-->

Pedang Dewa Naga Sastra Jilid 2

Jilid 2

Hang-hung-fei menangis dibalik semak menyaksikan rumah mereka yang terbakar

“ayah…ibu…ayah….ibu…….” panggilnya lirih pada ayah ibunya yang tidak akan pernah muncul dari kobaran api, setelah banyak mendapatkan harta jarahan, Jiang-bouw dan anak buahnya meninggalkan kota Gui-meng, bau daging terbakar merebak didalam kampung, mayat-mayat juga banyak yang bergelimpangan dijalanan.

Keesokan harinya kampung Guimeng hanya tinggal tumpukan bekas kebakaran, Han-hung-fei keluar dari semak, perutnya terasa lapar, lalu ia berlari dan mengitari kampung untuk mencari sesuatu yang dapat dimakan, namun sampai sejauh itu tidak ada pun sesuatu yang dapat dimakannya, kemudian dengan langkah lunglai ia keluar desa, dan ketika hari hampir siang, Hung-fei tidak kuasa lagi sehingga dia pun terguling saking lemasnya, matanya nanar menatap langit yang tiba-tiba gelap, ternyata langit mendung.

Tidak lama kemudian hujan lebat pun turun, Hung-fei membuka mulutnya dan merasakan sejuknya air hujan membasahi rongga mulutnya, tenggerokannyapun basah, setelah menelan air hujan, setelah tiga kali teguk tenaganya pun mulai bangkit, namun Hung-fei tetap dengan posisinya, dan saat ia mulai kedinginan, barulah I bangkit dan merangkak ke bawah sebuah pohon, dia bersandar sambil memeluk lututnya, rasa laparnya kian membuat perutnya perih, lalu dengan segenap kekuatan yang ada Han-hung-fei merangkak masuk kedalam hutan, sehingga ia sampai di diperkebunan warga, dan kebun mereka juga berada ditempat itu.

Han-hung-fei mencoba berdiri dan membawa langkahnya kekebun ayah ibunya, barisan tanaman jagung berjejer, namun belum mempunyai tongkol jagung, dan dibagian samping tanaman jagung, ayahnya juga menanam kacang tanah, Han- hung-fei melihat barisan tanaman kacang segera mencabut dan kacang tanah dan dengan lahap Han-hung-fei memakan kacang tanah mentah, nikmat dan manis rasanya, akhirnya Hung-fei merasa kenyang dan puas setelah meminum air yang ada di sekitar kebun itu.

Han-hung-fei kembali ke jalan besar dengan berbuka baju, karena bajunya dibuat untuk membungkus kacang tanah, sesampai dijalan besar, Hung-fei berlari menyusuri jalan yang becek dan berlumpur karena guyuran hujan, Hung-feng menuju kota chongqing, kadang kalau ia kecapean ia istirahat dan makan kacang tanah yang dipersiapkannya, akhirnya hung-fei sampai digerbang kota chongqing saat fajar keesokan harinya.

Ketika gerbang kota dibuka hung-fei langsung memasuki kota dengan langkah kecilnya, kota masih dalam keadaan sepi, namun disekitar taman kota para tentara banyak yang sedang mengadakan patroli, dibeberapa bagian kota banyak bangunan-bangunan yang runtuh, setelah agak siang aktivitas kotapun mulai terasa, para pedagang jalanan membuka dagangannya, toko dan likoan pun sudah banyak yang buka.

Han-hung-fei dengan menelan liur melihat seorang pedagang gorengan sedang menggoreng tahu, beberapa ibu-ibu sedang berdiri menunggu pesanan gorengan, setelah ibu-ibu itu pergi pedagang itu memperhatikan anak kecil yang duduk disamping gerobakknya

“eh… kamu kenapa disini ? ibu mu mana ?” tanya si pedagang sambil mencari-cari mana tahu ada ibu yang panic kehilangan anak

“saya tidak bersama ibu saya paman.”

“lalu kamu disini dengan siapa ? dimana rumahmu ?” “aku sendirian, dan aku dari luar kota.”

“eh….kamu lari dari rumah ya !?”

“bukan paman…ayah ibuku sudah meninggal karena rumah kami terbakar, dan rumah kami juga ludes terbakar.”

“kasihan kamu nak, siapa namammu ?”

“namaku Han-hung-fei, dan aku sangat lapar paman, bolehkan aku minta gorengan ?”

“baik nah….makanlah dua goring tahu ini.”

“terimakasih paman..” sahut Han-hung-fei sambil memakan tahu goring.

“sudah berapa lama kamu di kota ini ?” “saya baru datang pagi tadi.”

“oh…lalu kenapa kamu datang kesini, bukankah lebih baik kamu tinggal didesa, dan para tetangga kamu dapat membantu dan mengurusmu.”

“desa kamu juga terbakar paman, dan banyak orang yang meninggal.”

“hah…apakah desa kamu diserang penjahat !?”

“ia paman…aku dan ibu sembunyi dikamar saat orang-orang itu datang, lalu api membakar rumah kami.”

“wah…sengsara betul nasibmu fei-ji, sebaiknya kamu ikut paman, mengupas pisang kamu bisa kan ?”

“bisa paman, terimakasih paman.”

“ya..sekarang kupaslah pisang itu dan letakkan di nampan ini.” ujar sipedagang, sipedagang itu bernama Wan-keng, dia tinggal di belakang pasar sayur bersama istri dan dua orang anaknya.

Wan-keng dan Han-hung-fei berjualan sampai sore hari, setelah hari sore, merekapun berkemas untuk menutup jualan, sete semua peralatan dimasukkan kedalam gerobak, gerobak itupun dodorong dari tempat itu dan kembali kerumah, sesampai dirumah wan-keng, gerobak di sorong kesamping rumah, dan merekapun masuk kedalam rumah yang tergolong kecil, istri wan-keng menyambut suaminya sambil menggendong anaknya yang masih berumur tiga bulan.

“siapa anak ini keng-ko ?” tanya Wan-hujin heran

“anak ini dari luar kota, malang nasibnya desanya dibumi hanguskan penjahat.” “lalu kenapa kamu bawa kesini ?” tanya istrinya dengan nada suara sedikit dipelankan

“fei-ji..kamu pergilah mandi dulu, dibelakang ada sumur.” ujar Wan-keng, Hung-fei segera pergi kesumur dibelakang rumah, setelah hung-fei pergi, Wan-keng menatap istrinya

“aku merasa kasihan padanya, sekecil itu akan menghadapi kerasnya kehidupan kota, aku takut dia akan terlunta-lunta di kota ini.”

“koko ini bagaimana ? untuk empat mulut saja kita sudah kalang kabut, kini ditambah satu mulut lagi.” Sahut istrinya tidak senang

“sui-moi…berperasaanlah sedikit, bayangkan jika kita yang ditimpa kemalangan seperti orang tua anak itu, dan anak kita yang umur empat tahun lari tunggang langgang menyelamatkan diri dari ancaman penjahat, dan kemudian

terdampar seorang diri ditempat yang tidak ia kenal.”

“ah..kamu ini tidak punya perhitungan, dan hanya mendahulukan perasaan.” sahut istrinya sambil pergi kekamar untuk menyusukan anaknya, sementara anak sulungnya bangun dan mendapatkan ayahnya

“ayah pulang…” serunya sambil melangkah mendekati ayahnya “benar Lin-ji, ayah sudah pulang, kamu sudah mandi ?”

“aku demam ayah sehingga ibu hanya melap badanku.”

“oh..kamu sakit nak, sini ayah rasa dulu bagaimana sekarang.” ujar Wan-keng sambil berdiri dan meraba kening anaknya “sudah minum obat Lin-ji ?” tanya Wan-keng,

“sudah ayah.” jawab Wan-lin, saat itu Han-hung-fei muncul

“Lin-ji….ini adalah hang-hung-fei.” Ujar Wan-keng pada putrinya yang berumur tiga tahun. “Fei-ji ini putri paman namanya Wan-lin, nah sekarang lin-ji ajak fei-ko untuk duduk disini, ayah mau mandi dulu.”

“baik ayah…fei-ko sinilah duduk, aku ada mainan baru dibelikan ayah kemarin.” ujar Wan-lin sambil mengambil mainannya dibawah meja, hung-fei duduk disamping Wan-lin, keduanyapun bermain bunga terbang yang, dimana sebuah lidi diujungnya ada bunga kertas, dan jika tali ditarik lidi berkepala bunga itu terbang dan berputar

“lin-lin..! jangan terlalu rebut, adikmu tidak bisa tidur…” seru ibunya dari dalam kamar

“sebaiknya kita mainnya diluar lin-moi, supaya tidak mengganggu adikmu yang sedang tidur.” ujar Hung-fei, wan-lin mengangguk, lalu keduanya keluar dan bermain dihalaman.

Tapi baru dua kali mereka bergantian merotar lidi

“lin..lin…kamu itu sakit…kenapa keluar !?” bentak ibunya “ada apa ini ?” tanya Wan-keng yang tiba-tiba muncul “lin-lin sedang sakit, malah diajak main keluar rumah.” “sudah, Lin-ji mainnya dilanjut besok yah, mari masuk..!” “maaf paman…aku tidak tahu kalau Lin-moi sakit.”

“ah..tidak apa-apa, tadi paman lupa mengasih tahu bahwa lin- lin demam.” sahut Wan-keng bijak, lalu merekapun makan malam, setelah selesai makan malam

“sui-moi ! aku kerumah pek-gui dulu untuk mengambil pisang.” “ya…jangan lama-lama koko…!”

“ya..aku hanya sebentar saja.” sahut Wan-keng, kemudian Wan-keng keluar dari rumahnya, yang-sui istri Wan-keng yang tidak begitu senang melihat kehadiran Han-hung-fei tidak mengacuhkannya, Wan-lin disuruhnya cepat tidur, dan dia pun mengunci diri dikamar bersama putranya, tinggallah Han-hung- fei diruang tengah sendirian, Han-hung-fei memaklumi Wan-lin cepat tidur karena demam, bosan didalam rumah hang-hung-fei keluar dan duduk diatas batu sambil merenungi nasibnya.

Fei-ji… kenapa diluar ?” tanya Wan-keng yang muncul dengan memikul dua tandan pisang

“aku hanya cari angin, dan disini sejuk paman…..”

“baik kalau begitu sini Bantu paman, malam kita cuci peralatan untuk besok, sehingga pagi-pagi sekali kita sudah siap berangkat.”

“baik paman…” sahut Hung-fei dengan penuh semangat, lalu keduanya mengeluarkan peralantan dari gerobak, dan membawa ke belakang untuk dicuci.

Setelah selesai lalu Wang-fei mengajak Hung-fei untuk mencacah kol, sementara dia membuat adonan untuk pastel goreng, disetiap cetakan pastel dimasukkan mie putih yang sudah dimasak istrinya tadi sore, setelah itu keduanya istirahat sebentar diteras rumah 

“bagaimana Fei-ji, apa kamu merasa baik-baik disini ?” tanya Wan-keng

“aku senang berada disini paman, dan senang dapat membantu paman”

“baguslah kalau begitu, dan sekarang kita haraus tidur.” sahut Wan-keng, lalu keduanya masuk kedalam

“kamu tidurlah disini, sebentar paman akan ambil kain selimut.” ujar Wan-keng sambil menggeser kursi, kemudian ia masuk kedalam kamar untuk mengambilkan kain untuk selimut Hung- fei, tidak lama keluatga itu pun tidur.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Hung-fei sudah bangun, kenyataan pahit yang ia alami cepat membentu watak anak ini, ia tahu diri bahwa ia harus membantu paman yang baik dan rela menampungnya.

“kamu sudah bangun Fei-ji ?”

“sudah paman, apakah kita akan berangkat kepasar ?” “benar, kita sarapannya dipasar saja, mari..!” ujar Wan-keng, lalu keduanya keluar dan mendorong gerobak.

Sesampai ditempat dimana Wan-keng berjualan, keduanya membuka gerobak.

“Fei-ji, kamu kupas pisang dulu, sementara paman mau keseberang jalan untuk mengambil tahu.”

“baiklah paman…” sahut Hung-fei dan kemudian dengan cekatan ia pun mengupas pisang, tidak lama kemudian Wan- keng datang dengan membawa nampan berisi tahu, lalu Wan- keng mulai menggoreng pastel, selesai goreng pastel lalu menggoreng pisang, sambil menggoreng Wan-keng memotong- motong tahu, setelah goring pisang masak, baru Wan-keng menggoreng tahu, dan tidak lama kemudian pelanggannya sudah banyak yang datang.

Han-hung-fei membantu membungkusi gorengan yang dipilih pelanggan, hari itu pelanggan cukup cepat dilayani, karena Wan-keng hanya tinggal menggoreng, sementara hung-fei sambil mengkupas pisang dapat membantu membungkuskan pesanan pelanggan, sore hari kembali dagangan ditutup dan keduanya pulang kerumah dengan untung yang lumayan pada hari itu, ketika melewati toko beras yang belum tutup Wan-keng membeli sekarung beras dan tepung.

Hari-hari demi hari dijalani, bulan berganti bulan, dan waktu pun berjalan sudah dua tahun, dagangan Wan-keng semakin maju, dia sudah dapat menyewa satu kios kecil sehingga ia dengan hung-fei tidak perlu lagi mendorong gerobak dan membawa pulang pergi peralatan, peralatan sudah bisa disimpan didalam kios, bahkan tungku besar dan wajan besar sudah dimilki oleh Wan-keng, sehingga dengan wajan yang besar Wan-keng dapat menggoreng banyak dan juga cepat karena apinya besar dengan bahan bakar kayu api, pelanggannya bertambah banyak dan dapat dilayani dengan baik.

Han-hung-fei yang sudah tujuh tahun makin cekatan dan mahir melayani para pelanggan, dan juga keduanya tidak perlu pulang waktu sore, karena disamping rumahnya juga dekat dengan pasar, mereka sudah biasa mengerjakan segala sesuatunya didalam kios, baik membuat adonan pastel, memasak mie-putih, mencacah kol dan bumbu lainnya, setelah semua selesai, kios ditutup dan merekapun kembali kerumah, dirumah keadaan mereka juga sedikit mapan, karena dalam jangka dua tahun itu rumah kecil Wan-keng sudah ditambah sebuah kamar dan dapurnya juga diperbesar.

Yang-sui sudah dapat menerima kehadiran Han-hung-fei setelah setahun kemudian, karena apa yang ditakutkannya ternyata tidak pernah terjadi, bukan kekurangan yang mereka hadapi dengan kehadiran Hung-fei, tapi malahan usaha suaminya sukses dan makin maju, sehingga dapat membeli kios dipasar yang berdekatan dengan rumah mereka, dan juga dapat memperbaiki keadaan rumah, Wan-lin semakin akrab dengan Han-hung-fei yang merupakan kakak angkat baginya dan adiknya Wan-beng, keduanya sama belajar membaca dan menulis dibawah pengawasan Wan-hujin, Hung-fei cepat mahir menulis dan membaca, karena selama setahun ia diajari baik oleh ibunya yang memang berasal dari keluarga terpandang. Dan Tidak terasa setahun lagi sudah berlalu, pagi itu Wan-keng dan Han-hung-fei berangkat kepasar dan membuka usaha sebagaimana biasa, namun saat kesibukan pasar berlangsung, pasukan tentara mengobrak abrik pasar, semua laki-laki dewasa ditangkapi karena katanya dicurigai sebagai pemberontak, Wan-keng diciduk dan pedagang-pedagang lainnya, terjadi kakacauan besar, bahkan para tentara sengaja membakar pasar, ditengah kekacauan itu Han-hung-fei dapat menyingkir dan menyelamatkan diri.

Api besar berkobar melalap kios-kios dalam pasar, bahkan rumah-rumah yang berdekatan pasar tersebut terancam akan dilalap sijago merah, Hung-fei berlari ke rumah, sesampai dirumah keluarga-keluarga yang berada dekat pasar panic dan sibuk mengeluarkan barang-barang untuk diselamatkan, Wan- hujin sibuk membungkusi pakaian-pakaian bagus untuk diselamatkan

“mana pamanmu fei-ji !?” tanya Wan-hujin cemas karena suaminya tidak pulang.

“paman dan para pedagang lain ditangkapi tentara dan membakar pasar.”

“aduh..jadi bagaimana ini !?” keluh Wan-hujin panik dan ketakutan.

“cepat bawa adikmu lin-lin keluar, dan jaga mereka, bibi akan segera keluar setelah membungkus pakaian-pakaian ini.” “baik… “ sahut Hung-fei, lalu menggendong Wan-beng dan memegang tangan Wan-lin, ketiganya keluar rumah, dijalaanan orang berteriak-teriak karena api sudah melalap rumah paling ujung, bahkan panasnya sudah tidak tertahankan. Han-hung-fei membawa lari kedua adiknya menjauh dari sengatan api yang panas, ditengah kekacauan itu orang berserabutan menyelamatkan diri, Wan-hujin segera keluar dari dalam rumah dengan menggendong buntalan pakaian, tiga orang sudah terbakar karena tidak sempat keluar dari kurungan api, wan-hujin lari kejalan besar, namun gang itu sempit sementara yang didepan takut untuk melewati gapura yang terbakar, sementara disisi belakang api sudah mulai mendekat, akhirnya karena panik yang dibelakang mendorong yang didepan, dan naasnya gapura itu pun ambrol dengan bara api menyebaar, teriakan dan lolongan histeris terdengar, lima puluh orang terjebaak terpanggang oleh api, termasuk Wan-hujin yang malang.

Han-hung-fei menunggu bibinya keluar dari kerumunan orang, namun karena Wan-hujin tidak kunjung muncul, dia berdiri dan mendekati kerumunan orang, lalu matanya mencari-cari, seorang tetangga mendekati Wan-lin sambil menagis menceritakan bahwa Wan-hujin ikut terjebak didalam api. “ibu…ibu…. Jangan tinggalkan kami ibu…!” jerit Wan-lin, tangisnya membuat para tetangga menitikkan air mata, hampir tiga jam Wan-lin menangisi ibunya, Han-hung-fei juga sesugukan melihat adiknya menangis.

Saat para warga sedang menangisi keadaan, segerombolan tentara muncul, dan laki-laki dewasa dalam kerumunan itu segera melarikan diri, para tentara mengejar sambil berteriak- teriak menyuruh berhenti, Hung-fei membawa Wan-lin dan Wan-beng ketempat yang lebih aman disebuah gang dekat Hek-tiauw-piauwkiok yang sudah setahun tidak beroperasi, karena Gao-tong ditangkap dan dituduh sebagai pemberontak, para piauwsu juga ditangkapi oleh tentara. Wan-beng menangis karena lapar, Han-hung-fei memasuki piauwkiok dan mengetuk pintu, seorang perempuan tua membuka pintu

“kalian ini siapa ?” tanya perempuan itu, dia adalah Gao-hujin, sejak penangkapan suaminya, kedua putranya juga ikut ditangkap bahkan seluruh anak buah suaminya sebagian tertangkap dan sebagian melarikan diri, hingga hanya dia yang tinggal didalam rumah besar itu.

“nenek saya Han-hung-fei dan ini kedua adik saya Wan-lin dan Wan-beng, kami sejak tadi pagi belum makan, adiknya saya menangis karena lapar.”

“baik…masuklah nak….” ujar Gao-hujin, kemudian Gao-hujin menyiapkan makanan untuk tiga anak tersebut, ketiganya makan dengan lahap.

“kalian darimana ?” tanya Gao-hujin

“kami dari dekat sini nek, rumah kami di belakang pasar.” “apakah rumah kalian ikut terbakar ?”

“benar nek, dan ibu saya juga ikut terbakar.” sela Wan-lin “ah..malangnya, lalu ayahmu dimana ?”

“paman ditangkap tentara tadi pagi nek.” sahut Han-hung-fei “kalau begitu tinggallah disini untuk sementara, dan tentunya kalian sangat lelah, jadi pergilah mandi dan setelah itu istirahatlah.”

“baik nenek dan terimakasih” sahut Hung-fei, lalu merekapun dibawa Gao-hujin untuk membersihkan diri.

“kalian tidurlah dikamar ini !” ujar Gao-hujin sambil membuka kamar tamu yang ada dalam rumahnya, kamar itu sangat besar dan ranjangnya ada tiga, Hung-fei meletakkan Wan-beng diatas ranjang empuk, tidak lama ketiganya tertidur dengan pulas, malam itu sangat mencekam, bau daging terbakar dari korban kebakaran sangat menyengat, diatas rumah Gao-hujin ada empat bayangan sedang mengendap-endap, mereka membuka paksa jendela rumah, dan kemudian mereka masuk

“barang berharga itu dikamar paling belakang.” bisik salah seorang dari mereka yang bertubuh kurus dan mukanya lonjong seperti kuda, lalu mereka dengan hati-hati mendekati kamar paling belakang, dan kamar itu disamping kamar Gao- hujin, lalu pintu kamar dicongkel, setelah terbuka mereka memasuki kamar dan memang didalam kamar banyak benda berupa giok dan guci antic dipajang, bahkan lukisan pun banyak, benda-benda itu bukan milik Hek-tiuaw-piuawkiok, benda dikamar itu adalah berang-barang yang hendak dikirim, namun tidak jadi sejak tertangkapnya Gao-tong, dan yang empunya barang pun tidak datang karena kekacauan dan maraknya tuduhan pemberontakan, bahkan mungkin yang empunya sudah tertangkap atau melarikan diri keluar kota chongqing.

Empat pencuri itu membungkus barang-barang antic tersebut, namun ketika hendak keluar Gao-hujin memergoki mereka, “heh..pencuri…..pencuri….buk…aghkk…” teriak gao-hujin, namun tiba-tiba jeritan itu terputus karena dadanya dipukul seorang pencuri, Gao-hujin terjungkal pingsan

“apakah dia mati ?” tanya rekannya

“biar saja mampus, ayok kita cepat keluar.” sahut pencuri yang memukuk Gao-hujin, empat pencuri itu keluar rumah dan melarikan diri.

Keesokan harinya Hung-fei bangun, dan terkejut melihat gao- hujin tergeletak pingsan

“nenek..nenek… kamu kenapa ?” ujar Hung-fei sambil menggoyang tubuh gao-hujin, gao-hujin membuka matanya dengan desahan nafas berat

“ah…rumah dimasuki pencuri Fei-ji .” sahut gao-hujin “ah..aduh….dadaku sakit sekali.” keluhnya lirih

“mari aku papah nek, kekamarmu .” ujar Hung-fei, lalu dengan tertatih-tatih Hung-fei membawa dan membaringkan Gao-hujin dikamarnya.

“sebentar nek, aku ambilkan air minum untuk melegakan rasa sakit.” ujar Hung-fei, lalu hung-fei keluar kamar dan menuju dapur, ketika ia membawa sepoci air dan cangkir Wan-lin sudah berada dikamar Gap-hujin

“minumlah nek..” ujar Hung-fei memberikan secangkir the “apa yang diambil pencuri itu nek ? tanya Wan-lin

“tidak tahu, mungkin barang-barang yang ada didalam kamar belakang.” Jawan Gao-hujin

“sudahlah, kita biarkan nenek istirahat dan Bantu saya untuk memasak nasi.” sela Hung-fei pada wan-lin, wan-lin mengangguk dan keduanya keluar dan memasak makanan didapur.

“sekarang bawalah makanan ini kekamar nenek, dan saya hendak mandi bersama beng-te.” ujar Hung-fei, lalu hung-fei masuk kekamar tamu, dan beng-te masih pulas

“beng-te….beng-te bangun. mari kita mandi.” gugah Hung-fei, Wab-beng bangun dan duduk, lalu tangannya ditarik oleh hung- fei dan merekapun mandi, setelah itu mereka makan pagi, Gao- hujin tiba-tiba keluar dari kamar

“Fei-ji…” cobalah pergi kepasar dan belikan ramuan ini pada Can-sinse,” ujar Gao-hujin

“baik nek..” sahut Hung-fei sambil menerima ramuan yang ditulis gao-hujin. Empat pencuri membuka buntalan yang mereka bawa, dua patung kuda dan sebuah patung macan yang terbuat dari kemala berharga, kemudian dua buah guci terbuat dari perak, lalu rosario yang bijinya terbuat dari kayu cendana, lalu tiga buah pas bunga yang indah, yang jika di uangkan benda-benda itu setara dengan lima puluh tail emas, “kita akan ke changcung untuk menjual benda-benda ini.” ujar sipencuri bermuka kuda, “dan kira-kira apa isi kotak ini yah ? tanya rekanya sambil mengangkat kotak warna hitam

“cepat buka supaya kita lihat isinya.” sahut tiga rekannya, lalu simuka kuda pun membuka kotak dan didalamnya ada sebuah surat, lalu surat dibuka dan isiinya

“Liu-sicu…bersama ini aku kirimkan patung naga yang didalamnya tentang rahasia pedang, jadi tolong disimpan di menara Liu.”

Bao-kuang

“bukankah menara Liu itu ada dikota Lokyang Kam-twako ?” “benar bu-te, tapi patung naga tidak ada kita dapatkan.” sahut simuka kuda yang bernama Kam-cia

“menurutmu pedang apakah itu Kam-twako ?”

“sepertinya itu pedang pusaka. Cu-te” sahut kam-cia, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh munculnya seorang lelaki bemuka hitam namun rambutnya yang panjang berwarna putih, entah bagaimana surat itu sudah berpindah tangan

“dimana surat ini kalian dapatkan !?” tanya orang itu

“ka..ka..kami hanya pencuri cianpwe.” sahut kam-cia dengan tubuh menggigil, demikian juga tiga rekannya, adapun sebab keempat pencuri itu menggigil saking takutnya, karena yang mendatangi mereka ini adalah salah satu datuk kosen yang sangat ditakuti. Saat itu dunia persilatan dikuasai enam dattuk yang diakui kehebatan dan ketinggian ilmu silatnya, enam datuk tersebut adalah “pek-mou-hek-kwi” (iblis hiitam rambut putih) yang sekarang berada didepan mereka, datuk ini menguasai wilayah timur, kemudian “pak-koai-lo” ( tua gila dari utara) datuk yang menguasai wilayah utara, “Lam-sin-pek” (petir sakti dari selatan) menguasai wilayah selatan, coa-tung-mo-kai” (pengemis iblis tongkat ular) penguasa seluruh kaipang di empat penjuru, kemudian “see-teng-kui” (siluman terbang dari barat) dan yang terakhir “”liang-lo-mo” (setan pengacau sukma) datuk yang menguasai bajak dan rampok.

“sial plintat-plintut, surat ini kamu dapatkan darimana !?” bentak pek-mou-hek-kwi

“kami mencuri di rumah hek-tiauw-piauwkiok.” Jawab Kam-cia “hahaha..hahhaa bagus…kamu urus penciri itu dan aku duluan pek-mou.” Sela suara dari kejauah

“sialan jangan macam-macam mo-kai..!” teriak pek-mou-hek- kwi sambil berkelabat kearah datangnya suara, dua bayangan luar biasa cepat saling berkejaran, lalu dari arah samping muncul satu bayangan lagi

“apa yang kalian ributkan cecunguk tua.” teriak orang itu “bukan urusanmu “lo-koai” sahut sin-tung-mokai tetap berlari menuju kota chongqing.

Sesampai dikota chongqing sin-tung-mo-kai menuju kediaman hek-tiaw-piauwkiok, ketiganya bersamaan sampai di kediaman gao-tong, Gao-hujin sedang duduk bersama Wan-lin dan wan- beng, ketiganya sedang menunggu hung-fei yang sedang membeli obat, namun yang datang adalah tiga orang lelaki-tua “cepat tunjukkan patung naga “ teriak “pek-mou-hek-kwi”

“aku tidak tahu apa yang kalian maksudkan,” sahut Gao-hujin “sialan…perempuan tiada guna…duk…agh…” bentak Pek- mou-hek-kwi sambil memukul leher Gao-hujin, malang bagi gao-hujin, pukulan itu menyebabkan nyawanya melayang.

“kalian ini orang jahat, memukul orang seenaknya.” teriak Wan- lin sambil memukul Pek-mou-hek-kwi, namun Pek-mou-hek-kwi menangkap tangan mungil Wan-lin dan melemparnya, tubuh Wan-lin melayang keluar dan jatuh terhempas ditanah, wan-lin pingsan, tiga datuk itu berlomba-lomba memasuki kamar-kamar dalam rumah, mencari patung naga yang disebut dalam surat, namun semua petu dan lemari sudah dihancurkan tidak ada patung naga yang mereka cari, ketiganya keluar, lalu dengan mata yang tajam Wan-beng menatap ketiga datuk itu

“hahah..hahah….wah anak ini lumayan, patung naga tidak ada, dan aku mendapat seorang murid yang luar biasa.” ujar Pak-lo- kai, kemudian ia menyambar Wan-beng dan berkelabat dari tempat itu, dua datuk lainnya pun meninggalkan kediaman

Gao-hujin, tidak lama kemudian seorang lelaki tua juga datang, lelaki tua berjenggot hitam dan berpakaian tosu adalah Lam- sin-pek.” Lam-sin-pek memasuki kediaman gao-hujin, namun setelah melihat kedalam rumah ia keluar kembali, ketika melihat Wan-lin yang imut dan cantik ia tertarik, terlebih setelah meraba tulang kepala, kemudian meraba punggung dan dada, “tulang yang baik” pikirnya, kemudian wan-lin yang pingsan dipondong dan Lam-sin-pek pun meninggalkan tempat itu.

Han-hung-fei berlari-lari dan dengan hati-hati menghindari patroli-patroli para tentara, dengan sebungkus obat digenggamannya ia sampai kerumah Gao-hujin “nenek..nenek…..” teriaknya sambil berlutut disamping jasad Gao-hujin sambil mengguncang tubuh Gao-hujin, namun Gao- hujin tidak memberikan reaksi, Hung-fei mendekatkan tangannya kehidung Gao-hujin, dan tidak lagi hembusan nasafasnya

“nenek….nenek…kenapa mati….nenek…nenek….”   jerit   Hung- fei dan tangisnya pun bersimbah, kemudian ia teringat dengan Wan-lin dan wan-beng

“lin-moi….beng..te….lin-moi…..lin-moi…”   serunya   sambil mencari kesetiap sudut dan ruangan rumah yang sudah acak- acakan bekas diobrak-abrik, namun yang ia dapatkan hanya kesunyian, lalu ia kembali ke depan dan duduk merenung disamping mayat Gao-hujin, sekarang ia tinggal sendirian, nenek gao meninggal sementara kedua adik angkatnya hilang entah kemana rimbanya, Hung-fei bangkit dan mencari-cari alat untuk menggali kuburan, diruang dapur sebuah cangkul dan sekop ia dapatkan, lalu dari pintu dapur ia keluar dan menggali lobang untuk menguburkah Gao-hujin,

Saat sore pekerjaannya selesai, lalu berusaha mengangkat jasad Gao-hujin, walaupun tertatitih-tatih Hung-fei dapat membawa jasad Gao-hujin ke belakang rumah dan lalu ia mengubur jasad tersebut, dimalam tiada bintang Hung-fei terduduk disamping kuburan gao-hujin, tubuhnya penuh berlepotan tanah disamping keringat yang membanjir ditengah malam sunyi dan mencekam itu.

Han-hung-fei kembali kedalam rumah dan membersihkan badan, dia mengganti bajunya dengan pakaian lelaki dewasa, pakaian-pakaian kedua putra Gao-tong, pakaian yang kedodoran itu cukup memberikan kehangatan pada tubuhnya dari rasa dingin setelah mandi, Hung-fei tertidur pulas karena kelelahan diranjang empuk walaupun kamar itu centang perenang.

Keesokan harinya Hung-fei bangun dan mulai menata kembali seluruh dalam rumah, sejak itu Hung-fei hidup sendirian di rumah Gao-tong yang besar, namun sebulan kemudian ketenangan itu terusik kembali oleh karena hari itu puluhan orang-orang persilatan mendatangi rumah Gao-tong, ternyata selama sebulan itu dikalangan liok lim tersebar bahwa rahasia “Bun-liong-sian-kiam” (pedang dewa naga sastra) tersimpan dirumah Gao-tong, sehingga para pendekar dari berbagai aliran dan golongan mendatangi rumah Gao-tong.

Bun-liong-sian-kiam muncul pertama kali pada masa dinasti zhou dibawah raja Jin-yan yang bergelar Nanwang, Bun-liong- sian-kiam adalah milik seorang pertapa sakti dilembah huai, dan pada masa pemerintahan Kaisar Qin-shihuang, pedang itu ditetapkan menjadi koleksi pustaka negara hingga sampai pada pemerintahan Han-gaozu (Liu-bang), namun pada masa pemerintahan kaisar Hui (Liu-ying), Bun-liong-sian-kiam hilang dari istana.

Setelah dua ratus tahun hilang, tiba-tiba rahasianya muncul dari rumah Hek-tiuaw piuawkiok, dan para kalangan lioklim gempar dan berlomba-lomba untuk mendapatkan rahasia keberadaan Bun-liong-sian-kiam, para pendekar dari berbagai aliran dan golongan memburu tempat kediaman Gao-tong yang di huni Han-hung-fei sejak sebulan yang lalu.

Pertama-tama yang datang adalah dua orang lelaki paruh baya, saat itu Hung-fei sedang menyapu halaman rumah

“he..bocah..apakah kamu yang tinggal disini ?” “benar paman, ada keperluan apakah kedua paman kesini ?” “apakah kamu tahu dimana parung naga disimpan Gao-pangcu

?”

“aku tidak tahu apa-apa paman, aku juga menumpang disini kurang lebih sebulan.”

“untuk apa ditanya padanya suheng, hanya menghabiskan waktu.” ujar rekannya, lalu mereka melangkah hendak masuk kedalam rumah, tiba-tiba kedua saudara perguruan itu melompat kebelakang

“tunggu dulu..!” sebuah seruan terdengar setelah sebuah pisau melasat mencegah kedua orang itu memasuki rumah

“ternyata Lu-piauw (pisau terbang Lu) yang usil.” ujar si suheng “benar sekali “tee-tok-siang” (sepasang racun bumi)” sahut lelaki berbadan kekar dan tinggi serta memakai jubah hitam “apa maksudmu mencegah kami memasuki rumah ?”

“siapa yang berhak memasuki rumah kita tentukan disini.” sahut Lu-piauw

“hahaha,,hahaha…benar, itu cukup adil..” sela suara, dan ditempat itu muncul seorang laki-laki gemuk dan pipinya tembam dibibirnya selalu tersungging senyuman

“ternyata “Pak-sin-lun” (roda sakti dari utara) jauh-jauh datang dari utara.” sela Lu-piauw.

“benar sekali Lu-piauw, Bun-liong-sian-kiam demikian menggugah dan mengiurkan jadi jarak yang jauh akan sepadan demi untuk mendapatkannya.” sahut Pak-sin-lun “hi..hi….hi….siapapun boleh ikut asal punya kemapuan menghadapi cambukku.” sela sebuah suara lagi dan seorang nenek bongkok berumur lima delapan tahun muncul

“hahaha..hahaha “kiu-bwee-kui-bo” (biang iblis ekor sembilan) ikut juga meramaikan perlombaan mendapatkan rahasia bun- liong-sian-kiam.” sahut Pak-sin-lun

“ternyata kalian sudah berkumpul, siapa yang duluan menerima pukulan tongkatku !?” sela laki-laki paruh baya, kepalanya botak dan bertelanjang dada.

“tung-kim-pang” (toya emas dari timur) jangan sesumbar didepanku !” bentak kiu-bwe-kui-bo, enam orang itu saling sorot untuk mengukur kekuatan lawan, lalu mereka saling terjang, pertempuran tanpa aturan pun berlangsung, mereka saling serang, siapa saja yang dekat dengannya, kecuali “tee-tok- siang” yang saling membantu menyudutkan lawan, Hung-fei yang menyaksikan pertempuran itu sembunyi didalam rumah, hatinya cemas dan bingung, orang-orang itu saling serang untuk memperebutkan benda yang dia sendiri tidak tahu, karena didalam rumah tidak patung naga.

Tiba-tiba seorang lelaki bercaping muncul dan berdiri dengan tenang menonton pertandingan yang acak kadut itu, tempat itu sudah porak-poranda, hawa pukulan sakti telah meluluh lantakkan dinding pagar dan kantor piauwkiok, tiba-tiba cambuk kiu-bwee-kui-bo yang bercabang empat menyerang empat bagian tubuh orang bercaping

“kamu jangan ambil kesempatan “huangho-hek-peng” (garuda hitam dari huangho)” teriak kiu-bwee-kui-bo.

“hahaha..hahhaaa…nenek centil memang perhitungan sekali.” sahut huangho-hek-peng sambil melompat dan melayang menukik menepis empat jiratan cambuk.

Pertempuran yang ramai dan seru berlansung, tujuh orang itu bergerak cepat dan mengambil keuntungan dari lawan-lawan yang terdesak, namun pada akhirnya mereka sama-sama bingung dan kelelahan sendiri, setengah hari sudah pertarungan tanpa juntrungan itu berlangsung, namun belum ada diantara mereka yang terkapar dan berhenti melawan, namun luka-luka ringan akibat sabetan senjata tajam, sodokan toya, bilur cambukan, luka dan memar cakaran dan pukulan telah masing-masing mereka dapatkan, lalu tujuh orang itu berhenti dan saling pandang dengan nafas memburu.

Ketika mereka berhenti untuk menarik nafas, tiba-tiba angin kuat berhembus, seorang kakek tua berpakaian kedodoran muncul, jenggotnya yang panjang riap-riapan akibat kesiuran angin yang muncul, tujuh orang itu terdiam dan wajah berubah pucat setelah melihat kemunculan si kakek, bagaimana tidak lelaki tua adalah salah satu datuk yang ditakuti oleh dunia kangowu, kakek itu adalah “see-teng-kui”

“kalian enyah dari sini !” bentak see-teng-kui, dan tanpa diperintah dua kali tujuh orang itu meninggalkan kediaman Gao-tong.

See-teng-kui masuk kedalam rumah, lalu mengobrak-abrik semua isi rumah, namun sejauh itu patung naga yang dicari tidak ditemui, dan saking kesalnya see-teng-kui merobohkan rumah itu hingga rata dengan tanah, Hung-fei yang sudah menyingkir dari pintu dapur bersembunyi di samping rumah kosong disamping rumah Gao-tong dan mengintip dari samping kearah halaman kediaman Gao—tong yang sedang seru- serunya ketujuh orang itu bertempur, Hung-fei mendonggakkan kepala saat mendengar deru angin dan suara pertempuran berhenti, namun tidak lama kemudian Hung-fei terkejut melihat kediaman Gao-hujin berderak bergetar oleh kesiuran angina yang kuat luar biasa, dan akibatnya rumah itu ambruk menjadi onggokan diatas tanah, Hung-fei amat takut dan cemas kalau- kalau rumah tempat dia bersembunyi akan runtuh juga, dengan lari bak kijang ketakutan Hung-fei lari memasuki gang dan terus menuju pasar, disatu gang yang sepi Hung-fei duduk istirahat dan menenangkan nafasnya yang memburu.

Malam itu ia berkeliaran di pasar yang teronggok tumpukan arang bekas kebakaran, keesokan harinya dengan rasa lapar karena tidak makan seharian, Hung-fei kembali ketempat kediaman Gao-hujin, dia mencoba mengais reruntuhan untuk mendapatkan makanan, sekarung beras dan sekeranjang ikan kering dikeluarkannya dari reruntuhan, lalu ia membuat api untuk membakar ikan kering, setelah matang ia makan dan minum dengan lahap hingga kenyang dan puas.

Han-hung-fei berjalan ketengah reruntuhan untuk mengambil pakaian yang bisa ia gunakan, beberapa pakaian ia tarik dari reruntuhan, dam ketika ia hendak kembali ketempat ia membakar ikan kering disisi bagian kamar tempat penyimpanan barang ada sebuah benda berkilau ditimpa sinar matahari dari bawah runtuhan atap, Han-hung-fei melangkah hati-hati mendekati runtuhan itu, lalu dia mengangkat runtuhan dan menraih benda itu, dengan susah payah benda itu dapat dikeluarkannya dan ternyata benda itu adalah patung naga yang terbuat dari perak, hatinya berdesir dan segera meneymbunyikan patung itu dibalik tumoukan pakaian yang ia ambil, matanya mengawasi sekeliling taku-takut kalau ada orang melihatnya meraih patung naga tersebut.

Han-hung-fei segera keluar dari reruntuhan dan memindahkan beras serta keranjang ikan kering ketempat tersembunyi dibelakang rumah kosong, dia termenung sebentar akan apa selanjutnya yang ia perbuat, dengan ragu-ragu ia mengeluarkan patung naga dari tumpukan kain, dan memperhatikan benda yang menjadi rebutan orang persilatan itu, tidak ada yang unik pikirnya setelah meraba memutar mengguncang patung naga itu, lalu patung itu ia letakkan dan melipat baju-baju yang diambilnya dan membungkusnya bersama patung naga tersebut.

kemudian Hung-fei mengambil beras dan dibungkus bersama ikan kering dan batu api, lalu bungkusan itu dimasukkan kedalam bungkusan baju, kemudian Hung-fei berdiri dan memanggul buntalannya dan kembali ke reruntuhan rumah untuk mengambil sebuah panci kecil, hampir setengah jam Hung-fei baru mendapatkan panci yang ia cari, setelah panci itu ia dapatkan lalu ia ikatkan pada pada bungkusan, lalu ia pun meninggalkan kota chongking.

Han-hung-fei ternyata sudah memutuskan untuk meninggalkan kota chongqing yang genting dan tidak aman, “aku harus meninggalkan kota ini pergi kekota cengdu” pikir nya, dengan langkah mantap ia berjalan sambil memanggul buntalannya keluar pintu sebelah barat, Hung-fei berhasil keluar setelah senja, karena ia takut bertemu dengan patroli tentara sehingga is sering bersembunyi ketika melihat barisan patroli tentara.

Han-hung-fei menyusuri jalan setapak, saat siang hari tiba ia istirahat dan memasak makanan untuk mengisi perut, dia hanya makan sekali sehari, namun walaupun demikian bekal yang dipersiapkannya hanya cukup untuk seminggu perjalanan, Han- hung-fei tidak habis akal walaupun kota cengdu masih jauh, untuk mengatasi rasa laparnya Hung-fei memakan buah-buah yang ia dapati dalam hutan, suatu hari setelah perjalanannya sudah dua belas hari, Han-hung-fei sampai pada sebuah bukit, ia istirahat sambil menikmati hembusan angin yang sejuk sehingga menghilangkan kegerahannya selama perjalanan siang hari yang terik, matanya mengantuk menikmati kesejukan belaian angin, Hung-fei pun terpulas, namun baru sesaat ia terpulas suara deru hujan mengejutkannya, tubuhnya langsung basah oleh guyuran air hujan yang lebat, Hung-fei segera berdiri dan berlari kebawah pohon kayu yang rindang.

Han-hung-fei menduduki buntalannya untuk menjaga jangan sampai pakaiannya basah ditimpa curahan hujan yang turun dari celah-celah rerimbunan daun

“krekkk…” terdengar suara aneh dari dalam buntalan, segera Hun-fei membuka buntalannya, dan ternyata patung naga itu ujung ekornya patah diduduki oleh Hung-fei, dan pada bagian yang patah itu ada jarum kecil menonjol, Hung-fei menekan jarum itu

“klk…” setelah suara klik dari mulut patung naga muncul gulungan kulit, lalu Hung-fei menarik kulit itu yang ternyata cukup panjang, sepanjang patung naga, setelah gulungan dibuka ternyata ada tulisan yang berbunyi

Dari lembah huai menuju terbit matahari Monyet-monyet berebutan buah dan biji Dari atas bukit orang aneh itu berdiri turun kebawah sejauh lima puluh kaki

“ternyata yang diperebutkan orang-orang ini berada dilembah huai” pikirnya, Hung-fei menghafal bait tersebut berulang kali sepanjang hujan sampai reda ketika malam tiba, dengan rasa dingin yang menyelimuti Hung-fei melewatkan malam dibawah pohon dia berteduh, dengan memeluk lutut ia bersandar kepohon. Keesokan harinya mentari dari ufuk timur membangunkannya, kicau punai didahan saling bersahutan membuat suasana dihutan itu riuh, Hung-fei bangun dan melanjutkan perjalanan, saat siang hari ia sampai pada areal persawahan penduduk kota cengdu, perutnya sangat lapar, lalu ia masuk kedalam sawah warga untuk mencari belut, dan usahanya itu berhasil, tiga ekor belut ia dapatkan, dengan rasa gembira ia membakar belut dalam tumpukan api, saat membuka bajunya gulungan kulit yang dikantonginya jatuh, kembaali ia membaca isi gulungan itu, lalu gulungan kulit itu dilempar ke tumpukan api, dengan cepat gulungan itu terbakar, setelah melahap habis tiga ekor belut, ia minum air yang mengairi sawah, bahkan mandi di parit sawah yang airnya deras mengalir.

Setelah puas mandi, Hung-fei mengganti bajunya dengan baju bersih, semua bajunya kedodoran karena pakaian orang dewasa, namun hangat dipakai, dengan menggulung lengan baju dan celana, Hung-fei melanjutkan perjalanan, malam harinya ia memasuki kota cengdu, namun kota itu sepi bahkan terkesan tidak terurus, sebagian besar penduduknya banyak yang mengungsi ke Yichang dan Wuhan.

Dikota yang sepi dan ditinggalkan sebagian besar penduduknya tidak ada yang diharapkan, sehingga Hung-fei melanjutkan perjalanan kekota Yichang, dua bulan kemudian ia memasuki kota Yinchang, dikota ia banyak menemui anak sebayanya yang jadi pengemis, dan ia pun ikut-ikutan mengemis untuk mendapatkan sesuap nasi, karena selama tiga hari tidak ada orang yang mau menggunakan tenaganya, sementara perutnya sangat lapar, lalu dengan memelas ia pun mengedahkan tangan mengemis pada orang yang lalu lalang, dan hari itu ia mendapatkan beberapa send an dapat membeli sebuah bakpao.

Tiga hari kemudian disebuah gang dua orang anak lelaki berkelahi memperebutkan bakpao curian

“kamu berikan tidak !” bentak anak yang tubuhnya ceking dan panjang kepada anak yang juga sama kurusnya hanya anak ini lebih pendek dan lebih muda.

“tidak..!” teriak anak itu terus melawan, dua anak kecil itu bergulingan.

“he…daripada berkelahi sebaiknya kalian bagi !” tegur hung-fei “enak saja dibagi “ bantah sianak yang memiliki bakpao.

“kalian akan terluka sendiri, jadi sebaiknya kalian bagi sehingga kalian dapat memakannya.”

“aku tidak mau bagi..!” sahut anak yang hendak merampas bak- pao, lalu menyerang Hung-fei, hung-fei menghindar, dank arena terus dikejar dan didesak anak tersebut, Hung-jin pun melawan, keduanya saling pukul, sementara anak yang punya bak-pao memakan langsung bapaonya hingga habis, dengan senyum ia meninggalkan perkelahian antara Hung-fei dengan lawannya.

“anak itu sudah pergi.” teriak Hung-fei

“ini gara-gara kamu yang usil mencampuri.” sahutnya sambil berdiri dari tubuh Hung-fei, keduanya sama-sama terluka, “kamu dari mana ?” tanya lawan Hung-fei

“aku dari chongqing, dan kamu darimana ? dan siapa namamu

?”

“aku dari wuhan.”

“lalu namamu siapa ? aku Han-hung-fei.”

“aku kam-peng.” Sahutnya, lalu pergi dari gang itu, Hung-fei menyusulnya masuk kedalam pasar untuk mengemis lagi. Dua hari kemudian Kam-peng berlari dari kejaran penjual bakpao, dia dengan cekatan berlari diantara kerumunan orang, dan hilang disebuah gang, tidak lama kemudian Hung-fei melihat anak yang melawan kam-peng juga lari menyelinap diantara kerumunan orang dan menghilang di sebuah gang, hari itu Hung-fei tidak mendapat belas kasihan, ia melangkah untuk duduk disebuah gang karena badannya lemas.

Seorang kakek muncul bersama dua anak pengemis yang baru saja mencuri, sikakek berjalan dengan batuan tongkatnya yang berkepala ular, kedua anak itu berjalan dibelakang si kakek dengan muka babak belur, namun keduanya berjalan sambil mekan bakpao, menjerit perut Hung-fei melihat dua anak itu makan bakpao dengan nikmat, keduanya lewat tanpa menegur Hung-fei

“kam-peng !” seru Hung-fei, kakek itu menoleh pada hung-fei “apa kamu mengenal pengemis ini peng-ji ?”

“benar suhu, dia itu sangat usil.” sahut Kam-peng “kalau usil, sekarang kamu pukul dia !” perintah sikakek,

sipakah kakek itu ? kakek itu bukan orang tidak terkenal, bahkan ia adalah seorang datuk dunia persilatan yan kita kenal dengan sebutan “coa-tung-mo-kai”

Coa-tung-mo-kai sedang duduk melengut disebuah emperan toko, dua anak bertabrakan didepannya, lalu keduanya berkelahi habis-habisan,

“hehehe..hehe….hahaha…. bagus

pukul..tendangg..ah…memalukan kenapa pakai gigi, ah..rambut kenapa dijambak !?” teriak coa-tung-mo-kai

memanas-manasi perkelahian antara kam-peng dengan anak tersebut. Tubuh keduanya bergulingan ditanah “sudah..sudah…seru coa-tung-mo-kai menghentikan keduanya, tanpa bergerak dari tempat duduknya, kedua anak itu mengapun seperti dua kucing diangkat tangan tidak kelihatan.

:”hehehe,,,hehehe… tubuh kalian ternyata kuat, dan tulang kalian bagus, kam-peng dan lawannya terkejut dan terkesima, keduanya berpikir tentunya kakek ini orang sakti, kakek itu seperti tidak berbuat apa-apa, tapi namun mereka terapun g diawang, kemudian

“bugh…bugh….” Keduanya jatuh ketanah

“kakek sakti ajarilah aku seperti yang kakek lakukan tadi.” ujar Kam-peng

“aku juga kakek !” sela anak lawan Kam-peng

“hehehe..hehehe…tentu…aku akan jadikan kalian ahli silat luar biasa dan tak tertadingi.” sahut Coa-tung-mo-kai

“sipakah nama kalian bocah ?” “saya Kam-peng kakek.”

“saya Gan-kui.”

“hehe…heheehe…. Peng-ji dan kui-ji sekarang kalian berlutut dan panggi aku suhu.” Ujar coa-tung-mo-kai, lalu keduanya berlutut

“tecu memberi hormat pada suhu.” ujar keduanya serempak “bagus, sekarang kalian harus menuruti segala perintahku, ayok kita pergi.” ujar Coa-tung-mo-kai, coa-tung-mo-kai berdiri dan dikuti oleh kedua murid barunya, dan bertemu dengan Hung-fei di lorong gang.

Kam-peng mendekati Hung-fei dan mengayun tinjunya, Hung- fei tidak mau jadi sasaran, lalu keduanya berkelahi ditonton coa-tung-mo-kai dan Gan-kui

“duk..duk…bug..bug…” suara pukulan-pukulam menghantam tunuh keduanya, walaupun tubuh Hung-fei lemas karena lapar, dia tetap gigih melawan dan tidak mau menyerah pada Kam- peng, kemudian mo-kai melerai keduanya

“siapa namamu bocah ?” tanya mo-kai “aku Han-hung-fei.” sahut Hung-fei.

“kamu harus ikut dengan kami, tapi bukan sebagai muridku, karena aku sudah memepunya dua orang murid”

“siapa yang minta jadi muridmu !” sahut Hung-fei karena merasa jengkel dengan sikap sikakek yang menyuruh kam- peng memukulnya

“bagus, dan kamu akan tetap ikut dengan kami sebagai jongos.” ujar mo-kai

“sekarang aku lapar, lalu bagaimana aku bisa mengikuti kalian

?” sahut Hung-fei

“berikan dua bakpao mu itu kui-ji !” perintah mo-kai, Gan-kui merogoh bajunya dan mengeluarkan dua buah bak-pao. “berikan semuanya, supaya ia makan dan bertenaga.” Perintah mo-kai, dengan patuh, Gan-kui memberikan bakpaonya.

Han-hung-fei makan bakpao dengan lahap, setelah sebuah habis Hung-fei sudah diajak jalan dan mengikuti Mo-kai, coa- tung-mo-kai membawa mereka keluar kota yinchan, dan berkelana, pada saat mereka istirahat entah dihutan diatas bukit Kam-peng dan Gan-kui dilatih oleh datuk kosen ini, sementara Hung-fei hanya menonton sambil istirahat karena kelelahan membawa beban, tiga buntalan suhu dan dua murid itu dibawa oleh Hung-fei, hung-fei tidak mengeluh, karena selama ia dapat makan, pekerjaan sebagai jongos itu dapat ia terima.

Coa-tung-mo-kai membawa merea ke huangsan, tempat dimana selama ini ia berdiam, sebagai raja pengemis segala kebutuhannya dipenuhi ratusan anak buahnya, dan tidak terasa waktu sudah berjalan dua tahun, Han-hung-fei sudah berumur sepuluh tahun, Gan-kui sebelas tahun dan Kam-peng dua belas tahun, selama itu Kam-peng dan Gan-kui sudah banyak menerima pelajaran dan latihan dari suhu mereka, sementara hung-fei tetap jadi jongos ditempat kediaman mo-kai.

Hung-fei cepat kesini !” seru Gan-kui

“ada apa ji-siauw-ong ?” tanya Hung-fei pada gan-kui yang sekarang dipanggil dengan raja kecil kedua, sementara kam- peng dipanggil it-siauw-ong (raja kecil pertama), panggilan itu tidaj hanya oleh Hung-fei namun semua para pengemis “kamu harus temani aku berlatih !” sahut Gan-kui

“aku ..bagaimana aku bisa ji-siauw-ong, aku tidak tahu ilmu silat.” bantah Hung-fei

“karena kamu tidak bisa silat maka kamu harus menjadi sasaran pukulanku.” Ujar Gan-kui sambil menyerang Hung-fei “buk..bukk..des…” dua pukulan dan satu tendangan membuat Hung-fei terlempar dan terhempas ditanah, Hung-fei meringis kesakitan, namun gan-kui tidak peduli, ia terus menjadikan hung-fei bulan-bulanan pukulannya, Hung-fei melawan sekuatnya, namun ia tidak berdaya, mukanya sudah matang biru dan dan mulutnya banyak mengeluarkan darah.

Setelah puas Gan-kui meninggalkan Hung-fei yang pingsan, selama tiga hari Hung-fei tidak bisa bangkit dari dipan tempat tidurnya, dua minggu kemudian setelah ia pulih, kembali ia dibuat jadi sasaran pukulan, dan kali ini ia di jadikan bahan olokan oleh kam-peng, tiga minggu ia baru dapat pulih, karena perlakuan dua orang murid sidatuk Hung-fei sudah melampaui, Hung-fei melarikan diri dari kediaman mo-kai, Hung-fei mencari dan bertanya pada orang letak lembah huai, sakit hatinya pada kedua murid sidatuk mengingatkan ia akan pedang yang diperebutkan para pendekar.

Enam bulan kemudian Hung-fei sampai kelembah huai, dan dari lembah ia terus menuju ketimur dan sampai disebuah hutan yang banyak sekali monyetnya, Hung-fei melihat sebuah bukit, lalu ia naik keatas bukit, dan dari atas bukit sesuai petunjuk bait dalam surat, Hung-fei menuruni bukit sejauh lima puluh kaki, setelah merasa ukurannya pas, hung-fei hanya berdiri diatas tanah

“lalu apa lagi ? apa yang ada disekitar sini ?” pikirnya dalam hati, tempat itu hanya semak setinggi lutut, hung-fei melihat sebuah batu lalu ia duduk untuk berpikir apa lagi maksud sebait kalimat dalam surat, ketika ia duduk,

“aaaaa….” teriaknya karena batu itu ambruk bersama dirinya dan masuk kedalam lobang, Hung-fei pingsan karena kepalanya terantuk pada batu, semalaman ia pingsan dan baru siuman keesokan harinya, dengan sekujur tubuh terasa sakit, Hung-fei merangkak menelusuri lorong gelap didepannya, sehingga ia sampai pada ruang bawah tanah yang terang karena ruangan itu berlobang yang ternyata dinding sebuah tebing curam.

Didalam ruang bawah tanah itu banyak sekali guratan-guratan berbentuk naga diatas dinding, hung-fei meraba-raba gambar- gambar naga yang ada disinding, dan hatinya berdegup ketika meraba gambar naga ditengah dinding

“klik…grrrr……” dinding itu berputar dan ada ruangan dibalik dinding, hung-fei masuk kedalam ruangan yang sangat luas, didalam ruangan itu ada tengkorak manusia yang sedang duduk sambil memegang pedang bersinar hijau muda, dan bergagang kepala naga dari emas murni, ujung pedang menancap didalam lipatan kaki tengkorak, dan disisinya ada kotak berwarna kuning keemasan, kemudian dua tangga dibawah ruangan itu ada kolam air yang yang sumbernya dari mata air yang banyak dari dinding ruangan, disekitar kuala air itu menghampar jamur warna putih

“maaf cianpwe, tecu telah berlaku lancang masuk kesini.” ujar Hung-fei sambil berlutut, dan matanya melihat sebuah tulisan dibatu tempat duduk tengkorak, lalu dengan mendekat hung-fei membaca tulisan

“cucilah tangan didalam kolam, dan makanlah sebuah jamur, lalu dua buah jamur tumbuk dan lamuri ketangan, kitab dan pedang siap diambil.”

Han-hung-fei bangkit dan turun kebawah, kemudian mencuci tangannya didalam kula, kemudian mengambil sebuah jamur dan memakannya, rasanya amat pahit, namun setelah itu rasa manis terasa dilidah dan langit-langit mulutnya, kemudian dua buah jamur ditumbuknya dengan batu dipinggir kolam, lalu melamurkannya pada kedua tangannya, kemudian Hung-fei kembali kedepan tengkorak dan mengambil peti,

“cesss…..” suara mendesis seperti air dijatuhkan kedalam api, lalu hung-fei membuka kotak, tiga buah jarum meluncur dan amblas kedada hung-fei, hung-fei merasa pening dan ia pun pingsan.

Hung-fei membuka matanya, dia bangkit dan mengingat apa yang terjadi, dan saat ia ingat, segera membuka bajunya, untuk melihat benda apa yang meluncur kedadanya, dan ternyata tiga jarum berwana hitam menancap didadanya, hung-fei mencabut tiga jarum itu, untunglah hung-fei membaca tulisan tersebut, karena kalau tidak saat memegang kotak saja ia akan tewas seketika, dan racun jarum itu juga sangat ganas, untungnya penawarnya dengan makan jamur membuat tubuh hung-fei menolak racun, sehingga jarum itu tetap berwarna hitam, kalau tidak jarum itu akan berubah putih, karena racun hitam dijarum dihisap oleh tubuh seiring tarikan nafas.

Han-hung-fei melihat isi kotak berisi dua buah kitab tebal, lalu hung-fei mengambil dan membaca sampul kitab pertama

“tee-tong-thian-teng” (terbang kelangit menggetar bumi), kitab ini berisi pelajaran sin-kang dan gin-kang tingkat tinggi, dan bahkan ada pelajaran delapan jurus tangan kosong yang diberi nama “bun-sian-pat-hoat” (jurus delapan dewa sastra) kemudian kitab yang kedua “bun-liong-sian-kiam-hoat” (jurus pedang dewa naga sastra).

“terimakasih cianpwe, yang telah berjodoh dengan saya untuk mempelajari ilmu-ilmu cianpwe.” ujar Han-hung-fei, dia sujud tujuh kali didepan tengkorak manusia itu,dan tiba-tiba tengkorak itu roboh dan pedang yang dipegang tetap tertancap, dan selembar kulit ada diujung pedang, Hung-fei mencabut pedang itu dan membaca tulisan

“sute….kamu memang murid yang baik, kuburkanlah tulangku dan resapilah semua ajaran suhu, semoga Thian memberkatimu.”

Han-hui-lung

Ternyata tengkorak itu adalah murid dari pertapa sakti bernama Han-hui-lung, yang kemungkinan besar yang mengambil pedang itu dari pustaka istana dua ratus tahun yang silam.

Han-hung-fei menggunakan pedang untuk menggali lobang, lira biasanya batu yang dikenai mata pedang itu laksana tahu lunaknya, setelah lobang tergali, han-hung-fei mengumpulkan tulang-tulang suhengnya dan menguburnya, setelah itu dia membersihkan diri didalam kolam, lalu mulai mempelajari kedua kitab suhunya.

Kota Chongqing semakin kacau , warga banyak yang menderita akibat tindakan pemerintah yang hendak menstabilkan kekuasaannya, Ouw-gan selaku gubernur chongqing mendapat mandat untuk menangkap siapa saja yang dicurigai sebagai pemberontak, mandat ini dimamfaatkan untuk memenuhi kekesalannya pada hek-tiauw piuawkiok, karena hek-tiauw-piauwkiok ikut andil dalam kemelut keluarganya, dimana putrinya Ouw-eng-lin lari bersama Han- bong seorang piuawsu Hek-tiauw.

Gao-tong ditangkap bersama anak buahnya yang hari sedang sibuk sibuk membongkar muatan seorang pejabat tihu kota Chongqing bernama Bao-kuang

“saya harap besok barang ini sudah berangkat ke lokyang Gao- pangcu !” ujar Bao-tihu

“tentu taijin, harapan taijin akan kami laksanakan.” sahut Gao- tong, lalu barang-barang berupa benda-benda antik itu disimpan di didalam kamar gudang, Gao-sun putra bungsu dari Gao-tong memandori dan mengatur letak barang didalam kamar gudang.

Ketika atur sana dan atur sini, sebuah kotak kemas jatuh dan hancur, dan isinya sebuah patung naga yang terbuat dari perak “haya….sial betul..” gerutu Gao-sun sambil memungut patung naga itu untuk, dia mencari peti kemas untuk menyimpan patung naga ini, tapi semua peti kemas sudah terkunci, mau dimasukkan kedalam pas-pas bunga tidak masuk,

“sudahlah tidak usah dikirimkan lagi” pikirnya lalu ia naik tangga ketas dan meletakkan patung itu diloteng kamar, dan dia pun keluar.

“apa sudah disusun semua barang-barang Bao-tihu ?” tanya ayahnya

“sudah ayah.” sahut Gao-sun

“bagus, besok pagi-pagi kalian akan berangkat ke lokyang.” ujar Gao-tong, Gao-sun mengangguk lalu keluar kantor untuk memberi pengarahan pada dua belas piauwsu yang akan dipimpinnya besok.

Pada malam harinya tiba-tiba seratus pasukan tentara dibawa pimpinan Tan-ciangkun “apa ada masalah ciangkun ?” tanya Gao-tong tenang dan tidak curiga sedikitpun, Tan-ciangku membuka lengki untuk dibacakan

“hek-tiauw bokoan merupakan sarang pemberontak, dan oleh karena Gao-tong selaku pimpinan harus ditangkap beserta anak buahnya.” Tan-ciangkun menutup lengki

“pasukan..! tangkap semua dan yang melawan bunuh ditempat

!” teriak Tan-ciangkun, lalu sertaus tentara bergerak, dua puluh piuawsu yang saat itu mendengar isi lengki ditangkap dan dibawa kepenjara, kemudian piauwsu yang lain diburu dan ditangkapi.

Gao-tong, kedua putranya Gao-seng dan Gao-sung beserta tujuh belas piauwsu dijebloskan kedalam penjara, dan tiga hari kemudian empat puluh orang piuawsu Hek-tiauw tanpa diberi kesempatan membela diri dieksekusi atas perintah Ouw-gan, berita itu tersiar keluar, sehingga timbul penentangan dari para piauwsu yang selamat, mereka dipimpin oleh LI-sin, mereka menyergap dan membunuh dua puluh tentara di luar gerbang barat, aksi ini membuat patroli di perketat. Setahun kemudian para tentara menangkapi lelaki dewasa, karena para piauwsu itu menyebar dan menyamar sebagai penduduk biasa, karena Tan-ciangkun curiga bahwa pasokan pangan dari gerombolan piauwsu datang dari pasar, maka ia memerintahkan untuk menangkapi pedagang dan membumi hanguskan pasar tersebut, yang saat itu imbasnya di terima oleh Wang-keng dan keluarganya, tiga bulan setelah pembakaran pasar, Li-sin dan anak buahnya menyusun rencana balasan

“apa yang dilakukan oleh gubernur sangat tidak berprikemanusiaan dan membabi buta, warga yang tidak tahu apa-apa dan pembakaran pasar yang menelan banyak korban jiwa bukti kesadisan dan keberutalan gubernur.” ujar Li-sin “jadi apa yang harus kita lakukan twako !?” tanya Jiang-bao “oleh karena gerakan kita yang menentang gubernur yang mengesekusi pangcu, maka menurut saya untuk membalaskan dendam warga dan piauwkiok kita, maka kita harus menyusup ke kediaman gubernur untuk membunuhnya.”

“benar saya setuju twako, marilah kita susun strategi penyusupan tersebut.” sela Toan-jin kepala piauwsu rute chongqing ke cengdu,

“baik…rencana penyusupan kita bagi dua, pertama kelompok yang menyusup kerumah gubernur dan yang kedua kelompok yang menyusup kekediaman Tan-ciangkun.”

“siapa yang akan menyusup kekediaman gubernur ?” tanya Lo- liang

“yang menyusup kerumah gubernur saya, Liang-gan, cu-pang dan Bu-kim dan dua puluh pasukan pendam bersembunyi disekitar kediaman gebernur, kemudian yang menyusup kekediaman tan-ciangkun toan-sicu, Lo-liang, jiang-bao dan Lu- bhok, kemudian dua puluh pasukan pendam bersembunyi disekitar kediaman Tan-ciangkun.”

“kapan kita beraksi Li-twako ?” tanya Liang-gan

“kita beraksi tiga hari lagi setelah upacara lilin, kita yang menyusup akan menyemar pada upacara itu.”

“baik demikinalah kita laksanakan !” sela Toan-jin, semua mengangguk, tiga hari kemudian upcara lilinpun tiba, dan pada dini harinya, empat bayangan mendekati kediaman gubernur, mereka adalah Li-sin dan tiga rekannya, empat orang penjaga di pos depan, dengan hati-hati dibekuk dan dibunuh, pakaian empat mayat itu dilucuti untuk dipakai sebagai penyamaran lalu mayat penjaga itu di sembunyikan, demikian juga yang terjadi dikediaman tan-ciangkun yang dipimpin oleh Toan-jin.

Saat matahari terbit baik gubernur dan ciangkun berkemas diri menuju kelenteng untuk mengadakan upacara lilin, iring-iringan tentara pun mengawal gubernur, Li-sin dan tiga orang rekannya sudah membaur dengan iringan pengawal gubernur, upacara selesai sampai sore hari, lalu gubernur dan ciangkun kembali kekediaman masing-masing, sesampai dirumah, gubernur langsung istirahat dan tertidur pulas, Li-sin dan tiga rekannya beraksi

“ada apa ?” tanya pengawal dalam kepada Li-sin yang datang bersama Liang-gan

“kami dari penjaga posko menerima surat dari tan-ciangkun, dan kata pengawal ciangkun sangat rahasaia dan penting untuk segera diketahui oleh taijin.”

“tapi taijin sedang istirahat.” sahut pengawal itu

“saya yakin ini adalah tentang pemberontakan, karena kami tanya kenapa tidak disampaikan pada waktu taijin bersama ciangkun, lalu mereka jawab, ciangkun juga baru menerima informasi dari penyelidik sesampai dirumah sehingga ciangkun segera menulis surat.” ujar Li-sin, pengawal dalam itu meragu, sesaat hening

“baik tunggu sebentar.” sahut pengawal itu, lalu dia mengetuk pintu dan menyeru dengan nada ragu

“sialan…ada apa !?” teriak Ouw-gan dari dalam dengan nada marah, pengawal itu menelan ludah sanking cemasnya “taijin…, Tan-ciangkun mempunya informasi penting untuk diketahui taijin.” Sahutnya dari luar kamar, Ouw-gan membuka pintu, saat pintu terbuka Li-sin bergerak dengan cepat melempar tiga buah pisau sekaligus

“cep…aghhh….” sebuah pisau menancap di kening, kemudian dileher dan didada, Ouw-gan menggelepar bersimbah darah, dua oraang pengawal dalam terkejut dan terkesima, namun Liang-gan yang dalam rencana langsung menyerang pengawal dalam, untungnya pengawal dalam tangkas ditengah keterkejutan masih bisa mengelak dan hanya bajunya yang disabet pedang

“pemberontak menyusup…!” teriak dua orang pengawal dalam sambil terus melakukan perlawanan kepada Li-sin dan Liang- gan, teriakan itu menggugah pasukan yang berjaga di teras depan, sehingga mereka berlarian kekamar gubernur, pertempuran pun makin ramai, sementara dua puluh piauwsu merangsak masuk kedalam kediaman gubernur, setelah mendapat isyarat dari cu-pang yang menjaga pos luar, perang kecil pecah dihalaman rumah gubernur, suara beradunya senjata dan jeritan korban berjatuhan terdengar disana sini, dua puluh paiuwsu sedapat mungkin menjatuhkan korban

sebanyak-banyaknya sebelum mereka jadi korban, selama tiga jam pertempuran itu berlangsung dan malam pun sudah merambat, akhirnya dua puluh empat piauwsu tewas semua, namun dari pihak pasukan gubernur ada empat puluh orang korban tewas dan dua puluh orang korban luka berat serta sepuluh orang luka ringan.

Sementara ciangkun sesampai dirumah dia tidak tidur, tapi dia minum-minum di layani empat orang selirnya, Toan-jin dan tiga rekanya beraksi, Toan-jin dan Lu-bhok datang menghadap “ada apa kalian kemari ?” tanya pengawal dalam

“kami hendak melaporkan surat yang dibawa pengawal Ouw- taijin.”

“aneh…kenapa tidak disampaikan pada saat upacara ?”

“hal ini memang mencurigakan, makanya kami segera kesini untuk memberikan surat ini pada ciangkun

“ada apa rebut-ribut disitu !?” sela suara Tan-ciangkun dari dalam kamar, kemudian tan-ciangkun membuka pintu “sirr….sir…eits..ahh….” serangkum jarum kecil dilempar Toan- jin, Tan-ciangkun dapat berkelit, namun lemparan kedua yang menngarah kemuka walaupun masih sanggup dielakkan tan- ciangkun sebuah jarum menancap dilambungnya

“bunuh pemberontak…” teriak Tan-ciangkun, sambil menyerang toan-jin, sementara dua pengawal menangkis serangan Lu- bhok.

Toan-jin dengan kemampuannya yang lumayan tinggi menyambut tenang dengan dahsyat tan-ciangkun, dia bergerak cepat untuk menewaskan Tan-ciangkun sebelum keroyokan penjaga datang, Tan-ciangkun yang sudah dipengaruhi jarum racun merasa kaku dan dadanya sesak, seharusnya ia tidak terjun melawan toan-jin dan membiarkan dua pengawalnya mencegat, tapi karena emosi ia langsung menyerang, dan tindakan ini memberi peluang pada Toan-jin, sehingga dalam dua gebrakan saja, ia sudah merasa kaku, sementara lawannya toan-jin yang sudah siap mati untuk tujuannya “crak..cras….” sebuah bacokan kuat memutuskan bahunya dan disusul tebasan pada lehernya hingga putus, namun dua pedang pengawal juga menancap dipunggungnya, karena Lu- bhok sudah tewas terlebih dahulu dan segera keduanya melempar pedang untuk menyelamatkan kepala Tan-ciangkun, namun sudah terlambat bersamamaan dua pedang memancap mata pedang toan-jin juga menghantam lunak leher tan- ciangkun.

Sementara diluar lo-liang dan jiang-bao bersama dua puluh piauwsu mengadakan poerang kecil bersama pasukan ciangkun, perlawanan mereka yang gigih hanya berlangsung satu jam, karena ratusan pengawal mengerubuti mereka sehingga merekapun tewas semua, sementara dari pihak ciangkun hanya lima orang yang tewas dan dua luka ringan.

Keesokan harinya kota chongqing gempar dan heboh, tewasnya gubernur dan ciangkun menjadi berita utama, para warga yang merasa sakit hati akibat penindasan gubernur dan ciangkun merasa gembira menyambut kematian dua pembesar zalim itu, dua bulan kemudian pengganti Ouw-gan datang dari kota raja, gubernur baru itu Gui-yan seorang jenderal, dan ironisnya gubernur ini lebih sadis dari ouw-gan, perintah pertamanya membunuh seluruh tahanan, sehingga dua ratus tahanan meregang nyawa termasuk Wan-keng yang malang.

Kota Lokyang adalah kota besar setelah kota raja Chang-an, Lokyang yang padat dan ramai serta dipenuhi bangunan- bangunan megah membuat takjub para pendatang, suatu hari seorang kakek dengan seorang gadis kecil berumur sepuluh tahun memasuki kota lokyang, gadis kecil itu adalah Wan-lin yang kita tahu pingsan dikediaman Gao-tong dan dibawa oleh Lam-sin-pek, Lam-sin-pek membawa Wan-lin ke sebuah hutan diluar kota chongqing, Lam-sin-pek meletakkan tubuh Wan-lin direrumputan kemudian ia membakar kelinci yang ia tangkap saat memasuki hutan, tidak lama kemudian Wan-lin siuman

“nenek…” keluhnya sambil membuka mata, namun yang dilihat hanya rerimbunan hijau

“eh..dimana aku !” jeritnya lirih, dia melihat seorang kakek bermata tajam dan perawakannya pendek dengan jenggot panjang, kakek itu memandangya dan tersenyum

“kamu sudah siuman ? sekerang makanlah dulu, tentunya kamu sangat lapar bukan ?” ujar Lam-sin-pek

“kakek siapa ? bagaimana dengan nenek-gao dan beng-te ?” “si nenek itu sepertinya sudah mati, dan aku hanya menemukan kamu yang sedang pingsan, jadi kamu ku tolong, makanlah dulu !” sahut Lam-sin-pek sambil memberikan paha kelinci bakar, Wan-lin menerima daging bakar itu, dan memang perutnya sangat lapar, dengan lahap daging bakar itu dimakan, dan dalam waktu yang tidak lama dua paha daging bakar amblas keperutnya.

“Sekarang kamu tidak usah cemas karena saya akan menjagamu dengan baik.”

“terimakasih kakek..” sahut Wan-lin

“jangan panggil kakek, tapi mulai sekarang kamu adalah muridku dan aku jadi gurumu.”

”terimakasih suhu.” ujar Wan-lin sambil bersujud tujuh kali didepan Lam-sin-pek, sejak itu Wan-lin ikut suhunya dan belajar ilmu silat dari datuk kosen itu, Lam-sin-pek membawa Wan-lin ketempatnya di “pek-kok” (lembah petir) di sebelah selatan kota kangshi.

Sejak sampai di pek-kok, Wan-lin mulai belajar ilmu silat dibawah bimbingan datuk dunia persilatan yang kosen, Wan-lin demikian berbakat sehingga dalam masa lima tahun ia sudah menjadi gadis kecil yang luar biasa lincah dan kuat, Lam-sin- pek sangat senang dan bangga pada muridnya ini, dan untuk mengenal luas liok-lim, Lam-sin-pek mengajak muridnya untuk berkelana, sehingga tiga bulan kemudian mereka sampai di kota lokyang.

Lam-sin-pek dan muridnya masuk kesebuah likoan yang cukup padat

“mau pesan apa cianpwe ?” tanya pelayan

“sediakan makanan dan arak !” sahut Lam-sin-pek, pelayan itu mengangguk dan segera membalik badan untuk mempersiapkan pesanan, setelah makanan dihidang keduanya makan dengan lahap

“setelah makan kita akan kesuatu tempat.” ujar Lam-sin-pek “kita mau kemakah suhu ?”

“nanti kamu akan tahu, jadi selesaikanlah makanmu “ sahut Lam-sin-pek, Wan-lin segera memburu suapannya dan minum arak sepuasnya, lalu mereka berdiri dan meninggalkan ikoan, namun dipintu masuk keduanya dicegat dua penjaga

“orang tua kamu belum bayar makanan.” tegur penjaga “kalau kalian berdua dapat kalahkan muridku ini, saya akan

bayar.” sahut Lam-sin-pek, Wan-lin sudah dari tadi siap siaga, karena hal ini sudah beberapa kali terjadi selama tiga bulan perjalanannya dengan suhunya, disetiap penginapan dia selalu diadu oleh suhunya dengan penjaga likon atau restoran. Kedua penjaga itu heran dan menoleh pada Wan-lin

“kamu jangan coba main-main dengan kami orang tua !” bentak penjaga dengan nada marah karena dipandang rendah.

“kalian ini yang macam-macam dengan saya, lin-ji hajar kedua cecunguk ini !” ujar Lam-sin-pek, Wan-lin melompat dan menerjang kedua penjaga.

“duk..shh,…” tangan wan-lin ditangkis seorang penjaga namun dia mendesis kesakitan karena tangannya rasa kesemutan, temannya menerkam Wan-lin namun dengan gesit ia berkelit dan melayang dengan sebuah tendangan, sipenjaga mencoba menangkap kaki

“plak…iih…duk..” tangan sipenjaga dapat menangkap pergelangan kaki Wan-lin yang kecil, namun segera dipaskan karena tangan yang memegang itu laksana kesetrum, dan tendangan kaki yang lain menghantam muka sipenjaga dan dengan gerakan indah kedua kaki Wan-lin menjejak tanah.

Kedua penjaga menyerang Wan-lin dari dua arah, namun kelincahan Wan-lin membuat mereka kelabakan, keduanya mengejar-ngejar Wan-lin denngan amarah yang memuncak, saat mereka ngos-ngosan dua buah tendangan menyilang dari Wan-lin menghantam muka seorang penjaga dan kaki satunya menhantam pundak penjaga yang kedua, dua penjaga itu terpapar kesamping sambil meringis kesakitan, mulut penjaga yang kena mukanya pecah berdarah, dan yang kena pundaknya merasakan pundaknya nyeri yang sangat, lalu mereka merangkak menghadap Lam-sin-pek

“ampun cianpwe, kami menyerah..” ujar keduanya sambil menjura berkali-kali

“hehehe..hehehe… sudah kalau begitu, kami pergi.” sahut Lam- sin-pek dengan langkah jumawa meninggalkan likoan diikuti Wan-lin, keduanya terus menuju sebelah barat kota, dan didepan sebuah bangunan tinggi Lam-sin-pek berhenti “bangunan apakah ini suhu ?”

“ini namanya menara Liu, bangunannya ada tujuh tingkat.” “apakah kita akan masuk kedalam menara ini suhu.”

“benar kita akan masuk kedalam, namun kita tunggu sampai malam, saat pergantian jaga.”

“apa yang mau kita lihat didalam menara ini suhu ?”

“ada yang mau suhu cari, mungkin ada didalam menara.” jawab Lam-sin-pek, lalu keduanya berjalan-jalan menikmati kolam ikan dibawah jembatan besar, tidak lama kemudian malam pun tiba, sepuluh penjaga di halaman menara masuk kedalam bangunan disamping menara, dan tidak lama kemudian sepuluh penjaga baru keluar, dan saat pergantian jaga itu Lam- sin-pek dan muridnya sudah masuk dab melompat ke atas atap tingkat pertama, dan saat penjaga baru meneglilingi halaman Lam-sin-pek dan muridnya sudah berada di atas atap tingkat keempat.

Dengan ringan dan gesit Lam-sin-pek menggendong muridnya memasuki ruangan tingkat empat, dan ketika berada diruangan tidak lama seorang muncul dan masuk keruangan tersebut, dua kakek saling melotot

“hehehe…ternyata Lam-sin-pek.” Ujar lelaki tua kurus dan tinggi rambutnya hanya ada disekitar kepala, sementara dibagian tengah licin pelotos.

“kamu untuk apa kesini “liang-lo-mo” !?”

“hehehe…hehehe… emangnya kamu saja yang punya urusan

!?”

“sialan…kamu mengganggu saja, lo-mo.”

“kamu jangan banyak cincong lam-sin-pek, aku mau menyelesaikan urusanku.” ujar Liang-lo-mo sambil kesebuah kamar dan mengobrak abriknya

“siapakah orang itu suhu ?” tanya Wan-lin

“dia Liang-lo-mo, seorang datuk dunia persilatan.” “apakah lebih sakti dari suhu !?”

“bocah gablek, suhumu mana terkalahkan, karena kami sesama datuk, makanya suhu diam.”

“hehehe….kamu jangan membual lam-sin-pek.” sela Liang-lo- mo dari dalam kamar

“cepat kamu selesaikan urusanmu lo-mo dan enyah dari sini !” “sialan…tidak ada pun benda itu disini,” sumpah liang-lo-mo dan keluar dari kamar yang kedua.

:apakah kamu juga mencari patung naga lam-sin-pek ?” “heh..memangnya kamu juga mencari patung naga ?” “aku kesini karena katanya patung naga mau disimpan di menara ini.”

“apa kamu sudah periksa semua lo-mo ?”

“sudah… sialan benar .” sumpah Liang-lo-mo dan segera terjun keluar

“bagaimana suhu, apakah yang akan kita lakukan ?”

“yah kita keluar lagi kalau begitu, benda itu tidak ada disini.” sahut Lam-sin-pek

“sebenarnya benda apakah yanag suhu cari ?” “sebuah patung naga, lin-jin

“apa hebatnya patung naga itu suhu ?

“patung naga itu menyimpan rahasia letak sebuah pedang yang bernama Bun-liong-sian-kiam.”

“tentunya pedang itu sangat luar biasa suhu.”

“benar lin-ji, jika kamu dapat pedang itu, kamu akan merajai dunia persilatan, karena pedang itu sangat tajam dan berhawa sakti yang membuat lawan merinding ketakutan.” Lam-sin-pek dan muridnya turun dari manara Liu, kemudian keduanya keluar dari gerbang barat kota dan berhenti disebuah hutan dan melewatkan malam di didalam hutan, keesokan harinya lam-sin-pek dan Wan-lin bangun

“Lin-ji, kamu pergi tangkap binatang buruan untuk kita makan.” perntah Lam-sin-pek

“baik suhu.” sahut Wan-lin dan segera meninggalkan suhunya, Wan-lin masuk lebih dalam ketengah hutan, seekor anak kijang sedang merumput ditepi sebuah sungai kecil, Wan-lin dengan cepat merotar sebuah batu.

“trak..duk…” batu menghantam kepala anak kijang, anak kijang itu sempoyongan dan jatuh, namun anak kijang berusaha berdiri, Wan-lin segera meloncat keluar dari persembunyian dan menagkap anak kijang yang hendak lari, namun sebuah bayangan kilat juga muncul dari arah berlawanan