-->

Pedang Dewa Naga Sastra Jilid 7

Jilid 7

“maksudmu bagimana lao-si ?” tanya Liang-lo-mo “karena saya, lao-ngo, saicu-bin-kui, ang-bin-kwi telah

mengeroyoknya, namun kami kalah dan kedua teman kami tewas.

“sialan saicu-bin-kui sudah pula tewas ditangannya.” gerutu Liang-lo-mo

“artinya kita telah banyak kehilangan oleh sebab bun-liong- taihap.”

“benar empat bawahan coa-tung-kaipang dan dua bawahan Liang-lo-mo.” sela Lam-sin-pek.

“hal ini tidak boleh kita biarkan !” teriak Coa-tung-mo-kai marah “tunggu dulu coa-tung-mo-kai, lanjutkan kesimpulanmu lao-si !” sela See-hui-kui

“sebelum saya bertemu dengan lao-ngo, lao-ngo telah memperdaya bun-liong-taihap dengan memberinya racun ular lima warna dan racun katak merah.”

“eh..racun ganas dan mematikan.” sela enam datuk bersamaan “benar cianpwe, namun bun-liong-taihap ternyata kebal racun, lau ketika kami datang, Lao-ngo buka kartu dengan membokong bun-liong-taihap, amarah bun-liong-kiam sangat jelas saat itu, setelah kami merasa tidak mampu kami menyingkir.”

“jadi dari sisi mana dari ceritamu dia akan mencari kami lao-it ?” tanya Liang-lo-mo

“dari amarah yang ia tunjukkan, karena saya yakin ia akan mengejar lao-ngo, dan juga dia akan mengejar saya.” “kalau karena amarah diperdaya saya belum yakin dia akan mengejar lao-ngo, karena Bun-liong-taihap juga pernah

diperdaya oleh Lao-liok, dan nyatanya dia tidak mengejar Lao- liok.” sela Tan-hang

“karena itu makanya saya yakin dia akan mengejar kita, dia sudah dua kali diperdaya. Istilah lao yang kita serukan saat bertempur melawannya akan difahaminya bahwa dua perempuan yang memperdayainya adalah satu kesatuan.

“perhitunganmu mungkin jadi benar, tapi belum cukup kuat.” sela lpek-mou-hek-kwi

“mungkin juga cianpwe, namun bun-liong-taihap juga sudah mengenal saya, dan itu lebih memicunya mencari lao dan tentunya berakhir pada liok-cianpwe.”

“kenapa dengan mengenalmu dia akan lebih terpicu ?” tanya pak-koai-lo

“karena dia adalah temanku masa kecil, suhu kami dulu bersama ditempat suhu mendapatkan saya.”

“kalian bersama di rumah she-gao ?” tanya Lam-sin-pek, Wan- lin mengangguk.

“hmh…melihat kondisi ini saya malah puny ide.” sela see-hui- kui

“ide apa itu see-hui-kui ?” tanya Lam-sin-pek

“jika lao-si adalah teman masa kecilnya, bukankah sungguh baik jika lao-si dapat menguasai hatinya, dan dengan demikian aliran kita akan semakin kuat dengan adanya bun-liong-taihap

?”

“hmh..idemu sungguh tepat see-hui-kui, karena tentunya lam- sian juga banyak berharap padanya ketika nyawanya diselamatkan pendekar itu, ini trik jitu jika kamu lian-ji dapat menaklukkan hatinya.” ujar Lam-sin-pek

“aku tidak bisa suhu, karena han-hung-fei telah menghamili lao- ngo

“hahaha..hahaha….binal juga si bun-liong ini.” pek-mou-hek-kwi tertawa terbahak-bahak.

“kenapa cianpwe berkata demikian ?” tanya Kam-peng “hehehe..hehehe…lao-liok bahkan sudah melahirkan anak si binal ini.” sahut Pak-mou-hek-kwi.

“oh….begitukah cianpwe ?” tanya Wan-lin meragu

“benar, dan jika si binal ini tidak ikut dengan barisan kita maka dia akan menderita, karena saya akan menjadikan anaknya menjadi mesin pembunuhnya sendiri.” sahut Pek-mou-hek-kwi “demikian juga aku, jika memang lao-ngo memiliki anak darinya.” sela liang-lo-mo.

Menurut saya lao-si, kamu harus usahakan menariknya masuk aliran kita, karena itu akan menjadi pukulan besar bagi lam-sian dan pak-sian, dan supaya kalian yang dulunya bersama di rumah she-gao dapat berkumpul kembali.”

“apa maksud cianpwe ?” tanya Wan-lin

“kalau kamu bilang kalian bersama dirumah she-gao, aku yakin kalian ada bertiga selain gao-hujin.”

“benar cianpwe, satu lagi adik saya wan-peng.”

“tahukah kamu dimana adikmu itu sekarang ?” tanya pak-koai- lo “tidak ccianpwe, entah dimana adikku itu, apakah ia hidup atau sudah mati.”

“hehehe..hehehe…adikmu itu tidak mati, bahkan sangat sehat dan tampan.”

“cianpwe benarkah ? diamankah adikku itu ?”

“Lao-pat berdirilah kamu !” perintah pak-koai-lo, Zhou-peng berdiri

“lao-pat itu adalah adikmu lao-si, karena aku yang mengambilnya saat itu dan pek-mou-hek-kwi yang memukulmu saat itu.” mendengar itu lao-si dan lao-pat saling pandang,

Wan-lin terisak

“wan-peng adikku, kamu adalah adikku.” Jerit Wan-lin, lalu mengejar lao-pat dan memeluknya.

“benarkah suhu !?” tanya Lao-pat sambil membiarkan dirinya dipeluk wan-lin

“benar lao-pat, kamu tentunya tidak ingat karena kamu masih kecil saat itu.” lao-pat dengan erat memeluk kakaknya.

“sudahlah kecengengan ini lao-si ! kamu lihat adikmu itu mengambil she yang kuberikan, tentu artinya kamu tahukan, jika dinasti zhou berhasil keistana, kalau kamu mengerti keberadaan bun-liong dipihak kita amatlah berarti.” ujar Pak- koai-lo, Wan-lin tentu sangat mengerti perkataan pak-koai-lo, adinya ini calon kaisar masa depan jika dinasti zhou berkuasa, dan benar jika Han-hung-fei dapat diajaknya maka kekuatan mereka makin besar, dan juga tidak ada ruginya jika ia dapat menjadikan han-hung-fei jadi suami.

“baiklah, aku akan usahakan han-hung-fei ada dibarisan kita.” “hahaha..hahaha…bagus lao-si.” sahut Pak-koai-lo.

“baik urusan bun-liong-taihap kita serahkan pada lao-si, saya yakin masa kecil keduanya akan memudahkan bagi kita menguasai bun-liong-taihap.” ujar See-hui-kui, setelah itu merekapun bubar, dan keesokan harinya, merekapun berpencar menuju tempat tugas masing-masing, zhou-peng meminta kakaknya untuk tetap tinggal selama seminggu, dan wan-lin sangat menyetujuinya. Zhou-peng banyak menanyakan ihwal keluarganya pada Wan-lin, wan-lin bercerita dengan linangan air mata, dan bahkan bercerita tentang Han-hung-fei.

Setelah kehilangan Wan-lin, Han-hung-fei terduduk didalam hutan, dadanya terasa sesak akibat luka dalam, Han-hung-fei bersila dan mengerahkan sin-kang untuk mengobati lukanya, selama selama setengah hari Han-hung-fei mengobati dirinya, dan setelah itu hentakan nafasnya sudah normal dan pulih kembali, lalu ia mencari binatang buruan untuk pengganjal perutnya yang lapar, seekor kelinci gemuk menjadi santapannya siang itu, sambil makan dia kembali membayangkan wajah yang bernama Wan-lin, wajah yang cantik itu semakin menebalkan rasa rindu dan penasaran dalam hatinya.

Han-hung-fei kembali ke penginapan, didalam kamarnya Han- hung-fei membayangkan empat wanita yang di jumpainya selama tiga tahun ini, Liu-sian seorang wanita cantik yang menerbitkan rasa iba, Yan-hui wanita yang menimbulkan gairah dalam hatinya, Yang-lian wanita luwes yang menimbulkan rasa ceria, Wan-lin wanita yang dari awal dirindukan dan sekarang membuat penasaran, lalu ia membayangkan pertemuan dengan Yan-hui yang dipanggil lao-liok, Yang-lian dipanggil temannya lao-ngo, dan wan-lin sekilas ia dengar dipanggil lao- si

“hmh….artinya Yan-hui, Yang-lian dan Wan-lin sepertinya memiliki hubungan, saya harus menyelidiki golongan apa yang menggunakan istilah lao.” pikirnya dalam hati.

Keesokan harinya setelah membayar sewa kamar selama sebulan, Han-hung-fei meninggalkan kota chongqing, sekarang ia punya tujuan, yakni mencari golongan yang menggunakan istilah lao, untuk menemukan Wan-lin, seminggu kemudian Han-hung-fei melintasi sebuah hutan, dia melihat enam orang sedang membakar daging buruan, hal yang membuat ia tertarik dengan rombongan itu adalah pembicaraan yang sedang mereka lakukan

“Coa-kang ! apakah menurutmu Lao-ngo masih berada di chongqing ?” tanya Kui-san-ok

“menurut saya Lao-si dan pang-ong saicu-bin-kui akan menunggu kita, jikapun tidak pasti mereka meninggalkan pesan pada kita disana.” jawab Coa-kang pembantu utama dari saicu- bin-kui.

“ayah apakah kita akan berhasil meringkus Bun-liong-taihap ?” “jika kita berdelapan sangat bisa jadi kita akan dapat meringkusya

“benar, jika melihat tiga pangcu bersama lao-liok masih kalah, masa kita bertujuh beserta lao-ngo masih kalah.” sela bu-kwi.

“saya dengar kalian hendak meringkus dan membunuhku, sekarang saya suda disini !” sela suara yang kemudian Han- hung-fei muncul, enam orang itu terkejut, terlebih setelah melihat gagang pedang dibalik punggung yang pemuda didepan mereka.

“a..apakah kamu bun-liong-taihap ?”

“benar, ayok….lakukanlah apa yang kalian ingin lakukan !” “serang…!” teriak kui-san-ok, enam orang itu langsung menyerang Han-hung-fei, han-hung-fei dengan gesit menyambut terjangan enam pengeroyoknya dengan jurus “in- hun-bun-sian” (dewa sastra menyibak awan) jurus ketiga dari bun-sian-pat-hoat.

Terjangan dan serangan Han-hung-fei yang demikian gesit membuat barisan pengeroyok kebingungan, dalam sepuluh jurus Bu-kwi sudah mendapat tamparan pada mukanya, tamparan ini membuat bu-kwi pusing tujuh keliling sehingga ia sempoyongan dan ambruk, kui-san-ok mengerahkan segenap kemampuan untuk mengimbangi jurus Han-hung-fei yang gesit dan dahsyat, berkat kerjasama yang baik antara kui-san-ok dan anaknya “siu-kui” mereka dapat menahan tekanan jurus Han- hung-fei, namun karena tiga orang rekannya kurang sin-kang sehingga tidak dapat merobohkan han-hung-fei, pertarungan sudah lebih tujuh puluh jurus.

Han-hung-fei merobah jurusnya dari jurus ketiga ke jurus yang keempat yang disebut jurus “to-jio-bun-sian” (dewa sastra merebut mustika), dalam rangkaian jurus ini kui-san-ok terdesak hebat, barisan pengeroyok makin kacau dan kalang kabut, dalam jurus keempat puluh sebuah cengkraman menembus pertahanan siu-kui

“buk…” cengkraman itu merobek lambung siu-kui, dan hawa panas yang luar biasa memecahkan syaraf otot dan menggoncang aliran darah siu-kui, siu-kui terkapar dengan nafas tersegal-segal, lalu nafasnya berhenti karena nyawanya sudah putus.

Kui-san-ok terkesima melihat anaknya meregang nyawa, lalu dengan marah ia menerjang Han-hung-fei dengan membabi buta, namun jurus keempat dari han-hung-fei sangat luar biasa, sehingga dalam sepuluh gebrakan membuat dua orang pembantu utama kui-san-ok terlempar dua tombak akibat dua pukulan keras yang menghantam dada mereka, keduanya langsung tewas karena jatung mereka langsung pecah, kui- san-ok dan dua rekannya makin marah dan menyerang dengan nekat. Namun sekuat apapun mereka berusaha, mereka bahkan telah jadi bulan-bulanan han-hung-fei, dan pada hurus keempat puluh kembali jotosan han-hung-fei menghantam dada Kui-san-ok dan coa-kang, keduanya terkapar tewas seketika.

Bu-kwi mundur dengan wajah pucat pias, han-hung-fei dengan sorotan mata tajam menatap bu-kwi, bu-kwi mengucurkan keringat dingin merasa dia dikuliti oleh sambaran mata Hann- hung-fei, han-hung-fei melangkah mendekatinya

“ampunkan nyawaku taihap..” pinta Bu-kwi sambil berlutut dan bersujud berkali-kali

“saya akan mengampunimu jika engkau menjawab pertanyaanku.”

“ba..ba..baik taihap, a.aa..aku akan menjawab pertanyaan taihap.” sahut Bu-kwi

“beritahukan padaku siapakah itu lao ?” tanya Bun-liong-taihap “lao itu adalah murid-murid dari enam datuk.”

“siapa-siapakan itu enam datuk ?”

“liang-lo-mo , coa-tung-mo-kai, pek-mou-hek-kwi,lam-sin- pek,see-hui-kui dan pak-koai-lo.”

Berapa orang lao yang ada ?” “delapan orang taihap ?”

“lao-si murid siapa dari enam datuk ?” “lao-si mu..murid dari lam-sin-pek “lao-ngo dan lao-liok ?”

“lao-ngo murid liang-lo-mo dan lao-liok murid dari pek-mou-hek- kwi “Saya tidak pernah berurusan dengan enam datuk kenapa murid-muridnya mengincar saya ?”

“karena yaihap telah membunuh tetua-tetua dari bawahan mereka ?”

“kamu siapa tetuamu ?” “tetuaku saicu-bin-kui ?” “dimana tetuamu sekarang ?”

“tetuaku menunggu kami di chongqing bersama lao-ngo.” “ooh, begitu, tetuamu itu bawahan siapa ?”

“atasan tetua adalah liang-lo-mo

“lalu siapa lagi yang saya bunuh bawahan dari enam datuk?” “hai-kiam-kwi, jasad itu kui-san-ok, empat tetua pangcu kaipang

?”

“pangcu-kaipang ? hmh….kaipang dibawah datuk siapa ?” “dibawah coa-tung-mo-kai.”

Lam-sin-peng dan lao-si, liang-lo-mo dan lao-ngo dimana tinggal ?”

“lam-sin-pek di kota Khangshi, liang-lo-mo di huangzhou,” “baik karena kamu telah menjawab pertanyaanku dengan baik,

maka kamu saya ampuni.” ujar Bun-liong-taihap, lalu berkelabat meninggalkan bu-kwi, bu-kwi merasa lega dan juga langsung meninggalkan hutan itu dan membiarkan jasad empat orang rekannya.

Han-hung-fei menuju kota khangshi dan tiga bulan kemudian dia sampai dikota wuhan, daerah itu sedang bergolak pertempuran dimana pasukan ang-bi-tin perang terbuka dengan pasukan pemerintah di luar kota, rakyat berbondong- bondong mengungsi melarikan diri, akibat perang memang sangat menyengsarakan, baik pasukan pemerintah maupun pasukan ang-bi-tin mememfaatkan penduduk menjadi tameng untung bersembunyi dan menjalankan taktik penyusupan, bahkan pemaksaan dan penjarahan harta benda, merupakan pemandangan biasa pada saat perang.

Untuk menghindari daerah pertempuran, Han-hung-fei mengambil jalan tikus menerobos hutan dan lembah untuk mencapai kota khangsi, perjalanan itu cukup sulit dan memakan waktu lama, sehingga akhirnya tiga bulan kemudian han-hung-fei sampai ke kota khangshi, namun daerah ini terjadi konflik perang, dari seorang pengungsi han-hung-fei menuju sebelah barat kota menuju pek-kok, namun sesampai disana lam-sin-pek dan lao-si tidak ditempat, dengan kecewa ia meninggalkan pek-kok.

Ketika melintasi sebuah sungai, Han-hung-fei melihat gerakan bayangan gesit, lalu dengan rasa penasaran Han-hung-fei mengintai, tiga bayangan itu adalah kam-peng, kwee-bwee-kui- bo dan eng-kiam, ketiganya masuk jauh kedalam hutan, disebuah tebing, eng-kiam mengangkat sebuah batu dan menarik tuas yang ada dibawahnya dan dinding tebing itu bergerak, ternyata tebing yang ditumbuhi rumput itu memiliki pintu, ketiga orang itu masuk, dan sesaat kemudian pintu batu itu bergeser kembali, Han-hung-fei berdiam di tempat persembunyiannya menatap dinding yang sudah tertutup, lalu Han-hung-fei mengitari tempat itu.

Dan dibagian belakang Han-hung-fei melihat empat orang penjaga sedang bermain judi, empat orang itu demikian asik dalam permainan, han-hung-fei memungut empat kerikil, dan dengan kuatannya Han-hung-fei menyentil enpat kerikil itu sehingga melesat ke arah emapat orang penjaga

“tuk..tuk..tuk..tuk..” kerikil itu tepat menghantam jalan darah mereka, dua orang kaku dan bisu dan dua orang lemas pingsan.

Empat orang itu penjaga mulut pintu bagian belakang yang pintunya dari pagar bambu, sekali hentak oleh Han-hung-fei pagar bambu itu ambrol, lalu Hung-fei masuk kedalam dengan sikap waspada, dia terus menelusuri lorong, didalam rungan bawah tanah itu ternyata banyak sekali lorong, han-hung-fei terdiam sejenak memandangi tiga lorong yang ada didepannya, lalu dengan untung-untungan ia memasuki lorong bagian kanan, lalu tidak berapa lama dia sampai pada sebuah lobang yang merupakan pintu, karena setelah lobang itu merupakan ruangan besar, lobang pintu berada di atas sementara dibawah dibawah banyak orang sedang berkumpul

“kami sangat berterimakasih bahwa lao-sam dan kiu-kwee-kui- bo menjadi bagian dari pasukan pendam yang berada diwilayah ini.” ujar lelaki paruh baya yang menjadi pimpinan pasukan pendam di wilayah selatan.”

“tidak usah sungkan toan-sicu, kejayaan yang nantinya kita dapatkan merupakan akan sama-sama menguntungkan bagi kita, ceritakanlah sudah sampai dimana gerakan pasukan ini !” sahut lao-sam

“pasukan kita dan ang-bi-tin telah berhasil menguasai khangshi, dan sebagian pasukan akan terus bergerak ke wuhan, dan sebagian akan kekota nancao, dan pasukan kita oleh pimpinan ang-bi-tin ditugasakan menuju nanchao bersama tiga ratus

ang-bi-tin.”

“lalu kapan kita akan berangkat ?”

“kita berangkat besok sebelum matahari terbit, jadi lao-si dan kiu-kwee-kui-bo bisa istirahat dikamar yang kami sediakan, sementara kami akan berkemas bekal untuk perjalanan besok.” “mari saya antar lao-sam !” sela eng-kiam, lalu lao-sam dan kiu- kwee-kui-bo meninggalkan ruang pertemuan itu, han-hung-fei duduk menunggu sampai orang-orang di ruang pertemuan itu pergi, dan setelah ruangan itu kosong, Han-hung-fei dengan gerakan ringan melompat kebawah, lalu dia masuk kelorong dan mencoba mencari dimana lao-sam istirahat.

Ketika han-hung-fei masuk sebuah ruangan tiba-tiba ia bertemu dengan dua orang, dengan satu lompatan luar biasa han-hung- fei menotok keduanya, sehingga saat mereka terkejut mereka sudah lemas, lalu han-hung-fei terus menelusuri lorong dan sampai pada ruangan yang cukup bersih dan bagus, Han-hung- fei melihat eng-kiam dan lao-sam sedang makan dan minum, lalu dengan gerakan ringan Han-hung-fei menerobos kedalam dan berdiri dihadapan dua orang itu

“bangsat bun-liong-taihap rupanya.” bentak Lao-sam karena melihat gagang pedang Han-hung-fei, eng-kiam dan lao-sam menyerang dengan dahsyat.

Suara pertarungan dan teriakan eng-kiam yang menyerang dengan pedangnya membuat anak buahnya segera muncul, dan begitu juga dengan kui-kwee-kui-bo, kiu-kwee-kui-bo yang melihat musuh adalah bun-liong-taihap, segera melepas cambuknya dan menyerang han-hung-fei, tiga lawan kosen ini dihadapai oleh han-hung-fei dengan ilmu tangan kosongnya yang luar biasa, jurus ketujuh dikerahkan untuk membendung banjir serangan dari ketiga lawannya, kisuran puting beliung yang dibentuk putaran tubuh han-hung-fei membuat mental serangan ketiga lawannya, namun sampai delapan puluh jurus ketiga lawan ini masih dapat menekan seranganya, terlebih serangan lao-sam yang bertubi-tubi mampu menahan kekuatan putaran sin-kang yang keluar dari setiap jotosan dan pukulan yang keluar dari kisuran putaran tubuh han-hung-fei, melihat arena yang tidak mendukung jurusnya, maka Han-hung-fei mengeluarkan jurus kedelapan, dan jurus dahsyat serta mematikan ini membuat tiga lawanya tegetar dan undur beberapa tindak, namun ujung cambuk kiu-kwee-kui-bo laksana ular mematuk terus mengintai tubuh han-hung-fei.

Saat eng-kiam dan lao-sam undur sebuah gerakan serangan tangkas dari han-hung-fei gerakan menulis kalimat itu mengarah bagian atas kiu-kwee-kui-bo, kui-bo mempercepat liukan cambuknya sembilan ekor cambuknya mengarah sembilan titik penting pada tubuh han-hung-fei, delapan titik dapat diselamatkan namun satu titik tepat pada bagian lambungnya berhasil ditotol ujung ekor cambuk kui-bo, untungnya sin-kang han-hung-fei lebih tinggi, sehingga hung-fei hanya merasakan nyeri dikulit.

Lao-sam dan eng-kiam menyusulkan serangan, han-hung-fei melompat menghindar dan terus menyerang kedua lawannya dengan gerakan-gerakan indah dan unik, kali ini eng-kiam terjebak pada pertarungan dekat, sebuah totolan telunjuk Han- hung-fei menembus pergelangan tangannya hingga pedangnya jatuh, dan sebuah totolan maut mengarah pada keningnya “crok…” kening itu tembus dan darah serta otaknya meleleh mambasahi wajahnya, dua serangan dari belakang mengintai han-hung-pei, dan srat…pendar warna hijau muncul, pedang dewa naga sastra tercabut dari sarungnya, dengan rangkaian jurus bun-liong-sian-kiam, Han-hung-fei menyerang kedua lawannya. Toan-gui terkejut melihat eng-kiam tewas, selaku pimpinan pasukan terjun kekencah pertarungan, namun bun-liong-taihap sedang pada puncak serangannya yang luar biasa dan mengesankan, toan-gui dalam dua gebrakan langsung menjerit karena dadanya sudah tembus oleh ujung pedang bun-liong- taihap, baik lao-sam maupun kiu-kwee-kui-bo menjadi kalang kabut melihat serangan yang pedang yang sungguh tiada taranya itu, enam puluh jurus berlalu, akhirnya saat cambuk kui- bo putus ditebas pedang, kemudian serangan susulan yang mengarah dadanya hanya bisa dihindarkan dengan menjatuhkan diri dan berguling, kui-bo lansung menjatuhkan diri, namun saat ia hendak menggulingkan tubuh satu sabetan luar biasa

“srat….adouwwhhh….crak..aghh…” perut kui-bo terbuka dan usunya terburai, dan gerakan pedang naga sastra yang spontan tidak hanya sampai disitu, tapi masih bergerak zigzag ke arah kaki, sehinga kaki kui-bo sebatas paha terkuntung sebelum jurus bun-liong-sian-kiam ditutup dengan kuda- kudanya yang khas.

Lao-sam pucat dan ciut nyalinya, dia segera melarikan diri menerobos pintu dan berlari menelusuri lorong, sementara anak buah pasukan pendam melihat engkiam dan pimpinan mereka tegeletak tidak bernyawa, sebagian mereka sudah keluar untuk melarikan diri, han-hung-fei mengejar lao-sam, han-hung-fei bingung entah lorong mana diantara banyak lorong yang digunakan lao-sam, han-hung-fei kecewa saat mendapatkan lorong buntu, dan untung bagi lao-sam ia dapat keluar dari pintu belakang yang sudah dijebol han-hung-fei, dengan rasa takut yang sangat lao-sam melintasi hutan, sementara han-hung-fei berkutat di antara beberapa lorong, saat han-hung-fei kembali keruangan seorang lelaki yang bersembunyi di balik batu ditangkap han-hung-fei

“cepat kamu tunjukkan jalan keluar !” bentak han-hung-fei, dengan tubuh gemetar anak buah toan-gui membawa han- hung-fei keluar melalui pintu depan, setelah sampai diluar “kesebelah mana kota nanchao !?” tanya han-hung-fei, leleki itu menunjuk arah selatan, lalu han-hung-fei berkelabat kea rah selatan, dan dua minggu kemudian Han-hung-fei sampai dikota nanchao, dan dikota ini ia mendapatkan jejak lao-sam menuju Huangsan, tanpa menunda-nunda han-hung-fei melanjutkan pengejaran.

Setelah sampai di huangsan han-hung-fei mencari penginapan untuk bermalam, selama dua hari han-hung-fei berada di huangsan, dan ia tidak mendapatkan berita keberadaan lao- sam di penginapan yang ia tempati, dan ia juga telah mencoba melihat tempat-temnpat hiburan dan perjudian, tidak ada bayangan lao-sam, lalu Han-hung-fei berencana meninggalkan huangsan menuju hopei, saat ia melewati gerbang barat, seorang pengemis tua dengan muka babak belur merintih kesakita.

“kamu kenapa lo-kai, mukamu babak belur kenapa ?” tanya Han-hung-fei

“tuan..tolonglah aku, aku sudah tidak makan selama dua hari, keluargaku telah binasa akibat perang yang kejam ini, hartaku dijarah dan hidupku terlunta-lunta selama dua bulan ini.” keluh lelaki tua itu

“baiklah paman, marilah kita kekedai itu, dan saya akan mentraktir paman makan sekenyang-kenyangnya.” sahut Han- hung-fei “terimakasih tuan, semoga kebaikan tuan dibalas oleh Thian.” ujar pengemis tua itu, lalu merekapun masuk sebuah kedai makan, pengemis itu pun makan dengan lahap dihadapan han- hung-fei, mukanya yang memar bengkak nampak mengharukan.

“paman, kenapa dengan mukamu ?”

“ah aku tadi memang sial, dirumah yang pojok itu aku mengemis makanan, tapi yang kuterima adalah tamparan dari dua orang penjaga.

“itu rumah siapa paman ?” tanya han-hung-fei

„saya tidak tahu tuan, saya bukan penduduk sini, saya dari kota hofei, kota itu jadi bulan-bulanan pasukan pemerintah maupun pasukan ang-bi-tin yang tipu daya.”

“eh apa maksud paman pasukan ang-bi-tin yang tipu daya ?” “mereka menamakan perang ini untuk perbaikan hidup rakyat dari penguasa korup, namun cara-cara mereka memperlakukan penduduk yang katanya mereka perjuangkan di perlakukan dengan sewenang-wenang.”

“jadi paman mengungsi kesini ?”

“benar tuan, dan aku sudah satu bulan disini hidup dari belas kasihan orang.” sahut pengemis tua itu, han-hung-fei merasa kasihan, lalu ia menatap rumah yang ditunjuk oleh pengemis itu.

“hmh..pelayan !” desah Han-hung-fei sambil memanggil pelayan, pelayan datang mendekat

“iya kongcu ada apa ?” tanya pelayan

“berapa harga makanan paman ini ?” tanya Han-hung-fei, pelayan menghitung sejenak

“dua tail kongcu !” sahut pelayan, han-hung-fei memberi dua tail “pelayan rumah itu rumah siapa ?” tanya han-hung-fei sambil menunjuk rumah dipojok

“rumah yang besar dan berpagar tembok itu ?” tanya pelayan memastikan

“benar rumah yang berpagar tembok.”

“ooh, itu rumah she-sima seorang terkaya dikota ini, kongcu jangan kesana.”

“kenapa pelayan ?” tanya han-hung-fei, karena pemilik rumah itu milik seorang datuk ternama.”

“datuk ? apa julukan datuk itu ?” tanya han-hung-fei

“pemilik rumah itu dikenal dengan julukan pek-mou-hek-kwi di rimba persilatan.” Jawab pelayan

“ooh ternyata dia disini tinggal” gumam han-hung-fei

“baiklah pelayan dan terimakasih,” ujar han-hung-fei, pelayan itu mengangguk dan pergi, pengemis tua yang sedang makan menatap han-hung-fei dengan heran

“tuan kenapa menanyakan penghuni rumah itu ?”

“tidak ada apa-apa paman, dan ini sepuluh tail untuk paman, semoga dapat membentu paman beberapa hari.” ujar Han- hung-fei, uang yang curi tiga tahun lalu, sekarang hanya tinggal dua tail emas dan dua puluh tail tembaga.

“terimakasih tuan, sungguh tuan demikian baik hati.” sahut pengemis tua itu dengan hati haru.

“sudahlah paman, sekarang aku akan pergi dan jagalah diri paman !” sahut han-hung-fei, pengemis itu mengangguk penuh rasa terimakasih.

Han-hung-fei melompat dari pagar belakang rumah pek-mou- hek-kwi, dengan gerakan yang ringan ia mengendap-endap kesebuah bagunan, dari pendengaran yang tajam ia mengetahui ada tiga orang didalam bangunan itu, sewaktu ia melintasi sebuah paviliun ia melihat seorang wanita sedang menyuapi anak umur satu tahun, dengan mengendap-endap Han-hung-fei mendekati bangunan didepan paviliun, dengan gerakan yang ringan han-hung-fei bergantung seperti kelelawar, dia mengintai tiga orang yang sedang duduk dan bercakap-cakap, han-hung-fei merasa gembira karena buruannya ada disini.

Tiga orang itu adalah lao-ji, lao-sam dan lao-liok, Kam-peng atau lao-sam yang melarikan diri untuk menyelamatkan diri dari han-hung-fei terus tancap gas setelah sampai di alam luar, tujuannya kekota nanchao, di nanchao ia hanya makan dan terus melanjutkan pelarian menuju huangsan, Lao-sam sampai satu hari sebelum Han-hung-fei, sesampai di huangsan berkebetulan ia melihat bayangan Lao-ji memasuki kota

“lao-ji..!” panggilnya, Lao-ji berhenti dan menoleh

“heh..kamu lao-sam, bukankah kamu harus ke khangsi ?” “benar tapi kamu kenapa kesini ? bukankah seharusnya kamu di hopei ?”

“aku ada keperluan dirumah, mari kamu ikut saya kerumah.” sahut Lao-ji, lalu membawa lao-sam kerumah kediaman suhunya.

Kedatangan keduanya disambut oleh Yan-hui atau lao-liok. “bagaimana hasil pertemuan di lanzhou ?” tanya Yan-hui. “kita semua sepakat untuk mewujudkan pak-koai-lo cianpwe untuk menduduki istana.” sahut Tan-hang.

“bagaimana kabarmu lao-liok, dan bagimana pula kabar anakmu ?” sela lao-sam dengan semyum lembut

“aku baik-baik saja lao-sam, eh kenapa kamu tahu aku sudah beranak ?” sahut Yan-hui dan bertanya heran.

“ihwal kamu terungkap saat membahas tentang bun-liong- taihap.” sela Tan-hang “kenapa bisa begitu ?”

“karena lao-si ternyata teman masa kecil bun-liong-taihap.” “lalu apa hubungannya dengan keadaanku ?”

“liok-cianpwe menyarankan agar lao-si menarik bun-liong- taihap masuk dalam aliran kita, awalnya lao-si menolak karena lao-ngo hamil oleh bun-liong-taihap.” sahut kam-peng “hi..hi..hi… kesengsem juga ternyata lao-ngo, lalu selanjutnya bagaimana ?”

“karena hal itu terbuka suhu menyampaikan juga keadaanmu, jadi baik suhu maupun liang-lomo akan menjadikan kedua anak bun-liong-taihap menjadi pembunuh ayahnya sesuai yang kamu katakana.” sela tan-hang.

“lalu bagaimana tanggapan lao-si ?”

“pak-koai-lo juga ikut membujuk supaya rencana penarikan bun-liong dilaksanakan, terlebih lagi ternyata lao-pat adalah adik dari lao-si, akhirnya lao-si menyetujui ?” sahut Tan-hang

“apakah menurutmu lao-si akan berhasil menaklukkan hati bun- liong-taihap ?”

“saya cenderung meyakini akan berhasil, karena jikapun tidak kartu as yang merupakan kedua anaknya akan jadi bumerang menyakitkan nantinya bagi Bun-liong-taihap.” sela kam-peng.

“oh ya lao-sam, kamu belum menjawab kenapa kamu tidak berada dikhangsi ?” tanya lao-ji

“ah…aku dan engkiam apes betul.” “apes bagaimana ?” tanya lao-ji

“kami baru sampai kemarkas pasukan pak-koai-lo bertemu dengan “yaoyan-taihap” (sipendekar binal)

“siapa yaoyan-taihap ?” tanya Lao-liok heran

“hehehe..hehehe..siapa lagi kalau bukan ayah anakmu itu lao- liok.” sahut Tan-hang “kenapa kalian sebut dia pendekar binal ?” “hehehe…hehehe…karena suhu dan liang-lo-mo cianpwe menjulukinya begitu.” sahut Tan-hang.

“lalu bagaimana lao-sam ?” tanya Yan-hui

“kami mengeroyoknya, tapi dia sangat luar biasa, eng-kiam , dan kiu-bwee-kui-bo tewas ditangannya, bahkan toan-gui pimpinan pasukan pendam juga mati, saya ini sedang melarikan diri dari kejarannya.” sahut kam-peng

“memang si yaoyan ini luar biasa, lao-si dan lao-ngo juga melarikan diri darinya, lam-sin-pek cianpwe saja dapat dikalahkannya.” sela Tan-hang

“apa ? lam-sin-pek cianpwe kalah darinya ?” seru Yan-hui merasa tidak percaya.”

“benar, makanya liok-cianpwe menharap lao-si berhasil dalam misinya.‟

“sudahlah kalau begitu kalian istirahatlah dulu, besok kita lanjutkan !” ujar Yan-hui dan meninggalkan kedua rekannya, Tan-hang membawa Kam-peng kekamar tamu, kam-peng istirahat selama dua hari, saat Han-hung-fei mengintip ketiganya yang sedang bercakap-cakap sambil minum arak, Han-hung-fei tidak menduga akan melihat Yan-hui, sesaat tubuhnya gemetar dan itu sudah cukup membuat tiga lao mengetahui kehadirannya, sehingga ketiganya segera menyerang sambil keluar.

Han-hung-fei berjumpalitan saat sebuah serangan sin-kang mengarah padanya, pintu itu ambrol dan han-hung-fei berdiri tenang menyambut tiga lao yang marah

“hehehe..hehehe…ternyata lao-sam bersembunyi disini.” ujar Han-hung-fei dengan nada sinis “han-hung-fei apa maksudmu datang kemari !?” tanya Yan-hui dengan nada bergetar, betapapun ia dengan pendekar ini punya kisah istimewa

“siapa ? kamu han-hung-fei ?” seru Kam-peng terkejut, han- hung-fei heran melihat ketekejutan lao-sam

“memang benar aku adalah han-hung-fei, lalu kenapa lao-sam

?” tanya Han-hung-fei

“hehehe..hehehe… hung-fei ternyata kita pernah bersama dulunya ?”

“eh kamu siapa lao-sam ?” tanya Han-hung-fei

“aku adalah kam-peng, tentunya kamu masih ingat kita dibawa oleh suhu coa-tung-mo-kai” sahut Kam-peng

“oh..ternyata lao-sam adalah kam-peng murid coa-tung-mo-kai.”

Ujar Han-hung-fei

“benar, jadi tidak seharusnya kita bermusuhan bukan ?”

“aku tidak memusuhi kalian kalau kalian tidak usil pada saya, yang dimulai oleh si lao-liok yang penuh tipu daya.” “hi..hi…hi… han-ko hal-hal yang sudah belalu sebaiknya kita lupakan.” sela Yan-hui

“apa yang kamu lakukan pada saya, mungkin masih saya maafkan, tapi ada dua lao yang harus saya temukan.” sahut Han-hung-fei

“apakah maksudmu Lao-si ?” sela Lao-ji

“benar, eh kenapa kamu tahu ?” tanya Han-hung-fei heran “karena ia bercerita bahwa ia lari darimu, dan tentunya kamu kejar sebagaimana sekarang engkau mengejar saya” sela Lao- sam

“apakah kamu hendak membunuhnya juga ? apa yang dilakukannya padamu, han-ko ?” sela Yan-hui

“ah..tentu tidak, aku tidak akan membunuhnya, dan dia tidak ada salah padaku, dan yang hendak harus merasakan hajaranku adalah Lao-ngo” sahut Han-hung-fei geram mengingat betapa ia terluka dua pukulan Lao-ngo karena terjerat tipu daya.

“ooh..maksudmu Yang-lian, lupakanlah itu hung-fei, sebaiknya kita berteman sebagaimana dulu.” sela Kam-peng

“kita tidak berteman kam-peng, malahan dulu kamu dan si gan- kui mengolok-olok saya dan menjadikan saya jadi sasaran pukulan kalian.” sahut han-hung-fei dengan sorot mata tajam “itu hanya masa dimana kita masih anak-anak.” sahut Kam- peng

“baik kali ini akan kulupakan semua hal yang dilakukan Lao, tapi katakana padaku dimana aku bisa menemui lao-si ?” ujar Han-hung-fei

“boleh aku tahu han-ko ? kenapa engakau ingin menemui lao-si

?”

“tidak, ini urusan peribadi saya.” aahut Han-hung-fei tegas.” “sudah kalau begitu, apakah lao-ji dan lao-sam tahu kemana lao-si ?” ujar Yan-hui “baiklah hung-fei karena kita adalah teman, maka saya kasih tahu, bahwa lao-si berada di lanzhou, tapi saya yakin dia menuju ke chang-an lalu kemudian akan ke chongqing.” ujar Kam-peng.

“benar apa yang dikatakan oleh kam-peng, karena itu daerah misi perjalannya dalam kesepakatan yang ditetapkan liok- cianpwe.

“baik, terimakasih kam-peng atas informasinya, dan kamu yan- hui bagaimana kabarmu?”

“hi..hi… ternyata aku demikian kamu perhatikan Han-ko.”

“ah..aku juga hanya ingin menawarkan suasanan tegang pada pertemuan ini.” sahut Han-hung-fei “memang pertemuan ini juga menegangkan bagiku, apalagi kamu datang-datang untuk mengejar lao-sam, bagaimana kalau kamu masuk dan minum-minum bersama kami ?” ujar Yan-hui

“benar hung-fei, sebagai bukti bahwa kita telah mellupakan kejadian kecil diatara kita, aku ingin mengajakmu bersulang arak.” sela Kam-peng dengan senyum.

“baik kalau begitu.” sahut Hung-fei, lalu merekapun masuk dan suasana pertemuan itu berubah jadi ceria, tiga lao sangat mengerti bahwa menghadapi Bun-liong-taihap sebagai musuh, mereka akan kalah, terlebih lao-ji dan lao-sam mendengar sendiri bahwa menurut perhitungan Lam-sin-pek, dua dari datuk baru imbang dengan kesaktian pemuda didepan mereka ini, jadi setidaknya tiga datuk baru bisa mengalahkan pemuda ini, sementara mereka hanya tiga lao, jelas mereka akan binasa, kalau terjadi pertempuran.

Setelah minum-minum Han-hung-fei berniat untuk segera pergi “aku hendak pergi dan terimakasih semuanya.” ujar han-hung- fei

“apakah secepat itu han-ko ? bermalamlah disini setidaknya semalam saja Han-ko.” sahut Yan-hui dengan nada manja dan senyum lembut

“ah..ti…tidak, itu tidak bagus hui-moi.” sahut Han-hung-fei “apanya yang tidak bagus han-ko ? apakah kamu masih pada saya ?”

“tidak..a..aku tidak marah padamu, sudahlah aku pergi saja.” “menurutku bermalamlah disini hung-fei.” sela Kam-peng “ah…tidak sobat, aku harus pergi, maaf jika aku mengecewakan kalian.” sahut han-hung-fei “hiks..hiks…hiks…karena aku han-ko tidak mau bermalam, memang aku akui aku salah telah menipumu han-ko.” sela yan- hui sesugukan, sikap ini membuat Han-hung-fei jadi bingung “aduh..bu..bukan demikian hui-moi .” ujar han-hung-fei “kalau bukan lalu kenapa han-ko tidak mau bermalam ?” ujar

Yan-hui merajuk, han-hung-fei makin serba salah melihat yan- hui menangis

“aduh..kam-peng tolongkah aku, katakan padanya aku tidak lagi membencinya.”

“hehehe..hahaha….hung-fei, aku tidak tahu kenapa kamu dengan lao-liok, sepertinya dekat, aku teman lao-liok dan kamu juga teman saya, apa yang bisa saya katakan teman?” sahut Kam-peng, Hung-fei terheyek seketika, karena telah melibatkan kam-peng dalam menjawab bantahan yan-hui.

“baiklah kalau begutu hui-moi, aku akan berangkat esok pagi.” ujar Han-hung-fei

“hi..hi…terimakasih han-ko, hatiku lega dan sekarang aku mau pergi mandi.” sahut Yan-hui dengan nada manja, han-hung-fei menatap lao-ji dan lao-sam, dan ia menunduk dengan muka merah karena jengah, malam itu mereka makan bersama “suhu kalian kemana, lao-ji ?” tanya Han-hung-fei

“suhu sedang berada di utara untuk sebuah urusan.” jawab tan- hang

“saya tidak menyangka bahwa kamu menjadi orang luar biasa sakti hung-fei.” sela Kam-peng

“ah..kamu terlalu memuji kam-peng.” sahut Han-hung-fei “saya dengar pedangmu itu jadi rebutan dulunya dikalangan dunia persilatan.” sela Tan-hang

“sepertinya memang demikian, tapi sudahlah kita membicarakan hal lain saja.” sahut

Han-hung-fei mencoba menyetop pembicaraan yang mengarah pada dirinya. “lalu merekapun membicarakan hal-hal lain, tentang perang yang sedang berkecamuk hingga larut malam, han-hung-fei tidur dikamar tamu bersama Kam-peng, malam itu Han-hung-fei tidak bisa tidur, pikirannya sudah melanglang ke chang-an atau kechongqing, dimana ia nantinya akan bisa menemui Wan-lin, Han-hung-fei keluar kamar dan pergi ketaman disebelah paviliun.

“kamu disini hui-moi, kenapa kamu tidak tidur ?”

“aku tidak bisa tidur han-ko, malam ini terasa gerah sekali, lalu han-ko kenapa tidak bisa tidur ?” sahut Yan-hui dan bertanya dengan senyum lembut memikat, Han-hung-fei

“aku hanya tidak sabar untuk berangkat ke chang-an hui-moi “apakah lao-si yang membuatmu seperti ini ?”

“ah..tidak…a..aku hanya penasaran tentang siapa dirinya ?” “apa yang ingin kamu ketahui tentang dirinya ?”

“ah..tidak apa-apa sudahlah, aku akan kembali kedalam.” sahut Han-hung-fei sambil berbalik

“tunggu dulu han-ko !” seru Yan-hui sambil menagkap pergelangan tangan Han-hung-fei,

“yan-hui, jangan lagi membuat kesalahan !” tegur Han-hung-fei karena merasakan gelagat yang tidak baik.

“han-ko jangan sergah aku, aku ini hanya wanita yang tidak bisa melupakan dirimu.” sahut Yan-hui menunduk dan mulai sesugukan, han-hung-fei jadi kelabakan

“hui-moi, sudah kukatakankan padamu aku tidak mencintaimu.” sahut Han-hung-fei

“aku tahu, tapi dapatkah aku merasakan kembali apa yang kurasakan dulu ketika bersamamu ?”

“hush…jangan begitu hui-moi, nanti kamu akan sengsara sendiri, dan untung saat itu tidak mengakibatkan dirimu hamil, yang katamu akan membuat malu.” sahut Hung-fei, walhal dia tidak tahu bahwa Yan-hui telah melahirkan anaknya dan anaknya sudah ia lihat saat seorang pelayan memberi makan seorang anak dipaviliun yang sekarang mereka tempati

“Han-ko…aku tidak tahan lagi, aku menerima desakan birahimu cukuplah bagiku.”

“apa maksudmu hui-moi ?”

“kamu tentu merasakan gejolak yang mesti kamu tuntaskan ketika melihat tubuhku, bukan ?”

“apakah itu namaya birahi ?” tanya Han-hung-fei polos “benar han-ko, kamu tuntaskan itu.” sahut Yan-hui sambil memeluk dan mencium Han-hung-fei.

“ja..jangan hui-moi, a..aku merasa malu jika diketahui suhengmu dan Kam-peng

“mereka tidak akan tahu, han-ko.” sahut Yan-hui, lalu kembali mencecar lumatan-lumatan dibibir han-hung-fei.

Han-hung-fei yang lemah dan lugu terbakar birahi, saat dia memberikan balasan pada lumatan itu, ia pun jadi aktif mendominasi perhelatan birahi itu, dilantai paviliun, disaksikan bulan sepotong hubungan sanggama penuh ledakan birahi itu berlangsung sampai jauh larut malam, setelah selesai Han- hung-fei merasa malu, dia malu kalau kam-peng atau Tan-hang tahu, dia segera bangkit dan buru-buru memakai pakainnya kembali, lalu meninggalkan Yan-hui.

Tan-hang dan Kam-peng tidur dengan pulas, namun ketidak pedulian mereka pada kejadian itu bukan tidak ada maksud, semua kejadian malam itu merupakan rentetetan jebakan, Tan- hang dan Kam-peng adalah orang-orang yang cerdik, keluguan dan kepolosan adalah merupakan kelemahan Bun-liong-taihap, dan kelemahan ini akan mereka mamfaatkan pada setiap peluang, usaha terselubung ini akan berakhir pada kebinasaan Han-hung-fei jika saatnya tiba. Han-hung-fei tidak menyadari hidupnya kini dalam intaian permaianan halus para datuk dan lao, Han-hung-fei telah mengambil pemahaman salah akan arti hubungan pria dan wanita, pemahaman suka sama suka telah menjadikan ia budak nafsunya, ia telah kalah mutlak pada godaan wanita, gagal total memahami petuah Lam-sian.

Keesokan harinya Han-hung-fei meninggalkan kota Huangsan, perjalanannya terasa ringan, hatinya senang menuju kota chang-an atau mungkin kechongqing, wajah lao-si menjadi hiasan dalam benaknya dalam perjalanan panjang yang akan ia tempuh, bayangan bertemu dengan lao-si memotivasi gerak langkah perjalanan Bun-liong-taihap, karena hopei menjadi wilyah konflik perang dahsyat, Han-hung-fei mengambil jalan tikus melintas lembah dan gunung menuju Nanjing, dari Nanjing ia melintas lagi sehingga sampai kekota kaifeng.

Dari kota kaifeng dia menuju chang-an, sesampai di chang-an, kondisi perang semakin menghebat, pasukan ang-bin-tin banyak memenangkan pertempuran diberbagai kota, pasukan itu laksana semut beriring menuju kota raja, keadaan yang genting itu membuat Han-hung-fei menyimpulkan bahwa lao-si tidak akan bertahan dikota yang sedang dalam bahaya, lalu ia melanjutkan perjalanan menuju chongqing.

Seminggu kemudian Han-hung-fei disebuah hutan mencium baud aging bakar yang lezat, lalu dia melangkah kaki mendekati aroma yang menerbitkan rasa laparnya,

“siapa itu ?” teriak suara memergokinya, kedua mata bertaut, yang memergokinya ternyata wan-lin, wan-lin kontan berlari, hatinya masih ragu karena walaupun ia yakin bahwa pemuda dihadapannya adalah han-hung-fei, tapi pertemuan pertama mereka sangat tidak bagus, mereka berhadapan sebagai musuh.

Dengan satu loncatan gesit, Wan-lin melompat kea rah lembah hutan dan berlari sekuat-kuatnya

“Wan-lin..!” seru Han-hung-fei sambil mengejar Wan-lin, kejar- kejaran pun terjadi dikeremangan senja itu, untung bagi Wan-lin malam mulai menyelimuti, Wan-lin cepat sembunyi dibalik sebuah batu, teriakan Han-hung-fei yang memanggil namanya membuat hatinya bergetar, rindunya menggelora, rasa sayangnya muncul, Han-hung-fei melintas ditempat ia sembunyi, dan terus meneriakkan namanya, dan kemudian bayangan Han-hung-fei muncul lagi dan duduk sekitar tiga tombak dari tempat ia sembunyi

Wan-lin dengan menahan nafas mengintai bayangan Han- hung-fei yang diselimuti kegelapan, dan hati Wan-lin berdebar han-hung-fei berdiri sambil berteriak

“lin-moi…!” kenapa engkau lari ? aku bukan musuhmu lin-moi, aku hung-fei ingin bertemu denganmu, lin-moi aku rindu padamu…!” teriak Hung-fei lalu duduk lemas, teriakan yang penuh dengan hati pilu itu, membuat Wan-lin terisak dibalik batu, Han-hung-fei otomatis mendengar isakan itu, lalu Han- hung-fei bergerak gesit melompat ke arah suara isakan, dan Wan-lin yang merasa kepergok langsung melompat, namun “buk…auh…” kedua bayangan itu bertubrukan diudara, keduanya jatuh bergulingan

“lin-moi apakah kamu itu lin-moi..?” ujar Han-hung-fei dengan nada lirih dan meraba-raba muka Wan-lin, hatinya sesak karena dalam pelukannya ini adalah wanita yang dikejarnya, benarkah ini wan-lin ? pikirnya

“cih..lepaskan aku bangsat !” bentak Wan-lin, han-hung-fei segera melepaskan pelukanya

“plak…” muka Han-hung-fei ditampar wan-lin “lin-moi ? benarkan kamu lin-moi ?”

“aku tidak kenal lin-moi !” teriak Wan-lin

“lin-moi ? apakah kamu wan-lin putri dari paman wan-keng ?” tanya Han-hung-fei, Wan-lin terdiam, hatinya bergetar diingatkan pada ayahnya

“kamu siapa sebenarnya ?” tanya Wan-lin dengan nada bergetar, walaupun ia sudah yakin, namun ia harus pastikan “a..aku Han-hung-fei Wan-lin.” jawab han-hung-fei

“han-ko…han-ko….benarkah…..?” jerit Wan-lin dengan bibir bergetar

“benar lin-moi..a..aku han-ko.” sahut Han-hung-fei

“oh..han-ko kamu kemana sajakah ?” tanya Wan-lin, hatinya membuncah dengan tangis yang pecah, Wan-lin mendekat dan memeluk Han-hung-fei, Han-hung-fei juga balas memeluk Wan- lin.

“lin-moi syukurlah kamu ternyata masih hidup, Gao-hujin tewas sementara engkau dan peng-te hilang.”

“saya dibawa suhu Lam-sin-peng dan sejak itu aku hidup dibawah asuhannya

“lalu peng-ji kemana ?”

“saat itu aku tidak tahu, karena aku pingsan.” “lalu selanjutnya bagaimana ?”

“aku baru tahu beberapa bulan yang lalu, bahwa peng-te diasuh oleh suhunya Pak-koai-lo. “Lin-moi janganlah menjadikanku sebagai musuh, aku tidak sanggup lin-moi.”

“han-ko ? aku juga tidak ingin jadi musuhmu, namun posisi berdiri kita berbeda.”

“Lin-moi ! jangan kau katakan demikian, dunia boleh memusuhiku, tapi tolong kamu jangan memusuhiku, sungguh aku tidak tahan memikirkannya.”

“kenapa han-ko, kenapa kamu tidak tahan bermusuhan dengaku ?”

“lin-moi, a..aku cinta padamu lin-moi, bagaimana aku bisa hidup jika engkau yang aku cintai memusuhiku.”

“han-ko benarkah engkau mencintaiku ?”

“benar Lin-moi, hanya kamulah yang saya cintai.” sahut Han- hung-fei sambil meremas jemari lembut Wan-lin, Wan-lin menikmati remasan itu, namun tiba-tiba ia terbayang wajah Yang-lian dan Yan-hui, dan wajah-wajah liok-cianpwe

“Han-ko, jika engkau memang cinta padaku, maukah kamu mengikuti permintaanku ?”

“tentu lin-moi sayang, katakanlah apa yang harus kulakukan untukmu ?”

“Han-ko, supaya kita tidak berhadapan selaku musuh, maukah engkau sama berdiri disampingku menjadi bagian diriku yang hidup dalam naungan liok-cianpwe, bersama meraih kejayaan hidup dan mengokohkan sendi-sendi aliran.”

“demi cintaku lin-moi sayang, aku akan ikut apa katamu, biarlah orang lain memusuhiku asal kamu menyayangiku.”

“oh..han-ko..aku juga cinta padamu, lega hati ini bahwa kita dapat meraih mimpi bersama.” sahut Wan-lin dengan lembut dan rasa haru, Han-hung-fei memeluk dan mencium bibir Wan- lin, sontak tubuh wan-lin bergetar, lumatan itu menyesakkan dan meletupkan birahinya, Wan-lin pun membalas dengan rasa hangat dan sayang, permainan terus meningkat ke arah yang lebih panas, malam sunyi dan dingin itu terasa panas oleh hentakan birahi yang menyala-nyala.

Dibalik batu yang bisu, diatas rerumputan hutan belukar, dikegelapan malam yang sunyi, menjadi saksi atas pertautan birahi dua insan manusia yang berselimut cinta dan rindu, kedua insane berkali-kali mencapai puncak kenikmatan yang melelahkan, dorongan rindu dan cinta menjadikan dua sejoli itu enggan untuk mengehentikan perpaduan asmara yang demikian nikmat dan melelapkan, saat matahari sudah naik tinggi keesokan harinya barulah mereka berhenti, sesaat dalam ketelanjangan itu mereka berpelukan dengan hangat, Han- hung-fei bangkit dan menggendong kekasihnya menuju sebuah sungai yang mengalir, keduanya mandi dan membersihkan diri, sambil bermain air kedua sejoli itu berpendar kemesraan yang tak kunjung selesai, saling cubit, saling colek dan saling remas, bahkan saat birahi menghentak, penuntasan pun dilakukan ditepi sungai, setelah terhempas pada lembah kenikmatan yang melelahkan, keduanya kembali kedalam air membersihkan diri.

Han-hung-fei dan Wan-lin memakai pakaian ganti, lalu dengan cekatan didorong rasa senang dan bahagia Han-hung-fei mencari binatang buruan untuk mengisi perut yang lapar, Wan- lin mempersiapakan api sambil menanti kekasihnya, dua ekor ayam hutan menjadi santapan nikmat kedua sejoli itu, tak bosan mereka saling menyuap dan bercanda melahap daging ayam bakar.

“marilah kita kechongqing dan kita akan menikah disana Lin- moi.” ujar Han-hung-fei, dengan manja Wan-lin melompat kepunggung Han-hung-fei

“bawalah aku han-ko, tapi kita ke chang-an saja, atas restu suhu kita akan menikah !” bisik Wan-lin dekat telinga han-hung- fei, Han-hung-fei dengan sekali lompatan telah terbang keatas, dan hanya menjejakkan kaki diujung ranting rerimbunan hutan Han-hung-fei melayang sambil menggendong kekasihnya.

Sepanjang perjalanan tidak ada hari tanpa kemesraan, canda dan derai tawa bahagia, seminggu kemudian kedua sejoli itu sampai kekota chang-ang yang genting, Han-hung-fei dibawa ke “In-san” (gunung awan) sebuah bukit sebelah utara kota chang-an, dilereng bukit berdiri sebuah bangunan megah milik tee-tok-siang, rumah itu sekarang merupakan markas petinggi Pak-koai-lo yang akan mengadakan kudeta pada saat pengambil alihan istana, kedatangan Wan-lin dan Bun-liong- taihap disambut oleh enam datuk, dan seluruh lao, termasuk lao-ngo.

Lao-ngo atau Yang-lian setelah berpisah dengan Wan-lin di chang-an, Lao-ngo langsung menuju kediaman tee-tok-siang, kedua saudara seperguruan itu baru seminggu pulang dari bu- tong-pai bersama Tan-hang,

“selamat datang lao-ngo !” sapa bao-lam orang pertama dari pasangan tee-tok-siang

“selamat berjumpa tee-tok.” sahut lao-ngo

“apakah ada hal penting yang ingin disampaikan oleh liang-lo- mo cianpwe ?” sela Bu-lim, orang kedua dari tee-tok-siang “tidak ada tee-tok, aku hanya menumpang disini untuk sementara.”

“ooh, demikiankah ? tentu saja boleh lao-ngo.” sahut Bao-lam “tapi kalian harus tahu bahwa aku juga akan melahirkan disini.” “hmh..apakah laao-ngo hamil ?”

“benar… jadi aku butuh tumpangan untuk melahirkan.” sahut Lao-ngo Sejak itu Lao-ngo tinggal di tempat tee-tok-siang, tee-tok-siang sering keluar rumah hingga kadang berbulan-bulan, Lao-ngo hanya ditemani empat orang pelayan wanita dan sepuluh orang penjaga laki-laki, semua pelayan sangat menghormati lao-ngo, karena melihat betapa majikan mereka yang tergolong senior dunia persilatan demikian menghormati lao-ngo, ketika usia hamil Yang-lian tujuh bulan, tee-tok-siang kembali kekediamannya, darai pertemuan di lanzhou.

“kalian semua harus mempersiapkan tempat ini untuk markas kita yang mungkin akan dihuni dalam waktu dekat, seluruh senior hek-to akan berkumpul disini.” ujar tee-tok-siang pada seluruh pelayannya

“apakah suhu juga akan kesini tee-tok ?”

“benar lao-ngo, dan saya juga sudah memberitahu loncinpawe bahwa lao-ngo ada disini.” sahut Bao-lam

“hal apa yang akan kita lakukan disini ?”

“pak-koai-lo memiliki rencana besar dalam istana, dan akan dilaksanakan saat pengambilan istana.” sahut Bu-lim.

Dua bulan kemudian Lao-ngo melahirkan anaknya, bayi laki- laki yang sehat dan mungil, kelahiran anak itu disambut oleh tee-tok

“inikah mesin pembunuh sang ayah ?” gumam Bao-lam “benar tubuhnya sehat dan saatnya jika tiba ia akan menjadi pewaris yang akan menghabisi nyawa ayahnya,

hahaha..hahaha…” sahut Bu-lim “apa maksud kalian tee-tok ?”

“ketahuilah Lao-ngo, baik anak lao-liok maupun anak ini akan dijadikan oleh Liok-cianpwe menjadi mesin pembunuh ayahnya.” sahut Bao-lam.

“benar, jika usaha lao-si tidak berhasil menarik si yaoyan-taihap ikut bergabung dengan kita

“yaoyan ?” siapa yaoyan-yaihap ?” tanya Yang-lian heran “hehehe…cianpwe liang-lomo menggelar ayah anak ini yaoyan- taihap.”

“hi..hi…suhu ada-ada saja.” sahut Yang-lian tertawa

“maksudnya lao-si berhasil manarik si yaoyan, sebenarnya apa dan kenapa lao-si diberi tugas seperti itu ?”

“karena Lao-si adalah teman masa kecil si yaoyan, jadi dengan memmfaatkan kedekatan masa kecil, diharap Lao-si berhasil dalam misinya.”

“artinya si yaoyan akan menjadi suami lao-si ?”

“benar lao-ngo, jika sudah menjadi suami tentunya si yaoyan akan ikut mendukung istrinya.”

“aku sudah menduga ada demikian, dan saya yakin bahwa lao- si akan berhasil, karena si yaoyan memang menunjukkan gejala seperti itu saat di kota chongqing.” gumam Yang-lian.

“siapakah nama anak ini Lao-ngo ? apakah lao-ngo sudah mempunya nama untuknya ?”

“namanya Han-ok-liang.” sahut Yang-lian

“hmh..nama yang sangar dan mengerikan, hahaha..hahaha…” ujar Bu-lim, lalu mereka meninggalkan Lao-ngo dengan putranya.

Sebulan kemudian Liang-lo-mo datang, beliau disambut muridnya dan tee-tok-siang

“apakah baru aku yang datang tee-tok ?”

“benar cianpwe, dan tentunya tidak lama para cianpwe juga akan segera muncul.” Sahut bao-lam

“hehehe…lian-ji apakah kamu sudah melahirkan anakmu ?” “sudah suhu, daan sekarang bersama pelayan.” sahut Yang- lian.

“bawa kemari anakmu itu !” perintah Liang-lo-mo, Yang-lian segera bangkit dan pergi kedalam untuk mengambil anaknya.

“hehehe..hehehe bayi yang kuat, dan sehat siapa namanya lian-ji ?”

“han-ok-loang suhu..” jawab Yang-lian

“hahaha..hahaha luar biasa, namamu akan menjadi momok yang menakutkan suatu saat nanti.” sahut Liang-lo-mo sambil tertawa terbahak-bahak, Liang-lomo menggendong cucu muridnya dan membawa kehalaman, liang-lo-mo demikian gembira bermaain dengan cucu muridnya.

Tiga hari kemudian pek-mou-hek-kwi, lao-ji, lao-ngo datang, siangnya disusul oleh coa-tung-mo-kai beserta lao-sam dan lao-chit, kemudian keesokan harinya empat datuk dan lao-lao yang lain datang, kecuali lao-si, setelah semua hadir pesta pun dilakukan sebagai wujud kegembiraan mereka dalam pertemuan itu, setelah makan malam enam datuk dan tujuh lao berkumpul

“ada satu hal yang ingin saya sampaikan pada kalian semua.” ujar liang-lo-mo

“apa hal itu liang-lo-mo ?” tanya see-hui-kui “sehubungan dengan si yaoyan.” sahut liang-lo-mo “apa maksudnya liang-lo-mo ?”

“maksudku begini, walaupun lao-si berhasil menikahi si yaoyan dan dia akan ikut barisan kita, saya ingin kartu as kita pada kedua anaknya tetap kita wujudkan, sebagai jaga-jaga.”

“hal itu saya setuju .” sela pek-mou-hek-kwi.

“baiklah kita setuju, lalu apa rencanamu liang-lo-mo ?” tanya pak-koai-lo “saya minta cucu murid saya dan cucu murid pek-mou-hek-kwi mewarisi masing-masing tiga dari kita.”

“hehehe..hehehe… ide yang jitu, saya setuju, sebutkan nama cucumu itu liang-lo-mo !” sela see-hui-kui

nama cucu muridku ok-liang.” sahut liang-lomo

lalu nama cucu muridmu pek-mou ?” tanya coa-tung-mo-kai “namanya kwi-ong.” jawab pek-mou-hek-kwi

“hahaha..hahaha…nama-nama yang luar biasa, memang akan dijadikan mesin waktu yang jika meledak tentu sangat luar biasa.” sela pak-koai-lo.

“baik saya akan mewarisi ok-liang.” sela coa-tung-mo-kai “saya mewarisi kwi-ong.” sela pak-koai-lo, lalu datuk yang lain pun memberikan pernyataan, sehingga han-kwi-ong mewarisi pek-mou-hek-kwi, pak-koai-lo dan see-hui-kui, sementara han- ok-liang mewarisi liang-lo-mo, coa-tung-mo-kai dan lam-sin- pek.

“saya juga dalam pertemuan ini ingin menyampaikan sesuatu pada kalian.” ujar Pak-koai-lo

“hal apa lagi pak-koai-lo ?” tanya see-hui-kui

“ketika saya berada di lokyang, anak buah saya “pak-hong-kwi” dan “coa-hui” memberikan laporan bahwa dikaifeng ada jiangzhou yang merupakan barisan pendekar, yang mana misi mereka adalah mengawal perjuangan.”

“memang mereka juga bagian dari perjuangan ini pak-koai-lo.” sela coa-tung-mo-kai

“benar coa-tung-mo-kai, tapi mereka itu adalah duri dalam daging misi kita, karena jelas barisan itu akan mendukung sepenuhnya liu-xuan.”

“jadi artinya tantangan kita yang sebenarnya adalah jiangzhou.” sela pek-mou-hek-kwi.

“benar pek-mou, jadi kita harus mewaspadai jiangzhou.”

“lalu apa rencanamu pak-koai-lo ?” tanya lam-sin-pek

“aku sudah menugaskan mata-mata untuk menyelidik gerakan mereka, semoga saja dalam waktu dekat kita akan mengetahui kekutan mereka, sehingga kita dapat menyusun rencana selanjutnya.” sahut Pak-koai-lo.

“kalau begitu kita tunggu saja hasil penyelidikan anak buahmu Pak-koai-lo.” sahut lam-sin-pek, semuanya mengangguk menyetujui.”

Tiga bulan setelah itu Lao-si dan bun-liong-taihap muncul “selamat datang lao-si dan bun-liong-taihap.” Sapa mereka ramah, han-hung-fei menjura dihadapan enam orang tua itu “selamat bertemu liok-cianpwe.” sahut Han-hung-fei, lalu lao-si memperkenalkan enam datuk dan tujuh lao, saat melihat zhou- peng, han-hung-fei memeluknya mesra

“wan-peng syukurlah ternyata kita masih dapat berkumpul.” ujar Han-hung-fei

“benar han-twako, kedatanganmu hari ini merupakan kebahagiaan bagiku, dan tentunya bagi semua kita yang hadir disini.”

“fei-ji, kami baru tahu bahwa kamu adalah bagian dari lin-ji dan peng-ji, kamu datang bersama lin-ji tentu sudah mempunyai rencana bukan ?” ujar Lam-sin-pek

“benar cianpwe, saya dan lin-moi, ingin agar kami dinikahkan.” sahut han-hung-fei.”

“hehehe..hehehe..hal itu mudah diatur fei-ji, namun ada hal yang harus kita selesaikan dulu.” sela Pak-koai-lo

“hal apakah itu cianpwe ?” tanya Han-hung-fei “aku tidak tahu apakah anda akan mau mengerjakannya ?” “jangan sungkan cianpwe, katakanlah hal apakah yang mesti saya kerjakan ?”

“baiklah, dengarlah lao-si, ada sebuah gerakan yang amat potensial yang akan menghalangi misi kita.”

“gerakan apakah itu cianpwe ?” tanya Lao-si

“dikota kaifeng ada gerakan yang menamakan dirinya jiangzhou yang terdiri dari kalangan bui-lim, jika keberadaan mereka eksis maka misi kita akan mendapat tantangan berat.” sahut Pak-koai-lo

“jadi maksud cianpwe saya dan han-ko akan kesana untuk menghabisi mereka ?”

“benar lao-si, bagaimana menurutmu apakah bun-liong-taihap akan sudi membantu kita ?”

“tentunya han-ko akan membantu kita cianpwe, bukankah begitu han-ko ?” sahut lao-si dan bertanya pada Han-hung-fei. “benar cianpwe, kami sudah seia sekata dengan lin-moi, jadi kalau tugas itu dibebankan padanya tentunya aku juga akan ikut mendukungnya.” sela Han-hung-fei “hahaha…hehehe…bagus bun-liong-taihap, bantuan dan dukunganmu sunguh amat berarti, jadi lusa kalian berangkatlah ke kaifeng, setelah tugas disana selesai maka niat kalian yang suci itu akan kita resmikan, bukankah demikian para datuk ?” ujar Pak-koai-lo.

“benar sekali pak-koai-lo, saya sebenarnya sangat ingin supaya murid saya segera bersanding dengan pilihan hatinya, namun karena tugas ini amat penting maka saya akan bersabar menantikan hari bahagia itu.: sela Lam-sin-pek, semua datuk mennganguk, dengan raut wajah sedikit di sedihkan, luar biasa memang para datuk ini, roman serigala berbulu dombanya demikian kentalnya, sehingga Han-hung-fei yang memang polos benar-benar tidak menyadari bahwa ia berada di sarang musang berbulu domba, tidak akan ada seorangpun yang berbelas kasihan padanya, semuanya siap menggerogotinya tanpa sedikitpun perasaan.

Keesokan harinya Han-hung-fei berjalan-jalan dilembah bersama Wan-lin.

“liok-cianpwe nampak sangat akur sekali lin-moi.” ujar Han- hung-fei

“benar han-ko, dan itu sudah berlansung lama sejak mereka masih muda, rasa persaudaraan mereka sangat kuat, dan oleh karena itu pantaslah mereka mempunya jaringan yang kuat, “dan kalian juga lao-lao mewarisi watak mereka.”

“ya…kami juga di ajarkan akan arti predikat yang disematkan pada kami, kata lao itulah yang membuat kami satu.” “hmh…masa depan lao tentunya akan menggantikan enam datuk, dan kedengarannya sangat semarak

“hi..hi…tapi aku hanya bangga padamu han-ko, karena tidak dipungkiri bahwa kamu lebih hebat dari kami, saya punya bayangan dimasa depan, bahwa kamulah yang nantinya memimpin kami.” ujar Wan-lin dengan senyum lembut dan manja.

“hehehe….hehehe..bukankah itu terlalu muluk lin-moi ?” “tentu tidak han-ko sayang, bagaimana dikatakan muluk, jika memang kenyataannya kamu adalah bagian dari kami dan

tidak ada yang menafikan bahwa kamu adalah orang terhebat di “In-san” ini, betapa bangga dan bahagianya aku han-ko, jika saatnya posisi itu engkau pangku dan aku disampingmu.” sahut Wan-lin penuh rasa senang. “jika hal itu membahagiakanmu sayang, kita akan wujudkan.” ujar Han-hung-fei, wan-lin dengan senyum lembut memeluk kekasihnya, kecupan-kecupan mesra bertautan dengan canda gairah muda dua sejoli, di tepi sebuah sungai keduanya mandi bersama, keduanya melewati hari itu dengan madu asmara yang memabukkan, setelah puas mereka kembali menjelang sore, dan mereka disambut untuk makan malam, bagi lao-ngo dan lao-liok kemesraan yang berlaku didepan mereka tidak membuat mereka risih dan terganggu, ini semua karena ikatan diantara mereka yang kuat, misi mereka lebih utama dari perasaan mereka.

Malam itu suasana di in-san sangat sepi, Han-hung-fei tidur dikamar tamu bersama lao-pat, banyak cerita tentang masa kecil yang diceritakan didepan zhou-peng hingga latut malam “han-ko, aku sudah mengantuk sekali, aku duluan tidur yah ?” ujar zhou-peng

“baiklah peng-te, aku juga akan tidur.” sahut han-hung-fei, tidak lama kemudian Zhou-peng sudah pulas, Han-hung-fei mencoba tidur namun sungguh amat susah, han-hung-fei menatap langit- langit kamar, pikirannya menerawang jauh di bawah tanah di lembah huai, dia mencoba memejamkan mata, semakin jelas ruangan itu, bahkan perkataan suhengnya Han-hui-lung yang dalam tulisan terngiang ditelinganya

kuburkanlah tulangku dan resapilah semua ajaran suhu, semoga Thian memberkatimu.”

Han-hung-fei turun dari ranjangnya, dan melangkah keluar kamar, ketika dia melangkah kearah taman belakang dia mendengar dua orang sedang bercakap-cakap, keduanya adalah Ma-hua-meng dan Coa-shuang, anak buah pak-koai-lo dibidang pendanaan “yang jelas misi akan terwujud tanpa halangan, ang-bi-tin ada dalam genggaman cianpwe, dan barisan pendekar di jiangzhou akan habis ditumpas bun-liong-taihap dan lao-si” ujar coa-sung “taktik liok-cianpwe dan para lao memang amat luar biasa, dengan memafatkan perasaan cinta bun-liong-taihap mereka akan terus memperalat pendekar itu.‟ bisik coa-sung.

“hushhh..pelankan suaramu ! kamu ini banyak omong, sudah mari kita tidur.” sahut Ma-hua-meng menegur coa-sung dengan sangat pelan sehingga nyaris desahan, namun bagi Han-hung- fei pernnyataan itu sudah jelas ditelinganya.

Han-hung-fei melanjutkan langkahnya ke taman belakang, disana ia merenungkan diri, bertanya dalam hati kebenaran percakapan dua orang dalam kamar yang ia lewati, apakah wan-lin akan juga menipunya sebagimana dua lao yang juga ada di rumah ini ? apakah cinta ini hanya sebuah permainan ? tidak..wan-lin tidak akan mencelakakannya, ia tahu wan-lin juga mencintainya, tidak mungkin wan-lin menipunya, bantah suara hatinya, benaknya penuh dengan pertentangan, karena pikirannya mumet dan lelah didera perang batin yang tidak kunjung padam, lalu Han-hung-fei bersiulian di tengah malam gelap gulita yang sepi, sunyi dan dingin.

Kota Lokyang sudah dikuasai pasukan jendral Li, pionir jendral dalam menaklukkan lokyang adalah penghuni jiangzhou yang dipimpin oleh Khu-ciangkun.

“kita akan menunggu dua pasukan lagi untuk menguasai kota terakhir, yakni chengdu di barat dan yinchang diselatan, sementara di utara, kota taiyuan juga sudah dikuasai.”

“apa yang kita lakukan dalam waktu menunggu ini ciangkun ?” tanya tung-kim-pang

“kita tetap waspada dan pimpinan pasukan tetap dalam poskonya untuk menjaga stiap kemungkinan yang tidak kita inginkan, dan kepada lu-taihap harap membawa sepuluh tentara kembali ke kaifeng untuk mengambil persediaan ransum kita, kita tidak akan membebankan ransom kepada penduduk yang sudah menderita dan didera ketakutan” ujar Khu-ciangkun

“baik ciangkun, hari juga kami akan berangkat.” sahut Lu-piauw “dan para cianpwe selama masa menunggu ini akan tetap melatih para tentara.” Ujar Khu-ciangkun, Lam-sian, Pak-sian, can-beng-lama dan lo-keng-lama mengangguk

Tiga haris setelah penaklukan kota lokyang, Han-hung-fei dan Wan-lin memasuki kota, mereka bersama kim-liong dan kim- tiauw, dua orang staf tinggi dalam ang-bi-tin, tentara yang menjaga gerbang kota langsung mengenal mereka karena alis mereka yang bercat merah, lalu mereka menjura memberi hormat

“kami ingin bertemu dengan Khu-ciangkun.” ujar Kim-liong “baik, mari saya akan mengantar tuan-tuan.” sahut pimpinan pos penjaga, lalu pimpinan pos jaga membawa merekmenemui Khu-ciangkun.

“selamat datang kim-liong dan kim-tiauw.” sapa khu-ciangkun ramah

“selamat bertemu Khu-ciangkun.”

“hal apakah yang menyebabkan kedatangan tuan-tuan ?” “kami bertugas menyiapkan jaringan pendam didalam kota chang-an, sehingga jika saatnya tiba maka pasukan istana akan tersudut.”

“wah..satu startegi yang jitu dan baik kim-liong, lalu apakah kekuatan disini dibutuhkan untuk membentuk jaringan tersebut

?” “tidak lagi ciangkun, karena barisan kita sudah menempati empat titik didalam kota rja, dan kami kesini hanya ingin melihat keadaan disini.”

“terimaksih kim-liong dan kim-tiauw.” sahut Khu-ciangkun

“oh..ya ini adalah bun-liong-taihap dan Wan-lin, mereka adalah pimpinan salah satu titik jaringan pendam dalam kota raja.” ujar Kim-tiauw.

“selamat datang taihap dan lihat, maaf jika kami terlambat menyapa, dan sungguh aku merasa senang, bahwa Bun-liong- taihap yang namanya dalam tiga tahun terakhir ini amat menggemparkan dunia persilatan.”

“terimakasih ciangkun, ciangkun terlalu memuji.” sahut Bun- liong-taihap.

Malam itu Khu-ciangkun mengadakan pertemuan menyambut empat rekan seperjuangan itu

“cianpwe dan sicu sekalian, kita sangat berbahagia bahwa kita dikunjungi oleh dua orang senior ang-bi-tin yankni kim-tiauw dan kim-liong, kemudian kita juga dikunjungi oleh pendekar yang membuat kita takjub akhir-akhir ini yakni bun-liong-taihap.” Semua pendekar menjura memberi hormat.

“hahaha..hahahaha selamat bertemu kembali han-taihap ?” sapa Lam-sian

“selamat berjumpa Lam-sian-cianpwe, pertemuan ini sungguh menggembirakan hati kami.” sahut Bun-liong-taihap.

Bun-liong taihap dan wan-lihap adalah pimpinan jaringan pendam di kota raja.” ujar Khu-ciangkun

“terimakasih pada khu-ciangkun yang telah menyambut kami dengan hangat, karena ini masa menunggu para rekan kita dari selatan dan barat, jadi kami menyempatkan diri untuk melihat situasi disini dan setidaknya kami akan kembali dalam tiga hari ini.” ujar Kim-tiauw, jamuan itu berlangsung dengan meriah, lalu empat tamu itu ditempatkan di satu rumah bekas pejabat yang melarikan diri, di halaman ditempatkan beberapa orang penjaga.

Kim-tiauw mengetuk pintu kamar Lao-si, lao-si membuaka pintu kamar

“ada apa kim-tiauw ?” tanya lao-si dengan berbisik

“ajak bun-liong-taihap, kita adakan pertemuan di kamar saya.” sahut Kim-tiauw, Lao-si mengangguk sambil menutup pintu kamarnya, dan segera menuju kamar Han-hung-fei

“han-ko !?” panggil Wan-lin, daun pintu terbuka

“ada apa lin-moi ?” tanya Han-hung-fei, Wan-lin menerobos masuk, pakailah bajumu, kita ada hal penting mau dibicarakan demgan kim-tiauw.” ujar Wan-lin, Han-hung-fei segera memakai bajunya dan keduanya segera keluar kamar.