-->

Pedang Dewa Naga Sastra Jilid 1

Jilid 1

Jalanan setapak dikaki bukit wuming berkelok melinkari lereng dan “ong-kok” (lembah raja) jalanan itu becek sebab sudah dua hari diguyur hujan, aroma tanah yang basah tercium bercampur aroma bunga botan yang tumbuh ditengan hutan yang lebat, butir- butiran air laksana mutiara putih menghiasi dedaunan yang hijau, aroma alam itu demikian asri dan alamiah.

Dikejauhan serombongan piauwkiok muncul dari balik bukit, diatas gerobak nampak berkibar bendera berwarna putih dengan gambar burung rajawali hitam, rombongan itu adalah “hek-tiauw-piuwkiok” (ekpedisi rajawali hitam) dua kereta gerobak dikawal dua belas piauwsu berpakaian hitam bergerak menuruni jalan yang basah dan becek, enam piauwsu berusaha menahan laju gerobak saat menuruni jalan menurun, beberapa kali ringkikan kuda yang menarik gerobak terdengar, dan akhirnya rombongan sampai dijalanan yang rata.

“terus lanjutkan perjalanan ! dan kita akan istirahat di pinggir sungai ular.” teriak Li-sin pimpinan rombongan yang merupakan wakil ketua piauwkiok yang dipimpin Cao-bang yang dijuluki Hek-tiauw-jiauw” (cakar rajawali hitam), rombongan itu terus melanjutkan perjalanan, ketika tengah hari rombongan itu sampai di bahu sungai ular, sebuah sungai yang dalamnya hanya sepinggang,

rombongan istirahat sambil memebersihkan diri disungai yang mengalir jernih, kemudian mereka menyiapkan makan siang “setelah istirahat kita akan memburu perjalanan mumpung jalan sudah rata dan agak kering, sehingga sebelum malam kita sampai dipadang “thouw” (kelinci).” ujar Li-sin, para anak buahnya menganggguk menyetujui.

Tidak lama kemudian mereka pun segera berkemas dan melanjutkan perjalanan, kuda yang menarik gerobak sudah dapat berlari cepat, rombongan ini sedang membawa kiriman berupa enam buah peti besar berisi kain dan pewarna dari kota Datong menuju kota chongqing, saat malam sudah merambat, merekapun sampai di padang thouw, lalu mereka mendirikan tenda untuk melewatkan malam.

“Han-bong, apa rencanamu setelah sampai di chongqing ?” “saya akan bicara pada pangcu untuk libur selama dua bulan.” “menurut perkiraan bulan ini sudah masuk sembilan, jadi tinggal menunggu hari, semoga saja sesampai kita di chongqing, saya dapat menunggui anak saya lahir.”

“sekarang istrimu tinggal dengan siapa bong-te ?” tanya seorang rekannya

“sekarang istri saya tinggal bersama seorang pelayan, Lu-twako “apakah kamu tidak takut meninggalkan istrimu yang hamil tua?”

“berkat usaha pamannya, ayah ibunya sudah dapat menerima.”

“sebenarnya saya takut twako, namun saya harus melakukan pekerjaan saya, dan saya harap perhitungan melahirkan tidak meleset.”

“ya..sebaiknya setelah kita sampai kamu ambil libur untuk menunggu istrimu melahirkan, dan kamu tidak usah ke kota, biar nanti saya akan bicara dengan Gao-twako”

“apakah demikian cukup Li-twako ?”

“tentu sudah cukup, dan Gao-twako akan memaklumi keadaanmu.”

“terimaksih Li-twako.” ujar Han-bong

Dilema yang dihadapi oleh Han-bong memang dramatis, Han- bong seorang miskin sejak sejak lahir, ayahnya sebagai piauwsu hek-tiauw tewas dibunuh perampok, saat itu umurnya lima tahun, dan tiga tahun kemudian ibunya pun meninggal, karena sering sakit-sakit, lalu Han-bong dipungut Gao-tang pimpinan cabang hek-tiauw di kota chongqing.

Sejak umur tujuh belas tahun Han-bong sudah ikut mengawal kiriman keberbagai daerah, suatu hari Toan-gou pimpinan hek- tiauw cabang kota kangshi memanggil rombongan Han-bong yang baru tiga hari sampai dikota khangshi dari chongqing dalam satu pengiriman

“besok kalian sudah harus berangkat mengawal keluarga Coa- tihu (hakim coa) yang hendak menuju tempat gubernur Chongqing, Coa-tihu adalah adik sepupu istri gubernur chongqing, mereka terdiri dari enam orang, rombongan ini akan langsung saya pimpin sendiri, jadi segeralah berkemas !” perintah Toan-gou, para piauwsu pun bubar.

Keesokan harinya Coa-tihu pun datang dengan kereta bersama keluarga, lalu mereka turun dan masuk pada kereta miliki Hek- tiauw, dua puluh empat piauwsu sudah bergegas membentuk barisan, seorang pemuda keluar terburu-buru dari asrama hek- tiauw

“cepat bong-te ! kita hendak berangkat !” seru Li-sin, Han-bong masuk kedalam barisan, Toan-gou mendekati Li-sin

“apakah piauwsu dari chongqing sudah lengkap, L-te !?” “sudah Toan-pangcu

“bagaimana piuawsu dari khangshi Lo-te !?” tanya Toan-gou pada pimpinan rombongan piuawsu dari khnagshi.

“sudah lengkap Toan-pangcu.” sahut Lo-hung dengan sigap.

“bagus kalau begitu, sekarang mari kita berangkat !” teriak Toan-gun, kuda penarik kereta pun bergerak di iringi barisan piauwsu yang berjalan disisi tiga buah kereta kuda, dari seluruh piauwsu yang menunggang kuda selain toan-pangcu ada delapan orang, salah satunya adalah Li-sin dan dua wakilnya, serta satu juru jalan, kemudian Lo-hung dan dua wakilnya serta satu juru jalan, sedangkan yang lain enam belas orang berjalan kaki termasuk Han-bong.

Seminggu kemudian rombongan sampai didesa min-cun yang jaraknya tiga hari perjalanan dari kota Chongqing, rombongan membuat tenda di luar desa untuk melewatkan malam, saat malam merambat seorang gadis muda dan cantik keluar dari tenda dimana Han-bong sedang giliran jaga bersama empat temannya

“piauwsu !” panggil gadis itu, para piuawsu menoleh, lalu Han- bong bangkit dan melangkah mendekati sigadis

“ada apa siocia ?”

“aku…hendak kebelakang tolong temani !”

“baik..marilah siocia, disebelah sana ada sumber air.” sahut Han-bong

“mau kemana bong-te ?” tanya kawannya

“siocia hendak kebelakang dan aku akan membawanya ke sumber air disana.” jawab Han-bong, keempat rekannya mengangguk dan kembali pada obrolan mereka.

Han-bong membawa si gadis kesebuah sungai yang jaraknya kira-kira sepuluh tombak dari tempat rombongan

“hati-hati siocia, jalannya agak sedikit menurun.” ujar Han-bong memperingatkan sambil memegang tangan lembut sigadis menuntunnya turun kebawah, setelah sampai dipinggir sungai “aku akan kembali keatas, dan setelah selesai panggil saja, aku akan turun kembali.”

“jangan..! aku takut, kamu disini saja, tapi jangan melihatku.” “baiklah siocia.” sahut Han-bong lalu menjauh sedikit dari pinggir sungai dan membalik tubuhnya membelakangi sungai.

Sigadais segera membuka celananya dan duduk dalam sungai dan melakukan hajatnya, matanya yang bening selalu menatap punggung Han-bong, malam itu bulan bersinar terang, suasana hening hanya dihiasi suara riak sungai yang mengalir menerpa bebatuan, beberapa lama kemudian sigadis pun selesai, dia sudah merapikan kembali celananya.

“piuawsu ! aku sudah selesai.” seru sigadis, Han-bong lalu berbalik dan mendekati pinggir sungai

“piauwsu ! siapakah namamu ?” tanya sigadis “aku Han-bong siocia.”

“aku Ouw-eng-lin, terimakasih ya telah menemaniku,:

“sudah tugas saya Ouw-siocia.” sahut Han-bong, lalu Han-bong pun kembali menuntun Ouw-eng-lin naik keatas.

Keduanya pun berjalan kembali ke tempat rombongan, Han- bong berjalan disamping Ouw-eng-lin

“Han-piauwsu, besok kamu berjalan disisi kereta saya yah ?” “kenapa ouw-siocia ?” tanya Han-bong heran “aku ingin melihat jelas wajahmu.” jawab Ouw-eng-lin, Han- bong hendak berkata, namun sudah sampai di tempat rombongan, dan Ouw-eng-lin pun segera masuk kedalam tenda.

Perkataan Ouw-eng-lin jadi bahan pikiran Han-bong malam itu, hatinya bertanya-tanya mau apa ouw-eng-lin meminta hal seperti itu, keesokan harinya rombongan pun berkemas dan melanjutkan perjalanan, Han-bong pun melakukan seperti yang diminta Ouw-eng-lin, dia berjalan disisi kereta sebelah jendela kereta yang ditempati Ouw-eng-lin, matanya menatap kearah jendela kereta, dan tiba-tiba tirai kereta tersingkap, wajah cantik dengan sepasang mata bening tepat menatap matanya, hatinya bergetar hebat, darahnya mengalir cepat, Han-bong berusaha menenangkan degup jantungnya yang menggelepar

Han-piauwsu apakah itu kamu ?” “benar ouw-siocia.”

“hi..hi…. terimakasih telah melakukan hal yang kuminta.” “ada apa sebenarnya siocia?” tanya Han-bong makin heran “aku ingin melihat jelas wajahmu.” jawab Ouw-eng-lin dengan senyum, Han-bong terkejut, hatinya makin berdegup, dia mencoba melirik Ouw-eng-lin 

“terus sekarang bagaimana ?” tanya Han-bong berlagak bodoh “hih…hi…ya sekarang sudah jelas.” jawab Ouw-eng-lin sambil menutup tirai.

Han-bong garuk kepala yang tidak gatal melihat tirai kereta yang sudah tertutup, dua hari kemudian pada saat menjelang malam, rombongan sampai di “san-kiok” (bukit seruni), rombongan pun istirahat, Ouw-eng-in dan saudari sepupunya Coa-mei yang berumur delapan tahun turun dari kereta, pemandangan dibukit itu sangat indah, bunga seruni banyak tumbuh disekitar bukit,

“bunga seruninya indah sekali In-cici.” seru Coa-mei sambil berlari mendekati rumpun bunga seruni, ia memetik setangkai bunga seruni dan menyelipkan dirambutnya.

“apakah kita akan bermalam disini Toan-pang ?” tanya Coa-tihu “benar taijin, dan besok kita akan lanjutkan perjalanan sehingga sore hari kita akan memasuki kota Chongqing.” jawab Toan- gou, lalu dengan lantang ia memerintahkan anak buahnya untuk mendirikan tenda, Han-bong dengan cekatan mengerjakan perintah ketuanya yang dimandori oleh Li-sin, setelah semuanya selesai para piauwsu duduk sambil menunggu malam, bahkan sebagian pergi mandi kesumber air yang mengalir di kaki bukit.

Han-bong juga hendak menyusul rekan-rekannya untuk mandi, namun ia berpapasan dengan Ouw-eng-lin yang memandangnya sambil tersenyum, Han-bong balas senyum, dan hendak berlalu

“Han-piauwsu, apakah kamu hendak mandi juga ?” “benar Ouw-siocia.” sahut Han-bong

“apakah ada tempat untuk wanita ?”

“tentunya ada siocia, siocia bisa agak kehulu sungai.” “ah…aku juga mau mandi cici, ayoklah kita mandi !” sela Coa- mei

“bisakah Han-piauwsu menemani kami agak kehulu ?” tanya Ouw-eng-lin, Han-bong nampak sedikit ragu

“bawalah mereka ketempat pemandian piuawsu !” sela Coa-tihu yang kebetulan mendengar permintaan putrinya, Han-bong melihat pimpinannya Toan-gou, Toan-gou mengiyakan dengan mengangguk “baiklah taijin.” sahut Han-bong, lalu Han-bong pun membawa kedua gadis itu ke hulu sungai.

Air sungai itu sangat jernih, Coa-mei sangat gembira dan tidak sabar ingin mandi, ia segera membuka bajunya, namun ia berhenti ketika sadar bahwa ada Han-bong disamping mereka. Kalian mandilah , aku akan mandi agak kehilir.”

“jangan….Han-piawsu disini saja, kami takut ditengah hutan ini.” cegah Ouw-eng-lin”

“bagaimana bisa begutu Ouw-siocia.” sahut Han-bong. “Han-piauwsu duduk dan membelakangi sungai, sementara kami mandi.”

“lalu aku mandi setelah kalian, begitu ?” “benar Han-piauwsu.”

“hmh…baiklah, tapi kalian harus agak cepat, supaya kita tidak kemalaman disini.” ujar Han-bong, Ouw-eng-lin mengangguk lembut dengan senyumnya yang aduhai.

Han-bong duduk dan membelakangi sungai, lalu kedua gadis itu membuka baju, lalu dengan cepat mereka berlari ke dalam sungai, terdengar tawa coa-mei yang bening saking gembiranya, Han-bong laksana patung hidup duduk dipinggir sungai, sesekali Ouw-eng-lin menatap punggung Han-bong yang demikian berisi, Han-bong memang memiliki tubuh yang kuat dengan lekukan yang menunjukkan kekekaran, disamping itu wajahnya juga tampan.

Setelah merasa puas, Ouw-eng-lin dan Coa-mei keluar dari sungai, dengan kain pengering mereka melap badan mereka, lalu baju ganti pun dipakai

“kami sudah selesai Han-piauwsu.” seru Ouw-eng-lin, Han- bong membalik badannya, dua pasang mata itu bertemu, dan berhenti sesaat, namun kemudian Ouw-eng-lin menunduk. “kalau begitu sekarang giliranku.”

“benar han-piauwsu, kamu mandilah !” sahut Ouw-eng-lin, Han- bong segera membuka bajunya dan menggulung pipa celananya

“apakah kamu tidak mandi Han-piauwsu ?” tanya Ouw-eng-lin “iihh…ulaaarrr….!” jerit Coa-mei, Han-bong dengan cekatan melompat kearah Coa-mei dan menariknya kebelakangnya, dan mundur menjauh, Ouw-eng-lin dan coa-mei menggigil dibelakang Han-bong

“Ouw-siocia pinjam dulu tusuk rambutmu.” ujar Han-bong “kamu hendak apa Han-piauwsu.” tanya Ouw-eng dengan suara bergetar dan memberikan tusuk rambutnya yang terbuat dari giok, Han-bong memegang erat tusuk rambut sambil mundur, ular itu terus merayap mendekati mereka, dan ketika mereka tersudut pada serumpun bamboo, Han-bong dengan cekatan melompat

“crak….crak…crak….” Han-bong menancapkan tusuk rambut dan mengenai kedua mata ular dan ujung mulutnya sebelah atas, ular itu kesakitan mencoba mematuk kepala Han-bong, namun disambut dengan pukulan kuat oleh han-bong, kepala ular itu mental kesamping, namun ekor ular sudah melilit kaki Han-bong.

Han-bong terguling bersama ular yang menggulung tubuhnya, sementara Ouw-eng-lin menjerit ketakutan dibalik rumpun bambu, ia melihat bagaimana Han-bong berjuang keras melawan lilitan ular besar itu, mulut ular yang sudah buta itu menganga hendak menelan kepala Han-bong,

“crok…” langit-langit mulut ular tembus, rasa sakit membuat lilitan ular sedikit mengendur, dengan cepat Han-bong berdiri dan berlari menghempaskan badannya yang terlilit kerumpun bambu yang banyak bekas potongan para pemburu “brushhh….” tubuh yang dibungkus lilitan ular menancap di empat bambu, darah mengalir deras, dan ternyata darah ular karena tubuhnya tertancap pada bambu, ular itu menggeliat dan ekornya jatuh tanda kekuatan pilinannya berhenti.

Han-bong melepas lilitan ular dari tubuhnya dan coba berdiri dan pahanya ternyata luka dihantam bambu yang tembus daru tubuh ular, dan untungnya hanya setengah dim menusuk pahanya, dengan tertatih-taih ia berjalan kearah sungai

“kamu terluka Han-piauwsu ?” tanya Ouw-eng-lin berlari mendapatkan Han-bong “luka ringan saja siocia.” Sahut Han- bong sambil membersihkan lukanya, dia sedikit merobek celananya yang bolong untuk melihat lukanya, darahnya terus mengalir.

“Ouw-siocia tolong ambil daun-daun tumbuhan itu.” ujar Han- bong, Ouw-eng-lin segera mencabuti daun tumbuhan yang ditunjuk Han-bong, lalu memberikannya kepada Han-bong, Han-bong agak turun kebawah dana duduk disebuah batu, lalu ia menumbuk daun-daun itu, Ouw-eng-lin mendekati Han-bong

:biar aku han-ko.” ujar Ouw-eng-lin sambil memegang tangan Han-bong yang memegang batu, Han-bong meringis dan memberikan batu itu pada Eng-lin, Ouw-eng-lin pun melanjutkan menumbuk daun itu sampai lumat

“sudahlah siocia.” ujar Han-bong, lalu meraup lumatan daun itu dan menempelkannya di atas lukanya, dan spontan Eng-lin membalut luka itu dengan sapu tangannya, Han-bong terpaksa membiarkannya

“sapu tanganmu akan kotor siocia, sobekan baju saja bisa kita gunakan.”

“tidak mengapa Han-ko, apakah Han-ko bisa berjalan ?” “bisa, hari sudah gelap marilah kita segera kembali ke tempat rombongan.” sahut Han-bong, lalu merekapn meninggalkan sungai, saat mereka berjalan dua tombak, empat rekannya datang

“kamu kenapa Bong-te ? apa yang terjadi ?” tanya rekannya “kami diserang ular Liang-ko, dan untung kami selamat.” Jawab Han-bong, lalu dua rekannya memapahnya berjalan menuju tempat rombongan

“ada apa dengan Bong-te ?” tanya Li-sin

“disungai mereka di serang ular .” jawab rekannya sambil mendudukkan Han-bong

“itu luka bagaimana , Bong-te?” tanya Li-sin

“ini luka karena tertusuk bambu Li-twako, aku tidak apa-apa dan lukanya sudah saya lamuri dengan rumput obat.” jawab Han-bong

“jiwi-siocia tidak apa-apa ?” tanya Li-sin “kami tidak apa-apa paman.” Jawab Coa-mei

“syukurlah, sekarang kembalilah ketenda jiwi-siocia

“boleh Han-ko istirahat didalam tendaku ?” tanya Eng-lin tiba- tiba

“ah..saya tidak apa-apa siocia, siocia jangan khawatir.” sela Han-bong

“benar siocia, siocia tidak usah cemas begitu.” sahut Li-sin sambil senyum

“paman…mintalah paman piauwsu mengizinkan han-ko istirahat di tendaku.” pinta

Eng-lin pada Coa-tihu.

“haya…tidak bisa begitu Lin-ji, biarlah teman-teman piauwsu yang mengurusnya.”

“tapi paman, aku ingin menjaga Han-ko, dia telah menyelamatkan saya dan Mei-moi.” bantah eng-lin

“benar, tapi kan teman-teman piuawsu ada yang mengurus dan menjaganya.”

“benar ouw-siocia, aku tidak apa-apa, masuklah ketendamu, lukaku tidak serius kok.” sela Han-bong merasa risih dipandangi rekan-rekannya, terlebih sebutan eng-lin padanya demikian akrab terkesan begitu perhatian.

“benarkah Han-ko ? bagaimana nanti kalau kamu demam ?” “hehehe..hehehe… kalau ia demam biar aku yang mengkompresnya siocia.” sahut Toan-gou, para piauwsu juga tidak dapat menahan senyuman.

Eng-lin tertunduk karena malu, baru ia sadar betapa suasana hatinya mencuat kepermukaan dan diketahui oleh semua orang “:baiklah kalau begitu, kami pergi.” ujar Eng-lin sambil menarik Coa-mei memasuki tenda, lalu semuanyapun bubar dan kembali ketempat masing-masing

“kamu tidak usah jaga malam ini Bong-te.” ujar Li-sin “baik twako.” sahut Han-bong

“memang harus begitu twako, karena kalau tidak kita akan dimaki siocia.” sela rekannya

“heheh..hahah..hahaha…” tawa merekapun meledak, Han- bong jadi risih

“ah..kalian ini ada-ada saja.” sahut Li-sin, lalu meninggalkan mereka, Han-bong merebahkan badannya

“maaf ya Bong-te, ternyata malam ini aku yang menyelimutimu, hihihi..hehehe….” ujar Liang-gan, tiga kawannya pun ikut

tertawa.”

“ah..gan-ko becanda saja.” sahut Han-bong “Bong-te, apakah kamu hendak tidur langsung ?” “eh..memangnya kenapa Gan-ko ?” “eh Bong-te, kamu luar biasa sekali dapat mengambil perhatian putri gubernur.” sela rekannya yang lain

“Ouw-siocia memang orang baik Bao-ko, jadi tidak ada salahnya jika ia begitu perhatian.”

“eh… bong-te aku mau tanya, apakah kamu suka pada siocia

?”

“eh..kok Liang-ko bertanya seperti itu ?”

“karena saya lihat sejak kamu menemaninya buang air, sikapnya berubah, dan dia sering memandangimu dengan seulas senyum.”

“Liang-ko bohong, liang-ko hanya menggodaku kan ?”

“siapa bohong, ini serius loh Bong-tem aku sering menangkap sikapnya yang begitu, jadi menurut pendapat saya, ia pasti menyukai Bong-te.”

“ah..sudahlah aku mau tidur.”

“eit..tunggu dulu, kamu belum jawab pertanyaanku.”

“Liang-ko, apa tidak seperti pungguk merindukan bulan jika aku menjawab ia aku suka siocia ?”

“heheh…soal pungguk soal belakangan, yang penting kamu suka kan ?”

“benar, lalu bagaimana, apakah ada artinya ?”

“ya ada dong, karena kamu suka dan siocia juga suka, kamu harus jalin hubungan denganya.” ujar Lo-liang, Han-bong tercenung

“liang-ko, aku ini tidak punya apa-apa, orang tuaku sudah tidak ada lagi, aku terlalu muluk jika mengharapkan siocia.”

“kamu salah Bong-te.” sela Liang-gan

“salah bagaimana gan-ko ?” tanya Han-bong sambil bangkit dari tidurnya, sesaat ia meringis kesakitan

“kamu tiduran saja Bong-te.” ujar Lo-liang “tidak apa Liang-ko, salah bagaimana Gan-ko ?” tanya Han- bong penasaran

“kamu salah jika perasaan yang kalian miliki tidak didukung tekad, bagaimanapun cinta tidak pandang bulu, menurut saya walaupun engkau merasa tidak pantas, kamu harus mempunyai tekad berusaha mendapatkan siocia, panggilannya tadi sungguh mesra dan penuh perhatian, han-ko..han-ko.” sahut Liang-gan

“hehehe..hihihi…” tawa mereka tertahan

“tapi yang jelas Bong-te, jika kamu tidak menjalankan usahamu untuk mendapatkan siocia, aku akan menyalahkanmu, karena kamu bersikap pengecut, yang bersangkutan sendiri sudah demikian jelas kita lihat tadi, bagaimana perhatiannya padamu, kalau boleh saya katakan, siocia tidak menyadari keberadaan kami sehingga gejolak hatinya keluar dengan demikian nyatanya. tapi jika kamu telah berusaha dan ternyata tidak berhasil itu perkara lain.”

“aku akan pikirkan hal itu Bao-ko

“jangan cuma dipikirkan, tapi tindakan nyata,” sela Lo-liang,

Han-bong terdiam

“sudahlah Bong-te, kamu istirahatlah.” ujar Jiang-bao “baik Bao-ko.” sahut Han-bong dan kembali baring, ketiga rekannya masih bercakap-cakap dengan asyik.

Keesokan harinya Han-bong terbangun, dan alangkah terkejutnya ia melihat Eng-lin duduk disampingnya “eh..ouw-siocia sudah bangun.”

“benar…apakah han-ko nyenyak tidurnya ?”

“ngg..lumayan siocia, eh masih pagi sekali, dan baru kita yang bangun.”

“Han-ko karena kita akan melanjutkan perjalanan, dan nanti sore kita akan sampai, maka terimalah ini.” ujar Eng-lin sambil menyerahkan tusuk rambut yang digunakan Han-bong melawan ular.

“siocia, apakah aku tidak salah mengerti akan semua ini ?” “apa yang kamu mengerti Han-ko ?”

“bahwa siocia mencintaiku.”

“lalu bagaimana kalau benar Han-ko ?

“siocia…a..aku…aduh…apa yang telah kuperbuat sehingga aku mendapat berkah sebesar ini ?”

„apakah kamu juga mencintaiku han-ko ?”

“tentu saja Ouw-moi, aku mencintaimu sejak aku menemani saat itu.” jawab Han-bong sambil meraih jemari Eng-lin “kenapa engkau mencintaiku Han-ko ?”

”aku tidak tahu ouw-moi, pokoknya aku cinta padamu.” jawab Han-bong, tiba-tiba Jiang-bao bergerak

“sudahlah han-ko, lain waktu semoga ada pertemuan.” ujar Eng-lin sambil berdiri

“apakah aku telah mengganggu siocia ?” tanya Jiang-bao “hi..hi… tidak twako.” sahut Eng-lin sambil berlari ke tendanya, Jiang-bao tersenyum, sambil memberi jempol pada Han-bong, Han-bong segera menyimpan tusuk rambut kedalam bajunya.

Tidak lama kemudian para piauwsu pun bangun, demikian juga keluarga Coa-tihu, barang pun dikemasi dan tenda pun di gulung, setelah makan pagi, rombongan pun melanjutkan perjalanan, singkatnya sore hari rombongan itu pun memasuki kota chongqing, keluarga Coa-tihu diantar persisi dikediaman gubernur Ouw-Gan, mereka disambut Ouw-gan sendiri, Ouw- eng-lin keluar dari kereta dan berlari mendapatkan ayah dan ibunya, dari pelukan ibunya, Eng-lin menatap Han-bong penuh arti, setelah barang-barang diturunkan dan administrasi perjalanan selesai dibicarakan, rombongan hek-tiauw meninggalkan kediaman gubernur menuju kantor mereka di chongqing.

Ouw-gan memiliki empat orang anak, dua laki-laki dan dua perempuan, dua orang sudah berumah tangga, yang masih lajang adalah Ouw-kiang berumur dua puluh dua tahun, sementara Ouw-eng-lin berumur sembilan belas tahun, sebagai anak bungsu Ouw-eng-lin sangat disayang kedua orang tuanya, setelah pertemuan dengan Han-bong, suasana hati Eng-lin drastis berubah, terlebih setelah sebulan dia tidak bertemu dengan Han-bong, dia merindukan pemuda yang telah merebut cinta kasihnya.

Suatu hari pelayan mereka yang bekerja dibagian dapur menghadap padanya

“siocia… ketika aku belanja, seorang pemuda bernama Han- bong menemuiku, dia meminta aku memberikan surat ini pada siocia.”

“oh-ya.. mana suratnya ?” sahut Eng-lin spontan dengan raut wajah ceria, setelah menerima surat langsung ia membaca isinya

Lin-moi kekasihku, sebulan kita tidak bertemu, tidak kuasa rasanya aku menanggung rindu, sekarang aku berada di sini sayangku, aku ingin segera bertemu denganmu, datanglah kekolam ikan ditaman kota saat senja mengarak dilangit biru, disana aku menunggumu

Yang mencintamu Han-bong Eng-lin menciumi surat kekasihnya itu dengan sepenuh hati, tidak sabar rasa hatinya menunggu sore tiba, siang hari ia sudah mandi dan merias diri, pelayan kamarnya sibuk menyiapkan ini dan itu

“mei-ling sore ini aku akan keluar, jadi kamu harus ikut aku.” “kita akan kemana siocia ?”

“kita akan ketaman kota menikmati pemandangan kala senja tiba.”

“baiklah siocia, kapan kita akan pergi ?”

“sebentar lagi, sambil menunggu sore, kamu panggil Sui-bo untuk menemuiku di taman belakang.”

“baik siocia, aku akan segera kebelakang untuk menyampaikannya.” sahut mei-ling

“Sui-bo kapan kamu belanja kepasar ?” “saya belanja setiap tiga hari siocia.”

“Sui-bo, jika Han-ko memberikan surat atau ingin menyampaikan sesuatu untukku kamu harus terima ya ?” “baik siocia, jadi pemuda itu kekasih siocia yah ? hihi…hihi….” “hi..hi…suibo kayak nggak pernah muda saja.” sahut Eng-lin

Menjelang sore, Eng-li dan Mei-lin keluar dengan menaiki kereta menuju taman kota

“Bu-siok, kamu tunggu kami disini, kami hendak jalan-jalan.” “baik siocia..” sahut sais kereta kuda milik keluarganya, keduanya berjalan santai sambil melihat-lihat keramain orang yang lalu lalang, dikolam ikan Han-bong sudah menunggu, dan disekitarnya banyak juga muda-mudi yang duduk dipinggir kolam, ketika melihat Eng-lin, Han-bong berdiri dan melangkah mendapatkan Eng-lin “kita jalan kesana Lin-moi.” Ujar Han-bong, Eng-lin dan pelayannya menurut saja diajak Han-bong, ternyata Han-bong membawa Eng-lin kerumah Li-sin yang berada tidak jauh dari taman kota, istri Li-sian dan istrinya menyambut kedatangan Han-bong bersama, Eng-lin, karena sebelumnya Han-bong telah menyusun rencana pertemuannya dengan kekasih hatinya, Li-sin sangat memaklumi hal itu dan menyediakan rumahnya untuk tempat pertemuan dua sejoli itu, sementara Lin-mei bincang-bincanh diruang tengah, Han-bong dan eng-lin di taman belakang rumah Li-sin.

Kedua sejoli itu saling peluk dan cium, sesaat mereka terlelap dalam hangatnya pendar kerinduan yang teruar dalam pelukan dan ciuman, dengan terengah-engah keduanya menyudahi lumatan-lumatan mesra

“Lin-moi sayang, betapa rinduku selama sebulan kita tidak bertemu.” bisik Han-bong mesra

“demikian juga aku Han-ko, tapi waktu kita rasanya singkat, sebab aku harus sampai dirumah sebelum malam.”

“tidak apa sayang, selama kita masih dapat bertemu dan berduaan seperti ini, cukuplah untu saat ini.” sahut Han-bong, lalu keduanya terlelap kembali dalam hangatnya pelukan cinta.

Dengan buru-buru Han-bong kembali membawa kekasihnya ketaman kota, dan mereka berpisah ditempat itu, Eng-lin naik kembali kereta kudanya dan pergi dilepas tatapan mata kekasihnya, selama enam bulan hubungan mereka baik-baik saja, dan sekali dalam setiap bulan Han-bong bertemu dengan Eng-lin, namun tiga bulan berikutnya, saat keduanya bertemu dirumah Li-sin, Ouw-kiang merasa curiga dan mengikuti adiknya dengan diam-diam, dia ikut menunggu berasama sais kereta, hingga Eng-lin kembali diantar Han-bong. Ouw-eng-lin terkejut ketika melihat Ouw-kiang turun dari kereta “ternyata selama ini kamu menemui kekasihmu yang tidak jelas juntrungannya, cepat pulang !” bentak Ouw-kiang dengan muka merah karena marah, Ouw-eng-lin pun masuk kedalam kereta, Han-bong merasa cemas akan apa yang menimpa kekasihnya, setelah kekasihnya pergi, Han-bong segera pulang.

Sesampai di rumah, Ouw-eng-lih dihadapkan pada kedua orang tuanya

“ayah Lin-moi telah membuat malu keluarga.” “apa yang dilakukan adikmu Kiang-ji ?”

“dia menjalin hubungan dengan lelaki yang tidak jelas statusnya.”

“dengan siapa kamu menjalin hubungan Lin-ji ?”

“dia seorang piauwsu ayah, dia pemuda yang baik dan sangat mencintai eng-lin, dan eng-lin juga mencintainya.” sahut Eng-lin membela cintanya

“cukup…! Ayah tidak mau dengar apapun tentang pemuda itu, pemuda itu tidak punya status, jangan buat malu keluarga, dan ayah katakan padamu, jangan sekali-kali kamu berhubungan berhubungan dengannya.” bentak Ouw-gan dengan wajah bringas

“tapi ayah, kami saling mencintai, dan han-ko pemuda yang baik.”

“eng-lin…kamu akan sengsara jika hidup dengannya, dia itu hanya pekerja kasar dan tidak punya masa depan.”

“ayah belum tentu Han-ko tidak punya masa depan, Han-ko pemuda yang gigih, dan juga penuh tanggung jawab.” “cukup eng-lin, ayah tidak mau berdebat, dan mulai hari ini kamu tidak boleh keluar rumah. !” bentak ayahnya, Eng-lin berlari dengan tangis berderai masuk kedalam kamarnya. Sejak itu kamarnya di jaga ketat oleh pengawal, sementara Han-bong mencari kabar tentang Eng-lin pada Sui-bo, hatinya sedih ketika mendengar bahwa kekasihnya di larang menemuinya, dan bahkan kamarnya dijaga ketat, dan tiga hari kemudian Han-bong berangkat keluar daerah untuk mengawal barang, dan sebulan kemudian ia pun kembali ke chongqing, lalu ia mencari sui-bo dipasar, Sui-bo menerima sepucuk surat yang harus disampaikan pada Eng-lin.

Sesampai dirumah, sulit bagi Sui-bo untuk menghadap Eng-lin, lalu ketika ia bertemu dengan Mei-lin

“Mei-lin..!” panggil Sui-bo “ada apa sui-bo ?”

“kamu harus berikan surat ini pada siocia.”

“baik Sui-bo.” sahut Mei-lin dengan cepat menyimpan surat itu kedalam bajunya, dan saat sore, Mei-lin mempersiapkan baju ganti Eng-lin

“siocia….ada surat dari Han-ko.” bisik Mei-lin, mendengar itu wajah Eng-lin bersinar gembira, surat pun dibuka

“Lin-moi sayang, aku tahu bahwa kamu sulit untuk keluar, bersabarlah kasih karena ujian dari cinta yang kita bina. “Lin-moi sayang, bagaimanapun kita akan menunjukkan

kekuatan cinta yang kita miliki, saya sudah memtuskan bahwa kita harus melanjutkan hubungan kita ini kepelaminan, oleh karena itu lin-moi kekasihku, laut boleh kering batu boleh hancur, namun selama hayat masih dikandung badan, aku akan bersama selalu denganmu.

Lin-moiku sayang….bulan depan aku akan membawamu, jadi bersiaplah sayang saat hari itu tiba, dan jika saatnya tiba aku akan sampaikan rencana selanjutnya pada Sui-bo Yang mencintaimu Han-bong

Eng-lin dengan hati bangga dan sayang menciumi surat kekasihnya, hatinya pun merasa lega, dan keyakinan cintanya makin kokoh, lalu Eng-lin melipat surat Han-bong dan menyimpanyya, lalu ia pun pergi mandi, sepanjang ia mandi bayangan demikian indah akan hari-hari bersama dengan kekasihnya.

Seminggu kemudian, keluarga Liu bertamu kerumah guberbur. “selamat datang Liu ciangkun, silahkan masuk “ sambut Ouw- gan dengan ramah, sebelumnya Liu-ciangkun sudah menyampaikan keinginanya untuk mengambil Eng-lin menjadi mantunya, hal itu sudah disetujui oleh Ouw-gan, dan hari ini mereka bermaksud mempertemukan Liu-tang dengan Eng-lin.

Eng-lin disuruh keluar ikut menyambut tamu, hatinya mengkal sekali ketika tahu tujuan dari tamu yang datang, bahkan sepertinya keluarganya sudah menerima dan setuju.

“lin-ji bawalah tang-ji ke pavilion dibelakang rumah, dan kalian mengobrolah disana.” Perintah ayahnya, Eng-lin terpaksa menuruti ayahnya dan pergi berduaan ketaman bunga dibelakang, Liu-tang pemuda yang tampan, cerdas dan tentunya berstatus tinggi sebagai seorang anak panglima. “bagaimana kabarmu Lin-moi ?”

“aku baik-baik saja, hanya aku kasihan padamu.”

“eh kenapa engkau kasihan padaku.” tanya Liu-tang heran “sebab tidak lama lagi kamu akan menikah dengan seorang yang tidak mencintaimu, dan dia akan membuat kamu merana.” “hehehe..hehehe…saat ini saja kamu tidak mencintaiku, namun setelah kita menikah kamu pasti akan merasa betah disampingku.”

“oh-ya…bagaimana bisa demikian ?”

“karena aku lelaki yang pengertian, dan aku juga penyayang.” “eh..liu-tang kamu katakana tadi kamu penuh pengertian, bolehkan aku minta sesuatu padamu ?”

“boleh katakanlah apa yang hendak kamu minta pasti akan kupenuhi.”

“Liu-tang ! aku sudah mmeiliki kekasih dan kami berencana menikah bulan depan, jadi aku mohon pengertianmu untuk menolak pernikahan ini.”

“ah..tidak bisa begitu, kamu adalah milikku, orang tua kita sudah setuju.”

“cih…pembual, ngomomg katanya penuh pengertian.” “hehehe..hehe… keinginanmu itu sangat merugikan aku.” “jadi..kamu akan tetap mau menikahiku ?”

“jelas dong Lin-moi, kamu demikian anggun dan mempesona.” “simpanlah rayuanmu, aku tidak butuh.” sahut Eng-lin sambil berdiri dan meninggalkan Liu-tang sendirian.

Setelah keluarga Liu pulang, Ibunya datang kekamarnya

“Lin-ji, sebentar lagi kamu akan menikah, bukankah Liu-tang itu tampan, dan juga cerdas karena kata ayahnya ia baru lulus nomor satu pada ujian Negara, dan dia akan diangkat menjadi ajudan menteri bidang pendapatan.” Ujar ibunya dengan muka gembira

“mau jadi kaisar kek aku tidak peduli.” Jawab Eng-lin ketus.” “Lin-ji kamu tidak boleh begitu, kami hanya inginkan supaya kamu bahagia.”

“ibu..aku tidak akan bahagia jika tidak bersama Han-ko. “hayaa..pemuda itu lagi, kamu benar tidak menggunakan akal sehatmu Lin-ji, coba piker baik-baik, apa yang kamu dapat jika dengan lelaki yang kerjanya buruh kasar, dan kamu akan sering ditinggalkan olehnya.” ujar ibunya

“ibu….bahagia tidak bisa diukur dengan kekayaan dan jabatan, tapi bahagia itu bagaimana hati terasa nyaman dan terlindungi.” “Lin-ji kamu jangan keras kepala, setelah kamu menikah dengan Liu-tang, lambat laun kamu akan dapat mencintainya, Liu-tang juga adalah pemuda baik, dan katanya belum pernah bertindak yang menyalahi, dan terlebih ia tidak bermain perempuan.” ujar Ibunya, Eng-lin terdiam, dan tidak lagi membantah

“bagaimana Lin-ji tentu kamu akan menyetujui pernikahan ini bukan ?”

“sudahlah ibu..aku tidak ingin membicarakannya.” “lin-ji ayahmu menunggu persetujuanmu ?”

“jika ayah sudah menerimanya untuk apa lagi minta persetujuanku, jadilah menurut ayah dan ibu.”

“lin-ji kamu jangan begitu keras dengan kami.”

“uuu..uu.. ya aku akan diam saja, dan aku harus pengertian dengan kemauan ayah dan ibu, sementara ayah dan ibu tidak perlu pengertian pada saya, apalah saya ini, hanya anak yang mesti ikut kemauan orang tua.” sahut Eng-lin dengan tangis sambil membenamkan wajahnya pada bantal, sesugukannya demikian sedih.

Ibunya terpaksa meninggalkannya, dan tidak berapa lama ayahnya datang

“lin-ji… saya dengar dari ibumu kamu demikian keras kepala.” Bentak ayahnya, Englin bangkit dari tengkurapnya dan menghapus air matanya

“Lin-ji dua minggu lagi kamu akan menikah, dan kamu jangan berbuat yang macam-macam sehingga membuat malu keluarga., kamu dengar itu ?” tegas ayahnya, Eng-lin hanya diam dan tidak menjawab

“cepat jawab ayah !” bentak Ouw-gan

“ayah aku tidak akan memalukan keluarga, karena aku akan menikah dengan liu-tang dengan tandu kematian.”

“Bangsat…jangan kamu kira kamu akan bisa berbuat seenaknya.” bentak ayahnya dengan emosi yang memuncak mendengara ancaman anaknya.

“kamu akan dijaga dengan ketat, enam pengawal akan menjagamu didalam kamar, jangan berbuat nekat Lin-ji !“

“mungkin disini aku tidak dapat bunuh diri, tapi dirumah Liu- tang aku bunuh diri.”

“plak..plak…plak... tidak kusangka kamu dibesarkan begini hanya untuk melawan orang tuamu, anak sialan…anak durhaka

!” bentak Ouw-gan sambil menampar muka anaknya tiga kali, Eng-lin terhempas diranjangnya, bibirnya pecah berdarah, air matanya mengalir deras, dia tertunduk diam, melihat anaknya yang tertunduk dengan rambut yang awut-awutan hatinya terenyuh, namun ia menahan hatinya takut kalah dengan kemauan anaknya.

“penjaga..! kalian jaga baik-baik Eng-lin, jaga jangan sampai ia berbuat nekat “ teriak Ouw-gan, empat pengawal masuk, dan Mei-lin juga masuk.

Ouw-gan meninggalkan kamar, empat pengawal itu siaga didepan ranjang Eng-lin, “siocia bibirmu berdarah, mari kita obati.” ujar Mei-lin, Mei-lin dengan cekatan dan telaten membersihkan luka dan mengoleskan obat.

“saya ingin istirahat, apa kalian akan tetap menatapku !?” teriak Eng-lin,

“maaf siocia kami hanya menjalankan tugas.” sahut seorang dari pengawal, dan keempat pengawal lalu berbalik membelakangi ranjang.

Eng-lin pun istirahat, kepalanya terasa pening akibat menangis terlalu lama, ditambah lagi tiga tamparan ayahnya, tidak lama kemudian ia pun pulas dalam tidurnya, saat sore ia bangun, dan Mei-lin melayaninya untu mandi, dan dibalik ruang pemandian empat pengawal berjaga, benar-benar Ia dijaga ketat dari berbuat nekat.

Tiga hari menjelang hari pernikahan, keluarganya sudah sibuk merias rumah, ahli dekorasi sudah sibuk mendesain pesta mewah dan meriah, semuanya nampak bergembira, hanya tiga orang saja yang merasa sedih, yakni Eng-lin, Mei-lin dan Sui- bo, semenatara itu Han-bong dalam perjalanan pulang dari Datong ke Chongqing.

Saat ia dimandikan oleh empat orang pelayan dengan air kembang, karena selama tiga hari ia akan terus dimandikan dengan air kembang, Eng-lin terbayang betapa kekasihnya Han-bong menghempaskan dirinya ke rumpun bambu tanpa memikirkan nyawanya, lalu entah darimana kekuatan itu muncul ia berlari dan melompat dari tingkat atas, semua orang berteriak terkejut melihat tubuh eng-lin melayang kebawah. “brak…” tubuhnya menghantam sofa yang kebetulan tumpukan kain dan tirai ada diatasnya, Eng-lin tidak tewas, namun kakinya patah, air matanya keluar menahan perih, ibunya menjerit-jerit mendapatkan putrinya, ayahnya juga terkesima melihat peristiwa itu, lalu Ouw-gan memerintahkan segera memanggil tabib. Wan-sinse pun memeriksa keadaan Eng-lin, dan dari hasil pemeriksaan Wan-sinse, tulang paha Eng-lin remuk dan lututnya lepas,

“bagaimana Wan-sinse ?” tanya Ouw-gan

“siocia tidak terpaksa berjalan pakai tongkat, karena tulang pahanya remuk dan sambungan lututnya lepas.”

“apakah tidak bisa disembuhkan ?”

“tulang pahanya akan bisa saya sembuhkan, namun persambungan lututnya tidak bisa disambung lagi.”

“berapa hari perkiraan sinse tulang pahanya sembuh.” dalam dua minggu tulang pahanya akan membaik kembali.” Sahut Wan-sinse.

Kemudian mereka meninggalkan Eng-lin yang terbaring ditemani Mei-lin

“bagaimana Gan-ko ? apa yang harus kita lakukan.”

“anak ini memang keras, kita teralalu memanjakannya.” keluh Ouw-gan sambil berpikir tindakan selanjutnya.

“sudah….saya bicara kembali dengan Liu-ciangkun.” ujar Ouw- gan, lalu Ouw-gan memanggil Liu-ciangkun

“Liu-ciangkun, putri kami mengalami kecelakaan sehingga kakinya patah, bagaimana menurutmu ?”

“tai-jin, hal ini sungguh mengejutkan, lalu bagaimana keadaan Lin-ji ?”

“dia tidak dapat lagi berjalan tanpa dengan bantuan tongkat, saya hanya pasrah mengikut pendapat Liu-ciangkun”

“Ouw-taijin, undangan telah kita sebar, dan pernikahan akan dilaksanakan tiga hari lagi, kami tetap berharap pernikahan

tetap dilaksanakan.”

“tapi anak kami sudah cacat ciangkun.”

“hehe,,hehe,,tidak apa taijin, kami akan tetap menerimanya, karena saya suka dengan menantu saya, jika suatu hari ada obat untuk kakinya, akan kami usahakan.”

“aduh…ciangkun, kalian demikian lapang dada.” sahut Ouw- gan

“tidak masalah Taijin, upacara pernikahan Lin-ji bisa bisa saja duduk bersama Tang-ji,”

“baiklah kalau begitu ciangku, saya menjadi lega, jika ciangkun dapat menerima.” ujar Ouw-gan, lalu Liu-ciangkun pun meninggalkan kediaman Ouw-gan.

Saat sore hari keluarga Ouw-gan heboh, karena Eng-lin hilang dari kamarnya, semuanya sibuk mencari disetiap pelosok rumah, apa yang terjadi ? ternyata setelah peristiwa pagi hari itu, para pengawal tidak lagi menjaga kamar Eng-lin, dan saat peristiwa melompatnya Eng-lin kebawah, dua orang yang sedang membawa aneka kain masuk, keduanya adalah Jiang- bao dan adik istrinya Lou-tin, istri Jiang-bao membuka toko kain, dan ahli dekorasi memesan kain ditoko istri Jiang-bao, Jiang-bao tidak ikut mengawal barang ke datong karena istrinya melahirkan, jadi karena pesanan harus diantar, maka Jiang-bao dan adik iparnya membawa pesanan ke tempat gubernur,

Jiang-bao terkesima melihat tubuh Ouw-eng-lin yang melompat, namun hatinya lega melihat tubuh itu jatuh pada tumpukan kain diatas sofa.

Selagi orang sibuk dan cemas, Jiang-bao menemui Sui-bo, yang ia tahu sering dijumpai Han-bong dipasar, bahkan Sui-bo pernah diajak Han-bong bicara di toko kain istrinya.

“sui-bo…aku adalah teman Han-bong, tolong sampaikan surat ini untuk siocia.” bisik Jiang-bao, Sui-bo, segera menemui Mei- lin, dan oleh mei-lin surat itu diberikan kepada Eng-lin setelah semua keluar “Siocia ada surat dari Han-ko.”

“hah..mana…cepat berikan.” sahut Eng-lin dengan menekan suaranya, lalu Eng-lin pun membuka surat

“Ouw-siocia…saya adalah Jiang-bao, ingatkah anda pertanyaan ini ? “apakah aku telah mengganggu siocia ? hihi..hi…tidak twako.” Kami akan membawa peti kain untuk mendekorasi kamar pengantin, jika memang apa yang kulihat tadi merupakan kegigihan cintamu pada adik kami Han-bong, maka bersipalah siocia, kami akan membawamu dalam peti kain.”

Setelah membaca surat itu Eng-lin pura-pura tercenung “bagaimana siocia ? tanya Mei-lin

“Mei-lin kamu tinggalkanlah aku sendiri, aku lelah dan ingin sendiri.” sahut Eng-lin, Mei-lin bingung namun ia tidak membantah, lalu ia pun meninggalkan Eng-lin.

Can-mai seorang wanita piñata kamar pengantin menyuruh supaya Jiang-bao dan adiknya mengankat peti kain kekamar Eng-lin,

“kalian angkatlah peti ini kekamar siocia dan sampaikan pada pelayannya kami akan merias kamar pengantin.”

“baik nyonya..” sahut Jiang-bao, lalu ia dan adik iparnya mengangkat peti keruang atas, dan memasuki kamar Eng-lin.

Eng-lin dengan hati berdebar menatap Jiang-bao “kamukah itu twako..?” sapanya

“benar Siocia.” sahut Jiang-bo, dengan cepat mengeluarkan seluruh kain dan menumpuknya diatas ranjang, lalu tanpa bicara Jiang-bao menggendong Eng-lin dan memasukkannya kedalam peti, kerja Jiang-bao luar biasa cepat, dia dan adiknya mengangkat kembali peti itu keluar

“apakah kamar siocia sudah siap didekorasi ?” tanya Can-mai pada Jiang-bao sambil asik menata taplak meja.

“sudah nyonya, dan kain yang diperlukan sudah kami tumpuk diatas ranjang, dan kami juga tidak melihat pelayan siocia, mungkin sedang membawa siocia kekamar mandi atau kemana kami tidak tahu.”

“baiklah kalau begitu.” sahut Can-mai, Jiang-bao dan adik iparnya keluar dari rumah gubernur, dan dengan kereta kuda Jiang-bao membawa Eng-lin kerumah Lo-liang dipinggir kota, istri Lo-liang kaget

“ada apa ini Bao-ko ?”

“aku titip nona ini disini, nanti setelah Liang-te kembali dari Datong, ia akan mengerti setelah bicara dengan nona ini, nona ini adalah kekasih Han-bong-te.” sahut Jiang-bao, istri Lo-liang manggut-manggut dan senyum ramah pada Eng-lin.

“Ouw-siocia, tenagkan dirimu, kamu akan aman disini, dan tidak akan ada yang tahu bahwa kamu disini, jika Bong-te sudah menemuimu, kalian susunlah rencana kalian yang terbaik.” “baik twako, terimakasih atas semua dukungan dan usaha twako dalam membantu saya dan Han-ko.”

“tidak apa-apa siocia, adik kami itu luar biasa gigih dan juga amat baik dan jujur, kami pergi sekarang.” sahut Jiang-bao.

Jiang-bao dan adik iparnya kembali ketoko milik mereka, dan sebagaimana kita tahu sore itu terjadi geger karena Ouw-eng- lin hilang, semua pegawai dekorasi ditanya satu-satu, Can-mai hendak mengatakan tentang pembawa peti namuin jelas pembawa peti sudah mengatakan bahwa ia tidak melihat pelayan dan ouw-siocia, jadi tentunya penjual itu tidak tahu apa-apa. pikir Can-mai

“kenapa kamu begitu teledor mei-lin !?” bentak Ouw-hujin “maaf hujin,.. siocia katanya lelah dan ingin sendirian, jadi aku pun mematuhinya.”

“bagaimana sekarang anakku sudah hilang siapa yang berbuat ini.” jerit ouw-hujin dengan cemas, semua pengawal dikerahkan untuk mencari Eng-lin, Ouw-gan sangat marah dan malu, lalu ia memangil kembali Lui-ciangkun

“ciangkun, sekali ini aku benar-benar malu dan telah mengecewakan ciangkun.”

“sudahlah taijin, kami juga tidak bisa berkata apa-apa, dan rasa malu yang akan kami tanggung akan mencoreng nama baik kami, jelas putri taijin menolak putra kami, dan imbasnya putraku akan merasa malu dan merasa terkucil, padahal anak kami itu tidak ada kurangnya bahkan calon pegawai istana yang akan mengatur pendapatan negara.”

“aku tahu ciangkun, jadi menurutmu bagaimana ?”

“saya terus terang saja taijin, untuk menutup rasa malu kami minta denda empat kali lipat dari anggaran pernikahan ini.” jawab Liu-ciangkun, Ouw-gan tercenung, tiga kali lipat itu artinya delapan ratus tail emas.

“ciangkun sepertinya anda mengambil kesempatan dari keadaan kami, tiga kali lipat sungguh tidak pantas.” “menurut taijin berapakah yang pantas ?”

“hanya dua kali lipat yang akan kuberikan padamu.”

“jika demikian terserah pada tai-jin, anda sebagai pimpinan saya, jadi saya harus menerima.” “hmh…baiklah…teriakasih atas pengertiannya.” sahut Ouw- gan. Dua minggu kemudian Han-bong dan rombongan sampai ke kota Chongqing, Jiang-bao langsung menemui Han-bong “bong-te kamu harus siap menghadapi apapun resiko.”

“apa maksudmu Bao-ko ?”

“siocia hendak dinikahkan oleh ayahnya, namun pernikahan itu gagal.”

“hah…lalu bagaimana dengan Lin-moi.” “untuk sementara ini ia masih aman.”

“aman..aman bagaimana maksudnya Bao-ko. ?”

“begini . toko kain istriku dapat pesana kain untuk dekorasi pernikahan siocia, lalu kami mengantar kain tersebut, tapi sungguh aku tidak mengira bahwa siocia dalam ketidak sudiannya menerima pernikahan itu berusaha bunuh diri didepan semua orang, saya sendiri melihat ia melompat dari tingkat rumahnya.”

“lalu apa yang terjadi pada Lin-moi ?” sela Han-bong pucat dan cemas

“siocia selamat, hanya saya dengar tulang pahanya remuk dan sambungan lututnya lepas.”

“auhhh..lin-moi…lin-moi….” jerit Han-bong

“dengarkan dulu kelanjutannya, lalu saya menitip surat pada juru masak yang selalu kamu temui, dan dalam surat aku katakan, jika apa yang diperbuatnya itu merupakan kegigihan cintanya, maka aku siap membantunya keluar dari rumah.” “lalu bagaimana Bao-ko ?”

“kami berhasil membawa siocia keluar dan sekarang ia berada dirumah Liang-te.”

“kalau begitu aku harus segera kesana.”

“benar bong-te, maka kamu harus lebih mangayominya, dia telah berkorban banyak untu sebuah cinta yang ia yakini.” “baik twako…terimakasih, dan aku akan segera ketempay Liang-ko.” sahut Han-bong Sesampai dirumah Lo-liang, dua kekasih itu pun bertemu, kerinduan membuncah seiring deraian air mata, setelah puas melepas rindu

“Bong-te luka siocia harus segera ditangani, jadi saran saya, segeralah kedesa Gui-meng, disana ada seorang tabib.” ujar Lo-liang prihatin setelah mendengar cerita Ouw-eng-lin

“baik twako…selama kami disana titip rumahku twako.” sahut Han-bong, ternyata Han-bong telah membeli sebuah rumah dari hasil jerih payahnya selama ini, rumah itu baru dibeli dua bulan yang lalu, tepatnya dua blok dari kantor Hek-tiauw. “baik..rumahmu tidak usah kamu cemaskan, kami akan mengurusnya.” jawab Lo-liang.

Han-bong dengan sebuah kereta membawa Eng-lin kedesa Gui-meng kira-kira dua puluh mil dari kota chongqing, saat malam Han-bong sampai didesa tersebut, lalu ia segera menemui Gui-sinshe untuk minta bantuan mengobati Eng-lin, Gui-sinse memeriksa keadaan Eng-lin dan dia manggut- manggut

“nona ini dapat sembuh dan pulih kembali, namun untuk sambungan lututnya saya harus dapatkan darah katak merah.” “dimana saya dapatkan katak merah itu shinse ?”

“katak merah itu terdapat di “sui-kok” (lembah air) di sebelah barat kota Datong, dan katak itu akan muncul hanya pada malam bulan purnama.”

“baiklah shinse aku akan mengusahakan katak merah itu, tapi shinse tolong obati kekasih saya bagaimana adanya.”

“baik anak muda, kamu tidak usaj cemas, kekasihmu ini akan sembuh jika katak itu kamu dapatkan.”

“terimakasih shinse.” sahut Han-bong, lalu Gui-sinse pun melakukan pengobatan, Han-bong dengan setia dan cinta merawat Eng-lin, seminggu kemudian luka remuk pada paha Eng-lin sudah sembuh, dan diapun sudah dapat berjalan dengan memakai tongkat.

“Han-ko…bagaimana rencana kita selanjutnya ?”

“kita akan menikah didesa ini Lin-moi, saya akan coba bicara dengan Gui-shinse.” sahut Han-bong, lalu Han-bong menemui Gui-shinse

“shinse…saya ucapkan banyak terimakasih atas pengobatan yang shinse lakukan.”

“ah..tidak mengapa Bong-ji, itu sudah merupakan tugas saya.” sahut Gui-shinse

“tapi Gui-shinse saya masih ada hal yang hendak saya sampaikan, dan mungkin akan merepotkan.”

“apakah itu Bong-ji ?”

“saya hendak tinggal didesa ini, dan kalau shinse sudi menolong supaya kami dapat dinikahkah.”

“oh…itu hal yang menggembirakan Bong-ji, kapan rencanamu hendak menikah ?”

“saya akan pulang sebentar kechongqing untuk menjual rumah disana, setelah aku pulang, barulah kami menikah, jadi untuk sementara, aku menitip calon istriku pada shinse.”

“hmh…jika demikian baiklah, aku akan menjaga kekasihmu sampai engaku menyelesaaikan urusanmu dikota.” sahut Gui- shinse.

“terimaksih shinse, jadi saya akan berkemas malam ini.” ujar Han-bong, Gui-shinse mengangguk lembut sambil senyum.

“Lin-moi, tinggallah bersama Gui-shinse, saya akan pergi kekota untuk menjual rumah disana, dan hasil penjualannya akan kita belikan tanah dan rumah di desa ini.”

“baiklah Han-ko, berangkatlah..aku akan menunggumu disini.” sahut Eng-lin lembut dan mesra, senyumnya demikian indah karena merupakan gambaran hatinya yang bahagia.

Keesokan harinya Han-bong berangkat kekota chongqing, dengan kereta kuda, sesampai di kota chongqing Han-bong menghadap induk semangnya Gao-tang

“Bong-ji…saya dengar dari Lo-liang kamu pergi kedesa Gui- meng.”

“benar Pangcu, dan saya hendak tinggal disana, dan kalau boleh, saya akan menunggu rombongan jika rombongan hendak ke kota Datong.”

Itu artinya kamu hanya bisa ikut satu rute Bong-ji.” “untuk sementara biarlah demikian saja pangcu.” “baiklah..jika demikian maumu, lalu apa ada hal lain ?”

“begini pangcu..saya hendak menikah di desa Gui-meng.” “apakah dengan putri gubernur itu ?”

“benar pangcu, jadi saya hendak menjual rumah saya dan membeli rumah disana dan tanah untuk digarap.”

“kepada siapa hendak kamu tawarkan rumahmu itu ?” “saya akan coba tawarkan kepada teman-teman.” “begini saja berapa kamu beli kemarin rumahmu itu ?” “saya beli dua tail emas.” Jawab Han-bong.

“baik..rumahmu biar saya yang ganti dengan dua tail emas.” sahut Gao-tang

“terimakasih pangcu.”

“ya.,..lalu kapan engkau akan menikah ?” “sepulang dari sini, kami akan menikah.”

“kalau begitu, karena pengiriman dengan dua rute akan berangkat minggu depan, sebaiknya kita mengurus pernikahanmu.” ujar Gao-tang Hati Han-bong sangat bersyukur atas kebaikan semua orang- orang dekatnya, keesokan harinya rombongan hek-tiauw berangkat kedesa Gui-meng, semua biaya pernikahan ditanggung oleh Guo-tang, pesta sederhana dan meriahpun dilangsungkan, betapa bahagianya dua sejoli yang dalam asuhan orang-orang dekat yang peduli dengan mereka. “Jiang-bao memberi hadiah berupa beberapa gulung kain pakaian disamping angpao, Lo-liang memberi peralatan dapur

berupa piring dan alat memasak disamping angpao, Liang-gan berupa dua buah cangkul cap ayam dan bibit jagung, Li-sin meberikan ranjang disamping angpao, dan seluruh rekannya yang jumlahnya ratusan memberi kado pernikahan, penduduk desa dengan meriah menyambut warga baru itu dan ikut turun memeriahkan pernikahan tersebut, hal ini karena dipihak Han- bong ada Gui-shinse, orang yang dituakan dan dihormati.

Malam pengantin dua sejoli itu masih mamakai rumah Gui- shinse, rasa bahagia tidak terlukiskan meluap hangat, rasa syukur yang tidak terperikan kedua pengantin bergumul dalam ayunan cinta yang terbakar birahi.

“saudara-saudara ini demikian peduli dengan kita Han-ko.” ujar Eng-lin setelah mereka mengaso dari puncak kenikmatan yang mereka rasakan untuk yang ketiga kalinya.

“benar Lin-moi, kita mungkin tidak akan sanggup membalasnya, semoga Thian membalas kebaikan mereka dengan balasan yang berlipat ganda.” pinta Han-bong sambil memjamkan mata

Selama dua hari hek-tiauw mengurus Han-bong dan istrinya, mereka berpisah dirumah baru Han-bong, bahkan Gao-tang menitipkan keluarga han-bong pada cao-cungcu dan Gui- shinse, setelah selesai makan pesta syukuran masuk rumah baru. Hek-tiuaw pun kembali, dan para tetanggapun pulang, tinggal suami istri itu saling pandang dalam isyarat cinta dan sayang, keduaya berpelukan dengan luapan rasa bahagia.

Dua bulan kemudian, rombongan Hek-tiauw yang hendak ke Datong lewat, mereka istirahat sebentar sambil menunggu Han- bong berkemas, kemudian Han-bong-pun meninggalkan istrinya yang cacat dengan seorang pelayan yang digaji oleh Han-bong, selama dua bulan itu Han-bong sudah menyelesaikan garapannya dan telah menenam bibit jagung dari Liang-gan, bahkan selama dua bulan uang sisa pembelian rumah dan tanah masih ada disamping angpao yang banyak dari rekan-rekannya, jika diperkirakan, empat bulan suami istri itu makan dan minum saja tanpa kerja serta menggaji seorang pelayan, masih teratasi dengan uang tersebut, tapi Han-bong bukan type lelaki yang malas, ia adalah pemuda tempaan oleh derita dan kerja keras, hanya seminggu ia berleha-leha dirumah bermanja dengan istrinya, setelah itu ia sudah mulai menggarap tanah miliknya dengan telaten dan semangat membaja, hingga ketika rombongan Hek-tiuaw sampai didesanya, ia pun sudah berani meninggalkan istrinya untuk mengawal barang ke Datong.

Ouw-eng-lin juga memahami suami yang menjadi pilihannya, pertarungan hidup yang keras akan ia hadapi, hidup kedepan bukan lagi jalan bertabur bunga, kekayaan dan kesenangan milik orang tuanya sudah tidak termasuk dalam hitungannya, kesenangan dan kekayaan itu adalah masa lalunya, dia tidak merasa sungkan untuk meninggalkan itu semua karena keyakinan cinta yang ia miliki.

Sesampai di kota Datong, setelah semua barang bawaan diturunkan, dan seminggu lagi mereka akan bertolak kembali ke Chongqing, Han-bong mengambil kesempatan itu untuk pergi ke Suii-kok

“LI-twako…karena seminggu lagi kita akan bertolak, aku masih punya kesempatan untuk pergi kesui-kok.”

“ada apa di sui-kok Bong-te ?”

“menurut Gui-sinshe, istri saya akan pulih kembali jika saya mendapatkan darah katak merah, dan berkebetulan dua hari lagi bulan purnama maka saya akan kesana untuk mencari katak tersebut.”

“ooh..kalau begitu berangkatlah.” sahut Li-sin, lalu han-bong pun meninggalkan kantor hek-tiauw.

Selama sehari semalam perjalanan Han-bong sampai di Sui- kok, lembah itu berupa rawa yang besar, dan di pinggir rawa tumbuh rumpun semak yang tebal, sementara ditengah ada beberapa bunga teratai yang besar, Han-bong duduk dengan sabar menunggu malam, ketika malam tiba suara binatang malam pun terdengar bersahut-sahutan, dan tidak lama rawa itupun terang oleh sinar rembulan, Han-bong dengan awas melihat pergerakan kodok yang melompat, dia bersiap untuk menangkap, namun kodok itu hanya diam ditengah rawa.

Kodok-kodok itu berkumpul diatas sebuah daun teratai yang lebar dan menengadah ketas sambil mengeluarkan suara “krook…krookk…krookkk…” Han-bong coba turun kerawa, tapi sampai lehernya kakinya belum menginjak dasar walhal itu dipinggir, Han-bong memberanikan diri berenang ketengah dengan pelan, untuk tidak mengusiik katak merah, rasa dingin yang menyergap tubuhnya tidak ia pedulikan, dengan hati-hati ia terus bergerak ketengah, ketika sudah dekat tangannya hendak menangkap kodok, namun dengan reflek kodok itu melompat kedalam air dan melarikan diri. Han-bong bertahan didalam rawa menunggu kemungkinan katak-katak itu muncul kembali, hampir tiga jam Han-bong berada didalam rawa yang dingin, dan penantiannyapun membuahkan hasil dua ekor katak melompat ke atas daun teratai, Han-bong dengan pelan menyelam kebawah daun teratai, dengan untung-untungan ia menagkap katak itu dari bawah, dan usahanya berhasil, kedua katak itu ia dapatkan dalam genggaman kedua tangannya, sambil terus memegang kedua katak itu, Han-bong kembali berenang ketepi rawa.

Sesampai ditepi, dia berusaha naik dengan merayap dengan kedua sikunya, karena kedua tangannya terus memegang dua ekor katak, dan dengan senyum dia terlentang menghadap langit yang penuh bintang dan cemerlangnya senyum dewi malam, lalu ia duduk dan memasukkan dua ekor katak itu pada keranjang ikan yang ia persiapkan dari kota Datong, kemudian ia pun segera meninggalkan lembah, namun baru sepuluh langkah

“aduh..” han-bong menjerit, kakinya disengat sesuatu, namun ia tidak melihat binatang yang menggigitnya, namun rasanya sanagat sakit, Han-bong terpaksa kembali ketepi rawa dan mengurut-urut kakinya, jantungnya berdegup keras, dia mencoba mengatur nafasnya, dengan kegigihannya ia mencoba mengosongkan pikirannya, ia rasakan dinginnya tanah dan dari bajunya yang basah, ia pejamkan mata sambil mengatur nafasnya, ia pasrah pada keadaannya, hal itu ia lakukan sampai ia tertidur pulas.

Keesokan harinya ia bangun, dan kakinya sudah bengkak dan yang digigit tepat pada perut telapak kakinya, dia melihat bekas gigitan, dan dari bekas gigitan, binatang yang menggigitnya adalah kalajengking, Han-bong berdiri dan dengan mengambil sebatang bambu ia meninggalkan lembah, dengan tertatih-tatih ia menyeret langkahnya menuju kota Datong, untungnya setelah seharian berjalan, sebuah gerobak yang ditarik sapi lewat, Han-bong-pun menumpang diatas gerobak yang berisi tumpukan rumput untuk makanan kuda.

Sesampai dikota, teman-temannya memanggil tabib, dan dua hari kemudian Han-bong sembuh.

“bagaimana Bong-te, apa kamu sudah sembuh benar ?” tanya Li-sin

“sudah twako.., kita sudah bisa berangkat.”

“baik malam ini kita masukkan barang kiriman dan pagi-pagi sekali kita berangkat.” ujar Li-sin, semunya mengangguk dan langsung bekerja memasukkan barang kiriman kedalam kereta, dan keesokan harinya merekapun berangkat.

Dua minggu kemudian rombongan sampai didesa Han-bong, rombongan istirahat sebentar di rumah mungil Han-bong, Eng- lin demikian gembira menyambut suaminya tercinta beserta teman-temannya, setelah rombongan meninggalkan rumahnya “Lin-moi aku sudah mendapatkan katak merah yang dikatakan Gui-shinse, jadi siang ini kita ketempat shinse.” ujar Han-bong dengan gembira.

“benarkah Han-ko ? kalau begitu marilah kita kesana.” sahut Eng-lin dengan muka cerah, lalu keduanya pergi kerumah Gui- shinse.

“kakek…katak merah telah saya dapatkan.” Ujar Han-bong sambil menyerahkan keranjang ikan yang diikatkannya di pinggang

“oh-ya…kalau begitu baguslah.” sahut Gui-shinse sambil menerima keranjang tersebut dan membuka untuk melihat isinya, dua katak ekor katak mereha melompat-lompat dalam keranjang, GUi-sinse tersenyum

“sekarang kalian pulanglah, dan aku akan menggodok darah katak ini dan besok saya akan kerumah kalian untuk mengobati istrimu.”

“baiklah kakek, sekarang kami permisi dulu.” sahut Han-bong, lalu merekapun kembali kerumah.

Keesokan harinya Gui-shinse datang dan mengobati lutut Eng- lin, lutut Eng-lin dilamuru cairan berwarna merah, kemudian lutut itu dibungkus dengan daun yang dijerang sebelumnya diatas panas api, aromanya sangat harum.

“tiga kali ramuan obat ini dioleskan istrimu akan sembuh, jadi itu artinya seminggu bong-ji, bisakah kamu lakukan dua kali lagi ?” “bisa kakek..saya akan mengoleskannya sekali dalam dua hari.” jawab Han-bong

“baiklah kalau begitu, jadi kakek bisa pulang sekarang, oh-ya istrimu jangan lagi bekerja terlalu berat, karena ia sedang hamil.” ujar Gui-shinse sambil tersenyum, mendengar itu alangkah bahagianya sejoli itu, setelah Gui-shinse pergi keduanya saling peluk, Lin-moi sebentar lagi kita akan punya anak.” bisik Han-bong dengan mata berkaca-kaca, Eng-lin juga merasa bahagia dan jadi menangis ketika melihat mata suaminya berkaca-kaca.

Saat Umur kandungan sudah delapan bulan, Han-bong melakukan pengawalan kiriman lagi, dan diawal mereka sedang istirahat di padang kelinci, setelah cukup istirahat, merekapun melanjutkan perjalanan, dan seminggu kemudian rombongan hek-tiuaw sampai di desa Gui-meng tempat kediaman Han-bong, rombongan sebagaimana biasa istirahat dirumah Han-bong “Li-twako silhkan tehnya diminum, dan ada jagung rebus hasil panen kedua dari kebun.” ujar Eng-lin ramah, rombongan itu pun menikmati jagung rebus serta teh hangat,

“Lin-moi, kapan akan melahirkan ?” “tinggal menunggu hari twako.”

“Han-bong akan libur untuk menunggu kelahiran anaknya.” “terimaksih twako, jadi saya akan merasa lebih kuat.” “benar..lin-moi, baiklah kami akan segera berangkat, jaga baik- baik istrimu Bong-te, hal izinmu pada Gao-twako, akan saya sampaikan.”

“baik dan terimakasih twako.” sahut Han-bong.

Seminggu kemudian Ouw-eng-lin melahirkan anak laki-laki yang sehat dan montok, lengkaplah sudah kebahagiaan pasangan yang saling mencinta itu, Han-bong memberi nama pada anaknya dengan nama Han-hung-fei, Han-bong dengan telaten dan gigih menghidupi keluarganya, jika ia tidak mengawal pengiriman ia menggarap kebun dan sawahnya, dan usaha itu selama empat tahun kemudian telah menjadikan Han- bong orang yang sukses, tanahnya sedikit demi sedikit bertambah, dan tabungan mereka terus bertambah.

Namun setahun kemudian, surga dunia itu lenyap, disebabkan pemberontakan turpan kuning dibawah pimpinan Wang-mang berhasil menggulingkan Han-ru-zi yang bergelar kaisar Liu-ying yang banyak kelemahan (- M), peralihan dari dinasti Han- ke dinasti Xin membuat rakyat terlunta-lunta, banyak terjadi pembersihan dikota-kota dan desa, dan keadaan diperburuk oleh para rampok dan kalangan kangowu yang berlebel hek-to untuk meraup keuntungan ditengah ketidak berdayaan rakyat jelata. Banyak desa dibakar, dan termasuk desa Gui-meng, segerombolan perampok yang menamakan dirinya “coa-kiang- san-ong” (perampok sungai ular) membumi hanguskan desa Gui-meng

“hahaha..hahaha…jarah semua yang ada !” teriak pimpinan berbadan kekar dan berkepala botak plotos, anak buahnya memasuki tiap rumah, jerit histeris dan gelak tawa para perampok bercambur baur ditengah malam terang oleh sinar rembulan, sebagian anak buah perampok menyulut api sehingga warga makin takut dan panik.

“Jiang-bouw pimpinan rampok memasuki rumah Han-bong, Han-bong dengan pedang ditangan sipa mempertahan harta dan keluarganya

“hahaha..hahaha ternyata ada juga yang punya nyali, heh…! apa kamu mau melawan !?”

ujar Jiang-bouw dengam tawa jumawa

“enyah kalian dari rumahku !” sahut Han-bong sambil memasang kuda-kuda.”

“serang…!” teriak Jiang-bouw, enam anak buahnya menerjang Han-bong, Han-bong dengan sekuat tenaga melawan keroyokan perampok, sementara Ouw-eng-lin dan putranya Han-hung-fei bersembunyi dalam kamar.

Han-bong bertarung dengan gigih, sebegai piauwsu ia menguasai teknik bela diri, dua orang perampok telah tewas diujung pedang Han-bong, namun tubuhnya juga sudah kian melemah dengan banyaknya darah yang keluar dari luka-luka sabetan senjata perampok, dua orang perampok tiba-tiba membakar rumahnya, dengan mengerahkan tenaga terakhir Han-bong terus melakukan perlawanan dengan gigih ditengah api yang menyala membakar rumahnya, seorang perampok lagi tewas dibacok Han-bong, namun tiga senjata para perampok membacok dan menusuk tubuhnya.

Han-bong pun tewas, sementara api makin berkobat membakar rumah Han-bong, Ouw-eng-lin yang berada diadalam kamar makin panic karena jilatan api sudah membakar dinding kamar dan atap

“brak… dua perampok menendang pintu kamar, Ouw-eng-lin menggendong anaknya keluar dari jendela,

“ibu….!” teriak Hang-hung-fei karena ia terjatuh dari gendongan ibunya dan menggelinding keparit

“lari…feng-ji..cepat lari nak…!” perintah Eng-lin sambil berusaha melepaskan bajunya yang tersangkut pada gerendel jendela, namun usaha itu tidak sempat karena kedua perampok sudah memeganginya dari belakang

“lepaskan..!” teriak Eng-lin berbalik dan mencakar muka seorang perampok

“aduhhh..” jerit perampok itu kesakitan, lalu dengan amarah meluap karena muka berdarah bekas cakaran

“plak..plak…” perampok itu mengayun tangannya menampar muka Ouw-eng-lin, dan denagn nekat Ouw-eng-lin menjerit histeris menerjang dan kembali mencakar muka perampok, bahkan Ouw-eng-lin dapat menjambak rambut perampok, perampok itu makin marah karena kesakitan

“tuk…mampus kamu perempuan tengik !” rampok memukul kepala Ouw-eng-lin dengan gagang pedang, Eng-lin merasa dunia berputar, kepalanya rasanya pening dan sangat sakit, namun dia harus melawan, lalu sekali lagi dengan nekat ia menerkam rampok yang memukulnya, rampok itu tidak menduga akan senekat itu perlawanan Eng-lin, lakasana lintah tubuh Eng-lin melekat pada tubuh si rampok dan giginya yang tajam menancap dileher si rampok, si rampok menjerit-jerit kesakitan sehingga mereka berguling-guling dilantai, sementara kamar itu makin panas oleh nyala api, si rampok berusaha melepasakan diri, namun Eng-lin tidak mau melepaskan cakarannya pada punggung dan gigitan yang sudah merobek leher si rampok

“crak….mati kau !” teriak temannya dengan bringas sambil membacok punggung Eng-lin hingga hampir terbelah. Eng-lin tewas seketika dengan simbah darah yang memancur, sirampok juga naas, karena sebelum ia bangkit dari bawah tubuh eng-lin, atap rumah ambruk, bara api dan tiang rumah menimpa keduanya, dan perampok yang satunya lagi setelah membaacok ia berlari kearah jendela yang juga sudah dipenuhi api, dengan ragu ia melompat keluar, tapi bersamaan dengan itu, dinding kamar dan atap jatuh menimpanya, ia menjerit-jerit dibakar sijago merah, sementara Eng-lin dan rampok yang satunya sudah gosong menghitam.