliki sekarang ?” tanya Pak-sian “aku mendapatkannya di lembah huai cianpwe.”

“ooh ternyata disana, Lam-sian.” sahut Pak-sian sambil menatap Lam-sian

“itulah kalau sudah jodoh, pak-sian, enam datuk dan banyak kalangan pendekar uring-uringan mencari bun-liong-sian-kiam, tahunya bejodoh dengan Han-taihap.

“sejak kapan kamu mendapatkannya han-taihap ?” tanya pak- sian

“sejak aku berumur sebelas tahun, dan aku keluar setelah sembilan tahun mempelajarinya.”

“hehehe..hehehe..tentu masa yang sangat sulit pada seusia itu menghadapi alam dengan kesendirian.” sela lam-sian

“benar cianpwe, untungnya alam juga memberikan makanan yang melimpah.” sahut Han-hung-fei sambil berdiri

“jiwi-cianpwe marilah kita saling jajal untuk menambah pengalaman.” ujar han-hung-fei

“ayok pak-sian kamu duluan nanti baru saya.” sahut Lam-sian, lalu Pak-sian-pun berdiri, keduanya memasang kuda-kuda, dan lalu bergerak saling menyerang, Han-hung-fei mengeluarkan jurus “minling-xiau-bun-sian” jurus kedelapan dari ilmu tangan kosongnya, gerakan menulis dalam tiap serangan dan bertahan membuat Pak-sian terkesima dan semakin gembira menghadapi lawan muda yang membanggakan ini, Pak-sian mengeluarkan ilmu “tee-tong-pak-sian” (dewa utara menggetarkan bumi) merupakan ilmu tangan kosong yang luar biasa milik Pak-sian, gerakan rumit dari Han-hung-fei berlaku imbang dengan Pak-sian, Lam-sian juga tertawa-tawa menonton pertempuran itu

“hayo..pak-sian jangan mau kalah,eeh awas muka di tulis hehehe..hahaha…..” ujar Lam-sian sambil tertawa sekaligus takjub.

Lebih dari dua ratus jurus berlalu, pak-sian sudah kelelahan, Han-hung-fei juga merasa kagum dengan dewa satu ini, julukannya sebagai dewa bukan nama kosong.

“baiklah han-taihap, cukuplah pada bagian ini, sekarang mataku tidak sabar ingin melihat bun-liong-sian-kiam.” ujar Pak- sian

“baik..cianpwe.” sahut Han-hung-fei dan mencabut pedangnya yang bersinar hijau, kedua dewa meleltkan lidah sanking kagumnya melihat kharisma pedang ditangan Han-hung-fei, Pak-sian mencabut senjata kipasnya yang merupakan senjata andalannya.

Han-hung-fei memulai kuda-kuda ilmu pedangnya yang sungguh membuat kedua dewa itu terkagum-kagum karena terkesan, lalu bagaikan kilat tubuh Han-hung-fei meluncur kedepan dan membuka serangan dalam rangkaian ilmu bun- liong-sian-kiam, Pak-sian dengan kegesitan yang ia miliki mengundar dan membalas serangan luar biasa itu, Pak-sian mengeluarkan jurus kipasnya yang membawa keharuman namanya, yang bernama “kwi-hut-san-sian” (dewa kipas mengusir iblis), hawa kipas membuat angin ditempat itu berkesiuran, mengembang dan menutup menjadi kunci kekuatan ilmu kipas pak-sian, pertarungan senjata itu sangat luar biasa, dan gerakan pedang Han-hung-fei yang cepat dengan kombinasi kaya perubahan gerakan meliuk-liuk demikian dahsyat, Pak-sian merasakan hebatnya tekanan dari serangan yang ia terima, ia kerahkan segala kekuatan bertahan dari ilmu kipasnya, namun ketika memasuki jurus keseratus lima puluh, gencarnya sambaran dan kilatan pedang membuat ia kewalahan, dengan sedayanya ia menghindar dan menyelamatkan dir, namun serangan han-hung-fei tidak juga mengendur untuk menyelesaikan pertarungan, bahkan makin gencar, hal ini membuat kedua dewa terkejut

“sudahlah han-taihap, pak-sian sudah kelabakan setengah mampus dan dia sudah kalah.” seru Lam-sian, namun jawaban yang ia dapatkan mebuat hatinya miris “crak..agh…crak…srat…” sebuah bacokan mengantam perut pak-sian, pak-sian mengeluh, sambil memegang perutnya yang terburai, dan disusul bacokan menghantam pahanya hingga kaki itu putus, dan malangnya sabetan vertikal dari bawah keatas menyambar tubuh depan Pak-sian, Han-hung-fei melakukanya sambil berjumpalitan kebelakang dan menutup jurus itu dengan posisi kuda-kudanya yang khas.

Han-taihap iblis apa yang merasukimu !?” kertak Lam-sian dengan hati sedih melihat rekannya bersimbah darah tewas dengan perut dada serta dagu terbelah, tanpa menjawab Han- hung-fei menyerang Lam-sian, Lam—sian yang masih geram dan terkejut tidak menduga serangan kilat itu, lalu dengan sigap ia melompat menjauh, dan dengan gerakan luwes dia mencabut mouwpit dan melepas sabuknya yang hanya sepanjang setengah tombak, mouwpit ditangan kanan dan sabuk pendek ditangan kiri, Lam-sian menyambut serangan Han-hung-fei dengan jurus gabungan dua senjatanya yang bernama “in-hua-bun-pit” (pena sastra melukis mega) dan

“giok-tan-sian-kin” sabuk dewa menjerat kemala) . Han-hung-fei dengan serangannya yang bertubi-tubi laksana kilat menyerang Lam-sian, dan berkat ketenangan lam-sian pertempuran berjalan seru dan menegangkan, dalam seratus jurus lebih lam-sian masih dapat mengimbangi jurus Han-hung- fei, pada hurus seratus delapan puluh, sabuk Lan-sian putus, untungnya mouw-pit mengancam pergelangan tangan Han- hung-fei sehingga han-hung-fei menarik serangan susulan yang berbahaya, kemudian Han-hung-fei kembali menyerang, Lam- sian dengan gigih bertahan, namun serangan itu luar biasa dahsyat, sambaranya membuat hati miris, lima puluh jurus berikutnya Lam-sian hanya dapat bertahan dan tidak lama ia pun terdesak

“crak…agh..” tangannya sebelah kiri putus sebatas siku, darah memancur deras,

“srat….srat..” dua sabetan menyusul menggores perut dan memotong urat nadi dileher Lam-sian

“han-taihap..aku harap ini keterlanjuran yang tidak disengaja, se..se..selamatkan dirimu taihap.” ujar Lam-sian dengan sorot mata kasihan melihat wajah Han-hung-fei, lalu ia pun menghembuskan nafas terakhir, Han-hung-fei tercenung berdiri disamping mayat Lam-sian, tiba-tiba tangannya gemetar “tidaak…tidakk….. oh Thian..apa yang kulakukan ini,

tidakk…..oh tidak…Thian….ampun aku..!” jerit Han-hung-fei sambil berlutut mengerung dengan tangis pilu “suheng…suheng…..aku mau mati saja..!” teriaknya keras sehingga hutan itu bergema dan bergetar, Han-hung-fei meloncat keatas dan hendak menghempaskan kepalanya kearah batu besar tidak jauh dari mayat Pak-sian

“prak…” batu itu hancur berkeping-keping, hal ini karena hempasan itu di mulai dengan teriakan kuat dan sehingga hawa sakti dalam tubuh Han-hung-fei bergerak penuh dan pada puncak kekuatannya, sehingga bukan kepalanya yang hancur ta;pi batu yang disodok kepalanya

“oh…tidakk, suheng aku mau mati saja suheng… aku tidak akan bisa hidup seperti ini.” keluhnya sambil mencari-cati apa saja untuk membunuhnya, lalu ia melihat pedangnya disamping mayat lam-sian, saat ia mendekat ia mendengar seruan terakhir Lam-sian

“selamatkan dirimu taihap..” Han-hung-fei teheyak melihat kembali wajah Lam-sian yang tadi jelas menatapnya dengan pandangan iba

“cianpwe…! cianpwe…. aku terkutuk cianpwe….” teriak Han- hun-fei dan mengangkat gagang pedangnya dan ujungnya diarahkan pada jantungnya

“selamatkan dirimu taihap….” suara itu kembali berngiang ditelinganya

“tidak..tidak..tidak…!” teriaknya, dan setiap ia katakan “tidak” suara itu menjawabnya seruan terakhir Lam-sian, akhirnya beban sesal itu luar biasa membuat Han-hung-fei pingsan disamping mayat Lam-sian

Menjelang malam Han-hung-fei sadar, kegelapan yang hendak menyelimuti senja temaram makin redup, Han-hung-fei duduk dan melihat dua mayat yang tergeleyak bersamanya, tangisnyapun meledak, lalu ia mengangkat mayat Lam-sian kedekat mayat pak-sian, ia menciumi mayat keduanya , tangisnya semakin pilu menyibak kekelaman hutan yang gulita “cianpwe..cianpwe…aku terkutuk cianpwe…oh cianpwe…kenapa aku harus hidup kalau hanya untuk menanggung sesal ini,uuuu..uuu…cianpwe….!

uuuu..uuu..ciapwe…ahk..akh…” setelah batuk dua kali, untuk kedua kalinya Han-hung-fei pingsan. Sementara siang itu juga Kim-liong dan Kim-tiauw mengajak empat sasaran mereka ke gerbang utara, sesampai di hutan bambu keduanya tanpa basa-basi menyerang empat pendekar, seng-twi-sin-kun terlempat dengan muntah darah akibat pukulan sakti kim-liong dan demikian juga hoasan-taihap yang dibokong kim-tiauw

“apa yang kalian lakukan !?” tanya swat-kiam-taihap “kalian harus mampus ! sahut Kim-liong sambil menerjang,

swat-kiam-taihap menyambut serangan dengan keras dengan keras

“dhuar…” beradunya dua hawa sakti membuat swat-kiam- taihap undur tujuh langkah, sementara kim-liong hanya tiga langkah, kedua ang-bi-tin itu menyerang dengan ganas empat lawan mereka, hoasan-taihap yang sudah terluka dalam tidak dapat mengerahkan kemampuannya, bahkan ia cepat terdesak, kim-tiauw dan Kim-liong memfokuskan serangan pada hoasan- taihap dan seng-twi-sin-kun, dan usaha mereka itu berhasil, dua pendekar itu terhempas tidak bernyawa setelah mendapat dua pukulan dahsyat dari kedua ang-bi-tin

lalu kemudian keduanya menyerang dua pendekar yang lainnya, pertemoran sengit pun terjadi, hanya sampai menjelang sore kedua pendekar dapat bertahan, dan keduanyapun tewas, lalu empat pendekar itu dibuang kedalam jurang, dan kedua ang-ni-tin kembali kekota, Wan-lin karena tidak bisa berinteraksi dengan dua lama ia terpaksa menunggu malam, malam itu saat mau makan malam Khu-ciangkun menayakan keberadaan lam-sian dan pak-sian, dan beberapa pendekar yang belum muncul, penjaga gerbang selatan menyampaikan bahwa lam-sian, pak-sian serta bun-liong-taihap keluar melewati posko mereka, demikian juga penjaga gerbang utara mengatakan bahwa empat taihap dan dua ang-bi-tin melewati posko mereka.

Khu-ciangkun menatap lao-si dengan pandangan tajam “Wan-lihap kemanakah menurutmu ketiga rekanmu pergi ?” tanya Khu-ciangkun.

“sungguh aku juga tidak tahu ciangkun.” jawab Lao-si dengan tenang

“hmh..baiklah, kita makan saja dulu, semoga saja tidak lama lagi mereka akan datang.” ujar khu-ciangkun, lalu merekapun makan, khu-ciangkun merasa ada yang tidak beres, karena tidak biasanya Lam-sian dan Pak-sian melewatkan makan malam.

Setelah selesai makan, khu-ciangkun menjaga ketat rumah yang ditinggali oleh empat tamunya, saat malam sudah larut dengan gin-kangnya yang luar biasa lao-si keluar dan mengendap diatas kamar can-beng-lama dan lo-keng-lama, lo- keng-lama sudah terbaring diranjangnya dengan pulas semenatar can-beng-lama sedang bersiulian diatas ranjangnya, lao-si turun dari langit-langit kamar dengan pukulan petirnya yamg mematikan, can-beng-lama terkejut, namun serangan

lao-si yang mengarah lo-keng-lama yang hendak bangkit tidak bisa dihindarkan

“hgh…hgh…” lokeng lama kejang dan bagian dalam tubuhnya hangus matang, dia tewas setelah memuntahkan darah hitam dari mulutnya, pukulan tangan kiri lao-si menyambut serangan can-beng-lama.

“brak…” can-beng-lama melayang melabrak dinding, lao-sin bergeraak cepat menguunakan pedangnya menyerang Can- beng-lama yang masih terpuruk, dan ketika ia gendak bangkit “crak….” Sekali sabetan kuat pedang lao-si telah menebas kepala can-beng-lama, can-beng-lama tanpa bersuara tewas seketika, lao-si langsung kabur dari atas atap dan bergerak gesit ke arah utara, suara runtuhnya dinding tidak sempat membuat penjaga memergoki pembunuhan itu, mereka sampai dikamar lama, keduanya telah tewas, liuar biasa Lao-si dalam gerakannya yang hanya dalam hitungan menit itu.

Khu-ciangkun tiba dikamar setelah dilaporkan penjaga, sesaat dia memperhatikan mayat dua lama

“cepat kalian periksa rumah peristirahatan kim-liong !” perintah khu-ciangkun, lalu merekapun berbondong-bondong ketempat peristirahatan empat tamu mereka, dan tempat itu kosong “kalian dengar semua, para penyimpang perjuangan ini telah menunjukkan belangnya, jadi penghuni In-san harus dijaga ketat, dan besok saya akan melapor kepada jenderal LI dan melaporkan kasus ini, dan kalian pergi mengejar ke gerbang utara, karena kemungkinan besar pembunuh wanita itu lari kea rah sana.” ujar Khu-ciangkun,

“benar semoga saja ji-sian dan pendekar lainnya tidak terjadi apa-apa.” sela tung-kim-pang.

Pasukan bergerak kearah utara, dan memang benar lao-si bertemu dengan dua ang-bi-tin disebuah kelenteng yang tidak dipakai, lalu untuk menghindari pengejaran mereka langsung keluar dari kota lokyang dengan mengecoh penjaga gerbang utara dengan kegesitan gin-kang mereka, dan lalu lari meninggalkan kota.

Saat pagi hari, sinar cahaya mentari menerobos rerimbunan hutan, Han-hung-fei siuman dari pingsannya, dengan hati sesal dan sedih ia menguburkan ji-sian dalam satu kuburan, dia meletakkan batu diatas kuburan itu dengan ukiran kalimat, “makam ji-sian-cianpwe”, setelah itu ia menuju sumber air, matanya yang sembab oleh air mata yang mengalir terus dicucinya, lalu ia sesugukan lagi penuh kepiluan hati, dia terbaring lemas ditepi sungai, gairah hidupnya padam sama sekali, seadainya ia bisa memutar waktu pikirnya dalam sesal yang merobek-robek sukmanya.

Matahari kian naik, setelah lama baring Han-hung-fei bangun dan kembali mencuci mukanya, ia terus berjalan memasuki hutan hingga siang harinya, seekor ayam hutan ia tangkap dan dibakar, ia hanya mengambil dua sayatan, seleranya hilang, lalu ia bersandar di sebuah pohon, tubuhnya sangat lemah, ia istirahat sejenak memberikan waktu pada pikirannya untuk mencerna kejadian yang jalani, sejak bertemu dengan Wan-lin, di selingi tiupan angin yang membawa aroma bunga botan membuat Han-hung-fei merasakan kesejukan, tiba-tiba ia mendengar senandung, suara itu berat dan sedikit parau, menandakan suara itu milik seorang lelaki yang sudah berumur

“indahnya kicau seekor punai “menari didahan menyambut pagi “hidup ini memang periu dikaji “supaya tiap liku dapat dimengerti

“indahnya kicau seekor punai “menari didahan menyambut pagi “hidup ini memang harus dijalani “sebagi bukti khazanah diri

“indahnya kicau seekor punai “menari didahan menyambut pagi “hidup manusia ada aturan sendiri “ikuti ia supaya diri tetap berbudi

“indahnya kicau seekor punai “menari didahan menyambut pagi “hidup binatang beda dengan diri “aturan rasa dan seonggok birahi

Seorang lelaki tua berpakain tosu melintas di depannya, Han- hung-fei yang tercenung mendengar untaian kata dalam nyanyian itu, dan tersadar ketika lelaki itu berdiri didepannya “kongcu ! apakah masih ada sisa daging bakarmu ?” tanya si tosu

“masih ada totiang, ini dan makanlah !” sahut Han-hung-fei sambil memberikan panggang ayam hutan

“hehehe..hehehe…terimakasih kongcu.” ujar tosu tua sambil tertwa, lalu ia pun memakan daging bakar dengan pelan dan menikmatinya disetiap kunyahan.

“totiang ! untaian nyanyianmu itu tentunya banyak penjelasan, bukan ? dapatkah totiang memberikan penjelasan padaku ?” pinta Han-hung-fei

“intinya kongcu, hidup yang dijalani hendaklah berbudi, bagaimana supaya berbudi ? maka hidup harus dimengerti, dan supaya mengerti haruslah dikaji.” sahut si tosu

“hal apakah yang dikaji dalam hidup totiang ?” tanya Han-hung- fei

“yang dikaji dalam hidup hanyalah dua kongcu.” jawab si tosu “apa sajakah yang dua itu totiang ?”

“yang dua itu kongcu, adalah baik dan buruk, darimana kita ketahui sesuatu baik atau buruk ? jawabannya dari mengkaji manfaat dan tidak bermamfaat.” “lalu apa hubungan mengkaji hidup dengan binatang pada untain terakhir, totiang ?”

“dari mengkaji akan lahir pengertian, dan dari pengertian akan terbitlah aturan, nah..aturan ini yang menjaga manusia tetap berbudi, manusia dan binatang sama-sama memiliki rasa dan birahi, hanya yang membedakannya adalah aturan itu tadi, rasa dan birahi manusia punya aturan, sementara binatang tidak.” “apakah aturan dari rasa dan birahi manusia, totiang ?”

“aturan dari rasa dan birahi manusia adalah bermartabat dan seimbang.”

“dapatkah totiang mencontohkan padaku ?” tanya Han-hung-fei “contoh seperti rasa manusia ingin makan, maka makan harus bermartabat, bagaimana makan yang bermartabat ? memperoleh makanan itu dari hal yang baik, menggunakan makan itu untuk hal yang baik, kemudian makan harus seimbang, bagaimana makan yang seimbang ? makanlah sesuai kebutuhan, tidak kurang dan tidak berlebihan.” Jawab sitosu

“bagaimana dengan birahi, totiang ?” tanya Han-hung-fei “manusia birahi pada lawan jenisnya, maka birahi disalurkan harus bermartabat, bagaimana birahi yang bermartabat ? disalurkan dengan kerelaan, terikat dan tanggung jawab, kemudian birahi harus seimbang, bagaimana birahi yang seimbang ? birahilah sesuai mamfaat.” urai tosu tua itu, Han- hung-fei tercenung, dan membayangkan apa yang telah dilakukannya dalam menyalurkan birahi, dia menyalurkan dengan rela namun dia tidak terikat dan juga tidak bertanggung jawab, kecuali hanya kepada Wan-lin

“totiang kenapa harus terikat supaya dikatakan birahi yang bermartabat ?” tanya Han-hung-fei “karena ikatan itu yang memanusiakan manusia.” jawab si tosu “maksudnya bagaimana totiang ? aku tidak mengerti.” “maksudya begini kongcu, jika kongcu menyalurkan birahi dalam keadaan ada ikatan, maka kongcu dan pasangan kongcu benarlah seorang manusia, tapi jika tidak ! maka tidak obahnya kongcu dan pasangan kongcu seperti binatang.” sahut si tosu tua, Han-hung-fei tertunduk, dia tidak hanya binatang, tapi bahkan dia binatang yang tidak bertanggung jawab, artinya ia lebih rendah dari binatang, pikirmya menyimpulkan

“totiang, birahi disalurkan dengan kerelaan, tapi disana tidak ada cinta, lalu bagaimana kita akan mengikat diri dengan pasangan dan bertanggung jawab padanya ?”

“itu artinya kongcu menyalurkan birahi tidak seimbang, kongcu telah melakukan hal yang tidak bermamfaat, jika sesuatu yang tidak bermamfaat dilakukan kongcu, maka akan menimbulkan kebinasaan, setidaknya kebinasaan yang dirasakan adalah, hidup dengan rasa sesal dan rasa bersalah” sahut tosu tua, Han-hung-fei terdiam lagi karena merasakan kebenaran kata- kata si tosu tua, ia sekarang dirundung sesal yang akan menggerogoti hidupnya karena menginginkan cinta ia telah menjadi seorang pembunuh, dan yang dibunuh dua orang cianpwe yang namanya dihormati, demikian juga karena menyalurkan birahi, ia telah melakukan dengan empat wanita dengan berdasrkan kerelaan, dan tiga daripadanya tidak bermamfaat, hatinya terenyuh bongkahan sesal membumbung relung sukmanya, air matanya meleleh dan ia pun terisak sedih.

“kongcu yang baik kenapa engkau menangis ?” tanya si tosu tua

“totiang.., aku ini orang tidak berbudi.” Jawab han-hung-fei “kongcu yang baik, mumpung Thian masih memberi kesempatan, perbaikilah diri, hanya itu yang benar dan tepat sekarang kamu lakukan.”

“totiang memang benar, memperbaiki diri yang harus saya lakukan.” sahut Han-hung-fei kepada dirinya sendiri

“terimaksih atas makanannya kongcu, karena hari sebentar lagi akan petang, sebaiknya aku melanjutkan perjalanan.” ujar si tosu tua dengan senyumya yang bersahaja

“baiklah totiang, dan terimaksih juga atas pemahaman yang telah totiang sampaikan.”

“hehehe..hehehe..” tawa sitosu tua sambil melangkah dan bersenandung

“berbahagialah orang yang belajar, walaupun tertatih untuk mengamalkan.

“berbahagialah orang yang sadar, walaupun terlambat untuk melakukan

“berbahagialah orang yang sabar, walaupun berat untuk menjalankan

“berbahagialah orang yang berpikir, walaupun rumit untuk difahamkan

Han-hung-fei termenung lagi mendengar untaian lagu si tosu, baris kedua lagu itu membuat hatinya semakin kuat.

“lam-sian-cianpwe pesan terakhirmu yang agung akan kulakukan, aku hanya bisa menyelamatkan diriku dengan memperbaiki diri, jiwi-sian-cianpwe… han-suheng bantu aku untuk menjalani pernak-pernik hidup yang penuh tipu daya ini, totiang yang budiman, doakan aku agar mampu menjalankan pesanmu, ingatkan aku akan untain syairmu yang sarat makna.” ujar Han-hung-fei dalam hati, azamnya demikian kuat, kepalanya menunduk mengingat untaian lagu si tosu tua, dan dengan nafas sesak ia lalu menyannyikan lagu punai didahan dan syair bahagia.

Han-hung-fei meninggalkan hutan sambil menyanyi dan bersyair yang dihapalkannya, setelah selesai sekali hatinya makin mantap dan tenang, lalu dia ulang lagi sepanjang perjalanan, dia berjalan demikian santai menuju kota chang-an, tujuannya hanya satu membuat perhitungan dengan liok- cianpwe dan pat-lao.

Khu-ciangkun kembali ke lokyang, semua pendekar dikumpulkan

“bagaimana hasil penyelidikan kalian !?”

“kami telah menumukan kuburan ji-sian.” sahut tung-kim-pang “apa yang terjadi pada ji-sian ?” tanya Khu-ciangkun “sepertinya Bun-liong-taihap membunuh keduanya dan lalu menguburkannya.” sahut Tung-kim-pang

“hmh…sungguh tidak diduga perbuatan bun-liong-taihap, lalu yang lain bagaimana ?”

“kami tidak menemukan jejak empat pendekar, dan juga kami tidak menemukan jejak empat pembunuh itu.” sahut Tung-kim- pang

“baiklah, tidak ada waktu bagi kita untuk bersedih, kita harus merelakan kepergian delapan pendekar senior kita, dan aku telah mendapat mandat dari Li-goanswe untuk mendatangi “In- san” jika terbukti niat culas penyimpangan perjuangan ini, maka kita harus relakan nyawa untuk menggalkannya.” ujar Khu- ciangkun

“kami siap ciangkun, kapan dan dimanapun.” sahut para pendekar serempak. “baik malam ini kemasi perbekalan yang dibawa lu-taihap, kita akan berangkat besok menuju In-san” ujar Khu-ciangkun.

Keesokan harinya Khu-ciangkun dengan hampir dua ratus pendekar dan tiga ratus tentara bergerak meninggalkan kota Lokyang, pasukan itu dibagi dengan tiga rute yang masing- masing dua rute dilewati masing-masing seratus pendekar, dan satu rute dilewati tiga ratus tentara dibawah pimpinan Khu- ciangkun, rute yang dilewati oleh lu-piuaw dan seratus pendekar diikuti oleh bun-liong-taihap dari kejauhan.

Lao-si dan dua ang-bi-tin sampai di In-san, mereka disambut oleh liok-cianpwe beserta penghuni yang berjumlah dua ratus orang

“bagaimana dengan tugas kalian ?” tanya Pak-koai-lo

“tugas berjalan dengan lancer, delapan senior pendekar telah dibunuh.” jawab Kim-tiuaw.

“hahaha..hahahaa…luar biasa, sekarang jianzhou seperti macan ompong.” sela coa-tung-mo-kai sambil tertawa, dan yang lain pun ikut tertawa senang

“lalu kenapa kalian tidak bersama bun-liong-taihap ?” “mungkin han-ko akan menyusul, dia menghadapi ji-sian, dan saya yakin keduanya sudah tewas ditangan Han-ko.” sahut Lao-si

“bagaimana kamu yakin lao-si ?”

“karena sampai malam ji-sian tidak pernah muncul, itu artinya misi tuntas.” sahut Lao-si

“benar cianpwe, siasat yang kami jalankan memang demikian, membawa keluar para sasaran dan membunuhnya, setelah berhasil berkumpul di utara kota lokyang, hanya karena bun- liong-taihap membawa ji-sian kegerbang selatan, mungkin ia sudah berbalik kesini.” ujar Kim-tiuaw. “sampai saat ini, ia belum muncul, menurutmu apa yang terjadi lao-si.” tanya Lam-sin-pek

“saya juga tidak tahu suhu, sebaiknya kita tunggu saja, dan saya yakin Han-ko akan kembali kesini.”

“hehehe..hahaha….baguslah kalau begitu lao-si, jadi mari kita merayakan berhasilnya tugas kalian.” sela pak-koai-lo, lalu merekapun menuju ruang makan, lao-si tidak selera makan, dan bahkan permisi dari perjamuan untuk masuk kekamarnya, sudah dua minggu ia tidak selera makan, kepalanya sering pusing

“kamu kenapa lao-si ?” tanya lao-ngo yang tiba-tiba muncul “aku tidak tahu, aku merasa mual kalau mau makan dan kepalaku sering pusing.” sahut Lao-si

“benarkah !?“ tanya Lao-ngo terkejut

“eh kamu kenapa terkejut begitu ?” tanya Lao-si

“lao-si saya yakin kamu sedang hamil.” sahut Lao-ngo “ah…benarkah ? apa kamu awalnya seperti yang kurasakan saat ini

“ah..kamu bagaimana sih, kan kamu yang carikan tabib untukku saat itu

“hmh…benar juga, aduh han-ko belum juga muncul.” Keluhnya “hi..hi…anak han-ko sedang berkembang lagi, nasib kita memang lucu, kita seperti sumur janin bun-liong-taihap.” ujar Lao-ngo

“hishh kamu centil kali.” tegur Lao-si

“hi..hi…lao-si kamu memang enak, berkali-kali bersama han-ko, apa kamu tidak kasihan padaku yang hanya sekali.”

“hish..banyak lelaki disini, ada lao-it dan lao-lao lainnya.” sahut Lao-si

“aku sudah rasakan, tapi rasanya lain yah dengan Han-ko.” ujar Lao-ngo makin nakal „ih..kamu lao-ngo, membuat perutku makin mual.” ringis lao-si “hi..hi…itu karena ayah janin itu kupuji-puji.” sahut Lao-ngo “eh kalian kenapa ? kenapa kasak-kusuk ?” sela lao-liok yang tiba-tiba masuk kamar

“hi..hi…lao-liok anak han-ko ada didalam perut lao-si.” sahut Lao-ngo

“oh..ya selamat kalau begitu lao-si.” ujar Lao-liok “sudahlah kalian pergilah, aku mau istirahat.” sahut Lao-si

“istirahat akan semakin menambah sakitmu, sebaiknya kamu bicara dan mengobrol yang banyak hingga kamu lupa mual dan pusingmu.”

“apa yang mau dibicarakan ?” tanya Lao-si

“banyak dan yang terpenting hebatnya han-ko, benar kan lao- liok.” sahut Lao-ngo

“hi..hi…benar juga lao-ngo, bicaralah tentang Han-ko lao-ngo.” sahut lao-liok.

“eh lao-liok, lao-si tidak percaya bahwa rasa han-ko beda dengan lelaki disini.”

“memang beda sekali.” sahut Lao-liok, dengan senyum nakal “apanya yang beda ?” tanya Lao-si

“menurutmu lao-liok apanya yang beda ?” tanya Lao-ngo “kamu duluan lao-ngo baru nanti saya.” Sahut lao-ngo

“hmh..bedanya adalah saat han-ko mengambil inisitif, waahh..dia begitu mendiminasi, ledakan birahinya laksana kawah merapi meletus, hi…hi…hi….” sahut Lao-ngo

“hmh memang benar terlebih kalu dia melumat dan mencium. Iiii…. rasanya kita hendak dimakan bulat-bulat, hi..hi….” sela Lao-liok

“apa yang lain tidak seperti itu ?” tanya lao-si

“alah….si kam-peng tubuhnya hanya yang tinggi, sebal kalau di ingat.” sela lao-liok

“hi..hi..emangnya kenapa dengan si lao-sam.” tanya Lao-si tidak tahan menahan tawa melihat bibir lao-liok yang monyong “bayangkan saja, saya baru naik, eh tibanya dia muncrat.” “hehehe..hi..hi…….hi….” tawa lao-si dan lao-ngo berderai “aku juga ketibaan sial dengan si lao-it, tubuh kekarnya menipu.” ujar Lao-ngo

“eh kenapa dengan lao-it ?” tanya Lao-si

“hi.hi..hi…” tawa lao-ngo tertawa sambil memegang perut sehingga ceritanya berhenti

“ah..kamu nih bikin orang penasaranj saja, ayok cepat katakana kenapa dengan lao-it.” sela lao-liok

“hi.hi….co..boba hi..hi….” sudahlah ada apa sebenarnya ?” tanya Lao-si tidak juga bisa juga menahan tawannya melihat tawa lao-ngo

“hi..hi..coba kalian bayangkan baru saja kami berciuman dan tubuhnya kutindih, dan tiba kuraba kebawah sudah basah semua, hi..hi…”

“hi..hi…hi….” tawa mereka meledak.

Tiga wanita yang tidak memahami arti dari kemanusiaan, mereka merasa anteng dengan hal-hal yang seharusnya dijaga dan dihormati, awal dari kehidupan insan dimaknai laksana sumur yang siapa saja boleh mendatanginya, cerita mereka makin hangat dengan lao-lao lain, bahkan bebrapa anak buah Pak-koai-lo yang memnuhi hasrat, tapi akhirnya berakhir juga pada han-ko yang serba wah..kuat dan memuaskan.

Sebulan kemudian gerakan dari empat kota pun mulai beraksi, penghuni In-san sudaj sip-siap menunggu gendrang jatuhnya istana, pagi itu mereka bersiap mau menuruni bukit, namun huru-hara terjadi, dimana pasukan Khu-ciangkun yang sudah sampai seminggu lalu di desa ang-san sebelah timur In-san telah menjalankan misi peyelidikan, para pendekar dengan cekatan menyusup di posko terdepan dikaki bukit, karena enaknya bicara, karena sama-sama pasukan yang hendak menggulingkan rezim, bocorlah misi pak-koai-lo, hal itu dimulai dengan angan-angan jika pak-koai-lo menjadi kaisar, apa jabatan yang mereka terima dan berapa banyak harta yang akan mereka nikmati, sementara para pendekar dengan gerakannya yang ringan dan halus telah mendengar bocoran itu.

Ketika para pendekar melapor pada Khu-ciangku, Khu-ciangku menjalankan misi pencegahan, saat pasukan dari tiga kota sudah mengepung kota raja, Pak-koai-lo dan datuk lainnya keluar, mereka heran melihat pasukannya mendapat serangan dari tentara, ketika Kim-tiauw melihat khu-ciangkun.

“mereka dari jiangzhou cianpwe.” bisik kim-tiuaw

“bangsat…enyah kalian semua ! teriak Pak-koai-lo terjun ke dalam pertempuran, lima datuk pun ikut bergerak, dan demikian juga pat-lao.

Para pendekar berusaha Manahan laju kesadisan enam datuk dan pat-lao, namun mereka laksana dedaunan yang dimakan api kemarahan lao-liok, puluhan pendekar sudah meregang nyawa bahkan sudah mencapai ratusan saat yang mengiriskan itu, sebuah gerakan luar biasa terjun menghantam pak-koai-lo “buk….des…” dua pukulan bertemu, pak-koai-lo tidak menduga kemarahannya akan berakhir dengan kematiannya, tenaga yang dia tangkis ternyata bukan milik pendekar biasa, namun tenaga Bun—liong-taihap, tenaga itu laksana gunung menimpa tubuhnya, mulutnya dua kali memuntahkan darah, dan bahkan ditambah dengan sebuah tendangan yang mengarah ulu hatinya, dan tak pelak jantungnya pecah, Pak-koai-lo mati mengenaskan, liam datuk belum menyadari karena riuhnya pertempuran, tapi disaat serangan kilat menghantam coa-tung- mo-kai, coa-tung-mo-kai terlempar sambil memuntahkan darah, sebelum serangan susulan menghabisi riwayat Coa-tung-mo- kai, see-hui-kui membokong Han-hung-fei, Han-hung-fei berjumpalitan dan kali ini dia mengeluarkan pedangnya yang luar biasa, ditengah-tengah riuhnya perang kilatan pedang berwarna hiujau itu menyambar-nyambar bagaikan naga hijau yang mengamuk, Coa-tung-mo-kai yang teluka tidak mampu menahan ketika sambaran pedang menebas bahunya, dia menjerit setinggi langit, dua serangan susulan sebelum pemutupan jurus masih memakan sasaran ditubuh coa-tung- mo-kai.

See-hui-kui dengan kekuatan dan kemampuannya menghadapi han-hung-fei, dan see-hui-kui boleh berlega hati karena lam- sin-pek dan liang-lo-mo sudah ikut mengeroyok Han-hung-fei “pak-koai-lo telah tewas…” teriak lu-piauw, karena dari hasil penyelidikan pak-koai-lo adalah puncak dari penyimpangan ini, mendengar itu pasukan pak-koai-lo jaatuh mental, tiga datuk melawan han-hung-fei, sungguh luar biasa pedang legendaris itu telah menyita semua perhatian, melihat tiga datuk masih belum mampu menundukkan bun-liong-taihap, pek-mou-hek- kwi terjun, kali ini han-hung-fei melawan gerombolan luar biasa, kilatan pedangnya dikurung empat pedang lawan, kegesitanya di halangi dengan trik pancingan empat kawakan yang telah menjadi datuk puluhan tahun.

Han-hung-fei mengerahkan seluruh kemapuan dan keampuhan ilmu pedangnya, beberapa luka ditubuhnya telah mengalirkan darah, namun empat datuk juga mengalami hal yang sama, namun luka-luka mereka tidak selebar dan sebanyak yang diderita Han-hung-fei, Han-hung-fei memang bertekat untuk melawan sampai titik darah penghabisan, oleh karena itu kekuatannya sungguh luar biasa, kegesitannya masih cukup walaupun harus terjebak dengan banyaknya serangan yang mengancamnya.

semua orang menyaksikan pertarungan luar biasa itu, lao-si dan lao-lao lainnya terkesima, Khu-ciangkun yang terluka bahunya akibat pukulan coa-tung-mo-kai duduk menyaksikan perang tanding yang jarang bandingnya itu, hatinya bergetar kuduknya merinding melihat betapa bun-liong-taihap berjuang mati-matian diantara sambaran pedang yang juga tidak kalah dahsyatnya, kunci dari misi sebenarnya sudah selesai, pak- koai-lo sudah tewas ditangan bun-liong-taihap, pertempuran ini sebenarnya tidak lagi urusan negara, namun sudah merupakan antar kalangan dunia persilatan.

Barisan Pak-koai-lo sudah banyak yang menyingkir, dan oleh khu-ciangkun menahan pasukannya untuk tidak mengejar, sambil terus menyaksikan pertempiran dahsyat itu, pat-lao hanya berdiri tidak bisa berbuat apa-apa, untuk terjun jalannya pertempuran masih setingkat diatas mereka, bahkan campur tangan mereka akan merusak gerak irama pedang empat datuk yang demikian hebat dan saling mendukung, sehingga membuat han-hung-fei mati kutu dan terdesak hebat.

Han-hung-fei terus terdesak, dia bergerak mundur untuk keluar dari kurungan empat senjata lawannya, semua orang mengikuti pertempuran itu, hingga Han-hung-fei terpaksa berhenti karena dibelakangnya adalah jalan buntu yang menganga jurang yang sangat dalam  “pek-mou atas, liang lomo- bawah see-hui-kui kanan, seraang..” teriak lam-sin-pek. Empat bilah pedang mengaung, han-hung- fei berjumpalitan kebelakang karena luar biasanya desakan empat pedang yang datang bersamaan.

Han-hung-fei dengan melayang kemulut jurang

“hahaha..hahaha mampus kamu yaoyan !” teriak liang-lomo. Empat datuk menatap pasukan Khu-ciangkun, lalu dengan amarah meledak mereka menyapu pasukan itu dengan kilatan pedang, malang bagi Khu-ciangkun mereka habis dibabat empat datuk, tepi jurang itu bergelimpangan ratusan mayat pendekar dan tentara, setelah puas membunuhi pasukan khu- ciangkun, mereka kembali kemarkas.

Kematian Pak-koai-lo telah melumerkan tujuan mereka, lalu mereka segera meninggalkan In-san kembali ketempat kediaman mereka masing-masing, lam-sin-pek bersama lao-si yang hamil empat bulan kembali ke khangshi, see-hui-kui dan lao-it kembali ke barat, liang-lomo dan lao-ngo beserta han-ok- liang kembali ke teluk mata ikan, pek-mou-hek-kwi kembali kehuangsan bersama lao-ji dan lao-liok, laoa-pat mengajak lao- sam dan lao-chit ke lanzhou.

In-sam tinggal sepi oleh mayat-mayat bergelimpangan, tinggallah tee-tok-siang yang harus membersihkan tempat itu kalau ingin tetap tinggal disana, namun sepertinya kedua saudara itu memilih tinggal terbukti keduanya menendangi mayat ke arah lembah, demikian juga pembantunya yang tinngal lima mengangkati mayat dan membuangnya kejurang dimana tubuh han-hung-fei melayang jatuh.