-->

Pedang Dewa Naga Sastra Jilid 3

Jilid 3

“eh kamu siapa… !?” bentak wan-lin, seorang gadis kecil berumur sebelas tahun berdiri didepannya.

“aku yang harusnya bertanya, kenapa kamu hendak mengambil buruan saya.”

“sialan…kamu jangan sembarangan yah, lemparanku yang telah melumpuhkan kijang ini.”

“enak saja meracau, lemparanku yang telah melumpuhkannya.” Tidak mungkin, mana batu yang kamu lempar ?” tanya Wan-lin, gadis kecil itu memungut batu sebesar jempol kaki orang dewasa

“ini batu ku, kamu mana batumu ?”

“ini batuku !” sahut Wan-lin sambil memungut batu sebesar kepalannya.

“itu tidak mematikan kijang.” ujar gasis itu

“tidak mematikan bagaimana, sementara aku mengenai kepala kijang.” sahut Wan-lin “kijang itu hanya pening, kijang ini ambruk karena aku mengenai tepat pada jantungnya.”

“kamu mengada-ada saja, yang jelas kijang ini milikku.” ujar Wan-lin

“perempaun berengsek, kijang ini milikku.” bantah gadis itu “baik…kita tentukan lewat pertarungan !” tantang Wan-lin, lalu ia menyerang dengan cepat dan gesit, gadis itu mengelak dan membalas serangan, dua dara kecil itu saling serang dan pukul, gerakan mereaka sama-sama kuat dan lincah, kedua jatuh bangun dalam pertarungan itu, sementara dua orang kakek menonton keduanya

“hehehe..muridmu pasti kalah lo-mo.” sela Lam-sin-pek dari sebuah rumpun semak

“jangan sesumbar lam-sin-pek, muridmu yang berkaing-kaing dihajar muridku.” sahut liang-lo-mo dari atas sebuah dahan pohon.

Satu jam sudah perkelahian dua dara kecil itu, namun keduanya seimbang dan keduanya sudah babak belur “sudahlah ! kalian hentikan perkelahian, aku sudah sangat lapar.” ujar Liang-lo-mo sambil turun dari dahan pohon, “suhu aku belum kalah !” sahut muridnya 

“aku juga belum kalah, ayok kita lanjutkan.” tantang Wan-lin “sudah lin-ji, lain kali dilanjutkan, sebab jika tidak, kita tidak jadi makan daging kijang.” sela Lam-sin-pek, sambil melangkah mendekati Wan-lin

Liang-lo-mo dengan pedangnya menguliti kijang, sementara sebuah kayu yang tumbang dipukul Lam-sin-pek sehingga terbakar

“Lian-ji cepat kalian cuci daging ini di sungai itu !” perintah Liang-lo-mo, Yang-lian menoleh suhunya heran karena perintah itu bukan ditujukan padanya seorang, Wan-lin melihat Yang-lian “iya kalian berdua apa lagi yang ditunggu.” sela Lam-sin-pek, keduanya dengan sorot mata tajam melangkah ke sungai, kedunya saling diam membersihkan daging kijang, namun kekakuan itu berakhir ketika Yang-lian tidak sengaja terpeleset kesungai, dan tanganya meraih tangan Wan-lin, wan-lin yang tidak menduga ikut juga kecebur

“hi..hi…. ee…tangkap dagingnya hanyut..” teriak Yang-lian, keduanya buru-buru mengumpulkan potongan-potongan daging diatas batu, sekejap keakraban diantaranya pun terbina

“kamu siapa, namamu siapa ?” tanya Wan-lin sambil mencuci potongan paha kijang

“namaku Yang-lian.” Jawab Yang-lian

“umur saya sepuluh tahun yang-lian, kamu berapa umurmu ?” “aku sudah sebelas tahun, aku lebih tua dari padamu lin-moi.” jawab Yang-lian, Wan-lian mengangguk setuju.

Sementara kedua gadis kecil itu mencuci daging kijang “sin-pek, ayok kita main catur !”

“kamu akan kalah Lo-mo…seperti yang sudah-sudah.” “kamu jangan anggap remeh sin-pek, aku kalah tujuh tahun yang lalu.”

“baiklah…mari kita main !” sahut Lam-sin-pek, Lo-mo membuka buntalannya dan mengeluarkan bungkusan yang berisi biji catur berserta papannya, sebentar saja keduanya sudah asyik dengan permainan mereka, keduanya tidak lagi memikirkan sekitar mereka kecuali hanya memeras pikitan untuk menjalankan buah catur.

Yang-lian dan Wan-lin sedah selesai membersihkan daging, lalu keduanya memanggang daging di atas bara api kayu yang terbakar, sementara dua datuk itu sibuk bermain catur di bawah pokok kayu, tidak lama kemudian daging-daging bakar itupun matang, sepotong paha kijang mereka letakkan disamping kedua datuk yang sedang tenggelam dalam permainan, kemudian kedua gadis kecil itu makan daging bakar dengan lahap, setelah merasa kenyang keduanya menatap kedua suhu mereka, onggokan daging paha kijang masih utuh, kedua datuk itu belum menyentuhnya sama sekali karena saking asyiknya permainan yang lakukan, kedua murid mereka juga tidak digubris, sehingga kedua gadis kecil itu bengong sendiri.

Kemudian untuk mengurangi kebosanan, Yang-lian mondar mandir, Wan-lin mencabuti daun sambil bersandar di sebatang pohon

“kita mandi yok, tadi kan kita sudah basah.” ajak Yang-lin “ayok…” sahut Wan-lin bangkit dari duduknya, keduanya melangkah kesungai, lalu keduanya mandi sambil bersenda gurau, setelah keduanya puas mandi, lalu mengganti pakaian, sementara kedua datuk itu sudah melahap potongan daging kijang sambil main catur, Yang-lian dan Wan-lin sama-sama duduk bersandar dan mengibaskan rambut yang basah.

“Lian-cici sejak kapan kamu ikut suhumu ?” tanya Wan-lin “aku ikut suhu sejak bayi.” Jawab Yang-lian

“lalu orang tuamu bagaimana ?”

“aku tidak mengenal orang tuaku, hanya aku tahu mereka tenggelam dilaut karena sebuah badai, dan suhu menyelamatkanku.” sahut Yang-lian

Memang demikianlah diceritakan Liang-lo-mo pada muridnya, hanya sanya kenyataannya tidak seperti itu, karena kapal yang membawa keluarga Yang-lian dirampok oleh Liang-lo-mo dan anak buahnya. Sebelas tahun yang lalu seorang saudagar kaya bernama Yang-kang dikota Fuzhou hendak berangkat kekota hangzhou bersama keluarganya untuk mengunjungi paman mereka, “sebaiknya kita jalan laut saja kang-ko karena melihat keadaan

kakak ipar yang sedang hamil tua, dan juga ayah dan ibu sudah tua.” ujar adiknya Yang-meng

“hmh…ide kamu itu tepat juga meng-te, perjalanan darat tentu amat melelahkan bagi ayah dan ibu.” sahut Yang-kang menyetujui.

Keesokan harinya pelayan hartawan Yang, memuat barang pada sebuah kapal besar milik saudagar Yang, setelah semua barang dimasukkan, keluarga Yang pun berlayar yang terdiri dari sepuluh orang, yakni Yang-kang dan istrinya Ma-cing yang sedang hamil tua, kedua orang tua Yang-kang, kemudian Yang-meng adik Yang-kang, Bao-sinse selaku tabib keluarga Yang, dan empat pelayan wanita, selain itu adalah anak buah kapal yang terdiri dari dua puluh orang, seorang kapten dan

dua asisten, dua puluh tiga orang itu adalah pegawai she-Yang.

Kapal berlayar mulus melintasi lautan, kala senja Yang-kang dan istrinya menimati senja merah mengiringi matahari yang hendak turun keperaduannya diufuk barat, setelah malam tiba keduanya turun dan masuk ke ruangan kapal yang tergolong mewah, empat pelayan sibuk menghidangkan makan malam “ayah meng-te dimana ?” tanya Yang-kang pada ayahnya “mungkin masih diluar.” Sahut ayahnya, tidak lama kemudian Yang-meng datang, lalu merekapun makan, setelah makan sambil bercakap-cakap mereka melewatkan malam, Ma-cing mengisyaratkan pada suaminya untuk istirahat, Yang-kang dan suaminya masuk kedalam kamar, tidak lama kemudian Yang- loya meninggalkan Yang-meng dan Bao-shinse yang masih asik bercakap-cakap.

Tiga hari kemudian mereka melewati teluk “Hi-gan” (mata ikan) dimana Liang-lo-mo dan ratusan anak buahnya bersarang, “san-ong…! sebuah kapal mewah melintas di wilayah kita.” lapor anak buah Liang-lo-mo

“kapal mewah… berarti seorang hartawan, cepat kalian kejar !” perintah Liang-lo-mo, para bajak segera bergegas masuk kedalam kapal, setelah Liang-lo-mo meninggalkan istananya dan masuk kedalam kapal, kapal itupun bergerak mengejar kapal Yang-wangwe.

“pemilik kapal adalah Yang-wangwe.” ujar Liang-lo-mo setelah melihat bendera kapal Yang bertuliskan “she-Yang”

Dua jam kemudian kapal Liang-lo-mo sudah mendekati kapal Yang-wangwe Lou-gin yang menjadi kapten kapal menyiapakan anak buahnya untuk menghadapi segala kemungkinan, sementara Lou-gin mensiagakan anak buah kapal, Yang-meng dan Yang-kang keluar

“ada apa Lou-cianbu !?” tanya Yang-meng

“bajak laut “hek-liang-kiam” (pedang sukma hitam) mendekati kita.” jawab Lou-gin, kedua kakak beradik itu pucat dan menatap kea rah laut lepas, sebuah kapal berbendera warna putih dengan gambar pedang bersilang warna hitam mendekati mereka.

Sementara didalam kamar Ma-cing mengeluh karena perutnya sakit dan mulas, empat pelayan tanggap dan memanggil Bao- shinse kedalam kamar, persalinan Ma-cing pun dilakukan, Bao- shinse menuntun Ma-cing mengatur nafas, dengan rasa sakit yang luar biasa, Ma-cing mendorong bayinya “sedikit..lagi…tarik nafas dalam-dalam..ya..ya…terus….tiba-tiba kapal bergetar karena puluhan sekoci kapal bajak sudah mengitari kapal Yang-wangwe, dan melempari sisi kapal dengan kaitan besi, lalu para bajak memanjat naik, karena desakan rasa terkejut Ma-cing kontan mendorong bayinya “oaaaa…..oaaaa…..oaaaaa….” suara tangis nyaring sibayi pun terdengar, sementara dibagian atas pertarung sengit sedang berlangsung, Yang-kang dan Yang-meng berusaha melawan, anak buah kapal juga dengan gigih mencegah bajak laut masuk, namun jumlah mereka amatlah banyak, sehingga hanya dalam waktu dua jam Lou-gin dan anak buahnya tewas termasuk Yang bersaudara.

Lima bajak segera masuk keruang kapal, dua orang pelayan wanita beserta Bao-shinse yang sudah menyelesaaikan persalinan terkejut, namun sabetan pedang dua bajak menghabisi nyawa mereka, kemudian mereka mendobrak kamar-kamar melihat apa ada lagi orang yang tersisa, saat dua orang bajak mendobrak kamar Yang-loya, suami istri menjerit ketakutan, namun dengan brutal suami istri she-Yang yang sudah lanjut usia itu menjadi sasaran senjata, She-Yang bersimbah darah di gorok dua bajak yang haus darah.

Sementara dua bajak mendobrak kamar Ma-cing, dua pelayan terkejut, muka Ma-cin yang memang pucat sehabis melahirkan semakin pucat, namun wajah-wajah ketakutan itu membuat dua bajak bergembira dan semakin brutal, teriakan histeris tiga wanita itu menyayat hati saat pedang-pedang itu berkelabatan di tubuh mereka, dan semua jeritan itu berbaur dengan lengkingan tangisan bayi Ma-cing, Liang-lo-mo yang mendengar lengkingan tangisan bayi

“bawa kesini bayi itu !” teriaknya dari atas kapalnya dan perintah itu didengar dua bajak yang hendak memenbas bayi merah itu, keduanya berhenti, dan seorang langsung menyambar bayi dan keluar dari ruangan, terus ke atas dan mengangkat bayi itu kearah Liang-lo-mo.

Luar biasa bayi itu melayang kearah kapal liang-lo-mo yang jauhnya sepuluh tombak, terus mendekat dan menempel ditangan Liang-lo-mo yang mengerahkan sin-kang menarik bayi itu, bedengan bayi dibuka, Liang-lo-mo melihat bayi perempuan yang cantik

“hahaha..hahaha…. bayi yang mungil, ayok..cepat bawa kapal ini kemarkas dan semua mayat buang kelaut..!” perintah Liang- lo-mo, para bajak membuangi seluruh mayat dikapal she-yang, dan kapal itu dibawa kemarkas mereka di teluk Hi-gan.

Kapal Yang-wangwe dirawat baik-baik karena kapal itu cantik dan mewah, kapal itu menjadi pajangan indah disisi teluk hi- gan, sementara tiga kapal mereka yang besar beroperasi dilautan untuk membajak kapal-kapal yang lewat, bayi Yang- kang dirawat dan dibesarkan oleh Liang-lo-mo, dan anak itu diberi nama Lian, dan she yang dipakai tetap she-ayahnya yakni Yang.

Yang-lian tumbuh sehat diantara para bajak laut, Liang-lo-mo mengajari ilmu silat kepada Yang-lian sejak umur lima tahun, bakat serta daya tangkap Yang-lian sangat mengagumkan sehingga membuat Liang-lo-mo senang dan gembira, umur sembilan sepuluh tahun, Yang-lian sudah mampu mengalahkan anak buah suhunya, para bajak memanggil Yang-lian dengan sebutan “siauw-hong” (ratu kecil). Ketika ia menanyakan tentang orang tuanya, liang-lo-mo dan seluruh bajak yang tinggal di teluk hi-gan mengatakan bahwa orang tuanya tewas diamuk badai, dan hal itu dipercaya benar oleh Yang-liang karena suhunya sangat menyayanginya, bahkan semua bajak memanjakannnya dan mengormatinya, dan Yang-lian pun sangat hormat dan sayang pada suhunya.

Setahun kemudian umur Yang-lian sudah sebelas tahun, ia dan suhunya memasuki perahu mewah dan indah yang mengapung disisi teluk, Liang-lo-mo membawa muridnya menkmati pemandangan laut dan melihat terumbu karang yang tumbuh didalam laut, setelah merasa puas, keduanya kembali ke teluk “san-ong…! “sai-cu bin” (si muka singa) memberi laporan bahwa kalangan pendekar sedang memperebutkan Bun-liong- sian-kiam” dan datuk yang lain juga sudah muncul.”

“dimana sekarang keberadaan Bun-liong-sian-kiam ?”

“dari informasi anak buah sai-cu-bin bahwa rahasia pedang ada didalam patung naga yang hendak disimpan di menara Liu.” “kalau begitu kalian kamu ambil alih pimpinan, sementara saya tidak ada, karena saya akan berangkat ke lokyang bersama lian-ji.” Ujar Liang-lo-mo.

Liang-lo-mo dan Yang-liang berangkat keesokan harinya dan Liang-lo-mo mengajak muridnya untuk berlari cepat melintasi hutan dan lembah, sehingga lima bulan kemudian mereka sampai di kota lokyang, dan saat malam tiba Liang-lo-mo meninggalkan Yang-lian dipenginapan dan menaiki menara Liu dan bertemu dengan Lam-sin-pek, dan karena barang yang dicari tidak ada Liang-lo-mo kembali kepenginapan, dan pagi- pagi sekali Liang-lo-mo mengajak muridnya meninggalkan kota lokyang dan istirahat dihutan, bahkan bertemu lagi dengan Lam-sin-pek, karena dua murid mereka berkelahi memperebutkan kijang.

“hehehe….kali ini kita seri dan lain kali aku akan mengalahkanmu Lam-sin-pek.” ujar Liang-lo-mo, kemudian menyambar muridnya dan berkelabat dari tempat itu, Lam-sin- pek juga mengajak Wan-lin meninggalkan hutan tersebut. Lam- sin-pek mengajaka muridnya berlari cepat, Wan-lin mengerahkan gin-kangnya, ia laksana terbang mengikuti suhunya, sehingga saat senja mereka sampai disebuah lembah, lalu mereka istirahat.

Sambil memanaskan sisa daging kijang tadi pagi, Wan-lin bertanya pada suhunya

“suhu siapa lagi yang setingkat dengan suhunya yang-lian itu ?” “didunia persilatan ini ada enam datuk yang tingkatannya luar biasa dan seimbang.”

“siapa-siapa kah itu suhu ?”

“salah satunya tentu suhumu ini yang di sebut datuk selatan.” “lalu siapa lagi suhu ?” tanya Wan-lin penasaran

“ada “pak-koai-lo” datuk wilayah utara, “pek-mou-hek-kwi” diwilayah timur, lalu “see-teng-kui” datuk di wilayah barat, kemudian (siluman terbang dari barat) dan kemudian “Liang-lo- mo” datuk para bajak dan rampok dan yang terakhir “coa-tung- mo-kai” datuk para pengemis.”

“Suhu sepertinya akrab dengan Liang-lo-mo.” ujar Wan-lin “kami berenam sangat akrab, karena kami berenam satu aliran.”

“apa maksud satu aliran suhu..?”

“satu aliran maksudnya kami berenam sama-sama bebas untuk melakukan apa saja yang kami inginkan, dank arena memang demikianlah tujuan kita memiliki ilmu, supaya kita bebas berbuat apa saja yang kita maui dan tidak ada yang menghalangi, kita akan terhindar dari tekanan orang lain, karena kita punya ilmu yang kuat dan sakti, kamu juga mesti belajar dengan giat, sehingga kamu dapat melebihi suhu dan menguasai dunia.” urai Lam-sin-pek, Wan-lin menyerap cara pandang suhunya dan mematrikannya dalam hati.

Selama dua minggu Lam-sin-pek dan muridnya berdiam di lembah yang indah itu, dan sekaligus melatih Wan-lin, kemudian keduanya melanjutkan perjalanan, dua minggu kemudian mereka sampai di kota Hopei, dihalaman sebuah bukoan sedang terjadi pertarungan sengit, Wan-lin membaca papan nama perguruan yang terpampang diatas gerbang pagar, “sin-Wan-bukoan” (perguruan lutung sakti), Lam-sin-pek memasuki halaman dan menonton pertarungan, dua murid sin- wan-bukoan datang mendekat

“orang tua apa kamu teman pengacau itu ?”

“sialan…plak…” bentak Wan-lin sambil menampar murid yang bertanya, murid itu terkejut, sambil meraba pipinya yang terasa panas melihat Wan-lin, kejadian itu membuat murid yang lain terkejut dan datang mendekat

“kalian mau apa !?” gertak Wan-lin maju menyambut empat orang murid

“gadis kecil sialan..! balas seorang murid yang menjadi murid kepala membentak.

“kamu yang sialan !” balas Wan-lin dan dengan cepat yang melompat menerjang hendak memukul si murid kepala, dalam empat gebrakan ia masih mampu mengelak dengan kalang kabut, namun pada jurus berukutnya, saat ia hendak membalas memukul Wan-lin yang sedang berjumpalitan “wuut….des…aghhh… “ pukulannya luput katrna tubuh wan-linj yang gesit melayang hingga keatas kepalanya, dan kaki Wan- lin yang kecil mencium ubun-ubunnya, dia menjerit karena kepalanya serasa ditimpa balok yang besar.

Dua kauwsu yang sedang bertarung berhenti, tapi setelah mata mereka menatap lelaki tua yang berdiri disamping sambil menonton pertarungan gadis kecil dengan murid sin-wan “berhenti…. maafkan keteledoran muridku cianpwe.” ujar sin- Wan-kauwsu sambil menjura dalam.

“hehehe..hehehe.. sudah kami pergi, aku hanya sekedar lewat.” sahut Lam-sin-pek dan berkelabat dari tempat itu, Wan-lin tanpa basa basi juga melompat mengejar suhunya.

“bodoh…untung saja Lam-sin-pek angin nya sedang baik, kalau tidak kita setidaknya akan terluka parah dihajarnya.”

„apakah orang tua lam-sin-pek suhu ?” tanya murid yang mendapat gamparan dari Wan-lin

“goblok kamu, tidak tengok orang,:” bentak gurunya.

“ayok kita lanjutkan pertarungan kita !” tantang lawannya, orang itu adalah si toya emas yang pernah mendatangi rumah Gao- tong untuk mencari patung naga, dia datang menantang sin- wan-bukoan yang dipimpin oleh Lo-si yang berjulukan “sin-wan”

“baik..terima seranganku !” sahut sin-wan menyerang dengan lompatan lutung yang gesit, “kim-pang” mengelak dan membalas, pertempuran kembali berlanjut, namun sampai siang hari keduanya seimbang dan akhirnya keduanya roboh dengan luka dalam yang cukup parah, Kim-pang dengan langkah tertatih-tatih meninggalkan bukoan, sementara sin-wan juga dipapah dua orang muridnya kedalam rumah. “Liong-tek” (puncak naga) sebelah selatan kota Yinchuan berdiri sebuah pondok yang besar, seorang remaja muda berumur lima belas tahun sedang berlatih dengan giat, gerakannya lincah dan sangat ganas, tubuhnya berotot penuh keringat berkilau di timpa cahaya matahari, seorang kakek bertubuh cebol sedang mengawasi remaja tersebut, senyumnya tersungging melihat hasil yang dicapai muridnya yang sejak umur tiga tahun bersamanya, anak remaja itu adalah Wan-beng, namun Pak-koai-lo memanggil dia dengan nama zhou-peng, she zhou diambil dari she Pak-koai-lo sendiri.

“suhu bagaimana gerakanku !” tanya Zhou-peng

“sudah bagus dan menggembirakan, dua tahun lagi ilmu yang kuwarsikan akan sempurna kamu kuasai.”

“terimakasih suhu…” sahut zhou-peng sambil menjura. “cepat kamu bersihkan dirimu dan siapkan bekal kita.” “kita mau kemana suhu ?” tanya zhou-peng

“kita akan turun gunung untuk mengurus sesuatu.” sahut Pak- koai-lo, Zhou-peng segera pergi ketempat pemandian, dia sangat gembira, karena akan turun gunung, selama ini ia hanya giat berlatih di puncak, dan kadang ditinggal oleh gurunya, namun kali ini gurunya mengajaknya.

Zhou-peng dengan cekatan mempersiapkan bekal perjalanan, dan sore itu juga mereka menuruni liong-tek, seminggu kemudian Pak-koai-lo dan muridnya sampai Cun-an, keduanya memasuki likoan dan memesan makanan, pengunjung likoan itu tidak seberapa, dari dua belas meja hanya diisi lima meja, kemudian seorang lelaki tua berbadan gemuk berpakaian lama warna hitam memasuki likoan bersama pemuda bermata sangat sipit. “ho..ho…hehehe…” ternyata Pak-koai-lo.” sapa lelaki tua itu sambil duduk dekat meja Pak-koai-lo

“kamu see-hui-kui, apa kabarmu ?” sahut Pak-koai-lo

“aku baik-baik saja pak-koai-lo, eh kamu sudah tahu tidak ?” “apa maksudmu see-hui-kui ?”

“bahwa kita diundang pada pertemuan liok-lim hari kelimabelas bulan ke lima.”

“belum, saya tidak mendapatkan undangan.”

“mungkin mereka tidak tahu tempatmu, tapi undangan ditujukan pada kita berenam.

“hmh….hal undangan apa ?” tanya Pak-koai-lo “kalangan liok-lim aliran kita hendak membicarakan

perkembangan aliran kita yang akan dilaksanak di “hwa-tek” (puncak kembang) di chang-an.

“apakah pemuda remaja itu muridmu Pak-koai-lo ?” “benar see-teng-kui, namanya zhou-peng.”

“zhou-peng beri hormat pada paman see-hui-kui !” perintah Pak-koai-lo pada muridnya, Zhuo-peng segera berdiri “salam pada paman see-hui-kui.” ujar Zhou-peng sambil menjura

“hehehe…hoho….. anak baik, ini murid paman, namanya cao- teng.”

“salam pada paman pakkoai-lo dan juga pada peng-te.” “hahaha..hahaha… sudahlah basa basinya sekarang kita makan dulu.” sela Pak-koai-lo, lalu mereka pun makan.

“kamu hendak kemana Pak-koai-lo ?”

“saya hendak ke Lanzhou, ada hal yang mau diurus disana.” “baiklah…kita berpisah disini dan jangan lupa hari lima belas bulan kelima di hwa—tek.”

“baik, setelah dari lanzhou saya akan ke Chang-an.” sahut Pak- koai-lo, kemudia kedua datuk itu pun berpisah, Pak-koai-lo dan muridnya melanjutkan perjalanan menuju Lanzhou.

Dua minggu kemudian, Pak-koai-lo memasuki kota Lanzhou, ia langsung mengajak muridnya kesebuah rumah besar di sebelah selatan kota, empat orang lelaki paruh baya menyambut mereka

“selamat datang cianpwe,” sapa mereka sambil menjura “selamat berjumpa, apa semuanya sudah hadir “si-heng” (empat elemen)?”

“sudah cianpwe, dan setelah makan siang kita sudah bisa memulai acaranya.”

“bagus kalau begitu, ini muridku Zhou-peng, antarkan dia kekamarnya untuk membersihkan diri, dan kalian sampaikan pada semua, bahwa setelah saya mandi, kita akan makan siang.”

“baik-cianpwe, Pak-koai-lo masuk kesebuah kamar yang indah dan mewah, empat wanita cantik melayani dan memandikan Pak-koai-lo, setelah itu memakaikan baju indah, layaknya Pak- koai-lo dirumah tersebut bagaikan raja.

Setelah rapi dan harum Pak-koai-lo keluar dan menuju ruang makan, diruangan itu Pak-koai-lo sudah ditunggu banyak orang yang dari perawakannya merupakan ahli silat kelas tinggi, mereka berdiri menyambut kedatangan Pak-koai-lo

“silahkan duduk semua !” ujar Pak-koai-lo, Zhou-peng merasa pangling dan heran melihat suhunya yang serba mentereng itu. acara makan siang pun berlangsung dengan suasana hening, kemudian setelah acara makan mereka menuju sebuah aula yang besar disebelah samping bangunan induk. “keadaan negara ini saat sangat kacau, dimana-mana terjadi banyak penentangan dari rakyat, rezim Dihuang yang sekarang ini tidak becus, maka ini adalah peluang kita untuk mendirikan kembali dinasti zhou, dua belas tahun sudah berjalan dinisti xin yang didirikan oleh Wang-mang, namun apa yang lihat sekarang ini, nyatalah bagi kita bahwa dinasti ini tidak memiliki dukungan rakyat, mereka tidak mampu memberikan apa-apa kepada rakyat kecuali hanya kekacauan dan penindasan.” ujar Pak-koai-lo

“lalu bagaimana rencana kita selanjutnya cianpwe ?” tanya seorang peserta pertemuan

“ini saat yang tepat bagi kita menyusun kekuatan untuk mengambil alih pemerintahan, rezim yang tidak becus ini akan kita gantikan, dinasti zhou akan kembali keistana.” Jawab pak- koai-lo dengan semangat berapi-api, ungkapan ini disambut meriah oleh semua peserta pertemuan

“bagaimana starategi kita dalam usaha menggulingkan rezim dihuang ini cianpwe?”

“ada tiga hal yang akan kita lakukan, yang pertama membentuk kantong-kantong kekuatan kita, dan untuk hal ini saya perintahkan kepada zhou-san untuk menggalang kekuatan di bagian selatan, zhou-yan diwilayah utara, zhou-jin diwilayah barat dan zhou-ceng diwilayah timur, kalian berempat bertanggung jawab untuk membentuk kekuatan disetiap wilayah yang saya sebutkan.”

“lalu yang kedua cianpwe ?” tanya zhou-san

“yang kedua adalah menyusupkan tilik sandi untuk membaca peta kekuatan rezim dihuang, pusat kendali gerakan rahasia ini saya tempatkan di lokyang, dan gerakan ini akan dipimpin oleh Liang-zheng, kemudian yang ketiga adalah penggalangan dana, kita tahu bahwa dana yang kita kumpulkan selama lima tahun ini masih jauh dari cukup, hal itu karena kita hanya memiliki dua piuwkiok yang hanya beropersi di wikayah utara, jadi saya perintahkan kepada Ma-hua-meng dan Coa-shuang selaku pimpinan piauwkiok menambah cabang usaha.” “usaha apa lagi yang akan jalankan menurut cianpwe ?” tanya Coa-shuang

“maksud saya disamping kita menempuh jalan lintas kita juga akan melakukan jalan pintas, adapun jalan pintasnya adalah membentuk gerombolan gunung untuk merampok harta yang dibawa ekpedisi lain, bagimana teknis kerjanya saya serahkan kepada coa-shuang dan Ma-hua-meng.” Kalian mengerti !?” “mengerti cianpwe..” sahut mereka serempak

“bagus kalau begitu. disamping itu juga perihal dana ini saya perintahkan kepada cu-li-bin membentuk piuawkiok diselatan, gan-kui di barat dan Gui-bun di timur, dengan tambahan tiga piauwkiok ini dan jalan pintas yang kita tempuh akan dapat memenuhi target dana yang kita butuhkan.” ujar pak-koai-lo, semua peserta pertemuan mengangguk

“apa ada lagi yang hendak ditanyakan ?” tanya Pak-koai-lo, semuanya diam karena sudah merasa jelas akan seluruh penyampaian dari Pak-koai-lo yang simple dan tegas.

“baik kalau begiti, kita tidak akan menunda waktu, jadi saya minta kepada semua yang telah saya tunjuk, untuk bertindak mulai besok.”

“baik cianpwe, kami akan laksanakan.” sahut mereka serempak, lalu merekapun bubar.

Keesokan harinya hampir sebagian besar dari peserta pertemuan meninggalkan tempat pertemuan itu, yang tinggal hanya beberapa orang yang merupakan aktivis yang tinggal dikota lanzhou, untuk mengisi kegiatan hari itu zhou-peng berlatih, dia ditemani lima orang petarung berkepandaian tingi, bergiliran lima orang itu menyerang zhou-peng, namun mereka tetap tidak bisa menyentuh zhou-peng, dan saat dikeroyok lima, barulah keadaan sedikit berimbang, dan beberapa benturan dahsyat terjadi, dan akhirnya kelima lawan zhou-peng takluk dan kalah.

“luar biasa peng-te, semuda ini kamu telah hampir menyamai cianpwe.” ujar seorang dari mereka

“aku masih jauh dari menyamai kehebatan suhu.” sahut zhou- peng

“hehehe…hehe..apakah “eng-kiam” (pedang bayangan) “pak- hong-kwi” (iblis angin untara), “coa-teng” (ular terbang) dan “pek-hek-wan-siang” (sepasang lutung hitam dan putih) sudah kenalan dengan murid saya ?”

“sudah cianpwe, dan sungguh peng-te tidak mengecewakan.” sahut eng-kiam

“hehehe..hehehe… baguslah kalau demikian eng-kiam, karena saya memiliki harapan, dalam jangka dekat ini peng-ji dan kalian berlima dapat membentuk pasukan bawah tanah yang saya istilahkan pasukan elit yang berannggotakan para

petarung kelas kakap.”

“ide yang bagus itu cianpwe, saya akan siap membantu peng- ji.” sahut pek-hek-wan-siang, lalu yang lain juga mengangguk setuju

“dan sepulang dari pertemuan datuk di chang-an kalian bicarakanlah teknis kerjanya peng-ji dengan lima twako mu ini.” ujar Pak-koai-lo.”

“baik suhu, dan saya sangat mengharapakan buah piker dan saran dari ngo-wi-twako.” sahut zhou-peng. Tiga hari kemudian Pak-koai-lo dan muridnya meninggalkan lanzhou menuju chang-an, keduanya melakukan perjalanan cepat, memasuki wilayah barat, dan tiga bulan kemudian mereka sudah sampai dikota Taiyuan, kota itu sudah dibanjiri kalangan lioklim dari berbagai wilyah khusunya dari utara dan timur, dari perwakan dan tingkah mereka, kalangan liok-lim itu dari aliran hek-to, dan kenyataannya memang demikian karena pertemuan yang akan berlangsung di hwa-tek memang pertemuan pentolan aliran hek-to.

Pak-koai-lo dan muridnya memasuki sebuah likoan yang cukup padat, dan beberapa orang tamu langsung menyambut kemunculan pak-koai-lo, terlebih dilikoan itu juga sudah hadir “pek-mou-hek-kwi” dengan seorang pemuda tampan berumur dua puluh dua tahun dan gadis cantik berumur delapan belas tahun

“hehehe..hehehe… selamat bertemu pak-koai-lo.” sapa pek- mou-hek-kwi

“hahaha..hahaha… selamat bertemu pek-mou-hek-kwi, sudah lama sampai dikota taiyuan ?”

“baru tadi pagi pak-koai-lo” sahut pek-mou-hek-kwi

“siapa yang menjadi sponsor pertemuan ini pek-mou-hek-kwi ?” “eh..apa kamu tidak dapat undangan ?”

“tidak, aku tahu dari see-teng-kui yang kebetulan bertemu, katanya yang diundang kita berenam.”

“itulah kamu, kamu sembunyi dimana sehingga tidak di ketahui oleh pentolan aliran kita, apa kamu sibuk membesarkan muridmu itu ? siapa namanya ?”

“hehehe..kamu tahu saja pek-mou-hek-kwi, oh ya nama muridku ini zhou-peng, kedua muridmu siapa pula namanya ?” “ini yang laki-laki namanya tan-hang muridku yang sulung dan muridku yang cantik ini namanya Yan-hui.” sahut Pek-mou-hek- kwi

“oh-ya sponsor pertemuan kita di hwa-teng kali ini adalah anak buah coa-tung-mo-kai dari kalangan pengemis, dan sepertinya pertemuan ini akan ramai sekali dibandingkan pertemuan sepuluh tahun yang lalu.”

“kapan kamu akan meninggalkan tai-yuan menuju Chang-an ?” “besok saya sudah berangkat.”

“kalau begitu sebaiknya kita melakukan perjalanan bersama, sambil menguji kematangan muridku yang muda ini.” “hehehe…hehe.. apa kamu mau mengadu muridmu dengan muridku ?”

“sudah pasti hek-kwi, siapa lagi yang bisa disamakan dengan muridku ini kecuali murid-murid kalian berlima.”

“hehehe..hehehe kamu benar juga koai-lo.” sahut pek-mou-hek- kwi.

Keesokan harinya dua datuk itu meninggalkan kota taiyuan, dan hampir semua pendatang kalangan liok-lim yang masuk kota taiyuan semalam meninggalkan kota taiyuana kembali untuk menuju kota chang-an, tiga hari kemudian sampailah kedua datuk disebuah hutan

“peng-ji kamu bersiap untuk menghadapi salah satu murid si pek-mou !” ujar pak-koai-lo

“baik suhu, silahkan hang-twako atau hui-cici memberi petunjuk pada saya.” sahut zhou-peng dan menghadap pada kedua murid pek-mou-hek-kwi

“biarlah aku yang menjajal kepandaian peng-te.” ujar yan-hui sambil melangkah mendekat. Setelah keduanya memasang kuda-kuda, lalu dengan gerakan gesit mereka saling serang, pukulan dan tendangan berkesiuran karena mengandung sin-kang yang luar biasa, pertarungan antar kedua murid dua datuk sangat seru dan menegangkan, kedua datuk menonton dengan serius dan antusias, kecepatan keduanya membuat hatai takjub, dan setelah berjalan dua ratus jurus, zhou-peng mulai terdesak, gerak pancingan dari Yan-hui membuat zhou-peng kelabakan, sehingga sebuah tamparan yan-hui menepuk pundaknya “hahaha..hahaha cukuplah peng-ji, ucapkan terimakasih pada hui-ji !” ujar Pak-koai-lo

“terimakasih hui-cici atas petunjuknya.”

“hi..hi… peng-te hanya kurang pengalaman, sehingga tertipu trik pancingan.” sahut Yan-hui.

“hahaha..hahaha… tapi saya bangga dengan kamu peng-ji, semuda ini sudah menguasai hampir seluruh milik suhumu.” “terimakasih paman pek-mou.” sahut Zhou-peng.

“pek-mou..apa kamu tidak pernah mendengar lagi tentang bun- liong-sian-kiam ?”

“tidak pernah terdengar lagi tentang pedang itu.” “aneh…hanya beberapa bulan saja muncul kabarnya, dan kemudian hilang lagi.”

“benar, walhal orang pertama yang mengetahui keberadaan patung naga itu adalah empat pencuri yang saya pergoki, lalu si mo-kai dan kamu sendiri”

“sepertinya patung itu sudah tidak ada lagi sejak penangkapan pemilik piauwkiok itu.”

“benar saya kira juga demikian, sehingga kita hanya buntu sampai di kediaman piauwkiok.”

“baiklah..cukup istirahatnya, mari kita lanjutkan perjalanan kita.” ujar pak-koai-lo, lalu kedua datuk itu berkelabat dengan cepat, sementara ketiga muda menyusul dibelakang.

“peng-te..! sejak kapan kamu berguru dengan paman pak-koai- lo ?” tanya Tan-hang

“sejak kecil hang-twako.”

“artinya kamu tidak mengenal keluargamu ?” sela Yan-hui “benar, aku tidak mengenal orang tuaku, karena kata suhu orang tuaku sudah tewas saat terjadinya kudeta Wang-mang terhadap keluarga kerajaan.”

“kalau kalaian hang-twako, bagaimana ? sejak kapan berguru pada paman pek-mou ?”

“saya juga sejak kecil ikut dengan suhu, dan keluarga saya habis dibantai oleh gerombolan perampok, sama hal dengan keluarga sumoi, karena saya sudah ingat saat saya dan suhu menemukan sumoi didalam kereta kuda.”

“sudah maari kita cepat menyusul suhu, kita sepertinya sudah jauh tertinggal.” sela Yan-hui, lalu ketiganya tancap gas, ketiganya berlari dengan sangat cepat, ketiganya berlomba- lomba disepanjang hutan dan lembah yang dilewati, lereng bukit dan bibir jurang tidak menjadi halangan bagi ketiga muda yang kosen itu, sebagai pewaris dari dua datuk ternama ketiganya memang sangat membanggakan.

Hwa-teng sebelah barat kota chang-an atau kota raja sudah dipadati oleh para kalangan liok-lim empat kaipang sudah hadir dua hari yang, karena mereka adalah sponsor dari pertemuan itu, selaku bawahan dari coa-tung-mo-kai, kita tahu bahwa partai pengemis ini beraliran hek-to, partai pengemin ini terdiri dari empat partai dengan jaringan terbesar diantara banyak partai pengemis, yang pertama adalah “Hek-I-kaipang” (pengemis baju hitam) yang memiliki jaringan luas di wilayah barat mereka dipimpin oleh “lo-kui” (siluman tua), yang kedua “Hek-kin-kaipang” (pengemis sabuk hitam) menguasai wilayah selatan dan pimpinannya adalah “Tok-gan-kai” (pengemis mata satu), kemudian yang menguasai wilayah utara adalah “Hek- tung-kaipang” (pengemis tongkat hitam) dibawah pimpinan “ang-bin-pak-kai” (pengemis utara muka merah) dan yang menguasai wilayah timur adalah “lo-I-kaipang” (pengemis baju butut) yang dipimpin oleh “mo-sha-tung-kai” (pengemis timur jubah setan).

Empat tetua partai pengemis ini tunduk dibawah datuk coa- tung-mo-kai, Coa-tung-mo-kai sendiri sudah hadir bersama dua muridnya Kam-peng yang sudah berumur dua puluh dua tahun, perawakannya tinggi dan wajahnya lumayan tampan, kemudian murid keduanya Gan-kui yang berumur dua puluh satu tahun, tubuhnya kekar berotot dengan wajah tampan dengan seulas senyum sinis.

Disebuah tenda lain yang cukup mewah dihuni oleh See-hui-kui dengan muridnya Cao-teng yang berumur dua puluh dua tahun, keduanya baru datang semalam dan disambut meriah oleh coa- tung-mo-kai dan empat tetua pengemis, dan juga disamping empat partai pengemis sudah hadir para perampok dan bajak, dari partai ini ada dua partai rampok yang terbesar dan dua bajak yang terkenal, yang pertama “pak-tai-hong” (rampok badai utara) dipimpin oleh “saicu-bin-kui” (siluman muka singa), yang kedua “kui-houw” (rampok harimau siluman) diketuai oleh “kui-san-ok” (sijahat dari hutan siluman),

Kemudian dua bajak yang terkenal yakni, bajak “ui-hai-kui” (siluman laut kuning) yang dipimpin “hai-ma-kui” (siluman kuda laut), bajak laut “hek-liang-kiam” (pedang sukma hitam) yang diketuai “hai-kwi-kiam” (si pedang iblis laut), empat tetua ini tunduk dibawah Liang-lo-mo, disamping delapan tetua ini dengan anak buahnya masing-masing, ada juga empat orang dari kalangan perorangan yang levelnya dibawah jajaran enam datuk, namun sedikit diatas jajaran tetua, dua diantaranya sudah kita kenal yaitu “kiu-bwee-kui-bo” dan “tee-tok-siang”, kemudian “ang-bin-kui” (siluman muka merah) dan “jai-hwa- hengcia” (paderi jahat pemetik bunga).

“yang mulia Liang-lo-mo cianpwe sudah hadir…” teriak penyambut tamu, lalu empat tetua kaipang datang menyambut dan membawa Liang-lo-mo bersama muridnya Yang-lian, tidak lama kemudian

“yang mulia pek-mou-hek-kwi dan Pak-koai-lo cianpwe sudah hadir…” dua tetua kaipang menyambut pek-mou-hek-kwi dan kedua muridnya Tan-hang dan Yan-hui, sementara dua tetua lain menyambut Pak-koai-lo dengan muridnya zhou-peng, dan saat senja temaram muncul Lam-sin-pek pun hadir

“yang mulia Lam-sin-pek cianpwe sudah hadir..” teriak penyambut tamu, empat tetua segera menyambut dan membawanya ketenda yang sudah disediakan, Lam-sin-pek dan muridnya Wan-lin yang sudah berumur delapan belas tahun memasuki tenda.

Besok saat matahari terbit pertemuan akan dibuka, malam ini para tamu dijamu dengan makanan-makanan lezat dan istimewa, hwa-tek yang awalnya sepi dan gelap, tapi sejak tiga malam yang lalu ramai dan terang, terlebih malam hari ini, api unggun menyala diberbagai sudut dan tempat kumpulan tenda, enam tenda besar dan mewah yang dihuni enam datuk dan murid-muridnya, berada di atas panggung bagian sisi belakang, ampat tenda disisi samping kanan dihuni oleh empat pesilat tangguh, dan disisi kiri atas panggung, tiga tenda diisi oleh empat tetua kaipang, dua tetua rampok dan dua tetua bajak.

Kemudian agak jauh dari panggung, puluhan tenda dibuat, yang dihuni sebagaian kecil peserta pertemuan baik para kaipang, rampok, bajak dan para pesilat perorangan lainnya, jumlah mereka semua mencampai dua ratus orang lebih, semuanya merasa malam itu adalah malam istimewa, kenapa tidak aliran mereka saat ini memiliki pamor yang lebih kuat dan tinggi dari aliran yang berseberangan dengan mereka, sebagian kecil dari mereka begadang sampai jauh larut malam.

Keesokan harinya saat matahari terbit acara pun dimulai, Tok- gan-kai melangkah ketengah panggung dan disambut tepuk tangan yang riuh rendah dari ratusan peserta pertemuan, lelaki paruh baya bermata satu itu menjura dalam sampai membungkuk pada enam datuk yang duduk dikursi tinggi dan mewah, sementara delapan orang murid-murid mereka duduk dikursi belakang suhu masing-masing, kemudian tok-gan-kui menjura pada lima orang dibarisan samping kanan, dan tujuh orang disamping kiri, lalu ia membalik badan menghadap semua peserta yang hadir yang duduk dibawah panggung.

“selamat datang kami ucapkan kepada seluruh rekan-rekan sealiran dalam pertemuan kita ini, adapun maksud dan tujuan pertemuan ini adalah untuk membina kesatuan diantara kita yang sealiran dan juga akan membicarakan hal-hal yang kita anggap penting demi kemajuan aliran kita, baiklah saya akan sampaikan rentetan acara kita hari ini, yang pertama acara sambutan dari “liok-cianpwe” (enam orang tua gagah) yang akan di wakili yang mulia cianpwe coa-tung-mo-kai, kemudian yang kedua acara tawar wawasan, dimana kita akan menonton penampilan silat dari empat jajaran kiri dan kemudian tampilan silat dari empat jajaran kanan” ujar tok-gan-kai sambil menunjuk barisan kiri dan kanannya.

“kemudian acara yang ketiga tawaran pibu, pada tahapan ini delapan orang dari pewaris liok-cianpwe akan mengadakan pibu didepan kita semua, ini juga amanat pertemuan kita sepuluh tahun yang silam, dan hal ini akan menentukan panggilan kita kepada mereka dalam kesatuan aliran yang telah kita bina selama ini, dengan istilah “Lao” (yang-ke atau kakak), setelah itu acara anjangsana untuk membicarakan hal-hal yang perlu kita bahas demi kemajuan aliran kita. Hidup hek-to….” ujar tok-gan-kai

“hidup hek-to…hidup hek-to…” sambut suara peserta dengan bergemuruh

“baik…sekarang mari kita sambut coa-tung-mo-kai…“ seru Tok- gan-kai, suara tepuk tangan pun berderai menyambut Coa- tung-mo-kai yang melangkah ketengah panggung.

“terimakasih pada hadirin semua, rekan sejawat dan sealiran, hari ini kami liok-cianpwe merasa gembira dan bangga dengan rasa semangat kesatuan yang telah hadirin tunjukkan, rasa kesatuan ini perlu kita jalin erat, karena aliran kita penuh dengan dilema, dan dilema kita yang paling ekstrim adalah yang datang dari dalam aliran kita, kita sering menemukan konflik diantara sesama kita, itu semua karena wujud dari kepentingan kita yang ingin senang, menang dan kenyang, hal ini memang akan menjadi bumerang bagi kalangan kita, namun walaupun demikian, kita berusaha untuk memperluas makna dari ego kita yang merdeka, dengan jalinan ini kita berusaha menukar ego diri menjadi ego aliran, sehingga sesama kita dapat saling menjaga dan menghormati, bahkan bisa jadi akan sama-sama mendukung, karena kesamaan kepentingan dan prinsip.”

“betul….setuju….hidup hek-to..” sahut para peserta dengan riuh rendah

“baik itu saja yang ingin saya tekankan dan sampaikan pada pertemuan kita kali ini.” ujar Coa-tung-mo-kai, lalu kembali duduk dikursinya.

“baik selanjutnya kita masuki tawar wawasan, dan kami persilahkan kepada delapan orang pentolan aliran kita memperlihatkan kemampuannya dan untuk menambah wawasan kita.” ujar Tok-gan-kai, tidak lama setelah tok-gan-kai duduk, kui-san-ok bersalto ketengah panggung dan mempertontonkan kemampuannya yang hebat, tepuk riuh rendah menyambut penampilannya, para peserta dengan takjub menikmati kegesiran dan kehebatan kui-san-ok, setelah itu disusul saicu-bin-kui, hai-ma-kui dan hai-kwi-kiam, semua peserta merasa puas dan takjub dari penampilan barisan kiri ini, kemudian tampilan selanjutnya dari barisan kanan di mulai ole hang-bin-kui, lalu kemudian kwee-bwee-kui-bo, lalu jai-hwa- hengcia, dan yang terakhir zhang-hai yang tertua dari tee-tok- siang, sementara sutenya pang-heng hanya sebagai penonton, empat barisan kanan ini membuat para penonton berdecak kagum melihat kehebatan dan kedahsyatan para jawara ini.

Tidak terasa hari sudah siang, lalu suguhan konsumsi pun dibagikan, makanan dan minuman lezat dihidangkan, tok-gan- kai kembali maju ketengah panggung.

“sambil makan dan minum acara kita lanjutkan dengan acara tawar pibu, kepada delapan murid liok-cianpwe kami persilahkan.” ujar tok-gan-kai, tepuk dan sorak sorai penonton pun bergema, ketika delapan murid berdiri dan berbaris di samping kanan barisan liok-cianpwe.

Kam-peng maju melangkah dengan gagah dan tersenyum kearah penonton

“saya Kam-peng murid suhu coa-tung-mo-kai membuka acara

tawar pibu ini.” ujar Kam-peng dengan suara keren dan lantang, sebuah bayangan gesit tampil dihadapan Gan-kui

“saya zhou-peng murid dari suhu Pak-koai-lo menyambut tawaran pibu.” ujar zhou-peng, lalu keduanya membuka

gerakan dengan kuda-kuda, kembang juruspun di tampilkan, dan lalu keduanya saling terjang dengan ilmu-ilmu yang mereka warisi dari suhu mereka.

Kam-peng dan Gan-kui mewarisi coa-tung-mo-kai jurus “kut- loh-swat-ciang” (telapak salju merontokkan tulang dan ilmu

tongkat yang bernama jurus “goat-hun-mo-tung” (tongkat setan menyibak rembulan) disamping ilmu sin-kang dan gin-kang yang luar biasa, sementara zhou-peng mewarisi pak-koai-lo jurus “im-kan-sin-ciang” (telapak sakti ahirat) dan jurus “im-kan- giam-siauw” suling maut dari ahirat), saat Kam-peng dan zhou- peng bertanding tangan kosong, pada jurus keseratus empat puluh mulai zhou-peng terdesak, lalu dengan ilmu suling mautnya ia dapat melepaskan diri, lalu pertarungan dilanjutkan dengan senjata, tongkat Kam-peng menderu laksana topan melanda, tapi dengan suling yang mengandung suara magis membuat desakan Kam-peng sesaat mengendur, namun setelah ia menguasai diri dari pengaruh suara yang ditimbulkan suling kembali ia mendesak Zhou-peng, akhirnya pada jurus kedelapan puluh pertarungan senjata ini, sebuah sodokan tongkat menghantam paha zhou-peng, zhou-peng terjatuh, dan pertandingan pun dinyatakan dimenangkan Kam-peng. Kemudian pibu selanjutnya antara cao-teng berhadapan dengan Gan-kui, pertarungan menegangkanpun berlangsung seru, dua petarung mengerahkan seluruh kemampuan yang sudah dimilki, cao-teng mewaris see-hui-kui jurus “in-jip-hui-kui” (siluman terbang menyerbu awan) dan jurus “beng-toat-hui- kiam” (pedang terbang mencabut nyawa) pertarungan ini berlansung hingga dua ratus jurus dan akhirnya dimenangkan oleh Cao-teng

Selanjutnya pibu antara Yan-hui dengan Wan-lin, Tan-hang dan Yan-hui mewarisi pek-mou-hek-kwi jurus “tee-tong-kwi-kun” (kepalan iblis menggetar bumi) dan jurus “liong-san-kwi-kiam” (pedang iblis penakluk naga) sementara Wan-lin mewarisi lam- sin-pek jurus “san-swee-pek-ciang” (telapak petir menghancurkan gunung) dan jurus “beng-toat-pek-lek-kiam” (pedang halilintar mencabut nyawa), pibu yang seru dan menegangkan ini berlangsung hingga dua ratus jurus dan akhirnya dimenangkan oleh Wan-lin.

Selanjutnya pibu antara yang-lian dengan Tan-hang, Yang-lian mewarisi liang-lo-mo jurus “beng-to-liang-kun” (pukulan sukma mencuri nyawa) dan jurus “beng-tan-liang-kin” selendang sukma menjerat nyawa) pertarungan dahsyat dan seru ini berjalan seratus delapan puluh jurus dan dimenangkan Tan- hang.

Kemudian pibu terus berlanjut hingga malam tiba, dari kedelapan murid enam datuk maka Cao-teng disebut lao-it, Tan-hang lao-ji, Kam-peng- lao-sam, Wan-lin lao-si, Yang-lian lao-ngo, Yan-hui lao-liok, Gan-kui lao-chit, zhou-peng lao-pat, para penonton demikian puas disuguhkan pibu-pibu luar biasa, kedelapan lao membuat mereka terkagum-kagum, demikian juga barisan kanan dan barisan kiri.

Setelah selesai pibu dan penentuan lao, maka acara terakhir pun di laksanakan sambil makan dan minum

“liok cianpwe bukankah sebaiknya kita lebih menunjukkan diri lebih dari sekarang ?”

“maksudnya bagaimana tok-gan-kai ?” tanya see-hui-kui “maksud saya cianpwe, di dunia kangowu ada kita kenal dua datuk disamping ciangbujin empat perguruan besar, jadi menurut saya menaklukkan mereka akan membuat aliran kita akan semakin cemerlang.”

“hmh…kalau mereka tidak usil, sebaiknya kita biarkan saja.” sela Lam-sin-pek

“menurut saya tidak demikian lam-sin-pek, saya sangat setuju pendapat to-gan-kai.” sela Coa-tung-mo-kai

“benar saya setuju jika kita menaklukkan mereka.” sela See- hui-kui, akhirnya diantara enam datuk lima setuju.

“baiklah ide dari tok-gan-kai akan kita laksanakan, untuk menemui “pak-sian” (dewa utara) akan dilakukan oleh Pak-koai- lo sementara untuk menemui “lam-sian” (dewa selatan) kita serahkan pada Lam-sin-pek. Bagaimana apakah kalian setuju

?” ujar Coa-tung-mo-kai, datuk yang lain mengangguk menyetujui.

“lalu untuk menemui empat ciangbujin kita akan serahkan pada murid-murid kita, untuk menantang siauwlim-pai saya serahkan kepada cao-teng sebagai lao-it bersama jai-hwa-hengcia, kemudian bu-tong-pai diserahkan pada tan-hang sebagai lao-ji bersama tee-tok-siang, hoasanpai diserahkan kepada kam- peng sebagai lao-sam bersama kiu-bwee-kui-bo dan terakhir kunlun-pai diserahkan kepada Wan-lin sebagai lao-si bersama ang-bin-kui.” ujar see-hui-kui.

Semua peserta menyetujui, setelah hal-hal yang lain diperbincangkan, pertemuan itu diakhir dengan pesta sampai menjelang pagi, delapan lao saling bercengkrama di sebuah tenda, enam datuk ditenda lain, delapan tetua bergabung dengan lima senior dan ratusan yang lain diluar, dari hirarki aliran itu dunia persilatan memang dilanda kekelaman, disamping pemerintahan yang tidak stabil.

Larik cahaya mentari pagi menembus rerimbunan hutan, monyet-monyet berlarian dan melompat dari dahan kedahan lain, sura mereka riuh rendah memenuhi hutan lebat itu, dari sebuah bukit seorang pemuda tampan dengan gesit menuruni lereng, dia adalah Han-hung-fei, Han-hung-fei sudah selama sepuluh tahun berada di ruang bawah tanah, selama sepuluh tahun ia mempelajari dua buah kitab yang didapatinya, dengan kegigihan yang membaja ia tekuni kedua kitab tersebut, dari kitab “Tee-tong-thian-hui”, Han-hung-fei memperoleh sin-kang yang kuat dan dahsyat, dan juga memperoleh gin-kang yang amat menakjubkan, disamping dua ilmu itu Han-hung-fei juga mendawamkan ilmu bun-sian-pat-hoat yang terdiri dari delapan jurus dan ilmu “bun-liong-sian-kiam” yang luar biasa dahsyat.

Sambil menikmati rerimbunan hutan Han-hung-fei melintasi semak belukar. Dipunggungnya tersampir pedang, gagangnya yang berbentuk naga dari emas murni berkilau ditimpa cahaya pagi, menjelang siang Han-hung-fei sudah keluar dari huran dan menelusuri jalan besar, nunjauh didepan terlihat kepulan debu dengan deru lari puluhan ekor kuda yang sedang berlari kencang, menjelang gerombolan itu mendekatinya, Han-hung- fei menyingkir kepinggir masuk kebibir hutan. “heyah…heyah….heyahhh..” teriak suara susul menyusul berpadu dengan gemuruh hentakan kaki kuda, namun tiba-tiba gerobolan itu mendadak berhenti, gerombolan itu ternyata bajak laut “hek-liang-kiam” yang baru pulang dari pertemuan dikota chang-an, hal yang menyebabkan mereka baru sampai dilembah huai, karena setelah pertemuan mereka selama dua bulan berkunjung ketempat rekaan-rekan sealiran yang ada diwilayah barat, dan setelah itu mereka kembali, dan tiga bulan perjalanan mereka baru sampai dilembah Huai dan berpapasan dengan Han-hung-fei.

“hai-kwi-kiam” membalik kudanya mendekati Han-hung-fei, matanya sekilas melihat kilauan gagang pedang yang terbuat dari emas, sehingga ia tertarik untuk mengambilnya dari pemuda polos dan lusuh yang menyandangnya

“ada apa paman ?” tanya Hung-fei ramah “lepaskan pedangmu anak muda !”

“eh….kenapa ? apa paman mau mengambilnya ?”

“lepaskan kataku sebelum engkau saya hajar !” bentak hai-kwi- kiam, tiga puluh anak buahnya sudah berbaris dibelakangnya

“paman ini adalah pedang milikku, jangan paman memaksakan kehendak pada apa yang bukan milik paman.”

“sialan, anak gunung coba bicara hak didepan saya, eh…bocah gunung apa yang saya kehendaki adalah milik saya , tahu !?” “artinya paman ini perampok, kalau begitu .”

“memang kami ini adalah perampok ! apa kamu tidak takut !?” “hahaha..hahaha… aku tidak takut pada kalian !” sahut Han- hung-fei

“badebah….ringkus bocah gunung ini dan ambil pedangnya !” teriak hai-kwi-kiam, dua anak buahnya segera turun dari kuda dan melangkah mendekati Han-hung-fei.

Dengan gerakan cepat mereka menerjang Han-hung-fei, Han- hung-fei mengelak, dua bajak laut itu menerkam, lagi-lagi Han- hung-fei berkelit

“sialan…” gerutu dua bajak laut menyerang untuk ketiga kalinya “duk..duk…auh…auhhhhgg” ” han-hung-fei menangkis lengan kedua bajak itu ditangkis, dan kedua bajak itu meraung kesakitan. karena lengan mereka rasanya dihantam baja kuat sehingga tulang mereka terasa nyeri, melihat kenyataan itu Hung-fei merasa gembira, lalu ia mencoba jurus ketujuh dari bun-sian-pat hoat yang bernama “paid-hud-bun-sian” (dewa sastra menyembah budha) kedua telapak tangannya disatukun, dengan ditopang kuda-kuda yang kokoh, Hung-fei bergerak menyerang kedua bajak‟

“tangannnya meluncur kedepan, kedua bajak mengelak kesamping,

“duk..duk….” tanpa diduga kedua siku hung-fei menjotos muka keduanya hingga hidung seorang bajak berdarah dan yang satunya mulutnya berdarah, hai-kwi-kiam terkejut dan marah “kalian kerubuti dia, cepaat…” teriak hai-kwi-kiam, sepuluh bajak segera turun dan menyerang hung-fei, Hung-fei yang dengan posisi lengan tidak berubah sementara letak kuda- kudanya dimana kaki kanan menjadi tumpuan berat badan sementara kaki kiri terangkat sehingga pahanya sejajar dengan pinggangnya, saat sepuluh orang itu menyerbu, kaki kiri menjejak tanah dua sikunya yang membentuk segi tiga didepan dadanya diputar dan kemudian melincur kedepan laksana anak panah menyambut serbuan, dan tiba dikerumunan bajak tubuhnya berputar laksana gasing, menghantam barisan bajak yang mengeroyok.

“duk…duk…duk…buk..buk..buk….” semuanya terpental dan terjungkal karena semua hantaman itu mengandung sin-kang yang luar biasa, sepuluh bajak itu merasakan sakit yang luar biasa, gasing tubuh hung-fei melayang dan menyerang hai-kwi- kiam, hwi-kiam tidak menduga dua belas anak buahnya hanya dalam satu gebrakan menggeloso tidak berdaya, dan tiba-tiba putaran tubuh hung-fei melayang menyerangnya, dengan kelabakan ia coba memukul

“dhuar…agh…hoak….” dua sin-kang beradu, hai-kwi-kiam terlempar tiga tombak. Dia menjerit kesakitan sambil memuntahkan darah segar, hung-fei melanjutkan serangan dengan mengarah pada puluhan gerombolan yang berada diatas kuda, kuda-kuda itu meringkik ketakutan, dan mengankat kaki-tinggi-tinggi, tapi luar biasanya kuda-kuda itu juga terjungkal dan terjerembab dihantam kisuran tubuh hung-fei yang mengandung sin-kang luar biasa, delapan kuda terjungkal dan melemparkan penunggangnya, yang lain menghindar menjauh dan segera turun dari kuda, dengan senyum hung-fei melayang dengan ringan menyerang gerombolan itu, dan tak pelak semuanya lari ketakutan, namun gerakan mereka kalah cepat, sehingga baik jotosan kedua ujung telapak tangan hung- fei yang menyatu, dua siku yang membentuk segi tiga, jegalan dan tendangan kaki dari setiap gerakan kuda-kuda, membuat bajak itu terjungkal, terpental dan terjerembab ketanah.

Dalam hitungan menit tiga puluh bajak beserta pimpinannya terkapar, hung-fei begerak dengan indah menutup jurus pertamanya yang luar biasa, hai-kwi-kiam terperangah, dia tidak mengira akan menemukan pemuda sehebat ini, nyalinya bergetar, wajahnya pucat, hung-fei melangkah mendekatinya, luka yang dialami hai-kwi-kiam sangat parah, karena sin- kangnya yang beradu dengan putaran tubuh hung-fei yang mengandung sin-kang jauh diatasnya, membuat sin-kangnya berbalik ditambah lagi terpaaan sin-kang yang dikeluarkan hung-fei.

Dengan nafas terengah-engah dan wajah pucat ketakutan dia memandang hung-fei.

“apa kamu masih menginginkan pedangku ?” tanya Hung-fei, hai-kwi-kiam tidak mampu menjawab, karena sakit dirongga dadanya amat luar biasa, hanya matanya yang mengisyaratkan rasa jerih dan takut dan cemas luar biasa, karena disamping takut dia juga cemas bahwa luka yang ia derita akan membawa kematiannya, karena tidak ada jawaban Han-hung-fei meninggalkan gerombolan bajak itu.

Para bajak laut yang masih sanggup bergerak, mereka dengan wajah meringis mendekati pimpinan mereka yang nampaknya sekarat, karena lagi-lagi hai-kwi-kiam memuntahkan darah yang banyak disamping nafasnya yang sesak, sehingga muncratan darah itu membasahi hidung dan pipinya

“pangcu…bagaimana keadaanmu ?” tanya seorang anak buahnya yang sudah berada disisinya, namun jawabanya hanya tubuh hai-kwi-kiam yang menggelepar dan muntah lagi, sesaat tubuh itu menggelepar lalu dian tidak bergerak, dengan mata melotot hai-kwi-kiam tewas akibat lukanya..

Suatu hak yang tidak terduga, pimpinan mereka yang kosen itu merenggang nyawa hanya dengan sekali pertemuan sin-kang dengan pemuda gunung yang tidak mereka kenal, rasa ketertarikan hai-kwi-kiam pada pedang telah memicu kebonasaan pada dirinya, dan ironisnya dari tiga puluh bajak yang dihatam kisuran jurus pai-hud-bun-sian yang dikeluarkan Han-hung-fei bukan hanya menewaskan sang pimpinan bahkan ada dua orang lagi yang menyertai kematian hai-kwi-kiam, dan sepuluh orang luka cukup parah, dan sisanya luka ringan, dengan memaksakan diri delapan belas orang itu menggali lobang untuk memnguburkan hai-kwi-kiam dan dua orang rekan mereka, setelah lewat siang baru mereka penguburan itu selesai

“twako…apa yang harus kita perbuat ? tanya sebagian mereka pada seorang bajak yang paling tertua.

“saya tidak tahu, dan saya juga bingung dengan apa yang barusan menimpa kita ini.” jawabnya

“twako..sepuluh rekan kita terluka parah, secepatnya harus diobati.” Sela yang lain, lalu mereka mendekaati sepuluh rekan mereka yang berserakan dan menanyakan keadaan mereka, dan ternyata empat orang tidak bisa bangkit, dan yang enam masih bisa setidaknya merangkak.

“kita sudah dua hari meninggalkan kota shaoyang dan kota qiangdongnan masih jauh, empat hari perjalanan kuda.” ujar bajak yang tertua.”

“daripada tinggal disini tanpa usaha, sebaiknya kita kembali ke shaoyang.” Sela yang lain

“baik..demikianlah yang tepat, mari kita angkat rekan-rekan kita kekuda masing-masing.” sahut yang lain, lalu dengan susah payah mereka menaiki kuda dan berpatah balik kekota shaoyang, kuda terpaksa tidak dipacu, karena takut berbahay bagi rekan mereka yang terluka parah.

Han-hung-fei sampai kekota shaoyang, perutnya lapar namun ia tidak memiliki uang, karena itu segera ia meninggalkan kota shaoyang dan menuju hutan, dihutan dia dapat makanan dengan berburu binatang, disebuah lembah ia dapat mengisi perutnya yang lapar dengan daging ular yang dipanggangnya, setelah merasa kenyang Hung-fei melanjutkan perjalanan, dia dengan santai menelusuri hutan, saat malam tiba ia tidur di atas dahan kayu, dua malam tiga malam masih terasa nyaman, tapi pada malam keempat ia terbayang hangatnya tidur diatas ranjang berselimut yang tebal.

“aku harus ada uang, untuk mendapatkan semua itu, lagian aku juga harus punya beberapa stel baju yang bagus, tidak enak rasanya hidup bagaikan orang hutan.” pikirnya, dan keesakan harinya hung-fei memasuki kota loudi, ditengah jalan raya ada arak-arakan diiringi musik yang ramai

“ada apa lopek ? kenapa ada arak-arakan ?” tanya Hung-fei pada seorang lelaki tua yang sedang menonton arak-arakan tersebut

“song-kongcu menikah, dan pengantinnya sudah datang dari kota khangshi.”

“pengantinnya yang mana ?”

“itu tuh yang didalam joli, katanya calon istri song-kongcu putri pejabat tihu di kota khangshi.”

“apa kita dapat ikut menghadiri pernikahan song-kongcu ?” “eh…kamu tidak tahu diri apa ? kamu itu gembel, jadi mana mungkin kamu diperbolehkan kesana.”

“kalau lopek apakah boleh ?”

“tentu juga tidak boleh, karena saya tidak dikenal oleh kongcu maupun keluarganya.”

“oo, begitu..” sahut Hung-fei sambil melangkah meninggalkan lelaki tua tersebut dan mengikuti iring-iringan pengantin song- kongcu. Setelah sampai didepan rumah megah milik keluarga song, iring-iringan pengantin disambut dan dibawa masuk kedalam, lalu acara resepsi pernikahan pun dilangsungkan, para undangan dengan gembira memberi selamat pada kedua pengantin, Han-hung-fei yang berada diluar pagar mengintai keramaian di didalam rumah, perutnya yang lapar membuat ia nekat, dengan kesaktiannya ia melompat pagar dan masuk keruang dapur, persedian makanan yang aneka rasa di siapkan dua orang juru masak, saat mereka sibuk, han-hung-fei mencomot daging panggang bebek dan makan dibawah meja, gerakannya yang ringan laksana seekor kucing melahap makanan dengan nikmatnya.

Tidak seorangpun yang menyadari keberadaannya di dapur yang serba sibuk itu, namun keributan terjadi setelah keduanya menyadari dua ekor panggang bebek hilang, namun hanya antara juru masak saja

“tadi jelas aku letakkan dipiring ini.” gerutunya

‟tidak ada orang kecuali kamu saja yang disitu.” sahut rekannya “aneh..apa rumah ini ada hantunya yah.” ujarnya merinding, saat keduanya sibuk mengangkat piring, Han-hung-fei minggalkan ruang dapur dan pergi keruangan lain dengan mengendap-endap, dari taman belakang, ia masuk sebuah kamar yang ternyata kamar song-loya yang sedang sibuk menyambut dan menerima ucapan selamat dari para tamu dan undangan diruang tengah.

Han-hung-fei membuka lemari dan tumpukan pakaian-pakaian bagus terlipat rapi

“keluarga song ini sangat kaya, dengan mengambil sedikit uang untuk beli baju dan makanan mungkin tidak terasa bagi mereka.” Piker Hung-fei, lalu hung-fei membuka laci lemari, hung-fei melihat tumpukan duit dan perhiasan, dan dua buah kantong yang isinya masing-masing seratus tail emas, Hung-fei mengambil satu kantong uang emas tersebut

“ini sudah lebih dari cukup, terimakasih song-kongcu uangnya saya bawa.” bisik han-hung-fei sendirian, lalu meninggalkan kamar dan keluar dari kediaman keluarga Song.

“beri hormat pada dewa-dewa…” teriak pendeta, kedua pengantin pun berlutut dan bersujud

“beri hormat pada ayah dan ibu…” teriak pendeta, kedua pengantin menghadap ayah dan ibu lalu berlutut, setelah acara demi acara pun di jalani sehingga selesai, saat pengantin sudah masuk kama, song-loya dan istrinya dengan senyam- senyum masuk kamar

“hehehe…kita sangat beruntung istriku…”

“benar suamiku, Cu-tihu dapat kita kuras untuk biaya pesta, seratus tail emas untung yang kita dapatkan, hi..hi…” sahut song-hujin, song-loya membuka lemarinya dan menarik laci “hayaaa…” teriaknya terkejut

“eh ada apa suamiku…!?” tanya song-hujin

“satu kantong hilang istriku, aduh kok bisa hilang yah ?” “ah..kamu salah letak mungkin.”

“tidak..aku meletakkan dua kantong itu disini,” keluhnya lemas

Han-hung-fei segera menuju pasar, membeli beberapa setel pakaian bagus, dengan pakaian itu han-hung-fei bergaya, wajahnya yang amat tampan kian nyata, dan makin nampak gagah saat ia menyandang pedangnya yang gagangnya berkilau emas, dengan langkah lebar hung-fei memasuki likoan “mau makan kongcu ?” tanya pelayan

“belum, saya mau menyewa kamar untuk dua hari.”

“baik kongcu, mari saya antar !” sahut pelayan, Han-hung-fei disediakan kamar yang lumayan bagus, karena pakaian hung- fei yang baru dan bahan mahal, terlebih kilauan gagang pedang yang selalu jadi perhatian, membuat pelayan merasa bahwa han-hung-fei adalah kongcu kaya raya daru luar kota, han- hung-fei menikmati dua harinya dikota loudi.

Han-hung-fei dengan santai keluar dari kota loudi, perasaannya tenang, perjalanannya sudah didukung oleh bekal uang yang banyak, dengan penampilannya yang sudah normal dunia yang luas ini akan diharunginya dengan semangat mudanya dan kesaktiannya yang akan menggemparkan dunia persilatan, sesekali ia istirahat untuk menikmatti pemandangan yang indah, sambil mengenang perjalanan hidupnya selama dua puluh satu tahun ini, teringat ayah ibunya di desa gui, teringat pamannya wan-keng dikota chongqing, teringat adik-adik angkatnya wan-lin dan wan-beng, teringat coa-tung-mo-kai, kam-peng dan Gan-kui, dan akhirnya ruang bawah tanah tempat ia menempa diri dengan ilmu-ilmu yang luar biasa dahsyat.

Kota Khangsi siang itu terik sekali, seorang lelaki tua perpakaian tosu memasuki kota, wajah tosu itu merah karena rasa gerah

“hahaha…ternyata kamu disini pak tua.!” tegur lelaki tua yang tiba-tiba muncul didepannya.

“hehehe….lam-sin-pek, apakah kamu sedang mencariku ?” “benar sekali lam-sian.” jawab lam-sin-pek, lelaki tua itu ternyata lam-sian, salah seorang datuk rimba persilatan aliran pek-to

“ada apa sehingga kamu mencari saya lam-sin-pek ?” “hehehe..hehehe…kamu tahu kan bahwa kita ini berseberangan jalan.” “dari dulu memang demikian, lalu apa maksudmu menyinggung perbedaan jalan tersebut ?”

“hari ini lam-sian harus mati, dengan demikian aliran saya akan semakin nyata dimata dunia persilatan.”

“urusan mati tidak ada ditanganmu lam-sin-pek, jangan sesumbar mengobral omongan tiada guna didepanku.” “hehehe..hehehe…. apa kamu sudah siap lam-sian ?”

“kapan dan dimanapun aku siap menghadapimu lam-sin-pek.” “bagus kalau begitu, marilah kita lekuar gerbang barat.” ujar lam-sin-pek, dan tubuhnya berkelabat dengan cepat dari tempat itu, lam-sian bergerak menyusul lam-sin-pek

Disebuah hutan dipinggir kota khangshi dua datuk beda aliran itu saling sorot dengan kuda-kuda siaga, keduanya saling mengukur kekuatan lawan, kemudian Lam-sin-pek maju dan menyerang, serangkum sambaran cahaya kilat meluncur ke arah lam-sian, Lam-sian dengan menyambut cahaya kilat itu dengan sinar ungu.

“blar…..bum….” dua kali suara menggelegar terdengar, dua kekuatan dahsyat bertemu diudara, keduanya saling menekan, adu sin-kang itu berlangsung lama, keduanya sudah mengeluarkan keringat yang membanjir, tiba-tiba keduanya saling lompat dan berjumpalitan kebelakang, dan dengan kekuatan penuh kedua datuk itu membalik meluncur kedepan “plak….dhuar…..” kembali kedua datuk mengadu sin-kang, kali ini kedua telapak mereka bersentuhan, masing-masing mengerahkan seluruh sin-kang untuk menekan lawan, namun nampaknya keduanya seimbang, kedua kaki kedua datuk itu sudah amblas kedalam tanah sebatas betis kaki.

Kemudian keduanya kembali berjumpalitan dan mendarat dengan sempoyongan ditanah, lalu keduanya kembali menyerang dan kali ini gerakan gin-kang di adu, kedua tubuh datuk menjaadi bayangan samar yang sulit dipandang mata saking cepat dan gesitnya pertarungan yang mereka lakukan “plak..plak…dug..dug….” suara lengan dan kaki yang beradu menghiasi pertempuran tingkat tinggi itu, trik-trik pancingan dikerahkan untuk memecah perhatian lawan, suara gaung hawa sakti yang demikian dahsyat membuat tempat itu bergegar, beberapat pohon besar telah tumbang, tempat itu porak poranda seperti habis dilanda angin topan.

Tiga ratus jurus sudah berlalu akhirnya keduanya berhenti untuk mengatur nafas

“luar biasa lam-sian, namamu memang bukan nama kosong.” ujar

Lam-sin-pek

“kamu juga lam-sin-pek,pantas kamu memang menyandang seorang datuk persilatan

“hehehe..hehehe…sekarang pedangku yang akan bicara lam- sian.” ujar Lam-sin-pek sambil mencabut pedangnya, Lam-sian mencabut kipas bututnya, lalu keduanya memainkan senjata dengan jurus-jurus tingkat tinggi, kilauan pedang lam-sin-pek demikian menggiriskan, namun kipas lam-sian juga tidak kalah luar biasanya, sambaran sekaligus totokan saling menyusul mengejar nyawa lam-sin-pek, kegesitan dan kekuatan gerakan membuat pertempuran itu sangat seru dan menegangkan “brettt…” kipas lam-sian robek disambar ujung pedang yang sudah berkali-kali, namun pada jurus keseratus lima puluh ini menandakan sin-kang kakek tua itu sudah sanagat lemah karena lelah, lam-sian hanya beda tujuh tahun dengan lam-

sian, lam-sian berumur enam puluh dua, sementara lam-sin-pek lima puluh lima.

Suara robekan kipas membuat lam-sin-pek memburu kesempatan akan keterkejutan lam-sian, serangan yang laksana sambaran petir yang sambung menyambung mendesak lam-sian, memang kedudukan lam-sian mulai lemah dan terdesak hebat,

“srart…” satu sabetan pedang menyambar bahu Lam-sian, lam- sian melompat kebelakang untuk menghindari tusukan susulan yang mengarah, namu daya luncur serangan Lam-sin-pek lebih gesit mengejar perut Lam-sian

“trang..:.” pedang lam-sin-pek bergeratar, lam-sian melihat kesempatan dengan jumpalitan membaling dia lari kesamping, dan ia pun selamat, sementara pedang yang bergetar itu menusuk tempat kosong.

“sialan …! siapa kau yang berani ikut campur !?” bentak lam- sin-pek pada seorang pemuda yang muncul di hadapan mereka “aku Han-hung-fei, kalian yang sudah tua begini kenapa berkelahi ?”

“bangsat…kamu bocah, kamu mau mampus ?” bentak lam-sin- pek jengkel dan menyerang dengan sambaran pedangnya “sing…wut…sing….sing….” pedang itu meliuk terus menyerang han-hung-fei yang bergerak dengan cepat, tiga gebrakan pedangnya tidak menemui sasaran membuat lam-sin-pek makin marah

“ternyata kamu ada isi juga.” ujar Lam-sin-pek kembali menyerang, serangannya yang luar biasa terus mengancam han-hung-fei yang bergerak gesit mencoba mengimbangi serangan dahsyat lam-sin-pek, dalam dua puluh jurus serangan lam-sin-pek masih luput dan pada genrakan selanjutnya, han- hung-fei laksana dikurung mata pedang

“trang…trang,,,singgg…sing….wut..trang…..srat…” tiba-tiba han-hung-fei mencabut pedangnya dan mengeluarkan ilmu pedangnya yang langka, dua kali pedang beradu, disusul sabetan lam-sin-pek yang luput dan kemudian pedang beradu lagi dan sebuah sambaran pedang mengenai lengan lam-sin- pek, lam-sin-pek terpana melihat luka dilengannya dan menatap heran dengan kuda-kuda jurus pedang han-hung-fei.

Kuda-kuda Han-hung-fei setelah melukai lam-sin-pek dimana kaki kanannya manjadi tumpuan badannya yang condong kedepan sehingga punggungnya lurus sejajar dengan kaki kirinya yang naik, sementara pedang tegak dengan kemiringin tujuh puluh lima derajat kebawah didepan mukanya, dan kedua tangan memegang gagang pedang, sinar pedang yang berwarna hijau muda berpendar menyinari wajah han-hung-fei, bukan hanya lam-sin-pek yang terpesona bahkan lam-sian juga terpana.

Lam-sin-pek makin penasaran dan melompat dengan tusukan kuat

“tring..” ujung pedang bertemu, han-hung-fei bersalto lebih tinggi hanya dengan memamfaatkan benturan ujung pedang, lalu dari atas laksana naga menukik, pedangnya yang disebelah bawah bergerak cepat sedemikian rupa, serangan menakjubkan itu tidak terduga, membuat lam-sin-pek kewalahan dan bergerak mundur dengan menggelinding, namun ujung pedang laksana naga terbang mengejar tubuh lam-sin-pek yang menggelinding

“cep…agh….” Lam-sin-pek menjerit saat tusukan pedang han- hung-fei menembus pahanya, dan luar biasanya pedang itu ditarik sambil bersalto kebelakang dan mendarat dengan posisi semula, dimana kaki kanan menjadi tumpuan badan sementara kakai naik lurus sejajar dengan punggung. Lam-sin-pek terheyak melihat kekalahannya didepan pemuda tidak terkenal itu, sambil berdiri dia menatap tajam pada lawan mudanya

“bagaimana cianpwe ?”

“hmh…ilmu pedangmu sangat asing dan pedangmu juga sangat bagus, katakana padaku anak muda jurus apakah yang kau gunakan ?”

“cianpwe.., ilmu pedangku ini adalah ilmu “bun-liong-sian-kiam” jawab Han-hung-fei, mendengar jawaban itu lan-sin-pek dan lam-sian terkejut

“apakah itu pedang bun-liong-sian-kiam ?” tanya lam-sin-pek dengan mata melotot

“benar cianpwe…” jawab han-hung-fei

“baik anak muda, hari ini saya kalah, namun urusan kita tidak selesai sampai disini, dan kamu orang tua saat ini nyawamu

tertolong, lain kali aku akan menagihnya lagi.” ujar Lam-sin-pek “hahaha..hahaha…lam-sin-pek hari ini kena batunya, hadirnya bun-liong-sian-kiam-taihap akan membuat aliranmu kebakaran jenggot, soal nyawaku ? hahaha..hahaha hari ini aku puas, setelah melihat bun-liong-sian-kiam ditangan orang muda berbakat matipun hari ini tidak apa.”

“sialan kamu lam-sian…!” bentak lam-sin-pek jengkel mendengar tawa lam-sian, dengan muka merah karena marah dan malau lam-sin-pek meninggalkan hutan itu.

“hahaha..hahaha….terimakasih han-taihap, benarlah kata pepatah diatas langit ada langit.”

“ah..cianpwe jangan terlalu memuji, siapakah kalian sebenarnya ?”

“han-taihap, saya song-lun dan orang memberikan julukan yang membuat saya malau terlebih hari ini, orang-orang itu menjuluki sana dengan lam-sian, sementara lawan saya tadi adalah lam- sin-pek salah satu dari enam datuk dunia persilatan aliran hek- to.”

“lalu kenapa kalian dua cianpwe berkelahi ?”

“lam-sin-pek sepertinya berniat membunuh saya hanya untuk menyatakan kebesaran aliran mereka.” Jawab lam-sian

“Han-taihap beban dan tugasmu sangat berat, semoga saja kamu dapat menjalaninya sebaik mungkin, karena kamu baru turun gunung, maka apa yang kamu miliki sekarang akan membuat gempar dunia persilatan, terlebih kamu masih muda akan banyak tantangan dalam hidupmu, orang yang iri akan mengincarmu, aku harap kamu tetap dalam keteguhanmu, tetap berjalan pada rel yang lurus, tidak tergoda dengan ilah zaman, sebab jika kamu tergoda, maka kamu tidak akan bermamfaat bagi alam melainkan akan menjadi perusak yang luar biasa dari yang selama ini ada.”

“apakah godaan terbesar dalam hidup ini cianpwe ? tanya han- hung-fei

“godaan hidup manusia hanya ada tiga.” “manakah yang tiga itu cianpwe

“harta, kuasa dan wanita.”

“berikan aku petuah cianpwe, bagaimana aku bersikap ketika menghadapi tiga godaan ini.”

“han-taihap hanya satu pesanku padamu, jangan lupa diri !” “cianpwe bagimanakah ciri orang yang lupa diri ?”

“ciri orang yang lupa diri adalah orang yang menurutkan nafsunya melebihi takaran, orang yang menurutkan perasaan tanpa pertimbangan, orang yang menurutkan akal tanpa pemahaman.”

“cianpwe, apa maksudnya nafsu melebihi takaran ?” “nafsu manusia terdiri dari tiga kelakuan, yang pertama perilaku bebas tanpa aturan, serakah tanpa halangan, sombong tanpa saingan, jika ketiga kelakuan ini berjalan, itu maknanya manusia itu menuruti nafsu melebihi takaran.”

“lalu bagimana maksud menurutkan perasaan tanpa pertimbangan ?”

“perasaan juga memiliki tiga keadaan, yakni susah sehingga berkeluh kesah, senang sehingga lupa kenyataan, sedih sehingga berkelarutan, jika tiga keadaan ini berlaku maknanya manusia itu menurutkan rasa tanpa pertimbangan ”

“terus menurutkan akal tanpa pemahaman ?”

“akal juga punya tiga kondisi yaitu, hanya melihat yang tersurat melupakan yang tersirat, hanya tahu akibat tapi melupakan sebab, hanya tahu yang nyata melupakan yang gaib, jika tiga kondisi ini terjadi maka maknanya manusia itu menurutkan akal tanpa pemahaman” ujar Lam-sian menguraikan

„cianpwe baru-bari ini saya tergoda oleh harta, sehingga aku mengambil yang bukan hak-ku, dan aku melakukannya karena keadaanku yang sangat lapar dan tidak ada sandang, bagaimanakah itu cianpwe ?”

“Han-taihap dalam keadaan apapun sepatutnya anda tidak mengambil hak orang lain, dalam kasus ini anda telah menurutkan nafsu melewati takaran, karena keinginan kenyang anda menghalalkan segala cara, karena ingin memiliki sandang anda mengambil jalan pintas, jika anda menyadari kesalahan itu dan tidak mengulanginya lagi, itulah sebaik-baik manusia, menyadari kesalahan dan langsung bertaubat.”

“cianpwe pertemuan kita hari ini sungguh luar biasa, banyak hikmah hidup yang saya dapatkan.”

“benar han-taihap, sekali lagi janganlah lupa diri ! hanya itu pesan saya dan semoga aku hanya mendengar tentang kebaikan-kebaikanmu, selamat tinggal Han-taihap.” sahut Lam- sian, lalu ia pun meninggalkan Han-hung-fei yang demikian antusias mencerna hikmah hidup yang disampaikannya.

Han-hung-fei meninggalkan hutan dan memasuki kota khangshi, ditengah pasar orang-orang mulai menutup dagangannya, karena hari mulai sore, seorang pedagang beras Yo-cun namanya bersama istrinya yang cantik bersama seorang wanita yang menjadi pembantuk mereka mengemasi dagangan

“ping-moi kalian duluanlah kerumah “ ujar Yo-cun

“baik cun-ko, mari bao-bo kita pulang.” sahut Yo-hujin, lalu keduanya meninggalkan pasar menuju rumah.