-->

Pedang Dewa Naga Sastra Jilid 5

Jilid 5

Kui-san-ok sudah berumur lima puluh tahun, dan dia hanya memiliki seorang putra dari seorang gadis cantik yang ia perkosa, dan mengambil anaknya setelah lahir, anak itu diberi nama kao-tung, kao-tung dipelihara dan diasuh dan diajari ilmu silat, sehingga menjadi orang kedua setelahnya dalam gerombolan itu, kao-tung yang berumur dua puluh dua memiliki wajah yang sangat tampan, dan ketampanan itu membuat ia sebagai lelaki perayu wanita, banyak wanita yang terpesona dan termakan rayuannya, ia dikenal dengan julukan “siu-kui” (siluman tampan) diwilayah sepanjang kota yichang sampai lijiang.

“siu-kui” memasuki kamarnya dan disambut ketiga wanita penghiburnya

“hik..hik…kongcu sudah datang.” sambut tiga wanita penghiburnya dengan manja

“aku lagi ada urusan sayang, kalian tunggu saja disini !” “aih…kongcu tadi tanggung kali, ayoklah kita lanjutkan lagi.” rayu ketiganya manja sambil memeluk tubuh kao-tung “sudah. nanti saja ya, hehehe…kalian memang menggemaskan.” sahut kao-tung sambil mencolek pipi ketiganya, ketiganya tersenyum nakal menggoda

“baiklah kongcu, kami akan tunggu dengan tidak sabar, hik..hik…” sahut mereka sambil melangkah keranjang, Kao- tung meninggalkan kamar dan keluar dari goa menuju hutan sebelah barat.

“siapa kamu ?” pertanyaan itu tiba-tiba membuat kao-tung terkejut saat menuruni jalan menuju sungai, matanya terkesima melihat wanita cantik yang mengejutkannya, Wan-lin yang menangkap gerakan kao-tung langsung bergerak dan memergokinya, merasa risih dipandangi demikian lama lelaki yang tampan ini

“cepat jawab ! kamu siapa ?” tanyanya lagi untuk menghilangkan rasa risihnya

“apakah nona adalah lao-si ?” tanya Kao-tung “hmh…benar, lalu kenapa ?”

“oh..maaf saya datang untuk menemui lao-si.” “kamu siapa ?”

“saya adalah kao-tung “siu-kui” anak dari kui-san-ok.” “untuk apa kamu datang menemuiku ?”

:hehehe..hehehe…lao-si wajahmu sungguh sangat cantik.” ujar kao-tung memuji, dan pujian itu membuat wan-lin terkesiap dan wajah seketika merah, hatinya bergetar mendengar pujian dari lelaki tampan didepannya

“cih…kamu putra kui-san-ok ternyata perayu, sudah jawab saja pertanyaanku.” sahut Wan-lin dengan sorot mata tajam

“oh..iya maafkan aku lao-si, aku tidak dapat mengendalikan diri untuk memuji dirimu yang luar biasa.”

“sudah jangan lagi bertele-tele.” sahutkWan-lin sedikit sumbang karena bagaimanapun pujian lelaki tampan ini pada dirinya membuat hatinya senang

“ayah menyuruh saya untuk menjemput lao-si mampir dimarkas kami, ayah hendak menjamu lao-si”

“oh..baiklah kalau begitu, mari kita berangkat” sahut Wan-lin, kemudian merekapun berkelabat dari tempat itu

“selamat datang lao-si, sungguh satu kehormatan bagi kami dengan kedatangan lao-si ketempat kami.

“terimakasih atas penyambutannya kui-san-ok, bagaimana keadaan kalian ?”

“kami baik-baik saja lao-si, silahkan kita makan dan minum, kami sudah menyiapkan hidangan untuk menjamu lao-si “jangan repot-repot kui-san-ok.”

“tidak merepotkan lao-si, marilah !” ujar Kui-san-ok, merekapun memasuki sebuaha ruangan dimana meja besar dan panjang diatasnya sudah dihidang makanan lezat. Jamuan itu cukup istimewa, semua pimpinan kelompok yang terdiri dari sepuluh orang disamping kui-san-ok dan putranya makan minum bersama Wan-lin “hendak kemanakah tujuan lao-si ?” tanya kao-tung dengan senyum lembut

“aku hendak ke kun-ming.”

“apakah laosi hendak menemui ang-bin-kui ?” sela kui-san-ok “benar kui-san-ok, tentunya kamu tahu tentang tugasku.” “hahaha…hehehe..benar tentunya urusan kunlun-pai bukan ?” sahut kui-san-ok, wan-lin mengangguk sambil minum secangkir arak

“ada apa dengan kunlusan ayah ?” tanya Kao-tung

“hehehe..lao-si dan ang-bin-kui ditugaskan liok-cianpwe untuk mendatangi kunlun-pai.”

“ooh begitu, tentunya lao-si luar biasa sakti sehingga mendapat tugas seperti itu.”

“hahaha..hahaha… kau ini tung-ji tidak ada apa-apanya disbanding lao-si, beliau ini adalah murid terkasih dari lam-sin- pek cianpwe.”

“ah…begitu rupanya, kalau begitu aku ingin bersulang sekali lagi dengan lao-si.” sahut Kao-tung makin salut dengan wanita cantik dihadapannya.

“sudahlah siu-kui terlalu membesar-besarkannya.” sahut Wan- lin sambil mereguk cangkir araknya.

“bermalam disini lao-si, dan besok baru melanjutkan perjalanan.” ujar Kui-san-ok

“baiklah kui-san-ok, dan terimakasih atas sambutan yang baik ini.”

“hahaha..lao-si jangan terlalu sungkan, kita ini orang segolongan.” sahut kui-san-ok, makan dan minum dan pesta berlangsung sampai larut malam, Wan-lin lalu diantar kao-tung kekamarnya

“istirahatlah yang nyaman lao-si.” bisik kao-tung dengan mesra, selama pesta berjalan keduanya sudah nampak akrab terlebih kao-tung yang pandai memuji dan banyak cerita “hi..hi…siu-kui, kamu memang perayu.”

“hehehe..perayu yang tampan bukan ?” sahut kao-tung “sudahlah kamu keluarlah siu-kui !”

“apakah tidak ada lagi yang bisa saya lakukan disini ?” tanya kao-tung

“hmh…kamu mau apa lagi ?” tanya wan-lin yang setengah mabuk

“setidaknya aku ingin menjagamu lao-si, wajahmu yang cantik membuat aku tidak jemu melihatmu.”

“benarkah engkau tidak bosan melihatku ?”

“benar lao-si, bahkan sejak pandangan pertama didalam hutan aku langsung jatuh cinta padamu.” bisik kao-tung, wan-lin terdiam, hatinya bergetar diiringi desakan birahinya, wan-lin bukan wanita yang mengikatkan diri pada aturan dan norma, dan memang demikinlah ia diajari suhunya sejak kecil, tidak ada istilah mesum dalam golongannya, yang ada jika anda suka raihlah, dan jika tidak buanglah.

Wan-lin yang yang rapuh dalam keadaan setengah mabuk, disampingnya lelaki perayu yang tampan juga sedang mabuk minuman dan mabuk kecantikannya, belaian pada jemarinya membuat desakan birahi wan-lin yang baru pertama sekali berkobar

“kao-tung..!”bisik wan-lin dengan nafas memburu, bisikian tidak direspon dengan jawaban tapi ciuman panas dari Kao-tung, tubuh wan-lin begetar dan menggigil, sitampan kao-tung makin menggelinjang gemas menindih tubuh wan-lin yang lunak dan ranum, lumatan dan gigitan kecilnya merambah seluruh muka dan leher Wan-lin, wan-lin makin terbakar, Wan-lin yang baru pertama sekali merasa terbang kea wan, sentuhan dan remasan kao-tung yang nakal pada tubuhnya membuat letupan-letupan birahinya makin bergolak, Kao-tung sudah melepaskan pakaiannya, dan ketelanjangan si kao-tung yang tampan membuat wan-lin makin terangsang, terlebih saat pakaiannya di preteli seiring hentakan birahi kao-tung yang memburu, mulut kao-tung melumat dadanya yang putih cerah laksana pualam, lembut selembut sutra, merekah laksana merekahnya bunga dimusim semi, tangan jail sitampan menarik celananya dan meremas semua bagian dibawah sana, wan-lin makin menggelinjang, mengerang kenikmatan

“cepat…siapkan anggota, kita akan menghadapinya, dimana a—jun dan a-kao.” Terdengar suara kui-san-ok memerintah anak buahnya, kedua pasangan yang dimabuk birahi itu tersentak

“ada apa kao-tung ?” tanya Wan-lin segera duduk, suara hiruk pikuk pertempuran pun terdengar, Wan-lin dan kao-tung segera bergegas memakai kembali pakaian mereka, dan kemudian keluar, dan dimulut goa pertempuran sengit terjadi antara pasukan tentara dengan anak buah kui-san-ok, kui-san-ok juga sudah ada ditengah-tengah pertempuran, Wan-lin dan kao-tung segera menerjang kedalam pertempuran.

Wan-lin dengan pedang ditangan dalam hitungan menit telah membabat tujuh pasukan pemerintah, dua tenaga bantuan ini membuat pasukan pemerintah agak undur

“serang terus…jangan mundur !” teriak gui-ciangkun selaku pimpinan pasukan, kedatangan pasukan pemerintah ini kesarang kuisan-ok dipicu oleh perampokan yang dilakukan sim dengan anak buahnya sebelum bertemu dengan wan-lin, barang rampokan itu adalah milik pemerintah yang dibawa pejabat wan yang dikawal sebuah piauwkiok. Pasukan pemerintah demikian tanggap atas perampokan itu, karena disamping barang berharga milik pejabat wan, pejabat wan juga membawa sebuah daftar dan peta kekuatan pasukan pemberontak yang akan dibawa kekota raja, namun peta itu hilang bersama tewasnya pejawab wan oleh ulah perampok kui-houw, dengan sigap gui-ciankun membawa pasukan kehutan harimau, dan tengah malam itu mereka menyerang saat kui-san-ok dan anak buahnya sedang tidur, karena pimpinan kelompok tidur dalam keadaan mabuk, sehingga sulit untuk dibangunkan, dan pasukan pemerintah sudah mengganyang puluhan anak buah yang menjaga diluar.

Saat Kui-san dan anak buahnya keluar pasukan gui-ciangkun sudah berada dimulut goa, dan pertempuranpun segera terjadi, Kui-san dan anak buahnya sudah terjepit, dan anak buahnya sudah banyak yang tewas, namun berkat kemunculan Wan-lin dan kao-tung tekanan dari serangan gui-ciangkun pecah, keganasan dan kekosenan wan-lin sebagai lao-si sangat membantu keadaan yang terdesak menjadi yang mendesak.

Wan-lin bergerak lincah membabat habis penghalangnya menuju gui-ciangkun, dan ketika sudah dekaat, gui-ciangku berhadapan dengan Wan-lin, gui-ciangkun adalah panglima yang handal dan berilmu tinggi, dua orang itupun berduel dengan seru dan sengit, wan-lin dengan ilmu-ilmu simpanannya menyerang dengan dahsyat, gui-ciangkun juga tidak mau kalah ayunan dua golok ditangannya bergerak cepat menangkis dan mencari celah untuk merubuhkan wan-lin, sampai seratus jurus keadaan masih seimbang, Wan-lin mengerahkan “san-swee- pek-ciang” gui-ciangkun terdesak hebat sehingga empat puluh jurus kemudian gui-ciangkun tidak bisa menghindari pukulan luar biasa itu setelah selamat dari sabetan pedang wan-lin “duk…heghh….” pukulan berhawa yang itu menghantam telak dada Gui-ciangkun, Gui-ciangkun terlempar sambil muntah darah dan saat ia terhempas ketanah nyawanya sudah melayang.

Melihat pimpinan mereka tewas, keadaanpun berbalik, pasukan pemerintah mundur dan melarikan diri, dan dikejar sisa anak buah kui-san-ok, pertempuran selesai setelah matahari terbit, mereka kembali kedalam goa,

“baru kali ini kita diserang pasukan pemerintah.” ujar Kui-san-ok heran

“mungkin ada sesuatu yang penting sehingga mereka melakukannya.” Sahut Wan-lin

“hmh…mungkin juga, tapi apa yang mereka inginkan ?” “untuk apa dipikirkan, yang penting kalian harus perketat penjagaan dan selalu waspada.” sahut Wan-lin.

“baiklah kui-san-ok saya akan pergi mandi dan berkemas untuk melanjutkan perjalanan.”

“baiklah lao-si..” sahut Kui-san-ok dan kemudian mengumpulkan semua anak buahnya yang tersisa

Wan-lin segera kekamar setelah membersihkan diri, didalam kamar ia berganti baju

“apakah kamu akan berangkat pagi ini juga lin-moi ?” tanya Kao-tung tiba-tiba muncul di depan kamar

“benar, memang kenapa ?”

„apakah tidak sebaiknya dua tiga hari lagi baru kamu pergi.” “tidak bisa kao-tung, tugasku amat penting untuk pamor golongan kita.”

“tapi…semalam sungguh tidak nyaman karena tidak tuntas.” “his…jaga bicaramu kao-tung !” bentak wan-lin, kao-tung merasa kecut, tidak dinyana perempuan kosen dihadapannya ini laksana macan jinak

“lin-moi aku sungguh jatuh cinta padamu.” bujuk kao-tung “urusan itu nanti saja kita bicarakan setelah urusan dukunlunsan selesai.”

“benarkah lin-moi..” sahut kao-tung dengan senyum, Wan-lin mengangguk lembut.

Wan-lin meninggalkan hutan harimau, walaupun wajah sitampan kao-tung memenuhi benaknya dan kata cinta yang diungkapkannya, namun karena tugasnya lebih penting dia mencoba mengesampingkan hatinya, untuk cinta wan-lin masih harus berpikir, karena ia maklum bahwa dikalangan mereka urusan itu rada menggelikan, ia tahu bahwa kao-tung memiliki tiga wanita cantik, dan apakah kao-tung akan melepaskan peliharaannya demi cinta, harus diuji dulu, tapi kalau hanya cinta sesaat kao-tung memang sangat mempesona, dan hal itu hampir ia nikmati kalau tidak ada keonaran yang muncul tiba- tiba.

Wan-lin mendaki ang-san, baru sampai dilereng ia berpapasan dengan ang-bin-kui

“lao-si murid cianpwe lam-sin-pek !?” sapa ang-bin-kui “benar ang-bin-kui.” sahut Wan-lin pada lelaki separuh tua dengan muka kemerah-merahan itu, dalam pandangan

golongan mereka, tata kerama tidaklah penting, yang menjaadi ukuran adalah kesaktian, wan-lin tidak sungkan pada orang yang lebih tua darinya, karena dalam hirarki wan-lin dan lao-lao yang lain adalah orang kedua dipuncak pimpinan, sementara ang-bin-kui adalah orang satu tingkat dibawahnya terlebih kui- san-ok yang berada dua tingkat dibawahnya, apatah lagi kao- tung, atasannya hanya suhunya dan lima datuk lainnya, suhunya lam-sin-pek sangat menekankan hirarki itu karena selama enam datuk memulai rekanan tiga puluh tahun yang lalu, hirarki ini sangat kuat, dan hasilnya memang enam datuk berhasil menyatukan aliran mereka dengan kuat, dan oleh karena hirarki berlandaskan kesaktian, maka enam datuk menjadi manusia-manusia pongah dan kenyataannya makin sombong maka makin dihormati oleh bawahan mereka, karena kesombongan adalah kebanggaan dalam pandangan golongan mereka, dan kesombongan itu diwariskan pada lao sebagai murid-murid mereka, tidak terkecuali wan-lin sendiri.

“apakah kita akan berangkat hari ini lao-si ?”

“tidak ang-bin-kwi, besok saja kita berangkat, hari ini saya mau istirahat di gubukmu !”

“baiklah kalau begitu lao-si, marilah kita naik kepuncak.” sahut ang-bin-kwi dengan hormat, keduanya bergerak gesit mendaki puncak, tempat ang-bin-kwi tidak bisa dikatakan pondok, karena bangunan diatas puncak itu sangat mentereng dan megah, ang-bin-kwi hidup bersama tujuh orang wanita cantik yang menjadi selirnya dan lima orang pelayan wanita dan tiga orang pelayan laki-laki, ketujuh selirnya menyambut heran “cao-koko kenapa kembali apakah ada yang tinggal ?”

“tidak bian-moi, tapi kita kedatangan tamu agung, kenalkan lao- si ini adalah tujuh selir saya yang selalu menyambut saya sepulang perjalanan.” ujar ang-bin-kwi dengan senyum

“hi..hi… ternyata kamu hiudup lumayan nyaman juga ang-bin- kwi.” puji Wan-lin

“hehehe…kalau tidak mencari kesenangan dan kenyamanan untuk apa kita hidup.”

“hi..hi…kamu memang benar ang-bin-kwi, tempatmu ini luar biasa.”

“hehehe..marilah kita masuk lao-si.” ujar ang-bin-kwi. Hari itu Wan-lin dijamu oleh ang-bin-kwi beserta ketujuh selirnya, wan-lin sangat menikmati istirahatnya di puncak yang indah itu, terlebih dikala sore hari saat safak merah menghias langit berpadu dengan warna dedaunan pohon berwarna merah yang memang banyak tumbuh disekitar lembah, membuat suasana tempat itu jadi temaram menerbitkan suasana romantis dalam hati yang menikmatinya, wan-lin juga merasakan hal itu sehingga ia teringat lagi pada sitampan kao- tung.

Keesokan harinya Wan-lin dan ang-bin-kwi meninggalkan ang- san, mereka singgah sebentar di kota kunming untuk membeli dua ekor kuda, lalu dengan memacu kuda keduanya meninggalkan kota kunming menuju kota Dali, Lijiang dan memasuki wilayah barat yang bersalju dan masuk propinsi qianghai dimana pegunungan kunlun yang terbentang dari propinsi tersebut melewati perbatasan xinjiang hingga sampai ke pamir di Tajikistan.

Wan-lin dan ang-bin-kui disambut dua orang tosu berumur tiga puluh tahun

“maaf jiwi ini siapa dan ada apa hingga berkunjung ketempat kami ?”

“kami datang hendak menekankan seuatu pada kalian sebagai lima perguruan besar, jadi kami hendak menjumpai para pimpinan kalian.” sahut Ang-bin-kui

“lalu siapakah kalian, yang sepertinya berniat tidak baik ini ?” “hahaha..hahaha… katakana pada pimpinan mu supaya keluar menghadap ang-bin-kwi bersama lao-si dua utusan dari liok- cianpwe.” sahut ang-bun-kwi

kalian ternyata dari aliran hek-to yang hendak mengacau disini, heaat…” dua orang tosu itu bergerak menerjang ang-bin-kwi dan wan-lin

“buk..plak…” wan-lin menagkis dan memberi pukulan serta tamparan telak pada seorang tosu, tosu itu terlempar dua tombak dalam keadaan tewas karena kepalanya pecah, sedang tosu yang satu sampai dua puluh gebrakan baru dapat tumbang oleh cakaran ang-bin-kwi.

Suara pertempuran itu telah membuat tiga sute dari ciangbujin muncu

“siapakah kalian yang begitu ganas hingga membunuh tanpa alasan pada dua orang murid kami:” tegur kunlun-kiam “apakah yang dihadapan kami ini tiga sute dari ciangbujin !? kunlun-kiam, kunlun-taihap dan sin-kun.”

“kalau tidak salah duga apakah kamu ini ang-bin-kwi ?” sahut sin-kun

“hahaha..hahaha…. dugaanmu tepat sin-kun, tentunya kedatanganku juga dapat kamu duga bukan ?”

“apa masalahmu sehingga datang-datang lalu membunuh ?” sahut sin-kun

“hahaha..hahaha… dari dulu pihakmu dan pihakku ada masalah.”

“kami tidak pernah berurusan denganmu, lalu kenapa kamu kesini

“dengarlah samwi totiang, aku wan-lin tidak mau bertele-tele, kami datang hendak menantang kalian sebagai pihak hek-to.” sela Wan-lin

“gadis muda apakah muridku itu bekas tanganmu ?” tanya kunlun-taihap sambil menujuk muridnya yang tewas dengan kepala pecah

“benar, jika engakau tidak terima kenapa masih berdiri, majulah

!” tantang Wan-lin, kunlun-taihap kalap dan lalu menyerang dengan lompatan gesit dengan jurus kunlun-pai yang luar biasa, wan-lin berkelit, dan pada serangan kedua wan-lin menyambut dengan kedua tangannya,

“plak..duk…” kedua lengan bertemu saling tekuk dengan cepat, pertempuran jarak dekat terjadi dengan cepat dan seru,

“plak,,,dhuar…” dua telapak tangan beradu, dua sing-kang beradu menimbulkan ledakan dahsyat, kunlun-taihap terlempar dua tombak sementara wan-lin hanya undur satu tindak, ketiga sesepuh kunlun-pai terkejut melihat betapa sin-kang gadis muda itu jauh diatas kunlun-taihap.

Wan-lin tidak menunda, setelah undur satu langkah ia memekik sambil melompat keudara laksana anak panah melsat menukik kearah kunlun-taihap yang sedang pusing dan sesak

“plak..wutt..duk..hoakk..” lengan kecduanya bertemu sambaran kaki wan-lin dapat dielakkan dengan melompat, namun karena tangan keduanya melekat, membuat kunlun-taihap terkejut sehingga pukulan susulan yang mengarah ulu hatinya, tubuhnya lemas dan berlutut dihadapan wan-lin, saat pukulan terakhir akan menghancurkan kepala kunlun taihap “des…dhuar….” pukulan wan-lin ditangkis sebuah bayangan gesit, dua sin-kang yang beradu berdentum, sehingga membuat wan-lin berjumpalitan kebelakang dan mendarat mulus diatas tanah

“luar biasa, siapakah kamu anak gadis muda ?” tanya khu-gin- tao yang tiba-tiba muncul dan menyelamatkan sutenya

“aku wan-lin , apakah kamu ciangbujin kunlun-pai ?” tanya wan- lin

“benar siocia, apa hubunganmu dengan lam-sin-pek ?” “beliau adalah suhuku, bersiaplah totiang.”

“tunggu dulu, kami tidak pernah berurusan dengan lam-sin-pek, kenapa kita harus bertarung ?”

“dengan suhuku mungkin tidak tapi aliran hek-to dan aliran mu tidak akan pernah selaras.”

“benar dan dari dulu memang begitu.”

“nah..oleh karena itu kami datang menakankan pada aliranmu bahwa kami hek-to yang menguasai jagad bui-lim.” “kesewenang-wenangan tidak akan pernah kalah dari keadilan siocia.”

“totiang aku kesini bukan hendak mendengar pendapatmu, aku kesini hendak menantangmu.”

“baiklah wan-siocia aku sudah siap menghadapimu.” tantang khu-gin-tao

“bagus heaaat…” Wan-lin memulai serangan dengan jurus san- swee-pek-ciang” pertempuran sengit dan seru berlangsung dengan menegangkan, keduanya bergerak lincah dan gesit, getaran hawa sakti membuat halaman perguruan itu bergetar, para murid kunlun-pai yang berbaris dibelakang dengan serius memperhatikan duel tingkat atas itu, ang-bin-kui dengan senyum jumawa menonton sambil tetap waspada pada ketiga sute khu-gin-tao.

Pertempuran memasuki jurus kedua ratus, namun wan-lin belum dapat mendesak ciangbujin, lalu wan-lin mencabut pedangnya dan dihadapi oleh khu-gin-tao dengan pedang pusaka kunlun yang dilempar seorang murid yang melayani khu-gin-tao, ilmu pedang kunlunpai berhadapan dengan ilmu “beng-toat-pek-lek-kiam” yang dimainkan wan-lin. sinar pedang berkeredapan sangat menyilaukan mata, pertarungan senjata yang luar biasa ini sangat mendebarkan, dua kilatan pedang sambar menyambar diantara gerakan kedua petarung. Setengah haripun berlalu pertarungan masih alot dan seru, namun menjelang sore hari ketika wan-lin terus mengajak ciangbujin beradu sin-kang, dan dalam hal ini ciangbujin dan wan-lin sama-sama kuat, namun setiap kali adu sin-kang nafas menjadi hal yang terpenting, dan itu dimamfaatkan wan-lin sebaik-baiknya dengan mengerahkan cecaran pedangnya mengambil peluang saat nafas orang tua itu sesak, ciang-bujin terpaksa mundur dari kejaran ujung pedang wan-lin, sehingga pada satu kesempatan saat ledakan sin-kang untuk kesekian kalianya berdentum, wan-lin yang terpapar dua tindak bersalto memainkan pedangnya dengan lincah

“srat..crak…” mata pedang wan-lin menyabet bahu dan membaacok tangan ciangbujin hingga putus sebatas siku darah mamancur deras, cian-bujin tidak bisa mengelak serangan cepat itu karena nafasnya yang sesak membuat dia lambat.

Khu-gin-tao menotok bahunya untuk menghentikan aliran darah, ketiga sutenya mendekati dengan wajah cemas

“aku sudah kalah siocia, lalu apa maumu ? apakah kamu akan sekalian mencabut nyawa kami ?” tanya Khu-gin-tao

“tidak ..pengakuanmu itu sudah cukup, dan kunlunpai harus tahu diri dan jangan berani macam-macam dengan golongan kami, setiap bajak, rampok dan organisasi dibawah hek-to jangan sekali-kali kalian sentuh.”

“hehehe..hehehe luar biasa semangatmu siocia dalam menegakkan benang basah aliran kalian, baiklah hari ini kami telah melihat kekuatan kalian, tapi ada saatnya kalian akan centang perenang.”

“hal itu tidak akan terjadi totiang, tidak akan ada dari kalian yang akan melahirkan generasi yang melebihi ketangguhan kami, dan ketahuilah aku ditugaskan untuk kalian, sementara delapan rekan kami juga sedang melakukan hal yang sama di empat perguruan besar lainnya.”

“hehehe…kata-kata jumawa yang luar biasa, empat perguruan besar adalah secuil dari kekuatan kebaikan siocia, dan kamu harus sadari itu, masih banyak para petarung pembela kebenaran yang tidak searogan kalian dalam ketenaran.” Hi..hi..aku tidak mau berdebat denganmu totiang, jika yang kamu maksud pak-sian dan lam-sian, keduanya pasti sudah mengalami hal yang sama dengan kalian, sudah ingat saja perkataanku, selama organisasi itu adalah hek-to maka kunlunpai dan siapapun muruid yang bersangkutan dengan kalian jangan coba-coba berulah.” ujar Wan-lin dan kemudian ia berkelabat dari tempat itu disusul ang-bin-kwi.

“suheng….kenapa kita menjadi selemah itu di ingusi gadis muda tersebut.” ujar kunlun-kiam

“sute…kamu jangan lupa, kunlun-pai adalah aset pek-to dalam membentuk kekuatan yang menjunjung kebenaran, kalah ditangan aliran hek-to tidak seharusnya membunuh cikal bakal kekuatan dimasa depan.”

“bukankah dalam membela kebenaran nyawapun siap dipertaruhkan, suheng ?” sela sin-kun.

“benar sute, sekali lagi saya katakan dengan tewasnya kita akan lebih merugikan, karena salah satu aset pek-to ini ada dibahu kita, kita harus bijak melihat situasi, tujuan dari kedua utusan hek-to itu hanya untuk pamor aliran mereka, jadi untuk apa kita tewas hanya untuk membela pamor antara mereka dengan kita, biarkan mereka mabuk pamor, karena pamor mereka tidak akan bertahan lama, kita jangan ikut-ikutan, kita sebaiknya focus pada tugas dan tanggung jawab kita yang lebih besar” jawab Khu-gin-tao “lalu bagaimana dengan ancamannya ?”

“ancaman itu tidak akan menggugah prinsip kita, dimana kezaliman terjadi, tetap saja kita lakukan tugas kita sebagai pendekar.” Jawab Khu-gin-tao

“baiklah kalau begitu suheng, mari kita obati luka suheng.” ujar kunlun-kiam, lalu merekapun masuk kembali kedalam.

Wan-lin dan ang-bin-kwi baru saja meninggalkan kaki kunlun- san, tiba-tiba hujan turun dengan deras, keduanya langsung mencari tempat berteduh

“lao-si ! apa yang telah kamu lakukan sungguh luar biasa, ancamanmu pada mereka akan membuat aliran kita semakin jaya dan cemerlang.” puji ang-bin-kwi.”

“benar dengan takluknnya empat partai besar akan memberikan dampak besar pada aliran kita.” sahut Wan-lin sambil terus berlari cepat menembus hujan yang diikuti ang-bin- kwi.

Sementara itu lao-it atau cao-teng dengan jai-hwa- hengcia,mendatangi siaulim-pai, jai-hwa-hengcia perawakannya besar dan agak gemuk, umurnya lima puluh tahun dan kepalanya botak plotos seperti seorang biksu, dulunya jai-hwa-hengcia adalah seorang lama dari Tibet, namun dia menjadi buronan di Tibet karena prilakunya yang bejat dan membuat malu barisan lama, karena terus diburu, jai- hwa-heng-cia melarikan diri ke timur, dan diwilayah ini dia menjadi momok menakutkan bagi gadis-gadis maupun wanita paruh baya.

Lao-it dan jai-heng-cia melakukan tugas yang diperintahkan setelah empat bulan, keduanya sepakat bertemu dilanzhou untuk berangkat bersama-sama ke shaolin-pai di kota Yuguan, ketika keduanya sampai di biara shaolin, keduanya disambut seorang biksu muda

“ada keperluan apakah hingga jiwi-sicu datang kemari ?” “cepat panggil pimpinan kalian, kami ingin bertemu !” sahut Lao-it

“pimpinan kami sedang bersiulian dan tidak bisa diganggu.” “mungkin dia akan keluar kalau kamu meregang nyawa sekarang, heaat…” ujar jai-hwa-hengcia sambil mengibaskan tangan dan serangkum hawa sakti menghantam biksu muda, biksu muda itu terlempar dan menghantam pintu gerbang, tanpa bersambat biksu muda itu tewas, dalam sekejap para biksu muncul dan menyerang kedua pembuat onar tersebut.

Lao-it dan jai-hwa-hengcia bergerak tangkas dengan kedua tangan menampar dan memukul keroyokan para biksu, dan dalam dua puluh gebrakan keduanya telah menewaskan empat biksu dan melukai tiga biksu, para biksu terus menyerang dengan gigih

“mundur semua ! “ terdengar suara lembut berwibawa, lima orang sesepuh siauwlim-pai muncul

“amitaba…! sipakah jiwi-sicu yang demikian tega membunuhi orang.” tanya lauw-ceng-hewsio, lauw-ceng-hewsio adalah pimpinan siawlim-pai dibantu empat sutenya Cu-beng-hewsio pimpinan disipliner, zhang-lun-hewsio pimpinan ruang, Ma-zen- hewsio dan phang-yuan-hewsio kepala pelatih

“siapa kami tidak perlu kalian tahu, cukuplah kalian mengenal kami dari golongan hek-to.” Jawab lao-it

“hmh…. Lalu apakah maksud dari perbuatan kalian yang tidak berpribudi ini ?”

“maksudnya adalah bahwa siaulim-pai akan mendapat pelajaran keras dari hek-to.” “siaulim-pai tidak pernah berurusan dengan hek-to, hal apa sehingga kami harus menerima pelajaran dari kalian ?” “heheheh..hehehe…. sudahlah lao-it, bicara panjang lebar akan membuang waktu kita, mari kita langsung hajar !” sela jai-hwa- hengcia

“benar…. eh…losuhu siapa diantara kalian yang menjadi pinpinan ?”

“pinto adalah pimpinan disini.” sahut lauw-ceng-hewsio

“bagus losuhu, apakah kamu berani duel dengan saya ?” tantang lao-it

“untuk apa berlaku sia-sia dan tidak bermamfaat anak muda.‟ “hahaha..hahaha… benarlah kata orang, kalian ini banyak bicara, katakana saja kamu takut pada saya losuhu.‟

„terserah apa katamulah, sekarang pergilah kalian !”

“hahaha..hahaha…empat nyawa muridmu kamu anggap angina lalu, betul kalian ini pengecut !”

“kami tidak mau mengikat karma yang akan terus mengejar kehidupan kami.”

“cih…kalau kami tidak mau pergi, losuhu mau bilang apa !?” “bawa saudara kalian dan kita masuk !” ujar Lauw-ceng-hewsio pada murid-muridnya sambil membalik hendak masuk kedalam

“sialan…heaatt….” Jai-hwa-hengcia bergerak menyerang lauw- ceng-hewsio

“plak..dhuar..” jai-hwa-hengcia bergetar sementara phang-yuan bergeser dua tindak, jai-hwa-hencia dengan ganas menyerang phang-yuan hewsio, pertempuran sengit pun berlangsung, jai- hwa-hengcia dengan senjata hauwcenya menyerang bertubi- tubi, karena terdesak hebat phang-yuan menerima toya dari seorang muridnya, pertarungan senjata berlangsung seru dan menegangkan. Delapan puluh jurus sudah berlangsung, phang-yuan-hewsio sudah mulai terdesak, asap hauwce yang demikian mengganggu membuat phang-yuan-hewsio tida konsentrasi, dan dua puluh jurus kemudian

“tuk…des….” Hauwce jai-hwa-hengcia mengetuk belakang telinga phang-yuan, dan disusul tendangan menghantam punggungnya, phang-yuan terjerembab dan bergeser satu tombak dalam keadaan tewas.

Ma-zen-hewsio hendak menyerang

“jangan bertindak ma-sute !” teriak lauw-ceng-hewsio, sambil melangkah mendekati lao-it

“aku sudah siap, apa yang hendak kamu lakukan.”

“bagus losuhu, terima seranganku ! heaat..!” sahut lao-it sambil menerjang dengan kuat dan gesit, lauw-ceng-hewsio menyambut serangan lao-it keras lawan keras

“plak..dhuar….” lao-it erpapar tiga tindak, sementara ciangbujin bergeser kebelakang satu tindak, lalu lao-it kembali menyerang, setelah ciangbujin mengukur sin-kang lalu serangan kedua ini di elakkan untuk mengukur gin-kang, ternyata gin-kang keduanya seimbang, ciang-bujin dengan luwes bertarung jarak dekat dengan lao-it, pertarungan yang indah dan kokoh, karena masing-masing mengerahkan trik kuncian yang luar biasa.

Dalam hal jurus dan sin-kang lauw-ceng-hewsio masih diatas lao-it, hanya dalam gin-kang keduanya seimbang, maka untuk merobohkan lao-it, lauw-ceng-hewsio dalam setiap jurusnya menggunakan sin-kang, sehingga tiap pertemuan lengan, lao-it merasa tergetar dan nafasnya sesak, setelah lebih seratus jurus, lao-it akhirnya tidak dapat mengelak ketika sebuah pukulan menghantam dadanya, lao-it terlempar satu tombak sambil memuntahkan darah, lauw-ceng-hewsio menghentikan serangan. Jai-hwa-hengcia merasa cemas, karena ternyata lao- it belum mampu mengatasi siawlim-pai.

Lao-it dengan susah payah bangkit dan dengan mengatur nafas, dia kembali menyerang dengan pedangnya dalam rangkaian jurus “in-jip-hui-kui”, Lauw-ceng-hewsio dengan rosarionya mengimbangi serangan lao-it, pertarungan dengan senjatapun berlangsung sengit, hanya empat puluh jurus lao-it kembali terdesak, luka dalam yang dideritanya jelas mempengaruhi kegesitannya, melihat hal itu jai-hwa-hengcia tiba menerjang ciangbujin dengan hauwcenya, namun serangan ini terpaksa dibatalkan karena serangkum hawa sakti menerpa dari samping, cu-beng-hewsio telah mengagalkan niat jai-hwa-hengcia, jai-hwa-hengcia tak dapat tidak harus menghadapi cu-beng-hewsio.

Lao-it pada jurus kelima puluh akhirnya harus mengakui ciangbujin yang kosen ini, dua kali rosario menghantam tengkuk dan lambung lao-it, hingga lao-it menggeloso tidak berdaya, tulang lehernya remuk dan lambungnya merasakan nyeri yang sangat, sementara jai-hwa-ceng hanya dalam jangka tujuh puluh jurus ia sudah terdesak hebat, terlebih karena melihat lao-it sudah tergeletak tidak berdaya, jai-hwa-cia berusaha melepaskan diri, namuan gerakan cu-beng-hewsio mengatasi dan mengurung ruang geraknya, dua tamparan dan satu tendangan telah bersarang pada tubuhnya, sehingga nafasnya sontak kembang kempis.

Jai-hwa-hengcia dengan serangan terakhir mengerahkan gin- kang pada kepalanya yang botak menyeruduk, cu-beng-hewsio dengan cepat memasang kuda-kuda dan menerima kepala itu dengan perutnya, “pak..” gerakan ini adalah gerakan menyabung nyawa, untungnya tenaga yang mengalir diperut cu-beng-hewsio mengatasi sin-kang dikepala jai-hwa-hengcia, sehingga kepala jai-hwa-hengcia langsung remuk saat dimasuki hawa sin-kang cu-beng-hewsio, setelah menggelepar sesaat jai-hwa-hengcia pun dilepas cu-beng-hewsio dalam keadaan tewas.

Lao-it masih tidak sadarkan diri, Lauw-ceng hewsio menyuruh menguburkan murid-muridnya dan jai-hwa-hengcia yang tewas, dan mengobati lao-it, menjelang sore lao-it siuman, dia melihat dirinya ada dalam sebuah kamar. Ia hendak berdiri namun dia tidak sanggup karena perutnya terasa kaku, dan lehernya sangat sakit, dia mengingat kejadian-kejadian sebelum ia pingsan, saat malam tiba, seorang biksu muda masuk kedalam “kenapa kalian tidak membunuhku ?” tanya lao-it dengan nada marah, biksu muda itu diam saja dan memberikan semangkok obat

“minumlah obatmu supaya perutmu tidak kaku lagi, dan besok semoga kamu sudah bisa berdiri.” ujar biksu muda itu dan langsung keluar dari kamar

“biksu..! bagaimana saya bisa minum untuk duduk saja saya tidak bisa.” ujar lao-it, biksu itu kembali kedalam, lalu tanpa bicara ia meminumkan obat pada lao-it, setelah itu biksu itu keluar, lao-it dengan lemah terbaring didipan yang keras, panjang pendek lao-it menggerutu didalam hati.

Keesokan harinya, lao-it bangun dan mencoba berdiri, rasa kaku diperutnya masih terasa, namun ketika dia paksakan, dia berhasil duduk, tidak lama kemudian senampan nasi dan sayur beserta cangkir obat di hidangkan

“silahkan makan dan minum obatnya tuan !” ujar biksu itu dan kemudian biksu itu keluar, lao-it makan dan minum secangkir obat, dan kemudian lao-it baring kembali.

Saat siang lao-it bangun dan rasa kaku diperutnya sudah hilang dan dia mencoba duduk, dan ternyata ia mampu tanpa merasa sakit, ia coba turun dari dipan dan berdiri, dan hal itu pun dapat dilakukannya tanpa ada sakit diperutnya, namun lehernya tetap terasa nyeri dan kepalanya belum bisa tegak karena sangat nyeri jika ditegakkan, sehingga dengan kepala mereng lao-it mencoba melangkah, seorang biksu masuk membawa senampan nasi dan sayur

“biksu ? kawan saya dimana ?” tanya lao-it

“kawan tuan sudah tewas dan dikuburkan dikaki bukit, tuan makanlah “ ” Jawab biksu

sambil mengemas nampan tadi pagi dan keluar.

Setelah selesai makan, tiba-tiba cu-beng-hewsio masuk “bagaimana keadaanmu anak muda ?”

“kenapa kalian tidak sekalian saja membunuhku !?” “urusan nyawa bukan urusan kami, dan nampaknya anda sudah mendingan, sebaiknya hari juga anda meninggalkan tempat ini.”

“losuhu, jangan dikira karena kalian telah bermurah hati padaku aku akan segan untuk kembali berusaha membunuh kalian.”

“itu urusanmu anak muda, sekarang pergilah !” sahut cu-beng- hewsio, lao-it dengan kepala mereng mengemasi buntalannya dan keluar dari kamar diantar keluar oleh cu-beng-hewsio.

Lao-it menuruni bukit, ketika sampai dikaki bukit ia melihat sebuah kuburan baru, lao-it duduk bersimpuh dengana kepala miring

“jai-hwa-hengcia tenaglah engkau di alam sana, aku akan membalaaskan kematianmu.” bisik lao-it, kemudian lao-it berdiri dan melanjutkan perjalanan, lao-it tidak bisa berlari cepat karena merasa janggal dengan kepalanya yang miring, menjelang sore lao-it memasuki sebuah desa, karena sudah sore penduduk kampung sudah sepi dan tidak ada yang diluar rumah, lao-it melihat seekor kuda beban, lalu lao-it mencuri kuda itu dan memacunya keluar desa.

Perjalanan lao-it sungguh menderita, kepalanya yang mereng membuat ia tidak nyaman, namun berkat obat oles yang ia beli disebuah kota kecil, dua minggu kemudian kepalanya sudah bisa ditegakkan tapi belum normal, tapi cukup nyaman untuk dibawa berlari cepat, dua bulan kemudian lao-it memasuki kota xining, dan kepalanya sudah normal, hanya bekas hitam bekas hantaman rosario pada lehernya tidak bisa hilang, sehingga lehernya seperti memiliki tiga titik tahi lalat sebesar jempol orang dewasa.

Disebuah hutan sebelah selatan kota kaifeng seorang kekek tua sedang bersandar pada sebuah pohon, hari yang terik itu membuat kerimbunan hutan menjadi tempat yang nyaman untuk istirahat, karena nyamannya hembusan angin yang berhembus membuat kakek itu mengantuk, tidak lama kemudian ia pulas, dan setengah jam kemudian ia tersentak karena gerakan halus

“hehehe..hehehe selamat bertemu pak-sian.” sapa kakek tua yang muncul dari rerimbunan

“hayaa…ternyata kamu lam-sian mengganggu saja.” sahut kakek yang ternyata pak-sian

“Lam-sian kamu mau kemana ?

“aku sebenarnya sedang mencarimu, bahkan aku sudah sampai ditempatmu di hehat, namun pondokmu kosong, kamu darimana saja pak-sian ?”

“eh…sepertinya penting sehingga kamu ketempatku.” “aku hanya ingin melihat keadaanmu pak-sian.”

“hehehe…sejak kapan engakau demikian perhatian padaku lam-sian, utangku rasanya tidak ada padamu.” “hehehehe…kamu bisa saja pak-sian, eh apa kamu pernah jumpa dengan salah satu enam datuk hitam ?”

“tidak, aku tidak ada jumpa dengan mereka, ada apa ? kenapa kamu bertanya hal itu ?”

“masalahnya mereka punya program untuk mempensiunkan kita dari dunia ini, sehingga mereka mencari kita” “hahahaha……kenapa dengan orang-orang itu, sepertinya lagi kumat ya ?”

“sepertinya demikian pak-sian.” “lalu apa kamu di temui mereka ?”

“benar, yang bertugas menemuiku adalah lam-sin-pek, dan mungkin yang akan menemui adalah pak-koai-lo.”

“pak-koai-lo tidak sempat menemui saya, karena urusannya lebih penting dari nyawa saya.”

“hehehe..hehehe…. apa maksudmu urusan kebangsawanannya pak-sian ?”

“benar, dan lalu bagaimana hasil pertemuanmu dengan lam- sin-pek ?”

“aku nyaris tewas pak-sian, namun Thian belum menghendaki aku meninggalkan dunia ini.”

“hmh…memang lam-sin-pek seorang kawakan yang luarbiasa, bagaimana ceritanya sehingga kamu lepas dari maksud jahatnya ?”

“saat saya terdesak hebat, tiba-tiba datang seorang anak muda menolong saya.” “anak muda ? wah…siapa anak muda yang dapat mengatasi lam-sin-pek ?”

“kamu tentunya sudah mendengar nama baru yang muncul didunia persilatan, bukan ?”

“hmh…apa maksudmu bun-liong-taihap ?”

“benar, dialah yang telah menolong aku saat itu, seorang pemuda gunung yang baru turun gunung.”

“namanya sangat santer ketika saya kembali dari barat dan memasuki selatan, bagaimana menurutmu karakter pemuda itu

?”

“dia masih sangat muda, kita akan banyak mengharap padanya untuk mencegah keinginan-keinginan liar dari para datuk, namun kita juga cemas akan kemudaannya yang tentunya rentan akan godaan.”

“jika dia diasuh oleh seseorang mungkin tidak perlu dicemaskan, karena sedikit banyaknya ia sudah mempunya dasar memahami hidup.”

“benar apa yang kamu katakana pak-sian, tapi sepertinya han-ji memang hanya dibesarkan oleh kitab.” ujar Lam-sian

“apakah dia she-han ?”

“benar namanya adalah Han-hung-fei, memang sempat kami bicara dan memberi dia sedikit wejangan.”

“seharusnya kalau kamu sudah tahu keadaannya, alangkah baiknya kamu ajak dia mondok sebentar denganmu.”

“hal itu tidak terpikirkan saat itu, nanun selama setahun ini saya mendengar namanya masih berpegang pada nilai-bilai kemaslahatan.”

“ya…dan saya juga dengar bahwa empat pangcu kaipang bawahan dari coa-tung-mo-kai sudah tewas ditangan pendekar muda itu.” “benar, saya dengar juga begitu, saat pulang dari tempatmu.” “tentunya itu akan membuat enam datuk terkejut, dan akan membuat mereka murka.”

“benar apa katamu pak-sian, eh sebenarnya kamu kebarat untuk apa ?”

“saya sedang ke Lhasa bertemu dengan pimpinan dalai lama jubah merah”

“oh..lalu bagaimana kabar yang-gun-lama?”

“dia sehat dan baik-baik saja, kami banyak bercerita tentang perjuangan Liu-xuan, dan bahkan menyarankan pada saya untuk ikut andil dalam perjuangan menggulingkan rezim sekarang yang korup dan aniaya.”

“lalu bagaimana tanggapanmu pak-sian ?”

“aku katakan padanya urusan kebangsawanan ini tidak sekedar pertempuran dua gajah, dan yang naas adalah pelanduk.”

“sekilas memang pendapatmu dapat diterima pak-sian, terlebih jika dilihat banyak pendukung liu-xuan para ahli silat dari golongan hitam, dan mereka tergabung dalam “ang-bi-tin” (barisan alis merah) dan saya dengar juga pak-koai-lo merupakan senior dalam barisan itu.”

“nah lalu kenapa hanya sekilas benarnya lam-sian ?”

“karena urusan menggulingkan rezim yang korup ini dibutuhkan kekuatan dari berbagai sumber, karena hal yang utama adalah fisik bukan sprit, jadi kita tidak bisa nafikan bahwa golongan hitam punya kekuatan dan itu sangat dibutuhkan untuk menggulingkan rezim yang menyengsarakan rakyat ini.”

“hehehe….lam-sian apakah kamu akan ikut masuk ang-bi-tin ?” “tentu tidak pak-sian, benar bahwa ang-bi-tin salah satu basis terbesar dan terkuat dipihak liu-xuan, namun basis kekuatan bukan hanya ang-bi-tin, saya dengar ada salah satu basis kekuatan pangeran yang terdiri dari kumpulan para hohan dan pendekar, dan ini saya yakin murni hanya kemaslahatan rakyat tanpa embel-embel lain.”

“lalu apakah kamu tertarik lam-sian ?”

“benar pak-sian, setidaknya dipenghujung usia yang lanjut ini, saya dapat melakukan bakti pada rakyat jelata, janggal rasanya dalam urusan rakyat yang sebesar ini kita tidak ikut andil walaupun seujung kuku, kita sama-sama tahulah bagaimana karakter rezim yang sekarang, yang memang benar-benar tidak dapat ditolerir lagi, dan saat ini kiblat yang menjadi harapan rakyat dalam memperbaiki keadaan adalah pangeran Liu-xuan sebagai penerus dinasti han yang dikudeta oleh wang-mang, bagaimana menurutmu pak-sian ?” 

“saya belum merasa ngeh dengan urusan politik dan pemerintahan ini lam-sian, namun untuk melihat organisasi hohan yang kamu katakan tadi pantas untuk dijajaki.”

“benar, dan hal itu jugalah yang saya ingin lakukan saat ini, dan kalau pak-sian setuju marilah kita sekarang ketempat tersebut.” “memang tempatnya dimana ?”

“katanya ada di kota kaifeng.”

“kalau begitu marilah kita berangkat !” sahut Pak-sian, lalu kedua kakek kosen itu meninggalkan hutan menuju kota kaifeng.

Kota kaifeng merupakan salah satu basis kekuatan pasukan pendukung Liu-xuan, disebuah bangunan di pinggir kota sebelah barat merupakan tempat berkumpulnya para pendekar yang direkrut oleh jendral Li, para pendekar dikumpulkan disebuah bangunan yang diberi nama dengan “hohan-jianzhu” (gedung orang gagah), gedung itu di dipimpin oleh khu- ciangkun seorang ahli militer yang handal, dan perekrutan para pendekar ini merupakan ide dari khu-ciangkun pada jenderal Li.

Lam-sian dan pak-sian memasuki bangunan tersebut, kedatangan dua dewa ini disambut dua penjaga luar “maaf lo-heng apakah yang dapat kami bantu ?” “apakah khu-ciangkun ada ?” tanya Lam-sian

“beliau ada lo-heng, boleh kami tahu kedua lo-heng siapa ? supaya kami dapat melaporkan pada ciangkun.” “sampaikan saja pada khu-ciangkun orangtua dari nanjing hendak bertamu.” sahut lam-sian

“baiklah kalau begitu lo-heng, tunggulah sebentar kami akan laporkan pada ciangkun.” ujar penjaga itu dan seorang dari mereka segera malapor kedalam, dan tidak lama kemudian penjaga itu keluar

“pada jiwi-loheng akan diterima ciangkun, marilah saya antar kedalam.” ujar penjaga, lalu kedua kakek itu di ajak masuk kedalam dan menunggu diruangan tengah, lalu seorang lelaki kekar dengan wajah lumayan tampan, berumur lima puluh tahun keluar

“selamat bertemu kembali cianpwe, sungguh kunjungan lam- sian-cianpwe ini sangat menyenangkan dan merupakan satu kehormatan bagi tecu.”

“hehehe..selamat bertemu kembali ciangkun.” sahut lam-sian “hmh…kalau lam-sian cianpwe pernah bertemu dengan saya di kota Nanjing, lalu cianpwe ini semoga tidak salah duga tentuan pak-sian bukan ?”

“hahaha..hahaha…ciangkun sungguh berpandangan jeli, benar saya adalah pak-sian, tapi bagaimana ciangkun dapat menduga setepat itu ?”

“pak-sian-cianpwe, jika lam-sian yang datang dan bersama beliau ada seorang kakek seumuran dengan beliau, dan yang didatangi adalah tempat seperti ini, siapa lagi kalau bukan pak- sian cianpwe.”

“hehehe..tapi ciangkun lam-sian punya banyak teman yang seumuran dengan beliau, lagian mungkin saya adalah saudaranya seayah lain ibu.”

“hahaha..hahaha… pak-sian-cianpwe bisa saja, namun cianpwe selatan bandingnya hanya utara, hanya dua itu saja yang ada di bui-lim.”

“hehehe…ciangkun memang memiliki wawasan yang luas.” puji pak-sian

“pak-sian terlalu memuji saya, oh ya apa yang bisa saya bantu jiwi-cianpwe ?”

“kami dengar khu-ciangkun melakukan usaha pengumpulan tenaga untuk membantu perjuangan.”

“benar lam-sian-cianpwe, kita butuh semua tenaga yang ada, maka saya sarankan kepada Li-goanswe untuk mengizinkan saya melakukan perekrutan ini, karena ada satu hal yang ingin saya perjuangkan dalam usaha ini.”

“apakah itu khu-ciangkun ?” sela pak-sian

“benar bahwa perjuangan ini butuh semua tenaga tanpa pandang pilih bulu, saya tidak bisa menafikan itu, namun dalam perjuagan ini mesti ada pengawal perjuangan.”

“apa maksudnya pengawal perjuangan ciangkun ?”

“barisan pendukung pangeran liu-xuan sangat kuat, dan saya yakin bahwa untuk menggulingkan rezim dianghuan kita akan berhasil, tapi saat keberhasilan itu sudah diraih sering terjadi kecendrungan melupakan dari tujuan perjuangan, oleh sebab itulah saya membentuk “hohan-jiangzhu” individu yang saya rekrut harus berlandaskan niat ikhlas semata-mata untuk kemaslahatan rakyat jelata.”

“apakah ciangkun punya dugaan bahwa tujuan perjuangan ini akan melenceng ?”

“saya juga tidak menduga kuat lam-sian-cianpwe, namun sediakan payung sebelum hujan sangat tepat dalam urusan ini, dan saya tidak menutup mata bahwa kemungkinan melenceng itu akan ada, karena basis terkuat pendukung gerakan ini adalah “ang-bi-tin” sementara formasi “ang-bi-tin” terdiri dari beberapa jenderal dan bangsawan yang tersingkir dari dinasti xin, dan kemudian ang-bi-tin” juga di huni banyak kalangan bui- lim dari golongan sesat, nah latar keikut sertaan dua formasi ini harus kita waspadai, yang tentunya tidak sunyi dari

kepentingan pribadi, materi dan kekuasaan.”

“lalu bagaimana dengan keberadaan hohan-jianzhu sendiri ?” tanya Pak-sian

“nah..keberadaan hohan-jianzhu disamping ikut dalam perang fisik melawan rezim, juga berfungsi untuk mengawal tujuan dari perjuangan tersebut, dan makanya formasi disini harus benar- benar saya seleksi, saya tidak akan merekomendasikan apa- apa pada relawan yang masuk, prinsipnya seperti ini jiwi- cianpwe, kita hanya berjuang, jika berhasil baik maka kita pulang kekampung dengan rasa puas yang kita rasakan, namun jika hasil melenceng kita juga bertanggung jawab untuk ikut andil menyelamatkan rakyat dari akibat yang kita perjuangkan.”

“benar istilah pepatah kuno dua gajah berantam pelanduk kena sasaran” sela Pak-sian

“untuk menyelamatkan pelanduklah pak-sian-ciampwe fungsi kedua dari “hohan-jianzhu” sahut Khu-ciangkun, kedua kakek itu manggut-manggut “usaha ini ciangkun amatlah baik, tentunya kami orang tua ini sedikit banyaknya akan mendukung usaha ciangkun.” ujar pak- sian

“terimakasih jiwi-cianpwe, saya sangat merasa bahagia mendengarnya, bagi saya dengan bergabungnya jiwi-cianpwe, maka akan memberikan warna yang jelas pada tujuan dibentuknya hohan-jianzhu.”

“bagaimana cianpwe jika kita bergabung kedalam, terlebih sebentar lagi kita akan makan malam.”

“jika memang demikian ciankun, marilah kita kesana.” sahut Lam-sian, lalu ketiganyapun menuju bangunan induk dimana ratusan pendekar berkumpul, saat ketiganya muncul, tentu para pendekar merasa gembira, dua kakek ini adalah datuk dunia persilatan, hampir dari ratusan pendekar itu menjura menyambut kedatangan dua datuk tersebut, diantaranya adalah “Lu-piauw” “tung-kim-pang” dan “pak-sin-lun” kemudian ada lagi utusan dari bu-tong-pai terdiri dari lima pendekar yang dipimpin oleh sim-cu-hung yang berjulukan “butong-pek-peng” (garuda putih dari butong), kemudian tujuh pendekar utusan dari hoasan-pai yang di pimpin oleh liu-kun yang berjulukan “hoasan-taihap” (pendekar hoasan), lalu tiga orang utusan dari kunlun-pai yang dipimpin oleh bu-hong dengan julukan “swat- kiam-taihap” (pendekar pedang salju) dan seorang biksu dari siawlim-pai yang bernama kwaa-ceng-hewsio dengan julukan “seng-twi-sin-kun” (pukulan sakti tendangan malaikat), dan dua orang dalai lama jubah merah, yakni can-beng-lama dengan julukan “swat-kok-tiauw” (rajawali lembah salju) dan Lo-keng- lama dengan julukan “hwi-ciang” (sitelapak api)

“selamat datang jiwi-cianpwe !” sapa can-beng-lama

“hehehe..hehehe..selamat berjumpa swat-kok-tiauw.” ternyata anda sudah disini walhal saya baru datang dari Tibet bertemu suhu kalian.”

“ooh begitukah cianpwe ? lalu bagaimana kabar suhu ?” sela lo-keng-lama

“suhumu baik-baik saja “hwi-ciang” jawab pak-sian “selamat berjumpa pada semua para taihap yang penuh semangat.” seru lam-sian

“selamat datang jiwi-cianpwe.” Sahut mereka serempak.

“baiklah para taihap yang terhormat, khususnya saya pribadi sangat senang dan bahagia menyampaikan pada seluruh taihap bahwa jiwi-cianpwe lam-sian dan pak-sian akan ada bersama kita dalam perjuangan ini.” ujar Khu-ciangkun, penyampaian ini disambut hangat para pendekar.

“dan tentunya para pendekar akan banyak bertemu ramah dengan jiwi-cianpwe, namun sebelum itu, karena makan malam kita sudah dihidangkan marilah kita bersantap malam !” ujar khu-ciangku dengan senyum cerah dan bahagia, lalu merekapun menuju ruangan belakang yang berupa ruangan makan.

Para pelayan yang terdiri dari sepuluh lelaki dan lima perempuan sibuk berlalu lalang melayani ratusan pendekar yang sedang bersantap malam, dan seorang yang kita kenal sebagai pimpinan pelayan itu mengatur menu yang dihidangkan, dia adalah Liu-gan, Liu-gan sudah delapan bulan bersama putrinya liu-sian di hohan-jianzhu, sejak mereka berpisah dengan bun-liong-taihap mereka langsung menuju kaifeng dan bergabung dengan khu-ciangkun yang baru empat bulan membentuk hohan-jianzhu, karena disamping ahli silat liu-gan juga ahli masak. Tiga hari mereka bergabung, saat ayah dan anak itu memasak makanan untuk makan pagi, Liu-sian tiba-tiba merasa mual, dia berlari keluar dan muntah-muntah, Liu-gan cepat mengambil teh hangat untuk putrinya

“kamu kenapa sian-ji ?” tanya ayahnya lembut “mungkin aku masuk angin ayah.” jawab Liu-sian

“betul ? apa kamu tidak demam ?” tanya Liu-sian sambil meraba kening putrinya, dan memang bukan demam

“kamu istirahat saja dulu, biar ayah dan a-seng serta a-kiu yang menyiapkan makan pagi.” ujar Liu-gan

“baiklah ayah.” sahut Liu-sian lalu meninggalkan dapur masuk kamarnya, seorang wanita separuh baya yang sedang melipat kain sprei memandangnya heran

“kamu kenapa sian-moi ? wajahmu kok pucat ?” “mungkin aku masuk angin kwee-cici.”

“semalam saya perhatikan kamu susah tidurnya sehingga kamu keluar ke vapiliun, tentunya karena itu kamu masuk angina.” “mungkin karena itu kwee-cici

“apa kamu sudah minum obat ?” tanya Kwee-gin

“aku tidak apa-apa, istirahat sebentar aku akan pulih.” sahut Liu-sian

“Liu-sian naik keranjang dan berusaha tidur, saat siang ia bangun dan badannya terasa lebih nyaman, lalu ia pergi cuci muka dan menjumpai ayahnya

“bagaimana keadaanmu sian-ji ?”

“aku sudah baikan ayah.” sahut Liu-sian

“kalau begitu pergilah makan, kwee-gin sudah menyiapkan dari tadi.” Ujar ayahnya, lalu liu-sian pergi kedapur dan makan. Dua hari kemudian mual perutnya terasa lagi, dan sejak itu liu- sian bahkan tidak mau makan, karena melihat nasi saja ia sudah mual, liu-gan sangat cemas, dan ia pun memanggil tabib untuk memeriksa putrinya

“bagaimana keadaan putri saya kwaa-shinse ?” “hehehe….dia tidak apa-apa liu-sicu, putrimu hanya hamil dan

tidak lama lagi kamu akan menimang cucu.” perkataan tabib itu membuat kepala liu-gan terkejut

“jangan terkejut hal yang dialami putrimu biasa bagi wanita yang sedang ngidam, sudah aku pamit dulu dan resep ini untuk membantu daya tahan tubuhnya ” ujar kwaa-sinse.

“bai..terimakasih kwaa-sinse.” sahut Liu-gan, setelah kwaa- sinse pergi, liu-gan masuk kekamar putrinya, kwee-gin yang melihat ayah liu-sian masuk, ia pun keluar

“sian-ji apa yang telah engkau lakukan nak !?” “hiks..hiks..maafkan aku ayah, anakmu ini telah melakukan dosa dan membuat malu keluarga uuu..uu….” sahut liu-sian menangis sesugukan

“siapakah ayah anak ini sian-ji ?” tanya liu-gan dengan hati hancur mendengar suara tangis anaknya

“hiks..hiks…fei-koko ayah..ah…aku yang salah….aku yang tidak bisa menahan diri, uuu..uuu..uuu..apa yang harus saya lakukan uuu..uuu…uuu..”

“sudahlah sian-ji kamu jangan menagis lagi tidak baik untuk kesehatanmu, ayah akan minta pada lu-taihap untuk mencari bun-liong-taihap.”

“ja…jangan ayah, fei-koko tidak akan siap untuk ini.” “kenapa ? apa maksudmu sian-ji ?” tanya liu-gan

“ayah…sekali lagi tolong aku dimaafkan, kejadian ini aku yang bersalah, hanya karena rasa cinta aku lupa diri, sementara fei- koko sangat tidak mengerti dengan peristiwa yang kami lakukan.”

“walaupun demikian sian-ji, kenyataan ini harus diketahui oleh bun-liong-taihap.”

“tidak ayah, aku tidak rela mengambil keuntungan diatas keluguan fei-koko, biarlah aku tanggung semua ini, dan sungguh aku telah menyakiti ayah, ayah…maafkanlah anakmu yang lemah terhadap godaan ini, uu..uuu..uuuu…”

“hmh..baiklah sian-ji, tenangkanlah hatimu nak, ayah akan selalu memafkanmu, dan dalam kepedihanmu itu, aku ayahmu nak akan selalu menghibur dan membantumu.” “ayah…ayah…uuu..uuu…” jerit liu-sian bangkit dan memeluk ayahnya, isaknya semakin pedih dan pilu, liu-gan juga berlinang air mata memeluk putri semata wayangnya ini. “sudahlah nak, ayah akan bicara pada khu-ciangkun, dan kita akan mendengar apa keputusannya.” ujar Liu-gan sambil menghapus air matanya.

“lauw-cianbu apakah ciangkun ada ?” tanya liu-gan pada staf khu-ciangkun

“ada liu-sicu, apakah sicu hendak bertemu ?” “benar lauw-cianbu.” sahut liu-gan

“baik kalau begitu, tunggu sebentar !” ujar lauw-ciancu lalu masuk kedalam ruangan khu-ciangkun, kemudian ia keluar “silahkan masuk liu-sicu !” ujar lauw-ciankun, liu-gan masuk dan bertemu dengan khu-ciangkun

“ada apa liu-sicu ?” tanya khu-ciangkun ramah “aku ingin menyampaikan sesuatu pada ciangkun.” “hal apakah itu liu-sicu, katakanlah !”

“hal ini tentang putri saya, dan maaf ciangkun, karena hal yang membuat malu.” “hmh….lanjutkan liu-sicu.”

“begini ciankun, putri saya sedang hamil, sementara dia belum punya suami, jadi saya minta maaf pada ciangkun telah mencoreng nama baik “hohan-jianzhu” dan rasanya kami tidak layak lagi disini.”

“tunggu dulu liu-sicu, langkah yang diambil liu-sicu terlalu jauh, hohan-jianzhu sangat membutuhkan liu-sicu disini, memang apa yang menimpa putrimu memalukan tapi imbasnya tidak akan sebesar jika liu-sicu meninggalkan hohan-jianzhu, malu bisa ditutupi tapi perjuangan ini harus tetap kita wujudkan, benar masih banyak juru masak yang handal diluar sana liu- sicu, namun kepercayaan yang membedakan sicu dengan mereka, mungkin dapat yang seperti sicu namun akan memakan waktu yang lama, dan akan mempengaruhi perkembangan hohan-jianzhu.”

“jadi bagaimana baikya ciangkun ?”

“liu-sicu tidak perlu meninggalkan hohan-jianzhu, dan perkara putri sicu, kita bisa maklumkan pada para taihap, bahwa putrimu adalah janda yang ditinggal mati oleh suami, dan kalau untuk para pelayan, tentunya liu-sicu dapat menjelaskannya pada mereka.”

“baiklah kalau begitu ciangkun, terimakasih atas saran pendapatnya, sekarang saya permisi dulu.”

“baik liu-sicu, jagalah baik-baik kesehatan putrimu “ sahut Khu- ciangkun, liu-gan kembali kekamar putrinya

“sian-ji kita akan tetap disini, begitu keputusan ciangkun, dan keadannmu dapat dimaklumi oleh ciangkun.”

“lalu bagaimana nanti tanggapan para penghuni disini ?”

“hal itu akan diatasi oleh ciangkun, dan diantara pelayan siapa yang tahu bahwa kamu belum bersuami ?” “lima pelayan wanita tahu saya belum punya suami, karena kami satu kamar.”

“baiklah kalau begitu, saya akan bicara dengan mereka.” ujar lui-gan, lalu ia pun memanggil kwee-gin dan empat wanita lainnya, lima pelayan wanita itu sangat memakluminya dan bahkan ikut serta menghibur liu-sian selama masa hamilnya, keadaanpun aman-aman saja sampai saat makan malam bersama ji-sian.

Hamil Liu-sian sudah tinggal menunggu hari, kwee-gin malam itu menemaninya sementara yang lain melayani para pendekar yang sedang makan malam, setelah selesai makan malam para taihap kembali keruangan pertemuan, mereka berkelompok asik mengobrol kesana kemari, terlebih kehadiran ji-sian membuat semarak ruang pertemuan itu, mereka mengobrol sampai larut malam.

Di kamar pelayan wanita liu-sian mengerang kesakitan, kwee- gin dan empat pelayan yang sudah tidur langsung bangun, kwee-gin segera menemui liu-gan, liu-gan langsung keluar dan menemui dukun beranak tiga blok dari hohan-jianzhu, dengan langkah buru-buru ling-pekbo memasuki kamar, dan mentyiapkan persalinan, liu-sian dengan keringat dingin yang membanjir berusaha mengeluarkan bayinya, mukanya menunjukkan rasa sakit yang sangat pada peristiwa yang mengharukan itu, bayi liu-sian lahir saat dinihari “oaaa…oaaa…..oaaaa….” suara tangis bayi laki-laki demikian nyaring melengking menyambut pagi yang dingin, lam-sian dan pak-sian terkejut dan bangun

“ada bayi lahir lam-sian !” seru pak-sian

“hehehe..hehehe… kita tengok yah .” sahut lam-sian, lalu keduanya menuju ruang makan, dan melihat liu-gan sedang duduk diluar

“sicu…apa cucumu yang lahir ?” tanya pak-sian

“benar pak-sian-cianpwe.” Sahut liu-gan tersenyum melihat dua datuk ini menyambanginya

“hahaha…hahaha… kionghi..kionghi.. sicu.”

“terimakasih jiwi-cianpwe, maaf telah mengganggu tidur jiwi- cianpwe.”

“hahaha..hahaha… suara tangis itu tidak akan pernah mengganggu, mendengarnya saja laksana tipuan serunai dari surga, membangkitkan rasa hidup sekaligus pesan yang menghangatkan kalbu” sahut pak-sian

“hehehe..hehe benar pak-sian, eh sicu, bisakah kita tengok cucumu kedalam ?”

“oh..tentu jiwi-cianpwe, sebentar aku lihat dulu kedalam.” sahut liu-gan senang dan gembira

“apakah kami boleh masuk ling-pekbo ?” tanya Liu-gan “sudah liu-sicu, silhkanlah masuk !” sahut lin-pekbo, lalu tiga lelaki itu masuk, lima pelayan wanita senyam-senyum melihat dua kakek itu demikian senangnya untuk melihat bayi itu

“heheh..hehehe nak siapa namamu ?” tanya lam-sian “liu-sian kakek.” Jawab liu-sian

“hehehe..sian-ji anakmu tampan dan mungil boleh saya gendong ?”

“hihi..hi… boleh kakek,” sahut liu-sian

“liu-sian…ji-cianpwe ini adalah lam-sian dan pak-sian.” sela liu- gan pada putrinya

“ohh..maafkan aku jiwi-cianpwe.” ujar Liu-sian “hehehe…tidak ada yang perlu dimaafkan

“aku lagi lam-sian…jangan kamu saja.” sela pak-sian “nih..hati-hati.. tulang keroposmu menyakiti bayi mungil ini.” sahut lam-sian menyerahkan bayi liu-sian pada pada pak-sian, sambil haha..hihi.. pak-sian menggendong bayi itu

“liu-sicu siapakah nama cucumu ini ?” tanya pak-sian sambil menciumi bayi itu, liu-gan tidak menduga akan pertanyaan itu, sehingga dia terdiam

“namanya fei-lun cianpwe.” sahut liu-sian

“hahaha..haha… fei-lun…nama yang bagus.” sahut pak-sian “aku lagi lah pak-sian.” sela lam-sian, pak-sian kembali menyerahkan fei-lun pada lam-sian

“eh..dia she apa sian-ji ?” tanya lam-sian “fei-lun she-han cianpwe.”

“hahaha..hahaha gagah betul han-fei-lun, luar biasa, eh nama bun-liong-taihap siapa lam-sian ?” ujar pak-sian, liu-gan dan liu- sian terkejut dan ayah anak itu saling pandang

“ooh..namanya han-hung-fei.” Jawab lam-sian

“pak-sian setelah kamu ingatkan aku tentang han-hung-fei ad aide dalam pikiranku.”

“apa idemu itu lam-sian, pikiranmu jangan macam-macam yah.” sahut pak-sian

“jika anak ini besar nanti aku ingin ia mewarisi ilmu-ilmu ku.” “pikiran bagus lam-sian namun apakah kamu akan hidup beberapa tahun lagi ?”

“hmh…mungkin aku tidak akan sempat mengajarinya namun aku akan tinggalkan kitabku padanya.”

“hahahaa..hahaha…demikian juga bagus lam-sian, aku juga tidak mau ketinggalan, han-fei-lun adalah murid kita berdua.” “terimakasih jiwi-cianpwe aku mewakili cucuku memberi hormat pada jiwi-cianpwe.‟ sela liu-gan sambil berlutut. “hahaha..hahaha..bangkitlah liu-sicu, jangan sungkan begitu.” sahut pak-sian

“eh lam-sian mana kitabmu !?” tanya pak-sian, lam-sian mengeluarkan dua buah kitab dan menyerahkan pada pak-sian, lalu pak-sian mengelurkan dua buah kitabnya dari dalam bajunya, dan membungkus empat kitab itu dengan kain “hehehe..hehehe… letakkanlah han-fei-lun lam-sian dekat ibunya.” ujar pak-sian, lam-sian meletakkan han-fei-lun dekat

liu-sian

“Han-fei-lun kami dua suhumu senang menyambut kelahiranmu, kami hanya dapat memberikan empat buah kitab ini padamu, jadilah anak yang baik berbakti pada ibumu dan bermamfaatlah kamu bagi orang lain.” ujar pak-sian sambil meletakkan bungkusan itu dekat kepala han-fei-lun, liu-sian terisak melihat kelakuan dua kakek itu pada anaknya. “hehehe..hehehe..kenapa kamu menangis sian-ji,

“jiwi-cianpwe demikian besar perhatian pada anakku sehingga aku menjadi haru.”

“hahaaha..hahahaa… tugasmu masih banyak sian-ji, kami titip murid kami ini, ajari ia dengan baik, susila dan norma kamu tanamkan, siapkan ia untuk mampu menjalani pernak-pernik kehidupan, tuntun ia untuk meraih hakikat kemanusiaan.” ujar pak-sian

“pesan cianpwe akan aku ingat dan kujunjung

tinggi…uuu..uuu…” sahut liu-sian dan tangisnya pun pecah.

“sudah jangan menangis lagi, matahari sudah terbit, kami keluar dulu, ayok lam-sian.” ujar pak-sian, lalu kedua datuk itu keluar bersama liu-gan, setelah melepas kedua datuk, liu-gan langsung kedapur untuk mempersiapkan makan pagi, dan beberapa pelayan juga sudah sibuk didapur, dengan cekatan liu-gan mengatur anak buahnya untuk mempersiapkan masakan, hari itu liu-gan sangat gembira dengan kelahiran cucunya yang demikian antusias disambut oleh dua cianpwe dunia persilatan, terbetik kebanggan betapa cucunya itu akan mewarisi ilmu-ilmu dua datuk kosen itu.

Rumah di bagian timur kota Huangsan begitu kelihatan mencolok dibandingkan dengan rumah-rumah lain disampingnya, karena rumah itu besar dan megah sekali, rumah itu dihuni oleh seorang datuk ternama dan juga keras, sehingga para penduduk sangat takut padanya, datuk itu adalah pek-mou-hek-kwi, hari itu sedang menerima dua orang tamu, keduanya adalah utusan dari pak-koai-lo yakni “eng- kiam” dan “pak-hong-kwi”

“hal apa yang hendak kalian sampaikan pak-koai-lo ?” “cianpwe pak-koai-lo mengundang enam datuk untuk bertemu di lanzhou pada hari dua puluh bulan kelima

“hmh..kalau begitu sampaikan pada pak-koai-lo, aku akan datang.”

“baiklah cianpwe sekerang kami permisi, karena kami ditugaskan juga untuk menemui cianpwe liang-lo-mo diteluk mata ikan.”

“baiklah, silahkan dan selamat jalan.” sahut pek-mou-hek-kwi, kedua utusan itupun pergi.

Sementara dikamar bagian belakang Yan-hui sedang baring bermalas-malasan, dan Yan-hui ternyata sedang hamil delapan bulan, apa yang dilakukannya dengan Han-hung-fei telah membuat gadis jelita itu hamil, sebagaimana kita ketahui bahwa Yan-hui terpaksa melarikan diri karena tidak dapat membunuh bun-liong-taihap yang kosen walaupun ia sudah dibantu tiga pangcu dari kaipang. Dengan dada sesak ia berjalan gontai menelusuri lembah sebelah utara kota hopei, karena merasa tempat itu aman, maka yan-hui duduk bersila untuk memulai pengeobatan lukanya dengan mengerahkan sin-kang, dia hanya berhenti ketika merasa lapar dan haus, dua minggu kemudian Yan-hui berhasil memulihkan diri

“sialan si hung-fei bodoh, tidak disangka ia sehebat itu.” gerutunya dalam hati, kemudian saat matahari terbit yan-hui melanjutkan perjalanan, ia berniat hendak kembali ke huangsan, ia harus melapor pada suhunya.

Seminggu kemudian Yan-hui memasuki kota hopei, selama dua hari ia menginap dikota itu, dan saat ia keluar dari likoan, seorang wanita cantik memasuki likoan, gadis itu adalah Yang- lian

“eh lao-ngo kamu darimana ?” sapa yan-hui

“hi…hi… kamu lao-liok, aku dari teluk mata ikan, eh apakah kamu hendak meninggalkan kota atau hendak jalan-jalan.” sahut Yang-lian

“aku hendak meninggalkan kota, aku sudah dua hari disini.” “sebaiknya kamu pergi setelah kita mengobrol, aku hanya makan saja, dan setelah itu akan melanjutkan perjalanan.”

“kamu mau kemana lao-ngo ?”

“aku hendak ke kota taiyuan menemui “saicu-bin-kui, marilah kita masuk dan kamu temani aku makan sambil ngobrol” “baiklah kalau begitu.” sahut Yan-hui dan kembali masuk ke likoan, Yang-hui memesan makanan dan seguci arak

“kamu darimana lao-liok ?” tanya yang-lian sambil menyuap makanannya

“aku bosan dirumah karena suheng sedang melaksanakan tugasnya, jadi aku meninggalkan huangsan.” “apa kamu mendengar tentang pendekar muda yang baru muncul di dunia persilatan ?”

“maksudmu bun-liong-taihap ?”

“benar, apa kamu pernah bertemu dengan pendekar itu ?” tanya yang-lian, Yan-hui terdiam sejenak karena membayangkan pertemuannya yang luar biasa dengan Han- hung-fei

“hmh….kenapa kamu tanyakan tentang pendekar itu ?”

“aku ingin meringkusnya karena telah membunuh “hai-kwi- kiam” dan anak buahnya.”

“jadi benar rupanya cerita itu.” sela yan-hui “benar, karena anak buahnya yang selamat telah melaporkannya pada suhu.”

“hal itu saya dengar dari tiga pangcu kaipang.” “lalu apakah kamu pernah bertemu dengannya ?” “pernah dan dia memang sakti luar biasa lao-ngo.” “apa kamu bertempur dengannya ?”

“ya, bahkan aku dibantu oleh tiga pancu kaipang untuk membunuhnya.”

“lalu bagaimana ? apa yang terjadi ?”

“kami tidak mampu mengalahkannya, bahkan tiga pangcu tewas ditangannya sementara aku terluka dalam.” “hah…kapan hal itu terjadi ?”

“sekitar tiga minggu yang lalu, saat itu ia mau ke lokyang.” jawan Yan-hui

“kalau begitu saya harus bergerak cepat, mungkin aku masih dapat menyusulnya.”

“kamu harus hati-hati lao-ngo, dia itu bukan lawan yang mudah.” ujar yan-hui

“orangnya bagaimana lao-liok ?”

“orangnya masih muda dan tampan, tapi sedikit bodoh.” “eh..apa maksudnya dengan bodoh ?” “sebenarnya bukan bodoh tapi lugu dan polos.” “bagaimana kamu bisa tahu ?”

“hi..hi…. karena aku bahkan membodoh-bodohinya.” “bagaimana kamu bisa membodoh-bodohinya ?” “ah..itu rahasiaku lao-ngo, hi…hi…”

“eh….kok rahasia, ceritakan dong, mungkin aku akan dapat memperdayanya kalau tahu kelemahannya.”

“hi..hi…dia itu pemuja cinta sejati, dan lucunya ia tidak tahu bahwa ia telah melakukan hubungan badan.”

“maksudmu kamu telah malakukan hubungan badan dengannya ?”

“hi..hi..benar tapi dia tidak mau kuajak menikah, karena katanya dia tidak mencintaiku.”

“lalu apa yang kamu lakukan ?”

“aku bujuk dia supaya dia mau karena telah berhubungan badan dengan aku, dank arena polosnya dia terpaksa mau.” “terpaksa mau, bagaimana maksudnya ?”

“yah…aku minta dia harus bettanggung jawab, jadi karena itu dia mau walaupun ia tidak mencintaiku.”

“oo, begitu, lalu bagaimana selanjutnya ?”

“aku bawa dia ke kaifeng, dan ditengah jalan kami bertemu dengan tiga pangcu kaipang yang sedang memburunya untuk membalaskan kematian tok-gan-kai, lalu terjadilah pertempuran antara mereka, dan aku sebagai lao-liok harus memihak ketiga rekan kita, tapi yah itu tadi kami kalah.” sahut Yan-hui

“hmh….kalau begitu benar katamu harus dengan taktik dan perhitungan yang matang jika berhadapan dengannya.” ujar Yang-lian samnbil minum araknya dan menyelesaikan makannya. “benar, sebab kalau tidak bisa-bisa kita tewas ditangannya.” sahut yan-hui

“baiklah lao-liok, aku akan melanjutkan perjalanan dan kamu hendak pulang ke huangsan, jadi kita berpisah disini.” ujar Yang-lian, dan keduanya keluar likoan, lalu merekapun berpisah.

Yan-hui dalam perjalanan pulangnya tidak terburu-buru, bahkan sering singgah di tempat-tempat yang indah, dan pada suatu hari yan-hui sedang menuruni sebuah bukit setelah semalaman ia berada dipuncak, tiba-tiba ia merasa mual dan muntah, Yan- hui terpaksa duduk untuk menenangkan diri, namun kepalanya teras pening, dan perutnya mual lagi sehingga ia muntah- muntah lagi, wajah Yan-hui pucat dan cemas, lalu ia bangkit dan berlari cepat, dan setelah keluar dari hutan ia merasa nyaman dan rasa pusingnya hilang, tanpa berpikir apa-apa yan- hui menancap gas larinya,

Dua minggu kemudian ia sampai ke rumah dimana suhunya sedang berlatih silat pagi hari itu, wajah yan-hui sangat pucat, karena dua hari yang lalu ia kembali merasa mual dan pusing, bahkan ia tidak selera untuk makan.

“hahaha..hahah…hui-ji kamu baru datang, eh kamu kenapa ? mukamu pucat hui-ji ?” ujar suhunya

“aku tidak tahu suhu, saya mengalami hal seperti ini dua minggu yang lalu.” jawab Yan-hui, suhunya memegang pergelangan tangan dan meraba keningnya

“kamu istirahatlah biar suhu suruh si A-gui untuk memanggil tabib.” Ujar pek-mou-hek-kwi, Yan-hui segera masuk kamarnya dan baring, dua orang pelayan menyambutnya dan menghidangkan makanan, namun melihat makanan itu ia kembali mual “hoak….cepat pergi..bawa makanan itu dari sini !” teriak Yan- hui sambil membaringkan badannya.

Beberapa saat kemudian seorang tabib pun datang untuk memeriksanya didampingi oleh suhunya, setelah diperiksa tabib berkerinyit

“ada apa dengan aku sinse ?” tanya Yan-hui, si tabib menoleh pada pek-mou-hek-kwi

“ya ada apa dengan muridku sinse ?” tanya pek-mou-hek-kwi heran melihat sinar mata si tabib

“siocia sedang hamil loya.” sahutl sitabib

“apa…!? hamil !?” teriak pek-mou-hek-kwi terkejut, sitabib tersentak karena teriakan pek-mou-hek-kwi

“be..benar loya .” jawab sitabib gagap.

“hmh…sudah kalau begitu, antar tabib keluar !” perintahnya pada dua pelayan.

“bagaimana bisa kamu hamil yan-hui !? dengan siapa kamu berhubungan ?”

“aku tidak menduga kalau akan hamil suhu.” sahut Yan-hui “iya..tapi sekarang kamu sudah hamil, siapa yang menghamilimu ?”

“si hung-fei sialan itu suhu,” “hung-fei ? siapa hung-fei itu ?”

“pendekar muda yang baru muncul itu suhu.”

“maksudmu bun-liong-taihap ?” ujar Pek-mou-hek-kwi, Yan-hui mengangguk

“eh…apa kamu diperkosanya ?”

“tidak suhu, hanya kami sama-sama suka melakukannya.” “hahaha..hahaha… ternyata bangor juga pemuda itu.” sahut Pek-mou-hek-kwi

“apa kalian bersahabat hui-ji ?” “ide untuk menarik dia jadi sahabat tidak jadi suhu.” “kenapa bisa tidak jadi ?”